P. 1
Kelas XII KD I Pancasila Sebagai Ideologi Terbuka

Kelas XII KD I Pancasila Sebagai Ideologi Terbuka

|Views: 23,028|Likes:
Published by lini1969_n10tangsel

More info:

Published by: lini1969_n10tangsel on Jul 21, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/25/2015

pdf

text

original

Sections

Bahwa ideologi tersebut memiliki keluwesan yang memungkinkan
dan bahkan merangsang pengembangan pemikiran-pemikiran baru
yang relevan tentang dirinya, tanpa menghilangkan atau
mengingkari hakekat (jati diri) yang terkandung dalam nilai-nilai
dasarnya. Dimensi fleksibilitas atau dimensi pengembangan,
sangat diperlukan oleh suatu ideologi guna memelihara dan
memperkuat relevansinya dari masa ke masa.

Bonus Info Kewarganegaraan

Arti “TERBUKA” dari IDEOLOGI

Arti “terbuka” dari ideologi ditentukan oleh dua hal, pertama
bersifat konseptual (struktur ideologi) dan kedua bersifat dinamik
(sikap para penganutnya).

1.Bersifat Konseptual, yaitu Struktur Ideologi
Menurut Corbett, struktur ideologi tersusun oleh : pandangan
filsafat tentang alam semesta dan manusia (ontologi), konsep
masyarakat ideal yang dicita-citakan (epistemologi), dan
metodologi untuk mencapainya (metode berfikir). Ketiga unsur
tersebut akan selalu terhubunga dengan relasi heuristik (relasi
inovatif), yaitu apabila pandangan filsafatinya mengenai
mengenai alam semesta dan manusia bersifat tertutup, maka cita-
cita instrinsiknya dengan sendirinya bersifat tertutup, sehingga
akan menutup pula metode berfikirnya. Demikian sebaliknya,
apabila ajaran ontologik-nya bersifat terbuka maka cita-cita
instrinsiknya maupun metode berfikirnya berturut-turut bersifat
terbuka.
Struktur ideologi ada kalanya bersikap tertutup, yaitu apabila :
diantara para penganut atau pendukung terjadi konflik antara
kelompok ortodoksi yang dominan dan kelompok progresif
yang tertekan dalam menghadapi persoalan perlu tidaknya
melakukan penyesuaian ideologik dengan tuntutan kemajuan
jaman.

para pendukung ideologidalam hal ini yang menyelenggarakan
pemerintahan negara tidak lagi bekerja demi terwujudnya
kebersamaan-hidup ideal, melainkan telah berubah menjadi
demi mempertahankan kekuasaan pemerintahan yang
diembannya. Bila hal ini terus dibiarkan, niscaya akan timbul
konflik internal dan selanjutnya dapat merebak menjadi konflik
terbuka.

2.Bersifat Dinamik, yaitu Sikap Para Penganutnya

Bahwa ideologi yang bersifat abstrak, niscaya membutuhkan
subyek pengamal/ pelaksana yaitu sejumlah penganut atau
pendukung yang mengidentifikasi hidupnya dengan ideologi yang

30

dianutnya, menerima kebenarannya, berjuang dan bekerja
dengan setia untuknya. Pencapaian kebersamaan-hidup ideal
membutuhkan perjuangan panjang dari generasi ke generasi
dalam sistem sosial yang niscaya bersifat terbuka sejalan dengan
perubahan jaman.
Salah satu sifat bawaan ideologi adalah terbuka, artinya demi
terwujudnya cita-cita instrinsiknya ideologi itu harus senantiasa
berkemampuan menanggapi tuntutan kemajuan jaman
. Sifat
ideologi yang terbuka dan berdaya aktif tersebut, menunjukkan
sendiri bahwa pada kenyataannya yang aktif melaksanakan
perwujudan cita-cita instrinsik dari ideologi dan yang secara
konkrit mewujudkan sifat terbuka sesungguhnya adalah para
pendukungnya
.

