P. 1
Peran KPPU Dalam Mengawasi Tender BUMD Di SUMUT_Agung Yuriandi

Peran KPPU Dalam Mengawasi Tender BUMD Di SUMUT_Agung Yuriandi

|Views: 1,015|Likes:
Published by Agung Yuriandi
Bagaimana mengetahui tentang pelelangan umum di setiap instansi pemerintahan Sumatera Utara, berbicara mengenai apa yang seharusnya dilakukan oleh KPPU maupun para peserta tender. Terdapat di dalamnya hal-hal yang dilarang dalam melaksanakan lelang.
Bagaimana mengetahui tentang pelelangan umum di setiap instansi pemerintahan Sumatera Utara, berbicara mengenai apa yang seharusnya dilakukan oleh KPPU maupun para peserta tender. Terdapat di dalamnya hal-hal yang dilarang dalam melaksanakan lelang.

More info:

Categories:Types, Research, Law
Published by: Agung Yuriandi on Jul 05, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF or read online from Scribd
See more
See less

11/19/2012

PERAN KOMISI PENGAWAS PERSAINGAN USAHA (KPPU) DALAM MENGAWASI TENDER BADAN USAHA MILIK DAERAH (BUMD) DI SUMATERA

UTARA

SKRIPSI

Disusun dan Diajukan Untuk Melengkapi Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Hukum pada Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara

Oleh : AGUNG YURIANDI NIM. 030200058

DEPARTEMEN HUKUM EKONOMI

FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2007

1

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Sejarah membuktikan, ekonomi pasar merupakan sistem terbaik untuk membangun dan mempertahankan kesejahteraan masyarakat. Dalam sistem ekonomi pasar, aktivitas produsen dan konsumen tidak direncanakan oleh sebuah lembaga sentral, melainkan secara individual oleh para pelaku ekonomi. Dan persainganlah yang bertindak sebagai tangan-tangan tidak terlihat (invisible hands) yang “mengkoordinasi” rencana masing-masing.1 Salah satu bentuk tindakan yang dapat mengakibatkan persaingan tidak sehat adalah persekongkolan dalam tender, yang merupakan salah satu bentuk kegiatan yang dilarang oleh Pasal 22 UU No. 5 Tahun 1999. Prinsip-prinsip umum yang perlu diperhatikan dalam tender adalah transparansi, penghargaan atas uang, kompetisi yang efektif dan terbuka, negosiasi yang adil, akuntabilitas dan proses penilaian, dan non-diskriminatif. Praktek KKN yang diungkapkan masyarakat sebagaimana diberitakan dalam media massa adalah dalam pelaksanaan proyek-proyek pemerintah, baik yang berasal dari instansi pemerintah maupun dari Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Kita bisa lihat dalam kasus proyek listrik swasta di PT. PLN (Persero),

1.

Adiwarman Karim, Ekonomi Islam dalam Pandangan Adam Smith, http://www.hudzaifah.org/modules.php?op=modload&name=News&file=article&sid=17 1. 2007. h. 1.

2

kerja sama perusahaan swasta dengan PT. PERTAMINA (Persero), proyekproyek jalan tol di lingkungan Departemen Pekerjaan Umum, dan sebagainya.2 Praktek KKN dalam proyek pemerintah telah menimbulkan persaingan yang tidak sehat dalam usaha memenangkan tender proyek tersebut. Persaingan yang tidak sehat ini membuka peluang terjadinya monopoli orang atau perusahaan tertentu dalam proyek-proyek yang berkaitan dengan pemerintah dan pada gilirannya merugikan masyarakat umum. Proyek listrik swasta dari PLN, misalnya, telah menyebabkan PLN menderita kerugian yang tidak sedikit. Prosedur mengenai pelaksanaan tender untuk proyek-proyek pemerintah, baik yang dianggarkan melalui Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN), Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) maupun Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) diatur dalam beberapa produk hukum. Pertama, Keputusan Presiden No. 16 Tahun 1974 tentang Pelaksanaan APBN yang kemudian melalui Keputusan Presiden No. 24 Tahun 1995 tentang Perubahan Atas Keputusan Presiden No. 16 Tahun 1994 tentang Pelaksanaan APBN, dan diperbaharui lagi melalui Keputusan Presiden No. 8 Tahun 1997 tentang Perubahan Atas Keputusan Presiden No. 16 Tahun 1994 tentang APBN sebagaimana telah diubah dengan Keputusan Presiden No. 24 Tahun 1995. Kedua, Keputusan Menteri Negara Perencanan Pembangungan Nasional/ Ketua BAPPENAS No. KEP-122/ KET/ 7/ 1994 tentang Tata Cara Pengadaan dan Biaya Jasa Konsultasi. 3

2.

3.

Abdul Hakim G. Nusantara dan Benny K. Harman. Analisa dan Perbandingan UndangUndang Anti Monopoli. PT. Gramedia, Jakarta, 1999. h. 21. Ibid.

3

Produk hukum pertama dan kedua di atas berlaku untuk departemen, lembaga pemerintah non departemen, pemerintah daerah, BUMN, dan BUMD. Ketentuan ini dibuat agar pengelolaan uang atau kekayaan negara, baik yang dituangkan melalui APBN/ APBD maupun pengembangan BUMN/ BUMD, bisa berjalan lebih efisien dan efektif dalam mencapai kesejahteraan masyarakat.4 Untuk menjamin persaingan usaha yang sehat, Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR-RI) menerbitkan UU No. 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat (selanjutnya disebut UU No. 5 Tahun 1999). Pelaksanaan UU No. 5 Tahun 1999 yang efektif diharapkan dapat memupuk budaya berbisnis yang jujur dan sehat sehingga dapat terus menerus mendorong dan meningkatkan daya saing diantara pelaku usaha. Tidak dapat disangkal bahwa agar suatu aturan hukum dapat ditegakkan secara baik, diperlukan organ penegak hukum yang memadai. Suatu aturan hukum, betapapun baiknya secara substantif, tidak akan berjalan dengan baik apabila tidak didukung oleh sistem penegak hukum yang baik pula.5 Hukum Persaingan Usaha tidak hanya ditujukan pada ketertiban masyarakat (public order), namun juga sedikit banyak bekepentingan dengan terciptanya efisiensi ekonomi melalui penciptaan dan pemeliharaan iklim persaingan usaha yang kondusif. Mengingat bahwa hukum persaingan usaha berkaitan dengan aktivitas berusaha (business activity) dan masyarakat usaha sebagai tempat berlakunya, bisa dimengerti apabila di banyak negara yang telah memiliki hukum persaingan usaha yang komprehensif lantas dibentuk organ khusus untuk mengelola
4. 5.

Ibid. h. 22. Arie Siswanto. Hukum Persaingan Usaha. Ghalia Indonesia. Jakarta. 2002. h. 49.

4

penegakan hukum persaingan usaha. Dengan kewenangan yang dimiliki, organorgan khusus semacam ini memikul tanggung jawab untuk mengungkapkan hukum persaingan di satu sisi dan di sisi lain sekaligus menjaga supaya iklim berusaha tidak terganggu oleh “intervensi” hukum persaingan usaha. Untuk dapat terwujudnya ketentuan-ketentuan tentang anti monopoli ini ke dalam praktek, maka dibutuhkan suatu badan yang tugas pokoknya adalah untuk mengawasi pelaksanaan dari ketentuan-ketentuan tentang persaingan usaha. Maka dari itu, UU No. 5 Tahun 1999 telah membentuk apa yang disebut dengan Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU). Komisi ini bertanggung jawab langsung kepada Presiden RI. Karena itu, KPPU memperoleh sumber keuangan dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara atau sumber-sumber lainnya yang diperbolehkan oleh peraturan perundang-undangan. Berdasarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 75 Tahun 1999, KPPU dibentuk sebagaimana diatur dalam Pasal 34 yang mengatur mengenai susunan organisasi, tugas, dan fungsi Komisi yang ditetapkan melalui Keputusan Presiden. Komisi memiliki beberapa tugas yang meliputi6 : 1. Melakukan penilaian terhadap perjanjian yang dapat mengakibatkan terjadinya praktek monopoli dan atau persaingan usaha tidak sehat. 2. Melakukan penilaian terhadap kegiatan usaha dan atau tindakan pelaku usaha yang dapat mengakibatkan terjadinya praktek monopoli dan atau persaingan usaha tidak sehat.
6.

Ningrum Natasya Sirait. Hukum Persaingan di Indonesia. Pustaka Bangsa Press. Medan. 2004. h. 108 – 109.

5

3. melakukan penilaian terhadap ada atau tidak adanya penyalahgunaan posisi dominan yang dapat mengakibatkan praktek monopoli yang dapat mengakibatkan terjadinya praktek monopoli dan atau persaingan usaha tidak sehat. 4. Mengambil tindakan sesuai dengan wewenang komisi. 5. Memberikan saran dan pertimbangan terhadap kebijakan pemerintah yang berkaitan dengan praktek monopoli dan atau persaingan usaha tidak sehat. 6. Menyusun pedoman dan atau publikasi yang berkaitan dengan UU No. 5 Tahun 1999. 7. Memberikan laporan secara berkala atas hasil kerja Komisi kepada Presiden dan Dewan Perwakilan Rakyat. Dengan tugas tersebut di atas maka KPPU menjalankannya dengan baik terbukti dengan terungkapnya kasus RSU. KOTA PEMATANG SIANTAR yang mengadakan tender mengenai Perbaikan Bangsal pada rumah sakit tersebut tetapi telah terjadi persekongkolan tender. Adanya kerjasama antara perusahaan peserta tender dengan Walikota, Wakil Walikota, Pelaksana Kepala RSU dan Panitia Tender mengakibatkan negara mengalami kerugian sebesar Rp. 381.440.000,00 (tiga ratus delapan puluh satu juta empat ratus empat puluh ribu rupiah).7 Dari uraian di atas maka sudah waktunya KPPU mulai memikirkan bagaimana upaya membantu pemerintah agar dapat lebih mengatasi masalahmasalah persaingan usaha tidak sehat dan atau persekongkolan tender tersebut terlebih lagi di daerah yang masih banyak terjadi persekongkolan tender.

7.

KPPU, Putusan Perkara No. : 06 / KPPU-L / 2006 Tentang Perbaikan Bangsal RSU Kota Pematang Siantar Tahun Anggaran 2005.

6

Untuk melakukan analisis

yang lebih komprehensif dan dapat

dipertanggungjawabkan secara metodologis tentang permasalahan ini, penulis memilih judul “Peran Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) dalam Mengawasi Tender Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) di Sumatera Utara” dengan studi kasus RSU. PEMATANG SIANTAR.

B. Perumusan Masalah Dalam suatu rencana penelitian langkah utama yang perlu diperhatikan adalah apa yang menjadi masalah pokok penelitian tersebut. Berdasarkan uraian di atas maka penulis dapat merumuskan masalah sebagai berikut : 1. Bagaimana tender ditinjau dari Hukum Persaingan Usaha? 2. Bagaimana peran KPPU mengawasi dalam pelaksanaan Tender Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) di Sumatera Utara?

C. Tujuan dan Manfaat Penulisan Tujuan Penulisan Adapun tujuan utama dari penulisan skripsi ini adalah untuk memenuhi syarat guna mendapatkan gelar Sarjana Hukum pada Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara dan sebagai tambahan pengetahuan bagi penulis. Namun, berdasarkan permasalahan yang dikemukakan di atas, maka tujuan yang ingin dicapai dalam karya tulis ini, antara lain : 1. Untuk mengetahui prosedur pelaksanaan tender yang di tempuh oleh peseta tender sesuai dengan ketentuan pengadaan barang dan jasa Instansi Pemerintah.

7

2. Untuk mengetahui mengenai permasalahan yang timbul dalam pengadaan barang dan jasa instansi Pemerintah yang berkaitan dengan kegiatan yang dilarang menurut Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999. Manfaat Penulisan a. Secara teoritis, penulisan ini dapat dijadikan bahan kajian terhadap perkembangan Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) mengenai sejauh mana pengawasan terhadap tender tersebut dilakukan khususnya pada Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) di Sumatera Utara. b. Secara praktis, penulisan ini dapat memberikan sumbangan pemikiran yuridis tentang keberadaan Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) yang memegang peranan penting dalam kegiatan perekonomian di negara kita; dan dapat memberikan sumbangan pemikiran dan pemahaman kepada para pembaca yang berminat untuk mengetahui dan mempelajari tata cara mengikuti tender-tender pemerintah.

D. Keaslian Penulisan Skripsi ini berjudul : “Peran Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) dalam mengawasi tender Badan Usaha Milik Daerah di Sumatera Utara”. Sejauh pengamatan dan sepengetahuan penulis, materi yang dibahas dalam skripsi ini belum pernah dijadikan judul maupun pembahasan dalam skripsi yang sudah ada terdahulu, sehingga penulis tertarik mengangkat judul di atas serta permasalahannya sebagai judul dan pembahasan dalam skripsi ini.

8

E. Tinjauan Kepustakaan Dari judul pada skripsi Peran Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) dalam Mengawasi Tender Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) di Sumatera Utara maka dapat diambil beberapa tinjauan kepustakaan, yaitu : Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) adalah suatu lembaga yang khusus dibentuk oleh dan berdasarkan undang-undang untuk mengawasi jalannya undang-undang.8 Tender adalah tawaran mengajukan harga untuk memborong suatu pekerjaan, untuk mengadakan barang-barang atau untuk menyediakan jasa.9 Badan Usaha Milik Negara (BUMN) atau Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) adalah semua perusahaan dalam bentuk apapun yang modalnya untuk seluruhnya merupakan kekayaan negara Republik Indonesia kecuali ditentukan lain dengan atau berdasarkan undang-undang.10

F. Metode Penulisan 1. Tipe Penelitian Penelitian yang akan dilakukan adalah penelitian hukum normatif dan penelitian hukum empiris. 11 Langkah pertama dilakukan penelitian normatif yang didasarkan pada bahan hukum primer dan sekunder yaitu inventarisasi peraturanperaturan yang berkaitan dengan Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU)

8.

9.

10.

11.

Ahmad Yani dan Gunawan Widjaja. Seri Hukum Bisnis Anti Monopoli.PT. Raja Grafindo Persada. Jakarta. 1999. h. 53. Komisi Pengawas Persaingan Usaha Republik Indonesia. Pedoman Pasal 22 Tentang Larangan Persekongkolan dalam Tender. KPPU. Jakarta. 2005. h. 7. Syamsul Rizal. Analisis Yuridis dari Badan Usaha Milik Negara (BUMN). USU Digital Library. Medan. 2003. Soerjono Soekanto. Pengantar Penelitian Hukum. UI Press. Jakarta. 1986. h. 9-10.

9

sebagai lembaga yang mengawasi persaingan usaha. Selain itu, juga dipergunakan bahan-bahan tulisan yang berkaitan dengan Peran Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) dalam Mengawasi Tender Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) di Sumatera Utara. Penelitian bertujuan menemukan landasan hukum yang jelas dalam meletakkan persoalan ini dalam perspektif hukum persaingan usaha. Kemudian dikaitkan dengan penelitian hukum empiris dimana penelitian ini berupaya untuk melihat bagaimana persoalan ini dilaksanakan dalam praktek. 2. Jenis Data Bahan atau data yang dicari berupa data sekunder yang terdiri dari12 : a. Sumber hukum primer berupa peraturan perundang-undangan yaitu UU No. 5 Tahun 1999 dan peraturan perundang-undangan lainnya yang relevan. b. Sumber hukum sekunder berupa bahan acuan lainnya yang berisikan informasi tentang bahan primer berupa tulisan/ buku berkaitan dengan hukum persaingan usaha dan Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU). 3. Lokasi Penelitian Penelitian ini dilakukan di Kantor Perwakilan KPPU di Medan. 4. Teknik Pengumpulan Data Untuk memperoleh suatu kebenaran ilmiah dalam penulisan skripsi, maka penulis menggunakan metode pengumpulan data dengan cara13 :

12. 13.

Ibid. h. 51 – 52. Ibid. h. 24.

10

a. Studi Kepustakaan, yaitu mempelajari dan menganalisis secara sistematis buku-buku, surat kabar, makalah ilmiah, peraturan perundang-undangan dan bahan-bahan lain yang berhubungan dengan materi yang dibahas dalam skripsi ini. b. Wawancara, dilakukan untuk mengumpulkan data-data yang

mendukung penulisan skripsi ini dengan pihak-pihak yang terkait dengan KPPU dan perusahaan-perusahaan yang pernah mengikuti tender BUMN maupun BUMD, dengan cara memberikan sejumlah pertanyaan yang berhubungan langsung dengan materi yang diteliti. 5. Teknik Analisis Data Metode yang digunakan untuk menganalisis data adalah analisis kualitatif, yaitu data yang diperoleh kemudian disusun secara sistematis dan selanjutnya dianalisis secara kulaitatif untuk mencapai kejelasan masalah yang akan dibahas dan hasilnya tersebut dituangkan dalam bentuk skripsi.14

G. Sistematika Penulisan Sebagai karya ilmiah, skripsi ini memiliki sistematika yang teratur, terperinci di dalam penulisannya agar dimengerti dan dipahami maksud dan tujuannya. Tulisan ini terdiri dari 5 (lima) bab yang akan diperinci lagi dalam sub bab, adapun kelima bab itu terdiri dari :

14.

Ibid.

11

1. BAB I

:

PENDAHULUAN

Dalam bab ini penulis menguraikan tentang latar belakang mengapa penulis tertarik menyajikan materi yang ditelilti dalam bentuk skripsi, permasalahan, tujuan dan manfaat penulisan, dilanjutkan dengan keaslian penulisan, tinjauan kepustakaan, metode penelitian yang digunakan serta sistematika penulisan skripsi ini. 2. BAB II : TINJAUAN UMUM TENTANG TENDER

Bab ini berisikan uraian mengenai pengertian tender, tahap-tahap pelaksanaan tender, dasar hukum tender, dan pengawasan pelaksanaan tender di BUMD. 3. BAB III : TENDER DALAM TINJAUAN UU NO. 5 TAHUN 1999 TENTANG LARANGAN PRAKTEK MONOPOLI DAN PERSAINGAN USAHA TIDAK SEHAT Pada bab ini diuraikan secara teoritis mengenai persekongkolan yang dilakukan dalam tender yang merupakan perbuatan yang dilarang Pasal 22 UU No. 5 Tahun 1999, jenis-jenis persekongkolan dalam tender, larangan persekongkolan tender dalam UU No. 5 Tahun 1999, serta peranan dan fungsi KPPU di daerah dalam pelaksanaan tender di BUMD. 4. BAB IV : KOMISI PENGAWAS PERSAINGAN USAHA (KPPU) DALAM MENGAWASI PELAKSANAAN TENDER BADAN USAHA MILIK DAERAH (BUMD) SUMATERA UTARA Bab ini merupakan pembahasan dari permasalahan yang ada dalam skripsi ini. Dimulai dengan Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) sebagai DI

12

lembaga pengawas terhadap penegakan hukum UU No. 5 Tahun 1999, kemudian tinjauan umum KPPUD di Sumatera Utara, dilanjutkan dengan pelaksanaan tender di rumah sakit siantar, dan terakhir dibahas mengenai peranan KPPUD dalam pelaksanaan tender di Rumah Sakit Umum Kota Pematang Siantar. 5. BAB V : KESIMPULAN DAN SARAN

Bab ini adalah bab terakhir yang merupakan kesimpulan dan saran dari penulisan skripsi ini. Dimana dalam bab ini ditemukan jawaban atas permasalahan yang telah penulis uraikan sebelumnya.

13

BAB II TINJAUAN UMUM TENTANG TENDER

A. Pengertian dan Dasar Hukum Yang dimaksud dengan tender adalah tawaran mengajukan harga terbaik untuk membeli atau mendapatkan barang dan atau jasa, atau menyediakan barang dan atau jasa, atau melaksanakan suatu pekerjaan.15 Pengertian tender meliputi, antara lain16 : 1. Tawaran mengajukan harga terbaik untuk memborong atau melaksanakan suatu pekerjaan; 2. Tawaran mengajukan harga terbaik untuk mengadakan barang-barang atau jasa; 3. Tawaran mengajukan harga terbaik untuk membeli suatu barang dan atau jasa; 4. Tawaran mengajukan harga terbaik untuk menjual suatu barang dan atau jasa. Dalam prakteknya pengertian tender adalah sama dengan pengertian "lelang". Pelelangan adalah serangkaian kegiatan untuk menyediakan kebutuhan barang/ jasa dengan cara menciptakan persaingan yang sehat di antara penyedia barang/ jasa yang setara dan memenuhi syarat, berdasarkan metode dan tata cara tertentu yang telah ditetapkan dan diikuti oleh pihak-pihak yang terkait secara taat asas sehingga terpilih penyedia jasa terbaik.17

15. 16. 17.

Komisi Pengawas Persaingan Usaha. Guideline Tender. Jakarta. 2007. Ibid. Ibid.

