P. 1
Koloid

Koloid

|Views: 11,675|Likes:
Published by Anita Pangestan
Makalah KIMIA: koloid, khususnya koloid asosiasi dan polusi
Makalah KIMIA: koloid, khususnya koloid asosiasi dan polusi

More info:

Published by: Anita Pangestan on Jul 17, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/16/2013

pdf

text

original

TUGAS KIMIA

Judul: KOLOID ASOSIASI dan POLUSI Penyusun: Kelompok 9 XI A 1 Pembimbing: Bapak Marlan Omposunggu Alamat: SMAK 1 PENABUR Jakarta, Tanjung Duren Raya 4

Kata Pengantar
Kita sering kali mendengar istilah koloid, tetapi banyak yang sebenarnya masih bingung dan salah arti. Apa itu koloid dan fungsinya dalam kehidupan sehari-hari? Melalui makalah ini, kami membahas mengenai koloid terutama koloid asosiasi dan polusi. Tentu awalnya dimulai dari pembahasan singkat mengenai koloid secara umum, yang diakhiri dengan pembahasan spesifik pada koloid asosiasi dan polusi. Kami sangat bersyukur kepada Tuhan Yesus Kristus yang memberikan kami penyertaan serta berkat sehingga dapat menyelesaikan makalah ini di tengah kesibukan dan tugas yang menumpuk. Tak lupa kami juga berterima kasih kepada Bapak Marlan selaku guru pembimbing atas bantuan Beliau dalam pembelajaran kami. Seperti kata pepatah, “Tak ada gading yang tak retak,” demikian pula makalah ini. Kami mohon maaf bila ada kata-kata yang salah maupun menyinggung hati pembaca sekalian. Kritik yang membangun sungguh kami harapkan dan tanya jawab maupun diskusi mengenai makalah ini dapat segera dikirimkan ke anz28pangz@hotmail.com. Harapan kami ialah agar makalah yang telah kami buat dapat menjadi referensi yang baik serta media pembelajaran khususnya tentang koloid. Selamat membaca!

Tim penyusun

2

Daftar Isi
Kata Pengantar.........................................................................2 Bab I PENDAHULUAN.................................................................4
I. Sistem Dispersi.................................................................................................4 II. Jenis-Jenis Sistem Dispersi...............................................................................4 III. Perbandingan Sifat Larutan, Koloid, dan Suspensi..........................................4

Bab II KOLOID...........................................................................5
I. Pengertian.........................................................................................................5 II. Jenis-Jenis Koloid..............................................................................................5 III. Pentingnya Koloid dalam Kehidupan...............................................................6 IV. Efek Tyndall.....................................................................................................6 V. Gerak Brown.....................................................................................................6 VI. Elektroforesis..................................................................................................6 VII. Adsorpsi.........................................................................................................6 VIII. Koagulasi.......................................................................................................7 IX. Koloid Pelindung..............................................................................................7 X. Dialisis..............................................................................................................7 XI. Koloid Liofob dan Koloid Liofil..........................................................................7

Bab III PEMBUATAN KOLOID.......................................................9
I. Cara Kondensasi...............................................................................................9 II. Cara Dispersi....................................................................................................9 III. Cara Busur Bredig.........................................................................................10

Bab IV KOLOID ASOSIASI..........................................................11
I. Pengertian.......................................................................................................11 II. Surfaktan.......................................................................................................11 III. Monolayer (Asam Lemak)..............................................................................11 IV. Bilayer (Membran Sel)...................................................................................13 V. Misel (Garam Empedu)...................................................................................14 VI. Vesikel...........................................................................................................15 VII. Prinsip Kerja Sabun......................................................................................15 VIII. Aplikasi pada Pangan..................................................................................17 IX. Aplikasi Medis................................................................................................18

Bab V POLUSI..........................................................................19
I. II. III. IV. V. VI. Polusi dan Koloid.............................................................................................19 Debu..............................................................................................................19 Limbah..........................................................................................................19 Limbah Deterjen............................................................................................20 Pupuk dan Pestisida Berlebihan.....................................................................21 Asbut (Smog)................................................................................................21
3

Asbut (Smog)

Bab I PENDAHULUAN
I. Sistem Dispersi
Sistem dispersi berisi suatu zat yang tersebar merata (fase terdispersi) di dalam zat lain (fase pendispersi atau medium). Fase terdispersi bersifat diskontinu (terputus-putus) sedangkan medium dispersi bersifat kontinu.

II.

Jenis-Jenis Sistem Dispersi
• • • Larutan : zat terlarut (molekul, atom, ion) terdispersi secara homogen dalam zat pelarut. Contoh air gula dan air garam. Koloid : suatu campuran yang keadaannya berada antara larutan dan suspensi. Suspensi : zat terlarut terdipersi secara heterogen dalam zat pelarut, sehingga partikel-partikel zat terlarut cenderung mengendap dan dapat dibedakan dari zat pelarutnya. Contoh air kapur dan air kopi.

I.

Perbandingan Sifat Larutan, Koloid, dan Suspensi
Sifat Larutan (Dispersi Molekuler) homogen (tak dapat dibedakan) meski menggunakan mikroskop ultra <10-9 m satu fase stabil tidak dapat disaring dan tidak memisah ketika didiamkan jernih, meneruskan cahaya larutan gula Koloid secara makroskopis homogen, tetapi heterogen jika diamati dengan mikroskop ultra 10-9-10-7 m dua fase umumnya stabil dapat disaring hanya dengan penyaring ultra dan tak memisah ketika didiamkan tidak jernih susu Suspensi (Dispersi Kasar) heterogen (campuran) >10-7 m dua fase tidak stabil dapat disaring dan memisah ketika didiamkan menghamburkan cahaya air kopi

Sifat Diameter Partikel Fase Kestabilan Penyaringan dan Pemisahan Penampakan Contoh

4

Bab II KOLOID
I. Pengertian
Kata koloid berasal dari bahasa Yunani kolla yang berarti lem, karena dahulu koloid dianggap mirip lem. Klasifikasi koloid yang pertama diajukan oleh Von Weimar dan Ostwald, istilah sistem terdispersi diperkenalkan, dan ukuran partikel digunakan sebagai faktor utama dalam klasifikasi dan karakterisasi koloid. Koloid adalah zat yang terdiri atas medium homogen dan partikel yang terdispersi di dalamnya. Namun, tidak semua sistem terdispersi merupakan koloid. Menurut Lumière dan Staudinger, semua koloid dapat digolongkan menjadi koloid molekuler dan koloid asosiasi (miselar). Partikel koloid molekuler adalah makromolekul tunggal, dan strukturnya kurang lebih sama dengan struktur molekul kecil, yaitu atom-atom terikat oleh ikatan kimia sejati. Contoh: tepung, polyvinyl chloride (PVC), spherocolloids seperti glikogen, albumin, dan sebagainya. Struktur koloid asosiasi agak berbeda. Partikel koloid miselar bukan molekul besar tetapi agregat dari banyak molekul kecil atau kelompok atom yang terikat oleh ikatan sekunder, seperti kohesi atau gaya van der Waals.

II.

Jenis-Jenis Koloid
Penggolongan sistem koloid berdasarkan jenis fase pendispersi dan fase terdispersi dibagi menjadi lima. • Aerosol Sistem koloid dari partikel padat atau cair yang terdispersi dalam gas disebut aerosol. Jika zat yang terdispersi berupa zat padat disebut aerosol padat. Contoh aerosol padat adalah debu buangan knalpot. Sedangkan bila zat yang terdispersi berupa zat cair disebut aerosol cair. Contohnya ialah hairspray dan obat semprot. Untuk menghasilkan aerosol diperlukan suatu bahan pendorong (propelan aerosol). Propelan aerosol yang banyak digunakan yaitu CFC (cholofluorocarbon) dan CO2. • Sol Sol adalah sistem koloid dari partikel padat yang terdispersi dalam zat cair. Contoh: putih telur, air lumpur, tinta, cat, dan lain-lain. Sistem koloid dari partikel padat yang terdispersi dalam zat padat disebut sol padat. Contoh: perunggu, kuningan, permata (gem). • Emulsi Sistem koloid dari zat cair yang terdispersi dalam zat cair lain disebut emulsi, dengan syarat kedua zat cair tidak saling melarutkan. Sistem koloid dari zat cair yang terdispersi dalam zat padat disebut emulsi padat, seperti jeli, mutiara, serta opal, dan sistem koloid dari zat cair yang terdispersi dalam gas disebut emulsi gas. Emulsi digolongkan ke dalam 2 bagian, yaitu emulsi minyak dalam air dan emulsi air dalam minyak.. Contoh emulsi minyak dalam air adalah santan, susu, serta lateks. Contoh emulsi air dalam minyak adalah mayonnaise, minyak ikan, serta minyak bumi. Emulsi terbentuk karena pengaruh suatu pengemulsi (emulgator). Misal sabun yang dicampurkan ke dalam campuran minyak dan air, akan membentuk campuran stabil yang disebut emulsi. • Buih Sistem koloid dari gas yang terdispersi dalam zat cair disebut buih, sedangkan sistem koloid dari gas yang terdispersi dalam zat padat disebut buih padat. Buih digunakan dalam proses pengolahan bijih logam dan alat pemadam kebakaran. Contoh buih cair adalah krim kocok (whipped cream) dan busa sabun, sementara buih padat misalnya lava dan biskuit. 5

