P. 1
edisi6

edisi6

|Views: 399|Likes:
Published by Febriari Wulandari

More info:

Published by: Febriari Wulandari on Jul 08, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/07/2012

pdf

text

original

Jurnal Pendidikan

Volume I No. 6, Desember 2005

wadah publikasi penulisan karya ilmiah tenaga kependidikan Kota Semarang

Implementasi Pembelajaran Bioteknologi Berwawasan SETS Untuk Meningkatkan Kualitas Pembelajaran Dan Kemampuan Akademik Yang Berorientasi Life Skill Pada Siswa SMA 6 Semarang Titi Priatiningish Kebiasaan Menyontek PR Terhadap PrestasiYang Diraih Seorang Siswa Sudibyo AP, M.Pd Analisis Pengaruh Motivasi, Ko m un ik a s i d a n Ko m i t m e n Terhadap Kinerja Guru SMP Negeri Di Kecamatan Tembalang Kota Semarang Nusantara

ISSN 1907-0810

TIM REDAKSI
Drs. Sri Santoso Dr. Rasdi Ekosiswoyo, M.Sc Drs. Suratin

PENASEHAT

Drs. Susetyo Budi Drs. YYFR Sunardjan, MS Drs. Abdul Kholiq, M.Ag

REDAKSI : Ketua

Drs. Imam Priyo Subarkah, MM

Sekretaris Anggota

Drs. Tri Waluyo, Ir. H. Soeharmono, MM, MBA Drs. Sujono, Drs. Purwandi, M.Pd Drs. Sumirin, M.Pd, Drs. Sutomo Drs. Aryono, M.Hum, Drs. Taryono, MM

Ngasbun Egar, S.Pd, M.Pd Drs. A Wiyaka Drs. Sudibyo, M.Pd

Penyunting Bahasa

Setting / Layout
Arifin Rasyid

Arifin Rasyid, Didin Rachmaningtyas Winaryanto

Pembantu Umum

Jurnal Pendidikan “ISWARA MANGGALA” diterbitkan pertama kali tahun 2005 oleh Forum Pemberdayaan Tenaga Kependidikan Kota Semarang, kerjasama Dewan Pendidikan Kota Semarang, Dinas Pendidikan Kota Semarang dan PGRI Kota Semarang. Redaksi menerima kiriman naskah karya tulis, penelitian, karya ilmiah dari guru dan tenaga kependidikan. Informasi lebih lanjut silahkan menghubungi Sekretariat Dewan Pendidikan Kota Semarang, Gedung Moh. Ikhsan Lt. 1, Balaikota, Jl. Pemuda No. 148 Semarang, Telp. (024) 3540974. ISSN 1907-0810

Sekapur Sirih Ketua Dewan Pendidikan Kota Semarang
Assalamu’alaikum Warohmatullahi Wabarokatuh
Kita patut bersyukur bahwa atas ridho-Nya, Jurnal Pendidikan “ISWARA MANGGALA” sudah sampai pada Volume I No. 6 Tahun 2005. Sungguh sangat dibanggakan bahwa kehadiran jurnal ini mendapat respon yang positif dari tenaga kependidikan di Kota Semarang ini. Hal ini bisa dilihat dari bervariasinya tulisan-tulisan yang dikirimkan kepada redaksi. “ISWARA MANGGALA” diterbitkan bersamasama Dinas Pendidikan Kota Semarang dan PGRI Kota Semarang, sebagai salah satu upaya meningkatkan kualitas dan profesionalisme guru melalui penulisan karya ilmiah. Sehingga diharapkan jurnal pendidikan ini dapat menjadi wadah yang dapat menampung karya ilmiah guru, baik berupa hasil penelitian selama menjalankan tugas profesinya, maupun pemikiran-pemikiran akademis guru sebagai pengemban profesi kependidikan. Di samping itu, penerbitan jurnal ini juga merupakan salah satu upaya memberi kesempatan kepada guru untuk dapat mencapai karier profesinya secara maksimal, dengan memperoleh angka kredit dari unsur penulisan karya ilmiah. Dengan demikian, para guru diharapkan memanfaatkan secara optimal kesempatan ini, dengan berupaya mengirimkan tulisan-tulisan ilmiahnya untuk dimuat di “ISWARA MANGGALA”. Terwujudnya penerbitan “ISWARA MANGGALA” juga atas kerja keras dan partisipasi banyak pihak. Oleh karena itu, ucapan terima kasih secara tulus kami sampaikan kepada Walikota Semarang, Ketua DPRD Kota Semarang khususnya Komisi D, Kepala Dinas Pendidikan Kota Semarang dan Ketua PGRI Kota Semarang. Terima kasih yang mendalam juga kami sampaikan kepada Tim Redaksi atas kerja kerasnya, para penulis, serta semua pihak yang ikut andil bagi terbitnya “ISWARA MANGGALA”. Semoga bermanfaat.

Wassalamu’alaikum Warohmatullahi Wabarokatuh
Dr. Rasdi Ekosiswoyo, M.Sc

Daftar Isi Volume I No. 6, Desember 2005
Implementasi Pembelajaran Bioteknologi Berwawasan SETS Untuk Meningkatkan Kualitas Pembelajaran Dan Kemampuan Akademik Yang Berorientasi Life Skill Pada Siswa SMA 6 Semarang
1

Titi Priatiningisih....................................................................................................

Kebiasaan Menyontek PR Terhadap PrestasiYang Diraih Seorang Siswa
Sudibyo AP, M.Pd..................................................................................................
15

Analisis Pengaruh Motivasi, Komunikasi dan Komitmen Terhadap Kinerja Guru SMP Negeri Di Kecamatan Tembalang Kota Semarang
41

Nusantara.................................................................................................................

Implementasi Pembelajaran Bioteknologi Berwawasan SETS Untuk Meningkatkan Kualitas Pembelajaran Dan Kemampuan Akademik Yang Berorientasi Life Skill Pada Siswa SMA 6 Semarang
Oleh : Titi Priatiningsih (Kepala SMA 16 Semarang) Abstract Kurikulum Berbasis Kompetensi menekankan pembelajaran yang berorientasi pada keterampilan hidup (Life Skill). Didalam kegiatan pembelajaran IPA, khususnya Biologi, masih banyak siswa tidak mampu menghubungkan apa yang dipelajari dengan bagaimana pengetahuan tersebut dimanfaatkan dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini disebabkan oleh model pembelajaran yang diterima masih sangat didominasi guru yang menekankan transfer sains. Proses pembelajaran yang demikian perlu diperbaiki dengan mengembangkan model pembelajaran bervisi SETS, yaitu pembelajaran yang mengajak siswa untuk menghubungkaitkan unsur sains yang dipelajarinya dengan teknologi, lingkungan dan masyarakat, dalam kehidupannya yang nyata. Perpaduan model pembelajaran kooperatif dengan pendekatan SETS inilah yang kemudian dirancang dalam penelitian tindakan kelas yang terdiri tiga siklus pada konsep Bioteknologi di SMA 6 Semarang, dengan harapan dapat meningkatkan kualitas pembelajaran yang berorientasi pada life skill. Hasil dari penelitian pada siklus I hingga siklus III menunjukkan adanya peningkatan skor variabel. Pada variabel keterampilan mengerjakan tugas kelompok dan kemampuan merujuk sumber belajar dari ketiga siklus mencerminkan ketuntasan 100%. Sementara itu untuk variabel keterampilan berdiskusi 91,6% (siklus I) menjadi 95,8% (Siklus II) dan 100% (siklus III). Untuk variabel keterampilan bertanya 66,66% (siklus I), 83,5% (siklus II), 100% (siklus III). Untuk variabel keaktifan bekerjasama 87,5% (siklus I), 90,5% (siklus II), 100% (siklus III). Skor ratarata variabel prestasi belajar individual 7,031 (siklus I), 7,187 (siklus II), 7,312 ( siklus III). Skor rata-rata variabel prestasi belajar tuntas klasikal 87,5% (siklus I) dan 93,75% (siklus II dan siklus III). Adapun persepsi siswa terhadap pembelajaran kooperatif sudah menunjukkan cukup berminat (skor rata-rata 2,8 dari rentang 1 – 4). Berdasarkan hasil penelitian tersebut, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran bioteknologi berwawasan SETS mampu memberikan peningkatan kualitas pembelajaran dan menumbuhkan persepsi positip siswa belajar yang tercermin pada keaktifan siswa pada komponen pembelajaran seperti keterampilan mengerjakan tugas kelompok,

tercermin pada keaktifan siswa pada komponen pembelajaran seperti keterampilan mengerjakan tugas kelompok, keterampilan bekerjasama, keterampilan bertanya, berdiskusi, dan merujuk pustaka/sumber belajar. Hal ini mengakibatkan prestasi belajar juga menjadi meningkat. Kata kunci : bioteknologi berwawasan SETS, kualitas pembelajaran, life skill.

PENDAHULUAN Kurikulum Berbasis Kompetensi atau yang lebih dikenal sebagai Kurikulum 2004, yang secara serentak akan dilaksanakan sekolah pada setiap jenjang pendidikan merupakan inovasi dan penyempurnaan bidang pendidikan yang perlu ditanggapi dengan positif. Ciri spesifik pada kurikulum ini adalah pembelajaran yang berorientasi pada kecakapan hidup atau life skill. Sejumlah kecakapan siswa diperyaratkan dalam mengikuti proses belajar untuk menyiapkan mereka dalam kehidupan lingkungan sosialnya. Menurut Hasan (2002: 4) siswa sebagai peserta didik perlu dipersiapkan dengan sejumlah kecakapan agar mampu memecahkan berbagai masalah baik masalah ekonomi, budaya, politik,dan sosial lingkungannya. Kecakapan yang bersifat umum di antaranya kecakapan mengenali diri sendiri (personal skill), kecakapan berpikir rasional (thinking skill), kecakapan bersosial (social skill). Adapun kecakapan yang bersifat khusus dapat berupa kecakapan akademik (academic skill) yang sering kita kenal dengan prestasi belajar dan kecakapan kerja/vokasional (vocational skill) sejumlah kemampuan siswa yang lebih ditekankan untuk mempersiapkan siswa mencari pekerjaan dilingkungan. Pembelajaran yang dipersiapkan untuk mewujudkan pendidikan yang berorientasi kecakapan hidup seperti tersebut haruslah pembelajaran yang aktif melibatkan siswa baik secara kelompok maupun individual. Ada sejumlah keterampilan siswa dalam pembelajaran aktif seperti keterampilan berkomunikasi, berpikir kritis, bersosial antarkelompok, sehingga akhirnya siswa dapat mengembangkan kepribadian yang peka terhadap masalah-masalah yang sering terjadi di lingkungan hidupnya. Rendahnya kemampuan siswa dalam menghubungkan konsep/materi pelajaran yang mereka pelajari dengan bagaimana pengetahuan tersebut dimanfaatkan masih banyak kita temukan dalam proses belajar-mengajar di sekolah. Kesulitan siswa dalam memahami konsep sains yang abstrak dengan metode belajar yang didominasi guru merupakan ciri pembelajaran umum yang dilaksanakan di SMA. Kondisi belajar-mengajar seperti di atas, menyebabkan siswa sulit berperan aktif dan

Kondisi belajar-mengajar seperti di atas, menyebabkan siswa sulit berperan aktif dan kreatif dalam pembelajaran, akibatnya proses belajar-mengajar tidak dapat berlangsung dengan menarik dan kurang bermakna sehingga siswa cenderung jenuh dan membosankan. Hal itu berpengaruh pada kemampuan akademik/hasil belajar siswa yang rendah. Kurikulum 2004 merupakan program pembelajaran yang dirancang untuk menggali potensi dan pengalaman belajar siswa agar mampu memenuhi pencapaian kompetensi yang ditetapkan. Sebagai konsekuensi dari pembelajaran berbasis kompetensi, materi pembelajaran yang dipilih haruslah yang dapat memberikan kecakapan untuk memecahkan permasalahan dalam kehidupan sehari-hari dengan menggunakan pengetahuan (kognitif), sikap (afektif) dan keterampilan yang dipelajarinya (psikomotorik). Setiap pelajaran memerlukan kemampuan berpikir kognitif, psikomotorik, dan afektif yang cukup memadahi untuk mendukung sejumlah kecakapan hidup (life skill) yang akan dikembangkan. Kemampuan berpikir termasuk pada ranah kognitif, meliputi kemampuan menghapal,memahami, menerapkan, menganalisis, mensintesis, dan juga mengevaluasi. Kemampuan kognitif ini merupakan kemampuan siswa yang sangat diperlukan terutama untuk mengaplikasikan konsepkonsep yang dipelajarinya untuk memecahkan masalah-masalah yang ada di kehidupan nyata. Kemampuan psikomotorik merupakan kemampuan yang berkaitan dengan gerak, menggunakan otot yang dapat diamati dengan kemampuan fisik seorang siswa. Untuk mencapai kemampuan gerakan fisik yang terampil seorang siswa harus belajar secara sistematik diikuti dengan kemampuan berkomunikasi yang memadahi untuk menunjang katrampilan gerakan tersebut. Dari ranah afektif suatu pembelajaran biasanya harus mampu membangkitkan minat, sikap, emosi atau nilai perilaku dari siswa. Oleh karena itu, perlu kiranya dirancang dan dikembangkan suatu model pembelajaran yang dapat memberikan kesempatan siswa aktif mengembangkan potensi ketiga ranah yaitu kognitif, psikomotorik dan afektif dengan mengacu pada kecakapan hidup. Pada Kurikulum 2004 pendekatan SETS (Science, Environment,Technology and Society) atau lebih dikenal dengan pendekatan SaLingTeMas (Sains, Lingkungan, Teknologi dan Masyarakat) merupakan suatu pendekatan terpadu dalam pembelajaran yang melibatkan unsur-unsur sains, teknologi, lingkungan dan masyarakat pada setiap konteks pembelajaran. Dengan demikian, melalui pendekatan ini pemahaman dan pengembangan konsep sains selalu dihubungkaitkan dengan teknologi, lingkungan dan masyarakat yang ada sehingga dapat dilatihkan siswa secara sederhana untuk memecahkan masalah-masalah kehidupan sehari-hari. Berangkat dari masalah yang ada di lapangan serta tuntutan pengembangan pembelajaran pada kurikulum 2004, penulis mencoba menuangkan inovasi pembelajaran biologi pada konsep

