P. 1
Analisis Hukum Kebijakan Tarif Cukai Terhadap Industri Hasil Tembakau Di Sumatera Utara_Agung Yuriandi

Analisis Hukum Kebijakan Tarif Cukai Terhadap Industri Hasil Tembakau Di Sumatera Utara_Agung Yuriandi

|Views: 2,944|Likes:
Published by Agung Yuriandi
Pertentangan nilai-nilai yang sering terjadi dalam peraturan dan kebijakan-kebijakan pemerintah. Salah satunya adalah kebijakan tarif berupa cukai. Penerapan cukai kepada IHT bagaikan buah simalakama. Di satu sisi ada tekanan dari Luar Negeri, disisi lain harus memperhatikan nasib petani-petani tembakau dan pekerja-pekerja buruh.
Pertentangan nilai-nilai yang sering terjadi dalam peraturan dan kebijakan-kebijakan pemerintah. Salah satunya adalah kebijakan tarif berupa cukai. Penerapan cukai kepada IHT bagaikan buah simalakama. Di satu sisi ada tekanan dari Luar Negeri, disisi lain harus memperhatikan nasib petani-petani tembakau dan pekerja-pekerja buruh.

More info:

Categories:Types, Research, Law
Published by: Agung Yuriandi on Jul 15, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF or read online from Scribd
See more
See less

07/01/2015

ANALISIS HUKUM KEBIJAKAN TARIF CUKAI TERHADAP INDUSTRI HASIL TEMBAKAU DI SUMATERA UTARA NASKAH PUBLIKASI

TESIS

OLEH

AGUNG YURIANDI 087005039/HK

PROGRAM STUDI MAGISTER ILMU HUKUM FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2010

HALAMAN PENGESAHAN
(NASKAH PUBLIKASI)
JUDUL : ANALISIS HUKUM KEBIJAKAN TARIF CUKAI TERHADAP INDUSTRI HASIL TEMBAKAU DI SUMATERA UTARA Agung Yuriandi 087005039 Ilmu Hukum

NAMA MAHASISWA NOMOR POKOK PROGRAM STUDI

: : :

Menyetujui : Komisi Pembimbing

(Prof. Dr. Ningrum Natasya Sirait, SH., M.Li) Ketua

(Prof. Dr. Runtung Sitepu, SH., M.Hum) Anggota

(Dr. Mahmul Siregar, SH., M.Hum) Anggota

Ketua Program Studi Ilmu Hukum

Dekan

(Prof. Dr. Bismar Nasution, SH., MH)

(Prof. Dr. Runtung Sitepu, SH., M.Hum)

ANALISIS HUKUM KEBIJAKAN TARIF CUKAI TERHADAP INDUSTRI HASIL TEMBAKAU DI SUMATERA UTARA Agung Yuriandi *) Ningrum Natasya Sirait **) Runtung Sitepu **) Mahmul Siregar **) ABSTRAK Tembakau adalah jenis komoditi yang dikenakan cukai oleh negara. Penerapan cukai terhadap tembakau sudah dilaksanakan pada zaman kerajaan di Indonesia. Indonesia menyumbang 2,1% dari persediaan tembakau di seluruh dunia. Industri Hasil Tembakau berkontribusi bagi penerimaan negara melalui cukai. Dari sisi penerimaan negara berupa devisa, nilai ekspor tembakau dan hasil tembakau juga memegang peranan yang cukup penting. Industri Hasil Tembakau memiliki sumbangan yang besar terhadap penyerapan tenaga kerja juga sebagai salah satu objek yang dapat dijadikan sumber penerimaan Pendapatan Asli Daerah yang berkaitan dengan Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau. Namun, ada tekanan dari luar untuk meratifikasi Framework Convention on Tobacco Control yang tidak lain adalah untuk mengendalikan dampak negatif dari rokok ditinjau dari segi kesehatannya. Oleh karena itu, pemerintah mengeluarkan Roadmap Industri Hasil Tembakau 2007-2020 dengan visi untuk mewujudkan Industri Hasil Tembakau yang kuat dan berdaya saing di pasar dalam negeri dan global dengan tidak mengenyampingkan aspek kesehatan. Disamping Roadmap Industri Hasil Tembakau 2007-2020 Pemerintah juga mengeluarkan Peraturan Menteri Keuangan No. 181/PMK.011/2009 tentang Tarif Cukai Hasil Tembakau untuk meningkatkan penerimaan negara dalam bentuk cukai. Kebijakan pemerintah tersebut dinamakan kebijakan tarif tunggal (single tariff policy) yang memberatkan industri hasil tembakau sedangkan penerimaan negara dapat ditingkatkan. Kebijakan single tariff tersebut menyulitkan Industri Hasil Tembakau yang ada di Sumatera Utara karena merupakan industri skala kecil dan menengah. Sudah pasti tidak adil bagi daerah Sumatera Utara yang industrinya merupakan skala kecil dan menengah yang rentan terhadap perubahan harga. Dengan adanya perubahan harga maka konsumen rokok pada industri kecil dan menengah akan mencari substitusi produk. Hasil penelitian menunjukkan bahwa : perlu adanya kajian terhadap penerapan single tariff dan kebijakan yang berdasarkan pada pendapatan negara. Dengan cara mengimbangi antara tujuan meningkatkan pendapatan negara dengan kepentingan masyarakat, pemerintah daerah, dan industri hasil tembakau itu sendiri; sebaiknya pemerintah daerah melakukan upaya-upaya yang bertujuan untuk memperbaiki iklim usaha dengan cara mengurangi transaction cost yang ditimbulkan
* **

) Mahasiswa Program Studi Magister Ilmu Hukum Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara ) Dosen Program Studi Magister Ilmu Hukum Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara

oleh peraturan daerah dan memperbaiki infrastruktur investasi di Sumatera Utara; dan melakukan peninjauan ulang terhadap alokasi Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau yang diterima oleh Pemerintah Daerah dengan mempertimbangkan dampak yang diterima oleh lingkungan daerah Industri Hasil Tembakau itu berdiri, juga diperlukan studi lebih lanjut untuk mendapatkan besaran atau porsi yang baik dalam menentukan Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau yang lebih adil bagi daerah Sumatera Utara. Kata Kunci : Kebijakan Tarif Tunggal Industri Hasil Tembakau Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau

LEGAL ANALYSIS OF INDUSTRIAL POLICY RATES EXCISE OF TOBACCO PRODUCTS INDUSTRY IN NORTH SUMATRA Agung Yuriandi *) Ningrum Natasya Sirait **) Runtung Sitepu **) Mahmul Siregar **) ABSTRACT Tobacco is the kind of commodities subject to excise duty by the government. The application of excise duty on tobacco has been conducted in the days of empire in Indonesia. Indonesia accounted for 2,1% of the woldwide supply of tobacco. The tobacco industry is contribute to the government revenue through excise. In terms of state revenue in the form of foreign exchange, export value of tobacco and tobacco result also holds an important role. The tobacco has a large contribution to labor absorption also as one of the objects that can be used as source of Revenue for Regional Real Income associated with the Fund For The Tobacco Excise Results. However, there is pressure from outside to ratify the Framework Convention on Tobacco Control which is none other than to control the negative impacts of smoking in terms of health. Therefore, the government issued a Tobacco Product Industries Roadmap 2007-2020 with the vision to realize the Tobacco Industry, strong and competitive in the domestic and global markets with no waive the health aspects. Besides Roadmap 2007-2020 of Tobacco Product Industries Government also issued a Regulation of the Minister of Finance No. 181/PMK.011/2009 about Tobacco Excise Tariff to Boost Government Revenues In The Form of Excise Duty. The government policy is called single tariff policy that hold the tobacco industry can be enhanced while government take the revenue. Single Tariff Policy is complicated for Tobacco Product Industries in North Sumatra due to the Small and medium scale of industries. It is certainly not fair to the industrial region of North Sumatra is a small scale and medium enterprises that are vulnerable of price changes. With the change in the consumer price of cigarettes in small and medium industries will find the substitution products. The results showed that : the need for study of a single application of tariff rates and policies based on government revenue. By the way of balance between the goal of increasing government revenues with the interests of the community, local government, and the tobacco industriy itself; local government should make efforts that aim to improve the business climate by reducing the transaction costs incurred by the local regulations and improving infrastructure investments in North Sumatra; and conduct a review of the allocation of Profit Sharing Fund Tobacco Excise results received by the Local Government to consider the environmental impact received by the region’s standing Tobacco Industry Results, further studies are also required to
* **

) Students Master of Law, Faculty of Law, University of North Sumatra ) Lecturer of Master of Law, Faculty of Law, University of North Sumatra

obtain quantity or a good portion in determining the Sharing Fund Tobacco Excise a fairer results for the region of North Sumatra. Key Words : Single Tariff Policy Tobacco Product Industry Profit Sharing Fund Tobacco Excise

KATA PENGANTAR

Bismillahirrahmanirrahim, Puji dan syukur yang penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya kepada penulis serta Nabi Muhammad SAW atas doa serta syafaatnya, penulis masih diberikan kesehatan dan kesempatan serta kemudahan dalam mengerjakan tesis ini. Penulisan tesis ini diajukan untuk melengkapi syarat guna memperoleh gelar Magister Humaniora di Sekolah Pasca Sarjana Universitas Sumatera Utara. Dalam penulisan tesis ini penulis menyadari dengan sepenuhnya bahwa hasil yang diperoleh masih jauh dari sempurna. Oleh sebab itu dengan segala kerendahan hati penulis akan menerima kritik dan saran demi kesempurnaan tesis ini. Namun terlepas dari segala kekurangan yang ada pada penulisan tesis ini, penulis tidak terlepas dari bantuan dan pengarahan dari berbagai pihak, untuk itu penulis mengucapkan terima kasih yang tulus kepada : 1. Prof. Dr. dr. Syahril Pasaribu, D.T.M.&H., M.Sc. (C.T.M.), Sp.A.(K.), sebagai Rektor Universitas Sumatera Utara. 2. Bapak Prof. Dr. Runtung Sitepu, S.H., M.Hum., sebagai Dekan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara, dan Pembimbing II yang telah memberikan pengarahan mengenai sejarah hukum dalam penyelesaian tesis ini.

3. Bapak Prof. Dr. Bismar Nasution, S.H., M.H., sebagai Ketua Program Magister (S2) dan Doktor (S3) Ilmu Hukum Pasca Sarjana Universitas Sumatera Utara. 4. Ibu Prof. Dr. Sunarmi, S.H., M.Hum., sebagai Sekretaris Program Magister (S2) Ilmu Hukum Pasca Sarjana Universitas Sumatera Utara. 5. Ibu Prof. Dr. Ningrum Natasya Sirait, S.H., M.Li., sebagai Dosen Pembimbing I yang telah mendidik, membimbing, dan memberikan semangat pantang menyerah kepada penulis dalam menyelesaikan tesis. 6. Bapak Dr. Mahmul Siregar, S.H., M.Hum., sebagai Dosen Pembimbing III yang telah memberikan dukungan moral dan sistem pengajaran yang sangat baik sehingga penulis mengerti apa maksud dan tujuan dari menulis. 7. Bapak Prof. Dr. Suhaidi, S.H., M.Hum., sebagai Penguji I yang telah memberikan masukan dalam hal pengajaran di dalam kelas. 8. Bapak Prof. Dr. Budiman Ginting, S.H., M.Hum., sebagai Pembantu Dekan I dan sebagai Penguji II yang telah memberikan kemudahan dalam urusan birokrasi, juga masukan dan dorongan dalam penyelesaian tesis ini. 9. Bapak Syafruddin Hasibuan, S.H., M.H., DFM., sebagai Pembantu Dekan II Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara yang telah menjelaskan proses administrasi di bagian keuangan. 10. Bapak Ir. Yusuf Husni, sebagai Pembantu Rektor V yang telah banyak memberikan nasihat-nasihat positif dan pandangan hidup serta cara berusaha kepada penulis.

11. Ibu Suria Ningsih, S.H., M.Hum., sebagai Dosen pada saat penulis menjalani studi pada Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara yang telah memberikan motivasi dan dorongan kepada penulis. 12. Para Dosen dan Tata Usaha Sekolah Pasca Sarjana Ilmu Hukum Universitas Sumatera Utara, Kak Fika, Kak Juli, Kak Fitri, Buk Ganti, Buk Niar, Bang Udin, Bang Hendra, Bang Herman, yang telah memberikan informasi dan membantu selama penulis menjalani studi di Sekolah Pasca Sarjana Ilmu Hukum Universitas Sumatera Utara. 13. Juga saya ucapkan terima kasih yang sangat besar kepada kedua orang tua penulis yang telah sabar dan mencurahkan segenap kasih sayangnya dan segala pengorbanannya serta doanya sehingga penulis dapat memperoleh pendidikan tinggi ini, kepada orang tua Ayahanda Yuri Subandi dan Ibunda Dewi Lastina, BA., dengan doa mereka jualah penulis dapat menyelesaikan tesis ini. 14. Juga tidak lupa penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya untuk adik penulis, Wenny Subandi, SE., yang telah memberikan dukungan, dan kasih sayang yang tak terhingga kepada penulis. 15. Terima kasih penulis ucapkan kepada Kelvina Sefialora, SH., yang telah memberikan perhatian dan semangat serta doa kepada penulis ketika mengalami kejenuhan dan penat selama menyelesaikan studi di Sekolah Pasca Sarjana Ilmu Hukum Universitas Sumatera Utara. 16. Tidak ketinggalan terima kasih kepada sahabat-sahabatku Radian Alfin, SH., M. Fadli Habibie, SH., M.Hum., Sudirman Simamora, SH, M.Hum., Ya’ti

Syahri, SH., Tri Murti Lubis, SH., Muhammad Suhandi, SH., Muhammad Hanafi Matondang, Dyah Ayunda Utami Putri, S.Kom., Subandi, Amd., Eko Neilamzulsyah, Amd., Dolly Tirta, Amd., Riadi, Syaiful Bahri, Asnan, Melfa, yang sangat membantu selama penyelesaian tesis, yang selama ini bersamasama dalam suka maupun duka dan teman-teman tidak dapat penulis sebutkan namanya satu-persatu.

Akhir kata kiranya tulisan ini dapat berguna dan bermanfaat bagi semua pihak yang berkepentingan, terutama dalam penerapan serta pengembangan ilmu hukum di Indonesia. Wassalamualaikum wr. wb. Medan, September 2010 Penulis

Agung Yuriandi

DAFTAR RIWAYAT HIDUP

Nama Tempat/Tanggal Lahir Jenis Kelamin Agama Pendidikan -

: : : : :

Agung Yuriandi Medan, 07 Juli 1985 Laki-Laki Islam

Lulusan SD Percobaan Negeri Medan, tahun 1997; Lulusan SLTP Negeri 3 Medan, tahun 2000; Lulusan SMU Negeri 6 Medan, tahun 2003; Lulusan S-1 Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara, tahun 2007; Lulusan S-2 Program Studi Magister Ilmu Hukum Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara, tahun 2010.

DAFTAR ISI

Halaman Lembar Persetujuan Abstrak Kata Pengantar Daftar Riwayat Hidup Daftar Isi Daftar Tabel Daftar Gambar BAB I : PENDAHULUAN A. Latar Belakang B. Rumusan Masalah C. Tujuan Penelitian D. Manfaat Penelitian E. F. Keaslian Penelitian Kerangka Teoritis dan Konsepsi ii iii vii xi xii xv xvi 1 1 19 19 20 20 21 28 30 31 33 34

G. Metode Penelitian 1. 2. 3. 4. Jenis dan Sifat Penelitian Sumber Bahan Hukum Teknik Pengumpulan Data Analisis Data

BAB II

: KEBIJAKAN TARIF CUKAI HASIL TEMBAKAU DI INDONESIA A. Perkembangan Pengaturan Cukai Tembakau 1. 2. 3. 4. Masa Sebelum Kemerdekaan Masa Sesudah Kemerdekaan Masa Orde Baru & Reformasi Masa Pasca Reformasi

37 37 42 43 46 47 49 51 59 62 64

B. Paradigma Kebijakan Tarif Cukai Hasil Tembakau 1. 2. 3. Departemen Keuangan Departemen Perindustrian dan Perdagangan Departemen Pertanian

C. Kebijakan Tarif Cukai Hasil Tembakau di Indonesia Dilihat Dari Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau dan Peruntukannya

BAB III

: PENGARUH KEBIJAKAN TARIF CUKAI TERHADAP INDUSTRI HASIL TEMBAKAU DI SUMATERA UTARA A. Pengaruh Kebijakan Tarif Cukai Hasil Tembakau 1. Industri Rokok a. b. Perusahaan Besar Tembakau Perusahaan Tembakau Dalam Negeri Khususnya Sumatera Utara 2. 3. Masyarakat Pendapatan Negara

71

71 71 72 74

78 82 83

B. Hambatan yang Dihadapi Perusahaan-Perusahaan Rokok Nasional

1. 2. 3.

Peredaran Rokok Illegal dan Pita Cukai Palsu Kebijakan yang Kurang Mendukung Peraturan Daerah tentang Larangan Merokok

83 85 91 93 93 102 117

C. Pengaruh Eksternal 1. 2. 3. Liberalisasi Perdagangan Dunia Framework Convention on Tobacco Control Trend Akuisisi Perusahaan Rokok Nasional oleh Investor Asing

BAB IV

: KETENTUAN PEMBAGIAN CUKAI HASIL TEMBAKAU 119 DITINJAU DARI ASPEK KEADILAN BAGI SUMATERA UTARA SEBAGAI DAERAH PENGHASIL TEMBAKAU DAN LOKASI INDUSTRI HASIL TEMBAKAU DALAM KERANGKA KEBIJAKAN TARIF A. Cukai Tembakau dan Retribusi Daerah B. Tarif Cukai Hasil Tembakau yang Single Tariff C. Aspek Keadilan Terhadap Kebijakan Tarif Cukai Hasil Tembakau 119 124 127

BAB V

: KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan B. Saran

134 134 137

DAFTAR PUSTAKA

139

DAFTAR TABEL

Halaman Tabel 1 Perkembangan Pengaturan Cukai Tembakau 41

Tabel 2

Golongan Pengusaha Hasil Tembakau

52

Tabel 3

Perbandingan Kenaikan Tarif Cukai Hasil Tembakau Berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan No. 203/PMK.011/2008 dan PMK No. 181/PMK.011/2009

53

Tabel 4

Target dan Realisasi Penerimaan Cukai APBN 2005 – 2010

59

Tabel 5

Kasus Pita Cukai Palsu dari Tahun 2006 – Juli 2009

61

Tabel 6

Penetapan Alokasi Sementara Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau Tahun Anggaran 2009

65

Tabel 7

Perusahaan Tembakau Teratas Tahun 1999

73

Tabel 8

Alokasi Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau Provinsi Sumatera Utara Tahun 2008 – 2009

119

DAFTAR GAMBAR

Halaman Gambar 1 Kemajemukan Hukum di Indonesia sebelum Abad VII – 2008 40

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Tembakau merupakan salah satu komoditas perdagangan penting di dunia termasuk Indonesia. Produk tembakau yang utama diperdagangkan adalah daun tembakau dan rokok. Tembakau dan rokok merupakan produk bernilai tinggi, sehingga bagi beberapa negara termasuk Indonesia berperan dalam perekonomian nasional, yaitu sebagai salah satu sumber devisa, sumber penerimaan pemerintah dan pajak (cukai), sumber pendapatan petani dan lapangan kerja masyarakat (usaha tani dan pengolahan rokok).1 Tembakau adalah jenis komoditi yang dikenakan cukai oleh negara. Penerapan cukai terhadap tembakau sudah dilaksanakan pada zaman kerajaan di Indonesia. Para pedagang yang melakukan perdagangan di Indonesia harus membayar cukai terlebih dahulu sebelum diperbolehkan menjual dagangannya (barrier tariff). 2 Selain membayar cukai, para pedagang juga harus membayar pula barang persembahan untuk raja, bendahara, tumenggung, dan syahbandar yang membawahinya. Keseluruhan persembahan ini berjumlah 1% atau 2% dari nilai
1

Muchjidin Rachmat dan Sri Nuryanti, Dinamika Agribisnis Tembakau Dunia dan Implikasinya bagi Indonesia, (Bogor : Pusat Analisis Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian)., hal. 2. 2 Barrier Tariff adalah salah satu hambatan dalam perdagangan dunia dimana negara menerapkan hambatan terhadap transaksi-transaksi bisnis internasional dengan cara memberlakukan tarif baru untuk masuk karena hal ini dapat melindungi pasar domestik sehingga membuat barang yang masuk menjadi mahal dibanding dengan produk lokal. Mahmul Siregar, “Catatan Perkuliahan : Hukum Transaksi Bisnis Internasional”, (Medan : Sekolah Pasca Sarjana Universitas Sumatera Utara, 2009).

barang yang dibawa masuk, besarnya ditetapkan oleh syahbandar yang bersangkutan. Namun, adakalanya pedagang memberikan jumlah yang lebih dari yang diharuskan, dengan maksud agar syahbandar dapat ”membujuk” raja dan pegawai-pegawainya agar perdagangannya lebih berhasil. Jika pedagang menetap pada suatu daerah, termasuk orang Melayu, harus membayar pajak 3%, disamping itu mereka harus membayar 6% pajak kerajaan (3% untuk orang Melayu).3 Pengutipan cukai tembakau pada zaman kerajaan tersebut di atas masih berlangsung sampai sekarang. Penerimaan negara terutama dari cukai dalam lima tahun terakhir memperlihatkan peningkatan rata-rata 13,64% dari Rp. 29 triliun pada tahun 2004 menjadi Rp. 49 triliun pada tahun 2008. 4 Pengutipan cukai tembakau tersebut dilakukan dengan cara yang legal, didasarkan pada peraturan perundangundangan. Industri Hasil Tembakau secara umum merupakan penyumbang cukai terbesar di berbagai negara penghasil tembakau di dunia, juga bagi Indonesia.5 Cukai Industri Hasil Tembakau menyumbang Rp. 54,4 triliun pada tahun 2009, dana yang begitu besar ini jauh lebih tinggi dari penerimaan Pajak Bumi dan Bangunan serta pajak jenis lainnya di luar Pajak Penghasilan (PPh) dan Pajak Pertambahan Nilai (PPN).6
3

Armando Cortesao, The Suma Oriental of Tomé Pires, From The Red Sea to Japan Written in Malacca and India (1512-1515), Volume I, Hakluyt Society, (Nederland : Kraus Reprint Limited Nendeln/Liechtenstein, 1967), hal. 135-136, dalam Marwati Djoened Poesponegoro dan Nugroho Notosusanto, Sejarah Nasional Indonesia, Vol. 3, (Jakarta : Balai Pustaka, 1992), hal. 153. 4 Wisnu Hendratmo, ”Industri Hasil Tembakau dan Peranannya dalam Perekonomian Nasional”, (Media Industri No. 2, 2009)., hal. 53, dalam Ningrum Natasya Sirait, et.al., Analisis Hukum Kebijakan Tarif terhadap Industri Hasil Tembakau di Sumatera Utara, (Medan : Universitas Sumatera Utara, 2009), hal. 83. 5 Anton Rahmadi, ”Efektivitas Fatwa Haram Rokok dan Alternatif Industri Tembakau”, http://belida.unmul.ac.id/index.php?option=com_content&task=view&id=86&Itemid=2., diakses pada 26 Mei 2010. 6 Ningrum Natasya Sirait, et.al., Op.cit., hal. 2.

Indonesia menyumbang 2,1% dari persediaan daun tembakau di seluruh dunia. Hampir seluruh produksi daun tembakau digunakan untuk produksi rokok domestik dan produk-produk tembakau lainnya. 7 Penerimaan negara melalui Industri Hasil Tembakau diterima dengan cara menerapkan cukai terhadap Industri Hasil Tembakau yang dihasilkan setiap perusahaan. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Lembaga Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Jember (LPM UNEJ) pada tahun 2008 menggambarkan peran penting tembakau dan industri rokok dalam perekonomian nasional sebagai berikut : “Dibanding sektor-sektor pertanian yang lain baik tanaman pangan, perkebunan, kehutanan, perikanan dan peternakan, sektor tembakau memiliki nilai keterkaitan ke belakang untuk output tertinggi setelah sektor unggas dan hasilnya. Sumbangan untuk sektor tembakau (Sektor 11) dan industri rokok (Sektor 34) terhadap Produk Domestik Bruto secara nasional adalah Rp. 46,195 triliun. Nilai ini adalah didasarkan dari data I-O Indonesia tahun 2005. Namun, berdasarkan data Dirjenbun, sumbangan sektor tembakau berbagai jenis terhadap Produk Domestik Bruto tahun 2005 bernilai Rp. 17,72544 triliun. Industri rokok memiliki posisi peringkat ke-34 dari 66 sektor I-O perekonomian di Indonesia pada tahun 2005. Hal ini menunjukkan bahwa industri rokok berperan penting dalam memberikan kontribusi Produk Domestik Bruto di Indonesia. Industri hasil rokok ternyata tergolong industri yang memiliki nilai keterkaitan output ke depan dan belakang tidak terlalu tinggi. Sumbangan untuk sektor tembakau dan sektor industri rokok terhadap Produk Domestik Bruto secara nasional adalah Rp. 46,195 triliun. Besar pendapatan nasional yang akan hilang apabila sektor tembakau dan industri rokok tidak dimasukkan dalam perekonomian nasional adalah Rp. 46,195 triliun”.8
”Struktur Industri dan Pertanian Tembakau”, http://www.naikkan-hargarokok.com /tfiles/file/BukuEkonomiTembakauInd/EkonomicTobaccoIndonesiaBabV.pdf., diakses pada 21 Mei 2010. 8 LPM UNEJ, ”Laporan Penelitian Tembakau dan Industri Rokok : Perspektif Petani, Perilaku Konsumsi, Serapan Tenaga Kerja dan Kontribusinya terhadap Perekonomian Nasional”, (Jember : LPM UNEJ & GAPPRI, 2008), hal. VII – 5., dalam Ningrum Natasya Sirait, et.al., Op.cit., hal. 89.
7

Industri Hasil Tembakau berkontribusi bagi penerimaan negara melalui cukai. Pengutipan cukai tembakau sekarang ini memperlihatkan peningkatan rata-rata 13,64% dari Rp. 29 triliun pada tahun 2004 menjadi Rp. 49 triliun pada tahun 2008. 9 Cukai hasil tembakau tersebut menyumbang Rp. 50,2 triliun yang merupakan jumlah penerimaan cukai pada tahun 2008.10 Pada tahun 2009 penerimaan negara dari cukai hingga akhir Oktober mencapai Rp. 46,201 triliun.11 Pada tahun 2010 ini ditargetkan penerimaan negara dari cukai adalah sebesar Rp. 55,9 triliun. 12 Berdasarkan gambaran tersebut, maka pada dasarnya penerimaan cukai dari Industri Hasil Tembakau berupa rokok memiliki potensi yang cukup besar dalam meningkatkan peranannya sebagai salah satu sumber dana pembangunan. Dari sisi penerimaan negara berupa devisa, nilai ekspor tembakau dan hasil tembakau juga memegang peranan yang cukup penting. Meskipun mengalami sedikit perlambatan pertumbuhan pada tahun 2008, namun secara keseluruhan nilai ekspor tembakau menunjukkan tren yang terus meningkat. Secara rata-rata nilai ekspor tembakau mencatat pertumbuhan sebesar 9,2% dalam lima tahun terakhir, dengan

Wisnu Hendratmo, ”Industri Hasil Tembakau dan Peranannya dalam Perekonomian Nasional”, (Media Industri No. 2, 2009)., hal. 53, dalam Ningrum Natasya Sirait, et.al., Op.cit., hal. 83. 10 Anton Aprianto, “Reformasi Birokrasi Dongkrak Penerimaan Cukai 2008”, Majalah Tempo, 31 Desember 2008, http://www.tempointeraktif.com/hg/ekbis/2008/12/31/brk,20081231153253,id.html., diakses pada 26 Mei 2010. 11 Agoeng Wijaya, “Kenaikan Tarif Cukai Rokok Lebih 5 Persen”, Majalah Tempo, 04 November 2009, http://www.tempointeraktif.com/hg/bisnis/2009/11/04/brk,20091104-206424, id.html., diakses pada 26 Mei 2010. 12 “Genjot Cukai Tembakau Guna Penuhi Target APBN 2010”, Majalah Warta Ekonomi, 19 November 2009, http://www.wartaekonomi.co.id/index.php?option=com content&view= article&id=3558:genjot-cukai-tembakau-guna-penuhi-target-apbn-2010-&catid=53:aumum., diakses pada 26 Mei 2010.

9

rata-rata nilai ekspor mencapai sebesar US$. 65,7 juta dalam kurun waktu tahun 2004 – tahun 2008.13 Industri Hasil Tembakau memiliki sumbangan yang besar terhadap penyerapan tenaga kerja. Dilihat dari sisi penyerapan tenaga kerja, baik langsung maupun tidak langsung, pada tahun 2008 Industri Hasil Tembakau mampu menyerap tenaga kerja sebanyak 6,1 juta orang dengan rincian petani tembakau 2 juta orang, petani cengkeh 1,5 juta orang, tenaga kerja di pabrik rokok sekitar 600 ribu orang, pengecer rokok/ pedagang asongan sekitar 1 juta orang, dan tenaga kerja percetakan, periklanan, pengangkutan serta jasa transportasi sekitar 1 juta orang.14 Salah satu obyek yang dapat menjadi sumber penerimaan Pendapatan Asli Daerah (PAD) adalah cukai rokok. Dengan berkembangnya industri rokok di Sumatera Utara, pemerintah daerah memiliki potensi yang cukup besar untuk meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD)-nya. Hal ini berkaitan dengan Peraturan Menteri Keuangan No.84/PMK.07/2008 mengenai Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBH CHT). Pada tahun 2010, Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBH CHT) digunakan untuk pembinaan kemampuan dan keterampilan kerja masyarakat di lingkungan Industri Hasil Tembakau dan daerah penghasil bahan Industri Hasil Tembakau, peningkatan sarana dan prasarana kelembagaan pelatihan bagi tenaga kerja Industri Hasil Tembakau. Hal ini dilakukan semata untuk mengentaskan kemiskinan, mengurangi pengangguran, dan mendorong pertumbuhan ekonomi di daerah penghasil tembakau. Kebijakan Dana Bagi Hasil Cukai Hasil
Ningrum Natasya Sirait, et.al., Op.cit., hal. 68. “Produksi Rokok Akan Dibatasi”, http://bataviase.co.id/detailberita-10376818.html., diakses pada 13 Juni 2010.
14 13

Tembakau (DBH CHT) ini sudah dilaksanakan berdasarkan Undang-Undang No. 39 Tahun 2007 tentang Cukai diatur bahwa dari penerimaan cukai hasil tembakau dialokasikan 2% kepada daerah penghasil tembakau.15 Dengan adanya Peraturan Menteri Keuangan tersebut, diperkirakan sebanyak Rp. 900 miliar, atau 2% dari penerimaan cukai tembakau pada tahun 2009, akan dibagikan kepada 5 provinsi penghasil cukai tembakau, yaitu Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Daerah Istimewa Yogyakarta, dan Sumatera Utara.16 Dengan demikian, dampak kenaikan tarif cukai rokok terhadap Pendapatan Daerah Sumatera Utara adalah meningkatkan pendapatan daerah selama Industri Hasil Tembakau di provinsi tersebut dapat terus berkembang secara optimal. Namun harus diingat bahwa instrumen kebijakan ’Cukai’ akan sangat menentukan terhadap perkembangan Industri Hasil Tembakau. Hal ini didasarkan pada fungsinya yang berbanding terbalik dengan pengembangan Industri Hasil Tembakau. Semakin tinggi tarif cukai ditetapkan, maka akan semakin besar pula beban yang dipikul Industri Hasil Tembakau.17 Oleh karena itu dampak dari kenaikan cukai hasil tembakau hendaknya dipikirkan secara matang oleh pemerintah karena bukanlah suatu hal yang mudah untuk diterapkan dalam waktu dekat ini, tanpa harus menimbulkan pengorbanan. Seperti diketahui, kondisi Industri Hasil Tembakau di Sumatera Utara saat ini sedang

Sri Mulyani Indrawati, ”Optimalisasi DBH CHT untuk Menunjang Pembangunan Daerah”, (Solo : Pidato Sambutan Tertulis dibacakan oleh Lisbon Sirait, 2010), sebagaimana dimuat dalam ”Pemerintah : Kurangi Dampak Kenaikan Cukai Tembakau”, http://www.antaranews.com/berita/1269447624/pemerintah-kurangi-dampak-kenaikan-cukaitembakau., diakses pada 31 Mei 2010. 16 Loc.cit., hal. 86. 17 Ibid., hal. 86-87.

15

mengalami persoalan yang serius. Kurangnya peranan pemerintah daerah dalam mendukung pengembangan Industri Hasil Tembakau telah menyebabkan kondisi industri ini berada dalam kesulitan yang sangat nyata.18 Meskipun Industri Hasil Tembakau memberikan kontribusi positif bagi ekonomi nasional, akan tetapi Industri Hasil Tembakau itu sendiri menghadapi sejumlah masalah (termasuk Industri Hasil Tembakau di Sumatera Utara), yaitu : ketersediaan bahan baku (tembakau), karena sebahagian diimpor; Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBH CHT) yang disalurkan ke Industri Hasil Tembakau masih sangat kecil; semakin tingginya kampanye anti merokok; Framework Convention on Tobacco Control (FCTC) mengenai pengendalian dampak tembakau; iklim usaha yang tidak baik, seperti infrastruktur dan keamanan; peredaran rokok illegal; kebijakan tarif cukai yang merupakan hambatan dalam hal regulasinya. Masalah ketersediaan bahan baku yang masih kurang akan tetapi tidak menjadi kendala bagi Industri Hasil Tembakau di Sumatera Utara, karena masih bisa dipenuhi dengan pasokan tembakau dari luar Sumatera Utara. Mencerminkan bahwa peredaran dan distribusi bahan baku baik dilaksanakan oleh pemerintah. Terbukti dengan meningkatnya produksi perkebunan tembakau di Indonesia dari tahun 2005 – tahun 2009 yaitu sebesar 153.470 ton di tahun 2005, 146.265 ton di tahun 2006, 164.851 ton di tahun 2007, 169.668 ton di tahun 2008, dan di tahun 2009 mencapai 172.701 ton. Peningkatan tersebut berbanding lurus dengan peningkatan lahan

18

Ibid., hal. 87.

perkebunan tembakau dari tahun 2005 – tahun 2009 yaitu 198.212 ha pada tahun 2005 dan meningkat terus sampai tahun 2009 adalah 212.698 ha.19 Selanjutnya mengenai Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBH CHT) yang dibagikan kepada setiap provinsi masih minim. Dari pendapatan pemerintah melalui cukai memberikan masukan bagi penerimaan negara sebesar Rp. 54,4 triliun pada tahun 2009 yang diterima oleh Sumatera Utara adalah Rp. 1,42 miliar pada tahun 2008, sedangkan pada tahun 2009 (alokasi sementara) akan mendapatkan Rp. 3,9 miliar. Untuk pemerintah provinsi Sumatera Utara, dengan jatah 30% dari total Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBH CHT) Sumut, maka pada tahun 2008 mendapat Rp. 428,09 juta, dan tahun 2009 mendapat Rp. 1,17 miliar. Ketentuan soal Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBH CHT) ini jelas memberikan dampak yang signifikan pada pendapatan daerah, meski dengan nilai yang tidak besar, dan dengan alokasi Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBH CHT) yang sudah baku dan tidak memungkinkan adanya improvisasi lain oleh pemerintah daerah.20 Terhambatnya perkembangan Industri Hasil Tembakau juga dipicu dengan maraknya kampanye anti merokok di Eropa yang mengakibatkan Tembakau Deli dari Sumatera Utara berkurang. Dapat dilihat data dari PT. Perkebunan Nusantara 2 yang bidang usahanya bergerak dalam sektor perkebunan tembakau terjadi pengurangan lahan untuk ladang pertanaman yakni 475 ladang di tahun 2009 menjadi 452 ladang dengan produksi seluas 0,8 ha. Dengan berkurangnya jumlah ladang tersebut
19 “Hari Perkebunan 10 Desember, Merajut Sejarah Panjang Perkebunan Indonesia”, http://ditjenbun.deptan.go.id/index.php?option=com_content&view=article&id=118:hari-perkebunan10-desember-merajut-sejarah-panjang-perkebunan-indonesia&catid=36:news., diakses pada 15 Juni 2010. 20 Loc.cit., hal. 37-38.

mengakibatkan produksi tembakau deli menurun yakni di tahun 2008 mencapai 2.270 bal yang masing-masing bal berukuran sekitar 72 – 80 kg dan di tahun 2009 kembali menurun menjadi 750 – 800 bal karena sedikitnya pertanaman. Berdasarkan hasil lelang 2009 sebanyak 2.270 bal, yang mampu terjual hanya berkisar 1.500 bal dengan rata-rata harga €. 30,- /kg. Untuk sisa produksi yang belum terjual tersebut yakni 770 bal akan dilelang kembali di tahun 2010 ditambah dengan produksi tanam tahun 2009.21 Iklan rokok juga sebagai hambatan Industri Hasil Tembakau, sebelum Framework Convention on Tobacco Control (FCTC) disusun pada setiap negara sudah didengung-dengungkan mengenai gerakan anti rokok yang kian hari kian menguat. Menurut Mantan Kepala Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan, Anggito Abimanyu mengenai iklan kampanye anti rokok bahwa ”...kampanye anti rokok ini juga menghambat perkembangan Industri Hasil Tembakau dan mempengaruhi penerimaan Anggaran Pendapatan Belanja Negara secara drastis”.22 Dalam lingkungan internasional, Industri Hasil Tembakau dihambat oleh Framework Convention on Tobacco Control (FCTC). Framework Convention on Tobacco Control (FCTC) merupakan konvensi yang dirancang oleh World Health Organization (WHO) sejak tahun 1999 dan ditetapkan tanggal 28 Mei 2003 di Genewa. Diberlakukan tanggal 27 Februari 2005 serta sudah ditandatangani dan diratifikasi lebih dari 40 negara. Sampai dengan Juni 2008, Framework Convention

“Kampanye Anti Rokok Tekan Tembakau Deli”, http://www.sumatrabisnis.com /industri/agribisnis/1id4667.html., diakses pada 15 Juni 2010. 22 “Pemerintah Masih Dukung Industri Rokok”, (Jakarta : Harian Suara Pembaruan, tanggal 17 Maret 2010).

