P. 1
prinsip perkawinan

prinsip perkawinan

|Views: 1,620|Likes:
Published by Zen Arief

More info:

Published by: Zen Arief on Jul 14, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/02/2013

pdf

text

original

FIQIH TENTANG MUNAKAHAT ( PERNIKAHAN ) Disusun Guna Memenuhi Tugas Kelompok Mata Kuliah Fiqih Dosen Pengampu : Bahrul

Ilmi, M. Hum

Oleh : ZAENAL ARIFIN A ( 2072009 ) ZAENAL ARIFIN B ( 2072010 ) MUHAMMAD MAHFUDIN ( )

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NAHDLHATUL ULAMA ( STAINU )KEBUMEN 2010 KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Alloh SWT yang telah melimpahkan rahmat, nikmat serta taufik-Nya tersusun. Penyusunan Makalah yang berjudul “ Fiqih Munakahat”. Guna memenuhi tugas mata kuliah “ Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia” . Rasa hormat dan ucapan terima kasih setulus-tulusnya kami ucapkan kepada Bapak Bahrul Ilmi, M. Hum selaku dosen pengampu mata kuliah Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia dan Semua pihak yang telah mendukung dan membantu saya dalam menyelesaikan tugas ini. Tanpa adanya izin, bimbingan, bantuan dan informasi beliau kami tidak dapat menyelesaikan Makalah ini dengan baik Kami berharap semoga Makalah ini berguna bagi para pembaca pada umumnya dan bagi kami pada khususnya. Amin. sehingga Makalah yang berjudul “Fiqih Munakahat” dapat

Kebuman, Juli 2010

Penyusun

PEMBAHASAN A. Pengertian Pernikahan ( Nikah ) Arti Nikah Menurut bahasa adalah : berkumpul. Adapun menurut istilah Ahli Ushul, Nikah menurut arti aslinya ialah aqad, yang dengannya menjadi halal hubungan kelamin antara lelaki dan perempuan, sedangkan menurut arti majasi ialah setubuh. Demikian menurut Ahli Ushul golongan Syafi’iyah. Adapun menurut Ulama Fiqih, Nikah ialah aqad yang di atur oleh Islam untuk memberikan kepada lelaki hak memiliki penggunaan terhadap faraj (kemaluan) dan seluruh tubuhnya untuk penikmatan sebagai tujuan utama Dalam UU no 1 tahun 1974 tentang Perkawinan pasal 1 , pernikahan / perkawinan didefinisikan sebagai sebuah ikatan lahir batin antara seorang pria keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. B. Kedudukan Pernikahan Perkawinan / Pernikahan adalah fitrah kemanusiaan, maka dari itu Islam menganjurkan untuk nikah, karena nikah merupakan gharizah insaniyah (naluri kemanusiaan). Bila gharizah ini tidak dipenuhi dengan jalan yang sah yaitu perkawinan, maka ia akan mencari jalan-jalan syetan yang banyak menjerumuskan ke lembah hitam. Firman Allah Ta’ala. “Artinya : Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”. (Ar-Ruum : 30). Islam telah menjadikan ikatan perkawinan yang sah berdasarkan Al-Qur’an dan As-Sunnah sebagai satu-satunya sarana untuk memenuhi tuntutan naluri manusia

yang sangat asasi, dan sarana untuk membina keluarga yang Islami. Penghargaan Islam terhadap ikatan perkawinan besar sekali, sampai-sampai ikatan itu ditetapkan sebanding dengan separuh agama. Anas bin Malik radliyallahu ‘anhu berkata : “Telah bersabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Artinya : Barangsiapa menikah, maka ia telah melengkapi separuh dari agamanya. Dan hendaklah ia bertaqwa kepada Allah dalam memelihara yang separuhnya lagi”. (Hadist Riwayat Thabrani dan Hakim). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk menikah dan melarang keras kepada orang yang tidak mau menikah. Anas bin Malik radliyallahu ‘anhu berkata : “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kami untuk nikah dan melarang kami membujang dengan larangan yang keras”. Dan beliau bersabda : “Artinya : Nikahilah perempuan yang banyak anak dan penyayang. Karena aku akan berbangga dengan banyaknya umatku dihadapan para Nabi kelak di hari kiamat”. (Hadits Riwayat Ahmad dan di shahihkan oleh Ibnu Hibban). Pernah suatu ketika tiga orang shahabat datang bertanya kepada istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang peribadatan beliau, kemudian setelah diterangkan, masing-masing ingin meningkatkan peribadatan mereka. Salah seorang berkata: Adapun saya, akan puasa sepanjang masa tanpa putus. Dan yang lain berkata: Adapun saya akan menjauhi wanita, saya tidak akan kawin selamanya …. Ketika hal itu didengar oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau keluar seraya bersabda :

