P. 1
ASKEP Reumatik

ASKEP Reumatik

3.0

|Views: 2,032|Likes:
Published by iink2thy

More info:

Published by: iink2thy on Jul 20, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/08/2013

pdf

text

original

RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA No 1 Diagnosa keperawatan Resiko gangguan mobilisasi pada Ibu N di keluarga Bp. S b.

d KMK merawat anggota keluarga yang sakit reumatik Tujuan TUM Setelah 3x kunjungan rumah, gangguan mobilisasi pada Ibu N tidak terjadi TUK 1. Setelah 1x 45 menit kunjungan rumah, keluarga mampu mengenal masalah rheumatik pada anggota keluarga. Dengan cara: Respon verbal Reumatik yaitu suatu peradangan 1.1.1 Diskusikan bersama keluarga pengertian reumatik dengan kronik pada sendi atau pegal-pegal menggunakan lembar balik yang disertai dengan rasa nyeri 1.1.2 Tanyakan kembali pada keluarga.tentang pengertian reumatik 1.1.3 Beri pujian atas usaha yang dilakukan keluarga Menyebutkan 4 dari 7 penyebab 1.2.1 Diskusikan bersama keluarga reumatik: tentang penyebab reumatik - Proses menua dengan menggunakan lembar balik - Kelelahan 1.2.2 Motivasi keluarga untuk - Cedera mendadak menyebutkan kembali - Infeksi kuman penyebab reumatik - Penurunan kekebalan tubuh 1.2.3 Beri reinforcement positif atas - Tidak diketahui dengan jelas. usaha yang dilakukan keluarga Menyebutkan 3 dari 5 tanda dan gejala reumatik : - Nyeri 1.3.1 Diskusikan dengan keluarga tentang tanda-tanda reumatik 1.3.2 Motivasi keluarga untuk Kriteria Evaluasi Standar Intevensi

1.1 Menyebutkan pengertian reumatik

1.2 Menyebutkan penyebab reumatik

Respon verbal

1.3 Menyebutkan tanda dan gejala reumatik

Respon verbal

2. Setelah 1x 45 menit kunjungan rumah, keluarga mampu mengambil keputusan untuk merawat anggota keluarga yang menderita hipertensi dengan cara: 2.1 Menyebutkan akibat Respon lanjut tidak diobatinya verbal reumatik

Pembengkakan sendi Gerakan yang terbatas Kekakuan, kelemahan Perasaan mudah lelah

menyebutkan kembali tandatanda reumatik 1.3.3 Beri reinforcement positif atas usaha yang dilakukan keluarga

2.2 Memutuskan untuk merawat

Respon verbal

Menyebutkan 2 dari 5 akibat lanjut 2.1.1. Jelaskan pada keluarga dari reumatik yang tidak diobati: akibat lanjut apabila - Perubahan bentuk sendi dan reumatik tidak diobati tulang dangan menggunakan lembar - Nyeri yang semakin meningkat baik - Pengeroposan tulang 2.1.2. Motivasi keluarga untuk - Lumpuh. menyebutkan kembali akibat lanjut dari reumatik yang tidak diobati 2.1.3. Beri reinforcement positif atas jawaban keluarga Keputusan keluarga untuk 2.2.1 Motivasi keluarga untuk merawat dan mengatasi reumatik mengatasi masalah yang pada anggota keluarga dihadapi 2.2.2 Beri reinforcement positif atas keputusan keluarga untuk merawat anggota kelurga yang mengalami reumatik

3. Setelah 1x 45 menit kunjungan rumah, keluarga mampu merawat anggota keluarga dengan reumatik 3.1 Menyebutkan cara perawatan reumatik Respon verbal Menyebutkan 5 dari 9 perawatan reumatik: - Kompres dengan air hangat bila tidak ada bengkak /nyeri - Kompres dengan air dingin bila ada bengkak dan nyeri - Hindari penekanan - Makan makanan rendah protein nabati - Konsumsi vit. C, zat besi - Istirahat yang cukup - Latihan pergerakan - Hindari kerja berat - Jaga keamanan lingkungan rumah Keluarga dapat mendemonstrasikan cara latihan gerak 3.1.1 Diskusikan dengan keluarga cara perawatan reumatik dengan menggunakan lembar balik Motivasi keluarga untuk menyebutkan kembali perawatan reumatik Beri reinforcement positif atas usaha yang dilakukan keluarga

3.1.2 3.1.3

3.2 Mendemonstrasika n cara latihan gerak

Psikomotor

3.2.1

3.2.2 3.2.3 3.2.4

Demonstrasikan pada keluarga tentang cara latihan gerak pada persendian, sendi kepala sampai sendi kaki Berikan kesempatan pada keluarga untuk mencoba melakukan latihan gerak Beri reinforcement positif atas usaha keluarga Pastikan keluarga akan melakukan tindakan yang

3.3 Menyebutkan jenis makanan untuk reumatik

Respon verbal

Hindari makan kacang-kacangan, asam urat yang tinggi seperti jeroan

3.3.1 3.3.2 3.3.3

diajarkan jika diperlukan Diskusikan bersama keluarga tentang jenis makanan/diit untuk reumatik Motivasi keluarga untuk menyebutkan kembali diit reumatik Beri reinforcement positif atas jawaban keluarga

4

Setelah 1x 45 menit kunjungan rumah, keluarga mampu memelihara/ memodifikasai lingkungan rumah yang sehat: 4.1 Cara Respon memelihara/ verbal memodifikasi lingkungan yang sehat Menyebutkan 1 dari 2 cara memodifikasi lingkungan yang sehat: - lantai tidak licin - penerangan lampu baik 4.1.1 4.1.2 4.1.3 Menjelaskan lingkungan yang dapat mencegah reumatik Memotivasi keluarga untuk mengulangi penjelasan yang diberikan Beri reinforcement positif atas upaya yang dilakukan keluarga Menginformasikan mengenai pengobatan dan pendidikan kesehatan yang dapat diperoleh keluarga di pelayanan kesehatan Motivasi keluarga untuk menyebutkan kembali hasil

5

Setelah 1x 45 menit kunjungan rumah, keluarga mampu memanfaatkan pelayanan kesehatan dengan cara:

Respon verbal

Manfaat kunjungan ke fasilitas kesehatan : - Mendapatkan pelayanan kesehatan pengobatan reumatik - Mendapatkan pendidikan kesehatan tentang reumatik

5.1.1

5.1.2

5.1 Menyebutka n kembali manfaat kunjungan ke fasilitas kesehatan 5.2 Memanfaatk Respon an pelayanan verbal kesehatan dalam merawat reumatik Menunjukan kartu berobat adanya terapi pengobatan

5.1.3

diskusi Beri reinforcement positif atas hasil yang dicapai keluarga Tanyakan perasaan keluarga setelah mengunjungi fasilitas kesehatan Berikan reiforcement positif atas tindakan tepat yang dilakukan oleh keluarga.

5.2.1 5.2.2

Penyakit rematik – Istilah rheumatism berasal dari bahasa Yunani, rheumatismos yang berarti mucus, suatu cairan yang dianggap jahat mengalir dari otak ke sendi dan struktur klain tubuh sehingga menimbulkan rasa nyeri atau dengan kata lain, setiap kondisi yang disertai kondisi nyeri dan kaku pada sistem muskuloskeletal disebut reumatik termasuk penyakit jaringan ikat

Klasifikasi “penyakit rematik”
Reumatik dapat dikelompokkan atas beberapa golongan, yaitu : 1. Osteoartritis. 2. Artritis rematoid. 3. Polimialgia Reumatik. 4. Artritis Gout (Pirai). 1. Osteoartritis. Penyakit ini merupakan penyakit kerusakan tulang rawan sendi yang berkembang lambat dan berhubungan dengan usia lanjut. Secara klinis ditandai dengan nyeri, deformitas, pembesaran sendi, dan hambatan gerak pada sendi – sendi tangan dan sendi besar yang menanggung beban. 2. Artritis Rematoid. Artritis rematoid adalah suatu penyakit inflamasi sistemik kronik dengan

manifestasi utama poliartritis progresif dan melibatkan seluruh organ tubuh. Terlibatnya sendi pada pasien artritis rematoid terjadi setelah penyakit ini berkembang lebih lanjut sesuai dengan sifat progresifitasnya. Pasien dapat juga menunjukkan gejala berupa kelemahan umum cepat lelah. 3. Polimialgia Reumatik. Penyakit ini merupakan suatu sindrom yang terdiri dari rasa nyeri dan kekakuan yang terutama mengenai otot ekstremitas proksimal, leher, bahu dan panggul. Terutama mengenai usia pertengahan atau usia lanjut sekitar 50 tahun ke atas. 4. Artritis Gout (Pirai). Artritis gout adalah suatu sindrom klinik yang mempunyai gambaran khusus, yaitu artritis akut. Artritis gout lebih banyak terdapat pada pria dari pada wanita. Pada pria sering mengenai usia pertengahan, sedangkan pada wanita biasanya mendekati masa menopause

©2004 Digitized by USU digital library 1 ASUHAN KEPERAWATAN DENGAN REUMATIK (ARTRITIS TREUMATOID) PADA LANSIA ISMAYADI Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara BAB I PENDAHULUAN Perubahan – perubahan akan terjadi pada tubuh manusia sejalan dengan makin meningkatnya usia. Perubahan tubuh terjadi sejak awal kehidupan hingga usia lanjut pada semua organ dan jaringan tubuh. Keadaan demikian itu tampak pula pada semua sistem muskuloskeletal dan jaringan lain yang ada kaitannya dengan kemungkinan timbulnya beberapa golongan reumatik. Salah satu golongan penyakit reumatik yang sering menyertai usia lanjut yang menimbulkan gangguan muskuloskeletal terutama adalah osteoartritis. Kejadian penyakit tersebut akan makin meningkat sejalan dengan meningkatnya usia manusia. Reumatik dapat mengakibatkan perubahan otot, hingga fungsinya dapat menurun bila otot pada bagian yang menderita tidak dilatih guna mengaktifkan fungsi otot. Dengan meningkatnya usia menjadi tua fungsi otot dapat dilatih dengan baik. Namun usia lanjut tidak selalu mengalami atau menderita reumatik. Bagaimana timbulnya kejadian reumatik ini, sampai sekarang belum sepenuhnya dapat dimengerti. Reumatik bukan merupakan suatu penyakit, tapi merupakan suatu sindrom dan.golongan penyakit yang menampilkan perwujudan sindroma reumatik cukup banyak, namun semuanya menunjukkan adanya persamaan ciri. Menurut kesepakatan para ahli di bidang rematologi, reumatik dapat terungkap sebagai keluhan dan/atau tanda. Dari kesepakatan, dinyatakan ada tiga keluhan utama pada sistem muskuloskeletal yaitu: nyeri, kekakuan (rasa kaku) dan kelemahan, serta adanya tiga tanda utama yaitu: pembengkakan sendi., kelemahan otot, dan gangguan gerak. (Soenarto, 1982) Reumatik dapat terjadi pada semua umur dari kanak – kanak sampai usia lanjut, atau sebagai kelanjutan sebelum usia lanjut. Dan gangguan reumatik akan meningkat dengan meningkatnya umur. (Felson, 1993, Soenarto dan Wardoyo, 1994) BAB II KONSEP DASAR MEDIS Defenisi. Istilah rheumatism berasal dari bahasa Yunani, rheumatismos yang berarti mucus, suatu cairan yang dianggap jahat mengalir dari otak ke sendi dan struktur klain tubuh sehingga menimbulkan rasa nyeri atau dengan kata lain, setiap kondisi yang disertai kondisi nyeri dan kaku pada sistem muskuloskeletal disebut reumatik termasuk penyakit jaringan ikat. ©2004 Digitized by USU digital library 2 Klasifikasi. Reumatik dapat dikelompokkan atas beberapa golongan, yaitu : 1. Osteoartritis. 2. Artritis rematoid. 3. Polimialgia Reumatik. 4. Artritis Gout (Pirai). 1. Osteoartritis.