14

Definisi tersebut merupakan bentuk operasional pelaksanaan Pasal 22 UU. No. 5 Tahun 1999 yang ada di lapangan. Dari definisi tersebut, pengertian tender dan lelang tidak dibedakan. UU No. 5 Tahun 1999 melarang perbuatan pelaku usaha yang bertujuan menghambat atau bertentangan dengan prinsip persaingan usaha yang sehat, antara lain seperti pembatasan akses pasar (barrier to entry),18 kolusi, dan tindakan lain yang bertujuan untuk menghilangkan persaingan. Tindakan lain yang dapat berakibat kepada terjadinya persaingan usaha tidak sehat adalah tindakan persekongkolan untuk mengatur dan atau menentukan pemenang tender.19 Setelah berbicara mengenai tender maka tidak terlepas dari pengadaan barang/ jasa yang memiliki beberapa prinsip-prinsip dasar, yaitu20 : 1. Efisien berarti pengadaan barang/ jasa harus diusahakan dengan menggunakan dana dan daya yang terbatas untuk mencapai sasaran yang ditetapkan dalam waktu sesingkat-singkatnya dan dapat

dipertanggungjawabkan; 2. Efektif berarti pengadaan barang/ jasa harus sesuai dengan kebutuhan yang telah ditetapkan dan dapat memberi manfaat yang sebesar-besarnya sesuai dengan sasaran yang ditetapkan; 3. Terbuka dan bersaing berarti pengadaan barang/ jasa harus terbuka bagi penyedia barang/ jasa yang memenuhi persyaratan dan dilakukan melalui persaingan yang sehat di antara penyedia barang/ jasa yang setara dan
18. 19. 20.

Ningrum Natasya Sirait. Op cit. h. 100. Komisi Pengawas Persaingan Usaha. Op cit. h. 7. Pasal 3 Keppres. No. 80 Tahun 2003 Tentang Pedoman Pelaksanaan Pengadaan Barang/ Jasa Pemerintah.

15

memenuhi syarat/ kriteria tertentu berdasarkan ketentuan dan prosedur yang jelas dan transparan; 4. Transparan berarti semua ketentuan dan informasi mengenai pengadaan barang/ jasa termasuk syarat teknis administrasi pengadaan, tata cara evaluasi, hasil evaluasi, penetapan calon penyedia barang/ jasa sifatnya terbuka bagi peserta penyedia barang/ jasa yang berminat serta bagi masyarakat luas pada umumnya; 5. Adil/ tidak diskriminatif berarti memberikan perlakuan yang sama bagi semua calon penyedia barang/ jasa dan tidak mengarah untuk memberi keuntungan pada pihak tertentu dengan cara dan atau alasan apapun; 6. Akuntabel berarti harus mencapai sasaran baik fisik, keuangan, maupun manfaat bagi kelancaran pelaksanaan tugas umum pemerintahan dan pelayanan masyarakat sesuai dengan prinsip-prinsip serta ketentuan yang berlaku dalam pengadaan barang/ jasa. Walaupun pengadaan barang/ jasa memiliki prinsip-prinsip dasar yang baik namun masih banyak pengaturan pemenang tender yang dapat ditemukan pada pelaksanaan pengadaan barang dan atau jasa yang dilaksanakan oleh pemerintah pusat atau pemerintah daerah (government procurement), BUMN, dan perusahaan swasta. Untuk itu Pasal 22 UU No. 5 Tahun 1999 tidak hanya mencakup kegiatan pengadaan yang dilakukan oleh Pemerintah, tetapi juga kegiatan pengadaan yang dilakukan oleh perusahaan negara (BUMN/ BUMD) dan perusahaan swasta. Berdasarkan Penjelasan Pasal 22 UU No. 5 Tahun 1999, Tender adalah tawaran mengajukan harga untuk memborong suatu pekerjaan, untuk

16

mengadakan barang-barang atau untuk menyediakan jasa. Dalam hal ini tidak disebut jumlah yang mengajukan penawaran (oleh beberapa atau oleh satu pelaku usaha dalam hal penunjukan/ pemilihan langsung). Pengertian tender tersebut mencakup tawaran mengajukan harga untuk21 : 1. Memborong atau melaksanakan suatu pekerjaan. 2. Mengadakan barang dan atau jasa. 3. Membeli suatu barang dan atau jasa. 4. Menjual suatu barang dan atau jasa. Berdasarkan definisi tersebut, maka cakupan dasar penerapan Pasal 22 UU No. 5 Tahun 1999 adalah tender atau tawaran mengajukan harga yang dapat dilakukan melalui22 : 1. Tender terbuka; 2. Tender terbatas; 3. Pelelangan umum; dan 4. Pelelangan terbatas. Berdasarkan cakupan dasar penerapan ini, maka pemilihan langsung dan penunjukan langsung yang merupakan bagian dari proses tender/ lelang juga tercakup dalam penerapan Pasal 22 UU No. 5 Tahun 199923. Ketentuan tentang isi Pasal 22 UU No. 5 Tahun 1999 menyatakan pelarangan, yaitu : “Pelaku usaha dilarang bersekongkol dengan pihak lain untuk mengatur dan atau menentukan pemenang tender sehingga dapat mengakibatkan terjadinya persaingan usaha tidak sehat”.

21. 22. 23.

Komisi Pengawas Persaingan Usaha. Loc cit. Ibid. Ibid.

17

Pasal 22 di atas dapat diuraikan kedalam beberapa unsur, antara lain24 : 1. Unsur pelaku usaha; Pasal 1 butir 5 UU No. 5 Tahun 1999, menyebutkan bahwa : “Pelaku usaha adalah setiap orang perorangan atau badan usaha baik yang berbentuk badan hukum atau bukan badan hukum yang didirikan dan berkedudukan atau melakukan kegiatan dalam wilayah hukum negara Republik Indonesia, baik sendiri maupun bersama-sama melalui perjanjian, menyelenggarakan berbagai kegiatan usaha dalam bidang ekonomi”. 2. Unsur bersekongkol; Bersekongkol adalah kerjasama yang dilakukan oleh pelaku usaha dengan pihak lain atas inisiatif siapapun dan dengan cara apapun dalam upaya memenangkan tender tertentu. 3. Unsur pihak lain; Pihak lain adalah para pihak (vertikal dan horizontal) yang terlibat dalam proses tender yang melakukan persekongkolan tender baik pelaku usaha sebagai peserta tender dan atau subjek hukum lainnya yang terkait dengan tender tersebut. 4. Unsur mengatur dan atau menentukan pemenang tender; dan Mengatur dan atau menentukan pemenang tender adalah suatu perbuatan para pihak yang terlibat dalam proses tender secara bersekongkol yang bertujuan untuk menyingkirkan pelaku usaha lain sebagai pesaingnya dan/ atau untuk memenangkan peserta tender tertentu dengan berbagai cara. Pengaturan dan atau penentuan pemenang tender tersebut antara lain dilakukan dalam hal penetapan kriteria pemenang, persyaratan teknik, keuangan, spesifikasi, proses tender, dan sebagainya.
24.

Ibid.

18

5. Unsur persaingan usaha tidak sehat. Persaingan usaha tidak sehat adalah persaingan antar pelaku usaha dalam menjalankan kegiatan produksi dan atau pemasaran barang dan atau jasa yang dilakukan dengan cara tidak jujur atau melawan hukum atau menghambat persaingan usaha. Demikianlah diuraikan unsur-unsur dari Pasal 22 UU No. 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat. Selanjutnya, akan dibahas mengenai tahap-tahap pelaksanaan tender.

B. Tahap-Tahap Pelaksanaan Tender Tahap-tahap pelaksanaan tender yang prosedural mengenai pengadaan barang dan jasa pemerintah diatur dengan UU No. 18 Tahun 2000, yaitu25 : 1. Perencanaan Pengadaan; Perencanaan Pengadaan adalah tahap awal dalam kegiatan pengadaan barang dan jasa pemerintah yang bertujuan untuk membuat Rencana Pengadaan (Procurement Plan)26 yang mempersiapkan dan mencantumkan secara rinci mengenai target, lingkup kerja, SDM, waktu, mutu, biaya, dan manfaat dari pengadaan barang & jasa untuk keperluan pemerintah, yang dibiayai dari dana APBN maupun BLN. Rencana Pengadaan akan menjadi acuan utama dalam kegiatan pengadaan barang dan jasa pemerintah per paket pekerjaan.27

25.

26.

27.

Komaruddin Hidayat. Tool Kit Anti Korupsi dalam Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah. http://kormonev.org/data/toolkitbarang.pdf. ADB Project Public Relations Activities in Support of Government’s Anticoruption Efforts. Jakarta. 2005. h. 15 – 22. Moedjiono. Seluruh Departemen Mulai Pakai E-Procurement. www.depkominfo.go.id. Departemen Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia. Jakarta. 2007. Loc cit. h. 15 – 22.

19

2. Pembentukan Panitia Lelang; Panitia lelang adalah lembaga pelaksana pengadaan yang pertama-tama dibentuk dan ditunjuk oleh pemimpin proyek setelah seluruh persiapan administrasi pelaksanaan proyek baku. Penunjukkan panitia sepatutnya bersandar pada prinsip profesionalisme, responsif, accountable, credible, dan mandiri. Panitia lelang memiliki kewenangan antara lain28 : a. menyusun dokumen tender; b. menyusun dan menyeleksi peserta tender; c. melakukan kegiatan- kegiatan tender sampai dengan penetapan pemenang; dan d. melaksanakan tugas secara professional 3. Prakualifikasi Perusahaan; Kegiatan prakualifikasi adalah penentuan syarat administrasi, teknis, dan pengalaman serta seleksi dari perusahaan (kontraktor/ konsultan/ dan supplier), yang diperkirakan mampu untuk melaksanakan pekerjaan yang akan ditender atau dilelangkan. Prakualifikasi dilaksanakan sebelum tender dalam rangka menjaring calon yang sanggup melaksanakan pekerjaan. Dalam tahap ini panitia menyusun kriteria kelulusan prakualifikasi dan mengumumkannya pada masyarakat. Prioritas dalam prakualifikasi akan merujuk kepada sertifikasi, izin usaha, kemampuan keuangan, pengalaman yang sesuai, kepatuhan dalam perpajakan, pekerjaan yang sedang dikelola, serta kinerja perusahaan. Sebagaimana tahap-tahap lainnya, pelaksanaan prakualifikasi harus mengacu

28.

Komaruddin Hidayat. Op cit. h. 15 – 22.

20

pada

prinsip

keterbukaan,

kejujuran,

transparansi,

kemandirian,

dan

profesionalisme.29 4. Penyusunan Dokumen Lelang; Penyusunan dokumen lelang adalah kegiatan yang bertujuan untuk menentukan secara teknis dan rinci dari pekerjaan yang akan dilaksanakan oleh pihak penyedia jasa, mulai dari lingkup pekerjaan, mutu, jumlah, ukuran, jenis, waktu pelaksanaan, dan metoda kerja dari keseluruhan pekerjaan yang akan dilelangkan. Hal-hal yang perlu diperhatikan adalah30 : a. Dokumen disusun secara sederhana oleh panitia agar mudah dipahami dan menjadi pedoman baku bagi seluruh pihak; b. Dokumen tersebut meliputi petunjuk kepada peserta lelang, syarat kontrak, syarat teknis, daftar pekerjaan yang akan dikontrakkan, usulan perjanjian, serta gambar-gambar dan referensi yang diperlukan oleh peserta tender. 5. Pengumuman Lelang; Pengumuman lelang dimaksudkan agar masyarakat mengetahui akan adanya pekerjaan yang diselenggarakan oleh pemerintah, oleh karena itu pengumuman tersebut harus disebarluaskan melalui media massa. Pada dasarnya, pengumuman tersebut mewakili proses pendaftaran bagi perusahaan yang telah lulus kualifikasi untuk mengikuti tender.31

29. 30. 31.

Ibid. Ibid. Ibid.

21

6. Pengambilan Dokumen Lelang; Kegiatan penyediaan dokumen pelelangan oleh Panitia Lelang kepada para peminat, secara lengkap dengan cuma-cuma maupun dengan biaya yang telah ditentukan, dalam waktu yang sesuai dengan jadwal yang telah ditetapkan oleh peraturan yang berlaku. Untuk mempermudah distribusi, dokumen lelang dapat dibagi menjadi dokumen tetap dan tidak tetap. Isi dokumen adalah instruksi standar untuk bidder, syarat-syarat umum kontrak, spesifikasi teknis umum, contoh-contoh dokumen yang umum diberlakukan seperti surat penawaran, bid bond/ guarantee, performance bond/ guarantee, dan surat usulan ajudicator.32 7. Penentuan Harga Perkiraan Sendiri (HPS); Harga Perkiraan Sendiri (HPS) menentukan perkiraan besaran biaya pekerjaan yang akan dilelangkan, berdasarkan33 : a. Harga pasaran yang berlaku; b. Patokan jenis, ukuran volume, metoda dan pekerjaan yang sesuai dengan desain atau rancang bangun pekerjaan dimaksud; c. Perhitungan kenaikan harga dan waktu pelaksanaan pekerjaan; d. Harga Perkiraan Sendiri perlu dalam penyusunan anggaran, proses pengadaan, dan pelaksanaan. Harga Perkiraan Sendiri berperan dalam penentuan pemenang; e. Setiap peserta lelang memperoleh akses untuk mengetahui Harga Perkiraan Sendiri; f. Penyusunan Harga Perkiraan Sendiri harus mengkaji studi kelayakan, engineering design, data harga kontrak di sekitar
32. 33.

Ibid. Ibid.

22

pekerjaan yang akan dilelangkan, harga pasar yang berlaku, dan harga yang dikeluarkan oleh pemerintah/ manufaktur atau perusahaan jasa; 8. Penjelasan Lelang; Aanwijzing adalah pertemuan penjelasan lisan dari pihak pemberi kerja, yang dalam hal ini diwakili oleh Panitian Pengadaan dihadap keseluruhan calon peserta pelelangan Penjelasan dan tanya jawab dilakukan tentang hal teknis maupun administratif, agar tidak terjadi perbedaan persepsi maupun kekeliruan dalam pengajuan penawaran. Kegiatan tersebut, antara lain34 : a. Kegiatan ini harus bersifat terbuka dan dibuat berita acaranya oleh panitia; b. Informasi yang diberikan dalam bentuk addendum dokumen lelang; c. Bila penjelasan lapangan diperlukan, panitia tidak diperkenankan memungut biaya untuk kegiatan tersebut. 9. Penyerahan Penawaran Harga dan Pembukaan Harga; Penyerahan dokumen penawaran secara tepat waktu, lengkap dan memenuhi syarat administrasi dan teknis, serta dialamatkan seperti yang telah ditentukan penyerahan harus dapat dibuktikan dan tanda terima dari petugas. Kegiatan ini antara lain meliputi35 : a. Penyampaian penawaran oleh peserta oleh peserta dapat dilakukan segera setelah peserta menerima addendum terakhir panitia; b. Penyampaian dokumen diluar batas waktu tidak akan diterima;
34. 35.

Ibid. Ibid.

23

c. Pembukaan,

pemberian

tanda,

penelitian

dokumen

utama

disaksikan oleh peserta; d. Setelah berita acara pembukaan, panitia tidak diperkenankan lagi menerima dokumen apapun; e. Tidak ada peserta yang gugur sebelum dilakukan evaluasi terhadap dokumen. 10. Evaluasi Penawaran; Kegiatan pemeriksaan, penelitian dan analisis dari keseluruhan usulan teknis dari peserta pelelangan, dalam rangka untuk memperoleh validasi atau pembuktian terhadap harga penawaran yang benar, tidak terjadi kekeliruan sesuai dengan persyaratan teknis yang telah ditentukan. Adapun kegiatan itu adalah36 : a. Evaluasi penawaran meliputi evaluasi administrasi, evaluasi teknis, dan evaluasi harga; b. Evaluasi administrasi perlu mempertimbangkan faktor

redaksional, keabsahan, jaminan penawaran, dan aritmatik; c. Setelah lulus evaluasi administrasi, penawaran akan dikaji dari isi teknis dimana perusahaan yang mengikuti tender harus memiliki sertifikasi dari lembaga akreditas yang kredibel. 11. Pengumuman Calon Pemenang; Kegiatan Pengumuman urutan Calon Pemenang dilakukan setelah keseluruhan hasil penelitian dirumuskan oleh panitia pelelangan dinyatakan selesai, dan diusulkan atau dipertanggungjawabkan kepada penanggung jawab alokasi dana atau pemilik proyek. Calon pemenang diurutan pertama akan

36.

Ibid.

24

disyahkan sebagai pemenang pelelangan, setelah masa sanggah selesai dengan kegiatan sebagai berikut37 : a. Pengumuman dipasang di media massa dengan jangkauan yang luas sesuai besaran kontrak, pengumuman ditempelkan pula di Kantor proyek; b. Pengumuman harus jelas dan rinci, sehingga sanggahan menjadi berkurang; c. Dilaksanakan dengan waktu yang cukup; d. Pelaksanaannya tepat waktu dan tidak ditunda-tunda. 12. Sanggahan Peserta Lelang; Kegiatan ini dimaksudkan untuk memberikan kesempatan bagi para peserta pelelangan yang minta penjelasan tentang keputusan panitia pelelangan tentang urutan calon pemenang, dengan kegiatan sebagai berikut38 : a. Panitia harus terbuka, akomodatif, dan memproses setiap sanggahan dari masyarakat yang umumnya berkisar paada ketidakpuasan evaluasi, intransparansi, ketidakadilan, dan

penggelapan data dari pemenang; b. Berdasarkan informasi tersebut, panitia harus segera melakukan investigasi untuk membuktikan kebenaran sanggahan. Bila sanggahan tersebut tidak benar, maka panitia akan melanjutkan ke penandatanganan kontrak, masyarakat benar; sebaliknya bila sanggahan dari

37. 38.

Ibid. Ibid.

25

c. Pemerintah

harus

memberikan

sanksi

administratif

yakni

pembatalan tender, mencoret nama pemenang, dan pembubaran panitia. 13. Penunjukan Pemenang Lelang; Setelah masa ‘sanggah’ berakhir maka, kepala instansi/ proyek wajib untuk mengeluarkan secara resmi surat penetapan pemenang pelelangan. Guna dapat diproses di dalam ikatan perjanjian kerja pelaksanaan pekerjaan atau Kontrak Kerja. Kegiatan tersebut meliputi39 : a. Berita acara yang telah selesai lengkap dengan tanda tangan seluruh anggota panitia; b. Catatan lengkap sanggahan dan jawaban merupakan kelengkapan data yang diperlukan untuk pengeluaran surat tersebut; c. Catatan samping, side letter yang merupakan hasil kesepakatan antara panitia dan mitra calon pemenang pada preaward meeting. 14. Penandatanganan Kontrak Perjanjian; Kegiatan akhir dari proses pelelangan adalah penandatanganan perjanjian kontrak pelaksanaan pekerjaan. Perjanjian tentang nilai harga pekerjaan, hak dan kewajiban kedua belah pihak, serta waktu pelaksanaan pekerjaan yang ditentukan secara pasti.40 15. Penyerahan Barang/ Jasa kepada User. Penyerahan barang dan jasa dapat dilakukan secara bertahap atau menyeluruh. Barang yang diserahkan harus sesuai dengan spesifikasi yang tertuang dalam dokumen lelang. Penyerahan final dilakukan setelah masa
39. 40.

Ibid. Ibid.

26

pemeliharaan selesai. Setelah penyerahan final selesai, tanggung jawab penyedia jasa masih belum berakhir. Penyerahan barang dan jasa dianggap memenuhi aturan yang berlaku apabila dilaksanakan41 : a. Tepat waktu sesuai perjanjian; b. Tepat mutu sesuai yang dipersyaratkan; c. Tepat volume sesuai yang dibutuhkan; d. Tepat biaya sesuai dalam isi kontrak.

C. Dasar Hukum Pengaturan Tender di BUMD Prosedur mengenai pelaksanaan tender untuk proyek-proyek pemerintah, baik yang dianggarkan melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) maupun Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) diatur dalam beberapa produk hukum, antara lain42 : 1. Keputusan Presiden No. 16 Tahun 1974 tentang pelaksanaan APBN yang kemudian melalui Keputusan Presiden No. 24 Tahun 1995 tentang Perubahan Atas Keputusan Presiden No. 16 Tahun 1994 tentang Pelaksanaan APBN, dan diperbarui lagi melalui Keputusan Presiden No. 8 Tahun 1997 tentang Perubahan Atas Keputusan Presiden No. 16 Tahun 1994 tentang APBN sebagaimana telah diubah dengan Keputusan Presiden No. 24 Tahun 1995, yang menjadi hukum positif dalam hal melaksanakan tender di BUMN maupun BUMD adalah Keppres. No. 80

41. 42.

Ibid. Abdul Hakim G. Nusantara dan Benny K. Harman. Op cit. h. 21 – 22.

27

Tahun 2003 tentang Pedoman Pelaksanaan Pengadaan Barang/ Jasa Pemerintah yang diubah dengan Keppres. No. 61 Tahun 2004; dan 2. Keputusan Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/ Ketua BAPPENAS No. KEP-122/ KET/ 7/ 1994 tentang Tata Cara Pengadaan dan Biaya Jasa Konsultasi. Produk hukum pertama dan kedua di atas berlaku untuk departemen, lembaga pemerintah non departemen, pemerintah daerah, BUMN, dan BUMD. Ketentuan ini dibuat agar pengelolaan uang atau kekayaan negara, baik yang dituangkan melalui APBN/ APBD maupun pengembangan BUMD/ BUMD, bisa berjalan lebih efisien dan efektif dalam mencapai kesejahteraan masyarakat. Keppres No. 16 Tahun 1994, merupakan pengganti Keppres No. 9 Tahun 1984 tentang pelaksanaan APBN. Perubahaan ketentuan seperti ini dilakukan karena perubahan kondisi. Misalnya, dalam nilai proyek yang ditenderkan. Dalam Keppres No. 9 Tahun 1984 ditentukan bahwa tender melalui pengadaan langsung adalah proyek yang bernilai sampai dengan Rp. 5 juta, sementara dalam Keppres No. 16 Tahun 1994 nilai itu dinaikkan. Dalam Keppres yang lama, ketentuan mengenai prakualifikasi tidak diatur secara khusus dalam lampiran. Sementara dalam Keppres yang baru ketentuan rinci mengenai prakualifikasi diatur secara khusus dalam Lampiran III.43 Dalam Keppres No. 16 Tahun 1994, ketentuan tender tertuang dalam Pasal 21 – Pasal 29. Pengaturan secara rinci mengenai tender dalam Keppres No. 16 Tahun 1994 dijabarkan dalam Lampiran I mengenai Ketentuan Tentang

43.

