P. 1
Rekam Proses Workshop Memerangi Kemiskinan Memenuhi Kebutuhan Dasar

Rekam Proses Workshop Memerangi Kemiskinan Memenuhi Kebutuhan Dasar

|Views: 260|Likes:
Published by ideajogja

More info:

Published by: ideajogja on Jul 24, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/25/2012

pdf

text

original

NOTULENSI WORKSHOP MEMERANGI KEMISKINAN MEMENUHI KEBUTUHAN DASAR; Untuk Memberikan Masukan RPJMD Kabupaten Gunung Kidul 2010

– 2015

Hotel Saphir, 2 Juni 2010
IDEA – FPPM – PRAKARSA - FORDFOUNDATION

SESI I

(Sesi pertama dimulai pada pukul 09.00 WIB di buka oleh Mas Adjie dari IDEA) Mas Adjie Assalamualaikum warrohmatullohi wabarokatu, salam sejahtera bagi kita semua, yang terhormat Bapak Drs. Joko Sasono beserta teman-teman dari Gunung Kidul, dari ekskutif, legislatif, teman-teman dari SANGGAR (Sinau Ngerti Anggaran), Jaringan CBO di delapan belas kabupaten, kemudian ada teman-teman dari PRAKARSA, FPPM serta teman-teman dari IDEA. Sungguh menjadi kebahagiaan bagi kita semua dan ini luar biasa kesempatan yang kita dapat di pagi hari ini kita bisa bertemu untuk sekali lagi menjadi rangkaian kegiatan kita untuk mendiskusikan tentang masadepan Gunung Kidul. Pagi hari ini kita bertemu dalam workshop “Memerangi Kemiskinan, Memenuhi Kebutuhan Dasar Untuk Memberikan Masukan RPJMD Kabupaten Gunung Kidul 2010-2015”. Semoga dapat menjadi semangat kita dalam mendiskusikan banyak hal yang menjadi agenda kita hari ini. Nanti ada dari perwakilan Bappeda yang akan menyampaikan paparan terkait rancangan RPJMD 2010-2015, kemudian ada Mbak Zaki dari IDEA yang akan memaparkan hasil dari IDEA, kemudian ada teman-teman dari PRAKARSA, FPPM, dan teman-teman dari IRE. Setiap dari kita saya undang untuk terlibat berdiskusi untuk masadepan Gunung Kidul yang kita cintai, luar biasa kesempatan yang kita dapat di pagi hari ini. Namun sebelumnya sebagai ucapan rasa syukur sekaligus mohon berkah dari yang memiliki kita semua, yang memiliki kehidupan, kita sebaiknya berdoa sejenak, meluangkan waktu sejenak semoga diskusi kita hari ini bisa berjalan sesuai dengan yang kita harapkan, (berdoa mulai). Baik workshop pada pagi hari ini juga dihadiri Pak Sekda sekaligus kami mohon sambutan sekaligus pembukaan secara resmi, silahkan. Joko Sasono (Sekda Kabupaten Gunung Kidul) Terima kasih bapak ibu sekalian dan teman-teman yang saya hormati. Assalamualaikum warohmatullohi wabarokatu, selamat pagi salam sejahtera bagi kita semua, pertama-tama marilah kita panjatkan puji dan syukur kehadirat Allah Subhana Wata’ala atas ridho dan perkenaannya sehingga pada kesempatan pagi hari ini kita masih diberikan kesempatan, kenikmatan dalam bentuk apapun. Masih alhamdulilah kita bisa bertemu, insyaallah pertemuan ini berjalan baik, lancar dan memberikan pencerahan kepada kita dan akhirnya memberikan manfaat dalam masyarakat khususnya di Gunung Kidul, khususnya lagi adalah masyarakat miskin. Selanjutnya saya mengucapkan terima kasih kepada IDEA yang telah memprakarsai pertemuan ini. Bapak ibu dan saudara-saudara sekalian yang saya hormati, saya merasa senang dan menyambut baik acara ini, mengapa? karena saat ini kami sedang mempersiapkan berbagai hal. Pertama kami sedang mereview sistem perencanaan yang selama ini kami laksanakan di kabupaten. Kami menggunakan istilah review dan itu merupakan hasil awal dari kajian atau evaluasi yang kita lakukan, dan kemarin pada hari senin sudah kami picu dengan menyampaikannya di forum semiloka di kabupaten dan saya sendiri yang menyampaikan tentang review itu. Substansinya adalah kita bicara perencanaan itu bagaimana melahirkan suatu dokumen perencanaan dan bicara perencanaan tidak bisa bersifat sparsial sehingga secara vertikal ada benang

merah yang berkaitan meskipun tetap memperhatikan kondisi, potensi dan kecenderungan-kecenderungan yang ada disuatu wilayah. Nah stressing kami kemarin itu lebih pada bagaimana keselarasan perencanaan ditingkat desa dan kabupaten, secara fakta meski kita mengakui bersama bahwa muara dari berbagai kebijakan itu akhirnya kecenderungannya adalah ke tingkat desa. Dan kalau kita lihat sisi perencanaannya selama ini kita memadukan dari atas kebawah dan dari bawah ke atas, tetapi kalau kita ada kesepahaman meskipun sebagian dominan yang mana? saya kecenderungan lebih dominan dari atas kebawah, bicara basic ditingkat desa secara sistem sebenarnya sudah dimulai bagaimana desa menyusun rencana pembangunan jangka menengah. Tetapi secara lingkup substansi dan kedalamannya sudahkan sebagaimana yang diharapkan. Dari situ kalau kita cocokkan dengan kabupaten, dari kapupaten punya RKPD dan desa juga mestinya punya RKP desa sudahkah? Maka kita membawa dari sisi pola itu ada kesamaan, berarti kita juga harus membangun di kabupaten dulu. Saya berpendapat bahwa RPJM kabupaten yang itu merupakan penjabaran dari RPJP durasi 20 tahun itu memberikan inspirasi, memberikan input kepada desa dalam rangka menyusun rencana pembangunan desanya sesusi dengan kondisi karena antar desa kan ada perbedaan. Mengapa demikian? Karena nanti akan ketemu pada suatu titik menurut saya kalau kita konsisiten pada sistem yang sekarang dilaksanakan yaitu di musren. Menurut saya hanya bicara kabupaten saja termasuk memerangi kemiskinan itu tidak bisa. Nanti di musren ini ada dus des cam, dan kita sudah memulai untuk kabupaten integrasi antara perencanaan reguler dan PNPM. Reguler dan PNPM itu sebenarnya hanya pola terbalik dilihat dari penyedian dana, kalau PNPM dananya ada dulu, pagunya perkecamatan, dia dari dus des di tigkat kecamatan, itu yang terjadi sehingga jatuh bangun membuat usulan dan sebaginya uangnya kelihatan sehingga proses perencanaan PNPM itu masyarakat lebih responsif karena uangnya kelihatan. Tetapi kalau reguler sebaliknya karena kemampuan keuangan akhir nanti berapa ini masih dalam proses perencanaan meskipun estimasi sudah ada. Tetapi permasalahannya bukan pola terbaliknya dalam memproses musyawarah usulan dari desa ke atas itu pijakan yang dipakai itu sudah ada atau belum. Soalnya kalau tidak nanti hanya sesuatu yang muncul sesaat, dominasi akan terjadi oleh suatu pihak yang kuat, yang menang, yang mampu berargumentasi dan sebaginya karena prinsip kompetisi. Tetapi premnya itu tidak jelas mana yang akan dicapai, targetnya tidak jelas, makanya RPJM ini akan memberikan inspirasi dlam menyusun RPJM Des dan juga RKPD. Dan menurut saya selama ini kalau kita bicara desa itu belum cukup mempunyai gambaran, dalam lima tahun itu mau kemana? Mau apa yang kita capai? Dan tahunnya apa? Itu belum, padahal desa adalah merupakan basis berbagai program masuk disini. Sehingga bisa dikatakan istilah saya orang wonosari “desa bisa hanyut” dari hal-hal yang memang muncul dari atas sehingga jati diri desa tidak begitu nampak dan terbangun, kalau bicara posisi tawar dia lemah. ini sehingga dengan kita begitu dalam musren ditingkat kecamatanpun saya sudah sampaikan kepada teman-teman untuk dikaji lebih jauh. Kabupaten itu perannya bukan mendominir dari musyawarah itu di kecamatan, kita itu hanya sebagai narasumber dan memberikan fasilitasi bagaimana terjadi sinkronisasi. Ini yang sudah kita lakukan dan kemarin dicoba tahun pertama 2010

ini ntuk mengantarkan 2011, tetapi hasilnya bagaimana ini masih terus kita kaji. Oleh karena itu saya sangat berharap workshop ini hanya sebagai awal saja, ini tadi tentang masalah perencanaan ditingkat desa. Kemudian kita masuk ke kabupaten, kita Gunung Kidul khususnya RPJM kita berakhir 2010. Oleh karena itu kami dan teman-teman sudah sampaikan APBD kita 2010 inikan tahun terakhir RPJM 205-2010, dan Bappeda juga dan sudah kita minta melakukan evalusi atas capaian kinerja RPJM. Ada seseuatu yang hilang, ada sesuatu yang tidak tercover dalam proses perancanaan karena komitmen dan konsistensi dengan keluaran dari evaluasi yang masih terus berjalan ini ada hal-hal yang ada di RPJM tetapi kurang memperoleh perhatian, kurang memperoleh alokasi program dan anggaran dan bahkan dimungkinkan kalau terjadi sesuatu itu kalau di kaitkan dengan target-target RPJM tidak maching, sehingga ini ada apa?. Dari sini kami menyampaikan ke teman-teman untuk dibahas lagi, RPJM kan merupakan jabaran dari RPJP, RPJP kita adalah 2005-2025, dengan demikian tahapan RPJP tahap I sudah dilaksanakan melalui Perda I 2006 RPJMD 2005-2010. Nah dengan demikian sebenarnya evaluasi RPJM 2005-2010 itu sudah sekaligus mengevaluasi RPJP meskipun lahirnya demikian. Dalam proses penyusunan RPJP kemarin mestinya juga mempertimbangkan materi substansi RPJM 2005-2010. Maka disadari atau tidak khususnya teman-teman kami di pemerintah daerah Gunung Kidul, kita itu sudah melaksanakan RPJP tahap I dan ini tahun terkhir. Kalau ini belum sadar ya mari kita sadarkan, kalau kita bicara RPJP dengan tahapan lima tahun empat tahap, saya menggunakan istilah ada prinsip sisa atau residu. Karena kan disitu nanti pada RPJM saya sudah sampaikan keteman-teman kita harus breakdown dari visi misi, strategi, program, giat dan sebagainya itu tidak totalitas lima tahun tetapi kita breakdown pertahun dalam RPJM. Contoh bicara workshop kemiskinan, angka kemiskinan kita dalam arti RTM hasil BPS data 2008 kalau tidak salah komposisinya 9, 17, 25. Sembilan sekian persen, tujuh belas sekian persen dan dua apuluh lima sekian persen. Sangat miskin, Miskin dan Hampir miskin, dan tahun 2009 turun dari 95 sekian menjadi 84 sekian ribu KK. Kalau begitu untuk breakdown pertahun kita itu akan menurunkan berapa? Karena mesti ada mapingya, ada namenya dan ada adressnya. Kalau makro saya tidak begitu bisa melihat untuk intervensinya, tetapi kalau mikro name, adrres versi BPS itu sebarannya dimana kan sudah jelas. Umpamanya demikian maka tahun pertama kita itu mau menurunkan berapa persen dari data base yang sudak di pathok dulu. Kalau menggunakan data base berarti data terakhir, katakanlah 2009, tahun 2011 karena RPJM kita kan akan dimulai 2011 untuk pelaksanaanya itu apakah kita total saja? RTM kita turunkan capai turun 5%, ini hanya pengandaian. Tetapi 5% ada pertanyaan 5% itu yang H yang M atau yang S? karena akan beda skema dan intervensinya, dan prosentasenya itu harus ketemu nominalnya karena nominal akan di cros dengan name dan adressnya. Oleh karena itu ini ada kaitannya dengan penjabaran, dikaitkan dengan pengukuran RPJM tahap I ini ada hal-hal yang bias ada yang tidak jelas, ini mesti jelas. Ini kita belum sampai dengan menggunakan cara apa ini belum, apakah kita akan menggunakan teori menebar jala? Lepas saja dapat tidak dapat tidak tahu, jadi kalau dapat itu hanya secara kebetulan, kalau boleh saya berpendaapat mari kita rumuskan supaya tidak secara kebetulan. Sesuatu kalau sudah ada positifnya dikatakan “menemukan” itu juga sakit, oleh karena itu dibandingkan dengan hasil RPJM yang tadi dengan yang saya sampaikan tadi insyaallah nanti lebih jelas.

Nah terkait dengan istilah saya sisa atau residu tadi kalau 5% tahun pertama tidak tercapai itu akan terakumulasi tahun kedua atau tidak karena dalam lima tahun asumsi dan itu pengandaian 5% itu berarti target kita 5 tahun adalah 25% berarti totalnya pada RPJM tahun ke lima kalau tidak mencapai 25 % berarti kan tidak tercapai? Itulah yang saya melahirkan istilah residu, karena evalusi itu tidak parsial tahunan tetapi disamping tahunan juga total dalam kurun waktu tahapan. Ini menjadi berat memang tanggungjawabnya pemerintah tetapi kita harus mencari suatu alternatif dan format. Nah ini biar teman-teman kami nanti ada masukan - masukan dari unsur-unsur lain baik dari IDEA, IRE, dari FPPM dan sebaginya karena kita juga sudah ada nota kesepahaman antara TKPKM dan D dan unsur-unsurnya itu. Maka sebelumnya pertemuan inikan pertemuan keluarga bersama, mari kita sikapi bersama. Oleh karena itu bapak ibu dan saudarasaudara sekalian kembali ke masalah kemiskinan kita harus ada kesepakatan dan kesepahaman dulu. Masyarakat miskin itu yang mana? ini saya memberi informasi kaitannya dengan data rumah tangga miskin kebijakan pusat yang saya tahu, dia tetap konsisten menggunakan data BPS. Ada contoh suatu kabupaten melakukan verifikasi dan dia melakukan modifikasi tentang indikator, akhirnya data yang dilahirkan berbeda dengan data basenya BPS, katakanlah lebih besar dari data BPS. Secara dampak daerah lebih beruntung karena ada alokasi-alokasi program dan anggaran, tetapi pusat tidak mau, “ya kalau kamu memiliki data lebih besar ya tanggung sendiri, data saya data dari BPS”. Maka ditegaskan semua kembali ke data BPS, oleh karena itu bicara kemiskinan ini harus disepakati dulu kalau saya. Kemiskinan itu yang mana, katakanlah BPS, terus ada S, ada M, ada H, (sangat, miskin, hampir) dan ada addressnya ada namenya, ini disepakati dulu baru kita merumuskan target-target itu dan cara-cara untuk mencapainya. Lha ini perlu ada komitmen dan kesepakatan antara instansi supaya itu tidak menebar jala. Pertanyaannya misalnya ini ada Perindagkoptam, Mbak Siwi contoh sebagai mewakili Perindagkoptam itu kira-kira untuk menurunkan ini itu programnya apa? dimungkinkan satu kelompok masyarakat itu beberapa instansi masuk, karena kalau kita bicara rumah tangga miskin bicara indikator baik masalah ekonomi, infrastruktur dan sebagainya dan juga aset yang dia miliki yang bernilai. Kalau bicara makan, bicara sandang dan sebaginya itukan bicara masalah pendapaatan ya, nah ini kira-kira siapa berbuat apa? Ini baru SKPD belum unsur yang lain, karena bicara RPJM dan sebagainya itu kan bukan hanya domainnya pemerintah kabupaten saja. Tetapi juga masyarakat melaksanakan, swasta, lokal, nasional dan sebaginya, propinsi dan juga pusat. Apa yang saya sampaikan masih fokus pada kabupaten, belum bicara bagaimana peran pihak lain, tetapi menurut saya dengan format yang kita rumuskan ini insyaallah kita akan diberi kemudahan karena alirannya lebih jelas, berarti nanti fungsi-fungsi koordinasi insyaallah lebih baik, oleh karena itu supaya tidak menabar jala maka siapa berbuat apa? Tetapi apa yang dilakukan itu dalam rangka mengintervensi 14 variabel atau indikator. Kembali tadi katakan juga kalau kita sepakat BPS berartikan kita harus menyikapi apa yang menyebabkan masyarakat itu miskin, miskinya karena pendapatan kurang dari delapan ratus ribu sebulan umpamanya, ada yang infrasturktur, rumahnya aja tidak sehat karena untuk makan saja sulit. Ada rumah sehat, program dari Dinas Kimpraswil untuk memberikan bantuan, tetapi inikan hanya

bantuan dari kependudukan sosial, akhirnya dia tetap susah untuk bisa beranjak, tetapi mungkin nanti gradenya bisa turun, karena kalau tidak salah dari empat belas itu berapa pak yang dikatakan miskin? 14 semua pak BPS? 9? Kalau yang miskin berapa? Ow semua sangat miskin. Lha ini kita mau kemana masuknya dulu? Sehingga umpamanya data itu sama itu ada perubahan tingkatan dengan pola tahapan, bapak ibu sekalian dan teman-teman dari SKPD bicara siapa berbuat apa itu juga tidak merupakan sesuatu yang gampang. Karena kondisi rumah tangga itu sendiri secara individual bisa tidak didorong, berarti kitakan perlu ada identifikasi by namenya. Pengalaman sudah banyak kita peroleh, apapun kondisinya, apapun resikonya kita beri modal, ya habis uangnya. Karena memang meraka tidak memiliki kemampuan karena setiap hari hanya ke ladang, buruh dan sebaginya disuruh membuat tempe dengan diberi modal, membuat tempe pun tidak akan bagus kualitasnya meskipun di dampingi. Kalau tadi saya bicara tahapan perencanaan ini siapa berbuat apa ini yang juga tidak kalah sulitnya untuk merumuskan karena nanti akan sampai pada programnya apa? kegiatannya apa? lokasinya mana? Sasarannya siapa? Serta memerlukan volume dan anggrannya berapa?. Misalnya dari Dinas Tanaman Pangan membantu bibit atau benih, dengan mekanisme kelompok tani padahal yang miskin kebanyakan tidak memiliki tanah, atau hanya memiliki sedikit tanah. Berarti itu tidak akan menyasaar kepada orang yang miskin karena posisinya lebih banyak sebagai buruh tani, atau petani dengan pemilikan lahan yang sangat sedikit. Sehingga bantuan benih itu sasarannya lebih banyak pada orang yang pada posisi menengah, berarti kalau itu dikaitkan dengan bagaimana menanggulangi kemiskinan kan banyak menikungnya. Tetapi itu harus dirumuskan, sebab untuk mencapai angka yang 5% kumulatif 25 itu memang harus itu kalau kita sepakat dan sepaham dengan data yang kita pakai. Ya kalau nanti ada jala yang kita sebar itu mungkin nanti akan menopang. Contoh PNPM, PNPM itu umpamanya pembangunan infrastruktur, akhirnya akan terbuka isolasi dan terjadi peningkatan aksesibilitas. Siapa yang akan mengakses? Meraka yang berkemampuan mengakses, tetapi kalau dikaitkan dengan pendapatan masayarakat termasuk segmen miskin dia mendapatakan pendapatan yang sesaat, setelah selesai selsai dia. Jalan usaha tani katakaanlaah, ini yang programnya pertanian yang semula akan susah untuk distribusi, faktor produksi maupun hasil tetapi dengan dibuat jalan usaha tani dia bisa menekan sebagian biaya, yang mendapat siapa? Kan yang memiliki lahan? ini gambaran-gambaran, saya berbicara ini dari sisi apa yang ada dan apa yang dilakukan oleh karena itu masukan-masukan sangat kami harapkan, dan teman-teman kami dorong ini hanya satu kemiskinan saja terus yang lain nanti hanya seperti juga pak, oleh karena itu saya sangat mengharapkan fasilitas ini bisa diteruskan dalam bentuk apapun nanti bisa dikomunikasikan, kalau memungkinkan tetapi yang jelas niatny baik. Bapak ibu sekalian pendidikan misalnya, ada BOS akhirnya kan bisa meringankan mereka untuk bersekolah, biaya sekolah bisa ditekan karena ada bantuan. Meskipun pusat menegaskan gratis, kecuali RSBI dan sebaginya, kalau begitu anak orang miskin kalau dia bisa lulus SMK, dia kerja. Ini insyaallah bisa menurunkan jumlah karena kalau bisa itu orangtuanya miskin anaknya tidak harus miskin, selama dia sudah lulus. Tetapi kalau masih dalam tanggungan