Penyakit ini merupakan penyakit kerusakan tulang rawan sendi yang berkembang lambat dan berhubungan dengan usia lanjut. Secara klinis ditandai dengan nyeri, deformitas, pembesaran sendi, dan hambatan gerak pada sendi – sendi tangan dan sendi besar yang menanggung beban. 2. Artritis Rematoid. Artritis rematoid adalah suatu penyakit inflamasi sistemik kronik dengan manifestasi utama poliartritis progresif dan melibatkan seluruh organ tubuh. Terlibatnya sendi pada pasien artritis rematoid terjadi setelah penyakit ini berkembang lebih lanjut sesuai dengan sifat progresifitasnya. Pasien dapat juga menunjukkan gejala berupa kelemahan umum cepat lelah. 3. Polimialgia Reumatik. Penyakit ini merupakan suatu sindrom yang terdiri dari rasa nyeri dan kekakuan yang terutama mengenai otot ekstremitas proksimal, leher, bahu dan panggul. Terutama mengenai usia pertengahan atau usia lanjut sekitar 50 tahun ke atas. 4. Artritis Gout (Pirai). Artritis gout adalah suatu sindrom klinik yang mempunyai gambaran khusus, yaitu artritis akut. Artritis gout lebih banyak terdapat pada pria dari pada wanita. Pada pria sering mengenai usia pertengahan, sedangkan pada wanita biasanya mendekati masa menopause. OSTEOARTRITIS Defenisi Osteoartritis adalah penyakit peradangan sendi yang sering muncul pada usia lanjut. Jarang dijumpai pada usia dibawah 40 tahun dan lebih sering dijumpai pada usia diatas 60 tahun. Etiologi Penyebab dari osteoartritis hingga saat ini masih belum terungkap, namun beberapa faktor resiko untuk timbulnya osteoartritis antara lain adalah : 1. Umur. Dari semua faktor resiko untuk timbulnya osteoartritis, faktor ketuaan adalah yang terkuat. Prevalensi dan beratnya orteoartritis semakin meningkat dengan bertambahnya umur. Osteoartritis hampir tak pernah pada anak-anak, jarang pada umur dibawah 40 tahun dan sering pada umur diatas 60 tahun. 2. Jenis Kelamin. Wanita lebih sering terkena osteoartritis lutut dan sendi , dan lelaki lebih sering terkena osteoartritis paha, pergelangan tangan dan leher. Secara keeluruhan dibawah 45 tahun frekuensi osteoartritis kurang lebih sama pada laki ©2004 Digitized by USU digital library 3 dan wanita tetapi diatas 50 tahun frekuensi oeteoartritis lebih banyak pada wanita dari pada pria hal ini menunjukkan adanya peran hormonal pada patogenesis osteoartritis. 3. Genetic Faktor herediter juga berperan pada timbulnya osteoartritis missal, pada ibu dari seorang wanita dengan osteoartritis pada sendi-sendi inter falang distal terdapat dua kali lebih sering osteoartritis pada sendi-sendi tersebut, dan anak-anaknya perempuan cenderung mempunyai tiga kali lebih sering dari pada ibu dananak perempuan dari wanita tanpa osteoarthritis. 4. Suku. Prevalensi dan pola terkenanya sendi pada osteoartritis nampaknya terdapat perbedaan diantara masing-masing suku bangsa, misalnya osteoartritis paha lebih jarang diantara orang-orang kulit hitam dan usia dari pada kaukasia. Osteoartritis lebih sering dijumpai pada orang – orang Amerika asli dari pada orang kulit putih.

Hal ini mungkin berkaitan dengan perbedaan cara hidup maupun perbedaan pada frekuensi kelainan kongenital dan pertumbuhan. 5. Kegemukan Berat badan yang berlebihan nyata berkaitan dengan meningkatnya resiko untuk timbulnya osteoartritis baik pada wanita maupun pada pria. Kegemukan ternyata tak hanya berkaitan dengan osteoartritis pada sendi yang menanggung beban, tapi juga dengan osteoartritis sendi lain (tangan atau sternoklavikula). Patofisiologi. UMUR JENIS KELAMIN GENETIK SUKU KEGEMUKAN Kerusakan fokal tulang rawan pembentukan tulang baru pada sendi yang progresif tulang rawan, sendi dan tepi sendi Perubahan metabolisme tulang Peningkatan aktivitas enzim yang merusak makro molekul matriks tulang rawan sendi ©2004 Digitized by USU digital library 4 Penurunan kadar proteoglikan Berkurangnya kadar proteoglikan Perubahan sifat sifat kolagen Berkurangnya kadar air tulang rawan sendi Permukaan tulang rawan sendi terbelah pecah dengan robekan Timbul laserasi OSTEOARTRITIS ©2004 Digitized by USU digital library 5 Menifestasi klinis Gejala-gejala utama ialah adanya nyeri pada sendi yang terkena, terutama waktu bergerak. Umumnya timbul secara perlahan-lahan, mula-mula rasa kaku, kemudian timbul rasa nyeri yang berkurang saat istirahat. Terdapat hambatan pada pergerakan sendi, kaku pagi , krepitasi, pembesaran sendi, dan perubahan gaya berjalan. Penatalaksanaan Obat obatan Sampai sekarang belum ada obat yang spesifik yang khas untuk osteoartritis, oleh karena patogenesisnya yang belum jelas, obat yang diberikan bertujuan untuk mengurangi rasa sakit, meningkatkan mobilitas dan mengurangi ketidak mampuan. Obat-obat anti inflamasinon steroid bekerja sebagai analgetik dan sekaligus mengurangi sinovitis, meskipun tak dapat memperbaiki atau menghentikan proses patologis osteoartritis. Perlindungan sendi Osteoartritis mungkin timbul atau diperkuat karena mekanisme tubuh yang kurang baik. Perlu dihindari aktivitas yang berlebihan pada sendi yang sakit. Pemakaian tongkat, alat-alat listrik yang dapat memperingan kerja sendi juga perlu diperhatikan. Beban pada lutut berlebihan karena kakai yang tertekuk (pronatio). Diet Diet untuk menurunkan berat badan pasien osteoartritis yang gemuk harus menjadi program utama pengobatan osteoartritis. Penurunan berat badan seringkali dapat mengurangi timbulnya keluhan dan peradangan. Dukungan psikososial

Dukungan psikososial diperlukan pasien osteoartritis oleh karena sifatnya yang menahun dan ketidakmampuannya yang ditimbulkannya. Disatu pihak pasien ingin menyembunyikan ketidakmampuannya, dipihak lain dia ingin orang lain turut memikirkan penyakitnya. Pasien osteoartritis sering kali keberatan untuk memakai alat-alat pembantu karena faktor-faktor psikologis. Persoalan Seksual Gangguan seksual dapat dijumpai pada pasien osteoartritis terutama pada tulang belakang, paha dan lutut. Sering kali diskusi karena ini harus dimulai dari dokter karena biasanya pasien enggan mengutarakannya. Fisioterapi Fisioterapi berperan penting pada penatalaksanaan osteoartritis, yang meliputi pemakaian panas dan dingin dan program latihan ynag tepat. Pemakaian panas yang sedang diberikan sebelum latihan untk mengurangi rasa nyeri dan kekakuan. Pada sendi yang masih aktif sebaiknya diberi dingin dan obat-obat gosok jangan dipakai sebelum pamanasan. Berbagai sumber panas dapat dipakai seperti Hidrokolator, bantalan elektrik, ultrasonic, inframerah, mandi paraffin dan mandi dari pancuran panas. Program latihan bertujuan untuk memperbaiki gerak sendi dan memperkuat otot yang biasanya atropik pada sekitar sendi osteoartritis. Latihan isometric lebih baik dari pada isotonic karena mengurangi tegangan pada sendi. Atropi rawan sendi dan tulang yang timbul pada tungkai yang lumpuh timbul karena berkurangnya beban ke sendi oleh karena kontraksi otot. Oleh karena otot-otot periartikular ©2004 Digitized by USU digital library 6 memegang peran penting terhadap perlindungan rawan senadi dari beban, maka penguatan otot-otot tersebut adalah penting. Operasi Operasi perlu dipertimbangkan pada pasien osteoartritis dengan kerusakan sendi yang nyata dengan nyari yang menetap dan kelemahan fungsi. Tindakan yang dilakukan adalah osteotomy untuk mengoreksi ketidaklurusan atau ketidaksesuaian, debridement sendi untuk menghilangkan fragmen tulang rawan sendi, pebersihan osteofit. BAB III KONSEP DASAR KEPERAWATAN DASAR DATA PENGKAJIAN PASIEN AKTIVITAS/ISTIRAHAT Gejala: Nyeri sendi karena gerakan, nyeri tekan, memburuk dengan stress pada sendi : kekakuan pada pagi hari. Keletihan Tanda: Malaise Keterbatasan rentang gerak ; atrofi otot, kulit : kontraktur atau kelainan pada sendi dan otot KARDIOVASKULER Gejala : Jantung cepat, tekanan darah menurun INTEGRITAS EGO Gejala: Faktor-faktor stress akut atau kronis : Misalnya finansial, pekerjaan, ketidakmampuan, factor-faktor hubungan Keputusasaan dan ketidak berdayaan Ancaman pada konsep diri, citra tubuh, identitas pribadi misalnya ketergantungan pada orang lain MAKANAN ATAU CAIRAN Gejala: Ketidakmampuan untuk menghasilkan/ mengkonsumsi makanan/ cairan adekuat : mual. Anoreksia Kesulitan untuk mengunyah

Tanda: Penurunan berat badan Kekeringan pada membran mukosa HIGIENE Gejala: berbagai kesulitan untuk melaksanakan aktivitas pribadi, ketergantungan pada orang lain. NEUROSENSORI Gejala: kebas/kesemutan pada tangan dan kaki, hilangnya sensasi pada jari tangan Tanda: Pembengkakan sendi NYERI / KENYAMANAN Gejala: fase akut dari nyeri ©2004 Digitized by USU digital library 7 Terasa nyeri kronis dan kekakuan KEAMANAN Gejala: Kesulitan dalam menangani tugas/pemeliharaan rumah tangga Kekeringan pada mata dan membran mukosa INTERAKSI SOSIAL Gejala: kerusakan interaksi dan keluarga / orang lsin : perubahan peran: isolasi ASUHAN KEPERAWATAN DIAGNOSA 1: Nyeri b/d penurunan fungsi tulang Kriteria hasil: nyeri hilang atau tekontrol INTERVENSI RASIONAL mandiri - kaji keluhan nyeri, catat lokasi dan intensitas (skala 0 – 10). Catat factor-faktor yang mempercepat dan tanda-tanda rasa sakit non verbal - berikan matras atau kasur keras, bantal kecil. Tinggikan linen tempat tidur sesuai kebutuhan - biarkan pasien mengambil posisi yang nyaman pada waktu tidur atau duduk di kursi. Tingkatkan istirahat di tempat tidur sesuai indikasi - dorong untuk sering mengubah posisi. Bantu pasien untuk bergerak di tempat tidur, sokong sendi yang sakit di atas dan di bawah, hindari gerakan yang menyentak - anjurkan pasien untuk mandi air hangat atau mandi pancuran pada waktu bangun. Sediakan waslap hangat untuk mengompres sendi-sendi yang sakit beberapa kali sehari. Pantau suhu air kompres, air mandi - berikan masase yang lembut kolaborasi - membantu dalam menentukan kebutuhan managemen nyeri dan keefektifan program - matras yang lembut/empuk, bantal yang besar akan mencegah pemeliharaan kesejajaran tubuh yang tepat, menempatkan setres pada sendi yang sakit. Peninggian linen tempat tidur menurunkan tekanan pada sendi yang terinflamasi / nyeri - pada penyakit berat, tirah baring mungkin diperlukan untuk membatasi nyeri atau cedera sendi. - Mencegah terjadinya kelelahan umum dan kekakuan sendi. Menstabilkan sendi, mengurangi gerakan/rasa sakit pada sendi - Panas meningkatkan relaksasi otot dan mobilitas, menurunkan rasa sakit dan melepaskan kekakuan di pagi hari. Sensitifitas pada panas dapat dihilangkan dan luka dermal dapat disembuhkan

- Meningkatkan elaksasi/mengurangi tegangan otot - Meningkatkan relaksasi, mengurangi ©2004 Digitized by USU digital library 8 - beri obat sebelum aktivitas atau latihan yang direncanakan sesuai petunjuk seperti asetil salisilat (aspirin) tegangan otot, memudahkan untuk ikut serta dalam terapi DIAGNOSA 2 : Intoleran aktivitas b/d perubahan otot. Kriteria Hasil : Klien mampu berpartisipasi pada aktivitas yang diinginkan. INTERVENSI RASIONAL • Perahankan istirahat tirah baring/duduk jika diperlukan. • Bantu bergerak dengan bantuan seminimal mungkin. • Dorong klien mempertahankan postur tegak, duduk tinggi, berdiri dan berjalan. • Berikan lingkungan yang aman dan menganjurkan untuk menggunakan alat bantu. Berikan obat-obatan • sesuai indikasi seperti steroid. • kan inflamasi sistemik akut. • Untuk mencegah kelelahan dan mempertahankan kekuatan. • Meningkatkan fungsi sendi, kekuatan otot dan stamina umum. • Memaksimalkan fungsi sendi dan mempertahankan mobilitas. • Menghindari cedera akibat kecelakaan seperti jatuh. Untuk mene DIAGNOSA 3 : Resiko tinggi cedera b/d penurunan fungsi tulang. Kriteria Hasil : mpertahankan keselamatan Klien dapat me fisik. INTERVENSI RASIONAL

• •

hari, ketimbang mengagetkannya.


dari kekhawatiran yang konstan. akan meningkatkan ansietas.