Berangkat dari masalah yang ada di lapangan serta tuntutan pengembangan pembelajaran pada kurikulum 2004, penulis mencoba menuangkan inovasi pembelajaran biologi pada konsep bioteknologi di SMA 6 Semarang untuk meningkatkan kualitas pembelajaran yang berorientasi pada life skill. Sesuai dengan konsep pendekatan pembelajaran kontekstual (contextual teaching and learning) yang sekarang lagi dikembangkan, maka model pembelajaran yang diaplikasikan pada konsep bioteknologi yang dipelajari di SMA kelas III IPA pada semester dua ini menggunakan model pembelajaran kelompok (cooperative learning). Menurut Johnson and Johnson (1994) strategi belajar-mengajar kooperatif merupakan salah satu strategi pembelajaran yang mengacu pada percepatan pencapaian standar/kemampuan akademik yang tinggi dan pengembangan pengetahuan serta kemampuan penting lainnya untuk pengembangan berpikir kritis dalam menghadapi masalah kehidupan sehari-hari . Karakteristik pembelajaran kooperatif yaitu membentuk kelompok-kelompok kerja dengan lingkungan yang positif dan meniadakan persaingan individu dalam kelompok untuk mencapai prestasi akademik yang diinginkan. Kauchak dan Eggen (1996) memperkuat konsep Johnson & Johnson dengan mengatakan bahwa pembelajaran kooperatif merupakan strategi pembelajaran yang melibatkan siswa untuk bekerja secara kolaboratif dalam mencapai tujuan. Begitu juga Slavin (1994) mengemukakan bahwa dalam pembelajaran kooperatif siswa bekerja sama dalam kelompok kecil saling membantu untuk memahami suatu materi. Dengan demikian, penerapan model pembelajaran kooperatif pada konsep bioteknologi yang bervisi SETS ini diharapkan dapat meningkatkan kualitas pembelajaran yang berorientasi life skill. Kualitas pembelajaran yang dimaksud dalam penelitian ini dapat diamati dari (1) keterampilan siswa mengerjakan tugas dalam kelompok, (2) keterampilan diskusi antar sesama anggota dalam kelompok, (3) kemampuan bekerja sama dalam kelompok, (4) kemampuan bertanya dan menjawab dalam diskusi antar kelompok, dan (5) kemampuan siswa merujuk berbagai sumber belajar/literatur. Dari aspek yang diamati inilah diharapkan dapat dilihat pula kemampuan siswa dalam mengembangkan life skill, seperti kemampuan berkomunikasi dan berpikir (thinking skill), kemampuan bersosial (social skill), kemampuan mengenali diri (personal skill). Sementara itu, kemampuan akademik (academic skill) dapat diukur dari hasil tes hasil belajar pada akhir kegitan belajar-mengajar, dan kecakapan vokasional (vocational skill) dapat dilihat melalui pengamatan kegiatan psikomotorik diskusi, investigasi eksperimen, dan kumpulan hasil tugas portofolio siswa baik secara individual maupun kelompok.

METODE PENELITIAN Penelitian yang dilaksanakan adalah penelitian tindakan kelas (classroom action research) yang terdiri atas tiga siklus dengan mengacu pada standar kompetensi pada kurikulum 2004 SMA. Penelitian tindakan kelas ini dilakukan di SMA 6 Semarang pada semester II yang berlangsung dari akhir Maret sampai dengan akhir April 2003. Subjek penelitian adalah siswa kelas III IPA-1 yang terdiri 32 siswa. Dasar pemilihan sampel kelas ini adalah adanya data di lapangan bahwa kelas III IPA -1 merupakan kelas yang paling pasif dalam keterlibatan diskusi atau tanya jawab pada kegiatan belajar-mengajar khususnya mata pelajaran Biologi, padahal pada proses pembagian kelas III IPA dari kelas II sudah dibagi rata persebaran berdasarkan atas kemampuan akademik atau peringkat pada laporan pendidikan menjadi tiga kelas IPA yang hampir sama jumlah dan kemampuan akademik siswanya. Pelaksanaan penelitian tindakan kelas ini mengacu pada standar kompetensi yang telah ditetapkan pada kurikulum 2004. Standar Kompetensi : Siswa mampu menjelaskan bioteknologi, prinsip-prinsip, peran, dan implikasinya bagi sains, teknologi,lingkungan, dan masyarakat.

Prosedur penelitian tindakan kelas yang terdiri tiga siklus secara sitematis pada tiap-tiap siklus terdiri dari empat tahapan sebagai berikut. 1. Tahap persiapan tindakan merupakan tahapan guru/peneliti merencanakan dan menyusun perangkat dan instrumen penelitian tindakan antara lain : perangkat KBM yang terdiri rencana pembelajaran, lembar kegiatan siswa (LKS), tes akhir tiap siklus , angket biodata siswa, dan format pengamatan/observasi kelas. 2. Tahap pelaksanaan tindakan merupakan kegiatan pelaksanaan tindakan sesuai dengan rencana dengan model pembelajaran kooperatif sesuai dengan topik/tema pembelajaran yang telah direncanakan. 3. Tahap observasi tindakan dilakukan oleh observer/ guru lain dengan menggunakan format pengamatan yang telah disiapkan. 4. Tahap analisis dan refleksi dilakukan penafsiran terhadap hasil observasi dan tes hasil belajar pada setiap akhir siklus, analisis yang kemudian direfleksikan untuk menentukan langkah-langkah perbaikan pada siklus berikutnya. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Dari lima variabel kriteria kualitas pembelajaran yang ditetapkan peneliti diperoleh hasil dari kegiatan belajar-mengajar siklus I, II, dan III seperti digambarkan pada tabel dan grafik berikut ini :

Dari tabel 2, variabel keterampilan mengerjakan tugas kelompok dan kemampuan merujuk sumber belajar dari siklus I telah menunjukkan ketuntasan 100 %. Hal ini disebabkan oleh murid telah terbiasa mengerjakan tugas secara kelompok dengan merujuk sumber belajar/literatur yang telah mereka biasa digunakan minimal dari buku paket Biologi SMA, buku LKS suplemen, buku Biologi lain yang relevan. Namun, dari hasil pengamatan penelitian tindakan kelas terjadi kenaikan jumlah sumber rujukan yang digunakan siswa yaitu dari rata-rata rujukan tiap kelompok pada siklus I sebanyak 3 buah meningkat menjadi 4 buah pada siklus II dan 5 buah pada siklus III. Banyaknya jumlah rujukan siswa juga sangat bervariasi karena bentuk sumber belajar yang mereka dapat berupa kliping media cetak mapun artikel internet. Di pihak lain dari variabel kualitas pembelajaran dapat dilihat adanya kenaikan yang optimal (100%) sehingga dapat disimpulkan bahwa aspek-aspek kualitas pembelajaran yang telah ditetapkan peneliti sudah dapat dilaksanakan oleh setiap kelompok kerja pembelajaran kooperatif. Keaktifan kelompok dalam mengerjakan tugas-tugas dari guru lebih sistematik karena adanya lembar kerja siswa (LKS) yang telah disiapkan. Begitu juga antusias siswa dalam merujuk sumber belajar yang awalnya hanya bersumber buku saja sekarang menjadi bervariasi baik dari kliping media cetak, artikel internet, dan sumber belajar lain yang tersedia di lingkungan seperti toko serba ada atau swalayan yang menjadikan proses belajar lebih menarik dan bermakna. Selain kualitas pembelajaran yang meningkat, perlakuan tindakan juga dapat meningkatkan kemampuan akademik/prestasi hasil belajar yang diukur pada setiap akhir tindakan siklus I, II, dan III yang dapat dilihat tabel dan grafik berikut :

Tabel 3 Rekapitulasi Hasil Tes Kognitif Bioteknologi kelas III IPA-1 SMA 6 Semarang

Dari tabel 3 dapat disimpulkan terjadi kenaikan kemampuan akademik atau hasil belajar yang signifikan baik secara individu mapun klasikal.

Kenaikan hasil belajar secara individual dari siklus ke siklus dapat digambarkan seperti grafik. Sementara itu kenaikan hasil belajar secara klasikal dapat digambarkan seperti grafik berikut :

Berdasarkan grafik prestasi belajar itu dapat disimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran kooperatif yang berwawasan SETS pada konsep Bioteknologi meningkatkan prestasi belajar siswa baik secara individual maupun klasikal bahkan dapat mencapai lebih dari target kurikulum (6,5 untuk tuntas individual dan 85% untuk tuntas klasikal). Dari hasil penelitian itu dapat direkomendasi strategi pembelajaran berwawasan SETS untuk bisa dipakai sebagai strategi pembelajaran pada konsep-konsep biologi lainnya. Hal tersebut diperkuat dengan hasil angket persepsi siswa terhadap model pembelajaran kooperatif berwawasan SETS yang diterapkan cukup mendapatkan respons positif yaitu rata-rata skor pilihan 2,8 dari rentang 1-4. SIMPULAN DAN SARAN Dari hasil penelitian dan pembahasan yang telah dilakukan dalam penelitian ini, dapat ditarik simpulan sebagai berikut : 1. Kualitas pembelajaran siswa makin meningkat dengan diterapkannya model pembelajaran kooperatif berwawasan SETS, khususnya pada konsep Bioteknologi. Peningkatan kualitas pembelajaran dapat dilihat dari makin tingginya peran siswa dalam keterampilan mengerjakan tugas, keterampilan berdiskusi, keterampilan kerjasama dalam kelompok, keaktifan bertanya, kemampuan merujuk berbagai sumber belajar. 2. Penerapan model pembelajaran kooperatif berwawasan SETS juga dapat meningkatkan kemampuan akademik/hasil belajar siswa, khususnya pada kosep Bioteknologi. Kemampuan akademik siswa dari rata-rata tuntas individual 7,031 (siklus I) meningkat menjadi 7,187 (siklus II) dan 7,312 (siklus III) sehingga secara keseluruhan telah mencapai lebih dari 6,5 tuntas individual yang ditargetkan kurikulum. 3. Penerapan model pembelajaran kooperatif berwawasan SETS pada konsep Bioteknologi dapat meningkatkan rata-rata ketuntasan kemampuan akademik secara klasikal dari 87,50% (siklus I) menjadi 93,75% (siklus II dan III), ini berarti telah mencapai lebih dari 85% ketuntasan klasikal yang ditargetkan kurikulum. 4. Penerapan model pembelajaran kooperatif berwawasan SETS dapat menumbuhkan sikap positif. Siswa menanggapinya dan mempunyai tanggung jawab untuk ikut aktif dalam proses pembelajaran sehingga tidak hanya guru yang aktif. Saran-saran yang dapat disampaikan berdasarkan penelitian yang sudah dilaksanakan ini adalah sebagai berikut . 1. Guru hendaknya menggunakan dan mengembangkan model pembelajaran kooperatif berwawasan SETS dalam pembelajaran Biologi sebagai alternatif strategi pembelajaran efektif

1.

Guru hendaknya menggunakan dan mengembangkan model pembelajaran kooperatif berwawasan SETS dalam pembelajaran Biologi sebagai alternatif strategi pembelajaran efektif karena dengan model pembelajaran tersebut dapat meningkatkan kualitas pembelajaran yang berorientasi life skill.

2.

