P. 1
Sifat Dan Manfaat Gas Neon

Sifat Dan Manfaat Gas Neon

5.0

|Views: 5,745|Likes:
Published by rusdi ariawan
Sifat Dan Manfaat Gas Neon
Sifat Dan Manfaat Gas Neon

More info:

Published by: rusdi ariawan on Jul 18, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

09/29/2014

pdf

text

original

SIFAT DAN MANFAAT GAS NEON

Tugas Bahan Listrik

OLEH : PUTU RUSDI ARIAWAN NIM: 0804405050

JURUSAN TEKNIK ELEKTRO FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS UDAYANA JIMBARAN-BALI 2010

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadapan Tuhan Yang Maha Esa, karena atas berkat rahmat dan petunjuk-Nyalah Paper Sifat Dan Manfaat Gas Neon ini dapat diselesaikan. Dengan karunia kesehatan dan kesempatan dari-Nya pula, laporan ini pun dapat rampung tepat pada waktunya. Ucapan terima kasih kami berikan kepada semua pihak yang telah banyak membantu kami dalam penyusunan laporan ini. Khususnya kepada Dosen mata kuliah Bahan Listrik Jurusan Teknik Elektro dan juga berbagai pihak yang tidak dapat kami sebutkan satu persatu. Laporan ini bertujuan untuk memenuhi tugas mata kuliah Bahan Listrik. Disamping itu juga untuk memberikan informasi kepada para pembaca mengenai materi Sifat Dan Manfaat Gas Neon. Kami menyadari sepenuhnya laporan ini masih jauh dari sempurna, sehingga kami sebagai penyusun mengharapkan berbagai saran dan kritik yang bersifat membangun, agar nantinya dapat dijadikan pedoman bagi kami dalam penyusunan laporan berikutnya.

Denpasar, Mei 2010

Penyusun

PUTU RUSDI ARIAWAN

ii

ABSTRAK

Neon digunakan untuk membuat lampu-lampu reklame, yang emmberi cahaya merah. Neon juga digunakan untuk pembuatan lampu penerangan sebagi pengganti lampu pijar. Neon cair dapat digunakan sebagai pendingin untuk menciptakan suhu rendah, selain itu neon juga digunakan untuk membuat indikator tegangan tinggi, penangkal petir dan tabung-tabung televisi. PLN memastikan bahwa pemakaian lampu hemat energi (LHE) atau compact fluorescent lamp(lamp) yang lebih dikenal sebagai lampu neon oleh masyarakat ini akan dapat menghemat pasokan energi listrik yang harus dikeluarkan PT. Perusahaan Listrik Negara (PLN) hingga 80 % atau seperlima dari biaya listrik lampu pijar. Permasalahan yang muncul adalah masyarakat cenderung memilih lampu pijar ketimbang lampu hemat energi (berlogo energi saving) karena harga dari lampu pijar lebih terjangkau selain itu sebagian besar konsumen PLN belum mengetahui kalau sebenarnya lampu hemat lebih ekonomis dari pada lampu pijar. Dari penelitian yang telah dilakukan PT. PLN terlihat bahwa lampu neon lebih tahan lama dibandingkan dengan lampu pijar dan cahaya lampu yang dihasilkan juga lebih terang dengan daya yang sama. Perbandingan antara lampu neon dengan lampu pijar adalah: lampu neon 9 Watt mampu tahan sampai 6000 jam ini memberikan daya yang sama dengan lampu pijar 40 watt. Keunggulan lain adalah lampu neon (LHE) dapat beroperasi pada tegangan 160-250 volt. Pada lampu pijar sebagian besar energi listrik (± 80 %) diubah menjadi energi kalor untuk memijarkan filamen lampu sehingga dihasilkan cahaya yang disertai panas. Jadi pada lampu pijar energi yang diubah menjadi cahaya ± 20 %. Kata Kunci: Lampu pijar, Neon.

PUTU RUSDI ARIAWAN

iii

DAFTAR ISI JUDUL .............................................................................................................i KATA PENGANTAR................................................................................. ii ABSTRAK .................................................................................................. iii DAFTAR ISI .............................................................................................. iv DAFTAR GAMBAR .................................................................................. vi DAFTAR TABEL ...................................................................................... vii BAB I PENDAHULUAN ........................................................................... 1 1.1 Latar Belakang ................................................................................ 1 1.2 Rumusan Masalah ........................................................................... 2 1.3 Tujuan Penulisan ............................................................................. 2 1.4 Manfaat Penulisan ........................................................................... 3 1.5 Batasan Masalah ............................................................................. 3 1.6 Sistematika Pembahasan .................................................................. 3 BAB II TINJAUAN PUSTAKA ................................................................ 5 2.1 Unsur-Unsur Gas Mulia................................................................... .5 2.2 Sifat-Sifat Fisis Gas Mulia............................................................... 6 2.3 Kegunaan Gas Mulia ....................................................................... 7 2.3.1 Kegunaan Helium...................................................................... 7 2.3.2 Kegunaan Neon..........................................................................7 2.3.3 Kegunaan Argon........................................................................7 2.3.4 Kegunaan Kripton......................................................................7 2.3.5 Kegunaan Xenon........................................................................8 2.4 Perkembangan Tabung Hampa ........................................................ 8 2.4.1 Lucutan Listrik Dalam Gas....................................................... 8 BAB III METODELOGI PENELITIAN................................................... 12 3.1 3.2 Tempat dan Waktu Pencarian Data ................................................ 12 Data ............................................................................................... 12 3.2.1 Jenis data ............................................................................ 12 3.2.2 Sumber data........................................................................ 12

