P. 1
Praktek Dasar Pengelasan

Praktek Dasar Pengelasan

|Views: 2,575|Likes:
Published by Abrianto
Modul Praktikum
Modul Praktikum

More info:

Published by: Abrianto on Jul 09, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/02/2013

pdf

text

original

TEKNIK PENGELASAN LOGAM

MODUL PRAKTIKUM

Oleh :

ABRIANTO AKUAN, ST., MT.

LABORATORIUM TEKNIK PRODUKSI JURUSAN TEKNIK METALURGI FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS JENDERAL ACHMAD YANI BANDUNG 2009

PETUNJUK PRAKTIKUM
I. MAKSUD DAN TUJUAN Praktikum Teknik Pengelasan Logam merupakan penerapan teori-teori yang pernah diberikan dalam perkuliahan. Tujuan utama dari praktikum ini adalah sebagai berikut:  Mengetahui beberapa proses atau teknik pengelasan logam dalam suatu proses/teknik produksi dalam manufaktur.  Mengetahui terlibat dan dihasilkan.  Mengetahui cacat-cacat yang terjadi dalam proses pengelasan logam.  Merencanakan dan membuat barang jadi melalui teknik pengelasan logam. Dengan melakukan praktikum ini, diharapkan peserta (praktikan) memiliki pengalaman praktek dalam proses produksi/manufaktur melalui teknik pengelasan logam. II. 2.1  PERATURAN PRAKTIKUM Tata Tertib Tidak dibenarkan memakai sandal, sepatu sandal dan sejenisnya.  Tas dan barang-barang yang digunakan selama praktikum harus disimpan ditempat yang telah disediakan.  Dilarang melakukan praktikum tanpa seijin instruktur yang bersangkutan.  Selama berada dilaboratorium dilarang merokok, makan dan minum.  Praktikum harus menjaga keamanan dan ketenangan selama berada dilaboratorium. besaran-besaran berpengaruh atau parameter kualitas proses lasan yang yang terhadap

@@ Teknik Metalurgi – UNJANI

1

Diwajibkan memakai pakaian savety dalam setiap melakukan praktek.

2.2 

Kehadiran Praktikan yang tidak mengikuti satu kali praktikum dianggap gagal dan harus mengulang pada kesempatan berikutnya. Waktu pelaksanaan praktikum diatur dengan jadwal yang ditentukan kemudian. Praktikan diharuskan menyerahkan formulir kehadiran kepada instruktur pada setiap melakukan praktek.

2.3   

Pemakaian Alat Periksa kelengkapan alat sebelum melakukan praktek. Setiap pemakaian alat harus seijin instruktur. Kehilangan atau kerusakan alat adalah tanggung jawab satu kelompok peserta praktikum. Setiap akhir praktikum, ruangan dan alat-alat yang digunakan harus dibersihkan. Sebelum meninggalkan laboratorium, praktikan harus lapor pada instruktur untuk memeriksa alat-alat yang telah digunakan.

2.4  

Tugas dan Laporan Laporan praktikum diisi pada logbook yang telah disediakan. Sebelum dan sesudah praktikum akan diadakan responsi dan ujian akhir praktikum. Adapun waktu dan tempat ditentukan kemudian. Setiap praktikum harus mengumpulkan dan mengisi logbook praktikum secara perorangan setelah seluruh praktikum diselesaikan.

Logbook praktikum diisi dengan tulisan tangan.

@@ Teknik Metalurgi – UNJANI

2

2.5

Penilaian Sistematika penilaian mengikuti aturan sebagai berikut: 1. Nilai Ujian 2. Nilai Kehadiran 4. Nilai Laporan 5. Nilai Presentasi = 15 % = 25 % = 20 % = 40 %

III. 3.1

KESELAMATAN KERJA Ringkasan Umum Keselamatan kerja merupakan target pertama dalam setiap

proses produksi terutama proses pengelasan logam, karena dalam proses ini akan berhadapan dengan bahaya-bahaya yang mungkin terjadi diantaranya:    Terkena percikan terak/flux dari elektroda/benda kerja. Terkena jilatan api atau panas dari elektroda dan benda kerja. Risiko terjadinya kebakaran.