Sumber : Abdulkadir Besar dalam “Media Kajian dan Implementasi
Pancasila” Lembaga Pengkajian dan Pengembangan Kehidupan
Bernegara (LPPKB), Jakarta, Edisi Tahun I, Januari – April 2006.

b.Gagasan Pancasila Sebagai Ideologi Terbuka

Gagasan pertama mengenai Pancasila sebagai ideologi
terbuka
, secara formal ditampilkan sekitar tahun 1985, walaupun
semangatnya sendiri sesunguhnya dapat ditelusuri dari pembahasan
para pendiri negara pada tahun 1945. Pandangan Pancasila sebagai
ideologi terbuka, didorong oleh tantangan zaman. Sejarah
menunjukkan bahwa betapa kokohnya suatu ideologi, bila tidak
memiliki dimensi fleksibelitas atau keterbukaan, maka akan
mengalami kesulitan bahkan mungkin kehancuran dalam menanggapi
tantangan zaman (contoh : runtuhnya Komunisme di Uni Soviet).

Pemikiran Pancasila sebagai ideologi terbuka, tersirat di dalam
Penjelasan UUD 1945 antara lain disebutkan “Maka telah cukup jika
Undang-Undang Dasar hanya memuat garis-garis besar sebagai
instruksi kepada pemerintah pusat dan lain-lain penyelenggara negara
untuk menyelenggarakan kehidupan negara dan kesejahteraan sosial
terutama bagi negara baru dan negara muda, lebih baik hukum dasar
yang tertulis itu hanya memuat aturan-aturan pokok, sedang aturan-
aturan yang menyelenggarakan aturan pokok itu diserahkan kepada
undang-undang yang lebih mudah caranya membuat, merubah dan
mencabut”.

Dari kutipan tersebut dapat kita fahami bahwa UUD 1945 pada
hakekatnya mengan-dung unsur keterbukaan; karena dasar dari UUD

31

Fokus Kita :

Sebagai Ideologi terbuka, Pancasila senantiasa mampu
berinteraksi secara dinamis. Nilai-nilai Pancasila tidak boleh
berubah, namun pelaksanaannya kita sesuaikan dengan kebutuhan
dan tantangan nyata yang kita hadapi dalam setiap kurun waktu.

1945 adalah Pancasila, maka Pancasila yang merupakan ideologi
nasional bagi bangsa Indonesia bersifat terbuka pula. Beberapa hal
yang harus diperhatikan sehubungan dengan gagasan Pancasila
sebagai ideologi terbuka, yaitu :
1)Ideologi Pancasila harus mampu menyesuaikan diri dengan situasi
dan kondisi zaman yang terus mengalami perubahan. Akan tetapi
bukan berarti bahwa nilai dasar Pancasila dapat diganti dengan
nilai dasar lain atau meniadakan jatidiri bangsa Indonesia.
2)Pancasila sebagai ideologi terbuka, mengandung makna bahwa
nilai-nilai dasar Pancasila dapat dikembangkan sesuai dengan
dinamika kehidupan bangsa Indonesia dan tuntutan perkembangan
zaman secara kreatif, dengan memperhatikan tingkat kebutuhan
dan perkembangan masyarakat Indonesia sendiri.
3)Sebagai ideologi terbuka, Pancasila harus mampu memberikan
orientasi ke depan, mengharuskan bangsa Indonesia untuk selalu
menyadari situasi kehidupan yang sedang dan akan dihadapinya,
terutama menghadapi globalisasi dan keterbukaan.
4)Ideologi Pancasila menghendaki agar bangsa Indonesia tetap
bertahan dalam jiwa dan budaya bangsa Indonesia dalam wadah
dan ikatan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Dalam pandangan Moerdiono, bahwa beberapa faktor yang
mendorong pemikiran Pancasila sebagai ideologi terbuka, adalah
sebagai berikut :
1)Dalam proses pembangunan nasional berencana, dinamika
masyarakat Indonesia berkembang amat cepat. Dengan demikian
tidak semua persoalan hidup dapat ditemukan jawabannya secara
ideologis dalam pemikiran ideologi-ideologi sebelumnya.
2)Kenyataan bangkrutnya ideologi tertutup seperti Marxisme-
Leninisme/Komunisme. Dewasa ini kubu Komunisme dihadapkan
pada pilihan yang amat berat, menjadi suatu ideologi terbuka atau
tetap mempertahankan ideologi lama.