Ibid. h. 22 – 23.

28

Penggunaan Produksi Dalam Negeri, Lampiran III mengenai Ketentuan Tentang Prakualifikasi untuk Calon Rekanan. Dalam Keppres tersebut terdapat peluang terjadinya persaingan tidak sehat44 : 1. Tender Tidak Terbuka (Pasal 21); Dalam Pasal 21 ayat 1 Keppres tersebut menyebutkan bahwa pelaksanaan pengadaan barang/ jasa dilakukan melalui : a. Pelelangan Umum dan Pelelangan Terbatas Pelelangan umum dan pelelangan terbatas diperlakukan bagi proyek bernilai di atas Rp. 50 juta. Secara umum, proses tender yang dilakukan dengan cara pelelangan umum dan pelelangan terbatas ini lebih terbuka dibandingkan dengan pemilihan langsung dan pengadaan langsung. Namun, setelah diteliti lebih jauh ditemukan beberapa kelemahan yang memungkinkan terjadinya persaingan tidak sehat dalam proses tender. b. Pemilihan Langsung Dalam Pasal 21 ayat (4) Keppres No. 16 Tahun 1994 menyebutkan : “Pemilihan langsung adala pelaksanaan pengadaan barang/ jasa tanpa melalui pelelangan umum atau pelelangan terbatas, yang dilakukan dengan membandingkan sekurang-kurangnya 3 (tiga) penawar dan dilakukan negosiasi, baik teknis maupun harga, sehingga diperoleh harga wajar dan yang secara teknis dapat dipertanggungjawabkan dari rekanan yang tercatat dalam DRM sesuai dengan bidang usaha, ruang lingkup, atau kualifikasi kemampuannya”. Dalam cara pemilihan langsung ini calon peserta tender dijaring oleh pemilik proyek melalui undangan langsung. Dalam Lampiran I, Nomor IV, angka 2 disebutkan bahwa untuk pelaksanan pemilihan langsung, dibentuk panitia

44.

Ibid. h. 23.

29

pemilihan langsung sesuai dengan ketetapan yang berlaku pada Nomor II, angka 2, huruf a, b, c, d, dan e, 1 kecuali Nomor II, angka 2, huruf d, butir 2.2. Ini berarti penawaran tender tidak diumumkan secara terbuka dan meluas seperti pada pelelangan umum dan pelelangan terbatas. Dalam ketentuannya, proyek yang ditenderkan melalui pemilihan langsung adalah proyek yang nilainya berkisar antara Rp. 15 juta sampai dengan Rp. 50 juta. Tetapi, untuk kasus tertentu, sebagaimana dijelaskan dalam Lampiran I, Nomor IV, angka 4, nilai proyek di atas Rp. 50 juta ditenderkan melalui penunjukan langsung. Beberapa persyaratan yang disebutkan antara lain : 1). Pekerjaan yang tidak bisa ditunda berhubung adanya bencana alam berdasarkan pernyataan gubernur kepala daerah tingkat I; 2). Pekerjaan lanjutan dari bangunan yang telah ada yang secara teknis merupakan satu kesatuan konstruksi; 3). Pengadaan barang/ jasa yang bersifat khusus; dan 4). Pelaksanaan pekerjaan yang mendesak untuk menghindari kerugian negara yang lebih besar. Cara pemilihan langsung dan penunjukan ini bisa menimbulkan persaingan tidak sehat, karena proyek ditenderkan secara tidak terbuka. Ini memungkinkan pimpinan proyek atau panitia pelelangan hanya mengundang atau memberikan informasi kepada rekanan yang dekat atau mempunyai hubungan khusus dengan mereka. Akibatnya, para rekanan tidak memperoleh informasi tentang tender proyek secara merata. Hal ini membatasi peserta lain yang sebetulnya bisa ikut serta dalam tender tersebut.

30

Penentuan calon peserta tender juga bisa mengandung kolusi dan nepotisme, sehingga proyek-proyek yang ditawarkan melalui pemilihan langsung ini menjadi monopoli orang yang mempunyai kedekatan khusus dengan pimpinan proyek atau panitia pelelangan. Bisa saja, informasi mengenai proyek tersebut hanya disebarkan kepada peserta tertentu. Ketidakterbukaan dalam proses seleksi juga memungkinkan pemenangnya sudah ditentukan lebih dahulu, sementara peserta lain hanya sebagai pembanding untuk memenuhi persyaratan. Persaingan yang tidak sehat ini pada akhirnya mengakibatkan terjadinya inefisiensi pada pelaksanaan kegiatan. c. Pengadaan Langsung Dalam Pasal 21 ayat (5) disebutkan bahwa : “Pengadaan langsung adalah pelaksanaan pengadaan barang/ jasa yang dilakukan di antara rekanan yang termasuk perusahaan golongan lemah tanpa melalui pelelangan umum atau pelelangan terbatas atau pemilihan langsung”. Sementara proses tender yang dilakukan dengan pengadaan langsung jelas bersifat tertutup, karena pelaksana proyek ditentukan langsung tanpa seleksi sebagaimana dijabarkan dalam Lampiran I Nomor V, angka 2 : “Pengadaan langsung dilakukan untuk pelaksanaan pengadaan barang/ jasa sebagai berikut : a. Sampai dengan 5 juta rupiah dilakukan tanpa Surat Perintah Kerja (SPK). b. Di atas 5 juta rupiah sampa dengan 15 juta rupiah dilakukan dengan SPK dari satu penawar dari rekanan golongan ekonomi lemah yang tercantum dalam daftar rekanan golongan ekonomi lemah yang disusun oleh Bupati Kepala Daerah Tingkat II/ Walikotamadya”. 2. Perlakuan Khusus Pasal 22 ayat (10) dan (11) mengatur pelaksanaan khusus terhadap beberapa BUMN/ BUMD, yaitu PT. PLN/ Perusahaan Listrik Daerah, PT.

31

Telkom, PT. Perusahaan Gas Negara, PDAM (Perusahaan Daera Air Minum), Perum Perumnas, Perum Percetakan Negara, dan PT. Penerbitan dan Percetakan Balai Pustaka. Untuk proyek-proyek yang bernilai di atas Rp. 50 juta (lima puluh juta rupiah) yang berkaitan dengan barang/ jasa yang ditawarkan BUMN/ BUMD tersebut dilaksanakan tanpa pelelangan. Dalam Lampiran I, Nomor IV, angka 4, huruf b dijelaskan bahwa jenis pengadaan barang/ jasa tertentu yang dapat langsung ditunjuk rekanannya adalah pemasangan listrik oleh PT. PLN/ Perusahaan Listrik Daerah, pemasangan telepon oleh PT. Telkom, pemasangan gas oleh PT. Perusahaan Gas Negara, pemasangan saluran air minum oleh PDAM, pembangunan rumah dinas oleh Perum Perumnas, percetakan oleh Perum Percetakan Negara, PT. Penerbitan dan Percetakan Balai Pustaka. Pemberian perlakuan khusus seperti itu membatasi peluang perusahaan lain untuk menangani proyek tersebut, sehingga menimbulkan persaingan yang tidak sehat. Bahkan, ketentuan ini memberikan hak monopoli kepada BUMN/ BUMD tersebut. 3. Produk Dalam Negeri Dalam Pasal 23 ayat (1) a dinyatakan bahwa departemen/ lembaga dalam melaksanakan pengadaan barang/ jasa semaksimal mungkin menggunakan hasil produksi dalam negeri dengan memperhatikan kemampuan/ potensi nasional. Dalam Lampiran II, Nomor III, angka 1 sampai 4 dinyatakan bahwa untuk pengadaan barang dan jasa (baik untuk kebutuhan sendiri maupun pelaksanaan proyek pembangunan) yang dibiayai dana dalam negeri, setiap pemerintah/ lembaga, pemerintah daerah, BUMN, BUMD, wajib menggunakan barang dan

32

jasa hasil produksi dalam negeri dan kontraktor nasional. Dalam pelaksanaan pengadaan barang/ jasa, kontraktor nasional bertindak sebagai kontraktor utama, sedangkan kontraktor asing dapat berperan sebagai subkontraktor sesuai kebutuhan. Bila bahan baku barang tersebut ada yang diimpor, wajib memilih barang dengan kandungan lokal paling besar. Bila sifat dan ruang lingkup kegiatannya terlalu besar, maka dalam tahap pelelangan kontraktor nasional diberi kesempatan untuk membentuk kerja sama antar kontraktor nasional seperti konsorsium atau bentuk kerja sama lainnya. Bila jenis keahliannya tidak bisa dipenuhi kontraktor nasional, tenaga ahli asing bisa digunakan sepanjang diperlukan untuk mencukupi jenis keahlian yang benarbenar belum dimiliki. Ketentuan ini jelas-jelas menganaktirikan produk-produk lokal (barang dan jasa) dan membatasi penggunaan produk asing. Pembatasan seperti ini menimbulkan persaingan tidak sehat, karena mempersempit ruang gerak produkproduk asing dalam proyek-proyek pemerintahan. Keputusan Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/ Ketua Badan Perencanaan Pembangunan Nasional ini dibuat untuk melengkapi Keputusan Presiden No. 16 Tahun 1994 tentang Pelaksanaan APBN dan secara khusus mengatur tender pengadaan jasa konsultasi. 45 Dalam ketentuan ini terdapat Pasal 4 ayat (1) b dinyatakan adanya pengadaan konsultasi melalui penunjukan langsung. Selanjutnya, dalam Pasal 4 ayat (4) dinyatakan bahwa pengadaan konsultan dengan nilai sampai dengan Rp. 50 juta (lima puluh juta rupiah), dilakukan melalui pemilihan langsung serta

45.

Ibid. h. 29.

33

Surat Perintah Kerja (SPK) dengan membandingkan sekurang-kurangnya tiga perusahaan konsultan yang tercatat dalam DRM. Konsultan yang diundang, sebagaimana diatur dalam ayat (5) (b), ditentukan oleh pemimpin proyek. Ayat (5) (b) berbunyi : “Pengiriman undangan kepada sekurang-kurangnya 3 (tiga) perusahaan konsultan perorangan yang dinilai memenuhi persyaratan dengan melampirkan KAK (Kerangka Acuan Kerja)”. Penentuan pemenang dalam tender seperti ini dilakukan melalui negosiasi dengan rekanan yang diundang sebagaimana diatur dalam ayat (5) (d) dan (e). ayat (5) (d) berbunyi : “Penilaian terhadap usulan teknis dan usulan biaya konsultan yang memasukkan usulan dalam bentuk nilai dan peringkat”. Sedangkan ayat (5) (e) berbunyi : “Dilakukan negosiasi teknis dan biaya dengan konsultan peringkat pertama agar diperoleh biaya yang wajar. Apabila dalam negosiasi dengan konsultan tingkat pertama tidak dapat dicapai kesepakatan, dilakukan negosiasi dengan konsultan peringkat kedua juga tidak dicapai kesepakatan, maka dilakukan negosiasi dengan konsultan peringkat ketiga”. Proses tender seperti ini memberi peluang terjadinya persaingan yang tidak sehat. Dalam hal ini, proyek-proyek yang ditenderkan melalui penunjukan langsung kemungkinan besar hanya jatuh kepada orang yang dekat dengan pimpinan proyek.

D. Pengawasan Pelaksanaan Tender di BUMD Pengawasan pelaksanaan tender di BUMD biasanya dilakukan oleh instansi pemerintahan yang mengadakan pekerjaan tersebut yang dilakukan oleh

34

pimpinan instansi46 dan masyarakat yang mengetahui tentang jalannya suatu tender pemerintah. Apabila ada suatu perbuatan yang melanggar hukum maka instansi pemerintah dan masyarakat dapat langsung melaporkan hal tersebut kepada menteri/ pimpinan instansi yang diteruskan tembusannya kepada Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP)47 atau langsung kepada KPPU48. Para peserta tender itu sendiri juga saling mengawasi satu sama lain mengenai jalannya proses tender tersebut. Suatu kegiatan/ proyek yang dilakukan oleh pelaku usaha wajib memberikan penjelasan kepada masyarakat mengenai kegiatan/ proyek yang dilaksanakannya tersebut apabila terjadi pengaduan atau pihak-pihak yang memerlukan penjelasan sesuai dengan batas kewenangannya.49 Dalam hal KPPU menerima laporan bahwa telah terjadi adanya persekongkolan dalam tender yang bertentangan dengan Pasal 22 UU No. 5 Tahun 1999 maka upaya penegakan hukum persaingan usaha yang dilakukan oleh KPPU adalah investigasi. Investigasi memainkan peranan amat menentukan. Buah dari investigasi inilah yang akan dipergunakan guna menetapkan terjadi

46.

47.

48. 49.

Pasal 48 Ayat (4) Keppres. No. 80 Tahun 2003 Tentang Pedoman Pelaksanaan Pengadaan Barang/ Jasa Pemerintah, menyebutkan bahwa : instansi pemerintah wajib melakukan pengawasan terhadap pengguna barang/ jasa dan panitia/ pejabat pengadaan di lingkungan instansi masing-masing, dan menugaskan kepada aparat pengawasan fungsional untuk melakukan pemeriksaan sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Pasal 48 Ayat (5) Keppres. No. 80 Tahun 2003 Tentang Pedoman Pelaksanaan Pengadaan Barang/ Jasa Pemerintah, menyebutkan bahwa : Unit pengawasan intern pada instansi pemerintah melakukan pengawasan kegiatan/ proyek, menampung dan menindaklanjuti pengaduan masyarakat yang berkaitan dengan masalah atau penyimpangan dalam pelaksanaan pengadaan barang/ jasa, kemudian melaporkan hasil pemeriksaannya kepada menteri/ pimpinan instansi yang bersangkutan dengan tembusan kepada Kepala Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP). Murman Budijanto. KPPU Awasi Tender. www.pikiranrakyat.com. Jakarta. 2005. Pasal 48 Ayat (6) Keppres. No. 80 Tahun 2003 Tentang Pedoman Pelaksanaan Pengadaan Barang/ Jasa Pemerintah, menyebutkan bahwa : pengguna barang/ jasa wajib memberikan tanggapan yang berada dalam batas kewenangannya kepada peserta pengadaan/ masyarakat yang mengajukan pengaduan atau yang memerlukan penjelasan.

35

atau tidaknya pelanggaran hukum persaingan usaha, tentunya pelaksanaan investigasi oleh KPPU harus dilakukan secara cermat dan akurat. Teknik investigasi ini pertama-tama dikembangkan oleh para penyidik dan penyidik di dunia kriminal. Walaupun sifat dan karakteristik investigasi kriminal dan investigasi KPPU amat berbeda, namun tujuan dari investigasi ini pada pokoknya sama, yaitu mengumpulkan data dan informasi yang tepat. Oleh karenanya dari para penyelidik dan penyidik inilah kita dapat mempelajari teknikteknik investigasi yang efektif dan tentunya teknik investigasi dalam dunia kriminal perlu dimodifikasi untuk menunjang operasional investigasi KPPU sesuai dengan keunikan hukum persaingan usaha. Dalam investigasi kriminal, kepolisian mengenal beberapa teknik investigasi, yaitu50 : 1. Observasi; 2. Surveillance; 3. Interview; 4. Undercover; 5. Penggunaan informan. Pertama sekali penyidikan yang dilakukan oleh kepolisian dengan menggunakan teknik observasi. Observasi adalah pengamatan yang seksama terhadap tersangka dan objek lainnya, sehingga dari kegiatan observasi ini diperoleh informasi-informasi yang mendetail mengenai gerak-gerik dari tersangka. Berbeda dengan observasi yang bersifat statis, kegiatan surveillance dilakukan secara dinamis yaitu dengan cara membuntuti tersangka atau objek lainnya. Interview dilakukan dalam rangka mengumpulkan data dan informasi

50.

Farid F. Nasution. Teknik Investigasi di KPPU. www.kppu.go.id. Jakarta. 2007.

36

yang tidak tertangkap oleh penglihatan, misalnya peristiwa-peristiwa yang telah lampau sehingga tidak mungkin diperoleh keterangan melalui observasi dan surveillance. Hal penting dalam melakukan interview adalah identifikasi interview yang tepat sehingga keterangan yang diperoleh dari sang interview adalah data dan informasi yang kredibel dan dapat dipercaya akurasinya. Undercover adalah teknik penyamaran, dimana seorang penyidik atau penyelidik berpura-pura menjadi orang lain guna mendekati sasaran dan menggali keterangan dari yang bersangkutan. Sedangkan penggunaan informan adalah teknik untuk memperoleh keterangan dari orang-orang dalam atau yang mengetahui mengenai suatu kegiatan atau peristiwa tertentu. Informan dalam perkara persaingan usaha pada umumnya adalah karyawan atau mantan karyawan dari suatu pelaku usaha yang tengah diinvestigasi. Berbeda dengan penggunaan informan dalam dunia kriminal yang bersifat tetap dan secara kontinyu memberi informasi kepada penyelidik maupun penyidik. Informan dalam perkara persaingan usaha lebih bersifat sebagai saksi dan tidak secara kontinyu jasanya dipergunakan dalam investigasi perkara persaingan usaha lebih mengarah pada teknik interview.51 Dalam perkara persaingan usaha, investigasi biasanya dilakukan untuk memperoleh keterangan mengenai dua hal, yaitu conduct dan effect. Conduct umumnya dilakukan sebagai suatu kegiatan korporasi dan bukan perilaku

51.

Ibid.

37

personal, sedangkan effect adalah dampak yang diakibatkan oleh conduct tersebut pada pasar bersangkutan.52 Oleh karena itu, observasi dalam investigasi perkara persaingan usaha lebih diarahkan pada berkas dan bukti-bukti tertulis lainnya dan observasi pasar. Melalui pembelajaran pada berkas dan bukti-bukti tertulis dapat kita ketahui kronologis suatu kegiatan korporasi, tujuan yang hendak dicapainya, sumber daya yang digunakannya, dan berbagai konsiderannya. Melalui observasi pasar kita dapat mengidentifikasi pergerakan harga barang dan atau jasa, trend penjualan atau pembelian dari suatu pelaku usaha dalam kurun waktu tertentu, sehingga dapat kita identifikasi kausalitas antara effect yang terjadi di pasar dengan conduct oleh suatu pelaku usaha.53 Surveillance hingga saat ini tidak pernah digunakan sebagai teknik investigasi perkara persaingan usaha. Namun demikian tidak tertutup kemungkinan di masa-masa yang akan datang dapat berguna dalam rangka mengumpulkan keterangan-keterangan yang diperlukan.54 Interview merupakan teknik utama yang selama ini dilaksanakan dalam investigasi perkara persaingan usaha. Melalui interview dapat diperoleh seluruh keterangan-keterangan yang diperlukan, pemeriksaan silang terhadap akurasi suatu dokumen, dan penggambaran kondisi-kondisi pre-conduct yang mungkin tidak terekam melalui dokumen-dokumen resmi perusahaan.55

52. 53. 54. 55.

Ibid. Ibid. Ibid. Ibid.

38

Teknik investigasi dengan cara interview sering digunakan karena dapat dengan mudah diperoleh keterangan-keterangan maupun bukti-bukti dari para pelaku usaha atau karyawan suatu perusahaan tentang suatu kasus KPPU. Berbeda sekali dengan teknik Undercover atau penyamaran yang hanya beberapa kali digunakan dalam investigasi suatu perkara persaingan usaha apabila seluruh bukti-bukti telah dimusnahkan oleh pelaku usaha tersebut maka dapat digunakan teknik undercover, namun demikian teknik ini jarang dipergunakan karena pada umumnya dalam perkara persaingan usaha keteranganketerangan yang diperlukan dapat diperoleh secara tegas dengan hanya menjelaskan bahwa keterangan tersebut diperlukan oleh KPPU dalam rangka penyelidikan atas suatu dugaan pelanggaran hukum persaingan usaha.56 Dengan bertolak belakang dengan teknik investigasi yang dilakukan oleh Kepolisian maka KPPU mengadopsi beberapa teknik investigasi yang utama, yaitu : 1. Wawancara; 2. Pemeriksaan berkas atau bukti-bukti tertulis; 3. Observasi pasar. Melalui tiga teknik tersebut keterangan-keterangan yang diperlukan dapat dikumpulkan untuk selanjutnya dijadikan bahan untuk menetapkan apakah telah terjadi/ tidak terjadinya suatu pelanggaran hukum persaingan usaha. Dengan teknik wawancara dapat dilakukan dengan para pelaku usaha yang terlibat pelanggaran tersebut begitu juga dengan pemeriksaan berkas atau bukti-bukti tertulis lainnya. Lalu selanjutnya melakukan observasi pasar dengan melihat

56.

Ibid.

39

keadaan pasar dengan cara melihat stok barang, permintaan pasar, lalu harga. Apabila stok barang sedikit di pasar dan permintaan meningkat maka harga akan naik dengan tujuan untuk mengambil keuntungan yang besar. Namun sebaliknya apabila stok barang banyak di pasar dan permintaan sedikit maka harga akan turun dengan tujuan untuk menghabiskan/ mengganti stok lama dengan stok baru.