Hendaknya siswa diberi motivasi untuk banyak merujuk dan membaca yang berkaitan dengan materi pelajaran dari berbagai sumber belajar tidak terikat pada buku paket atau buku –buku pegangan yang ada disekolah, misalnya dengan mengakses artikel media cetak, elektronik termasuk informasi artikel lewat internet.

3. Untuk mengatasi kesulitan/kelemahan siswa dalam mengakses sumber belajar yang berasal dari internet, hendaknya diberikan bekal yang cukup tentang keterampilan komputer lewat kegiatan ekstrakurikuler di sekolah. 4. Hendaknya dapat dikembangkan penelitian lebih lanjut tentang alternatif strategi pembelajaran efektif melalui model pembelajaran kooperatif berwawasan SETS yang lebih variatif pada konsep-konsep pembelajaran Biologi dalam konsep materi lain karena banyaknya model pembelajaran kooperatif yang beranekaragam yang dapat dipilih guru. 5. Hendaknya Kepala Sekolah dapat menyediakan sarana prasarana yang dapat meningkatkan kualitas pembelajaran dan hasil belajar siswa seperti penyediaan fasilitas laboratorium , perpustakaan , informasi teknologi komputer atau internet sehingga siswa lebih mudah merujuk berbagai sumber belajar yang ada.

DAFTAR PUSTAKA Binadja,Achmad . 1999. Pendidikan SETS . Malaesyia : Seameo RegionalCentre for Education In Science and Mathematics . Binadja, Achmad. 1999. Integrasi Penerapan Pendidikan SETS dalam Kebijakan Sistem Pendidikan Nasional . Makalah : Seminar dan Lokakarya Nasional Pendidikan Non Sain Universitas Negeri Semarang, 14-15 Desember 1999. Binadja, Achmad. 1999. Pengembangan Materi SETS ala Indonesia . Makalah : Seminar dan Lokakarya Nasional Pendidikan SETS Universitas Negeri Semarang, 19-20 Juni 1999. Binadja, Achmad. 1999. Assessing SETS Programme / Achievement . Malaysia : Southeast Asian Minister of Education Organisation Regional Centre for Education in Science and SETS untuk Sain dan

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan . 1999. Penelitian Tindakan Kelas (Classroom Action Research). Jakarta : Direktorat Jendral Pendidikan Dasar dan Menengah Direktorat Pendidikan Menengah Umum. Departemen Pendidikan Nasional. 2001. Pedoman Teknis Pelaksanaan Classroom Action Research (CAR). Jakarta : Diretorat Jendral Pendidikan Dasar dan Menengah Direktorat Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama Depdiknas . 2001 . Konsep Pendidikan Berorientasi Kecakapan Hidup ( Live Skill ) melalui Pendekatan Pendidikan Berbasis Luas ( Broad Based Education – BBE ) . Jakarta : Depdiknas. Departemen Pendidikan Nasional . 2003. Kurikulum Berbasis Kompetensi Mata pelajaran Biologi SMA dan Madrasah Aliyah . Jakarta : Pusat Kurikulum Balitbang Depdiknas.

KEBIASAAN MENYONTEK PR TERHADAP PRESTASI YANG DIRAIH SEORANG SISWA
Oleh : SUDIBYO A.P, M.Pd Abstrac Proses belajar yang efektif dan menyenangkan dapat meningkatkan gairah belajar siswa serta meningkatkan kreativitas guru untuk menemukan metode-metode pengajaran baru yang dapat membangkitkan antusiasme belajar. Menurut Nursito (2002), pembelajaran yang efektif ditandai dengan siswa sebagai subjek didik yang aktif, metode mengajar beragam, guru menghindari pembelajaran yang verbalistik, serta adanya variasi dalam pembelajaran. Berbagai strategi, pendekatan dan metode mengajar yang diterapkan guru pada saat melaksanakan kegiatan belajar mengajar, dan tak ada satu metode mengajar yang paling baik. Masing-masing memiliki keunggulan sekaligus juga kelemahan Dari sekian banyak metode mengajar salah satunya adalah metode pemberian tugas khususnya pemberian pekerjaan rumah (PR) merupakan contoh metode yang sudah umum dilaksanakan oleh para pengajar (guru) didalam melaksanakan pembelajaran. Kata Kunci : PR, menyontek

PENDAHULUAN Pekerjaan rumah (PR) selain merupakan salah satu bentuk metode mengajar yaitu metode pemberian tugas, juga sebagai salah satu sistem penilaian, untuk mengetahui seberapa jauh siswa telah memiliki dan menguasai kompetensi atau materi yang dipelajarinya. Namun sistem penilaian yang dilakukan harus mencakup semua aspek dengan menggunakan indikator yang ditetapkan oleh guru. Sistem penilaian yang direncanakan adalah sistem penilaian yang berkelanjutan. Berkelanjutan dalam arti semua komponen indikator dibuat soalnya, hasilnya dianalisis untuk menentukan kompetensi yang telah dimiliki dan yang belum serta kesulitan siswa. Untuk itu digunakan berbagai jenis tagihan, yaitu pertanyaan lisan di kelas, kuis, ulangan harian, tugas rumah, ulangan semester. Penentuan teknik penilaian yang digunakan berdasar pada kemampuan dasar yang ingin dinilai dan harus ditelaah oleh sejawat dalam bidang studi yang sama. Sangat disayangkan, dalam pelaksanaan pemberian pekerjaan rumah khususnya di SMA Negeri 11 Semarang seringkali siswa mengerjakan PR dengan cara yang tidak sesuai dengan yang diharapkan guru. Tidak sedikit dari siswa yang dalam mengerjakan PR mereka hanya menyontek PR siswa lain. Dengan latar belakang masalah itulah penulis ingin tahu dengan lebih pasti mengenai hubungan kebiasaan menyontek PR terhadap prestasi yang diraih seorang siswa.

TINJAUAN PUSTAKA A. Prestasi dan Penyimpangan dalam Meraihnya Prestasi dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia didefinisikan sebagai: hasil yang telah dicapai (dari yang telah dilakukan, dikerjakan). Prestasi terdiri dari tiga macam, yaitu: a. Prestasi Akademis: hasil yang diperoleh dari kegiatan belajar di sekolah atau perguruan tinggi yang bersifat kognitif dan biasanya ditentukan melalui pengukruan dan penilain. b. Prstasi Belajar: penguasaan pengetahuan atau ketrampilan yang dikembangkan oleh mata pelajaran, lazimnya ditunjukkan dengan nilai tes angka nilai yang diberikan oleh guru. c. Prestasi Kerja: hasil kerja yang dicapai oleh seorang karyawan dalam melaksanakan tugas yang dibebankan. Berkaitan dengan prestasi belajar, James E. Weigan dalam Nana Sudjana (1992) mengemukakan ada tiga factor diluar kemampuan siswa yang memberikan kontribusi prestasi belajar, yaitu (a) kondisi yang diperlukan untuk belajar, (b) kompetensi tenaga pengajar, dan (c) interaksi personal antara tenaga pengajar (guru) denan siswa dalam proses belajar mengajar. Untuk memperoleh angka atau nilai yang baik tidak sedikit siswa yang menggunakan caracara tidak dibenarkan atau dilarang oleh para guru (pengajar). Cara-cara tersebut antara lain ditunjukkan pada bagan berikut: Bagan 2: Cara-cara tidak dibenarkan atau dilarang dalam mencapai prestasi yang sering dilakukan siswa.

B. Faktor-faktor Penyebab Kesulitan Belajar. Menurut Martensi dan Mungin Edy Wibowo (1980 : 15-17 ), mengatakan bahwa factor-faktor kesdulitan belajar digolongkan menjadi 2 macam, yaitu factor internal dan factor eksternal.

c. Bakat khusus Peserta didik yang menuntut pelajaran atau ilmu pengetahuan yang tidak ssesuai dengan bakatnya sering mengalami kesukaran dalam belajarnya. Tetapi sebaliknya apabila pelajaran yang diterimanya sesuai dengan bakatnya maka prestasi belajarnya akan baik dan bergauirah serta giat belajar . d. Minat dan Perhatian Minat dan perhatian erat hubungannya dengan bakat khusus dan masa peka . Seorang peserta didik yang mempunyai bakat dalam bidang studi tertentu dengan sendirinya minat dan perhatian besar sekali terhadap bidang tersebut seperti : a) waktu khusus belajar , b) tekun / rajin membaca, c) respon tehadap catatan, d) kesangupan anak dalam mengerjakan tugas, e) baik antar teman maupun antar kelompok. e. Keadaan Emosi Tidak Stabil Keadaan emosi tidak stabil dapat diuraikan sebagai berikut ; 1) Perasaan tidak aman, menyebabkan peserta didik tidak kerasan mengikuti pelajaran . 2) Tidak dapat menyesuaikan diri dengan teman atau lingkungan dan tidak senang adanya peraturan atau tata tertib. 3) Mudah terganggu, tersinggung, lekaas marah, perasaan tertekan dan yang semacamnya. 4) Ketidakmatangan emosi f. Sikap-sikap yang merugikan dan kebiasaan yang salah Sikap-sikap merugikan dan kebiasaan yang salah diantaranya adalah : 1) Acuh tak acuh dan mengabaikan pekerjaan sekolah . 2) Tidak mau belajar tetapi sibuk dengan kegiatan lain di luar sekolah . 3) Tidak punya semangat / gairah atau tidak serius. 4) Tidak mau belajar bersama dan segan bertanya kalu mendapat kesukaran dan lainlain. g. Gangguan –gangguan psikis Peserta didik yang mendapat gangguan psikis seperti ; (neurotis, psikotis dan sebaginya), proses belajarnya juga terganngu sehingga sering kali tidak dapat menyelesaikan studinya. Peserta didik tersebut nmembutuhkan perwatan dan pertolongan seorang ahli. misalnya : psikologi, psikiater Menurut Thomas F dalam Sardiman (1996 : 39-43) menguraikan enam (6) faktor psikologis antara lain : a. Motivasi : sesorang akan berhasil dalam belajar, kalau pada dirinya sendiri ada keinginan untuk belajar.Dalam motivasi sesorang ingin mengetahui apa yang dipelajari dan memahami mengapa hal tersebut patut dipelajari b. Konsentrasi yaitu memusatkan perhatian, memusatkan segenap kekuatan perhatian pada situasi belajar. c. Reaksi yaitu dalam kegiatan belajar diperlukan keterlibatan unsur fisik maupun mental sebagai suatu wujud reaksi. d. Organisasi sebagai kegiatan mengorganisasikan, menata atau menempatkan bagian-bagian bahan pelajaran ke dalam suatu pengertian kesatuan. e. Pemahaman, dapat diartikan menguasai sesuatu dengan fikiran, maka belajar harus mengerti secara mental makna dan filosofinya sehingga menyebabkan siswa, memahami

1. Faktor Eksternal Menurut Martensi KDj dan Mungin Edy Wibowo, disamping faktor internal yang mempengaruhi belajar juga faktor-faktor eksternal yang mempengaruhi pula pada aktivitas belajar adalah keadan keluarga, keadaan sekolah dan keadaan masyarakat. a. Keadaan Keluarga 1) Cara Mendidik Orang tua tidak mengindahkan pendidikan anaknya acuh tak acuh terhadap kemajuan belajar. Orang Tua terlalu memanjakan anaknya sehingga dibiarkan tidak belajar karena kasihan, kalu lelah, anak semau-maunya dan nakal, anak tidak didorong untuk belajar. Atau sebaliknya orang tua terlalu keras sehingga dapat menimbulakn rasa tuidak aman atau bahkan anak dibiarkan sehingga dapat menimbulkan rasa tidak aman atau bahkan abnak dibiarkan sehinggga anak tidak tahu disiplin. 2) Perhatian dan pengawasan Orang Tua - Hubungan orang tua dan anak - Teladan orang tua - Pekerjaan Orang Tua 3) Suasana rumah Suasana yang kacau, gaduh, banyak anggota keluarga atau penghuninya menyebabkan anak tidak dapat belajar dengan tenang dan mengakibatkan prestasi belajar menurun. Orang tua sering cekcok, atau orang tua bercerai, anak tidak betah atau tidak kerasan di rumah, akhirnya anak mudah kena pengaruh-pengaruh jahat dari teman-temannya. b. Keadaan Sekolah 1) Hubungan antar teman Hubungan antar anak-anak dengan teman-temannya kurang baik. Hubungan yang baik antar anak dan teman-temannya menimbulkan perasaan diterima dalam kelompoknya, disenangi, dihargai teman-temannya, dibutuhkan teman-temannya.. Kondisi semacam ini menyebabkan anak senang dan kerasan di sekolah. 2) Kurikukulum Kurikulum yang seragam dan kaku, yang tidak seimbang, tidak sesuai dengan kebutuhan peserta didik akan mengakibatkan perbedaan persepsi. Oleh karena itu kurikulum sebaiknya disesuaikan dengan kebutuhan dan tingkat usia perkembangan p e s e r t a d i d i k . 3) Waktu sekolah yang kurang tepat Jika sekolah pada waktu siang hari maka anak-anak tidak berada dalam kondisi yang baik untuk menerima pelajaran, sebab tenaga dan pikiran sudah berkurang karena anak sudah lelah. Kondisi ini dapat menjadi hambatan pelajar peserta didik dan mengakibatkan perolehan prestasinya rendah atau kurang. 4) Pendidik / Guru Hubungan pendidik / guru dengan peserta didik kurang baik. Hal ini terjadi jika ada sikap-sikap pendidik yang kurang disenangi oleh peserta didiknya. Pendidik menuntut standard pelajaran di atas kemampuan peserta didik. Hal ini dapat terjadi pada pendidik yang masih muda yang belum berpengalaman hingga belum dapat mengukur kemampuan peserta didik, sehingga hanya sebagian kecil peserta didiknya yang berhasil. 5) Sarana pembelajaran (a) Alat pelajaran

