P. 1
LAPORAN bakteri

LAPORAN bakteri

|Views: 6,972|Likes:
download : http://www.ziddu.com/download/10800026/LAPORANbakteri.pdf.html
download : http://www.ziddu.com/download/10800026/LAPORANbakteri.pdf.html

More info:

Published by: Hendrik_Nurfitrianto on Jul 20, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/17/2013

pdf

text

Sections

LAPORAN PRAKTIKUM MIKROBIOLOGI : BAKTERI

OLEH :
1.

Farah Rossa Lina (083244014) Rizka Faiza Dian Anjar Sari (083244026) (083244028)

2. 3. 4.

M. Iqbal Filayani (083244211) Rodhiyah Eka Septian (083244213)

5.

JURUSAN BIOLOGI FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA

2010

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Pada beberapa dasawarsa terakhir, sel mikroba telah menjadi model yang bermanfaat untuk menelaah proses-proses kehidupan sebab sifat keragamanya sangat luas, serba guna dan mudahnya dimanipulasi. Penelitian pada bidang mikrobiologi telah memberikan sumbangan yang besar terhadap apa yang kita ketahui tentang genetika dan metabolisme. Bidang mikrobiologi dapat membantu memecahkan beberapa permasalahan manusia yang paling rumit yang sebagian besar diantaranya disebabkan persaingan dalam pemanfaatan sumber-sumber daya yang terbatas jumlahnya dan persaingan akan ruang. Diantara permasalahan tersebut adalah suplai energi atau pangan agar cukup, polutan lingkungan dan pencegahan penyakit serta pemeliharaan kesehatan yang semuanya sudah dipecahkan dengan menggunakan teknologi dengan menggunakan mikroorganisme. Ada beberapa mikroba yang digunakan dalam rekayasa genetika, ada yang dimanfaatkan dalam proses pembutan energi, ada yang direkayasa supaya dapat menghancurkan polutan ada yang dibuat sebagai protein sel tunggal. Pencegahan penyakit yang merupakan fokus awal mikrobiologi, telah digunakan dalam pengendalian penyakit cacar dan samapi sekarang tetap merupakan fokus utama. Mikroorganisme sangat penting dalam jaring-jaring kehidupan di setiap lingkungan. Banyak mikroorganisme di laut dan dalam badan-badan air tawar menangkap energi dari sinar matahari dan menyimpan dalam molekul-molekul yang digun akan organisme-organisme lain sebagai makanan. Mikroorganisme menguraikan organisme-organisme mati dan bahan buangan dari organismeorganisme hidup, dan dapat menguraikan beberapa limbah industri.

Mikroorganisme sangat cocok digunakan dalam penelitian setidaktidaknya ada beberapa alasan diantaranya adalah mikroorgnisme relatif sederhana. Lebih mudah mempelajari proses-proses kehidupan dalam organisme-organisme bersel satu yang sederhana. Mikroorganisme dapat digunakan dalam suatu percobaan untuk memperoleh hasil-hasil yang secara statistik terandalkan (reliable) dengan biaya yang wajar dan relative murah. Mikroorganisme berkembang biak dengan cepat, sehingga sangat cocok bagi kajian-kajian yang menyangkut pewarisan informasi genetik. Mikrobiologi sendiri memiliki beberapa cabang ilmu lain seperti bakteriologi yang khusus mempelajari bakteri, virologi yang khusus mempelajari virus, patologi dan lain-lain. Dalam kurikulum mata kuliah di Jurusan Biologi Unesa, mata kuliah mikrobiologi mempelajari bakteriologi, virologi dan mikologi. Di antara banyak mikroorganisme yang telah dikenali, bakteri mungkin yang telah dikaji secara mendalam. Sebagian besar bakteri adalah organisme bersel satu dengan bentuk bulat, batang, atau spiral, tapi beberapa jenis membentuk filamen. Bakteri memiliki sel, namun tak berinti sel, dan tidak memiliki membran yang membatasi struktur intra sel. Virus adalah kesatuan unit tak bersel yang terlalu kecil untuk dilihat dengan mikroskop cahaya. Oleh karena itu, pada praktikum mikrobiologi ini kita akan mempelajari berbagai aktivitas dari mikrobia yang meliputi: bakteri dan virus. Dengan menggunakan media dan teknik khusus, sehingga kita dapat mengidentifikasi mikrobia tersebut, serta mencoba menguji antibiotik yang bisa menghambat perkembangbiakan (resistensi) dari bakteri yang merugikan manusia. Serta dapat menginveksikan virus ke sel yang sesuai sehingga virus dapat bereproduksi dan dapat dimurnikan sehingga diketahui bentuk virusnya. B. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang di atas, dapat dirumuskan sebagai berikut : 1. Bagaimana membuat media yang baik untuk bakteri?

2. Bagaimana cara isolasi dan identifikasi bakteri?
3. Bagaimana proses enumerase?

4. Bagaimanakah proses uji resistensi?

C.

Tujuan Praktikum Adapaun tujuan dari praktikum ini adalah : 1. Memberi informasi cara membuat media yang baik 2. Mengetahui cara isolasi dan identifikasibakteri 3. Mengetahui proses enumerase 4. Memberi informasi tentang proses uji resistensi

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. Pembuatan Media Bakteri Media pertumbuhan mikroorganisme adalah suatu bahan yang terdiri dari campuran zat-zat makanan (nutrisi) yang diperlukan mikroorganisme untuk pertumbuhannya. Mikroorganisme memanfaatkan nutrisi media berupa molekulmolekul kecil yang dirakit untuk menyusun komponen sel. Dengan media pertumbuhan dapat dilakukan isolat mikroorganisme menjadi kultur murni dan juga memanipulasi komposisi media pertumbuhannya.

Bakteri memerlukan nutrient atau makanan untuk dapat tumbuh. Nutrient diartikan sebagai material kasar yang dibutuhkan untuk membangun komponen seluler baru dan menghasilkan energi untuk proses-proses dalam kehidupan sebuah mikroba (Dwidjo Saputro:31). Pertumbuhan bakteri selain memerlukan nutrisi, juga memerlukan pH yang tepat. Kebanyakan bakteri tidak dapat tumbuh pada kondisi yang terlalu basa, kecuali Vibrio cholerae yang dapat hidup pada pH lebih dari 8. Suhu juga merupakan variabel yang perlu dikendalikan. Kelompok terbesar yaitu mesofil, suhu optimum untuk pertumbuhannya 20-40oC (Volk, 1993). PH merupakan faktor yang sangat mempengaruhi suatu keberhasilan dalam pembuatan medium sehingga kondisi pH yang terlalu basa atau terlalu asam tidak cocok untuk dijadikan medium mikroba karena mikroba tidak dapat hidup pada kondisi tersebut. Medium didiamkan atau disimpan selama 2 x 24 jam untuk menyakinkan bahwa medium masih steril, karena selain pH sebagai penentu tumbuhnya mikroba, alat dan medium yang steril juga menentukan (Dwidjoseputro, 1994). Macam-macam media pertumbuhan bakteri : 1. Medium cair Medium cair yang umum digunakan dalam menumbuhkan mikroba adalah kaldu daging, pepton, susu murni, air kedelai dan putih telur, serta cairan yang banyak mengandung N2.

2.

Medium padat atau kental Medium seperti medium cair tetapi dipadatkan dengan menggunakan agar sebagai pemadatnya. Contohnya PSA, PDA, TA, dll.

3.

Medium diperkaya Medium yang digunakan untuk menumbuhkan mikroorganisme tertentu tanpa mematikan mikroorganisme yang lain.

4.

