P. 1
Analisis Juridis Terhadap Fungsi Dan Peran Program Jamsostek Dalam Perlindungan Hukum Tenaga Kerja Di Kota Medan_Agung Yuriandi

Analisis Juridis Terhadap Fungsi Dan Peran Program Jamsostek Dalam Perlindungan Hukum Tenaga Kerja Di Kota Medan_Agung Yuriandi

|Views: 4,314|Likes:
Published by Agung Yuriandi
Dalam pembangunan diperlukan pelaku usaha yang tak lain juga pastinya tenaga kerja. Pengusaha ingin keuntungan dan tenaga kerja ingin perlindungan. Bagaimana selanjutnya, dapat dilihat dalam tulisan berikut.
Dalam pembangunan diperlukan pelaku usaha yang tak lain juga pastinya tenaga kerja. Pengusaha ingin keuntungan dan tenaga kerja ingin perlindungan. Bagaimana selanjutnya, dapat dilihat dalam tulisan berikut.

More info:

Categories:Types, Research, Law
Published by: Agung Yuriandi on Jul 19, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF or read online from Scribd
See more
See less

03/03/2014

ANALISIS JURIDIS TERHADAP FUNGSI DAN PERAN PROGRAM JAMSOSTEK DALAM PERLINDUNGAN HUKUM TENAGA KERJA DI KOTA MEDAN

Oleh : Agung Yuriandi Medan 2011 BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Pembangunan Nasional yang dilaksanakan oleh bangsa Indonesia bertujuan untuk mewujudkan suatu masyarakat adil, makmur yang merata, material dan spiritual berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 (Amandemen) dalam rangka wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia. 1 Dapat dilihat dengan adanya pembangunan yang sangat pesat sekali pada akhir-akhir ini, contohnya dengan adanya pembangunan Jembatan Nasional Suramadu,
2

pembangunan

Pembangkit Listrik Swasta, 3 pembangunan Bandara Kuala Namu di Medan, dan sebagainya.

Undang-Undang No. 3 Tahun 1992 tentang Jaminan Sosial Tenaga Kerja, dalam bagian Menimbang huruf a. 2 “Pembangunan Jembatan Suramadu”, http://www.suramadu.com/, diakses pada 04 Februari 2010. 3 “PLN Buka Tender Listrik Swasta Maret 2010”, Kamis, 04 Februari 2010, http:// www.kontan.co.id/index.php/nasional/news/29404/PLN-Buka-Tender-Listrik-Swasta-Maret-2010, diakses pada 04 Februari 2010.

1

2

Seluruh pekerjaan pembangunan tersebut dilakukan oleh begitu banyak tenaga kerja, apalagi pada pembangunan Jembatan Nasional Suramadu yang menyerap 20% dari total penduduk Madura untuk bekerja dalam pembangunan jembatan tersebut.4 Tenaga kerja adalah ujung tombak perusahaan, dapat dikatakan sebagai pendukung dalam menjalankan roda perusahaan. Ketenagakerjaan merupakan salah satu sektor yang dapat menunjang keberhasilan pembangunan. Tenaga kerja merupakan salah satu subjek pembangunan yang mempunyai peranan sangat penting dalam proses produksi barang dan jasa, disamping itu juga merupakan pihak yang ikut menikmati hasil pembangunan. Dalam hal ini, ada hak dan kewajiban dalam hubungan antara tenaga kerja dengan perusahaan. Perusahaan membutuhkan tenaga para pekerja, sedangkan para pekerja membutuhkan penghasilan untuk kebutuhan hidup sesuai dengan Upah Minimum Regional (UMR). 5 Saling ketergantungan inilah yang harus dibina sebaik-baiknya agar tidak ada terjadi kesenjangan antara pengusaha dengan para pekerja. 6 Pengusaha sebagai pemimpin perusahaan berkepentingan atas kelangsungan dan keberhasilan perusahaan dengan cara meraih keuntungan setinggi-tingginya sesuai modal yang telah ditanamkan dan menekan biaya produksi serendahrendahnya (termasuk upah pekerja/buruh) agar barang dan/atau jasa yang dihasilkan dapat bersaing di pasaran. Bagi pekerja/buruh, perusahaan adalah sumber penghasilan
Rahardi Soekarno J., “20 Persen Penduduk Madura Terserap Jadi Tenaga Kerja”, Selasa, 02 Juni 2009, http://www.beritajatim.com/detailnews.php/1/Ekonomi/2009-06-02/36079/20 Persen Penduduk_Madura_Terserap_Jadi_Tenaga_Kerja__, diakses pada 04 Februari 2010. 5 Undang-Undang No. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan, pada Pasal 90 ayat (1) menyebutkan bahwa “pengusaha dilarang membayar upah lebih rendah dari upah minimum sebagaimana dimaksud dalam Pasal 89”. 6 Bandingkan dengan Franz Magnis Suseno, Pemikiran Karl Marx: Dari Sosialisme Utopis ke Perselisihan Revisionisme, (Jakarta : Gramedia Pustaka Utama, 1999), hal. 114-115.
4

3

dan sumber penghidupan sehingga akan selalu berusaha agar perusahaan memberikan kesejahteraan yang lebih baik dari yang telah diperoleh sebelumnya. Kedua kepentingan yang berbeda ini akan selalu mewarnai hubungan antara pengusaha dan pekerja/buruh dalam proses produksi barang dan/atau jasa.7 Berdasarkan Pasal 27 ayat (2) Undang-Undang Dasar 1945 (Amandemen) dinyatakan bahwa : ”Tiap-tiap warga negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan”. Kemudian pada Pasal 28 D ayat (2) Undang-Undang Dasar 1945 (Amandemen) dipertegas lagi bahwa : ”Setiap orang berhak untuk bekerja serta mendapat imbalan dan perlakuan yang adil dan layak dalam hubungan kerja”. Hal di atas berarti bahwa setiap warga Negara Indonesia berhak mendapatkan pekerjaan dengan tingkat kemampuannya untuk memperoleh imbalan. Kebijaksanaan upah disamping memperhatikan produktivitas tenaga kerja dan peningkatan daya beli golongan upah rendah. Perlakuan yang adil dan layak dalam hubungan kerja maksudnya adalah bahwa setiap pekerja berhak untuk mendapatkan jaminan sosial terhadap jiwanya. Pengertian pekerja atau dapat dikatakan buruh pada saat ini di mata masyarakat awam sama saja dengan tenaga kerja. 8 Padahal dalam konteks sifat dasar pengertian dan terminologi di atas sangat jauh berbeda. Secara teori, dalam konteks

Maimun, Hukum Ketenagakerjaan, Suatu Pengantar, (Jakarta : Pradnya Paramitha, 2004), hal. 101, dikutip Jaminuddin Marbun, Analisis Terhadap Perjanjian Kerja Bersama dalam Hubungan Industrial di Provinsi Sumatera Utara, (Medan : Disertasi, Sekolah Pasca Sarjana Universitas Sumatera Utara, 2009), hal. 43. 8 Bandingkan dengan Undang-Undang No. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan, pada Pasal 1 angka (2) menyebutkan bahwa ”pekerja/buruh adalah setiap orang yang bekerja dengan menerima upah atau imbalan dalam bentuk lain”.

7

4

kepentingan, di dalam suatu perusahaan terdapat 2 (dua) kelompok, yaitu: pemilik modal (owner) disebut dengan kapitalis; dan kelompok buruh adalah orang-orang yang diperintah dan dipekerjakan berfungsi sebagai salah satu komponen dalam proses produksi. Dalam teori Karl Marx tentang nilai lebih, disebutkan bahwa kelompok yang memiliki dan menikmati nilai lebih disebut sebagai majikan dan kelompok yang terlibat dalam proses penciptaan nilai lebih itu disebut buruh. Dari segi kepemilikan kapital dan aset-aset produksi, dapat ditarik benang merah, bahwa buruh tidak terlibat sedikitpun dalam kepemilikan aset, sedangkan majikan adalah yang mempunyai kepemilikan aset. Dengan demikian seorang manajer atau direktur perusahaan sebetulnya adalah buruh walaupun mereka mempunyai gelar

keprofesionalan. 9 Perbedaan kepentingan antara pengusaha dan pekerja/buruh harus dicarikan harmonisasi antara pekerja/buruh maupun pengusaha yang mempunyai tujuan sama yaitu menghasilkan barang dan/atau jasa sehingga perusahaan dapat terus berjalan. Apabila karena satu dan lain hal perusahaan terpaksa ditutup maka yang mengalami kerugian bukan saja pengusaha karena telah kehilangan modal, tetapi juga pekerja/buruh karena kehilangan pekerjaan sebagai sumber penghidupan.10 Didorong dengan adanya tujuan yang sama ini maka timbul hubungan yang saling bergantung antara pengusaha dengan pekerja/buruh dalam proses produksi barang dan/atau jasa yang dikenal dengan istilah hubungan industrial. Dalam melaksanakan hubungan industrial pengusaha dan organisasi pengusaha mempunyai

9

10

Loc.cit. Jaminuddin Marbun, Op.cit., hal. 44.

5

fungsi menciptakan kemitraan, mengembangkan usaha, memperluas tenaga kerja, dan memberikan kesejahteraan kepada pekerja/buruh secara terbuka, demokratis dan berkeadilan. Pekerja/buruh, serikat pekerja/serikat buruh mempunyai fungsi menjalankan pekerjaan sesuai kewajibannya, menjaga ketertiban demi kelangsungan produksi, menyalurkan aspirasi secara demokratis, mengembangkan keterampilan dan keahliannya serta memajukan perusahaan dan memperjuangkan kesejahteraan anggota beserta keluarganya. Fungsi pemerintah dalam hubungan industrial adalah menetapkan kebijakan, memberikan pelayanan, melaksanakan pengawasan dan melakukan penindakan terhadap pelanggaran peraturan perundang-undangan ketenagakerjaan. Peranan pemerintah dalam hal ini penting sekali mengingat perusahaan bagi pemerintah betapapun kecilnya merupakan bagian dari kekuatan ekonomi yang menghasilkan barang dan/atau jasa untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dan sebagai salah satu sumber serta sarana dalam menjalankan program pembagian pendapatan nasional. 11 Ada etika bisnis dalam konteks Indonesia yang tidak boleh mengabaikan masalah-masalah buruh dalam industri yang banyak dirasakan sekarang ini. Negaranegara barat sudah menjadi welfare state yang hak kaum buruh sudah cukup terpenuhi dan terjamin kesejahteraannya. Salah satu faktor yang menyebabkan teori komunisme Karl Marx ditinggalkan adalah karena kesejahteraan kaum buruh pada

11

Ibid, hal. 45.

6

konteks ini sudah tertinggal jauh oleh konsep Kapitalis. Berikut analisa Brian Burkitt tentang pandangan Marx terhadap upah.12 “…Marx stresses the dual character of labor; the worker sells his or her own labor power, but the capitalist buys the worker’s labor time, which is an undefined, productive potential, determined by the hours worked, the machinery employed and the intensity of the labor process. In Marx’s analysis, the crucial distinction remains that the wage is the price of labor power, exchanged by buyers and sellers in the labor market, but not the price of labor itself…”.

Penjelasan seperti itu menjadi penegas bahwasanya dalam ekonomi kapitalistik terdapat dualisme pandangan terhadap buruh yang saling bertolak belakang. Pada satu sisi, buruh menjadi komponen penting dalam proses produksi karena memiliki peran merubah bahan mentah dan alat produksi lainnya agar memiliki nilai. Walaupun bahan mentah dan alat produksi sudah memiliki nilai tersendiri namun buruh melengkapi melalui kerja yang dilakukan dalam proses produksi. Nilai yang diberikan oleh kerja buruh sangat penting sehingga perannya tidak dapat ditiadakan. Pada sisi lain, ternyata peran buruh dalam proses produksi tersebut tidak dihargai dengan semestinya. Apa yang dimaksud oleh kerja yang dilakukan oleh buruh dalam proses produksi dalam sistem ekonomi kapitalistik bukanlah biaya produksi kerja yang dilakukan buruh dalam satu jam, satu hari, ataupun satu bulan, namun diterjemahkan sebagai biaya produksi kehidupan buruh.13

Brian Burkitt, Marx’s Wage Theory in Historical Perspective: It’s Origin, Development Interpretation, (Book Reviews, 1999), dikutip Tua Hasiholan Hutabarat, “Realitas Upah Buruh Industri”, (Makalah : Perserikatan Kelompok Pelita Sejahtera, 2006). 13 Tua Hasiholan Hutabarat, Realitas Upah Buruh Industri, (Makalah : Perserikatan Kelompok Pelita Sejahtera, 2006), hal. 45.

12

7

Pada sistem pengupahan kapitalistik upah dianggap sebagai imbalan yang diterima pekerja atas jasa yang diberikan dalam proses memproduksi barang atau jasa di perusahaan. Upah dalam perspektif ekonomi kapitalistik masih menetapkan standar kebutuhan dasar buruh, antara lain untuk pangan, sandang, perumahan dan kebutuhan lainnya. Pada prinsipnya, upah hanya sekedar dijadikan alat untuk mempertahankan buruh agar dapat bekerja. Agar buruh dapat bekerja, ia harus memenuhi kebutuhan gizi dan kesehatannya. Pekerja yang kurang protein akan menderita lesu dan tidak produktif, sehingga kesejahteraan dan kualitas hidup buruh dan keluarganya harus tetap dipelihara. 14 Buruh yang bekerja di perusahaan dalam proses meningkatkan nilai barang akan menerima upah sesuai dengan biaya produksi seorang buruh agar dapat tetap bekerja. Artinya, upah yang diterima hanya merupakan bentuk biaya pengganti pengeluaran hidup buruh secara minimal. Prinsip sistem pengupahan seperti itulah yang kemudian banyak diterapkan di beberapa dunia ketiga, seperti Indonesia.15 Tidak terbendungnya penyebaran paham ekonomi kapitalistik merupakan faktor utama pendorong diterapkannya sistem pengupahan seperti yang berlangsung saat ini di Indonesia. Percepatan pertumbuhan dan pemulihan eknomi seperti yang saat ini dilakukan pemerintah mensyaratkan sebuah kondisi yang sangat kondusif sehingga dapat mengacu produksi dan konsumsi masyarakat. Salah satu strategi menumbuhkan perekonomian adalah dengan meningkatkan jumlah investasi. Konsep

Payaman J. Simanjuntak, Reformasi Sistem Pengupahan Nasional, (Jakarta : Informasi Hukum, 2004), dikutip Tua Hasiholan Hutabarat, Ibid., hal. 46. 15 Loc.cit., hal. 46.

14

8

ini merupakan kata kunci dalam proses pertumbuhan ekonomi dikarenakan adanya keterbatasan modal pemerintah dalam merangsang pemulihan ekonomi negara. 16 Bagi Indonesia penting sekali menghindari kesalahan kapitalisme klasik pada awal industrialisasi yang menghisap tenaga kerja kaum buruh. Karena itu, masalahmasalah buruh seperti upah yang adil, keselamatan di tempat kerja, kesejahteraan kesehatan, dan sebagainya masih perlu menjadi tema-tema pokok dalam etika yang memfokuskan problem-problem yang nyata dalam dunia bisnis dan industri. Berbicara mengenai upah terhadap buruh tidak terlepas dari hubungan industri. Di Indonesia konsep hubungan industrial yang dianut adalah Hubungan Industrial Pancasila (selanjutnya disebut HIP) yang lahir dari hasil Lokakarya Nasional yang diselenggarakan dari tanggal 4 sampai 7 Desember 1974 dan diikuti oleh wakil dari organisasi buruh/pekerja, organisasi pengusaha, wakil pemerintah, dan unsur perguruan tinggi. HIP adalah hubungan antara para pelaku dalam proses produksi barang dan jasa (buruh/pekerja, pengusaha dan pemerintah) yang didasarkan atas nilai yang merupakan manifestasi dari keseluruhan sila Pancasila dan UUD 1945, dan tumbuh serta berkembang di atas kepribadian bangsa dan kebudayaan nasional Indonesia. 17 Dengan demikian landasan ideal dari HIP adalah Pancasila, landasan konstitusionalnya adalah UUD 1945, dan landasan operasionalnya adalah GBHN. Kebijakan hubungan industrial diarahkan tidak saja untuk dapat menciptakan hubungan industrial yang harmonis, dinamis, berkeadilan dan bermartabat yang memberikan ketenangan bekerja bagi pekerja/buruh, ketentraman berusaha bagi

16 17

Ibid. Jaminuddin Marbun, Op.cit., hal. 62.

9

pengusaha, menjamin

kelangsungan

usaha, namun

juga memperluas

dan

mengembangkan usaha serta dapat menarik investasi dari dalam dan luar negeri. 18 Bahwa keberhasilan pelaksanaan hubungan industrial terletak pada

berjalannya sistem, berfungsinya kelembagaan dan optimalisasi peran serta saranasarana hubungan industrial serta partisipasi dan tanggung jawab pekerja, pengusaha, pemerintah dan pihak terkait. Dengan demikian maka hubungan industrial menjadi kegiatan yang strategis dan signifikan dalam pembangunan nasional yang diharapkan dapat memperluas kesempatan kerja dan mengurangi pengangguran.19 Untuk menciptakan iklim hubungan industrial yang harmonis, pemerintah melakukan berbagai upaya dalam bentuk membuat suatu kebijakan diantaranya dengan meningkatkan kapasitas atau memberdayakan sarana-sarana hubungan industrial. Secara tegas dalam Undang-Undang No. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan. 20 Hubungan kerja antara majikan dengan pekerja, terjadi setelah adanya perjanjian kerja. Sebelumnya sebelum keluarnya Undang-Undang No. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan peraturan yang berlaku adalah Pasal 1601 a Bab 7A KUH Perdata menyebutkan bahwa : “Persetujuan perburuhan adalah persetujuan dengan mana pihak yang satu buruh (pekerja) mengikatkan diri untuk dibawahi pimpinan pihak lain (majikan), untuk waktu tertentu, melakukan pekerjaan dengan menerima upah”.

18 19

Ibid., hal. 64. Ibid. 20 Ibid., hal. 67.

10

Jika pekerja tidak memiliki gelar keprofesionalan tersebut, sering sekali di dalam perusahaan tersisihkan dan tidak terpikirkan oleh majikan. Mengenai jaminan sosial buruh tidak selalu ada jaminan dari perusahaan. Problem buruh seperti yang selalu dihadapi oleh pengusaha, antara lain : mengenai upah yang rendah.21 Mengenai Upah Minimum Regional (selanjutnya disebut UMR) 22 di Kota Medan mengacu pada Keputusan Gubernur Sumatera Utara No. 561/5492/K/2009 tentang Penetapan Upah Minimum Kota Medan Tahun 2010, yang menyebutkan bahwa UMR Kota Medan pada tahun 2010 sebesar Rp. 1.100.000,- (satu juta seratus ribu rupiah). UMR tersebut hanya berlaku selama 1 (satu) tahun masa kerja dan merupakan upah terendah, sedangkan untuk yang bekerja lebih dari 1 (satu) tahun harus dinegosiasikan secara bipartit antara pekerja/buruh atau serikat pekerja/buruh dengan pengusaha di Perusahaan bersangkutan secara musyawarah dan dimuat dalam materi Kesepakatan Kerja atau yang sering disebut dengan kontrak kerja. Apabila perusahaan sudah mengeluarkan UMR kepada pekerja/buruh lebih tinggi maka dilarang untuk mengurangi dan menurunkan gaji pekerja/buruh.23 Kondisi buruh di kota-kota besar di Indonesia hampir sama dengan kondisi buruh yang ada di Sumatera Utara, khususnya di Kota Medan sama-sama mengalami tekanan dalam berbagai bentuk, salah satunya tekanan dalam sisi pengupahan. Hal itu

Edy Purwo Saputro, “Mengurai Benang Kusut Problem Buruh”, http://www.infoanda.com/ linksfollow.php?lh=VlJZUFJVVlcD, diakses pada 19 Mei 2010. 22 Upah Minimum Regional adalah suatu standar minimum yang digunakan oleh para pengusaha atau pelaku industri untuk memberikan upah kepada pegawai, karyawan atau buruh di dalam lingkungan usaha atau kerjanya. Pemerintah mengatur pengupahan melalui Peraturan Menteri Tenaga Kerja No. 05/Men/1989 tanggal 29 Mei 1989 tentang Upah Minimum., lihat “Upah Minimum Regional”, http://id.wikipedia.org/wiki/Upah_minimum_regional, diakses pada 19 Mei 2010. 23 Keputusan Gubernur Sumatera Utara No. 561/5492/K/2009 tentang Penetapan Upah Minimum Kota Medan Tahun 2010.

21

11

diakibatkan oleh standar umum kebijakan pengupahan dari pemerintah yang tidak pernah mempertimbangkan kebutuhan dan produktivitas buruh yang sesungguhnya. Walaupun dalam beberapa tahun terakhir regulasi kebijakan perburuhan telah memasukkan karakteristik lokal (Kabupaten/Kota) dalam proses perumusan dan penetapan upah, namun realitas upah yang berjalan sangat jauh dari kelayakan yang diharapkan oleh buruh.24 Salah satu aspek yang menyebabkan rendahnya upah dan tidak sejahteranya buruh adalah adanya beberapa kebijakan pengupahan yang sangat tidak adil dan tidak berpihak terhadap buruh. Sejak proses kebijakan pengupahan dirubah dari yang ditentukan oleh Presiden berdasarkan masukan dari Kepala Daerah (Gubernur dan Bupati) menjadi diputuskan oleh pemerintah setingkat kepala daerah kebijakan pengupahan tetap tidak membawa perbaikan pada kondisi upah buruh.25 Ada banyak reduksi yang berlangsung ketika kebijakan pengupahan diserahkan pada Gubernur dan Bupati. Walaupun sebenarnya pengalihan wewenang tersebut adalah bertujuan untuk mengakomodir berbagai karakteristik daerah (yang merupakan salah satu bentuk dari penerapan Undang-Undang No. 22 Tahun 1999 tentang Otonomi Daerah), namun pelaksanaannya di lapangan ternyata tetap tidak membawa perubahan yang cukup berarti bagi buruh. Perubahan kebijakan tersebut masih sekedar menggeser kewenangan birokrasi dari pemerintah pusat ke daerah (propinsi dan kabupaten/kota) tanpa merubah substansi dari kebijakan tersebut. Konsep-konsep inti kebijakan pengupahan yang dirasakan tidak adil ternyata tidak

24 25

Tua Hasiholan Hutabarat, Op.cit. Ibid., hal. 57.

12

mengalami perubahan sama sekali, sehingga membuat pergeseran kewenangan pengupahan dari pemerintah pusat ke pemerintah daerah tersebut sama sekali menjadi tidak bermanfaat dalam meningkatkan kesejahteraan buruh, malah menciptakan potensi-potensi penyelewengan dan pembodohan yang lebih besar terhadap buruh.26 Pada banyak sisi, sistem pengupahan yang diberlakukan saat ini belum sesuai dengan harapan buruh, demikian juga secara institusional, konsep dasar, mekanisme, maupun pada level aplikasi, sistem pengupahan masih jauh dari dimensi keadilan, demokrasi, dan nilai-nilai kemanusiaan. Hal itulah yang menjadi salah satu landasan dari penelitian yang lebih mendalam tentang sistem pengupahan, khususnya bagi buruh sektor perindustrian di perkotaan. 27 Realitas ketidakadilan sistem pengupahan dan tidak berpihaknya kebijakan perburuhan tersebut dapat dilihat dengan cara mendeskripsikan pengetahuan, pemahaman, atau persepsi buruh tentang berbagai aspek dalam sistem dan kebijakan pengupahan, institusi yang memiliki otoritas dalam perumusan dan penetapan upah, baik itu tentang proses, peran dari institusi atau stakeholder, maupun harapan dan keinginan buruh terkait dengan proses perumusan dan penetapan upah. Apa yang ingin diungkapkan nantinya akan menggambarkan bagaimana sebenarnya realitas (pemahaman, pengetahuan, dan persepsi buruh) tentang kebijakan maupun proses perumusan dan penetapan upah. Selama ini pemahaman buruh memang kurang diperhatikan sebagai pertimabngan lembaga pengupahan. Padahal, kebijakan

26 27

Ibid., hal. 57-58. Ibid., hal. 58.

13

pengupahan yang menindas ini sudah lama berlangsung, sehingga pastinya akan membentuk pemahaman dan pengetahuan secara subjektif. 28 Selama ini, upaya pengkritisan sistem pengupahan cenderung dilakukan secara sepihak, antara lain perspektif pemerintah, kalangan elemen masyarakat pro demokrasi, tanpa melihat penilaian atas persepsi buruh sendiri. Bagaimanapun juga, sikap buruh terhadap sistem pengupahan terbentuk berdasarkan realitas kehidupan sehari-hari mereka. Buruh yang mengalami secara langsung minimnya upah, sehingga pantaslah jika pandangan kritis buruh tersebut yang harus diangkat ke permukaan jika berkeinginan merubah sistem pengupahan yang berlaku saat ini. 29 Dengan upah yang begitu minim sehingga tidak menjamin tenaga kerja untuk mendapatkan kesejahteraan dan kehidupan yang layak maka disinilah ada peran pihak ketiga yang menanggung segala biaya yang ditimbulkan jika tenaga kerja mengalami hal demikian. Pihak ketiga yang dimaksud adalah Jaminan Sosial Tenaga Kerja (selanjutnya disebut JAMSOSTEK). JAMSOSTEK mengakomodasi kepentingan pengusaha dan kebutuhan tenaga kerja. Pelaksanaan sistem jaminan sosial ketenagakerjaan di Indonesia secara umum meliputi penyelengaraan Program-Program JAMSOSTEK, Taspen, Askes, dan Asabri. Penyelengaraan Program JAMSOSTEK didasarkan pada Undang-Undang No. 3 Tahun 1992, program Taspen didasarkan pada Peraturan Pemerintah No. 25 Tahun 1981, program Askes didasarkan pada Peraturan Pemerintah No. 69 Tahun 1991, program Asabri didasarkan pada Peraturan Pemerintah No. 67 Tahun 1991,

28 29

Ibid. Ibid., hal. 58-59.

14

sedangkan program Pensiun didasarkan pada Undang-Undang No. 6 Tahun 1966. Penyelenggaraan jaminan sosial di Indonesia berbasis kepesertaan, yang dapat dibedakan atas kepesertaan pekerja sektor swasta, pegawai negeri sipil (PNS), dan anggota TNI/Polri. 30 Dalam rangka menciptakan landasan untuk meningkatkan kesejahteraan dan perlindungan tenaga kerja, undang-undang mengatur penyelenggaraan JAMSOSTEK sebagai perwujudan pertanggungan sosial. Hal ini sebagaimana dituangkan dalam Undang-Undang No. 3 Tahun 1992 tentang JAMSOSTEK. Pada hakikatnya program jaminan sosial tenaga kerja ini memberikan kepastian berlangsungnya arus penerimaan penghasilan keluarga sebagai pengganti atau seluruh penghasilan yang hilang. 31 Pemerintah telah mengeluarkan Undang-Undang No. 3 Tahun 1992 tentang Jaminan Sosial Tenaga Kerja untuk memberikan perlindungan kepada tenaga kerja dan keluarganya. Program JAMSOSTEK berupa produk jasa, dimaksudkan untuk melindungi resiko sosial tenaga kerja yang dihadapi oleh tenaga kerja. Program tersebut terdiri dari: Program Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK); Program Jaminan Hari Tua (JHT); Program Jaminan Kematian (JKM); Program Jaminan Pemeliharaan Kesehatan (JPK).32

Yohandarwati, et.al., “Desain Sistem Perlindungan Sosial Terpadu”, Direktorat Kependudukan, Kesejahteraan Sosial, dan Pemberdayaan Perempuan, BAPPENAS, http://www.bappenas.go.id/get-file-server/node/343/, 2003, diakses pada 24 Maret 2010. 31 Sutardji, Analisis Kepuasan Peserta Jamsostek pada Kantor Cabang PT. Jamsostek (Persero) Semarang, (Surakarta : Tesis, Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Surakarta), hal. 2. 32 Pasal 6 ayat (1) Undang-Undang No. 3 Tahun 1992 tentang Jaminan Sosial Tenaga Kerja.