Kendalikan lingkungan dengan : Menyingkirkan bahaya yang tampak jelas, mengurangi potensial cedera akibat jatuh ketika tidur misalnya menggunakan penyanggah tempat tidur, usahakan posisi tempat tidur rendah, gunakan pencahayaan malam siapkan lampu panggil • Memantau regimen medikasi Izinkan kemandirian dan kebebasan maksimum dengan memberikan kebebasan dalam lingkungan yang aman, hindari penggunaan restrain, ketika pasien melamun alihkan perhatiannya •Lingkungan yang bebas bahaya akan mengurangi resiko cedera dan membebaskan keluaraga Hal ini akan memberikan pasien merasa otonomi, restrain dapat meningkatkan agitasi, mengegetkan pasien ©2004 Digitized by USU digital library 9 Kriteria Hasil : menuhi kebutuhan istirahat DIAGNOSA 4 : Perubahan pola tidur b/d nyeri Klien dapat me atau tidur. INTERVENSI RASIONAL Madiri Tentukan kebiasaan tidur biasany n


a dan perubahan yang terjadi • tempat tidur yang nyaman

pola lama dan lingkungan baru • nyamanan waktu tidur, misalnya mandi hangat dan massage. • tidur sesuai indikasi: rendahklan


misalnya ngunkan untuk obat atau Kola

• • • •

entifikasi intervensi yang

ng.


tidur memberi keamanan

an pasien mungkin tidak mampu kembali tidur bila terbangun. • diberikan untuk membantu pasien tidur atau istirahat. Berikan Buat rutinitas tidur baru yang dimasukkan dalam • Instruksikan tindakan relaksasi Tingkatkan regimen ke Gunakan pagar tempat tempat tidur bila mungkin. Hindari mengganggui bila mungkin, memba terapi. borasi Berikan sedative, hipnotik sesuai indikasi Mengkaji oerlunya dan mengid tepat. Meningkatkan kenyamaan tidur serta dukunmgan fisiologis/psikologis Bila rutinitas baru mengandung aspek sebanyak kebiasaan lama, stress dan ansietas yang a berhubungan dapat berkur Membantu menginduksi tidur • Meningkatkan efek relaksasi Dapat merasakan takut jatuh karena perubahan ukuran dan tinggi tempat tidur, pagar tempat untuk membantu mengubah posisi Tidur tanpa gangguan lebih menimbulkan rasa segar, d Mungkin DIAGNOSA 5 : D n diri b/d nyeri Krit a sanakan aktivitas er efisit perawata eriHasil : Klien dapat melak pawatan sendiri secaea mandiri. INTERVENSI RASIONAL

Kaji tingkat fungsi fisik • Pertahankan mkobilitas, kontrol terhadap nyeri dan progran latihan • Kaji hambatan terhadap partisipasi • kasi untuk perawatan yang diperlukan, misalnya;lift,

peninggiandudukan toilet, kursi • untuk • Memberikan kesempatan untuk dapat melakukan aktivitas seccara mandiri dalam perawatan diri, identifikasi untuk modifikasi lingkungan Identifi • Mengidentifikasi tingkat bantuan /dukungan yang diperlukan • Mendukung kemandirian fisik/emosional Menyiapkan meningkatkan kemandirian yang akan meningkatkan harga diri ©2004 Digitized by USU digital library 10 roda. DIAGNOSA 6 : Gangguan citra tubuh/ perubahan penampilan peran b/d perubahan kemampuan untuk melakukan tugas-tugas umum. Kriteria hasil : n peningkatan rasa percaya kemampuan Untuk menghadapi penyakit, perubahan gaya h kemungkinan keterbatasan. mengungkapka diri dalam idep dan INTERVENSI RASIONAl Mandiri o n mengenai masalah mengenai proses penyakit, harapan masa depan. o emfungsikan gaya hidup o pasien mengenai bagaiman orang terdekat menerima keterbatasan Akui dan terima perasaan berduka, o penguanan menyangkal atau terlalu memperhatikan tubuh/perubahan. o ntuk me ngidentifikasi perilaku positif o dalam merencanakan perawatan dan membuat jadwal aktivitas.

olaborasi • Rujuk pada konseling psikiatri • Berikan obat-obat sesuai petunjuk


ahan konsep dan

• • • konstan akan •
koping • untuk


nsi/harga diri, mendorong kemandirian, dan mendorong partisipasi dan

n Dorong pengungkapa Diskusikan arti dari kehilangan/perubahan pada pasien/orang terdekat. Memastikan bagaiamna pandangan pribadi psien dalam m sehari-hari termasuk aspek-aspek seksual. Diskusikan persepsi o bermusuhan, ketergantungan. Perhatikan perilaku menarik diri, Susun batasan pada prilaku maladaptive. Bantu pasien u yang dapat membantu koping. Ikut sertakan pasien K Beri kesempatan untuk mengidentifikasi rasa takut/kesal menghadapinya secara langsung. Mengidentifikasi bagaimana penyakit mempengaruhi persepsi diri dan interaksi dengan orang lain akan menentukan kebut uhan terhadap intervensi atau konseling lebih lanjut. Isyarat verbal/nonverbal orang terdekat dapat mempunyai pengaruh mayor pada bagaimana pasien memandang dirinya sendiri. Nyeri melelahkan, dan perasaan marah, bermusuhan umum terjadi. Dapat menunjukkan emosional atau metode maladaptive, membutuhkan intervensi lebih lanjut atau dukungan psikologis. Membantu pasien mempertahankan kontrol diri yang dapat meningkatkan perasaan harga diri. Meningkatkan perasaan kompete terapi. Pasien/orang terdekat mungkin membutuhkadukungann selama berhadapan dengan proses jangka ©2004 Digitized by USU digital library 11 • saat

munculnya depresi hebat sampai pasien mengembangkan kemampuan ng yang lebih efektif. panjang/ketidakmampuan. Mungkin dibutuhkan pada kopi BAB IV AN KASUS I. winan : Janda Agama : Islam Pendidikan : SPG idak a Alamat : Petisah sma / kamar : Anggrek 1 Pen Nama : Tn. P Klien : Anak abang Klien (keponakan) bahwa kaki kanan dan kirinya sering sakit, dan dahulu ri lutut ke bawah. III. Riwayat Kesehatan Sekarang Ap Ha i keadaan engan berobat kedokter dan juga memakai ramuan yaitu daun ubi, pala, ditumbuk dan airnya di sapukan di kaki yang benkak dan rlihat memang kempes. Tapi nyerinya masih selalu A. Nenek S. mengatakan kaki kanan dan kiri terasa sakit apalagi dibawa berjalan skala : 4 – 6. imana dilihat t kakinya dan wajahnya terlihat meringis. Reg TINJAU Biodata Tgl. Pengkajian : 20 Februari 2004 Nama : Ny. S Jenis Kelamin : Perempuan Usia : 67 tahun Status Perka Pekerjaan : Tad Tgl masuk : Tahun 200 Wi Diagnosa medis : Rematik (Artritis Reumatoid)

anggung jawab : Hubungan dengan Pekerjaan : Wiraswasta Alamat : Binjai II. Keluhan Utama Nenek S. mengatakan pernah bengkak da Provocative / Palliative a Penyebabnya Klien mengatakan bahwa pernah dibawa ke praktek dokter dan sakitnya itu asam urat. l-hal yang memperbaik D jahe, kemudian katanya, dan juga te kambuh. Quantity / Quality Bagaimana dirasakan B. Baga Nenek S. memijat-mija ion A. imana Reaksinya D ©2004 Digitized by USU digital library 12 itu kanan dan kiri. ganggu Aktivitas) Pada bagian kedua kakinya ya B. Apakah menyebar Nenek S. mengatakan sakitnya menyebar ke paha. Severity (Meng N membuat klien tidak bisa berjalan (pernah bengkak) mempunyai aktivitas yang rutin karena keadaan kakinya yang tidak bisa dibawa berjalan jauh. T Klien mengatakan sakitnya sejak kakinya bengkak sehingga me un 2002. wayat Kesehatan Masa La Penyakit Yang Pernah Dialami Klien mengatakan tidak pernah rawat inap di RS karena tidak pernah mengalami penyakit yang parah s demam, flu, batuk ringan gobatan / Tindakan Yang Dilakukan Klien mengatakan paling hanya coco nah Dirawat / Dioperasi Klien mengatakan tidak pernah dirawat / di operasi, biasanya hanya menggu

rgi K punya pantangan karena pen Imunisasi enek S. mengatakan sakitnya sangat mengganggu aktivitas karena pernah . Bila sakit ini klien tidak ime (kapan mulai timbul dan bagaimana terjadinya) 4 tahun ½ terakhir ini, dan pernah kedua mbuat tidak bisa berjalan selama 5 bulan pada tah IV. Ri lu ebelumnya, paling hanya sakit ringan yaitu . Pen dengan obat-obat warung dan kebetulan k (2 sampai 3 hari sembuh). Per nakan obat-obat warung. Ale lien mengatakan tidak mempunyai pantangan apapun, tetapi sekarang yakitnya yang sekarang, seperti jeroan, bayam. V. w Ora anya tidak mempunyai penyakit reumatik seperti e-2 dan kini meninggal dunia. ak ada An meninggal dunia. Penyebab meninggal Klien mengatakan orang tua meniggal karena usianya yang sudah tua, suami karena kecelakaan, dan 6 saudaranya, klien tidak mengingatnya. Klien mengatakan tidak pernah di imunisasi. Riayat Kesehatan Keluarga ng tua : - Klien mengatakan orang tu klien saudara kandung. Klien mengatakan saudaranya ada yang memiliki penyakit seperti klien yaitu abang k

Penyakit keturunan tid ggota keluarga yang meninggal Klien mengatakan suami, 2 orang tua, dan 6 saudaranya telah Genogram ©2004 Digitized by USU digital library 13 67thn : Klien : Perempuan enek S. anak ke-6 dari 7 bersaudara, 6 saudara klien sudah meninggal semua, tidak memiliki anak dari pernikahannya. VI. A. B. kan / tidak mungkin sembuh at berat badannya semakin menurun. Klien mengatakan telah mana. Namun klien tetap bersukur masih bisa berjalan walau lam C. Kon e 2. I gharapkan dan selalu berdoa kepada Tuhan YME agar diberikan awinannya klien tidak memiliki anak. 5. personal identity akan anggota Panti Tresna Werdha Abdi di wisma Teratai. D. dalam keadaan stabil. n/lawan bicara Ny.S Reumatik Keterangan : : Laki-laki : Meninggal N suami klien juga telah meninggal. Klien Riwayat / Keadaan Psikososial Bahasa yang digunakan Bahasa Indonesia dan bahasa Jawa. Persepsi klien tentang penyakitnya Klien menganggap penyakitnya sulit disembuh dan membu berobat dimanabat dan memakai tongkat dari lumpuhnya. sep diri 1. Body imag