Medium kering

Medium yang berupa serbuk kering yang siap digunakan dengan konsentrasi tertentu dan dilarutkan dalam air. 5. Medium sintetik Medium yang berupa campuran zat organik tertentu yang mengandung karbon dan nitrogen. Bakteri yang dapat hidup dalam medium ini adalah bakteri autotrof. Bakteri saprofit juga dapat hidup dalam medium ini asalkan ditambahkan natrium sitrat dan natrium ammonium fosfat. Medium berdasarkan komposisi bahan kimia antara lain: 1. 2. 3. Medium Sintesis (diketahui komposisinya) Medium Semi Sintesis (sebagian komposisinya diketahui) Medium non sintesis (komposisinya tidak diketahui)

Medium dibagi menjadi 4 menurut fungsinya: 1. 2. 3. 4. Medium Universal (umum) merupakan medium yang dapat emnumbuhkan semua jenis mikroorganisme. Medium Selektif merupakan medium yang hanya dapat menumbuhkan bakteri/ jamur yang diinginkan. Medium Differensial merupakan medium yang digunakan untuk menumbuhkan mikroorganisme dengan penampakan tertentu. Medium diperkaya merupakan medium yang digunakan untuk memperbanyak bakteri yang ditumbuhkan.

B. Isolasi dan Identifikasi  Isolasi

Isolasi merupakan salah satu cara penangkapan mikroba. Mikrobia sangat sulit ditangkap dari habitatnya, untuk itu dilakukan penangkapan dengan media cawan petri padat. Mengisolasi dilakukan secara aseptic sehingga sedikit kemungkinan kontaminasi. Kemudian setelah mikroba tumbuh, ambil satu koloni yang akan dimurnikan dalam tabung reaksi. Teknik Penanaman dengan Goresan (Streak) Bertujuan untuk mengisolasi mikroorganisme dari campurannya atau meremajakan kultur ke dalam medium baru.  Goresan Sinambung Cara kerja : Sentuhkan inokulum loop pada koloni dan gores secara kontinyu sampai setengah permukaan agar. Jangan pijarkan loop, lalu putar cawan 180oC lanjutkan goresan sampai habis. Goresan sinambung umumnya digunakan bukan untuk mendapatkan koloni tunggal, melainkan untuk peremajaan ke cawan atau medium baru.

 Goresan T Cara kerja : Bagi cawan menjadi 3 bagian menggunakan spidol marker. Inokulasi daerah 1 dengan streak zig-zag. Panaskan jarum inokulan dan tunggu dingin, kemudian lanjutkan streak zig-zag pada daerah 2 (streak pada gambar). Cawan diputar untuk memperoleh goresan yang sempurna. Lakukan hal yang sama pada daerah 3

 Goresan Kuadran (Streak quadrant) Cara kerja : Hampir sama dengan goresan T, namun berpola goresan yang berbeda yaitu dibagi empat. Daerah 1 merupakan goresan awal sehingga masih mengandung banyak sel mikroorganisma.Goresan selanjutnya dipotongkan atau disilangkan dari goresan pertama sehingga jumlah semakin sedikit dan akhirnya terpisah-pisah menjadi koloni tunggal.

Identifikasi 1. Pewarnaan Sederhana Pewarnaan sederhana adalah suatu metode pewarnaan umum dimana dapat

digunakan beberapa larutan tunggal zat warna dengan tujuan untuk melihat bentuk-bentuk sel-sel bakteri. Teknik ini digunakan untuk melihat bentuk morfologi bakteri (coccus, bacill, spiral, dll.), dan susunan bakteri tersebut (rantai, berkelompok, berpasangan tetrat). Dalam teknik ini hanya menggunakan satu zat yang bersifat basa karena sel bakteri bersifat basofilik (suka akan basa). Zat warna yang bersifat basa seperti metilen blue, Kristal violet, dan karbol fuchsin.

2.

Pewarnaan Gram Pewarnaan Gram atau metode Gram adalah salah satu teknik

pewarnaan yang paling penting dan luas yang digunakan untuk mengidentifikasi bakteri. Dalam proses ini, olesan bakteri yang sudah terfiksasi dikenai larutanlarutan berikut : zat pewarna kristal violet, larutan yodium, larutan alkohol (bahan pemucat), dan zat pewarna tandingannya berupa zat warna safranin atau air fuchsin. Metode ini diberi nama berdasarkan penemunya, ilmuwan Denmark Hans Christian Gram (1853–1938) yang mengembangkan teknik ini pada tahun 1884 untuk membedakan antara pneumokokus dan bakteri Klebsiella pneumoniae. Bakteri yang terwarnai dengan metode ini dibagi menjadi dua kelompok, yaitu bakteri Gram Positif dan Bakteri Gram Negatif. Bakteri Gram positif akan mempertahankan zat pewarna kristal violet dan karenanya akan tampak berwarna ungu tua di bawah mikroskop. Adapun bakteri gram negatif akan kehilangan zat pewarna kristal violet setelah dicuci dengan alkohol, dan sewaktu diberi zat pewarna tandingannya yaitu dengan zat pewarna air fuchsin atau safranin akan tampak berwarna merah. Perbedaan warna ini disebabkan oleh perbedaan dalam struktur kimiawi dinding selnya. Prinsip dasar dari pewarnaan ini adalah adanya ikatan ion antara komponen selular dari bakteri dengan senyawa aktif dari pewarna yang disebut kromogen. Terjadi ikatan ion karena adanya muatan listrik baik pada komponen seluler maupun pada pewarna. Berdasarkan adanya muatan ini maka dapat dibedakan pewarna asam dan pewarna basa. Pewarna asam dapat tejadi karena bila senyawa pewarna bermuatan negatif. Dalam kondisi pH mendekati netral dinding sel bakteri cenderung bermuatan negatif, sehingga pewarna asam yang bermuatan negatif akan ditolak oleh dinding sel, maka sel tidak berwarna. Pewarna asam ini disebut pewarna negatif. Pewarnaan basa bisa terjadi biasenyawa pewarna bersifat positif, sehingga akan diikat oleh dinding sel bakteri dan sel bakteri jadi terwarna dan terlihat. 3. Uji katalase

Uji katalase digunakan untuk mengetahui aktivitas katalase pada bakteri yang diuji. Kebanyakan bakteri memproduksi enzim katalase yang dapat memecah H2O2 menjadi H2O dan O2. Enzim katalase diduga penting untuk pertumbuhan aerobik karena H2O2 yang dibentuk dengan pertolongan berbagai enzim pernafasan bersifat racun terhadap sel mikroba. Beberapa bakteri yang termasuk katalase negatif adalah Streptococcus, Leuconostoc, Lactobacillus, dan Clostridium. Keberadaan H2O2 pertama kali dideteksi pada kultur Pneumococcus, sebuah organisme yang tidak memproduksi katalase dan sedikit sensitif terhadap peroksida. Organisme yang tidak memproduksi katalase dilindungi oleh penanaman dengan jaringan hewan atau tumbuhan atau organisme lain yang mempunyai kemampuan memproduksi enzim. Katalase diproduksi oleh beberapa bakteri. Beberapa bakteri diantaranya memproduksi katalase lebih banyak daripada yang lain. Ini ditunjukkan dengan jumlah yang banyak pada bakteri aerob. Sedangkan enzim tidak diproduksi oleh bakteri anaerob obligat karena mereka tidak memerlukan enzim tersebut. Bakteri katalase positif seperti S. Aureus bisa menghasilkan gelembunggelembung oksigen karena adanya pemecahan H2O2 (hidrogen peroksida) oleh enzim katalase yang dihasilkan oleh bakteri itu sendiri. Komponen H2O2 ini merupakan salah satu hasil respirasi aerobik bakteri, misalnya S. aureus, dimana hasil respirasi tersebut justru dapat menghambat pertumbuhan bakteri karena bersifat toksik bagi bakteri itu sendiri. Oleh karena itu, komponen ini harus dipecah agar tidak bersifat toksik lagi. Mekanisme enzim katalase memecah H2O2 yaitu saat melakukan respirasi, bakteri menghasilkan berbagai macam komponen salah satunya H2O2. Bakteri yang memiliki kemampuan memecah H2O2 dengan enzim katalase maka segera membentuk suatu sistem pertahanan dari toksik H2O2 yang dihasilkannya sendiri. Bakteri katalase positif akan memecah H2O2 menjadi H2O dan O2 dimana parameter yang menunjukkan adanya aktivitas katalase tersebut adalah adanya gelembung-gelembung oksigen seperti pada percobaan yang telah dilakukan. Dengan enzim katalase, H2O2 diurai dengan reaksi sebagai berikut.