30

15

JAMSOSTEK mempunyai dua aspek, yaitu: (a) memberikan perlindungan dasar untuk memenuhi kebutuhan hidup minimal bagi tenaga kerja beserta keluarganya; dan (b) merupakan penghargaan tenaga kerja yang telah

menyumbangkan tenaga dan pikirannya kepada perusahaan tempat mereka bekerja. 33 Program JAMSOSTEK sebagaimana didasarkan pada Undang-Undang No. 3 Tahun 1992, pada prinsipnya merupakan sistem asuransi sosial bagi pekerja (yang mempunyai hubungan industrial) beserta keluarganya. JAMSOSTEK dapat dikatakan suatu perlindungan bagi tenaga kerja dalam bentuk santunan berupa uang sebagai pengganti sebagian dari penghasilan yang hilang atau keadaan yang dialami oleh tenaga kerja sakit, hamil, bersalin, hari tua, dan meninggal dunia. 34 Cakupan Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK) meliputi: biaya pengangkutan, biaya pemeriksaan, pengobatan, perawatan, biaya rehabilitasi, serta santunan uang bagi pekerja yang tidak mampu bekerja, dan cacat. Apabila pekerja meninggal dunia bukan akibat kecelakaan kerja, mereka atau keluarganya berhak atas Jaminan Kematian (JK) berupa biaya pemakaman dan santunan berupa uang. Apabila pekerja telah mencapai usia 55 tahun atau mengalami cacat total/seumur hidup, mereka berhak untuk memperolah Jaminan Hari Tua (JHT) yang dibayar sekaligus atau secara berkala. Sedangkan Jaminan Pemeliharaan Kesehatan (JPK) bagi tenaga kerja

33 34

Sutardji., Loc.cit., hal. 2. Pasal 1 angka (1)., Loc.cit.

16

termasuk keluarganya, meliputi: biaya rawat jalan, rawat inap, pemeriksaan kehamilan dan pertolongan persalinan, diagnostik, serta pelayanan gawat darurat. 35 Pada dasarnya Program JAMSOSTEK merupakan sistem asuransi sosial, karena penyelenggaraan didasarkan pada sistem pendanaan penuh (fully funded system), yang dalam hal ini menjadi beban pemberi kerja dan pekerja. Sistem tersebut secara teori merupakan mekanisme asuransi. Penyelengaraan sistem asuransi sosial biasanya didasarkan pada fully funded system, tetapi bukan harga mati. Dalam hal ini pemerintah tetap diwajibkan untuk berkontribusi terhadap penyelengaraan sistem asuransi sosial, atau paling tidak pemerintah terikat untuk menutup kerugian bagi badan penyelengara apabila mengalami defisit. Di sisi lain, apabila penyelenggara Program JAMSOSTEK dikondisikan harus dan memperoleh keuntungan, pemerintah akan memperoleh deviden karena bentuk badan hukum Persero.36 Dalam Undang-Undang No. 3 Tahun 1992 tentang Jaminan Sosial Tenaga Kerja, dan diatur lagi dalam PP No. 36 Tahun 1995 tentang Penetapan Badan Penyelenggara Program Jaminan Sosial Tenaga Kerja yang menyatakan bahwa penyelenggara perlindungan tenaga kerja swasta adalah PT. Jamsostek. Setiap perusahaan swasta yang memperkerjakan sekurang-kurangnya 10 orang atau dapat membayarkan upah sekurang-kurangnya Rp. 1 juta rupiah per bulan diwajibkan untuk

Pasal 12 Peraturan Pemerintah No. 14 Tahun 1993 tentang Penyelenggaraan Program Jaminan Sosial Tenaga Kerja, Lembaran Negara Republik Indonesia No. 20, Tambahan Lembaran Negara No. 3520. 36 Yohandarwati, et.al., Op. cit., hal. 27.

35

17

mengikuti sistem jaminan sosial tenaga kerja ini. 37 Namun demikian, belum semua perusahaan dan tenaga kerja yang diwajibkan telah menjadi peserta Jamsostek. PT. Jamsostek (Persero) yang ditunjuk sebagai satu-satunya badan penyelenggara sesuai dengan Peraturan Pemerintah No. 36 Tahun 1995 tentang Penetapan Badan Penyelenggaraan Program Jaminan Sosial Tenaga Kerja, bertekad untuk selalu menjadi badan penyelenggara yang siap, handal, dan terpercaya di Indonesia. Berkaitan dengan fungsi pemasaran ini, PT. Jamsostek (Persero) Kantor Wilayah I melakukan strategi pemasaran yang berorientasi pada pelanggan. Hal ini dilakukan dengan sosialisasi ke berbagai elemen masyarakat. Sasaran ke setiap elemen masyarakat ini mempunyai dasar pemikiran bahwa membahagiakan atau memuaskan pelanggan atau peserta sangat menentukan keberhasilan. Secara khusus di Kota Medan, pelaksanaan Program JAMSOSTEK belum menunjukkan hasil yang menggembirakan. Berdasarkan data yang diperoleh dari Kantor Cabang Medan dan Kantor Cabang Belawan periode Maret 2010, jumlah Perusahaan yang tidak mengikuti Program JAMSOSTEK mencapai 1.277 perusahaan.38 Padahal Undang-Undang No 3 tahun 1992 bersifat wajib bagi seluruh usaha berbadan hukum. Dari uraian tersebut di atas, dapat terlihat bahwa kurangnya kesadaran pengusaha dalam melaksanakan Program JAMSOSTEK. Apalagi dibarengi dengan

Undang-Undang No. 3 Tahun 1992 tentang Jaminan Sosial Tenaga Kerja, Pasal 17 yang menyatakan bahwa “Pengusaha dan Tenaga Kerja wajib ikut serta dalam program jaminan sosial tenaga kerja”. 38 PT. Jamsostek (Persero) Kanwil I, “Perusahaan Wajib Belum Daftar”, (Medan : Data Perusahaan Potensi, 2010).

37

18

lemahnya pengawasan dan penegakan hukum bagi perusahaan-perusahaan yang tidak melaksanakan Program JAMSOSTEK.

B. Perumusan Masalah Berdasarkan latar belakang tersebut di atas maka dirumuskan beberapa permasalahan sebagai berikut: 1. Bagaimana fungsi dan peran Program JAMSOSTEK dalam perlindungan hukum tenaga kerja di Kota Medan? 2. Bagaimana hambatan-hambatan yang dihadapi PT. Jamsostek (Persero) dalam perlindungan tenaga kerja di Kota Medan? 3. Bagaimana upaya PT. Jamsostek (Persero) dalam memberikan perlindungan hukum terhadap tenaga kerja di Kota Medan?

C. Tujuan Penelitian Adapun yang menjadi tujuan penelitian ini, antara lain: 1. Untuk mengetahui fungsi dan peran JAMSOSTEK dalam perlindungan hukum tenaga kerja di Indonesia. 2. Untuk mengetahui hambatan-hambatan yang dihadapi JAMSOSTEK dalam perlindungan tenaga kerja di Kota Medan. 3. Untuk mengetahui upaya JAMSOSTEK dalam memberikan perlindungan hukum terhadap tenaga kerja di Kota Medan.

19

D. Manfaat Penelitian Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat, yaitu: 1. Secara Teoritis a. Sebagai bahan informasi bagi para akademisi maupun sebagai bahan pertimbangan bagi penelitian lanjutan. b. Memperkaya khasanah perpustakaan. 2. Secara Praktis a. Sebagai bahan masukan bagi pemerintah atau instansi terkait dalam memberikan perlindungan terhadap pekerja yang bekerja di perusahaanperusahaan di Kota Medan. b. Sebagai bahan masukan bagi masyarakat (pelaku usaha) mengenai perlindungan terhadap pekerja yang bekerja di perusahaan-perusahaan di Kota Medan.

E. Kerangka Teori dan Definisi Operasional Berbicara mengenai JAMSOSTEK tidak terlepas dari perlindungan sosial, untuk mengkaji jaminan sosial tenaga kerja terlebih dahulu dilihat perlindungan sosial pada negara welfare state, yaitu : perlindungan sosial diperlukan untuk kesejahteraan; perlindungan sosial membutuhkan tindakan kolektif; perlindungan

20

sosial didasarkan pada solidaritas; dan perlindungan sosial harus sekomprehensif mungkin. 39 Dalam hal perlindungan sosial diperlukan untuk kesejahteraan, secara umum mencakup dua prinsip, yaitu : tindakan kolektif untuk menutup berbagai kemungkinan yang terjadi pada tenaga kerja; dan penyedia layanan untuk menangani kebutuhan para pekerja. Keberadaan layanan untuk pekerja tersebut merupakan salah satu layanan sosial. Perlindungan sosial diperlukan untuk kesejahteraan, baik karena memenuhi kebutuhan hidup, dan tanpa hal tersebut para pekerja akan menjadi tidak nyaman apabila terjadi suatu hal yang dapat menyebabkan pekerja tersebut tidak dapat bekerja.40 Mengenai perlindungan sosial yang membutuhkan tindakan kolektif, hal ini karena perlindungan sosial memiliki karakteristik solidaritas yaitu pengakuan tanggung jawab bersama dan mengumpulkan resiko, dimana tanggung jawab atas resiko seseorang diterima oleh orang lain dalam hal ini pihak ketiga. Bahkan jika, pada prinsipnya, langkah-langkah untuk perlindungan sosial dapat dilakukan oleh pekerja sendiri, namun dalam prakteknya sering tidak mungkin bagi pekerja untuk melakukannya. Hal ini dikarenakan kondisi dimana pekerja membutuhkan perlindungan termasuk kemiskinan, ketidakmampuan fisik, mental dan penurunan kemelaratan. Perlindungan sosial yang efektif menuntut kontribusi pihak lain dalam masyarakat.41

39 40

Paul Spicker, Welfare State General Theory, (London : SAGE, 2000), hal. 94-97. Ibid. 41 Ibid.

21

Perlindungan sosial didasarkan pada solidaritas maksudnya adalah kewajiban kepada orang lain, ketika seorang anggota masyarakat atau pekerja yang mengalami kesulitan untuk mendukung biaya hidupnya dianggap diperlukan atau bergerak ke arah ketergantungan seperti kanak-kanak atau usia tua, kewajiban untuk orang itu akan ada. Pada awal manifestasinya perlindungan sosial dianggap sebagai bentuk amal. Amal adalah bentuk solidaritas sosial yang khas, salah satu motivasinya adalah agama sebagai kewajiban utamanya adalah untuk Tuhan. Meskipun motif amal telah selamat, organisasi perlindungan sosial telah bergeser menuju landasan dalam prinsip-prinsip saling membantu. Prinsip pokok perlindungan sosial adalah penyatuan resiko. Dalam asuransi saling membantu, orang membayar premi untuk melindungi diri mereka terhadap keadaan yang kontinjensi. Inilah tempat perlindungan sosial yang lebih langsung atas dasar kewajiban timbal balik. Bentuk perlindungan sosial sering dilengkapi dengan pengaturan komersil, yang telah digandakan pola saling membantu formal. 42 Perlindungan sosial harus sekomprehensif mungkin, maksudnya adalah sifat perlindungan sosial itu dibutuhkan untuk menanggulangi resiko dalam hal kemungkinan yang menimbulkan kebutuhan. Sangat mungkin untuk pengaturan formal perlindungan sosial menutupi minoritas istimewa. Menurut Ferrera, ciri sistem perlindungan sosial di Eropa Selatan sebagai polarisasi dengan pasti dualisme tajam membedakan orang-orang yang hanya segelintir orang terbaik untuk dilindungi

42

Ibid.

22

dibandingkan dengan kebanyakan para buruh yang ada. Ini disebut kurangnya kesetaraan perlindungan terhadap orang lain. 43 Jika perlindungan sosial dipandang dari sisi jasa di banyak negara yang tidak universal. Sistem Bismarck dengan ketentuan yang berlaku di Jerman didasarkan pada resiko yang dikumpulkan hanya untuk orang-orang di bawah pendapatan yang telah ditentukan oleh pemerintah. Pekerja yang berpenghasilan lebih tinggi yang seharusnya dapat membuat peraturan yang lebih tinggi juga dalam hal tarif untuk pembayaran iuran. Alasan dasar untuk perlindungan sosial tidak harus semua orang tercakup dalam satu sistem yang sama, tetapi bahwa setiap orang perlu dilindungi terhadap eventualitas. Hal ini dapat dicapai dengan berbagai cara, dan ada argumen untuk fleksibilitas. Perlu dicatat bahwa nilai dari sistem perlindungan sosial di Jerman masih kurang lengkap, tetapi saling melengkapi strategi yang dapat diadopsi oleh negara lain untuk mengembangkan sistem perlindungan sosial. 44 Dalam upaya memberikan perlindungan sosial bagi pekerja beserta keluarganya, banyak usaha yang dilakukan oleh pemerintah Indonesia, salah satunya adalah dengan mengeluarkan undang-undang. Seperti ketenagakerjaan diatur dalam Undang-Undang No. 13 Tahun 2003 yang bertujuan untuk memberdayakan dan mendayagunakan tenaga kerja secara optimal dan manusiawi, mewujudkan pemerataan kesempatan kerja dan penyediaan tenaga kerja yang sesuai dengan kebutuhan pembangunan nasional dan daerah, memberikan perlindungan kepada

43 44

Ibid. Ibid.

23

tenaga kerja dalam mewujudkan kesejahteraan, dan meningkatkan kesejahteraan tenaga kerja dan keluarganya. Dalam hal perlindungan tenaga kerja diatur dalam Undang-Undang No. 3 Tahun 1992 tentang Jaminan Sosial Tenaga Kerja. Kedua undang-undang tersebut di atas adalah undang-undang yang melindungi hak-hak tenaga kerja. Namun, tidak bisa diterapkan dengan baik. Hal ini dikarenakan lemahnya pengawasan dan penegakan hukum. Program JAMSOSTEK merupakan kebutuhan masyarakat yang mendasar karena menyangkut kelangsungan hidup baik bagi pekerja maupun keluarganya. Namun demikian diakui bahwa JAMSOSTEK, saat ini memerlukan kebutuhan yang memperoleh prioritas bagi masyarakat, namun pelaksanaannya masih kurang berjalan seperti yang diharapkan. 45 Pada hakikatnya Program JAMSOSTEK memberikan kepastian

berlangsungnya arus penerimaan penghasilan keluarga sebagai pengganti sebagian atau keseluruhan penghasilan yang berkurang, disamping sebagai pelayanan akibat peristiwa yang dialami oleh pekerja dengan demikian para pekerja akan merasa lebih tenang dalam bekerja dan menjalankan aktivitasnya sehari-hari. Dengan ketenangan yang diberikan kepada tenaga kerja, maka pekerjaan yang dilakukan akan sempurna dan menguntungkan pengusaha. Jika pengusaha diuntungkan maka dengan demikian negara juga diuntungkan. Hal ini semata adalah untuk membangun ekonomi melalui penerapan hukum yang baik.
Surya Perdana, Pelaksanaan Jaminan Sosial Tenaga Kerja (JAMSOSTEK) pada Perusahaan Swasta di Kota Medan, (Medan : Tesis, Sekolah Pasca Sarjana Universitas Sumatera Utara, 2009), hal. 3.
45

24

Hukum dengan demikian, memiliki peran yang sangat penting dalam pembangunan ekonomi, khususnya dunia usaha. Erman Rajagukguk mengatakan: ”faktor utama bagi hukum untuk dapat berperan dalam pembangunan ekonomi adalah apakah hukum itu mampu menciptakan stability, predictability dan fairness. Dua hal yang pertama adalah prasyarat bagi sistim ekonomi apa saja untuk berfungsi. Termasuk dalam fungsi stabilitas adalah potensi hukum untuk menyeimbangkan dan mengakomodasi kepentingankepentingan yang saling bersaing. Kebutuhan hukum untuk meramalkan (predictability) akibat dari suatu langkah-langkah yang telah diambil khususnya penting bagi negara yang sebagian rakyatnya untuk pertama kali memasuki hubungan-hubungan ekonomi melampaui lingkungan sosial yang tradisional. Aspek keadilan (fairness) seperti perlakuan yang sama dan standar pola tingkah laku pemerintah adalah perlu untuk menjaga mekanisme pasar dan mencegah birokrasi yang berlebihan. 46

Dunia usaha dengan demikian sangat membutuhkan kepastian hukum. Sudikno Mertokusumo menyatakan bahwa masyarakat sangat mengharapkan adanya kepastian hukum, karena dengan adanya kepastian hukum masyarakat akan lebih tertib. Hukum bertugas menciptakan kepastian hukum karena bertujuan untuk ketertiban masyarakat. Tanpa kepastian hukum orang tidak tahu apa yang diperbuatnya, sehingga akhirnya menimbulkan keresahan. Tetapi jika terlalu menitik beratkan pada kepastian hukum, dan ketat menaati peraturan hukum yang ada, maka akibatnya akan kaku serta akan menimbulkan rasa tidak adil. 47 Keadilan sangat diperlukan dalam substansi hukum. Khususnya dalam hukum ekonomi, pranata hukum harus mampu mengakomodasi secara berkeadilan berbagai kepentingan kelompok masyarakat yang berbeda-beda strata ekonomi dan sosialnya
Erman Rajagukguk, ”Hukum Ekonomi Indonesia Memperkuat Persatuan Nasional, Mendorong Pertumbuhan Ekonomi dan Memperluas Kesejahteraan Sosial”, Seminar Pembangunan Hukum Nasional VIII, Bali 14-18 Juli 2003. 47 Sudikno Mertokusumo, Mengenal Hukum (Suatu Pengantar), (Yogjakarta : Liberty, 1988), hal. 136.
46

25

dalam hal ini adalah tenaga kerja dan pelaku usaha. Hukum di bidang ekonomi dengan demikian harus berimbang dalam mengatur kepentingan pelaku usaha yang berbeda-beda skala ekonominya, baik itu Usaha Mikro Kecil Menengah (selanjutnya disebut UMKM), swasta besar, BUMN maupun swasta asing. Hal ini merupakan implementasi dari pesan konstitusional yang tidak mengizinkan adanya keberpihakan negara hanya pada satu pilar ekonomi. Peran negara sangat dibutuhkan untuk menciptakan keadilan bagi kelompok-kelompok masyarakat yang lemah melalui hukum yang menata sedemikian rupa ketidakmerataan sosial dan ekonomi agar lebih menguntungkan kelompok masyarakat yang lemah. Selanjutnya, untuk menghindari kesalahan dalam memaknai konsep-konsep48 yang dipergunakan dalam penelitian ini, maka berikut akan diberikan definisi operasional dari konsep-konsep yang dipergunakan : 1. Jaminan Sosial Tenaga Kerja adalah suatu perlindungan bagi tenaga kerja dalam bentuk santunan berupa uang sebagai pengganti sebagian dan penghasilan yang hilang atau berkurang dan pelayanan sebagai akibat peristiwa atau keadaan yang dialami oleh tenaga kerja berupa kecelakaan kerja, sakit, hamil, bersalin, hari tua, dan meninggal dunia. 49

Bandingkan dengan M. Solly Lubis, mengemukakan bahwa Pandangan Konseptual dalam arti mampu berfikir dan memproduk buah pikiran yang bernilai konsepsual untuk menunjang kegiatankegiatan konseptualisasi baik melalui jalur formal maupun non-formal, M. Solly Lubis, Sistem Nasional, (Bandung : Mandar Maju, 2002), hal. V, dikutip Jaminuddin Marbun, Op.cit., hal. 33. 49 Pasal 1 angka (1), Undang-Undang No. 3 Tahun 1992 tentang Jaminan Sosial Tenaga Kerja, Lembaran Negara Republik Indonesia No. 14, Tambahan Lembaran Negara No. 3468.

48

26

2. Tenaga Kerja adalah setiap orang yang mampu melakukan pekerjaan guna menghasilkan barang dan/atau jasa baik untuk memenuhi kebutuhan sendiri maupun untuk masyarakat.50 3. Pekerja/buruh adalah setiap orang yang bekerja dengan menerima upah atau imbalan dalam bentuk lain. 51 4. Hubungan Industri adalah suatu sistem hubungan yang terbentuk antara para pelaku dalam proses produksi barang dan/atau jasa yang terdiri dari unsur pengusaha, pekerja/buruh, dan pemerintah yang didasarkan pada nilai-nilai Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. 52 5. Jaminan Kecelakaan Kerja adalah kecelakaan kerja maupun penyakit akibat kerja merupakan resiko yang dihadapi oleh tenaga kerja yang melakukan pekerjaan.53 6. Jaminan Kematian adalah tenaga kerja yang meninggal dunia bukan akibat kecelakaan kerja akan mengakibatkan terputusnya penghasilan, dan sangat berpengaruh ditinggalkan.54 pada kehidupan sosial ekonomi bagi keluarga yang

Pasal 1 angka (2), Ibid. Pasal 1 angka (2), Undang-Undang No. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan, Lembaran Negara Republik Indonesia No. 39, Tambahan Lembaran Negara No. 4279. 52 Pasal 1 angka (16), Ibid. 53 Angka (1) Bagian Umum Penjelasan., Undang-Undang No. 3 Tahun 1992 tentang Jaminan Sosial Tenaga Kerja, Op. cit. 54 Angka (2) Bagian Umum Penjelasan., Ibid.
51

50

27

7. Jaminan Hari Tua adalah hari tua dapat mengakibatkan terputusnya upah karena tidak lagi mampu bekerja.55 8. Jaminan Pemeliharaan Kesehatan adalah pemeliharaan kesehatan

dimaksudkan untuk meningkatkan produktivitas tenaga kerja sehingga dapat melaksanakan tugas sebaik-baiknya dan merupakan upaya kesehatan di bidang penyembuhan (kuratif). 56 9. Pengusaha adalah orang perseorangan, persekutuan, atau badan hukum yang menjalankan suatu perusahaan milik sendiri ataupun bukan miliknya baik yang berkedudukan di wilayah Indonesia maupun yang berkedudukan di luar wilayah Indonesia.57 10. Program JAMSOSTEK adalah Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK), Jaminan Kematian (JK), Jaminan Hari Tua (JHT), dan Jaminan Pemeliharaan Kesehatan (JPK). 11. Fungsi JAMSOSTEK adalah untuk memberikan perlindungan kepada tenaga kerja berupa JKK, JK, JHT, dan JPK. 12. Peran JAMSOSTEK adalah sebagai pelindung pekerja dan mitra pengusaha. 13. Perlindungan hukum adalah berupa santunan uang dan pelayanan kesehatan. 14. Hambatan JAMSOSTEK adalah hal-hal yang dapat menurunkan jumlah kepesertaan JAMSOSTEK terhadap perusahaan maupun tenaga kerja. Hal-hal

55 56

Angka (3) Bagian Umum Penjelasan., Ibid. Angka (4) Bagian Umum Penjelasan., Ibid. 57 Pasal 1 angka (5), Undang-Undang No. 3 Tahun 1992 tentang Jaminan Sosial Tenaga Kerja, Op. cit.

28

tersebut dapat berupa faktor eksternal dan internal dari PT. Jamsostek (Persero) itu sendiri.

F. Keaslian Penelitian Penulisan ini didasarkan pada ide, gagasan serta pemikiran penulis secara pribadi dan keseluruhan dengan melihat dan memahami substansi hukum dalam tujuan diterapkannya Undang-Undang No. 3 Tahun 1992 tentang Jaminan Sosial dan Tenaga Kerja yang didukung juga dengan Undang-Undang No. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan. Sepanjang penulis ketahui dan konfirmasi, ihwal “Analisis Juridis terhadap Fungsi dan Peran Program JAMSOSTEK dalam Perlindungan Hukum Tenaga Kerja di Kota Medan” belum pernah diteliti. Oleh karena itu keaslian (orisinalitas) dari penelitian ini dapat dipertanggungjawabkan. Namun, penelitian dengan objek kajian yang sama tetapi berbeda permasalahan dan pembahasan sudah pernah dilakukan, yaitu : Tesis dengan judul “Pelaksanaan Jaminan Sosial Tenaga Kerja (JAMSOSTEK) pada Perusahaan Swasta di Kota Medan” oleh Surya Perdana tahun 2001 dan “Analisis Terhadap Tujuan Pendirian BUMN Persero dalam Undang-Undang BUMN dan Undang-Undang Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN)” oleh Ahmad Ansyori tahun 2008; Disertasi dengan judul “Analisis Terhadap Perjanjian Kerja Bersama dalam Hubungan Industrial di Provinsi Sumatera Utara” oleh Jaminuddin Marbun tahun 2009. Ketiga penelitian tersebut dilakukan di Medan.

29

G. Metode Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian hukum normatif dengan menggunakan pendekatan juridis normatif. 58 Dengan demikian objek penelitian adalah norma hukum yang terwujud dalam kaidah-kaidah hukum dibuat dan ditetapkan oleh pemerintah dalam sejumlah peraturan perundang-undangan dan kebijakan yang terkait secara langsung dengan jaminan sosial tenaga kerja. Menurut Ronald Dworkin, penelitian hukum normatif ini disebut juga dengan penelitian doktrinal (Doctrinal Research) yaitu suatu penelitian yang menganalisis, baik hukum sebagai law as it written in the book, maupun sebagai law as it decided by judge through judicial process.59

1. Jenis dan Sifat Penelitian Jenis penelitian yang dilakukan adalah penelitian hukum normatif yang ditujukan untuk menganalisis kaidah-kaidah hukum dalam peraturan hukum positif (perundang-undangan) atau disebut dengan pendekatan undang-undang (statute approach)60 terkait dengan Fungsi dan Peran Program Jaminan Sosial Tenaga Kerja di Kota Medan.

Adapun tahap-tahap dalam analisis yuridis normatif adalah : merumuskan azas-azas hukum dari data hukum positif tertulis; merumuskan pengertian-pengertian hukum; pembentukan standarstandar hukum; dan perumusan kaidah-kaidah hukum. Amirudin dan Zainal Asikin, Pengantar Metode Penelitian Hukum, (Jakarta : Rajawali Press, 2010), hal. 166-167. 59 Ronald Dworkin, dalam Bismar Nasution, Metode Penelitian Hukum Normatif dan Perbandingan Hukum dan Hasil Penulisan pada Majalah Akreditasi, (Medan : Sekolah Pasca Sarjana Universitas Sumatera Utara, 2003), hal. 2. 60 Alvi Syahrin, “Modul Perkuliahan Metode Penelitian Hukum : Pendekatan dalam Penelitian Hukum”, (Medan : Sekolah Pasca Sarjana Unversitas Sumatera Utara, 2008), hal. 10-35.

58

30

Sifat

penelitian

adalah

penelitian

deskriptif

yang

ditujukan

untuk

menggambarkan secara tepat, akurat, dan sistematis gejala-gejala hukum terkait dengan peranan hukum dalam pembangunan ekonomi dalam studi terhadap Fungsi dan Peran Program Jaminan Sosial Tenaga Kerja di Kota Medan.

31

2. Sumber Bahan Hukum Penelitian hukum normatif yang menitikberatkan pada penelitian kepustakaan dan berdasarkan pada data sekunder, maka sumber bahan hukum yang dapat digunakan dapat dibagi ke dalam beberapa kelompok, yaitu: 1. Bahan hukum primer, terdiri sejumlah perangkat dan peringkat peraturan perundang-undangan yang berhubungan dengan Jaminan Sosial Tenaga Kerja, antara lain : Undang-Undang Dasar 1945 Amandemen; Undang-Undang No. 3 Tahun 1992 tentang Jaminan Sosial Tenaga Kerja; Undang-Undang No. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan; Undang-Undang No. 40 Tahun 2004 tentang Jaminan Sosial Nasional; Undang-Undang No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas; Peraturan Pemerintah Sosial No. Tenaga 14 Tahun 1993

Penyelenggaraan

Program

Jaminan

Kerja;

Peraturan

Pemerintah No. 36 Tahun 1995 tentang Penetapan Badan Penyelenggaran Program Jaminan Sosial Tenaga Kerja; Peraturan Pemerintah No. 28 Tahun 2002 tentang Perubahan Ketiga Atas PP No. 14 Tahun 1993; Peraturan Pemerintah No. 64 Tahun 2005 tentang Perubahan Keempat Atas PP No. 14 Tahun 1993; Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi No. PER12/MEN/VI/2007 tentang Petunjuk Teknis Pendaftaran Kepesertaan,

Pembayaran Iuran, Pembayaran Santunan, dan Pelayanan Jaminan Sosial Tenaga Kerja; dan Keputusan Gubernur Sumatera Utara No.

