P. 1
Persaingan Usaha Tidak Sehat Dalam Tender Ditinjau Dari Sosiologi Hukum_Agung Yuriandi

Persaingan Usaha Tidak Sehat Dalam Tender Ditinjau Dari Sosiologi Hukum_Agung Yuriandi

|Views: 1,200|Likes:
Published by Agung Yuriandi

More info:

Published by: Agung Yuriandi on Jul 05, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF or read online from Scribd
See more
See less

12/26/2012

pdf

PERSAINGAN USAHA TIDAK SEHAT DALAM TENDER DITINJAU DARI SOSIOLOGI HUKUM Oleh : Agung Yuriandi 087005039 SEKOLAH

PASCA SARJANA UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2008

Pendahuluan Unfair competition is a term which may be applied generally to all dishonest or fraudulent rivalry in trade and commerce, but is particularly applied to the practice of endeavoring to subtitute one’s own goods or products in the markets for those of another, having and established reputation and extensive sale, by means of imitating or counterfeiting the name, tittle, shape, or distinctive peculiarities of the article, or the shape, color, label, wrapper or general appearance of the package, or other such simulations, the immitation being carried far enough to mislead the general public or deceive an unwary purchaser, and yet not amounting to an absolute counterfeit or to the infringement of a trade mark or trade name.1 Persaingan usaha tidak sehat adalah suatu bentuk yang dapat diartikan secara umum terhadap segala tindakan ketidakjujuran atau menghilangkan persaingan dalam setiap bentuk transaksi atau bentuk perdagangan dan komersial. Adanya persaingan tersebut mengakibatkan lahirnya perusahaan-perusahaan yang
1.

Syarip Hidayat. Persekongkolan dalam Tender yang Menyebabkan Persaingan Usaha Tidak Sehat studi kasus : di Indonesia, Amerika Serikat, dan Kanada. www.legalitas.org.

mempunyai keinginan yang tinggi untuk mengalahkan pesaing-pesaingnya agar menjadi perusahaan yang besar dan paling kaya.2 Salah satu bentuk persaingan usaha yang tidak sehat adalah

persekongkolan dalam tender yang merupakan pelanggaran terhadap Pasal 22 UU No. 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat.3 Tender adalah tawaran mengajukan harga terbaik untuk membeli atau mendapatkan barang dan atau jasa, atau menyediakan barang dan atau jasa, atau melaksanakan suatu pekerjaan.4 Perspektif yang saya ambil adalah dari segi sosiologi hukum maka pertama sekali adalah melihat definisi dari sosiologi yaitu pengetahuan atau ilmu tentang sifat masyarakat, perilaku masyarakat, dan perkembangan masyarakat. Sosiologi merupakan cabang Ilmu Sosial yang mempelajari masyarakat dan pengaruhnya terhadap kehidupan manusia. Sebagai cabang Ilmu, Sosiologi dicetuskan pertama kali oleh ilmuwan Perancis, August Comte. Comte kemudian dikenal sebagai Bapak Sosiologi. Namun demikian, sejarah mencatat bahwa Émile Durkheim, ilmuwan sosial Perancis yang kemudian berhasil

melembagakan Sosiologi sebagai disiplin akademis. Sebagai sebuah ilmu, sosiologi merupakan pengetahuan kemasyarakatan yang tersusun dari hasil-hasil pemikiran ilmiah dan dapat di kontrol secara kritis oleh orang lain atau umum. 5

2. 3.

4. 5. 6.

Ibid. Pasal 22 UU No. 5 Tahun 1999 Tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat, menyebutkan bahwa : Pelaku usaha dilarang bersekongkol dengan pihak lain untuk mengatur dan atau menentukan pemenang tender sehingga mengakibatkan terjadinya persaingan usaha tidak sehat. Komisi Pengawas Persaingan Usaha. Guideline Tender. Jakarta. 2007. Wikipedia. Sosiologi. http://id.wikipedia.org/wiki/Sosiologi. 2008. Kamus Besar Bahasa Indonesia. 1997.