kecenderungannya tetap akan diperhitungkan dia termasuk keluarga miskin. ini yang perlu dilakukan sehingga pola ini menekan untuk mengur angi beban, tetapi itu dilakukan oleh pihak luar sehingga kalau intervensi luar hilang dia akan kembali miskin. Ini juga bagaimana menyiapkan generasi berikutnya ini menjadi penting, kalau kita lihat maunya bantuan, perlindungan sosial, pemberdayaan masyarakat, pemberdayaan mikro usaha kecil, inikan tataran-tataraan, misalnya A tahunya hanya buruh tani kalau langsung di tembak grade tiga (Pemberdayaan UMK) itu tidak mungkin karena dia tidak mempunyai skill apapun. Makanya kembali yang saya katakan, identifikasi menjadi penting karena akan menggambarkan kondisi riil dari pihak yang akan kita sasar. Nah database yang ada di BPS itu memang ada namenya ada addressnya, dan dia memang ada S nya berapa dan dimana, ada M nya, dan ada H nya. Kalau begitu kita harus mengelompokkan, ini yang perlu kita pikirkan bersama. Bapak ibu sekalian bicara RPJM ketentuannya kalau tidak salahkan tiga bulan setelah dilantik, pelantikan ini dilakukan insyaalah pada tanggal 28 Juli. Berarti dikaitkan dengan hari ini itu kurang dari lima bulan, oleh karena itu teman-teman saya segera minta koordinasi dengan dewan karena visi misi ini nanti disampaikan oleh pasangan calon di depan Rapat Paripurna Istimewa, sehingga yang punya dokumen itu secara prosedur ketantuan di dewan dan itu segera dipakai untuk mempersiapkan tahap demi tahap draff RPJMnya. Karena disini juga masih ada beberapa pendapat lebih dari satu, kalau RPJP ini Perda, RPJM apa ya Perda? Aturannya memang ada yang mengarah ke Perda ada yang Perbub, tetapi kalau didlihat dari sisi mana mebangun komitmen bersama saya memang cenderung Perda. Kalau begitu kita harus melihat sisi proses dan tahapan, berarti kan agustus sudah harus dikirim, kalau begitu kita waktunya tinggal 3 bulan, dan yang kita bicarakan hari ini baru satu saja tentang kemiskinan yang kompleksitasnya menurut saya bebrapa titik sudah saya sampaikan tadi dan nanti di padu dari bapak-bapak dan ibu-ibu kirakira kita bagaimana kita mempertemukannya. Saya berpendapat dan berkecenderungan mesti lebih aplikatif, sebab kalau tidak begitu saya khawatir sesuatu yang sudah terjadi itu akan berulang ssehingga tidak ada kejelasan. Dan itu kan menyulitkan juga untuk mengukur karena mestinya itu ada ukurannya dan ada cara untuk mengukurnya. Jadi ada dua hal yang saya sampaikan pertama bagaimana masalah perencaan itu sendiri, dari desa dan kabupaten menjadi satu yang saling mengisi karena akhirnya dia akan berada pada satu titik muara. Yang kedua adalah kemiskinan, kita mesti membangun kesepahaman tentang pengertian kemiskinan dalam rumah tangga miskin itu, indikator-indikatorya dan juga kategori dari rumah tangga miskin itu sendiri. Targetnya mesti lebih jelas, terukur, ada alat ukur dan cara mengukurnya dan itu akan memberikan inspirasi intervensi program giat apa yang harus dilakukan dalam rangka intervensi itu. Alur pikir saya seperti itu semoga ada manfaatnya untuk forum ini dalam rangka mengembangkan diskusi lebih lanjut. Sekali lagi saya mengucapkan terima kasih atas nama pemerintah Kabupaten Gunung Kidul kepada IDEA dan juga berbagai pihak yang telah memberikan perhatian dan fasilitasi acara workshop ini termasuk permohonan kami kerjasama akan lebih baik kalau kita terus bangun, hal-hal yang sudah kita bangun kesepahamannya mari kita bangkitkan kembali supaya tidak berhenti saja pada penandatangan nota kesepahaman karena memang sering yang menjadi masalah krusial adalah pasca penandatangan. Oleh

karena itu sebelum kita masuk ke bagaimana ada share masing-masing pihak kita bangun dulu kesepahaman ini dalam pengertian tataran-tataran yang lebih teknis operasional. Kalau yang kita tanda tangani kan dalam tataran konseptual, oleh karena itu ini berbeda, konsep dulu baru tataran berikutnya. Tidak ada yang terlambat kalau kita memang ada kesepahaman dan kehendak bersama. Dengan demikian Workshop Memerangi Kemiskinan, Memenuhi Kebutuhan Dasar Untuk Memberikan Masukan RPJMD Kabupaten Gunung Kidul 2010-2015 kami nyatakan dibuka, insyaallah Tuhan selalu meridhoi kita bersama, demikian terima kasih atas perhatiannya, wassaalmualaikum warrohmatullohi wabaroaatu. Mas Adjie Saya ingin kembali menengok ke TOR yang kami bagikan setidaknya ada empat poin yang akan kita bahas sampai sore hari nanti semoga meningkatkan kesadaran kita seperti tadi dipesankan Pak Sekda. Kita nanti kan berangkat dari pemetaaan masalah yang nanti akan disampaikan dari hasil studi berbagai pihak ada teman-teman dari Bappeda, ibu dari DPRD juga bisa melengkapi serta dari SKPD yang ada kemudian inovasi yang selama ini dilakukan untuk memecahkan masalah yang ada dengan tadi banyak paoin yang sudah disampaikan pak Sekda begitu, sudah banyak inovasi. Kemudian kita akan melihat kapasitas sumberdaya yang dimiliki di Kabupaten Gunung Kidul sekaligus peluang dan tantangan kedepan begitu, titik yang terpenting adalah yang ditengah, ada kerentanan yakni kemiskinan dala RPJMD 2010-2015 nanti akan kita kaji bersama begitu dan harapannya sampai sore nanti setidaknya hal-hal yang bisa menjadi masukan dalam RPJMD Gunung kidul 2010-2015. Kemudian terkait dengan alokasi waktu kita nanti sampai setengah satu, nanti ada serangkaian paparan yang pertama menjadi keberuntungan buat kita karena bupati terpilih hari ini berhalangan hadir begitu tetapi tidak mengurangi keluarbiasaan dari forum ini. Nanti akan langsung disampaikan paparan dari Bappeda kemudian disusul teman-teman dari NGO, kemudian paparan dari DPRD dan pemetaan dari SKPD yang selama ini menjadi dasar perancanaan. Kemudian dari warga juga bisa menyampaikan kemudian setelah istirahat kita akan coba melihat peluang dan tantangan yang ada lima tahun kedepan metodenya adalah apa kalau bahasa jawanya “Saur manuk” begitu nanti saya akan bantu menuliskan poin-poinnya yang nanti ini kan menjadi kado buat teman-teman di Gunung Kidul melewati teman-teman Bappeda untuk menjadi masukan RPJMD Kabupaten Gunung kidul 2010-2015. Saya menusulkan ke teman-teman lebih baik di sesi yang pertama sebelum makan siang biar teman-teman memaparkan dulu tanggapannya nanti satu jam terakhir begitu sehingga tanggapan, usulan, kemudian kritisan itu bisa komprehensif ada review dari banyak paparan. Kalau begitu waktu kami berikan ke Pak Ir untuk menyampaikan paparan dari Bappeda atas RPJMD yang dirancang, silahkan. Irwanto Assalamualaikum warrohmatullohi wabarokatu, terima kasih sebenarnya workshop ini nanti lebih banyak akan melengkapi apa yang mungkin masih dalam kerangka saja, kebetulan IRE dan IDEA sudah banyak memotret kemiskinan di Gunung Kidul, nanti banyak referensi yang disampaikan. Kemudian tadi yang disampaikan Pak Sekda ini nanti akan banyak menjadi kebijakan sampai pada kegiatan di Gunung Kidul. Sebenarnya kami tetap berharap sejak awal ada

komunikasi dengan bupati terpilih dan wakil bupati terpilih. Ini pengalaman dimasa lalu ketika kami menyusun RPJM ini komunikasi tidak intens sehingga kami hanya mendapat empat lembar visi misi yang kami terjemahkan satu dokumen RPJM, komunikasi tidak intens, ketika ditetapkan menjadi perda keluarnya sudah lain. Visinya seperti ini misinya seperti ini sosialisasinya empat arah tujuh sasaran, itu di dalam RPJMD tidak ada. Baru awal penyampaian pemahaman tentang visi misi ini bermasalah sehingga turunannya nanti juga bermasalah mulai target dan sebagainya. Ini makanya sejak awal harus kita komunikasikan sehingga ketika nanti kepala pemerintah daerah bersama DRPD mengambil kebijakan ini sama-sama sepakat. Hari ini sebenarnya ada beberapa yang bisa kita tangkap, dari pendekatan politis ini visi misi kepala daerah terpilih, pendekatan teknokratis sebenarnya kami ini juga bersama IDEA dan IRE juga memotret kemiskinan. Kemudian pendekatan bottom up-top down ini kita juga memperhatikan perencanan dari pusat kemudian pendekatan partipasif nanti lebih banyak kita mengeksplor bersama masyarakat. Jadi pada Musrenbang, ada fasilitasi publik, ada uji pubik dan sebagainya sebelum menjadi Perda. Ini RPJP kita sudah ditetapkan ini lima tahun, dan kita sudah memasuki tahun kedua. Kemudian kerangka pikir pencapaian visi misi ini program pendanaan goal tadi, nah ini yang pendekatan politis kita ambil disini. Dan kami mendapat dari notulensi di DPRD, dari KPU kemudian kita mendownload Sampurnoputro.com. kita harus cepat karena nanti waktu juli pelantikan, dua bulan dan dua bulan harus melaksanakan musrenbang satu bulan berikutnya harus ditetapkan menjadi Perda bersama DPRD sehingga tahap awal harus kita mulai identifikasi. ini visinya “Mewujudkan Gunung Kidul yang lebih maju, makmur dan sejahtera”, saya kira tetap berangkat ke mainstrem pengurangan kemiskinan jadi forum ini sangat tepat sekalai nanti kita bisa masuk kedalam disitu. Kemudian misinya ini yang pertama memanfaatkan air bagi kemakmuran, ini rumusan yang dimaksud mungkin meningkatkan cakupan air bersih. Kemudian memanfaatkan atau meningkatkan sumber daya alam dan pelestarian lingkungan hidup, meningkatkan pengolahan pariwisata, meningkatkan kualitas sumber daya manusia, menciptakan iklim usaha yang kondusif, meningkatkan tata kelola pemerintahan yang baik good goverment dan meningkatkan peluan investasi. kemudian calon kepala daerah yang terpilih tadi ini memberikan tekanan kepada motto “Desa makmur, Gunung Kidul makmur”. Seperti tadi Pak Sekda sampaikaan kita juga harus mulai dari desa, semua nanti harus berangkat dari desa kemudian desa nanti bisa maching dengan kabupaten dan pemerintah di atasnya. Kalau RPJM yang lalu desa sebagai pusat pertumbuhan pembangunan saya kira sama, tetapi sayangnya konsep tersebut itu belum nampak, mudahmudahan nanti bisa kita rumuskan kegiatan yang kongkrit, jadi desa makmur Gunung Kidul makmur. Kemudian isu-isu strategi masalah good goverment, pengembangan prioritas utama ini infrastuktur ini masih perlu dioptimalkan. Pendidikan, kesehatan, kemudian pengembangan kualitas pendukung ini juga masih rendah. Terutama kalau yang bupati terpilih ini lebih banyak di pengembangan investasi agaknya. Kemudian kebijakan sebagai dasar prioritas program, ini meningkatkan kualitas birokrasi dan tata kelola, mengembangkan budaya sadar kepada hukum, mengoptimalkan pemanfaatkan air sebagai sumber kemakmuran, mempercepat infrastruktur jalan dan jembatan, mengembangkan

tanaman pangan, mengoptimalkan pemanfaatan petani perikanan dan mengembangkan potensi peternakan. Forum ini nanti akan banyak melengkapi disitu, mengoptimalkan fungsi hutan, meningkatkan akses kualitas pelayanan pubik, kesehatan, UMKM kemudian investasi dan pengembangaan daya tarik wisata dan destinasi wisata, penanggulangan kemiskinan, pemberdayaan perempuan dan penguasaan IPTEK. Ini turunan dari visi misi nanti dijabarkan menjadi strategi kebijakan, kemudian menjadi arah penyusunan RKPD setahunannya, hubungan dengan RPJMNAS sekarang isu pro poor, pro job dan justice for all ini harus diakomodir juga dalam RPJM daerah. Hasil kajian dari kita yang tadi disampaikan Pak Sekda ini ada beberapa titik kritis ketika kita menyusun dokumen perencanaan ini RPJM kita mengevaluasi RPJMD 2005-2010 tidak ada target tahunan, hanya kumulatif di akhir tahun, hanya kemiskinan di akhir tahun. Tahun 2010 berapa? Kemudian sepanjang jalan kondisi baik berapa? Ini target kumulatif akhir tahun, nah ini banyak kelemahannya karena tidak bisa sebagai bahan evalusi tahunan, penyadaran kita baik dari SKPD ini terhadap target-target itu rendah. Jadi pembangunan yang dilakukan ini karena tidak ada target tahunan ini asal jalan saja. 2011 kita perlu ketetapan RKPD tahun ini tetapi ini sampai tahun 2015 meskipun efektif tetap 5 tahun. Titik kritis yang kedua ini indikator-indikator, harus ada kejelasan indikator, umpama untuk penanggulangan kemiskinan tadi dari tiga kelompok penduduk miskin ini target pengurangannya seperti apa, kemudian indikatornya seperti apa. Kemudian titik kritis yang keempat tadi karena tidak ada target tahunan ini evaluasi kita ketika kita menyusun RKPD tahunan juga sulit sehingga SKPD cenderung hafalan dari tahun ke tahun ketika mengusulkan kegiatan sama terus. Harapan kita sebelum musrenbang ini kita harus punya data evaluasi RKPD tahun yang lalu, kemudian titik kritis yang ketiga ini di dalam Musrenbang forum SKPD ini harus ada kesinambungan antara Renja SKPD, kemudian hasil Musrenbang kecamatan dan desa. Sebenarnya inovasi kalau tadi Bapak Sekda menyampaikan bahwa perbedaan antara PNPM dengan Musrenbang kecamataan karena PNPM duitnya jelas, kemudian kita tidak jelas. Sebenarnya kita ada solusi disitu yang mulai kita coba sebenarnya ini Pagu Indikatif Kewilayahan Kecamatan, jadi ketika musrenbang kecamatan itu harus ada pagu indikatif kita ada yang dibicarakan disitu, jadi masyarakat juga realistis. Juga SKPD tentunya juga harus taat itu, tetapi tidak tahu kemana ini, rekomendasi kita berhenti dimana saya tidak tahu, yang jelas ketika saya menengok di ajudan Bupati lolos ACC, Pak Sekda lolos ACC, kebawah kan tidak tahu pagu indikatif kewilayahan. Ini harus ada antara katakan belanja langsung kita, belanja langsung kita 60% itu mulai pendekatan partisipatif bottom up dengan pagu indikatif wilayah kecamatan, yang 40% pendekatan teknokratisnya SKPD. Jadi SKPD harus memperhatikan, mendengar hasil Musrenbang Kecamatan dan evaluasi kita integrasi antara perencanaan musrenbang dengan PNPM beberapa sudah dilaksanakan namun beberapa kecamatan memang kurang efektif namun karena pemahaman dari fasilitator kecamatan untuk PNPM masih ego sektoral, masih memahamai ini MAD ku tetapi ada beberapa kecamatan yang sudah benar-benar integrasi. Kemudian titik kritis yang lain sebetulnya setelah menjadi RKPD ini harus benar-benar menyambung dengan KUA PPAS, jangan terputus, benar-benar menyambaung dengan RAPBD. Sebenarnya ada tool untuk membantu itu kita buat sistem informasi perencanaan

yang nanti disalin dengan Sistem Informasi Keuangan Derah, jadi umpama ada pengurangan kegiatan, pengurangan anggaran itu bisa dikontrol semua. ini yang membuat putus juga, sebaik apapun sampai nanti pada RKPD ketika kita tidak bisa menyambungkan dengan anggaran itu akan percuma. Ini sudah kita identifikasi problem-problem perencanaan, namun nanti sampai pada APBD ini harus kita benahi juga. Salah satunya dengan sistem, tetapi tentunya komitmen ya, selama ini komitmen perlu diingatkan kembali. Ini titik-titik kritis tadi ya, target komulatif ini dijabarkan dalam target tahunan, ini target indikator dan indikator ini kita akan mengacu pada PP 6 tetapi tetap ada target-target yang bersifat untuk kepentingan lokal tidak hanya PP 6 terus karena tidak semua bisa diakomodir melalui PP 6 ini. Kemudian target dalam RPJM nanti akan menjadi target dalam Renstra RKPD. Kemudian penyambungan RPJM dengan Renstra ini tidak hanya mulai rumusan kalimat, tetapi target RPJM kemudian dilaksanakan, di breakdown SKPD masing-masing. Kita 2012 karena ini berangkat masih di RKPD kita ini penataan mempersiapkan semua nanti melalui RPJM karena penetapan Oktober, mudah-mudahan penataan sekaligus sudah jalan semua. Penataan sebenarnya masih banyak yang harus dipersiapkan seperti evaluasi kelembagaan, kenapa kelembagaan kita tidak diarahkan kepada pencapaian visi jangka panjang daerah kita, contohnya seperti itu. Kita hanya menuruti PP 41 dan menuruti Undan-undang, perintah-perintah harus bentuk badan. Kalau memang cukup dengan kantor kenapa harus badan? Contohnya begitu. Di Gunung Kidul banyak lembaga atau bidang yang kerikan setiap hari karena mengganggur betul, Bagian Administrasi Sumber Daya Alam, kemudian di bidang lain itu banyak, nah kenapa kita tidak evaluasi kemudian yang benar-benar nanti semua bisa menggerakkan RPJP. Kenapa kita tidak berani melakukan evaluasi seperti Jembrana contohnya, Jembrana BPM cukup kantor, Badan Kesbanglinmas cukup kantor, kecamatan ada Seksi Pendidikan, ada seksi kesehatan karena visinya ke akses pelayanan pendidikan kesehatan. Kita harus berani seperti itu jangan pokoknya ada PP 41 undang-undang yang lain kita tampung kalau tidak begitu sulit mencari anggaran, tetapi beban pembengkakan anggaran itu besar sekali. Kemudian 2012 ini pengembangan peningkatan, jadi mudah-mudahan sampai tahun 2012, jadi roadmapnya jelas, targetnya jelas, mulai dari kemiskinan, pengembangan pariwisata, mulai dari pengembangan investasi di Gunung Kidul semua roadmapnya jelas, harapan kita seperti itu. Ini yang bisa kami sampaikan kami hanya memberikan referensi saja, saya kita IDEA, IRE lebih banyak memotret, FPPM, PRAKARSA ini pengalaman daerah lain silahkan kalau memang untuk kita pas. Kita memang ingin belajar dari sukses daerah daerah lain seperti Jembrana, Solo dan sebagainya, selama ini kita hanya dari regulasi saja tetapi tidak ada keberanian melakukan inovasi, terima kasih. Mas Adjie Terima kasih Pak Irawan, silahkan langsung kemudian waktu kepada Bu Zaki. Mbak Zaki Terima kasih, assalamualaikum warrohmatullohi wabarokatu, bahasan saya lebih kepada menuju RPJMD Kabupaten Gunung Kidul yang pro poor, ada dua alur pembahasan, dua kata kunci yang setidaknya bisa saya sampaikan nanti.

Pertama RPJMD sebagai satu dokumen strategis untuk mendorong kemiskinan menjadi satu mainstreem dalam perencanaan daerah diantara mainstreemmainstreem yang lain. Kalau mainstreem itu arus utama nanti ada arus-arus yang lain, jadi kemiskinan bukan menjadi arus yang utama. Arusnya menjadi banyak, ada pengurangan resiko bencana jadi mainstreem juga, Pak Sri saya kira nanti bisa lebih banyak untuk memberikan masukan tentang hal itu karena kalau kita baca untuk pengurangan resiko bencana masih agak kurang di dalam draff RPJM yang kemarin ada. Lalu ada mainstreem yang lain lagi, ada arus utama yang lain pengurangan resiko bencana, arus utama kemiskinan, MDGis, akan banyak hal yang kemudian masuk menjadi satu mazhab mana yang kemudian akan kita pakai dalam perencanaan ini. lalu kata kunci kedua yang akan kita bahas bersama adalah gambaran terkait dengan proverty reduction di Kabupaten Gunung Kidul, poin yang terakhir bahwa hari ini kita bukan sekedar menciptakan dokumen perencanaan tetapi lebih dari itu. Hari ini kita menciptakan satu dokumen yang merupakan pergumulan antara ilmu, tradisi, paradigma atau mazhab, partisipasi maupun kinerja lembaga sehingga proses-proses disini adalah pergumulan dari proses banyak pihak baik yang berada diluar Gunung Kidul maupun yang berada di dalam Gunung Kidul itu sendiri, baik yang bersifat politis, teknokratis maupun partisipatif dan top down bottom up. Nah latar belakangnya kurang lebih seperti ini bapak ibu sekalian. Upaya penanggulangan kemiskinan menjadi salah satu agenda publik nanti saya kira kita akan melihat baagaimana arus global juga yang sudah kita sepakati bersama dalam milenium development cost akan pentingnya mengurangi kemiskinan setidaknya ada delapan poin yang menjadi target MDGis, dan disana pengurangan kemisikinan menjadi salah salah satu dasar. Dalam konteks tersebut Kabupaten Gunung Kidul menjadi menarik untuk di kaji dan poin-poin yang saya paparkan ini menjadi salah satu kajian yang selama ini dilakukan oleh temanteman IDEA bersama dengan Bappeda dalam proses-proses perencanaan. Jadi menanggulangi kemiskinan melalui proses perencanaan, mungkin atau tidak sebenarnya itu dilakukan. Nah Gunung Kidul saya kira kita tahu semua dalam konteks ke Indonesiaan, dalam konteks DIY masih menjadi satu daerah miskin setidaknya dalam satu dasawarsa terakhir. Menjadi salah satu etalase yang penting untuk berbagai program penanggulangahn kemiskinan di pusat maupun propinsi untuk masuk ke Gunung Kidul, sehingga pengalamaannya menjadi menarik untuk kita pelajari bersama. Sudah banyak program penanggulangan kemiskinan tetapi kok kemiskinan nampaknya belum bergeser dari titik yang kita harapakan sama-sama dalam kurun lima tahun kemarin. Nah ini sebenarnya menterjemahkan tadi apa yang sudah disampaikan oleh Bapak Sekda, RPJM akan dipengaruhi oleh banyak hal, baik yang politis, teknokratis, top down- bottom up yang partisipatif juga menjadi bagian di dalamnya. Nah targetnya sebenarnya ini bapak ibu sekalian kami memahami bahwa kemiskinan yang ada merupakan kemisikinan yang terstruktural, artinya dengan struktur sebenarnya bisa masyarakat itu kemudian di gugah dan dibangkitkan dari proses-proses keterpurukan yang selama ini dihadapi. Karena bagaimanapun juga alokasi pendanaan itu teman-teman di birokratislah yang kemudian akan melakukan pengalokasian, akan kemana sebenarnya dana-dana yang selama ini di kelola. Nah dalam konteks negara yang memiliki struktur kekuasaan didalamnya maka

salah satu yang perlu ditempuh salah satu yang perlu ditempuh adalah bagaimana melakukan demokratisasi struktur, bahasa gampangnya adalah bagaimana melembagakan prosedur-prosedur yang sudah ada. Kalau tadi Pak Irawan mengusulkan bagaimana kemudian kelembagaan yang ada tidak sekedar berdasarkan PP 1 tetapi lebih dari itu, berdasarkan kebutuhan yang ada maka prosesnya kurang lebih dari sini. Proses demokratisasi struktur inilah yang setidaknya memang akan kita lakukan sama-sama, ini sekedar landasan teori tetapi prakteknya adalah bagaiamana pelembagaan prosedur itu mampu kita lakukan bersamaa-sama, tentu targetnya untuk pengurangan kemiskinan menuju kesejahteraan. Ini adalah hal-hal yang sudah sering kita harapkan bersama. Kita akan turun melihat bagaimana angka kemiskinan yang ada di Gunung Kidul, bagaimana angka penganggurannya, bagaimana angka pertumbuhan ekonomi dan inflasi yang terjadi di Gunung Kidul. Saya mengutip data BPS .