561/5492/K/2009 tentang Penetapan Upah Minimum Kota Medan Tahun 2010.

32

2. Bahan hukum sekunder, bahan-bahan kajian dan analisis para ahli hukum yang bersumber dari berbagai jurnal, buku-buku, hasil-hasil penelitian dan dokumen-dokumen terkait, yaitu : Disertasi dengan judul ”Analisis Terhadap Perjanjian Kerja Bersama dalam Hubungan Industrial di Provinsi Sumatera Utara” oleh Jaminuddin Marbun; Tesis dengan judul ”Analisis Terhadap Tujuan Pendirian BUMN Persero dalam Undang-Undang BUMN dan Undang-Undang Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN)” oleh Ahmad Ansyori; Tesis dengan judul ”Pelaksanaan Jaminan Sosial Tenaga Kerja (JAMSOSTEK) pada Perusahaan Swasta di Kota Medan” oleh Surya Perdana. 3. Bahan hukum tertier, berupa bahan-bahan yang berfungsi memberikan kejelasan pemahaman terhadap bahan hukum primer dan bahan hukum sekunder, seperti kamus-kamus hukum, ekonomi, ensiklopedia, catatan maupun bahan perkuliahan di Sekolah Pasca Sarjana Universitas Sumatera Utara.

3. Teknik Pengumpulan Data Hampir semua jenis penelitian memerlukan studi pustaka. Walaupun orang sering membedakan antara riset kepustakaan (library research) dan riset lapangan (field research), keduanya tetap memerlukan penelusuran pustaka. Perbedaannya yang utama hanyalah terletak pada tujuan, fungsi dan/atau kedudukan studi kepustakaan dalam masing-masing penelitian itu. Dalam riset lapangan, penelusuran pustaka terutama dimaksudkan sebagai langkah awal untuk menyiapkan kerangka

33

penelitian (research design) dan/atau proposal guna memperoleh informasi penelitian sejenis, memperdalam kajian teoritis atau mempertajam metodologi. Sedangkan dalam riset kepustakaan, penelusuran pustaka lebih daripada sekedar melayani fungsi-fungsi yang disebutkan di atas. Riset pustaka sekaligus memanfaatkan sumber perpustakaan untuk memperoleh data penelitiannya. Tegasnya riset pustaka membatasi kegiatannya hanya pada bahan-bahan koleksi perpustakaan saja tanpa melakukan riset lapangan. Idealnya, sebuah riset profesional menggunakan kombinasi riset pustaka dan lapangan atau dengan penekanan pada salah satu diantaranya.61 Tehnik pengumpulan data sekunder pada penelitian ini dilakukan dengan studi kepustakaan (library research) dengan instrumen pengumpulan data berupa studi dokumen. Seluruh bahan hukum dikumpulkan dengan menggunakan tehnik studi kepustakaan dan studi dokumen dari berbagai sumber yang dipandang relevan dengan peran dan fungsi Program JAMSOSTEK dalam melindungi tenaga kerja di Kota Medan.

4. Analisis Data Pengolahan dan analisis data pada dasarnya tergantung pada jenis datanya, bagi penelitian hukum normatif yang hanya mengenal data sekunder saja, yang terdiri dari : bahan hukum primer; bahan hukum sekunder; dan bahan hukum tersier, maka

61

Mestika Zed, Metode Penelitian Kepustakaan, (Jakarta : Yayasan Obor Indonesia, 2008),

hal. 1-2.

34

dalam mengolah dan menganalisis bahan hukum tersebut tidak bisa melepaskan diri dari berbagai penafsiran yang dikenal dalam ilmu hukum.62 Penafsiran hukum memiliki karakter hermeunetik. Hermeunetik atau penafsiran diartikan sebagai proses mengubah sesuatu atau situasi ketidaktahuan menjadi mengerti. 63 Penerapan hermeneutik (penafsiran) terhadap hukum selalu berhubungan dengan isinya. Setiap hukum mempunyai dua segi, yaitu yang tersurat dan yang tersirat, bunyi hukum dengan semangat hukum. Dua hal itu selalu diperdebatkan oleh para ahli hukum. Dalam hal ini, bahasa menjadi penting. Ketepatan pemahaman (subtilitas intellegendi) dan ketepatan penjabaran (subtilitas explicandi) adalah sangat relevan bagi hukum. Penafsiran harus digunakan untuk menerangkan dokumen hukum.64 Data (bahan hukum) dianalisis dengan menggunakan metode analisis kualitatif 65 – abstraktif – interpretatif. 66 Bahan hukum primer yang terinventarisis terlebih dahulu disistematisasaikan sesuai dengan substansi yang diatur dengan mempertimbangkan relevansinya terhadap rumusan permasalahan dan tujuan penelitian. Selanjutnya dilakukan interpretasi terhadap bahan hukum untuk

Amiruddin dan Zainal Asikin, Op.cit., hal. 163. E. Sumaryono, Hermeunetik sebuah Metode Filsafat, (Yogjakarta : Kanisius, 1993), hal. 24, dikutip Amiruddin dan Zainal Asikin, Ibid. 64 Loc.cit., hal. 164. 65 Metode analisis kualitatif adalah metode penelitian yang tidak bisa dihitung dengan angka, sebagai contoh : keefektivan KUHP dalam mencegah kejahatan. Hukum adalah norma yang hidup dalam masyarakat yang tidak bisa diukur dengan angka. Muzakkir, ”Catatan Perkuliahan : Metode Penelitian Hukum”, (Medan : Sekolah Pasca Sarjana Universitas Sumatera Utara, 2009). 66 Metode analisis interpretatif adalah digunakan dalam riset budaya. Dikarenakan hukum yang hidup dalam masyarakat adalah norma jadi harus dilihat mengenai budayanya. Metode yang digunakan harus menggunakan metode interpretatif. Ibid.
63

62

35

menemukan asas, kaidah, doktrin, ataupun konsep hukum yang terkandung didalamnya. Kemudian dilakukan pengelompokan konsep hukum yang lebih umum, misalnya kepastian hukum, prediktabilitas hukum, keadilan hukum, perlindungan hukum, dan lain-lain. Analisis dilakukan secara holistik dan integral untuk menemukan hubungan logis antara berbagai konsep hukum yang sudah ditemukan dengan menggunakan kerangka teoritis yang relevan dengan peran dan fungsi Program JAMSOSTEK dalam melindungi tenaga kerja di Kota Medan sehingga pokok permasalahan yang ditelaah dalam penelitian ini akan dapat dijawab.

36

BAB II FUNGSI DAN PERAN PROGRAM JAMSOSTEK DALAM PERLINDUNGAN HUKUM TENAGA KERJA DI KOTA MEDAN

A. Program Jaminan Sosial Tenaga Kerja

Jaminan sosial merupakan konsep universal bagi redistribusi pendapatan sehingga menjadi program publik yang diselenggarakan berdasarkan undang-undang. Demikian pula penunjukan badan penyelenggaraannya harus didasarkan pada undang-undang karena merupakan badan otonomi yang mandiri, memiliki akses law enforcement serta berorientasi nirlaba. 67 Menyadari pentingnya jaminan sosial dalam redistribusi pendapatan, jaminan sosial merupakan hak setiap warga negara bahkan termasuk warga negara asing yang menetap. Pelanggaran terhadap pelaksanaan jaminan sosial berarti pelanggaran terhadap Hak Azasi Manusia (HAM). 68 Eksistensi jaminan sosial bagi redistribusi pendapatan telah diratifikasi dalam deklarasi PBB sebagai Universal Declaration of Human Rights. Adapun isi dari deklarasi tersebut terdapat pada Article 22, 1948-1998 mengatakan bahwa : “Everyone, as a member of society, has the right to social security and is entitled to realization, through national effort and international co-operation and in accordance with the organization and resources of each State, of the

67 68

Adrian Sutedi, Hukum Perburuhan, (Jakarta : Sinar Grafika, 2009), hal. 180. Ibid.

37

economic, social and cultural rights indispensable for his dignity and the free development of his personality”.69

Deklarasi tersebut telah mendapat dukungan penuh dari para anggota PBB, termasuk human right society bahwa keabsenan di dalam penyelenggaraan terhadap HAM. Selain itu, implikasi social security bagi redistribusi pendapatan telah mendapat rekomendasi dari PBB untuk masuk dalam The Economic Council of The United Nation. Tujuan akhir dari konsep jaminan sosial adalah untuk

mempertahankan daya beli masyarakat sebagai akibat adanya economic insecurity (ketidaknyamanan ekonomi).70 Pelaksanaan jaminan sosial di Indonesia bersumber pada landasan idiil. Pembukaan UUD 1945 sebagaimana tercantum pada alinea keempat yang menyebutkan bahwa salah satu tujuan negara Indonesia adalah memajukan kesejahteraan umum sehingga dapat tercapai masyarakat yang adil dan makmur. Menurut Undang-Undang No. 6 Tahun 1974 tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Kesejahteraan Sosial, pengertian jaminan sosial adalah seluruh sistem perlindungan dan pemeliharaan kesejahteraan sosial bagi warga negara yang diselenggarakan oleh pemerintah dan/atau masyarakat guna memelihara taraf kesejahteraan sosial. 71 Menurut ILO, jaminan sosial adalah jaminan yang diberikan kepada masyarakat melalui suatu lembaga tertentu yang dapat membantu anggota masyarakat dalam menghadapi resiko yang mungkin dialaminya, misalnya jaminan pemeliharaan

“Universal Declaration of Human Rights 1948-1998”, http://www.wunrn.com/reference/pdf/univ_dec_hum_right.pdf., diakses pada 27 Agustus 2010. 70 Loc.cit. 71 Ibid.

69

38

kesehatan atau bantuan untuk mendapat pekerjaan yang bermanfaat. Di samping itu, ILO juga menyebutkan ada tiga kriteria yang harus dipenuhi agar suatu kegiatan dapat dikatakan program jaminan sosial. 72 a. Tujuan berupa perawatan medis yang bersifat penyembuhan atau pencegahan penyakit, memberikan bantuan pendapatan apabila terjadi kehilangan sebagian atau seluruh pendapatan, atau menjamin pendapatan tambahan bagi orang bertanggung jawab terhadap keluarga. b. Terdapat undang-undang yang mengatur tentang hak dan kewajiban lembaga yang melaksanakan kegiatan ini. c. Kegiatan diselenggarakan oleh suatu lembaga tertentu.73 Menurut Redja yang dikutip oleh Purwoko, salah satu tujuan dari penyelenggaraan jaminan sosial adalah untuk mempertahankan daya beli masyarakat dalam menghadapi terjadinya ketidakamanan ekonomi.74 Kenyataannya sebelum suatu masyarakat mencapai kondisi ekonomi yang aman, seringkali diawali dengan kondisi ketidakamanan ekonomi sebagai konsekuensi yang logis dari masalah kebijakan makro ekonomi. Kebijakan yang luas tersebut salah satu diantaranya penyebab munculnya perbedaan pendapat antara golongan masyarakat atas dan masyarakat bawah. Akibatnya terjadi ketidakamanan

Ibid., hal. 181. Moh. Syaufi Syamsuddin, “Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Tenaga Kerja Wanita”, Informasi Hukum, Kamis, 09 November 2006, dikutip Adrian Sutedi, Ibid. 74 Bambang Purwoko, Towards A Social Security Reform : The Indonesian Case, (Jakarta : Jamsostek, 1999), hal. 6, dikutip Redja dalam Adrian Sutedi, Ibid.
73

72

39

ekonomi, yang apabila terus dibiarkan dapat menimbulkan konflik atau disintegrasi di dalam masyarakat.75 Asuransi sosial adalah program perlindungan dasar bagi pekerja/buruh beserta keluarganya terhadap resiko sosial dalam kaitannya dengan hubungan industrial seperti kecelakaan kerja, kematian, kesehatan, dan hari tua. Program tersebut tidak sepenuhnya dibiayai oleh pemberi kerja, namun pekerja/buruh juga ikut membayar iuran. Jenis asuransi komersial yang seutuhnya dibiayai sendiri oleh peserta sesuai dengan jenis asuransi yang diikutinya. 76 Menurut Kertonegoro, asuransi komersial merupakan cara lain untuk mengurangi resiko sosial dan ekonomi yang dilakukan oleh pihak swasta. Meskipun bagi yang menjadi peserta asuransi ini terlebih dahulu dilakukan seleksi terutama menyangkut kesehatan dan usia, namun tetap mengandung semangat gotong-royong sebagai bentuk distribusi resiko.77 Jaminan sosial dalam bahasa Inggris disebut dengan istilah ”social security”. Istilah ini untuk pertama kalinya dipakai secara resmi oleh Amerika Serikat dalam suatu undang-undang yang bernama ”The Social Security Act of 1935”. Kemudian dipakai secara resmi oleh New Zealand pada tahun 1938 sebelum secara resmi dipakai ILO (International Labor Organization). Menurut ILO : ”Social Security pada prinsipnya adalah sistem perlindungan yang diberikan oleh pemerintah untuk para warganya, melalui berbagai usaha dalam

Adrian Sutedi, Ibid. Ibid. 77 Sentanoe Kertonegoro, Jaminan Sosial : Prinsip dan Pelaksanaannya di Indonesia, (Jakarta : Mutiara, 1982), hal. 37, dikutip Adrian Sutedi, Ibid., hal. 182.
76

75

40

menghadapi resiko-resiko ekonomi atau sosial yang dapat mengakibatkan terhentinya/sangat berkurangnya penghasilan”. 78 Sedangkan Kennet Thomson, seorang tenaga ahli pada Sekretariat Jenderal International Social Security Association (ISSA) di Jenewa, dalam Regional Training Seminar ISSA di Jakarta bulan Juni 1980, mengatakan bahwa : ”Jaminan sosial dapat diartikan sebagai perlindungan yang diberikan oleh masyarakat bagi anggota-anggotanya untuk resiko-resiko atau peristiwaperistiwa tersebut yang dapat mengakibatkan hilangnya atau turunnya sebagian besar penghasilan, dan untuk memberikan pelayanan medis dan/atau jaminan keuangan terhadap konsekuensi ekonomi dari terjadinya peristiwa tersebut, serta jaminan untuk tunjangan keluarga dan anak”. 79 Sejalan dengan dua pengertian di atas, Undang-Undang No. 6 Tahun 1974 tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Kesejahteraan Sosial, pada Pasal 2 ayat (4) mengatakan bahwa80 : ”Jaminan sosial sebagai perwujudan dari sekuritas sosial adalah seluruh sistem perlindungan dan pemeliharaan kesejahteraan sosial bagi warganegara yang diselenggarakan oleh pemerintah dan/atau masyarakat guna memelihara taraf kesejahteraan sosial”. Kalau diperhatikan ketiga pengertian di atas, maka nampaknya ketiga pengertian tersebut memberikan pengertian jaminan sosial dengan begitu luas, seakan-akan jaminan sosial itu sendiri telah mencakup bidang pencegahan dan pengembangan, bidang pemulihan, dan penyembuhan serta bidang pembinaan. Ketiga bidang ini kalau dikaitkan lebih jauh lagi apa yang dinamakan perlindungan buruh, sehingga amat luaslah ruang lingkupnya. Kalau membicarakan jaminan sosial bagi pekerja dengan bertumpu pada definisi di atas, maka yang dimasukkan ke dalam
Zainal Asikin, et.al., Dasar-Dasar Hukum Perburuhan, (Jakarta : Raja Grafindo Persada, 1997), hal. 78, dikutip Surya Perdana, Op.cit., hal. 58. 79 Ibid. 80 Ibid.
78

41

jaminan sosial ini hal-hal yang bersangkutan dengan : Jaminan Sosial; Kesehatan Kerja; dan Keselamatan serta Kesehatan Kerja. 81 Pada hakikatnya Program JAMSOSTEK dimaksudkan untuk memberikan kepastian berlangsungnya arus penerimaan penghasilan keluarga sebagai pengganti sebagian atau seluruhnya penghasilan yang hilang. Di samping itu, Program JAMSOSTEK mempunyai beberapa aspek antara lain 82 : a. Memberikan perlindungan dasar untuk memenuhi kebutuhan hidup minimal bagi tenaga kerja beserta keluarganya; dan b. Merupakan penghargaan kepada tenaga kerja yang telah menyumbangkan tenaga dan pikirannya kepada perusahaan tempatnya bekerja. JAMSOSTEK dilandasi filosofi kemandirian dan harga diri untuk mengatasi resiko sosial ekonomi. Kemandirian berarti tidak tergantung orang lain dalam membiayai perawatan pada waktu sakit, kehidupan dihari tua maupun keluarganya bila meninggal dunia. Harga diri berarti jaminan tersebut diperoleh sebagai hak dan bukan dari belas kasihan orang lain. 83 Agar pembiayaan dan manfaatnya optimal, pelaksanaan Program

JAMSOSTEK dilakukan secara gotong royong, dimana yang muda membantu yang tua, yang sehat membantu yang sakit dan yang berpenghasilan tinggi membantu yang berpenghasilan rendah.84

Ibid. Asri Wijayanti, Hukum Ketenagakerjaan Pasca Reformasi, Edisi 1, Cetakan 1, (Jakarta : Sinar Grafika, 2009), hal. 122. 83 ”Visi dan Misi”, Op.cit. 84 Ibid.
82

81

42

A. Landasan Yuridis Program JAMSOSTEK di Indonesia sesungguhnya sudah mulai dirintis sejak tahun-tahun awal kemerdekaan, yaitu ketika Undang-Undang No. 33 Tahun 1947 tentang Kecelakaan Kerja dan Undang-Undang No. 34 Tahun 1947 tentang Kecelakaan Perang diberlakukan. Setahun berikutnya diluncurkan Undang-Undang No. 12 Tahun 1948 yang mengatur tentang Usia Tenaga Kerja, Jam Kerja, Perumahan, dan Kesehatan Buruh.85 Perlindungan bagi tenaga kerja diatur lagi pada tahun 1951 dengan diluncurkannya Undang-Undang No. 2 Tahun 1951 tentang Kecelakaan Kerja. Pada tahun 1952 diberlakukan Peraturan Menteri Perburuhan No. 48 Tahun 1952 jo. Peraturan Menteri Perburuhan No. 8 Tahun 1956 tentang Pengaturan Bantuan untuk Usaha Penyelenggaraan Kesehatan Buruh. Ketentuan mengenai penyelenggaraan kesehatan buruh itu kemudian dilengkapi lagi dengan Peraturan Menteri Perburuhan No. 15 Tahun 1957 tentang Pembentukan Yayasan Sosial Buruh. Peraturan tersebut menguraikan tentang bantuan kepada badan yang menyelenggarakan usaha jaminan sosial. 86 Undang-undang tentang tenaga kerja yang agak lengkap lahir pada tahun 1969. Pada Undang-Undang No. 14 Tahun 1969 tentang Pokok-Pokok Tenaga Kerja diatur tentang Penyelenggaraan Asuransi Sosial Bagi Tenaga Kerja Beserta Keluarganya. Pada tahun 1977 Pemerintah menerbitkan Peraturan Pemerintah No. 33 Tahun 1977 tentang Pelaksanaan Program Asuransi Sosial Tenaga Kerja (ASTEK), Asuransi

85 86

Adrian Sutedi, Op.cit., hal. 184. Ibid., hal. 184.

43

Kematian (AK), dan Tabungan Hari Tua (THT). Bersamaan dengan itu diterbitkan pula Peraturan Pemerintah No. 34 Tahun 1977 tentang Perusahaan Umum (Perum) ASTEK sebagai Badan Penyelenggara Program ASTEK.87 Status ASTEK sebagai Perum kemudian diubah menjadi Perseroan Terbatas (PT) melalui Peraturan Pemerintah No. 19 Tahun 1990. Pada tahun 1992, Pemerintah dengan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) menerbitkan Undang-Undang No. 3 Tahun 1992 tentang Jaminan Sosial Tenaga Kerja yang mewajibkan setiap perusahaan yang memiliki karyawan minimal 10 orang atau mengeluarkan biaya untuk gaji karyawannya minimal Rp. 1 juta/bulan untuk menyelenggarakan empat Program JAMSOSTEK, yaitu Jaminan Hari Tua (JHT), Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK), Jaminan Kematian (JK), Jaminan Pemeliharaan Kesehatan (JPK). Undang-undang ini juga menugaskan PT. Jamsostek sebagai pelaksana Program JAMSOSTEK di Indonesia (hal ini dipertegas lagi dengan Peraturan Pemerintah No. 36 Tahun 1995 tentang Penetapan Badan Penyelenggara Program Jaminan Sosial Tenaga Kerja). 88

C. Sejarah Lahirnya Jaminan Sosial Tenaga Kerja Penyelenggara program jaminan sosial merupakan salah satu tanggung jawab dan kewajiban negara untuk memberikan perlindungan sosial ekonomi kepada masyarakat. Sesuai dengan kondisi kemampuan keuangan negara, Indonesia seperti

Ibid. PT. Jamsostek, Kumpulan Peraturan Perundangan Pemerintah Mengenai Jaminan Sosial Tenaga Kerja, (Jakarta : Jamsostek, 1999), lihat juga Depnakertrans, Himpunan Peraturan PerundangUndangan Ketenagakerjaan Bidang Hubungan Industrial, Syarat-Syarat Kerja, PTKA dan Perlindungan Tenaga Kerja, (Jakarta : Karya Puri Utomo, 2001), dikutip Ibid., hal 185.
88

87

44

berbagai negara berkembang lainnya, mengembangkan program jaminan sosial berdasarkan funded social security, yaitu jaminan sosial yang didanai oleh peserta dan masih terbatas pada masyarakat pekerja/buruh di sektor formal. 89 Sejarah terbentuknya PT. Jamsostek (Persero) mengalami proses yang panjang, dimulai dari Undang-Undang No. 33 Tahun 1947 jo. Undang-Undang No. 2 Tahun 1951 tentang Kecelakaan Kerja, Peraturan Menteri Perburuhan No. 48 Tahun 1952 jo. Peraturan Menteri Perburuhan No. 8 Tahun 1956 tentang Pengaturan Bantuan untuk Usaha Penyelenggaraan Kesehatan Buruh, Peraturan Menteri Perburuhan No. 15 Tahun 1957 tentang Pembentukan Yayasan Sosial Buruh, Peraturan Menteri Perburuhan No. 5 Tahun 1964 tentang Pembentukan Yayasan Dana Jaminan Sosial, diberlakukannya Undang-Undang No. 14 Tahun 1969 tentang Pokok-Pokok Tenaga Kerja, secara kronologis proses lahirnya asuransi sosial tenaga kerja semakin transparan.90 Setelah mengalami kemajuan dan perkembangan, baik menyangkut landasan hukum, bentuk perlindungan maupun cara penyelenggaraan, pada tahun 1977 diperoleh suatu tonggak sejarah penting dengan dikeluarkannya Peraturan Pemerintah No. 33 Tahun 1977 tentang Pelaksanaan Program Asuransi Sosial Tenaga Kerja (selanjutnya disingkat ASTEK), yang mewajibkan setiap pemberi kerja/pengusaha swasta dan BUMN untuk mengikuti program ASTEK. Terbit pula Peraturan

89 90

Ibid., hal. 178. Ibid.

45

Pemerintah No. 34 Tahun 1977 tentang Pembentukan Wadah Penyelenggara ASTEK, yaitu Perum ASTEK. 91 Tonggak penting berikutnya adalah lahirnya Undang-Undang No. 3 Tahun 1992 tentang Jaminan Sosial Tenaga Kerja (JAMSOSTEK), melalui Peraturan Pemerintah No. 36 Tahun 1995 ditetapkannya PT. Jamsostek sebagai badan penyelenggara jaminan sosial tenaga kerja. Program JAMSOSTEK memberikan perlindungan dasar untuk memenuhi kebutuhan minimal bagi tenaga kerja dan keluarganya, dengan memberikan kepastian berlangungnya arus penerimaan penghasilan keluarga sebagai pengganti sebagian atau seluruhnya penghasilan yang hilang, akibat resiko sosial. 92 Selanjutnya pada akhir tahun 2004, pemerintah juga menerbitkan UndangUndang No. 40 Tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional, yang berhubungan dengan Amandemen UUD 1945 dengan perubahan pada Pasal 34 Ayat (2), dimana Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) telah mengesahkan amandemen tersebut, yang kini berbunyi : “Negara mengembangkan sistem jaminan sosial bagi seluruh rakyat dan memberdayakan masyarakat yang lemah dan tidak mampu sesuai dengan martabat kemanusiaan”. Manfaat perlindungan tersebut dapat memberikan rasa aman kepada pekerja, sehingga dapat lebih berkonsentrasi dalam meningkatkan motivasi maupun produktivitas kerja. 93 Kiprah PT. Jamsostek yang mengedepankan kepentingan dan hak normatif tenaga kerja di Indonesia terus berlanjut. Sampai saat ini, PT. Jamsostek (Persero)
91 92

Ibid. Ibid. 93 Ibid.

46

memberikan perlindungan 4 (empat) program, yang mencakup program Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK), Jaminan Kematian (JK), Jaminan Hari Tua (JHT), dan Jaminan Pemeliharaan Kesehatan (JPK) bagi seluruh tenaga kerja dan keluarganya. 94 Dengan penyelenggaraan yang semakin maju, Program JAMSOSTEK tidak hanya bermanfaat kepada pekerja dan pengusaha, tetapi juga berperan aktif dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi bagi kesejahteraan masyarakat dan

perkembangan masa depan bangsa.95

D. Fungsi Program JAMSOSTEK Terhadap Perlindungan Tenaga Kerja di Kota Medan JAMSOSTEK, sebagaimana diatur dalam Undang-Undang No. 3 Tahun 1992 tentang Jaminan Sosial Tenaga Kerja, mengatur 4 (empat) program pokok yang harus diselenggarakan oleh Badan Penyelenggara PT. Jamsostek (Persero), yaitu : Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK); Jaminan Kematian (JK); Jaminan Hari Tua (JHT); dan Jaminan Pemeliharaan Kesehatan (JPK). Namun, sesuai dengan Peraturan Pemerintah No. 14 Tahun 1993 tentang Penyelenggaraan Program Jaminan Sosial Tenaga Kerja memerintahkan untuk menambahkan program yaitu Tenaga Kerja di Luar Hubungan Kerja (TK-LHK). Ada juga penambahan program dengan dikeluarkannya Keputusan Menteri Tenaga Kerja No. KEP-196/MEN/1999 tentang Penyelenggaraan Program Jaminan Sosial Tenaga Kerja Bagi Tenaga Kerja Harian Lepas, Borongan dan

94 95

Ibid. Ibid.

47

Perjanjian Waktu Tertentu pada Sektor Jasa Konstruksi, yang bernama Jasa Konstruksi. 1. Sebagai Sosial Security. Sosok jaminan social ini merupakan suatu mekanisme pengumpulan dana yang bersifat wajib yang berasal dari iuran guna memberikan perlindungan atas resiko social ekonomi yang menimpa peserta dan anggota keluarganya .Dalam perjalanannya manfaat dari program jaminan social ini tidak dirasakan secara optimal oleh peserta.. Penyelenggaraan jaminan social bagi seluruh rakyat memang diamanatkan dalam pasal 28 ayat (3) dan pasal 34 ayat (2) UUD Negara Republik Indonesia tahun 1945. Program ini pada dasaranya merupakan program Negara yang bertujuan memberikan kepastian perlindungan dan kesejahteraan social bagi seluruh rakyat Indonesia. Setiap penduduk diharapkan dapat memenuhi kebutuhan dasar hidup yang layak apabila terjadi hal-hal yang mengakibatkan hilang atau berkurangnya pendapatan karena menderita sakit, mengalami kecelakaan, kehilangan pekerjaan, memasuki usia lanjut atau pensiun. Program jaminan social yang dijalankan oleh pemerintah baru mencakup sebagian kecil masyarakat, sebagian besar rakyat belum memperoleh perlindungan

yang memadai, manfaat program ini pun jauh dari optimal karena badan penyelenggaranya berbentuk badan hukum perseroan terbatas (PT. Persero) yang berorientasi laba.

