P. 1
Manusia Indonesia

Manusia Indonesia

|Views: 1,190|Likes:
Published by Anggita
iseng2 aja..hahaha,,wae!!
iseng2 aja..hahaha,,wae!!

More info:

Published by: Anggita on Jul 23, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/10/2010

pdf

text

original

MANUSIA INDONESIA

1. Manusia Indonesia 1.1. Pengertian Pengertian manusia Indonesia berlainan dengan pengertian bangsa Indonesia. Manusia Indonesia lebih mengandung pengertian etnis (sosiologis-antropologis), sedangkan bangsa Indonesia mengandung makna politis (nation). Menurut Ernest Renan, seorang filosof Prancis, bangsa adalah segerombolan manusia yang hidup bersatu. Syarat utama terbentuknya suatu bangsa adalah kehendak atau kemauan untuk bersatu. Sedangkan manusia berkaitan erat dengan latar belakang suku, agama, ras, adat istiadat, bahasa, maupun kebudayaan. 1.2. Terbentuknya Manusia Indonesia a. Masa Prasejarah Menurut Prof. Koentjaraningrat, kira-kira satu juta tahun yang lalu di Indonesia sudah hidup manusia-manusia tertua, ketika Dataran Sunda masih berupa daratan. Mereka mempunyai ciri-ciri fisik yan berbeda dengan manusia sekarang. Fosil-fosil yang ditemukan di daerah Lembah Bengawan Solo berasal dari manusia-manusia tertua tersebut. Oleh para ahl antropologi, fosil tersebut dinamakan Pithecanthropus erectus. Di daerah Ngandong ditemukan fosil yan lebih muda, yang dinamakan Homo Soloensis dan yang lebih muda lagi adalah fosil yang ditemukan di daerah Wajak (Tulungagung) yan disebut Homo Wajakensis, yang mempunyai ciri-ciri fisik seperti nenek moyang penduduk pribumi Australia. Di samping itu juga didapati fosil-fosil yang menunjukkan ciri-ciri Austro-Melanesoid (ada juga yang menamakannya Papua-Melanesoid). Mereka tinggal d gua-gua (abris sous roche) atau perkampungan di dekat muara sungai. Salah satu makanannya adalah kerang, yang kulitnya dibuang bersama-sama dengan alat-alat kebudayaan yang telah usang. Tumpukan kulit kerang ini sedemikian banyak sehingga menyerupai bukit yang dinamakan kyokkenmodding (dari bahasa Denmark yang artinya sampah dapur). Kyokkenmodding terdapat di beberapa daerah, antara lain pantai timur Sumatera Utara dekat Medan, dekat Langsa di Aceh, di Perak, Kedah, dan Pahang (Malaysia). Gelombang berikutnya dari penyebaran manusia di Indonesia adalah yang membawa alat-alat kebudayaan neolithik dari Asia Tenggara, yang fisiknya mempunyai banyak ciri-ciri Mongoloid. Mereka menggunakan bahasa Proto-Austronesia, yang merupakan induk keluarga bahasa-bahasa Kadai (Cina Selatan, Hainan, Taiwan), Cham (di Vietnam Tengah), dan Austronesia (di Indonesia dan Kepulauan Pasifik). Mereka telah mempunyai kepandaian bercocok tanam sederhana tanpa irigasi. Yang tinggal di daerah pantai dan hilir sungai mengembangkan kebudayaan maritim berupa perahu bercadik sehingga memungkinkan mereka berlayar meninggalkan Vietnam menuju kepulauan di Asia Tenggara dan

Pasifik. Dalam sejarah, mereka juga dinamakan bangsa Proto Melayu (Melayu Tua) dan menurunkan antara lain suku-suku bangsa Batak dan Dayak. Gelombang berikutnya adalah penyebaran manusia-manusia yang membawa kebudayaan perunggu, yang berasal dari Vietnam Utara (daerah Dongson). Benda-benda perunggu dari zaman prasejarah banyak ditmukan di Indonesia berupa nekara, moko, candrasa, dan lain-lain. Pembawa kebudayaan perunggu inilah yang kemudian dikenal sebagai bangsa Deutro Melayu (Melayu Muda) yang menurunkan suku-suku bangsa Jawa, Sunda, Melayu, Banjar, dan lain-lain. b. Masa Sejarah Pada zaman sejarah, proses masuknya manusia-manusia ke Indonesia masih tetap berlangsung. Mereka membawa pengaruh kebudayaan dan agamanya. Mereka antara lain oran -orang Cina, India, Arab, dan Eropa. Pengaruh India Pengaruh India berupa agama dan kebudayaan Hindu maupun Buddha, bentuknya antara lain sebagai berikut. 1. Berdirinya kerajaan-kerajaan Hindu maupun Buddha berlandaskan konsep dewa raja (raja dipandang sebagai penjelmaan atau keturunan dewa). Kerajaan-kerajaan itu, antara lain Kerajaan Kutai, Tarumanegara, Mataram, Sriwijaya, Kediri, Singasari, dan Majapahit. 2. Dikenalnya tulisan atau huruf sehingga Indonesia memasuki zaman Sejarah. Di beberapa daerah ditemukan prasasti-prasasti dengan menggunakan huruf Pallawa, Praenagari, maupun Jawa Kuno. Bahasanya ada yang menggunakan Sansekerta, Melayu Kuno, Jawa Kuno, dan lain-lain. 3. Dipeluknya agama Hindu maupun Buddha oleh sebagian orang Indonesia, terutama dari kalangan atas (bangsawan dan keluarga raja). 4. Pengaruh lain misalnya dalam bidang kesusastraan, seni bangunan, dan sistem sosial (kasta).

