P. 1
UJI TARIK

UJI TARIK

|Views: 4,169|Likes:
Published by fadli040289

More info:

Published by: fadli040289 on Jul 08, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/17/2013

pdf

text

original

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, atas segala berkat dan rahmat yang diberikannya kepada penulis, sehingga dapat menyelesaikan laporan ini tepat pada waktunya. Adapun judul laporan ini adalah Material Test yang merupakan salah satu tugas praktikum yang dilakukan di laboratorium Teknik Mesin Politeknik Negeri Medan. Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada Bapak Suparmin MT, sebagai dosen pembimbing dalam menyelesaikan praktikum ini. Penulis menyedari bahwa laporan ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang sifatnya membangun demi penyempurnaan laporan ini di masa yang akan datang. Akhir kata penulis mengucapkan terima kasih dan semoga laporan ini bermanfaat bagi pihak yang membutuhkan.

Medan, Penulis

Juli 2007

ARMANDO S. NIM. 042301033

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Bidang keteknikan, khususnya dalam bidang teknik mesin, pengetahuan bahan teknik merupakan pengetahuan yang sama pentingnya dengan pengetahuan kostruksi. Karena itu, pengetahuan bahan teknik masih belum mencukupi. Pengetahuan itu harus juga diiringi dengan mengetahui cara menentukan mutu dan mengetahui karasteristik bahan yang dipilih agar sesuai dengan konstruksi. Pemilihan bahan merupakan tahap selanjutnya yang harus dipenuhi, pemilihan baha sering disebut dengan uji material (material test). Material test merupakan pengujian terhadap bahan yang berupa uji tarik (tensile test), dan uji lentur (bending test). Pengjian _pengujian ini biasanya dilakukan pada sebuah mesin yang disebut Tarno Testing Machine dan dapat diganti dengan Servo Pulser Machine. Dalam uji tarik, kekuatan tari dapat ditentukan dengan menarik benda uji sampai putus. Pada uji bending, benda kerja diletakkan pada kedua pasang tool yang telah diganti, dimana benda kerja diletakkansecara horizontal. Kemudian tool dari atas menekan benda kerja sampai terbentuk benda kerja yang lentur atau sampai terbentuk sudut 90. Memalui pengujian – pengujian tersebut (uji tari dan uji lentur ) kita akan mendapat banyak sifat – sifat atau karasteristik material yang dicobakan seperti kekuatan, kekakuan, keuletan dan lain sebagainya.

B. Tujuan Percobaan 1. Tujuan instruksional umum • • Dapat memahami karasteristik material melalui uji tarik dan uji lentur; Dapat memahami tentang uji tarik dan uji lentur.

2. Tujuan instruksional khusus • • • • • Dapat menyebutkan defenisi uji tarik dan uji lentur; Dapat menerangkan factor – factor yang mempengaruhi karasteriatik material; Dapat menjeaskan prosedur uji tarik dan uji lentur; Dapat menganalisa hasil uji tarik dan uji lentur; Dapat mengambil kesimpulan dari pengujian material tersebut.

BAB II DASAR TEORI A. Uji Tarik (Tensile Test) Uji tarik adalah pemberian gaya atau tegangan tarik kepada material dengan maksud untuk mengetahui atau mendeteksi kekuatan dari suatu material. Tegangan tarik yang digunakan adalah tegangan actual eksternal atau perpanjangan sumbu benda uji. Uji tarik dilakuan dengan cara penarikan batang uji dengan gaya tarik secara terus – menerus, sehingga bahan (perpajangannya) terus –menerus meningkat dan teratur sampau putus, dengan tujuan menetukan nilai tarik.untuk mengetaui kekuatan tarik suatu bahan dalam pembebanan tarik, garis gaya harus berhimpit dengan garis sumbu bahan sehingga pepbenana terjadi beban arik lurus. Tetapi jiga gaya tarik sudut berhimpit maka yang terjadi adalah gaya lentur. F F -F -F

F

Pembebanan tarik

F

F

Bentuk benda uji Pada pengujian ini terjadi deformasi yaitu : 1. Deformasi elastis yaitu perubahan bentuk yang disebabkan gaya luar dan apabila gaya luar dilepas maka bahan tersebut akan kembali ke bentuk dan ukuran semula. 2. Deformasi platis yaitu perubahan bentuk yang disebabkan gaya luar dan apabila gaya luar delepas maka bahan tidak akan kembali ke bentuk dan ukuran semula. Graik yang terjadi pada uji tarik antara gaya dengan perubahan panjang F (N) G max
Plastis area Gy max