21

on Tobacco Control sudah ditandatangani lebih dari 168 negara dari jumlah tersebut sebanyak 157 negara yang sudah melakukan ratifikasi. Indonesia termasuk salah satu negara yang sampai saat ini belum menandatangani dan meratifikasi konvensi tersebut.23 Hal-hal pokok yang diatur dalam Framework Convention on Tobacco Control antara lain meliputi : penerapan pajak yang tinggi dengan tujuan kesehatan, pelarangan penjualan produk tembakau kepada anak dibawah umur dan pelarangan penjualan rokok dalam batangan/dalam jumlah kecil. Penerapan pajak yang tinggi terhadap produk tembakau akan berdampak terhadap penurunan produksi dan konsumsi tembakau disamping itu akan mendorong peningkatan produksi dan peredaran rokok tanpa cukai (rokok ilegal).24 Hambatan Industri Hasil Tembakau tidak sampai Framework Convention on Tobacco Control melainkan sampai ke permasalahan domestik yaitu mengenai infrastruktur, keamanan, transaction cost yang tinggi, maraknya rokok illegal, semakin banyak peraturan daerah tentang larangan merokok di tempat-tempat tertentu. Mengenai infrastruktur yang menjadi penghambat dalam perkembangan Industri Hasil Tembakau adalah tentang kurangnya daya listrik menimbulkan biaya tambahan bagi perusahaan rokok untuk menyediakan motor diesel (genset) dan juga bahan bakarnya yang tidak lain membutuhkan biaya tambahan ekstra, jalan raya yang masih banyak rusak menyebabkan pengiriman barang menjadi lambat. Masalah

“Pemerintah Minta Masukan LSM Soal Pengesahan FCTC”, http://erabaru.net /nasional/50-jakarta/8294-pemerintah-minta-masukan-lsm-soal-pengesahan-fctc., diakses pada 15 Juni 2010. 24 Ningrum Natasya Sirait, et.al., Op.cit., hal. 97.

23

keamanan juga menjadi faktor penting bagi perusahaan rokok atau Industri Hasil Tembakau untuk berkembang. Transaction cost dapat dikaitkan dengan adanya pungli dan juga retribusiretribusi akibat perda-perda yang notabene meningkatkan pendapatan daerah. Seperti pembuatan izin-izin usaha yang tidak satu pintu, setiap perusahaan rokok yang ada harus mempunyai izin-izin usaha yang diurus satu persatu. Mulai dari Surat Keterangan Domisili dari kelurahan yang ditandatangani oleh Camat. Selanjutnya ke Surat Izin Usaha Perusahaan, Surat Izin Gangguan, dan Tanda Daftar Perusahaan yang dikeluarkan oleh Dinas Perindustrian dan Perdagangan. Setiap izin yang dikeluarkan selalu membutuhkan biaya retribusi resmi dari pemerintah daerah dan juga ’ongkos’ pengurusan yang dikutip melalui pejabat setempat. Belum lagi masalah Fatwa Haram Majelis Ulama Indonesia mengenai rokok yaitu Fatwa Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah No. 6/SM/MTT/III/2010 tentang Hukum Merokok. Menurut Thomas Sugijata sebagai Dirjen Bea dan Cukai Kementerian Keuangan, menyebutkan bahwa : “...fatwa haram terhadap rokok yang dikeluarkan Muhammadiyah, akan mempengaruhi penerimaan Anggaran Pendapatan Belanja Negara. Mengenai seberapa besar pengaruhnya, baru bisa dihitung satu atau dua bulan setelah fatwa tersebut diberlakukan”.25

Biaya lainnya adalah dengan dikeluarkannya Peraturan Menteri Keuangan No. 181/PMK.011/2009 tentang Tarif Cukai Tembakau yang dikutip sebelum rokok dipasarkan (dibayar didepan). Dengan peraturan inilah pemerintah menetapkan harga setiap batangnya rokok yang dijual dibebankan kepada pemakai, tapi dibayarkan
25

“Pemerintah Masih Dukung Industri Rokok”, Op.cit.

terlebih dahulu oleh Industri Hasil Tembakau. Penerapan peraturan ini menyebabkan harga naik hingga 36%, jika harga naik maka yang berlaku adalah hukum permintaan dan penawaran, yaitu apabila harga naik maka permintaan akan menurun, permintaan menurun begitu juga dengan harga penjualan akan menurun mengikuti permintaan dan pasokan barang. Apabila penjualan mengalami penurunan, maka pendapatan perusahaan rokok akan menurun pula.26 Kebijakan tarif yang dikeluarkan pemerintah melalui Peraturan Menteri Keuangan No. 181/PMK.011/2009 tentang Tarif Cukai Hasil Tembakau apabila dibandingkan dengan Roadmap Industri Hasil Tembakau 2007-2020 bervisi untuk mewujudkan Industri Hasil Tembakau yang kuat dan berdaya saing di pasar dalam negeri dan global dengan memperhatikan aspek kesehatan yang dikeluarkan oleh Departemen Perindustrian Republik Indonesia, maka Departemen Keuangan Republik Indonesia mengatakan bahwa : ”...merupakan tahapan simplifikasi tarif cukai menuju ke arah single spesifik yang nantinya hanya membedakan tahapan simplifikasi tarif cukai antara produk hasil tembakau yang dibuat dengan mesin dan dengan tangan. Dalam kebijakan cukai tahun 2010, sistem tarif cukai meneruskan kebijakan yang telah diambil pada tahun 2009, yaitu sistem tarif spesifik untuk semua jenis hasil tembakau dengan tetap mempertimbangkan batasan produksi dan batasan harga jual eceran. Pertimbangan atas batasan harga jual eceran ini dilakukan mengingat varian harga jugal eceran yang masih berlaku dalam sistem tarif cukai sebelumnya sangat tinggi sehingga tidak memungkinkan disimplifikasikan secara langsung melainkan dilakukan secara bertahap. Namun demikian, beban cukai secara keseluruhan mengalami kenaikan dengan besaran kenaikan beban cukai cukup bervariasi. Kenaikan yang dilakukan pada Golongan I dimaksudkan untuk mencapai target penerimaan negara dan pengendalian konsumsi hasil tembakau. Kenaikan tarif cukai yang lebih besar pada Sigaret Putih Mesin diambil dalam rangka menghapus konversi atau menuju tarif cukai yang sama dengan Sigaret Kretek Mesin. Besaran kenaikan tarif cukai tahun 2010 untuk sigaret adalah Sigaret Kretek Mesin I rata-rata sebesar Rp. 20,-; Sigaret Kretek Mesin II sebesar
26

Loc.cit., hal. 162.

Rp. 20,-; Sigaret Putih Mesin I sebesar Rp. 35,-; Sigaret Putih Mesin II sebesar Rp. 28,-; Sigaret Kretek Tangan I sebesar Rp. 15,-; Sigaret Kretek Tangan II sebesar Rp. 15,-; dan Sigaret Kretek Tangan III sebesar Rp. 25,-”.27

Penerapan cukai tembakau sedikit demi sedikit akan mengarah kepada kebijakan single spesifik atau dapat juga disebut dengan single tariff, yaitu kebijakan tarif cukai tembakau yang menyamaratakan cukai antar setiap golongan Industri Hasil Tembakau baik itu Sigaret Putih Mesin, Sigaret Kretek Mesin (SKM), dan Sigaret Kretek Tangan (SKT). Dengan diberlakukannya kebijakan single tariff tersebut dapat memberatkan pelaku usaha dalam skala kecil dan menengah. Dasar hukum cukai sebagai instrumen pengendali Industri Hasil Tembakau yaitu Undang-Undang No. 16 Tahun 1956 tentang Pengubahan dan Penambahan Ordonansi Cukai Tembakau, yang menggantikan Staatsblad 1932 No. 517 tentang Ordonansi Cukai Tembakau merupakan produk kolonial Belanda. Sejak

diberlakukannya Undang-Undang No. 11 Tahun 1995 tentang Cukai menggantikan beberapa perundang-undangan produk kolonial Belanda tersebut yang sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang 39 Tahun 2007. Tujuan dari cukai adalah untuk menghambat pemakaian barang-barang yang dikenakan masuk ke dalam karakteristik undang-undang di atas guna untuk mewujudkan kesejahteraan, keadilan, dan keseimbangan.28

27 Departemen Keuangan Republik Indonesia – Biro Hubungan Masyarakat, “Kebijakan Cukai Hasil Tembakau Tahun 2010”, Siaran Pers No. 164/HMS/2009, (Jakarta : Depkeu Republik Indonesia, tanggal 18 November 2009). 28 Bagian I Umum Angka 2, Penjelasan Atas Undang-Undang No. 39 Tahun 2007 tentang Perubahan Atas Undang-Undang No. 11 Tahun 1995 tentang Cukai.

Selanjutnya menurut Anggito Abimanyu selaku Kepala Badan Kebijakan Fiskal Departemen Keuangan Republik Indonesia (menjabat pada waktu itu) menyatakan bahwa : “Kenaikan tarif cukai rokok tersebut adalah untuk melindungi Sigaret Kretek Tangan yang lebih banyak menggunakan tenaga kerja, dibanding dengan pabrik rokok mesin. Sekalipun tarif cukai rokok naik, pemerintah tetap melindungi industri rokok skala kecil. Untuk selanjutnya pemerintah akan menyatukan tarif cukai Sigaret Putih Mesin dengan Sigaret Kretek Mesin. Dengan demikian nantinya industri rokok cuma ada dua yaitu yang dibuat dengan tangan dan dibuat dengan mesin”.29

Dikalangan pelaku usaha Industri Hasil Tembakau khususnya industri rokok putih, muncul dugaan adanya keterlibatan perusahaan multinasional dalam regulasi Industri Hasil Tembakau di Indonesia untuk mematikan Industri Hasil Tembakau nasional dengan menggunakan instrumen regulasi cukai dan Framework Convention on Tobacco Control. Perusahaan-perusahaan rokok multinasional umumnya bergerak dalam produksi rokok putih dan bersaing di pasar lokal dengan Industri Hasil Tembakau rokok putih domestik yang skala usahanya lebih kecil. Dengan cukai rokok yang tinggi, maka banyak Industri Hasil Tembakau nasional yang tidak kuat bertahan di pasar lokal akibat biaya tinggi, harga jual sulit dinaikkan karena daya beli rendah, sementara untuk ekspor terhadang oleh hambatan-hambatan Negara tujuan ekspor yang memproteksi Industri Hasil Tembakau domestiknya dengan sangat ketat. Akhirnya banyak Industri Hasil Tembakau nasional, khusus berskala kecil dan menengah tidak mampu bertahan dan menutup usaha. Sedangkan Industri Hasil
Wawancara dengan Kepala Badan Kebijakan Fiskal Departemen Keuangan Republik Indonesia, Anggito Abimanyu, Jakarta, dilakukan oleh Agus Samiadji, ”Kenaikan Tarif Rokok Tidak Adil”, http://www.harianbhirawa.com/opini/2781-kenaikan-tarif-rokok-tidak-adil., diakses pada 05 Juni 2010.
29

Tembakau nasional yang lebih besar untuk tindakan penyelamatan menjual perusahaannya dan diakuisisi oleh perusahaan-perusahaan multinasional besar, seperti PT. British American Tobacco, Philip Morris, Japan Tobacco, dan lain-lain. Dengan cara ini, pasar rokok dalam negeri hanya akan dikuasai oleh Industri Hasil Tembakau multinasional. Saat ini saja untuk rokok putih, pasar domestik lebih kurang 80% dikuasai oleh dua Industri Hasil Tembakau multinasional, yakni PT. British American Tobacco dan Philip Morris. Setelah pasar rokok putih dikuasai bukan tidak mungkin selanjutnya adalah Industri Hasil Tembakau rokok kretek.30 Dugaan keterlibatan pihak asing (perusahaan multinasional) sejenis ini sudah ada sejak lama. Pada tahun 1999 perusahaan rokok kretek nasional menuding

Indonesian Monetary Fund dan Bank Dunia merupakan perpanjangan tangan perusahaan asing, khususnya dari Amerika Serikat. Salah satu yang menjadi sasaran adalah pasar rokok Indonesia yang potensial dan dikuasai oleh produsen kretek. Sebagai negara berpenduduk 200 juta jiwa lebih dan konsumsi rata-rata per kapita baru 1.100 batang, Indonesia merupakan pasar yang empuk. Sejumlah perusahaan kretek menuding Indonesian Monetary Fund berada di balik penundaan Penetapan Harga Jual Eceran Minimum (HJEM) rokok putih yang telah dikeluarkan Menteri Keuangan Republik Indonesia 31 Maret 1999. Penundaan tersebut dilakukan selama 2 tahun, sementara ketentuan yang sama harus sudah berlaku untuk rokok kretek. Kebijakan yang demikian dipandang tidak adil bagi industri rokok kecil dan menengah. Masalahnya ada produsen rokok kecil yang menjual rokok berharga mahal,
Wawancara dengan PT. Sumatera Tobacco Trading Company, PT. Stabat Industri, PT. Permona, dan PT. Wongso Prawiro. Medan, 25 November 2009 di Kantor PT. Sumatera Tobacco Trading Company Medan., sebagaimana dilakukan Ningrum Natasya Sirait, et.al., Op.cit., hal. 98-99.
30

seperti Wismilak dan Saratoga. Akibat ketentuan ini mereka harus membayar cukai lebih tinggi karena harga produk mereka yang melewati batas harga eceran maksimum untuk pabrik sekelasnya. Padahal mereka tetap saja produsen kecil yang harus hidup diantara para raksasa rokok.31 Apabila hal diatas terjadi maka yang disulitkan adalah Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM). Produk yang dijual pelaku-pelaku usaha kecil dipaksa untuk bersaing dengan perusahaan-perusahaan raksasa dunia. Sebagai contoh perusahaan lokal Sumatera Utara seperti PT. Sumatera Tobacco Trading Company dibandingkan dengan PT. British American Tobacco Indonesia, Tbk yang ditinjau dari sisi produknya. Sudah pasti perusahaan-perusahaan kecil yang ada akan tutup dan tidak beroperasi lagi. Salah satu faktor penting yang menjadi daya tarik mengapa cukai tembakau sering dibicarakan oleh berbagai kalangan masyarakat adalah peranannya terhadap pembangunan dalam bentuk sumbangan kepada penerimaan negara khususnya dalam kelompok Penerimaan Dalam Negeri yang tercermin pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang selalu meningkat dari tahun ke tahun.32 Kebijakan cukai terhadap Industri Hasil Tembakau cenderung terus meningkat naik bertujuan untuk penerimaan negara, dengan cara membatasi produksi setiap tahunnya bagi Industri Hasil Tembakau dan menaikkan tarif cukai tembakau untuk menetapkan penerimaan negara. Jadi, konsumsi rokok diperkecil dengan

“Lobi-Lobi Pita Cukai”, Eksekutif, (September, 1999), hal. 64-65, dalam Ningrum Natasya Sirait, et.al., Op.cit., hal. 100. 32 ”Kebijakan Ekstensifikasi Cukai dan Intensifikasi Cukai Hasil Tembakau”, www.beacukai.go.id/library/data/Cukai2.htm., diakses pada 31 Mei 2010.

31

penetapan angka produksi oleh pemerintah diikuti dengan penetapan single tariff yang memberatkan perusahaan rokok sehingga penerimaan negara tetap atau dapat naik. Setelah cukai dipungut dari Industri Hasil Tembakau, pemerintah

berkewajiban untuk menyalurkan Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBH CHT) dengan diamanatkan oleh Peraturan Menteri Keuangan No. 85/PMK.07/2009 tentang Alokasi Sementara Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBH CHT) Tahun Anggaran 2009. Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBH CHT) tersebut digunakan untuk mendanai peningkatan kualitas bahan baku, lingkungan sosial, sosialisasi ketentuan di bidang cukai illegal khususnya di Sumatera Utara yang kontribusinya tidak terlihat signifikan bahwa Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBH CHT) tersebut disalurkan. Menurut Lampiran Peraturan Menteri Keuangan No. 85/PMK.07/2009 tentang Alokasi Sementara Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBH CHT) Tahun Anggaran 2009, Provinsi Sumatera Utara mendapatkan alokasi dana sebesar Rp. 1.193 triliun, untuk Kota Medan sebesar Rp. 426 juta.33 Dana inilah yang akan digunakan sebagai pengendalian dampak tembakau, seperti pembangunan sarana dan prasarana kesehatan berupa perlengkapan alat-alat kesehatan, pembangunan tempattempat merokok di daerah umum, dan lain sebagainya. Kebijakan cukai spesifik yang mulai diterapkan sejak tahun 2008 berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan No. 134/PMK.04/2007 tentang Perubahan Kedua atas
Penetapan Alokasi Sementara Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau, Lampiran Peraturan Menteri Keuangan No. 85/PMK.07/2009 tentang Alokasi Sementara Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau Tahun Anggaran 2009, hal. 1.
33

Peraturan Menteri Keuangan No. 134/PMK.04/2005 tentang Penetapan Harga Dasar dan Tarif Cukai Hasil Tembakau kurang mencerminkan rasa keadilan antara Industri Hasil Tembakau skala menengah-bawah dan Industri Hasil Tembakau skala menengah-atas. Beberapa tarif yang dibebankan berdasarkan jenis dan golongan justru memberi beban yang lebih besar untuk Industri Hasil Tembakau skala menengah-bawah. Hal ini bisa terlihat dari rasio cukai yang tidak seimbang.34 Dana yang didapat dari kebijakan cukai digunakan untuk pemulihan akibat dari rokok. Digunakan juga untuk pemenuhan bahan baku berupa tembakau bagi Industri Hasil Tembakau skala menengah-kecil. Dana yang didapat dari Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBH CHT) tersebut harus berkontribusi kepada Sumatera Utara. Khususnya untuk perbaikan infrastruktur agar iklim usaha Industri Hasil Tembakau di Sumatera Utara membaik, dan menumbuhkan Industri Hasil Tembakau skala menengah-kecil mengarah ke skala menengah-besar. Terlihat jelas adanya dilema dalam pengaturan Industri Hasil Tembakau sebagaimana diuraikan diatas. Setidaknya ada tiga variabel yang saling tarik menarik dalam meregulasi Industri Hasil Tembakau, khususnya regulasi tarif cukai tembakau, yakni : peningkatan pendapatan negara melalui cukai tembakau, pengendalian dampak tembakau untuk alasan kesehatan, dan peran Industri Hasil Tembakau pada perekonomian nasional seperti penerimaan negara, penyerapan tenaga kerja dan rakyat yang menggantungkan hidupnya pada keberadaan Industri Hasil Tembakau.35

34 35

Ningrum Natasya Sirait, et.al., Op.cit., hal. 53. Ibid., hal. 100.

B. Rumusan Masalah Berdasarkan uraian latar belakang diatas, selanjutnya dapat dirumuskan

beberapa permasalahan sebagai berikut : 1. Bagaimana kebijakan tarif cukai hasil tembakau di Indonesia? 2. Bagaimana pengaruh kebijakan tarif terhadap Industri Hasil Tembakau di Sumatera Utara? 3. Bagaimana ketentuan pembagian cukai hasil tembakau ditinjau dari aspek keadilan bagi Sumatera Utara sebagai daerah penghasil tembakau dan lokasi Industri Hasil Tembakau dalam kerangka kebijakan tarif?

C. Tujuan Penelitian Penelitian ini secara umum bertujuan untuk mengetahui peranan hukum dalam pembangunan ekonomi di Sumatera Utara terkait dengan Industri Hasil Tembakau. Bertolak dari rumusan masalah maka tujuan dari penelitian ini, antara lain : 1. Untuk menganalisis kebijakan tarif cukai hasil tembakau di Indonesia. 2. Untuk mengetahui pengaruh kebijakan tarif terhadap Industri Hasil Tembakau di Sumatera Utara. 3. Untuk menganalisis ketentuan pembagian cukai hasil tembakau yang ditinjau dari aspek keadilan bagi Sumatera Utara sebagai daerah penghasil tembakau dan lokasi Industri Hasil Tembakau dalam kerangka kebijakan tarif.

D. Manfaat Penelitian Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat, yaitu : 1. Secara Teoritis a. Sebagai bahan informasi bagi para akademisi maupun sebagai bahan pertimbangan bagi penelitian lanjutan. b. Memperkaya khasanah kepustakaan. 2. Secara Praktis a. Sebagai bahan masukan bagi Industri Hasil Tembakau dalam mengambil langkah yang ditempuh untuk membela industri

menengah-kecil agar menghindari kerugian perusahaan akibat kebijakan single tariff. b. Sebagai bahan masukan bagi masyarakat (pelaku usaha) agar terbentuk peraturan atau kebijakan yang mampu menciptakan kestabilan, keterprediksian, dan keadilan bagi seluruh anggota masyarakat.

E. Keaslian Penelitian Berdasarkan informasi dan penelusuran studi kepustakaan khususnya pada lingkungan Perpustakaan Program Pascasarjana Universitas Sumatera Utara, bahwa penelitian dengan judul “Analisis Hukum Kebijakan Tarif terhadap Industri Hasil Tembakau di Sumatera Utara” sudah pernah dilakukan oleh Ningrum Natasya Sirait, et.al, yang dilakukan di Medan pada tahun 2009 dengan rumusan masalah dan kajian

yang membahas mengenai Hukum Persaingan Usaha dan Hukum Investasi. Penelitian lanjutan ini mengkaji mengenai kebijakan tarif khususnya masalah cukai tembakau dan Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBH CHT) dengan rumusan masalah dan kajian yang berbeda dan menjunjung tinggi kode etik penulisan karya ilmiah, oleh karena itu penelitian ini adalah benar keasliannya baik dilihat dari materi, permasalahan, dan kajian dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.

F. Kerangka Teoritis dan Konsepsi Penelitian tesis ini menggunakan teori hukum mengenai “peranan hukum dalam kegiatan ekonomi“ (rule of law in economic development), teori analisis ekonomi terhadap hukum (economic analysis of law). Dalam analisis hukum mengenai peranan hukum dalam kegiatan ekonomi digunakan teori Erman Rajagukguk yang mengatakan bahwa : ”faktor utama bagi hukum untuk dapat berperan dalam pembangunan ekonomi adalah apakah hukum itu mampu menciptakan stability, predictability dan fairness. Dua hal yang pertama adalah prasyarat bagi sistim ekonomi apa saja untuk berfungsi. Termasuk dalam fungsi stabilitas adalah potensi hukum untuk menyeimbangkan dan mengakomodasi kepentingankepentingan yang saling bersaing. Kebutuhan hukum untuk meramalkan (predictability) akibat dari suatu langkah-langkah yang telah diambil khususnya penting bagi negara yang sebagian rakyatnya untuk pertama kali memasuki hubungan-hubungan ekonomi melampaui lingkungan sosial yang tradisional. Aspek keadilan (fairness) seperti perlakuan yang sama dan standar pola tingkah laku pemerintah adalah perlu untuk menjaga mekanisme pasar dan mencegah birokrasi yang berlebihan”.36

Erman Rajagukguk, ”Hukum Ekonomi Indonesia Memperkuat Persatuan Nasional, Mendorong Pertumbuhan Ekonomi dan Memperluas Kesejahteraan Sosial”, (Bali : Seminar Pembangunan Hukum Nasional VIII, tanggal 14-18 Juli 2003), dalam Ningrum Natasya Sirait, et.al., Op.cit., hal. 106-107.

36

Hukum dapat memainkan peran yang sangat strategis dalam pembangunan ekonomi, apabila peraturan hukum yang dihasilkan memenuhi unsur stabilitas (stability), keterprediksian (predictability) dan berkeadilan (fairness). Peraturan hukum dapat menciptakan stabilitas jika peraturan hukum tersebut memiliki kepastian baik dari segi substansi maupun struktur dan didukung oleh budaya hukum yang baik. Maksudnya adalah bahwa peraturan mengenai kebijakan tarif cukai seharusnya tidak cepat berubah-ubah dengan demikian akan memudahkan para pelaku usaha untuk mengerti dan memahami hukum yang berlaku terkait dengan kebijakan tarif cukai. Prediktabilitas dari peraturan hukum akan membantu para pelaku ekonomi dalam merumuskan perencanaan dan pengorganisasi kegiatan ekonomi yang lebih efektif dan efisien. Hal ini bisa tercapai dengan dukungan stabilitas dan kepastian hukum. Hubungannya adalah dengan izin, biaya, politik, keamanan, ekonomi, sosial, dan lainnya. Hukum yang terprediksi harus bisa berkepastian hukum agar dapat memprediksi seluruh ketentuan yang berlaku. Keadilan hukum akan memberikan hak dan kewajiban secara berimbang kepada setiap orang untuk meningkatkan taraf hidupnya, akomodatif terhadap berbagai kepentingan dan melindungi pihak-pihak yang kurang beruntung. Peraturan berkeadilan hukum maksudnya adalah kebijakan tarif cukai di Indonesia tidak hanya mementingkan penerimaan negara tetapi juga harus memperhatikan dampak kesehatan dan lebih berpihak kepada Industri Hasil Tembakau. Mengenai keadilan sangat diperlukan dalam substansi hukum. Khususnya dalam hukum ekonomi, pranata hukum harus mengakomodasi secara adil berbagai

kepentingan kelompok masyarakat yang berbeda-beda strata ekonomi dan sosialnya. Hukum di bidang ekonomi dengan demikian harus berimbang dalam mengatur kepentingan pelaku usaha yang berbeda-beda skala ekonominya. Hal ini merupakan implementasi dari pesan konstitusional yang tidak mengizinkan adanya keberpihakan negara hanya pada satu pilar ekonomi. Peran negara sangat dibutuhkan untuk menciptakan keadilan bagi kelompok-kelompok masyarakat yang lemah melalui hukum yang menata sedemikian rupa ketidakmerataan sosial dan ekonomi agar lebih menguntungkan kelompok masyarakat yang lemah.37 Dalam teori analisis ekonomi terhadap hukum digunakan teori Posner yang menyatakan bahwa : ”Ilmu ekonomi merupakan suatu alat yang tepat (a powerfull tool) untuk melakukan analisis terhadap permasalahan-permasalahan hukum yang terjadi di lingkungan kita. Pendekatan analisis ekonomi terhadap hukum ini belum berkembang di Indonesia. Walaupun begitu, pemikiran-pemikiran ataupun dasar-dasar ilmu ekonomi sudah diterapkan dalam membentuk ketentuanketentuan dalam hukum perbankan”.38

Dengan demikian, secara langsung maupun tidak langsung, hukum berpengaruh dalam setiap aktivitas ekonomi, karena hukum merupakan payung yang melindungi para pelaku usaha. Peranan hukum dalam aktivitas ekonomi terlihat, contohnya dalam menentukan kebijakan tarif cukai, yang dalam hal ini hukum berfungsi mencegah Industri Hasil Tembakau mengalami kerugian yang besar namun tidak terlepas dari pengendalian kesehatan masyarakat oleh pemerintah.

Ibid., hal. 108. Mahmul Siregar, “Modul Perkuliahan Teori Hukum : Teori Analisa Ekonomi”, (Medan : Sekolah Pasca Sarjana Universitas Sumatera Utara, 2009).
38

37

Dengan kata lain, pendekatan ekonomi terhadap hukum memfokuskan pemikiran tentang bagaimana hukum-hukum yang ada agar dapat membantu meningkatkan efisiensi ekonomi, baik pada awal pembentukan hukum melalui badan legislatif, melalui pendekatan hukum adat, hukum kontrak, dan hukum pidana.39 Hukum ekonomi di Indonesia menjamin kepastian hak setiap orang untuk mendapatkan kesempatan yang sama dalam memanfaatkan sumber daya ekonomi, peluang-peluang ekonomi yang ada untuk meningkatkan derajat kesejahteraannya. Oleh karena itu, hukum di Indonesia tidak menghendaki adanya konsentrasi penguasaan sumber daya ekonomi pada satu atau beberapa pelaku usaha. Konsentrasi ini cenderung akan menimbulkan berbagai macam masalah yang akan dihadapi. Kehadiran Peraturan Menteri Keuangan No. 181/PMK.011/2009 tentang Tarif Cukai Tembakau adalah untuk meningkatkan penerimaan negara demi kepentingan nasional tanpa mengenyampingkan para pelaku usaha untuk tetap eksis di jalur Industri Hasil Tembakau. Uraian-uraian teoritis tersebut dipandang relevan untuk menjelaskan fenomena Industri Hasil Tembakau dan kebijakan tarif cukai yang ditetapkan Pemerintah. Banyak pandangan yang mengisyaratkan bahwa kebijakan cukai yang ditetapkan oleh pemerintah tidak konsisten dengan Roadmap Industri Hasil Tembakau yang telah disepakati bersama. Salah satunya adalah pembinaan Industri Hasil Tembakau untuk membuka peluang kesempatan berusaha dan kesempatan kerja yang lebih luas. Kebijakan tarif hasil tembakau yang ditetapkan justru tidak konsisten dengan kesepakatan tersebut. Tarif yang tinggi dan kedepan akan diterapkan secara
39

Ibid.

seragam untuk semua jenis Industri Hasil Tembakau lebih berorientasi pada aspek penerimaan negara. Kebijakan yang demikian sangat dikhawatirkan akan menekan Industri Hasil Tembakau Indonesia, khususnya Industri Hasil Tembakau yang berskala kecil dan menengah. Kebijakan yang demikian diprediksikan akan menimbulkan kecenderungan semakin menyempitnya ruang kesempatan berusaha bagi Industri Hasil Tembakau, khususnya yang tergolong dalam Usaha Mikro Kecil Menengah. Produktifitas Industri Hasil Tembakau akan menurun, rasionalisasi tenaga kerja, kehilangan pendapatan dan penurunan tingkat kesejahteraan adalah peluangpeluang yang sangat mungkin terjadi.40 Keadaan ini akan diperburuk oleh sejumlah permasalahan domestik yang dihadapi oleh Industri Hasil Tembakau di Indonesia, antara lain iklim usaha yang kurang kondusif, infrastruktur yang kurang mendukung, masalah bahan baku, ekonomi biaya tinggi dan semakin maraknya produk rokok ilegal.41 Kecenderungan lain yang sangat mungkin terjadi adalah banyak Industri Hasil Tembakau yang akan keluar dari pasar karena tidak sanggup bertahan dan bersaing, dan yang bertahan akan sangat terbuka peluang untuk menyelamatkan keberadaan perusahaannya melalui restrukturisasi perusahaan, baik dengan menggunakan metode merger (penggabungan), konsolidasi (peleburan) atau menyerahkan perusahaan untuk diakuisisi (pengambilalihan) oleh perusahaan-perusahaan yang lebih kuat. Praktik monopoli akan sangat berpeluang dalam pasar hasil tembakau di Indonesia, karena keadaan-keadaan sebagaimana dikemukakan diatas, akan menyisakan beberapa

40 41

Ningrum Natasya Sirait, et.al., Op.cit., hal. 109. Ibid., hal. 110.

pelaku usaha Industri Hasil Tembakau saja, khususnya yang berskala besar dan kuat, tidak tertutup kemungkinan adalah Industri Hasil Tembakau asing.42 Tidak disangkal bahwa hasil Industri Hasil Tembakau, khususnya rokok, memiliki dampak yang buruk bagi kesehatan dan meningkatkan belanja kesehatan masyarakat akibat rokok. Hal ini harus dikendalikan untuk kepentingan masyarakat luas. Hanya saja cara untuk mengendalikan tersebut harus proporsional, dan akomodatif terhadap berbagai kepentingan masyarakat yang berbeda-beda. Tidak dikehendaki adanya kebijakan yang diambil tanpa mempertimbangkan secara proporsional dampak yang mungkin timbul dari regulasi yang dikeluarkan.43 Lalu untuk mengkaji pandangan mana yang dipakai dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan Teori Utility oleh Jeremy Bentham yang mengatakan bahwa kegunaan dari hukum itu adalah demi kemaslahatan masyarakat banyak. Apabila menemui kasus yang permasalahannya seperti pedang bermata dua. Jadi, untuk memilih peraturan mana yang paling baik untuk mengatur permasalahan Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBH CHT) dalam Industri Hasil Tembakau di Indonesia adalah dengan melihat posisi mana yang lebih banyak diuntungkan apakah pro dengan Industri Hasil Tembakau atau kontra dengan Industri Hasil Tembakau. Selanjutnya, untuk menghindari kesalahan dalam memaknai konsep-konsep yang dipergunakan dalam penelitian ini, maka berikut akan diberikan definisi operasional dari konsep-konsep yang dipergunakan :

42 43

Ibid. Ibid., hal. 111.

1. Industri Hasil Tembakau (IHT) adalah industri yang menghasilkan, atau mendistribusikan atau memasarkan atau menjual produk yang dihasilkan dari pengolahan tembakau.44 2. Manfaat ekonomi adalah berkaitan dengan penerimaan negara untuk meningkatkan pendapatan negara melalui cukai yang digunakan untuk kepentingan masyarakat dan pemerintah. 3. Hambatan Industri Hasil Tembakau adalah berupa kebijakan tarif cukai hasil tembakau, Framework Convention on Tobacco Control, Fatwa Majelis Ulama Indonesia, peraturan daerah yang melarang merokok pada tempat-tempat tertentu, kampanye anti rokok, rokok ilegal, iklim usaha yang tidak mendukung, dan ketersediaan bahan baku. 4. Tarif Cukai adalah yang ditetapkan oleh Peraturan Menteri Keuangan No. 181/PMK.011/2009 tentang Tarif Cukai Hasil Tembakau. 5. Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau adalah sebagaimana yang ditetapkan oleh Peraturan Menteri Keuangan No. 85/PMK.07/2009 tentang Alokasi Sementara Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau Tahun Anggaran 2009 atau penerimaan negara dari cukai hasil tembakau yang diterapkan di Indonesia dibagikan kepada provinsi penghasil tembakau sebesar 2%. 6. Cukai adalah pungutan negara yang dikenakan terhadap barang-barang tertentu yang mempunyai sifat atau karakteristik yang ditetapkan dalam undang-undang.45 Dalam tulisan ini adalah cukai hasil tembakau.

44 45

Ibid. Pasal 1 angka (1) Undang-Undang No. 39 Tahun 2007, Op.cit.

