P. 1
Lokakarya Ranperda Des

Lokakarya Ranperda Des

|Views: 155|Likes:

More info:

Published by: Feriawan Agung Nugroho on Jul 23, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

08/31/2013

pdf

text

original

REKAM PROSES

CHECKLIST - Penyusunan Peraturan Daerah tentang Perencanaan dan Penganggaran Daerah
Bappeda Gunungkidul, 2 Februari 2010

Zaki Assalamualaikum wr, wb. Selamat pagi bapak ibu semua, yang kami hormati anggota DPRD Kabupaten Gunungkidul, yang kami hormati kepala SKPD atau yang mewakili, yang kami hormati perwakilan dari kecamatan, yang kami hormati dari perwakilan desa dan beberapa kelompok masyarakat, serta LSM yang saat ini hadir bersama kami pagi ini. Hadirin yang kami hormati, sebelum acara kita mulai, kita akan membahas bersama-sama beberapa hal hari ini. Terkait proses perencanaan dan penganggaran, sekarang ini sedang ada proses inisiasi rancangan peraturan daerah tentang perencanaan penganggaran monitoring dan evaluasi di Kabupaten Gunungkidul dan hari ini kita akan melihat bersama-sama apakah rancangan peraturan itu ke depan mungkin dilaksanakan bersama-sama. Draft itu sudah disiapkan oleh rekan-rekan Bappeda dan tim yang tediri dari akademisi, LSM dan Bappeda. Kemarin rancangan tersebut sudah didiskusikan, lalu hari ini kita akan mencari masukan, terkait dengan rancangan yang hari ini sudah ada di tangan bapak ibu sekalian. Acara ini akan kita laksanakan bersama-sama hingga pukul 13.30. Nanti akan kita bagi menjadi dua, acara pertama adalah paparan dari proses yang selama ini dilakukan oleh tim, Mbak Tenty akan menyampaikan itu. Kedua adalah substansi atau poin-poin yang ada dalam draft Raperda perencanaan penganggaran, monitoring evaluasi yang sudah dipersiapkan oleh Bappeda, Pak Irawan Jatmiko nanti akan menyampaikan poin-poinnya. Pagi ini sebetulnya kami sangat menunggu bapak Kepala Bappeda untuk membuka acara, namun sampai sekarang beliau masih berada di PU dan belum bisa hadir bersama kita. Oleh karena itu, mari kita buka bersama-sama dengan berdoa bersama. Terimakasih. Bapak ibu sekalian, acara pertama adalah paparan dari Pak Irawan Jatmiko, nanti akan dipandu oleh saudara Tenty Kurniawati. Silahkan. Tenty Selamat pagi bapak ibu sekalian, bapak-bapak dari DPRD, bapak ibu dari perwakilan warga, bapak ibu dari kecamatan, dari SKPD. Kami akan menceritakan sedikit latar belakang tentang adanya pertemuan ini. Kami dari IDEA dan kami adalah lembaga non pemerintah yang bekerja bersama-sama dengan pemerintah Kabupaten Gunungkidul dalam kaitan program SAPA yang sekarang sedang berjalan di Kabupaten Gunungkidul dan 15 daerah yang lain di Indonesia. SAPA adalah strategi aliansi untuk pengentasan kemiskinan di 15 daerah. Di Gunungkidul ini sudah berjalan 6 bulan, kita berkolaborasi dengan TKPKD yang ada di Sekda Gunungkidul, ketuanya bapak Sekda, tapi kemarin sudah diserahterimakan ke Bappeda, kalau tidak salah. Kita sudah melakukan kerja-kerja dukungan teknis kepada DPRD dan pemerintah. Sebelum acara lokakarya ini diadakan, kita sudah mengadakan serangkaian pertemuan, sekitar bulan Oktober dimulai dengan FGD untuk membahas draf Raperda. Mengapa yang kita dorong adalah rancangan peraturan daerah tentang perencanaan, penganggaran, monitoring dan evaluasi? Karena
IDEA – Bappeda Kabupaten Gunungkidul Page 1

persoalan dalam perencanaan beberapa kali muncul, misalnya usulan Musrenbang dari desa banyak yang sia-sia, atau hasil Musrenbang kecamatan tidak terakomodir di penganggaran. Kemudian anggarannya minim, tapi usulannya banyak, ini adalah persoalan-persoalan klasik yang muncul setiap tahun. Harapannya Ranperda ini bisa menjawab beberapa persoalan yang muncul meskipun mungkin tidak bisa menyelesaikan semua masalah, tapi barangkali bisa menjadi acuan agar hasil-hasil Musrenbang bisa terakomodir sesuai dengan kondisi keuangan di Gunungkidul. Itu salah satu semangatnya. Beberapa rangkaian acara sudah kita lakukan di bulan Oktober, di Bappeda tiga kali. Kemudian di WIsma Kagama kita konsinyering, waktu itu juga mengundang tim anggaran eksekutif, kemudian dari Dinas Pendidikan, lalu kita juga mengundang DPPKAD, disitu kita membahas pasal per pasal, tapi karena pada saat itu hanya tim internal, maka pada hari ini kita sangat mengharapkan masukan dari bapak ibu sekalian, dari SKPD, DPRD, LSM, dan juga dari masyarakat. Itu adalah sekilas gambaran dari apa yang kami lakukan dalam beberapa bulan ini. Pak Irawan ini adalah pihak yang selalu mengawal, bersama dengan Pak Hanif dan Pak Wawan dari S2 Politik Lokal dan Otonomi Daerah. Tapi karena akademisi selalu sibuk, maka hari ini Pak Hanif dan Pak Wawan tidak bisa bergabung untuk berdiskusi dengan kita. Silahkan langsung saja pemaparannya Pak Irawan. Irawan Assalamualaikum wr. wb., salam sejahtera untuk kita sekalian. Bapak anggota dewan yang saya hormati, terimakasih atas kehadirannya pada lokakarya hari ini. Dari teman-teman SKPD, kecamatan maupun masyarakat lain, tadi sudah disampaikan Mbak Tenty dari IDEA, penyusunan naskah akademis sampai Ranperdanya, harapannya pada tahun ini kita ajukan ke dewan untuk pembahasan. Ini sudah melewati beberapa diskusi, namun hari ini kita melibatkan pihak yang lebih luas. Nanti setelah paparan ini ada diskusi kelompok, untuk perbaikan naskah akademis maupun rancangan Perda yang ada. Kami coba membuat checklist untuk panduan dalam diskusi pada kelompok. Checklist ini harusnya memuat beberapa substansi yang seharusnya masuk dalam rancangan peraturan daerah, sebagai berikut: 1. Prinsip-prinsip Tata Kelola Kepemerintahan yang Baik. 2. Prinsip-Prinsip Perencanaan Partisipatif. 3. Prinsip-Prinsip Penganggaran Partisipatif. 4. Outline dan Substansi Naskah Akademik. 5. Proses Penyusunan Perda Perencanaan dan Penganggaran Daerah Partisipatif. 6. Outline dan Substansi Ranperda Perencanaan dan Penganggaran Partisipatif. 7. Muatan Peraturan dan Perundangan terkait Pendekatan Partisipatif dalam Perencanaan dan Penganggaran Daerah. 8. Pendekatan Partisipatif menurut Peraturan dan Perundangan Perencanaan dan Penganggaran Daerah. 9. Isu dan Permasalahan Perencanaan dan Penganggaran 10.Prinsip-prinsip RPJPD. 11.Prototipe Outline dan Substansi RPJPD. 12.Prinsip-prinsip RPJMD. 13.Prototipe Outline dan Substansi RPJMD.
IDEA – Bappeda Kabupaten Gunungkidul Page 2

14.Contoh Praktek-praktek yang Baik dalam Perda dan Ranperda Perencanaan dan Penganggaran Daerah Partisipatif.  Di DIY memang sudah disusun bahannya, hanya saja sebagian kabupaten ini masih copy paste dari UU 25/2004. Kita harap agar ada muatan-muatan lebih luas, namun tetap dalam batas-batas diskresi daerah. Substansi rancangan Perda mendorong ke arah terwujudnya good governance 1. Wawasan ke depan/visionary: Memiliki perencanaan ke depan yang berisi visi dan strategi. Adanya kejelasan setiap tujuan kebijakan dan program. Adanya dukungan dari pelaku untuk mewujudkan visi. 2. Keterbukaan dan transparansi: Tersedianya informasi yang memadai pada setiap proses penyusunan dan implementasi kebijakan publik. Adanya akses pada informasi yang siap, mudah dijangkau, bebas diperoleh, dan tepat waktu. 3. Partisipasi masyarakat: Adanya pemahaman penyelenggara negara tentang proses/metoda partisipatif. Adanya pengambilan keputusan yang didasarkan konsensus bersama. 4. Tanggung gugat: Adanya kesesuaian antara pelaksanaan dengan standar prosedur pelaksanaan. Adanya sanksi yang ditetapkan atas kesalahan atau kelalaian dalam pelaksanaan kegiatan. Adanya output dan outcome yang terukur. 5. Supremasi hukum: Adanya peraturan perundang-undangan yang tegas dan konsisten. Adanya penegakan hukum yang adil dan tidak diskriminatif. Adanya kesadaran dan kepatuhan kepada hukum. 6. Demokrasi: Adanya hak-hak dasar rakyat seperti hak berkumpul, berserikat, dan mengeluarkan pendapat. Adanya kesamaan di depan hukum. Adanya kesempatan yang sama untuk turut serta dalam pengambilan keputusan kebijakan publik. Adanya kesempatan yang sama untuk berusaha dan berprestasi. Adanya kesempatan yang sama untuk berinovasi, berkreasi, dan berproduktivitas. 7. Profesionalisme dan kompetensi: Berkinerja tinggi. Taat asas. Kreatif dan inovatif. Memiliki kualifikasi di bidangnya.  Perda ini harus memberikan ruang untuk mendorong profesionalisme pemerintah daerah. 8. Daya tanggap: Tersedianya layanan pengaduan, baik berupa crisis center, Unit Pelayanan/ Pengaduan Masyarakat (UPM), kotak saran dan surat pembaca yang mudah diakses masyarakat. Adanya standard dan prosedur dalam menindaklanjuti laporan dan pengaduan. 9. Efisiensi dan efektivitas: Terlaksananya administrasi penyelenggaraan negara yang berkualitas dan tepat sasaran dengan penggunaan sumberdaya yang optimal. Melakukan monitoring dan evaluasi untuk perbaikan. Berkurangnya tumpang tindih penyelenggaraan fungsi organisasi/unit kerja. 10.Desentralisasi: Adanya kejelasan pembagian tugas dan wewenang antar tingkat pemerintahan dan antar tingkatan jabatan di daerah. Adanya kejelasan standar dalam pemberian dukungan terhadap pelayanan masyarakat (Standar Pelayanan Minimal).  Jadi desentralisasi tidak hanya berhenti di kabupaten, tapi juga diskresi bagi kabupaten untuk melakukan diskresi pada desa, karena desa juga otonom, mempunyai wilayah hukum, dan kecenderungannya ini semakin menguat. Saat ini sedang dibahas UU tentang desa. Jadi nanti UU Pemda akan dibagi menjadi 3 UU; pertama adalah UU tentang Pilkada, kedua UU