40

BAB III KOMISI PENGAWAS PERSAINGAN USAHA (KPPU) DALAM MENGAWASI PELAKSANAAN TENDER BADAN USAHA MILIK NEGARA (BUMN) DI SUMATERA UTARA

A. Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) sebagai Lembaga Pengawas terhadap Penegakan Hukum UU No. 5 Tahun 1999 UU No. 5 Tahun 1999 mengenai Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha (UU Antimonopoli) merupakan salah satu produk undangundang yang dilahirkan atas desakan dari International Monetary Fund (IMF) sebagai salah satu syarat agar pemerintah Indonesia dapat memperoleh bantuan dari IMF guna mengatasi krisis ekonomi yang melanda Indonesia. Tujuan adanya undang-undang ini adalah untuk memangkas praktek monopoli dan persaingan usaha yang tidak sehat yang terjadi di Indonesia pada zaman pemerintahan Orde Baru, dimana praktek monopoli dan/ atau persaingan usaha tidak sehat tersebut banyak terjadi akibat kebijakan pemerintah yang kerap kali menguntungkan pelaku usaha tertentu saja. Sebenarnya Indonesia telah memiliki Rancangan Undang-Undang (RUU) Antimonopoli yang disusun oleh pelaku usaha dengan para ekonom Indonesia pada akhir tahun 80-an, yang apabila disahkan dapat digunakan sebagai landasan hukum penghapusan praktek-praktek monopoli dan persaingan usaha yang sehat yang terjadi pada waktu itu. Namun sayangnya, karena adanya tekanan dari penguasa, RUU Antimonopoli tersebut tidak pernah

41

dibahas oleh pemerintah dan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) untuk menjadi Undang-Undang.57 Dengan UU No. 5 Tahun 1999, dibentuk suatu komisi yang sangat diharapkan agar dapat menegakkan hukum secara lebih baik. Komisi tersebut diberi nama dengan Komisi Pengawas Persaingan Usaha. Kewenangan dari Komisi Pengawas ini hanya sebatas memberikan sanksi-sanksi administratif. Pada prinsipnya Komisi Pengawas ini tidak berwenang menjatuhkan sanksisanksi pidana maupun perdata. Memang membentuk suatu Komisi khusus untuk menegakkan hukum anti monopoli sudah menjadi kelaziman dalam hukum anti monopoli di berbagai negara. Misalnya di USA, di tingkat federal, bahkan ada 2 (dua) agency yang bertugas khusus untuk menegakkan hukum anti monopoli ini, yaitu58 : 1. Divisi Antitrust dalam Departemen Kehakiman (Department of Justice); dan 2. Komisi Perdagangan Federal (Federal Trade Commission). Jika kita mengambil contoh di negeri Belanda, di sana beberapa prinsip dan ketentuan umum dari penegakan hukum, khususnya yang berkenaan dengan pelaksanaan hukum anti monopoli, terlihat sebagai berikut59 : 1. Menteri Ekonomi, kadang-kadang bersama-sama dengan Menteri lain adalah bertanggung jawab terhadap pelaksanaan hukum persaingan. Menteri selalu berkonsultasi dengan Komite Kompetisi Ekonomi, terutama sebelum mengambil tindakan-tindakan formal. Pihak perusahaan
57.

58. 59.

Destivano Wibowo dan Harjon Sinaga. Hukum Acara Persaingan Usaha. Raja Grafindo Persada. Jakarta. 2005. h. 1 – 2. Munir Fuady. Hukum Anti Monopoli. Citra Aditya Bakti. Bandung. 1999. h. 117. Ibid. h. 118.

42

yang berkepentingan, seperti juga pihak ketiga, mempunyai hak untuk didengar. 2. Perusahaan mempunyai kewajiban untuk mensuplai informasi kepada Menteri atau Komite ketika dimintakan. Jika tidak mensuplai informasi tersebut dapat dianggap sebagai perbuatan kriminal. 3. Menteri berwenang untuk mengambil keputusan yang profesional jika tindakan-tindakan yang cepat perlu dilakukan. 4. Jika kontrak tertutup dianggap bertentangan dengan kepentingan umum, Menteri dapat menyatakan bahwa kontrak tersebut tidak operatif, dan mengambil tindakan-tindakan lain yang diperlukan. 5. Kriteria-kriteria yang diambil oleh Menteri haruslah dipublikasi dalam pengumuman negara yang resmi. 6. Pihak-pihak yang dirugikan oleh tindakan Menteri dalam menetapkan kriteria tersebut dapat mengajukan banding ke Mahkamah untuk Perdagangan dan Industri. 7. Pihak-pihak yang melanggar ketetapan diambil oleh Menteri, dalam hal ini dapat dikenakan ancaman pidana. 8. Pihak yang dirugikan oleh tindakan yang diambil oleh Menteri dapat menggugat ganti rugi karena perbuatan melawan hukum

(onrechtmatigedaad).60 Untuk penegakan hukum anti monopoli di Indonesia perlu kerja keras dan usaha yang sungguh-sungguh untuk dapat melaksanakan penegakan hukum dari

60.

Pasal 1365 KUH Perdata, yang menyebutkan bahwa : tiap perbuatan melanggar hukum, yang membawa kerugian kepada seorang lain, mewajibkan orang yang karena salahnya menerbitkan kerugian itu, mengganti kerugian tersebut.

43

hukum anti monopoli dan persaingan usaha tidak sehat ini. Kesungguhan tersebut mesti ada pada semua pihak yang terlibat. Apakah dia pejabat pengusutan (polisi), penuntutan (jaksa) ataupun pihak peradilan. Mereka semua harus dapat menghayati bagaimana pentingnya aturan hukum di bidang anti monopoli untuk ditegakkan secara jujur dan maksimal.61 Indonesia memberlakukan undang-undang Hukum Persaingan yang diatur dalam UU No. 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat (UU No. 5 Tahun 1999). Sama dengan undang-undang di berbagai negara lainnya, maka UU No. 5 Tahun 1999 dalam Pasal 30 – Pasal 37 membentuk suatu Komisi independen yang disebut dengan nama Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU). Saat ini berbagai badan independen yang merupakan Self Regulatory Independent Body adalah suatu fenomena baru dalam sistem ketatanegaraan, hal ini dilihat dari berbagai komisi independen yang telah terbentuk misalnya Komisi Nasional Hak Azasi Manusia (KOMNAS HAM) yang diatur dalam UU No. 39 Tahun 1999, Komisi Ombudsman Nasional (KON) diatur dalam Keppres No. 44 Tahun 2000, Komisi Pemeriksaan Kekayaan Penyelenggaraan Negara (KPKPN) diatur dalam UU No. 28 Tahun 1999 yang saat ini telah resmi dibubarkan, Komisi Pemilihan Umum (KPU) diatur dalam UU No. 3 Tahun 1999, Komnas Perempuan diatur dalam UU No. 181 Tahun 1999, Komnas Anak diatur dalam Keppres No. 12 Tahun 2001 dan Komisi Penyiaran Indonesia.62 Yang lebih penting lagi, kiprah yang diharapkan dari Komisi Pengawas Persaingan Usaha. Karena komisi ini merupakan ujung tombak dari penegakan
61. 62.

Munir Fuady. Loc cit. h. 118. Ningrum Natasya Sirait. Op cit. h. 106.

44

hukum anti monopoli, maka kapabilitas, kejujuran dan keseriusan dari anggota komisi ini sangat menentukan bagaimana warna dan irama dari berjalannya hukum anti monopoli dan persaingan usaha tidak sehat dalam prakteknya.63 KPPU memiliki tugas dan wewenang yang cukup luas sebagaimana yang diatur dalam UU No. 5 Tahun 1999 dan Keppres. No. 75 Tahun 1999. Mengingat wewenang komisi yang luas ini, maka dalam melaksanakan tugasnya KPPU memiliki Kode Etik KPPU, yaitu64 : 1. Independensi; 1. Anggota Komisi dalam melaksanakan tugasnya bebas dari pengaruh dan kekuasaan pemerintah serta pihak lain. 2. Anggota Komisi dilarang menjadi : 1) Anggota dewan komisaris atau pengawas, atau direksi suatu perusahaan; 2) Anggota pengurus atau badan pemeriksa suatu koperasi; 3) Pihak yang memberikan layanan jasa kepada perusahaan, seperti konsultan, akuntan publik, dan penilai; dan 4) Pemilik saham mayoritas suatu perusahaan. 3. Anggota Komisi yang menangani perkara dilarang : 1) Mempunyai hubungan sedarah/ semenda sampai derajat ketiga dengan pihak yang berpekara; 2) Mempunyai bersangkutan; kepentingan dengan perkara yang

63. 64.

Ibid. h. 118. Keputusan KPPU No. 6/ KPPU/ Kep./ XI/ 2000 Tentang Kode Etik dan Mekanisme Kerja KPPU.

45

3) Mempunyai

hubungan

yang

patut

diduga

akan

mempengaruhi pengambilan keputusan; dan 4) Saling mempengaruhi dalam mengambil keputusan. 2. Kerahasiaan; dan a. Dalam menjalankan tugasnya, semua unsur di lingkungan Komisi wajib menjaga, menyimpan, dan merahasiakan informasi dan atau dokumen yang berhubungan dengan perkara serta informasi dan atau dokumen lain milik Komisi yang patut dirahasiakan, kepada pihak yang berpekara dan atau pihak manapun yang tidak berkepentingan; dan b. Dalam menangani pemeriksaan perkara semua unsur di

lingkungan Komisi wajib merahasiakan identitas pelapor. 3. Moralitas. a. Setiap unsur Komisi harus bebas dari praktek korupsi, kolusi, dan nepotisme; b. Setiap unsur Komisi dilarang melakukan persekongkolan dengan pihak manapun yang patut diduga akan mempengaruhi

pengambilan keputusan; c. Semua unsur Komisi dilarang menerima sesuatu dalam bentuk uang dan atau hadiah yang secara langsung maupun tidak langsung patut diduga berkaitan dengan jabatannya; dan d. Setiap anggota Komisi bersedia memberikan informasi mengenai kekayaannya kepada lembaga yang berwenang.

46

Jika setiap anggota Komisi memegang teguh kode etik yang tersebut di atas maka kinerja seluruh anggota Komisi dapat maksimal. Setelah dibahas mengenai kode etik KPPU maka selanjutnya akan dibahas peranan dan fungsi KPPU di daerah. Peranan dan fungsi KPPU di daerah merupakan kantor perwakilan yang tetap memberikan laporan secara berkala kepada KPPU yang ada di pusat. Jadi, KPPU di daerah hanya meneruskan perkara yang masuk ke KPPU pusat. Tugas Komisi Pengawas Persaingan Usaha telah diatur secara rinci dalam Pasal 35 UU No. 5 Tahun 1999, yang kemudian diulangi dalam Pasal 4 Keppres No. 75 Tahun 1999. Komisi Pengawas Persaingan Usaha ditugaskan melakukan penilaian terhadap perjanjian yang dapat mengakibatkan terjadinya praktek monopoli dan/ atau persaingan usaha tidak sehat, seperti perjanjian-perjanjian oligopoli, penetapan harga, pembagian wilayah, pemboikotan, kartel, trust, oligopsoni, integrasi vertikal, perjanjian tertutup, dan perjanjian dengan pihak luar negeri; melakukan penilaian terhadap kegiatan usaha dan/ atau tindakan pelaku usaha yang dapat mengakibatkan terjadinya praktek monopoli dan/ atau persaingan usaha tidak sehat, seperti kegiatan-kegiatan monopoli, monopsoni, penguasaan pasar, dan persekongkolan; dan melakukan penilaian terhadap ada atau tidaknya penyalahgunaan posisi dominan yang dapat mengakibatkan terjadinya praktek monopoli dan/ atau persaingan usaha yang tidak sehat, yang disebabkan penguasaan pasar yang berlebihan, jabatan rangkap, pemilikan saham dan penggabungan, peleburan dan pengambilalihan badan usaha atau saham. Dengan demikian, pada prinsipnya fungsi dan tugas utama Komisi Pengawas Persaingan Usaha adalah melakukan kegiatan penilaian terhadap perjanjian,

47

kegiatan usaha, dan penyalahgunaan posisi dominan yang dilakukan pelaku usaha atau sekelompok pelaku usaha. Dalam hal terjadi pelanggaran terhadap UU No. 5 Tahun 1999, dimana pelaku usaha atau sekelompok pelaku usaha telah membuat perjanjian yang dilarang atau melakukan kegiatan yang terlarang atau menyalahgunakan posisi dominan, Komisi Pengawas Persaingan Usaha berwenang menjatuhkan sanksi berupa tindakan administratif dengan

memerintahkan pembatalan atau penghentian perjanjian-perjanjian dan kegiatankegiatan usaha yang dilarang, serta penyalahgunaan posisi dominan yang dilakukan pelaku usaha atau sekelompok pelaku usaha tersebut.65 Tugas lain dari KPPU yang tidak kalah penting adalah memberikan saran dan pertimbangan terhadap kebijakan pemerintah yang berkaitan dengan praktek monopoli dan/ atau persaingan usaha tidak sehat dan menyusun pedoman dan/ atau publikasi atau sosialisasi yang berkaitan dengan praktek monopoli dan/ atau persaingan usaha tidak sehat. Terakhir, secara berkala atas hasil kerjanya kepada Presiden dan Dewan Perwakilan Rakyat berdasarkan peraturan perundangundangan yang berlaku. 66 Nantinya, KPPU sangat diharapkan bisa benar-benar bertindak positif untuk mempengaruhi kebijakan Pemerintah dalam pembuatan peraturan yang berkaitan dengan praktek monopoli dan/ atau persaingan usahat tidak sehat. Seandainya pasal-pasal yang ada dalam UU No. 5 Tahun 1999 tidak memadai untuk menunjang tugas dan wewenangnya, KPPU dapat mengajukan saran dan pertimbangan kepada Pemerintah untuk mengeluarkan peraturan yang

mendukung tugas dan wewenangnya. Demikian pula KPPU juga harus membuat
65. 66.

Rachmadi Usman. Op cit. h. 105 – 106. Ibid. h. 106.

48

pedoman (guidelines)67 atau aturan main yang jelas, baik bagi diri sendiri maupun bagi pelaku usaha, misalnya bagaimana prosedur proses beracara di KPPU dan apakah ketentuan-ketentuan yang diatur dalam UU No. 5 Tahun 1999 cukup memadai. Jika tidak memadai, KPPU harus membuat sendiri pedoman beracara tersebut.68 Sebagai bahan perbandingan, Komisi Masyarakat Ekonomi Eropa juga dapat mengusulkan kepada Dewan Menteri untuk mengeluarkan peraturan yang memberikan kewenangan-kewenangan tertentu kepada Komisi. Hal ini dilakukan Komisi karena melihat kewenangan yang diberikan atau diperoleh dari Article 85 dan 86 Perjanjian Roma kurang memadai bagi Komisi untuk melaksanakan Hukum Persaingan Masyarakat Ekonomi Eropa. Selanjutnya, Federal Trade Commission juga mengeluarkan Trade Regulation Rules, yang menetapkan cakupan Section Federal Trade Commission Act untuk praktek-praktek industri tertentu. Bersama-sama dengan Justice Departement, Federal Trade Commission mengeluarkan The Justice Departement/ FTC 1992 Horizontal Merger Guidelines.69 Bila bunyi Pasal 35 huruf f UU No. 5 Tahun 1999 kita baca secara cermat, terkadang makna KPPU berwenang untuk mengisi kekosongan hukum dalam rangka pelaksanaan yang berkaitan dengan hukum persaingan usaha. Hal ini berarti pedoman maupun peraturan yang akan dibuat Komisi Persaingan Usaha tidak hanya berlaku secara internal saja, tetapi juga berlaku secara eksternal, yakni baik terhadap KPPU maupun pelaku usaha serta instansi lainnya

67. 68. 69.

Op cit. Guideline Tender. Ayudha D. Prayoga et al. Op cit. h. 134. Ibid.

49

yang terkait dengan pelaksanaan hukum persaingan usaha di Indonesia. Penjelasan Pasal 35 ini tidak cukup memberi keterangan. Dasar Hukum Untuk mengawasi pelaksanaan UU Antimonopoli, maka dibentuklah Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) dengan Kepres. No. 75 Tahun 1999 yang merupakan pelaksanaan dari ketentuan Pasal 30 ayat (1) UU Antimonopoli. Untuk pertama kali anggota KPPU ditetapkan dengan Kepres No. 162/ M Tahun 2000 tertanggal 7 Juni 2000, yang terdiri dari 11 (sebelas) anggota selama 5 (lima) tahun ke depan.70 Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) adalah lembaga independen yang dibentuk untuk mengawasi pelaksanaan undang-undang tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat. Terlepas dari pengaruh dan kekuasaan pemerintah serta pihak lain, KPPU berfungsi menyusun Peraturan dan memeriksa berbagai pihak yang diduga melanggar UU No. 5 Tahun 1999 tersebut serta memberi putusan mengikat dan menjatuhkan sanksi terhadap para pelanggarnya.71 Struktur Organisasi Susunan organisasi KPPU terdiri dari72 : 1. Anggota Komisi; dan 2. Sekretariat. Komisi terdiri atas seorang Ketua merangkap anggota, seorang Wakil Ketua merangkap anggota, dan sekurang-kurangnya 7 (tujuh) orang anggota.
70. 71. 72.

Destivano Wibowo dan Harjon Sinaga. Op cit. h. 2 – 3. Ibid. h. 4. Pasal 8 dan Pasal 9 Keppres. No. 75 Tahun 1999 Tentang Komisi Pengawas Persaingan Usaha.

50

Dalam hal pengangkatan maupun pemberhentian, anggota Komisi diangkat dan diberhentikan oleh Presiden atas persetujuan DPR atas dasar usulan pemerintah dimana masing-masing anggota dapat diangkat kembali 1 (satu) kali untuk masa jabatan berikutnya.73 Dalam rangka menunjang kelancaran tugas, Komisi dibantu oleh Sekretariat Komisi, yang bertugas untuk membantu kelancaran tugas administrasi dan teknis operasional dari Komisi. Sekretariat Komisi dipimpin oleh seorang Direktur Eksekutif yang diangkat dan diberhentikan oleh Komisi. Organisasi dalam tubuh KPPU adalah sebagai berikut74 : 1. Pimpinan Sekretariat dipimpin oleh Direktur Eksekutif, yang memiliki tugas untuk membantu Ketua Komisi untuk menyiapkan dan

melaksanakan seluruh urusan administrasi dan teknis operasional Komisi, demi terlaksananya seluruh tugas Komisi. Direktur Eksekutif juga bertanggung jawab untuk menjalin hubungan luar negeri dalam rangka pengembangan Komisi dan Sekretariatnya serta tersusunnya rencana dan realisasi kegiatan dalam rangka melaksanakan tugasnya. 2. Direktorat Administrasi dipimpin oleh Direktur Administrasi yang mempunyai tugas membantu Direktur Eksekutif menyiapkan dan melaksanakan urusan tata usaha, keuangan dan kepegawaian. Direktur Administrasi membawahi Bagian Tata Usaha, Bagian Keuangan dan Bagian Kepegawaian. 3. Direktorat Penyelidikan dan Penegakan Hukum yang dipimpin oleh seorang Direktur Penyelidikan dan Penegakan Hukum yang bertugas
73. 74.

Ningrum Natasya Sirait. Op cit. h. 112. Ibid. h. 113.

51

untuk membantu Direktur Eksekutif memproses laporan (pengaduan), menyiapkan dan melaksanakan penyelidikan, menyiapkan keperluan persidangan, dan mewakili Komisi dalam berhubungan dengan aparat penegak hukum. Direktur Penyelidikan dan Penegakan Hukum

membawahi Bagian Pengaduan dan Persidangan, Bagian Penyelidikan, Tim Penyelidik, dan Bagian Litigasi. 4. Direktorat Komunikasi yang dipimpin oleh seorang Direktur Komunikasi yang bertugas untuk membantu Direktur Eksekutif menyiapkan dan melaksanakan urusan komunikasi, informasi, dokumentasi dan publikasi, serta hubungan antar lembaga. Direktorat Komunikasi membawahi Bagian Komunikasi, Bagian Informasi, Dokumentasi, dan Publikasi, serta Bagian Hubungan Antar Lembaga. 5. Direktorat Pengkajian dan Pelatihan dipimpin oleh seorang Direktur Pengkajian dan Pelatihan yang bertugas untuk membantu Direktur Eksekutif melaksanakan urusan pengkajian dan pengembangan baik kelembagaan maupun kebijakan persaingan usaha, pelatihan, serta monitoring. Direktorat Pengkajian dan Pelatihan membawahi Bagian Pengkajian Monitoring. Alur Kerja KPPU dapat memulai penyelidikan karena berbagai hal. Surat dari konsumen atau pelaku usaha, atau artikel tentang konsumen atau masalah ekonomi bisnis dapat memicu tindakan dari KPPU.75 dan Pengembangan, Bagian Pelatihan, dan Bagian

75.

Ibid. h. 10.

