Rangkuman tata bahasa Indonesia

Oleh Ivan Lanin

I.

Bahasa................................................................................................................................................. 1

II.

Fonologi .............................................................................................................................................. 5

III.

Morfologi ............................................................................................................................................ 6

IV.

Sintaksis ............................................................................................................................................ 16

V.

Semantik ........................................................................................................................................... 31

VI.

Kesusastraan ..................................................................................................................................... 40

VII. Gaya bahasa ...................................................................................................................................... 54
VIII. Kemahiran berbahasa........................................................................................................................ 59
Disusun berdasarkan materi dari http://bit.ly/dAUQ8u sebagai bahan bacaan tambahan bagi para peserta
TSN HPI 2010.
Lisensi CC-BY-NC-SA: Diperkenankan untuk menyalin, mendistribusikan, dan mengadaptasi karya ini
asalkan mencantumkan sumber, bukan untuk tujuan komersial, dan menggunakan lisensi yang serupa
dengan lisensi ini.
Penafian: Meskipun segala upaya telah dilakukan untuk memastikan validitasnya, informasi pada karya
ini diberikan apa adanya tanpa jaminan validitas. Penulis karya tidak bertanggung jawab terhadap
informasi yang tak akurat atau terhadap penggunaan Anda atas informasi yang ada dalam karya ini.
Selamat mengikuti ujian. Teruskan perjuangan!
Jakarta, 9 Juli 2010.
Oh, hampir lupa. Komentar dapat dikirimkan melalui surel ke ivan at bahtera dot org.

Rangkuman tata bahasa Indonesia

I.

Bahasa

A.

Pengertian bahasa

Secara umum bahasa didefinisikan sebagai lambang. Bahasa adalah alat komunikasi yang berupa sistem
lambang bunyi yang dihasilkan alat ucap manusia.
Sebagaimana kita ketahui, bahasa terdiri atas kata-kata atau kumpulan kata. Masing-masing mempunyai
makna, yaitu, hubungan abstrak antara kata sebagai lambang dengan objek atau konsep yang diwakili
Kumpulan kata atau kosakata itu oleh ahli bahasa disusun secara alfabetis, atau menurut urutan abjad,
disertai penjelasan artinya dan kemudian dibukukan menjadi sebuah kamus atau leksikon.
Pada waktu kita berbicara atau menulis, kata-kata yang kita ucapkan atau kita tulis tidak tersusun begitu
saja, melainkan mengikuti aturan yang ada. Untuk mengungkapkan gagasan, pikiran atau perasaan, kita
harus memilih kata-kata yang tepat dan menyusun kata-kata itu sesuai dengan aturan bahasa. Seperangkat
aturan yang mendasari pemakaian bahasa, atau yang kita gunakan sebagai pedoman berbahasa inilah yang
disebut tata bahasa.
Pada bab berikutnya, sehubungan dengan tata bahasa akan kita bicarakan secara terperinci fonologi,
morfologi, sintaksis, semantik dan etimologi. Fonologi ialah bagian tata bahasa yang membahas atau
mempelajari bunyi bahasa. Morfologi mempelajari proses pembentukan kata secara gramatikal beserta
unsur-unsur dan bentuk-bentuk kata. Sintaksis membicarakan komponen-komponen kalimat dan proses
pembentukannya. Bidang ilmu bahasa yang secara khusus menganalisis arti atau makna kata ialah
semantik, sedang yang membahas asal-usul bentuk kata adalah etimologi,

B.

Fungsi bahasa

Fungsi utama bahasa, seperti disebutkan di atas, adalah sebagai alat komunikasi, atau sarana untuk
menyampaikan informasi (fungsi informatif).
Tetapi, bahasa pada dasarnya lebih dari sekadar alat untuk menyampaikan informasi, atau mengutarakan
pikiran, perasaan, atau gagasan, karena bahasa juga berfungsi:
a. untuk tujuan praktis: mengadakan hubungan dalam pergaulan sehari-hari.
b. untuk tujuan artistik: manusia mengolah dan menggunakan bahasa dengan seindah-indahnya guna
pemuasan rasa estetis manusia.
c. sebagai kunci mempelajari pengetahuan-pengetahuan lain, di luar pengetahuan kebahasaan.
d. untuk mempelajari naskah-naskah tua guna menyelidiki latar belakang sejarah manusia, selama
kebudayaan dan adat-istiadat, serta perkembangan bahasa itu sendiri (tujuan filologis).
Dikatakan oleh para ahli budaya, bahwa bahasalah yang memungkinkan kita membentuk diri sebagai
makhluk bernalar, berbudaya, dan berperadaban. Dengan bahasa, kita membina hubungan dan kerja sama,
mengadakan transaksi, dan melaksanakan kegiatan sosial dengan bidang dan peran kita masing-masing.
Dengan bahasa kita mewarisi kekayaan masa lampau, menghadapi hari ini, dan merencanakan masa
depan.
Jika dikatakan bahwa setiap orang membutuhkan informasi itu benar. Kita ambil contoh, misalnya,
mahasiswa. Ia membutuhkan informasi yang berkaitan dengan bidang studinya agar lulus dalam setiap
ujian dan sukses meraih gelar atau tujuan yang diinginkan. Seorang dokter juga sama. Ia memerlukan
informasi tentang kondisi fisik dan psikis pasiennya agar dapat menyembuhkannya dengan segera.
Contoh lain, seorang manager yang mengoperasikan, mengontrol, atau mengawasi perusahaan tanpa
informasi tidak mungkin dapat mengambil keputusan atau menentukan kebijakan. Karena setiap orang

1

Rangkuman tata bahasa Indonesia

membutuhkan informasi, komunikasi sebagai proses tukar-menukar informasi, dengan sendirinya bahasa
juga mutlak menjadi kebutuhan setiap orang.

C.

Perkembangan bahasa Indonesia

Kata Indonesia berasal dari gabungan kata Yunani Indus ‘India’ dan nesos ‘pulau atau kepulauan’. Jadi
secara etimologis berarti kepulauan yang telah dipengaruhi oleh kebudayaan India, atau hanya kepulauan
India. Pencipta kata tersebut ialah George Samuel Windsor Earl, sarjana Inggris yang menulis dan
memakai kata itu dalam Journal of the Indian Archipelago and Eastern Asia, Vol. IV, hlm. 17, bulan
Februari 1850. Ia menggunakan kata Indonesians dalam majalah itu. Sedangkan, orang yang
memopulerkan kata lndonesien adalah ahli etnologi Jerman, Adolf Bastian, yang memakainya dalam
buku yang ditulisnya sejak tahun 1884. Buku ini diberi judul Indonesien oder die Inseln des Malayischen
Archipel.
Bahasa Indonesia yang sekarang itu ialah bahasa Melayu Kuno, yang dahulu digunakan orang Melayu di
Riau, Johor. dan Lingga, yang telah mengalami perkembangan berabad-abad lamanya Dalam keputusan
Seksi A No. 8. hasil Kongres Bahasa Indonesia 11 di Medan, 1954, dikatakan bahwa dasar bahasa
Indonesia ialah bahasa Melayu yang disesuaikan dengan pertumbuhan dalam masyarakat dan kebudayaan
Indonesia sekarang.
Sehubungan dengan perkembangan bahasa Indonesia, ada beberapa masa dan tahun bersejarah yang
penting, yakni:
1. Masa Kerajaan Sriwijaya sekitar abad ke-7. Pada waktu itu Bahasa Indonesia yang masih
bernama bahasa Melayu telah digunakan sebagai lingua franca atau bahasa penghubung, bahasa
pengantar. Bukti historis dari masa ini antara lain prasasti atau batu bertulis yang ditemukan di
Kedukan Bukit, Kota Kapur, Talang Tuwo. Karang Brahi yang berkerangka tahun 680 Masehi.
Selain ini dapat disebutkan bahwa data bahasa Melayu paling tua justru dalam prasasti yang
ditemukan di Sojomerta dekat Pekalongan, Jawa Tengah.
2. Masa Kerajaan Malaka, sekitar abad ke-15. Pada masa ini peran bahasa Melayu sebagai alat
komunikasi semakin penting. Sejarah Melayu karya Tun Muhammad Sri Lanang adalah
peninggalan karya sastra tertua yang ditulis pada masa ini. Sekitar tahun 1521, Antonio Pigafetta
menyusun daftar kata Italia-Melayu yang pertama. Daftar itu dibuat di Tidore dan berisi kata-kata
yang dijumpai di sana.
3. Masa Abdullah bin Abdulkadir Munsyi, sekitar abad ke-19. Fungsi bahasa Melayu sebagai sarana
pengungkap nilai-nilai estetik kian jelas. Ini dapat dilihat dari karya-karya Abdullah seperti
Hikayat Abdullah, Kisah Pelayaran Abdullah ke Negeri Jeddah, Syair tentang Singapura
Dimakan Api, dan Pancatanderan. Tokoh lain yang Perlu dicatat di sini ialah Raja Ali Haji yang
terkenal sebagai pengarang Gurindam Dua Belas, Silsilah Melayu Bugis, dan Bustanul Katibin.
4. Pada tahun 1901 diadakan pembakuan ejaan yang pertama kali oleh Prof. Ch. van Ophuysen
dibantu Engku Nawawi dan Moh. Taib Sultan Ibrahim. Hasil pembakuan mereka yang dikenal
dengan Ejaan Van Ophuysen ditulis dalam buku yang berjudul Kitab Logat Melajoe.
5. Tahun 1908 pemerintah Belanda mendirikan Commissie der lndlandsche School en Volkslectuur
(Komisi Bacaan Sekolah Bumi Putra dan Rakyat). Lembaga ini mempunyai andil besar dalam
menyebarkan serta mengembangkan bahasa Melayu melalui bahan-bahan bacaan yang
diterbitkan untuk umum.
6. Tahun 1928 tepatnya tanggal 28 Oktober, dalam Sumpah Pemuda, bahasa Melayu diwisuda
menjadi bahasa Nasional bangsa Indonesia sekaligus namanya diganti menjadi bahasa Indonesia.
Alasan dipilihnya bahasa Melayu menjadi bahasa nasional ini didasarkan pada kenyataan bahwa
bahasa tersebut (1) telah dimengerti dan dipergunakan selama berabad-abad sebagai lingua

2

Rangkuman tata bahasa Indonesia

franca hampir di seluruh daerah kawasan Nusantara, (2) strukturnya sederhana sehingga mudah
dipelajari dan mudah menerima pengaruh luar untuk memperkaya serta menyempurnakan
fungsinya, (3) bersifat demokratis sehingga menghindarkan kemungkinan timbulnya perasaan
sentimen dan perpecahan, dan (4) adanya semangat kebangsaan yang lebih besar dari penutur
bahasa Jawa dan Sunda.
"Kami poetra dan poetri Indonesia mendjoendjoeng bahasa jang sama, bahasa Indonesia"
demikian rumusan Sumpah Pemuda yang terakhir dan yang benar.
7. Tahun 1933 terbit majalah Poedjangga Baroe yang pertama kali. Pelopor pendiri majalah ini
ialah Sutan Takdir Alisyahbana, Amir Hamzah, dan Armijn Pane, yang ketiganya ingin dan
berusaha memajukan bahasa Indonesia dalam segala bidang.
8. Tahun 1938, dalam rangka peringatan 10 tahun Sumpah Pemuda diadakan Kongres Bahasa
Indonesia I di Solo, yang dihadiri ahli-ahli bahasa dan para budayawan seperti Ki Hadjar
Dewantara, Prof Dr Purbatjaraka, dan Prof Dr. Husain Djajadiningrat. Dalam kongres ditetapkan
keputusan untuk mendirikan Institut Bahasa Indonesia, mengganti ejaan van Ophuysen, serta
menjadikan bahasa Indonesia menjadi bahasa pengantar dalam Badan Perwakilan.
9. Masa pendudukan Jepang (1942-1945). Pada masa ini peran bahasa Indonesia semakin penting
karena pemerintah Jepang melarang penggunaan bahasa Belanda yang dianggapnya sebagai
bahasa musuh. Penguasa Jepang terpaksa mengangkat bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi
dalam administrasi pemerintahan dan bahasa pengantar di lembaga pendidikan, karena bahasa
Jepang sendiri belum banyak dimengerti oleh bangsa Indonesia. Untuk mengatasi berbagai
kesulitan, akhirnya Kantor Pengajaran Balatentara Jepang mendirikan Komisi Bahasa Indonesia.
10. Tahun 1945, tepatnya 18 Agustus, bahasa Indonesia diangkat sebagai bahasa negara, sesuai
dengan bunyi UUD 45, Bab XV, Pasal 36: Bahasa Negara ialah Bahasa Indonesia.
11. Tanggal 19 Maret 1947 diresmikan pemakaian Ejaan Repoeblik sebagai penyempurnaan ejaan
sebelumnya. Ejaan ini kemudian lebih dikenal dengan sebutan Ejaan Soewandi.
12. Balai Bahasa yang dibentuk Wont 1948, yang kemudian namanya diubah menjadi Lembaga
Bahasa Nasional (LBN) tahun 1968, dan diubah lagi menjadi Pusat Pembinaan dan
Pengembangan Bahasa pada tahun 1972 adalah lembaga yang didirikan dalam rangka usaha
pemantapan perencanaan bahasa.
13. Atas prakarsa Menteri PP dan K, Mr. Moh. Yamin, Kongres Bahasa Indonesia Kedua diadakan di
Medan tanggal 28 Oktober s.d. 1 November 1954. Dalam kongres ini disepakati suatu rumusan
bahwa bahasa Indonesia berasal dari bahasa Melayu, tetapi bahasa Indonesia berbeda dari bahasa
Melayu karena bahasa Indonesia adalah bahasa Melayu yang sudah disesuaikan pertumbuhannya
dengan masyarakat Indonesia sekarang .
14. Tahun 1959 ditetapkan rumusan Ejaan Malindo, sebagai hasil usaha menyamakan ejaan bahasa
Indonesia dengan bahasa Melayu yang digunakan Persekutuan Tanah Melayu. Akan tetapi,
karena pertentangan politik antara Indonesia dan Malaysia, ejaan tersebut menjadi tidak pernah
diresmikan pemakaiannya.
15. Tahun 1972, pada tanggal 17 Agustus, diresmikan pemakaian Ejaan Yang Disempurnakan yang
disingkat EYD. Ejaan yang pada dasarnya adalah hasil penyempurnaan dari Ejaan Bahasa
Indonesia yang dirancang oleh panitia yang diketuai oleh A. M. Moeliono juga digunakan di
Malaysia dan berlaku hingga sekarang.
16. Tahun 1978, dalam rangka memperingati Hari Sumpah Pemuda yang ke-50. bulan November di
Jakarta diselenggarakan Kongres Bahasa Indonesia III. Kongres ini berhasil mengambil
keputusan tentang pokok-pokok pikiran mengenai masalah pembinaan dan pengembangan bahasa
Indonesia. Di antaranya ialah penetapan bulan September sebagai bulan bahasa.
3

Rangkuman tata bahasa Indonesia

17. Tanggal 21-26 November 1983, di Hotel Kartika Chandra, Jakarta, berlangsung Kongres Bahasa
Indonesia IV. Kongres yang dibuka oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Prof Dr. Nugroho
Notosusanto, berhasil merumuskan usaha-usaha atau tindak lanjut untuk memantapkan
kedudukan dan fungsi bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional dan negara.
18. Dengan tujuan yang sama, di Jakarta 1988, diselenggarakan Kongres Bahasa Indonesia V.
19. Tahun 1993, diselenggarakan Kongres Bahasa Indonesia VI di Jakarta. Kongres Bahasa
Indonesia berikutnya akan diselenggarakan setiap lima tahun sekali.

D.

Kedudukan dan fungsi bahasa Indonesia

Sebagaimana kita ketahui dari uraian di atas, bahwa sesuai dengan ikrar Sumpah Pemuda tanggal 28
Oktober 1928, bahasa Indonesia diangkat sebagai bahasa nasional, dan sesuai dengan bunyi UUD 45, Bab
XV, Pasal 36 Indonesia juga dinyatakan sebagai bahasa negara. Hal ini berarti bahwa bahasa Indonesia
mempunyai kedudukan baik sebagai bahasa nasional dan bahasa negara.
Yang dimaksud dengan kedudukan bahasa ialah status relatif bahasa sebagai sistem lambang nilai budaya,
yang dirumuskan atas dasar nilai sosialnya Sedang fungsi bahasa adalah nilai pemakaian bahasa tersebut
di dalam kedudukan yang diberikan.

1.

Bahasa Nasional

Sehubungan dengan kedudukannya sebagai bahasa nasional, bahasa Indonesia memiliki empat fungsi.
Keempat fungsi tersebut ialah sebagai:
1. lambang identitas nasional,
2. lambang kebanggaan nasional,
3. alat pemersatu berbagai masyarakat yang mempunyai latar belakang sosial budaya dan bahasa
yang berbeda-beda, dan
4. alat perhubungan antarbudaya dan daerah.

2.

Bahasa Negara

Berkaitan dengan statusnya sebagai bahasa negara, bahasa Indonesia berfungsi sebagai:
1. bahasa resmi negara,
2. bahasa pengantar resmi di lembaga-lembaga pendidikan,
3. bahasa resmi dalam perhubungan tingkat nasional untuk kepentingan perencanaan dan
pelaksanaan pembangunan serta pemerintahan, dan
4. bahasa resmi di dalam pengembangan kebudayaan dan pemanfaatan ilmu pengetahuan serta
teknologi.

E.

Bahasa Indonesia baku

Bahasa Indonesia yang baku ialah bahasa Indonesia yang digunakan orang-orang terdidik dan yang
dipakai sebagai tolak bandingan penggunaan bahasa yang dianggap benar. Ragam bahasa Indonesia yang
baku ini biasanya ditandai oleh adanya sifat kemantapan dinamis dan ciri kecendekiaan. Yang dimaksud
dengan kemantapan dinamis ini ialah bahwa bahasa tersebut selalu mengikuti kaidah atau aturan yang
tetap dan mantap namun terbuka untuk menerima perubahan yang bersistem. Ciri kecendekiaan bahasa

4

Rangkuman tata bahasa Indonesia

baku dapat dilihat dari kemampuannya dalam mengungkapkan proses pemikiran yang rumit di berbagai
bidang kehidupan dan ilmu pengetahuan.
Bahasa Indonesia baku dipakai dalam:
1. komunikasi resmi, seperti dalam surat-menyurat resmi, peraturan pengumuman instansi resmi
atau undang-undang;
2. tulisan ilmiah, seperti laporan penelitian, makalah, skripsi, disertasi dan buku-buku ilmu
pengetahuan;
3. pembicaraan di muka umum, seperti dalam khotbah, ceramah, kuliah pidato; dan
4. pembicaraan dengan orang yang dihormati atau yang belum dikenal.

II.

Fonologi

A.

Pengertian

Fonologi adalah bagian tata bahasa atau bidang ilmu bahasa yang menganalisis bunyi bahasa secara
umum. Istilah fonologi, yang berasal dari gabungan kata Yunani phone ‘bunyi’ dan ‘logos’ tatanan, kata,
atau ilmu’ disebut juga tata bunyi. Bidang ini meliputi dua bagian.

Fonetik, yaitu bagian fonologi yang mempelajari cara menghasilkan bunyi bahasa atau bagaimana
suatu bunyi bahasa diproduksi oleh alat ucap manusia.

Fonemik, yaitu bagian fonologi yang mempelajari bunyi ujaran menurut fungsinya sebagai
pembeda arti.

Bunyi ujaran yang bersifat netral, atau masih belum terbukti membedakan arti disebut fona, sedang fonem
ialah satuan bunyi ujaran terkecil yang membedakan arti. Variasi fonem karena pengaruh lingkungan
yang dimasuki disebut alofon. Gambar atau lambang fonem dinamakan huruf. Jadi fonem berbeda dengan
huruf.
Untuk menghasilkan suatu bunyi atau fonem, ada tiga unsur yang penting yaitu:
1. udara,
2. artikulator atau bagian alat ucap yang bergerak, dan
3. titik artikulasi atau bagian alat ucap yang menjadi titik sentuh artikulator.

B.

Vokal dan konsonan

Vokal adalah fonem yang dihasilkan dengan menggerakkan udara keluar tanpa rintangan.
Konsonan adalah fonem yang dihasilkan dengan menggerakkan udara keluar dengan rintangan.
Yang dimaksud dengan rintangan dalam hal ini adalah terhambatnya udara keluar oleh adanya gerakan
atau perubahan posisi artikulator .

C.

Diftong

Diftong adalah dua vokal berurutan yang diucapkan dalam satu kesatuan waktu. Diftong dalam bahasa
Indonesia adalah ai, au, dan oi. Contoh: petai, lantai, pantai, santai, harimau, kerbau, imbau, pulau,
amboi, sepoi.

5

Rangkuman tata bahasa Indonesia

D.

Fonem

Fonem adalah satuan bunyi terkecil yang berfungsi membedakan arti. Fonem dapat dibuktikan melalui
pasangan minimal.
Pasangan minimal adalah pasangan kata dalam satu bahasa yang mengandung kontras minimal.
Contoh:

E.

pola & pula: membedakan /o/ dan /u/

barang & parang: membedakan /b/ dan /p/

Fonem dan huruf

Bahasa Indonesia memakai ejaan fonemis, artinya setiap huruf melambangkan satu fonem. Namun
demikian masih terdapat fonem-fonem yang dilambangkan dengan digraf (dua huruf melambangkan satu
fonem) seperti ny, ng, sy, dan kh.
Di samping itu ada pula diafon (satu huruf yang melambangkan dua fonem) yakni huruf e yang digunakan
untuk menyatakan e pepet dan e taling.
Huruf e melambangkan e pepet terdapat pada kata seperti: sedap, segar, terjadi. Huruf e melambangkan e
taling terdapat pada kata seperti: ember, tempe, dendeng.

III. Morfologi
Bidang linguistik atau tata bahasa yang mempelajari kata dan proses pembentukan kata secara gramatikal
disebut morfologi. Dalam beberapa buku tata bahasa, morfologi dinamakan juga tata bentukan.
Satuan ujaran yang mengandung makna (leksikal atau gramatikal) yang turut serta dalam pembentukan
kata atau yang menjadi bagian dari kata disebut morfem. Berdasarkan potensinya untuk dapat berdiri
sendiri dalam suatu tuturan, morfem dibedakan atas dua macam yaitu:
1. morfem terikat, morfem yang tidak mempunyai potensi untuk berdiri sendiri, sehingga harus
selalu hadir dengan mengikatkan dirinya dengan modem bebas lewat proses morfologis, atau
proses pembentukan kata, dan
2. morfem bebas, yang secara potensial mampu berdiri sendiri sebagai kata dan secara gramatikal
menduduki satu fungsi dalam kalimat.
Dalam bahasa Indonesia morfem bebas disebut juga kata dasar. Satuan ujaran seperti buku, kantor, arsip,
uji, ajar, kali, pantau, dan liput merupakan modem bebas atau kata dasar; sedang me-, pe-, -an, ke--an, di-,
swa-, trans-, -logi, -isme merupakan morfem terikat.
Sebuah morfem, jika bergabung dengan morfem lain, sering mengalami perubahan. Misalnya, morfem
terikat me- dapat berubah menjadi men-, mem-, meny-, menge-, dan menge- sesuai dengan lingkungan
yang dimasuki. Variasi modem yang terjadi karena pengaruh lingkungan yang dimasuki disebut alomorf.