2H2O2 4. Uji motilitas

2H2O + O2

Uji motillitas ini ditujukan untuk mengetahui ada atau tidaknya pergerakan mikroba. Pergerakan ini dapat diamati dengan metode yang disebut “preparat basah tetes gantung”, yaitu suatu metode yang dibuat dengan cara memberi setetes cairan yang mengandung mikroba (aquades+mikroba) pada cover glass. Bakteri atau mikroba mempunyai suatu alat untuk bergerak. C. Enumerase Enumerase dapat diartikan sebagai penghitungan kepadatan mikroba. Banyak tersedia metode untuk menganalisa jumlah mikroorganisme dalam suatu sampel, diantaranya adalah plate count (spread plate, pour plate, spiral plate), membrane filtration, MPN, menghitung langsung dengan Petroff Hausser ataupun cara lainnya (misalnya aktivitas metabolik, turbidimetri, berat kering dll.). Namun dalam ulasan ini lebih ditekankan pada metode yang memerlukan penghitungan koloni pada cawan petri, seperti membrane filtration, spread plate, pour plate dll. Pemahaman tentang satuan dalam menghitung sel mikroba khususnya bakteri adalah sangat penting. Pada hasil akhir penghitungan bakteri pada cawan digunakan satuan CFU’s/volume atau berat. CFU’s adalah singkatan dari Coloni Forming Unit’s yang artinya unit-unit/satuan pembentuk koloni. Yang dimaksud satuan pembentuk koloni adalah sel tunggal atau sekumpulan sel yang jika ditumbuhkan dalam cawan akan membentuk satu koloni tunggal. Pada dasarnya sel tersebar homogen pada sampel, tetapi ada jenis bakteri yang memang pembelahan selnya dapat terpisah baik sehingga tersebar merata tiap sel dan ada pula bakteri yang setelah membelah sel anakan masih menempel pada induknya, seperti halnya yang terjadi pada streptococcus, diplococcus, sarcina dll. Sehingga penyebarannya berkelompok-kelompok. Pada jenis yang seperti ini jika tersebar merata dalam kelompok-kelompok sel maka pertumbuhan menjadi koloni tunggal bukan berasal dari satu sel saja melainkan dari beberapa sel. Hal-hal penting yang harus dipikirkan matang sebelum menganalisa sampel untuk diketahui jumlah mikroorganismenya adalah:

1. 2.

Memperkirakan jumlah mikroorganisme yang ada dalam sampel per satuan volum. Memilih metode yang cocok sehingga dihasilkan data yang akurat. misalnya bermaksud akan menghitung yeast, bakteri, atau bakteri genus tertentu saja.

3. Mengetahui jenis/golongan mikroorganisme yang akan dihitung,

4.

Menentukan media pertumbuhan yang cocok. yeast dan molds.

5. Benar-benar mengetahui perbedaan morfologi koloni antara bakteri,

6.

Mencari tahu standar/ batas ambang/ jumlah maksimum aman jika sample yang dianalisa memerlukan referensi tersebut.

7. Memperkirakan jumlah sampel (volum/berat) yang perlu ditampung

pada saat pengambilan sampel yang disesuaikan dengan sample size dari metode teretentu.

D. Uji resistensi Mikroorganisme ditemukan di hampir setiap lingkungan di permukaan bumi, termasuk lingkungan-lingkungan di mana tidak ada bentuk-bentuk hidup lain dapat bertahan hidup. Mikroorganisme mampu bertahan hidup di berbagai kondisi lingkungan yang berbeda-beda. Mereka juga mampu untuk mengadaptasi perubahan-perubahan lingkungan yang sangat ekstrim. Jenis-jenis mikroba yang ditemukan di suatu lingkungan mempunyai pertumbuhan yang berbeda-beda pula. Pertumbuhan mikroba sangat dipengaruhi oleh faktor fisik dan kimiawi. Selayaknya mahluk hidup mikroorganisme juga membutuhkan zat-zat tertentu untuk tumbuh dan juga memberikan respon terhadap zat-zat yang merusak mereka. Banyak bahan kimia baik organik maupun anorganik bersifat racun terhadap mikroorganisme. Bahan-bahan racun ini banyak diteliti untuk dibuat sebagai sarana menghambat dan mematikan mikroba yang bersifat patogen dan merugikan manusia. Senyawa yang bisa mengahambat mikroba digolongakan menjadi senyawa antiseptik dan yang bisa mematikan mikroba disebut bahan desinfektan.

Salah satu senyawa antiseptik yang dapat menghambat pertumbuhan salah satu jenis mikroba misalnya bakteri adalah antibiotik. Antibiotika atau dikenal juga sebagai obat anti bakteri adalah obat yang digunakan untuk mengobati penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri. Alexander Fleming pada tahun 1927 menemukan antibiotika yang pertama yaitu penisilin. Setelah mulai digunakan secara umum pada tahun 1940, maka antibiotika bisa dibilang merubah dunia pengobatan serta mengurangi angka kesakitan & kematian yang disebabkan oleh penyakit infeksi secara dramatis. Arti antibiotika sendiri pada awalnya merujuk pada senyawa yang dihasilkan oleh jamur atau mikroorganisme yang dapat membunuh bakteri penyebab penyakit pada hewan & manusia. Saat ini beberapa jenis antibiotika merupakan senyawa sintetis (tidak dihasilkan dari mikororganisme) tetapi juga dapat membunuh atau menghambat pertumbuhan bakteri. Secara teknis, zat yang dapat membunuh bakteri baik berupa senyawa sintetis atau alami disebut dengan zat antimikroba, akan tetapi banyak orang yang menyebutnya dengan antibiotika. Meskipun antibiotika mempunyai manfaat yang sangat banyak, penggunaan antibiotika secara berlebihan juga dapat memicu terjadinya resistensi antibiotika. Antibiotika sejak pertama digunakan pada tahun 1940 merupakan salah satu kemajuan besar dalam dunia pengobatan. Akan tetapi peresepan yang berlebihan terhadap antibiotika mempunyai dampak terhadap perkembangan bakteri yang menjadi tidak responsif terhadap pemberian antibiotika, yang sebelumnya pernah berhasil (resisten). Selain itu anak-anak yang mengkonsumsi antibiotika yang seharusnya tidak diperlukan mempunyai resiko untuk mengalami efek samping lain, seperti gangguan perut&diare. Resistensi antibiotika sendiri adalah kemampuan dari bakteri atau mikroorganisme lain untuk menahan efek antibiotika. Resistensi antibiotika terjadi ketika bakteri dapat merubah diri sedemikian rupa hingga dapat mengurangi efektifitas dari suatu obat, bahan kimia ataupun zat lain yang sebelumnya dimaksudkan untuk menyembuhkan atau encegah penyakit infeksi. Akibatnya bakeri tersebut tetap dapat bertahan hidup.