Bahaya potensial ini diharapkan tidak akan menjadi bahaya riil apabila semua peraturan keselamatan telah diikuti dengan seksama dan selalu bekerja menurut prosedur serta tata cara yang aman dan benar. Dengan demikian kita akan terhindar dari bahaya dan tempat kita bekerja menjadi tempat yang aman. 3.2  Ketentuan dan Prosedur Keselamatan Siapkanlah bahwa keadaan lingkungan kerja dan peralatannya siap untuk dipakai, dan periksa kembali peralatan sebelum bekerja.  Pakailah pakaian kerja dengan alat pelindung diri (APD) lainnya yang diperlukan.   Bekerjalah sesuai petunjuk yang ada. Tanyakanlah pada instruktur/asistan anda, bila kurang jelas dalam bekerja.

@@ Teknik Metalurgi – UNJANI

3

Berhati-hatilah dalam penggunaan alat-alat perlengkapan serta posisi dalam bekerja. Jauhkan bahan-bahan yang mudah terbakar dari api. Usahakan benda kerja yang akan dilas, dalam keadaan bersih bebas dari air oli dan bahan lainnya yang dapat menyebabkan percikan atau ledakan. Bersihkan lantai tempat proses pengelasan dari air, oli, kotoran dan sebagainya. Jaga jarak aman anda dengan elektroda/benda kerja panas dan peralatan panas lain pada saat proses pengelasan. Gunakan selalu alat pelindung diri (APD): sarung tangan kulit, apron, helm, kacamata, sepatu kerja, masker, tang jepit, ear

 

plug dan lain sebagainya.
 Tidak diperbolehkan memegang hasil lasan tanpa alat pelindung diri (APD) selama proses pengelasan sedang berjalan.

@@ Teknik Metalurgi – UNJANI

4

MODUL 1 PENGELASAN SMAW
Pengelasan adalah proses penyambungan antara dua logam atau lebih dengan menggunakan energi panas. Logam sekitar lasan/sambungan, akan mengalami siklus termal yang cepat yang menyebabkan terjadinya perubahanperubahan metalurgi yang rumit, deformasi dan tegangan-tegangan termal. Hal ini sangat erat hubungannya dengan kekuatan, cacat lasan, dan lain sebagainya yang pada umumnya mempunyai pengaruh yang fatal terhadap keamanan dari konstruksi yang dilas. Proses pengelasan melibatkan pemanasan dan pendinginan, pada umumnya struktur mikro dari logam tergantung dari kecepatan pendinginannya dari temperatur terbentuknya fasa awal sampai ke temperatur kamar. Karena perubahan struktur ini dengan sendirinya sifat-sifat mekanik yang dimiliki juga berubah. Pada dasarnya daerah lasan terdiri dari tiga bagian yaitu logam lasan (weld metal), daerah terkena pengaruh panas yang sering disebut dengan Heat

Affected Zone (HAZ), dan logam induk yang tak terpengaruh panas. Daerah
logam lasan adalah bagian dari logam yang pada waktu pengelasan mencair dan kemudian membeku. Daerah pengaruh panas atau HAZ adalah logam dasar yang bersebelahan dengan logam las yang selama proses pengelasan mengalami siklus termal pemanasan dan pendinginan cepat. Logam induk tak terpengaruh panas adalah bagian logam dasar dimana panas dan temperatur pengelasan tidak menyebabkan terjadinya perubahan-perubahan struktur dan sifat. Selain ketiga bagian itu masih ada bagian lain yaitu daerah yang membatasi antara logam las dan daerah HAZ yang disebut dengan batas las. Untuk melihat struktur dari sebuah hasil lasan kita dapat melihat pada gambar dibawah ini:

@@ Teknik Metalurgi – UNJANI

5

Diagram skematik variasi temperatur dan struktur logam lasan.
Semua kejadian selama proses pendinginan dalam pengelasan hampir sama dengan pendinginan dalam pengecoran perbedaannya adalah: 1. Kecepatan pendinginan dalam las lebih tinggi 2. Sumber panas dalam las bergerak lurus 3. Pencairan dan pembekuan dalam las terjadi secara terus menerus

@@ Teknik Metalurgi – UNJANI

6

4. pembekuan logam las mulai dari dinding logam induk yang dapat dipersamakan dengan dinding cetakan pada pengecoran, hanya saja dalam pengelasan, logam las harus menjadi satu dengan logam induk, sedangkan dalam pengecoran harus terjadi sebaliknya. Beberapa cacat lasan:

Undercut Undercut adalah suatu alur atau takikan yang terjadi pada perbatasan
sisi-sisi lasan yang sejajar arah pengelasan sehingga bagian kaki lasan mengalami penipisan.