A.

Proses morfologis

Proses morfologis adalah proses pembentukan kata dari suatu bentuk dasar menjadi suatu bentuk jadian.
Proses ini , meliputi afiksasi (pengimbuhan), reduplikasi (pengulangan), dan komposisi (pemajemukan).
Sebelum diuraikan lebih lanjut tentang ketiga proses morfologis di atas perlu ditegaskan terlebih dahulu
tiga istilah pokok dalam proses ini, Yaitu kata dasar, bentuk dasar, dan unsur langsung.

6

Rangkuman tata bahasa Indonesia

Kata dasar: kata yang belum berubah, belum mengalami proses morfologis, baik berupa proses
penambahan imbuhan, proses pengulangan, maupun proses pemajemukan.
Bentuk dasar: bentuk yang menjadi dasar dalam proses morfologis, dapat berupa kata dasar, kata
berimbuhan, kata ulang, dan dapat pula berupa kata majemuk.
Unsur langsung: bentuk dasar dan imbuhan yang membentuk kata jadian.

1.

Afiksasi

Dalam tata bahasa tradisional afiks disebut imbuhan, yaitu morfem terikat yang dapat mengubah makna
gramatikal suatu bentuk dasar. Misalnya me- dan -kan, di- dan -kan, yang dapat mengubah arti gramatikal
seperti arsip menjadi mengarsipkan, diarsipkan.
Proses penambahan afiks pada sebuah bentuk dasar atau kata dasar inilah yang disebut afiksasi.
Afiks yang terletak di awal bentuk kata dasar. seperti ber-, di-; ke-, me-, se-, pe-, per-, ter-, pre-, swa-,
adalah prefiks atau awalan.
Yang disisipkan di dalam sebuah kata dasar, seperti -em, -er-, -el-, disebut infiks atau sisipan.
Yang terletak di akhir kata dasar, seperti -i -an, -kan, -isme, -isasi, -is,-if dan lain-lain dinamakan sufiks
atau akhiran.
Gabungan prefiks dan sufiks yang membentuk satu kesatuan dan bergabung dengan kata dasarnya secara
serentak seperti:ke-an pada kata keadilan, kejujuran, kenakalan, keberhasilan, kesekretarisan, pe-an
seperti pada kata pemberhentian, pendahuluan, penggunaan, penyatuan, dan per-an sebagaimana dalam
kata pertukangan, persamaan, perhentian, persatuan dinamakan konfiks.
Ingat, karena konfiks sudah membentuk satu kesamaan, maka harus tetap dihitung satu morfem. Jadi kata
pemberhentian dihitung tiga morfem, bukan empat, Bentuk dasarnya henti, satu morfem, mendapat
prefiks ber-, satu morfem, dan mendapat konfiks pe-an yang juga dihitung satu morfem, maka semuanya
tiga morfem.
Tidak semua afiks dibicarakan di sini. Yang akan dibahas hanya afiks-afiks yang memiliki frekuensi
kemunculan dalam soal-soal tinggi.
Afiks produktif ialah afiks yang mampu menghasilkan terus dan dapat digunakan secara teratur
membentuk unsur-unsur baru. Yang termasuk afiks produktif ialah: me-, di-, pe-, ber-, -an, -i, pe-an, peran, dan ke-an. Sedangkan yang termasuk afiks improduktif ialah: sisipan -el-, -em-, er-, atau akhiran wati.

a)

Prefiks me-

Berfungsi membentuk verba atau verba. Prefiks ini mengandung arti struktural:
a. ‘melakukan tindakan seperti tersebut dalam kata dasar’. Contoh: menari, melompat, mengarsip,
menanam, menulis, mencatat.
b. ‘membuat jadi atau menjadi’. Contoh: menggulai, menyatai, meninggi, menurun, menghijau,
menua.
c. ‘mengerjakan dengan alat’. Contoh: mengetik, membajak, mengail mengunci, mengetam.
d. ‘berbuat seperti atau dalam keadaan sebagai’. Contoh: membujang, menjanda, membabi buta.
e. ‘mencari atau mengumpulkan’. Contoh: mendamar, merotan.
f.

dll.

7

Rangkuman tata bahasa Indonesia

b)

Prefiks ber-

Berfungsi membentuk verba (biasanya dari nomina, adjektiva, dan verba sendiri). Prefiks ini mengandung
arti:
a. ‘mempunyai’ contoh: bernama, beristri, beruang, berjanggut.
b. ‘memakai’ contoh: berbaju biru, berdasi, berbusana.
c. ‘melakukan tindakan untuk diri sendiri (refleksif)’ contoh: berhias, bercukur, bersolek.
d. ‘berada dalam keadaan’ contoh: bersenang-senang, bermalas-malas, berpesta-ria, berleha-leha.
e. ‘saling’, atau ‘timbal-balik’ (resiprok) contoh:bergelut, bertinju bersalaman, berbalasan.
f.

c)

dll.

Prefiks pe-

Berfungsi membentuk nomina (dan verba, adjektiva, dan nomina sendiri). Prefiks ini mendukung makna
gramatikal:
a. ‘pelaku tindakan seperti tersebut dalam kata dasar contoh: penguji, pemisah, pemirsa,
penerjemah, penggubah, pengubah, penatar, penyuruh, penambang.
b. ‘alat untuk me...’ contoh: perekat, pengukur, pengadang, penggaris.
c. ‘orang yang gemar’ contoh: penjudi, pemabuk, peminum, pencuri pecandu, pemadat.
d. ‘orang yang di ...’ contoh: petatar, pesuruh.
e. ‘alat untuk ...’ contoh: perasa, penglihat, penggali.
f.

d)

dll.

Prefiks per-

Berfungsi membentuk verba imperatif. Mengandung arti:
a. ‘membuat jadi’ (kausatif) contoh: perbudak, perhamba, pertuan.
b. ‘membuat lebih’ contoh. pertajam, perkecil, perbesar, perkuat
c. ‘membagi jadi’ contoh: pertiga, persembilan
d. dll.

e)

Prefiks di-

Berfungsi membentuk verba, dan menyatakan makna pasif, contoh: diambil, diketik, ditulis, dijemput,
dikelola.

f)

Prefiks ter-

Berfungsi membentuk verba (pasif) atau adjektiva. Arti yang dimiliki antara lain ialah:
a. ‘dalam keadaan di’ contoh: terkunci, terikat, tertutup, terpendam, tertumpuk, terlambat.
b. ‘dikenai tindakan secara tak sengaja’, contoh: tertinju, terbawa, terpukul.
c. ‘dapat di-’, contoh: terangkat, termakan, tertampung.

8

Rangkuman tata bahasa Indonesia

d. ‘paling (superlatif)’, contoh: terbaik, terjauh, terkuat, termahal, terburuk.
e. dll.

g)

Prefiks ke-

Berfungsi membentuk kata bilangan tingkat dan kata bilangan kumpulan, nomina, dan verba. Sebagai
pembentuk nomina, prefiks ke- bermakna gramatikal ‘yang di ... i’, atau ‘yang di ... kan’, seperti pada kata
kekasih dan ketua.

h)

Sufiks –an

Berfungsi membentuk nomina. Prefiks ini mengandung arti:
a. ‘hasil’ atau ‘akibat dari me-’, contoh: tulisan, ketikan, catatan, pukulan, hukuman, buatan,
tinjauan, masukan.
b. ‘alat untuk melakukan pekerjaan’, contoh: timbangan, gilingan, gantungan.
c. ‘setiap’, contoh: harian, bulanan, tahunan, mingguan.
d. ‘kumpulan’, ‘seperti’, atau ‘banyak’, contoh: lautan, durian, rambutan.
e. dll.

i)

Konfiks ke-an

Berfungsi membentuk nomina abstrak, adjektiva, dan verba pasif. Konfiks ini bermakna:
a. ‘hal tentang’, contoh: kesusastraan, kehutanan, keadilan, kemanusiaan, kemasyarakatan,
ketidakmampuan, kelaziman.
b. ‘yang di...i’, contoh: kegemaran ‘yang digemari’, kesukaan ‘yang disukai’, kecintaan ‘yang
dicintai’.
c. ‘kena’, atau ‘terkena’, contoh: kecopetan, kejatuhan, kehujanan, kebanjiran, kecolongan.
d. ‘terlalu’, contoh: kebesaran, kekecilan, kelonggaran, ketakutan.
e. ‘seperti’, contoh: kekanak-kanakan, kemerah-merahan.
f.

j)

dll.

Konfiks pe-an

Berfungsi membentuk nomina. Arti konfiks ini di antaranya ialah:
a. ‘proses’, contoh: pemeriksaan ‘proses memeriksa’, penyesuaian ‘proses menyesuaikan’,
pelebaran ‘proses melebarkan’;
b. ‘apa yang di-’, contoh: pengetahuan ‘apa yang diketahui’, pengalaman ‘apa yang dialami’,
pendapatan ‘apa yang didapat’.
c. dll.

k)

Konfiks per-an

berfungsi membentuk nomina. Arti konfiks ini ialah:

9

Rangkuman tata bahasa Indonesia

a. ‘perihal ber-’, contoh: persahabatan ‘perihal bersahabat’, perdagangan ‘perihal berdagang’,
perkebunan ‘perihal berkebun’, pertemuan ‘perihal bertemu’.
b. ‘tempat untuk ber-’, contoh: perhentian, perburuan persimpangan, pertapaan.
c. ‘apa yang di’, contoh: pertanyaan, perkataan.
d. dll.

l)

Afiks serapan

Untuk memperkaya khazanah bahasa Indonesia, kita menyerap unsur-unsur dari bahasa daerah dan
bahasa asing. Contoh afiks serapan:
1. dwi-: dwilingga, dwipurwa, dwiwarna, dwipihak, dwifungsi.
2. pra-: praduga, prasangka, prasejarah, prasarana, prakiraan, prasaran, prabakti, prasetia,
prawacana, prakata.
3. swa-: swalayan. swadesi, swasembada, swapraja, swatantra, swadaya, swasta.
4. awa-: awagas, awabau, awaracun, awalengas.
5. a-, ab-: asusila, amoral, ateis, abnormal.
6. anti-: antipati, antiklimaks, antitoksin, antihama, antiseptik
7. homo-: homogen, homoseks, homofon, homonim, homograf, homorgan
8. auto-: autodidak, autokrasi, autobiografi, automobil, autonomi
9. hipo-: hiponim, hipotesis, hipokrit, hipovitaminosis
10. poli-: polisemi, poligami, poliandri, polisilabis, poliklinik
11. sin-: sintesis, sinonim, sintaksis, sinkronis, simpati, simposium
12. tele-: telepon, telegraf, telegram, telepati, teleskop, teleks
13. trans-: transaksi, transisi, transportasi, transkripsi, transmisi, transliterasi, transformasi,
transmigrasi, transfer, transitif
14. inter-: interaksi, interelasi, interupsi, internasional, intersuler, intermeso, interlokal, dan lain-lain.
15. -isasi: modernisasi, tabletisasi, pompanisasi, kuningisasi, dan lain-lain

2.

Reduplikasi

Reduplikasi adalah proses pembentukan kata dengan cara mengulang bentuk dasar. Ada beberapa macam
reduplikasi, sebagai berikut:
1. Kata ulang penuh, yaitu yang diperoleh dengan mengulang seluruh bentuk dasar ; ada dua.
macam:
a. Yang bentuk dasarnya sebuah morfem bebas, disebut dwilingga: ibu-ibu, buku-buku,
murid-murid
b. Yang bentuk dasarnya kata berimbuhan: ujian-ujian, kunjungan-kunjungan, persoalanpersoalan

10

Rangkuman tata bahasa Indonesia

2. Dwipurwa, yang terjadi karena pengulangan suku pertama dari bentuk dasarnya: reranting, lelaki,
leluhur, tetangga, kekasih, lelembut. Di antara dwipurwa ada yang mendapat akhiran, seperti kata
ulang pepohonan, rerumputan, dan tetanaman.
3. Dwilingga salin suara adalah dwilingga yang mengalami perubahan bunyi: sayur-mayur, mondarmandir, gerak-gerik, bolak-baliki, seluk-beluk, compang-camping, ingar-bingar, hiruk-pikuk,
ramah-tamah, serba-serbi, serta-merta, dan lain-lain.
4. Kata ulang berimbuhan: berjalan-jalan, anak-anakan, guruh-gemuruh, rias-merias, tulis-menulis,
berbalas-balasan, kekanak-kanakan, mengulur-ulur, meraba-raba, menjulur-julurkan, dan lainlain.
5. Kata ulang semu (bentuk ini sebenarnya merupakan kata dasar, jadi bukan hasil pengulangan atau
reduplikasi): laba-laba, ubur-ubur, undur-undur, kupu-kupu, dan empek-empek.
Reduplikasi menyatakan arti antara lain sebagai berikut:
1. ‘jamak’: Murid-murid berkumpul di halaman sekolah.
pelajaran.

Di perpustakaan terdapat buku-buku

2. ‘intensitas kualitatif’: Anto menggandeng tangan Anti erat-erat. Baju yang dijual di toko itu
bagus-bagus.
3. ‘intensitas kuantitatif’: Berjuta-juta penduduk Bosnia menderita akibat perang berkepanjangan.
Kapal itu mengangkut beratus-ratus peti kemas.
4. ‘intensitas frekuentatif’: Orang itu berjalan mondar-mandir. Pada akhir bulan ini ayah pergipergi saja. Berkali-kali anak itu dimarahi ibunya.
5. ‘melemahkan’: Warna bajunya putih kehijau-hijauan. Wati tersenyum kemalu-maluan melihat
calon mertuanya datang.
6. ‘bermacam-macam’: Pepohonan menghiasi puncak bukit itu. Ibu membeli buah-buahan. Sayurmayur dijual di pasar itu.
7. ‘menyerupai’: Tingkah laku orang itu kekanak-kanakan. Orang-orangan dipasang di tengah
sawah. Adik bermain mobil-mobilan.
8. ‘resiproks (saling)’ : Mereka tolong-menolong menggarap ladang. Kedua anak itu berpukulpukulan setelah cekcok mulut.
9. ‘dalam keadaan’: Dimakannya singkong itu mentah-mentah. Pada zaman jahiliah banyak orang
dikubur hidup-hidup.
10. ‘walaupun meskipun’: Kecil-kecil, Mang Memet berani juga melawan perampok itu.
11. ‘perihal’: Ibu-ibu PKK di Kampung Bugis menyelenggarakan kursus masak-memasak dan jahitmenjahit. Sekretaris di kantor kami bukan hanya menangani surat-menyurat, tetapi juga
pembukuan dan daftar gaji pegawai.
12. ‘seenaknya, semaunya atau tidak serius’: Saya melihat tiga orang remaja duduk-duduk di bawah
pohon. Kerjanya hanya tidur-tiduran saja. Adik membaca-baca majalah di kamar.
13. ‘tindakan untuk bersenang-senang’: Mereka makan-makan di restoran tadi malam

3.

Komposisi

Komposisi ialah proses pembentukan kata majemuk atau kompositum. Kata majemuk ialah gabungan
kata yang telah bersenyawa atau membentuk satu kesatuan dan menimbulkan arti baru, contoh: kamar
mandi, kereta api, rumah makan, baju tidur.

11

Rangkuman tata bahasa Indonesia

Gabungan kata yang juga membentuk satu kesatuan, tetapi tidak menimbulkan makna baru disebut frasa,
contoh: sapu ijuk, meja itu, kepala botak, rambut gondrong, mulut lebar.
Jenis kata majemuk
1. Kata majemuk setara, yang masing-masing unsurnya berkedudukan sama, contoh: tua muda, laki
bini, tegur sapa, besar kecil, ibu bapak, tipu muslihat dan baik buruk.
2. Kata majemuk bertingkat, yaitu yang salah satu unsurnya menjelaskan unsur yang lain. Jenis kata
majemuk itu bersifat endosentris, yakni salah satu unsurnya dapat mewakili seluruh konstruksi,
contoh: kamar mandi, sapu tangan, meja gambar, dan meja tulis.

B.

Kelas kata

Kata ialah satuan bahasa terkecil yang mengandung arti, baik arti leksikal maupun arti gramatikal, dan
yang dapat berdiri sendiri serta dapat dituturkan sebagai bentuk bebas.
Ada dua jenis kata: kata dasar, yakni kata yang belum mengalami proses morfologis, dan kata jadian,
yakni kata yang sudah mengalami proses morfologis. Yang termasuk kata jadian ialah kata berimbuhan,
kata ulang, dan kata majemuk.
Kata dasar sering juga dinamakan kata tunggal, yaitu kata yang hanya terdiri atas satu morfem, sedangkan
kata jadian yang terdiri atas beberapa morfem, disebut juga kata kompleks.
Kelas kata ialah pengelompokan kata berdasarkan perilaku atau sifat kata tersebut dalam kalimat. Katakata yang memiliki sifat atau perilaku sama dikelompokkan dalam satu kelas kata. Misalnya:
Ia tidak belajar.

Ia bukan pelajar.

Ia agak tinggi.

Ia tidak membaca. Ia bukan pemalas. Ia lebih tinggi.
Ia tidak bekerja.

Ia bukan guru.

Ia paling tinggi.

Kata belajar, membaca, bekerja mempunyai perilaku sama, dan karena itu ketiga kata tersebut
dikelompokkan menjadi satu kelas kata. Sebaliknya kata pelajar berbeda dari kata belajar; terbukti bahwa
kata pelajar tidak dapat ditempatkan setelah kata tidak. Selanjutnya kata belajar maupun pelajar berbeda
dari kata tinggi; terbukti bahwa kedua kata itu tidak dapat didahului oleh kata agak, lebih atau paling.
Berdasarkan perilakunya seperti di atas, kata belajar, membaca, dan bekerja dikelompokkan ke dalam
satu kelas verba. Kata pelajar, pemalas, guru digolongkan ke dalam kelas nomina. Sedang kata-kata yang
sama dengan kata tinggi dikelompokkan menjadi satu kelas adjektiva. Selain ketiga kelas tersebut
terdapat kelas lain, yakni kelas kata tugas.

1.

Kata benda (nomina)

Kata benda disebut juga nomina (substantiva), yaitu semua kata yang dapat diterangkan atau yang
diperluas dengan frasa yang + adjektiva. Misalnya:

bunga yang indah,

sekretaris yang terampil,

guru yang bijaksana,

siswa yang cendekia,

Tuhan yang Maha Esa,

udara yang segar,

12

Rangkuman tata bahasa Indonesia

persoalan yang rumit,

perjanjian yang gagal,

keadilan yang rapuh.

Semua kata yang tercetak miring adalah nomina.

Dalam sebuah wacana, sering nomina diganti kedudukannya oleh kata yang lain. Misalnya:
"Kemarin Amir mengatakan kepada Hendro dan Herman bahwa Amir akan menemui Hendro dan
Herman di tempat yang sama",
yang sering dan lebih wajar jika dituturkan kembali menjadi:
"Kemarin Amir mengatakan kepada Hendro dan Herman bahwa dia akan menemui mereka di tempat
yang sama".
Kata dia yang menggantikan Amir dan mereka yang menggantikan Hendro dan Herman adalah kata ganti
atau pronomina.
Dalam tata bahasa tradisional nomina dibedakan atas:
1. Kata benda abstrak, seperti kejujuran.
2. Kata benda konkret, misalnya gedung.
3. Kata benda nama diri, yang huruf awalnya selalu ditulis dengan huruf kapital, misalnya Amir
Kata benda kumpulan, seperti regu, masyarakat, tim, kelas, keluarga.
Selanjutnya kata ganti juga dibedakan atas beberapa subkelas:
1. Kata ganti orang: dia, mereka, engkau, saudara, Anda.
2. Kata ganti tunjuk: ini, itu.
3. Kata ganti hubung: yang, tempat, serta.
4. Kata ganti tanya: apa, siapa, kapan, berapa.

2.

Kata kerja (verba)

Semua kata yang dapat diperluas atau dijelaskan dengan frasa dengan+ adjektiva, misalnya:

membaca dengan lancar,

belajar dengan sungguh-sungguh,

berpakaian dengan rapi,

makan dengan lahap,

berjalan dengan santai,

tidur dengan nyenyak,

adalah kata kerja atau verba.
Kata kerja atau verba dibedakan atas:
1. Kata kerja transitif, yaitu verba yang memadukan objek, contoh: membeli, memikirkan,
mengutarakan, membahas, menertawakan, memahami, menanamkan.

13

Rangkuman tata bahasa Indonesia

Antara verba transitif dengan objek langsung tidak boleh disela oleh preposisi atau kata depan.
Jadi bentuk ujaran seperti:"Panitia membicarakan tentang keuangan" tidak benar atau rancu.
Kalimat di atas dapat dibakukan dengan menghilangkan kata tentang.
2. Kata kerja transitif ganda, ialah verba yang memerlukan objek dua, contoh: membelikan, dan
membawakan dalam kalimat
a. Ayah membelikan adik sepeda mini;
b. Kakak membawakan kakek barang bawaannya.
3. Kata kerja intransitif, ialah verba yang tidak memerlukan objek, contoh: berlari, berdiri, tertawa,
menyanyi, merokok, melamun.
4. Kata kerja reflektif, yang menyatakan tindakan untuk diri sendiri, contoh: bersolek, berhias,
bercukur, bercermin, mengaca.
5. Kata kerja resiprok, yang menunjukkan tindakan atau perbuatan berbalasan atau menyatakan
makna saling, contoh: bergelut, berpandangan, bergandengan, bertinju, pukul-memukul, suratsuratan, senggol-senggolan.
Sehubungan dengan verba ini, kita sering membuat kesalahan dengan menambahkan kata saling
di depan verba ini, misalnya: saling tolong-menolong, saling bergandengan, saling bertinju.
Semua bentuk pengungkapan tersebut salah atau rancu, dan dapat dibetulkan dengan
menghilangkan kata saling, atau mengubah menjadi saling menolong, saling menggandeng,
saling meninju.
6. Kata kerja instrumental, yang menunjuk sarana perbuatan: mengetik, bermotor, bersepeda,
membajak, dan mengetam.
7. Kata kerja aktif, yang subjeknya melakukan tindakan seperti yang dimaksud. Biasanya berawalan
me- atau ber-, contoh: menyanyi, mengungkit, berdebat, dan bermalam.
8. Kata kerja pasif, yang subjeknya menjadi sasaran dari tindakan dimaksud. Biasanya berawalan
di-, ter- dan berimbuhan ke- an. contoh: dibahas, diminati, diulang, terpukul, tertindas,
kecopetan.
Kata kerja yang menduduki fungsi predikat disebut verba finit (predikatif), sedang verba yang berfungsi
nominal atau berfungsi sebagai nomina, yang menduduki fungsi subjek atau objek, dinamakan verba
infinit (substantiva). Misalnya dalam kalimat: Belajar itu penting dan ia belajar membaca. Belajar dan
membaca adalah verba infinit.