52

Sebelum kita membahas mengenai tata cara penanganan perkara di KPPU, perlu kita ketahui siapa yang dimaksud dengan pelaku usaha, saksi atau pihak lain. Seperti kita ketahui, pelaku usaha, saksi atau pihak lain adalah pihakpihak yang diperiksa dan diselidiki oleh KPPU dalam kaitannya dengan suatu praktek monopoli dan atau persaingan usaha tidak sehat. Namun demikian, hanya pengertian pelaku usaha saja yang terdapat di dalam UU Antimonopoli, sedangkan pengertian saksi atau pihak lain tidak dicantumkan di dalam UU Antimonopoli.76 Berdasarkan ketentuan Pasal 1 ayat (5) UU Antimonopoli, 77 menyebutkan bahwa : “Pelaku usaha adalah setiap orang perorangan atau badan usaha, baik yang berbentuk badan hukum atau bukan badan hukum yang didirikan dan berkedudukan atau melakukan kegiatan dalam wilayah hukum Negara Republik Indonesia, baik sendiri maupun bersama-sama melalui perjanjian menyelenggarakan kegiatan usaha dalam bidang ekonomi”. Pengertian saksi tidak terdapat di dalam UU Antimonopoli ataupun di dalam peraturan pelaksanaannya. Pembahasan mengenai saksi akan dibahas dalam pembahasan mengenai Alat Bukti. UU Antimonopoli kembali tidak memberikan definisi mengenai arti dari pihak lain ini. Namun, apabila kita baca UU Antimonopoli dengan seksama, pihak lain dapat diartikan sebagai saksi dan dapat diartikan sebagai pelaku usaha lain. Definisi pihak lain ini tidak jelas karena tidak menjelaskan kapan pelaku usaha tertentu disebut sebagai pihak lain, dan kapan saksi ditetapkan sebagai pihak lain. Ketidakjelasan di dalam definisi ini pada akhirnya menyulitkan KPPU

76. 77.

Ibid. h. 13. Pasal 1 ayat (5) Undang-Undang No. 5 Tahun 1999 Tentang Larangan Prakek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat.

53

karena untuk dapat menyatakan pelaku usaha tertentu bersalah dan melanggar ketentuan suatu pasal dari UU Antimonopoli, KPPU harus dapat membuktikan bahwa seluruh unsur dari pasal yang dituduhkan harus terbukti, termasuk siapa yang dimaksud dengan “pihak lain” ini.78 Apabila salah satu saja unsur dari suatu pasal UU Antimonopoli tidak terbukti, pelaku usaha tidak dapat dihukum. Di satu sisi, ketidakjelasan mengenai siapa yang dimaksud dengan “pihak lain” ini dipandang sebagai suatu kelemahan dari UU Antimonopoli, dan secara tidak langsung menguntungkan pelaku usaha, karena KPPU akan sulit untuk dapat membuktikan bahwa unsur-unsur suatu pasal terpenuhi. Akan tetapi, di sisi lain, ketidakjelasan mengenai istilah pihak lain ini dipandang sebagai suatu halangan di dalam penegakan hukum persaingan usaha.79 Ketika memulai proses penegakan hukumnya maka KPPU melalui beberapa tahap, yaitu80 : a. Tahap Pengumpulan Laporan atau Indikasi Terjadinya Pelanggaran; Komisi dapat memulai pemeriksaan terhadap para pihak yang dicurigai baik dengan adanya laporan maupun berdasarkan atas inisiatif KPPU sendiri dari hasil penelitian para staff KPPU. Sebelum langkah selanjutnya, KPPU dapat melakukan proses hearing atau dengar pendapat dalam upaya memutuskan apakah pemeriksaan selanjutnya diteruskan atau tidak. 81

78. 79. 80. 81.

Destivano Wibowo dan Harjon Sinaga. Loc cit. h. 14. Ibid. Ningrum Natasya Sirait. Op cit. h. 115 – 116. Pasal 12 – Pasal 26 Peraturan Komisi Pengawas Persaingan Usaha No. 1 Tahun 2006 Tentang Tata Cara Penanganan Perkara di KPPU.

54

b. Tahap Pemeriksaan Pendahuluan; Pemeriksaan pendahuluan adalah proses Komisi untuk meneliti dan/ atau memeriksa apakah suatu Laporan dinilai perlu atau tidak untuk dilanjutkan kepada tahap Pemeriksaan Lanjutan. Pada tahap pemeriksaan pendahuluan tidak hanya laporan yang diperiksa, namun pemeriksaan yang dilakukan atas dasar inisiatif Komisi juga wajib memulai proses Pemeriksaan Pendahuluan ini.82 c. Tahap Pemeriksaan Lanjutan; dan Pemeriksaan Lanjutan adalah serangkaian pemeriksaan dan atau penyelidikan yang dilakukan oleh Majelis sebagai tindak lanjut Pemeriksaan Pendahuluan.83 d. Tahap Eksekusi Putusan Komisi. Apabila Keputusan Komisi menyatakan terbukti adanya perbuatan melanggar ketentuan UU No. 5 Tahun 1999, maka proses selanjutnya akan berlanjut kepada tahap eksekusi putusan Komisi. Berdasarkan Pasal 47 UU No. 5 Tahun 1999,84 Komisi memiliki kewenangan untuk menjatuhkan sanksi

82. 83. 84.

Pasal 27 – Pasal 41. Ibid. Pasal 42 – Pasal 50. Ibid. Pasal 47 Undang-Undang No. 5 Tahun 1999 Tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat, menyebutkan bahwa : (1). Komisi berwenang menjatuhkan sanksi berupa tindakan administratif terhadap pelaku usaha yang melanggar ketentuan Undang-Undang ini; (2). Tindakan administratif sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dapat berupa : huruf (a). penetapan pembatalan perjanjian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 sampai dengan Pasal 13, Pasal 15, dan Pasal 16; dan atau (b). perintah kepada pelaku usaha untuk menghentikan integrasi vertikal sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14; dan atau (c). perintah kepada pelaku usaha untuk menghentikan kegiatan yang terbuka menimbulkan praktek monopoli dan atau menyebabkan persaingan usaha tidak sehat dan atau merugikan masyarakat; dan atau (d). perintah kepada pelaku usaha untuk menghentikan penyalahgunaan posisi dominan; dan atau (e). penetapan pembatalan atas penggabungan atau peleburan badan usaha dan pengambilalihan saham sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28; dan atau

55

administratif

dalam

bentuk-bentuk

pembatalan

perjanjian,

perintah

pemberhentian suatu kegiatan, pembatalan merger konsolidasi, akuisisi, maupun penetapan pembayaran ganti rugi dan denda. Bila pihak terlapor tidak mengajukan keberatan, maka KPPU akan melakukan eksekusi putusannya.85 Menurut penulis, peraturan yang begitu cermat dan rapi dibuat oleh KPPU diharapkan agar semua pihak dapat mengerti mengenai tata cara KPPU dalam menangani kasus-kasus yang diterima. Keberadaan nilai-nilai persaingan usaha yang sehat, telah menjadi dambaan banyak pihak seiring kelahiran UU No. 5 Tahun 1999 dan KPPU sebagai pelaksananya. Hal ini terlihat dari banyaknya laporan KPPU yang cenderung bergerak eksponensial setiap tahunnya. Di tahun 2005 misalnya laporan kepada KPPU berjumlah 182 buah, dibandingkan dengan 7 buah laporan pada tahun 2000.86 Karena tingginya harapan masyarakat terhadap KPPU, banyak persoalan di luar persaingan usaha yang menjadi substansi laporan, yang menempati sekitar 33% dari laporan. Beberapa di antaranya lebih terkait dengan permasalahan korupsi, yang menjadi musuh utama publik saat ini.87 Dari kasus yang ditangani KPPU sampai tahun 2000, diketahui bahwa persekongkolan tender mendominasi dengan menempati porsi 33%. Mencermati kasus-kasus persekongkolan tender, maka selain permasalahan persaingan usaha tidak sehat dalam bentuk pengaturan oleh para pelaku usaha, juga terdapat
(f). penetapan pembayaran ganti rugi; dan atau huruf (g) pengenaan denda serendah-rendahnya Rp. 1.000.000.000,00 (satu milyar rupiah) dan setinggitingginya Rp. 25.000.000.000,00 (dua puluh lima milyar rupiah). Pasal 51 – Pasal 67. Loc cit. Kompetisi. Upaya Perbaikan Sistem Pengadaan Barang/ Jasa Pemerintah. Edisi III. Jakarta. 2006. h. 7. Ibid.

85. 86.

87.

56

indikasi penyalahgunaan wewenang aparat yang menjadi panitia tender (vertical collusive). Akhir dari temuan kasus-kasus serupa, yakni munculnya ekonomi biaya tinggi akibat mark up oleh pihak-pihak yang terlibat dalam pengaturan. Mark up inilah yang menjadi insentif bagi pelaku persekongkolan.88

180 160 140 120 100 80 60 40 20 0 2000 2001 2002 2003 2004 2005

Laporan

Penanganan Perkara (+ inisiatif)

Gambar 4. Laporan dan Penanganan Perkaran Tahun 2000 – 2005. Dalam penanganan perkara seperti ini, maka tugas KPPU berhenti pada upaya menghukum pelaku usaha yang terbukti melakukan persekongkolan tender. Sementara nuansa korupsi yang terungkap dalam kasus tersebut menjadi bukti awal yang akan dilimpahkan KPPU kepada lembaga penegak hukum korupsi (KPK). Pada tahun 2006 kasus yang masuk ke KPPU berjumlah 376 laporan, diantara pengaduan itu baru 54 perkara yang sudah ditangani KPPU dengan 25 kasus diantaranya adalah persekongkolan tender yang sebagian kasus tersebut terjadi di daerah seuai dengan tren dan desentralisasi.89

88. 89.

Ibid. Soy Martua. Persekongkolan Tender www.tempointeraktif.co.id. Jakarta. 2006.

di

Tahun

2006

Masih

Marak.

57

Persekongkolan tender merupakan kasus terbesar yang masuk ke KPPU dan dinyatakan sebagai rule of reason, yaitu bahwa suatu tindakan memerlukan pembuktian dalam menentukan telah terjadinya pelanggaran terhadap persaingan usaha yang sehat. Untuk itu, dalam persekongkolan tender perlu diketahui apakah proses tender tersebut dilakukan dengan cara tidak jujur atau melawan hukum atau menghambat persaingan usaha.90 Dampak persekongkolan dalam tender antara lain, konsumen atau pemberi kerja membayar harga yang lebih mahal dari pada yang sesungguhnya, barang atau jasa yang diperoleh seringkali lebih rendah mutu dan jumlahnya, dan terjadinya hambatan pasar bagi peserta potensial.91 Dampak lainnya adalah nilai proyek untuk tender pengadaan jasa menjadi lebih tinggi akibat mark up yang dilakukan oleh pihak-pihak yang bersekongkol. Apabila hal tersebut dilakukan dalam proyek Pemerintah yang pembiayaannya melalui APBN, maka persekongkolan tersebut berpotensi menimbulkan ekonomi biaya tinggi.92 Sanksi-Sanksi Sebagai salah satu peraturan perundang-undangan yang dibuat untuk menciptakan social engineering bagi masyarakat dunia usaha pada umumnya, dan para pelaku usaha pada khususnya, UU No. 5 Tahun 1999 inipun dilengkapi dengan berbagai macam aturan mengenai saksi-sanksi yang dapat dikenakan bagi mereka yang melanggar ketentuan undang-undang.

90.

91. 92.

Pande Raja Silalahi. Menyoal Persaingan Tidak Sehat. www.fokusonline.co.id. Jakarta. 2007. Ibid. Ibid.

58

Macam-macam sanksi yang dapat dikenakan secara garis besar di dalam UU No. 5 Tahun 1999 dapat dibedakan ke dalam 3 (tiga) jenis, yaitu : 1. Tindakan Administratif (Pasal 47 ayat (2));93 Tindakan administratif yang dapat diambil menurut ketentuan undangundang adalah sebagai berikut : a. Penetapan pembatalan perjanjian yang dilarang oleh undang-undang, sebagaimana yang diatur dalam ketentuan Pasal 4 sampai dengan Pasal 13, Pasal 15, dan Pasal 16 sebagai berikut94 : 1) Perjanjian untuk menguasai produksi dan atau pemasaran barang dan jasa yang dapat mengakibatkan terjadinya praktek monopoli dan atau persaingan usaha tidak sehat; 2) Perjanjian yang menetapkan harga atas suatu barang dan atau jasa yang harus dibayar oleh konsumen atau pelanggan pada pasar bersangkutan yang sama; 3) Perjanjian yang mengakibatkan pembeli yang satu harus membayar dengan harga yang berbeda dari harga yang harus dibayar oleh pembeli lain untuk barang dan atau jasa yang sama; 4) Perjanjian yang membuat suatu penetapan harga dibawah pasar, yang dapat mengakibatkan terjadinya persaingan usaha tidak sehat; 5) Perjanjian yang memuat persyaratan bahwa penerimaan barang dan atau jasa tidak akan menjual atau memasok kembali barang dan atau jasa yang telah diterimanya, dengan harga yang lebih rendah daripada harga yang

93.

94.

UU No. 5 Tahun 1999 Tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat. Ibid.

59

telah diperjanjikan sehingga dapat mengakibatkan terjadinya persaingan usaha tidak sehat; 6) Perjanjian yang bertujuan untuk membagi wilayah pemasaran atau alokasi pasar terhadap barang dan atau jasa sehingga dapat mengakibatkan terjadinya praktek monopoli dan atau persaingan usaha tidak sehat; 7) Perjanjian yang bertujuan untuk menghalangi pelaku usaha lain untuk melakukan usaha yang sama, baik untuk tujuan pasar dalam negeri maupun pasar luar negeri; 8) Perjanjian dengan maksud untuk menolak menjual setiap barang dan atau jasa dari pelaku usaha lain sehingga perbuatan tersebut : a. Merugikan atau dapat diduga merugikan pelaku usaha lain; atau b. Membatasi pelaku usaha lain dalam menjual atau membeli setiap barang dan atau jasa dari pasar bersangkutan. 9) Perjanjian dengan tujuan untuk mempengaruhi harga dengan mengatur produksi dan atau pemasaran suatu barang dan atau jasa, yang dapat mengakibatkan terjadinya praktek monopoli dan atau persaingan usaha tidak sehat; 10) Perjanjian kerja sama untuk membentuk gabungan perusahaan atau perseroan yang lebih besar, dengan tetap menjaga dan mempertahankan kelangsungan hidup masing-masing perusahaan atau perseroan

anggotanya, yang bertujuan untuk mengontrol produksi dan atau pemasaran atas barang dan atau jasa, sehingga dapat mengakibatkan terjadinya praktek monopoli dan atau persaingan usaha tidak sehat;

60

11) Perjanjian yang bertujuan untuk secara bersama-sama menguasai pembelian atau penerimaan pasokan agar dapat mengendalikan harga atas barang dan atau jasa dalam pasar yang bersangkutan, yang dapat mengakibatkan terjadinya praktek monopoli dan atau persaingan usaha tidak sehat; 12) Perjanjian yang memuat persyaratan bahwa pihak yang menerima barang dan atau jasa hanya akan memasok atau tidak memasok kembali barang dan atau jasa tersebut kepada pihak tertentu dan atau pada tempat tertentu; 13) Perjanjian yang memuat persyaratan bahwa pihak yang menerima barang dan atau jasa tertentu harus bersedia membeli barang dan atau jasa lain dari pelaku usaha pemasok; 14) Perjanjian yang memberikan harga atau potongan harga tertentu atas barang dan atau jasa, dengan syarat bahwa pelaku usaha yang menerima barang dan atau jasa dari pelaku usaha pemasok : a. Harus bersedia membeli barang dan atau jasa lain dari pelaku usaha pemasok; atau b. Tidak akan membeli barang dan atau jasa yang sama atau sejenis dari pelaku usaha lain yang menjadi pesaing dari pelaku usaha pemasok. 15) Perjanjian yang dibuat dengan pihak lain di luar negeri yang memuat ketentuan yang dapat mengakibatkan terjadinya praktek monopoli dan atau persaingan usaha tidak sehat; dan/ atau b. Perintah kepada pelaku usaha untuk menghentikan pembuatan atau pelaksanaan perjanjian yang menyebabkan terjadinya integrasi vertikal antara lain dilaksanakan dengan pembatalan perjanjian, pengalihan

61

sebagian perusahaan kepada pelaku usaha lain, atau perubahan bentuk rangkaian produksinya yang dilarang oleh ketentuan Pasal 14; dan/ atau c. Perintah kepada pelaku usaha untuk menghentikan kegiatan yang terbukti menimbulkan efek praktek monopoli dan atau menyebabkan persaingan usaha tidak sehat dan atau merugikan masyarakat, berupa tindakan tertentu dan bukan kegiatan usaha pelaku usaha secara keseluruhan; dan/ atau d. Perintah kepada pelaku usaha untuk mengentikan penyalahgunaan posisi dominan; dan/ atau e. Penetapan pembatalan atas penggabungan atau peleburan badan usaha dan pengambilalihan saham sebagaimana diatur dalam ketentuan Pasal 28; dan/ atau f. Pembayaran ganti rugi kepada pelaku usaha dan kepada pihak lain yang dirugikan; dan/ atau g. Pengenaan denda serendah-rendahnya Rp. 1.000.000.000,00 (satu milyar rupiah) dan setinggi-tingginya Rp. 25.000.000.000,00 (dua puluh lima milyar rupiah). 2. Sanksi Pidana Pokok (Pasal 48); dan Selain sanksi administratif khusus untuk perbuatan-perbuatan hukum tertentu yang melanggar ketentuan UU No. 5 Tahun 1999 juga dikenakan sanksi pidana pokok menurut ketentuan UU No. 5 Tahun 1999, sebagai berikut : a. Pelanggaran-pelanggaran terhadap ketentuan Pasal 4 mengenai

penguasaan produksi, Pasal 9 mengenai pembagian wilayah, Pasal 10 yang bertujuan untuk menghalangi kegiatan usaha dari pelaku usaha lain,

62

Pasal 11 mengenai pengaturan produksi, Pasal 12 mengenai pembentukan kartel usaha, Pasal 13 mengenai penguasaan pasokan secara bersamasama oleh pelaku usaha, Pasal 14 tentang integrasi vertikal, Pasal 16 tentang perjanjian internasional yang dilarang, Pasal 17 tentang kegiatan monopoli, Pasal 18 tentang monopsoni posisi dominan, Pasal 27 tentang kepemilikan saham mayoritas, dan Pasal 98 tentang penggabungan, peleburan dan pengambil alihan saham, diancam pidana denda serendahrendahna Rp. 25.000.000.000,00 (dua puluh lima milyar rupiah) dan setinggi-tingginya Rp. 100.000.000.000,00 (seratus milyar rupiah), atau pidana kurungan pengganti denda selama-lamanya 6 (enam) bulan).95 b. Pelanggaran terhadap ketentuan Pasal 5 tentang penetapan harga secara bersama, Pasal 6 tentang perbedaan harga jual, Pasal 7 tentang penetapan harga di bawah harga pasar, Pasal 8 tentang penentuan batas atau patokan harga tertentu, Pasal 15 tentang perjanjian tertutup dengan pihak ketiga, Pasal 20 tentang penjualan rugi, Pasal 21 tentang perlakuan kecurangan dalam biaya produksi, Pasal 22 sampai dengan Pasal 24 tentang persekongkolan, dan Pasal 26 tentang jabatan rangkap diancam pidana denda serendah-rendahnya Rp. 5.000.000.000,00 (lima milyar rupiah) dan setinggi-tingginya Rp. 25.000.000.000,00 (dua puluh lima milyar rupiah), atau pidana kurungan pengganti denda selama-lamanya 5 (lima) bulan.96 c. Pelanggaran terhadap ketentuan Pasal 41 mengenai pemeriksaan terhadap pelaku usaha diancam dengan pidana denda serendah-rendahnya Rp. 1.000.000.000,00 (satu milyar rupiah) dan setinggi-tingginya Rp.
95. 96.

Ibid. Ibid.

63

5.000.000.000,00 (lima milyar rupiah), atau pidana kurungan pengganti denda selama-lamanya 3 (tiga) bulan.97 3. Sanksi Pidana Tambahan (Pasal 49). Di luar sanksi pidana pokok yang dikenakan dalam Pasal 48 ayat (1) sampai dengan ayat (3) undang-undang tersebut di atas ketentuan Pasal 49 undang-undang menetapkan sanksi pidana tambahan dengan menunjuk pada ketentuan Pasal 10 KUHP, terhadap pidana yang dijatuhkan berdasarkan ketentuan Pasal 48 dapat dijatuhkan pidana tambahan berupa98 : a. Pencabutan izin usaha; atau b. Larangan kepada pelaku usaha yang telah terbukti melakukan pelanggaran terhadap undang-undang ini untuk menduduki jabatan Direksi atau Komisaris sekurang-kurangnya 2 (dua) tahun dan selama-lamanya 5 (lima) tahun; atau c. Penghentian kegiatan atau tindakan tertentu yang menyebabkan timbulnya kerugian pada pihak lain. 4. Pengecualian-Pengecualian Selain pengecualian yang secara khusus diatur dalam Pasal 5 ayat (2) mengenai penetapan harga secara bersama, undang-undang juga mengecualikan beberapa hal berikut ini dari berlakunya undang-undang ini99 : a. Perbuatan dan atau perjanjian yang bertujuan melaksanakan peraturan perundang-undangan yang berlaku; atau

97. 98. 99.

Ibid. Ibid. Pasal 50. Ibid.