PUTU RUSDI ARIAWAN

iv

3.2.3 Metode pengumpulan data ................................................. 12 3.3 3.4 4.1 4.2 4.3 4.4 5.1 5.2 Tahap-tahap Pengolahan Data ....................................................... 13 Teknik mengambil kesimpulan ...................................................... 13 Gas- Gas Pengisi Tabung Lampu dan Fungsi Gas Pengisi Tabung Lampu............................................................................................ 14 Prinsip Kerja dan Perkembangan Lampu Neon .............................. 14 Prinsip Kerja dan Perkembangan Lampu Pijar ................................ 17 Efisiensi Lampu Neon dibandingkan dengan Lampu Pijar .............. 19 Simpulan ........................................................................................... 20 Saran-saran ....................................................................................... 20

BAB IV PEMBAHASAN............................................................................ 14

BAB V PENUTUP

DAFTAR PUSTAKA.................................................................................. 21

PUTU RUSDI ARIAWAN

v

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Tabung Bertekanan ±20 mmHg ................................................ 9 Gambar 2.2 Tabung Bertekanan ±5 mmHg .................................................. 9 Gambar 2.3 Tabung Gas Pada Tekanan ± 0.05 mmHg ................................. 10 Gambar 2.4 Tabung Gas Pada Tekanan ±0.01 mmHg .................................. 10

PUTU RUSDI ARIAWAN

vi

DAFTAR TABEL

Tabel 2.1 Kelimpahan Gas Mulia di Udara.................................................. 4 Tabel 2.2 Data Fisis Unsur Gas Mulia......................................................... 5

PUTU RUSDI ARIAWAN

vii

BAB I PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang Masalah kelistrikan di Bali makin hari makin mengkhawatirkan, hal ini

disebabkan keterbatasan daya untuk distribusi di daerah Bali sendiri. Keterbatasan ini dengan jelas dapat dilihat dari pemadaman listrik yang dilakukan secara bergiliran di setiap daerah oleh PLN, selain itu seringnya terjadi fluktuasi listrik (lonjakan tegangan secara tiba-tiba) yang bisa langsung dirasakan dengan ditandai perubahan lampu listrik yang tiba-tiba meredup ataupun terlihat melaui stavolt, fluktuasi tegangan dapat menimbulkan kerusakan pada peralatan listrik, seperti rusaknya hardisk komputer,rusaknya sinyal televisi dan alat elektronik lainnya. Fluktuasi ini disebabkan karena ketidakstabilan tegangan listrik (tegangan yang naik-turun) yang biasanya terjadi pada “jam-jam sibuk” yaitu pada jam 6 malam sampai jam 10 malam yang menyebabkan terjadinya “peak load” (peak load adalah saat dimana besarnya tegangan beban yang dipakai konsumen mencapai titik tertinggi yaitu tegangan maksimum. Dari keterbatasan suplai atau persediaan listrik yang ada di Bali dan untuk kepentingan dimasa yang akan datang PLN sebagai satu-satunya perusahaan bertanggung jawab terhadap listrik di Indonesia dan Bali khususnya telah merencanakan pembangunan pembangkti di Bali dari pada menambah kabel transmisi Jawa-Bali karena dianggap lebih ekonomis, selain itu juga diperlukan kesadaran dari masyarakat untuk melakukan penghematan pemakaian listrik adapun yang dapat dilakukan oleh masyarakat untuk menghemat pemakaian listrik adalah dengan meminimalkan pemakaian listrik yang tidak perlu, meminimalkan penggunaan listrik pada jam sibuk atau tegangan puncak yaitu pada jam 6 malam sampai jam 10 malam, sedangkan pihak PLN sendiri telah bekerja sama dengan Philip berupaya untuk

PUTU RUSDI ARIAWAN

1

2

memasyarakatkan penggunaan lampu hemat energi (lampu neon), dengan lampu hemat ini beban konsumsi daya menurun sementara ruangan tetap terang. PLN memastikan bahwa pemakaian lampu hemat energi (LHE) atau compact fluorescent lamp(lamp) yang lebih dikenal sebagai lampu neon oleh masyarakat ini akan dapat menghemat pasokan energi listrik yang harus dikeluarkan PT. Perusahaan Listrik Negara (PLN) hingga 80 % atau seperlima dari biaya listrik lampu pijar. Permasalahan yang muncul adalah masyarakat cenderung memilih lampu pijar ketimbang lampu hemat energi (berlogo energi saving) karena harga dari lampu pijar lebih terjangkau selain itu sebagian besar konsumen PLN belum mengetahui kalau sebenarnya lampu hemat lebih ekonomis dari pada lampu pijar. 1.2 Rumusan Masalah Berdasarkan masalah tersebut di atas, maka dapat dirumuskan beberapa hal sebagai berikut: 1. Jenis gas apa saja yang bisa digunakan pengisian tabung lampu, dan apa fungsi gas tersebut? 2. Bagaimana perkembangan lampu neon serta prinsip kerja lampu neon tersebut hingga dapat menghasilkan sinar? 3. Bagaimana perkembangan lampu pijar serta prinsip kerja lampu pijar tersebut hingga dapat menghasilkan sinar? 4. Jenis logam apa saja yang digunakan sebagai filamen pada lampu pijar? 5. Mengapa lampu neon lebih terang dari pada lampu pijar pada tegangan atau daya yang sama? 1.3 Tujuan Adapun tujuan dari pembahasan karya ilmiah ini adalah sebagai berikut: 1. Mengetahui gas apa saja yang bisa digunakan sebagai pengisi tabung lampu. 2. Mengetahui sifat-sifat gas-gas pengisi tabung lampu. 3. Mengetahui fungsi-fungsi dari gas pengisi tabung lampu.