Buih dapat dibuat dengan mengalirkan suatu gas ke dalam zat yang mengandung pembuih dan distabilkan oleh pembuih seperti sabun dan protein. Ketika tidak diinginkan, buih dapat dipecah oleh eter, isoamil, atau alkohol. • Gel Sistem koloid dari zat cair yang terdispersi dalam zat padat dan bersifat setengah kaku disebut gel. Gel dapat terbentuk dari suatu sol yang zat terdispersinya mengadsorpsi medium dispersi sehingga terjadi koloid yang agak padat. Contoh: agar-agar, semir sepatu, mutiara, dan mentega. Campuran gas dengan gas tidak membentuk sistem koloid tetapi suatu larutan sebab semua gas bercampur baik secara homogen dalam segala perbandingan.

I.

Pentingnya Koloid dalam Kehidupan
Pada kehidupan sehari-hari kita dapat menemukan banyak zat dalam keadaan koloid sehingga sangat perlu diadakan pembelajaran mengenai koloid. Peranan koloid dapat tampak pada: • sel dan jaringan tubuh mengandung sitoplasma yang bersifat koloid, sehingga ilmu tentang koloid sangat diperlukan dalam penerapan biologi. • Tanah terdiri dari bagian-bagian yang bersifat koloid sehingga ilmu tanah dan pertanian membutuhkan penerapan kimia koloid pada tanah. • Pengolahan makanan dan teknologi pangan juga menerapkan sifat koloid, misalnya mentega, keju, susu, selai, agar-agar, dan seterusnya. • Pengetahuan tentang koloid sangat diperlukan dalam industri cat, keramik, plastik, tekstil, kertas, lem, tinta, semen, karet, kulit, penyedap, pelumas, sabun, obat semprot pertanian dan insektisida, gel, dan lain-lain.

I.

Efek Tyndall
Salah satu cara menentukan koloid yaitu dengan menjatuhkan seberkas cahaya kepada obyek. Larutan bersifat meneruskan cahaya sedangkan koloid bersifat menghamburkan cahaya. Berkas cahaya yang melalui koloid dapat diamati dari arah samping walaupun partikel koloidnya tidak tampak. Jika partikel terdispersinya kelihatan maka sistem disebut suspensi. Efek Tyndall adalah peristiwa penghamburan cahaya oleh partikel-partikel koloid. Contoh peristiwa efek Tyndall adalah sorot lampu pada malam yang berkabut, sorot lampu proyektor di ruangan yang berasap, dan berkas sinar matahari melalui celah daun pohon pada pagi yang berkabut.

II.

Gerak Brown
Gerak zig-zag partikel koloid secara terus-menerus disebut gerak Brown. Gerak Brown menunjukkan kebenaran teori kinetik molekul yang menyatakan bahwa molekul-molekul dalam zat cair selalu bergerak cepat. Gerak Brown terjadi akibat tumbukan yang tidak seimbang dari molekul-molekul medium terhadap partikel koloid. Semakin tinggi suhu, semakin cepat gerak berlangsung karena energi kinetik molekul medium meningkat sehingga menghasilkan tumbukan yang lebih kuat. Gerak inilah yang menyebabkan patikel-partikel koloid tidak mengendap karena dapat mengatasi gaya gravitasi.

III. Elektroforesis
Partikel koloid dapat bergerak dalam medan listrik dan mempunyai muatan. Pergerakan partikel koloid dalam medan listrik disebut elektroforesis. Bila partikel koloid menyerap ion pada permukaannya, maka partikel koloid akan bermuatan listrik. 6

Partikel koloid bermuatan positif bila mengadsorpsi kation, misalnya Al(OH)3, Fe(OH)3, protein dalam asam, dan sebagainya. Sebaliknya, partikel koloid akan bermuatan negatif bila mengadsorpsi anion, misalnya As2S3, belerang, sol logam, kanji, dan sebagainya. Jika sepasang elektroda yang dialiri arus listrik dicelupkan ke dalam dispersi koloid, maka partikel koloid bermuatan positif akan bergerak menuju katoda dan partikel kolid bermuatan negatif akan bergerak menuju anoda. Elektroforesis bermanfaat untuk menentukan muatan suatu partikel koloid dan dapat diterapkan untuk mengurangi zat-zat pencemar udara yang dikeluarkan dari cerobong asap pabrik.

IV. Adsorpsi
Partikel koloid mempunyai kemampuan untuk menyerap molekul atau ion pada permukaannya sehingga memiliki muatan listrik yang disebut adsorpsi. Sol Fe(OH)3 dalam air mengadsorpsi ion positif hingga bermuatan positif, sedangakan sol As2S3 dalam air mengadsorpsi ion negatif sehingga bermuatan negatif. Sifat adsorpsi dari koloid digunakan dalam berbagai proses, misal: • penyembuhan sakit perut oleh serbuk karbon (norit), yang di dalam usus membentuk sistem koloid untuk mengadsorpsi gas atau zat racun. • Proses pewarnaan kain. • Pemutihan gula tebu. Gula yang masih berwarna dilarutkan dalam air kemudian dialirkan melalui tanah diatomae dan arang tulang sehingga zat warna dalam gula akan diadsorpsi dan gula menjadi putih bersih. • Proses penjernihan air. Air ditambahkan alumunium sulfat sehingga terhidrolisis membentuk Al(OH)3 yang berupa koloid yang dapat mengadsorpsi zat warna dan pencemar dalam air.

I.

Koagulasi
Koagulasi adalah peristiwa penggumpalan partikel-partikel koloid karena adanya suatu elektrolit dengan muatan yang berlawanan. Apabila muatan koloid dilucuti maka kestabilan akan berkurang dan menyebabkan penggumpalan. Pelucutan muatan koloid terjadi pada sel elektroforesis atau jika elektrolit ditambahkan ke dalam sistem koloid. Apabila arus listrik dialirkan cukup lama ke dalam sel elektroforesis maka partikel akan digumpalkan ketika mencapai elektroda. Makin besar muatan ion makin kuat daya tariknya dengan partikel koloid sehingga makin cepat terjadi koagulasi. Beberapa contoh koagulasi: • pada pengolahan karet, partikel-partikel karet dalam lateks digumpalkan dengan penambahan asam asetat atau asam format sehingga karet dapat dipisahkan dari lateksnya. • Partikel tanah liat yang dikandung air sungai akan mengendap ketika bertemu dengan air laut yang mengandung banyak elektrolit sehingga terjadi delta di muara sungai. • Jika bagian tubuh mengalami luka maka ion Al 3+ atau Fe3+ segera menetralkan partikel albuminoid yang dikandung darah sehingga terjadi penggumpalan darah yang menutupi luka. • Lumpur koloidal dalam air sungai dapat digumpalkan dengan menambahkan tawas. Sol tanah liat dalam air biasanya bermuatan negatif sehingga akan digumpalkan oleh ion Al3+ dari tawas (aluminium sulfat). • Asap atau debu dari pabrik/industri dapat digumpalkan dengan alat koagulasi listrik dari Cottrel.

7

I.

