P. 1
Matematika XI IPA BSE

Matematika XI IPA BSE

|Views: 3,044|Likes:
Published by puji_n10tangsel

More info:

Published by: puji_n10tangsel on Jul 15, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as TXT, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/04/2013

pdf

text

original

..........Nugroho Soedyarto ..........

Maryanto Matematika Untuk SMA dan MA Kelas XI Program IPA 2 Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional

Hak Cipta pada Departemen Pendidikan Nasional Dilindungi Undang-Undang Matematika Jilid 2 untuk SMA dan MA Kelas XI Program IPA Penulis : Nugroho Soedyarto Maryanto Ilustrasi, Tata Letak : Tim Dept. Grafis Perancang Kulit : Alfi S. Ukuran Buku : 17,5 × 25 cm Sumber Gambar Sampul :http://www.dfrc.gov/gallery/photo 510.07 SOE SOEDYARTO, Nugroho m Matematika 2 untuk SMA atau MA Kelas XI Program IPA Nugroho Soedyarto, Maryanto Jakarta: Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional, 2008. vii, 272 hlm.: ilus.; 25 Cm. Bibliografi: hlm.271-272 ISBN 979-462-586-8 1. Matematika-Studi dan Pengajaran I. Matematika 2 II. Maryanto Diterbitkan oleh Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional Tahun 2008 Diperbanyak oleh ...

Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Allah SWT, berkat rahmat dan karunia-Nya, Pemerintah, dalam hal ini, Departemen Pendidikan Nasional, pada tahun 2008, tela h membeli hak cipta buku teks pelajaran ini dari penulis/penerbit untuk disebarluaskan kep ada masyarakat melalui situs internet (website) Jaringan Pendidikan Nasional. Buku teks pelajaran ini telah dinilai oleh Badan Standar Nasional Pendidikan dan telah ditetapkan sebagai buku teks pelajaran yang memenuhi syarat kelayakan untuk digu nakan dalam proses pembelajaran melalui Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 34 Tahun 2008. Kami menyampaikan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada para penulis/penerb it yang telah berkenan mengalihkan hak cipta karyanya kepada Departemen Pendidikan Nasional untuk digunakan secara luas oleh para siswa dan guru di seluruh Indones ia. Buku-buku teks pelajaran yang telah dialihkan hak ciptanya kepada Departemen Pendidikan Nasional ini, dapat diunduh (down load), digandakan, dicetak, dialihm ediakan, atau difotokopi oleh masyarakat. Namun, untuk penggandaan yang bersifat komersia l harga penjualannya harus memenuhi ketentuan yang ditetapkan oleh Pemerintah. Diharapka n bahwa buku teks pelajaran ini akan lebih mudah diakses sehingga siswa dan guru d i seluruh Indonesia maupun sekolah Indonesia yang berada di luar negeri dapat memanfaatkan sumber belajar ini. Kami berharap, semua pihak dapat mendukung kebijakan ini. Kepada para siswa kami ucapkan selamat belajar dan manfaatkanlah buku ini sebaik-baiknya. Kami menyadar i bahwa buku ini masih perlu ditingkatkan mutunya. Oleh karena itu, saran dan kritik san gat kami harapkan. Jakarta, Juli 2008 Kepala Pusat Perbukuan

Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, karena atas berkah, rahmat, dan karunia-Nya, penyusunan buku Matematika untuk SMA dan MA kelas XI Program IPA dapat diselesaikan. Buku ini disusun sebagai salah satu bahan ajar dalam pelaksanaan kegiatan belajar mengajar mata pelajaran Matematika di sekolah. Dalam buku ini disajikan materi pembelajaran matematika secara sederhana, efektif, dan mudah dimengerti yang disertai contoh dalam kehidupan. Simbol, tabe l, diagram, dan grafik disajikan untuk mempermudah kamu dalam memahami materi yang sedang dipelajari. Buku ini juga dilengkapi contoh soal dan tugas-tugas di setiap subbab dan akhir bab. Sesuai dengan tujuan dalam pembelajaran Matematika, kamu diharapkan dapat memahami konsep matematika, menjelaskan keterkaitan antarkonsep, dan mengaplikasikannya untuk memecahkan masalah. Kamu juga diharapkan mampu menggunakan penalaran, mengomunikasikan gagasan dengan berbagai perangkat matematika, serta memiliki sikap menghargai matematika dalam kehidupan. Akhirnya kami menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu penerbitan buku ini. Surakarta, Mei 2008 Penyusun

Buku Matematika ini disusun untuk membantu siswa SMA memahami Matematika. Buku Matematika ini juga diharapkan dapat menjadi referensi bagi guru dalam memb imbing siswa mempelajari Matematika. Bab-bab dalam buku ini disusun dengan sistematika yang unik, sehingga mempermuda h siswa dalam mempelajari materi yang disajikan. Sistematika buku ini adalah sebag ai berikut. 1. Awal bab, setiap bab diawali dengan ilustrasi berupa gambar dan aktivitas yang r elevan dengan isi bab yang akan dipelajari. Selain ilustrasi, juga dipaparkan tujuan pe mbelajaran sesuai dengan Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar yang harus dicapai siswa. 2. Peta konsep, berisi konsep-konsep dari materi yang akan dipelajari serta hubunga n antarkonsep. 3. Kata kunci,berisi kata-kata penting yang menjadi kunci pembahasan dalam bab ters ebut. 4. Uraian materi, materi pembelajaran dalam buku Matematika ini disajikan dengan ka limat yang sederhana sehingga mudah dipahami siswa. 5. Contoh soal, setiap pembahasan suatu materi dilengkapi dengan contoh soal untuk memperjelas konsep yang dipelajari. 6. Latihan, berisi soal-soal untuk menguji kemampuan siswa dalam memahami materi yang telah dipelajari. 7. Rangkuman, berisi pokok-pokok pembicaraan di dalam bab yang telah selesai dipela jari. 8. Evaluasi, berisi soal-soal untuk melatih kemampuan siswa dalam menguasai materi dalam bab yang telah dipelajari. 9. Glosarium, berisi daftar kata-kata sulit yang dijumpai di dalam buku. Glosarium dapat kamu gunakan sebagai pegangan atau semacam kamus dalam mempelajari materi. 10. Indeks, berisi kata-kata atau istilah penting yang disertai dengan nomor hal aman tempat kata atau istilah tersebut muncul. Melalui indeks, kamu dapat dengan cepat menem ukan hal-hal yang sedang dicari. 11. Notasi atau Simbol, berisi kumpulan simbol atau notasi beserta penjelasannya . 12. Kunci Jawaban, berupa jawaban dari beberapa soal terpilih. Berikut langkah-langkah yang disarankan bagi siswa dalam menggunakan buku Matematika ini. 1. Baca tujuan pembelajaran yang ada di awal bab. 2. Pelajari peta konsep terlebih dahulu dan perhatikan kata kunci yang akan menj adi kunci pembahasan materi dalam bab itu.

3. Pahami uraian materi dengan saksama dan perhatikan contoh soal yang diberikan dengan sebaik-baiknya. 4. Bila menemukan kata-kata yang sukar di mengerti atau notasi yang belum dipaha mi, carilah arti kata itu dalam Glosarium yang ditempatkan di akhir buku, sedangkan arti notasi dapat kamu temukan dalam Notasi Matematika, juga diletakkan di akhir buku . 5. Kerjakan latihan soal yang ada di setiap subbabnya. 6. Baca kembali rangkuman yang ada di akhir bab. 7. Kerjakan soal-soal yang ada di akhir bab.

Sambutan ........ .............................................................. ............................................. iii Kata Pengantar.................................................................. ......................................... iv Petunjuk Penggunaan ............................................................ ................................... v Daftar Isi ................ .................................................... ............................................... vi Semester I Bab 1 Statistika A Menyajikan Data dalam Bentuk Diagram ........................................... .... 5 B Penyajian Data dalam Bentuk Tabel Distribusi Frekuensi ...................... 11

C Menghitung Ukuran Pemusatan, Ukuran Letak, dan Ukuran Penyebaran Data ................................................................ .................... 20 Rangkuman ...................................................................... ................................ 46 Evaluasi ....................................................................... .................................... 49 Bab 2 Peluang A Aturan Perkalian, Permutasi, dan Kombinasi dalam Pemecahan Masalah ........................................................................ ........................... 57 B. Ruang Sampel Suatu Percobaan ................................................... .......... 70 C. Peluang Suatu Kejadian dan Penafsirannya .................................... ....... 72 Rangkuman ...................................................................... ................................ 81 Evaluasi ....................................................................... .................................... 82

Bab 3 Trigonometri A Penggunaan Rumus Sinus dan Cosinus Jumlah Dua Sudut, Selisih Dua Sudut, dan Sudut Ganda ............................................. .......... 89 B Penurunan Rumus Jumlah dan Selisih Sinus dan Cosinus ....................... 98 C Menggunakan Rumus Jumlah dan Selisih Sinus dan Cosinus ................. 106 Rangkuman ...................................................................... ................................ 108 Evaluasi ....................................................................... .................................... 110 Bab 4 Lingkaran A Persamaan Lingkaran ............................................................ ................. 117 B. Persamaan Garis Singgung Lingkaran .......................................... .......... 127 Rangkuman ...................................................................... ................................ 136 Evaluasi ....................................................................... .................................... 137

Semester II Bab 5 Suku Banyak A Algoritma Pembagian Suku Banyak .............................................. ......... 145 B Penggunaan Teorema Sisa dan Teorema Faktor ................................... . 154 C. Akar-Akar Rasional dari Persamaan Suku Banyak ............................... 162 Rangkuman ...................................................................... ................................ 165 Evaluasi ....................................................................... .................................... 167 Bab 6 Komposisi Fungsi dan Invers Fungsi A Relasi dan Fungsi ............................................................ ........................ 173 B Aljabar Fungsi ............................................................... .......................... 180 C Fungsi Komposisi ............................................................. ....................... 181 D Fungsi Invers ................................................................ ........................... 187 Rangkuman ...................................................................... ................................ 193 Evaluasi ....................................................................... .................................... 194 Bab 7 Limit Fungsi A Pengertian Limit Fungsi di Suatu Titik dan di Tak Hingga ..................... . 199 B Sifat Limit Fungsi untuk Menghitung Bentuk Tak Tentu Fungsi Aljabar dan Trigonometri ....................................................... .................. 205 Rangkuman ...................................................................... ................................ 216 Evaluasi ....................................................................... .................................... 217 Bab 8 Turunan Fungsi A. Penggunaan Konsep dan Aturan Turunan ........................................ ...... 223 B Penggunaan Turunan untuk Menentukan Karakteristik Suatu Fungsi ......................................................................... ............................. 237 C Model Matematika dari Masalah yang Berkaitan dengan Ekstrim Fungsi ................................................................. ........................ 248 D Penyelesaian Model Matematika dari Masalah yang Berkaitan dengan Ekstrim Fungsi dan Penafsirannya ........................................

..... 251 E Teorema L Hopital .............................................................. .................... 254 Rangkuman ...................................................................... ................................ 255 Evaluasi ....................................................................... .................................... 257 Glosarium ...................................................................... .......................................... 261 Notasi Matematika .............................................................. ...................................... 264 Kunci Jawaban .................................................................. ......................................... 266 Daftar Pustaka ................................................................. ........................................... 271 Indeks .......... .............................................................. ................................................ 272

viiiviii

1 Statistika Menyajikan Data dalam Bentuk Diagram Menyajikan Data dalam Bentuk Tabel Distribusi Frekuensi Menghitung Ukuran Pemusatan, Ukuran Letak, dan Ukuran Penyebaran Data Kalau kamu ke kantor kelurahan, kantor pajak, kantor sekolah, atau kantor instan si pemerintahan, apakah yang dapat kamu lihat di papan informasi? Biasanya di papan informasi terdapat gambar lingkaran, grafik garis, batang, atau balok-balok. Gra fikgrafik itu merupakan gambaran mengenai pencacahan penduduk, perhitungan pajak, dan perkembangan kemajuan sekolah. Contoh-contoh tersebut merupakan salah satu aplikasi dari konsep statistika. Dalam perkembangannya, statistika sekarang banyak dimanfaatkan dalam berbagai bidang seperti bidang ekonomi, kedokteran, pertanian dan sebagainya. Penelitian jenis manapun dirasa kurang lengkap apabila tidak memanfaatkan perhitungan-perhitungan statistika. Dalam bab ini kamu akan belajar menggunakan aturan statistika, sehingga dapat membaca dan menyajikan data dalam bentuk tabel dan berbagai diagram serta menghitung ukuran pemusatan, ukuran letak, dan ukuran penyebaran data beserta penafsirannya.

diagram lingkaran diagram batang ogive histogram rataan modus median kuartil desil persentil jangkauan simpangan kuartil variansi simpangan baku STATISTIKA Membaca data dalam bentuk tabel dan diagram batang, garis, lingkaran, dan ogive Menyajikan data dalam bentuk tabel dan diagram batang, garis, lingkaran, dan ogive serta penafsirannya Menghitung ukuran pemusatan, ukuran letak, dan ukuran penyebaran data serta penafsirannya Sajian data dalam bentuk diagram garis, diagram lingkaran, dan diagram batang Mengidentifikasi nilai suatu data yang ditampilkan pada tabel dari diagram Data dalam bentuk diagram batang, garis, lingkaran, dan ogive serta penafsirannya Menafsirkan data dalam bentuk diagram batang, garis, lingkaran, dan ogive Ukuran pemusatan rataan, modus, median Ukuran penyebaran, jangkauan, simpangan, kuartil, variansi, dan simpangan Ukuran letak kuartil, desil Ukuran penyebaran, jangkauan, simpangan, kuartil,

variansi, dan simpangan baku diagram lingkaran diagram batang ogive histogram rataan modus median kuartil desil persentil jangkauan simpangan kuartil variansi simpangan baku STATISTIKA Membaca data dalam bentuk tabel dan diagram batang, garis, lingkaran, dan ogive Menyajikan data dalam bentuk tabel dan diagram batang, garis, lingkaran, dan ogive serta penafsirannya Menghitung ukuran pemusatan, ukuran letak, dan ukuran penyebaran data serta penafsirannya Sajian data dalam bentuk diagram garis, diagram lingkaran, dan diagram batang Mengidentifikasi nilai suatu data yang ditampilkan pada tabel dari diagram Data dalam bentuk diagram batang, garis, lingkaran, dan ogive serta penafsirannya Menafsirkan data dalam bentuk diagram batang, garis, lingkaran, dan ogive Ukuran pemusatan rataan, modus, median Ukuran penyebaran, jangkauan, simpangan, kuartil, variansi, dan simpangan Ukuran letak kuartil, desil Ukuran penyebaran, jangkauan,

simpangan, kuartil, variansi, dan simpangan baku Matematika SMA dan MA Kelas XI Program IPA 4

Statistika 5 A Menyajikan Data dalam Bentuk Diagram Statistika adalah cabang dari matematika terapan yang mempunyai cara-cara, maksu dnya mengkaji/membahas, mengumpulkan, dan menyusun data, mengolah dan menganalisis da ta, serta menyajikan data dalam bentuk kurva atau diagram, menarik kesimpulan, menaf sirkan parameter, dan menguji hipotesa yang didasarkan pada hasil pengolahan data. Cont oh: statistik jumlah lulusan siswa SMA dari tahun ke tahun, statistik jumlah kendaraan yang me lewati suatu jalan, statistik perdagangan antara negara-negara di Asia, dan sebagainya. 1. Diagram Garis Penyajian data statistik dengan menggunakan diagram berbentuk garis lurus disebu t diagram garis lurus atau diagram garis. Diagram garis biasanya digunakan untuk menyajikan data statistik yang diperoleh berdasarkan pengamatan dari waktu ke wa ktu secara berurutan. Sumbu X menunjukkan waktu-waktu pengamatan, sedangkan sumbu Y menunjukkan nilai data pengamatan untuk suatu waktu tertentu. Kumpulan waktu dan pengamatan membentuk titik-titik pada bidang XY, selanjutnya kolom dari tiap dua titik yang berdekatan tadi dihubungkan dengan garis lurus sehingga akan diperoleh diagram garis atau g rafik garis. Untuk lebih jelasnya, perhatikan contoh soal berikut. Contoh soal Fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS dari tanggal 18 Februari 2008 sam pai dengan tanggal 22 Februari 2008 ditunjukkan oleh tabel sebagai berikut. Nyatakan data di atas dalam bentuk diagram garis. Penyelesaian Jika digambar dengan menggunakan diagram garis adalah sebagai berikut. Tanggal 18/2 19/2 20/2 21/2 22/2 Kurs Beli Rp. 9.091 Rp. 9.093 Rp. 9.128 Rp. 9.123 Rp. 9.129 Kurs Jual Rp. 9.181 Rp. 9.185 Rp. 9.220 Rp. 9.215 Rp. 9.221 9.500 9.400 9.300 9.200 9.100 18/2 19/2 20/2 21/2 22/2 Kurs Jual 9.091 9.093 Kurs Beli 9.128 9.123 9.129 9.183 9.185 9.220 9.215 9.221 Fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS

6 Matematika SMA dan MA Kelas XI Program IPA 2. Diagram Lingkaran Diagram lingkaran adalah penyajian data statistik dengan menggunakan gambar yang berbentuk lingkaran. Bagian-bagian dari daerah lingkaran menunjukkan bagian bagian atau persen dari keseluruhan. Untuk membuat diagram lingkaran, terlebih dahulu ditentukan besarnya persentase tiap objek terhadap keseluruhan data dan besarnya sudut pusat sektor lingkaran. Perhatikan contoh berikut ini. Contoh soal Ranah privat (pengaduan) dari koran Solo Pos pada tanggal 22 Februari 2008 ditun jukkan seperti tabel berikut. Nyatakan data di atas dalam bentuk diagram lingkaran. Penyelesaian Sebelum data pada tabel di atas disajikan dengan diagram lingkaran, terlebih dah ulu ditentukan besarnya sudut dalam lingkaran dari data tersebut. 1. CPNS/Honda/GTT = 100 5 × 360° = 18° 2. Perbaikan/pembangunan/gangguan jalan = 100 9 × 360° = 32,4° 3. Masalah lingkungan/kebersihan = 100 6 × 360° = 21,6° 4. Kesehatan/PKMS/Askeskin = 100 3 × 360° = 10,8° 5. Lalu lintas/penertiban jalan = 100 6 × 360° = 21,6° 6. Revitalisasi/budaya Jawa = 100 20 × 360° = 72° No Ranah Privat Persentase 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. CPNS/Honda/GTT Perbaikan/pembangunan/gangguan jalan Masalah lingkungan/ kebersihan Kesehatan/PKMS/Askeskin Lalu lintas/penertiban jalan Revitalisasi/budaya Jawa Parkir Pekat/penipuan/preman Persis/olahraga PKL/bangunan liar PLN dan PDAM Provider HP Tayangan TV/radio/koran Lain-lain

5 % 9 % 6 % 3 % 6 % 20 % 3 % 7 % 10 % 2 % 2 % 7 % 3 % 17 % Jumlah 100 % 100 5 × 360° = 18° 2. Perbaikan/pembangunan/gangguan jalan = 100 9 × 360° = 32,4° 3. Masalah lingkungan/kebersihan = 100 6 × 360° = 21,6° 4. Kesehatan/PKMS/Askeskin = 100 3 × 360° = 10,8° 5. Lalu lintas/penertiban jalan = 100 6 × 360° = 21,6° 6. Revitalisasi/budaya Jawa = 100 20 × 360° = 72° No Ranah Privat Persentase 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. CPNS/Honda/GTT Perbaikan/pembangunan/gangguan jalan Masalah lingkungan/ kebersihan Kesehatan/PKMS/Askeskin Lalu lintas/penertiban jalan Revitalisasi/budaya Jawa Parkir Pekat/penipuan/preman Persis/olahraga PKL/bangunan liar PLN dan PDAM Provider HP Tayangan TV/radio/koran Lain-lain 5 % 9 % 6 % 3 %

6 % 20 % 3 % 7 % 10 % 2 % 2 % 7 % 3 % 17 % Jumlah 100 %

3 7. Parkir = 100 × 360° = 10,8° 7 8. Pekat/penipuan/preman = 100 × 360° = 25,2° 10 9. Persis/olahraga = 100 × 360° = 36° 2 10. PKL/Bangunan liar = 100 × 360o = 7,2° 2 11. PLN dan PDAM = 100 × 360° = 7,2° 7 12. Provider HP = 100 × 360° = 25,2° 3 13. Tayangan TV/radio/koran = 100 × 360° = 10,8° 17 14. Lain-lain = 100 × 360° = 61,2° Diagram lingkarannya adalah sebagai berikut. Ranah Privat CPNS/Honda/GTT 5% Lain-lain 17% Kesehatan/PKMS/ Askeskin 3% Revitalisasi/budaya Jawa 20% Parkir 3% Persis/olah raga 10% PKL/Bangunan liar 2% PLN dan PDAM 2% Provider HP 7% Tayangan TV/radio/koran 3% Perbaikan/pembangunan/ gangguan jalan 9% Masalah lingkungan/kebersihan 6% Lalu lintas/penertiban jalan 6% Pekat/penipuan/preman

7% 3. Diagram Batang Diagram batang umumnya digunakan untuk menggambarkan perkembangan nilai suatu objek penelitian dalam kurun waktu tertentu. Diagram batang menunjukkan keterangan-keterangan dengan batang-batang tegak atau mendatar dan sama lebar dengan batang-batang terpisah. Perhatikan contoh berikut ini. Statistika

Contoh soal Jumlah lulusan SMA X di suatu daerah dari tahun 2001 sampai tahun 2004 adalah sebagai berikut. Tahun Jumlah 2000 20 2001 40 2002 50 2003 70 2004 100 Nyatakan data di atas dalam bentuk diagram batang. Penyelesaian Data tersebut dapat disajikan dengan diagram batang sebagai berikut. Lulusan SMA X Tahun 2001 -2004 120 100 80 60 40 20 0 Tahun 4. Diagram Batang Daun Diagram batang daun dapat diajukan sebagai contoh penyebaran data. Dalam diagram batang daun, data yang terkumpul diurutkan lebih dulu dari data ukuran t erkecil sampai dengan ukuran yang terbesar. Diagram ini terdiri dari dua bagian, yaitu b atang dan daun. Bagian batang memuat angka puluhan dan bagian daun memuat angka satuan . Perhatikan contoh soal berikut, agar kamu dapat segera memahami. Contoh soal Buatlah diagram batang-daun dari data berikut. 451020314820292711 8 25 21 42 24 22 36 33 22 23 13 34 29 25 39 32 38 50 5 Banyak lulusan 2000 2001 2002 2003 2004

Matematika SMA dan MA Kelas XI Program IPA

9Statistika Penyelesaian Mula-mula kita buat diagram batang-daun di sebelah kiri kemudian membuat diagram batang-daun di sebelah kanan agar data terurut. Dari diagram batang-daun di atas dapat dibaca beberapa ukuran tertentu, antara l ain: a. ukuran terkecil adalah 5; b. ukuran terbesar adalah 50; c. ukuran ke-1 sampai ukuran ke-10 berturut-turut adalah 5, 8, 10, 11, 20, 20, 2 1, 22, 22 dan 23; d. ukuran ke-16 adalah: 29. 5. Diagram Kotak Garis Data statistik yang dipakai untuk menggambarkan diagram kotak garis adalah statistik Lima Serangkai, yang terdiri dari data ekstrim (data terkecil dan data terbesar), Q1, Q2, dan Q3. Untuk lebih jelasnya, pelajarilah contoh soal berikut. Contoh soal Diketahui data sebagai berikut: 41, 52, 66, 86, 91, 65, 86, 88, 41, 62, 42, 59, 72, 99, 53, 69, 87, 93, 64, 44, 64, 42, 92, 54, 78, 86, 92, 100, 79, 47 a. Tentukan statistik Lima Serangkai. b. Buatlah diagram kotak garis. Penyelesaian a. Setelah data diurutkan menjadi: 41, 41, 42, 42, 44, 47, 52, 53, 54, 59, 62, 64, 64, 65, 66, 69, 72, 78, 79, 86, 86, 86, 87, 88, 91, 92, 92, 93, 99, 100 Diperoleh: xmin = 41 merupakan data yang nilainya terendah xmaks = 100 merupakan data yang nilainya tertinggi Q1 = 53 merupakan kuartil bawah Q2 = 67,5 merupakan kuartil tengah atau median Q3 = 87 merupakan kuartil atas Batang Daun 5 4 3 2 1 0 0 2 5 8 1 2 3 4 6 8 9 Batang Daun 5 4 3 2 1 0 0 5 8 2 1 6 3 4 9 2 8 0 0 9 7 1 4 2 2 3 9 5 0 1 8 5 0 0 1 2 2 3 4 5 5 7 9 9 0 1 5 8

Statistika Penyelesaian Mula-mula kita buat diagram batang-daun di sebelah kiri kemudian membuat diagram batang-daun di sebelah kanan agar data terurut. Dari diagram batang-daun di atas dapat dibaca beberapa ukuran tertentu, antara l ain: a. ukuran terkecil adalah 5; b. ukuran terbesar adalah 50; c. ukuran ke-1 sampai ukuran ke-10 berturut-turut adalah 5, 8, 10, 11, 20, 20, 2 1, 22, 22 dan 23; d. ukuran ke-16 adalah: 29. 5. Diagram Kotak Garis Data statistik yang dipakai untuk menggambarkan diagram kotak garis adalah statistik Lima Serangkai, yang terdiri dari data ekstrim (data terkecil dan data terbesar), Q1, Q2, dan Q3. Untuk lebih jelasnya, pelajarilah contoh soal berikut. Contoh soal Diketahui data sebagai berikut: 41, 52, 66, 86, 91, 65, 86, 88, 41, 62, 42, 59, 72, 99, 53, 69, 87, 93, 64, 44, 64, 42, 92, 54, 78, 86, 92, 100, 79, 47 a. Tentukan statistik Lima Serangkai. b. Buatlah diagram kotak garis. Penyelesaian a. Setelah data diurutkan menjadi: 41, 41, 42, 42, 44, 47, 52, 53, 54, 59, 62, 64, 64, 65, 66, 69, 72, 78, 79, 86, 86, 86, 87, 88, 91, 92, 92, 93, 99, 100 Diperoleh: xmin = 41 merupakan data yang nilainya terendah xmaks = 100 merupakan data yang nilainya tertinggi Q1 = 53 merupakan kuartil bawah Q2 = 67,5 merupakan kuartil tengah atau median Q3 = 87 merupakan kuartil atas Batang Daun 5 4 3 2 1 0 0 2 5 8 1 2 3 4 6 8 9 Batang Daun 5 4 3 2 1 0 0 5 8 2 1 6 3 4 9 2 8 0 0 9 7 1 4 2 2 3 9 5 0 1 8 5 0 0 1 2 2 3 4 5 5 7 9 9 0 1 5 8

Atau ditulis menjadi: Q2 = 67,5 Q1 = 53 Q3 = 87 xmin = 41 xmax = 100 b. Diagram kotak garisnya sebagai berikut. Q1 Q2 + Q3 30 40 50 60 70 80 90 100 1.1 Kerjakan soal-soal di bawah ini dengan benar. 1. Suhu badan Budi selama 10 hari ditunjukkan oleh tabel berikut. Hari ke: 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Suhu (oC) 35 36 37 36 37,5 38 37 38 38,5 37 a. Buatlah diagram garisnya. b. Hari ke berapakah suhu terendah Budi. c. Hari ke berapakah suhu tertinggi Budi. 2. Jumlah penduduk dari suatu kelurahan sebanyak 3.600 orang, dengan berbagai tingkat pendidikannya ditunjukkan seperti pada gambar berikut. Pendidikan Jumlah SD SMP SMA/SMK Perguruan Tinggi 100 orang 500 orang 2.100 orang 900 orang Jumlah penduduk 3.600 orang Jika data tersebut dibuat diagram lingkaran, maka tentukan: a. besarnya sudut sektor lingkaran untuk pendidikan SD, SMP, SMA/SMK dan Perguruan Tinggi; b. diagram lingkarannya. 10 Matematika SMA dan MA Kelas XI Program IPA

11Statistika Selain dalam bentuk diagram, penyajian data juga dengan menggunakan tabel distri busi frekuensi. Berikut ini akan dipelajari lebih jelas mengenai tabel distribusi fre kuensi tersebut. 1. Distribusi Frekuensi Tunggal Data tunggal seringkali dinyatakan dalam bentuk daftar bilangan, namun kadangkal a dinyatakan dalam bentuk tabel distribusi frekuensi. Tabel distribusi frekuensi t unggal merupakan cara untuk menyusun data yang relatif sedikit. Perhatikan contoh data berikut. 5, 4, 6, 7, 8, 8, 6, 4, 8, 6, 4, 6, 6, 7, 5, 5, 3, 4, 6, 6 8, 7, 8, 7, 5, 4, 9, 10, 5, 6, 7, 6, 4, 5, 7, 7, 4, 8, 7, 6 3. Dari hasil tes matematika kelas XI IPA sebanyak 20 siswa diperoleh hasil seba gai berikut. 85 52 47 35 39 62 83 52 75 95 72 65 80 78 76 56 68 85 92 43 a. Buatlah diagram batang daun dari data di atas. b. Berapakah nilai terendah dan tertinggi yang dicapai siswa kelas XI IPA 4. Jumlah lulusan SD X dari tahun 2001 sampai dengan tahun 2005 ditunjukkan oleh tabel sebagai berikut. a. Buatlah diagram batangnya. b. Pada tahun berapakah jumlah lulusannya mencapai 175 siswa? c. Dari tahun 2001 sampai dengan tahun 2005, tahun berapakah jumlah lulusannya terendah? 5. Di bawah ini adalah daftar berat badan (kg) dari siswa di sebuah kelas. 28 33 36 28 35 31 34 25 37 35 39 38 36 31 35 37 30 33 26 34 39 40 29 32 35 36 33 27 36 41 36 35 36 41 36 27 33 36 35 33 a. Tentukan statistik lima serangkai. b. Buatlah diagram kotak garis. Tahun 2001 2002 2003 2004 2005 Jumlah 125 175 150 165 170 B Penyajian Data dalam Bentuk Tabel Distribusi Frekuensi Statistika Selain dalam bentuk diagram, penyajian data juga dengan menggunakan tabel distri busi frekuensi. Berikut ini akan dipelajari lebih jelas mengenai tabel distribusi fre kuensi tersebut. 1. Distribusi Frekuensi Tunggal Data tunggal seringkali dinyatakan dalam bentuk daftar bilangan, namun kadangkal a dinyatakan dalam bentuk tabel distribusi frekuensi. Tabel distribusi frekuensi t unggal merupakan cara untuk menyusun data yang relatif sedikit. Perhatikan contoh data berikut. 5, 4, 6, 7, 8, 8, 6, 4, 8, 6, 4, 6, 6, 7, 5, 5, 3, 4, 6, 6 8, 7, 8, 7, 5, 4, 9, 10, 5, 6, 7, 6, 4, 5, 7, 7, 4, 8, 7, 6 3. Dari hasil tes matematika kelas XI IPA sebanyak 20 siswa diperoleh hasil seba gai berikut. 85 52 47 35 39 62 83 52 75 95 72 65 80 78 76 56 68 85 92 43 a. Buatlah diagram batang daun dari data di atas. b. Berapakah nilai terendah dan tertinggi yang dicapai siswa kelas XI IPA

4. Jumlah lulusan SD X dari tahun 2001 sampai dengan tahun 2005 ditunjukkan oleh tabel sebagai berikut. a. Buatlah diagram batangnya. b. Pada tahun berapakah jumlah lulusannya mencapai 175 siswa? c. Dari tahun 2001 sampai dengan tahun 2005, tahun berapakah jumlah lulusannya terendah? 5. Di bawah ini adalah daftar berat badan (kg) dari siswa di sebuah kelas. 28 33 36 28 35 31 34 25 37 35 39 38 36 31 35 37 30 33 26 34 39 40 29 32 35 36 33 27 36 41 36 35 36 41 36 27 33 36 35 33 a. Tentukan statistik lima serangkai. b. Buatlah diagram kotak garis. Tahun 2001 2002 2003 2004 2005 Jumlah 125 175 150 165 170 B Penyajian Data dalam Bentuk Tabel Distribusi Frekuensi

Matematika SMA dan MA Kelas XI Program IPA 12Dari data di atas tidak tampak adan ya pola yang tertentu maka agar mudah dianalisis data tersebut disajikan dalam tabel seperti di bawah ini. Daftar di atas sering disebut sebagai distribusi frekuensi dan karena datanya tunggal maka disebut distribusi frekuensi tunggal. 2. Distribusi Frekuensi Bergolong Tabel distribusi frekuensi bergolong biasa digunakan untuk menyusun data yang memiliki kuantitas yang besar dengan mengelompokkan ke dalam interval-interval k elas yang sama panjang. Perhatikan contoh data hasil nilai pengerjaan tugas Matematik a dari 40 siswa kelas XI berikut ini. 66 75 74 72 79 78 75 75 79 71 75 76 74 73 71 72 74 74 71 70 74 77 73 73 70 74 72 72 80 70 73 67 72 72 75 74 74 68 69 80 Apabila data di atas dibuat dengan menggunakan tabel distribusi frekuensi tungga l, maka penyelesaiannya akan panjang sekali. Oleh karena itu dibuat tabel distribus i frekuensi bergolong dengan langkah-langkah sebagai berikut. a. Mengelompokkan ke dalam interval-interval kelas yang sama panjang, misalnya 67, 68 70, , 80 82. Data 66 masuk dalam kelompok 65 67. 65 b. Membuat turus (tally), untuk menentukan sebuah nilai termasuk ke dalam kelas yang mana. c. Menghitung banyaknya turus pada setiap kelas, kemudian menuliskan banyaknya turus pada setiap kelas sebagai frekuensi data kelas tersebut. Tulis dalam kolom frekuensi. d. Ketiga langkah di atas direpresentasikan pada tabel berikut ini. Nilai Tally (Turus) Frekuensi 3 4 5 6 7 8 9 10 1 7 6 10 8 6 1 1

Nilai Tally (Turus) Frekuensi 3 4 5

6 7 8 9 10 1 7 6 10 8 6 1 1

13Statistika Istilah-istilah yang banyak digunakan dalam pembahasan distribusi frekuensi bergolong atau distribusi frekuensi berkelompok antara lain sebagai berikut. a. Interval Kelas Tiap-tiap kelompok disebut interval kelas atau sering disebut interval atau kela s saja. Dalam contoh sebelumnya memuat enam interval ini. 65 67 . Interval kelas pertama 68 70 . Interval kelas kedua 71 73 . Interval kelas ketiga 74 76 . Interval kelas keempat 77 79 . Interval kelas kelima 80 82 . Interval kelas keenam b. Batas Kelas Berdasarkan tabel distribusi frekuensi di atas, angka 65, 68, 71, 74, 77, dan 80 merupakan batas bawah dari tiap-tiap kelas, sedangkan angka 67, 70, 73, 76, 79, dan 82 merupakan batas atas dari tiap-tiap kelas. c. Tepi Kelas (Batas Nyata Kelas) Untuk mencari tepi kelas dapat dipakai rumus berikut ini. Tepi bawah = batas bawah 0,5 Tepi atas = batas atas + 0,5 Dari tabel di atas maka tepi bawah kelas pertama 64,5 dan tepi atasnya 67,5, tep i bawah kelas kedua 67,5 dan tepi atasnya 70,5 dan seterusnya. d. Lebar kelas Untuk mencari lebar kelas dapat dipakai rumus: Lebar kelas = tepi atas tepi bawah Jadi, lebar kelas dari tabel diatas adalah 67,5 64,5 = 3. Hasil Tugas Titik Tengah Turus Frekuensi 65 67 68 70 71 73 74 76 77 79 80 82 66 69 72 75 78 81 2 5 13 14 4 2 Jumlah 40

Statistika Istilah-istilah yang banyak digunakan dalam pembahasan distribusi frekuensi bergolong atau distribusi frekuensi berkelompok antara lain sebagai berikut. a. Interval Kelas

Tiap-tiap kelompok disebut interval kelas atau sering disebut interval atau kela s saja. Dalam contoh sebelumnya memuat enam interval ini. 65 67 . Interval kelas pertama 68 70 . Interval kelas kedua 71 73 . Interval kelas ketiga 74 76 . Interval kelas keempat 77 79 . Interval kelas kelima 80 82 . Interval kelas keenam b. Batas Kelas Berdasarkan tabel distribusi frekuensi di atas, angka 65, 68, 71, 74, 77, dan 80 merupakan batas bawah dari tiap-tiap kelas, sedangkan angka 67, 70, 73, 76, 79, dan 82 merupakan batas atas dari tiap-tiap kelas. c. Tepi Kelas (Batas Nyata Kelas) Untuk mencari tepi kelas dapat dipakai rumus berikut ini. Tepi bawah = batas bawah 0,5 Tepi atas = batas atas + 0,5 Dari tabel di atas maka tepi bawah kelas pertama 64,5 dan tepi atasnya 67,5, tep i bawah kelas kedua 67,5 dan tepi atasnya 70,5 dan seterusnya. d. Lebar kelas Untuk mencari lebar kelas dapat dipakai rumus: Lebar kelas = tepi atas tepi bawah Jadi, lebar kelas dari tabel diatas adalah 67,5 64,5 = 3. Hasil Tugas Titik Tengah Turus Frekuensi 65 67 68 70 71 73 74 76 77 79 80 82 66 69 72 75 78 81 2 5 13 14 4 2 Jumlah 40

e. Titik Tengah Untuk mencari titik tengah dapat dipakai rumus: Titik tengah = 2 1 (batas atas + batas bawah) Dari tabel di atas: titik tengah kelas pertama = 12 (67 + 65) = 66 titik tengah kedua = 1 (70 + 68) = 69 2 dan seterusnya. 3. Distribusi Frekuensi Kumulatif Daftar distribusi kumulatif ada dua macam, yaitu sebagai berikut. a. Daftar distribusi kumulatif kurang dari (menggunakan tepi atas). b. Daftar distribusi kumulatif lebih dari (menggunakan tepi bawah). Untuk lebih jelasnya, perhatikan contoh data berikut ini. Data Frekuensi Tepi Bawah Tepi Atas 41 45 3 40,5 45,5 46 50 6 45,5 50,5 51 55 10 50,5 55,5 56 60 12 55,5 60,5 61 65 5 60,5 65,5 66 70 4 65,5 70,5 Dari tabel di atas dapat dibuat daftar frekuensi kumulatif kurang dari dan lebih dari seperti berikut. Data Frekuensi Kumulatif Kurang Dari = 45,5 = 50,5 = 55,5 = 60,5 = 65,5 = 70,5 3 9 19 31 36 40 Data Frekuensi Kumulatif Lebih Dari = 40,5 = 45,5 = 50,5 = 55,5 = 60,5 = 65,5 40 37 31 21 9 4 4. Histogram

Dari suatu data yang diperoleh dapat disusun dalam tabel distribusi frekuensi da n disajikan dalam bentuk diagram yang disebut histogram. Jika pada diagram batang, gambar batang-batangnya terpisah maka pada histogram gambar batang-batangnya 14 Matematika SMA dan MA Kelas XI Program IPA

15Statistika berimpit. Histogram dapat disajikan dari distribusi frekuensi tunggal maupun dis tribusi frekuensi bergolong. Untuk lebih jelasnya, perhatikan contoh berikut ini. Data banyaknya siswa kelas XI IPA yang tidak masuk sekolah dalam 8 hari beruruta n sebagai berikut. Berdasarkan data diatas dapat dibentuk histogramnya seperti berikut dengan membu at tabel distribusi frekuensi tunggal terlebih dahulu. 5. Poligon Frekuensi Apabila pada titik-titik tengah dari histogram dihubungkan dengan garis dan bata ngbatangnya dihapus, maka akan diperoleh poligon frekuensi. Berdasarkan contoh di atas dapat dibuat poligon frekuensinya seperti gambar berikut ini. Untuk lebih jelasnya, perhatikan contoh soal berikut ini. Hari 1 2 3 4 5 6 7 8 Banyaknya siswa absen 5 15 10 15 20 25 15 10 Statistika berimpit. Histogram dapat disajikan dari distribusi frekuensi tunggal maupun dis tribusi frekuensi bergolong. Untuk lebih jelasnya, perhatikan contoh berikut ini. Data banyaknya siswa kelas XI IPA yang tidak masuk sekolah dalam 8 hari beruruta n sebagai berikut. Berdasarkan data diatas dapat dibentuk histogramnya seperti berikut dengan membu at tabel distribusi frekuensi tunggal terlebih dahulu. 5. Poligon Frekuensi Apabila pada titik-titik tengah dari histogram dihubungkan dengan garis dan bata ngbatangnya dihapus, maka akan diperoleh poligon frekuensi. Berdasarkan contoh di atas dapat dibuat poligon frekuensinya seperti gambar berikut ini. Untuk lebih jelasnya, perhatikan contoh soal berikut ini. Hari 1 2 3 4 5 6 7 8 Banyaknya siswa absen 5 15 10 15 20 25 15 10

Matematika SMA dan MA Kelas XI Program IPA 16berat badan frekuensipoligon frekuensi histogram Hasil Ulangan Frekuensi Contoh soal Hasil pengukuran berat badan terhadap 100 siswa SMP X digambarkan dalam distribu si bergolong seperti di bawah ini. Sajikan data tersebut dalam histogram dan poligo n frekuensi. Penyelesaian Histogram dan poligon frekuensi dari tabel di atas dapat ditunjukkan sebagai ber ikut. 6. Poligon Frekuensi Kumulatif Dari distribusi frekuensi kumulatif dapat dibuat grafik garis yang disebut polig on frekuensi kumulatif. Jika poligon frekuensi kumulatif dihaluskan, diperoleh kurv a yang disebut kurva ogive. Untuk lebih jelasnya, perhatikan contoh soal berikut ini. Contoh soal Hasil tes ulangan Matematika terhadap 40 siswa kelas XI IPA digambarkan dalam tabel di samping. a. Buatlah daftar frekuensi kumulatif kurang dari dan lebih dari. b. Gambarlah ogive naik dan ogive turun. Berat Badan (kg) Titik Tengah Frekuensi 19 15 20 24 25 29 30 34 35 39 40 44 45 49 50 54 55 59 60 64 17 22 27 32 37 42 47 52 57 62 2 10 19 27 16 10 6 5 3 2 100 65 67 68 70

71 73 74 76 77 79 80 82 2 5 13 14 4 2 40 berat badan frekuensipoligon frekuensi histogram Hasil Ulangan Frekuensi Contoh soal Hasil pengukuran berat badan terhadap 100 siswa SMP X digambarkan dalam distribu si bergolong seperti di bawah ini. Sajikan data tersebut dalam histogram dan poligo n frekuensi. Penyelesaian Histogram dan poligon frekuensi dari tabel di atas dapat ditunjukkan sebagai ber ikut. 6. Poligon Frekuensi Kumulatif Dari distribusi frekuensi kumulatif dapat dibuat grafik garis yang disebut polig on frekuensi kumulatif. Jika poligon frekuensi kumulatif dihaluskan, diperoleh kurv a yang disebut kurva ogive. Untuk lebih jelasnya, perhatikan contoh soal berikut ini. Contoh soal Hasil tes ulangan Matematika terhadap 40 siswa kelas XI IPA digambarkan dalam tabel di samping. a. Buatlah daftar frekuensi kumulatif kurang dari dan lebih dari. b. Gambarlah ogive naik dan ogive turun. Berat Badan (kg) Titik Tengah Frekuensi 15 19 20 24 25 29 30 34 35 39 40 44 45 49 50 54 55 59 60 64 17 22 27 32 37 42 47 52 57 62 2 10 19

27 16 10 6 5 3 2 100 65 68 71 74 77 80 2 5 13 14 4 2 40

67 70 73 76 79 82

Penyelesaian a. Daftar frekuensi kumulatif kurang Data Frekuensi Kumulatif Kurang Dari = 67,5 = 70,5 = 73,5 = 76,5 = 79,5 = 82,5 2 7 20 34 38 40 Data Frekuensi Kumulatif Lebih Dari = 64,5 = 67,5 = 70,5 = 73,5 = 76,5 = 79,5 40 38 33 20 6 2 b. Ogive naik dan ogive turun Daftar frekuensi kumulatif kurang ng Cartesius. Tepi atas (67,5; 70,5; diletakkan pada sumbu X sedangkan dari dan lebih dari adalah sebagai berikut.

dari dan lebih dari dapat disajikan dalam bida ; 82,5) atau tepi bawah (64,5; 67,5; ; 79,5) frekuensi kumulatif kurang dari atau frekuensi

kumulatif lebih dari diletakkan pada sumbu Y. Apabila titik-titik yang diperluka n dihubungkan, maka terbentuk kurva yang disebut ogive. Ada dua macam ogive, yaitu ogive naik dan ogive turun. Ogive naik apabila grafik disusun berdasarkan distribusi frekuensi kumulatif kurang dari. Sedangkan ogive turun apabila berdas arkan distribusi frekuensi kumulatif lebih dari. Ogive naik dan ogive turun data di atas adalah sebagai berikut. Frekuensi kumulatifkurang dariFrekuensi kumulatiflebih dari Ogive naik Ogive turun Poligon frekuensi kumulatif Poligon frekuensi kumulatif

Statistika 17

Matematika SMA dan MA Kelas XI Program IPA 181.2Kerjakan soal-soal di bawah ini dengan benar. 1. Diketahui data sebagai berikut. 80 66 74 74 70 71 78 74 72 67 72 73 73 72 75 74 74 74 72 72 66 75 74 73 74 72 79 71 75 75 78 69 71 70 79 80 75 76 68 68 Nyatakan data tersebut ke dalam: a. distribusi frekuensi tunggal, b. Distribusi frekuensi bergolong dengan kelas 65 67, 68 70, 71 73, 74 76, 77 79, 80 82. 2. Diketahui daftar distribusi frekuensi sebagai berikut. Dari tabel di samping, tentukan: a. banyaknya kelas, b. batas bawah kelas ke lima, c. batas atas kelas ke enam, d. tepi bawah kelas ke tujuh, e. tepi atas kelas ke delapan, f. titik tengah masing-masing kelas, g. panjang kelas. 3. Nilai ulangan matematika dari 40 siswa adalah sebagai berikut. 72 74 78 74 79 75 72 71 74 67 73 72 72 73 75 74 73 74 74 75 75 73 66 74 74 79 70 72 71 72 69 70 80 71 70 75 77 80 76 68 a. Susunlah tabel distribusi frekuensi bergolong dari data tersebut ke dalam interval-interval 65 67, 68 70, dan sebagainya. b. Berapakah banyaknya interval kelas yang kamu buat? c. Sebutkan batas-batas dan tepi-tepi kelasnya. d. Berapa lebar kelasnya? e. Sebutkan titik-titik tengahnya. Nilai Frekuensi 21 30 31 40 41 50 51 60 61 70 71 80 81 90 91 100 2 8 9 6 3 2 8 6 1.2Kerjakan soal-soal di bawah ini dengan benar. 1. Diketahui data sebagai berikut. 80 66 74 74 70 71 78 74 72 67 72 73 73 72 75 74 74 74 72 72 66 75 74 73 74 72 79 71 75 75 78 69 71 70 79 80 75 76 68 68 Nyatakan data tersebut ke dalam: a. distribusi frekuensi tunggal, b. Distribusi frekuensi bergolong dengan kelas 65 67, 68 70, 71 73, 74 76, 77 79, 80 82. 2. Diketahui daftar distribusi frekuensi sebagai berikut.

Dari tabel di samping, tentukan: a. banyaknya kelas, b. batas bawah kelas ke lima, c. batas atas kelas ke enam, d. tepi bawah kelas ke tujuh, e. tepi atas kelas ke delapan, f. titik tengah masing-masing kelas, g. panjang kelas. 3. Nilai ulangan matematika dari 40 siswa adalah sebagai berikut. 72 74 78 74 79 75 72 71 74 67 73 72 72 73 75 74 73 74 74 75 75 73 66 74 74 79 70 72 71 72 69 70 80 71 70 75 77 80 76 68 a. Susunlah tabel distribusi frekuensi bergolong dari data tersebut ke dalam interval-interval 65 67, 68 70, dan sebagainya. b. Berapakah banyaknya interval kelas yang kamu buat? c. Sebutkan batas-batas dan tepi-tepi kelasnya. d. Berapa lebar kelasnya? e. Sebutkan titik-titik tengahnya. Nilai Frekuensi 21 30 31 40 41 50 51 60 61 70 71 80 81 90 91 100 2 8 9 6 3 2 8 6

4. Dari tabel pada soal nomor 2, lengkapilah tabel berikut ini. a. b. 5. Perhatikan data berikut. Data Frekuensi Kumulatif Lebih Dari = 30,5 = .. = .. = .. = .. = .. .. .. .. .. .. 6 Data Frekuensi Kumulatif Kurang Dari = 30,5 = .. = .. = .. = .. = .. 2 10 .. .. .. .. Hasil Pengukuran Frekuensi 119 127 128 136 137 145 146 154 155 163 164 172 173 181 3 6 10 11 5 3 2 Nyatakan daftar distribusi frekuensi data berkelompok di samping ke dalam daftar frekuensi relatif dan kumulatif kemudian gambarlah: a. histogram, 4. Dari tabel pada soal nomor 2, lengkapilah tabel berikut ini. a. b. 5. Perhatikan data berikut. Data Frekuensi Kumulatif Lebih Dari = 30,5 = .. = ..