Bakteri tersebut dapat membentuk ketahanan khusus terhadap suatu jenis antibiotika tertentu, sehingga membahayakan orang yang terkena penyakit tersebut. Kesalahpahaman yang sering terjadi di masyarakat adanya anggapan bahwa yang resisten terhadap obat tertentu adalah tubuh orang, padahal sebenarnya bakteri yang ada di dalam tubuh tersebutlah yang menjadi resisten terhadap pengobatan, bukan tubuhnya. Bahaya resistensi antibiotika merupakan salah satu masalah yang dapat mengancam kesehatan masyarakat. Hampir semua jenis bakteri saat ini menjadi lebih kuat & kurang responsif terhadap pengobatan antibiotika. Bakteri yang telah mengalami resistensi terhadap antibiotika ini dapat menyebar ke anggota keluarga, teman ataupun tetangga lain sehingga mengancam masyarakat akan hadirnya jenis penyakit infeksi baru yang lebih sulit untuk diobati & lebih mahal juga biaya pengobatannya. Cara pengujian resistensi mikroba terhadap suatu jenis antibiotik maka dilakukan uji resistensi. Teknik ini menggunakan zat kimia untuk mengurangi dan membunuh mikroorganisme, terutama mikroba yang patogen. Pengendalian secara kimia umumnya lebih efektif digunakan pada sel vegetatif mikroba. Tetapi kurang efektif untuk menghancurkan bakteri dalam bentuk endospora. Oleh karena itu ada bahan kimia yang ideal atau dapat digunakan untuk segala macam keperluan, maka diperlukan beberapa ketentuan dalam memilih dan menggunakan senyawa kimia untuk tujuan tertentu, yaitu: 1. Aktivitas mikrobia yaitu memiliki kemampuan untuk

mematikan mikroba dalam konsentrasi rendah pada spektrum yang luas artinya dapat membunuh berbagai macam mikroba. 2. 3. Kelarutan artinya senyawa ini bisa larut dalam air atau Stabilitas artinya memiliki stabilitas yang tinggi bila pelarut lain sampai pada taraf yang diperlukan secara efektif. dibiarkan dalam waktu yang relatif lama dan tidak boleh kehilangan sifat anti mikrobianya. 4. Tidak bersifat toksik bagi manusia atau hewan lainnya.

5. 6. 7.

Homogenitas, komposisinya selalu sama sehingga bahan Senyawa tersebut tersedia dalam jumlah yang besar dengan Sifat bahan dasar harus serasi, yaitu zat kimia yang

aktifnya teradapat pada setiap aplikasi. biaya yang pantas. digunakan untuk desinfeksi alat-alat yang terkontaminasi tidak baik bagi kulit karena dapat merusak sel kulit. 8. Tipe mikroba artinya tidak semua mikroba rentan terhadap antibiotik atau mikrobiobsida oleh karena itu harus dipilih tipe mikroba yang akan dibasmi. 9. Keadaan lingkungan artinya bahan yang digunakan harus aman bagi lingkungan sekitar dan tidak memiliki efek samping. Pada pengujian resistensi untuk dapat mengamati keefektifan suatu zat anti biotik dalam pertumbuhan mikrobia pada cawan petri akan nampak tidak terjadi pertumbuhan disekeliling antibiotik yang mengakibatkan cincin hambatan dalam lapang pertumbuhan bakteri padat. Dengan adanya zona hambatan menunjukkan bakteri sensitif terhadap antibiotik bila tidak ada zona tersebut menunjukkan bahwa bakteri resisten terhadap antibiotik

BAB III METODE PENELITIAN

A. Pembuatan Media Pada praktikum ini digunakan media universal dengan bahan dasar taoge (Taoge Agar). Alat :

-

Cawan petri Gelas beker Gelas ukur Pengaduk Tabung reaksi Autoklaf Panci Kapas Alumunium foil Bahan :

-

Taoge Agar batangan Gula pasir Aquades

Prosedur kerja : 1. Membuat ekstra taoge, 200 gr dididihkan dalam 1 liter air lalu menyaring dengan kertas dan diambil filtratnya. 2. Menambahkan gula pasir 60 gr, agar batangan yang sudah dipotong kecilkecil 12 gr. Memanaskan sampai agar batangan larut dan air sampai volume setelah penambahan gula dan agar batangan adalah 1 liter. 3. Dituang pada cawan petri masing-masing cawan 20 ml dan pada masingmasing tabung reaksi 9 ml. 4. Ditutup menggunakan kertas bekas yang salah satu sisinya kosong. Ikat dengan benang kasur. Untuk tabung reaksi jangan sampai terbalik.

5. Sterilisasi dengan autoklaf selama 30 menit. 6. Setelah selesai autoklaf, miringkan tabung reaksi serta cawan petri dan tunggu hingga dingin dan padat.

B. Isolasi dan Identifikasi a. Penangkapan dan Pemeliharaan Mikroorganisme
1. Mengambil bakteri

pada akar semanggi yang telah direndam dengan

aquades menggunakan cotton bud, tanam pada medium TA secara aseptik dengan metode “streak”.
2. Diinkubasi mediun TA tersebut pada incubator dengan suhu 27-30oC

selama 24-48 jam.
3. mengamati koloni yang muncul. 4. mengisolasi bakteri yang muncul dengan ose pada medium agar miring

yang sesuai dengan teknik aseptik.

b. Isolasi Mikroorganisme Alat-alat: Lampu spirtus, jarum inokulasi, incubator. Bahan-bahan: Biakan campuran pada medium TA di cawan petri, medium miring TA, alcohol 70%. Prosedur:
1. Mengambil biakan campuran pada medium TA pada cawan petri. 2. Dipilih satu koloni yang terpisah yang sudah diberi label. 3. Mengambil koloni dengan jarum inokulasi secara aseptic.

4. diinokulasi pada medium TA dengan metode zig-zag pada tabung reaksi

miring yang berisi medium secara aseptik.
5. Menginkubasi biakan pada incubator dengan suhu 28-320C selama 24-48

jam.
6. Mengamati karakteristik koloni yang muncul dan tuliskan pada tabel.

 Identifikasi 1. Alat-alat: Lampu spirtus, jarum inokulasi, staining tray (nampan untuk pewarnaan), mikroskop kertas lensa, kertas bibulous, dan gelas benda. Bahan-bahan: Kultur agar miring bakteri, methylene blue, alcohol, KOH, aquades. Contoh pembuatan zat warna untuk pewarnaan sederhana Larutan A: alkohol 95% 30 ml Larutan B: aquades 100 ml Campurkanlah larutan A dan B dan aduk hingga homogen. Teknik pewarnaan sederhana: KOH 0,01 gr methylene blue 0,3 gr Pewarnaan sederhana

1. Mengambil kaca benda dan bersihkan dengan dengan alkohol 95% sampai

bersih dan tidak ada lemak yang melekat pada kaca benda tersebut.
2. Ditetesi kaca benda tersebut dengan setetes aquades steril. 3. Lalu dengan teknik aseptic mengambil satu ose biakan yang sudah berusia

24-48 jam dan oleskan pada kaca benda yang telah ditetesi aquades. 4. Kering anginkan olesan tersebut. Setelah agak kering melewatkan bagian kaca benda yang sebelah bawah diatas bapi Bunsen. Tindakan ini disebut fiksasi.
5. Ditetesi sediaan tersebut dengan metilen biru, larutan zat warna harus

menutupi seluruh permukaan sediaan.
6. Ditunggu selama 1-3 menit.

7. Bilas sediaan dengan menggunakan botol semprot, air dialirkan tidak boleh kena sediaan langsung.
8. Kering anginkan di udara atau dengan menggunakan kertas hisap dengan

cara menyelipkannya diantara dua lembar kertas hisap.
9. Mengamati sediaan di bawah mikroskop dengan menggunakan xilol, xilol

diteteskan pada kertas lensa dan kertas lensa digunakan untuk membersihkan lensa obyektif.

2. Alat-alat:

Pewarnaan gram

Bunsen, ose, botol untuk zat warna, obyek glass, kertas hisap, kertas lensa, dan mikroskop. Bahan-bahan: Biakan murni, regen (crystal violet, Gram’s Iodine, Ethyl alkohol 95%, safranin)

Prosedur:
1. Menyiapkan obyek glass yang telah dibersihkan dengan alkohol. 2. Menggunakan teknik aseptik, buat preparat mikroskopis dari biakan

murni, dengan cara meneteskan satu tetes aquades di atas obyek glass dan pindahkan setiap mikroorganisme satu persatu dengan jarum inokulasi pada tetesan aquades secara aseptik. Campur dan ratakan dengan gerakan memutar menggunakan jarum inokulasi.
3. Usapan mikrobia tersebut dilewatkan di atas api (difiksasi) dan kering

anginkan.
4. Menetesi preparat mikroskopis tersebut dengan larutan Kristal violet dan

biarkan selama 1 menit.
5. Dicuci dengan air mengalir, kering anginkan. 6. Menetesi preparat tersebut dengan Gram’s Iodine Mordant dan biarkan

selama 1 menit.
7. Dicuci dengan air mengalir, kering anginkan.