Undercut
Penyebab: Gerakan elektroda yang terlalu cepat. Panas yang terlampau tinggi. Sudut elektroda yang tidak tepat.

Incomplete penetration (penetrasi yang kurang sempurna) Incomplete penetration terjadi karena logam las tidak menembus
melanjutkan kebagian akar dari sambungan atau kedalaman logam las kurang dari tinggi alur yang direncanakan.

Incomplete penetration
Penyebab: Gerakan elektroda yang terlalu cepat. Arus atau panas yang tidak cukup. Logam pengisi melebur tanpa meleburkan logam induk.

@@ Teknik Metalurgi – UNJANI

7

Inklusi Inklusi terjadi karena adanya material padat yang terjebak pada waktu proses pembekuan. Inklusi dapat terjadi menjadi dua bagian, yaitu Inklusi non metalik (slag dan oksida) dan inklusi metalik.

Inklusi
Penyebab: Arus yang terlalu rendah dan elektroda yang terlalu besar. Pada sambungan sudut, sudut-sudut yang kurang tepat, pembersihan yang kurang baik. Pengelasan yang terlalu cepat.

Incompletly filled groove (Alur tidak terisi secara sempurna)
Hal ini terjadi karena alur yang direncanakan tidak terisi logam secara sempurna, sehingga sambungan tampak kekurangan logam pengisi/cekung.

Incompletly filled groove
Penyebab: Gerakan elektroda yang terlalu cepat. Elektroda atau logam pengisi terlalu kecil.

Lack of fusion atau Incomplete fusion (Peleburan yang tidak sempurna)
Terjadi karena logam induk dan logam las tidak melebur bersama secara menyeluruh.

Lack of fusion/Incomplete fusion

@@ Teknik Metalurgi – UNJANI

8

Penyebab: Arus pengelasan terlalu rendah. Gerakan elektroda terlalu cepat. Persiapan yang tidak sempurna. Permukaan kotor. Sudut elektroda yang tidak tepat. Panjang busur yang tidak tepat.

Beberapa penampilan hasil lasan.

@@ Teknik Metalurgi – UNJANI

9

Diagram Inagaki.

Prosedur Percobaan: 1. Siapkan peralatan las a. Sarung tangan kulit. b. Apron dada. c. Apron lengan. d. Masker las. e. Palu terak. f. Sikat kawat. 2. Catat data mengenai a. Jenis material. b. Arah pengelasan. c. Posisi pengelasan. d. Simbol las. e. Benda las. f. Sudut elektroda.

@@ Teknik Metalurgi – UNJANI

10

g. Jenis elektroda. h. Jenis sambungan. i. Arus. j. Tebal pelat. k. Jarak celah. 3. Siapkan elektroda dan bahan yang akan di-las. 4. Penyalaan busur listrik a. Gunakan semua peralatan keselamatan kerja (apron dada, apron lengan, masker las dan sarung tangan kulit). b. Pasanglah elektroda pada pemegang elektroda (holder). c. Hidupkan mesin las dengan memutar saklar ke angka voltase 380 V. d. Lihat berapa besar arus pada jarum penunjuk arus. Putar ke kiri jika ingin memperkecil arus dan putar ke kanan jika ingin memperbesar arus. 5. Lakukanlah percobaan mengelas. Lihat gambar rencana kerja. 6. Bila ada kesulitan, bertanyalah pada asisten atau instruktur. 7. Bila lampu indikator pada mesin las menyala, hentikan mengelas. Hal ini menyatakan bahwa mesin las sudah terlampau panas. 8. Jika lampu indikator sudah tidak menyala (padam), proses pengelasan dapat dilakukan kembali. 9. Jika berhenti mengelas, pindahkan saklar ke posisi nol atau netral. 10.Bersihkanlah meja las dan sekelilingnya setelah selesai melakukan pengelasan. Rencana Kerja I 1. Siapkan bahan pelat 250 X 30 X 3 mm, sebanyak 2 lembar. 2. Letakan benda kerja diatas meja las (buatlah jig jika perlu). 3. Ukur dan tandai atau gores pada permukaan benda kerja dengan pena penggores atau kapur (lihat Gambar. 1).