7. Iklim Usaha adalah keadaan perekonomian pada satu bidang usaha, seperti Industri Hasil Tembakau ditinjau dari sisi keamanan, infrastruktur, dan lain sebagainya. 8. Hukum adalah setiap peraturan perundang-undangan yang dikeluarkan oleh pemerintah pusat dan jajarannya serta pemerintah daerah dan jajarannya yang terkait dengan pengaturan industri hasil tembakau.46 9. Industri Rokok adalah industri yang menghasilkan, atau mendistribusikan atau memasarkan atau menjual hasil olahan tembakau berupa rokok.47 10. Roadmap Industri Hasil Tembakau adalah program pemerintah yang dicanangkan sejak tahun 2007 – 2020 untuk mengembangkan Industri Hasil Tembakau. 11. Kebijakan Single Tariff adalah kebijakan dimana setiap jenis hasil olahan tembakau/produk keluaran dikenakan cukai dengan tarif yang sama. 12. Transaction Cost adalah biaya-biaya non-produktif yang harus ditanggung oleh Industri Hasil Tembakau untuk mencapai suatu transaksi ekonomi.48

G. Metode Penelitian Kegiatan penelitian merupakan sarana ilmu pengetahuan dan teknologi. Hasilhasil yang dicapai dan berguna bagi kehidupan manusia dimulai dari kegiatan

Loc.cit., hal. 112. Ibid. 48 Erman Rajagukguk, ”Hukum Ekonomi Indonesia Memperkuat Persatuan Nasional, Mendorong Pertumbuhan Ekonomi dan Memperluas Kesejahteraan Sosial”, (Bali : Seminar Pembangunan Hukum Nasional VIII, tanggal 14-18 Juli 2003), hal 3.
47

46

penelitian bahkan menjadi tradisi yang berlaku dalam pergaulan masyarakat ilmiah. Pengetahuan dan teknologi diperoleh saat ini dipastikan melalui kegiatan penelitian termasuk ilmu-ilmu sosial yang di dalamnya termasuk ilmu hukum.49 Penelitian mengandung metode atau cara yang harus dilalui sebagai syarat dalam penelitian. Metode dilaksanakan pada setiap kegiatan penelitian didasarkan pada cakupan ilmu pengetahuan yang mendasari kegiatan penelitian. Meskipun masing-masing terdapat karakteristik metode yang digunakan pada setiap kegiatan penelitian, akan tetapi terdapat prinsip-prinsip umum yang harus dipahami oleh semua peneliti seperti pemahaman yang sama terhadap validitas dari hasil capaian termasuk penerapan prinsip-prinsip kejujuran ilmiah.50 Kejujuran ilmiah adalah kode etik penulisan karya tulis ilmiah, yaitu : 1. Menjunjung tinggi posisi terhormat penulis sebagai orang terpelajar, kebenaran hakiki informasi yang disebarluaskan dan tidak menyesatkan orang lain; 2. Tidak menyulitkan pembaca dengan tulisan yang dibuat; 3. Memperhatikan kepentingan penerbit penyandang dana penerbitan dengan cara mempadatkan tulisan agar biaya pencetakan bisa ditekan; 4. Memiliki kesadaran akan perlunya bantuan penyunting sebagai jembatan penghubung dengan pembaca; 5. Teliti, cermat, mengikuti petunjuk penyunting mengenai format dan sebagainya; 6. Tanggap dan mengikuti usul/saran penyunting; 7. Bersikap jujur mutlak diterapkan kepada diri sendiri dan umum dengan tidak menutupi kelemahan diri; 8. Menjunjung tinggi hak, pendapat, temuan orang lain dengan cara tidak mengambil ide orang lain diakui sebagai ide/gagasan sendiri; 9. Mengakui hak cipta/Hak Kekayaan Intelektual dengan cara tidak melakukan plagiat atas tulisan sendiri dan orang lain. 51
49 Muhamad Muhdar, “Bahan Kuliah Metode Penelitian Hukum : Sub Pokok Bahasan Penulisan Hukum”, (Balikpapan : Universitas Balikpapan, 2010), hal. 2. 50 Ibid. 51 Etika Penulisan Ilmiah, (DITJEN DIKTI : Lokakarya Pelatihan Penulisan Artikel Ilmiah yang diselenggarakan DP2M), hal. 2-6., seperti yang diringkas/disarikan oleh M. A. Rifai., dalam

Penelitian ini merupakan penelitian hukum normatif dengan menggunakan pendekatan juridis normatif. 52 Dengan demikian objek penelitian adalah norma hukum yang terwujud dalam kaidah-kaidah hukum dibuat dan ditetapkan oleh pemerintah dalam sejumlah peraturan perundang-undangan dan kebijakan yang terkait secara langsung dengan kebijakan tarif dalam Industri Hasil Tembakau di Sumatera Utara.

1. Jenis dan Sifat Penelitian Jenis penelitian yang dilakukan adalah penelitian hukum normatif dengan menggunakan pendekatan peraturan perundang-undangan (statute approach) dalam melakukan pengkajian kebijakan tarif terhadap Industri Hasil Tembakau di Sumatera Utara. Pendekatan tersebut berkaitan dengan pendekatan dilakukan dengan menggunakan teori hukum murni yang berupaya membatasi pengertian hukum pada bidang-bidang hukum saja, bukan karena hukum itu mengabaikan atau memungkiri pengertian-pengertian yang berkaitan, melainkan karena pendekatan seperti ini menghindari pencampuradukan berbagai disiplin ilmu yang berlainan metodologi

Munandir., “Kode Etik Menulis : Butir-Butir”, www.unissula.ac.id /perpustakaan/.../Munandir%20(kode%20etik).ppt., 2007, diakses pada 25 Mei 2010. 52 Adapun tahap-tahap dalam analisis juridis normatif adalah : merumuskan azas-azas hukum dari data hukum positif tertulis; merumuskan pengertian-pengertian hukum; pembentukan standarstandar hukum; dan perumusan kaidah-kaidah hukum. Amirudin dan Zainal Asikin, Pengantar Metode Penelitian Hukum, (Jakarta : Rajawali Press, 2010), hal. 166-167.

(sinkretisme metodologi) yang mengaburkan esensi ilmu hukum dan meniadakan batas-batas yang ditetapkan pada hukum itu oleh sifat pokok bahasannya.53 Sifat penelitian adalah penelitian deskriptif yang ditujukan untuk

menggambarkan secara tepat, akurat, dan sistematis gejala-gejala hukum terkait dengan peranan hukum dalam pembangunan ekonomi studi terhadap kebijakan tarif dalam Industri Hasil Tembakau di Sumatera Utara.

2. Sumber Bahan Hukum Penelitian hukum normatif yang menitikberatkan pada penelitian kepustakaan dan berdasarkan pada data sekunder, maka sumber bahan hukum yang digunakan dapat dibagi ke dalam beberapa kelompok, yaitu : 1. Bahan hukum primer, meliputi seluruh peraturan perundang-undangan yang relevan dengan permasalahan dan tujuan penelitian, antara lain : UndangUndang Dasar 1945 dan Amandemennya, Undang-Undang No. 16 Tahun 1956 tentang Pengubahan dan Penambahan Ordonansi Cukai Tembakau (Staatsblad 1932 No. 517) sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang No. 11 Tahun 1995 tentang Cukai dan diubah kembali dengan UndangUndang No. 39 Tahun 2007 tentang Perubahan Atas Undang-Undang No. 11 Tahun 1995 tentang Cukai dan peraturan pelaksanaannya, Undang-Undang No. 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha

Hans Kelsen, Teori Hukum Murni : Dasar-Dasar Ilmu Hukum Normatif, diterjemahkan oleh Raisul Muttaqien, disunting oleh Nurainun Mangunsong, (Bandung : Nusamedia & Nuansa, Cet. III, 2007).

53

Tidak Sehat, Undang-Undang No. 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal, Undang-Undang No. 5 Tahun 1984 tentang Perindustrian, Undang-Undang No. 20 Tahun 2008 tentang Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah; juga sejumlah Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia terkait Penetapan Tarif Cukai Hasil Tembakau, seperti Peraturan Menteri Keuangan No. 43/PMK.04/2005 tentang Penetapan Harga Dasar dan Tarif Cukai Hasil Tembakau, sebagaimana diubah dengan Peraturan Menteri Keuangan No. 118/PMK.04/2006 tentang Perubahan Kedua atas Peraturan Menteri Keuangan No. 43/PMK.04/2005, diubah kembali dengan Peraturan Menteri Keuangan No. 134/PMK.04/2007 tentang Perubahan Ketiga, dan Peraturan Menteri Keuangan No. 181/PMK.011/2009 tentang Tarif Cukai Hasil Tembakau. 2. Bahan hukum sekunder digunakan untuk membantu memahami berbagai konsep hukum dalam bahan hukum primer, analisis bahan hukum primer dibantu oleh bahan hukum sekunder yang diperoleh dari berbagai sumber baik jurnal, buku-buku, berita, dan ulasan media, dan sumber-sumber lain yang relevan seperti Roadmap Industri Hasil Tembakau 2007-2020 yang dikeluarkan oleh Departemen Perindustrian. 3. Bahan hukum tertier diperlukan dipergunakan untuk berbagai hal dalam hal penjelasan makna-makna kata dari bahan hukum sekunder dan bahan hukum primer, khususnya kamus-kamus hukum dan ekonomi.

3. Teknik Pengumpulan Data Seluruh bahan hukum dikumpulkan dengan menggunakan tehnik studi kepustakaan 54 (library research) dan studi dokumen dari berbagai sumber yang dipandang relevan, antara lain instansi terkait dan pelaku usaha Industri Hasil Tembakau. Perpustakaan yang digunakan adalah Perpustakaan Universitas Sumatera Utara. Wawancara juga dilakukan sebagai alat pengumpulan data penunjang selain bahan hukum yang dikumpulkan melalui perpustakaan. Wawancara dilakukan dengan sejumlah informan yang dipandang relevan yaitu : pengelola/pengurus perusahaan rokok dan Kepala Dinas Pendapatan Daerah Sumatera Utara di Medan, dengan metode wawancara mendalam (in-depth interview)55. Informan yang dipilih adalah yang terlibat langsung dalam penerimaan Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBH CHT) yaitu Dinas Pendapatan Daerah pada tingkat Pemerintah Provinsi maupun Pemerintah Kabupaten/Kota.

54 Menurut Bambang Sunggono, studi kepustakaan dapat membantu peneliti dalam berbagai keperluan, misalnya : a) Mendapatkan gambaran atau informasi tentang penelitian yang sejenis dan berkaitan dengan permasalahan yang diteliti; b) Mendapatkan metode, teknik, atau cara pendekatan pemecahan permasalahan yang digunakan; c) Sebagai sumber data sekunder; d) Mengetahui historis dan perspektif dari permasalahan penelitiannya; e) Mendapatkan informasi tentang cara evaluasi atau analisis data yang dapat digunakan; f) Memperkaya ide-ide baru; dan g) Mengetahui siapa saja peneliti lain di bidang yang sama dan siapa pemakai hasil penelitian tersebut, seperti yang dikemukakan Bambang Sunggono, Metodologi Penelitian Hukum, (Jakarta : Rajawali Press, 2010), hal. 112-113. 55 Indepth Interview atau wawancara mendalam secara umum adalah proses memperoleh keterangan untuk tujuan penelitian dengan cara tanya jawab sambil bertatap muka antara pewawancara dengan informan atau orang yang diwawancarai, dengan atau tanpa menggunakan pedoman (guide) wawancara, dimana pewawancara dan informan terlibat dalam kehidupan sosial yang relatif lama. Dengan demikian, kekhasan wawancara mendalam adalah keterlibatannya dalam kehidupan informan. Seperti yang dikemukakan oleh Burhan Bungin, Penelitian Kualitatif : Komunikasi, Ekonomi, Kebijakan Publik, dan Ilmu Sosial Lainnya, (Jakarta : Kencana, 2009), hal. 108.

4. Analisis Data Data-data tersebut di atas berupa bahan-bahan hukum dianalisis dengan menggunakan metode analisis deskriptif kualitatif. Dilihat dari tujuan analisis, maka ada dua hal yang ingin dicapai dalam analisis data kualitatif, yaitu : 1) Menganalisis proses berlangsungnya suatu fenomena hukum dan memperoleh suatu gambaran yang tuntas terhadap proses tersebut; dan 2) Menganalisis makna yang ada di balik informasi, data, dan proses suatu fenomena.56 Bahan hukum primer yang terinventarisasi terlebih dahulu disistematisasikan sesuai dengan substansi yang diatur dengan mempertimbangkan relevansinya terhadap rumusan permasalahan dan tujuan penelitian. Kemudian dilakukan prediktabilitas hukum, mencari keadilan hukum, perlindungan hukum, dan lain-lain.57 Analisis dilakukan secara holistik58 dan integral untuk menemukan hubungan logis antara berbagai konsep hukum yang sudah ditemukan dengan menggunakan kerangka teoritis yang relevan. Dalam hal ini yang akan diuji hubungan logisnya antara lain meliputi hubungan antara kebijakan tarif cukai hasil tembakau, penerimaan negara, peran ekonomi Industri Hasil Tembakau dalam hal Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBH CHT), perlindungan terhadap Usaha Mikro Kecil

56 Burhan Bungin, Penelitian Kualitatif : Komunikasi, Ekonomi, Kebijakan Publik, dan Ilmu Sosial Lainnya, Op.cit., hal. 153. 57 Lexy J. Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif, (Bandung : Rosda, 2006), hal. 248, dalam Burhan Bungin, Op.cit., hal. 144-145. 58 Menurut Dilthey, holistik adalah hubungan melingkar antara part (bagian) dan whole (keseluruhan) sebagai perputaran antara bagian dan keseluruhan dalam memahami sesuatu. Bagian yang satu dapat dipahami apabila direlasikan dengan bagian yang lain sehingga membentuk totalitas atau keseluruhan, dalam Yusran Darmawan, ”Membincang Holistik dalam Antropologi”, http://timurangin.blogspot.com/2009/08/membincang-holistik-dalam-antropologi.html., diakses pada 13 Agustus 2010.

Menengah, dampak negatif hasil tembakau, dan lain-lain yang ditemukan dalam penelitian. Melalui pendekatan holistik dalam ilmu hukum, maka ilmu hukum dapat menjalankan perkembangannya sebagai suatu ilmu pengetahuan yang lebih utuh dan tidak terintegrasi ke dalam ilmu-ilmu lain yang nantinya akan berakibat bagi perkembangan ilmu hukum itu sendiri, oleh sebab itu paradigma tersebut tentunya akan mengubah peta hukum dan pembelajaran hukum selama ini memandu kita dalam setiap kajian-kajian ilmu hukum yang lebih baik dalam prinsip keilmuan.59 Pendekatan secara integral maksudnya adalah suatu konsep yang meliputi seluruh bagian dari Industri Hasil Tembakau dan Dana Bagi Hasil Cukai Tembakau agar menjadikan sebuah penelitian itu lengkap dan sempurna.60 Penarikan kesimpulan dilakukan dengan menggunakan logika berfikir deduktif – induktif yaitu dilakukan dengan teori yang digunakan dijadikan sebagai titik tolak untuk melakukan penelitian. Deduktif artinya menggunakan teori sebagai alat, ukuran dan bahkan instrumen untuk membangun hipotesis, sehingga secara tidak langsung akan menggunakan teori sebagai pisau analisis dalam melihat masalah dalam kebijakan tarif cukai hasil tembakau terhadap industri hasil tembakau di Sumatera Utara. Teorisasi induktif adalah menggunakan data sebagai awal pijakan melakukan penelitian, bahkan dalam format induktif tidak mengenal teorisasi sama sekali artinya teori dan teorisasi bukan hal yang penting untuk dilakukan. Maka
Satjipto Rahardjo, “Pendekatan Holistik Terhadap Hukum”, (Jurnal Progresif, Vol. 1 No. 2), hal. 5, dalam Ronny Junaidy K., “Ilmu Hukum dalam Perspektif Ilmu Pengetahuan Modern”, http://www.legalitas.org/content/ilmu-hukum-dalam-perspektif-ilmu-pengetahuan-modern., diakses pada 13 Agustus 2010. 60 Departemen Pendidikan Nasional, “Integral”, Kamus Besar Bahasa Indonesia Online, http://pusatbahasa.diknas.go.id/kbbi/index.php., diakses pada 13 Agustus 2010.
59

deduktif – induktif adalah penarikan kesimpulan didasarkan pada teori yang digunakan pada awal penelitian dan data-data yang didapat sebagai tunjangan pembuktian teori tersebut apakah : 1) hasil-hasil penelitian ternyata mendukung teori tersebut sehingga hasil penelitian dapat memperkuat teori yang ada; 2) apakah teori dalam posisi dapat dikritik karena telah mengalami perubahan-perubahan disebabkan karena waktu yang berbeda, lingkungan yang berbeda, atau fenomena yang telah berubah, untuk itu perlu dikritik dan direvisi teori yang digunakan tadi; 3) apakah membantah teori yang digunakan untuk penelitian berdasarkan hasil penelitian, maka semua aspek teori tidak dapat dipertahankan karena waktu, lingkungan, dan fenomena yang berbeda, dengan demikian teori tidak dapat dipertahankan atau direvisi lagi, karena itu teori tersebut harus ditolak kebenarannya dengan menggunakan teori baru.61

61

Burhan Bungin, Op.cit., hal. 26-29.

BAB II KEBIJAKAN TARIF CUKAI HASIL TEMBAKAU DI INDONESIA

A. Perkembangan Pengaturan Cukai Tembakau Pengaturan cukai tembakau di Indonesia di pengaruhi oleh Politik Hukum yang terjadi, yaitu perubahan-perubahan peraturan perundang-undangan. Politik adalah proses pembentukan dan pembagian kekuasaan dalam masyarakat yang antara lain berwujud proses pembuatan keputusan, khususnya dalam negari. Dunia politik tidak terlepas dari kekuasaan dan wewenang penguasa. Menurut C.F. Strong, politik hukum adalah ilmu yang mempelajari tentang negara. Negara merupakan organisasi kekuasaan karena di dalam negara selalu dijumpai pusat-pusat kekuasaan, baik dalam suprastruktur (terjelma dalam lembaga politik dan lembaga negara) dan infrastruktur yang meliputi : 1. ”Partai Politik, yaitu organisasi politik yang menjalani ideologi tertentu atau dibentuk dengan tujuan khusus; 2. Golongan kepentingan, yaitu sekelompok manusia yang bersatu atau mengadakan persekutuan karena adanya kepentingan-kepentingan tertentu baik merupakan kepentingan umum atau masyarakat umum; 3. Golongan penekan, yaitu sekelompok manusia yang bergabung menjadi satu anggota suatu lembaga kemasyarakatan dengan aktivitas yang tampak ke luar sebagai golongan yang sering mempunyai keinginan untuk memaksakan kepada pihak penguasa; 4. Alat komunikasi politik, yaitu media komunikasi, komunikasi kontak langsung, dan jaringan-jaringan infrastruktur; dan 5. Tokoh politik, yaitu orang-orang yang terlibat dalam dunia politik itu sendiri, lebih kepada yang terlibat pada suatu negara dalam hal penyelenggaraannya”.62
C.F. Strong dalam Satya Arinanto, “Kumpulan Materi Kuliah Politik Hukum”, (Jakarta : Program Pasca Sarjana Fakultas Hukum Universitas Indonesia, 2002), hal. 1.
62

Menurut Mahfud M.D., politik hukum adalah legal policy yang akan atau telah dilaksanakan secara nasional oleh pemerintah Indonesia yang meliputi : 1. ”Pembangunan hukum yang berintikan pembuatan dan pembaruan terhadap materi-materi hukum agar dapat sesuai dengan kebutuhan; dan 2. Pelaksanaan ketentuan hukum yang telah ada termasuk penegasan fungsifungsi lembaga dan pembinaan para penegak hukum”.63

Dari kedua pengertian tersebut terlihat bahwa politik hukum mencakup proses pembuatan dan pelaksanaan hukum yang dapat menunjukkan sifat dan arah mana hukum akan dibangun dan ditegakkan. Politik dan hukum sangat berhubungan karena ada intervensi politik terhadap hukum, politik kerapkali melakukan intervensi terhadap pembentukan dan pelaksanaan hukum. Hukum dalam arti peraturan merupakan kristalisasi dari kehendak-kehendak politik yang saling berinteraksi dan bersaing.64 Dalam hal pengaturan cukai hasil tembakau juga dipengaruhi oleh penguasa. Pada zaman kerajaan Indonesia dahulu sudah tentu yang mempengaruhi pengaturannya adalah penguasa setempat dimana tembakau tersebut diperjualbelikan. Pada masa sebelum kemerdekaan, tepatnya masa pemerintahan Hindia-Belanda pengaturan cukai tembakau dipengaruhi oleh Belanda pada masa itu demi keuntungan mereka semata. Seluruh keuntungan (masa sekarang disebut Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBH CHT)) dari penjualan tembakau dibawa ke negeri Belanda

63 64

Mahfud M.D. dalam Ibid. Ibid., hal. 4-16.

untuk membangun negara tersebut. Perubahan terjadi setelah kemerdekaan tercapai, sepenuhnya pengaturan diserahkan kepada pemerintah Indonesia. Sebelum berbicara mengenai pengaturan cukai tembakau, akan dilihat kemajemukan hukum di Indonesia pada sebelum abad VII – 2008 pada gambar di bawah ini :

Gambar 1 Kemajemukan Hukum di Indonesia sebelum Abad VII – 2008
Terjadi revolusi Eropa dan Belanda memberlakukan Grundwet baru

- Dalam periode sekitar 130 tahun (1819 – 1949), pemerintah Belanda memberlakukan ± 7.000 peraturan di wilayah Hindia Belanda; - Menurut penelitian Badan Pembinaan Hukum Nasional (BPHN), pada sekitar tahun 1992 masih tersisa sekitar 400 peraturan kolonial yang masih berlaku; dan - Pada saat ini jumlah tersebut semakin berkurang.

HK. ADAT ASLI + HK.. HINDU + HK. ISLAM

Masa Reformasi – Pasca Reformasi (1998 - ...)

Pra 1900 Masa Kekuasaan Kelompok Universalis Ms. Kekuasaan Klp. Liberal Partikuler 1940

Pasca 1900

Abad XIV

1819

1848

1855

1890

1949

1998

Abad VII

Abad XVII

1840

1854

1870

1900

1945

1990

2008

HK. ADAT ASLI

HK. ADAT ASLI + HK. HINDU

HK. ADAT ASLI + HK. HINDU + HK. ISLAM + HK. KRISTEN + HK. KATOLIK + HK. EROPA

Masa Liberalisme (1840 – 1890) Pemberlakuan RR Pemberlakuan IS

Masa Politik Etis (1890 – 1840)

Masa Dekolonisasi & Orde Baru Pemberlakuan Agrarische Wet

Pasal II Aturan Peralihan UUD ’45 (sebelum perubahan) : - Segala badan negara dan peraturan yang ada masih langsung berlaku selama belum diadakan yang baru menurut UUD ini; - Untuk mengisi kekurangan hukum.

Proklamasi : Pemberlakuan UUD ’45

Sumber

:

Satya Arinanto, ”Modul Perkuliahan Politik Hukum : Kemajemukan Hukum di Indonesia”, (Medan : Sekolah Pasca Sarjana Universitas Sumatera Utara, 2008)

Berdasarkan pembagian masa-masa kemajemukan hukum di atas maka dapat dibagi menjadi perkembangan pengaturan cukai tembakau pada 4 (empat) masa pengaturan cukai tembakau, yaitu : 1) sebelum kemerdekaan; 2) sesudah kemerdekaan; 3) orde baru & reformasi; dan 4) Masa Pasca Reformasi. Adapun pembagian tersebut diatas dapat dilihat pada tabel di bawah ini : Tabel 1 Perkembangan Pengaturan Cukai Tembakau
No. Masa Nama, Nomor, dan Tahun Peraturan Staatsblad No. 517 Tahun 1932 Staatsblad No. 560 Tahun 1932 Staatsblad No. 234 Tahun 1949 UU Darurat No. 22 Tahun 1950 PP No. 8 Tahun 1951 Tentang

1.

Sebelum Kemerdekaan

Tabaksaccijns-verordening Penurunan Cukai Tembakau Perubahan "Tabaks-Accijnsverordening” (Staatsblad 1932 No. 560) Pengubahan dan Penambahan Ordonansi Cukai Tembakau (Staatsblad 1932 No. 517) Perhitungan Untuk Pemungutan Cukai Atas Hasil Tembakau yang Berasal Dari Luar Negeri Pencabutan Keppres No. 63 Tahun 1968 dan Pembebanan Bea Masuk/Cukai & Pungutan-Pungutan Lainnya Atas Pemasukan Hasil Tembakau Buatan Luar Negeri Cukai Pengenaan Sanksi Administrasi di Bidang Cukai Izin Pengusaha Barang Kena Cukai Penyidikan Tindak Pidana di Bidang Kepabeanan dan Cukai Perubahan Atas UU No. 11 Tahun 1995 tentang Cukai Nomor Pokok Pengusaha Barang Kena Cukai Penetapan Harga Dasar & Tarif Cukai Hasil Tembakau Perubahan Kedua Atas Peraturan Menteri Keuangan No. 43/PMK.04/2005 tentang Penetapan Harga Dasar & Tarif Cukai Hasil Tembakau Perubahan Ketiga Atas Peraturan Menteri Keuangan No. 43/PMK.04/2005 tentang Penetapan Harga Dasar & Tarif

2.

Sesudah Kemerdekaan UU No. 16 Tahun 1956

Perpres No. 189 Tahun 1967

Perpres No. 38 Tahun 1969 3. Orde Baru & Reformasi

UU No. 11 Tahun 1995 PP No. 24 Tahun 1996 PP No. 25 Tahun 1996 PP No. 55 Tahun 1996 UU No. 39 Tahun 2007 PP No. 72 Tahun 2008 Peraturan Menteri Keuangan No. 43/PMK.04/2005 Peraturan Menteri Keuangan No. 118/PMK.04/2006

4.

Pasca Reformasi

Peraturan Menteri Keuangan No. 134/PMK.04/2007

Peraturan Menteri Keuangan No. 203/PMK.011/2008 Peraturan Menteri Keuangan No. 60/PMK.07/2008 Peraturan Menteri Keuangan No. 84/PMK.07/2008

Cukai Hasil Tembakau Tarif Cukai Hasil Tembakau Dana Alokasi Cukai Hasil Tembakau Tahun Anggaran 2008 Penggunaan Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBH CHT) & Sanksi Atas Penyalahgunaan Alokasi Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBH CHT) Tarif Cukai Hasil Tembakau

Peraturan Menteri Keuangan No. 181/PMK.011/2009 Peraturan Menteri Keuangan No. 85/PMK.07/2009 Peraturan Menteri Keuangan No. 66/PMK.07/2010

Sumber

:

Alokasi Dana Sementara Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau Tahun Anggaran 2009 Alokasi Sementara Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBH CHT) Tahun Anggaran 2010 Peraturan Menteri Keuangan Pelaksanaan dan Pertanggungjawaban No. 126/PMK.07/2010 Anggaran Transfer ke Daerah Website resmi Badan Pembinaan Hukum Nasional, www.bphn.go.id., diakses pada 08 September 2010

1. Masa Sebelum Kemerdekaan Cukai tembakau pada masa ini diatur dengan yang disebut Staatsblad No. 517 Tahun 1932, Staatsblad No. 560 Tahun 1932, dan terakhir dengan Staatsblad No. 234 Tahun 1949 tentang ”Tabaksaccijns-Ordonnantie”. Peraturan tersebut memakai teks asli berbahasa Belanda. Peraturan-peraturan tersebut diatas mengatur tentang pita cukai, eksportir dan importir (dalam hal bea masuk). Juga mengenai besaran jumlah yang diterima pemerintah dalam pengutipan cukai tersebut.

2. Sesudah Kemerdekaan Sesudah kemerdekaan cukai tembakau diatur dalam Undang-Undang Darurat No. 22 Tahun 1950 tentang Penurunan Cukai Tembakau. Penetapan dalam peraturan ini mengatur tentang Harga Jual Eceran (HJE), pemungutan cukai yang diturunkan, dan penetapan golongan-golongan pengusaha. Undang-Undang Darurat No. 22 Tahun 1950 tentang Penurunan Cukai Tembakau pada Pasal 10 menyebutkan bahwa : (1) ”Cukainya berjumlah : a. Untuk rokok-rokok sigaret yang dibuat dengan mesin dan tembakau iris lima puluh persen dari harga eceran; b. Untuk rokok-rokok sigaret lain dari pada yang dibuat dengan mesin empat puluh persen dari harga eceran; c. Untuk hasil-hasil lain yang dikenai cukai tiga puluh persen dari harga eceran. (2) Dalam hal keragu-raguan atau perbedaan pendapat apa hasil-hasil tembakau yang dikenakan cukai termasuk di bawah a. dari ayat di muka ini, atau di bawah b. atau c. dari ayat itu, diputuskan oleh Menteri Keuangan. (3) Jikalau menurut Pasal 31 penjualan diizinkan dengan harga yang lebih tinggi dari harga eceran yang tersebut di pita yang dilekatkan menurut Pasal 12, maka dengan tidak memperhatikan perbedaan pada ayat (1) harus dibayar cukai sebanyak lima puluh persen dari jumlah yang melampaui harga itu”.65 Penetapan cukai dengan persentase yang ditetapkan dihitung dari Harga Jual Eceran setiap bungkus rokok. Misalnya satu bungkus rokok dijual dengan harga Rp. 5.000,- maka cukai tembakau tersebut adalah 50% dari Harga Jual Eceran yaitu Rp. 2.500,- jadi, total jualnya adalah Rp. 7.500,-. Untuk pita cukainya ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah No. 8 Tahun 1951 yang ditetapkan pada 20 Januari 1951. Peraturan ini mengatur tentang warna-

Undang-Undang Darurat No. 22 Tahun 1950 tentang Penurunan Cukai Tembakau, Lembaran Negara Republik Indonesia No. 37, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia No. 21.

65

warna pita yang ditempelkan pada setiap bungkus rokok tersebut. Hal ini diatur dalam Pasal 1 ayat (3) yang menyebutkan bahwa : (3) ”Pita-pita itu, yang diperuntukkan guna memenuhi cukai dari barang-barang tembakau yang bersama-sama disebut sebagai berikut, dikeluarkan dengan jenis-jenis sebagai berikut : dengan warna hijau : seri A : serutu, yang dipitai satu demi satu; seri B : rokok-rokok daun dan tembakau senggruk, begitu pula serutu-serutu dalam bungkusan eceran berisi kurang dari 50 batang; seri D : serutu-serutu dalam bungkusan eceran dari 50 batang atau lebih; seri E : serutu-serutu dalam bungkusan eceran dari 50 batang atau lebih; dengan warna hitam : seri B : lain dari sigaret-sigaret yang diperbuat dengan mesin; seri C : lain dari sigaret-sigaret yang diperbuat dengan mesin; seri E : lain dari sigaret-sigaret yang diperbuat dengan mesin; dengan warna blau : seri B : sigaret-sigaret yang diperbuat dengan mesin, begitu pula tembakau iris; seri C : sigaret-sigaret yang diperbuat dengan mesin, begitu pula tembakau iris; seri E : sigaret-sigaret yang diperbuat dengan mesin, begitu pula tembakau iris;” Pada masa pemerintahan Indonesia setelah kemerdekaan sudah diatur penetapan cukai dan warna-warna pita cukai untuk produk tembakau, yaitu warna hijau, hitam, dan blau (sekarang biru). Penentuan warna ini digunakan untuk penggolongan hasil tembakau yang diproduksi, yaitu : cerutu, rokok yang dibuat dengan mesin (disebut Sigaret Kretek Mesin pada masa sekarang). Pada tahun 1956 dikeluarkan Undang-Undang No. 16 Tahun 1956 tentang Pengubahan dan Penambahan Ordonansi Cukai Tembakau. Peraturan ini dikeluarkan dengan maksud untuk mengurangi dampak banyaknya perusahaan-perusahaan rokok yang tutup akibat tingginya pengenaan cukai tembakau, juga peraturan-peraturan yang tidak tersusun secara rapi mengenai rokok. Dalam hal ini pemerintah

memberikan tunjangan kepada perusahaan-perusahaan rokok berupa penurunan cukai tembakau pada jumlah tertentu dan cukai yang tidak dikutip dari pengusahapengusaha rokok selama satu tahun. Pada memori penjelasan peraturan Undang-Undang No. 16 Tahun 1956 tentang Pengubahan dan Penambahan Ordonansi Cukai Tembakau. Dijelaskan bahwa : ”a. sigaret-kretek, kelembakmenyan 40% dari 5 (lima) sen sebatang; dan b. rokok daun (strootjes) 30% dari 21/2 sen sebatang”.66 Penetapan tersebut diatas tidak lagi berdasarkan Harga Jual Eceran melainkan dikenakan atas jumlah batang rokok pada setiap bungkusnya. Jadi, yang tadinya dihitung berdasarkan Harga Jual Eceran, pada peraturan ini dikurangin dengan menerapkan cukai pada setiap batang rokok. Pengawasan dan pemungutan dengan jalan pita cukai tidak dapat diterapkan dengan baik karena sumber daya manusia yang tidak memadai untuk melakukan hal tersebut. Jadi, cara yang ditempuh oleh peraturan ini adalah menetapkan isi per bungkus rokok tersebut bahwa bungkusan harus berisi 2, 5, atau 10 batang saja dengan cara melekatkan pita cukai dengan harga eceran masing-masing dari 10, 25 dan 50 sen untuk batang-batang rokok tersebut.67 Kebaikan peraturan ini adalah bahwa pengusaha dapat menghitung harga penjualan rokok tersebut dengan cara menghitung jumlah cukai yang ditetapkan dan

66 Undang-Undang No. 16 Tahun 1956 tentang Pengubahan dan Penambahan Ordonansi Cukai Tembakau (Staatsblad 1932 No. 517), Lembaran Negara Republik Indonesia No. 38, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia No. 1043. 67 Memori Penjelasan Undang-Undang No. 16 Tahun 1956 tentang Pengubahan dan Penambahan Ordonansi Cukai Tembakau (Staatsblad 1932 No. 517), Ibid.

harga penjualan rokok dapat diubah sewaktu-waktu apabila pangsa pasar dari harga bahan baku berubah-ubah dengan tidak perlu menambah pita cukainya.68

3. Orde Baru & Reformasi Pada masa Orde Baru & Reformasi ditetapkanlah Undang-Undang No. 11 Tahun 1995 tentang Cukai, Peraturan Pemerintah No. 24 Tahun 1996 tentang Pengenaan Sanksi Administrasi di Bidang Cukai, Peraturan Pemerintah No. 25 Tahun 1996 tentang Izin Pengusaha Barang Kena Cukai, dan Peraturan Pemerintah No. 55 Tahun 1996 tentang Penyidikan Tindak Pidana di Bidang Kepabeanan dan Cukai. Mengenai persentase cukai tembakau diatur dalam Undang-Undang No. 11 Tahun 1995 tentang Cukai, pada Pasal 5 menyebutkan bahwa : (1) “Barang Kena Cukai yang dibuat di Indonesia dikenai cukai berdasarkan tarif setinggi-tingginya : a. dua ratus lima puluh persen dari Harga Dasar apabila Harga Dasar yang digunakan adalah Harga Jual Pabrik; atau b. lima puluh persen dari Harga Dasar apabila Harga Dasar yang digunakan adalah Harga Jual Eceran. (2) Barang Kena Cukai yang diimpor dikenai cukai berdasarkan tarif setinggitingginya : (3) Tarif cukai sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) dapat diubah dari persentase harga dasar menjadi jumlah dalam rupiah untuk setiap satuan Barang Kena Cukai atau sebaliknya atau penggabungan dari keduanya. (4) Ketentuan tentang besarnya tarif cukai untuk setiap jenis Barang Kena Cukai sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2), serta perubahan tarif cukai sebagaimana dimaksud pada ayat (3) diatur lebih lanjut oleh Menteri”.69

Ibid. Pasal 5 Undang-Undang No. 11 Tahun 1995 tentang Cukai, Lembaran Negara Republik Indonesia No. 76, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia No. 3613.
69

68

Penetapan tarif cukai tembakau pada peraturan ini ditetapkan berdasarkan Harga Jual Eceran (HJE). Namun, dapat juga ditetapkan per batangnya apabila diatur dalam peraturan menteri keuangan. Apabila dihitung-hitung cukai tembakau jika dikenakan berdasarkan Harga Jual Eceran dan per batang rokok, maka hasil yang didapat adalah sama atau tidak jauh berbeda.