Selanjutnya definisi hukum adalah suatu sistem aturan atau adat, yang secara resmi dianggap mengikat dan dikukuhkan oleh penguasa, pemerintah atau otoritas melalui lembaga atau institusi hukum.6 Jadi, untuk memahami bekerjanya hukum, dapat dilihat fungsi hukum tersebut di dalam masyarakat. Fungsi tersebut dapat diamati dari berbagai sudut pandang, yaitu : sebagai sosial kontrol, sebagai alat untuk mengubah masyarakat, sebagai simbol, sebagai alat politik, maupun sebagai alat integrasi.7 Dalam melakukan kajian sosiologi hukum ini, penulis akan melakukan pendekatan melalui seluruh 5 (lima) fungsi hukum di atas. Praktek KKN dalam proyek pemerintah telah menimbulkan persaingan yang tidak sehat dalam usaha memenangkan tender proyek tersebut. Persaingan yang tidak sehat ini membuka peluang terjadinya monopoli orang atau perusahaan tertentu dalam proyek-proyek yang berkaitan dengan pemerintah dan pada gilirannya merugikan masyarakat umum. Proyek listrik swasta dari PLN, misalnya telah menyebabkan PLN menderita kerugian yang tidak sedikit.8 Prosedur mengenai pelaksanaan tender untuk proyek-proyek pemerintah, baik yang dianggarkan melalui Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN), Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) maupun Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) diatur dalam Keppres No. 80 Tahun 2003 Tentang Pedoman Pelaksanaan Pengadaan Barang/ Jasa Pemerintah.9

7.

8. 9.

Muhammad Abduh. Modul Sosiologi Hukum. Sekolah Pasca Sarjana Universitas Sumatera Utara. Medan. 2002. Harian Kompas. Dua Mantan Menteri Disebut Terlibat KKN. Jum’at, 28 April 2000. Abdul Hakim G. Nusantara dan Benny K. Harman. Analisa dan Perbandingan UndangUndang Anti Monopoli. PT. Gramedia. Jakarta. 1999. h. 21.

Produk hukum di atas berlaku untuk seluruh instansi pemerintahan, apakah itu departemen maupun non-departemen, BUMN, dan BUMD. Ketentuan ini dibuat agar pengelolaan uang atau kekayaan negara, baik yang dituangkan melalui APBN/ APBD maupun pengembangan BUMN/ BUMD, bisa berjalan lebih efisien dan efektif dalam mencapai kesejahteraan masyarakat.10 Permasalahan Dalam suatu penulisan karya ilmiah langkah utama yang perlu diperhatikan adalah apa yang menjadi pokok permasalahan tersebut. Berdasarkan uraian di atas maka penulis dapat merumuskan masalah sebagai berikut : 1. Bagaimana pendekatan kajian sosiologi hukum terhadap persaingan usaha tidak sehat dalam hal tender? 2. Apakah UU No. 5 Tahun 1999 Tentang Larangan Persaingan Usaha Tidak Sehat sudah berjalan dengan baik? Tinjauan Sosiologi Hukum Terhadap Persaingan Usaha Tidak Sehat Dalam Tender Dalam memahami apakah hukum itu berjalan dengan baik atau tidak, dapat dilihat dari fungsi hukum tersebut di dalam masyarakat, antara lain : Hukum Sebagai Sosial Kontrol Kontrol sosial mengacu pada suatu proses baik yang direncanakan maupun yang tidak direncanakan, dimana dalam proses kontrol sosial tersebut masyarakat dibuat agar mematuhi norma-norma yang berlaku di masyarakat. Masyarakat berharap bahwa individu di dalam dirinya sendiri sudah muncul
10.