Klien mengatakan berat badannya makin lama makin turun dan sekarang makin cepat lelah deal diri Klien men ketabahan dalam menghadapi penyakitnya dan kesembuhan walau tidak terlalu mengharap 3. Harga diri Klien senang tinggal di panti karena tercukupi semua kebutuhannya, dan bebas melakukan apa saja yang diinginkan. 4. Peran diri Klien seorang janda yang telah ditinggal suaminya karena meninggal kurang lebih 10 tahun lalu. Dari perk Klien merup Klien merupakan janda tanpa anak. Keadaan emosi Keadaan emosi klien E. Perhatian terhadap orang lai ©2004 Digitized by USU digital library 14 n sendiri / tidak mau menyusahkan keluarga. bergaul dengan sesama warga panti teruatama dengan H. K I. ngan warga di pantai walaupun warga kurang rti pengajian, gotong royang dan senam pagi karena keterbatasan grakakibat penyakitnya. an diri. VII lien dalam kondisi baik namun terlihat kondisi kaki lemah n tongkat untu t badan ,klien masih ingga memperberat beban kaki saat berjalan. B. R = 24 kali /menit. TB = 159 cm. BB kukan karena kurangnya fasilitas di Panti. C. Pemeri o To 1. Kep t. pak bersih dan an rambut= rambut sudah banyak uban. au = rambut seperti bau keringat. . Mata ap wajah. an penglihatan hingga menggunakan • Sklera. = = isokor (kanan dan kiri).

a 3. d = simetris uman 4.T n • Bentuk telinga = simetris antara kanan dan kiri. = terdapat serumen tapi dalam batas normal. r karena sudah tua. Klien tampak memperhatikan dan menanggapi setiap pertanyaan yang di berikan kepadanya. F. Hubungan dengan keluarga Harmonis dengan keluarga yang ada (keponakan-keponakannya) dan masuk ke panti karena keinginan klie G. Hubungan dengan orang lain Baik, klien mau sesama anggota satu wisma. egemaran = menonoton tv dan duduk,duduk di ruang tamu wisma. Daya Adaptasi. Klien dapat beradaptasi de mengikuti kegiatan yang ada di pantai sepe J. .Mekanisme Pertahan Klien memiliki pertahanan diri yang efektif. . Pemeriksaan Fisik. A. Keadaan Umum. = K sehingga perlu bantuak berjalan dan bera terlihat overweight seh Tanda – Tanda Vital. TD = 150 / 90 mmhg HR = 80 kali ? menit = tidak dila ksaan Head te. ala dan Rambu 1. Kepala. • Bentuk = Simetris • Kulit Kepala = bentuk kepala tam 2. Rambut. • Penyebaran dan keada •B 3.Wajah. • Warna kulit = hitam. 2. • Bentuk = simetris terhad • Ketajam= kurang baik se

alat bantu penglihatan. • Konjungtiva. = tidak anemia. tidak ikterus. • Pupil • Pemakaian alat bantu. = memakai kacamata baik membac ataupun tidak membaca. Hiung. • Bentuk • Fungsi penci = baik,dapat membedakan bau. • Pendarahan = tidank megalami pendarahan. eliga. • Lubang telinga • Ketajaman pendengaran = kurang mendenga ©2004 Digitized by USU digital library 15 5. Mulut dan Faring. • Keadaan gusi dan gigi = tidak ada pendarahan gusi dan gigi. Gigi terlihat bersih dan tidak lengkap. an. 6. pembesaran KGB Suara = Klien mengeluarka dengan kata kata jelas. teraba. terab D. m inte men. • Warn = kulit rgor kulit baik (kulit cepat kembali). pak sedang (tidak kering ) agak Keriput. etiak. bersedia karena merasa malu. F. m r / Dada. 1. Inspeksi. is antara kanan dan kiri. • Pernafasan = frekuensi 24 kali / menit. Irama teratur dan tidak ada suara tambahan. an be nafas G. m aru • Palpasi getaran suara = terdengar dan teratur. = bunyi resonan.

= suara nafas teratur. H. m Abd 1. Inspeksi. bdomen = simetris antara kanan dan kiri. • 2. lp • Benjolan = tidak ada. = tidak ada. ngkakan. ukann a kare J. m sklet / Eks emita ••• • Keadaan bibir = bibir klien kering • Keadaan lidah = tidak ada tanda pendaarah Leher. • Tyroid = tidak terdapat • •Denyut nadi karotis = • Vena jugularis = a. Peeriksaangu • Kebersihan klien = klien tampak bersih. hitam • Turgor = tu • Kelembaban = kulit tam E. Pemeriksaan Payudara dan k Klien tidak Peeriksan Thaax • Bentuk Thorax. = simetr • Tidak ada tanda kesulitr. Peeriksaan P. • Rerkusi • Auskultasi Peeriksaan omen. • Bentuk A Benjolan = tidak ada benjolan. Paasi. • Tanda nyeri tekan = tidak ada nyeri. • Tanda ascites

• Hepar = tidak ada pembe I. Pemeriksaan Kelamin dan Sekitarnya. Klien tidak bersedia melakyna merasa malu. Peeriksaan Mulkusaltrs. Kesimetrian otot = simetris kanan dan kiri. Pemeriksaan edema = tidak ada edema Kekuatan otot = kekuatan otot telah berkurang. ©2004 Digitized by USU digital library 16 k ada aktivitas rutin ),bila berjalan menggunakan alat bantu yaitu tongkat dan berjalan lambat.Klien berjalan ti karena klien mengatakna takut jatuh , apalagi • kstre n kuk K. Pemeri 1. Tin E = 6, M = 4 , V = 5 2. Sta Perasaan • ktu, tempat dan orang Ingatan kl h kuat, klien masih ingat masa lalunya a Klien berkeinginan agar cepat sembuh rang yakin penyakit dapat sembuh 3. n : Klien sulit berjalan an. 4. am tumpul : klien dapat membedakan benda tajam dan tumpul Membedakan dua titik : Klien dapat membedakan dua titik n anya alat. III. o a. • : siang ± ½ jam dan malam ± 6 -7 jam ur : tidak ada masalah mudah bila tidak • b. asi a. n tidak encer/sedang

b. terjadi inkontinensia ing tidak terlalu pekat dan tidak terjadi retensi urin nyeri / rasa terbakar/kesulitan BAK • njal Dimana klien lebih banyak duduk (tida lambat dan berhati ha berjalan jauh. Kelainan pada Emitas dau. ksaan Neurologis gkat kesadaran GCS = 15 : tus Mental • Kondisi Emosi / Dalam keadaan stabil Orientasi Klien masih dapat berorientasi dengan baik, baik wa • Proses Berfikir ienmasi Perhitungn = klien dapat berhitung agar cepat sembuh • Motivasi : • Persepsi : Klien menganggap / ku total • Bahasa : Klien menggunakan bahasa Indonesia dan bahasa Jawa Fungsi Motorik • Cara berjala • Test jari hidung : Klien dapat menyentuh hidung • Promosi dan supinasi test : Klinik mampu membalik-balikkan tangan • Romberg test : Klien mampu berdiri walau dengan bantu Fungsi Sensori Test taj Test panas dinding : Klien dapat membedakan benda panas dan dingin Identifikasi sentuhan ringa Reflek Pada pemeriksaan reflek tidak dilakukan karena tidak tersedi Pla Kebiasaan sehari-hari Pola tidur dan kebiasaan Waktu tidur • Waktu bangun : klien bangun umumnya/seringnya jam 05.00 Wib

• Masalah tid • Hal-hal yang mempermudah tidur: bila tidur malam akan tidur siang Hal-hal yang mempermudah tidur : bila menghidupkan jam beker Pola Elimin Pada BAB : 1X sehari dan tidak ada penggunaan laktasi Riwayat perdarahan, tidak ada dan saat mengkaji tidak terjadi diare Karakter feses : klien mengatakan tidak terlalu keras da BAK : • Pola BAK : ± 6 – 7 x/hari dan tidak • Karakter urin : kun • Tidak ada rasa • Tidak ada penggunaan diuretik Tidak ada riwayat penyakit gi ©2004 Digitized by USU digital library 17 c. Po m 1. j • kanan yaitu makanan biasa dan jumlah makanan per •• : kadang-kadang dan lausea, vomite (mual, • ada. Tapi semenjak mengalami penyakir yai makanan pantang, antara lain Jeroan, kerangk mengetahuinya, 2. 3. piring sekali makan dan jenis makanan adalah bilan air putih terserah/sukahati, dan iene •• Pemeliharaan kuku/pemotongan kuku kalau panjang c. Pola Kegiatan / Aktivitas memiliki kegiatan rutin karena penyakitnya, paling hanya jalanebentar dan menyira A ETIOLOGI MASALAH la akan dan minum Geala (subjektif) Diit type : Jenis ma hari 3 piring dalam per hari. Nyeri ulu hati tidak ada Kehilangan selera makan muntah tidak ada Alergi terhadap makanan tidak

tematik klien mempun kerangan, sayur bayam • Berat badan klien jarang menimbangnya sehingga tida sedangkan alat tidak tersedia Tanda Obyektif TB = 156 cm, bentuk tubuh : Over wight Waktu pemberian makanan yaitu : pagi, siang dan sore 4. Jumlah dan jenis makanan : 1 makanan biasa 5.Waktu pemberian minuman : Pengam bila the manis atau susu 2x/hari pagi dan sore hari c. Kebersihan / Personal hyg • Pemeliharaan tubuh / mandi 2x/hari Pemeliharaan gigi/gosok gigi 2x/hari • Klien tidak jalan s kadang-kadang m bunga. NALISA DATA DATA ata Subjektif: Klien mengatakabahwa kaki apalagi dibant berjalan - Klien memijat-mijakakinya sa pengkajian - Wajahny Penaikan metabolismetulang P merusak tulang rawsandi Penurunan kadar proteologlikan Berkurangnya kadaair tulang raw Penurunan fun D n kanan dan kirinya sakit u Data Objektif: t at a terlihat meringis - Skala nyeri 4enaikan enzim yang

an r an sendi gsi Nyeri. ©2004 Digitized by USU digital library tula 6,sedang ng nyeri nyeri ata Subjektif: tidak sanggup berjalan jauh. ta Objektif: - Klien berjalan menggu bantu tongkat.Klien lebi duduk. Klien berjalan lambat. yang lanjut enurunan fungstulang Kekuatan otot melemah Meningkatnya nyeri Inata Su takut untuk be jauh. Penurunan fungs D Da nakan alat - h banyak Usia Pi saat berjalan toleransi aktivitas. Intoleransi aktivitas Klien mengatakan D bjektif: rjalan Klien tampak berhati

18

Lansia i tulang Resiko tinggi cedera. Resti cedera fisik. Klien mengatakan Data Objektif: hati saat berjalan. PRIORITAS MASALAH KEPERAWATAN. 1. Nyeri berhubungan dengan penurunan fungsi tulang ditandai dengan wajah meringis dan skala nyeri 4-6. 2. Intolerasi aktivitas berhubungan dengan perubahan otot lemah ditandai dengan 3. mobilitas menurun ditandai dengan klien mpak berhati hati saat berjalan. SUH KEPERAW AMA PASIEN : Ny.S UMUR : 67 tahun klien mengunakan alat bantu. Resti cedera fisik berhubungan dengan ta RENCANA A AN ATAN N ©2004 Digitized by USU digital library 19 TGL PENGKAJIAN : 20 Februa WISM T DX. MEDIS : Reumatik (Artritis Reum NO A N/ KRITERIA HASIL P ri 2004 A / KAMAR : eratai / 4 atoid) DIAGNOSKEPERAWATAN TUJUA RENCANA ERAWATAN RASIONAL INTERVENSI 1. sendi (skala nyeri=6),

wajah meringis, kaki sakit jika berjalan. dapat istirahat/ tidur dengan tenang, pasien tampak rileks. nyeri, tat lokasi, 2. njurkan klien ntuk mandi ir panas / 3. osisi yang pada kursi. 4. masase yang lembut. 5. Berikan obat sesuai indikasi. . Membantu dalam enentukan 2. meningkatkan tak sisi otak dan . Tirah baring mungkin diperlukan untuk elaksasi atau regangan otot. 5. Menaikkan relaksasi i terapi pengobatan. Nyeri sendi b/d penurunan fungsi tulang d/d nyeri Nyeri hilang/ terkontrol Kriteri hasil : Pasien 1. Kaji ca karakteristik, derajat (skala 0-10) A

u a hangat. Berikan klien p nyaman waktu tidur / duduk di Berikan 4. 1 m managemen nyeri. Panas le mobilitas, menurunkan rasa sakit. 3 membatasi nyeri / cedera sendi. Menaikkan r dan sebaga NO P DIAGNOSA KEPERAWATAN TUJUAN/ KRITERIA HASIL RENCANA ERAWATAN NAL INTERVENSI RASIO 2. b/d tidak sanggup berjalan jauh, lebih banyak duduk. n mampu berpartisipasi pada aktivitas yang diinginkan. . Pertahankan uduk rlukan. antu engan hank n postur

dan . Untuk mencegah . Menaikkan fungsi Memaksimalkan fungsi sendi dan . Menghindari Intoleran aktivitas usia lanjut dan perubahan otot d/d Klie 1 istirahat tirah baring / djika dipe 2. Bbergerak d bantuan seminimal mungkin. 3. Dorong klien memperta3. a tegak, duduk tinggi, 1 kelelahan dan mempertahankan kekuatan. 2 sendi, kekuatan otot dan stamina umum. mempertahankan mobilitas. 4 ©2004 Digitized by USU digital library 20 Berikan dan enganjurkan u. obat edera akibat ecelakaan. 5. Untuk menekan inflamasi sistemik berjalan. 4. lingkungan yang aman m untuk menggunakan alat bant 5. Berikan – obat sesuai dengan indikasi. c k akut. 3. era fisik nsia

d/d hati-hati saat berjalan, menggunakan alat bantu tongkat. Klien dapat empertahankan keselamatan fisik. an dengan k erjalan atau bangkit dari duduk dan tidur dengan han. 1. L n yang bebas bahaya akan mengurangi resiko edera. 2. Mengetahui tahapan pengobatan. 3. Mengurangi resiko cedera. Resti cedb/d penurunan fungsi tulang lam1 .Kendalikan lingkungmenyingkirkan bahaya yang tampak jelas seperti pencahayaan pada malam hari. 2. Membantu regimen medikasi.3. Anjurkan untub perlahan-la ingkara c CT No. Dx Hari / Tanggal ATA AN PERKEMBANGAN Implementasi Evaluasi 1 Selasa / 24 Februari 04 • uhan nyeri dan t