4. Pasca Reformasi Penerapan cukai tembakau pada masa pasca reformasi atau dapat disebut pada saat sekarang ini ditetapkan dengan Undang-Undang No. 39 Tahun 2007 tentang Perubahan Atas Undang-Undang No. 11 Tahun 1995 tentang Cukai. Pasal yang mengatur tentang cukai tembakau adalah terdapat pada Pasal 5, yang menyebutkan bahwa : (1) “Barang kena cukai berupa hasil tembakau dikenai cukai berdasarkan tarif paling tinggi : a. Untuk yang dibuat di Indonesia : 1. 275% (dua ratus tujuh puluh lima persen) dari harga dasar apabila harga dasar yang digunakan adalah harga jual pabrik; atau 2. 57% (lima puluh tujuh persen) dari harga dasar apabila harga dasar yang digunakan adalah Harga Jual Eceran. b. Untuk yang diimpor : 1. 275% (dua ratus tujuh puluh lima persen) dari harga dasar apabila harga dasar yang digunakan adalah nilai pabean ditambah bea masuk; atau 2. 57% (lima puluh tujuh persen) dari harga dasar apabila harga dasar yang digunakan adalah harga jual eceran. (2) Barang kena cukai lainnya dikenai cukai berdasarkan tarif paling tinggi : a. Untuk yang dibuat di Indonesia : 1. 1.150% (seribu seratus lima puluh persen) dari harga dasar apabila harga dasar yang digunakan adalah harga jual pabrik; atau 2. 80% (delapan puluh persen) dari harga dasar apabila harga dasar yang digunakan adalah harga jual eceran.

b. Untuk yang diimpor : 1. 1.150% (seribu seratus lima puluh persen) dari harga dasar apabila harga dasar yang digunakan adalah nilai pabean ditambah bea masuk; atau 2. 80% (delapan puluh persen) dari harga dasar apabila harga dasar yang digunakan adalah harga jual eceran. (3) Tarif cukai sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) dapat diubah dari persentase harga dasar menjadi jumlah dalam rupiah untuk setiap satuan barang kena cukai atau sebaliknya atau penggabungan dari keduanya. (4) Penentuan besaran target penerimaan negara dari cukai pada Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) dan alternatif kebijakan Menteri dalam mengoptimalkan upaya mencapai target penerimaan, dengan memperhatikan kondisi industri dan aspirasi pelaku usaha industri, disampaikan kepada Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPRRepublik Indonesia) untuk mendapat persetujuan. (5) Ketentuan lebih lanjut mengenai besaran tarif cukai sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2), serta perubahan tarif sebagaimana dimaksud pada ayat (3) diatur dengan peraturan menteri”. 70 Ketentuan cukai tersebut di atas digunakan sebagai pungutan negara yang digunakan terhadap barang-barang tertentu yang mempunyai sifat atau karakteristik sesuai dengan undang-undang merupakan penerimaan negara guna mewujudkan kesejahteraan bangsa. Hal tersebut adalah memberikan kepastian hukum dan keadilan serta menggali potensi penerimaan cukai. Untuk penetapan harga dasar dan tarif cukai hasil tembakau ditetapkan dengan Peraturan Menteri Keuangan No. 43/PMK.04/2005, pada peraturan ini dilakukan pembagian jenis-jenis hasil tembakau, penggolongan pengusaha pabrik hasil tembakau, nilai tarif cukai dan batasan harga jual eceran hasil tembakau buatan dalam negeri dan luar negeri, batasan harga jual eceran dan tarif cukai hasil tembakau yang diimpor maupun tidak. Peraturan ini diubah dengan Peraturan Menteri

Pasal 5 Undang-Undang No. 39 Tahun 2007 tentang Perubahan Atas Undang-Undang No. 11 Tahun 1995 tentang Cukai, Lembaran Negara Republik Indonesia No. 105, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia No. 4755.

70

Keuangan No. 118/PMK.04/2006 pada tahun 2006, diubah kembali pada tahun 2007 dengan Peraturan Menteri Keuangan No. 134/PMK.04/2007. Pada tahun 2008 dikeluarkan peraturan baru yang mengatur tentang tarif cukai hasil tembakau dengan Peraturan Menteri Keuangan No. 203/PMK.011/2008 dan diubah kembali pada tahun 2009 dengan Peraturan Menteri Keuangan No. 181/PMK.011/2009. Perubahan yang dilakukan berulang-ulang ini dimaksudkan untuk mengikuti perubahan perekonomian negara mengikuti inflasi dan kenaikan harga yang terjadi. Hal-hal yang diubah adalah mengenai tarif dasarnya. Mengenai pengaturan Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBH CHT) diatur dengan Peraturan Menteri Keuangan No. 84/PMK.07/2008 tentang Penggunaan Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBH CHT) & Sanksi Atas Penyalahgunaan Alokasi Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBH CHT). Tata urutan pelaksanaan pembagian Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBH CHT) ke daerah diatur dengan Peraturan Menteri Keuangan No. 126/PMK.07/2010 tentang Pelaksanaan dan Pertanggungjawaban Anggaran Transfer ke Daerah. Untuk pembahasan selanjutnya akan dibahas mengenai tanggapan setiap departemen pemerintahan yang berbeda-beda mengenai perubahan atau kenaikan cukai hasil tembakau yang diterapkan.

B. Paradigma Kebijakan Tarif Cukai Hasil Tembakau Setelah mengetahui sejarah bea cukai dan Industri Hasil Tembakau, selanjutnya akan dibahas mengenai paradigma kebijakan tarif cukai hasil tembakau.

Apabila berbicara mengenai paradigma maka tidak terlepas dari pandangan berbagai pihak terhadap kebijakan tarif cukai hasil tembakau. Paradigma adalah kumpulan tata nilai yang membentuk pola pikir seseorang sebagai titik tolak pandangannya sehingga akan membentuk citra subjektif seseorang mengenai realita dan akhirnya akan menentukan bagaimana seseorang menanggapi realita itu.71 Paradigma hukum adalah pandangan terhadap positivisme hukum yang berlaku berkaitan dengan cukai hasil tembakau. Adapun yang berkaitan dengan paradigma hukum kebijakan tarif cukai hasil tembakau, antara lain : 1) Departemen Keuangan; 2) Departemen Perindustrian dan Perdagangan; dan 3) Departemen Pertanian. Ditekankan lagi disini bahwa paradigma hukum kebijakan tarif cukai hasil tembakau adalah pandangan hukum setiap departemen yang ada bagi kebijakan tarif cukai hasil tembakau di Indonesia. Pada departemen keuangan, sudah pasti berbicara mengenai penerimaan negara dalam bentuk cukai yang dapat membantu meningkatkan pendapatan negara. Pada departemen perdagangan, mengenai penjualan daun tembakau yang digunakan untuk pembungkusan cerutu di dunia. Pada departemen pertanian adalah mengenai lahan-lahan yang digunakan untuk menanam tembakau apakah berkurang atau bertambah. Pada departemen perindustrian, berkaitan dengan industri rokok itu sendiri. Pada departemen kesehatan, berbicara mengenai dampak rokok bagi kesehatan. Pandangan departemen tenaga kerja dan
Pengertian paradigma menurut Thomas Kuhn, The Structure of scientific Revolution, 2nd Ed., (Chicago & London : University of Chicago Press, 1970), dalam Herry Tjahyono, The XO Way : 3 Giants 6 Liliputs, (Jakarta : Grasindo, 2007), hal. 61-67.
71

transmigrasi adalah berkaitan dengan industri rokok yang dapat menampung banyak tenaga kerja yang ada. Pandangan sosial adalah mengenai dampak dari industri rokok menampung banyak tenaga kerja yang sudah pasti akan mengurangi pengangguran di suatu negara. Pada akhirnya, departemen agama berbicara mengenai haramnya merokok. Selanjutnya akan dipaparkan pada sub-sub bagian di bawah ini.

1. Departemen Keuangan Dari paradigma Departemen Keuangan mengenai kebijakan tarif cukai hasil tembakau di Indonesia yang berbicara mengenai pendapatan negara melalui penerimaan negara. Negara mendapat pemasukan dari pengutipan cukai yang dilakukan oleh Direktorat Jenderal Bea dan Cukai yang berada di bawah Departemen Keuangan. Pengutipan cukai ini dilakukan Pemerintah melalui Departemen Keuangan, Direktorat Bea dan Cukai adalah dengan mengeluarkan Peraturan Menteri Kuangan No. 181/PMK.011/2009, tanggal 16 November 2009 tentang Tarif Cukai Hasil Tembakau. Peraturan Menteri Keuangan ini mencabut dan menyatakan tidak belaku lagi Peraturan Menteri Keuangan mengenai tarif cukai hasil tembakau sebelumsebelumnya, yaitu : 1) Peraturan Menteri Keuangan No. 43/PMK.04/2005; 2) Peraturan Menteri Keuangan No. 118/PMK.04/2006; 3) Peraturan Menteri Keuangan No. 134/PMK.04/2007; dan 4) Peraturan Menteri Keuangan No. 203/PMK.011/2008. Hal-hal yang diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan No.

181/PMK.011/2009 tentang Tarif Cukai Hasil Tembakau adalah mengenai Golongan

Pengusaha Pabrik Hasil Tembakau, Batasan Harga Jual Eceran dan Tarif Cukai per Batang atau Gram Hasil Tembakau Buatan Dalam Negeri, dan Tarif Cukai dan Harga Jual Eceran Minimum Hasil Tembakau yang Diimpor. Adapun pengaturan penggolongan pengusaha pabrik hasil tembakau yang diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan No. 181/PMK.011/2009 tentang Tarif Cukai Hasil Tembakau di atas dapat dilihat pada tabel yang tertera sebagai lampiran pada peraturan tersebut, yaitu : Tabel 2 Golongan Pengusaha Hasil Tembakau
No. Urut 1. Golongan Pengusaha Pabrik Hasil Tembakau Jenis Golongan I Sigaret Kretek II Mesin I 2. 3. Sigaret Putih Mesin Sigaret Kretek Tangan atau Sigaret Putih Tangan Sigaret Kretek Tangan Filter atau Sigaret Putih Tangan Filter Tembakau Iris KLM atau Klobot Cerutu II I II III I II Batasan Jumlah Produksi

Lebih dari 2 milyar batang Tidak lebih dari 2 milyar batang Lebih dari 2 milyar batang Tidak lebih dari 2 milyar batang Lebih dari 2 milyar batang Lebih dari 500 juta batang tetapi tidak lebih dari 2 milyar batang Tidak lebih dari 500 juta batang Lebih dari 2 milyar batang Tidak lebih dari 2 milyar batang

4.

5. 6. 8. 9.

Tanpa Golongan Tanpa Golongan Tanpa Golongan

Tanpa batasan jumlah produksi Tanpa batasan jumlah produksi Tanpa batasan jumlah produksi

Sumber

Hasil Tanpa Tanpa batasan jumlah produksi Pengelolaan Golongan Tembakau Lainnya : Lampiran I, Peraturan Menteri Keuangan No. 181/PMK.011/2009 tentang Tarif Cukai Hasil Tembakau.

Jika dibandingkan dengan tarif cukai hasil tembakau sebelumnya yang ditetapkan berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan 203/PMK.011/2008 tentang Tarif Cukai Hasil Tembakau, maka Peraturan Menteri Keuangan 181/PMK.011/2009 tersebut telah menaikkan tarif cukai tembakau hasil seluruh jenis dan golongan, kecuali TIS (Tembakau Iris), KLB (Rokok Daun atau Klobot), CRT (cerutu) dan HPTL (Hasil Pengolahan Tembakau Lainnya) tidak mengalami peningkatan tarif cukai. Apabila diperbandingkan, maka kenaikan cukai rokok berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan No.181/PMK.011/2009 adalah sebagaimana terlihat dalam Tabel 3 dibawah ini : Tabel 3 Perbandingan Kenaikan Tarif Cukai Hasil Tembakau Berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan 203/PMK.011/2008 dan Peraturan Menteri Keuangan 181/PMK.011/2009 [dalam Rupiah]
Golongan Pengusaha Pabrik Hasil Tembakau Jenis Golongan Nilai Cukai Batasan Harga Jual Eceran Per Batang atau Gram Peraturan Menteri Keuangan 203/2008 290 280 260 210 175 135 Peraturan Menteri Keuangan 181/2009 310 300 280 230 195 155 Kenaikan

No. Urut

Lebih dari Rp 660,I Lebih dari Rp 630 sampai dengan Rp 660 Paling rendah Rp 600 sampai dengan Rp 630 Lebih dari Rp 430 Lebih dari Rp 380 sampai dengan Rp 430 Paling rendah Rp 374 sampai dengan Rp 380

1.

Sigaret Kretek Mesin II

20 (6.89%) 20 (7.14%) 20 (7.69%) 20 (9.52%) 20 (11.42%) 20 (14.81%)

Lebih dari Rp 600 Lebih dari Rp 450 sampai dengan Rp 600 Paling rendah Rp 375 sampai dengan Rp 450 Lebih dari Rp 300 Lebih dari Rp 254 sampai dengan Rp 300 Paling rendah Rp 217 sampai dengan Rp 254 Lebih dari Rp 590 I Lebih dari Rp 550 sampai dengan Rp 590 Paling rendah Rp 520 sampai dengan Rp 550 Lebih dari Rp 379 Lebih dari Rp 349 sampai dengan Rp 379 Paling rendah Rp 336 sampai dengan Rp 349 Paling rendah Rp 234 Lebih dari Rp 660,I Lebih dari Rp 630 sampai dengan Rp 660 Paling rendah Rp 600 sampai dengan Rp 630 Lebih dari Rp 430 II Lebih dari Rp 380 sampai dengan Rp 430 Paling rendah Rp 374 sampai dengan Rp 380 Lebih dari Rp 250 5. Tembakau Iris Tanpa Golongan Lebih dari 149 sampai dengan Rp 259 Paling rendah Rp 40 sampai dengan Rp 149 Lebih dari Rp 250 Paling rendah Rp 180 sampai dengan Rp 250 Paling rendah Rp 180 Lebih dari Rp 100.000 Lebih dari Rp 50.000 sampai

290 230 185 170 135 80 200 150 130 90 80 75 40 290 280 260 210 175 135

310 275 225 200 165 105 215 165 145 105 95 90 65 310 300 280 230 195 155

I 2. Sigaret Putih Mesin II

3.

Sigaret Kretek Tangan atau SPT

II

III

4.

Sigaret Kretek Tangan Filter atau Sigaret Putih Tangan Filter

20 (6.89%) 45 (19.56%) 40 (21.62%) 30 (17.64%) 30 (22.22%) 25 (31.25%) 15 (7.50%) 15 (10 %) 15 (11.53%) 15 (16.67%) 15 (18.75%) 15 (20%) 25 (62.5%) 20 (6.89%) 20 (7.14%) 20 (7.69%) 20 (9.52%) 20 (11.42%) 20 (14.81%) 0 (0.00%) 0 (0.00%) 0 (0.00%) 0 (0.00%) 0 (0.00%) 0 (0.00%) 0 (0.00%) 0

21 19 5 25 18 17 100.000 20.000

21 19 5 25 18 17 100.000 20.000

6.

Klobot

Tanpa Golongan Tanpa Golongan

7.

KLM

8.

Cerutu

Tanpa Golongan

Hasil Tanpa 100 100 Pengelolaan Golongan Tembakau Lainnya Sumber : Lampiran II, Peraturan Menteri Keuangan No. 181/PMK.011/2009 tentang Tarif Cukai Hasil Tembakau; Lampiran II, Peraturan Menteri Keuangan No. 203/PMK.011/2008 tentang Tarif Cukai Hasil Tembakau; dan Tabel 6, Perbandingan Kenaikan Tarif Cukai Hasil Tembakau Berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan No. 203/PMK.011/2008 dan Peraturan Menteri Keuangan No. 181/PMK.011/2009, Ningrum Natasya Sirait, et.al., Analisis Hukum Kebijakan Tarif Terhadap Industri Hasil Tembakau di Sumatera Utara, (Medan : Universitas Sumatera Utara, 2009), hal. 83.

9.

dengan Rp 100.000 Lebih dari Rp 20.000 sampai dengan Rp 50.000 Lebih dari Rp 5.000 sampai dengan Rp 20.000 Paling rendah Rp 275 sampai dengan Rp 5.000 Paling rendah Rp 275

10.000 1.200 250

10.000 1.200 250

(0.00%) 0 (0.00%) 0 (0.00%) 0 (0.00%) 0 (0.00%)

Berdasarkan data tersebut di atas, dapat diberikan beberapa catatan terhadap Peraturan Menteri Keuangan No. 181/PMK.011/2009 tentang Tarif Cukai Hasil Tembakau, sebagai berikut72 : 1. Seluruh tarif cukai pada industri yang menghasilkan sigaret (rokok), baik yang menggunakan mesin ataupun tangan, baik yang menggunakan filter maupun tanpa filter mengalami kenaikan tarif cukai. 2. Hasil tembakau berupa Tembakau Iris, Klobot, KLM, Cerutu dan Hasil Pengelolaan Tembakau Lainnya tidak mengalami kenaikan tarif cukai. 3. Kenaikan tarif cukai terbesar adalah pada jenis industri sigaret putih mesin golongan I dengan batasan harga jual eceran paling rendah Rp. 450,-/batang sampai dengan Rp. 600,-/batang, dengan besaran kenaikan tarif Rp. 45,/batang.

72

Ningrum Natasya Sirait, et.al., Loc.cit., hal. 216-217.

4. Persentase kenaikan cukai terbesar adalah pada industri jenis Sigaret Kretek Tangan dan SPT Golongan III dengan batasan harga jual eceran paling rendah Rp. 234,-/batang, yakni sebesar 62,5%. 5. Tarif cukai pada industri sigaret kretek mesin untuk golongan I dan Golongan II naik seluruhnya sama sebesar Rp. 20,- per batang. Persentase kenaikan terendah ada pada Sigaret Kretek Mesin Golongan I dengan harga jual eceran lebih dari Rp. 660,-/perbatang, yakni sebesar 6,89% dan tertinggi pada Sigaret Kretek Mesin Golongan II dengan harga eceran terendah Rp. 374,- sampai dengan Rp. 380,-, yakni sebesar 14,81%. 6. Tarif cukai pada industri sigaret putih mesin naik secara bervariasi. Jumlah kenaikan tarif terbesar adalah pada Sigaret Putih Mesin Golongan I dengan harga jual eceran lebih dari Rp. 450,- sampai dengan Rp. 600,-, dengan kenaikan tarif cukai sebesar Rp. 45,- per batang. Sedangkan terendah pada Sigaret Putih Mesin Golongan I dengan harga juel eceran lebih dari Rp. 660,/batang. Persentase kenaikan terbesar adalah pada Sigaret Putih Mesin Golongan II dengan harga eceran paling rendah Rp. 217,- sampai dengan Rp. 254,-/batang, yakni sebesar 31,25 % dan persentase terenedah pada Sigaret Putih Mesin Golongan I dengan batasan harga jual eceran lebih dari Rp. 600,/batang yakni sebesar 6,89%. 7. Tarif cukai pada industri sigaret kretek tangan dan sigaret putih tangan mengalami kenaikan yang sama yakni sebesar Rp. 15,-/batang, kecuali untuk golongan III dengan harga eceran paling rendah Rp. 234,-/batang naik sebesar Rp. 25,-/batang. Persentase kenaikan terbesar adalah pada Golongan III

dengan harga eceran paling rendah Rp. 234,-/batang, yakni sebesar 62,5% dan persentase terendah pada Sigaret Kretek Tangan atau SPT Golongan I dengan batasan harga jual eceran Rp. 590,-/batang yakni sebesar 7,20%. 8. Tarif cukai pada industri sigaret kretek tanpa filter dan sigaret putih tanpa filter mengalami kenaikan tarif yang sama untuk semua golongan, yakni sebesar Rp. 20,-/batang. Persentase kenaikan terbesar adalah pada Sigaret Kretek Tangan Filter dan Sigaret Putih Tangan Filter Golongan II dengan harga eceran paling rendah Rp. 374,- sampai dengan Rp. 380,-/batang, yakni sebesar 14.81% dan persentase terendah pada Sigaret Kretek Tangan Filter atau Sigaret Putih Tangan Filter Golongan I dengan batasan harga jual eceran Rp. 660,-/batang yakni sebesar 6,89%. 9. Terdapat perbedaan besaran persentase kenaikan berdasarkan Harga Jual Eceran untuk golongan yang sama antara Sigaret Kretek Mesin dan Sigaret Putih Mesin, misalnya untuk Sigaret Putih Mesin Golongan I dengan Harga Jual Eceran lebih dari Rp 660,- besarnya cukai adalah Rp 310,- dengan % sebesar 46.97% sedangkan untuk Sigaret Putih Mesin Golongan I dengan Harga Jual Eceran lebih dari Rp 600,- besarnya cukai Rp 310,- dengan % kenaikan sebesar 51.67 %. Artinya lebih besar beban persentase kenaikan pada Sigaret Putih Mesin dibandingkan Sigaret Kretek Mesin. Kebijakan seperti yang disebutkan di atas lebih berorientasi pada aspek penerimaan negara. Apabila cukai dinaikkan, produksi rokok akan dikurangi tapi penerimaan negara harus ditingkatkan. Kebijakan seperti inilah yang disebut kebijakan simplifikasi tarif atau single tariff.

Pemerintah memutuskan kenaikan cukai hasil tembakau sebesar 7% yang dilaksanakan pada 1 Februari 2009 untuk mengendalikan konsumsi rokok dan mencapai target penerimaan cukai senilai Rp. 53.30 triliun. Kenaikan setoran Industri Hasil Tembakau ini harus dibarengi penurunan konsumsi rokok. Untuk mencapai target tersebut, pemerintah akan menekan pertumbuhan konsumsi rokok di level 5% dengan menaikkan beban cukai rokok rata-rata sebesar 7%. Peraturan tersebut di atas juga mengatur penyederhanaan jumlah golongan pabrik, dari tiga golongan menjadi dua golongan untuk jenis Sigaret Kretek Mesin (SKM) dan Sigaret Putih Mesin (SPM). Untuk jenis Sigaret Kretek Tangan (SKT) tetap terdiri dari tiga golongan. Pemerintah dari waktu ke waktu akan terus melakkukan penyederhanaan golongan pabrik menjadi dua jenis, yakni Sigaret Kretek Mesin dan Sigaret Kretek Tangan. Untuk Sigaret Putih Mesin, akan dimasukkan dalam kategori Sigaret Kretek Mesin.73 Inilah yang disebut simplifikasi tarif atau sama dengan single tariff. Jadi, Industri Hasil Tembakau kecil dipaksa untuk bersaing melawan raksasa Industri Hasil Tembakau.

Berikutnya dapat dilihat penerimaan negara melalui cukai hasil tembakau dari tahun 2005 sampai 2009, sebagai berikut :
Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan Republik Indonesia, “Cukai Rokok Diputuskan Naik 7%”, http://www.fiskal.depkeu.go.id/2010/edef-kontenview.asp?id=20080511101818., diakses pada 30 Agustus 2010.
73

Tabel 4 Target dan Realisasi Penerimaan Cukai Anggaran Pendapatan Belanja Negara 2005-2010
Target Realisasi (Rp. Triliun) (Rp. Triliun) 2005 32.24 33.26 2006 38.52 37.80 2007 42.03 44.70 2008 45.72 51.25 2009 53.30 Sumber : Departemen Keuangan Republik Indonesia, 2010. Tahun Rasio Cukai (Persen) 103.16 98.13 106.35 112.10 -

Dari sisi penerimaan negara, benar bahwa penerimaan negara melalui cukai sangat tinggi dan terealisasi dengan baik. Departemen keuangan sudah bekerja dengan baik sehingga dana tersebut mendapatkan angka yang baik. Namun, tanpa disadari oleh pemerintah kebijakan tersebut dapat menyulitkan Industri Hasil Tembakau untuk bertahan.

2. Departemen Perindustrian dan Perdagangan Departemen Perindustrian dan Perdagangan dalam hal kebijakan tarif cukai hasil tembakau berperan dalam hal merumuskan Roadmap Industri Hasil Tembakau yang merupakan aplikasi dari prioritas atas aspek tenaga kerja, penerimaan dan kesehatan, diantaranya dengan menghilangkan rokok ilegal dan pita cukai palsu. Beredarnya rokok ilegal dan pita cukai palsu berarti tidak ada penerimaan negara dari sektor cukai tembakau. Beredarnya rokok ilegal dan pita cukai palsu yang merupakan hambatan dari penerimaan negara pasti membuat gerah pemerintah, maka Pemerintah melalui Departemen Perindustrian dan Perdangangan mengeluarkan rencana kerja di dalam

Roadmap Industri Hasil Tembakau tersebut yang terbagi dalam beberapa jangka waktu, yaitu74 : a. Tahun 2007-2010 yang merupakan jangka pendek, urutan prioritas pada aspek : tenaga kerja – penerimaan negara – kesehatan. b. Tahun 2010-2015 atau jangka menengah, urutan prioritas pada aspek : penerimaan negara – kesehatan – tenaga kerja. c. Tahun 2015-2020 atau jangka panjang, prioritas pada aspek kesehatan melebihi aspek tenaga kerja dan penerimaan negara. Disamping penerimaan negara menjadi berkurang, persaingan bisnis hasil tembakau juga menjadi tidak sehat karena produk tembakau ilegal bisa menjual dengan harga lebih murah dari yang legal. Bila hal ini terjadi maka jumlah produk hasil tembakau di pasaran meningkat, dan masyarakat dapat memperoleh dengan mudah akibatnya berdampak pada kesehatan masyarakat karena konsumsi tembakau yang meningkat.75 Kerugian negara dari tindak pidana terkait pita cukai palsu yang ditangani Ditjen Bea dan Cukai selama 2009 mencapai sekitar Rp. 1,5 triliun. Kerugian tersebut adalah dari penggerebekan percetakan pita cukai palsu yang dilakukan di seluruh wilayah Indonesia. Peredaran pita cukai palsu tersebut terus meningkat dari tahun ke tahun dengan melihat tabel di bawah ini. Apabila dilihat dari cara memproduksi pita

Departemen Perindustrian Republik Indonesia, “Roadmap Industri Pengolahan Tembakau”, (Jakarta : Direktorat Jenderal Industri Agro dan Kimia, 2009), hal. 21, dalam Ningrum Natasya Sirait, et.al., Op.cit., hal. 203. 75 Ibid., hal. 204.

74

cukai tersebut adalah dengan menjalankan kegiatan pita cukai palsu secara tertutup dengan kedok kegiatan penjualan.76 Tabel 5 Kasus Pita Cukai Palsu dari Tahun 2006 – Juli 2009
Tahun Jumlah Kasus yang Ditangani 2006 31 2007 146 2008 750 2009 415 Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Republik Indonesia, 2010.

Sumber

:

Disini Departemen Perindustrian dan Perdagangan lebih berperan dalam menjaga kestabilan penerimaan negara dalam hal cukai hasil tembakau. Dapat dilihat pada Tabel 5 di atas bahwa proses law enforcement begitu gencar dilakukan oleh Dirjend Bea dan Cukai bersinergi dengan POLRI (Kepolisian Republik Indonesia) dalam melakukan pengawasan pita cukai palsu tersebut. Setiap departemen pemerintahan mempunyai pandangan yang berbeda-beda dalam hal cukai hasil tembakau tersebut dikarenakan ada tugas yang berbeda pula pada setiap departemennya. Perbedaan persepsi yang ada ini tidak mungkin untuk disatukan melihat perbedaan tanggung jawab dan wewenang dari setiap departemen. 3. Departemen Pertanian Pada Departemen Pertanian dalam hal kebijakan tarif cukai hasil tembakau adalah melalui perkembangan dari jumlah lahan yang digunakan dalam pertanian tembakau dan penelitian-penelitian untuk mencari substitusi produk. Departemen

Antara News, “Pita Cukai Palsu Rugikan Negara Rp. 1,5 Triliun”, Rabu, 29 Juli 2009, http://www.antaranews.com/berita/1248854047/pita-cukai-palsu-rugikan-negara-rp1-5-triliun., diakses pada 30 Agustus 2010.

76

Pertanian mendukung sepenuhnya perkembangan lahan dan penelitian mengenai pengembangan tembakau tersebut. Isu strategis untuk komoditas tembakau adalah ditetapkannya rokok sebagai salah satu industri prioritas. Industri rokok di Indonesia menggunakan 80% bahan baku tembakau lokal. Tembakau cerutu merupakan komoditas ekspor yang sudah terkenal sejak lama. Areal pertanaman tembakau setiap tahun mencapai 220.000 ha, sekitar 60% di Jawa Timur, selebihnya tersebar di Sumatera Utara, Jawa Barat, Jawa Tengah, Bali, dan Nusa Tenggara Barat. Pada umumnya tembakau diusahakan oleh petani berskala kecil, hanya sebagian yang diusahakan oleh Badan Usaha Milik Negara dan Perusahaan Swasta.77 Sumbangan tembakau terhadap pendapatan petani dan negara cukup besar. Usaha tani dan industri tembakau dapat menghidupi 10 juta jiwa yang meliputi 4 juta petani, 600.000 orang tenaga kerja di pabrik-pabrik rokok, 4,5 juta orang yang terlibat dalam perdagangan, dan 900.000 orang terlibat dalam transportasi dan periklanan. Tembakau memberikan sumbangan pendapatan negara dalam bentuk cukai dan devisa dari ekspor tembakau. Kendala-kendala yang dihadapi dalam pengembangan tembakau adalah rendahnya produktivitas dan beragamnya mutu yang dihasilkan, serta tekanan masyarakat internasional terkait isu kesehatan.78 Oleh karena itu Departemen Pertanian menggalakkan penelitian yang diarahkan pada peningkatan produktivitas dan mutu tembakau serta mengurangi

Balittas, “Status Komoditi Tembakau”, Departemen Pertanian, http://balittas.litbang.deptan.go.id/ind/index.php?option=com_content&view=category&id=56&Itemid =60., diakses pada 30 Agustus 2010. 78 Ibid.

77

senyawa-senyawa yang mempengaruhi kesehatan perokok misalnya kandungan nikotin yang lebih rendah.79 Apabila dilihat dari sisi petani tembakau, tembakau sebagai tanaman industri yang merupakan pilihan oleh petani dalam berusaha tani. Pilihan yang dipilih petani tersebut didasarkan pada pemikiran dan kondisi yang sangat rasional dan menguntungkan. Petani pada prinsipnya tidak memilih menanam komoditas tembakau apabila tanaman tersebut tidak memberikan keuntungan.80 Pemilihan petani berusaha tani tembakau mendapatkan perlindungan dari Undang-Undang No. 12 Tahun 1992 tentang Sistem Budidaya Tanaman. Dalam Pasal 6 Ayat (1) menyebutkan bahwa : ”Petani memiliki kebebasan untuk menentukan pilihan jenis tanaman dan pembudidayaannya”.81 Berdasarkan pada Undang-Undang No. 12 Tahun 1992 tentang Sistem Budidaya Tanaman, hak-hak petani sebagai seorang warga negara mendapat perlindungan hukum. Seperti diketahui bahwa berbagai jenis tanaman memiliki sifat lokal dan spesifik, misalnya kelapa sawit kurang sesuai ditanam di Pulau Jawa. Demikian juga dengan tembakau memiliki sifat dan lokalisasi dan spesifik. Artinya, tanaman ini sangat sesuai apabila ditanam pada wilayah-wilayah tertentu, seperti Madura, Bojonegoro, Besuki, Sleman, Temanggung, Deli, Lombok, dan lainnya. Sifat yang lokal dan spesifik tersebut sangat sesuai dengan pola tanam yang telah

Ibid. Direktorat Jenderal Perkebunan, “Perlu Dikembangkan Tembakau Rendah Nikotin & Tar Untuk Mengurangi Dampak Rokok Terhadap Kesehatan”, http://ditjenbun.deptan.go.id/web.old//index.php?option=com_content&task=view&id=303&Itemid=6 2., diakses pada 30 Agustus 2010. 81 Undang-Undang No. 12 Tahun 1992 tentang Sistem Budidaya Tanaman, Lembaran Negara Republik Indonesia No. 46, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia No. 3478.
80

79

dilaksanakan oleh para petani di masing-masing lokasi penanaman tembakau. Oleh karena itu, sangat naif sekali apabila petani diminta untuk mengurangi atau mengendalikan tanaman tembakau. Apabila hal ini dilakukan maka perusahaanperusahaan rokok akan mengalami kesulitan dalam bahan baku untuk membuat rokok. Kesulitan bahan baku tersebut akan dipenuhi dengan melakukan impor daun tembakau, yang pada akhirnya dapat mengurangi devisa negara.82 Jika sudah mengancam pengurangan devisa negara, pastilah pemerintah sudah mulai mengambil sikap untuk mempertahankan penerimaan negara tersebut. Pengurangan devisa berasal dari masuknya barang impor ke dalam negeri. Berbagai upaya ditempuh untuk menggalakkan kembali pertanian tembakau, salah satunya adalah dengan mengembangkan penelitian terhadap tembakau rendah nikotin dan tar untuk mengurangi dampak rokok terhadap kesehatan.

C. Kebijakan Tarif Cukai Hasil Tembakau di Indonesia Dilihat Dari Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBH CHT) dan Peruntukannya Setelah dana cukai hasil tembakau dikutip selanjutnya akan dikumpulkan oleh pemerintah untuk dikembalikan kembali kepada masyarakat, disebut Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBH CHT)). Semua peraturan yang diterapkan dalam pembagian ini ditetapkan oleh Peraturan Menteri Keuangan. Dimulai dari cukai hasil tembakau dan dasar pembagian kepada daerah. Sedangkan untuk penggunaan Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBH

82

Direktorat Jenderal Perkebunan, Loc.cit.

CHT) hanya diketahui oleh daerah masing-masing karena penggunaannya menggunakan metode block grant.83 Pada tahun 2009 anggaran yang ditetapkan pemerintah dalam alokasi dana bagi hasil cukai hasil tembakau adalah sebesar Rp. 964 miliar lebih, untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Peraturan Menteri Keuangan No. 85/PMK.07/2009 tentang Alokasi Sementara Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau Tahun Anggaran 2009. Tabel 6 Penetapan Alokasi Sementara Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau Tahun Anggaran 2009
No. I 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. 19. 20. 21. 22. 23. Daerah
Provinsi Sumatera Utara

Kab. Asahan Kab. Dairi Kab. Deli Serdang Kab. Karo Kab. Labuhan Batu Kab. Langkat Kab. Mandailing Natal Kab. Nias Kab. Simalungun Kab. Tapanuli Selatan Kab. Tapanuli Tengah Kab. Tapanuli Utara Kab. Toba Samosir Kota Binjai Kota Medan Kota Pematang Siantar Kota Sibolga Kota Tanjung Balai Kota Tebing Tinggi Kota Padang Sidempuan Kab. Pakpak Bharat Kab. Nias Selatan
Kab. Humbang Hasundutan
83

Jumlah 1.193.498.600 41.155.200 41.155.200 41.155.200 41.155.200 41.155.200 41.155.200 41.155.200 41.155.200 41.155.200 41.155.200 41.155.200 41.155.200 41.155.200 41.155.200 426.078.400 1.208.660.600 41.155.200 41.155.200 41.155.200 41.155.200 41.155.200 41.155.200 41.155.200

No. 14. 15. 16. 17. 18. 19. 20. 21. 22. 23. 24. 25. 26. 27. 28. 29. 30. 31. 32. 33. 34. 35. IV.

Daerah Kab. Klaten Kab. Kudus Kab. Magelang Kab. Pati Kab. Pekalongan Kab. Pemalang Kab. Purbalingga Kab. Purworejo Kab. Rembang Kab. Semarang Kab. Sragen Kab. Sukoharjo Kab. Tegal Kab. Temanggung Kab. Wonogiri Kab. Wonosobo Kota Magelang Kota Pekalongan Kota Salatiga Kota Semarang Kota Surakarta Kota Tegal Total Prov. JATENG
Provinsi D.I. Yogjakarta

Jumlah 5.208.380.679 70.825.701.253 3.343.769.279 4.574.257.602 2.551.070.667 2.538.495.874 3.376.486.400 2.555.339.464 2.491.600.180 2.909.634.764 2.640.937.713 2.772.201.919 3.084.378.575 8.589.695.352 2.483.494.026 3.776.362.073 2.468.701.775 3.294.158.494 3.354.690.119 8.204.835.400 2.764.989.068 2.551.471.647 282.458.370.000 2.534.358.000

Block Grant adalah sejumlah dana berupa uang yang diberikan oleh Pemerintah Pusat kepada Pemerintah Daerah dengan memenuhi persyaratan terlebih dahulu untuk menggunakan uang tersebut. Dalam kajian ini block grant dapat digunakan oleh Pemerintah Daerah dengan ketentuan 0,5% dari jumlah yang ditransfer oleh Pemerintah Pusat harus digunakan untuk sektor pendidikan. Wawancara dengan Kepala Dinas Pendapatan Daerah, Medan, 25 Agustus 2010 di Kantor Dinas Pendapatan Daerah Provinsi Sumatera Utara.

