P. 1
Analisis Persoalan Penguasaan Informasi Risk and Return Pada Nasabah Dalam Kerangka Principal

Analisis Persoalan Penguasaan Informasi Risk and Return Pada Nasabah Dalam Kerangka Principal

|Views: 1,592|Likes:
Published by vikaramadhani
penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penguasaan informasi pada nasabah.Sejauh mana nasabah memahami informasi yang diberikan oleh bank dan apakah ada indikasi penyimpangan informasi yang diberikan oleh bank pada nasabah
penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penguasaan informasi pada nasabah.Sejauh mana nasabah memahami informasi yang diberikan oleh bank dan apakah ada indikasi penyimpangan informasi yang diberikan oleh bank pada nasabah

More info:

Published by: vikaramadhani on Jul 15, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/19/2013

pdf

text

original

Analisis Persoalan Penguasaan Informasi Risk and Return pada Nasabah dalam Kerangka Principal-Agent

(Studi Kasus Produk Tabungan Batara Bank Tabungan Negara Cabang Malang)

SKRIPSI

Disusun oleh :

Vika Annisa Qurrata 0610210129

Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Meraih Derajat Sarjana Ekonomi

JURUSAN EKONOMI PEMBANGUNAN FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG 2010

DAFTAR ISI
DAFTAR ISI …………………………………………………………………. DAFTAR TABEL …………………………………………………………….... DAFTAR GAMBAR …………………………………………………………… v BAB I. PENDAHULUAN 1.1 1.2 1.3 1.4 1.5 Latar Belakang ................................................................................ 1 Perumusan Masalah ...................................................................... 9 Tujuan Penelitian ............................................................................ 9 Batasan Penelitian .......................................................................... 9 Manfaat Penelitian .......................................................................... 9 ii iv

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 2.2 Teori Principal Agent Pada Hubungan Nasabah dan Bank ............. 11 Assymetric Information Terkait Dengan Risk and Return ................ 13 2.2.1 Assymetric Information............................................................. 13 2.2.2 Peran Lembaga Penjamin Simpanan Dalam Persoalan Assymetric Information …… ……….................................................. 18 2.2.3 Persepsi dan Perilaku Nasabah Tentang Konsep Risk and Return Dalam Teori …….…..……….................................................. 24 2.3 Implikasi Assymetric Information mengenai Risk and Return Pada Nasabah Penabung ........................................................................ 36 2.4 2.5 Penelitian Terdahulu ...................................................................... 41 Kerangka Pikir ............................................................................... 42

BAB III. METODE PENELITIAN 3.1 3.2 3.3 3.4 Pendekatan Penelitian .................................................................... 45 Unit Analisis .................................................................................... 46 Teknik Pemilihan Informan .............................................................. 46 Fokus Penelitian ............................................................................. 47

3.5 3.6 3.7 3.7

Jenis Data ....................................................................................... 47 Teknik Pengumpulan Data .............................................................. 48 Teknik Analisis Data ....................................................................... 49 Teknik Penilaian Keabsahan Data .................................................. 50

BAB IV. REALITAS HUBUNGAN PRINCIPAL-AGENT ANTARA NASABAH PENABUNG DAN BANK 4.1 Arti penting Informasi Dalam Hubungan Antara Nasabah dan Bank Tabungan Negara Cabang Malang....................................... 54 4.2 Lemahnya Bargaining Position Yang Menimbulkan Persoalan PrincipalAgent Antara Nasabah Penabung dan Bank Tabungan Negara Cabang Malang................................................................................ 58 4.3 Realitas Hubungan Principal-Agent Antara Nasabah Penabung dan Bank......................................................................................... 62

BAB V. PERSEPSI NASABAH PENABUNG MENGENAI PENGUASAAN INFORMASI RISK AND RETURN

5.1 5.2

Persepsi Nasabah Terhadap Resiko ............................................... 70 Persepsi Nasabah Terhadap Return ............................................... 76

BAB VI. Penutup 6.1 6.2 Kesimpulan ..................................................................................... 83 Rekomendasi .................................................................................. 84

Daftar Pustaka .............................................................................................. 85

DAFTAR TABEL No. 4.1. Judul Tabel Daftar Nama Informan Nasabah dan Mantan Nasabah BTN Cabang Malang…………………............................................... 4.2. 4.3. 5.1. Daftar Nama Informan Pegawai BTN Cabang Malang............ Suku Bunga Tabungan Batara.................................................. Indikator Penguasaan Informasi Risk and Return ................... 52 53 55 75 Hal

DAFTAR GAMBAR

No 1.1. 1.2.

Judul Gambar Hubungan Antara Nasabah, Bank dan Peminjam......................... Posisi Kredit Outstanding dan DPK (dalam milyar) Bank Tabungan Negara Tahun 2004-2008……………...........................

Hal 2

7

1.3.

Posisi Perkembangan Non Performing Loan (%) Bank Tabungan Negara Tahun 2004-2008……………........................... 8

2.1.

Kerangka Pikir Analisis Persoalan Penguasaan Informasi Risk and Return Terhadap Nasabah Dalam Kerangka Principal- 43 Agent...............................................................

ABSTRAKSI

Qurrata, Vika Annisa. 2010. Analisis Persoalan Penguasaan Informasi Risk and Return pada Nasabah dalam Kerangka Principal-Agent . Skripsi, Jurusan Ekonomi Pembangunan, Fakultas Ekonomi, Universitas Brawijaya. Farah Wulandari P, SE., ME.

Penelitian ini bertujuan untuk: (1) Mengetahui realitas hubungan principal agent antara nasabah penabung dan BTN, (2) Mengetahui persepsi nasabah penabung dalam penguasaan informasi risk and return. Hal ini dikarenakan banyaknya permasalahan yang timbul antara bank dan nasabah. Namun sampaii saat ini nasabah merasa masih kurang puas terhadap jawaban yang diberikan oleh bank. Sehingga hubungan antara bank dan nasabah tidak seimbang. Salah satu pihak mengetahui informasi lebih banyak daripada pihak lainnya.Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Metode pengambilan informan melalui purposive sampling. Data yang diperoleh melalui wawancara, dokumentasi, dan observasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Informasi suatu hal yang kurang dianggap penting bagi nasabah. Nasabah hanya menerima informasi yang diberikan bank sehingga saat ada yang bertanya lebih jauh bank akan membuat informasi tersebut menjadi assymetric dengan cara menutup-nutupi kenyataan. Terkait dengan informasi yang didapatkan, oleh karena nasabah merasa bargaining position mereka lemah terhadap bank, maka hal ini membuat mereka merasa malas bertanya dan menganggap jawaban yang diberikan pihak bank sepertinya ada yang disembunyikan. Selain itu bagi nasabah risiko bukanlah menjadi pertimbangan utama menabung. Hal ini dikarenakan persepsi nasabah yang menganggap BTN bank milik pemerintah sehingga terbebas dari segala macam risiko. Nasabah penabung menganggap bahwa yang dianggap bukanlah return secara rasional ekonomis seperti tingkat suku bunga yang diberikan, namun lebih kepada faktor keamanan dan aksebilitas akan kemudahan KPR yang diberikan oleh BTN pada nasabah penabung. Kata Kunci: penguasan informasi, nasabah, asymmetric information

BAB I PENDAHULUAN

Bagian pendahuluan ini mengemukakan latar belakang yang menjadi landasan adanya penelitian, permasalahan penelitian, tujuan penelitian, batasan penelitian, serta manfaat yang dapat diambil dari adanya penelitian ini. 1.1 Latar Belakang Fungsi lembaga perbankan sebagai perantara pihak-pihak yang memiliki kelebihan dana dengan pihak-pihak yang memerlukan dana membawa konsekuensi pada timbulnya interaksi yang intensif antara bank sebagai pelaku usaha dengan nasabah sebagai konsumen pengguna jasa perbankan. Dari sisi pihak yang memiliki kelebihan dana, interaksi dengan bank terjadi pada saat pihak yang kelebihan dana tersebut menyimpan dananya pada bank dalam bentuk giro, tabungan, deposito, sementara dari sisi pihak yang memerlukan dana interaksi terjadi pada saat pihak yang memerlukan dana tersebut meminjam dana dari bank guna keperluan tertentu. Tingkat pertumbuhan dan persaingan yang ketat antar bank, menjadikan nasabah sebagai pihak yang seolah-olah dijadikan raja. Di mana semua keuntungan serta merta diberikan kepada nasabah tersebut seperti berbagai hadiah dan suku bunga yang tinggi diberikan kepada nasabah. Namun, bukan berarti dengan adanya keuntungan yang sedemikian tinggi membuat nasabah tahu dan sadar akan risk dan return pada bank tersebut.

SPREAD

Nasabah penabung

Bunga 18%

Bunga 28 %

Nasabah peminjam

simpanan

kredit

Dana Bank

Sumber : Faisal Abdullah, Manajemen Perbankan, 2005, diolah

Gambar 1.1. : Hubungan antara nasabah, bank dan peminjam

Hubungan yang timbul dari gambar 1.1 di atas ini merupakan hubungan antara debitur dengan kreditur sehingga semuanya bersumber pada bank. Terjadinya kerjasama ini sesuai dengan teori Principal-agent, dimana nasabah sebagai principal menyuntikkan modal tambahan dalam bentuk tabungan pada bank sebagai agent yang digunakan untuk mengembangkan usaha demi meraih keuntungan bersama. Hubungan keagenan sebagai suatu kontrak yang mana satu atau lebih principal (pemilik) menggunakan orang lain atau agent (pengurus) untuk menjalankan aktivitas bank. Dengan kata lain dalam hubungan keagenan menjelaskan hubungan antara pemberi kerja dan penerima amanah untuk melaksanakan pekerjaan. Pemberi kerja yang disebut prinsipal akan memberikan hak kepada orang lain yang disebut sebagai agen untuk menjalankan haknya. Kedua belah pihak terikat oleh kontrak yang menyatakan hak dan kewajiban masing-masing. Untuk selanjutnya istilah pemberi kerja di asosiasikan sebagai prinsipal, pemilik modal, shareholders, dan pemberi amanat. Sedangkan agen dapat disamakan dengan penerima amanat, pengurus (direksi dan komisaris), pihak manajemen bank, pengelola, orang dalam atau insiders. Dalam hal ini, bank sebagai agent berkewajiban untuk memberikan informasi kepada nasabah. Namun tentunya tidak semua informasi dapat

diberikan kepada nasabah. Interaksi yang demikian intensif antara bank dengan nasabah di atas, bukan suatu hal yang tidak mungkin apabila terjadi friksi yang apabila tidak segera diselesaikan dapat berubah menjadi sengketa antara nasabah dengan bank. Dari berbagai pengalaman yang ada, timbulnya friksi tersebut terutama disebabkan oleh empat hal yaitu (i) informasi yang kurang memadai mengenai karakteristik produk atau jasa yang ditawarkan bank, (ii) pemahaman nasabah terhadap aktivitas dan produk atau jasa perbankan yang masih kurang, (iii) ketimpangan hubungan antara nasabah dengan bank, dan (iv) tidak adanya saluran yang memadai untuk memfasilitasi penyelesaian awal friksi yang terjadi antara nasabah dengan bank (Hadad, 2006:1 ) Dalam perlindungan konsumen diperlukan adanya keseimbangan antara konsumen dan pelaku yaitu keseimbangan antara hak dan kewajiban dari pelaku usaha dan konsumen. Sehingga secara umum antara konsumen dan produsen memiliki kedudukan yang sejajar. Dengan adanya kedudukan yang sejajar, maka tidak ada salah satu pihak yang merasa lebih tinggi dan pihak yang lain merasa lebih rendah, sehingga terdapat pihak yang kuat menekan pihak yang lemah. Namun, apabila hal itu tidak terpenuhi maka hal itu bisa menyebabkan penyimpangan teori principal agent yaitu salah satunya adalah assymetric information atau perbedaan kepentingan antara kedua belah pihak. Dalam kenyataannya para professional atau manajer bank sering lebih cenderung untuk meningkatkan kesejahteraan mereka sendiri. Para manajemen perusahaan mempunyai kecenderungan untuk memperoleh keuntungan yang sebesarbesarnya dengan biaya ditanggung oleh pihak lain. Perilaku ini sering disebut sebagai keterbatasan rasional (bounded rationality) dan tidak suka menanggung risiko atau risk averse. Keterbatasasn sifat manusia seperti inilah yang menyebabkan prinsipal dan agen saling mencari peluang untuk menguntungkan diri sendiri atas biaya salah satu pihak.

Posisi nasabah sebagai pemilik dana, dan nasabah ingin menyetor dana tadi ke bank. Nasabah akan memilih bank yang dapat dipercaya, dan sebelumnya mencari informasi sebanyak-banyaknya, untuk memilih akan bekerjasama dengan bank yang mana. Karena sebagai pemilik dana, nasabah berfungsi sebagai pembeli surat berharga bank. Karena uang nasabah yang disimpan di bank, sebagai gantinya anda akan menerima surat berharga dalam bentuk sertifikat deposito, buku tabungan, maupun buku giro. Jadi, seperti halnya pembeli, nasabah harus meneliti dan hati-hati dalam memilih bank. Nasabah harus hati-hati, karena dana yang disimpan di bank, agar termasuk dalam program penjaminan harus memenuhi persyaratan tertentu. Jika dana yang disimpan di suatu bank, suku bunganya lebih tinggi dari kriteria yang dipersyaratkan oleh LPS (Lembaga Penjamin Simpanan), maka nasabah tidak akan menerima penggantian jika terjadi masalah di bank tersebut. Hubungan antara nasabah penabung dan bank bisa berjalan lancar karena ada unsur saling percaya, sehingga hubungan timbal balik yang terjadi, menyehatkan. Dari persepsi umum, seringkali yang diharapkan untuk selalu dapat dipercaya hanya pihak bank, padahal sebuah hubungan tak mungkin berjalan lancar jika hanya satu pihak yang harus menjaga hubungan itu. Kedua pihak harus transparan dan menjaga kepercayaan tersebut. Dengan adanya hubungan yang timbal balik, yaitu bank bekerja dengan prinsip kehati-hatian, menjaga kepercayaan nasabah, maka nasabah akan dengan tenang

menanamkan dananya pada bank tersebut. Disatu pihak, nasabah juga harus menjaga kepercayaan bank, dana yang diberikan oleh bank dipergunakan sesuai dengan yang diperjanjian, sehingga usaha yang dilakukan oleh nasabah berjalan lancar. Bank sebagai lembaga yang berfungsi menjembatani antara pihak yang membutuhkan dana dengan pihak yang memiliki kelebihan dana sering dituntut

untuk selalu berhati-hati dalam mengelola dana tersebut. Tuntutan tersebut tidak lepas dari kepentingan –pemilik dana atau nasabah penabung yang harus dilindungi, walaupun kita ketahui bahwa dana deposan di Indonesia dijamin oleh Bank Indonesia. Namun perlindungan tersebut masih bersifat terbatas. Di lain pihak, pihak bank yang menempatkan dana pada pihak yang membutuhkan, juga berkepentingan untuk memperoleh pendapatan, sedapat mungkin terhindar dari risiko tidak kembalinya dana yang ditanamkan. Oleh karena itu tindakan yang hati-hati terhadap pengelolaan dana baik terhadap dana nasabah, -pemilik bank, maupun dana yang telah ditempatkan menjadi tuntutan yang mutlak dalam dunia perbankan. Perlindungan terhadap dana nasabah dan pemeliharaan aset atau modal pemilik bank sangat tergantung kemampuan manajemen bank dalam mengelola dana tersebut. Idealnya dengan menerapkan prinsip kehati-hatian, sebuah bank akan selamat dari kemungkinan risiko terburuk yaitu likuidasi. Tugas manajemen bank tidak hanya itu, namun yang utama adalah meningkatkan nilai kekayaan pemilik. Tentu saja tugas yang ketiga ini akan tercapai kalau kedua tugas sebelumnya dapat dilakukan. Dalam perspektif makro sebagaimana tertulis dalam Undang-undang perbankan No. 10 tahun 1998, bahwa bank didirikan untuk menyejahterakan rakyat banyak. Tujuannya begitu mulia karena mengemban tugas yang bermanfaat bagi rakyat banyak. Itu menurut undang-undang perbankan. Namun, bisakah kita menilai dalam konteks corporate bank berdiri untuk tujuan tersebut. Tampaknya tidak demikian, sebab bagaimanapun bank adalah lembaga bisnis yang didirikan untuk bisnis. Sebuah bisnis pasti berhitung dengan risiko dan return. Pemodal akan selalu bertindak atas dasar kedua hal ini. Pemodal akan menginginkan return tertinggi dengan resiko tertentu atau resiko terendah.

Untuk kasus di Indonesia sebagian besar bank terkonsentrasi pada kredit untuk meraih pendapatan tertinggi dan sumber dana sebagian besar dana masyarakat. Hal ini terindikasi bahwa untuk mendirikan bank hanya memerlukan jumlah modal yang relatif kecil dibandingkan mendirikan perusahaan manufaktur pada skala yang sama. Hal ini terjadi karena sebagian besar dana berasal dari dana masyarakat. Selain itu, masalah pokok yang sering dihadapi oleh setiap perusahaan yang bergerak dalam bidang usaha apapun, selalu tidak terlepas dari kebutuhan akan dana (modal) untuk membiayai usahanya. Perbankan sebagai lembaga keuangan dalam kegiatan operasionalnya sangat tergantung dari kemampuannya untuk menghimpun dana masyarakat yang akan disalurkan kembali ke masyarakat dalam bentuk kredit. Sehingga salah satu kunci keberhasilan manajemen bank adalah seberapa jauh bank mampu menguasai pangsa pasar dana masyarakat yang beredar di wilayah operasionalnya. Oleh karena itu prinsip kehati-hatian mutlak diperlukan dalam mengelola bank, agar kepentingan nasabah penabung dan pemilik bank bisa terjamin. Kepentingan nasabah deposan adalah dana aman dan menghasilkan, sedangkan kepentingan pemodal adalah dengan modal tersebut bisa

meningkatkan kekayaannya. Bank Tabungan Negara merupakan bank yang telah terpercaya dalam melakukan pembiayaan perumahan sejak tahun 1950. Selain pembiayaan perumahan, Bank Tabungan Negara juga memiliki berbagai fasilitas bagi nasabah penabung seperti Tabungan Batara.

Sumber : Bank Tabungan Negara, 2008

Gambar 1.2. : Posisi Kredit Outstanding dan DPK (dalam milyar) Bank Tabungan Negara tahun 2004-2008 Seperti yang dapat dilihat pada gambar 1.2 diatas, bahwa posisi kredit outstanding dan dan dana pihak ketiga meningkat. Artinya bahwa kemampuan BTN dalam melakukan peran intermediasi perbankan atau menyalurkan dana pihak ketiga ke dalam bentuk kredit sangat tinggi.

Sumber : Bank Tabungan Negara, 2008

Gambar 1.3. : Posisi Perkembangan Non Performing Loan (%) Bank Tabungan Negara Tahun 2004-2008

Dapat dilihat juga dari Non Performing Loan (NPL) yang diartikan bahwa semakin tinggi NPL yang dimiliki oleh bank, maka semakin tinggi resiko kredit yang dihadapi oleh bank tersebut. Pada gambar 1.3 di atas NPL Bank Tabungan Negara meningkat dari tahun ke tahun, walaupun pada tahun 2008 menurun, tetapi tetap berada pada kisaran 2 %. Memang, NPL yang bagus apabila tidak lebih dari 8%, namun apabila dari tahun ke tahun semakin meningkat hal ini yang perlu dikhawatirkan. Hubungan peningkatan NPL dari tahun ke tahun dengan nasabah penabung adalah apabila NPL Bank Tabungan Negara semakin tinggi, maka risiko yang dihadapi oleh nasabah penabung pun semakin tinggi, di mana apabila kredit gagal bayar tinggi jumlahnya maka pengembalian dan kepastian uang nasabah penabung bisa menjadi suatu permasalahan. Dengan demikian, diangkatlah judul penelitian ini “Analisis Persoalan Penguasaan Informasi Risk and Return Pada Nasabah Dalam Kerangka Principal-Agent (Studi Kasus Produk Tabungan Batara Bank Tabungan Negara Cabang Malang)”.

1.2. Perumusan Masalah Sejalan dengan pemaparan latar belakang sebelumnya, maka penelitian ini difokuskan untuk mengetahui: 1. Bagaimana realitas hubungan principal-agent antara nasabah penabung dan Bank Tabungan Negara? 2. Bagaimana persepsi nasabah penabung dalam penguasaan informasi risk and return? 1.3. Tujuan Penelitian Berdasarkan permasalahan yang telah dijabarkan di atas, maka tujuan penelitian ini adalah untuk: 1. Mengetahui realitas hubungan principal agent antara nasabah penabung dan BTN.