P ro se n tase ke miskin an d K ab u p ate n G u n u n g
28.04 ekonomi28.45 Gunung 28.04 ( Data BPS prosentase kemiskinan dan pertumbuhan Kabupaten Kidul). 25.54 25
Ini adalah gambaran sejak tahun 2004 sampai dengan 2008, angka kemiskinan sempat meninggi dan kemudian ,menurun. Tetapi sebanrnya sejak 2004-20008 tidak mengalami perubahan yang signifikan bahkan mengalami penurunan, padahal dari sisi bugjet sebenarnya mengalami peningkatan. Ini yang saya kita perlu kita bertanya pada setiap proses yang kita lakukan bersama-sama janganjangan ada proses yeng keliru terkait dengan proses yang kita lakukan. Dana pendapatan kecenderungan terus meningkat, tetapi angka penyelesaian kemiskinan justru pada tahun 2008 hanya sedikit bergeser, sebelumya 25,54 menjadi 25,27. Untuk yang biru angka inflasi memang sempat meningkat pada 2005 tetapi terjadi penurunan pada tahun 2008 dan ini berpengaruh terutama pada proses penurunan kemiskinan di Gunung Kidul. Pertumbuhan ekonomi naik, lalu penganggurannya juga naik di tahun 2006 paska inflasi. Ini yang terjadi di Gunung Kidul dan saya kira menjadi refleksi kita bersama dengan adanya pendapatan yang sebenarnya terus menerus meningkat tetapi dari tahun awal ini tahun 2006-2010 tetapi ini datanya 2004-2008. Nah tahun 2008 sebenarnya

30

20 15 10 5

15.4

8.12 3.43 3

9.68 3.82 2.9

4.33

7.86 3.91 2.88

sudah relative naik dananya, tetapi kemiskinannya sejak tahun 2004-2006 tidak jauh berbeda, bahkan tahun 2004 pendapatan Gunung Kidul relatif berada di bawah angka ini. Ini yang menjadi konsentrasi kita semua kemana sebenarnya nanti kapasitas anggaran ini nanti akan mencoba diolah bersama-sama untuk mencapai prosentase angka kemiskinan yang bisa mengalamai penurunan yang relatif besar. Dari draff RPJMD yang saya perolah, nampaknya masih akan terus seperti ini, belanja daerahnya, belanja tidak langsung dan belanja pegawai, belanja pegawainya masih relatif tinggi ini yang menjadi persoalan yang memang harus diselesaikan. Belanja langsungnya jauh sekali di bawah belanja pegawai, sekali lagi ini adalah PR kita bersama, selalu pemerintah pusat meminta ada kenaikan gaji dan jumlah pegawai tetapi justru dengan proses-proses seperti itu ada gap yang sangat tinggi dari alokasi dana yang di kucurkan, bahkan proyeksi sampai 2015 masih seperti ini. Dewan saya kira punya tugas yang besar juga, reformasi birokrasi yang ada sekarang mau diawasi seperti apa dan kenyataanya seperti ini, ini proyeksi di RPJM kita. Belanja pegawai masih berada pada titik yang memuncak, seiring dengan inflasi. Yang di bawah ini adalah belanja bantuan, belanja bantuan keuangan pemerintah desa nampaknya akan naik relatif tinggi, tapi belanja-belanja yang lain tidak begitu banyak kenaikan, belanja bagi hasilnya itu relatif stagnan, belanja bagi hasil ke pemerintah desa. Kalau belanja bantuan keuangan mencoba ditinggikan untuk mempercayakan lebih tinggi lagi kepada pemerintah desa untuk mengelola ADDnya, alokasi dana desa akan lebih naiknaik terus 2015. Ini arah proyeksi yang sekedar melangkapi apa yang sudah disampaikan oleh Pak Irawan. Kapasitas keuangan daerah nanti akan ditujukan ke poin-poin ini, nah kalau kita melihat pada persoalan kemiskinan kita melihat kapasitas anggaran yang dimiliki Pemerintah Gunung Kidul. Kita melihat juga bagaimana fokus nasional penanggulangan kemiskinan. Fokus nasional tampaknya masih akan berada pada tiga hal ini, bantuan dan perlindungan sosial, pemberdayaan masyarakat, pemberdayaan usaha mikro dan kecil ini akan masih dilakukan oleh kebijakan nasional kita sampai tahun 2015 kecuali BLT akan banyak ditinjau ulang. Sedangkan fokus Kabupaten Gunung Kidul untuk penanggulangan kemiskinan berdasarkan dokumen yang dimiliki oleh TKPKD untuk strategi penanggulangan klemiskinan ada empat poin yang akan dilakukan, apakah poin-poin ini akan masih menjadi strategi yang masuk lima tahun yang akan datang. Ini saya kira pada kesempatan ini harus di jelaskan oleh teman-teman yang setidaknya memiliki dokumen ini, Strategi Penanggulangan Kemiskinan yang setidaknya selama ini mengawal dokumen ini, perluasan kesempatan, pemberdayaan masyarakat, peningkatan kapsitas perlindungan sosial. Nah kalau memang ini masih akan masuk dalan RPJM 2015 seberapa jauh ini akan bias di akomodasi dalam RPJM. Kemudian pertanyaan kritis selanjutnya yang nampaknya harus kita jawab di dalam RPJM adalah program penanggulangan kemiskinan sangat banyak tetapi belum berdampak pada pengurangan kemiskinan secara sistemik. Hal-hal yang kita temukan di tahun-tahun yang lalu saya kira menjadi refleksi kita bersama. Program-program memberikan bantuan yang bersifat hanya member tanpa proses tindak lanjut dari pemberian itu. BLT kemarin menjadi PR besar dalam hal ini, lalu fokus penanggulangan kemiskinan dalam kenyataannnya masih mengandaikan ketidaktersediaan modal sebagai faktor utama kemiskinan

padahal bebrapa yang diberi modal itu ternyata jadi madul. Tidak jadi modal, mereka membentuk kelompok-kelompok baru yang fiktif, dan realita itu yang terjadi di warga dari hasil kita melakukan sedikit evaluasi atas bantuan yang ada. Lalu belum ada usaha pemerintah daerah untuk melindungi produktif warga dari pengusaha yang bermodal besar, beberapa berlabel minimarket menjadi tantangan tersendiri. Kalau di Bantul ada kebijakan yang kemudian tidak memperbolehkan mart untuk hadir, ini hanya salah satu contoh. Kemudian penyebab kemiskinan itu sendiri nyaris tidak tersentuh misalnya petani yang memiki alat produksi yang relatif kecil dan lahan yang sempit ini menjadi satu persoalan yang belum juga diselesaikan padahal beberapa lahan yang notabene milik negara itu relatif banyak. Yang kelima desain penangulangan kemiskinan di Gunung Kidul dan nasional banyak masuk ke dimensi output, dari kebijakan namun sama sekali menafikan dimensi in put. Tadi Pak Sekda sebenarnya sudah mulai mendikusikan itu, ini input menjadi penting untuk kita bicarakan bersama, masih banyak program yang tetap dibiayai oleh pusat. Kemudian desain penanggualangan kemiskinan masih bersifat sentralistik dan ini PR di semua daerah. Kalau kemudian Gunung Kidul mampu membuat tawaran khusus pusat saatnya untuk membuat tawaran-tawaran khusus ke pemerintah pusat maka disinilah saatnya mumpung ada kerjasama dengan SAPA, ada temanteman yang menghubungkan dengan TKPKRI saatnya untuk membuat tawarantawaran khusus untuk bagaimana program kmiskinan ini tidak terlalu sentralistik. Nah ini beberapa potret yang terjadi dan sempat kita gali dari warga maupun program yang ada. Lalu dari sana kita melihat sebenarnya sudah ada inovasi program yang dilakukan oleh pemerintah propinsi maupun kabupaten, ada program-program yang dilaksanakan oleh dinas-dinas yang tersebar. Nah apakah inovasi program ini sudah diokordinasikan oleh TKPKD itu sebenarnya yang menjadi titik poin penting, bagaimana kemudian sampai lima tahun yang akan datang TKPKD cukup mempunyai gigi untuk mengkoordinasikan program-program yang ada sehingga program penanggulangan kemiskinan arahnya bisa semakin jelas. Nah oleh karena itu beberapa usulan yang coba kita tawarkan, pertama menata ulang desain kebijakan, dari kemiskinan struktural maka selam ini yang banyak di beberapa daerah juga dilakukan adalah proses dekomodifikasi dimana menjadikan layanan-layanan dasar public seperti pendidikan, kesehatan, keamanan, air bersih, sanitasi itu sebagai public good yang bisa diakses oleh seluruh komunitas, seluruh warga tanpa pengecualian. Proses yang kedua ini nampaknya RPJM menjadi penting untuk kita diskusikan persoalan redistribusi untuk mempertajam RPJM. Nah redistribusi yang dimaksud ada dua hal, untuk memastikan pensebaran sumber daya material secara merata baik secara individu maupun komunitas, dan antar wilayah. Yang kelas sosial untuk menyelesaikan kasusnya maupun untuk menyelesaiakan sparsial. Reformasi pajak menjadi salah satu target untuk menyelesaikan persoalan pembiayaan, ini di persoalan input, lalu mengurangi ketergantungan luar negeri sebagai sumber pembiayaan. Nah tahun-tahun terakhir sisa dana di Kabupaten Gunung Kidul bahkan dilakukan untuk nalangi dana EDB, dan ini yang masih terjadi, ketergantungan pada hutang luar negeri. Yang jadi penting adalah memanfaatkan sumber pembiayaan alternatif dari pihak ketiga, Dana CSR, Dana Filantropi keagamaan ini yang nampaknya menjadi penting untuk kita oleh bersama untuk

menjadi salah satu sumber daya dalam proses-proses penanggulangan kemiskinan. Lalu dalam hal input mendorong kebijakan yang full employment secara serius untuk meminimalisir diprafasi kapabilitas ini menjadi penting. Pak Sekda tadi sudah menyampaikan bagaimana mengoptimalkan SDM yang nanti siap pakai dikemudian hari. Lalu mendorong adanya integrasi sistem perencanaan penganggaran ini menjadi salah satu hal yang sudah dilakukan 2010 oleh temanteman Bappeda dan sudah menjadi Perbub. Saya kira apakah Gunung Kidul akan tetap meneruskan ini tanpa dana hutang, ini menjadi penting untuk kita diskusikan bersama-sama. Dalam hal output orientasi pada pemenuhan hak bukan menjaga stabilitas semata sehingga hanya menyelesaikan residu, itu orang-orang yang dianggap bermasalah itu yang kita selesaikan tetapi kerangka pemenuhan hak ini yang setidaknya bisa kita lakukan bersama-sama. Kalau memang setiap orang berhak mendapatkan jaminan kesehatan, sebisa mungkin semua orang. Nah beberapa daerah miskin berhasil membuat inovasi untuk jaminan kesehatan itu ada sumbangan juga dari yang kaya, yang mampu menyumbang yang tidak mampu, premi juga dibayarkan oleh meraka yang mampu. Purbalingga sudah melakukan itu, Sleman mulai melakukan dan kita masih menunggu apakah Gunung Kidul apakah akan melakukan itu. Kurang lebih ini untuk penataan desain kebijakan ynag kami tawarkan untuk bisa masuk ke RPJM. Hal lain yang jadi penting dilakukan adalah penguatan kapasitas kelembagaan, yang pertama perlu dilakukan integrasi sistem perencanaan, sinkronisasi perencanaan dan penganggaran, pagu politik, pagu wilayah, pagu sektoral ini sudah mulai ada di Gunung Kidul, lalu termasuk pelembagaan partisipasi perempuan di Gunung Kidul karena kemiskinan berwajah perempuan salah satunya bias kita dorong dengan proses ini. Yang kedua adalah persoalan kelembagaan, menata ulang desain kelembagaan TKPD menjadi satu hal yang penting dengan daya dukung sinkronisasi sisten informasi dan database ada BPS disini. Mendorong database kemiskinan yang lebih terpadu, akurat dan mengkombinasikan data makro hasil BPS dan data mikro hasil kemiskinan partsipatif. Ini kalau memang menjadi satu kepentingan di RPJM maka akan kita sasar bersama maka nanti data-data mikro ini menjadi penting untuk dipadukan dengan datanya BPS. Lalu mendorong program SAPA, kalau nanti masih diteruskan untuk menemukan indikator lokal tentang kemiskinan. Mensinkronkan forum musyawarah perencanaan di berbagai aktifitas menjadi forum terpadu. kurang lebih ini yang menjadi gagasan setidaknya di dalam RPJM kemiskinan yang prosedural atau kemiskinan yang struktural itu bisa kita selesaikan juga. Terima kasih kurang lebihnya mohon maaf ini hanya sebagai pematik, bukan menggurui tetapi setidaknya ini adalah hasil dari pemetaan diskusi kami dengan beberapa pihak, wassalamualaikum warrohmatullohi wabarokatu. Mas Adjie Terima kasih kemudian bisa dilanjut dengan Mas Anang? Mas Anang Sabtoni Assalamualaikum warrohmatullohi wabarokatu, bapak-bapak dan ibu-ibu yang kami hormati kami dari IRE Jogjakarta kemarin telah melakukan riset studi

mengenai alokasi dana desa dan penanggulangan kemiskinan di Kabupaten Gunung Kidul. Dan untuk prestasi kali ini tetap sama temanya, skema dan program pembangunan ditebar tetap saja miskin karena memang hasil kami seperti itu untuk di Kabupaten Gunung Kidul.

(Tabel kemiskinan di Gunung Kidul dan DIY) Kalau kita lihat tabel kemiskinan di Kabupaten Gunung Kidul ternyata mempunyai tingkat kemiskinan yang cukup tingi, ternyata angka kemiskinan di tahun 2008 menurut angka BPS yang kami ambil memang menurun tetapi prosentasenya masih tinggi sekitar 26,85%. Artinya Kabupaten Gunung Kidul dalam konteks ini cukup tinggi. Tenyata penduduk yang miskin dan tidak miskin itu cukup tinggi, kalau pertama rata-rata jumlah rumah tangga orang itu tinggi juga, kemudian persentase perempuan sebagai kepala rumah tangga itu juga nilainya cukup tinggi yang miskin. Kalau kita melihat tentang angka kemiskinan dibanding dengan anggaran pembangunan di Kabupaten Gunung Kidul, baik itu dari Dana Perimbangan, BLM seperti PNPM, dana propinsi dan lain-lain yang terus mengalir ke Kabupaten Gunung Kidul untuk program pembangunan dan khususnya alokasi program penanggulangan kemiskinan tetapi angka kemiskinan ini tetap cenderung tinggi sekali. Misalnya tahun 2007 DAU 459.851, DAKnya 49 angka kemiskinannnya 92 ribu dan kemudian menurun serta meningkat lagi. Nah ternyata dari tahun ketahun itu DAU meningkat, DAK meningkat, angka kemiskinan cukup tinggi. Ini yang mengagetkan kami semua ternyata di Kabupaten Gunung Kidul itu ketika anggaran itu ditingkatkan semakin banyak di gelontorkan justru angka kemiskinan hanya menurun sedikit sekali. Artinya ada apa dengan presentase anggaran yang dinaikkan dengan penurunan angka kemiskinan yang cukup kecil di Gunung Kidul. Kalau kita melihat konteks kemiskinan yang pertama Gunung Kidul yang pertama memang boleh kita katakan di Gunung Kidul memilki keterbatasan aset, misalnya soal kepamilikan tanah, rumah, sandang, pangan, perlengkapan dan penghasilan serta lainlainnya. Kemudian yang kedua keterbatasan akses, ini soal kesempatan memperoleh pelayanan publik seperti pendidikan dan kesehatan di Kabupaten Gunung Kidul, ternyata masih banyak kritikan juga bahwa layanan hingga sampai ke tingkat Puskesmas ataupun rumah sakit bagi keluarga miskin masih banyak kendala ataupun persoalan. Kemudian di sektor lapangan pekerjaan Gunung Kidul

ini mempunyai angka pengangguran yang cukup tinggi dan minimnya sektor lapangan pekerjaan baik formal ataupun informal. Kemudian juga terkadi kerentangan sosial ekonomi yaitu lemahnya bertahan hidup karena berbagai hal seperti gagal panen, bencana alam lokal (kekeringan), sakit, harga produk pertanian anjlok serta harga kebutuhan pokok meningkat, juga BBM naik juga memberikan dampak pada tingkat kemiskinan di Gunung Kidul. Ternyata di Gunung Kidul itu penduduk miskin itu ditandai dengan tingkat pendidikan yang rendah sehingga ini membatasi akses lapangan pekerjaan. Ini sama dengan argumen banyak orang di Gunung Kidul tentang lemahnya kapasitas Sumber Daya Manusia. Kedua adalah lapangan kerja yang dapat diakses oleh penduduk dengan keterbatasan tingkat pendidikan adalah sektor informal, ini juga jarang sekali. Kemudian di tahun 2007 sektor informal mampu menyerap tenaga kerja sebesar 82,65% jadi cukup tingi angkanya dibandingkan dengan sektor formal. Kemudian kebijakan Pemkab dalam memperkuat SMK seperti regulasi untuk SMK itu agenda yang cukup baik bagi investasi social yang mungkin kedepam akan kita tunggu hasilnya. Kemudian kalau kita juga bicara persoalan kemiskinan, ada beberapa persolan yang menyebabkan kenapa itu miskin. Yang pertama adalah bersifat alamiah atau natural, yang kedua budaya atau kultural. Kalau yang alamiah itu karena lahir dari keluarga miskin, kalau yang budaya atau kultural itu kalau tidak ada bantuan mengaku tidak miskin, tetapi kalau ada bantuan mengaku miskin karena ini muncul. Coba kalau kita bandingkan desa-desa di Gunung Kidul pada konteks ADD. Ternyata antara Desa Songbanyu yang kita teliti dengan desa yang ada di kota di Wonosri seperti Kepek itu alokasi dana desanya sama, hampir sama. Karena apa salah satu indicator kemiskinan yang cukup berimbang, jadi antara Kepek dengan Songbanyu itu angka kemiskinannya hampir sama, dan ini cukup mengagetkan, antara desa yang terdekat dengan kabupaten dengan desa yang terjauh dengan kabupaten itu mempunyai angka kemiskinan yang hampir sama. Yang kedua Gunung Kidul adalah selalu menjadi daerah yang tertinggal, artinya daerah yang mentas semakin bertambah tetapi Gunung Kidul belum juga mentasmentas dari persoalan daerah tertinggal. Ketiga kemiskinan Gunung Kidul selalu menjadi perhatian semua pihak dan menjadi prioritas RPJMD, jadi penanggulangan kemiskinan tiada henti dalam agenda, perbaikan infrastruktur juga. Artinya begini, bahwa Gunung Kidul tidak perlu antri untuk bantuan dari pusat karena pemerintah pusat sudah menetapkan nama dari Kabupaten Gunung Kidul ada dalam semua skema pembangunan dari pusat. Artinya kabupaten Gunung Kidul sudah seperti layaknya arena pasar bagi skema pembangunan dari pusat. Sebenarnya siapapun yang menjadi bupati tetap turun anggaran untuk Gunung Kidul. Kemudian untuk persoalan data, ternyata data yang kami temukan antara yang dikeluarkan oleh BPS seperti program mandiri pangan, BKM dan sebagainya terdapat variasi data yang cukup tinggi karena ada yang menggunakan data BPS dan program mandiri pangan juga membuat data sendiri, jadi satu kabupaten ini mempunyai acuan yang berbeda. Ada juga dampak seperti BLT menciptakan budaya kemiskinan baru. Hasil sembilan desa juga cukup ada beberapa hal yang kita dapatkan: angka kemiskinan juga semakian kacau, angka kemiskinan tinggi tetapi semakin ke kota itu angka kemiskinan datanya itu yang kami dapat menurun. Itu artimya bahwa pembangunan di Kabupaten Gunung

Kidul masih bias kota. Nah ternyata kalau kita lihat juga bahwa uang bukan segala-galanya tetapi segala sesuatunya membutuhkan uang, itu penting. Tetapi kita juga bisa melakukan beberapa hal misalnya kita bicara soal dana penanggulangan kemiskinan itu bagaimana sih skemanya. Yang pertama kita mendorong desentralisasi fiskal misalnya DAU dan sebagainya itu diberikan kepada daerah dengan mempertimbangkan angka kemiskinan daerah. Karena menurut kami anggaran untuk kabupaten semakin banyak kabupaten ternyata anggaran APBDnya juga untuk alokasi daerah masih tetap, artinya semakin kabupaten bertambah semakin berkuranglah jatah per kabupaten. Nah nasional juga cukup hebat, ternyata selama lima tahun sejak 2002 – 2007 dana anti kemiskinan meningkat sebesar 250%, tetapi angka kemiskinan hanya turun 2%. Ini apa sih persoalan keuangan di Gunung Kidul? Ternyata di Kabupaten Gunung Kidul juga sama dihadapi oleh kabupaten lain, pertama terjadi kemampuan diskresi dalam persoalan pengelolaan keuangan daerah. Kami melihat sejak tahun 2007 sampai tahun 2010 itu anggaran untuk belanja pembangunan dan layanan publik semakin menurun, yang lain semakin maju justru anggaran pembangunan meningkat tetapi Gunung Kidul justru terbalik, justru menurun. Nah salah satu penyebabnya adalah pertama jumlah pegawai dan belanja pegawai semakin meningkat. Tantangan yang sulit dihadapi bupati kedepan adalah reformasi birokrasi. Menurut kami saat ini Gunung Kidul mempunyai 13 ribu pegawai yang itu idealnya 8-9 ribu pegawai, artinya kelebihan beban empat ribu sampai lima ribu PNS. Kedua, persoalan keuangan adalah Gunung Kidul juga harus menyertakan cost sharing atas program-program dari atas, alokasi dana desa juga berkurang karena kebijakan politik pemerintah Kabupaten Gunung Kidul yang memberikan untuk ADD menjadi anggaran cost sharing dan BLM yang lain ketika pemerintah pusat tidak konsisten dalam menjalankan proses desentralisasi. Kalau kita melihat DAU dikurangi belanja pegawai itu selalu menurun, sejak tahun 2007 yang 163 milyar ternyata tahun 2010 hanya sekitar 32 milyar, kalau begitu masyarakat mau dapat apa? hanya habis untuk belanja pegawai. Itu menurut saya tantangan di kolom belanja iti yang angkanya selalu menurun karena salah satu dampak banyaknya pegawai dan belanja pegawai. Ternyata IRE juga melihat pemerintah propinsi dan juga kabupaten serta desa lebih mengutamakan pendekatan yang bersifat pro terhadap kemiskinan istilahnya programnya siap saji daripada pendekatan anggaran yang terkonsolidasi. Kami memang melihat IRE ini persoalan-persoalan fragmented bugjet dan banyak sekali skema kebijakannya, berbeda skema program berbeda skema anggaran yang itu membuat pening semua orang bukan hanya SKPD tetapi juga masyarakat desa. Oleh karena itu kedepan salah satu gagasan kami mendorong dalam konteks RPJMnya adanya konsolidasi bugjet maupun adanya konsolidasi program pada tingkatan yang lebih baik. Catatan bahwa dampaknya adalah kreatiftas masyarakat atau desa berkurang karena ADD berkurang, saya melihat dalam kurun tiga tahun desa ini habis kreatifitasnya karena ADD yang berkurang 50%. Yang kedua adalah organisasi masyarakat local itu tidak berkembang bahkan mati karena banyak organisasi bentukan pemerintah, dulu ada banyak kelompok tani sekarang semua menjadi gapoktan. Paling tidak apresiasi masyarakat terhadap kabupaten menurun dalam 3-4 tahun terkhir. Inidikasinya ketika saya mengadakan pertemuan dengan masyarakat

