P. 1
Kelas XI KD III Keterbukaan Dan Keadilan Dalam Kehidupan Berbangsa Dan Bernegara

Kelas XI KD III Keterbukaan Dan Keadilan Dalam Kehidupan Berbangsa Dan Bernegara

|Views: 38,137|Likes:
Published by lini1969_n10tangsel

More info:

Published by: lini1969_n10tangsel on Jul 21, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/01/2014

pdf

text

original

Suatu pemerintahan atau kepemerintahan dikatakan transparan
(terbuka), yaitu apabila dalam penyelenggaraan kepemerintahannya
terdapat kebebasan aliran informasi dalam berbagai proses
kelembagaan sehingga mudah diakses oleh mereka yang

21

Carilah sumber informasi lain baik dari buku, koran, majalah,
internet, buletin dan sebagainya, kemudian lakukan hal-hal berikut
:
Rumuskan kembali pemahaman tentang pemerintah dan
kepemerintahan !
Berikan alasan penjelasan, mengapa di dalam kehidupan
berbangsa dan bernegara sangat penting dilaksanakan
“pemerintahan yang bersih” atau “good governance” !
Berikan penjelasan huubungan antara jaminan keadilan,
transparansi

dan

pemerintahan

yang

bersih

dalam

penyelenggaraan negara !
Jelaskan konsepsi kepemerintahan (governance) menurut
pandangan Kooiman dalam hubungannya dengan sistem sosial
politik dalam suatu negara !
Berikan penjelasan hubungan keberadaan aktor-aktor dalam
kepemerintahan yang mencakup : a) negara dan pemerintahan, b)
sektor swasta, dan c) masyarakat madani !

Penugasan Praktik
Kewarganegaraan

2

membutuhkan. Berbagai informasi telah disediakan secara memadai
dan mudah dimengerti, sehingga dapat digunakan sebagai alat
monitoring dan evaluasi. Pada kepemerintahan yang tidak transparan,
cepat atau lambat cenderung akan menuju ke pemerintahan yang
korup, otoriter, atau diktator.

Dalam penyelenggaraan negara, pemerintah dituntut bersikap
terbuka terhadap kebijakan-kebijakan yang dibuatnya, termasuk
anggaran yang dibutuhkan dalam pelaksanaan kebijakan tersebut.
Sehingga mulai dari perencanaan, pelaksanaan hingga evaluasi
terhadap kebijakan tersebut pemerintah dituntut bersikap terbuka
dalam rangka “Akuntabilitas publik”.
Realisasinya kadang kebijakan yang dibuat pemerintah dalam hal
pelaksanaannya kurang bersikap transparan, sehingga berdampak
pada rendahnya kepercayaan masyakarat terhadap setiap kebijakan
yang dibuat pemerintah. Sebagai contoh, setiap kenaikan harga BBM
selalu diikuti oleh demonstrasi “penolakan” kenaikan tersebut.
Padahal pemerintah berasumsi kenaikan BBM dapat mensubsidi sektor
lain untuk rakyat kecil “miskin”, seperti pemberian fasilitas kesehatan
yang memadai, peningkatan sektor pendidikan dan pengadaan beras
miskin (raskin). Akan tetapi karena kebijakan tersebut pengelolaannya
tidak transparan bahkan sering menimbulkan kebocoran (korupsi),
maka rakyat tidak mempercayai kebijakan serupa di kemudian hari.

a.Faktor Penyebab Terjadinya Penyelenggaraan Pemerintah
Yang Tidak Transparan

Terjadinya penyelenggaraan pemerintahan yang tidak transparan
disebabkan banyak hal disamping faktor sistem politik yang bersifat
tertutup, sehingga tidak memungkinkan partisipasi waga negara
dalam mengambil peran terhadap kebijakan publik yang dibuat
pemerintah, juga disebabkan karena sumber daya manusianya yang
bersifat feodal, opportunis dan penerapan “aji mumpung” serta
pendekatan “ingin dilayani” sebagai aparatur pemerintah.
Secara umum beberapa faktor penyebab terjadinya pemerintahan
yang tidak transparan adalah sebagai berikut.

