P. 1
buku kaskus

buku kaskus

4.92

|Views: 18,157|Likes:
Published by ditdt
untuk ilmu kebatiana ini bagus
untuk ilmu kebatiana ini bagus

More info:

Published by: ditdt on Jun 16, 2008
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/31/2013

pdf

text

original

Sections

AYAT KURSYI
@fachrio genio

SINAR CAHAYA AYAT KURSI

Dlm sebuah hadis, ada menyebut perihal seekor syaitan yg duduk diatas
pintu rumah.Tugasnya ialah utk menanam keraguan di hati suami terhadap
kesetiaan isteri di rumah dan keraguan dihati isteri terhadap kejujuran suami
di luar rumah.Sebab itulah Rasulullah tidak akan masuk rumah sehinggalah
Baginda mendengar jawaban salam daripada isterinya.Disaat itu syaitan
akan lari bersama-sama dengan salam itu.

Hikmat Ayat Al-Kursi mengikut Hadis-hadis:

1) Barang siapa membaca ayat Al-Kursi apabila berbaring di tempat tidurnya
, Allah SWT mewakilkan dua orang Malaikat memeliharanya hingga subuh.

2) Barang siapa membaca ayat Al-Kursi di akhir setiap sembahyang Fardhu,
dia akan berada dlm lindungan Allah SWT hingga sembahyang yang lain.

3) Barang siapa membaca ayat Al-Kursi di akhir tiapsembahyang,tidak
mencegah akan dia daripada masuk syurga kecuali maut dan barang siapa
membacanya ketikahendak tidur, Allah SWT memelihara akan dia ke atas
rumahnya, rumah jirannya dan ahli rumah-rumah disekitarnya.

4) Barang siapa membaca ayat Al-Kursi di akhir tiap2 sembahyang fardhu,
Allah SWT menganugerahkan dia setiap hati orang yg bersyukur,setiap
perbuatan orang yg benar,pahala nabi2 serta Allah melimpahkan padanya
rahmat.

5) Barang siapa membaca ayat Al-Kursi sebelum keluarrumahnya, maka
Allah SWT mengutuskan 70,000 Malaikatkepadanya - mereka semua
memohon keampunan dan mendoakan baginya.

6) Barang siapa membaca ayat Al-Kursi di akhir sembahyang Allah SWT akan
mengendalikan pengambilan rohnya dan dia adalah seperti orang yang
berperang bersama Nabi Allah sehingga mati syahid.

7) Barang siapa yang membaca ayat Al-Kursi ketika dalam kesempitan
nescaya Allah SWT berkenan memberi pertolongan kepadanya.

Dari Abdullah bin 'Amr r.a., Rasulullah S.A.W.
bersabda,Sampaikanlah pesanku biarpun satu ayat..."

ayat kursi ITU MENENTRAMKAN

soal efek buruk,karena ayat ini datangnya dari Allah SWT(firman-NYA) maka
sepertinya tidak ada yang perlu dikuatirkan,karena segala yang baik
datangnya dari Allah,dan sesuatu yang buruk datangnya dari diri masing2
firman Allah itu kan datangnya dari Allah,jadi apabila kita membaca firman-
NYA,sepertinya tidak ada efek yang mengarah ke hal2 mudharat,malah
mengarah ke hal2 yang bersifat hidayah :D:D:D

tadi ada yang minta ayatnya di copy-paste, ini ane copy-in:

ُﮫّﻠﻟا َﻻ َﮫـَﻟِإ ﱠﻻِإ َﻮُھ ﱡﻲَﺤْﻟا ُمﻮﱡﯿَﻘْﻟا َﻻ ُهُﺬُﺧْﺄَﺗ ٌﺔَﻨِﺳ َﻻَو ٌمْﻮَﻧ ُﮫﱠﻟ ﺎَﻣ ﻲِﻓ ِتاَوﺎَﻤﱠﺴﻟا ﺎَﻣَو ﻲِﻓ ِضْرَﻷا ﻦَﻣ اَذ يِﺬﱠﻟا ُﻊَﻔْﺸَﯾ
ُهَﺪْﻨِﻋ ﱠﻻِإ ِﮫِﻧْذِﺈِﺑ ُﻢَﻠْﻌَﯾ ﺎَﻣ َﻦْﯿَﺑ ْﻢِﮭﯾِﺪْﯾَأ ﺎَﻣَو ْﻢُﮭَﻔْﻠَﺧ َﻻَو َنﻮُﻄﯿِﺤُﯾ ٍءْﻲَﺸِﺑ ﱢﻣْﻦ ِﮫِﻤْﻠِﻋ ﱠﻻِإ ﺎَﻤِﺑ ءﺎَﺷ َﻊِﺳَو ُﮫﱡﯿِﺳْﺮُﻛ
ِتاَوﺎَﻤﱠﺴﻟا َضْرَﻷاَو َﻻَو ُهُدوُﺆَﯾ ﺎَﻤُﮭُﻈْﻔِﺣ َﻮُھَوﱡﻲِﻠَﻌْﻟا ُﻢﯿِﻈَﻌْﻟا

[2:255] Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang
Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk
dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Tiada yang
dapat memberi syafa'at di sisi Allah tanpa izin-Nya? Allah mengetahui apa-
apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak
mengetahui apa-apadari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya.
Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat
memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.
maha benar Allah dengan segala firman-NYA

@anonYmous

Menurut keterangan dari kitab"Asraarul Mufidah" barangsiapa
mengamalkan membacanya setiap hari sebanyak 18 kali maka akan
dibukakan dadanya dengan berbagai hikmah, dimurahkan rezekinya,
dinaikkan darajatnya dan diberikannya pengaruh sehingga semua orang akan
menghormatinya serta terpelihara ia dari segala bencana dengan izin Allah

1. Dapat Menyembuhkan Penyakit Gila / Ayan

Untuk sakit gila cara megamalkannya, ayat Kursi dibaca sebanyak 33 kali
pada ubun-ubun orang yang sakit gila itu seraya dihembus-hembuskan. Insya
Allah lekassembuh. Lakukanlah berulang-ulang ketika matahari akan terbit
dan ketika akan terbenam, bila belum ada perubahan.

Sedang untuk sakit ayan cara mengamalkannya, ambillah segelas air lalu
bacalah ayat Kursi sebanyak 90 kali, dan tiap kali bacaan tiupkan pada gelas
itu, kemudian diminumkan pada orang yang sakit ayan. Insya Allah akan
lekassembuh. Lakukanlah berulang-ulang, dengan sabardan dengan
keyakinan yang penuh.

2. Dapat Menjauhkan Dari Impian Yang Buruk

Cara mengamalkannya, bacalah Ta'awwudz 3 kali, yaitu membaca "A'UUDZU
BIL LAAHi MINASY SYAITHOONIR ROJIIM" lalu membaca ayat Kursi 3 kali. Dan
bila sampai pada bacaan "WA LAA YA-UUDUHU HIFDLU HUMAA WA HUWAL
'ALIYYUL 'ADLIIM" hendaknya diulang 3 kali. Insya Allah dalam tidurnya nanti
tepjauh dari mimpi-mimpi yang buruk, dan bahkan bermimpi yang indah-
indah.

3. Dapat Mendatangkan Keselamatan Dalam Perjalanan

Cara mengamalkannya, bacalah ayat Kursi sebanyak 3 kali sebelum anda
berangkat dalam suatu perjalanan. Insya Allah dalam perjalanan anda nanti
selalu dalam perlindungan-Nya sehingga tidak akan menemui kesulitan dan
kesukaran sampai anda pulang kembali.

4. Dapat Mendatangkan Segala Macam Hajat.

Cara mengamalkannya, bacalah ayat Kursi 99 kali sesudah shalat Hajat 2
rakaat pada tengah malam. Kemudian berdo'alah kepada Allah dengan
menyebutkan hajatyang dimaksud. Insya Allah dalam waktu dekat apa yang

dihajatkan itu akan segera terkabulkan.

5. Dapat Menghilangkan Dosa-Dosa Kecil

Cara mengamalkannya, bacalah ayat Kursi secara rutin pada setiap selesai
shalat fardhu, maka faedahnya dapat menghilangkan dosa-dosa kecil, kecuali
dosa-dosa yang berhubungan dengan sesama manusia.

6. Dapat Membentengi Diri dari Gangguan Syetan

Cara mengamalkannya, bacalah ayat Kursi sebanyak 7 kali sebelum anda
mengerjakan sesuatu perkara niscaya Allah akan melindungi anda didalam
mengerjakan sesuatu itu dari gangguan syetan.

7. Dapat Mengaburkan Pandangan Musuh

Cara mengamalkannya, buatlah garis lingkaran seraya bacalah ayat Kursi
sebanyak 7 kali, kemudian masuklah ke dalam lingkaran itu, niscaya
pandangan musuh menjadi kabur tidak bisa melihator-angyang ada dalam
lingkaran, sehingga orangyang berada di lingkaran itu selamatdari
ancamannya.

8. Dapat Menghindarkan Gangguan Orang Zalim

Cara mengamalkannya, bacalah ayat Kursi pada permulaan siang dan
permulaan malam. Lakukanlah bacaan ini sebagai amalan rutin, Insya Allah
akan terjagadari maksud jahat orang zalim, karenaselalu dalam
perlindunganNya. Disamping itu syetan pun tidak berani menggangu.

9. Dapat Menyembuhkansegala penyakit

Cara mengamalkannya, tulislah ayat Kursi pada kertas yang putih, kemudian
dilebur dengan aiar suci, lalu airnya diminumkan pada orang yang sakit.
Lakukanlah berulang-ulang dengan harapan penyakitnya lekas sembuh. Insya
Allah dengan jalanyang demikian ini, penyakit yang dideritanya akan segera
sembuh.

10. Dapat Membungkam Mulut Orang jahat

Cara mengamalkannya, lakukanlah petunjuk dibawah ini bila anda akan
menghadapi penggilan orang yang akan berlaku jahat terhadap anda. Yaitu
sebelum anda mendatangi penggilan itu bacalah ayat kursi, kemudian

bacalah do'a sebagai berikut:

Artinya : "Wahai Dzat yang hidup, wahai Dzatyang berdiri sendiri, wahai
dzatyang mendptakan semua langitdan bumi, wahai Dzat yang memiliki
kebesaran dan kemuliaan. Aku memohon kepada-Mu dengan haq
(kebenaran) ayat yang mulia ini (ayat kursi) dan semua yang terkandung
didalamnya berupa nama-nama yangagung, agarEngakau bungkam
mulutnya (sebut nama orang yang dimaksud) dan Engkau bisukan lisannya
sehingga dia akan berkata kecual dengan kata yang baik, atau dia diam.
Kebaikanmu hai or-ang ini berada dikedua tangan-Mu, dan kekejianmu
beradi dibawah kedua telapak kaki-Mu".

Sesudah membaca do'a tersebut, lalu datang menghadap orang yang
dimaksud dengan tenang dan penuh keyakinan tanpa keraguan sedikitpun.
Insya Allah, orang jahat yang anda hadapi aitu akan membungkam seribu
bahasa sehingga ia tidak berkataapa-apa kecual berkata yang baik, dan
bahkan menaruh belas kasihan terhadap anda.

11. Dapat Menyelamatkan Ancaman Pencuri

Cara mengamalkannya, bacalah ayatkilrsi 7 kali ketikaakan berangkat tidur,
kemudian bacalah pula do'a sebagai berikut sebanyak 7 kalipula do'a sebagai
berikut sebanyak 7 kali :

Artinya : "Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
Allah adalah Dzat Yang Maha meliputi kepada hamba-Nya. Allah adalah Dzat
Yang Maha Memelihau, Yang Maha Dahulu, Yang Azali, Yang Maha Hidup,

Yang Maha Berdiri Sendiri dan tidak tidur".

Insya Allah, dengan dibacakan yangdemikian itu rumah beserta isinya akan
selamat dari pencurian hingga pagi hari. Sebab do'a tersebut mempunyai
faedah yang besar sekali. Dari padanya terpancar daya gaib yang dapat
menolak kehendak jahat para pencuri,

Demikianlah diantara keutamaan dan khasiyatayat Kursi. Dimana ayat Kursi
adalah bacaan yang ampuh untuk membentengi diri dari herbagai macam
godaan dan musibah. Karena dengan dibacanya ayat kursi, Allah
memberikan perlindungan terhadap diri si pembaca itu.

@mata malaikat

KEBESARAN AYAT KURSI

Ayat ini diturunkan setelah hijrah. Semasa penurunannya ia telah diiringi
oleh beribu-ribu malaikat kerana kebesaran dan kemuliaannya. Syaitan dan
iblis juga menjadi gempar kerana adanya satu perintang dalam perjuangan
mereka. Rasullah s.a.w. dengan segera memerintahkan Zaid b Tsabit menulis
serta menyebarkannya.

Sesiapa yang membaca ayat Kursi dengan khusyuk setiap kali selepas sholat
fardhu, setiap pagi dan petang, setiap kali keluar masuk rumah atau hendak
musafir, insyaAllah akan terpeliharalah dirinya dari godaan syaitan,
kejahatan manusia, binatang buas yang akan memudaratkan dirinya bahkan
keluarga, anak-anak, harta bendanya juga akan terpelihara dengan izin Allah
s.w.t.

Mengikut keterangan dari kitab "Asraarul Mufidah" sesiapa mengamalkan
membacanya setiap hari sebanyak 18 kali maka akan dibukakan dadanya
dengan berbagai hikmah, dimurahkan rezekinya, dinaikkan darjatnya dan
diberikannya pengaruh sehingga semua orang akan menghormatinya serta
terpelihara ia dari segala bencana dengan izin Allah.