= .. = .. = .. .. .. .. .. .. 6 Data Frekuensi Kumulatif Kurang Dari = 30,5 = .. = .. = .. = .. = .. 2 10 .. .. .. .. Hasil Pengukuran Frekuensi 119 127 128 136 137 145 146 154 155 163 164 172 173 181 3 6 10 11 5 3 2 Nyatakan daftar distribusi frekuensi data berkelompok di samping ke dalam daftar frekuensi relatif dan kumulatif kemudian gambarlah: a. histogram, b. poligon frekuensi, c. ogivenya. Buatlah kelasmu menjadi beberapa kelompok untuk mengerjakan tugas berikut secara berkelompok. Dalam suatu ulangan matematika, dari 80 siswa kelas XI IPA diperoleh nilai sebag ai berikut. Nilai Ulangan f 31 40 1 41 50 2 51 60 5 61 70 15 71 80 25

81 91 80

90 20 100 12

Berdasarkan data di atas, buatlah: 1. tabel frekuensi kumulatif kurang dari, 2. tabel frekuensi kumulatif lebih dari, 3. ogive naik, 4. ogive turun. Statistika 19

Matematika SMA dan MA Kelas XI Program IPA 20Ukuran pemusatan serta penafsiranny a suatu rangkaian data adalah suatu nilai dalam rangkaian data yang dapat mewakili rangkaian data tersebut. Suatu rangkaian data biasanya mempunyai kecenderungan untuk terkonsentrasi atau terpusat pada nilai pemusatan ini. Ukuran statistik yang dapat menjadi pusat dari rangkaian data dan memberi gambar an singkat tentang data disebut ukuran pemusatan data. Ukuran pemusatan data dapat digunaka n untuk menganalisis data lebih lanjut. 1. Ukuran Pemusatan Data Ukuran pemusatan data terdiri dari tiga bagian, yaitu mean, median, dan modus. a. Rataan Hitung (Mean ) Rataan hitung seringkali disebut sebagai ukuran pemusatan atau rata-rata hitung. Rataan hitung juga dikenal dengan istilah mean dan diberi lambang x . 1) Rataan data tunggal Rataan dari sekumpulan data yang banyaknya n adalah jumlah data dibagi dengan banyaknya data. Rataan = 1 2 3 ... nx x x x n + + ++ atau 1 n i i x x n = = S Keterangan: xS= jumlah data n = banyaknya data xi = data ke-i Untuk lebih jelasnya, pelajarilah contoh soal berikut ini. Contoh soal Dari hasil tes 10 siswa kelas XI diperoleh data: 3, 7, 6, 5, 3, 6, 9, 8, 7, dan 6. Tentukan rataan dari data tersebut. Penyelesaian x = 37 6 536 98 7 6 60 10 10 +++++++++ = = 6,0 Jadi, rataannya adalah 6,0. 2) Rataan dari data distribusi frekuensi Apabila data disajikan dalam tabel distribusi frekuensi maka rataan dirumuskan sebagai berikut. C Menghitung Ukuran Pemusatan, Ukuran Letak, dan Ukuran Penyebaran Data x . 1) Rataan data tunggal Rataan dari sekumpulan data yang banyaknya n adalah jumlah data dibagi dengan banyaknya data. Rataan = 1 2 3 ... nx x x x n + + ++ atau 1 n i

i x x n = = S Keterangan: xS= jumlah data n = banyaknya data xi = data ke-i Untuk lebih jelasnya, pelajarilah contoh soal berikut ini. Contoh soal Dari hasil tes 10 siswa kelas XI diperoleh data: 3, 7, 6, 5, 3, 6, 9, 8, 7, dan 6. Tentukan rataan dari data tersebut. Penyelesaian x = 37 6 536 98 7 6 60 10 10 +++++++++ = = 6,0 Jadi, rataannya adalah 6,0. 2) Rataan dari data distribusi frekuensi Apabila data disajikan dalam tabel distribusi frekuensi maka rataan dirumuskan sebagai berikut. C Menghitung Ukuran Pemusatan, Ukuran Letak, dan Ukuran Penyebaran Data

21Statistika x = 11 2 2 3 3 1 2 .... ... nn n fx f x f x f x f f f + + + + + + + atau 1 1 n ii i n i i fx x f = = = S S Keterangan: fi = frekuensi untuk nilai xi xi = data ke-i Untuk lebih jelasnya, perhatikan contoh soal berikut ini. Contoh soal Berdasarkan data hasil ulangan harian Matematika di kelas XI IPA, enam siswa mendapat nilai 8, tujuh siswa mendapat nilai 7, lima belas siswa mendapat nilai 6, tujuh siswa mendapat nilai 5, dan lima siswa mendapat nilai 4. Tentukan rata-rat a nilai ulangan harian Matematika di kelas tersebut. Penyelesaian Tabel nilai ulangan harian Matematika kelas XI IPA. 5 1 5 1 i i i i i fx x f = = · = S S = 242 40 = 6,05 Jadi, rataan nilai ulangan harian Matematika di kelas XI IPA adalah 6,05. 3) Mean data bergolong

Rata-rata untuk data bergolong pada hakikatnya sama dengan menghitung ratarata data pada distribusi frekuensi tunggal dengan mengambil titik tengah kelas sebagai xi. Perhatikan contoh soal berikut ini. Nilai (xi) Frekuensi (fi) fi ·xi 4 5 6 7 8 5 7 15 7 6 20 35 90 49 48 5 1 i i f =S= 40 5 1 i i i fx = ·S= 242 Statistika x = 11 2 2 3 3 1 2 .... ... nn n fx f x f x f x f f f + + + + + + + atau 1 1 n ii i n i i fx x f = = = S S Keterangan: fi = frekuensi untuk nilai xi xi = data ke-i

Untuk lebih jelasnya, perhatikan contoh soal berikut ini. Contoh soal Berdasarkan data hasil ulangan harian Matematika di kelas XI IPA, enam siswa mendapat nilai 8, tujuh siswa mendapat nilai 7, lima belas siswa mendapat nilai 6, tujuh siswa mendapat nilai 5, dan lima siswa mendapat nilai 4. Tentukan rata-rat a nilai ulangan harian Matematika di kelas tersebut. Penyelesaian Tabel nilai ulangan harian Matematika kelas XI IPA. 5 1 5 1 i i i i i fx x f = = · = S S = 242 40 = 6,05 Jadi, rataan nilai ulangan harian Matematika di kelas XI IPA adalah 6,05. 3) Mean data bergolong Rata-rata untuk data bergolong pada hakikatnya sama dengan menghitung ratarata data pada distribusi frekuensi tunggal dengan mengambil titik tengah kelas sebagai xi. Perhatikan contoh soal berikut ini. Nilai (xi) Frekuensi (fi) fi ·xi 4 5 6 7 8 5 7 15 7 6 20 35 90 49 48 5 1 i i f =S= 40 5 1 i i i

fx = ·S= 242

Matematika SMA dan MA Kelas XI Program IPA 22Contoh soal Tentukan rataan dari data berikut ini. Penyelesaian Rataan = 5 1 5 1 i i i i i fx f = = ·S S = 1.020 20 = 51 Jadi, rataannya adalah 51. Selain dengan cara di atas, ada cara lain untuk menghitung rataan yaitu dengan menentukan rataan sementara terlebih dulu sebagai berikut. a. Menentukan rataan sementaranya. b. Menentukan simpangan (d) dari rataan sementara. c. Menghitung simpangan rataan baru dengan rumus berikut ini. d. Menghitung rataan sesungguhnya. 1 1 n i i i s n i i fd x x f = = · = + S S Keterangan: sx = rata-rata sementara 1 n i i i fd = ·S = jumlah frekuensi × simpangan Berat Badan (kg) Titik Tengah (xi) fi fi ·xi 44 40 45 49

50 54 55 59 60 64 42 47 52 57 62 1 6 10 2 1 42 282 520 114 62 5 1 i i f =S = 20 5 1 i i i fx = ·S = 1.020 Berat Badan (kg) Frekuensi 40 44 45 49 50 54 55 59 60 64 1 6 10 2 1 5 1 5 1 i i i i i fx f = = ·S S = 1.020 20 = 51

Jadi, rataannya adalah 51. Selain dengan cara di atas, ada cara lain untuk menghitung rataan yaitu dengan menentukan rataan sementara terlebih dulu sebagai berikut. a. Menentukan rataan sementaranya. b. Menentukan simpangan (d) dari rataan sementara. c. Menghitung simpangan rataan baru dengan rumus berikut ini. d. Menghitung rataan sesungguhnya. 1 1 n i i i s n i i fd x x f = = · = + S S Keterangan: sx = rata-rata sementara 1 n i i i fd = ·S = jumlah frekuensi × simpangan Berat Badan (kg) Titik Tengah (xi) fi fi ·xi 44 40 45 49 50 54 55 59 60 64 42 47 52 57 62 1 6 10 2 1 42 282 520 114 62 5 1 i i

f =S = 20 5 1 i i i fx = ·S = 1.020 Berat Badan (kg) Frekuensi 40 44 45 49 50 54 55 59 60 64 1 6 10 2 1

23Statistika Berat Badan Frekuensi 54 56 57 59 60 62 63 65 Perhatikan contoh soal berikut ini. Contoh soal 1. Carilah rataan dari data berikut dengan menggunakan rataan sementara. Penyelesaian Diambil rata-rata sementara 6. Simpangan rataan = 5 1 5 1 i i i i i fd f = = ·S S = 3 30 = 0,1 Rataan = rataan sementara + simpangan rataan = 6 + 0,1 = 6,1 2. Dari penimbangan berat badan 40 siswa kelas XI IPA digambarkan data bergolong seperti pada data di bawah ini. Tentukan rataan dari data tersebut dengan menggunakan rataan sementara. 66 68 69 71 72 74 75 77 1 2 5 9 12 8 2 1 Data fi di fi · di 4 5 6 7 8 3 7 10 4 6 2 1

0 1 2 6 7 0 4 12 5 1 i i f =S= 30 5 1 i i i fd = ·S= 3 Data f 4 5 6 7 8 3 7 10 4 6 Statistika Berat Badan Frekuensi 54 56 57 59 60 62 63 65 Perhatikan contoh soal berikut ini. Contoh soal 1. Carilah rataan dari data berikut dengan menggunakan rataan sementara. Penyelesaian Diambil rata-rata sementara 6. Simpangan rataan = 5 1 5 1 i i i i i fd f = = ·S S = 3 30 = 0,1

Rataan = rataan sementara + simpangan rataan = 6 + 0,1 = 6,1 2. Dari penimbangan berat badan 40 siswa kelas XI IPA digambarkan data bergolong seperti pada data di bawah ini. Tentukan rataan dari data tersebut dengan menggunakan rataan sementara. 66 68 69 71 72 74 75 77 1 2 5 9 12 8 2 1 Data fi di fi · di 4 5 6 7 8 3 7 10 4 6 2 1 0 1 2 6 7 0 4 12 5 1 i i f =S= 30 5 1 i i i fd = ·S= 3 Data f 4 5 6 7 8 3 7

10 4 6

(xi) (fi) d = xi Penyelesaian

xs (xi) (fi) d = xi

xs

Dari tabel distribusi frekuensi bergolong, misalnya diambil rataan sementara ( xs) = 67, maka dapat dibuat tabel yang lebih lengkap seperti berikut ini. Titik Tengah Frekuensi Simpangan Berat Badan fi · di 54 57 60 63 66 69 72 75 55 58 61 64 67 70 73 76 1 2 5 9 12 8 2 1 12 9 6 3 0 3 6 9 12 18 30 27 0 24 12 9 8 1 56 59 62 65 68 71 74 77

i i f =S= 40 8 1 i i i fd = ·S= 42 8 fd . i· i i= 1 .-42 . x= xs+ 8 = 67 +. .= 67 - 1,05 = 65,95 . f . 40 . i i= 1 Berdasarkan hasil tersebut, ternyata diperoleh nilai rataannya yaitu 65,95. 1.3 Kerjakan soal-soal di bawah ini dengan benar. 1. Diketahui data: 5, 7, 9, 6, 4, 3, 2, 1. Hitunglah rataan hitungnya. 2. Hitunglah rataan hitung data di bawah ini. Data 3 4 5 6 7 8 9 Frekuensi 4 5 7 8 12 3 1 3. Nilai matematika dari dua puluh siswa di kelas XI IPA adalah sebagai berikut: 65 75 66 80 73 75 68 67 75 77 70 71 60 55 65 63 60 70 70 66 Tentukan rataan hitung (mean) dari data tersebut. 24 Matematika SMA dan MA Kelas XI Program IPA

25Statistika 4. Tentukan mean dari data berikut: 5. Dari pengukuran berat badan terhadap 50 siswa kelas XI IPA digambarkan seperti tabel di samping ini. Tentukan rataan dengan menggunakan rataan sementara 57. 6. Diketahui suatu data yang digambarkan pada histogram sebagai berikut. Berdasarkan histogram di atas, tentukan rataannya. Tinggi Badan (cm) f 150 154 155 159 160 164 165 169 170 174 5 6 10 7 2 Berat (kg) Frekuensi 50 52 53 55 56 58 59 61 62 64 4 8 20 10 8 5 10 15 42 2 8 15 10 5 10 47 52 57 62 67 Nilai Frekuensi b. Median 1) Median untuk data tunggal Median adalah suatu nilai tengah yang telah diurutkan. Median dilambangkan Me. Untuk menentukan nilai Median data tunggal dapat dilakukan dengan cara: a) mengurutkan data kemudian dicari nilai tengah, b) jika banyaknya data besar, setelah data diurutkan, digunakan rumus: Untuk n ganjil: Me = 1 ( 1)2 n x + Untuk n genap: Me = 12 2 2 n nx x ++ Keterangan:

2 nx = data pada urutan ke-2 n setelah diurutkan. Statistika 4. Tentukan mean dari data berikut: 5. Dari pengukuran berat badan terhadap 50 siswa kelas XI IPA digambarkan seperti tabel di samping ini. Tentukan rataan dengan menggunakan rataan sementara 57. 6. Diketahui suatu data yang digambarkan pada histogram sebagai berikut. Berdasarkan histogram di atas, tentukan rataannya. Tinggi Badan (cm) f 150 154 155 159 160 164 165 169 170 174 5 6 10 7 2 Berat (kg) Frekuensi 50 52 53 55 56 58 59 61 62 64 4 8 20 10 8 5 10 15 42 2 8 15 10 5 10 47 52 57 62 67 Nilai Frekuensi b. Median 1) Median untuk data tunggal Median adalah suatu nilai tengah yang telah diurutkan. Median dilambangkan Me. Untuk menentukan nilai Median data tunggal dapat dilakukan dengan cara: a) mengurutkan data kemudian dicari nilai tengah, b) jika banyaknya data besar, setelah data diurutkan, digunakan rumus: Untuk n ganjil: Me = 1 ( 1)2 n x + Untuk n genap: Me = 12 2 2

n nx x ++ Keterangan: 2 nx = data pada urutan ke-2 n setelah diurutkan.

Matematika SMA dan MA Kelas XI Program IPA 26Untuk lebih jelasnya, perhatikan co ntoh soal berikut. Contoh soal Dari data di bawah ini, tentukan mediannya. 1. 2, 5, 4, 5, 6, 7, 5, 9, 8, 4, 6, 7, 8 2. Penyelesaian 1. Data diurutkan menjadi: 2, 4, 4, 5, 5, 5, 6, 6, 7, 7, 8, 8, 9 . Me Jadi, mediannya adalah 6. 2. Banyaknya data n = 50 (genap), digunakan rumus: Me = 50 50 1 25 262 2 66 2 2 2 x x x x+ + + + = = = 6 2) Median untuk data bergolong Jika data yang tersedia merupakan data bergolong, artinya data itu dikelompokkan ke dalam interval-interval kelas yang sama panjang. Untuk mengetahui nilai mediannya dapat ditentukan dengan rumus berikut ini. Me = b2 + c 1 2 NF f . .. . . .. . Keterangan: b2 = tepi bawah kelas median c = lebar kelas N = banyaknya data F = frekuensi kumulatif kurang dari sebelum kelas median f = frekuensi kelas median Untuk lebih jelasnya, perhatikan contoh soal berikut ini. Contoh soal Tentukan median dari data tes Matematika terhadap 40 siswa kelas XI IPA yang digambarkan pada tabel distribusi frekuensi di samping. Nilai 2 3 4 5 6 7 8 9 Frekuensi 3 5 6 8 12 6 7 3 Nilai Frekuensi 40 49 50 59 60 69 70 79 80 89 90 99 4 5 14 10 4 3 Untuk lebih jelasnya, perhatikan contoh soal berikut. Contoh soal Dari data di bawah ini, tentukan mediannya. 1. 2, 5, 4, 5, 6, 7, 5, 9, 8, 4, 6, 7, 8 2.

Penyelesaian 1. Data diurutkan menjadi: 2, 4, 4, 5, 5, 5, 6, 6, 7, 7, 8, 8, 9 . Me Jadi, mediannya adalah 6. 2. Banyaknya data n = 50 (genap), digunakan rumus: Me = 50 50 1 25 262 2 66 2 2 2 x x x x+ + + + = = = 6 2) Median untuk data bergolong Jika data yang tersedia merupakan data bergolong, artinya data itu dikelompokkan ke dalam interval-interval kelas yang sama panjang. Untuk mengetahui nilai mediannya dapat ditentukan dengan rumus berikut ini. Me = b2 + c 1 2 NF f . .. . . .. . Keterangan: b2 = tepi bawah kelas median c = lebar kelas N = banyaknya data F = frekuensi kumulatif kurang dari sebelum kelas median f = frekuensi kelas median Untuk lebih jelasnya, perhatikan contoh soal berikut ini. Contoh soal Tentukan median dari data tes Matematika terhadap 40 siswa kelas XI IPA yang digambarkan pada tabel distribusi frekuensi di samping. Nilai 2 3 4 5 6 7 8 9 Frekuensi 3 5 6 8 12 6 7 3 Nilai Frekuensi 49 40 50 59 60 69 70 79 80 89 90 99 4 5 14 10 4 3

27Statistika Penyelesaian Banyaknya data ada 40 sehingga letak mediannya pada frekuensi 1 402 · = 20. b2 = 59 60 2 + = 59,5 c = 10 f = 14 N = 40 F = 9 Maka Me = b2 + c 1 2 NF f . .. . . .. . =59,5 + 10 1 2 40 9 14 . .· . . . .. . = 59,5 + 10 20 9 14 -. .. .. . = 59,5 + 7,86 = 67,36 Nilai f F kumulatif 49 40 50 59 60 69 70 79 80 89 90 99 4 5 14 10 4 3 4 9 23 33 37 40 1.4Kerjakan soal-soal di bawah ini dengan benar. Tentukan median dari data berikut ini. 1. Data: 5, 5, 6, 4, 3, 7, 8, 9, 10, 6, 4, 3, 6, 8 2. 3. Nilai 5 6 7 8 9 10 Frekuensi 2 12 14 6 5 1 Skor Frekuensi 52

56 60 64 68 72 76 80 3 6 10 20 40 20 9 2 Statistika Penyelesaian Banyaknya data ada 40 sehingga letak mediannya pada frekuensi 1 402 · = 20. b2 = 59 60 2 + = 59,5 c = 10 f = 14 N = 40 F = 9 Maka Me = b2 + c 1 2 NF f . .. . . .. . =59,5 + 10 1 2 40 9 14 . .· . . . .. . = 59,5 + 10 20 9 14 -. .. .. . = 59,5 + 7,86 = 67,36 Nilai f F kumulatif 49 40 50 59 60 69 70 79 80 89 90 99 4 5 14 10 4 3 4

9 23 33 37 40 1.4Kerjakan soal-soal di bawah ini dengan benar. Tentukan median dari data berikut ini. 1. Data: 5, 5, 6, 4, 3, 7, 8, 9, 10, 6, 4, 3, 6, 8 2. 3. Nilai 5 6 7 8 9 10 Frekuensi 2 12 14 6 5 1 Skor Frekuensi 52 56 60 64 68 72 76 80 3 6 10 20 40 20 9 2

4. 5. Tinggi Badan (Kelas) Frekuensi 141 145 146 150 151 155 156 160 161 165 166 170 3 5 5 18 7 2 Data (Berat Badan) Frekuensi 45 47 48 50 51 53 54 56 57 59 60 62 63 65 2 6 8 15 10 7 2 4. 5. Tinggi Badan (Kelas) Frekuensi 141 145 146 150 151 155 156 160 161 165 166 170 3 5 5 18 7 2 Data (Berat Badan) Frekuensi 45 47 48 50 51 53 54 56 57 59 60 62 63 65 2 6

8 15 10 7 2 c. Modus Modus ialah nilai yang paling sering muncul atau nilai yang mempunyai frekuensi tertinggi. Jika suatu data hanya mempunyai satu modus disebut unimodal dan bila memiliki du a modus disebut bimodal, sedangkan jika memiliki modus lebih dari dua disebut multimodal. Modus dilambangkan dengan Mo. 1) Modus data tunggal Modus dari data tunggal adalah data yang sering muncul atau data dengan frekuens i tertinggi. Perhatikan contoh soal berikut ini. Contoh soal Tentukan modus dari data di bawah ini. a. 2, 1, 4, 1, 1, 5, 7, 8, 9, 5, 5, 10 b. Nilai Frekuensi 4 5 5 10 6 14 7 6 8 5 28 Matematika SMA dan MA Kelas XI Program IPA

29Statistika Penyelesaian a. 1, 1, 1, 2, 4, 5, 5, 5, 7, 8, 9, 10 Data yang sering muncul adalah 1 dan 5. Jadi modusnya adalah 1 dan 5. b. Berdasarkan data pada tabel, nilai yang memiliki frekuensi tertinggi adalah 6 . Jadi, modusnya adalah 6. 2) Modus data bergolong Modus data bergolong dirumuskan sebagai berikut: Mo = b0 + l 1 1 2 d d d . . . .+. . Keterangan: b0 = tepi bawah kelas median l = lebar kelas (lebar kelas) d1 = selisih frekuensi kelas modus dengan kelas sebelumnya d2 = selisih frekuensi kelas modus dengan kelas sesudahnya Untuk lebih jelasnya, perhatikan contoh soal berikut ini. Contoh soal Tentukan modus dari tabel di bawah ini. Penyelesaian 69, dan tepi bawah frekuensi modus Frekuensi modusnya 18, kelas modusnya 65 (b) = 64,5 d1 = 18 6 = 12 d2 = 18 9 = 9 l = 69,5 64,5 = 5 Mo = b0 + 1 1 2 d ld d . . . .+. . = 64,5 + 12 12 9 . .. .+. . 5 = 64,5 + 12 21 · 5 = 64,5 + 2,86 = 67,36 Nilai Frekuensi 50 54 55 59 60 64 65 69 70 74 75 79 80 84 2 4 6 18 9 15 6 Statistika Penyelesaian a. 1, 1, 1, 2, 4, 5, 5, 5, 7, 8, 9, 10 Data yang sering muncul adalah 1 dan 5. Jadi modusnya adalah 1 dan 5. b. Berdasarkan data pada tabel, nilai yang memiliki frekuensi tertinggi adalah 6

. Jadi, modusnya adalah 6. 2) Modus data bergolong Modus data bergolong dirumuskan sebagai berikut: Mo = b0 + l 1 1 2 d d d . . . .+. . Keterangan: b0 = tepi bawah kelas median l = lebar kelas (lebar kelas) d1 = selisih frekuensi kelas modus dengan kelas sebelumnya d2 = selisih frekuensi kelas modus dengan kelas sesudahnya Untuk lebih jelasnya, perhatikan contoh soal berikut ini. Contoh soal Tentukan modus dari tabel di bawah ini. Penyelesaian Frekuensi modusnya 18, kelas modusnya 65 69, dan tepi bawah frekuensi modus (b) = 64,5 d1 = 18 6 = 12 d2 = 18 9 = 9 l = 69,5 64,5 = 5 Mo = b0 + 1 1 2 d ld d . . . .+. . = 64,5 + 12 12 9 . .. .+. . 5 = 64,5 + 12 21 · 5 = 64,5 + 2,86 = 67,36 Nilai Frekuensi 50 54 55 59 60 64 65 69 70 74 75 79 80 84 2 4 6 18 9 15 6

Matematika SMA dan MA Kelas XI Program IPA 301.5Kerjakan soal-soal di bawah ini dengan benar. 1. Tentukan modus dari data di bawah ini. a. 2, 4, 3, 6, 7, 8, 2, 6, 7, 5, 2, 1, 5 b. 8, 9, 5, 6, 8, 2, 1, 3, 4, 5 2. Hasil pengukuran daun anthurium diperoleh data sebagai berikut. Tentukan modusnya. 3. Dalam mengerjakan soal Matematika yang sukar terhadap 25 siswa diperoleh waktu dalam menit seperti terlihat pada tabel di samping. Tentukan modusnya. 4. Tentukan modus dari data tinggi badan 40 anak yang disajikan pada tabel di bawah ini. Ukuran (cm) 3,1 3,4 4,2 4,9 5,1 5,5 6,5 Frekuensi 4 6 12 15 7 3 2 Nilai Frekuensi 2 5 8 11 14 2 6 10 4 3 Tinggi (cm) Frekuensi 127 119 128 136 137 145 146 154 155 163 164 172 173 181 3 6 10 11 5 3 2 2. Ukuran Letak Selain ukuran memusat, ada juga yang disebut ukuran letak. Adapun ukuran letak meliputi: kuartil (Q), desil (D), dan persentil (P). a. Kuartil (Q) Seperti yang sudah dibahas sebelumnya, bahwa median membagi data yang telah diurutkan menjadi dua bagian yang sama banyak. Adapun kuartil adalah membagi data yang telah diurutkan menjadi empat bagian yang sama banyak. Ukuran (cm) 3,1 3,4 4,2 4,9 5,1 5,5 6,5 Frekuensi 4 6 12 15 7 3 2 Nilai Frekuensi 2 5 8 11 14 2 6 10

4 3 Tinggi (cm) Frekuensi 119 127 128 136 137 145 146 154 155 163 164 172 173 181 3 6 10 11 5 3 2 2. Ukuran Letak Selain ukuran memusat, ada juga yang disebut ukuran letak. Adapun ukuran letak meliputi: kuartil (Q), desil (D), dan persentil (P). a. Kuartil (Q) Seperti yang sudah dibahas sebelumnya, bahwa median membagi data yang telah diurutkan menjadi dua bagian yang sama banyak. Adapun kuartil adalah membagi data yang telah diurutkan menjadi empat bagian yang sama banyak.

1 11 bagian 4 bagian bagian bagian 1 4 44 xmin Q1 Q2 Q3 xmaks Keterangan: xmin = data terkecil xmaks = data terbesar Q1 = kuartil ke-1 Q2 = kuartil ke-2 Q3 = kuartil ke-3 1) Kuartil data tunggal Untuk mencari kuartil data tunggal telah dibahas pada sub bab statistik lima serangkai. Pada sub bab ini akan diberikan rumus yang lebih mudah jika data yang disajikan lebih banyak. Letak dari Qi dirumuskan sebagai berikut. Letak Qi = ( 1) 4 in + Keterangan: Qi = kuartil ke-i n = banyak data Contoh soal 1. Tentukan Q1, Q2, dan Q3 dari data : 3, 4, 7, 8, 7, 4, 8, 4, 9, 10, 8, 3, 7, 1 2. Penyelesaian Data yang telah diurutkan: 3, 3, 4, 4, 4, 7, 7, 7, 8, 8, 8, 9, 10, 12. +1) 15 Letak Q1 adalah: 1(14 ==3 3 sehingga: 4 44 Q1= x3 + 34(x4 = 4 + 43 (4 2(14 +1) 15 Letak Q2 adalah: ==7 1 sehingga: 4 22 x3) 4) = 4

Q2= x7 + 12(x7 = 7 + 12 (7 Statistika31

x6) 7) = 7

Matematika SMA dan MA Kelas XI Program IPA 32Letak Q3 adalah: 4 111 4 45 4 )114(3== + sehingga: Q3 = x11 + 4 1 (x12 x11) = 8 + 4 1 (9 8) = 8 4 1 = 8,25 Jadi Q1 = 4, Q2 = 7, Q3 = 8,25. 2. Dalam suatu tes terhadap 50 siswa didapat tabel frekuensi tunggal sebagai berikut. Berdasarkan data di atas, tentukan kuartil ke-2. Penyelesaian Banyaknya data 50. Letak Q2 = x25 + 1 2 (x25 x24) = 6 + 1 2 (6 6) = 6 + 1 02 · = 6 Jadi kuartil ke-2 adalah 6. 2) Kuartil data bergolong Menentukan letak kuartil untuk data bergolong, caranya sama dengan data tunggal. Nilai kuartil dirumuskan sebagai berikut. Qi = bi + l 4 -i N F f . . . . . .. . Keterangan: Qi = kuartil ke-i (1, 2, atau 3) bi = tepi bawah kelas kuartil ke-i N = banyaknya data F = frekuensi kumulatif kelas sebelum kelas kuartil l = lebar kelas f = frekuensi kelas kuartil Untuk lebih jelasnya, perhatikan contoh soal berikut ini. Nilai 2 3 4 5 6 7 8 9 Frekuensi 3 5 6 8 12 6 7 3 4 111 4 45 4 )114(3== + sehingga: Q3 = x11 + 4 1 (x12 x11) = 8 + 4 1 (9 8) = 8 4 1 = 8,25 Jadi Q1 = 4, Q2 = 7, Q3 = 8,25. 2. Dalam suatu tes terhadap 50 siswa didapat tabel frekuensi tunggal sebagai berikut.

Berdasarkan data di atas, tentukan kuartil ke-2. Penyelesaian Banyaknya data 50. Letak Q2 = x25 + 1 2 (x25 x24) = 6 + 1 2 (6 6) = 6 + 1 02 · = 6 Jadi kuartil ke-2 adalah 6. 2) Kuartil data bergolong Menentukan letak kuartil untuk data bergolong, caranya sama dengan data tunggal. Nilai kuartil dirumuskan sebagai berikut. Qi = bi + l 4 -i N F f . . . . . .. . Keterangan: Qi = kuartil ke-i (1, 2, atau 3) bi = tepi bawah kelas kuartil ke-i N = banyaknya data F = frekuensi kumulatif kelas sebelum kelas kuartil l = lebar kelas f = frekuensi kelas kuartil Untuk lebih jelasnya, perhatikan contoh soal berikut ini. Nilai 2 3 4 5 6 7 8 9 Frekuensi 3 5 6 8 12 6 7 3

Contoh soal Tentukan Q1 (kuartil bawah), Q2 (median), dan Q3 (kuartil atas) dari data tes Matematika terhadap 40 siswa kelas XI IPA berikut ini. Nilai Frekuensi 40 49 4 50 59 5 60 69 14 70 79 10 80 89 4 90 99 3 Penyelesaian Nilai Frekuensi F kumulatif 40 49 50 59 60 69 70 79 80 89 90 99 4 5 14 10 4 3 4 9 23 33 37 40 Q1, Q2 Q3 Letak Q1 pada frekuensi = 1 · 40 = 10 di kelas 60 4 iN . 1 · 40 . . - F . - 9 4 . 4 ..10 - 9 . . . Q1 = b1 + l . = 59,5 + 10

69.

= 59,5 + 10 . . f .. 14 .. 14 . .. .. .. 1 = 59,5 + = 59,5 + 0,07 = 59,57 14Letak Q2 pada frekuensi = 1 · 40 = 20 di kelas 60 2 iN . 2 ·10. . - F .. - 9 .. 20 - 9 . Q = b + l . . 22. f .. 14 . 14 . 44 . = 59,5 + 10 . . = 59,5 + 10 .. .. .. = 59,5 + 7,86 = 67,36 Letak Q3 pada frekuensi = 3 · 40 = 30 di kelas 70 4 iN . 3· 40. . - 23 4 - F .. 4 .. 30 - 23 . . Q3 = b3 + l . f . = 69,5 + 10 .. = 69,5 + 10 . .. 10 10 79.

69.

.... .. .. = 69,5 + 7 = 76,5 Statistika 33

3) Jangkauan interkuartil dan semi interkuartil a) Jangkauan adalah selisih antara nilai terbesar dan nilai terkecil, dilambangkan dengan J. maksmin xxJ = b) Jangkauan interkuartil (H) adalah selisih antara kuartil ketiga dan kuartil pert ama: c) Qd = 2 1 (Q3 Q1) d) L = 2 3 (Q3 Q1) atau L = 2 3 H b. H = Q3 Q1 Jangkauan semi interkuartil (Qd) atau simpangan kuartil dirumuskan: Langkah (L) adalah satu setengah dari nilai jangkauan interkuartil: Desil dan Presentil Data Tunggal 1) Desil untuk data tunggal Jika median membagi data menjadi dua bagian dan kuartil membagi data menjadi empat bagian yang sama, maka desil membagi data menjadi sepuluh bagian yang sama besar. Sehingga letak dari Di (desil ke-i) diringkas. D1 D2 D3 D4 D5 D6 D7 D8 D9min = desil ke-i x x maks Letak di urutan data ke +( 1) 10iinD Keterangan: Di i = 1, 2, 3, . . ., 9 n = banyaknya data Perhatikan contoh soal berikut ini. Contoh soal Diketahui data: 9, 10, 11, 6, 8, 7, 7, 5, 4, 5. Tentukan: 1.

desil ke-2, 2. desil ke-4. 34 Matematika SMA dan MA Kelas XI Program IPA

Penyelesaian Data diurutkan: 4, 5, 5, 6, 7, 7, 8, 9, 10, 11 2(10 + 1) 22 Letak desil ke-2 diurutan data ke-== 2,2 10 10 D2 terletak pada urutan ke-2,2 sehingga: D2 = x2 + 0,2 (x3 Jadi D2 = 5 + 0,2 (5 5) = 5 + 0 = 5,0. 4(10 + 1) 44 Letak desil ke-4 di urutan data ke-== 4,4 . 10 10 D4 terletak pada urutan ke-4,4 sehingga: D4 = x4 + 0,4 (x5 x4). Jadi D4 = 6 + 0,4 (7 6) = 6 + 0,4 = 6,4. 2) Persentil untuk data tunggal Jika data dibagi menjadi 100 bagian yang sama, maka ukuran itu disebut persentil . Letak persentil dirumuskan dengan: Letak di urutan data ke +( 1) 100iinP Keterangan: Pi = persentil ke-i i = 1, 2, 3, . . ., 99 n = banyaknya data Untuk lebih jelasnya, pelajarilah contoh soal berikut ini. Contoh soal Diketahui: 9, 10, 11, 6, 8, 7, 7, 5, 4, 5, tentukan persentil ke-30 dan persenti l ke-75. Penyelesaian Data diurutkan: 4, 5, 5, 6, 7, 7, 8, 9, 10, 11 x2).

3(10 +1) 330 Letak persentil ke-30 di urutan data ke-= = 3,3. 100 100 P = x + 0,3 (x 30343 Jadi, P30 = 5,3. 75(10 +1) Letak persentil ke-75 di urutan data ke x) = 5 + 0,3 (6 5) = 5,3

= 8,25. 100 P = x + 0,25 (x 75898 Jadi, P75 = 9,25. Statistika 35 x) = 9 + 0,25 (10 9) = 9,25

Matematika SMA dan MA Kelas XI Program IPA 36c. Desil dan Persentil untuk Data B ergolong Nilai desil ke-i dari data bergolong dirumuskan sebagai berikut. Di = b + l 10 in F f ·. .-. . . . . . x f 41 45 46 50 51 55 56 60 61 65 3 6 16 8 7 x f F kumulatif 41 45 46 50 51 55 56 60 61 65 3 6 16 8 7 3 9 25 33 40 Bila data dibagi menjadi 100 bagian yang sama maka ukuran itu disebut persentil. Letak dari persentil dapat dirumuskan dengan: P1 = ( 1) 100 in + . Sedangkan nilai persentil ke-i dari data bergolong dirumuskan sebagai berikut. Pi = b + l 100 in F f ·. .-. . . . . . Keterangan: D = desil ke-i n = banyak data F = frekuensi kumulatif kelas sebelum kelas desil f = frekuensi kelas desil b = tepi bawah kelas l = lebar kelas Keterangan:

Pi = persentil ke-i b = tepi bawah n = banyaknya data F = frekuensi kumulatif kelas sebelum kelas persentil f = frekuensi kelas persentil l = lebar kelas Untuk lebih jelasnya, perhatikan contoh soal berikut ini. Contoh soal Diketahui data pada tabel bergolong di samping. Dari data tersebut tentukan: a. desil ke-1 b. desil ke-9 c. persentil ke-25 d. persentil ke-60 Penyelesaian 10 in F f ·. .-. . . . . . x f 45 41 46 50 51 55 56 60 61 65 3 6 16 8 7 x f F kumulatif 41 45 46 50 51 55 56 60 61 65 3 6 16 8 7 3 9 25 33 40 Bila data dibagi menjadi 100 bagian yang sama maka ukuran itu disebut persentil. Letak dari persentil dapat dirumuskan dengan: P1 = ( 1) 100 in + . Sedangkan nilai persentil ke-i dari data bergolong dirumuskan sebagai berikut. Pi = b + l 100 in F f

·. .-. . . . . . Keterangan: D = desil ke-i n = banyak data F = frekuensi kumulatif kelas sebelum kelas desil f = frekuensi kelas desil b = tepi bawah kelas l = lebar kelas Keterangan: Pi = persentil ke-i b = tepi bawah n = banyaknya data F = frekuensi kumulatif kelas sebelum kelas persentil f = frekuensi kelas persentil l = lebar kelas Untuk lebih jelasnya, perhatikan contoh soal berikut ini. Contoh soal Diketahui data pada tabel bergolong di samping. Dari data tersebut tentukan: a. desil ke-1 b. desil ke-9 c. persentil ke-25 d. persentil ke-60 Penyelesaian

a. Letak D1 = 4 yaitu pada data ke-4 dan kelas D1 = 46 . 1 40 ·. - 3 .(43)· 5 . 10 D1 = 45,5 + 5 = 45,5 + . . 6 6 .. .. = 45,5 + 0,83 = 46,33 9 40 · b. Letak D = = 36 yaitu data ke-36 dan kelas D = 61 910 9 9 · 40 .. - 33 . 10 . (36 - 33) · 5 D5 = 60,5 + . . 5 = 60,5 + 77 .. .. = 60,5 + 2,13 = 62,63

50 sehingga diperoleh:

65 sehingga diperoleh:

25 c. Letak P25 = · 40= 10 yaitu pada data ke-10 dan kelas P25 = 51 100 diperoleh: 25· 40 .. - 9 ..10 - 9 . 100 . 5 P25 = 50,5 + . . . 5 = 50,5 + . 16 . 16 . .. .. = 50,5 + 0,31 = 50,81 d. Letak P60 = 16000· 40= 24, yaitu pada data ke-24 dan kelas P60 = 56 ga diperoleh: 60· 40 .. - 25 . . 100 P= 55,5 + . 60 . 5 8 .. .. . 24 - 25 . 60 sehing 55 sehingga

. 5 = 55,5 + . . 8 . = 55,5 = 54,825 Statistika 37 0,625

1.6Kerjakan soal-soal di bawah ini dengan benar. 1. Tentukan Q1, Q2, dan Q3 dari data berikut: a. 2, 5, 4, 6, 3, 4, 8 b. 4, 9, 12, 6, 3, 11, 7, 2 2. Tentukan Q1, Q2, dan Q3 dari data berikut: Nilai Frekuensi 3 4 5 6 7 8 9 5 6 10 15 9 6 2 3. Diketahui data sebagai berikut. 10 12 15 33 38 40 42 43 43 46 48 48 48 50 52 53 54 56 57 58 58 59 60 62 64 65 68 84 89 96 Tentukan: a. Q1, Q2, dan Q3; b. jangkauan inter kuartil (H); c. jangkauan semi inter kuartil (Qd); d. langkah (L). 4. Diketahui data seperti pada tabel di samping. Tentukan Q1, Q2, dan Q3. 5. Dalam pengukuran berat badan terhadap 80 siswa kelas XI IPA seperti digambarkan tabel di samping. Tentukan kuartil bawah (Q1), median (Q2), dan kuartil atas (Q3). Data f 45 41 46 50 51 55 56 60 61 65 66 70 3 6 10 12 5 4 Berat Badan (kg) f 35 39 40 44 45 49 50 54 55 59 60 64 65 69 3 11

16 25 15 9 1 1.6Kerjakan soal-soal di bawah ini dengan benar. 1. Tentukan Q1, Q2, dan Q3 dari data berikut: a. 2, 5, 4, 6, 3, 4, 8 b. 4, 9, 12, 6, 3, 11, 7, 2 2. Tentukan Q1, Q2, dan Q3 dari data berikut: Nilai Frekuensi 3 4 5 6 7 8 9 5 6 10 15 9 6 2 3. Diketahui data sebagai berikut. 10 12 15 33 38 40 42 43 43 46 48 48 48 50 52 53 54 56 57 58 58 59 60 62 64 65 68 84 89 96 Tentukan: a. Q1, Q2, dan Q3; b. jangkauan inter kuartil (H); c. jangkauan semi inter kuartil (Qd); d. langkah (L). 4. Diketahui data seperti pada tabel di samping. Tentukan Q1, Q2, dan Q3. 5. Dalam pengukuran berat badan terhadap 80 siswa kelas XI IPA seperti digambarkan tabel di samping. Tentukan kuartil bawah (Q1), median (Q2), dan kuartil atas (Q3). Data f 41 45 46 50 51 55 56 60 61 65 66 70 3 6 10 12 5 4 Berat Badan (kg) f 35 39 40 44 45 49 50 54 55 59

60 64 65 69 3 11 16 25 15 9 1 38 Matematika SMA dan MA Kelas XI Program IPA

39Statistika 6. Dari data: 14, 12, 8, 6, 15, 10, 2, 9, 4, 3, tentukan: a. desil ke-2, c. persentil ke-30, b. desil ke-4, d. persentil ke-75, 7. Berdasarkan data yang disajikan pada tabel di atas, tentukanlah: a. desil ke-5, c. persentil ke-34, b. desil ke-8, d. persentil ke-79. Berat Badan (kg) Frekuensi 41 45 46 50 51 55 56 60 61 65 3 6 16 8 7 3. Ukuran Penyebaran Ukuran pemusatan yaitu mean, median dan modus, merupakan informasi yang memberikan penjelasan kecenderungan data sebagai wakil dari beberapa data yang ada. Adapun ukuran penyebaran data memberikan gambaran seberapa besar data menyebar dari titik-titik pemusatan. Ukuran penyebaran meliputi jangkauan (range), simpangan rata-rata (deviasi ratar ata) dan simpangan baku (deviasi standar). a. Jangkauan (Range) Ukuran penyebaran yang paling sederhana (kasar) adalah jangkauan (range) atau rentangan nilai, yaitu selisih antara data terbesar dan data terkecil. 1) Range data tunggal Untuk range data tunggal dirumuskan dengan: R = xmaks xmin Pelajarilah contoh soal berikut ini. Contoh soal Tentukan range dari data-data di bawah ini. 6, 7, 3, 4, 8, 3, 7, 6, 10, 15, 20 Penyelesaian Dari data di atas diperoleh xmaks = 20 dan xmin = 3 Jadi, R = xmaks xmin = 20 3 = 17 Statistika 6. Dari data: 14, 12, 8, 6, 15, 10, 2, 9, 4, 3, tentukan: a. desil ke-2, c. persentil ke-30, b. desil ke-4, d. persentil ke-75, 7. Berdasarkan data yang disajikan pada tabel di atas, tentukanlah: a. desil ke-5, c. persentil ke-34, b. desil ke-8, d. persentil ke-79. Berat Badan (kg) Frekuensi 41 45 46 50 51 55 56 60 61 65 3 6 16 8

7 3. Ukuran Penyebaran Ukuran pemusatan yaitu mean, median dan modus, merupakan informasi yang memberikan penjelasan kecenderungan data sebagai wakil dari beberapa data yang ada. Adapun ukuran penyebaran data memberikan gambaran seberapa besar data menyebar dari titik-titik pemusatan. Ukuran penyebaran meliputi jangkauan (range), simpangan rata-rata (deviasi ratar ata) dan simpangan baku (deviasi standar). a. Jangkauan (Range) Ukuran penyebaran yang paling sederhana (kasar) adalah jangkauan (range) atau rentangan nilai, yaitu selisih antara data terbesar dan data terkecil. 1) Range data tunggal Untuk range data tunggal dirumuskan dengan: R = xmaks xmin Pelajarilah contoh soal berikut ini. Contoh soal Tentukan range dari data-data di bawah ini. 6, 7, 3, 4, 8, 3, 7, 6, 10, 15, 20 Penyelesaian Dari data di atas diperoleh xmaks = 20 dan xmin = 3 Jadi, R = xmaks xmin = 20 3 = 17

Matematika SMA dan MA Kelas XI Program IPA 402) Range data bergolong Untuk data bergolong, nilai tertinggi diambil dari nilai tengah kelas tertinggi dan nilai terendah diambil dari nilai kelas yang terendah. Contoh soal Tentukan range dari tabel berikut ini. Penyelesaian Nilai tengah kelas terendah = 35 2 + = 4 Nilai tengah kelas tertinggi = 18 20 2 + = 19 Jadi, R = 19 4 = 15. b. Simpangan Rata-Rata (Deviasi Rata-Rata) Simpangan rata-rata suatu data adalah nilai rata-rata dari selisih setiap data d engan nilai rataan hitung. 1) Simpangan rata-rata data tunggal Simpangan rata-rata data tunggal dirumuskan sebagai berikut. SR = 1 1 n i i x x n = -S Nilai Frekuensi 3 5 6 8 9 11 12 14 15 17 18 20 3 6 16 8 7 10 Perhatikan contoh soal berikut ini. Contoh soal Diketahui data: 7, 6, 8, 7, 6, 10, 5. Tentukan simpangan rata-ratanya. Penyelesaian x = 7 6 8 7 6 10 5 49 7 7 +++++ + = = 7 SR = 7 1 { 7 7 + 6 7 + 8 7 + 7 7 + 6 7 + 10 7 + 5 7 } = 7 1 { 0 + 1 + 1 + 0 + 1 + 3 + 2 } Keterangan: SR = simpangan rata-rata n = ukuran data xi = data ke-i dari data x1, x2, x3, , x n x = rataan hitung 2) Range data bergolong Untuk data bergolong, nilai tertinggi diambil dari nilai tengah kelas tertinggi dan nilai terendah diambil dari nilai kelas yang terendah. Contoh soal

Tentukan range dari tabel berikut ini. Penyelesaian Nilai tengah kelas terendah = 35 2 + = 4 Nilai tengah kelas tertinggi = 18 20 2 + = 19 Jadi, R = 19 4 = 15. b. Simpangan Rata-Rata (Deviasi Rata-Rata) Simpangan rata-rata suatu data adalah nilai rata-rata dari selisih setiap data d engan nilai rataan hitung. 1) Simpangan rata-rata data tunggal Simpangan rata-rata data tunggal dirumuskan sebagai berikut. SR = 1 1 n i i x x n = -S Nilai Frekuensi 3 5 6 8 9 11 12 14 15 17 18 20 3 6 16 8 7 10 Perhatikan contoh soal berikut ini. Contoh soal Diketahui data: 7, 6, 8, 7, 6, 10, 5. Tentukan simpangan rata-ratanya. Penyelesaian x = 7 6 8 7 6 10 5 49 7 7 +++++ + = = 7 SR = 7 1 { 7 7 + 6 7 + 8 7 + 7 7 + 6 7 + 10 7 + 5 7 } = 7 1 { 0 + 1 + 1 + 0 + 1 + 3 + 2 } Keterangan: SR = simpangan rata-rata n = ukuran data xi = data ke-i dari data x1, x2, x3, , x n x = rataan hitung

41Statistika = 7 1 (0 + 1 + 1 + 0 + 1 + 3 + 2) = 7 8 = 1 7 1 2) Simpangan rata-rata data bergolong Simpangan rata-rata data bergolong dirumuskan: SR= 1 1 n i i i n i i fx x f = = -S S Pelajarilah contoh soal berikut ini. Contoh soal Tentukan simpangan rata-rata pada tabel berikut ini. Penyelesaian 6 1 6 1 6.300 40 i i i i i fx x f = = · = = S S = 157,5 Jadi, SR= 6 1 6 1 i i i i i fx x f = =