3.

Kata sifat (adjektiva)

Semua kata yang dapat diperluas dengan kata lebih, paling, sangat, atau mengambil bentuk sereduplikasi-nya, adalah kata sifat. Kata ini disebut juga adjektiva, contoh:

lebih cermat, agak membosankan, sangat cantik, semahal-mahalnya

lebih bijaksana, paling enak, sangat mahal, sebaik-baiknya

lebih bahagia, tua sekali, sangat pandai, sejelek-jeleknya

paling menarik, cantik sekali, kurang berharga, seteliti-telitinya

Kata sifat dikatakan berfungsi atributif jika digunakan untuk menjelaskan nomina, dan adjektiva tersebut
bersama-sama dengan nominanya membentuk frasa nominal. Jika digunakan sebagai predikat sebuah
kalimat ia dikatakan berfungsi predikatif. Perhatikan contoh berikut:

14

Rangkuman tata bahasa Indonesia

(1) Mahasiswa baru itu sedang mengikuti penataran P4.
(2) Buku itu baru.
Kata baru dalam kalimat (1) berfungsi atributif, sedangkan dalam kalimat (2) berfungsi predikatif.

4.

Kata tugas

Kata yang berfungsi total, memperluas atau mentransformasikan kalimat dan tidak dapat menduduki
jabatan-jabatan utama dalam kalimat, seperti kata dan, di, dengan, dll. dikelompokkan ke dalam kelas
kata tugas. Yang termasuk kata tugas ialah:
(1) Kata depan atau preposisi: di, ke, dari
(2) Kata hubung atau konjungsi: dan, atau, karena, dengan
(3) Kata sandang atau artikula: si, sang, para, kaum
(4) Kata keterangan atau adverbia: sangat, selalu, agak, sedang, secepat-cepatnya

a)

Ciri kata tugas
1. Tidak dapat berdiri sendiri sebagai tuturan yang bebas.
2. Tidak pernah mendapat imbuhan atau mengalami afiksasi. Perhatikan, kata ke, dari, di, tetapi,
telah, akan, dsb., tidak mengalami afiksasi.
3. Berfungsi menyatakan makna gramatikal kalimat. Sebuah kalimat akan berubah artinya jika kata
tugasnya diganti dengan kata tugas yang lain. Perhatikan contoh di bawah ini:
a. Herman sedang mandi
b. Herman sudah mandi
c. Herman belum mandi
d. Herman akan mandi
e. Herman selalu mandi
f.

Herman pernah mandi

4. Jumlah kata tugas hampir tidak berkembang karena sifat keanggotaannya tertutup. Ini berbeda
sekali dengan nomina, verba, atau adjektiva yang terus berkembang dan diperkaya oleh kata-kata
baru.

b)

Fungsi kata tugas

Fungsi kata tugas ialah untuk memperluas atau menyatakan hubungan unsur-unsur kalimat dan
menyatakan makna gramatikal atau arti struktural kalimat tersebut. Secara terperinci kata tugas berfungsi
untuk menunjukkan hubungan:
1. arah: di, ke, dari
2. pelaku perbuatan: oleh
3. penggabungan: dan, lagi, pula, pun, serta, tambahan
4. kelangsungan: sedang, akan, sudah, belum, pernah, sesekali
5. waktu: ketika, tatkala, selagi, waktu, saat, sejak

15

Rangkuman tata bahasa Indonesia

6. pemilihan: atau
7. pertentangan: tetapi, padahal, namun, walaupun, meskipun, sedangkan
8. pembandingan: seperti, sebagai, penaka, serasa, ibarat, bagai, daripada, mirip, persis
9. persyaratan: jika, asalkan, kalau, jikalau, sekiranya, seandainya, seumpama, asal
10. sebab: sebab, karena, oleh karena
11. akibat: hingga, sehingga, sampai-sampai, sampai, akibatnya
12. pembatasan: hanya, saja, melulu, sekadar, kecuali
13. pengingkaran: bukan, tidak, jangan
14. peniadaan: tanpa
15. penerusan: maka, lalu, selanjutnya, kemudian
16. penegasan: bahwa, bahwasanya, memang
17. derajat: agak, cukup, kurang, lebih, amat, sangat, paling
18. tujuan: agar, biar, supaya, untuk
19. peningkatan: makin, semakin, kian, bertambah
20. penyangsian: agaknya, kalau-kalau, jangan-jangan
21. pengharapan: moga-moga, semoga, mudah-mudahan, sudilah
22. orangan: sang, si, yang, para, kaum
23. menjelaskan: ialah, adalah, yaitu, yakni, merupakan
Kata tugas yang menyatakan hubungan arah di dan ke, yang merupakan kata yang penuh berdiri sendiri
dan dipisahkan dari kata yang mengikuti, sering dikacaukan dengan prefiks di- dan ke- yang harus
digabung dengan bentuk dasarnya.
Perhatikan perbedaan berikut:

di sini , ke sini, ditulisi, kedua

di sana, ke samping, dikemukakan, kegemaran

di dalam, ke luar daerah, dikelilingi, kekasih

di bawah, ke Surabaya, dikeluarkan, kedalaman

di luar kota, ke utara, diutarakan, keringanan

IV. Sintaksis
Sintaksis atau tata kalimat adalah bagian dari ilmu bahasa yang mempelajari proses pembentukan kalimat
atau yang menganalisis kalimat atas bagian-bagiannya. Objek yang dibahas dalam sintaksis adalah frasa,
klausa, dan kalimat. Perbedaan di antara ketiga istilah ini dapat dilihat pada contoh berikut.

Kalimat: Mahasiswa itu sudah mengatakan bahwa dia tidak dapat ikut ujian bahasa Indonesia.

Klausa: (1) mahasiswa itu sudah mengatakan dan (2) bahwa dia tidak dapat ikut ujian bahasa
Indonesia.

16

Rangkuman tata bahasa Indonesia

Frasa: (1) mahasiswa itu, (2) sudah mengatakan, (3) tidak dapat ikut, serta (4) ujian bahasa
Indonesia, serta

Berikut akan dijabarkan berturut-turut mengenai frasa, klausa, dan kalimat.

A.

Frasa

Frasa adalah kesatuan yang terdiri atas dua kata atau lebih, yang masing-masing mempertahankan makna
dasar katanya, sementara gabungan itu menghasilkan suatu relasi tertentu, dan tiap kata pembentuknya
tidak bisa berfungsi sebagai subjek dan predikat dalam konstruksi itu.
Frasa dapat dikelompokkan berdasarkan (1) inti kata, (2) kelas kata, dan (3) makna frasa.

1.

Jenis frasa menurut inti kata

1) Frasa nominal, yaitu frasa yang intinya nomina, atau nomina, dan dapat berfungsi menggantikan
nomina. Misalnya: buku tulis, lemari arsip, guru bahasa Indonesia, ibu bapak, para orang tua.
2) Frasa verbal, yang intinya verba dan dapat mengganti kedudukan verba dalam kalimat. Misalnya:
sedang belajar, sudah belajar, tidak belajar, akan belajar, tidak harus belajar, tidak akan ingin
belajar.
3) Frasa adjektival, yang intinya adjektiva atau adjektiva. Misalnya: sungguh pintar, cukup pintar, agak
pintar, paling pintar, pintar sekali.
4) Frasa preposisional, yang salah satu unsurnya kata depan atau preposisi. Misalnya: di depan, dari
depan, ke depan, oleh mereka, kepada kami, dengan tangan kiri.

2.

Jenis frasa menurut kelas kata

1) Frasa endosentris adalah sebuah susunan yang merupakan gabungan dua kata atau lebih ,yang
menunjukkan bahwa kelas kata dari perpaduan itu sama dengan kelas kata dari salah satu (atau lebih)
unsur pembentuknya. Contoh:

guru agama (nomina) = guru (nomina) agama (nomina)

gadis cantik (nomina) = gadis (nomina) cantik (adjektiva).

Frasa endosentris dibagi menjadi dua macam, yaitu:
a) Frasa bertingkat (frasa subordinatif, frasa atributif): frasa yang mengandung unsur inti (D) dan
unsur penjelas (M). Menurut urutan unsurnya, frasa bertingkat dapat dibagi tiga.
i)

Pola DM. Contoh: baju baru, roti rawar, sersan mayor

ii) Pola MD. Contoh: seorong prajurit, sehelai kertas, letnan jenderal
iii) Pola MDM. Contoh: selembar uang kertas, segelas anggur merah
b) Frasa setara (frasa koordinatif): frasa yang mengandung dua buah unsur inti (tidak ada unsur
penjelas/atribut). Contoh: suami istri, sawah ladang, sanak saudara.
2) Frasa eksosentris adalah sebuah susunan yang merupakan gabungan dua kata (atau lebih) yang
menunjukkan bahwa kelas kata dari perpaduan itu tidak sama dengan kelas kata dari salah satu (atau
lebih) unsur pembentukannya. Contoh:

dari sekolah (kata keterangan) = dari (kata depan) sekolah (nomina),

yang memimpin (nomina) = yang (kata tugas) memimpin (verba)

17

Rangkuman tata bahasa Indonesia

3.

Jenis frasa menurut makna frasa

1) Frasa idiomatik, kelompok kata yang maknanya merupakan idiom (ungkapan), memiliki arti
konotatif. Misalnya, bermental baja, membanting tulang.
2) Frasa biasa, yang memiliki arti sebenarnya. Misalnya, rumah Ateng, sedang pergi.

4.

Fungsi kata yang dalam pembentukan frasa

Kata yang dalam pembentukan frasa berfungsi sebagai (1) pembentuk frasa nominal dan (2) pengubah
klausa menjadi frasa nominal.
Membentuk frasa nominal (frasa berkelas nomina). Contoh: yang cantik, yang satu, yang ke sini, yang
merah, yang berlari, yang baik.
Mengubah klausa menjadi frasa nominal. Contoh:

B.

Ali sedang duduk ~ Ali yang sedang duduk

dia telah pergi ~ dia yang telah pergi

wajahnya sayu ~ wajahnya yang sayu

perbuatannya tercela ~ perbuatannya yang tercela

Klausa

Klausa adalah suatu konstruksi yang sekurang-kurangnya terdiri atas dua kata, yang mengandung
hubungan fungsional subjek-predikat, dan secara fakultatif, dapat diperluas dengan beberapa fungsi lain
seperti objek dan keterangan-keterangan lain. Klausa dapat dibedakan berdasarkan (1) urutan kata, (2)
urutan subjek-predikat, dan (3) keterkaitan terhadap klausa lain.

1.

Klausa berdasarkan urutan kata

1) Klausa normal: subjek mendahului predikat. Contoh: ia datang ke rumahku, adik penari, orang itu
kurus.
2) Klausa inversi: predikat mendahului subjek. Contoh: datang dia malam itu, pergi ayah tak tentur
arah.
3) Klausa inversi khusus: klausa inversi yang didahului oleh keterangan. Contoh: ke tanah leluhur
perrgi mereka, kemarin datanglah surat itu, karena sakit menangislah dia.

2.

Klausa berdasarkan jenis predikat

1) Klausa berpredikat verba intrasitif. Contoh: anak itu menari, kuda meringkik, kakek merokok, nenek
duduk.
2) Klausa berpredikat verba transitif. Contoh: guru mengajar murid, kurir mengantar surat, Andi
mencintai Dian.
3) Klausa berpredikat nomina. Contoh: pamannya lurah, ibunya seorang bidan, kakaknya tentara.
4) Klausa berpredikat adjektiva. Contoh: gadis itu cantik, bapak saya tampan, bapakmu pelit.
5) Klausa berpredikat adverbial (frasa preposisional). Contoh: nenekku dari Kalimantan, ibu ke Bandung
kemarin, ayah ke Bekasi naik onta.

18

Rangkuman tata bahasa Indonesia

6) Klausa berpredikat frasa konektif. Contoh: anak itu merupakan musuh mereka, Sinta menjadi
pramugari.

3.

Klausa berdasarkan keterikatan terhadap klausa lain

1) Klausa bebas. Klausa yang dapat berdiri sendiri dan tidak bergantung pada klausa lain. Contoh: Ani
membawa buku, guru mengajar murid.
2) Klausa terikat. Klausa yang kehadirannya bergantung pada klausa lain dan biasanya ditandai oleh
adanya konjungsi (kata penghubung). Contoh: ketika ayah pergi, agar tubuh subur, sebab
kehadirannya tak diperhitungkan.
Klausa terikat merupakan bagian dari sebuah kalimat, dan dapat hadir bersama-sama atau dikaitkan
dengan klausa bebas. Klausa di atas, misalnya, merupakan bagian dari kalimat: Ibu merasa sedih
ketika ayah pergi; Tanamanan itu diberinya pupuk agar tumbuh subur; Dadang kecewa sebab
kehadirannya tak diperhitungkan.

C.

Kalimat

Kalimat ialah kesatuan bahasa atau ujaran yang berupa kata atau kumpulan kata yang didahului dan
diikuti oleh kesenyapan dan disertai intonasi yang menunjukkan bahwa kesatuan itu sudah lengkap.
Setiap kalimat mewakili satu gagasan utama .

1.

Unsur fungsional kalimat

Kalimat umumnya terdiri atas kumpulan kata. Kata ataupun kelompok kata dalam kalimat memiliki
fungsi sesuai dengan kedudukannya. Fungsi kata atau kelompok kata dalam kalimat inilah yang
dinamakan jabatan kalimat atau fungsi gramatikal kalimat. yang di antaranya ialah:

a)

Subjek

Subjek atau pokok kalimat adalah bagian kalimat yang menjadi pokok pembicaraan atau masalah pokok.
Jabatan ini lazimnya diduduki oleh nomina atau frasa nominal.
(1) Buku sekarang mahal.
(2) Kejujuran sudah merupakan barang langka saat ini.
(3) Rapat itu membahas kurikulum.
Umumnya subjek tidak dapat didahului oleh preposisi seperti di, dalam, bagi, kepada, dari, dengan,
untuk, dll.
Kalimat di bawah ini rancu atau tidak baku, dan dapat dibakukan dengan menghilangkan preposisinya.
(4)* Dalam rapat itu membicarakan kurikulum.
(5)* Kepada para mahasiswa perlu diajar bahasa Indonesia .
(6)* Dengan kejadian itu menunjukkan bahwa pekerjaannya tidak beres.
Kalimat di atas seharusnya demikian:
(4a) Rapat itu membicarakan kurikulum. atau
(4b) Dalam rapat itu dibicarakan kurikulum.
(5a) Para mahasiswa perlu diajar bahasa Indonesia.

19

Rangkuman tata bahasa Indonesia

(5b) Bahasa Indonesia perlu diajarkan kepada para mahasiswa
(6a) Kejadian itu menunjukkan bahwa pekerjaannya tidak beres.
(6b) Dengan kejadian itu ditunjukkan bahwa pekerjaannya tidak beres.

b)

Predikat

Predikat atau sebutan ialah bagian kalimat yang menandai apa yang dibicarakan tentang subjek. Predikat
sebuah kalimat dapat berupa nomina atau frasa nominal, verba atau frasa verbal, adjektiva atau frasa
adjektival, frasa preposisional, dan kata bilangan atau numeralia, seperti kita lihat pada kalimat berikut.
(7) Suaminya guru.
(8) Suaminya bekerja
(9) Suaminya rajin.
(10) Suaminya dari kantor.
(11) Rumahnya satu.

c)

Objek

Objek adalah bagian kalimat yang mengikuti verba transitif atau yang melengkapi predikat verbal
transitif. Berdasarkan langsung tidaknya tujuan tindakan yang dimaksud oleh verba, objek dapat dibagi
menjadi dua: (1) objek langsung dan (2) objek tak langsung. Objek langsung tidak dapat didahului oleh
preposisi.
(12) Kami akan bertemu lagi dan akan membicarakan tentang soal itu.
(13) Guru itu sering memberi saya tugas.
(14) Guru itu menjanjikan sesuatu kepada saya.
Dalam kalimat (12) soal itu adalah objek langsung, dengan demikian penyisipan preposisi tentang tidak
dibenarkan. Jadi kalimat itu rancu dan tidak baku, dan dapat dibakukan dengan menghilangkan preposisi
tentang.
Dalam kalimat (13) saya adalah objek langsung, dan tugas merupakan objek tidak langsung
Sedangkan dalam kalimat (14) yang menjadi objek langsung ialah sesuatu, dan yang tidak langsung
adalah saya.

d)

Keterangan

Keterangan adalah bagian kalimat yang memberi kejelasan tentang kapan, di mana, dan bagaimana
peristiwa yang diutarakan dalam kalimat itu berlangsung.
(1)

Keterangan tempat:
(15) Pedagang itu menjajakan barangnya di kota.
(15a) Dia melamar pekerjaan di kantor tempat adiknya bekerja.

(2)

Keterangan waktu:
(16) Anaknya menulis surat itu kemarin.
(16a) Dia menulis surat itu ketika saya masuk ke kamarnya.

20

Rangkuman tata bahasa Indonesia

(3)

Keterangan sebab:
(17) Anaknya tidak masuk sekolah karena sakit.
(17a) Budiman tidak masuk sekolah karena ia sakit dan harus ke dokter.

(4)

Keterangan kecaraan:
(18) Ia membaca dengan tekun.
(18a) Ia membaca dengan suara keras dan nyaring.

(5)

Keterangan tujuan:
(19) Ia belajar tekun supaya lulus.
(19a) Ia belajar tekun supaya tahun depan ia dapat ikut cepat tepat.

(6)

Keterangan syarat:
(20) Pelajar itu diizinkan masuk kelas jika rapi.
(20a) Pelajar itu diizinkan masuk kelas jika bajunya sudah rapi.

2.

Pola kalimat

a)

Berdasarkan unsur fungsional

Pola kalimat ialah susunan fungsi gramatikal yang tepat untuk mewujudkan suatu kalimat. Dalam bahasa
Indonesia banyak pola yang mungkin disusun, antara lain sebagai berikut:
(1)

Subjek-Predikat (S-P)

(21) Dia membaca.
(22) Gadis berambut panjang itu tidak di sini lagi.
(2)

Subjek-Predikat-Objek (S-P-O)

(23) Dia membaca buku bahasalndonesia.
(24) Anwar mengembalikan buku saya.
(3)

Subjek-Predikat-Objek-Keterangan ( S-P-O-K)

(25) Anaknya meminjam kamus kemarin.
(26) Direktur itu menandatangani perjanjian tersebut dengan terpaksa
(4)

Predikat-Subjek ( P-S)

(27) Belum dikembalikan juga buku saya.
(28) Sedang tidur ayah.
(5)

Subjek-Predikat-Keterangan (S-P-K)

(29) Sekretarisnya sedang mengetik di ruang sebelah.
(30) Pelajar itu menyimak dengan penuh perhatian.
(6)

K-S-P-01-02-K

(31) Pada waktu itu dia menyerahkan bingkisan kepada pembantunya secara diam-diam.
(32) Karena hujan dan meminjami saya sebuah payung kemarin

21

Rangkuman tata bahasa Indonesia

b)

Berdasarkan kelas kata

Pola dasar kalimat mempersoalkan kelas kata (jenis kata) apa yang mendasari pembentukan kalimat inti.
Di sini kita melihat kelas kata apa yang menduduki jabatan subjek dan kelas kata apa pula yang
menduduki jabatan predikat. Berdasarkan kelas kata yang menduduki fungsi S-P, dapat ditentukan empat
pola dasar kalimat bahasa Indonesia.
(1)

Nomina + Nomina

(33) Paman saya pedagang.
(34) Itu rumah paman.
(2)

Nomina + Verba

(35) Paman Ateng melawak
(36) Iwan yang pandai itu pergi.
(3)

Nomina + Adjektiva

(37) Kelinci itu lucu sekali.
(38) Motor Honda Samsu rusak.
(4)

Nomina + Kata Tugas

(39) Ibu ke pasar.
(40) Kakek dari Sukabumi.
Pola dasar no.4 sebagaimana terlihat pada contoh kalimat di atas, seringkali tidak terterima sebagai
kalimat yang baik dan benar. Kalimat contoh tersebut akan diterima sebagai kalimat yang baik dan benar
apabila diubah menjadi sebagai berikut:

3.

Ibu pergi ke pasar.

Kakek berasal dari Sukabumi. (atau)

Kakek datang dari Sukabumi.

Ragam kalimat

Dengan sejumlah kosakata yang kita kuasai, kita dapat menyusun berbagai jenis kalimat sesuai dengan
pikiran, gagasan, atau perasaan yang ingin kita utarakan. Variasi bentuk atau jenis kalimat ini lazim
disebut ragam kalimat.
Kalimat dapat dibedakan berdasarkan bermacam-macam hal sebagai berikut.
1. Berdasarkan nilai informasi atau sasaran yang akan dicapai dan intonasi: (a) kalimat deklaratif,
(b) kalimat interogatif, (c) kalimat imperatif: suruhan, ajakan, permintaan, larangan.
2. Berdasarkan diatesis: (a) kalimat aktif (subjek melakukan perbuatan) dan (b) kalimat pasif
(subjek dikenai perbuatan).
3. Berdasarkan urutan kata: (a) kalimat normal (subjek mendahului predikat) dan (b) kalimat inversi
(predikat mendahului subjek).
4. Berdasarkan jumlah inti yang membentuknya: (a) kalimat minor (hanya mengandung satu inti)
dan (b) kalimat mayor (mengandung lebih dari satu inti).