IDEA – Bappeda Kabupaten Gunungkidul

Page 3

tentang Pemda dan ketiga UU tentang Desa. Kita harus bisa menangkat arah kecenderungan perubahan regulasi di Pusat. 11.Kemitraan dengan dunia usaha swasta dan masyarakat: Adanya pemahaman aparat pemerintah tentang pola-pola kemitraan. Adanya lingkungan yang kondusif bagi masyarakat kurang mampu (powerless) untuk berkarya. Terbukanya kesempatan bagi masyarakat/ dunia usaha swasta untuk berperan dalam penyediaan pelayanan umum. Adanya pemberdayaan institusi ekonomi lokal/usaha Mikro, Kecil, dan Menengah. 12.Komitmen pada pengurangan kesenjangan: Adanya kebijakan yang berorientasi pada pemenuhan kebutuhan dasar bagi masyarakat secara seimbang (subsidi silang, affirmative action). Tersedianya layanan-layanan/ fasilitas-fasilitas khusus bagi masyarakat tidak mampu. Adanya kesetaraan dan keadilan gender. Adanya pemberdayaan kawasan tertinggal. 13.Komitmen pada perlindungan Lingkungan Hidup: Peraturan dan kebijakan untuk memberi perlindungan dan pelestarian sumber daya alam dan lingkungan hidup. Menurunnya tingkat pencemaran dan kerusakan lingkungan. 14.Komitmen pada pasar yang fair: Berkembangnya ekonomi masyarakat. Terjaminnya iklim kopetisi yang sehat. Prinsip-prinsip partisipatif Perda nanti harus memenuhi prinsip partisipatif, ini sudah menjadi perubahan paradigma sejak reformasi, bahwa perencanaan pembangunan harus bisa menemukan antara teknokratis dengan partisipatif. Bisa mempertemukan antara pendekatan politik, partisipatif, teknokratis dan bottom up. Prinsipnya adalah sbb; • Keterbukaan, transparansi dan kebebasan informasi dan kebebasan berpendapat. • Kejelasan isu-isu yang akan dibahas dan sejauh mana berpengaruh pada kepentingan masyarakat. • Representasi kelompok masyarakat peserta partisipasi. perwakilan lebih luas dari masyarakat, bukan hanya tokoh-tokohnya saja. • Kejelasan waktu dan ‘entry points’ partisipasi. • Ketersediaan informasi yang memadai bagi peserta partisipasi. • Ketersediaan sumber daya dan dana untuk mendukung partisipasi. • Ketersediaan instrument dan tools untuk mengorganisasikan partisipasi dan mencapai konsensus hasil partisipasi. • Adanya kejelasan capaian dan keluaran partisipasi. • Adanya fasilitator profesional dan kompeten dalam teknik fasilitasi untuk memandu jalannya proses partisipasi. • Keterlibatan DPRD dalam proses partisipasi.  Harapan kami nanti dalam pembahasan Musrenbang Kecamatan nanti juga bisa dihadiri oleh anggota DPRD. Hasil pembahasan di dewan kemarin kata teman-teman IDEA, rencananya bapak-bapak anggota DPRD akan hadir di Musrenbang Kecamatan sesuai dengan dapilnya masing-masing. Tolong kecamatan juga mengundang anggota DPRD di Dapilnya masing-masing. Sehingga nanti penjaringan aspirasi yang dilakukan oleh anggota dewan dengan Musrenbang hasilnya tidak terlalu jauh. Ini harapan kami. Jadi dokumen hasil Musrenbang harapannya juga bisa dikawal anggota dewan ketika melaksanakan hak budgetnya di DPRD. • Peserta partisipasi memahami tentang masalah atau isu-isu yang dibahas. • Peserta dapat menerima kenyataan adanya isu-isu yang dibahas. • Peserta familiar dengan isu-isu yang dibahas.
IDEA – Bappeda Kabupaten Gunungkidul Page 4

• • • • • • • •

Peserta memahami peranan dan tanggung jawabnya dalam pengambilan keputusan. Peserta siap bekerjasama dengan pemerintah daerah untuk melakukan perubahan. Peserta dan pemerintah daerah bersikap jujur dan transparan dalam tindakannya. Peserta memiliki minat-interest untuk membahas permasalahan. Peserta percaya adanya solusi terhadap permasalahan dan dapat mengusulkan pemecahan masalah. Peserta memiliki keyakinan bahwa tersedia sumber daya dan dana untuk menyelesaikan masalah. Peserta melihat ada perubahan yang nyata sebagai hasil partisipasi. Adanya keterlibatan dan minat media untuk membahas isu-isu dan hasil partisipasi.

Penganggaran Partisipatif Sekarang kan keluhannya dana perimbangan yang turun ke daerah tidak sebanding dengan urusan yang diserahkan ke daerah, urusannya besar tapi DAU dan DAKnya tidak sebanding. Lalu menimbulkan tanda tanya bagi masyarakat. Ini harus disampaikan dengan jelas ke masyarakat. Tapi, sekecil apapun dana harus melalui proses partisipatif. Tidak bisa dengan alasan dana perimbangan keuangan pusat dan daerah yang rendah, kemudian menentukan sendiri anggarannya. Untuk bagaimana peningkatan dana perimbangan keuangan, barangkali setelah ada UU Pemda yang baru, UU Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah mestinya juga akan direvisi, mudah-mudahan Mbak Tika dari GTZ bisa merekomendasikan. Seharusnya skema desentralisasi yang diberikan ke daerah itu harus setara dan seimbang. Kalau urusan yang diserahkan 30, kemudian penganggaran yang diserahkan juga 30, begitu juga dengan kewenangan perencanaannya 30. Jadi ada kesetaraan. Sekarang kan urusan yang diserahkan ke daerah ada banyak, tapi dana yang diberikan ke daerah tidak signifikan. Problemnya kan UU 33/2004, hanya 22,5% dari pendapatan dalam negeri yang diserahkan kepada kabupaten/kota. Sedangkan jumlah kabupaten/kota sejak reformasi sampai sekarang bertambah 151, provinsinya bertambah 8. Jadi, bilangan pembaginya bertambah, tapi prosentase yang diluncurkan ke daerah itu tidak berubah. Diperparah lagi dengan kewajiban mengangkat tenaga kontrak, mengangkat Sekdes jadi PNS, ini kan semua diambilkan dari DAU, dari gaji. Ini beberapa poin penganggaran partisipatif; • Adanya komitmen dan kemauan politik pimpinan pemerintah daerah dan legislatif untuk melibatkan masyarakat dalam pengambilan keputusan penganggaran. • Kapasitas dan kompetensi SKPD dalam pengelolaan keuangan daerah. • Alokasi sumber daya dan dana untuk mendukung proses penganggaran partisipatif. • Ketersediaan dan keterbukaan informasi anggaran. • Ada kejelasan dan kesepakatan antara pemerintah daerah dan legislative tentang ‘aturan main’ penganggaran partisipatif. • Kemampuan dan kompetensi pemerintah daerah untuk berkomunikasi dengan masyarakat.
IDEA – Bappeda Kabupaten Gunungkidul Page 5

• • •

• • • •

• • • •

Ketersediaan fasilitator untuk memandu proses partisipasi dan menghasilkan kesepakatan. Representasi kelompok masyarakat yang memadai terutama dari profesi, dunia usaha dan media. Ketersediaan informasi calendar penganggaran. Ketika kita melaksanakan Musrenbang, katakanlah di desa Januari, Februari di kecamatan dan Maret di Kabupaten, informasi mengenai besaran dana perimbangan, DAU dan DAK belum tersedia. Jadi ketika memproyeksi kita masih susah. Ketika Musrenbang kamarin kita memproyeksi DAUnya 210 M, belanja langsungnya 210 Milyar, ternyata hanya 190 Milyar, karena proyeksi awal DAU kita hampir 640an Milyar, ternyata hanya 500an Milyar. Informasi besaran DAU dan DAK ini baru kita terima pada bulan Oktober. Selama UU 33 belum direvisi, ini mengacu pada tahun ini saja, maka tidak akan berubah presentasenya. Hanya 22,5% itu yang meluncur ke daerah. Ketersediaan informasi yang mutakhir tentang anggaran seperti KUA, PPAS dan APBD baik secara sektoral maupun secara geografis. Ada criteria yang jelas untuk menetapkan prioritas dan mengalokasikan anggaran. Masyarakat memahami hak dan kewajibannya dalam proses penganggaran. Adanya forum delegasi Musrenbang yang kompeten untuk mengikuti pembahasan anggaran.  Ada satu ide kami yang masih kita bahas, jadi ketika Musrenbang kecamatan nanti ada pagu indikatif kewilayahan. Katakan 50% dari belanja langsung yang nanti diperebutkan dalam Musrenbang kecamatan. Kalau lima atau empat tahun lalu Musrebang Kecamatan menghasilkan permintaan sebesar 7 Triliun, sehingga kesulitan menentukan. Tapi kalau ada pagu indikatif, misalnya kecamatan A 5 milyar, lalu kecamatan B 6 milyar. Penentuan besar kecilnya didasarkan luas wilayah, jumlah penduduk, kondisi infrastruktur pendidikan dan kesehan, jalan dan jembatan, ini variabel yang akan menentukan besar kecilnya alokasi pada kecamatan. Tapi yang melaksanakan bukan SKPD kecamatan, karena ini berkaitan dengan sumberdaya, kewenangan, dst tapi yang melaksanakan tetap SKPD kabupaten. Ini akan mendorong SKPD kabupaten untuk lebih partisipatif, artinya nanti teman-teman akan banyak mendengar kebutuhan masyarakat secara langsung dan berjalan diskusi secara efektif. Masyarakat dan kecamatan, maupun desa akan memahami bahwa dana kita yang melalui proses partisipatif yang akan turun ke sini sekian milyar, dari sekian milyar ini PU masuk berapa, pendidikan masuk berapa. Mudah-mudahan dengan ini keluhan masyarakat bahwa Musrenbang efektifitasnya rendah, akan bisa diatasi. Mudah-mudahan nanti juga ada pagu indikatif SKPD. Jadi tetap ada domain perencanaan teknokratis yang diserahkan ke SKPD, tapi kita juga memberikan domain yang lebih luas untuk partisipasi melalui pagu kewilayahan. Gagasan-gagasan ini nanti kita kaji, Musrenbang kecamatan tinggal beberapa hari lagi, kita rencanakan mulai tanggal 15 Februari. Ketersediaan instrumen untuk mengorganisasikan aspirasi, kebutuhan dan prioritas masyarakat. Tersedianya organisasi masyarakat sipil yang peduli, aktif dan kompeten dalam issues penganggaran. Ada pengembangan kapasitas staf pemerintah daerah dan DPRD dalam berbagai aspek pengelolaan keuangan dan anggaran. Keterlibatan masyarakat miskin dan tertinggal.
Page 6