@@ Teknik Metalurgi – UNJANI

11

Gambar. 1
4. Pilih arus (ampere) dan elektroda yang sesuai dengan tebal pelat. 5. Pengelasan dilakukan dari arah kiri ke kanan dengan posisi flat (horizontal). 6. Petunjuk proses pengelasan, lihat Gambar 3, 4 dan 5. 7. Bila kampuh pertama selesai, bersihkan dulu teraknya. 8. Lanjutkan ke baris yang lain dari sisi pelat sebelahnya hingga selesai. 9. Bersihkan teraknya. 10.Ulangi tahapan proses pengelasan diatas terhadap pelat yang lain dengan posisi pengelasan dari arah atas ke bawah. 11.Amati hasilnya dan catat hasil pengamatan tersebut.

Gambar. 2

Gambar. 3

@@ Teknik Metalurgi – UNJANI

12

Gambar. 4

Gambar. 5

@@ Teknik Metalurgi – UNJANI

13

Rencana Kerja II 1. Gunakan pelat hasil praktek latihan I. 2. Atur arus (ampere). 3. Las seperti terlihat pada gambar. 6 atau 7. 4. Elektroda bergerak berayun. 5. Bersihkan teraknya.

Gambar. 6

Gambar. 7

@@ Teknik Metalurgi – UNJANI

14

Rencana Kerja III 1. Bahan pelat 250 X 30 X 3 mm, sebanyak 2 lembar. 2. Letakkan benda kerja seperti terlihat pada gambar. 8. 3. Ikat kedua uijungnya dengan pengelasan (tack welding).

Gambar. 8

4. Elektroda, arus (ampere) dan tebal benda kerja harus sesuai. 5. Mengelas dari kiri ke kanan. 6. Posisi elektroda seperti yang terlihat pada gambar. 9. 7. Bersihkan teraknya. 8. Lakukan seperti langkah-langkah diatas untuk sebelahnya.

Gambar. 9

Gambar. 10

@@ Teknik Metalurgi – UNJANI

15

Rencana Kerja IV 1. Bahan pelat 250 X 30 X 3 mm, sebanyak 2 lembar. 2. Letakkan benda kerja seperti yang terlihat pada gambar. 15. 3. Ikat ke-dua ujungnya dengan pengelasan.

Gambar. 15

Gambar. 16

4. Elektroda, arus (ampere) dan tebal benda kerja harus sesuai. 5. Mengelas dari kiri ke kanan. 6. Posisi elektroda, lihat gambar. 17. 7. Bersihkan teraknya. 8. Lakukan seperti langkah-langkah sebelumnya untuk bagian sebelahnya.

Gambar. 17

@@ Teknik Metalurgi – UNJANI

16

MODUL 2 PENGELASAN GAS (OKSI-ASETILIN)
Salah satu metoda proses pengelasan yang paling populer adalah gas: menggunakan panas dari nyala api atau gas. Pada proses yang proses pengelasan ini, panas yang dihasilkan adalah dari hasil pembakaran

MAPP

(methylacetylene-propadiene)
gas umumnya

acetylene,
dalam

dicampur dengan oksigen. Pengelasan dipergunakan

maintenance dan perbaikan (repair work) karena transportasi tabung
bahan bakar dan oksigen lebih mudah dilakukan atau dibawa ke lapangan. Proses dengan pembakaran gas ini juga banyak diterapkan pada proses brazing, cutting, dan heat treatment hampir semua jenis logam.

@@ Teknik Metalurgi – UNJANI

17

Prosedur Percobaan: A. Langkah Persiapan 1. Mengecek kelengkapan dan kondisi peralatan, baik peralatan utama maupun peralatan keamanan.  Peralatan Utama:  Tabung oksigen  Tabung bahan bakar  Regulator  Brander  Kunci Tabung.  Pembersih nosel.  Sikat kawat  Selang las  Bangku dan meja kerja  Meja kerja  Pemantik api  Tang  Peralatan Keamanan:  Sarung tangan  Google/kacamata las.  Sepatu  Tabung pemadam 2. Catat data mengenai: a. Jenis material. b. Arah pengelasan. c. Posisi pengelasan. d. Simbol las. e. Benda las. f. Sudut brander. g. Sudut logam pengisi h. Jarak nosel dengan logam induk. i. Tekanan gas oksigen.

@@ Teknik Metalurgi – UNJANI

18

j. Tekanan gas asetilen/bahan bakar. k. Tebal pelat. l. Jarak celah. 3. Peralatan diletakkan agak jauh dari tempat kita mengelas, kemudian buka kran tabung oksigen sampai terbuka penuh. 4. Periksa tekanan gas oksigen pada regulator tekanan kerja (40-60 bar). 5. Membuka kran gas bahan bakar. 6. Persiapkan benda kerja dan filler/logam pengisi. 7. Gunakan peralatan keselamatan kerja (google/kacamata las, sarung tangan dan sepatu). 8. Cek apakah kondisi selang, aman tidak tertekan atau terlipat.

B. Langlah Penyalaan Las Gas 1. Letakkan benda kerja diatas meja kerja. 2. Arahkan ujung brander ke bawah. 3. Buka sedikit kran gas bahan bakar. 4. Nyalakan pemantik api dan bakar ujung nosel hingga gas terbakar. 5. Buka sedikit demi sedikit kran gas oksigen hingga nyala api menjadi sesuai dengan nyala api yang diinginkan.

@@ Teknik Metalurgi – UNJANI

19

C. Proses Pengelasan 1. Atur posisi duduk kita, kedua kaki rapat dan menghadap meja kerja. 2. Pegang brander dengan baik oleh sebelah tangan kanan dan tangan kiri memegang pemantik api. 3. Lakukanlah percobaan mengelas. Lihat gambar rencana kerja. 4. Posisikan sudut api untuk pengelasan adalah 60o terhadap garis horisontal, dan untuk filler adalah 30o terhadap garis horisontal, pegang filler dengan tangan kiri seperti pada gambar berikut.

30o 60o

@@ Teknik Metalurgi – UNJANI

20

5. Dekatkan ujung nosel ke benda kerja dengan ketinggian sekitar 5 mm dari benda kerja hingga benda kerja meleleh dan membentuk lelehan kawah. 6. Dekatkan filler hingga ikut memanas dan mencair bersama benda kerja. 7. Bila ada kesulitan, bertanyalah pada asisten atau instruktur. D. Proses Mematikan 1. Setelah selesai melakukan proses pengelasan, jauhkan ujung nosel dari benda kerja dan arahkan kebawah. a 2. Tutup kran gas oksigen perlahan-lahan namun jangan sampai tertutup penuh.

3. Setelah api menyala kuning tutup perlahan-lahan kran gas bahan bakar namun jangan sampai tertutup penuh.

4. Tutup kran gas oksigen hingga tertutup penuh 5. Tutup kran gas bahan bakar hingga tertutup penuh. 6. Tiup api kecil yang masih menyala di ujung nosel. 7. Biarkan benda kerja dan ujung nosel hingga dingin 8. Setelah dingin tutup kembali kran gas bahan bakar dan kran gas oksigen 9. Gulung kembali selang 10.Bersihkan kembali meja las dari sisa-sisa pengelasan dan sekitarnya jika selesai melakukan pengelasan.

@@ Teknik Metalurgi – UNJANI

21

Rencana Kerja I 1. Arah pengelasan 2. Posisi 3. Benda las : : : Kanan ke kiri. Rata,flat (horizontal). Penyambungan.

Data: a. Sudut A b. Sudut B c. Sudut C d. Tekanan gas oksigen e. Tekanan gas asetilen f. No. nosel g. Nyala api h. Tebal pelat i. Jarak celah : : : : : : : : :

j. Diameter logam pengisi: Rencana Kerja II 1. Arah pengelasan 2. Posisi 3. Benda las : : : Kanan ke kiri. Rata,flat (horizontal). Penyambungan L.

@@ Teknik Metalurgi – UNJANI

22

Data: a. Sudut A b. Sudut B c. Sudut C d. Tekanan gas oksigen e. Tekanan gas asetilen f. No. nosel g. Nyala api h. Tebal pelat i. Jarak celah : : : : : : : : :

j. Diameter logam pengisi: Rencana Kerja III 1. Susun ke-dua pelat seperti gambar dibawah ini.

@@ Teknik Metalurgi – UNJANI

23

2. Ke-dua pelat diatur jaraknya kira-kira sama dengan tebal pelatnya. 3. Ikat benda kerja di ke-dua ujungnya dengan pengelasan titik.

4. Atur posisinya dan kemudian di-las dengan menggunakan logam pengisi. 5. Gerakkan brander dan logam pengisi dari kanan ke kiri.

Rencana Kerja IV 1. Tempatkan benda kerja seperti gambar dibawah ini. 2. Tempatkan ke-dua pelat tersebut, kemudian ujung-ujungnya dilas titik agar tetap posisinya.

@@ Teknik Metalurgi – UNJANI

24

3. Tekuk benda kerja sebesar 90o.

4. Telungkupkan benda kerja tersebut. 5. Pengelasan dimulai dari ujung kanan sampai ke ujung kiri dengan menggunakan logam pengisi.

Rencana Kerja V 1. Susun benda kerja seperti terlihat pada gambar dibawah ini, kemudian gabungkan. Tempatkan benda kerja pada posisi horisontal. Di-las dengan brander yang sesuai.

2. Pengelasan dilakukan dengan logam pengisi ke arah vertikal. Perhatikan kemiringan brander dan logam pengisi.

@@ Teknik Metalurgi – UNJANI

25

3. Arah pengelasan 4. Posisi 5. Benda las

: : :

Kanan ke kiri. Melingkar, horizontal. Penyambungan pipa.

Data: a. Sudut A b. Sudut B c. Sudut C d. Tekanan gas oksigen e. Tekanan gas asetilen f. No. nosel g. Nyala api h. Tebal pelat i. Jarak celah : : : : : : : : :

j. Diameter logam pengisi:

@@ Teknik Metalurgi – UNJANI

26

MODUL 3 PENGELASAN TITIK (SPOT WELDING)
Proses las titik merupakan suatu proses penyambungan dua buah komponen logam melalui satu atau lebih titik sambungan dengan menggunakan panas dari tahanan listrik yang dialirkan oleh dua buah elektroda ke logam yang akan disambung dengan waktu pengelasan tertentu. Panas yang dihasilkan dalam proses ini sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu diantaranya adalah arus yang diberikan, tahanan kontak benda kerja dan waktu pengelasan. Berdasarkan hukum Joule dinyatakan oleh persamaan berikut: H = I2. R. t (Joule)

H=Panas (energi) yang dihasilkan (watt detik atau Joule) I=Arus yang diberikan (ampere) R=Tahanan kontak benda kerja (ohm) t=Waktu pengelasan (detik atau cycle) Gambar dibawah ini memperlihatkan secara skematis dari proses dan alat atau mesin pengelasan titik. Penyambungan terjadi sebagai akibat timbulnya titik lasan pada permukaan kontak benda kerja yang saling berhadapan. Hal ini terjadi karena pada daerah permukaan terjadi konsentrasi arus yang paling tinggi dengan tahanan kontak yang paling besar dibandingkan dengan daerah lainnya. Sebagai akibatnya akan timbul panas yang sangat tinggi pada daerah permukaan kontak sehingga dapat mencairkan titik lasan yang kemudian disebut nugget.

@@ Teknik Metalurgi – UNJANI

27

Skematis proses pengelasan titik.

Skematis mesin las titik. @@ Teknik Metalurgi – UNJANI
28

Ukuran dan bentuk nugget yang terjadi sangat dipengaruhi oleh bentuk dan ukuran elektroda yang menekan permukaan luar lembaran logam, selain itu masukkan panas yang terjadi merupakan faktor yang juga menentukan kualitas dari nugget. Gambar menunjukkan distribusi hasil pengelasan titik pada suatu logam mild steel. Secara kontinyu, diameter nugget tumbuh sangat cepat dan kemudian melambat sampai tercapai suatu ukuran yang maksimal yaitu sekitar lebih besar 10% nya dari diameter elektroda yang digunakan. Parameter penting dalam proses pengelasan titik yang berpengaruh terhadap kualitas hasil lasan, adalah; penekanan dan waktu pengelasan. arus pengelasan, gaya

Distribusi temperatur dari hasil pengelasan titik.

@@ Teknik Metalurgi – UNJANI

29

Arus Pengelasan Masukkan panas yang telah dinyatakan dalam persamaan Joule diatas, berbanding lurus dengan besarnya arus pengelasan yang diterapkan. Besarnya masukkan panas tersebut adalah dipergunakan untuk mencairkan logam pada daerah sambungan las (titik las) dan sebagian mengalami kehilangan sebagai akibat dari adanya transfer panas (konduksi, konveksi dan radiasi) dari elektroda dan benda kerjanya serta lingkungannya. Ketika kerapatan arus, kurang dari batas yang diijinkan maka masukkan panas yang terjadi tidak akan menyebabkan pencairan logam sehingga tidak akan terjadi sambungan lasan. Dengan demikian pmasukkan panas harus cukup untuk mengimbangi kehilangan panas yang terjadi. Sebaliknya jika masukkan panas yang terjadi misalnya sebagai akibat arus pengelasan yang terlalu besar, maka permukaan bagian dalam dari logam akan terlalu panas sehingga benda kerja akan mengalami kelebihan masukkan panas

(over

heated)

dan

akan

terbakar

(burning), bahkan dapat mengakibatkan cacat expulsion pada nugget
yang terbentuk (lihat Gambar berikut ini).

Pengaruh arus dan waktu pengelasan terhadap nugget yang dihasilkan. @@ Teknik Metalurgi – UNJANI
30

Berdasarkan Gambar diatas, secara skematis diperlihatkan bahwa diameter nugget sebagai fungsi dari arus pada suatu waktu pengelasan tertentu. Ketika arus meningkat maka akan diikuti dengan meningkatnya diameter nugget sampai ukuran yang tidak diinginkan. Pengaruh arus pengelasan titik ini akan sangat menentukan pula terhadap kekuatan tarik geser dari sambungannya serta terhadap besarnya penetrasi elektroda pada ketebalan lembaran atau pelat logam yang disambung. Hal ini ditunjukkan pada Gambar dibawah ini.

Pengaruh arus pengelasan terhadap diameter nugget yang dihasilkan, beban tarik geser dan % indentasi pada tebal pelat.

Gaya Penekanan Elektroda Gaya tekan elektroda atau gaya proses las titik merupakan beban yang diterapkan pada benda kerja oleh elektroda selama proses

@@ Teknik Metalurgi – UNJANI

31

pengelasan berlangsung. Gaya penekanan elektroda ini dikenal ada dua macam, yaitu sebagai berikut: 1. Gaya pengelasan (weld force). 2. Gaya penempaan (forge force). Gaya pengelasan adalah merupakan gaya elektroda terhadap permukaan pelat selama waktu proses pengelasan, sedangkan gaya penempaan adalah gaya penekanan elektroda setelah berakhirnya waktu proses pengelasan (atau selama waktu penahanan saat terjadinya pembekuan logam lasan). Gaya penekanan elektroda ini sangat mempengaruhi kekuatan sambungan karena akan mempengaruhi pula terjadinya cacat-cacat lasan (exulsion, cacat internal, permukaan hangus atau surface

burning, dan lain-lain). Gaya pengelasan yang terlalu besar ini akan
mengakibatkan pula indentasi elektroda pada permukaan benda kerja akan terlalu dalam sehingga akan mempengaruhi kekuatan sambungan las titik yang dihasilkan. Gaya pengelasan yang diberikan kepada benda kerja melalui tekanan dari dua elektroda, harus cukup agar dapat meneruskan arus dengan baik. Besarnya gaya pengelasan ini akan mempengaruhi pula tahanan kontak dari elektroda dan benda kerja. Semakin besar gaya pengelasan maka akan semakin menurunkan besarnya tahanan kontak, hal ini ditunjukkan pada Gambar dibawah ini.

@@ Teknik Metalurgi – UNJANI

32

Hubungan tekanan elektroda dengan tahan kontak.
Semakin kecilnya tahanan kontak dari benda kerja akan menurunkan masukkan panas yang terjadi pada daerah sambungan lasan. Ketika material logam elektroda lebih lunak dari logam yang akan di las, maka penggunaan gaya elektroda akan menyebabkan kontak terbaik pada daerah permukaan kontak antara elektroda dan benda kerja dan kemudian pada ke dua permukaan benda kerjanya. Waktu Pengelasan Waktu atau siklus dalam proses pengelasan titik dibagi dalam empat periode waktu utama yang secara skematis ditunjukkan pada Gambar dibawah ini, yang pada saat operasi proses pengelasan titik, dapat dilakukan pengontrolannya secara manual atau otomatis. Keempat perioda waktu pengelasan tersebut adalah sebagai berikut: 1. Squeeze

time,

adalah

interval

waktu

antara

saat

mulai

penekanan elektroda sampai saat arus mulai akan mengalir. 2. Weld time, adalah interval waktu selama arus mengalir melalui benda kerja.

@@ Teknik Metalurgi – UNJANI

33

3. Hold time, adalah interval waktu dimana arus sudah tidah mengalir lagi tetapi elektroda masih menekan benda kerja sampai logam lasan membeku. 4. Off time, adalah interval waktu akhir dari hold time dengan

Squeeze time berikutnya.

Skematis diagram siklus atau waktu pengelasan titik.
Sedangkan pengaruh waktu pengelasan terhadap distribusi temperatur pada benda kerja dan elektroda selama proses las titik ini diperlihatkan pada Gambar dibawah ini.

Distribusi temperatur selama proses pengelasan titik setelah 20 % dan 100 % dari waktu pengelasan dilakukan. @@ Teknik Metalurgi – UNJANI
34

Kurva bagian dalam pada Gambar diatas memperlihatkan bahwa temperatur pada masing-masing daerah setelah 20 % waktu pengelasan dilewati, terlihat adanya kenaikkan temperatur pada permukaan bagian dalam dari logam yang disambung (titik d), selama periode ini secara proposional lebih rendah dibandingkan dengan dearah lainnya. Demikian pula seperti telah ditunjukkan pada persamaan Joule, dimana, masukkan panas yang terjadi selama proses pengelasan titik berbanding lurus dengan waktu pengelasan. Waktu pengelasan yang terlalu besar dapat mengakibatkan pula cacatcacat lasan khususnya cacat expulsion pada permukaan kontak elektroda yang diakibatkan oleh ketika panas yang terjadi terlalu cepat pada tiga daerah permukaan kontaknya yaitu daerah b, d dan f pada Gambar sebelumnya diatas. Prosedur Percobaan: 1. Siapkan peralatan las:      2.        3. 4. Sarung tangan kulit. Apron dada. Apron lengan. Masker las. Sikat kawat. Jenis material. Posisi pengelasan. Simbol las. Benda las. Jenis elektroda. Arus dan waktu. Tebal pelat.

Catat data mengenai:

Siapkan mesin las dan bahan yang akan di-las. Penyalaan mesin las titik:

@@ Teknik Metalurgi – UNJANI

35

   

Gunakan semua peralatan keselamatan kerja (apron dada, apron lengan, masker las dan sarung tangan kulit). Hidupkan mesin pompa air sebagai pendingin elektroda las. Hidupkan mesin las dengan menyalakan saklar utama. Lihat berapa besar arus pada jarum penunjuk daya listrik. Putar ke kiri jika ingin memperkecil arus dan putar ke kanan jika ingin memperbesar % dari daya listrik yang akan dipergunakan.

   

Lakukanlah percobaan mengelas titik. Bila ada kesulitan, bertanyalah pada asisten atau instruktur. Jika berhenti mengelas, pindahkan saklar ke posisi nol atau netral. Bersihkanlah mesin las dan sekelilingnya setelah selesai mengelas.

@@ Teknik Metalurgi – UNJANI

36

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->