No

Faktor-
Faktor

Uraian / Keterangan

22

Fokus Kita :

Pemerintah merupakan organ negara yang berfungsi sebagai
pengatur kehidupan dalam negara demi tercapainya tujuan negara.
Pemerintah diselenggarakan dalam rangka pencapaian
kesejahteraan bersama bagi warga masyarakat.

1.Pengaruh

Kekuasaan Penguasa yang ingin mempertahankan
kekuasaanya sehingga melakukan perbuatan
“menghalalkan segara cara” demi ambisi dan
tujuan politiknya.
Peralihan kekuasaan yang sering
menimbulkan konflik, pertumpahan darah,
dan dendam antara kelompok di masyarakat.
Pemerintah

mengabaikan

proses
demokratisasi, sehingga rakyat tidak dapat
menyalurkan aspirasi politiknya (saluran
komunikasi tersumbat), maka timbul gejolak
politik yang bermuara pada gerakan reformasi
yang menuntut kebebasan, kesetaraan, dan
keadilan.
Pemerintahan yang sentralistis sehingga
timbul kesenjangan dan ketidakadilan antara
pemerintah pusat dan pemerintah daerah
yang sering memunculkan konflik vertikal,
yaitu adanya tuntutan memisahkan diri dari
negara.
Penyelahgunaan kekuasaan karena lemahnya
fungsi pengawasan internal dan oleh lembaga
perwakilan rakyat, serta terbatasnya akses
masyarakat dan media massa untuk
mengkritisi kebijakan-kebijakan yang
dilaksanakan.
2.Moralitas Terabaikannya nilai-niai agama dan nilai-nilai
luhur budaya bangsa sebagai sumber etika
sehingga dikemudian hari melahirkan
perbuatan tercela antara lain berupa
ketidakadilan, pelanggaran hukum, dan
pelanggaran hak asasi manusia.

3.Sosial-

Ekonomi Sering terjadinya konflik sosial sebagai
konsekuensi keberagaman suku, agama, ras
dan antar golongan yang tidak dikelola
dengan baik dan adil.
Perilaku ekonomi yang sarat dengan praktik
korupsi, kolusi, dan nepotisme, serta berpihak
pada sekelompok pengusaha besar.

4.Politik dan
Hukum

Sistem politik yang otoriter sehingga para
pemimpinya tidak mampu lagi menyerap
aspirasi dan memperjuangkan kepentingan
masyarakat.
Hukum telah menjadi alat kekuasaan sehingga
pelaksanaannya banyak bertentangan dengan
prinsip keadilan, termasuk masalah hak warga

23

negara dihadapan hukum.

b.Akibat dari Penyelenggaraan Pemerintahan Yang Tidak
Transparan

Jika penyelenggaraan pemerintahan dilakukan dengan tertutup dan
tidak transparan, maka secara umum akan berdampak pada tidak
tercapainya kesejahteraan masyarakat atau warga negara,
sebagaimana tercantum dalam konstitusi negara, yaitu pencapaian
masyarakat yang adil dan makmur.
Sedangkan secara khusus penyelenggaraan pemerintahan yang
tidak transparan akan berdampak pada :
Rendahnya atau bahkan tidak adanya kepercayaan warga negara
terhadap pemerintah.
Rendahnya partisipasi warga negara terhadap kebijakan-kebijakan
yang dibuat pemerintah.
Sikap Apatis warga negara dalam mengambil inisiatif dan peran
yang berkaitan dengan kebijakan publik.
Jika warga negara apatis, di tunjang dengan rejim yang berkuasa
sangat kuat dan lemahnya fungsi legislatif, maka KKN merajalela
dan menjadi budaya yang mendarah daging (nilai dominan).
Krisis moral dan akhlak yang berdampak pada ketidakadilan,
pelanggaran hukum dan hak asasi manusia.

Sebagai patok banding (benchmarking) tentang penyelenggaraan
pemerintahan yang baik yaitu berdasarkan prinsip-prinsip atau
karakteristik yang telah dikemukakan UNDP tahun 1997. Dengan
demikian, dapat dilihat beberapa indikator tentang penyelenggaraan
pemerintahan yang tidak transparan beserta akibat-akibatnya.