Pengaruh Islam Pengaruh Islam masuk ke Indonesia dibawa oleh para pedagang dari Persia dan Gujarat. Itulah sebabnya Islam di Indonesia mengandung unsur-unsur mistik (tasawuf). Ajaran Islam yang lebih murni datang lebih belakangan, ketika banyak orang Indonesia kembali dari tanah suci Arab. Pengaruh agama dan kebudayaan Islam terasa kuat di daerah-daerah yang pengaruh Hindu-Buddhanya kurang kuat, misalnya Aceh, Banten, pantai utara Jawa, dan Sulawesi Selatan. Di daerah-daerah yang pengaruh Hindhunya cukup kuat, agama Islam mempunyai corak tersendiri, misalnya di pedalaman Jawa Tengah dan Jawa Timur terdapat Islam Kejawen. Berdasarkan penelitiannya di daerah Mojokuto (Kediri), Clifford Geertz membagi masyarakat Jawa menjadi tiga : kaum santri, kaum priyayi, dan kaum abangan. Selain dalam agama, bentuk pengaruh Islam terlihat, antara lain : 1. Upacara keagamaan : kelahiran, kematian, dan hari besar.

2. Bangunan/arsitektur : masjid dan langgar. 3. Kesenian : seni musik dan seni kaligrafi. 4. Kesusastraan : suluk dan hikayat. Pengaruh Eropa Orang-orang Eropa datang ke Indonesia pada mulanya bermotif ekonomi (berdagang rempah-rempah), namun pada akhirnya menjadi imperialistis. Satu demi satu dan akhirnya seluruh Indonesia dikuasainya. Pengaruh Eropa terasa d berbagai bidang, antara lain : 1. Politik pemerintahan : sistem pemerintahan dengan administrasi yang modern. 2. Sosial-ekonomi : makin meresapnya sistem ekonomi uang, sistem kerja upahan sebagai buruh, serta tumbuhnya perusahaan/ industri besar dan modern. 3. Kebudayaan : tumbuhnya sistem pendidikan modern, ilmu pengetahuan dan teknologi, arsitektur, serta sistem transportasi dan komunikasi. 4. Agama : tersebarnya agama Katolik dan Protestan, terutama di daerah -daerah yang belum kuat terpengaruh Hindu, Buddha, dan Islam. Misalnya, di daerah pedalaman Sumatera Utara, pedalaman Kalimantan, Sulawesi Utara dan Tengah, Maluku Tengah dan Selatan, Nusa Tenggara Timur, dan Irian Jaya. Disamping pengaruh-pengaruh yang telah disebutkan di muka, masih ada pengaruh lain, misalnya masuknya orang-orang Cina yan jumlahnya cukup besar. Mereka umumnya bergerak di bidang ekonomi menjadi pedagang dan pengusaha serta tinggal di daerah perkotaan. Pada zaman Belanda, kepada mereka disediakan perkampungan khusus yang disebut Pecinan. Pengaruh di bidang keagamaan dan kebudayaan tidak terlalu besar, barangkali disebabkan karena kelompok etnis Cina biasanya hidup secara eksklusif. Dengan uraian seperti di muka, jelaslah bagi kita mengapa di Indonesia terdapat heterogenitas etnis, agama, budaya, dan lain-lain. Kondisi geografis Indonesia sebagai negara kepulauan turut berperan bagi timbulnya keanekaragaman tersebut. Manusia-manusia tinggal di pulau-pulau yang berserakan saling terpisah dan dalam jangka waktu lama sehingga timbulnya perbedaan-perbedaan merupakan sesuatu yang wajar.