22

Rangkuman tata bahasa Indonesia

5. Berdasarkan jenis kata yang menduduki posisi predikat: (a) kalimat verbal dan (b) kalimat
nominal.
6. Berdasarkan pola-pola dasar yang dimilikinya atau jumlah unsur pusat dan penjelasannya: (a)
kalimat inti dan (b) kalimat transformasi (perubahan dari kalimat inti).
7. Berdasarkan jumlah kontur (bagian arus ujaran yang diapit oleh dua kesenyapan) yang terdapat di
dalamnya: (a) kalimat minim (hanya mengandung satu kontur) dan (b) kalimat panjang
(mengandung lebih dari satu kontur).
a. Kalimat minim: # Pergi! #
b. Kalimat panjang: # Berita daerah membangun # disiarkan TVRI # setiap hari #
8. Berdasarkan jumlah klausa dan sifat hubungan antar klausa yang terkandung di dalamnya: (1)
kalimat tunggal (kalimat yang hanya mengandung satu klausa/satu pola S-P) dan (2) kalimat
majemuk (kalimat yang mengandung lebih dari satu klausa/lebih dari satu pola S-P).
Kalimat majemuk, berdasarkan hubungan antar klausanya: (a) kalimat majemuk setara: setara
menggabungkan, setara memilih, setara mempertentangkan, setara menguatkan, (b) kalimat
majemuk bertingkat, (c) kalimat majemuk rapatan.
9. Berdasarkan cara penyampaian pendapat atau ujaran orang ketiga: (1) kalimat langsung dan (2)
kalimat tak langsung.
10. Berdasarkan lengkap tidaknya unsur utama: (1) kalimat lengkap dan (2) kalimat elips.

a)

Kalimat deklaratif

Kalimat deklaratif, kalimat pernyataan, atau kalimat berita adalah kalimat yang mengandung informasi
tentang suatu hal untuk disampaikan kepada orang kedua agar yang bersangkutan memakluminya.
(41) Besok paman pergi ke Medan.
(42) Menyerah kepada takdir bukan berarti menyerah untuk kalah karena sesungguhnya manusia
ditakdirkan untuk menang.
(43) Kecemburuan pribumi terhadap nonpribumi, terutama golongan Cina, saya pikir hanya karena
perbedaan status sosial.

b)

Kalimat interogatif

Kalimat interogatif atau kalimat tanya ialah yang berisi permintaan agar orang kedua memberi
informasitentang sesualu.
(44) Dia pergi ke situ?
(45) Siapa menurut pendapatmu yang akan lulus?
(46) Hidup sederhana sudah sering dan sudah lama kita gembar-gemborkan. Tetapi hasilnya?
(47) Benarkah generasi muda sukar diajak maju? Ataukah sebaliknya generasi tua yang kurang mampu
menawarkan kesempatan?

c)

Kalimat imperatif

Kalimat imperatif atau kalimat perintah yaitu kalimat yang mengandung permintaan agar orang kedua
melakukan tindakan atau mengambil sikap tertentu sesuai dengan verba yang dimaksud. Contoh:

23

Rangkuman tata bahasa Indonesia

(48) Silakan dipahami kenyataan bahwa kaum tua-muda, wajib saling menghargai untuk saling
melengkapi.
(49) Sebagai kaum tua, Saudara harus ,sadar bahwa dalam diri kaum muda pun tersirat nilai-nilai dan
harapan yang jauh lebih sesuai dengan situasi baru serta dunianya sendiri.
(50) Sebaliknya kalian, kaum muda, harap mencari, bimbingan dan pegangan dari kaum tua yang lebih
berpengalaman, sebab kamu tak akan dapat bergerak meraba-raba dalam gelap menuju ide atau citacita.

d)

Kalimat aktif

Kalimat yang subjeknya dianggap melakukan tindakan seperti yang dimaksud oleh verbanya.
(86) Amat belajar.
(87) Kita dapat mengenal watak seseorang dengan jalan mengetahui dengan siapa saja dia bisa bergaul.
(88) Amsah sedang tidur.

e)

Kalimat pasif

Kalimat yang mengandung predikat verbal yang menunjukkan bahwa subjek menjadi tujuan dan sasaran
perbuatan yang dimaksud oleh verba tersebut. Contoh:
(89) Bukunya sadah diambil.
(90) Bingkisan tersebut sudah mereka kirim.
(91) Tidak lama setelah dibebaskan dari hukuman itu, dia ketahuan mencuri lagi.
(92) Akhirnya persoalan itu terselesaikan juga.

f)

Kalimat inversi (susun balik)

Kalimat yang predikatnya mendahului subjek. Contoh:
(83) Telah dibenahi kakak semua mainan adik.
(84) Sadarlah Andi bahwa mencintai orang lain sebagaimana mencintai diri sendiri adalah jalan terbaik
menuju bahagia.
(85) Dialah pencurinya.

g)

Kalimat minor

Kalimat yang hanya mengandung satu unsur pusat atau inti.
(93) Diam!
(94) Sangat bahagia.
(95) Silakan saja!
(96) Apa?

h)

Kalimat mayor

Kalimat yang mengandung lebih dari satu unsur pusat.

24

Rangkuman tata bahasa Indonesia

(97) Dia sudah berangkat
(98) Kasur kakak rusak
(99) Jika ingat melakukan kebajikan, lakukanlah sekarang; jika bermaksud berbuat kejahatan tundalah
hingga esok.

i)

Kalimat verbal

Kalimat yang predikatnya verba.
(51) Adik tidur.
(52) Dia tidak melamun, tetapi berpikir,
(53) Rasa hormat memang tidak selalu mendatangkan persahabatan, tetapi persahabatan selalu
menuntut adanya rasa hormat dan mustahil tanpa itu.

j)

Kalimat nominal

Kalimat yang predikatnya bukan verba.
(54) Nartosabdo dalang.
(55) Mereka murid-murid kebanggaan.
(56) Pelajar di sekolah ini hampir semuanya rajin dan disiplin
(57) Yang bersampul merah berada di meja kami.

k)

Kalimat inti

Kalimat yang terdiri dari dua unsur pusat atau inti. Contoh:
(58) Adik menangis.
Ciri-ciri kalimat inti:

l)

hanya terdiri atas dua kata

kedua kata itu sekaligus menjadi inti kalimat (kata pertama menduduki jabatan subjek, kata kedua
menduduki jabatan predikat)

urutannya adalah subjek mendahului predikat

intonasinya adalah intonasi berita yang netral

Kalimat transformasi

Kalimat inti yang mengalami pembalikan susunan (59), perubahan intonasi (60 dan 61), perluasan (62),
atau penegasian (63).
(59) Menangis adik.
(60) Adik menangis?
(61) Adik, menangis?
(62) Adik saya sedang menangis dikamar.
(63) Adik tidak menangis.

25

Rangkuman tata bahasa Indonesia

m)

Kalimat tunggal

Kalimat yang hanya mengandung satu klausa atau yang hanya mempunyai satu objek dan satu predikat.
(64) Kita perlu berkreasi.
(65) Mahasiswa itu mengadakan penelitian
(66) Kini mahasiswa itu sedang mengadakan penelitian tentang fluktuasi harga semen.

n)

Kalimat majemuk setara

Kalimat majemuk setara adalah kalimat yang mengandung dua pola klausa atau lebih yang hubungan
antarklausa bersifat setara. Hubungan setara itu dapat diperinci lagi atas:
(1)

Setara menggabungkan

Penggabungan ini dapat terjadi dengan merangkaikan dua kalimat tunggal dengan diantarai kesenyapan
antara atau dirangkaikan dengan kata-kata tugas seperti: dan, lagi, sesudah itu, karena itu
(67) Saya menangkap ayam itu, dan ibu memotongnya.
(68) Ayah memanjat pohon mangga itu, sesudah itu dipetiknya beberapa buah.
(2)

Setara memilih

Kata tugas yang dipakai untuk menyatakan hubungan ini adalah: atau.
(69) Engkau tinggal saja di sini, atau engkau ikut dengan membawa barang itu.
(3)

Setara mempertentangkan

Kata-kata tugas yang dipakai dalam hubungan ini adalah: tetapi, melainkan, hanya
(70) Adiknya rajin, tetapi ia sendiri malas .
(71) Ia tidak meniaga adiknya, melainkan membiarkannya saja.
(4)

Setara menguatkan

Kata tugas yang digunakan: bahkan. lagipula lagi.
(72) Anak ini pintar, bahkan budi pekertinya baik.

o)

Kalimat majemuk bertingkat

Kalimat yang sekurang-kurangnya terdiri atas dua klausa, sedangkan klausa yang satu menjadi bagian
klausa yang lain.
Klausa yang menjadi bagian klausa yang lain disebut klausa terikat atau anak kalimat, sedang klausa yang
memuat klausa terikat dinamakan klausa bebas.
(73) Saya tidak tahu kapan ayahnya kembali.
(74) Saya sendiri, yang sudah sedemikian dekat kepadanya,juga tidak tahu apa sebenamya yang dla
lnginkan sehingga tega berbuat semacam itu terhadap istrinya.

p)

Kalimat majemuk rapatan

Gabungan beberapa kalimat tunggal yang karena subjek atau predikatnya sama maka bagian yang sama
hanya disebutkan sekali.

26

Rangkuman tata bahasa Indonesia

(75a) Pekerjaannya hanya makan.
(75b) Pekerjaannya hanya tidur.
(75c) Pekerjaannya hanya merokok.
Semua kalimat tersebut kemudian dirapatkan menjadi:
(75d) Pekerjaannya hanya makan, tidur, dan merokok.
(76a) Mereka tidak perlu tahu kapan kita harus pergi.
(76b) Mereka tidak perlu tahu bagaimana kita harus pergi. Yang penting tugas itu harus terlaksana.
Kedua kalimat tersebut kemudian dirapatkan menjadi:
(76c) Mereka tidak perlu tahu kapan dan bagaimana kita harus pergi. Yang penting tugas itu harus
terlaksana.

q)

Kalimat langsung

Kalimat yang menyatakan pendapat orang ketiga dengan mengutip kata-katanya persis seperti waktu
dikatakannya.
(77) "Aku benar-benar mencintaimu.Aku ingin kau menjadi milikku" kata ibu kepada ayah.
(78) "Kontak batin antara lbu dan anak," katanya, "ialah rahmat Tuhan yang tak ternilai harganya."

r)

Kalimat tak langsung

Kebalikan kalimat langsung, yaitu yang menyatakan isi ujaran orang ketiga tanpa mengulang katakatanya secara tepat. Misalnya:
(79) Dia mengatakan bahwa kontak batin antara ibu dan anak adalah rahmat Tuhan yang tak ternilai
harganya.
(80) D. J Schwartz menegaskan bahwa, yang penting bukan kenapa kita tidak maju, tetapl bagaimana
kita harus maju.

s)

Kalimat elips

Disebut juga kalimat tidak sempurna atau kalimat tak lengkap, yaitu kalimat yang sebagian unsurnya
dihilangkan karena dianggap sudah jelas dari konteksnya.
(81) Ah, masa?
(82) Yah... mudah-mudahan saja!

t)

Kalimat pasif inversi

Kalimat pasif inversi adalah kalimat pasif dengan pola inversi. Kalimat pasif adalah kalimat berpredikat
verba yang subjeknya terkena perbuatan yang tersebut dalam predikat. Kalimat berpola inversi adalah
kalimat yang predikatnya mendahului subjek.
Contoh:
(1) Diambilnya uang itu dari dalam laci.
(2) Atas perhatiannya, saya ucapan terima kasih.

27

Rangkuman tata bahasa Indonesia

(3) Sudah saya baca buku itu.
(4) Mereka taburkan bunga di pusara ibu.
Untuk memahami contoh-contoh kalimat di atas, perhatikan langkah-langkah perubahan dari kalimat aktif
hingga menjadi kalimat pasif inversi di bawah ini!
1. Kalimat aktif: Ia mengambil uang itu dari dalam laci.
2. Diubah menjadi pasif: Uang itu diambil oleh ia dari dalam laci.
3. Disederhanakan (P dan O pelaku disatukan menjadi P): Uang itu diambilnya dari dalam laci.
4. Diinversikan: Diambilnya uang itu dari dalam laci.
Langkah perubahan lain:
1. Mereka menaburkan bunga di pusara ibu
2. Bunga ditaburkan oleh mereka di pusara ibu.
3. Bunga mereka taburkan di pusara ibu
4. Mereka taburkan bunga di pusara ibu.

4.

Kalimat baku

Kalimat baku (standar) dipergunakan apabila kita berbahasa baku. Adapun ciri-ciri kalimat baku adalah
sebagai berikut:
a. menggunakan kata-kata baku
b. menggunakan struktur baku (sesuai dengan kaidah morfologi dan sintaksis bahasa Indonesia)
c. dalam ragam tulis, menggunakan ejaan baku (sesuai dengan Pedoman Ejaan Bahasa Indonesia
yang Disempurnakan)
d. dalam ragam lisan, menggunakan lafal baku (lafal yang tidak mencerminkan logat asing atau
logat kedaerahan)
Contoh:
Siapa yang bikin rumah itu? (tidak baku)
Siapa yang membuat rumah ini? (baku)
Rumahnya Udin yang catnya kuning. (tidak baku)
Rumah Udin yang bercat kuning. (baku)
Mudah2an dia lekas dalang (tidak baku)
Mudah-mudahan dia lekas datang (baku)

5.

Keterangan aspek kala

Keterangan aspek kala adalah keterangan yang menandai waktu pelaksanaan pekerjaan/perbuatan/proses
yang tersebut pada predikat kalimat.
Keterangan aspek kala posisinya selalu di depan predikat kalimat. Kata-kata yang merupakan keterangan
aspek kala adalah sudah, telah, sedang, belum, dan akan
Contoh:

28

Rangkuman tata bahasa Indonesia

(1) Ani sedang membaca buku.
keterangan aspek kontinuatif, menyatakan pekerjaan tengah berlangsung
(2) Ani akan membaca buku.
keterangan aspek futuratif, menyatakan pekerjaan akan berlangsung
(3) Ani telah membaca buku.
keterangan aspek perfektif, menyatakan pekerjaan sudah berlangsung.
Pada kalimat pasif inversi, keterangan aspek kala posisinya sama dengan posisi pada kalimat aktif dan
kalimat pasif biasa, yaitu di depan predikat.
Perhatikan contoh berikut!
(1) Rudi telah membaca kitab itu hingga tamat.
(2) Kitab itu telah dibaca oleh Rudi hingga tamat.
(3) Kitab itu telah Rudi baca hingga tamat.
(4) Telah Rudi baca kitab itu hingga tamat.
(5) Rudi telah baca kitab itu hingga tamat.
Letak kata telah pada kalimat (1), (2), (3), dan (4) benar, sedangkan pada kalimat (5) salah. Dengan
demikian kalimat (5) adalah kalimat yang mengalami kesalahan struktural.

6.

Gagasan utama kalimat

Gagasan utama atau pikiran pokok kalimat adalah amanat/informasi yang terpenting yang terkandung
dalam sebuah kalimat. Gagasan utama kalimat dinyatakan dengan pola S-P atau pola S-P-O.
Gagasan utama dinyatakan dengan pola S-P dalam kalimat nominal dan kalimat verbal intransitif.
Sedangkan pada kalimat verbal transitif, gagasan utama dapat dinyatakan dengan pola S-P-O atau S-P
saja.
Contoh:
(1) Amir sedang membaca buku di dalam kamar.
GU: Amir membaca.
(2) Kemarin Ida mengantarkan surat ke rumahku.
GU: Ida mengantarkan surat.
(3) Ayah Anita adalah seorang perwira menengah.
GU: Ayah perwira.
(4) Ketty sedang duduk di ruang tamu
GU: Ketty duduk.

a)

Majemuk setara

Pada kalimat majemuk setara terdapat lebih dari satu gagasan yang kedudukannya sederajat. Jadi, dalam
kalimat majemuk setara, terdapat lebih dari satu gagasan utama.
Contoh:

29

Rangkuman tata bahasa Indonesia

(1) Eko makan sate, Andi makan asinan.
GU: (1) Eko makan, (2) Andi makan.
(2) Ali sedang belajar, sedangkan Abas sedang tidur.
GU: (1) Ali belajar, (2) Abas tidur.

b)

Majemuk bertingkat

Kalimat majemuk bertingkat pada dasarnya adalah kalimat tunggal yang salah satu fungsinya diperluas
dan perluasannya itu membentuk sebuah pola klausa.
Di dalam kalimat majemuk bertingkat terdapat klausa utama (klausa bebas) dan klausa terikat. Dengan
demikian, dalam kalimat majemuk bertingkat terdapat gagasan utama dan gagasan bawahan (gagasan
penjelas). Namun demikian, perlu diperhatikan bahwa gagasan utama tidak selamanya berada pada klausa
utama. Perhatikan keterangan berikut dengan baik.
(a) Apabila anak kalimat merupakan perluasan fungsi keterangan, gagasan utama terdapat pada
klausa utama yang merupakan induk kalimat.
Contoh:
(1) Ketika ayah pergi, ibu kesepian di rumah.
GU: lbu kesepian.
(2) Wati menyirami tanaman itu setiap hari supaya buahnya lebat.
GU: Wati menyirami tanaman.
(3) Aminah bahagia karena suaminya naik pangkat.
GU: Aminah bahagia.
(b) Apabila anak kalimat merupakan perluasan fungsi objek (anak kalimat merupakan objek dari
predikat verba transitif), gagasan utama terdapat pada anak kalimat.
Contoh:
(1) Presiden mengatakan bahwa pembangunan harus dilanjutkan.
GU: Pembangunan harus dilanjutkan.
(2) Mat Kemplo menceritakan bahwa kakeknya jatuh dari ayunan.
GU: Kakeknya jatuh.
(c) Apabila anak kalimat merupakan pelengkap, gagasan utama terdapat pada induk kalimat.
Contoh:
(1) Saya berharap hal itu tidak akan terjadi.
GU: Saya berharap.
(2) Mereka lupa bahwa mereka harus melunasi pinjamannya pada akhir bulan ini
GU: Mereka lupa.

30

Rangkuman tata bahasa Indonesia

V.

Semantik

Bagian tata bahasa atau linguistik yang mempelajari arti kata ialah semantik. Sedangkan arti atau makna
ialah hubungan abstrak antara kata sebagai simbol dengan objek atau konsep yang ditunjuk atau diwakili.

A.

Jenis makna

Ada beberapa arti dan hubungan arti kata. Di antaranya ialah:

1.

Arti leksikal

Arti kata (leksem) sebagai satuan yang bebas. Arti ini umumnya dianggap sejajar dengan arti denotatif.
Biasa pula dianggap sebagai arti menurut kamus (leksikon).

2.

Arti gramatikal

Arti yang timbul setelah suatu bentuk ujaran mengalami proses ketatabahasaan. Arti ini juga disebut anti
struktural. Misainya prefiks pe- lazim dianggap mempunyai arti gramatikal ‘alat untuk melakukan
sesuatu, atau pelaku perbuatan tertentu’.

3.

Arti denotatif

Disebut juga arti harfiah, arti lugas, arti sebenarnya, arti tersurat, yaitu arti yang didasarkan penunjukan
secara langsung pada objek atau konsep yang dimaksud. Kata bunga dalam kalimat berikut mengandung
arti denotatif .

Bunga melati harum baunya.

Untuk ulang tahunnya, saya mengirimi bunga waktu itu.

4.

Arti konotatif

Sama dengan arti kias atau arti tersirat, yaitu arti yang didasarkan pada penunjukkan secara tidak
langsung. Kata bunga dalam kalimat berikut digunakan menurut arti konotatifnya.

Yuniar adalah bunga di kelas itu.

Generasi muda adalah bunga bangsa yang harus dibina.

5.

Arti idomatik

Arti yang timbul karena dua kata bersenyawa membentuk satu kesatuan dengan makna baru, dan makna
barunya itu tidak dapat ditelusuri dan unsur pembentuknya. Contoh:

Sehubungan dengan kasus itu, dia akan dihadapkan ke meja hijau.

Jalan itu terlalu banyak polisi tidurnya.

Meja hijau = pengadilan, dan polisi tidur = tanggul penghambat, agar pengendara mengurangi
kecepatannya.

31

Rangkuman tata bahasa Indonesia

B.

Hubungan makna

Sebuah kata mempunyai hubungan arti dengan kata yang lain. Ada kata yang artinya sama dengan kata
yang lain, artinya berlawanan dengan kata yang lain, atau artinya dicakup oleh kata yang lain. Berikut ini
adalah macam-macam hubungan arti.

1.

Sinonim

Dua kata atau lebih yang mempunyai arti sama atau hampir sama. Misalnya:

kitab bersinonim dengan buku,

orang dengan manusia,

gadungan dengan palsu,

evakuasi dengan ungsi,

lestari dengan abadi,

dampak dengan pengaruh,

kendala dengan hambatan,

efektif dengan hasil guna,

efisien dengan daya guna, serta

devaluasi dengan penurunan nilai.

Sinonim yang hampir sama menyebabkan nuansa makna (perbedaan yang sangat halus). Misalnya: bulatbundar, menyongsong-menyambut.
Sinonim yang hampir sama juga menyebabkan nilai rasa yang berbeda. Misalnya: karyawan, pegawai,
buruh.

2.

Antonim

Dua kata atau lebih yang artinya berlawanan. Misalnya:

3.

wanita dengan lelaki,

hidup dengan mati,

lebar dengan sempit, serta

efisien dengan boros.

Hiponim

Kata-kata yang artinya dicakup oleh arti kata yang lain.
Misalnya: arti kata melati, mawar, famboyan, anggrek dicakup oleh arti kata bunga. Di sini, melati adalah
hiponim dari bunga, sedang bunga adalah hiperonim dari kata melati.
Jadi hiperonim adalah kata yang mencakup kata yang lain. Kohiponim adalah hubungan yang sejajar,
misalnya apel dengan anggur, kucing dengan harimau, merah dengan putih.

32

Rangkuman tata bahasa Indonesia

4.

Polisemi

Kata-kata yang artinya berkaitan. Misalnya: kaki orang, kaki gunung, kaki langit, kaki bukit.

C.

Hubungan bentuk

Dalam realitas bahasa dapat ditemukan kesamaan bentuk antara kata yang satu dengan kata yang lain,
Kesamaan itu dapat berupa kesamaan tulisan, kesamaan ucapan, atau kesamaan ucapan dan tulisan
sekaligus.

1.

Homonim

Dua kata atau lebih yang tulisan dan bunyinya sama sedang artinya berbeda. Misalnya bisa ‘dapat’, bisa
‘racun’, beruang yang berarti ‘mempunyai uang’, ‘mempunyai ruang’, dan yang mengandung makna
‘nama binatang’, serta kopi yang berarti ‘sejenis minuman’ dan yang bermakna ‘salinan’.

2.

Homofon

Sejenis homonim, tetapi hanya bunyinya saja yang sama, sedang tulisan dan artinya berbeda. Contoh:
massa dengan masa, tang dengan tank, bang dengan bank, sangsi dengan sanksi, keranjang dengan ke
ranjang, dll. Seperti kita lihat, homofon yang sama hanya bunyinya.

3.

Homograf

Sejenis homonim, tetapi yang sama hanya tulisannya, sedang bunyi dan arti berbeda. Misalnya, serang
yang berarti ‘menyerbu’ dan serang yang nama sebuah kota; teras yang bermakna ‘bagian depan rumah’
dan teras yang berarti inti.

D.