2. Mengetahui persepsi nasabah penabung dalam penguasaan informasi risk and return 1.4. Batasan Penelitian Batasan masalah berguna untuk mengarahkan penelitian agar tidak melebar dan tetap fokus pada permasalahan yang dikemukakan. Batasan yang digunakan dalam penelitian ini antara lain: Nasabah penabung yaitu nasabah yang menyimpan dananya di bank dan Bank Tabungan Negara sebagai lembaga yang berfungsi untuk menyimpan dana dari nasabah penabung. 1.5. Manfaat Penelitian Manfaat yang ingin dicapai dari adanya penelitian yang dilakukan, yaitu: 1. Manfaat Teoritis Memberikan kajian yang lebih luas mengenai pentingnya kesadaran dan keingintahuan tentang segala informasi yang berkaitan dengan bank dari nasabah penabung sebelum menabung. Selain itu, bank juga diharapkan memberikan informasi seluas-luasnya kepada nasabah tanpa ada yang ditutup-tutupi. 2. Manfaat Praktis a. Media referensi bagi pihak-pihak yang berkaitan langsung dengan nasabah penabung, terutama nasabah penabung yang menabung di Bank Tabungan Negara Cabang Malang b. Media referensi bagi pemerintah, baik pusat maupun daerah dalam menentukan kebijakan yang berhubungan dengan peningkatan kualitas pengetahuan dan kesadaran bagi nasabah penabung.

c. Memberikan inspirasi dan tambahan wawasan bagi peneliti yang tertarik pada topik sejenis agar dapat mengembangkan secara luas dan mendalam.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Pada bagian ini, akan dikupas mengenai berbagai kajian teori yang berhubungan dengan topik penelitian, diantaranya: teori principal-agent; konsep assymetric information dalam kerangka risk and return (yang meliputi teori penghimpunan dana pada bank, teori assymetric information, Lembaga Penjamin Simpanan, dan manajemen resiko); implikasi assymetric information risk and return bagi nasabah; penelitian terdahulu; dan kerangka pikir yang membingkai penelitian ini.

2.1

Teori Principal Agent Pada Hubungan Nasabah dan Bank Teori yang menjelaskan hubungan prinsipal dan agen ini salah satunya

berakar pada teori ekonomi, teori keputusan, sosiologi, dan teori organisasi. Teori prinsipal-agen menganalisis susunan kontraktual di antara dua atau lebih individu, kelompok, atau organisasi. Salah satu pihak (principal) membuat suatu kontrak, baik secara implisit maupun eksplisit, dengan pihak lain (agent) dengan harapan bahwa agen akan bertindak/melakukan pekerjaan seperti yang dinginkan oleh prinsipal (dalam hal ini terjadi pendelegasian wewenang). Lupia & McCubbins (2000) dalam Hubungan dan Masalah Keagenan di Pemerintahan Daerah: (Sebuah Peluang Penelitian Anggaran dan Akuntansi) (2009)

menyatakan pendelegasian terjadi ketika seseorang atau satu kelompok orang (prinsipal) memilih orang atau kelompok lain (agent) untuk bertindak sesuai dengan kepentingan prinsipal. Dan menurut Ross (1973) contoh-contoh hubungan prinsipal-agen sangat universal.

Hubungan prinsipal-agen terjadi apabila tindakan yang dilakukan seseorang memiliki dampak pada orang lain atau ketika seseorang sangat tergantung pada tindakan orang lain (Stiglitz, 1987 dan Pratt & Zeckhauser, 1985 dalam Gilardi, 2001). Pengaruh atau ketergantungan ini diwujudkan dalam kesepakatan-kesepakatan dalam struktur institusional pada berbagai tingkatan, seperti norma perilaku dan konsep kontrak. Mishkin (2004:181) juga

mengungkapkan bahwa pembedaan peran antara pemilik modal dengan pengelola modal dapat menimbulkan perilaku agen yang akan mengutamakan keuntungannya sendiri dibandingkan dengan keuntungan sang pemilik modal hal ini disebabkan karena pengelola modal mendapat insentif lebih kecil daripada yang didapat oleh pemilik modal. Akar dari terjadinya principle-agent model ini yakni adanya

ketidaksamaan informasi (assymetric information) yang dimiliki oleh pemilik modal (principal) dengan pengelola modal (agents). Mishkin (2004:33) mengungkapkan asymmetric information terjadi karena salah satu pihak lebih mengetahui kelengkapan informasi dibandingkan pihak lain. Sehingga pihak yang tidak menegtahui informasi tersebut kesulitan untuk menentukan keputusan yang tepat dibandingkan pihak yang memiliki informasi lebih lengkap. Dalam masalah principal-agent, agen sebagai pengelola dana peastinya memiliki informasi yang lebih lengkap dibandingkan dengan pemilik dana yang memepercayakan dananya kepada agen dan hanya menerima profit atau return dari dana yang dipercayakan tersebut. Dalam kenyataannya, informasi yang dimiliki oleh berbagai pihak memang selalu tidak sempurna atau assymetric. Salah satu pihak pasti memiliki informasi yang lebih dibandingkan dengan pihak lain. Seperti yang dikemukakan oleh Varian (2005) bahwa sangat sulit untuk mendapatkan informasi yang

sempurna

mengenai

kualitas

dari

barang

yang

dijual

di

pasar,

ketidaksempurnaan informasi yang lebih banyak mengenai barang yang ia jual daripada pihak buyer. Bahkan ketidaksempurnaan informasi itu dapat

menyebabkan kerusakan pada fungsi efisiensi pasar. Jika diaplikasi pada pembiayaan pihak perbankan pasti memiliki informasi yang lebih mengenai produk pembiayaannya dibandingkan dengan nasabah atau calon nasabah karena pihak bank yang lebih mengerti tentang mekanisme pembiayaannya dan resiko produknya. Apabila dalam kontrak awal informasi yang disampaikan pada nasabah tidak sempurna, maka tidak dapat dipungkiri lagi principal agent problem di antara pihak bank dan nasabah akan terjadi.

2.2

Assymetric Information Terkait Dengan Risk and Return

2.2.1 Assymetric Information Seperti yang telah di jelaskan pada principal agent theory bahwa akar dari terjadinya principle-agent model ini yakni adanya ketidaksamaan informasi (assymetric information) yang dimiliki oleh pemilik modal (principal) dengan pengelola modal (agents). Mishkin (2004:33) mengungkapkan asymmetric information terjadi karena salah satu pihak lebih mengetahui kelengkapan informasi dibandingkan pihak lain. Assymetric Information merupakan akar persoalan yang menyebabkan adanya persoalan pada suatu ikatan perjanjian atau kontrak diantara dua pihak Assymetric Information memiliki dua jenis yakni Adverse Selection dan Moral Hazard.

a. Adverse Selection Menurut Mishkin (2004) Adverse Selection merupakan persoalan yang terbentuk oleh assymetric information sebelum terjadinya transaksi. Dalam Principal Agent Theory Notes (2005) dikemukakan bahwa adverse selection terjadi apabila terdapat berbagai tipe agent namun principal tidak dapat

membedakan mereka contoh kasus untuk adverse selection dikenal dengan sebutan Lemons Problem. Disebut Lemons Problem karena persoalan tersebut mirip seperti saat kita memilih lemon. Saat ingin membeli lemon pasti kita akan mencoba

mencicipi beberapa lemon untuk memastikan kualitas lemon yang akan kita beli. Pada saat kita mencoba dua lemon dan ternyata kita menemukan bahwa lemon tersebut asam dan buruk kualitasnya, maka kita akan menganggap bahwa seluruh lemon yang ada dikeranjang tersebut buruk kualitasnya dan akhirnya kita tidak jadi untuk membelinya. Adanya situasi yang seperti inilah yang menyebabkan penentuan harga secara kompetitif akan menjauh dari efisiensi ekonomi karena terjadinya assymetric information (Nicholson;2002:572). Persoalan lain dalam Lemons Problem yakni penjual cenderung untuk menutupi kekurangan barang dagangannya. Misalnya penjual Lemon, mereka akan membersihkan lemon mereka satu persatu dan menyemprotnya dengan air sehingga semua lemon tidak demikian. Jika diaplikasikan dalam dunia perbankan, Bank yang ingin menjaring dana sebanyak-banyaknya pastilah akan memperlihatkan keadaan dirinya sebaik mungkin. Untuk mendapatkan kepercayaan dari pihak nasabah maka bank perlu mereka akan kelihatan segar walaupun sebenarnya

untuk meyakinkan bahwa ia mampu dalam hal likuiditasnya dan menampilkan laporan keuangan sebaik mungkin. b. Moral Hazard Menurut Mishkin (2004) Moral Hazzard merupakan persoalan yang terjadi karena Assymetric Information setelah transaksi terjadi. Miller dalam Principal Agent Theory Notes (2005) mengemukakan bahwa agent melakukan tindakan yang sangat beresiko karena ingin meningkatkan profitabilitas, namun principal tidak dapat meninjau perilaku agent tersebut. Kasus Principal Agent yang paling terkenal adalah Moral Hazard. Dimana Agent berperilaku mengikuti kehendak sendiri demi keuntungan pribadi daripada untuk keuntungan principal. Misalnya dalam tabungan, karena bank

mendapatkan tabungan dari nasabah dan nasabah dirasa tidak tahu peruntukan dana tersebut, maka pihak bank dengan leluasa menggunakan dana dari nasabah tersebut dengan cara menanamkannya di berbagai tempat. Dalam kasus tersebut pihak bank merupakan Agent dan pihak pemodal atau nasabah merupakan Principal. Setelah transaksi terjadi, pihak pemodal hanya dapat mempercayakan dananya kepada agent. Dan agent lah yang memilih perilaku (behaviour) nya sendiri untuk mengelola dana yang telah dipercayakan padanya. Dalam hal ini terdapat dua perilaku yang dapat dikatakan sebagai perilaku yang menyimpang dan menjadi moral hazzard. Perilaku pertama agent akan menggunakan dana tersebut untuk kepentingan pribadinya, daripada untuk usaha, agent lebih memilih menggunakan dana tersebut untuk konsumsi. Perilaku kedua Agent ingin meningkatkan profitabilitas sehingga ia memilih

usaha yang resikonya lebih besar dari yang seharusnya atau pihak agent berusaha untuk memaksimumkan profit usahanya dengan memperbesar pengeluaran. Karena modal seluruhnya berasal dari lender maka ia akan memaksimumkan kapasitas usahanya untuk mendapatkan pendapatan yang lebih besar. Sehingga apabila usahanya gagal, maka ia tidak akan dapat mengembalikan dana yang telah ia pinjam. Kedua perilaku tersebut menyimpang dari perjanjian transaksi sehingga dikatakan sebagai perilaku moral hazard. Menurut Edi Karni (2007), baik principal maupun agent menginginkan keuntungan yang tinggi dan aksi yang mereka lakukan menjadi subyektif tergantung dari siapa yang menginginkan keuntungan yang tinggi tersebut. Dan aksi yang mereka lakukan itu adalah yang disebut moral hazard. Karena mereka bisa melakukan apa saja untuk mendapatkan keuntungan yang tinggi. Iqbal dan David (2002) mengungkapkan bahwa principal agent problem dapat terjadi karena kurangnya monitor dari principal. Sehingga biaya untuk monitor haruslah diadakan. Selain itu insentif untuk agent juga penting agar Agent memilih untuk tidak berperilaku menyimpang dari perjanjian yang telah Disepakati. Jika diaplikasikan pada pembiayaan, pihak perbankan Petrie (2002) dalam Hubungan dan Masalah Keagenan di Pemerintahan Daerah: (Sebuah Peluang Penelitian Anggaran dan Akuntansi) (2009) mendefinisikan moral hazard dan adverse selection sebagai berikut: Moral hazard refers to the tendency of an agent, after the contract is entered into, to shirk or otherwise not fully seek to promote the principal’s interests. Adverse selection refers to the inability of a principal to determine, before the contract is entered into, which among several possible agents is most likely to promote the principal’s interests; and, given this imperfect information, the tendency for candidates with less than average motivation or qualifications to apply.

Selanjutnya Gilardi (2001) menyatakan, bahwa: Adverse selection (or ex-ante opportunism, or hidden information) occurs whenever the principal cannot be sure that he is selecting the agent that has the most appropriate skills or preferences and moral hazard (or expost opportunism, or hidden action) occurs whenever the agent’s actions cannot be perfectly monitored by the principal. Sementara itu menurut Lane (2003): Adverse selection meaning opportunism before the making of the contract between principal and agent, moral hazard meaning opportunism after the making of the contract between principal and agent. Menurut Carr & Brower (2000), model keagenan yang sederhana mengasumsikan dua pilihan dalam kontrak: (1) behavior-based, yakni prinsipal harus memonitor perilaku agen dan (2) outcome-based, yakni adanya insentif untuk memotivasi agen untuk mencapai kepentingan prinsipal. Para teoretis berpegang pada proposisi bahwa agents behave opportunistically toward principals. Oportunisme bermakna bahwa ketika terjalin kerjasama antara prinsipal dan agen, kerugian prinsipal karena agen mengutamakan

kepentingannya (agent self-interest) kemungkinan besar akan terjadi. Kazumi Hori dalam “Essays on Information, Contracts, and

Organization“ (2005) memberikan contoh tentang adanya situasi agen. Setiap agen mengobservasi kasus yang berbeda dan independen. Setelah

mengobservasi, agen akan memberikan laporan kepada principal untuk ditindak lanjuti. Lalu, principal akan mengambil keputusan. Agen memiliki kesempatan untuk memanipulasi informasi karena obyektifitas agen berbeda dengan principal. Obyektifitas yang berbeda antara agen dan principal sistematis dan dapat ditebak. Bisa saja hal ini diketahui oleh principal, tetapi principal biasanya tidak akan mencap agen sebagai pembohong namun membereskan persolan yang terjadi. Agar informasi tersebut tidak diketahui oleh principal maka agen

akan memenipulasi informasi untuk mendapatakan keuntungan bagi dirinya sendiri.

2.2.2

Peran Lembaga Penjamin Simpanan Dalam Persoalan Assymetric

Information

Peran industri perbankan dalam perekonomian suatu negara seringkali diibaratkan sebagai peran jantung dalam sistem tubuh manusia. Membeli dana masyarakat dalam bentuk simpanan serta menjualnya dalam bentuk kredit dalam rangka menggerakkan perekonomian. Agar dapat berfungsi efektif, jantung perekonomian tersebut perlu dijaga agar selalu dalam kondisi sehat, stabil, serta berkembang. Untuk mencapai kondisi tersebut diperlukan beberapa prasyarat antara lain kepercayaan masyarakat yang terjaga dan penyelewengan (moral hazard) yang tercegah.

Menurut Hari Prasetya dalam artikel yang berjudul LPS Dan Upaya Meningkatkan Disiplin Pasar, pencegahan moral hazard dalam industri perbankan dapat dilakukan melalui 3 upaya yang saling mendukung, yakni; manajemen risiko dan tata kelola yang baik (good corporate gonernance) ; disiplin pengaturan (regulatory discipline); dan disiplin pasar (market discipline). Adanya penerapan manajemen risiko dan tata kelola yang baik dapat membantu bank memastikan arah dan strateginya telah sesuai dan konsisten dengan yang direncanakan. Hal tersebut dapat mencegah pengelola bank melakukan tindakan yang melampaui derajat risiko yang telah digariskan.

Dalam menghadapi persaingan atau mengejar laba, pengelola bank dapat tergoda untuk mengabaikan manajemen risiko dengan memangkas sumber daya pengawasan internal atau meniadakan prosedur tertentu dalam

pengendalian risiko. Oleh sebab itu adanya disiplin pengaturan merupakan upaya untuk mengurangi insentif bank mengambil risiko yang lebih besar dengan menggunakan kewenangan publik. Adapun pihak-pihak yang yang dapat

melakukan disiplin pengaturan antara lain pengawas bank, bank sentral, pengawas transaksi keuangan, pengawas pasar modal, dan penjamin simpanan.

Dengan menggunakan kewenangan publik, disiplin pengaturan dianggap merupakan cara yang paling efektif untuk mencegah moral hazard. Namun mengingat tindakan disiplin pengaturan umumnya tidak dipublikasikan,

masyarakat sulit mengetahui pelanggaran dan sanksi yang dikenakan pada bank. Sedangkan disiplin pasar merupakan tindakan yang dilakukan oleh nasabah dan kreditur, serta investor dalam hal bank telah go publik, untuk “mendisiplinkan” bank yang dipersepsikan mengambil risiko terlalu besar. Tindakan tersebut diwujudkan dengan memindahkan dananya ke bank lain atau menjual kembali surat utang/obligasi/saham bank tersebut.

Harus diasadari sepenuhnya bahwa persepsi pasar tidak selalu akurat karena sangat tergantung pada ketersediaan dan kelengkapan data bank yang dipublikasikan, serta kemampuan nasabah, kreditur, serta investor dalam menilai kondisi dan kinerja bank. Atas dasar adanya adanya kendala tersebut, maka belum bisa semua pihak dapat diharapkan melakukan disiplin pasar.

Dalam perspektif penjaminan simpanan, terdapat beberapa kebijakan yang dapat dilakukan untuk meningkatkan disiplin pasar, antara lain;

pembatasan jumlah yang dijamin; pembatasan jenis yang dijamin; pembatasan pihak yang dijamin; dan pengaturan prioritas pembagian hasil likuidasi bank.

Adanya pembatasan simpanan yang dijamin menyebabkan nasabah yang simpanannya melebihi jumlah yang dijamin akan menghadapi risiko apabila bank tempat mereka menempatkan simpanannya ditutup. Oleh karena itu, nasabah tersebut akan terdorong untuk selalu memonitor kondisi dan kinerja bank.

Dilain pihak penjamin simpanan juga dapat mengecualikan penjaminan atas suatu jenis simpanan tertentu apabila simpanan tersebut dianggap lebih sebagai investment tool dan hanya dimiliki nasabah tertentu. Contoh jenis simpanan yang tidak dijamin antara lain; negotiable sertificate of deposit (Jepang, Malaysia), structured deposit (Singapura), simpanan dalam valuta asing (Jepang, Malaysia, Singapura, Canada).

Peningkatan disiplin pasar dapat pula dilakukan dengan mengecualikan penjaminan terhadap simpanan milik pihak yang mempunyai kemampuan untuk melakukan analisis kondisi dan kinerja bank, seperti : bank, perusahaan asuransi, dana pensiun, atau perusahaan sekuritas.

Dalam konteks pembagian hasil likuidasi bank, pihak yang diharapkan melakukan disiplin pasar ditempatkan pada urutan yang lebih belakang. Nasabah penyimpan pada umumnya mempunyai urutan sebelum kreditur lainnya. Sedangkan nasabah penyimpan yang dijamin dapat diberi urutan yang berbeda dengan nasabah yang tidak dijamin. Posisi nasabah penyimpan yang telah dibayar penjaminannya digantikan oleh penjamin simpanan (hak subrogasi).

Kebijakan seperti apa yang harus dilakukan pada umumnya dipengaruhi oleh sistem perbankan di setiap negara, serta tujuan kebijakan publik yang ingin dicapai. Dari beberapa pilihan tersebut, dalam UU LPS hanya diterapkan 2, yakni

; (1) pembatasan jumlah simpanan yang dijamin maksimal Rp 100 juta per nasabah per bank, dan (2) dalam pembagian hasil likuidasi bank, pembayaran kembali klaim penjaminan yang telah dibayar LPS mempunyai hak mendahului terhadap pembayaran simpanan yang tidak dijamin.