Gy min Proporsional area

G putus

L (mm) (setelah putus) saat akan putus Pada grafik tersebut terjadi batas proporsional dan batas plastis. Batas proporsional adalah batas dari suatu bahan dimana terjadi penambahan panjang. Batas plastis adalah batas dari suatu benda dimana terjadi penambahan panjang dan benda tidak akan kembali seperti bentuk dan ukurannya semula. elastis

Dalam uji tarik akan terjadi beberapa tegangan yaitu : 1. Tegangan proporsional, dimana gaya berbanding lurus dengan petambahan panjang dan berbanding lurus dengan regangan. 2. Tegangan alur yaitu tegangan yang didapat pada benda saat terjadinya deformasi plastis yang tidak menunjukkan penurunan beban pada perpanjangan plastis dalam persentase tertentu dan panjang ukur mula – mula dibagi dengan luas penampang mula – mula. Tegangan alur terjadi pada atas (alur atas) dan bawah (alur bawah)

F (N)

Gy max F max

Proporsional Area L (mm) Elastis Grafik gaya terhadap perubahan panjang (daerah proporsional) Menurut hokum hooke, tegangan berbading lurus dengan modulus elastisitas dan regangan, atau tegangan merupakan perbandingan antara gaya dengan luas penampang, dapat di defenisikan sebagai berikut :

σ = Ε.ε .......... .(1); ε = σ=
F .......... ..( 2) A F ∆L = Ε. A l0 F ∆l F A l0

∆l l0

Ε=

.l A 0 ∆L σ .l0 Ε= .......... .(3) ∆l Ε=

dim ana : σ = Tegangan F = gaya (N )

[N

m2 = pA

]

Ε = mod uluselasti sitas [ Pa ]

A = Luaspenamp ang m 2

[ ]

∆L = pertambaha npanjang [ m] L0 = panjangmul a − mula [ m]

ε = regangan

E (modulus elastisitas) untuk :

Baja/besi Aluminium Tembaga Nikel

E = 180-230 (Gpa) E = 70-79 (Gpa) E = 110-120 (Gpa) E = 210 (Gpa)

G (gaya modulus)
E .......... .......... ( 4) 2(1 + γ ) regangan lateral ∆d γ = Poisson ratio = = regangan linier ∆l ∆d permanen pendukung γ = ∆l permanen d 0 − d putus = l permanen − l0 G=

γ baja = 0,23 γ besi = 0,21 γ alu min ium = 0,24
pada proporsion al area F σ = r [ Mpa ] A0

σ1 = σ=

F1 F F ;σ 2 = 2 ; σ 3 = 3 A0 A0 A0 Σσ σ1 + σ 2 + σ3 = n 3

pada plastis area F σ y max = y max [ Mpa ] A0

σ y min =

Fy min A0

[ Mpa ]
Fmax [ Mpa ] A0 Fputus Aputus

σu = ultimate stress [σ max ] =

σ p = breaking stress [σ putus ] =

[ Mpa ]

Regangan Permanen 1. Putus ditengah

εp =

∆l permanen l0

x100 % ......... ..( 5)

2. Putus tidak dibagian tengah (menggunakan rumus empiris) a. Jika N-n = Genap N = Jumlah kotak, biasanya 10 n = nomor kotak dimana putus (2dan 4) atau (6 dan 8)

A

B

C

10 9 8 7 6 5

4 3 2 1 0

0 12 3 4 5

6 7 8 9 10

Benda uji putus bagian genap B. Uji Lentur (Bending Test ) Uji lentur adalah pemberian gaya yang mempunyai gaya Newton yang berada pada daerah samping sumbu benda atau material. Pengujian lentur merupakan salah satu cara pengujian yang telah dipakai sejak lama untuk menentukan kecocokan bahan. Karena pengujian ini dilakukan terhadap batang uji bebbentuk sederhana dan tidak memerlukan mesin uji biasa. Dalam uji lentur ini dipergunakan hokum Newton I yaitu kesetimbangan, dimana ∑F = 0.

F

Ra L /2 Pembebanan gaya L/2 lentur

Rb

Hukum Newton I (Hukum Kesetimbangan) ∑F = 0 ∑M = 0

ΣMA = 0 F . L − Rb.L = 0 2 F. L 2 Rb = L F Rb = 2

ΣFy = 0 Ra + Rb = F Ra + Rb − F = 0 Ra = F − Rb Ra = F −1 / 2 F F Ra = 2

Ra ∑Fy = 0 Ra – Fv = 0 Fv = F /2

Fv

Σ =0 M M −F . X =0 v M = F .X v M = ; X = 1 L 2

F .1 / 2 L 2 F .L M = .......... 4

..........

....( 6)

Untuk lingkaran Y

S X D

Wb =

.d 4 64 = d 2 Π 3 = d 32.