48

Seyogyanya penyelenggara adalah badan yang tidak dimaksudkan mencari laba, akan tetapi tujuan utamanya adalah untuk memenuhi sebesar-besarnya kepentingan peserta, hasil pengembangannya dan surtplus atau laba seluruhnya dikembalikan untuk kepentingan peserta. Program JAMSOSTEK belum menyentuh seluruh lapisan masyarakat Kota Medan, baru dirasakan oleh tenaga kerja yang terorganisir saja, karena prinsip pendanaannya berasal dari perusahaan dan tenaga kerja, namun demikian para pekerja rela untuk dipotong gajinya untuk ikut serta dalam program JAMSOSTEK, kewajiban perusahaan dan pekerja atas pembayaran iuran bila dibandingan dengan Negara-negara yang menyelenggaran jaminan social Indonesia termasuk yang penetapan iurannya sangat kecil, bila dibandingkan dengan Malaysia iuran THT 11 % dan iuran perusahaan 12 % sedangkan iuran program THT JAMSOSTEK 5,7% yang meliputi kewjiban perusahaan dan tenaga kerja, kondisi ini menunjukan bahwa tingkat kemampuan pertubuhan ekonomi Indonesia jauh lebih baik Malaysia. Peserta program jaminan social di Indonesia dibandingkan dengan Negara lain masih terlalu sedikit (sekitar 20%). Manfaat yang diperoleh peserta juga masih sangat terbatas. Dapat dikatakan belum dapat memenuhi kebutuhan dasar hidup yang layak, prinsip/sistem penyelenggaraan juga bervariasi sehingga menimbulkan ketidakadilan social. Oleh karena itu diperlukan Undang-Undang baru yang diharapkan dapat memanyungi segenap penyelenggaraan program jaminan social, meningkatkan jumlah peserta, meningkatkan manfaat serta berkeadilan, atas dasar itu pemerintah memprakarsai untuk memperbaharui perundangan yang terkait dengan

penyelenggaraan Sistim Jaminan Social Nasional (SJSN). Pemerintah dalam

49

meningatkan kesejaahteraan seluruh rakyat yaitu membangun perekonomian kesejahteraan dengan salah satu program jaminan soscial (Social Security) yang dibeberapa negara sudah menerapkannya, tujuannya adalah meningkatkan status social rakyat dalam berkihidupan dimasyarakat, sekaligus menciptakan manusia yang sadar dengan segala resiko dalam kehidupan, juga paham arti jaminan social sampai kegenari yang akan dating, jika telah ditumbuh kembangkan maka rakyat Indonesia telah siap dalam bekerja dan mencintai pekerjaannya dengan baik, Negara sudah berbuat yang terbaik kepada rakyatnya, maka sebagaimana program negara untuk meningkatkan taraf hidup rakyat sudah dapat dinikmati seluruh rakyat, pengabdian dan kecintaan rakyat kepada Negara sudah semakin besar, bersinergi dalam melaksanakannnya berarti satu sama yang lain membutuhkan. Fungsi dan peranan program JAMSOSTEK dalam jaminan sosial yang meliputi : a. Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK) Kecelakaan kerja merupakan resiko yang dihadapi oleh tenaga kerja yang melakukan pekerjaan karena pada umumnya kecelakaan akan mengakibatkan dua hal berikut 96 : 1. Kematian, yaitu kecelakaan-kecelakaan yang mengakibatkan penderitanya bisa meninggal dunia; dan 2. Cacat atau tidak berfungsinya sebagian dari anggota tubuh tenaga kerja yang menderita kecelakaan kerja. Cacat ini terdiri dari : Jenis-jenis kecelakaan antara lain :
Zaeni Asyhadie, Hukum Kerja : Hukum Ketenagakerjaan Bidang Hubungan Kerja, Ed. Revisi, (Jakarta : Rajawali Press, 2008), hal. 116.
96

50

1. Kecelakaan yang terjadi pada waktu cuti 2. Kecelakaan yang terjadi di mes/perkemahan yang tidak berada di lokasi tempat kerja; 3. Kecelakaan yang terjadi dalam rangka melakukan kegiatan yang bukan merupakan tugas dari atasan, untuk kepentingan perusahaan; dan 4. Kecelakaan yang terjadi pada waktu yang bersangkutan meninggalkan tempat kerja untuk kepentingan pribadi. Jenis kecelakaan di atas tentunya akan mendapatkan jaminan dari badan penyelenggara apabila di klaim. Hal tersebut di atas biasanya terjadi pada setiap perusahaan yang ada.97 1. Iuran Jaminan Kecelakaan Kerja 2. Jaminan Kecelakaan Kerja Besarnya jaminan kecelakaan kerja telah ditentukan dalam Peraturan Pemerintah No. 14 Tahun 1993 yang telah beberapa kali diubah. Terakhir berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 28 Tahun 2002. Jaminan yang diberikan dalam bentuk Santunan Sementara Tidak Mampu Bekerja (STMB), Santunan Cacat, Santunan Cacat Total, Santunan Cacat Kekurangan Fungsi, Pengobatan dan perawatan, Biaya rehabilitasi, Penyakit yang timbul karena hubungan kerja/industrial, Ongkos pengangkutan pekerja/buruh dari tempat kejadian kecelakaan kerja ke rumah sakit.

97

Ibid., hal. 117.

51

b. Jaminan Kematian (JK) Kematian muda atau kematian dini/prematur pada umumnya menimbulkan kerugian finansial bagi mereka yang ditinggalkan. Kerugian ini dapat berupa kehilangan mata pencaharian atau penghasilan dari yang meninggal, dan ”kerugian” yang diakibatkan oleh biaya perawatan selama yang bersangkutan sakit serta biaya pemakaman. Oleh karena itu, dalam Program JAMSOSTEK pemerintah mengadakan program Jaminan Kematian.98. Bentuk jaminan kematian program JAMSOSTEK ini merupakan program asuransi ekawaktu dengan memberikan jaminan untuk jangka waktu tertentu saja, yaitu sampai dengan usia 55 tahun.99 Jaminan kematian akan diberikan sesuai dengan besaran yang telah ditentukan meliputi Biaya pemakaman dan Santunan berupa uang. Dan penerima biaya tersebut adalah keluarga tenaga kerja. c. Jaminan Hari Tua (JHT) Program JHT ditujukan sebagai pengganti terputusnya penghasilan tenaga kerja karena meninggal, cacat, atau hari tua dan diselenggarakan dengan sistem tabungan hari tua. Program JHT memberikan kepastian penerimaan penghasilan yang dibayarkan pada saat tenaga kerja mencapai usia 55 tahun atau telah memenuhi persyaratan tertentu. Kemanfaatan JHT adalah sebesar akumulasi iuran ditambah hasil pengembangannya. JHT merupakan program tabungan wajib yang berjangka panjang dimana iurannya ditanggung oleh pekerja/buruh dan pengusaha, namun

98 99

Ibid., hal. 122. Ibid.

52

pembayarannya kembali hanya dapat dilakukan apabila telah memenuhi syarat-syarat tertentu Dengan demikian, pengertiannya adalah sebagai berikut Program JHT ini bersifat wajib, Program ini berjangka panjang, Iurannya ditanggung oleh pekerja/buruh sendiri ditambah dengan iuran dari pengusaha untuk diakreditasi pada rekening masing-masing peserta (pekerja/buruh) oleh badan penyelenggara; dan Adanya persyaratan jangka waktu pengambilan jaminan. Kepesertaan JHT bersifat wajib secara nasional bagi semua pekerja/buruh yang memenuhi persyaratan. Persyaratan yang dimaksudkan adalah khusus bagi pekerja/buruh harian lepas, borongan, dan pekerja/buruh dengan perjanjian kerja waktu tertentu yang harus bekerja di perusahaannya lebih dari tiga bulan. Artinya kalau mereka bekerja kurang dari tiga bulan pengusaha tidak wajib

mengikutsertakannya dalam program JHT. Pengusaha hanya wajib mengikutsertakan dalam program JKK dan JK. Karena JHT sama dengan program tabungan hari tua, setiap peserta akan memiliki rekening tersendiri pada badan penyelenggara. Selain itu, program ini merupakan program berjangka panjang yang hanya dapat dibayarkan kembali setelah mereka pensiun, kecuali kalau terjadi kematian, cacat tetap total, dan diputuskan hubungan kerjanya (setelah memenuhi masa kepesertaan lima tahun). Apabila pekerja/buruh diputuskan hubungan kerja pembayaran kembali JHT dilakukan setelah masa tunggu enam bulan. Masa tunggu maksudnya adalah suatu masa dimana pekerja/buruh yang diputuskan hubungan kerjanya telah mempunyai pekerjaan lagi atau tidak

53

d. Jaminan Pemeliharaan Kesehatan (JPK) Pemeliharaan kesehatan adalah bagian dari ilmu kesehatan yang bertujuan agar pekerja/buruh memperoleh kesehatan yang sempurna, baik fisik, mental, maupun sosial sehingga memungkinkan dapat bekerja secara optimal. Oleh karena itu, program jaminan sosial tenaga kerja juga memprogramkan JPK.100 Sementara itu, JPK yang dilakukan oleh badan penyelenggara adalah paket pemeliharaan kesehatan dasar yang meliputi : Rawat jalan tingkat pertama; Rawat jalan tingkat lanjutan dan Rawat inap e. Tenaga Kerja di Luar Hubungan Kerja (TK-LHK) Tenaga Kerja yang melakukan pekerjaan di Luar Hubungan Kerja (LHK) adalah orang yang berusaha sendiri yang pada umumnya bekerja pada usaha-usaha ekonomi informal. Tujuan dari TK-LHK adalah Memberikan perlindungan jaminan sosial bagi tenaga kerja yang melakukan pekerjaan di luar hubungan kerja pada saat tenaga kerja tersebut kehilangan sebagian atau seluruh penghasilannya sebagai akibat terjadinya risiko-risiko antara lain kecelakaan kerja, sakit, hamil, bersalin, hari tua dan meninggal dunia; dan Memperluas cakupan kepesertaan program jaminan sosial tenaga kerja. Jenis program dan manfaat TK-LHK dapat dilihat pada Peraturan Pemerintah No. 14 Tahun 1993, yaitu Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK), Jaminan Kematian (JK), Jaminan Hari Tua (JHT), terdiri dari keseluruhan iuran yang telah disetor, beserta hasil pengembangannya; dan Jaminan Pemeliharaan Kesehatan (JPK)
100

Ibid., hal. 126-127.

54

f. Jasa Konstruksi Sektor konstruksi adalah Program Jaminan Sosial bagi Tenaga Kerja Harian Lepas, Borongan dan Perjanjian Kerja Waktu Tertentu pada Sektor Jasa Konstruksi yang diatur melalui Keputusan Menteri Tenaga Kerja Nomor: KEP-196/MEN/1999 Tanggal 29 September 1999. Tahap Kepesertaan pada setiap Kontraktor Induk maupun Sub Kontraktor yang melaksanakan proyek Jasa Konstruksi dan pekerjaan borongan lainnya wajib mempertanggungkan semua tenaga kerja (borongan/harian lepas dan musiman) yang bekerja pada proyek tersebut kedalam Program Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK) dan Jaminan Kematian (JKM). 101

2. Mendukung Program Pemerintah Daerah. Program JAMSOSTEK yang merupakan kebutuhan bagi seluruh pekerja tidak bisa diabaikan atau dihindari kerena dapat dituntut melanggar hak azasi manusia, peran program JAMSOSTEK tidak hanya sebagai melindungi resiko kerja terhadap tenaga kerja dalam bekerja, tetapi dapat menjadikan para pekerja lebih percaya diri dalam menjalani kehidupan dalam masyarakat, jika tingkat ekonomi para pekerja sudah terpenuhi maka produktifitas kerja akan semakin baik. Program JAMSOSTEK selain menciptakan ketenangan bagi para pekerja jika dilaksanakan dengan baik, peran program JAMSOSTEK terhadap pemerintah di daerah selain mengentaskan kemiskinan juga telah membuat tenaga kerja tidak lagi ketergantungan kepada lingkungan jika tenaga kerja dalam bekerja mengalami resiko kerja seperti sakit sudah dapat membiayai diri sendiri, begitu juga jika tenaga kerja
101

Ibid.

55

mengalami kematian sudah mampu mengatasi dan membiayai biaya kematian sendiri, khusunya misi dari pemerintahan Propinsi Sumatera Utara sebagaimana yang

diharapkannya agar rakyatnya tidak bodoh, tidak miskin, tidak lapar dan tidak sakit, program JAMSOSTEK sudah memberikan jawabannya. Program kerja yang dilaksanakan oleh JAMSOSTEK saat ini secara kelembagaan di pemerintahan daerah belum menjadikan satu kegiatan yang dianggap penting, yang diharapkan dapat mendukung kegiatan di pemerintahan baik ditingkat propinsi (Gubernur) maupun bupati/walikota, hal ini yang perlu untuk

dimasyaraktkan atau disosialisasikan oleh pemerintah daerah karena peran serta pemerintah daerah sangat menentukan untuk sukses tidaknya program JAMSOSTEK di daerah , peran dalam mensukseskan program pemerintah ini tidak hanya PT. Jamsostek (Persero) saja, namun campur tangan pemerintah daerah sangat menentukan, mayoritas pertumbuhan ekonomi bila dipadukan dengan seluruh daerah dapat mensukseskan program pemerintahahn pusat atau dapat dikatakan bahwa suksesnya program pemerintah tida terlepas juga peran serta pemerintah daerah. program JAMSOSTEK adalah program negara, suksesnya program JAMSOSTEK dan berhasil dinikmati oleh rakyat, maka pemerintah atau negara dapat dikatan sukses dalam memenuhi kebutuhan hidup rakyatnya. Kontribusi program JAMSOSTEK dalam pembangunan ekonomi didaerah dapat salah satunya adalah berupa dana program Jasa Kontruksi penempatannya ditempatkan kepada bank pemerintah seperti di sumatera utara ditempatkan pada bank pembangunan daerah, kegunaan dana tersebut diperuntukan kepada kepentingan daerah setempat jika pemerintah daerah melakukan kegiatan kerja yang menyangkut kepentingan pembangunan baik yang

56

bersifat teknis maupun non teknis, sepanjang untuk kepentingan negara di daerah dana tersebut dapat digunakan. Dukungan dari program JAMSOSTEK Terhadap program pemerintah Provinsi Sumatera Utara tertuang dalam Surat Keputusan/Instruksi Gubernur Suamtera Utara yaitu: 1. Nomor 560/1046.K/Tahun 2004 2. Nomor 560/293.K/Tahun 2005 3. Nomor 560/1840.K/Tahun 2005

3. Mengentaskan Kemiskinan. Jika melihat historical lahirnya UU Nomor 3 Tahun 1992 tentang Program Jaminan Sosial Tenaga Kerja berawal dari konsep asas gotong royong, dan diyakini sangat kuat sebagai alat pemersatu masyarakat indonesia, dan ini menjadi sprit atau semangat dasar berkembangnya sistem jaminan sosial. Perasuransian di Indonesia Supomo (Bumiputera 1912). Program JAMSOSTEK tidak hanya diperuntukan kepada pekerja sektor formal saja, akan tetapi juga sudah merambah kepada tenaga kerja pada sektor informal, fungsi program JAMSOSTEK mengentaskan kemiskinan agar masyarkat dalam menjalani kehidupannya tidak selalu ketergantungan kepada keluarga atau famili, tapi tenaga kerja tersebut harus bisa menjadi tenaga kerja yang mempunyai harga diri, artinya tenaga kerja yang bisa dan mampu membiayai hidup serta mampu mengatasi resiko pada saat mengalami sakit maupun pada saat usia akan menjalani masa pensiun, pemerintah telah mencanangkan dan mendukung bahwa seperti dalam dikutip dari Sejarah

57

Undang Undang Dasar tahun 1945 menjelaskan tentang kesejahteraan Pasal 33 ayat 1 yang menyatukan program perekonomian dengan kesejahteraan, dimana pemerintah telah menetapkan antara program perekonomian sejajar dengan kesejahteraan, salah satu dalam sistem yang termuat dalam program sistem jaminan sosial

memperdayakan masyarakat yang lemah dan tidak mampu sesuai martabat kemanusiaan. Dengan demikian mestinya program jaminan sosial menempatkan tempat yang tinggi dalam mewujudkan cita-cita berbangsa dan bernegara, yaitu mewujudkan kesejahteraan umum yang berkeadilan sosial, mengapa pertumbuhan sangat lamban? Peran serta dari segenap elemen anak bangsa harus menyadari bahwa upaya mengentaskan kemiskinan bukan hanya dirumuskan dalam sebuah undang-undang saja atau dijilid rapi dalam kemasan sebuah buku tapi harus secara serempak dan bersinergi untuk melaksanakannya, sehingga apa yang dicita-citakan oleh pendahulu bisa terwujud dan bagi penerus bangsa bisa merasakan manfaat sehingga dalam kehidupan tercipta sebuah wadah yang dapat menanggulangi kemiskinan, sebagai badan penyelenggara program JAMSOSTEK dapat berkaca dan melihat sudah seberapa banyak tenaga kerja yang sudah menikmati program JAMSOSTEK, tapi evaluasi juga bagaimana para tenaga kerja disuatu daerah belum menikmati dan mandapatkan manfaat program JAMSOSTEK, perlu dilaporkan kepada pemerintah daerah agar pemerintah daerah dapat melakukan evaluasi lagi atas program kerja yang telah ditetapkan dengan tujuan agar penyebaran program JAMSOSTEK dapat dinikmati secara merata kepada para tenaga kerja yang sudah bekerja dan mengapdi kepada perusahaan.

58

Penuh harapan agar kemiskinan yang ada pada setiap daerah semakin hari semakin terkikis dan habis, sehingga tingkat kejahatan pun semakin berkurang, maka dengan sendirinya akan tercipta kenyamanan, dengan kemakmuran seperti ini pelanggaran tarhadap hak azasi semakin dirasakan tidak ada lagi, program JAMSOSTEK adalah merupakan regulasi yang bertujuan untuk menuju kepada

kemakmuran bangsa dan negara, peran dan fungsi JAMSOSTEK dalam mendorong pemerintah daerah diminta lebih inten dan jangan selelu menunda-nunda, serta juga dalam setiap tahun penyusunan anggaran dalam pembuatan program kerja dititik beratkan kepada program bukan hanya penanggulangan kemiskinan tapi lebih kepada program yang menjanjikan perbaikan ekonomi mikro dan makro, serta kebijakankebijakan yang sudah tidak relepan lagi agar dibahas bersama dengan pemerintah daerah. Program JAMSOSTEK berupa bantuan pemberian uang muka perumahan kepada tenaga kerja seudah berjalan, adapun tujuannya kepada pemenuhan tempat tinggal, hanya saja masih banyak perusahaan yang mempekerjakan tenaga kerja bukan sebagai karyawan tetap tapi sebagai tenaga outsourcing yang mempunyai jangka waktu kerja, kenapa hal ini masih tetap diberlakukan, ini adalah salah satu cara pengusaha menghindar dalam memberikan fasilitas kepada tenaga kerja, tempat tinggal bagi tenaga kerja sangatla perlu karena tempat berkumpul dengan keluarga, jika tenaga kerja telah memiliki tempat tinggal yang berasal bantuannya dari perusahaan, pasti tenaga kerja tersebut lebih nyaman dalam bekerja dan pasti akan memberikan kontribusi yang berlebih kepada perusahaan, karena perusahaan telah memberikan perhatian penuh. Perusahaan tempat tenaga bekerja berarti telah

59

memamtuhi dan menjalankan program pemerintah dalam mengentaskan kemiskinan, PT. Jamsostek (Persero) sebagai badan penyelenggara jaminan sosial wajib memiliki target dalam mendukung dan mensejahterakan tenaga kerja beserta keluarganya. Dalam mensukseskan program pemerintah ini kepada tripartit sudah seharusnya bergandeng tangan demi mencapai kesuksesan masyarakat adil dan makmur.

E. Peran Program JAMSOSTEK Terhadap Perlindungan Tenaga Kerja di Kota Medan 1. Program JAMSOSTEK Sebagai Perlindungan Tenaga Kerja Perlindungan tenaga kerja dalam penelitian ini adalah sebagai santunan dan pelayanan kesehatan. Santunan dapat berupa uang sedangkan pelayanan kesehatan adalah satu bentuk jasa.

a. Pengertian Perlindungan Hukum Ketenagakerjaan Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) yang dimaksud dengan perlindungan adalah cara, proses, perbuatan melindungi. 102 Secara umum dapat dijelaskan bahwa pengertian perlindungan hukum adalah tindakan melindungi atau memberikan pertolongan dalam bidang hukum. Menurut Philipus M. Hadjon, perlindungan hukum adalah : “Selalu berkaitan dengan kekuasaan. Ada dua kekuasaan yang selalu menjadi perhatian, yakni kekuasaan pemerintah, permasalahan perlindungan hukum
102

“Lindung”, http://pusatbahasa.diknas.go.id/kbbi/., diakses pada 05 Agustus 2010.

60

bagi rakyat (yang diperintah), terhadap pemerintah (yang memerintah). Dalam hubungan dengan kekuasaan ekonomi, permasalahan perlindungan hukum adalah perlindungan bagi si lemah (ekonomi) terhadap si kuat (ekonomi), misalnya perlindungan bagi pekerja terhadap pengusaha”.103 Untuk menjamin hak-hak tenaga kerja, maka perlu dilakukan upaya pelaksanaan perlindungan hukum terhadap tenaga kerja tanpa terkecuali.

Perlindungan hukum terhadap tenaga kerja dituangkan dalam Pasal 28 D ayat (2) UUD 1945, yang berbunyi : “setiap orang berhak untuk bekerja serta mendapatkan imbalan dan perlakuan yang adil dan layak dalam hubungan kerja”. Perlindungan hukum bagi buruh sangat diperlukan mengingat kedudukannya yang lemah, disebutkan Zainal Asikin, yaitu : “Perlindungan hukum dari kekuasaan majikan terlaksana apabila peraturan perundang-undangan dalam bidang perburuhan yang mengharuskan atau memaksa majikan bertindak seprti dalam perundang-undangan tersebut benarbenar dilaksanakan semua pihak karena keberlakuan hukum tidak dapat diukur secara yuridis saja, tetapi diukur secara sosiologis dan filosofis”. 104 Berdasarkan uraian mengenai hakikat hukum ketenagakerjaan di atas maka menjadi dasar dalam pemberian perlindungan hukum bagi pekerja. Pemberian perlindungan hukum bagi pekerja menurut Iman Soepomo meliputi lima bidang hukum perburuhan, yaitu105 : 1. Bidang pengerahan/penempatan tenaga kerja;

Philipus M. Hadjon, Perlindungan Hukum dalam Negara Hukum Pancasila, Makalah disampaikan pada Simposium tentang Politik. Hak Azasi dan Pembangunan Hukum dalam Rangka Dies Natalis XL/Lustrum VIII, Universitas Airlangga, 3 November 1994, dikutip Asri Wijayanti, Op.cit., hal. 10. 104 Zainal Asikin, et.al., Op.cit., hal. 5, dikutip Ibid. 105 Iman Soepomo, Pengantar Hukum Perburuhan, (Jakarta : Djambatan, 1985), hal. IX, dikutip Ibid., hal. 11.

103

61

Bidang pengerahan/penempatan tenaga kerja, adalah perlindungan hukum yang dibutuhkan oleh pekerja sebelum menjalani hubungan kerja. Masa ini sering disebut dengan masa pra-penempatan atau pengerahan. 2. Bidang hubungan kerja; Bidang hubungan kerja, yaitu masa yang dibutuhkan oleh pekerja sejak mengadakan hubungan kerja dengan pengusaha. Hubungan kerja itu didahului dengan perjanjian kerja. Perjanjian kerja dapat dilakukan dalam batas waktu tertentu atau tanpa batas waktu yang disebut dengan pekerja tetap. 3. Bidang kesehatan kerja; Bidang kesehatan kerja, adalah selama menjalani hubungan kerja yang merupakan hubungan hukum, pekerja harus mendapat jaminan atas kesehatannya. Apakah lingkungan kerjanya dapat menjamin kesehatan tubuhnya dalam jangka waktu yang relatif lama. 4. Bidang keamanan kerja; Bidang keamanan kerja, adalah adanya perlindungan hukum bagi pekerja atas alat-alat kerja yang dipergunakan oleh pekerja. Dalam waktu relatif singkat atau lama akan aman dan ada jaminan keselamatan bagi pekerja. Dalam hal ini, negara mewajibkan kepada pengusaha untuk menyediakan alat keamanan kerja bagi pekerja. 5. Bidang jaminan sosial buruh. Bidang jaminan sosial buruh, telah diundangkan Undang-Undang No. 3 Tahun 1992 tentang Jaminan Sosial Tenaga Kerja. Pada tahun 1992, besarnya kompensasi dan batas maksimal yang diakui oleh PT. Jamsostek (Persero) dapat dikatakan cukup. Untuk saat ini kompensasi ataupun batas maksimal upah yang

62

diakui untuk pembayaran premi JAMSOSTEK sudah saatnya dilakukan revisi penyesuaian. Dalam hal ini setiap perusahaan yang mempekerjakan tenaga kerja harus memberikan perlindungan hukum kepada tenaga kerja sesuai dengan jenis pekerjaannya. Meskipun hanya seorang pelayan akan tetapi juga tetap harus diperhatikan. Mengingat peranan tenaga kerja sangat penting demi kelancaran perusahaan. Tenaga kerja harus memperoleh hak-hak mereka secara penuh, begitu juga sebaliknya tenaga kerja harus memenuhi kewajibannya dengan baik pula. Sehingga, akan tercipta hubungan kerja yang dinamis antara perusahaan dengan pihak tenaga kerja. Jadi, perlindungan hukum tidak hanya semata-mata memberikan perlindungan melainkan juga kepastian hukum.

b. Tujuan Perlindungan Hukum Tenaga Kerja Tujuan perlindungan hukum sebagaimana tercantum dalam Pasal 4 UndangUndang No. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan adalah memberikan perlindungan kepada tenaga kerja dalam mewujudkan kesejahteraan dan

meningkatkan kesejahteraan tenaga kerja dan keluarganya. Hal ini berkaitan dengan kepastian hukum, yaitu memastikan bahwa setiap tenaga kerja/buruh mendapatkan perlindungan hukum berupa santunan dan bantuan. Mengingat pentingnya peran tenaga kerja atau pekerja dalam sebuah perusahaan, maka tujuan perlindungan hukum terhadap tenaga kerja harus dilaksanakan sebagaimana mestinya. Tanpa harus membedakan satu dengan yang lain

63

karena pada prinsipnya tenaga kerja berhak memperoleh perlindungan. Selain itu, dengan mengingat tenaga kerja memiliki resiko yang sangat besar dan sifat pekerjaannya menuntut kehati-hatian dan ketelitian yang tinggi. Dengan begitu jika ada keseimbangan antara hak dan kewajiban maka hubungan kerja dapat berjalan dengan lancar. Pada dasarnya dalam hubungan antara tenaga kerja dan pengusaha, secara yuridis pekerja dipandang sebagai orang yang bebas karena prinsip negara kita tidak seorangpun boleh diperbudak. Secara sosiologis, pekerja itu tidak bebas sebagai orang yang terpaksa untuk menerima hubungan kerja dengan pengusaha meskipun memberatkan bagi pekerja itu sendiri, lebih-lebih saat sekarang ini dengan banyaknya jumlah tenaga kerja yang tidak sebanding dengan lapangan kerja yang tersedia. Akibatnya tenaga kerja sering kali diperas oleh pengusaha dengan upah yang relatif kecil dan tidak ada jaminan yang diberikan. Selain itu, tenaga kerja memiliki resiko yang sangat besar dan sifat pekerjaannya menuntut kehati-hatian dan ketelitian yang tinggi maka perusahaan harus memberikan kepastian hukum kepada tenaga kerja. Dengan adanya kejelasan tujuan perlindungan hukum terhadap tenaga kerja dapat memberikan kepastian hukum yang jelas dalam pelaksanaannya sehingga tenaga kerja tidak dirugikan.

c. Bentuk Perlindungan Hukum Tenaga Kerja Bentuk perlindungan hukum terhadap tenaga kerja diatur dalam UndangUndang No. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan, antara lain :

64

Waktu Kerja Waktu kerja diatur dalam Pasal 77 Undang-Undang No. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan. Oleh sebab itu, setiap pengusaha wajib melaksanakan ketentuan waktu kerja berupa cuti dan istirahat kepada pekerja, dengan cara : 1). Istirahat antara jam kerja, sekurang-kurangnya setengah jam setelah bekerja selama 4 (empat) jam terus menerus dan waktu istirahat tidak termasuk jam kerja; 2). Istirahat mingguan 1 (satu) hari untuk 6 (enam) hari kerja dalam 1 (satu) minggu atau 2 (dua) hari untuk 5 (lima) hari kerja dalam 1 (satu) minggu; 3). Cuti tahunan, sekurang-kurangnya 12 (dua belas) hari kerja setelah pekerja yang bersangkutan bekerja selama 12 (dua belas) bulan secara terus-menerus; dan 4). Istirahat panjang sekurang-kurangnya 2 (dua) bulan, dan dilaksanakan pada tahun ketujuh dari kedelapan masing-masing 1 (satu) bulan bagi pekerja yang telah bekerja selama 6 (enam) tahun secara terus-menerus pada perusahaan yang sama dengan ketentuan pekerja tersebut tidak berhak lagi atas istirahat tahunannya dalam 2 (dua) tahun berjalan dan selanjutnya berlaku untuk setiap kelipatan masa kerja 6 (enam) tahun. Kesehatan Kerja Dengan memperhatikan keadaan hukum kerja di zaman pra-kemerdekaan, tentunya dapat diperkirakan bagaimana riwayat kesehatan kerja saat ini. Perbudakan, perhambaan, rodi, dan poenale sanctie yang mewarnai hubungan kerja di zaman itu

65

menunjukkan pula kurangnya perhatian pemerintah Hindia Belanda dengan kesehatan kerja. Para budak, para hamba, pekerja rodi, dan pekerja poenale sanctie bekerja secara tidak teratur, serampangan, tanpa mengindahkan norma-norma dan syaratsyarat kerja yang baik. Hal yang dicari pada waktu itu adalah pengeksploitasian tenaga kerja secara penuh demi kepentingan pihak penjajah, sedangkan kepentingan tenaga kerja tidak diperhatikan sama sekali. Tenaga mereka betul-betul diperas. 106 Baru kemudian setelah Raffles mendengung-dengungkan suara anti

perbudakan, perhambaan, rodi, dan poenale sanctie, Pemerintah Hindia Belanda mulai memperhatikan nasib tenaga kerja. Tercatat dalam sejarah hukum ketenagakerjaan, akhirnya perbudakan dinyatakan berakhir secara riil pada tanggal 31 Desember 1921, rodi berakhir tanggal 1 Februari 1938, dan poenale sanctie tanggal 1 Januari 1942. Dengan berakhirnya perbudakan, perhambaan, rodi, dan poenale sanctie, maka dapatlah dikatakan kesehatan kerja di Indonesia dimulai pada dasawarsa ketiga abad XX.107 Kesehatan kerja pertama kali diatur dalam 108 : a. Maatregelen ter Beperking van de Kindearrbied ed de Nachtarbeid van de Vroewen, yang biasanya disingkat Maatregelen, yaitu peraturan tentang pembatasan pekerjaan anak dan wanita pada malam hari, yang dikeluarkan dengan Ordonantie No. 647 Tahun 1925, mulai berlaku tanggal 1 Maret 1926; dan

106 107

Zaeni Asyhadie, Op.cit., hal. 88. Ibid., hal. 89. 108 Ibid.