3)Pengalaman sejarah politik kita sendiri dengan pengaruh
Komunisme sangat penting. Karena pengaruh ideologi Komunisme
yang pada dasarnya bersifat tertutup, Pancasila pernah merosot
menjadi ancaman dogma yang kaku. Pancasila tidak lagi tampil
sebagai acuan bersama, melainkan sebagai senjata konseptual
untuk menyerang lawan-lawan politik. Kebijakasanaan pemerintah
pada saat itu menjadi absolut. Konsekuensinya, perbedaan-
perbedaan menjadi alasan untuk secara langsung dicap sebagai
anti Pancasila.

4)Tekad kita untuk menjadikan Pancasila sebagai satu-satunya asas
dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
Sebagai catatan, istilah Pancasila sebagai satu-satunya asas telah
dicabut berdasarkan Ketetapan MPR tahun 1999. Namun,
pencabutan ini kita artikan sebagai pengembalian fungsi utama

32

Pancasila sebaga dasar negara. Dalam kedudukannya sebagai
dasar negara, Pancasila harus dijadikan jiwa bangsa Indonesia
dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, terutama dalam
pengembangan Pancasila sebagai ideologi terbuka. Di samping itu,
ada faktor lain, yaitu tekad bangsa Indonesia untuk menjadikan
Pancasila sebagai alternatif ideologi dunia.
Sedangkan menurut Dr. Alfian, bahwa Pancasila sebagai ideologi
terbuka telah memenuhi ketiga dimensi dengan baik, terutama karena
dinamika internal yang terkandung di dalamnya. Dengan demikian
secara ideal – konseptual Pancasila adalah ideologi yang kuat,
tangguh, kenyal dan bermutu tinggi. Itulah sebabnya mengapa bangsa
Indonesia meyakininya sebagai ideologi yang terbaik bagi diri bangsa
Indonesia sendiri.

c.Perwujudan Pancasila Sebagai Ideologi Terbuka

Pancasila sebagai ideologi terbuka, sangat mungkin mampu
menyelesaikan berbagai persoalan yang dihadapi oleh bangsa
Indonesia. Namun demikian faktor manusia baik penguasa maupun
rakyatnya, sangat menentukan dalam mengukur kemampuan sebuah
ideologi dalam menyekesaikan berbagai masalah. Sebaik apapun
sebuah ideologi tanpa didukung oleh sumber daya manusia yang baik,
hanyalah utopia atau angan-angan belaka.
Implementasi ideologi Pancasila bersifat fleksibel dan interaktif
(bukan doktriner). Hal ini karena ditunjang oleh eksistensi ideologi
Pancasila yang memang semenjak digulirkan oleh para founding
fathers
(pendiri negara) telah melalui pemikiran-pemikiran yang
mendalam sebagai kristalisasi yang digali dari nilai-nilai sosial-budaya
bangsa Indonesia sendiri. Fleksibelitas ideologi Pancasila, karena
mengandung nilai-nilai sebagai berikut:

1)Nilai Dasar

Merupakan nilai-nilai dasar yang relatif tetap (tidak berubah) yang
terdapat di dalam Pembukaan UUD 1945. Nilai-nilai dasar Pancasila
(Ketuhanan, Kemanusiaan, Persatuan, Kerakyatan, dan Keadilan
Sosial), akan dijabarkan lebih lanjut menjadi nilai instrumental dan
nilai praxis yang lebih bersifat fleksibel, dalam bentuk norma-
norma yang berlaku di dalam kehidupan bermasyarakat,
berbangsa, dan bernegara.

2)Nilai Instrumental

Merupakan nilai-nilai lebih lanjut dari nilai-nilai dasar yang
dijabarkan secara lebih kreatif dan dinamis dalam bentuk UUD
1945, TAP MPR, dan Peraturan perundang-undangan lainnya.