“Artinya : Benarkah kalian telah berkata begini dan begitu, sungguh demi Allah, sesungguhnya akulah yang paling takut dan taqwa di antara kalian. Akan tetapi aku berpuasa dan aku berbuka, aku shalat dan aku juga tidur dan aku juga mengawini

perempuan. Maka barangsiapa yang tidak menyukai sunnahku, maka ia tidak termasuk golonganku”. (Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim). Orang yang mempunyai akal dan bashirah tidak akan mau menjerumuskan dirinya ke jalan kesesatan dengan hidup membujang. Kata Syaikh Hussain Muhammad Yusuf : “Hidup membujang adalah suatu kehidupan yang kering dan gersang, hidup yang tidak mempunyai makna dan tujuan. Suatu kehidupan yang hampa dari berbagai keutamaan insani yang pada umumnya ditegakkan atas dasar egoisme dan mementingkan diri sendiri serta ingin terlepas dari semua tanggung jawab”.Orang yang membujang pada umumnya hanya hidup untuk dirinya sendiri. Mereka membujang bersama hawa nafsu yang selalu bergelora, hingga kemurnian semangat dan rohaninya menjadi keruh. Mereka selalu ada dalam pergolakan melawan fitrahnya, kendatipun ketaqwaan mereka dapat diandalkan, namun pergolakan yang terjadi secara terus menerus lama kelamaan akan melemahkan iman dan ketahanan jiwa serta mengganggu kesehatan dan akan membawanya ke lembah kenistaan. Jadi orang yang enggan menikah baik itu laki-laki atau perempuan, maka mereka itu sebenarnya tergolong orang yang paling sengsara dalam hidup ini. Mereka itu adalah orang yang paling tidak menikmati kebahagiaan hidup, baik kesenangan bersifat sensual maupun spiritual. Mungkin mereka kaya, namun mereka miskin dari karunia Allah. C. Tujuan Pernikahan Menurut ”Kompilasi Hukum Islam di Indonesia”, Direktorat Pembinaan Peradilan Agama Islam Ditjen Pembinaan Kelembagaan Islam Departemen Agama, 2001 tentang tujuan pernikahan adalah bab II tentang dasar-dasar perkawinan pasal 3 yakni : Perkawinan bertujuan untuk mewujudkan kehidupan rumah tangga yang sakinah, mawaddah, dan rahmah

Dalam al-qur’an tujuan pernikahan / perkawinan adalah sebagaimana yang telah di sebutkan dalam surat Ar- Rum (Q.S. 30-An Ruum : 21) "Dan di antara tanda-tanda kekuasaanNya ialah Dia menciptakan untukmu pasangan hidup dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikanNya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir." D. Hukum Pernikahan ( Nikah )
1.

Pertama : Hukum Menikah menjadi wajib,

Menikah bagi sebagian besar ulama menjadi wajib hukumnya, ketika seorang itu : Telah mempunyai kemampuan untuk memberikan nafkah finansial pada keluarganya. Berada dalam lingkungan yang memungkinkan terjerumus dalam kezinaan. Latar belakang keimanan dan keshalihannya belum memada. Puasa sudah tidak mampu lagi menahan gejolak dan kegelisahannya. Hal ini bersandarkan bahwa : menahan dan menjauhi dari kekejian adalah suatu hal yang wajib, dan jika yang wajib itu tidak terpenuhi selain dengan menikah, maka dengan sendirinya menikah itu menjadi ikut wajib hakimnya. Kaidah ini dikenal dengan nama : “ maa lam yatimma al-wajib illa bihi fahuwa wajib “.
2.

Kedua : Hukum Menikah menjadi Haram

Seseorang diharamkan baginya menikah, ketika bisa dipastikan (berdasarkan pengalaman dan dhahirnya) bahwa dalam pernikahan itu ia akan menzalimi istrinya. Salah satu contohnya yaitu : jelas-jelas tidak mampu memberikan nafkah finansial pada istrinya. Atau dalam kondisi tidak bisa menjalankan kewajibannya kepada suami/istrinya nanti, semisal : tidak punya kemampuan dalam hubungan suami istri. Hukum haram ini bisa menjadi berubah saat dipastikan ternyata kondisikondisi tersebut telah diperbaiki. Lalu pertanyaan yang menarik selanjutnya

adalah : Bagaimana jika seseorang berada pada kondisi yang berbahaya mengarah pada zina, dan pada saat yang sama dia belum mempunyai kemampuan finansial yang cukup ? . Maka solusi ‘sementara’ untuk hal ini adalah menjaga diri dengan berpuasa. Karena jika bertemunya wajib dengan haram, maka yang haramlah yang harus dijauhi terlebih dahulu. Allah SWT berfirman “ Dan orang-orang yang tidak mampu kawin hendaklah menjaga kesucian (diri)nya, sehingga Allah memampukan mereka dengan karunia-Nya. “ (QS An- Nuur ayat 33) Dari Ibnu Mas’ud, Rasulullah SAW bersabda : Wahai segenap pemuda, barang siapa diantara kamu telah mempunyai kemampuan (jimak) maka hendaklah segera menikah, karena itu lebih menundukkan pandangan, dan menjaga kemaluan. Barang siapa yang belum mampu (memberi nafkah) maka hendaklah ia berpuasa, karena itu menjadi perisai baginya “ (HR Jamaah)
3.