66

b. Bepalingen Betreffende de Arbeit van Kinderen en Jeugdige Persoonen ann Boord van Scepen, biasanya disingkat Bepalingen Betreffende, yaitu peraturan tentang pekerja anak dan orang muda di kapal, yang diberlakukan dengan Ordonantie No. 87 Tahun 1926, mulai berlaku tanggal 1 Mei 1926. Kedua peraturan di atas sebagaimana namanya membatasi pekerjaan anak dan wanita, dan mengatur tentang pekerjaan anak dan orang muda di kapal, yang merupakan pengaturan tindak lanjut dari beberapa konvensi ILO yang telah diratifikasi oleh Pemerintah Hindia Belanda. Konvensi-konvensi itu adalah : a. Konvensi No. 4 tentang pekerjaan wanita pada malam hari, diratifikasi dengan Stb. No. 461 Tahun 1923; b. Konvensi No. 5 tentang usia terendah bagi anak untuk dapat bekerja di perusahaan perindustrian, diratifikasi dengan Stb. No. 515 Tahun 1928; c. Konvensi No. 7 tentang usia terendah bagi anak untuk dapat bekerja di kapal, diratifikasi dengan Stb. No. 76 Tahun 1932; dan d. Konvensi No. 15 tentang usia terendah bagi orang muda untuk dapat bekerja sebagai tukang api dan tukang batu bara, diratifikasi dengan Stb. No. 409 Tahun 1931. Selain ”Maatreegelen” dan ”Bepalingen Betreffende” di atas, peraturanperaturan lain yang dapat dikualifikasi sebagai peraturan kesehatan kerja, yang dikeluarkan oleh Pemerintah Hindia Belanda, sebagai berikut 109 :

109

Ibid., hal. 90.

67

a. Mijn politie reglement, Stb. No. 341 Tahun 1931 (peraturan tentang pengawasan di tambang); b. Voorschriften omtrent de dienst en rushtijden van bestuur der van motorrijtuigen (peraturan tentang waktu kerja dan waktu mengaso bagi pengemudi kendaraan bermotor), diumumkan dalam Bijblad 14136; c. Riauw Panglongregeling (peraturan tentang panglong di Riau); d. Panglongkeur Soematra Oostkust (peraturan tentang panglong di Sumatera Timur); e. Aanvullende Plantersregeling (peraturan perburuhan di perusahaan

perkebunan); dan f. Arbeidsregeling nijverheidsbedrijvn (peraturan perburuhan di perusahaan industri). Kesehatan kerja sebagaimana diatur dalam peraturan-peraturan di atas sifatnya tidak menyeluruh, artinya hanya berlaku di beberapa tempat dan golongan, yang akhirnya menimbulkan pluralisme hukum.110 Setelah Indonesia merdeka, yang pertama menjadi perhatian pemerintah, khususnya dalam bidang ketenagakerjaan adalah masalah kesehatan kerja ini. Oleh karena itu, sewaktu negara kita berbentuk negara serikat, Republik Indonesia yang beribukota di Yogjakarta pada tanggal 20 April 1948 mengundangkan UndangUndang No. 12 Tahun 1948 tentang Kerja. Setelah kembali ke bentuk negara kesatuan Undang-Undang No. 12 Tahun 1948 diberlakukan ke seluruh wilayah

110

Ibid.

68

Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dengan Undang-Undang No. 2 Tahun 1951 tanggal 1 Januari 1951. 111 Undang-undang kerja di atas, sebagaimana dikemukakan dalam penjelasan umumnya dimaksudkan sebagai undang-undang pokok yang memuat aturan-aturan dasar tentang112 : a. Pekerjaan anak; Undang-Undang No. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan mengatur tentang norma kerja mulai Pasal 68, yang mana pasal ini melarang keras pengusaha mempekerjakan anak. Anak dianggap bekerja apabila berada di tempat kerja, kecuali dapat dibuktikan sebaliknya. 113 Kalau diperhatikan, ketentuan dan dasar dikeluarkannya Pasal 68 UndangUndang No. 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan dapat dimengerti, lebih-lebih kalau dikaitkan dengan ketentuan wajib belajar yang telah dicanangkan pemerintah. Ketentuan wajib belajar pertama kali dikeluarkan tahun 1950 berdasarkan UndangUndang No. 4 yang menetapkan bahwa semua anak yang sudah berusia enam tahun berhak dan yang sudah berusia delapan tahun wajib belajar sedikit-sedikitnya 6 (enam) tahun lamanya.114 Dengan demikian, anak-anak yang berusia 14 (empat belas) tahun ke bawah seharusnya sedang giat-giatnya belajar, bukan bekerja. Tugas para orang tua untuk

111 112

Ibid., hal. 91. Ibid. 113 Ibid., hal. 92. 114 Ibid.

69

bekerja mencarikan biaya hidup demi kelancaran pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraan anak-anak. 115 Namun kenyataannya, sampai sekarang banyak anak-anak yang terpaksa ikut serta membanting tulang, bekerja untuk membantu orang tuanya meskipun hanya sekedar sebagai “peladen” pada tukang bangunan atau pelayan toko, dan lain-lain. Mereka terpaksa meninggalkan bangku sekolahnya, demi meringankan beban ekonomi yang menghimpit keluarga karena tidak bisa ditanggung oleh orang tua mereka sendiri. Kenyataan ini menunjukkan bahwa perekonomian negara kita memang belum memungkinkan untuk membebaskan anak dari pekerjaan. Oleh karena itu, Undang-Undang No. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan lebih lanjut mengatur tentang pekerjaan anak ini sebagai berikut116 : a. Bagi anak yang berumur antara 13 sampai dengan 15 tahun diperbolehkan untuk melakukan pekerjaan ringan sepanjang tidak mengganggu

perkembangan dan kesehatan fisik, mental, dan sosial. Pengusaha yang mempekerjakan anak pada pekerjaan ringan dimaksud harus memenuhi persyaratan, sebagai berikut : 1). Izin tertulis dari orang tua atau wali; 2). Perjanjian kerja antara pengusaha dengan orang tua atau wali; 3). Waktu kerja maksimum tiga jam sehari; 4). Dilakukan pada siang hari dan tidak mengganggu waktu sekolah; 5). Keselamatan dan kesehatan kerja;

115 116

Ibid. Ibid., hal. 93.

70

6). Adanya hubungan kerja yang jelas; dan 7). Menerima upah sesuai dengan ketentuan yang berlaku (Pasal 69 ayat (2) Undang-Undang No. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan). b. Anak dapat melakukan pekerjaan di tempat kerja yang merupakan bagian dari kurikulum pendidikan atau pelatihan yang disahkan oleh pejabat yang berwenang. Pekerjaan tersebut dapat dilakukan dengan syarat, sebagai berikut : 1). Diberi petunjuk yang jelas tentang cara pelaksanaan pekerjaan serta bimbingan dan pengawasan dalam melaksanakan pekerjaan; dan 2). Diberi perlindungan keselamatan dan kesehatan kerja. c. Anak dapat juga melakukan pekerjaan untuk mengembangkan bakat dan minatnya. Hal ini dimaksudkan untuk melindungi anak agar pengembangan bakat dan minat anak yang pada umumnya muncul pada usianya tersebut tidak terhambat. Untuk itu, pengusaha yang mempekerjakan anak dalam pekerjaan yang berkaitan dengan perkembangan minat dan bakat ini, diwajibkan untuk memenuhi persyaratan, sebagai berikut : 1). Di bawah pengawasan langsung dari orang tua atau wali; 2). Waktu kerja paling lama tiga jam sehari; dan 3). Kondisi dan lingkungan kerja tidak mengganggu perkembangan fisik, mental, sosial, dan waktu sekolah. Selanjutnya, berkaitan dengan larangan untuk mempekerjakan anak, UndangUndang No. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan lebih menekankan lagi, “siapapun dilarang mempekerjakan dan melibatkan anak pada pekerjaan-pekerjaan

71

terburuk” (Pasal 74 ayat (1) Undang-Undang No. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan). Pekerjaan-pekerjaan terburuk yang dimaksud adalah117 : a. Segala pekerjaan dalam bentuk perbudakan dan sejenisnya; b. Segala pekerjaan yang memanfaatkan, menyediakan, atau menawarkan anak untuk pelacuran, produksi pornografi, pertunjukan porno, atau perjudian; c. Segala pekerjaan yang memanfaatkan, menyediakan, atau melibatkan anak untuk produksi dan perdagangan minuman keras, narkotika, psikotropika, dan zat adiktif lainnya; dan/ atau d. Semua pekerjaan yang membahayakan kesehatan, keselamatan, atau moral anak. Hal tersebut di atas juga dapat dilihat dalam Undang-Undang No. 1 Tahun 2000 tentang Pengesahan Konvensi ILO No. 182 mengenai Pelarangan dan Tindakan Segera Penghapusan Bentuk-Bentuk Pekerjaan untuk Anak.118 Di samping itu, Undang-Undang No. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan, hal yang berkaitan dengan pekerjaan anak ini dalam Pasal 75, mengatakan bahwa : ”Pemerintah berkewajiban melakukan upaya penanggulangan anak yang bekerja di luar hubungan kerja. Anak yang bekerja di luar hubungan kerja misalnya anak penyemir sepatu atau anak penjual koran dan sebagainya”. Penanggulangan ini dimaksudkan untuk menghapuskan atau mengurangi anak yang bekerja di luar hubungan kerja tersebut. Upaya itu harus dilakukan secara terencana, terpadu, dan terkoordinasi dengan instansi terkait. 119 b. Pekerjaan orang muda;
117 118

Ibid., hal. 94-95. Ibid., hal. 95. 119 Ibid.

72

c. Pekerjaan wanita; Mempekerjakan perempuan di perusahaan tidaklah semudah yang

dibayangkan. Masih ada beberapa hal yang harus diperhatikan, mengingat hal-hal sebagai berikut120 : a. Para wanita umumnya bertenaga lemah, halus tetapi tekun; b. Norma-norma susila harus diutamakan agar tenaga kerja wanita tidak terpengaruh oleh perbuatan negatif dari tenaga kerja lawan jenisnya, terutama kalau dipekerjakan pada malam hari; c. Para tenaga kerja wanita itu umumnya mengerjakan pekerjaan-pekerjaan halus yang sesuai dengan kehalusan sifat dan tenaganya; d. Para tenaga kerja itu ada yang masih gadis, ada pula yang sudah bersuami atau berkeluarga yang dengan sendirinya mempunyai beban-beban rumah tangga yang harus dilaksanakan pula. Apa yang dikemukakan oleh Gunawi Kartasapoetra di atas memang ada benarnya. Seluas-luasnya emansipasi yang dituntut oleh kaum perempuan (agar dia mempunyai kedudukan yang sama dengan pria), namun secara kodrati dia tetap seorang perempuan yang mempunyai kelemahan-kelemahan yang harus dipikirkan. Iman Soepomo mengatakan bahwa : “memang ada kalanya badan wanita itu lemah, yaitu pada saat harus memenuhi kewajiban alam, misalnya pada saat

melahirkan/gugur kandungan, dan bagi beberapa wanita juga pada waktu haid”.121

Gunawi Kartasapoetra, et.al., Hukum Perburuhan Pancasila Bidang Pelaksanaan Hubungan Kerja, (Bandung : Armico, 1982), hal. 43, dikutip Zaeni Asyhadie, Op.cit., hal. 95. 121 Ibid., hal. 96.

120

73

Semuanya itu harus menjadi pertimbangan dalam menentukan norma kerja bagi perempuan. Untuk itu maka Undang-Undang No. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan, dimulai pada Pasal 76 menentukan norma kerja perempuan, sebagai berikut 122 : a. Pekerja/buruh perempuan yang berumur kurang dari 18 (delapan belas) tahun dilarang dipekerjakan antara pukul 23.00 sampai dengan 07.00. Ini bahwa pengusaha yang harus bertanggung jawab atas ketentuan dilarang

mempekerjakan perempuan yang berumur kurang dari 18 (delapan belas) tahun, dilarang dipekerjakan antara pukul 23.00 sampai dengan 07.00 tersebut; b. Pengusaha dilarang mempekerjakan pekerja/buruh perempuan yang hamil menurut keterangan dokter berbahaya bagi kesehatan dan keselamatan kandungannya maupun dirinya apabila bekerja antara pukul 23.00 sampai dengan 07.00; c. Pengusaha yang mempekerjakan pekerja/buruh perempuan antara pukul 23.00 sampai dengan 07.00, wajib : 1). Memberikan makanan dan minuman bergizi; dan 2). Menjaga kesusilaan dan keamanan selama di tempat kerja. d. Pengusaha wajib menyediakan angkutan antar jemput bagi pekerja/buruh perempuan yang berangkat dan bekerja antara pukul 23.00 sampai dengan 05.00. d. Waktu kerja, istirahat, dan mengaso; dan
122

Ibid.

74

Penggunaan istilah “waktu kerja”, “mengaso”, dan “waktu istirahat” adalah untuk mempermudah pengertian. Berikut pengertian ketiga istilah tersebut123 : Waktu kerja adalah waktu efektif dimana pekerja/buruh hanya melaksanakan pekerjaannya; Waktu mengaso adalah waktu antara, yaitu waktu istirahat bagi pekerja/buruh setelah melakukan pekerjaan empat jam berturut-turut yang tidak termasuk waktu kerja; Waktu istirahat adalah waktu cuti, yaitu waktu dimana pekerja/buruh diperbolehkan untuk tidak masuk bekerja karena alasan-alasan tertentu yang diperbolehkan oleh undang-undang. 1. Waktu Kerja dan Waktu Mengaso Waktu kerja menurut ketentuan Pasal 77 Undang-Undang No. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan, adalah : (1) 7 (tujuh) jam sehari dan 40 (empat puluh) seminggu untuk 6 (enam) hari kerja dalam 1 (satu) minggu; (2) 8 (delapan) jam sehari dan 40 (empat puluh) jam seminggu untuk 5 (lima) hari kerja dalam 1 (satu) minggu. Waktu kerja tersebut di atas harus diselingi waktu mengaso paling sedikit 30 (tiga puluh) menit setelah pekerja/buruh bekerja 4 (empat) jam berturut-turut. Ketentuan waktu kerja yang dimaksudkan di atas tidak berlaku bagi sektor-sektor

123

Ibid., hal. 97.

75

usaha tertentu, seperti pengerjaan pengoboran minyak lepas pantai, sopir angkutan jarak jauh, penerbangan jarak jauh, pekerjaan di kapal laut, atau penebangan hutan.124 Mempekerjakan lebih dari waktu kerja sedapat mungkin harus dihindarkan karena pekerja/buruh harus mempunyai waktu yang cukup untuk istirahat dan memulihkan kebugarannya. Namun, dalam hal-hal tertentu terdapat kebutuhan yang mendesak, yang harus diselesaikan segera dan tidak dapat dihidari sehingga pekerja/buruh harus bekerja melebihi waktu kerja. 125 Dalam hal yang demikian, pengusaha yang mempekerjakan pekerja/buruh melebihi waktu kerja harus memenuhi syarat126 : (1) Ada persetujuan pekerja/buruh yang bersangkutan; (2) Waktu kerja lembur hanya dapat dilakukan paling banyak 3 (tiga) jam dalam 1 (satu) hari dan 14 (empat belas) jam dalam satu minggu; (3) Pengusaha yang mempekerjakan pekerja/buruh untuk kerja lembur wajib membayar upah kerja lembur sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Ketentuan tentang waktu kerja lembur dan upah kerja lembur diatur dalam Keputusan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi No. KEP-102/MEN/VI/2004 Pasal 7 menentukan perusahaan yang mempekerjakan pekerja/buruh selama waktu kerja lembur berkewajiban127 : a. Membayar upah kerja lembur; b. Memberi kesempatan untuk istirahat secukupnya;

124 125

Ibid., hal. 98. Ibid. 126 Ibid., hal. 99. 127 Ibid.

76

c. Memberikan makanan dan minuman sekurang-kurangnya 1.400 kalori apabila kerja lembur dilakukan selama 3 (tiga) jam lebih. Dalam hal upah lembur perhitungan dari besarnya ditentukan, sebagai berikut 128 : a. Perhitungan upah lembur didasarkan pada upah bulanan; b. Cara menghitung upah 1 (satu) jam adalah 1/173 kali upah 1 (satu) bulan; c. Dalam hal upah dibayar secara harian, maka perhitungan besarnya upah 1 (satu) bulan adalah upah 1 (satu) hari dikalikan 25 (dua puluh lima) bagi pekerja/buruh yang bekerja 6 (enam) hari kerja dalam 1 (satu) minggu, atau dikalikan 21 (dua puluh satu) bagi pekerja/buruh yang bekerja 5 (lima) hari kerja dalam 1 (satu) minggu; d. Dalam hal upah dibayar berdasarkan satuan hasil, maka upah 1 (satu) bulan adalah upah rata-rata 12 (dua belas) bulan terakhir; e. Dalam hal pekerja/buruh bekerja kurang dari 12 (dua belas) bulan, maka upah 1 (satu) bulan dihitung berdasarkan upah rata-rata selama bekerja dengan ketentuan tidak boleh lebih rendah dari upah minimum setempat; f. Dalam hal upah terdiri dari upah pokok dan tunjangan tetap maka dasar perhitungan upah pokok dan tunjangan tetap maka dasar perhitungan upah lembur adalah 100% dari upah; g. Dalam hal upah terdiri dari upah pokok dan tunjangan tetap dan tunjangan tidak tetap, maka dasar perhitungan upah lembur adalah 75% dari upah. Cara perhitungan upah lembur sebagai berikut129 :
128

Ibid., hal. 100.

77

a. Apabila kerja lembur dilakukan pada hari kerja : Untuk jam kerja lembur pertama harus dibayar upah sebesar satu setengah kali upah sejam; Untuk setiap jam lembur berikutnya harus dibayar upah sebesar dua kali upah sejam. b. Apabila kerja lembur dilakukan pada hari istirahat mingguan dan/atau hari libur resmi untuk waktu kerja enam hari kerja empat puluh jam seminggu, maka : Perhitungan upah kerja lembur untuk tujuh jam pertama dibayar dua kali upah sejam, dan jam kedelapan dibayar tiga kali upah sejam dan jam lembur kesembilan dan kesepuluh dibayar empat kali upah kerja; Apabila hari libur resmi jatuh pada hari kerja terpendek perhitungan upah lembur lima jam pertama dibayar dua kali upah sejam, jam keenam tiga kali upah sejam, jam keenam tiga kali upah sejam dan jam lembur ketujuh dan kedelapan empat kali upah sejam. c. Apabila kerja lembur dilakukan pada hari istirahat mingguan dan/atau hari libur resmi untuk waktu kerja lima hari kerja empat puluh jam seminggu, maka perhitungan upah kerja lembur untuk delapan jam pertama dibayar dua kali upah sejam, jam kesembilan dibayar tiga kali upah sejam dan jam kesepuluh dan kesebelas empat kali upah sejam. 2. Waktu Istirahat (Cuti)

129

Ibid.

78

Waktu istirahat (cuti) bagi pekerja/buruh ditetapkan hampir sama dengan waktu cuti bagi Pegawai Negeri Sipil. Bahkan, dapat dikatakan lebih banyak karena pekerja/buruh mempunyai cuti panjang dan cuti haid bagi pekerja/buruh perempuan.130 Secara yuridis, waktu cuti bagi pekerja/buruh ada empat macam, yaitu cuti mingguan, cuti tahunan, cuti panjang, serta cuti panjang, serta cuti hamil/bersalin dan haid bagi pekerja/buruh perempuan.131 a. Cuti mingguan Cuti mingguan ditetapkan 1 (satu) hari untuk 6 (enam) hari kerja dalam 1 (satu) minggu, atau 2 (dua) hari untuk 5 (lima) hari kerja dalam 1 (satu) minggu. Cuti mingguan ini sebetulnya tidak tepat untuk dikategorikan sebagai cuti sebab sudah merupakan kewajaran kalau dalam 1 (satu) minggu itu ada 6 (enam) hari kerja seperti pegawai lainnya. Oleh karena itu, istirahat mingguan ini lebih tepat kalau dimasukkan sebagai ”waktu kerja”. Misalnya dengan menetapkan bahwa ”waktu kerja adalah 6 (enam) atau 5 (lima) hari dalam 1 (satu) minggu”. Jadi, dengan sendirinya 1 (satu) atau 2 (dua) hari dalam 1 (satu) minggu itu akan dipergunakan untuk istirahat oleh pekerja/buruh.132 b. Cuti tahunan Pasal 79 ayat (2) huruf c Undang-Undang No. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan menentukan bahwa cuti tahunan, sekurang-kurangnya 12 (dua belas) hari kerja setelah pekerja/buruh yang bersangkutan bekerja selama 12 (dua belas)
130 131

Ibid., hal. 101. Ibid. 132 Ibid., hal. 102.

79

bulan secara terus-menerus. Cuti tahunan ini harus dimohonkan kepada pengusaha, artinya harus dengan persetujuan pengusaha. Meskipun cuti tahunan ini merupakan hak pekerja/buruh, ”ketentuan harus dengan permohonan” dimaksudkan untuk mengkaji apakah pekerjaan pada saat mengajukan permohonan cuti itu sedang menumpuk atau tidak. Jika menumpuk, pengusaha dapat menunda permohonan cuti tahunan pekerja/buruh, atau malah dapat mengganti hak cuti ini dengan uang pengganti kerugian. 133 c. Cuti panjang Cuti panjang sekurang-kurangnya 2 (dua) bulan dan dilaksanakan pada tahun ketujuh dan kedelapan masing-masing 1 (satu) bulan bagi pekerja/buruh yang telah bekerja selama 6 (enam) tahun berturut-turut pada perusahaan yang sama, dengan ketentuan pekerja/buruh tersebut tidak berhak lagi untuk cuti tahunan dalam 2 (dua) tahun berjalan. Selama pekerja/buruh menjalankan cuti panjang, pekerja/buruh diberikan uang kompensasi hak istirahat tahunan kedelapan ½ (setengah) bulan gaji. Bagi perusahaan yang di dalam peraturan perusahaan, perjanjian kerja dan/atau perjanjian kerja bersama mengatur tentang hak cuti tahunan yang lebih baik dari ketentuan ini, perusahaan yang bersangkutan tidak diperkenankan untuk mengubah ketentuannya sesuai dengan ketentuan Undang-Undang No. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan. Di samping cuti panjang, pengusaha juga diwajibkan untuk memberikan kesempatan secukupnya kepada pekerja/buruh untuk melaksanakan ibadah yang diwajibkan oleh agamanya.134

133 134

Ibid. Ibid., hal. 103.

80

d. Cuti haid, hamil/bersalin Bagi pekerja/buruh perempuan yang merasa sakit sewaktu mengalami ”datang bulan” harus memberitahukan kepada pengusaha, dan tidak wajib bekerja untuk hari pertama dan kedua di masa haidnya tersebut. Pekerja/buruh perempuan berhak memperoleh cuti satu setengah bulan sebelum saatnya melahirkan anak dan satu setengah bulan setelah melahirkan anak menurut perhitungan dokter atau bidan. Di samping itu, bagi pekerja buruh perempuan yang mengalami keguguran kandungan berhak untuk cuti yaitu satu setengah bulan sesuai dengan surat keterangan dokter kandungan atau bidan.135 Selama menjalankan cuti tersebut di atas, pekerja/buruh tetap berhak atas upah atau gaji. Di samping ketentuan-ketentuan cuti tersebut di atas, Undang-Undang No. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan dalam Pasal 85 menentukan beberapa hal sebagai berikut : (a) Pekerja/buruh tidak wajib bekerja pada hari-hari libur resmi; (b) Pengusaha dapat mempekerjakan pekerja/buruh untuk bekerja pada hari-hari libur resmi apabila jenis dan sifat pekerjaan tersebut harus dilaksanakan atau dijalankan secara terus-menerus atau pada keadaan lain berdasarkan kesepakatan antara pekerja/buruh dengan pengusaha; (c) Pengusaha yang mempekerjakan pekerja/buruh pada hari libur resmi wajib membayar upah kerja lembur; (d) Ketentuan mengenai jenis dan sifat pekerjaan sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) diatur dengan Keputusan Menteri.
135

Ibid., hal. 104.

81

e. Tempat kerja dan perumahan buruh : untuk semua pekerjaan tidak membedabedakan tempatnya, misalnya di bengkel, pabrik, rumah sakit, perusahaan pertanian, perhubungan, pertambangan, dan lain-lain. Hal tersebut dilakukan karena undang-undang pokok tentu saja UndangUndang No. 12 Tahun 1948 tersebut memerlukan peraturan pelaksanaan yang lebih rinci. Namun, untuk melaksanakan ketentuan undang-undang kerja ini secara sekaligus tentu tidak mungkin, karena bisa menimbulkan ketimpangan-ketimpangan dalam masyarakat (perusahaan), mengingat keadaan perusahaan-perusahaan pada awal kemerdekaan masih sangat memprihatinkan. Oleh karena itu, peraturan pelaksanaan undang-undang tersebut dikeluarkan secara bertahap, yang pada akhirnya sempat dikeluarkan adalah136 : a. Peraturan Pemerintah No. 3 Tahun 1950 yang memerlukan waktu kerja, istirahat, dan mengaso serta mengatur tata cara pengusaha untuk dapat mengadakan penyimpangan dari waktu kerja; dan b. Peraturan Pemerintah No. 21 Tahun 1954 yang mengatur tentang berlakunya ketentuan cuti tahunan bagi pekerja/buruh. Berbeda dengan undang-undang pokok lainnya, undang-undang kerja mempunyai ketentuan bahwa semua ketentuan yang tercantum dalam undang-undang tersebut tidak akan berlaku sebelum dikeluarkan peraturan pelaksanaannya. Oleh karena itu, sampai saat undang-undang kerja dicabut dengan Undang-Undang No. 13 Tahun 2003, tanggal 25 Maret 2003, peraturan pelaksanaan yang baru keluar hanya

136

Ibid.