Ibid. h. 22.

kesadaran untuk mematuhi norma dan mempunyai perilaku yang konform dengan aturan di masyarakat, artinya bahwa perilaku konformitas itu bersifat inheren di dalam diri individu. Meskipun demikian ada sebagian besar manusia yang harus dilatih untuk menjalankan konformitas11 di mana proses sosialisasi terlibat di dalamnya. Melalui proses sosialisasi seseorang akan mempelajari perilaku apa yang dapat diterima berkaitan dengan berbagai situasi yang akan dia hadapi, selain itu untuk pembelajaran perilaku mana yang pantas dan tidak pantas untuk dilaksanakan.12 Bentuk kontrol sosial berkaitan dengan pemberian sanksi baik yang berupa hukuman maupun imbalan pada perilaku yang disetujui maupun tidak disetujui oleh masyarakat. Di dalam masyarakat ada berbagai bentuk kontrol sosial seperti bahasa, gosip, ostratisme, intimidasi serta kekerasan fisik yang umumnya dilakukan oleh individu terhadap individu lain. Adapun bentuk kontrol sosial yang dilaksanakan itu semua bertujuan untuk mengembalikan individu yang melakukan perilaku menyimpang maupun untuk mencegah orang untuk menyimpang dan konform terhadap nilai-dan aturan yang berlaku di masyarakat.13 Menurut Soerjono Soekamto, konformitas adalah penyesuaian diri dengan masyarakat dengan cara mengindahkan norma dan nilai masyarakat.14

11.

12.

13. 14.

Soerjono Soekamto. Konformitas Sosial. http://209.85.175.104/search?q=cache:kjOTCOuW38sJ:psychemate.blogspot.com/2007/ 12/konformitas-sosial.html+konformitas&hl=id&ct=clnk&cd=1&gl=id. 2000. Sofa. Pengantar Ilmu Sosial. http://209.85.175.104/search?q=cache:tDQrLiUspw0J:massofa.wordpress.com/2008/02/ 06/kelompok-perilaku-dan-kontrol-sosial/+sosial+kontrol&hl=id&ct=clnk&cd=1&gl=id. 2008. Ibid. Loc cit.

Untuk menjamin persaingan usaha yang sehat, Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR-RI) menerbitkan UU No. 5 Tahun 1999 Tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat. Pelaksanaan undang-undang tersebut yang efektif diharapkan dapat memupuk budaya berbisnis yang jujur dan sehat sehingga dapat terus menerus mendorong dan meningkatkan daya saing di antara pelaku usaha.15 Dalam hal sosialisasinya di masyarakat, tidak disangkal bahwa agar suatu aturan hukum dapat ditegakkan secara baik, diperlukan organ penegak hukum yang memadai. Suatu aturan hukum, betapapun baiknya secara substantif, tidak akan berjalan dengan baik apabila tidak didukung oleh penegak hukum yang baik pula. Organ penegak hukum yang dimaksud adalah Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU).16 KPPU melakukan seminar-seminar di pemerintah dan swasta dalam hal acuan untuk mengikuti suatu tender pada pemerintah maupun swasta dan menerbitkan Guideline Tender.17 Sanksi yang tegas di dalam UU No. 5 Tahun 1999 Tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat dapat berupa sanksi administratif, sanksi pidana pokok, atau sanksi pidana tambahan. Dalam hal persekongkolan tender, sanksinya terdapat pada Pasal 48 ayat (2) yang berbunyi : Pelanggaran terhadap ketentuan Pasal 5 sampai dengan Pasal 8, Pasal 15, Pasal 20 sampai dengan Pasal 24, dan Pasal 26 undang-undang ini diancam pidana denda serendah-rendahnya Rp. 5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah) dan

15. 16. 17.

Arie Siswanto. Hukum Persaingan Usaha. Ghalia Indonesia. Jakarta. 2002. h. 49. Ibid. Komisi Pengawas Persaingan Usaha. Guideline Tender. Jakarta. 2007.

