P. 1
BUKU 40 TAHUN BAKOSURTANAL

BUKU 40 TAHUN BAKOSURTANAL

|Views: 2,882|Likes:
BUKU 40 TAHUN BAKOSURTANAL
BUKU 40 TAHUN BAKOSURTANAL

More info:

Published by: Nur Qomari Adi Wijaya on Jul 23, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/15/2013

pdf

text

original

Dalam masa awal kemerdekaan selama kurun waktu hampir seperempat abad yaitu
dari tahun 1945 hingga tahun 1969 - saat terbentuknya BAKOSURTANAL, terjadi alih
teknologi dari bangsa asing kepada kaum pribumi melalui lembaga pendidikan dan
konsultansi teknis di instansi yang menangani Survei dan Pemetaan (Surta).
Nasionalisasi instansi Surta terkait yang diisi oleh karyawan pribumi dan pendirian
program pendidikan geodesi yaitu Fakultas Teknik Geodesi di ITB pada tahun 1950
merupakan jalur yang memungkinkannya berlangsungnya alih teknologi Survei dan
Pemetaan dari pihak Belanda ke bangsa Indonesia, yaitu mulai dari survei persil tanah,
topografi, triangulasi hingga fotogrametri.

Fotogrametri

Pada masa itu antara lain telah diperkenalkan teknologi fotogrametri melalui
perkuliahan di Fakultas Teknik Geodesi ITB. Fotogrametri atau survei udara adalah teknik
pemetaan berbasis foto udara. Hasil pemetaan secara fotogrametrik berupa peta foto.

Pemotretan Udara

Kamera Foto Udara Digital

Pemotretan bagian dari fotogrametri

SURVEI DAN PEMETAAN NUSANTARA 26BAB II. MASA AWAL KEMERDEKAAN

Bab II. Masa Awal Kemerdekaan

Namun produknya tidak dapat langsung dijadikan dasar atau lampiran penerbitan peta.
Pemetaan secara fotogrametrik tidak dapat lepas dari referensi pengukuran secara
terestris, mulai dari penetapan ground controls (titik dasar kontrol) hingga pengukuran
batas tanah. Batas-batas tanah yang diidentifikasi pada peta foto harus diukur di
lapangan.

Untuk mendukung kuliah fotogrametri yang dimulai pada tahun 1953 di Afdeling
Geodesie (Fakultas atau Departemen Teknik Geodesi) ITB ditempatkan alat fotogrametri
Wild A0 dan alat multiplex untuk pemetaan dengan foto udara. Multiplex ini mempunyai
6 rangkaian (array) kamera yang harus dioperasikan di kamar gelap.
Fotogrametri Wild A0 milik Jawatan Fotogrametri Sentral dari Komite Tetap
Penggambaran Peta yang dibentuk pada tahun 1951. Kantor Jawatan Fotogrametri
Sentral ini menyatu dengan Afdeling Geodesie di kampus ITB.

Pengukuran berbasis Raai

Di Fakultas Geodesi ITB yang pertama didirikan di Indonesia itu, juga diajarkan
cara pengukuran di lapangan untuk pembuatan peta. Dalam disain pemetaan suatu
wilayah, dilakukan pembagian wilayah tersebut dalam beberapa raai (garis lurus sejajar)
sebelum dilakukan pengukuran di lapangan.
Satu raai, sebagai poligon berukuran ke samping kiri dan kanan (zigzag) masing-
masing sejauh 50 meter atau panjang total 100 m. Panjang raai sendiri sekitar 1 km.
Dengan demikian daerah yang harus dicakup untuk setiap pengukuran adalah 1 ha.
Pengukuran panjang raai sejauh 1 km kadang tak tercapai karena beratnya medan
lapangan, sehingga menimbulkan gap antar-raai, sehingga tidak diketahui data
ketinggian atau topografinya.
Kendala ketersediaan data ini dapat diatasi oleh analisis Ilmu Ukur Tanah.
Kesenjangan dapat dikoreksi dalam proses pengolahan sehingga tercipta garis kontur
yang kontinyu (smooth). Garis kontur dapat dibuat dengan interpolasi dari sebaran titik-
titik tinggi, bahkan mampu menginterpolasi daerah gap berdasarkan intuisi tentang
topografi medan.