41.155.200 1. Kab. Bantul 1.689.572.000 41.155.200 2. Kab. Gunung Kidul 844.786.000 41.155.200 3. Kab. Kulon Progo 1.267.179.000 41.155.200 4. Kab. Sleman 1.182.700.400 Kab. Labuhan Batu Selatan 41.155.200 5. Kota Yogjakarta 929.264.600 Total Prov. D.I. YOGJA Kab. Padang Lawas Utara 41.155.200 8.447.860.000 Kab. Padang Lawas 41.155.200 V. Provinsi Jawa Timur 179.807.154.000 Total Prov. SUMUT 3.978.330.000 1. Kab. Bangkalan 4.827.991.000 2. Kab. Banyuwangi 5.077.844.000 II. Provinsi Jawa Barat 21.168.078.000 1. Kab. Bandung 827.398.867 3. Kab. Blitar 8.147.131.000 2. Kab. Bekasi 17.527.734.661 4. Kab. Bojonegoro 16.180.107.000 3. Kab. Bogor 814.156.846 5. Kab. Bondowoso 8.310.589.000 4. Kab. Ciamis 815.416.522 6. Kab. Gresik 4.931.230.000 5. Kab. Cianjur 815.900.699 7. Kab. Jember 8.881.538.000 6. Kab. Cirebon 1.762.779.429 8. Kab. Jombang 8.665.564.000 7. Kab. Garut 823.344.814 9. Kab. Kediri 40.439.736.000 8. Kab. Indramayu 814.156.846 10. Kab. Lamongan 7.471.848.000 9. Kab. Karawang 5.535.032.242 11. Kab. Lumajang 5.767.563.000 10. Kab. Kuningan 814.597.634 12. Kab. Madiun 5.868.054.000 11. Kab. Majalengka 815.260.916 13. Kab. Magetan 5.409.331.000 12. Kab. Purwakarta 814.156.846 14. Kab. Malang 26.309.449.000 13. Kab. Subang 814.156.846 15. Kab. Mojokerto 6.279.890.000 14. Kab. Sukabumi 814.156.846 16. Kab. Nganjuk 8.693.462.000 15. Kab. Sumedang 819.525.517 17. Kab. Ngawi 7.625.025.000 16. Kab. Tasikmalaya 819.095.531 18. Kab. Pacitan 5.491.580.000 17. Kota Bandung 814.717.067 19. Kab. Pamekasan 18.505.921.000 18. Kota Bekasi 814.156.846 20. Kab. Pasuruan 39.087.881.000 19. Kota Bogor 814.174.038 21. Kab. Ponorogo 5.828.686.000 20. Kota Cirebon 6.582.136.601 22. Kab. Probolinggo 10.549.339.000 21. Kota Depok 814.156.846 23. Kab. Sampang 6.288.888.000 22. Kota Sukabumi 814.156.846 24. Kab. Sidoarjo 9.579.298.000 23. Kota Cimahi 814.156.846 25. Kab. Situbondo 5.541.379.000 24. Kota Tasikmalaya 815.182.169 26. Kab. Sumenep 13.321.702.000 25. Kota Banjar 818.011.052 27. Kab. Trenggalek 5.548.492.000 26. Kab. Bandung Barat 814.462.627 28. Kab. Tuban 6.190.436.000 Total Prov. JABAR 70.560.260.000 29. Kab. Tulungagung 10.765.363.000 5.476.281.000 III. Provinsi Jawa Tengah 84.737.511.000 30. Kota Blitar 1. Kab. Banjarnegara 2.457.318.751 31. Kota Kediri 41.053.938.000 2. Kab. Banyumas 2.511.354.331 32. Kota Madiun 4.918.193.000 3. Kab. Batang 3.223.109.285 33. Kota Malang 17.628.730.000 4. Kab. Blora 3.467.162.799 34. Kota Mojokerto 5.468.411.000 5. Kab. Boyolali 3.425.770.857 35. Kota Pasuruan 5.605.436.000 6. Kab. Brebes 2.498.146.883 36. Kota Probolinggo 4.840.917.000 7. Kab. Cilacap 2.639.202.510 37. Kota Surabaya 13.877.089.000 8. Kab. Demak 6.026.330.489 35. Kota Batu 5.077.714.000 9. Kab. Grobogan 5.035.985.688 Total Prov. JATENG 599.357.180.000 10. Kab. Jepara 2.693.632.118 11. Kab. Karanganyar 5.662.862.425 12. Kab. Kebumen 2.576.797.667 TOTAL 964.802.000.000 13. Kab. Kendal 9.142.532.869 Sumber : Lampiran Peraturan Menteri Keuangan No. 85/PMK.07/2009 tetang Alokasi Sementara Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau Tahun Anggaran 2009

24. 25. 26. 27. 28. 29. 30.

Kab. Serdang Bedagai Kab. Samosir Kab. Batu Bara Kab. Labuhan Batu Utara

Dapat dilihat pada tabel di atas bahwa pemerataan pembagian Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBH CHT) telah tercapai (di mata pemerintah), jika memandang dari perspektif petani tembakau ataupun Industri Hasil Tembakau maka pembagian seperti itu adalah tidak adil bagi daerah penghasil tembakau. Keadaan inilah yang membuat situasi dan kondisi Industri Hasil Tembakau di Indonesia saling tarik menarik antara kebijakan pemerintah dengan Industri Hasil Tembakau. Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBH CHT) tersebut di atas diberikan melalui transfer ke rekening masing-masing daerah melalui Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan yang dibawah Departemen Keuangan yang dipimpin oleh Menteri Keuangan dengan dasar Peraturan Menteri Keuangan No. 126/PMK.07/2010 tentang Pelaksanaan dan Pertanggungjawaban Anggaran Transfer ke Daerah.
84

Pada Pasal 21 ketentuan ini menyebutkan bahwa pelaksanaan

Peraturan Menteri Keuangan No. 126/PMK.07/2010 tentang Pelaksanaan dan Pertanggungjawaban Anggaran Transfer ke Daerah, Berita Negara Republik Indonesia Nomor 343, Pasal 21 menyebutkan bahwa : (1) Penyaluran DBH CHT dilaksanakan secara triwulanan, dengan rincian sebagai berikut : a. Triwulan I dilaksanakan bulan Maret sebesar 20% (dua puluh persen) dari alokasi sementara; b. Triwulan II dilaksanakan bulan Juni sebesar 30% (tiga puluh persen) dari alokasi sementara; c. Triwulan III dilaksanakan bulan September sebesar 30% (tiga puluh persen) dari alokasi dana sementara; dan d. Triwulan IV dilaksanakan bulan Desember sebesar selisih antara alokasi definitif dengan jumlah dana yang telah disalurkan pada triwulan I, triwulan II, dan triwulan III. (2) Penyaluran triwulan I dilakukan setelah Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan menerima laporan konsolidasi penggunaan dana atas pelaksanaan kegiatan DBH CHT semester II tahun anggaran sebelumnya dari Gubernur; (3) Penyaluran triwulan III dilakukan setelah Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan menerima laporan konsolidasi penggunaan dana atas pelaksanaan kegiatan DBH CHT semester I tahun berjalan dari Gubernur. (4) Dalam hal laporan konsolidasi penggunaan dana atas pelaksanaan kegiatan DBH CHT sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan ayat (3) menunjukkan tidak adanya realisasi penggunaan, penyaluran DBH CHT ditunda sampai dengan disampaikannya laporan konsolidasi penggunaan dana atas pelaksanaan kegiatan DBH CHT.

84

penyaluran Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBH CHT) dilakukan triwulanan. Penyaluran Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBH CHT) tersebut akan dilakukan apabila telah disampaikannya laporan konsolidasi, yaitu laporan penggunaan dana yang tandatanganin oleh Gubernur. Penggunaan Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBH CHT) tersebut dapat dilihat pada Peraturan Menteri Keuangan No. 84/PMK.07/2008 tentang Penggunaan Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau dan Sanksi Atas Penyalahgunaan Alokasi Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau, pada Pasal 2 peraturan ini menyebutkan bahwa : 1. “Penggunaan dana bagi hasil cukai hasil tembakau sebagaimana dimaksud dalam Pasal 66A ayat (1) Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1995 tentang Cukai sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2007, digunakan untuk mendanai kegiatan : a. Peningkatan kualitas bahan baku; b. Pembinaan industri; c. Pembinaan lingkungan sosial; d. Sosialisasi ketentuan di bidang cukai; dan/atau e. Pemberantasan barang kena cukai ilegal. 2. Gubernur/bupati/walikota bertanggung jawab untuk menggerakkan, mendorong, dan melaksanakan kegiatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sesuai dengan prioritas dan karakteristik daerah masing-masing”.

Dalam peraturan penggunaan Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBH CHT) seluruhnya digunakan untuk menanggulangi permasalahan yang timbul dari tembakau tersebut, seperti para petani yang kesulitan bibit dan pupuk harus diberikan jalan keluar dengan cara memberikan bibit dan pupuk gratis melalui Dinas Pertanian masing-masing daerahnya. Cara yang lebih real lagi adalah dengan memberikan para petani tembakau tersebut informasi mengenai daftar harga pasaran dari tembakau

agar petani tidak menjual dengan harga yang sudah ditentukan oleh Industri Hasil Tembakau tersebut (tengkulak). Dalam hal penggunaan Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBH CHT) untuk pembinaan Industri Hasil Tembakau dilakukan dengan cara memberikan kemudahan dalam pengurusan izin-izin terkait usaha industri rokok tersebut. Apabila Industri Hasil Tembakau ingin mengekspor produksinya banyak sekali tahapantahapan yang harus dilaluinya, seperti pembuatan Nomor Registrasi Produk (NRP). Pembuatan Nomor Registrasi Produk tersebut harus menggunakan Tanda Daftar Perusahaan (TDP) dan Izin Usaha Industri (IUI) yang dikeluarkan oleh Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi. Pengurusan izin terkait ekspor tersebut memiliki hambatan dalam hal pungutan liar yang dilakukan oleh para pegawaipegawai Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi (Depperindag). Setelah izinizin tersebut selesai dikeluarkan oleh Dinas Perindustrian dan Perdagangan, belum bisa digunakan untuk mengekspor masih ada lagi pengurusan Nomor Registrasi Produk di pusat. Hal ini yang membuat para pengusaha Industri Hasil Tembakau kesulitan dalam mengekspor produk mereka. Dalam pembahasan bab ini ditemukan bahwa ada pandangan yang berbedabeda dari setiap departemen pemerintah terkait dengan kebijakan tarif cukai hasil tembakau. Namun keadaan seperti ini diluruskan kembali oleh pemerintah dengan mengeluarkan Roadmap Tembakau 2007 – 2020 dengan pembangunan bertahapnya.

BAB III PENGARUH KEBIJAKAN TARIF TERHADAP INDUSTRI HASIL TEMBAKAU DI SUMATERA UTARA

A. Pengaruh Kebijakan Tarif Cukai Hasil Tembakau Kebijakan tarif cukai tembakau yang diterapkan pemerintah melalui Peraturan Menteri Keuangan berpengaruh kepada industri rokok itu sendiri, masyarakat, dan negara. Pada industri rokok terbagi 2 (dua) yaitu : a) Perusahaan besar tembakau; dan b) Perusahaan tembakau dalam negeri. Pengaruhnya terhadap masyarakat berkaitan dengan tenaga kerja dan efek yang ditimbulkan dari hilangnya lapangan pekerjaan. Pengaruh terhadap pendapatan negara adalah bahwa kebijakan tarif tersebut meningkatkan penerimaan negara dalam bentuk pendapatan melalui cukai. Adapun pengaruh tersebut di atas, antara lain :

1. Industri Rokok Industri Hasil Tembakau adalah sama dengan industri rokok yang artinya adalah kumpulan perusahaan yang sangat berbeda ukuran dan makna atau pengaruhnya. Ada yang bersifat lokal atau nasional, ada yang dimiliki pemerintah, namun yang paling besar dan berkuasa adalah beberapa perusahaan multinasional yang memiliki usaha pada skala global. Seperti perusahaan lain, mereka berjuang meningkatkan pangsa pasar dan keuntungan untuk kepentingan para pemegang

sahamnya. Tidak heran, industri rokok sangat kuat menentang semua upaya yang dirancang untuk mengurangi konsumsi tembakau. Penolakan mereka bisa terbuka dan diketahui oleh masyarakat luas. Namun, seringkali akan lebih berbahaya bila bersifat tidak langsung dan tersembunyi.85

a. Perusahaan Besar Tembakau Di samping China, yang menyerap sepertiga lebih konsumsi rokok dunia, perdagangan tembakau dunia selebihnya didominasi oleh sejumlah kecil perusahaan tembakau multi nasional. Perusahaan multi nasional yang terbesar adalah Philip Morris International, British American Tobacco (BAT), dan Japan Tobacco International.86 Phillip Morris International mencakup kegiatan internasional perusahaan Philip Morris asli, si pembuat merek rokok yang paling besar penjualannya di dunia yaitu Marlboro. Perusahaan induk Philip Morris adalah Altria yang masih menjadi pemilik perusahaan yang berada di Amerika yakni Philip Morris Amerika Serikat. Hasil penjualan rokok Philip Morris International yang merek utamanya adalah Marlboro dan L&M, mencapai 63 miliar dollar AS pada tahun 2008. Pendapatan tersebut lebih besar daripada seluruh kegiatan ekonomi di banyak negara berpendapatan rendah.87

John Crofton dan David Simpson, Tembakau : Ancaman Global, diterjemahkan oleh Angela N. Abidin, et.al., (Jakarta : Elex Media Komputindo, 2009), hal. 135. 86 Ibid., hal. 137. 87 Ibid., hal. 138.

85

Dua perusahaan internasional raksasa lainnya adalah British American Tobacco (BAT) yang merek dunianya mencakup Dunhill, Lucky Strike, dan Pall Mall; dan Japan Tobacco International (JTI) dengan merek Winston, Camel, Mild Seven, Benson & Hedges.88 China memiliki sekitar seperempat perokok dunia, yang menghisap sekitar sepertiga dari rokok dunia. Pangsa pasarnya begitu besar hingga seorang eksekutif tembakau di Barat mencoba memikirkan statistik merokok orang China seperti memikirkan batas ruang angkasa. Sejauh ini, perusahaan tembakau paling besar adalah Chinese National Tobacco Corporation, namun beberapa perusahaan patungan dengan perusahaan asing telah terbentuk pada tahun-tahun terakhir.89 Tabel 7 Perusahaan Tembakau Teratas Tahun 1999
No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. 19. 20. 21. Nama Perusahaan Perusahaan Nasional Tembakau China Philip Morris British American Tobacco (BAT) Japan Tobacco Tabakprom Altadis RJ Reynolds KT & G Tekel Reemtsma Gudang Garam ITC AAMS Imperial Tobacco Lorillard TTM Gallaher Fortune Tobacco HM Sampoerna Austria Tobacco Taiwan Monopoly
88 89

Pusat Cina Amerika Serikat Inggris Jepang Rusia Prancis/Spanyol Amerika Serikat Korea Selatan Turkey Jerman Indonesia India Italia Inggris Amerika Serikat Thailand Inggris Filipina Indonesia Austria Taiwan

Jumlah Produksi (miliar batang rokok) > 1.600 > 800 < 400 < 100 < 100 < 100 < 100 < 100 < 100 < 100 < 100 < 100 < 100 < 100 < 100 < 100 < 100 < 100 < 100 < 100 < 100

Ibid. Ibid.

Sumber

:

Goldman Sachs Global Equity Reasearch, dalam John Crofton dan David Simpson, Tembakau : Ancaman Global, diterjemahkan oleh Angela N. Abidin, et.al., (Jakarta : Elex Media Komputindo, 2009), hal. 138.

Dalam 50 tahun terakhir, upaya aktivis kampanye anti tembakau telah menghasilkan penurunan pasar tembakau di Amerika Utara, Eropa (khususnya Eropa Selatan) dan Australia. Sebagai jawabannya, perusahaan multinasional telah beralih membangun pasarnya di negara sedang berkembang dan di pasar yang baru dibuka di Eropa Tengah dan Timur serta bekas Uni Soviet. Berkembangnya ekonomi di beberapa negara Asia begitu menarik. Angka merokok yang rendah di kalangan perempuan di banyak negara sedang berkembang dipandang sebagai peluang besar untuk perluasan pasar, menggunakan iklan dan taktik promosi lainnya.90

b. Perusahaan Tembakau Dalam Negeri Khususnya Sumatera Utara Di Indonesia industri rokok dikuasai oleh perusahaan-perusahaan besar seperti PT. Bentoel Internasional Investama, Tbk., PT. HM. Sampoerna, Tbk., Gudang Garam, dan lain sebagainya. Sedangkan di Sumatera Utara, perusahaan rokok yang tersisa saat sekarang ini, antara lain : PT. Stabat Industri; PT. Pagi Tobacco Company; PT. Sumatera Tobacco Trading Company; PT. Senang Jaya; PT. Wongso Prawiro; dan PT. Permona. Setelah cukai tembakau dinaikkan rata-rata 7%, perusahaan-perusahaan rokok yang ada di Sumatera Utara mengalami dampak yang berbeda antara satu dengan

90

Ibid., hal. 139.

yang lain. Namun, tetap memiliki satu esensi yaitu takut kehilangan konsumen mereka. Pada rokok kelas menengah bawah atau Golongan III sangat sensitif terhadap perubahan harga. Disini berlaku teori ekonomi bahwa apabila harga naik maka akan terjadi substitusi produk. Enam perusahaan yang ada di Sumatera Utara adalah termasuk ke dalam Golongan III. Jika dibandingkan dengan Golongan I dan Golongan II, konsumennya memiliki loyalitas yang tinggi terhadap produk tersebut. Persaingan pasar rokok pada Golongan III sangat ketat karena terlalu banyak perusahaan rokok yang berkembang tanpa terdaftar dan diketahui oleh pemerintah. Belum lagi disebabkan oleh peredaran cukai palsu yang merugikan negara. Perusahaan rokok yang tidak terdaftar tadi menggunakan cukai palsu tersebut untuk mengedarkan dan menjual produknya. Dengan begitu produk tersebut sudah pasti murah dan menjadi substitusi produk.91 Saat ini produsen Golongan III (segmentasi bawah), kondisi kenaikan cukai membuat sulit untuk berusaha. Saat ini harga produk mereka dijual paling murah Rp. 2.500,- per bungkus. Dengan adanya Harga Jual Eceran (HJE) yang baru, akan memaksa mereka untuk menaikkan harga rokok jualannya. Padahal, dalam hal ini rokok ilegal dijual dengan kisaran harga Rp. 2.000,- s/d Rp. 2.500,- per bungkusnya. Dapat dikatakan permintaan rokok kelas bawah lebih elastis terhadap perubahan harga, berubah saja harga maka akan direspon dengan penurunan permintaan. Konsumen juga akan beralih pada rokok ilegal, sebagai barang substitusinya.92

91 92

Ningrum Natasya Sirait, et.al., Op.cit., hal. 157. Ibid.

Kondisi tersebut berbeda dengan kelas menengah dan kelas atas. Pada konsumen level ini, mereka lebih memiliki loyalitas terhadap produk. Merokok jenis tertentu adalah merupakan hal yang tidak bisa dicari substitusinya. Hal yang demikian membuat produsen rokok Golongan I dan Golongan II dapat membebankan cukainya kepada konsumen.93 Pada kondisi tersebut di atas posisi produsen rokok Golongan III menaikkan harga jual akan ditinggal konsumen, sedangkan menurunkan harga jual akan dapat membuat perusahaan tidak mampu menutup biaya produksi dan akhirnya bangkrut atau mati dengan sendirinya. Selain dari beban cukai yang menyulitkan industri rokok di Sumatera Utara, Industri Hasil Tembakau di Sumatera Utara juga dipersulit lagi dengan kelangkaan bahan baku atau tembakau lokal. Tingginya biaya produksi akibat bahan baku harus dipasok dari Pulau Jawa dapat mengancam keberadaan industri rokok di daerah ini.94 Target produksi rokok Sumatera Utara pada 2009 mencapai 1,8 miliar batang atau turun dari tahun sebelumnya sebesar 2 miliar batang. Selain itu, industri rokok juga harus menghadapi kenaikan biaya produksi rokok juga harus menghadapi kenaikan harga biaya produksi hingga mencapai 10% dari tahun lalu. Padahal harga produk tidak mungkin disesuaikan karena pertimbangan daya beli masyarakat, serta persaingan ketat rokok asal luar negeri, baik legal maupun ilegal. Gencarnya anjuran

Ibid. Eva Simanjuntak, “Industri Rokok Sumut Terancam”, Harian Global, http://www.harianglobal.com/index.php?option=com_content&view=article&id=20448:industri-rokok-sumutterancam&catid=27:bisnis&Itemid=59., diakses pada 31 Agustus 2010.
94

93

pemerintah akan bahaya rokok terhadap kesehatan, berpengaruh besar pada permintaannya.95 Ironisnya, pemerintah setempat belum memberikan perhatian serius sehingga kalangan industri rokok di daerah menjadi resah. Sementara, dukungan pemerintah sangat dibutuhkan untuk menjaga eksistensi industri padat karya. Dapat dikatakan peran pemerintah tidak ada. Padahal, ada Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBH CHT) yang harus dialokasikan untuk mendorong pertumbuhan industri rokok.96 Adanya Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBH CHT) untuk mendorong pertumbuhan industri rokok tersebut seharusnya dialokasikan sebenarbenarnya untuk meningkatkan sektor pertanian tembakau. Memang, benar adanya bahwa dana yang dialokasikan ke Provinsi Sumatera Utara sebesar Rp. 1.558.056.950,- untuk Bulan Juli 2010 pada pembagian tahun 2010. Penggunaan Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBH CHT) tersebut masih tidak jelas keberadaannya apakah digunakan dengan metode block grant ataukah untuk kegiatan sosialisasi, pemberantasan cukai ilegal, pembinaan bahan baku dan pembinaan industri rokok seperti yang diamanatkan Peraturan Menteri Keuangan No. 84/PMK.07/2008 tentang Penggunaan Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau dan Sanksi Atas Penyalahgunaan Alokasi Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau.

95 96

Ibid. Ibid.

Belum lagi masalah pekerja yang teranjam menganggur karena kenaikan cukai yang menyulitkan industri rokok. Bila pemerintah memberlakukan Roadmap Industri Hasil Tembakau 2007-2020 maka sudah pasti para pekerja rokok yang jumlahnya ribuan bahkan jutaan orang pada jangka waktu 2015-2020 akan habis dan industri rokok akan tutup. Hal ini karena pemerintah lebih mementingkan aspek kesehatan daripada aspek tenaga kerja dan penerimaan negara. Dalam hal kenaikan cukai yang baru sudah mulai terjadi gejolak seperti aksi unjukrasa di Jawa. Bisa saja aksi serupa turut terjadi di daerah-daerah lainnya yang ada pabrik rokok. Pada tahun 2008, ada satu perusahaan rokok yang tutup akibat dari kenaikan cukai tembakau. Sedangkan pada tahun 2010 akan terancam dua perusahaan rokok akan menyusul bankrut. Dengan demikian, ribuan pekerja rokok di Sumatera Utara pasti akan kehilangan pekerjaan dan menjadi pengangguran.97

2. Masyarakat Dengan tutupnya perusahaan rokok tadi, maka jumlah pengangguran juga akan meningkat mengikuti ketersediaan pekerjaan yang ada. Berbicara mengenai industri rokok maka akan selalu ada kelompok yang pro dan kontra karena industri rokok adalah industri yang kontroversial. Di satu pihak industri rokok menyerap banyak tenaga kerja, memberikan pemasukan cukai terbesar (sekitar 95%) kepada pemerintah Indonesia sebagai pendapatan negara, namun industri rokok juga

“Tolak Kenaikan Cukai, Ribuan Pekerja Rokok Terancam Jadi Pengangguran”, http://beritasore.com/2009/12/08/tolak-kenaikan-cukai-ribuan-pekerja-rokok-terancam-jadipengangguran/., diakses pada 31 Agustus 2010.

97

menimbulkan beberapa kerugian seperti penyakit yang ditimbulkan baik untuk perokok aktif maupun perokok pasif, sampah puntung rokok yang semakin banyak akan mengotori lingkungan, dan rokok dapat mengantarkan rakyat miskin ke jurang kehancuran. Oleh karena itu, tentunya social cost yang ditimbulkan dari rokok tidaklah murah.98 Walaupun industri tembakau mampu menyerap tenaga kerja dan mengurangi pengangguran, tetapi kualitas kesejahteraan pekerja industri rokok tergolong buruh, upah yang diterima oleh para pekerja hanya cukup untuk membiayai kebutuhan hidup sehari-hari, tidak termasuk untuk menabung dan membiayai pendidikan anakanaknya. Tetapi tidak banyak para pekerja yang mengeluhkan baik upah maupun tingkat kesejahteraan mereka, karena lebih memilih bekerja dengan upah yang kecil tetapi memiliki kontinuitas yang tetap ketimbang menjadi pengangguran atau bekerja yang memiliki kelanjutan yang jelas dan tetap.99 Salah satu kerugian yang ditimbulkan oleh rokok terhadap masyarakat adalah membuat rakyat miskin menjadi lebih miskin lagi. Karena harus mengeluarkan biaya untuk mengobati kesehatan yang diperburuk akibat merokok. Orang yang sakit harus ke dokter, setelah menemui dokter harus membeli obat, jika penyakit bertambah parah maka pengobatan berlangsung ke rumah sakit setempat atau di daerahnya. Dalam kata-kata merokok dapat ”mengantar rakyat miskin ke dalam jurang kehancuran” mengandung maksud bahwa rokok memakan atau menghabiskan cukup

Rissabela, “Industri Rokok : Fakta Industri Rokok http://rissabela.wordpress.com/industri-rokok/., diakses pada 31 Agustus 2010. 99 Ibid.

98

di

Indonesia”,

banyak biaya dari anggaran rumah tangga setiap keluarga yang anggota keluarganya ada yang menjadi perokok aktif. Dapat dibayangkan apabila salah satu anggota keluarga merokok 5 batang per harinya. Jika dalam satu keluarga yang merokok terdapat 2 – 3 orang, maka tambahan total pengeluaran untuk rokok menjadi 2 – 3 kali lipatnya. Sedangkan pada faktanya dan didukung dengan Survei yang dilakukan oleh World Trade Organization menunjukkan bahwa pria yang tidak sekolah atau tidak tamat SD merupakan jumlah perokok terbanyak. Makin tinggi tingkat pendidikan seseorang maka akan lebih mudah orang tersebut untuk memahami dan mengerti dampak dari merokok.100 Hasil penelitian menunjukkan bahwa hampir 70% perokok Indonesia mulai merokok sebelum berumur 19 tahun. Banyaknya perokok pemula di kalangan anakanak dan remaja mungkin karena mereka belum mampu menimbang bahaya merokok bagi kesehatan dan dampak adiktif yang ditimbulkan nikotin. Perokok mungkin beranggapan bahwa diri sendirilah yang menanggung semua bahaya dan resiko akibat kebiasaan merokok, tanpa menyadari bahwa sebenarnya mereka juga memberikan beban fisik dan ekonomi pada orang lain di sekitarnya sebagai perokok pasif.101 Tapi terkadang bagi orang yang tidak merokok merasa seperti dikucilkan oleh teman-teman yang merokok dan dikatakan ”banci” oleh orang yang merokok atau dikatakan ”kurang gaul”. Orang perokok itu pada awalnya hanya coba-coba saja, hanya ingin menghormati teman yang memberikan rokok karena semua teman dalam kelompok itu merokok, karena stress banyak masalah, karena agar dianggap gaya,
Ibid. S. Riyanto, “Rokok dan Pengaruhnya Dalam Kehidupan Masyarakat”, http://padangtoday.com/index.php?today=article&j=6&id=704., diakses pada 31 Agustus 2010.
101 100

dan lain sebagainya. Orang yang menghisap benda beracun tersebut bukan saja orang dewasa yang sudah bekerja tetapi anak-anak usia sekolah juga menikmatinya. Terkadang di sekolah diterapkan peraturan bagi siswanya dilarang merokok di dalam kelas maupun di lingkungan sekolah, tetapi gurunya sendiri terkadang memberi contoh dengan merokok di depan kelas ketika mengajar. Padahal seorang guru itu adalah orang yang harus dicontoh dan ditiru setiap perkataan dan tindakannya. Karena seorang guru itu merupakan panutan bagi setiap siswa di sekolahnya.102 Terkadang orang tua melarang anaknya merokok, tapi orang tuanya sendiri merupakan perokok berat. Tidak mudah untuk bisa berhenti merokok bagi seorang perkokok, apa lagi bagi seorang pecandu rokok berat. Lingkungan yang tidak mendukung seseorang ingin berhenti merokok di antaranya pada saat main kartu atau catur, sedang menunggu, stress, minum kopi, habis makan, dan jumpa teman lama yang perokok. Oleh karena itu, untuk berhenti merokok itu tidak bisa karena hanya orang lain melainkan karena dirinya sendiri dengan niat dari hati dan dibantu oleh lingkungan yang mendukung.103 Jadi, pengaruh kenaikan cukai tembakau bagi masyarakat adalah karena naiknya harga rokok yang dikonsumsi oleh masyarakat. Kenaikan cukai tembakau membuat masyarakat harus mengeluarkan lebih banyak uang untuk membeli rokok guna pemenuhan kebutuhan. Bagi sebagian orang merokok sudah termasuk ke dalam kehidupan sehari-hari jadi masuk ke dalam biaya pengeluaran kebutuhan hidup.

102 103

Ibid. Ibid.

3. Pendapatan Negara Pengaruh kenaikan cukai tembakau terhadap pendapatan negara sangat bagus karena menjadi pemasukan negara yang meningkatkan cadangan devisa negara. Pemasukan negara berimbas kepada naiknya anggaran Anggaran Pendapatan Belanja Negara tiap tahun. Pendapatan negara disini maksudnya adalah pendapatan Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBH CHT) dari pusat ke daerah, dalam hal ini adalah daerah provinsi Sumatera Utara. Pada tahun 2009, pemerintah provinsi Sumatera Utara mendapatkan Rp. 1.193.498.600,- 104 meningkat terus sampai pada saat sekarang ini tahun 2010 provinsi Sumatera Utara mendapatkan Rp. 10.387.046.342,-. 105 Dengan kenaikan cukai tembakau tersebut kelihatan dapat meningkatkan pendapatan daerah dalam hal dana bagi hasilnya. Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBH CHT) tersebut dapat dipakai daerah untuk membangun sektor yang berkaitan dengan tembakau. Hal ini tentu akan sangat berarti untuk meningkatkan alokasi anggaran pembangunan di daerah. Hanya saja perlu diperhatikan bahwa pemerintah provinsi Sumatera Utara juga harus dapat memberikan kontribusi dari pada pajak daerah kepada pemerintah kabupaten dan kota yang ada. Sehingga, perolehan pajak daerah tersebut dapat dirasakan oleh semua

Angka didapat dari Peraturan Menteri Keuangan No. 85/PMK.07/2009 tentang Alokasi Sementara Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau Tahun Anggaran 2009, Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2009 No. 493, namun diubah dengan Peraturan Menteri Keuangan No. 215/PMK.07/2009 tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri Keuangan No. 85/PMK.07/2009 tentang DBH CHT T.A. 2009 yang menyebutkan bahwa Provinsi Sumatera Utara mendapatkan DBH CHT sebesar Rp. 2.049.939.000,-. 105 Angka didapat dari Peraturan Menteri Keuangan No. 66/PMK.07/2010 tentang Alokasi Sementara Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau Tahun Anggaran 2010, Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2010 No. 142.

104

pemerintah daerah, baik tingkat provinsi maupun tingkat kabupaten dan kota. Besaran pembagiannya disesuaikan dengan peraturan yang ditetapkan. Diyakini bahwa pengenaan pajak daerah terhadap rokok akan sangat membantu pemerintah daerah dalam menambah sumber Pendapatan Asli Derah (PAD). Dana yang masuk dapat digunakan untuk membiayai pembangunan di berbagai bidang. Untuk jangka panjang, pelaksanaan program pembangunan yang masih terhambat masalah dana akan teratasi dengan baik.106

B. Hambatan yang Dihadapi Perusahaan-Perusahaan Rokok Nasional Disamping masalah kenaikan kebijakan tarif cukai hasil tembakau, justru Industri Hasil Tembakau (IHT) atau Industri Rokok yang menghadapi permasalahan yang menyebabkan daya saing industri pada sektor ini semakin menurun. Hambatanhambatan yang dihadapi perusahaan-perusahaan rokok nasional, antara lain : 1) Peredaran rokok ilegal dan pita cukai palsu; 2) Kebijakan yang kurang mendukung; dan 3) Peraturan daerah tentang larangan merokok.

1. Peredaran Rokok Illegal dan Pita Cukai Palsu Peredaran rokok ilegal masih mengkhawatirkan karena penegakan hukum yang dilakukan hingga kini dinilai belum menimbulkan efek jera karena pelaku hanya mendapat sanksi pidana ringan. Selama tahun 2004 baru 34 kasus yang digelar oleh
Hisar Hasibuan, “Pajak Rokok Sebagai Sumber PAD Sumatera Utara, Harian Medan Bisnis : Selasa, 16 Desember 2008, http://www.pajakonline.com/engine/artikel/art.php?artid=4211., diakses pada 31 Agustus 2010.
106

Pengadilan kendati kerugian negara diperkirakan mencapai Rp. 150 miliar. Keseluruhan kasus yang masuk hanya kategori Tindak Pidana Ringan (TIPIRING), kondisi ini jelas tidak akan menimbulkan efek jera bagi pengedar rokok ilegal. Tingginya pengedaran rokok ilegal juga dipicu oleh mudahnya pengurusan izin usaha perindustrian rokok. Gampang sekali menanamkan investasi di sektor ini karena hanya perlu mengeluarkan uang Rp. 3 juta, selain itu ada aturan-aturan yang perlu disempurnakan karena turut menyebabkan maraknya peredaran cukai palsu.107 Aturan pendirian yang mudah didapat dengan cara “membayar pengurusan” di Sumatera Utara khususnya berakibat pada maraknya industri rokok kecil dimana selama kurun waktu tiga tahun terjadi penambahan hingga 2.200 unit padahal 2001 baru 600 industri rokok kecil yang beroperasi di Indonesia.108 Modus pelanggaran yang banyak dilakukan, antara lain : mempertahankan tarif cukai yang kecil dengan tidak meningkatkan level usaha namun mendirikan cabang-cabang baru dengan skala kecil dan menggunakan tarif cukai yang lebih rendah dari ketentuan yang sebenarnya.109 Pemerintah telah menetapkan bahwa rokok ilegal yaitu rokok yang menggunakan pita cukai palsu, rokok tanpa pita cukai, rokok dengan pita cukai bekas pakai, rokok dengan pita cukai bukan haknya dan rokok yang menggunakan pita cukai bukan seharusnya.110 Ditjen Bea Cukai telah melangsungkan operasi intelijen

107 “Penanganan Rokok Ilegal Belum Optimal”, http://www.beacukai.go.id/news/readNews.php?ID=878&Ch=01., diakses pada 01 September 2010. 108 Ibid. 109 Ibid. 110 Ibid.

yang dilakukan hingga ke pabrik-pabrik rokok serta distributor rokok namun hanya mampu menjaring pelaku-pelaku pelanggaran ringan atau Tindak Pidana Ringan.111 Namun, langkah ini sangat sulit dilakukan karena masih sedikitnya personil pengawasan yang tersedia sehingga tidak menjangkau seluruh wilayah hukum dari Ditjen Bea Cukai. Sudah dilakukan kerja sama dengan Asosiasi industri terkait, dan dinas-dinas tingkat provinsi untuk melakukan pengawasan yang lebih melekat di daerah, tetap saja tidak jalan karena dana yang disalurkan ke situ tidak ada.

2. Kebijakan yang Kurang Mendukung Setiap tahun pemerintah menggenjot pemasukan Anggaran Pendapatan Belanja Negara melalui pajak bea cukai dari Industri Hasil Tembakau. Kebijakan atau ”Policy” yang dibuat tiga departemen Pemerintah SBY pada tahun 2007, Depkeu, Depnaker dan Deptan mengagendakan ‘Roadmap Industri Hasil Tembakau dan Kebijakan Cukai tahun 2007 hingga 2020″, dimana produksi rokok yang pada 2007 – 2010 mencapai 240 miliar batang akan digenjot sampai 260 miliar batang pada tahun 2015 – 2020.112 Meski menjadi sektor penyumbang pemasukan cukai terbesar, Industri Hasil Tembakau menilai bahwa kebijakan pemerintah masih kontraproduktif dalam mendukung perkembangan industri hasil tembakau tersebut. Hingga saat ini beberapa kebijakan antar departemen kurang mendukung dalam mendorong pertumbuhan industri rokok. Misalnya, Departemen Perdagangan, Departemen Perindustrian,
111 112

Ibid. Ningrum Natasya Sirait, et.al., Op.cit., hal. 170.