NoKarakteri
stik

Indikator Penyelenggaraan

Keterangan /
Akibat

1.Partisipa
si

oWarga masyarakat dibatasi/
tidak memiliki hak suara
dalam proses pengambilan
keputusan.
oInformasi hanya sefihak (top
down
) dan lebih bersifat
instruktif.
oLembaga perwakilan tidak
dibangun

berdasarkan
kebebasan berpolitik (partai
tunggal).
oKebebasan berserikat dan
berpendapat serta pers
sangat dibatasi.

Warga
masyarakat dan
pers cenderung
pasif, tidak ada
kritik

(unjuk

rasa),

tidak

berdaya

dan

terkekang
dengan berbagai
aturan

dan

doktrin.

24

2.Aturan
Hukum

oHukum

dan peraturan
perundangan lebih berpihak
kepada penguasa.
oPenegakkan hukum (law
enforcement
) lebih banyak
berlaku bagi masyarakat
bawah baik secara politik
maupun ekonomi.
oPeraturan tentang Hak-hak
Asasi Manusia terabaikan
demi stabilitas

dan

pencapaian tujuan negara.

Penguasa
menjadi oto-riter,
posisi tawar ma-
syarakat lemah
dan lebih banyak
hidup

dalam
ketakutan serta
tertekan.

3.Transpar
an

oInformasi yang diperoleh satu
arah, yaitu hanya dari
pemerintah.
oMasyarakat sangat dibatasi
dalam memperoleh segala
bentuk informasi.
oTidak ada atau sulit bagi
masyarakat untuk memonitor
/

mengevaluasi

penyelenggaraan
pemerintahan.

Pemerintah
sangat ter-tutup
dengan segala
kejelekannya,
sehingga
masyarakat tidak
ba-nyak tahu apa
yang terjadi pada
negaranya.

4.Daya

Tanggap oProses pelayanan sentralistik
dan kaku.
oBanyak

pejabat
memposisikan diri sebagai
penguasa.
oLayanan kepada masyarakat
masih

diskriminatif,
konvensional dan bertele –
tele (tidak responsif).

Banyaknya
pejabat yang
memposisikan
diri

sebagai
penguasa, segala
layanan sarat
dengan korupsi,
kolusi

dan

nepotisme.

5.Berorient
asi
Konsensu
s

oPemerintah lebih banyak
bertindak sebagai alat
kekuasaan negara.
oLebih banyak bersifat
komando dan instruksi.
oSegala macam

bentuk
prosedur lebih bersifat
formalitas.
oTidak diberikannya peluang
untuk

mengadakan
konsensus dan musya-warah.

Pemerintah
cenderung
otoriter karena
menu-tup jalan
bagi dilaksa-
nakannya
konsensus dan
musyawarah.

6.Berkeadil
an

oAdanya diskriminasi gender
dalam

penyelenggaraan

pemerintahan.
oMenutup peluang bagi
dibentuknya organisasi non
pemerintah/ LSM yang

Arogansi
kekuasaan
sangat dominan
dalam
menentukan
penye-

25

menuntut keadilan dalam
berbagai segi kehidupan.
oBanyak peraturan yang
masih berpihak pada gender
tertentu.

lenggaraan
pemerin-tahan.

7.Efektivita
s dan
Efisiensi

oManajemen penyelenggaraan
negara konvensional dan
terpusat (top down).
oKegiatan penyelenggaraan
negara lebih banyak
digunakan untuk acara-acara
seremonial.
oPemanfaatan sumber daya
alam dan sumber daya
manusia tidak terencana
berdasarkan

prinsip

kebutuhan.

Negara
cenderung sa-lah
urus

dalam

menge-lola
sumber daya
alam dan sumber
daya manusianya
sehingga banyak
pengangguran
dan

tidak
memiliki daya
saing.

8.Akuntabi
-litas

oPengambil

keputusan
didominasi oleh pemerintah.
oSwasta dan masyarakat
memiliki peran yang sangat
kecil terhadap pemerintah.
oPemerintah

memonopoli
berbagai alat produksi yang
strategis.
oMasyarakat dan pers tidak
diberi kesempatan untuk
menilai

jalannya

pemerintahan.

Dominannya
pemerin-tah
dalam semua lini
kehidupan,
menjadikan
warga
masyarakatnya
tidak berdaya
mengon-trol apa
saja yang telah
dilakukan
pemerintah-nya.