Survei Triangulasi berbasis Heliotrop

Pengukuran atau penetapan satu titik kontrol geodetik dengan metode
pemotongan ke belakang juga mulai diajarkan pada mahasiswa geodesi ITB angkatan
pertama kala itu.

Selain menggunakan teodolit T2 dan peta topografi buatan tahun 1936, survei ini
menggunakan sarana heliotrop yaitu suatu cermin di atas statip yang dapat mengarahkan
pantulan sinar matahari ke arah objek yang diinginkan. Pantulannya dapat dilihat oleh
pengukur dari jarak 60 km.

Karena medan yang luas, kegiatan survei pemetaan biasanya melibatkan pembantu
ukur untuk menangani heliotrop, yang biasa disebut “mantri kaca”.
Ujicoba survei pencarian titik kontrol geodetik pernah dilakukan mahasiswa ITB
pada tahun 1954 di Pantai Kali Bodri, Semarang untuk mencari posisi yang stabil di desa
dekat muara Kali Bodri, yang memungkinkan melihat dua bukit yang akan dipasangi
heliotrop.

BAB II. MASA AWAL KEMERDEKAAN 27SURVEI DAN PEMETAAN NUSANTARA

Pada pengukuran itu harus teramati tiga titik tetap di bukit-buklit sebelah utara
pegunungan Dieng. Sebelum pengamatan dengan heliotrop pada posisi tersebut harus
dibangun pilar orde-orde.

Hasil pengukuran kemudian diplot di atas peta topografi yang dibuat tahun 1936.
Ternyata titik-titik hasil ukur pada tahun 1930-an berada di laut, atau beberapa kilometer
dari garis pantai saat pengukuran.
Ini artinya dalam kurun waktu tersebut 1936 hingga 1954 telah terjadi akresi garis
pantai yang menurut data yang dibuat oleh dinas geologi waktu itu kira-kira 200 m per
tahun.

Pemasangan statif

Pemasangan teodolit di titik P

Pembidikan teodolit

Penentuan sudut mendatar

Bab II. Masa Awal Kemerdekaan

SURVEI DAN PEMETAAN NUSANTARA 28BAB II. MASA AWAL KEMERDEKAAN

Bab II. Masa Awal Kemerdekaan

Akresi ini telah diamati oleh Dinas Pekerjaan Umum sejak lama, sehingga pada
tahun 1934 dilakukan penyudetan Kali Bodri dengan mengubah arah muara yang
sebelumnya menghadap ke timur dirubah ke arah barat. Penyudetan dilakukan untuk
mengatasi sedimentasi yang menyebabkan pendangkalan laut di Pelabuhan Semarang.
Pengukuran titik kontrol itu terbukti bermanfaat untuk mengontrol akresi pantai di
wilayah Kali Bodri.

Pengukuran dengan sistem triangulasi kini mulai ditinggalkan dengan adanya sistem
penentuan posisi dengan satelit GPS (Global Positioning System). Sarana transportasi
yang digunakan pun sudah beragam. ◆

BAB III. BAKOSURTANAL (1969-1978) 29SURVEI DAN PEMETAAN NUSANTARA

BAB III

BAKOSURTANAL (1969-1978)

Membangun Kembali Sistem Koordinasi
Survei dan Pemetaan

SURVEI DAN PEMETAAN NUSANTARA 30BAB III. BAKOSURTANAL (1969-1978)

BAB III. BAKOSURTANAL (1969-1978) 31SURVEI DAN PEMETAAN NUSANTARA

BAB III

BAKOSURTANAL (1969-1978)

Survei dan pemetaan di Indonesia bukanlah kegiatan yang mudah. Karena mencakup

wilayah kedaulatan yang begitu luas terdiri dari belasan ribu pulau – yang tidak
sedikit berada di daerah terpencil, dan sebagian besar wilayahnya diliputi lautan.
Bukan itu saja, pelaksanaan kegiatan ini juga ditangani banyak pihak, baik instansi
dan lembaga pemerintah, maupun swasta dan kalangan akademisi. Banyaknya pihak
yang melakukan kegiatan survei dan pemetaan namun berjalan sendiri-sendiri
mengakibatkan munculnya tumpang tindih kegiatan dan duplikasi produk survei dan
pemetaan (Surta).

