P. 1
Kelas11 b Indo Studi Bahasa Nurita

Kelas11 b Indo Studi Bahasa Nurita

2.0

|Views: 6,153|Likes:
Published by dwi_n10tangsel

More info:

Published by: dwi_n10tangsel on Jul 20, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/28/2013

pdf

text

original

Setelah mengikuti pembelajaran ini, kalian diharapkan dapat:
1.menentukan karakterisasi tokoh drama,
2.mengekspresikan karakter para pelaku drama melalui dialog yang
dibawakan.

Membaca naskah drama juga merupakan salah bentuk kegiatan
apresiasi drama. Dalam membaca naskah drama hendaknva kamu dapat
mengidentifikasi karakter tokoh dan mengasosiasikan dengan tokoh yang
mungkin mirip dalam kehidupan. Selain itu, hendaknya kamu juga dapat
memperkirakan apa maksud pengarang memilih latar tertentu dalam

170

Bahasa Indonesia XI Program Bahasa

kaitannya dengan karakterisasi tokoh. Akhirnya diharapkan kamu juga
dapat menyimpulkan tema dan amanat yang terkandung dalam drama
tersebut.

1.Bacalah penggalan drama berikut ini!

Tuan Amin

Di ruangan sebuah kantor, di dinding sebelah kanan ada sebuah
meja besar, untuk kepala bagian. Jadi meja itu meletakkannya ke
dinding sebelah kiri. Di mukanya - jarak satu setengah meter ada
dua baris meja. Tiap-tiap baris ada tiga meja. Di belakang panggung
dua meja untuk nona-nona juru tik. Di dinding kiri ada sebuah
papan tulis untuk pengumuman.
Aman, wakil kepala bagian, duduk di baris muka, di meja
tengah. Di belakangnya, Amat, penyalin nomor satu, dan di sebelah
Amat, Amin, penyalin nomor dua.

Aman

:(kaget) Lho! Saya tidak mau tanggung, Saudara.
Dia sudah acap kali marah-marah, karena
pegawainya tidak pernah ada di tempatnya
masing-masing.
Ningsun:Bilang sajalah Saudara, nanti kalau dia marah, biar
saja saya yang tanggung.

Aman

:Ah, Saudara Ningsun enak omong saja. Pak
Tembak dalam marah juga pakai aturan. Tidak
mau langsung terus sama pegawai rendahan.
Marahnya sama saya dulu, sebagai wakil kepala,
lantas saya harus bilang sama yang harus dimarahi.
Ningsun:(ketawa) Itu dia! Pukulan pertama pada saudara
Aman yang tangkap, saya dapat marah yang sudah
second hand. Ayo Ning kalau kita tunggu lama-lama
lagi, datang si Tembak terus tak dapat pergi. Hih!
Kalau dia melirik dari kacamatanya yang besar itu,
seram bulu tengkukku. (keduanya pergi)

Aman

:(merengut) Ah, gadis-gadis ini, yang dapat susah
saya juga, si Tembak meradang-radang sama saya
juga.

Menegakkan Keadilan

171

Amat

:Saudara Aman bodoh! Suruh saja si Tembak
langsung. Masa, dalam ruangan sekecil ini, kalau
mau ngomong yang lain mesti pakai pengacara.

Aman

:Itulah, maka saya kesal di sini. Telah berpuluh-
puluh kali saya bilang sama dia: "Tuan Amin, kalau
saya yang bilangin, pegawai itu toh tidak ambil
pusing."

Amat

:Lantas apa jawab?

Aman

:Jawabnya begini: "Saudara! Dalam tiap-tiap kantor
mesti ada organisasi. Saya sebagai kepala, dan
Saudara saya angkat jadi wakil kepala. Kalau ada
apa-apa saya bilang sama Saudara dan Saudaralah
yang bilang pada pegawai rendah.

Amat

:(tertawa mencemooh). Ha,ha,ha, Saudara Aman,
saya mengerti kalau sekiranya di ruangan ini ada
enam ribu pegawainya. Tapi untuk apa orang yang
hanya delapan ekor dengan dia sendiri, apa dia
tidak bisa langsung dan lagi berapa meterkah jauh
jarak dari mejanya sampai ke meja masing-masing
kulinya?