PUTU RUSDI ARIAWAN

3

4. Mengetahui penyebab lampu neon lebih terang daripada lampu pijar untuk tegangan atau daya yang sama. 5. Mengetahui cara kerja dari masing jenis lampu (lampu pijar dan lampu neon) sehingga dapat menghasilkan cahaya. 6. Mengetahui keunggulan-keunggulan lampu neon dibandingkan dengan lampu pijar. 1.4 Manfaat Manfaat dari pembahasan diharapkan didapatkan data sebagai acuan di dalam mengetahui sifat-sifat dan fungsi gas-gas neon dan mendapatkan penyebab lampu neon lebih terang daripada lampu pijar untuk tegangan atau daya yang sama dan keunggulan-keunggulan lampu neon dibandingkan dengan lampu pijar, sehingga pemanfaatan gas neon lebih dimaksimalkan lagi. 1.5 Ruang lingkup dan Batasan Masalah Melihat luasnya permasalahan dalam penyusunan karya ilmiah ini, maka perlu dibatasi permasalahannya pada masalah materi pada pemanfaatan gas neon sebagai pengisi gas lampu dan gas lainnya yang disinggung seperlunya untuk menunjang pengetahuan dalam membaca makalah ini. Selain itu akan dijelaskan pula tentang lampu pijar yang digunakan hanya sebagai pembanding tingkat keefisienannya terhadap penggunaan daya. 1.6 Sistematika Pembahasan Adapun sistematika pembahasan yang digunakan dalam penulisan laporan ini adalah : BAB I : PENDAHULUAN

PUTU RUSDI ARIAWAN

4

Berisikan secara lengkap gambaran umum isi tulisan, mulai latar belakang, rumusan masalah, tujuan, manfaat, batasan masalah yang akan dibahas dan sistematika penulisan mengenai sifat dan manfaat gas neon. BAB II : TINJAUAN PUSTAKA Dalam bab ini memaparkan kepustakaan yang berisikan tentang konsep dan penggunaan secara umum dan unsur-unsur gas muliah beserta sifat dan manfaatnya. BAB III : METODE PENELITIAN Dalam bab ini diuraikan tempat dan waktu penelitian, sumber data dan jenis data. BAB IV : PEMBAHASAN Dalam bab ini membahas hasil penelitian yang telah dilakukan guna mengetahui sifat dan manfat gas neon. BAB V : PENUTUP Merupakan bab yang berisikan kesimpulan dari uraian pembahasan dan saran-saran yang menghubungkan dengan pembahasan sebelumnya.

PUTU RUSDI ARIAWAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1

Unsur-Unsur Gas Mulia Dalam sistem periodik unsur-unsur gas neon menempati golongan VIII A

yang secara umum dikenal sebagai golongan gas mulia. Disebut gas mulia karena gas ini merupakan gas yang stabil karena mempunyai elektron valensi 0 (elktron valensi merupakan elektron terluar dari suatu atom yang menentukan sifat-sifat suatu unsur) dan tidak mudah bereaksi dengan gas lain. Selain neon gas mulia yang lain adalah Helium, Argon, Kripton, Xenon dan Radon. Semua unsur gas mulia (kecuali radon) terdapat diudara. Kelimpahan gas mulia di udara ditunjukkan oleh tabel 2.1.
Tabel 2.1 Kelimpahan Gas Mulia di Udara

Gas Mulia Helium Neon Argon Kripton Xenon Radon

Simbol He Ne Ar Kr Xe Rn

Kelimpahan (ppm-volum) 5.24 18.2 9340 1.14 0.087 -

PUTU RUSDI ARIAWAN

5

6

Gas-gas mulia selain radon, diperoleh dari destilasi bertingkat udara cair. Komponen-komponen gas mulia yang terdapat dialam yang paling banyak adalah helium, hal ini disebabkan karena helium merupakan komponen penting dari matahari dan dan bintang-bintang lainnya. 2.2 Sifat-Sifat Fisis Gas Mulia Semua unsur gas mulia berwujud gas pada suhu kamar dan mendidih hanya beberapa derajat diatas titik cairnya. (mempunyai titik didih rendah). Gas-gas mulia dialam terdapat sebagai molekul monoatomik (atomnya berdiri sendiri) yang disebabkan oleh sifatnya yang sangat stabil dan sangat sukar bereaksi dengan unsur lain. Beberapa sifat fisis yanbg penting dari gas mulia diperlihatkan oleh tabel 2.2.
Tabel 2.2 Data Fisis Unsur Gas Mulia