Syeikh Abu Abbas ada menerangkan, siapa yang membacanya sebanyak 50
kali lalu ditiupkannya pada air hujan kemudian diminumnya, Insya-Allah,
Allah akan mencerdaskan akal fikirannya serta memudahkannya menerima
ilmu pengetahuan.

Untuk amalan kita semua..... Fadhilat Ayat Al-Kursi mengikut Hadis-Hadis :

Rasullullah s.a.w. bersabda bermaksud: "Sesiapa pulang ke rumahnya
serta membaca ayat Kursi, Allah hilangkan segala kefakiran di depan
matanya. Sabda baginda lagi; "Umatku yang membaca ayat Kursi 12 kali
pada pagi jumaat, kemudian berwuduk dan sembahyang sunat dua rakaat,
Allah memeliharanya daripada kejahatan syaitan dan kejahatan pembesar."
Orang yang selalu membaca ayat Kursi dicintai dan dipelihara Allah
sebagaimana DIA memelihara Nabi Muhammad. Mereka yang beramal
dengan bacaan ayat Kursi akan mendapat pertolongan serta perlindungan
Allah daripada gangguan serta hasutan syaitan. Pengamal ayat Kursi juga,
dengan izin Allah, akan terhindar daripada pencerobohan pencuri. Ayat
Kursi menjadi benteng yang kuat menyekat pencuri daripada memasuki
rumah.
Mengamalkan bacaan ayat Kursi juga akan memberikan keselamatan
ketika dalam perjalanannya.
Ayat Kursi yang dibaca dengan penuh khusyuk, insya-Allah akan
menyebabkan syaitan dan jin terbakar.
Jika anda berpindah ke rumah baru maka pada malam pertama anda
menduduki rumah itu sebaiknya anda membaca ayat Kursi 100 kali, insya-
Allah mudah-mudahan anda sekeluarga terhindar daripada gangguan lahir
dan batin.
- Barang siapa membaca ayat Al-Kursi apabila berbaring di tempat tidurnya,
Allah mewakilkan 2 orang Malaikat memeliharanya hingga subuh.
Barang siapa membaca ayat Al-Kursi di akhir setiap sembahyang Fardhu, ia
akan berada dalam lindungan Allah hingga sholat yang lain.
Barang siapa membaca ayat Al-Kursi di akhir tiap sholat, tidak menegah
akan dia daripada masuk syurga kecuali maut, dan barang siapa
membacanya ketika hendak tidur, Allah memelihara akan dia ke atas
rumahnya, rumah jirannya & ahli rumah2 di sekitarnya.
Barang siapa membaca ayat Al-Kursi diakhir tiap-tiap sholat Fardhu, Allah
menganugerahkan dia hati-hati orang yang bersyukur perbuatan2 orang
yang benar, pahala nabi2 juga Allah melimpahkan padanya rahmat.
Barang siapa membaca ayat Al-Kursi sebelum keluar rumahnya, makaAllah
mengutuskan 70,000 Malaikat kepadanya, mereka semua memohon
keampunan dan mendoakan baginya.
Barang siapa membaca ayat Al-Kursi di akhir sembahyang Allah azza wajalla
akan mengendalikan pengambilan rohnya dan ia adalah seperti orang yang
berperang bersama nabi Allah sehingga mati syahid.
Barang siapa yang membacaayat al-Kursi ketika dalam kesempitan niscaya
Allah berkenan memberi pertolongan kepadanya Dari Abdullah bin 'Amr r.a.
Rasullullah s.a.w. bersabda, " SAMPAIKANLAH PESANKU BIARPUN SATU
AYAT"

Kunci dari AYAT KURSI (Domba Garut)

Saya punya sedikit info tentang kunci dari AYAT KURSI
mingkin udah banyak yg tau isi dari AYAT KURSI beserta fungsinya...

Banyak cerita katanya klo ada orang yg kesurupan,trus di bacakan AYAT
KURSI tapi orang yg ke surupan nya juga ikut membaca

Kalau gitu jelas yg masuk nya bukan Setan Melainkan JIN...karna kalo Setan
di jamin ngga akan bisa baca..AYAT AL-QURAN Tapi kalo JIN....Bisa baca sama
seperti manusia,tapi kelemahanya JIN ngga bisa tahan nafas

nah waktu kita membacakan AYAT KURSI pas di "HIFZHUMUMAA WAHUAL
ALIYYUL AZHIEM" NYA tahan nafas lalu tiup kan ke telinga kanan/kiri atau
bisa juga ke bun bunan(tengah-tengah kepala atas)

Nah segitu aja Mudah-Mudahan Bisa Bermanfaat....AMIN

Doa Terusan Atahiat (Domba Garut)

ini doa utk terusannya atahiat akhir...
Setelah kita athiat akhir,setelah pil alamin inaka hamidun majid....jangan
salam dulu tapi teruskan dengan yg di bwah ini:

-ALLOH HUMA INNI A'U DUBIKA MIN ADABIL JAHANAN WA MIN
ADABIL KOBRI WA MIN FINATIL MAHYA WA MAMATI WA MIN
SYAHRIL FINATIHIL MASIHID DADJA (BARU KITA SALAM)

YG INI SETELAH SALAM SEBELUM MELAKUKAN APA APA
DALAM ARTIAN SETELAH SHOLAT

-TAWAJAH HAESUSI'TA PAINAKA MANSYURUN ALLOHUAH DAULA
SYARIKALA MUHAMADAN ABDUHU WARUSULUH

DI TERUSKAN MEMBACA SHOLAWAT +- 11X
KALO BISA SHOLAWAT NARIYAH...(ALLOHUMA SHOLI SHOLATAN
KAMILATAN WA SALIM SALAMAN TA'MAN...) KALO NGGA BISA BEBAS...YG
PENTING SHOLAWAT

Asmaul Husna (Willis)

Allah mempunyai Asmaul Husna (nama-nama yang baik) maka
mohonkanlah(doa) kepadaNya dengan menyebut Asmaul Husna tersebut.
Tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam
menyebut nama-namaNya. Mereka akan mendapatkan balasan terhadap
apa yang mereka perbuat (QS 7 : 180)
ALLAH memiliki nama-nama yang baik yang disebut dengan Asmaul Husna.
Rasulullah SAW menjelaskan bahwa al-Asma al-Husna ini jumlahnya ada 99,
karena ALLAH menyukai bilangan yang ganjil. Sesungguhnya ALLAH
mempunyai sembilan puluh sembilan nama, yaitu seratus kurang satu.
Barangsiapa menghitungnya, niscaya ia masuk surga.
(H.R. Bukhari dan Muslim)
Sembilan puluh sembilan nama tsb menggambarkan betapa baiknya ALLAH.
Nama-nama dalam Asmaul Husna ini, ALLAH sendirilah yang
menciptakannya.Dia-lah ALLAH yang Menciptakan, yang Mengadakan, yang
Membentuk Rupa, yang Mempunyai Nama-Nama yang Paling baik. Bertasbih
kepada-Nya apa yang ada di langit dan di bumi. Dan Dia-lah yang Maha
Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS. Al-Hasyr: 24)
Sebutlah nama-nama ALLAH, dalam setiap zikir dan doa kita. Jika kita
memohon diberi petunjuk, sebutlah nama Al-Hâdi (Maha Pemberi Petunjuk).
Jika kita mohon diberi sifat kasih sayang, sebutlah nama Ar-Rahmân (Maha
Pengasih). Semoga doa kita akan semakin makbul.Anjuran untuk
menggunakan Asmaul Husna dalam berzikir dan berdoa, diterangkan oleh
ALLAH SWT dalam Al-Quran. Hanya milik ALLAH asma-ul husna, maka
bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asma-ul husna itu dan
tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam
(menyebut) nama-nama-Nya. Nanti mereka akan mendapat balasan
terhadap apa yang telah mereka kerjakan. (QS. Al-A'râf: 180)
Asmaul Husna hanya milik ALLAH SWT. Manusia sebagai makhluk-Nya hanya
dapat memahami, mempelajari, dan meniru kandungan makna dari nama
yang baik tsb dalam kehidupan sehari-hari.

No Nama Arti Ada dalam

1 ar-Rahmaan Yang Maha Pemurah Al-Faatihah: 3
2 ar-Rahiim Yang Maha Pengasih Al-Faatihah: 3
3 al-Malik Maha Raja Al-Mu'minuun: 11
4 al-Qudduus Maha Suci Al-Jumu'ah: 1
5 as-Salaam Maha Sejahtera Al-Hasyr: 23
6 al-Mu'min Yang Maha Terpercaya Al-Hasyr: 23
7 al-Muhaimin Yang Maha Memelihara Al-Hasyr: 23
8 al-'Aziiz Yang Maha Perkasa Aali 'Imran: 62
9 al-Jabbaar Kehendaknya Tdk Bisa DiingkariAl-Hasyr: 23
10 al-Mutakabbir Yang Memiliki Kebesaran Al-Hasyr: 23
11 al-Khaaliq Yang Maha Pencipta Ar-Ra'd: 16
12 al-Baari' Yang Mengadakan dari Tiada Al-Hasyr: 24
13 al-Mushawwir Yang Membuat Bentuk Al-Hasyr: 24
14 al-Ghaffaar Yang Maha Pengampun Al-Baqarah: 235
15 al-Qahhaar Yang Maha Perkasa Ar-Ra'd: 16
16 al-Wahhaab Yang Maha Pemberi Aali 'Imran: 8
17 ar-Razzaq Yang Maha Pemberi Rezki Adz-Dzaariyaat: 58
18 al-Fattaah Yang Maha Membuka (Hati) Sabaa': 26
19 al-'Aliim Yang Maha Mengetahui Al-Baqarah: 29
20 al-Qaabidh Yang Maha Pengendali Al-Baqarah: 245
21 al-Baasith Yang Maha Melapangkan Ar-Ra'd: 26
22 al-Khaafidh Yang Merendahkan Hadits at-Tirmizi
23 ar-Raafi' Yang Meninggikan Al-An'aam: 83
24 al-Mu'izz Yang Maha Terhormat Aali 'Imran: 26
25 al-Mudzdzill Yang Maha Menghinakan Aali 'Imran: 26
26 as-Samii' Yang Maha Mendengar Al-Israa': 1
27 al-Bashiir Yang Maha Melihat Al-Hadiid: 4
28 al-Hakam Yang Memutuskan Hukum Al-Mu'min: 48
29 al-'Adl Yang Maha Adil Al-An'aam: 115
30 al-Lathiif Yang Maha Lembut Al-Mulk: 14
31 al-Khabiir Yang Maha Mengetahui Al-An'aam: 18
32 al-Haliim Yang Maha Penyantun Al-Baqarah: 235
33 al-'Azhiim Yang Maha Agung Asy-Syuura: 4
34 al-Ghafuur Yang Maha Pengampun Aali 'Imran: 89
35 asy-Syakuur Yang Menerima Syukur Faathir: 30
36 al-'Aliyy Yang Maha Tinggi An-Nisaa': 34
37 al-Kabiir Yang Maha Besar Ar-Ra'd: 9
38 al-Hafiizh Yang Maha Penjaga Huud: 57
39 al-Muqiit Yang Maha Pemelihara An-Nisaa': 85
40 al-Hasiib Maha Pembuat Perhitungan An-Nisaa': 6

41 al-Jaliil Yang Maha Luhur Ar-Rahmaan: 27
42 al-Kariim Yang Maha Mulia An-Naml: 40
43 ar-Raqiib Yang Maha Mengawasi Al-Ahzaab: 52
44 al-Mujiib Yang Maha Mengabulkan Huud: 61
45 al-Waasi' Yang Maha Luas Al-Baqarah: 268
46 al-Hakiim Yang Maha Bijaksana Al-An'aam: 18
47 al-Waduud Yang Maha Mengasihi Al-Buruuj: 14
48 al-Majiid Yang Maha Mulia Al-Buruuj: 15
49 al-Baa'its Yang Membangkitkan Yaasiin: 52
50 asy-Syahiid Yang Maha Menyaksikan Al-Maaidah: 117
51 al-Haqq Yang Maha Benar Thaahaa: 114
52 al-Wakiil Yang Maha Pemelihara Al-An'aam: 102
53 al-Qawiyy Yang Maha Kuat Al-Anfaal: 52
54 al-Matiin Yang Maha Kokoh Adz-Dzaariyaat: 58
55 al-Waliyy Yang Maha Melindungi An-Nisaa': 45
56 al-Hamiid Yang Maha Terpuji An-Nisaa': 131
57 al-Muhshi Yang Maha Menghitung Maryam: 94
58 al-Mubdi' Yang Maha Memulai Al-Buruuj: 13
59 al-Mu'id Yang Maha Mengembalikan Ar-Ruum: 27
60 al-Muhyi Yang Maha Menghidupkan Ar-Ruum: 50
61 al-Mumiit Yang Maha Mematikan Al-Mu'min: 68
62 al-Hayy Yang Maha Hidup Thaahaa: 111
63 al-Qayyuum Yang Maha Mandiri Thaahaa: 11
64 al-Waajid Yang Maha Menemukan Adh-Dhuhaa: 6-8
65 al-Maajid Yang Maha Mulia Huud: 73
66 al-Waahid Yang Maha Tunggal Al-Baqarah: 133
67 al-Ahad Yang Maha Esa Al-Ikhlaas: 1
68 ash-Shamad Yang Maha Dibutuhkan Al-Ikhlaas: 2
69 al-Qaadir Yang Maha Kuat Al-Baqarah: 20
70 al-Muqtadir Yang Maha Berkuasa Al-Qamar: 42
71 al-Muqqadim Yang Maha Mendahulukan Qaaf: 28
72 al-Mu'akhkhir Yang Maha Mengakhirkan Ibraahiim: 42
73 al-Awwal Yang MahaPermulaan Al-Hadiid: 3
74 al-Aakhir Yang Maha Akhir Al-Hadiid: 3
75 azh-Zhaahir Yang Maha Nyata Al-Hadiid: 3
76 al-Baathin Yang Maha Gaib Al-Hadiid: 3
77 al-Waalii Yang Maha Memerintah Ar-Ra'd: 11
78 al-Muta'aalii Yang Maha Tinggi Ar-Ra'd: 9
79 al-Barr Yang Maha Dermawan Ath-Thuur: 28
80 at-Tawwaab Yang Maha Penerima Taubat An-Nisaa': 16
81 al-Muntaqim Yang Maha Penyiksa As-Sajdah: 22
82 al-'Afuww Yang Maha Pemaaf An-Nisaa': 99
83 ar-Ra'uuf Yang Maha Pengasih Al-Baqarah: 207
84 Maalik al-Mulk Yang Mempunyai Kerajaan Aali 'Imran: 26