1.3. Apa dan Siapa Manusia Indonesia Berbicara tentang apa dan siapa manusia Indonesia berarti kita memasuki pembicaraan yang amat subjektif. Penilaian tentang manusia Indonesia amat tergantung kepada siapa, dalam posisi apa, dan kapan mereka menilai kita. Kita sendiri sebagai objek yang dinilai juga selalu mengalami perubahan. Berikut ini akan dikemukakan penilaian orang luar terhadap manusia Indonesia sebagaimana disampaikan oleh Mochtar Lubis dalam ceramahnya di Taman Ismail Marzuki pada tanggal 9 April 1977.

Menurut orang-orang VOC (Belanda), manusia Indonesia itu amat khianat, tidak mau memegang teguh perjanjian, suka membunuh, suka berperang, tidak jujur, seperti binatang, dan kejam. Penilaian seperti ini tidak mengherankan, karena sejak mereka tiba di Indonesia selalu mendapat perlawanan dari bangsa Indonesia. Setelah Belanda berperan sebagai penjajah, pandangannya mulai berubah. Dikatakan bahwa orang Indonesia kurang sanggup melakukan kerja otak tinggi, dan sedang-sedang saja dalam beragama. Penjajah Belanda mengakui juga bahwa manusia Indonesia bersifat hormat, tenang, dapat dipercaya, lembut, dan ramah pada tamu. Ada jua yang menilai manusia Indonesia tidak suka memikirkan yang susah-susah, tidak punya pendirian, tidak punya kemauan, dan tidak bisa mengambil keputusan. Tentang orang Irian, Belanda mengatakan lekas marah, suka hiruk-pikuk. Orang Bugis-Makassar dikatakan sangat ulet dan tahan letih. Orang Bali memiliki semangat yang hidup, brutal, dan rajin bekerja. Orang Ambon dikatakan intelligent dan cinta kemerdekaan. Orang Melayu dikatakan bergairah, kejam, tertutup, curiga, jujur, ramah kepada tamu, dan formal. Orang Batak, Aceh, dan Minang, dikatakan keras kepala. Orang Jawa dikatakan tinggi hati, tidak suka diperlakukan yang tidak sesuai dengan kedudukannya. Demikianlah antara lain penilaian orang Belanda tentang manusia Indonesia. Sebenarnya penilaian itu lebih mengarah kepada etos kebudayaan, yaitu sifat-sifat suatu suku bangsa berdasarkan perilakunya atau hal-hal yang tampak dari luar. Orang Cina lain lagi penilaiannya terhadap manusia Indonesia. Seorang musafir bernama Ma-Huan pernah singgah di Jawa pada tahun 1416. Dkatakan bahwa orang pribumi sangat jorok, rambutnya tidak disisir, kakinya telanjang (tanpa alas kaki), percaya kepada adanya setan, makanannya kotor seperti semut, berbagai jenis serangga yang dipanggang sebentar di atas api, dan sebagainya. Bagaimana gambaran ideal tentan manusia Indonesia? Jawaban atas pertanyaan ini tentu tergantung dari sisi apa kita memandangnya. Bagi seorang muslim, manusia Indonesia hendaknya seorang santri, alim, taat menjalankan ibadah, berani mengatakan yang benar itu benar, menjauhi larangan Allah, selalu siap melawan kebatilan, dan lain-lain. Bagi seorang kristani, ideal manusia Indonesia adalah yang mengabdi kepada ajaran agamanya, mengasihi sesama manusia, dan sebagainya. Kita lihat dalam kehidupan nyata sehari-hari. Sisa-sisa warisan animisme nenek moyang masih dijumpai dalam kehidupan sehari-hari. Di saat menghadapi krisis atau kesukaran, ketika pikiran rasional kurang mampu mengatasi persoalan, kita lari ke mistik dan mitos-mitos. Bahkan, orang Indonesia yang sudah amat rasional dan berpendidikan tinggi, banyak yang lari ke dunia kebatinan. Faktor-faktor penyebabnya antara lain dilanda kebimbangan dan ketidakpastian, ingin berkuasa, ingin memperoleh jabatan tinggi, mempertahankan kekuasaan, mengumpulkan harta, dan sebagainya. Aliran kebatinan merambah banyak manusia Indonesia.