Sifat Nomor atom Elektron Valensi Jari-jari Atom (A) Titik Leleh (oC) Titik Didih (oC) Energi pengionan (kj/mol) Afinitas elektron (kj.mol) Rapatan (g/L)

He 2 2 0.50 -272.2 -268. 2640 21 0.178

Ne 10 8 0.65 -248.6 -246.0 2080 29 0.900

Ar 18 8 0.95 -189.4 -185.9 1520 35 1.78

Kr 36 8 1.10 -157.2 -153.4 1350 39 3.73

Xe 54 8 1.30 -111.8 -108.1 1170 41 5.89

Rn 86 8 1.45 -71 -62 1040 41 9.73

PUTU RUSDI ARIAWAN

7

2.3

Kegunaan Gas Mulia Kegunaan dari gas mulia kebanyakan karena sifatnya yang sukar bereaksi,

sehingga sebagaian besar dari gas ini mempunyai kegunaan yang hampir sama. 2.3.1 Kegunaan Helium Sifat utama gas ini adalah tidak terbakar dan mempunyai rapatan yang paling rendah setelah hidrogen, oleh karena sifatnya inilah helium banyak digunakan sebagai pengisi balon meteorologi maupun kapal balon. Helium digunakan secara luas dalam riset yang menghendaki suhu sangat rendah. Dengan menguapkan helium cair dapat dicapai suhu yang rendah sekali mendekati nol absolut. 2.3.2 Kegunaan Neon Neon digunakan untuk membuat lampu-lampu reklame, yang emmberi cahaya merah. Neon juga digunakan untuk pembuatan lampu penerangan sebagi pengganti lampu pijar.Neon cair dapat digunakan sebagaipendingin untuk menciptakan suhu rendah, selain itu neon juga digunakan untuk membuat indikator tegangan tinggi, penangkal petir dan tabung-tabung televisi. 2.3.3 Kegunaan Argon Argon dapat digunakan sebagai pengganti heliumuntuk menciptakan atmosfer inert. Penggunaan argon akan semakin banyak karena jumlahnya yang berlimpah diudara sedangkan helium lebih terbatas. Kegunaan argon yang penting adalah untuk pengisi lampu pijar karena tidak bereaksi dengan kawat wolfram yang panas sampai putih (tidak seperti nitrogen dan oksigen). 2.3.4 Kegunaan Kripton Kripton digunakan bersama-sama untuk pengisi lampu fluoresensi (lampu tabung). Juga digunakan untuk lampu kilat fotografi berkecepatan tinggi. Bahkan

PUTU RUSDI ARIAWAN

8

salah satu garis spektrum dari kripton digunakan sebagai standar panjang untuk meter. 2.3.5 Kegunaan Xenon Xenon banyak digunakan untuk pembuatan lampu tabung elektron, selain itu juga digunakan dalam bidang energi atom dalam ruang gelembung. 2.4 Perkembangan Tabung Hampa Titik tolak lain dari perkembangan lampu tabung yang paling penting adalah pembuatan tabung hampa udara. Setelah Otto Van Gueriche di tahun 1650 mampu membuat ruang hanpa udara , di tahun 1855 Heinrich Geissler, ilmuwan Jerman, yang menemukan cara untuk memompa udara dalam ruangan hingga 99.9% dari udara normal, akibatnya udara dalam ruangan akan bertekanan 0.01% dari tekanan udara normal. Penemuan tabung hampa itu dapat diciptakan berbagai alat , termasuk tabung sinar katode yang menghasilkan sinar katode sebagai yang nantinya menjadi prinsip dasar dari pembuatan berbagai jenis lampu listrik. 2.4.1 Lucutan Listrik Dalam Gas Tabung lucutan adalah tabung kaca yang memiliki elktrodedi kedua ujungnya yaitu Anode disalah satu ujung tabung kaca dan Katode diujung yang lain. Anode dan Katode terpisah pada jarak tertentu dengan udara sebagai bahan isolasinya dan dihubungkan dengan tegangan tinggi yaitu ± 30.000 V sampai dengan tegangan 50.000 V. Tekanan gas dalam tabung lucutan tersebut dapat diukur dengan pompa vakum, ternyata setelah diuji dan dilakukan berbagai percobaan terjadi berbagai fenomena-fenomena yang menarik perhatian, yaitu antara lain: a Pada tekanan gas ± 20 mmhg, pada tabung tampak jalur berwarna ungu bergelombang, hal ini menunjukkan bahwa udara pada tekanan rendah bersifat sebagai konduktor. Hal ini menunjukkan tegangan tembus udara pada tekanan rendah (bisa dibilang vakum) adalah sangat kecil sehingga sifat udara sebagai

PUTU RUSDI ARIAWAN

9

isolasi berubah menjadi konduktor. Selebihnya dapat dilihat pada gambar 2.1 berikut:

Gambar 2.1 Tabung Bertekanan ±20 mmHg

b Pada tekanan gas ± 5 mmHg akan timbul pijar negatif yang berwarna kebirubiruan didekat katode, sedangkan didalam tabung timbul pijar merah muda yang disebut dengan kolom positif. Diantara pijar negatif dan kolom positif terdapat ruang gelap yang disebut Ruang Gelap Paraday (RGF) seperti yang ditunjukkan pada gambar 2.2 berikut.