85 Zuljalaal wa al-'Ikraam Yang Maha Memiliki Kebesaran serta Kemuliaan
Ar-Rahmaan: 27
86 al-Muqsith Yang Maha Adil An-Nuur: 47
87 al-Jaami' Yang Maha Pengumpul Sabaa': 26
88 al-Ghaniyy Yang Maha Kaya Al-Baqarah: 267
89 al-Mughnii Yang Maha Mencukupi An-Najm: 48
90 al-Maani' Yang Maha Mencegah Hadits at-Tirmizi
91 adh-Dhaarr Yang Maha Pemberi Derita Al-An'aam: 17
92 an-Naafi' Yang Maha Pemberi Manfaat Al-Fath: 11
93 an-Nuur Yang Maha Bercahaya An-Nuur: 35
94 al-Haadii Yang Maha Pemberi Petunjuk Al-Hajj: 54
95 al-Badii' Yang Maha Pencipta Al-Baqarah: 117
96 al-Baaqii Yang Maha Kekal Thaahaa: 73
97 al-Waarits Yang Maha Mewarisi Al-Hijr: 23
98 ar-Rasyiid Yang Maha Pandai Al-Jin: 10
99 ash-Shabuur Yang Maha Sabar Hadits at-Tirmizi

"Wahai orang-orang beriman, berzikirlah mengingat Allah sebanyak-
banyaknya dan bertasbihlah dengan mensucikan-Nya baik di waktu pagi
maupun petang." (QS 33:41).

Hanya saja, dalam berzikir dan dalam melakukan ibadah apapun selain harus
ikhlas juga harus disertai contoh dan dalil yang berasal dari Rasul saw. Dalam
hal ini, menyebutkan khasiat-khasiat zikir; termasuk khasiat zikir asmaul
husna; harus berdasarkan keterangan Allah dan Rasul saw.

Memang benar bahwa zikir asmaul husna memiliki keutamaan yang sangat
besar. Hanya saja khasiat tersebut harus disertai dalil yang valid yang berasal
dari Allah dan Rasul-Nya.Lalu, berzikir dengan mengharap sesuatu
diperbolehkan selama harapan dan tujuannya itu tidak bertentangan dengan
syariat. Rasul saw. sendiri bersabda,

"Allah memiliki sembilan puluh sembilan nama. Siapa yang membacanya
(dengan disertai pemahaman dan pengamalan terhadapnya) pasti ia masuk
sorga".

Allah Subhannahu wa Ta'ala berfirman: "Hanya milik Allah asma'ul husna,
maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asma'ul husna itu dan
tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam
(menye-but) nama-namaNya. Nanti mereka akan mendapat balasan
terhadap apa yang telah mereka kerjakan." (Al-A'raf: 180)

Ayat yang agung ini menunjukkan hal-hal berikut:

Menetapkan nama-nama (asma') untuk Allah Subhannahu wa Ta'ala , maka
siapa yang menafikannya berarti ia telah menafikan apa yang telah
ditetapkan Allah dan juga berarti dia telah menentang Allah Subhannahu wa
Ta'ala .

Bahwasanya asma' Allah Subhannahu wa Ta'ala semuanya adalah husna.
Maksudnya sangat baik. Karena ia mengandung makna dan sifat-sifat yang
sempurna, tanpa kekurangan dan cacat sedikit pun. Ia bukanlah sekedar
nama-nama kosong yang tak bermakna atau tak mengandung arti.

Sesungguhnya Allah memerintahkan berdo'a dan ber-tawassul kepadaNya
dengan nama-namaNya. Maka hal ini menunjukkan keagungannya serta
kecintaan Allah kepada do'a yang disertai nama-namaNya.

Bahwasanya Allah Subhannahu wa Ta'ala mengancam orang-orang yang
ilhad dalam asma'-Nya dan Dia akan membalas perbuatan mereka yang
buruk itu. Ilhad menurut bahasa berarti “ ُﻞْﯿَﻤْﻟا ” yakni condong. Ilhad di
dalam asma’ Allah berarti menyelewengkannya dari makna-makna agung
yang dikandungnya kepada makna-makna batil yang tidak dikandungnya.
Sebagaimana yang dilakukan orang-orang yang men-ta'wil-kannya dari
makna-makna sebenarnya kepada makna yang mereka ada-adakan.

Allah Subhannahu wa Ta'ala berfirman: "Katakanlah: 'Serulah Allah atau
serulah Ar-Rahman. Dengan nama yang mana saja kamu seru, Dia
mempunyai al-asma'ul husna (nama-nama yang terbaik) ...".(Al-Isra': 110)

Diriwayatkan, bahwa salah seorang musyrik mendengar baginda Nabi
Shallallaahu alaihi wa Salam sedang mengucapkan dalam sujudnya, "Ya
Allah, ya Rahman". Maka ia berkata, "Sesungguhnya Muhammad mengaku
bahwa dirinya hanya menyembah satu tuhan, sedangkan ia memohon
kepada dua tuhan." Maka Allah menurunkan ayat ini. Demikian seperti
disebutkan oleh Ibnu Katsir. Maka Allah menyuruh hamba-hambaNya untuk
memanjatkan do'a kepadaNya dengan menyebut nama-namaNya sesuai
dengan keinginannya. Jika mereka mau, mereka memanggil, "Ya Allah", dan
jika mereka menghendaki boleh memanggil, "Ya Rahman" dan seterusnya.
Hal ini menunjukkan tetapnya nama-nama Allah dan bahwasanya masing-
masing dari namaNya bisa digunakan untuk berdo'a sesuai dengan maqam
dan suasananya, karena semuanya adalah husna.
Allah Subhannahu wa Ta'ala berfirman: "Dialah Allah, tidak ada Tuhan (yang
berhak disembah) melainkan Dia, Dia mempunyai al-asma'ul husna (nama-
nama yang baik)." (Thaha: 8) "... Yang Mempunyai Nama-Nama Yang Paling

baik. Bertasbih kepadaNya apa yang ada di langit dan di bumi. Dan Dia-lah
Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana."(Al-Hasyr: 24)

Maka barangsiapa menafikan asma' Allah berarti ia berada di atas jalan
orang-orang musyrik, sebagaimana firman Allah Subhannahu wa Ta'ala :

"Dan apabila dikatakan kepada mereka: 'Sujudlah kamu sekalian kepada
Yang Maha Penyayang', mereka menjawab: 'Siapakah yang Maha
Penyayang itu? Apakah kami akan sujud kepada Tuhan Yang kamu
perintahkan kami (bersujud kepadaNya)?', dan (perintah sujud itu)
menambah merekajauh (dari iman)." (Al-Furqan: 60)

Dan termasuk orang-orang yang dikatakan oleh Allah Subhannahu wa Ta'ala
: "... padahal mereka kafir kepada Tuhan Yang Maha Pemurah. Katakanlah:
'Dialah Tuhanku tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia ...'." (Ar-
Ra'd: 30)

Maksudnya, ini yang kalian kufuri adalah Tuhanku, aku meyakini rububiyah,
uluhiyah, asma' dan sifatNya. Maka hal ini menunjukkan bahwa rububiyah
dan uluhiyah-Nya mengharuskan adanya asma' dan sifat Allah Subhannahu
wa Ta'ala. Dan juga, bahwasanya sesuatu yang tidak memiliki asma' dan sifat
tidaklah layak menjadi Rabb (Tuhan) dan Ilah (sesembahan).

Nama-nama yang mulia ini bukanlah sekedar nama kosong yang tidak
mengandung makna dan sifat, justru ia adalah nama-nama yang
menunjukkan kepada makna yang mulia dan sifat yang agung. Setiap nama
menunjukkan kepada sifat, maka nama Ar-Rahman dan Ar-Rahim
menunjukkan sifat rahmah; As-Sami' dan Al-Bashir menun-jukkan sifat
mendengar dan melihat; Al-'Alim menunjukkan sifat ilmu yang luas; Al-Karim
menunjukkan sifat karam (dermawan dan mulia); Al-Khaliq menunjukkan Dia
menciptakan; dan Ar-Razzaq menunjuk-kan Dia memberi rizki dengan jumlah
yang banyak sekali. Begitulah seterusnya, setiap nama dari nama-namaNya
menunjukkan sifat dari sifat-sifatNya.

Syaikh Ibnu Taimiyah berkata: "Setiap nama dari nama-namaNya
menunjukkan kepada Dzat yang disebutnya dan sifat yang dikandungnya,
seperti Al-'Alim menunjukkan Dzat dan ilmu, Al-Qodir menunjukkan Dzat dan
qudrah, Ar-Rahim menunjukkan Dzat dan sifat rahmat."

IbnulQayyim berkata, "Nama-nama Rabb Subhannahu wa Ta'ala
menunjukkan sifat-sifat kesempurnaanNya, karena ia diambil dari sifat-
sifatNya. Jadi ia adalah nama sekaligus sifat dan karena itulah ia menjadi
husna. Sebab andaikata ia hanyalah lafazh-lafazh yang tak bermakna maka
tidaklah disebut husna, juga tidak menunjukkan kepada pujian dan
kesempur-naan. Jika demikian tentu diperbolehkan meletakkan nama

intiqam (balas dendam) dan ghadhab (marah) pada tempat rahmat dan
ihsan, atau sebaliknya.
Sehingga boleh dikatakan, "Ya Allah sesungguhnya saya telah menzhalimi diri
sendiri, maka ampunilah aku, karena se-sungguhnya Engkau adalah Al-
Muntaqim (Maha Membalas Dendam). Ya Allah anugerahilah saya, karena
sesungguhnya engkau adalah Adh-Dharr (Yang Memberi Madharat) dan Al-
Mani' (Yang Menolak) ..." dan yang semacamnya. Lagi pula kalau tidak
menunjukkan arti dan sifat, tentu tidak diperbolehkan memberi kabar
dengan masdar-masdar-nya dan tidak boleh menyifati dengannya. Tetapi
kenya-taannya Allah sendiri telah mengabarkan tentang DiriNya dengan
masdar-masdar-Nya dan menetapkannya untuk DiriNya dan telah ditetapkan
oleh RasulNya untukNya, seperti firman Allah Subhannahu wa Ta'ala :

"Sesungguhnya Allah Dialah Maha Pemberi rizki Yang Mem-punyai Kekuatan
lagi Sangat Kokoh." (Adz-Dzariyat: 58)

Artinya, dibenarkan bagi seseorang untuk membaca asmaul husna atau zikir
tertentu dengan harapan mendapat sorga atau harapan lain asalkan tidak
bertentangan dengan syariat dan sama seperti yang diterangkan oleh Allah
dan Rasul-Nya. Ringkasnya, setiap keterangan tentang amal, khasiat, serta
jumlah bilangan zikir semuanya harus dikembalikan kepada nas dan dalil
yang valid: Alquran dan Sunnah; sehingga terhindar dari bidah dan khurafat.

Sifat-Sifat Allah

Sifat-sifat Allah terbagi menjadi dua bagian. Bagian pertama, adalah sifat
dzatiyah, yakni sifat yang senantiasa melekat denganNya. Sifat ini tidak
berpisah dari DzatNya. Seperti “ُﻢْﻠِﻌْﻟا ” (ilmu), “ ُةَرْﺪُﻘْﻟا ” (kekuasan), “ ُﻊْﻤﱠﺴﻟا ”
(mendengar), “ ُﺮَﺼَﺒْﻟا ” (melihat), “ ُةﱠﺰِﻌْﻟا ”(kemuliaan), “ ُﺔَﻤْﻜِﺤْﻟا ” (hikmah), “
ﱠﻮُﻠُﻌْﻟا ” (ketinggian), “ ُﺔَﻤَﻈَﻌْﻟا ” (keagungan), “ُﮫْﺟَﻮْﻟا ” (wajah), “ ِﻦْﯾَﺪَﯿْﻟا ” (dua
tangan), “ ِﻦْﯿَﻨْﯿَﻌْﻟا ” (dua mata).

Bagian kedua, adalah sifat fi'liyah. Yaitu sifat yang Dia perbuat jika
berkehendak. Seperti, bersemayam di atas 'Arsy, turun ke langit dunia ketika
tinggal sepertiga akhir dari malam, dan datang pada hari Kiamat.
Berikut ini kami sebutkan sejumlah sifat-sifat Allah dengan dalil dan
keterangannya, apakah ia termasuk dzatiy atau fi'liy?!