Gunung Kidul acara saya gelar sampai jam tiga pada jam satu sudah pada hilang itu sudah sangat apatisnya mereka, sudah tidak ada daya tumbuh dari mereka. Masyarakat memanfaatkan berbagai program yang sesaat, kemudian menurunnya modal social masayarakat karena banyaknya gelontoran dari pemerintah pusat, persaingan antar desa juga terjadi untuk memperebutkan banyak program di Gunung Kidul seprti PNPM dan model BLM yang lain. Rekomandasi kami dari IRE sementara ini kita ingin mendorong dalam RPJM kedepan pemerintah mempertegas otonomi desa, selama ini ADD desa masih dalam bentuk Perbub belum Perda sehingga anggaran desa itu bisa di kia kiu tiap tahun. Kemudian yang kedua memperkuat sinergi dan keselarasan skema pembangunan desa dan kabupaten, ini kami juga melihat bahwa masih belum banyak hal khusunya dalam konteks musrenbang. Temuan kami di Sembilan desa yang kami teliti di sembilan kecamatan berbeda itu delapan desa mengatakan buat apa sih musrenbang? Hanya satu desa yang mengatakan musrenbang itu penting, Desa Kepek satu-satunya yang mengatakan musrenbang itu penting karena Desa Kepek itu mempunyai orang dalam, artinya orang dari Pemda yang memberikan informasi terus menerus kira-kira prediksi program kedepan itu apa sehingga meraka menganggap musrenbang itu penting. Kemudian nomor tiga itu mengoptimalkan program pengembangan perekonomian desa, karena kebijakan pembangunan di Wonosari itu masih bias kota. Kemudian nomor empat mengoptimalkan pembangunan di sektor pertanian sebagai basis agraris dan membuka peluang bagi investasi baru di Gunung Kidul ini penting juga karena PAD Gunung Kidul itu sangat kecil. Memperbaiki layanan publik khususnya pendidikan dan kesehatan, kemudian perlu dilakukan reformasi birokrasi pemerintahan. Jadi tantangan besar di Gunung Kidul misalnya Pak Bupati mengatakan isu desa sebagai pusat pertumbuhan itu program SKPD tidak terkorelasi dengan baik untuk mendorong isu desa sebagai pusat pusat pertumbuhan, artinya bahwa SKPD ini balelo. Artinya ada persoalan untuk reformasi birokrasi di Gunung Kidul, kemudian nomor tujuh adalah mengoptimalkan program pembangunan pekonomian desa, memperkuat partispasi warga dalam proses pembangan desa khususnya penting ini dalam arena kebijakan pembangunan arena di kabupaten. Kemudian menyusun konsepsi dan paradigma penanggulangan kemiskinan yang komprehensif dan berkelanjutan dalam konteks dokumen RPJMD, dan ini perlu mengarus utamakan program kemiskinan serta pengkajian ulang tentang mekanisme bantuan langsung mandiri seperti PNPM di Kabupaten Gunung Kidul karena menurut kami walaupun anggaran itu besar masuk ke Gunung Kidul tetapi berdampak buruk terhadap perkembangan demokrasi, budaya ataupun modal sosial ditingkat masyarakat Gunung Kidul. Bahkan itu juga berdampak buruk bagi SKPD karena anggarannya habis untuk cos sharing, sehingga SKPD ini tidak banyak pekerjaan karena SKPD hanya mengawal program dari pusat. Jadi terlihat potret kinerja SKPD kedepan perlu didorong sehingga Gunung Kidul tidak hanya memperbaiki RPJMD saja tetapi juga melakukan advokasi ke pemerintah pusat agar kebijakan seperti cost sharing itu hilang dan tidak menjadi beban kabupaten, terima kasih, wassalamualaikum warromatullohi wabarokatu. Nandang Suherman (FPPM Bandung)

Saya Nandang Suherman dari FPPM Bandung dan sekarang menjabat sebagai OC dibidang advokasi, dan kami ada program bersama dengan teman-teman di grup IRE ini salah satunya di Gunung Kidul, ada beberapa tempat untuk aktifitas kami antara lain : Gunung Kidul, Bandung, Sukabumi, Jembrana, Makasar, dan Kebumen. Tetapi tugas kami hanya menyusun baseline data, dan baseline datanya sudah ada kalau mau ditampilkan juga masih belum lengkap hanya studi dokumen dan beberapa wawancara tetapi kalau perlu ditampilkan bisa ditampilkan. Tetapi paling tidak menurut saya ini teman-teman yang tadi sudah sampaikan ini potret seperti apa dan saya juga tertarik dengan Pak Sekda tadi yang diungkapkan terus disambung dengan Pak Irawan dri Bappeda. Dalam benak kami sambil berdiskusi sebenarnya FPPM lebih baik sharing aja dalam forum ini dalam konteks RPJM ini dan saya pikir sharingnyapun tidak secara menyeluruh tetapi hanya satu bagian saja, itupun mungkin kalau tadi ada skema yang tadi itu mungkin di proses penganggarannya saja karena kami memang isunya di studi mendorong di perencanaan penganggaran saja. Saya kebetulan lama aktifitas di Sumedang karena saya orang Sumedang, orang Jatinangor, berinterakssi dengan Pemda Sumedang dan kebetulan juga pada tahun ini ada Pemda Gunung Kidul teman-teman Bappeda ke Sumedang waktu itudan saya menjadi mediator mendampingi di Bappeda Sumedang karena kebetulan saya ada diluar kota tetapi saya mencoba menghubungkan dan sudah terjadi paling tidak pada saat itu teman-teman Bappeda Gunung Kidul ingin melihat tentang pagu indikatif dan tadi sudah muncul. Kayaknya saya mau sharing lebih dalam tentang itu, kareja saya hanya satu bagian saja di proses perencanaan penganggaran. Inilah yang sudah menjadi common sense kita, karena saya juga habis ditelpon Mbak Zaki Gunung Kidul kan habis Pilkada sudah ada pemenangnya, ini juga kemarin Sukabumi pilkada saya juga hadir disitu dan sudah ada pemenangnya, dua hari sudah ketahuan. Paling tidak ini, karena ini RPJMD dan RPJMD nanti tergantung cantolan undang-undangnya mau menggunakan Perda atau Perbub, kalau Undang-undang 32 ya pasti Perda lah, kalau Undang-undang no 25 pasti Perbub. Asumsinya karena pada saat kita nyoblos bupati itu nyoblos visi misi sebenarnya, nah kalau kita asumsikan visi misi adalah sebagai hulunya dari seluruh nanti apa yang mau dijanjikan oleh bupati, ini menjadi sumbernya. Narasinyakan nanti normatif itukan disitu, tadi ada moto “Desa makmur Gunung Kidul makmur, tapi tadi Anang kan baantuan banyak, alaokasi banyak, naiknya sekian persen tetapi kemiskina tidak bergeser, nah itu potret Indonesia juga ada di Gunung Kidul ini. Nah kalau itu diasumsikan sebagai hulu maka perencanaan penganggrana ini adalah sungainya, bagaimana mengalirkan dari rumusan yang normatif itu dialirkan sungainya melalui perencaan penganggaran ini. Rencana penganggaran inilah produk kebijakan yang setiap tahun, pasti dilakukan oleh Pemda manapun, karena ini setiap tahun maka ini sangat strategis. Dan sebetulnya sehebat apapun perencanaan penganggaran sebagus apapun visi misinya itu muaranya di pelayanan publik, jadi seheboh apapun visi misinya, separtisipatif apapun itu perencanaan penganggran kalau di pelayanan publiknya memble berarti itu ada sesuatu yang sala. Ujungnya dimasayarakatkan yang dirasakan itu, bukan memakan visi misi yang indah-indah tetapi masyarakat sekolah bisa, kesehatan terpenuhi, nah gitu-gitulah yang dirasakan oleh mereka.

Kan ujungnya disitu, nah kami mengibaratkan itu. Kalau melihat undang-undang, perencanaan penganggaran itu sudah sangat kuat, APBD kalau merujuk di pasal 17 kan begitu. APBD itu rujukannya kepada RKPD sebenarnya dan APBD itu sebagai apa namannya untuk mewujudkan tercapainya tujuan bernegara yangsangat mulai, salah satu instrumennya ke APBD. Ada tiga katanya: kerangka kebijakan, kerangka kelembagaan dan kerangka perencanaan penganggaran, pemerintah itu menjalankan. Kalau sinkronisasinya ini sudah sangat normatif, kalau kita merumuskan perencanaan itu biasanya berdasarkan kebutuhan, tetapi kalau sudah menghitung dana, kemampuan. Pada saat merencanakan kita tidak pernah berhitung kemampuan, kebutuhan saja yang diusulkan bahkan keinginan, pada saat masuk ke penganggaran baru ternyata mampunya cuma segini, maka hilanglah apa yang direncanakan oleh teman-teman Bappeda yang sudah bagusbagus itu akan hilang dengan sendirinya. Sudah susah-susah menyusun rencana kerja setiap SKPD tahu-tahu uangnya tidak ada, itua seperti debu berterbangan, jadi jangan seperti itu. Nah padahalkan mestinya itu harus dihitung, kalau lihat perdefinisi tentang perencanaan itu harus dihitung sumber daya. Kalau lihat aturan lagi keterkaitannya itu bahwa RKPD, nah RKPD yang sekarang Gunung Kidul itukan belum ada RPJMnya untuk RKPD yang 2011 karena RPJMnya baru mau disusun kan? Tetapi RKPD sudah mau disusun, transisi, sehingga harus ada nanti item pernyataan transisi yang nanti RKPD ini cucunya, cucunya lahir dulu nah ibunya belakangan karena proses politik, tetapi itu harus menjadi sinkronisasi karena itu menjadi penting RKPD ini juga harus di refers pada saat menyusun RPJM, dan RKPD barangkali juga harus memotret akhirnya seperti apa sih, tadi Pak Sekda sangat bagus, potret seperti apa nih, walaupun tadi kadi kan “O ternyata banyaak yang tidak nyekrup” bukan hanya di Gunung Kidul tetapi hampir semua Pemda, sadarnya itu terakhir tetapi pada saat nyusun balik lagi seperti yang dulu. Mas Toro itu mengatakan “Bupati itu sebenarnya pengalamancya setahun, kalaupun dia menjabat sepeuluh tahun yang setahun ini diulang-ulang”.

(Hasil dari Musrenbang)

(Hasil dari KUA-PPAS)

(Usulan DPRD)

(APBD) warga)

(Implementasi Proyek)

(Yang dibutuhkan

Nah ini saya sering menggambarkan inilah, kalau hasil musrenbang tadi kan di sumpah serapahin itu, desa bahkan yang menganggap musrenbang itu hanya satu desa dari sebelas desa yang diajak? Jadi hanya sepuluh persen, karena memang hasil Musrenbang kita kalau kita anggap ini misalnya, kita butuh dirumuskanlah kesepakatannya di RKPD tiga tempat duduk dalam satu ayunan. Hasil dari KUA-PPAS pasti sudah berkurang, karena sudah menghitung dengan anggaran yang tersedia kan, gugurlah itu. Belum di tambah usulan dari DPRD yang boleh jadi dia punya interest berbeda dengan musrenbang padahal rakyatnya berbeda. Pasti itu berbeda, usulan DPRD dengan hasil Musrenbang, seribu persen menyatakan pasti ada bedanya karena beda waktu, beda orang, beda cara juga untuk itu. Dan di APBDnya itu pasti lah sudah jauh, padahal menurut undang-undang RKPD yang ujung Musrenbang itu harus menjadi rujukan RKPD. Maka di APBDnya tinggal satu ayunan, jadi gapnya sudah sangat jauh, dan bagaimana di implementasinya? ini juga pasti ada kickback, ada macaam-macam di beberapa daerah ya, digergaji semua dana itu sehingga ya makin berkurang untuk rakyat itu. Nah yang terakhir inlah usulan warga yang dibutuhkan, jadi ada gap yang seperti itu dan itu dilakukan secara dengan kepatuhan terhadap aturan dan inilah hasilnya, yang seperti itu, nah ini sesuatu yang sudah common sense juga terjadi diman-mana. Ada beberapa daerah yang ingin keluar dari kesadaran yang tidak manusiawi ini, padahal kalau kita lihat dari filosofi kenapa musrenbang benchmarknya itu ada dua. Dilihat dari kualitas keputusannya yang diputuskan, dan dilihat dari kualitas partisipannya di musrenbang itu, keputusannya mengikat atau tidak? Seperti apa dia? Partisipannya siapa dia yang hadir? Partisipannya sudah ada input yang benar belum? Atau jangan-jangan kepala kosong daripada nagnggur nunggu makan siang hadirlah di Musrenbang misalnya, akan lain itu hasilnya. Padahal ini, ini yang benchmark kualitas keputusan dan kualitas partisipan, dan dari dua hal ini akan kalau ini terpenuhi maka itun akan membangun sebuah kultur demokrasi yang sehat. Kalau Musrenbangnya bagus, dengan tadi keputusannya mengikat dan macam-macam kualitas partisipannya, akan muncul demokrasi yang sehat dan akan terjadi pembangunan yang berkelanjutan. Nah problemnya sekarang ini Musrenbang di kita hasilnyapun tidak pernah menjadi komitmen bersama, partisipannyapun lebih banyak empat L ( Lu lagi-lu lagi tiap tahun) tidak pernah bergeser ke yang lain, tidak pernah terjadi interaksi yang lebih meluas. Nah maka solusinya yang Sumedang karena tidak mau Musrenbang hanya menjadi formalitas maka dia yang pertama itu memastikan pagu dulu, di awal. Pada saat dia mau Musrenbang kecamatan ada satu fase yang ditempuh dan dilakukan oleh

teman-tekan di DPRD dan Bupati Sumedang itu melakukan komitmen, melakukan MOU untuk membagi distribusi kue APBD sehingga mengikat dua pihak itu. MOU bupati dan DPRD di awal tahun perencanaan dan informasi tentang bugjet alokasi itulah yang di informasikan pada saat Musrenbang di tingkat kecamatan. Maka yang disebutnya kalau disana itu ada pagu indikatif kewilayahan yang basisnya kecamatan, ada pagu indikatif sektoral yang dirumuskan secara teknokratis oleh SKPD. Dan ada pagu politik yang notabene Pak Bupati juga punya konsituen, DPRD punya konsituen, dibagi dulu di dawal berapa itu untuk pagu politiknya, dirumuskan dari awal, disepakati berapa besarannya supaya tidak mengganggu lagi para politisi itu pada saat hasil Musrenbang. Tidak mengganggu juga SKPD terhadap hasil Musrenbang, karena sering sekali di forum SKPD itu si SKPD dia lebih memperhatikan draff Renja dia dibandingkan dengan membuka input terhadap hasil-hasil Musrenbang Kecamatan. Nah di ikat dulu disini, itu yang menbedakan, saya pernah ditanya “wah ini menyimpang dari aturan tidak?”, saya tanya lagi “aturan mana yang dilanggar?”, yang pentingkan prinsipnya dalam bahasa sosial semua boleh kecuali kalau ada larangan. Nah musrenbang dan penganggaran itu adalah sosial, saya utak atik tidak ada larangannya, maka inipun tidak pernah direpresi oleh pemerintah pusat yang dilakuakan di Sumedang itu, ini sebenarnya yang mengikat. Maka inilah nanti yang dirujuk menjadi komitmen bersama terutama rebutan sumber daya APBDnya, yang penting kan disitu. Kalau usulan-usulan ini sih bisa dimusyawarahkan ditingkat.. tetapi besaran ininya, yang seringkali di intervensi besarannya akhirnya berdampak terhadap gugur usulan atau penguarangan terhadap bugjet alokasi dari setiap usulan. Dan yang kedua mendorong warga masyarakat yang terlibat dalam Musrenbang itu untuk terlibat juga pada saat pembahasan terutama pembahasan di DPRD, untuk memastikan bahwa hasil Musrenbang dengan nominal angkanya sekian itu pasti tetap besarannya pada saat diputuskan oleh DPRD, itu penting. Siapa warga itu, siapa masayarakat itu warga yang terlibat pada saat Musrenbang, bukan LSM yang ujung-ujung dia pada saat hearing, nongkrong di DPRD yang tidak pernah tahu pada saat musrenbangnya, kan banyak gitu kan, LSMnya banyak, LSM kabupaten kan baru hadirnya di KUA PPAS, maka diapun suaranya akan lain dengan hasil hearing ini, kan gitu. Nah ini dipastikan warganya ini loh yang harus hadir untuk memastikan itu, itu dua hal sebetulnya dua hal ini yang dijadikan solusi sekarang yang sedang ditawarkan untuk memastikan supaya tadi, memastikan agar APBD itu pasti distribusinya, siapa penerimanya itukan warga disitu dan ikut terlibat disana. Nah kalau Sumedang untuk dua hal ini diperintahkan oleh Perda, jadi ada Perdanya khusus, perdanya sih perdanya umum namanyaa Perencanaan Penganggaran tetapi didalamnay ada dua kausal itu, ada kausul ini ya sehingga bupatinya ganti, DPRDnya ganti kemarin itu ya dipaksa harus mengikuti itu. DPRD yang baru inikan agak mencak-mencak “Loh kami kok sekarang dijatah seperti ini” gitu, kita gampanganya “ ini sudah ada perdanya, dan DPRD juga yang memproduk ini” jadi gampang, jadi mau marah-marah silahkan tetapi yang jelas sudah di ikat sekarang. Oke pagu indikatif itu apa manfaatnya saya pikir temanteman disini juga sudah mendefinisikan tentang itu, bagaimana implementasinya, tetapi yang cukup,menarik dalam pelaksanaannya tahun ketiga di Sumedang ini memang itu akan terjadi rebutan di level komunitas, uang tersebut. Jadi karena

pagu indikatif kewilayahan itu locusnya di kecamatan dan sudah jelas besarannya, maka SKPD rajin dia turun menghadiri Musrenbang Kecamatan karena akan mengambil kembali dana itukan nanti ekskutornya kan tetap SKPD kegiatan, bagaimana SKPD menawarkan program-programnya supaya dibeli oleh warga tersebut, begitu. Dan biasanya SKPD yang sebelum ada konsep ini dulu PU yang paling besar, nah setelah ada ini itu ternyata cukup lumayan kesehatan juga dapat porsi bagus, pendidikan bagus, ekonomi bagus, PU sudah agak berkurang mulailah disitu ada distribusi yang lebih fer. Terus yang kedua muncul kembali semangat untuik bermusyawarah di level kecamatan yang selama ini Musrenbang itu hanya formalitas sekarang menjadi ajang untuk berebut sumber daya tetapi dengan mekanisme yang fer, terjadi interaksi yang cukup menarik dan terjadi juga peningkatan kapasitas warga, yang menurutnya saya yang manfaat tethadap itu. Kesadaran-kesadaran terhadap pembangunan akhirnya cukup meningkat walaupun ada rebutan antar komunitas menjadi lebih kenceng termasuk juga teman-teman DPRD. Ini barangkali yang bisa sharing, yang bisa kami sampaikan mudah-mudahan apa yang sudah masuk menjadi kebijakan mudah-mudahan ini bisa didorong terutama ini juga didorong menjadi kesepakatan politik teman-teman di DPRD karena kan bugjeting itu ada di wilayah teman-teman DPRD. Nah kesempatan politik itu tidak ada rumus baku tergantung kesepakan ya nego hasil ini, sumedang berapa persen tentang proporsinya? Kecil kok, kalau untuk bagi-baginya itu kecil yang di Musrenbang Kecamatan itu, masih tetap di SKPD, masih tetap yang lebih besar yang pagu politik. Pagu politik itu kan cantolannya di bantuan sosial, tetapi dengan alokasi bugjet yang sedikit pasti tidak seperti yang dulu musrenbangnya hanya gambling, semakin banyak usulan itu peluang untuk dapat semakin besar sehingga lomba usulan nah sekarang kini karena sudah dibatesi oleh anggaran mau tidak mau wargapun sangat selektif sekali untuk mengusulkan dan terjadi diskusi yang intens disitu, saya rasa itu untuk teman-teman. Mbak Zaki Pagu politiknya berapa persen pak? Nandang Suherman Pagu politiknya itu tergantung juga nantinya, kalau yang kemarin itu ternyata hangus karena DAUnya tidak bertambah, PNS naik terus akhirnya deskresi daerahnya Sumedang itu tekor, tahun terakhir 15 milyar kalau sini masih ada sisa kan? Sumedang itu sampai tekor, tahun kemarin tiga milyar, tahun ini lima belas milyar, akhirnya pagu politik yang korban bukan hasil Musrenbang, tetapi baguskan? Jadi teman-teman DPR bisa menyadari itu, sebab kalau mussrenbang yang hangus dia bisa di geruduk itu DPRD oleh warga, oke terima kasih wassalamualaikum warrohmatullohi wabarokatu. Mas Adjie Terima kasih, kemudian kita langsung menyambut paparan dari teman-teman DPRD, silahkan.. Indriyani (DPRD)