Koloid Pelindung
Pada beberapa proses ketika suatu koloid harus digumpalkan, ada koloid yang perlu dijaga agar tidak menggumpal. Sistem koloid dapat distabilkan dengan penambahan suatu koloid lain yang disebut koloid pelindung (koloid protektif). Koloid pelindung ini akan membungkus partikel terdispersi sehingga tidak dapat lagi berkelompok dan menggumpal. Contoh: • pembuatan es krim menggunakan gelatin untuk mencegah pembentukan kristal besar es atau gula. • Cat dan tinta dapat bertahan lama karena menggunakan suatu koloid pelindung. • Zat-zat pengemulsi seperti sabun dan detergen, juga tergolong koloid pelindung.

I.

Dialisis
Pada permukaan suatu koloid, seringkali terdapat ion-ion yang dapat mengganggu kestabilan koloid tersebut. Ion-ion pengganggu ini dihilangkan dengan suatu proses yang disebut dialisis. Dalam proses ini, sistem koloid dimasukkan ke dalam suatu kantung koloid, lalu kantung koloid itu dimasukkan ke dalam bejana berisi air mengalir. Kantong koloid terbuat dari selaput semipermeabel, yang dapat melewatkan pertikel-partikel kecil, seperti ion-ion atau molekul sederhana, tetapi menahan partikel besar seperti koloid. Dengan demikian, ion-ion keluar dari kantong dan hanyut bersama air. Misalnya proses cuci darah.

II.

Koloid Liofob dan Koloid Liofil
Koloid yang memiliki medium dispersi cair dibedakan atas koloid liofil dan koloid liofob. Suatu koloid disebut koloid liofil jika terdapat gaya tarik-menarik yang cukup besar antar zat terdispersi dengan mediumnya. Partikel-partikel koloid dapat mengadsorpsi cairan sehingga terbentuk selubung cairan disekeliling partikel koloid. Jika cairannya berupa air maka istilahnya adalah hidrofil. Koloid hidrofil mempunyai gugus ionik atau gugus polar di permukaannya sehingga mempunyai interaksi yang baik dengan air. Butir-butir koloid liofil atau hidrofil dapat mengadsorpsi molekul mediumnya sehingga membentuk suatu selubung. Hal tersebut disebut solvatasi atau hidratasi sehingga koloid terhindar dari agregasi. Sol hidrofil tidak akan menggumpal pada penambahan sedikit elektrolit. Zat padat yang dipisahkan dari sol hidrofil bila dicampurkan kembali dengan air dapat kembali membentuk sol hidrofil, atau dengan kata lain bersifat reversible. Contoh sol hidrofil adalah kanji, protein, dan agar-agar. Koloid hidrofob adalah sistem koloid yang gaya tarik-menarik antar zat terdispersi dengan mediumnya sangat lemah atau tidak ada. Partikel-partikel koloid tidak mengadsropsi cairan. Jika cairannya berupa air maka disebut hidrofob. Koloid hidrofob tidak stabil dalam medium polar seperti air tanpa kehadiran zat pengemulsi atau koloid pelindung. Zat pengemulsi membungkus partikel koloid sehingga tidak terjadi koagulasi. Sol hidrofob dapat mengalami koagulasi pada penambahan sedikit elektrolit. Sekali zat terdispersi dipisahkan, tidak akan membentuk sol kembali dengan air. Contoh sol hidrofob adalah sol sulfida dan solsol logam.

Hidrofil mengadsorpsi medium dapat dibuat dalam konsentrasi relatif besar tidak mudah menggumpal pada penambahan elektrolit viskositas lebih besar daripada medium reversible 8

Hidrofob tidak mengadsorpsi medium stabil pada konsentrasi kecil mudah menggumpal pada penambahan elektrolit viskositas hampir sama dengan medium irreversible

efek Tyndall lemah

efek Tyndall lebih jelas

9

Bab III PEMBUATAN KOLOID
Ukuran partikel koloid terletak antara partikel larutan sejati dan partikel suspensi. Oleh karena itu, sistem koloid dapat dibuat dengan pengelompokkan (agregasi) partikel larutan sejati atau menghaluskan bahan dalam bentuk kasar kemudian didispersikan ke dalam medium pendispersi. Cara yang pertama disebut cara kondensasi, sedangkan yang kedua disebut cara dispersi.

I.

Cara Kondensasi
Dengan cara kondensasi partikel larutan sejati (molekul atau ion) bergabung menjadi partikel koloid. Cara ini dapat dilakukan melalui reaksi-reaksi kimia, seperti reaksi redoks, hidrolisis, dan dekomposisi rangkap, atau dengan pergantian pelarut. 1. Reaksi Redoks Reaksi redoks adalah reaksi yang disertai perubahan bilangan oksidasi. Contoh: • Pembuatan sol belerang dari reaksi antara hidrogen sulfida (H2S) dengan belerang dioksida (SO2), yaitu dengan mengalirkan gas H2S ke dalam SO2. 2H2S (g) + SO2 (aq) → 2H2O (l) + 3S (koloidal) • Pembuatan sol emas dari reaksi antara larutan HAuCl 4 dengan larutan K2CO3 dan HCHO (formaldehida). 2HAuCl4 (aq) + 6K2CO3 (aq) + 3HCHO (aq) → 2Au (koloidal) + 5CO2 (g) + 8KCl (aq) + 3HCOOK (aq) + KHCO3 (aq) + 2H2O (l) 1. Hidrolisis Hidrolisis adalah reaksi suatu zat dengan air. Contoh: • Pembuatan sol Fe(OH)3 dari hidrolisis FeCl3. Apabila ke dalam air mendidih ditambahkan larutan FeCl3 akan terbentuk sol Fe(OH)3. FeCl3 (aq) + 3H2O (l) → Fe(OH)3 (koloid) + 3HCl (aq) 1. Dekomposisi Rangkap Contoh: • Sol As2S3 dapat dibuat dari reaksi antara larutan H3AsO3 dengan larutan H2S. 2H3AsO3 (aq) + 3H2S (aq) → As2S3 (koloid) + 6H2O (l) • Sol AgCl dapat dibuat dengan mencampurkan larutan perak nitrat encer dengan larutan HCl encer. AgNO3 (aq) + HCl (aq) → AgCl (koloid) + HNO3 (aq) 1. Penggantian Pelarut Contoh: • Larutan jenuh kalsium asetat dicampur dengan alkohol akan terbentuk suatu koloid berupa gel.

I.

1. Cara Mekanik Butir-butir kasar digerus dengan lumpang atau penggiling koloid sampai diperoleh tingkat kehalusan tertentu, kemudian diaduk dengan medium dispersi. Contoh: • Sol belerang dapat dibuat dengan menggerus serbuk belerang bersama-sama dengan suatu zat inert (seperti gula pasir), kemudian mencampur serbuk halus itu dengan air. 1. Cara Peptisasi Cara peptisasi adalah pembuatan koloid dari butir-butir kasar atau dari suatu endapan dengan bantuan suatu zat pemeptisasi (pemecah). Zat pemeptisasi memecahkan butir-butir kasar menjadi butir-butir koloid. Istilah peptisasi dikaitkan dengan peptonisasi, yaitu proses pemecahan protein (polipeptida) yang dikatalisis oleh enzim pepsin. 10

Cara Dispersi

Contoh: • Agar-agar dipeptisasi oleh air, nitroselulosa oleh aseton, karet oleh bensin. • Endapan NiS dipeptisasi oleh H2S dan endapan Al(OH)3 oleh AlCl3.

I.

Cara Busur Bredig
Cara busur Bredig digunakan untuk membuat sol-sol logam. Logam yang akan dijadikan koloid digunakan sebagai elektroda yang dicelupkan dalam medium dispersi, kemudian diberi loncatan listrik di antara kedua ujungnya. Mula-mula atom-atom logam akan terlempar ke dalam air, lalu atom-atom tersebut mengalami kondensasi sehingga membentuk partikel koloid. Jadi, cara busur ini merupakan gabungan cara kondensasi dan cara dispersi.

11

Bab IV KOLOID ASOSIASI
I. Pengertian
Koloid asosiasi adalah bentuk dispersi misel. Misel adalah bangun berbentuk bola kecil yang terbentuk dari gabungan beberapa hingga ribuan molekul yang saling tarik menarik untuk mengurangi tekanan permukaan di dalam membran sel tersebut.

II.