-S S = 260 40 = 5,15. Nilai fi xi fi ·xi xi x fi xi 141 145 146 150 151 155 156 160 161 165 166 170 2 4 8 12 10 4 143 148 153 158 163 168 286 592 1.224 1.896 1.630 672 14,5 9,5 4,5 0,5 5,5 10,5 29 38 36 6 55 42 Jumlah 40 6.300 260 Nilai Frekuensi 141 145 146 150 151 155 156 160 161 165 166 170 2 4 8 12 10 4 Statistika = 7 1 (0 + 1 + 1 + 0 + 1 + 3 + 2) = 7 8 = 1 7

x

1 2) Simpangan rata-rata data bergolong Simpangan rata-rata data bergolong dirumuskan: SR= 1 1 n i i i n i i fx x f = = -S S Pelajarilah contoh soal berikut ini. Contoh soal Tentukan simpangan rata-rata pada tabel berikut ini. Penyelesaian 6 1 6 1 6.300 40 i i i i i fx x f = = · = = S S = 157,5 Jadi, SR= 6 1 6 1 i i i i i fx x f = = -S S = 260 40 = 5,15. x fi xi x Nilai fi xi fi ·xi xi 141 145

146 150 151 155 156 160 161 165 166 170 2 4 8 12 10 4 143 148 153 158 163 168 286 592 1.224 1.896 1.630 672 14,5 9,5 4,5 0,5 5,5 10,5 29 38 36 6 55 42 Jumlah 40 6.300 260 Nilai Frekuensi 141 145 146 150 151 155 156 160 161 165 166 170 2 4 8 12 10 4

c. Simpangan Baku (Deviasi Standar) Sebelum membahas simpangan baku atau deviasi standar, perhatikan contoh berikut. Kamu tentu tahu bahwa setiap orang memakai sepatu yang berbeda ukurannya. Ada yang berukuran 30, 32, 33, ... , 39, 40, dan 41. Perbedaan ini dimanfaatkan oleh ahli-ahli statistika untuk melihat penyebaran data dalam suatu populasi. Perbedaan ukuran sepatu biasanya berhubungan dengan tinggi badan manusia. Seorang ahli matematika Jerman, Karl Ganss mempelajari penyebaran dari berbagai macam data. Ia menemukan istilah deviasi standar untuk menjelaskan penyebaran yang terjadi. Saat ini, ilmuwan menggunakan deviasi standar atau simpangan baku untuk mengestimasi akurasi pengukuran. Deviasi standar adalah akar dari jumlah kuadrat deviasi dibagi banyaknya data. 1) Simpangan baku data tunggal Simpangan baku/deviasi standar data tunggal dirumuskan sebagai berikut. s = 2 2 1 1 ( 1) n n i i i x nn x = = . . - . . . . S S untuk n < 30 atau merupakan data sampel s = 2 1 ( ) 1 n i i x x n = S untuk n > 30 atau merupakan data populasi n Catatan: n = S fi i =1 Rumus tersebut dapat pula diubah ke bentuk berikut ini.

s = 2 2 1 1 ( 1) n n ii i i n x nn x = = . . - . . . . S S untuk n < 30 atau merupakan data sampel s = 2 2 1 1 2 n n ii i i n x n x = = . .- . . . . S S untuk n > 30 atau merupakan data populasi Untuk lebih jelasnya, perhatikan contoh soal berikut ini. Contoh soal Dari 40 siswa kelas XI IPA diperoleh nilai yang mewakili adalah 7, 9, 6, 3, dan 5. Tentukan simpangan baku dari data tersebut. 42 Matematika SMA dan MA Kelas XI Program IPA

43Statistika Penyelesaian 796 3 5 30 5 5x ++++ = = = 6 s= 5 2 1 ( ) 1 i i x x n = S = 20 551 = - = 2,24 Atau dengan menggunakan rumus berikut ini. s = 25 52 1 1 ( 1) ii i i n x nn x = = . . -. . . . S S = 5 (200) 900 5(5 1) · = 1.000 900 54 · = 100 20 = 5 = 2,24 Jadi ragam = 5 dan simpangan baku = 2,24. 2) Simpangan baku data bergolong Simpangan baku data bergolong dirumuskan berikut ini. s= ( )2 1 1 n i i

i fx x n = S untuk n < 30 atau merupakan data sampel s= 2 1 ( ) n i i i fx x n = -S untuk n> 30 atau merupakan data populasi Nilai (x) xi x (x x)2 x2 3 5 6 7 9 -3 -1 0 1 3 9 1 0 1 9 9 25 36 49 81 30 20 200 Statistika Penyelesaian 796 3 5 30 5 5x ++++ = = = 6 s= 5 2 1 ( ) 1 i i x x n = S

= 20 551 = - = 2,24 Atau dengan menggunakan rumus berikut ini. s = 25 52 1 1 ( 1) ii i i n x nn x = = . . -. . . . S S = 5 (200) 900 5(5 1) · = 1.000 900 54 · = 100 20 = 5 = 2,24 Jadi ragam = 5 dan simpangan baku = 2,24. 2) Simpangan baku data bergolong Simpangan baku data bergolong dirumuskan berikut ini. s= ( )2 1 1 n i i i fx x n = S untuk n < 30 atau merupakan data sampel s= 2 1 ( ) n i i i fx x n = -S

untuk n> 30 atau merupakan data populasi Nilai (x) xi x (x x)2 x2 3 5 6 7 9 -3 -1 0 1 3 9 1 0 1 9 9 25 36 49 81 30 20 200

Matematika SMA dan MA Kelas XI Program IPA 44Rumus di atas dapat pula diubah ke bentuk berikut ini. s= 2 2 1 1 ( 1) n n i i i i i i n fx fx nn = = . . - . . . . S S untuk n < 30 atau merupakan data sampel s= 2 2 1 1 2 n n i i i i i i n fx fx n = = . . - . . . . S S untuk n> 30 atau merupakan data sampel Untuk lebih jelasnya, perhatikan contoh soal berikut ini. Contoh soal Hasil tes Matematika 30 siswa kelas XI IPA seperti ditunjukkan pada tabel di samping. Berdasarkan data tersebut, tentukan simpangan bakunya. Penyelesaian 5 1 490 30 i i i fx x n = · = = S = 16,33 s = 5 2 1 ( )

836,7 27,89 30 i i i i fx x n = = = S = 5,28 Nilai Frekuensi Nilai fi Titik Tengah (xi) fi xi xi x (xi x)2 fi (xi -x)2 fi. x2 5 9 10 14 15 19 20 24 25 29 3 8 11 6 2 7 12 17 22 27 21 96 187 132 54 -9,33 -4,33 0,67 5,67 10,67 87,05 18,75 0,45 32,15 113,85 261,15 150 4,95 192,9 227,7 147 1.152 3.179 2.904 1.458 Jumlah 30 490 836,7 8.840 5 9 10 14 15 19 20 24 25 29

3 8 11 6 2 2 2 1 1 ( 1) n n i i i i i i n fx fx nn = = . . - . . . . S S untuk n < 30 atau merupakan data sampel s= 2 2 1 1 2 n n i i i i i i n fx fx n = = . . - . . . . S S untuk n> 30 atau merupakan data sampel Untuk lebih jelasnya, perhatikan contoh soal berikut ini. Contoh soal Hasil tes Matematika 30 siswa kelas XI IPA seperti ditunjukkan pada tabel di samping. Berdasarkan data tersebut, tentukan simpangan bakunya. Penyelesaian 5 1 490 30 i i i fx x n = · = = S = 16,33 s = 5 2 1

( ) 836,7 27,89 30 i i i i fx x n = = = S = 5,28 Nilai Frekuensi Nilai fi Titik Tengah (xi) fi xi xi x (xi x)2 fi (xi -x)2 fi. x2 5 9 10 14 15 19 20 24 25 29 3 8 11 6 2 7 12 17 22 27 21 96 187 132 54 -9,33 -4,33 0,67 5,67 10,67 87,05 18,75 0,45 32,15 113,85 261,15 150 4,95 192,9 227,7 147 1.152 3.179 2.904 1.458 Jumlah 30 490 836,7 8.840 5 9 10 14 15 19 20 24

25 3 8 11 6 2

29

45Statistika Atau dapat digunakan rumus ke-2 sebagai berikut: s = 25 5 2 1 1 2 ()i i i i i n fx f x n = = . . - ·. . . . S S = 2 2 30 8 840 (490) 30 · · = 265.200 240.100 900 = 25.100 27,88 900 = = 5,28 d. Ragam atau Variansi Jika simpangan baku atau deviasi standar dilambangkan dengan s, maka ragam atau variansi dilambangkan dengan s2. I. Buatlah kelasmu menjadi beberapa kelompok untuk mengerjakan tugas berikut. Tentukan ragam dari data : a. 6, 3, 2, 11, 8 b. Nilai Frekuensi 48 40 49 57 58 66 67 75 76 84 85 93 4 12 10 8 4 2 1.7Kerjakan soal-soal di bawah ini dengan benar. 1. Tentukan simpangan rata-rata dari data berikut: a. 6, 8, 11, 3, 2 b. 2, 4, 6, 2, 1 Statistika Atau dapat digunakan rumus ke-2 sebagai berikut: s = 25 5 2 1 1 2

()i i i i i n fx f x n = = . . - ·. . . . S S = 2 2 30 8 840 (490) 30 · · = 265.200 240.100 900 = 25.100 27,88 900 = = 5,28 d. Ragam atau Variansi Jika simpangan baku atau deviasi standar dilambangkan dengan s, maka ragam atau variansi dilambangkan dengan s2. I. Buatlah kelasmu menjadi beberapa kelompok untuk mengerjakan tugas berikut. Tentukan ragam dari data : a. 6, 3, 2, 11, 8 b. Nilai Frekuensi 48 40 49 57 58 66 67 75 76 84 85 93 4 12 10 8 4 2 1.7Kerjakan soal-soal di bawah ini dengan benar. 1. Tentukan simpangan rata-rata dari data berikut: a. 6, 8, 11, 3, 2 b. 2, 4, 6, 2, 1

2. Tentukan simpangan baku dari data: a. 3, 11, 2, 8, 6 b. 4, 6, 5, 7, 3 3. Data umur dari 30 orang disajikan pada tabel di samping. Tentukan: a. deviasi standar, b. variansi. 4. Data berat badan 30 siswa disajikan pada tabel di samping. Tentukan: a. deviasi standar, b. variansi. Umur Frekuensi 1 5 6 10 11 15 16 20 21 25 2 7 5 9 6 Berat Badan (kg) Frekuensi 21 25 26 30 31 35 36 40 41 45 46 50 2 8 9 6 3 2 1. Statistika adalah cabang dari Matematika terapan yang mempunyai cara-cara mengumpulkan dan menyusun data, mengolah dan menganalisis data, serta menyajikan data dalam bentuk kurva atau diagram, menarik kesimpulan, menafsirkan parameter dan menguji hipotesa yang didasarkan pada hasil pengolahan data. 2. Diagram garis Penyajian data statistik dengan menggunakan diagram berbentuk garis lurus disebut diagram garis lurus atau diagram garis. 3. Diagram lingkaran Diagram lingkaran adalah penyajian data statistik dengan menggunakan gambar yang berbentuk lingkaran. 4. Diagram batang Diagram batang menunjukkan keterangan-keterangan dengan batang-batang tegak atau mendatar dan sama lebar dengan batang-batang terpisah. 5. Diagram batang daun Diagram ini terdiri dari dua bagian, yaitu batang dan daun. Bagian batang memuat angka puluhan dan bagian daun memuat angka satuan. 2. Tentukan simpangan baku dari data: a. 3, 11, 2, 8, 6 b. 4, 6, 5, 7, 3

3. Data umur dari 30 orang disajikan pada tabel di samping. Tentukan: a. deviasi standar, b. variansi. 4. Data berat badan 30 siswa disajikan pada tabel di samping. Tentukan: a. deviasi standar, b. variansi. Umur Frekuensi 1 5 6 10 11 15 16 20 21 25 2 7 5 9 6 Berat Badan (kg) Frekuensi 21 25 26 30 31 35 36 40 41 45 46 50 2 8 9 6 3 2 1. Statistika adalah cabang dari Matematika terapan yang mempunyai cara-cara mengumpulkan dan menyusun data, mengolah dan menganalisis data, serta menyajikan data dalam bentuk kurva atau diagram, menarik kesimpulan, menafsirkan parameter dan menguji hipotesa yang didasarkan pada hasil pengolahan data. 2. Diagram garis Penyajian data statistik dengan menggunakan diagram berbentuk garis lurus disebut diagram garis lurus atau diagram garis. 3. Diagram lingkaran Diagram lingkaran adalah penyajian data statistik dengan menggunakan gambar yang berbentuk lingkaran. 4. Diagram batang Diagram batang menunjukkan keterangan-keterangan dengan batang-batang tegak atau mendatar dan sama lebar dengan batang-batang terpisah. 5. Diagram batang daun Diagram ini terdiri dari dua bagian, yaitu batang dan daun. Bagian batang memuat angka puluhan dan bagian daun memuat angka satuan. 46 Matematika SMA dan MA Kelas XI Program IPA

6. Diagram kotak garis Data statistik yang dipakai untuk menggambarkan diagram kotak garis adalah statistik lima serangkai, yang terdiri dari data ekstrim (data terkecil dan data terbesar), Q1, Q2, dan Q3. 7. Histogram adalah diagram batang yang batang-batangnya berimpit. Poligon frekuensi adalah garis yang menghubungkan titik-titik tengah puncakpunca k histogram. 8. Ogive ada dua macam yaitu ogive naik dan ogive turun. 9. Rataan n S xi i =1 a. Data tunggal: x = n n fx S i · i i=1 b. Data bergolong: x = n S fi n i=1 S fd i · i i = 1 c. Rataan dengan rataan sementara: x = xs + S n fi i = 1 10. Median data bergolong . 12 NF . . . Me = b + l .

f . .. 11. Modus data bergolong Modus adalah ukuran yang sering muncul. . d . Mo = b + l . 1 . d + d . 12 . 12. Kuartil data bergolong . iN - F . 4 . . Qi = b + l . f . .. 13. Jangkauan kuartil: JQ = Q3 Q1 Jangkauan semi interkuartil: Q= 1 (Q d 231 14. Desil dan persentil ( 1) in + Desil : D = i10 in · .. - F . 10 . Di = b + l . f . ..

Q)

Statistika 47

( 1) in+ Persentil: P= i 100 in · .. - F . 100 . P= b+ l i. f . .. 15. Range R= x x maksmin 16. Simpangan rata-rata (deviasi rata-rata) Untuk data tunggal: SR= ixx-1 S n n i=1 n Untuk data bergolong: SR= 1 ii i= fx x-S n S fi i=1 17. Simpangan baku (deviasi standar) a. Untuk data tunggal 2 nn 2 .. 2 S xi -.S x.S n (xi - x) i=1 . i=1 . i=1

s= atau s = ( -1) nn n 1 untuk n< 30 untuk n> 30 nn nn 22 2 ..2 nS xi - . .S xi. . nS xi -.S xi. i=1 . i=1 . i=1 i=1 .. s= atau s= ( -1) 2 nn n untuk x< 30 untuk n> 30 b. Untuk data bergolong n ( -)2 nfx- x)2 fx x ( S ii Sii i=1 i=1 s= atau s = n-1 n untuk n< 30 untuk n> 30 22 nn nn 2 .. 2 .. n fx fx i

S fx i i - .S ii. nS fx i i - .Si . i=1 . i=1 . i=1 . i=1 . s= atau s= ( -1) 2 nn n untuk x< 30 untuk n> 30 48 Matematika SMA dan MA Kelas XI Program IPA

I. Pilihlah salah satu jawaban yang paling tepat. 1. Dari jumlah lulusan suatu SMA yang diterima 100 jumlah siswa diterima di Perguruan Tinggi Negeri tahun 1996 80 2003 disajikan dalam diagram di samping. 60 Menurut diagram garis di samping, prestasi 40 yang paling buruk terjadi pada tahun . 20 a. 1996 1997 0 b. 1998 1999 c. 1999 2000 d. 2000 2001 e. 2002 2003 2. Dari 400 siswa diperoleh data tentang pekerjaan orang tua/wali. Data tersebut ji ka disajikan dalam diagram lingkaran sebagai berikut. Berdasar data di bawah ini, p ernyataan 96 97 98 99 '00 '01 '02 '03 '04 Tahun yang benar adalah . a. jumlah PNS 12 orang b. jumlah wiraswasta 90 orang c. jumlah pedagang 135 orang d. jumlah TNI/Polri 27 orang e. jumlah TNI 15 orang Wiraswasta 90o 135o Pedagang PNS 108o 27o TNI/Polri 3. Jika rata-rata nilai ujian pada tabel di bawah ini sama dengan 6, maka a = Nilai Ujian 3 4 8 9 a

.

Frekuensi 10 5 6 3 6 a. 9 6 1 d. 9 6 4 b. 9 3 1 e. 9 6 5 4. c. 9 2 1 Perhatikan diagram kotak garis di samping. Dari diagram kotak garis tersebut nilai jangkauan dan jangkauan semi interkuartil berturut-turut adalah . 40 Q1 = 52 50 Q2 = 62 60 Q3 = 73 70 80 a. 41 dan 10 d. 47 dan 10 b. 47 dan 11 e. 47 dan 10,5 c. 23,5 dan 10,5 31 78 Statistika 49

Matematika SMA dan MA Kelas XI Program IPA 50Interval Frekuensi 30 39 40 49 50 59 60 69 70 79 80 89 90 99 1 3 11 21 43 32 9 5. Nilai rata-rata dari data yang ditunjukkan oleh grafik di samping ini adalah . a. 5,6 b. 6 c. 6,6 d. 7 e. 7,6 6. Hasil tes Matematika terhadap 20 siswa digambarkan pada diagram batang daun di samping. Banyaknya siswa yang memperoleh nilai < 5 adalah . a. 2 b. 4 c. 7 d. 9 e. 13 7. Median dari data pada tabel di samping adalah . a. 11,83 b. 12,83 c. 13,83 d. 12,17 e. 14,35 8. Modus dari data yang disajikan pada tabel distribusi frekuensi di samping adalah . a. 59,18 b. 60,12 c. 65,12 d. 68,12 e. 68,18 9. Kuartil bawah dari data yang disajikan pada tabel frekuensi di samping adalah . a. 66,9 b. 66,6 c. 66,2 d. 66,1 e. 66,0 Batang Daun 3 4 5 6 7 8

9 1, 2 3, 5 2, 7, 9 3, 4 4, 5, 8, 9 1, 3, 3, 6, 7 2, 6 Interval Frekuensi 50 54 55 59 60 64 65 69 70 74 75 79 80 84 4 8 14 35 27 9 3 5 15 25 35 5 6 7 8 9 5 25 20 35 frekuensi Nilai Interval Frekuensi 1 5 6 10 11 15 16 20 21 25 8 12 15 8 7 Interval Frekuensi 30 39 40 49 50 59 60 69 70 79 80 89 90 99 1 3 11 21 43 32 9

5. Nilai rata-rata dari data yang ditunjukkan oleh grafik di samping ini adalah . a. 5,6 b. 6 c. 6,6 d. 7 e. 7,6 6. Hasil tes Matematika terhadap 20 siswa digambarkan pada diagram batang daun di samping. Banyaknya siswa yang memperoleh nilai < 5 adalah . a. 2 b. 4 c. 7 d. 9 e. 13 7. Median dari data pada tabel di samping adalah . a. 11,83 b. 12,83 c. 13,83 d. 12,17 e. 14,35 8. Modus dari data yang disajikan pada tabel distribusi frekuensi di samping adalah . a. 59,18 b. 60,12 c. 65,12 d. 68,12 e. 68,18 9. Kuartil bawah dari data yang disajikan pada tabel frekuensi di samping adalah . a. 66,9 b. 66,6 c. 66,2 d. 66,1 e. 66,0 Batang Daun 3 4 5 6 7 8 9 1, 2 3, 5 2, 7, 9 3, 4 4, 5, 8, 9 1, 3, 3, 6, 7 2, 6 Interval Frekuensi 50 54 55 59 60 64 65 69 70 74 75 79 80 84

4 8 14 35 27 9 3 5 15 25 35 5 6 7 8 9 5 25 20 35 frekuensi Nilai Interval Frekuensi 1 5 6 10 11 15 16 20 21 25 8 12 15 8 7

10. Rata-rata data pada tabel di samping jika dipilih ratarata sementara 75,5 adalah . Nilai Frekuensi 51 60 8 61 70 16 71 80 24 81 90 20 91 100 12 a. 67,5 b. 69,5 c. 7,15 d. 76 e. 77 11. Data penimbangan berat badan terhadap 10 siswa dalam kg adalah : 50, 39, 36, 42, 34, 50, 47, 39, 44, 4. Nilai statistika lima serangkai dari data tersebut adalah . a. 34, 38, 41, 47, 50 d. 33, 38, 41, 47, 50 b. 34, 39, 41, 48, 50 e. 33, 38, 42, 48, 50 c. 34, 39, 42, 47, 50 12. Diketahui data : 23, 22, 29, 32, 21, 24, 24, 23, 25, 30, 31, 26, 27, 27, 28, 24, 25, 31, 26, 26, 27, 28, 30, 29, 28, 29, 28, 26, 27, 27. Jika dibuat interval kelas dengan tepi b awah 19,5 dan lebar kelas 3, maka banyak interval adalah . a. 4 d.7 b. 5 e. 8 c. 6 13. Nilai dari D3 dan D9 (D = desil) dari data di bawah ini berturut-turut adala h . 40 424653586062 636366686868 7072 73 747677787879 808284858890 9296 a. 63,5 dan 88,9 d. 65,5 dan 89,5 b. 63,9 dan 89,8 e. 66,4 dan 89 c. 65,4 dan 88 14. Modus dari data pada histogram di samping adalah . a. 25,0 b. 25,5 c. 26,0 d. 26,5 e. 27,0 24 6 8 10 f 13,5 18,5 23,5 28,5 33,5 15.

Nilai Frekuensi 40 48 4 49 57 12 58 66 10 67 75 8 76 84 4 85 93 2 Simpangan kuartil dari data di samping adalah . a. 21 b. 18 c. 14 d. 12 e. 9 Statistika 51

Matematika SMA dan MA Kelas XI Program IPA 52Berat Badan Frekuensi 41 50 51 60 61 70 71 80 81 90 1 7 10 6 2 Pukul 06.00 08.00 10.00 12.00 14.00 16.00 18.00 Kendaraan 0 14 18 20 12 8 16 16. Jangkauan dari data: 54, 59, 63, 71, 53, 63, 71, 75, 78, 80, 83 adalah . a. 30 d. 15 b. 29 e. 10 c. 20 17. Persentil ke-75 dari data: 8, 6, 4, 3, 2, 9, 10, 15, 12, 14 adalah . a. 11 d. 12,75 b. 11,5 e. 13 c. 12,5 18. Simpangan baku dari data: 7, 5, 6, 5, 7, 6, 8, 4, 8, 4, 6 adalah . a. 5511 2 d. 1155 2 b. 552 11 e. 1 c. 255 11 19. Diketahui data x1 = 3,5; x2 = 5,0; x3 = 6,0; dan x4 = 7,5; x5 = 8,0 maka sim pangan baku dari kelima data tersebut (deviasi standar) adalah . a. 0 d. 1,64 b. 0,94 e. 6 c. 1,0 12. Diketahui data di samping ini. Simpangan baku dari tabel di samping adalah . a. 6 3 d. 91 b. 7 2 e. 86 c. 4 6 II. Kerjakan soal-soal di bawah ini dengan benar. 1. Data banyak kendaraan yang parkir tiap dua jam dari pukul 06.00 sampai 18.00 disajikan dalam tabel sebagai berikut. a. Gambarlah data tersebut dalam diagram garis. b. Perkiraan banyak kendaraan yang parkir antara pukul 11.00 13.00. Berat Badan Frekuensi 41 50 51 60 61 70 71 80 81 90 1 7 10 6 2 Pukul 06.00 08.00 10.00 12.00 14.00 16.00 18.00 Kendaraan 0 14 18 20 12 8 16

16. Jangkauan dari data: 54, 59, 63, 71, 53, 63, 71, 75, 78, 80, 83 adalah . a. 30 d. 15 b. 29 e. 10 c. 20 17. Persentil ke-75 dari data: 8, 6, 4, 3, 2, 9, 10, 15, 12, 14 adalah . a. 11 d. 12,75 b. 11,5 e. 13 c. 12,5 18. Simpangan baku dari data: 7, 5, 6, 5, 7, 6, 8, 4, 8, 4, 6 adalah . a. 5511 2 d. 1155 2 b. 552 11 e. 1 c. 255 11 19. Diketahui data x1 = 3,5; x2 = 5,0; x3 = 6,0; dan x4 = 7,5; x5 = 8,0 maka sim pangan baku dari kelima data tersebut (deviasi standar) adalah . a. 0 d. 1,64 b. 0,94 e. 6 c. 1,0 12. Diketahui data di samping ini. Simpangan baku dari tabel di samping adalah . a. 6 3 d. 91 b. 7 2 e. 86 c. 4 6 II. Kerjakan soal-soal di bawah ini dengan benar. 1. Data banyak kendaraan yang parkir tiap dua jam dari pukul 06.00 sampai 18.00 disajikan dalam tabel sebagai berikut. a. Gambarlah data tersebut dalam diagram garis. b. Perkiraan banyak kendaraan yang parkir antara pukul 11.00 13.00.

53Statistika 2. Nilai ujian suatu mata pelajaran adalah sebagai berikut. Jika nilai siswa yang lebih rendah dari rata-rata dinyatakan tidak lulus, tentuk an banyaknya siswa yang tidak lulus. 3. Diketahui diagram batang daun hasil tes Matematika di kelas XI IPA sebagai be rikut. a. Tentukan jumlah siswa yang ikut tes Matematika. b. Tentukan nilai terendah dalam tes Matematika. c. Tentukan nilai tertinggi yang dicapai dalam tes. 4. Dari data di samping, tentukan rataannya dengan menggunakan rataan sementara. 5. Dari data di samping, tentukan modusnya. 6. Diketahui data seperti pada tabel di samping. Tentukan nilai: a. D4, D9 b. P30, P70 Nilai 5 6 7 8 9 10 Frek 3 5 4 6 1 1 Batang Daun 9 8 7 5 4 3 1 2, 7, 8 3, 4, 6 1, 3, 3, 7 4 2, 3, 5 Nilai Frekuensi 40 31 41 50 51 60 61 70 71 80 81 90 91 100 5 8 17 20 15 20 15 Data Frekuensi 1 5 6 10 11 15 16 20 21 25 26 30 4 5 10 12 3

1 Interval Frekuensi 150 154 155 159 160 164 165 169 170 174 6 25 65 92 100 Statistika 2. Nilai ujian suatu mata pelajaran adalah sebagai berikut. Jika nilai siswa yang lebih rendah dari rata-rata dinyatakan tidak lulus, tentuk an banyaknya siswa yang tidak lulus. 3. Diketahui diagram batang daun hasil tes Matematika di kelas XI IPA sebagai be rikut. a. Tentukan jumlah siswa yang ikut tes Matematika. b. Tentukan nilai terendah dalam tes Matematika. c. Tentukan nilai tertinggi yang dicapai dalam tes. 4. Dari data di samping, tentukan rataannya dengan menggunakan rataan sementara. 5. Dari data di samping, tentukan modusnya. 6. Diketahui data seperti pada tabel di samping. Tentukan nilai: a. D4, D9 b. P30, P70 Nilai 5 6 7 8 9 10 Frek 3 5 4 6 1 1 Batang Daun 9 8 7 5 4 3 1 2, 7, 8 3, 4, 6 1, 3, 3, 7 4 2, 3, 5 Nilai Frekuensi 31 40 41 50 51 60 61 70 71 80 81 90 91 100 5 8 17 20 15 20 15 Data Frekuensi

1 5 6 10 11 15 16 20 21 25 26 30 4 5 10 12 3 1 Interval Frekuensi 150 154 155 159 160 164 165 169 170 174 6 25 65 92 100

Matematika SMA dan MA Kelas XI Program IPA 54Berat Badan Frekuensi 40 43 44 47 48 51 52 57 58 61 Berat Badan Frekuensi 43 47 48 52 53 57 58 62 63 67 5 1 9 6 4 5 9 16 8 6 7. Tentukan median dari data yang disajikan pada tabel distribusi frekuensi di b awah ini. 8. Dari diagram kotak garis di atas tentukan: a. jangkauan, dan b. jangkauan semi interkuartil. 9. Berat badan siswa kelas XI IPA disajikan pada tabel berikut. Tentukan: a. statistik lima serangkai, b. hamparan. 10. Tentukan simpangan baku dari data yang disajikan dalam tabel di bawah ini. 40 50 60 70 80 31 78 Q3 = 73 Q1 = 52 Q2 = 62 Interval f 40 49 50 59 60 69 70 79 80 89 90 99 1 7 10 6 2 4 Berat Badan Frekuensi 40 43 44 47 48 51 52 57 58 61 Berat Badan Frekuensi 43 47 48 52 53 57

58 62 63 67 5 1 9 6 4 5 9 16 8 6 7. Tentukan median dari data yang disajikan pada tabel distribusi frekuensi di b awah ini. 8. Dari diagram kotak garis di atas tentukan: a. jangkauan, dan b. jangkauan semi interkuartil. 9. Berat badan siswa kelas XI IPA disajikan pada tabel berikut. Tentukan: a. statistik lima serangkai, b. hamparan. 10. Tentukan simpangan baku dari data yang disajikan dalam tabel di bawah ini. 40 50 60 70 80 31 78 Q3 = 73 Q1 = 52 Q2 = 62 Interval f 40 49 50 59 60 69 70 79 80 89 90 99 1 7 10 6 2 4

2 Peluang Aturan Perkalian, Permutasi, dan Kombinasi dalam Pemecahan Masalah Ruang Sampel Suatu Percobaan Peluang Suatu Kejadian dan Penafsirannya Pada era demokrasi saat ini untuk menduduki suatu jabatan tertentu selalu dilakukan dengan pemilihan, bahkan untuk menjadi ketua karang taruna juga harus dilakukan dengan pemilihan. Andaikan ada 5 calon ketua karang taruna yaitu Amin, Banu, Cory, Dadang, dan Erni, berapakah peluang Banu untuk menjadi ketua karang taruna? Istilah peluang banyak digunakan dalam kejadian yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Pada bab ini, kamu akan mempelajari kaidah pencacahan dan sifatsifa t peluang dalam pemecahan masalah serta berbagai hal yang terkait dengannya.

faktorial permutasi permutasi siklis kombinasi binomial peluang kejadian frekuensi harapan komplemen suatu kejadian Menggunakan aturan perkalian permutasi dan kombinasi Menentukan ruang sampel suatu percobaan Menentukan peluang suatu kejadian dan penafsiran Kisaran nilai peluang Definisi peluang suatu kejadian Frekuensi harapan Peluang komplemen suatu kejadian Peluang dua kejadian saling asing Peluang dua kejadian saling bebas Peluang kejadian bersyarat Aturan perkalian KombinasiPermutasi Aturan pengisian tempat Notasi faktorial Permutasi siklis Notasi permutasi Permutasi jika ada unsur yang sama Notasi kombinasi Peluang Binomial Newton faktorial permutasi permutasi siklis kombinasi binomial peluang kejadian frekuensi harapan komplemen suatu kejadian

Menggunakan aturan perkalian permutasi dan kombinasi Menentukan ruang sampel suatu percobaan Menentukan peluang suatu kejadian dan penafsiran Kisaran nilai peluang Definisi peluang suatu kejadian Frekuensi harapan Peluang komplemen suatu kejadian Peluang dua kejadian saling asing Peluang dua kejadian saling bebas Peluang kejadian bersyarat Aturan perkalian KombinasiPermutasi Aturan pengisian tempat Notasi faktorial Permutasi siklis Notasi permutasi Permutasi jika ada unsur yang sama Notasi kombinasi Peluang Binomial Newton 56 Matematika SMA dan MA Kelas XI Program IPA

A Aturan Perkalian, Permutasi, dan Kombinasi dalam Pemecahan Masalah 1. Aturan Perkalian a. Aturan Pengisian Tempat Dalam kehidupan sehari-hari sering kita mendengar istilah semua kemungkinan yang terjadi dalam suatu percobaan. Misalnya, seorang siswa tiap kali ulangan nilainya selalu kurang baik, adakah kemungkinan siswa itu naik kelas? Contoh soal 1. Tono mempunyai 3 buah baju berwarna putih, cokelat, dan batik. Ia juga memiliki 2 buah celana warna hitam dan putih yang berbeda. Ada berapa pasang baju dan celana dapat dipakai dengan pasangan yang berbeda? Jadi banyaknya pasangan baju dan celana secara bergantian sebanyak Jadi banyaknya pasangan baju dan celana secara bergantian sebanyak 2 + 2 + 2 = 6 cara. Penyelesaian Hitam Putih Cokelat Hitam Batik Cokelat Hitam Coklat Cokelat 3 × 2 = 6 cara. Dengan aturan jumlah: Warna atau jenis baju putih (p) cokelat (c) batik (b) Putih, Hitam Putih, Cokelat Batik, Hitam Batik, Cokelat Cokelat, Hitam

Cokelat, Cokelat warna celana hitam (h) cokelat (c) hitam (h) cokelat (c) hitam (h) cokelat (c) pasangan baju dan celana (p, h) (p, c) (c, h) (c, c) (b, h) (b, c) Peluang 57

2. Seorang ingin membuatkan plat nomor kendaraan yang terdiri dari 4 angka, padahal tersedia angka-angka 1, 2, 3, 4, 5 dan dalam plat nomor itu tidak boleh ada angka yang sama. Berapa banyak plat nomor dapat dibuat? Penyelesaian Untuk menjawab pertanyaan tersebut marilah kita pakai pengisian tempat kosong seperti terlihat pada bagan berikut. a b c d Dibuat 4 buah kotak kosong yaitu kotak (a), (b), (c) dan (d) sebab nomor kendaraan itu terdiri dari 4 angka. a 5 b 4 c 3 d a 5 b 4 c d a 5 b 4 c 3 d 2 a 5 b c d Kotak (a) dapat diisi angka 1, 2, 3, 4, atau 5 sehingga ada 5 cara. Kotak (b) hanya dapat diisi angka 5 1 = 4 cara karena 1 cara sudah diisikan di kotak (a). Kotak (c) hanya dapat diisi angka 5 2 = 3 cara karena 2 cara sudah diisikan di kotak (a) dan (b). Kotak (d) hanya dapat diisi angka 5 3 = 2 cara karena 3 cara sudah diisikan di kotak (a), (b), dan (c). Jadi, polisi itu dapat membuat plat nomor kendaraan sebanyak 5 × 4 × 3 × 2 = 120 plat nomor kendaraan. Dari contoh tersebut dapat disimpulkan, jika persoalan pertama dapat diselesaika n dengan a cara yang berlainan dan persoalan kedua dapat diselesaikan dengan b cara yang berlainan, maka persoalan pertama dan kedua dapat diselesaikan dengan a × b cara .

2.1 Kerjakan soal-soal di bawah ini dengan benar. 1. Untuk menuju kota C dari kota A harus melewati kota B. Dari kota A ke kota B melewati 4 jalur dan dari kota B ke kota C ada 3 jalur. Dengan berapa jalur Budi dapat pergi dari kota A ke kota C? 2. Amir mempunyai 5 kaos kaki dan 3 sepatu yang berlainan warna. Dengan berapa cara Amir dapat memakai sepatu dan kaos kaki? 58 Matematika SMA dan MA Kelas XI Program IPA

59Peluang 3. Badu mempunyai 5 baju, 3 celana panjang, dan 2 topi yang berlainan warna. Ada berapa pasangan baju, celana panjang, dan topi dapat dipakai? 4. Dari lima buah angka 2, 3, 5, 7, dan 9 akan disusun menjadi suatu bilangan ya ng terdiri dari 4 angka. Berapa banyak bilangan yang dapat disusun jika: a. angka-angka boleh berulang, b. angka-angkanya tidak boleh berulang? b. Notasi Faktorial Faktorial adalah hasil kali bilangan asli berurutan dari 1 sampai dengan n. Definisi: n! = 1 × 2 × 3 × × (n 2) × (n 1) × n atau n! = n × (n 1) × (n 2) × × 3 × 2 × 1 Untuk lebih memahami tentang faktorial, perhatikan contoh berikut. Contoh soal Hitunglah nilai dari: 1. 6! 3. 7! 4! 5. 8! 3! 6! ×2. 3! × 2! 4. 5! 4! × 3! Penyelesaian 1. 6! = 6 × 5 × 4 × 3 × 2 × 1 = 720 2. 3! × 2 ! = 3 × 2 × 1 × 2 × 1 = 6 × 2 = 12 3. 7! 4! = 7 × 6×5× 4× 3× 2×1 4×3× 2×1 = 7 × 6 × 5 = 210 4. 5! 4! × 3! = 5 432 1 432 1 ×××× ××× × 3 × 2 × 1 = 5 × 6 = 30 5. 8! 3! 6!× = 8× 7 × 6 × 5× 4 × 3 × 2 × 1 8× 7 = 3 × 2× 1 × 6× 5 × 4× 3 × 2× 1 6 = 28 Untuk setiap bilangan asli n, didefinisikan: n! = 1 × 2 × 3 × ... × (n 2) × (n 1) × n lambang atau notasi n! dibaca sebagai n faktorial untuk n > 2. Ingat!! 3. Badu mempunyai 5 baju, 3 celana panjang, dan 2 topi yang berlainan warna. Ada berapa pasangan baju, celana panjang, dan topi dapat dipakai? 4. Dari lima buah angka 2, 3, 5, 7, dan 9 akan disusun menjadi suatu bilangan ya ng terdiri dari 4 angka. Berapa banyak bilangan yang dapat disusun jika:

a. angka-angka boleh berulang, b. angka-angkanya tidak boleh berulang? b. Notasi Faktorial Faktorial adalah hasil kali bilangan asli berurutan dari 1 sampai dengan n. Definisi: n! = 1 × 2 × 3 × × (n 2) × (n 1) × n atau n! = n × (n 1) × (n 2) × × 3 × 2 × 1 Untuk lebih memahami tentang faktorial, perhatikan contoh berikut. Contoh soal Hitunglah nilai dari: 1. 6! 3. 7! 4! 5. 8! 3! 6! ×2. 3! × 2! 4. 5! 4! × 3! Penyelesaian 1. 6! = 6 × 5 × 4 × 3 × 2 × 1 = 720 2. 3! × 2 ! = 3 × 2 × 1 × 2 × 1 = 6 × 2 = 12 3. 7! 4! = 7 × 6×5× 4× 3× 2×1 4×3× 2×1 = 7 × 6 × 5 = 210 4. 5! 4! × 3! = 5 432 1 432 1 ×××× ××× × 3 × 2 × 1 = 5 × 6 = 30 5. 8! 3! 6!× = 8× 7 × 6 × 5× 4 × 3 × 2 × 1 8× 7 = 3 × 2× 1 × 6× 5 × 4× 3 × 2× 1 6 = 28 Untuk setiap bilangan asli n, didefinisikan: n! = 1 × 2 × 3 × ... × (n 2) × (n 1) × n lambang atau notasi n! dibaca sebagai n faktorial untuk n > 2. Ingat!!

Matematika SMA dan MA Kelas XI Program IPA 602.2Kerjakan soal-soal di bawah ini dengan benar. 1. Hitunglah: a. 6! 3! d. 5! 8! × 4! b. 10! 6! e. 12! 3!9! c. 5! × 2! 2. Nyatakan dalam notasi faktorial. a. 3 × 4 × 5 × 6 d. 98 7 12 3 ×× ×× b. 15 × 14 × 13 × 12 × 11 e. 5 43 12 3 ×× ×× c. 87 65 1 234 ××× ××× 3. Buktikan: a. 1 1 3 3! 4! 4! - = d. 5 1 10 1 7! 6! 8! 7! - + = b. 1 1 21 5! 3! 5! + = e. 8 1 5 2 8! 6! 7! 7! + - = c. 1 1 15 10 2! 4! 5! 4! + - = 4. Carilah n, jika ! ( 2)! ( 1)! n n n - = 1. 2. Permutasi a. Notasi Permutasi

Seorang pengusaha mebel ingin menulis kode nomor pada kursi buatannya yang terdiri dari 3 angka, padahal pengusaha itu hanya memakai angka-angka 1, 2, 3, 4 , dan 5. Angka-angka itu tidak boleh ada yang sama. Berapakah banyaknya kursi yang akan diberi kode nomor? 2.2Kerjakan soal-soal di bawah ini dengan benar. 1. Hitunglah: a. 6! 3! d. 5! 8! × 4! b. 10! 6! e. 12! 3!9! c. 5! × 2! 2. Nyatakan dalam notasi faktorial. a. 3 × 4 × 5 × 6 d. 98 7 12 3 ×× ×× b. 15 × 14 × 13 × 12 × 11 e. 5 43 12 3 ×× ×× c. 87 65 1 234 ××× ××× 3. Buktikan: a. 1 1 3 3! 4! 4! - = d. 5 1 10 1 7! 6! 8! 7! - + = b. 1 1 21 5! 3! 5! + = e. 8 1 5 2 8! 6! 7! 7! + - = c. 1 1 15 10 2! 4! 5! 4! + - = 4. Carilah n, jika ! ( 2)! ( 1)! n n n - -

= 1. 2. Permutasi a. Notasi Permutasi Seorang pengusaha mebel ingin menulis kode nomor pada kursi buatannya yang terdiri dari 3 angka, padahal pengusaha itu hanya memakai angka-angka 1, 2, 3, 4 , dan 5. Angka-angka itu tidak boleh ada yang sama. Berapakah banyaknya kursi yang akan diberi kode nomor?

Untuk menjawab hal tersebut marilah kita gambarkan 3 tempat kosong yang akan diisi dari 5 angka yang tersedia. a 5 b 4 c 3 Kotak (a) dapat diisi dengan 5 angka yaitu angka 1, 2, 3, 4, atau 5. Kotak (b) dapat diisi dengan 4 angka karena 1 angka sudah diisikan di kotak (a). Adapun kotak (c) hanya dapat diisi dengan 3 angka, sehingga banyaknya kursi yang akan diberi kode adalah 5 × 4 × 3 = 60 kursi. Susunan semacam ini disebut permutasi karena urutannya diperhatikan, sebab 125 tidak sama dengan 215 ataupun 521. Permutasi pada contoh ini disebut permutasi tiga-tiga dari 5 unsur dan dinotasik an dengan P5 atau P atau P, sehingga: 3(5.3)53 5P3 = 5 × 4 × 3 = 5 × (5 1) × (5 2)

= 5 × (5 1) × ..× (5 3 + 1), Secara umum dapat diperoleh kesimpulan sebagai berikut. Banyaknya permutasi dari nunsur diambil runsur dinotasikan: Atau dapat juga ditulis: ( -)( -- 1) 3 21 nrnr ·· nPr = n(n 1) (n n P r = n(n ( -)( -- 1) 3 21 nrnr ·· (n-1)( n-2) (nr 1)( -)( -- 1) 321 n -+ nrnr ·· = ( -)( -- 1) 2) ... (n r+ 1) 2) (n 3) (n r+ 1)

1) (n

3 21 ·· nrnr ( -1)( n-2) 321 nn ·· = ( -)( -- 1) 3 21 ·· nrnr n! P= nr (nr)! n P r = ! ( )! n nrPeluang 61

Matematika SMA dan MA Kelas XI Program IPA 62Untuk lebih memahami tentang permut asi, pelajarilah contoh berikut. Contoh soal 1. Tentukan nilai dari: a. 8P3 b. 4P4 Penyelesaian a. 8P3 = 8! 8! 87 6 5 432 1 (8 3)! 5! 5 4 3 2 1 ······· = = - ···· = 8 ·7 ·6 = 336 b. 4P4 = 4! 4! 4 3 2 1 (4 4)! 0! 1 ··· = = = 24 2. Tentukan nilai n bila (n 1)P2 = 20. Penyelesaian (n 1)P2 = 20 ( 1)! ( 1 2)! n n -- = 20 ( 1)! ( 3)! n n - = 20 ( 1)( 2) 3 2 1 ( 3)( 4) 3 2 1 n n n n - - ·· - - ·· = 20 (n 1) (n 2) = 20 n2 2n n + 2 = 20 n2 3n + 2 20 = 0 n2 3n 18 = 0 (n 6) (n + 3) = 0 Buatlah kelompok-kelompok dalam kelasmu, kemudian buktikan: n P n = n! 0! = 1 Cocokkan hasilnya dengan kelompok yang lain. Selanjutnya, adakan diskusi tentang materi ini. 8! 8! 87 6 5 432 1 (8 3)! 5! 5 4 3 2 1 ······· = = - ···· = 8 ·7 ·6 = 336 b. 4P4 = 4! 4! 4 3 2 1

(4 4)! 0! 1 ··· = = = 24 2. Tentukan nilai n bila (n Penyelesaian (n 1)P2 = 20 ( 1)! ( 1 2)! n n -- = 20 ( 1)! ( 3)! n n - = 20 ( 1)( 2) 3 2 1 ( 3)( 4) 3 2 1 n n n n - - ·· - - ··

1)P2 = 20.

= 20 (n 1) (n 2) = 20 n2 2n n + 2 = 20 n2 3n + 2 20 = 0 n2 3n 18 = 0 (n 6) (n + 3) = 0 Buatlah kelompok-kelompok dalam kelasmu, kemudian buktikan: n P n = n! 0! = 1 Cocokkan hasilnya dengan kelompok yang lain. Selanjutnya, adakan diskusi tentang materi ini.

n 6 = 0 atau n + 3 =0 n = 6 atau n = 3 Karena nbilangan positif maka n= 6. b. Permutasi Jika Ada Unsur yang Sama Untuk menghitung banyaknya permutasi jika ada unsur yang sama, marilah kita lihat contoh berikut. Berapakah banyaknya bilangan yang dapat disusun dari angka 2275 apabila tidak boleh ada angka-angka yang sama. Untuk menjawab soal tersebut dapat dipergunakan bagan di bawah ini. 2275 2 5 7 7 5

2257 2 5 2725 2 7 5 2

2752 2 7 2527 5 7 2

2572 Sama 2275 7 5 2 5 7 2257 2 5 2725 2 7 5 2

2752 2 7 2527 5 7 2

2572 2 5 7225 2 5 2

7252 Sama 2 5

7225 7 7252 7522 2 5 2 2 2 Sama 5 2 2

7522 2 7 5227 2 7 2

5272 Sama

2

7

5227 5 5272 5722 2 7 2 2 2 Sama 7 2 2

5722 Sehingga banyaknya permutasi 2275 ada 12 cara. Dari contoh dapat dijabarkan 4 × 3 = 12 atau permutasi 4 unsur dengan 2 unsur 4! sama ditulis: . Secara umum permutasi nunsur dengan punsur sama dan q n! unsur sama ditulis: !! pq 2! Peluang 63

Banyaknya permutasi nunsur yang memuat k, l, dan m unsur yang sama dapat ditentukan dengan rumus: P= ! !! ! n klm Contoh soal 1. Berapa banyak kata dapat disusun dari kata: a. AGUSTUS b. GAJAH MADA Penyelesaian a. AGUSTUS Banyaknya huruf = 7, banyaknya S= 2, banyaknya U= 2 7! 7654321 P= = 1.260 2!2! 2121 b. GAJAH MADA Banyaknya huruf = 9, banyaknya A = 4 9! 987654321 P= = 15.120 4! 4321 2. Berapa banyak bilangan 7 angka yang dapat disusun dari angka-angka: a. 4, 4, 4, 5, 5, 5, dan 7 b. 2, 2, 4, 4, 6, 6 dan 8 Penyelesaian a. 4, 4, 4, 5, 5, 5, dan 7 banyaknya angka = 7, banyaknya angka 4 = 3, banyaknya angka 5 = 3 = = P= 7! 7 65 43 2 1 3!3! 3 2 1 3 2 1 ······ = ·····

= 140 b. 2, 2, 4, 4, 6, 6, dan 8 banyaknya angka = 7, banyaknya angka 2 = 2, banyaknya angka 4 = 2 dan banyaknya angka 6 = 2 P= 7! 7 65 432 1 2!2!2! 2 1 2 1 2 1 ······ = ····· = 630 c. Permutasi Siklis Permutasi siklis adalah permutasi yang cara menyusunnya melingkar, sehingga banyaknya menyusun n unsur yang berlainan dalam lingkaran ditulis: 64 Matematika SMA dan MA Kelas XI Program IPA

65Peluang ! ( 1)( 2).....3 2 1 n nn n n n - - ·· = = (n 1) (n 2) .. 3.2.1 = (n 1)! atau P(siklis) = (n 1)! Contoh soal Pada rapat pengurus OSIS SMA X dihadiri oleh 6 orang yang duduk mengelilingi sebuah meja bundar. Berapakah susunan yang dapat terjadi? Penyelesaian P(siklis) = (6 1)! = 5! = 5 × 4 × 3 × 2 × 1 = 120 2.3Kerjakan soal-soal di bawah ini dengan benar. 1. Tentukan nilai dari: a. 5P3 b. 4P4 c. 6P4 5P2 d. 9P2 × 10P3 2. Tentukan njika diketahui: a. n P5 = 10 n P4 c. (n 1)P2 = 20 b. (n+ 1)P3 = n P4 d. n P2 = 6 3. Tersedia angka-angka 1, 2, 3, 4 akan dibentuk bilangan dengan empat angka tanpa memuat angka yang sama. Berapa banyak bilangan yang dapat dibentuk? 4. Dari 7 siswa akan dipilih 4 siswa untuk menjadi pengurus kelas, yaitu ketua, wakil ketua, sekretaris, dan bendahara. Berapa banyak susunan pengurus apabila setiap calon pengurus mempunyai kemungkinan yang sama untuk dipilih dan tidak ada pengurus yang rangkap? 5. Berapa banyak bilangan yang terdiri dari 6 angka yang dapat dibentuk dari ang kaangka berikut? a. 223456 c. 123123 b. 112278 d. 555566 6. Berapa banyak susunan huruf yang dapat disusun dari huruf-huruf berikut? a. UNSUR c. STATISTIKA b. GUNUNG d. MATEMATIKA 7. Terdapat 7 siswa sedang belajar di taman membentuk sebuah lingkaran. Ada berapa cara mereka duduk dengan membentuk sebuah lingkaran? ! ( 1)( 2).....3 2 1 n nn n n n - - ·· = = (n 1) (n 2) .. 3.2.1 = (n 1)! atau P(siklis) = (n 1)! Contoh soal Pada rapat pengurus OSIS SMA X dihadiri oleh 6 orang yang duduk mengelilingi sebuah meja bundar. Berapakah susunan yang dapat terjadi? Penyelesaian P(siklis) = (6 1)! = 5! = 5 × 4 × 3 × 2 × 1 = 120 2.3Kerjakan soal-soal di bawah ini dengan benar. 1. Tentukan nilai dari: a. 5P3 b. 4P4 c. 6P4 5P2 d. 9P2 × 10P3 2. Tentukan njika diketahui: a. n P5 = 10 n P4 c. (n 1)P2 = 20 b. (n+ 1)P3 = n P4 d. n P2 = 6 3. Tersedia angka-angka 1, 2, 3, 4 akan dibentuk bilangan dengan empat angka tanpa memuat angka yang sama. Berapa banyak bilangan yang dapat dibentuk? 4. Dari 7 siswa akan dipilih 4 siswa untuk menjadi pengurus kelas, yaitu ketua, wakil ketua, sekretaris, dan bendahara. Berapa banyak susunan pengurus apabila setiap calon pengurus mempunyai kemungkinan yang sama untuk dipilih dan tidak ada pengurus yang rangkap?