Menurut Sosrosudigdo, gerakan kebatinan merupakan protes melawan kekosongan hidup dan kepalsuan jiwa, mencari kenyataan rohani yang batin. Menurut Prof. Dr. Mr. Prajudi, ilmu kebatinan merupakan pengimbang dalam modernisasi masyarakat Indonesia. Adapun S. Mertodipuro menyatakan bahwa kebatinan adalah cara ala Indonesia mendapatkan kebahagiaan. Di Indonesia, kebatinan merupakan gejala umum, dengan beraneka macam nama : mistik, tasawuf, ilmu kesempurnaan, teosofi, dan lain-lain. Sekretariat kerja sam kepercayaan pada bulan April 1972 mencatat ada 644 aliran kepercayaan, antara lain 257 di Jawa Tengah, 70 di DIY, 26 di Indonesia Timur, 96 di Sumatera, 83 di Jawa Barat, 26 di Jawa Timur. Sisanya tidak diketahui daerah penyebarannya. Bagi kaum kebatinan, manusia ideal adalah yang mau bekerja keras tanpa mencari keuntungan. Seperti digambarkan dalam ungkapan Jawa : rame ing gawe sepi ing pamrih, memayu ayuning bawana, yang artinya bekerja keras tanpa mencari keuntunga untuk diri sendiri, manusia memajukan dunia. Manusia ideal harus pula memiliki ciri-ciri rela, rida, bersedia menyerahkan segala miliknya apabila diperlukan, menerima terhadap apapun yang menimpa dirinya, sabar, dan hidup dengan penuh toleransi. Terakhir, manusia Indonesia yan ideal adalah manusia Pancasila. Manusia Pancasila mencakup segala manusia ideal yang dicita-citakan segala rupa ajaran agama, kebatinan, dan cita-cita emansipasi manusia oleh berbagai ideologi politik. Manusia Indonesia memang telah berbenturan dengan berbagai agama, falsafah, ajaran kebatinan, ilmu pengetahuan dan teknologi, ideologi politik modern (demokrasi, sosialisme), dan banyak lagi nilai yang datang dari segala penjuru dunia. Kita telah dijajah bangsa asing cukup lama, dan belakangan kita menghadapi arus konsumerisme internasional serta kerakusan perusahaan multinasional, juga ketamakan orang-orang kita sendiri. Manusia Indonesia memiliki daya sinkretis (menggabungkan berbagai aliranyang berlainan) yang cukup besar, yang baru diterima, dan yang lama dipertahankan. Masih banyak yang menjalankan shalat 5 kali sehari, tetapi juga menaruh sesaji di bawah pohon besar yang dianggapnya keramat. Ada juga yang pergi ke gereja untuk kemudian datang ke tempat keramat meminta sesuatu. Menurut Mochtar Lubis, salah satu kelemahan manusia Indonesia adalah tidak berdaya melakukan pilihan, semua kita terima, kita biarkan hidup bersama tanpa mengganggu jiwa kita. Pergi ke pohon keramat tanpa mengganggu perasaan kita sebagai orang beragama. Contoh yang jelas adalah kasus Sawito Kartowibowo, orang yang berpendidikan modern dan mengenal rasionalitas namun masih pergi mencari wahyu ke gunung, hutan, gua, dan lain-lain.

2. Ciri-Ciri Manusia Indonesia 2.1. Ciri-Ciri Fisik Ciri-ciri fisik orang Indonesia dapat dibagi atas 3 golongan, yaitu Papua Melanesoid, Wedoid, dan Melayu Mongoloid.

a. Papua Melanesoid Ciri-cirinya rambut keriting kecil, berbibir tebal, serta kulit hitam. Yang termasuk golongan ini adalah penduduk Pulau Irian, Kai, dan Aru. b. Weddoid Kata weddoid berasal dari bangsa Weda di Srilanka karena beberapa sifat luar golongan ini sama dengan bangsa Weda yang ada di Srilanka. Ciri-cirinya perawakan kecil, kulit sawo matang, dan rambut berombak. Contoh : orang Sakai (di Siak), orang Kubu (di Jambi), orang Enggano, Mentawai, Toala, Tokea, dan orang Tomuna (di Pulau Muna). c. Melayu Mongoloid Golongan Melayu Mongoloid datang ke Indonesia diduga pada zaman batu (neolithikum) atau pada zaman perunggu. Golongan ini adalah golongan terbesar yang ditemukan di Indonesia dan dianggap sebagai nenek moyang Indonesia. Ciri-cirinya, rambut ikal atau lurus dan muka agak bulat. Golongan ini dibagi atas :
y y

Golongan Melayu Tua (Proto-Melayu), contoh : suku bangsa Batak, Toraja, dan Dayak. Golonan Melayu Muda (Deutro-Melayu), contoh : Jawa, Bali, Madura, Banjar, dan sebagainya.