Alat pelajaran yang kurang lengkap membuat penyajian pelajaran yang baik terutama pelajaran yang bersifat praktik, kurang alat laboratorium (KID IPA ) akan banyak menimbulkan hambatan belajar. Selain itu dengan adanya kemajuan teknologi membawa perkembangan pada alat-alat pelajaran, misalnya mikroskop, teleskop, proyektor, komputer dan lain-lain. Timbulnya alat-alat tersebut ikut serta menentukan perubahan metode pengajar pendidik. (b) Kelengkapan bacaan Banyak dijumpai anak-anak yang tidak mempunyai buku-buku bacaan sebagai buku pendukung untuk melengkapi buku paket, dicari di perpustakaan juga tidak ada, kalaupun ada di luar tidak sanggup membeli karena mahal . Kesukaran ini menyebabkan mengganggu kelancaran belajar, sehingga peserta didik terpaksa mempercayakan dirinya kepada bahan-bahan belajar saja. (c) Kondisi gedung Yang dimaksud di sini adalah keadaan tempat belajar, tempat duduk, keadaannya harus tenang, cukup udara bersih dan segar dan segar, penerangan cukup, sedapat mungkin udara masuk dari sebelah kiri. Keadaan harus tenang, yaitu tidak terlalu ramai atau gaduh dan gemerisik karena suara gaduh, suara kendaraan. Cukup udara bersih dan segar, yaitu adanya suhu udara tidak terlalu panas atau dingin, kelembapan udara yang tidak terlampau tinggi, peredaran udara yang lancar dan cukup O2. Penerangan atau cahaya yang kurang baik akan mengakibatkan murid tidak dapat belajar dengan cepat, sering membuat kesalahan, mata sudah lelah atau mudah rusak. c. Keadaan masyarakat (1)Teman-teman bergaul yang tidak dikontrol yang berpengaruh tidak baik terhadap para peserta didik kita cukup banyak. Pengaruh-pengaruh tersebut lebih cepat meresap dalam jiwa para peserta didik. Kadang-kadang orang tua sanagat terkejut karena tiba-tiba mengetahui bahwa anak membaca buku porno, menyimpan gambar-gambar porno, merokok, mereka sibuk dengan kegiatan –kegiatan seperti yang disebutkan di atas sehingga anak-anak menjadi lupa terhadap tugas sekolah. Kegiatan-kegiatan seperti ini yang menjadi hambatan atau alasan perolehan prestasi belajar menjadi rendah. (2) Mass media Yang termasuk mass media disini seperti bioskop, radio, surat kabar, majalah, bukubuku bacaan, komik dan semacamnya yang banyak sekali di sekelilingi anak-anak. Cerita-cerita film, isi majalah-majalah, isi komik dan sebagainya yang kurang baik sangat besar pengaruhnya terhadap para peserta didik. Para peserta didik menjadi malas belajar, sukar dibimbing dan prestasi belajarnya menjadi menurun. C. Kebiasaan Mengerjakan PR dengan Menyontek PR Siswa Lain Belajar adalah kewajiban setiap siswa, dan PR adalah salah satu pelatihan yang diberikan guru kepada siswa di rumah. Tapi dalam kenyataannya tidak sedikit siswa dalam mengerjakan PR hanya menjiplak PR siswa lain. Sebenarnya PR yang diberikan guru punyai fungsi yang sangat penting bagi perkembangan kemampuan siswa. Fungsi memberikan PR antara lain: 1. Memberi pednalaman materi pada siswa yang tidak bisa diberikan oleh guru di sekolah. 2. Meningkatkan penguasaan siswa terhadap siswa terhadap suatu mata pelajaran. 3. Menghubungkan antara pelajaran dengan kehidupan sehingga pengetahuan yang diberikan di sekolah bisa diaplikasikan di rumah. 4. Mendorong siswa agar mau belajar di rrumah.

4. Mendorong siswa agar mau belajar di rrumah. 5. Menyiapkan siswa untuk menerima pelajaran selanjutnya. 6. Alternatif bagi guru untuk menyelesaikan materi pelajaran apabila materi pelajaran tidak bisa disampaikan di sekolah. Menurut hasil dari 100 penelitian yang dilakukan di Amerika Serikat, PR diberikan pada anak Pra-sekolah (Pre-school) dan sekolah di bawah kelas 4 tidak ada hubungannya dengan prestasi anak. Artinya dengan diberikan PR anak-anak bukan berarti akan meningkat prestasinya (Colin Rose dalam Femmy Syahrani, 2002 : 54). PR hanya efektif untuk kelas 4 sampai 6 SD, SLTP dan SMA. Hal tersebut disebabkan karena belajar bagi anak pra-sekolah dan anak di bawah kelas 4 SD baru merupakan rutinitas, sehingga PR yang diberikan pada mereka seharusnya tidak sama dengan yang ada di sekolah. Lebih baik mereka diberi PR yang bisa menimbulkan keinginan yang besar untuk mencoba. Jadi lebih untk kemampuan social (social skils) bukan akademis. 1. Hal-hal yang mendorong siswa untuk menyontek PR siswa lain Menyontek PR siswa lain dapat dilatar belakang oleh banyak hal, antara lain: a. Jumlah PR yang telalu banyak Siswa tidak jarang mendapatkan PR dalam jumlah yang terlalu banyak. Hal tersebut disebabkan karena biasanya seorang guru mata pelajaran memberikan PR tersendiribagi siswa. Padahal ada suatu mata pelajaran yang diajarkan oleh beberapa guru. Biasanya mata pelajaran tersebut adalah mata pelajaran yang mempunyai jam pelajaran yang banyak, misalnya matematika, Fisika, Biologi, Kimia, Bahasa Inggris. Bisa dibayangkan apabila setiap guru memberikan PR pada siswa, belum lagi terkadang ada guru memberikan PR pada siswa selalu dalam jumlah sangat banyak.

b. PR yang terlalu sulit Terkadang PR yang diberikan kepada siswa terlalu sulit ntuk dikerjakan oleh siswa. Biasanya Pryang terlalu sulit tersebut terdapat pada mata pelajaran yang membutuhkan pemahaman yang mendalam dan tidak hanya terpancang pada materi yang diberikan guru, tetapi dibutuhkan pengembangan berpikir dalam mengerjakannya maka pemahaman siswa tersebut akanlebih mendalam dam kemampuan siswa dapat berkembang.

d. Rasa malas siswa dalam mengerjakan PR Terkadang memang ada siswa-siswa tertentu yang mengacuhkan PR yang diberikan oleh guru. Biasanya siswa-siswa seperti itu tidak sadar akan pentingnya mengerjakan PR dan kurang memiliki kesadaran belajar. 1. Sanksi bagi siswa yang tidak mengerjakanPR Sanksi atau hukuman memang perlu diberikan untuk siswa yang tidak mengerjakan PR. Selain dapat memotivasi siswa agar mau mengerjakan PR, pemberian sanksi juga dapat berguna untuk mencegah berkembangnya kebiasaan siswa untuk menjiplak PR siswa lain. Tapi sanksi yang diberikan haruslah memberi dampak positif bagi perkembangan belajar siswa berikutnya, bukan malah menimbulkan rasa anti pati atau rasa pobia (takut yang berlebihan) alam diri siswa terhadap mata pelajaran tertentu. Sanksi yang dapat berdampak positif bagi siswa lebih lanjut misalnya yaitu dengan memberi tugas dobel untuk siswa yang tidak mengerjakan PR, sedangkan sanksi yang berdampak negatif bagi perkembangan belajar siswa misalnya yaitu menyuruh siswa 6 SD mengerjakan PR di kelas I SD, ataui berdiri di depan kelas selama jam mata pelajaran tersebut. 2. Keuntungan bagi siswa yang mengerjakan PR dan kerugian bagi siswa yang tidak mengerjakan PR. a. Keuntungan untuk siswa yang mengerjakan PR - Ada persiapan untuk pelajaran yang akan datang - Menggali lebih dalam materi yang telah didapatkan di kelas. - Mendapatkan informasi yang lebih dari suatu materi. - Mengulang dan berlatih pelajaran yang sudah di dapat - Melatih disiplin diri. b. Kerugian untuk siswa yang tidak mengerjakan PR - Bisa dikenai hukuman oleh guru yang memberi PR - Tidak ada persiapan untuk pelajaran yang akan datang, apalagi bila diadakan ulangan mendadak. - Hanya tahu informasi sebatas yang diberikan oleh guru saja dari suatu materi. - Tidak bisa berlatih dengan soal yang lebih menantang - Mudah lupa mengenai materi yang telah diberikan guru 3. Matode mengerjakan PR secara tepat - Memilih waktu yang paling sesuai untuk mengerjakan PR, dan selalu berusaha untuk menempati waktu tersebut. - Megerjakan tugas yang menurut kita paling sulit terlebih dahulu selagi waktu yang tersedia masih panjang. - Menyediakan waktu istirahat kira-kira 5 menit ketika mengerjakan PR. Waktu istirahat tersebut digunakan untuk menghilangkan kejenuhan sesaat. - Menyiapkan segala alat yang dibutuhkan untuk mengerjakan PR segala sesuatu yang kita butuhkan ada di dekat kita. - Berusaha untuk membentuk kelompok belajar, karena dengan kelompok belajar PR akan terasa lebih mudah. - Kerjakan PR atau tugas secepat mungkin, jangan ditunda-tunda. Edngan begitu pekerjaan akan lebih mudah karena materi pelajaran yang telah diberikan oleh guru masih teringat dengan baik. - Ada baiknya menyiapkan makanan secara khusus untuk mengisi perut hal ini

-

Ada baiknya menyiapkan makanan secara khusus untuk mengisi perut hal ini terutama bagi yang belajar hingga larut malam.

METODOLOGI PENELITIAN A. Teknik Pendekatan dan Variabel Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian expost facto dengan menggunaan teknik pendekatan deskriptif survey, karena dalam penelitian ini dimaksudkan untuk mengungkapkan dan mendiskripsikan gejala atau suatu fakta masalah social yang telah dan sedang terjadi berdasarkan variable yang diteliti, dan dalam penelitian ini tidak dilakukan perlakuan husus (treatment) untuk memperoleh perilaku tertentu Selanjutnya gejala yang terjadi akan dicari hubungannya antara variable bebas (independent variable) yaitu kebiasaan mencontek PR dengan variabel terikat (dependent variable) yaitu prestasi belajar, dalam hal ini adalah peringkat nilai rapor siswa dalam kelas B. Populasi dan Sampel Populasi adalah sejumlah individu yang diteliti dan memiliki paling sedikit satu sifat yang sama baik itu kodrati maupun nir kodrati (Retno, 2000:3) Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa SMA Negeri 11 Semarang tahun pelajaran 2004/2005 yang terdiri atas 24 kelas dengan rincian sebagai berikut :

Siswa kelas III pada saat penelitian ini dilakuan sudah selesai melaksanakan ujian, sehingga anggota populasi tinggal kelas I dan II yang terdiri atas 16 kelas. Mengingat jumlah siswa yang relatif banyak dan keterbatasan penulisan, maka tidak seluruh populasi dijadikan responden Adapun teknik yang digunakan untuk pengambilan sampel yang akan menjadi responden adalah quota random sampling. Dalam hal ini tiap kelas diambil secara acak sejumlah 10 siswa dari 16 kelas I dan II sebagai sample penelitian, sehinga jumlah sampel yang akan menjadi responden dalam penelitian ini adalah 160 siswa C. Teknik Analisis Data. Data yang terkumpul selanjutnya akan dianalisis melalui 2 tahap. Hak ini sesuai dengan

a.Tahap pertama menggunakan teknik deskriptif prosentase dengan maksud klasifikasi dan kualifikasi pengelompokan data dalam bentuk tabel : 1) Angka kebiasaan mencontek PR 2) Faktor-faktor yang mendorong siswa mencontek PR 3) Awal dimulai kebiasaan mencontek PR 4) Kebiasaan mempelajari PR yang dicontek b.Tahap kedua untuk keperluan pengujian hipotesis menggunakan teknik cross table ( tabel silang) dengan menyusun hasil penelitian untuk mencari hubungan antara: 1) Kebiasaan menyontek PR siswa dengan prestasi yang diraih. 2) Kebiasaan mempelajari PR yang dicontek dengan prestasi belajar. 3) Kebiasaan menyontek PR siswa dengan tanggapan yang diberikan oleh guru terhadap PR yang dikerjakan siswa.