Memang Lembaga Penjaminan Simpanan (LPS) di Indonesia masih termasuk sebuah lembaga yang relatif baru bila dibandingkan dengan negaranegara lainnya. Seperti Amerika Serikat sejak 1934, yang didasari terjadinya krisis ekonomi hebat tahun 1933 dimana hak-hak penabung di bank yang harus ditutup tidak jelas nasibnya, di India sudah sejak 1962, Filipina sejak 1963 dan Jepang 1971 (hanya berperan sebagai jendela pembayaran atas kewajiban simpanan dengan maksimum 1 juta Yen) telah memiliki LPS. Tujuan berdirinya suatu LPS bukan hanya untuk menjamin atau melindungi nasabah penabung dengan nilai tabungan kecil saja, tetapi lebih kepada tujuan untuk mendorong perbankan agar tetap menjalankan fungsinya sebagai lembaga intermediasi bagi masyarakat. Terlepas dari adanya kebutuhan internal suatu negara maupun adanya dorongan lembaga-lembaga keuangan dunia seperti IMF atau Bank Dunia, pada perkembangannya banyak negara-negara yang telah mendirikan LPS yang sampai 2007 sebanyak 95 negara, sedang beberapa negara lainnya masih dalam proses. Dengan demikian jelas bahwa fungsi LPS untuk menjamin simpanan nasabah penyimpan serta untuk memelihara stabilitas sistem perbankan, serta berperan dalam memelihara/menumbuhkan kepercayaan masyarakat terhadap dunia perbankan. Didasari oleh Undang-Undang No. 10 Tahun 1998 Pasal 37B yang mengamanatkan harus adanya kewajiban bank untuk menjamin simpanan masyarakat yang ada pada suatu bank dan untuk itu perlu dibentuk LPS, maka

melalui Undang-Undang No. 24 tahun 2004 tanggal 22 September 2004 pemerintah membentuk LPS, yang berlaku efektif sejak 22 September 2005 (12 bulan sejak diundangkan). Simpanan yang dijamin oleh LPS adalah giro, deposito, tabungan dan/atau bentuk lain yang dipersamakan dengan itu, dengan nilai yang dijamin untuk setiap nasabah pada satu bank paling banyak sebesar Rp 100 juta. Penetapan nilai penjaminan sebesar Rp 100 juta didasarkan pada pertimbangan bahwa nilai tersebut telah mengcover 95% nasabah, dan penetapan ini dapat berubah apabila salah satu kriteria lainnya yang ditentukan terpenuhi. Persoalan yang terjadi di Indonesia sendiri adalah pada transaksi penyimpanan dana, pihak bank mengetahui lebih banyak dan lebih baik informasi keuangan termasuk risiko-risiko yang dihadapi oleh bank daripada nasabah penabung. Untuk menyeimbangkan adanya asymmetric information tersebut, harus ada mekanisme yang mewajibkan bank mengungkapkan semua fakta material mengenai kondisi keuangannya. Meskipun bank telah mengungkapkan fakta material mengenai kondisi keuangannya namun nasabah kecil tetap akan menghadapi risiko karena mereka tidak mempunyai akses atau kemampuan untuk memahami informasi yang diungkapkan. Ketiadaan akses informasi atau ketidakmampuan menilai kondisi keuangan bank menyebabkan mereka seringkali bereaksi berlebihan terhadap rumor mengenai keadaan suatu bank yang dapat memicu terjadinya penarikan simpanan dalam jumlah besar atau yang dikenal dengan rush. Dalam system penjaminan simpanan,risiko yang dihadapi nasabah kecil dialihkan kepada Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) sehingga bank rush diharapkan dapat dicegah. Sedangkan bagi nasabah besar, yang dipersepsikan mempunyai akses informasi atau kemampuan menganalisa kondisi keuangan bank, diharapkan

dapat mengidentifikasi dan mengukur besarnya risiko dari setiap tindakan yang akan diambil. Kepesertaan dalam penjaminan LPS bersifat wajib bagi bank yang melaksanakan kegiatan usaha yang ada di wilayah Indonesia. Kepesertaan yang bersifat wajib tersebut dipilih karena tiga alasan utama. Yang pertama untuk menghindari terjadinya adverse selection yakni kecenderungan hanya bank yang tidak sehat yang menjadi peserta penjaminan. Kedua, yang memperoleh manfaat dari adanya penjaminan simpanan bukan hanya nasabah tetapi juga semua bank dengan terciptanya perbankan yang lebih stabil. Dan yang ketiga adalah untuk mencegah sekelompok bank mempunyai keunggulan kompetitif dalam penetapan harga (competitive overpricing) serta menciptakan persaingan yang lebih fair (level playing field).

2.2.3

Persepsi dan Perilaku Nasabah Terhadap Konsep Risk and Return

Dalam Teori Konsumen adalah setiap pemakai atau pengguna barang atau jasa baik untuk kepentingan diri sendiri dan atau kepentingan orang lain. Namun secara sederhana dapat diartikan sebagai pengguna barang dan atau jasa. Masingmasing konsumen merupakan pribadi unik dimana antara konsumen yang satu dengan yang lain memiliki kebutuhan yang berbeda juga perilaku yang berbeda dalam memenuhi kebutuhannya. Namun, dari perbedaan-perbedaan yang unik tersebut ada satu persamaan yakni setiap saat konsumen akan berusaha untuk memaksimalkan kepuasannya pada saat mengkonsumsi suatu barang ataupun jasa. Tingkat kepuasan yang diperoleh konsumen dalam mengkonsumsi barang disebut dengan utilitas. Dalam hal ini, konsumen dalam dunia perbankan disebut dengan nasabah.

Dalam dunia perbankan terdapat dua jenis nasabah, yaitu nasabah penabung dan nasabah kredit. Yang dimaksudkan nasabah penabung adalah nasabah yang menyimpan uangnya di bank baik dalam betuk deposito maupun tabungan. Sedangkan nasabah kredit adalah nasabah yang meminjam uang di bank dalam bentuk peruntukan konsumsi, perumahan ataupun keperluan yang lain. Lingkup bahasan dalam penelitian ini dipersempit pada nasabah penabung. Dimana persepsi dan perilaku nasabah penabung terhadap risiko dan return tentu sangat berbeda dengan persepsi dan perilaku nasabah kredit terhadap risiko dan return.

Persepsi konsumen adalah proses dimana seseorang mengorganisir dan mengartikan kesan dari panca indera dalam tujuan untuk memberi arti dalam lingkungan mereka (Robbins,1998:90). Persepsi konsumen ini sangat penting dipelajari karena perilaku konsumen didasarkan oleh persepsi mereka tentang apa itu kenyataan dan bukan kenyataan itu sendiri.

Persepsi akan sesuatu yang berasal dari interaksi antara dua jenis faktor (Shiffman&Kanuk,1997:146): 1. Stimulus factor

Karakteristik obyek secara fisik seperti ukuran, warna, berat atau bentuk. Tampilan suatu produk baik kemasan maupun karakteristiknya akan mampu menciptakan suatu rangsangan pada indra manusia, sehingga mampu menciptakan sesuatu persepsi mengenai produk yang dilihatnya

2.

Individual factor

Karakteristik individu yang termasuk di dalamnya tidak hanya proses panca indera tetapi juga pengalaman yang serupa dan dorongan utama serta harapan dari individu itu sendiri.

Persepsi merupakan suatu proses penggunaan pengetahuan yang telah dimiliki untuk mendeteksi, mengumpulkan, dan mengintepretasikan stimulus yang diterima oleh alat indera menjadi arti tertentu yang bermakna. Dalam persepsi, seseorang juga melalui proses seleksi. Seleksi adalah proses seseorang memilih dan menentukan marketing stimuli karena tiap individu adalah unik dalam kebutuhan, keinginan dan pengalaman, sikap dan karakter pribadi masing-masing orang. Dalam seleksi ada proses yang disebut selective perception concept.

Adapun selective perception concept, yaitu (Shiffman & Kanuk, 2000:35):

1.

Selective exposure

Konsumen secara efektif mencari pesan menemukan kesenangan atau simpati mereka secara aktif menghindari kesakitan atau ancaman disisi lainnya. Mereka secara efektif membuka diri mereka kepada iklaniklan yang menentramkan hati mereka mengenai kebijaksanaan tentang keputusan pembeliannya.

2.

Selective Attention

Konsumen mengadakan transaksi pemilihan yang bagus dengan tujuan perhatian mereka berikan pada rangsangan komersial. Mereka

mempunyai kesadaran yang tinggi terhadap rangsangan yang sesuai dengan minat dan kebutuhan mereka. Jadi konsumen mungkin untuk mengingat iklan untuk produk yang dapat memuaskan kebutuhan mereka dan mengabaikan yang tidak mereka butuhkan.

3.

Perceptual Defense

Konsumen secara bawah sadar menyaring rangsangan yang mereka temukan ancaman psikologikal, meskipun telah terdapat pembukaan. Jadi ancaman atau sebaliknya rangsangan yang merusak mungkin lebih sedikit diterima secara sadar daripada rangsangan netral pada level pembukaan yang sama.

4.

Perceptual Blocking

Konsumen melindungi diri mereka dari rangsangan-rangsangan yang mereka anggap negatif dan mempunyai pengaruh buruk bagi diri mereka. Persepsi tidak hanya tergantung pada sifat-sifat rangsangan fisik, tapi juga pada pengalaman dan sikap sekarang dari individu. Pengalaman dapat diperoleh dari semua perbuatannya di masa lampau atau dapat pula dipelajari, sebab dengan belajar seseorang akan dapat memperoleh pengalaman. Hasil dari pengalaman yang berbeda-beda, akan

membentuk suatu pandangan yang berbeda sehingga menciptakan proses pengamatan dalam perilaku pembelian yang berbeda pula. Makin sedikit pengalaman dalam perilaku pembelian, makin terbatas pula luasan interpretasinya.

Persepsi ini juga ada hubungannya antara rangsangan dengan medan yang mengelilingi dan kondisi dalam diri seseorang (Kotler,1997:240).

Persepsi dapat dipengaruhi oleh karakter seseorang. Karakter tersebut dipengaruhi oleh (Robbins, 1998:91):

1.

Attitudes

Dua individu yang sama, tetapi mengartikan sesuatu yang dilihat itu berbeda satu dengan yang lain.

2.

Motives

Kebutuhan yang tidak terpuaskan yang mendorong individu dan mungkin memiliki pengaruh yang kuat terhadap persepsi mereka.

3.

Interests

Fokus dari perhatian kita sepertinya dipengaruhi oleh minat kita, karena minat seseorang berbeda satu dengan yang lain. Apa yang diperhatikan oleh seseorang dalam suatu situasi bisa berbeda satu dengan yang lain. Apa yangdiperhatikan seseorang dalam suatu situasi bisa berbeda dari apa yang dirasakan oleh orang lain.

4.

Experiences

Fokus dari karakter individu yang berhubungan dengan pengalaman masa lalu seperti minat atau interest individu. Seorang individu merasakan pengalaman masa lalu pada sesuatu yang individu tersebut hubungkan dengan hal yang terjadi sekarang.

5.

Expectations

Ekspektasi bisa mengubah persepsi individu dimana individu tersebut bisa melihat apa yang mereka harapkan dari apa yang terjadi sekarang. Dalam hubungan antara persepsi dan perilaku dapat dilihat dari pendapat Siagian (1994:18) bahwa persepsi seseorang mengenai lingkungannya akan sangat berpengaruh pada perilaku yang akhirnya akan

menentukan factor

faktor yang dipandang motivasional (dorongan Singkatnya motif mempengaruhi perilaku

untuk melakukan sesuatu).

seseorang dan persepsi menentukan arah perilakunya. Karena itu perlu diperhatikan faktor-faktor yang mempengaruhi pembentukan persepsi seseorang.

Persepsi konsumen, dalam hal ini adalah nasabah penabung, sangat berkaitan erat dengan perilaku yang diambil. Perilaku konsumen merupakan suatu ilmu yang mempelajari perilaku individu yang memutuskan untuk membelanjakan sumber daya (waktu, uang, tenaga, upaya) yang dimilikinya untuk memenuhi atau membeli sesuatu yang dibutuhkan (Schiffman & Kanuk, 2000:5). Sedangkan Wilkie (1994:14) mendefinisikan perilaku konsumen sebagai aktivitas-aktivitas mental, emosional dan fisik, dimana orang-orang

menggunakannya ketika memilih, membeli, menggunakan dan menghabiskan produk-produk jasa sehingga bisa memuaskan kebutuhan dan keinginannya.

Variabel-variabel yang terdapat dalam perilaku konsumen adalah sikap dan persepsi. Sikap menurut Schiffman & Kanuk (2000) adalah suatu keadaan terpelajar yang mudah terpengaruh untuk berkelakuan dalam suatu cara yang baik atau tidak baik secara konsisten dengan rasa hormat pada suatu obyek yang diberikan.

Sedangkan

menurut

Kotler

&

Armstrong

(1996:157),

sikap

adalah konsistensi seseorang terhadap evaluasi-evaluasi yang baik atau yang tidak baik, perasaan, kecenderungan terhadap suatu obyek dan ide. Schiffman & Kanuk (2000:154) mengemukakan perilaku konsumen yang sangat bervariatif, yaitu 1. Konsumen mencari informasi (Consumers Seek : Information)

Konsumen mencari informasi mengenai produk dan kategori produk melalui komunikasi kata melalui mulut atau yang biasa disebut dengan word of mouth, baik dari teman, keluarga, orang lain, tenaga penjual, dan dari media umum. Mereka menyimpan lebih banyak waktu untuk berpikir tentang pilihan mereka dan mencari lebih banyak informasi tentang alternatif produk ketika mereka menghubungkan tingkat resiko yang tinggi dengan pembelian. 2. Konsumen adalah setia terhadap merek (Consumers Are Brand Loyal) Konsumen menghindari resiko dengan tetap setia pada satu merek yang mana mereka telah terpuaskan daripada membeli merek-merek baru atau merek-merek yang belum pernah mereka coba. Penerima resiko yang tinggi mungkin menjadi lebih setia pada merek-merek lama dan mungkin sedikit untuk membeli produk-produk baru yang diperkenalkan.

3.

Konsumen memilih melalui kesan terhadap merek (Consumers Select by Brand Image)

Ketika konsumen tidak memiliki pengalaman dengan suatu produk, mereka cenderung untuk “percaya” terhadap suatu merek yang terkenal dan favorit. Konsumen sering berpikir bahwa merek yang terkenal lebih baik dan cukup baik sebagai jaminan secara tidak langsung mengenai kualitas yang dapat dipertanggungjawabkan hasil dan pelayanannya. Usaha promosi

pemasar menambah kualitas yang diterima dari produk-produk mereka dapat menolong untuk membangun dan menyokong kesan merek yang baik. 4. Konsumen mengandalkan kesan toko (Consumers Rely on Store Image) Jika konsumen tidak memiliki informasi lain tentang produk, mereka sering percaya pada penilaian terhadap pembeli barang dagangan dari toko yang mempunyai nama baik dan bergantung pada merek untuk membuat keputusan-keputusan yang hati-hati dalam memilih produk untuk dijual kembali. Kesan toko juga memberi implikasi dari percobaan produk dan jaminan pelayanan, hak pengembalian dan penyesuaian diri dalam kasus ketidakpuasan. 5. Konsumen membeli produk yang paling mahal (Consumers Buy The Most Expensive Model)

Ketika dalam keragu-raguan, konsumen dapat merasa kalau produk yang paling mahal mungkin yang terbaik dalam hubungannya dengan kualitas, yaitu mereka menyamakan harga dengan kualitas.

6.

Konsumen

mencari

kepastian

(Consumers

Seek

Reassurance)

Konsumen yang tidak tahu dalam membuat keputusan dalam memilih produk cenderung untuk mencari kepastian melalui garansi uang kembali, pemerintah dan hasil tes laboratorium sendiri, dll. Konsumen mempunyai hubungan dengan sesama manusia dalam wujud penggunaan yang berbeda antara konsumen pribadi (personal consumers ) dan konsumen organisasi (organizational consumers).

Konsumen

menurut

Guiltinan

&

Paul

(1994:63-65)

tidak

dapat

diciptakan oleh suatu perusahaan kecuali saat membeli pertama kali memiliki keinginan dan kemampuan untuk membeli suatu bentuk atau jenis produk. Untuk

mencapai semua itu perlu cara-cara identifikasi dalam memperbaiki keinginan dan kemampuan membeli, permintaan utama juga dapat ditingkatkan dari pembeli potensial menjadi pembeli nyata atau aktual, atau karena pembeli nyata meningkatkan tingkat penggunaannya.

Faktor utama yang menentukan keinginan untuk membeli suatu bentuk atau jenis produk menurut Guiltinan & Paul (1994:63-65) adalah persepsi pembeli terhadap kegunaan suatu produk pada satu atau lebih situasi penggunaan, dan resiko pada barang atau jasa pada produk tersebut.

Meskipun demikian, untuk menentukan mengapa ada beberapa pembeli potensial tidak menggunakan produk untuk satu atau lebih tujuan, ada beberapa hal spesifik yang perlu dipertimbangkan:

1.

Related Products and Services (Hubungan Produk dan Pelayanan) Ketika produk dan jasa telah menjadi komoditas, maka kualitas barang

dan jasa tidak dapat lagi dijadikan faktor untuk memenangkan persaingan. Tetapi, pelayanan prima lah yang dapat membedakan perusahaan secara signifikan dibanding pesaingnya.

2.

Usage Problem (Masalah Penggunaan)

Beberapa produk tidak diterima sebagai produk yang berdaya guna yang sama bagusnya dalam keadaan itu. Ini penting untuk mengidentifikasi situasisituasi dimana masalah-masalah yang terjadi dan untuk menentukan jika ada masalah-masalah yang muncul pada ciri-ciri produk atau kurangnya

pengetahuan tentang penggunaan produk secara benar.

3.

Value or Experience (Kesesuaian Nilai atau Pengalaman)

Ketika suatu produk menimbulkan perubahan dalam perilaku pembelian atau penggunaannya bertentangan dengan pengalaman sebelumnya tingkat pemakaiannya akan menjadi rendah.

4.

Perceived Risk (Resiko yang Diterima)

Keinginan untuk membeli suatu bentuk atau jenis produk akan juga tergantung pada tipe-tipe resiko yang diterima oleh pembeli potensial. Resiko yang diterima akan ada ketika pembeli percaya bahwa ada kemungkinan dari pembuatan keputusan yang tidak baik dan akan menimbulkan konsekuensi yang signifikan.

Ada tipe resiko yang dapat terjadi ketika membeli bentuk atau jenis produk:

a.

Economic or financial risks

Resiko ekonomis atau keuangan akan terjadi jika harga beli, biaya pemeliharaan atau biaya operasinya tinggi.

b.

Time or convenience risks

Resiko waktu terjadi jika konsumen mempunyai kesanggupan untuk menghabiskan banyak waktu dalam menggunakan atau membeli produk.

c.

Performance risks

Resiko ini terjadi jika ada kesalahan tampilan dalam suatu produk.

d.

Physical risks

Resiko fisik adalah resiko akibat dari penggunaan suatu produk yang mengancam kesehatan konsumen.

e.

Social risks

Resiko sosial terjadi jika pembelian atau penggunaan produk dapat mempengaruhi kelompok-kelompok referensi.

f.

Psychological risks

Resiko psikologis terjadi jika pembelian atau pengunaan produk bisa mempengaruhi pribadi atau harga diri seseorang. Dengan mengetahui tipe-tipe resiko yang diterima oleh konsumen, pemasar dapat membuat program-program pemasaran untuk mengurangi resiko dan semuanya mempertinggi keinginan untuk membeli.

Pada minat, konsumen dirangsang untuk mencari informasi mengenai inovasi. Seorang konsumen yang mulai tergugah minatnya mungkin akan atau mungkin tidak akan mencari informasi yang lebih banyak. Jika dorongan untuk menghimpun informasi itu kuat dapat kita bedakan menjadi dua tingkat, yaitu : konsumen yang mencari informasi dalam ukuran sedang-sedang saja dan keadaan demikian disebut perhatian yang meningkat.

Bila konsumen mencari bahan bacaan, menanyakan kepada temantemannya dan ikut terlibat dalam berbagai pencarian lainnya, untuk menghimpun informasi tentang produk, maka dapat dikatakan konsumen aktif mencari informasi. Sejauh mana seorang konsumen mencari informasi tergantung pada kekuatan dorongannya jumlah informasi ketika memulai pencarian, kemudahan

mencari informasi lebih banyak, nilai yang ditempatkannya pada informasi tambahan, dan kepuasan yang diperolehnya dari pencarian tersebut. Biasanya tingkat pencarian informasi oleh konsumen makin tinggi sejalan dengan bergeraknya konsumen dari keputusan yang melibatkan penyelesaian masalah terbatas ke keputusan dalam penyelesaian masalah-masalah yang besar. Konsumen dapat memperoleh informasi dari banyak sumber.

Menurut Mowen dan Minor dalam buku yang berjudul Perilaku Konsumen (2001:11), pengambilan keputusan seorang konsumen apda suatu produk berdasarkan pendekatan yang rasional, seperti dari pengalaman, psikologi dan faktor ekonomi. Selama ini, bagi para nasabah penabung, risiko yang dihadapinya adalah ketidakamanan dalam menabung yang menyebabkan kerugian dalam menabung. Dan return yang diharapkan adalah tingkat pengembalian atau suku bunga yang tinggi juga hadiah-hadiah yang diberikan oleh bank kepada nasabah penabung.

Dengan demikian, sebelum memutuskan untuk menabung di suatu bank, nasabah penabung pasti memiliki pertimbangan-pertimbangan tentang risiko yang dihadapi dan return yang di harapkan adalah suku bunga yang tinggi dan hadiah-hadiah yang diberikan kepada nasabah. Selain itu, berdasarkan teori diatas nasabah penabung pasti mencari dan memiliki banyak informasi untuk menghindari risiko yang dihadapi dan mendapatkan return yang dicari.