A. Al-qudrah (berkuasa)

Allah Subhannahu wa Ta'ala berfirman: "... dan Dia Mahakuasa atas segala
sesuatu." (Al-Maidah: 120) "Sesungguhnya Allah berkuasa atas segala
sesuatu." (Al-Baqarah: 20) "Dan adalah Allah Mahakuasa atas segala
sesuatu." (Al-Kahfi: 45) "Katakanlah: 'Dialah yang berkuasa untuk
mengirimkan azab kepadamu, dari atas kamu atau dari bawah kakimu'." (Al-

An'am: 65) "Sesungguhnya Allah benar-benar kuasa untuk mengembali-
kannya (hidup sesudah mati)." (Ath-Thariq: 8)

Dia telah menetapkan sifat qudrah, kuasa untuk melakukan apa saja,
sebagaimana Dia juga menafikan dari DiriNya sifat 'ajz (lemah) dan lughub
(letih).
Allah Subhannahu wa Ta'ala berfirman: "Dan tiada sesuatu pun yang dapat
melemahkan Allah baik di langit maupun di bumi. Sesungguhnya Allah Maha
Mengetahui lagi Mahakuasa." (Fathir: 44) "Dan sesungguhnya telah Kami
ciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya dalam enam
masa, dan Kami sedikit-pun tidak ditimpa keletihan." (Qaf: 38)

Dia memiliki qudrah yang mutlak dan sempurna sehingga tidak ada sesuatu
pun yang melemahkanNya. Tidaklah ada penciptaan makhluk dan
pembangkitan mereka kembali kecuali bagaikan satu jiwa saja.
"Sesungguhnya perintahNya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah
berkata kepadanya: 'Jadilah!' maka terjadilah ia." (Yasin: 82)

Maka seluruh makhlukNya, baik yang di atas maupun yang di bawah,
menunjukkan kesempurnaan qudrah-Nya yang menyeluruh. Tidak ada satu
partikel pun yang keluar dariNya. Cukuplah menjadi dalil bagi seorang hamba
manakala ia melihat kepada penciptaan diri-nya; bagaimanakah Allah
menciptakannya dalam bentuk yang paling baik, membelah baginya
pendengaran dan penglihatannya, mencipta-kan untuknya sepasang mata,
sebuah lisan dan sepasang bibir? Kemudian apabila ia melayangkan
pandangannya ke seluruh jagat raya ini maka ia akan melihat berbagai
keajaiban qudrah-Nya yang menunjuk-kan keagunganNya.

B. Al-iradah (berkehendak)

Allah Subhannahu wa Ta'ala berfirman: "Sesungguhnya Allah menetapkan
hukum-hukum menurut yang dikehendakiNya."(Al-Maidah: 1)
"Sesungguhnya Allah berbuat apa yang Dia kehendaki." (Al-Hajj: 14)
"Mahakuasa berbuat apa yang dikehendakiNya." (Al-Buruj: 16)
"Sesungguhnya perintahNya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah
berkata kepadanya: 'Jadilah!' maka terjadilah ia." (Yasin: 82)

Ayat-ayat ini menetapkan iradah untuk Allah Subhannahu wa Ta'ala yakni di
antara sifat Allah yang ditetapkan oleh Al-Qur'an dan As-Sunnah. Ahlus-
Sunnah wal Jama'ah menyepakati bahwa iradah itu ada dua macam:

a. Iradah Kauniyah, sebagaimana yang terdapat dalam ayat: "Barangsiapa
yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia
melapangkan dadanya untuk (memeluk agama) Islam. Dan barangsiapa yang

dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak
lagi sempit ..." (Al-An'am: 125)
Yaitu iradah yang menjadi persamaan masyi'ah (kehendak Allah), tidak ada
bedanya antara masyi'ah dan iradah kauniyah.

b. Iradah Syar'iyah, sebagaimana terdapat dalam ayat: "Allah
menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran
bagimu." (Al-Baqarah: 185)

Perbedaan antara keduanya ialah:
Iradah kauniyah pasti terjadi, sedangkan iradah syar'iyah tidak harus terjadi;
bisa terjadi bisa pula tidak.

Iradah kauniyah meliputi yang baik dan yang jelek, yang bermanfaat dan
yang berbahaya bahkan meliputi segala sesuatu. Sedangkan iradah syar'iyah
hanya terdapat pada yang baik dan yang bermanfaat saja.

Iradah kauniyah tidak mengharuskan mahabbah (cinta Allah). Terkadang
Allah menghendaki terjadinya sesuatu yang tidak Dia cintai, tetapi dari hal
tersebut akan lahir sesuatu yang dicintai Allah. Seperti penciptaan Iblis dan
segala yang jahat lainnya un-tuk ujian dan cobaan. Adapun iradah syar'iyah
maka di antara konsekuensinya adalah mahabbah Allah, karena Allah tidak
menginginkan dengannya kecuali sesuatu yang dicintaiNya, seperti taat dan
pahala.

C. Al-'Ilmu (Ilmu)

Allah Subhannahu wa Ta'ala berfirman: "... Yang Mengetahui yang ghaib dan
yang nyata ..." (Al-Hasyr: 22) "... Yang mengetahui yang ghaib. Tidak ada
tersembunyi dari-padaNya seberat zarrah pun yang ada di langit dan yang
ada di bumi ..." (Saba': 3) "Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang ghaib di
langit dan di bumi." (Al-Hujurat: 18)

Yang dimaksud dengan ghaib adalah yang tidak diketahui oleh manusia,
tetapi Allah mengetahuinya. "Sesungguhnya bagi Allah tidak ada satu pun
yang tersembunyi di bumi dan tidak (pula) di langit." (Ali Imran: 5)

Yang dimaksud dengan syahadah adalah apa yang disaksikan dan dilihat oleh
manusia. Allah Subhannahu wa Ta'ala berfirman: "... dan mereka tidak
mengetahui apa-apa dari ilmu Allah ..." (Al-Baqarah: 255) "Sesungguhnya
Allah mengetahui, sedang kamu tidak menge-tahui." (An-Nahl: 74)

Di antara dalil yang menunjukkan atas ilmuNya yang luas adalah firman Allah
Subhannahu wa Ta'ala : "... agar kamu mengetahui bahwasanya Allah

Mahakuasa atas segala sesuatu, dan sesungguhnya Allah, ilmuNya benar-
benar meliputi segala sesuatu." (Ath-Thalaq: 12)
Di antara dalilnya yang lain ialah hasil ciptaanNya yang sangat teliti dan
sempurna. Allah Subhannahu wa Ta'ala berfirman: "Apakah Allah Yang
menciptakan itu tidak mengetahui (yang kamu lahirkan dan rahasiakan)...?"
(Al-Mulk: 14)

Karena mustahil bisa menciptakan benda-benda di alam ini de-ngan sangat
teliti dan sempurna kalau bukan Yang Maha Mengetahui. Yang tidak
mengetahui dan tidak mempunyai ilmu tidak mungkin menciptakan sesuatu,
seandainya ia menciptakan tentu tidak akan teliti dan sempurna. Allah
Subhannahu wa Ta'ala berfirman: "Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua
yang ghaib;tak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia
mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun
yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula) ..." (Al-An'am: 59) "Dia
mengetahui apa yang ada di langit dan di bumi, dan menge-tahui apa yang
kamu rahasiakan dan apa yang kamu nyatakan. Dan Allah Maha Mengetahui
segala isi hati." (At-Taghabun: 4)

Dan masih banyak lagi ayat-ayat tentang masalah ini. Syaikh Ibnu Taimiyah
berkata, "Kaum Muslimin memahami, sesungguhnya Allah mengetahui
segala sesuatu sebelum benda-benda itu ada dengan ilmuNya dan qadim
azaliy yang merupakan salah satu dari konsekuensi DiriNya yang Mahasuci.
Dan Dia tidak mengambil ilmu tentang benda itu dari benda itu sendiri.
"Apakah Allah Yang menciptakan itu tidak mengetahui (yang kamu lahirkan
dan rahasiakan); dan Dia Mahahalus lagi Maha Mengetahui?" (Al-Mulk: 14)

4. Al-Hayat (Hidup)

Yaitu sifat dzatiyah azaliyah yang tetap untuk Allah, karena Allah bersifat
dengan 'ilmu, qudrat dan iradah; sedangkan sifat-sifat itu tidaklah ada
kecuali dari yang hidup. Allah Subhannahu wa Ta'ala berfirman: "Allah, tidak
ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi
terus menerus mengurus (makhluk-Nya) ..." (Al-Baqarah: 255) "Dialah Yang
hidup kekal, tiada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia ..." (Ghafir:
65) "Dan bertawakkallah kepada Allah Yang Hidup (Kekal) Yang tidak mati ..."
(Al-Furqan: 58) Ayat-ayat di atas menetapkan sifat hayat bagi Allah. Dan
bahwa Al-Hayyul Qayyum adalah "Al-Ismul A'zham" (nama yang paling
agung) yang jika Allah dipanggil dengannya pasti Dia mengabulkan, jika Dia
dimintai dengannya pasti Dia memberi; karenanya hayat menunjukkan
kepada seluruh sifat-sifat dzatiyah, dan qayyum menun-jukkan kepada
seluruh sifat-sifat fi'liyah. Jadi seluruh sifat kembali kepada dua nama yang
agung ini. BagiNya adalah kehidupan yang sempurna; tidak ada kematian,
tidak ada kekurangan, tidak ada kantuk dan tidak ada tidur. Dialah Al-

Qayyum, yang menegakkan yang lainNya dengan memberinya sebab-sebab
kelangsungan dan kebaikan.

5. As-Sam'u (Mendengar) Dan Al-Bashar (Melihat)

Keduanya termasuk sifat dzatiyah Allah. Allah menyifati diriNya dengan
kedua-duanya dalam banyak ayat, seperti firmanNya: "Tidak ada sesuatu
pun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha
Melihat." (Asy-Syura: 11) "Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi
Maha Melihat." (An-Nisa': 58) "... Sesungguhnya Aku beserta kamu berdua,
Aku mendengar dan melihat." (Thaha: 46)

Pendengaran Allah Subhannahu wa Ta'ala menangkap semua suara, baik
yang keras maupun yang pelan; mendengar semua suara dengan semua
bahasa dan dapat membedakan semua kebutuhan masing-masing. Satu pen-
dengaran tidak mengganggu pendengaran yang lain. Berbagai macam
bahasa dan suara tidaklah membuat samar bagiNya. Allah Subhannahu wa
Ta'ala berfirman: "Sesungguhnya Allah telah mendengar perkataan wanita
yang mengajukan gugatan kepada kamu tentang suaminya, dan mengadukan
(halnya) kepada Allah. Dan Allah mendengar soal jawab antara kamu berdua.
Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat." (Al-Mujadalah: 1)
"Apakah mereka mengira, bahwa Kami tidak mendengar rahasia dan bisikan-
bisikan mereka?" (Az-Zukhruf: 80)

Sebagaimana Allah juga melihat segala sesuatu, dan tidak ada sesuatu pun
yang menutupi penglihatanNya. Allah Subhannahu wa Ta'ala berfirman:
"Tidakkah dia mengetahui bahwa sesungguhnya Allah melihat segala
perbuatannya?" (Al-'Alaq: 14) "Yang melihat kamu ketika kamu berdiri
(untuk sembahyang), dan (melihat pula) perobahan gerak badanmu di antara
orang-orang yang sujud." (Asy-Syu'ara: 218-219) "Dan katakanlah:
'Bekerjalah kamu, maka Allah akan melihat pekerjaanmu itu ...'." (At-Taubah:
105) Sesungguhnya bagi Allah tidak ada satupun yang tersembunyi di bumi
dan tidak (pula) di langit. (Ali Imran: 5)

Yang tidak mendengar dan melihat tidak layak untuk menjadi Tuhan. Allah
Subhannahu wa Ta'ala menceritakan tentang Ibrahim Alaihissalam yang
berbicara kepada bapaknya sebagai protes atas penyembahan mereka
terhadap berhala. "Mengapa kamu menyembah sesuatu yang tidak bisa
mendengar dan melihat." (Maryam: 42) "Apakah berhala-berhala itu
mendengar (do`a) mu sewaktu kamu berdo`a (kepadanya)?" (Asy-Syu'ara:
72)

6. Al-Kalam (Berbicara)

Di antara sifat Allah yang dinyatakan oleh Al-Qur'an, As-Sunnah, ijma' salaf
dan para imam adalah Al-Kalam. Sesungguhnya Allah Subhannahu wa Ta'ala
berbicara sebagaimana yang Dia kehendaki; kapan Dia menghendaki dan
dengan apa Dia kehendaki, dengan suatu kalam (pembicaraan) yang bisa
didengar. Allah Subhannahu wa Ta'ala berfirman: “Dan siapakah orang yang
lebih benar perkataan (nya) dari-pada Allah.” (An-Nisa': 87) "Dan siapakah
yang lebih benar perkataannya daripada Allah?" (An-Nisa': 122) "Dan Allah
telah berbicara kepada Musa dengan langsung." (An-Nisa': 164) "... Di antara
mereka ada yang Allah berkata-kata (langsung dengan dia) ..." (Al-Baqarah:
253) "(Ingatlah), ketika Allah berfirman, 'Hai Isa ..." (Ali Imran: 55) "Dan Kami
telah memanggilnya dari sebelah kanan gunung Thur dan Kami telah
mendekatkannya kepada Kami di waktu dia munajat (kepada Kami)."
(Maryam: 52) "Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu menyeru Musa ..." (Asy-
Syu'ara: 10) "Dan (ingatlah) hari (di waktu) Allah menyeru mereka ..." (Al-
Qashash: 62) "...supaya ia sempat mendengar firman Allah..." (At-Taubah: 6)
“… padahal segolongan dari mereka mendengar firman Allah, …” (Al-
Baqarah: 75)

Semua ayat ini menetapkan sifat hadits (ucapan), qaul (perkata-an), kalam
(pembicaraan), nida' (seruan) dan munajat. Semuanya adalah termasuk jenis
kalam yang tetap bagi Allah sesuai dengan keagunganNya.