Hal inilah yang mendasari pendirian Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional
(BAKOSURTANAL) pada 17 Oktober tahun 1969. Pembentukan BAKOSURTANAL yang
merupakan gagasan dan usulan para pejabat Kosurtanal didasari pula pertimbangan
bahwa dengan adanya koordinasi Surta dapat tercapai efisiensi dan penghematan
pengeluaran keuangan negara.
Merekapun mengusulkan pada pemerintah untuk peninjauan kembali kedudukan,
tugas dan fungsi badan-badan yang
melakukan survei dan pemetaan.
Pemersatuan badan-badan peme-
rintah yang bergerak dalam bidang
Surta di Indonesia dalam suatu ba-
dan koordinasi survei dan pemetaan
nasional juga dalam rangka pe-
nertiban aparatur negara.
Sementara itu Desurtanal dan
Kosurtanal secara faktual dinilai
belum pernah bekerja secara sis-
tematis. Selain itu organisasi peme-
rintah dengan sistem komando
dianggap sudah tidak cocok lagi.
Pertimbangan inilah yang kemudian
mendorong Menteri Riset Nasional
menyusun organisasi baru untuk
menangani hal yang terkait dengan
survei dan pemetaan nasional yang
kemudian disebut BAKOSURTANAL
(Badan Koordinasi Survey dan Pe-
metaan Nasional). Draft organisasi
BAKOSURTANAL dirancang oleh

BADAN
PENASEHAT

KETUA

SEKRETARIS

BAGIAN TATA
USAHA DAN
RUMAH TANGGA

BAGIAN
PERSONALIA
DAN KEUANGAN

BAGIAN
DOKUMENTASI
DAN INFORMASI

DEPUTI KOORDINASI
PEMETAAN

DEPUTI KOORDINASI
SURVEI DASAR
SUMBER DAYA ALAM

TEAM KERJA
SURVEI DASAR
SUMBER ALAM
DI DARAT

TEAM KERJA
SURVEI DASAR
SUMBER ALAM
DI LAUT

TEAM KERJA
SURVEI GEODESI
DAN PEMETAAN
TOPOGRAFI

TEAM KERJA
PEMETAAN
NAVIGASI

TEAM KERJA
PEMETAAN
KADASTER

TEAM KERJA
METODE
PENGUKURAN/
PEMETAAN

SKEMA ORGANISASI BAKOSURTANAL

BERDASARKAN KEPPRES No. 83 TAHUN 1969

Membangun Kembali Sistem Koordinasi
Survei dan Pemetaan

SURVEI DAN PEMETAAN NUSANTARA 32BAB III. BAKOSURTANAL (1969-1978)

Kosurtanal, di antaranya yang
menonjol perannya adalah
Pranoto Asmoro, John Katili,
Soewarno dan Wardiman.
Pembentukan badan
pemerintah ini (BAKOSUR-
TANAL) berdasarkan Keppres
No. 83 Tahun 1969 memang
ditujukan untuk membantu
Pemerintah, dalam mengko-
ordinasikan semua pihak da-
lam kegiatan yang berkaitan
dengan survei dan pemeta-
an di Indonesia secara ter-
padu.

Selain itu BAKOSURTA-
NAL yang berkedudukan lang-
sung di bawah dan bertang-
gung jawab kepada Presiden
Republik Indonesia berkewa-
jiban memberi pertimbangan
kepada Presiden, baik atas
permintaan maupun atas ke-
hendak sendiri mengenai se-
gala kegiatan dalam bidang
Surta.

Adapun lingkup kegiat-
an BAKOSURTANAL meliputi
survei dasar, survei sumber da-
ya alam dan pemetaan nasio-
nal, serta mengusahakan data
dasar dan segala jenis peta,
serta membina perbendaha-
raan data dasar dan perpe-
taan wilayah nasional.
Dikaitkan dengan Tugas
Pokoknya maka BAKOSURTA-
NAL dituntut membangun data-
base dasar dan tematik me-
lalui jaringan lembaga-lem-
baga terkait dan membangun
“clearinghouse” yang juga merupakan jaringan antara para pembina perpetaan nasional
dan antara produsen dan konsumen data spasial. Karena itu para pendiri BAKOSURTANAL
dituntut untuk tidak hanya membangun gudang-gudang peta tetapi suatu “infrastruktur”
data geospasial yang dibina oleh para “custodian” (pembina dan penanggungjawab)
dari masing-masing data geospasial dasar dan data geospasial tematik.