5. Berapa banyak bilangan yang terdiri dari 6 angka yang dapat dibentuk dari ang kaangka berikut? a. 223456 c. 123123 b. 112278 d. 555566 6. Berapa banyak susunan huruf yang dapat disusun dari huruf-huruf berikut? a. UNSUR c. STATISTIKA b. GUNUNG d. MATEMATIKA 7. Terdapat 7 siswa sedang belajar di taman membentuk sebuah lingkaran. Ada berapa cara mereka duduk dengan membentuk sebuah lingkaran?

3. Kombinasi a. Notasi Kombinasi Pada waktu kenaikan kelas dari kelas X ke kelas XI, siswa yang naik akan memasuki jurusan masing-masing. Ada yang IPA, IPS, maupun Bahasa. Oleh karena itu, diadakan perpisahan kelas dengan jalan berjabat tangan. Kita contohkan ada 3 siswa saling berjabat tangan misalkan Adi, Budi, dan Cory. Ini dapat ditulis Adi Budi, Adi-Cory, Budi-Adi, Budi-Cory, Cory-Adi, Cory-Budi. Dalam himpunan Adi berjabat tangan dengan Budi ditulis {Adi, Budi}. Budi berjabat tangan dengan Adi ditulis {Budi, Adi}. Antara {Adi, Budi} dan {Budi, Adi} menyatakan himpunan yang sama, berarti keduanya merupakan kombinasi yang sama. Di lain pihak Adi Budi, Budi Adi menunjukkan urutan yang berbeda yang berarti merupakan permutasi yang berbeda. Dari contoh dapat diambil kesimpulan: Permutasi = Adi Budi, Adi Cory, Budi = 6 karena urutan diperhatikan Kombinasi = Adi Budi, Adi Cory, Budi = 3 karena urutan tidak diperhatikan Sehingga 6 = permutasi Kombinasi = 3 = 22 Jika kombinasi dari 3 unsur diambil 2 unsur ditulis: P 3! 3C2 = 32= 2 2! (3 - 2)! Secara umum dapat disimpulkan bahwa: Banyaknya kombinasi dari n unsur yang berbeda dengan setiap pengambilan dengan n r unsur ditulis C , nC atau C(n rr nC r = ! nrP r = ! ( )! ! n nr rPerhatikan contoh soal berikut untuk lebih memahami tentang kombinasi. Contoh soal r) adalah: Cory Adi, Budi Cory, Cory Adi, Cory Budi

1. Hitunglah nilai dari: C × C 62 52 a. 7C3 c. b. 7C2 × 5C16 C4 66 Matematika SMA dan MA Kelas XI Program IPA

Penyelesaian 7! 7! ······ 7 65 4321 a. = == = 35 7C3 3!(7 -3)! 3!4! 3214321 ······ 7! 5! 7! 5! b. × = × =× 7C25C1 2!(7 -2)! 1!(5 -1)! 2!5! 4! 7 65 4321 ······ 5 4321 = × = 21 × 5 = 105 215 4321 ······ 4321 6! 5! 6! 5! × 6 C2 ×5 C2 2!(6 -4)! ×2!(5 -2)! 2!4! 2!3! = c. = 6 C4 6! 6! 4!(6 -4)! 4!2! 65 4321 ····· 5 4321 = 15 1021 4 3 21 2 13 2 1 65 432 1 15 × ×····· ···· = ····· = 10 432121 2. Dalam pelatihan bulutangkis terdapat 10 orang pemain putra dan 8 orang pemain putri. Berapakah pasangan ganda yang dapat diperoleh untuk: a. ganda putra b. ganda putri c. ganda campuran Penyelesaian

a. Karena banyaknya pemain putra ada 10 dan dipilih 2, maka banyak cara ada: 10! 10! ·· ·· 10 9 10 9 8....3 21 · 10C2== = = 45 cara ··· 2 2!(10 -2)! 2!8! 2187....321 ·· b. Karena banyaknya pemain putri ada 8 orang dan dipilih 2, maka banyaknya cara ada: 8! 8! ······· 87 65 4321 C2 = == =28 cara 82!(8 -2)! 2!6! 2654321 c. Ganda campuran berarti 10 putra diambil satu dan 8 putri diambil 1, maka: 10! 8! 10! 8! 3. Berapa banyaknya nomor telepon yang terdiri dari 7 angka dapat dibuat dengan 4 digit awalnya adalah 0812, tiga digit sisanya saling berbeda dan bukan merupakan bilangan-bilangan 0, 3, atau 5, serta digit terakhirnya bukan angka 9. = 10C1 × 8C1 = 1!(10 1)! 2!(8 1)! 1!9! 1!7! × = × - - = 10 × 8 = 80 cara Peluang 67

Penyelesaian 0812 . . .tiga digit terakhir bukan bilangan 0, 3, atau 5 maka P63 serta digit 2 6 2 6!5! terakhir bukan angka 9 maka dikurangi P5 . P3 3!3! Jadi banyaknya nomor telepon adalah 100 buah. b. Binomial Newton (Pengayaan) Kamu perlu mengingat kembali mengenai susunan bilangan-bilangan yang dinamakan segitiga Pascal, seperti bagan berikut. 1 1 1 1 1 1 2 3 4 5 1 3 1 6 4 1 10 10 5 1 P5 = = 100

dan seterusnya Dari bagan itu dapat ditulis dalam koefisien binomial atau suku dua sebagai beri kut, misalkan x dan y. (x (x (x (x (x (x + + + + + + y)1 y)2 y)3 y)4 y)5 y)n = = = = = = x x x x x + 2 3 4 5 y + + + + 2 x y + y2 3 x 2y + 3 x y2 + y3 4x3y + 6 x 2y2 + 4 x y3 + y4 5 x 4y + 10 x 3y2 + 10 x 2y3 + 5 x y4 + y5

Tetapi ada metode lain yang lebih mudah diterapkan untuk mencari koefisien binom ial yaitu dengan menggunakan nCr ; sehingga dapat ditulis sebagai berikut. (x + y)1 . n = 1 1C01 C (x + y)2 . n = 2 2 C 02 (x + y)3 . n = 3 3 C 03 (x + y)4 . n = 4 4 C 04 1 C 12 C 2 C 13 C 23 C 3 C 14 C 24 C 34 C 4

5 C 05 C 1 5 C 25 C 35 C 45 C 5 (x + y)5 . n = 5 #

maka (x + y)n = xn y0+ xn nC0 nC1 nn = Cxn · 1 + Cxn n 0 n 1 nn = xn + xn 1 y1 + + C yn 1 y1 +

1 y1 + + C · 1 yn

+ Cx0 yn

n C0 nC1 nnn Cxnkyk (x + y)n = S nk k =0 68 Matematika SMA dan MA Kelas XI Program IPA

Jadi teorema binomial Newton dapat dirumuskan sebagai berikut. (x + y)n = 0 n nk k n k k Cx y= S Untuk lebih memahami teorema binomial Newton, pelajarilah contoh soal berikut. Contoh soal 1. Jabarkan tiap binomial berikut ini. a. (x + y)3 b.(x + 2y)4 Penyelesaian 3 3-kk Cx y a. (x + y)3 = S 3 k k =0 · x3 · x3 · x3 · x3 = 0 · y0 + 31 · y1 + 32 · y2 + 33 · y3 3C0 C1 C2 C3 = 1 · x3 · 1 + 3 · x2 · y + 3 · x · y2 + 1 · x0 · y3 = x3 + 3x2y + 3xy2 + 1 · 1 · y3 = x3 + 3x2y + 3xy2 + y3 4 b. (x + 2y)4 = S 4 Ck x4 k =0 · x4 = 0 · (2y)0 + 4· x4 k yk 1 · (2y)1 + 4· x4 2 · (2y)2 +

4C0 C1 C2 · x4 3 (2y)3 · x4 + 4 4C3 C4 4 · (2y)4

= 1 · x4 + 4 · x3 · 2y + 6x2 · 22 · y2 + 4 · x · 23 · y3 + 1 · 1 · 24 · y4 = x4 + 8x3y + 24x2 y2 + 32xy3 + 16y4 2. Tentukan suku ke-4 dari (2x + 3y)6. Penyelesaian 6

C -k (3 ) k =0 (2x + 3y)6 = S6 k (2 ) x 6 yk · (2x)6 = 6C0 C1 C2 · (2x)6 3 · (3y)3 + 6· (2x)6 6C3 C4 C5 · (2x)6 6C6 6 · (3y)6 4 · (3y)4 + 6· (2x)6 5 · (3y)5 + 0 · (3y)0 + 6· (2x)6 1 · (3y)1 + 6· (2x)6 2 · (3y)2 +

Jadi suku ke-4 adalah = · (2x)6 3 · (3y)3 6C3 · (2x) 3 · (3y)3 = 6C3 6! · 23 · x3 · 33 · y3 3!(6 - 3)! 6! = · 8x3 · 27y3 3! 3! = 20 · 8x3 · 27y3 = 4.320x3y3 = Peluang 69

Matematika SMA dan MA Kelas XI Program IPA 70Himpunan dari semua hasil yang mung kin pada suatu percobaan disebut ruang sampel, yang biasa ditulis dengan notasi S dan setiap anggota dari S disebut titik sampe l. 1. Menentukan Banyak Kemungkinan Kejadian dari Berbagai Situasi Misalkan kita mengambil sebuah dadu maka sisi-sisi sebuah dadu akan terlihat banyaknya titik ada 1, 2, 3, 4, 5, dan 6. Jadi ruang sampelnya adalah {1, 2, 3, 4, 5, 6}. Apabila kita melambungkan sebuah dadu sekali maka kemungkinan angka yang muncul adalah 1, 2, 3, 4, 5, atau 6. Kita tidak dapat memastikan bahwa angka 5 harus mu ncul atau angka 2 tidak muncul. Jadi kemungkinan munculnya angka 1, 2, 3, 4, 5, atau 6 dalam suatu kejadian adal ah sama. Misalnya, pada percobaan pelambungan sebuah dadu sekali. Jika A adalah kej adian muncul bilangan prima, maka A adalah 2, 3, dan 5 dan jika B kejadian muncul bila ngan lebih besar dari 5 maka B adalah 6. B. Ruang Sampel Suatu Percobaan 2.4Kerjakan soal-soal di bawah ini dengan benar. 1. Jabarkan bentuk-bentuk binomial berikut. 3y)4 a. (x + 2)3 c. (2x b. (1 2x)5 d. (3y 2)5 2. Tentukan koefisien suku x3 dari bentuk-bentuk binomial berikut. a. (2x + y)7 c. (x 3y)6 b. (3 + 2x)5 d. (2 3x)4 3. Tentukan koefisien suku x2 y2 dari bentuk-bentuk binomial berikut. a. (x + y)4 c. (3x 2y)4 b. (2x + 3y)3 d. ( 1 2 x 1 4 y)3 4. Carilah suku ke-3 dari bentuk-bentuk binomial berikut. a. (x + 2y)4 c. (1 3x)5 b. (2x + 1)5 d. ( 2 x x2)4 5. Carilah tiga suku pertama bentuk-bentuk binomial berikut. a. (3x + 1)4 c. (x 3 2 )4 b. (x2 + 3 x )3 d. (x 1)3 B. Ruang Sampel Suatu Percobaan 2.4Kerjakan soal-soal di bawah ini dengan benar. 1. Jabarkan bentuk-bentuk binomial berikut. a. (x + 2)3 c. (2x 3y)4 b. (1 2x)5 d. (3y 2)5 2. Tentukan koefisien suku x3 dari bentuk-bentuk binomial berikut. a. (2x + y)7 c. (x 3y)6 b. (3 + 2x)5 d. (2 3x)4 3. Tentukan koefisien suku x2 y2 dari bentuk-bentuk binomial berikut. a. (x + y)4 c. (3x 2y)4 b. (2x + 3y)3 d. ( 1 2 x 1 4 y)3 4. Carilah suku ke-3 dari bentuk-bentuk binomial berikut. a. (x + 2y)4 c. (1 3x)5 b. (2x + 1)5 d. ( 2 x x2)4 5. Carilah tiga suku pertama bentuk-bentuk binomial berikut. a. (3x + 1)4 c. (x 3

2 )4 b. (x2 + 3 x )3 d. (x

1)3

2. Menuliskan Himpunan Kejadian dari Suatu Percobaan Untuk menuliskan kejadian dari suatu percobaan diketahui dengan himpunan. Misalnya dalam pelemparan sebuah mata uang sekali, maka ruang sampel S = {A, G}. A merupakan sisi angka dan G merupakan sisi gambar. Contoh soal 1. Pada percobaan pelemparan sebuah dadu sekali, A adalah kejadian muncul bilangan prima dan B adalah kejadian muncul bilangan lebih besar dari 3, AC, dan BC masin gmasing merupakan komplemen dari A dan B. Nyatakanlah A, B, AC, dan BC dalam bentuk himpunan. Penyelesaian S = {1, 2, 3, 4, 5, 6} AC = {1, 4, 6} A = {2, 3, 5} BC = {1, 2, 3} B = {4, 5, 6} 2. Diketahui 3 buah mata uang logam mempunyai sisi angka (A) dan sisi gambar (G), dilempar sekali. Jika P adalah kejadian muncul dua gambar dan Q adalah kejadian muncul tiga angka, nyatakan P dan Q dalam bentuk himpunan. Penyelesaian Jika S merupakan ruang sampel maka: S = {AAA, AGA, GAA, GGA, GAG, AGG, AAG, GGG} P adalah kejadian muncul dua gambar, maka: P = {GGA, GAG, AGG} Q adalah kejadian muncul tiga angka, maka: Q = {AAA} 2.5 Kerjakan soal-soal di bawah ini dengan benar. 1. Tuliskan ruang sampel dari kejadian berikut. a. Pelambungan dua buah uang logam. b. Pelambungan sebuah dadu. c. Pelambungan tiga uang logam sekaligus. d. Pelambungan dua buah dadu sekaligus. 2. Diketahui dua buah mata uang logam dilambungkan sekali. P adalah kejadian muncul dua gambar dan Q kejadian muncul satu angka. Nyatakan P dan Q dalam bentuk himpunan. Peluang 71

Matematika SMA dan MA Kelas XI Program IPA 721. Peluang Suatu Kejadian Sebelum mempelajari peluang suatu kejadian, marilah kita ingat kembali mengenai ruang sampel yang biasanya dilambangkan dengan S. Kejadian adalah himpunan bagia n dari ruang sampel, sedangkan titik sampel adalah setiap hasil yang mungkin terja di pada suatu percobaan. Jika A adalah suatu kejadian yang terjadi pada suatu percobaan dengan ruang sampel S, di mana setiap titik sampelnya mempunyai kemungkinan sama untuk muncul, maka peluang dari suatu kejadian A ditulis sebagai berikut. P(A) = ( ) () n A nS Keterangan: P(A) = peluang kejadian A n(A) = banyaknya anggota A n(S) = banyaknya anggota ruang sampel S Coba kamu pelajari contoh berikut agar lebih memahami tentang peluang. Contoh soal 1. Pada pelemparan 3 buah uang sekaligus, tentukan peluang muncul: a. ketiganya sisi gambar; b. satu gambar dan dua angka. C. Peluang Suatu Kejadian dan Penafsirannya 3. Diketahui tiga buah mata uang dilambungkan sekali. Nyatakan dalam sebuah himpunan kejadian-kejadian berikut. a. Kejadian muncul 0 angka. b. Kejadian muncul 1 angka. c. Kejadian muncul 2 angka. d. Kejadian muncul 3 angka. 4. Diketahui dua buah dadu dilambungkan sekali. X adalah kejadian munculnya mata dadu pertama dan Y adalah kejadian munculnya mata dadu kedua. Nyatakan dalam sebuah himpunan kejadian-kejadian berikut. a. Kejadian muncul jumlah mata dadu 10. b. Kejadian muncul jumlah mata dadu 12. c. Kejadian muncul mata dadu sama. d. Kejadian A = {( x, y) x + y = 7}. e. Kejadian B = {( x, y) x = 3 }. f. Kejadian C = {( x, y) y = 5. ( ) () n A nS Keterangan: P(A) = peluang kejadian A n(A) = banyaknya anggota A n(S) = banyaknya anggota ruang sampel S Coba kamu pelajari contoh berikut agar lebih memahami tentang peluang. Contoh soal 1. Pada pelemparan 3 buah uang sekaligus, tentukan peluang muncul: a. ketiganya sisi gambar; b. satu gambar dan dua angka. C. Peluang Suatu Kejadian dan Penafsirannya 3. Diketahui tiga buah mata uang dilambungkan sekali. Nyatakan dalam sebuah himpunan kejadian-kejadian berikut. a. Kejadian muncul 0 angka. b. Kejadian muncul 1 angka. c. Kejadian muncul 2 angka. d. Kejadian muncul 3 angka. 4. Diketahui dua buah dadu dilambungkan sekali. X adalah kejadian munculnya

mata dadu pertama dan Y adalah kejadian munculnya mata dadu kedua. Nyatakan dalam sebuah himpunan kejadian-kejadian berikut. a. Kejadian muncul jumlah mata dadu 10. b. Kejadian muncul jumlah mata dadu 12. c. Kejadian muncul mata dadu sama. d. Kejadian A = {( x, y) x + y = 7}. e. Kejadian B = {( x, y) x = 3 }. f. Kejadian C = {( x, y) y = 5.

Penyelesaian a. S = {AAA, AAG, AGA, GAA, AGG, GAG, GGA, GGG} Maka n(S) = 8 Misal kejadian ketiganya sisi gambar adalah A. A = {GGG}, maka n(A) = 1 () 1 nA = P(A) = () 8 nS b. Misal kejadian satu gambar dan dua angka adalah B. B = {AAG, AGA, GAA}, maka n(B) = 3 () 3 nB = P(B) = () 8 nS 2. Dalam kantong ada 6 kelereng merah dan 5 kelereng putih. Jika diambil 4 kelereng sekaligus secara acak, tentukan peluang terambil: a. kelereng merah; b. kelereng putih; c. 2 merah dan 2 putih; d. 3 merah dan 1 putih. Penyelesaian S = pengambilan 4 kelereng sekaligus. = 1144!(11 -4)! 4!7! 43217! ···· a. Misal kejadian terambilnya kelereng merah adalah A, maka: 6! 6! ·· 65 4! ==

n(A) = 6C4 = = 15 4!(6 -4)! 4!2! 4!2 1 · nA() 15 1 == P(A) = nS( ) 330 22 1 Jadi, peluang terambil kelereng merah adalah 22 . b. Misal kejadian terambilnya kelereng putih adalah B, maka: 5! 5! · 5 4! == n(B) = C4 = = 5 54!(5 -4)! 4!1! 4!1! nB()5 1 == P(B) = nS( ) 330 66 1 Jadi, peluang terambil kelereng putih adalah 66 . n(S) = C11! 11! 11 10 9 8 7! · ··· = = = 330 Peluang 73

= c. Misal kejadian terambilnya 2 merah dan 2 putih adalah C, maka: 6! 5! 6! 5! × = × n(C) = 6C × 5C= 22 2!(6 -2)! 2!(5 -2)! 2!4! 2!3! 6 54! ·· 54 3! × = 15 × 10 = 150 2!4! 2!3! nC() 150 5 == P(C) = nS( ) 330 11 5 Jadi, peluang terambil 2 merah dan 2 putih adalah 11 . d. Misal kejadian terambilnya 3 merah dan 1 putih adalah D, maka: 6! 5! 6! 5! ··· 5 65 43! × =×= × n(D) = 6 × 5C1= C3 ··· 11 3!(6 -3)! 1!(5 -1)! 3!3! 1!4! 3 213! · = 20 × 5 = 100 () 10 nD 100 == P(D) = nS( ) 330 33 10 Jadi, peluang terambil 4 merah dan 1 putih adalah

33 . 2. Kisaran Nilai Peluang Jika kejadian A dalam ruang sampel S selalu terjadi maka n(A) = n(S), sehingga () S nA = peluang kejadian Aadalah: P(A) = = 1 () S nS Contoh soal Tentukan peluang kejadian-kejadian berikut. a. Setiap orang hidup pasti memerlukan makan. b. Dalam pelemparan sebuah dadu, berapakah peluang munculnya angka-angka di bawah 10? Penyelesaian a. Karena setiap orang hidup pasti memerlukan makan, sebab kalau tidak makan pasti meninggal. Jadi n(A) = 1 dan n(S) = 1, maka: () nA P(A) = nS = 1 () b. S= {(1, 2, 3, 4, 5, 6} .n(S) = 6 A= munculnya angka-angka di bawah 10 = {1, 2, 3, 4, 5, 6} .n(A) = 6 () 6 nA = P(A) = = 1 () 6

nS 74 Matematika SMA dan MA Kelas XI Program IPA

Jika kejadian A dalam ruang sampel Stidak pernah terjadi sehingga n(A) = 0, maka () 0 nA = peluang kejadian Aadalah: P(A) = = 0. nS() () nS Untuk lebih jelasnya, perhatikan contoh soal berikut ini. Contoh soal Tentukan peluang kejadian-kejadian berikut. a. Orang dapat terbang. b. Muncul angka tujuh pada pelambungan sebuah dadu. Penyelesaian a. Tidak ada orang dapat terbang, maka n(A) = 0 () 0 nA = P(A) = = 0. nS() () nS Jadi peluang orang dapat terbang adalah 0. b. Dalam pelambungan sebuqah dadu angka tujuh tidak ada, maka n(A) = 0 () 0 nA = P(A) = = 0. nS() ()

nS Dari contoh soal di atas, maka kita dapat menentukan kisaran peluangnya adalah: Jadi peluang muncul angka tujuh adalah 0. 3. Frekuensi Harapan Suatu Kejadian Frekuensi harapan dari sejumlah kejadian merupakan banyaknya kejadian dikalikan dengan peluang kejadian itu. Misalnya pada percobaan Adilakukan nkali, maka frek uensi harapannya ditulis sebagai berikut. Fh = n× P(A) Perhatikan contoh berikut untuk lebih memahami. Contoh soal 1. Pada percobaan pelemparan 3 mata uang logam sekaligus sebanyak 240 kali, tentukan frekuensi harapan munculnya dua gambar dan satu angka. Penyelesaian S= {AAA, AAG, AGA, GAA, AGG, GAG, GGA, GGG} . n(S) = 8 A= {AGG,GAG,GGA} . n(A) = 3 () nA F(A) = n× P(A) = 240 × h () nS = 240 × 83 = 90 kali Peluang 75

2. Pada percobaan pelemparan 2 buah dadu sekaligus sebanyak 108 kali, tentukan frekuensi harapan munculnya A = {(x, y) x = 3}, x adalah dadu pertama dan y adalah dadu kedua. Penyelesaian S = {(1, 1), (1, 2), (1, 3), .., (6, 6)} . n(S) = 36 A = {(3, 1), (3, 2), (3, 3), (3, 4), (3, 5), (3, 6)} . n(A) = 6 F(A)= n × P(A) () nA = n × () nS 6 = 108 × = 18 kali 36 2.6 Kerjakan soal-soal di bawah ini dengan benar. 1. Jika sebuah dadu dilambungkan sekali, tentukan peluang munculnya angka-angka: a. lebih dari 4, c. ganjil, b. kurang dari 3, d. kelipatan 3. 2. Jika sebuah dadu dilambungkan 360 kali, tentukan frekuensi harapan munculnya angka-angka: a. genap, c. 8, b. prima, d. lebih dari 5. 3. Dua buah dadu dilepar sekaligus. Jika x dadu pertama dan y dadu kedua, tentukan peluang terambilnya: a. A = {(x, y) y = 3}; c. C = {( x, y) y = x + 1}; b. B = {( x, y) x + y = 10}; d. D = {( x, y) x + 2y = 12}. 4. Dalam suatu kotak terdapat 10 bola, di mana 6 bola berwarna merah dan empat bola berwarna putih. Jika 2 bola diambil sekaligus, berapakah peluang munculnya bola:

a. merah, b. putih? 5. Dalam satu set kartu bridge, berapakah peluangnya jika terambil: a. kartu As berwarna merah, b. kartu bernomor yang kurang dari 6, c. kartu bernomor lebih dari 4? 6. Dalam sebuah kotak terdapat 10 kartu bernomor 1 sampai 10. Jika diambil satu kartu secara acak sampai 150 kali, berapakah frekuensi harapan munculnya: a. nomor ganjil, c. nomor yang lebih dari 7? b. nomor prima, 76 Matematika SMA dan MA Kelas XI Program IPA

4. Peluang Komplemen Suatu Kejadian Untuk mempelajari peluang komplemen suatu kejadian, coba perhatikan contoh berikut. Contoh soal Pada pelemparan sebuah dadu sekali, berapakah peluang munculnya: a. nomor dadu ganjil, b. nomor dadu tidak ganjil? Penyelesaian a. Untuk menjawab permasalahan peluang munculnya nomor dadu ganjil kita lihat ruang sampel lebih dahulu yaitu S= {1, 2, 3, 4, 5, 6}, maka n(S) = 6. Aadalah jika keluar nomor ganjil yaitu A= {1, 3, 5}, maka n(A) = 3 sehingga nA () 31 P(A) = == nS() 6 2 b. Peluang munculnya nomor dadu tidak ganjil kita sebut AC (komplemen dari A), nA()C 31 maka AC= {2, 4, 6} .n(AC) = 3, sehingga P(AC) = == nS() 62 Dari contoh tersebut kita dapat mengambil kesimpulan bahwa: P(A) + P(AC) = 1 2 + 1 2 = 1 P(A) + P(AC) = 1 atau P(AC) = 1 P(A) Untuk lebih jelasnya, pelajarilah contoh soal berikut ini. Contoh soal Dalam sebuah kotak terdapat bola yang diberi nomor 1 sampai 10. Jika diambil seb uah bola, berapakah peluang munculnya: a. nomor prima, b. bukan nomor prima. Penyelesaian a.S= {1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, 10} .n(S) = 10 Misalnya munculnya nomor prima adalah A, maka: A= {2, 3, 5, 7} .n(A) = 4 () 4 nA =

P(A) = = 0,4 () 10 nS b. Bukan nomor prima = AC, maka peluangnya = P(AC): P(AC)= 1 P(A) = 1 0,4 = 0,6 Peluang 77

5. Peluang Dua Kejadian Saling Asing a. Peluang gabungan dua kejadian (kejadian A atau kejadian B) dapat ditentukan d engan rumus sebagai berikut. Misal A dan B adalah dua kejadian yang berbeda S, maka peluang kejadian A.B ditentukan dengan aturan: P (A.B) = P(A) + P(B) )BnA(P) B(P) +A(P) =B.A(P

Contoh soal Dalam melambungkan sebuah dadu, jika A adalah kejadian munculnya bilangan ganjil dan B adalah kejadian munculnya bilangan prima. Tentukan peluang kejadian munculnya bilangan ganjil atau prima! Penyelesaian S = {1, 2, 3, 4, 5, 6} 3 A = bilangan ganjil : {1, 3, 5} . P(A) = A SB 1 3 5 2 4 4 6 3 B = bilangan prima : {2, 3, 5} . P(B) = 6 2 AnB = {3, 5} . P{AnB} = 6 P(A.B)= P(A) + P(B) 3 3 6242 2 -

P(AnB)

= +

= = = 6 666 63 2 Jadi peluang kejadian munculnya bilangan ganjil atau prima adalah 3 b. Peluang gabungan dua kejadian saling asing (kejadian A atau B di mana A dan B saling asing) Karena A dan B saling asing maka AnB = 0 atau P(AnB) = 0 Sehingga: P (A.B) = P(A) + P(B) P(AnB) P(A) + P(B) 0 Contoh soal Dalam sebuah kantong terdapat 10 kartu, masing-masing diberi nomor yang berurutan, sebuah kartu diambil dari dalam kantong secara acak, misal A adalah kejadian bahwa yang terambil kartu bernomor genap dan B adalah kejadian terambil kartu bernomor prima ganjil. 78 Matematika SMA dan MA Kelas XI Program IPA

a. Selidiki apakah kejadian A dan B saling asing. b. Tentukan peluan kejadian A atau B. Penyelesaian a. (AnB) { } maka A dan B salling asing b. S = {1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, 10} . P(A) = A = {2, 4, 6, 8, 10} . P(B) = B = {3, 5, 7} 5 10 3 10 . P(AnB) = 0 S 2 4 6 8 10 3 5 7 A B P(AnB)= { } P (A.B)= P(A) + P(B) 5 384 = + = = 1010 10 5 6. Peluang Kejadian Saling Bebas Jika kejadian A tidak memengaruhi terjadinya kejadian B dan sebaliknya atau terj adi atau tidaknya kejadian A tidak tergantung pada terjadi atau tidaknya kejadian B. Hal ini seperti digambarkan pada pelemparan dua buah dadu sekaligus. A adalah kejadian keluarnya dadu pertama angka 3 dan B adalah kejadian keluarnya dadu kedua angka 5 maka kejadian A dan kejadian B merupakan dua kejadian yang saling bebas, dan peluang kejadian ini dapat dirumuskan:

P(AnB) = P(A) × P(B) Coba kamu pelajari contoh berikut untuk lebih memahami tentang kejadian saling bebas. Contoh soal Pada pelemparan sebuah dadu sekaligus. A adalah kejadian keluarnya dadu pertama angka 3 dan B adalah kejadian keluarnya dadu kedua angka 5. Berapakah peluang terjadinya A, B, dan AnB. Penyelesaian S = {(1, 1), (1, 2), (1, 3), .., (6, 6)} . n(S) = 36 A = {(3, 1), (3, 2), (3, 3), (3, 4), (3, 5), (3, 6)} . n(A) = 6 B = {(1, 5), (2, 5), (3, 5), (4, 5), (5, 5), (6, 5)} . n(B) = 6 nA() 6 1 == P(A) = nS() 366 Peluang 79

nA() 6 1 == P(B) = nS() 366 11 1 P(AnB)= P(A) × P(B) = ×= 66 36 7. Peluang Kejadian Bersyarat Dua kejadian disebut kejadian bersyarat atau kejadian yang saling bergantung apa bila terjadi atau tidak terjadinya kejadian Aakan memengaruhi terjadi atau tidak terj adinya kejadian B. Peluang terjadinya kejadian Adengan syarat kejadian B telah muncul a dalah: P(A/B) = ( ) () PA B PB n , dengan syarat P(B) . 0 Atau peluang terjadinya kejadian Bdengan syarat kejadian Atelah muncul adalah: P(B/A) = ( ) () PA B PA n , dengan syarat P(A) . 0 Untuk lebih jelasnya, perhatikan contoh soal berikut. Contoh soal Dalam sebuah kotak terdapat 6 bola merah dan 4 bola putih. Jika sebuah bola diam bil dalam kotak itu berturut-turut sebanyak dua kali tanpa pengembalian. Tentukan pe luang yang terambil kedua-duanya bola merah. Penyelesaian 65 P(A) = P(B/A)= 10;9 P(AnB)= P(A) · P(B/A) 65 30 1

= = = 10× 9903 Jadi, peluang yang terambil kedua-duanya bola merah tanpa pengembalian adalah 13 . 2.7 Kerjakan soal-soal di bawah ini dengan benar. 1. Sebuah kartu diambil secara acak dari 52 buah kartu bridge. Tentukan peluang terambil kartu skop atau kartu berwarna merah. 2. Jika sebuah dadu dilempar sekali, tentukan peluang munculnya angka dadu bilangan prima atau bilangan genap. 3. Dalam pelemparan dua buah dadu sekaligus, berapakah peluang keluarnya dadu pertama angka 1 dan dadu kedua angka 4. 80 Matematika SMA dan MA Kelas XI Program IPA

4. Dalam kantin sekolah terdapat 30 siswa, di mana 12 siswa sedang minum es dan makan soto, 20 siswa sedang minum es dan makan bakso, sedangkan 3 siswa hanya duduk. Tentukan peluang yang minum es saja. 5. Dalam kotak terdapat 10 bola, 5 bola berwarna putih, 1 bola merah dan lainnya berwarna kuning. Jika sebuah bola diambil secara acak, berapa peluang: a. terambil bola berwarna kuning, b. terambil bola tidak berwarna kuning. 6. Sebuah dadu dilempar satu kali. Tentukan peluang keluarnya bilangan genap, bila telah diketahui telah keluar bilangan lebih dari 5. 1. Aturan pengisian tempat Jika sesuatu pekerjaan diselesaikan dengan pcara yang berlainan dan sesuatu pekerjaan lain diselesaikan dengan qcara yang berlainan, maka banyaknya cara untuk melakukan dua kegiatan itu dapat diselesaikan dengan (p× q) cara. 2. Faktorial 3) 3 · 2 · 1 n! = n(n 1)(n 2)(n 3. Permutasi dari n unsur, pada setiap pengambilan diambil runsur dirumuskan: n! P= nr 4. Banyaknya permutasi dari nunsur dengan munsur yang sama dirumuskan: ( )!nrn! P= m! 5. Permutasi siklis dari n unsur dirumuskan: P= (n 1)! 6. Kombinasi dari n unsur, pada setiap pengambilan diambil r n! C= nr !( - )! rn r unsur dirumuskan: 7. Bentuk (a+ b)ndapat dijabarkan dengan binomial Newton sebagai berikut: n

Cab (a+ b)n= S n k nkk k=0 8. Peluang kejadian Ajika ruang sampel Sadalah: () nA P(A) = nS di mana 0 < P(A) < 1 () Peluang 81

9. Frekuensi harapan munculnya kejadian Adalam nkali percobaan adalah: Fh = P(A) × n 10. Kejadian majemuk Peluang kejadian Aatau kejadian Bdinotasikan P(A.B) adalah: P(A.B) = P(A) + P(B) P(AnB) Jika AnB= Ø, maka disebut kejadian saling lepas atau saling asing, sehingga: P(A.B) = P(A) + P(B) 11. Kejadian Adan kejadian B merupakan dua kejadian saling bebas apabila: P(AnB) = P(A) × P(B) 12. Kejadian Adan kejadian B merupakan dua kejadian tidak saling bebas atau kejadian bersyarat apabila: ( n ) PA B P(A/B) = dengan syarat P(B) . 0 atau () PB ( n ) PA B P(B/A) = dengan syarat P(A) . 0 () PA I. Pilihlah salah satu jawaban yang paling benar. 1. Dari 5 pria dan 4 wanita akan dipilih 3 pria dan 3 wanita. Banyak cara memilih a da .... a. 60 d. 20 b. 40 e. 18 c. 24 2. Banyak sepeda motor yang memakai nomor polisi dengan susunan angka-angka 1, 2, 3 , 4 dan 5 dan terdiri atas lima angka tanpa berulang adalah . a. 40 d. 240 b. 60 e. 400 c. 120

n! 3. Nilai n yang memenuhi = 6 adalah . (n-1)! a. 2 d. 5 b. 3 e. 6 c. 4 82 Matematika SMA dan MA Kelas XI Program IPA

4. Suatu rapat diikuti 7 orang yang duduk mengelilingi meja bundar. Banyak cara duduk adalah . a. 270 d. 4.050 b. 460 e. 5.040 c. 720 5. Koefisien suku yang memuat x5 dari (x + y)8 adalah . a. 20 d. 64 b. 28 e. 128 c. 56 6. Sebuah kantong berisi 7 kelereng merah dan 5 kelereng kuning. Dari kantong itu d iambil 3 kelereng sekaligus secara acak. Banyak cara terambil 2 kelereng merah dan 1 ke lereng kuning adalah . a. 103 d. 106 b. 104 e. 108 c. 105 7. Jika peluang kejadian hujan dalam kurun waktu 30 hari adalah 17 30 maka peluang kejadian tidak hujan dalam kurung waktu 30 hari adalah . 12 15 a. d. 30 30 13 16 b. e. 30 30 c. 8. Pada pelemparan dua buah dadu satu kali, peluang munculnya mata dadu berjumlah 8 atau 5 adalah . 5 1 a. d. 19 9

1 2 b. e. 4 9 c. 9. Tiga uang logam dilempar bersama-sama. Jika A adalah kejadian muncul tepat dua angka, maka P(A) adalah . 3 3 a. d. 4 8 1 5 b. e. 8 8 c. 8 14 30 5 26 2 Peluang 83

10. Dua dadu dilempar bersama-sama. Peluang muncul mata dadu pertama 3 dan mata dadu kedua 5 adalah . 6 3 a. 36 36 d. 5 1 b. 36 e. 36 4 c. 36 11. Dua buah dadu dilempar bersama-sama. Peluang munculnya jumlah mata dadu 9 atau 10 adalah . 5 9 a. 36 36 d. 7 11 b. e. 36 36 c. 12. Kotak pertama berisi 5 bola merah dan 3 bola kuning. Kotak kedua berisi 2 bola m erah dan 6 bola kuning. Dari masing-masing kotak diambil sebuah bola secara acak. Pel uang terambilnya kedua bola berwarna sama adalah . 1 9 a. d. 8 16 57 b. e. 16 8

c. 13. Dari seperangkat kartu bridge diambil secara acak satu lembar kartu. Peluang terambilnya kartu yang bukan As adalah 13 a. d. 52 13 1 48 b. e. 13 52 c. 14. Pada percobaan melempar sebuah dadu sebanyak 600 kali, frekuensi harapan munculn ya bilangan prima adalah . a. 250 d. 450 b. 300 e. 500 c. 325 15. Jika berlaku = maka nilai n adalah . nC4 nP3 a. 9 d. 27 b. 12 e. 35 c. 15 8 36 7 16 5 52 84 Matematika SMA dan MA Kelas XI Program IPA .

16. Pada suatu tiang diikatkan bendera 4 buah berwarna merah, 2 biru, dan 2 hijau. S etiap susunan mempunyai arti yang berbeda. Banyaknya susunan yang mungkin adalah . a. 70 d. 280 b. 90 e. 420 c. 240 17. Dari 10 peserta olimpiade matematika yang masuk nominasi akan dipilih 3 nominasi terbaik secara acak. Banyak pilihan yang dapat dilakukan adalah . a. 10 d. 120 b. 20 e. 720 c. 40 18. Dalam suatu pertemuan ada 30 orang dan saling berjabat tangan. Banyak cara jabat tangan yang terjadi adalah . a. 435 d. 875 b. 455 e. 885 c. 870 19. Sebuah kantong berisi 6 bola merah, 4 bola putih, dan 8 bola biru. Apabila 3 bol a diambil sekaligus secara acak, peluang terambil 2 bola putih dan 1 bola merah adalah . 55 3 a. d. 204 68 56 b. e. 204 17 c. 20. Sebuah kartu diambil dari seperangkat kartu bridge. Peluang terambil kartu A s atau kartu warna merah adalah . 4 28 a. d. 54 52 10 30

b. e. 52 52 c. 7 102 26 52 II. Kerjakan soal-soal berikut ini dengan benar. 1. Dari lima buah angka 1, 2, 3, 4, 5 hendak disusun bilangan genap yang terdiri at as tiga angka. Berapa banyaknya bilangan yang dapat disusun jika angka-angka itu: a. boleh ada yang sama, b. tidak boleh ada yang sama. Peluang 85

2. Sebuah kantong berisi 7 kelereng merah dan 5 kelereng kuning. Dari kantong itu d iambil 3 kelereng sekaligus secara acak. Ada berapa cara pengambilan, jika kelereng yan g diambil adalah: a. ketiganya berwarna merah, b. ketiganya berwarna kuning, c. 2 kelereng berwarna merah dan 1 kelereng berwarna kuning? 3. Terdapat 10 bola yang diberi nomor 1 sampai 10. Jika diambil 2 bola secara acak dari kartu itu, berapa peluang terambil 2 bola dengan nomor bilangan prima? 4. Pada percobaan melempar dua buah dadu sekaligus, tentukan peluang kejadian mata dadu yang muncul berjumlah lebih dari 4. 5. Dalam pelemparan dua buah dadu sekaligus, tentukan peluang keluarnya jumlah kedu a mata dadu sama dengan 5 atau jumlah kedua mata dadu sama dengan 10. 6. Tentukan banyaknya susunan yang berbeda dapat dibuat dari kata: a. BUKU b. RATARATA c. LIMIT d. KALKULUS 7. Tentukan n jika: a. = 56, (n + 3)P2 b. 4 = 24 C4. nP3n 8. Diketahui kejadian A dan B adalah kejadian yang saling bebas tetapi tidak saling lepas. Jika P(A) = 1 dan P(A.B) = 53 , hitunglah P(B). 3 9. y)7. Tentukan koefisien suku ke-5 dari ( 2x 10. Dalam sebuah kotak terdapat 12 bola merah dan 8 buah bola putih. Jika sebuah bol a diambil dari dalam kotak berturut-turut sebanyak dua kali tanpa pengembalian, te ntukan peluang yang terambil kedua-duanya bola merah. 86 Matematika SMA dan MA Kelas XI Program IPA

3 Trigonometri Penggunaan Rumus Sinus dan Cosinus Jumlah Dua Sudut, Selisih Dua Sudut, dan Sudut Ganda Rumus Jumlah dan Selisih Sinus dan Cosinus Menggunakan Rumus Jumlah dan Selisih Sinus dan Cosinus Pernahkah kamu berpikir untuk mencocokkan apakah betul tinggi monumen nasional (Monas) ±130 meter? Untuk membuktikannya, kamu dapat menerapkan konsep trigonometri yaitu menggunakan tangen suatu sudut pada perbandingan trigonometri. Caranya dengan mengukur besarnya sudut yang terbentuk oleh garis pandang pengamat ke puncak Monas melalui garis horizontal. Misalnya jika pengama t berada pada sudut 30°, maka pengamat harus berjalan mendekati Monas sampai terbentuk sudut 45°. Apabila jarak dari tempat pengamatan pertama sejauh 1 km, maka dengan aturan sudut ganda pengamat dapat menentukan tinggi Monas. Nah, pada bab ini kamu akan mempelajari rumus trigonometri dan penggunaannya.