Kalam Allah termasuk sifat dzatiyah, karena terus menyertai Allah dan tidak
pernah berpisah dariNya. Juga termasuk sifat fi'liyah, karena berkaitan
dengan masyi'ah dan qudrah-Nya. Allah Subhannahu wa Ta'ala juga
menyebutkan bahwa yang tidak bisa berbicara tidak pantas untuk menjadi
Tuhan. Allah Subhannahu wa Ta'ala berfirman:
"Dan kaum Musa, setelah kepergian Musa ke gunung Thur membuat dari
perhiasan-perhiasan (emas) mereka anak lembu yang bertubuh dan
bersuara. Apakah mereka tidak mengetahui bahwa anak lembu itu tidak
dapat berbicara dengan mereka dan tidak dapat (pula) menunjukkan jalan
kepada mereka?" (Al-A'raf: 148)
Kalam adalah sifat kesempurnaan, sedangkan bisu adalah sifat kekurangan.
Dan Allah memiliki sifat kesempurnaan, suci dari keku-rangan.

7. Al-Istiwa' 'Alal-'Arsy (Bersemayam Di Atas 'Arsy)

Ia adalah termasuk sifat fi'liyah. Allah Subhannahu wa Ta'ala mengabarkan
bahwa Dia bersemayam di ata 'Arsy, pada tujuh tempat di dalam kitabNya.
Pertama, pada surat Al-A'raf: "Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang

telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam
di atas `Arsy ..." (Al-A'raf: 54)

Kedua, pada surat Yunus: "Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah Yang
menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam
di atas `Arsy ..." (Yunus: 3)

Ketiga, pada surat Ar-Ra'd: "Allah-lah Yang meninggikan langit tanpa tiang
(sebagaimana) yang kamu lihat, kemudian Dia bersemayam di atas `Arsy ..."
(Ar-Ra'd: 2)

Keempat, pada surat Thaha: "(Yaitu) Tuhan Yang Maha Pemurah, Yang
bersemayam di atas 'Arsy ..." (Thaha: 5)

Kelima, pada surat Al-Furqan: "... kemudian Dia bersemayam di atas Arsy,
(Dialah) Yang Maha Pemurah ..." (Al-Furqan: 59)

Keenam, pada surat As-Sajdah: "Allah-lah yang menciptakan langit dan bumi
dan apa yang ada di antara keduanya dalam enam masa, kemudian Dia
bersema-yam di atas `arsy." (As-Sajdah: 4)

Ketujuh, pada surat Al-Hadid: "Dialah yang menciptakan langit dan bumi
dalam enam masa; Kemudian Dia bersemayam di atas `Arsy ..." (Al-Hadid: 4)
Dalam ketujuh ayat ini lafazh istawa' datang dalam bentuk dan lafazh yang
sama. Maka hal ini menyatakan bahwa yang dimaksudkan adalah maknanya
yang hakiki yang tidak menerima ta'wil, yaitu ke-tinggian dan keluhuranNya
di atas 'Arsy.

'Arsy menurut Bahasa Arab adalah singgasana untuk raja. Se-dangkan yang
dimaksud dengan 'Arsy di sini adalah singgasana yang mempunyai beberapa
kaki yang dipikul oleh malaikat, ia merupakan atap bagi semua makhluk.
Sedangkan bersemayamnya Allah di atas-nya ialah yang sesuai dengan
keagunganNya. Kita tidak mengetahui kaifiyah (cara)nya, sebagaimana
kaifiyah sifat-sifatNya yang lain. Akan tetapi kita hanya menetapkannya
sesuai dengan apa yang kita pahami dari maknanya dalam bahasa Arab,
sebagaimana sifat-sifat lainnya, karena memang Al-Qur'an diturunkan
dengan bahasa Arab.

8. Al-'Uluw (Tinggi) Dan Al-Fawqiyyah (Di Atas)

Dua sifat Allah yang termasuk dzatiyah adalah ketinggianNya di atas makhluk
dan Dia di atas mereka. Allah Subhannahu wa Ta'ala berfirman: "Dan Allah
Mahatinggi lagi Mahabesar." (Al-Baqarah: 255) "Sucikanlah nama Tuhanmu
Yang Mahatinggi." (Al-A'la: 1) "Apakah kamu merasa aman terhadap Allah

yang di langit." (Al-Mulk: 16)

Maksudnya "Dzat yang ada di atas langit" apabila yang dimaksud dengan
sama' (dalam ayat tersebut) adalah langit, atau "Dzat yang di atas" jika yang
dimaksud dengan sama' adalah sesuatu yang ada di atas. Sebagaimana Dia
menggambarkan tentang diangkatnya apa-apa kepadaNya: "... sesungguhnya
Aku akan menyampaikan kamu kepada akhir ajalmu dan mengangkat kamu
kepadaKu ..." (Ali Imran: 55) "Tetapi (yang sebenarnya), Allah telah
mengangkat `Isa kepada-Nya." (An-Nisa': 158)

Dan tentang shu'ud (naik)nya sesuatu kepadaNya: "... KepadaNya-lah naik
perkataan-perkataan yang baik dan amal yang shalih dinaikkanNya." (Fathir:
10)
Dan tentang 'uruj (naik)nya sesuatu kepadaNya: "Malaikat-malaikat dan Jibril
naik (menghadap) kepada Tuhan ..." (Al-Ma'arij: 4)

'Uruj dan shu'ud adalah naik. Dalil-dalil semacam ini menunjuk-kan kepada
'uluw (ketinggian) Allah di atas makhlukNya. Begitu pula fawqiyah-Nya
ditetapkan oleh berbagai dalil, di antaranya adalah firman Allah Subhannahu
wa Ta'ala :
"Dan Dialah yang berkuasa atas sekalian hamba-hambaNya ..." (Al-An'am:
18) Mereka takut kepada Tuhan mereka yang di atas mereka." (An-Nahl: 50)

Perbedaan antara 'uluw dan istiwa' adalah bahwasanya 'uluw ada-lah sifat
dzat, sedangkan istiwa' adalah sifat fi'il. 'Uluw mempunyai tiga makna:
-'Uluwudz-Dzat (DzatNya di atas makhluk)
-'Uluwudz-Qahr (kekuatanNya di atas makhluk)
-'Uluwul-Qahr (kekuasaanNya di atas makhluk)
Kesemuanya itu adalah sifat yang benar untuk Allah Subhannahu wa Ta'ala .

9. Al-Ma'iyyah (Kebersamaan)

Ia adalah sifat yang tetap bagi Allah berdasarkan dalil yang banyak sekali.
Allah Subhannahu wa Ta'ala berfirman:
"Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kita." (At-
Taubah: 40)
"Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada." (Al-Hadid: 4) "...
sesungguhnya Aku beserta kamu berdua, Aku mendengar dan melihat".
(Thaha: 46)
Dalil-dalil di atas menetapkan bahwa Allah Subhannahu wa Ta'ala selalu
bersama hambaNya, di mana pun mereka berada.

Arti ma'iyah:
Ma'iyah Allah terhadap makhlukNya ada dua macam:
Ma'iyah umum bagi semua makhlukNya. Maksudnya, pengetahuan Allah
terhadap amal perbuatan hamba-hambaNya, gerakan yang zhahir dan yang
batin, perhitungan amal dan pengawasan ter-hadap mereka. Tidak ada
sesuatu pun dari mereka yang lepas dari pengawasan Allah di mana pun
mereka berada. Allah Subhannahu wa Ta'ala berfirman: "... Dan Dia bersama
kamu di mana saja kamu berada ..." (Al-Hadid: 4)

Ma'iyah khusus untuk orang-orang mukmin. Maknanya, pengawasan dan
pengetahuan Allah terhadap mereka, serta pertolongan, dukungan dan
penjagaan Allah untuk mereka dari tipu muslihat musuh-musuh mereka. "...
Sesungguhnya Aku bersama kamu berdua. Aku mendengar dan melihat."
(Thaha: 46) "... Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah bersama
kita ..." (At-Taubah: 40)

Catatan Penting:

Dari uraian di atas, jelaslah makna Ma'iyah Allah terhadap hambaNya bukan
berarti "Allah bercampur dengan mereka melalui DzatNya", Mahasuci Allah
dari hal tersebut, karena hal itu adalah "madzhab hululiyah" yang sesat, batil
dan kufur.
Karena Allah di atas para hambaNya dan Maha tinggi di atas mereka, tidak
bercampur DzatNya dengan mereka, bersemayam di atas 'Arsy-Nya dan Dia
bersama mereka dengan ilmuNya, mengetahui segala hal ihwal mere-ka,
mengawasi mereka dan mereka tidak sedikit pun bisa menghilang dari
pandangan Allah.

Ma'iyah dapat digunakan untuk kebersamaan yang mutlak, sekali pun tidak
ada sentuhan atau percampuran. Anda mengatakan, “ ﻰِﻋﺎَﺘَﻣ ﻰِﻌَﻣ ”
(barang/harta saya ada bersama saya). Padahal harta tersebut ada di atas
kepala anda atau di atas kendaraan anda atau di atas kuda anda. Anda
mengatakan, "Kami terus saja berjalan, dan rembulan bersama kami",
padahal dia ada di langit, akan tetapi ia tetap menerangi dan tidak hilang
dari pandangan anda, sedang yang sampai hanyalah cahaya dan
penerangannya saja.

10. Al-Hubb (Cinta) Dan Ar-Ridha (Ridha)

Ia adalah dua sifat yang tetap bagi Allah dan termasuk sifat fi'liyah. Allah
Subhannahu wa Ta'ala berfirman:
"Sesungguhnya Allah telah ridha terhadap orang-orang mukmin ..." (Al-Fath:

18)

"... Allah ridha terhadap mereka dan merekapun ridha terha-dapNya ..." (Al-
Maidah: 119)
"Dan berapa banyaknya malaikat di langit, syafa`at mereka sedikit pun tidak
berguna kecuali sesudah Allah mengizinkan bagi orang yang dikehendaki dan
diridhai (Nya)." (An-Najm: 26)
"... maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai
mereka dan merekapun mencintaiNya ..." (Al-Maidah: 54)
"Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang taubat dan menyukai
orang-orang yang mensucikan diri." (Al-Baqarah: 222)
"... sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik." (Al-
Baqarah: 195)

Dalam ayat-ayat ini terdapat ketetapan adanya sifat mahabbah dan ridha
bagi Allah. Bahwasanya Dia mencintai sebagian manusia dan meridhai
mereka. Dan Dia mencintai sebagian amal dan akhlak, yaitu cinta dan ridha
yang hakiki yang sesuai dengan keagunganNya Yang Mahasuci. Tidak seperti
cintanya makhluk untuk makhluk atau ridhanya. Di antara buah cinta dan
ridha ini ialah terwujudnya taufiq dan pemuliaan serta pemberian nikmat
kepada hamba-hambaNya yang Dia cintai dan Dia ridhai. Dan bahwa
terwujudnya cinta dan ridha dari Allah untuk hambaNya adalah dikarenakan
amal shalih yang di antaranya adalah takwa, ihsan dan ittiba' kepada
Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam . Allah Subhannahu wa Ta'ala
berfirman:
Katakanlah: "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya
Allah mengasihi ..." (Ali Imran: 31)
(( َﻻَو ُلاَﺰَﯾ ىِﺪْﺒَﻋ ُبﱠﺮَﻘَﺘَﯾ ﱠﻲَﻟِإ ِﻞِﻓاَﻮﱠﻨﻟﺎِﺑ ﻰﱠﺘَﺣ ُﮫﱠﺒِﺣُأ ))
"Dan senantiasa hambaKu mendekat kepadaKu dengan melaksa-nakan
ibadah-ibadah 'sunnah' sehingga Aku mencintainya." (HR. Al-Bukhari)

11. As-Sukhtu (Murka) Dan Al-Karahiyah (Benci)

Sebagaimana Allah mencintai hambaNya yang mukmin dan meri-dhainya,
maka Dia juga memurkai orang-orang kafir dan munafik, membenci mereka
dan membenci amal perbuatan mereka.

Allah Subhannahu wa Ta'ala berfirman: "Sesungguhnya amat buruklah apa
yang mereka sediakan untuk diri mereka, yaitu kemurkaan Allah kepada
mereka ..." (Al-Ma'idah: 80) "... tetapi Allah tidak menyukai keberangkatan
mereka, maka Allah melemahkan keinginan mereka ..." (At-Taubah: 46)

Murka dan benci adalah dua sifat yang tetap bagi Allah sesuai dengan
keagunganNya. Di antara dampak dari keduanya adalah terja-dinya berbagai

musibah dan siksaan terhadap orang-orang yang di-murkaiNya dan dibenci
perbuatannya.