64

b. Perjanjian yang berkaitan dengan hak atas kekayaan intelektual seperti lisensi, paten, merek dagang, hak cipta, desain produk industri, rangkaian elektronik terpadu, dan rahasia dagang, serta perjanjian yang berkaitan dengan waralaba; atau c. Perjanjian penetapan standar teknis produk barang dan atau jasa tidak mengekang, dan atau menghalangi persaingan; atau d. Perjanjian dalam rangka keagenan yang isinya tidak memuat ketentuan untuk memasok kembali barang dan atau jasa dengan harga yang lebih rendah daripada harga yang telah diperjanjikan; atau e. Perjanjian kerjasama penelitian untuk peningkatan atau perbaikan standar hidup masyarakat luas; atau f. Perjanjian internasional yang telah diratifikasi oleh Pemerintah Republik Indonesia; atau g. Perjanjian dan atau perbuatan yang bertujuan untuk ekspor yang tidak mengganggu kebutuhan dan atau pasokan pasar dalam negeri; atau h. Pelaku usaha yang tergolong dalam Usaha Kecil sebagaimana dimaksud dalam UU No. 9 Tahun 1995 tentang Usaha Kecil; atau i. Kegiatan usaha koperasi yang secara khusus bertujuan untuk melayani anggotanya; Melayani anggota di sini maksudnya adalah memberi layanan hanya kepada anggotanya dan bukan kepada masyarakat umum untuk pengadaan kebutuhan pokok, kebutuhan sarana produksi termasuk kredit dan bahan baku, serta pelayanan untuk memasarkan dan mendistribusikan hasil produksi anggota yang

65

tidak mengakibatkan terjadinya praktek monopoli dan atau persaingan usaha tidak sehat. Pembahasan selanjutnya menuju kepada tinjauan KPPUD di Sumatera Utara yang merupakan Kantor Perwakilan Daerah KPPU Medan.

B. Tinjauan Umum KPPUD di Sumatera Utara Pada tanggal 14 Agustus 2006, bertempat di Medan’s Club dilangsungkan kegiatan serah terima jabatan Kantor Perwakilan Daerah KPPU di Medan dari Dedy Sani Ardi, SE, Ak., kepada Verry Iskandar, SH.100 Kantor Perwakilan Daerah KPPU Medan yang pergerakannya di dalam mensosialisasikan eksistensinya menunjukkan sinyalemen yang menarik. Harapan terwujudnya hubungan kelembagaan yang konstruktif dengan DPRD Sumut dalam menginternalisasi kebijakan persaingan di daerah sangat penting untuk diwujudkan. Dengan demikian baik langsung maupun tidak langsung, sinergisitas tersebut akan berpengaruh positif terhadap strategi percepatan pembangunan ekonomi di daerah. Intensitas komunikasi dan keterbukaan akses informasi satu sama lain, dari hari kehari semakin menunjukkan kedekatan hubungan yang proporsional. Hal tersebut setidaknya menjadi prakondisi yang kondusif dalam upaya mengkonstruksikan hubungan fungsi kelembagaan ataupun institusi-institusi pengawas yang efektif di daerah.101 KPD KPPU di Medan melakukan berbagai kegiatan dalam hal untuk mensosialisasikan eksistensinya, kegiatan tersebut antara lain :

100. 101.

Kompetisi. Upaya Perbaikan Sistem Pengadaan Barang/ Jasa. Op cit. h. 19. Kompetisi. The 2nd Asean Conference on Competition Policy and Law. Edisi II. Jakarta. 2006. h. 21.

66

1. Monitoring; Monitoring perubahan perilaku terhadap kesepakatan-kesepakatan harga (price fixing cartel) yang dibuat oleh para pelaku usaha pesaing yang sering berlindung dibalik asosiasi seperti Kartel Fumigasi yang dilakukan DPD IPPHAMI Sumut, Kartel oleh DPD Asosiasi Aspal Beton Indonesia (AABI) Sumut terus dilakukan, karena dalam prakteknya diperoleh informasi bahwa kesepakatan-kesepakatan tersebut tetap berlaku walaupun telah dicabut. Padahal, perilaku penetapan harga adalah perjanjian zaman dahulu yang dilakukan oleh para pelaku usaha untuk meniadakan persaingan diantara mereka.102 Penanganan laporan dugaan pelanggaran UU No. 5 Tahun 1999 tetap menjadi prioritas KPD Medan, beberapa perkara yang sedang dalam tahap klarifikasi adalah Tender Pengerukan di Alur Pelabuhan Belawan, Tender Pembangunan Prasarana di Satker Pemda Simalungun, Tender Pengadaan Mobil Pemadam Kebakaran di Kabupaten Humbang Hadundutan.103 2. Sosialisasi dan Pembentukan Jaringan Persaingan Usaha Dalam upaya untuk terus melakukan sosialisasi KPPU, KPD Medan terus menerus melakukan berbagai upaya untuk lebih membuat KPPU membumi (down to earth) bagi para stakeholder-nya. Ekspektasi pelaku usaha yang demikian besar terhadap KPPU untuk menyikapi beberapa persoalan terkait dengan tender, diharapkan menjadi modal kepercayaan dasar dari publik. Berbagai kunjungan ke Instansi terkait telah dilakukan diantaranya kepada Pemerintah Propinsi Sumatera Utara, DPRD Sumatera Utara, Dinas Perindustrian dan Perdagangan Sumut, Badan Pembangunan Daerah Sumut. Selain itu juga
102. 103.

Kompetisi. Anggota KPPU. KPPU. Edisi VIII. Jakarta. 2007. h. 21 – 22. Ibid. 22.

67

melalui berbagai acara talk show interaktir yang khusus membahas persaingan usaha aktual telah dilakukan diantaranya yaitu dengan City Radio 95,9 FM dan Lite Fm 92,8 FM di Medan.104 3. Seminar Persaingan Usaha; Pada tanggal 15 November 2006, KPPU mengadakan Seminar Persaingan Usaha dengan menghadirkan para narasumber, yaitu : Faisal H. Basri (Anggota KPPU); Ir. Nurlisa Ginting (Wakil Kepala Bainprom Sumut); S. IS. Sihotang (Kadin Sumatera Utara). Acara tersebut dibuka oleh Erwin Syahril (Anggota KPPU) dan dimoderatori oleh Mokhammad Syuhadak (Direktur Komunikasi KPPU). Dihadiri oleh 90 orang dari berbagai macam stakeholder KPPU diantaranya adalah dinas terkait, para asosiasi perdagangan, Kadin Sumatera Utara, akademisi, dan LSM peminat persaingan usaha.105 4. Sosialisasi Putusan KPPU; Pada tanggal 18 Desember 2006, KPD Medan melaksanakan kegiatan Sosialisasi Putusan Pematang Siantar. Sosialisasi putusan tersebut dimaksudkan sebagai upaya shock therapy bagi dunia usaha guna upaya perbaikan pengadaan barang/ jasa khususnya di Sumatera Utara. Diharapkan dengan terus menerus disosialisasikan putusan KPPU akan menimbulkan efek jera (detterance effect) bagi para pihak yang mencoba bersekongkol dalam tender.106 5. Penguatan Kebijakan Persaingan Usaha Daerah; Sebagai salah satu instrumen penting persaingan usaha, unsur kebijakan persaingan (competition policy) memainkan peranan sentral dalam pembentukan

104. 105. 106.

Kompetisi. Upaya Perbaikan Sistem Pengadaan Barang/ Jasa. Op cit. h. 19. Kompetisi. Anggota KPPU. Loc cit. h. 22. Ibid.

68

struktur pasar dan turut mempengaruhi perilaku para pelaku usaha dalam pasar, oleh karena itu, harmonisasi kebijakan mutlak diperlukan agar setiap kebijakan yang dikeluarkan oleh Pemerintah selaku regulator senafas dengan irama persaingan usaha yang diemban oleh KPPU. KPD KPPU Medan memfasilitasi beberapa pertemuan terkait dengan kebijakan-kebijakan di daerah dengan para stakeholders terkait diantaranya adalah kebijakan-kabijakan di sektor

telekomunikasi, kebijakan persaingan dalam penerbangan, dan kebijakan penyelenggaraan haji yang berbasis kompetisi.107 6. Forum Jasa Konstruksi Daerah; dan KPPU dipercaya untuk mengisi salah satu sesi dalam Forum Jasa Konstruksi Daerah yang diselenggarakan oleh Pemerintah Daerah Propinsi Sumatera Utara. Tema yang diusung dalam forum tersebut adalah Industri Jasa Konstruksi dan Persaingan Usaha. KPPU dalam forum tersebut memberikan informasi seputar masalah persaingan usaha di sektor jasa konstruksi. Beberapa hal yang menurut KPPU berpotensi melanggar UU No. 5 Tahun 1999 adalah pemberian sertifikasi yang seharusnya menjadi ukuran untuk mengukur kompetensi badan usaha seringkali dijadikan komoditas oleh LPJK (Lembaga Pengembangan Jasa Konstruksi) dan beberapa asosiasi tertentu, bahkan tidak jarang sertifikasi dijadikan sebagai upaya untuk menghambat secara strategis pelaku usaha lain. Hal seperti ini memang tidak lepas dari konflik kepentingan, karena sebagian pengurus LPJK dan asosiasi haruslah orang yang profesional dan mewakili dunia usaha, bukan mewakili sebagian atau golongan pelaku usaha tertentu saja. Acara

107.

Ibid.

69

ini dihadiri oleh 150 orang dari unsur pengguna jasa konstruksi, penyedia jasa konstruksi, Lembaga Swadaya Masyarakat, dan media.108 7. Kuliah Umum Persaingan Usaha. Kerjasama KPD KPPU Medan dengan dunia kampus dapat terjalin berkat dukungan dan dorongan dari Prof. Dr. Ningrum Natasya Sirait, SH, M.Li., sebagai Guru Besar Tetap Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara (USU) dan Prof. Dahlan, SH, MH, sebagai Guru Besar Fakultas Hukum Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) Propinsi NAD. Sebagai awalan pemberian kuliah umum bagi mahasiswa yang telah mengambil program kekhususan Persaingan Usaha dapat menjadi jembatan untuk terus mengkomunikasikan dunia usaha dengan dunia akademis.109 Demikianlah kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh KPD KPPU Medan sepanjang tahun 2006. Selanjutnya, akan dibahas mengenai beberapa kasus menarik yang berkembang di Medan. Adapun beberapa kasus tersebut diantaranya terkait dengan kelangkaan minyak tanah, kelangkaan pupuk, tender 9 paket pengadaan barang senilai Rp. 102 miliar (seratus dua miliar rupiah) di PT. PLN (Persero) Proyek Induk Pembangkit dan Jaringan (Pikitring) Aceh – Sumut – Riau, Putusan KPPU tentang distribusi Garam di Sumut, perubahan perilaku kesepakatan tarif AABI karena adanya kesediaan dan advokasi pembatalan kesepakatan tarif fumigasi.110 Baik kelangkaan minyak tanah maupun kelangkaan pupuk, merupakan permasalahan ritual tahunan yang tidak kunjung mendapatkan solusi yang baik.

108. 109. 110.

Ibid. Ibid. Ibid. h. 19.

70

Permasalahan

lemahnya

fungsi

pengawasan

distribusi

lebih

dominan

dibandingkan dengan isu persaingannya, mengingat latar belakang kebijakan pendistribusian minyak tanah bersubsidi tidak lain merupakan bentuk penugasan pemerintah kepada Pertamina dimana penetapan besaran margin distributor serta harga ecerannya kepada konsumen akhir telah diatur di dalamnya.111 Terkait dengan tender pengadaan barang di PT. PLN (Persero) Pikitring Sumut – Aceh – Riau senilai Rp. 102 miliar (seratus dua miliar rupiah), KPD KPPU Medan telah proaktif menyurati dan mengingatkan kepada segenap penyelenggara tender untuk sungguh-sungguh memperhatikan prinsip-prinsip persaingan usaha yang sehat sebagaimana diatur di dalam UU No. 5 Tahun 1999 dan Pedoman Larangan Persekongkolan Tender KPPU. Inisiasi KPD KPPU Medan untuk secara proaktif melakukan pengawasan dan identifikasi praktek persaingan usaha tidak sehat dalam segenap proses tender tersebut, merupakan salah satu pointer yang tersampaikan dalam audiensi Komisi B Bidang Perekonomian DPRD Sumut dengan Segenap Anggota Komisi KPPU di kantor KPPU Jakarta pada April 2006.112 Terkait dengan Putusan KPPU tentang Distribusi Garam ke Sumatera Utara yang dibacakan pada 13 Maret 2006, ketujuh pelaku usaha yang dijatuhi sanksi oleh KPPU tidak mengajukan keberatan ke PN setempat. Sedangkan terkait dengan perkara kartel kesepakatan dan pembagian wilayah pelaku usaha aspal beton di Sumatera Utara yang tergabung dalam AABI Sumut, ditetapkan untuk tidak ditindaklanjuti ke tahapan Pemeriksaan Lanjutan mengingat beberapa hal, diantaranya adanya kesediaan dari para pihak yang melakukan kesepakatan
111. 112.

Ibid. Ibid.

71

untuk melakukan perubahan perilaku dengan melakukan pencabutan terhadap isi kesepakatan.113 Dibuatnya perjanjian kesepakatan tarif oleh 6 (enam) perusahaan fumigator di Sumatera Utara pada tanggal 18 April 2006, setelah mendapatkan penjelasan secara persuasif terkait dengan potensi berseberangan dengan prinsip persaingan usaha yang sehat, kemudian secara resmi dicabut oleh mereka yang melakukan kesepakatan tarif per tanggal 7 Juni 2006. Namun demikian, perkembangan terakhir yang diperoleh dari pengguna jasa fumigasi, khususnya para eksportir, menginformasikan bahwa di lapangan, tarif yang dikenakan oleh para fumigator masih senilai dengan besaran tarif kesepakatan 18 April 2006. Informasi ini sedang terus didalami, sehingga apabila terbukti benar dapat menjadi bukti yang cukup untuk diusulkan ke tahapan proses penegakan hukum.114 Salah satu perkara yang diterima dan diteruskan oleh KPD KPPU Medan adalah mengenai tender di RSU. Kota Pematang Siantar dengan kegiatan Perbaikan Bangsal di rumah sakit tersebut. Adapun tahapan perkara tersebut akan dibahas pada pembahasan selanjutnya.

113. 114.

Ibid. Ibid.

72

BAB IV TENDER DALAM TINJAUAN UU NO. 5 TAHUN 1999 TENTANG LARANGAN PRAKTEK MONOPOLI DAN PERSAINGAN USAHA TIDAK SEHAT

A. Pengertian Persekongkolan dalam Tender Berdasarkan kamus hukum, persekongkolan adalah suatu kerjasama antara dua pihak atau lebih yang secara bersama-sama melakukan tindakan yang melanggar hukum. Pengertian tentang persekongkolan dalam tender menurut beberapa negara adalah suatu perjanjian antara beberapa pihak untuk memenangkan pesaing dalam suatu tender. Sejalan, pengertian-pengertian tersebut, persekongkolan dalam tender sebagaimana dimasudkan dalam Pasal 22 UU No. 5 Tahun 1999 adalah kerjasama antara dua pihak atau lebih dalam rangka memenangkan peserta tender tertentu.115 Persekongkolan dalam tender dapat dilakukan secara terang-terangan maupun diam-diam melalui tindakan penyesuaian, penawaran sebelum

dimasukkan, atau menciptakan persaingan semu, atau menyetujui dan atau memfasilitasi, atau pemberian kesempatan ekslusif, atau tidak menolak melakukan suatu tindakan meskipun mengetahui bahwa tindakan tersebut dilakukan untuk mengatur dalam rangka memenangkan peserta tender tertentu.116

115. 116.

Komisi Pengawas Persaingan Usaha. Op cit. h. 10. Ibid.

73

B. Jenis-jenis Persekongkolan dalam Tender Persekongkolan dalam tender dapat dibedakan pada tiga jenis, yaitu persekongkolan horizontal, persekongkolan vertikal, dan gabungan

persekongkolan vertikal dan horizontal.117 Persekongkolan Horizontal Merupakan persekongkolan yang terjadi antara pelaku usaha atau penyedia barang dan jasa dengan sesama pelaku usaha atau penyedia barang dan jasa pesaingnya. Persekongkolan ini dapat dikategorikan sebagai persekongkolan dengan menciptakan persaingan semu di antara peserta tender.118

Panitia Pengadaan / Panitia Lelang Barang / Pengguna Barang atau Jasa / Pimpinan Proyek

Pelaku usaha / Penyedia barang atau jasa

Pelaku usaha / Penyedia barang atau jasa

Pelaku usaha / Penyedia barang atau jasa

Pelaku usaha / Penyedia barang atau jasa

PERSEKONGKOLAN

Gambar 1. Persekongkolan Horizontal Persekongkolan Vertikal Merupakan persekongkolan yang terjadi antara salah satu atau beberapa pelaku usaha atau penyedia barang dan jasa dengan panitia tender atau panitia lelang atau pengguna barang dan jasa atau pemilik atau pemberi pekerjaan.
117. 118.

Ibid. Ibid.

74

Persekongkolan ini dapat terjadi dalam bentuk dimana panitia tender atau panitia lelang atau pengguna barang dan jasa atau pemilik atau pemberi pekerjaan bekerja sama dengan salah satu atau beberapa peserta tender.119

Panitia Pengadaan / Panitia Lelang Barang / Pengguna Barang atau Jasa / Pimpinan Proyek

Pelaku usaha / Penyedia barang atau jasa

Pelaku usaha / Penyedia barang atau jasa

Pelaku usaha / Penyedia barang atau jasa

Pelaku usaha / Penyedia barang atau jasa

PERSEKONGKOLAN

Gambar 2. Persekongkolan Vertikal Persekongkolan Persekongkolan Horizontal dan Vertikal Merupakan persekongkolan antara panitia tender atau panitia lelang atau pengguna barang dan jasa atau pemilik atau pemberi pekerjaan dengan pelaku usaha atau penyedia barang dan jasa. Persekongkolan ini dapat melibatkan dua atau tiga pihak yang terkait dalam proses tender. Salah satu bentuk persekongkolan ini adalah tender fiktif, dimana baik panitia tender, pemberi pekerjaan, maupun para pelaku usaha melakukan suatu proses tender hanya secara administratif dan tertutup.120

119. 120.

Ibid. Ibid.

75

Panitia Pengadaan / Panitia Lelang Barang / Pengguna Barang atau Jasa / Pimpinan Proyek

Pelaku usaha / Penyedia barang atau jasa

Pelaku usaha / Penyedia barang atau jasa

Pelaku usaha / Penyedia barang atau jasa

Pelaku usaha / Penyedia barang atau jasa

PERSEKONGKOLAN

Gambar 3. Persekongkolan Horizontal dan Vertikal

C. Larangan Persekongkolan Tender dalam UU No. 5 Tahun 1999 Pelaku usaha dilarang melakukan kegiatan persekongkolan yang membatasi atau menghalangi persaingan usaha (conspiracy in restraint of business), karena kegiatan tersebut dapat mengakibatkan terjadinya persaingan usaha yang tidak sahat121. Pengertian persekongkolan atau konspirasi dikemukakan dalam Pasal 1 angka (8) UU No. 5 Tahun 1999, yaitu : “Persekongkolan atau konspirasi usaha adalah bentuk kerja sama yang dilakukan oleh pelaku usaha dengan pelaku usaha lain dengan maksud untuk menguasai pasar bersangkutan bagi kepentingan pelaku usaha yang bersekongkol”. Terdapat 3 (tiga) bentuk kegiatan persekongkolan yang dilarang oleh UU No. 5 Tahun 1999 sebagaimana diatur dalam Pasal 22 sampai dengan Pasal 24.

121.

Rachmadi Usman. Hukum Persaingan Usaha di Indonesia. PT. Gramedia. Jakarta. 2004. h. 79.

76

Dalam Pasal 22 dinyatakan bahwa pelaku usaha dilarang bersekongkol dengan pihak lain untuk mengatur dan/ atau menentukan pemenang tender, sehingga dapat mengakibatkan terjadinya persaingan usaha tidak sehat. Pihak lain disini tidak terbatas hanya pemerintah saja, bisa swasta atau pelaku usaha yang ikut serta dalam tender yang bersangkutan. Penjelasan Pasal 22 menyatakan bahwa tender adalah tawaran untuk mengajukan harga untuk memborong suatu pekerjaan, untuk mengadakan barang-barang atau untuk menyediakan jasa. 122 Kegiatan bersekongkol menentukan pemenang tender jelas merupakan perbuatan curang, karena pada dasarnya (inherently) tender dan pemenangnya tidak bisa diatur dan bersifat rahasia (walaupun ada tender yang dilakukan secara terbuka).123 Pasal 23 melarang pelaku usaha untuk bersekongkol dengan pihak lain untuk mendapatkan kegiatan usaha pesaingnya yang diklasifikasikan sebagai rahasia perusahaan atau yang dikenal dengan sebutan rahasia dagang. 124 Sebutan rahasia dagang merupakan terjemahan dari istilah “undisclosed information”, “trade secret”, atau “know how”. Rahasia dagang tidak boleh diketahui umum, karena selain mempunyai nilai teknologi, ia juga mempunyai nilai ekonomis yang berguna dalam kegiatan usaha. Kerahasiaannya biasanya dijaga oleh

pemiliknya.125 Pengaturan mengenai rahasia dagang diatur secara tersendiri, tidak dimasukkan dalam UU No. 5 Tahun 1999. Dewasa ini pengaturannya dapat

122.

123.

124. 125.

Pasal 22 Undang-Undang No. 5 Tahun 1999 Tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat. Ayudha D. Prayoga et al. Persaingan Usaha dan Hukum yang Mengaturnya di Indonesia. Proyek ELIPS. Jakarta. 2000. h. 122. Pasal 23, UU No. 5 Tahun 1999. Loc cit. Racmadi Usman. Op cit. h. 80.