Seorang ahli antropologi berkebangsaan Belanda, Duyvendak, menyatakan bahwa terdapat perbedaan bentuk kepala antara orang Melayu Tua dengan orang Melayu Muda. Orang Melayu Tua bentuk kepalanya adalah dolichocepalia (berkepala panjang), sedangkan orang Melayu Muda berkepala pendek (brachycepalia) 2.2. Ciri-ciri Psikis Menurut Mochtar Lubis, manusia Indonesia memiliki ciri-ciri : hipokritis, segan dan enggan bertanggung jawab, berjiwa feodal, percaya pada takhayul, atistik, dan berwatak lemah. Ciri-ciri lain yang merupakan tambahan diantaranya adalah cenderung boros, tidak suka bekerja keras, kurang sabar, cepat cemburu, dan dengki. Ciri-ciri tersebut akan diterangkan secara singkat dalam uraian berikut ini. a. Hipokritis dan Munafik Manusia Indonesia bersifat hipokritis (munafik, suka berpura-pura), lain di muka, lain di belakang. Lain di mulut lain di hati. Apa yang dikatakan berlainan dengan isi hatinya. Orang menyembunyikan sesuatu yang diinginkan/dikehendaki karena takut mendapat reaksi yang merugikannya apabila ia mengemukakan apa yang sebenarnya. Akibat adanya sifat munafik ini, timbullah sikap ABS (Asal Bapak Senang). Maksudnya para bawahan dalam memberikan laporan kepada atasan, yang dilaporkan adalah hal hal yang sekiranya dapat -

menyenangkan atasan karena kalau dialporkan apa adanya (termasuk yang jelek) si bawahan dapat dimarahi atasannya. Bagi bawahan, yang penting adalah dirinya selamat. Perkataan tidak harus dirumuskan sedemikian rupa sehingga menjadi kabur. Kalau kondisi ini berlanjut, akibatnya makin parah karena kebijakan yang dirumuskan pimpinan tidak didasarkan pada kata yang benar. Demikian pula sikap tidak setuju, sikap mengkritik atau mencela, harus dirumuskan secara terselubung. b. Segan dan Enggan Bertanggung Jawab Di Indonesia sangat jarang seorang pemimpin/pejabat yang mau meletakkan jabatannya sebagai bentuk pertanggungjawaban apabila ia melakukan kesalahan atau gagal melaksanakan tugasnya. Sebaliknya, jika ada peristiwa yang suskses, manusia Indonesia tidak ragu-ragu mengklaim bahwa kesuksesan itu adalah hasil usahanya (setidaknya ia mengakui ikut berperan), untuk kemudian memperoleh pujian, penghargaan, dan lain-lain. Sebaliknya pegawai kecil yan bekerja dengan tekun, jaran mendapat penghargaan yang seharusnya layak ia terima. c. Berjiwa Feodal Feodalisme dalam bentuknya yang lama sejak kemerdekaan telah berkurang, namun dalam bentuknya yang baru makin berkembang. Sikap feodal ini berakar pada manusia Indonesia terhadap kekuasaan. Di waktu lampau, raja dianggap memperoleh kekuasaan dari Tuhan atau Dewa. Di Jawa, rajaraja dianggap memiliki wahyu cakraningrat yang diperoleh dari dewa, karenanya seorang raja tidak dapat berbuat salah. Segala ucapannya dianggap benar. Pakaian dan benda-benda miliknya dianggap keramat. Pada masa sekarang, peran raja digantikan oleh Presiden, Menteri, Gubernur, dan para pembesar lainnya. Hubungan atasan dengan bawahan masih menggunakan pola lama yang feodalistik. Penguasa tak suka mendengar kritik, bawahan segan mengkritik atasan. Akibatnya, komunikasi atasan (pemerintah) dengan bawahan (rakyat) menjadi putus. Hubungan penguasa-rakyat bersifat searah, dari atas ke bawah. Kondisi seperti tersebut hampir-hampir tidak membuka peluang adanya koreksi dari bawahan terhadap atasan. Yang terjadi adalah sebaliknya yaitu tindakan represif atasan terhadap bawahan jika terjadi hal-hal yang tidak disenangi atasan. d. Percaya Pada Takhayul Sampai sekarang masih banyak manusia Indonesia yang percaya pada takhayul. Benda-benda tertentu dianggap keramat atau mempunyai kekuatan gaib. Misalnya batu besar, benda aneh, makhluk hidup yang bentuknya menyimpang dari kelaziman, dan pohon besar sering dianggap keramat, orang mencari hari baik untuk melakukan hajatan atau pekerjaan. Peristiwa-peristiwa alam dianggap mempunyai pengaruh terhadap kehidupan manusia. Burung gagak terbang berputar-putar sambil bersuara di atas suatu rumah, dianggap sebagai pertanda adanya anggota kerabat yang akan meninggal. Dan masih banyak lagi contohnya dalam masyarakat.