Gambar 2.2 Tabung Bertekanan ±5 mmHg

c

Pada tekanan gas ± 0.05 mmHg, pijar negatif bergeser ketengah dan pada katode timbul lagi pijar katode dan pada anode timbul pijar anode. Kolom-kolompositi berubah menjadi strip-strip. Antara pijar negatif dengan pijar katode terdapat

PUTU RUSDI ARIAWAN

10

ruang gelap yang disebut dengan Tuang Gelap Crookes (RGC) sedangkan Ruang Gelap Paraday bertambah lebar. Ditunjukkan oleh gambar 2.3.

Gambar 2.3 Tabung Gas Pada Tekanan ± 0.05 mmHg

d Pada tekanan gas ± 0.01 mmHg, kolom positif dan kolom pijar negatif hilang sedangkan Ruang Gelap Crookes (RGC) bertamabah dan mengisi seluruh tabung. Seperti terlihat pada gambar 2.4. pada saat ini dinding tabung berfluoresensi hijau. Warna tersebut bergantung pada gas yang diisikan pada tabung dan warna dari gelas tabung. Mislnya warna jingga terjadi jika kaca tabung berwarna berwarna merah dan diisikan gas neon. Selain itu akan terjadi warna kuning jika pada tabung tersebut diisi gas natrium, misalnya pada lampu yang dipasang dipinggir jalan.

Gambar 2.4 Tabung Gas Pada Tekanan ±0.01 mmHg

PUTU RUSDI ARIAWAN

11

Berdasarkan peristiwa-peristiwa yang terjadi pada tabung lucutan tersebut, tabung lucutan kemudian dikembangkan beranekaragam janis lampu dan lapu yang dikembangkan ini dikenal dengan lampu fluorescent karena menghasilkan cahaya dengan cara mem-fluoresensikan gas yang terdapat pada tabungnya (gas pengisi tabung).

PUTU RUSDI ARIAWAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

3.1

Tempat dan Waktu Pencarian Data Dalam penyusunan karya ilmiah ini dilakukan di Kampus Bukit Jimbaran,

yang dilaksanakan pada bulan Maret 2008. 3.2 Data Data yang digunakan pada proses penyusunan karya ilmiah ini diperoleh dari literatur-literatur yang berupa konsep dan aplikasi dari gas neon serta sumber online (internet). 3.2.2 Jenis data Data yang digunakan dalam menganalisis adalah data sekunder yang berasal dari kajian pustaka dengan data-data sebagai berikut : 1. Bahan-bahan listrik untuk Politeknik Oleh : Drs.Muhaimin 2. Media internet www.elektroindonesia.com Http://www.ugm.ac.id/index.php?page=rilis&artikel=120 Http;//www. wikipedia.org/wiki.com

3.2.1 Sumber data

3.2.3 Metode Pengumpulan Data Dalam penulisan makalah ini, terdapat beberapa metode yang digunakan untuk mencari materi pembahasan, yaitu:

PUTU RUSDI ARIAWAN

12

13

1. Metode pengamatan langsung, pada tahap ini penulis mengamati langsung dan cara kerja lampu pijar dengan lampu neon dan membandingkan tingkat keefisienannya dalam penggunaan daya listrik 2. Metode Kepustakaan, pada tahap ini penulis mencari sumber-sumber yang dapat digunakan sebagai acuan dalam pembahasan materi lebih lanjut. Adapun sumbersumber yang digunakan penulis dalam melakukan pembahasan antara lain melalui buku-buku yang berkaitan dengan materi yang dibahas, serta mencari informasi lebih lanjut melalui internet. Kedua metode diatas digunakan untuk memperoleh hasil pembahasan yang berdasarkan fakta / kenyataan yang terjadi. 3.3 Tahap-Tahap Pengolahan Data Adapun tahap-tahap pengolahan data adalah sebagai berikut: 1 Mencari hal-hal penting yang berhubungan dengan penulisan dari buku-buku atau literatur lainnya. 2 Menentukan rumusan masalah yang akan dibahas. 3 Menyusun data yang diperoleh menurut sistematika laporan. 4 Menarik kesimpulan yang bisa menjawab rumusan masalah. 3.4 Teknik Mengambil Kesimpulan Berbagai pertimbangan penulis dalam menarik kesimpulan adalah sebagai berikut. 1. Kesimpulan langsung berhubungan dengan rumusan masalah yang dibuat. 2. Kesimpulan diperoleh dari hasil pertimbangan yang tidak sepihak, tetapi berdasarkan berbagai referensi. 3. Kesimpulan merupakan jawaban dari masalah dan tujuan penulisan