82

kedua peraturan pemerintah di atas, maka hanya kedua aturan undang-undang kerja itu yang sempat berlaku. 137 Keselamatan Kerja Pengertian keselamatan kerja adalah keselamatan yang bertalian dengan mesin, pesawat alat kerja, bahan, dan proses pengelolaannya, landasan tempat kerja dan lingkungannya, serta cara-cara melakukan pekerjaan. 138 Objek keselamatan kerja adalah segala tempat kerja, baik di darat, di permukaan air, di dalam air, dan di udara. Sedangkan pengertian kesehatan kerja adalah bagian dari ilmu kesehatan yang bertujuan agar tenaga kerja memperoleh keadaan yang sempurna, baik fisik, mental maupun sosial, sehingga memungkinkan dapat bekerja secara optimal. 139 Adapun tujuan upaya keselamatan dan kesehatan kerja bertujuan untuk melindungi keselamatan tenaga kerja guna mewujudkan produktivitas kerja yang optimal, dengan cara pencegahan kecelakaan dan penyakit akibat kerja, pengendalian bahaya di tempat kerja, promosi kesehatan, pengobatan, dan rehabilitasi. Keselamatan dan kesehatan kerja diatur dalam Pasal 86 ayat (1), (2), dan (3) Undang-Undang No. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan, yaitu : 1). Setiap pekerja mempunyai hak untuk memperoleh perlindungan atas : (1). Keselamatan dan kesehatan kerja; (2). Moral dan kesusilaan;

137 138

Ibid. Ibid., hal. 104-106. 139 Ibid., hal. 106-108.

83

(3). Perlakuan yang sesuai dengan harkat dan martabat manusia serta nilai-nilai agama. 2). Untuk melindungi keselamatan pekerja guna mewujudkan produktivitas kerja yang optimal diselenggarakan upaya keselamatan dan kesehatan kerja; 3). Perlindungan sebagaimana yang dimaksud dalam ayat (1) dan (2) dilaksanakan sesuai dengan peraturan tertentu. Jadi, setiap perusahaan wajib menerapkan sistem manajemen dan kesehatan kerja. Apalagi mengingat resiko tenaga kerja sangat berat. Mengenai manajemen kesehatan kerja yang berkaitan dengan waktu kerja harus mendapat persetujuan dari Dinas Tenaga Kerja tingkat Provinsi maupun Kabupaten/Kota. Hal ini dilakukan agar dapat sejalan dengan undang-undang dimaksud, tetapi selalu saja di simpangi oleh pejabat-pejabat/pegawai-pegawai di lingkungan instansi terkait. Seperti pembuatan izin penyimpangan waktu kerja yang membutuhkan tanda tangan dari Kepala Seksi ataupun Kepala Dinas, perusahaan harus menyediakan sejumlah uang untuk diberikan kepada pejabat berwenang terkait agar dikeluarkan izin perusahaan berkaitan dengan penyimpangan waktu kerja. f. Pengupahan Setiap pekerja berhak memperoleh penghasilan yang memenuhi penghidupan yang layak bagi kemanusiaan. Dalam rangka perlindungan pengupahan dan untuk

84

memenuhi penghidupan yang layak tersebut, Pemerintah menetapkan kebijakan atau ketentuan mengenai140 : a. upah minimum baik menurut provinsi dan atau kota/kabupaten, maupun menurut sektor dan atau sub sektor; b. upah kerja lembur; c. upah tidak masuk kerja karena berhalangan; d. upah tidak masuk kerja karena melakukan kegiatan lain; e. upah karena menjalankan hak istirahat kerja; f. bentuk dan cara pembayaran upah termasuk skala upah, pembayaran pesangon dan pemungutan pajak. Setiap pengusaha diminta menyusun struktur dan skala upah dengan memperhatikan golongan jabatan, masa kerja, pendidikan dan kompetensi serta melakukan peninjauan upah secara berkala. 141 Pengusaha wajib membayar upah apabila pekerja tidak masuk kerja karena 142 : a. sakit dalam 4 bulan pertama 100%, 4 bulan kedua 75%, 4 bulan ketiga 50%, hingga dalam 4 bulan keempat 25%; b. menikah (3 hari), menikahkan anak (2 hari), mengkhitankan atau membabtiskan anak (2 hari), isteri melahirkan atau keguguran kandungan (2 hari), anggota keluarga meninggal dunia (2 hari);

Payaman J. Simanjuntak, Undang-Undang yang Baru tentang Ketenagakerjaan, (Jakarta : Kantor Perburuhan Internasional, 2003), hal. 32. 141 Ibid. 142 Ibid.

140

85

c. sedang menjalankan kewajiban negara; d. menjalankan ibadah yang diperintahkan agamanya; e. pekerjaan yang dijanjikan pengusaha tidak tersedia; f. melaksanakan hak istirahat atau cuti; g. melaksanakan tugas serikat pekerja atas persetujuan pengusaha; h. melaksanakan tugas pendidikan dari perusahaan. Dalam hal perusahaan dinyatakan pailit atau dilikuidasi, maka harus didahulukan pembayaran upah dan hak-hak pekerja lainnya. Tuntutan pembayaran upah dan pembayaran lainnya menjadi kadaluarsa setelah melampaui jangka waktu dua tahun sejak timbulnya hak.143 Pengupahan merupakan sebagai salah satu aspek penting dalam perlindungan hukum tenaga kerja atau pekerja. Besarnya upah yang diperoleh didasarkan atas perjanjian kerja atau Upah Minimum Kabupaten/Kota (UMK) yang dikeluarkan oleh Pemerintah Provinsi. Tabel 1 Upah Minimum Kota Medan
Nama Kota Tahun 2006 Tahun 2007 Tahun 2008 Tahun 2009 Tahun 2010

Medan
Sumber :

750.000

820.000

918.000

1.020.000

1.100.000

Pemerintah Kota Medan, Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi.

Pada UMK Medan ditetapkan melalui Keputusan Gubernur Sumatera Utara No. 561/5492/K/2009 tentang Penetapan Upah Minimum Kota Medan Tahun 2010 memerintahkan bahwa perusahaan-perusahaan yang mempekerjakan

karyawan/pekerja/buruh agar memberikan upah sebesar Rp. 1.100.000,- per bulannya.
143

Ibid., hal. 33.

86

Bagi perusahaan yang belum mengeluarkan upah seperti yang disebutkan di atas, maka selanjutnya agar meningkatkan upah yang diberikan kepada pekerja/buruh. Apabila ada perusahaan yang sudah memberikan upah melebihi UMK agar tidak menurunkan upah yang diberikan tersebut. Peraturan ini berlaku sejak 1 Januari 2010. Kenyataannya di dalam masyarakat atau di dunia kerja, masih banyak perusahaan-perusahaan yang membandel tidak menaikkan upah karyawannya. Sebagai contoh dapat dilihat pada perusahaan PT. Lafarge Cement Indonesia yang satpamnya masih menerima Rp. 1.020.000,- seperti upah yang diterima pada tahun sebelumnya. Padahal kenyataannya surat keputusan tersebut sudah berlaku sejak Januari 2010, namun pekerja/buruh tersebut tidak menerima upah sebesar yang ditetapkan oleh Gubernur sampai Agustus 2010. Dalam Undang-Undang No. 3 Tahun 1992 tentang JAMSOSTEK, dinyatakan bahwa penyelenggara perlindungan tenaga kerja swasta adalah PT. Jamsostek (Persero). Setiap perusahaan swasta yang memperkerjakan sekurang-kurangnya 10 orang atau dapat membayarkan upah sekurang-kurangnya Rp 1 juta rupiah per bulan diwajibkan untuk mengikuti sistem jaminan sosial tenaga kerja ini. Namun demikian, belum semua perusahaan dan tenaga kerja yang diwajibkan telah menjadi peserta Jamsostek. Data menunjukan, bahwa sektor informal masih mendominasi komposisi ketenagakerjaan di Indonesia, mencapai sekitar 70,5 juta, atau 75% dari jumlah pekerja mereka belum ter-cover dalam Program JAMSOSTEK.144 Manfaat diselenggarakannya Program JAMSOSTEK bagi tenaga kerja sangat dirasakan terutama bagi tenaga kerja yang berpenghasilan rendah bahkan masih di
144

Yohandarwati, et.al., Op.cit., hal. 9.

87

bawah upah minimum, apabila mereka atau anggota keluarga sakit ada biaya untuk pengobatan tanpa mengurangi jumlah upah yang diterimanya.145 Dilihat dari sisi penerimaan pembayaran iuran Tabel 5 di bawah ini146 : Tabel 2 Jumlah Iuran Pembayaran
NO. PROGRAM JAMSOSTEK JUMLAH (dalam Rupiah)

1. 2. 3. 4.

Jaminan Hari Tua Jaminan Kecelakaan Kerja Jaminan Kematian Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Sub Total
: PT. Jamsostek (Persero) Cabang Medan, data tahun 2009.

111.921.718.691 9.817.578.916 5.897.834.515 21.249.751.179 148.886.883.301

Sumber

Jika dilihat dari jumlah pembayaran klaim di bawah ini yang dibayarkan, maka Tabel 6 adalah sebagai berikut 147 : Tabel 3 Jumlah Program JAMSOSTEK yang Telah Dibayarkan
NO. PROGRAM JAMSOSTEK JUMLAH (dalam Rupiah)

1. 2. 3. 4.

Jaminan Hari Tua Jaminan Kecelakaan Kerja Jaminan Kematian Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Sub Total
: PT. Jamsostek (Persero) Cabang Medan, data tahun 2009.

81.550.178.536 4.695.010.675 5.661.900.000 11.675.014.237 103.582.103.475

Sumber

Apabila dibandingkan dari penerimaan dengan pembayaran maka akan didapat selisih. Selisih inilah yang akan didepositokan, obligasi, reksadana, ataupun diusahakan dalam pasar modal yang hasilnya akan dikembalikan lagi kepada peserta.

“Pelaksanaan Perlindungan Hukum Terhadap Tenaga Kerja Melalui Jaminan Sosial Tenaga Kerja Pada PT. Refi Chemical Industry Yogjakarta”, http://www.skripsitesis.com/07/27/pelaksanaan-perlindungan-hukum-terhadap-tenaga-kerja-melalui-jaminan-sosialtenaga-kerja-pada-pt-refi-chemical-industry-yogyakarta-pdf-doc.htm., diakses pada 04 Agustus 2010. 146 PT. Jamsostek (Persero) Kanwil I, Op.cit., hal. 2. 147 Ibid., hal. 3.

145

88

2. Program JAMSOSTEK Sebagai Mitra Pengusaha Menurut Pasal 1 angka (1) Undang-Undang No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas, yang dimaksud dengan Perseroan Terbatas adalah “badan hukum yang merupakan persekutuan modal, didirikan berdasarkan perjanjian, melakukan kegiatan usaha dengan modal dasar yang seluruhnya terbagi dalam saham dan memenuhi persyaratan dalam undang-undang serta peraturan pelaksanaannya”. Pengertian atau definisi tentang perusahaan dikemukakan oleh para ahli, namun secara ringkas dapat dikatakan bahwa “Perusahaan adalah suatu unit kegiatan produksi yang mengolah sumbersumber ekonomi untuk menyediakan barang dan jasa masyarakat dengan tujuan untuk memperoleh keuntungan dan agar dapat memuaskan kebutuhan masyarakat”.148

Perusahaan bertugas mengolah sumber-sumber ekonomi atau sering juga disebut faktor-faktor produksi. Sumber-sumber ekonomi tersebut dapat

dikelompokkan dalam 4M, yaitu : Manusia (Men); Uang (Money); Material (Materials); dan Metode (Methods).149 Manusia, di sini tidak hanya berperan sebagai tenaga kerja di perusahaan namun juga berperan sebagai konsumen dari produk perusahaan. Pada masa sekarag harus diusahakan agar tenaga kerja ini betul-betul menjadi teman atau pasangan bagi perusahaan untuk mencapai tujuan perusahaan, sebab meskipun sudah banyak digunakan mesin-mesin tetapi faktor manusia tetap berperan di dalamnya. Perusahaan

Murti Sumarni dan John Soepriharto, Pengantar Bisnis : Dasar-Dasar Ekonomi Perusahaan, Edisi Ketiga, (Yogjakarta : Liberty, 1993), hal 5, dikutip Surya Perdana, Op.cit., hal. 10. 149 Ibid., hal 10-11.

148

89

perlu memperhatikan bagaimana cara mengelola tenaga kerja dengan sebaikbaiknya.150 Uang atau modal usaha (money), yaitu sejumlah uang atau barang yang dibeli dengan uang tersebut untuk membuat produk yang lain. Barang modal disini adalah mesin, peralatan pabrik, alat-alat transportasi, dan lain-lain. Untuk itu perusahaan harus mengusahakan bagaimana keuangan perusahaan dapat dikelola dengan cermat.151 Material (materials), ini sangat berpengaruh sekali terhadap kelancaran proses produksi, sebab merupakan faktor pendukung utama dalam proses produksi. Termasuk disini adalah bahan baku, bahan pembantu, tanah atau proses produksi serta bahan lain sebagai penunjang proses produksi. 152 Metode (methods), yaitu merupakan suatu pelaksanaan kerja produktif misalkan pengambilan keputusan, pemberian ide atau inisiatif dari pemikiran yang kesemuanya itu ditujukan agar pengelolaan sumber-sumber ekonomi yang dapat berjalan lancar. Singkatnya, di dalam metode ini adalah pelaksanaan manajemen perusahaan atau pengelolaan perusahaan. Bagaimana agar dengan sumber-sumber ekonomi yang adanya serba terbatas itu dapat diwujudkan barang/jasa yang dapat memuaskan konsumen serta sekaligus dapat memberikan keuntungan bagi perusahaan. Pada masa sekarang ini pemuasan kebutuhan masyarakat (konsumen)

150 151

Ibid., hal 11. Ibid. 152 Ibid.

90

akan dapat tercapai apabila didukung oleh sistem pelayanan yang baik dari pihak perusahaan.153 Di dalam perusahaan, sumber-sumber ekonomi tersebut diproses agar menjadi barang/jasa yang ditujukan untuk memusatkan kebutuhan konsumen sekaligus dapat memberikan keuntungan bagi perusahaan. Untuk mencapai tujuan tersebut, diterapkannya prinsip ekonomi yaitu dengan pengorbanan tertentu diharapkan dapat diperoleh hasil atau keuntungan maksimum.154 Organisasi sosial adalah bersifat umum, baik yang menyangkut masalah sosial, politik, ekonomi, budaya, keagamaan, dan sebagainya. Sedangkan yang dimaksud dengan sistem adalah kesatuan yang menyeluruh dan terorganisasikan, terdiri atas dua atau lebih bagian atau komponen atau sub sistem yang dipisahkan oleh batas yang dapat diidentifikasikan dari supra sistem lingkungan (environmental suprasystem) yang lebih luas. Sebenarnya pengertian sistem meliputi spektrum yang sangat luas baik dalam kebendaan, alam biologi maupun alam kemasyarakatan.155

153 154

Ibid. Ibid., hal. 12. 155 Ibid.

91

BAB III HAMBATAN-HAMBATAN YANG DIHADAPI JAMSOSTEK DALAM MELINDUNGI TENAGA KERJA DI KOTA MEDAN

Meski Program JAMSOSTEK sudah dicanangkan pada tahun 1992, ternyata masih banyak perusahaan dan pekerja/buruh belum terdaftar sebagai peserta JAMSOSTEK sesuai dengan Pasal 29 Undang-Undang No. 3 Tahun 1992 tentang Jaminan Sosial Tenaga Kerja dengan berbagai peraturan pelaksanaannya, menyatakan : “setiap tenaga kerja berhak atas Jaminan Sosial Tenaga Kerja dan wajib dilakukan oleh setiap perusahaan dan bila tidak dilaksanakan akan dikenakan sanksi”.156

A. Hambatan Kelembagaan Untuk pengembangan dan peningkatan peran seperti yang disebutkan pada BAB II di atas maka ada sejumlah tantangan yang harus dihadapi PT. Jamsostek (Persero). Salah satunya adalah masih banyak kendala dalam sistem jaminan sosial di Indonesia. Misalnya, dalam kasus pencanangan Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN). SJSN sebenarnya sangat positif, karena akan dapat dinikmati semua lapisan masyarakat, bukan hanya untuk pekerja/buruh di sektor formal. Pekerja/buruh

Thoga M. Sitorus, “Masih Banyak Pekerja/Buruh Belum Tersentuh Program Jamsostek”, www.sinarIndonesia.com., diakses pada 10 November 2006, dikutip Adrian Sutedi, Op.cit., hal. 204.

156

92

informal, bahkan penganggur sekalipun bisa menikmatinya. Namun, aturan dan administrasi badan yang mengelola program tersebut masih belum jelas. 157 Jika pelaksanaan SJSN berpedoman pada sistem yang diterapkan di beberapa negara lain, seperti Thailand, pemerintah harus menyediakan dana yang besar. Di Thailand, untuk jaminan sosial masyarakat miskin, seperti petani dan pengangguran, iurannya disubsidi oleh pemerintah. Adapun di Indonesia, iuran jaminan sosial untuk Pegawai Negeri Sipil saja tidak disubsidi pemerintah. Hal ini berbeda dengan pegawai swasta, dimana tanggungan perusahaan untuk JAMSOSTEK justru lebih besar.158 Mengenai perlunya perubahan status PT. Jamsostek (Persero) menjadi badan dan bukan persero lagi. Langkah ini dilakukan untuk menghindarkan kewajiban PT. Jamsostek (Persero) sebagai BUMN menyerahkan deviden kepada pemerintah, sehingga dana itu bisa digunakan untuk kesejahteraan kaum pekerja/buruh. Jika Undang-Undang No. 3 Tahun 1992 tentang Jaminan Sosial Tenaga Kerja telah diubah maka jaminan sosial ini akan dikelola oleh Tripartit. 159 Langkah ini cocok dengan praktik yang dilakukan di banyak negara lain. Di negara-negara tersebut, lembaga yang memberi JAMSOSTEK bukanlah terbentuk persero, tetapi berupa badan yang dikelola oleh wakil pekerja/buruh dan pengusaha.160

157 158

Ibid., hal. 213. Ibid. 159 Ibid. 160 Ibid.

93

Pihak PT. Jamsostek (Persero) sebenarnya sudah lama menyadari hal itu dan sudah melakuka beberapa langkah ke arah sana. Misalnya, tidak semua deviden diserahkan ke pemerintah, namun dikembalikan kepada kaum pekerja/buruh, dalam bentuk : kredit pemilikan rumah; bantuan untuk korban PHK; bantuan koperasi karyawan; dan bantuan poliklinik karyawan.161

1. Lemahnya Sistem Pengawasan Sudah saatnya pemerintah tidak lagi bersikap toleransi terhadap pelaksanaan Undang-Undang No. 3 Tahun 1992 tentang Jaminan Sosial Tenaga Kerja. Ini berkaitan dengan tekad pemerintah meningkatkan perlindungan hukum dan kesejahteraan pekerja. Sikap tegas perlu diambil mengingat masih banyaknya perusahaan yang belum ikut serta dalam Program JAMSOSTEK dan bukan hanya dilihat dari bentuk kepesertaannya. Jadi pelaksanaan undang-undang tersebut harus secara utuh.162 Ketentuan dalam Undang-Undang No. 3 Tahun 1992 dan Peraturan Pemerintah No. 14 Tahun 1993 serta peraturan pelaksanaannya merupakan landasan hukum bagi perlindungan pekerja di bidang JKK, JK, JHT, JPK, dan Pelayanan Kesehatan bagi keluarga karyawan dalam satu paket. Pelanggar terhadap ketentuan

Ibid. Gerry Silaban, “Program Jamsostek, Hambatan dan Upaya Mengejar Kepesertaan”, http://library.usu.ac.id/download/fkm/k3-gerry2.pdf., diakses pada 19 Agustus 2010, hal. 3-4.
162

161

94

ini diancam sanksi hukum berupa denda sebesar Rp. 50 juta atau 6 bulan kurungan penjara.163

2. Peranan Pengawas Ketenagakerjaan Belum Optimal Dilihat dari sisi pengawasan Program JAMSOSTEK disini dilakukan oleh Pegawai Pengawas Ketenagakerjaan oleh Departemen Tenaga Kerja di Tingkat Provinsi dan Disnakertrans (Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi) sebagai pengawas pada Tingkat Kabupaten/Kota. Apabila ada temuan di lapangan, Pegawai Pengawas Ketenagakerjaan di Kota Medan wajib melaporkan hal tersebut ke Kepolisian untuk diproses lebih lanjut. Kepolisian disini berfungsi untuk menegur pengusaha agar tidak semena-mena terhadap karyawan/buruh. Dalam hal teguran tersebut tidak digubris, barulah laporan dibuat Berita Acara Pemeriksaan (BAP) oleh Kepolisian untuk diserahkan kepada Kejaksaan agar dituntut pengusaha tersebut. Kejaksaan menuntut dengan memeriksa kembali berkas BAP Kepolisian untuk dinaikkan ke tingkat pengadilan. Penegakan peraturan dan perundang-undangan (law enforcement) merupakan jalan terakhir terhadap pelanggaran Program JAMSOSTEK dan ini pekerjaan yang tidak ringan mengingat jumlah pegawai Pengawas Disnaker yang tersedia saat ini terbatas hanya 1.194 orang, kemudian kemungkinan terjadinya ”main mata” (kolusi) antara oknum pengawas dengan pengusaha dan adanya perusahaan yang dilindungi

163

Ibid.

95

oleh pejabat sehingga kebal hukum. Walaupun demikian, hingga 31 Maret 1995 sebanyak 30.963 perusahaan yang telah diperiksa, 119 diantaranya sudah masuk Berita Acara Pemeriksaan (BAP), sedangkan yang sudah dijatuhi hukuman oleh pengadilan sebanyak 16 perusahaan.164

3.

Dukungan

Pemerintah

Tingkat

Provinsi

dan

Kabupaten/Kota

Tidak Maksimal Sementara Surat Keputusan Gubernur No. 560/293.K/2005 tentang

Koordinasi Fungsional (KF) pelaksanaan Program JAMSOSTEK di Provinsi Sumatera Utara melalui Tim KF yang tugasnya, antara lain : penyelesaian kasuskasus JAMSOSTEK; meningkatkan kepesertaan JAMSOSTEK; pembinaan

kepesertaan JAMSOSTEK; dan penegakan hukum (law enforcement), serta memberikan petunjuk terhadap pembentukan Tim KF di Kabupaten/Kota. Namun Tim KF tersebut belum berjalan maksimal. Terbukti dari masih banyaknya keluhan yang datang dari daerah-daerah (kabupaten/kota) saat diadakannya sosialiasi oleh PT. Jamsostek (Persero) Kantor Wilayah I, tentang Peraturan Menakertrans No. 24 Tahun 2006 di Medan baru-baru ini. Menurut mereka Tim KF di Kabupaten/Kota belum berfungsi dan masih banyak yang belum memiliki data kepesertaan Program JAMSOSTEK. Selain itu, agar Tim KF provinsi lebih pro-aktif dalam melakukan koordinasi. 165

164 165

Ibid. Ibid., hal. 207.

96

4. Hambatan dari Sumber Daya Manusia Apabila kelemahan dari PT. Jamsostek (Persero) Cabang Medan ditinjau dari segi Sumber Daya Manusia-nya maka akan ditemui jumlah Account Officer dengan jumlah perusahaan maupun cakupan wilayah kerja tidak sebanding, sehingga menimbulkan adanya area kosong dan atau perusahaan peserta dan belum peserta yang kurang mendapat pembinaan. 5. Pengaruh Birokrasi Tidak Satu Pintu Pada Saat Pengajuan Klaim Para pekerja/buruh juga sering mengeluhkan besarnya hambatan birokrasi yang dihadapi apabila mereka mengajukan klaim ke PT. Jamsostek (Persero). 166 Hanya Program Jaminan Kesehatan saja yang dianggap relatif bersih dari masalah tersebut. Karena faktor-faktor tersebut, sebagian besar pekerja/buruh yang mengikuti Program JAMSOSTEK menganggap pungutan JAMSOSTEK sebagai suatu pajak, bukanlah suatu jaminan sosial untuk mereka.
167

Karena ketidakpercayaan

pakerja/buruh ini, terdapat kecenderungan bagi pekerja/buruh untuk mengambil pensiun dini, seperti yang terjadi pada saat krisis ekonomi melanda Indonesia mulai tahun 1997. Dalam hal ini, dana JAMSOSTEK ternyata telah menjadi pengganti (substitutes) bagi dana asuransi pengangguran, yang sampai saat ini belum ada di Indonesia. Akibat dari penarikan dana awal ini, jumlah dana yang ada di PT. Jamsostek (Persero) menjadi berkurang, sehingga kemungkinan dapat mempengaruhi

Selma Widhi Hayati & Munir, “Questioning the Social Security System in Post-Suharto Indonesia”. (Asian Labor Updates, Issue 35, June-August, 2000), dikutip Adrian Sutedi, Op.cit., hal. 210. 167 Chad Leechor, Reforming Indonesia’s Pension System, Policy Research Working Paper No. 1677, (Washington DC : The World Bank, Oktober 1996), hal. 36, dikutip Adrian Sutedi, Op.cit..

166

97

kemampuan PT. Jamsostek (Persero) untuk membayar klaim para pensiunan di masa depan.168 Penilaian atas tata kelola Program JAMSOSTEK juga menunjukkan adanya hal-hal yang perlu diperbaiki dalam pengaturan dan pengelolaan program ini. Misalnya, biaya administrasi PT. Jamsostek (Persero), yaitu sebesar 11,7% dari total pungutan PT. Jamsostek (Persero), jauh lebih tinggi daripada biaya administrasi perusahaan jaminan sosial di ASEAN lainnya. Sebagai contoh, di Malaysia hanya 2% dan di Singapura hanya 0,5%. Juga tidak ada laporan keuangan atau laporan kinerja PT. Jamsostek (Persero) yang disediakan untuk dan dapat diakses oleh para peserta Program JAMSOSTEK dan masyarakat umum. 169 Kurangnya transparansi dapat menyebabkan penggunaan dana yang tidak sesuai dengan tujuan program ini sendiri. 170 Hal-hal seperti ini dapat menyebabkan lunturnya kepercayaan masyarakat terhadap PT. Jamsostek (Persero) sebagai penyelenggara JAMSOSTEK di Indonesia. Secara objektif akan sangat sulit untuk menjadikan Program JAMSOSTEK sebagai mekanisme utama bagi sistem perlindungan sosial apabila pengelolaannya masih tetap seperti sekarang. Pertama, jumlah angkatan kerja Indonesia sangat besar, akan sangat sulit bagi perusahaan manapun untuk mencapai dan mengelola jumlah nasabah sebesar itu. Selain itu, kinerja PT. Jamsostek (Persero) dalam mengelola program jaminan sosial masih belum maksimal. Investasi dalam bentuk deposito merupakan hal yang umum pada dana pensiun lainnya di Indonesia, baik yang diadakan oleh
168 169

International Labor Organization, Op.cit., hal. 90, dikutip Adrian Sutedi, Op.cit. Ibid. 170 Ibid.