setinggi-tingginya Rp. 25.000.000.000,00 (dua puluh lima miliar rupiah), atau pidana kurungan pengganti denda selama-lamanya 5 (lima) bulan.18 Hukum Sebagai Alat untuk Mengubah Masyarakat Fungsi hukum sebagai alat untuk mengubah masyarakat sebagaimana yang pernah dikemukakan oleh Roscoe Pound “a tool of social engineering”. Perubahan masyarakat dimaksud terjadi bila seseorang atau sekelompok orang mendapat kepercayaan dari masyarakat sebagai pemimpin lembaga-lembaga kemasyarakatan. Pelopor perubahan memimpin masyarakat dalam mengubah sistem sosial dan di dalam melaksanakan hal itu langsung tersangkut tekanantekanan untuk melakukan perubahan, dan mungkin pula menyebabkan perubahan-perubahan pada lembaga-lembaga lainnya.19 Pengadaan barang/ jasa yang kacau balau di dalam pemerintahan maupun swasta tidak terlepas dari fungsi peran lembaga yang menjalankan undangundang sebagai pengawal atau penegak hukum. Dalam hal penegakan suatu peraturan perundang-undangan dibutuhkan sebuah organ atau lembaga yang melaksanakannya, yang disini berbicara tentang Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU). Salah satu fungsi dari KPPU adalah mengawasi persaingan usaha di dalam tender yang diselenggarakan.20 KPPU adalah salah satu badan independen yang merupakan Self Regulatory Body adalah suatu fenomena baru dalam sistem ketatanegaraan, hal ini dapat dilihat dari berbagai komisi independen yang telah terbentuk misalnya

18.

19.

20.

Undang-Undang No. 5 Tahun 1999 Tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3817. Muhammad Abduh. Modul Sosiologi Hukum. Sekolah Pasca Sarjana Universitas Sumatera Utara. Medan. 2002. Komisi Pengawas Persaingan Usaha. Op cit.

Komisi Nasional Hak Azasi Manusia (KOMNAS HAM) yang diatur dalam UU No. 39 Tahun 1999 Tentang Hak Azasi Manusia, Komisi Ombudsman Nasional (KON) diatur dalam Keppres No. 44 Tahun 2000 Tentang Komisi Ombudsman Nasional, Komisi Pemeriksaan Kekayaan Penyelenggaraan Negara (KPKPN) diatur dalam UU No. 28 Tahun 1999 Tentang Penyelenggaraan Negara Yang Bersih dan Bebas Dari KKN yang saat ini resmi telah dibubarkan, Komisi Pemilihan Umum (KPU) diatur dalam UU No. 3 Tahun 1999 Tentang Pemilihan Umum Presiden.21 Diharapkan, kiprah KPPU dapat merupakan ujung tombak dari hukum anti monopoli, maka kapabilitas, kejujuran dan keseriusan dari anggota komisi ini sangat menentukan bagaimana warna dan irama dari berjalannya hukum anti monopoli dan persaingan usaha tidak sehat dalam prakteknya.22 Hukum Sebagai Simbol Apabila kita lihat hukum sebagai simbol dalam hal persaingan usaha tidak sehat pada tender, maka akan ditemukan KPPU yang merupakan simbol tersebut. KPPU adalah simbol untuk terciptanya persaingan usaha yang kondusif yang tidak bisa diganggu gugat. KPPU memiliki kode etik untuk menjalankan pengawasan terhadap persaingan usaha tidak sehat tersebut, antara lain23 : 1. Independensi;

21.

22. 23.

Ningrum Natasya Sirait. Hukum Persaingan di Indonesia. Pustaka Bangsa Press. Medan. 2004. h. 106. Ibid. h. 118. Keputusan KPPU No. 6/ KPPU/ Kep./ XI/ 2000 Tentang Kode Etik dan Mekanisme Kerja KPPU.

1. Anggota Komisi dalam melaksanakan tugasnya bebas dari pengaruh dan kekuasaan pemerintah serta pihak lain. 2. Anggota Komisi dilarang menjadi : 1) Anggota dewan komisaris atau pengawas, atau direksi suatu perusahaan; 2) Anggota pengurus atau badan pemeriksa suatu koperasi; 3) Pihak yang memberikan layanan jasa kepada perusahaan, seperti konsultan, akuntan publik, dan penilai; dan 4) Pemilik saham mayoritas suatu perusahaan. 3. Anggota Komisi yang menangani perkara dilarang : 1) Mempunyai hubungan sedarah/ semenda sampai derajat ketiga dengan pihak yang berpekara; 2) Mempunyai bersangkutan; 3) Mempunyai hubungan yang patut diduga akan kepentingan dengan perkara yang