3)Nilai Praxis

Merupakan nilai-nilai yang sesungguhnya dilaksanakan dalam
kehidupan nyata sehari-hari baik dalam kehidupan bermasyarakat,
berbangsa, maupun bernegara. Nilai praxis yang abstrak (misalnya
: menghormati, kerja sama, kerukunan, dan sebagainya),

33

diwujudkan dalam bentuk sikap, perbuatan, dan tingkah laku
sehari-hari. Dengan de mikian nilai-nilai tersebut nampak nyata dan
dapat kita rasakan bersama.

d.Batas Keterbukaan Ideologi Pancasila

Suatu ideologi apapun namanya, memiliki nilai-nilai dasar atau
instrinsik dan nilai instrumental. Nilai instrinsik adalah nilai yang
dirinya sendiri merupakan tujuan (an end-in-itself). Seperangkat nilai
instrinsik (nilai dasar) yang terkandung di dalam setiap ideologi
berdaya aktif. Artinya ia memberi inspirasi sekaligus energi kepada
para penganutnya untuk mencipta dan berbuat. Dengan demikian,
bahwa tiap nilai instrinsik niscaya bersifat khas dan tidak ada duanya.
Dalam ideologi Pancasila, nilai dasar atau nilai instrinsik yang
dimaksud adalah nilai-nilai Ketuhanan, Kemanusiaan, Persatuan,
Kerakyatan, dan Keadilan Sosial
yang menjadi jatidiri bangsa
Indonesia. Nilai-nilai inilah yang oleh bangsa Indonesia dinyatakan
hasil kesepakatan untuk menjadi dasar negara, pandangan hidup,
jatidiri bangsa dan ideologi negara yang tidak akan dapat dirubah oleh
siapapun, termasuk MPR hasil pemilu.
Sedangkan nilai instrumental atau diistilahkan “dambaan
instrumental”, adalah didamba berkat efek aktual atau sesuatu yang
dapat diperkirakan akan terwujud. Nilai instrumental menurut
Richard B. Brandt, adalah nilai yang niscaya dibutuhkan untuk
mewujudkan nilai instrinsik, berkat efek aktual yang dapat
diperhitungkan akan dihasilkannya. Nilai isnstrumental adalah
penentu bentuk amalan dari nilai instrinsik untuk masa tententu.
Bahwa dengan sifat terbukanya ideologi, hal ini berarti disatu sisi
nilai instrumental itu bersifat dinamik, yaitu dapat disesuaikan dengan
tuntutan kemajuan jaman, bahkan dapat diganti dengan nilai
instrumental lain demi terpeliharanya relevansi ideologi dengan
tingkat kemajuan masyarakat. Namun di sisi lain, penyesuaian diri
maupun penggantian tersebut tidak boleh berakibat meniadakan nilai
dasar atau instrinsiknya. Dengan kata lain, bahwa keterbukaan
ideologi itu ada batasnya.

Batas jenis pertama :

Bahwa yang boleh disesuaikan dan diganti hanya nilai instrumental,
sedangkan nilai dasar atau instrinsiknya mutlak dilarang. Nilai
instrumental dalam ideologi Pancsila adalah nilai-nilai lebih lanjut
dari nilai-nilai dasar atau instrinsik yang dijabarkan secara lebih
kreatif dan dinamis dalam bentuk UUD 1945, TAP MPR, dan
Peraturan perundang-undangan lainnya. Bahkan dalam
mewujudkan nilai-nilai instrumental yang lebih kreatif dan dinamis
sehingga dengan mudah dapat diimplementasikan oleh
masyarakat, dapat dituangkan dalam bentuk nilai praxis.
Nilai praxis, merupakan nilai-nilai yang sesungguhnya
dilaksanakan dalam kehidupan nyata sehari-hari (living reality) baik
dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, maupun bernegara.
Nilai praxis yang bersifat abstrak, seperti : menghormati, kerja

34

sama, kerukunan, gotong royong, toleransi dan sebagainya,
diwujudkan dalam bentuk sikap, perbuatan, dan tingkah laku
sehari-hari.
Batas jenis kedua, yaitu terdiri dari 2 (dua) buah norma :
1)Penyesuaian nilai instrumental pada tuntutan kemajuan
jaman, harus dijaga agar daya kerja dari nilai instrumental yang
disesuaikan itu tetap memadai untuk mewujudkan nilai instrinsik
yang bersangkutan. Sebab jika nilai instrumental penyesuaian
tersebut berdaya kerja lain, maka nilai instrinsik yang
bersangkutan tak akan pernah terwujud.
2)Nilai instrumental pengganti, tidak boleh bertentangan
antara linea recta dengan nilai instumental yang diganti. Sebab
bila bertentangan, berarti bertentangan pula dengan nilai
instrinsiknya yang berdaya meniadakan nilai instrinsik yang
bersangkutan.