Selamat pagi menjelang siang bapak ibu semuanya, mudah-mudahan kabarnya senantiasa baik karena pada sampai saat ini kita bertemu dalam keadaan sehat walafiat dan mudah-mudahan juga pada kesempatan ini apa yang bisa kita simpulkan akan mendapatkan buah yang baik dan akhirnya tujuan untuk memerangi kemiskinan dapat kita capai bersama. Yang pertama kaitannya dengan ini kami tentunya dari DPRD Tupoksi kami beberapa hari yang lalu melakukan resease penjaringan aspirasi dan juga resease konsituen pada kesempatan hari ini saya tidak akan melakukan paparan karena kami memang tidak siap untuk paparan. Pada kesempatan ini saya hanya ingin curhat saja, yang pertama ketika kami anggota dewan melakukan penjaringan aspirasi baik itu kedesa-desa naupun konsituen kami banyak seperti yang disampaikan temanteman yang lain disitu ada sikap yang apatis dari warga masyarakat. Apatis dalam artian apa gunanya kalau aspirasi itu terserap akhirnya toh hanya ditumpuk tidak bisa terealisasi, yang kemudian dari beberapa yang kami lihat orang-orang yang dihadirkan ketika kita penjaringan aspirasi di tingkat desa memang termasuk orang-orang yang aktifis yang artinya kalau di desa itu ketika satu orang aktif kemudian banyak jabatan yang dia pangku. Banyak yang berfikir bahwa dewan itu anggaran tersendiri sehingga banyak yang minta bantuan ini itu dikiranya dewan punya anggran tersendiri yang mau digelonotorkan tidak tahunya kita harus banyak menyampaikan kepada warga bahwa yang dikelola itu adalah anggaran yang sama. Jadi penjaringan aspirasi yang kita lakukan kepada masyarakat adalah hanya sebagai pembanding musrenbang yang dilakukan oleh ekskutif, dan warga itu kadang-kadang mengertinya ada bantuan. Jadi misalnya di ajak rapat atau pendataan apapun yang dilakukan baik itu oleh perangkat desa ataupun RT/RW kadang-kadang ”kok didata itu mau mendapatkan apa?” selalu pertanyaan itu muncul. Jadi apakah itu betul bahwa potret Gunung Kidul sudah terlalu seringnya mendapatkan bantuan langsung, entah itu bentuknya BLT atau berasa atau apa akhirnya setiap ada pendataan bahkan kemarin ada petugas sensus dia kebingungan untuk meminta keterangan disitu selalu ditanya “Mau dapat apa to mbak?” seperti iti. Ada beberapa yang bisa kami catat kaitannya dengan potret kemiskinan di Gunung Kidul, berungkali ketika kita resease selalu saja minta bantuan semacam bantuan modal, masih sangat dibutuhkan bantuan modal-bantuan modal. Tetapi ketika kami menyampaikan bahwa sebenarnya anggaran dari daerah yang masuk ke desa sudah lumayan banyak, cuma dikiranya itu tadi, posisinya jadi beda artinya dari DPRD ada anggaran sendiri, dari pemerintah ada anggaran sendiri akhirnya jadi rancu, jadi tumpang tindih seperti itu. Kemudian rawannya konflik ketika ada bantuan yang diberikan kepada warga masyarakat entah itu bantuan bentuk apapun disitu akan terjadi rawan konflik, dan ada beberapa wilayah desa yang kami temui menggunakan proses bagito, seperti BLT. Disalah satu dusun kami temui karena orang-orang yang ditunjuk itu tidak pas, artinya yang dapat itu malah Pak RT, Pak RW sementara orang yang mestinya dapat malah tidak dapat akhirnya terjadi konflik kemudian mengunakan sistem bagito, semuanya dapat akhirnya. Bahkan yang seharusnya yang mendapatkan porsi yang lebih banyak justru mendapatkan porsi yang lebih sedikit. Karena kadang-kadang pemangku kepentingan tadi mereka mendahulukan nepotismenya, kalau ada pendataan untuk mendapatkan bantuan

mungkin Pak Rtnya “wah ini adikku dulu, kakakku dulu”. Mungkin kedepan perlu ada semacam warning, semacam klasifikasi yang jelas ketika ada pendataan atau apa kaitannya dengan akan adanya bantuan itu bagi pemerimtah setempat mestinya ada semacam rambu-rambu yang harus ditaati, jadi siapa-siapa yang boleh masuk kesitu yang boleh dikategorikan sebgai orang-orang yang perlu mendapatkan bantuan seperti itu karena nepotisme masih sering terjadi di tingkat desa. Seperti kemarin ada yang tidak mendapatkan BLT akhirnya ketika ada swadaya dia tidak mau karena tidak mendapatkan bantuan. Kemudian ada lagi keluhan kaitannya dengan pertanian karena disini sesuai dengan slogan yang tadi sempat di paparkan “Desa makmur, Gunung Kidul makmur”, sementara kegiatan ekonomi yang banyak di jumpai di desa adalah pertanian, dari keluhan warga pada saat penjaringan aspirasi mereka mendapatkan bantuan bibit dalam bentuk bibit dalam siap tanam, dan ketika bantuan bibit itu ditanam tidak tumbuh dan tidak berbuah meraka mengeluhkan bahwa bantuan bibit yang diberikan kepada warga “dilepas kepalanya tetapi masih dipegang ekornya”. Mintanya warga kalau bantuan itu diterapkan karena kondisi tanah di masing-masing wilayah Gunung Kidul itu tidak sama, kadangkadang satu jenis tanaman cocok ditanam di daerah yang tanahnya berpasir, mungkin ditanah yang lain juga tidak akan tumbuh baik, seperti itu. Jadi ada keluhan seperti itu kemarin kaitannya dengan bibit mohon waktu untuk pendistribusian bibit itu juga kurang pas karena sudah terlanjur tanam bibit baru disampaikan dan itupun ketika mereka tanam akhirnya tidak tumbuh dan tidak panen. Selanjutnya kaitannya dengan hutan kemasyarakatan kemarin ada keluhan juga dari warga, mereka menanam pohon-pohon tegakan dan ketika arealnya sudah ditanami pohon-pohon tegakan untuk menunggu pohon-pohon tegakan itu bisa di panen meraka kehilangan income dia, artinya untuk memanfaatkan lahan-lahan disamping atau di kanan kiri pohon-pohon tegakan itu mereka tidak berdaya apa-apa, jadi masih sangat dibutuhkan pendampingan. Artinya apa? Ketika mereka menanam pohon-pohon tegakan di kanan kirinya kalau bisa dimanfaaatkan kenapa tidak, dan mereka butuh semacam pendidikan atau mungkin pembekalan untuk bisa memanfaatkan wilayah-wilayah disekitar pohon tegakan. Kemudian terkait dengan kelompok-kelompok fiktif yang memang banyak sekali terjadi ketika misalkan dari Dinas Koperasi mau memberikan bantuan untuk koperasi, berbondong-bondong orang membentuk koperasi, akhirnya ketika dana mengucur, uda, habis tertelah bumi. Dalam artian disetiap desa mungkin ini yang saya lihat di desa yang pernah saya kunjungi itu ada satu tokoh masyarakat yang pinter membuat proposal, kemudian dia membuat proposal, dia adopsi nama-nama tetangganya akhirnya mendapat bantuan dia kantongi sendiri, dia lari. Seperti itu ada juga, jadi itu salah satu kendala mungkin yang tentunya akan kita cari bersama-sama solusinya. Saya kira untuk kami tidak terlalu banyak dulu, jadi kesempatan yang lain mungkin kami akan banyak bicara, ini teman saya Mas Warto mohon ijin untuk bisa menyampaikan oleh-oleh dari reseasenya. Warto (DPRD) Assalamualaikum warohmatullohi wabarokatu, salam sejahtera untuk kita, bapak ibu sekalian dimana saja dewan itu di warga masyarakat maupun di birokrasi

sama jadi dihilangi kata satu “N” jadi dewa. Jadi semuanya harus selesai di dewan. Hanya memang hasil resease ini sepandai-pandainya yang menerima jadi ada yang dari APBD Kabupaten, ada yang propinsi, ada yang pusat. Ya kalau memang dipusatkan ke APBD Kabupaten semua tidak akan selesai, menyelesaikan krisis air untuk kemiskinan ini tidak akan ada di Gunung Kidul karena tangki aja masih kurang, apalagi mesinsible itu tidak ada pengadaanya termasuk watermeter, pralon itu tidak ada tidak. Itu bagaimana mengangkat ini secangih-canggihnya kepada yang lain, hanya ini pak SKPD, jadi sering pemberian RAPBD kepada dewan ini sering terlambat ya, jadi memang waktunya didesakkan agar dewan itu membahasnya tidak panjang. Kalau panjang teliti begitu loh, ini yang masalah, nah setelah nanti ada Permendagri, kalau tidak tepat tepat waktu tanggal 31 Desember DAU akan dikurangi 25%. Jadi tidak hanya tekanan penjajah tetapi tekanan APBDpun seperti itu. Kemudian untuk mengurangi kemiskina tadi membaca sepintas milik IDEA ya, Karang Mojo, Semin, Ponjong banyak yang miskin? Betul, saya kaatakan karena Kecamatan ini kalurahannya banyak, padat karya bagito tadi, kemudian kalau kita melihat unpamanya di Ngawen hanya enam, enam tahun selesai, tetapi kalau yang namanya di Karang Mojo sembilan tahun baru selesai, sudah dapat dua baru satu. Ini Bappeda harus merubah lagi, RPJM kalau kecamatan banyak, penduduknya banyak ini harus di berikan banyak tetapi tidak bagito. Jalan poros desapun sama, sekarang kita lihat Semanu ini masih banyak miskin karena Semanu satu kelurahan ada 20-21 dusun, tetapi ada yang satu kelurahan dusunnya lebih kecil, mengapa ini tidak dirubah paradigma. Kita ingat bahwa ada IDT dulu, IDT masak Balearjo itu IDT, Wiladeg IDT nah setalah itukan karena IDT ini akan menjadi PPK, P2DT dan lain sebagainya, akhirnya ini terpangkas, nah mulai 2010-2015. Nah marilah kita berfikir yang seperti itu, yang IDT kemarin jangan terukur kalau kota Balearjo tetap IDT kecamatan IDT katakan, ya itu hanya mau memangku jabatan saja tidak mau adanya pemberdayaan masayarakat swadaya atau simbiosis mutualisme tidak akan ada. Yang kota tidak mau swadaya tetapi yang desa mau, pemberdayaan semen aspal itukan lebih baik. Kemudian juga kami sering yang katakan kemarin itu sesungguhnya untuk mengatasi kemiskinan, contohnya beras, beras itu harus sampai ke RTM (Rumah Tangga Miskin) diberikan transpot ya, tetapi kenyataannnya ya masih dimintai persak lima ratus rupiah. Inikan perlu kita lagi ternyata ada pungli, nah sekarang yang baru saja di tas kami juga ada orang yang dulu tidak miskin, tidak dapat Jamkesmas, tidak dapat Jamkesos begitu sakit ternyata guru-guru semua mengajukan yang miskin. Nah di Gunung Kidul kalau kesehatan itu pokok utama, kalau kita mau mengcover Jamkesos memjadi Jamkesda itu kita sekitar butuh sepuluh milyar. Nah pertanyaannya sekarang kami juga pusing, KTP gratis KK gratis, kenapa sih tidak KTP dengan KK ini biar simbiosis katakan lima ribu-lima ribu masuk daerah kemudian kita kembalikan kepada bentuknya adalah Jamkesda. Nah sekarang pendidikan gratis, kesehatan gratis, KTP gratis, nanti akte gratis saya yakin Gunung Kidul tidak akan bangkit. Karena masayarakatnya dimanjakan, beras diberi, PKH diberi, padat karya diberi tetapi tidak akan pernah ikut bagian membangun Gunung Kidul, dia akan menuntut haknya tetapi kewajibannya tidak dilakukan. Dan pada waktu resease kami paling enak tidak kepada Pak camat, tidak kepada Pak Lurah, tidak LPMD, atau BPD tetapi ke konsituen, ini akan curhat

apa adanya. Kalau Pak Lurah “mbok motor itu diganti pak, terus seragam, insentif saya dinaikkan” ini begitu-begitu saja, seperti coba ibu bapak lihatlah, karena apa tidak karena tidak mach antara propinsi dengan kabupaten. Dari keuangan atau Bappeda, bantuan uang 50 juta ke kelurahan itu apa pertanggungjawabannyaa? Pada siapa?. Kalau APBDes benar atau tidak? Mana sekarang lurah yang tidak memakai roda 4? caba bapak kebawah, tetapi nanti bahaya keuangan digelontorkan ke desa banyak desa yang kan menjadi tersangka? Begitu kewenangan diberi kepada DPR mana DPR tidak jadi tersangka? Begitu kewenangan diberikan kepada ekskutif mana bupati yang tidak banyak jadi tersangka? Ini pemikiran kami apakah orang pandai hanya akan masuk penjara? Bapak ibu menjadi PPKpun tidak mau kan sekarang?. Dengan kejadian di Gunung Kidul banyak sekali, ini juga takut. Kamipun banyak ketakutan, tidak berangkat kunjungan mending tidak usah menerima saja, walaupun kami grade bawah tetapi mau tidak mau itu. Sekali lagi kemudian juga tertutup, sering kita akan mengatasi kemiskinan sekarang tidak jamannya proposal lagi, seperti bedah rumah di propinsi ada lho mas, dan itu dapat lima juta ya meskipun setelah di potong PPH lah itu wajib. Nah ini kami harus sepandai-pandainya ya, kaya PAB propinsi itu bagaiman caranya membawa pralon dan lain sebagainya, kalau kemarin ada sebelas, sebelas yang ke dapel III semuanya, Semin enam, Ngawen empat kemudian di Ponjong satu, satu itu nilainnya minimal 400 juta. Nah hanya pengawalannya seharusnya hasil musreng kemudian kami diberi, kemudian kami kawal yang mana tertutup APBD kabupaten, mana yang harus dilontarkan ke propinsi hasil musren popinsipun punya, tetapi dewan yang sekarang hasil musren juga tidak punya. Kemudian pembahasan yang paling sulit di DPR ini walaupun punya anggaran betul pak, dan itu undang-undang, tetapi tidak punya SHBJ. Mas Sri pernah diberi? Satu saja disembunyikan, sekarang harga kertas berapa? Transportasinya berapa? ini tidak pernah tahu, karena watunya mepet masih mau membaca SHBJ, masih membaca RAPBD, masih membaca RKA wah sudah tidak sempat lagi, kemarin saya juga berkelakar apalagi yang hanya kejar paket C. sudah kejar paket C masih diberi APBD tujuh ratus lima puluh delapan milyar, lah sudah tahupun muntah itu, apalagi waktunya singkat, ya sudah segera dikumpulkan, betul itu, sudah tidak cermat lagi. Nah ini kalau bisa waktunya paling tidak Oktober, jangan November, itu hanya satu bulan, nah kemudian diambil banggar, kemudian komisi, kemudian PU-PA, rapat gabungan belum waktunya habis. Kami tahu kalau dari SKPD ini sudah lama, nah ini masalah, sehingga kami agar cermat dan alhamdulilah kalau pengalaman kemarin pembahasan APBD 2010 sudah agak longgar karena waktunya kami pepetkan siang dan malam, berarti seperti jaman romusha. Kami juga kasihan, kami mohon ini karena undang-undang 32 ya suami istri, nah terbanyak bahwa kalau saya melihat bagi orang miskin ternyata juga banyak mengikuti anggaran, contoh yang rutin pertemuan itu orang-orang yang mendapatkan PKH, Pendamping Keluarga Harapan Hidup, ini berkumpul terus bahkan ada yang sampai ada usaha, ini bagus. Ada usaha parut kambil, ternak kambing, kemudian ada usaha traktor, ada usaha diesel, dan dia menyelesaikan dan punya urutan usulan.

Nah seharusnya PNPM pun sama, PUD terus, nah untuk mengatasi kemiskinan agar untuk tidak membeli PDAM membayarnya mahal kenapa tidak membuat sumur bor, enam juta dan untuk minum satu dusun sudah bisa. Kalau kita melihat tadi contohnya di Sumedang, Purwakarta itu buat klambunisasi bisa loh, membeli klambu karena banyak nyamuk demam berdarah. Kenapa Gunung Kidul kalau tidak PAUD tidak, sampai sudah empat ratus tujuh puluh delapan PAUD, dan itu semua minta dan gurunya SMP minta diangkat, itu masalah. Nah itu gambaran ya, sehingga sesungguhnya baiknya Sri Mulyani, bisa Bank Dunia ditarik kesini, kita kan ada laporan ke Bank Dunia PNPM itu bagus sekali, iya tetapi aselinya di bawah itu tidak bagus. Sekali lagi kami mohon dipahami bahwa DPR mungkin ada yang sok bawa proposal,ada yang jarang membuatkan tetapi tidak fiktif ya karena begitu nanti desa, dusun, kecamatan itu ada yang nunggak contoh sapi “wah Semin ada yang nunggak” tidak mungkin kalau akan di glontorkan di Semin, karena ada tunggakan. Yang baru saja dari koperasi Pasar Desa Candi itu sekitar enam ratusan juta yang membuatkan pemborong tetapi melalui KUD ya tidak begitu bagus dan yang disuruh membeli juga tidak begitu tertarik, karena apa? Tetapi itu apa, mau ke Gunung Kidul bantuan koperasi UKM agak seret, karena pada waktu itu tidak musyawarah dulu, begitu diberi paket aada masalah, akhirnya yang miskin mau jualan hanya di pingir itupun di kejar-kejar, ini yang juga menjadi masukan kami kemarin. Ini banyak sekali lagi bagi orang miskin susahnya kita juga sama-sama susah, begitu ini akan mendapat tujuh puluh lima sama seratus lima puluh kemudian terus pada didaftar siapa yang miskin. Nah kemarin sekitar tujuh setengah milyar itu habis oleh orang miskin yang sekolah, SD minta, SMP minta, akhirnya pada menjadi miskin untuk meminta beasiswa miskin. Hanya memang itu cara mengatasi tetapi itu tidak ada klop, ini juga kembali pada Pak Bappeda, Dinas Pendidikan, sekarang di Playen itu ada pasar malem kan?, waktu ada ujian kok ada pasar malem, ini tidak macth antara Dinas Pendidikan, Pak Bupati, Pak Lurah, Kepolisian. Sama juga kalau bapak ibu kami setiap paripurna itu mengatakan ini juga keluhan, Gunung Kidul itu hanya mau bersenang-senang kok tidak boleh, ketika akan berpariwisata adanya hanya operasi di Gunung Kidul, kapan PAD kita mau naik dari pariwisata kalau baru mau masuk Sukoharjo, Wonogiri, Pathuk aja diberhentikan, lha ini harus ada kerja sama. Bahkan menurut aturan menteri vertikal tidak boleh bantuan, tetapi ada yang pinjam mobil juga lho, Polres, Kodim, Kejaksaan, pengadilan, ini meminta Panther. Nah seharusnyan untuk kemiskinan itu berapa bisa saya yakin, mohon untuk yang PU yang Bappeda mohon untuk mengatasi ini kita setting lagi, kita lihat lagi biar di Gunung Kidul ini orang miskin juga berkurang, sesungguhnya tidak banyak miskin kok kalau saya melihat, tetapi hanya karena ditinggal pergi anaknya pergi ke Jakarta, tetapi sebenarnya juga di berikan sepeda motor dirumah. Sebenarnya tidak begitu miskin, kalau kita melihat lebaran itu gelontoran uang ke Gunung Kidul itu banyak. Sekali lagi kami di dewan juga repot jadi jangan direpotkan selalu, jangan dipepetkan dengan waktu, harapan kami dengan bapak ibu sekalain kami yang menjadi beban tumpuan ini harus menyelesaikan dan waktunya jangan dipepetkan sehingga kami bisa berfikir ini yang di Gunung Kidul, ini harus ke propinsi, ini harus ke pusat. Kalau kemarin ada pertanian yang ke PDT saya sudah senang itu, apalagi dengan KB dan perempuan, kenapa? Kita undang kesini dia

pasti akan memberikan, karena di Gunung Kidul masih juga kabupaten IDT termasuk kecamatan Gedang Sari masih IDT. Saya kira demikian bapak ibu sekalian kami dari DPR, harapan kami pokok-pokok pikiran DPRD kalau bisa, kalau perlu dari SKPD mari ada satu yang belum dilewati, Komisi Orientasi. Jadi sebelum RAPBD ini ditetapkan atau dibahan anda membuat RKA SKPD komisi ini diajak berdiskusi. Saya kira demikian nanti mohon juga ada kritik bersama dan kami juga tidak maju bersama kalau kami hanya untuk tumpuan coret-coretan dan pepet-pepetan, jadi harus ada kebersamaan, saya kira demikian ada kurang lebihnya mohon maaf, wassalamualaikum warrohmatullohi wabarokatu.
SESI II

Mas Adjie Baik teman-teman sudah jam dua kurang beberapa detik, sementara masih ada teman-teman yang beribadah diluar, bagaimana kalau kita mulai saja karena forum ini sudah bersepakat untuk memberikan kesempatan untuk teman-teman SKPD dan ada dari warga untuk menyampaikan hal yang sama terkait dengan detail apa yang menjadi proses lima tahun kemarin. Teman-teman SKPD kita beri kesempatan sekali paparan sepuluh menit kira-kira cukup ya? Cukup ya, nanti langsung bergeser-geser nanti setelah semua memaparkan baru kita secara saur manuk mengkritisi kemudian memperdalam lagi, saya bantu mencatat poinpoinnya sehingga bisa langsung menjadi rekomendasi untuk masukan RPJMD 2010-2015, silahkan. Johan (Dinas Pendidikan) Assalamualaikum warrohmatullohi wabarokatu, nama Johan dari Dinas Pendidikan. Bapak dan ibu, untuk menyegarkan kembali pada sesi ini kami ada sedikit masukan yang berkaitan dengan gambaran baik itu yang di TOR ataupun apa yang disampaikan teman-teman dari baik itu IRE ataupun IDEA. Yang pertama berkaitan dengan referensi TOR, ini berkaitan dengan menyemangatkan pentingnya program untuk RPJM lima tahun kedepan, disana ada referensi yang telah uzur yang dikutip, berkaitan dengan IPM atau HDInya. Disana dikutip HDI yang 2005 dalam posisi 140, terakhir dari BPS kita mendapatkan ada penurunan 17 peringkat, yang 2007 kita di 238 yang 2008 kita di 255 peringkat HDI atau IPM. Ini yang berkaitan dengan peringkat, dari tiga komponen berkait dengan kesehatan, pendidikan dan perekonomian dari BPK kita mendapatkan untuk dua komponen pendidikan dan kesehatan saya kira relatif. Untuk pendidikan kita ada perubahan terima kasih pak, dari BPS kita ada perubahan dari kata stagnan menuju stabil, di kesehatan juga demikiaan hanya problemnya pada problem dikesejahteraan. Komponen disana untuk pendidikan kita lama sekolah ada di 7,4 tahun 2008. Kemudian yang kedua yang berkaitan dengan data kemiskinan tadi barangkali sedikit masukan ke IRE yang kenapa tidak ditekankan terjadi terjadi penurunan jumlah penduduik miskin dari 2008 ke 2009 walaupun tadi sebenarnya pada lembar kedua baru muncul dari 173 ribu ke 191 ribu penduduk sehingga penekanan ini barangkali menjadi sangat penting untuk program lima tahun kedepan.