mempengaruhi pengambilan keputusan; dan 4) Saling mempengaruhi dalam mengambil keputusan. 2. Kerahasiaan; dan a. Dalam menjalankan tugasnya, semua unsur di lingkungan Komisi wajib menjaga, menyimpan, dan merahasiakan informasi dan atau dokumen yang berhubungan dengan perkara serta informasi dan atau dokumen lain milik Komisi yang patut dirahasiakan, kepada pihak yang berpekara dan atau pihak manapun yang tidak berkepentingan; dan

b. Dalam

menangani

pemeriksaan

perkara

semua

unsur

di

lingkungan Komisi wajib merahasiakan identitas pelapor. 3. Moralitas. a. Setiap unsur Komisi harus bebas dari praktek korupsi, kolusi, dan nepotisme; b. Setiap unsur Komisi dilarang melakukan persekongkolan dengan pihak manapun yang patut diduga akan mempengaruhi

pengambilan keputusan; c. Semua unsur Komisi dilarang menerima sesuatu dalam bentuk uang dan atau hadiah yang secara langsung maupun tidak langsung patut diduga berkaitan dengan jabatannya; dan d. Setiap anggota Komisi bersedia memberikan informasi mengenai kekayaannya kepada lembaga yang berwenang. Simbol memiliki banyak arti, disini saya artikan sebagai kode etik KPPU, disebabkan oleh simbol persaingan usaha yang tidak sehat tidak lain adalah KPPU itu sendiri.24 Hukum Sebagai Alat Politik Pada zaman Orde Baru (ORBA), pengadaan barang/ jasa sangat semrawut dan kacau balau. Setiap proyek pengadaan barang/ jasa sudah dimiliki oleh para sanak keluarga atau kerabat para pejabat. Itulah sebabnya banyak sekali proyek-

24.

Risa Amrikasari. Tinjauan Hukum terhadap The Global Gag Rule. http://amrikasari.wordpress.com/2008/06/01/tinjauan-sosiologi-hukum-terhadap-theglobal-gag-rule/. 2008.

proyek yang fiktif, peningkatan harga yang tidak wajar, dan hal-hal yang dapat merugikan negara.25 Keuangan negara menjadi sangat minim dan sulit untuk melakukan apapun. Jika, kas sedikit pembangunan tidak berjalan dan ekonomi, pendidikan, dan kesehatan juga menurun. Yang disebabkan oleh pengerjaan pengadaan barang/ jasa tadi tidak sungguh-sungguh. Seluruh barang-barang yang dibeli tidak memiliki kualitas yang baik, pembangunan yang dilakukan juga demikian.26 Dalam hal pembahasan mengenai persaingan usaha tidak sehat terhadap tender. Sekarang sudah baik dikarenakan negara membuat sebuah peraturan perundang-undangan yaitu UU No. 5 Tahun 1999 Tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat dan undang-undang tersebut memerintahkan untuk membentuk suatu badan yang independen untuk menjalankan peraturan tersebut. Banyak peraturan perundang-undangan yang dibuat oleh pemerintah guna mendongkrak keuangan negara. Sebagai hasilnya, keuangan negara membengkak dan hutang negara telah terbayar lunas. Programprogram untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat banyak digalakkan seperti Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang peminjaman dana pada pemerintah untuk melakukan suatu usaha tanpa agunan. Hal tersebut adalah salah satu perubahan yang signifikan yang pernah terjadi pada masa pasca reformasi.27 Hukum Sebagai Alat Integrasi Apabila berbicara tentang hukum sebagai alat integrasi yang tidak terlepas dari konteks yang dibahas. Maka tidak dapat dilepaskan dari segi sosiologi dan
25.

26. 27.

Muhammad Abduh. Catatan Perkuliahan Mata Kuliah Sosiologi Hukum. Sekolah Pasca Sarjana Universitas Sumatera Utara. Medan. 2008. Ibid. Ibid.