Perubahan makna

Arti suatu kata dapat berubah oleh beberapa penyebab, antara lain: perubahan nilai rasa, perubahan
cakupan makna, perubahan tanggapan antara dua indera, dan perubahan makna karena persamaan sifat.

1.

Peyorasi

Perubahan nilai rasa menjadi lebih rendah dari yang sebelumnya. Arti kata dianggap mengalami peyorasi
jika nilainya merosot, misalnya, dari yang semula bernilai hormat, menjadi hina, disukai menjadi tidak
atau kurang disukai, dll. Misalnya, kata abang, perempuan, bini, gerombolam, betina, emak, eksekusi, dll.
Dahulu kata abang mempunyai arti yang sejajar dengan kata kakak. Karena, terlalu sering digunakan
untuk menunjuk orang-orang dari lapisan sosial bawah, seperti abang becak, abang bakso, dll, kemudian
orang dari lapisan sosial tertentu tidak suka jika disapa dengan kata abang. Dengan demikian nilai kata
tersebut menjadi merosot.

2.

Ameliorasi

Perubahan nilai rasa menjadi lebih tinggi, lebih hormat, dan lebih disukai. Misalnya perubahan arti kata
istri, wanita, suami, kakak, putra, dll.

33

Rangkuman tata bahasa Indonesia

3.

Perluasan arti

Perubahan arti kata yang semula cakupan maknanya lebih sempit dari yang sekarang. Misalnya perubahan
arti pada kata saudara, bapak, ibu, berlayar, kereta api, dll.

4.

Penyempitan arti

Perubahan arti dari yang semula cakupan maknanya luas kini menjadi lebih sempit. Misalnya perubahan
arti pada, kata ulama, pendeta, sarjana, pena, lafal, golongan, dan perkosa.

5.

Sinestesia

Perubahan arti karena adanya pertukaran tanggapan dua indera yang berbeda, misalnya kata keras,
lembut, manis, dalam ungkapan kata-katanya pedas, suaranya keras, gerak tubuhnya lembut, wajahnya
manis. Kata manis yang seharusnya berhubungan dengan indra pengecap di sini diterapkan pada indra
penglihatan atau visual.

6.

Asosiasi

Perubahan arti karena adanya persamaan sifat atau hubungan makna secara tidak langsung. Misalnya kata
amplop dihubungkan dengan sesuatu yang dimasukkan di dalamnya, yang biasanya berupa uang untuk
melicinkan persoalan. Misalnya, dalam ungkapan berikut: agar persoalan itu lekas beres, beri saja dia
amplop. Begitu juga kata catut yang dihubungkan dengan arti kata korupsi.
Catatan:
Yang dimaksud dengan nilai rasa suku kata ialah kesan baik buruk, positif negatif kata tersebut. Misalnya
kata tolol yang mengandung nilai rasa penghinaan, dan angka tiga belas dianggap mempunyai nilai rasa
kesialan

E.

Etimologi

Asal-usul bentuk kata dipelajari oleh etimologi. Pernyataan tersebut menyiratkan bahwa kata memiliki
sejarah, mempunyai asal-usul. Dia lahir, tumbuh, dan berkembang. Ada yang hidup terus dipakai orang,
dan sebaliknya ada yang begitu lahir, langsung menghilang.
Kata-kata, seperti manusia, mempunyai sejarah dan mengalami perubahan, baik bentuk maupun isinya,
baik bunyi maupun artinya. Kita ambil sebagai contoh, misalnya, kata iklan. Kata ini berasal dari bahasa
Arab i’lam, bentuk verba imperatif yang berani ‘ketahuilah!’ .Sekarang sinonim dengan advertensi.
Dalam komunikasi sehari-hari kita sering memakai kata harta dan arti.Siapa mengira kedua kata ini
ternyata memiliki sejarah kelahiran yang sama, berasal dari akar yang sama. Dan keduanya mempunyai
hubungan erat dengan kata permata. Baik arti maupun harta berasal dari kata Sanskerta artha ‘arti atau
guna’. Harta adalah ‘sesuatu yang sangat berarti atau berguna’ Kata parama juga mempunyai arti yang
sama, yakni parama ‘utama’ dan artha. Jadi secara etimologis kata itu bermakna ‘arti atau guna yang
utama’. Dan sekarang? Apa maknanya?
Dalam bagian ini kita tidak akan menelusuri asal-usul setiap kata, tetapi kita hanya mencoba untuk
memahami konsep-konsep yang menandai perubahan bentuk kata atau proses pembentukan kata, yang
lazim kita sebut gejala bahasa.

34

Rangkuman tata bahasa Indonesia

F.

Gejala bahasa

Gejala bahasa atau peristiwa bahasa itu di antaranya ialah:
No

Gejala

Pengertian

Contoh

1

Adaptasi

Penyesuaian bentuk
berdasarkan kaidah
fonologis, kaidah
ortografis, atau kaidah
morfologis

vyaya menjadi biaya
pajeg menjadi pajak
voorloper menjadi pelopor
fardhu menjadi perlu
igreja menjadi gereja
voorschot menjadi persekot
coup d’etat menjadi kudeta
postcard menjadi kartu pos
certificate of deposit menjadi sertifikat deposito
mass production menjadi produksi massal

2

Analogi

Pembentukan kata
berdasarkan contoh yang
telah ada.

Berdasarkan kata ‘dewa-dewi’ dibentuk kata:
putra-putri, siswa-siswi, saudara-saudari,
pramugara-pramugari
Berdasarkan kata ‘industrialisasi’ dibentuk kata:
hutanisasi, Indonesianisasi
Berdasarkan kata ‘pramugari’ dibentuk kata:
pramuniaga, pramuwisata, pramuria, pramusaji,
pramusiwi
Berdasarkan kata ‘swadesi’ dibentuk kata:
swadaya, swasembada, swakarya, swasta,
swalayan
Berdasarkan kata ‘tuna netra’ dibentuk kata: tuna
wicara, tuna rungu, tuna aksara, tuna wisma, tuna
karya, tuna susila, tuna busana.

3

Anaptiksis
(Suara Bakti)

Penyisipan vokal e pepet
untuk melancarkan ucapan.

sloka menjadi seloka
srigala menjadi serigala
negri menjadi negeri
ksatria menjadi kesatria

35

Rangkuman tata bahasa Indonesia

No

Gejala

Pengertian

Contoh

4

Asimilasi

Proses perubahan bentuk
kata karena dua fonem
berbeda disamakan atau
dijadikan hampir sama.

in-moral menjadi immoral
in-perfect menjadi imperfek
al-salam menjadi asalam
ad-similatio menjadi asimilasi
in-relevan menjadi irelevan

5

6

7

8

Disimilasi

Kebalikan dari asimilasi,
yaitu perubahan bentuk
kata yang terjadi karena
dua fonem yang sama
dijadikan berbeda.

saj jana menjadi sarjana
sayur-sayur menjadi sayur-mayur

Monoftongisasi Perubahan bentuk kata
yang terjadi karena
perubahan diftong (vokal
rangkap) menjadi
monoftong (vokal tunggal)

autonomi menjadi otonomi

Diftongisasi

Perubahan bentuk kata
yang terjadi karena
monoftong diubah menjadi
diftong. Jadi kebalikan
monoftongisasi.

sentosa menjadi sentausa

Perubahan bentuk kata
yang terjadi karena
peleburan dua buah vokal
yang berdampingan,
dengan akibat jumlah suku
kata berkurang satu.

keratuan menjadi keraton

Sandi
(Persandian)

autobtografi menjadi otobiografi
satai menjadi sate
gulai menjadi gule

cuke menjadi cukai
pande menjadi pandai
gawe menjadi gawai

kedatuan menjadi kedaton
sajian menjadi sajen
durian menjadi duren

36

Rangkuman tata bahasa Indonesia

No

Gejala

Pengertian

Contoh

9

Hiperkorek

Pembetulan bentuk kata
yang sebenarnya sudah
betul, sehingga hasilnya
justru salah.

Sabtu menjadi Saptu
jadwal menjadi jadual
manajemen menjadi menejemen
asas menjadi azas
surga menjadi sorga
Teladan menjadi tauladan
izin menjadi ijin
Jumat menjadi Jum’at
kualifikasi menjadi kwalifikasi
frekuensi menjadi frekwensi
kuantitas menjadi kwantitas
November menjadi Nopember
kuitansi menjadi kwitansi
mengubah menjadi merubah
februari menjadi Pebruari
persen menjadi prosen
pelaris menjadi penglaris
system menjadi sistim
teknik menjadi tehnik
apotek menjadi apotik
telepon menjadi telfon
ijazah menjadi ijasah
atlet menjadi atlit
nasihat menjadi nasehat
biaya menjadi beaya
perusak menjadi pengrusak
zaman menjadi zaman
koordinasi menjadi kordinasi

10

Kontaminasi
(kerancuan)

Kekacauan karena dua
pengertian yang berbeda,
atau perpaduan dua buah
struktur yang seharusnya
tidak dipadukan.

berulang-ulang dan berkali-kali menjadi
berulang-kali
saudara-saudara dan saudara sekalian menjadi
saudara-saudara sekalian
musnah dan punah menjadi musnah

37

Rangkuman tata bahasa Indonesia

No

Gejala

Pengertian

Contoh

11

Metatesis

Pergeseran kedudukan
fonem, atau perubahan
bentuk kata karena dua
fonem atau lebih dalam
suatu kata bergeser
tempatnya.

rontal menjadi lontar
anteng menjadi tenang
usap menjadi sapu
palsu menjadi sulap
keluk menjadi lekuk

12

Protesis

Perubahan fonem di depan
bentuk kata asal.

lang menjadi elang
mak menjadi emak
mas menjadi emas
undur menjadi mundur
stri menjadi istri
arta menjadi harta
alangan menjadi halangan
sa menjadi esa
atus menjadi ratus
eram menjadi peram

13

Epentesis

Perubahan bentuk kata
yang terjadi karena
penyisipan fonem ke dalam
kata asal

baya menjadi bahaya
bhayankara menjadi bhayangkara
gopala menjadi gembala
jur menjadi jemur
bhasa menjadi bahasa.

14

Paragog

Perubahan bentuk kata
karena penambahan fonem
di bagian akhir kata asal.

mama, bapa menjadi mamak dan bapak
pen menjadi pena
datu menjadi datuk
hulu bala menjadi hulubalang
boek menjadi buku
abad menjadi abadi
pati menjadi patih
bank menjadi bangku
gaja menjadi gajah
conto menjadi contoh.

38

Rangkuman tata bahasa Indonesia

No

Gejala

Pengertian

Contoh

15

Aferesis

Penghilangan fonem di
awal bentuk asal.

adhyaksa menjadi jaksa
empunya menjadi punya
sampuh menjadi ampuh
wujud menjadi ujud
bapak menjadi pak
ibu menjadi bu.

16

Sinkop

Penghilangan fonem di
tengah atau di dalam kata
asal.

laghu menjadi lagu
vidyadhari menjadi bidadari
pelihara menjadi piara
mangkin menjadi makin
niyata menjadi nyata
utpatti menjadi upeti.

17

Apokop

Penghilangan fonem di
akhir bentuk kata asal.

sikut menjadi siku
riang menjadi ria
balik menjadi bali
anugraha menjadi anugerah
pelangit menjadi pelangi.

18

Kontraksi

Pemendekan atau
penyingkatan suatu frasa
menjadi kata baru.

tidak ada menjadi tiada
kamu sekalian menjadi kalian
kelam harian menjadi kemarin
bagai itu menjadi begitu
bagai ini menjadi begini.
Akronim, seperti balita, siskamling, rudal, ampera,
pada dasarnya termasuk gejala kontraksi.

19

Nasalisasi
(penyengauan)

Penambahan bunyi sengau
atau fonem nasal, yaim /m/,
/n/, /ng/, den /ny/.

me baca menjadi membaca
pe duduk menjadi penduduk
pe garis menjadi penggaris.

20

Palatalisasi

Penambahan fonem palatal
/y/ pada suatu kata ketika
kata ini dilafalkan.

pada kata ia, dia. pria, panitia, ksatria, bersedia,
yang masing-masing dilafalkan /iya/, /priya/,
/diya/. /panitiya/, dan /bersediya/. jadi palatalisasi
muncul di antara vokal /i/ dan /a/ yang digunakan
berdampingan.

39

Rangkuman tata bahasa Indonesia

No

Gejala

Pengertian

Contoh

21

Labialisasi

Penambahan fonem labial
/w/ di antara vokal /u/ dan
/a/ yang berdampingan
pads sebuah kata.

pada kata uang, buang, ruang, juang, kualitas, dan
lain-lain. Selain itu, labialisasi juga muncul di
antara vokal /u/ dan/e/. atau /u/ dan /i/ seperti pada
kata frekuensi dan kuitansi. Pada waktu kita
lafalkan kata-kata itu, terasa sekali, bahwa di
antara vokal-vokat tersebut timbul fonem labial
/w/, misalnya uang kita lafalkan /uwang/,

22

Onomatope

Pembentukan kata
berdasarkan tiruan bunyibunyi.

hura-hura dari hore-hore.
aum (suara harimau)
meong (suara kucing)
embik (suara kambing)
desis (suara ular)
desah (suara napas)
ketuk (bunyi pintu atau meja dipukul dengan jari
atau palu)

23

Haplologi

Perubahan bentuk kata
yang berupa penghilangan
satu suku kata di tengahtengah kata.

samanantara menjadi sementara
mahardhika menjadi merdeka
budhidaya menjadi budaya

VI. Kesusastraan
Secara morfologis kata kesusastraan, yang lebih sering hanya disebut sastra, dapat diuraikan atas konfiks
ke-an yang berarti ‘semua yang berkaitan dengan’, prefiks su ‘baik, indah, berguna’, dan bentuk dasar
sastra yang berarti ‘kata, tulisan, ilmu’. Jadi, menurut uraian tersebut, kesusastraan adalah semua yang
berkaitan dengan tulisan yang indah. Sedang menurut arti istilah, kesusastraan atau sastra ialah cabang
seni yang menggunakan bahasa sebagai medium.
Umumnya dikatakan bahwa keindahan atau nilai estetis suatu cipta sastra timbul karena adanya
keserasian, kesepadanan, atau keharmonisan antara isi (= topik, amanat) dengan bentuk (= cara
pengungkapan isi). Keindahan inilah yang kemudian merebut perhatian pembaca, dan menarik mereka ke
dalam penghayatan terhadap cipta sastra tersebut. Adanya nilai keindahan itulah yang membangkitkan
perasaan hati, sedih, gembira, puas atau sebaliknya kecewa di dalam batin pembaca.

A.

Sejarah

Yang dimaksud dengan sejarah kesusastraan di sini ialah keterangan yang membeberkan perkembangan
kesusastraan dari mulai timbulnya sampai sekarang.
Kesusastraan Indonesia dapat dikatakan berawal dari jenis sastra lisan yang disampaikan secara leluri
atau dari mulut ke mulut. Sumber karya sastra Indonesia tertua berbentuk tambo karya Tuno Muhamad
Sri Lanang, yaitu Sejarah Melayu (1615).

40

Rangkuman tata bahasa Indonesia

Penulisan sastra kemudian dikembangkan oleh pelopor masa peralihan, yaitu Abdullah bin Abdulkadir
Munsi, yaim pada tahun 1797. Setelah itu muncul Angkatan Balai Pustaka (1920-an), Angkatan Pujangga
Baru (1930-an), Angkatan 45, Angkatan 50, Angkatan 66, dan sampai sekarang.
Pembagian kesusastraan menurut perkembangan zaman di Indonesia yang juga disebut Periodisasi
Kesusastraan Indonesia adalah sebagai berikut:
1) Kesusastraan Lama:
a) masa Purba.
b) masa Hindu-Arab.
2) Kesusastraan Peralihan:
a) masa Abdullah bin Abdulkadir Munsi.
b) masa Balai Pustaka (1920-an )
3) Kesusastraan Baru:
a) masa Angkatan Pujangga Baru.
b) masa Angkatan 45.
c) masa Angkatan 50.
d) masa Angkatan 66.

B.

Ragam

Ragam karya sastra secara garis besar ada dua, yaitu: (1) prosa, karangan yang tidak terikat dan
menonjolkan isi dan keindahan bahasanya; (2) puisi, karya sastra yang terikat oleh rima, irama, dan bait.

1.

Prosa

a)

Prosa lama

Prosa lama cenderung bersifat imajinatif, istanasentris, didaktif, anonim, dan bentuk serta isinya statis,
sedangkan prosa baru bersifar realistis (melukiskan kenyataan sehari-hari), dinamis atau mengalami
perubahan terus-menerus sesuai dengan pembahan masa, dan tidak anonim.
Yang termasuk prosa lama ialah:
(1)

Dongeng

Semata-mata berdasarkan khayal dan disampaikan secara lisan. Dibedakan lagi atas:
1) Fabel (dongeng tentang binatang). Contoh: Kancil Yang Cerdik, Bayan Budiman.
2) Legenda (dongeng yang isinya dikaitkan dengan keunikan atau keajaiban alam). Contoh: Asal-usul
Kota Banyuwangi, Sangkuriang.
3) Sage (dongeng yang mengandung unsur-unsur sejarah). Contoh: Damarwulan, Terjadinya Kota
Majapahit.
4) Mite (dongeng tentang dewan-dewa atau makhluk lain yang diauggap mempunyai sifat kedewaan,
dan sakral). Contoh: Cerita Gerhana, Nyi Loro Kidul, Hikayat Sang Boma, Illias, Odyssee.
5) Epos (wiracarita/dongeng kepahlawanan). Contoh: Ramayana, Mahabarata.

41

Rangkuman tata bahasa Indonesia

6) Dongeng jenaka (dongeng yang menceritakan kebodohan atau perilaku seseorang yang penuh
kejenakaan atau lelucon). Contoh: Pak Pandir, Pak Belalang, Si Lebai Malang, Abu Nawas.
(2)

Hikayat

Isinya mengenai kejadian-kejadian di lingkungan istana, tentang keluarga raja. Contoh: Hikayat Hang
Tuah, Hikayat Si Miskin, Hikayat Panca Tantra, Hikayat Panji Semirang, Hikayat Dalang Indra Kusuma,
Hikayat Amir Hamzah.
(3)

Silsilah atau tambo

Semacam sejarah, tetapi isinya sudah bercampur dengan khayalan sehingga banyak cerita yang tidak
tercerna oleh pikiran sehat. Contoh: Sejarah Melayu, Hikayat Raja-raja Pasai, Sejarah Melayu-Bugis.

b)

Prosa baru

Yang tergolong prosa baru adalah roman, novel, cerpen, biografi, drama, kritik, dan esai.
(1)

Roman

Bentuk prosa baru yang mengisahkan kehidupan pelaku utamanya dengan segala suka dukanya. Dalam
roman, pelaku utamanya sering diceritakan mulai dari masa kanak-kanak sampai dewasa atau meninggal
dunia. Berdasarkan kandungan isinya, roman dibedakan atas beberapa macam, antara lain sebagai berikut:
(a)

Roman bertendens

Roman yang di dalamnya terselip maksud tertentu, atau yang mengandung pandangan hidup yang dapat
dipetik oleh pembaca untuk kebaikan. Contoh: Layar Terkembang (Sutan Takdir Alisyahbana), Salah
Asuhan (Abdul Muis), Darah Muda (Adinegoro).
(b)

Roman sosial

Roman yang memberikan gambaran tentang keadaan masyarakat. Biasanya yang dilukiskan mengenai
keburukan-keburukan masyarakat yang bersangkutan. Contoh: Sengsara Membawa Nikmat (Tulis St.
Sati), Neraka Dunia (Adinegoro).
(c)

Roman sejarah

Roman yang isinya dijalin berdasarkan fakta historis, peristiwa-peristiwa sejarah, atau kehidupan seorang
tokoh dalam sejarah. Contoh: Hulubalang Raja (Nur St. Iskandar), Tambera (Utuy Tatang Sontani),
Surapati (Abdul Muis).
(d)

Roman psikologis

Roman yang lebih menekankan gambaran kejiwaan yang mendasari segala tindak dan perilaku tokoh
utamanya. Contoh: Atheis (Achdiat Kartamiharja), Katak Hendak Menjadi Lembu (Nur St. Iskandar),
Belenggu (Armijn Pane).
(e)

Roman detektif,

Roman yang isinya berkaitan dengan kriminalitas. Dalam roman ini yang sering menjadi pelaku utamanya
seorang agen polisi yang tugasnya membongkar berbagai kasus kejahatan. Contoh: Mencari Pencuri
Anak Perawan (Suman HS), Percobaan Seria (Suman HS), Kasih Tak Terlerai (Suman HS).
(2)

Novel

Berasal dari bahasa Italia novella ‘berita’. Bentuk prosa baru yang melukiskan sebagian kehidupan pelaku
utamanya yang terpenting, paling menarik, dan yang mengandung konflik. Konflik atau pergulatan jiwa
tersebut mengakibatkan perubahan nasib pelaku. Jika roman condong pada idealisme, novel pada
realisme. Biasanya novel lebih pendek daripada roman dan lebih panjang dari cerpen. Contoh: Ave Maria

42

Rangkuman tata bahasa Indonesia

(Idrus), Keluarga Gerilya (Pramoedya Ananta Toer), Perburuan (Pramoedya Ananta Toer), Ziarah
(Iwan Simatupang), Surabaya (Idrus).
(3)

Cerpen

Cerpen Bentuk prosa baru yang menceritakan sebagian kecil dari kehidupan pelakunya yang terpenting
dan paling menarik. Di dalam cerpen boleh ada konflik atau pertikaian, akan tetapi hal itu tidak
menyebabkan perubahan nasib pelakunya. Contoh: Radio Masyarakat (Rosihan Anwar), Bola Lampu
(Asrul Sani), Teman Duduk (Moh. Kosim), Wajah yang Bembah (Trisno Sumarjo), Robohnya Surau Kami
(A.A. Navis).
(4)

Biografi

Bentuk prosa yang menceritakan riwayat hidup seseorang. Biografi yang menceritakan kehidupan
pengarangnya sendiri disebut autobiografi. Contoh: Hikayat Abdullah (Abdullah bin Abdul kadir Munsi),
Pengalaman Masa Kecil (Nur St Iskandar).
(5)

Drama

Drama (bahasa Yunani: drama ‘tindakan, perbuatan’) adalah karya sastra yang ditulis untuk
dipanggungkan, dan bercorak dramatik. Sebuah drama terbagi atas beberapa bagian yang disebut babak
dan babak dibagi atas beberapa adegan. Diawali oleh prolog, yaitu kata pendahuluan yang menarik
perhatian penonton ke dalam suasana yang dikehendaki, dan diakhiri oleh epilog, yakni kata-kata yang
mengandung iktisar seluruh cerita. Sedang percakapan antara dua pelaku disebut dialog. Contoh: Nyai
Dasimah (Rustandi), Bebasari (Rustam Effendi), Kertajaya (Sanusi Pane), Lukisan Masa (Armijn Pane),
Manusia Baru (Sanusi Pane), Sandyangkalaning Majapahit (Sanusi Pane), Ken Arok Ken Dedes
(Mohamad Yamin), Sedih dan Gembira (Usmar Ismail), Taufan Atas Asia (El Hakim), Bulan Bujur
Sangkar (Iwan Simatupang).