Sekarang di zaman yang serba modern, manusia Indonesia suka membuat lambang, mantera, dan semboyan-semboyan baru dan sangat mudah percaya pada lambang yang dibuatnya sendiri. Contoh lain takhayul baru adalah modernisasi. Model dari negeri-negeri maju menjadi takhayul dan lambang baru, dengan segala jimat dan mantranya yang dirumuskan dengan kenaikan GNP dan GDP. Dan kita gagal melihat dampak yang ditimbulkannya : rusaknya nilai-nilai kehidupan, pencemaran dan kerusakan lingkungan, serta tanah gundul akibat pembabatan hutan. e. Artistik Manusia Indonesia senantiasa dekat dengan alam. Benda-benda sekelilingnya diidentifikasikan sebagai makhluk yang mempunyai roh, jiwa, kekuatan, dan kekuasaan. Semuanya mendorong berkembangnya daya artistik yang besar dalam dirinya yang kemudian dituangkan dalam segala rupa ciptaan yang indah. Misalnya : tarian, musik, patung, lukisan, relief, anyaman, batik, ukiran, dan sebagainya. Hasil ciptaan manusia Indonesia begitu indahnya sehingga banyak dikoleksi oleh orang asing atau disimpan di museum-museum. f. Watak yang Lemah Manusia Indonesia kurang kuat mempertahankan atau memperjuangkan keyakinannya, sekalipun keyakinan itu benar. Seseorang dapat dengan mudah, apalagi dipaksa, mengubah keyakinannya. Kegoyahan watak seperti ini merupakan akibat dari ciri masyarakat atau manusia feodal pula. Ini merupakan sisi lain dari sikap ABS, untuk menyenangkan atasan atau menyelamatkan diri. Atau dapat pula disebabkan karena kuatnya keinginan untuk memelihara keharmonisan dalam masyarakat, tidak ingin disebut sebagai manusia keras kepala sehingga sikap kompromistis lebih diutamakan. g. Ciri-Ciri Lainnya Ciri-ciri lain manusia Indonesia ada yang positif, ada pula yang negatif. Ciri-ciri yang negatif, misalnya sebagai berikut. 1. Tidak hemat, cenderung boros, bahkan manusia Indonesia membelanjakan penghasilan yang belum diterimanya. Contohnya membeli barang dengan cara kredit. 2. Tidak suka bekerja keras. 3. Cepat cemburu, dengki terhadap orang lain yang berhasil. 4. Suka meniru, disebabkan oleh lemahnya kepribadian. 5. Malas, mungkin disebabkan karena alam yang subur sehingga mudah menghasilkan sesuatu dan kurang rajin menabun untuk masa depan. Sifat-sifat positif manusia Indonesia, antara lain sebagai berikut. 1. Suka hidup harmonis dengan orang lain. 2. Kasih sayang orang tua kepada anak-anaknya dan sebaliknya. 3. Berhati lembut dan suka hidup damai.

4. Memiliki rasa humor yang tinggi. 5. Cepat dalam belajar, mudah dilatih bermacam-macam keterampilan. Sikap bangsa Indonesia tersebut berkembang setelah bangsa Indonesia banyak menikmati pendidikan dan ilmu pengetahuan. Perkembangan tersebut anatara lain meliputi : 1. Toleransi tinggi terhadap pemeluk agama yang berbeda. 2. Hormat-menghormati dan bekerja sama dengan orang lain, 3. musyawarah untuk mencapai mufakat, 4. memiliki sifat gotong royong yang tinggi, 5. suka bekerja keras.