Departemen Pertanian, dan Departemen Keuangan memberi dukungan karena pendapatan cukai rokok sangat besar. Tetapi, Departemen Kesehatan justru mengeluarkan kebijakan yang berlawanan.113 Industri Hasil Tembakau di Sumatera Utara menilai bahwa kebijakan pemerintah memang masih mendukung pengembangan Industri Hasil Tembakau di tengah desakan dunia. Akan tetapi masih tetap terfokus pada pendapatan negara tanpa memperdulikan kemampuan Industri Hasil Tembakau. Hal ini dapat terlihat dari hasil wawancara sebagai berikut : “Selaku Pihak Pembina dan Pengawas, pada prinsipnya sebagian besar kebijakan Pemerintah memang masih mendukung pengembangan Industri Hasil Tembakau ditengah desakan dunia, Depkes dan berbagai lembaga swadaya masyarakat dalam pengamanan dampak hasil tembakau. Hal ini antara lain, hingga saat ini Pemerintah (Menteri Perdagangan, Menko Perekonomian dan Menko Kesera) telah memiliki kesepakatan belum akan mengaksesi FCTC (Frame Work Convention On Tobacco Control) dalam waktu dekat, karena berbagai pertimbangan terutama segi ekonomi”. ”Namun, terhadap pungutan-pungutan baik Pusat maupun daerah, Pemerintah masih terfokus pada peningkatan pendapatan tanpa memperdulikan kemampuan Industri. Ada beberapa pungutan-pungutan baik Pusat maupun daerah yang tumpang tindih (overlapping) sifatnya. Khusus untuk Industri Rokok, rencana pengenaan Pajak Rokok yang telah diatur pada UndangUndang No. 34 tahun 2009 jelas-jelas merupakan pajak ganda karena dikenakan Cukai, PPN dan PPH. Apabila tujuan pengenaan pajak untuk pengendalian konsumsi pada prinsipnya telah diakomodir oleh pengenaan Cukai. Sehingga landasan pengenaan pajak terhadap obyek rokok pada prinsipnya lemah dan mengakibatkan ekonomi biaya tinggi”.114 Salah satu kebijakan pemerintah yang memberatkan dan tidak memperdulikan kemampuan Industri Hasil Tembakau, khususnya rokok putih di Sumatera Utara

Ibid. Wawacara dengan pengelola PT. Sumatra Tobacco Trading Company (STTC), Medan, 1 Desember 2009, sebagaimana dilakukan Ningrum Natasya Sirait, et.al., Op.cit.
114

113

adalah Peraturan Menteri Keuangan No. 181/PMK.011/2009, sebagaimana dijelaskan dalam petikan wawancara berikut : “Kebijakan Pemerintah saat ini kurang mendukung Industri Hasil Tembakau terutama golongan kecil, hal ini terlihat oleh kebijakan yang diambil Pemerintah selalu merugikan golongan kecil. Istilahnya belum bisa bangkit, kami sudah ditimpa lagi dengan Peraturan Menteri Keuangan No. 181/PMK.011/2009 yang jauh-jauh lebih memberatkan. Kenaikan tarif Cukai SKM (Sigaret Kretek Mesin) Rp. 20,- perbatang sehingga Sigaret Kretek Mesin hanya dibebani kenaikan tarif cukai Rp. 240,- perbungkus (untuk yang isinya 12 batang). Sedangkan sebagian besar jenis produksi kami yaitu Sigaret Putih Mesin (SPM), naik Rp. 30,- perbatang sehingga untuk setiap bungkus Sigaret Putih Mesin yang sesuai kebijakan Pemerintah hanya diperkenankan isi 20 batang perbungkus, terpaksa tarif cukainya naik Rp. 600,- perbungkus. Disamping ketidakadilan kenaikan beban cukai untuk jenis Sigaret Kretek Mesin dan Sigaret Putih Mesin, apabila kita pelajari Peraturan Menteri Keuangan No. 181/PMK.011/2009, malah rata-rata kenaikan beban cukai perbatang perusahaan kami yaitu Rp. 25,- perbatang lebih besar dari kenaikan Pabrikan Golongan I strata I dimana merek-merek Pabrikan raksasa besar berada yaitu hanya Rp. 20,- perbatang. Dimana logikanya? Karena, dengan kebijaksanaan cukai sedemikian rupa justru penerimaan negara menjadi lebih kecil, kog Perusahaan raksasa dengan pangsa pasar yang jauh lebih besar (lebih dari 75% pangsa pasar Sigaret Putih Mesin Indonesia) dibebani kenaikan yang amat kecil, sedangkan disisi lain konsumennya tidak elastis dengan kenaikan harga. Kenapa kami yang pangsa pasarnya sangat kecil dengan konsumen yang amat sangat elastis terhadap kenaikan harga justru dibebani cukai yang tinggi? Kebijakan Tarif Cukai saat ini sudah diluar kemampuan kami, dengan diterapkannya peraturan baru ini. Harga Jual juga akan mengalami kenaikan yang cukup signifikan sehingga kami pesimis dengan prospek kedepannya. Disamping itu, sesuai dengan pasal 15 A dan Pasal 15 B, apabila terjadi kenaikan produksi yang berakibat kenaikan golongan Pengusaha diberi tenggang waktu 6 bulan untuk penyesuaian tarif cukainya. Padahal pada Peraturan Menteri Keuangan sebelumnya, apabila terjadi kenaikan produksi hingga mengakibatkan kenaikan golongan pengusaha wajib menyesuai langsung pada saat itu”.115

Wawancara dengan pengelola PT. Wongso Pawiro, di Medan, tanggal 1 Desember 2009, sebagaimana dilakukan Ningrum Natasya Sirait, et.al., Op.cit.

115

Peraturan Menteri Keuangan ini membebankan kenaikan tarif cukai bagi industri rokok skala kecil dan menengah dengan rata-rata kenaikan sebesar Rp. 30,perbatang, beban kenaikan ini lebih besar dibandingkan rata-rata kenaikan tarif cukai bagi pabrikan Golongan I strata I dimana merek-merek pabrikan raksasa besar berada, yaitu hanya Rp. 20,- perbatang. Dengan kenaikan tarif cukai tersebut, maka industri rokok skala kecil akan mengalami peningkatan biaya produksi, sehingga seharusnya diimbangi dengan kenaikan harga jual. Masalahnya adalah konsumen daya beli dan elastisitas dari konsumen produk rokok Industri Hasil Tembakau skala kecil berbeda dengan konsumen industri rokok skala besar. Konsumen Industri Hasil Tembakau skala kecil adalah masyarakat bawah yang daya belinya rendah dan elastisitasnya terhadap perubahan harga jual sangat tinggi. Apabila Industri Hasil Tembakau skala kecil menaikkan harga jual maka dengan daya beli yang rendah tersebut, dipastikan konsumen akan sangat terpengaruh dan berpindah pada rokok dengan harga yang lebih murah. Pilihan yang sangat mungkin adalah rokok kretek yang bebannya lebih kecil atau rokok ilegal yang harganya lebih murah.116 “Kenaikan tarif cukai rokok berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan No. 181/PMK.011/2009 sudah menyimpang dari rasa keadilan bagi industri rokok skala kecil dengan konsumen yang daya belinya rendah dan sangat elastis terhadap perubahan harga jual. Hal ini berbeda terhadap Sigaret Putih Mesin berskala besar, khususnya perusahaan rokok putih multinasional, seperti PT. British American Tobacco atau Philip Morris. Kenaikan harga mereka lebih rendah sementara daya beli konsumen mereka lebih baik dan umumnya konsumen rokok putih merek yang diproduksi perusahaan rokok multinasional adalah konsumen yang tidak elastis terhadap perubahan harga. Jadi, prinsipnya mereka kurang terpengaruh dengan kebijakan tersebut dibandingkan dengan industri rokok putih skala kecil.”

116

Ibid., hal. 172.

Nampaknya Pemerintah menyamaratakan seluruh industri rokok putih (Sigaret Putih Mesin) seperti perusahaan rokok putih multinasional. Padahal masih banyak industri rokok Sigaret Putih Mesin adalah industri skala kecil dengan kemampuan permodalan dan teknologi yang terbatas. Kebijakan yang seperti ini jelas tidak adil dan adanya perbedaan perlakuan yang lebih menguntungkan industri rokok kretek dan industri rokok putih multinasional. Atau dengan kata lain cara pandang yang mendasari kebijakan pemerintah tersebut semata-mata untuk meningkatkan pendapatan negara, meskipun dengan membuat kebijakan yang menyulitkan berkembangnya industri nasional, khususnya industri skala menengah dan kecil.117 Bagi industri rokok skala kecil, keberlanjutan usaha tetap harus dipertahankan, mengingat tidak sedikit tenaga kerja yang menggantungkan hidupnya pada keberadaan industri tersebut. Untuk menghadapi kenaikan tarif cukai yang tinggi tersebut, menaikkan harga secara proporsional dengan kenaikan tarif cukai bukanlah pilihan yang bijaksana, mengingat daya beli konsumen produk mereka adalah rendah dan elastisitas keterpengaruhan konsumen terhadap kenaikan harga sangat tinggi. Jika harga dinaikkan sebanding dengan kenaikan tarif cukai, maka konsumen akan berpindah, dan perusahaan akan mengalami penurunan pangsa pasar secara terus menerus. Untuk menghindari hal ini, maka kebijakan yang banyak ditempuh adalah dengan cara mensubsidi konsumen dengan tetap menjaga harga yang terjangkau konsumen meskipun biaya produksi semakin tinggi karena kewajiban tarif cukai yang naik cukup signifikan. Namun, permasalahannya adalah sampai berapa lama industri skala kecil tersebut akan mampu memberikan dukungan subsidi pada konsumen. Lambat laun dipastikan perusahaan rokok skala kecil ini akan mati. Salah satu upaya Industri Hasil Tembakau di Sumatera Utara dalam menghadapi kendala-kendala tersebut adalah dengan tetap mempertahankan konsumen agar tetap loyal terhadap
Wawacara dengan pengelola PT. Sumatra Tobacco Trading Company (STTC), Medan, 1 Desember 2009, sebagaimana dilakukan Ningrum Natasya Sirait, et.al., Op.cit., hal. 173.
117

produk mereka. Berikut ini petikan hasil wawancara dengan pengelola Industri Hasil Tembakau di Sumatera Utara : ”Yang paling utama adalah upaya mempertahankan konsumen agar tetap loyal terhadap produk kami, namun hal ini perlu pengorbanan yang sangat besar berupa mempertahankan harga eceran tidak naik secara drastis, walaupun beban cukai yang dipungut naik cukup tinggi. Kata subsidi adalah kata yang tepat dan tidak terelakkan, namun daya tahan Perusahaan sangat terbatas dan pada titik temunya secara jangka panjang, Perusahaan akan mengalami kolaps”.118 Penjelasan yang senada juga dikemukakan oleh pengelola PT. Sumatera Tobacco Trading Company sebagai berikut : “Untuk mencegah peralihan konsumen PT. Sumatera Tobacco Trading Company yang berada pada segmen menengah bawah ke SKT (Sigaret Kretek Tangan) dan Rokok Ilegal, PT. Sumatera Tobacco Trading Company telah berusaha mengsubsidi beban konsumen tersebut sehingga harga jual rokok hanya berkisar 90% harga bagi agen. Tetapi ditengah tingginya beban-beban industri dan kenaikan beban cukai yang terus menerus, untuk jangka panjang PT. Sumatera Tobacco Trading Company tidak akan mampu mengsubsidi konsumen lagi”.119 Masalah lain terkait dengan kebijakan adalah pengenaan pajak rokok dan pungutan-pungutan lainnya oleh pemerintah pusat maupun daerah. Ada beberapa pungutan-pungutan baik Pusat maupun daerah yang tumpang tindih (overlapping) sifatnya. Khusus untuk Industri Rokok, rencana pengenaan Pajak Rokok yang telah diatur pada Undang-Undang No. 34 tahun 2009 jelas-jelas merupakan pajak ganda karena dikenakan Cukai, PPN dan PPH. Apabila tujuan pengenaan pajak untuk pengendalian konsumsi pada prinsipnya telah diakomodir oleh pengenaan cukai.

Wawancara dengan pengelola PT. Permona, Medan, 2 Desember 2009, sebagaimana dilakukan Ningrum Natasya Sirait, et.al., Op.cit., hal. 174. 119 Wawancara dengan pengelola PT. Sumatera Tobacco Trading Company, Medan 1 Desember 2009, sebagaimana dilakukan Ningrum Natasya Sirait, et.al., Op.cit.

118

Sehingga landasan pengenaan pajak terhadap obyek rokok pada prinsipnya lemah dan mengakibatkan ekonomi biaya tinggi.120 Jelas bahwa industri rokok nasional di Indonesia sangat terbebani dengan pungutan-pungutan yang lahir dari kebijakan yang demikian, belum lagi adanya pungutan-pungutan yang sifatnya tidak resmi yang secara keseluruhan sangat mempengaruhi kinerja industri rokok di Sumatera Utara yang berskala kecil, karena munculnya ekonomi biaya tinggi. Keadaan semacam ini sangat tidak kondusif bagi perkembangan industri di Sumatera Utara dan secara nasional pada umumnya. Kebijakan yang kurang tepat dan terarah justru muncul sebagai hambatan bagi industri nasional sendiri.121

3. Peraturan Daerah tentang Larangan Merokok Provinsi DKI Jakarta ada Perda/Peraturan Daerah DKI Jakarta No. 2 Tahun 2005 yang melarang merokok di tempat umum dengan sanksi yang cukup berat, yakni kurungan/penjara badan selama 6 (enam) bulan di penjara atau denda uang sebesar Rp. 50.000.000,- (lima puluh juta rupiah). Kenyataan yang terjadi di lapangan adalah banyak warga masyarakat yang merupakan perokok aktif banyak yang merokok di tempat-tempat yang termasuk dalam kategori kawasan dilarang merokok. Walaupun sudah ada tempat khusus merokok bagi para perokok, terkadang masih

120 121

Ibid., hal. 174-175. Ibid., hal. 175.

banyak orang yang merokok seenaknya sendiri tanpa menghiraukan kenyamanan dan kesehatan orang lain.122 Merokok sangat merugikan kesehatan baik manusia maupun hewan karena mengandung racun yang sangat berbahaya. Orang yang merokok biasanya memilki paru-paru yang busuk dan berwarna gelap, sangat berbeda dengan orang yang tidak menghisap batang rokok. Merokok adalah haram hukumnya dalam agama karena tidak ada dampak positif dari rokok, yang ada hanya efek negatifnya saja, sehingga merokok itu adalah perbuatan dosa. Perokok juga termasuk dalam kegiatan yang boros, karena seseorang bisa menghabiskan ratusan ribu hingga jutaan rupiah per bulan untuk membeli berbungkus-bungkus rokok. Kasihan dan menyedihkan sekali bagi pecandu rokok yang memiliki penghasilan kecil, karena dipaksa untuk membeli rokok akibat kecanduan. Anak dan istri pun jadi tekena imbas karena untuk makan, sekolah, rumah, bayar tagihan listrik, dan sebagainya kurang mencukupi.123 Seharusnya dibuat suatu mekanisme yang mengubah sanksi perda tersebut menjadi alat untuk mengeruk pendapatan asli daerah. Dengan mendapatkan lima puluh juta per orang kaya yang merokok maka dalam setahun mungkin bisa didapatkan masukan sebesar milyaran sampai trilyunan rupiah. Untuk orang yang ekonomi menengah kebawah dapat disiasati dengan potongan masa tahanan dengan pembayaran sebagian denda. Contohnya apabila seseorang bayar hanya 25 juta, maka hukuman penjaranya dikurangi jadi hanya 3 bulan penjara.124

122 123

Ibid. Ibid., hal. 176. 124 Ibid.

Penegakan hukum sanksi merokok di tempat umum harus ketat dan melibatkan partisipasi masyarakat dengan hadiah. Misal warga bisa merekam orang yang merokok di tempat umum untuk diadukan ke pihak yang berwajib dengan imbalan tertentu yang menggiurkan. Tentu saja hal ini akan membuat masyarakat shock therapy agar takut untuk merokok di kawasan umum. Namun hal ini belum tentu disukai banyak orang. Banyak oknum politisi yang suka merokok sembarangan di tempat umum sehingga pelaksanaan pemungutan denda tersebut bisa dihambat total.125

C. Pengaruh Eksternal Pengaruh eksternal yang berkaitan dengan Industri Hasil Tembakau ataupun Industri Rokok, antara lain : 1) Liberalisasi perdagangan dunia; 2) Framework Convention on Tobacco Control (FCTC); dan 3) Trend akuisisi perusahaan rokok nasional oleh investor asing.

1. Liberalisasi Perdagangan Dunia Proses globalisasi ekonomi wujud nyatanya adalah liberalisasi pasar yang terbuka dan bebas. Liberalisasi ini adalah sebuah upaya besar (grand design) yang sulit dihindari, karena kuatnya pengaruh negara-negara pro-globalisasi dan liberalisasi yang secara ekonomi dan politik amat kuat dan berpengaruh. Saat ini, hampir seluruh negara-negara di dunia sedemikian tingginya tingkat saling
125

Ibid., hal. 176-177.

ketergantungan. Dampak dari arus globalisasi ekonomi ini lebih terasa lagi setelah dikembangkannya prinsip liberalisasi perdagangan (trade liberalization) yang telah diupayakan dan didukung secara bersama-sama oleh seluruh negara di dunia dalam berbagai macam kesepakatan dan perjanjian antar negara, baik dalam tingkat bilateral, regional dan multilateral seperti kesepakatan negara-negara NAFTA (North American Free Trade Area), EU (European Union), AFTA (ASEAN Free Trade Area), APEC (Asia Pacific Economic Cooperation), GATT (General Agreement on Trade and Tariffs), dan WTO (World Trade Organization). Menolak tren globalisasi dan perdagangan dunia tampaknya jauh lebih menyulitkan ketimbang mengikutinya. Namun, bukan berarti desain besar ini diterima dengan tangan terbuka di seluruh dunia. Ada beberapa kalangan masyarakat di beberapa negara seperti Perancis, Meksiko, secara keras menolak liberalisasi ekonomi dan perdagangan, karena mengacaukan usaha pertanian domestik.126 Ide dasar liberalisasi adalah untuk mengahapuskan semua hambatan dalam perdagangan dan ekonomi, sehingga semua pelaku bisnis dari berbagai negara bisa melakukan perdagangan di dunia ini tanpa ada diskriminasi. Pemerintah setiap negara hanya bertugas sebagai pembuat kebijakan untuk memperlancar perdagangan bebas, tetapi liberalisasi ekonomi menimbulkan dampak, yaitu kian ketatnya persaingan dan efisiensi di bidang ekonomi dan perdagangan.127

M. Irsan Nasaruddin, dan Indra Surya, dan kawan-kawan, Aspek Hukum Pasal Modal Indonesia, (Jakarta : Kencana Prenada Media Group, 2004), hal. 21, dalam Ningrum Natasya Sirait, et.al., Op.cit., hal. 177. 127 Ibid., hal. 178.

126

Persoalan besar dari liberalisasi dan globalisasi perdagangan dan ekonomi adalah tidak adanya tingkat kesetaraan dari segi ekonomi dan politik di antara negaranegara di dunia. Negara-negara kaya dan maju masih jauh lebih sedikit daripada negara-negara berkembang atau miskin. Negara maju yang berjumlah sedikit tersebut mempunyai kekuatan dan dominasi perdagangan dan ekonomi yang lebih kuat yang pada akhirnya lebih kuat secara politik. Sementara negara-negara berkembang dan miskin berada dalam pengaruh negara-negara kaya dan tidak mempunyai kekuatan tawar menawar yang setara serta sekuat negara-negara maju, sehingga negara-negara berkembang lebih banyak dipaksa untuk mengikuti tren ini.128 Bagi Indonesia, perdagangan dunia atau pasar bebas merupakan tantangan berat sekaligus peluang untuk mengefisienkan dan mengefektifkan perekonomiannya. Momentum liberalisasi harus dijadikan titik masuk menuju perekonomian Indonesia yang lebih baik daripada menentang gelombang besar sejarah dan mengkhawatirkan kemampuan diri untuk bertahan dan berjaya. Pada tahun 2003 Indonesia sudah masuk dan menerapkan era perdagangan bebas untuk lingkungan ASEAN (AFTA), tahun 2010 yang tinggal beberapa hari lagi Indonesia sudah harus menerapkan dan memasuki pasar negara industri maju anggota APEC, dan pada tahun 2020 siap membuka pasar dalam negeri bagi seluruh negara-negara APEC. Tampaknya persiapan Indonesia memasuki pasar negara industri menghadapi kendala yang cukup berat akibat hantaman krisis multidimensi dan faktor situasi politik dan keamanan yang belum dapat dikendalikan sepenuhnya.129

128 129

Ibid., hal. 178-179. Ibid., hal. 179.

Walaupun situasi dan kondisi yang berat di segala bidang, dengan penuh rasa optimis dan bekerja sekuat tenaga, Indonesia harus tetap melaju dan bersaing di pasar bebas. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sangat pesat ini, seolah-olah batas suatu negara sudah tidak ada, Teknologi Informasi (TI) telah mengglobal. Seluruh aspek kehidupan manusia mengalami perubahan dan perkembangan serba cepat di pelbagai bidang kehidupan, tak terkecuali sektor Industri Hasil Tembakau khususnya di Sumatera Utara.130 Proses liberalisasi kompetitif mendorong banyak negara terlepas dari apapun filosofi yang dianut, untuk kemudian berkompetisi secara agresif. Liberalisasi perdagangan dan investasi mempengaruhi perubahan hukum di banyak negara. Negara-negara melakukan sejumlah deregulasi dan debirokratisasi untuk menarik aliran modal global guna mengintegrasikan ekonominya pada sistem ekonomi global. Tujuannya untuk mengambil manfaat dari aliran bebas barang, jasa dan modal global guna mendukung percepatan pembangunan ekonominya. Pada sisi lain, Multinational Corporation (MNCs) memandang perubahan ini sebagai peluang untuk memperkuat pengaruh mereka pada perekonomian global karena terbukanya akses pasar yang cukup luas.131 Industri Hasil Tembakau atau industri rokok domestik Indonesia khususnya Sumatera Utara (Usaha Mikro Kecil Menengah, swasta besar dan Badan Usaha Milik Negara) dalam sistim yang sangat kompetitif ini mau tidak mau harus berhadapan dengan perusahaan-perusahaan asing, hal inilah yang menjadi kekhawatiran dan

130 131

Ibid. Ibid., hal. 180.

hambatan bagi perusahan-perusahan Industri Hasil Tembakau di Sumatera Utara, apakah mampu bersaing dan bertahan hidup di era liberalisasi ini. Namun, persaingan ini justru harus dihadapi dengan sejumlah persoalan yang sangat krusial, seperti iklim usaha yang tidak kondusif, persaingan yang tidak sehat, infrastruktur yang kurang mendukung, ekonomi biaya tinggi, ketidakpastian hukum dan regulasi yang kurang terencana dan tidak konsisten yang justru banyak menimbulkan beban bagi Industri Hasil Tembakau di Sumatera Utara.132 Kecenderungan yang akan terjadi adalah perusahaan rokok besar memperluas pasar-pasar baru terutama di negara yang belum berkembang karena di negara tersebut belum kuat gerakan anti merokok baik oleh pemerintah maupun organisasai non pemerintah. Perusahaan rokok besar mempunyai kecenderungan untuk membeli perusahaan rokok kecil yang tidak dapat bersaing dengan perusahaan besar yang mempunyai fasilitas modern. Kondisi ini menjadikan pasar global rokok hanya dikuasai oleh beberapa industri besar seperti Phillip Morris, Japan Tobacco International, Reemmstma.133 Dikalangan pelaku usaha Industri Hasil Tembakau khususnya industri rokok putih, muncul dugaan adanya keterilbatan perusahaan multinasional dalam regulasi Industri Hasil Tembakau di Indonesia untuk mematikan Industri Hasil Tembakau nasional dengan menggunakan instrument regulasi cukai dan Framework Convention on Tobacco Control. Perusahaan-perusahaan rokok multinasional umumnya bergerak dalam produksi rokok putih dan bersaing di pasar lokal dengan Industri Hasil

132 133

Ibid. Ibid., hal. 180-181.

Tembakau rokok putih domestik yang skala usahanya lebih kecil. Dengan cukai rokok yang tinggi, maka banyak Industri Hasil Tembakau nasional yang tidak kuat bertahan di pasar lokal akibat biaya tinggi, harga jual sulit dinaikkan karena daya beli rendah, sementara untuk ekspor terhadang oleh hambatan-hambatan Negara tujuan ekspor yang memproteksi Industri Hasil Tembakau domestiknya dengan sangat ketat. Akhirnya banyak Industri Hasil Tembakau nasional, khusus berskala kecil dan menengah tidak mampu bertahan dan menutup usaha. Sedangkan Industri Hasil Tembakau nasional yang lebih besar untuk tindakan penyelematan menjual perusahaannya dan diakuisisi oleh perusahaan-perusahaan multinasional besar, seperti PT. British American Tobacco, Philip Morris, Japan Tobacco, dll. Dengan cara ini, pasar rokok dalam negeri hanya akan dikuasai oleh Industri Hasil Tembakau multinasional. Saat ini saja untuk rokok putih, pasar domestic lebih kurang 80% dikuasai oleh dua Industri Hasil Tembakau multinasional, yakni PT. British American Tobacco dan Philip Morris. Setelah pasar rokok putih dikuasai bukan tidak mungkin selanjutnya adalah Industri Hasil Tembakau rokok kretek.134 Dugaan keterlibatan pihak asing (perusahaan multinasional) sejenis ini sudah ada sejak lama. Pada tahun 1999 perusahaan rokok kretek nasional menuding

Indonesian Monetary Fund dan Bank Dunia merupakan kepanjangan tangan perusahaan asing, khususnya dari Amerika Serikat. Salah satu yang menjadi sasaran adalah pasar rokok Indonesia yang potensial dan dikuasai oleh produsen kretek. Sebagai negara berpenduduk 200 juta jiwa lebih dan konsumsi rata-rata per kapita baru 1.100 batang, Indonesia merupakan pasar yang empuk. Sejumlah perusahaan
134

M. Irsan Nasaruddin, dan Indra Surya, dan kawan-kawan, Op.cit.

kretek menuding Indonesian Monetary Fund berada di balik penundaan penetapan Harga Jual Eceran Minimum (HJEM) rokok putih yang telah dikeluarkan Menteri Keuangan 31 Maret 1999. Penundaan tersebut dilakukan selama 2 tahun, sementara ketentuan yang sama harus sudah berlaku untuk rokok kretek. Kebijakan yang demikian dipandang tidak adil bagi industri rokok kecil dan menengah. Masalahnya ada produsen rokok kecil yang menjual rokok berharga mahal, seperti Wismilak dan Saratoga. Akibat ketentuan ini mereka harus membayar cukai lebih tinggi akibat harga produk mereka yang melewati batas harga eceran maksimum untuk pabrik sekelasnya. Padahal mereka tetap saja produsen kecil yang harus hidup diantara para raksasa rokok.135 Sepertinya, tekanan pada industri hasil tembakau akan bertambah berat, mengingat desakan agar pemerintah Republik Indonesia segera membuat Undangundang tentang dampak tembakau sebagai realisasi akan diratifikasi Framework Convention Tobacco Control (FCTC) kian hari kian kencang. Oleh karena itu, sebelum terlambat, sebaiknya para pengambil kebijakan mencari jalan keluar agar para pelaku industri hasil tembakau tidak terpuruk (terutama yang kelas Usaha Mikro Kecil Menengah). Begitu pun halnya petani tembakau sebaiknya dibantu agar tidak menjadi pengangguran dengan terbitnya kebijakan tarif.136 Pada tanggal 19 Agustus 2009. Direktorat Pengawasan dan Pengendalian Mutu Barang Direktorat Jenderal Perdagangan Luar Negeri Departemen Perdagangan mengadakan pertemuan pengurus Lembaga Tembakau (LT), di ruang rapat
“Lobi-Lobi Pita Cukai”, Eksekutif, (September, 1999), hal. 64-65, dalam Ningrum Natasya Sirait, et.al., Op.cit., hal. 182-183. 136 Ibid., hal. 183.
135

auditorium III gedung utama Departemen Perdagangan. Pertemuan Pengurus Lembaga Tembakau dibuka oleh Direktur Pengawasan dan Pengendalian Mutu Barang selaku Ketua Lembaga Tembakau, dan dihadiri oleh anggota pengurus Lembaga Tembakau yang merupakan pejabat eselon 2 di beberapa instansi terkait, Lembaga Tembakau Surabaya, Jember, Surakarta dan Medan, serta asosiasi pabrikan rokok (GAPPRI dan GAPRINDO), asosiasi petani tembakau dan wakil dari pabrikan rokok. Dalam melaksanakan tugasnya, Lembaga Tembakau sesuai Surat Keputusan Menteri Perindustrian Perdagangan No.433/MPP/Kep/7/2004 tanggal 8 Juli 2004 tentang Pembebasan dan Pengangkatan Keanggotaan Pengurus Lembaga Tembakau Pusat.137 Dalam Pertemuan Lembaga Tembakau dibahas isu utama pertembakauan dan pengusahaan hasil tembakau nasional antara lain antisipasi terhadap FCTC (Framework Convention on Tobacco Control), issue pelarangan impor rokok di Amerika (US Family Smoking Prevention and Tobacco Control Act, pelarangan impor rokok yang mengandung cita rasa di Canada serta Rancangan Undang-Undang tentang pengendalian produk tembakau serta Roadmap pengusahaan tembakau dan hasil tembakau nasional.138 Penyusunan Draft Undang-undang Pertembakauan yang sudah disepakati dapat ditindak lanjuti mengingat dasar-dasar penyusunannya sudah mengadop dari

Ibid., hal. 183-184. Direktorat Pengawasan dan Pengendalian Mutu Barang, Departemen Perdagangan Republik Indonesia, Agustus 2009, sebagaimana dikutp Ningrum Natasya Sirait, et.al., Op.cit.
138

137

Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 19 Tahun 2003 tentang pengamanan rokok bagi kesehatan dan sudah dilengkapi dengan hasil kajian akademis.139 Rancangan Undang-Undang Pertembakauan diharapkan dapat mengakomodir isu-isu yang terus berkembang seperti isu tentang dampak kebijakan tarif industri hasil tembakau terhadap persaingan usaha di bidang industri hasil tembakau, isu tentang iklim usaha di bidang industri hasil tembakau dengan diberlakukannya kebijakan tariff, isu tentang terciptanya pengangguran, tentang single tariff yang berdampak terpuruknya industri hasil tembakau, dan yang menjadi kekhawatiran semua pihak khususnya pengusaha industri hasil tembakau adalah Rancangan Undang-Undang tentang dampak tembakau dan kebijakan single tariff tersebut dibentuk karena adanya indikator global perusahaan asing mengambil alih industri hasil tembakau di Republik Indonesia.140 Keputusan terakhir untuk mengatasi dilema ini tentu berada di tangan pemerintah Republik Indonesia. Sekarang pemerintah hanya tinggal memilih pihak mana yang akan dibela kepentingannya, masyarakat umum yang terdiri dari wanita, anak-anak dan kaum miskin, terutama yang bukan perokok namun terancam kesehatan dan masa depannya, atau industri yang pada dasarnya tidak dirugikan secara signifikan eksistensinya, atau perusahaan asing yang siap memangsa industri hasil tembakau Indonesia.141

139 140

Ibid., hal. 184. Ibid. 141 Ibid.

2. Framework Convention on Tobacco Control Ketika sebuah lembaga bernama Forum Parlemen Indonesia (Indonesian Parliament Forum) menelurkan Rancangan Undang-Undang Penanggulangan Dampak Tembakau (sebut saja Rancangan Undang-Undang Tembakau) bagi Kesehatan, banyak pihak kebakaran jenggot, terutama kalangan industri rokok. Bak gaya sepak bola, industri rokok menggunakan jurus total football untuk menganulir Rancangan Undang-Undang ini, termasuk "membeli" ilmuwan dari universitas termasyhur di negeri ini. Rancangan Undang-Undang ini telah mengantongi dukungan 224 anggota Dewan Perwakilan Rakyat (40,7%) dan kini sedang didesakkan untuk menembus Program Legislasi Nasional (Prolegnas) melalui pintu masuk Badan Legislasi DPR.142 Layak dipertanyakan, atas pertimbangan yang digunakan sehingga Rancangan Undang-Undang ini urgent untuk segera dibahas dan disahkan. Tidak terlalu sulit membeberkan pembenarannya. Pertama, kepentingan kesehatan dan sosial. Ekses eksternalitas tembakau dengan segala turunannya sudah final. Sebatang rokok mengandung 4.000 racun kimia berbahaya, 10 di antaranya bersifat karsinogenik. Ekses negatif itu tidak hanya berdampak pada kesehatan, tapi juga ekses sosial, ekonomi, moral, dan budaya. Disertasi Rita Damayanti (dosen Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, 2006) membuktikan perilaku merokok

berkontribusi signifikan terhadap tumbuhnya berbagai penyakit sosial, seperti penggunaan narkotik, tindak kekerasan, bahkan HIV/AIDS. Sergapan asap rokok terhadap pelajar kini pun amat merisaukan, setidaknya menurut Global Youth
142

Ibid., hal. 185-186.