Trigonometri Trigonometri > > > Menggunakan rumus sinus dan cosinus jumlah dua sudut, selisih dua sudut, dan sudut ganda Menurunkan rumus jumlah dan selisih sinus dan cosinus Menggunakan rumus jumlah dan selisih sinus dan cosinus Rumus cosinus jumlah dan selisih dua sudut Rumus sinus jumlah dan selisih dua sudut Rumus tangen jumlah dan selisih dua sudut > > > Perkalian sinus dan cosinus dalam jumlah atau selisih sinus atau cosinus > Merancang dan membuktikan identitas trigonometri > Menggunakan rumus trigonometri dan selisih dua sudut dalam pemecahan masalah > Menyelesaikan masalah yang melibatkan rumus jumlah dan selisih dua sudut > > Menggunakan rumus sinus, cosinus, dan

tangen sudut ganda Membuktikan rumus trigonometri dari sinus dan cosinus jumlah dan selisih dua sudut > sinus jumlah dan selisih sudut cosinus jumlah dan selisih sudut tangen jumlah dan selisih sudut perkalian sinus dan cosinus sinus sudut ganda cosinus sudut ganda identitas trigonometri Membuktikan rumus trigonometri jumlah dan selisih dari sinus dan cosinus dua sudut > 88 Matematika SMA dan MA Kelas XI Program IPA

A Penggunaan Rumus Sinus dan Cosinus Jumlah Dua Sudut, Selisih Dua Sudut, dan Sudut Ganda 1. Rumus Cosinus Jumlah dan Selisih Dua Sudut Sebelum membahas rumus cosinus untuk jumlah dan selisih dua sudut, perlu kamu ingat kembali pelajaran di kelas X. Dalam segitiga siku-siku ABC berlaku: sisi di depan sudut ABC sin a = C sisi miring AC sisi di dekat sudut AAB cos a = = B sisi miring AC A = sisi di depan sudut A BC tan a sisi di dekat sudut AAB = = Selanjutnya, perhatikanlah gambar di samping. Dari lingkaran yang berpusat di O(0, 0) dan berjari-jari 1 satuan misalnya, . AOB = . A . BOC = . B maka . AOC = . A + . B Dengan mengingat kembali tentang koordinat Cartesius, maka: A B C D B B AO Y a. b. c. d. AC X koordinat koordinat koordinat koordinat = BD maka titik titik titik titik AC2 = A (1, 0) B (cos A, sin A) C {cos (A + B), sin (A + B)} D {cos ( B), sin ( B)} atau (cos B, DB2 0}2 = {cos B

sin B) sin A}2

{cos (A + B)

1}2 + {sin (A + B)

cos A}2 + { sin B

cos2 (A + B) 2 cos (A + B) + 1 + sin2 (A + B) = cos2 B sin2 B + 2 sin B sin A + sin2 A 2 2 cos (A + B) = 2 2 cos A cos B + 2 sin A sin B 2 cos (A + B) = 2 (cos A cos B sin A sin B) cos (A + B) = cos A cos B sin A sin B Rumus cosinus jumlah dua sudut: cos (A + B) = cos A cos B sin A sin B Dengan cara yang sama, maka: cos (A B) = cos (A + ( B)) cos (A B) = cos A cos ( B) sin A sin ( B) cos (A B) = cos A cos B + sin A sin B Trigonometri 89

2 cos B cos A + cos2 A +

Matematika SMA dan MA Kelas XI Program IPA 90Rumus cosinus selisih dua sudut: cos (A B) = cos A cos B + sin A sin B Untuk memahami penggunaan rumus cosinus jumlah dan selisih dua sudut, pelajarila h contoh soal berikut. Contoh soal Diketahui cos A = 13 5 dan sin B = 25 24 , sudut A dan B lancip. Hitunglah cos (A + B) dan cos (A B). Penyelesaian cos A = 13 5 , maka sin A = 13 12 sin B = 25 24 , maka cos B = 25 7 cos (A + B) = cos A · cos B sin A · sin B = 13 5 · 25 7 13 12 · 25 24 = 325 253 325 288 325 35 -=cos (A B) = cos A · cos B + sin A · sin B = 5 7 12 24 13 25 13 25· + · = 35 288 325 325+ = 323 325 2. Rumus Sinus Jumlah dan Selisih Dua Sudut Perhatikan rumus berikut ini. sin (A + B) = cos { 2 p (A + B)} = cos ( 2 p A B) = cos {( 2 p A) B} = cos ( 2 p A) cos B + sin ( 2 p A) sin B = sin A cos B + cos A sin B Maka rumus sinus jumlah dua sudut: sin (A + B) = sin A cos B + cos A sin B Ingat!! Sudut A dan B lancip, maka sin A = 13 12 . cos B = 25 7 cos A = 13 5 . sin B = 25 24 13 5 dan sin B = 25 24 , sudut A dan B lancip. Hitunglah cos (A + B) dan

cos (A B). Penyelesaian cos A = 13 5 , maka sin A = 13 12 sin B = 25 24 , maka cos B = 25 7 cos (A + B) = cos A · cos B sin A · sin B = 13 5 · 25 7 13 12 · 25 24 = 325 253 325 288 325 35 -=cos (A B) = cos A · cos B + sin A · sin B = 5 7 12 24 13 25 13 25· + · = 35 288 325 325+ = 323 325 2. Rumus Sinus Jumlah dan Selisih Dua Sudut Perhatikan rumus berikut ini. sin (A + B) = cos { 2 p (A + B)} = cos ( 2 p A B) = cos {( 2 p A) B} = cos ( 2 p A) cos B + sin ( 2 p A) sin B = sin A cos B + cos A sin B Maka rumus sinus jumlah dua sudut: sin (A + B) = sin A cos B + cos A sin B Ingat!! Sudut A dan B lancip, maka sin A = 13 12 . cos B = 25 7 cos A = 13 5 . sin B = 25 24

91Trigonometri Dengan cara yang sama, maka: sin (A B) = sin {A + ( B)} = sin A cos ( B) + cos A sin ( B) = sin A cos B cos A sin B Rumus sinus selisih dua sudut: sin (A B) = sin A cos B cos A sin B Perhatikan contoh soal berikut ini untuk memahami tentang penggunaan rumus sinus jumlah dan selisih dua sudut. Contoh soal Diketahui cos A = 5 4 dan sin B = 13 5 , sudut A dan B tumpul. Hitunglah sin (A + B) dan sin (A B). Penyelesaian cos A = 5 4 , maka sin A = 5 3 (kuadran II) sin B = 13 5 , maka cos B = 13 12 (kuadran II) sin (A + B) = sin A cos B + cos A sin B = 5 3 ·( 13 12 ) + ( 5 4 ) ·13 5 = 65 56 65 20 65 36 -=-sin (A B) = sin A cos B cos A sin B = 3 12 4 5 5 13 5 13 . .. .·- -- · . .. .. .. . = 36 20 65 65- + = 16 653. Rumus Tangen Jumlah dan Selisih Dua Sudut tan (A + B) = sin ( ) cos ( ) A B A B + + = sin cos cos sin cos cos sin sin A B A B A B A B + = 1 sin cos cos sin cos cos

cos cos sin sin 1 cos cos A B A B A B A B A B A B + ··· Ingat!! Jika sudut A dan B tumpul, sin A = 5 3 .cos A = 5 4 sin B = 13 5 .cos B = 13 12 5 4 dan sin B = 13 5 , sudut A dan B tumpul. Hitunglah sin (A + B) dan sin (A B). Penyelesaian cos A = 5 4 , maka sin A = 5 3 (kuadran II) sin B = 13 5 , maka cos B = 13 12 (kuadran II) sin (A + B) = sin A cos B + cos A sin B = 5 3 ·( 13 12 ) + ( 5 4 ) ·13 5 = 65 56 65 20 65 36 -=-sin (A B) = sin A cos B cos A sin B = 3 12 4 5 5 13 5 13 . .. .·- -- · . .. .. .. . = 36 20 65 65- + = 16 653. Rumus Tangen Jumlah dan Selisih Dua Sudut tan (A + B) = sin ( ) cos ( ) A B A B + + = sin cos cos sin cos cos sin sin A B A B A B A B +

= 1 sin cos cos sin cos cos cos cos sin sin 1 cos cos A B A B A B A B A B A B + ··· Ingat!! Jika sudut A dan B tumpul, sin A = 5 3 .cos A = 5 4 sin B = 13 5 .cos B = 13 12

sin A cos B +cos A sin B cos A cos B = cos cos sin sin A B A Bcos A cos B sin A cos B cos A sin B cos A cos B cos A cos B sin A sin B + cos A cos B tan A +tan B = = = cos cos A B A B + sin 1-· cos A cos B Rumus tangen jumlah dua sudut: tan (A + B) tan tan 1 tan tan A B A B + B) tan (A tan tan 1 tan tan A B A B + Pelajarilah h dan selisih Contoh soal Tanpa menggunakan tabel logaritma atau kalkulator, hitunglah tan 105°. =

cos cos cos cos sin sin A B A B A sin B 1-tan A tan B

=

contoh soal berikut agar kamu memahami penggunaan rumus tangen jumla dua sudut.

Penyelesaian tan 60 °+tan 45 ° tan 105° = tan (60 + 45)° = 1-tan 60 ° tan 45 ° + 31 3 +11 + 3 × = = 1-31- 31+ 3 3 +3 ++ 3 1 4 +23 4 +23 = = = (2 + 3)

= 12 -(3) 2 = 13--2 3.1 Kerjakan soal-soal di bawah ini dengan benar. 1. Hitunglah dengan rumus sinus jumlah dan selisih sudut berikut. a. sin 105° b. sin 75° cos 15° cos 75° sin 15° 92 Matematika SMA dan MA Kelas XI Program IPA

2. a. b. 3. a. b. 4. 25

Hitunglah dengan rumus cosinus jumlah dan selisih sudut berikut. cos 195° cos 58° cos 13° + sin 58° sin 13° Diketahui sin A = 35 , cos B = 135 , dan A dan B merupakan sudut lancip. Tentukan tan (A + B) Tentukan tan (A B) Diketahui . A dan . B adalah sudut lancip. Jika cos A = 54 dan cos B = 24 ,

tentukan: a. cos (A + B) b. sin (A B) 5. Sederhanakanlah: tan (x + 45°) · tan (x 45°). 4. Penggunaan Rumus Sinus, Cosinus, dan Tangen Sudut Ganda a. Menggunakan Rumus Sinus Sudut Ganda Dengan menggunakan rumus sin (A + B), untuk A = B maka diperoleh: sin 2A = sin (A + B) = sin A cos A + cos A sin A = 2 sin A cos A Rumus: sin 2A = 2 sin A cos A Untuk lebih jelasnya, perhatikan contoh soal berikut ini. Contoh soal Diketahui sin A = 135 , di mana A di kuadran III. Dengan menggunakan rumus sudut ganda, hitunglah sin 2A. Penyelesaian r2 = x2 + y2 . x2 = r2 = 132 ( 5)2 = 168 25 y2

x2 = 144 x = 12, karena di kuadran III cos A = r 12 cos A = 13 sin 2A = 2 sin A cos A = 2 ( 13 ) = 120 13 ) ( 12 169 xTrigonometri 93

5

Matematika SMA dan MA Kelas XI Program IPA 94b. Rumus Cosinus Sudut Ganda Dengan menggunakan rumus cos (A + B), untuk A = B maka diperoleh: cos 2A = cos (A + A) = cos A cos A sin A sin A = cos2 A sin2 A ..(1) atau cos 2A = cos2 A sin2 A = cos2 A (1 cos2 A) = cos2 A 1 + cos2 A = 2 cos2 A 1 ..(2) atau cos 2A = cos2 A sin2 A = (1 sin2 A) sin2 A = 1 2 sin2 A (3) Dari persamaan (1), (2), dan (3) didapat rumus sebagai berikut. cos 2A = cos2 A sin2 A cos 2A = 2 cos2 A 1 cos 2A = 1 2 sin2 A Pelajarilah contoh soal berikut untuk memahami rumus cosinus sudut ganda. Contoh soal Diketahui cos A = 24 25 , di mana A dikuadran III. Dengan menggunakan rumus sudut ganda, hitunglah nilai cos 2A. Penyelesaian cos 2A = 2 cos2 A 1 = 2( 24 25 )2 1 = 2·276 625 1 = 1.152 527 1625 625 -= c. Rumus Tangen Sudut Ganda Dengan menggunakan rumus tan (A + B), untuk A = B diperoleh: tan 2A = tan (A + A) = tan tan 1 tan tan A A A A + - · = 2 2 tan 1 tan A AIngat!! sin2 A + cos2 A = 1 24 25 , di mana A dikuadran III. Dengan menggunakan rumus sudut ganda, hitunglah nilai cos 2A. Penyelesaian cos 2A = 2 cos2 A 1 = 2( 24 25 )2 1 = 2·276 625 1 = 1.152 527 1625 625 -= c. Rumus Tangen Sudut Ganda Dengan menggunakan rumus tan (A + B), untuk A = B diperoleh: tan 2A = tan (A + A) = tan tan 1 tan tan A A

A A + - · = 2 2 tan 1 tan A AIngat!! sin2 A + cos2 A = 1

Rumus: tan 2A = 2 2 tan 1 tan A A- 2 2 tan 1 tan A APerhatikan contoh soal berikut ini. Contoh soal Jika a sudut lancip dan cos a = 54 , hitunglah tan 2a. Penyelesaian BC2 = AC2 AB2 =52 42 = 25 16 = 9 BC = 9 = 3 BC 3 tan a = = AB 4 432 · 33 2 tan a 2 tan 2a = = = 1- tan 2 a 29 .. 11-. . 16 . 4 . 33 2 =

= 2 7 16 9 1616 16 3 16 24 = × = 277 A B C 12 12 12 d. Rumus Sudut Ganda untuk Sin A, Cos A, dan Tan A

Berdasarkan rumus cos 2A = 1 11 1

2 sin2 A dan cos 2A = 2 cos2 A

1, maka dapat

A . digunakan menentukan rumus sudut ganda untuk sin A , cos A , dan tan 22 2 1 Misal 2A = a. A = a , sehingga: 2 cos 2A = 1 2 sin2 A 1

a cos a = 1 2

2 sin2

1 2 sin2 a = 1 cos a 2 11- cos a sin2 a = 22 11- cos a

a = sin 22 Trigonometri 95

1 a Begitu pula untuk cos 2 cos 2A = 2 cos2 A 1 cos a = 2 cos2 a 1 2 1 2 cos2 a = cos a+ 1 2 1 cos a+1 1

a = cos2 22 1 cos a+1 a = cos 2 2 Dengan cara yang sama didapat: 1 sin a 11-cos a tan a = a jika cos a.-1 atau tan a = jika sin a.0. 21+cos 2 sin aRumus: sin 1 2 a = 1 cos 2 - a cos 1 2 a = cos 1 2 a+

tan 1 2 a = sin 1 cos a + a, cos 1a.tan 1 2 a = 1 cos sin - a a , sin 0a. Untuk lebih jelasnya, perhatikan contoh soal berikut. Contoh soal Hitunglah nilai dari: 1. sin 15° 2. cos 67,5° 3. tan 22,5° Penyelesaian 1 13 1-cos 30 °22 - 3 1. sin 15° = = = 2 24 = 1 2 32 96 Matematika SMA dan MA Kelas XI Program IPA

97Trigonometri 3.22. cos 67,5° = cos 135 1 2 °+ = cos 45 1 2 - °+ = 1 212 2 - + = 22 4 - + = 1 2 22 3. tan 22,5° = sin 45 1 cos 45 ° + ° = 1 22 11 22+ = 2 2 2 2 2 + = 2 2 2 2 2 · + = 2 2 2+ = 2 2 2 2 22 2 -· + = 22 2 42 - = 2( 2 1) 2 - = 21Kerjakan soal-soal di bawah ini dengan benar. 1. Diketahui sin A = 13 12 , 0 < A < 1 2 p a. Tentukan nilai dari sin 2A. b. Tentukan nilai dari cos 2A. c. Tentukan nilai dari tan 2A. 2. Tanpa tabel logaritma dan kalkulator, hitunglah: a. 2 sin 75° cos 15° b. sin 81 sin 15 sin 69 sin 171

°+ ° °- ° 3. Jika sin A = 12 13 dan A terletak di kuadran II, tentukan nilai: a. sin 2A b. cos 2A 4. Hitunglah: a. sin 67,5° b. cos 22,5° c. tan 15° 5. Jika cos 2A = 8 10 dan A sudut lancip, tentukan tan A. Ingat!! sin (180 A)° = sin A cos (180 A)° = cos A tan (180 A)° = tan A 3.22. cos 67,5° = cos 135 1 2 °+ = cos 45 1 2 - °+ = 1 212 2 - + = 22 4 - + = 1 2 22 3. tan 22,5° = sin 45 1 cos 45 ° + ° = 1 22 11 22+ = 2 2 2 2 2 + = 2 2 2 2 2 · + = 2 2 2+ = 2 2 2 2 22 2 -· + = 22 2 42 - = 2( 2 1)

2 - = 21Kerjakan soal-soal di bawah ini dengan benar. 1. Diketahui sin A = 13 12 , 0 < A < 1 2 p a. Tentukan nilai dari sin 2A. b. Tentukan nilai dari cos 2A. c. Tentukan nilai dari tan 2A. 2. Tanpa tabel logaritma dan kalkulator, hitunglah: a. 2 sin 75° cos 15° b. sin 81 sin 15 sin 69 sin 171 °+ ° °- ° 3. Jika sin A = 12 13 dan A terletak di kuadran II, tentukan nilai: a. sin 2A b. cos 2A 4. Hitunglah: a. sin 67,5° b. cos 22,5° c. tan 15° 5. Jika cos 2A = 8 10 dan A sudut lancip, tentukan tan A. Ingat!! A)° = sin A sin (180 cos (180 A)° = cos A tan (180 A)° = tan A

Matematika SMA dan MA Kelas XI Program IPA 981. Perkalian Sinus dan Cosinus dala m Jumlah atau Selisih Sinus atau Cosinus a. Perkalian Cosinus dan Cosinus Dari rumus jumlah dan selisih dua sudut, dapat diperoleh rumus sebagai berikut cos (A + B) = cos A cos B sin A sin B cos (A B) = cos A cos B + sin A sin B + cos (A + B) + cos (A B) = 2 cos A cos B Rumus: 2 cos A cos B = cos (A + B) + cos (A B) Pelajarilah contoh soal berikut untuk lebih memahami rumus perkalian cosinus dan cosinus. Contoh soal Nyatakan 2 cos 75° cos 15° ke dalam bentuk jumlah atau selisih, kemudian tentuka n hasilnya. Penyelesaian 2 cos 75° cos 15° = cos (75 + 15)° + cos (75 15)° = cos 90° + cos 60° = 0 + 2 1 = 2 1 Bagilah kelasmu menjadi beberapa kelompok. Kemudian, buktikan: sin 3A = 3 sin A 4 sin 3A cos 3A = 4 cos3 A 3 cos A tan 3A = 3 2 3 tan tan 1 3 tan A A A Cocokkan dengan kelompok lain. Adakan tanya jawab materi yang sedang diberikan B Penurunan Rumus Jumlah dan Selisih Sinus dan Cosinus 2 1 = 2 1 Bagilah kelasmu menjadi beberapa kelompok. Kemudian, buktikan: sin 3A = 3 sin A 4 sin 3A cos 3A = 4 cos3 A 3 cos A tan 3A = 3 2 3 tan tan 1 3 tan A A A Cocokkan dengan kelompok lain. Adakan tanya jawab materi yang sedang diberikan B Penurunan Rumus Jumlah dan Selisih Sinus dan Cosinus

b. Perkalian Sinus dan Sinus Dari rumus jumlah dan selisih dua sudut, dapat diperoleh rumus sebagai berikut: cos (A + B) = cos A cos B sin A sin B cos (A B) = cos A cos B + sin A sin B _ cos (A + B) cos (A B) = 2 sin A sin B atau 2 sin A sin B = cos (A B) cos (A + B) 2 cos A sin B = sin (A + B) sin (A B) Untuk lebih memahami rumus perkalian sinus dan cosinus, palajarilah contoh soal berikut. 2 sin A cos B = sin (A + B) + sin (A B)

Rumus: )B+A) cos (BA= cos (BsinA2 sin Agar lebih memahami materi ini, pelajarilah contoh soal berikut. Contoh soal Nyatakan 2 sin 67 12 ° sin 22 12 ° ke dalam bentuk jumlah atau selisih, kemudian tentukan hasilnya. Penyelesaian 1° 2 sin 67 12° sin 222 = cos (6712 = cos 45° 1 1 2 = 2 2 2 c. Perkalian Sinus dan Cosinus Dari rumus jumlah dan selisih dua sudut, dapat diperoleh rumus sebagai berikut. sin (A + B) = sin A cos B + cos A sin B sin (A B) = sin A cos B cos A sin B + sin (A + B) + sin (A B) = 2 sin A cos B atau 2 sin A cos B = sin (A + B) + sin (A B) Dengan cara yang sama didapat rumus: 0 = cos 90° 2212)° cos (6712 + 22 12)°

Contoh soal Nyatakan soal-soal di bawah ini ke dalam bentuk jumlah atau selisih sinus, kemud ian tentukan hasilnya. 1. sin 105° cos 15° 2. sin 127 12 ° sin 97 12 ° Trigonometri 99

Matematika SMA dan MA Kelas XI Program IPA 1003.3Penyelesaian 1. sin 105° cos 15° = 2 1 {sin (105 + 15)° + sin (105 15)° } = 2 1 (sin 120° + sin 90)° = 2 1 ( 32 1 + 1) = 34 1 + 2 1 2. sin 1127 2 ° sin 197 2 ° = 2 1 (2 sin 127 2 1 ° sin 97 2 1 °) = 2 1 {cos (127 2 1 ° 97 2 1 °) cos (127 2 1 ° + 97 2 1 °)} = 2 1 (cos 30° cos 225°) = 2 1 (cos 30° + cos 45°) = 2 1 1 13 22 2 . .+. .. . = ( )1 3 24 + Kerjakan soal-soal di bawah ini dengan benar. 1. Sederhanakanlah: a. 2 cos (x + 50)° cos (x 10)° b. 2 cos (x + 20)° sin (x 10)° 2. Tentukan nilai dari: a. cos 120° sin 60° b. sin 75° cos 15° 3. Tentukan nilai dari: a. 2 sin 52 2 1 ° sin 7 2 1 ° b. 2 cos 52 2 1 ° cos 7 2 1 ° 4. Tentukan nilai dari: a. sin 12 5 p cos 12 1 p b. cos 6 11 p cos 6 1 p 3.3Penyelesaian 1. sin 105° cos 15° = 2 1 {sin (105 + 15)° + sin (105 15)° } = 2 1 (sin 120° + sin 90)° = 2 1 ( 32 1 + 1) = 34

1 + 2 1 2. sin 1127 2 ° sin 197 2 ° 1 (2 sin 127 2 1 ° sin 97 2 1 °) = 2 1 {cos (127 2 1 ° 97 2 1 °) cos (127 2 1 ° + 97 2 1 °)} = 2 1 (cos 30° cos 225°) = 2 1 (cos 30° + cos 45°) = 2 1 1 13 22 2 . .+. .. . = ( )1 3 24 + Kerjakan soal-soal di bawah 1. Sederhanakanlah: a. 2 cos (x + 50)° cos (x b. 2 cos (x + 20)° sin (x 2. Tentukan nilai dari: a. cos 120° sin 60° b. sin 75° cos 15° 3. Tentukan nilai dari: a. 2 sin 52 2 1 ° sin 7 2 1 ° b. 2 cos 52 2 1 ° cos 7 2 1 ° 4. Tentukan nilai dari: a. sin 12 5 p cos 12 1 p b. cos 6 11 p cos 6 1 p

= 2

ini dengan benar. 10)° 10)°

2. Penggunaan Rumus Trigonometri Jumlah dan Selisih Dua Sudut dalam Pemecahan Masalah Untuk menentukan sudut-sudut selain 30°, 45°, 60° dan sebagainya (sudut istimewa ) dapat digunakan tabel logaritma maupun kalkulator. Akan tetapi dapat juga diguna kan rumus jumlah dan selisih dua sudut istimewa. a. Rumus Penjumlahan Cosinus Berdasarkan rumus perkalian cosinus, diperoleh hubungan penjumlahan dalam cosinus yaitu sebagai berikut. 2 cos A cos B = cos (A + B) + cos (A B) Misalkan: A + B = a A + B = a A B = ß A B = ß _ + 2A = a + ß 2B = a A = 1(a + ß) B = 1(a b) 2 2 Selanjutnya, kedua persamaan itu disubstitusikan. 2 cos A cos B = cos (A + B) + cos (A B) 2 cos 12 (a + ß) cos 12 (a ß) = cos a + cos ß atau Perhatikan contoh soal berikut. Contoh soal Sederhanakan: cos 100° + cos 20°. Penyelesaian cos 100° + cos 20° = 2 cos 1 (100 + 20)° cos 12 (100 2 = 2 cos 60° cos 40° = 2 · 12 cos 40° = cos 40° b. Rumus Pengurangan Cosinus Dari rumus 2 sin A sin B = cos (A B) cos (A + B), dengan memisalkan A + B = a dan A B = ß, terdapat rumus: cos a 1 (a + 1 (a cos a 1 (a + + cos ß = 2 cos 2 ß) cos 2 ß) cos ß = 2 sin 2 ß) sin 2 20)°

ß

1 (a ß) Trigonometri 101

Perhatikan contoh soal berikut. Contoh soal Sederhanakan cos 35° Penyelesaian cos 35° cos 25° = 2 sin 12 (35 + 25)° sin 12 (35 = 2 sin 30° sin 5° = 2 · 12 sin 5° = sin 5° 25)° cos 25°.

c. Rumus Penjumlahan dan Pengurangan Sinus Dari rumus 2 sin A cos B = sin (A + B) + sin (A A + B = a dan A B = ß, maka didapat rumus:

B), dengan memisalkan

sin a + sin ß = 2 sin 2 1 (a + ß) cos 2 1 (a ß) dan sin a sin ß = 2 cos 2 1 (a + ß) sin 2 1 (a ß) Agar lebih memahami tentang penjumlahan dan pengurangan sinus, pelajarilah penggunaannya dalam contoh soal berikut. Contoh soal 1. Sederhanakan sin 315° Penyelesaian 1 sin 315° sin 15° = 2 · cos 2 (315 + 15)° · sin 12 (315 =2 · cos 165° · sin 150° =2 · cos 165 · 12 = cos 165° 2. Sederhanakan sin 45° + sin 75°. Penyelesaian sin 45° + sin 75° = 2 · sin 12 (45 + 75)°· cos 12 (45 = 2 · sin 60° · cos ( 15)° 75)° 15)° sin 15°.

· cos 15° = 2· 1 32 = 3 cos 15° 102 Matematika SMA dan MA Kelas XI Program IPA

tan a+ tan ß = cos cos + a ß = cos cos cos cos + a ß a ßcos cos + a ß = cos cos cos cos + a ß a ß d. Rumus Penjumlahan dan Pengurangan Tangen sin a sin ß sin a cos ß cos asin ß sin a cos ß+cos a sin ß sin ( a+ß ) cos a cos ß 2 sin ( a+ß ) 2sin( a+ß ) Dengan cara yang sama didapat rumus: = cos cos a ß = = 2 cos cos a ß = cos ( ) cos ( )a+ß + a-ß tan a+ tan ß= 2 sin ( ) cos ( ) cos ( ) a+ß a+ß + a-ß tan a tan ß = 2 sin ( ) cos ( ) cos ( ) a-ß a+ß + a-ß Perhatikan penggunaan rumus penjumlahan pada contoh soal berikut. Contoh soal 1. Tentukan tan 52,5° Penyelesaian 2sin (52,5 ° 7,5 ) ° tan 52,5° tan 7,5° = 7,5 °) tan 7,5°.

( °+7,5 ) cos 52,5 ° cos 52,5 °+ ( · 11 2 () ( 2 ) = )· ( 22

11 11 +2 2 ) (22 22 11

= 2 sin 45 cos 60° + cos 45° = 12 22 1 1+ 22 2 = ( )1 12 22 2 42 ( )1 12 = 1 4 = -22 +4 = 4 2 2 Trigonometri 103 22 2

Matematika SMA dan MA Kelas XI Program IPA 1042. Tentukan nilai tan 165° + tan 7 5° Penyelesaian tan 165° + tan 75° = 2 sin (165 75) cos (165 75) cos (165 75) + ° + °+ - ° = 2 sin 450 cos 240 cos 90 ° °+ ° = 1 2 12 32·- = 23 3. Membuktikan Rumus Trigonometri dari Sinus dan Cosinus Jumlah dan Selisih Dua Sudut Kamu dapat membuktikan persamaan suatu trigonometri dengan menggunakan sinus dan cosinus jumlah dan selisih dua sudut. Perhatikan contoh soal berikut. Contoh soal 1. Diketahui tan A = 12 5 dan sin B = 4 5 , A dan B sudut lancip. Buktikan nilai cos (A + B) = 33 65 - . Bukti Penyelesaian ruas kiri: sin A ·sin B cos (A + B) = cos A ·cos B = 5 3 12 4 13 5 13 5 · - · = 15 48 65 65 = 33 65 - (terbukti) 2. Jika 2 cos (x + 2 p) = cos (x 2 p), maka buktikan sin x = 0. Bukti 2 cos (x + 2 p) = cos (x 2 p ) 2{cos x cos 2 p sin x sin 2 p} = cos x cos 2 p + sin x sin 2 p 2 cos x cos 2 p 2 sin x sin 2

p = cos x cos 2 p + sin x sin 2 p Ingat!! Jika tan a= 5 12 , maka sin A = 13 12 dan cos A = 13 5 Jika sin B = 5 4, maka cos B = 5 3 2 sin (165 75) cos (165 75) cos (165 75) + ° + °+ - ° = 2 sin 450 cos 240 cos 90 ° °+ ° = 1 2 12 32·- = 23 3. Membuktikan Rumus Trigonometri dari Sinus dan Cosinus Jumlah dan Selisih Dua Sudut Kamu dapat membuktikan persamaan suatu trigonometri dengan menggunakan sinus dan cosinus jumlah dan selisih dua sudut. Perhatikan contoh soal berikut. Contoh soal 1. Diketahui tan A = 12 5 dan sin B = 4 5 , A dan B sudut lancip. Buktikan nilai cos (A + B) = 33 65 - . Bukti Penyelesaian ruas kiri: cos (A + B) = cos A ·cos B sin A ·sin B = 5 3 12 4 13 5 13 5 · - · = 15 48 65 65 = 33 65 - (terbukti) 2. Jika 2 cos (x + 2 p) = cos (x 2 p), maka buktikan sin x = 0. Bukti 2 cos (x + 2 p) = cos (x 2 p )

2{cos x cos 2 p sin x sin 2 p} = cos x cos 2 p + sin x sin 2 p 2 cos x cos 2 p 2 sin x sin 2 p = cos x cos 2 p + sin x sin 2 p Ingat!! Jika tan a= 5 12 , maka sin A = 13 12 dan cos A = 13 5 Jika sin B = 5 4, maka cos B = 5 3

2 cos x · 0 2 sin x · 1 = cos x · 0 + sin x · 1 0 2 sin x = 0 + sin x 2 sin x sin x = 0 3 sin x = 0 sin x = 0 (terbukti) 4. Membuktikan Rumus Trigonometri Jumlah dan Selisih dari Sinus dan Cosinus Dua Sudut Kamu dapat membuktikan persamaan suatu trigonometri memakai jumlah dan selisih dari sinus dan cosinus dua sudut. Perhatikan contoh soal berikut ini. Contoh soal 1. Buktikan cos 75° Bukti cos 75° = cos 15° = 2 sin 12 (75° + 15°) sin 12 (75° 15°)

cos 15° =

2 sin 12 · 90° sin 12 · 60°

= 2 sin 45° · sin 30° 1 12 · 2 = 2 2 = (terbukti) 2. Buktikan sin ( p6 + A) + sin (( p6 A) = cos A Bukti Penyelesaian ruas kiri: pp pppp sin (6 + A) + sin ( 6 = 2 sin 12(2 p 6) · cos 12 (2A) = 2 sin ( p 6) · cos A = 2 · 12 cos A = cos A (terbukti ruas kiri = ruas kanan) 22 1 . A)=2 sin 12{(6 + A) + (6 A)} cos 12{(6 + A) (6 A)}

22 1 Trigonometri 105

Matematika SMA dan MA Kelas XI Program IPA 1061. Merancang dan Membuktikan Ident itas Trigonometri Identitas adalah suatu persamaan yang selalu benar untuk konstanta yang manapun juga. Cara membuktikan identitas trigonometri dapat menggunakan: a. rumus sinus dan cosinus jumlah dan selisih dua sudut, b. rumus perkalian sinus dan cosinus dalam jumlah atau selisih sinus atau cosinu s, c. rumus trigonometri jumlah dan selisih dua sudut dalam pemecahan masalah. Contoh soal 1. Buktikan: 2 1 cos 2 1 cos A A - = 2. Bukti Penyelesaian ruas kiri: 2 1 cos 2 1 cos A A - = 2 2 1 (1 2 sin ) sin A A -3.4Kerjakan soal-soal di bawah ini dengan benar. Tanpa tabel trigonometri atau kalkulator buktikan bahwa: cos 15° = 22 1. cos 75° 1 2. sin 80° + sin 40° = 3 cos 20° 3. sin A + cos A = 2 cos (A 45°) 4. tan 75° tan 15° = 2 3 5. sin 55 sin 35 2cos35 cos 25 ° ° =-°- ° cos 5° 6. sin180 sin 21 3sin 69 sin171 °+ ° = °- ° 7. cos 10° + cos 110° + cos 130° = 0 8. cos 465° + cos 165° + sin 105° + sin 15° = 0 C Menggunakan Rumus Jumlah dan Selisih Sinus dan Cosinus 1. Merancang dan Membuktikan Identitas Trigonometri Identitas adalah suatu persamaan yang selalu benar untuk konstanta yang manapun juga. Cara membuktikan identitas trigonometri dapat menggunakan: a. rumus sinus dan cosinus jumlah dan selisih dua sudut, b. rumus perkalian sinus dan cosinus dalam jumlah atau selisih sinus atau cosinu s, c. rumus trigonometri jumlah dan selisih dua sudut dalam pemecahan masalah. Contoh soal 1. Buktikan: 2 1 cos 2 1 cos A

A - = 2. Bukti Penyelesaian ruas kiri: 2 1 cos 2 1 cos A A - = 2 2 1 (1 2 sin ) sin A A -3.4Kerjakan soal-soal di bawah ini dengan benar. Tanpa tabel trigonometri atau kalkulator buktikan bahwa: 1. cos 75° cos 15° = 22 1 2. sin 80° + sin 40° = 3 cos 20° 3. sin A + cos A = 2 cos (A 45°) 4. tan 75° tan 15° = 2 3 5. sin 55 sin 35 2cos35 cos 25 ° ° =-°- ° cos 5° 6. sin180 sin 21 3sin 69 sin171 °+ ° = °- ° 7. cos 10° + cos 110° + cos 130° = 0 8. cos 465° + cos 165° + sin 105° + sin 15° = 0 C Menggunakan Rumus Jumlah dan Selisih Sinus dan Cosinus

107Trigonometri = 2 2 1 1 2sin sin A A -+ = 2 2 2sin sin A A = 2 Terbukti ruas kiri = ruas kanan. 2. Buktikan: cos3 cos5 sin 3 sin 5 A A A A + = tan A Bukti Penyelesaian ruas kiri: cos 3 cos 5 sin 3 sin 5 A A A A + = 1 1 2 2 1 1 2 2 2 sin (3 5 ) sin ( (3 5 )) 2 sin ( (3 5 ) cos ( (3 5 )) A A A A A A A A · + · · + · = 2 sin 4 sin ( ) 2 sin 4 cos ( ) A A A A · · = sin 4 ( sin ) sin 4 cos ( ) A A A A ·· = sin 4 sin

sin 4 cos A A A A · · = sin cos A B = tan A Terbukti ruas kiri = ruas kanan. 2. Menyelesaikan Masalah yang Melibatkan Rumus Jumlah dan Selisih Dua Sudut Perhatikan contoh soal berikut ini. Contoh soal Diketahui sin A = 5 3-dan A terletak di kuadran IV. Tentukan nilai: 1. sin 2A 2. cos 2A 3. tan 2A Penyelesaian 1. sin 2A = 2 sin A cos A = 2 ( 5 3-)( 5 4 ) = 25 24 Ingat!! sin A = 5 3cos A = 5 4 tan A = 4 32 2 1 1 2sin sin A A -+ = 2 2 2sin sin A A = 2 Terbukti ruas kiri = ruas kanan. 2. Buktikan: cos3 cos5 sin 3 sin 5 A A A A + = tan A Bukti Penyelesaian ruas kiri: cos 3 cos 5 sin 3 sin 5

A A + 1 2 1 2

A A

= 1 2 1 2 2 sin (3 5 ) sin ( (3 5 )) 2 sin ( (3 5 ) cos ( (3 5 )) A A A A A A A A · + · · + · = 2 sin 4 sin ( ) 2 sin 4 cos ( ) A A A A · · = sin 4 ( sin ) sin 4 cos ( ) A A A A ·· = sin 4 sin sin 4 cos A A A A · · = sin cos A B = tan A Terbukti ruas kiri = ruas kanan. 2. Menyelesaikan Masalah yang Melibatkan Rumus Jumlah dan Selisih Dua Sudut Perhatikan contoh soal berikut ini. Contoh soal Diketahui sin A = 5 3-dan A terletak di kuadran IV. Tentukan nilai: 1. sin 2A 2. cos 2A 3. tan 2A Penyelesaian 1. sin 2A = 2 sin A cos A = 2 ( 5 3-)( 5 4 ) = 25 24 Ingat!! sin A = 5 3cos A = 5

4 tan A = 4 3-

2. cos 2A = = = = 1 2 sin2 A 1 2 ( 5- 3)2 1 2 25 9 1 25 18 = 25 7 3. tan 2A = sin 2 cos 2 A A = - 24 7 25 25 24 · 25 24 = = 257 7 3.5 Kerjakan soal-soal di bawah ini dengan benar. 1. Diketahui a, ß, dan . menyatakan besar sudut-sudut dalam segitiga ABC. Dengan tan a = 3 dan tan ß = 1, tentukan tan .. 4 2. Diketahui tan x = , p < x < 23 p. Tentukan cos 3x + cos x. 3 p 3. Jika sin x = a, < x < p, tentukan cos x 2

tan x.

4. Jika0< A < p dan 0 < B < p memenuhi A + B = 23 p dan sin A = 2 sin B, tentukan (A B). 5. Diketahui cos (A B) = 1 3 dan cos A cos B = 1 dengan A, B sudut lancip. 2

2 cos ( AB) Tentukan nilai . cos ( AB) + 1. Rumus trigonometri untuk jumlah dan selisih dua sudut: a. cos (A + B) = cos A cos B sin A sin B b. cos (A B) = cos A cos B + sin A sin B c. sin (A + B) = sin A cos B + cos A sin B d. sin (A B) = sin A cos B cos A sin B 108 Matematika SMA dan MA Kelas XI Program IPA

tan A + tan B e. tan (A + B) = 1- tan A tan B tan A + tan B f. tan (A B) = 1+ tan A tan B 2. Rumus-rumus trigonometri untuk sudut ganda. a. sin 2A = 2 sin A cos A b. cos 2A = cos2A sin2A = 2 cos2A 1 = 1 2 sin2A 2 tan A c. tan 2A = 2 1- tan A 1- cos A d. sin 12 A = 2 cos A +1 e. cos 12 A = 2 sin A f. tan 12 A = 1+ cos A 1- cos A g. tan 12 A = sin A 3. Rumus-rumus cosinus. a. 2 cos A cos b. 2 sin A sin c. 2 sin A cos d. perkalian sinus dan cosinus dalam jumlah atau selisih sinus atau B = cos (A + B) + cos (A B = cos (A B) B)

cos (A + B) B)

B = sin (A + B) + sin (A

2 cos A sin B = sin (A + B) sin (A B) 4. Rumus-rumus penjumlahan dan pengurangan untuk sinus, cosinus, dan tangen. a. cos A + cos B = 2 cos 12(A + B) cos 12 (A B) b. cos A cos B = 2 sin 12(A + B) sin 12 (A B) c. sin A + sin B = 2 sin 12 (A + B) cos(A B) d. sin A sin B = 2 cos 12 (A + B) sin B) 2 sin (A + B) e. tan A + tan B = cos (A + B) + cos (A - B) 2 sin (A - B) f. tan A tan B = cos (A + B) + cos (A - B) Trigonometri 109

I. 1. 2. 3. 4. 5. Pilihlah salah satu jawaban yang paling benar. Diketahui sin A = 12 , sin B = 3 , dengan A dan B dikuadran I. Maka nilai cos (A + B) 13 5 adalah 16 .

a. 65 7 b. 25 7 c. 25 Sin 30° = .. 1 a. 4 b. 12 1 c. 4 2 sin 15° cos 15° = 1 2 a. 3 1 .

b. 2 1 2 c. 2 Jika tan A = 12 dan tan B =

1 2 a. 2 1 3 b. 2 1 2 c. 3 16 d. 65 65 e. 15 1 d. 2 e. 1 1 3 d. 2 e. 1 1 , maka tan (A + B) adalah 3 1 3 d. 3 e. 1 Sin 17° cos 13° + cos 17° sin 13° =

.

.

1 a. d. 1 2 b. e. 0 c. 22 1 32 1 110 Matematika SMA dan MA Kelas XI Program IPA

6. 2 cos2 30° 11 2 a. d. 2 3 b. e. 1 c. 7

1 =

.

7. Diketahui sin x = dan sin y = 3 , dengan x dan y sudut tumpul. Sin (x + y) = 25 5 22 1 32 1 117 3 a. 125 5 d. 34 b. 5 e. 125 - 4 c. 5 8. Jika sin (90 1 a. 3 d. 3 6 1 b. 3 e. 2 3 3 1 A)° = 2 3, maka tan A = .

.

3 c. 2 9. Sin 75° cos 15° + cos 75° sin 15° = 1 3 a. 0 d. 2 b. 6 e.1 c. 10. Jika tan 5° = p, maka tan 40° = . 62 1 1 p 1 + + p 1 d. a. 1 p p 1 1 + p p b.

..

e. 1 + p 2 1 p 1 c. p -1 1 cos 2 x + 11. senilai dengan 1 cos 2 x a. tan x d. cot2 x b. cot x e. cos2 x c. tan2 x Trigonometri 111

12. Cos 2A 2 cos2A = . a. 1 d. 2 cos A b. 1 e. 2 cos A sin A c. 2 sin A 13. Cos 41° cos 11° + sin 41° sin 11° = a. d. 0 b. e. 1 1 c. 2

.

14. Sin (x p 3 ) + sin (x 43 p ) = . a. 2 sin x d. 1 b. sin x e. sin x c. 0 15. Cos 44 12 cos 3012 sin 4412 sin 30 = .... 16. Jika cos 2A = , dengan A sudut lancip, maka tan A adalah a. 2 1 2 16 + 2 d. 4 1 4 16 - 2 b. 4 1 4 16 - 2 e. 4 1 4 16 - 2 c. 2 1 2 16 - 2 8 10 11 a. d. 3 10 11 b. e. 59 c. 20 1 17. sin 52,5° sin 7,5° = 411 2 1 2 1 .

.

a. () d. () 32 4 11 b. ( 2 16 8 1 ) e. ( 2 1 )

c. 2 ) 32 1 22 1 1 (1 2 1 112 Matematika SMA dan MA Kelas XI Program IPA

18. Cos 15° sin 15° = .... a. 0 d. cos 45° b. cos 60° e. cos 45° c. cos 60° 19. Sin 67,5° + sin 22,5° = . a. d. 2sin22,5°2 b. sin 22,5° e. 2 sin 22,5° c. cos 22,5° 20. Jika sin 2x = 1 -+ 2 p1 p +1 d. a. 2 2 p1 -+ b. e. 0 2 2 p +1 c. 2 II. Kerjakan soal-soal berikut ini dengan benar. 1. Diketahui sin A = 53 dan tan B = 125 . Hitunglah: a. sin (A + B) b. cos (A B) 2. Tentukan nilai dari: a. cos 123° cos 57° sin 123° sin 57° b. cos 100° sin 10° sin 100° cos 10° c. oo oo 12tan42tan1 12tan42tan + 3. Hitunglah nilai dari: 1° a. 2 sin 5212° cos 7 2 1° b. 2 cos 5212° sin 72 4. Nyatakan dalam bentuk paling sederhana. a. sin 75° + sin 15° b. cos 100° + cos 20° c. cos 35° cos 25° Trigonometri 113

4p², maka cos² x = .

5. Buktikan: - ) tan 12(AB sin A- sin B a. = sin A+ sin B 1( + ) AB tan 2 sin 3 A+ sin A

= tan 2 A b. cos3 A+ cos A 6. Sederhanakanlah: sin 80o + sin 40o a. cos80o + cos 40o cos 25o + cos115o b. cos115o - cos 25o sin A- sin 2 B c. 7. a. b. 8. 9. C= cos2 A+ cos2 B Jika cos 2A = 0,75, dengan 0° < A< 90°, hitunglah: cos A sin A Hitunglah nilai tan 75° + tan 15° . Diketahui A, B, Cadalah sudut-sudut dalam sebuah segitiga. Jika A 65 , hitunglah nilai dari cos Asin B.

B= 30° dan

10. Jika cos 2A= 108 , dengan A sudut lancip, berapakah tan A? 114 Matematika SMA dan MA Kelas XI Program IPA

4 v Lingkaran Persamaan Lingkaran Persamaan Garis Singgung Lingkaran Lihatlah benda-benda di sekitarmu. Dapatkah kamu menemukan benda-benda berbentuk lingkaran? Ternyata banyak sekali benda-benda berbentuk lingkaran, sep erti roda kendaraan, CD, arloji, dan sebagainya. Dalam bab ini kamu akan mempelajari lingkaran yang terkait dengan persamaan lingkaran dan garis singgungnya. Dengan mempelajarinya, kamu akan dapat menyusun persamaan lingkaran yang memenuhi syarat tertentu serta menentukan persamaan garis singgung pada lingkaran dengan berbagai situasi.

Lingkaran Persamaan Lingkaran Persamaan garis singgung Lingkaran Persamaan lingkaran berpusat di (0, 0) dan (a, b) Kedudukan titik dan garis terhadap lingkaran Menentukan pusat dan jari-jari lingkaran yang persamaannya diketahui Merumuskan persamaan garis singgung yang melalui suatu titik pada lingkaran Merumuskan persamaan garis singgung yang gradiennya diketahui Melukis garis yang menyinggung lingkaran dan menentukan sifatsifatnya Persamaan garis singgung lingkaran Lingkaran Persamaan Lingkaran Persamaan garis singgung Lingkaran Persamaan lingkaran berpusat di (0, 0) dan (a, b) Kedudukan titik dan garis terhadap lingkaran Menentukan pusat dan jari-jari lingkaran yang persamaannya diketahui Merumuskan persamaan garis singgung yang melalui suatu titik pada lingkaran Merumuskan persamaan garis singgung yang gradiennya diketahui Melukis garis yang menyinggung lingkaran dan menentukan sifatsifatnya Persamaan garis singgung lingkaran pusat lingkaran sejajar

diskriminan tegak lurus posisi titik persamaan lingkaran posisi garis garis kutub gradien 116 Matematika SMA dan MA Kelas XI Program IPA

117Lingkaran A Persamaan Lingkaran 1. Pengertian Lingkaran Lingkaran adalah tempat kedudukan atau himpunan titik-titik yang berjarak sama terhadap suatu titik yang tertentu. Titik tertentu tersebut dinamakan pusat lingkaran dan jarak yang tetap tersebut dinamakan jari-jari lingkaran. Dari gambar di samping, titik O adalah pusat lingkaran. Titik A, B, C, D terletak pada lingkaran, maka OA = OB = OC = OD adalah jari-jari lingkaran = r. 2. Persamaan Lingkaran Berpusat di O(0, 0) dan (a, b) a. Persamaan Lingkaran dengan Pusat di O(0, 0) Jika titik A(xA , yA) terletak pada lingkaran yang berpusat di O, maka berlaku OA = jari-jari lingkaran. Dengan menggunakan rumus jarak titik O(0, 0) ke titik A(xA , yA) diperoleh: OA = r = 2 2( 0) ( 0)A Ax y- + r2 = (xA 0)2 + (yA 0)2 r2 = xA 2 + yA 2 Jadi persamaan lingkaran dengan pusat O(0, 0) dan berjari-jari r adalah: x2 + y2 = r2 Untuk lebih memahami tentang cara menentukan persamaan lingkaran berpusat di O(0, 0), pelajarilah contoh soal berikut. Contoh soal Tentukan persamaan lingkaran jika diketahui: 1. pusatnya O(0, 0) dan berjari-jari 12; 2. pusatnya O(0, 0) dan melalui (7, 24). Penyelesaian 1. Lingkaran yang berpusat di O(0, 0) dan r = 12, maka persamaannya: x2 + y2 = r2 . x2 + y2 = 122 . x2 + y2 = 144 Jadi, persamaan lingkaran dengan pusat di O(0, 0) dan r = 12 adalah x2 + y2 = 144. AD C B O r r r r Ingat!! OA2 = OB2 + BA2 r2 = x2 + y2 atau x2 + y2 = r2 O A Persamaan Lingkaran 1. Pengertian Lingkaran Lingkaran adalah tempat kedudukan atau himpunan titik-titik yang berjarak sama terhadap suatu titik yang tertentu. Titik tertentu tersebut dinamakan pusat lingkaran dan jarak yang tetap tersebut dinamakan jari-jari lingkaran. Dari gambar di samping, titik O adalah pusat

lingkaran. Titik A, B, C, D terletak pada lingkaran, maka OA = OB = OC = OD adalah jari-jari lingkaran = r. 2. Persamaan Lingkaran Berpusat di O(0, 0) dan (a, b) a. Persamaan Lingkaran dengan Pusat di O(0, 0) Jika titik A(xA , yA) terletak pada lingkaran yang berpusat di O, maka berlaku OA = jari-jari lingkaran. Dengan menggunakan rumus jarak titik O(0, 0) ke titik A(xA , yA) diperoleh: OA = r = 2 2( 0) ( 0)A Ax y- + r2 = (xA 0)2 + (yA 0)2 r2 = xA 2 + yA 2 Jadi persamaan lingkaran dengan pusat O(0, 0) dan berjari-jari r adalah: x2 + y2 = r2 Untuk lebih memahami tentang cara menentukan persamaan lingkaran berpusat di O(0, 0), pelajarilah contoh soal berikut. Contoh soal Tentukan persamaan lingkaran jika diketahui: 1. pusatnya O(0, 0) dan berjari-jari 12; 2. pusatnya O(0, 0) dan melalui (7, 24). Penyelesaian 1. Lingkaran yang berpusat di O(0, 0) dan r = 12, maka persamaannya: x2 + y2 = r2 . x2 + y2 = 122 . x2 + y2 = 144 Jadi, persamaan lingkaran dengan pusat di O(0, 0) dan r = 12 adalah x2 + y2 = 144. AD C B O r r r r Ingat!! OA2 = OB2 + BA2 r2 = x2 + y2 atau x2 + y2 = r2 O

Matematika SMA dan MA Kelas XI Program IPA 1182. Lingkaran yang berpusat di O(0, 0) dan melalui (7, 24). Maka jari-jari r = 2 2x y+ = 2 27 ( 24)+- = 49 576 625 + = = 25 Jadi, persamaan lingkaran dengan pusat di O(0, 0) dan melalui (7, 24) adalah x2 + y2 = 625. b. Persamaan Lingkaran Berpusat di Titik A(a, b) Jika titik A(a, b) adalah pusat lingkaran dan titik B(x, y) terletak pada lingkaran, maka jari-jari lingkaran r sama dengan jarak dari A ke B. r = jarak A ke B r2 = (AB)2 = (xB xA)2 + (yB yA)2 = (x a)2 + (y b)2 Jadi persamaan lingkaran yang berpusat di (a, b) dan berjari-jari r adalah: (x a)2 + (y b)2 = r2 Untuk memahami tentang persamaan lingkaran berpusat di titik A (a, b), perhatika n contoh soal berikut. Contoh soal Tentukan persamaan lingkaran jika diketahui: 1. pusatnya ( 2, 3) dan berjari-jari 5; 2. pusatnya (5, 2) dan melalui ( 4, 1); 3. pusatnya (4, 5) dan menyinggung sumbu X. Penyelesaian 1. Pusat ( 2, 3), r = 5 Persamaan lingkaran: (x ( 2))2 + (y 3)2 = 52 (x + 2)2 + (y 3)2 = 25 x2 + 4x + 4 + y2 6y + 9 = 25 x2 + y2 + 4x 6y + 13 = 25 x2 + y2 + 4x 6y 12 = 0 2. Pusat (5, 2) dan melalui ( 4, 1) r = 2 2(5 ( 4)) (2 1) -- + = 2 2(5 4) (2 1)+ + = 2 29 1 81 1 82 + = += Ingat!! Jarak antara titik A(x1, y1) dan B(x2, y2) adalah: AB = 2 2 1 2 1 2( ) ( )x x y y- + 2 2x y+ = 2 27 ( 24)+- = 49 576 625 + = = 25 Jadi, persamaan lingkaran dengan pusat di O(0, 0) dan melalui (7, 24) adalah x2 + y2 = 625. b. Persamaan Lingkaran Berpusat di Titik A(a, b) Jika titik A(a, b) adalah pusat lingkaran dan titik B(x, y) terletak pada lingkaran, maka jari-jari lingkaran r sama dengan jarak dari A ke B. r = jarak A ke B r2 = (AB)2 = (xB xA)2 + (yB yA)2 = (x a)2 + (y b)2 Jadi persamaan lingkaran yang berpusat di (a, b) dan berjari-jari r adalah: (x a)2 + (y b)2 = r2 Untuk memahami tentang persamaan lingkaran berpusat di titik A (a, b), perhatika n contoh soal berikut. Contoh soal Tentukan persamaan lingkaran jika diketahui:

1. pusatnya ( 2, 3) dan berjari-jari 5; 2. pusatnya (5, 2) dan melalui ( 4, 1); 3. pusatnya (4, 5) dan menyinggung sumbu X. Penyelesaian 1. Pusat ( 2, 3), r = 5 Persamaan lingkaran: (x ( 2))2 + (y 3)2 = 52 (x + 2)2 + (y 3)2 = 25 x2 + 4x + 4 + y2 6y + 9 = 25 x2 + y2 + 4x 6y + 13 = 25 x2 + y2 + 4x 6y 12 = 0 2. Pusat (5, 2) dan melalui ( 4, 1) r = 2 2(5 ( 4)) (2 1) -- + = 2 2(5 4) (2 1)+ + = 2 29 1 81 1 82 + = += Ingat!! Jarak antara titik A(x1, y1) dan B(x2, y2) adalah: AB = 2 2 1 2 1 2( ) ( )x x y y- + -

82 )282 )2 Persamaan lingkaran: (x

5)2 + (y

2)2=(

x2 10x + 25 + y2 4y +4 =82 x2 + y2 10x 4y + 29 =82 x2 + y2 10x 4y 53 =0 3. Pusat (4, 5) dan menyinggung sumbu X . jari-jari lingkaran = 5 Persamaan lingkaran: (x 4)2 + (y 5)2 =52 x2 8x + 16 + y2 10y + 25 =25 x2 + y2 8x 10y + 41 =25 x2 + y2 8x 10y + 16 =0 3. Menentukan Pusat dan Jari-Jari Lingkaran yang Persamaannya Diketahui Berdasarkan persamaan lingkaran dengan pusat (a, b) dan berjari-jari r adalah: (x a)2 + (y b)2 = r2 x2 2ax + a2 + y2 2by + b2 = r2 x2 + y2 2ax 2by + a2 + b2 = r2 x2 + y2 2ax 2by + a2 + b2 r2 = 0 Jika 2a = 2A, lingkaran: 2b = 2B dan a2 + b2 r2 = C, maka diperoleh bentuk umum persamaan

x2 + y2 + 2Ax + 2By + C = 0, di mana pusatnya ( A, B) dan jarijari lingkaran (r) = 2 2 2a b C+ - atau r = 2 2A B C+ Untuk lebih memahaminya, pelajarilah contoh soal berikut ini. Contoh soal 1. Tentukan koordinat pusat dan panjang jari-jari lingkaran apabila diketahui persa maan lingkaran sebagai berikut. a.x2 + y2 2x 6y 15 = 0 b. 2x2 + 2y2 4x + 3y = 0 c. 3x2 + 3y2 + 30x + 72 = 0 Penyelesaian a.x2 x2 + Maka 2A = + y2 2x 6y 15 = 0 y2 + 2Ax + 2By + C = 0 diperoleh: 2 2B = 6 C = 15 3

A = 1 B =

Lingkaran 119

r = A2 +B2 -C = ( 1)2 ()32 (15) - +- -= 1 9 15 25 ++ = = 5 Jadi, pusat lingkaran (1, 3) dan jari-jari lingkaran = 5. b. 2x2 + 2y2 4x + 3y = 0 x2 + y2 2x + 1 12 y = 0 x2 + y2 + 2Ax + 2By + C = 0 Maka diperoleh: 11 2A = 2 2B = C = 0 2 3 A = 1 B = 4 r = 22 A +B -C = ( 1) 2 +3 )2 -0 (4 9 = 1+ 16 25 5 = = 164 5

Jadi, pusat lingkaran (1, c. 3x2 + 3y2 + 30x + 72 = 0 x2 + y2 + 10x + 24 = 0 x2 + y2 + 2Ax + 2By + C = 0 Maka diperoleh: 2A = 10 2B = 0 C = 24 A = 5 B = 0 r = 22 A +B -C = 52 +- 02 24

43 ) dan jari-jari lingkaran = 4 .