2.

Puisi

a)

Puisi lama

Puisi ini merupakan bentuk karya sastra yang terikat oleh jumlah bait, jumlah larik tiap bait, jumlah silaba
tiap larik, dan rima.
Mantra dan pantun adalah bentuk puisi lama asli Indonesia; sedangkan syair berasal dari Arab, dan
gurindam berasal dari Tamil atau India.
(1)

Mantra

Merupakan salah satu bentuk puisi asli Indonesia terdiri atas beberapa bait dengan rangkaian kata yang
benilai ritmis. Bahasa mantra dianggap mengandung kekuatan magis, oleh karenanya tidak semua orang
dizinkan membacanya kecuali ahlinya, yaitu pawang.
Pasu jantan, pasu rencana
Tutup pasu, penolak pasu
Kau menantang pada aku
Terjantang mataku
Jantungku sudah kugantung
Hati kau sudah kurantai
Sipulut namanya usar
Berderailah daun selasih
43

Rangkuman tata bahasa Indonesia

Aku tutup hati yang besar
Aku gantung lidah yang fasik
Jantungku sudah kugantung
Hatiku sudah kurantai
Rantai Allah, rantai Muhammad
Rantai Baginda Rasulallah
(2)

Pantun

Bentuk puisi asli Indonesia yang biasanya tiap bait terdiri atas empat baris yang dibagi atas dua baris
pertama mempakan sampiran, dan dua baris berikutnya merupakan isi. Rimanya adalah a b a b.
Berburu ke padang datar
mendapat rusa belang kaki
Berguru kepalang ajar
bagai bunga kembang tak jadi
(a)

Karmina atau pantun kilat (Pantun 2 larik; I sampiran dan 1 isi)

Sudah gaharu cendana pula
Sudah tahu bertanya pula
(b)

Talibun (Parma 6 larik: 3 sampiran, 3 isi)

Kalau anak pergi ke lepau
Yu beli belanak beli
Ikan panjang beli dahulu
Kalau anak pergi merantau
lbu cari sanakpun cari
lnduksemang cari dahulu
(c)

Seloka atau pantun berkait (Ada pertalian antarbait)

Lurus jalan ke Payakumbuh
Kayu jati bertimbal jalan
Di mana hati tidak akan rusuh
Ibu mati bapak berjalan
Kayu jati bertimbal jalan
turun angin patahlah dahan
Ibu mati bapak berjalan
kemana untung diserahkan

44

Rangkuman tata bahasa Indonesia

(3)

Gurindam

Gurindam adalah puisi lama yang berasal dari Tamil (India). Tiap bait terdiri alas dua baris, berisi nasihat.
Pengarang gurindam yang terkenal adalah Raja Ali Haji dengan karyanya yang berjudul Gurindam Dua
Belas.
Kurang pikir kurang siasat
Tentu dirimu akan tersesat
Barang siapa tinggalkan sembahyang
Bagai rumah tiada bertiang
Jika suami tak berhati lurus
Istripun kelak memadi kurus
(4)

Syair

Merupakan puisi lama yang berasal dari Arab. Tiap bait terdiri atas empat baris. Tiap baris biasanya
mempunyai delapan sampai dua belas silaba (suku kata). Isinya cerita den rimanya adalah a a a a.
Bulan purnama cahaya terang
bintang seperti intan di karang
Pungguk merawan seorang-orang
Berahikan bulan di amah seberang
Pungguk becinta pagi dan petang
melihat bulan di pagar bintang
Terselap merindu dendamnya datang
dari saujana pungguk menentang.

b)

Puisi baru

Bentuk puisi ini berbait dan berirama tetapi tidak terikat oleh jumlah bait, jumlah baris, jumlah silaba dan
rima. Puisi baru lebih mementingkan isi daripada irama.
Berdasarkan jumlah lariknya, puisi baru dibedakan atas:
1. distikon (2 larik),
2. terzina (3 larik),
3. kuatrin (4 larik),
4. selestet atau dobel terzina (6 larik),
5. septima (7 larik),
6. oktaf (8 larik), dan
7. soneta (14 larik).
Berdasarkan isinya, puisi baru dibedakan atas balada, elegi, romans,ode, himne, epigram, dan satire.
(1)

Balada

Bentuk puisi baru yang isinya berupa cerita dan kisah perjalanan hidup seseorang.

45

Rangkuman tata bahasa Indonesia

(2)

Elegi

Bentuk puisi baru yang berisi kesedihan, suara sukma yang meratap, batin yang mengeluh, serta tangisan
hati.
(3)

Romans

Bentuk puisi baru yang isinya merupakan luapan perasaan kasih sayang, cinta terhadap sesama.
(4)

Ode

Bentuk puisi baru yang isinya berupa sanjungan kepada pahlawan. Bentuk puisi ini juga dikatakan puisi
kepahlawanan.
(5)

Himne

Bentuk puisi baru yang isinya berupa sanjungan terhadap Tuhan.
Bahkan batu-batu yang keras dan bisu
Mengagungkan nama-Mu dengan cara sendiri
Menggeliat derita pada lekuk dan liku
bawah sayatan khianat dan dusta.
Dengan hikmat selalu kupandang patung-Mu
menitikkan darah dari tangan dan kaki
dari mahkota duri dan membulan paku
Yang dikarati oleh dosa manusia.
Tanpa luka-luka yang lebar terbuka
dunia kehilangan sumber kasih
Besarlah mereka yang dalam nestapa
mengenal-Mu tersalib di datam hati.
(Saini S.K)
(6)

Epigram

Bentuk puisi baru yang isinya mengandung semangat yang ditujukan kepada generasi muda.
Hari ini tak ada tempat berdiri
Sikap lamban berarti mati
Siapa yang bergerak, merekalah yang di depan
Yang menunggu sejenak sekalipun pasti tergilas.
(Iqbal)
(7)

Satire

Bentuk puisi baru yang berisi sindiran.
Aku bertanya
tetapi pertanyaan-pertanyaanku
membentur jidad penyair-penyair salon,

46

Rangkuman tata bahasa Indonesia

yang bersajak tentang anggur dan rembulan,
sementara ketidakadilan terjadi
di sampingnya,
dan delapan juta kanak-kanak tanpa pendidikan,
termangu-mangu di kaki dewi kesenian.
(Rendra)

3.

Perbandingan ragam

a)

Karmina, Distikon, dan Gurindam

Karmina

Distikon

Gurindam

Sama-sama dua baris dalam satu bait
Baris
pertama
merupakan
sampiran dan baris kedua
merupakan isi. Contoh: dahulu
karang sekarang besi, dahulu
sayang sekarang benci.

b)

Lebih mementingkan isi di
samping irama, tidak terikat
(bebas). Contoh: berkali kita
tinggal, ulangi lagi dan cari akal.

Baris pertama merupakan sebab
atau persoalan sedangkan baris
kedua merupakan akibat atau
penyelesaian. Contoh: kurang
pikir kurang siasat, tentu dirimu
akan sesat.

Pantun dan Syair

Pantun

Syair

Keduanya mempunyai baris yang sama dalam satu bait, yaitu 4 baris.
Sajak akhir berirama ab-ab.

Sajak akhir berirama aa-aa.

Berisi sampiran dan isi.

Berisi rangkaian cerita.

c)
Pantun

Pantun dan Soneta
Soneta

Oktaf (8 baris pertama) pada soneta melukiskan alam sama halnya sampiran pada pantun, dan sektet (6
baris terakhir) merupakan kesimpulan dari oktaf, sama halnya dengan isi pada pantun. Peralihan dari
oktaf ke sektet dalam soneta disebut volta.
Rumus persajakan akhir ab-ab; Jumlah baris 4 Rumus persajakan akhir abba-abba-cdc-dcd;
baris; Mewakili kesusastraan puisi lama.
jumlah baris 14 baris, terdiri dari 4 bait yakni dua
buah kuatrain yang disebut oktaf dan dua buah
terzina yang disebut sektet; Mewakili kesusastraan
puisi baru.

47

Rangkuman tata bahasa Indonesia

d)

Roman, Novel, dan Cerpen

Roman

Novel

Cerpen

Sama-sama mewakili kesusastraan prosa baru.
Lebih panjang daripada novel.

Lebih panjang daripada cerpen.

Paling pendek.

Menceritakan seluruh kehidupan Menceritakan kejadian yang luar Hanya menceritakan kejadian
dari kecil sampai mati.
biasa yang mengubah nasib dalam kehidupan yang luas.
pelaku.
Terdiri atas beberapa alur.
Hanya satu alur.
Terdiri atas beberapa alur.

e)

Novel dan Hikayat

Novel

Hikayat

Bentuk kesusastraan baru

Bentuk kesusastraan lama

Lebih pendek daripada roman

Sama dengan roman

Menceritakan kehidupan masyarakat

Menceritakan kehidupan raja-raja atau dewa-dewa

Dihiasi ilustrasi kehidupan yang realistis

Dihiasi dongengan yang serba indah dan fantastis

C.

Buku dan pengarang

1.

Masa Kesusastraan Lama
1. Mahabarata, oleh: Wyasa
2. Ramayana, oleh: Walmiki
3. Arjuna Wiwaha, oleh: Empu Kanwa
4. Centini, oleh: Ronggowarsito
5. Negara Kertagama, oleh: Empu Prapanca
6. Gatot Kaca Seraya, oleh: Empu Sedah
7. Syair Perahu, oleh Hamzah Fansuri
8. Syair Burung Pungguk, oleh Hamzah Fansuri
9. Syair Abdul Muluk, oleh: Raja Ali Haji
10. Gurindam Dua-belas, oleh: Raja Ali Haji
11. Sejarah Melayu, oleh: Tun Muhamad Sri Lanang

2.

Masa Kesusastraan Peralihan (Abdullah bin Abdulkadir Munsi)
1. Hikayat Abdullah
2. Kisah Pelayaran Abdullah ke Negeri Jedah

48

Rangkuman tata bahasa Indonesia

3. Syair Singapura Dimakan Api
4. Hikayat Sang Boma
5. Hikayat Bakhtiar

3.

Masa Balai Pustaka
1. Siti Nurbaya, oleh: Marah Rusli
2. Salah Asuhan, oleh: Abdul Muis
3. Kasih Tak Terlerai, oleh: Suman HS
4. Salah pilih, oleh: Nur St. Iskandar
5. Cinta Membawa Maut, oleh: Nur St. Iskandar
6. Hulubalang Raja, oleh: Nur St. Iskandar
7. Katak Hendak Menjadi Lembu, oleh: Nur St. Iskandar
8. Neraka Dunia, oleh: Nur St. Iskandar
9. Karena Mertua, oleh: Nur St. Iskandar
10. Cinta dan Keajaiban, oleh: Nur St. Iskandar
11. Darah Muda, oleh: Adinegoro
12. Surapati, oleh: Abdul Muis
13. Pertemuan Jodoh, oleh: Abdul Muis
14. Robert Anak Surapati, oleh: Abdul Muis
15. Percobaan Setia, oleh: Suman HS
16. Mencari Pencuri Anak Perawan, oleh: Suman HS
17. Teman Duduk (cerpen), oleh: M. Kosim
18. Menebus Dosa, oleh: Aman Datuk Majoindo
19. Sukreni Gadis Bali, oleh: I Gusti Nyoman panji Tisna
20. l Swasta Setahun di Bedahulu, oleh: I Gusti Nyoman panji Tisna
21. Kehilangan Mestika, oleh: Hamidah
22. Pahlawan Minahasa, oleh: M.H. Dayoh
23. Andong Teruna, oleh: Sutomo jauhar Arifin

4.

Masa Pujangga Baru
1. Layar Terkembang, oleh: S.T. Alisyahbana
2. Dian yang Tak Kunjung Padam, oleh: S.T. Alisyahbana
3. Anak Perawan di Sarang Penyamun, oleh: S.T. Alisyahbana
4. Di Bawah Lindungan Ka’bah, oleh: Hamka
5. Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk, oleh: Hamka

49

Rangkuman tata bahasa Indonesia

6. Bebasari (drama), oleh: Sanusi Pane
7. Kertajaya ( drama), oleh: Sanusi Pane
8. Sandyangkalaning Majapahit(drama), oleh: Sanusi Pane
9. Puspa Mega, oleh: Sanusi Pane
10. Madah Kelana, oleh: Sanusi Pane
11. Manusia Baru (drama), oleh: Armijn Pane
12. Lukisan Manusia(drama), oleh: Armijn Pane
13. Ratna (drama), oleh: Armijn Pane
14. Lenggang Kencana (drama), oleh: Armijn Pane
15. Ken Arok Ken Dedes, oleh: M Yamin
16. Diponegoro, oleh: M Yamin
17. Tanah Air, oleh: M Yamin
18. Dalam Lingkungan Kawat Berduri, oleh: Asmara Hadi
19. Rindu Dendam, oleh: Y.E. Tatengkeng
20. Buah Rindu, oleh: Amir Hamzah
21. Nyanyi Sunyi, oleh: Amir Hamzah
22. Setanggi Timur, oleh: Amir Hamzah
23. Puspa Aneka, oleh: Yogi ( A. Rivai )
24. Dewan Sajak, oleh: A. Hasjimi ( Ali Hasjim )

5.

Masa Angkatan 45
1. Sedih dan Gembira (kumpulan drama), oleh: Usmar Ismail
2. Kita Berjuang(puisi), oleh: Usmar Ismail
3. Cahaya Merdeka (puisi), oleh: Usmar Ismail
4. Puntung Berasap (puisi), oleh: Usmar Ismail
5. Taufan di Atas Asia (kumpulan drama), oleh: El Manik
6. lnlelek lstimewa, oleh: El Manik
7. Benciku Melaut, oleh: Amal Hamzah
8. Pembebasan Pertama (puisi), oleh: Amal Hamzah
9. Radio Masyarakat, oleh: Rosihan Anwar
10. Kerikil Tajam(puisi), oleh: Chairil Anwar
11. Deru Campur Debu (puisi), oleh: Chairil Anwar
12. Kejahatan Membalas Dendam(drama), oleh: Idrus
13. Coret-coret di Bawah Tanah (drama), oleh: Idrus
14. Jalan Tak Ada Ujung, oleh: Mochtar Lubis

50

Rangkuman tata bahasa Indonesia

15. Tak Ada Esok, oleh: Mochtar Lubis
16. Keretakan dan Ketegangan,(Kumpulan cerpen), oleh: Achdijat Kartamiharja
17. Yang Terhempas dan yang Terkandas,(Kumpulan cerpen), oleh: Rusman Sutiasumarga
18. Kata Hati dan Perbuatan (puisi), oleh: Trisno Sumardjo
19. Wajah yang Berubah (kumpulan cerpen), oleh: Trisno Sumardjo
20. Kota Harmoni, oleh: Idrus

6.

Masa Angkatan 50
1. Robohnya Surau Kami (kumpulan cerpen),oleh: A.A. Navis
2. Kemarau (roman), oleh: A.A. Navis
3. Bianglala (kumpulan cerpen), oleh: A.A. Navis
4. Kisah-kisah Revolusi, oleh: Trisno Yuwono
5. Pagar Kawat Berduri (roman), oleh: Trisno Yuwono
6. Laki-laki dan Mesiu, (kumpulan cerpen), oleh: Trisno Yuwono
7. Bulan Bujur Sangkar (drama), oleh: Iwan Simatupang
8. Lebih hitam dari Hitam (cerpen), oleh: Iwan Simatupang
9. Kering (roman), oleh: Iwan Simatupang
10. Merahnya Merah, oleh: Iwan Simatupang
11. Ziarah (novel), oleh: Iwan Simatupang
12. Pulang (roman), oleh: Toha Mochtar
13. Daerah tak Bertuan (roman), oleh: Toha Mochtar
14. Kejantanan di Sumbing (kumpulan cerpen),oleh: Subagio Sastrowardojo
15. Simphoni, oleh: Subagio Sastrowardojo
16. Perjalanan Pengantin, oleh: Ajip Rosidi
17. Jalan ke Surga, oleh: Ajip Rosidi

7.

Masa Angkatan 66
1. Benteng dan Tirani (kumpulan puisi), oleh: Taufik Ismail
2. Sajak Ladang Jagung (kumpulan puisi), oleh: Taufik Ismail
3. Selamatan Anak Cucu Sulaiman (drama), oleh: W.S. Rendra
4. Blues untuk Bonnie(kumpulan puisi), oleh: W.S. Rendra
5. Ia Sudah Bertualang (kumpulan cerpen), oleh: W.S. Rendra
6. Balada Orang-Orang Tercinta (k. puisi), oleh: W.S. Rendra
7. Pada Sebuah Kapal (novel), oleh: Nh. Dini
8. Namaku Hiroko (novel), oleh: Nh. Dini

51

Rangkuman tata bahasa Indonesia

9. Sebuah Lorong di Kotaku (novel), oleh: Nh. Dini
10. Ladang Perminus (novel), oleh: Ramadhan K.H.
11. O, Amuk, Kapak (kumpulan puisi), oleh: Sutardji Calzoum Bachri
12. Perahu Kertas (kumpulan poisi), oleh: Sapardi Djoko Damono
13. Pergolakan (novel), oleh: Wildan Yatim
14. Stasiun (novel), oleh: Putu Wijaya
15. Raumanen (novel), oleh: Mariane Katoppo

D.

Unsur karya sastra

1.

Unsur lntrinsik

Unsur yang terdapat di dalam diri karya sastra itu sendiri, yakni:
1. tema: pokok penceritaan,
2. alur (plot): jalinan peristiwa yang membangun cerita yang mempunyai hubungan sebab-akibat,
3. penokohan/perwatakan,
4. latar: tempat, waktu, dan suasana yang melingkupi terjadinya cerita,
5. gaya bahasa penceritaan,
6. sudut pandang, dan
7. amanat.

2.

Unsur Ekstrinsik

Unsur yang terdapat di luar karya sastra yang memengaruhi kelahiran dan keberadaan suatu karya sastra
dan mempermudah memahami karya sastra tersebut.
Faktor-faktor tersebut antara lain: biografi pengarang, agama, dan falsafah yang dianut pengarang,
sejarah, dan kondisi sosial ekonomi masyrakat yang melatarbelakangi terciptanya karya sastra.

E.

Beberapa istilah

1.

Realisme

Aliran kesusastraan yang mengambil realitas sebagai unsur terpenting bagi karya sastra. Jadi, merupakan
aliran yang berlandaskan pada kenyataan sehari-hari yang hidup dalam suatu masyarakat.
Realisme dibagi menjadi:
a. lmpresionisme, aliran yang mementingkan kesan sepintas dalam karya sastra.
b. Naturalisme, bagian dari realisme, yang cenderung melukiskan segi-segi bentuk atau kebobrokan
yang terdapat dalam lingkungan masyarakat.
c. Determinisme, cabang naturalisme, yang menampilkan semacam paksaan nasib atas pelakunya.
Dalam hal ini nasib bukan yang dikarenakan ketidakmampuan pelaku, tetapi karena keadaan
masyarakat, penyakit keturunan, dll.

52

Rangkuman tata bahasa Indonesia

2.

Ekspresionisme

Aliran yang menampilkan curahan atau gejolak jiwa pengarang sendiri. Kebanyakan digunakan dalam
puisi. Ekspresionisme dibagi menjadi:
a. Romantik, aliran yang terlalu mengutamakan perasaan; bahkan kadang-kadang penuh anganangan yang menyeret kita pada alam yang fantastis.
b. Simbolik, aliran yang mempelajari pemakaian citraan yang konkret untuk mengungkapkan
perasaan atau ide yang abstrak.
c. Surealisme, aliran yang berusaha mengungkapkan pengaruh bawah sadar.
d. Psikologisme, aliran yang mengutamakan penguraian jiwa tokoh dalam karya sastra berdasarkan
teori psikologi yang dipergunakan pengarangnya.

3.

Epik

berasal dari bahasa, Yunani yang berarti ‘kata’ atau ‘kisah’ dalam hal ini epik merupakan cerita yang
tidak terlalu dipengaruhi oleh perasaan pengarangnya. Jadi merupakan karangan objektif.

4.

Lirik

dari kata lier, ‘sejenis gitar’. Di sini lirik mengandung arti karangan yang terlalu menonjolkan perasaan
atau terlalu dipengaruhi perasaan. Jadi, karangannya bersifat subjektif.

5.

Alur (plot)

ialah jalinan peristiwa yang memperlihatkan kepaduan (koherensi) tertentu yang diwujudkan, antara lain,
oleh hubungan sebab-akibat, tokoh wira, tema, atau ketiganya.

6.

Bombas (bombast)

ialah gaya bercerita dengan menggunakan kata-kata yang muluk-muluk, yang dibesar-besarkan, atau yang
mengandung bualan.

7.

Citraaan (imagery)

ialah gambaran kejiwaan yang diperoleh pembaca dari bahasa yang digunakan oleh pengarang.

8.

Hikayat

ialah jenis cerita rekaan populer dalam sastra Melayu lama, yang berkisah tentang pengembaraan,
percintaan, peperangan putra raja, pahlawan, atau saudagar, yang dalam perwujudannya dianggap cerita
sejarah atau biografi.

9.

Kaba

ialah jenis prosa berirama yang dapat didendangkan dalam sastra Minangkabau. Penggalan yang
didendangkan itu terdiri atas tujuh sampai sepuluh suku kata. Contoh: Siapa orang yang terbakar, kabar
Raja Babanding, dalam negeri Padang Tarap, di Ranah Payung Sekaki, di Kerambil nan atap tungku, di
Cempedak nan besar, di Anjung nan lah tinggi.

53

Rangkuman tata bahasa Indonesia

10.

Kritik sastra (literary criticism)

ialah suatu cabang ilmu sastra yang melakukan penganalisisan, penafsiran, dan penilaian tentang baik dan
buruknya karya sastra yang bersangkutan.

11.

Langgam; gaya bahasa (style)

ialah kata, ungkapan, struktur, atau wacana yang dipakai secara khas sehingga menjadi ciri penulisnya.

12.

Mitos (myth)

ialah cerita tradisional yang tidak diketahui pengarangnya, yang berkisah mengenai manusia dan
peristiwa adikodrati, serta yang dipercaya kebenarannya oleh masyarakat pemilik cerita tersebut.

13.