8. Dekolorisasi dengan Ethyl Alkohol 95%. Perhatikan: jangan sampai didekolorisasi secara berlebihan. Tambahkan reagen setetes demi setetes sampai crystal violet tercuci dari preparat.
9. Dicuci dengan air mengalir, kering anginkan. 10. Ditetesi dengan pewarna penutup dan biarkan selama 45 menit. 11. Dicuci dengan air mengalir. 12. Dikeringkan dengan kertas hisap dan diamati dibawah mikroskop dengan

bantuan minyak imersi. 3. Alat-alat: Uji katalase

Gelas benda, mikroskop. Bahan-bahan: Biakan murni pada media miring, H2O2 3%. Prosedur kerja:
1. Menyiapkan biakan bakteri murni pada medium agar miring. 2. Mengambil sebagian biakan agar miring dan letakkan di tengah-tengah

gelas benda. Amatilah bagian itu dengan mikroskop perbesaran lemah dan tambahkan H2O2 ; perhatikan adanya gelembung O2.
3. Ditambahkan beberapa tetes H2O2 3% ke dalam sisa piaraan miring, amati

adanya gelembung O2.

4. Alat-alat:

Uji motillitas

Mikroskop, gelas benda (cekung), gelas penutup, pipet steril, Bahan-bahan: Biakan bakteri, aquades. Prosedur kerja:
1. Menyiapkan obyek glass cekung dan covernya serta steril dengan

menggunakan alkohol 70%.
2. Membuat preparat basah tetes gantung dengan cara meneteskan setetes

biakan murni pada media cair pada cover glass (sangat sedikit) usahakan tetesan masih sangat kecil (tidak melebar).

3. Meletakkan cover glass tersebut di atas obyek glass cekung, dengan posisi

cairan ada di bawah (hati-hati cairan harus dalam keadaan menggantung).
4. Mengamati pergerakan mikroba di bawah mikroskop bedakan dengan

aliran air. C. Enumerasi Alat-alat: Tabung reaksi steril, cawan petri steril, bunsen, pipet steril volume 1 ml, kertas label, dan penangas. Bahan-bahan: Tauge agar, aquades steril, biakan murni bakteri. Prosedur kerja:
1. Menyediakan 6 tabung reaksi masing-masing berisi 9 ml aquades,

diletakkan secara berurutan dan beri label 1 s/d 6.
2. membuat pengenceran dari sampel yang akan diperiksa mulai dari

pengenceran 10-1 s/d 10-6, dengan cara memasukkan 1 ml sample ke dalam tabung reaksi pertama kemudian homogenka dengan pipet steril, maka konsentrasi menjadi 10-1. Kemudian pipet 1 ml larutan dari tabung pertama masukkan ke tabung kedua dan homogenkan dengan pipet steril, konsentrasi larutan menjadi 10-2, demikian seterusnya sampai tabung ke-6.
3. Menyediakan 3 cawan petri steril dan letakkan berurutan dan beri tanda

10-4, 10-5, 10-6 dengan spidol.
4. Mengambil larutan dari tabung ke-4, ke-5 dan ke-6 masing-masing 1 ml

dengan menggunakan pipet steril dan dimasukkan ke dalam cawan petri steril yang sudah diberi tanda.
5. Menyiapkan Tauge Agar cair dengan suhu 400-500C sebanyak 3 tabung

masing-masing berisi 9 ml medium.

6. Memasukkan TA kedalam cawan petri yang telah berisi larutan sample,

satu tabung TA untuk 1 cawan petri. Digoyangkan hingga homogen dengan cara memutar cawan petri searah jarum jam lalu sebaliknya di atas meja, didiamkan hingga dingin dan mengeras.
7. Diinkubasi pada suhu 220-270C selama 24-48 jam di dalam inkubator. 8. Menghitung jumlah koloni yang tumbuh pada setiap pengenceran. Jumlah

bakteri yang ada dalam setiap 1 ml sample adalah berbanding terbalik dengan pengenceran.

D. Uji Resistensi Alat-alat : Botol selai steril, pipet steril, paper disk, gelas ukur steril, ose, inkubator Bahan-bahan : Biakan bakteri murni, medium lempeng TA, Antibiotik (cefadroxil 500 mg), Alkohol 70 %

Prosedur :
1. Mencerkan antibiotik dengan pengenceran 500mg dalam 5 ml,

10 ml dan 15 ml aquades pada botol selai steril secara aseptik.
2. Paper disk digunting berbentuk lingkaran dengan diameter 1

cm, kemudian direndam dalam antibiotik yang telah diencerkan (masing-masing pengenceran 3 buah paper disk). 3. Mengoleskan biakan bakteri yang akan diamati pada lempeng agar secara merata dengan ose yang steril (teknik aseptik).
4. Meletakkan guntingan paper disk yang telah direndam

antibiotik di atas olesan bakteri pada lempeng agar yang akan diuji (masing-masing konsentrasi diberi tanda pada bagian luar cawan petri).

5. Menginkubasi selama 24 - 48 jam.
6. Mengamati pertumbuhan koloni bakteri disekitar paper disk

pada lempeng agar. 7. Mengukur diameter bagian yang tidak ditumbuhi koloni bakteri.

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Media Bakteri

Media yang kami pakai adalah media universal, yaitu media taoge agar. Kami memakai taoge agar karena media ini cocok untuk menumbuhkan berbagai macam jenis bakteri. Selain itu, media ini cukup murah untuk penelitian. Pada media taoge agar ini juga mengandung berbagai macam nutrisi untuk pertumbuhan bakteri, yaitu carbon, nitrogen, dan garam-garam anorganik.

B. Isolasi dan Identifikasi

Penangkapan dan Pemeliharaan Mikroorganisme
Gambar dan warna Coklat muda Putih pekat (krem) Putih pekat (krem) Putih pekat (krem) Putih pekat (krem) Ukuran d = 0,2 cm d = 0,1 cm d = 0,1 cm d = 0,1 cm d=1 cm Tekstur dan tepi Regular, tepi dentate Sirkuler, tepi rata Regular, tepi krenata Ireguler, tepi undulata Regular, tepi miseloid Kenaikan permuka an Konvek (rendah) Konvek (rendah) Konvek (tinggi) Konvek (rendah) Konvek (rendah) Kepekata n Pekat Pekat Pekat Pekat Pekat

Bentuk koloni Bulat Bulat Bulat Ireguler Bulat

Bakteri di ambil dari akar semanggi menggunakan cotton bud. Setelah itu, distreak pada media padat di cawan petri. Setelah inkubasi selama 24 jam didapati berbagai macam bentuk bakteri. Seperti yang tertera pada tabel di atas diperoleh koloni-koloni yang berbeda. Karena pada saat ini bakteri yang tumbuh belum murni. Oleh : Rodhiyah Eka Septian 08324421

 Pewarnaan sederhana
Nama : Muhammad Iqbal Filayani (083244211) Methylen blue Gambar organism yang representative

Organism Morfologi sel Bentuk Susunan Warna sel

Bakteri Bulat Coccus Monococcus, streptococcus, diplococcus, staphylococcus Transparan

Bakteri di atas diperoleh dari hasil pemurnian pada tabung reaksi. Yang kemudian dilakukan pewarnaan sederhana. Pewarnaan ini menggunakan zat warna yang bersifat basa (methylen blue). Sehingga memperlihatkan bentuk morfologi bulat dengan bentuk coccus yang memiliki susunan monococcus, diplococcus, staphilococcus, dan streptococcus yang berwarna transparan.