Ketiga : Hukum Menikah menjadi Makruh

Yaitu ketika seseorang berada dalam kondisi yang dikhawatirkan (bukan dipastikan) akan menimbulkan bahaya dan kerugian jika menikah nantinya, misalnya karena beberapa faktor sebagai berikut : karena ketidakmampuannya dalam mencukupi kebutuhan rumah tangganya, atau mempunyai penghasilan tetapi sangat belum layak. Atau bisa juga karena track record kejiwaannya yang belum stabil, seperti emosional dan ringan tangan Atau ada kecenderungan tidak mempunyai keinginan terhadap istrinya, sehingga dikhawatirkan nanti akan menyia-nyiakan istrinya
4.

Keempat : Hukum Pernikahan menjadi Sunnah

Terakhir, jika seseorang berada dalam kondisi ‘pertengahan’ maka hukum menikah kembali kepada asalnya yaitu sunnah mustahabbah atau dianjurkan. Yaitu jika seseorang dalam kondisi : Mempunyai daya dukung finansial yang mencukupi secara standar

Tidak dikhawatirkan terjerumus dalam perzinaan karena lingkungan yang baik serta kualitas keshalihan yang terjaga. Dalil yang menunjukkan hukum asal sunnah sebuah pernikahan, diantaranya adalah yang diriwayakan anas bin malik ra. Yaitu ketika datang tiga sahabat menanyakan pada istri-istri nabi tentang ibadah beliau SAW, kemudian mereka bersemangat ingin menirunya hingga masing-masing mendeklarasikan program ibadah andalannya : Ada yang mengatakan akan shalat malam terus menerus Ada yang mengatakan akan puasa terus menerus Ada yang mengatakan tidak akan menikah selamanya Dan puncaknya, ketika Rasulullah SAW mendengar hal ini, beliau segera bereaksi keras dan memberikan statemen yang cukup jelas tentang hal tersebut. Beliau bersabda : Demi Allah .. sungguh aku ini yang paling takut kepada Allah di antara kamu sekalian, aku juga yang paling bertakwa pada-Nya, tetapi aku shalat malam dan juga tidur, aku berpuasa dan juga berbuka, dan aku juga menikahi wahita. Maka barang siapa yang tidak suka dengan sunnahku maka bukanlah bagian dariku “ (HR Bukhori)

E. Prinsip-Prinsip Perkawinan Dibab 1 telah kita bahas tentang penngertian perkawinan serta

kedudukan,tujuan dan hukum pernikahan/perkawinan.Ternyata kita ketahui masalah perkawinan tiadak hanya dibahas dalam hokum-hukum agama islam saja numun juga dalam agama lain.Menurut filsuf yunani,Aristoteles bahwa manusia adalah zoom politikom yaitu selalu mencari manusia lainya untuk hidup bersama dan berorganisasi.1Disni jelas bahwa masalah pernikahan tidak hanya masalah satu agama
Prof.DR.Lili Rasjidi,S.H.,L,LM,Hukum Perkawinan dan Perceraian di Indonesia dan Malaysia,1991,Remaja Rosdariya,Bandung hal 1
1

saja namun masalah general(umum) sehingga perlu adanya peran serta pemerintah dalam mengatasinya. Dalam undang-yndang nomor 1 tahun 1974 termuat beberapa asas dan prinsip penting yang berkenaain dengan perkawinan.Asas-asas dan prinsip-prinsip tersebut adalah: 1. Tujuan perkawinan adalah membentuk keluarga yang bahagia dan melengkkaapi agar masing-masimng dapat mengembangkan kepribadianyamembantu dan mecapai kesejahteranan sepiritual. 2. Dalam undang-undang inidinytakan bahwa perkawqinana adalah sah apabila dilakukan menurut hokum masng- amsing agamanya dankepercayaanya itu dan, disamping itu ,tiap – tiap perkawinan harus di catat menurut peraturan perundang – undangan yang berlaku . pencatatan tiap –tiap perkawinan sama dengan pencatatan peristiwa – peristiwa fakta resmi juga dimuat dalam daftar percatatan . 3. undang – undang itu menganut asas monogami . Hanya apabila dikehendaki oleh yang bersangkutan krena hukum dan agama yang bersangkutan mengizinkanya , seorang suamudapat beristri lebih dari seorang . Namun perkawinan seorang suami dengan lebih dari seorang isrti , meskipun itu dikehendaki oleh pihak – pihak bersangkutan , hanya dapat dilakukan apabila dipenuhi sebagai persyaratan tertentu dan diputuskan oleh pengadilan . 4. Undang –undang ini mengganut prinsis bahwa calon suami- istri itu harus telah masak jiwa- raganya untuk dapat melangsunngkan perkawinan agar dapat mewujudkan tujuan perkawinan secara baik tanpa berahir pada perceraian dan mendapat keturunan yang baik dan sehat . untuk itu harus dicegah adanya perkawinan antara suami- isrti yang masih dibawah umur . Disamping itu ,perkawinan mempunyai hubungan dengan masalah kepedudukan .Ternyata bahwa batas umur yang lebih rendah seorang wanita kawin mengakibatkan laju kelahirn lebih tinggi jik dibandingkan dengan batas umur yang lebih inggi .Berhubung dengan itu, undang – undang ini penting dalam kehidupan seseorang . kematiian yang di nyatakan dalam surat – surat keterangan , suatu

