P. 1
Kelas X KD II Sistem Hukum Dan Peradilan Nasional

Kelas X KD II Sistem Hukum Dan Peradilan Nasional

5.0

|Views: 18,099|Likes:
Published by lini1969_n10tangsel

More info:

Published by: lini1969_n10tangsel on Jul 21, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/02/2013

pdf

text

original

Negara Indonesia meskipun dewasa ini telah diwarisi oleh “budaya korupsi”
yang sudah “menggurita” atau berurat berakar dalam sendi-sendi kehidupan
masyarakat, namun kita masih optimis untuk upaya penanggulangannya.
Partisipasi dan dukungan segenap lapisan masyarakyat sangat dubutuhkan

4

dalam mengawal upaya-upaya pemerintah melalui Komisi Pembeberantasa
Korupsi (KPK), dan aparat hukum lain. KPK yang ditetapkan melalui Undang-
Undang Nomor 30 Tahun 2002 Tentang Komisi Pemberantasan Tindak
Pidana Korupsi untuk mengatasi, menanggulangi dan memberantas
korupsi, merupakan komisi independen yang diharapkan mampu menjadi
“martit” bagi para pelaku tindak KKN (Korupsi, Kolusi dan Nepotisme).
KPK dengan keterbatasan yang ada sangat menyadari bahwa untuk
memberantas “Korupsi” di Indonesia bukanlah pekerjaan mudah. Oleh sebab itu,
agenda yang perlu dilakukan antara lain : Pertama, membangun kultur yang
mendukung pemberantasan korupsi.. Kedua, mendorong pemerintah
melakukan reformasi public sector dengan mewujudkan good governance.
Ketiga, membangun kepercayaan masyarakat. Keempat, mewujudkan
keberhasilan penindakan terhadap pelaku korupsi besar (big fish). Kelima,
memacu aparat penegak hukum lain untuk memberantas korupsi.
Beberapa hal yang dapat dilakukan sebagai upaya untuk pemberantasan
tindak pidana korupsi, kolusi dan nepotisme di Indonesia antara lain :

1.Upaya Pencegahan (Preventif) :

a.Menanamkan aspirasi, semangat dan spirit nasional yang positif
dengan mengutamakan kepentingan nasional, kejujuran serta
pengabdian pada bangsa dan negara melalui sistem pendidikan formal,
non formal dan pendidikan agama.
b.Melakukan sistem penerimaan pegawai berdasarkan prinsip
achievement atau keterampilan teknis dan tidak lagi berdasarkan
norma ascription yang dapat membuka peluang berkembangnya
nepotisme.
c.Para pemimpin dan pejabat selalu dihimbau untuk memberikan
keteladanan, dengan mematuhi pola hidup sederhana, dan memiliki rasa
tanggungjawab sosial yang tinggi.
d.Demi kelancaran layanan administrasi pemerintah, untuk para
pegawai selalu diusahakan kesejahteraan yang memadai dan ada
jaminan masa tua.
e.Menciptakan aparatur pemerintahan yang jujur dan disiplin
kerja yang tinggi. Jabatan dan kekuasaan, akan didistribusikan melalui
norma-norma teknis kemampuan dan kelayakan.
f.Sistem budget dikelola oleh pejabat-pejabat yang mempunyai
tanggung jawab etis tinggi; dibarengi sistem kontrol yang efisien.
Menyelenggarakan sistem pemungutan pajak dan bea cukai yang efektif
dan ada supervisi yang ketat, baik di pusat maupun di daerah.
g.Melakukan herregistrasi (pencatatan ulang) terhadap kekayaan
perorangan “pejabat” yang mencolok. Kekayaan yang statusnya tidak
jelas dan diduga menjadi hasil korupsi, akan disita oleh negara.
h.Berusaha untuk melakukan reorganisasi dan rasionalisasi dari
organisasi pemerintahan, melalui penyederhanaan jumlah departemen
beserta jawatanjawatan bawahnya. Akan selalu ada koordinasi antar
departemen yang lebih baik, disertai sistem kontrol yang teratur terhadap
administrasi pemerintah, baik di pusat maupun di daerah.

4

2.Upaya Penindakan (Kuratif) :

Upaya penindakan, yaitu dilakukan kepada mereka yang terbukti
melanggar dengan diberikan peringatan, dilakukan pemecatan tidak hromat
dan dihukum pidana. Beberapa contoh penanganan kasus dan penindakan
yang sudah dilakukan oleh pemerintah melalui KPK yaitu :
a.Dugaan korupsi dalam pengadaan Helikopter jenis MI-2 Merk
Ple Rostov Rusia milik Pemda NAD (2004).
b.Dugaan korupsi dalam pengadaan Buku dan Bacaan SD, SLTP,
yang dibiayai oleh Bank Dunia (2004),
c.Dugaan korupsi dalam Proyek Program Pengadaan Busway
pada Pemda DKI Jakarta (2004),
d.Dugaan penyalahgunaan jabatan oleh Kepala Bagian
Keuangan Dirjen Perhubungan Laut dalam pembelian tanah yang
merugikan keuangan negara Rp10 milyar lebih. (2004),
e.Dugaan korupsi pada penyalahgunaan fasilitas preshipment
dan placement deposito dari BI kepada PT Texmaco Group
melalui Bank BNI (2004),
f.Kasus korupsi dan penyuapan anggota KPU, kepada tim audit
BPK (2005),
g.Kasus penyuapan panitera Pengadilan Tinggi Jakarta oleh
kuasa hukum Abdullah Puteh, dengan tersangka TSP, SRR, dan
MS. (2005)
h.Kasus penyuapan Hakim Agung MA dalam perkara
Probosutedjo, dengan tersangka Harini Wijoso, Sinuhadji, Pono
Waluyo, Sudi Ahmad, Suhartoyo dan Triyadi
i.Dugaan korupsi perugian negara sebesar 32 miliar rupiah
dengan tersangka Theo Toemion (2005)
j.Kasus korupsi di KBRI Malaysia (2005)