PUTU RUSDI ARIAWAN

BAB IV PEMBAHASAN

4.1

Gas- Gas Pengisi Tabung Lampu dan Fungsi Gas Pengisi Tabung Lampu Gas-gas yang bisa dijadikan sebagai pengisi tabung lampu banyak macamnya

misalnya gas oksigen dapat digunakan sebagai pengisi pada tabung lampu pijar tetapi karena sifatnya yang membuat filamen tungsten tidak tahan terhadap panas membuat gas ini tidak digunakan. Sebagai pengganti biasanya dipakai gas argon. Seperti telah dijelaskan diatas gas-gas pengisi lampu tabung adalah kebanyakan dari golongan VIII A yaitu gas mulia, hal ini dikarenakan sifatnya yang tidak mudah bereaksi dan merupakan gas inert sehingga aman bagi filamen lampu yang sedang beroperasi pada suhu yang tinggi. Gas mulia yang antara lain helium, neon, argon, kripton, xenon dan radon , gas yang digunakan sebagai pengisi pada lampu tabung pada umumnya adalah gas neon sehingga lampu fluoresen lebih dikenal sebagai lampu neon. Namun demikian gas mulia yang lain juga dapat digunakan sebagai pengisi lampu misalnya gas argon sebagai pengisi pada lampu pijar selain itu belakangan ini juga dikembangkan lampu xenon, yaitu lampu yang menggunakan gas xenon sebagai gas pengisi pada tabung lampu. Sifat dari gas ini adalah mudah memendar (berfluresensi) jika suhu dinaikkan yang mengakibatkan timbulnya cahaya. Sehingga gas pengisi ini dapat dikatakan mempunyai fungsi sebagai penghasil cahaya dan juga berfungsi menambah kecenerlangan pada lampu. Oleh karena itulah gas neon banyak digunakan sebagai gas pengisi tabung lampu. 4.2 Prinsip Kerja dan Perkembangan Lampu Neon Lampu neon yang bertipe TL telah digunakan secara luas oleh masyarakat. Sebuah penelitian menunjukkan bahwa 32 watt lampu TL akan menghasilkan cahaya sebesar1700 lumens pada jarak 1 metersedangkan 75 watt balon biasa (bolam dengan

PUTU RUSDI ARIAWAN

14

15

filamen tungsten) menghasilkan 1200 lumen (lumen adalah satuan yang menyatakan kekuatan/intensitas cahaya yang dihasilkan oleh lampu). Atau dengan kata lain perbandingan efisiensi lampu neon dan lampu pijar adalah 53:16. efisiensi disini diartikan sebagai intensitas cahaya yang dihasilkan dibagi dengan daya listrik yang digunakan. Walaupun lampu TL (neon) mempunyai keuntungan yang besar yaitu pada penghematan daya yang digunakan, lampu jenis ini juga mempunyai kelemahan, yaitu: 1. Harga lampu yang mahal. 2. Tempat yang digunakanoleh satu set lampu besar. Oleh karena lampu TL standar masih mempunyai kelemahan seperti yang disebutkan diatas maka timbul pemikiran dari para ilmuwan untuk mengembangkan lampu ini agar menjadi lebih sederhana dalam ukurannya, maka dari itu dibuatlah ballas elektronik (yaitu rangkaian elektronik sebagai pengganti rangkaian lampu neon yang standar) yaitu ballas yang bekerjanya tidak menggunakan gulungan kawat pada inti besi, tetapi telah diganti dengan sistem rangkaian elektronik sehingga besarnya rugi-rugi pada inti besi, menjadi tidak ada lagi dan hanya sedikit rugi karena adanya rangkaian / sirkuit. Inilah yang menguntungkan dalam penghematan energi listrik yang diserapnya, keuntungan lain yang didapat dari adanya ballas elektronik ini adalah dapat diatur konsumsi arus listriknya dengan tetap mempertahankan besar tegangan yang diinginkan, sehingga ballas elektronik dapat digunakan untuk sistem pengaturan energi listrik sesuai dengan yang dibutuhkan pada sudut ruangan, selain itu ballas juga menjadi lebih ringan. Dengan adanya ballas elektronik ini maka tempat lampu neon ini dapat diperkecil seperti tempat lampu yang dimiliki oleh lampu bolam. Operasi lampu neon satandar hanya memerlukan komponen yang sedikit yaitu: Ballas (berupa induktor), starter, dan sebuah kapasitor (pada umumnya tidak digunakan) dan sebuah tabung lampu TL yang diisi dengan gas neon yang pada saat elektrodenya mendapoat tegangan tinggi gas ini akan terionisasi sehingga menyebabkan elektron-elektron pada gas itu bergerak dan memendarkan lapisan