Surfaktan
Surfaktan (surface active agent = surfactant) adalah zat yang menurunkan tegangan permukaan medium tempat surfaktan ditambahkan, dan/atau tegangan interfasial. Istilah surfaktan juga dapat digunakan untuk zat yang larut sebagian, yang menurunkan tegangan permukaan cairan dengan cara tersebar pada permukaannya. Sabun adalah garam dari asam lemak, jenuh atau tak jenuh, mengandung atom karbon setidaknya delapan pada atau campuran garam tersebut. Sabun dan deterjen adalah contoh surfaktan (atau campuran mengandung satu atau lebih surfaktan) yang memiliki sifat pembersih dalam larutan. Syndet adalah deterjen sintetik. Emulsifier adalah surfaktan yang dalam jumlah kecil memfasilitasi pembentukan emulsi, atau meningkatkan stabilitas koloid dengan penurunan agregasi dan/atau peleburan. Foaming agent adalah surfaktan yang dalam jumlah kecil memfasilitasi pembentukan busa, atau meningkatkan stabilitas koloid dengan menghambat peleburan gelembung. Sifat aktivitas permukaan biasanya disebabkan oleh sifat molekul-molekul zat yang amfifatik atau amfifilik, yang berarti bahwa masing-masing berisi sebuah hidrofilik dan hidrofobik (lipofilik) kelompok 22. Surfaktan dalam larutan sering berbentuk koloid asosiasi, yaitu cenderung membentuk misel, suatu bentuk agregat koloid yang ada dalam kesetimbangan dengan molekul atau ionnya.

12

III. Monolayer (Asam Lemak)

Asam lemak diproduksi dari hasil reaksi hidrolisis ikatan ester dalam lemak atau minyak biologis (dimana keduanya merupakan trigliserida), dengan pembuangan gliserol. Asam lemak adalah tempat asam alifatik monokarbosilik berasal, atau disimpan dalam bentuk lemak hewani, lemak nabati, atau lilin. Asam lemak natural umumnya memiliki rantai yang terdiri dari 4 hingga 28 atom karbon (biasanya tak bercabang dan berjumlah genap), yang mungkin bisa jenuh ataupun tak jenuh. Istilah ini terkadang digunakan untuk mencakup seluruh asam asiklik alifatik karbosilik termasuk asam asetat, yang biasanya tidak dianggap sebagai asam lemak karena sangat pendek sehingga trigliserid triasetin yang terbentuk darinya dapat tercampur dengan air dan karenanya tidak dianggap sebagai lemak. Telah dipercaya bahwa campuran asam lemak yang dihasilkan oleh kulit mamalia, bersamaan dengan asam laktat dan asam piruvat, berbeda satu sama lain dan memungkinkan binatang dengan penciuman tajam untuk membedakan tiap individu. Asam lemak bisa jenuh ataupun tak jenuh, bergantung dari ikatan ganda. Ukuran panjangnya pun berbeda. Asam lemak tak jenuh memiliki bentuk yang sama, kecuali jika satu atau lebih kelompok fungsional alkenil terdapat dalam rantai, dengan tiap alkena menggantikan sebuah bagian ikatan tunggal " -CH2-CH2-" dari rantai dengan sebuah bagian ikatan ganda "-CH=CH-" . Kedua atom karbon yang terikat satu sama lain dalam rantai dapat memiliki konfigurasi cis ataupun trans. Sebuah ikatan cis berarti atom hidrogen yang bersebelahan terletak dalam bagian yang sama dalam ikatan ganda. Kekakuan ikatan ganda tersebut menghentikan fleksibilitasnya, dan dalam kasus cis isomer, mengakibatkan rantainya untuk membengkok dan menghalangi kebebasan dari asam lemak tersebut. Semakin banyak rantai ganda dalam suatu ikatan cis, semakin jelek fleksibilitasnya. Ketika sebuah rantai memiliki banyak ikatan cis, rantai tersebut menjadi bengkok. Contohnya adalah asam oleat, dengan sebuah ikatan ganda, berbentuk sedikit membengkok, dimana asam linoleat dengan dua ikatan ganda, memiliki bengkok yang lebih jelas terlihat. Efeknya adalah dalam lingkungan yang terbatas, seperti ketika sama lemak masih merupakan bagian dari fosfolipid dalam lipid bilayer, ikatan cis membatas kemampuan asam lemak untuk merapat, dan karenanya dapat mempengaruhi suhu lebur dari suatu membran atau lemak itu sendiri. 13

Sebaliknya, sebuah ikatan trans berarti bahwa dua atom hidrogen setelah ini akan terikat bersilangan dari ikatan gandanya. Hasilnya, ikatan ini tidak membuat rantainya bengkok secara signifikan, dan bentuknya sama seperti asam lemak jenuh tegak. Dalam asam lemak tak jenuh yang paling umum, tiap ikatan ganda memiliki tiga n atom karbon setelahnya, untu beberapa n dan seluruhnya adalah ikatan cis. Asam lemak jenuh adalah asam karbosilik rantai panjang yang biasanya memiliki 12 dan 24 atom karbon yang tak memiliki ikatan ganda. Karenanya asam lemak jenuh dapat dijenuhkan oleh hidrogen. Contoh: asam laurat (12 C), asam miristik (14 C), asam palmitik (16 C), asam stearik (18 C), asam arafidik (20 C). Asam lemak trans adalah asam lemak tak jenuh yang mengandung sebuah ikatan ganda trans antara atom karbon, yang membuat molekulnya lebih lurus jika dibandingkan dengan asam lemak dengan ikatan ganda cis.

14

IV. Bilayer (Membran Sel)

Membran sel seluruh organisme tersusun atas fosfolipid bilayer, yaitu suatu susunan dua lapis yang terdiri atas lipid (lemak) dan garam fosfat organik. Lapisan ini memilki bagian kepala dan ekor. Bagian kepala bersifat hidrofilik, sementara bagian ekor bersifat hidrofobik. Hal ini memungkinkan sel untuk menjaga agar kimia di dalam sel berbeda dengan di luar sel (mempertahankan lingkungan dalam). Untuk zat-zat yang tidak dapat melalui membran ini, terdapat protein integral yang menjembatani antara luar dan dalam sel. Sebuah lipid bilayer adalah lembaran lemak dengan ketebalan dua molekul, diatur sedemikian sehingga bagian kepala hidrofilik fosfat menghadap keluar dan ekor hidrofobik menghadap kedala intinya. Lemak membentuk dirinya kembali dengan bentuk ini oleh karena efek hidrofobik, yang menciptakan interaksi antara ekor hidrofobik dengan air sekitarnya. Jadi, sebuah lipid bilayer umumnya ditahan hanya oleh tekanan non-kovalen yang tidak berhubungan dengan pembentukan ikatan kimian antara molekul individu. Ada beberapa kesamaan antara struktur ini dengan gelembung sabun, walaupun juga terdapat perbedaan yang penting. Seperti digambarkan, keduanya memiliki dua lapisan molekul tunggal dari substansi amfifilik.Dalam kasus gelembung sabun, kedua lapisan monolayer sabun menyelimuti lapisan air. Bagian 15

hidrofilik menghadap kedalam inti air dan hidrofobiknya keluar ke udara. Dalam kasus lipid bilayer, struktur ini dibalik dengan kepala keluar dan ekor kedalam. Sebuah perbedaan pentinglagi adalah ukurannya. Gelembung sabun umumnya sekitar ratusan nanometer tebalnya dengan urutan sama dengan gelombang cahaya, oleh karena itu efek gangguan cahaya akan menimbulkan warna pelangi dalam permukaan gelembung. Sebuah lapisan lipid bilayer, sekitar 5 nanometer tebalnya.

V.