3.Upaya Edukasi Masyarakat/Mahasiswa.

a.Memiliki rasa tanggung jawab guna melakukan partisipasi politik dan
kontrol sosial, terkait dengan kepentingan-kepentingan publik
(masyarakat luas),
b.Tidak bersikap apatis dan acuh tak acuh, karena hal ini justru akan
merugikan masyarakat itu sendiri,
c.Melakukan kontrol sosial pada setiap kebijakan, terutama yang
dilaksanakan oleh pemerintahan desa, kecamatan dan seterusnya
sampai tingkat pusat/nasional,
d.Membuka wawasan seluas-luasnya pemahaman tentang
penyelenggaraan pemerintahan negara dan aspek-aspek hukumnya.
e.Mampu memposisikan diri sebagai subyek pembangunan dan
berperan aktif dalam setiap pengambilan keputusan untuk kepentingan
masyarakat luas.

4.Upaya Edukasi LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat)

4

a.Indonesia Corruption Watch atau disingkat ICW adalah
sebuah organisasi non-pemerintah (NGO) yang mempunyai misi
untuk mengawasi dan melaporkan kepada publik mengenai aksi
korupsi yang terjadi di Indonesia. ICW adalah lembaga nirlaba
yang terdiri dari sekumpulan orang yang memiliki komitmen
untuk memberantas korupsi melalui usaha-usaha pemberdayaan
rakyat untuk terlibat/berpartisipasi aktif melakukan perlawanan
terhadap praktek korupsi. ICW lahir di Jakarta pada tanggal 21
Juni 1998 di tengah-tengah gerakan reformasi yang
menghendaki pemerintahan pasca Soeharto yang demokratis,
bersih dan bebas korupsi.
b.Transparency International (TI), adalah sebuah organisasi
internasional yang bertujuan memerangi korupsi politik.
Organisasi yang didirikan di Jerman sebagai organisasi nirlaba
sekarang menjadi organisasi non-pemerintah yang bergerak
menuju organisasi yang berstruktur demokratik.
Publikasi tahunan terkenal yang diluncurkan TI adalah Laporan
Korupsi Global. Hubungan antara kompetitifnya sebuah negara
dan korupsi telah dibahas pertama kali dalam seminar TI di
Praha, November 1998. Survei TI Indonesia yang berbentuk
Indeks Persepsi Korupsi (IPK) Indonesia 2004 mengungkapkan
Jakarta sebagai kota paling korup di Tanah Air, disusul Surabaya,
Medan, Semarang dan Batam. Indonesia sendiri, dibandingkan
dengan negara-negara lainnya, berada di posisi keenam terkorup
di dunia menurut survei TI pada tahun 2005. IPK Indonesia
adalah 2,2, sejajar dengan Azerbaijan, Kamerun, Etiopia, Irak,
Liberia dan Usbekistan, serta hanya lebih baik dari Kongo, Kenya,
Pakistan, Paraguay, Somalia, Sudan, Angola, Nigeria, Haiti, dan
Myanmar. Menurut hasil survei ini, Islandia adalah negara paling
bebas korupsi.

Bonus Info Kewarganegaraan

POLRI DAN KPK ADA KEMAJUAN, MA KEBALIKAN

Yayasan Lembaga Bantuan Hukum (YLBHI), menilai adanya
perkembangan sangat signifikan dalam dunia hukum, terutama terkait
dengan upaya pemberantasan korupsi sepanjang tahun 2005. Menurut
direktur YLBHI Munarman, hal ini dapat dilihat dari kesediaan Kepolisian RI
(Polri) melakukan pembenahan internal serta dari semakin aktifnya kerja-
kerja KPK belakangan ini.
Pernyataan tersebut disampaikan Munarman, Jumat (30/12)
dalam jumpa pers refleksi akhir tahun 2005. YLBHI dan proyeksi
tahun 2006. Sejumlah hal dievaluasi, mulai dari isu penegakan
hukum, hak asasi manusia (HAM), perburuhan, dan hak-hak sipil
masyarakat. “Akan tetapi, sangat disayangkan institusi Mahkamah
Agung (MA) justru menunjukkan kondisi kebalikan. Sebagai pucuk

4

pimpinan tertinggi lembaga hukum di Indonesia, MA sama sekali
belum memperlihatkan adanya political will membenahi
isntitusinya,” ujar Munarman.
Hingga kini institusi MA, katanya, belum menunjukkan kinerja
yang baik. Indikasinya, ungkap dia, tampak dari banyaknya pelaku
pelanggar hukum, seperti pembalakan liar, yang justru dilepas dari
jerat hukum oleh haki di tingkat pengadilan melalu mekanisme
praperadilan.

Sumber : Kompas, 2/1/2006.

4

5

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->