budaya masyarakat Indonesia itu sendiri. Hukum yang berlaku di Indonesia tidak hanya berarti hukum yang telah diundangkan melalui lembaran negara tetapi juga yang berlaku dan diakui ada dan bekerja serta dipatuhi secara budaya oleh masyarakat Indonesia (Hukum Adat). Peranan hukum sebagai alat integrasi, telah dibuktikan dalam penyelesaian berbagai konflik yang ada di Indonesia.28 Dalam hal ini pembahasan dilanjutkan kepada proses penyelesaian sengketa antar para pesaing usaha dapat dilakukan tanpa melibatkan KPPU dengan menjunjung tinggi musyawarah untuk mencapai mufakat. Caranya adalah dengan menempuh jalan ADR (Alternative Dispute Resolution).29 Perubahan di Dalam Masyarakat Terhadap UU No. 5 Tahun 1999 Tentang Larangan Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat Telah banyak kemajuan yang dicapai oleh lembaga ini, pemahaman akan esensi dari hukum persaingan usaha telah menampakkan hasil yang ditandai dengan mulai adanya perubahan perilaku para pelaku usaha dalam melakukan kegiatan usahanya di Indonesia. Tentu saja hal positif tersebut sangat menggembirakan dan perlu terus dipupuk agar terciptanya iklim persaingan usaha yang sehat sebagai tujuan bersama dapat terwujud, sehingga dapat terbentuk sistem perekonomian nasional yang efisien.30 Seiring dengan gencarnya sosialisasi yang dilaksanakan oleh KPPU melalui berbagai forum, termasuk melalui media massa dan elektronik yang diselenggarakan di Jakarta maupun di daerah-daerah lain, maka kesadaran masyarakat akan pemahaman persaingan usaha yang sehat juga meningkat secara
28. 29.

30.

Ma’Mun. Hukum dan Integritas Bangsa Indonesia. http://batampos.co.id/. 2008. Khairun Naim. Catatan Perkuliahan Hukum Acara Perdata. Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara. Medan. 2006. Kompetisi. Anggota KPPU. Edisi VIII. Jakarta. 2007. h. 2.

signifikan. Hal ini dibuktikan dengan semakin meningkatnya laporan yang masuk tentang pengaduan praktek persaingan usaha yang tidak sehat selama periode 2005 – 2006.31 Beragam kasus persaingan usaha yang dihadapi oleh KPPU sejak awal tahun 2006 mengisyaratkan perkembangan baru bagi implementasi UU No. 5 Tahun 1999 Tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat. Nilai-nilai persaingan usaha yang sehat telah menjadi acuan bagi mayoritas pelaku usaha di tanah air.32 Arus laporan yang masuk dari tahun ke tahun memang bergerak lambat. Tetapi, pada kurun waktu 2005 – 2006 lonjakan yang signifikan pada jumlah laporan yang disampaikan oleh KPPU terjadi dan meningkat sampai sebesar dua kali lipat dari tahun sebelumnya. Penanganan laporan tersebut beujung pada penanganan perkara yang mengupas beragam kasus persaingan usaha dimana diantaranya adalah kasus diskriminasi harga dan kasus terjadinya hambatan persaingan.33 Tugas dan wewenang KPPU memang tidak serta merta mendapat sambutan baik dari kalangan pelaku usaha di Indonesia. Apalagi berdirinya KPPU ditandai dengan masa-masa iklim usaha yang penuh dengan nuansa anti persaingan sehat, seperti tender kolusif, monopolisasi, kartel, dan patronase

31. 32.

33.

Ibid. Pasal 2 UU No. 5 Tahun 1999 Tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat, menyebutkan bahwa : Pelaku usaha di Indonesia dalam menjalankan kegiatan usahanya berazaskan demokrasi ekonomi dengan memperhatikan keseimbangan antara kepentingan pelaku usaha dan kepentingan umum. Kompetisi. Loc cit. h. 4.