9.Bervisi

Strategis oPemerintah lebih puas
dengan kemapanan yang
telah dicapai.
oSulit menerima perubahan
terutama berkaitan dengan
masalah politik, hukum dan
ekonomi.
oKurang mau memahami
aspek-aspek kultural, historis
dan kompleksitas sosial
masyarakatnya.
oPenyelenggaraan
pemerintahan statis dan
tidak memiliki jangkauan
jangka panjang.

Banyaknya
penguasa yang

pro status quo

dan kemapanan
sehingga tidak
memperdulikan
terjadinya
perubahan baik
internal maupun
eksternal
negaranya.

10.Saling
Keterkait
an

oBanyaknya penguasa yang
arogan dan mengabaikan
peran

swasta

atau

masyarakat.
oPemerintah merasa yang

Para

pejabat

peme-rintah
sering dianggap
lebih tahu dalam
segala

hal,

sehingga

26

paling benar dan paling
pintar dalam menentukan
jalannya kepemerintahan.
oMasukan atau kritik dianggap
provokator anti kemapanan
dan stabilitas.
oSwasta dan masyarakat tidak
diberi kesempatan untuk
bersinergi

dalam

membangun negara.

masyara-kat tidak
merasakan dan
tidak

punya
keinginan untuk
bersi-nergi dalam
mem-bangun
negaranya.

Dampak yang paling besar terhadap penyelenggaraan
pemerintahan yang tidak transparan adalah korupsi. Istilah “korupsi”
dapat dinyatakan sebagai suatu perbuatan tidak jujur atau
penyelewengan yang dilakukan karena adanya suatu pemberian.
Dalam praktiknya, korupsi lebih dikenal sebagai menerima uang yang
ada hubungannya dengan jabatan tanpa ada catatan administratif.
Menurut MTI (Masyarakat Transparansi Internasional), bahwa “korupsi
merupakan perilaku pejabat, baik politisi maupun pegawai negeri,
yang secara tidak wajar dan tidak legal memperkaya diri atau
memperkaya mereka yang dekat dengannya dengan
menyalahgunakan kekuasaan publik yang dipercayakan kepada
mereka
.”

Korupsi akan tumbuh subur, terutama pada negara-negara yang
menerapkan sistem politik cenderung tertutup, seperti absolut,
diktator, totaliter dan otoriter. Hal ini sejalan dengan pandangan Lord
Acton, bahwa “the power tends to corrupt....” (kekuasaan cenderung
untuk menyimpang) dan “... absolute power corrupts absolutely”
(semakin lama seseorang berkuasa, penyimpangan yang dilakukannya
akan semakin menjadi-jadi....). Pada pemerintahan yang tertutup jauh
dari sikap terbuka/transparan kepada rakyatnya, sehingga segala
perencanaan dan kebijakan pemeritnah lebih banyak untuk
kepentingan “melanggengkan kekuasaan” dari pada untuk
kesejahteraan rakyatnya.
Di Indonesia, rezim pemerintahan yang dianggap paling korup
adalah semasa orde baru berkuasa. Berdasarkan laporan Wold
Economic Forum
, dalam “The global Competitiveness Report 1999”,
kondisi Indonesia termasuk yang terburuk di antara 59 negara yang
diteliti. Bahkan pada tahun 2002, menurut laporan Lembaga
Konsultasi Politik dan Resiko yang berdomisili di Hongkong, yaitu
Political and Risk Consultancy (PERC), Indonesia “berhasil mengukir
prestasi” sebagai negara yang paling korup di Asia.
Nampaknya tidak salah lagi, bahwa di bawah rezim orde baru yang
berkuasa kurang lebih selama 32 (tiga puluh dua) tahun telah
membawa Indonesia ke jurang kehancuran krisis ekonomi yang
berkepanjangan. Dampak semua ini adalah merupakan akumulasi dari
pemerintahan yang dikelola dengan tidak transparan, sehingga
masalah Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN) telah meracuni semua
aspek kehidupan dan mencakup hampir semua institusi formal

27

maupun non formal. Pada saat itu, bukan hal rahasia karena sering
muncul di mass media antara lain adanya “mafia peradilan” sehingga
vonis hakim dapat dibeli, pemilihan kepala daerah atau pejabat yang
diwarnai “politik uang” sehingga berakibat setelah terpilih
bagaiamana mengembalikan “modal” dengan berbagai cara, dan
sebagainya.