2.3

Implikasi Assymetric Information Risk and Return Pada Nasabah Penabung Artikel yang berjudul Mengangkat Posisi Nasabah1 dalam buku Memilih

Bank Yang Sehat ( Retnadi, 2006 : 290) menyatakan bahwa situasi perabankan

belakangan ini membuat mayarakat awam menjadi bingung. Karena banyaknya keluhan masyarakat di media massa mengenai perlakuan kasar petugas bank dalam menagih tunggakan pinjaman kartu kredit, padahal pihak yang menjadi sasran penagihan tidak merasa memiliki pinjaman dari bank tersebut. Masih ditambah soal semakin banyaknya keluhan nasabah atas berkurangnya saldo tabungannya padahal yang bersangkutan tidak pernah merasa menarik tabungannya, baik melalui counter maupun melalui ATM. Anehnya, setiap muncul keluhan nasabah di media massa, maka penyelesaian oleh bank dilakukan secara langsung (face to face) dengan menghubungi nasabah tersebut, namun bagaimana bentuk penyelesaian yang dilakukan oleh bank tidak pernah lagi di media massa. Akibatnya, tanpa adanya informasi bentuk-bentuk penyelesaian yang pernah dilakukan oleh bank terhadap nasabahnya, maka masyarakat umum tidak pernah memiliki kesempatan untuk mempelajari kasus tersebut yang siapa tahu sebenarnya mereka juga sedang mengalaminya namun enggan untuk menyampaikan ke bank atau menulis ke media massa. Dalam artikel itu ditulis pula bahwa, nasabah seharusnya bersikap aktif dan mencari informasi sebanyak-banyaknya. Minimnya perlindungan kepada nasabah, akan menjadi keberuntungan orang yang ber uang. Dengan uang yang melimpah, orang semacam ini akan diburu dan diperebutkan oleh bank, sehingga bank akan berlomba memberikan layanan terbaiknya untuk kalangan seperti ini. Namun demikian, jumlah orang seperti ini jelas sangat sedikit dubandingkan dengan populasi penduduk Indonesia. Dengan kata lain, sebagian besar nasabah yang menyimpan uangnya di bank saat ini adalah masyarakat yang uangnya tidak berlebihan.

Bagi orang kebanyakan, memang sulit mengharapkan untuk memperoleh layanan prima dari sebuah bank. Namun demikian, alih-alih memperoleh pelayanan prima, tidak dirugikan oleh bank saja sudah merupakan kondisi yang cukup baik untuk saat ini. Oleh karena itu, untuk meminimalisasi timbulnya kekecewaan di dalam berhubungan dengan bank maka calon nasabah harus benar-benar memperhatikan berbagai fitur produk yang ditawarkan bank, selain mencari thau reputasi bank tersebut di dalam melayani nasabahnya, sebelum menggunakan produk bank. Mencari informasi sebanyak-banyaknya atas syarat dan ketentuan suatu produk merupakan syarat pertama bagi calon nasabah guna menghindari timbulnya kekecewaan berhubungan dengan bank di kemudian hari. Berbagai keluhan seperti adanya pemotongan biaya administrasi tabungan, pembatasan jumlah penarikan uang di ATM, pengenaan biaya transfer antar kota pada ATM bank yang sama, dan adanya pengenaan biaya tertentu jika seseorang membayar kartu kredit melalui counter, seluruhnya tidak perlu menjadi keluhan dan sebenarnya dapat dihindari jika nasabah sudah mengetahui informasi tersebut dari awal. Selain itu reputasi layanan sebuah bank perlu juga menjadi pertimbangan di dalam memilih produk sebuah bank. Jika tujuan membuka rekening simapanan adalah untuk sarana transaksi bisnis, maka perlu dipertimbangkan bank yang memiliki jaringan luas dan dilengkapi jumlah ATM yang memadai. Jika hal ini tidak dapat dipenuhi oleh sebuah bank, maka akan lebih baik bagi nasabah utnuk menawarkan layanan sesuai tujuan kita berhubungan dengan bank.

Jika nasabah peduli dengan kondisi tersebut, tidak mustahil potensi perselisihan antara nasabah dan bank akan benar-benar menjadi kenyataan akibat harapan nasabah tidak dipenuhi bank. Oleh karena itu, di tengah minimnya peraturan yang mengatur mengenai produk perbankan dan belum berjalannya lembaga mediasi perbankan, maka satu-satunya faktor yang dapat mengangkat posisi nasabah pada saat ini adalah kepedulian dari nasabah sendiri utnuk mempertimbangkan segala sesuatunya sebelum memutuskan berhubungan dengan sebuah bank. Berdasrkan artikel “Masih Menarikkah Menabung di Bank?” dan artikel dari Harian Sumut Pos dikatakan ada beberapa contoh kasus yang melibatkan ketidaklengkapan informasi yang diterima oleh nasabah sehingga merugikan nasabah tersebut. Namun yang paling sering terdengar adalah permasalahan biaya administrasi yang dikenakan kepada nasabah. Seperti sebuah kisah yang juga menjadi persoalan banyak orang yang punya tabungan bernilai kecil, katakanlah di bawah Rp 5 juta. Banyak orang awam sulit memahami mengapa nilai tabungan mereka terus tergerus. Yang mereka tahu, jika menabung, uang akan bertambah karena berbunga. Saat ini, jangan pernah berharap duit membukit jika hanya punya tabungan tak lebih dari Rp 5 juta.

Ambil contoh BCA, bank yang memiliki jumlah penabung paling banyak di Indonesia. Untuk tabungan Tahapan Silver, BCA mengenakan biaya administrasi Rp 10.000 per bulan. Adapun suku bunga untuk tabungan bersaldo Rp 1 juta-Rp 10 juta sebesar 2 persen per tahun. Dengan asumsi nilai tabungan awal Rp 5 juta dan tidak pernah ditambah selama setahun, nasabah akan mendapat bunga Rp 100.000 per tahun. Setelah dipotong pajak 20 persen, pendapatan nasabah tinggal Rp 80.000. Padahal, biaya administrasi yang harus dibayar selama setahun mencapai Rp 120.000. Alhasil, dana berkurang Rp 40.000 dalam

setahun. Penabung kian cepat kehilangan uangnya jika nilai tabungan di bawah Rp 1 juta. Sebab bunganya nol persen. Penabung tidak akan tergerus uangnya jika saldonya minimal Rp 6 juta. Pada level itu, biaya administrasi dan bunga mencapai titik keseimbangan.

Perbankan umumnya menerapkan bunga rendah untuk tabungan. Bank Mandiri, bank terbesar di Indonesia, bahkan hanya memberikan bunga 1,75 persen untuk tabungan bernilai Rp 1 juta-Rp 5 juta. Kian tinggi nilai tabungan, bunga akan semakin besar, namun biasanya tak lebih dari 4 persen per tahun. Bank tentu merasa berhak memungut biaya administrasi. Alasannya, mereka harus membangun dan memelihara jaringan seperti ATM, yakni fasilitas untuk para penabung. Bank juga harus membangun infrastruktur teknologi informasi untuk mengelola dan menjaga rekening nasabah tetap aman. Bank merasa pantas memberi bunga kecil atas tabungan dengan alasan tabungan dapat ditarik setiap saat sehingga bank tidak begitu leluasa menggunakan dana tabungan untuk disalurkan sebagai kredit. Berbeda dengan deposito yang dipatok jangka waktunya sehingga bank mudah mengelolanya.

Bahkan, menurut para bankir, sebenarnya tabungan sudah merupakan jasa yang harus dibeli nasabah. Dengan menabung, nasabah memiliki banyak keuntungan, seperti keamanan dan kemudahan bertransaksi, karena tidak harus membawa uang tunai ke mana-mana. Tabungan amat berarti bagi perbankan. Sebab, tabungan merupakan dana murah. Bandingkan dengan deposito yang bunganya bisa mencapai 12 persen per tahun. Semakin besar porsi tabungan dalam struktur dana pihak ketiga, maka makin besar pula margin keuntungan bank. Kasarnya, dengan memberi bunga tabungan hanya 3 persen, bank bisa menjualnya sebagai kredit dengan bunga 14 persen.

Untuk Indonesia yang masyarakatnya belum bankable, bank seyogianya memberikan perhatian kepada penabung kecil. Saat ini ada 82 juta rekening bank di Indonesia, atau baru 35 persen dari total penduduk. Masyarakat perlu didorong menabung. Namun, jika masyarakat kecil tahu uang tabungan mereka akan berkurang, kemungkinan mereka tak akan menabung di bank.

2.4

Penelitian Terdahulu

Peneliti menggunakan penelitian terdahulu untuk menunjang landasan teori di atas. Penelitian yang dilakukan oleh Deasy Apriliani Kahar dengan judul “Telaah Kritis Pembiayaan Mudharabah , Musyarakah dan Murabahah dalam Kerangka Principal Agent Problem (Studi Pada Produk Pembiayaan Wirausaha Syariah (WUS) dan Tunas Usaha Syariah (TUS) PT.BNI (Persero) Tbk. Kantor Cabang Malang”. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui principal agent problem dapat terjadi pada mekanisme Mudharabah,

Musyarakah dan Murabahah produk WUS dan TUS serta mencari tahu penyebab dominasi akad murabahah pada produk WUS dan TUS dibandingkan dengan akad mudharabah atau musyarakah. Hal ini didasari oleh adanya fenomena yang terjadi pada perbankan syariah di Indonesia saat ini yakni lebih popularnya akad murabahah pada pembiayaan syariah dibandingkan dengan akad bagi hasil seperti mudharabah dan musyarakah. Kondisi ini dipicu oleh persoalan Principal Agent Problem yang timbul diantara pihak bank dan nasabah. Masalah Principal agent dapat terjadi karena adanya Assymetric Information atau perbedaan kepentingan antara kedua belah pihak. Pembedaan peran yang sangat membutuhkan kepercayaan yang kuat pada pembiayaan mudharabah dan musyarakah menyebabkan

kesempatan untuk terjadinya pembiayaan murabahah.

principal agent Problem lebih besar daripada

Dari penelitian yang dilakukan didapatkan hasil bahwa masih terdapat gap antara pembiayaan syariah secara konsep atau ideal dengan

penerapannya pada realitas. Hal ini memicu terjadinya principal agent problem pada pembiayaan mudharabah, musyarakah dan murabahah. Pembiayaan murabahah memiliki mekanisme yang sederhana hasil yang didapatkan lebih pasti. Selain itu dalam pembiayaan murabahah, bank tidak perlu mengenal nasabah dengan mendalam seperti pada pembiayaan mudharabah dan musyarakah, sehingga akad pembiayaan ini lebih popular daripada akad pembiayaan dengan prinsip bagi hasil. Sebaiknya perbankan syariah

dikembalikan lagi kepada sistem

dan mekanisme kesyariahannya yang

sebenarnya sehingga principal agent problem dapat diminimalisir. Penelitian lain tentang principal-agent theory juga dilakukan oleh Alan Carling dalam “The principal agent problem for egalitarians : Bowles, Gintis and their critics”. Hasil dari penelitian ini adalah permasalahan principal agent sebenarnya merupakan permasalahan yang terletak pada kekuasaan. Orang yang tidak percaya bahwa kedudukan semua orang sejatinya sama, akan memberikan masalah asymmetric information dimana hanya salah satu yang mendapatkan informasi lengkap.

1.5

Kerangka Pikir Kerangka pikir menurut Rianto (2004:29) merupakan kerangka berpikir

yang bersifat teoritis atau konsepsional mengenai masalah yang kita teliti. Selain itu, menggambarkan hubungan antara konsep-konsep atau variable-variabel yang akan diteliti. Adapun kerangka pemikiran pada penelitian ini adalah sebagai berikut :

Gambar 2.1 : Kerangka Pikir Analisis Persoalan Penguasaan Informasi Risk and Return Terhadap Nasabah Dalam Kerangka PrincipalAgent principal Nasabah penabung agent bank

risk return

return

Principal Agent Problem (Assymetric Information)

Sumber : Peneliti (2009)

Penelitian ini didasarkan dari fakta objek yang ada. Selain itu, juga berdasarkan landasan teori mengenai pokok bahasan penelitian ini, khususnya dari teori principal-agent dan asymmetric information. Hubungan yang terjalin antara nasabah penabung dan bank adalah hubungan antara debitur dan kreditur. Pihak debitur disini adalah nasabah sebagai principal dan bank sebagai agent juga selaku pihak kreditur. Hubungan keagenan ini muncul ketika principal atau pemilik dana menggunakan orang lain atau disebut agent untuk menjalankan bank. Dalam hal ini, bank sebagai agent seharusnya berkewajiban untuk memberikan informasi tentang risk and return kepada nasabah. Dan ada keseimbangan antara hak dan kewajiban dari bank dan nasabah penabung. Namun, apabila hal itu tidak dapat dipenuhi maka hal tersebut bisa menyebabkan penyimpangan teori principal-agent yaitu salah satunya adalah asymmetric information atau perbedaan kepentingan antara dua belah pihak.

Dalam kenyataannya, tidak semua nasabah peduli dan mencari kejelasan informasi sebelum menabung di bank. Dengan ketidakpedulian nasabah terhadap risk and return yang mereka dapat, hal itu bisa sangat merugikan mereka. Dan pihak bank selaku agent juga belum tentu mau memberikan informasi sejelas-jelasnya kepada nasabah, sehingga bisa terjadi perselisihan. Penelitian ini ingin mengetahui tentang seberapa jauh penguasaan informasi nasabah tentang risk and return menabung di bank dan ingin mengetahui tentang realitas hubungan antara nasabah penabung dan bank.

BAB III METODE PENELITIAN

Bab berikut akan membahas tentang metode yang digunakan dalam penelitian, mencakup pendekatan penelitian, unit analisis, teknik dan pemilihan informan, fokus penelitian, definisi operasional, jenis data, teknik pengumpulan data, teknik analisis data, dan teknik keabsahan data.

3.1. Pendekatan Penelitian Berdasarkan tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui hubungan antara nasabah penabung dan BTN dalam kerangka principle agent theory dan mengetahui ada atau tidak persoalan dalam hubungan Principle Agent antara nasabah penabung dan BTN dalam hubungannya dengan risk and return, maka penelitian ini diarahkan dengan menggunakan penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomologi. Moleong (2006:6) mendefinisikan penelitian kualitatif yaitu penelitian yang bermaksud untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subjek penelitian misalnya perilaku, persepsi, motivasi, tindakan, dan lain-lain, secara holistik dan dengan cara mendeskripsikan dalam bentuk kata-kata dan bahasa, pada suatu konteks khusus yang alamiah dan dengan memanfaatkan berbagai metode alamiah. Pendekatan yang sesuai adalah pendekatan fenomenologi yang memandang perilaku manusia – yaitu apa yang dikatakan dan dilakukan orang- sebagai produk dari cara orang tersebut menafsirkan dunianya (Furchan, 1992:35). Fenomenologi sendiri menggunakan intuisi kemampuan untuk memahami sesuatu tanpa dipelajari sebagai sarana untuk mencapai kebenaran (Santoso, 2001:122). Dengan menggunakan fenomenologi,

diharapkan dapat membantu peneliti dalam melakukan: (1) pengamatan, (2) imajinasi, (3) berpikir secara abstrak, serta (4) dapat merasakan atau menghayati fenomena di lapangan penelitian (Yuswadi, 2001:101), dimana dalam konteks ini adalah gambaran mengenai fenomena ada atau tidaknya persoalan dalam Principal Agent Theory antara nasabah penabung dan bank.

3.2. Unit Analisis Penelitian ini menggunakan unit analisis yang berfokus pada persoalan penelitian sehingga tidak mengutamakan tempat. Dalam pengkajiannya, informan yang dibutuhkan adalah:

1. Informan kunci: Informan kunci dalam penelitian ini adalah nasabah penabung. Dari nasabah penabung, akan digali pendapat atau persepsi mereka mengenai tingkat kepercayaan terhadap Bank Tabungan Negara sebagai lembaga keuangan serta hubungan yang mereka rasakan dengan pihak bank, serta

pengetahuan mereka tentang resiko dan pengembalian yang ada di bank tersebut.

2.

Informan pendukung: Informan pendukung dalam penelitian ini adalah manajemen Bank Tabungan Negara, akan digali langkah-langkah yang dilakukan untuk meraih consumen trust atau kepercayaan nasabah agar dapat meningkatkan kepercayaan dan hubungan yang terjalin dengan nasabah penabung.

3.3. Teknik Pemilihan Informan Penelitian ini mencoba mengungkapkan permasalahan yang ada antara nasabah penabung dan bank , oleh sebab itu, digunakan nonprobability sampling

dengan metode purposive sampling. Menurut Sugiyono (2007:218), non probability sampling adalah teknik pengambilan informan yang tidak memberi kesempatan yang sama bagi setiap unsur untuk dipilih menjadi informan. Metode purposive sampling merupakan teknik pengambilan informan sumber data dengan pertimbangan tertentu. Pertimbangan tertentu ini, misalnya orang

tersebut yang dianggap paling tahu tentang apa yang diharapkan, atau mungkin orang tersebut sebagai penguasa sehingga akan memudahkan peneliti menjelajahi objek/situasi sosial yang diteliti. Nasution dalam Sugiyono (2007:20) menjelaskan bahwa penentuan unit informan dianggap telah memadai apabila telah sampai kepada taraf ”redundancy” (datanya telah jenuh, dan apabila ditambah sampel lagi tidak memberikan informasi yang baru), artinya bahwa dengan menggunakan responden selanjutnya boleh dikatakan tidak lagi diperoleh tambahan informasi baru yang berarti. Dalam penelitian ini metode purposive sampling akan diberlakukan pada informan yang berperan sebagai nasabah penabung, serta informan pendukung dari pihak Bank Tabungan Negara Cabang Malang. 3.4. Fokus Penelitian Fokus Penelitian berguna untuk memberikan arahan dalam gambaran yang sejalan dengan permasalahan dan tujuan penelitian. Fokus penelitian diarahkan: 1. Untuk mengetahui tentang realitas hubungan principal-agent antara nasabah penabung dan Bank Tabungan Negara. 2. Untuk mengetahui tentang persepsi nasbah penabung dalam

penguasaan informasi risk and return.

3.5. Jenis Data a. Data Primer Data primer merupakan data yang langsung didapatkan dari sumber informasi tersebut, yang didapat dari wawancara dan dokumentasi yang dilakukan sendiri oleh peneliti dan sumber ataupun informan. Data-data tersebut berupa data naratif, deskriptif, dalam kata-kata mereka yang diteliti, dokumen pribadi, dan catatan lapangan. b. Data Sekunder Data sekunder merupakan data yang diperoleh dari sumber lain selain informan. Data tersebut berupa data dokumenter (arsip-arsip yang dimiliki oleh Bank Tabungan Negara Cabang Malang).

3.6. Teknik Pengumpulan Data Dalam penelitian ini, pengumpulan data dilakukan dengan beberapa cara, antara lain:

1. Wawancara Wawancara mendalam (in depth interview) adalah suatu proses

mendapatkan informasi utuk kepentingan penelitian dengan cara dialog antara peneliti sebagai pewawancara dengan informan atau yang member informasi dalam konteks observasi partisipasi (Satori dan Komariah, 2009:131).

Wawancara dengan metode semi terstruktur diperlukan agar peneliti dapat leluasa melacak berbagai segi dan arah untuk mendapatkan informasi yang

selengkapnya dan secara mendalam. Dengan demikian, upaya understanding of understanding dapat terpenuhi secara memadai. 2. Observasi Metode pengumpulan data dengan cara mengamati peristiwa dan gejala sosial yang terjadi. Dalam hal ini, peneliti mengamati berbagai praktik kerja yang dilakukan oleh Bank Tabungan Negara Cabang Malang, bentuk transaksi yang dilakukan lembaga tersebut, serta data-data yang mendukung arah penelitian yang dilakukan. 3. Dokumentasi Dokumentasi merupakan bagian yang penting dalam kegiatan pengumpulan data. Sebagai salah satu bentuk pertanggungjawaban atas kekayaan sumber, dokumentasi dapat digunakan untuk pengujian, penafsiran, atau peramalan. Dalam hal ini, contoh dokumentasi penelitian berupa foto-foto lapangan.