PUTU RUSDI ARIAWAN

16

fluorescent pada lapisan tabung lampu. Fungsi starter adalah menghasilkan suatu pulsa triger agar ballas dapat menghasilkan lonjakan tegangan tinggi, starter merupakan komponen bimetal yang dibangun dalam sebuah tabung vacum yang diisi gas neon. Ketika tegangan AC 220 volt dihubungkan ke satu set lampu neon, maka tegangan diujung-ujung starter sudah mampu membuat gas neon pada starter panas sehingga gas ini akan terionisasi , yang menyebabkan starter yang dalam kondisi normalnya terbuka (open) akan menjadi tertutup (closed), oleh karenanya gas neon menjadi dingin (deionisasi) dan dalam kondisi starter ‘closed’ ini terdapat aliran arus yang memanaskan filamen tabung lampu TL sehingga gasneon yang berada di bagian tabung yang akan terionisasi. Pada saat gas neon didalam tabung starter sudah cukup dingin maka bimetal didalam tabung starter tersbut akan open kembali sehingga ballas akan menghasilkan spike tegangan tinggi yang mengakibatkan lompatan elektron dari kedua elektroda dan memendarkan lapisan fluorescent pada tabung lampu tersebut. Peristiwa ini akan berulang ketika gas pada tabung lampu TL tidak terionisasi penuh sehingga tidak cukup arus yang melewati filamen neon tersebutm, sebagai akibatnya lampu neon akan kelihatan berkedip. Selain itu jika tegangan induksi di dari ballas tidak cukup besar maka walaupun tabung neon TL tersebut sudah terionisasi penuh tetap tidak akan menyebabkan lomapatan elektron dari salah satu elektroda tersebut. Jika proses ‘starting up’ pertama tidak berhasil maka tegangan diujung-ujung starter cukup untuk memuat gas neon didalmnya terionisasi (panas) sehingga starter ‘closed’. Dan seterusnya sampai lampu TL masuk kondisi steady state yaitu saat impedansinya turun menjadi ratusan ohm. Maka impedansi dari tabung akan turun dari ratusan megaohm menjadi menjadi ratusan ohm saja pada saat kondisi ‘steady state’. Arus yang ditarik oleh lampu TL tergantung oleh impedansi dari trafo ballas seri dengan impedansi tabung lampu TL. Fungsi balast ada 2 yaitu sebagai berikut:

PUTU RUSDI ARIAWAN

17

1. Pembangkit tegangan induksi yang tinggi agar terjadi pelepasan elektron didalam tabung. 2. Membatasi arus yang melalui tabung setelah lampu bekerja normal. Selain lampu neon standar yang mempunyai bentuk memanjang (TL) sekarang ini yang sedang giat-giatnya dikembangkan dan dipublikasikan oleh para produsen perlampuan adalah ;lampu fluorescent jenis SL dan PL. pada prinsipnya lampu jenis ini sama seprti lampu fluorescent biasa, hanya saja bentuknya yang lebih ringkas yaitu menyerupai lampu bolam. Bentuk kaki lampu dibuat sama dengan lampu bolam, hal ini dimaksudkan agar memudahkan penggantian lampu pijar dengan lampu fluorescent sehingga lebih praktis dalam penggunaannya. Berdasarkan penelitian umur lampu fluorescent adalah 8000 jam, lebih lama dibandingkan dengan lampu pijar yang hanya 1000 jam. 4.3 Prinsip Kerja dan Perkembangan Lampu Pijar Lampu pijar tergolong lampu listrik generasi awal yang masih digunakan hingga saat ini, lampu ini ditemukan oleh Thomas Alva Edison pada tahun 1879. filamen lampu pijar terbuat dari tungsten (wolfram yang dilitkan). Pada lampu pijar (bolam) juga digunakan gas pengisi tabung, gas yang umum digunakan adalah gas argon hal ini disebabkan karena gas argon adalah gas stabil yang sukar bereaksi dengan bahan lain, sehingga tidak memberi dampak negatif sewaktu filamen lampu beroperasi. Prinsip kerja dari lampu ini adalah Lampu pijar ketika ada arus listrik mengalir melalui filamen yang mempunyai resistivitas yang tinggi sehingga menyebabkan kerugian tegangan yang selanjutnya menyebabkan kerugian daya yang menyebabkan pana pada filamen yang menyebabkan filamen berpijar, karena pijar inilah dihasilkan cahaya dan kalor. Lampu pijar terbagi atas 3 macam, yaitu: 1. Lampu pijar dengan filamen karbon. 2. Lampu pijar dengan filamen wolfram. 3. Lampu pijar dengan filamen halogen.

PUTU RUSDI ARIAWAN

18

Lampu pijar dengan filamen karbon hanya dapat menghasilkan cahaya 3 lumen /W. Lampu pijar dengan filamen tungsten / wolfram yang dibuat membentuk lilitan kumparan sehingga dpat meningkatkan eficacy lampu menjadi ±20 Lumen /W. sistem pembangkitan dengan sistem cahaya buatan ini disebut dengan sistem pemijaran, karena cahaya yang dihasilkan merupakan hasil dari akibat pembakaran kawat pada suhu tinggi yang ditibulkan oleh arus llistrik. Akibatnya 80% energi listrik diubah menjadi kalor sedangkan hanya 20 % yang berubah menjadi cahaya. Karena sebab inilah lampu pijar merupakan lampu yang boros terhadap day enrgi listrik. Pada era yang terakhir telah dikembangkan lampu pijar dengan induksi magnet yang mempunyaiumur paling lama dari lampu-lampu jenis lain ± 60.000 jam. Namun hal ini masih merupakan dalam tahap penelitian. Lampu tungsten halogen biasa dipakai sebagai sumber cahaya tampak. Lampu ini menghasilkan cahaya tampak dalam daerah panjang gelombang 350 - 2500 nm. Untuk keperluan spektroskopi cahaya tampak, hanya daerah 350 - 800 nm saja yang dimanfaatkan. Lampu tungsten halogen terbuat dari tabung kuarsa yang berisi filamen tungsten dan sejumlah kecil iodine. Filamen tungsten itu tidak lain adalah sebuah resistor (serupa dengan bola lampu untuk pemakaian rumah/kantor). Ketika filamen dialiri arus maka energi listrik tersebut diubah menjadi energi panas. Suhu dari filamen bisa mencapai lebih dari 2000 °C. Pada suhu yang sedemikian tinggi tersebut, energi panas (radiasi) dan cahaya terpancar dari filamen tadi. Karena energi cahaya yang dihasilkan sebanding dengan pangkat empat dari tegangan yang diberikan, stabilitas sumber tegangan sangatlah penting untuk mendapatkan energi cahaya yang konstan. Pada suhu yang sangat tinggi itu, molekul tungsten dapat terlepas permukaan filamen. Filamen mengalami evaporasi secara perlahan-lahan. Dengan adanya iodine di dalam tabung lampu, molekul tungsten yang terevaporasi tadi akan bereaksi dengan molekul iodine menghasilkan molekul WI2. Ketika molekul WI2 menumbuk filamen, molekul WI2 ini mengalami dekomposisi dan molekul tungsten kembali terredeposisi. Proses ini meningkatkan waktu hidup dan efisiensi.