menemukan batas untuk kawin, baik bagi pria maupun wanita ,yaitu sembilan belas tahun bagi pria dan enam belas tahun bagi wanita . 5. karena tujuan perkawinan adalah untuk membentuk keluarga yang bahagia , kekal , dan sejahtera , maka undang – undang inimenganut prinsip untuk menper sukar terjadinya perceraian . untuk memungkinkan perceraian harus ada alas an – alas an tertentu dilakukan di depan siding pengadilan . 6. Hak dan kedudukan isrti seimbang dengn hak dan kedudukan suami, baik dalam kehidupan rumah tngga maupun dalam kehidupan masyarakat,sehingga dengan demikian segala sesuatu didlalm keluarga dapat dirundingkan da diputuska bersama oleh suami istri. Sejalan dengan asas dan prinsip perkawinan tersebut diatas,Undang-undang Perkawinan meletakan syarat-syarat yang ketat bagi pihak-pihak yang akan melangsungkan perkawinan.Bab II pasal 6 hingga 12 memuat syarat-syarat perkawinan itu sebagai berikut: 1. Persetujuan kedua belah pihak 2. izin orang tua wali 3. batas umur untuk kawintidak terdapat larangan kawin 4. tidak terikat oleh suatu perkawianan yang lain 5. tidak bercerai untuk kedua kali dengan suami istri yang sama yang akan dikawini 6. bagi janda te;lah lewat masa tunggu (tenggang idah) 7. memenuhi tata cara perkawinan2 Dalam agama islam perkawinan sangatlah diperintahkan,perkawian memiliki tujuan yang mulia bukan hanya untuk menyalurkan hasrat birahi manusia saja,namun dalam pandangan islam perkawinan memilki banyak

2

Prof.DR.Lili Rasjidi,S.H.,L,LM,Hukum Perkawinan dan Perceraian…..hal 72-73

F. Ketentuan Umum Pernikahan a) Perempuan yang haram di kawini

Allah SWT berfirman, “Dan janganlah kamu kawini wanita-wanita yang telah dikawini oleh ayahmu terkecuali pada masa yang telah lampai. Sesungguhnya perbuatan itu amatlah dan dibenci Allah dan seburuk-buruknya jalan (yang ditempuh). Diharamkan atas kamu (mengenai) ibu-ibumu; anak-anak yang perempuan; saudara-saudaramu yang perempuan; saudara-saudara bapakmu yang perempuan, saudara-saudara ibumu yang perempuan; anak-anak perempuan dari saudara-saudara yang laki-laki; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang perempuan; ibu-ibumu yang menyusui kamu; saudara perempuan sepersusuan; ibu-ibu istrimu (mertua); anak-anak istrimu yang dalam pemeliharaanmu dari isteri yang sudah kamu campuri, tetapi jika kamu belum campuri dengan isteri kamu itu (dan sudah kamu ceraikan), maka tidak berdosa kamu mengawininya; (dan diharamkan bagimu) isteri-isteri anak kandungmu (menantu);, dan menghimpunkan (dalam perkawinan) dua perempuan yang bersaudara, kecuali yang telah terjadi pada masa lampau sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan (diharamkan juga kamu mengawini) wanita yang bersuami, kecuali budak-budak yang kamu miliki (Allah telah menetapkan hukum itu) sebagai ketetapan-Nya atas kamu. Dan dihalalkan bagi kamu selain yang demikian (yaitu) mencari isteri yang telah kamu nikahi (campur) di antara mereka, berikanlah kepada mereka maharnya (dengan

sempurna), sebagai suatu kewajiban; dan tiadalah mengapa bagi kamu terhadap sesuatu yang kamu terhadap sesuatu yang kamu telah saling merelakannya, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (An-Nisaa:22-24). Pertama: perempuan-perempuan yang haram dinikahi karena nasab adalah : 1. Ibu 2. Anak perempuan 3. Saudara perempuan 4. Bibi dari pihak ayah (saudara perempuan ayah) 5. Bibi dari pihak ibu (saudara perempuan ibu) 6. Anak perempuan saudara laki-laki (keponakan) 7. Anak perempuan saudara perempuan).