Misel (Garam Empedu)

Empedu adalah cairan pahit berwarna hijau tua atau kuning kecoklatan yang diproduksi oleh hati kebanyakan vertebrata yang membantu proses pencernaan lemak dalam usus kecil. Dalam banyak spesies, empedu ditampung dalam suatu kantung empedu dan ketika makan dikeluarkan ke duodenum. Fungsi Fisiologis Empedu bekerja sebagai surfaktan, membantu mengemulsikan lemak dalam makanan. Anion garam empedu memiliki sisi hidrofilik dan hidrofobik, dan karenanya cenderung mengumpul di sekeliling lemak untuk membentuk micelles dengan bagian hidrofobik didalam dan hidrofilik diluar yang terkena air. Bagian hidrofiliknya memiliki muatan positif oleh karena lecithin dan fosfolipid lainnya yang membentuk empedu, dan muatan ini mencegah bongkahan lemak yang dilumuri empedu mengumpul menjadi bagian lemak yang lebih besar. Umumnya, micelles di usus dua belas jari memiliki diameter antara 14-33 μm. Penguraian lemak makanan menjadi misel menyediakan luas permukaan yang jauh lebih besar untuk enzim lipase pankreas, yangmencerna trigliserida dan dapat mencapai inti lemak melalui celah antara garam empedu. Sebuah trigliserida dipecah menjadi dua asam lemak dan sebuah monogliserida, yang diserap oleh vili di dinding usus. Setelah disebar melalui membrane usus, asam lemak kembali membentuk trigliserida kemudian diserap ke dalam sistem limpa melalui lakteal. Tanpa garam empedu, sebagian besar lemak dalam makanan akan dikeluarkan dalam feses, tak tercerna. Sejak empedu memperbesar penyerapan lemak, empedu juga memegang peranan penting dalam penyerapan zat yang larut dalam lemak, seperti vitamin A, D, E, dan K. Selain fungsi pencernaannya, empedu juga berfungsi sebagai jalur ekskresi untuk bilirubin, hasil produksi sel darah merah yang dirombak oleh hati. Bilirubin terdiri dari hemoglobin dan glukuronidasi. Empedu juga berperan sebagai bakterisida, membunuh banyak mikroba yang mungkin ada dalam makanan. 16

Asam empedu adalah asam steroid yang ditemukan dalam empedu mamalia. Garam empedu adalah asam empedu dikonjugasikan pada glysin atau taurin. Pada manusia, asam taurocholic dan glycocholic mewakili 80% seluruh garam empedu. Dua asam empedu dominan adalah asam kolik dan asam chenodeoxykolik. Penambahan dalam aliran empedu dapat dilihat dengan penambahan sekresi asam empedu. Fungsi utama asam empedu adalah memfasilitasi pembentukan misel, yang membantu dalam proses pencernaan lemak. Asam empedu dibuat di hati oleh oksidasi kolestrol yang dimediasi cytochrome P450. Mereka dikonjugasi dengan taurin, glisin, sulfat atau glucuronid dan kemudian ditampung dalam kantong empedu, yang mengkonsentrasikan garamnya dengan membuang airnya. Pada manusia, rate limiting step adalah penambahan gugus hidroksil pada posisi ke-7 steroid nucleus oleh enzim kolestrol 7-alpha hydroxylase. Ketika memakan makanan, isi dari kantong empedu disekresikan kedalam usus, dimana asam empedu berfungsi untuk mengemulsikan lemak. Asam empedu memiliki fungsi lain, termasuk mengeliminasi kolestrol dari dalam tubuh, mengemulsikan lemak beserta vitamin terlarut dalam usus untuk membentuk micelles yang dapat dipindahkan melalui system lacteal, dan membantu mengurangi bakteri yang ditemukan di usus halus dan saluran empedu. Asam empedu menunjuk pada bentuk (-COOH) garam empedu menunjuk pada bentuk (-COO-) Asam empedu terkonjugasi lebih efisien dalam mengemulsikan lemak karena pada pH usus, mereka lebih terionisasi daripada asam empedu tak terkonjugasi. Sintesis asam empedu adalah jalan utama metabolisme kolestrol dalam kebanyakan spesies selain manusia. Tubuh memproduksi sekitar 800 mg kolestrol per hari dan setengahnya digunakan untuk sintesis asam empedu. Dengan total sekitar 20-30 gram asam empedu disekresikan ke usus tiap harinya. Sekitar 90% dari asam empedu yang diekskresi diserap kembali oleh transport aktif di ileum dan dirombak dalam suatu proses enterohepatick circulation yang memindahkan garam empedu dari system usus kembali ke hati dan kantong empedu. Empedu juga digunakan untuk memecah lemak menjadi bagian kecil. Pada manusia, asam empedu yang paling penting adalah asam kolik, asam deoxykolik, dan asam chenodeoxykolik. Mereka digabungkan dengan antara asam amino glysin atau taurin. Konjugasi menambah kelarutan air, mencegah re-absorpsi pasif setelah disekresikan ke usus kecil. Sebagau hasil, konsentrasi asam empedu dalam usus kecil dapat tetap cukup tinggi untuk membentuk micelles dan lemak mudah larut. Sabun Empedu Empedu dari hewan dapat dicampur dengan sabun. Campuran ini, dinamakan sabun empedu dapat digunakan ke tekstil beberapa jam sebelum dicuci dan merupakan cara tradisional dan efektif untuk menghilangkan berbagai macam noda.

VI. Vesikel
Sebuah vesikel adalah lipid bilayer digulung hingga berbentuk bola, menyimpan sedikit air dan memisahkannya dari air diluar vesikel. Vesikel cukup mudah dibentuk; jika sebuah contoh lemak terdehidrasi terkena air, maka akan terbentuk vesikel secara spontan. Sejak vesikel artificial dapat dibuat dalam jumlah banyak, vesikel cocok untuk dijadikan subjek studi materi seperti difraksi x-ray dan kalorimetri pemindaian perbedaan. Meskipun begitu, terkadang sulit untuk melaksanakan penggambaran detail oleh karena terlalu kecil. Untuk melawan masalah ini, para peneliti telah mengembangkan vesikel unilamelar raksasa (GUV) yang cukup besar untuk dipelajari. Jika dibandingkan dengan bilayer lain, GUV memberikan lingkungan yang lebih natural sejak tak ada permukaan solid untuk memberikan efek. Namun, GUV cenderung rapuh, memakan waktu dalam pembuatan dan sulit diproduksi. 17

VII. Prinsip Kerja Sabun
Air, cairan yang biasa digunakan untuk membersihkan, memiliki sifat yang disebut tegangan permukaan. Di dalam air, masing-masing molekul dikelilingi dan ditarik oleh molekul air lainnya. Namun, pada permukaan, molekul-molekul yang dikelilingi oleh molekul air lain hanya terdapat pada salah satu sisi air. Tegangan timbul karena molekul-molekul air di permukaan ditarik ke dalam air. Tegangan ini memperlambat proses pembersihan. Dalam proses pembersihan, tegangan permukaan harus dikurangi sehingga air dapat menyebar dan membasahi permukaan. kimia yang dapat melakukan ini secara efektif disebut agen aktif permukaan, atau surfaktan. Surfaktan menjalankan fungsi penting lainnya dalam pembersihan, seperti loosening, pengemulsi (penyebaran dalam air), dan menahan tanah dalam suspensi sehingga dapat dibilas. Surfaktan juga dapat menimbulkan alkalinitas, yang berguna dalam menghilangkan tanah asam. Surfaktan diklasifikasikan berdasarkan sifat dalam air: anionik (muatan negatif), nonionik (netral), kationik (muatan positif), dan amfoter (positif dan negatif). Sabun adalah surfaktan anionik. Surfaktan anionik lain serta surfaktan nonionik adalah bahan utama deterjen. Sabun adalah garam natrium atau kalium dengan asam lemak yang larut dalam air. Sabun dibuat dari lemak dan minyak, atau asam lemak, melalui perlakuan kimia dengan alkali kuat. Lemak dan minyak yang digunakan dalam pembuatan sabun berasal dari hewan atau tanaman. Setiap lemak atau minyak terdiri dari campuran trigliserida yang khas. Dalam molekul trigliserida, tiga molekul asam lemak melekat pada satu molekul gliserin. Ada banyak jenis trigliserida, masing-masing terdiri dari kombinasi tertentu atas asam lemak. Asam lemak merupakan komponen dari lemak yang digunakan dalam pembuatan sabun yang bersifat asam lemah dan terdiri atas dua bagian. Satu kelompok asam karboksilat terdiri dari satu atom hidrogen (H), dua atom oksigen (O), dan satu atom karbon (C), ditambah rantai hidrokarbon yang terikat pada gugus asam karboksilat. Umumnya terdiri dari rantai karbon lurus panjang yang masing-masing membawa dua atom hidrogen (H). Basa adalah garam dari logam alkali larut air. Awalnya, alkali dalam pembuatan sabun diperoleh dari abu tanaman, tetapi sekarang dibuat secara komersial. Istilah alkali menggambarkan suatu zat kimia yang merupakan kebalikan dari asam yang bereaksi dengan dan menetralisir asam. Alkali yang umum digunakan adalah natrium hidroksida (NaOH), juga disebut soda kaustik, dan kalium hidroksida (KOH), juga disebut kalium kaustik. Saponifikasi lemak adalah proses yang digunakan dalam pembuatan sabun. Metode ini melibatkan pemanasan lemak dan minyak dan mereaksikan dengan alkali untuk menghasilkan sabun cair, air, dan gliserin. Proses lainnya dalam pembuatan sabun adalah netralisasi asam lemak dengan basa. Lemak dan minyak dihidrolisis dengan uap bertekanan tinggi untuk menghasilkan crude fatty acid dan gliserin. Asam lemak tersebut kemudian dimurnikan dengan distilasi dan dinetralisir dengan alkali untuk menghasilkan sabun dan air. 18