Berkaitan dengan program yang ada di dinas ini sebenarnya berkait dengan penanggulangan dan penanganan kemiskinan ada beberapa lini. Ada yang berkait dengan pencegahan, ada yang berkait dengan pengobatan. Untuk pencegahan agar masayarakat tidak tergelincir pada kemiskinan ini ada program yang berkaitan dengan bantuan yang tidak secara langsung, signifikan berkaitan dengan bertambahnya orang miskin baru tadi sudah disinggung ada dana BOS, ataupun BOSDA, BPPD, dan BOSMAS. Ini menjadi sulit rekomendasi tadi dari IRE atau dari IDEA, kalau tidak mengharuskan dari pinjaman pihak luar karena untuk BOS kita tahun 2009 – 2010 ini kita sudah sembilan milyaran sama dengan PADnya, ini yang berkait dengan BOS kita, untuk BOSDA tahun ini kita dua puluh lima milyaran, ini yang berkait dengan pencegahan terhadap miskin baru atau penduduk miskin baru. Karena dengan program ini sedikit banyak masyarakat terbantu, teringankan beban terhadap biaya pendidikan yang harus dipikul oleh orang tua sisiwa, tetapi ini baru pada jenjang pendidikan dasar, karena menuju pendidikan gratis ini amanat undang-undang kita ada di jenjang pendidikan dasar, bukan keseluruhan jenjang. Kemudian yang berkaitan dengan pengobatan ini kita ada besisiwa miskin untuk semua jenjang, SD, SMP, SMA, SMK ini kita alokasikan ada berkisar 580an juta untuk tahun ini. Kemudian untuk program yang dalam rangka pengobatan tetapi sekaligus pencegahan ini ada bebrapa program juga. Satu yang berkaitan dengan kalau tadi disampaikan salah satu sumber kemiskinan adalah rendahnya pendidikan, ini dua hal dari kita yaitu rendahnya pendidikan itu sendiri dan yang kedua rendahnya mutu pendidikan karena terkait dengan daya saing. Kemudian yang kedua disana ada yang berkait dengan sekaligus bersinergi dengan program pencegahan tindak pidana perdagangan orang, ini dipendidikan luar sekolah yang kita tangani sebagai mana tadi juga sudah disinggung miskin ini erat kaitannya dengan wanita. Artinya penduduk miskin di Gunung Kidul lebih didominasi oleh penduduk wanita sehingga di Dinas Pendidikan melalui pendidikan luar sekolah kita ada program peningkatan keterampilan dan program peningkatan keahlian, jadi disana ada kursus-kursus dan ini juga terjadi pada pendidikan formal mulai SMP dan SMU ini sudah ada kurikilum yang dibebankan disana untuk skill ini. Yang relatif berat diawal sudah kita sampaikan bahwa rendahnya lama sekolah di kisaran 7,4 ini tidak terentas-entaskan menuju 9, ini terkait dengan banyaknya penduduk yang tidak sekolah. Disana 2007 kita ada penduduk yang masih buta aksara berkisar 47 ribu sampai 2009 kita nyatakan tuntas walaupun masih tersisa 189 orang versi data kita. Tetapi yang juga perlu dipahami berkaitan dengan progam ini karena ini juga berkaitan dengan program pemberantasan buta huruf ini yang membuat mereka tertarik untuk terlibat dalam kegiatan ini adalah ketika kelompok-kelompok ini selesai pada paket satu (sukma 1) Surat Keterangan Melek Aksara Satu ini di ikat dengan semacam bantuan yang dimanfaatkan untuk dalam bentuk usaha bersama dalam kelompok belajar ini. Tetapi yang agak rawan adalah untuk program ini ada pemahaman yang putus ketika kita menyatakan buta aksara tertangani tuntas tinggal 189 orang tetapi format kategori Sukma 1 ini belum dipahami oleh pihak eksternal pendidikan. Sehingga banyak orang mengambil kebijakan yang mengatakan katanya sudah tuntas kenapa kok harus diteruskan. Sehingga untuk 2010 ini agak putus untuk melanjutkan ke Sukma II agar sejajar dengan SD. Dan juga ini yang membuat

bebannya pendidikan itu belum beranjak mengangkat dari 7,4 tadi, karena lama sekolah ini identik dengan yang sudah lulus sekolah. Kemudian yang berkaitan dengan beban kemiskinan ini sebagian juga disandang oleh sebagian masayarakat kita yang mengalami kondisi tertentu atau yang berkaitan dengan kebutuhan khusus sehingga ini kita di dinas didorong khususnya dari Pak Warto ini karena inklusi kebutuhan khusus ini merupakan penyumbang pada kategori miskin ini, ini akan digarap oleh pendidikan, jadi warga yang membutuhkan kebutuhan khusus ini mau tidak mau menjadi tanggung jawab pendidikan khususnya pada usia wajib belajar. Mudah-mudahan di 2010 ini kami mencoba mengajukan anggaran perubahan untuk paling tidak ada sosialisasi pendidikan inklusi untuk agar nanti bisa difahami oleh masyarakat luas. Dan perlu bapak ibu juga ketahui kebutuhan khusus di Gunung Kidul yang masuk di sekolah kita sekarang sudah ada 1.308 siswa. Jadi siswa dengan kebutuhan khusus yang masuk tertampung di sekolah reguler ini ada 1.308 siswa, dan ini belum tergarap secara optimal karena belum tersediannya guru pembimbing khusus, masih diampu oleh guru-guru reguler biasa. Ini gambaran yang ada di kita yang coba kita lakukan terkait dengan pencegahan terhadap penanggulangan terhadap penduduk miskin dan juga sekaligus pengobatan terhadap penduduk miskin melalui pendidikan, kira-kira begitu, terima kasih. Sri Suhartanto (Bappeda) Terima kasih, yang pertama berkaitan dengan kemiskinan, kalau berbicara tentang kemiskinan memang tidak akan habisnya pak. Tadi sudah banyak disampaikan tentang berbagai fenomena yang berkaitan dengan kondisi dilapangan dan kemudian juga konsep-konsep penanggulangan kemiskinan tadi juga sudah ditawarkan Mbak Zaki, Mas Anang, kemudian dari FPPM juga ada analisis yang mengarah kesana. Tetapi kemiskinan itu memang perlu redefinisi kembali saya kira, redefinisi tentang pengertian kemiskinan itu sesungguhnya apa, kalau indikator atau parameter itu daerah sudah mencoba pak tetapi kadang-kadang kita sendiri masih bertanya-tanya tentang pengertian kemiskinan, sebab-sebab kemiskinan, akar masalah kemiskinan itu apa sebenarnya. Kemudian karena Tupoksi kami di Bappeda di bidang evaluasi ini kami sudah mencoba melakukan evaluasi tentang RPJM sampai dengan akhir 2009 dan materi kami juga kami masukkan menjadi suplemen didalam evaluasi akhir masa jabatan Bapak Bupati yang kemarin ada 48 catatan strategis sudah kami pahami yang berkaitan dengan evaluasi masa jabatan. Namun yang terkhusus dengan RPJM inikan kami sampai tahun 2009 ini sudah mencoba, kebetulan kami tidak membawa bukunya dan bukunya sebenarnya sudah kami cetak dan sudah kami bagikan ke semua SKPD untuk menjadi bahan nanti di dalam penyusunan Renstra SKPD, itu harapan kami karena didalam catatan evaluasi kami itu ada rekomendasi-rekomendasi tindak lanjut yang harus dilaksanakan oleh masingmasing urusan atau masing-masing SKPD. Kemudian disitu kami juga mencoba untuk mereview atau mengevalusi 22 sasaran target yang ada di RPJM. Ada target yang sudah tercapai ada yang belum, yang belum salah satunya adalah target penurunan kesmiskinan dari target 15% dan sekarang masih pada angka 25% angka versi BPS. Kemudian hal yang lain berkaitan dengan IPM ini memang masih menjadi catatan DPRD karena target 75% ini baru tercapai 70%, meskipun sebenarnya kalau kita bicara IPM itukan bukan lomba-lomba juara ini IPMnya

paling tingga. Kabupaten Malang itu IPMnya masih 69% dan beberapa kabupaten di Jawa Tengah, Jawa Timur itu masih ada IPMnya yang di bawah Gunung Kidul. Kemudian untuk yang lainya adalah infrastruktur, secara simple misalnya untuk jalan, untuk target jalan baik diatas 60% ini sudah tercapai 56% meskipun ada klasifikasinya sesuai dengan aspal dan sebagainya itu. Untuk air bersih masih menjadi catatan tersendiri, kemudian yang lain yang bisa kami sampaikan disini disektor pelayan publik untuk Indeks Kepuasan Masyarakat di Gunung Kidul sudah diatas 75%, jadi sudah sampai pada angka 77% di kantor pelayana terpadu karena sebetulnya di Gunung Kidul sudah melaksanakan perijinan dengan pelayan satu pintu. Kemudian di pelayanan puskesmas itu memang surveynya belum bisa menyeluruh itu juga di bebrapa Puskesmas juga yang sudah melaksanakan survey IKM juga sudah di atas 75%. Hanya untuk layanan-layanan publik yang lain itu belum seperti di sekolah ini juga melaksanakan Indeks kepuasan Masyarakat. Di rumah sakit sepertinya belum Cuma memang harapannya tahun ini sudah menjadi Badan Layanan Umum Daerah. Yang lainnya untuk sarana-prasarana pertanian sudah luar biasa kalau kita melihat dari capaian sampai dengan tahun 2009, secara naratif kami sudah menyampaikan di dalam evaluasi itu dari peralatan mesin kemudian sara prasarana seperti jalan usaha tani yang dibangun tahun 2004 itu sudah berkilo-kilo kilo meter. Dari sisi kecukupan pangan ini juga sudah tercapai sehingga Gunung Kidul mendapatkan pangan surplus pangan. Untuk lingkungan hidup dari kadar BOD dan PH itu memang sampai 2009 kami belum menyampaikan informasi yang valid karena yang dilaksanakan itu baru ditanah-tanah yang memang disitu sudah terkontaminasi pestisida, jadi secara metodologi kami masih ragu meskipun disitu sudah berani mencantumkan ada angka 7,6 untuk PH. Untuk laju pertumbuhan ekonomi sudah tercapai meskipun dari catatan Bu Andriyani masih dinilai stagnan, jadi meskipun sudah tercapai tetapi masih dibawah angka pertumbuhan ekonomi Propinsi DIY. Dari pergeseran ekonomi makro dari struktur ekonomi yang ada kita harapkan memang ada pergeseran, target untuk sektor jasa industri itu menurut RPJM 16% baru tercapai 14%, jadi belum tercapai. Sehingga rekomendasi kami dimasa yang akan datang Gunung Kidul itu bisa menebus di sektor jasa antara lain di bidang pariwisata karena pariwisata ini kalau itu dikembangkan menjadi bisnis itu akan sangat menarik dan tidak akan kehilangan potensi dan sebenarnya pariwisata ini kedepan yang dapat menggeser sektor ekonomi Gunung Kidul ke sektor jasa sehingga tidak hanya mengandalkan sektor primer dan sektor pertanian. Dan berdasarkan tipologi klasem di dalam evaluasi kamim juga ini adalah sektor yang potensial meskipun tidak prima karena tingkat pertumbuhannya tidak bisa ccepat, maksud kami tingat pertumbuhan yang tidak cepat itu masih dibawah pertumbuhan ekonomi sembilan sektor, tetapi ini potensial. Kalau yang pertanian itu mau diapa-apakan itu kalau di Gunung Kidul adalah sektor yang prima, jadi pertumbuhannya cepat karena sebagian besar pendududk tetapi yang sektor potensial harus di tumbuhkan. Termasuk untuk UMKM ini untuk mendorong kontribusi sektoral PDRB, mudah-mudahan nanti bisa diatas 17% itu saya kira bagus. Meskipun kalau kita lihat misalnya statistik di kota itu struktur industrinya malah turun. Kemudian dari indeks ketimpangan wilayah kita agak bangga ini karena kalau dibandingkan dengan kota atau Sleman ini baik dati tingkat indeks gini itu bagus.

Jadi kalau indeks gini itu semakin tinggi semakin timpang, kemudian untuk indeks ketimpangan perkecamatan itu hanya dua kecamatan ketimpangannya agak tinggi yaitu di Kecamatan Wonosari dan Gedangsari. Gedangsari itu sebenarnya ketimpangannya sudah semakin membaik hanya saja dibandingkan kecamatan yang lain masih kurang, kalau di wonosari memang karena kawasan cepat tumbuh, kawasan aglomerasi perkotaan. Sehingga kalau dikatakan tumbuh ya memang tumbuh tetapi akses-akses yang lain menimbulkan ketidakmerataan itu dirasakan, tetapi secara umum untuk Indeks Gini itu tidak terlalu mengkhawatirkan. Kemudian untuk indikator yang sifatnya sosial seperti misalnya rasio tempat ibadah saya kira kami tidak perlu menyampaikan kami hanya menyampaikan hal-hal yang pokok saja hasil evaluasi yang sudah kami lakukan. Kemudian menyambung tentang desa, memang kami harapkan bahwa desa tidak sekedar dialokasikan ADD artinya menata desa sejak perencanaannya, penganggarannya dan pertanggungjawabannya. Jadi di desa juga menyusun RKA sehingga juga mempertanggungjawabkan seperti RKPD, jadi semakin tinggi dana maka pertanggungjawabannya juga semakin berat kalau dikaitkan dengan anggaran kinerja ditingkat desa. Di desapun dalam pelaksanaan APBD juga dilakukan pemeriksaaan juga, sehingga didalam kinerja nanti diharapkan penataan keuanganjuga akan lebih baik. Dan mungkin nanti di desapun harus ada kegiatan, mungkin pengadaan, pelaksana teknis kegiatan dan sebagainya sehingga nanti di dalam desa itu kita harapkan ada RPJM Desa dan apapun rencana-rencana nanti di desa itu sudah ada. Jadi RPJM Desa ini memang kita harapkan wajib ada di desa kemudian RKP Desa kemudian Pertanggungjawaban APBDes yang tadi disampaikan Pak Warto tadi ada semacam perbaikan ke arah itu. Kemudian yang berkaitan dengan pagu indikatif kewilayahan, sebetulnya di musrenbang kemarin kita sudah mencoba menghitung pagu indikatif kewilayahan yang kita sampaikan di musrenbang dengan beberapa variabel yaitu jumlah desa, jumlah penduduk, jumlah penduduk miskin dan kemarin sebagai simulasi sudah kami sampaikan di Musrenbang Kecamatan menggunakan istilah kami Pagu Indikatif K ewilayahan, kemudian ada pengintegrasian musren ditingkat kecamatan antara musrenbang reguler dengan PNPM meskipun bari sebatas MAD menentuan prioritas karena memang tahapan-tahapannya masih ada penghitingan biaya, kemudian penetapan, jadi baru sebatas keserasian waktu antara Musrenbang Kecamatan dengan penentuan prioritas kegiatan, saya kira itu informasi yang bisa kami sampaikan, terima kasih. Kiswanto (Dinas Tanaman Pangan dan Holtikultura) Terima kasih sebelumnya assalamualaikum warrohmatullohi wabarokatu, jadi tadi juga disebutkan di presentasi awal bahwa Gunung Kidul ini lebih dari 70% adalah petani, dan basis orang miskin adalah petani, saya kira tepat jika pertanian menjadi basis pertumbuhan ekonomi di Gunung Kidul ini seperti tadi di indikasikan oleh Bappeda bahwa ini juga berkorelasi positif. Disamping itu PDRB di Gunung Kidul masih di dominasi sektor pertanian, jadi masih sekitar 35%. Ini menandakan sejatinya bahwa untuk pengambilan kebijakan sampai dua puluh tahun kedepan ini saya masih meyakini bahwa PDRB sektor pertanian masih akan mendominasi pada RPJMD 2010-2015. Tugas kami di Dinas Tanaman Pangan dan Holtikultira ini sebuah kebijakan Kabupaten Gunung Kidul atas keterpihakannya terhadap pembangunan pertanian dalam arti luas. Tadi Pak Irawan melemparkan

pertanyaan bagaimana kedepan kelembagaan perlu di evaluasi menurut saya yang dipertanianpun saya berpikir ini perlu di evaluasi pak, jadi mungkin di restorasi. Nah penataan ulang kelembagaan ini juga perlu dilihat disamping dari nomenklatur kelembagaan pertanian luas tetapi juga kedalamnya misalnya bidang bina program yang kemarin sudah baik karena terlalu menuruti PP 41 hapus, ini akhirnya terasakan oleh teman-teman Bappeda maupun SKPD teknis ini sangat terasa, saya kira ini menjadi catatan penting bagaimana nanti restorasi SKPD kedepan ini perlu di evaluasi. Nah tugas kami adalah meningkatkan produksi dan produktifitas tanaman pangan dan holtikultura, dan ini sudah terbukti bahwa kemarin dua tahun berturut-turut Gunung Kidul memperoleh penghargaan ketahanan pangan nasional, bahkan mampu meningkatkan produksi beras atau padi lebih besar 5% dari target nasional P2BN sementara Gunung Kidul bisa meningkatkan 19%. Dan ini tercapai karena sebagian besar Gunung kidul ini adalah lahan kering sekitar 52 ribu hektar, ini merupakan potensi nasional. Jadi produktifitas padi lahan kering Gunung Kidul sudah hampir dua kali lipat dari produktifitas nasional, jadi kalau rerata produktifitas nasional itu baru mencapai 2,3 ton perhektar gabah kering giling sementara untuk Gunung Kidul sudah mencapai hampir 4,5, jadi kemarin tidak heran apabila petani Afrika pun belajar pada kita. Produksi kita kalau kita hitung penduduk Gunung Kidul berdasarkan pemilihan bupati kemarin itu ada 758 ribu orang dikalikan konsumsi beras kami sekitar 105, jadi kami juga menyandang prediikat bisa berswasembada beras. Jadi beras ini berswasembada kita sudah tiga tahun berturut-turut, sementara tantangannya adalah konsumsi beras ini ada kecenderungan naik. Yang kedua adalah leveling up dari lahan, lahan kering akhirnya yang mungkin terdegradasi akhirnya kemerosostan terhadap produktivitas terjadi. Yang ketiga adalah diakui atau tidak bahwa alih fungsi lahan pertanian akan terjadi meskipun paling lambat, tetapi dua puluh lima tahun kedepan mungkin lahan kering Gunung Kidul beralih seperti kota. Kota itu tercepat di susul Sleman, Bantul, Kulon Progo baru Gunung Kidul, ini tantangan saya kira perlu menjadi bahan pemikiran kedepan. Kemudian untuk indikator keberhasilan yang pertama kita harus mempertimbangkan lagi SPM, karena itu banyak dilupakan, kemudian harus ada benang merahnya antara daerah dengan pusat. Kita juga harus mencantumkan NTP (Nilai Tukar Petani) karena saya pikir NTP akan menjadi parametar yang baik dan kedepan menurut kami perlu dikembangkan juga pertanian yang industrial. Kemuadian yang kedua adalah integrated falming, karena apa? kendala-kendala yang saya sebut didepan insyaallah bisa dipecahkan dengan berbagai solusi. Terkait dengan penganggaran, Gunung Kidul kalau dilihat dari DAUnya pertanian itu sangat kecil, hanya 129 juta. Sementara kita di back up mati-matian oleh pemerintah pusat, kami sekarang dana tugas bantuan memperoleh 5,9 milyar, benihnya 12 milyar masuk Gunung Kidul. Apa kami pertanyakan ke Jakarta kemarin kenapa Gunung Kidul bantuannya terbesar? karena Gunung Kidul suka atau tidak suka termasuk daftar 190 daerah tertinggal, sehingga kalau daerah tertinggal petani miskin itu kata kunci untuk meningkatkan produktivitas adalah wajib diberi benih, benih unggul itu harganya mahal. Sehingga benih itu merupakan bantuan kementerian pertanian dalam bentuk PSO (Publik Service Obligation) yang kementarian menunjuk dua BUMN yaitu PT Sang Hyang Sri

dengan PT Pertani dan itu langsung wujudnya benih yang harus diterima petani. Bantuan itu berupa benih untuk tiga komoditas utama berupa padi, jagung, kedelai dan ditambah kacang tanah untuk 2010. DAK kami cukup besar 2,3 milyar karena memang DAK diarahkan oleh kementerian dalam rangka membangun infrastruktur pertanian tanaman pangan holtikultira dan peternakan antara lain jalan usaha tani, jalan produksi dan sebagainya. Kemudian pendekatan untuk memberdayakan petani adalah dalam bentuk SLPTT (Sekolah Lapangan Pemberdayaan Sumber Daya terpadu) artinya disitu diberi insentif benih dan sentuhan teknologi untuk memberdayakan mereka agar mandiri. Kemudian ketarpadua yang kami maksudkan integrated farming itu sebenarnya dengan peternakan itu mungkin paling dekat, karena ini akan terjadi siklus jadi ternak itu menjadi pabrik yang mengeluarkan kotoran yang kotoran itu akan diolah yang kedepan dicanangkan go organik itu. Perlu diketahui bahwa kami memberikan sumbangan terhadap kehidupan peternakan itu 53% limbah tanaman pangan dan holtikultura itu untuk hijauan pakan ternak yang impor itu 3,4% pertahun, untuk kehutanan kami ingin mengembangkan PAT (Perluasan Areal Taman) untuk pengembanagan tanaman pangan karena ini belum dikelola secara insentif, saya kira itu pak beberapa hal yang dapat kami sampaikan. Dan yang terakhir mungkin hubungannya dengan Bappeda karena nanti ini juga RPJMD tetalh disusun dan juga RT RW telah disusun, kita ingatkan bahwa untuk antisipasi alih fungsi lahan ini telah lahir undang-undang 41 2009 tentang perlindungan lahan pertanian pangan berkelanjutan, ini suatu yang sangat bagus saya pikir ketika ini di implementasikan untuk kedepan memenuhi hak dasar atas pangan bagi penduduk terutama juga orang miskin, saya kira ini catatan penting bagi kami, terima kasih wassalamualaikum warrohmatullohi wabarokatu. Saptoyo (DPPKAD) Assalamualaikum warrohmatullohi wabarokatu, yang pertama terkait dengan penduduk miskin saya sepakat dengan Pak Sri tentang redefinisi karena sekarang ini masing-masing departemen mempunyai kriteria sendiri terhadap penduduk miskin, kesehatan punya, pendidikan pnya, BPS ada, di KB ada dan masingmasing mempunyai indikator sendiri, tadi Pak Sekda sudah mengatakan bahwa di pusat yang diakui adalah BPS tentunya ini menjadi kebijakan SKPD untuk mengarahkan berbagai program dan kegiatannya pada satu titik. Kemudian terkait dengan tadi dari Mas Anang dan Mbak Zaki terhadap adanya tanggapan terhadap DAU dan DAK yang tersu dari tahun ketahun menagalami peningkatan tetapi ternyata kemiskinan masih juga tinggi, ini mungkin perlu dilihat dari berbagai sudut pandang juga. Yang pertama terkait dengan hal tersebut ada salah satu teori yang mengatakaan bahwasanya ketika terjadi peralihan dari penduduk miskin menjadi penduduk lebih kaya maka disitu hars ada pengukuran kemiskinan juga harus bertambah. Sehingga sangat wajar ketika selama ini kalau dilihat secara nyata realita dilapangan, kesejahteraan ini juga sudah meningkat, yang dulunya hanya makan gaplek kemudian bisa makan nasi pakai lauk, tetapi karena pengukiuran kemiskinan itu semakin ditingkatkan otomatis angka kemiskinan itu juga terus mengalami peningkatan juga sehingga itu juga perlu menjadi pertimbangan.