Kedua: perempuan-perempuan yang haram diwakin karena mushaharah adalah : 1. Ibu istri (ibu mertua), dan tidak dipersyaratkan tahrim ini suami harus dukhul bercampur” lebih dahulu. Meskipun hanya sekedar akad nikah dengan puterinya, maka sang ibu menjadi haram atau menantu tersebut. 2. Anak perempuan dari isteri yang sudah didukhul (dikumpul), oleh karena itu, manakala akad nikah dengan ibunya sudah dilangsungkan namun belum sempat (mengumpulinya), maka anak perempuan termasuk halal bagi mantan suami ibunya itu. Hal ini didasarkan pada firman Allah, ”Tetapi kalian belum bercampur dengan isteri kalian itu (dan sudah kalian campur), maka tidak berdosa kalian menikahinya.” (An-Nisaa:23). 3. Isteri anak (menantu perempuan), ia menjadi haram dikawini hanya sekedar dilangsungkannya akad nikah.

4. Isteri bapak (ibu tiri) diharamkan ats anak menikahi isteri bapak dengan sebab hanya sekedar terjadinya akad nikah dengannya.

Ketiga: perempuan-perempuan yang haram dikawini karena sepersusuan. Allah SWT berfirman yang artinya, ”Ibu-ibu kalian yang pernah menyusui kalian; saudara perempuan sepersusuan.” (an-Nisaa’:23). Nabi saw. bersabda, ”Persusuan menjadikan haram sebagaimana yang menjadi haram karena kelahiran.” (Muttafaqun ’alaih: Fathul Bari IX:139 no:5099, Muslim II:1068 no:1444, Tirmidzi II:307 no:1157, ’Aunul Ma’bud VI:53 no:2041 dan Nasa’i VI:99). Hal.570 Oleh karena itu, ibu sepersusuan menempati kedudukan ibu kandung, dan semua orang yang haram dikawini oleh anak laki-laki dari jalur ibu kandung, haram pula dinikahi bapak sepersusuan, sehingga anak yang menyusui kepada orang lain haram kawin dengan: 1. Ibu susu (nenek) 2. Ibu Ibu susu (nenek dari pihak Ibu susu) 3. Ibu Bapak susu (kakek) 4. Saudara perempuan ibu susu (bibi dari pihak ibu susu)

5. Saudara perempuan bapak susu 6. Cucu perempuan dari Ibu susu 7. Saudara perempuan sepersusuan

Persusuan Yang Menjadikan Haram Dari Aisyah r.anha bahwa Rasulullah saw. Bersabda, ”Tidak bisa

menjadikan haram, sekali isapan dan dua kali isapan.” (Shahih: Irwa-ul Ghalil no:2148, muslim II: 1073 no:1450,Tirmidzi II: 308 no: 1160’Aunul Ma’bud VI: 69 no: 2049, Ibnu Majah I: 624 no:1941, Nassa’i VI:101). Dari Aisyah r.anha berkata, ”Adalah termasuk ayat Qur’an yang diwahyukan. Sepuluh kali penyusuan yang tertentu menjadi haram. Kemudian dihapus (ayat) ayat yang menyatakan lima kali penyusuan tertentu sudah menjadi haram. Kemudian Rasulullah saw wafat, dan ayat Qur’an itu tetap di baca sebagai bagian dari al-Qur’an.” (Shahih: Mukhtashar Muslim no:879m Muslim II:1075 no:1452, ’Aunul Ma’bud VI:67 no:2048, Tirmidzi II:308 no:1160, Ibnu Majah II:625 no:1942 sema’na dan Nasa’i VI:100). Dipersyaratkan hendaknya penyusuan itu berlangsung selama dua tahun, berdasar firman Allah, ”Para Ibu hendaklah menyusui anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan.” (QS. al-Baqarah :233) Dari Ummu Salamah r.anha bahwa Rasulullah saw. bersabda, ”Tidak menjadi haram karena penyusuan, kecuali yang bisa membelah usus-usus di payudara dan ini terjadi sebelum disapih.” (Shahih: Irwa-ul Ghalil no:2150 dan Tirmidzi II:311 no:1162).

Perempuan-Perempuan Yang Haram Dinikahi Untuk Sementara Waktu 1. Mengumpulkan dua perempuan yang bersaudara

Allah SWT berfirman, ”Dan menghimpun (dalam pernikahan) dua perempuan yang bersaudara, kecuali yang telah terjadi pada mada lampau.” (An-Nisaa’:23). 2. Mengumpulkan seorang isteri dengan bibinya dari pihak ayah ataupun dari

pihak ibunya. Dari Abu Hurairah r.a. bahwa Nabi saw. bersabda, ”Tidak boleh dikumpulkan (dalam pernikahan) antara isteri bibinya dari pihak ayah dan tidak (pula) dari ibunya.” (Muttafaqun ’alaih: II:160, Tirmidzi II:297 no:11359 Ibnu Majah I:621 no:1929 dengan lafadz yang sema’na dan Nasa’i VI:98). 3. Isteri orang lain dan wanita yang menjalani masa iddah.