IDEA – Bappeda Kabupaten Gunungkidul

Kemudian kami sampaikan, saat ini ada outline dan substansi naskah akademik. Disini ada beberapa hal yang bisa kita lihat sbb; a. Hasil inventarisasi hukum positif. b. Hasil inventarisasi permasalahan hukum yang dihadapi. c. Gagasan-gagasan tentang materi hukum yang akan dituangkan ke dalam rancangan peraturan perundang-undangan. d. Konsep landasan, alas hukum, dan prinsip yang akan digunakan. e. Pemikiran tentang norma-normanya yang telah dituangkan ke dalam bentuk pasal-pasal. Gagasan awal naskah rancangan peraturan perundang-undangan yang disusun secara sistematis: Bab demi Bab, serta pasal demi pasal untuk memudahkan dan mempercepat pembentukan rancangan oleh instansi yang berwenang. Bagian Pertama: Naskah Akademik Ranperda Bab 1 Pendahuluan 1.1 Latar Belakang 1.2 Tujuan dan Kegunaan yang Ingin Dicapai 1.2.1 Tujuan Pengaturan- ditujukan terutama untuk mengatasi isu-isu dan permasalahan strategis proses perencanaan dan penganggaran daerah. Pengesahan APBD tepat waktu. Konsistensi RPJP-D, RPJM-D dan RKPD. Konsistensi RKPD dengan KUA, PPAS, dan APBD. PRO POOR APBD dsb. 1.2.2 Kegunaan/Manfaat Pengaturan Bagi Pemda dan DPRD • APBD tepat waktu. • Keterpaduan dan konsistensi dalam pengambilan keputusan perencanaan dan penganggaran daerah. • Pengelolaan keuangan daerah yang lebih efisien dan efektif. • Pemenuhan aspirasi dan kebutuhan masyarakat yang lebih besar. • Kejelasan arah (fokus) dan kinerja kemajuan perjalanan pembangunan dan otonomi daerah. • Kredibilitas pemerintah daerah dimata masyarakat terutama berkaitan dengan pelaksanaan prinsip-prinsip good local governance. • Kejelasan oversight DPRD dalam perencanaan dan penganggaran daerah. 1.3 Metoda Pendekatan 1.3.1 Pendekatan Filosofis: • Demokrasi perwakilan versus demokrasi deliberatif—demokrasi perwakilan menekankan pada aspek prosedur dan kerangka aturan formal, mekanisme perwakilan masih belum optimal dimana kehendak parlemen seringkali tidak berbanding lurus dengan kehendak rakyat yang diwakilinya. Demokrasi deliberatif menekankan pelibatan publik dalam proses-proses pengambilan keputusan dan merupakan bagian dari pendidikan politik warga. 1.3.2 Pendekatan Yuridis: • Memuat esensi UU No 25/2004 tentang Sistem Perencanaan dan Pembangunan Nasional. • Memuat esensi UU No 17/2003 tentang Keuangan Negara. • Memuat esensi UU No 32/2004 tentang Pemerintahan Daerah. • Memuat esensi PP 58/2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah. • Memuat esensi PP 8/2008 tentang Tahapan, Tata Cara Penyusunan Penyusunan, • Pengendalian, dan Evaluasi Pelaksanaan Rencan 1.3.3 Pendekatan Sosiologis:
IDEA – Bappeda Kabupaten Gunungkidul Page 7

• • • • 1.3.4 1.3.5 1.4

Fungsi kognitif: menghasilkan keputusan yang rasional mempertimbangkan kajian akademis, masukan, kritik kelompok terkait dan alokasi sumber daya. Fungsi instrumental: alat mempertemukan berbagai kepentingan dalam pengambilan keputusan. Fungsi politik: mengurangi resistensi terhadap keputusan yang diambil karena berdasarkan keputusan bersama, legitimasi publik. Fungsi sosial: mengidentifikasi kebutuhan riil di masyarakat dan menyelesaikan problem utama. Pendekatan Ekonomis Pendekatan Politis Pengorganisasian Proses

Bab 2 • • • • Bab 3 • • •

Ruang Lingkup Naskah Akademik 2.1 Ketentuan Umum Pengertian dan Peristilahan. 2.2 Identifikasi Permasalahan 2.3 Kebijakan untuk Mengatasi Masalah Kesimpulan dan Saran 3.1 Kesimpulan Rangkuman pokok isi naskah akademik. Luas lingkup materi yang diatur, dan kaitannya secara sistematis dengan lain-lain peraturan perundang-undangan. • Bentuk pengaturan yang dikaitkan dengan materi muatan. • 3.2 Saran-saran • Apakah semua materi naskah akademik sebaiknya diatur dalam satu bentuk • peraturan atau ada sebagian yang sebaiknya dituangkan dalam peraturan pelaksana atau peraturan lainnya. • Usulan mengenai penetapan skala prioritas penyusunan naskah akademik • peraturan perundang-undangan dan saat paling lambat peraturan harus selesai diproses, beserta alasannya. Bab 4 Lampiran • Daftar Kepustakaan. Bagian Kedua: Konsep Awal Rancangan Perda Perencanaan dan Penganggaran 1. Konsideran (yang menunjuk pada perlunya/urgensi pengaturan materi). • Pokok-pokok pikiran. • Konstantasi Fakta . 2. Alas/Dasar Hukum (Peraturan Perundangan yang Dapat Dirujuk dalam Penyusunan Muatan Perda Perencanaan dan Penganggaran Partisipatif (dilengkapi dengan rumusan dari pasal yang dirujuk). 3. Ketentuan Umum 4. Materi 4.1 Prinsip-prinsip Partisipasi • Maksud, Tujuan, Sasaran, dan Manfaat • Capaian • Pengaturan Partisipasi (peserta, gender, informasi, waktu, dan tempat, agenda (isu • dan prioritas konsensus) • Bentuk partisipasi (tingkatan dan teknik)
IDEA – Bappeda Kabupaten Gunungkidul Page 8

• Sumber daya dan dana • Peranan dan kewajiban (Pemda, DPRD, dan masyarakat) • Media 4.2 Tahapan Pembangunan • Perencanaan • Penganggaran • Pelaksanaan • Pengendalian dan Evaluasi • Pelaporan 4.3 Perencanaan Pembangunan Daerah 4.3.1 RPJPD • Umum • Capaian-keluaran kesepakatan partisipasi • Pengaturan partisipasi (peserta, macam informasi) • Hal-hal lain yang perlu mendapatkan penekanan 4.3.2 RPJMD • Umum • Capaian-keluaran kesepakatan partisipasi • Pengaturan partisipasi (peserta, macam informasi) • Hal-hal lain yang perlu mendapatkan penekanan 4.3.3 Renstra SKPD • Umum • Capaian-keluaran kesepakatan partisipasi • Pengaturan partisipasi (peserta, macam informasi) • Hal-hal lain yang perlu mendapatkan penekanan 4.3.4 RKPD • Umum • Capaian-keluaran kesepakatan partisipasi • Pengaturan partisipasi (peserta, macam informasi) • Pagu Anggaran Indikatif • Hal-hal lain yang perlu mendapatkan penekanan 4.3.5 Renja SKPD • Umum • Capaian-keluaran kesepakatan partisipasi • Pengaturan partisipasi (peserta, macam informasi) • Penyusunan PRA-RKA SKPD • Hal-hal lain yang perlu mendapatkan penekanan 4.4 Penganggaran Pembangunan Daerah 4.4.1 Rencana Kerja Anggaran SKPD • Umum • Capaian-keluaran kesepakatan partisipasi • Pengaturan partisipasi (peserta, macam informasi) • Hal-hal lain yang perlu mendapatkan penekanan 4.4.2 Kebijakan Umum Anggaran • Umum • Capaian-keluaran kesepakatan partisipasi • Pengaturan partisipasi (peserta, macam informasi) • Hal-hal lain yang perlu mendapatkan penekanan 4.4.3 Penetapan Plafond Anggaran Sementara • Umum
IDEA – Bappeda Kabupaten Gunungkidul Page 9

• Capaian-keluaran kesepakatan partisipasi • Pengaturan partisipasi (peserta, macam informasi) • Hal-hal lain yang perlu mendapatkan penekanan 4.4.4 RAPBD • Umum • Capaian-keluaran kesepakatan partisipasi • Pengaturan partisipasi (peserta, macam informasi) • Hal-hal lain yang perlu mendapatkan penekanan 4.4.5 Pelaksanaan APBD • Umum • Capaian-keluaran kesepakatan partisipasi • Pengaturan partisipasi (peserta, macam informasi) • Hal-hal lain yang perlu mendapatkan penekanan 4.5 Pengendalian APBD 4.6 Evaluasi APBD 4.7 Pelaporan APBD Ketentuan Penegakan Hukum -Sanksi administrasi -Ketentuan pidana 6. Ketentuan Peralihan 7. Ketentuan Penutup: PENGORGANISASIAN PROSES AKADEMIS