pelaku usaha dengan birokrat. Padahal, semua tindakan anti persaingan hanya mengakibatkan biaya tinggi dan rendahnya daya saing.34 Kesimpulan Dari penjelasan bab demi bab maka penulis menyimpulkan bahwa : 1. UU No. 5 Tahun 1999 Tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat adalah tidak bertolak belakang dengan azas-azas hukum atau root of law, rechtzekerheid beginsel. 2. Selama ini pelelangan melibatkan penyedia dan pengguna jasa, sehingga jika ada permasalahan hanya diredam di antara dua pihak. Apakah dimungkinkan untuk memberi wadah bagi masyarakat untuk terlibat dengan pengadaan sebagai pengawas. Sebaik-baiknya sistem tanpa didukung dengan moralitas35 yang baik maka sistem tersebut akan berlangsung sia-sia. Saran Dari kesimpulan di atas, maka penulis dapat menyarankan yaitu sebaiknya setiap pemerintah propinsi, pemerintah daerah, instansi terkait lainnya lebih memperhatikan ketentuan-ketentuan yang terdapat pada Keppres. No. 80 Tahun 2003 Tentang Pedoman Pelaksanaan Pengadaan Barang/ Jasa Pemerintah dan tidak terlepas dari UU No. 5 Tahun 1999 Tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak sehat dengan cara mematuhi peraturan perundang-undangan yang ada dari dalam hati (inside to outside) ke luar, apabila

34. 35.

Ibid. h. 4. Muhammad Abduh. Catatan Perkuliahan Sosiologi Hukum. Sekolah Pasca Sarjana Universitas Sumatera Utara. 2008.

dipatuhi dari dalam keluar maka tidak ada yang menyimpang dan setiap tender yang dilaksanakan menjadi lebih jujur dan persaingan antar perusahaan/ pelaku usaha menjadi lebih sehat seperti yang diamanatkan oleh undang-undang.

Demikianlah saran yang penulis ajukan untuk kiranya agar dapat dijadikan bahan pertimbangan di kemudian hari.

DAFTAR PUSTAKA Abduh, Muhammad. Catatan Perkuliahan Mata Kuliah Sosiologi Hukum. Sekolah Pasca Sarjana Universitas Sumatera Utara. Medan. 2008.

Abduh, Muhammad. Modul Sosiologi Hukum. Sekolah Pasca Sarjana Universitas Sumatera Utara. Medan. 2002.

Amrikasari, Risa. Tinjauan Hukum terhadap The Global Gag Rule. http://amrikasari.wordpress.com/2008/06/01/tinjauan-sosiologi-hukumterhadap-the-global-gag-rule/. 2008.

Harian Kompas. Dua Mantan Menteri Disebut Terlibat KKN. Jum’at, 28 April 2000.

Hidayat, Syarip. Persekongkolan dalam Tender yang Menyebabkan Persaingan Usaha Tidak Sehat studi kasus : di Indonesia, Amerika Serikat, dan Kanada. www.legalitas.org.

Kamus Besar Bahasa Indonesia. 1997.

Keputusan KPPU No. 6/ KPPU/ Kep./ XI/ 2000 Tentang Kode Etik dan Mekanisme Kerja KPPU.

Komisi Pengawas Persaingan Usaha. Guideline Tender. Jakarta. 2007.

Ma’Mun. Hukum dan Integritas Bangsa Indonesia. http://batampos.co.id/. 2008.

Majalah Kompetisi. Anggota KPPU. Edisi VIII. Jakarta. 2007.

Naim, Khairun. Catatan Perkuliahan Hukum Acara Perdata. Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara. Medan. 2006.

Nusantara, Abdul Hakim G. dan Benny K. Harman. Analisa dan Perbandingan Undang-Undang Anti Monopoli. PT. Gramedia. Jakarta. 1999.

Sirait, Ningrum Natasya. Hukum Persaingan di Indonesia. Pustaka Bangsa Press. Medan. 2004.

Siswanto, Arie. Hukum Persaingan Usaha. Ghalia Indonesia. Jakarta. 2002.

Soekamto, Soerjono. Konformitas Sosial. http://209.85.175.104/search?q=cache:kjOTCOuW38sJ:psychemate.blogs pot.com/2007/12/konformitassosial.html+konformitas&hl=id&ct=clnk&cd=1&gl=id. 2000.

Sofa.

Pengantar Ilmu Sosial. http://209.85.175.104/search?q=cache:tDQrLiUspw0J:massofa.wordpress .com/2008/02/06/kelompok-perilaku-dan-kontrolsosial/+sosial+kontrol&hl=id&ct=clnk&cd=1&gl=id. 2008.

Undang-Undang No. 5 Tahun 1999 Tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3817.

Wikipedia. Sosiologi. http://id.wikipedia.org/wiki/Sosiologi. 2008.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->