”Dan (diharamkan juga kamu mengawini) wanita yang bersuami, kecuali budakbudak yang kamu miliki.” (An-Nisaa’ :24). Yaitu diharamkan bagi kalian mengawini wanita-wanita yang berstatus sebagai isteri orang lain, terkecuali wanita yang menjadi tawanan perang. Maka ia halal bagi orang yang menawannya setelah berakhir masa iddahnya meskipun ia masih menjadi isteri orang lain. Hal ini mengacu pada hadits dari Abu Sa’id bahwa Rasulullah saw. pernah mengutus pasukan negeri Authas. Lalu mereka berjumla dengan musunya, lantar mereka memeranginya. Mereka berhasil menaklukkan mereka dan menangkap sebagian di antara mereka sebagai tawanan. Sebagian dari kalangan sahabat Rasulullah saw merasa keberatan untuk mencampuri para tawanan wanita itu karena mereka berstatus isteri orang-orang musyrik. Maka kemudian Allah SWT pada waktu itu menurunkan ayat, ”Dan (diharamkan pula kamu mengawini) wanita-wanita bersuami kecuali budakbudak yang kamu miliki. ’Yaitu mereka halal kamu campuri bila mereka selesai

menjalani masa iddahnya. (Shahih: Mukhtashar Muslim no:837, Muslim II:1079 no:1456, Trimidzi IV: 301 no:5005, Nasa’i 54 VI:110 dan ’Aunul Ma’bud VI:190 no:2141). 4. Wanita yang dijatuhi talak tiga Ia tidak halal bagi suaminya yang pertama sehingga ia kawin dengan orang lain dengan perkawinan yang sah. Allah SWT berfirman, ”Kemudian jika si suami mentalaqnya (ssudah talak yang kedua), maka perempuan itu tidak halal lagi baginya hingga dia kawin dengan suami yang lain. Kemudian jika suami yang lain itu menceraikannya, maka tidak ada dosa bagi keduanya (bekas suami pertama dan isteri) untuk kawin kembali, jika keduanya berpendapat akan dapat menjalankan hukum-hukum Allah. Itulah hukum-hukum Allah, diterangkan-Nya kepada kaum yang (mau) mengetahui.” (Al-Baqarah :230). 5. Kawin dengan wanita pezina Tidak halal bagi seorang laki-laki menikahi wanita pezina, demikian juga tidak halal bagi seorang perempuan kawian dengan seorang laki-laki pezina, terkecuali masing-masing dari keduanya tampak jelas sudah melakukan taubat nashuha. Allah menegaskan, ’Laki-laki yang berzina tidak boleh mengawini kecuali perempuan berzina atau perempuan musryik; dan perempuan yang berzina tidak boleh dikawini melainkan oleh laki-laki berzina atau laki-laki yang musyrik, dan yang demikian itu diharamkan atas orang-orang yang mukmin.” (An-Nuur : 3). Dari Amr bin Syu’aib, dari ayanya dari datuknya bahwa Martad bin Abi Martad al-Ghanawi pernah membawa beberapa tawanan perang dari Mekkah dan di Mekkah terdapat seorang pelacur yang bernama ’Anaq yang ia adalah teman baginya. Ia (Martad) berkata, ”Saya datang menemui Nabi saw. lalu kutanyakan kepadanya ”Ya Rasulullah bolehkah saya menikah dengan ’Anaq Mak Beliau

diam, lalu turunlah ayat, ”Dan perempuan yang berzina tidak dikawini melainkan oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki musyrik.” Kemudian Beliau memanggilku kembali dan membacakan ayat itu kepadaku, lalu bersabda, ”Janganlah engkau menikahinya.” (Hasanul Isnad: Shahih Nasa’i no:3027, ’Aunul Ma’bud VI:48 no: 2037, VI:66 dan Tirmidzi V:10 no:3227). "Khitbah" bererti "peminangan". Tafsiran lafaz atau perkataan "peminangan" ini juga dapat di kaitkan dalam adat istilah melayu iaitu “pertunangan”. Pertunangan berbeza mengikut tempat, kawasan, adat dan suasana masyarakat masing-masing. Berbeza di antara negara-negara di semenanjung Asia Tenggara.
b)

Perkawinan/Pernikahan telarang

Nikah mut’ah Yaitu suatu pernikahan yang dilaksanakan untuk jangka waktu tertentu, jika waktu yang ditentukan sudah habis maka siwanita atau istri dinyatakan terlepas dari ikatan pernikahannya dan dia berhak menerima mut'ah dari suaminya. Nikah Shigor Yaitu suatu pernikahan yang dilakukan dengan cara tukar menukar anak perempuannya untuk dijadikan istrinya masing-masing tanpa mas kawin, seperti seorang laki-laki berkata kepada laki-laki lain : "Nikahkanlah aku dengan anakmu dan nanti aku nikahkan kamu dengan anakku" Nikah Muhallil Yaitu suatu perkawinan antara laki-laki dan wanita yang telah dithalak tiga oleh suaminya dengan tujuan untuk menghalalkan kembali pernikahan antara wanita dengan bekas suaminya setelah dia dithalak oleh suaminya yang kedua.