=1 = 1 Jadi, pusat lingkaran ( 5, 0) dan jari-jari lingkaran = 1. 2. Tentukan persamaan lingkaran yang melalui titik (3, an tentukan pula pusat dan jari-jari lingkaran. = 25 24 120Matematika SMA dan MA Kelas XI Program IPA

1), (5, 3), dan (6, 2) kemudi

Penyelesaian Persamaan lingkaran adalah x2 + y2 + ax + by + c = 0 Melalui (3, 1) maka: x2 + y2 + ax + by + c = 0 32 + ( 1)2 + a · 3 + b · ( 1) + c = 0 9 + 1 + 3a b + c = 0 3a b + c + 10 = 0 (1) Melalui (5, 3), maka: x2 + y2 + ax + by + c = 0 52 + 32 + a · 5 + b · 3 + c = 0 25 + 9 + 5a + 3b + c = 0 5a + 3b + c + 34 = 0 (2) Melalui (6, 2) maka: x2 + y2 + ax + by + c = 0 62 + 22 + 6a + 2b + c = 0 36 + 4 + 6a + 2b + c = 0 6a + 2b + c + 40 = 0 (3) Dari persamaan (1) dan (2): Dari persamaan (2) dan (3): 3a b + c + 10 = 0 5a + 3b + c + 34 = 0 5a + 3b + c + 34 = 0 _ 6a + 2b + c + 40 = 0 _ 2a 4b +0 24 = 0 a + b 6 =0 a + 2b + 12 = 0 (4) a b + 6 = 0 (5)

Dari persamaan (4) dan (5): a + 2b + 12= 0 a b + 6 = 0 _ 3b + 6 = 0 b = 2 b = 2 disubstitusikan ke persamaan (5): a b + 6 = 0 a + 2 + 6 = 0 a + 8 = 0 a = 8 a = 8, b = 2 disubstitusikan ke persamaan (1):

3a b + c + 10 = 0 3( 8) ( 2) + c + 10 = 0 24 + 2 + c + 10 = 0 c = 12 Lingkaran 121

Matematika SMA dan MA Kelas XI Program IPA 122Jadi persamaan lingkaran adalah: x2 + y2 + ax + by + c = 0 x2 + y2 8x 2y + 12 = 0 Maka diperoleh: 2A = 8 2B = 2 C = 12 A = 4 B = 1 r = 2 2A B C+ = 2 2( 4) ( 1) 12- +- = 16 1 12 5+- = Jadi, pusat ( A, B) = (4, 1) dan jari-jari r = 5 . Buatlah kelasmu menjadi kelompok-kelompok kemudian kerjakan soal berikut. 1. Jika persamaan lingkaran x2 + y2 + 2Ax + 2By + C = 0, apa yang kami ketahui jika A2 + B2 C = 0? 2. Apakah sebuah titik juga merupakan lingkaran? Cocokkan dengan kelompok lain, adakan tanya jawab materi yang sedang diberikan. 4.1Kerjakan soal-soal dibawah ini dengan benar. 1. Tentukan persamaan lingkaran yang berpusat di O(0, 0) dan melalui titik: a. ( 3, 4) c. (5, 2) b. ( 7, 24) d. (8, 6) 2. Tentukan persamaan lingkaran yang berpusat di O(0, 0) dan diketahui: a. berjari-jari 5 c. menyinggung garis x = 3 b. berjari-jari 7 d. menyinggung garis y = 4 3. Tentukan persamaan lingkaran berikut yang diketahui hal-hal berikut. a. Berpusat di (1, 2) dan berjari-jari 5. b. Berpusat di ( 3, 4) dan berjari-jari 7. c. Berpusat di (5, 2) dan berjari-jari 3. d. Berpusat di ( 4, 5) dan berjari-jari 6 . 2 2A B C+ = 2 2( 4) ( 1) 12- +- = 16 1 12 5+- = Jadi, pusat ( A, B) = (4, 1) dan jari-jari r = 5 . Buatlah kelasmu menjadi kelompok-kelompok kemudian kerjakan soal berikut. 1. Jika persamaan lingkaran x2 + y2 + 2Ax + 2By + C = 0, apa yang kami ketahui jika A2 + B2 C = 0? 2. Apakah sebuah titik juga merupakan lingkaran? Cocokkan dengan kelompok lain, adakan tanya jawab materi yang sedang diberikan. 4.1Kerjakan soal-soal dibawah ini dengan benar. 1. Tentukan persamaan lingkaran yang berpusat di O(0, 0) dan melalui titik: a. ( 3, 4) c. (5, 2) b. ( 7, 24) d. (8, 6) 2. Tentukan persamaan lingkaran yang berpusat di O(0, 0) dan diketahui: a. berjari-jari 5 c. menyinggung garis x = 3 b. berjari-jari 7 d. menyinggung garis y = 4 3. Tentukan persamaan lingkaran berikut yang diketahui hal-hal berikut. a. Berpusat di (1, 2) dan berjari-jari 5. b. Berpusat di ( 3, 4) dan berjari-jari 7. c. Berpusat di (5, 2) dan berjari-jari 3. d. Berpusat di ( 4, 5) dan berjari-jari 6 .

4. Tentukan persamaan lingkaran dengan pusat dan melalui salah satu titik yang diketahui hal-hal berikut. a. Pusat (3, 4) dan melalui titik (5, 5). b. Pusat ( 2, 3) dan melalui titik ( 3, 4). c. Pusat (4, 6) dan melalui titik (1, 2). d. Pusat ( 5, 6) dan melalui titik ( 3, 1). 5. Tentukan pusat dan jari-jari lingkaran dari persamaan lingkaran berikut. a. x2 + y2 4x 6y 12 = 0 b.x2 + y2 2x 6y 15 = 0 c. x2 + y2 4x + 8y 29 = 0 d. 2x2 + 2y2 4x + 16y + 2 = 0 6. Tentukan persamaan lingkaran yang melalui titik-titik berikut dan tentukan pula pusat dan jari-jari lingkarannya. a. ( 2, 0), (6, 0), dan (5, 7) c. (2, 1), (1, 2), dan (1, 0) b. (5, 5), (2, 6), dan (7, 1) d. (5, 1), (4, 6), dan (2, 2) 4. Kedudukan Titik dan Garis terhadap Lingkaran a. Posisi Titik P(x1, y1) terhadap Lingkaran x2 + y2 = r2 1) Titik P(x1, y1) terletak di dalam lingkaran, jika berlaku x12 + y12 < r2. 2) Titik P(x1, y1) terletak pada lingkaran, jika berlaku x12 + y12 = r2. 3) Titik P(x1, y1) terletak di luar lingkaran, jika berlaku x12 + y12 > r2. Untuk lebih jelasnya, perhatikan contoh soal berikut. Contoh soal Tentukan posisi titik-titik berikut terhadap lingkaran x2+ y2 = 25 1. A(3, 1) 2. B( 3, 4) 3. C(5, 6) Penyelesaian 1. A(3, 1) . x2 + y2 = 32 + 12 = 9 + 1 = 10 < 25 Jadi A(3, 1) terletak di dalam lingkaran x2 + y2 = 25. 2. B( 3, 4) . x2 + y2= ( 3)2 + 42 = 9 + 16 = 25 = 25 Jadi B( 3, 4) terletak pada lingkaran x2 + y2 = 25. Lingkaran 123

Matematika SMA dan MA Kelas XI Program IPA 1243. C(5, 6) . x2 + y2 = 52 + ( 6)2 = 2 5 + 36 = 61 > 25 Jadi C(5, 6) terletak di luar lingkaran x2 + y2 = 25. b. Posisi Titik P(x1, y1) terhadap Lingkaran (x a)2 + (y b)2 = r2 a. Titik P(x1, y1) terletak di dalam lingkaran, jika berlaku (x1 a)2 + (y1 b)2 < r2. b. Titik P(x1, y1) terletak pada lingkaran, jika berlaku (x1 a)2 + (y1 b)2 = r2. c. Titik P(x1, y1) terletak di luar lingkaran, jika berlaku (x1 a)2 + (y1 b)2 > r2. Coba perhatikan contoh soal berikut ini. Contoh soal Tentukan posisi titik-titik berikut terhadap lingkaran x2 + y2 6x + 8y = 0 1. A(0, 0) 2. B(2, 1) 3. C(3, 2) Penyelesaian 1.A(0, 0) . x2 + y2 6x + 8y = 02 + 02 6 · 0 + 8 · 0 = 0 + 0 + 0 + 0 = 0 Jadi titik A(0, 0) terletak pada lingkaran x2 + y2 6x + 8y = 0 2. B(2, 1) . x2 + y2 6x + 8y = 22 + 12 6 · 2 + 8 · 1 = 4 + 1 12 + 8 = 1 > 0 Jadi B(2, 1) terletak di luar lingkaran x2 + y2 6x + 8y = 0 3. C(3, 2) . x2 + y2 6x + 8y = 32 + ( 2)2 6 · 3 + 8 ( 2) = 9 + 4 18 16 = 21 < 0 Jadi C(3, 2) terletak di dalam lingkaran x2 + y2 6x + 8y = 0 c. Posisi Garis y = mx + n terhadap Suatu Lingkaran Jika persamaan garis y = mx + n disubstitusikan ke persamaan lingkaran x2 + y2 + 2Ax + 2By + C = 0 diperoleh persamaan: x2 + (mx + n)2 +2Ax + 2B (mx + n) + C = 0 x2 + m2 x2 + 2mnx + n2 +2Ax + 2Bmx + 2Bn + C = 0 (1 + m2)x2 + (2mn + 2A + 2Bm)x + (n2 + 2Bn + C) = 0 D = (2mn + 2A + 2Bm)2 4 (1 + m2) (n2 + 2Bn + C) = 0 Jika persamaan kuadrat ax2 + bx + c = 0, D = diskriminan = b2 4ac Jarak pusat lingkaran P(x1, y1) ke garis ax + by + c = 0 adalah k = 1 1 2 2 ax by c a b + + + Ingat!! 1 1 2 2 ax by c a b + + + Ingat!!

Maka ada tiga kemungkinan posisi garis terhadap suatu lingkaran yaitu: 1) Jika D < 0, maka persamaan garis y = mx + n terletak di luar lingkaran x2 + y2+ 2Ax + 2By + C = 0, dan tidak memotong lingkaran atau jarak pusat lingkaran ke garis lebih dari jari-jari lingkaran (k > r). 2) Jika D = 0, maka persamaan garis y = mx + n terletak pada lingkaran x2+ y2 + 2Ax + 2By + C = 0 dan memotong lingkaran di satu titik atau jarak pusat lingkaran ke garis sama dengan jari-jari lingkaran (k = r). 3) Jika D > 0, maka persamaan garis garis y = mx + n terletak di dalam lingkaran x2+ y2 + 2Ax + 2By + C = 0, dan memotong lingkaran di dua titik atau jarak pusat lingkaran ke garis lebih kecil dari jari-jari lingkaran (k < r). Perhatikan gambar berikut. (a, b) r y = mx (a, b) Ak (a, k y = mx y = mx

+ n b) B + n + n

D < 0 D = 0 D > 0 Untuk lebih memahami tentang posisi garis y = mx + n terhadap suatu lingkaran, pelajarilah contoh soal berikut. Contoh soal Tentukan posisi titik A(6, 1. x2 + y2 = 100 2. x2 + y2 6x + 8y + 25 = 0 3. (x 1)2 + (y + 2)2 = 64 Penyelesaian 1. A(6, 8) disubstitusikan ke persamaan lingkaran x2+ y2 = 100 diperoleh 62 + ( 8)2 = 36 + 64 = 100 Jadi A(6, 8) terletak pada lingkaran x2 + y2 = 100. 2.A(6, 8) disubstitusikan ke persamaan lingkaran x2 + y2 6x + 8y + 25 = 0 diperoleh 62 + ( 8)2 6 · 6 + 8 ( 8) + 25 = 36 + 64 36 64 + 25 = 25 > 0 Jadi A(6, 8) terletak di luar lingkaran x2 + y2 6x + 8y + 25 = 0. 3.A(6, 8) disubstitusikan ke persamaan lingkaran (x 1)2 + (y + 2)2 = 64 diperoleh (6 1)2+ ( 8 + 2)2 = 52 + ( 6)2 = 25 + 36 = 61 < 64 Jadi A(6, 8) terletak di dalam lingkaran (x 1)2 + (y + 2)2 = 64. 8) terhadap lingkaran:

Lingkaran 125

Pelajarilah pula contoh soal berikut ini. Contoh soal 1. Tentukan posisi garis x y + 1 = 0 terhadap lingkaran x2 + y2 = 25. Jika berpoton gan, tentukan titik potongnya. Penyelesaian x y + 1 = 0 . y = x + 1 .. (1) x2 + y2 = 25 (2) Dari persamaan (1) disubtitusikan ke persamaan (2): x2 + y2= 25 D= b2 4ac x2 + (x + 1)2 = 25=12 4 · 1 ( 12) x2 + x2 + 2x +1 = 25 = 1 + 48 x2 + x2 + 2x + 1 25 = 0= 49 > 0 2x2 + 2x 24 = 0 x2 + x 12 = 0 Ternyata D > 0, sehingga garis x y + 1 memotong lingkaran x2+ y2 = 25 di dua titik yang berbeda. Titik-titik potongnya adalah: x2 + x 12 = 0 (x + 4) (x 3) = 0 x + 4 = 0 atau x 3 =0 x = 4 atau x = 3 Untuk x = 4 disubtitusikan ke persamaan: y = x + 1 = 4+1 = 3 . ( 4, 3) Untuk x = 3 disubtitusikan ke persamaan: y = x + 1 =3 + 1 =4 . (3, 4) Jadi, titik potongnya adalah ( 4, 3) dan (3, 4). 2. Tentukan posisi garis 2x Penyelesaian 2x x2 + Dari x2 + x2 + x2 + 5x2

y + 1 = 0 terhadap lingkaran x2+ y2

4x

2y + 2 = 0.

y + 1 = 0 . y = 2x + 1 (1) y2 4x 2y + 2 = 0 (2) persamaan (1) disubstitusikan ke persamaan (2): y2 4x 2y + 2 =0 (2x +1)2 4x 2 (2x + 1) + 2 =0 4x2 + 4x + 1 4x 4x 2 + 2 = 0 4x + 1 = 0

126 Matematika SMA dan MA Kelas XI Program IPA

127Lingkaran D = b2 4ac = ( 4)2 4 · 5 · 1 = 16 20 = 4 < 0 Ternyata D < 0, dengan demikian garis 2x y + 1 tidak memotong lingkaran x2 + y2 4x 2y + 2 = 0. 4.2Kerjakan soal-soal di bawah ini dengan benar. 1. Diketahui persamaan lingkaran x2 + y2 = p2. Tentukan batas-batas nilai p supa ya a. Titik A( 9, 5) terletak di luar lingkaran b. Titik B( 5, 5) terletak di dalam lingkaran c. Titik C(6, 8) terletak pada lingkaran 2. Tentukan posisi titik-titik berikut terhadap lingkaran x2 + y2 + 2x 4y 60 = 0 a. (5, 3) b. (7, 1) c. (10, 0) 3. Tentukan nilai a jika titik-titik berikut terletak pada lingkaran x2 + y2 + 1 3x + 5y + 6 = 0 a. A (p, 3) b. B ( 4, p) c. C (p, 6) 4. Tentukan posisi garis-garis berikut terhadap lingkaran x2 + y2 = 9. a.y = 3 b. 3x + y 3 = 0 c. 5x + 7y = 35 5. Tentukan posisi garis-garis berikut terhadap lingkaran x2 + y2 2x 2y 14 = 0 a. 5x + 4y + 20 = 0 b. 2x + 3y = 6 c. x + y = 1 B. Persamaan Garis Singgung Lingkaran 1. Persamaan Garis Singgung yang Melalui Suatu Titik pada Lingkaran Telah kamu pelajari bahwa posisi garis terhadap lingkaran ada tiga kemungkinan, yaitu garis yang memotong lingkaran di dua titik yang berbeda, garis yang tidak memotong lingkaran, dan garis yang memotong lingkaran di satu titik atau yang sering dise but garis singgung pada lingkaran. D = b2 4ac = ( 4)2 4 · 5 · 1 = 16 20 = 4 < 0 Ternyata D < 0, dengan demikian garis 2x y + 1 tidak memotong lingkaran x2 + y2 4x 2y + 2 = 0. 4.2Kerjakan soal-soal di bawah ini dengan benar. 1. Diketahui persamaan lingkaran x2 + y2 = p2. Tentukan batas-batas nilai p supa ya a. Titik A( 9, 5) terletak di luar lingkaran b. Titik B( 5, 5) terletak di dalam lingkaran c. Titik C(6, 8) terletak pada lingkaran 2. Tentukan posisi titik-titik berikut terhadap lingkaran x2 + y2 + 2x 4y 60 = 0 a. (5, 3) b. (7, 1) c. (10, 0) 3. Tentukan nilai a jika titik-titik berikut terletak pada lingkaran x2 + y2 + 1 3x + 5y + 6 = 0 a. A (p, 3) b. B ( 4, p) c. C (p, 6) 4. Tentukan posisi garis-garis berikut terhadap lingkaran x2 + y2 = 9. a.y = 3 b. 3x + y 3 = 0

c. 5x + 7y = 35 5. Tentukan posisi garis-garis berikut terhadap lingkaran x2 + y2 2x 2y 14 = 0 a. 5x + 4y + 20 = 0 b. 2x + 3y = 6 c. x + y = 1 B. Persamaan Garis Singgung Lingkaran 1. Persamaan Garis Singgung yang Melalui Suatu Titik pada Lingkaran Telah kamu pelajari bahwa posisi garis terhadap lingkaran ada tiga kemungkinan, yaitu garis yang memotong lingkaran di dua titik yang berbeda, garis yang tidak memotong lingkaran, dan garis yang memotong lingkaran di satu titik atau yang sering dise but garis singgung pada lingkaran.

Matematika SMA dan MA Kelas XI Program IPA 128a. Persamaan Garis Singgung di Tit ik P (x1, y1) pada Lingkaran x2 + y2 = r2 Garis singgung l menyinggung lingkaran x2 + y2 = r2 di titik P(x1, y1) karena OP . garis l. mOP . ml = 1 1 1 y x . ml = 1 ml = 1 1 1 y x ml = 1 1 x y Persamaan garis singgungnya sebagai berikut. y y1 = ml (x x1) y y1 = 1 1 x y - (x x1) y1 (y y1) = x1 (x x1) y1y y1 2 = x1x + x1 2 x1x + y1y = x1 2 + y1 2 x1x + y1y = r2 Jadi persamaan garis singgung pada lingkaran x2 + y2 = r2 di (x1, y1) ialah: x1x + y1y = r2 Agar kamu lebih memahami materi ini, pelajarilah contoh soal berikut. Contoh soal Tunjukkan bahwa titik (6, 8) terletak pada lingkaran x2 + y2 = 100, kemudian tentukan pula garis singgungnya. Penyelesaian Ditunjukkan bahwa titik (6, 8) terletak pada lingkaran x2 + y2 = 100, yaitu denga n mensubstitusikan (6, 8) pada lingkaran x2 + y2 = 100 62 + ( 8)2 = 100 36 + 64 = 100 Terbukti bahwa titik (6, 8) terletak pada lingkaran x2 + y2 = 100 Persamaan garis singgung di titik (6, 8) pada lingkaran x2 + y2 = 100 adalah: x1x + y1y = r2 6x 8y = 100 3x 4y = 50 Gradien garis OP di titik P (x1, y1) adalah mOP = 1 1 y x . Dua garis tegak lurus jika

perkalian gradiennya = 1. Ingat!! 1 1 y x . ml = 1 ml = 1 1 1 y x ml = 1 1 x y Persamaan garis singgungnya sebagai berikut. y y1 = ml (x x1) y y1 = 1 1 x y - (x x1) y1 (y y1) = x1 (x x1) y1y y1 2 = x1x + x1 2 x1x + y1y = x1 2 + y1 2 x1x + y1y = r2 Jadi persamaan garis singgung pada lingkaran x2 + y2 = r2 di (x1, y1) ialah: x1x + y1y = r2 Agar kamu lebih memahami materi ini, pelajarilah contoh soal berikut. Contoh soal Tunjukkan bahwa titik (6, 8) terletak pada lingkaran x2 + y2 = 100, kemudian tentukan pula garis singgungnya. Penyelesaian Ditunjukkan bahwa titik (6, 8) terletak pada lingkaran x2 + y2 = 100, yaitu denga n mensubstitusikan (6, 8) pada lingkaran x2 + y2 = 100 62 + ( 8)2 = 100 36 + 64 = 100 Terbukti bahwa titik (6, 8) terletak pada lingkaran x2 + y2 = 100 Persamaan garis singgung di titik (6, 8) pada lingkaran x2 + y2 = 100 adalah: x1x + y1y = r2 6x 8y = 100 3x 4y = 50 Gradien garis OP di titik P (x1, y1) adalah mOP = 1 1 y x . Dua garis tegak lurus jika perkalian gradiennya = 1. Ingat!!

b. Persamaan Garis Singgung Melalui Titik (x1, y1) pada Lingkaran (x a)2 + (y b)2 = r2 Perhatikan gambar berikut. Gradien garis PQ adalah: yb QR 1 m = = PQPRx1 a Gradien garis singgung l yang tegak lurus garis PQ adalah: ml · mPQ = 1 b y 1 = 1 m l ·

x 1 a ( x 1

a ) 1 ml = b = ( yb 1 ) y 1 x 1 a ( x 1 a ) Jadi persamaan garis l dengan gradien ml dan melalui titik Q(x1, y1)

=

( yb 1 ) adalah: y ( x 1 a ) (x y ( yb 1 ) (y y1)(y1 b) = (x1 a)(x x1) yy1 by y12 + by1 = (x1x x12 ax + ax1) yy by y2 + by= xx + x2 + ax ax 1 1111 1 yy by + by + xx ax + ax= x2 + y2 (1) x1) y1 = y1= ml(x x1)

111111 Untuk Q(x1, y1) terletak pada lingkaran (x (x (x1 x2 1111 x12 + y12 = r2 + 2ax1 + 2by1 Lingkaran 129 a2 b2 (2) a)2 + (y b)2 = r2 a)2 + (y1 b)2 = r2 2ax + a2 + y2 2by + b2= r2 a)2 + (y b)2 = r2, maka:

Dari persamaan (1) dan (2) diperoleh: yy by + by + xx ax + ax= x2 + y2 111111 yy1 by + by1+ x1x ax + ax1= r2 + 2ax1 + 2by1 a2 b2

yy1 by + by1 + x1x ax + ax1 2ax1 2by1 + a2 + b2= r2 yy1 by by1+ x1x ax ax1 + a2 + b2= r2 yy1 by by1 + b2 + xx1 ax ax1 + a2= r2 (y b)(y1 b) + (x a)(x1 a)= r2 (x a)(x1 a) + (y b)(y1 b)= r2 (x1 a)(x a) + (y1 b)(y b)= r2 Sehingga persamaan garis singgung lingkarannya adalah: 2) = rby) (b1y) + (ax) (a1x( Untuk lebih memahami materi ini, perhatikan contoh soal berikut. Contoh soal Tentukan persamaan garis singgung lingkaran (x + 3)2 + (y A(2, 3). Penyelesaian (x + 3)2 + (y 5)2 = 36 (x1 + 3)(x + 3) + (y1 5)(y Pada titik A(2, 3): (2 + 3)(x + 3) + (3 5)(y 5(x + 3) + ( 2)(y 5) = 36 5x + 15 2y + 10 = 36 5) = 36 5)2 = 36 pada titik

5) = 36

5x 2y + 25 = 0 Jadi, persamaan garis singgung: 5x

2y + 25 = 0.

c. Persamaan Garis Singgung Melalui Titik Q(x1, y1) pada Lingkaran x2 + y2 + 2Ax + 2By + C = 0 Dari persamaan garis singgung melalui titik Q(x1, y1) pada lingkaran (x (y b)2 = r2 adalah: (x1 a)(x a) + (y1 b)(y b)= r2 x1x ax1 ax + a2 + y1y by1 by + b2= r2 x1x a(x1 + x) + a2 + y1y b(y1 + y) + b2= r2 x1x + y1y a(x1 + x) b(y1 + y) + a2 + b2 r2 = 0 Misalnya A = a, B = b, dan C = a2 + b2 r2, persamaannya menjadi: 130 Matematika SMA dan MA Kelas XI Program IPA

a)2 +

x1x + y1y a(x1 + x) b(y1 + y) + a2 + b2 r2 = 0 x1x + y1y + A(x1 + x) + B(y1 + y) + C = 0 Maka persamaan garis singgung melalui Q(x1, y1) pada lingkaran x2 + y2+ 2Ax + 2By + C = 0 adalah = 0C) +y+1y(B) + x+1x(A+y1y+x1xUntuk lebih jelasnya, perhatikan contoh soal beri kut ini. Contoh soal Tentukan persamaan garis singgung yang melalui titik A(2, 1) pada lingkaran x2 + y2 2x + 4y 5 = 0. Penyelesaian A(2, 1) . x1 = 2 x2 + y2 2x + 4y 5 = 0 y1 = 1 A = 1 , B = 2 dan C = 5 Persamaan garis singgung melalui titik A(2, 1): x1x + y1y + Ax1 + Ax + By1 + By + C = 0 2x + 1.y + ( 1) · 2 + ( 1)x + 2 · 1 + 2 · y 5 = 0 2x + y 2 x + 2 + 2y 5 = 0 x + 3y 5 = 0 d. Persamaan Garis Singgung Kutub (Polar) Jika melalui titik A(x1, y1) di luar lingkaran ditarik dua buah garis singgung p ada lingkaran dengan titik singgungnya B(x2, y2) dan C(x3, y3), maka persamaan garis BC adalah x1x + y1y = r2 disebut garis kutub pada lingkaran dan titik A(x1, y1) disebut titik kutub. Persamaan garis singgung lingkaran melalui titik A(x1, y1) di luar lingkaran dap at ditentukan dengan langkah-langkah: 1) Membuat persamaan garis kutub dari titik A(x1, y1) terhadap lingkaran. 2) Melalui titik potong antara garis kutub lingkaran. 3) Membuat persamaan garis singgung melalui titik potong garis kutub dan lingkaran. Untuk lebih jelasnya, perhatikan contoh soal berikut. Contoh soal Tentukan persamaan garis singgung melalui titik (5, 1) di luar lingkaran x2 + y2 = 13

Lingkaran131

Penyelesaian Persamaan garis kutub di (5, 1) adalah sebagai berikut: x1x+ y1y= r2 5x+ y= 13 y= 13 5x y= 13 5x Persamaan garis y= 13 5xdisubstitusikan dengan lingkaran x2 + y2 = 13 diperoleh:

x2 + y2 = 13 x2 + (13 5x)2 = 13 x2 + 169 130x+ 25x2= 13 26x2 130x+ 156 = 0 x2 5x+6 = 0 (x 2) (x 3) = 0 x= 2 atau x= 3 Untuk x= 2, maka y= 13 = 13 5 · 2 = 13 10 = 3 5x

Diperoleh titik singgung (2, 3). Jadi, persamaan garis singgung melalui (2, 3) adalah 2x+ 3y= 13. Untuk = 13 = 13 = 13 x= 3, maka y 5x 5 · 3 15 = 2

Diperoleh titik singgung (3, 2). Jadi, persamaan garis singgung melalui (3,

2) adalah 3x

2y= 13.

4.3 Kerjakan soal-soal di bawah ini dengan benar. 1. Tentukan persamaan garis singgung lingkaran a.x2 + y2 = 9 di titik (2, 5) c. x2 + y2 = b.x2 + y2 = 16 di titik ( 3, 4) d.x2 + y2 = 2. Tentukan persamaan garis singgung lingkaran a. (x 4)2 + (y+ 3)2 = 36 di titik ( 2, 1) b. (x+ 2)2 + (y 3)2 = 9 di titik ( 2, 6) c. (x 1)2 + (y+ 5)2 = 7 di titik (3, 2) d. (x+ 5)2 + (y 2)2 = 10 di titik (4, 3) 132 Matematika SMA dan MA Kelas XI Program IPA di titik-titik berikut ini. 4 di titik ( 4, 7) 12 di titik (5, 6) di titik-titik berikut ini.

3. Tentukan persamaan garis singgung di titik-titik berikut ini. a.x2 + y2+ 8x 6y + 9 = 0 di titik ( 2, 5) b. x2 + y2 4x 8y + 17 = 0 di titik (3, 6) c. 2x2 + y2+ 8x + 4y 16 = 0 di titik ( 5, 3) d. 3x2 + 3y2 6x 9y 3 = 0 di titik ( 1, 2) 4. Tentukan p: a. jika garis y = p + 6 menyinggung lingkaran x2 + y2 = 25 b. jika garis y = 2x 5 menyinggung lingkaran x2 + y2 = p2 c. jika lingkaran x2 + y2 + 2py + q = 0 mempunyai jari-jari 2 akan menyinggung garis y = x d. jika lingkaran x2 + y2 + 6x + 8y p = 0 menyinggung garis 3x 4y = 0 5. Tentukan persamaan garis singgung melalui titik (4, 2) di luar lingkaran x2 + y2 = 10 6. Diketahui titik A(1, 4) di luar lingkaran x2 + (y 1)2 = 2. a. Tentukan persamaan garis kutub lingkaran dari titik A. b. Jika P dan Q titik potong garis kutub dengan lingkaran, tentukan persamaan garis singgung melalui titik P dan Q. c. Tentukan sketsa gambarnya. 2. Persamaan Garis Singgung yang Gradiennya Diketahui a. Persamaan Garis Singgung dengan Gradien m terhadap Lingkaran x2 + y2 = r2 Untuk persamaan garis singgung y = mx + n y = mx + n .. x2 + (mx + n)2 = r2 222 . x + y = r .. x2 + m2x2 + 2mnx + n2 r2 = 0 . (1 + m2)x2+ 2mnx + n2 r2= 0 Syarat menyinggung adalah D = 0, sehingga (2mn)2 4(1 + m2) (n2 r2)= 0 4m2n2 4(n2 + m2n2 r2 m2r2) = 0 :4 m2n2 . n2= . n2= . n = Jadi, h: n2 m2n2 + r2 + m2r2= 0

r2 + m2r2 r2 (1 + m2) ± r 1+ m2 persamaan garis singgung dengan gradien m pada lingkaran x2 + y2 = r adala

y = mx ± r 21m+ Lingkaran 133

Agar lebih memahami tentang materi di atas, pelajarilah contoh soal berikut ini dengan baik. Contoh soal Tentukan persamaan garis singgung dengan gradien 22 pada lingkaran x2 + y2 = 16. Penyelesaian Persamaan garis singgung dengan gradien 22 pada lingkaran x2 + y2 = 16 adalah: m = 2 2 r2 = 16 . r = 4 y = mx ± r 1+ m2 = 2 2 x ± 4142 + = 2 2 x ± 4 1+16 2 = 2 2 x ± 4 17 Jadi persamaan garis singgungnya: y = 2 2 x + 4 17 y = 2 2 x 4 17 b. Persamaan Garis Singgung dengan Gradien m terhadap Lingkaran (x a)2 + (y b)2 = r2 Dengan cara seperti mencari persamaan garis singgung dengan gradien m pada lingkaran x2 + y2 = r2 adalah: y = mx ± r 1+ m2 Maka persamaan garis singgung dengan gradien m terhadap lingkaran (x a)2 + (y b)2 = r2 adalah: y b = m(x a) ± r 21m+ c. Persamaan Garis Singgung dengan Gradien m terhadap Lingkaran x2 + y2 + 2Ax + 2By + C = 0 Dengan cara yang sama, persamaan garis singgung gradien m terhadap lingkaran x2 + y2 + 2Ax + 2By + C = 0 dapat ditentukan dengan cara mengubah dahulu ke bentuk (x a)2 + (y b)2 = r2 sehingga persamaan garis singgungnya sama, yaitu: y b = m(x a) ± r 21m+ Untuk lebih memahami, pelajarilah contoh soal berikut. 134 Matematika SMA dan MA Kelas XI Program IPA

Contoh soal Diketahui lingkaran x2+ y2 + 4x 2y + 1 = 0. Tentukan persamaan garis singgung ya ng tegak lurus garis g: 3x + 4y 1 = 0, terhadap lingkaran. Penyelesaian g: 3x + 4y 4y = 3x + 1 31 3 y = x + 4 . m = 4 g4 Syarat tegak lurus: m1 ·m g = 1 m1 ·43 = 1 4 m1= 3 x2 + y2 + 4x pusat ( 2, 1) r = 2 22 ( 1) 1+- = 4 = 2 Persamaan lingkaran: (x + 2)2 + (y Persamaan garis singgung: y y 3 16 y 1 = 34 (x + 2) ± 2 1+ 9 25 y 1 = 43 (x + 2) ± 2 9 45 y 1 = 3 x 83 ± 2 ·3 b = m (x a) ± r 1+m2 2y + 1 = 0 1 = 0

1)2 = 4

1 = 4 (x + 2) ± 2 +- ) 3 1(42

4 10 y 1 = x 8 ±

33 3 3(y 1) = 4x 8 ± 10 3y 3 = 4x 8 ± 10 3y 3 = 4x 8 + 10 atau 3y 3 = 3y = 4x + 5 atau 3y = 4x 15 45 4 y = 3 x + 3 atau y = 3 x Lingkaran 135 5

4x

8

10

Matematika SMA dan MA Kelas XI Program IPA 1364.4Kerjakan soal-soal di bawah ini dengan benar. 1. Tentukan persamaan garis singgung lingkaran dari: a. (x+ 2)2 + (y 3)2 = 4 yang membentuk sudut 45o dengan sumbu X positif b. x2 + y2 + 4x 6y + 11 = 0 yang membentuk sudut 135o dengan sumbu X positif 2. Tentukan persamaan garis singgung lingkaran dari: a. x2 + y2 = 10 dengan gradien 3 b. (x+ 2)2 + (y 5)2 = 9 dengan gradien 1 c. x2 + y2 10x+ 2y+ 17 = 0 dengan gradien 2 3. Tentukan persamaan garis singgung lingkaran dari: a.x2 + y2 = 4 dan sejajar garis x y+ 3 = 0 b. (x + 1)2 + (y 3)2 = 9 dan sejajar garis 2x+ y+ 4 = 0 c. x2 + y2 4x+ 10y+ 4 = 0 dan sejajar garis y= x+ 2 4. Tentukan persamaan garis singgung lingkaran dari: a. x2 + y2 = 25 dan tegak lurus dengan garis 4x 3y+ 5 = 0 b. (x 2)2 + (y+ 3)2 = 16 dan tegak lurus dengan garis x 2y+ 4 = 0 c. x2 + y2 2x+ 8y+ 1 = 0 tegak lurus dengan garis 2x+ 2y+ 5 = 0 Ingat!! Gradien = m m= tan 135o = tan (180 45)o = 1 1. Lingkaran adalah tempat kedudukan atau himpunan titik-titik yang berjarak sama terhadap suatu titik yang tertentu. Titik tertentu tersebut dinamakan pusat lingkaran dan jarak yang tetap tersebut dinamakan jari-jari lingkaran. 2. Persamaan lingkaran a. Persamaan lingkaran yang berpusat di O(0, 0) dan berjari-jari radalah x2 + y2 = r2 b. Persamaan lingkaran yang berpusat di A(a, b) dan berjari-jari radalah (x a)2 + (y b)2 = r2 c. Bentuk umum persamaan lingkaran x2 + y2 + 2Ax + 2By+ C = 0, pusat di ( A, B) dan berjari-jari 2 2A B C+ 4.4Kerjakan soal-soal di bawah ini dengan benar. 1. Tentukan persamaan garis singgung lingkaran dari: a. (x+ 2)2 + (y 3)2 = 4 yang membentuk sudut 45o dengan sumbu X positif b. x2 + y2 + 4x 6y + 11 = 0 yang membentuk sudut 135o dengan sumbu X positif 2. Tentukan persamaan garis singgung lingkaran dari: a. x2 + y2 = 10 dengan gradien 3 b. (x+ 2)2 + (y 5)2 = 9 dengan gradien 1 c. x2 + y2 10x+ 2y+ 17 = 0 dengan gradien 2 3. Tentukan persamaan garis singgung lingkaran dari: a.x2 + y2 = 4 dan sejajar garis x y+ 3 = 0 b. (x + 1)2 + (y 3)2 = 9 dan sejajar garis 2x+ y+ 4 = 0 c. x2 + y2 4x+ 10y+ 4 = 0 dan sejajar garis y= x+ 2 4. Tentukan persamaan garis singgung lingkaran dari: a. x2 + y2 = 25 dan tegak lurus dengan garis 4x 3y+ 5 = 0 b. (x 2)2 + (y+ 3)2 = 16 dan tegak lurus dengan garis x 2y+ 4 = 0 c. x2 + y2 2x+ 8y+ 1 = 0 tegak lurus dengan garis 2x+ 2y+ 5 = 0 Ingat!! Gradien = m m= tan 135o = tan (180 45)o

= 1 1. Lingkaran adalah tempat kedudukan atau himpunan titik-titik yang berjarak sama terhadap suatu titik yang tertentu. Titik tertentu tersebut dinamakan pusat lingkaran dan jarak yang tetap tersebut 2. Persamaan lingkaran a. Persamaan lingkaran yang berpusat di x2 + y2 = r2 b. Persamaan lingkaran yang berpusat di (x a)2 + (y b)2 = r2 c. Bentuk umum persamaan lingkaran x2 + ( A, B) dan berjari-jari 2 2A B C+ dinamakan jari-jari lingkaran. O(0, 0) dan berjari-jari radalah A(a, b) dan berjari-jari radalah y2 + 2Ax + 2By+ C = 0, pusat di

3. Posisi suatu titik terhadap lingkaran (x a)2 + (y b)2 = r2 a. Jika P (x1, y1) terletak di dalam lingkaran berlaku (x1 a)2 + (y1 b)2 < r2 b. Jika P (x1, y1) terletak pada lingkaran berlaku (x1 a)2 + (y1 b)2 = r2 c. Jika P (x1, y1) terletak di luar lingkaran berlaku (x1 a)2 + (y1 b)2 > r2 4. Posisi suatu garis l: y = mx + n terhadap suatu lingkaran x2+ y2 + 2Ax + 2By + C = 0 a. Jika D < 0, maka persamaan garis l terletak di luar lingkaran b. Jika D = 0, maka persamaan garis l terletak pada lingkaran c. Jika D > 0, maka persamaan garis l terletak di dalam lingkaran 5. Persamaan garis singgung melalui suatu titik pada lingkaran a. Persamaan garis singgung yang melalui P(x1, y1) pada lingkaran x2 + y2 = r2 adalah x1x + y1y = r2 b. Persamaan garis singgung yang melalui P(x1, y1) pada lingkaran (x a)2 + (y b)2 = r2 adalah (x1 a)(x a) + (y1 b) (y b) = r2 c. Persamaan garis singgung yang melalui P(x1, y1) pada lingkaran x2 + y2+ 2Ax + 2By + C adalah x1x + y1y + Ax1 + Ax + By1 + By + C = 0 6. Persamaan garis singgung lingkaran dengan gradien tertentu a. Persamaan garis singgung dengan gradien m terhadap lingkaran x2 + y2 = r2 adalah y = mx ± r 1+ m2 b. Persamaan garis singgung dengan gradien m terhadap lingkaran (x a)2 + (y b)2 = r2 adalah y b = m (x a) ± r 1+ m2 c. Persamaan garis singgung dengan gradien m terhadap lingkaran x2 + y2 + 2Ax + 2By + C = 0 adalah y b = m(x a) ± r 1+ m2 I. Pilihlah salah satu jawaban yang paling benar. 1. Persamaan lingkaran dengan pusat (0, 0) dan jari-jari 3 adalah . a. x2 + y2= 2 d. x2 + y2 = 16 b. x2 + y2 = 4 e. x2 y2 = 16 c.x2 + y2 = 9 2. Persamaan lingkaran yang berpusat di (2, 3) dengan jari-jari 7 adalah .. a.x2 + y2 4x + 6y 49 = 0 d. x2 + y2 + 4x 6y 36 = 0 b.x2 + y2 + 4x 6y 49 = 0 e. x2 + y2 2x + 3y 49 = 0 c. x2 + y2 4x + 6y 36 = 0 Lingkaran 137

3. Jika lingkaran x2 + y2 4x 10y = 0 mempunyai pusat (2, a), maka nilai a adalah . a. 3 d. 5 b. 5 e. 10 c. 2 4. Pusat dan jari-jari lingkaran dengan persamaan 9x2 +9y2 6x + 12y 4 = 0 berturutt urut adalah . a. (1, 2) dan 3 d. (13, 1) dan 5 1 b. (1, 3) dan 2 e. (3, 1 c. (2, 13) dan 3 5. Persamaan lingkaran luar segitiga OAB dengan O(0, 0), B( 2, 4), dan C( 1, 7) adalah . a. x2 + y2 + 6x + 8y = 0 d. x2 + y2 6x 8y = 0 b. x2 + y2+ 6x 8y = 0 e. x2 + y2 3x 4y = 0 c.x2 + y2 6x + 8y = 0 6. Jika titik P(p, 3) terletak pada lingkaran L: x2 + y2 13x + 5y + 6 = 0, maka nil ai p adalah . a. 3 d. 3 atau 10 b. 1 e. 3 atau 10 c. 3 atau 10 7. Titik berikut yang terletak di luar lingkaran L: x2 + y2 + 4x 8y 5 = 0 adalah . a. (3, 0) d. (1, 1) b. (0, 7) e. (4, 3) c. (2, 1) 8. Kedudukan garis x + 3y 5 = 0 terhadap lingkaran L: x2 + y2 2x + 4y 5= 0 adalah . a. memotong lingkaran di dua titik b. memotong lingkaran di satu titik c. tidak memotong lingkaran d. memotong lingkaran di tiga titik e. tidak menyinggung lingkaran 9. 32) dan 1

Diketahui persamaan lingkaran x2 + y2 = 36. Jika garis kutub titik P terhadap li ngkaran ini mempunyai persamaan 2x y 9 = 0 maka koordinat titik P adalah . a. (2, 1) d. (8, 4) b. (8, 4) e. ( 8, 2) c. (2, 1) 138 Matematika SMA dan MA Kelas XI Program IPA

10. Persamaan garis singgung berabsis 4 pada lingkaran x2+ y2 = 25 a. 4x+ 3y= 9 d. 4x 3y= 25 b. 4x+ 3y= 16 e. 3x 4y= 25 c. 4x+ 3y= 25 11. Jika titik A( 2, 1) di dalam lingkaran (x+ 4)2 + (y p)2 = 13 a. p> 4 d. 2 < p< 4 b. p< 2 atau p> 4 e. 4 < p< 2 c. p< 4 atau p> 2 12. Persamaan garis singgung dengan gradien 3 pada lingkaran x2 + a. y= 3x±6 5 d. y= 3x± 2 2 b. y= 3x± 62 e. y= 3x± 2 5 c.y= 3x± 6 5 13. Persamaan garis singgung pada lingkaran L: x2 + y2 + 6x 2y= 0

adalah .

maka nilai padalah .

y2 = 18 adalah .

yang sejajar dengan

garis 4x 3y+ 7 = 0 adalah . a. 4x 3y + 15 ± 10 = 0 d. 3x 4y+ 15 ± 10 = 0 b. 4x+ 3y+ 15 ± 10 = 0 e. 3x+ 4y 15 ± 10 = 0 c. 3x+ 4y+ 15 ± 10 = 0 14. Persamaan lingkaran yang berpusat di (1, 4) dan menyinggung garis 3x 4y 2 = 0 adalah . a. x2 + y2 + 4x 3y 47 = 0 d. x2 + y2 2x 8y = 0 b. x2 + y2 2x 8y + 8 = 0 e. x2 + y2 + 2x+ 8y+ 8 = 0 c. x2 + y2 + 3x 8y + 2 = 0 15. Persamaan garis singgung lingkaran L: x2 6x+ y2 + 8y= 0 yang tegak lurus pada gar is x+ y= 1 adalah .. a. y= x 1 ± 5 2 d. y= x+ 7 ± 5 2 b. y= x+ 7 ± 5 2 e. y= x 7 ± 5 2 c. y= x + 1 ±5 2 II. Kerjakan soal-soal di bawah ini dengan benar. 1. Tentukan pusat dan jari-jari lingkaran dari: a. x2 + y2 4x+ 2y + 1 = 0 b. x2 + y2 + 2x 4y 4 = 0 Lingkaran 139

2. Tentukan persamaan lingkaran yang melalui: a. (3, 4), ( 1, 4), dan (5, 2) b. (5, 0), (0, 5), dan ( 1, 0) 3. Tentukan persamaan lingkaran dengan jari-jari 6 dan pusat di titik berikut. a. O(0, 0) b. A( 2, 5) c. B(3, 4) 4. Diketahui persamaan lingkaran x2+ y2 = a2. Tentukan batas-batas nilai a supaya: a. titik (5, 3) pada lingkaran, b. titik (2, 4) di luar lingkaran, c. titik (2, 5) di dalam lingkaran. 5. Sisi suatu persegi mempunyai persamaan x= 5, x = 5, y = 5, dan y = 5. Tentukan persamaan lingkaran jika: a. menyinggung semua sisi persegi, b. melalui semua titik persegi. 6. Tentukan persamaan garis singgung pada lingkaran: a. (x 3)2 + (y+ 1)2 = 25 di titik (7, 2), b.x2+ y2 4x 6y 27 = 0 di titik (4, 1). 7. Tentukan persamaan garis singgung lingkaran x2 + y2 = 41 yang: a. melalui titik berabsis 5 pada lingkaran, b. sejajar garis L: 3x+ 3y= 10, c. tegak lurus garis L: 3x 6y= 8. 8. Jika garis y= 3x+ nmenyinggung lingkaran x2+ y2 2x 19 = 0, tentukan nilai ndan titik singgungnya. 9. Tentukan persamaan garis singgung yang tegak lurus garis 3x+ y+ 3 = 0 pada lingk aran x2 + y2 8x 4y 20 = 0. 10. Jika garis gadalah garis singgung melalui titik (3, 4) pada lingkaran x2 + y2 = 25, tentukan persamaan garis singgung lingkaran x2+ y2 2x + 4y+ 4 = 0 yang sejajar garis g. 140 Matematika SMA dan MA Kelas XI Program IPA

5 Suku Banyak Algoritma Pembagian Suku Banyak Penggunaan Teorema Sisa dan Teorema Faktor Akar-Akar Rasional dari Persamaan Suku Banyak Masihkah kamu ingat peristiwa kecelakaan pesawat yang saat ini sering terjadi di Indonesia? Ternyata kecelakaan pesawat itu disebabkan oleh banyak sekali fakt or. Beberapa di antaranya yaitu kesalahan manusia, masalah navigasi, cuaca, kerusaka n mesin, body pesawat yang sudah tidak memenuhi syarat, dan lain-lain. Jika faktor faktor tersebut diberi nama suku x1, x2, x3, ., xn maka terdapat banyak suku dalam satu kesatuan. Dalam ilmu Matematika, hal demikian dinamakan suku banyak. Pada bab ini, kamu akan belajar lebih lanjut mengenai aturan suku banyak dalam penyelesaian masalah. Dengan mempelajarinya, kamu akan dapat menggunakan algoritma pembagian suku banyak untuk mencari hasil bagi dan sisa, serta menggunakan teorema sisa dan teorema faktor dalam pemecahan masalah.