3. Pembangunan Kebudayaan Kebudayaan nasional bersifat dinamis, dalam arti selalu mengalami perubahan atau perkembangan, baik disebabkan karena faktor intern maupun faktor ekstern. Menurut Prof. Dr. Mattulada, bangsa Indonesia kini memiliki kebudayaan nasional yang unsur-unsurnya berasal dari : kebudayaan bangsa atau kebudayaan daerah (sesuai dengan pemahaman pada tahun 194 5), kebudayaan asing, dan kreasi atau hasil invention secara nasional. Menurut Prof. Dr. S. Budhisantoso, kebudayaan-kebudayaan Indonesia dapat dikelompokkan ke dalam tiga kategori : kebudayaan suku bangsa, kebudayaan daerah, dan kebudayaan nasional. Masingmasing kebudayaan itu mempunyai fungsi dan lingkungan penggunaannya yang efektif sebagai kerangka acuan yang memperlancar pergaulan sesama anggota kelompok sosial. Apabila kebudayaan daerah dan kebudayaan nasional diperbandingkan, kedudukan kebudayaan nasional setingkat lebih luas jangkauannya, karena ia menjadi kerangka acuan bagi seluruh penduduk tanpa membedakan asal usul daerah maupun suku bangsa. Oleh karena itu, kalau kebudayaan adaerah merupakan kebudayaan dominan di daerah, maka kebudayaan nasional menjadi kebudayaan dominan di seluruh tanah air. Pengembangan kebudayaan nasional sebagai kebudayaan dominan di seluruh negeri diharapkan dapat memperkukuh persatuan dan kesatuan bangsa. Namun, karena masyarakat dan kebudayaan yang ada di tanah air bersifat heterogen, pelaksanaannya tidak mudah dan kadang menimbulkan gejolak sosial karena timbul kesan adanya dominasi salah satu kebudayaan daerah. Kesukaran lain juga disebabkan karena perkembangan kebudayaan nasional belum sepenuhnya memenuhi kebutuhan akan kerangka acuan bagi segala sektor kehidupan sehingga sering orang cenderung mengacu kepada kebudayaan daerah atau suku bangsa masing-masing. Kebiasaan seperti ini dapat menimbulkan kecemburuan sosial dan mengancam persatuan/kesatuan bangsa, apalagi kalau dilakukan oleh suku bangsa yang jumlah anggotanya besar atau kebetulan menguasai sumber kekuatan ekonomi, politik, dan sosial.

Pentingnya pengembangan kebudayaan nasional sebagai kebudayaan dominan dalam masyarakat majemuk sangat dirasakan terutama kalau orang mulai memperhatikan pembagian kekuasaan politik dan ekonomi. Seolah-olah hanya mereka yang benar-benar menghayati kebudayaan nasionallah yang mampu memanfaatkan peluang untuk ikut serta berperan dalam kehidupan politik nasional. Lebih berat lagi, seringkali orang menilai banyaknya sumbangan kebudayaan nasional berdasarkan banyaknya personel yang menduduki tempat-tempat di pusat kekuasaan politik, pemerintahan, dan ekonomi. Terdapat kecenderungan menyamakan kebudayaan nasional dengan kebudayaan orang-orang yang sedang berkuasa, baik politik maupun ekonomi. Orang berusaha mendekatkan diri dengan segala simbol dan gaya hidup mereka. Akibatnya, timbul kesan adanya dominasi kebudayaan suatu suku bangsa atau daerah dimana tokoh-tokoh politik/ekonomi itu berasal. Kesan yang belum tentu benar ini menimbulkan kecemburuan yang mendorong masing-masing kelompok suku bangsa/daerah menuntut tempat bagi sumbangan kebudayaan masin-masing dalam pengembangan kebudayaan nasional. Tuntutan itu tercermin dalam macam-macam kegiatan sosial, budaya, dan politi, seperti pembentukan oranisasi kekerabatan, kedaerahan, pekan-pekan seni budaya, sampai pada tuntutan akan pengakuan pahlawan nasional yang seolah-olah dapat mewakili daerah/suku bangsa masing-masing. Harus kita sadari bahwa masyarakat Indonesia dewasa ini masih kuat orientasi kesukuan dan kedaerahannya dalam pergaulan tingkat nasional. Masyarakat belum dapat melepaskan diri dari dominasi kebudayaan suku bangsa/daerah yang membesarkan mereka. Karena itu sering terjadi apabila seseorang dapat menjadi pimpinan suatu lembaga (baik pemerintah maupun swasta) ia cenderung untuk mengangkat orang-orang sedaerah/sesuku sebagai staf atau pembantunya. Kebudayaan nasional, baik yang berupa lambang-lambang maupun pranata seperti bahasa, sistem politik pemerintahan, pendidikan, maupun organisasi pertahanan keamanan telah berkembang dengan baik. Namun demikian, semuanya itu belum dapat sepenuhnya memenuhi kebutuhan masyarakat kita yang majemuk dalam menyelenggarakan kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara secara nasional. Masih banyak praktek kehidupan bermasyarakat yang dilakukan dengan mengacu pada kebudayaan suku bangsa/daerah tertentu. Ditinjau dari jumlah anggota dan persebaran suku bangsa, ada kesan bahwa sumbangan kebudayaan Jawa dalam perkembangan kebudayaan nasional lebih besar dibandingkan dengan suku-suku bangsa lain. Akibatnya, timbul kecemburuan sosial sebagaiman tercermin dalam isu Jawanisasi. Sebenarnya sumbangan kebudayaan suku bangsa dan daerah (selain Jawa) juga cukup besar kalau diingat kemapanan mereka sebagai kerangka acuan dalam kehidupan masyarakat di daerah -daerah tertentu. Di daerah yang penduduknya relatif homogen, terasa betapa kebudayaan suku bangsa yang bersangkutan cukup mapan sebagai rujukan dalam pergaulan sehari-hari di daerah tersebut. Dengan demikian, kebudayaan