77

dijumpai dalam UU No. 30 Tahun 2000 tentang Rahasia Dagang. Pengertian rahasia dagang dikemukakan dalam Pasal 1 angka (1) UU No. 30 Tahun 2000 yang menyatakan bahwa rahasia dagang adalah126 : “… informasi yang tidak diketahui oleh umum di bidang teknologi dan / atau bisnis, mempunyai nilai ekonomi karena berguna dalam kegiatan usaha, dan dijaga kerahasiaannya oleh pemilik rahasia dagang”. Berarti rahasia dagang di sini tidak terbatas hanya pada rahasia bisnis atau dagang belaka, melainkan termasuk informasi industrial know how. Hal ini juga dapat dilihat dari lingkup perlindungan rahasia dagang yang diatur sebagaimana ditegaskan dalam Pasal 2 UU No. 30 Tahun 2000. Pasal 2 tersebut menyatakan bahwa lingkup perlindungan rahasia dagang meliputi metode produksi, metode pengolahan, metode penjualan, atau informasi lain di bidang teknologi dan/ atau bisnis yang memiliki nilai ekonomis dan tidak diketahui masyarakat umum. Persyaratan rahasia dagang dikemukakan dalam Pasal 3 UU No. 30 Tahun 2000, bahwa rahasia dagang yang akan mendapat perlindungan terbatas pada informasi yang bersifat rahasia, mempunyai nilai ekonomis, dan dijaga kerahasiannya melalui upaya-upaya sebagaimana mestinya, yaitu semua langkah yang memuat ukuran kewajaran, kelayakan, dan kepatutan yang harus dilakukan. Misalnya, di dalam suatu perusahaan harus ada prosedur baku berdasarkan praktek umum yang berlaku di tempat-tempat lain dan/ atau yang dituangkan ke dalam ketentuan internal perusahaan itu sendiri. Demikian pula dalam ketentuan internal perusahaan yang diterapkan bagaimana rahasia dagang itu dijaga dan siapa yang bertanggung jawab atas kerahasiaan itu. Dengan demikian,

126.

Pasal 1 angka (1) Undang-Undang No. 30 Tahun 2000 Tentang Rahasia Dagang.

78

berdasarkan Pasal 3 tersebut suatu informasi akan dianggap termasuk rahasia dagang, bila memenuhi 3 (tiga) persyaratan berikut ini127 : 2. Informasi bersifat rahasia, bahwa informasi tersebut hanya diketahui oleh pihak tertentu atau tidak diketahui secara umum oleh masyarakat; 3. Informasi memiliki nilai ekonomi, bahwa sifat kerahasiaan informasi tersebut dapat digunakan untuk menjalankan kegiatan atau usaha yang bersifat komersial atau dapat meningkatkan keuntungan secara ekonomi; dan 4. Informasi dijaga kerahasiaannya apabila pemilik atau para pihak yang menguasainya telah melakukan langkah-langkah yang layak dan patut. Di samping kedua bentuk persekongkolan di atas, Pasal 24 juga melarang persekongkolan yang dapat menghambat produksi, pemasaran, atau produksi dan pemasaran atas produk. Dalam Pasal 24 tersebut dinyatakan bahwa pelaku usaha dilarang bersekongkol dengan pihak lain untuk menghambat produksi dan/ atau pemasaran barang dan/ atau jasa pelaku usaha pesaingnya dengan tujuan barang dan/ atau jasa yang ditawarkan atau dipasok di pasar bersangkutan menjadi berkurang, baik dari kualitas maupun ketepatan waktu yang dipersyaratkan. Berdasarkan ketentuan Pasal 24 ini jelas bahwa pelaku usaha dilarang untuk bersekongkol dengan pihak lain untuk menghambat pelaku usaha pesaing dalam memproduksi, memasarkan, atau memproduksi dan memasarkan barang, jasa, atau barang dan jasa dengan maksud agar barang, jasa, atau barang dan jasa yang ditawarkan atau dipasok di pasar bersangkutan menjadi berkurang atau menurun kualitasnya; atau memperlambat waktu proses produksi pemasaran, atau produksi

127.

Rachmadi Usman. Op cit. h. 82.

79

dan pemasaran barang, jasa, atau barang dan jasa yang sebelumnya sudah dipersyaratkan. Kegiatan persekongkolan seperti ini dapat menimbulkan praktek monopoli dan/ atau persaingan usaha yang tidak sehat.128

D. Perkara yang Diterima Oleh Kantor Perwakilan Komisi Pengawas Persaingan Usaha Medan tentang RSU. Kota Pematang Siantar Pada awalnya, Rumah Sakit Umum Kota Pematang Siantar mengadakan suatu tender/ Pelelangan Pengadaan Barang/ Jasa Pemerintah dengan kegiatan Perbaikan Bangsal di Unit Kerja Rumah Sakit Umum (RSU) Kota Pematang Siantar Tahun Anggaran 2005 yang diikuti oleh 31 (tiga puluh satu) perusahaan pada tahap prakualifikasi dengan 24 (dua puluh empat) perusahaan dinyatakan tidak lengkap dan tidak memenuhi syarat. 129 Namun, setelah panitia memeriksa dan membuka penawaran dari perusahaan-perusahaan tersebut di atas hanya 7 (tujuh) perusahaan yang dinyatakan lengkap dan sah penawarannya. Maka ketujuh perusahaan-perusahaan tersebut berhak untuk maju ketahap selanjutnya yaitu penyusunan Dokumen Lelang.130 Ketujuh perusahaan yang masuk ke tahap Penyusunan Dokumen Lelang, antara lain sebagai berikut131 : 5. CV. Risma Karya dengan harga penawaran Rp. 1.502.757.000,00 (satu milyar lima ratus dua juta tujuh ratus lima puluh tujuh ribu rupiah);

128. 129.

130. 131.

Ibid. h. 82 – 83. KPPU, Putusan Perkara No. : 06 / KPPU-L / 2006 Tentang Perbaikan Bangsal RSU Kota Pematang Siantar Tahun Anggaran 2005. Ibid. Ibid.

80

6. CV. SHT dengan harga penawaran Rp. 1.503.470.000,00 (satu milyar lima ratus tiga juta empat ratus tujuh puluh ribu rupiah); 7. CV. Sagyta Taruna Perkasa dengan harga penawaran dengan harga penawaran Rp. 1.579.839.000,00 (satu milyar lima ratus tujuh puluh sembilan delapan ratus tiga puluh sembilan ribu rupiah); 8. PT. Rama Indah Jaya dengan harga penawaran Rp. 1.617.762.000,00 (satu milyar enam ratus tujuh belas ribu tujuh ratus enam puluh dua ribu rupiah); 9. CV. Kreasi Multy Poranc dengan harga penawaran Rp. 1.884.197.000,00 (satu milyar delapan ratus delapan puluh empat juta seratus sembilan tujuh ribu rupiah); 10. PT. Pembangunan Delima Murni dengan harga penawaran

Rp.1.888.852.000,00 (satu milyar delapan ratus delapan puluh delapan juta delapan ratus lima puluh dua ribu rupiah); dan 11. CV. Sumber Mulya dengan harga penawaran Rp. 1.894.227.000,00 (satu milyar delapan ratus sembilan puluh empat juta dua ratus dua puluh tujuh ribu rupiah). Setelah mengetahui perusahaan-perusahaan yang lulus Prakualifikasi dan masuk ke tahap Penyusunan Dokumen Lelang lalu dievaluasi oleh Panitia Pengadaan Barang/ Jasa untuk mengumumkan pemenang tender. Hasil Pengumuman Pelelangan yang diusulkan untuk menjadi calon pemenang lelang kepada Plt. Kepala RSU. Kota Pematang Siantar selaku Pengguna Barang atau Jasa adalah sebagai berikut132 :

132.

Ibid.

81

1. Pemenang adalah

CV.

Risma

Karya dengan

harga penawaran

Rp.1.502.757.000,00 (satu milyar lima ratus dua juta tujuh ratus lima puluh tujuh ribu rupiah); 2. Pemenang Cadangan I adalah PT. Rama Indah Jaya dengan harga penawaran Rp. 1.617.762.000,00 (satu milyar enam ratus tujuh belas ribu tujuh ratus enam puluh dua ribu rupiah); dan 3. Pemenang Cadangan II adalah CV. Kreasi Multy Poranc dengan harga penawaran Rp. 1.884.197.000,00 (satu milyar delapan ratus delapan puluh empat juta seratus sembilan tujuh ribu rupiah). Pengumuman Pelelangan tersebut ditolak oleh Plt. Kepala RSU Kota Pematang Siantar dan mengarahkan agar dilakukan evaluasi ulang dan yang dipilih sebagai pemenang adalah Pemenang Cadangan II, yaitu CV. Kreasi Multy Poranc.133 Selanjutnya, Panitia Pengadaan Barang/ Jasa merubah pemenang tender atas dasar arahan dari Walikota dan Wakil Walikota tersebut dengan mengeluarkan Surat No. 12/ PAN-RSU/ XI/ 2005 tertanggal 30 November 2005, dan mengusulkan134 : 1. Pemenang adalah CV. Kreasi Multy Poranc dengan harga penawaran Rp. 1.884.197.000,00 (satu milyar delapan ratus delapan puluh empat juta seratus sembilan tujuh ribu rupiah); 2. Pemenang Cadangan I adalah PT. Pembangunan Delima Murni dengan harga penawaran Rp.1.888.852.000,00 (satu milyar delapan ratus delapan puluh delapan juta delapan ratus lima puluh dua ribu rupiah); dan
133. 134.

Ibid. Ibid.

82

3. Pemenang Cadangan II adalah CV. Sumber Mulya dengan harga penawaran Rp. 1.894.227.000,00 (satu milyar delapan ratus sembilan puluh empat juta dua ratus dua puluh tujuh ribu rupiah). Dokumen Surat Penawaran dari ketiga perusahaan yang diusulkan pada tanggal 30 November 2005 tersebut dibuat oleh Hasudungan Nainggolan, SE selaku Wakil Direktur II CV. Kreasi Multy Poranc yang beralamat di Jl. Gereja No. 97A Pematang Siantar. Hal tersebut dibuktikan dari135 : 2. Daftar hadir aanwijzing dari orang-orang yang mewakili ketiga perusahaan tersebut menunjukkan adanya kesamaan nomor handphone yaitu 0819854272 yang dimiliki oleh Hasudungan Nainggolan, SE; 3. Format Surat Penawaran adalah sama persis, perbedaan hanya pada bentuk huruf (font) dan ukuran huruf (font size); dan 4. Laporan keuangan ketiga perusahaan menggunakan Kantor Akuntan Drs. Biasa Sitepu, Ak tertanggal 17 April 2005, yang ternyata dipalsukan. Maka atas dasar temuan-temuan KPPU di atas diduga kuat adanya persekongkolan antara pihak Panitia Tender, Plt. Kepala RSU. Kota Pematangsiantar dengan CV. Kreasi Multy Poranc, PT. Pembangunan Delima Murni, dan CV. Sumber Mulya.136 Atas dasar laporan tersebut Sekretariat Komisi telah melakukan klarifikasi terhadap pelapor dan kemudian laporan dinyatakan sebagai laporan yang lengkap dan jelas.137

135. 136. 137.

Ibid. Ibid. Ibid.

83

Setelah laporan dinyatakan lengkap dan jelas maka Rapat Komisi pada tanggal 11 Mei 2006 memutuskan laporan tersebut masuk ke dalam Pemeriksaan Pendahuluan. 138 Tim Pemeriksa pada Pemeriksaan Pendahuluan setelah mendengar keterangan dari Pelapor dan para Terlapor maka ditemukan adanya indkasi kuat bahwa telah terjadi pelanggaran terhadap Pasal 22 UU No. 5 Tahun 1999, dalam bentuk sebagai berikut139 : 1. Terdapat kerja sama antara Hasudungan Nainggolan, SE dengan melibatkan CV. Kreasi Multy Poranc, PT. Pembangunan Delima Murni, dan CV. Sumber Mulya berupa penyesuaian dokumen penawaran dengan membandingkan dokumen penawaran sebelum penyerahan dan tindakan menciptakan persaingan semu di antara ketiga perusahaan tersebut. 2. Persekongkolan tersebut juga melibatkan Walikota, Wakil Walikota, dan Plt. Kepala RSU. Kota Pematang Siantar dan Panitia Tender. 3. Walikota dan Wakil Walikota melakukan intervensi yang diakui oleh Plt. Kepala RSU. Kota Pematang Siantar dan Panitia Tender sebagai indikasi adanya pengaturan CV. Kreasi Multy Poranc sebagai pemenang tender. Dengan ditemukannya bukti bahwa Walikota, Wakil Walikota,

Hasudungan Nainggolan, SE sebagai Wakil Direktur II CV. Kreasi Multy Poranc maka KPPU melanjutkan pemeriksaan ke tahap Pemeriksaan Lanjutan.140

138.

139.

140.

Pasal 27 – Pasal 41 Peraturan Komisi Pengawas Persaingan Usaha No. 1 Tahun 2006 Tentang Tata Cara Penanganan Perkara di KPPU. KPPU, Putusan Perkara No. : 06 / KPPU-L / 2006 Tentang Perbaikan Bangsal RSU Kota Pematang Siantar Tahun Anggaran 2005. Ibid.

84

Pada Pemeriksaan Lanjutan, Plt. Kepala RSU. Kota Pematang Siantar dan Panitia Tender, Walikota dan Wakil Walikota, Pelapor, para Terlapor, dan para Saksi memberikan keterangan tertulis.141 Berdasarkan bukti-bukti, sejumlah surat atau dokumen, Berita Acara Pemeriksaan (BAP) serta bukti-bukti lain yang telah diperoleh selama pemeriksaan dan penyelidikan, Majelis Komisi menilai telah mempunyai bukti dan penilaian yang cukup untuk mengambil Putusan.142 Menurut penulis, tidak tertutup kemungkinan pelaksanaan tender ini juga terdapat unsur kolusi, korupsi dan nepotisme. KPPU bisa membatalkan tender dan mengulangnya. Peserta tender yang melanggar bisa dikenai denda minimum Rp 1 miliar dan maksimum hingga Rp 25 miliar sesuai dengan Pasal 47 UU No. 5 Tahun 1999. Mereka tidak akan diperbolehkan mengikuti tender-tender pemerintah lainnya. Demikianlah uraian pelaksanaan tender di RSU. Kota Pematang Siantar dengan Kegiatan Perbaikan Bangsal rumah sakit tersebut. Selanjutnya yang akan dibahas adalah mengenai peranan KPPU dalam pelaksanaan tender di RSU. Kota Pematang Siantar tersebut.

141. 142.

Ibid. Ibid.

85

E. Peranan KPPUD dalam Pelaksanaan Tender di Rumah Sakit Umum Kota Pematang Siantar Pada awalnya, KPPU menerima laporan bahwa telah terjadi

persekongkolan pada tender RSU. Kota Pematang Siantar dengan Kegiatan Perbaikan Bangsal RSU. Kota Pematang Siantar Tahun Anggaran 2005.143 Dengan adanya laporan tersebut KPPU melakukan pemeriksaan pendahuluan yang dilakukan oleh Tim Pemeriksa, yaitu : Erwin Syahril (Ketua), Pande Radja Silalahi dan Moh. Iqbal (anggota). Setelah dilakukan pemeriksaan pendahuluan KPPU menemukan beberapa temuan, yaitu144 : 1. Ada kerja sama antara Hasudungan Nainggolan, SE dengan melibatkan CV. Kreasi Multy Poranc, PT. Pembangunan Delima Murni, dan CV. Sumber Mulya, berupa dokumen penyesuaian penawaran dokumen penawaran, dan

membandingkan

sebelum

penyerahan

menciptakan persaingan semu; 2. Persekongkolan juga melibatkan Walikota, Wakil Walikota, Plt. Kepala RSU dan Panitia Tender; dan 3. Intervensi Walikota dan Wakil Walikota yang diakui oleh Plt. Kepala RSU dan Panitia sebagai indikasi adanya pengaturan CV. Kreasi Multy Poranc sebagai Pemenang Tender. Setelah dilakukan Pemeriksaan Pendahuluan maka Tim Pemeriksan merekomendasikan pemeriksaan dilanjutkan ke tahap Pemeriksaan Lanjutan dan

143. 144.

Ibid. Ibid.

86

menetapkan Ir. RE. Siahaan (Walikota), Drs. Imal Raya Harahap (Wakil Walikota), dan Hasudungan Nainggolan, SE sebagai Terlapor.145 Pada Pemeriksaan Lanjutan, Tim Pemeriksa menemukan beberapa temuan, yaitu146 : 1. Panitia tidak menjalankan Pakta Integritas; Pada tanggal 28 November 2005, Panitia menyampaikan usulan calon pemenang tender kepada Plt. Kepala RSU. Kota Pematang Siantar. Pada tanggal 29 November 2005, Plt. Kepala RSU. Kota Pematang Siantar bersama Panitia Tender menghadapWalikota dan Wakil Walikota untuk melaporkan calon pemenang tender. Setelah pelaporan pada tanggal 29 November 2005, Panitia melakukan perubahan calon dari CV. Risma Karya menjadi CV. Kreasi Multy Poranc atas perintah Walikota, Wakil Walikota, dan Plt. Kepala RSU. Kota Pematang Siantar tanpa melakukan evaluasi ulang. 2. Plt. Kepala RSU. Kota Pematang Siantar tidak konsisten dalam melaksanakan tugasnya; Panitia tidak menjalankan pakta integritas, sesuai dengan Keppres. No. 80 Tahun 2003 Panitia Tender harus menandatangani Pakta Integritas yang menunjukkan tugas dan kewenangannya tidak dipengaruhi oleh pihak lain. Perubahan usulan calon pemenang tanpa adanya evaluasi ulang yang dilakukan oleh Panitia akibat campur tangan Walikota, Wakil Walikota, dan Plt. Kepala RSU. Kota Pematang Siantar adalah menunjukkan Panitia tidak menjalankan Pakta Integritas.

145. 146.

Ibid. Ibid.

87

Menurut Plt. Kepala RSU. Kota Pematang Siantar, penerbitan Keputusan Walikota Pematang Siantar No. 027/ 1496/ WK-Tahun 2005 tanggal 19 Oktober 2005 tentang Panitia Pengadaan Barang/ Jasa Pemerintah Kegiatan Perbaikan Bangsal di Unit Kerja Rumah Sakit Umum (RSU) Kota Pematang Santar Tahun Anggaran 2005 adalah karena status Iswan Lubis, SH pada saat itu sebagai Plt. Sementara sehingga tidak mempunyai kewenangan mengambil keputusan. Pada saat ada usulan calon pemenang tender dari Panitia, Plt. Kepala RSU. Kota Pematang Siantar selaku pengguna barang/ jasa melakukan pelaporan kepada Wakil Walikota pada tanggal 29 November 2005 dengan alasan yang sama yaitu tidak mempunyai kewenangan mengambil keputusan mengingat statusnya sebagai Plt. Sementara. Tindakan pelaporan tersebut tidak sesuai dengan Keppres. No. 80 Tahun 2003 yang menyatakan pengguna barang/ jasa berwewenang untuk menetapkan pemenang tender. Pada tanggal 21 Desember 2005, Plt. Kepala RSU. Kota Pematang Siantar membuat dan menandatangani Surat Perjanjian Pemborongan No. 602.1/ 2675/ II/ TU-RSU/ BDB/ XII/ 2005 pada tanggal 21 Desember 2005 dengan pihak CV. Kreasi Multy Poranc yang diwakili oleh Hasudungan Nainggolan, tanpa melaporkan sebelumnya kepada Wakil Walikota dan Walikota. Hal-hal tersebut menunjukkan sikap tidak konsisten yang dilakukan oleh Plt. Kepala RSU. Kota Pematang Siantar selaku pengguna barang/ jasa 3. Walilkota dan Wakil Walikota turut berperan dalam menentukan pemenang; dan

88

Pada tanggal 29 November 2005, Panitia telah mengusulkan CV. Risma Karya sebagai calon pemenang kepada Plt. Kepala RSU. Kota Pematang Siantar dan melaporkannya kepada Wakil Walikota. Menurut pengakuan Plt. Kepala RSU. Kota Pematang Siantar dan Panitia, Wakil Walikota berkomunikasi melalui telepon dengan Walikota mengenai calon pemenang lelang/ tender, dan kemudian Wakil Walikota memerintahkan merubah calon pemenang dari CV. Risma Karya menjadi CV. Kreasi Multy Poranc. Meskipun Walikota dan Wakil Walikota tidak mengakui adanya komunikasi melalui telepon yang membicarakan mengenai pemenang tender, namun setelah pelaporan pada tanggal 29 November 2005 Panitia melakukan perubahan usulan calon pemenang tanpa melakukan perubahan usulan calon pemenang tanpa melakukan evaluasi ulang, dari semula CV. Risma Karya menjadi CV. Kreasi Multy Poranc. Hal tersebut dikuatkan dengan pengakuan Plt. Kepala RSU. Kota Pematang Siantar dan Panitia, pada tanggal 30 November 2005 Walikota menelpon Ketua Panitia dengan menggunakan handphone milik Plt. Kepala RSU Kota Pematang Siantar, agar Panitia menetapkan CV. Kreasi Multy Poranc sebagai pemenang. Selanjutnya Panitia mengusulkan CV. Kreasi Multy Poranc sebagai pemenang dan meminta persetujuan dari Walikota, Wakil Walikota dan Plt. Kepala RSU. Kota Pematang Siantar yang dituangkan dalam bentuk disposisi. Adanya sanggahan, sanggah banding dan somasi yang disampaikan oleh CV. Risma Karya kepada Walikota serta jawaban-jawabannya, menunjukkan

89

bahwa Walikota sudah mengetahui sejak awal adanya permasalahan dalam pelaksanaan tender perbaikan bangsal RSU. Kota Pematang Siantar. Hasudungan Nainggolan turut menentukan pemenang tender dengan menggunakan CV. Kreasi Multy Poranc dan meminjam PT. Pembangunan Delima Murni serta CV. Sumber Mulya sebagai pendamping. Hasudungan menyusun dokumen penawaran dari ketiga perusahaan tersebut, dan khusus untuk PT. Pembangunan Delima Murni dan CV. Sumber Mulya, penyusunan dokumen penawaran dilakukan tanpa sepengetahuan Direktur masing-masing. Salah satu persyaratan lelang/ tender yaitu laporan keuangan ketiga perusahaan tersebut, tidak diakui kebenarannya oleh Kantor Akuntan Drs. Biasa Sitepu. Hasudungan Nainggolan yang telah lama mengenal dan sering berkomunikasi dengan Wakil Walikota, serta pengakuan Plt. Kepala RSU. Kota Pematang Siantar dan Panitia tidak bisa apabila perusahaannya dikalahkan, merupakan upaya mempengaruhi Wakil Walikota untuk menekan Plt. Kepala RSU. Kota Pematang Siantar dan Ketua Panitia, agar memenangkan CV. Kreasi Multy Poranc. 4. Dampak atas pengaturan pemenang tender tersebut adalah memenangkan CV. Kreasi Multy Poranc. Tindakan meminjam perusahaan adalah tidak sesuai dengan ketentuan dalam Keppres. No. 80 Tahun 2003, dan prinsip-prinsp good coorporate governance. Tindakan meminjam perusahaan sebagai pendamping untuk mengikuti tender perbaikan bangsal RSU. Kota Pematang Siantar yang dilakukan oleh Hasudungan Nainggolan meniadakan persaingan atau mengakibatkan

90

persaingan semu antara CV. Kreasi Multy Poranc, PT. Pembangunan Delima Murni, dan CV. Sumber Mulya. Perubahan calon pemenang dari CV. Risma Karya ke CV. Kreasi Multy Poranc mengakibatkan selisih antara harga penawaran Rp. 381.440.000,00 (tiga ratus delapan puluh satu juta empat ratus empat puluh ribu rupiah) dan RSU. Kota Pematang Siantar tidak memperoleh harga terbaik. Penawaran yang diajukan oleh CV. Kreasi Multy Poranc lebih mahal Rp. 381.440.000,00 (tiga ratus delapan puluh satu empat ratus empat puluh ribu rupiah) merupakan kerugian bagi negara. Setelah melalui pemeriksaan lanjutan maka selanjutnya yang akan dibahas adalah mengenai unsur-unsur Pasal 22 UU No. 5 Tahun 1999 yang dilanggar, yaitu : 1. Pelaku Usaha; Pelaku usaha adalah setiap orang perorangan atau badan usaha, baik yang berbentuk badan hukum atau bukan badan hukum yang didirikan dan berkedudukan atau melakukan kegiatan dalam wilayah hukum negara Republik Indonesia, baik sendiri maupun bersama-sama melalui perjanjian,

menyelenggarakan berbagai kegiatan usaha dalam bidang ekonomi.147 Bahwa yang dimakud dengan pelakuusaha dalam perkara ini adalah CV. Kreasi Multy Poranc dan Hasudungan Nainggolan.148

147.