Suku banyak Algoritma pembagian suku banyak Teorema sisa dan teorema faktor Pengertian dan nilai suku banyak Hasil bagi dan sisa pembagian suku banyak Penggunaan teorema sisa Penggunaan teorema faktor terdiri darimenentukan Penyelesaian persamaan suku banyak Pembuktian teorema sisa dan teorema faktor Derajad suku banyak pada hasil bagi dan sisa pembagian Suku banyak Algoritma pembagian suku banyak Teorema sisa dan teorema faktor Pengertian dan nilai suku banyak Hasil bagi dan sisa pembagian suku banyak Penggunaan teorema sisa Penggunaan teorema faktor terdiri darimenentukan Penyelesaian persamaan suku banyak Pembuktian teorema sisa dan teorema faktor Derajad suku banyak pada hasil bagi dan sisa pembagian digunakan untuk Akar-akar rasional dari persamaan suku banyak Menentukan

akar rasional Sifat-sifat akar persamaan suku banyak algoritma pembagian suku banyak bentuk linear bentuk kuadrat derajat n cara skema (Horner) teorema sisa teorema faktor 144 Matematika SMA dan MA Kelas XI Program IPA

145Suku Banyak A Algoritma Pembagian Suku Banyak 1. Pengertian dan Nilai Suku Banyak a. Pengertian Suku Banyak Suku banyak adalah suatu bentuk yang memuat variabel berpangkat. Suku banyak dalam x berderajat n dinyatakan dengan: a n xn + a n 1xn 1 + a n 2xn 2 + + a1x + a0 Dengan syarat: n . bilangan cacah dan a n, a n 1, , a0 disebut koefisien-koefisi en suku banyak, a0 disebut suku tetap dan a n . 0. Contoh 1) 6x3 3x2 + 4x 8 adalah suku banyak berderajat 3, dengan koefisien x3 adalah 6, koefisien x2 adalah 3, koefisien x adalah 4, dan suku tetapnya 8. 2) 2x2 5x + 4 7 x adalah bukan suku banyak karena memuat pangkat negatif yaitu 7 x atau 7x 1 dengan pangkat 1 bukan anggota bilangan cacah. b. Nilai Suku Banyak Suku banyak dengan derajat n dapat dinyatakan sebagai suatu fungsi f(x) berikut ini. f(x) = a n xn + a n 1xn 1 + a n 2xn 2 + + a1x + a0, di mana n . bilangan cacah dan a n . 0. Nilai f(x) tersebut merupakan nilai suku banyak. Untuk menentukan nilai suku banyak dapat dilakukan dengan dua cara berikut. 1) Cara substitusi Misalkan suku banyak f(x) = ax3 + bx2 + cx + d. Jika nilai x diganti k, maka nilai suku banyak f(x) untuk x = k adalah f(k) = ak3 + bk2 + ck + d. Agar lebih memahami tentang cara substitusi, pelajarilah contoh soal berikut ini. Contoh soal Hitunglah nilai suku banyak berikut ini untuk nilai x yang diberikan. 1. f(x) = 2x3 + 4x2 18 untuk x = 3 2. f(x) = x4 + 3x3 x2 + 7x + 25 untuk x = 4 Penyelesaian 1. f(x) = 2x3 + 4x2 18 f(3) = 2 · 33 + 4 · 32 18 = 2 · 27 + 4 · 9 18 = 54 + 36 18 f(3) = 72 Jadi, nilai suku banyak f(x) untuk x = 3 adalah 72. A Algoritma Pembagian Suku Banyak 1. Pengertian dan Nilai Suku Banyak a. Pengertian Suku Banyak Suku banyak adalah suatu bentuk yang memuat variabel berpangkat. Suku banyak dalam x berderajat n dinyatakan dengan: a n xn + a n 1xn 1 + a n 2xn 2 + + a1x + a0 Dengan syarat: n . bilangan cacah dan a n, a n 1, , a0 disebut koefisien-koefisi en suku banyak, a0 disebut suku tetap dan a n . 0. Contoh 1) 6x3 3x2 + 4x 8 adalah suku banyak berderajat 3, dengan koefisien x3 adalah 6, koefisien x2 adalah 3, koefisien x adalah 4, dan suku tetapnya 8. 2) 2x2 5x + 4 7 x adalah bukan suku banyak karena memuat pangkat negatif yaitu 7 x atau 7x 1 dengan pangkat 1 bukan anggota bilangan cacah. b. Nilai Suku Banyak Suku banyak dengan derajat n dapat dinyatakan sebagai suatu fungsi f(x) berikut ini. f(x) = a n xn + a n 1xn 1 + a n 2xn 2 + + a1x + a0, di mana n . bilangan cacah dan a n . 0. Nilai f(x) tersebut merupakan nilai suku banyak. Untuk menentukan nilai suku banyak dapat dilakukan dengan dua cara berikut. 1) Cara substitusi

Misalkan suku banyak f(x) = ax3 + bx2 + cx + d. Jika nilai x diganti k, maka nilai suku banyak f(x) untuk x = k adalah f(k) = ak3 + bk2 + ck + d. Agar lebih memahami tentang cara substitusi, pelajarilah contoh soal berikut ini. Contoh soal Hitunglah nilai suku banyak berikut ini untuk nilai x yang diberikan. 1. f(x) = 2x3 + 4x2 18 untuk x = 3 2. f(x) = x4 + 3x3 x2 + 7x + 25 untuk x = 4 Penyelesaian 1. f(x) = 2x3 + 4x2 18 f(3) = 2 · 33 + 4 · 32 18 = 2 · 27 + 4 · 9 18 = 54 + 36 18 f(3) = 72 Jadi, nilai suku banyak f(x) untuk x = 3 adalah 72.

Matematika SMA dan MA Kelas XI Program IPA 1462. f(x) = x4 + 3x3 x2 + 7x + 25 f( 4) = ( 4)4 + 3 · ( 4)3 ( 4)2 + 7· ( 4) + 25 = 256 192 16 28 + 25 f( 4) = 45 Jadi, nilai suku banyak f(x) untuk x = 4 adalah 45. 2) Cara Horner/bangun/skema/sintetik Misalkan suku banyak f(x) = ax3 + bx2 + cx + d. Jika akan ditentukan nilai suku banyak x = k, maka: f(x) = ax3 + bx2 + cx + d f(x) = (ax2 + bx + c)x + d f(x) = ((ax + b)x + c)x + d Sehingga f(k) = ((ak + b)k + c)k + d. Bentuk tersebut dapat disajikan dalam bentuk skema berikut ini. Agar lebh memahami tentang cara Horner, pelajarilah contoh soal berikut. Contoh soal Hitunglah nilai suku banyak untuk nilai x yang diberikan berikut ini. 1. f(x) = x3 + 2x2 + 3x 4 untuk x = 5 2. f(x) = 2x3 3x2 + 9x + 12 untuk x = 2 1 Penyelesaian 1. 5 1 2 3 4 5 35 190 1 7 38 186 Jadi nilai suku banyak f(x) untuk x = 5 adalah 186. 2. 2 1 2 3 9 12 1 1 4 2 2 8 16 Jadi, nilai suku banyak f(x) untuk x = 2 1 adalah 16. k a b c d a k ak2 + bk ak3 + bk2 + ck a ak + b ak2 + bk + c ak3 + bk2 + ck + d + Masing-masing koefisien x disusun dari pangkat terbesar sampai terkecil (perpangkatan x yang tidak ada, ditulis 0). Tanda panah pada skema berarti mengalikan dengan k, kemudian dijumlahkan dengan koefisien yang berada di atasnya. Ingat!! + + 2 1 Penyelesaian 1. 5 1 2 3 4 5 35 190 1 7 38 186 Jadi nilai suku banyak f(x) untuk x = 5 adalah 186. 2. 2 1 2 3 9 12 1 1 4 2 2 8 16 Jadi, nilai suku banyak f(x) untuk x = 2 1 adalah 16. k a b c d a k ak2 + bk ak3 + bk2 + ck a ak + b ak2 + bk + c ak3 + bk2 + ck + d + Masing-masing koefisien x disusun dari pangkat terbesar sampai terkecil

(perpangkatan x yang tidak ada, ditulis 0). Tanda panah pada skema berarti mengalikan dengan k, kemudian dijumlahkan dengan koefisien yang berada di atasnya. Ingat!! + +

5.1 1. Tentukan derajat, koefisien-koefisien, dan suku tetap dari setiap suku banyak berikut ini. a. x4 + 5x2 4x + 3 d. x(1 x)(1 + x) b. 5x4 + 6x2 + 3x 1 e. (2x2 9)(3x + 1) c. 3x5 5x3 x2 2. Tentukanlah nilai setiap suku banyak berikut ini dengan cara substitusi. a.x3 + 7x2 4x + 3, untuk x = 5 d.5x4 + 7x2 + 3x + 1, untuk x = 1 1 b. 2x3 + 4x2 + 6x + 8, untuk x = 3 e.x3 3 x + 1, untuk x =

c. 2x3 + 4x2 18, untuk x = 3 3. Tentukanlah nilai setiap suku banyak berikut ini dengan cara Horner. a.x3 + 7x2 2x + 4, untuk x = 2 b. 2x4 x2 + 8, untuk x = 3 c. 7x4 + 20x3 5x2 + 3x + 5, untuk x = 1 d. 4x7 8x5 + 4x4 5x3 + 15x 22, untuk x = 2 e.x5 + x4 2x3+ 2x 1, untuk x = 1 2. Derajat Suku Banyak pada Hasil Bagi dan Sisa Pembagian Derajat merupakan pangkat tertinggi dari variabel yang terdapat pada suatu suku banyak. Jika suku banyak ditulis a xn + a xn 1 + + ax + a, maka derajat dari suk u nn 110

banyak tersebut adalah n. Bagaimanakah derajat suku banyak pada hasil bagi? Perhatikanlah uraian berikut ini. Misalkan, suku banyak ax3 + bx2 + cx + d dibagi oleh (x k). Dengan pembagian cara susun, maka dapat dilakukan perhitungan sebagai berikut. ax2 + (ak + b)x +(ak2 + bk + c) x - k ax 3 + bx 2 + cx + d ax3 akx2

(ak + b)x2+ cx + d (ak + b)x2 (ak2 + bk)x

(ak2 + bk + c)x + d (ak2 + bk + c)x (ak2 + bk + c)k ak3 + bk2 + ck + d Suku Banyak 147

Dari perhitungan tersebut diperoleh ax2 + (ak + b)x + (ak2 + b + c) sebagai hasi l bagi. Maka, dapat diketahui dari ax3 + bx2 + cx + d dibagi oleh (x k) hasil bagi nya berderajat 2. Selain itu, dari perhitungan di atas diperoleh ak3 + bk2 + ck + d sebagai sisa pembagian. Jika terdapat suku banyak f(x) dibagi (x k) menghasilkan h(x) sebagai hasil bagi k) h(x) + f(k).

dan f(k) sebagai sisa pembagian, sedemikian hingga f(x) = (x

Perhatikanlah penentuan nilai suku banyak dengan cara Horner berikut ini. kabc d ak ak3 > > > ak2 + bk + bk2+ ck + a ak + b ak2 + bk + c ak3 + bk2 + ck + d Jika kita bandingkan hasil di atas dengan pembagian cara susun, maka diperoleh hasil sebagai berikut. a. ak3 + bk2 + ck + d merupakan hasil bagi. b. a, ak + b, dan ak2 + bk + c merupakan koefisien hasil bagi berderajat 2. Dengan demikian, menentukan nilai suku banyak dengan cara Horner dapat juga digunakan untuk menentukan hasil bagi dan sisa pembagian dengan pembagi (x k). Berdasarkan uraian yang telah kita pelajari maka dapat ditarik kesimpulan sebaga i berikut. Jika suku banyak f(x) berderajat n dibagi oleh fungsi berderajat satu akan menghasilkan hasil bagi berderajat (n 1) dan sisa pembagian berbentuk konstanta. Perhatikan contoh soal berikut ini untuk memahami cara menentukan derajat hasil bagi dan sisa pembagian suku banyak. Contoh soal Tentukanlah derajat dari hasil bagi dan sisa pembagian suku banyak berikut.

1. 2x3 + 4x2 18 dibagi x 3. 2. 2x3 + 3x2 + 5 dibagi x + 1 Penyelesaian 1. 2x3 + 4x2 18 dibagi x a. Dengan cara susun 2x2 + 10x + 30 x - 32 x3 + 4x2 + 0x- 18 2x3 6x2 10x2+ 0x 10x2 30x 30x 18 30x 90 72 148 Matematika SMA dan MA Kelas XI Program IPA 18 3.

149Suku Banyak b Dengan cara Horner 3 2 4 0 18 6 30 90 2 10 30 72 Dari penyelesaian tersebut diperoleh 2x2 + 10x + 30 sebagai hasil bagi berderajat 2 dan 72 sebagai sisa pembagian. 2. 2x3 + 3x2 + 5 dibagi x + 1 a. Dengan cara susun ++ + + + + + + + --+ -2 3 2 3 2 2 2 2 1 12 3 0 5 2 2 0 5 5 1 6 xxxxxxxxxxxxxxb. Dengan cara Horner 1 2 3 0 5 2 1 1 2 1 1 6 hasil bagi sisa Dari penyelesaian tersebut diperoleh 2x2 + x 1 sebagai hasil bagi berderajat 2 dan 6 sebagai sisa pembagian. > > > 5.2Tentukanlah derajat suku banyak hasil bagi dan sisa pembagian dari: 1. x3 + 2x2 + 3x + 6 dibagi (x 2) 2. x3 + 4x2 + x + 3 dibagi (x 1) 3. 3x3 + 4x2 7x + 1 dibagi (x 3) 4. x4 x2 + 7 dibagi (x + 1) 5. x3 + 6x2 + 3x 15 dibagi (x + 3) 6. 2x3 4x2 5x + 9 dibagi (x + 1) .............. ++ + + + + + + + --+ -2 3 2

3 2 2 2 2 1 12 3 0 5 2 2 0 5 5 1 6 xxxxxxxxxxxxxxb. Dengan cara Horner 1 2 3 0 5 2 1 1 2 1 1 6 hasil bagi sisa Dari penyelesaian tersebut diperoleh 2x2 + x 1 sebagai hasil bagi berderajat 2 dan 6 sebagai sisa pembagian. > > > 5.2Tentukanlah derajat suku banyak hasil bagi dan sisa pembagian dari: 1. x3 + 2x2 + 3x + 6 dibagi (x 2) 2. x3 + 4x2 + x + 3 dibagi (x 1) 3. 3x3 + 4x2 7x + 1 dibagi (x 3) 4. x4 x2 + 7 dibagi (x + 1) 5. x3 + 6x2 + 3x 15 dibagi (x + 3) 6. 2x3 4x2 5x + 9 dibagi (x + 1) ..............

Matematika SMA dan MA Kelas XI Program IPA 1503. Hasil Bagi dan Sisa Pembagian S uku Banyak a. Pembagian Suku Banyak oleh Bentuk Linear (ax + b) Pembagian suku banyak dengan pembagi (x k) yang telah kamu pelajari, dapat dijadikan dasar perhitungan pembagian suku banyak dengan pembagi (ax + b). Untuk lebih jelasnya, perhatikanlah uraian berikut ini. Suku banyak f(x) dibagi (x k) menghasilkan h(x) sebagai hasil bagi dan f(k) sebagai sisa pembagian, sedemikian sehingga f(x) = (x k) h(x) + f(k). Pembagian suku banyak f(x) dibagi (ax + b), dapat diubah menjadi bentuk f(x) dibagi x ()ba- . Berarti, nilai k = ba- , sehingga pada pembagian suku banyak f(x) ters ebut dapat dilakukan perhitungan sebagai berikut. f(x) = () ()()bbxhxfaa . .-- · + -. .. . = ( ) ()()bbxhxfaa+ · + f(x) = 1 a(ax+b)·h(x) + f()baf(x) = (ax+b)· ()hxa +f()baSuku banyak f(x) dibagi (ax + b) menghasilkan ()hxa sebagai hasil bagi dan f ()ba- sebagai sisa pembagian, sehingga f(x) = (ax + b) · ()hxa + f ()ba- . Untuk lebih jelasnya, perhatikanlah contoh soal berikut ini. Contoh soal Tentukanlah hasil bagi dan sisanya jika memakai cara horner. 1. f(x) = 2x3 + x2 + 5x 1 dibagi (2x 1) 2. f(x) = 2x3 + x2 + x + 10 dibagi (2x + 3) Penyelesaian 1. f(x) = 2x3 + x2 + 5x 1 dibagi (2x 1) dengan cara horner sebagai berikut. 2 1 2 1 5 1 1 1 3 2 2 6 2 hasil bagi sisa Ingat!! Ingat!! Karena pembaginya 2x 1 = 2(x 2 1 ) Faktor pengalinya adalah 2 1 Hasil baginya = + +222 6 2 xx= x2 + x + 3 Maka sisa pembagian = 2. ( )+ = +1( )bxaxbaa> > > .............. ()ba- . Berarti, nilai k = ba- , sehingga pada pembagian suku banyak f(x) terseb ut dapat dilakukan perhitungan sebagai berikut. f(x) = () ()()bbxhxfaa . .-- · + -. .. . = ( ) ()()bbxhxfaa+ · + f(x) = 1 a(ax+b)·h(x) + f()baf(x) = (ax+b)· ()hxa +f()baSuku banyak f(x) dibagi (ax + b) menghasilkan ()hxa sebagai hasil bagi dan

f ()ba- sebagai sisa pembagian, sehingga f(x) = (ax + b) · ()hxa + f ()ba- . Untuk lebih jelasnya, perhatikanlah contoh soal berikut ini. Contoh soal Tentukanlah hasil bagi dan sisanya jika memakai cara horner. 1. f(x) = 2x3 + x2 + 5x 1 dibagi (2x 1) 2. f(x) = 2x3 + x2 + x + 10 dibagi (2x + 3) Penyelesaian 1. f(x) = 2x3 + x2 + 5x 1 dibagi (2x 1) dengan cara horner sebagai berikut. 2 1 2 1 5 1 1 1 3 2 2 6 2 hasil bagi sisa Ingat!! Ingat!! Karena pembaginya 2x 1 = 2(x 2 1 ) Faktor pengalinya adalah 2 1 Hasil baginya = + +222 6 2 xx= x2 + x + 3 Maka sisa pembagian = 2. ( )+ = +1( )bxaxbaa> > > ..............

151Suku Banyak f(x) = (x 1 2)(2x2 + 2x + 6) + 2 = (2 1) 2 x- (2x2 + 2x + 6) + 2 = (2x 1)(x2 + x + 3) + 2 Jadi, (x2 + x + 3) merupakan hasil bagi dan 2 merupakan sisa pembagian. 2. f(x) = 2x3 + x2 + x + 10 dibagi (2x + 3) dengan cara horner sebagai berikut 3 2 2 1 1 10 3 3 6 2 2 4 4 hasil bagi sisa Jadi, (x2 x + 2) merupakan hasil bagi dan 4 merupakan sisa pembagian. b. Pembagian Suku Banyak oleh Bentuk Kuadrat (ax2 + bx + c) Pembagian suku banyak dengan ax2 + bx + c, di mana a .0 dapat dilakukan dengan cara biasa apabila ax2 + bx + c tidak dapat difaktorkan, sedangkan jika ax2 + bx + c dapat difaktorkan dapat dilakukan dengan cara Horner. Misalkan, suatu suku banyak f(x) dibagi ax2 + bx + c dengan a .0 dan dapat difaktorkan menjadi (ax p1)(x p2). Maka, pembagian tersebut dapat dilakukan dengan mengikuti langkah-langkah berikut ini. 1) f(x) dibagi (ax p1), sedemikian hingga f(x) = (ax p1) ·h1(x) + f 1pa . . . .. . , di mana h1(x) = ()hxa. 2) h(x) dibagi (x p2), sedemikian hingga h1(x) = (x p2) ·h2(x) + h1(p2). 3) Substitusikan h1(x) = (x p2)·h2(x) + h1(p2) ke f(x) = (ax p1)·h1(x) + f 1pa . . . .. . . Dihasilkan f(x) = (ax p1)(ax p2) ·h2(x) + 1 1 1 2( ) () paxphpfa . .. . - · +. . . .. . . . . Karena (ax p1)(ax p2) = ax2 + bx + c, maka dapat ditulis sebagai berikut. f(x) = (ax2 + bx + c) ·h2(x) + 1 1 1 2( ) () paxphpfa . .. . - · +. . . .. . . . di mana: h2(x) merupakan hasil bagi (ax p1) ·h1(p2) + f 1pa . . . .. . merupakan sisa pembagian Ingat!! Karena pembaginya 2x + 3 = 2 (x + 3 2) Faktor pengalinya 3 2 Hasil baginya = -+22 24 2 xx= x2 x + 2 Maka sisa pembagian = 4. .............. 1

2)(2x2 + 2x + 6) + 2 = (2 1) 2 x- (2x2 + 2x + 6) + 2 = (2x 1)(x2 + x + 3) + 2 Jadi, (x2 + x + 3) merupakan hasil bagi dan 2 merupakan sisa pembagian. 2. f(x) = 2x3 + x2 + x + 10 dibagi (2x + 3) dengan cara horner sebagai berikut 3 2 2 1 1 10 3 3 6 2 2 4 4 hasil bagi sisa Jadi, (x2 x + 2) merupakan hasil bagi dan 4 merupakan sisa pembagian. b. Pembagian Suku Banyak oleh Bentuk Kuadrat (ax2 + bx + c) Pembagian suku banyak dengan ax2 + bx + c, di mana a .0 dapat dilakukan dengan cara biasa apabila ax2 + bx + c tidak dapat difaktorkan, sedangkan jika ax2 + bx + c dapat difaktorkan dapat dilakukan dengan cara Horner. Misalkan, suatu suku banyak f(x) dibagi ax2 + bx + c dengan a .0 dan dapat difaktorkan menjadi (ax p1)(x p2). Maka, pembagian tersebut dapat dilakukan dengan mengikuti langkah-langkah berikut ini. 1) f(x) dibagi (ax p1), sedemikian hingga f(x) = (ax p1) ·h1(x) + f 1pa . . . .. . , di mana h1(x) = ()hxa. 2) h(x) dibagi (x p2), sedemikian hingga h1(x) = (x p2) ·h2(x) + h1(p2). 3) Substitusikan h1(x) = (x p2)·h2(x) + h1(p2) ke f(x) = (ax p1)·h1(x) + f 1pa . . . .. . . Dihasilkan f(x) = (ax p1)(ax p2) ·h2(x) + 1 1 1 2( ) () paxphpfa . .. . - · +. . . .. . . . . Karena (ax p1)(ax p2) = ax2 + bx + c, maka dapat ditulis sebagai berikut. f(x) = (ax2 + bx + c) ·h2(x) + 1 1 1 2( ) () paxphpfa . .. . - · +. . . .. . . . di mana: h2(x) merupakan hasil bagi (ax p1) ·h1(p2) + f 1pa . . . .. . merupakan sisa pembagian Ingat!! Karena pembaginya 2x + 3 = 2 (x + 3 2) Faktor pengalinya 3 2 Hasil baginya = -+22 24 2 xx= x2 x + 2 Maka sisa pembagian = 4. ..............

Agar kamu memahami pembagian suku banyak oleh bentuk kuadrat, pelajarilah contoh soal berikut. Contoh soal Tentukanlah hasil bagi dan sisa pembagian jika: 1. 3x4 + 4x3 5x2 2x + 5 dibagi (x2 + 2x + 3) 2. 2x3 + x2 + 5x 1 dibagi (x2 1) Penyelesaian 1. 3x4 + 4x3 5x2 2x + 5 dibagi (x2 + 2x + 3) Karena x2 + 2x + 3 tidak dapat difaktorkan, maka dilakukan pembagian biasa (cara susun). 3x2 2x 10 2 432 x + + + + 2x 33 x 4x 5x 2x 5

3x4 + 6x3 + 9x2 2x3 14x2 2x + 5

2x3 4x2 6x 10x2 + 4x + 5 10x2 20x 30 24x + 35 Jadi, 3x2 2x pembagian. 10 merupakan hasil bagi dan 24x + 35 merupakan sisa

2. 2x3 + x2 + 5x 1 dibagi (x2 1) Karena (x2 1) dapat difaktorkan menjadi (x + 1)(x tersebut dapat dilakukan dengan 2 cara. a. Cara susun 2x + 1 2 32 x - 12x + x + 5x -1 2x3 2x

1), maka pembagian

x2 + 7x x2 1 7x

1

b. Cara Horner x2 1 difaktorkan menjadi (x + 1)(x 7 . p1 . 2 1 6 . f . a . . .

1)

1 2 1 5 1 2 1 6 + 152 Matematika SMA dan MA Kelas XI Program IPA

153Suku Banyak 5.31 2 1 6 2 1 2 1 7 . h2(x) hasil bagi Jadi, (2x+ 1) merupakan hasil bagi dan 7xmerupakan sisa pembagian. + ........ 1. Tentukanlah hasil bagi dan sisanya, jika: a.x3 + 7x2 + 4 dibagi (x 2) b.x4 x3 + 16 dibagi (x 3) c.x4 + 3x2 4x+ 3 dibagi (x+ 1) d. 2 3x+ x2 4x3 dibagi (x+ 3) e. 4x5 2x3 x + 4 dibagi (x+ 2) 2. Tentukanlah hasil bagi dan sisanya, jika: a.x3 2x2 + 4x 9 dibagi (2x 1) b.x3 + 7x2 + 4 dibagi (2x+ 1) c. 2x3 + 2x2 5x + 1 dibagi (2x 1) d. 3x3 2x2 + 5x 4 dibagi (3x 2) e. 4x5 3x2 + x2 + 3 dibagi (3x+ 2) 3. Tentukanlah hasi bagi dan sisanya, jika: a.x3 + 2x 3 dibagi (x2 1) b.x3 + 3x2 + 5x+ 9 dibagi (x2 2x+ 1) c. 4x3 + x4 + 2x 5 dibagi (x2 + 2x 3) d. 2x4 + 3x3 x2 + 2x 5 dibagi (2x2 + x+ 1) e. 2x3 + 4x2 + x+ 7 dibagi ( x2 + 5x 6) 4. Tentukan nilai asehingga: a. 2x3 + x2 13x+ ahabis dibagi (x 2), kemudian tentukan hasil baginya. b. 6x3 x2 9x+ ahabis dibagi (2x+ 3), kemudian tentukan hasil baginya. c. 4x4 12x3 + 13x2 8x+ a habis dibagi (2x 1), kemudian tentukan hasil baginya. 5. Tentukanlah nilai adan b, jika: a.x3 + ax+ bhabis dibagi (x2 + x+ 1) b. x4 + x3 + ax+ bhabis dibagi (x2 + 3x+ 5) c. 3x3 + 14x2 + ax+ bdibagi ( x2 + 4x 1) dan sisanya (6 7x) 5.31 2 1 6 2 1 2 1 7 . h2(x) hasil bagi Jadi, (2x+ 1) merupakan hasil bagi dan 7xmerupakan sisa pembagian. + ........ 1. Tentukanlah hasil bagi dan sisanya, jika: a.x3 + 7x2 + 4 dibagi (x 2) b.x4 x3 + 16 dibagi (x 3) c.x4 + 3x2 4x+ 3 dibagi (x+ 1) d. 2 3x+ x2 4x3 dibagi (x+ 3) e. 4x5 2x3 x + 4 dibagi (x+ 2) 2. Tentukanlah hasil bagi dan sisanya, jika: a.x3 2x2 + 4x 9 dibagi (2x 1) b.x3 + 7x2 + 4 dibagi (2x+ 1) c. 2x3 + 2x2 5x + 1 dibagi (2x 1) d. 3x3 2x2 + 5x 4 dibagi (3x 2) e. 4x5 3x2 + x2 + 3 dibagi (3x+ 2) 3. Tentukanlah hasi bagi dan sisanya, jika: a.x3 + 2x 3 dibagi (x2 1) b.x3 + 3x2 + 5x+ 9 dibagi (x2 2x+ 1) c. 4x3 + x4 + 2x 5 dibagi (x2 + 2x 3) d. 2x4 + 3x3 x2 + 2x 5 dibagi (2x2 + x+ 1)

e. 2x3 + 4x2 + x+ 7 dibagi ( x2 + 5x 6) 4. Tentukan nilai asehingga: a. 2x3 + x2 13x+ ahabis dibagi (x 2), kemudian tentukan hasil baginya. b. 6x3 x2 9x+ ahabis dibagi (2x+ 3), kemudian tentukan hasil baginya. c. 4x4 12x3 + 13x2 8x+ a habis dibagi (2x 1), kemudian tentukan hasil baginya. 5. Tentukanlah nilai adan b, jika: a.x3 + ax+ bhabis dibagi (x2 + x+ 1) b. x4 + x3 + ax+ bhabis dibagi (x2 + 3x+ 5) c. 3x3 + 14x2 + ax+ bdibagi ( x2 + 4x 1) dan sisanya (6 7x)

Matematika SMA dan MA Kelas XI Program IPA 1541. Penggunaan Teorema Sisa a. Menentukan Sisa Pembagian Suku Banyak oleh Bentuk Linear Dalam menentukan sisa pembagian suku banyak oleh bentuk linear, kita dapat menggunakan teorema sisa. Teorema Sisa 1 Jika suku banyak f(x) dibagi (x k), maka sisa pembagiannya adalah f(k). Untuk lebih memahami mengenai penerapan teorema tersebut, perhatikanlah contoh berikut ini. Contoh soal Tentukanlah sisa pembagian dari f(x) = x3 + 4x2 + 6x + 5 dibagi (x + 2). Penyelesaian Cara 1: Cara biasa f(x)= x3 + 4x2 + 6x + 5 f( 2) = ( 2)3 + 4· ( 2)2 + 6· ( 2) + 5 = 8 + 4 · 4 12 + 5 = 8 + 16 12 + 5 = 1 Jadi, sisa pembagiannya 1. Cara 2: Sintetik (Horner) 2 1 4 6 5 2 4 4 1 2 2 1 Jadi, sisa pembagiannya 1. Teorema Sisa 2 Jika suku banyak f(x) dibagi (ax + b), maka sisa pembagiannya adalah f ( )ba- . Untuk lebih memahami mengenai penerapan teorema tersebut, perhatikanlah contoh berikut ini. Contoh soal Tentukan sisa pembagian dari f(x) = 5x3 + 21x2 + 9x 1 dibagi (5x + 1). B Penggunaan Teorema Sisa dan Teorema Faktor + ( )ba- . Untuk lebih memahami mengenai penerapan teorema tersebut, perhatikanlah contoh berikut ini. Contoh soal Tentukan sisa pembagian dari f(x) = 5x3 + 21x2 + 9x 1 dibagi (5x + 1). B Penggunaan Teorema Sisa dan Teorema Faktor +

Penyelesaian Cara 1: Cara biasa f(x) =5x3 + 21x2 + 9x 1 f ( 15 )= 5 ·( 51 )3 + 21 ·( 51 )2 + 9 ·( 1 19 =5 ·( 125 ) + 21 ·() 255 219 = 5 1 125 + 25 1 21 45 = + 25 2525 25 1 5 1

51 )

1

= 25 1 = 2 Jadi, sisanya 2. Cara 2: Cara sintetik (Horner) 15 2 5 21 9 1 1 4 1 + 5 20 5 Jadi, sisanya

2.

b. Menentukan Sisa Pembagian Suku Banyak oleh Bentuk Kuadrat Dalam menentukan sisa pembagian suku banyak oleh bentuk kuadrat, kita dapat menggunakan teorema sisa berikut ini. Teorema Sisa 3 Jika suatu suku banyak f(x) dibagi (x a)(x b), maka sisanya adalah px + q di mana f(a) = pa + q dan f(b) = pb + q. Untuk lebih memahami mengenai penerapan teorema tersebut, perhatikanlah contoh soal berikut ini. Contoh soal Jika f(x) = x3 Penyelesaian 2x2 + 3x 1 dibagi x2 + x 2, tentukanlah sisa pembagiannya.

Pada f(x) = x3 2x2 + 3x 1 dibagi x2 + x 2, bentuk x2 + x 2 dapat difaktorkan menjadi (x + 2)(x 1). Berdasarkan teorema sisa 3, maka dapat dilakukan perhitungan sebagai berikut. (x + 2)(x 1) . (x ( 2))(x 1)

maka nilai a = Suku Banyak 155

2 dan b = 1.

Matematika SMA dan MA Kelas XI Program IPA 1565.4f (a)= pa + q f ( 2) = 2p + q ( 2)3 2 · ( 2)2 + 3 · ( 2) 1 = 2p + q 8 8 6 1 = 2p + q 23 = 2p + q (1) f (b) = pb + q f (1) = p + q 13 2 . 12 + 3 . 1 1 = p + q 1 2 + 3 1 = p + q 1 = p + q (2) Nilai p dapat dicari dengan mengeliminasi q dari persamaan (1) dan (2). 2p + q = 23 p + q = 1 3p = 24 p = 8 Nilai p disubtitusikan ke persamaan (2). p + q = 1 8 + q = 1 q = 7 Jadi, sisa pembagiannya = px + q =8x 7 1. Tentukanlah sisa pembagian suku banyak oleh bentuk linear berikut ini. a. x3 + 4x2 + x + 3 dibagi (x 1) b.x3 3x2 + 7 dibagi (x 7) c. x4 + x2 16 dibagi (x + 1) d. 2x3 + 7x2 5x + 4 dibagi (2x + 1) e. 2x3 + 5x2 + 3x + 7 dibagi (3x + 2) 2. Tentukanlah sisa pembagian suku banyak oleh bentuk kuadrat berikut ini. a. 2x4 3x2 x + 2 dibagi (x 2) (x + 1) b.x4 + x3 2x2 + x + 5 dibagi (x2 + x 6) c. 3x3 + 8x2 x 11 dibagi (x2 + 2x 3) d. 4x3 + 2x2 3 dibagi (x2 + 2x 3) e. x3 + 14x2 5x + 3 dibagi (x2 + 3x 4) 5.4f (a)= pa + q f ( 2) = 2p + q ( 2)3 2 · ( 2)2 + 3 · ( 2) 1 = 2p + q 8 8 6 1 = 2p + q 23 = 2p + q (1) f (b) = pb + q f (1) = p + q 13 2 . 12 + 3 . 1 1 = p + q 1 2 + 3 1 = p + q 1 = p + q (2) Nilai p dapat dicari dengan mengeliminasi q dari persamaan (1) dan (2). 2p + q = 23 p + q = 1 3p = 24 p = 8 Nilai p disubtitusikan ke persamaan (2). p + q = 1 8 + q = 1 q = 7 Jadi, sisa pembagiannya = px + q =8x 7 1. Tentukanlah sisa pembagian suku banyak oleh bentuk linear berikut ini. a. x3 + 4x2 + x + 3 dibagi (x 1) b.x3 3x2 + 7 dibagi (x 7) c. x4 + x2 16 dibagi (x + 1) d. 2x3 + 7x2 5x + 4 dibagi (2x + 1)

e. 2x3 + 5x2 + 3x + 7 dibagi (3x + 2) 2. Tentukanlah sisa pembagian suku banyak oleh bentuk kuadrat berikut ini. a. 2x4 3x2 x + 2 dibagi (x 2) (x + 1) b.x4 + x3 2x2 + x + 5 dibagi (x2 + x 6) c. 3x3 + 8x2 x 11 dibagi (x2 + 2x 3) d. 4x3 + 2x2 3 dibagi (x2 + 2x 3) e. x3 + 14x2 5x + 3 dibagi (x2 + 3x 4)

2. Penggunaan Teorema Faktor Teorema faktor dapat digunakan untuk menentukan faktor linear dari suku banyak. Perhatikan teorema faktor berikut ini. Jika f(x) suatu suku banyak, maka (x k) merupakan faktor dari f(x) jika dan hanya jika f(x) = 0. Untuk lebih memahami penggunaan teorema faktor, pelajarilah contoh soal berikut ini. Contoh soal Tentukanlah faktor-faktor dari: 1. x3 2x2 x + 2 2. 2x3 + 7x2 + 2x 3 Penyelesaian 1. Jika (x k) merupakan faktor suku banyak x3 2x2 x + 2, maka k merupakan pembagi dari 2, yaitu ± 1 dan ± 2. Kemudian, dicoba nilai-nilai tersebut. Misalkan, dicoba cara Horner dengan pembagi (x 1). 1 01 2 1 2 1 1 2 + 2 1 2 x2 2x2 x + 2 =(x 1)(x2 x = (x 1)(x 2) (x + 1) Jadi,faktor-faktornya adalah (x 2) 1)(x 2)(x + 1).

2. Jika (x k) merupakan faktor suku banyak 2x3+ 7x2 + 2x 3, maka k merupakan pembagi dari 3, yaitu ± 1 dan ± 3. Kemudian, dicoba nilai-nilai tersebut. Misalkan, dicoba cara Horner dengan pembagi (x + 1). 1 0272 3 2 5 3 + 2 5 3 2x3 + 7x2 + 2x 3 = (x + 1)(2x2 + 5x 3) = (x + 1)(x + 3)(2x 1) Jadi, faktor-faktornya adalah (x + 1)(x + 3)(2x

1).

3. Penyelesaian Persamaan Suku Banyak Mencari penyelesaian persamaan suku banyak sama halnya dengan menentukan akar-akar persamaan yang memenuhi f(x) = 0. Kita dapat menyelesaikan persamaan suku banyak dengan menentukan faktor linear. Suku Banyak 157

Jika f(x) suatu banyak, maka (x k) merupakan faktor dari f(x) jika dan hanya jika k akar persamaan f(x) = 0 Untuk lebih memahami tentang persamaan suku banyak dan penyelesaiannya, pelajari lah contoh soal berikut. Contoh soal 1. Tentukanlah himpunan penyelesaian dan faktor linear dari f(x) = x3 Penyelesaian f(x) = x3 2x2 f(x) dibagi (x 10 1 2 1 2 1 1 2 + 1 1 2 Karena f(1) = 0, maka (x 1) merupakan penyelesaian dari x3 Sedangkan, penyelesaian yang lain x2 x 2. x3 2x2 x +2 = (x 1) (x2 x 2) = (x 1) (x + 1) (x 2) Jadi, himpunan penyelesaiannya adalah { 1, 1, 2}. 12 2. Jika merupakan akar-akar persamaan 2x3 + x2 akar-akar yang lain. Penyelesaian 12 . 2 (12 )3 + ( 12 )2 Untuk x = = 0 13 (12) + a 2x2 x + 2. x + 2 1) 2x2 x + 2.

13x + a = 0, tentukanlah a dan

18

14 13 2 · 0 + + a

=

2 14 14 12 6 0 + + a = 6 + a =0 a = 6 Jadi suku banyaknya f(x) 2x3 + x2

13x + 6

122 1 13 6 1 1 6 2 2 12 0 2 2 2 12 4 12 2 6 0 + + 158 Matematika SMA dan MA Kelas XI Program IPA

2x3 + x2 13x + 6 = 0 (2x 1) (x 2) (2x 6) = 0 (2x 1) (x 2) (x 3) = 0 Jadi, akar-akar yang lain adalah x = 2 dan x = 3. 5.5 1. Tentukanlah faktor-faktor dari suku banyak berikut ini. a. x3 + 4x2 3x 2 b. 2x3 5x2 + 8x 33 c. 3x4 14x2 + 2x + 4 d. 2x5 3x4 5x3 8x2 14x + 6 e. 2x3 + 7x2 3x 6 f. 2x4 + 74x2 72 2. Tentukanlah himpunan penyelesaian dan faktor linear dari suku banyak berikut ini. a.f(x) = x3 x2 8x + 12 b. f(x) = 2x3 3x2 14x + 15 c.f(x) = 3x3 13x2 51x + 35 d.f(x) = x4 + x3 7x2 x + 6 e.f(x) = x3 x2 + 14x + 24 f.f(x) = 6x4 + 17x3 + 105x2 + 64x 60 4. Pembuktian Teorema Sisa dan Teorema Faktor a. Pembuktian Teorema Sisa 1) Pembuktian teorema sisa 1 Teorema sisa 1 menyatakan bahwa jika f(x) dibagi (x k), maka sisa pembagiannya adalah f(k). Perhatikanlah uraian berikut untuk membuktikan kebenaran teorema tersebut. Diketahui f (x) = (x k) h(x) + S. Derajat S lebih rendah satu daripada derajat (x k), sehingga S merupakan konstanta. Karena f(x) = (x k) k(x) + S berlaku untuk semua x, maka jika x diganti k akan diperoleh: f (k) = (k k) h(k) + S = 0 · h(k) + S = 0 + S = S Jadi, f (k) = S . S merupakan sisa pembagian (terbukti). Suku Banyak 159

Contoh soal Jika f(x) dibagi oleh x2 i oleh x 3. Penyelesaian f(x) f(x) f(3) f(3) = = = = (x2 5x + 6) h(x) + S (x 3)(x 2) h(x) + 2x + 1 (3 3)(3 2) h(3) + 2 ·3 + 1 0 + 6 + 1 5x + 6 sisanya 2x + 1. Tentukan sisanya jika f(x) dibag

Jadi, sisanya adalah 7. 2) Pembuktian teorema sisa 2 Teorema sisa 2 menyatakan bahwa jika f(x) dibagi (ax + b), maka sisa pembagiannya adalah f (-ba). Perhatikanlah uraian berikut untuk membuktikan kebenaran teorema tersebut. hx hx Diketahui f(x) = (ax + b)· ()+ S. Karena pada f(x) = (ax + b)· ()+ S aab berlaku untuk semua nilai x, maka jika nilai x = -aakan diperoleh: () hx }() }() f(x) = (ax + b) a + S -b +S f( -b) = a·-b +b a a {()h aa -b ha b () f( -a) = ( b + b) +S

a -b ha b () f( -a) = (0) +S a b f( -a) = 0 + S b f( -a) = S Jadi, terbukti bahwa sisa pembagian adalah f (-b). a Contoh soal Jika f(x) habis dibagi (x a jika f(x) dibagi 2x2 3x Penyelesaian Misalkan f(x) dibagi (2x2 3x 2), hasil baginya h(x) dan sisanya ax + b. f(x) = (2x2 3x 2) h(x) + S f(x) = (x 2)(2x + 1) h(x) + ax + b 160 Matematika SMA dan MA Kelas XI Program IPA 2) dan jika dibagi (2x + 1) sisanya 5. Tentukan sisany 2.

161Suku Banyak f(2) = (2 2) (2 · 2 + 1) h(2) + 2a + b f(2) = 0 · h(2) + 2a + b 0 = 2a + b . 2a + b = 0 .. (1) f( 2 1 ) = ( 2 1 2)(2 ( 2 1 ) + 1) h( 2 1 ) + a ( 2 1 ) + b f( 2 1 ) = ( 2 1 2)( 1 + 1) h( 2 1 ) 2 1 a + b 5 = 0 h( 2 1 ) 2 1 a + b 5 = 2 1 a + b . a + 2b = 10 .. (2) Dari persamaan (1) dan (2) diperoleh: 2a + b = 0 ×1 . 2a + b =0 a + 2b = 10 ×2 . 2a + 4b = 20 0 + 5b = 20 b =4 b = 4 disubstitusikan ke persamaan (1) 2a + b = 0 2a + 4 = 0 2a = 4 a = 2 Jadi, sisanya adalah 2x + 4. + Bagilah kelasmu menjadi beberapa kelompok, kemudian buktikanlah teorema sisa 3 berikut ini. Jika suatu suku banyak f(x) dibagi (x a)(x b), maka sisanya adalah px + q di mana f(a) = pa + q dan f(b) = pb + q. Catat dan bacakanlah hasilnya di depan kelompokmu. Adakanlah tanya jawab tentang materi yang sedang dibahas. b. Pembuktian Teorema Faktor Teorema faktor menyatakan bahwa jika f(x) suatu suku banyak, maka x h merupakan faktor dari f(x) jika dan hanya jika f(h) = 0. Perhatikanlah uraian be rikut ini untuk membuktikan kebenaran teorema tersebut. Diketahui menurut teorema sisa f(x) = (x k) · h(x) + f(k). Jika f(k) = 0, maka f(x) = (x k) · h(x). Sehingga x k merupakan faktor dari f(x). Sebaliknya, jika x k merupakan faktor dari f(x), maka f(x) = (x k) · h(x). 2 1 ) = ( 2 1 2)(2 ( 2 1 ) + 1) h( 2 1 ) + a ( 2 1 ) + b f( 2 1 ) = ( 2 1 2)( 1 + 1) h( 2 1 ) 2 1 a + b 5 = 0 h( 2 1 ) 2

1 a + b 5 = 2 1 a + b . a + 2b = 10 .. (2) Dari persamaan (1) dan (2) diperoleh: 2a + b = 0 ×1 . 2a + b =0 a + 2b = 10 ×2 . 2a + 4b = 20 0 + 5b = 20 b =4 b = 4 disubstitusikan ke persamaan (1) 2a + b = 0 2a + 4 = 0 2a = 4 a = 2 Jadi, sisanya adalah 2x + 4. + Bagilah kelasmu menjadi beberapa kelompok, kemudian buktikanlah teorema sisa 3 berikut ini. Jika suatu suku banyak f(x) dibagi (x a)(x b), maka sisanya adalah px + q di mana f(a) = pa + q dan f(b) = pb + q. Catat dan bacakanlah hasilnya di depan kelompokmu. Adakanlah tanya jawab tentang materi yang sedang dibahas. b. Pembuktian Teorema Faktor Teorema faktor menyatakan bahwa jika f(x) suatu suku banyak, maka x h merupakan faktor dari f(x) jika dan hanya jika f(h) = 0. Perhatikanlah uraian be rikut ini untuk membuktikan kebenaran teorema tersebut. Diketahui menurut teorema sisa f(x) = (x k) · h(x) + f(k). Jika f(k) = 0, maka f(x) = (x k) · h(x). Sehingga x k merupakan faktor dari f(x). Sebaliknya, jika x k merupakan faktor dari f(x), maka f(x) = (x k) · h(x).