Tobacco Survey 2006 versi World Trade Organization, yaitu 37,3% pelajar laki-laki dan perempuan di Indonesia mengaku pernah merokok serta 24,5% pelajar laki-laki bahkan telah menjadi perokok aktif.143 Sementara itu, menurut analisis Soewarta Kosen (ahli ekonomi kesehatan Litbang Departemen Kesehatan), total tahun produktif yang hilang karena penyakit yang terkait dengan tembakau di Indonesia pada 2005 adalah 5.411.904 disability adjusted life year (DALYs). Jika dihitung dengan pendapatan per kapita per tahun pada 2005 sebesar US$. 900, total biaya yang hilang US$. 4.870.713.600.144 Kedua, ketika dampak sosial, ekonomi, dan kesehatan akibat rokok begitu menggawat, ironisnya hingga detik ini kita belum mempunyai produk hukum yang secara komprehensif mengatur industri rokok. Bagaimanapun industri rokok adalah industri yang memproduksi dan memasarkan "barang bermasalah". Saat ini masalah bahaya rokok hanya diatur oleh Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2003 tentang Penanggulangan Bahaya Rokok bagi Kesehatan, yang merupakan turunan dari Pasal 44 Undang-Undang tentang Kesehatan. Namun, faktanya, Peraturan Pemerintah ini nyaris tidak bisa "mematuk" siapa pun yang melanggarnya, termasuk pelanggaran jam tayang iklan rokok oleh media massa. Secara historis-politis, proses pembahasan Peraturan Pemerintah ini justru didikte oleh industri rokok.145 Ketiga, konstelasi politik internasional. Rancangan Undang-Undang

Penanggulangan Dampak Tembakau menjadi urgen mengingat saat ini pemerintah Indonesia telah menjadi obyek cemoohan komunitas internasional, terutama oleh
143 144

Ibid., hal. 186. Ibid., hal. 186-187. 145 Ibid., hal. 187.

negara anggota World Trade Organization dan komunitas lembaga swadaya masyarakat. Bahkan pemerintah Indonesia diberi award bernama ashtray award, alias negara keranjang sampah nikotin. Itu semua terjadi karena pemerintah Indonesia tidak menandatangani/meratifikasi konvensi yang bernama Framework Convention on Tobacco Control (FCTC). Penolakan pemerintah Indonesia terhadap Framework Convention on Tobacco Control merupakan pengingkaran terhadap komitmen internasional, karena delegasi Indonesia justru terlibat aktif dalam pembahasan draf Framework Convention on Tobacco Control (sebagai drafting committee members). Delegasi Indonesia juga menerima secara bulat substansi Framework Convention on Tobacco Control dalam Sidang Kesehatan Dunia (World Health Assembly) di Jenewa, Swiss, Mei 2003. Kini Framework Convention on Tobacco Control telah menjadi hukum internasional dan 137 negara telah meratifikasinya. Lalu mengapa industri rokok dan kroni-kroni dekatnya begitu serius "menaklukkan" Badan Legislasi DPR agar tidak memasukkan Rancangan Undang-Undang ini ke dalam Program Legislatif Nasional (Prolegnas). Menurut industri rokok, jika DPR berhasil menggunakan hak inisiatifnya untuk menggolkan Rancangan Undang-Undang, mereka akan kolaps seketika. Ribuan petani kehilangan lahan, ratusan ribu tenaga kerja kena pemutusan hubungan kerja, dan pemerintah pun akan kehilangan triliunan rupiah dari cukai rokok.146 Saat ini negara penghasil tembakau terbesar di dunia, seperti Cina (38%), Brasil (10,3%), dan India (9,1%), kendati telah meratifikasi Framework Convention on Tobacco Control, industri rokoknya masih sehat walafiat. Jika ketiga negara itu,
146

Ibid., hal. 187-188.

yang notabene lebih besar penghasilan tembakaunya ketimbang Indonesia, berani meratifikasi Framework Convention on Tobacco Control, mengapa Indonesia yang hanya berkontribusi 2,3% dari tembakau dunia tidak berani.147 Minimal ada dua poin yang menjadi puncak ketakutan industri rokok terhadap Framework Convention on Tobacco Control dan Rancangan Undang-Undang Penanggulangan Dampak Tembakau ini, yaitu soal kebijakan cukai tinggi (tax increasing) dan larangan menyeluruh terhadap promosi rokok (total ban promotion). Menurut mereka, ketentuan ini akan menggusur industri rokok. Padahal, di dunia mana pun, cukai rokok pasti tinggi. Contoh terdekat Thailand, cukai rokoknya mencapai 75% dari harga rokok. Indonesia masih sangat rendah, maksimal hanya 30%. Itu pun hanya beberapa merek rokok. Harga rokoknya pun masih amat murah. Akibatnya, rokok dapat diakses oleh anak-anak dan orang miskin, yang notabene belum/tidak layak mengkonsumsi rokok. Cukai rokok tinggi justru akan mengatrol pendapatan pemerintah dan akan memotong akses masyarakat miskin dan anak-anak untuk membeli rokok. Biarkan yang merokok itu orang dewasa, dan berkantong tebal pula.148 Total ban terhadap promosi rokok juga tidak akan berpengaruh signifikan terhadap penjualan rokok. Rokok adalah produk in-inelastis, sebagaimana narkotik. Narkotik yang jelas-jelas terlarang dan tidak pernah dipromosikan, toh laku keras bak kacang goreng. Barang in-inelastis adalah barang yang menimbulkan efek ketergantungan akut, ke mana pun akan diburu kendati harganya selangit. Sungguh

147 148

Ibid., hal. 188. Ibid., hal. 188-189.

keterlaluan jika rokok yang merupakan produk bermasalah (in-inelastis) ini masih juga dipromosikan.149 Secara minimalis, pembahasan dan pengesahan Rancangan Undang-Undang Penanggulangan Dampak Tembakau bagi Kesehatan akan menutup malu pemerintah Indonesia di dunia internasional, yang bergeming dengan Framework Convention on Tobacco Control. Industri rokok juga tidak perlu mendramatisasi situasi, apalagi mempolitisasinya. Sebab, sekuat apa pun pengawasan dan pembatasan produk rokok, maksimal hanya akan mampu mengurangi pasokan rokok 1%. Bandingkan dengan rata-rata pertumbuhan penduduk Indonesia yang sebesar 1,32% per tahun (artinya tidak akan kehilangan pangsa pasar).150 Framework Convention on Tobacco Control menjadi isu kritis terhadap kesehatan masyarakat dan pertanggungjawaban perusahaan karena hampir 5 juta orang mati setiap tahun yang disebabkan oleh berbagai penyakit terkait dengan tembakau, jauh lebih besar dibandingkan dengan korban malaria yang hanya memakan korban 3 juta orang pertahunnya di dunia. Wabah penyakit yang terkait dengan tembakau tersebut disebarluaaskan oleh korporasi tembakau transnational seperti Philip Morris/Altria, PT. British American Tobacco dan JTI. Jika tidak ada penanganan yang serius maka tembakau akan menjadi penyebab kematian tertinggi di dunia pada 2030, dengan 70% kematian itu terjadi di Negara-negara berkembang termasuk Indonesia. Perusahaan tembakau internasional adalah salah satu contoh dari

149 150

Ibid., hal. 189. Ibid.

korporasi raksasa yang paling bertanggungjawab atas melambungnya biaya kesehatan dan ancaman kematian masyarakat dunia.151 Framework Convention on Tobacco Control menetapkan sesuatu yang dapat dijadikan teladan penting untuk peraturan korporasi internasional dan lokal yang mengambil keuntungan atas meningkatnya biaya-biaya kesehatan kita, lingkungan kita dan hak asasi manusia; seperti pada industri-industri riskan lainnya di bidang pertanian, minyak, farmasi, air dan senjata.152 Indonesia merupakan salah satu Negara di Asia Tenggara bahkan Asia Pasifik yang baru saja menandatangai Framework Convention on Tobacco Control, sejak awal (selama kurun waktu 2000-2003) Indonesia termasuk negara yang membidani dan menjadi kontributor yang aktif bagi lahirnya dokumen tersebut. Dalam pertemuan-pertemuan Intergovermental Negotiating Body (INB) delegasi Indonesia selalu hadir dengan timnya yang kuat dalam 6 kali pertemuan INB tersebut.153 Alasan yang dikemukakan oleh pemerintah pada waktu itu adalah alasan klasik seperti : tingginya tingkat konsumsi rokok kita; Indonesia termasuk dari lima Negara produsen tembakau terbesar di dunia; cukai dari rokok mencapai 50 trilyun rupiah; dan Indonesia memiliki 2000 perusahaan industri rokok dengan jumlah pekerjanya mencapai ratusan ribu orang. Sehingga perdebatannya justru

didikotomikan antara para petani tembakau dan kesehatan masyarakat. Padahal secara faktual, para petani dan buruh pabrik rokok juga adalah korban dari penghisapan keuntungan industri rokok kita dan internasional. Social cost yang diderita anak-anak,
151 152

Ibid., hal. 190. Ibid. 153 Ibid., hal. 190.191.

remaja, pemuda, kaum perempuan dan warga miskin sangat besar. Belum lagi maraknya kasus narkoba saat ini justru pintu masuknya dari kebiasaan merokok yang akut karena cirri dan modus operandinya adalah sama yaitu adiksi (kecanduan).154 Sebagai bangsa saat kini kita seolah-olah bangga; padahal kita sedang dilecehkan oleh raksasa industri rokok. Untuk itulah Indonesian Tobacco Control Network (ITCN) mendesak pemerintah Indonesia untuk segera menandatangai Framework Convention on Tobacco Control tersebut demi menyelamatkan generasi mendatang dari wabah penyakit yang disebarluaskan oleh industri rokok.155 Indonesian Tobacco Control Network adalah jaringan masyarakat sipil Indonesia baik Non-Governmental Organization, maupun individu yang peduli terhadap kerja-kerja advokasi demi melindungi generasi sekarang dan mendatang dari kerusakan kesehatan, kerusakan sosial, kerusakan lingkungan dan konsekuensi ekonomi dari konsumsi tembakau serta paparan terhadap asap tembakau. Untuk saat ini Indonesian Tobacco Control Network beranggotakan: Forum Warga Kota Jakarta (FAKTA), Persatuan Tuna Netra Indonesia (PERTUNI) Jakarta, Kaukus Lingkungan Hidup Jakarta, Perguruan Karate Gojuryu Karatedo Shinbukan Indonesia Jakarta, Lembaga Menanggulangi Masalah Merokok (LM3), Yayasan Kanker Indonesia, Yayasan jantung Indonesia, Yayasan Lembaga Konsumen ndonesia (YLKI), Perkumpulan Keluarga Berencana Jawa Barat, Komisi Nasional Perlindungan Anak (KOMNAS PA), Wanita Indonesia Tanpa Tembakau (WITT), Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI), Senat Mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat

154 155

Ibid., hal. 191. Ibid., hal. 191.

Universitas Indonesia, Gerakan Pramuka Institut Pertanian Bogor, Universitas Pembangunan Nasional Veteran, Universitas Esa Unggul, dan seterusnya. Indonesian Tobacco Control Network bersifat egaliter dan dikoordinasi oleh anggota secara bergiliran sesuai dengan kebutuhan lembaga dan jaringan. Tembakau membunuh lebih dari lima juta orang setiap tahunnya. Jika hal ini berlanjut, diproyeksikan akan membunuh 10 juta orang sampai tahun 2020, dengan 70% kematian terjadi di Negara berkembang. Tembakau juga memakan biaya yang sangat besar dalam pelayanan kesehatan, kehilangan produktifitas, dan tentunya biaya yang tidak terlihat dari kesakitan dan penderitaan yang timbul terhadap perokok aktif, pasif dan keluarga mereka.156 Dalam rangka mengatasi epidemi tembakau ini, Sidang Majelis Kesehatan Dunia (WHO) ke 56 pada bulan Mei 2003, 192 negara anggota World Trade Organization dengan suara bulat mengadopsi Kerangka Kerja Konvensi

Pengendalian Tembakau (Framework Convention on Tobacco Control - FCTC). Sebagaimana tertulis dalam pembukaan, tujuan Framework Convention on Tobacco Control adalah untuk “melindungi generasi sekarang dan mendatang dari kerusakan kesehatan, sosial, lingkungan dan konsekuensi ekonomi dari konsumsi tembakau serta paparan terhadap asap tembakau.” Sampai 31 Mei 2005, 168 negara telah menandatangani Framework Convention on Tobacco Control dan 66 negara meratifikasi. Konvensi ini menjadi hukum internasional pada tanggal 27 Februari 2005.157

156 157

Ibid., hal. 191-192. Ibid., hal. 192-193.

Ketentuan Pokok Framework Convention on Tobacco Control Pasal 2.1 Framework Convention on Tobacco Control mendorong seluruh negara peserta Konvensi untuk mengambil langkah-langkah yang lebih kuat dari standar minimal yang ditentukan dalam Konvensi. Ketentuan-ketentuan signifikan yang diatur dalam Konvensi termasuk158 : Iklan, Promosi dan Pemberian Sponsor (Pasal 13) Framework Convention on Tobacco Control mensyaratkan negara anggota untuk melaksanakan larangan total terhadap segala jenis iklan, pemberian sponsor, dan promosi produk-produk tembakau baik secara langsung maupun tidak, dalam kurun waktu 5 tahun setelah meratifikasi Konvensi. Larangan ini juga termasuk iklan lintas batas yang berasal dari salah satu negara peserta. Bagi negara-negara yang memiliki hambatan konsitusional, larangan total iklan, pemberian sponsor dan promosi ini dilakukan dengan mempertimbangkan hukum yang berlaku di negara tersebut.159 Asap Rokok Bekas/Secondhand Smoke (Pasal 8) Paparan asap rokok telah terbukti secara ilmiah menyebabkan kematian, penyakit dan cacat. Framework Convention on Tobacco Control mensyaratkan seluruh negara peserta untuk mengambil langkah-langkah efektif dalam melindungi bukan perokok dari asap rokok di tempat-tempat publik, termasuk di tempat-tempat

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Kerangka Kerja Konvensi Tentang Pengendalian Tembakau, Jenewa, 21 Mei 2003, diterjemahkan oleh Sularno Popomaruto, dalam Ningrum Natasya Sirait, Op.cit., hal. 193. 159 Ibid.

158

kerja, kendaraan umum, serta ruangan-ruangan di tempat publik lainnya. Telah terbukti bahwa langkah yang efektif dalam melindungi bukan perokok adalah dengan larangan total merokok.160 Pengemasan dan Pelabelan (Pasal 11) Pasal 11 Framework Convention on Tobacco Control mensyaratkan agar sedikitnya 30% dari permukaan kemasan produk digunakan untuk label peringatan kesehatan dalam kurun waktu 3 tahun setelah meratifikasi Framework Convention on Tobacco Control. Pasal ini juga mengharuskan pesan tersebut diganti-ganti, dan dapat menggunakan gambar.161 Peringatan yang mengandung kata-kata yang menyesatkan seperti

“light”, ”mild,” dan “rendah tar” dilarang. Penelitan membuktikan rokok yang berlabel light, mild dan rendah tar sama bahayanya seperti rokok pada umumnya. Negara-negara peserta sepakat untuk melarang segala kata-kata yang menyesatkan dalam kurun waktu 3 tahun setelah menjadi anggota Framework Convention on Tobacco Control.162 Penyelundupan (Pasal 15) Framework Convention on Tobacco Control mensyaratkan dilakukan suatu tindakan dalam rangka mengatasi penyelundupan tembakau. Tindakan tersebut termasuk menuliskan asal pengiriman serta tempat tujuan pengiriman di semua

160 161

Ibid., hal. 193-194. Ibid., hal. 194. 162 Ibid., hal. 194.

kemasan tembakau. Selain itu, negara-negara peserta dihimbau untuk melakukan kerjasama penegakan hukum dalam penyelundupan tembakau lintas negara.163 Pajak dan Penjualan Bebas Bea (Pasal 6) Framework Convention on Tobacco Control menghimbau negara-negara peserta untuk menaikkan pajak tembakau dan mempertimbangkan tujuan kesehatan masyarakat dalam menetapkan kebijakan cukai dan harga produk tembakau. Penjualan tembakau bebas bea juga sebaiknya dilarang. Kenaikan harga tembakau terbukti langkah yang efektif dalam mengurangi konsumsi tembakau, terutama di kalangan anak-anak dan remaja.164 Pengungkapan dan Pengaturan Kandungan Produk (Pasal 9 dan 10) Produk tembakau perlu diatur. Negara-negara peserta sepakat untuk membentuk suatu acuan yang dapat digunakan seluruh negara-negara dalam mengatur kandungan produk tembakau. Negara-negara peserta juga harus mewajibkan pengusaha tembakau untuk mengungkapkan kandungan produk tembaku kepada pemerintah.165 Pertanggungjawaban (Pasal 4.5 dan 19) Tindakan hukum perlu dilakukan sebagai strategi pengendalian dampak tembakau. Framework Convention on Tobacco Control melihat bahwa

pertanggungjawaban merupakan program yang penting dalam pengendalian dampak tembakau. Negara-negara peserta sepakat untuk melakukan pendekatan legislatif dan

163 164

Ibid. Ibid., hal. 194-195. 165 Ibid., hal. 195.

hukum dalam mencapai tujuan pengendalian dampak tembakau dan bekerjasama dalam pengadilan yang terkait dengan masalah tembakau.166 Treaty Oversight (Pasal 23) Konferensi dari negara-negara peserta akan mengawasi Framework Convention on Tobacco Control. Framework Convention on Tobacco Control membentuk Konferensi negara-negara peserta/Conference of the Parties (COP) yang akan diselenggarakan pada tahun 2006. Conference of the Parties diberdayakan untuk mengawasi implementasi Framework Convention on Tobacco Control serta mengadopsi protokol, tambahan (annex) dan perubahan Framework Convention on Tobacco Control. Selain itu juga untuk membentuk badan subsider untuk menjalani tugas-tugas tertentu.167 Pendanaan (Pasal 26) Negara-negara peserta telah berkomitmen untuk memberikan dana untuk pengendalian dampak tembakau secara global. Negara-negara peserta sepakat untuk mengerahkan bantuan keuangan dari sumber dana yang ada untuk pengendalian dampak tembakau di negara-negara berkembang dan di negara-negara yang mengalami transisi ekonomi, termasuk juga organisasi interpemerintah baik regional maupun internasional.168

Komitmen Penting Lainnya

166 167

Ibid. Ibid. 168 Ibid., hal. 196.

Adapun komitmen penting lainnya, adalah bahwa169 : a. Setiap negara peserta membentuk suatu mekanisme koordinasi keuangan nasional atau focal point untuk pengendalian dampak tembakau (Pasal 5). b. Negara-negara peserta berusaha untuk menyertakan usaha berhenti merokok dalam program kesehatan nasional mereka (Pasal 14). c. Negara-negara peserta melarang atau mempromosikan larangan pembagian produk tembakau secara gratis (Pasal 16). d. Negara-negara peserta mempromosikan partisipasi LSM-LSM dalam program pengendalian dampak tembakau nasional (Pasal 12). e. Negara-negara peserta melarang penjualan produk tembakau kepada mereka yag dibawah umur menurut hukum nasional mereka, atau 18 tahun (Pasal 16). f. Negara-negara yang meratifikasi Framework Convention on Tobacco Control tidak dapat melakukan reservasi (mengecualikan) salah satu pasal dari Framework Convention on Tobacco Control (Pasal 30). Reaksi Industri Tembakau Framework Convention on Tobacco Control jelas ditentang oleh industri tembakau. Mereka menyatakan bahwa Framework Convention on Tobacco Control adalah obsesi negara maju yang dipaksakan terhadap negara berkembang. Mereka menyangkal bahwa Framework Convention on Tobacco Control adalah hasil negosiasi dari banyak negara, tidak hanya negara-negara berkembang. Mereka menyatakan bahwa Framework Convention on Tobacco Control hanya akan merampas hak pemerintah dalam menentukan kebijakan pengendalian dampak
169

Ibid.

tembakau nasional. Selain itu, mereka secara terus menerus menakut-nakuti pemerintah bahwa Framework Convention on Tobacco Control akan merusak tatanan ekonomi, tanpa mengindahkan penemuan Bank Dunia yang menyatakan bahwa pengendalian dampak tembakau baik untuk kesehatan masyarakat dan ekonomi.170 Industri tembakau berpegang pada alasan bahwa tidak ada hasil bumi atau pilihan pengganti lainnya. Sangatlah logis untuk berpikir bahwa konsumen yang berhenti merokok akan mengalokasikan pengeluaran tembakau mereka ke barang dan pelayanan ekonomi yang lain. Oleh karena itu, penurunan pekerjaan dalam industri tembakau akan seimbang dengan meningkatnya pekerjaan di industri lain. Bagaimanapun juga, dalam masa pertengahan, untuk Negara yang sangat bergantung pada ekspor tembakau (contoh : ekonomi berasal dari ekspor bersih tembakau), penggolongan dalam bidang ekonomi/pertanian sepertinya akan menyebabkan kerugian pekerjaan.171 Framework Convention on Tobacco Control mempunyai pandangan jangka panjang dari penggolongan bidang pertanian. Pendekatan panduan kerangka kerja disediakan sebagai pendekatan yang evolusioner untuk mengembangkan sebuah sistem internasional legal pengendalian tembakau, sehingga seluruh isu tidak perlu dikemukakan pada saat yang bersamaan. Lebih jauh lagi, kebutuhan dana multilateral untuk membantu negara-negara tersebut akan sangat mendukung perubahan kebutuhan biaya yang tinggi telah terbukti.172

170 171

Ibid., hal. 197. Ibid. 172 Ibid., hal. 197-198.

Framework Convention on Tobacco Control mungkin akan menjadi alat pertama pencarian dukungan dunia untuk para petani tembakau. Dan catatan penting jika prevalensi penggunaan tembakau masih sama, saat ini sebanyak 1,1 milyar perokok di dunia, pada tahun 2025 diprediksikan meningkat menjadi 1,64 milyar, sesuai dengan peningkatan penduduk di Negara berkembang. Oleh karena itu, Negara penanam tembakau sangatlah tidak mungkin (lewat beberapa dekade) menderita secara ekonomi dari aksi pengendalian tembakau seperti Framework Convention on Tobacco Control. Sekalipun usaha pengendalian tembakau secara keseluruhan sangat sukses, di tahun 2030, dunia mungkin akan memiliki pengguna tembakau sebanyak 1 sampai 1,2 milyar.173

Potensi Framework Convention on Tobacco Control Framework Convention on Tobacco Control telah berkontribusi banyak dalam mengubah persepsi publik mengenai tembakau dan dan perlunya memiliki UndangUndang dan peraturan yang kuat untuk mngontrol penggunaan tembakau. Framework Convention on Tobacco Control sampai saat ini telah174 : a. Memberikan dorongan baru untuk membuat legislasi nasional serta tindakan untuk mengontrol dampak tembakau. b. Memberikan bantuan secara teknis dan finansial untuk pengendalian dampak tembakau baik nasional maupun global.

173 174

Ibid., hal. 198. Ibid., hal. 198-199.

c. Memobilisasi LSM dan masyarakat sipil untuk menguatkan upaya pengendalian dampak tembakau. d. Meningkatkan kesadaran publik mengenai taktik pemasaran yang digunakan perusahan tembakau multinasional.

3. Trend Akuisisi Perusahaan Rokok Nasional oleh Investor Asing Akuisisi atau pengambilalihan industri hasil tembakau oleh investor asing saat sekarang cukup diminati . Seperti diketahui, bulan Juni 2009 lalu British American Tobacco, Plc (BAT) mengakuisisi 85% saham PT. Bentoel Internasional Investama Tbk., senilai lebih dari Rp. 5 triliun. Perusahaan yang berkantor pusat di London itu membeli 56% saham Rajawali Group dan pemegang saham lainnya di Bentoel. Perusahaan rokok asal Amerika Serikat, Philip Morris International Inc., sebelumnya mengakuisisi 98% saham PT. HM Sampoerna, Tbk. melalui PT. Philip Morris Indonesia pada 2005.175 Indonesia menjadi target industri rokok asing karena lemahnya regulasi pengendalian tembakau. Indonesia, misalnya, sampai sekarang belum meratifikasi Frame Convention Tobacco Control (FCTC). Cina dan India sudah meratifikasi aturan itu. Indonesia, yang pasarnya jauh lebih besar ketimbang kedua negara tersebut, sampai sekarang belum melakukannya. Indonesia menjadi negara kelima terbesar konsumen pasar rokok dunia. Lantaran Indonesia belum meratifikasi aturan

175

Ningrum Natasya Sirait, et.al., Op.cit., hal. 199.

pengendalian tembakau itu, asing berpeluang menyerbu. "Secara ekonomi pasar Indonesia memang menggiurkan".176 Sebelumnya Philip Morris dan PT. British American Tobacco mengincar Cina. Namun, Cina keburu meratifikasi aturan pengendalian tembakau internasional sehingga mereka berpaling ke Indonesia. Investor asing memilih Indonesia karena regulasi perlindungan kesehatan dari rokok sangat lemah dan konsumsi rokok di Indonesia cukup besar, sebagaimana disebutkan dalam kutipan wawancara di bawah ini177 : ”Hal ini menunjukkan menariknya Pasar Rokok Indonesia bagi Pihak Asing sehingga mengundang mereka untuk mengakuisisi pabrikan-pabrikan besar Rokok di Indonesia. Jumlah konsumsi rokok Indonesia pada tahun 2007 mencapai 215 miliar batang merupakan negara ke-5 terbesar setelah Cina (1,643 miliar batang), Amerika Serikat (460 miliar), Rusia (330 miliar) dan Jepang (260 miliar batang). Perkiraan pangsa pasar Rokok Indonesia yang telah dikuasai pabrikan yang terafiliasi dengan Pihak Asing adalah sebagai berikut : Pasar Sigaret Putih Mesin Sebagaimana kami kemukakan di atas, diperkirakan ± 80% pangsa pasar Sigaret Putih Mesin Indonesia dikuasai PT. PMI dan PT. British American Tobacco. Padahal pada tahun 1984, Sumatera Tobacco Trading Company pernah meraih kejayaannya menguasai ± 48% pangsa pasar Sigaret Putih Mesin Indonesia. Pasar Sigaret Kretek Mesin Dengan diakuisisinya PT. Sampoerna oleh PT. PMI dan PT. Bentoel oleh PT. British American Tobacco maka kepemilikan asing diperkirakan telah mencapai ± 70% pangsa pasar Sigaret Kretek Mesin Indonesia”.178

Ibid. Ibid., hal. 200. 178 Wawancara dengan pengelola PT. Sumatera Tobacco Trading Company, Medan, 2 Desember 2009, sebagaimana dilakukan Ningrum Natasya Sirait, et.al., Op.cit., hal. 199-200.
177

176

BAB IV KETENTUAN PEMBAGIAN CUKAI HASIL TEMBAKAU DITINJAU DARI ASPEK KEADILAN BAGI SUMATERA UTARA SEBAGAI DAERAH PENGHASIL TEMBAKAU DAN LOKASI INDUSTRI HASIL TEMBAKAU DALAM KERANGKA KEBIJAKAN TARIF

A. Cukai Tembakau dan Retribusi Daerah Berbicara mengenai cukai tembakau tidak terlepas dari pendapatan negara yang juga pendapatan daerah melalui ketentuan pembagian cukai hasil tembakau atau Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBH CHT) di Sumatera Utara dapat yang dapat dilihat pada tabel di bawah ini : Tabel 8 Alokasi Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau Provinsi Sumatera Utara Tahun 2008 – 2009 Peraturan Menteri Keuangan No. 60/PMK.07/2008 Rp. 428.097.200,Sumber :

Peraturan Menteri Keuangan No. 85/PMK.07/2009 Rp. 1.193.498.600,-

Peraturan Menteri Keuangan No. 66/PMK.07/2010 Rp. 10.387.046.342,-

Lampiran Peraturan Menteri Keuangan No. 60/PMK.07/2008 tentang Dana Alokasi Cukai Hasil Tembakau Tahun Anggaran 2008, Lampiran Peraturan Menteri Keuangan No. 85/PMK.07/2009 tentang Penetapan Alokasi Sementara Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau Tahun Anggaran 2009, dan Lampiran Peraturan Menteri Keuangan No. 66/PMK.07/2010 tentang Alokasi Sementara Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau Tahun Anggaran 2010

Total tersebut di atas adalah pendapatan daerah melalui Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBH CHT) setiap tahun dari 2008 – 2010 yang disalurkan ke provinsi Sumatera Utara oleh Kementerian Keuangan yang membawahi Departemen Keuangan melalui Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan (DJPK) dengan menggunakan Peraturan Menteri Keuangan No. 126/PMK.07/2010 tentang Pelaksanaan dan Pertanggungjawaban Anggaran Transfer ke Daerah. Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBH CHT) tersebut disalurkan dengan cara transfer melalui rekening kas daerah Sumatera Utara. Dengan menggunakan username rekening kas daerah dan password 4 digit angka terakhir nomor rekening kas daerah Sumatera Utara. Pada tahun 2009 dan 2010 masih didapat dana alokasi sementara, maksudnya adalah bahwa dana tersebut akan naik lagi apabila kepala daerah menyampaikan laporan konsolidasi (penggunaan dana) kepada pemerintah pusat oleh Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan. Apabila disampaikan dengan baik maka Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBH CHT) tersebut akan ditambahkan lagi ke rekening daerah Sumatera Utara. Segitu banyaknya dana yang ditransfer ke rekening daerah tapi pemerintah provinsi sendiri tidak tahu dana tersebut akan digunakan untuk apa, padahal sudah dikeluarkan Peraturan Menteri Keuangan No. 84/PMK.07/2008 tentang Penggunaan Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau dan Sanksi Atas Penyalahgunaan Alokasi Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau.179

Wawancara dengan Kepala Dinas Pendapatan Daerah Provinsi Sumatera Utara, Medan, 25 Agustus 2010 di Kantor Dinas Pendapatan Daerah Provinsi Sumatera Utara.

179

Kendati demikian, pemerintah provinsi Sumatera Utara menginginkan untuk menerapkan Pajak Daerah atau Retribusi Daerah (jika Rencana Pengesahan Rancangan Undang-Undang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah disahkan), yang antara lain akan memperbolehkan Pemerintahan Provinsi Sumatera Utara untuk memberlakukan pajak rokok, berpotensi menghasilkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) hingga mencapai Rp. 100 miliar. Pemerintah provinsi Sumatera Utara meminta agar asosiasi pengusaha pada Industri Hasil Tembakau tidak memperlambat penerapan pajak rokok tersebut.180 Dinas Pendapatan Provinsi Sumatera Utara telah menghitung potensi penerimaan dari penerapan pajak rokok, yang bisa mencapai Rp. 100 miliar per tahunnya. Hasil wawancara mengenai pajak rokok di daerah adalah sebagai berikut : “Kami memang pernah menghitung volume penjualan rokok di seluruh Sumut. Dengan menghitung nilai pajak sebesar 15% dari harga jual, Pemerintah Provinsi Sumatera Utara bisa mendapatkan Rp. 100 miliar per tahun. Meski nilai tersebut didistribusikan ke kabupaten/kota dengan proporsi 20% untuk provinsi dan 70% untuk kabupaten/kota. Saat ini Dinas Pendapatan juga tengah memikirkan formulasi pemberlakuan pajak rokok, Apakah menumpang dengan pemberlakuan cukai tembakau atau dengan cara lain”.181

Pajak rokok yang wewenang pungutnya ada pada pemerintah provinsi jika Rancangan Undang-Undang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah di sahkan. Dalam hal ini tetap saja industri rokok lokal yang akan menerima imbasnya. Ada dua kali pengenaan pungutan disini yaitu cukai tembakau dengan ketentuan peraturan menteri keuangan mengenai tarif cukai tembakau dan pajak daerah atau retribusi daerah.
180 181

Ibid. Ibid.

Untuk penggunaan Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBH CHT) tersebut Dinas Pendapatan Daerah sama sekali tidak memiliki otoritas/kewenangan dalam hal penggunaannya. Semua itu terdapat pada Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Sumatera Utara.182 Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBH CHT) masuk ke rek Setdaprovsu untuk selanjutnya diserahkan kepada dinas yang bertanggung jawab untuk mendayagunakannya/mengalokasikannya. Apabila dana tersebut

disalahgunakan maka peraturan yang berlaku adalah Peraturan Menteri Keuangan No. 84/PMK.07/2008 tentang Penggunaan Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBH CHT) dan Sanksi Atas Penyalahgunaan Alokasi Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBH CHT) pada Pasal 14 yang menyebutkan bahwa : (1) Atas penyalahgunaan alokasi dana bagi hasil cukai hasil tembakau dapat diberikan sanksi berupa penangguhan sampai dengan penghentian penyaluran dana bagi hasil cukai hasil tembakau yang dibuat di Indonesia. (2) Termasuk dalam kategori menyalahgunakan alokasi dana bagi hasil cukai hasil tembakau adalah provinsi/kabupaten/kota yang tidak menyampaikan laporan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11. Dalam Pasal 15 menyebutkan bahwa sanksi berupa penangguhan apabila menyalahgunakan Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBH CHT), yang ditangguhkan disini adalah Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBH CHT)-nya yang tidak ditransfer ke daerah. Tidak ditransfernya Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBH CHT) tersebut karena menunggu laporan konsolidasi dari kepala daerah. Jika yang dituduhkan kepada kepala daerah tidak terbukti maka penangguhan Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBH CHT) akan dicabut dan Dana Bagi

182

Ibid.

Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBH CHT) akan disalurkan kembali, hal ini disebut dalam Pasal 16 ayat (1). Dana yang ditangguhkan akan disalurkan kembali mengikuti transfer triwulan yang dilakukan oleh Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan.183 Pada Pasal 17 Peraturan Menteri Keuangan No. 84/PMK.07/2008 menyebutkan bahwa akan dihentikan penyaluran Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBH CHT) apabila kesalahan dari kepala daerah yang tidak menyalurkan Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBH CHT) sebagaimana semestinya dilakukan 2 (dua) kali. 184 Tidak adanya sanksi yang dapat menimbulkan efek jera bagi kepala daerah pada peraturan ini, dapat mengakibatkan penyalahgunaan wewenang kepala daerah. Setiap peraturan pastinya ada struktur yang mengawasi atau yang disebut badan pengawas ketentuan tersebut.185 Dalam hal penyaluran Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBH CHT) ini, yang menjadi pengawas adalah Direktorat Jenderal Bea dan Cukai beserta Kepolisian. Keduanya bekerja bersama-sama dalam mengawasi penggunaan Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBH CHT) tersebut. Penggunaan Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBH CHT) Provinsi Sumatera Utara digunakan untuk keperluan kantor setempat yaitu dimana uang tersebut disalurkan. Setiap dana yang keluar dari Setdaprovsu diserahkan 10% kepada
Peraturan Menteri Keuangan No. 84/PMK.07/2008 tentang Penggunaan Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau dan Sanksi Atas Penyalahgunaan Alokasi Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau. 184 Ibid. 185 Seperti yang dikatakan Lawrence M. Friedman, jika hukum ingin berjalan dengan baik maka harus memiliki 3 (tiga) unsur, yaitu : 1. substance (substansi hukum); 2. structure (struktur hukum); dan 3. culture (budaya hukum). Mahmul Siregar, “Modul Perkuliahan Teori Hukum : Sistem Hukum”, (Medan : Sekolah Pasca Sarjana Universitas Sumatera Utara, 2008).
183

pejabat terkait dengan cara membuat proyek fiktif, alasannya jelas adalah untuk biaya administrasi. Setelah dana masuk ke Dinas Perindustrian dan Perdagangan Sumatera Utara, sisanya hanya digunakan untuk proyek-proyek pembangunan dan tidak jelas kemana tujuan Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBH CHT) dialokasikan. Hal ini tidak seperti yang diamanatkan oleh Peraturan Menteri Keuangan No. 84/PMK.07/2008.186

B. Tarif Cukai Hasil Tembakau yang Single Tariff Mengenai tarif cukai yang mengarah kepada single spesifik tarif atau kebijakan single tariff, akan membuka peluang bagi industri rokok untuk melakukan monopoli. Jika perusahaan rokok di Indonesia diakuisisi oleh perusahaan asing, termasuk perusahaan di Sumatera Utara. Maka akan terjadi monopoli rokok, perusahaan-perusahaan lokal akan dikendalikan oleh perusahaan-perusahaan

multinasional dengan begitu suatu negara yang tidak punya daun tembakau satu lembar pun akan dapat mengendalikan peredaran rokok di Indonesia karena konsumen terbesar adalah Indonesia. Tembakaunya ditanam di Indonesia, dibuat oleh orang Indonesia, pabrikpabrik produksi di Indonesia, dan dipasarkan di Indonesia tapi hasil penjualan produk rokok tersebut lari ke luar negeri. Hasil yang didapat Indonesia adalah hanya penyakit saja yang diderita akibat merokok.

186

Wawancara dengan Kepala Dinas Pendapatan Daerah Provinsi Sumatera Utara, Op.cit.

Hal ini disebut dengan monopoli karena yang mengendalikan harga adalah perusahaan rokok multinasional tadi. Bisa saja satu bungkus rokok dijual dengan harga mencapai Rp. 50.000,- yang biasanya dapat dibeli dengan harga Rp. 10.000,-. Bagi konsumen Golongan I dan Golongan II, hal ini tidak jadi masalah karena loyalitas mereka terhadap suatu produk tinggi. Monopoli yang dilakukan adalah dengan cara kartel yaitu perjanjian antara perusahaan-perusahaan rokok yang ada dengan menentukan harga rokok di atas harga pasaran. Disebut monopoli karena hanya beberapa perusahaan yang menguasainya. Namun, kartel dapat tidak terjadi apabila ada salah satu perusahaan yang ingkar janji dengan cara menurunkan Harga Jual Ecerannya (HJE) demi mendapatkan konsumen yang lebih banyak dari pesaingnya.187 Namun dalam teori ekonomi industri, kartel dalam industri beragam bentuknya, tetapi umumnya terjadi dalam 2 (dua) cara yaitu : dengan penetapan harga; dan penetapan output. Mengacu pada teori tersebut, dapat dipastikan bahwa industri rokok tidak akan membentuk kartel melalui penetapan harga karena harga jugal produk rokok diatur oleh pemerintah melalui Harga Jual Eceran dan penetapan cukai yang sejatinya sebagai alat untuk mengontrol konsumsi barang berbahaya. Industri rokok juga tidak akan membentuk kartel melalui penetapan output, karena

Ningrum Natasya Sirait, Hukum Persaingan di Indonesia : Undang-Undang No. 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat, (Medan : Pustaka Bangsa Press, 2004), hal. 57-71.

187

pada

prinsipnya

setiap

perusahaan

berkeinginan

untuk

memaksimalkan

keuntungan.188 Bentuk kartel yang paling memungkinkan adalah dalam bentuk lobi yang sampai saat ini dipraktekkan. Lobi yang telah dilakukan salah satunya adalah ancaman bahwa perusahaan rokok akan beralih ke mekanisasi apabila pemerintah Republik Indonesia memberlakukan cukai spesifik, dan tentunya lagi-lagi akan tercipta pengangguran tambahan akibat pengalihan tersebut. Meskipun menurut penelitian yang dilakukan sebenarnya tidak terdapat pengaruh antara kenaikan cukai dan penetapan kebijakan terhadap pertumbuhan tenaga kerja, namun lobi semacam ini ternyata terbukti efektif mempengaruhi implementasi kebijakan pemerintah, karena telah berhasil melemahkan, membuat ambigu dan/atau tidak implementatifnya peraturan perundang-undangan yang dihasilkan di masa lalu, dan berlaku sampai saat ini. Seperti Undang-Undang No. 32 Tahun 2002 tentang Penyiaran Pasal 46 butir 3, Undang-Undang No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak pada Pasal 59 dan 89 ayat (2). Undang-Undang No. 18 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen, Undang-Undang No. 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan pada Pasal 44, Peraturan Pemerintah No. 19 Tahun 2003 tentang Pengamanan Rokok, setelah diubah sebanyak 2 (dua) kali dan justru menjadi lebih lemah dibandingkan peraturan sebelumnya. Lobi semacam itu juga telah berhasil menggagalkan Rancangan Undang-Undang

Indonesian Forum of Parlieamentarians on Population and Development, “Meraup Keuntungan dari Kematian (Taktik Industri Rokok di Indonesia)”, IFPPD, Rabu 26 Mei 2010.