Nama : Rizka Faiza (083244026) Methylen blue Gambar organism yang representative

Organism Morfologi sel Bentuk Susunan Warna sel

Bakteri Batang pendek Coccobacillus monococcobacillus Transparan

Bakteri di atas diperoleh dari hasil pemurnian pada tabung reaksi. Yang kemudian dilakukan pewarnaan sederhana. Pewarnaan ini menggunakan zat warna yang bersifat basa (methylen blue). Sehingga memperlihatkan bentuk morfologi batang pendek dengan bentuk coccobasillus yang memiliki susunan monococcobasillus yang berwarna transparan.

Nama : Rodhiyah Eka Septian (083244213) Methylen blue Gambar organism yang representative

Organism Morfologi sel Bentuk Susunan

Bakteri Batang pendek Coccobacillus Monococcobasillus, diplococcobasillus, staphilococcobasillus Transparan

Warna sel

Bakteri di atas diperoleh dari hasil pemurnian pada tabung reaksi. Yang kemudian dilakukan pewarnaan sederhana. Pewarnaan ini menggunakan zat warna yang bersifat basa (methylen blue). Sehingga memperlihatkan bentuk morfologi batang pendek dengan bentuk coccobasillus yang memiliki susunan monococcobasillus, diplococcobasillus, dan staphilococcobasillus yang berwarna transparan.
Nama : Farah Rossa Lina (083244014) Methylen blue Gambar organism yang representative

Organism Morfologi sel Bentuk Susunan

Bakteri Batang pendek Coccobacillus Monococcobasillus, diplococcobasillus, staphilococcobasillus Transparan

Warna sel

Bakteri di atas diperoleh dari hasil pemurnian pada tabung reaksi. Yang kemudian dilakukan pewarnaan sederhana. Pewarnaan ini menggunakan zat warna yang bersifat basa (methylen blue). Sehingga memperlihatkan bentuk morfologi batang pendek dengan bentuk coccobasillus yang memiliki susunan monococcobasillus, diplococcobasillus, dan staphilococcobasillus yang berwarna transparan.

Nama : Dian Anjar Sari (083244028) Methylen blue Gambar organism yang representative

Organism Morfologi sel Bentuk Susunan

Bakteri Batang pendek Coccobacillus Monococcobacillus, diplococcobasillus, staphilococcobasillus Transparan

Warna sel

Bakteri di atas diperoleh dari hasil pemurnian pada tabung reaksi. Yang kemudian dilakukan pewarnaan sederhana. Pewarnaan ini menggunakan zat warna yang bersifat basa (methylen blue). Sehingga memperlihatkan bentuk morfologi batang pendek dengan bentuk coccobasillus yang memiliki susunan monococcobasillus, diplococcobasillus, dan staphilococcobasillus yang berwarna transparan.

 Pewarnaan gram Hasil pengamatan pewarnaan gram: Mikroorganisme Bentuk sel Rangkaian sel : Bakteri : Coccus :Monococcus, streptococcus, diplococcus, staphylococcus Warna sel Gram (+)/(-) : Merah : Gram (-)

Gambar mikroorganisme:

Pembahasan: Dari pewarnaan gram yang kita lakukan diperoleh bakteri yang bersifat gram negatif, dimana dinding selnya tidak mempertahankan pewarna kristal violet. Hal ini menunjukkan bahwa bakteri tersebut memiliki dinding dengan lemak yang banyak, sehingga pada saat didekolorisasi dengan alkohol lemak yang terlarut banyak sehingga menghasilkan pori yang besar yang tidak dapat tertutup oleh pori yang terdehidrasi, akibatnya alkohol mencuci semua komplek Mg-RNACV-I dan sel kehilangan warna. Sehingga pada saat diberi pewarna penutup (safranin), bakteri gram negatif berwarna merah. Dan pada bakteri gram negatif menunjukkan bahwa bakteri tersebut pathogen (menyebabkan penyakit tertentu).

Hasil pengamatan pewarnaan gram: Mikroorganisme Bentuk sel Rangkaian sel : Bakteri : Coccobacillus : Coccobacillus

Warna sel Gram (+)/(-)

: Merah : Gram (-)

Gambar mikroorganisme:

Pembahasan: Dari pewarnaan gram yang kita lakukan diperoleh bakteri yang bersifat gram negatif, dimana dinding selnya tidak mempertahankan pewarna kristal violet. Hal ini menunjukkan bahwa bakteri tersebut memiliki dinding dengan lemak yang banyak, sehingga pada saat didekolorisasi dengan alkohol lemak yang terlarut banyak sehingga menghasilkan pori yang besar yang tidak dapat tertutup oleh pori yang terdehidrasi, akibatnya alkohol mencuci semua komplek Mg-RNACV-I dan sel kehilangan warna. Sehingga pada saat diberi pewarna penutup (safranin), bakteri gram negatif berwarna merah. Dan pada bakteri gram negatif menunjukkan bahwa bakteri tersebut pathogen (menyebabkan penyakit tertentu).

Hasil pengamatan pewarnaan gram: Mikroorganisme Bentuk sel Rangkaian sel : Bakteri : Coccobacillus : Monococcobasillus. Diplococcobasillus, staphilococcobasillus Warna sel Gram (+)/(-) : Merah : Gram (-)

Gambar mikroorganisme:

Pembahasan: Dari pewarnaan gram yang kita lakukan diperoleh bakteri yang bersifat gram negatif, dimana dinding selnya tidak mempertahankan pewarna kristal violet. Hal ini menunjukkan bahwa bakteri tersebut memiliki dinding dengan lemak yang banyak, sehingga pada saat didekolorisasi dengan alkohol lemak yang terlarut banyak sehingga menghasilkan pori yang besar yang tidak dapat tertutup oleh pori yang terdehidrasi, akibatnya alkohol mencuci semua komplek Mg-RNACV-I dan sel kehilangan warna. Sehingga pada saat diberi pewarna penutup (safranin), bakteri gram negatif berwarna merah. Dan pada bakteri gram negatif menunjukkan bahwa bakteri tersebut pathogen (menyebabkan penyakit tertentu).

Hasil pengamatan pewarnaan gram: Mikroorganisme Bentuk sel Rangkaian sel Warna sel Gram (+)/(-) : Bakteri : Coccobacillus : Monococcobasillus, diplocoocobasillus, staphilocoocobasillus : Merah : Gram (-)

Gambar mikroorganisme:

Pembahasan:

Dari pewarnaan gram yang kita lakukan diperoleh bakteri yang bersifat gram negatif, dimana dinding selnya tidak mempertahankan pewarna kristal violet. Hal ini menunjukkan bahwa bakteri tersebut memiliki dinding dengan lemak yang banyak, sehingga pada saat didekolorisasi dengan alkohol lemak yang terlarut banyak sehingga menghasilkan pori yang besar yang tidak dapat tertutup oleh pori yang terdehidrasi, akibatnya alkohol mencuci semua komplek Mg-RNACV-I dan sel kehilangan warna. Sehingga pada saat diberi pewarna penutup (safranin), bakteri gram negatif berwarna merah. Dan pada bakteri gram negatif menunjukkan bahwa bakteri tersebut pathogen (menyebabkan penyakit tertentu).

Hasil pengamatan pewarnaan gram: Mikroorganisme Bentuk sel Rangkaian sel Warna sel Gram (+)/(-) : Bakteri : Coccobacillus : monococcobasillus, diplococcobasillus, staphilococcobasillus : Merah : Gram (-)

Gambar mikroorganisme:

Pembahasan: Dari pewarnaan gram yang kita lakukan diperoleh bakteri yang bersifat gram negatif, dimana dinding selnya tidak mempertahankan pewarna kristal violet. Hal ini menunjukkan bahwa bakteri tersebut memiliki dinding dengan lemak yang banyak, sehingga pada saat didekolorisasi dengan alkohol lemak yang terlarut banyak sehingga menghasilkan pori yang besar yang tidak dapat tertutup oleh pori yang terdehidrasi, akibatnya alkohol mencuci semua komplek Mg-RNACV-I dan sel kehilangan warna. Sehingga pada saat diberi pewarna penutup (safranin), bakteri gram negatif berwarna merah. Dan pada bakteri gram negatif menunjukkan bahwa bakteri tersebut pathogen (menyebabkan penyakit tertentu).