• Memberikan klien posisi yang nyaman pada waktu duduk di kursi • Memberikan massage yang lembut S : Klien menyatakan masih sakit emijat-mijat terlihat Pukul 15.00 WIB Mengkaji kel catat lokasi skala nyeri. Skala nyeri = 6 • Menganjurkan klien untuk mandi air panas/hanga pada kaki/lutut bahwa kaki kanan dan kirinya apalagi di bawa berjalan. O: Klien m kaki-nya - Wajah klien me-ringis - Nyeri = 6 A : Masalah belum teratasi R/T dil P : anjutkan 2 Pu • bergerak dengan S: kul 15.15 WIB • Mempertahankan istirahat duduk jika diperlukan Membantu Klien menyatakan masih tidak sanggup berjalan lama O: Klien berjalan ©2004 Digitized by USU digital library 21 bantuan seminimal mungkin mempertahankan ngkat • Mendorong klien postur tegak, duduk tinggi, berdiri dan berjalan mengguna-kan to - Klien lebih banyak duduk A : ah belum teratasi Klien berjalan lambat Masal P : R/T dilanjutkan 3

• nggunakan penyangga tempat tidur. • Menganjurkan untuk berjalan atau bangkit dari duduk dan tidur dengan perlahan-lahan : meng-gunakan tongkat saat berjalan A : Masalah belum teratasi Pukul 15.25 WIB Mengendalikan lingkungan dengan menyarankan untuk meS Klien menyatakan masih takut untuk berjalan jauh O : Klien tampak berhatihati saat berjalan, klien P : R/T dilanjutkan No. Dx Hari / Tanggal Implementasi Evaluasi 1 Rabu / 25 Februari 04 air panas/hangat • Menganjurkan klien untuk meminum obat sesuai intruksi/indikasi • Memberikan masage yang lembut O : Klien masih memijat Pukul 16.00 WIB • Menganjurkan klien untuk mandi S : Klien menyatakan kaki kanannya sakitnya sudah berkurang, tetapi kaki kirinya masih sakit. kaki kirinya - Wajah sedikit meringis Masalah teratasi ebagian A: s P : R/T dilanjutkan 2 •n bantuan seminimal mungkin untuk gkat untuk berA : alanjutka

Pukul 16.10 WIB S : • Menganjurkan untuk memindahkan benda yang mengganggu saat berjalan Membantu bergerak denga • Menyarankan mempertahankan istirahat duduk atau tirah baring jika diperlukan Klien menyatakan dapat berjalan tapi tidak sanggup lama-lama O : Klien masih mengguna-kan ton jalan - Klien berjalan lambat Masalah teratasi seb gian R/T d P :in 3 • k tetap latihan berjalan • Menjelaskan pada klien untuk tetap m untuk an gunakan tongkat A: Masalah teratasi Pukul 16.20 WIB • Menyingkirkan bahaya yang dapat menyebabkan cedera (usahakan kursi selalu berada di tempatnya jangan dipindah-pindahkan) Mendorong klin untu e enggerakan sendi meminimalkan kekakuS : Klien menyatakan masih takut untuk berjalan O : Klien tampak berhati-hati -Klien meng sebagian P : R/T di lanjutkan ©2004 Digitized by USU digital library 22 No. Dx Hari / Tanggal Implementasi Evaluasi 1 Kamis / 26 Februari 04 Pu

• posisi yang nyaman uk bersandar sakit dengan O: ijat kaki kirieringis A : Masalah teratasi kul 11.00 WIB • Memberikan injeksi Neuropiton 1 cc • Menganjurkan minimal obat setelah makan 3x / hari Memberikan yaitu posisi dud • Menganjurkan untuk memijat bagian sendi yang obat gosok S : Klien menyatakan kaki kirinya masih sakit Klien mem nya - Wajah sedikit m seba-gian P : R/T dilanjutkan 2 Pu yang licin • Membantu klien bangkit dari pulang S : takan masih O: ang ke poliklinik n satu tera P : R/T utkan kul 11.15 WIB • Menjelaskan untuk tidak berjalan di tempat duduk saat akan • Menganjurkan klien untuk banyak istirahat Klien menya takut untuk berjalan Klien dat bersama tema wis-manya A : Masalah belum tasi dilanj 3 Pu • rak dengan • sendinya walaupun dalam keadaan duduk • Menganjurkan klien tetap menggunakan

tongkatnya saatnya berjalan up berjalan O : Klien berjalan lambat gunakan tong-kat A: Masalah teratasi kul 15.30 WIB Membantu klien berge cara menuntunnya Menganjurkan klien untuk meng-gerakkan S : Klien menyatakan dapat berjalan, dari tidak sang-g jauh dan tetap meng sebagian P : R/T dilanjutkan ©2004 Digitized by USU digital library 23 BAB V KESIMPULAN A. Kesimpulan. Penyakit reumatik adalah kerusakan tulang rawan sendi yang berkembang lambat dan berhubungan dengan usia lanjut. Secara klinis ditandai dengan nyeri, deformitas, pembesaran sendi, dan hambatan gerak pada sendi – sendi tangan dan sendi besar yang menanggung beban. Artritis rematoid adalah merupakan penyakit inflamasi sistemik kronik dengan manifestasi utama poliartritis progresif dan melibatkan seluruh organ tubuh. Terlibatnya sendi pada pasien artritis rematoid terjadi setelah penyakit ini berkembang lebih lanjut sesuai dengan sifat progresifitasnya. Pasien dapat juga menunjukkan gejala berupa kelemahan umum cepat lelah. Wanita lebih sering terkena osteoartritis pada lutut dan sendi, sedang pria lebih sering terkena osteoartritis pada paha, pergelangan tangan dan leher. Secara keeluruhan dibawah 45 tahun frekuensi osteoartritis kurang lebih sama pada pria dan wanita, tetapi diatas 50 tahun frekuensi oeteoartritis lebih banyak wanita dari pada pria hal ini menunjukkan adanya peran hormonal pada patogenesis osteoartritis. DAFTAR PUSTAKA Doenges E Marilynn, 2000., Rencana Asuhan Keperawatan, EGC, Jakarta Kalim, Handono, 1996., Ilmu Penyakit Dalam, Balai Penerbit FKUI, Jakarta. Mansjoer, Arif, 2000., Kapita Selekta Kedokteran, Media Aesculaapius FKUI, Jakarta. Prince, Sylvia Anderson, 1999., Patofisiologi: Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit., Ed. 4, EGC, Jakarta.

Ads by Google
2. Hormon seks Faktor keseimbangan hormonal diduga ikut berperan karena perempuan lebih banyak menderita penyakit ini dan biasanya sembuh sewaktu hamil. 3. Infeksi Dugaan adanya infeksi timbul karena permulaan sakitnya terjadi secara mendadak dan disertai tanda-tanda peradangan. Penyebab infeksi diduga bakteri, mikoplasma, atau virus. 4. Heat Shock Protein (HSP) HSP merupakan sekelompok protein berukuran sedang yang dibentuk oleh tubuh sebgai respons terhadap stres. 5. Radikal bebas Contohnya radikal superokside dan lipid peroksidase yang merangsang keluarnya prostaglandin sehingga timbul rasa nyeri, peradangan dan pembengkakan. 6. Umur Penyakit ini terjdai pada usia 20-60 tahun, tetapi terbanyak antara umur 35-45 tahun. Artritis reumatoid ini merupakan bentuk artritis yang serius, disebabkan oleh peradangan kronis yang bersifat progresif, yang menyangkut persendian. Ditandai dengan sakit dan bengkak pada sendi- sendi terutama pada jari-jari tangan, pergelangan tangan, siku, dan lutut. Penyebab artritis reumatoid masih belum diketahui walaupun banyak hal mengenai patogenesisnya telah terungkap. Penyakit ini tidak dapat ditunjukkan memiliki hubungan pasti dengan genetik. Terdapat kaitan dengan penanda genetik seperti HLA-DW4 (Human Leukocyte Antigens) dan HLA-DR5 pada orang Kaukasia. Namun pada orang Amerika, Afrika, Jepang, dan Indian Chippewa hanya ditentukan kaitan dengan HLA-DW4. Destruksi jaringan sendi terjadi melalui dua cara. Pertama adalah destruksi pencernaan oleh produksi, protease, kolagenase, dan enzim hidrolitik lainnya. Enzim ini memecah kartilago, ligamen, tendon, dan tulang pada

sendi, serta dilepaskan bersama – sama dengan radikal O2 dan metabolit asam arakidonat oleh leukosit polimorfonuklear dalam cairan sinovial. Proses ini diduga adalah bagian dari respon autoimun terhadap antigen yang diproduksi secara lokal Destruksi jaringan juga terjadi melalui kerja panus reumatoid. Panus merupakan jaringan granulasi atau vaskuler yang terbentuk dari sinovium yang meradang dan kemudian meluas ke sendi. Di sepanjang pinggir panus terjadi destruksi, kolagen, dan proteoglikan melalui produksi enzim oleh sel di dalam panus tersebut.
A. PATOFISIOLOGI

Pada artritis reumatoid, reaksi autoimun (yang sudah dijelaskan sebelumnya) terutama terjadi dalam jaringan sinovial. Proses fagositosis menghasilkan enzim-enzim dalam sendi. Enzim-enzim tersebut akan memecah kogen sehingga terjadi edema, proliferasi membran sinovial dan akhirnya pembentukan pannus. Pannus akan menghancurkan tulang rawan dan menimbulkan erosi tulang. Akibatnya adalah menghilangnya permukaan sendi yang akan mengganggu gerak sendi. Otot akan terkena karena serabut otot akan mengalami perubahan degeneratif dengan menghilangnya elastisitas otot dan kekuatan kontraksi otot.
B.GAMBARAN KLINIS

Ada beberapa gambaran klinis yang lazim ditemukan pada seseorang artritis reumatoid. Gambaran klinis ini tidak harus timbul sekaligus pada saat bersamaan oleh karena penyakit ini memiliki gambaran klinis yang sangat bervariasi.
1.Gejala-gejala konstitusional, misalnya lelah, anoreksia, berat badan

menurun dan demam. Terkadang kelelahan dapat demikian hebatnya. 2.Poliartritis simetris terutama pada sendi perifer: termasuk sendi-sendi di tangan, namun biasanya tidak melibatkan sendi-sendi interfalang distal. Hampir semua sendi diartrodial dapat diserang. 3.Kekakuan di pagi hari selama lebih dari 1 jam; dapat bersifat generalisata tetapi terutama menyerang sendi-sendi. Kekakuan ini berbeda dengan

Ads by Google
kekakuan sendi pada osteoartritis, yang biasanya hanya berlangsung selama beberapa menit dan selalu berkurang dari satu jam. 4.Artritis erosif; merupakan ciri khas penyakit ini pada gambaran radiologik. Peradangan sendi yang kronik mengakibatkan erosi di tei tulang. 5.Deformitas; Kerusakan jaringan penungjang sendi meningkatdengan

pejalanan penyakit. Pergeseran ulnar atau deviasi jari, subluksasi sendi metekarpofalangeal, deformitas boutonniere dan leher angsa adalah beberapa deformitas tangan yangsering dijumpai. Pada kaki terdapat protrusi (tonjolan) kaput metersal yang timbul sekunder dari subluksasi metetersal. Sendi-sendi yang besar juga dapa teserang dan mengalami pengurangan kemampuan bergerak terutama dalam melakukan gerakan ekstensi.
6.Nodul-nodul reumatoid: adalah massa subkutan yang ditemukan pada

sekitar sepertiga orang dewasa pasien artritis reumatoid. Lokasi yang paling sering dari deformitas ini adalah bursa olekranon (sendi siku) atau di sepanjang permukaan

ekstensor dari lengan; walaupun demikian nodula-nodula ini dapat juga timbul pada tempat-tempat lainnya. Adanya nodula-nodula ini biasanya merupakan suatu petunjuk suatu penyakit yang aktif dan lebih berat. 7.Manifestasi dekstra-artikular; artritis reumatoid juga dapat menyerangorgan-organ lain di luar sendi. Jantung (perikarditis), paru-paru (pleuritis), mata, dan pembuluh darah dapat rusak.