98

pemerintah maupun sektor swasta memerlukan banyak perbaikan. Oleh karena itu, sistem monopoli dalam pelaksanaan Program JAMSOSTEK seperti yang masih berlaku hingga kini perlu dihapuskan karena sistem ini justru merupakan faktor penghambat bagi pengembangan sistem JAMSOSTEK dan sistem perlindungan sosial yang ingin dikembangkan.171 Kedua, sebagian besar tenaga kerja Indonesia bergerak di sektor informal, yaitu sekitar dua pertiga bagian dari total pekerja/buruh. Walaupun perkembangan perekonomian semakin lama akan semakin memperkecil peranan sektor informal, tetapi hal ini hanya akan tercapai dalam jangka waktu yang sangat panjang. Oleh karena itu, perlu dikembangkan skema-skema baru JAMSOSTEK yang sesuai pekerja/buruh di sektor informal. 172

B. Hambatan Eksternal 1. Rendahnya Pengetahuan Masyarakat Mengenai Program JAMSOSTEK Hal lain yang perlu diwaspadai adalah adanya tudingan dari sejumlah kalangan yang salah kaprah, bahwa PT. Jamsostek (Persero) seolah-

olah ”memonopoli” jaminan sosial untuk pekerja/buruh Indonesia. Sebagai konsekuensinya, mereka mengusulkan agar perusahaan-perusahaan swasta juga diperbolehkan untuk menjalankan program jaminan sosial bagi tenaga kerja Indonesia tersebut. Usulan ini adalah contoh dari semangat liberalisasi yang salah arah.173

171 172

Titik Anas, Op.cit., dikutip Adrian Sutedi, Op.cit., hal. 212. Ibid. 173 Ibid., hal. 214.

99

Jika usulan tersebut dilaksanakan, nasib para pekerja/buruh Indonesia belum tentu menjadi lebih baik, tetapi justru bisa terancam. Misalnya, perusahaan swasta itu bisa untung, tetapi juga bisa bangkrut. Jika kondisi buruk itu terjadi, siapa yang akan menjamin kembalinya uang pekerja/buruh. Tentu, perusahaan swasta tersebut gagal memberikan jaminan sosial bagi pekerja/buruh dan akan cenderung lepas tangan. Akhirnya, persoalannya lagi-lagi akan dilempar ke Pemerintah atau DPR dan menimbulkan keresahan di kalangan pekerja/buruh.174 Sebaliknya, lewat PT. Jamsostek (Persero) atau badan yang akan dibentuk nanti, pemerintah dapat menjamin hak-hak kaum pekerja/buruh tersebut. Jika yang dipersoalkan adalah pelayanan yang kurang baik atau belum optimal, pihak PT. Jamsostek (Persero) tentunya tidak menutup diri dan berbesar hati menerima kritik. PT. Jamsostek (Persero) dapat melakukan pembenahan, serta meningkatkan kinerja dan profesionalisme para petugasnya.175

2. Kesadaran Pengusaha Terhadap Kebutuhan Tenaga Kerja Sementara masih banyak perusahaan belum melaksanakan Program JAMSOSTEK, tenaga kerja yang bekerja di sektor informal/luar hubungan kerja, mulai digarap untuk menjadi peserta Program JAMSOSTEK berdasarkan UndangUndang No. 40 Tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN) dengan peraturan pelaksanaannya, telah keluar Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi No. PER-24/MEN/2006 tentang Pedoman Penyelenggaraan Program

174 175

Ibid. Ibid.

100

Jamsostek bagi Tenaga Kerja yang Melakukan Pekerjaan di Luar Hubungan Kerja, yang jumlahnya sangat besar dan memerlukan perlindungan sosial (social security).176 Sebagaimana disebutkan di atas, bahwa kepesertaan Program JAMSOSTEK bagi pekerja/buruh bersifat wajib dan bahkan merupakan hak, yaitu terdiri atas JKK, JK, JHT, dan JPK. Secara jelas dan terinci pelaksanaannya diatur dalam Peraturan Pemerintah No. 14 Tahun 1993, Keputusan Presiden No. 22 Tahun 1993 tentang Penyakit yang Timbul karena Hubungan Kerja dan Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi No. PER-12/MEN/IV/2007 tentang Petunjuk Teknis Pendaftaran Kepesertaan Pembayaran Iuran, Pembayaran Santunan, dan Pelayanan Jaminan Sosial Tenaga Kerja. Pembayaran iuran JAMSOSTEK wajib dibayar oleh pengusaha dan pekerja/buruh. Iuran yang ditanggung pengusaha adalah iuran JKK, JK, dan JPK, sedangkan iurang JHT ditanggung bersama oleh pengusaha dan pekerja/buruh. Besarnya iuran JKK terdiri atas lima tarif sesuai dengan tingkat resiko kecelakaan dengan persentase dari 0,24% - 1,74% dari upah sebulan; iuran JK sebesar 0,3% dari upah; iuran JPK 3% dari upah bagi pekerja/buruh lajang dan 6% dari upah bagi pekerja/buruh yang berkeluarga (seluruhnya ditanggung oleh pengusaha). Sedang untuk iuran JHT sebesar 5,7% yang ditanggung bersama, yaitu 3,7% oleh pengusaha dan 2% oleh pekerja/buruh.177 Tata cara pembayaran iuran dilakukan oleh pengusaha dengan memungut iuran yang menjadi kewajiban pekerja/buruh melalui pemotongan upah pekerja/buruh

176 177

Ibid., hal. 205. Ibid.

101

kemudian membayarkan kepada Badan Penyelenggaraan Jamsostek dalam waktu yang ditetapkan sesuai dengan ketentuan yang telah diatur. Dalam hal ini, pengusaha wajib memiliki daftar pekerja/buruh beserta keluarganya, daftar upah beserta perubahannya dan daftar kecelakaan kerja di perusahaan. Selain itu, pengusaha juga wajib menyampaikan data ketenagakerjaan perusahaan sesuai dengan UndangUndang No. 7 Tahun 1981 tentang Wajib Lapor Ketenagakerjaan ke Instansi Ketenagakerjaan yaitu Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi setempat yang digunakan sebagai bukti kepesertaan perusahaan dan pekerja/buruh dalam Program JAMSOSTEK.178 Melihat Program JAMSOSTEK belum berjalan sebagaimana mestinya, hal ini dapat dilihat dari masih banyaknya tuntutan dan protes yang datang dari kalangan Serikat Pekerja/Serikat Buruh (SP/SB), LSM, DPR/D, dan masyarakat yang dialamatkan kepada pengusaha dan PT. Jamsostek (Persero) maupun instansi ketenagakerjaan dan secara luas beritanya disiarkan oleh surat kabar dan media elektronik, baik nasional maupun daerah. Namun, tampaknya belum juga ada perubahan yang signifikan. 179 Berdasarkan Undang-Undang No. 7 Tahun 1981, jumlah perusahaan wajib lapor di Sumatera Utara ± 11.000 perusahaan dengan jumlah pekerja/buruh ± 1.500.000 orang termasuk (pekerja/buruh kontrak, pekerja/buruh harian lepas, pekerja/buruh borongan, dan perusahaan kecil). Perusahaan yang terdaftar menjadi peserta JAMSOSTEK sampai dengan Agustus 2006 baru 6.537 perusahaan/59,42%

178 179

Ibid. Ibid.

102

(aktif 4.092 perusahaan/37,2%, non-aktif 2.445 perusahaan/62,8%). Adapun jumlah peserta (pekerja/buruh) terdaftar 704.958 orang (peserta aktif 37.320/24,82%; nonaktif 667.638 orang/75,18%). Hal tersebut menunjukkan masih rendahnya peserta aktif Program JAMSOSTEK dan tentunya sangat merugikan para pekerja/buruh dan perlu penanganan secara khusus.180 .Sedangkan perusahaan yang terdaftar per Juni 2010 adalah 18.419 perusahaan dengan jumlah tenaga kerja 1.973.247 untuk Kantor Wilayah I. 181 Tabel 4 Total Peserta Program JAMSOSTEK
JENIS AKTIF NON-AKTIF JUMLAH

Perusahaan Tenaga Kerja
Sumber :

10.390 530.218

8.029 1.443.029

18.419 1.973.247

PT. Jamsostek (Persero) Cabang Medan, data per bulan Juni 2010.

Dari Tabel 7 di atas menunjukkan bahwa perusahaan yang tidak aktif dalam Program JAMSOSTEK hampir ¾ dari jumlah peserta perusahaan. Dilihat dari tenaga kerjanya dengan jumlah peserta 1.973.247 yang tidak aktif dalam Program JAMSOSTEK adalah 1.443.029, menunjukkan bahwa peserta tenaga kerja yang tidak aktif sebanyak ¾ pekerja dari jumlah peserta tenaga kerja. Melihat data di atas ternyata tingkat kepesertaan Program JAMSOSTEK masih sangat rendah. Belum lagi faktor adanya pelanggaran pelaksanaan program yaitu masih dijumpai Perusahaan Daftar Sebagian Upah (PDS Upah), artinya perusahaan tidak melaporkan upah yang sebenarnya (upah pokok + tunjangan tetap) dari seluruh pekerja/buruh, tetapi yang dilaporkan hanya sebatas UMP/UMK atau
Ibid., hal. 206. PT. Jamsostek (Persero) Kanwil I, “Executive Summary dan Key Performance Indicator per Bulan Juni 2010”, (Medan : Jamsostek Kanwil I, 2010), hal. 1.
181 180

103

upah pokok saja. Demikian juga jumlah pekerja/buruh yang didaftarkan hanya sebagian saja (PDS TK), artinya tidak semua didaftarkan. Misalnya, jumlah pekerja 500 orang yang didaftar hanya 250 orang saja dan juga hanya mendaftar sebagian program dari empat program (PDS Program) dan perusahaan yang masih menunggak iuran. 182 Selain itu, perusahaan diizinkan untuk mensubstitusi jaminan kesehatan JAMSOSTEK dengan program asuransi kesehatan swasta yang dipilih oleh perusahaan sendiri apabila benefit program asuransi tersebut lebih besar daripada benefit yang diberikan oleh Program JAMSOSTEK. Akibatnya, sebagian besar perusahaan memilih untuk tidak mengikuti Program Jaminan Kesehatan PT. Jamsostek (Persero), yang menyebabkan semakin terbatasnya jumlah benefit yang ditawarkan oleh Program Jaminan Kesehatan JAMSOSTEK. 183 Dalam hal ini, yang perlu diperhatikan adalah kebenaran data upah, yang dilaporkan oleh perusahaan kepada PT. Jamsostek (Persero), karena upah sangat berpengaruh terhadap kemanfaatan dan hak pekerja/buruh. Jangan sampai terjadi, perusahaan lalai memberikan data upah pekerja/buruh yang akurat, tetapi pekerja/buruh justru menyalahkan PT. Jamsostek (Persero), karena

dianggap ”menyunat” jaminan yang menjadi haknya. Hal semacam ini pernah terjadi. 184 Kalau melihat kecenderungan yang ada, perkembangan PT. Jamsostek (Persero) dalam perannya untuk melindungi dan meningkatkan kesejahteraan pekerja,
182 183

Adrian Sutedi, Loc.cit. Ibid. 184 Ibid.

104

sebenarnya cukup membesarkan hati. Hal ini seiring dengan meningkatnya kesadaran di kalangan para pekerja/buruh sendiri, tentang hak-haknya dan pentingnya Program JAMSOSTEK bagi mereka.185

3. Program Jamsostek Sebagai Beban Pengusaha Program JAMSOSTEK merupakan program pemerintah yang badan penyelenggaranya ditunjuk PT Jamsostek (Persero) dalam rangka pelaksanaan pengalihan resiko yang terjadi terhadap perusahaan yang mempekerjakan tenaga kerjanya. Perusahaan dengan mengikutsertakan tenaga kerjanya dalam program JAMSOSTEK merasakan bahwa pembayaran iuran sebagai kewajiban pengusaha menjadikan suatu beban, padahal kewajiban tersebut tanpa diikutsertakan dalam program JAMSOSTEK perusahaan tetap mengeluarkan kewajiban terhadap tenaga kerja untuk kesejahteraan tenaga kerja. Seperti tenaga kerja mengalami resiko kerja pada saat bekerja perusahaan berkewajiban untuk memberikan pelayanan dan bantuan serta perawatan. Dengan adanya badan penyelenggara PT.Jamsostek (Persero) yang pola kerjanya lebih profesional dan memenuhi standar sebagai mana diatur dalam perlindungan kerja pengusaha mestinya lebih nyaman bahwa perlindungan resiko kerja sudah menjadi tanggaung jawab PT Jamsostek (Persero) Pandangan pengusaha terhadap program JAMSOSTEK yang negatip, hal inilah yang perlu diubah cara berpikirnya sehingga dengan mengikutsertakan tenaga
185

Ibid.

105

kerja dalam program JAMSOSTEK bukan menjadikan beban pengusaha tetapi sebaiknya diubah menjadi kebutuhan perusahaan karena perusahaan ingin mendapatkan kinerja yang baik dalam produktifitasnya dengan melingungi hak pekerja sehingga tenaga kerja tidak lagi kawatir terhadap resiko kerja yang dihadapi dalam melaksanakan tugas pekerjaan demi kepentingan perusahaan. Guna memudahkan mereka yang menjadi peserta Program JAMSOSTEK dalam membayar iuran, maka mereka dihimpun dalam satu wadah yang sejenis dalam bentuk koperasi, seperti Tenaga Kerja Bongkar Muat (TKBM), sopir taksi/angkot di Medan dikenal dengan KPUM, wadah nelayan/tani (HNSI/HKTI), tukang becak, pedagang kaki lima, dan lain-lain. Dalam jabatan profesi, seperti wartawan (PWI), dokter (IDI), pengacara, artis, rohaniawan (misalnya kalangan pendeta HKBP di Sumatera Utara, melalui Kantor Distrik Medan/Aceh) seluruhnya perlu mendapat perlindungan jaminan sosial. Wadah atau organisasi tersebut selanjutnya melakukan Ikatan Kerja Sama (IKS) dengan PT. Jamsostek (Persero) sebagai mitra kerja. Wadah, koperasi, atau organisasi tersebut mempunyai penanggung jawab yang bertugas untuk menghimpun tenaga kerja, mendaftarkan ke PT. Jamsostek (Persero) setempat, menghimpun dan menyetor iuran kepada PT. Jamsostek (Persero), membantu mendistribusikan Kartu Peserta Jamsostek (KPJ) kepada peserta, mengurus hak-hak peserta atas jaminan, memperingati peserta yang menunggak iuran dan melaporkan kepada PT. Jamsostek (Persero). 186 Sehubungan dengan keterbatasan kemampuan tenaga kerja di luar hubungan kerja dalam membayar iuran maka Program JAMSOSTEK dilaksanakan secara
186

Ibid., hal. 208.

106

bertahap sesuai kebutuhan dan kemampuan dari tenaga kerja bersangkutan. Adapun iuran Program JAMSOSTEK ditetapkan berdasarkan nilai nominal tertentu, yaitu sekurang-kurangnya setara dengan upah minimum Provinsi/Kabupaten/Kota setempat dengan batas usia peserta ditetapkan maksimal 55 tahun. Diharapkan dengan keluarnya ketentuan/pedoman tentang Program JAMSOSTEK bagi tenaga kerja di luar hubungan kerja ini, dapat segera ditindaklanjuti oleh instansi ketenagakerjaan bekerja sama dengan PT. Jamsostek (Persero) setempat dengan melakukan sosialisasi dan mendorong masyarakat untuk menjadi peserta. 187 Hal lain yang perlu diwaspadai adalah adanya tudingan dari sejumlah kalangan yang salah kaprah, bahwa PT. Jamsostek (Persero) seolah-

olah ”memonopoli” jaminan sosial untuk pekerja/buruh Indonesia. Sebagai konsekuensinya, mereka mengusulkan agar perusahaan-perusahaan swasta juga diperbolehkan untuk menjalankan program jaminan sosial bagi tenaga kerja Indonesia tersebut. Usulan ini adalah contoh dari semangat liberalisasi yang salah arah.188 Jika usulan tersebut dilaksanakan, nasib para pekerja/buruh Indonesia belum tentu menjadi lebih baik, tetapi justru bisa terancam. Misalnya, perusahaan swasta itu bisa untung, tetapi juga bisa bangkrut. Jika kondisi buruk itu terjadi, siapa yang akan menjamin kembalinya uang pekerja/buruh. Tentu, perusahaan swasta tersebut gagal memberikan jaminan sosial bagi pekerja/buruh dan akan cenderung lepas tangan.

187 188

Ibid. Ibid., hal. 214.

107

Akhirnya, persoalannya lagi-lagi akan dilempar ke Pemerintah atau DPR dan menimbulkan keresahan di kalangan pekerja/buruh.189 Sebaliknya, lewat PT. Jamsostek (Persero) atau badan yang akan dibentuk nanti, pemerintah dapat menjamin hak-hak kaum pekerja/buruh tersebut. Jika yang dipersoalkan adalah pelayanan yang kurang baik atau belum optimal, pihak PT. Jamsostek (Persero) tentunya tidak menutup diri dan berbesar hati menerima kritik. PT. Jamsostek (Persero) dapat melakukan pembenahan, serta meningkatkan kinerja dan profesionalisme para petugasnya.190

5. Pelayanan Terhadap Kepuasan Peserta Masih Rendah Secara umum, tingkat kepuasan peserta Program JAMSOSTEK dinilai rendah karena didorong oleh beberapa hal. Pertama, tidak seperti program jaminan sosial di banyak negara, Program JAMSOSTEK tidak mendistribusikan dana yang diperolehnya dari peserta yang lebih kaya ke peserta yang lebih miskin. Disamping itu, Program JAMSOSTEK juga tidak mempunyai jaminan minimum atas jumlah pensiun yang akan diperoleh para peserta pada saat mereka pensiun. Kedua, peserta JAMSOSTEK hanya akan menerima jumlah dana yang telah disetorkan kepada PT. Jamsostek (Persero) ditambah dengan bunga tetap dan tidak menerima bagian dari hasil investasi PT. Jamsostek (Persero). 191 Hal di atas dikarenakan sistem JAMSOSTEK merupakan suatu sistem tabungan hari tua (provident fund), serta bukan sebuah sistem asuransi sosial dimana
189 190

Ibid. Ibid. 191 Ibid., hal. 209.

108

selain merupakan tabungan hari tua, jaminan sosial juga berfungsi sebagai sistem redistribusi pendapatan dari golongan kaya ke golongan miskin. Di negara-negara yang mempunyai sistem asuransi sosial, fungsi redistribusi, jaminan minimum, dan masuknya hasil investasi jaminan sosial sebagai bagian dari paket pensiun diterima pekerja/buruh sering dipergunakan untuk insentif bagi pekerja/buruh untuk mengikuti program jaminan sosial. 192 Tanpa adanya fungsi-fungsi tersebut, ketertarikan pekerja/buruh dan perusahaan untuk mengikuti program jaminan sosial sangat berkurang. Hal ini dibuktikan dengan temuan yang menyebutkan bahwa hanya sekitar 50% dari perusahaan yang dikategorikan wajib mengikuti Program JAMSOSTEK yang menyetor iuran ke PT. Jamsostek (Persero). Jumlah ini menunjukkan bahwa banyak pekerja/buruh dan perusahaan yang merasa bahwa Program JAMSOSTEK tidak membawa manfaat untuk mereka, sehingga mereka tidak mau mengikuti Program JAMSOSTEK.193

6. Standar Rumah Sakit Sebagai Provider Belum Memenuhi Harapan Demikian juga halnya dengan pelayanan kesehatan JPK tidak sedikit pekerja/buruh dan keluarganya yang mengeluh atas pelayanan rumah sakit/klinik (provider PT. Jamsostek (Persero) Cabang Medan), belum memenuhi harapan. Tidak jarang peserta JAMSOSTEK harus menanggung sendiri obat yang dibutuhkan. Oleh

Ibid. International Labor Organization, Social Security and Coverage for All : Restructing the Social Security Scheme in Indonesia – Issues and Options, (Jakarta : International Labor Organization, 2003), hal. 63, dikutip Adrian Sutedi, Op.cit., hal. 209.
193

192

109

karena itu, banyak perusahaan yang keluar dari Program JAMSOSTEK dan melaksanakan sendiri pelayanan kesehatan melalui rumah sakit yang lebih baik, kesehatan pekerja/buruh terjamin dan akan bekerja lebih produktif. 194

194

Ibid.

110

BAB IV UPAYA PT. JAMSOSTEK (PERSERO) CABANG MEDAN DALAM MEMBERIKAN PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP TENAGA KERJA DI KOTA MEDAN

Tenaga kerja atau buruh adalah aset, sebagai aset mereka harus diperhatikan, baik kesehatannya maupun keselamatannya. Dengan adanya jaminan keselamatan dan kesehatan bagi pekerja, maka akan tercipta suasana aman dan kenyamanan dalam bekerja. Hal ini akan berpengaruh besar terhadap peningkatan produktivitas kerja karyawan maupun peningkatan produksi perusahaan di masa mendatang.195 Adapun upaya yang dilakukan terbagi atas dua jenis yaitu : upaya eksternal dan upaya internal. Upaya-upaya tersebut akan dibahas sebagai berikut :

A. Pemberian Tindakan Tegas Terhadap Pelanggar Program JAMSOSTEK Pemerintah dan aparat penegakan hukum sudah saatnya melakukan langkah represif dengan menindak tegas perusahaan yang abaikan program jaminan sosial tenaga kerja (Jamsostek). Keikutsertaan pekerja dalam program Jamsostek merupakan hak asasi yang dilindungi UU Nomor 3/1992 tentang Jaminan Sosial Tenaga Kerja. Saat ini rata-rata upah minimum provinsi Rp. 600.000,- hingga Rp. 700.000,- per bulan. di Jakarta
Sidik M. Nasir, “Meningkatkan Pelayanan Jamsostek di Tengah Peserta Awam”, Koran Pelita, 19 November 2008, hal. 8, seperti yang dikutip Adrian Sutedi, Op.cit., hal. 215.
195

111

UMP sebesar Rp. 972.000,- per bulan. Artinya, jika sebuah perusahaan memperkerjakan dua orang saja maka wajib mengikutsertakan mereka dalam Program JAMSOSTEK. Terakhir dua pekerja kebersihan (cleaning service) tewas ketika sedang bekerja di gedung Mall Semanggi. Satu terdaftar di Jamsostek dan mendapat santunan, satu lagi tidak terdaftar dan tak mendapat santunan. Sebelumnya, seorang pilot tewas ketika sedang bertugas dan upah yang dilaporkan Rp. 1 juta per bulan. 196 Itulah gambaran kondisi kepesertaan Program JAMSOSTEK. Pada suatu perusahaan ada yang terdaftar, tapi ada juga yang tidak. Ada yang upahnya dilaporkan penuh, dan ada yang sebagian. 197 Rendahnya kesadaran perusahaan lokal dan BUMN tidak terlihat pada perusahaan asing. Rata-rata penanam modal asing lebih taat dan melaporkan upah sebenarnya, bahkan hingga ratusan juta upah jajaran direksinya. 198 Menimbang kondisi demikian, pemerintah (Depnakertrans, Disnaker,

Sudinnaker) dan aparat penegakan hukum (kepolisian dan kejaksaan) sudah saatnya melakukan tindakan represif, menindak tegas perusahaan yang melalaikan kewajibannya melindungi pekerjanya.199

“Pengusaha yang Abaikan Jamsostek http://www.pelita.or.id/baca.php?id=46246., diakses pada 27 Agustus 2010. 197 Ibid. 198 Ibid. 199 Ibid.

196

Ditindak

Tegas”,

112

UU Nomor 3/1992 memberikan sanksi denda hukuman kurungan badan hingga enam bulan bagi mereka yang melanggar. Saat ini, rata-rata lima pekerja tewas karena kecelakaan kerja setiap hari. 200

B. Meningkatkan M.o.U dengan Lembaga Lainnya Memorandum of Understanding (M.o.U) adalah salah satu upaya untuk meningkatkan kinerja PT. Jamsostek (Persero) Cabang Medan. M.o.U dilakukan adalah agar produktivitas perusahaan meningkat. Bentuk kerja sama ini akan ditindaklanjuti dengan perjanjian kerja sama. Nota kesepahaman atau M.o.U tersebut akan dibuat antara PT. Jamsostek (Persero) Cabang Medan dengan Serikat Pekerja/Buruh yaitu SPSI, SBSI, dan Apindo, pada sektor keagamaan juga sudah dilakukan. Upaya peningkatan pelayanan juga dilakukan pada sektor keagamaan. Kunjungan-kunjungan juga dilakukan ke beberapa gereja-gereja di Sumatera Utara. Hal ini ditempuh agar para sintua (penatua) di seluruh Indonesia otomatis akan dapat mengikuti Program JAMSOSTEK. 201 Keputusan PT. Jamsostek (Persero) Cabang Medan mendekati lembaga keagamaan sebagai perluasan peserta Jamsostek, karena program HKBP memiliki sinergi yang sama-sama membawa mission sacre (misi suci) dalam memberikan perlindungan kepada pekerja, sementara pelayan HKBP seperti pendeta dan sintua

Ibid. Sanco Manullang, “Upaya Peningkatan Pelayanan, Pimpinan HKBP Kunjungi PT. Jamsostek (Persero) Cabang Medan”, Harian Sinar Indonesia Baru, Rabu, 17 Juni 2009.
201

200

113

(penatua) dan para pekerja di Gereja yang mengalami sakit, hamil, kecelakaan kerja, meninggal dan lainnya akan ada jaminan yang diperolehnya. Jaminan Kematian dan uang kubur yang disediakan Jamsostek cukup besar, mencapai Rp. 16,8 juta, akan sangat membantu keluarga yang ditinggalkan, sementara iuran yang dibayar hanya Rp. 3.000,- per bulan. Ini menandakan, Program JAMSOSTEK sangat bermanfaat dan selalu bersama-sama, saling membantu, baik hidup maupun mati. Artinya, orang tidak akan takut meninggal, sebab yang meninggal tidak meninggalkan beban.202

C. Peningkatan Sosialisasi Program JAMSOSTEK Untuk membenahi ketimpangan yang terjadi di lapangan maka yang perlu dilakukan PT. Jamsostek (Persero) selain memberikan sosialisasi tentang programprogram unggulannya kepada para pengusaha juga harus diikuti sosialisasi kepada para buruh/pekerja, sehingga keduanya mengerti dan sama-sama memahami apa yang menjadi hak dan kewajiban buruh/pekerja. 203 Untuk menjaga kredibilitas dan peningkatan kualitas kerja serta kepercayaan buruh/pekerja kepada PT. Jamsostek (Persero), ada beberapa terobosan yang bisa dilakukan perusahaan dalam rangka sosialisasi kepada peserta JAMSOSTEK. Pertama, menempatkan petugas di rumah-rumah sakit (customer service) yang bukan hanya memeriksa kelengkapan berkas untuk diurus ke kantor, tetapi juga dapat menentukan pesertanya mendapat jaminan rawat inap atau tidak. Begitu pula ketika

202 203

Ibid. Ibid.

114

pasien akan pulang dari rumah sakit, cukup mengurus di rumah sakit tersebut. Hal ini akan memudahkan peserta dalam mengurus jaminan kesehatannya/klaim.204 Kedua, petugas menyempatkan diri untuk mengunjungi atau menjenguk buruh/pekerja peserta atau keluarga yang sedang dirawat di rumah sakit, sekaligus memberikan dukungan penuh kepada pasien sehingga cepat pulih dan sembuh dari penyakit.205 Ketiga, petugas dalam bentuk tim melakukan jemput bola mengunjungi perusahaan-perusahaan untuk melihat dan memberikan sosialisasi langsung kepada pengusaha dan peserta JAMSOSTEK. Bagi peserta, kunjungan ini dapat meningkatkan kepercayaan, sedangkan bagi yang belum menjadi peserta

JAMSOSTEK bisa langsung didaftarkan dan dibuatkan kartu peserta dengan persetujuan pengusaha tempat buruh bekerja.206 Peningkatan pelayanan yang dilakukan oleh PT. Jamsostek (Persero) terhadap para buruh/pekerja peserta lambat laun dapat menghilangkan image negatif yang selama ini bertumpu pada PT. Jamsostek (Persero). 207 Meskipun PT. Jamsostek (Persero) sebagai sebuah BUMN yang tentunya menghentikan laba, namun tetap harus menerapkan Undang-Undang No. 3 Tahun 1992 tentang Jaminan Sosial Tenaga Kerja, yakni harus mengutamakan berbagai jaminan kepada peserta JAMSOSTEK seperti JKK, JK, JHT, dan JPK dan lainnya yang diamanatkan oleh undang-undang tersebut. Hal terpenting lagi, yakni dana iuran

204 205

Ibid. Ibid. 206 Ibid. 207 Ibid., hal. 216.