 Uji katalase dan uji motillitas

Nama Iqbal

Uji katalase Positif

Uji motillitas Motil (memutar dan maju mundur)

Rizka Septi

Negatif Positif

Motil (memutar) Motil (memutar dan maju mundur)

Rossa

Positif

Motil (memutar dan maju mundur)

Dian A

Positif

Motil (maju, maju mundur, memutar atau berguling)

Uji Katalase

Pada uji katalase diperoleh hasil yang positif (katalase positif) yang menunjukkan bakteri tersebut merupakan bakteri aerob dan menghasilkan enzim katalase. Hal tersebut diketahui dari timbulnya gelembung gas O2 setelah ditetesi H2O2. bakteri katalase positif (bakteri aerob) dapat menghasilkan gelembunggelembung gas O2 karena adanya pemecahan H2O2 oleh enzim katalase yang dihasilkan oleh bakteri itu sendiri. Komponen H2O2 tersebut merupakan salah satu hasil respirasi aerobik bakteri katalase positif yang mana hasilnya respirasi tersebut justru dapat menghambat pertumbuhan bakteri karena bersifat toksik bagi bakteri itu sendiri. Oleh karena itu, komponen H2O2 harus dipecah agar tidak bersifat toksik lagi. Pada uji katalase diperoleh hasil yang negatif (katalase negatif) yang menunjukkan bakteri tersebut merupakan bakteri anaerob dan tidak menghasilkan enzim katalase. Hal tersebut diketahui dari tidak adanya gelembung gas O2 setelah ditetesi H2O2, bakteri katalase negatif (bakteri anaerob) tidak dapat menghasilkan

gelembung-gelembung gas O2 karena tidak dapat memecah H2O2 dengan enzim katalase yang seharusnya dihasilkan oleh bakteri itu sendiri.

Uji Motilitas Pada uji motilitas didapati bakteri yang bergerak. Pergerakan ini didukung

dengan adanya flagel pada bakteri tersebut. Pergerakan yang diperoleh bermacammacam yaitu: (1) memutar atau terguling, menunjukkan bakteri tersebut memiliki flagel diseluruh permukaannya (peritrik); (2) maju mundur, bakteri ini memiliki flagel pada kedua ujungnya (amfitrik); (3) maju, menunjukkan bakteri ini memiliki satu flagel yang terletak pada salah satu ujung atau kutub.

C. Enumerasi Pengenceran 10-4 10-5 10-6 Jumlah koloni >300 51 66 51 x 105 66 x 106 Jumlah bakteri

Enumerasi memakai bakteri murni pada tabung miring yang berwarna krem dengan tekstur rata. Enumerasi menggunakan metode pour plate (hitung lempeng tuang) dan diinkubasi selama 24 jam. Pada penghitungan ini dilakukan pengenceran mulai dari 10-1 sampai 10-6, dan diperoleh hasil seperti di atas. Berdasarkan teori semakin banyak dilakukan pengenceran semakin sedikt jumlah koloni maupun jumlah bakteri yang ada didalamnya. Namun, dari percobaan ini diperoleh hasil yang tidak sesuai dengan teori. Hal ini dapat terjadi karena berbagai faktor, diantaranya kurang telitinya kami dalam menghitung jumlah koloni.

D. Resistensi

HASIL

Gambar 1. uji resestensi untuk konsentrasi 5 ml

Gambar 1. uji resestensi untuk konsentrasi 10 ml

Gambar 1. uji resestensi untuk konsentrasi 15 ml

PEMBAHASAN Uji resistensi yang kami lakukan dengan menggunakan antibiotik Cefradoxil 500 mg dengan konsentrasi cawan petri A dengan konsentrasi 5 ml, cawan petri B dengan konsentrasi 10 ml, dan cawn petri C dengan konsentrasi 15 ml. Hasil yang kita dapat bahwa bakteri yang kita uji resisten terhadap antibiotik menggunakan Cefradoxil, hal ini dibuktikan dengan tidak adanya zona hambat pada ketiga cawan petri tersebut. Berikut ini spesifikasi dari anti biotik Cefadroxil:

Cefadroxil 500 mg

Indikasi: Cefadroxil diindikasikan untuk pengobatan infeksi yang disebabkan oleh mikroorganisme yang sensitif seperti: - Infeksi saluran pernafasan : tonsillitis, faringitis, pneumonia, otitis media. - Infeksi kulit dan jaringan lunak. - Infeksi saluran kemih dan kelamin. - Infeksi lain: osteomielitis dan septisemia.

Kontra Indikasi: Penderita yang hipersensitif terhadap sefalosporin.

Komposisi: Cefadroxil 500, tiap kapsul mengandung cefadroxil monohydrate setara dengan cefadroxil 500 mg.

Cara Kerja: Cefadroxil adalah antibiotika semisintetik golongan sefalosforin untuk pemakaian oral. Cefadroxil bersifat bakterisid dengan jalan menghambat sintesa dinding sel bakteri. Cefadroxil aktif terhadap Streptococcus betahemolytic, mirabilis, Dosis: Dewasa: Infeksi saluran kemih: Infeksi saluran kemih bagian bawah, seperti sistitis : 1 – 2 g sehari dalam dosis tunggal atau dua dosis terbagi, infeksi saluran kemih lainnya 2 g sehari dalam dosis terbagi. Staphylococcus Klebsiella aureus sp, (termasuk Moraxella penghasil enzim penisilinase), Streptococcus pneumoniae, Escherichia coli, Proteus catarrhalis.

Infeksi kulit dan jaringan lunak: 1 g sehari dalam dosis tunggal atau dua dosis Infeksi saluran pernafasan: Infeksi ringan, dosis lazim 1 gram sehari dalam dua dosis terbagi. Infeksi sedang sampai berat, 1 – 2 gram sehari dalam dua dosis terbagi. Untuk faringitis dan tonsilitis yang disebabkan oleh Streptococcus betahemolytic : 1 g sehari dalam dosis tunggal atau dua dosis terbagi, pengobatan diberikan minimal selama 10 hari. terbagi.

Anak-anak: Infeksi saluran kemih, infeksi kulit dan jaringan lunak : 25 – 50 mg/kg BB sehari dalam dua dosis terbagi. Faringitis, tonsilitis, impetigo : 25 – 50 mg/kg BB dalam dosis tunggal atau dua dosis terbagi. Untuk infeksi yang disebabkan Streptococcus betahemolytic, pengobatan diberikan minimal selama 10 hari.

Efek Samping: Gangguan saluran pencernaan, seperti mual, muntah, diare, dan gejala kolitis pseudomembran. Reaksi hipersensitif, seperti ruam kulit, gatal-gatal dan reaksi anafilaksis. Efek samping lain seperti vaginitis, neutropenia dan peningkatan Interaksi Obat: Obat-obat yang bersifat nefrotoksik dapat meningkatkan toksisitas sefalosporin terhadap ginjal. Probenesid menghambat sekresi sefalosporin sehingga memperpanjang dan meningkatkan konsentrasi obat dalam tubuh. Alkohol dapat mengakibatkan Disulfiram-like reactions, jika diberikan 48 – 72 jam setelah pemberian sefalosporin. transaminase.