HASL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Angka Kebiasaan Menyontek PR Siswa di SMA 11 Semarang Dari 160 angket penelitian yang disebarkan pada 16 kelas di SMA 11 Semarang (Kelas I dan Kelas II), angket-angket yang sudah dikumpulkan diseleksi, agar data yang diperoleh benar-benar menunjukkan kenyataan yang ada. Adapun kriteria angket yang bisa dijadikan data yaitu: 1. Jawaban antara pertanyaan yang satu tidak berlawanan dengan jawaban pada pertanyaan yang lain. 2. Semua pertanyaan diisi lengkap 3. Sesui dengan data pendukung yang diperoleh dengan metode dokumentasi dan wawancara Setelah diseleksi, angket yang dinyatakan dapat diambil sebagai data ada 145 buah. Dan setelah 145 angket tersebut dianalisis, maka diperoleh data sebagai berikut:

Dari tabel dapat disimpulkan bahwa siswa yang kadang-kadang mengerjakan PR dengan menyontek adalah paling banyak (68,97%). Siswa yang sering menyontek dalam mengerjakan PR ada 31,03%. Siswa yang tidak pernah menyontek dalam mengerjakan PR tidak ada (0%). Untuk memberikan gambaran yang lebih jelas dapat dilihat pada grafik berikut ini

B. Respon Siswa Setelah Mencontek PR Bagimanakah respon atau sikap siswa setelah melakukan perilaku menyimpang yaitu mencontek PR siswa lain ?. Ternyata sejumlah 106 siswa atau sebesar 73,08 % merasa “biasabiasa saja” dan hanya 17 siswa atau sebesar 21,79 % yang “merasa bersalah” bahkan yang lebih mengejutkan ada sejumlah 7 siswa atau sebesar 5,13 % yang merasa “senang” atau barangkali lega karena bebas dari sangsi guru. Selengkapnya nampak pada tabel berikut ini :

Apakah fenomena diatas dapat diartikan bahwa siswa SMA 11 Semarang menganggap perilaku menyimpang berupa tidak jujur, menjiplak (plagiat) merupakan tindakan yang wajar-wajar saja? Rasanya terlalu dini untuk mengambil kesimpulan seperti itu, walaupun dari beberapa siswa yang ditanya ada yang memberikan jawaban berbau diplomasi “ Sekedar membantu orang tua”. Untuk lebih jelasnya bisa dilihat pada grafik berikut ini

C. Faktor-faktor yang Mendorong Siswa Mengerjakan PR dengan Menyontek PR Siswa Lain Secara umum ada 3 faktor yang mendorong siswa untuk mengerjakan PR dengan menyontek, yaitu: 1. 2. 3. PR terlalu sulit sehingga siswa tidak bisa mengerjakan. Siswa malas untuk mengerjakan PR Siswa sibuk dengan tugas-tugas yang lain, sehingga tidak ada waktu untuk

mengerjakan PR Lalu dari ketiga faktor tersebut, menurut hasil survei penelitian ini ternyata faktor PR yang terlalu sulit adalah faktor yang paling banyak menyebabkan siswa menyontek PR siswa lain (64,83%), sedangkan faktor kemalasan siswa menduduki peringkat ke-2 (21,38%) dan faktor kesibukan siswa menduduki peringkat ke-3 (13,79%). Hal tersebut ditunjukkan pda tabel berikut:

Faktor kemalasan siswa yang berjumlah 21,38 % ini cukup mengejutkan, karena hal ini sekaligus juga mencerminkan minat dan motivasi belajar siswa SMA 11 Semarang. Untuk lebih jelasnya perhatikan grafik berikut ini.

Dari tabel diatas nampak bahwa PR mata pelajaran yang paling banyak dicontek siswa adalah PR Matematika disusul mata pelajaran Akuntansi, Fisika, Kimia dan Bahasa Inggris. Hal ini bisa berarti bahwa dimata para siswa SMA 11 Semarang, mata pelajaran tersebut merupakan mata pelajaran yang paling sulit. Untuk lebih jelasnya bisa dilihat pada grafik berikut ini.

E. Prestasi Belajar Siswa Berdasarkan dokumentasi Rapor Siswa SMA 11 Semarang diperoleh data bahwa dari 145 responden yang dianalisis diketahui 32 siswa atau 22.07% diantaranya menduduki peringkat 1 sampai 10 besar dikelasnya. Selengkapnya tampak pada tabel berikut ini

F. Respon Guru Terhadap PR yang dikerjakan Siswa Dari 145 angket yang dianalisis, untuk pertanyaan “Apakah Guru memberi respon terhadap PR yang dikerjakan siswa (berupa dikoreksi atau dibahas)”, diperoleh jawaban sebagai berikut :

Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa sebagian besar Guru telah memberi respon atas PR yang dikerjakan siswa dalam bentuk dikoreksi atau dibahas kembali, walaupun tidak seluruhnya. Untuk lebih jelasnya bisa dilihat pada rafik berikut ini :

G. Dampak Respon Guru terhadap Motivasi Siswa Mengerjakan PR Ternyata guru yang memberi tanggapan atas PR yang telah dikerjakan siswa berupa dikoreksi atau dibahas kembali mempunyai pengaruh terhadap motivasi siswa dalam mengerjakan PR. Hal ini terungkap dari jawaban siswa atas angket yang diberikan sebagai berikut :

Tabel diatas menunjukkan bahwa siswa akan menjadi malas ( 24,49 % ) dan kadang-kadang malas (42,76 %) untuk mengerjakan PR bila guru tidak pernah memberikan respon atas pekerjaan mereka. Hanya 23 siswa saja atau 15,85 % yang masih bersemangat untuk mengerjakan PR

H. Hubungan PR Mata Pelajaran Yang Sering Dicontek Siswa, Respon Guru, Mata Pelajaran Yang Disukai/Tidak Disukai, dan Nilai Rapor. Setelah diketahui bahwa faktor PR sulit merupakan faktor yang paling mendorong siswa untuk menyontek, maka semestinya siswa akan cenderung menyontek PR pada pelajaranpelajaran yang sulit. Lalu pelajaran apakah yang paling sulit bagi siswa, dan apakah siswa akan tidak menyontek apabila suatu pelajaran tidak sulit baginya. Dan apakah prestasi siswa cenderung baik pada pelajaran-pelajaran yang PR-PR nya jarang mereka kerjakan dengan

Dari tabel nomor 10 di atas dapat dilihat bahwa Matematika merupakan pelajaran yang PRnya paling sering dikerjakan dengan menyontek, walaupun menurut tabel nomor 10 tersebut juga menunjukkan bahwa Matematika juga merupakan pelajaran yang paling sering dikoreksi, dan paling disukai oleh siswa. Tetapi tabel tersebut juga menunjukkan bahwa Matematika adalah pelajaran yang nomor dua paling tidak disukai dan merupakan mata pelajaran yang kebanyakan siswa memperoleh nilai paling buruk. Hal-hal tersebut menunjukkan bahwa para siswa banyak yang mengerjakan PR Matematika dengan menyontek karena tingkat kesulitan dari PR Matematika yang diberikan kepada siswa, selain itu tabel di atas menunjukkan bahwa siswa akan termotivasi untuk mengerjakan PR (walaupun dengan menyontek) apabila suatu PR yang diberikan ke pada siswa direspon oleh guru (dikoreksi, diberi nilai atau dibahas) walaupun nilai yang mereka raih di rapor pun tidak terlalu baik. Mata pelajaran Akuntansi dan Fisika merupakan pelajaran yang masuk dalam kategori pelajaran yang PR-nya paling sering dikerjakan dengan menyontek padahal siswa yng menyatakan bahwa nilai rapornya yang terburuk adalah Akuntansi atau Fisika tidak sebanyak siswa yang menyatakan nilai rapor yang paling buruk adalah matematika, akan tetapi Fisika dan Akuntansi ternyata menduduki pertama dan kedua pada kategori pelajaran ya PR-nya sering tidak direspon oleh gurunya. Sehingga dapat disimpulkan bahwa apabila PR tidak direspon oleh guru maka siswa akan terdorong untuk mengerjakan PR dengan menyontek. Dan minat siswa terhadap yang dia pahami dan suat pelajaran akan lebih udah dipahai bila siswa mau lebih mendalami pelajaran itu di rumah (bisa dengan mengerjakan PR) dan guru mau membahas PR yang dia berikan. Kesimpulan bahwa minat siswa menjadi berkurang untuk mengerjakan PR bila PR tidak dikoraksi juga terbukti dengan angket yang menunjukkan bahwa dari 145 siswa, 60 diantaranya menjadi malas mengerjakan PR bila PR tidak dikoreksi, 62 menyatakan kadang-kadang menjadi malas, dan hanya 23 siswa yang menyatakan masih berminat untuk mengerjakan PR. I. Awal Kebiasaan Menyontek Siswa Berdasarkan jawaban responden ternyata kebiasaan mencontek sudah ada yang berawal sejak siswa duduk di Sekolah Dasar. Data selengkapnya nampak pada tabel berikut ini.

Dari tabel 11 di atas dapat dilihat bahwa sebagian besar siswa memulai kebiasaan menyonteknya saat dibangku SLTP (67,59%). Hal ini terjadi karena pada saat SLTP siswa mulai mendapatkan pelajaran yang lebih beragam dan memiliki tingkat kesulitan yang lebih tinggi dari pada di SD. Selain itu biasanya pengaruh dan kontrol guru di SD masih cuku kuat terhadap siswa, hal ini dikarenakan jumlah siswa SD masih cukup sedikit (biasanya sebuah SD hanya meiliki 1 kelas untuk setiap tingkatan) sedangkan jumlah siswa SLTP biasanya lebih banyak (biasanya sebuah SLTP memiliki lebih dari 1 kelas untuk setiap tingkatan), hal ini menyebabkan kontrol guru terhadap siswa agak melemah. Sedangkan di masa SMU, keadaannya tidak jauh berbeda dengan masa SMU, oleh karena itu siswa yang memulai kebiasaan menyonteknya di saat SMU jumlahnya lebih sedikit (15,71%). Untuk lebih jelasnya perhatikan grafik berikut ini :

J. Kebiasaan Siswa untuk Mempelajari PR Setelah menyontek PR, tidak setiap siswa mempelajari PR yang mereka contek tersebut. Untuk mengetahui hal tersebut dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

Ternyata mayoritas siswa hanya kadang-kadang mempelajari PR yang mereka contek (62,76%). Sedangkan jumlah siswa yang sering dan tidak pernah mempelajari PR jauh lebih sedikit (22,06%) dibandingkan jumlah siswa yang kadang-kadang mempelajari PR yang mereka contek (15,17%). Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada grafik berikut ini :

K. Hubungan Kebiasaan Menyontek dengan Prestasi yang Diraih Siswa Berdasarkan data Tabel 3 : Angka Kebiasaan Mencontek PR dan Tabel 7 : Prestasi Siswa menurut Peringkat Nilai Rapor, setelah disilangkan dapat diketahui hubungan antara kebiasaan mencontek dengan prestasi siswa, sebagai berikut

Dari data tersebut menunjukkan bahwa siswa yang kadang-kadang menyontek cenderung memiliki prestasi yang lebih baik dari pada siswa yang sering menyontek. Lebih dari seperlima siswa yang hanya kadang-kadang saja menyontek dapat menduduki peringkat 10 besar (28%), sedangkan siswa yang sering menyontek tetapi meraih peringkat 10 besar jumlahnya tidak mencapai sepersepuluh dari jumlah total siswa yang sering mengerjakan PR dengan menyontek PR siswa lain (8,9%). L. Hubungan Kebiasaan Mempelajari PR Yang Dicontek Dengan Prestasi Siswa Berdasarkan data Tabel 7 : Prestasi Siswa menurut Peringkat Nilai Rapor dan Tabel 12 : Kebiasaan Mempelajari Kembali PR Yang Dicontek, setelah disilangkan dapat diketahui hubugan antara keduanya Agar hubungan kebiasaan menyontek PR dengan prestasi yang siswa raih lebih jelas maka perlu juga dilihat tabel hubungan dipelajari atau tidaknya PR yang dicontek terhadap prestasi yang diraih siswa berikut ini:

Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa dengan mempelajari PR yang dicontek maka sedikit banyak dapat membantu siswa untuk meraih prestasi yang lebih baik. Tabel di atas menunjukkan bahwa siswa-siswi yang meraih peringkat 10 besar semuanya mempelajari PR yang mereka contek (100%, walaupun dalam kategori sering dan kadang-kadang), sedangkan pada tabel di atas menunjukkan bahwa 15 orang yang tidak pernah mempelajari PR yang mereka contek tidak dapat meraih peringkat 10 besar (36,58%). Dengan demikian dapat diartikan bahwa siswa yang mempelajari PR setelah dia menyonteknya daat membantu siswa tersebut untuk lebih memahami suatu mata pelajaran sehingga prestasinya dapat meningkat.

SIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Dari hasil dan pembahasan maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut: 1. Faktor yang paling mendorong siswa untuk menyontek PR siswa lain adalah sulitnya Prtersebut bagi siswa.(64,84%) 2. Kebanyakan siswa mengerjakan PR dengan menyintek PR siswa lain pada pelajaran matematika. Hal tersebut disebabkan karena kebanyakan siswa kesuitan dalam mengerjakan PR Matematika. 3. Kebanyakan siswa mulai terbiasa menyontek dibangku SLTP (67,59%). Hal tersebut dipengaruhi oleh berkurangnya pengawasan guru terhadap masing-masng siswa sebagai akibat dari jumlah siswa yang jauh lebih banyak dari pada jumlah siswa saat SD. 4. Kebanyakan siswa kadang-kadang mempelajari PR yang mereka contek dari siswa lain (62,17%). Hal ini dapat membantu siswa untuk lebih memahami pelajaran, akan tetapi apabila siswa selalu mempejari PR yang mereka contek maka hasilnya lebih baik daripada kadang-kadang saja mempelajari PR yang mereka contek. 5. Sebagian besar guru kadang-kadang memberi respon terhadap PR yang dikerjakan siswa (60%) 6. Siswa akan termotivasi untuk mengerjakan PR apabila guru mau memberikan respon atas PR yang diberikan. Respon tersebut dapat berupa mengoreksi, memberi nilai, atau membahas PR yang dikerjakan oleh siswa. 7. Siswa yang kadang-kadang menyontek cenderung memiliki prestasi yang lebih baik daripada siswa yang sering menyontek. Lebih dari seperlima siswa yang hanya kdang-kadang saja

menyontek dapat menduduki peringkat 10 besar, sedangkan siswa yang sering menyontek tetapi meraih peringkat 10 besar jumlahnya tidak mencapai sepersepuluh dair jumlah total siswa yang sering mengerjakan PR dengan menyontek PR siswa lain. 8. Siswa-siswi yang meraih peringkat 10 besar semuanya mempelajari PR yang mereka contek (100%, walaupun dalam kategori sering dan kadang-kadang). Dengan demikian dapat diartikan bahwa siswa yang mempelajari PR setelah dia menyonteknya daat membantu siswa tersebut untuk lebih memahami suatu mata pelajaran sehingga prestasinya dapat meningkat Saran 1. Mengingat mencontek termasuk perilaku menyimpang, para siswa diharapkan mau mengerjakan PR sendiri, atau bilamana mengalami kesulitan bisa dikerjakan secara kelompok, dan apabila dengan terpaksa mencontek PR siswa lain karena terlalu sulit, sebaiknya mau mempelajari kembali PR yang di contek. 2. Para guru diharapkan mau memberikan respon positif terhadap PR yang diberikan kepada siswa. Respon tersebut bisa berupa membahas kembali, mengoreksi dan menilai, akan lebih baik lagi setelah dinilai dikembalikan kepada siswa dengan deberikan balikan yang tepat untuk memotivasi belajar 3. Mengingat PR juga berfungsi sebagai salah satu bentuk penilaian, maka akan lebih baik lagi apabila sekolah memberikan batasan maksimal jumlah ulangan harian dan PR mata pelajaran yang diberikan kepada siswa. Misal maksimal 3 Mapel dalam 1 hari. Hal ini dikarenakan jumlah yang terlalu banyak baik ulangan harian maupun PR akan memberikan hasil yang tidak optimal. DAFTAR PUSTAKA Arikunto, Suharsimi, 1998, Prosedur Penelitian, PT. Rineka Cipta, Jakarta. Abdurochman, Mulyono, 1999, Dasr-dasar Pendidikan, PT. Ghalia, Jakarta. Depdikbud RI, 1994, Kurikulum Sekolah Menengah Umum: Landasan Program dan Pengembangan, Depdikbud, Jakarta. Koestoer, Potoisastro, 1984, Diagnosa Dan Pemecahan Kesulitan Belajar, Penerbit Erlangga, Jakarta. Martensi KDJ dan Mungin Edi Wibowo,1980, Identifikasi Kesulitan Belajar Mengajar, FIP-IKIP Semarang, Semarang. Ngaslim, Purwanto, 1990, Psikologi Pendidikan, PT. Remaja Rosdakarya, Bandung. Nursito, 2002, Pengelolaan Kegiatan Belajar Mengajar, PT. Balai Pustaka, Jakarta. Santoso, Totok, 1998, Layanan Bimbingan di Sekolah, Setya Wacana, Solo. Sardiman, 1996, Interaksi Dan Motivasi Belajar Mengajar, PT. Rajawali, Jakarta. Sardiman, 1992, Psikologi Pendidikan, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta. Satmoko, Retno Sriningsih, 2000, Statistika Inferensial, IKIP Semarang Press, Semarang. Sudjana, Nana dan Ibrahim, 1992, Penelitian dan Penilaian Pendidikan, Sinar Baru, Bandung Sumanto, Wasty, 1998, Psikologi Pendidikan (Landasan Kerja Pemimpin Pendidikan), PT. Rineka Cipta, Jakarta. Suryabrata, Sumadi, 1998, Psikologi Pendidikan, PT Raja Grafindo Persada, Jakarta.

Syahrani, Femmy, 2002, Kuasai Lebih Cepat, Penerbit Kaifa, Bandung. Tim Penyusun Kamus Binaan Dan Pengembangan Bahasa, 1997, Kamus Besar Bahasa Indonesia, PT. BLAI PUSTAKA, Jakarta.

ANALISIS PENGARUH MOTIVASI, KOMUNIKASI DAN KOMITMEN TERHADAP KINERJA GURU SMP NEGERI DI KECAMATAN TEMBALANG KOTA SEMARANG Oleh : NUSANTARA ABSTRAKSI Kondisi riil saat ini menunjukkan terjadinya penurunan mutu pendidikan di segala jenjang pendidikan, meskipun semua sarana prasarana telah di coba dipenuhi untuk meningkatkan kualitas pendidikan oleh pemerintah. Hal ini yang mendorong penulis ingin mengetahui masalah apa yang mempengaruhi terjadinya kondisi penurunan kualitas mutu pendidikan khususnya dalam lingkup SMP Negeri di Kecamatan Tembalang Kota Semarang. Berkaitan dengan hal tersebut, maka perlu melakukan penelitian terhadapa masalah yang berkaitan dengan sumber daya manusia yang langsung bersinggungan dengan masalah kualitas pendidikan. Berdasarkan uji t dan uji f dihasilkan bahwa ada pengaruh yang positif dan signifikan antara motivasi ( X1 ), kominikasi ( X2 ) dan komitmen ( X3 ) terhadap kinerja ( Y ) baik secara parsial maupun simultan. Kata kunci : kinerja, komunikasi, komitmen PENDAHULUAN Dalam setiap lembaga pemerintahan termasuk lembaga di bidang pendidikan, sumber daya manusia merupakan salah satu komponen yang sangat penting. Bagaimana sempurnanya suatu organisasi dalam perencanaan, kebijaksanaan, teknologi yang dimiliki suatu lembaga pendidikan tidak dapat berjalan dengan lancar apabila tidak didukung oleh sumber daya manusia yang handal. Dewasa ini semangat reformasi menuntut adanya pergeseran paradigma sistem penyelenggaraan pendidikan (Sistem Pendidikan Nasional) dan perkembangan teknologi yang demikian pesat membutuhkan sumber daya manusia yang berkualitas sehingga membawa implikasi yang mendasar terhadap keberadaan, tugas dan fungsi serta tanggung jawab lembaga pendidikan dalam mewujudkan penyelenggaraan pendidikan yang didasarkan pada prinsip-prinsip Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS) yang baik dan berpihak kepada anak didik. Faktor lain yang dapat meningkatkan kinerja guru adalah dengan pemberian motivasi

karena motivasi ini akan mempermudah bagi sekolah untuk mencapai tujuannya tersebut. Bukti yang paling mendasar terhadap keberhasilan suatu bentuk motivasi pada guru adalah hasil yang diperoleh dari pelaksanaan PBM. Pada umumnya, kita bisa mengatakan bahwa pemberian motivasi positif akan memberikan atau menimbulkkan peningkatan semangat, mengurangi keluhan-keluhan dan secara umum mengurangi kesulitan dalam PBM. Dari beberapa penelitian menunjukkan, bahwa penggunaan ancaman atau motivasi negatif seringkali memberikan hasil yang lebih banyak berupa peningkatan produktivitas dalam jangka pendek. Tetapi penggunaan motivasi positif dalam jangka panjang guru, dengan semangat yang lebih baik akan meningkatkan produktivitas dalam jangka panjang. Kompetisi antar sekolah negeri saat ini sudah sangat ketat, hal ini di tunjukkan dari peringkat sekolah di Kota Semarang menunjukkan bahwa sekolah negeri di Kecamatan Tembalang masih dibawah SMP Negeri di Kecamatan yang lain, hal ini menunjukkan bahwa salah satu faktor yaitu motivasi masih rendah, dimana kemauan atau semangat untuk berprestasi masih rendah. TELAAH PUSTAKA Motivasi Motivasi merupakan proses mencoba mempengaruhi seseorang agar dapat melaksanakan sesuatu yang kita inginkan. Adanya motivasi dimaksudkan untuk mendukung terwujudnya tujuan organisasi. Setiap organisasi selalu berusaha agar kinerja guru dapat ditingkatkan. Untuk itu perlu menumbuhkan motivasi kepada para guru. Menurut Sedarmayanti (2001:66) motivasi adalah “Kondisi mental yang mendorong aktivitas dan memberi energi yang mengarah kepada pencapaian kebutuhan, memberi komunikasi atau mengurangi ketidakseimbangan”. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa motivasi kerja pada dasarnya adalah kondisi mental yang mendorong dilakukannya suatu tindakan dan memberikan kekuatan yang mengarah kepada pencapaian kebutuhan memberi komunikasiataupun keseimbangan. Oleh karena itu tidak ada motivasi jika tidak dirasakan adanya suatu kebutuhan. Seperti halnya guru yang mempunyai keinginan dan kebutuhan tertentu yang diharapkan akan terpenuhi oleh organisasi. Organisasi juga mengharapkan guru untuk melakukan suatu tindakan yang berhubungan dengan penyelesaian pekerjaannya. Menurut teori hirarki kebutuhan Maslow menghipotesiskan didalam semua manusia ada suatu jenjang kelima kebutuhan sebagai berikut : Faali (fisilogis) yaitu: rasa lapar,haus, perlindungan, (pakaian dan perumahan), seks, dan kebutuhan ragawi lainnya;