Ads by Google
Tahitian noni Power Pack
Solusi untuk Stroke,jantung,kanker, diabetes,GRATIS member

Kerja sampingan gaji 2Jt
Rahasia Bisnis internet Hasilkan 2Juta/hari hanya dgn online 1jam/hr

www.noni.co.id

www.ladangkekayaan.com

1. DIAGNOSA 2 : Intoleran aktivitas b/d perubahan otot. Kriteria Hasil : Klien mampu berpartisipasi pada aktivitas yang diinginkan.

INTERVENSI RASIONAL – Pertahankan istirahat tirah baring/duduk jika diperlukan. – Bantu bergerak dengan bantuan seminimal mungkin. – Dorong klien mempertahankan postur tegak, duduk tinggi, berdiri dan berjalan.

Berikan lingkungan yang

aman dan menganjurkan untuk menggunakan alat bantu.
– –

Berikan obat-obatan Untuk mencegah

kelelahan dan mempertahankan kekuatan.
– Meningkatkan fungsi sendi, kekuatan otot dan stamina umum. – Memaksimalkan fungsi

sendi dan mempertahankan mobilitas.
– Menghindari cedera akibat kecelakaan seperti jatuh. – Untuk menekan inflamasi sistemik akut 1.DIAGNOSA 3 : Resiko tinggi cedera b/d penurunan fungsi tulang. Kriteria Hasil : klien dapat mempertahankan keselamatan fisik. INTERVENSI RASIONAL – Kendalikan lingkungan – Lingkungan yang bebas

Ads by Google
Sandal Imperial Doctor
Beli 1 Dapat 2 Lengkap, Aman, Murah

AIDS / HIV Home Test Kit
99.9% Accurate. Used in Hospitals Delivery to doorstep in 24 Hours!

munyie.com

www.HivTest.com.my

dengan : Menyingkirkan bahaya yang tampak jelas, mengurangi potensial cedera akibat jatuh ketika tidur misalnya menggunakan penyanggah tempat tidur, usahakan posisi tempat tidur rendah, gunakan pencahayaan malam siapkan lampu panggil. – Memantau regimen medikasi Izinkan kemandirian dan kebebasan maksimum dengan memberikan kebebasan dalam lingkungan yang aman, hindari penggunaan restrain, ketika

pasien melamun alihkan perhatiannya bahaya akan mengurangi resiko cedera dan membebaskan keluaraga. – Hal ini akan memberikan pasien merasa otonomi, restrain dapat meningkatkan agitasi, mengegetkan pasien 1.DIAGNOSA 4 : Perubahan pola tidur b/d nyeri.

Kriteria Hasil : klien dapat memenuhi kebutuhan istirahat atau tidur. INTERVENSI RASIONAL Mandiri – Tentukan kebiasaan tidur biasanya yang terjadi. – Berikan tempat tidur yang nyaman. – Mengkaji perlunya dan mengidentifikasi intervensi yang tepat. – Meningkatkan

Buat rutinitas tidur yang

baru yang dimasukkan dalam pola lama dan lingkungan baru. Instruksikan tindakan relaksasi – Tingkatkan

regimen kenyamanan waktu tidur, misalnya mandi hangat dan massage. Gunakan pagar tempat tidur sesuai

indikasi: rendahkan tempat tidur bila mungkin. Berikan sedative, hipnotik sesuai indikasi kenyamanan tidur serta dukungan fisiologis/psikologis – Bila rutinitas baru mengandung

aspek sebanyak kebiasaan lama, stress dan ansietas yang berhubungan dapat berkurang. Membantu menginduksi tidur. – Meningkatkan efek relaksasi – Dapat merasakan takut jatuh karena perubahan ukuran tinggi tempat tidur, pagar tempat tidur memberikan keamanan

untuk membantu mengubah posisi. – Mungkin diberikan untuk membantu pasien tidur atau istirahat.

Ads by Google
Tahitian noni Power Pack
Solusi untuk Stroke,jantung,kanker, diabetes,GRATIS member

Kerja sampingan gaji 2Jt
Rahasia Bisnis internet Hasilkan 2Juta/hari hanya dgn online 1jam/hr

www.noni.co.id

www.ladangkekayaan.com

DAFTAR PUSTAKA Anderson, Sylvia Price, McCarty, Wilson Lorraine. 2006.PATOFISIOLOGI Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit. Edisi 6, volume 2. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC. Dalimartha, Setiawan. 2007. 96 Resep Tumbuhan Obat untuk Reumatik. Jakarta: PENEBAR SWADAYA. Gunadi, W. Rachmat, Et all. 2006. Diagnosis & Terapi Penyakit Reumatik. Bandung: SAGUNG SETO. Smeltzer, Suzanne C., Bare, Brenda G. 2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner & Suddarth. Volume 2. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC. Sudoyo, Aru, Et all. 2006. Buku Ajar ILMU PENYAKIT DALAM. JILID III, EDISI IV. Jakarta: Pusat Penerbitan Depertemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Utomo, Prayogo. 2005. APRESIASI PENYAKIT PENGOBATAN SECARA TRADISIONAL DAN MODERN. Jakarta: Penerbit RINEKA CIPTA. Winoto, Pandi. 2003. Pengobatan Alternatif. Yogyakarta: PENERBIT KANISIUS.

ASKEP REMATIK
Reads: 3,614 Uploaded: 01/26/2010 Category: Uncategorized. Rated:

vinza

Reading just got better!
Welcome to Scribd's new HTML5 reading experience.
• •

Learn more Change your reading preferences

Share & Embed
Link / URL: Embed Size & Settings:
• • • •
þÿ

Width: Height:

þÿ

Auto
þÿ
þÿ

þÿ

Start on page: Preview View:

ASKEP GOUTY ARTRITIS
ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN DENGAN GOUT (ENCOK) Defenisi Gout adalah peradangan akibat adanya endapan kristal asam urat pada sendi dan jari (depkes, 1992). Penyakit metabolik ini sudah dibahas oleh Hippocrates pada zaman Yunani kuno. Pada waktu itu gout dianggap sebagai penyakit kalangan sosial elite yang disebabkan karena terlalu banyak makan, anggur dan seks. sejak saat itu banyak teori etiologis dan terapeutik yang telah diusulkan. Sekarang ini, gout mungkin merupakan salah satu jenis penyakit reumatik yang paling banyak dimengerti dan usaha-usaha terapinya paling besar kemungkinan berhasil. Etiologi dan Patofisiologi Gambaran klasik artritis gout yang berat dan akut ada kaitan langsung dengan hiperurisemia (asam urat serum tinggi). Gout mungkin primer atau sekunder. Gout primer merupakan akibat langsung pernbentukan asam urat tubuh yang berlebihan atau akibat penurunan ekskresi asam urat. Gout sekunder disebabkan an karena pembentukan asam urat yang berlebihan atau ekskresi asam urat yang berkurang akibat proses penyakit lain atau pemakaian obat tertentu. Endapan urat dalam sendi atau traktus urinarius dialkibatkan: karena, asam urat yang rendah daya larutnya dan akibat garam-garainnya. Asam. urat yang berlebihan dan garam-garam tersebut keluar dari serum dan urin masing-masing mengendap dalam sendi dan traktus urinarius Gambaran klinis Gout akut biasanya terjadi pada pria sesudah lewat masa pubertas dan sesudah menopause pada wanita, sedangkan kasus yang paling banyak diternui pada usia 50-60. Gout lebih banyak dijumpai pada pria, sekitar 95 persen penderita gout adalah pria. Urat serum wanita normal jumahnya sekitar 1 mg per 100 mI, lebih sedikit jika dibandingkn dengan pria. Tetapi sesudah menopause perubahan tersebut kurang nyata. Pada pria hiperurisemia biasanya tidak timbul sebelurn mereka mencapai usia remaja. Gout Akut biasanya monoartikular dan timbulnya tiba-tiba. Tanda-tanda awitan serangan gout adalah rasa sakit yang hebat dan peradangan lokal. Pasien mungkin juga menderita demam dan jumlah sel darah putih meningkat. Serangan akut mungkin didahului oleh tindakan pembedahan, trauma lokal, obat, alkohol dan stres emosional. Meskipun yang paling sering terserang mula-mula adalah ibu jari kaki, tetapi sendi lainnya dapat juga terserang. Dengan semakin lanjutnya penyakit maka sendi jari, lutut, pergelangan tangan, pergelangan kaki dan siku dapat terserang gout. Serangan gout akut biasanya dapat sembuh sendiri. Kebanyakan gejala-gejala serangan Akut akan berkurang setelah 10-14 hari walaupun tanpa pengobatan. Perkembangan serangan Akut gout biasanya merupakan kelanjutan dari suatu rangkaian kejadian. Pertama-tama biasanya terdapat supersaturasi urat dalam plasma dan cairan tubuh. Ini diikuti dengan pengendapan kristal-kristal urat di luar cairan tubuh dan endapan dalarn dan seldtar sendi. Tetapi

serangan gout sering merupakan kelanjutan trauma lokal atau ruptura tofi (endapan natrium urat) yang merupakan penyebab peningkatan konsentrasi asam urat yang cepat. Tubuh mungkin tidak dapat menanggulangi peningkatan ini dengan memadai, sehingga mempercepat proses pengeluaran asam urat dari serum. Kristalisasi dan endapan asam urat merangsang serangan gout. Kristal-kristal asam urat ini merangsang respon fagositosis oleh leukosit dan waktu leukosit memakan kristal-kristal urat tersebut maka respon mekanisme peradangan lain terangsang. Respon peradangan mungkin dipengaruhi oleh letak dan besar endapan kristal asam urat. Reaksi peradangan mungkin merupakan proses yang berkembang dan memperbesar diri sendiri akibat endapan tambahan kristal-kristal dari serum. Periode antara serangan gout akut dikenal dengan nama gout inter kritikal. Pada masa ini pasien bebas dari gejala-gejala klinik. Gout kronik timbul dalarn jangka waktu beberapa tahun dan ditandai dengan rasa nyeri, kaku dan pegal. Akibat adanya kristal-kristal urat maka terjadi peradangan kronik, sendi yang bengkak akibat gout kronik sering besar dan berbentuk nodular. Serangan gout Aut dapat terjadi secara simultan diserta gejala-gejala gout kronik. Tofi timbul pada gout kronik karena urat tersebut relatif tidak larut. Awitan dan ukuran tofi sebanding dengan kadar urat serum. Yang sering terjadi tempat pembentukan tofi adalah: bursa olekranon, tendon Achilles, permukaan ekstensor dari lengan bawah, bursa infrapatella dan helix telinga Tofi-tofi ini mungkin sulit dibedakan secara klinis dari rheumatoid nodul. Kadang-kadang tofi dapat membentuk tukak dan kemudian mengering dan dapat membatasi pergerakan sendi. Penyakit ginjal dapat terjadi akibat hiperurisemia kronik, tetapi dapat dicegah apabila gout ditangani secara memadai. Kriteria diagnostik gout harus dipertimbangkan pada setiap pasien yang mempunyai riwayat dan penernuan fisik sesuai dengan apa yang telah Idta bahas sebelumnya, terutama gambaran klinik yang klasik. Peningkatan kadar asam urat serum dapat membantu menentukan diagnosis. Tetapi harus diingat bahwa banyak obat-obatan mempengaruhi kadar asam urat serum dan juga banyak orang normal yang tidak memperlihatkan gejala-gejala mempunyai kadar asam urat yang tinggi. Tes diagnostik lain yang dapat mendukung diagnosis gout adalah penentuan respon gejala-gejala sendi terhadap kolkisin. Kolkisin merupakan obat yang dapat meringankan gejala-gejala serangan gout akut secara dramatis. Sifat perubahan radiologis dapat membantu i sekali dalam penentuan diagnosis gout, tetapi pada awitan penyakit inj biasanya belum ada perubahan yang menyolok. Begitu diperkirakan diagnosis gout, maka dapat dipastikan dengan dua metoda: (1) menemukan kristal urat dalam cairan sinovial dan (2) menermikan urat dalam endapan tofi. Faktor-faktor yang berperanan Ada faktor-faktor tertentu yang berperanan sebagai penyebab hiperurisemia. Diet tinggi purin dapat merupakan salah satu faktor penyebab karena asam