Yang kedua yang menyebabkan DAU dan DAK selalu meningkat tetapi kemiskinan masih tinggi, bahwa salah satu yang menyebabkan adalah posisi lemahnya pemerintah daerah terhadap kebijakan pemerintah pusat. Salah satu indikatornya adalah bisa dilihat dengan adanya peraturan atau undang-undang terkait dengan dana perimbangan yang sampai saat ini belum ada perubahan, disatu sisi tadi juga sudah disampaikan jumlah kabupaten kota sebagai pembagi DAU-DAK itu yang terus bertambah sehingga yang diterima oleh daerah sebagian justru menurun. Kalaupun ada peningkatan itu tidak sebanding dengan jumlah beban yang harus ditanggung pemerintah seperti pertumbuhan jumlah belanja pegawai yang terus meningkat jauh melebihi peningkatan jumlah DAU yang yang diterima pemerintah daerah. Hal ini terkait dengan inkosnsistensi dari pemerintah pusat juga dimana adanya kebijakan untuk mengangkat honorer. Kemudian terkait dengan sharing ini anggaran sangat memberatkan daerah jadi perlu di pusat memberikan bantuan tetapi harus diikuti untuk sharing, sehingga untuk gaji dan sharing saja DAU sudah habis. Terkait dengan DAK ini perlu mendapatkan pembahasan tersendiri karena penggunaannya sudah di tentukan oleh pusat alokasinya, memang sebagian itu sesuai dengan kebutuhan di daerah, itu untuk di pertanian bisa nyasar sesuai dengan kebutuhan di daerah, tetapi penikmatnya orang yang punya lahan. Dari sudut pertanian dengan LSM ada perbedaan juga, terkait dengan DAK cukup kakunya tanpa ada ruang yang cukup untuk bisa merubah atau mengalihkan pemanfaatannya sehingga menjadikan daerah menjadi pada posisi yang sangat sulit. Contohnya di dinas perhubungan, DAK pemanfatan hanya untuk mobil, mobiol yang tidak sesuai dengan kondisi di Gunung Kidul, untuk angkutan perintis CCnya besar tetapi tidak bisa dimanfaatkan tetapi harus diterima sebab kalau tidak diterima nanti DAK tahun berikutnya akan berkurang jika itu tidak diterima. Di pendidikan ada aturan pemanfatannya sekian persen untuk buku, sekian persen untuk rehab gedung, perpustakaan dan sebagian untuk operasional, tetapi ada joblist yang sama disitu dibatasi pemanfaatannya. Maksimal per paket sekian juta sehingga ketika itu di aplikasikan ada kelebihan enam milyar untuk buku yang ridak bisa terjabarkan, ini baru kita usahakan agar bisa di geser untuk rehab gedung. Kemudian banyak hal yang di DAK tersebut yang sebagian memang sesuai tetapi banyak hal dipaksakan diterapkan di daerah yang tidak sesuai. Terkait masalah kemiskinan di Gunung Kidul perlu juga dilihat penyebabnya dari berbagai hal, kalau dari sisi masyarakat di Gunung Kidul adalah petani sudah menjadi swasembada tiga tahun kok miskin, jadi profesi itu meskipun produksinya banyak apakah itu bisa mengangkat derajat kehidupan mereka. Karena di sleman yang airnya melimpah saja kita mau cukup aja sangat sulit apalagi di Gunung Kidul yang itu relatif sangat rentan sekali tarhadap iklim. Yang menjadi PR kita bersama bagaimana mereka bisa kita beri profesi lain tambahan seperti peternak, tetapi makanan ternak itu sendiri diambil dari bawah. Kemudian yang perlu menjadi PR kita adalah belum jelasnya tolok ukur untuk pengentasan kemiskinan yang bisa menjadi pedoman dari seluruh SKPD. Mereka sebagian besar belum tahu target mereka melalui program dan kegiatannya itu akan mengarah untuk mengentaskan berapa pesrsen melalui indikator yang mana dari 14 indikator di BPS tadi. Sehinngga SKPD mempunyai target yang jelas, indikator yang mana,

akan di capai berapa tahun, sehinngga itu perlu kita komunikasikan bersama dengan semua SKPD. Kemudian adanya ketergantungan pada bantuan ini menjadi suatu hal yang selam ini menjadi PR kita bersama, Gunung Kidul itu diam saja banyak bantuan ke Gunung Kidul sehingga bagaimana kita itu bisa mengubah mindset masyarakat sehingga tidak sekedar menunggu bantuan tetapi bagaimana bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri untuk mengentaskan dari kemiskinan. kemudian terkait keterpaduan program-progarm pusat dengan daerah, bagi SKPD yang mempunyai dana dekon selama ini kalau tahun-tahun sebeleunya langsung dari SKPD ke pusat sehingga kita tidak tahu yang diterima SKPD ituyang dana dekon itu apa saja sehingga seharusnya itu bisa saling melengkapi. SKPD yang sudah menerima dana dekon yang banyak tentunya dari porsi APBD seharusnya mungkin bisa dikurangi diarahkan pada SKPD yang sangat sedikit dananya. Kemudian selama ini juga terkait dengan dokumen perencanaan baik itu RPJM, RKPD, ataupun renstra mungkin selama ini belum dimanfaatkan sebagai bahan penyusunan RPJM. Sehingga ini menjadi PR kita bersama saya kira kalau ada istilah hukum sebagai panglima, dokumen perencanaan sebagai panglima dalam ranah perencanaan, saya kira kabid atau kasi ini harus punya satu-satu sebagai bahan penyusunan perencanaan kegiatan. Terakhir terkait dengan kelembagaan saya sangat sepakat ketika terlalu gemuk juga membebani APBD, namun tentunya ini juga tidak sembarangan. Dalam artinya sudah dipersiapkan dulu mungkin ketika akan dilakukan perampingan agar dipersiapkan dua tiga tahun sebelumnya, yang kosong jangan di isi dulu sehingga tidak banyak pejabat yang stres karena kehilangan jabatan sehingga mungkin juga akan memunculkan kemiskinan di kalangan pegawai dan menghindari banyak yang stres, saya kira ini dari kami ada kurang lebihnya mohon maaf, wassalamualaikum warrohmatullohi wabarokatu. Siwi Iryanti (Disperindagkoptam) Assalamualaikum warrohmatullohi wabarokatu, terima kasih dari beberapa pembiacara kami akan menggarisbawahi yang pertama kami setuju ada redefinisi tentang kemiskinan sehingga nanti kita satu kata. Yang kedua kami juga menggarisbawahi ada evaluasi reformasi birokrasi terhadap PP 41 karena pada perjalan waktu mungkin ada beberapa institusi yang mungkin perlu saling di revisi ataupun bukan hanya jenis jabatannya tetapi juga mungkin tugas pokok fungsinya karena ada dimasing-masing itu yang memang tumpang tindih. Pada workshop hari ini dari Dinas Perindagkoptam memang tidak secara langsung bisa mengurangi kemiskinan. Seperti tadi disampaikan Pak Joko SKPD Perindagkoptam itu seperti apa dalam mengurangi kemiskinan karena kita tidak bisa secara langsung tahu persis RTM sekian dengan kegiuatan terkurangi sekian karena memang kita ada kegiatan yang memang itu tidak bisa langsung menyasar RTM. Misalnya pada perindustrian ada program peningkatan program industri kecil menengah, jadi kalaupun dia nanti kita tingkatkan baik kualitas, produk dan segalanya imbasnya dia akan bisa meningkatkan kesejahteraanya. Selanjutnya juga untuk kaitannya pedagang kecil, tadi disampaikan juga bahwa untuk kesempatan kerja itu lebih banyak ke informal. Kita salah satu tugas pkoknya juga membina pedagang kaki lima dengan kegiatan-kegiatan yang bisa mengarah pada pengurangan kemiskinan. Kemiskinan itu tidak bisa dihilangkan tetapi hanya

dikurangi, tadi disampaikan dengan meningkatnya anggaran tetapi kok tidak dengan sendirinya RTM itu turun karena kita dilapangan ada saat kita berbicara P2KP misalnya pembangunan jalan. Pembangunan jalan kan tidak serta merta mengurangi rumah tangga miskin sekian kecuali memang misalkan di RTM kita latih ketrampilan, itu saja belum bisa menjamin seratus persen terangkat. Selanjutnya tadi disampaikan bahwa untuk kasus-kasus tentang pembuatan pasar yang di Sambirejo itu memang mengakui secara perencanaan tidak secara komplek antara desa dan juga dari masyarakat, SKPD juga memang belum ada pemahaman mereka harus membayar secara rutin dengan jumlah sekian dan meraka bisa tidak dengan volume kerja uang yang didapat itu untuk membayar karena uang dari kementerian koperasi itu harus mengembalikan, berbeda kalau dari sosial seperti hibah. Selanjutnya kita kalau bicara dokumen RPJM kalau kita akan bahas tentang RT RW dan didalamnya juga kita dari pertambangan juga menanti ada zonasi pertambangan yang sampai saat ini belum ada itu yang menjadi dilematisnya pemerintah kabupaten dengan supersonik sehingga sampai saat ini kita tidak mengeluarkan ijin tambang karena belum ada zonasi. Karena Supersonik itu menghidupi banyak sekian orang tetapi disatu sisi dilihat dari letaknya itu daerah kars dan itu sampai sekarang belum ada keputusan dan itu masih kita formulasikan. Selanjutnya dari kegiatan penambangan itu juga rentan dengan kemiskinan karena mereka juga tidak memiliki lahan yang notabene lahannya tidak punya tetapi dia memiliki keahlian untuk sebagai buruh sehingga itu juga menjadi sisi kantong-kantong kemiskinan juga yang memang perlu semacam ada wacana seandainya sudah tertutup kemungkinan sebagai penambang. Selanjutnya kami menyoroti PDRB kita masih di dominasi sektor pertanian, namun demikian memang 20 tahun kedepan itu masih kepertanian. Tetapi mungkin juga perlu kita sadari juga nantinya arah pertaniannya juga akan berbeda karena semakin lama petani berkurang arahnya ke arah industri dan jasa. Jadi kami juga mendukung karena nantinya pertanian ke arah agro indusri nanti kita arahkan kesana, dan hasil dari pertanian kalau kita tidak pinter-pinter dalam artian mengevaluasi hasilnya tidak akan memuaskan. Jadi arah untuk pengambangan PDRB memang seandainya dari sektor primer itu turun akan ke arah sekunder dan tersier, itu hal-hal yang mungkin yang kita soroti. Kami sepakat juga Pak Irawan mari semua SKPD untuk bisa memformulasikan RPJM dan jiuga sinergi dengan renstra RKPD kami sangat mendukung namun demikian banyak hal, banyak hambatan untuk mewujudkan itu namun dengan niatan dan kita semua bersatu insyaallah itu akan terwujud. Karena kita juga lihat hambatan di masing-masing lembaga atau SDM tidak semua mengerti sekali kesinergaian antara dokumen tersebut. Karena memang disatu institusi kami masih melihat di masing-masing itu dalam menyusun renstra masih belum secara satu kata. Ada diantaranya hanya pemikiran satu orang, itu masih kita akui memang belaum secara satu kata atau satu pemikiran. Selanjutnya kami juga sampaikan bahwa di dinas kami ada semacam kegiatan-kegiatan yang bisa diarahkan ke RTM itupun program dari pusat, misalnya ada OP Migor itu arahnbya ke RTM walaupun sasarannya tidak selalu tepat 100%. Karena ada diantaranya justru letaknya jauh sehingga tidak terjangkau dan waktu juga kendala. Yang kedua subsidi gas 3 kg, itu sebenarnya sasarannya yang pertama adalah yang memakai minyak tanah

sehingga pada waktu dekat ini akan diatur tata niaganya untuk kaitannya gas 3 kg. Sedangkan saat ini ada indikasinya naik, sehinga barang dipasar itu relatif sedikit, itu mungkin hal-hal yang sebenarnya sasarannya sudah seperti itu tetapi pada realisasi dilapangan banyak mengalami pergeseran. Itu mungkin hal-hal yang bisa kami sampaikan terkait dengan kegiatan dari Dinas Deperindagkoptam walaupun secara singkat, wassalamualaikum warrohmatullohi wabarokatu. Bambang (BPMPKB) Assalamualaikum warrohmatullohi wabarokatu, terimakasih tidak banyak yang akan kami sampaikan yang pertama bahwa kita perlu redifinisi tentang kemiskinan. Saya justru berfikir lebih jauh kenapa kita repot mikir disini padahal yang miskin saja enjoy kok kita repot. Hal ini kita lihat dari sikap dan perilaku masyarakat kita yang sekarang ini masih sangat suka untuk meminta dan menerima bantuan. Berangkat dari kondisi ini saya memiliki gagasan untuk kita membuat gerakan malu miskin, karena masyarakat kita tidak malu miskin karena kalau tidak tercatat dalam KK miskin malah marah, karena pasti tidak akan mendapat bantuan. Dari sikap-sikap seperti ini mari kita menyadarkan kepada masyarakat untuk bisa merubah nasib dengan usaha, saya yakin kalau gerakan itu kita lakukan bersama-sama kita akan mendapatkan hasil yang lebih baik. Ini penting karena hal ini kami bandingkan ternyata masyarakat Korea itu samasama berangkat dari kondisi yang sangat miskin itu sentuhan pertama pada sentuhan di mental, orang Korea berpendapat intervensi apapun dilakukan kalau mentalnya belum baik itu tidak akan gunananya. Sehingga sentuhan pertama itu berhasil kemudian disentuh secara fisik itu akan berhasil. Kemudian selanjutnya yang berkaitah dengan tugas pokok BPMPKB yang telah dilakukan BPMPKB selama ini sama dengan yang disampaikan Bu Siwi tadi. Jadi pada intinya kami SKPD dalam pelaksanaan yang khusus bersinggungan dengan kemiskinan itu kita tidak bisa mengukur apakah kegiatan kita sudah menurunkan angka kemiskinan berapa persen itu kita tidak mengukur sampai disana. Memang benar apa yang disampaikan Pak Sekda tadi sehingga kedepan bisa kita peroleh solusi yang lebih baik. Benar disampaikan Bu Siwi tadi kita itu tidak bisa mengaitkan secara langsung misalnya kegiatan-kegiatan kita menguarani kemiskinan. Misalnya dalam kegiatan P2KP, dalam kegiatan P2KP ada unit pengelola sosial dan unit pengelola lingkungan selain unit pengelola ekonomi. Ini juga selama ini telah kita upayakan pembinaan P2KP Gunung Kidul sejumlah sembilan belas BKM itu memang tidak semuanay baik tetapi ada beberapa yang telah berhasil dengan baik. Jadi guliran-guliran dana yang diterima dari pusat itu telah dapat dikembangka ditingkat bawah seperti misalnya terakhir kemarin di Desa Kepek dari modal awal sekitar 300 juta sekarang di Desa Kepek asetnya sudah mencapai 900 juta, kemudian di tahun 2011 akan ditargetkan mungkin bisa mencapai 1,1 Milyar. Namun demikian kita juga tidak berhenti mendampingi masyarakat khususnya dalam program-program penanggulangan kemiskinan. Kemudian yang perlu kita sepakati bersama memang dari semua SKPD itukan semua melakukan intervensi di desa, sehingga budaya lu lagi- lu lagi itu memang muncul dimana-mana. Misalnya dari Badan Pemberdayaan Masyarakat, kemudian dari Dinas Pertanian dan dari swadaya yang lain itu pelaku-pelakunya memang itu-itu juga. Untuk mengatasi hal tersebut memang dari SKPD itu memang fungsi

dan peran dari TKPKD itu memang perlu diperkuat, khususnya dalam program penanggulangan kemiskinan di Gunung Kidul. Selanjutnya yang kita kaitkan SKPD yang berkaitan dengan beberapa kegiatan yang sudah selesai dilakukan kemudian untuk memberikan perlindungan yang kuat di tingkat desa, tentang usaha mikro dan kecil misalnya seperti Pasar Desa, BKM misalnya. Nah itu kita mulai tahun ini kita telah memfasilitasi teman-teman ditingkat desa untuk membentuk badan usaha milik desa ditingkat desa. Kita juga sudah mulai merintis dilapangan supaya nanti tidak ada tumpang tindih dengan SKPD-SKPD yang lain. kemudian budaya “lu lagi-lu lagi” tidak terjadi lagi, jadi mungkin kegiatan beberapa SKPD itu kita payungi dalam satu kelembagaan. jadi itu hal-hal yang banyak kami lakukan disamping kegiatan yang lain namun demikian memang tidak bisa dikaitkan langsung dengan penurunan angka kemiskinan. Kemudian sekarang ini di Gunung Kidul sudah terbentuk Bazda (Badan Amil Zakat daerah) itu langkah baiknya nanti apabila kedepan mungkin bisa kita ajak ikut bergabung dalam forum seperti ini karena kebetulan ketuanya juga Pak Sekda. Mungkin sementara itu yang bisa kami sampaikan bapak dan ibu ada kurang lebihnya mohon maaf, wassalamualaikum warrohmatullohi wabarokatu. Nur Faiza (Dinas Kesehatan) Assalamualaikum wabarokatu, menyambung yang dikemukakan bapak dan ibu dimuka bahwasannya memang kalau di Gunung Kidul kita memang kita susah untuk memetakan mana yang betul-betul sehat, mana yang betul-betul sakit, mana yang TS-TS (tidak sehat tetapi juga tidak sakit). Akar permasalahannya memang kita komitmen di RPJMD itu akhirnya untuk rakyat di Gunung Kidul tercinta jadi memang harus dibenahi dulu di sistem itu ya, karena di kesehatan yang dilayani juga tidak hanya dari Gunung Kidul, kalau daerah-daerah perbatasan lebih banyak misalnya Semin, Nglipar II itu banyak dari Klaten dan sebagainya. Selanjutnya kami setuju juga bapak dan ibu untuk melihat siapa yang harus kita jadikan sasaran dari penanggulangan kemiskinan itu harus menggunakan satu data yang sama, karena kalau kita punya data sendiri dan tidak diakui pusat ya sama saja. Cuma kita harus ingat bahwa misalnya kita punya sejumlah RTM yang ada didalam satu wilayah tidak berarti kalau sudah kita entaskan tidak ada RTM baru karena ternyata berturut-berturut terkena sakit juga bisa menjadi miskin. Karena ternyata di Gunung Kidul itu kalau kita lihat dari pembiayaan kesehatannya ternyata banyak pengeluaran masyarakat itu ke fasilitas kesehatan swata. Jadi tidak ke Gunung Kidul, yang masuk ke Gunung kidul saja sudah lumayan banyak karena PADnya paling tinggi, tetapi diluar itu memang potensi pengeluaran masyarakat ini sangat tinggi sekali, dan kalau itu kita bisa tangkap bolehlah Gunung Kidul bisa seperti Singapura-nya DIY. Yang lain terkait dengan pertanian kita di Indonesia belum banayak bahan obat yang ditemuikan dan diteliti jadi itu silahkan kalau mau dikembangkan. Dan itu nanti akhirnya mengarah ke pengobatan yang holistik, tidak hanya mengobati penyakitnya tetapi juga sehat jiwanya juga. Kemudian untuk hubungannya dengan SPM siapa saja yang harus dilayani oleh pelayan kesehatan, secara angka untuk SPM 1 – 18 rata-rata sudah kita penuhi karena harus kita capai. Karena itu yang harus diwajib dilakukan oleh pemerintah, didukung oleh swasta dan fasilitas kesehatan yang lain didalamnya. Cuma yang rendah ini yang terkait dengan