188

Pengendalian Dampak Produk Tembakau terhadap Kesehatan untuk dimasukkan ke dalam Prolegnas pada masa pemerintahan berjalan.189 Keputusan terakhir tetap berada di tangan pemerintah untuk mengatasi dilema tersebut. Sekarang pemerintah hanya memilih pihak mana yang akan dibela kepentingannya, masyarakat umum yang terdiri dari wanita, anak-anak dan kaum miskin, terutama bukan perokok namun terancam kesehatan dan masa depannya, atau industri yang pada dasarnya tidak dirugikan secara signifikan eksistensinya.190

C. Aspek Keadilan Terhadap Kebijakan Tarif Cukai Hasil Tembakau Untuk memecahkan permasalahan yang timbul mengenai ketentuan pembagian cukai hasil tembakau di Indonesia dan khususnya di Sumatera Utara sebagai daerah penghasil tembakau dan lokasi Industri Hasil Tembakau maka akan digunakan teori utilitarianisme dari Jeremy Bentham (1748-1873) yang disebut Utility Theory (the greatest happines for the greatest number of people).191 Utilitarianisme adalah aliran yang meletakkan kemanfaatan sebagai tujuan utama hukum. Kemanfaatan di sini diartikan sebagai kebahagiaan (happines). Jadi, baik buruknya atau adilnya tidaknya suatu hukum, bergantung kepada apakah hukum itu memberikan kebahagiaan kepada manusia atau tidak.192

Ibid. Ibid. 191 Mahmul Siregar, “Modul Perkuliahan : Filsafat Hukum”, (Medan : Sekolah Pasca Sarjana Universitas Sumatera Utara, 2009). 192 Teori utilitarianisme mengemukakan bahwa kebenaran dan kesalahan dari setiap tindakan seluruhnya tergantung pada hasil yang diperoleh dari suatu perbuatan. Dengan kata lain, baik niat di balik tindakan ataupun kebenaran dan kesalahan yang fundamental dari tindakan yang dilakukan, hanya sebagai konsekuensi. Pendekatan ini sangat pragmatis terhadap pembuatan keputusan etis.
190

189

Kebahagiaan yang disebut dalam teori ini seharusnya dapat dirasakan oleh setiap individu. Tetapi hal tersebut tidak mungkin tercapai (dan pasti tidak mungkin), diupayakan agar kebahagiaan itu dinikmati oleh sebanyak mungkin individu dalam masyarakat (bangsa) tersebut. Tujuan hukum pada teori utilitarianisme adalah menciptakan ketertiban masyarakat, disamping untuk memberikan manfaat sebesarbesarnya kepada jumlah orang yang terbanyak. Berarti hukum merupakan pencerminan perintah penguasa juga, bukan pencerminan dari rasio semata.193 Setelah mendapatkan mana yang menjadi manfaat terbesarnya maka itulah yang dinamakan keadilan. Dengan begitu dapat diterapkan dalam menentukan kegunaan dari cukai hasil tembakau yang digunakan apakah memenuhi rasa keadilan atau tidak. Sebagaimana telah diuraikan pada sub bab terdahulu bahwa kebijakan pengendalian rokok melalui instrumen kebijakan cukai dengan menaikkan cukai yang tinggi, sebagaimana diterapkan dalam Peraturan Menteri Keuangan No. 181/PMK 011/2009 tidak memenuhi rasa keadilan, khususnya bagi industri skala kecil. Semakin tinggi Harga Jual Eceran produk hasil tembakau, maka semakin rendah rasio kenaikan tarif cukai yang wajib dibayar kepada negara. Produk-produk Industri Hasil Tembakau skala kecil umumnya adalah produk pada kisaran Harga Jual Eceran rendah, sehingga rasio pengenaan tarif dari Harga Jual Eceran lebih besar dari produk-produk merek terkenal yang sudah mapan dan umumnya diproduksi oleh perusahaan-perusahaan besar dan
Semacam estimasi rasional dari hasil dibuat dan tindakan untuk memaksimalkan manfaat terbesar bagi mayoritas orang. Tentu saja, dalam pemikiran sebagian orang, pendekatan ini sering berujung pada “tujuan membenarkan cara”. Jeremy Bentham dalam Bryan Magee, The Story of Philosophy : Kisah Tentang Filsafat, Edisi Indonesia, diterjemahkan Marcus Widodo dan Hardono Hadi, (Yogjakarta : Kanisius, 2008), hal. 182-185. 193 Loc.cit.

multinasional. Kenaikan tarif yang lebih tinggi tersebut membuat Industri Hasil Tembakau skala kecil semakin termarginalkan dari pasar Industri Hasil Tembakau. Sementara itu, konsumen Industri Hasil Tembakau skala kecil sangat rentan dengan kenaikan harga. Apabila harga jual ke konsumen dinaikkan, maka dengan daya beli yang terbatas, maka konsumen Industri Hasil Tembakau skala kecil akan mengalihkan konsumsinya kepada produk yang lebih murah, meskipun produk tersebut diketahui ilegal. Keadaan ini diperburuk oleh banyak peredaran rokok ilegal yang harganya lebih murah dari produk Industri Hasil Tembakau skala kecil. Berbada dengan konsumen merek-merek terkenal dan produk Industri Hasil Tembakau multinasional yang secara umumnya adalah konsumen inelastis yang tidak dipengaruhi oleh kenaikan tarif dan harga jual, karena daya beli yang tinggi.194 Oleh karena itu, tidaklah mengherankan jika Industri Hasil Tembakau skala kecil memandang kebijakan tarif melalui Peraturan Menteri Keuangan No. 181/PMK 011/2009 tidak memenuhi rasa keadilan karena hanya mengakomodir kepentingan Industri Hasil Tembakau skala besar dan Industri Hasil Tembakau multinasional, sebagaimana disebutkan dibawah ini : “Perusahaan kami bergerak di produk segmen menengah bawah dan sangat rentan terhadap setiap perubahan kebijakan yang dterapkan oleh Pemerintah. Perubahan Kebijakan Pemerintah atas Barang Kena Cukai dirasakan semakin memberatkan kami sebagai pengusaha lokal. Sebagai perusahaan lokal dengan jumlah produksi yang relatif kecil, kami merasa terlalu dijauhkan dari rasa keadilan. Aspirasi yang disampaikan tidak relevan dengan kebijakan/penetapan tarif yang berlaku. Pada akhirnya, Pengusaha lokal bermodal kecil hanya akan menjadi penonton di negeri sendirinya”. “Apresiasi Pemerintah Pusat kepada Pengusaha lokal atas peran mereka dalam membantu menekan angka pengangguran dan meningkatkan taraf kehidupan
194

Ningrum Natasya Sirait, et.al., Op.cit., hal. 256-257.

masyarakat di sekitarnya sangat kecil kalau tidak bisa dikatakan tidak ada sama sekali. Nuansa keberpihakan kepada Pengusaha bermodal besar dan PMA sangat kentara”. “Penetapan Single Tariff hanya akan mematikan para pengusaha lokal bermodal kecil dan memperbesar peluang dari Perusahaan besar dan PMA dalam menguasai pasar di Indonesia. Dengan pemberlakuan single tarif, merek-merek lokal dengan skala produksi terbatas akan semakin sulit bersaing dan bertahan”.195 Muncul anggapan bahwa kebijakan pemerintah berpihak pada kelompok masyarakat tertentu dan menyampingkan kelompok masyarakat lainnya. Dalam konteks penerapan tarif cukai, pemerintah cenderung lebih berpihak pada pengusaha Sigaret Kretek Mesin dibandingkan pelaku usaha Sigaret Putih Mesin lokal karena penerapan tarif cukai yang tidak memperhitungkan daya beli dan kemampuan Industri Hasil Tembakau, sebagaimana dikemukakan pengelola PT. Sumatera Tobacco Trading Company berikut : “Ketidakadilan dan ketidakseimbangan bagi Konsumen Rokok segmen menengah bawah karena dengan penerapan sistem spesifik murni dan rencana Pemerintah menuju unifikasi (single rate), tidak menutup kemungkinan beban cukai konsumen akan disamakan tanpa memperdulikan kemampuan daya beli konsumen”. “Untuk mencegah peralihan konsumen PT. Sumatera Tobacco Trading Company yang berada pada segmen menengah bawah ke SKT (Sigaret Kretek Tangan) dan Rokok Ilegal, PT. Sumatera Tobacco Trading Company telah berusaha mengsubsidi beban konsumen tersebut sehingga harga jual rokok hanya berkisar 90% harga bagi agen. Tetapi ditengah tingginya beban-beban industri dan kenaikan beban cukai yang terus menerus, untuk jangka panjang PT. Sumatera Tobacco Trading Company tidak akan mampu mengsubsidi konsumen lagi”. “Pemerintah telah memberikan keringanan-keringanan bagi Sigaret Kretek Tangan (SKT) dengan beban cukai yang jauh lebih rendah dari jenis rokok lainnya. Namun, Pemerintah belum memperhatikan perusahaan-perusahaan
Wawancara dengan pengelola PT. Stabat Industri, Medan, 5 Desember 2009, sebagaimana dilakukan Ningrum Natasya Sirait, et.al., Op.cit., hal. 257.
195

rokok Sigaret Putih Mesin modal Nasional dan seolah-olah para pelaku industri di jenis Sigaret Putih Mesin seluruhnya Perusahaan Multinasional. Sehingga Perusahaan Sigaret Putih Mesin Modal Nasional dengan keterbatasan Modal dipaksa berhadapan langsung dengan Perusahaan Raksasa Multinasional tanpa perlindungan wajar Pemerintah”. “Ada perbedaaan perlakuan kemasan Rokok Putih dengan Rokok Kretek. Untuk Rokok Putih diwajibkan 20 batang perbungkus, sedang untuk Rokok Kretek diperbolehkan 10 batang, 12, 16 dan 20 batang perbungkus”. “Sehingga ditengah daya beli sebagian besar konsumen melemah dan elastis maka kebijaksanaan kemasan tersebut lebih berpihak dan menguntungkan Rokok Kretek”.196

Aturan-aturan dan kebijakan terkait bidang ekonomi harus berdimensi keadilan. Aturan dan kebijakan dibuat sedemikian rupa, agar tidak menutup mata terhadap fakta adanya ketidakmerataan sosial dan ekonomi di tengah masyarakat. Aturan dan kebijakan harus memberikan jaminan adanya kesempatan dan perlakuan yang sama bagi pihak-pihak yang memiliki kelemahan/kekurangan secara ekonomi dan sosial. Dalam banyak hal, terkadang aturan menjadi diskriminatif positip untuk melindungi mereka yang lemah.197 Telah dijelaskan pada bagian-bagian terdahulu, bahwa Industri Hasil Tembakau, khususnya berskala kecil saat ini menghadapi permasalahan yang sangat kompleks dan rumit dalam upaya mempertahankan keberadaan usaha, yang meliputi iklim usaha dan iklim persaingan yang tidak kondusif, modal, bahan baku,

pemasaran, tekanan rokok ilegal, kemampuan beli konsumen, peraturan-peraturan larangan merokok di tempat-tempat tertentu, pengaruh Framework Convention on Tobacco Control, infrastruktur, dan sebagainya. Justru pada saat yang bersamaan
196 197

Ibid. Ningrum Natasya Sirait, et.al., Op.cit., hal. 269.

peraturan membebankan tarif cukai yang menurut mereka tidak adil dan tidak proporsional.198 Kebijakan cukai yang tinggi dan tidak proporsional menimbulkan kesulitan bagi Industri Hasil Tembakau skala kecil, karena pengaruh kemampuan beli konsumen, elastisitas konsumen dan peredaran rokok ilegal yang secara umum lebih murah dari yang mereka hasilkan. Aturan dan kebijakan semestinya merespon fakta yang demikian, sehingga output kebijakan tidak menimbulkan rasa ketidakadilan bagi sekelompok pelaku usaha (Industri Hasil Tembakau skala kecil). Dengan pola rasio kenaikan cukai yang lebih besar bagi Harga Jual Eceran yang semakin rendah, maka produk Industri Hasil Tembakau skala kecil akan menanggung rasio kenaikan cukai yang lebih besar, mengingat secara umum Harga Jual Eceran produk mereka lebih murah. Demikian pula perbedaan kenaikan antara Sigaret Kretek Mesin dan Sigaret Putih Mesin juga menimbulkan rasa ketidakadilan bagi Sigaret Putih Mesin karena kenaikan cukai pada jenis Industri Hasil Tembakau ini lebih tinggi dibandingkan dengan Sigaret Kretek Mesin. Hal yang demikian menyebabkan aturan atau kebijakan menimbulkan suasana yang tidak stabil, dan penolakan.199 Dari sisi penerimaan daerah melalui Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBH CHT). Pemerintah Provinsi Sumatera Utara menginginkan Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBH CHT) tersebut dibagikan secara lebih banyak kepada daerah penghasil. Pembagian tersebut agar dapat digunakan seperti yang diamanatkan oleh peraturan menteri keuangan tentang pengalokasian dana bagi hasil cukai hasil

198 199

Ibid. Ibid., hal. 269-270.

tembakau. Ketentuan pembagian yang 2% oleh Undang-Undang No. 39 Tahun 2007 tentang Perubahan atas Undang-Undang No. 11 Tahun 1995 tentang Cukai tidak berdasar. Pembagian tersebut dinilai tidak adil karena pemerintah pusat mendapatkan porsi yang lebih besar. Sehubungan dengan hal-hal tersebut diatas, maka format kebijakan cukai semestinya tidak menyimpang dari prinsip proporsionalitas dan rasa keadilan dengan mempertimbangkan fakta-fakta konkrit berupa kemampuan daya beli konsumen dan kemampuan Industri Hasil Tembakau (khususnya skala kecil) terhadap beban yang ditetapkan.200

200

Ibid., hal. 270.

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan Setelah melakukan penelitian dan wawancara dengan pihak terkait mengenai Analisis Hukum Kebijakan Tarif Cukai Terhadap Industri Hasil Tembakau di Sumatera Utara, didapat kesimpulan sebagai berikut : 1. Kebijakan tarif cukai hasil tembakau di Indonesia mengarah pada dua hal pokok, yaitu : tarif cukai hasil tembakau yang cenderung terus meningkat (naik); dan kebijakan tarif tunggal (single tariff policy) yang menyamaratakan tingkat tarif antara seluruh golongan industri hasil tembakau. Kebijakan yang demikian mendorong peningkatan pendapatan negara dari cukai hasil tembakau dan menjadikan sistem tarif menjadi lebih sederhana, akan tetapi kurang mempertimbangkan daya dukung industri hasil tembakau yang masuk ke dalam golongan industri menengah dan industri kecil. Hal ini dikarenakan tingkat tarif cukai yang terus meningkat menyebabkan beban biaya bagi industri hasil tembakau. Beban ini lebih dirasakan oleh industri hasil tembakau yang masuk dalam golongan industri menengah dan kecil dibandingkan dengan industri hasil tembakau berskala besar. Umumnya beban tarif cukai hasil tembakau oleh industri hasil tembakau akan dialihkan menjadi beban konsumen melalui harga jual eceran rokok. Industri hasil

tembakau golongan besar pada umumnya memproduksi rokok bermerek dengan karakter konsumen yang tidak dipengaruhi oleh harga jual rokok sehingga beban tarif cukai yang tinggi dapat dialihkan kepada konsumen dengan menaikkan harga jual. Kondisi berbeda dengan industri hasil tembakau berskala menengah dan kecil yang umumnya memiliki konsumen yang sangat dipengaruhi oleh harga jual rokok. Beban tarif cukai yang tinggi apabila dialihkan kepada konsumen, maka akan terjadi penurunan penjualan akibat konsumen industri hasil tembakau berskala menengah dan kecil tersebut mengalihkan konsumsinya pada rokok yang harganya sesuai dengan kemampuan keuangannya. Pada konteks ini indistri hasil tembakau berskala menengah dan kecil tersebut berpotensi kehilangan konsumen. Dengan demikian, kebijakan tarif cukai hasil tembakau yang lebih dipengaruhi oleh upaya meningkatkan pendapatan negara dan penyederhanaan sistem ke arah single tariff tersebut menyebabkan dampak yang diskriminatif dan menimbulkan beban biaya (transaction cost) bagi industri hasil tembakau skala menengah dan skala kecil. 2. Kebijakan tarif cukai hasil tembakau yang cenderung terus menerus meningkat (naik) dan mengarah pada kebijakan tarif tunggal (single tariff policy) berpengaruh terhadap industri hasil tembakau di Sumatera Utara. Pengaruh tersebut terutama dikarenakan industri hasil tembakau yang ada di Sumatera Utara selama ini telah menghadapi masalah-masalah yang menghambat perkembangan usaha mereka, antara lain : peredaran cukai rokok palsu; peredaran rokok palsu; dan kebijakan yang kurang mendukung.

Masalah ini belum seluruhnya terselesaikan, justru industri-industri tersebut harus dihadapkan pada beban kenaikan cukai hasil tembakau yang tinggi dan sangat berpengaruh terhadap kemampuan produksi dan penjualan dari industri-industri tersebut. Pengaruh tersebut dapat dilihat dari : menurunnya jumlah perusahaan Industri Hasil Tembakau yang ada di Sumatera Utara; dan tidak jelasnya pengalokasian Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBH CHT) yang sudah ditransfer oleh pemerintah pusat. 3. Ketentuan pembagian cukai hasil tembakau ditinjau dari aspek keadilan bagi Sumatera Utara sebagai daerah penghasil tembakau dan lokasi Industri Hasil Tembakau dalam kerangka kebijakan tarif kurang berpihak kepada daerah penghasil tembakau. Kurang keberpihakan tersebut ditinjau dari Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBH CHT) dapat dilihat dari persentasi yang diterima oleh pemerintah daerah dibandingkan dengan persentase yang diterima oleh pemerintah pusat. Pemerintah daerah hanya menerima 2% dari keseluruhan penerimaan negara melalui cukai, persentasi itu juga masih dibagi-bagi lagi dengan daerah lain yang bukan penghasil tembakau. Dari provinsi Sumatera Utara dengan alokasi penerimaan 2%, pemerintah daerah menerima dampak negatif dari industri hasil tembakau seperti : limbah yang dihasilkan industri hasil tembakau; penggunaan tanah/lahan pertanian yang mengurangi kesuburan tanah; dan dampak negatif dari rokok itu sendiri; serta jika terjadi gejolak dalam industri rokok misalnya : demonstrasi buruh maka pemerintah daerahlah yang menghadapinya. Apalagi dengan

disalahgunakannya Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBH CHT) yang

tidak teralokasikan dengan baik dan benar. Untuk penyaluran Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBH CHT) tersebut sebaiknya diawasi dan dikendalikan agar dapat menjamin penggunaan dana serta pelaksanaan program kegiatan yang efektif dalam mencapai sasaran dan tujuan yang telah ditetapkan.

B. Saran Berdasarkan analisis dan kesimpulan, selanjutnya akan disarankan hal-hal sebagai berikut : 1. Dalam hal kebijakan single tariff yang diterapkan pemerintah sebaiknya perlu ditinjau kembali penerapan kebijakan single tariff dan kebijakan yang hanya berdasarkan pada pendapatan negara. Dengan mengimbangi antara tujuan meningkatkan pendapatan negara dengan kepentingan masyarakat, pemerintah daerah, dan industri hasil tembakau itu sendiri. 2. Untuk mengurangi dampak kenaikan tarif yang tinggi bagi industri hasil tembakau di Sumatera Utara disarankan agar pemerintah daerah melakukan upaya-upaya yang bertujuan memperbaiki iklim usaha, antara lain : dengan mengurangi transaction cost yang ditimbulkan oleh peraturan daerah dan memperbaiki infrastruktur investasi di Sumatera Utara. 3. Mengenai kebijakan single tariff bagi Industri Hasil Tembakau di Sumatera Utara yang kurang berpihak kepada Industri Hasil Tembakau atau Industri Rokok sebaiknya melakukan peninjauan ulang terhadap alokasi Dana Bagi

Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBH CHT) yang diterima oleh daerah yang mempertimbangkan dampak yang diterima oleh daerah. Oleh karena itu, diperlukan studi lebih lanjut untuk mendapatkan besaran Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBH CHT) yang lebih adil bagi daerah Sumatera Utara. Demikianlah saran yang diajukan agar kiranya dapat menjadi pertimbangan di kemudian hari.

DAFTAR PUSTAKA

BUKU Amirudin dan Zainal Asikin, Pengantar Metode Penelitian Hukum, Jakarta : Rajawali Press, 2010.

Arinanto, Satya., “Kumpulan Materi Kuliah Politik Hukum”, Jakarta : Program Pasca Sarjana Fakultas Hukum Universitas Indonesia, 2002.

Aulia, Emil W., Berjuta-juta Dari Deli : Satoe Hikajat Koeli Contract, Jakarta : Gramedia Pustaka Utama, 2006.

Bungin, Burhan., Penelitian Kualitatif : Komunikasi, Ekonomi, Kebijakan Publik, dan Ilmu Sosial Lainnya, Jakarta : Kencana, 2009.

Crofton, John., dan David Simpson, Tembakau : Ancaman Global, diterjemahkan oleh Angela N. Abidin, et.al., Jakarta : Elex Media Komputindo, 2009.

Devi, T. Keizerina., Peonale Sanctie : Studi tentang Globalisasi Ekonomi dan Perubahan Hukum di Sumatera Timur (1870-1950), Medan : Program Pasca Sarjana Universitas Sumatera Utara, 2004.

Diah, Marwah M., Restrukturisasi BUMN di Indonesia : Privatisasi atau Korporatisasi, Jakarta : Literata, 2003.

Kelsen, Hans., Teori Hukum Murni : Dasar-Dasar Ilmu Hukum Normatif, diterjemahkan oleh Raisul Muttaqien, disunting oleh Nurainun Mangunsong, Bandung : Nusamedia & Nuansa, Cet. III, 2007. Magee, Bryan., The Story of Philosophy : Kisah Tentang Filsafat, Edisi Indonesia, diterjemahkan Marcus Widodo dan Hardono Hadi, Yogjakarta : Kanisius, 2008.

Muhdar, Muhamad., “Bahan Kuliah Metode Penelitian Hukum : Sub Pokok Bahasan Penulisan Hukum”, Balikpapan : Universitas Balikpapan, 2010.

Poesponegoro, Marwati Djoened., dan Nugroho Notosusanto, Sejarah Nasional Indonesia, Jakarta : Balai Pustaka, Vol. 3, 1992.

Rachmat, Muchjidin., dan Sri Nuryanti, Dinamika Agribisnis Tembakau Dunia dan Implikasinya bagi Indonesia, Bogor : Pusat Analisis Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian.

Rajagukguk, Erman., ”Hukum Ekonomi Indonesia Memperkuat Persatuan Nasional, Mendorong Pertumbuhan Ekonomi dan Memperluas Kesejahteraan Sosial”, Bali : Seminar Pembangunan Hukum Nasional VIII, tanggal 14-18 Juli 2003.

Roadmap Industri Hasil Tembakau 2007-2020, Departemen Perindustrian Republik Indonesia : Dirjend Bea dan Cukai, 2009.

Sirait, Ningrum Natasya., et.al., Analisis Hukum Kebijakan Tarif terhadap Industri Hasil Tembakau di Sumatera Utara, Medan : Universitas Sumatera Utara, 2009.

Sirait, Ningrum Natasya., Hukum Persaingan di Indonesia : Undang-Undang No. 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat, Medan : Pustaka Bangsa Press, 2004. Siregar, Mahmul., “Catatan Perkuliahan : Hukum Transaksi Bisnis Internasional”, Medan : Sekolah Pasca Sarjana Universitas Sumatera Utara, 2009.

-------- ., “Modul Perkuliahan : Filsafat Hukum”, Medan: Sekolah Pasca Sarjana Universitas Sumatera Utara, 2009.

-------- ., “Modul Perkuliahan Teori Hukum : Sistem Hukum”, Medan : Sekolah Pasca Sarjana Universitas Sumatera Utara, 2008.

Subekti, R. dan R. Tjitrosudibio, Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, Jakarta : Pradnya Paramita, 1979.

Sunggono, Bambang., Metodologi Penelitian Hukum, Jakarta : Rajawali Pers, 2010.

Tjahyono, Herry., The XO Way : 3 Giants 6 Liliputs, Jakarta : Grasindo, 2007.

WHO Indonesia, “Framework Convention on Tobacco Control (FCTC)”, Switzerland : World Health Organization Document Production Services, 2003.

ARTIKEL DAN MAJALAH Antara News, “Pita Cukai Palsu Rugikan Negara Rp. 1,5 Triliun”, Rabu, 29 Juli 2009, http://www.antaranews.com/berita/1248854047/pita-cukai-palsu-rugikannegara-rp1-5-triliun., diakses pada 30 Agustus 2010.

Aprianto, Anton., “Reformasi Birokrasi Dongkrak Penerimaan Cukai 2008”, Majalah Tempo, 31 Desember 2008, http://www.tempointeraktif.com /hg/ekbis/2008/12/31/brk,20081231-153253,id.html., diakses pada 26 Mei 2010.

Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan Republik Indonesia, “Cukai Rokok Diputuskan Naik 7%”, http://www.fiskal.depkeu.go.id/2010/edef-kontenview.asp?id=20080511101818., diakses pada 30 Agustus 2010.

Balittas, “Status Komoditi Tembakau”, Departemen Pertanian, http://balittas.litbang.deptan.go.id/ind/index.php?option=com_content&view= category&id=56&Itemid=60., diakses pada 30 Agustus 2010.

“Daftar Anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa”, http://id.wikipedia.org/wiki/ Daftar_anggota Perserikatan_Bangsa-Bangsa., diakses pada 31 Mei 2010.

Darmawan, Yusran., ”Membincang Holistik dalam Antropologi”, http://timurangin.blogspot.com/2009/08/membincang-holistik-dalamantropologi.html., diakses pada 13 Agustus 2010.

Departemen Keuangan Republik Indonesia – Biro Hubungan Masyarakat, “Kebijakan Cukai Hasil Tembakau Tahun 2010”, Siaran Pers No. 164/HMS/2009, (Jakarta : Depkeu Republik Indonesia, tanggal 18 November 2009).

Departemen Pendidikan Nasional, “Integral”, Kamus Besar Bahasa Indonesia Online, http://pusatbahasa.diknas.go.id/kbbi/index.php., diakses pada 13 Agustus 2010.

Direktorat Jenderal Perkebunan, “Perlu Dikembangkan Tembakau Rendah Nikotin & Tar Untuk Mengurangi Dampak Rokok Terhadap Kesehatan”, http://ditjenbun.deptan.go.id/web.old//index.php?option=com_content&task= view&id=303&Itemid=62., diakses pada 30 Agustus 2010.

Etika Penulisan Ilmiah, (DITJEN DIKTI : Lokakarya Pelatihan Penulisan Artikel Ilmiah yang diselenggarakan DP2M), hal. 2-6., seperti yang diringkas/disarikan oleh M. A. Rifai., dalam Munandir., “Kode Etik Menulis : Butir-Butir”, www.unissula.ac.id/perpustakaan/.../Munandir%20 (kode% 20etik).ppt., 2007, diakses pada 25 Mei 2010.

Gatra, “Tembakau Deli Manikam nan Nyaris Pudar”, Tanggal 22 Agustus 2007.

“Genjot Cukai Tembakau Guna Penuhi Target APBN 2010”, Majalah Warta Ekonomi, 19 November 2009, http://www.wartaekonomi.co.id /index.php?option=com content&view= article&id=3558:genjot-cukaitembakau-guna-penuhi-target-apbn-2010-&catid=53:aumum., diakses pada 26 Mei 2010.

Gibbons, Zeynita., ”Bursa Tembakau Bremen, Apa Perlu Dipertahankan”, http://www.antara.co.id/berita/1246836766/bursa-tembakau-bremen-apaperlu-dipertahankan., diakses pada 13 November 2009.

“Hari Perkebunan 10 Desember, Merajut Sejarah Panjang Perkebunan Indonesia”, http://ditjenbun.deptan.go.id/index.php?option=com_content&view=article&i d=118:hari-perkebunan-10-desember-merajut-sejarah-panjang-perkebunanindonesia&catid=36:news., diakses pada 15 Juni 2010.

Hasibuan, Hisar., “Pajak Rokok Sebagai Sumber PAD Sumatera Utara, Harian Medan Bisnis : Selasa, 16 Desember 2008, http://www.pajakonline.com/engine/artikel/art.php?artid=4211., diakses pada 31 Agustus 2010.

Indonesian Forum of Parlieamentarians on Population and Development, “Meraup Keuntungan dari Kematian (Taktik Industri Rokok di Indonesia)”, IFPPD, Rabu 26 Mei 2010.

Junaidy. Ronny K., “Ilmu Hukum dalam Perspektif Ilmu Pengetahuan Modern”, http://www.legalitas.org/content/ilmu-hukum-dalam-perspektif-ilmupengetahuan-modern., diakses pada 13 Agustus 2010.

“Kampanye Anti Rokok Tekan Tembakau Deli”, http://www.sumatrabisnis.com /industri/agribisnis/1id4667.html., diakses pada 15 Juni 2010.

”Kebijakan Ekstensifikasi Cukai dan Intensifikasi Cukai Hasil Tembakau”, www.beacukai.go.id/library/data/Cukai2.htm., diakses pada 31 Mei 2010.

”Pemerintah : Kurangi Dampak Kenaikan Cukai Tembakau”, http://www. antaranews.com/berita/1269447624/pemerintah-kurangi-dampak-kenaikancukai-tembakau., diakses pada 31 Mei 2010.

“Pemerintah Masih Dukung Industri Rokok”, Jakarta : Suara Pembaruan, tanggal 17 Maret 2010.

“Pemerintah Minta Masukan LSM Soal Pengesahan FCTC”, http://erabaru.net /nasional/50-jakarta/8294-pemerintah-minta-masukan-lsm-soal-pengesahanfctc., diakses pada 15 Juni 2010.

“Penanganan Rokok Ilegal Belum Optimal”, http://www.beacukai.go.id/news/readNews.php?ID=878&Ch=01., diakses pada 01 September 2010.

Rahmadi, Anton., ”Efektivitas Fatwa Haram Rokok dan Alternatif Industri Tembakau”, http://belida.unmul.ac.id/index.php?option=com content& task= view&id=86&Itemid=2., diakses pada 26 Mei 2010.

Rissabela, “Industri Rokok : Fakta Industri Rokok di Indonesia”, http://rissabela.wordpress.com/industri-rokok/., diakses pada 31 Agustus 2010.

Riyanto, S., “Rokok dan Pengaruhnya Dalam Kehidupan Masyarakat”, http://padangtoday.com/index.php?today=article&j=6&id=704., diakses pada 31 Agustus 2010.

Sigit, Darmawan., “Sejarah Bea Cukai”, http://sipetualang.com/?p=8., diakses pada 07 September 2010.

Simanjuntak, Eva., “Industri Rokok Sumut Terancam”, Harian Global, http://www.harianglobal.com/index.php?option=com_content&view=article&id=20448:industri -rokok-sumut-terancam&catid=27:bisnis&Itemid=59., diakses pada 31 Agustus 2010.

“Struktur Industri dan Pertanian Tembakau”, http://www.naikkanhargarokok.com/tfiles/file/BukuEkonomiTembakauInd/Ekonomic TobaccoIndonesiaBabV.pdf., diakses pada 10 April 2010.

Susanto, Heri., “Dari Kudus Jadi Bos Superblok Grand Indonesia”, http://bisnis.vivanews.com/news/read/136634-dari_kudus_jadi_bos_ superblok_grand_indonesia., diakses pada 10 April 2010.

“Tanah Apanage di Jawa”, http://fms.ormawa.uns.ac.id/2008/10/20/tanah-apanage-dijawa/., diakses pada 11 November 2009.

“Tolak Kenaikan Cukai, Ribuan Pekerja Rokok Terancam Jadi Pengangguran”, http://beritasore.com/2009/12/08/tolak-kenaikan-cukai-ribuan-pekerja-rokokterancam-jadi-pengangguran/., diakses pada 31 Agustus 2010.

Wijaya, Agoeng., “Kenaikan Tarif Cukai Rokok Lebih 5 Persen”, Majalah Tempo, 04 November 2009, http://www.tempointeraktif.com/hg/bisnis /2009/11/04/brk,20091104-206424, id.html., diakses pada 26 Mei 2010.

Wikipedia, ”Kretek”, http://id.wikipedia.org/wiki/Kretek., diakses pada 13 November 2009.

Wikipedia, “Sejarah”, http://id.wikipedia.org/wiki/Kretek#Sejarah., diakses pada 13 November 2009.

PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN Peraturan Menteri Keuangan No. 43/PMK.04/2005 tentang Penetapan Harga Dasar dan Tarif Cukai Hasil Tembakau.

Peraturan Menteri Keuangan No. 118/PMK.04/2006 tentang Perubahan Kedua Atas Peraturan Menteri Keuangan No. 43/PMK.04/2005 tentang Penetapan Harga Dasar dan Tarif Cukai Hasil Tembakau.

Peraturan Menteri Keuangan No. 134/PMK.04/2007 tentang Perubahan Ketiga Atas Peraturan Menteri Keuangan No. 43/PMK.04/2005 tentang Penetapan Harga Dasar dan Tarif Cukai Hasil Tembakau.

Peraturan Menteri Keuangan No. 84/PMK.07/2008 tentang Penggunaan Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau dan Sanksi Atas Penyalahgunaan Alokasi Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau.

Peraturan Menteri Keuangan No. 85/PMK.07/2009 dan Lampiran tentang Alokasi Sementara Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau Tahun Anggaran 2009.

Peraturan Menteri Keuangan No. 203/PMK.011/2008 tentang Tarif Cukai Hasil Tembakau.

Peraturan Menteri Keuangan No. 181/PMK.011/2009 tentang Tarif Cukai Tembakau, Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 437.

Peraturan Menteri Keuangan No. 126/PMK.07/2010 tentang Pelaksanaan dan Pertanggungjawaban Anggaran Transfer ke Daerah, Berita Negara Republik Indonesia Nomor 343.

Peraturan Menteri Keuangan No. 66/PMK.07/2010 tentang Alokasi Sementara Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau Tahun Anggaran 2010, Berita Negara Republik Indonesia Nomor 142.

Peraturan Pemerintah No. 8 Tahun 1951 tentang Perubahan Tabaks-AccijnsVerordening (Staatsblad 1932 No. 560), Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1951.

Peraturan Pemerintah No. 24 Tahun 1996 tentang Pengenaan Sanksi Administrasi di Bidang Cukai, Lembaran Negara Republik Indonesia, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia No. 3629.

Peraturan Pemerintah No. 25 Tahun 1996 tentang Izin Pengusaha Baranag Kena Cukai, Lembaran Negara Republik Indonesia No. 40, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia No. 3630.

Peraturan Pemerintah No. 55 Tahun 1996 tentang Penyidikan Tindak Pidana di Bidang Kepabeanan dan Cukai, Lembaran Negara Republik Indonesia, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia No. 3651.

Peraturan Pemerintah No. 72 Tahun 2008 tentang Nomor Pokok Pengusaha Barang Kena Cukai, Lembaran Negara Republik Indonesia No. 168, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia No. 4917.

Undang-Undang Dasar Republik Indonesia Tahun 1945 Amandemen.

Undang-Undang Darurat No. 22 Tahun 1950 tentang Penurunan Cukai Tembakau, Lembaran Negara Republik Indonesia No. 37, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia No. 21.

Undang-Undang No. 5 Tahun 1984 tentang Perindustrian, Lembaran Negara Republik Indonesia No. 22, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia No. 3274.

Undang-Undang No. 11 Tahun 1995 tentang Cukai, Lembaran Negara Republik Indonesia No. 76, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia No. 3613.

Undang-Undang No. 12 Tahun 1992 tentang Sistem Budidaya Tanaman, Lembaran Negara Republik Indonesia No. 46, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia No. 3478.

Undang-Undang No. 16 Tahun 1956 tentang Pengubahan dan Penambahan Ordonansi Cukai Tembakau (Staatsblad 1932 No. 517), Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1956 dan Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia.

Undang-Undang No. 20 Tahun 2008 tentang Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), Lembaran Negara Republik Indonesia No. 93, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia No. 4866.

Undang-Undang No. 39 Tahun 2007 tentang Perubahan Atas Undang-Undang No. 11 Tahun 1995 tentang Cukai, Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 No. 105, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia 4755.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->