urat dibentuk dari purin, adenin dan guanin. Kelaparan dan intake etil alkohol yang berlebilian juga dapat mengakibatkan hiperurisemia. Peningkatan kadar asam keto akibat puasa yang berkepanjangan, dan asam-asam keto ini mengganggu ekskresi asam urat oleh ginjal. Kadar laktat darah meningkat sebagai produk samping darl metabolisme alkohol yang normal, dan peningkatan laktat ini juga mengganggu ekskresi asam. urat oleh ginjal. Asam urat serum dapat meningkat pula akibat salisilat dosis rendah (kurang dari 2-3 g per hari) dan beberapa obat diuretika, antihipertensi (klortiazid, asam etakrinik). Penatalaksanaan Pengobatan Kolkisin adalah suatu agen anti radang yang biasanya dipakai untuk mengobati serangan gout akut, dan unluk mencegah serangan gout Akut di kemudian hari. Obat ini juga dapat digunakan sebagai sarana diagnosis. Pengobatan serangan akut biasanya tablet 0,5 mg setiap jam, sampai gejalagejala serangan Akut dapat dikurangi atau kalau ternyata ada bukti timbulnya efek samping gastrointestinal. Dosis maksimurn adalah 4-8 rng, tergantung dari berat pasien bersangkutan. Beberapa pasien mengalami rasa mual yang hebat, muntah-muntah dan diarhea, dan pada keadaan ini pemberian obat harus dihentikan. Gejala-gejala pada sebagian besar pasien berkurang dalam waktu 10-24 jam sesudah pemberian obat. Kolkisin dengan dosis 0,5-2 mg per hari ternyata cukup efektif untuk mencegah serangan gout berikutnya secara sempurna atau mendekati sempurna. Penggunaan kolkisin setiap hari cenderung memperingan episode gout berikutnya, kalau memang serangan gout terjadi lagi. Penggunaan kolkisin jangka panjang tak memperlihatkan efek samping yang berat. Fenilbutazon, suatu agen anti radang, dapat juga digunakan unluk mengobati artritis gout akut. Tetapi, karena fenilbutazon menimbulkan efek samping, maka kolkisin digunakan sebagai terapi pencegahan. Indometasin juga cukup efektif. Terdapat tiga obat lain yang berguna untuk terapi penunjang atau terapi pencegahan. Alopurinol dapat mengurangi pembentukan asamb urat. Dosis 100400 mg per hari dapat menurunkan kadar asam urat serum. Probenesid dan Sulfinpirazin merupakan agen urikosurik, artinya mereka dapat menghambat proses reabsorpsi urat oleh tubulus ginjal dan dengan dernikian meningkatkan ekskresi asam urat. Pemeriksaan kadar asam urat serum berguna untuk menentukan etektivitas suatu terapi. Mungkin dianjurkan untuk menghindari makanan yang mengandung kadar purin yang tinggi. Di antara jenis makanan ini termasuk jerohan seperti hati, ginjal, roti manis dan otak. Sardin dan anchovy (ikan kecfi semacarn haring) sebaiknya dibatasi. Untuk membuang tofi yang besar, terutama kalau tofi mengganggu gerakan sendi, maka dilakukan pembedahan. PROSES KEPERAWATAN PENGKAJIAN θ Tanyakan keluhan nyeri yang terjadi, biasanya pada ibu jari kaki atau pada sendi-sendi lain. Bagaimana gejala awalnya dan bagaimana klien

menanggulanginya, adakah riwayat gout dalam keluarga. Obat-obatan yang diperoleh θ Tentukan apakah ada nyeri saat digerakkan, bengkak, dan kemerahan, demam subfebris, periksa adanya nodul diatas sendi. θ Kaji adanya kecemasan dan ketakutan dalam melakukan aktivitas dan masalah-masalah yang terkait dengan psikososialnya. θ Pemeriksaan diagnostik o Asam urat meningkat o Sel darah putih dan sedimentasi eritrosit meningkat (selama fase akut) o Pada aspirasi sendi ditemukan aam urat o Pemeriksaan urin o Rontgen DIAGNOSA 1. Nyeri berhubungan 2. Gangguan mobilitas fisik 3. kurang pengetahuan tentang pengobatan dan perawatan dirumah dengan berhubungan proses dengan nyeri KEPERAWATAN penyakit persendian

PERENCANAAN DAN IMPLEMENTASI No Diagnosa Keperawatan Perencanaan Tujuan Intervensi dan Rasioanl 1 Nyeri b.d proses penyakit Rasa nyaman klien terpenuhi atau terhindar dari nyeri 1. Berikan posisi yang nyaman, sendi yang nyeri (kaki) diistirahatkan dan diberikan bantalan. Istirahat dapat menurunkan metabolisme setempat dan mengurangi pergerakan sendi yang terjadi. 2. Berikan kompres hangat atau dingin yang dapat memberikan efek vasodilatasi . keduanya mempunyai efek membantu pengeluaran endorfin dan dingindapat menghambat impuls-impuls nyeri 3. Cegahlah agar tidak terjadi iritasi pada tofi misal menghindari penggunaan sepatu yang sempit, terantuk pada benda yang keras. Bila terjadi iritasi maka akan semakin nyeri, apabila terjadi luka akibat tofi yang pecah maka rawatlah secara steril dan juga perawatan drain yang terpasang pada luka 4. Berikan obat-obatan sesuai dengan resep dokter dan amati efek samping obat-obatan tersebut 2 Gangguan mobilitas fisik b.d nyeri persendian Klien akan meningkatkan aktivitasnya sesuai dengan kemampuan 1. Tingkatkan aktivitas klien bila nyeri dan bengkak telah berkurang 2. lakukan ambulasi dengan bantuan misal dengan menggunakan walker atau tongkat. 3. lakukan latihan ROM secara hati-hati pada sendi yang terkena gout karena bila dimobilisasi terus menerus akan menurunkan fungsi sendi. 4. usahakan untuk meningkatkan kembali pada aktivitas yang normal. 3 Kurang pengaetahuan tentang pengobatan dan perawatan dirumah Klien dan keluarga dapat memahami penggunaan obat dan perawatan dirumah 1. Berikan jadwal obat yang harus digunakan meliputi nama obat, dosis, tujuan dan efek samping. Penjelasan ini dapat meningkatkankoordinasi dan kesadaran klien terhadap pengobatan yang teratur.

2. diskusikan tentang pentingnya diit yang terkontrol, misal dengan menghindari makanan tinggi purin seperti hati, ginjal, sarden. Program latihan dan istirahat yang teratur perlu dibicarakan EVALUASI 1. Tidak 2. 3. Tidak terjadi efek 4. Memahami jadwal pengobatan dan perawatan di ruma terjadi Nyeri samping akibat obat-obatan yang komplikasi terkontrol digunakan

Pendahuluan ASAM URAT Di masyarakat kini beredar mitos bahwa ngilu sendi berarti asam urat. Pengertian ini perlu diluruskan karena tidak semua keluhan dari nyeri sendi disebabkan oleh asam urat. Pengertian yang salah ini diperparah oleh iklan jamu/obat tradisional. Penyakit rematik banyak jenisnya. Tidak semua keluhan nyeri sendi atau sendi yang bengkak itu berarti asam urat. Untuk memastikannya perlu pemeriksaan laboratorium. Sebenarnya yang dimaksud dengan asam urat adalah asam yang berbentuk kristal-kristal yang merupakan hasil akhir dari metabolisme purin (bentuk turunan nukleoprotein), yaitu salah satu komponen asam nukleat yang terdapat pada inti sel-sel tubuh. Secara alamiah, purin terdapat dalam tubuh kita dan dijumpai pada semua makanan dari sel hidup, yakni makanan dari tanaman (sayur, buah, kacang-kacangan) atau pun hewan (daging, jeroan, ikan sarden). Jadi asam urat merupakan hasil metabolisme di dalam tubuh, yang kadarnya tidak boleh berlebih. Setiap orang memiliki asam urat di dalam tubuh, karena pada setiap metabolisme normal dihasilkan asam urat. Sedangkan pemicunya adalah makanan dan senyawa lain yang banyak mengandung purin. Sebetulnya, tubuh menyediakan 85 persen senyawa purin untuk kebutuhan setiap hari. Ini berarti bahwa kebutuhan purin dari makanan hanya sekitar 15 persen. Sayangnya, fakta ini masih belum diketahui secara luas oleh masyarakat. Akibatnya banyak orang suka menyamaratakan semua makanan. Orang menyantap apa saja yang dia inginkan, tanpa mempertimbangkan kandungan di dalamnya. Makanan sumber dari produk hewani biasanya mengandung purin sangat tinggi.Produk makanan mengandung purin tinggi kurang baik bagi orang-orang tertentu, yang punya bakat mengalami gangguan asam urat. Jika mengonsumsi makanan ini tanpa perhitungan, jumlah purin dalam tubuhnya dapat melewati ambang batas normal. Beberapa jenis makanan dan minuman yang diketahui bisa meningkatkan kadar asam urat adalah alkohol, ikan hearing, telur, dan jeroan. Ikan hearing atau sejenisnya (sarden), dan jeroan merupakan sumber senyawa sangat potensial. Yang tergolong jeroan bukan saja usus melainkan semua bagian lain yang terdapat dalam perut hewan –seperti hati, jantung, babat, dan limfa. KONSUMSI jeroan memperberat kerja enzim hipoksantin untuk mengolah purin. Akibatnya banyak sisa asam urat di dalam darahnya, yang berbentuk butiran dan mengumpul di sekitar sendi sehingga menimbulkan rasa sangat sakit. Jeroan memang merupakan salah satu hidangan menggiurkan, di antaranya soto babat, sambal hati, sate jantung, dan kerupuk limfa. Tetapi salah satu dampaknya, jika tubuh kelebihan senyawa purin maka si empunya diri mengalami sakit pada persendian.

Penyebab Penyakit asam urat digolongkan menjadi penyakit gout primer dan penyakit gout sekunder. Pada penyakit gout primer, 99 persen penyebabnya belum diketahui (idiopatik). Diduga berkaitan dengan kombinasi faktor genetic dan faktor hormonal yang menyebabkan gangguan metabolisme yang dapat mengakibatkan meningkatnya produksi asam urat atau bisa juga diakibatkan karena berkurangnya pengeluaran asam urat dari tubuh. Penyakit gout sekunder disebabkan antara lain karena meningkatnya produksi asam urat karena nutrisi, yaitu mengonsumsi makanan dengan kadar purin yang tinggi. Purin adalah salah satu senyawa basa organic yang menyusun asam nukleat (asam inti dari sel) dan termasuk dalam kelompok asam amino, unsur pembentuk protein. Produksi asam urat meningkat juga bisa karena penyakit darah (penyakit sumsum tulang, polisitemia), obat-obatan (alkohol, obat-obat kanker, vitamin B12). Penyebab lainnya adalah obesitas (kegemukan), penyakit kulit (psoriasis), kadar trigliserida yang tinggi. Pada penderita diabetes yang tidak terkontrol dengan baik biasanya terdapat kadar benda-benda keton (hasil buangan metabolisme lemak) yang meninggi. Benda-benda keton yang meninggi akan menyebabkan asam urat juga ikut meninggi. Setiap orang dapat terkena penyakit asam urat. Karena itu, kita perlu mewaspadai gejala-gejalanya. Penyakit radang sendi akibat peningkatan kadar asam urat darah disebut dengan artritis gout atau artritis pirai. Artritis gout yang akut disebabkan oleh reaksi radang jaringan terhadap pembentukan kristal urat. Pada sebagian besar kasus gout riwayat penyakit dan gambaran klinis bersifat khusus, sehingga kadang-kadang diagnosis dapat langsung ditegakkan. Seseorang dikatakan menderita asam urat (gout) jika kondisinya memenuhi beberapa syarat dan biasanya perjalanan penyakitnya klasik sekali, seperti mempunyai gejala yang khas penyakit gout, mempunyai perjalanan penyakit yang khas penyakit gout, ditemukan asam urat dalam kadar tinggi dalam darahnya, dan hasil pemeriksaan mikroskopik dari cairan sendi atau tofus (benjolan asam urat) ditemukan kristal asam urat yang berbentuk jarum. Lebih banyak pria Umumnya yang terserang asam urat adalah para pria, sedangkan pada perempuan persentasenya kecil dan baru muncul setelah menopause. Kadar asam urat kaum pria cenderung meningkat sejalan dengan peningkatan usia. Pada wanita, peningkatan itu dimulai sejak masa menopause.