Nikah Badal Suatu pernikahan dengan tukar menukar istri misalnya seorang yang telah beristri menukarkan istrinya dengan istri orang lain dengan menambah sesuatu sesuai dengan kesepakatan dengan kedua belah pihak. Nikah Righoth Yaitu suatu pernikahan yang dilakukan beberapa lakisecara bergantian menyetubuhi seorang wanita, setelah wanita tersebut hamil dan melahirkan maka wanita tersebut menunjuk satu diantara laki-laki yang turut menyetubuhinya untuk berlaku sebagai bapak dari anak yang dilahirkan kemudian antara keduannya berlaku kehidupan pernikahan sebagai suami istri. Nikah Baghoya Artinya pernikahan yang ditandai dengan adanya hubungan seksual antara beberapa wanita tuna susila dengan beberapa laki-laki tuna susila, setelah terjadi kehamilan diantara wanita tersebut maka dipanggilah seorang dokter untuk menentukan satu diantara laki-laki tersebut sebagai bapaknya berdasarkan tingkat kemiripan antara anak dengan laki-laki yang menghamili ibu dari anak yang lahir tersebut c) Peminangan / Petunangan

Pertunangan dimaksudkan untuk membuka ruang antara pasangan untuk saling mengenal sebelum menikah, baik dari segi lahiriah maupun batiniah sebelum bernikah atau berkahwin Dari Mughirah bin Syu’bah baerkata “Aku pernah melamar seorang wanita. Lalu Nabi SAW bersabda, ‘Lihatlah ia, kerana yang demikian itu akan menimbulkan kasih sayang antara kalian berdua.” (HR Nasa’I, Ibn Majah dan Tirmidzi).

1. Jumhur Ulama’ berpandangan: boleh melihat wajah dan kedua telapak tangan, kerana melihat wajah dan kedua telapak tangan akan dapat diketahui kecantikan wanita itu. 2. Ibnu Daud mengatakan: boleh melihat seluruh anggota. 3. Imam Abu Hanifah membolehkan melihat dua telapak kaki, wajah dan dua telapak tangan

d)

Kafa’ah

A. Definisi Kafa’ah Kafa’ah berasal dari bahasa arab, dari kata kafi-a. Artinya adalah sama atau setara. Kata ini merupakan kata yang terpakai dalam bahasa arab dan terdapat dalam al-Qur’an dengan arti “sama” atau setara. Contoh dalam al-qur’an adalah dalam surat al-ikhlash ayat 4: walam yakun lahu kufuan ahad, yang berarti tidak suatupun yang sama dengan-Nya. Kata kufu atau kafa’ah dalam perkawinan mengandung arti bahwa perempuan harus sama atau setara dengan laki-laki. Sifat kafa’ah mengandung arti sifat yang terdapat pada perempuan yang dalam perkawinan sifat tersebut diperhitungkan harus ada pada laki-laki yang mengawininya. Dengan demikian maksud dari kafa’ah dalam perkawinan ialah persesuaian keadaan antara si suami dengan perempuannya, sama kedudukannya. Suami seimbang dengan isterinya di masyarakat, sama baik akhlaknya dan kekayaannya. Persamaan kedudukan suami dan isteri akan membawa kearah rumah tangga yang sejahtera, terhindar dari ketidakberuntungan. Demikian gambaran yang diberikan oleh kebanyakan ahli fiqh tentang kafa’ah. B. Hukum Kafa’ah

Islam adalah agama yang fitrah yang condong kepada kebenaran. Islam tidak membuat aturan tentang kafa’ah. Maka dari itulah pembicaraan mengenai kafa’ah menjadi pembicaraan dikalangan ulama, karena tidak ada dalil yang mengaturnya dengan jelas dan spesifik, baik dalam Al-Qur’an maupun hadis. Bila demikian halnya, wajar bila beberapa ulama berbeda pendapat tentang hukum kafa’ah dan pelaksanaannya. Ibnu Hazm pemuka madzhab Zahiriyah yang dikenal sebagai mujtahid mutlak tidak mengakui adanya kafa’ah dalam perkawinan. Ia berkata bahwa setiap muslim selama tidak melakukan zina boleh kawin dengan perempuan muslimah siapapun orangnya asal bukan perempuan pezina. Perbedaan ulama’ tentang hukum kafa’ah dan pelaksanaannya berefek domino pada kontradiksi mengenai kedudukan kafa’ah dalam pernikahan sendiri, ditinjau dari sisi keabsahan nikah. Ulama’ terbagi menjadi 2 poros dalam menanggapi kedudukan kafa’ah dalam pernikahan. Jumhur ulama’ termasuk Malikiyah, Syafiiyah, Hanafiyah, dan satu riwayat dari Imam Ahmad berpendapat bahwa kafa’ah itu tidak termasuk syarat pernikahan sehingga pernikahan antara orang yang tidak se-kufu akan tetap dianggap memilki legalitas hukum (sah, baca). Kafa’ah dipandang hanya merupakan segi afdholiyah saja. Pijakan dalil mereka merujuk pada ayat “Inna akromakum ‘inda Allahi atqookum” Bertolak nbelakang dengan pendapat yang pertama, salah satu riwayat dari Imam Ahmad malah mengatakan bahwa kafa’ah itu termasuk syarat perkawinan. Ini berarti bahwa pernikahan yang dilakukan oleh kedua mempelai yang tidak sekufu masih dianggap belum sah. Mereka bertendensius dengan potongan hadis riwayat oleh al-Dar Quthny yang dianggap lemah oleh kebanyakan ulama’. Hadis itu berbunyi, “La tankihu al-nisa illa min al-akfaa’, wala tuzawwijuhunna illa min al-auliya’.