Bab III. Bakosurtanal 1969-1978

STRUKTUR ORGANISASI BAKOSURTANAL

BADAN
PENASEHAT

KETUA

DEPUTI I

KOORDINASI SURVEY DASAR

SUMBER DAYA ALAM

DEPUTI II
KOORDINASI
PEMETAAN

DINAS
GEOGRAFI

SEKSI
GEOGRAFI FISIS

SEKSI
GEOGRAFI SOSIAL, EKONOMI
DAN POTENSI WILAYAH

DINAS
SURVEI SUMBER ALAM

SEKSI
METODE & TEKNIK SURVEI

SEKSI
KERJASAMA PENDIDIKAN/
LATIHAN DAN PELAKSANAAN
SURVEI

DINAS
KARTOGRAFI DAN SISTEM
INFORMASI LINGKUNGAN

SEKSI
KARTOGRAFI

SEKSI
LINGKUNGAN

DINAS
HUKUM DAN PENGAWASAN
ADMINISTRATIF

SEKSI
HUKUM, PERUNDANG-
UNDANGANDANPERATURAN

SEKSI

PENGAMANAN ADMINISTRATIF

DINAS
GEODESI

SEKSI
JARING GEODESI NASIONAL

SEKSI
SIPAT DATAR NASIONAL

SEKSI

JARING GRAVITAS NASIONAL

DINAS
PEMETAAN TOPOGRAFI

SEKSI

PEMETAAN TOPOGRAFI DARAT

SEKSI

PEMETAAN TOPOGRAFI LAUT

DINAS
PEMETAAN NAVIGASI

SEKSI

PEMETAAN NAVIGASI PERAIRAN

SEKSI

PEMETAAN NAVIGASI UDARA

DINAS
PEMBINAAN BATAS
WILAYAH NASIONAL

SEKSI

PENELITIAN DAN PENENTUAN
BATAS WILAYAH DARAT

SEKSI

PENELITIAN DAN PENENTUAN
BATAS WILAYAH LAUT

SEKRETARIS

BAGIAN
ADMINISTRASI

BAGIAN
DOKUMENTASI

SUB BAGIAN
SEKRETARIAT

SUB BAGIAN
PENERBITAN DAN
PENERANGAN

SUB BAGIAN
PERSONALIA DAN
URUSAN DALAM

SUB BAGIAN
REPRODUKSI

SUB BAGIAN
KEUANGAN

BADAN-BADAN
PELAKSANA
PROYEK

INSTALASI PUSAT
DATA

TEAM-TEAM
KERJA

KETERANGAN

Garis Staf

Garis Pengendalian

Garis Koordinasi

Badan Tidak Tetap

BERDASARKAN SK KETUA BAKOSURTANAL No. 005.1.7/1972

BAB III. BAKOSURTANAL (1969-1978) 33SURVEI DAN PEMETAAN NUSANTARA

Sejalan dengan semakin meningkatnya kegiatan yang ditangani BAKOSURTANAL,
pada tahun 1972 - atau tiga tahun sejak berdirinya - organisasi badan koordinasi ini
mengalami pemekaran struktur organisasi. Berdasarkan Surat Keputusan Ketua
BAKOSURTANAL No.005.1.7/1972 dibentuknya dinas-dinas di bawah deputi, dan tiap dinas
membawahi seksi-seksi.

Sebelum itu berdasarkan Keppres No.83 Tahun 1969, masing-masing deputi langsung
membawahi Tim Kerja. Dibentuknya dinas-dinas tersebut juga memudahkan
BAKOSURTANAL menarik tenaga ahli untuk bekerja di lembaga ini.
Dengan dibentuknya dinas-dinas, dan seksi-seksi maka jenjang karir pegawai
BAKOSURTANAL lebih tertata. Namun begitu, struktur organisasi baru tersebut belum
sepenuhnya berjalan karena keterbatasan sumberdaya manusia di bidang survei dan
pemetaan

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->