Matematika SMA dan MA Kelas XI Program IPA 162Jika x = k, maka: f (k) = (k k) · h(k) = 0· h(k) = 0 Jadi, f(k) = 0 jika dan hanya jika (x k) merupakan faktor dari f(x) (terbukti). Contoh soal Hitunglah p jika 2x3 5x2 4x + p habis dibagi x + 1. Penyelesaian Karena 2x3 5x2 4x + p habis dibagi x + 1 maka sisanya 0, sehingga: f(x) = 2x3 5x2 4x + p f( 1) = 2 ( 1)3 5 ( 1)2 4 ( 1) + p 0 = 2 5 + 4 + p 0 = 3 + p p = 3 Jadi, p = 3. 1. Menentukan Akar Rasional Jika diketahui suatu suku banyak f(x) dan (x a) adalah faktor dari f(x), maka a adalah akar dari persamaan f(x) atau f(a) = 0. 2. Sifat-Sifat Akar Persamaan Suku Banyak a. Untuk Suku Banyak Berderajat Dua: ax2 + bx + c = 0 Jika x1 dan x2 adalah akar-akar persamaan kuadrat ax2 + bx + c = 0, maka: 1) x1 + x2 = ba2) x1 · x2 =cab. Untuk Suku Banyak Berderajat Tiga: ax3 + bx2 + cx + d = 0 Jika x1, x2, dan x3 adalah akar-akar persamaan ax3 + bx2 + cx + d = 0, maka: 1) x1 + x2 + x3 = ba2) x1 · x2 + x2 · x3 + x1 · x3 =ca3) x1 · x2 · x3 = daC. AkarAkar Rasional dari Persamaan Suku Banyak ba2) x1 · x2 =cab. Untuk Suku Banyak Berderajat Tiga: ax3 + bx2 + cx + d = 0 Jika x1, x2, dan x3 adalah akar-akar persamaan ax3 + bx2 + cx + d = 0, maka: 1) x1 + x2 + x3 = ba2) x1 · x2 + x2 · x3 + x1 · x3 =ca3) x1 · x2 · x3 = daC. AkarAkar Rasional dari Persamaan Suku Banyak

c. Untuk Suku Banyak Berderajat Empat: ax4 + bx3 + cx2 + dx + e = 0 Jika x1, x2, x3, dan x4 adalah akar-akar persamaan suku banyak ax4 + bx3 + cx2 + dx + e = 0, maka: ba 1) x1 + x2 + x3 + x4 = ca 2) x1 · x2 · x3 + x2 · x3 · x4 + x3 · x4 · x1 + x4 · x1 · x2 = da 3) x· x + x· x + x· x + x· x + x· x + x· x = 121314232434 ea 4) x· x· x· x= 1234 Contoh soal 1. Jika salah satu akar dari suku banyak x3 + 4x2 + x tentukanlah akar-akar yang lain. Penyelesaian 1 01 4 1 6 156 + 1 5 6 karena f(1) = 0, maka x = 1 adalah akar persamaan f(x) = 0 x3 + 4x2 + x 6 = 0 (x 1)(x2 + 5x + 6) = 0 (x 1)(x + 2) (x + 3) = 0 Jadi, akar yang lain adalah x = 2 dan x = 3.

6 = 0 adalah x = 1,

2. Diketahui x1, x2, dan x3 adalah akar-akar persamaan 2x3 Tentukan: a. x + x+ x 1 23 b. x1 · x2 + x1 · x3 + x2 · x3 c. x1 · x2 · x3 d. nilai b, jika x2 adalah lawan dari x1 e. nilai masing-masing x1, x2, dan x3 untuk b tersebut Penyelesaian a. 2x3 bx2 18x + 36 = 0 a = 2 c = 18 b = b d = 36 ba= b 2 ..(1) x + x + x = 1 2 3 -18 ca b. x1 · x2 + x2 · x3 + x1 · x3 = = 9 = .. (2)

bx2

18x + 36 = 0.

2 c. x1

· x2 · x3 = da= -36 = 18 .. (3)

2 Suku Banyak 163

d. Dari (1): Dari (2): x1 + x2 + x3 = - 2 b x ( x) + ( x) x + xx= 1 11313 x12 = - 2 x1 b 2 = 9 x1 x3+ x1 x3= 9

9

+ ( x1) + x 3 x 1 x3= - 2 x12 = 9 . x1 = 3 b x12 = 9 atau x1 = 3 Dari (3) x· x· x = 18 123 untuk x1 = 3, maka x2 = 3 · 3· x3 = 18 9x3 = 18 - 2 b x3 = 2 3 . x1 · x2 · x3 = 18

x + x + x= 123 - 2 b 3 + ( 3) + 2 = 2= b- 2 4 = b . b = 4 Untuk x1 = 3, maka x2 = 3 . x1 · x2 · x3 = ( 3) · 3 · x3 = 18 9· x3 = 18 x3 = 2 , maka b = 4 e. x1 = 3, x2 = 3, dan x3 = 2 untuk b = 4 atau x1 = 3 , x2 = 3, dan x3 = 2 untuk b = 4 5.6 Kerjakan soal-soal di bawah ini! 1. Tentukan faktor dari: a. x3 + x2 b. 2x3 x2 c. 2x3 2 = 0 5x 2 = 0 6 = 0

18

11x2 + 17x

2. Tentukan faktor dari suku banyak berikut. a. 8x3 b. 2x3 c. 2x3 6x2 5x2 7x2 59x + 15 = 0 28x + 15 = 0 17x + 10 = 0

164 Matematika SMA dan MA Kelas XI Program IPA

3. 4. 1. 2. 3. Tentukanlah akar-akar dari: a.x3 + 4x2 + x 6 = 0 b.x3 6x2 + 11x 6 = 0 c. 2x3 + 3x2 8x + 3 = 0 Selesaikan a. Jika akar-akar persamaan px3 14x2 + 17x 6 = 0 adalah x1, x2, x3 untuk x1 = 3, tentukan x1 · x2 · x3. b. Jika persamaan x3 x2 32x + p = 0 memiliki sebuah akar x = 2, tentukan akar-akar yang lain. c. Jika 4 merupakan salah satu akar dari persamaan x3+ 2x2 11x + a = 0, tentukan nilai a. d. Tentukan akar-akar dari x3 + 2x2 5x 6 = 0. Pembagian suku banyak a. Pengertian suku banyak. Suatu suku banyak berderajat n dinyatakan dengan: a n xn + a n 1xn 1 + a n 2xn 2 + . + a1x + a0. b. Nilai suku banyak Untuk menentukan nilai suku banyak dapat dilakukan dengan dua cara. 1) Cara substitusi 2) Cara skema (Horner) Menentukan derajat suku banyak hasil bagi dan sisa pembagian a. Suku banyak f(x) dibagi (x k) menghasilkan h(x) sebagai hasil bagi dan f(x) sebagai sisa pembagian, sedemikian hingga f(x) = (x k) h(x) + f(k) b. Suku banyak f(x) berderajat n jika dibagi oleh fungsi berderajat satu akan menghasilkan hasil bagi berderajat (n 1) dan sisa pembagian berbentuk konstanta. Menentukan hasil bagi dan sisa pembagian suku banyak oleh bentuk linear atau kuadrat ()hx a. Suku banyak f(x) dibagi (ax + b) menghasilkan sebagai hasil bagi ahx dan f( b) sebagai sisa pembagian, sedemikian hingga f(x) = (ax + b) () +

a a f( a Suku Banyak 165 b).

b. Suku banyak f(x) dibagi ax2 + bx + c dan dapat difaktorkan menjadi (ax p1)(x p2) dapat ditulis f(x) = (ax2 + bx + c) · h2(x) + [(ax . p1 . h(p) + f . . di mana h(x) merupakan hasil bagi dan (ax 12a 2 112 .. . p1 . f . . merupakan sisa pembagian. a . . 4. Teorema sisa a. Jika suku banyak f(x) dibagi (x b p) h(p) +

p1).

k), maka sisa pembaginya adalah f(k).

b. Jika suku banyak f(x) dibagi (ax + b), maka sisa pembaginya adalah f . ( a ) c. Jika suku banyak f(x) dibagi (x a)(x b), maka sisanya adalah px +q dimana f(a)= pa + q dan f(b) = pb + q. 5. Teorema faktor Jika f(x) suatu suku banyak, maka (x k) faktor dari f(x) jika dan hanya jika k akar persamaan f(x) = 0. 6. Akar-akar rasional persamaan suku banyak a. Suku banyak berderajat dua: ax2 + bx + c = 0 b 1) x1 + x2 = a c 2) x1 · x2 = a b. Suku banyak berderajat tiga: ax3 + bx2 + cx + d = 0

b 1) x1 + x2 + x3 = a c 2) x1 · x2 + x2 · x3 + x1 · x3 = a d 3) · x2 · x3 = x1 a c. Suku banyak berderajat empat: ax4 + bx3 + cx2 + dx + e = 0 b 1) + x2 + x3 + x4 = x1a c 2) x1 · x2 · x3 + x2 · x3 · x4 + x3 · x4 · x1 + x4 · x1 · x2 = a d 3) x1 · x2 + x1 · x3 + x1 · x4 + x2 · x3 + x2 · x4 + x3 · x4 = a e 4) · x2 · x3 · x4= x1 a 166 Matematika SMA dan MA Kelas XI Program IPA

I. Pilihlah salah satu jawaban yang paling benar. 1. Nilai suku banyak 6x5 + 2x3 + 4x2 + 6 untuk x = 1 adalah .. a. 10 d. 4 b. 2 e. 10 c. 2 2. Jika nilai suku banyak 2x4 + mx3 8x + 3 untuk x = 3 adalah 6, maka m adalah . a. 5 d. 3 b. 3 e. 5 c. 2 3. Suku banyak f(x) = x3 + 5x2 3x + 9 dibagi (x 2), maka hasil baginya adalah . a. x2 7x + 11 b. x2 + 7x 11 c. 2x2 + 11x + 7 d. x2 + 7x + 11 e. 2x2 11x + 7 4. Jika suku banyak f(x) = 5x4 3x3 7x2 + x 2 dibagi oleh (x2 2x + 3), maka sisanya adalah . a. 22x 36 b. 22x + 36 c. 36x + 22 d. 22x + 36 e. 36x 22 5. Jika f(x) = 2x3 7x2 + 11x 4 dibagi (2x 1), maka sisanya adalah . a. 3 d. 0 b. 2 e. 4 c. 1 6. Jika x3 12x + k habis dibagi dengan (x 2), maka bilangan tersebut juga habis dib agi dengan . a. x + 1 d. x + 2 b. x + 1 e. x + 4 c. x 3 Suku Banyak 167

7. Jika suku banyak f(x) = 2x4 + ax3 3x2 + 5x + b dibagi (x2 1) menghasilkan sisa (6x + 5) maka nilai a· b = . a. 8 d. 3 b. 6 e. 6 c. 1 8. Jika (x + 1) merupakan salah satu faktor dari suku banyak f(x) = 2x4 2x3 + px2 x 2, maka nilai p adalah . a. 3 d. 1 b. 2 e. 3 c. 1 9. Suku banyak f(x) = 3x3 75x + 4 dibagi oleh (x + k) dengan k > 0. Jika sisanya 4, maka nilai k adalah .. a. 5 d. 4 b. 0 e. 5 c. 3 10. Jika suku banyak 2x2 x + 16 dibagi oleh (x a) sisanya 12, maka nilai a adalah . a. 2 atau 3 b. 3 atau 2 c. 2 atau 23 d. 2 atau 23 e. 2 atau 3 11. Jika f(x) = 3x4 5x2+ kx + 12 habis dibagi dengan (x + 2), maka nilai k adalah . a. 10 d. 40 b. 20 e. 50 c. 30 12. Jika f(x) dibagi dengan (x 2) sisanya 24, sedangkan jika dibagi dengan (x + 5) sisanya 10. Jika f(x) dibagi dengan x3+ 3x 10 sisanya adalah .. a.x + 34 b. x 34 c. 2x 20 d. 2x + 20 e. x + 14 168 Matematika SMA dan MA Kelas XI Program IPA

13. Jika suku banyak f(x) dibagi (x 1) sisa 5 dan jika dibagi dengan (x + 3) sisanya 7. Jika suku banyak tersebut dibagi dengan (x2 + 2x 3), maka sisanya .. a. 12 x 512 b. 1 x + 512 2 c. 2 1 x + 4 12 d. 12 x + 4 12 e. 12 x + 5 12 14. Suku banyak f(x) dibagi (x + 4) sisanya 11, sedangkan jika dibagi (x 2) sisanya 1 . Jika f(x) dibagi (x 2)(x + 4) sisanya adalah . a. 2x 3 d. 2x 3 b. 2x + 3 e. 3x + 2 c. 2x + 3 15. Sebuah akar persamaan x3 + ax2 + ax + 1 = 0 adalah 2. Jumlah akar-akar persamaan itu adalah .. 2 a. 3 d. 3 b. 2 e. 23 3 c. 2 II. Kerjakan soal-soal berikut ini dengan benar. 1. Diketahui f(x) = (x + 1)(x 2)(x + 3). Tentukanlah: a. derajat sukunya, b. koefisien-koefisien variabel, c. suku tetapnya. 2. Tentukan nilai suku banyak x4 2x3+ x2 1 untuk x = 1. 3. Tentukan hasil bagi dan sisa hasil bagi, jika suku banyak x3 + 1)

3x2 + x

3 dibagi (x

dengan cara Horner. 4. Tentukanlah hasil bagi dari (2x3 x2 + 3x 9) dibagi (2x + 1). 5. Tentukanlah nilai p jika f(x) = 2x3 + 5x2 4x + p habis dibagi (x + 1). x2 - 7xp + 6. Carilah p supaya 2 dapat disederhanakan. x- 3x+2 Suku Banyak 169

7. Carilah sisanya, jika 2x4 3x2 x + 2 dibagi x2 x 2. 8. Jika f(x) dibagi (x 1) sisanya 3 dan dibagi (x 2) sisanya 4, maka tentukan sisan ya jika f(x) dibagi x2 3x + 2. 9. Tentukanlah nilai p supaya (x + 1) faktor dari x4 5x3+ 2px2 + x + 1. 10. Salah satu akar persamaan: 2x3+ 7x2 + bx 10 = 0 adalah 2. Tentukanlah: a. nilai b, b. akar-akar yang lain. 11. Tentukanlah himpunan penyelesaian dari f(x) = 2x3 + 5x2 4x 3 = 0. 12. Jika x3+ 2x2 x + k habis dibagi (x + 3), tentukan nilai 2k2 + k. 13. Jika suku banyak x4+ 3x3 + x2 + x 1 dibagi (x 2) tersisa 19, tentukan nilai p. 14. Suku banyak f(x) = 2x5 + ax4 + 2x3 + x2 x 1 habis dibagi (x 1). Jika f(x) dibagi x2 x 2, tentukan sisanya. 15. Diketahui x1, x2, dan x3 adalah akar-akar persamaan 2x3 Tentukanlah: a. x1 + x2+ x3 b.x· x+ x· x +x· x 12 1323 c. x· x· x 123 170 Matematika SMA dan MA Kelas XI Program IPA

4x2

18x + 36 = 0.

6 Komposisi Fungsi dan Invers Fungsi Relasi dan Fungsi Aljabar Fungsi Fungsi Komposisi Fungsi Invers Jika sebuah benda terletak di depan cermin datar, tentu bayangan benda itu akan terlihat di dalam cermin yang persis seperti benda aslinya. Dengan demikian dapa t dikatakan bahwa bayangan di dalam cermin merupakan invers dari benda yang berada di depan cermin. Dalam bab ini, kamu akan mempelajari lebih lanjut mengen ai komposisi dua fungsi dan invers suatu fungsi.

Komposisi fungsi dan invers fungsi Fungsi komposisi Fungsi invers mempelajari Komposisi fungsi dan invers fungsi Fungsi komposisi Fungsi invers mempelajari terdiri dari menentukan Syarat dan aturan fungsi yang dapat dikomposisikan Nilai fungsi komposisi dan pembentuknya Syarat agar suatu fungsi mempunyai invers Sifat-sifat fungsi invers Fungsi komposisi dari beberapa fungsi Sifat-sifat komposisi fungsi Grafik fungsi invers Fungsi invers dari suatu fungsi komposisi fungsi domain fungsi kodomain fungsi range fungsi fungsi injektif fungsi surjektif fungsi bijektif fungsi genap fungsi ganjil fungsi invers 172 Matematika SMA dan MA Kelas XI Program IPA

A Relasi dan Fungsi A Relasi dan Fungsi 1. Relasi Relasi adalah suatu aturan yang memasangkan anggota himpunan satu ke himpunan lain. Suatu relasi dari himpunan A ke himpunan B adalah pemasangan atau perkawan an atau korespondensi dari anggota-anggota himpunan A ke anggota-anggota himpunan B . Jika diketahui himpunan A = {0, 1, 2, 5}; B = {1, 2, 3, 4, 6}, maka relasi satu

kurangnya dari himpunan A ke himpunan B dapat disajikan dalam diagram panah, diagram Cartesius, himpunan pasangan berurutan, dan dengan rumus. a. Diagram panah 0 1 2 5 1 2 3 4 6 A B b. Diagram Cartesius B (5, 6)

6 (2, 3) 3

(1, 2) 2

(0, 1) A 0 1 2

3 4 5 c. Himpunan pasangan berurutan R = {(0, 1), (1, 2), (2, 3), (5, 6)} d. Dengan rumus f(x) = x + 1, di mana x . {0, 1, 2, 5} dan f(x) . {1, 2, 3, 4, 6} 2. Fungsi a. Pengertian Fungsi Suatu relasi dari himpunan A ke himpunan B disebut fungsi dari A ke B jika setiap anggota A dipasangkan dengan tepat satu anggota B. A Bf f(x)X C> x Komposisi Fungsi dan Invers Fungsi 173

Jika f adalah suatu fungsi dari A ke B, maka: -himpunan A disebut domain (daerah asal), -himpunan B disebut kodomain (daerah kawan) dan himpunan anggota B yang pasangan (himpunan C) disebut range (hasil) fungsi f. Aturan yang memasangkan anggota-anggota himpunan A dengan anggota-anggota himpunan B disebut aturan fungsi f. Misal diketahui fungsi-fungsi: f : A . B ditentukan dengan notasi f(x) g : C . D ditentukan dengan notasi g(x) Untuk lebih memahami tentang fungsi, pelajarilah contoh soal berikut. Contoh soal Diketahui A = {1, 2, 3, 4} dan B = {1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8}. Suatu fungsi f : A . B ditentukan oleh f(x) = 2x 1. 1. Gambarlah fungsi f dengan diagram panah. 2. Tentukan range fungsi f. 3. Gambarlah grafik fungsi f. Penyelesaian a. 1 2 3 4 5 6 7 8 A B f 1 2 3 4 b. Dari diagram di atas, terlihat bahwa: f(x) = 2x 1 f(3) = 2 · 3 1 = 5 f(1) = 2 · 1 1 = 1 f(4) = 2 · 4 1 = 7 f(2) = 2 · 2 1 = 3 Jadi, range fungsi f adalah {1, 3, 5, 7}. c. Grafik fungsi 8 7 6 5 4 3

2 1 0 1 2 3 4 x f(x)

174 Matematika SMA dan MA Kelas XI Program IPA

b. Macam-Macam Fungsi 1) Fungsi konstan (fungsi tetap) Suatu fungsi f : A . B ditentukan dengan rumus f(x) disebut fungsi konstan apabila untuk setiap anggota domain fungsi selalu berlaku f(x) = C, di mana C bilangan konstan. Untuk lebih jelasnya, pelajarilah contoh soal berikut ini. Contoh soal Diketahui f : R . R dengan rumus f(x) = 3 dengan daerah domain: {x Tentukan gambar grafiknya. Penyelesaian x 3 2 1 0 1 f(x) 3 3 3 3 3 Grafik: 3 3 2 1 0 1 f(x) = 3 Y X 3 2 1 2) Fungsi linear Suatu fungsi f(x) disebut fungsi linear apabila fungsi itu ditentukan oleh f(x) = ax + b, di mana a . 0, a dan b bilangan konstan dan grafiknya berupa garis lurus. Pelajarilah contoh soal berikut ini agar kamu lebih jelas memahami fungsi linear . Contoh soal Jika diketahui f(x) = 2x + 3, gambarlah grafiknya. Penyelesaian 2x + 3 x 0 1 2 1 f(x) 3 0 Grafik: 3 1 2 1 0 f(x) = 2x + 3 Y X 3) Fungsi kuadrat Suatu fungsi f(x) disebut fungsi kuadrat apabila fungsi itu ditentukan oleh f(x) = ax2 + bx + c, di mana a . 0 dan a, b, dan c bilangan konstan dan grafiknya berupa parabola. 3 = x < 2}.

Komposisi Fungsi dan Invers Fungsi 175

Perhatikan contoh soal berikut ini untuk lebih memahami tentang fungsi kuadrat. Contoh soal Perhatikan gambar di bawah ini, fungsi f ditentukan oleh f(x) = x2+ 2x Y 1 2 1 3 4 3 4 5 Tentukanlah: a. Domain fungsi f. b. Nilai minimum fungsi f. c. Nilai maksimum fungsi f. X d. Range fungsi f. e. Pembuat nol fungsi f. f. Koordinat titik balik minimum. Penyelesaian a. b. c. d. e. f. Domain fungsi f adalah {x 4 = x < 2}. Nilai minimum fungsi f adalah 4. Nilai maksimum fungsi f adalah 5. Range fungsi f adalah {y 4 = y = 5}. Pembuat nol fungsi f adalah 3 dan 1. Koordinat titik balik minimum grafik fungsi f adalah ( 1, 3.

4).

Di kelas X kamu sudah mempelajari cara membuat grafik fungsi kuadrat y = ax2 + bx + c, a . 0. Caranya adalah sebagai berikut. a. Menentukan titik potong dengan sumbu X . y = 0. b. Menentukan titik potong dengan sumbu Y . x = 0. c. Menentukan persamaan sumbu simetri x = 2ba. d. Menentukan titik puncak ( ),24bDaa- - . Ingat!! 4) Fungsi identitas Suatu fungsi f(x) disebut fungsi identitas apabila setiap anggota domain fungsi berlaku f(x) = x atau setiap anggota domain fungsi dipetakan pada dirinya sendir i. Grafik fungsi identitas berupa garis lurus yang melalui titik asal dan semua tit ik absis maupun ordinatnya sama. Fungsi identitas ditentukan oleh f(x) = x. Agar kamu lebih memahami tentang fungsi identitas, pelajarilah contoh soal berikut in i. Contoh soal Fungsi pada R didefinisikan sebagai f(x) = x untuk setiap x. a. Carilah f( 2), f(0), f(1), f(3). b. Gambarlah grafiknya. 176 Matematika SMA dan MA Kelas XI Program IPA

Penyelesaian Y y = x a. f(x) = x b. Grafiknya: f( 2) = 2 3 f(0) = 0 1 2 1 X f(1) = 1 3 1 f(3) = 3 2 5) Fungsi tangga (bertingkat) Suatu fungsi f(x) disebut fungsi tangga apabila grafik fungsi f(x) berbentuk interval-interval yang sejajar. Untuk lebih jelasnya, perhatikan contoh soal berikut ini. Contoh soal 1, jika x 1 0, jika 1 < x 2 Diketahui fungsi: f(x) = 2, jika2 < x 4 3, jika x > 4 Tentukan interval dari: a. f( 2) d. f(5) b. f(0) e. gambar grafiknya. c. f(3) Penyelesaian a. f( 2) = 1 e. grafiknya: b. f(0) = 0 c. f(3) = 2 1

d. f(5) = 3 3 1 0 1 Y X 1 2 4 2 6) Fungsi modulus Suatu fungsi f(x) disebut fungsi modulus (mutlak) apabila fungsi ini memetakan setiap bilangan real pada domain fungsi ke unsur harga mutlaknya. f : x . x atau f : x . f(x) = x artinya: x, jika x = 0 x x, jika x < 0 .. . .. Y X y = x y = x 0 Komposisi Fungsi dan Invers Fungsi 177 ax + b

7) Fungsi ganjil dan fungsi genap Suatu fungsi f(x) disebut fungsi ganjil apabila berlaku f( x) = f(x) dan disebut fungsi genap apabila berlaku f( x) = f(x). Jika f( x) . f(x) maka fungsi ini tidak genap dan tidak ganjil. Untuk memahami fungsi ganjil dan fungsi genap, perhatikan contoh soal berikut ini. Contoh soal Tentukan fungsi f di bawah ini termasuk fungsi genap, fungsi ganjil, atau tidak genap dan tidak ganjil. 1. f(x) = 2x3 + x 2.f(x) = 3 cos x 5 3. f(x) = x2 8x Penyelesaian 1. f(x) = 2x3 + x f( x) = 2( x)3 + ( x) = 2x3 x = (2x3 + x) = f(x) Jadi, fungsi f(x) merupakan fungsi ganjil. 2. f(x) = 3 cos x 5 f( x) = 3 cos ( x) 5 = 3 cos x 5 Jadi, fungsi f(x) merupakan fungsi genap. 3. f(x)= x2 8x f( x) =( x)2 8 ( x) = x2 + 8x Fungsi f( x) . f(x) dan f( x) . f(x). Jadi, fungsi f(x) adalah tidak genap dan tidak ganjil. c. Sifat Fungsi 1) Fungsi injektif (satu-satu) Jika fungsi f : A . B, setiap b . B hanya mempunyai satu kawan saja di A, maka fungsi itu disebut fungsi satu-satu atau injektif. a b c p q r > > >

a b c p q r s > >> a b c p q> > > A B A B A B fungsi injektif fungsi injektif bukan fungsi injektif 178 Matematika SMA dan MA Kelas XI Program IPA

2) Fungsi surjektif (onto) Pada fungsi f : A . B, setiap b . B mempunyai kawan di A, maka f disebut fungsi surjektif atau onto. a b c d p q r A B a b c p q r s A B fungsi surjektif bukan fungsi surjektif 3) Fungsi bijektif (korespondensi satu-satu) Suatu fungsi yang bersifat injektif sekaligus surjektif disebut fungsi bijektif atau korespondensi satu-satu. a b c d p q r s a b c d p q r B B A A fungsi bijektif bukan fungsi bijektif 6.1 Kerjakan soal-soal di bawah ini. 1. Dari himpunan A dan B berikut, manakah yang merupakan fungsi? Sebutkan pula domain, kodomain, dan rumusnya.

a. b. 0 1 2 3 1 2 3 4 c. B A B A A B 2. Gambarlah grafik dari: . 0, jika 0 < x = 1 . a. f(x) =. 2, jika 1 < x = 2 . 4, jika 2 < x = 3 . 2 1 0 1 0 1 4 9 >> > 1 0 1 2 3> > Komposisi Fungsi dan Invers Fungsi 179

Matematika SMA dan MA Kelas XI Program IPA 180Bila fdan gsuatu fungsi, maka pada operasi aljabar penjumlahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian dapat dinyatakan sebagai berikut. 1. Penjumlahan f dan g berlaku (f + g)(x) = f(x) + g(x) Perhatikan contoh soal berikut ini. Contoh soal Diketahui f(x) = x+ 2 dan g(x) = x2 4. Tentukan (f+ g)(x). Penyelesaian (f+ g)(x) = f(x) + g(x) = x+ 2 + x2 4 = x2 + x 2 2. Pengurangan f dan g berlaku (f g)(x) = f(x) g(x) Untuk memahami sifat tersebut, pelajarilah contoh soal berikut ini. Contoh soal Diketahui f(x) = x2 3xdan g(x) = 2x + 1. Tentukan (f g)(x). b. f(x) = x2 + 2x 3 c. f(x) = x+ 2 3. Selidiki fungsi berikut termasuk fungsi ganjil, genap, atau bukan keduanya. a. f(x) = x2 3 b. f(x) = 2 sin x+ cos x c.f(x) = 3x5 2x3 4. Tentukan daerah asal dan range fungsi berikut bila x. Bdan B= {x 3 < x= 2}. a. f(x) = 2x 1 b.f(x) = x2 + 3 c.f(x) = 4 d.f(x) = x+ 1 5. Diketahui fungsi A= {1, 2, 3, 4} ke B= {5, 6, 7} yang dinyatakan dalam pasang an berurutan berikut ini, manakah yang merupakan pasangan surjektif? a.f= {(1, 6), (2, 6), (3, 6), (4, 6)} b.f= {(1, 5), (2, 6), (3, 6), (4, 5)} c.f= {(1, 6), (2, 7), (3, 5), (4, 5)} d.f= {(1, 5), (2, 6), (3, 7), (4, 7)} B Aljabar Fungsi Bila fdan gsuatu fungsi, maka pada operasi aljabar penjumlahan, pengurangan, per kalian, dan pembagian dapat dinyatakan sebagai berikut. 1. Penjumlahan f dan g berlaku (f + g)(x) = f(x) + g(x) Perhatikan contoh soal berikut ini. Contoh soal Diketahui f(x) = x+ 2 dan g(x) = x2 4. Tentukan (f+ g)(x). Penyelesaian (f+ g)(x) = f(x) + g(x) = x+ 2 + x2 4 = x2 + x 2 2. Pengurangan f dan g berlaku (f g)(x) = f(x) g(x) Untuk memahami sifat tersebut, pelajarilah contoh soal berikut ini. Contoh soal Diketahui f(x) = x2 3xdan g(x) = 2x + 1. Tentukan (f g)(x). b. f(x) = x2 + 2x 3 c. f(x) = x+ 2 3. Selidiki fungsi berikut termasuk fungsi ganjil, genap, atau bukan keduanya. a. f(x) = x2 3 b. f(x) = 2 sin x+ cos x c.f(x) = 3x5 2x3 4. Tentukan daerah asal dan range fungsi berikut bila x. Bdan B= {x 3 < x= 2}. a. f(x) = 2x 1 b.f(x) = x2 + 3 c.f(x) = 4

d.f(x) = x+ 1 5. Diketahui fungsi A= {1, 2, 3, 4} ke B= {5, 6, 7} yang dinyatakan dalam pasang an berurutan berikut ini, manakah yang merupakan pasangan surjektif? a.f= {(1, 6), (2, 6), (3, 6), (4, 6)} b.f= {(1, 5), (2, 6), (3, 6), (4, 5)} c.f= {(1, 6), (2, 7), (3, 5), (4, 5)} d.f= {(1, 5), (2, 6), (3, 7), (4, 7)} B Aljabar Fungsi

Penyelesaian (f g)(x)= f(x) g(x) = x2 3x (2x+ 1) = x2 3x 2x 1 = x2 5x 1 3. Perkalian f dan g berlaku (f· g)(x) = f(x)· g(x) Perhatikan contoh soal berikut ini untuk memahami fungsi tersebut. Contoh soal Diketahui f(x) = x 5 dan g(x) = x2 + x. Tentukan (f×g)(x). Penyelesaian (f×g)(x)= f(x) · g(x) =(x 5)(x2 + x) = x3 + x2 5x2 5x = x3 4x2 5x . f . f(x) 4. Pembagian f dan g berlaku .. ..(x)= . g . g(x) Untuk lebih jelasnya, pelajarilah contoh soal berikut ini. Contoh soal . f. .() x. Diketahui f(x) = x2 g .. Penyelesaian f fx .. () .()= x . gx x2 - 4(x- 2)( x+ 2)

4 dan g(x) = x + 2. Tentukan .

. g. () = = = x x+2 x+2 C Fungsi Komposisi 1. Syarat dan Aturan Fungsi yang Dapat Dikomposisikan Jika diketahui A= {a1, a2, a3}, B= {b1, b2, b3, b4}, dan C= {c1, c2, c3}, maka f ungsi f: A. Bdan g: B. Cdidefinisikan seperti diagram berikut. f(a1) = b2 g(b1) = c2 f(a2) = b1 g(b2) = c1 f(a3) = b3 g(b3) = c3 gA B c1 b2 c2 c3 b1 b3 b4 C B a1 a2 a3 f b1 b2 b3 b4 > Komposisi Fungsi dan Invers Fungsi 181 2

Dari kedua diagram di atas, dapat diperoleh fungsi yang memetakan langsung dari A ke C sebagai berikut. A a1 a2 a3 B f b1 b2 b3 b4 C c1 c2 c3 g f(a1) = b2 dan g(b2) = c2 sehingga (g..f) (a1) = c2 g(b2) = c1 dan g(b1) = c1 sehingga (g..f) (a2) = c1 g(b3) = c3 dan g(b3) = c3 sehingga (g..f) (a3) = c3 Jika fungsi yang langsung memetakan A ke C itu dianggap fungsi tunggal, maka diagramnya adalah sebagai berikut. a1 a2 a3 f c1 c2 c3g > (g ..f) (g ..f) (a1) = c2 (g ..f) (a2) = c1 (g ..f) (a3) = c3 AC Fungsi tunggal tersebut merupakan fungsi komposisi dan dilambangkan dengan g D f dibaca fungsi g bundaran f . g D f adalah fungsi komposisi dengan f dikerjakan lebih dahulu daripada g. Fungsi komposisi tersebut dapat ditulis: (g ..f)(x) = g(f(x)) (f ..g)(x) = f(g(x)) A B C f(x)x g(f(x)) g ..f Sedangkan, untuk f D g dibaca fungsi f bundaran g. Jadi, f D g adalah fungsi komposisi dengan g dikerjakan lebih dahulu daripada f.

A g(x)x f(g(x)) B C f ..g 182 Matematika SMA dan MA Kelas XI Program IPA

183Komposisi Fungsi dan Invers Fungsi Untuk lebih memahami tentang fungsi komposisi, pelajarilah contoh soal berikut i ni. Contoh soal 1. Diketahui f(x) = 2x 1, g(x) = x2 + 2. a. Tentukan (g ..f)(x). b. Tentukan (f ..g)(x). c. Apakah berlaku sifat komutatif: g ..f = f ..g? Penyelesaian a. (g ..f)(x) = g(f(x)) = g(2x 1) = (2x 1)2 + 2 = 4x2 4x + 1 + 2 = 4x2 4x + 3 b. (f ..g)(x)= f(g(x)) = f(x2 + 2) = 2(x2 + 2) 1 =4x2 + 4 1 =4x2 + 3 c. Tidak berlaku sifat komutatif karena g ..f . f ..g. 2. Diketahui f(x) = x2, g(x) = x 3, dan h(x) = 5x. a. Tentukan (f ..(g ..h))(x). b. Tentukan ((f ..g) ..h)(x). c. Apakah f ..(g ..h) = (f ..g) ..h, mengapa? Penyelesaian a. (f ..(g ..h))(x) = . Misal p(x)= (g ..h)(x) = g(h(x)) = g(5x) =5x 3 Buatlah kelompok-kelompok di kelasmu, kemudian buktikan sifat-sifat komposisi fu ngsi berikut ini. Catat dan bacakan hasilnya di depan kelas. Bila f, g, dan h suatu fungsi, maka: a. tidak berlaku sifat komutatif, yaitu f ..g . g ..f; b. jika I fungsi identitas berlaku : I ..f = f ..I = f; c. berlaku sifat asosiatif, yaitu : f ..(g ..h) = (f ..g) ..h. Buatlah kelompok-kelompok di kelasmu, kemudian buktikan sifat-sifat komposisi fu ngsi berikut ini. Catat dan bacakan hasilnya di depan kelas. Bila f, g, dan h suatu fungsi, maka: a. tidak berlaku sifat komutatif, yaitu f ..g . g ..f; b. jika I fungsi identitas berlaku : I ..f = f ..I = f; c. berlaku sifat asosiatif, yaitu : f ..(g ..h) = (f ..g) ..h.

Matematika SMA dan MA Kelas XI Program IPA 184Soalnya menjadi (f ..(g ..h)(x)) = (f ..p)(x) = f(p(x)) = f(5x 3) = (5x 3)2 = 25x2 30x + 9 b. ((f ..g) ..h)(x) = . Misal s(x) = (f ..g)(x) = f(g(x)) = f(x 3) =(x 3)2 Soalnya menjadi: ((f ..g) ..h)(x)= (s ..h)(x) = s(h(x)) = s(5x) = (5x 3)2 = 25x2 30x + 9 c. Ya, (f ..(g ..h))(x) = ((f ..g) ..h)(x) sebab berlaku sifat asosiatif. 3. Diketahui f(x) = 5x 2 dan I(x) = x. Buktikan I ..f = f ..I = f. Bukti (I ..f)(x) = I(f(x)) = I(5x 2) = 5x 2 (f ..I)(x) = f(I(x)) = f(x) = 5x 2 Tampak bahwa I ..f = f ..I = f (terbukti). 6.2Kerjakan soal-soal di bawah ini. 1. Diketahui f(x) = x 2 dan g(x) = x2 x 2. Tentukan: a. (f + g)(x) c. (f × g)(x) b. (f g)(x) d. ()f x g . . . .. . 6.2Kerjakan soal-soal di bawah ini. 1. Diketahui f(x) = x 2 dan g(x) = x2 x 2. Tentukan: a. (f + g)(x) c. (f × g)(x) b. (f g)(x) d. ()f x g . . . .. .

2. Diketahui f(x) = x2 dan g(x) = x + 4. Tentukan: a. (f + g)( 3) c. (f×g)( 1) . f . b. (f g)(1) d. . g . (2) .. 3. Diketahui fungsi yang ditentukan oleh f(x) = x + 1, g(x) = 2 x. Tentukan fungsi yang dinyatakan oleh f2(x) + g2(x) + (f + g)(x) + (g f)(x). 4. Fungsi f : R . R dan g : R . R ditentukan oleh f(x) = 2x 1 dan g(x) = x + 3. Tentukan: a. (f D g)(x) c. (f D f)(x) b. (g D f)(x) d. (g D g)(x) 5. Diketahui fungsi f(x) = 2x + 1 dan g(x) = x2. Tentukan: a. (f D g)(x) c. (f D f)(x) b. (g D f)(x) d. (g D g)(x) 6. Diketahui g(x) = 2x + 3 dan (g D f)(x) = 2x2 + 4x + 5. Tentukan f(x). 2. Nilai Fungsi Komposisi dan Komponen Pembentuknya Untuk menjelaskan nilai fungsi komposisi terhadap komponen pembentuknya, dapat dilakukan dengan dua cara berikut ini. a. Dengan menentukan rumus komposisinya terlebih dahulu, kemudian disubstitusikan nilainya. b. Dengan mensubstitusikan secara langsung nilai pada fungsi yang akan dicari. Untuk lebih memahami, perhatikan contoh soal berikut ini. Contoh soal Diketahui dua buah fungsi yang dinyatakan dengan rumus f(x) = 3x + 4. Tentukanlah nilai dari fungsi-fungsi komposisi berikut. a. (g D f)(1) b. (f D 1 dan g(x) = x2

g)( 2) c. (g D f)( 3) Penyelesaian Cara 1 a. (g D f)(x) = g(f(x)) = g(3x 1) = (3x 1)2 + 4 = 9x2 6x + 1 + 4 = 9x2 6x + 5 (g D f)(1) = 9 · 12 6 · 1 + 5 = 9 6 + 5 = 8 Komposisi Fungsi dan Invers Fungsi 185

b. (f D g)( 2) = f(x2 = 3(x2 =3x2 + =3x2 + (f D g)( 2) =3 · 4 = 12 +

= f(g(x)) + 4) + 4) 1 12 1 11 = 3( 2)2 + 11 + 11 11 = 23

c. (g D f)(x) =9x2 6x + 5 (g D f)( 3) = 9( 3)2 6 ( 3) + 5 = 81 + 18 + 5 = 104 Cara 2 a. (g D f)(1) = g(f(1)) = g(3 · 1 1) = g(2) =22 + 4 = 8 b. (f D g) ( 2) = f(g( 2)) = f(( 2)2 + 4) = f(8) =3 · 8 1 = 23 c. (g D f)( 3) = g(f( 3)) = g(3 ( 3) 1) = g( 10) = ( 10)2 + 4 = 104 6.3 Kerjakan soal-soal di bawah ini di buku tugas. 1. Diketahui fungsi p dan q pada A = {2, 3, 4, 5, 6} ditulis sebagai fungsi beru rutan sebagai berikut. p = {(2, 4), (3, 6), (4, 4), (5, 2), (6, 3)} q = {(2, 5), (3, 2), (4, 2), (5, 3), (6, 4)} a. Tentukan (p D q)(2), (p D q)(3), (p D q)(4), (p D q)(5), (p D q)(6). b. Tentukan (q D p)(2), (q D p)(3), (q D

p)(4), (q D p)(5), (q D p)(6). c. Buktikan (p D q) . (q D p)(x). 186 Matematika SMA dan MA Kelas XI Program IPA

2. Diketahui fungsi f : R . R dan g : R . R ditentukan oleh f(x) = 2 x dan g(x) = 3x + 4. Tentukan nilai fungsi komposisi berikut ini. a. (f ..g)( 2) c. (f ..f)( 1) b. (g ..f)(1) d. (g ..g)(2) 3. Diketahui f : R . R dan g : R . R ditentukan oleh f(x) = x + 1 dan g(x) = 2x 1. Dengan mensubstitusikan secara langsung nilai pada fungsi-fungsi berikut ini, tentukan nilai: a. (f ..g)( 1) c. (g ..f)( 2) b. (f ..g)(3) d. (g ..f)(1) 4. Diketahui fungsi f : R . R dan g : R . R ditentukan oleh f(x) = 2x2 dan g(x) = x 3. Tentukan nilai x: a. jika (f ..g)(x) = 2 c. (g ..f)(x) = 5 b. jika (f ..g)(x) = 4 d. (g ..f)(x) = 1 2. Diketahui fungsi f : R . R dan g : R . R ditentukan oleh f(x) = 2 x dan g(x) = 3x + 4. Tentukan nilai fungsi komposisi berikut ini. a. (f ..g)( 2) c. (f ..f)( 1) b. (g ..f)(1) d. (g ..g)(2) 3. Diketahui f : R . R dan g : R . R ditentukan oleh f(x) = x + 1 dan g(x) = 2x 1. Dengan mensubstitusikan secara langsung nilai pada fungsi-fungsi berikut ini, tentukan nilai: a. (f ..g)( 1) c. (g ..f)( 2) b. (f ..g)(3) d. (g ..f)(1) 4. Diketahui fungsi f : R . R dan g : R . R ditentukan oleh f(x) = 2x2 dan g(x) = x 3. Tentukan nilai x: a. jika (f ..g)(x) = 2 c. (g ..f)(x) = 5 b. jika (f ..g)(x) = 4 d. (g ..f)(x) = 1 D Fungsi Invers 1. Menjelaskan Syarat agar Suatu Fungsi Mempunyai Invers Semua himpunan yang dipetakan oleh fungsi mempunyai invers. Invers dari himpunan tersebut dapat berupa fungsi atau bukan fungsi. Perhatikanlah gambar di bawah in i. Dari gambar (i), himpunan A yang beranggotakan (a1, a2, a3, a4) diperakan oleh fungsi f ke himpunan B yang beranggotakan (b1, b2, b3) daerah hasil adalah: {(a1 , b1), (a2, b2), (a3, b3), (a4, b4)}. Pada gambar (ii) himpunan B dipetakan oleh fungsi g ke himpunan A daerah hasil adalah: {(b1, a1), (b2, a2), (b2, a4), (b3, a3)}. Pemeta an g : B . A diperoleh dengan cara menukarkan atau membalik pasangan terurut f : A . B atau B merupakan balikan dari f dinotasikan g = f-1, sering disebut g merupakan invers dari f. (i) (ii) A a1 a2 a3 a4 B b1 b2 b3 f B a1 a2

a3 a4 A b1 b2 b3 g = f-1 Jika fungsi f = A .B dinyatakan dengan pasangan terurut f = {(a, b) a . A dan b . B} maka invers fungsi f adalah f-1 = b .A ditentukan oleh f-1 = {(b, a) b . B, da n a . A}. Ingat!! Komposisi Fungsi dan Invers Fungsi 187

2. Menentukan Aturan Fungsi Invers dari Suatu Fungsi Suatu fungsi f akan mempunyai invers, yaitu f 1 jika dan hanya jika fungsi f bijek tif atau dalam korespondensi satu-satu. Misalkan, f merupakan fungsi dari A ke B, ma ka f 1 merupakan fungsi invers f jika berlaku (f f)(x) = x dan (f D f 1)(x) = x. Perhatikanlah gambar di bawah ini. A b1 b2 b3 B a1 a2 a3 B a1 a2 a3 A b1 b2 b3 fungsi f fungsi invers f Untuk menentukan fungsi invers dari suatu fungsi dapat dilakukan dengan cara berikut ini. a. Buatlah permisalan f(x) = y pada persamaan. b. Persamaan tersebut disesuaikan dengan f(x) = y, sehingga ditemukan fungsi dalam y dan nyatakanlah x = f(y). c. Gantilah y dengan x, sehingga f(y) = f 1(x). Untuk lebih memahami tentang fungsi invers, pelajarilah contoh soal berikut ini. Contoh soal x 1. Jika diketahui f(x) = , x . 2, tentukan inversnya. x + 2 Penyelesaian Misal f(x) = y, maka soalnya menjadi: 1 D

x f(x)= x +2 x y = x +2 y(x + 2) = x yx + 2y = x yx x = 2y (y 1)x = 2y -2y x = y -1 -2y f(y)= y -1 -2x f 1(x)= x -1 2. Diketahui f : R . R dengan ketentuan f(x) = 3x + 8. a. Tentukan f 1(x). b. Tentukan (f 1 D f)(x). c. Tentukan (f D f 1)(x). d. Buktikan bahwa (f 1 D f)(x) = (f D f 1)(x). 188 Matematika SMA dan MA Kelas XI Program IPA

Penyelesaian a. Misalnya f(x) = y f(x) = 3x+ 8 y= 3x+ 8 y 8= 3x 3x= y 8 y-8 x= 3 18 x= y-3 3 1 D f 1(f b. (f)(x)= f(x)) = f 1(3x+ 8) 12 = (3 x+8) -2 33 8 22 = x+3 3 = x 1)(x 1(x c. (fD f) = f(f)) .1 22 . = f. x. .33 . .12 . = 3. x-2 . + 8

.33 . = x = x 1 22 x= y33 1 22 f(y)= y33 1 f 1(x)= x-22 33 1 D f d. Dari jawaban b dan c terbukti (f)(x) = (fD f 1)(x) = x. 6.4 Kerjakan soal-soal di bawah ini. 1. Jika fungsi f mempunyai invers, tentukanlah rumus untuk fungsi f 1 dari: 2 +x 1 , x.a. f(x) = 3x 2 c.f(x) = 2x-1 2 b.f(x) = 2x + 5 d.f(x) = x2 + 4 2. Jika fdan gsuatu fungsi yang dinyatakan oleh f(x) = x + 1 dan g(x) = 2x tentukan: 1(x ) 1(x a. f) c. (fD f) 1(x 1 D g 1)(x b.g) d. (g) 7, 8 + 8

Komposisi Fungsi dan Invers Fungsi 189

3. Jika fsuatu fungsi yang dinyatakan oleh f(x) = 2x 3, tentukanlah: 1(x a. f) 1)(x b. (fD f) 1 D f 1)(x c. (f) 4. Jika fdan gsuatu fungsi yang dinyatakan oleh f(x) = x 1 dan g(x) = 3x+ 4, tentukanlah: 1(x a.f) 1(x b.g ) c. (fD f 1)(x) 1 D g 1)(x d. (g) 3. Menggambar Grafik Fungsi Invers dari Grafik Fungsi Asalnya Untuk menggambarkan grafik f 1 dan f, x= f(y) y= f(x)f 1

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->