Mengapa asam urat cenderung dialami pria? Ini karena perempuan mempunyai hormon estrogen yang ikut membantu pembuangan asam urat lewat urine. Sementara pada pria, asam uratnya cenderung lebih tinggi daripada perempuan karena tidak memiliki hormon estrogen tersbut. Jadi selama seorang perempuan mempunyai hormon estrogen, maka pembuangan asam uratnya ikut terkontrol. Ketika sudah tidak mempunyai estrogen, seperti saat menopause, barulah perempuan terkena asam urat. Kalau peningkatan asam urat ini melewati ambang batas yang bisa ditolerir, persoalan akan timbul pertama pada ginjal, sendi, dan saluran kemih Kadar Normal Pemeriksaan asam urat di laboratorium dilakukan dengan dua cara, Enzimatik dan Teknik Biasa. Kadar asam urat normal menurut tes Enzimatik maksimum 7 mg/dl. Sedangkan pada Teknik Biasa, nilai normalnya maksimum 8 mg/dl. Bila hasil pemeriksaan menunjukkan kadar asam urat melampaui standar normal itu, penderita dimungkinkan mengalami hiperurisemia. Kadar asam urat normal pada pria dan perempuan berbeda. Kadar asam urat normal pada pria berkisar 3,5 – 7 mg/dl dan pada perempuan 2,6 – 6 mg/dl. Kadar asam urat diatas normal disebut hiperurisemia. Perjalanan penyakit yang klasik biasanya dimulai dengan suatu serangan atau seseorang memiliki riwayat pernah cek asam uratnya tinggi di atas 7 mg/dl, dan makin lama makin tinggi. Jika demikian, kemungkinannya untuk menjadi penyakit gout itu makin besar. Biasanya 25% orang yang asam uratnya tinggi akan menjadi penyakit gout. Bila kadar asam urat tinggi tapi tidak ada gejala serangan sendi ini disebut stadium awal. Pada setiap orang berbeda-beda. Ada yang bertahuntahun sama sekali tidak muncul gejalanya, tetapi ada yang muncul gejalanya di usia 20 tahun, 30 tahun, atau 40 tahun. Gambaran Klinis Artritis gout muncul sebagai serangan keradangan sendi yang timbul berulang-ulang. Gejala khas dari serangan artritis gout adalah serangan akut biasanya bersifat monoartikular (menyerang satu sendi saja) dengan gejala pembengkakan, kemerahan, nyeri hebat, panas dan gangguan gerak dari sendi yang terserang yang terjadi mendadak (akut) yang mencapai puncaknya kurang dari 24 jam. Lokasi yang paling sering pada serangan pertama adalah sendi pangkal ibu jari kaki. Hampir pada semua kasus, lokasi artritis terutama pada sendi perifer dan jarang pada sendi sentral.

Serangan yang terjadi mendadak maksudnya tiba-tiba. Karena itu bisa saja terjadi, siang hari sampai menjelang tidur tidak ada keluhan, tetapi pada tengah malam penderita mendadak terbangun karena rasa sakit yang amat sangat. Kalau serangan ini datang, penderita akan merasakan sangat kesakitan walau tubuhnya hanya terkena selimut atau bahkan hembusan angin. Perjalanan penyakit gout sangat khas dan mempunyai 3 tahapan. Tahap pertama disebut tahap artritis gout akut. Pada tahap ini penderita akan mengalami serangan artritis yang khas dan serangan tersebut akan menghilang tanpa pengobatan dalam waktu 5 – 7 hari. Karena cepat menghilang, maka sering penderita menduga kakinya keseleo atau kena infeksi sehingga tidak menduga terkena penyakit gout dan tidak melakukan pemeriksaan lanjutan. Bahkan, dokter yang mengobati kadang-kadang tidak menduga penderita terserang penyakit gout. Karena serangan pertama kali ini singkat waktunya dan sembuh sendiri, sering penderita berobat ke tukang urut dan waktu sembuh menyangka hal itu disebabkan hasil urutan/pijatan. Padahal, tanpa diobati atau diurut pun serangan pertama kali ini akan hilang sendiri. Setelah serangan pertama, penderita akan masuk pada gout interkritikal. Pada keadaan ini penderita dalam keadaan sehat selama jangka waktu tertentu. Jangka waktu antara seseorang dan orang lainnya berbeda. Ada yang hanya satu tahun, ada pula yang sampai 10 tahun, tetapi rata-rata berkisar 1 – 2 tahun. Panjangnya jangka waktu tahap ini menyebabkan seseorang lupa bahwa ia pernah menderita serangan artritis gout atau menyangka serangan pertama kali dahulu tak ada hubungannya dengan penyakit gout. Tahap kedua disebut sebagai tahap artritis gout akut intermiten. Setelah melewati masa gout interkritikal selama bertahun-tahun tanpa gejala, penderita akan memasuki tahap ini, ditandai dengan serangan artritis yang khas. Selanjutnya penderita akan sering mendapat serangan (kambuh) yang jarak antara serangan yang satu dan serangan berikutnya makin lama makin rapat dan lama, serangan makin lama makin panjang, serta jumlah sendi yang terserang makin banyak. Tahap ketiga disebut sebagai tahap artritis gout kronik bertofus. Tahap ini terjadi bila penderita telah menderita sakit selama 10 tahun atau lebih. Pada tahap ini akan terjadi benjolan-benjolan di sekitar sendi yang sering meradang yang disebut sebagai tofus. Tofus ini berupa benjolan keras yang berisi serbuk seperti kapur yang merupakan deposit dari kristal monosodium urat. Tofus ini akan mengakibatkan kerusakan pada sendi dan tulang di sekitarnya. Tofus pada kaki bila ukurannya besar dan banyak akan mengakibatkan penderita tidak dapat menggunakan sepatu lagi. Faktor Risiko Faktor risiko yang menyebabkan orang terserang penyakit asam urat adalah pola makan, kegemukan, dan suku bangsa.

Di dunia, suku bangsa yang paling tinggi prevalensinya pada orang Maori di Australia. Prevalensi orang Maori terserang penyakit asam urat tinggi sekali, sedangkan di Indonesia prevalensi tertinggi pada penduduk pantai dan yang paling tinggi di daerah Manado-Minahasa karena kebiasaan atau pola makan ikan dan mengonsumsi alkohol. Alkohol menyebabkan pembuangan asam urat lewat urine itu ikut berkurang sehingga asam uratnya tetap bertahan di dalam darah. Konsumsi ikan laut yang tinggi juga mengakibatkan asam urat. Asupan yang masuk ke tubuh juga memengaruhi kadar asam urat dalam darah. Makanan yang mengandung zat purin yang tinggi akan diubah menjadi asam urat. Purin yang tinggi terutama terdapat dalam jeroan, sea food: udang, cumi, kerang, kepiting, ikan teri. KALAU menurut hasil pemeriksaan laboratorium kadar asam urat terlalu tinggi, kita perlu memperhatikan masalah makanan. Makanan dan minuman yang selalu dikonsumsi apakah merupakan pemicu asam urat. Pada orang gemuk, asam urat biasanya naik sedangkan pengeluarannya sedikit. Maka untuk keamanan, orang biasanya dianjurkan menurunkan berat badan. Yang paling penting untuk diketahui adalah kalau asam urat tinggi dalam darah, tanpa kita sadari akan merusak organ-organ tubuh, terutama ginjal, karena saringannya akan tersumbat. Tersumbatnya saringan ginjal akan berdampak munculnya batu ginjal, atau akhirnya bisa mengakibatkan gagal ginjal. Asam urat pun merupakan faktor risiko untuk penyakit jantung koroner. Diduga kristal asam urat akan merusak endotel (lapisan bagian dalam pembuluh darah) koroner. Karena itu, siapapun yang kadar asam uratnya tinggi harus berupaya untuk menurunkannya agar kerusakan tidak merembet ke organorgan tubuh yang lain. Penatalaksanaan Penatalaksanaan artritis gout: • Meredakan radang sendi (dengan obat-obatan dan istirahat sendi yang terkena). • Pengaturan asam urat tubuh (dengan pengaturan diet dan obat-obatan). Tujuan utama pengobatan artritis gout adalah: • Mengobati serangan akut secara baik dan benar • Mencegah serangan ulangan artritis gout akut • Mencegah kelainan sendi yang berat akibat penimbunan kristal urat • Mencegah komplikasi yang dapat terjadi akibat peningkatan asam urat pada jantung, ginjal dan pembuluh darah. • Mencegah pembentukan batu pada saluran kemih.

Makin cepat seseorang mendapat pengobatan sejak serangan akut, makin cepat pula penyembuhannya. Pengobatan dapat diberikan obat anti inflamasi nonsteroid (antirematik) dan obat penurun kadar asam urat (obat yang mempercepat/meningkatkan pengeluaran asam urat lewat kemih (probenecid) atau obat yang menurunkan produksi asam urat (allopurinol)). Pengaturan diet Selain jeroan, makanan kaya protein dan lemak merupakan sumber purin. Padahal walau tinggi kolesterol dan purin, makanan tersebut sangat berguna bagi tubuh, terutama bagi anak-anak pada usia pertumbuhan. Kolesterol penting bagi prekusor vitamin D, bahan pembentuk otak, jaringan saraf, hormon steroid, garam-garaman empendu dan membran sel.Orang yang kesehatannya baik hendaknya tidak makan berlebihan. Sedangkan bagi yang telah menderita gangguan asam urat, sebaiknya membatasi diri terhadap hal-hal yang bisa memperburuk keadaan. Misalnya, membatasi makanan tinggi purin dan memilih yang rendah purin. Makanan yang sebaiknya dihindari adalah makanan yang banyak mengandung purin tinggi. Penggolongan makanan berdasarkan kandungan purin: • Golongan A: Makanan yang mengandung purin tinggi (150-800 mg/100 gram makanan) adalah hati, ginjal, otak, jantung, paru, lain-lain jeroan, udang, remis, kerang, sardin, herring, ekstrak daging (abon, dendeng), ragi (tape), alkohol serta makanan dalam kaleng. • Golongan B: Makanan yang mengandung purin sedang (50-150 mg/100 gram makanan) adalah ikan yang tidak termasuk golongan A, daging sapi, kerang-kerangan, kacang-kacangan kering, kembang kol, bayam, asparagus, buncis, jamur, daun singkong, daun pepaya, kangkung. • Golongan C: Makanan yang mengandung purin lebih ringan (0-50 mg/100 gram makanan) adalah keju, susu, telur, sayuran lain, buah-buahan.

Pengaturan diet sebaiknya segera dilakukan bila kadar asam urat melebihi 7 mg/dl dengan tidak mengonsumsi bahan makanan golongan A dan membatasi diri untuk mengonsmsi bahan makanan golongan B. Juga membatasi diri mengonsumsi lemak serta disarankan untuk banyak minum air putih. Apabila dengan pengaturan diet masih terdapat gejala-gejala peninggian asam urat darah, sebaiknya berkonsultasi dengan dokter terdekat untuk penanganan lebih lanjut. Hal yang juga perlu diperhatikan, jangan bekerja terlalu berat, cepat tanggap dan rutin memeriksakan diri ke dokter. Karena sekali menderita, biasanya gangguan asam urat akan terus berlanjut

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->