12. Al-Wajhu (Wajah), Al-Yadaani (Dua Tangan) Dan Al-'Ainaani (Dua Mata)

Ini adalah sifat-sifat dzatiyah Allah sesuai dengan keagunganNya. Allah
Subhannahu wa Ta'ala berfirman: "Dan tetap kekal Wajah Tuhanmu yang
mempunyai kebesaran dan kemuliaan." (Ar-Rahman: 27) "Tiap-tiap sesuatu
pasti binasa, kecuali Wajah Allah." (Al-Qashash: 88)

Dua ayat tersebut menekankan wajah untuk Allah. Kita mene-tapkannya
untuk Allah Subhannahu wa Ta'ala sesuai dengan keagunganNya
sebagaimana Dia sendiri menetapkan untukNya. Dan Allah Subhannahu wa
Ta'ala berfirman: "(Tidak demikian), tetapi kedua-dua tangan Allah terbuka;
Dia menafkahkan sebagaimana Dia kehendaki." (Al-Ma'idah: 64) "... apakah
yang menghalangi kamu sujud kepada yang telah Ku-ciptakan dengan kedua
tanganKu. ...". (Shaad: 75)

Dua ayat tersebut menetapkan dua tangan untuk Allah I. Dan Allah
Subhannahu wa Ta'ala berfirman: "... maka sesungguhnya kamu berada
dalam penglihatan Kami, ..." (Ath-Thur: 48)

Maksudnya adalah "berada dalam penglihatan dan penjagaan Kami". "Yang
berlayar dengan pemeliharaan Kami ..." (Al-Qamar: 14)

Maksudnya adalah "dalam penglihatan Kami dan di bawah peme-liharaan
Kami". "... dan supaya kamu diasuh di bawah pengawasanKu." (Thaha: 39)

Disebutkan lafazh 'ain (mata) dan a'yun (beberapa mata) sesuai dengan apa
yang disandarkan kepadanya, berbentuk tunggal atau ja-mak sesuai dengan
ketentuan bahasa Arab.

Dan disebutkan dalam sunnah yang suci sesuatu yang menun-jukkan makna
tatsniyah (dua). Rasul Shallallaahu alaihi wa Salam bersabda ketika menyifati
Dajjal yang mengaku sebagai tuhan,

(( ُﮫﱠﻧَأ ،ُرَﻮْﻋَأ ﱠنِإَو ْﻢُﻜﱠﺑَر ْﯿَﻟَﺲ َرَﻮْﻋَﺄِﺑ ))
"Sesungguhnya dia adalah buta sebelah, dan sesungguhnya Tuhanmu
tidaklah buta sebelah." (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Ini jelas, bahwa maksudnya bukanlah menetapkan satu mata, karena mata
yang sebelah jelas cacat (buta). Mahasuci dari hal yang demikian. Maka
dalam ayat-ayat dan hadits tersebut terdapat penetapan terhadap dua mata
bagi Allah, sesuai dengan apa yang pantas bagi keagunganNya sebagaimana

sifat-sifatNya yang lain.

13. Al-'Ajab (Heran)

Ia adalah sifat yang tetap bagi Allah Subhannahu wa Ta'ala sesuai dengan
apa yang pantas bagi keagunganNya, sebagaimana yang ada dalam beberapa
nash-nash shahih dan sharih (jelas). Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam
bersabda:
(( َﺐِﺠَﻋ ﺎَﻨﱡﺑَر ْﻦِﻣ ِطْﻮُﻨُﻗ ِهِدﺎَﺒِﻋ ِبْﺮُﻗَوِهِﺮَﯿِﻏ ُﺮُﻈْﻨَﯾ ْﻢُﻜْﯿَﻟِإ َﻦْﯿِﻟِزَأ َﻦْﯿِﻄِﻨَﻗ ﱡﻞَﻈَﯿَﻓ ُﻚَﺤْﻀَﯾ ُﻢَﻠْﻌَﯾ ﱠنَأ ْﻢُﻜَﺟَﺮَﻓ ٌﺐْﯾِﺮَﻗ
))

"Tuhan kita merasa heran terhadap keputus asaan hamba-ham-baNya
padahal telah dekat perubahan (keadaan dari kesulitan kepada kemudahan)
olehNya. Dia melihat kepadamu yang dalam keadaan sempit (susah) dan
berputus asa. Dia pun tertawa, Dia mengetahui bahwa pertolonganNya
untukmu adalah dekat." (HR. Ahmad dan lainnya)

Dalam hadits ini terdapat sifat heran dan tertawa, yaitu dua sifat Allah dari
sifat-sifat fi'liyah-Nya sebagaimana sifat-sifatNya yang lain. Tidaklah
keherananNya sama dengan keheranan makhluk, dan tidaklah pula
tertawaNya sama dengan tertawanya makhluk. Tidak ada sesuatu pun yang
menyamaiNya.

14. Al-Ityan Dan Al-Maji' (Datang)

Keduanya adalah sifat fi'liyah Allah Subhannahu wa Ta'ala . Dia berfirman:
"Janganlah (berbuat demikian). Apabila bumi digoncangkan ber-turut-turut,
dan datanglah Tuhanmu; sedang malaikat berbaris-baris." (Al-Fajr: 21-22)
"Tiada yang mereka nanti-nantikan melainkan datangnya Allah dan malaikat
(pada hari kiamat) dalam naungan awan, ..." (Al-Baqarah: 210)
"Yang mereka nanti-nanti tidak lain hanyalah kedatangan malai-kat kepada
mereka (untuk mencabut nyawa mereka), atau kedata-ngan Tuhanmu atau
kedatangan sebagian tanda-tanda Tuhanmu. ..." (Al-An'am: 158)

Ayat-ayat tersebut menetapkan sifat ityan dan maji' bagi Allah I yaitu datang
dengan DzatNya secara sebenarnya untuk memutuskan hukum antara
hamba-hambaNya pada hari Kiamat, sesuai dengan ke-agunganNya. Sifat
datang dan mendatangi itu tidak sama dengan sifat makhluk. Mahasuci Allah
dengan hal itu.

15. Al-Farah (Gembira)

Al-Farah adalah sifat yang tetap bagi Allah. Ia merupakan salah satu dari sifat
fi'liyah-Nya sesuai dengan keagunganNya. Dalam hadits shahih Rasulullah

Shallallaahu alaihi wa Salam menyatakan bahwasanya Allah sangat
bergembira karena taubat seorang hambaNya. Beliau Shallallaahu alaihi wa
Salam bersabda:

(( ُﮫـﱠﻠﻟا ﱡﺪَﺷَأ ﺎًﺣَﺮَﻓ ِﺔَﺑْﻮَﺘِﺑ ِهِﺪْﺒَﻋ ْﻦِﻣ ْﻢُﻛِﺪَﺣَأ ِﮫِﺘَﻠِﺣاَﺮِﺑ ))

“Allah amat gembira karena taubat hamba melebihi kegembira-an salah
seorang dari kalian karena (telah menemukan) kendara-annya (kembali)."
(HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Kegembiraan Allah ini adalah kegembiraan berbuat baik dan sayang, bukan
kegembiraan seorang yang membutuhkan kepada taubat hambaNya yang
bisa diambil manfaatnya. Karena sesungguhnya Allah Mahakaya, tidak
membutuhkan ketaatan hambaNya. Akan teta-pi Dia bergembira untuk itu
karena kebaikanNya, sayangNya dan anugerahNya kepada pada hambaNya
yang mukmin; sebab Dia mencintai dan menginginkan kebaikan serta
keselamatan hamba dari siksaan-Nya.

Keempat: Pendapat-Pendapat Golongan Sesat Tentang Sifat-Sifat Ini Beserta
Bantahannya

Golongan-golongan sesat seperti Jahmiyah, Mu'tazilah dan Asy'ariyah
menyalahi AhlusSunnah wal Jama'ah dalam hal sifat-sifat Allah. Mereka
menafikan sifat-sifat Allah atau menafikan banyak sekali dari sifat-sifat itu
atau men-ta'wil-kan nash-nash yang menetapkannya dengan ta'wil yang
batil. Syubhat (keraguan, kerancuan) mereka dalam hal ini adalah mereka
mengira bahwa penetapan dalam sifat-sifat ini menimbulkan adanya tasybih
(penyerupaan Allah dengan lainNya). Oleh karena sifat-sifat ini juga terdapat
pada makhluk maka penetapannya untuk Allah pun menimbulkan
penyerupaanNya dengan makhluk. Karena itu harus dinafikan -menurut
mereka-atau harus di-ta'wil-kan dari zhahir-nya, atau tafwidh
(menyerahkan) makna-makna-nya kepada Allah Subhannahu wa Ta'ala.
Demikianlah madzhab mereka dalam sifat-sifat Allah, dan inilah syubhat dan
sikap mereka terhadap nash-nash yang ada.

Bantahan Terhadap Mereka

Sifat-sifat ini datang dan ditetapkan oleh nash-nash Al-Qur'an dan As-Sunnah
yang mutawatir. Sedangkan kita diperintahkan mengikuti Al-Kitab dan As-
Sunnah.
Allah Subhannahu wa Ta'ala berfirman: "Ikutilah apa yang diturunkan
kepadamu dari Tuhanmu ..." (Al-A'raf: 3)
Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam bersabda:
(( ْﻢُﻜْﯿَﻠَﻋ ْﻲِﺘﱠﻨُﺴِﺑ ِﺔﱠﻨُﺳَو ِءﺎَﻘَﻠُﺨْﻟا َﻦْﯾِﺪِﺳاﱠﺮﻟا ْﻦِﻣ ْيِﺪْﻌَﺑ ))

"Ikutilah sunnahku dan sunnah para Khulafa' Rasyidin se-sudahku." (HR. Abu
Daud dan At-Tirmidzi, ia berkata hadits ini hasan shahih)
Dan Allah Subhannahu wa Ta'ala berfirman: "... Apa yang diberikan Rasul
kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka
tinggalkanlah; ..." (Al-Hasyr: 7)
Maka barangsiapa yang menafikannya berarti dia telah menafikan apa yang
ditetapkan oleh Allah dan RasulNya, dan berarti pula dia telah menentang
Allah dan RasulNya.

Sesungguhnya kaum salaf dari sahabat, tabi'in dan ulama pada masa-masa
yang dimuliakan, semuanya menetapkan sifat-sifat ini dan mereka tidak
berselisih sedikit pun di dalamnya.
Imam Ibnul Qayyim berkata: "Manusia banyak berselisih penda-pat dalam
banyak hal tentang hukum, tetapi mereka tidak berselisih dalam memahami
ayat-ayat sifat dan juga hadits-haditsnya, sekali pun itu hanya sekali. Bahkan
para sahabat dan tabi'in telah bersepakat untuk iqrar (menetapkannya) dan
imrar (membiarkan apa adanya) di-sertai dengan pemahaman makna-makna
lafazh-nya bahwa hal terse-but telah dijelaskan dengan tuntas, dan bahwa
menjelaskannya adalah hal yang teramat penting, karena ia termasuk
penyempurnaan bagi perwujudan dua kalimah syahadah, dan penetapannya
merupakan konsekuensi tauhid. Maka Allah I dan RasulNya menjelaskan de-
ngan jelas dan gamblang tanpa kesamaran dan keraguan yang bisa menimpa
ahlul ilmi."
Sedangkan Rasulullah telah bersabda, "Kewajiban kalian ada-lah mengikuti
sunnahku dan sunnah Khulafa' Rasyidin." Sedangkan penetapan sifat adalah
termasuk hal tersebut.

Seandainya zhahir nash-nash tentang sifat-sifat itu bukan yang dimaksud,
dan dia wajib di-ta'wil-nya (penyerahan makna kepa-da Allah), tentu Allah
dan RasulNya telah berbicara kepada kita dengan khitab dan ucapan yang
kita tidak paham maknanya. Dan tentu nashini bersifat teka-teki atau kode-
kode (sandi) yang tidak bisa kita pahami. Ini adalah mustahil bagi Allah, Allah
Mahasuci dari yang demikian. Karena kalam Allah dan kalam RasulNya
adalah ucapan yang sangat jelas, gamblang dan berisi petunjuk.

Menafikan sifat berarti menafikan wujud Allah, karena tidak ada dzat tanpa
sifat, dan setiap yang wujud pasti mempunyai sifat. Mustahil dibayangkan
ada wujud yang tidak mempunyai sifat. Se-sungguhnya yang tidak
mempunyai sifat hanyalah ma'dum (sesuatu yang tidak ada).Maka
barangsiapa yang menafikan sifat-sifat bagi Allah yang telah Dia tetapkan
untuk diriNya, berarti ia telah mencam-pakkan sifat-sifat Allah, telah
membangkang kepada Allah dan telah menyerupakan Allah dengan benda-

benda yang tidak ada wujudnya, dan itu berarti pula dia telah mengingkari
wujud Allah; sebagai keha-rusan dan konsekuensi dari ucapannya itu.

Kesamaan nama-nama Allah dan sifat-sifatNya dengan nama-nama dan sifat-
sifat makhlukNya dalam bahasa tidak mengharuskan kesamaan atau
penyerupaan dalam hakikat atau kaifiyat. Allah memiliki sifat-sifat yang
khusus dan sesuai dengan keagungan-Nya. Makhluk mempunyai sifat-sifat
khusus dan sesuai dengan kepantasannya pula. Ini tidak mengharuskan
kesamaan atau penyerupaan. Bahkan antar makhluk pun tidak harus sama.
Jika dikatakan, "Sesungguhnya 'Arsy itu adalah sesuatu yang wujud" dan
"sesungguhnya nyamuk itu sesuatu yang wujud", ini tidak mengharuskan
keduanya sama dalam "sesuatu dan wujud", juga dalam hakikat dan kaifiyat.
Jika hal ini terjadi antara makhluk dengan makhluk, maka antara Allah Al-
Khaliq dengan makhlukNya adalah lebih utama untuk tidak sama.