Akan tetapi, para ulama Malikiyah mengakui adanya kafa’ah. Akan tetapi kafa’ah, menurut mereka hanya dipandang dari sifat istiqomah dan budi pekertinya saja. Kafa’ah bukan karena nasab atau keturunan, bukan pekerjaan atau kekayaan. Seorang lelaki shaleh yang tidak bernasab boleh kawin dengan perempuan yang bernasab, pengusaha kecil boleh kawin dengan pengusaha besar, orang hina boleh saja menikahi perempuan terhormat, seorang lelaki miskin boleh kawin dengan perempuan yang kaya raya asalkan muslimah. Seorang wali tidak boleh menolaknya dan tidak berhak memintakan cerai meskipun laki-laki tadi tidak sama kedudukannya dengan kedudukan wali yang menikahkan, apabila perkawinannya dilaksanakan dengan persetujuan si perempuan. Begitu pula halnya dengan ulama Hanafiyah, Hanabilah dan Syafi’iah.. Mereka mengakui adanya kafa’ah dengan dasar-dasar yang akan kami sampaikan nanti meskipun kafa’ah masih dalam ruang lingkup keutamaan, bukan merupakan salah satu syarat yang menentukan keabsahan nikah. C. Dasar-Dasar Kafa’ah Para ulama’ berbeda persepsi dalam menentukan kriteria yang digunakan dalam kafa’ah. Menurut ulama Hanafiyah, yang menjadi dasar kafa’ah adalah: 1. Nasab, yaitu keturunan atau kebangsaan. 2. Islam, yaitu silsilah kerabatnya banyak yang beragama islam. 3. Hirfah, yaitu profesi dalam kehidupan. 4. Kemerdekaan dirinya. 5. Diyanah, yaitu tingkat kualitas keberagamaan dalam islam. 6. Kekayaan. Menurut ulama malikiyah, yang menjadi dasar kafa’ah adalah: 1. Diyanah

2. Terbebas dari cacat fisik.

Menurut ulama Syafi’iyah, yang menjadi dasar kafa’ah adalah: 1. Nasab 2. Diyanah 3. Kemerdekaan dirinya. 4. Hirfah. Menurut ulama Hanabilah yang menjadi dasar kafa’ah adalah: 1. Diyanah 2. Hirfah 3. Kekayaan 4. Kemerdekaan diri 5. Nasab Mayoritas ulama’ sepakat menempatkan dien atau diyanah sebagai kriteria kafa’ah. Konsesus itu didasarkan pada surat as-Sajadah (32):18, “Afaman kana mu’minan kaman kana faasiqon la yastawuun” dan ayat yang menerangkan mengenai kadar kemuliaan seseorang hanyalah ditinjau dari sisi ketaqwaannya.

DAFTAR PUSTAKA almanaar.wordpress.com/.../tujuan-dan-hukum-pernikahan/ Amir Syarifuddin, Hukum Perkawinan Islam di Indonesia, Kencana: Jakarta. 2007. Ibnu Mas’ud dan Zainal Abidin, Fiqh Madzhab Syafi’i, Pustaka Setia: Bandung, 2007. Hassan, Drs. H.M Ali dan Drs. H. Syafi’i. Pendidikan Pengamalan Ibadah. Jakarta : Direktorat Jendral Pembinaan Kelembagaan Agama Islam dan Universitas Terbuka. 1996 http://koswara.wordpress.com/2007/07/01/konsep-pernikahan-dalam-islam/ tanbihun.com/fikih/definisihukum-dan-pelaksanaan-nikah/ - Tembolok - Mirip Prof.DR.Lili Rasjidi,S.H.,L,LM,Hukum Perkawinan dan Perceraian di Indonesia dan Malaysia, 1991, Remaja Rosdariya. http://alislamu.com/content/view/398/6/ http://www.scribd.com/doc/17473259/Khitbah-PertunanganPeminangan-dalam-Islam

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->