Ketika basa berupa sodium hidroksida, sabun natrium terbentuk. Sabun natrium adalah sabun "keras". Ketika basa berupa kalium hidroksida, sabun kalium terbentuk. Sabun kalium lebih lembut dan ditemukan dalam sabun tangan dan krim cukur. Sabun adalah pembersih yang sangat baik karena kemampuannya untuk bertindak sebagai agen pengemulsi. Agen pengemulsi mampu membantu cairan ke bercampur cairan lainnya. Ini berarti minyak (yang menarik kotoran) yang tidak bercampur dengan air, dapat dihilangkan dan bercampur karena sabun. Bagian organik dari sabun merupakan molekul bermuatan negatif. Ujung hidrofilik karboksilat (-CO2) berinteraksi dengan molekul air melalui interaksi iondipol dan ikatan hidrogen. Bagian hidrofobik dari molekul sabun tidak berinteraksi dengan molekul air. Rantai hidrokarbon tertarik satu sama lain dengan kekuatan dispersi dan berkumpul, membentuk struktur yang disebut misel. Di dalam misel, kelompok karboksilat membentuk permukaan bola bermuatan negatif, dengan rantai hidrokarbon di dalam bola. Karena mereka bermuatan negatif, misel sabun saling tolak dan tetap terdispersi di dalam air. Lemak dan minyak bersifat nonpolar dan tidak larut dalam air. Ketika sabun dan minyak bercampur, bagian hidrokarbon nonpolar dari misel memecah molekul minyak nonpolar. Jenis misel berbeda kemudian terbentuk, dengan molekul nonpolar berisi kotoran di tengah. Dengan demikian, lemak dan minyak beserta kotoran terperangkap dalam misel dan dapat dibilas. Meskipun merupakan pembersih yang baik, sabun memiliki kelemahan. Sebagai garam dari asam lemah, mereka akan diubah oleh asam mineral menjadi asam lemak bebas: CH3(CH2)16CO2-Na+ + HCl → CH3(CH2)16CO2H + Na+ + ClAsam lemak ini kurang larut dibanding garam natrium atau kalium dan membentuk endapan atau buih sabun. Karenanya, sabun tidak efektif dalam air asam. Efektivitas sabun juga berkurang bila digunakan dalam air keras. Kekerasan dalam air disebabkan oleh adanya garam mineral seperti kalsium (Ca) dan magnesium (Mg), atau kadang-kadang besi (Fe) dan mangan (Mn). Garam mineral bereaksi dengan sabun membentuk endapan tak larut dikenal sebagai buih sabun. 2CH3(CH2)16CO2-Na+ + Mg2+ → [CH3(CH2)16CO2]-2Mg2+ + 2Na+ Buih sabun sulit dibilas dan cenderung tertinggal serta menghasilkan sisa yang terlihat pada pakaian dan membuat kain terasa kaku, juga melekat pada bak mandi, bak cuci, dan mesin cuci. Sabun juga dapat bereaksi dengan air keras membentuk buih sabun, sehingga mengurangi jumlah sabun yang tersedia untuk pembersihan. Bahkan ketika dicuci dengan air lunak, mineral penyebab air keras dapat tercampur dari tanah pada pakaian.

VIII.Aplikasi pada Pangan
Lipid-Based Emulsifier (Pengemulsi Berbasis Lemak) Jenis LBE dalam industri makanan yang penting adalah surfaktan bermolekul kecil (misal Tweens, Spans, garam asam lemak) dan fosfolipid (lesitin). Prinsip kerja dasar dari LBE dalam emulsi makanan adalah memperbesar formasi dan stabilitas produk, tetapi LBE juga dapat mengubah sifat fisikokimia dengan berinteraksi dengan protein atau polisakarida atau dengan memodifikasi struktur kristal lemak. Semua LBE merupakan molekul amfifilik yang memiliki kepala hidrofilik dengan afinitas air yang tinggi dan ekor lipofilik dengan afinitas minyak yang tinggi. Emulsifier ini dapat dilambangkan dengan rumus RX, X mewakili kepala hidrofilik 19

dan R ekor lipofilik. LBE berbeda sesuai tipe kepala dan ekor. Kepalanya dapat berupa anion, kation, zwitterion, maupun nonion. LBE yang digunakan dalam industri makanan kebanyakan bersifat nonionik (monoacylglycerols, sucrose esters, Tweens, Spans), anion (asam lemak), atau zwitterion (lesitin). Ekor biasanya terdiri dari satu atau lebih rantai hidrokarbon, sekitar 10-20 atom karbon per rantai. Rantai dapat bersifat jenuh (saturated) atau tidak jenuh, linear atau bercabang, alifatik atau aromatik. Kebanyakan LBE yang digunakan dalam makanan memiliki satu atau dua rantai alifatik linear, baik jenuh maupun tidak. Setiap jenis memiliki sifat fungsional unik yang bergantung pada struktur kimia. LBE dapat beragregasi secara spontan dalam larutan untuk membentuk struktur yang stabil secara termodinamika yang dikenal sebagai koloid asosiasi, (misal bilayer, vesikel, reversed micelles). Struktur ini diadopsi karena mengurangi daerah kontak yang tidak diinginkan antara ekor nonpolar dari molekul emulsifier dan air. Tipe koloid asosiasi yang terbentuk bergantung pada polaritas dan geometri molekul dari pengemulsi. Gaya yang menyatukan koloid asosiasi relatif lemah, sehingga koloid asosiasi memiliki struktur yang dinamis dan fleksibel. Ukuran dan bentuk senantiasa berubah-ubah. Gaya yang lemah juga berarti struktur sensitif pada perubahan kondisi lingkungan, seperti temperatur, pH, kekuatan ionik, dan jenis ion. Misel surfaktan adalah koloid asosiasi yang paling penting dalam emulsi makanan. Critical Micelle Concentration (cmc) Surfaktan membentuk misel dalam larutan ketika konsentrasinya melebihi batas ambang, dikenal sebagai cmc. Di bawah cmc, molekul surfkatan terdispersi sebagai monomer, tetapi ketika melewati cmc, kelebihan molekul membentuk misel, dan konsentrasi monomer konstan. Meskipun strukturnya dinamis, misel surfaktan membentuk partikel yang dapat ditentukan ukurannya. Ketika surfaktan ditambahkan ke larutan di atas batas cmc, jumlah misel bertambah, tetapi tidak ukurannya. Ketika cmc dilampaui, ada perubahan cepat dalam sifat larutan surfaktan (tegangan permukaan, konduktivitas elektrik, turbiditas, tekanan osmotik). Ini dikarenakan sifat surfaktan yang terdispersi sebagai monomer berbeda dengan misel. Contoh monomer surfaktan bersifat amfifilik dan memiliki aktivitas permukaan yang tinggi, sementara misel rendah karena permukaannya tertutup kepala hirdrofilik. Tegangan permukaan larutan menuruan seiring kenaikan konsentrasi surfaktan selama masih di bawah cmc tetapi relatif tetap di atasnya. Cloud Point Ketika larutan surfaktan dipanaskan di atas temperatur tertentu (dikenal sebagai cloud point), larutan menjadi turbid. Ketika temperatur dinaikkan, kepala hidrofilik menjadi sangat terdehidrasi, menyebabkan molekul pengemulsi untuk beragregasi. Agregat ini cukup besar untuk membaurkan cahaya, sehingga larutan tampak turbid. Pada suhu diatas cloud point, agregat menjadi sangat besar sehingga mengendap akibat pengaruh gravitasi dan membentuk fase terpisah. Cloud point meningkat seiring hidrofobisitas surfaktan meningkat, karena panjang ekor hidrokarbonnya bertambah atau ukuran kepala hidrofiliknya berkurang. Solubilisasi (Pelarutan) Molekul nonpolar, yang biasanya tidak larut atau hanya larut sebagian dalam air, ketika dapat dilarutkan dalam larutan surfaktan. Sistem yang dihasilkan relatif stabil, namun mungkin membutuhkan waktu untuk mencapai kesetimbangan karena energi aktivasi berkaitan dengan transfer molekul nonpolar dari fase endapan ke misel. Misel yang mengandung materi terlarut disebut swollen micell atau microemulsion, dan materi terlarut di dalam misel disebut solubilizate. Kemampun larutan misel untuk melarutkan molekul nonpolar memiliki aplikasi penting dalam industri makanan, termasuk ekstrasi selektif air dan minyak, controlled ingredient release, inkorporasi zat nonpolar ke dalam solusi akues, transpor molekul nonpolar melewati membran, dan modifikasi reaksi kimia. Tiga faktor penentu sifat fungsional dari swollen micellar solution: lokasi solubilizate 20