1)

Sebab-Sebab Korupsi

Mengenai sebab-sebab terjadinya korupsi, hingga sekarang ini
para ahli belum dapat memberikan kepastian apa dan bagaimana
korupsi itu terjadi. Tindakan korupsi bukanlah peristiwa yang berdiri
sendiri, melainkan ada variabel lain yang ikut berperan.
Penyebabnya dapat karena faktor interl si pelaku itu sendiri,
maupun dari situasi lingkungan yang “memungkin” bagi seseorang
untuk melakukannya.
Berikut adalah pendapat ahli berkaitan dengan faktor-faktor
penyebab terjadinya tindak korupsi.

NoNama Tokoh

Uraian / Keterangan

1.Sarlito W.
Sarwono

Dorongan dari dalam diri sendiri (seperti
keinginan, hasrat, kehendak, dan lain-lain).
Rangsangan dari luar (seperti dorongan
teman, adanya kesempatan, kurang
kontgrol dan lain-lain).

2.Andi

Hamzah

Kurangnya gaji pegawai negeri
dibandingkan dengan kebutuhan yang
makin meningkat.
Latar belakang kebudayaan atau kultur
Indonesia yang merupakan sumber atau
sebab meluasnya korupsi.
Manajemen yang kurang baik dan kontrol
yang kurang efektif dan efisien, yang
memberikan peluang orang untuk korupsi.
Modernisasi pengembangbiakan korupsi.

2)

Ciri-Ciri Korupsi

Penyalahgunaan wewenang dengan jalan korupsi, nampaknya
tidak hanya didominasi oleh oknum aparat pemerintah, akan tetapi
institusi lain juga melakukan hal sama dengan ciri-ciri sebagai
berikut :
Melibatkan lebih dari satu orang
Pelaku tidak terbatas pada oknum pegawai pemerintah, tetapi
juga di swasta.
Sering digunakan bahasa “sumir” untuk menerima uang sogok,
yaitu : uang kopi, uang rokok, uang semir, uang pelancar, salam
tempel, uang pelancar baik dalam bentuk uang tunai, benda
tertentu atau wanita.

28

Umumnya bersifat rahasia, kecuali jika sudah membudaya.
Melibatkan elemen kewajiban dan keuntungan timbal balik yang
selalu tidak berupa uang.
Mengandung unsur penipuan yang biasanya ada pada badan
publik atau masyarakat umum.

3)

Akibat Tindak Korupsi

Siapapun pelakunya, bahwa sekecil apapun perbuatan tindak
korupsi akan mendatangkan kerugian pada pihak lain. Berikut ini
adalah beberapa akibat yang ditimbulkan dari tindak korupsi yang
pada umumnya nampak dipermukaan, sebagai berikut :
Mendelegetimasi proses demokrasi dengan mengurangi
kepercayaan publik terhadap proses politik melalui politik uang.
Mendistorsi pengambilan keputusan pada kebijakan publik,
membuat tiadanya akuntabilitas publik dan manfikan the rule of
law
. Hukum dan birokrasi hanya melayani kekuasaan dan
pemilik modal.
Meniadakan sistem promosi (reward and punishman), karena
lebih dominan hubungan patron-klien dan nepotisme.
Proyek-proyek pembangunan dan fasilitas umu bermutu rendah
dan tidak sesuai dengan kebutuhan masyarakat sehingga
mengganggu pembangunan yang berkelanjuata.
Jatuh atau rusaknya tatanan ekonomi karena produk yang dijual
tidak kompetitif dan terjadi penumpukan beban utang luar
negeri.

Semua urusan dapat diatur sehingga tatanan aturan/hukum
dapat dibeli dengan sejumlah uang sesuai kesepakatan.
Lahirnya kelompok-kelompok pertemanan atau “koncoisme”
yang lebih didasarkan kepada kepentingan pragmatisme uang.

Bonus Info Kewarganegaraan

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->