Pelipur lara (folkroman)

ialah jenis cerita rakyat dalam sastra Melayu lama yang mengungkapkan kehidupan istana; cerita yang
bersifat menghibur ini umumnya bermula dengan kelahiran tokoh, kemudian peperangan, dan akhimya
perkawinan serta kehidupan yang bahagia; istilah ini juga digunakan untuk mengacu kepada pembawa
cerita semacam itu.

14.

Sage (saga)

ialah kisahan panjang atau legenda tentang peristiwa heroik yang biasanya dikaitkan dengan cerita kuno
yang mengungkapkan petualangan para bangsawam; kini sage merujuk kepada legenda tradisional atau
dongeng yang melibatkan pengalaman dan prestasi luar biasa. Contoh: Hang Tuah.

VII. Gaya bahasa
Yang dimaksud dengan gaya bahasa ialah cara pengungkapan perasaan atau pikiran dengan bahasa
sedemikian rupa, sehingga kesan den efek terhadap pembaca atau pendengar dapat dicapai semaksimal
den seintensif mungkin.

A.

Penegasan

No

Gaya bahasa

Pengertian

Contoh

1

Alusio

Gaya bahasa yang menggunakan peribahasa
yang maksudnya sudah dipahami umum

Dalam bergaul hendaknya kau
waspada;
Jangan terpedaya dengan apa yang
kelihatan baik di luarnya saja.
Segala yang berkilau bukanlah
berarti emas.

2

Antiklimaks

Gaya bahasa penegasan yang menyatakan
beberapa hal berturut-turut, makin lama
makin rendah tingkatannya.

Kakeknya, ayahnya, dia sendiri,
anaknya, dan sekarang cucunya tak
luput dari penyakit keturunan itu.

54

Rangkuman tata bahasa Indonesia

No

Gaya bahasa

Pengertian

Contoh

3

Antitesis

Gaya bahasa penegasan yang menggunakan
paduan kata-kata yang artinya bertentangan.

Tinggi-rendah harga dirimu bukan
elok tubuhmu yang menentukan,
tetapi kelakuanmu.

4

Antonomasia

Gaya bahasa yang mempergunakan katakata tertentu untuk menggantikan nama
seseorang. Kata-kata ini diambil dari sifatsifat yang menonjol yang dimiliki oleh
orang yang dimaksud.

Si Pelit den Si Centil sedang
bercanda di halaman rumah Si
Jangkung.

5

Asindeton

Gaya bahasa penegasan yang menyebutkan
beberapa hal berturut-turut tanpa
menggunakan kata penghubung.

Buku tulis, buku bacaan, majalah,
koran, surat-surat kantor semua
dapat Anda beli di toko itu.

6

Elipsis

Gaya bahasa yang menggunakan kalimat
elips (kalimat tak lengkap), yakni kalimat
yang predikat atau subjeknya dilesapkan
karena dianggap sudah diketahui oleh lawan
bicara.

"Kalau belum jelas, akan saya
jelaskan lagi."

Gaya bahasa atau ungkapan pelembut yang
digunakan untuk tuntutan tatakrama atau
menghindari kata-kata pantang (pamali,
tabu), atau kata-kata yang kasar dan kurang
sopan.

Putra Bapak tidak dapat naik kelas
karena kurang mampu mengikuti
pelajaran.

Gaya bahasa penegasan yang menyatakan
sesuatu hal dengan melebih-lebihkan
keadaan yang sebenarnya.

Suaranya mengguntur membelah
angkasa.

7

8

Eufemisme

Hiperbolisme

"Saya khawatir, jangan-jangan dia
...."

Pegawai yang terbukti melakukan
korupsi akan dinonaktifkan.

Air matanya mengalir menganak
sungai.

9

Interupsi

Gaya bahasa penegasan yang
mempergunakan kata-kata atau frasa yang
disisipkan di tengah-tengah kalimat.

Saya, kalau bukan karena terpaksa,
tak mau bertemu dengan dia lagi.

10

Inversi

Gaya bahasa dengan menggunakan kalimat
inversi, yakni kalimat yang predikatnya
mendahului subjek. Hal ini sengaja dibuat
untuk memberikan ketegasan pada
predikatnya.

Pergilah ia meninggalkan kampung
halamannya untuk mencari
harapan baru di kota.

11

Klimaks

Gaya bahasa penegasan yang menyatakan
beberapa hal berturut-turut, makin lama
makin tinggi tingkatannya.

Di dusun-dusun, di desa-desa, di
kota-kota, sampai ke ibu kota, hari
proklamasi ini dirayakan dengan
meriah.

55

Rangkuman tata bahasa Indonesia

No

Gaya bahasa

Pengertian

Contoh

12

Koreksio

Gaya bahasa yang menggunakan kata-kata
pembetulan untuk mengoreksi
(menggantikan kata yang dianggap salah).

Setelah acara ini selesai, silakan
saudara-saudara pulang, eh maaf,
silakan saudara-saudara mencicipi
hidangan yang telah tersedia.

13

Metonimia

Gaya bahasa yang mempergunakan sebuah
kata atau sebuah nama yang berhubungan
dengan suatu benda untuk menyebut benda
yang dimaksud. Misal, penyebutan yang
didasarkan pada merek dagang, nama
pabrik, nama penemu, dun lain sebagainya.

Ayah pergi ke Bandung
mengendarai kijang.
Udin mengisap Gentong, Husni
mengisap Gudang Garam.

14

Parafrasa

Gaya bahasa penguraian dengan
menggunakan ungkapan atau frasa yang
lebih panjang daripada kata semula. Misal,
pagi-pagi digantikan ketika sang surya
merekah di ufuk timur; materialistis diganti
dengan gila harta benda.

Ketika mentari membuka lembaran
hari, anak sulung Pak Sastra itu
melangkahkan kakinya ke sawah.

15

Paralelisme

Gaya bahasa pengulangan seperti repetisi
yang khusus terdapat dalam puisi.
Pengulangan di bagian awal dinamakan
anafora, sedang di bagian akhir disebut
epifora.

Contoh Anafora:
Sunyi itu duka
Sunyi itu kudus
Sunyi itu lupa
Sunyi itu lampus
Contoh Epifora:
Rinduku hanya untukmu
Cintaku hanya untukmu
Harapanku hanya untukmu

16

Pars pro toto

Gaya bahasa yang menyebutkan sebagian
untuk menyatakan keseluruhan.

Setiap kepala diwajibkan
membayar iuran Rp1.000,00.
Sudah lama ditunggu-tunggu,
belum tampak juga batang
hidungnya.

17

18

Pleonasme

Polisindeton

Gaya bahasa penegasan yang menggunakan
kata-kata yang sebenarnya tidak perlu
karena artinya sudah terkandung dalam kata
sebelumnya.

Benar! Saya melihat dengan mata
kepala saya sendiri, bahwa Tono
berkelahi di tempat itu.

Gaya bahasa yang menyebutkan beberapa
hal berturut-turut dengan menggunakan kata
penghubung (kebalikan asindeton).

Buku tulis, majalah, dan surat-surat
kantor dapat dibeli di toko itu.

Dia maju dua langkah ke depan.

56

Rangkuman tata bahasa Indonesia

No

Gaya bahasa

Pengertian

Contoh

19

Repetisi

Gaya bahasa penegasan yang mengulangulang sebuah kata berturut-turut dalam
suatu wacana. Gaya bahasa jenis ini sering
dipakai dalam pidato atau karangan
berbentuk prosa.

Harapan kita memang demikian,
dan demikian pula harapan setiap
pejuang.

Gaya bahasa penegasan yang menggunakan
kalimat tanya, tetapi sebenarnya tidak
bertanya.

Bukankah kebersihan adalah
pangkal kesehatan?

20

Retoris

Sekali merdeka, tetap merdeka!

Inikah yang kau namakan kerja?

21

Sinekdoke

Terdiri dari pars pro toto (sebagian untuk
keseluruhan) dan totem pro parte
(keseluruhan untuk sebagian).

22

Tautologi

Gaya bahasa penegasan yang menggunakan
kata-kata yang sama artinya dalam satu
kalimat.

Engkau harus dan wajib mematuhi
semua peraturan.

Gaya bahasa yang menyebutkan
keseluruhan untuk menyatakan sebagian.

Cina mengalahkan Indonesia
dalam babak final perebutan Piala
Thomas.

23

B.

Totem pro
parte

Harapan dan cita-citanya terlalu
muluk.

Perbandingan

No

Gaya bahasa

Pengertian

Contoh

1

Alegori

Gaya bahasa perbandingan yang
membandingkan dua buah keutuhan
berdasarkan persamaannya secara
menyeluruh.

Kami semua berdoa, semoga
dalam mengarungi samudra
kehidupan ini, kamu berdua akan
sanggup menghadapi badai dan
gelombang.

2

Litotes

Gaya bahasa perbandingan yang
menyatakan sesuatu dengan memperendah
derajat keadaan sebenarnya, atau yang
menggunakan kata-kata yang artinya
berlawanan dari yang dimaksud untuk
merendahkan diri.

Dari mana orang seperti saya ini
mendapat uang untuk membeli
barang semahal itu.

Gaya bahasa perbandingan yang
membandingkan dua hal yang berbeda
berdasarkan persamaannya.

Gelombang demonstrasi melanda
pemerintah orde lama.

3

Metafora

Silakan, jika kebetulan lewat,
Saudara mampir ke pondok saya.

Semangat juangnya berkobar, tak
gentar menghadapi musuh.

57

Rangkuman tata bahasa Indonesia

No

Gaya bahasa

Pengertian

Contoh

4

Personifikasi

Gaya bahasa perbandingan yang
membandingkan benda mati atau benda
hidup selain manusia dengan manusia;
dianggap berwatak dan berperilaku seperti
manusia.

Bunyi lonceng memanggilmanggil siswa untuk segera masuk
kelas.
Nyiur melambai-lambai di tepi
pantai

5

Simbolik

Adalah gaya, bahasa kiasan,
mempergunakan lambang-lambang atau
simbol-simbol untuk menyatakan sesuatu.
Misal, bunglon lambang manusia yang tidak
jelas pendiriannya; lintah darat lambang
manusia pemeras; kamboja lambang
kematian.

Janganlah kau menjadi bunglon.

6

Simile

Gaya bahasa perbandingan yang
mempergunakan kata-kata pembanding
(seperti, laksana, bagaikan, penaka, ibarat,
dan lain sebagainya) dengan demikian
pernyataan menjadi lebih jelas.

Hidup tanpa cinta bagaikan sayur
tanpa garam.

Gaya bahasa yang mempergunakan katakata yang maknanya sejajar dengan
pengertian yang dimaksudkan.

Seharian ia berkubur di dalam
kamarnya.

7

C.

Tropen

Wajahnya seperti rembulan.

Bapak Presiden terbang ke
Denpasar tadi pagi.

Pertentangan

No

Gaya bahasa

Pengertian

Contoh

1

Anakronisme

Gaya bahasa yang mengandung uraian atau
pernyataan yang tidak sesuai dengan
sejarah atau zaman tertentu. Misalnya
menyebutkan sesuatu yang belum ada pada
suatu zaman.

Mahapatih Gadjah Mada
menggempur pertahanan Sriwijaya
dengan peluru kendali jarak
menengah.

2

Kontradiksio
in terminis

Gaya bahasa yang mengandung
pertentangan, yakni apa yang dikatakan
terlebih dahulu diingkari oleh pernyataan
yang kemudian.

Suasana sepi, tak ada seorang pun
yang berbicara, hanya jam dinding
yang terus kedengaran berdetakdetik.

58

Rangkuman tata bahasa Indonesia

No

Gaya bahasa

Pengertian

Contoh

3

Okupasi

Gaya bahasa pertentangan yang
mengandung bantahan dan penjelasan.

Sebelumnya dia sangat baik, tetapi
sekarang menjadi berandal karena
tidak ada perhatian dari orang
tuanya.
Ali sebenarnya bukan anak yang
cerdas, namun karena kerajinannya
melebihi kawan sekolahnya, dia
mendapat nilai paling tinggi.

4

D.

Paradoks

Gaya bahasa yang mengandung dua
pernyataan yang bertentangan, yang
membentuk satu kalimat.

Dengan kelemahannya, wanita
mampu menundukkan pria.
Tikus mati kelaparan di lumbung
padi yang penuh berisi.

Sindiran

No

Gaya bahasa

Pengertian

Contoh

1

Inuendo

Gaya bahasa sindiran yang mempergunakan
pernyataan yang mengecilkan kenyataan
sebenarnya.

Ia menjadi kaya raya lantaran mau
sedikit korupsi.

2

Ironi

Gaya bahasa sindiran paling halus yang
menggunakan kata-kata yang artinya justru
sebaliknya dengan maksud pembicara.

Eh, manis benar teh ini.
(maksudnya: pahit).

3

Sarkasme

Gaya bahasa sindiran yang menggunakan
kata-kata yang kasar. Biasanya gaya bahasa
ini dipakai untuk menyatakan amarah.

Jangan coba-coba mengganggu
adikku lagi, monyet!

Semacam ironi, tetapi agak lebih kasar.

Hai, harum benar baumu. Tolong
agak menyisih sedikit.

4

Sinisme

Dasar goblok, sudah berkali-kali
diberi tahu, tetap saja tidak
mengerti.

VIII. Kemahiran berbahasa
Yang dimaksud dengan kemahiran berbahasa disini ialah kesanggupan seseorang menggunakan bahasa
dalam berkominikasi. Jika seseorang mempunyai kemampuan menggunakan bahan untuk menyampaikan
pikiran dan perasaannya secara efektif dan efisien kepada orang lain, dan dia sanggup pula memahami
amanat yang disampaikan oleh orang lain kepadanya melalui bahasa, berarti orang tersebut mempunyai
kemahiran berbahasa.
Kemahiran berbahasa meliputi kemahiran berbicara, mendengar, menulis,dan membaca. Sehubungan
dengan hal tersebut, dalam bab ini akan kita bicarakan hal-hal yang berkaitan dengan penggunaan kalimat

59

Rangkuman tata bahasa Indonesia

efektif, alinea atau paragraf, ragam karangan ilmiah, diskusi dengan segala ragamnya, serta tipe
pemimpin dan peserta diskusi yang dianggap baik.

A.

Kalimat efektif

Kalimat efektif adalah kalimat yang dapat mewakili gagasan atau perasaan pembicara atau penulis, serta
sanggup menimbulkan gagasan yang sama tepatnya dalam pikiran pendengar atau pembaca seperti yang
dipikirkan oleh pembicara atau penulis. Kalimat efektif mudah ditangkap dan mudah dipahami, dan
mempunyai potensi untuk tampil lebih hidup dan lebih segar.
Dilihat dari segi pembicara atau penulis, kalimat efektif menghendaki syarat berupa penguasaan kaidah
sintaksis (tata kalimat) dan beberapa aspek kebahasaan esensial lainnya, antara lain penguasaan secara
aktif sejumlah besar kosakata (perbendaharaan kata) dan kemampuan menemukan gaya yang paling
cocok untuk mengungkapkan atau menyampaikan gagasan.
Dilihat dari segi kalimat itu sendiri, kalimat efektif menghendaki syarat sebagai berikut: (1) kesatuan
gagasan yang jelas, (2) kepaduan atau koherensi yang baik dan kompak, (3) penekanan yang wajar atau
kewajaran, (4) kesejajaran atau paralelisme, (5) penalaran atau logika, dan (6) keanekaragaman atau
variasi.

1.

Kesatuan

Kesatuan gagasan sebuah kalimat akan terwujud dengan baik apabila fungsi-fungsi ( jabatan-jabatan )
kalimat jelas. Untuk mewujudkan fungsi-fungsi kalimat yang jelas diperlukan: (1) kecermatan
penggunaan kata tugas, (2) ketetapan pemakaian kata, (3) kecermatan penggabungan dua buah konstruksi
atau lebih guna menghindari kontaminasi (kerancuan), dan (4) ketepatan makna kalimat dengan
menghindari kemungkinan penafsiran ganda.
Tabel 1 Kesatuan dalam kalimat efektif

Salah

Benar

(1.a) Di desa-desa sudah banyak memiliki
posyandu

(1.b) Desa-desa sudah banyak memiliki
posyandu.

(2.a) Bagi yang berminat mengikuti lomba ini
diharap segera menghubungi panitia.

(2.b) Yang berminat mengikuti lomba ini harap
segera menghubungi panitia.

(3.a) Jalan layang untuk mengatasi kemacetan
lalu lintas kendaraan.

(3.b) Jalan layang mengatasi kemacetan lalu
lintas kendaraan.
(3.c) Jalan layang dibuat untuk mengatasi
kemacetan lalu lintas kendaraaan.

(4.a) Suami yang tidak bertanggung jawab itu
tega membiarkan istri dan anaknya lahir di atas
tikar usang yang sudah koyak.

(4.b) Bapak yang tidak bertanggung jawab itu
tega membiarkan anaknya lahir di atas tikar usang
yang sudah koyak.
(4.c) Suami yang tidak bertanggung jawab itu
tega membiarkan istrinya melabirkan anak di atas
tikar usang yang sudah koyak.(benar)

60

Rangkuman tata bahasa Indonesia

(5.a) Abas mendapat bagian dua puluh lima
ribuan. (salah)

(5.b) Abas mendapat bagian dua puluh lima ribu
rupiah. (benar)
(5.c) Abas mendapat bagian seratus ribu rupiah.
(benar)

(6.a) Togop bersembunyi di kamar kecil itu.
(salah)

(6.b) Togop bersembunyi di kamar sempit itu.
(benar)
(6.c)

2.

Togop bersembunyi di kakus itu. (benar)

Kepaduan

Koherensi atau perpautan adalah hubungan timbal balik antar unsur yang membangun kalimat. Koherensi
dapat terwujud dengan tata urutan kata atau kelompok kata yang tepat dalam sebuah kalimat.
Koherensi akan rusak oleh kesalahan penggunam kata tugas, pemakaian kata yang maknanya tumpangtindih, pemakaian kata-kata yang maknanya kontradiktif, dan kesalahan penempatan keterangan aspek.
Tabel 2 Kepaduan dalam kalimat efektif

Salah

Benar

(7.a) Tarmudi meninggalkan Surabaya bersama (7.b) Tarmudi bersama anak
anak dan istrinya.(salah)
meninggalkan Surabaya.(benar)

dan

istrinya

(8.a) Kakek saya menikmati dengan sepuas- (8.b) Tadi pagi kakek saya menikmati teh manis
puasnya tadi pagi teh manis buatan ibu saya. buatan ibu saya dengan sepuas-puasnya. (benar)
(salah)
(9.a) Perbuatannya itu hanya akan mencemarkan
bagi nama baik keluarga dan dirinya. (salah)

(9.b) Perbuatannya itu hanya akan mencemarkan
nama baik keluarga dan dirinya sendiri. (benar)

(10.a) Banyak para pengamat berpendapat bahwa (10.b) Banyak pengamat berpendapat bahwa
meliburkan anak sekolah bukan cara terbaik guna meliburkan anak sekolah bukan cara terbaik guna
menyukseskan pemilu mendatang. (salah)
menyukseskan pemilu mendatang.(benar)
(11.a) Sering kita membuat suatu kesalahan- (11.b) Kita sering membuat kesalahan-kesalahan
kesalahan yang tidak kita sadari. (salah)
yang tidak kita sadari. (benar)
(12.a) Saya sudah dengar berita itu kemarin siang. (12.b) Sudah saya dengar berita itu kemarin siang.
(salah)
(benar)
(13.a) Mereka akan ambil sendiri barang-barang (13.b) Akan mereka ambil sendiri barang-barang
ini nanti sore. (salah)
ini nanti sore. (benar)

3.

Kewajaran

Penekanan yang wajar dapat dilakukan dengan jalan membubuhkan partikel penekan,
mempergunakan repetisi, membuat pertentangan, dan menambahkan kata yang maknanya menyangatkan.

61

Rangkuman tata bahasa Indonesia

Tabel 3 Kewajaran dalam kalimat efektif

Salah

Benar
(14.a) Pergi dia mengikuti kehendak hatinya.
(14.b) Pergilah dia mengikuti kehendak hatinya.
(15.a) Kamu
kepadanya.

suka

kepadanya,

aku

suka

(15.b) Kamu suka kepadanya, aku pun suka
kepadanya.
(16.a) Harapan kita begitu.
(16.b) Harapanmu begitu, harapanku juga begitu,
harapan kita memang begitu.
(17.a) Ia seorang pemberani.
(17.b) Ia bukan seorang penakut, melainkan
seorang pemberani.
(18.d) Istri Pak Ali sangat cantik sekali.

(18.a) lstri Pak Ali cantik.
(18.b) Istri Pak Ali sangat cantik.
(18.c) lstri Pak Ali cantik sekali.

4.

Kesejajaran

Paralelisme atau kesejajaran sangat penting artinya bagi kejelasan kalimat. Paralelisme diperlukan dalam
kalimat-kalimat yang mengandung perincian. Untuk mewujudkan adanya kesejajaran, kata-kata yang
merupakan perincian atas salah satu fungsi kalimat hendaknya dinyatakan dalam bentuk yang sama atau
sejajar.
Tabel 4 Kesejajaran dalam kalimat efektif

Salah

Benar

(19.a) Cara menegaskan atau mementingkan
sebuah kata dalam kalimat ialah pemutasian,
penambahan partikel, menggarisbawahi kata
tersebut, atau mengulang kata yang sama. (salah)

(19.b) Cara menegaskan atau mementingkan
sebuah kata dalam kalimat ialah pemutasian,
penambahan partikel, penggarisbawahan kata
tersebut, atau pengulangan kata yang sama. (benar)
(19.c) Cara menegaskan atau mementingkan
sebuah kata dalam kalimat ialah menggarisbawahi
kata tersebut, mengulang kata yang sama,
memutasikan, atau menambahkan partikel penekan.
(benar)

(20.a) Proyek raksasa itu membutuhkan dana (20.b) Proyek raksasa itu membutuhkan dana

62

Rangkuman tata bahasa Indonesia

yang besar, waktu yang lama, dan keterampilan yang besar, waktu yang lama, dan para pekerja
para pekerjanya. (salah)
yang terampil. (benar)

5.

Penalaran

Kalimat yang efektif adalah kalimat yang memperlihatkan logika yang baik. Logika atau penalaran adalah
proses berpikir yang baik dan teratur. Sebuah kalimat yang tidak menunjukkan keteraturan berpikir
penuturnya adalah kalimat yang tidak efektif.
Tabel 5 Penalaran dalam kalimat efektif

Salah

Benar

(21.a) Tina memang pandai menari, tetapi (21.b) Tina memang pandai menari, tetapi ia tidak
mendung yang hitam itu membuat orang ragu-ragu menjadi sombong karena kepandaiannya itu.
untuk bepergian. (salah)
(benar)
(21.c) Biasanya pada hari libur banyak orang
bepergian, tetapi mendung yang hitam ini membuat
orang ragu-ragu untuk bepergian. (benar)
(22.a) Pengunjung pergelaran musik Kantata (22.b) Pengunjung pergelaran musik Kantata
Takwa hampir mencapai seratus dua puluh ribu Takwa hampir mencapai seratus dua puluh ribu
orang lebih. (salah)
orang. (benar)
(22.c) Pengunjung pergelaran musik Kantata
Takwa mencapai seratus dua puluh ribu orang
lebih. (benar)

6.