dalam misel, jumlah maksimum zat yang bisa dilarutkan per satuan massa surfaktan, dan laju pelarutan. Aktivitas Permukaan dan Stabilisasi Droplet LBE digunakan secara luas dalam industri makanan untuk membantu pembentukan dan stabilisasi emulsi makanan. Untuk melakukan ini, LBE harus mengadsorpsi permukaan droplet emulsi saat homogenisasi dan membentuk membran protektif yang mencegah droplet beragregasi satu sama lain. Molekul emulsi mengadsorpsi interfase air dan minyak karena dapat membentuk orientasi hidrofilik di dalam air dan hidrofobik di dalam minyak. Hal ini mengurangi energi bebas yang tidak diinginkan sehubungan dengan kontak daerah hidrofilik dan hidrofobik, serta mengurangi tegangan interfasial. Pengurangan tegangan interfasial ini penting karena agar lebih sedikit energi yang dibutuhkan untuk membongkar droplet. Setelah diadsorpsi ke permukaan droplet, emulsifier harus menyediakan gaya repulsif yang cukup kuat untuk mencegah droplet beragregasi dengan sekitar. Surfaktan ionik memberikan stabilitas dengan cara menyebabkan semua droplet emulsi untuk memiliki tegangan elektrik yang sama, sehingga menolak satu sama lain akibat elektrostatis. Surfaktan nonionik menyediakan stabilitas dengan membuat gaya repulsif jarak dekat (steric overlap, hidrasi, thermal flucutation interacion) yang mencegah droplet menjadi terlalu dekat. Beberapa pengemulsi membentuk multilayer (daripadi monolayer) pada permukaan droplet, sehingga meningkatkan stabilitas droplet dari agregasi. Emulsifier harus memiliki tiga karakteristik agar efektif. Pertama, emulsifier harus dengan cepat mengadsoprsi permukaan droplet emulsi yang terbentuk saat homogenisasi. Kedua, emulsifier harus mengurangi tegangan interfasial secara signifikan. Ketiga, emulsifier harus membentuk membran yang mencegah droplet bergagregasi.

IX. Aplikasi Medis
Saat ini, beberapa penelitian sedang dilakukan mengenai penggunaan koloid asosiasi dalam sistem pengiriman obat dalam tubuh manusia. Contoh lain dalam pengembangan aplikasi koloid untuk kesehatan manusia adalah penggunaan koloida perak (biasanya perak menempel pada protein dan mengendap dalam air) untuk melawan penyakit. Penelitian menunjukkan bahwa koloid perak mungkin dapat menjadi antibiotik kuat yang bekerja dengan melumpuhkan enzim yang digunakan oleh bakteri, jamur, dan virus tertentu untuk metabolisme okisgen. Namun, enzim ini tidak ditemukan dalam manusia, sehingga mengindikasikan bahwa koloid perak hanya melawan zat asing dalam tubuh. Karenanya, hal ini terlihat sangat aman dan efektif, dengan sedikit atau bahkan tanpa efek samping.

21

Bab V POLUSI
I. Polusi dan Koloid
Polusi atau pencemaran lingkungan adalah masuknya atau dimasukkannya makhluk hidup, zat energi, dan atau komponen lain ke dalam lingkungan, atau berubahnya tatanan lingkungan oleh kegiatan manusia atau oleh proses alam sehingga kualitas lingkungan turun sampai ke tingkat tertentu yang menyebabkan lingkungan menjadi kurang atau tidak dapat berfungsi lagi sesuai dengan peruntukannya (Undang-Undang Pokok Pengelolaan Lingkungan Hidup No. 4 Tahun 1982). Polusi ialah kehadiran satu atau lebih substansi fisik, kimia, atau biologi di atmosfer dalam jumlah yang dapat membahayakan kesehatan manusia, hewan, dan tumbuhan, mengganggu estetika dan kenyamanan, atau merusak properti. Yang akan kita bahas ialah substansi kimia yaitu koloid. Jenis koloid yang mencemari udara adalah koloid aerosol padat (berupa butiran/partikel padatan terdispersi dalam gas/udara). Pencemaran ini berasal dan asap kendaraan bermotor, industri, debu jalanan yang ditiup angin. Pencemaran ini dapat mengganggu daya pandang (visibilitas), gangguan kesehatan (mengganggu pernapasan). Selain itu juga dapat memengaruhi cuaca, dapat menimbulkan seringnya hujan, karena butiran ini merupakan salah satu komponen pembentuk awan. Jenis koloid yang mencemari air adalah limbah yang berasal dari industri, seperti logam berat (misalnya logam Pb dan Hg), dan limbah yang berasal dan pemukiman, seperti limbah detergen.Sedangkan jenis koloid yang mencemari tanah adalah limbah pertanian seperti pestisida dan pupuk.

II.

Debu
Debu atau dust ialah nama umum untuk sejumlah partikel padat kecil dengan diameter kurang dari 500 mikrometer. Di atmosfer Bumi, debu berasal dari sejumlah sumber: letusan gunung berapi, pencemaran, dan lain-lain. Debu udara dianggap aerosol dan bisa memiliki tenaga radiasi lokal yang kuat di atmosfer dan berpengaruh pada iklim. Di samping itu, jika sejumlah partikel kecil disebarkan ke udara di daerah tertentu (seperti tepung terigu), dalam keadaan tertentu ini bisa menimbulkan bahaya ledakan. Debu merupakan koloid berupa aerosol padat karena fase terdispersinya berupa zat padat yg terdispersi pada zat gas(udara). Selain pencemaran udara dandebu juga menyebabkan penyakit untuk paru-paru manusia.

III. Limbah
Limbah adalah buangan yang kehadirannya pada suatu saat dan tempat tertentu tidak dikehendaki lingkungannya karena tidak mempunyai nilai ekonomi. Limbah mengandung bahan pencemar yang bersifat racun dan bahaya. Limbah ini dikenal dengan limbah B3 (bahan beracun dan berbahaya). Bahan ini dirumuskan sebagai bahan dalam jumlah relatif sedikit tapi 22