3.7. Teknik Analisis Data Analisis data adalah proses mencari dan menyusun secara sistematis data yang diperoleh dari hasil wawancara, catatan lapangan, dan dokumentasi, dengan cara mengorganisasikan data ke dalam kategori, menjabarkan ke dalam unit-unit, melakukan sintesa, menyusun ke dalam pola, memilih mana yang penting dan yang akan dipelajari, dan membuat kesimpulan sehingga mudah dipahami oleh diri sendiri maupun orang lain (Sugiyono, 2007:208). Dengan menggunakan penelitian kualitatif, data-data yang telah didapat kemudian diklarifikasikan ke dalam tabel-tabel. Untuk kemudian dianalisis dengan proses penalaran secara ilmiah, penuturan, penafsiran, perbandingan dan kemudian penggambaran fenomena-fenomena yang terjadi secara apa

adanya, guna dapat mengambil kesimpulan dan memberikan saran-saran dengan cara menguraikan dalam kata-kata. Analisis data dalam penelitian ini mempunyai beberapa proses, yaitu : 1. Reduksi Data (Data Reduction) Proses pemilihan, penyederhanaan, pengabstrakan dan transformasi data kasar yang tercatat dilapangan. Dengan melakukan reduksi data diharapkan menghasilkan data yang sesuai, terklasifikasi dengan jelas, tepat guna dan terorganisir. Reduksi data ini berlangsung selama penelitian dilaksanakan. 2. Penyajian Data (Data Display) Data yang telah terkumpul dan terklasifikasikan selanjutnya disajikan dalam tabel maupun kalimat. Kumpulan data tersebut selanjutnya dapat menjadi informasi yang tersusun dengan baik, sehingga memungkinkan penarikan kesimpulan dan pengambilan tindakan. 3. Penarikan kesimpulan (Verification) Data yang diperoleh dilapangan, dianalisis dengan beberapa cara untuk mencapai validitas dan akuratisasi. 3.8. Teknik Pengujian Keabsahan Data Menguji keabsahan data ditekankan pada uji kredibilitas. Dalam penelitian ini kredibilitas data dengan menggunakan triangulasi, yang diartikan sebagai pengecekan data dari berbagai sumber dengan berbagai cara dan berbagai waktu. Sugiyono (2007:274) menjelaskan terdapat tiga macam triangulasi, antara lain: 1. Triangulasi Sumber : untuk menguji kredibilitas data dilakukan dengan cara mengecek data yang telah diperoleh melalui beberapa sumber.

2. Triangulasi Teknik : untuk menguji kredibilitas data dilakukan dengan cara mengecek data kepada sumber yang sama dengan teknik yang berbeda. Misalnya data yang diperoleh dari wawancara, lalu dicek kembali dengan observasi, dokumentasi, dan kuisioner. 3. Triangulasi Waktu : untuk menguji kredibilitas data dengan cara melakukan pengecekan dalam waktu yang berbeda dan kondisi yang berbeda. Sedangkan dalam penelitian ini, triangulasi yang digunakan adalah dengan menggunakan triangulasi sumber, yaitu dengan mengecek data yang telah diperoleh melalui beberapa sumber. Dalam hal ini, pengecekan dapat dilakukan dengan metode pengumpulan data yang berbeda (wawancara dan observasi) maupun menggunakan informan pendukung. Untuk akuratisasi data, peneliti juga melakukan member check, yakni proses pengecekan data yang diperoleh peneliti kepada pemberi data. Tujuannya adalah untuk mengetahui seberapa jauh data yang telah diperoleh sesuai dengan apa yang diberikan oleh pemberi data (Sugiyono, 2007:276).

BAB IV REALITAS HUBUNGAN PRINCIPAL-AGENT ANTARA NASABAH PENABUNG DAN BANK

Bagian ini akan mengungkapkan informasi yang telah ada dalam hubungan antara nasabah penabung dan BTN. Selain itu akan diungkap berbagai realitas hubungan principal-agent antara nasabah penabung dan Bank Tabungan Negara. Dari hasil penelitian ini, akan diketahui pendapat mereka tentang hubungan mereka dengan pihak bank dan permasalahan-permasalahan yang terjadi. Sebelum masuk kedalam pembahasan, peneliti akan terlebih dahulu membahas tentang unit analisis dalam penelitian ini. Unit analisis dalam penelitian ini difokuskan kepada masing-masing individu yang terlibat langsung dalam persoalan penelitian, nasabah penabung BTN Cabang Malang merupakan informan yang penting untuk diteliti. Dalam penelitian ini, nasabah penabung yang berhasil menjadi sumber informasi penelitian sebanyak 12 orang dengan berbagai status baik sebagai nasabah penabung dan mantan nasabah penabung dilihat pada Tabel 4.2 berikut ini. Tabel 4.1 Daftar Nama Informan Nasabah dan Mantan Nasabah BTN

cabang Malang

Nama Informan Ibu Hestani Bpk Solikin (samaran) Pak Hendra Bu Herliana Ibu Aris

Usia (Th) 35 tahun 60 tahun 43 tahun 30 tahun 35 tahun

Alamat Malang Malang Malang Malang Malang

Keterangan Nasabah BTN Nasabah BTN Nasabah BTN Nasabah BTN Nasabah BTN

Nama Informan Ibu Restu Pak Santo Pak Hermawan Bu Sri Meutia Vina

Usia (Th) 67 Tahun 28 Tahun 40 Tahun 45 Tahun 21 Tahun 21 Tahun

Alamat Malang Malang Malang Malang Malang Malang

Keterangan Nasabah BTN Nasabah BTN Nasabah BTN Nasabah BTN Nasabah BTN Mantan BTN Mantan BTN Nasabah Nasabah

Pak Imam Mul

50 tahun

Malang

Sumber: Diolah dari Hasil Penelitian, 2009

Selain nasabah dan mantan nasabah Bank Tabungan Negara Cabang Malang, penelitian ini juga menggunakan informan lain yang berhubungan langsung pada persolan dalam penelitian. Informan yang dimaksud adalah pihak pegawai di Bank Tabungan Negara Cabang Malang yang sangat membantu menggali informasi lebih mandalam pada penguasaan informasi risk and return dalam kerangka Principal-agent pada tabel 4.3: Tabel 4.2 Daftar Nama Informan Pegawai BTN Cabang Malang Nama Informan Bapak Atjuk Ibu Wulan Ibu Anita Usia (Th) 44 tahun 25 tahun 25 tahun Alamat Malang Surabaya Malang Profesi Manager Customer Service Customer Service Customer service

Sumber: Diolah dari Hasil Penelitian, 2009

Diharapkan para informan yang terdapat pada tabel diatas dapat memberikan informasi yang dapat mendukung penelitian ini.

4.1.

Arti Penting Informasi Dalam Hubungan Antara Nasabah dan Bank Nasabah merupakan raja bagi pihak perbankan. Karena selama ini yang

diketahui bahwa penyumbang dana terbesar bagi pihak bank adalah nasabah. Tabungan amat berarti bagi perbankan. Sebab, tabungan merupakan dana murah. Bandingkan dengan deposito yang bunganya bisa mencapai 12 persen per tahun. Semakin besar porsi tabungan dalam struktur dana pihak ketiga, maka makin besar pula margin keuntungan bank. Contohnya, dengan memberi bunga tabungan hanya 3 persen, bank bisa menjualnya sebagai kredit dengan bunga 14 persen. Dengan adanya kenyataan seperti ini tentu dapat disimpulkan bahwa bank akan melakukan segala cara untuk membuat nasabah tetap bertahan di bank tersebut. Dalam hal ini, bank baik secara langsung maupun tidak langsung pasti akan memiliki keinginan untuk mempengaruhi persepsi nasabah bahwa menabung di bank tersebut memiliki banyak keuntungan. Sama halnya dengan Bank Tabungan Negara yang mempengaruhi persepsi keuntungan bagi para nasabah khususnya nasabah Tabungan Batara. Keuntungan yang ditawarkan disini adalah dapat digunakan sebagai salah satu persyaratan kredit, penyetoran & penarikan dapat dilakukan di semua Kantor Cabang (online) & Kantor Pos khusus untuk penyetoran, fasilitas Joint account untuk rekening bersama keluarga nasabah, secara otomatis dilindungi asuransi jiwa bebas premi dengan pertanggungan sampai dengan Rp. 25 Juta, mendapatkan Kartu ATM batara yang digunakan bertransaksi di lebih dari 5.000 ATM Bank Pemerintah yang berlogo ”Link” dan lebih dari 12.000 ATM Bersama, mempunyai kesempatan mengikuti program undian berhadiah ”Kejutan Rumah 1 Milyar” dengan total hadiah Rp. 14 Milyar, dapat melakukan pembayaran tagihan angsuran KPR, Telkom, Telkomsel & PLN melalui fasilitas : ATM, Sms Batara, dan Autodebet, fasilitas auto transfer untuk transfer dana Anda secara

rutin ke rekening lain di Bank BTN atau bank lain. Suku bunga yang ditawarkan oleh BTN dapat dilihat pada tabel 4.1. Tabel 4.3 : Suku Bunga Tabungan Batara No 1 2 3 4 5 6 7 Nominal Tabungan s/d 100.000 100.000 s/d 5.000.000 5.000.000 s/d 50.000.000 50.000.000 s/d 100.000.000 100.000.000 s/d 500.000.000 500.000.000 s/d 1.000.000.000 > 1.000.000.000 Suku Bunga 0,00% 2,50% 2,75% 3,00% 3,50% 4,25% 5,00%

Sumber : Bank Tabungan Negara, 2009

Keuntungan yang ditawarkan tentu saja merupakan sebagian dari informasi dasar yang diberikan bank dalam rangka untuk mempengaruhi nasabah agar mau menabung di Bank Tabungan Negara. Namun demi kepentingan promosi, tidak sedikit informasi yang seharusnya dibagikan kepada calon nasabah malah tidak dibagikan. Informasi merupakan hal yang penting dalam menjual suatu produk, melakukan pemahaman terhadap produk yang akan diambil dan penting juga untuk menjaga hubungan yang telah di bina antara bank dan nasabah. Informasi yang tidak tersampaikan dari pihak bank kepada nasabah pada awalnya akan menguntungkan kepada pihak bank. Namun, lama kelamaan akan menjadikan boomerang bagi nasabah. Saat nasabah tersadar bahwa dia merasa dirugikan, nasabah akan membuat dua pilihan yaitu meninggalkan bank atau tetap

bertahan. Seperti yang telah dikatakan oleh Pak Imam (50 tahun) yang merupakan mantan nasabah di BTN Cabang Malang, ”Nasabah itu kan punya hak untuk melakukan apapun, walaupun haknya itu pasti dibatasi sama bank. Jadi kalo ada yang sreg di hati terus dapat tanggapan yang nggak enak juga, ya bisa terserah nasabah, mau dilanjutkan apa nggak nabungnya. Lha saya yang termasuk nggak mau melanjutkan nabung di BTN” Dari pernyataan diatas dapat diketahui bahwa nasabah memang memiliki banyak pilihan untuk menentukan apa yang dianggapnya terbaik bagi tabungannya. Walaupun sebagai nasabah pasti harus terikat dengan segala peraturan yang dimiliki oleh bank. Namun, saat dia tidak merasa nyaman dengan segala peraturan bank, nasabah bisa memilih untuk tetap berdamai dengan kondisi seperti itu atau memutuskan untuk mencari bank yang menurut dia bisa lebih mengerti kondisi dan keadaan yang dia hadapi. Nasabah memang mendapatkan informasi pada awal pembukaan rekening. Namun, bagi mereka itu belum mencukupi untuk memahami apa yang telah diinformasikan. Kesalahan nasabah sendiri adalah bersikap pasrah dan tidak mau menuntut hal mereka untuk mengerti lebih banyak. Seperti yang dikatakan oleh Bu Restu (67 tahun), ”Saya sudah lupa mbak dikasi informasi apa aja, yang saya ingat malah syarat-syarat kredit rumah.Hahaha (dengan bercanda). Tapi yang saya ingat itu informasi yang harus dibaca banyak trus waktu itu sama mbak CS nya uda mau diambil, jadi ya cepet-cepet aja tak tandatangani.” Dari pernyataan yang didapatkan diatas, bisa dilihat bahwa pihak bank sudah memberikan informasi berupa poin-poin yang menurut pihak bank dianggap penting bagi nasabah. Namun, nasabah tidak peduli dengan melupakan dan tidak pernah bertanya lagi tentang informasi-informasi tersebut. Namun, informasi memang tetap menjadi hal yang harus dibatasi bagi BTN. Informasi yang dianggap penting bagi BTN, tidak akan dibuka kepada pihak luar. Hanya informasi yang menurutnya merupakan informasi yang penting bagi nasabah yang dibuka. Walaupun BTN telah mengaku bahwa memberikan

informasi sebanyak-banyaknya pada nasabah penabung dan masyarakat, tetapi pada saat peneliti ingin mendokumentasikan tempat aktivitas antara nasabah dan BTN, pihak BTN tidak mengijinkan. Begitu pula saat peneliti ingin bertanya lebih jauh pada nasabah penabung di BTN cabang Malang, BTN tidak mengizinkan. Dengan alasan bahwa kegiatan penelitian yang dilakukan oleh peneliti akan mengganggu aktivitas di BTN. Padahal peneliti hanya sebatas mengobservasi perilaku antara nasabah penabung dan pegawai BTN, disini khususnya adalah Customer Service yang memang banyak berhubungan dengan nasabah. Dengan adanya fakta-fakta yang telah disebutkan diatas, dapat disimpulkan bahwa memang BTN telah memberikan informasi yang dianggapnya penting bagi nasabah. Namun untuk mencari informasi yang dianggap BTN sangat penting atau bisa mempengaruhi dari keputusan nasabah, maka BTN akan berusaha untuk membuat assymetric information.

4.2

Lemahnya

Bargaining

Position Yang

Menimbulkan

Persoalan

Principal-Agent Antara Nasabah Penabung dan Bank Tabungan Negara Cabang Malang

Hubungan yang ideal, adalah hubungan yang saling memahami, dan saling menghormati. Calon nasabah harus menyeleksi bank dan produk yang diinginkan sebelum akhirnya memilih produk dan bank yang tepat baginya. Dan setelah menjatuhkan pilihan, nasabah menginginkan hubungan yang saling mendukung, saling menguatkan, dan saling mengingatkan jika ada yang salah. Dan untuk bisa melakukan hubungan yang saling menguatkan tersebut, antara bank dan nasabah harus tranparan, tak ada yang ditutupi, serta penuh tanggung jawab.

Posisi nasabah penabung sebagai pemilik dana, dan nasabah ingin menyetor dana tadi ke Bank. Apa yang akan diperhatikan? Tentu nasabah akan memilih bank yang dapat dipercaya, dan sebelumnya mencari informasi sebanyak-banyaknya, untuk memilih akan berhubungan dengan bank yang mana. Karena sebagai pemilik dana, nasabah berfungsi sebagai pembeli surat berharga bank. Karena uang nasabah yang disimpan di bank, sebagai gantinya nasabah akan menerima surat berharga dalam bentuk sertifikat deposito, buku tabungan, maupun buku giro. Jadi, seperti halnya pembeli, nasabah harus meneliti dan hati-hati dalam memlilih bank.

Seperti halnya hubungan sahabat karib, hubungan bisa berjalan lancar karena ada unsur saling percaya, sehingga hubungan timbal balik yang terjadi, menyehatkan. Kedua pihak harus transparan, dan menjaga kepercayaan tersebut. Dengan adanya hubungan yang timbal balik, yaitu bank bekerja dengan prinsip kehati-hatian, menjaga kepercayaan nasabah, maka nasabah akan dengan tenang menanamkan dananya pada bank tersebut.

Hubungan yang terjalin dengan baik akan memberikan posisi yang seimbang. Jangan sampai nasabah merasa dirinya seperti tidak memiliki arti di depan bank, atau nasabah seperti merasa diremehkan. Seperti yang di katakan oleh Bapak Solikin (nama samaran) ketika ditanya tentang keuntungan dalam menabung di BTN. “Ya biasa aja tuh mbak, saya nggak ngrasa juga”

Jawaban serupa juga diutarakan oleh Ny. Hestani ( 35 tahun) ketika ditanya tentang return bunga yang didapatnya

“Nggak pernah mbak. Lha saya ini ya sapa kok sampe ngamatin sgitunya” Dari jawaban Pak Hendro dan Bu Hestani, dapat terlihat bahwa mereka sebagai nasabah tidak memahami haknya sebagi nasabah dan merasa tidak memiliki bargaining position di hadapan BTN sehingga nasabah tidak terlalu ambil pusing apa yang akan terjadi pada hak mereka. Hal tersebut adalah kelengahan sebagian besar nasabah, dan bank tidak merasa bahwa sikap yang diambil oleh nasabah ini adalah suatu kesalahan. Bank merasa tidak bersikap salah hingga nasabah tidak bertanya atau menegur bank. Seperti yang tercermin pada jawaban Ibu Wulan selaku customer service BTN Cabang Malang ketika ditanya tentang bargaining position nasabah. “Mereka itu kan punya hak untuk tanya, trus kita (bank) memperlakukan sama tiap nasabah, jadi kalo ada nasabah yang berpendapat posisi mereka nggak diperhatikan sama sini, itu salah besar. Semua tergantung sama nasabah itu sendiri.” Sikap yang ditunjukkan oleh bank sebenarnya tidak salah, namun bank juga harus berhati-hati terhadap pendapat nasabah yang merasa dirinya tidak dianggap oleh bank. Setiap bank pasti tidak menginginkan adanya pembedaan perlakuan pada tiap nasabah, namun disadari atau tidak secara tidak sengaja pembedaan perlakuan itu pasti ada walaupun sedikit. Hal ini tercermin dari jawaban yang diberikan oleh Ibu Wulan (Customer Service) saat ditanya tentang informasi apa saja yang didapatkan nasabah dengan nilai tabungan yang besar. ”Kalau nasabah dengan nominal yang besar itu sensitif sekali dengan setiap kebijakan BTN. Jadi sebisa mungkin kita mesti menginformasikan tentang kebijakan yang diambil. Soalnya kan mereka itu nominal tabungannya besar. Jadi secara otomatis tanggung jawab kita besar juga ke mereka. Bayarnya mereka juga lebih besar daripada nasabah biasa, jadi ada fasilitas lebih bagi mereka.” Nasabah memiliki banyak pilihan dalam memutuskan menabung di bank yang dikehendaki. Posisi nasabah bisa dengan mudah untuk berpindah dari satu

bank ke bank lain tanpa banyak pertimbangan. Sehingga dengan adanya permasalahan yang terjadi, nasabah lebih ingin memutuskan untuk berpindah ke bank lain.

Perasaan lemahnya bargaining position antara nasabah penabung dan Bank Tabungan Negara Cabang Malang adalah salah satu permasalahan yang timbul dalam Principal-agent theory. Hubungan prinsipal-agen terjadi apabila tindakan yang dilakukan seseorang memiliki dampak pada orang lain atau ketika seseorang sangat tergantung pada tindakan orang lain (Stiglitz, 1987 dan Pratt & Zeckhauser, 1985 dalam Gilardi, 2001). Pengaruh atau ketergantungan ini diwujudkan dalam kesepakatan-kesepakatan dalam struktur institusional pada berbagai tingkatan, seperti norma perilaku dan konsep kontrak. Dan akar dari terjadinya principle-agent model ini yakni adanya ketidaksamaan informasi (assymetric information) yang dimiliki oleh pemilik modal (principal) dengan pengelola modal (agents). Mishkin (2004:33) mengungkapkan asymmetric information terjadi karena salah satu pihak lebih mengetahui kelengkapan informasi dibandingkan pihak lain. Sehingga pihak yang tidak menegtahui informasi tersebut kesulitan untuk menentukan keputusan yang tepat

dibandingkan pihak yang memiliki informasi lebih lengkap. Dalam masalah principal-agent, agen sebagai pengelola dana pastinya memiliki informasi yang lebih lengkap dibandingkan dengan pemilik dana yang memepercayakan dananya kepada agen dan hanya menerima profit atau return dari dana yang dipercayakan tersebut. Permasalahan yang timbul disini adalah, nasabah merasa bargaining position yang dimiliki lemah sehingga mereka tidak mau untuk bertanya lebih lanjut tentang risk and return yang mereka dapatkan dari Bank Tabungan Negara. Mereka tidak mau bertanya kepada BTN tentang hal-hal atau informasi

yang kurang jelas bagi mereka karena jawaban yang diberikan bank cenderung itu-itu saja sehingga mereka merasa malas membuang waktu untuk bertanya tentang informasi dan ada yang ditutupi dari jawaban bank. Sementara pihak bank sendiri tidak mau peduli apabila nasabah mereka bersikap begitu. Hal ini disebabkan karena nasabah yang pasif cenderung menguntungkan bagi bank. Karena mereka tidak akan bertanya tentang semua hal.

4.3

Realitas Hubungan Principal-Agent Yang Menjadi Dasar Keputusan Dalam Pemilihan Menabung

Seperti yang dikatakan diatas bahwa informasi merupakan arti penting dalam hubungan antara nasabah penabung dan bank, namun tetap saja ada permaslahan yang timbul dalam hubungan keduanya. Saat informasi tidak terpenuhi dari salah satu pihak, maka pihak yang merasa bahwa informasinya kurang akan melakukan dua hal. Yang pertama adalah bertanya sejelas-jelasnya tentang informasi yang seharusnya dia dapatkan dan yang kedua adalah bersikap pasif dan tidak mau perduli terhadapa hak informasi yang seharusnya dia dapatkan.

Kenyataan bahwa kebanyakan nasabah merasa bargaining position mereka kurang di hadapan bank adalah contoh bahwa hubungan antara nasabah dan bank sebagai prisipal dan agen tidak terpenuhi dengan baik. Karena hubungan yang sehat antara prinsipal dan agen seharusnya saling terbuka dan saling setara. Tidak ada yang merasa bahwa salah satu pihak lebih berkuasa dibandingkan dengan pihak lain. Saat nasabah merasa bargaining position mereka kurang, mereka emggan bertnaya tentang kejelasan informasi dan pada akhirnya timbul banyak persoalan yang terjadi. Persoalan yang terjadi

itu bisa dari biaya administrasi yang kurang jelas, ketimpangan informasi, dan pelayanan yang kurang memadai.