Cara Rekonstitusi Suspensi: Tambahkan 45 ml air minum, kocok sampai suspensi homogen. Setelah 7 hari suspensi yang sudah direkonstitusi tidak boleh digunakan lagi. Cara Penyimpanan: Simpan dalam wadah tertutup rapat pada suhu kamar (15 - 30ºC). Kemasan: Kotak 5 strip @ 10 kapsul

Jenis: Kapsul Produsen: PT Indofarma Cefadroxil adalah termasuk golongan Sefalosporin yaitu antibiotik yang menghambat sintesis dinding sel bakteri. Antibiotik yang merusak dinding sel mikroba dengan menghambat sintesis ensim atau inaktivasi ensim, sehingga menyebabk hilangnya viabilitas dan sering menyebabkan sel lisis. Antibiotik ini menghambat sintesis dinding sel terutama dengan mengganggu sintesis peptidoglikan. Dinding sel bakteri menentukan bentuk karakteristik dan berfungsi melindungi bagian dalam sel terhadap perubahan tekanan osmotik dan kondisi lingkungan lainnya. Di dalam sel terdapat sitoplasma ailapisi dengan membran sitoplasma yang merupakan tempat berlangsungnya proses biokimia sel. Dinding sel bakteri terdiri dari beberapa lapisan. Pada bakteri gram posi tip struktur dinding selnya relatip sederhana dan gram negatip relatip lebih komplek. Dinding sel bakteri gram positip tersusun atas lapisan peptidoglikan relatip tebal, dikelilingi lapisan teichoic acid dan pada beberapa species mempunyai lapisan polisakarida. Dinding sel bakteri gram negatip mempunyai lapisan peptidoglikan relatip tipis, dikelilingi lapisan lipoprotein, lipopolisakarida, fosfolipid dan beberapa protein. Peptidoglikan pada kedua jenis bakteri merupakan kompo-nen yang menentukan rigiditas pada gram positip dan berperanan pada integritas gram negatip. Oleh karena itu gangguan pada sintesis komponen ini dapat menyebabkan sel lisis dan dapat menyebabkan kematian sel. Antibiotik yang menyebabkan gangguan sintesis lapisan ini aktivitasnya akan lebih nyata pada bakteri gram positip. Aktivitas penghambatan atau membina-sakan hanya dilakukan selama pertumbuhan sel dan aktivitasnya dapat ditiadakan dengan menaikkan tekanan osmotik media untuk mencegah pecahnya sel. Bakteri tertentu seperti miko-bakteriadan halobakteria mempunyai peptidoglikan relatip sedikit , sehingga kurang terpengaruh oleh antibiotik grup ini. Sel selama mensintesis peptidoglikan memerlukan ensim hidrolase dan sintetase. Untuk menjaga sintesis

supaya normal, kegiatan kedua ensim ini harus seimbang satu sama lain. Biosintesis peptidoglikan berlangsung dalam beberapa stadium dan antibiotik pengganggu sintesis peptidoglikan aktip pada stadium yang berlainan. Sikloserin terutama menghambat ensim racemase dan sintetase yang berperan dalam pembentukan dipeptida. Vankomisin bekerja pada stadium kedua diikuti oleh basitrasin, ristosetin dan diakhiri oleh penisilin dan sefalosporin yaitu menghambat transpeptidase. Perbedaan antara sel mamalia dan bakteri yaitu dinding selluar bakteri tebal dengan membran sel menentukan bentuk sel dan memberi ketahanan terhadap tekanan osmotik. Karena struktur dinding sel mamalia tidak sama dengan dinding gel bakteri, maka antibiotik yang mempunyai aktivitas mengganggu sintesis dinding sel mempunyai toksisitas selektip sangat tinggi. Oleh karena itu antibiotik tipe ini merupakan antibiotik yang sangat berharga. Namun bakteri yang kami uji tetap tumbuh, hal ini mungkin bakteri tersebut benar-banar resisten dengan membentuk sistem kekebalan sehingga dia tetap bisa hidup walau diberi antibiotik tersebut atau konsentrasi yang kita berikan kurang sehingga bakteri bisa hidup.

E. Virus Spodoptera litura Multi Nukleo Polihedrosis Virus (SpltMNPV) merupakan mikroorganisme yang memiliki 1 jenis materi genetik yang berupa DNA. SpltMNPV dapat bereplikasi jika masuk kedalam inang yang tepat yaitu Spodoptera Litura (ulat grayak). SpltMNPV masuk kedalam tubuh ulat Spodoptera litura melalui pakan buatan yang telah dicelupkan dalam suspensi virus (dengan konsentrasi 106) yang kemudian dimakan oleh ulat, dari situ polihedral yang berisi virus tertelan bersama pakan membebaskan virus (virion) pada sel – sel yang rentan. Infeksi NPV terhadap inang umumnya pada stadium larva dengan melalui saluran pencernaan (usus) sehingga inang harus menelan virus bersama pakan.

Bagian tubuh yang peka dan menjadi sasaran infeksi virion adalah lapisan epitel saluran pencernaan, sel darah, trakea, hipodermis dan sel lemak. Serangan NPV terhadap inang terdiri atas dua tahap. Tahap pertama NPV menyerang usus tengah dan tahap kedua menyerang rongga tubuh (hemocoel) dan organ-organ yang ada didalamnya. Polyhedral virus yang tertelan oleh inang akan masuk ke dalam usus tengah dan virion akan dilepaskan ke cairan usus tengah. Pelepasan virion akan dibantu oleh kondisi alkali cairan pencernaan dengan pH 9,5-11,5 (Granados & William1986) . Virion yang terlepas dari PIB menuju ke membran peritropic dari usus tengah kemudian masuk ke dalam sel usus. Proses ini diawali dengan lepasnya selubung nukleokapsid (amplop) sehingga yang masuk hanyalah nukleokapsid. Selanjutnya dalam sel-sel usus tepatnya di dalam inti sel, nukleokapsid bereplikasi. Nukleokapsid keluar dari inti dan menuju membran basal plasma kemudian keluar sel melalui proses yang disebut budding. Keluarnya virion dari sel-sel terinfeksi juga terjadi karena sel-sel tersebut hancur akibat serangan virus. Pada tahap selanjutnya, virion kemudian menyerang jaringan didalam rongga tubuh larva, terutama sel lemak, sel-sel hemocit, matrik trakea, yang akhirnya mengakibatkan kematian larva (Granados & William 1986). Larva yang terinfeksi menunjukkan gejala yang khas. Satu sampai dua hari setelah infeksi, larva memendek, warna mulai berubah dan aktivitas menjadi lamban. Tetapi pada tingkat ini larva masih makan. Pada infeksi lanjut, bagian ventral larva berwarna coklat kemerahan seperti terdapat akumulasi cairan kecoklatan. Kulit menjadi mengkilat dan lembek, bila disentuh larva akan pecah dan mengeluarkan cairan berwarna coklat kemerahan, baunya menyengat dan mengandung jutaan polyhedral. Di lapang, larva yang akan mati menunjukkan perilaku yang khas. Larva akan bergerak ke pucuk tanaman dan pada saat matinya larva akan menggantung menyerupai huruf V terbalik.

BAB V PENUTUP

A. KESIMPULAN 1. Media yang digunakan adalah media Tauge Agar (TA), media ini sudah memiliki nutrisi yang cukup untuk pertumbuhan bakteri (carbon, nitrogen, dan garam-garam anorganik).

2. Bakteri pada akar semanggi pada umumnya berwarna krem, diameter antara 0,1-1,0 cm, dengan tekstur (reguler, ireguler, sirkuler), dengan tepi (rata, dentata, krenata, undulata, miseloid), dengan kenaikan permukaan (konvek rendah dan konvek tinggi), dan pekat. 3. Dari pewarnaan sederhana diperoleh bentuk bakteri coccus dan coccobacillus. 4. Dari pewarnaan gram diperoleh bakteri yang termasuk gram negatif.
5. Pada uji katalase diperoleh bakteri dengan katalase (+) dan katalase (-),

dilihat dari ada tidaknya gelembung O2 yang dihasilkan.
6. Pada uji motilitas dapat dilihat bahwa bakteri yang kami peroleh

bergerak.
7. Pada uji enumerasi pada pengenceran 10-4, 10-5, 10-6 diperoleh jumlah

koloni secara berturut-turut > 300, 51 dan 66 serta jumlah bakteri pada pengenceran 10-5 adalah 51 x 105, dan pengenceran 10-6 adalah 66 x 106. 8. Pada uji resistensi dapat dilihat bahwa bakteri yang kami uji resisten pada antibiotik (cefadroxil 500 mg).

http://www.dechacare.com/Cefadroxil-500-mg-P581.html http://medicastore.com/artikel/302/Bahaya_Resistensi_Antibiotika.html

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->