PENYUSUNAN

NASKAH

Ada diskresi yang kita lakukan, yaitu menggabungkan antara perencanaan pembangunan desa dengan perencanaan pembangunan daerah. Meskipun PP 72 juga mengamanatkan Perda sendiri tentang perencanaan desa, tapi ini mesti perlu dikaji, apakah harus dengan Perda sendiri? Belajar dari pasal lain dalam PP 72, ternyata disebutkan bahwa perencanaan pembangunan desa menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari perencanaan di daerah, sehingga Raperda ini juga mengatur tentang perencanaan pembangunan desa. Beberapa UU juga mengamanatkan harus dengan Perda sendiri, tapi kita jadikan satu agar ada aliran yang jelas. Kita mencoba menghindari missing link, rantai yang terputus ketika Musrenbang Desa, Kecamatan, Kabupaten, lalu KUA PPAS, sampai dengan APBD, sehingga dalam Ranperda ini menjadi satu paket. Sampai di sini gambaran tentang checklist maupun naskah akademis Ranperda. Mudah-mudahan ini bisa mengawali diskusi kita di kelompok. Barangkali bapak Kepala Bappeda ingin memberikan pengarahan. Kepala Bappeda Terimakasih Pak Irawan, assalamualaikum wr.wb. Bapak ibu yang saya hormati, pertama-tama saya mohon maaf karena saya harus bolak-balik, ada serah terima dengan Dinas PU, jadi saya terlambat. Mudah-mudahan Pak Irawan bisa mencukupkan untuk mengawali diskusi hari ini tentang perencanaan dan penganggaran pembangunan daerah. Ranperda ini ide awalnya memang kita lihat dalam beberapa waktu lalu, dari evaluasi yang telah kita lakukan, masih banyak kelemahan kita dalam perencanaan pembangunan. Sehingga kita bekerjasama dengan IDEA dan GTZ untuk mencoba melihat bagaimana perencanaan dan penganggaran pembangunan daerah bisa lebih efektif dan efisien sehingga lebih banyak masyarakat dari desa sampai dengan kabupaten ikut terlibat di dalamnya,
IDEA – Bappeda Kabupaten Gunungkidul Page 10

sehingga akan mempermudah legislatif untuk dapat mempercepat proses karena sudah diawali sejak dari yang paling bawah. Ini ide awalnya, sehingga coba kita tuangkan dalam Perda. Mudah-mudahan dalam proses pembahasan ini bisa lebih sempurna lagi sehingga nanti bisa kita implementasikan secara efektif di masingmasing SKPD sampai di desa. Harapannya program kerja atau RPJM kita selama 5 tahun mendatang yang akan kita tetapkan bersama legislatif bisa terarah, terukur, sehingga ke depan siapapun yang membaca ini ada koridor-koridornya, sehingga tujuan kita jelas, di dalam RPJM kita adalah tujuannya X. Jadi untuk menuju ke sana kita tahu arah, jalan, koridor, kita tahu kelemahannya dan bisa kita perbaiki menuju ke arah yang kita inginkan bersama. Itu saya kira penekanan yang harus kita bahas dalam Raperda ini. Yang jelas masukan bapak ibu dalam Raperda ini sangat kami harapkan, karena ini tidak mungkin kami susun sendiri tanpa masukan dari bapak ibu sehingga apa yang kita rumuskan ini benar-benar bermanfaat bagi kami di kabupaten Gunungkidul. Monggo mari kita diskusikan. Billahitaufik wal hidayah, wassalamualaikum wr. wb. Irawan Terimakasih Bapak Kepala Bappeda. Satu hal yang perlu kita informasikan kepada bapak-bapak anggota dewan. Mulai tahun ini kita juga mengintegrasikan antara proses perencanaan yang dilakukan desa dengan PNPM, mungkin ini satu-satunya di DIY dan nomor dua di Indonesia setelah NTB. Harapannya, sejak awal bisa kita petakan, mana yang akan dibiayai PNPM dan yang akan diusulkan oleh APBD, atau mana yang dari sumber daya lain? Sehingga tidak ada overlapping. Karena kalau dicermati, sangat mungkin pendanaan satu kegiatan didanai oleh beberapa sumber. Mungkin ada juga keinginan kita untuk pemerataan, kalau sudah ada PNPM, maka yang lain diberi APBD, atau sinergitas, contoh yang paling mudah dari ini misalnya di Semin atau di Hargomulyo, di sana PNPM untuk membuka gunungnya, talud-nya dari bantuan keuangan provinsi, nanti cor bloknya dari bantuan semen dan ADD. Karena kita tahu kalau kita berharap dari sumber dana dekon ini pasti kurang. Disamping itu tujuannya agar efisien, pemetaannya jelas. Ini sudah kita mulai sehingga Musrenbang kecamatan yang nanti kita jalankan, ketika finalisasi, tapi sebelumnya sudah ada pra Musrenbang yang satu hari itu hanya finalisasi dan pra Musren yang sudah memetakan sejak awal, mana yang dari PNPM, mana yang dari APBD, atau dari provinsi atau dari pusat. Harapannya tidak hanya PNPM, tapi bisa semua, sementara ini baru dari PNPM karena yang lain sekarang masih pendampingan KUA. Ini kita persilahkan daerah, kita padukan. Sehingga akan jelas proses perencanaan itu. Demikian Mbak Tenty. Tenty Terimakasih Pak Syarif dan Pak Irawan yang telah menyampaikan kisi-kisi yang telah dituangkan dalam rancangan peraturan daerah penganggaran dan perencanaan di Gunungkidul. Sebelum kita masuk ke diskusi kelompok, apakah ada pertanyaan atau klarifikasi? Kami persilahkan, sementara kita bagi dua sesi. Tiga penanya untuk partisipan di bagian Timur dan Barat. Suhardono (Komisi B, DPRD Gunungkidul) Terimakasih, assalamualaikum wr.wb, kepala Bappeda beserta staff, teman-teman dari IDEA, masyarakat dan dari kecamatan yang saya hormati. Puji syukur kehadirat Allah SWT atas rahmat hidayahnya sehingga pada kesempatan yang baik ini kita diberi kesempatan untuk bertemu di aula Bappeda sayap Barat.
IDEA – Bappeda Kabupaten Gunungkidul Page 11

Yang kedua, sebelum kami menyampaikan sesuatu, kami minta ijin karena nanti kami tidak bisa ikut sampai tuntas karena nanti akan ada rapat paripurna. Sehingga dengan demikian jangan sampai dianggap Dewan itu hanya datang – duduk – dengar – tidur dan duit. Kadang-kadang begitu. Oleh karena itu kami ingin menyampaikan beberapa hal, kami sangat berbahagia bahwa perencanaan sekarang ini dikatakan tidak lagi perencanaan yang mengawang. Musrenbang dulu seperti seremonial saja. Pokoknya diskusi dulu, terserah saja, kecamatan bisa mengusulkan sebanyak mungkin, biasanya kalau di kecamatan masih ada harapan, tapi kalau sudah sampai kabupaten karena dananya tidak ada ya sudah. Lalu bagaikan pungguk merindukan bulan, tidak pernah tidak kecewa karena saya juga lama di pemerintahan. Tapi mau menyalahkan siapa? Dengan apa yang disampaikan teman-teman Bappeda bisa kelihatan, kekuatan kita sebetulnya seperti ini, walau baru di perencanaan, tapi kita sudah tahu kira-kira kekuatan kita sekian di masing-masing kecamatan, jadi nanti bukan daftar keinginan, tapi betulbetul kebutuhan yang paling utama dulu. Jadi nanti kita coba terapkan dengan bantuan IDEA. Kami juga kasihan, dari desa, kecamatan, sampai disini yang nyantol biasanya sangat minim, alasannya skala prioritas. Kalimat itu mudah diungkapkan tapi susah dijelaskan. Kalau ada yang dananya besar ya berhasil, tapi kalau untuk dinas yang sedikit ya terpaksa. Jadi ada dinas yang mengelola milyaran rupiah, tapi ada dinas yang mengelola hanya puluhan juta. Orang di bawah mengatakan ini basah, padahal ini tidak ada. Jadi tolong kita perhatikan betul. Kami berharap bahwa di desa kita pikirkan, apalagi nanti ada satu UU yang mengatur kedudukan desa di kabupaten. Contoh saja, tidak mungkin satu dinas langsung mengcover 144 desa. Pasti sebagian besar akan berangkat dengan nilai dan skala tertentu, karena itu, kalau nanti ADD yang kami usulkan disetujui, sebaiknya ADD kita tingkatkan bersama. Mengapa usul agar ADD kami tingkatkan, karena kalau digarap oleh dinas di tingkat kabupaten justru pemerataannya kurang. Kalau ADD kita tingkatkan, desa akan menggarap dengan masyarakat dan mereka tahu kekuatannya, sehingga mereka bisa memprioritaskan mana yang akan dikerjakan dulu, pasti akan ada yang dilakukan. Berbicara tentang partisipatif memang betul, tapi jangan karena bicara dengan partisipatif, lalu kita manampung sebesar-besarnya usulan masyarakat. Jangan sampai kita buat seperti keranjang sampah. Terakhir kami sangat bahagia kalau akan dilibatkan dalam Musrenbang, tapi perlu diketahui bahwa kadang teman-teman di dewan sudah terlanjur punya agenda sendiri. Kadang ada tugas yang mendadak, tapi kami dalam hati siap untuk mendampingi teman-teman di kecamatan tadi. Mungkin karena keterbatasan waktu, tidak tiap saat di depan dengan masyarakat. Jadi kalau tidak bisa semua jangan sampai ada kesan kami ini tidak mau bekerja. Dengan demikian, tolong kami akan coba untuk membagi diri, mungkin tidak perlu membagi diri dalam per faksi, tapi per dapil, lalu membagi diri untuk bisa datang ke kecamatan. Kalau per faksi mungkin tidak mencukupi, tapi kami nanti akan kami sampaikan ke pimpinan. Saya mohon maaf bahwa kami nanti tidak bisa sampai tuntas. Mohon maaf, terimakasih. Tanty Ada lagi Pak Warto mungkin?
IDEA – Bappeda Kabupaten Gunungkidul Page 12