Saat persoalan itu muncul, nasabah Bank Tabungan Negara akan mengambil dua sikap yang berlawanan. Yang pertama akan menutup rekening di Bank Tabungan Negara dan mencari bank yang dirasa cocok bagi mereka. Yang kedua akan memilih untuk bertahan dengan banyak alasan, salah satunya adalah masih merasa membutuhkan Bank Tabungan Negara. Dari data yang didapatkan kebanyakan, alasan nasabah untuk menutup rekening tabungan adalah alasan klasik yaitu tentang biaya administrasi dan ketimpangan informasi yang diberikan oleh pihak bank. Permasalahan yang berasal dari adanya perbedaan yang mencolok antara biaya administrasi, jumlah tabungan, dan suku bunga yang didapatkan bisa dicontohkan oleh kasus yang dialami oleh Pak Imam, seorang mantan nasabah BTN Cabang Malang.

Perbankan umumnya menerapkan bunga rendah untuk tabungan. Kian tinggi nilai tabungan, bunga akan semakin besar, namun biasanya tak lebih dari 4 persen per tahun. Bank tentu merasa berhak memungut biaya administrasi. Alasannya, mereka harus membangun dan memelihara jaringan seperti ATM, yakni fasilitas untuk para penabung. Bank juga harus membangun infrastruktur teknologi informasi untuk mengelola dan menjaga rekening nasabah tetap aman. Bank merasa pantas memberi bunga kecil atas tabungan dengan alasan tabungan dapat ditarik setiap saat sehingga bank tidak begitu leluasa menggunakan dana tabungan untuk disalurkan sebagai kredit. Berbeda dengan deposito yang dipatok jangka waktunya sehingga bank mudah mengelolanya.

Sebagai contoh dari pernyataan bahwa bunga bank rendah namun biaya administrasi tinggi adalah seperti yang dikatakan oleh Pak Imam (50 tahun),

”Saya itu dulu kan punya 2 rekening mbak. Di BTN sama BNI. Tapi yang giat nabung ya di BNI. BTN itu dulu kan karena mau beli rumah, jadi ya uda tetep dipelihara aja rekeningnya. Dulu itu kalo nggak salah bunganya Cuma 2,5 persen mbak. Soalnya tabungan saya cuma dikit. Sementara potongan ATM itu sembilan ribu (Rp 9000,-). Nah, masalah itu muncul pas saya mau mulai nabung lagi di BTN. Maksud saya, biar aktif lagi yang disitu. Di buku tabungan saya itu saya liat print out yang lama uangnya tinggal seratus lima puluh ribu. Lha hari itu, saya mau nabung empat ratus ribu. Saya waktu itu uda nggak nabung empat bulan. Itungannya kan paling cuma dipotong tiga puluh enam ribu ya mbak. Biaya ATM itu. Ternyata nggak mbak, potongannya banyak, saya juga nggak ngerti potongan buat apa aja. Tau-tau tabungan saya tinggal tiga ratus lima puluh ribu. Padahal saya nabung empat ratus ribu. Masak potongan saya sampe’ dua ratus ribu. Buat saya ya termasuk banyak mbak itu. Trus saya tanya ke CS (Customer Service) nya, katanya itu biaya administrasi sama biaya karena saldo dibawah minimal. Padahal saya nggak pernah dikasi tau informasi itu. Saya tanya apa bisa tutup rekening terus buka baru lagi, katanya nggak bisa. Padahal saya pernah di BCA kaya’ gitu juga bisa. Ya udah mbak, jadi males nabung disana lagi.” Pernyataan bapak Imam di atas, menandakan bahwa adanya

ketimpangan informasi yang dialami oleh nasabah. Bank tidak memberikan informasi yang cukup kepada nasabah, dan nasabah merasa tidak perlu untuk menanyakan informasi bisa kerena nasabah memang tidak paham apa yang harus ditanyakan atau bisa juga karena pada saat itu nasabah sudah paham jadi tidak bertanya lebih lanjut lagi. Namun, saat permasalahan itu muncul, nasabah baru paham bahwa selama ini dirinya merasa dirugikan oleh keputusankeputusan bank. Ada satu pernyataan lain tentang ketimpangan informasi dan satu pernyataan lain tentang kurangnya pelayanan di BTN Cabang Malang. Pernyataan yang pertama dari Vina (21 tahun) mahasiswi salah satu universitas negeri di Malang dan dia merupakan mantan nasabah BTN Cabang Malang. “Gini mbak, 3 Juni 2009 tiba-tiba saldo tabungan ku hilang Rp.3500. Jadi saldo pada tanggal sebelumnya jika kemudian ditambah atau dikurang transaksi tanggal 3 Juni 2009 tiba-tiba hilang Rp.3.500. Intinya saldo tiba-tiba gak nyambung. Kata customer servicenya karena koreksi tahun 2004/08. Tetapi kalau dilihat pada 2004/08 memang terjadi pendebetan biaya admin dua kali, tetapi pada 2004/09 tabungan sudah dikreditkan sau kali. Harusnya sudah gak masalah. sementara pada 2004/09 tetap dikreditkan biaya admin bulan bersangkutan. Jadi saldo yang dicetak di buku tabungan, berbeda dengan saldo yang ada di komputer BTN. Soalnya aku ngintip komputer mereka. Ya udah begitu ketemu masalah seperti ini, penjelasan yang gak masuk akal, uda gitu

rasanya mereka nganggep aku ini cuma mahasiswa jadi tabungan ku kecil, langsung aku tutup tabungan itu” Pernyataan untuk kurangnya pelayanan di BTN Cabang Malang dikemukakan oleh Mutia (21 tahun) mahasiswi salah satu universitas negeri di Malang ”Rasane kalo ngantri di BTN itu kaya’ nggak kanggo gitu. Jadi males kalo suruh antri (Rasanya kalau mengantri di BTN itu seperti tidak dibutuhkan. Jadi malas kalau suruh antri).” Dari kedua pernyataan diatas, dapat disimpulkan bahwa fenomena yang terjadi di BTN Cabang Malang ini yang pertama adalah kurangnya informasi bagi nasabah seperti biaya administrasi dan ketentuan perhitungan yang berlaku. Dan yang kedua adalah pelayanan yang dianggap oleh nasabah kurang menghargai.

Namun bank sendiri merasa bahwa tidak ada yang kurang tentang informasi yang diberikan dan semua keputusan juga penilaian itu bergantung kepada nasabah. Seperti yang disampaikan oleh Bapak Atjuk (44 tahun), manager customer service ketika di tanya tentang jawabannya terhadap permasalahan yang timbul sehingga mengakibatkan nasabah kurang puas dan bahkan ada yang menutup rekening karena hal itu. ”Dari awal kita sudah menjelaskan tentang semua informasi kepada nasabah. Mulai dari biaya yang akan dikenakan sampai dengan suku bunga. Pasti kalau ada yang kurang jelas, bisa ditanyakan ke saya langsung atau ke customer service di depan. Seandainya nasabah merasa sudah jelas, kami tidak akan menerangkan lagi. Kalau ada yang merasa kurang puas dengan apa yang kami sampaikan dan merasa dirugikan, nasabah bisa terus bertanya sampai mengerti. Tapi kan semua pasti ada prosedur nya. Tiap bank juga punya peraturan jadi nggak bisa kalau semua harus sama. Nasabah itu kan juga punya kepentingan sama keinginan masing-masing, kami sangat menghargai kalau mereka tetap bersama kita disini. Namun, saat nasabah ada yang memutuskan untuk tidak menjalin kerja sama dengan kami lagi, ya kami hargai juga keputusan itu. Tapi yang pasti setiap ada permasalahan selalu akan kami usahakan untuk terselesaikan dengan baik. Begitu juga dengan pelayanan. Kami akan mengusahakan yang terbaik.”

Dari wawancara yang disampaikan oleh Pak Atjuk dijelaskan bahwa BTN selama ini sebenarnya sudah berusaha dengan keras untuk memberikan

informasi yang selengkapnya kepada nasabah. Namun, ada beberapa nasabah yang paham dan tidak paham. Tetapi, nasabah yang tidak paham dibagi menjadi dua lagi, yaitu yang mau bertanya dan tidak mau bertanya. Apabila nasabah tidak bertanya, maka BTN juga tidak mau dianggap bahwa informasi yang diberikan kurang jelas, melainkan karena BTN menganggap bahwa nasabah telah paham dan BTN tidak perlu menjelaskan untuk lebih lanjut. Hal ini tentu bukanlah hubungan Principal-Agent yang baik.

Teori prinsipal-agen menganalisis susunan kontraktual di antara dua atau lebih individu, kelompok, atau organisasi. Salah satu pihak (principal) membuat suatu kontrak, baik secara implisit maupun eksplisit, dengan pihak lain (agent) dengan harapan bahwa agen akan bertindak/melakukan pekerjaan seperti yang dinginkan oleh prinsipal (dalam hal ini terjadi pendelegasian wewenang). Dalam permasalahan ini, agen bertindak tidak seperti yang diinginkan oleh prinsipal, sehingga akan terjadi permasalahan di antara keduanya. Prinsipal menyatakan bahwa terjadi assymetric information dan pihak agen menyatakan bahwa permasalahan terjadi akibat ketidak cermatan prinsipal dalam mempelajarai hakhak nya dan ketentuan-ketentuan yang berlaku. Dengan adanya permasalahan ini, bisa diselesaikan dengan baik apabila kedua pihak mau saling terbuka dan beriktikad baik untuk menyelesaikannya. Tetapi, dalam contoh kasus ini, kebanyakan nasabah (prinsipal) tidak mau melanjutkan lagi kesepakatan yang telah dibangun dengan bank (agen) namun, mereka memilih untuk mencari bank lain yang dirasa cocok.

Bank Tabungan Negara sebagai salah satu bank terbesar di Indonesia pasti memiliki berbagai macam daya tarik nasabahnya untuk menabung di sana. Namun, sebagai bank terbesar, BTN tidak terlepas dari kekurangannya sebagai sebuah bank. Kekurangan itu bisa saja dalam pelayanan, fasilitas, maupun informasi tentang perbankan. Sementara di sisi lain, semua kekurangan itu disikapi secara baik oleh nasabah penabung. Walaupun nasabah merasa Bank Tabungan Negara masih memiliki kekurangan, nasabah yang memutuskan untuk bertahan di Bank Tabungan Negara memiliki berbagai macam alasan yaitu aksebilitas dan kebutuhan. Seperti yang telah dikemukakan oleh Bu Sri, seorang dosen di salah satu perguruan tinggi negeri di Malang ”Saya dulu menabung di BTN sejak tahun 1989. Awalnya untuk beli rumah, tapi semakin kesini semakin banyak fasilitas, kaya autodebet rekening telepon, PLN, sama air. Soalnya saya ini pelupa. Trus menurut saya semakin mudah dan efisien aja. Selain itu ya gampang kalo mau kredit rumah. Jadi ya saya memutuskan untuk tetap menabung disini aja mbak. Lagian males kalo mau pindah mbak. Ribet.” Selain pernyataan dari Bu Sri, ada juga pernyataan senada dari Mutia (21 tahun), seorang mahasiswi perguruan tinggi negeri di Malang. ”Ada dua alasan aku nabung di BTN itu, yang pertama waktu bayar SPP itu lebih mudah, bisa lewat ATM banking, jadi ga perlu repot-repot antri ke BTN. Soalnya kampus ku pake BTN buat bayar SPP. Kan tau sendiri kalo lagi antri bayar SPP kaya’ gimana antrinya. Bikin males. Trus yang kedua, kemarin tu aku dapat beasiswa, beasiswanya ditransfer ke rekening BTN, tadinya suruh daftar lagi gitu, tapi berhubung aku uda punya rekening, jadi ga jadi daftar lagi. Enaknya ya itu mbak, jadi walaupun pelayanannya kurang ramah, karena saya butuh ya, tetap aja nabung disini.” Menurut pernyataan baik dari Bu Sri maupun dari Mutia, dapat disimpulkan bahwa alasan mereka untuk tetap bertahan menabung di BTN Cabang Malang karena fasilitas dan akses kemudahan yang bisa didapatkan. Walaupun Mutia sendiri mengatakan bahwa pelayanan dirasakan kurang ramah, tetapi dia enggan untuk berpindah ke bank lain. Alasannya adalah dia masih

membutuhkan BTN untuk membayar SPP tiap bulannya dan penerimaan beasiswa.

Selain itu, kebanyakan informan yang diwawancarai akan mengatakan bahwa BTN memberikan kemudahan aksebilitas pada kredit perumahan. Yaitu kemudahan akan kredit perumahan pada nasabah penabung seperti

pertimbangan pemberian kredit yang tidak sulit. Seperti yang dikatakan oleh Ibu Herliana ketika ditanya tentang kelebihan BTN, “kreditnya itu mbak gampang buat ambil rumah”

Selama ini, BTN memang terkenal sebagai bank milik pemerintah yang bergerak pada kredit perumahan. Sehingga setiap orang atau nasabah akan memiliki persepsi apabila ingin membeli rumah melalui sistem kredit melalui program KPR BTN.

Suatu studi empiris yang dilakukan oleh Barone dan Quantara (2008), ”Banking Competition, Switching Costs and Customer Vulnerability: The Case of South Italy”, The Icfai Journal of Behavioral Finance, Vol. 5., No. 1 dalam artikel ”Menggapai Loyalitas Bank” oleh Dr. Hargo Utomo, MBA., M.Com mengungkap bahwa keputusan psikologis individual dalam memilih suatu bank terutama justru didasarkan pada keyakinannya terhadap lembaga perantara tersebut dan aksesibilitas geografis atau lokasi bank yang dimaksud. Faktor pembentuk keyakinan individu memang tidak sepenuhnya bisa dijelaskan secara empiris, sehingga faktor-faktor heuristic and emotional bisa saja menjadi penentu dalam memilih bank sebagai mitra bisnisnya.

Fenomena lain menarik yang ditemukan dalam studi tersebut adalah bahwa nasabah yang menyatakan tidak puas terhadap suatu bank tidak selalu

otomatis mempunyai niatan untuk beralih ke bank lain terutama karena alasan ketidaknyamanan dengan biaya transaksi dan jumlah waktu terbuang untuk memulai berinteraksi dengan bank yang baru.

Dari sinilah dapat disimpulkan bahwa, nasabah memang mengerti tentang kelemahan dari tiap-tiap bank. Namun, nasabah masih merasa bisa bertahan dan menghadapi kelemahan bank karena nasabah masih merasa memerlukan BTN dan mendapatkan aksebilitas dari BTN. Selama nasabah

hanya dirugikan di bidang pelayanan dan informasi, bukannya dalam hal finansial maka nasabah tidak akan menjadikan itu sebagai masalah. Namun sebaliknya, nasabah akan menganggap itu adalah hal yang biasa dalam hubungan antara nasabah dan bank.

BAB V

PERSEPSI NASABAH PENABUNG MENGENAI PENGUASAAN INFORMASI RISK AND RETURN

Dalam bab ini akan dibahas tentang pemahaman terhadap risk and return dan penjelasannya berkaitan dengan principal-agent theory.

5.1.

Persepsi Nasabah Terhadap Resiko

Sebagai masyarakat yang cerdas dalam menentukan tabungan tentunya banyak hal yang menjadi dasar dalam pemilihan sebuah produk tabungan juga dalam menentukan bank. Seyogianya dalam menentukan produk tabungan dan bank, para calon nasabah melihat dari ratio keuangan terlebih dahulu. Namun ternyata hal itu bukanlah faktor utama dalam menentukan produk tabungan dan bank. Bisa jadi ratio keuangan merupakan hal terakhir yang menjadi pertimbangan calon nasabah dalam menentukan produk tabungan dan bank yang diinginkan. Seperti yang di sampaikan oleh Ny. Hestani (35 tahun) ketika ditanya tentang alasan menabung di tabungan Batara Bank Tabungan Negara “Waktu itu karena saya ambil kredit perumahan, terus kan harus buka rekening, akhirnya ya ambil rekening batara” Untuk masyarakat yang ingin menabungkan uang di Bank sebaiknya harus mengetahui kriteria bank yang sehat dan bank yang tidak sehat. Menurut Thombos Sitanggang, Corporate Research Manager FBI, perbankan bisa dinilai dari dua sisi yakni, fundamental dan teknikal. Sisi fundamental merupakan kinerja keuangan perusahaan, yang terdiri atas total aset, rasio kecukupan modal/capital adequacy ratio (CAR), NPL-Gross (non performing loan)/kredit bermasalah), return on asset (ROA) dan return on equity (ROE) untuk laba, net

interest margin (NIM), loan to deposit ratio (LDR), dan produktivitas pegawai (employee productivity/EP). Sedangkan sisi teknikal merupakan penilaian atas kinerja saham bank-bank yang telah melantai (listed) di BEJ. Penilaian ini berdasarkan perhitungan return saham dan volatilitas (perubahan) saham terhadap pasar.

Thombos dalam Warta Warga Universitas Gunadharma menjelaskan bahwa untuk menilai sisi teknikal ini diperlukan metode snail trail (jejak bekicot). Gunanya untuk mengukur kinerja portofolio perbankan untuk jangka panjang, yakni lima tahun. Dimulai mulai dari asset, besarnya aset yang dimiliki sebuah bank tidak berarti apa-apa jika seluruhnya merupakan aset berisiko. Oleh karena itu, untuk mengukur kesehatan suatu bank, indikator total aset harus dipadukan dengan indikator lainnya. Lalu, CAR atau daya tahan suatu bank. Makin besar CAR suatu bank, berarti kesiapannya menghadapi kredit macet besar pula. Bank Indonesia menetapkan standar minimum CAR untuk perbankan sebesar 8%. Artinya, untuk setiap ekspansi kredit seribu rupiah, bank harus menyediakan modal sendiri minimal delapan puluh rupiah. Tanpa modal yang kuat, mustahil bank bisa melanjutkan ekspansi kredit. Selanjutnya, NPL atau kredit tidak lancar. Yang termasuk kategori NPL jika kredit yang diberikan berada dalam perhatian khusus, kurang lancar, diragukan, dan macet. Bank yang memiliki tingkat NPL lebih rendah dari tahun sebelumnya, layak memperoleh nilai maksimal. Namun, sebuah bank yang memiliki NPL sangat kecil tidak serta-merta hampir seluruh kredit bank tersebut adalah kredit lancar, dan menunjukkan betapa sehatnya bank tersebut. NPL yang sangat kecil dapat saja dicapai bank yang hanya sedikit menyalurkan kreditnya. Berikutnya, LDR atau perbandingan kredit yang disalurkan dengan dana pihak ketiga yang dihimpun perbankan, baik berupa tabungan dan deposito. Bank yang memiliki LDR sangat kecil berarti bank

tersebut tidak menjalankan fungsi intermediasi dengan baik. Bank-bank seperti ini umumnya hanya menampung dana pihak ketiga, kemudian melakukan placing di pasar uang untuk mencari profit tanpa menyalurkan kredit.

Hal ini telah seperti yang telah dijelaskan oleh Bapak Atjuk, manager customer service BTN Cabang Malang ketika ditanya tentang motif nasabah menabung di BTN Cabang Malang “…banyak motif mbak kenapa nasabah mau nabung disini. Iming-iming kemudahan kredit itu biasanya mbak. Tapi itu kalo nasabah kecil, utamanya buat kredit rumah apa kredit konsumsi gitu. Kalo nasabah kelas kakap (nasabah penabung dengan dana yang besar) itu biasanya itungannya ruwet mbak. Kita harus bisa meyakinkan kalo bank kita ini dijamin aman seratus persen. Mereka itu kan duitnya banyak ya, jadi kalo pun nggak ngerti masalah perbankan, yang orang-orangnya itu yang nanya-nanya. Jadi kita sampai harus kasi tau posisi LDR, CAR, ROA, ROE, pokoknya laporan keuangan gitu lah, supaya mereka yakin kalo bank kita ini safe. Tapi beda sama nasabah kecil mbak, mereka itu diiming-imingi hadiah gitu, uda mau nabung.” Dari hal yang telah disampaikan oleh para nasabah dan Bapak Atjuk diketahui bahwa motif nasabah untuk menabung itu ada berbagai macam jenisnya. Macamnya adalah karena tidak adanya pilihan sehingga nasabah diharuskan menabung di bank tersebut (no choice), kemudahan akses yang diberikan selama memabung di bank tersebut, dan layanan yang diberikan pada nasabah.