mempunyai potensi mencemarkan/merusakkan lingkungan kehidupan dan sumber daya. Karateristik limbah: • berukuran mikro. • Dinamis. • Berdampak luas (penyebarannya). • Berdampak jangka panjang (antar generasi). Bahan beracun dan berbahaya banyak dijumpai sehari-hari, baik sebagai keperluan rumah tangga maupun industri yang tersimpan, diproses, diperdagangkan, diangkut, dan lain-lain. Insektisida, herbisida, zat pelarut, cairan atau bubuk pembersih deterjen, amoniak, sodium nitrit, gas dalam tabung, zat pewarna, bahan pengawet dan masih banyak lagi untuk menyebutnya satu per satu. Bila ditinjau secara kimia bahan-bahan ini terdiri dari bahan kimia organik dan anorganik. Terdapat lima juta jenis bahan kimia telah dikenal dan di antaranya 60.000 jenis sudah dipergunakan dan ribuan jenis lagi bahan kimia baru setiap tahun diperdagangkan. Sebagai limbah, kehadirannya cukup mengkhawatirkan terutama yang bersumber dari pabrik industri Bahan beracun dan berbahaya banyak digunakan sebagai bahan baku industri maupun sebagai penolong. Beracun dan berbahaya dari limbah ditunjukkan oleh sifat fisik dan kimia bahan itu sendiri, baik dari jumlah maupun kualitasnya. Beberapa kriteria berbahaya dan beracun telah ditetapkan antara lain mudah terbakar, mudah meledak, korosif, oksidator dan reduktor, iritasi bukan radioaktif, mutagenik, patogenik, mudah membusuk dan lain-lain. Dalam jumlah tertentu dengan kadar tertentu, kehadirannya dapat merusakkan kesehatan bahkan mematikan manusia atau kehidupan lainnya sehingga perlu ditetapkan batas-batas yang diperkenankan dalam lingkungan pada waktu tertentu. Adanya batasan kadar dan jumlah bahan beracun danberbahaya pada suatu ruang dan waktu tertentu dikenal dengan istilah nilai ambang batas, yang artinya dalam jumlah demikian masih dapat ditoleransi oleh lingkungan sehingga tidak membahayakan lingkungan ataupun pemakai. Karena itu untuk tiap jenis bahan beracun dan berbahaya telah ditetapkan nilai ambang batasnya. Tingkat bahaya keracunan yang disebabkan limbah tergantung pada jenis dan karakteristiknya baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Dalam jangka waktu relatif singkat tidak memberikan pengaruh yang berarti, tapi dalam jangka panjang cukup fatal bagi lingkungan. Oleh sebab itu pencegahan dan penanggulangan haruslah merumuskan akibat-akibat pada suatu jangka waktu yang cukup jauh. Melihat pada sifat-sifat limbah, karakteristik dan akibat yang ditimbulkan pada masa sekarang maupun pada masa yang akan datang diperlukan langkah pencegahan, penanggulangan dan pengelolaan. Seringkali tanpa kita sadari kita telah memiliki kebiasaan yang justru dapat mengganggu keseimbangan lingkungan tersebut, misalnya saja: memasukkan sabun cuci (deterjen) atau karbol wangi ke lubang WC, membuang sisa sabun, bensin, atau apa pun yang bersifat racun dan bisa membunuh semua mikrorganisma (termasuk yang menguntungkan) ke tanah pekarangan kita, dsb. Semua tindakan tersebut, khususnya kalau terjadi secara rutin, akan mengganggu keseimbangan lingkungan, dan pada gilirannya akan menyebabkan terjadinya gangguan-gangguan yang serius pada lingkungan hidup kita. Adapun Limbah B3 yaitu Karakteristik Limbah B3 Selain berdasarkan sumbernya (Lampiran 1,2 dan 3 PP 85/1999), suatu limbah dapat diidentifikasi sebagai limbah B3 berdasarkan uji karakteristik. Karakteristik limbah B3 meliputi: • mudah meledak, • mudah terbakar, 23

• • • •

bersifat reaktif, beracun, menyebabkan infeksi, bersifat korosif. Suatu limbah diidentifikasikan sebagai limbah B3 berdasarkan karakteristiknya apabila dalam pengujiannya memiliki satu atau lebih kriteria atau sifat karakteristik limbah B3.

I.

Limbah Deterjen
Biasa disebut juga limbah rumah tangga, merupakan koloid yang memiliki dampak negatif karena penggunaannya. Koloid buih ini terbentuk dari fase terdispersi gas dalam fase pendispersi cair. Limbah rumah tangga adalah limbah yang berasal dari dapur, kamar mandi, cucian, limbah bekas industri rumah tangga dan kotoran manusia. Limbah merupakan buangan/bekas yang berbentuk cair, gas dan padat. Dalam air limbah terdapat bahan kimia sukar untuk dihilangkan dan berbahaya. Bahan kimia tersebut dapat memberi kehidupan bagi kuman-kuman penyebab penyakit disentri, tipus, kolera, dan sebagainya.

II.

Pupuk dan Pestisida Berlebihan
Pupuk dan pestisida memang biasa telah dipakai oleh berbagai kalangan manusia. Koloid yang berupa sol padat ini jika digunakan berlebihan akan mengakibatkan dampak negatif. Dampak penggunaan pestisida pada tanah memang ada karena bahan dasar pestisida adalah bahan kimia yang umumnya memiliki efek pada tanah misal tanah jadi asam atau basa sehingga tanah menjadi kurang subur dan tanaman yang dibudidayakan kurang produktif. Pestisida memang bagus dan cara cepat membasmi hama penyakit tanaman tapi juga meninggalkan residu dalam hasil panen yang dapat merugikan manusia dalam jangka waktu lama juga tidak baik untuk tanah. Cara mengatasi kerusakan fisik tanah dapat dilakukan dengan membenah tanah menggunakan pembenah tanah atau bahan organik juga melalui pengolahan tanah yang baik juga kita hindari penggunaan bahan kimia.

III. Asbut (Smog)
Asbut adalah sejenis polusi udara, yang merupakan kombinasi dari asap (smoke) dan kabut (fog). Asbut sendiri merupakan koloid jenis aerosol padat dan aerosol cair, yang artinya memiliki fase pendispersi gas, fase terdispersi padat untuk aerosol padat, serta fase terdispersi cair untuk aerosol cair. Dewasa ini terdapat dua jenis asbut yaitu asbut klasik yang pertama kali mucul, dan asbut fotokimia yang muncul belum lama ini.Perbedaan yang penting antara asbut klasik dan fotokimia adalah dalam pembentukan asbut fotokimia sinar matahari sangat penting. 1. Asbut klasik Asbut klasik adalah asbut yang pertama kali ada, diperkirakan pertama kali terbentuk pada masa revolusi industri Inggris ketika terjadi lonjakan industri 24

besar-besaran yang mengemisikan gas-gas yang berpotensi menjadi asbut. Komponen utama dalam asbut kasik adalah sulfur dioksida (SO2). 2. Asbut Fotokimia Asbut relatif baru yang muncul pada tahun 1950-an, yang membedakan dengan asbut klasik adalah asbut fotokimia hadir dengan bantuan sinar matahari, bahan utamanya sendiri adalah bahan kimia yang dihasilkan oleh pembakaran misal gas buang kendaraan, pabrik dan lain-lain. Contoh penyusun asbut fotokimia: • ozon troposferik. • VOCs (Volatile Organic Compounds). • Peroksiasetil nitrat (PAN).

25

1. Dampak Kesehatan Asbut merupakan masalah yang cukup serius terutama di kota padat, serta kawasan industri. Gas seperti sulfur dioksida, nitrogen dioksida, dan gas karbon monoksida sangat berbahaya bagi manula, anak-anak, dan orang-orang yang mengidap emfisema bronkitis dan asma. Tingakat kematian akibat masalah pernafasan di rumah sakit meningkat saat kadar zat buangan pada ozon tinggi. Zat buangan dapat menyebabkan kesulitan bernafas, kelelahan, dan masalah respirasi. Peroksiasetil nitrat mampu mengiritasi mata.

2. Reaksi Pembentukan Dalam kendaraan motor, untuk menghasilkan energi diperlukan pembakaran, sehingga menghasilkan sistem bersuhu tinggi, yang akan menghasilkan kerja bagi mesin. Dalam suhu tinggi gas N2 dan O2 bereaksi membentuk NO, sesuai reaksi: N2 (g) + O2 (g)  2NO (g) Ada beberapa bagian dari gas NO tersebut bereaksi lagi dengan O 2 membentuk gas NO2 sesuai reaksi: 2NO (g) + O2 (g)  NO2 (g) Ketika kadar gas NO2 melebihi batas aman, dan cuaca cerah yang memungkinkan kehadiran cahaya matahari sebagai katalisator maka gas NO2 akan terurai kehilangan atom oksigen sesuai persamaan: NO2 (g)  NO (g) + O (g) Atom oksigen yang terpecah akan bereaksi dengan gas oksigen memebentuk ozon sesuai persamaan: O (g) + O2 (g)  O3 (g) Akan tetapi, NO mampu merombak ozon dengan mereaksikannya membentuk NO2 dan O2 NO (g) + O3 (g)  NO2 (g) + O2 (g) Jika rasio antara NO2 dan NO lebih besar dari tiga reaksi pembentukan ozon menjadi lebih dominan, sedangkan jiga rasionya dibawah tiga maka yang dominan adalah reaksi perombakan ozon. 3. Pembentukan Peroksiasetil Nitrat Reaksi hidrokarbon dengan NO dan O2 dengan keberadaan sinar matahari akan menghasilkan peroksiasetil nitrat (CH3CO-OO-NO2) sesuai reaksi: NO2 (g) + O2 (g) + hidrokarbon  CH3CO-OO-NO2 (g)

26

27

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->