Warto (DPRD) Terimakasih, assalamualaikum wr.wb. Saya melihat ada kemajuan, sudah ada naskah akademik, selama ini belum dilakukan antara eksekutif dan legislatif, ini akan membantu walau di DPR sebetulnya ada tim ahli, tapi sampai saat ini juga belum berjalan. Harapan kami jadwal Musren ini diluncurkan ke DPRD lebih awal, sehingga kegiatan bisa kami samakan. Seharusnya memang ada komisi orientasi, lalu ada draft akademik, baru penjadwalan, sehingga pas. Tapi ini sudah bagus, sebagai gambaran saja Raperda tentang…, tidak ada naskah akademik, tidak ada komisi orientasi, akhirnya di provinsi mental juga, jadi kita malu. Gunungkidul kelihatan bodoh. Kemudian yang kedua, masalah anggaran, di DPRD ini tidak semuanya tahu anggaran. Kalau yang mau membahas ya membahas, yang tidak ya tidak, kadangkadang harus dilibatkan dari Musren. Kalau ini ada rencana ADD, rencana PNPM tahu, kalau tidak ada ya kita carikan provinsi atau pusat. Kalau sesuai dengan rencana akan baik, dan itu akan selesai, saya yakin. Tapi biasanya Provinsi itu apa, dimana, itu teman-teman juga tidak tahu. Harapannya ada match, waktu kami mengusulkan pengadaan aspal dan semen, akhirnya tidak match antara eksekutif dan legislatif, anggarannya tidak cocok, KUA dan PPS sudah ditetapkan, akhirnya berubah. Seperti kemarin, mengapa seragam direncanakan setiap tahun? Kalau perlu pamong desa dulu, kepala desa dulu. Ini tidak jadi masalah, kemarin kan baru inisiatif, berarti kan perencanaan ke depannya, aturannya belum begitu jelas. Setelah hasil Musren, kami akan kombinasikan dengan Jaringasmara. Setelah final di eksekutif, kami mohon untuk dikirim. Ini akan memudahkan. Atau mungkin kita gabungkan, hasil Musren Provinsi ini kita harus punya yang di Gunungkidul apa saja. Setelah dilihat kemarin di provinsi ada efisiensi sampai 46 Milyar. Mengapa begitu? Sebagai gambaran misalnya SDLB/SLB, itu kan kewenangan provinsi, mengapa Kabupaten Gunungkidul masih menganggarkan itu? Akhirnya disana sisa uang. Yang dibuat pintar itu warga kita tapi yang membiayai masih banyak juga. Saya berpendapat antara PNPM, P2KP, bantuan semen, kemudian ADD, kemudian bantuan yang 50 juta per kelurahan di provinsi itu tidak satu. Saya melihat ada kejanggalan, jadi patok PNPM dipindah, patok swadaya, akhirnya tumpang tindih, tidak akan selesai dan itu menimbulkan pungli. Kalau ada perencanaan yang jelas, kami juga senang, kita tahu daerah mana yang belum? Kami di DPRD juga sering kerepotan, kalau tidak dengan ada naskah akademik, tidak dengan perencanaan yang tepat, hanya dengan demo lalu anggaran bubar. Ada sentimen demo lalu bubar, ini juga tidak baik. Sekarang Pak Camat dan Lurah sudah cerdas, bahkan kami dengan Pak Camat ada komunikasi, hasil Musren kita kawal dan kita bawa. Begitu tidak kita kawal kita tidak tahu kebutuhannya apa. Sekali lagi, hasil dan jadwal Musren mohon kami diberikan, untuk gambaran kami dan agar teman-teman kami biar tahu. Seperti kemarin, pemberdayaan perempuan ini malah anggarannya cukup sedikit. Kita lihat di Gunungkidul ini PADnya 10 besar, tapi kegiatannya tidak ada. Misalnya di Dinas Pariwisata dan Kebudayaan, PADnya turun 1 milyar – 2 milyar, tapi anggaran membangun di obyek wisata hanya berapa ratus juta, ini kan tidak match. Demikian, kurang lebihnya mohon maaf.

IDEA – Bappeda Kabupaten Gunungkidul

Page 13

Sedikit lagi, untuk DAK ini bukan Pemda, ada sekolah yang siswanya hanya 45, tapi gedungnya bagus sekali, melebihi SMA. Namun ada gedung yang muridnya 248, tapi gedungnya jelek sekali, termasuk gurunya, anak 248 hanya diajar oleh 3 orang PNS. Ada yang muridnya kurang dari 50, itu kalau masuk semua, gedungnya yahud, bahkan kami datang itu disuguhi laptop dan LCD. Ini kan tidak ada match-nya dengan pembangunan kita. Ini salah satu gambaran yang perlu kita rencanakan, termasuk Pustu yang tidak dipakai. Berarti perencanaanya kurang baik, ada Pustu kok tidak dipakai?! Kekurangannya apa? Kalau kurang SDMnya ya kita berikan tambahan, kita berikan tenaga, walau mau ada perubahan di PP 48 dan PP 43, tidak boleh mengangkat honorer. Tetapi kalau guru dan kesehatan tidak bisa. Apa mau ngajar pakai komputer? Maka kami melihat ada anggaran yang perlu di-match-kan dengan kami. Maksud kami seperti itu. Jangan sampai seperti kemarin, gak usah PNS lagi, lha ternyata guru kurang, lalu siapa yang mau ngajar? Harapan kami ada link, kalau UU 32, eksekutif dan legislatif itu seperti suami istri, kalau tidak pas kita paskan, mengatasi masalah tanpa masalah. Kalau Pak Hardo mengungkapkan ini juga salah saya, malah ini lebih bagus, sebaik-baik orang itu adalah orang yang mengakui kesalahannya. Saya kira demikian, tapi karena nanti ada 4 Raperda yang akan kami bahas, termasuk ADD, kami mohon pamit lebih dulu. Mudah-mudahan tidak ditolak oleh Gubernur, direvisi tidak papa. Kalau ditolak itu menyakitkan betul, apalagi sudah menghabiskan banyak dana untuk studi banding. Tenty Satu lagi dari sebelah Timur, mungkin dari warga atau dari LSM. Kaur Perencanaan Saptosari Terimakasih, bapak Bappeda yang saya hormati, bapak dari dewan yang tadi telah mengutarakan permasalahan yang menyangkut desa, kami sangat berbahagia sekali karena baru pertama kali ini kami dari wakil Kecamatan Saptosari, terutama Desa Kepek, kami selaku Kaur Perencanaan sudah beberapa tahun ini menyusun Musrenbangdes, tetapi setelah sampai di kabupaten kami sendiri tidak tahu bagaimana lingkup Saptosari dan lingkup desa kami karena tidak ada informasi atau hasil yang memperjelas hasil Musrenbang kami. Mudah-mudahan tahun ini dengan dilandasi antara perencanaan desa dan daerah ini dipadukan, karena desa adalah suatu pusat pertumbuhan, katanya, ini yang digembar-gemborkan, maka mohon nanti hasil-hasil Musren, kalau di kecamatan kami masih bisa mendampingi, tapi kalau di Kabupaten kami selalu kehilangan jejak. Padahal Saptosari dan Desa Kepek sebagai kota kecamatan sudah dua tahun berturut-turut mengusulkan kantor BRI dan kantor pos, tapi sampai sekarang masih belum jelas. Itu sudah kami susun di RPJMDes 2008. Lalu pada bulan Januari kemarin kami menyusun review RPJMDes 2010-2012 dan kami susun RKP pertahun pun juga kami masukkan untuk BRI dan kantor pos. Kecamatan Saptosari mungkin memang kecamatan baru yang belum ada fasilitas BRI dan Kantor pos, masih bergabung dengan Kecamatan Paliyan. Kalau kantor pos mungkin bisa belakangan, tapi kalau BRI kami harap bisa segera ada dan diakomodir karena di sana masyarakat sudah mulai berfikir untuk mulai memanfaatkan jalan lintas selatan, masyarakat sudah mulai membuka bengkel atau pertokoan dan perekonomian sudah mulai tumbuh. Kedua kami juga heran, mengapa dari pemerintah kabupaten, katanya setiap usulan yang masuk RPJMDes harus disusun proposal. Kami di tahun 2009 kemarin sampai 3 kali ke PU, bahwa tahun 2008 kami menyusun RPJMDes dan disitu kami
IDEA – Bappeda Kabupaten Gunungkidul Page 14

mengusulkan perbaikan jalan kabupaten sepanjang 500 m dan sampai saat ini, mungkin Pak Hardoyo waktu di Desa Kepek juga tahu, kami tambahkan dengan berita acara permohonan dari Kepala Desa ke Pak Bupati dengan tembusan ke PU, sampai sekarang masih belum ada tindak lanjut. Memang dilihat tapi belum ada tindak lanjut. Karena kecamatan Saptosari berada di Desa Kepek dan Desa Kepek merupakan salah satu kota di kecamatan Saptosari. Tidak hanya di Desa Kepek, mungkin di tempat lain juga perlu diperhatikan. Selama ini kami membuat perencanaan hanya dimarahi oleh masayarakat. Kalaupun ada hasilnya, itu cuma satu di tingkat desa, itu bisa mengobati sakit hati masyarakat, karena masyarakat sekarang lebih pandai dari pemerintah desa. Kami juga sangat berterimakasih karena ada pengintegrasian pemerintah dan PNPM, sehingga kita tahu mana yang harus didanai PNPM dan mana yang harus didanai pusat. Dua tahun kemarin simpang siur, ada yang didanai PNPM lalu besok didanai Sobermas. Kalau dengan begini kami jadi tahu, sekarang didanai ini dan besok diganti yang lain. Terimakasih, wassalamualaikum wr.wb. Tenty Silahkan, singkat saja dari masyarakat. Masyarakat (Komunitas Petani Gunungkidul) Pertama dalam hal penganggaran, dari Musren desa sampai kecamatan, yang kita pentingkan lebih dulu adalah informasi tentang sumber pendanaan. Selama ini Musren dianggap tidak efektif karena hanya mengawang di desa, tapi tidak melihat seberapa besar DAK atau DAU atau dana perimbangan di Gunungkidul? Informasi itu akan sangat berharga. Jadi tidak akan berbunyi usulan dari desa setelah diakumulasikan di kabupaten 7 triliun, sementara dana APBD hanya 6 Milyar. Ini lucu sekali dan merepotkan SKPD. Itu sangat diperlukan, jadi sebelum Musren desa itu diharapkan bisa tersaji. Minimal informasi estimasi anggaran yang bisa diperoleh di Kabupaten Gunungkidul. Kedua kalinya, saya setuju dengan draft rancangan ini, tapi belum ada satu hal yang bisa menyentuh ego sektoral yang dilakukan masing-masing instansi atau level di atasnya, provinsi. Karena sering terjadi, di luar RPJM muncul program dadakan yang jatuhnya program justru di akhir tahun pelaksanaan anggaran. Lalu muncul kecurigaan, jangan-jangan ini hanya untuk menyelesaikan LPJ. Mestinya dari rancangan peraturan yang kita sajikan minimal bisa mengurangi ego sektoral dari instansi terkait. Ketiga kalinya, rancangan program ini akan berdampak pada pelaksanaan kegiatan satu tahun, tapi kalau kita selalu memprogramkan, mungkin agak sama dengan Pak Juarto, apakah sudah terbentuk tim evaluasi dampak program? Banyak program yang alasannya pengentasan kemiskinan, tapi apa benar kemiskinan sudah dientaskan? Jangan sampai kita hanya membangun monumen, conblok semua, tapi apakah dengan ini ekonomi masyarakat sudah ternilai dan terukur seberapa besar peningkatan ekonomi mereka? Jangan sampai dengan jalan mulus tidak merubah ekonominya, hanya investor tertentu saja yang memanfaatkan. Ini yang merugikan rakyat, ini perlu kita atur lagi dalam draft nanti. Tiga hal itu yang saya sampaikan, terimakasih dan maaf kalau ada yang kurang berkenan di hati bapak-bapak. Edi Susilo (masyarakat)
IDEA – Bappeda Kabupaten Gunungkidul Page 15