suku bangsa tersebut kemungkinan besar akan lebih banyak mewarnai perkembangan kebudayaan nasional setempat. Di daerah-daerah yang penduduknya terdiri dari banyak suku bangsa, kemungkinan kebudayaan yang mapan dan berfungsi sebagai kerangka acuan dalam pergaulan sosial di luar lingkungan kerabat adalah kebudayaan daerah setempat yang terwujud sebagai perpaduan antarunsur kebudayaan suku bangsa yang ada. Dengan demikian, sumbangan kebudayaan daerah dalam perkembangan kebudayaan nasional di daerah tersebut akan lebih besar pula. Menurut Prof. Dr. Koentjaraningrat, agar suatu kebudayaan nasional dapat didukung oleh sebagian besar dari warga suatu negara, sebagai syarat mutlak sifatnya harus khas dan dapat dibanggakan para pendukungnya. Hal ini perlu karena suatu kebudayaan nasional harus dapat memberi identitas kepada warga negara tadi. Di antara unsur-unsur kebudayaan yang ada, hanya beberapa unsur saja yang dapat dijadikan sifat khas bagi suatu kebudayaan. Unsur-unsur itu adalah bahasa, kesenian, dan upacara-upacara. Unsurunsur kebudayaan yang lain agar sukar ditonjolkan sebagai sifat yang memberi identitas nasional. Misalnya, sukar untuk memberi identitas dalam sistem teknologi karena teknologi bersifat universal (kecuali kalau ada achievement yang khas berupa penemuan baru). Sistem ekonomi juga sukar ditonjolkan karena ekonomi itu harus dicocokkan dengan sistem ekonomi di negara maju. Demikian pula agama, sukar mengembangkan aama yang khas di Indonesia. Tentang agama disini yang dimaksud adalah agama samawi yang berdasarkan wahyu (berbeda dengan religi). Aspek lain yang perlu diperhatikan dalam mengembangkan kebudayaan nasional suatu negara ialah syarat agar suatu unsur kebudayaan nasional bisa memberi identitas kepada warga dari suatu negara, sehingga harus bisa menimbulkan rasa bangga bagi warga dan mutunya harus tinggi. Apabila kebudayaan nasional Indonesia didasarkan atas konsepsi sifat khas dan mutu tinggi maka hubungan antara kebudayaan daerah dan kebudayaan nasional menjadi tidak terlalu penting diperdebatkan masyarakat. Dengan demikian, setiap hasil karya putra Indonesia, dari daerah atau suku bangsa apa pun, asal bersifat khas dan bermutu tinggi sehingga sebagian besar orang Indonesia mau menerima, dapat mengidentifikasikan diri, serta merasa bangga dengan karya itu, maka hasil karya tadi adalah merupakan kebudayaan nasional Indonesia. Contohnya teknik cakar ayam karya Prof. Ir. Sedyatomoyang digunakan dalam pembuatan fondasi bangunan, karya seni lukis ciptaan Affandi dan Basuki Abdullah, obat batu ginjal temuan Prof. Dr. Sardjito, teknik putar sasrabahu dalam membangun jembatan beton, perahu pinisi, seni ukir Bali atau Asmat, dan lain-lain. Kita tidak lagi mempersoalkan tokoh-tokoh cendekiawan dan pelukis itu berasal dari daerah mana dan suku bangsa apa. Konsepsi Koentjaraningrat tentang kebudayaan nasional tersebut ditujukan untuk hasil ciptaan warga masyarakat. Namun, adapula kebudayaan nasional yang diciptakan dan diakui oleh semua warga negara

karena otoritas kekuasaan dan diberlakukan secara nasional. Misalnya mata uang rupiah, UUD 1945, lagu Indonesia Raya, bendera merah putih, dan lain sebagainya.

DAFTAR PUSTAKA
Lubis, Mochtar. (1980). Manusia Indonesia, Sebuah Pertanggungjawaban . Jakarta : Idayu. _______. (1984). Manusia dan Kebudayaan Indonesia. Jakarta : Universitas. Atmaja, Poerwita. (1987). Sosiologi-Antropologi Jilid 1, 2. Surakarta : Widya Duta. Suradi, dkk. (2000). Antropologi. Jakarta : Bumi Aksara. Rahma, Rosita. (2006). Proposal Penelitian. Dosen Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia UPI Bandung: tidak diterbitkan.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->