148.

Pasal 1 Angka (5) UU No. 5 Tahun 1999 Tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat. KPPU, Putusan Perkara No. : 06 / KPPU-L / 2006 Tentang Perbaikan Bangsal RSU Kota Pematang Siantar Tahun Anggaran 2005.

91

2. Bersekongkol; Bersekongkol adalah kerjasama yang dilakukan oleh pelaku usaha dengan pihak lain atas inisiatif siapapun dan dengan cara apapun dalam upya memenangkan peserta tender tertentu.149 Bahwa terdapat gabungan persekongkolan horizontal dan vertikal antar sesama peserta tender dengan pihak lain, dalam hal ini Panitia Tender, Plt. Kepala RSU. Kota Pematang Siantar, Wakil Walikota, dan Walikota Pematang Siantar, dalam bentuk150 : a. Hasudungan Nainggolan sebagai peserta dalam tender perbaikan bangsal RSU. Kota Pematang Siantar menggunakan CV. Kreasi Multy Poranc dan sekaliogus meminjam PT. Pembangunan Delima Murni dan CV. Sumber Mulya sebagai pendamping; b. Hasudungan Nainggolan yang mempersiapkan dokumen penawaran CV. Kreasi Multy poranc, PT. Pembangunan Delima Murni, dan CV. Sumber Mulya; c. Hasudungan Nainggolan mempengaruhi Wakil Walikota untuk memenangkan CV. Kreasi Multy Poranc; d. Hasudungan Nainggolan mempunyai hubungan dekat dengan Wakil Walikota Pematang Siantar; e. Wakil Walikota dalam bertindak selalu meminta arahan dari Walikota;

149.

150.

KPPU. Pedoman Pasal 22 Tentang Larangan Persekongkolan dalam Tender. Op cit. h. 8. KPPU, Putusan Perkara. Loc cit.

92

f. Panitia Tender mengubah usulan calon pemenang lelang atas perintah Walikota, Wakil Walikota, dan Plt. Kepala RSU. Kota Pematang Siantar; dan g. Tindakan Plt. Kepala RSU. Kota Pematang Siantar dan Panitia Tender merubah usulan calon pemenang sesuai dengan perintah Walikota dan Wakil Walikota tersebut merupakan bentuk fasilitas kepada CV. Kreasi Multy Poranc. 3. Pihak Lain; Pihak Lain adalah para pihak yang terlibat dalam proses tender yang melakukan persekongkolan tender baik pelaku usaha sebagai peserta tender dan atau subjek hukum lainnya yang terkait dengan tender tersebut.151 Yang dimaksud pihak lain pada perkara ini adalah PT. Pembangunan Delima Murni, CV. Sumber Mulya, Walikota, Wakil Walikota, Plt. Kepala RSU. Kota Pematang Siantar, dan Pantia Tender.152 4. Mengatur dan atau Menentukan Pemenang Tender; dan Tender adalah tawaran mengajukan harga untuk memborong suatu pekerjaan, untuk mengadakan barang-barang, atau menyediakan jasa.153 Sesuai dengan pengumuman pelelangan umum pascakualifikasi No. 02/ PAN-RSU/ X/ 2005 yang dimaksud dengan tender dalam perkara ini adalah tawaran mengajukan harga untuk pekerjaan perbaikan bangsal RSU. Kota Pematang Siantar Tahun Anggaran 2005.154

151. 152. 153. 154.

KPPU. Pedoman Pasal 22 Tentang Larangan Persekongkolan dalam Tender. Op cit. KPPU. Putusan Perkara. Op cit. KPPU. Pedoman Pasal 22 Tentang Larangan Persekongkolan dalam Tender. Loc cit. KPPU. Putusan Perkara. Loc cit.

93

Hasudungan Nainggolan mempersiapkan dokumen penawaran CV. Kreasi Multy Poranc, PT. Pembangunan Delima Murni, dan CV. Sumber Mulya. Surat penawaran tersebut mempunyai kesamaan format dan bahasa dan mengatur harga penawaran CV. Kreasi Multy Poranc lebih rendah dari PT. Pembangunan Delima Murni dan CV. Sumber Mulya untuk memenangkan CV. Kreasi Multy Poranc. Ia juga merubah Akta CV. Kreasi Multy Poranc dengan tujuan hanya untuk mengikuti tender perbaikan bangsal RSU. Kota Pematang Siantar dan mempengaruhi Wakil Walikota untuk memenangkan CV. Kreasi Multy Poranc. Walikota dan Wakil Walikota memerintahkan Plt. Kepala RSU. Kota Pematang Siantar dan Panitia Tender untuk mengubah usulan calon pemenang dan menetapkan CV. Kreasi Multy Poranc sebagai pemenang dan arahan dari Walikota dan Wakil Walikota dilaksanakan oleh Plt. Kepala RSU. Kota Pematang Siantar dan Panitia Tender.155 5. Persaingan Usaha Tidak Sehat. Persaingan usaha tidak sehat adalah persaingan antara pelaku usaha dalam menjalankan kegiatan produksi dan atau pemasaran barang dan atau jasa yang dilakukan dengan cara tidak jujur atau melawan hukum atau menghambat persaingan usaha.156 Tindakan penyesuaian dokumen yang dilakukan oleh Hasudungan Nainggolan adalah perbuatan curang dan tidak jujur dalam rangka bersaing dengan peserta tender lainnya.157

155. 156. 157.

Ibid. Pasal 1 Angka (6) UU No. 5 Tahun 1999. Op cit. KPPU. Putusan Perkara. Op cit.

94

Tindakan meminjam perusahaan melanggar ketentuan Keppres. No. 80 Tahun 2003, dan prinsip-prinsip good coorporate governance yang meniadakan persaingan melainkan menimbulkan persaingan semu.158 Setelah pembahasan mengenai unsur Pasal 22 UU No. 5 Tahun 1999, maka selanjutnya KPPU melakukan pertimbangan, yaitu159 : 1. Walikota dan Wakil Walikota seharusnya tidak campur tangan dalam penentuan pemenang lelang, karena berdasarkan ketentuan dalam Keppres. No. 80 Tahun 2003 yang berwenang menetapkan pemenang adalah pengguna barang/ jasa; 2. Akibat penetapan CV. Kreasi Multy Poranc sebagai pemenang, terdapat kerugian negara sekurang-kurangnya Rp. 381.440.000,00 (tiga ratus delapan puluh satu juta empat ratus empat puluh ribu rupiah); 3. Kebiasaan meminjam perusahaan baik langsung atau melalui perubahan Akta Notaris untuk mengikuti tender seperti yang dilakukan oleh CV. Kreasi Multy Poranc, PT. Pembangunan Delima Murni, dan CV. Sumber Mulya adalah perilaku yang tidak sesuai dengan Keppres. No. 80 Tahun 2003, prinsip-prinsip good coorporate governance. 4. Tindakan Plt. Kepala RSU. Kota Pematang Siantar dan Panitia Tender mengubah usulan calon pemenang atas perintah Walikota dan Wakil Walikota. Setelah melalui tahap pertimbangan maka Majelis Komisi

merekomendasikan, yang isinya adalah sebagai berikut160 :

158. 159. 160.

Ibid. Ibid. Ibid.

95

1. Meminta

kepada

Komisi

Pemberantasan

Korupsi

(KPK)

untuk

mengambil tindakan terhadap Walikota, Wakil Walikota Pematang Siantar dan Hasudungan Nainggolan terhadap kerugian negara sebesar Rp. 381.440.000,00 (tiga ratus delapan puluh satu juta empat ratus empat puluh ribu rupiah) dalam pelaksanaan tender perbaikan bangsal RSU. Kota Pematang Siantar; 2. Meminta kepada Pemerintah agar dalam pelaksanaan Keppres. No. 80 Tahun 2003, Panitia lelang/ tender melaksanakan Pakta Integritas dengan benar dan pihak yang melaksanakan Pakta Integritas terlindungi secara hukum; 3. Meminta kepada Pemerintah Daerah untuk memerintahkan kepada setiap Panitia Pengadaan Barang/ Jasa agar dalam pelaksanaan tender memperhatikan UU No. 5 Tahun 1999 dan Keppres. No. 80 Tahun 2003 dan menutup peluang bagi pemakai/ peminjam perusahaan lain (pinjam bendera); 4. Meminta kepada Walikota dan Wakil Walikota untuk tidak mengenakan sanksi administratif kepada Plt. Kepala RSU. Kota Pematang Siantar dan Panitia, serta sesegera mungkin meminta kepada Badan Kepegawaian Nasional atau Badan Kepegawaian yang berwenang untuk tidak memproses pengenaan sanksi administratif kepada Plt. Kepala RSU. Kota Pematang Siantar dan Panitia; 5. Meminta kepada atasan langsung dari Plt. Kepala RSU. Kota Pematang Siantar dan Panitia agar tidak menjatuhkan sanksi kepada Plt. Kepala RSU. Kota Pematang Siantar dan Panitia Tender.

96

6. Menyatakan bahwa Terlapor I, Iswan Lubis, SH selaku Plt. Kepala RSU. Kota Pematang Siantar, bersama-sama dengan Terlapor II, Santo Denny Simanjuntak, SH selaku Ketua Panitia Tender/ Lelang Perbaikan Bangsal RSU. Kota Pematang Siantar, dan Terlapor VII, Drs. Imal Raya Harahap selaku Wakil Walikota Pematang Siantar terbukti secara sah dan meyakinkan melanggar ketentuan Pasal 22 UU No. 5 Tahun 1999; 7. Menyatakan bahwa Terlapor III, CV. Kreasi Multy Poranc, terbukti secara sah dan meyakinkan melanggar ketentuan Pasal 22 UU No. 5 Tahun 1999; 8. Menyatakan bahwa Terlapor VIII, Hasudungan Nainggoan, SE terbukti secara sah dan meyakinkan telah melanggar ketentuan Pasal 22 UU No. 5 Tahun 1999; 9. Menghukum Terlapor III, CV. Kreasi Multy Poranc, Terlapor IV, PT. Pembangunan Delima Murni, Terlapor V, CV. Sumber Mulya tidak diperkenankan mengikuti tender yang diselenggarakan oleh Pemerintah Propinsi dan Pemerintah Kabupaten/ Kota di Sumatera Utara selama 2 (dua) tahun anggaran sejak putusan ini mempunyai kekuatan hukum tetap; dan 10. Menghukum Terlapor VIII, Hasudungan Nainggolan, SE tidak

diperkenankan mengikuti tender yang diselenggarakan oleh Pemerintah Kota Pematang Siantar selama 1 (satu) tahun anggaran sejak putusan ini mempunyai kekuatan hukum tetap dan membayar ganti rugi kepada negara sebesar Rp. 75.000.000,00 (tujuh puluh lima juta rupiah) yang harus disetorkan ke Kas Negara sebagai setoran penerimaan bukan pajak

97

Departemen Keuangan Direktoran Jenderal Perbendaharaan Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara (KPPN) Jakarta I yang beralaman di Jl. Ir. H. Juanda No. 19, Jakarta Pusat melalui Bank Pemerintah dengan kode penerimaan 1212. Demikianlah peranan dan fungsi KPPU di RSU. Kota Pematang Siantar atas tender pengadaan barang/ jasa dengan kegiatan perbaikan bangsal RSU. Kota Pematang Siantar.

98

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan Dari penjelasan bab demi bab pada skripsi ini maka penulis menyimpulkan bahwa : 1. Telah terjadi persekongkolan tender horizontal vertikal antara perusahaanperusahaan peserta dengan panitia, pejabat pelaksana, dan walikota dan wakil walikota di RSU. Kota Pematang Siantar yang menyebabkan 2. Selama ini pelelangan melibatkan penyedia dan pengguna jasa, sehingga jika ada permasalahan hanya diredam di antara dua pihak. Apakah dimungkinkan untuk memberi wadah bagi masyarakat untuk terlibat dengan pengadaan sebagai pengawas. Sebaik-baiknya sistem tanpa didukung dengan moralitas yang baik maka sistem tersebut akan berlangsung sia-sia. 3. Dari kasus-kasus yang diterima oleh KPPU hanya segelintir yang dapat diselesaikan, dikarenakan bahwa perwakilan-perwakilan di daerah tidak dapat bekerja secara optimal dikarenakan perwakilan hanya 1 (satu) orang dan tidak terdapat pada setiap propinsi dan kabupaten/ kota. 4. Seluruh perkara yang masuk ke KPPU di daerah Sumatera Utara diteruskan ke pusat bukan diselesaikan oleh Kantor Perwakilan Daerah KPPU di Medan. Hal ini akan mengakibatkan seluruh perkara yang masuk ke KPPU tidak bisa terselesaikan karena perkara yang masuk lebih banyak dari pada perkara yang diselesaikan.

99

Demikianlah kesimpulan atas skripsi yang berjudul Peranan dan Fungsi Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) dalam Mengawasi Tender Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) di Sumatera Utara, setelah disimpulkan maka penulis akan membahas mengenai saran-saran.

B. Saran Dari kesimpulan diatas maka penulis dapat menyarankan, antara lain sebagai berikut : 1. Sebaiknya setiap undang-undang baru contohnya seperti UU No. 5 Tahun 1999 Tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat yang dikeluarkan oleh Pemerintah disampaikan kepada masyarakat dengan baik. Caranya adalah dengan mensosialisasikan/ memberitakan undang-undang tersebut di berbagai media massa, dijelaskan kepada masyarakat mengenai undang-undang tersebut, membuat suatu acara tanya jawab di televisi mengenai suatu undang-undang yang akan dikeluarkan, dapat diaksesnya situs-situs resmi pemerintah khususnya pada KPPU. 2. Sebaiknya setiap pemerintah propinsi, pemerintah daerah, dan instansi terkait lainnya lebih memperhatikan ketentuan-ketentuan yang terdapat pada Keppres. No. 80 Tahun 2003 Tentang Pedoman Pelaksanaan Pengadaan Barang/ Jasa Pemerintah dan tidak terlepas dari UU No. 5 Tahun 1999 Tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat. Caranya adalah dengan mematuhi peraturan perundangundangan yang ada. Apabila dipatuhi saja maka tidak ada yang

100

menyimpang dan setiap tender yang dilaksanakan menjadi lebih jujur dan persaingan antar perusahaan peserta menjadi lebih sehat seperti yang diamanatkan oleh UU No. 5 Tahun 1999. 3. Sebaiknya KPPU tidak hanya sekedar menunggu laporan mengenai apa yang terjadi melainkan lebih mencari dan memantau perlakuan-perlakuan para pelaku usaha dalam melakukan kegiatan usaha di wilayahnya. Caranya adalah dengan menjalankan menunggu laporan dan melakukan inisiatif atau inspeksi mendadak ke pasar dan melakukan tinjauan harga.

Demikianlah saran yang penulis ajukan untuk kiranya agar dapat menjadi pertimbangan di kemudian hari.

101

DAFTAR PUSTAKA

Fuady, Munir. Hukum Anti Monopoli. Citra Aditya Bakti. Bandung. 1999.

Hidayat, Komaruddin. Tool Kit Anti Korupsi dalam Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah. http://kormonev.org/data/toolkitbarang.pdf. ADB Project Public Relations Activities in Support of Government’s Anticoruption Efforts. Jakarta. 2005.

Karim,

Adiwarman. Ekonomi Islam dalam Pandangan Adam Smith, http://www.hudzaifah.org/modules.php?op=modload&name=News&file= article&sid=171. 2007.

Keppres. No. 75 Tahun 1999 Tentang Komisi Pengawas Persaingan Usaha.

Keppres. No. 80 Tahun 2003 Tentang Pedoman Pelaksanaan Pengadaan Barang/ Jasa Pemerintah.

Keputusan KPPU No. 6/ KPPU/ Kep./ XI/ 2000 Tentang Kode Etik dan Mekanisme Kerja KPPU.

Komisi Pengawas Persaingan Usaha Republik Indonesia. Pedoman Pasal 22 Tentang Larangan Persekongkolan dalam Tender. KPPU. Jakarta. 2005.

Komisi Pengawas Persaingan Usaha. Guideline Tender. Jakarta. 2007.

Kompetisi. The 2nd Asean Conference on Competition Policy and Law. Edisi II. Jakarta. 2006.

Kompetisi. Upaya Perbaikan Sistem Pengadaan Barang/ Jasa Pemerintah. Edisi III. Jakarta. 2006.

KPPU, Putusan Perkara No. : 06 / KPPU-L / 2006 Tentang Perbaikan Bangsal RSU Kota Pematang Siantar Tahun Anggaran 2005.

102

Martua, Soy. Persekongkolan Tender di Tahun 2006 Masih Marak. www.tempointeraktif.co.id. Jakarta. 2006.

Moedjiono. Seluruh Departemen Mulai Pakai www.depkominfo.go.id. Departemen Komunikasi Republik Indonesia. Jakarta. 2007.

E-Procurement. dan Informatika

Nasution, Farid F. Teknik Investigasi di KPPU. www.kppu.go.id. Jakarta. 2007.

Nusantara, Abdul Hakim G. dan Benny K. Harman. Analisa dan Perbandingan Undang-Undang Anti Monopoli. PT. Gramedia, Jakarta, 1999.

Peraturan Komisi Pengawas Persaingan Usaha No. 1 Tahun 2006 Tentang Tata Cara Penanganan Perkara di KPPU.

Prayoga, Ayudha D. et al. Persaingan Usaha dan Hukum yang Mengaturnya di Indonesia. Proyek ELIPS. Jakarta. 2000.

Rizal, Syamsul. Analisis Yuridis dari Badan Usaha Milik Negara (BUMN). USU Digital Library. Medan. 2003.

Silalahi, Pande Raja. Menyoal Persaingan Tidak Sehat. www.fokusonline.co.id. Jakarta. 2007.

Sirait, Ningrum Natasya. Hukum Persaingan di Indonesia. Pustaka Bangsa Press. Medan. 2004.

Siswanto, Arie. Hukum Persaingan Usaha. Ghalia Indonesia. Jakarta. 2002.

Soekanto, Soerjono. Pengantar Penelitian Hukum. UI Press. Jakarta. 1986.

Soesilo, R. Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP). Politeia. Bogor. 1976.

103

Subekti, R., dan R. Tjitrosudibio. Kitab Undang-Undang Hukum Perdata. Pradnya Paramita. Jakarta 1979.

Undang-Undang No. 30 Tahun 2000 Tentang Rahasia Dagang.

Undang-Undang No. 5 Tahun 1999 Tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat.

Usman, Rachmadi. Hukum Persaingan Usaha di Indonesia. PT. Gramedia. Jakarta. 2004.

Wibowo, Destivano dan Harjon Sinaga. Hukum Acara Persaingan Usaha. Raja Grafindo Persada. Jakarta. 2005.

Yani, Ahmad dan Gunawan Widjaja. Seri Hukum Bisnis Anti Monopoli.PT. Raja Grafindo Persada. Jakarta. 1999.

104

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->