Keanekaragaman

Variasi atau keanekaragaman sangat penting artinya dalam karangan yang panjang. Sebuah karangan
yang monoton akan membosankan pembaca. Bila pembaca menjadi bosan dengan kalimat-kalimat yang
kurang variatif, berarti secara keseluruhan karangan tersebut tidak efektif.
Variasi dalam sebuah karangan dapat berupa variasi panjang-pendek kalimat, variasi bentuk kalimat,
variasi bentuk predikat, variasi pilihan kata, dan sebagainya.
Tabel 6 Keanekaragaman dalam kalimat efektif

Salah

Benar

(23.a) Selesai mengerjakan PR, lalu Andi (23.b) Setelah selesai mengerjakan PR, Andi
membaca majalah, lain menggunting artikel yang membaca majalah,kemudian menggunting artikel
menarik, lalu menempelkan guntingan itu pada yang menarik, lalu menempelkan guntingan itu
sehelai kain. (salah)
pada sehelai kertas. (benar)

63

Rangkuman tata bahasa Indonesia

B.

Alinea

Alinea, atau paragraf, adalah seperangkat kalimat yang berkaitan satu sama lain, membentuk satu
kesatuan untuk mengungkapkan atau mengemukakan satu gagasan pokok. Alinea mempunyai satu
kesatuan pikiran yang lebih luas dari kalimat.
Sebuah alinea hanya memuat satu gagasan utama atau satu pikiran pokok. Jika kita hendak
mengemukakan dua gagasan utama, kita harus menuangkannya dalam dua alinea yang berbeda. Gagasan
utama biasanya didukung oleh beberapa gagasan bawahan, yang disebut juga pikiran penjelas.
Gagasan utama lazimnya dituang dalam sebuah kalimat topik, sedang pikiran penjelas dituang dalam
kalimat-kalimat penjelas. Jadi, kalimat topik ialah kalimat yang memuat gagasan utama sebuah alinea,
sedang kalimat penjelas ialah kalimat yang mengandung pikiran penjelas alinea itu.
Sebuah alinea yang kalimat topiknya terletak di bagian awal dinamakan alinea deduktif, sedang yang
terletak di bagian akhir kalimat disebut alinea induktif. Jika kalimat topik sebuah alinea diletakkan di
bagian awal kemudian diulang lagi di bagian akhir, alinea demikian dinamakan alinea campuran atau
alinea induktif-deduktif.
Selain ketiga jenis alinea di atas, ada alinea yang tidak mempunyai kalimat topik. Gagasan nama alinea
tersebut terdapat pada seluruh kalimat yang ada, yang satu sama lain menggambarkan keadaan tertentu.
Alinea demikian lazimnya dinamakan alinea deskriptif.

1.

Alinea deduktif
Komunikasi umumnya tampil dalam bentuknya yang informatif, edukatif dan persuasif.
Maksudnya, komunikasi biasa digunakan orang untuk menyampaikan pesan, mendidik, atau
memengaruhi persepsi lawan bicara, sehingga terbentuk sikap dan bahkan opini baru.

2.

Alinea induktif
Orang tua, siapa pun dia, janganlah menjajah anak. Sebaliknya anak patutlah selalu ingat hahwa
sejahat-jahatnya orang tua, dia tidak akan sampai hati membunuh anak hanya karena haknya tidak
dipenuhi oleh anak. Namun perlu sekali menyadari, bahwa orang tua selamanya menghendaki
yang baik bagi anaknya, sekalipun harus diakui bahwa yang menurutnya baik itu, tidak selalu
demikian menurut ukuran umum. Dengan demikian, yang perlu ialah bagaimana menciptakan
cara terbaik untuk mencapai saling pengertian.

3.

Alinea campuran
Mencari dasar baru yang kekal, aman, dan pasti, bukan perkara kecil. Satu langkah ke depan
dalam hal ini sulit sekali. Sebaliknya, satu langkah ke belakang yang tanpa kita sadari mudah
sekali terjadi. Karena itu sering kita terjebak langkah mundur, dan sekarang itulah yang sedang
kita alami.

4.

Alinea deskriptif
Hamparan sawah membentang luas. Padi menguning menunduk berayun-ayun, meliuk-liuk ditiup
angin lembah, beromba-ombak bagai samudra. Dangau-dangau berpencaran. Bocah-bocah
bertepuk sorak dengan suara nyaring, mengusir kawanan-kawanan parkit yang berpesta pora
memakan bulir-bulir padi. Bukit yang membujur bagaikan raksasa tidur, membatas di kejauhan,
berselimut mega seputih kapas, menambah asri pemandangan.

64

Rangkuman tata bahasa Indonesia

C.

Karangan

1.

Ragam karangan

Biasanya karangan dibedakan atas karangan fiktif dan karangan faktual. Yang pertama disebut fiksi,
sedang yang kedua dinamakan nonfiksi. Fiksi umumnya hanya mengetengahkan hasil rekaan atau
imajinasi atau khayal pengarang. Imajinasi tersebut sering pula didasarkan pada peristiwa sehari-hari
sehingga ada kemungkinan dapat terjadi. Sebaliknya, karangan nonfiksi menyajikan peristiwa secara apa
adanya atau secara objektif. Bahasa fiksi biasanya bersifat konotatif dan subjektif, bahasa nonfiksi
cenderung objektif dan denotatif.
Termasuk karangan fiktif ialah roman, novel, cerpen, kisah perjalanan, legenda, fabel, mite, dan hikayat.
Sedang contoh karangan nonfiktif dapat kita kemukakan misalnya, resensi, skripsi, tesis, desertasi,
laporan, paper atau makalah, yang semuanya termasuk karangan ilmiah.

2.

Bentuk karangan

a)

Eksposisi

Eksposisi atau paparan ialah salah satu bentuk wacana atau karangan yang bermaksud menjelaskan,
mengembangkan, atau menerangkan suatu gagasan. Tujuannya untuk menambah pengetahuan pembaca
tanpa berusaha untuk mengubah pendirian atau memengaruhi sikap pembaca. Contoh:
Kantor Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Sulawesi Tengah yang representatif, kini mulai
dibangun di Palu, setelah tertunda dua tahun. Pembangunan kantor di Jalan Sam Ratulangi Palu
Timur itu, direncanakan rampung 2 - 3 tahun mendatang, dengan biaya sekitar Rp 10 milyar.
Demikian keterangan Sekwilda Sulteng, Amur Muchasim SH, Rabu (4/10) di Palu Ia
menjelaskan, untuk tahap pertama, serta bangunan sayap dapat dirampungkan Februari 1996.

b)

Narasi

Narasi adalah sejenis karangan atau cerita yang isinya mengisahkan suatu kejadian atau peristiwa menurut
urutan waktu atau secara kronologis. Kejadian yang dikisahkan dapat bersifat khayali atau faktual, atau
gabungan dari keduanya. Narasi ini sering dimasukkan ke dalam golongan karangan fiktif, jadi tercakup
di dalamnya ialah roman, novel,cerpen, hikayat, tambo, dan dongeng. Contoh:
Sejak kecil orang tuanya sudah tiada, tetapi Tuhan telah menolongnya, sehingga kini ia menjadi
orang yang berguna baik untuk diri sendiri maupun masyarakatnya.
Beratus-ratus tahun Indonesia telah dljajah Belanda. Perang Dunia II pecah, dan Belanda di
Indonesia kemudian takluk oleh Jepang, kini Jepanglah yang menguasai dan mengangkangi
Indonesia. Ini tidak lama memang, karena Sekutu dapat mengalahkan Jepang dengan dibomnya
Hiroshima dengan bom atom. Kesempatan baik ini tidak disia-siakan oleh bangsa Indonesia umuk
memproklamirkan kemerdekaannya. Proklamasi itu dibacakan oleh Bung Karno dan Bung Hata,
pada tangga 17 Agustus 1945.

c)

Deskripsi

Deskripsi, disebut juga lukisan, yaitu salah satu bentuk karangan yang menggambarkan suatu keadaan,
kejadian, atau peristiwa sejelasmungkin sehingga pembaca mendapat kesan seperti melihat sendiri sesuatu
yang digambarkan itu. Lihat contoh alinea deskriptif.

65

Rangkuman tata bahasa Indonesia

d)

Argumentasi

Argumentasi adalah sebuah wacana yang berusaha meyakinkan atau membuktikan kebenaran suatu
pernyataan, pendapat, sikap, atau keyakinan. Dalam argumentasi ini, suatu gagasan atau pernyataan
dikemukakan dengan alasan yang kuat dan meyakinkan sehingga orang yang membacanya akan
terpengaruh untuk membenarkan pernyataan, pendapat, dan sikap yang diajukan. Contoh:
Amin memang murid yang baik. Setiap hari ia datang ke sekolah selalu lebih awal dari temantemannya. Semua pekerjaan rumah tidak ada yang tidak diselesaikannya. Kepada gurunya dan
orang tua ia selalu bersikap hormat. Bahwa prestasi belajarnya juga jauh lebih baik dari temantemannya dapat dilihat dalam rapornya yang tidak pernah ada angka merah. Tak ayal lagi ia akan
menjadi mahasiswa yang baik.

e)

Persuasi

Persuasi ialah bentuk wacana yang tujuannya adalah meyakinkan, mengajak atau membangkitkan suatu
tindakan dengan mengemukakan alasan-alasan yang kadang-kadang agak emosional. Jika argumentasi
berusaha membuktikan kebenaran atau pernyataan melalui proses penalaran yang sehat, persuasi berusaha
merebut perhatian dan membangkitkan tindakan terhadap pembacanya. Contoh:
Semua orang tahu bahwa kebersihan adalah pangkal kesehatan. Namun demikian, masih banyak
anggota masyarakat kita yang tidak peduli terhadap kebersihan lingkungan. Inilah masalah yang
sulit dipecahkan. Seandainya saja setiap anggota masyarakat peduli akan kebersihan di sekitar
tempat tinggalnya, tentulah kualitas kesehatan dapat ditingkatkan. Oleh karena itu, marilah kita
mencoba untuk menjadikan diri kita masing-masing peduli terhadap kebersihan lingkungan.
Kesadaran ini dapat dimanifestasikan dalam berbagai bentuk, di antaranya ialah tidak membuang
sampah sembarangan.
Tabel 7 Eksposisi versus argumentasi

Persamaan
1. Sama-sama
menjelaskan
keyakinan penulis.

Perbedaan
pendapat

dan 1. Tujuan paparan hanya menjelaskan dan
menerangkan, sehingga pembaca memperoleh
informasi yang sejelas-jelasnya. Sedangkan
2. Sama-sama memerlukan fakta yang diperkuat
argumentasi bertujuan memengaruhi pembaca,
atau diperjelas dengan angka, peta, statistik,
sehingga pembaca akhirnya menyetujui bahwa
grafik, gambar, dan lain-lain.
pendapat, keyakinan, dan sikap penulis benar.
3. Sama-sama memerlukan analisis dan sintesis
2. Grafik, statistik, dan lain-lain pada paparan
pada waktu mengupas sesuatu.
untuk menjelaskan. Sedangkan grafik, statistik
4. Sama-sama menggali sumber ide melalui (1)
dan lain-lain pada argumentasi untuk
pengalaman, (2) pengamatan dan penelitian, (3)
membuktikan.
sikap dan keyakinan, serta (4) daya khayal
3. Pendahuluan pada paparan memperkenalkan
tidak digunakan.
topik dan tujuan yang akan dipaparkan.
Sedangkan pendahuluan atau pembuka pada
argumentasi berisi latar belakang dan sejarah
persoalan, sistematika yang digunakan,
pengertian persoalan, serta tujuan argumentasi.
4. Penutup

pada

akhir

paparan

biasanya

66

Rangkuman tata bahasa Indonesia

menegaskan lagi apa yang telah diuraikan
sebelumnya. Sedangkan penutup pada akhir
argumentasi biasanya menyimpulkan apa yang
telah diuraikan sebelumnya.

3.

Karangan ilmiah

Yang dimaksud karangan ilmiah ialah karangan yang mengungkapkan buah pikiran hasil pengamatan,
penelitian, atau peninjauan terhadap sesuatu yang disusun menurut metode dan sistematika tertentu, dan
yang isi serta kebenarannya dapat dipertanggungjawabkan.
Ciri karangan ilmiah adalah:
1. logis, maksudnya semua keterangan yang diketengahkan mempunyai alasan yang dapat diterima
akal,
2. sistematis, yaitu semua yang dipaparkan disusun dalam urutan yang berkesinambungan,
3. objektif atau faktual, artinya keterangan yang dikemukakan didasarkan pada apa yang benarbenar ada atau sesuai dengan fakta,
4. teruji, artinya keterangan yang diberikan dapat diuji kebenarannya, dan
5. bahasanya bersifat lugas atau denotatif.
Syarat karangan ilmiah adalah:
1. mengandung masalah serta pemecahannya,
2. masalah harus merangsang atau menarik perhatian pembaca,
3. lengkap dan tuntas, artinya membeberkan semua segi yang berkaitan dengan masalahnya, dan
4. disusun menurut sistem tertentu dan metode tertentu sehingga mudah dimengerti dan dipahami.
Jenis karangan ilmiah antara lain sebagai berikut.
1. Laporan ialah bentuk karangan yang berisi rekaman kegiatan tentang suatu yang sedang
dikerjakan, digarap, diteliti, atau diamati, dan mengandung saran-saran untuk dilaksanakan.
Laporan ini disampaikan dengan cara seobjektif mungkin.
2. Makalah ditulis oleh siswa atau mahasiswa sehubungan dengan tugas dalam bidang studi tertentu.
Makalah dapat berupa hasil pembahasan buku atau hasil suatu pengamatan.
3. Kertas kerja adalah karangan yang berisi prasaran, usulan, atau pendapat yang berkaitan dengan
pembahasan suatu pokok persoalan, untuk dibacakan dalam rapat kerja, seminar, simposium, dan
sebagainya.
4. Skripsi, karya tulis yang diajukan untuk mencapai gelar sarjana atau sarjana muda. Skripsi ditulis
berdasarkan studi pustaka atau penelitian bacaan, penyelidikan, observasi, atau penelitian
lapangan sebagai prasyarat akademis yang harus ditempuh, dipertahankan dan
dipertanggungjawabkan oleh penyusun dalam sidang ujian.
5. Tesis mempunyai tingkat pembahasan lebih dalam daripada skripsi. Pernyataan-pernyataan dan
teori dalam tesis didukung oleh argumen-argumen yang lebih kuat, jika dibandingkan dengan
skripsi. Tesis ditulis dengan bimbingan seorang dosen senior yang bertanggung jawab dalam
bidang studi tertentu.
6. Desertasi ialah karangan yang diajukan untuk mencapai gelar doktor, yaitu gelar tertinggi yang
diberikan oleh suatu universitas.Penulisan desertasi ini di bawah bimbingan promotor atau dosen

67

Rangkuman tata bahasa Indonesia

yang berpangkat profesor, dan isinya pembahasan masalah yang lebih kompleks dan lebih
mendalam daripada persoalan dalam tesis.
7. Resensi ialah karya tulis yang berisi hasil penimbangan, pengulasan, atau penilaian sebuah buku.
Resensi yang disebut juga timbangan buku (book review) sering disampaikan kepada sidang
pembaca melalui surat kabar atau majalah. Tujuan resensi ialah memberi pertimbangan dan
penilaian secara objektif, sehingga masyarakat mengetahui apakah buku yang diulas tersebut
patut dibaca ataukah tidak.
8. Kritik (dari bahasa Yunani kritikos yang berarti ‘hakim’) adalah bentuk karangan yang berisi
penilaian baik-buruknya suatu karya secara objektif. Kritik tidak hanya mencari kesalahan atau
cacat suatu karya, tetapi juga menampilkan kelebihan atau keunggulan karya itu seperti adanya.
9. Esai adalah semacam kritik yang lebih bersifat subjektif. Maksudnya, apa yang dikemukakan
dalam esai lebih merupakan pendapat pribadi penulisnya.

D.

Diskusi

Diskusi ialah percakapan yang sifatnya resmi, serius sesuai dengan aturan yang ada. Tujuannya untuk
memahami masalah atau persoalan, mencari sebab-sebab sekaligus berusaha menemukan pemecahan atau
jalan keluar bagi persoalan tersebut. Jadi, di dalam sebuah diskusi harus ada masalah yang dibahas, ada
peserta dan pemimpin, serta ada aturan dan disiplin.
Sebuah diskusi perlu dipersiapkan. Persiapan ini meliputi penentuan topik atau pokok permasalahan,
menetapkan pemimpin yang mempunyai pengetahuan luas, dan menentukan tempat serta waktunya.
Seorang pemimpin diskusi yang baik harus
1. mengetahui langkah-langkah kegiatan,
2. memahami pokok masalah,
3. mengenal semua peserta,
4. berwibawa dan sabar,
5. mampu mengembangkan dan menjaga jalannya diskusi sehingga tidak terjadi benturan, serta
6. dapat menjaga suasana sehingga tidak berat sebelah.
Sebaliknya, seorang peserta diskusi yang baik akan:
1. mengadakan persiapan awal,
2. menyiapkan garis besar masalah sebelum diskusi berlangsung,
3. menjadi penyampai gagasan yang baik,
4. menghindari kata-kata kasar yang menyinggung perasaan lawan bicara,
5. berbicara secukupnya dan yang hanya berkaitan dengan masalah,
6. menjadi pendengar yang baik, dan
7. menghindarkan diri dari perdebatan yang emosional.
Tugas seorang pemimpin diskusi antara lain ialah:
1. menetapkan topik atau pokok pembicaran dengan peserta,
2. menyiapkan garis besar atau kerangka diskusi,

68

Rangkuman tata bahasa Indonesia

3. membuka diskusi dengan membacakan rangkuman tentang masalah dan sasaran yang ingin
dicapai,
4. memimpin jalannya diskusi dengan sabar, jujur, dan tidak berat sebelah,
5. membuat rangkuman pembicaraan setiap peserta,
6. mengarahkan pembicaraan agar tidak menyimpang dari pokok permasalahan, dan,
7. menyimpulkan seluruh pembicaraan dalam diskusi.
Beberapa jenis diskusi diuraikan di bawah ini.
1. Diskusi kelompok yaitu diskusi yang terdiri atas beberapa kelompok orang, dan masing-masing
kelompok mempunyai seorang ketua dan notulis. Tidak ada pendengar.
2. Diskusi panel ialah diskusi yang terdiri atas seorang pemimpin, sejumlah peserta, dan beberapa
pendengar. Dalam jenis diskusi ini tempat duduk diatur sedemikian rupa sehingga pendengar
dapat mengikuti jalannya diskusi dengan saksama. Setelah berlangsung tanya jawab antara
pemimpin dan peserta, peserta dan pendengar, pemimpin merangkum hasil tanya-jawab atau
pembicaraan, kemudian mengajak pendengar ikut mendiskusikan masalah tersebut sekitar
separuh dari waktu yang tersedia.
3. Seminar adalah pertemuan berkala yang biasanya diselenggarakan oleh sekelompok mahasiswa
dalam rangka melaporkan hasil penelitiannya, dan umumnya di bawah bimbingan seorang dosen
atau ahli. Tujuan diskusi jenis ini tidak untuk memutuskan sesuatu. Seminar dapat bersifat
tertutup atau terbuka. Yang terakhir dapat dihadiri oleh umum, tetapi mereka tidak ikut
berdiskusi, melainkan hanya bertindak sebagai peninjau. Untuk menyelenggarakan seminar harus
dibentuk sebuah panitia. Pembicara yang ditentukan sebelumnya, umumnya menguraikan
gagasan atau topiknya dalam bentuk kertas kerja.
4. Simposium ialah pertemuan ilmiah untuk mengetengahkan atau membandingkan berbagai
pendapat atau sikap mengenai suatu masalah yang diajukan oleh sebuah panitia. Uraian pendapat
dalam simposium ini diajukan lewat kertas kerja yang dinamakan prasaran. Dan beberapa
prasaran yang disampaikan dalam simposioum harus berhubungan. Orang yang mengajukan
prasaran, yang dinamakan pemrasaran, berkewajiban
a. membuat makalah atau prasaran,
b. menepati waktu yang diberikan, dan
c. menjawab setiap pertanyaan dengan singkat dan tepat.
Persiapan-persiapan yang perlu untuk menyelenggarakan simposium, yaitu:
a. memilih dan merumuskan masalah,
b. menetapkan tujuan,
c. menempatkan pembicara berdasarkan sumbangannya dalam mencapai tujuan,
d. menetapkan pemimpin, serta
e. menjelaskan kepada pemimpin dan pembicara tentang tujuan simposium, waktu yang
tersedia dan tata cara yang berlaku.
5. Konferensi adalah pertemuan yang diselenggarakan oleh suatu organisasi atau badan resmi
sehubungan dengan masalah tertentu. Jika konferensi hanya bertujuan menyampaikan hasil
keputusan suatu organisasi atau badan pemerintah mengenai suatu masalah maka hal tersebut
dinamakan dengar pendapat atau jumpa pers.

69

Rangkuman tata bahasa Indonesia

E.

Pidato

Salah satu bentuk kemahiran berbahasa yang lain dan yang umum sekali ialah pidato. Yang dimaksud
dengan pidato ialah penyampaian pesan, gagasan, atau pengungkapan suatu maksud dengan bahasa yang
tersusun baik kepada orang banyak.
Berdasarkan sifat isinya, pidato dibedakan atas:
1. pidato pembukaan,
2. pidato sambutan,
3. pidato pengarahan,
4. pidato laporan, dan
5. pidato prasaran.
Berdasarkan sifat tujuannya, pidato dibedakan atas:
1. Pidato instruktif bertujuan memberitahukan atau menyampaikan sesuatu termasuk pengarahan;
2. Pidato persuasif bertujuan memengaruhi pendapat pendengar serta membangkitkan tindakan;
3. Pidato rekreatif bertujuan menciptakan suasana gembira, akrab dan menyenangkan seperti dalam
jamuan makan, dan
4. Pidato edukatif bertujuan menumnbuhkan kesadaran pendengar atau untuk mendidik.
Catatan:
Baik dalam diskusi maupun dalam pidato, seorang pembicara dapat memperkuat atau memperjelas
pendapatnya dengan mengemukakan contoh-contoh, ilustrasi, fakta, angka, atau perbandinganperbandingan, di samping tabel dan grafik.

70

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful