P. 1
BAC-PPSD-8

BAC-PPSD-8

|Views: 10,148|Likes:

More info:

Published by: Muhammad Tajudin Nur on Jul 09, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/15/2013

pdf

text

original

Ada beberapa bentuk wawancara yang sering dipergunakan di dalam
pengumpulan data penelitian. Patton (1987) mengemukakan beberapa bentuk
wawancara, yaitu; (a) wawancara informal, (b) pendekatan dengan menggunakan
petunjuk umum wawancara, dan (c) wawancara baku terbuka.
a. Wawancara pembicaraan informal
Ciri khusus dari wawancara jenis ini adalah di mana pertanyaan-pertanyaan
yang diajukan bergantung pada pewawancara itu sendiri, atau tergantung dari
spontanitasnya di dalam mengajukan pertanyaan. Wawancara ini dilakukan
secara alami, sehingga hubungan antara pewawancara dan yang diwawancarai
terjadi di dalam suasana yang wajar atau tidak dirancang atau dipersiapkan
secara khsusus. Dalam proses wawancara, pertanyaan-pertanyaan yang
diajukan dan jawaban yang disampaikan sebagaimana layaknya pembicaraan
biasa yang dilakukan dalam pembicaraan sehari-hari. Bahkan mungkin ketika
wawancara dilakukan orang yang diwawancarai tidak mengetahui atau tidak
menyadari bahwa dirinya sedang diwawancarai. Meskipun situasi berlangsung
secara wajar dan alami, namun pewawancara tetap melakukan aktivitas pokok
sebagai pewawacara, yaitu melakukan pencatatan atau perekaman data.
Karena itu diperlukan keterampilan yang memadai dan spesifik baik di dalam
mengajukan item-item pertanyaan maupun di dalam menciptakan situasi yang
wajar dan alami tersebut. Sebagai contoh ketika seorang guru ingin
mengalami kesulitaan yang dihadapi siswa di dalam mengerjakan latihan
soal. Dalam wawancara ini guru tidak perlu menyiapkan waktu dan tempat
secara khusus. Guru dapat melakukannya mungkin sambil menjelaskan hal-
hal lain, kemudian menyelinginya dengan menanyakan siswa tentang
kesulitan-kesulitanya. Dengan demikian siswa tidak merasa diwawancarai
secara khsusus.
b.Pendekatan dengan menggunakan petunjuk umum wawancara

33

8.

Jika wawancara pembicaraan informal tidak memerlukan panduan khusus dan
spesifik tentang aspek-aspek yang ingin diwawancarai, berbeda dengan teknik
pewawancara yang kedua ini justeru mempersyaratkan agar pewawancara
membuat kerangka dan garis besar pokok-pokok yang ditanyakan dalam
proses wawancara. Penyusunan pokok-pokok wawancara harus dipersiapkan
terlebih dahulu oleh pewawancara sebelum wawancara dilakukan. Petunjuk
umum wawancara tidak harus selalu dibuat secara rinci, akan tetapi cukup
memuat garis-garis besar aspek yang ingin ditanyakan. Petunjuk yang
didasarkan pada anggapan bahwa ada jawaban yang secara umum akan sama
diberikan oleh para responden, tetapi yang jelas tidak ada perangkat
pertanyaan baku yang disiapkan terlebih dahulu. Pelaksanaan wawancara dan
pengurutan pertanyaan disesuaikan dengan keadaan responden. Karena itu
urutan-urutan pertanyaan tidak bersifat kaku, termasuk bagian-bagian mana
yang terlebih dahulu ditanyakan atau diletakkan pada akhir. Sebagai contoh
ketika guru akan mewawancarai siswa tentang kepdulian orang tua terhadap
belajar siswa. Dalam wawancara jenis ini guru telah menyiapkan sejumlah
butir-butir pertanyaan penting yang akan diajukan, misalnya tentang keadaan
orang tua, waktu-waktu mereka berada di rumah, bentuk-bentuk perhatian
orang tua, intensitas pemberian bimbingan belajar dan seterusnya yang telah
disusun secara berurutan. Dalam pelaksanaannya pertanyaan-pertanyaan
tersebut dapat dijabarkan secara spesifik oleh guru, dan susunan pertanyaan
juga tidak harus berurutan. Hal ini akan tergantung dari jawaban-jawaban
orang siswa dari pertanyaan-pertanyaan sebelumnya.
c.Wawancara baku terbuka
Wawancara baku terbuka adalah wawancara yang menggunakan seperangkat
pertanyaan baku (Moleong, 1991:136). Pada jenis wawancara ini, urutan
pertanyaan, kata-kata yang dipergunakan di dalam daftar pertanyaan, urutan
penyajian disusun sama untuk semua responden yang diwawancarai. Tidak
seperti bentuk pertama, kedua sebelumnya, pada bentuk ini, pewawancara
tidak terlalu memiliki keluwesan mengadakan pertanyaan-pertanyaan
pendalaman. Maksud dari adanya pembatasan-pembatasan di dalam

34

8.

wawancara ini adalah untuk mengurangi terjadinya “kemencengan” (bias).
Jenis wawancara ini tepat dilakukan apabila pewawancara terdiri dari
sejumlah orang dan yang diwawancarai cukup banyak jumlahnya, sehingga
hasil-hasil atau data yang diperoleh tidak terlalu banyak perbedaan. Di dalam
PTK mungkin guru tidak terlalu sering menggunakan jenis wawancara ini,
karena di samping siswa yang dihadapi jumlahnya tidak terlalu besar,
hubungan guru dan siswa sudah sangat akrab, dan waktu yang dipergunakan
tidak terlalu leluasa karena menyelingi kegiatan pembelajaran. Mungkin guru
lebih disarankan untuk menggunakan jenis wawancara informal jika memang
diperlukan wawancara.
Ketika Anda melaksanakan wawacara, Anda boleh mengembangkan
berbagai bentuk pertanyaan yang dapat mengungkapkan informasi atau data yang
Anda butuhkan. Ada beberapa jenis pertanyaan dan hal-hal yang perlu
diperhatikan dalam mengembangkan pertanyaan yang lazim dipergunakan dalam
wawancara.
a.Pertanyaan deskriptif (descriptive question), yaitu bentuk pertanyaan di mana
pewawacara meminta responden untuk mendeskripsikan sesuatu. Misalnya,
“Dapatkah Anda menceriterakan pertemuan yang baru Anda ikuti.
b.Pertanyaan struktural (structural question), adalah pertanyaan yang diarahkan
untuk membantu peneliti bagaimana informan mengorganisasikan
pengetahuannya. Misalnya: “Cara apa saja yang Anda gunakan untuk
menyampaikan materi pelajaran”. Atau, “Dapatkah Anda menjelaskan
langkah-langkah yang ditempuh di dalam penerapan metode diskusi kelompok
kecil?”

c.Pertanyaan pembeda atau mempertentangkan (contras question), adalah
pertanyaan yang bertujuan mengetahui makna sesuatu yang dikemukakan oleh
informan terhadap berbagai terminologi di dalam bahasa penutur. Pertanyaan
jenis ini menghendaki informan membedakan obyek dan peristiwa menurut
pengalaman mereka, sehingga peneliti memperoleh wawasan dimensi makna
yang digunakan informan untuk membedakannya. Pertanyaan ini misalnya:
“Apakah perbedaan cara belajar anak cacat, anak normal dan anak luar

35

8.

biasa?”). Contoh lain: “Apa perbedaan guru yang melaksanakan PTK dengan
guru yang tidak melaksanakan PTK dilihat persiapan mengajar yang
disusunnya?”
d.Pertanyaan bergiliran (asymetridal turn talking), di mana informan dan
pewawacara bergiliran di dalam berbicara. Dalam bentuk ini pertama
pewawancara menguraikan semua pertanyaannya terlebih dahulu, kemudian
informan menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut atau mengungkapkan
sebagian besar pengalaman-pengalamannya.
e.P engembangan dari yang singkat (expansion rather than abbreviation), di
mana peneliti mendorong informan untuk memperluas (memperjelas) apa yang
dikemukakannya untuk menghindari kurang rincinya topik yang diperoleh.
Dalam proses wawancara ini peneliti sering mengingatkan informan agar tidak
dilakukan secara singkat dan terburu-buru untuk mempercepat waktu
penelitian.
f.Mengajukan pertanyaan dengan cara yang akrab bersahabat (asking friendly
question
). Selama proses wawancara antara peneliti dan informan berlangsung,
pertanyaan-pertanyaan yang diajukan di dalam wawancara selalu diarahkan
dalam rangka membangun hubungan yang akrab, saling menghargai dan
penuh kehangatan (rapport), sehingga informan tidak lekas merasa jenuh
apalagi merasa terbebani dengan pertanyaan-pertanyaan yang diajukan
peneliti.

g.Berhenti sejenak (pausing). Dalam kenyataan di lapangan seringkali peneliti
merasa khawatir bilamana aspek-aspek yang telah dirancang untuk ditanyakan
tidak dapat dilaksanakan sepenuhnya karena terbatasnya waktu yang tersedia.
Akhirnya tanpa disadari peneliti terus mengejar informan dengan pertanyaan-
pertanyaan sehingga suasana wawancara menjadi kurang kondusif. Sebaiknya
pewawancara harus berhenti beberapa saat agar suasana keakraban dan raport
yang telah terbina terpelihara dengan baik.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->