115

peserta tidak akan berkurang bahkan JHT-nya bertambah besar, bahkan harus lebih besar dari bunga bank.208

D. Peningkatan Laju Kepesertaan Program JAMSOSTEK Mengejar target kepesertaan program jamsostek ternyata tidak semudah yang diharapkan PT. Jamsostek (Persero), meski secara normatif (Undang-Undang No.3 tahun 1992) setiap pekerja dijamin haknya untuk mendapatkan Program JAMSOSTEK, kenyataannya baru sekitar 31% jumlah tenaga kerja yang tercatat sebagai peserta program jamsostek.209 Untuk ini PT. Jamsostek (Persero) perlu kerja keras disamping membenahi diri dengan langkah-langkah yang di tempuh sebagai berikut210 : 1. Meningkatkan prasarana dan fasilitas pelayanan program jamsostek; 2. Meningkatkan kemampuan, keterampilan dan kinerja sumber daya manusia yang dimiliki; 3. Menyempurnakan mekanisme keikutsertaan Program JAMSOSTEK; 4. Mampu menciptakan pasar (market created) Program JAMSOSTEK, jadi tidak hanya sekedar menunggu iuran saja; 5. Pelayanan yang dilaksanakan bersifat costumer service oriented; 6. Perbaikan atas pelaksanaan Program JAMSOSTEK dalam upaya peningkatan kualitas pelayanan pembayaran santunan (klaim) tenaga kerja terutama

208 209

Ibid. Ibid. 210 Ibid.

116

kecelakaan kerja baru dibayarkan setelah selesai penyelidikan kejadian kecelakaan kerja dan ini membutuhkan waktu. Diharapkan dengan kecakapan petugas PT. Jamsostek (Persero), maka pelayanan dapat diupayakan satu hari selesai (one day services) 211 . sehingga tidak ada lagi kesan dari peserta (pengusaha) bahwa prosedur pembayaran yang dilakukan PT. Jamsostek (Persero) cukup merepotkan sementara pembayaran iuran peserta tidak boleh terlambat; dan 7. Peningkatan kerja sama dengan instansi terkait dalam penegakan

(pemberdayaan) peraturan dan perundang-undangan ketenagakerjaan. Keberadaan PT. Jamsostek (Persero) patut untuk disambut dengan baik karena tujuannya untuk meringankan beban para pekerja dari bahaya risiko pekerjaan yang dihadapi terutama kecelakaan dan penyakit akibat kerja. Untuk kelangsungan operasionalnya PT. Jamsostek (Persero) tentunya tidak terlepas dalam hal mencari keuntungan dari usaha yang dijalankan disamping menghimpun dana (rising fund) dari para peserta program jamsostek untuk kepentingan pembiayaan pembayaran santunan (klaim) tenaga kerja. Diharapkan dalam menghimpun dana tersebut pihak PT. Jamsostek (Persero) tidak hanya berdiam diri saja, sebaiknya diupayakan bagaimana agar jumlah peserta program jamsostek meningkat dan kualitas pelayanannnyapun ditingkatkan pula.

211

Wawancara dengan Kepala Cabang Medan PT. Jamsostek (Persero), Medan, 18 Agustus

2010.

117

Suatu hal yang tidak kalah penting bahwa PT. Jamsostek (Persero) harus mampu menimbulkan etos kerja dan semangat kerja sebagai upaya untuk menimbulkan kondisi lingkungan kerja yang aman.212

E. Penerapan Komunikasi Pemasaran Terpadu (Integrated Marketing Communication-IMC) PT. Jamsostek (Persero) Cabang Medan dituntut untuk meningkatkan pemahaman kepada stakeholders dan laju penambahan kepesertaan Program JAMSOSTEK.213 Menurut Duncan, Penerapan Komunikasi Pemasaran Terpadu (Integrated Marketing Communication-IMC) adalah proses perencanaan, pelaksanaan, dan pengendalian pesan suatu merek untuk dapat menciptakan hubungan jangka panjang dengan pelanggan. Jadi, IMC merupakan suatu sinergi, kreativitas, integrasi, dan komunikasi pemasaran secara terpadu dengan cara memanfaatkan beragam elemen komunikasi yang berbeda-beda agar tercipta koherensi yang saling mendukung.214 Kita dapat mengklaim memiliki komunikasi terpadu (integrated) secara penuh apabila kita sudah mengidentifikasikan satu per satu pesan inti yang mengarahkan pada satu ide kreatif besar dan dapat pula diimplementasikan pada segala bidang yang kita tekuni. Atau, kita boleh mengatakan mampu mempertahankan komunikasi
Sanco Manullanag, Loc.cit. Wawancara dengan Kepala Cabang Medan PT. Jamsostek (Persero), Loc.cit. 214 Tom Duncan, Principles of Advertising and Integrated Marketing Communication, 2nd Edition, (New York : McGraw Hill, 2005), dikutip Freddy Rangkuti, Strategi Promosi yang Kreatif dan Analisis Kasus Integrated Marketing Communication, (Jakarta : Gramedia Pustaka Utama, 2009), hal. 29.
213 212

118

terpadu dari waktu ke waktu apabila dalam perkembangannya, komunikasi kita dianggap benar sesuai keadaan dan karakteristik produk yang ada.215 Sebagai contoh, komunikasi ”Kami Mencoba Lebih Baik” oleh perusahaan sewa mobil Avis berjalan selama beberapa tahun, dan pertimbangan unsur-unsurnya selama rentang waktu itu menunjukkan konsistensi pendekatan yang terkontrol dengan jelas dan berhati-hati. Usaha Avis ternyata cukup berhasil. Setiap berhadapan dengan audiens sasaran ia selalu mengatakan, ”Karena kami hanya menjadi nomor dua di dunia maka kami akan terus melakukan upaya ekstra untuk memenangkan dan menjaga bisnis dengan Anda”.216 Di pasar konsumen, jeans Levi’s juga telah mampu membangun image dalam pikiran kita. Komunikasi yang dilakukan jeans Levi’s, baik melalui iklan pada berbagai media massa (TV, Radio, Surat Kabar, dan Majalah), promosi pada toserta, maupun melalui teknik-teknik lain selalu menyampaikan pesan inti yang sama. Model komunikasi tersebut akan mudah dimengerti kapan pun kita melihat dan mendengarnya. Dan itulah ukuran integrasi yang berhasil. 217 Hampir semua komunikasi pemasaran memiliki tujuan sama, yakni menyampaikan pesan tertentu kepada audiens sasaran yang sudah diidentifikasi secara jelas. Dalam IMC, teknik komunikasi yang lengkap dan komprehensif akan semakin mempercepat sebuah perusahaan dalam mengarahkan berbagai kelompok audiens khusus.218

215 216

Ibid. Ibid. 217 Ibid. 218 Ibid.

119

Dalam hal berbicara mengenai PT. Jamsostek (Persero) Cabang Medan, yang perlu diperhatikan untuk meningkatkan kepesertaan dengan cara sosialisasi, antara lain219 : 1. Penerbitan buletin JAMSOSTEK; 2. Release berita di media cetak & elektronik; 3. Coffee Month bersama wartawan; 4. Kunjungan/audiensi (Pimpinan Media Cetak & Elektronik, Kepala Daerah, Instansi Penegak Hukum, Pimpinan Klinik & Rumah Sakit); 5. Pelatihan pelaksana humas se-Kota Medan; 6. Melaksanakan konferensi pers rutin; 7. Program JAMSOSTEK masuk kampus; 8. Program JAMSOSTEK masuk desa; 9. Pembangunan website resmi PT. Jamsostek (Persero) Cabang Medan; 10. Call Center; dan 11. Lomba menulis. Selanjutnya dalam laporan PT. Jamsostek (Persero) Cabang Medan sebelum Agustus 2008 berkaitan dengan IMC, antara lain 220 : 1. Rata-rata penambahan perusahaan pada Program JKK, JK, dan JHT dari Januari – Juli 2008 sebesar 106.29 perusahaan dan tenaga kerja 7.746 orang per bulan;

Mas’ud Muhammad, “Peran Komunikasi Pemasaran Terpadu Dalam Meningkatkan Citra dan Laju Kepesertaan Jamsostek di Wilayah I”, disampaikan pada Executive Management Development Program (EMDP) LPPM, Jakarta 23 Januari 2009, hal. 13-18. 220 Wawancara dengan Kepala Cabang Medan PT. Jamsostek (Persero), Op.cit.

219

120

2. Rata-rata penambahan perusahaan pada Program JPK dari Januari – Juli 2008 sebesar 59 perusahaan dengan tenaga kerja 2.631 tenaga kerja; 3. Penerbitan buletin JAMSOSTEK baru satu edisi; 4. Release berita di media cetak & elektronik sangat minim; 5. Coffee Month bersama wartawan jarang dilakukan; 6. Kunjungan/audiensi (Pimpinan Media Cetak & Elektronik, Kepala Daerah, Instansi Penegak Hukum, Pimpinan Klinik & Rumah Sakit) jarang dilaksanakan; 7. Pelatihan pelaksana humas se-Kota Medan belum direncanakan; 8. Melaksanakan konferensi pers rutin belum terjadwal; 9. Program JAMSOSTEK masuk kampus belum direncanakan; 10. Program JAMSOSTEK masuk desa belum direncanakan; 11. Pembangunan website resmi PT. Jamsostek (Persero) Cabang Medan, pernah dibicarakan tetapi tidak ada realisasinya; 12. Call Center belum direncakan; dan 13. Lomba menulis, belum pernah dilakukan. Setelah diterapkan sistem IMC dalam hal upaya untuk meningkatkan kepesertaan Program JAMSOSTEK pada PT. Jamsostek (Persero) Cabang Medan, antara lain 221 : 1. Penambahan peserta Pada Program JKK, JK, dan JHT dari Januari – Juni 2010 sebesar 222 perusahaan dan tenaga kerja 18.673 orang;

“Evaluasi Kinerja Semester I 2010 Bagian Pengendalian Operasi”, disampaikan pada Rapat Pimpinan Kanwil I, Medan 5-6 Agustus 2010, hal. 8-9.

221

121

2. Penambahan peserta Pada Program JPK dari Januari – Juni 2010 sebesar 188 perusahaan dan tenaga kerja mencapai 9.516 orang; 3. Penerbitan buletin JAMSOSTEK, menerbitkan Buletin JAMSOSTEK setiap bulan; 4. Release berita di media cetak & elektronik sangat minim, dengan cara memberdayakan personil kehumasan secara optimal sesuai kebutuhan; 5. Coffee Month bersama wartawan, menjalin hubungan baik dengan media massa (Surat Kabar, Tabloid, Majalah, Radio, Televisi, dan Media lainnya); 6. Kunjungan/audiensi (Pimpinan Media Cetak & Elektronik, Kepala Daerah, Instansi Penegak Hukum, Pimpinan Klinik & Rumah Sakit), dilakukan secara berkala; 7. Pelatihan pelaksana humas se-Kota Medan, membuat struktur kehumasan memberdayakan personil, membuat sistem kehumasan dan melakukan konferensi pers; 8. Melaksanakan konferensi pers rutin secara berkala; 9. Program JAMSOSTEK masuk kampus, terutama di Kampus Universitas Sumatera Utara yang sudah dilakukan; 10. Program JAMSOSTEK masuk desa, sudah direncanakan namun belum terealisasi; 11. Pembangunan website resmi PT. Jamsostek (Persero) Cabang Medan, mengambil langkah awal untuk menyiapkan anggaran; 12. Call Center dalam tahap persiapan anggaran; dan 13. Lomba menulis, sudah dijadwalkan tetapi belum dilaksanakan.

122

Adapun ukuran keberhasilan dari IMC, antara lain222 : 1. Adanya peningkatan kepesertaan Program JAMSOSTEK di atas 25% per tahun; 2. Peningkatan volume berita positif di atas 90%; 3. Pemberdayaan personil dalam penerapan IMC; 4. Terbentuknya sistem pengelolaan IMC; 5. Tersedianya struktur kehumasan di Kantor Cabang yang berfungsi dengan baik; 6. Terlaksananya kegiatan yang direncanakan, yaitu : a. Membuat pencitraan Program JAMSOSTEK dengan mengeluarkan visi dan misi sebagai berikut : i. Visi JAMSOSTEK adalah “Mewujudkan seluruh pekerja menjadi peserta JAMSOSTEK dengan pelayanan prima dan manfaat optimal”, ii. Misi JAMSOSTEK, antara lain : 1. Meningkatkan pemahaman stakeholders akan tugas dan fungsi masing-masing dalam rangka mensukseskan Program JAMSOSTEK; 2. Meningkatkan laju kepesertaan JAMSOSTEK di

Kantor Cabang Medan PT. Jamsostek (Persero); 3. Meningkatkan corporate value;

222

Mas’ud Muhammad, Op.cit.

123

b. Meningkatkan

citra

melalui

berita

positif

tentang

Program

JAMSOSTEK dan PT. Jamsostek (Persero) Cabang Medan; c. Menerbitkan Buletin Jamsostek setiap bulannya; d. Melakukan talkshow di radio; dan e. Membuat iklan bersama dengan perusahaan strategis. Adapun hasil yang dicapai dalam penerapan IMC pada PT. Jamsostek (Persero) Cabang Medan, antara lain223 : 1. Telah memberdayakan personil untuk kehumasan; 2. Terbitnya Buletin Jamsostek dicetak sebanyak 500 eksemplar per bulannya dan dibagikan kepada setiap peserta; 3. Volume berita positif meningkat Agustus 2009 sebanyak 87 berita, September 2009 sebanyak 73 berita, Oktober 2009 sebanyak 99 berita, pada sekitar 22 media cetak dan 5 media elektronik; 4. Terlaksananya audiensi dengan stakeholders, pimpinan media massa (Waspada, Medan Bisnis, Medan Pos Group, Analisa, Singgalang Padang, dan lain-lain); Walikota Medan; Ketua DPRD Medan; Kapoldasu; organisasi terkait lainnya (Apersi, Apindo, SPSI, IDI, KADIN, dan lain sebagainya); 5. Terbentuknya struktur, personil, sistem, dan melaksanakan konferensi pers berdasarkan kebijakan Kepala Cabang; 6. Terbitnya iklan bersama dengan perusahaan-perusahaan strategis; 7. Terlaksananya talkshow September 2008, pelatihan kehumasan November 2008;
223

Ibid.

124

8. Telah melakukan Program JAMSOSTEK masuk kampus, pada bulan Oktober 2008; 9. Dukungan dari jajaran pemerintah dan stakeholders semakin kuat; 10. Hubungan dengan mitra kerja seperti Dinas Tenaga Kerja, Serikat Pekerja, Apindo, dan stakeholders lainnya terjalin semakin erat; 11. Pemberitaan di media cetak semakin gencar; 12. Antusiasme yang sangat besar atas kehadiran Buletin Jamsostek; 13. Adanya respon yang kuat dari masyarakat melalui media; 14. Timbul kesadaran perusahaan dan tenaga kerja mendaftar menjadi peserta pada Program JAMSOSTEK; 15. Setelah membaca pemberitaan di media, munculnya kritikan terhadap Kinerja Pegawai Pengawas Ketenagakerjaan dan juga terhadap pelayanan Rumah Sakit dan Klinik; dan 16. Meningkatnya berita positif PT. Jamsostek (Persero) Cabang Medan yang semakin diketahui banyak pihak. Dengan diterapkannya sistem IMC untuk membangun PT. Jamsostek (Persero) Cabang Medan dari dalam perusahaan membuktikan bahwa jumlah kepesertaan meningkat. Disadari bahwa peran IMC sangat signifikan dalam penambahan kepesertaan pada Program JAMSOSTEK.

125

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan Hasil penelitian dengan judul “Analisis Juridis Terhadap Fungsi dan Peran Program Jamsostek dalam Perlindungan Hukum Tenaga Kerja di Kota Medan”, baik penelitian kepustakaan maupun penelitian lapangan sebagaimana yang telah diuraikan pada bab-bab terdahulu dapat disimpulkan bahwa : 1. Peran dan fungsi Program JAMSOSTEK terhadap perlindungan tenaga kerja di Medan masih belum maksimal dilakukan oleh badan penyelenggara yaitu PT. Jamsostek (Persero) karena sinergi antara pegawai pengawas ketenagakerjaan dan assosiasi pengusaha serta aparat penegak hukum belum memaknai secara utuh bahwa program JAMSOSTEK adalah merupakan program negara yang wajib dilaksanakan secara bersama-sama. 2. Hambatan-hambatan yang dialami dalam pelaksanaan Program JAMSOSTEK yaitu lemahnya sistem pengawasan, peran pengawas ketenagakerjaan belum optimal, dukungan pemerintah provinsi sumatera utara dan pemerintah Kabupaten/Kota tidak masksimal sesuai dengan tugas dan fungsinya, tingkat kesadaran dan kepedulian pengusaha masih rendah. 3. Upaya-upaya yang harus dilakukan untuk mengatasi hambatan dan

mengoptimalkan fungsi dan peran Program JAMSOSTEK antara lain

126

Pengawas

Ketenagakerjaan dan aparat penegak hukum agar memberikan

tindakan tegas terhadap pelanggaran program JAMSOSTEK, meningkatkan sosialisai program JAMSOSTEK, Perlunya penerapan komunikasi pemasaran secara berkesinambungan.

B. Saran Setelah menyimpulkan riset ini maka dalam penelitian ini mengusulkan saransaran, sebagai berikut : 1. Disarankan kepada pihak PT. Jamsostek (Persero) dan Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi supaya perlu adanya dukungan kepada Kepala Daerah, Walikota/Bupati, dan DPRD untuk membuat peraturan daerah tentang pengikatan tenaga kerja dalam Program JAMSOSTEK yang dapat dilaksanakan dengan lancar sesuai dengan Undang-Undang No. 3 Tahun 1992 tentang Jaminan Sosial Tenaga Kerja. 2. Perlunya sosialisasi Program JAMSOSTEK kepada semua pihak agar dapat lebih memahami bahwa program tersebut harus disukseskan secara nasional untuk memberikan perlindungan yang mendasar kepada tenaga kerja. 3. Agar pelayanan dan perlindungan terhadap tenaga kerja lebih baik maka sumber daya manusia (SDM) di lingkungan PT. Jamsostek (Persero) Cabang Medan Rasio dengan Potensi perusahaan harus sebanding.

127

DAFTAR PUSTAKA

BUKU Amirudin dan Zainal Asikin, Pengantar Metode Penelitian Hukum, Jakarta : Rajawali Press, 2010.

Devi, T. Keizerina., Peonale Sanctie : Studi tentang Globalisasi Ekonomi dan Perubahan Hukum di Sumatera Timur (1870-1950), Medan : Sekolah Pasca Sarjana Universitas Sumatera Utara, 2004.

Hutabarat, Tua Hasiholan., “Realitas Upah Buruh Industri”, Makalah : Perserikatan Kelompok Pelita Sejahtera, 2006.

Marbun, Jaminuddin., Analisis Terhadap Perjanjian Kerja Bersama dalam Hubungan Industrial di Provinsi Sumatera Utara, Medan : Disertasi, Sekolah Pasca Sarjana Universitas Sumatera Utara, 2009.

Mertokusumo, Sudikno., Mengenal Hukum (Suatu Pengantar), Yogyakarta : Liberty, 1988.

Muzakkir, ”Catatan Perkuliahan : Metode Penelitian Hukum”, Medan : Sekolah Pasca Sarjana Universitas Sumatera Utara, 2009.

Nasution, Bismar., Metode Penelitian Hukum Normatif dan Perbandingan Hukum dan Hasil Penulisan pada Majalah Akreditasi, Medan : Sekolah Pasca Sarjana Universitas Sumatera Utara, 2003.

Perdana, Surya., Pelaksanaan Jaminan Sosial Tenaga Kerja (JAMSOSTEK) pada Perusahaan Swasta di Kota Medan, Medan : Tesis, Sekolah Pasca Sarjana Universitas Sumatera Utara, 2009.

“Perusahaan Wajib Belum Daftar”, Medan : Data Perusahaan Potensi, 2010.

128

Rajagukguk, Erman., ”Hukum Ekonomi Indonesia Memperkuat Persatuan Nasional, Mendorong Pertumbuhan Ekonomi dan Memperluas Kesejahteraan Sosial”, Seminar Pembangunan Hukum Nasional VIII, Bali 14-18 Juli 2003.

Rangkuti, Freddy., Strategi Promosi yang Kreatif dan Analisis Kasus Integrated Marketing Communication, Jakarta : Gramedia Pustaka Utama, 2009.

Simanjuntak, Payaman J., Undang-Undang yang Baru tentang Ketenagakerjaan, Jakarta : Kantor Perburuhan Internasional, 2003.

Spicker, Paul., Welfare State General Theory, London : SAGE, 2000.

Subekti, R., dan R. Tjitrosudibio, Kitab Undang-Undang Hukum Perdata: Burgerlijk Wetboek, Jakarta : Pradnya Paramita, 1979.

Sugiyono, Memahami Penelitian Kualitatif, Bandung : Alfabeta, 2005.

Suseno, Franz Magnis., Pemikiran Karl Marx : Dari Sosialisme Utopis ke Perselisihan Revisionisme, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1999.

Sutardji, Analisis Kepuasan Peserta Jamsostek pada Kantor Cabang PT. Jamsostek (Persero) Semarang, Surakarta : Tesis, Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Sutedi, Adrian., Hukum Perburuhan, Jakarta : Sinar Grafika, 2009.

Syahrin, Alvi., “Modul Perkuliahan Metode Penelitian Hukum : Pendekatan dalam Penelitian Hukum”, Medan : Sekolah Pasca Sarjana Unversitas Sumatera Utara, 2008.

Wijayanti, Asri., Hukum Ketenagakerjaan Pasca Reformasi, Edisi 1, Cetakan 1, Jakarta : Sinar Grafika, 2009.

129

Zed, Mestika., Metode Penelitian Kepustakaan, Jakarta : Yayasan Obor Indonesia, 2008.

ARTIKEL DAN MAJALAH “Aset”, http://www.jamsostek.co.id/info/subcontent.php?id=24&subid=36., diakses pada 10 Agustus 2010.

“Evaluasi Kinerja Semester I 2010 Bagian Pengendalian Operasi”, disampaikan pada Rapat Pimpinan Kanwil I, Medan 5-6 Agustus 2010. Jamsostek (Persero) Kanwil I, PT., “Executive Summary dan Key Performance Indicator per Bulan Juni 2010”, Medan : Jamsostek Kanwil I, 2010.

Jamsostek (Persero) Kanwil I, PT., “Perusahaan Wajib Belum Daftar”, Medan : Data Perusahaan Potensi, 2010.

“Lindung”, http://pusatbahasa.diknas.go.id/kbbi/., diakses pada 05 Agustus 2010.

“Pelaksanaan Perlindungan Hukum Terhadap Tenaga Kerja Melalui Jaminan Sosial Tenaga Kerja Pada PT. Refi Chemical Industry Yogjakarta”, http://www.skripsi-tesis.com/07/27/pelaksanaan-perlindungan-hukumterhadap-tenaga-kerja-melalui-jaminan-sosial-tenaga-kerja-pada-pt-refichemical-industry-yogyakarta-pdf-doc.htm., diakses pada 04 Agustus 2010.

“Pembangunan Jembatan Suramadu”, http://www.suramadu.com/, diakses pada 04 Februari 2010.

“PLN Buka Tender Listrik Swasta Maret 2010”, Kamis, 04 Februari 2010, http://www.kontan.co.id/index.php/nasional/news/29404/PLN-Buka-TenderListrik-Swasta-Maret-2010, diakses pada 04 Februari 2010.

“Program Jamsostek : Jaminan Hari Tua”, http://cimahi.web44.net/ index.php?p=1_2_Program., diakses pada 02 Agustus 2010.

130

“Program Jamsostek : Tenaga Kerja Luar Hubungan Kerja”, http://cimahi.web44.net /index.php?p=1_2_Program., diakses pada 02 Agustus 2010.

”Kantor Cabang Wilayah I”, http://www.jamsostek.co.id/content/i.php?mid=2&id =79., diakses pada 04 Agustus 2010.

Manullang, Sanco., “Upaya Peningkatan Pelayanan, Pimpinan HKBP Kunjungi PT. Jamsostek (Persero) Cabang Medan”, Harian Sinar Indonesia Baru, Rabu, 17 Juni 2009.

Muhammad, Mas’ud., “Peran Komunikasi Pemasaran Terpadu Dalam Meningkatkan Citra dan Laju Kepesertaan Jamsostek di Wilayah I”, disampaikan pada Executive Management Development Program (EMDP) LPPM, Jakarta 23 Januari 2009.

“Sektor Konstruksi”, http://www.jamsostek.co.id/content/i.php?mid=3&id=70., diakses 02 Agustus 2010.

Silaban, Gerry., “Program Jamsostek, Hambatan dan Upaya Mengejar Kepesertaan”, http://library.usu.ac.id/download/fkm/k3-gerry2.pdf., diakses pada 19 Agustus 2010. Soekarno J., Rahardi., “20 Persen Penduduk Madura Terserap Jadi Tenaga Kerja”, Selasa, 02 Juni 2009, http://www.beritajatim.com/detailnews.php /1/Ekonomi/2009-06-02/36079/20_Persen_Penduduk_Madura_Terserap_Jadi _Tenaga_Kerja, diakses pada 04 Februari 2010.

“Struktur Organisasi”, http://www.jamsostek.co.id/content/i.php?mid=2&id=9., diakses pada 28 Juli 2010.

“Upah Minimum Regional”, http://id.wikipedia.org/wiki/Upah_minimum_regional, diakses pada 19 Mei 2010.

“Universal Declaration of Human Rights 1948-1998”, http://www.wunrn.com/reference/pdf/univ_dec_hum_right.pdf., diakses pada 27 Agustus 2010.

131

”Visi dan Misi”, http://www.jamsostek.co.id/content/i.php?mid=2&id=8., diakses pada 02 Agustus 2010.

Yohandarwati, et.al., “Desain Sistem Perlindungan Sosial Terpadu”, Direktorat Kependudukan, Kesejahteraan Sosial, dan Pemberdayaan Perempuan, BAPPENAS, http://www.bappenas.go.id/get-file-server/node/343/, 2003, diakses pada 24 Maret 2010.

PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN Keputusan Direksi No. KEP/286/112007 tentang Kode Jabatan, Nama Jabatan, Uraian Tugas dan Persyaratan Jabatan PT. Jamsostek (Persero) Kantor Wilayah dan Kantor Cabang.

Keputusan Gubernur Sumatera Utara No. 561/5492/K/2009 tentang Penetapan Upah Minimum Kota Medan Tahun 2010.

Konvensi International Labour Organization (ILO) mengenai Standar Minimal untuk Jaminan Sosial.

Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi No. PER-12/MEN/VI/2007 tentang Petunjuk Teknis Pendaftaran Kepesertaan, Pembayaran Iuran, Pembayaran Santunan, dan Pelayanan Jaminan Sosial Tenaga Kerja.

Peraturan Pemerintah No. 14 Tahun 1993 tentang Penyelenggaraan Program Jaminan Sosial Tenaga Kerja, Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1993 No. 20, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia No. 3520.

Peraturan Pemerintah No. 28 Tahun 2002 tentang Perubahan Ketiga Atas Peraturan Pemerintah No. 14 Tahun 1993 tentang Penyelenggaraan Program Jaminan Sosial Tenaga Kerja, Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2002 No. 53, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia No. 4203.

Peraturan Pemerintah No. 64 Tahun 2005 tentang Perubahan Keempat Atas Peraturan Pemerintah No. 14 Tahun 1993 tentang Penyelenggaraan Program Jaminan Sosial Tenaga Kerja, Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 No. 147, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia No. 4582.

132

Peraturan Pemerintah No. 36 Tahun 1995 tentang Penetapan Badan Penyelenggara Program Jaminan Sosial Tenaga Kerja, Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1995 No. 59.

Undang-Undang No. 3 Tahun 1992 tentang Jaminan Sosial Tenaga Kerja, Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1992 No. 14, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia No. 3468.

Undang-Undang No. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan, Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 No. 39, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia No. 4279.

Undang-Undang No. 40 Tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional, Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 No. 150, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia No. 4456.

Undang-Undang No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas, Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 No. 106, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia No. 4756.

Universal Declaration of Human Rights 1948-1998.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->