Dengan adanya alasan demikian diatas mengakibatkan para nasabah penabung tidak terlalu peduli dengan kesehatan dari bank itu sendiri. Misalnya mereka tidak akan peduli dengan resiko yang ada dalam Tabungan Batara atau mereka tidak akan peduli dengan laporan keuangan Bank Tabungan Negara. Pernyataan diatas dapat dibuktikan oleh pernyataan Ibu Herliana, salah seorang dosen perguruan tinggi swasta di Malang ketika ditanya tentang pengamatanya terhadap laporan keuangan di Bank Tabungan Negara.

”Saya nggak pernah mbak ngamatin laporan keuangan. Walaupun di koran atau internet uda ada tapi saya nggak pernah ngamatin.” Dalam penelitian ini, sebagaian besar informan adalah nasabah-nasabah yang telah memiliki tingkat pendidikan yang tinggi. Seharusnya, orang dengan tingkat pendidikan tinggi pasti akan memiliki kesadaran yang tinggi akan resiko yang mereka terima dan bagaimana caranya mereka untuk dapat menghindari atau memperkecil resiko tersebut. Tetapi pada kenyataannya, pemahaman nasabah tentang resiko dalam suatu produk atau resiko bank itu sendiri tidak bisa berbanding lurus dengan tingkat pendidikan yang mereka miliki.

Untuk melihat resiko dari suatu produk atau bank itu sendiri, selain dilihat dari laporan keuangan dapat juga dilihat dari keikutsertaan bank dalam program Lembaga Penjaminan Simpanan (LPS). Lembaga Penjamin Simpanan

dimaksudkan untuk memenuhi rasa aman nasabah dalam menyimpan dananya di tabungan. Walaupun nilai maksimal yang dijamin sebesar dua milyar rupiah, tentunya itu akan lebih memberikan rasa aman dan jaminan kepada nasabah bahwa apabila terjadi sesuatu dengan bank, maka dana para nasabah akan kembali.

Dalam hal ini, peranan Lembaga Penjamin Simpanan sendiri masih belum dianggap oleh para nasabah. Para nasabah measih menganggap bahwa bank yang dianggap ”bank pemerintah” (mayoritas sahamnya dimiliki oleh pemerintah) itu perlindungan kepada nasabah dan rasa amannya lebih tinggi dibandingkan dengan bank swasta. Begitu pula dengan Bank Tabungan Negara ini. Bank Tabungan Negara ini masih dianggap oleh sebagian besar masyarakat dan nasabahnya sebagai ”bank pemerintah” sehingga walaupun tidak harus mendaftar sebagai bank yang ikut dalam program penjaminan LPS, secara otomatis mereka akan ikut. Pernyataan diatas didukung oleh pernyataan dari Bu

Sri saat ditanya tentang keikutsertaan Bank Tabungan Negara dalam program penjaminan LPS ”Saya nggak tau mbak BTN itu ikut LPS apa nggak. Tapi persepsi saya ya kalo bank pemerintah itu mesti terjamin. Walaupun nggak ikut macemmacem. Pokoknya kalau di bank pemerintah itu aman lah mbak.” Walaupun apa yang dikatakan oleh Bu Sri berbeda jauh dengan yang dikatakan oleh Ibu Wulan, Customer Service Bank Tabungan Negara Cabang Malang ”Setiap nasabah pasti diberi tahu kalo BTN itu sudah ikut LPS. Terus syarat-syarat tabungan yang dijamin sama LPS itu juga nasabah sudah diberi tahu. Selain itu kan ada media koran, internet dan sebagainya. Pastinya mereka sudah bisa mengetahui dari media juga selain dari kita.” Bu Sri menyatakan bahwa rasa nyaman dan aman yang didapatkan olehnya sebagai nasabah dikarenakan oleh status Bank Tabungan Negara sebagai bank milik pemerintah. Sementara pihak bank sendiri walaupun paham bahwa pengumuman seperti LPS sudah diumumkan kepada nasabah, pihak bank tidak mau menernagkan dengan lebih detail dan lebih memilih untuk menyarankan nasabahnya untuk mencari informasi selengkap-lengkapnya di media. Namun, ini tentunya sangat kontras dengan kenyataan bahwa walaupun bank milik pemerintah, tetapi apabila kesehatan dari bank tersebut tidak memenuhi persyaratan yang telah ditetapkan maka akan besar kemungkinan bank tersebut mengalami merger.

Sebagai contoh adalah merger empat bank yaitu Bank Dagang Negara (BDN), Bank Expor Impor (Bank Exim), Bank Bumi Daya (BBD) and Bank Pembangunan Indonesia (Bapindo) menjadi Bank Mandiri pada tahun 1998. Keempat bank parah terkena skandal dan kredit bermasalah besar

menempatkan mereka di ambang kebangkrutan ketika krisis moneter melanda

pada 1997/1998. Keempat bank tersebut merupakan bank yang sepenuhnya dimiliki oleh negara. Kondisi sebelum penggabungan keempat bank sangat buruk.

Sebelum merger rasio kecukupan modal keempat bank kurang dari delapan persen, batas minimum yang ditetapkan oleh Bank Indonesia pada waktu itu. Bank-bank tersebut memiliki hutang dan non performing kredit yang besar. Bank Bumi Daya dan Bank Dagang Negara bahkan punya hutang yang negatif sampai mencapai ribuan kali modal yang dimiliki. Hutang Bank Dagang Negara sebesar Rp 28.314.824 milyar dan sementara modal Bank Bumi Daya adalah minus sebesar Rp 12.248.138 milyar. Demikian pula dikurangi Bapindo memiliki moal yang minus sebesar Rp 28.034.552 milyar dan Bank Exim minus sebesar Rp 6.444.830 milyar.

Pada 1993-1997, Bank Bumi Daya dan Bank Dagang Negara sudah mencapai nilai hutang hampir sama dengan aset mereka dan ketika krisis melanda pada tahun 1998, hutang mereka bahkan membengkak melebihi aset mereka. Bapindo menjadi bank yang paling tidak sehat di antara bank-bank negara dengan pengembalian aset (ROA) minus 30,44% dan return on equity (ROE) dari minus 106.76% pada tahun 1998.

Dari sedikit contoh yang telah dijelaskan diatas, menyimpulkan bahwa tidak semua bank yang dikelola pemerintah bisa mengelola keuangannya dengan baik. Bank yang dikelola pemerintah pun bisa terkena krisis dan mengalami kebangkrutan sampai harus di merger dengan bank lainnya. Rasa aman yang didapatkan oleh nasabah hanya merupakan persepsi dan sugesti semata. Karena tidak ada kaitannya antara bank milik pemerintah dan laporan keuangan yang baik. Apalagi sekarang, Bank Tabungan Negara sudah bergerak

menjadi perusahaan yang melakukan Initial Public Offering (IPO). IPO (Initial Public Offering) adalah penawaran umum pertama kali saham atau obligasi perusahaan kepada masyarakat umum. Menurut Undang-Undang Pasar Modal No. 8 Tahun 1995, penawaran umum didifinisikan sebagai kegiatan penawaran efek yang dilaksanakan oleh emiten untuk menjual efek kepada masyarakat berdasarkan tata cara yang diatur oleh undang-undang dan peraturan pelaksanaannya. Dengan demikian, pastinya kepemilikan Bank Tabungan Negara bukanlah seratus persen milik pemerintah melainkan sebagian dilepas kepada publik. Dengan demikian, persepsi nasabah penabung bahwa Bank Tabungan Negara dianggap aman karena merupakan bank pemerintah keliru, sebab pemiliknya bukan hanya pemerintah tetapi juga masyarakat.

5.2.

Persepsi Nasabah Terhadap Return

Sebuah hal yang lumrah dalam kehidupan sekarang ketika interaksi antar nasabah dengan bank terjadi dalam intensitasnya yang tinggi. Bank bergerak melaksanakan fungsi intermediasi dalam masyarakat menempatkan nasabah sebagai poros utamanya dalam menjalankan kegiatan usahanya. Fungsi intermediasi bank memberikan gambaran bahwa interaksi terjadi dalam dua sisi. Sisi pertama adalah interaksi antara bank dengan nasabah yang memiliki kelebihan dana sehingga nasabah tersebut menyimpan dananya dalam bentuk giro, tabungan dan deposito, sedangkan dari sisi kedua, interaksi terjadi ketika nasabah yang memerlukan dana meminjam dana tersebut dari bank, interaksi antara bank dengan nasabah juga terjadi ketika nasabah menggunakan jasa perbankan semisal jasa transfer dana, inkaso atau safe deposit (Hadad, 2006 )

Konsumen sebagaimana dimaksudkan dalam UU No.8 tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen adalah setiap orang pemakai barang dan/atau

jasa yang tersedia dalam masyarakat, baik bagi kepentingan diri sendiri, keluarga, orang lain maupun mahluk hidup lain dan tidak untuk diperdagangkan. Barang sendiri didefinisikan sebagai setiap benda, baik berwujud maupun tidak berwujud, baik bergerak maupun tidak bergerak, dapat dihabiskan maupun tidak dapat dihabiskan yang dapat diperdagangkan, dipakai, dipergunakan atau dimanfaatkan oleh konsumen.

Interaksi yang intensif antara bank dengan nasabah tidak jarang menimbulkan gesekan yang dapat berubah menjadi sengketa. Setidaknya potensi sengketa tersebut dapat disebabkan oleh empat hal yaitu informasi yang kurang memadai mengenai karakterisitik produk/jasa yang ditawarkan,

kurangnya pemahaman nasabah terhadap aktivitas dan produk/jasa yang ditawarkan, ketimpangan hubungan antara nasabah dengan bank terutama nasabah peminjam dana dan tidak adanya saluran yang memadai untuk memfasilitasi penyelesaian awal gesekan yang terjadi (Hadad, 2006 ). Hal tersebut menandakan hak – hak konsumen sebagaimana tercantum dalam UU Perlindungan Konsumen belum secara optimal dipenuhi, seperti hak atas informasi yang benar, jelas dan jujur mengenai kondisi dan jaminan barang dan/ atau jasa, hak mendapatkan advokasi, perlindungan dan upaya penyelesaian sengketa perlindungan konsumen secara patut dan hak untuk diperlakukan atau dilayani secara benar dan jujur serta tidak diskriminatif.

Hak atas informasi barang atau jasa merupakan hak yang fundamental bagi konsumen karena menjadi dasar konsumen untuk menentukan pilihan atas barang/jasa yang akan digunakannya. Semangat ini tercantum dalam Peraturan Bank Indonesia No.7 tahun 2005 tentang Transparansi Informasi Produk Bank dan Penggunaan Data Pribadi Nasabah dalam butir menimbang bahwa

transparansi informasi mengenai produk bank sangat diperlukan untuk memberikan kejelasan pada nasabah mengenai manfaat dan resiko yang melekat pada produk bank.

Pelaksanaan transparansi informasi dilakukan dengan informasi tertulis dalam bahasa Indonesia secara lengkap dan jelas mengenai karakteristik produk bank dimana informasi tersebut wajib disampaikan kepada nasabah secara tertulis atau lisan dan tidak mengandung informasi yang menyesatkan (mislead) dan tidak etis (misconduct ). Informasi mengenai karakteristik produk bank setidaknya meliputi nama dan jenis produk bank, manfaat dan resiko yang melekat pada produk bank, persyaratan dan tata cara penggunaan produk bank, biaya yang melekat, perhitungan bunga/bagi hasil dan margin keuntungan, jangka waktu berlakunya produk bank dan penerbit produk bank.

Dalam hal produk bank terkait dengan penghimpunan dana, Bank wajib memberikan informasi mengenai program penjaminan terhadap produk bank tersebut. Bank wajib memberitahukan kepada Nasabah setiap perubahan, penambahan, dan atau pengurangan pada karakteristik produk bank.

Pemberitahuan sebagaimana dimaksud wajib disampaikan kepada setiap nasabah yang sedang memanfaatkan produk bank paling lambat tujuh hari kerja sebelum berlakunya perubahan, penambahan dan atau pengurangan pada karakteristik produk bank tersebut. Selain itu bank dilarang mencantumkan informasi dan atau keterangan mengenai karakteristik produk bank yang letak dan atau bentuknya sulit terlihat dan atau tidak dapat dibaca secara jelas dan atau yang pengungkapannya sulit dimengerti. Bank wajib menyediakan layanan informasi karakteristik produk bank yang dapat diperoleh secara mudah oleh masyarakat.

Sehubungan dengan adanya ketentuan yang diberikan oleh Bank Indonesia seperti yang telah dicantumkan diatas, seharusnya nasabah paling tidak mengerti atau lebih baik paham atas return yang mereka dapatkan selain fasilitas dan akses. Karena fasilitas dan akses merupakan hal yang riil yang bisa nasabah rasakan dalam berhubungan dengan bank. Namun, nasabah jarang memperhatikan suku bunga, dimana suku bunga juga merupakan hak dari nasabah. Para nasabah kebanyakan akan memperhatikan suku bunga bila berkaitan dengan kredit yang akan mereka ambil. Namun untuk tabungan, para nasabah jarang memperhatikan suku bunga yang berlaku. Pernyataan ini diperkuat oleh jawaban Bapak Solikin ketika ditanya tentang seberapa sering dia melakukan print out untuk melihat jumlah suku bunga yang dia dapatkan. ”Nggak pernah mbak, tabungan saya itu sedikit. Paling juga berapa yang diterima.” Jawaban dari pak Solihin ini merupakan jawaban pasif yang sering kali terlontar dari nasabah ketika ditanya tentang suku bunga. Nasabah saat ini tidak mengutamakan lagi suku bunga sebagai return yang berarti lagi dalam rekening mereka. Namun, yang lebih diutamakan oleh nasabah saat ini adalah fasilitas, akses dan keamanan. Seperti yang disampaikan oleh Bapak Hendra. ”Kalo suku bunga saya nggak pernah ngecek mbak, pokoknya percaya aja gitu. Lagipula sepertinya yang dibutuhkan orang sekarang itu kan cenderung ke fasilitas sama akses aja. Kalau saya yang penting aman mbak. Jadi uda nggak mikir lagi sama suku bunga.” Pernyataan Bapak Hendra diatas sungguh kontras dengan hasil penelitian diatas tentang pemahaman nasabah tentang resiko. Di satu sisi, nasabah tidak memahami dan tidak peduli pada resiko. Namun di sisi lain, nasabah mementingkan keamanan sebagai return yang paling berharga

dibandingkan dengan suku bunga ataupun yang lain. Hal senada juga dijawab oleh Mbak Anita , Customer Service Bank Tabungan Negara Cabang Malang “Gini ya dek, awal-awal itu kita (Bank Tabungan Negara) sudah memberikan informasi kalau suku bunga itu berubah-ubah. Terus perubahan suku bunga biasanya diinformasikan lewat website. Lalu kita juga sudah memberi tahu kalo bertanya itu merupakan hak sepenuhnya dari nasabah. Segala permasalahan yang dirasakan oleh nasabah sehubungan dengan kekurangan kami atau kebingungan nasabah tentang produk, kami mempersilahkan untuk bertanya.”

Dengan telah diberikannya informasi mengenai perubahan suku bunga dan kesempatan untuk bertanya lebih lanjut pada para nasabah, sebenarnya pihak bank telah memberikan kesempatan yang sebesar-besarnya kepada nasabah untuk mencari tahu tentang suku bunga yang ada. Namun, hampir tidak ada nasabah yang peduli dengan suku bunga yang diberikan pada tabungannya. Dari permasalahan yang telah diketahui diatas, dapat disimpulkan bahwa hampir sebagian besar nasabah memang tidak mempunyai keinginan untuk mengetahui return apa saja yang berhak mereka terima. Apabila mereka mengatakan bahwa mereka mementingkan keamanan, itu juga mereka tidak terlalu peduli. Karena saat ditanya masalah resiko, mereka tidak pernah peduli tentang resiko yang mereka hadapi. Tabel 5.1 : Indikator Penguasaan Informasi Risk and Return No 1 Indikator Dasar Informasi Keterangan Informasi dasar (kelebihan dan kekurangan produk bank) pada nasabah di awal

pembukaan rekening 2 Kesadaran akan hak dan kewajiban Kemauan untuk bertanya tentang risk dan return yang nasabah dapatkan, pemahaman tentang perturan-peraturan yang dimiliki oleh bank
Sumber : Diolah dari hasil penelitian, 2009

Bank sebagai lembaga intermediasi dan pelaksana sistem pembayaran memiliki peranan penting dalam perekonomian Indonesia mengingat pangsa perbankan yang masih sangat mendominasi sistem keuangan di Indonesia. Agar pelaksanaan fungsi intermediasi dan sistem pembayaran tersebut dapat berjalan dengan efektif, kegiatan usaha yang dilakukan bank serta produk dan jasa yang ditawarkannya perlu diketahui dengan baik oleh masyarakat yang akan memanfaatkannya sehingga interaksi antara bank dengan masyarakat dapat berjalan dengan semestinya dimana hak dan kewajiban masing-masing pihak dapat terpenuhi. Pada kenyataannya, dalam penyelenggaraan operasional perbankan masih terdapat banyak permasalahan yang terjadi antara perbankan dan masyarakat. Salah satu penyebab terjadinya permasalahan tersebut adalah belum memadainya tingkat pengetahuan dan pemahaman masyarakat di bidang keuangan khususnya perbankan. Kurang memadainya pemahaman masyarakat tentang fungsi dan peran bank serta produk dan jasa perbankan dapat menghambat pemanfaatan bank dalam rangka meningkatkan kualitas hidup masyarakat yang lebih baik di masa depan.

BAB VI PENUTUP

Bagian

penutup

ini

memuat

inti

dari

hasil

penelitian

yang

telah

dideskripsikan, setelah mengetahui tentang hubungan antara nasabah penabung dan Bank Tabungan Negara, serta penguasaan informasi nasabah tentang risk dan return produk Tabungan Batara. Saran yang diberikan peneliti berkaitan dengan hasil penelitian yang telah dipaparkan. 6.1. Kesimpulan Berdasarkan hasil wawancara dan observasi selama penelitian, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa: 1. Informasi suatu hal yang kurang dianggap penting bagi nasabah. Nasabah hanya menerima informasi yang diberikan bank sehingga saat ada yang bertanya lebih jauh bank akan membuat informasi tersebut menjadi assymetric dengan cara menutup-nutupi kenyataan. 2. Terkait dengan informasi, oleh karena nasabah merasa bargaining position mereka lemah terhadap bank, maka hal ini membuat mereka merasa malas bertanya dan menganggap jawaban yang diberikan pihak bank sepertinya ada yang disembunyikan. 3. Bagi nasabah risiko bukanlah menjadi pertimbangan utama menabung. Hal ini dikarenakan persepsi nasabah yang menganggap BTN bank milik pemerintah sehingga terbebas dari segala macam risiko. 4. Nasabah penabung menganggap bahwa yang dianggap bukanlah return secara rasional ekonomis seperti tingkat suku bunga yang diberikan, namun lebih kepada faktor keamanan dan aksebilitas akan kemudahan KPR yang diberikan oleh BTN pada nasabah penabung.

6.2. Rekomendasi Adapun rekomendasi yang dapat diajukan oleh peneliti dari hasil penelitian yang telah dicapai, yaitu: 1. Bank Indonesia melakukan program edukasi kepada nasabah dan dalam program edukasi tersebut harus dikatakan bahwa informasi merupakan hal yang penting bagi keputusan menabung. Edukasi itu bisa disampaikan melalui iklan pada media komunikasi yang efektif seperti televisi sehingga semua lapisan masyarakat bisa melihat dan mendengar tentang edukasi tersebut. 2. BTN seyogianya memberikan sikap yang sama rata pada semua nasabah sehingga tidak ada nasabah yang merasa bahwa posisinya lebih lemah daripada nasabah dengan nominal tabungan lebih besar. 3. Adanya edukasi yang lebih mendalam dari Bank Indonesia tentang edukasi bank milik pemerintah dan bank swasta. Edukasi ini termasuk resiko dan return yang didapatkan saat menabung di bank milik pemerintah atau swasta. Sehingga tidak ada persepsi yang salah di nasabah penabung terkait dengan resiko dan return di bank milik pemerintah atau swasta.