Wacana Kita

Edi Sudrajat :
Jadikan Pancasila IDEOLOGI Terbuka

Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Partai Keadilan dan
Persatuan Indonesia Edi Sudrajat, di depan Presiden Susilo
Bambang Yudhoyono
, meminta agar Pancasila dijadikan sebagai
ideologi terbuka. Pancasila harus terus menerus dimaknai,
diwacanakan, dan dijadikan bahan perdebatan publik dalam rangka
mencari solusi atas masalah bangsa yang tidak kunjung dapat diatasi
setelah delapan tahun reformasi. “Tidak ada yang keliru dengan
Pancasila. Yang keliru adalah pemahaman tunggal atasnya untuk
mempertahankan kekuasaan seperti terjadi pada masa lalu
,” ujar
Edi, Jenderal purnawirawan berbintang empat, dalam sambutan
peringatan Hari Ulang Tahun Ke-7 PKPI di Jakarta.
Saya prihatin, saat ini semua orang merasa malu berbicara
Pancasila. Berbicara Pancasila dianggap kuno, tidak reformis, dan
tidak memiliki cita-cita Indonesia baru. Saya kembali bertanya,
Indonesia baru seperti apa yang dicita-citakan
?” ujarnya. Ia
menengarai adanya kelompok-kelompok kepentingan tertentu yang
ingin merobohkan Pancasila dan menggantikannya dengan ideologi
lain. Upaya sistematis kelompok kepentingan itu, menurut dia,
tergambar jelas dalam amandemen Undang-Undang Dasar 1945.
Secara metodologis amandemen itu tidak sahih dan muatan-muatan
dalam perubahan pasal-pasalnya cenderung berfalsafah lain dari
jatidiri bangsa Indonesia. “Perubahan pada batang tubuh dapat saja
terus merasuk ke perubahan Pembukaan UUD 1945 dimana
Pancasila tertenam di dalamnya,” ujarnya.

35

Edi menyebut, kelompok kepentingan itu adalah Liberalisme yang
berkolaborasi dengan kepentingan negara-negara maju. “Semangat
kebebasan penting. Tapi, manakala tanpa kendali moral dan etika
serta hukum tidak ditegakkan, kebebasan akan menjadi benturan
kepentingan dan pertarungan kelompok yang akan merusak tatanan
berbangsa
,” katanya.

Indonesia Yang Dituju

Dalam sambutannya, Presiden menyatakan, kebebasan
diperlukan dalam kehidupan demokratis, tetapi harus bergandengan
dengan tatanan hukum. “Kita ingin demokrasi dan kebebasan makin
mekar, tetapi tatanan dan ketertiban kehidupan politik terjamin.
Keduanya adalah kebutuhan kembar kita agar pembangunan yang
dirintis sejak Soekarno dapat terus dilanjutkan. Letakkan kebebasan
dalam konteks yang utuh agar kehidupan harmonis
,” ujarnya.
Presiden sepakat dengan Edi Sudrajat untuk menjadikan
Pancasila yang merupakan jadiri bangsa sebagai ideologi terbuka.
“Bapak Edi Sudrajat dengan cerdas dan arif menanyakan kepada kita
semua, Indonesia yang kita tuju itu Indonesia seperti apa ? Indonesia
yang kita tuju adalah sesuai dengan cita-cita kemerdekaan kita yang
tertuang dalam Pembukaan UUD 1945,” katanya. Indonesia di masa
depan, lanjut Presiden adalah Indonesia yang maju, modern, dan
tidak tercabut dari jatidirinya.

Sumber : Kompas,
16/1/2006.