Amat

:Ah Saudara, dia tidak mau ambil pusing. Dia
bilang: "Saya tidak bisa disamakan dengan pegawai
biasa. Saya kepala, bilangnya."
Saudara tahu di mana dia dulu bekerja sebelum
Nippon datang ke sini? Jadi klerek kelas tiga di
kantor madat. Gaji tiga puluh rupiah sebulan.

Aman

:Up Mengapa dia bisa jadi kepala di bagian ini
dengan gaji dua ratus lima puluh sebulan?

Amat

:(mencemooh). Biasa Saudara. Waktu mula-mula
Nippon masuk, dia terus-menerus menulis
karangan, bagus tidak bagus, hantam keromo, asal
isinya ada semangat menghitam musuh, atau
menyebut kemakmuran bersama. Sajaknya penuh
dengan semangat perjuangan, kalau kita tidak tahu,
nah, ini orang paling sedikit sudah memakan musuh
hidup-hidup dan darahnya dihirup sekali. Lantas
namanya dikenal oleh “Saudara tua" kita dan pada

172

Bahasa Indonesia XI Program Bahasa

waktu ini kantor dibuka, dia dijadikan kepala
bagian ini.

Aman

:O, begitu? Saudara dulu kenal sama dia?

Amat

:Belum pernah kenal! Saya baru sekali ini melihat
batang hidungnya. Saya sebetulnya jijik melihat
dia, entah apa sebabnya saya tidak tahu. Kalau di
dekati saya mau marah marah saja.

Aman

:Saya juga telah memperhatikan sikap Saudara
terhadap dia. Kok Saudara berani benar?

Amat

:Begini Saudara Aman. Kalau orang hormat dan
sopan terhadap saya, saya beribu kali sopan dan
hormat kepada dia. Tapi kalau saya lihat dia angkuh
dan sombong, dan mau memperlihatkan saja,
bahwa dia di sini kepala, wah sayalah yang lebih
angkuh dan sombong lagi. Saudara Aman lihat
sajalah sikap saya terhadap dia.

Aman

:Saya heran, lho. Kalau dia mau marah pada
Saudara, marahnya sama saya dulu. Dia bilang ini:
"hierarchi." (Amin masuk, tergesa-gesa, ditangannya
beberapa buah buku dan map. Aman berhenti berbicara
waktu Amin masuk. Amin sembrono saja tidak
memandang ke arah Amin datang
).

Amin

:(pendek) Selamat pagi!

Aman

:Selamat pagi!

dan Amat
Amin

:(terus ke mejanya dan menyiapkan diri untuk: bekerja.
Ketiga-tiganya hendak bekerja tiba-tiba:
) Saudara
Aman! Mana kedua nona-nona ini? Apa tidak
masuk?

Aman

:Mereka minta permisi sebentar ke pasar Baru, Tuan.

Amin

:Sekarang sudah pukul sebelas, mengapa tidak
dalam waktu mengaso saja pergi?

Aman

:Saya sudah bilang, Tuan. Tapi nona-nona itu tidak
mau peduli.

Amin

:Saudara Aman harus bertindak keras!

Menegakkan Keadilan

173

Aman

:Macam mana saya bertindak keras? Larangan saya
diketawain mereka. Dan bilang boleh mengadu
sama sepmu!

Amin

:Ancamkan sama pemberhentian!

Aman

:Mereka mengucap syukur kalau dapat pergi dari
kantor ini.

Amin

:(heran) Mengucap syukur kalau boleh berhenti? (si
Amin tidak dapat mengerti hal ini, karena, jiwanya
telah dididik dari dahulu bahwa sep itu adalah
Tuhan pegawainya, dan apa yang dibilang oleh sep
adalah undang-undang yang tidak boeh dilanggar).

Amat

:Maaf, Tuan Amin. bolehkah saya menyambut
perkataan Tuan itu dengan tidak memakai Saudara
Aman sebagai pengacara?

Amin

:(berpikir sebentar, lantas) Buat sekali ini, yah, apa
boleh buat Silakan!

Amat

:Begini Tuan Amin! Bukan pemuda sekarang tidak
tahu akan tanggung jawab. Itu salah, tapi kami
benci melihat tingkah laku dari angkatan yang lebih
tua dari kami. Seolah-olah mereka pohon eru!