DAFTAR PUSTAKA
Anonim , 2004. Undang-Undang Lembaga Penjamin Simpanan Nomor: 24

tahun 2004 pasal 1 Tentang Saldo yang Dijamin. Anonim , 1999. Undang-Undang No 8 Tentang Perlindungan

Konsumen Abdullah, Faisal. 2005. Manajemen Perbankan. Jakarta: PT. Elex Media Komputindo Barone dan Quantara. 2008. Banking Competition, Switching Costs and Customer Vulnerability: The Case of South Italy, The Icfai Journal of Behavioral Finance, Vol. 5., No. 1. Dalam Dr. Hargo Utomo, MBA., M.Com. Menggapai Loyalitas Bank. Artikel Carling, Alan. 2002. The Principal-Agent Problem for Egalitarians: Bowles, Gintis, and Their Critics. Jurnal. Science and Society, Vol. 66, No 3. (diakses dari www.proquest.com tanggal 20 Oktober 2009) Carr, Jered B. and Ralph S. Brower. 2000. Principled opportunism: Evidence from the organizational middle. Public Administration Quarterly (Spring): 109-138. Furchan, Arief. 1992. Pengantar Metode Penelitian Kualitatif. Surabaya: Usaha Nasional Ekawaty, M. 2006. Buku Pedoman Penulisan Skripsi, Artikel, dan Makalah. Jurusan Ilmu Ekonomi dan Studi Pembangunan. Fakultas Ekonomi. Universitas Brawijaya. Malang. Guiltinan, Joseph dan Gordon Paulus. 1994. Manajemen pemasaran: Strategi dan Program. Ise Mcgraw-hill Book Co Halim, Abdul dan Syukriy Abdullah. 2009. Hubungan dan Masalah Keagenan di Pemerintahan Daerah: (Sebuah Peluang Penelitian Anggaran dan

Akuntansi).

Jurnal.

(diakses

dari

www.bppk.depkeu.go.id/...pemerintah/hubungan-dan-masalah-keagenandi-pemerintahan-daerah.html Tanggal 01 Oktober 2009) Hadad, Muliaman D. 2006. Perlindungan Dan Pemberdayaan Nasabah Bank Dalam Arsitektur Perbankan Indonesia. Direktur Direktorat Penelitian dan Pengaturan Perbankan, Bank Indonesia, Jakarta. Working Article. Harian Sumatera Utara. 2009. Uang Nasabah Dieksploitasi. ( diakses dari http://www.hariansumutpos.com/2009/11/uang-nasabah-dieksploitasi.htm tanggal 24 November 2009) Hori, Kazumi. 2005. Essays on Information, Contracts and Organization. Disertasi. University of Wisconsin-Madison. (diakses dari www.proquest.com tanggal 20 Oktober 2009) Iqbal, Munawar dan David T. Llewellyn. 2002. Islamic Banking and Finance. Edward Elgar. UK Kahar, Deasy Apriliani. 2009. “Telaah Kritis Pembiayaan Mudharabah , Musyarakah dan Murabahah dalam Kerangka Principal Agent Problem (Studi Pada Produk Pembiayaan Wirausaha Syariah (WUS) dan Tunas Usaha Syariah (TUS) PT.BNI (Persero) Tbk. Kantor Cabang Malang”. Skripsi. Fakultas Ekonomi. Universitas Brawijaya. Malang. Karni, Edi. 2007. Agency theory : choice – based foundations of the parametrized distribution formulation. Johns Hopkins University,

Baltimore. Research Article. (diakses dari www.proquest.com tanggal 20 Oktober 2009) Kotler, Philip. 1997. Marketing management: Analysis, planning,

implementation, and control. 9th edition. New Jersey : Prentice Hall

Kotler, Philip and Gary Armstrong. 1996. Principles of Marketing New Jersey: Prentice Hall Lane, Jan-Erik. 2003. Relevance of the principal-agent framework to public policy and implementation. University of Geneva and National University of Singapore. Working paper. Miller. Nolan. 2005. Principal Agent Theory Notes. Artikel. Mishkin. Frederic S. 2004. The Economist of Money, Banking and Financial Markets. Seventh Edition. Columbia University. United States Amerika. Moleong, Lexy J. 2006. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya Nicholson, Walter. 2002. Mikroekonomi Intermediate. Edisi 8. Erlangga. Jakarta. Prasetya, Hari. 2005. LPS dan Upaya Meningkatkan Disiplin Pasar. Artikel. (diakses dari www.lps.go.id/v2/home.php?link=publikasi&pub_id=32 pada

04 Februari 2010)
Retnadi, Djoko. 2006. Memilih Bank Yang Sehat (Kenali Kinerja dan Pelayanannya). Jakarta: PT. Elex Media Komputindo Robbins, Stephen P. 1996. Perilaku Organisasi: Konsep, Kontroversi, Aplikasi. Edisi Bahasa Indonesia. Jilid I. Jakarta: PT Prenhallindo Ross, Stephen A. 1973. The economic theory of agency: The principal’s problem. American Economic Review 63(2): 134-139. Santoso, Thomas. 2001. Etnometodologi dan Kasus Beberapa Penelitian Sosial. Dalam Burhan Bungin (ed.). Metodologi Penelitian Kualitatif.

Jakarta: PT RajaGrafindo Persada

Satori, Djam’an dan Komariah. 2009. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Penerbit Alfabeta Schiffman, Leon G., Leslie Lazar Kanuk. 2000. Consumer Behavior. 7th Ed. Prentice Hall Schiffman, Leon G., Leslie Lazar Kanuk. 1997. Consumer Behavior. 6th Ed. Prentice Hall Sugiyono. 2007. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D. Bandung: Alfabeta Tosari. 2009. “Masih Menarikkah Menabung di Bank?”.

(http://nustaffsite.gunadarma.ac.id/blog/toswari/2009/04/17/masihmenarikkah-menabung-di-bank/ diakses pada 24 November 2009) Varian. Hal R. 2005. Intermediate Microeconomics, Modern Approach. 75th Edition. W.W.Norton Company. New York. London. Yuswadi, Hary. 2001. Pengumpulan Data di Daerah Perlawanan Petani, Sebuah Pengalaman Lapangan dari Jember. Dalam Burhan Bungin (ed.). Metodologi Penelitian Kualitatif. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada.

LATAR BELAKANG
Teori posisi antara nasabah penabung dan bank o Nasabah dan bank memiliki posisi yang sejajar sebagai mitra Posisi yang sebenarnya antara nasabah penabung dan bank Bank memiliki kedudukan yang lebih tinggi daripada nasabah, sehingga lebih banyak informasi yang diterima oleh bank daripada nasabah Studi Kasus Bank Tabungan Negara Cabang Malang o Posisi Kredit Outstanding dan Dana pihak ketiga o Posisi perkembangan Non Performing Loan yang menurun Pertanyaannya Kemudian menggali secara mendalam tentang penguasaan informasi nasabah tentang risk and return dari produk batara BTN cabang Malang

PERUMUSAN MASALAH, MANFAAT DAN KELUARAN
 Perumusan masalah :

DISKUSI TEORI PRINCIPAL AGENT
Teori Principal-agent pada hubungan nasabah dan bank Assymetric Information dalam kerangka Risk and Return  Assymetric Information  Lembaga Penjamin Simpanan  Risk and return Management  Manajemen Likuiditas  Alat Ukur Likuiditas Implikasi Assymetric Information Risk and Return pada nasabah penabung Penelitian Terdahulu Kerangka Pikir

3. Bagaimana realitas hubungan principal-agent antara nasabah penabung dan Bank Tabungan Negara? 4. Bagaimana persepsi nasabah penabung dalam penguasaan informasi risk and return?
 Manfaat penelitian: 3. Manfaat Teoritis Memberikan kajian yang lebih luas mengenai pentingnya kesadaran dan keingintahuan tentang segala informasi yang berkaitan dengan bank dari nasabah penabung sebelum menabung. Selain itu, bank juga diharapkan memberikan informasi seluas-luasnya kepada nasabah tanpa ada yang ditutuptutupi. 4. Manfaat Praktis a. Media referensi bagi pihakpihak yang berkaitan langsung dengan nasabah penabung, terutama nasabah penabung yang menabung di Bank Tabungan Negara Cabang

Malang b. Media referensi bagi pemerintah, baik pusat maupun daerah dalam menentukan kebijakan yang berhubungan dengan peningkatan kualitas pengetahuan dan kesadaran bagi nasabah penabung. c. Memberikan inspirasi dan tambahan wawasan bagi peneliti yang tertarik pada topik sejenis agar dapat mengembangkan secara luas dan mendalam.

METODE PENELITIAN

REALITAS HUBUNGAN PRINCIPAL-AGENT ANTARA NASABAH PENABUNG DAN BANK

HASIL DARI WAWANCARA

Pendekatan Kualitatif dengan Pandangan Fenomenologi ingin menggali secara mendalam tentang penguasaan informasi nasabah tentang risk and return berdasarkan:

Reduksi Data (Data Reduction) Proses pemilihan, penyederhanaan, pengabstrakan dan transformasi data kasar yang tercatat dilapangan. Dengan melakukan reduksi data diharapkan menghasilkan data yang sesuai, terklasifikasi dengan jelas, tepat guna dan terorganisir. Reduksi data ini berlangsung selama penelitian dilaksanakan. Penyajian Data (Data Display) Data yang telah terkumpul dan terklasifikasikan selanjutnya disajikan dalam tabel maupun kalimat. Kumpulan data tersebut selanjutnya dapat menjadi informasi yang tersusun dengan baik, sehingga memungkinkan penarikan kesimpulan dan pengambilan tindakan. Penarikan kesimpulan

 Arti penting Informasi Dalam Hubungan Antara Nasabah dan Bank Tabungan Negara Cabang Malang  Bargaining Position Pasif Yang Menimbulkan Persoalan Principal Agent Antara Nasabah Penabung dan Bank Tabungan Negara Cabang Malang  Unit Analisis

o Arti Penting Informasi Dalam Hubungan Antara Nasabah dan Bank  Pak Imam (50 tahun), mantan nasabah BTN
”Nasabah itu kan punya hak untuk melakukan apapun, walaupun haknya itu pasti dibatasi sama bank. Jadi kalo ada yang sreg di hati terus dapat tanggapan yang nggak enak juga, ya bisa terserah nasabah, mau dilanjutkan apa nggak nabungnya. Lha saya yang termasuk nggak mau melanjutkan nabung di BTN”

 Bu Restu (67 tahun), nasabah BTN
”Saya sudah lupa mbak dikasi informasi apa aja, yang saya ingat malah syaratsyarat kredit rumah.Hahaha (dengan bercanda). Tapi yang saya ingat itu informasi yang harus dibaca banyak trus waktu itu sama mbak CS nya uda mau diambil, jadi ya cepet-cepet aja tak tandatangani.”

Bargaining Position Pasif Yang Menimbulkan Persoalan Principal Agent Antara Nasabah Penabung dan Bank Tabungan

(Verification) Data yang diperoleh dilapangan, dianalisis dengan beberapa cara untuk mencapai validitas dan akuratisasi.
Ketiga teknik analisis data tersebut untuk menjawab persoalan dalam analisi penguasaan informasi nasabah penabung tentang risk and return dalam kerangka principal-agent.

Negara Cabang Malang  Pak Solikin, nasabah BTN
“Ya biasa aja tuh mbak, saya nggak ngrasa juga”

 Ny. Hestani ( 35 tahun), nasabah BTN
“Nggak pernah mbak. Lha saya ini ya sapa kok sampe ngamatin sgitunya”

 Ibu Wulan, Customer Service
“Mereka itu kan punya hak untuk tanya, trus kita (bank) memperlakukan sama tiap nasabah, jadi kalo ada nasabah yang berpendapat posisi mereka nggak diperhatikan sama sini, itu salah besar. Semua tergantung sama nasabah itu sendiri.”

o Realitas Hubungan Principal-Agent Yang Menjadi Dasar Keputusan Dalam Pemilihan Menabung  Pak Imam (50 tahun), mantan nasabah BTN
”Saya itu dulu kan punya 2 rekening mbak. Di BTN sama BNI. Tapi yang giat nabung ya di BNI. BTN itu dulu kan karena mau beli rumah, jadi ya uda tetep dipelihara aja rekeningnya. Dulu itu kalo nggak salah bunganya Cuma 2,5 persen mbak. Soalnya tabungan saya cuma dikit. Sementara potongan ATM itu sembilan ribu (Rp 9000,-). Nah, masalah itu muncul pas saya mau mulai nabung lagi di BTN. Maksud saya, biar aktif lagi yang disitu. Di buku tabungan saya itu saya liat print out yang lama uangnya tinggal seratus lima puluh ribu. Lha hari itu, saya mau nabung empat ratus ribu. Saya waktu itu uda nggak nabung empat bulan. Itungannya kan paling cuma dipotong tiga puluh enam ribu ya mbak. Biaya ATM itu. Ternyata nggak mbak, potongannya banyak, saya juga nggak ngerti potongan buat apa aja. Tau-tau tabungan saya tinggal tiga ratus lima puluh ribu. Padahal saya nabung empat ratus ribu. Masak potongan saya sampe’ dua ratus ribu. Buat saya ya

termasuk banyak mbak itu. Trus saya tanya ke CS (Customer Service) nya, katanya itu biaya administrasi sama biaya karena saldo dibawah minimal. Padahal saya nggak pernah dikasi tau informasi itu. Saya tanya apa bisa tutup rekening terus buka baru lagi, katanya nggak bisa. Padahal saya pernah di BCA kaya’ gitu juga bisa. Ya udah mbak, jadi males nabung disana lagi.”

 Vina (21 tahun), mantan nasabah BTN
“Gini mbak, 3 Juni 2009 tiba-tiba saldo tabungan ku hilang Rp.3500. Jadi saldo pada tanggal sebelumnya jika kemudian ditambah atau dikurang transaksi tanggal 3 Juni 2009 tiba-tiba hilang Rp.3.500. Intinya saldo tiba-tiba gak nyambung. Kata customer servicenya karena koreksi tahun 2004/08. Tetapi kalau dilihat pada 2004/08 memang terjadi pendebetan biaya admin dua kali, tetapi pada 2004/09 tabungan sudah dikreditkan sau kali. Harusnya sudah gak masalah. sementara pada 2004/09 tetap dikreditkan biaya admin bulan bersangkutan. Jadi saldo yang dicetak di buku tabungan, berbeda dengan saldo yang ada di komputer BTN. Soalnya aku ngintip komputer mereka. Ya udah begitu ketemu masalah seperti ini, penjelasan yang gak masuk akal, uda gitu rasanya mereka nganggep aku ini cuma

mahasiswa jadi tabungan ku langsung aku tutup tabungan itu”

kecil,

 Mutia (21 tahun), nasabah BTN
”Rasane kalo ngantri di BTN itu kaya’ nggak kanggo gitu. Jadi males kalo suruh antri”

 Pak Atjuk (44 tahun) Manager CS
”Dari awal kita sudah menjelaskan tentang semua informasi kepada nasabah. Mulai dari biaya yang akan dikenakan sampai dengan suku bunga. Pasti kalau ada yang kurang jelas, bisa ditanyakan ke saya langsung atau ke customer service di depan. Seandainya nasabah merasa sudah jelas, kami tidak akan menerangkan lagi. Kalau ada yang merasa kurang puas dengan apa yang kami sampaikan dan merasa dirugikan, nasabah bisa terus bertanya sampai mengerti. Tapi kan semua pasti ada prosedur nya. Tiap bank juga punya peraturan jadi nggak bisa kalau semua harus sama. Nasabah itu kan juga punya kepentingan sama keinginan masingmasing, kami sangat menghargai kalau mereka tetap bersama kita disini. Namun, saat nasabah ada yang memutuskan untuk tidak menjalin kerja sama dengan kami lagi, ya kami hargai juga keputusan itu. Tapi yang pasti setiap ada

permasalahan selalu akan kami usahakan untuk terselesaikan dengan baik. Begitu juga dengan pelayanan. Kami akan mengusahakan yang terbaik.”

 Bu Sri
”Saya dulu menabung di BTN sejak tahun 1989. Awalnya untuk beli rumah, tapi semakin kesini semakin banyak fasilitas, kaya autodebet rekening telepon, PLN, sama air. Soalnya saya ini pelupa. Trus menurut saya semakin mudah dan efisien aja. Selain itu ya gampang kalo mau kredit rumah. Jadi ya saya memutuskan untuk tetap menabung disini aja mbak. Lagian males kalo mau pindah mbak. Ribet.”

 Mutia
”Ada dua alasan aku nabung di BTN itu, yang pertama waktu bayar SPP itu lebih mudah, bisa lewat ATM banking, jadi ga perlu repot-repot antri ke BTN. Soalnya kampus ku pake BTN buat bayar SPP. Kan tau sendiri kalo lagi antri bayar SPP kaya’ gimana antrinya. Bikin males. Trus yang kedua, kemarin tu aku dapat beasiswa, beasiswanya ditransfer ke rekening BTN, tadinya suruh daftar lagi gitu, tapi berhubung aku uda punya rekening, jadi ga jadi daftar lagi. Enaknya

ya itu mbak, jadi walaupun pelayanannya kurang ramah, karena saya butuh ya, tetap aja nabung disini.”

PERSEPSI NASABAH PENABUNG DALAM PENGUASAAN INFORMASI RISK AND RETURN

HASIL DARI WAWANCARA

 Pemahaman nasabah terhadap resiko  Pemahaman Nasabah terhadap Return

o Pemahaman nasabah terhadap resiko  Ny. Hestani (35 th), nasabah BTN
“Waktu itu karena saya ambil kredit perumahan, terus kan harus buka rekening, akhirnya ya ambil rekening batara”

 Pak Atjuk (44 tahun) Manager CS
“…………..banyak motif mbak kenapa nasabah mau nabung disini. Iming-iming kemudahan kredit itu biasanya mbak. Tapi itu kalo nasabah kecil, utamanya buat kredit rumah apa kredit konsumsi gitu. Kalo nasabah kelas kakap (nasabah penabung dengan dana yang besar) itu biasanya itungannya ruwet mbak. Kita harus bisa meyakinkan kalo bank kita ini dijamin aman seratus persen. Mereka itu kan duitnya banyak ya, jadi kalo pun nggak ngerti masalah perbankan, yang orang-orangnya itu yang nanya-nanya. Jadi kita sampai harus kasi tau posisi LDR, CAR, ROA, ROE, pokoknya laporan keuangan gitu lah, supaya mereka yakin kalo bank kita ini safe. Tapi beda sama nasabah kecil mbak, mereka itu diimingimingi hadiah gitu, uda mau nabung.”

 Bu Herliana
”Saya nggak pernah mbak ngamatin laporan keuangan. Walaupun di koran atau internet uda ada tapi saya nggak pernah ngamatin.”

 Bu Sri
”Saya nggak tau mbak BTN itu ikut LPS apa nggak. Tapi persepsi saya ya kalo bank pemerintah itu mesti terjamin. Walaupun nggak ikut macem-macem. Pokoknya kalau di bank pemerintah itu aman lah mbak.”

 Ibu wulan, CS
”Setiap nasabah pasti diberi tahu kalo BTN itu sudah ikut LPS. Terus syaratsyarat tabungan yang dijamin sama LPS itu juga nasabah sudah diberi tahu. Selain itu kan ada media koran, internet dan sebagainya. Pastinya mereka sudah bisa mengetahui dari media juga selain dari kita.” o

Pemahaman Nasabah terhadap

Return
 Pak Solikin
”Nggak pernah mbak, tabungan saya itu sedikit. Paling juga berapa yang diterima.”

 Bapak Hendra
”Kalo suku bunga saya nggak pernah ngecek mbak, pokoknya percaya aja gitu. Lagipula sepertinya yang dibutuhkan orang sekarang itu kan cenderung ke fasilitas sama akses aja. Kalau saya yang penting aman mbak. Jadi uda nggak mikir lagi sama suku bunga.”

 Ibu Anita, CS
“Gini ya dek, awal-awal itu kita (Bank Tabungan Negara) sudah memberikan informasi kalau suku bunga itu berubahubah. Terus perubahan suku bunga biasanya diinformasikan lewat website. Lalu kita juga sudah memberi tahu kalo bertanya itu merupakan hak sepenuhnya dari nasabah. Segala permasalahan yang dirasakan oleh nasabah sehubungan dengan kekurangan kami atau kebingungan nasabah tentang produk, kami

mempersilahkan untuk bertanya.”

KESIMPULAN DAN REKOMENDASI KEBIJAKAN IMPLEMENTATIF Kesimpulan : Tanpa bermaksud melakukan generalisasi, hasil penelitian ini membawa pada beberapa kesimpulan sebagai berikut.

a. Terjadi permasalahan Principal-Agent pada hubungan antara nasabah penabung dengan Bank Tabungan Negara Cabang Malang. Dimana nasabah merasa bargaining position nya kurang dan menimbulkan banyak permasalahan. b. Kurangnya kepedulian nasabah akan return yang mereka peroleh membuat pihak bank merasa bahwa nasabah tidak mau tahu lagi tentang tabungannya, dan yang terpenting bagi mereka adalah bank terlihat aman. Dan kurangnya kepedulian nasabah akan resiko simpanan mereka di bank menjadikan bank bersikap acuh saat nasabah tidak memahami informasi resiko.
c. Rekomendasi Kebijakan Implementatif :

A . Bank Tabungan Negara seyogianya memperbaiki permasalahan yang ada seperti sosialisasi ulang tentang biaya administrasi dan pelayanan sehingga nasabh merasa lebih dihargai dan tidak merasa bahwa bargaining position nya kurang. b. Nasabah bisa lebih peduli terhadap risk dan return yang dihadapi sehingga tidak akan ada lagi kerugian yang ditanggung oleh nasabah.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->