I S Π

Fl / 4.d / 2 Π d4 64 8.F .l σ= [ Mpa ].......... ......( 7) Πd 3

σ=

BAB III METODOLOGI PRAKTIKUM A. Bahan dan Peralatan Bahan 1. Besi polos (Stern Iron) 2. Besi ulir (Screw Iron) 3. Baja polos (Stern Steel) 4. Baja ulir (Screw Steel ) Alat 1. Tarno Testing machine 2. Seperangkat computer 3. Dimention equipment (alat ukur) kakulator Rool Vernier Caliver Jangka sorong Palu Kikir Penggores Spidol Gergaji tangan

4. Fixture (alat Bantu

B. Prosedur Percobaan 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. Disediakan bahan dan peralatan yang digunakan dalam percobaan Dibentuk benda kerja (benda uji) Diukur dimensi benda kerja (benda uji) Diikat benda kerja pada ragum (mesin uji) Disetel posisi benda uji dan alat uji (mesin uji) Diambil program uji dan dimasukkan data – data yang diperlukan ke dalam computer Dilakukan pengujian Dilakukan analisa pengujian

9.

Dilepaskan benda uji dari ragumDibersihkan alat uji (mesin uji) dan bahan uji kemudian mengembalikan pada posisi semula

BAB IV ANALISA DATA A. Ui Tarik (Tensile Test) Benda 1. (Screw Iron)
L0 = 100 mm D0 = 9.5 mm D p = 5.6 mm L p = 12 .7 mm Fy max = 70647 .96 [ N ] Fy min = 32388 .75 [ N ] F max = 76113 ,56 [ N ] Fputus = 32388 ,75 [ N ]

A0 =

= 68316.5773 2[ N ] F proporsion al lim it σ proporsion al = A0 68316.5773 2[ N ] 70 ,84625 mm 2 = 964.293 [ Mpa ] =

F proporsion al lim it = 0,967 .Fy max = 0,967 .70647 ,96

1 Πd 2 4 1 = .3.14 .( 9,5mm ) 2 4 = 70.84625mm 2

σ max =
=

76113,56[ N ] 70,84625mm 2 = 1074.348[ Mpa ]

F max A0

σ y max =
=

Fy max A0

70647,96[ N ] 70,84625mm 2 = 997.201[ Mpa ]

σ y min =
=

Fy min A0

σ putus

32388,75[ N ] 70,84625mm 2 = 457.169[ Mpa ] Fputus = Aputus =

Aputus =

32388,75[ N ] 24,6186 mm 2 = 1315.621[ Mpa ]

1 Πd 2 4 1 = .3.14 (5.6mm ) 2 4 = 24 ,6186 mm 2

E=

F ∆L

A L0

=

70647,96[ N ]

27mm 100mm 997.2011 = 0,27 = 3693.337[ Mpa]

70.84625mm

∆L = L p − L0 = 127 mm −100 mm = 27 mm

BAB V KESIMPULAN dan SARAN A. KESIMPULAN Dari hasil praktikum maka diperoleh kesimpulan sebagai berikut : 1. Material Test (uji material) adalah suatu pengujian terhadap material yang bertujuan untuk mengetahui sifat – sifat fisik dari material tersebut. 2. pengujian yang dilakukan haruslah terdiri dari beberapa sample material agar diperoleh suatu data yang benar – benar valid dan mewakili keseluruhan dari material yang diujikan tersebut. 3. Pada uji tarik, benda yang putus menunjukkan kekuatan benda tersebut. Benda uji yang lebih mudah putus menyatakan bahwa kekuatan tariknya lebih rendah, sementara untuk gaya selalu berbanding terbalik dengan kekuatan suatu bahan. Dari data – data yang telah diperoleh maka didapat modulus elastisitasnya
3693.337

[Mpa ]

4. Benda yang putus diukur pada batang uji tarik yang patah . bila batang yang patah disambungkan dengan teliti, maka kita dapat mengukur pertambahan panjang dan diameter putus. 5. Pada uji lentur, benda dikatakan dalam keadaan lentur, dengan perbandingan gaya – gaya yang dihasilkan 6. Modulus elastisitas spesifiknya dihitung dengan membagi tegangan

σ oleh regangan

ε.

Tegangan dan regangan spesifik itu diambi dimulai garis

modulusnya Ε = σ

ε

B. SARAN 1. Dalam praktikum hendaknya Mahasiswa mampu mengerti metode pengambilan data 2. Salah satu kendala yang dihadapi adalah keerbatasan peralatan, oleh sebab itu walaupun dengan keterbatasan alat kiranya mampu dioptimalkan

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->