-

Keamanan yaitu : keselamatan, dan perlindungan terhadap kerugian fisik dan emosional. Sosial yaitu mencakup kasih sayang, rasa dimiliki, diterima baik dan persahabatan. Penghargaan yaitu : mencakup faktor rasa hormat internal seperti harga diri, otonomi, dam prestasi, dan faktor hormat eksternal seperti misalnya status, pengakuan dan perhatian. Aktualisasi diri yaitu : dorongan untuk menjadi apa yang ia mampu menjadi, mencakup

pertumbuhan mencapai potensialnya dan pemenuhan diri. Komunikasi Pada dasarnya komunikasi merupakan dasar setiap organisasi karena dengan komunikasi dapat untuk menyebarluaskan pendapat atau pandangan serta masalah-masalah kepada orang lain di samping komunikasi dapat berguna untuk menentukan banyak masalah-masalah yang dijumpai dalam kehidupan sehari-hari. Komunikasi tidak hanya sekedar penyampaian informasi melainkan untuk meyakinkan pihak lain yang terkait sehingga terjalin kerja sama yang mantap dalam pencapaian tujuan. Dalam hal ini adalah kerjasama antara guru dengan lingkungan kerjanya. Menurut Citrobroto (1982 : 2), komunikasi adalah penyampaian penegertian-pengertian dari seseorang kepada orang lain, dengan menggunakan lambang-lambang dan penyampaian tersebut merupakan suatu proses. Dalam melakukan komunikasi, data-data yang duiperoleh harus lengkap dan jelas. Untuk itu dituntut bagi seorang komunikator memberikan informasi yang jelas dan mudah diterima. Disamping itu komunikasi harus mampu memahami artinya dan memberikan jawaban atas pesan tersebut sebagai feedback. Cara menyampaikan informasi akan menentukan kesediaan dan kemudahan bagi komunikan untuk menerima pesan didalam mengambil keputusan yang diperlukan. Cepat atau lambat dalam mengambil keputusan tergantung kemampuan mengadakan komunikasi. Komitmen Karyawan Kualitas sumber daya manusia sangat menetukan keberhasilan pengelolaan organisasi dimana karyawan tersebut bekerja. Selain itu, keberhasilan pengelolaan organisasi juga ditentukan oleh komitmen karyawan terhadap organisasi tempat karyawan bekerja. Meskipun demikian, tidak

sungguh. Pemahamana terhadap komitmen sangat penting agar tercipta kondisi kerja dalam organisasi agar organisasi dapat berjalan dengan baik. Komitmen organisasi adalah kondisi dimana pegawai sangat tertarik terhadap tujuan, nilainilai, dan sasaran organisasinya. Komitmen terhadap organisasi lebih dari sekedar kenggotaan formal, kerena meliputi sikap menyukai organisasi, dan kesediaaaan utnuk mengusahakan tingkat upaya yang tinggi bagi kepentingan organisasi demi pencapaian tujuan. Dalam komitmrn organisasi tercakup unsur loyalitas terhadap organisasi, keterlibatan dalam pekerjaan, Kinerja Kinerja adalah suatu hasil atau taraf kesuksesan yang dicapai oleh pekerja atau pegawai dalam bidang pekerjaannya, menurut kriteria tertentu yang berlaku untuk suatu pekerjaan tertentu dan dievaluasi oleh orang-orang tertentu (Effendi, 1997 : 19). Standar kinerja dapat dibuat dari uraian jabatan untuk mengaitkan definisi jabatan statis ke kinerja kerja dinamis. Dalam menulis standar, pengawas juga harus memasukan pengamatan pribadi serta cacatan kinerja masa lalu. Laporan-laporan produksi, insiden, dan pengukuran kerja akan memberikan masukan tambahan. Prestasi pegawai di bawah standar mungkin disebabkan sejumlah faktor, mulai dari keterampilan kerja yang buruk hingga motivasi yang tidak cukup atau lingkungan kerja yang buruk. Dalam kasus seorang pegawai yang memiliki sikap jelek serta tingkat keterampilan rendah, masalah utama mungkin dalam proses seleksi, dan biaya yang besar untuk memperbaiki keterampilan maupun sikap sehingga pegawai tersebut lebih baik dipindahkan atau diberhentikan. Seorang pegawai yang mempunyai tingkat keterampilan rendah tetapi memiliki sikap yang baik mungkin membutuhkan pelatihan. Suatu strategi motivasi tepat dilakukan dalam kasus ketiga, yaitu seorang memiliki keterampilan tetapi tidak mempunyai keinginan. Dalam kasus-kasus lain, para pegawai mungkin berbakat dan bermotivasi, tetapi tidak mampu menyelesaikan tugas-tugas kerja mereka karena keterbatasan wewenang atau sumber daya untuk menyelesaikan pekerjaannya. Faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku dan kinerja adalah: a. Faktor individu antara lain : 1) Kemampuan dan keahlian berupa mental serta kondisi fisik seseorang. 2) Latar belakang individu berupa keadaan keluarga, tingkat sosial dan pengalaman kerja. 3) Data kependudukan berupa umur, ras/suku dan jenis kelamin.

b. Faktor psikologis antara lain tingkat pemahaman, perilaku, kepribadian, pendidikan dan motivasi. Faktor psikologis antara lain tingkat pemahaman, perilaku, kepribadian, adanya hadiah/pujian bagi yang berprestasi, susunan masyarakat dan kerangka kerja organisasi.Untuk lebih jelasnya dapat dilihat dalam gambar berikut.

Hipotesis Berdasarkan latar belakang dan landasan teori yang telah disampaikan tersebut di atas, maka dapatlah dirumuskan hipotesis-hipotesis sebagai berikut : 1. H1
:

. Diduga terdapat pengaruh yang positif dan signifikan motivasi terhadap Kinerja guru SMP Negeri di Kecamatan Tembalang Kota Semarang.

2. H2

: Diduga terdapat pengaruh yang positif dan signifikan komunikasi terhadap Kinerja guru SMP Negeri di Kecamatan Tembalang Kota Semarang.

3. H3

: Diduga terdapat pengaruh yang positif dan signifikan komitmen terhadap kinerja guru SMP Negeri di Kecamatan Tembalang Kota Semarang

4. H4

: Diduga terdapat pengaruh yang positif dan signifikan motivasi, komunikasi dan komitmen secara bersama-sama terhadap Kinerja guru SMP Negeri di Kecamatan Tembalang Kota Semarang.

METODE PENELITIAN Populasi Dan Teknik Pengambilan Sampel Populasi adalah jumlah keseluruhan dari unit analisa yang ciri-cirinya akan diduga (Singarimbun, 1997:152). Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh guru pada SMP Negeri di

Kecamatan Tembalang Kota Semarang sejumlah 97 orang. Sampel merupakan bagian kecil dari populasi (Umar, 1997:49). Sedangkan teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini dilakukan secara random sampling artinya sampel penelitian diambil secara acak dari jumlah populasi penelitian. Untuk memberikan hasil yang akurat, jumlah sampel yang diambil menggunakan rumus Slovin. N n= 1 + Ne2 e = dapat ditolerir atau diinginkan 97 n = ———————— 1 + 97 (0,1)2 n = 49,2385 dibulatkan menjadi 50 orang. Jadi sampel yang digunakan dalam penelitian ini sebanyak 50 orang. Jenis dan Sumber Data Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer yang diambil dari SMP Negeri di Kecamatan Tembalang Kota Semarang. Data primer berasal dari kuesioner yang disebarkan dan berisi penilaian pegawai terhadap pelatihan dan motivasi masing-masing terdiri dari 5 item, dan kinerja sebanyak 8 item pertanyaan. Sedangkan data sekunder berasal dari data-data pustaka yang relevan dengan penelitian ini. Uji Validitas Data Azwar (1998:55) mendefinisikan bahwa validitas sebagai ukuran seberapa cermat suatu alat ukur atau tes dalam melakukan fungsinya dengan cermat kalau ada sesuatu yang diukurnya. Jadi untuk dapat dikatakan valid, alat ukur tersebut harus mengukur sesuatu dan melakukannya dengan cermat. Suryabrata (1990:24) menyatakan bahwa validitas alat ukur adalah taraf sejauhmana suatu alat ukur mengukur apa yang seharusnya diukur. Untuk menguji validitas tersebut digunakan teknik korelasi Product Moment dari Karl Pearson (Ancok, 1987:15) dengan rumus sebagai berikut : Perhitungan korelasi parsial digunakan dengan dengan rumus : N = ukuran populasi Persen kelonggaran ketidaktelitian karena kesalahan pengambilan sampel yang masih n = ukuran sample

Keterangan : RXY = koefisien korelasi antara skor item dan skor total = jumlah skor setiap item = jumlah skor total N = jumlah subyek = jumlah nilai hasil kali antara skor total dan skor item.

Uji Reliabilitas Reliabilitas adalah indeks yang menunjukkan sejauhmana suatu alat ukur dapat dipercaya atau diandalkan, Ancok (1987:9). Keandalan menunjukkan sejauhmana hasil pengukuran tetap konsisten bila dilakukan dua kali atau lebih terhadap gejala yang sama, dengan alat ukur yang sama. Untuk menguji tingkat reliabilitas alat ukur, digunakan teknik Alpha Cronbach (á) (Azwar, 1998:184) dengan rumus sebagai berikut:

Keterangan : = koefisien reliabilitas Alpha k = banyaknya belahan s2 x = varians butir soal s 2 tot = varians butir total

Untuk mendapatkan hasil yang betul-betul reliabel, maka penulis akan melakukan uji reliabilitas jawaban kuesioner yang telah diisi oleh para responden dengan menggunakan program SPSS 11.00 versi for windows. Analisis Data Analisis data dimaksudkan untuk menggambarkan pengaruh antar variabel dalam penelitian dengan menggunakan perhitungan statistik. Data angka yang telah ditabulasi dari masing-masing variabel penelitian ini kemudian dianalisis, pengujian ini menggunakan alat analisis sebagai berikut: Analisis Regresi Linier Berganda digunakan untuk mengetahui besarnya pengaruh motivasi (X1), komunikasi (X2) dan komitmen ( X3 ) terhadap Kinerja (Y).

Rumus model analisis regresi linier sebagai berikut :

Dimana : Y a : adalah variabel Kinerja : konstanta : Koefisien parameter untuk variabel Motivasi. : Koefisien parameter untuk variabel Komunikasi. : Koefisien parameter untuk variabel Komitmen. X1 X2 X3 : adalah variabel motivasi. : adalah variabel komunikasi. : adalah variabel komitmen.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Analisis Terhadap Identitas Responden Guru SMP Negeri di Kecamatan Tembalang yang dijadikan responden, mempunyai latar belakang yang berbeda mulai dari umur, tingkat pendidikan, masa kerja, lama pada jabatan dan berapa kali mutasi. Namun perbedaan tersebut jangan sampai membuat kurang harmonisnya dalam bekerja tetapi harus menjadikan semangat untuk berkembang demi kemajuan organisasi tersebut. Berdasarkan analisis diskriptif statistik terhadap responden diperoleh hasil seperti yang diuraikan berikut : Komposisi Responden Berdasarkan Umur Analisis terhadap umur Guru SMP Negeri di Kecamatan Tembalang yang menjadi responden adalah sebagai berikut :

Analisis Tingkat Jawaban Responden Berdasarkan pengambilan sampel penelitian yang dilakukan pada Guru SMP Negeri di Kecamatan Tembalang diperoleh responden sebanyak 46 orang. Daftar pertanyaan yang telah

dibagikan kepada responden dalam bentuk kuesioner harus dijawab semuanya, pertanyaan tersebut akan digunakan untuk mengetahui pengaruh motivasi, komunikasi dan komitmen terhadap kinerja Guru SMP Negeri di Kecamatan Tembalang.

Dapat diketahui bahwa dari 46 orang responden ternyata 54,3 % menyatakan penting, dan 23,9 % menyatakan sangat penting. Dari hasil frekuensi di atas dapat diketahui bahwa pernyataan sangat penting dan penting mempunyai frekunsi yang tinggi artinya motivasi di persepsikan oleh responden dapat meningkatkan semangat mendapatkan penghargaan.

Komposisi Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan Analisis terhadap tingkat pendidikan Guru SMP Negeri di Kecamatan Tembalang yang menjadi responden adalah sebagai berikut:

Komposisi Responden Berdasarkan Masa Kerja Analisis terhadap masa kerja Guru SMP Negeri di Kecamatan Tembalang yang menjadi responden adalah sebagai berikut :

Komposisi Responden Berdasarkan Lama Menjabat Analisis terhadap lama menempati pekerjaan sekarang Guru SMP Negeri di Kecamatan Tembalang yang menjadi responden adalah sebagai berikut :

Variabel Komunikasi Untuk mengetahui tingkat responden mengenai variabel Komunikasi dapat membuat Guru SMP Negeri di Kecamatan Tembalang memahami perintah dapat dilihat dalam tabel berikut :

Variabel Komitmen Untuk mengetahui tingkat responden mengenai variabel komitmen dapat membuat Guru SMP Negeri di Kecamatan Tembalang secara emosional melekat dengan tempat kerja dapat dilihat dalam tabel berikut :

Variabel Kinerja Untuk mengetahui tingkat responden mengenai variabel kinerja dengan standar kerja Guru SMP Negeri di Kecamatan Tembalang dapat dilihat dalam tabel berikut :

PEMBAHASAN Uji Validitas dan Reliabilitas Pengujian validitas dimaksudkan untuk memastikan seberapa baik suatu instrumen mengukur konsep yang seharusnya diukur. Instrumen yang valid berarti instrumen tersebut dapat digunakan untuk mengukur apa yang hendak diukur secara tepat dan benar. Dengan mempergunakan instrumen penelitian yang memiliki validitas tinggi, hasil penelitian mampu menjelaskan masalah penelitiannya sesuai dengan keadaan atau kejadian yang sebenarnya. Untuk menguji validitas setiap butir pertanyaan digunakan korelasi product moment yang dilihat dari corrected item total correlation, suatu butir jawaban responden dikatakan valid jika memiliki korelasi hitung yang lebih besar dari korelasi tabel. Setelah dilakukan analisis terhadap semua butir jawaban dari responden kenyataannya 23 butir pernyataan dari responden dinyatakan valid atau sah karena memiliki korelasi hitung yang lebih besar dari korelasi tabel. Berdasarkan analisis dengan korelasi product moment, pernyataan 46 responden terhadap variabel penelitian diperoleh hasil r hitung lebih besar dari r table 0,2403, yang berarti semua dinyatakan valid seperti ditunjukan pada table berikut. Pengujian Regresi Analisis regresi linier berganda merupakan analisis statistik yang digunakan untuk menentukan suatu bebas persamaan regresi yang dapat menunjukkan ada tidaknya pengaruh variabel