Mungkin sedikit dari masyarakat desa, tadi sudah banyak dikupas oleh bapak-bapak yang pada intinya adalah tentang strategi perencanaan lewat Musren dan sebagainya. Kemudian disini kami justru malah akan mengkritisi tentang strategi pelaksanaan anggaran itu. Karena poin yang disampaikan adalah keterbatasan anggaran berakibat pada pelaksanaan yang terbatas juga, untuk itu kami mengharapkan bahwa strategi pelaksanaan anggaran ini dapat dilaksanakan lewat swakelola, artinya bisa ditangani masyarakat desa secara langsung, disitu ada LPMD, ada bagian-bagian perencanaan dan pelaksanaan di masyarakat, karena kondisi desa bisa dikatakan bahwa sudah ada banyak persiapan SDM masyarakat yang selama 10 tahun terakhir ini kita sudah berpengalaman di PNPM Mandiri Pedesaan, yang mulai dari perencanaan, pelaksanaan sampai evaluasi sudah ditangani oleh masyarakat sendiri. Kaitan dengan ini perlu ada rekomendasi yang mengatur tentang strategi pelaksanaan anggaran ini, agar bisa dilaksanakan masyarakat lewat swakelola dan bisa ditangani lewat lembaga-lembaga yang ada, karena memang jangkauan kita adalah memang untuk efisiensi dan efektifitas anggaran yang serba kurang. Sebetulnya perlu dikuatkan adalah keikhlasan dari pemerintah daerah bahwa strategi perencanaan yang biasanya dipolakan dalam pelaksanaan lewat pemborong dan sebagainya, ke depan kita harus mengarahkan dan mempunyai strategi untuk pelaksanaan di swakelola oleh masyarakat. Terimakasih, dari kami sebagai wakil dari masyarakat desa ada kurang lebihnya kami mohon maaf. Tenty Satu lagi ya, barangkali karena nanti akan ada diskusi kelompok, maka masukan lain bisa dibahas dalam diskusi kelompok. Edi Saya tidak akan banyak bercerita pengalaman lapangan sebagaiman teman-teman, saya hanya ingin bercerita tentang pengalaman kami dalam proses yang kurang lebih sama dengan yang dilakukan teman-teman IDEA dan Bappeda saat ini. Kami punya pengalaman mendorong satu Perda di tingkat Kabupaten, dua kali proses yang kami lalui berjalan mulus di daerah, mendapat dukungan eksekutif dan legislatif, sehingga waktu itu Perda berhasil diundangkan. Tapi dalam pengalaman kami, lalu Perda itu dibatalkan pemerintah pusat, itu pada tahun 2003/2004. Kemudian kita juga menginisiasi satu Perda lain di satu wilayah, sebelum diundangkan kita konsultasi dengan Kantor Wilayah Hukum dan HAM, untuk proses sinkronisasi. Pertanyaan saya, apakah memang Perda ini secara substansi diperlukan? Mengapa harus perundangan dalam bentuk Perda? Mengapa tidak bisa diatur dengan bentuk lain? Karena yang jelas, Perda tidak boleh bertentangan dengan peraturan perundang-undangan di atasnya. Kalau memang tidak bertentangan, perlu dicek juga, apakah substansinya bukan merupakan pengulangan dari peraturan perundangan di atasnya? Karena kalau kita cermati dalam draft yang sudah dibagikan, minimal saya lihat dalam pasal 55, isinya kurang lebih mengulangi atau sama dengan UU pemerintah daerah. Menurut saya, kalau ini tingkat Perda, saya pikir harus lebih dilatarbelakangi dengan persoalan yang menjadi karakteristik di Gunungkidul dan melatarbelakangi perlunya Perda ini. Misalnya kalau tadi persoalannya adalah bagaimana memastikan Musrenbangdes bisa masuk dalam anggaran daerah, mengapa tidak substansi ini yang lebih diperkuat dalam rancangan Perda ini? Tapi di sini saya melihat ada proses
IDEA – Bappeda Kabupaten Gunungkidul Page 16

pengulangan, saya sedikit memberikan masukan saja agar proses yang dibangun teman-teman tidak dimentahkan. Secara teknis saja, pada bagian naskah akademis, di paragraf pertama ditulis UU 17 tahun 2003 tentang keuangan daerah, ada sedikit koreksi saja, mungkin yang dimaksud adalah UU keuangan negara. Lalu perlu dicek di bagian menimbang dan mengingat, apakah benar ada Perda No. 40 tentang tata cara penyusunan perencanaan pembangunan nasional? Ini teknis redaksional yang perlu kita cek satu persatu. Karena ini peraturan dan terkait dengan wibawa pemerintah serta supremasi hukum. Tenty Silahkan langsung ditanggapi dengan singkat saja. Irawan Pak Hardono dan Pak Warto, kami nanti segera mengirimkan jadwal, hari ini sedang kita ajukan ke Pak Sekda, nanti ada jadwal. Nanti akan ada surat ke Camat dan ada surat ke anggota dewan. Lalu ada usul peningkatan ADD, terimakasih, memang idealnya kita berangkat dari asumsi subsidiaritas. Apa yang bisa dilaksanakan desa, biar desa itu yang melaksanakan, apa yang tidak bisa dilakukan desa, itu yang dilakukan kabupaten. Ada gagasan, kenapa bantuan semen tidak dijadikan di desa, yang pengadaannya oleh desa sendiri? Ide itu yang kita kaji. Banyak ide seperti itu yang intinya mendorong subsidiarity desa, mendorong otonomi desa, tapi kembali lagi, kita perlu lihat hasil rekomendasi atas kajian itu apa, dan itu yang akan kita laksanakan. Sekali lagi kami menghargai mekanisme Jaringasmara, kita tidak ingin mengahpus itu karena itu hak dewan. Kalau ketika reses anggota dewan punya mekanisme Jaringasmara, ini akan memperkaya hasil Musrenbang, karena Musren Kecamatan pelaksanaannya lebih dulu sebelum Jaringasmara. Jadi memperkaya dan bisa dicrosschek. Dan terdokumentasi, karena yang desa menjadi dokumen rencana kerja pembangunan desa, yang kecamatan menjadi dokumen rencana kerja kecamatan. Kemudian dari beberapa yang tadi menyampaikan, kita perlu menyampaikan informasi secara benar tentang anggaran, artinya, kalau tidak kita informasikan masyarakat selalu bertanya, berapa DAU, DAK, bagi hasil pajak, PAD kita, dst? Kita dengan IDEA akan mengalirkan ini, kita akan menyampaikan lewat Harian Jogja, yang murah, jadi APBD 2010 nanti kita informasikan pada masyarakat melalui Harian Jogja, semua kecamatan. Tadi kalau dikatakan proyeksi anggaran tahun depan, ini selalu kita informasikan ketika Musrenbang Kecamatan, saat dilaksanakan Musrenbang Kecamatan proyeksi DAU kita ke depan berapa tahun mendatang ini ada proyeksinya. Ketika Musrenbang, harapannya bisa mendorong usulan yang lebih rasional dan realistis. Kemudian sumber lain non APBD, baru saja ada edaran dari Sekda ke seluruh SKPD yang menegaskan bahwa koordinasi untuk usulan-usulan kepada APBD Provinsi dan APBN itu terkoordinir di Bappeda. Jangan sampai SKPD jalan sendiri. Pak Hardo paham betul di Jakarta itu dana banyak sekali, kalau di sana sektoral mencari lokasi
IDEA – Bappeda Kabupaten Gunungkidul Page 17

untuk pelaksanaan kegiatannya, kalau kita mencari sumber dana untuk lokasi kita. Tujuan kita dikoordinasikan oleh Bappeda itu karena pemetaan, ketika Musrenbang Kabupaten bisa kelihatan, mana yang diusulkan dalam tugas pembantuan atau DAK, dst. Bahkan ada SKPD yang mendapat alokasi besar dari CSR, Pertamina atau BUMN, hampir 8 Milyar setiap tahun untuk kredit ternak, ini harus dipetakan, karena kalau tidak akan numpuk-numpuk. Satu lokasi bisa mendapat dari banyak sumber, karena yang akan memetakan Bappeda, maka koordinasinya di sini. Selama ini kami susah mendapatkan informasi mengenai tugas pembantuan. Dekon juga seperti itu, kami juga sampaikan ke Kepala Bappeda DIY agar dana Dekon juga diinformasikan ke kabupaten. Karena dekon itu dananya pusat, dilaksanakan provinsi, kita tidak tahu apa-apa, tiba-tiba di desa ini ada kegiatan. Kemudian Desa Kepek, mohon maaf kalau kantor pos dan BRI itu bukan kewenangan Pemda, yang bisa kita lakukan hanya menginformasikan. Kebetulan keduanya ini adalah perusahaan negara. BRI adalah BUMN dan kantor pos itu perum. Kita bisa menginformasikan, tapi barangkali mereka punya pertimbangan sendiri. Kemudian usulan disertai proposal, kita sudah dorong pada SKPD untuk tidak menerima proposal karena ini yang merusak sistem perencanaan. Tapi kalau non APBD ya silahkan, tapi tidak akan mengganggu mekanisme perencanaan di kabupaten, artinya APDB. Perkara APBD Provinsi dan APBN ada cara seperti itu ya silahkan. Karena itu kami dorong seluruh SKPD ketika Musrenbang kabupaten mencantumkan lokasi, ini sulit sekali, jangan hanya ditulis 5 desa, kalau begini muncul proposal. Proposal silahkan kalau sudah ada kepastian lokasi, baru teknis, silahkan. Kami minta seluruh SKPD untuk menjaga, jangan ada proposal. Ego sektoral itu sudah ada di beberapa pasal. Kemudian yang terakhir, apakah ini harus daitur melalui Perda? Dari beberapa UU, seperti UU 32 dan lebih khusus lagi UU 25/2004, ditegaskan bahwa perencanaan daerah, khusus desa PP 72, diatur dengan peraturan daerah. Tidak ada yang sama, memang harusnya Perda membreakdown peraturan yang bersifat umum dalam UU. Informasi pembangunan, mudah-mudahan APBD nanti bisa segera kita informasikan, sehingga apa yang sudah dilaksanakan tahun lalu bisa diketahui. Sekali lagi beberapa catatan ini penting menjadi agenda kita. Mudah-mudahan gagasan kami tentang pagu indikatif per wilayah ini bisa terwujud, kalau ini bisa terlaksana masyarakat akan bergairah dan memahami betul, berapa persen dari belanja langsung kita yang di pagu indikatif? Yang melaksanakan bukan SKPD kecamatan, SKPD kecamatan Renjanya SKPD Kecamatan. Ini yang melaksankan SKPD dan mereka pasti akan mendengar karena masyarakat akan bertarung di Musrenbang Kecamatan. 5 atau 6 Milyar masuk ke kecamatan A, lalu pendidikan berapa, Perindagkop berapa, kesehatan berapa? Sekarang ini bola panas selalu ada di kabupaten, urusan yang harus dilaksanakan banyak sekali. Contoh Pak Warto tadi membandingkan dengan provinsi, kita itu SD, SLTP, SLTA, SMK dan provinsi hanya SLB. Padahal DAUnya besar sana, provinsi mendapat 10% dari 22,5% yang dialirkan. Jumlah provinsi hanya bertambah delapan, sehingga SKPD paham betul kalau provinsi rapatnya pasti di hotel. Tidak pegang wilayah langsung tapi duitnya banyak. Sehingga dalam Rakor kemarin kita
IDEA – Bappeda Kabupaten Gunungkidul Page 18