Baca baik-baik wacana tersebut di atas, dan berikan tanggapan
penjelasan dengan singkat dan jelas di bawah ini !
a.Berikan ulasan kembali sesuai pendapat anda berdasarkan wacana
yang telah dibaca !
b.Identifikasi sekurang-kurangnya 3 (tiga) indikator mengapa sekarang
ini ada pemikiran untuk menjadikan Pancasila sebagai ideologi terbuka
!

c.Identifikasi sekurang-kurangnya 3 (tiga) indikator bahaya yang akan
muncul jika bangsa Indonesia tidak segera kembali ke Pancasila
sebagai ideologi terbuka !
d.Berikan penjelasan pendapat Edi Sudrajat yang menyatakan bahwa
“Saya prihatin, saat ini semua orang merasa malu berbicara Pancasila.
Berbicara Pancasila dianggap kuno, tidak reformis, dan tidak memiliki
cita-cita Indonesia baru”. !
e.Jelaskan bagaimana tanggapan Presiden Susilo Bambang
Yudhoyono
, sehubungan dengan permintaan dan sekaligus
himbauan dari Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Partai Keadilan
dan Persatuan Indonesia (PKPI) tersebut !

36

Carilah sumber informasi lain baik dari buku, koran, majalah, internet, buletin dan
sebagainya, kemudian lakukan hal-hal berikut :
Rumuskan kembali bagaimana suatu bangsa secara sosiologis maupun politis dapat
terbentuk !
Berikan penjelasan hubungan antara adanya manusia dengan terbentuknya bangsa di
dalam suatu negara tertentu !
Berikan penjelasan kembali mengapa unsur konstitutif, merupakan unsur mutlak
dalam berdirinya suatu negara !
Berikan sekurang-kurangnya 2 (dua) contoh persamaan dan berbedaan antara warga
negara dengan bukan warga negara berdasarkan hak dan kewajibannya !
Identifikasikan kembali dalam bentuk apa sajakah batas suatu negara dengan negara
lain !

Penugasan Praktik
Kewarganegaraan

4

Carilah sumber informasi lain baik dari buku, koran, majalah, internet,
buletin dan sebagainya, kemudian lakukan hal-hal berikut :
Rumuskan kembali pemahaman anda yang dimaksud dengan
Pancasila sebagai ideologi terbuka !
Berikan penjelasan hubungan antara pernyataan Pancasila sebagai
ideologi terbuka dengan konstelasi ideologi dunia yang tertutup !
Berikan penjelasan kembali tentang konsep ideologi “terbuka” dan
batasan “keterbukaan” suatu ideologi menurut Richard B. Brandt !
Berikan sekurang-kurangnya 2 (dua) faktor yang mendorong
pemikiran bahwa Pancasila adalah sebagai ideologi terbuka !
Identifikasikan kembali dalam bentuk apa sajakah seorang warga
negara dapat mengimplementasikan ideologi Pancasila dalam
kehidupan sehari-hari untuk bermasyarakat, berbangsa dan
bernegara !

C.PANCASILA SEBAGAI SUMBER NILAI DAN PARADIGMA
PEMBANGUNAN

1.Pengertian Nilai

Dalam pandangan filsafat, nilai (value : Inggris) sering dihubungkan
dengan masalah kebaikan. Sesuatu dikatakan mempunyai nilai, apabila
sesuatu itu berguna, benar (nilai kebenaran), indah (nilai estetika), baik
(nilai moral), religius (nilai religi), dan sebagainya. Nilai itu ideal, bersifat
ide. Karena itu, nilai adalah sesuatu yang abstrak dan tidak dapat
disentuh oleh panca indera. Yang dapat ditangkap adalah barang atau
laku perbuatan yang mengandung nilai itu. Ada dua pandangan tentang
cara beradanya nilai, yaitu :

a.Nilai sebagai sesuatu yang ada pada obyek itu sendiri
(obyektif)

Merupakan suatu hal yang obyektif dan membentuk semacam “dunia
nilai”, yang menjadi ukuran tertinggi dari perilaku manusia (menurut
filsuf Max Scheler dan Nocolia Hartman).
b.Nilai sebagai sesuatu yang bergantung kepada
penangkapan dan perasaan orang (subyektif)
Menurut Nietzsche, nilai yang dimaksudkan adalah tingkat atau
derajat yang diinginkan oleh manusia. Nilai, yang merupakan tujuan
dari kehendak manusia yang benar, sering ditata menurut susunan
tingkatannya yang dimulai dari bawah, yaitu : nilai hedonis
(kenikmatan), nilai utilitaris (kegunaan), nilai biologis (kemuliaan),

37

nilai diri estetis (keindahan, kecantikan), nilai-nilai pribadi (susial,
baik), dan yang paling atas adalah nilai religius (kesucian).
Dari pandangan dan pemahaman tentang nilai baik yang bersifat
obyektif maupun subyektif, berikut ini ada beberapa pengertian
tentang nilai :

Kamus Ilmiah Populer

Nilai adalah ide tentang apa yang baik, benar, bijaksana dan apa
yang berguna sifatnya lebih abstrak dari norma.