(independent variable) terhadap variable terikat (dependent variable) atau digunakan untuk menentukan persamaan regresi dari pengaruh variabel motivasi (X1), Komunikasi (X2) dan komitmen (X3) terhadap variabel kinerja (Y) Guru SMP Negeri di Kecamatan Tembalang Kota Semarang, dari analisis regresi diperoleh hasil sebagai berikut :

Dengan melihat tabel di atas persamaan regresi dari pengaruh motivasi, komunikasi dan komitmen terhadap kinerja Guru SMP Negeri di Kecamatan Tembalang adalah sebagai berikut :

Dari persamaan regresi diatas diketahui bahwa besarnya koefisien regresi untuk motivasi adalah sebesar 0,279, besarnya koefisien regresi untuk komunikasi adalah sebesar 0,779 dan besarnya koefisien regresi untuk komitmen adalah sebesar 0,691. Ketiga koefisien regresi bertanda positif dapat diartikan jika terjadi peningkatan atau penambahan nilai pada motivasi, komunikasi dan komitmen, maka kinerja Guru SMP Negeri di Kecamatan Tembalang juga akan ikut meningkat, demikian pula sebaliknya jika motivasi, komunikasi dan komitmen menurun maka kinerja Guru SMP Negeri di Kecamatan Tembalang juga akan ikut menurun. Pengujian Koefisien Determinasi (R2) Setelah Uji Hipotesis Pengujian koefisien determinasi digunakan untuk mengetahui besarnya pengaruh variabel bebas terhadap variabel terikat. Untuk mengetahui berapa besar pengaruh variabel bebas motivasi, komunikasi dan komitmen bisa dilihat dari besarnya nilai koefisien determinasi (R2). Dari analisis dengan regresi linier berganda diperoleh hasil seperti pada tabel berikut :

Pengujian Hipotesis Berdasarkan hipotesis yang diajukan dalam bab sebelumnya, pada penelitian ini ada empat hipotesis yang diajukan. yakni : a. Pengaruh Motivasi terhadap Kinerja. b. Pengaruh Komunikasi terhadap Kinerja. c. Pengaruh Komitmen terhadap Kinerja. d. Pengaruh antara Motivasi, Komunikasi dan Komitmen secara bersama–sama terhadap Kinerja. Untuk mengetahui kebenaran dari masing-masing hipotesis tersebut dilakukan dengan uji t dan uji F, hipotesis pertama, kedua dan ketiga di uji dengan menggunakan uji t atau uji parsial, sedangkan hipotesis keempat diuji dengan menggunakan uji F atau uji simultan, berikut ini adalah pengujiannya : Pengujian Hipotesis Pengaruh Motivasi Terhadap Kinerja. Ho : Ha : Diduga tidak terdapat pengaruh positif dan signifikan Motivasi terhadap Kinerja Guru SMP Negeri di Kecamatan Tembalang Kota Semarang. Diduga terdapat pengaruh positif dan signifikan Motivasi terhadap Kinerja Guru SMP Negeri di Kecamatan Tembalang Kota Semarang.

Pengujian Hipotesis Pengaruh Komunikasi Terhadap Kinerja Ho Ha : Diduga tidak terdapat pengaruh positif dan signifikan Komunikasi terhadap kinerja Guru SMP Negeri di Kecamatan Tembalang Kota Semarang. : Diduga terdapat pengaruh positif dan signifikan Komunikasi terhadap kinerja Guru SMP Negeri di Kecamatan Tembalang Kota Semarang.

Pengujian Hipotesis Pengaruh Komitmen Terhadap Kinerja Ho Ha : : Diduga tidak terdapat pengaruh positif dan signifikan Komitmen terhadap kinerja Guru SMP Negeri di Kecamatan Tembalang Kota Semarang. Diduga terdapat pengaruh positif dan signifikan Komitmen terhadap kinerja Guru SMP Negeri di Kecamatan Tembalang Kota Semarang.

Pengujian Hipotesis Pengaruh Motivasi, Komunikasi dan Komitmen secara bersamasama Terhadap Kinerja Ho : Diduga tidak terdapat pengaruh positif dan signifikan secara bersama-sama motivasi, komunikasi dan komitmen terhadap Kinerja kerja Guru SMP Negeri di Kecamatan Tembalang Kota Semarang.

Uji Penyimpanan Asumsi Klasik Multikolinier Berdasarkan deskriptif statistik, hasil pengujian yang dilakukan dapat diketahui sebagai berikut :

-

Rata-rata nilai kinerja guru (jumlah 46 responden) adalah 33,96 dengan standar deviasi 4,131. Rata-rata nilai motivasi (jumlah 46 responden) adalah 20,28 dengan standar deviasi 2,630. Rata-rata nilai komunikasi (jumlah 46 responden) adalah 20,52 dengan standar deviasi 2,198 Rata-rata nilai komitmen (jumlah 46 responden) adalah 21,28 dengan standar deviasi 2,391.

Besarnya hubungan / korelasi antar variable kinerja dengan variable motivasi, komunikasi dan komitmen seperti terlihat pada table berikut :

Berdasarkan hasil pengujian diatas dapat diketahui bahwa terjadi korelasi yang cukup kuat antara variable motivasi (0,572), komunikasi (0,724) dan komitmen (0,714) dengan Kinerja dan signifikan, yang ditunjukkan dengan nilai ketiga variable tersebut lebih besar dari 0,5 dan nilai signifikansinya kurang dari 0,05. Hal ini menandakan adanya multikolinieritas, atau korelasi di antara ketiga variable tersebut. Uji Normalitas Untuk menguji normalitas data adalah dengan melihat normal probability plot yang membandingkan distribusi komulatif dari data sesungguhnya dengan distribusi komulatif dari distribusi normal. Distribusi normal akan membentuk satu garis lurus diagonal dan ploting data akan dibandingkan dengan garis diagonalnya. Jika distribusi data adalah normal maka garis yang menggambarkan data sesungguhnya mengikuti garis diagonalnya.

Dari gambar diatas terlihat sebaran data membentuk arah ke kanan atas, dan setelah ditarik garis lurus didapat slope yang positif. Hal ini sesuai dengan koefisien regresi motivasi yang bernilai positif.

Dari gambar diatas terlihat sebaran data juga membentuk arah ke kanan atas, dan setelah ditarik garis lurus didapat slope yang positif. Hal ini sesuai dengan koefisien regresi komunikasi yang bernilai positif.

Dari gambar diatas terlihat sebaran data membentuk arah ke kanan atas, dan setelah ditarik garis lurus didapat slope yang positif. Hal ini sesuai dengan koefisien regresi komitmen yang bernilai positif. SIMPULAN DAN SARAN Simpulan Berdasarkan hasil penelitian dan pangujian hipotesis yang telah dilakukan maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut : 1. Pengujian instrumen dari semua item keempat variabel dinyatakan valid, hal ini dibuktikan dari hasil r hitung lebih besar dari r tabel (0,294) dengan taraf signifikansi alpha 0,05 dan uji semua variabel mempunyai nilai realiabilitas dengan cronbach alpha lebih besar dari 0,6 sehingga dapat dinyatakan reliabel. 2. Hipotesis pertama yang dilakukan, yakni motivasi berpengaruh positif dan signifikan

2. Hipotesis pertama yang dilakukan, yakni motivasi berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja Guru SMP Negeri di Kecamatan Tembalangpada Kota Semarang adalah terbukti kebenarannya, hal ini dibuktikan dengan uji t, yang mana dari hasil analisis diperoleh t hitung sebesar 2,040 yang mempunyai nilai lebih besar jika dibandingkan dengan t tabel yang hanya lebih kecil dari 0,05. 3. Hipotesis kedua yang menyatakan, bahwa komunikasi berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja Guru SMP Negeri di Kecamatan Tembalang Kota Semarang adalah terbukti kebenarannya, hal ini dibuktikan dari analisis diperoleh t hitung sebesar 5,645 yang mempunyai nilai lebih tinggi jika dibandingkan dengan nilai t tabel yang hanya sebesar 1,684 dan probabilitasnya pada taraf 5 % 0.000 lebih kecil dari 0,05. 4. Hipotesis ketiga yang menyatakan, bahwa komitmen berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja Guru SMP Negeri di Kecamatan Tembalang Kota Semarang adalah terbukti kebenarannya, hal ini dibuktikan dari analisis diperoleh t hitung sebesar 4,479 yang mempunyai nilai lebih tinggi jika dibandingkan dengan nilai t tabel yang hanya sebesar 1,684 dan probabilitasnya pada taraf 5 % 0.00 lebih kecil dari 0,05. 5. Hipotesis keempat yang menyatakan, bahwa motivasi, komunikasi dan komitmen secara bersama-sama berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja Guru SMP Negeri di Kecamatan Tembalang Kota Semarang adalah terbukti kebenarannya, hal ini dibuktikan dari analisis diperoleh dengan uji F, yang mana dari hasil analisis diperoleh F hitung sebesar 45,720 yang mempunyai nilai lebih besar jika dibandingkan dengan F tabel yang hanya sebesar 2,88 serta signifikansinya pada taraf 5 % 0,00 lebih kecil dari 0,05. 6. Berdasarkan analisis regresi dapat diperoleh persamaan linier adanya pengaruh antara variabel bebas motivasi (X1), komunikasi (X2) dan komitmen (X3) terhadap variabel terikat kinerja (Y), yaitu : Y = -2,127 + 0,279 X1 + 0,771 X2 + 0,691 X3 dan dapat dilihat pula besarnya koefisien determinasi (R2) adalah sebesar 0,766, artinya kinerja mampu dijelaskan oleh variasi motivasi, komunikasi dan komitmen sebesar 76,6 % sedangkan sisanya sebesar 23,4 % dipengaruhi oleh variabel lain yang tidak diikutkan dalam penelitian ini. Saran-saran Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan pada Guru SMP Negeri Kecamatan Tembalang sebesar 1,684 dan probabilitasnya pada taraf 5 % 0.048

Saran-saran Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan pada Guru SMP Negeri Kecamatan Tembalang Kota Semarang berikut ini beberapa saran yang dapat dijadikan pertimbangan bagi lembaga dalam meningkatkan kinerja yaitu : karena terbukti motivasi, komunikasi dan komitmen mempunyai pengaruh yang positif dan signifikan terhadap kinerja guru, diharapkan pihak Pemerintah Kota Semarang atau Dinas Pendidikan dan juga Kepala Sekolah SMP Negeri semakin memperhatikan pemberian motivasi secara terus menerus, mengkondisikan komunikasi yang baik antar pimpinan dengan guru, serta meneguhkan komitmen guru di lingkungan SMP Negeri. Sehingga akan menumbuhkan semangat kerja diantara para guru, mendorong Guru SMP Negeri di Kecamatan Tembalang untuk berprestasi, memberikan kesempatan untuk maju dan Kecamatan Tembalang yang bersangkutan diharapkan akan meningkat. meningkatkan pengetahuan, dan sebagainya karena dengan cara seperti itu kinerja dari Guru SMP Negeri di

Jurnal Pendidikan ISWARA MANGGALA memberikan kesempatan seluas-luasnya dan mengajak semua kalangan pendidikan di Kota Semarang pada khususnya untuk mengirimkan tulisan-tulisan dalam bentuk Karya Ilmiah, Hasil Penelitian ataupun Kajian Ilmiah. Tulisan disusun dengan metode :

1. Judul 2. Abstrak ( bisa dalam Bahasa Indonesia atau Bahasa Inggris ) 3. Kata kunci

1. 2. 3. 4.

Permasalahan Uraian Isi secara teori Uraian Isi tentang permasalahannya ( Pembahasan ) Kesimpulan dan saran

1. Daftar Pustaka 2. Biodata Penulis

1. 2. 3. 4. 5. 6.

Merupakan karya sendiri dan belum pernah dipublikasikan ke media lainnya Ditulis dengan MS-Word Jenis tulisan ( font ) : Arial Tulisan dengan jarak 1,5 spasi Jumlah halaman minimal 10 maksimal tidak dibatasi Penyerahan naskah dalam bentuk print-out dan disket

Copyright2005 Dicetak dan Diterbitkan oleh :

Forum Pemberdayaan Tenaga Kependidikan Kota Semarang
Kerjasama Dewan Pendidikan Kota Semarang, PGRI Kota Semarang dan Dinas Pendidikan Kota Semarang

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->