minta, kalau bisa semua kita minta, karena ini di urusan konkuren, bukan urusan kabupaten saja. Memang UU Pendidikan mewajibkan APBD 20%, UU Kesehatan mewajibkan 15%, PNPM 20%, kalau dijumlah, belum DAK 10%, belum yang sektoral, kementrian itu wajib, sharing-nya P2KP, kalau dijumlah semua pasti lebih dari 100%. Ini juga harus diinformasikan ke masyarakat, biar masyarakat paham betul tentang persoalan di kabupaten. Kalau masyarakat paham, solusinya kita mencari yang non APBD kabupaten. Kepala Bappeda Kalau kita bingung mau cari duit dari mana padahal provinsi punya duit banyak, bagaimana kalau kita usul Gunungkidul kita usulkan untuk naik tingkat menjadi provinsi? Saya kira apa yang menjadi maksud dan tujuan kita sama-sama dipahami, begitu juga dengan legislatif. Kita ini perlu hal-hal yang pasti, transparan dan bisa dilihat oleh siapapun. Silahkan, kalau kita menengok tahun lalu masih banyak kelemahan. Bapak dari Saptosari sudah mengusulkan beberapa tahun tapi tidak terwujud, atau tidak bisa menginformasikan tentang anggaran atau dana. Barangkali kita sudah memberitahukan tapi tidak lewat media, barangkali lewat SKPD dan camat, dan mungkin tidak sampai ke warga. Ini tidak perlu dicari siapa yang salah. Tapi mari kita gunakan bahwa yang lalu adalah acuan dan mari kita perbaiki bersama. Saya yakin diskusi kita sementara ini akan diperdalam di kelompok dan kita sepakat untuk lebih eksis dan program di desa terwujud lebih baik. Kita perlu kerjasama yang baik, proses sekarang ini juga dibantu oleh temanteman dari IDEA dan GTZ. Artinya ada pihak yang berniat meningkatkan kapasitas untuk peningkatan pelayanan bagi masyarakat. Saya berterimakasih sekali kepada IDEA dan GTZ dan bapak ibu yang hadir disini. Silahkan. Dari dua dokumen ini kita sempurnakan, dari sekarang sampai ke depan sehingga apa yang diharapkan oleh masyarakat kabupaten Gunungkidul bisa diwujudkan dengan baik, tentu saja dengan keterbatasan keuangan yang ada. Mungkin di tahun 2009 ini belum sempat juga melansir pendataan kita di Bappeda karena masih ada beberapa yang perlu diperbaiki, mungkin belum semua terdata karena di tolak ukur kalau tidak terisi satu tidak bisa muncul bahwa ini masuk KK miskin atau bagaimana. Kita sepakati bahwa mudah-mudahan ke depan kita bisa memperbaiki kelemahan kita dan bisa kita sempurnakan lagi. Kira-kira demikian, silahkan melaksanakan diskusi kelompok, mudah-mudahan amal baik dan pemikiran ibu bapak sekalian bisa terwujud di tahun-tahun mendatang. Terimakasih. Tenty Terimakasih Pak Syarif dan Pak Irawan serta masukan dari bapak ibu sekalian. Saya akan coba sedikit meng-highlight apa yang tadi kita diskusikan. Mengapa Ranperda ini penting? Pak Irawan sudah menyampaikan, untuk menjawab beberapa hal yang tidak terjawab aturan yang ada di atasnya. Misalnya Jaringasmara tidak nyambung dengan hasil Musrenbang Kecamatan. Lalu Bappeda di Gunungkidul mencoba menginisiasi pagu indikatif kewilayahan yang harapannya akan menjawab problem dari Saptosari atau dari Kompak tentang hasil Musrenbang Kecamatan dan desa yang tidak terkawal di Kabupaten. Harapannya nanti juga ada tim atau forum delegasi Musrenbang yang bisa mengawal perencanaan dari dusun sampai kabupaten. Lalu soal program-program dari pusat yang tidak sinkron dengan daerah dan dilaksanakan di akhir tahun, sehingga kesannya hanya menghabiskan
IDEA – Bappeda Kabupaten Gunungkidul Page 19

anggaran. Di Ranperda ini sudah muncul pasal tentang penyusunan perencanaan daerah dari pusat harus terintegrasi dengan perencanaan dari daerah. Salah satu yang sudah diupayakan dan juga sudah disampaikan oleh Pak Irawan adalah integrasi dengan perencanaan PNPM yang sudah berjalan, barangkali ke depan juga perlu dibahas integrasi dengan perencanaan dari provinsi dan pusat. Kemudian yang lain, selama ini kelompok perempuan dan kelompok rentan jarang dilibatkan dalam proses perencanaan, dalam Ranperda juga coba kita jawab bagaimana keterlibatan kelompok masyarakat yang selama ini tidak terlibat. Dulu diskusi awalnya Ranperda ini hanya perencanaan daerah, tidak mengatur soal penganggaran, tapi setelah beberapa kali diskusi, penganggaran ternyata juga masalah dan tidak menyambung, perencanaan sudah disusun dari desa sampai kabupaten, tapi ketika masuk ke pengaggaran yang levelnya ada di dewan dan tim anggaran eksekutif, beberapa mungkin ada yang terakomodir, tapi ada yang tidak. Artinya ada persoalan. Lalu dalam Ranperda ini coba kita masukkan tentang penganggaran pula, naskah akademis memang perlu dibahas lagi dan banyak kelemahan, kita mohon masukan dari bapak ibu sekalian. Landasan filosofis dan sosiologisnya, tadi ada yang mengatakan ini hanya copy-paste dari aturan di atasnya, nanti bisa dibahas lebih lanjut dalam diskusi kelompok. Kehadiran DPRD tadi sudah cukup jelas, kita pegang komitmen dari DPRD agar bagaimana persoalan disini bisa terjawab dalam Ranperda. Sekarang akan kita coba bahas lebih dalam di kelompok. Di dalam Ranperda ini ada 12 bab. Mari kita lihat bersama di halaman 12, itu adalah bab IV, kalau disini tertulis bab V. Jadi Ranperda ini ada ketentuan umum, ruang lingkup, ada bab perencanaan daerah dan bab penganggaran daerah. Tiap bab ada turunannya. Juga ada bab tentang pengendalian dan evaluasi. Kita koreksi bersama di halaman 12 itu bukan bab IV, tapi bab V. Kemudian bab VI, tahapan rencana pembangunan desa, itu menjadi bab V. Lalu bab VII menjadi bab VI, tata cara penyusunan dokumen pembangunan daerah. Berikutnya sudah benar, halaman 15 itu bab VII. Nanti kelompok I akan membahas bab III, kita akan berbagi menjadi 4 kelompok: kelompok I akan membahas bab III dan bab V. Lalu kelompok dua II membahas bab II dan bab IV. Kelompok III akan membahas bab V dan VII. Terakhir, kelompok IV akan membahas pengendalian dan evaluasi, bab IX dan bab X. Pembagian Kelompok Kelompok I • Bab III Tahapan perencanaan pembangunan daerah • Bab VI Tata cara penyusunan dokumen perencanaan daerah Kelompok II • Bab IV Renstra dan Renja • BAB VIII Penganggaran Daerah Kelompok III • BAB V Tahapan perencanaan pembangunan desa • BAB VII. Tata cara penyusunan dokumen rencana pembangunan desa Kelompok IV • BAB IX. Pengendalian dan evaluasi daerah • BAB X. Pengendalian dan evaluasi desa Zaki
IDEA – Bappeda Kabupaten Gunungkidul Page 20

Kita mulai dari awal, ada yang daerah; ada yang SKPD, Renstra dan Renja ini mungkin bagi daerah. Yang ketiga dan yang terakhir adalah soal pengendalian. Jadi desa dan daerah itu dicampur, terkait yang ditanyakan bagaimana mengukur dampak. Nanti kelompok tiga akan berbicara tentang desa. Kelompok dua lebih ke Renstra, Renja dan penganggaran daerah. Tahapan perencanaan, jadi ini di supra desa, kecamatan dan kabupaten. Semoga ada gambaran. Kita akan membagi kelomopk, supaya tidak terpaksa, silahkan memilih sesuai dengan minat masingmasing. Atau kita berhitung? Partisipan Berhitung saja, Bu! Zaki Nanti kelompok satu dua di sini, dan tiga - empat di ruang selasar. Kita akan berbagi dengan berhitung satu sampai empat. Kalau ada yang lebih tertarik ke kelompok tertentu nanti silahkan berpindah. Kita diskusi selama satu jam dan setelah itu bisa kembali lagi ke mari, nanti setelah itu makan siang dan kita selesai. Terimakasih dan tepuk tangan untuk kita bersama. ===================DISKUSI KELOMPOK SIANG================================ DAN MAKAN

HASIL DISKUSI KELOMPOK I dan II 1. RKPD: a. RKPD prosesnya berasal dari desa, SKPD atau Bappeda b. Dilakukan untuk merinci RPJM Daerah tiap tahun c. Belum diatur RKPD memuat usulan apa saja (lihat PP 8) 2. Renstra Renja (Bab IV) a. Pasal-pasal terkait dengan Renstra SKPD (pasal 23)  dimajukan ke Bab III, bagian RPJMD termasuk antisipasi perubahan Renstra. b. Sebagai tindak lanjut pembahasan RPJMD, SKPD menyusun Renstra SKPD paling lambat 2 bulan 3. Bab III:  Apa saja dokumen perencanaan daerah. Sistem tidak sekedar tata cara/ tahapan. 4. Penganggaran Daerah: a. Kabupaten Gunungkidul sudah punya Perda pokok-pokok pengelolaan keuangan daerah b. Terlalu detail mengatur tugas tim 5. RPJP Daerah: a. Teknis penyebaran informasi tentang RPJPD b. Bentuk konsultasi, jangka waktu c. Pemangku kepentingan lainnya? 6. RPJM Daerah: a. Lihak pasal 14 (2) dengan 23 (4) b. RPJMP perlu masukan dari SKPD  apakah namanya rancangan Renstra pasal 14 (2) c. Substansi (misal: masalah potensi) apa yang diharapkan dari SKPD untuk memberikan masukan dalam penyusunan RPJMD?