PUTU RUSDI ARIAWAN

19

4.4

Efisiensi Lampu Neon dibandingkan dengan Lampu Pijar Dari penelitian yang telah dilakukan PT. PLN terlihat bahwa lampu neon

lebih tahan lama dibandingkan dengan lampu pijar dan cahaya lampu yang dihasilkan juga lebih terang dengan daya yang sama. Perbandingan antara lampu neon dengan lampu pijar adalah: lampu neon 9 Watt mampu tahan sampai 6000 jam ini memberikan daya yang sama dengan lampu pijar 40 watt. Keunggulan lain adalah lampu neon (LHE) dapat beroperasi pada tegangan 160-250 volt. Pada lampu pijar sebagian besar energi listrik (± 80 %) diubah menjadi energi kalor untuk memijarkan filamen lampu sehingga dihasilkan cahaya yang disertai panas. Jadi pada lampu pijar energi yang diubah menjadi cahaya ± 20 %. Sedangkan pada lampu neon cahaya dihasilkan dari proses fuoresensi gas-gas (gas-gas yang memendar) hal ini disebabkan karena perubahan suhu yang terjadi pada tabung lampu mengakibatkan gas-gas neon yang terdapat pada tabung lampu mengalami ionisasi akibatnya partikel-partikel gas neon tersebut aling bergesekan satu sama lainnya akibat gesekan inilah ditimbulkan cahaya. Pada lampu neon cahaya yang dihasilkan murni dari fluoresensi gas sehingga energi yang diubah menjadi kalor sangatlah kecil. Oleh karena energi yang diubah menjadi cahaya hanyalah ± 20 % maka tidaklah mengherankan kalau cahaya yang dihasilkan oleh neon jauh lebih terang daripada cahaya yang dihasilkan oleh lampu pijar. Dari sana dapat dikatakan bahwa berdasarkan daya listrik yang diperlukan tingkat efisiensi lampu neon lebih tinggi dibandingkan dengan lampu pijar, tetapi dari segi harga lampu pijar mempunyai harga yang lebih terjangkau.

PUTU RUSDI ARIAWAN

BAB V PENUTUP

5.1

Simpulan Berdasarkan dari hasil pembahasan diatas dapat disimpulkan beberapa hal

sebagai berikut ini: 1. Lampu neon jauh lebih efisien dibandingkan dengan lampu pijar, dimana perbandingan efisiensi lampu neon dan lampu pijar adalah 53:16. 2. Keberadaan gas-gas pengisi tabung mempunyai peranan penting bagi kecemerlangan cahaya lampu yang dihasilkan. 3. Jumlah energi yang digunakan oleh lampu neon jauh lebih kecil dibandingkan dengan lampu pijar. 4. Dengan menggunakan gas noen sebagai pengisi tabung lampu dapat menghemat pasokan energi listrik yang harus dikeluarkan PT. Perusahaan Listrik Negara (PLN) hingga 80 % atau seperlima dari biaya listrik lampu pijar. 5.2 Saran Berdasarkan dari hasil pembahasan dapat disarankan beberapa hal sebagai berikut ini: 1. Dengan melihat perbandingan efisiensi lampu neon dan lampu pijar adalah 53:16, sebaiknya pemanfaatan gas neon lebih di optimalkan lagi. 2. PLN dapat mensosialisasikan manfaat dari lampu neon sehingga konsumen dapat beralih dari lampu pijar ke lampu neon yang menyerap lebih sedikit energi dibandingkan dengan lampu pijar.

PUTU RUSDI ARIAWAN

20

DAFTAR PUSTAKA

Indulkar, Dr. 1976. Electric Energy System Engineering. Delhi : Khana Publisher Muhaimin. 1993. Bahan-Bahan Listrik Untuk Politeknik. Jakarta : PT Pradnya Paramita. _ _ _ . 2003 Http;//www. wikipedia.org/wiki.com _ _ _ . 23 Januari 2003. Media Indonesia. _ _ _ . 4 Juli 2003. Sinar Harapan

PUTU RUSDI ARIAWAN

BIODATA PENULIS

Nama TTL Agama

: Putu Rusdi Ariawan : Denpasar. 19 April 1990 : Hindu

Mahasiswa Teknik Elektro Unv. Udayana Email : turusdi.info@gmail.com www.facebook.com/turusdi

PUTU RUSDI ARIAWAN

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->