Sebagaimana Allah mempunyai Dzat yang tidak diserupai oleh dzat makhluk,
maka Dia juga mempunyai sifat-sifat yang tidak diserupai oleh sifat-sifat
makhluk.

Sesungguhnya menetapkan sifat-sifat yang ada adalah ke-sempurnaan dan
menafikannya adalah kekurangan. Sedangkan Allah Mahasuci dari sifat
kekurangan. Maka wajiblah penetapan sifat-sifat itu.

Sesungguhnya dengan nama-nama dan sifat-sifat ini, para hamba dapat
mengetahui Tuhannya dan mereka memohon kepadaNya dengan nama-
nama itu. Mereka takut kepadaNya dengan nama-nama itu. Mereka takut
kepadaNya dan mengharap dariNya sesuai dengan kandungan nama-nama
itu. Jika dinafikan dari Allah maka hilanglah makna-makna yang agung itu.
Lalu dengan apa Dia dimintai dan dengan apa pula ber-tawassul kepadaNya?

Sesungguhnya hukum asal dalam nash-nash sifat adalah zhahir dan makna
aslinya. Tidak boleh menyelewengkan dari zhahir-nya kecuali jika terpenuhi
keempat syarat berikut ini:
Menetapkan kemungkinan lafazh mengandung makna yang akan di-ta'wil-
kan kepadanya.

Menegakkan dalil yang memalingkan lafazh dari zhahir-nya kepada makna
yang mungkin dikandungnya yakni makna yang menyalahi zhahir-nya.

Menjawab dalil-dalil yangbertentangan dengan dalilnya tadi. Karena orang
yang mengaku benar harus mempunyai bukti atas dakwaannya. Dia harus
mempunyai jawaban yang benar terhadap dalil-dalil yang berlawanan
dengannya. Dan tidaklah disebut memiliki dalil orang yang hanya
mendakwakan ta'wil.

Bahwasanya manakala Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam berbicara
dengan suatu pembicaraan jika beliau menginginkan arti yang bukan zhahir-
nya, pasti beliau menjelaskan kepada umat bahwasanya beliau
menginginkan majaz (arti kiasan) bukan hakikat atau arti sebenarnya.
Ternyata ini tidak pernah terjadi pada nash-nash sifat tersebut. ( berbagai
sumber)

Hizib Al Hikmah

Alm. Abah M.Syaki Abdus Syukur
Guru Besar Perawat Pembina Yayasan Perguruan Al Hikmah
Cisoka, Banten.

Bismillahirrahmanirrahim

Ya Allah Ya Hayyu Ya Qoyyum Ya `Azhim Ya Rabbal `alamin
Qoyyumu yarzuqu may yasya-ul quwwah
Ilahi anta maqshudi wa ridhoka mathlubi
Wa ufawwidhu amri ilallah
13x

La tudrikuhul abshoru wa huwa yudrikul abshoro wa huwal latiful khobir
13 x

Allohummaj`alni mahbuban fiqulubil mu`minin
Wa basyirni wa bil ghoniyyi ila miata wa `isyruna sanatan
Fallohu khoiron hafizhon wa huwa ar hamur rohimin
Wal hamdulillahi robbil `alamin
13x

Allohumma inni a`uzubika bikalimatillaahit taammati
Min auhiyal abshor wa min da-il akbar
Finnafsu wad dami wal lahmi wal juludi wal `uruqi wal `idzhom
Subhanaka idza qodho amron ay yakula lahu kun fayakun
Allohu akbar Allohu akbar Allohu akbar
Birohmatika ya arhamar rohimin wal hamdu lillahi robbil `alamin. 13x

Hizib ini biasanya disertai dengan pembangkitan tenaga dalam/bathin
terlebih dahulu oleh para perawat Al Hikmah di daerah teman2 sekalian,
untuk mendapatkan manfaat yang maksimalnya..

SUMUR TUJUH

Baca'an Harian dengan Pasarannya, yang bila dibaca...Insya Allah badan akan
menjadi sehat, rejeki lancar, dan juga untuk penyembuhan.

HARI
1. Minggu--------------> surat AZ ZUMAR
2. Senin---------------> surat AL MU'MIN
3. Selasa --------------> surat SHAD
4. Rabu---------------> surat AL FUSHILAT
5. Kamis --------------> suratASH SHAFAT
6. Jum'at -------------> surat ASYUURAA
7. Sabtu-------------> surat YASIN
PASARAN
1. Wage -------------> surat ASH SHAFAT
2. Legi --------------> surat AL MU'MIN
3. Pon--------------> surat AL FUSHILAT
4. Kliwon-----------> suratAZ ZUMAR
5. Pahing-----------> suratSHAD

Cara membacanya:
Misalkan hari ini jatuh hari Jum'at Kliwon, maka yg dibaca adalah...
SuratASYUURAA dan Surat AZ ZUMAR.
Bila kebetulan Hari dan Pasaran jatuh pada Surat yg sama, maka dibacanya 2
kali dg surat yg sama.

Insya Allah mudah2an bermanfa'at.

Untuk meningkatkan potensi diri

Surat2 yang dibaca :

1.Surat AL ANKABUUT
2. SuratAL ISRAA'
3. SuratAL BAQARAH
4. SuratALI IMRAAN
5. SuratYUUSUF
6. SuratAL MA'ARIJ

Ke 6 Surat tsb harus dibaca sekaligus selesai....tidak boleh di cicil atau batal.
Bila batal, harus di ulang dari awal lagi.

Beberapa Faedah Surat Yaasiin
Surah Yasin -Pengertian Setiap Ayat (munari)

Ø Ayat 1- 9 -Untuk keselamatan diri
Ø Ayat 9- Orang jahat tak nampak kita khususnya orang kafir.
Ø Ayat 12- Merupakan Jantung Yaasiin- Rasulullah s.a.w. berharap ayat ini
dihafal oleh setiap mukmin dan mukminat.
Ø Ayat 13- 35 -Mengisahkan orang-orang yang mati syahid.

Ø Ayat 22- 23 -Untuk menjaga aqidah Memberi hidayah kepada anak.
Ø Ayat 29- Sebagai amalan untuk menghindarkan diri dari di fitnah dan
kejahatan mulut. Ø Ayat 29 -Utk digunakan jika kita merasa orang ada orang
yg akan menfitnah kita. Lebih baik sesudah dibaca ditiupkan ke muka orang
tsb.
Ø Ayat 30- Untuk kesadaran- Supaya dapat dipertemukan dengan Allah
s.w.t. (harus sentiasa berada dihati -beramal dengannya).
Ø Ayat 32- Untuk mennyadarkan orang lain supaya menjadi baik...
Caranya:Ingat yang segalanya datang dari Allah s.w.t, Kita umat Muhammad,
Kita orang Islam dll.
Ø Ayat 33- 35 -Sangat Baik dijadikan amalan bagi siapa saja yang suka
bercocok tanam. Tanaman akan subur.
Ø Ayat 36- Menerangkan yang kehidupan ataupun kejadian di dunia ini
dijadikan berpasang-pasangan. Ayat ini baik diamalkan bagi siapa yang
belum menikah supaya di pertemukan jodoh. Caranya: Baca dan berdoa,
hembuskan dan sapu pada muka setiap pagi sebelum keluar rumah.
Ø Ayat 37- Adalah untuk menetapkan hati - aqidah diri sendiri... Hati yang
kering akan hidup kembali.
Ø Ayat 38- Mengisahkan tentang bulan dan matahari pun sujud pada Allah
s.w.t. yang satu. Ø Ayat 39 -Mengisahkan ilmu falak.
Ø Ayat 40- Merupakan kenyataan Allah s.w.t. yang ESA.
Ø Ayat 41- Mengisahkan Nabi Nuh a.s. naik kapal, Baik dibaca sewaktu
menaiki kendaraan.
Ø Ayat 44- Mengisahkan kesusahan hidup di dunia-
Dibaca untuk dijauhkan fitnah dalam hidup.
Ø Ayat 45- 48 -Merupakan keingkaran orang kafir kepada Allah s.w.t.
Ø Ayat 49- Menceritakan hari akhirat dan
kehidupannya.
Ø Tiupan pertama -Datang dengan tiba-tiba
Ø Tiupan ke-dua -Hancur
Ø Tiupan ke-tiga -Semua orang di hidupkan kembali dan hadir di padang
Mahsyar dalam keadaan berupa-rupa
Ø Ayat 50- Setiap orang akan dihisab mengikut amalannya.

Ø Ayat 58- Merupakan salam dari Allah. Jika rasa sakit kepala, baca dan
sapukan ke kepala. Ulang sebanyak 3x.
Ø Ayat 76- Dibaca untuk mententeramkan diri dari fitnah orang. Dijadikan
amalan.
Ø Ayat 76- Jika hati rasa sedih, bete atau pun
kecewa. Sambil pegang dan urut dada, bacalah ayat tsbt.
Ø Ayat 78- 79 -Dikhusukan untuk sakit urat, tulang dan badan. Untuk doa
yang bermula dari Ayat yang
bermaksud: "dia berkata, Siapakah (yang dapat) menghidupkan tulang
belulang padahal telah hancur?"(Ayat 78 dan 79)- Bacalah jika sakit tulang,
urat atau tulang patah.Dokter di rumah sakit pun tanya dia utk perawatan
pasien mrk dan Dr Fatimah berikan ayat ini.
Ø Ayat 79- Katakanlah, Yang akan menghidupkannya ialah yang
menciptakannya pertama kali. Dan Dia Maha Mengetahui tentang segala
makhluk."
Ø Ayat 82- Untuk Hajat -Jika berhajat sesuatu, bacalah 100x. Dibaca pada
air dan minum selama 40 hari -boleh menjadi penawar. Jika air habis ulang
bacaan tsbt sehingga 40 hari. Caranya: Sembahyang Tahajjud (3x) berturut-
turut, Baca pada air [100x) Dan berdoa apa saja hajat anda.
Wallahualam.

1. Selepas sembahyang subuh
2. 3 pagi Jumaat berturut-turut
3. Ayat 1 -Yassin baca 7x
4. Ayat 38 -12x
5. Ayat 58 -7x
6. Ayat 82 -14x
7. Habis, diulang semula step 3 hingga 6. Kesemuanya Surah Yassin dibaca
sebanyak 3x.
8. Habis baca surah Yassin, baca Al- Fatihah, bacalah hajat yg dihajati dan
selepas hajat dibaca kembali Al-Fatihah.
9. Perlu yakin, insya-Allah dgn berkat Allah akan terkabul.
Wallahualam.

Perlu Baca Dengan Penuh Keyakinan:
Ø Yasin is the jantung of Al-Quran
Ø Know the meaning of ayat-ayat in Al-Quran
Ø Yasin memudahkan yang susah. As such read Yasin:
o Child is sick
o Feeling troubled.
o Memudahkan urusan
o Memudahkan perjalanan
o sebagai kemudahan dikala melahirkan (to ease pain when giving birth)

Ø Read Yasin (3x) over water
Ø Read 3 Qul (three times each)
Ø Fatihah
Ø Baca Yasin sebelum tidur, seperti khatam Quran (10x)
Ø Jika baca Yasin sebelum tidur serta faham maksudnya
sekali, seandainya mati dalam tidur, dosa diampunkan.

Ayat 9 -"Waja'alna...."
Ø Lindungi rumah dari pencuri -baca dan tiup di
tiap-tiap penjuru rumah..
Ø Lindungi diri dari dianiaya
Ø Bagi perlindungan diri dan rumah dikala tidur
Ø Baca Ayat 9
Ø Fatihah
Ø Read 3 Qul (three times each) Ø Ayat Kursi

Ayat 29 -"In kanat illa...."
Ø Untuk mendiamkan orang yang selalumelempar kata-kata buruk/tidak
menyenangkan kepada anda.

Ayat 36 -"subhanallazi.."
Ø Untuk cari jodoh * Tiup 7 kali dalam tangan dan sapu ke muka pada pagi
hari
Ø Ya Wadud (3x)

Ayat 58 -"Salamun..."
Ø Jika sakit anggota badan
Ø Tak tenang hati
Ø Baca(7 x) dan gosok pada tempat sakit

Ayat 76 -"Falayahzun.."
Ø Bila rasa sedih
Ø Untuk menenangkan hati
Ø Gosok jantung sambil baca

Ayat 78 -79 "dari Yuhyil Wahiya..."
Ø Tulang patah
Ø Sakit sendi
Ø Sakit lutut

Ayat 82 -"Innama amruhu.."
Ø Jika mandul

Ø Untuk mengobati kanker atau tumbuhan dalam badan

Dry method
o Sembahyang tahajjud
o Sembahyang hajat
o Doa minta hajat
o Baca ayat 100 x dengan yakin
o Amalkan 41 malam Wet method (untuk menyembuhkan penyakit dalam
badan) o Seperti di atas o Bila baca ayat, tiup dalam air o Minum 1 cawan air
pada pagi hari sebelum makan / minum benda lain o Doa sambil minum o
Untuk 41 pagi
Wallahualam.

Yang penting sesuatu itu yang hendak kita lakukan dengan .. innamal
aa'maalu binniat.. dan ikhlas melakukannya.