Laboratorium Pancasila IKIP Malang

Nilai adalah sesuatu yang berharga, yang berguna, yang indah,
yang memperkaya batin, yang menyadarkan manusia akan harkat
dan martabatnya. Nilai bersumber pada budi yang berfungsi
mendorong, mengarahkan sikap dan perilaku manusia.

Nursal Luth dan Dainel Fernandez

Nilai adalah perasaan-perasaan tentang apa yang diinginkan atau
tidak diinginkan yang mempengaruhi perilaku sosial dari orang
yang memiliki nilai itu. Nilai bukanlah soal benar salah, tetapi soal
dikehendaki atau tidak, disenangi atau tidak. Nilai merupakan
kumpulan sikap dan perasaan-perasaan yang selalu diperlihatkan
melalui perilaku oleh manusia.

C. Kluckhoorn

Nilai adalah suatu konsepsi yang eksplisit khas dari perorangan
atau karakteristik dari sekelompok orang mengenai sesuatu yang
didambakan, yang berpengaruh pada pemilihan pola, sarana, dan
tujuan dari tindakan. Nilai bukanlah keinginan, tetapi apa yang
diinginkan. Artinya, nilai itu bukan hanya diharapkan tetapi
diusahakan sebagai suatu yang pantas dan benar bagi diri sendiri
dan orang lain. Ukuran-ukuran yang dipakai untuk mengatasi
kemauan pada saat dan situasi tertentu itulah yang dimaksud
dengan nilai.

Dari beberapa pengertian nilai yang ada, kiranya dapat juga
difahami bahwa nilai adalah kualitas ketentuan yang bermakna bagi
kehidupan manusia perorangan, masyarakat, bangsa dan negara.
Kehadirian nilai dalam kehidupan manusia dapat menimbulkan aksi
dan reaksi, sehingga manusia akan menerima atau menolak
kehadirannya. Konsekuensinya, nilai akan menjadi tujuan hidup yang
ingin diwujudkan dalam kenyataan.

38

Fokus Kita :

Kehidupan manusia dalam masyarakat, baik sebagai pribadi
maupun kolektivitas (sosial) senantiasa berhubungan dengan
nilai-nilai, norma dan moral. Kehidupan masyarakat dimanapun
tumbuh dan berkembang dalam ruang lingkup interaksi nilai, norma

Sehubungan dengan nilai-nilai Pancasila yang telah berkembang di
dalam masyarakat Indonesia, maka dapat dicontohkan seperti nilai
keadilan dan kejujuran, merupakan nilai-nilai yang selalu menjadi
kepedulian manusia untuk dapat diwujudkan dalam kenyataan.
Sebaliknya, kezaliman dan kebohongan meruapakan nilai yang selalu
ditolak.

2.Ciri-ciri Nilai

Pada dasarnya nilai dapat dibedakan berdasarkan cirinya.
Pembedaan tersebut adalah sebagai berikut :

a.Nilai-nilai yang mendarah daging (internalized value)

Yaitu nilai yang telah menjadi kepribadian bawah sadar atau
yang mendorong timbulnya tin dakan tanpa berfikir lagi. Bila
dilanggar, timbul perasaan malu atau bersalah yang mendalam dan
sukar dilupakan, misalnya :
1)Orang yang taat beragama akan menderita beban mental
apabila melanggar salah satu norma agama tersebut.
2)Seorang prajurit di medan pertempuran akan menolong
temannya yang terluka, mekipun akan membahayakan jiwanya.
3)Seorang ayah berani bertarung maut demi menyelamatkan
anaknya yang sedang terkurung kobaran api yang membakar
rumahnya.

b.Nilai yang dominan

Merupakan nilai yang dianggap lebih penting dari pada nilai-nilai
lainnya. Hal ini nampak pada pilihan yang dilakukan seseorang
pada waktu berhadapan dengan beberapa alternatif tindakan yang
harus diambil. Beberapa pertimbangan dominan tidaknya nilai
tersebut adalah sebagai berikut :
1)Banyaknya orang yang menganut nilai tersebut.
2)Lamanya nilai itu dirasakan oleh para anggota kelompok
tersebut.
3)Tingginya usaha untuk mempertahankan nilai itu.
4)Tingginya kedudukan (prestise) orang-orang yang membawakan
nilai tersebut.