IDEA – Bappeda Kabupaten Gunungkidul

Page 21

d. Pasal 15  lihat kembali rujukan pasal sebelumnya  pasal 12 (3) diganti pasal 13 (2) e. Bagaimana Bappeda menjaring usulan SKPD untuk RPJMD? f. Perlu penegasan Musrenbang RPJMD g. Kapan SKPD harus menyusun Renstra? 7. Catatan Umum: a. Ada pembangunan yang didanai dari berbagai sumber APBD II, I, Pusat. b. Konsistensi penulisan istilah, judul, tanda baca c. Narasi Perda terlalu geladrah. d. Ada yang perlu dimasukkan belum masuk, yang tidak perlu malah masuk. e. Perlu penjelasan tentang sistem (apa, siapa, bagamana?) perencanaan. Mbak Zaki pasti akan memberi tambahan catatan untuk hasil diskusi kelompok I dan II.  HASIL DISKUSI KELOMPOK III Persoalan • Warga masih mempunyai kecenderungan untuk mengajukan program-program untuk infrastruktur. • Pihak pemerintah daerah harus memberikan informasi dan rekomendasi kepada desa tentang program dan alokasi anggaran diluar APBD. • Pengajuan proposal cenderung hanya bisa diakses oleh pihak-pihak yang mempunyai hubungan dengan pihak terkait. • Warga tidak tahu apakah Musrenbang yang dilaksanakan adalah untuk perencanaan kegiatan yang didanai oleh alokasi dana desa (ADD) atau PNPM. • Pengajuan proposal rentan terhadap kepentingan politik. BAB V, Pasal 26 • Pada ayat 5: Kalimat Pra Musrenbang akan menjadi rancu dalam pemahaman ditingkat masyarakat, sehingga diusulkan untuk diganti dengan Musrenbangdus. BAB VII. Pasal 40 • Perlu ditambahan bahwa hasil evaluasi menjadi pertimbangan pada perencanaan tahun berikutnya, namun jangan sampai membebani anggaran tahun berikutnya.

IDEA – Bappeda Kabupaten Gunungkidul

Page 22

HASIL DISKUSI KELOMPOK IV Hasil diskusi kelompok IV,pengendalian dan evaluasi daerah, pengendalian dan evaluasi desa Fasilitator: tenti Perkenalan: 1. Ibu Ashar dari disperindagkop 2. Pak Agus dari Bappeda bag.pengendalian 3. Seksi pemberdayaan masy kec Ponjong, Semin, Ngawen, Saptosari 4. Bu Paryanti KPMkeompok perempuan mandiri Point penting tentang bagian pengendalian dan evaluasi pelaksanaan program - Dalam Musrenbang desa dan kecamatan, disampaikan realisasi pelaksanaan kegiatan dan usulan yang sudah terkakomodir - Belum pernah dilakukan evaluasi perencanaan yang sudah disusun, evaluasi hanya dilakukan sebatas usulan yang sudah diakomodir - SKPD (Disperindagkop), sudah menyusun LAKIP, namun dalam LAKIP hanya dibuat output dan outcome, tidak sampai ke benefit. - Informasi hasil pelaksanaan program tidak disampaikan ke masyarakat, disampaikan hanya pada saat Musrenbang - Evaluasi terhadap dampak program penting untuk dilakukan, agar program bisa dilihat apakah efektif atau tidak. Hasil diskusi pasal per pasal BAB IX: PENGENDALIAN DAN EVALUASI PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH Pengendalian Pasal Masukan 64 Pass, point pentingnya adalah pengendalian dan evaluasi untuk menjamin proses akuntabilitas pelaksanaan
IDEA – Bappeda Kabupaten Gunungkidul Page 23

65 ayat 1

65 ayat 2

Pasal 65 ayat 3,4,5 Pasal 66 ayat 1 Pasal 66 ayat 2

perencanaan pembangunan daerah Dalam pasal ini jelas mengamatkan bahwa pengendalian untuk keseluruhan perencanaan harus dilakukan antara Bappeda bersama dengan Kepala SKPD Detail mekanisme pengendalian oleh Bappeda dan Kepala SKPD diatur lebih lanjut dalam Perbubform-form untuk pengendalian, selama ini sudah ada laporan keuangan bulanan dan tahunan dari SKPD Pass, berdasarkan ayat sebelumnya Kata walikota dihapus Perlu penjelasan pasal , ayat 2 point C, yang dimaksud dgn hasil rencana pembangunan daerah, apakah hasil dari kegiatan yg sdh dilaksanakan, perlu indikator yang jelas, apakah juga sampai mengukur dampak program, karena asumsinya hasil hanya untuk melihat output jangka pendek Yang dimaksud capaian kinerja, perlu penjelasan pasal Evaluasi terhadap rencana pembangunan daerah apakah untuk rencana 5 tahunan, atau satu tahunan Penyampaikan informasi mengenai hasil evaluasi pelaksanaan perencanaan pembangunan daerah kepada masyarakat melalui apa saja,mis:media massaperlu penjelasan pasal Perlu penjelasan ayat , bagian b, apa yang dimaksud dengan terjadi perubahan mendasar, dan point c merugikan kepentingan nasional Prosedur melaporkan dari masyarakat, perlu penjelasan ayat, mis:mekanisme sms,dll Mekanisme pengaturan lebih lanjut diatur dlm Juklak Juknis Pengendalian dan evaluasi pelaksanaan rencana pembangunan desa tidak hanya dilakukan oleh perangkat desa, tapi bersama-sama dengan lembaga desa dan kelembagaan kemasyarakatan yang ada didesa, missal BPD, LPMD, perwakilan kelompok perempuan Hasil evaluasi perencanaan desa bisa menjadi masukan evaluasi perencanaan di daerah, mekanismenya bisa diatur lbh lanjut dlm perbub

Pasal 67 ayat 1 Pasal 67 ayat 3 Pasal 68

Pasal 69 ayat 1 Pasal 71 ayat 1 Pasal 71 ayat 4 Pasal 72

Pilihan tetap di tangan anda, kepuasan anda tergantung pada seberapa yakin anda memilih. walaupun nantinya pilihan anda kurang tepat, apabila ada keyakinan

IDEA – Bappeda Kabupaten Gunungkidul

Page 24

dalam pilihan anda, tentu barang yg kurang tepat itu akan menjadi sangat tepat di mata anda.

==========================================DISKUSI KELOMPOK SELESAI=================== Zaki Assalamualaikum wr.wb., selamat siang bapak ibu sekalian, alhamdulillah kita sudah berhasil menyelesaikan dua babak proses pembahasan Perda perencanaan penganggaran, yang harapannya tidak berhenti sampai disini. Masukan yang sangat berharga sudah bapak ibu sumbangkan. Beberapa catatan sudah menjadi milik tim perumus untuk penyempurnaan Ranperda agar lebih lengkap. Kami sangat senang tadi sudah ada 3 anggota dewan yang hadir dan memberikan lampu hijau untuk Ranperda ini tetap dilanjutkan dan akan dibahas bersama di dewan. Termasuk catatan yang sudah diberikan oleh kelompok ini juga akan dibahas lebih lanjut. Tadi sudah dibuka oleh Bappeda yang punya gawe. Nanti Pak Irawan akan memberikan poin terakhir. Pleno kali ini hanya akan menjadi penutupan saja. Rumusan dari tiap-tiap kelompok akan sama-sama digodok oleh di tim pengurus. Sekali lagi, proses ini menjadi bagian dari kecintaan kami untuk perbaikan proses perencanaan dan penganggaran di Gunungkidul, sehingga usulan-usulan dari desa sampai ke kabupaten, hingga ke penganggaran menjadi klop dan tidak kemanamana. Silahkan Pak Irawan. Irawan Terimakasih Mbak Zaki. Saya yakin ada banyak masukan untuk penyempurnaan ini, memang di awal dalam menyusun rancangan Perda ini tidak seperti cek kosong, sejak awal kita siapkan draft agar pembahasannya lebih fokus, makanya draft itu belum sempurna. Bisa dibayangkan, seandainya kita diskusi namun tidak ada materi untuk dibahas maka tidak fokus. Seperti diskusi di awal tadi kan seperti Musrenbang ya, padahal maksud kami memberi masukan-masukan kepada draft ini. Mengenai usulan apa dan bagaiman ada forumnya sendiri sebentar lagi, ada Musrenbang Kecamatan. Kemudian nanti ada tim kecil yang akan menyempurnakan draft dan hasil tim kecil juga akan kita bahas kembali. Tadi kita sudah mendapat umpan balik, kita informasikan kembali dan mudah-mudahan yang diundang juga sama. Tolong yang diluar SKPD yang diundang sama agar nyambung dengan pembahasan hari ini. Selanjutnya kami mengucapkan terimakasih atas perhatian bapak ibu, mudahmudahan buah pemikiran bapak ibu ini dapat memperbaiki sistem perencanaan penganggaran di Gunungkidul. Kepada IDEA kami mengucapkan terimakasih atas fasilitasi kegiatan ini, nanti kita akan bertemu lagi dalam tim kecil antara Bappeda, IDEA, dengan beberapa SKPD dan akan kita paparkan sekali lagi dengan peserta yang sama. Selanjutnya nanti kalau suatu saat kita butuhkan kehadirannya, kami mohon berkenan menghadiri dan melihat hasil tim kecil nanti. Terimakasih, wassalamualaikum wr.wb. Zaki

IDEA – Bappeda Kabupaten Gunungkidul

Page 25

Bapak ibu sekalian, masukan masih sangat kami perlukan, masukan tertulis bisa disampaikan kepada Bappeda atau ke IDEA, mungkin bisa lewat email untuk ke IDEA, ke idea@ideajogja.or.id. Bapak ibu dari kecamatan, kalau ada masukan tertulis bisa terus disampaikan. Kurang lebihnya kami mohon maaf. Terakhir untuk penyelesaian administrasi kami harap bapak ibu bisa menemui teman kami di luar. IDEA sebagai penyelenggara acara ini mohon maaf apabila ada kekurangan. Terimakasih dan tepuk tangan untuk kita bersama. *****

IDEA – Bappeda Kabupaten Gunungkidul

Page 26

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->