Dalam YASSIN merangkum:

Ø Ilmu Pertanian
Ø Ilmu Falak
Ø Ilmu Laut
Ø Ilmu Kiamat
Ø Ilmu Ciptaan Manusia
Ø Ilmu Binatang
Ø Ilmu Kenabian

Surah Yassin ini hendaklah dibaca ketika orang sakit, tengah mengalami
nazak akan mati atau sudah meninggal dunia. Baca disisi mereka dan
bukannya di kubur. (terutama ayat 12)-- sebab kenapa kita perlu baca, agar
orang yang sakit berada dalam kesenangan dan orang yang masih hidup
insaf bahwa esok, lusa kita akan menyusul jua.

***** sekadar informasi *******

Kekuatan Buah-buahan yang diceritakan dari dalam Al-Quran adalah:
Ø Buah Zaitun -Elok untuk kulit
Ø Kurma- Berkhasiat (memberi tenaga)
Ø Delima -Dalam sebiji buah ada sebutir biji yang menjadi penawar obat
yang mujarab.
Ø Ad Tin - Memberi kekuatan-tenaga, fikiran lemah, mandul

Wallahua'lam...

HIZIB SAIFI (munari) :

1. Artinya:
Dengan Nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Pengasihani Dan telah
berselawat Allah ke atas junjungan kami Muhammad, dan ke atas
keluarganya serta sahabatnya, dan telah diberi kesejahteraan.

Ya Allah, sesungguhnya aku persembahkan (hadapkan) kepada Mu
dihadapan segala nafas dan kelipan pandangan yang telah dipandang
denganya oleh segala ahli langit dan ahli (penghuni) bumi, dan segala
sesuatu, ia berada dalam ilmu (pengetahuan) Mu, samada yang sedang
berada atau pun yang pernah ada (telah sedia), aku persembahkan kepada
Mu di depan segalanya itu. Dengan Nama Allah Yang Maha Pemurah lagi
Maha Pengasihani Ya Allah, Engkaulah Raja (Malik) yang hak (benar) yang

nyata (mubin) yang qadim, Yang perkasa (mulia) dengan kebesaran dan
ketakburan, yang esa (tunggal),

2. artinya:
dengan kekekalan (baqa'), yang hidup, lagi menguruskan makhluk, yang
berkuasa lagi menentukan, yang memaksa lagi kuat perkasa yang tiada
tuhan selain Engkau (1-Dibaca surah Al Ihklas 3 x), Engkaulah Tuhanku dan
akulah hambaMu, aku telah melakukan kejahatan dan telah menganiyai
(menzalimi) diriku dan aku mengaku dengan dosaku, lalu ampunilah akan
segala dosa-dosaku, lalu ampunilah akan segala dosa-dosaku seluruhnya.
Sesungguhnya tiada siapa yang mengampunkan dosa-dosa kecuali Engkau
sahaja. Wahai Tuhan yang Maha mengampuni, wahai Tuhan yang Maha
bersyukur, wahai Tuhan yang Maha bijaksana (lemah lembut), wahai Tuhan
yang pemurah (Mulia), wahai Tuhan yang kuat kesabarannya, wahai Tuhan
yang amat penyayang.

Ya Allah sesungguhnya aku memuji Mu dan Engkaulah yang dipuji (pujian)

dan Engkaulah, bagi segala pujian terlebih layak, dan aku berterima kasih
kepada Mu, dan Engkau (layak) mendapat terima kasih, dan Engkau bagi
terima kasih (syukur) itulah yang paling layak (ahli), terhadap apa yang telah
Engkau peruntukan aku dengannya, dari segala anugerah (pemberian) yang
digemari, dan Engkau telah peruntukkan aku dengannya, dari segala
anugerah (pemberian) yang digemari, dan Engkau telah pertemukan aku
(sambungkan aku) dari kelebihan (fadilat) perbuatan, dan Engkau telah
berikan kepadaku dari (ihsan) kebaikan (budi baik) Mu, dan Engkau telah
tempatkan aku dengannya ….

3. artinya:

dari tempat-tempat yang menempatkan kebenaran disisiMu, dan Engkau
telah capaikan aku dengan dari pemberian-pemberian Mu yang bersambung
(bertemu) kepadaku dan telah Engkau berbuat baik dengannya kepadaku,
tiap waktu dari penolakan bala bencana daripadaku dan pemberian taufik
(petunjuk) bagiku, dan perkenan bagi doa-doaku ketika aku menyeru Mu

sebagai orang yang berdoa (menyeru) dan aku memanggil-manggil Mu
(Munajat) dalam keadaan gemar (suka), dan aku menyeru Mu dengan
rendah diri, dengan kejernihan, tunduk patuh dan ketika aku mengharapkan
Engkau sebagai seorang yang mengharap lalu aku mendapati diri Mu lalu aku
berlindung dengan Mu, pada semua pelusuk (tempat) seluruhnya, lalu
jadilah bagiku dan keluargaku dan sanak saudaraku semuanya sebagai jiran
yang hadir, rapat, baik, teman pada semua perkara seluruhnya dalam
keadaan melihat (memerhati) dan atas segala seteru (musuh) semuanya
sebagai pembantu (penolong) dan bagi segala kesalahan dan dosa-dosa
seluruhnya sebagai pengampun, dan bagi segala keaiban (kecacatan)
seluruhnya sebagai pelindung.

Aku tidaklah ketiaadaan bantuanMu dan kebaikanMu dan kebajikanMu ….

4. artinya:
dan kemuliaanMu serta ihsan (baik budi/jasa baik) Mu walau sekelip mata
pun, semenjak Engkau menurunkan aku (menempatkan aku) di negeri

uijian/percubaan ini (dunia) dan (negeri) pemikiran serta perhitungan
(pengiraaan) ini, untuk Engkau lihat apa yang aku telah persembahkan untuk
negeri yang kekal abadi dan tetap (akhirat) dan (negeri) tempat kediaman
bersama-sama orang-orang yang terpilih. Maka aku ini hambaMu, lalu
jadilah aku wahai Tuhanku akan orang yang bebaskan (lepaskan) wahai
Tuhanku, lepaskanlah aku serta keluarga dan saudara-maraku seluruhnya
dari neraka dan dari semua yang memudaratkan (yang membahayakan) yang
segala yang menyesatkan dan dari segala bencana dan perkara-perkara yang
menimbulkan keaiban (kecelaan) dan timpaan (peristiwa yang menyedihkan)
dan dari segala perkara yang pasti akan menimpa serta kerunsingan
(kedukaan) yang telah mebuatkan aku bimbang (dihantui kebimbangan)
tentangnya, oleh segala kedukaan dengan bentangan-bentangan segala jenis
bala dan berbagai jenis kesukaran Qada' (ketentuan Ilahi). Aku tiada ingat
(sebut) dari Mu kecuali jasa baik (hok molek jah) dan aku tiada lihat dari Mu
kecuali keutamaan (fadilat-fadilat)

5 artinya:
kebaikanMu bagiku menyeluruh (merangkumi) semua dan perbuatan (baik)

Mu bagiku adalah sempurna dan sifat lemah lembut / pengetahuan (yang
halus) dari Mu bagiku adalah melimpah dan keutamaanMu terhadapku
adalah sentiasa berterusan dan berturut-turut serta nikmatMu bagiku
(disisiku) sentiasa berhubung (tak putus-putus) tak pernah mungkir dari
sisiku (tak pernah langgar janji), Engkau telah damaikan rasa takut ku
(aman/tenteram), dan Engkau telah nyatakan cita-cita ku (tunaikan).

Engkau telah menemaniku dalam perjalananku, dan telah Engkau muliakan
aku di kala aku menetap (hadir di negeri). Engkau telah sembuhkan
(afiatkan) penyakitku dan Engkau telah sembuhkan penyakit-penyakit
kronikku dan Engkau telah perelokkan tempat kembaliku dan kedudukkan
ku, dan tidak Engkau jadikan pihak musuh-musuhku mengejekku begitu juga
orang-orang yang dengki terhadapku dan Engkau telah membalas lemparan
orang-orang yang telah melemparku dengan kejahatan, dan telah Engkau
membalas (dengan setimpal) akan kejahatan orang-orang yang memusuhiku.
Maka aku memohon Ya Allah, semoga sekarang, Engkau menolak dariku
segala tipu daya (perangkap) orang-orang yang hasad dengki dan kekejaman
(kezaliman) orang-orang yang kejam/zalim, dan kejahatan orang-orang yang
keras kepala. Dan jagalah aku dan keluargaku serta sanak saudaraku …..

6. Artinya:
semuanya, di bawah khemah kemuliaanMu wahai Tuhan yang pemurah dari
segala yang pemurah. Dan jauhilah antaraku dan musuh-musuhku, seperti
Engkau telah menjauhkan antara timur dengan barat, dan sambarlah
penglihatan mereka dariku (supaya mereka tak nampak), dengan cahaya
kesucian Mu dan pancunglah leher-leher mereka dengan keagungan
kemuliaan (kepujian) Mu, dan potonglah tengkok-tengkok mereka dengan
amukan-amukan kekerasan Mu, dan musnahkanlah mereka serta
lenyapkanlah mereka dengan satu kali lenyapan, seperti mana Engkau telah
menolak tipu daya orang-orang yang sangat berhasad dengki dari nabi-
nabiMu, dan seperti mana Engkau telah potong leher-leher orang-orang
yang gagah berani (gedebe), terhadap orang-orang pilihan Mu (para wali-
wali dsb) dan seperti mana Engkau telah sambar penglihatan musuh-musuh
dari wali-wali Mu. Dan Engkau telah potong tengkok-tengkok orang-orang
yang membesar diri (takbur) terhadap orang-orang yang takwa kepada Mu.
Dan telah pun Engkau musnahkan fira'un-fira'un dan Engkau telah
melenyapkan para dajjal (orang-orang sangat bohong/penipu) terhadap

orang-orang yang telah Engkau pilih (khususkan) mereka (ahli khawas) yang
hampir diri mereka dengan Mu serta hamba-hamba Mu yang soleh. …..

7. Artinya:

Wahai (Tuhan) yang amat membantu orang-orang yang meminta bantuan,
bantulah aku (3x), menghadapi semua musuh-musuh Mu. Maka pujianku
buat Mu wahai Tuhanku berhujanan (bercurahan) dan ucapan pujianku
keatas Mu sentiasa berterusan, selama-lamanya dari masa ke masa dengan
berbagai jenis tasbih (penyucian) dan pemujaan dan berbagai jenis
penyucian yang tulus untuk mengingati Mu dan pengagungan dan setulus-
tulus pengesaan (tauhid) dan ketulusan penghampiran dan pendekatan serta
penunggalan (pengesaan), permurnian pujian/ pengagungan dengan
kepanjangan taabbud (pengabdian) dan bilangan. Engkau tiada dibantu
(sesiapa pun) dalam kekuasaan Mu, dan tiada di sekutukan (dikongsi) dalam
ketuhanan Mu, dan tiada Engkau diajarkan (diberitahu) bagi Mu suatu
hakikat pun, untuk Engkau menjadi sama rata dengan segala yang
bersalahan/bermacam-macam. Dan tidak ditentukan …..

8. Artinya:

apabila disekat (ditahan) perkara-perkara lain (dari Mu) di atas keazaman
yang bermacam-macam (tonggak yang berbagai) dan tiada dapat segala
bayangan keraguan, meredah tabir-tabir (benteng-benteng) yang ghaib
untuk menuju kepada Mu. Lalu aku meenganggap Engkau begitu terbatas
dalam keagungan/kebesaran Mu. Dan tidak sampai kepada Mu kejauhan
hemmah (cita-cita) dan tidak mencapai Mu kedalam kepintaran Mu dan
tidak berakhir kepada Mu penglihatan orang yang melihat dalam keagungan
jabarut Mu yang terangkat tinggi dari sifat-sifat makhluk oleh sifat-sifat
kekuasaan Mu, dan meningkat tinggi dari sebutan (ingatan) orang yang
menyebut (mengingat) oleh kebesaran Mu, lalu tiada kurang, apa-apa yang
Engkau kehendaki ianya bertambah dan tidak akan bertambah, apa-apa yang
Engkau kehendaki ianya berkurangan. Tiada seorang pun yang menyaksi Mu
ketika Engkau mencipta makhluk dan tiada saingan mahupun lawan yang
datang kepada Mu ketika Engkau mesucikan jiwa-jiwa.

Lemahlah (tumpul) segala lidah untuk menghurai (tafsirkan) ……

9. Artinya:

segala sifat Mu, dan gagallah (tak tergapai) segala akal fikiran dari hakikat
pengetahuan Mu, dan sifat Mu. Dan bagaimanakah ia hendak mensifatkan
(gambarkan) hakikat sifat Mu wahai tuhan, sedangkan Engkaulah Allah, raja
yang paling berkebesaran, gagahperkasa (gedebe), maha suci lagi azali,
kekal abadi selamanya , sentiasa dalan keghaiban Engkau sahaja, tiada
sekutu bagi Mu, tiada seorang pun di dalamnya selain dari Mu dan tiada
Tuhan selain Mu, akan kebingunganlah dalam lautan-lautan keindahan
kerajaan (malakut) Mu oleh segala kedalaman aliran pemikiran, dan
tunduklah oleh raja-raja kepada kehebatan Mu. Dan menunduk segala muka
dengan kehinaan, ketenangan (kekalahan) kepada keagungan Mu lalu akan
terpandulah segala sesuatu kepada kebesaran Mu, dan tunduklah segala
tengkuk …..

dan seterusnya......

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->