3.Macam-Macam Nilai

Nilai, erat hubungannya dengan kebudayaan dan masyarakat.
Setiap masyarakat atau setiap kebudayaan memiliki nilai-nilai tertentu
mengenai sesuatu. Malah kebudayaan dan masyarakat itu sendiri
merupakan nilai yang tidak terhingga bagi orang yang memilikinya.
Koentjaraningrat menjelaskan bahwa “suatu sistem nilai budaya
biasanya berfungsi sebagai pedoman tertinggi bagi kelakuan
manusia
”.

39

Berberapa ahli telah mengidentifikasi macam-macam nilai yang
selama ini telah tumbuh dan berkembang di dalam masyarakat,
seperti berikut ini :

N
o

Nama
Tokoh

Pendapat/Uraian

Keterangan

1.Alport

Mengidentifikasi nilai-nilai
yang terda-pat di dalam
kehidupan masyarakat, dalam
6 (enam) macam, yaitu ;
•nilai teori,
•nilai ekonomi,
•nilai estetika,
•nilai sosial,
•nilai politik, dan
•nilai religi.

Manusia dalam
memilih nilai-nilai
menempuh
berbagai cara
yang

dapat

dibedakan
menurut tuju-
annya,
pertimbangan-nya,
penalarannya, dan
kenyataannya.

2.Sprange

Nilai dapat dibedakan menjadi
6 (enam) antara lain ;
•nilai ilmu pengetahuan,
•nilai ekonomi,
•nilai agama,
•nilai seni,
•nilai sosial, dan
•nilai politik.

Nilai-nilai ini dapat
digu-nakan untuk
mengenal tipe
manusia.

3.Sprange,
Harold
Lasswell

Mengidentifikasi 8 (delapan)
nilai-nilai masyarakat barat
dalam hubungannya dengan
manusia lain, yaitu ;
•kekuasaan,
•pendidikan/penerangan
(enlightenment),
•kekayaan (wealth),
•kesehatan (well-being),
•keterampilan (skill),
•kasih sayang (affection),
•kejujuran (rectitude) dan
keadilan
(rechtschapenheid) dan
•kesegaran,

respek

(respect).

Dalam menganalisis macam-macam nilai selain para sarjana
tersebut di atas, dalam pandangan Prof. Dr. Notonagoro, nilai dapat
dibagi menjadi 3 (tiga) bagian, yaitu :
a.Nilai material, yaitu segala sesuatu yang berguna bagi unsur
manusia.

40

b.Nilai vital, yaitu segala sesuatu yang berguna bagi manusia untuk
dapat mengadakan kgt atau aktivitas.
c.Nilai kerokhanian, yaitu segala sesuatu yang berguna bagi
rokahni manusia. Nilai kerokhanian dapat dibedakan atas 4 (empat)
macam, antara lain :
1)Nilai kebenaran/ kenyataan yang bersumber dari unsur akal
manusia (ratio, budi dan cipta).
2)Nilai keindahan yang bersumber dari unsur manusia
(perasaan dan estetis).
3)Nilai moral/ kebaikan yang bersumber dari unsur kehendak/
kemauan (karsa dan etika).
4)Nilai religius, yaitu merupakan nilai ke-Tuhanan,
kerokhanian yang tinggi dan mutlak yang bersumber dari
keyakinan/ kepercayaan manusia.
Bagi manusia nilai dijadikan landasan, alasan atau motivasi
dalam segala tingkah laku dan perbuatannya. Dalam bidang
pelaksanaannya nilai-nilai dijabarkan dan diwujudkan dalam bentuk
kaedah atau norma sehingga merupakan larangan, tidak
diinginkan, celaan, dan sebagainya.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->