Amin

:(kaget) Saudara Amat! Ingat akan perkataan-
perkataan Saudara supaya nanti jangan menyesal!
Apa pohon eru? Jadi dalam azasnya Saudara
menentang politik di sini?

Amat

:Saya tidak bilang saya menentang! Saya tahu, saya
tidak mempunyai senjata.

Amin

:(marah. Dalam pada itu merasa di pihak yang kuat).
Hati-hati Saudara. (sombong) kta tidak takut
mengambil tindakan terhadap orang yang
pendiriannva lain dari kita. Lebih baik pembicaraan
ini kita anggap tidak ada, ya Saudara?

Amat

:(merasa panas, tapi apa boleh buat, di pihak yang
lemah
) Itu terserah! (lalu mengeluarkan pekerjaannya
dari dalam laci meja
).

Amin

:Saudara Aman. (Aman datang ke tempat Amin.
Amin bercakap-cakap dengan Aman dengan suara

174

Bahasa Indonesia XI Program Bahasa

perlaharan-lahan dan dalam itu menunjukkan
tempat Amin yang kosong. Terang. Amin
menanyakan dia. Aman sekali-kali menganggukkan
kepalanya, tetapi ada pula ia menggeleng-
ngelengkan kepalanya dengan keras. Seketika di
antaranya Aman pulang ke tempatnya lagi. Sunyi
senyap di ruangan itu. Amin bekerja rajin. Tapi
Amat termenung memandang ke luar. Tampak di
mukanya hatinya panas betul. Tidak berapa lama,
masuk kedua nona-nona tik
).
Ningsih:(mendapatkan Aman) Saudara Aman, maaf ya, kami
tidak dapat kembali dengan segera, karena di jalanan
tidak boleh ada yang boleh liwat. Trem, spoor, kapal
terbang, orang semuanya disuruh berhenti.

Aman

:Ada apa?
Ningsih:Tahulah! Katanya ada raja dewa matahari mau
liwat. Semua orang mesti melihat bopongnya.

Aman

:Saudara Ning ini ada-ada saja. Masakan betul-betul
begitu?
Ningsih:Lho, Saudara tidak percaya. Kami mesti mutar 180
derajat. Kan apa yang dulu muka, sekarang jadi
bopong?

Aman

:(0) Sst, sudahlah, kerjalah, sekarang sudah jam dua
belas. Tadi Pak Tembak sudah menanyakan
Saudara. (merengut). Sekarang saya mesti kasih
rapotan lagi.(Kecuali gadis itu pergi ketempatnya
masing-masing. Amin pura-pura saja tidak
mendengar dan tidak melihat. Seketika kemudian
terdengar deresan mesin tik. Amin bangkit dari
tempatnya pergi ke Amin. Tampaknya ia sedang
melaporkan peristiwa kedua nona itu. Amin
tampaknya kurang puas, dia selalu menggeleng-
ngelengkan kepalanya. Akhirnya Aman kembali ke
tempatnya dengan muka merengut. Seketika hanya
suara mesin tik. Amid masuk, jalannya lambat,
seperti ia datang pagi dan bukan jam dua belas
).

Menegakkan Keadilan

175

Amid

:(sembrono) Pagi.

Amat

:(melihat kepadanya) Sore. (Amid terus pergi
mendapatkan Amin).

Amid

:Saudara Aman! Saya tidak dapat datang pagi-pagi,
karena ada dewa yang liwat. Kalau sep bertanya,
bilang saja begitu (lalu ia pergi ke tempatnya Aman
pergi ke meja Amin).

Aman

:Tuan Amin! Saudara Amid tidak dapat masuk pagi,
karena tidak boleh terus jalan sebab ada pembesar
Nippon yang hendak liwat

Sumber: Gema Tanah Air, Amal Hamzah.

2.Jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut ini!

a.Bagaimanakah karakterisasi tokoh dalam penggalan naskah
drama tersebut?
b.Apakah ada penokohan yang mirip dengan tokoh dalam
kehidupanmu sehari-hari? Jika ada, coba jelaskan!
c.Bagaimanakah maksud pengarang terkait dengan setting dalam
hubungannya dengan karakterisasi tokoh?
d.Simpulkan apa tema dan amanat dalam drama tersebut? Sertakan
dengan bukti yang mendukung!

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->