pendidikan, yaitu screaming untuk siswa, deteksi tumbuh kembang balita (PAUD), dan juga neonatalisti kematian ibu dan bayi. Kemudian yang lain juga yang kami kesulitan adalah SPM yang diukur apakah betul-betul dirasakan rakyat Gunung Kidul, apakah kita sudah mencapai sekian prestasi dari target-target yanhg di syaratkan oleh pusat itu? Apakah betul itu dirasakan masyarakat? jangan-jangan secara angka tercapai tetapi masyarakat masih belum puas. Kemudian yang lain slogan “sehat itu mahal” itu saya tidak setuju bahwasanya sehat itu murah pak kita tidak perlu biaya untuk kedokter, tidak merasakan sakit. Kemudian kalau sakit itu barulah mahal dan tidak enak, sehat itu adalah Hak Asasi Manusia sehingga kalau mengukur kesehatan dari aspek pengeluaran memang bias tetapi di Gunung Kidul justru menjadi pendapatan. Dan kesehatan itu merupakan investasi untuk manusia karena kalau mungkin kalau di DPPKAD kalau bantuan gakinnya dikurangi mungkin bias mungkin bisa stress. Kemudian yang lain bahwa sehat itu bukan untuk orang, orang miskin dilarang sakit itu saya juga tidak setuju, artinya baik mau miskin mau kaya itu tidak boleh sakit. Kemudian hubungannya dengan RPJMD kebetulan kami juga atas inisisasi dari Bappeda terima kasih kemarin juga dengan GTZ itu juga menyusun master plan bidang kesehatan di Gunung Kidul, itu nanti seperti RPJPNnya, kemudian RPJM tetapi masih draff. Kemudian ada juga Sistem Kesehatan Daerah, jadi siapa punya porsi apa, propinsi apa, swasta apa, lintas sector terkait lain itiu apa, stake holder yang lain karena kita sadar bahwa Dinas Kesehatan tidak bisa mengatasi semua, satu itu. Yang kedua kalau kita hanya mengandalkan dana dari pusat resikonya tinggi, datangnya retribusi bulan empat desember akhir tahun dengan waktu yang sesedikit itu dana yang banyak itu harus cepat selesai, itu apa kalau namanya kalau dulu Bandung Bondowoso mungkin bias tetapi saya belum menukan personil yang seperti itu. Kemudian yang lain adalah tentang sumber pembiayaan kesehatan yang dominan itu dari masyarakat tetapi kita patut berbangga karena apa? dari belanja kesehatan perkapita di Gunung Kidul sudah melebihi dari yang direkomendasikan oleh WHO yang mengsyaratkan 34 USD perkapita, tetapi dari perhitungan yang diperoleh sudah 46,5, jadi masyarakat sudah mandiri di bidang kesehatan. Kemudian kontribusi rumah tangga yang lebih tinggi dibanding pemerintah inilah yang membuat Gunung Kidul dari belanja kesehatan yang ditanggung publik itu paling besar. Kemudian yang lain adalah tentang perindustian tadi tentang RT, RW ya bu, saya tidak tahu RT, RW juga melibatkan kesehatan karena kalau zonasi otomatis kita mau tambang didaerah mana? Karena tahu di wonosari itu Ispanya tetap tinggi tahun pertahu karena debu, kemudian kalau di Ponjong karena tetangganya bukit itu tidak masalah. Selain itu untuk pertanian mungkin kesehatan kerja bapak ibu di pertanian itu kalau sudah tua kena hernia, operasinya mashal. jadi saya tidak setuju kalau pembiayaan hanya masyarakat miskin hanya dihitung untuk masyarakat miskin tetapi yang setengah miskin atau yang kaya tidak dihitung, yang penting harus total coverage cuma kalau yang kaya harus berkontribusi sekian, menengah sekian kemudian yang miskin kita hitung dari anggara yang ada dipusat itu tadi. Kemudian isu malpraktek, terkait dengan fasislitas kesehatan swasta, untuk kesehatan itu selama bidan bisa cabut gigi dan perawat gigi bisa menangani persalinan itu memang kita tidak butuh tambah tenaga yang spesifik, tetapi mohon maaf karena tidak bisa jadi memang

untuk kebutuhan spesifik kita masih anastesi dan spesialis anak khusus memang kita butuhkan. Karena Gunung Kidul punya bluezone memang bagus untuk membangun baron technopark dan memang bisa dikembangkan ke arah situ dan untuk fasilitas kesehatan memang bias dikembangkan kearah situ. Terima kasih mohon maaf kalau ada kekurangan, wassalamualaikum warrohmatullohi wabarokatu. Slamet (BPS) Assalamualaikum warrohmatullohi wabarokatu, untuk BPS biasanya masalah data ya bapak ibu sekalian, jadi seperti yang tadi dikatakan Pak Sekda, misalnya bantuan dan apa saja dari pusat itu biasanya dipakai dari BPS itu karena BPS itu instansi vertical jadi dekat dengan pusat, kalau di daerah agak dekat juga tetapi tidak begitu. Tetapi untuk aksi atau untuk intervensi ke masing-masing di daerah SKPD itukan dipersilahkan, jadi asalkan bantuan kalau dari pusat itu rujukannya BPS. Tetapi kalau daerah atau wilayah mau intervensi itu silahkan, masalahnya tidak semua data itu ada di BPS, contohnya seperti data kemiskinan untuk yang by name itu BPS baru melakukan dua kali. Tahun 2005 yang namanya PSE itu untuk yang kompensasi BLT itu dan baru yang kemarin di update tahun 2008. Untuk yang lainnya untuk kemiskinan yang tiap tahun ada itu hasil survey, itu merupakan susunan sampel bukan pendataan secara sensus karena biaya sensus sangat besar dan membutuhkan tenaga atau waktu yang sangat banyak. Terus untuk yang lainnya termasuk yang kesehatan tadi yang banyak biayanya banyak dari swasta karena secara survey susunan itu bisa memunculkan angka. Jadi mereka berobatnya kemana? mungkin ke bidan, swata daripada yang ke Puskesmas. Kalau pendataan kita kerjasama dengan pertanian jiuga untuk memunculkan angka-angka produksi tanaman pangan misalnya padi palawija. Mudah-mudahan selama ini BPS tetap netral sesuai dengan apa yang dilapangan. Untuk PKH itu hasil dari BPS tahun 2007 untuk pelindungan sosial, PKH itu ditujukan rumah tangga yang sangat miskin sekali dan itu ada syaratnya: disitu ada anak sekolah, ada balita dan ibu hamil, dan untuk memutus rantai kemiskinan itu harus dimuali dari situ karena untuk ya itu tadi orang tua boleh miskin tetapi anaknya di usahakan tidak miskin lagi. Dan untuk bulan ini melakukan sensus penduduk selama bulan Mei dan yang belum terdata bisa melapor sampai tanggal 15 silahkan lapor ke RT atau RW. Mungkin ini dari BPS tidak banyak, wassalamualaikum warrohmatullohi wabarokatu. Pak Dul (SANGGAR) Assalamualaikum warrohmatullohi wabarokatu, terima kasih untuk waktu yang diberikan, saya sepakat tetapi kurang begitu pas untuk bapak yang dari subermas tadi, karena apa orang miskin saja diam saja kenapa kita harus sibuk bingungbingung mikir. Saya dari rakyat yang paling miskin dibawah pak, saya dari Paliyan, rakyat miskin yang paling bawah kebetulan saya disenggol oleh temanteman IDEA untuk masuk dalam SANGGAR, Sanggar itu adalah singkatan dari Sinau Anggaran Pemerintah Daerah Kabupaten Gunung Kidul makanya kami tahu persis berapa nilai Gunung Kidul. Lahir miskin itu hal yang biasa, tetapi mati miskin itu naudubilahimindalik, karena kita punya slogan sudah lama menangis kapan kita akan tersenyum, inilah slogan orang miskin. Saya sepakat dari bapak

yang dari Jawa Barat terlebih pada Pak Warto, terima kasih teman-teman yang hadir. Kalau teman-teman atau bapak-bapak ibu-ibu anggoata dewan melakukan resease kalau kami melakukan monitoring ditingkatan rakyat kecil pernah masuk satu bulan yang berlalu. Banyak kegiatan yang harus kita pelajari dan ini menjadi media belajar kita bersama, antara lain disisi pertanian inilah kemarin yang telah kita lakukan, sebetulnya disisi pertanian ini belum tahu persis tentang keberadaan pertanian, inilah kebarangkatan kita tetapi kenyataan belum dimengerti persis apa yang menjadi makna pertanian. Sehingga teman-teman yang ada di desa ini sulit mengembalikan jati diri seorang petani. Insyaallah nanti bapak-ibu anggota dewan atau bapak-bapak yang memagang kebijakan di pertanian ini bias merekomendasikan bahwa pertanian akan memposisikan yang telah tadi dikatakan bahwa pertanian akan melejit kesana. Tetapi ada titik-titik kritis pak yang harus kita pelajari antara lain kemarin ada subsidi tentang benih, tentang pupuk ini menurut analisa kami kurang begitu pas menyasar, karena teman-teman di sektor partanian atau pelaku ini belum mengerti persis tentang apa itu subsidi pupuk maupun benih itu. Yang kedua kalinya tentang Gapoktan, karena Gapoktan ini perkumpulan dari petani dari dusun ke tingkatan desa, sehingga saya rasa kita ini diadopsi segera lahir tenyata kita menanyakan punya register belum ditingkatan pertanian? makanya kalau belum dan kemarin itu sudah ada uang yang mengucur, sudah ada perkumpulan pedagang atau namanya asosiasi ternyata bisa menggoyang para pedagang di Gunung Kidul setelah ada asosiasi, ada asosiasi jagung, ada asosiasi ini. tetapi ternyata tahun-tahun ini berhenti karena tidak ada support untuk melakukan aosiasi kembali walaupun kita disuruh mandiri, tetapi pertanyaan kita sampai sejauh mana kita untuk mandiri, karena kita harus punya teman agar asosiasi bias berjalan dengan lurus, bisa menggoyang kembali, bias mengangkat teman-teman petani benar. Yang kedua kalinya tentang keberadaan kesehatan, setelah kita menanyakan-menanyakan kita monitoring karena kita memproduksi hasil pertanian, sekarang masuk ke kesehaatan. Sulit sekali mengakses ketika kita ada anggaraan enam ratus berapa gitu untuk subsidi kesehatan. Kita mempunyai Jamkesos, Jamkesmas, tetapi sulit sekali untuk mengakses tentang keberadaan dana itu, contohnya begini ketika ada anggota keluarga kita yang sakit disana masuk RS dipersulit, artinya disana harus pakai ini itu, lempar sana lempar sini sehingga kesulitan untuk mengakses. Ada fenomena seperti iti akhirnya kita minta tolong bapak-bapak anggota dewan dan sudah berhasil tetapi kok akhir-akhir ini menjadi kambuh lagi, tolonglah harapan kami menjadi ini masukan rakyat miskin. Yang ketiga tentang beras, kita sudah banyak mendengar tentang pembicaraan Bapak Bupati tentang swasembada pangan tetapi ternyata? silahkan masuk ditingkatan rakyat miskin. Dan kita menemukan juga ada titik kritis pengunaan DAK, tadi diutarakan juga bapak-bapak dari dinas pendidikan, DAK ini kalau tidak salah untuk membangun gedung dan fasiitas yang lain. Ini disinikan ada komite, ada tokoh masyarakat, ada dewan sekolah tetapi ini kok dilakukan oleh bapakbapaki guru disitu sehingga teman-teman komite sering menanyakan ini darimana, bagiamana, dan sebagainya. Inilah yang harus kita pikirkan kedepan sehingga Insyaallah menjadi masukan bapak-bapak ibu-ibu yang mungkin nanti

akan memegang kebijakan yang di daerah, itu dulu waktu saya kembalikan, wassalamualaikum warrohmatullohi wabarokatu. Mas Adjie Baik ibu bapak sekarang waktunya untuk forum ini mendetailkan lagi, sebetulnya tadi ketika bapak-bapak dan ibu memaparkan dari fokus kerja masing-masing juga sudah menyampaikan untuk rancangan RPJMD kabupaten Gunung Kidul 2010-2015 tetapi untuk satu jam kedepan setidaknya masih ada tambahan dari teman-teman SKPD. Iriawan Jati Asmoro (Dinas Pertanian Pangan dan Holtikultura) Assalamualaikum warrohmatullohi wabarokatu, bapak dan ibu sekalian pertamatama di undang saya melihat workshopnya ini endingnya nanti di inginkan untuk memerangi kemiskinan, memnuhi kebutuhan dasar, tujuannya untuk memberikan masukan RPJMD Kabupaten Gununhg Kidul 2010-2015. Baik bapak ibu sekalian membaca tentang judulnya saya tertarik, karena dari sekian pembicara tadi masukannya bagus, tetapi sebaiknya pembicaraan kita ini kedepan kita membicarakan konsep pembangunan yang seutuhnya bukan membicarakan tentang anggaran dan nasib. Kemudian disini adalah tujuan forum ini akan membuahkan satu kesimpulan untuk kepentingan Gunung Kidul kedepan, sehingga sekalai lagi saya mengharapakna pembicraan ini ditataran konsep sehingga tadi Bappeda dihadirkan sudah merupakan indicator bahwa memang dari sisi perencanaan ini dibutuhkan untuk perbaiakan kedepan dalam rangka memerangi kemiskinan dan memenuhi kebutuhan dasar. Nah kalau pembangunan seutuhnya mestinya kita berbicara mengenai perbaikan SDM manusianya, alamnya bagaimana, potensi dan dinamika bagaimana, kebijakan dan politiknya, saya akan masuk kesitu tetapi tidak akan semuanya. Adanya masukan dari FPPM Bandung dengan contoh Sumedang itu merupakan referensi karena untuk replikasi di Gunung Kidul itu tidak mudah, seperti beberapa kali kami lakukan keberhasilan di satu tempat di replikasi di tempat lain juga sulit tampaknya, dan ini merupakan referensi yang bagus juga untuk bahan pertimbangan kedepan. Di tataran perencanaan kalau melihat dari beberapa pencanaan yang sudah kita susun kalau kita melihat dan mencermati memang mekasnisme, sistem, maupun teknisnya belum berubah signifikan di Gunung Kidul. Memang saya mengomentari itu karena apa karena tadi ada masukan seperti itu, di Gunung Kidul sulit dilaksanakan tetapi kalau memang ada mekaniske yang bias seperti itu sebenarnya untuk daerah lain juga bisa ini maka kalau memang bisa ini di Gunung Kidul memang belum dilaksanakan dan perlu perubahan kea rah yang lebih baik. Memang sudah ada satu keinginan untuk berubah kearah signifikan, karena proses di Bppedapun juga dilakukan sampai berdarah-darah tetapi memang seperti it uterus. Kemudian saya melihat setelah membaca dari makalahnya, memang disitu ada kebijakan kemudian seharusnya juga ada prioritas dan sasaran, di Gunung Kidul untuk lima tahun kedepan itu prioritasnya apa? Kan kita prioritasnya sekarang memerangi kemiskinan misalnya. Memerangi kemiskinan itu ujung-ujungnya kita itu bisa menambah pendapatan, waktu kami ke Mamuju Propinsi pemekaran Sulawesi Selatan itu juga membahas ini, orang

miskin itu ujung-ujungnya perlu uang karena disitu juga banyak orang miskin. Dan akhirnya kesimpulannya itu perlu investor, dan alhamdulilah orang Norwegia masuk kesitu membukia pengeboran di bawah laut, sebelas trilyun. Akhirnya juga diharapkan empat tahun lima tahin kedepan itu itu akan menjadi magnet ekonomi, di Gunung Kidul juga seperti itu. Jadi bagaimana di Gunung Kidul itu bisa ada uang, sebenarnya itu. Masuk ke mekanisme sistem dan teknis disini, kalau kita bicara masalah kebijakan, prioritas dan sasaran apa itu difokuskan, jadi SKPDSKPD itu jelas nanti. Kalau prioritasnya adalah pertanian contohnya, jadi di SKPD kami pun juga akan jelas nanti garapnya apa, kemudian kalau pertanian menghasilkan hasil tani kaitannya dengan SKPD yang lain apa, Industri jawaban tadi, nah industry itu mau skala apa, nanti biar Disperindakop juga berperan disitu. Kemudian program lima tahun nanti tersasar kalau sudah ada program misalnya ekonomi, arahnay kemana ekonomi, kemudian komoditas apa. Karena perlu ibu bapak ketahui di Gunung Kidul itukan magnit ekonominya ada empat sebenarnya. Kalau kita cermati itu ada empat pilar pembangunan di Gunung Kidul, pertanian nomor satu karena PDRBnya paling tinggi. Pertanian nomor satu, banyak orang mencermati kita bicara tanaman pangan saja di gaplek. Saya dengan IDEA waktu ketamu di Bappeda juga saya kemukakan di gaplek saja kalau kita tahu dan menyadarkan masyarakat jangan menjual gaplek, jualah singkong segar untuk bahan industri pembuatan tapioka. Kita dengan menyadarkan masyarakat menjual singkong segar kita akan ada penghematan setahun 124 milyar. Itu baru cerita masalah tanaman pangan, kita belum bercerita tentang perikanan. Di Gunung Kidul bentang pantainya paling luas, artinya semua samudera ini miliknya orang mampu, bisa dan berani, dan di Gunung Kidul ini ada jenis ikan tertentu yang sumber ikannya paling dekat dengan Kabupaten Gunung Kidul, tetapi itungitungan itu tidak dicermati sehingga yang digarap hanya hanya itu-itu saja. Kalau kita garap perikanan dari laut itu sudah luar biasa, belum di pantainya nanti bisa kita buat heachere. Dulu ada wacana dari perikanan propinsi membua heacher di Sundak, kita pelajari heachere itu waktu di Bappeda di daerah Singaraja, di Singaraja itu ada kawasan heachere disitu, ya Kerapu, ya Bandeng dan sebagainya termasuk udang. Sebenarnya secara teknis bisa tetapi tidak tahu kenapa kok sekarang terus didiamkan dan sekarang juga koleps. Kemudian kehutanan, hutan di Gunung Kidul itu besar cuma kalau di sadari kayu di Gunung Kidul itu nomor dua, kalau bibit ambil bibit di blora itu bisa dikembangkan menjadi bidang agro kompleks. Di bidang sosial bahwa sosial itu harus ada penjelasan dan penyadaran kepada masyarakat bahwa istilah sosial jangan diterjemahkan masalah masjid, geraja dan sebagainya tetapi masalah interaksi ekstern dan intern. Dalam lima tahun prioritaskan ini program politik apa? sosial apa? nah politik disini diartikan bahasa siasat dann strategi bagaimana kita mencari sumberdana lain supaya dari ekskutif kerjasama dengan legislatif kita bisa mengakses dan kepusat. Ini kalau kita tidak mengakses ke pusat dan istilahnya tidak ada hubungan yang intim dengan pusat ya kita tidak akan mendapat bagian juga, tetapi kalau kita bias menterjemahkan bahwa prioritas pembangunan politik itu adalah kerjasama ekskutif legislatif untuk mencari sisat dan strategi, mencari dana pusat ke daerah itu adalah hal yang sangat luar biasa. Saya contohkan ada satu daerah, akses ke

pusat legislatif dan eksekutif itu berbondong-bondong kesana menunjukkan keseriusan, kemudian dari pihakm pusat itu karena merasa diberi perhatian dia akan member perhatian juga dan ini luar biasa, saya sangat mimpi di Gunung Kidul itu bisa seperti itu, dan dari Pak Warto mungkin nanti bias membarikan wacana itu. Saya juga mengingatkan peran dan fungsi SKPD karena perencanaan makro ini sebenarnya kan yang membuat SKPDnya jelas Bappeda, itu perencanaan makro dalam arti lima tahun ini mau dibawa kemana Gunung Kidul, inikan harus jelas dan tegas, mau dibawa kemana pembangunannya?. Menurut saya untuk perencanaan yang makro ini pembangunanya harus berbasis wilayah, kemudian untuk pembangunan mikro sampai kem pelaksanaannya itu yang di SKPD, yang sesui dengan bidang garap dia, kemudian kontrol tetap di DPRD. Nah kemudian di Gunung Kidul ini banyak sekali masyarakat yang pusing jadi miskin akibat dari satu salah diagnosa, kemudian yang kedua tidak mempunyai biaya, padahal kami kebetulan bergerak di herbal juga, Gunung Kidul ini punya beberapa herbal yang luar biasa, tetapi uniknya alternatif seperti itu yang memecahkan itu kejaksaan tinggi. Tolong nanti Dinas Kesehatan saya minta satu langkah yang positif itu di legitimasi dan herbal ini diakuai kemujarabannya dan juga bagus. Ini sudah kita lakukan uji coba juga dan testimoni dari pasien juga bagus. Bapak ibu sekalian mudah-mudahan beberapa masukan untuk RPJM, dan untuk Pak Bupati yang baru “The right man in the right place” untuk reformasi birokrasi, itu saja terakhir wassalamualaikum warrohmatullohi wabarokatu. Asti (TKPKD) Assalamualaikum warrohmatullohi wabarokatu, yang pertama tadi beberapa hal yang menyangkut TKPKD (Tim Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan Daerah) khusunya TKPKD Kabupaten Gunung Kidul yang terutama tadi banyak disinggung oleh Bu Zaki. Tadi satu hal pertanyaan yang cukup menjadi pemikiran kami, apakah program-program yang saat ini ada di SKPD terutama terkait dengan program penanggulangan kemiskinan sudah dibawah koordinasi TKPD?. Terus terang saja jawaban saya selaku saat ini saya sebagai sekretaris TKPKD, sejak 2010 ini kami belum sempat bekerja tetapi sudah ada Perpres baru tahun 2010 Tentang Pencatatan Penanggulangan Kemiskinan dimana ada perubahan struktur lagi mengenai TKPKD ini, jadi boro-boro mau kerja pak, baru mau bekerja saja sudah mau diganti lagi. Jadi ini kami berterimakasih kepada beberapa LSM di Jogja yang kemarin sudah mendongkrak maupun menstimulasi kami di TKPKD untuk lebih melakukan kegiatan karena memang sebelumnya TKPKD ini seperti mati suri kalau di Kabupaten Gunung Kidul, tetapi dengan bantuan teman-teman LSM ini kemarin melalui program SAPA ini sudah banyak kegiatan yang dilakukan dan alhamdulilah Gunung Kidul termasuk salah satu kabupaten yang dinilai baik melakukan program kegitan SAPA ini. Dan yang kedua terkait dengan isu ataupun masukan yang harus ada di RPJMD 2010-2915 ini kami ada beberapa hal yang perlu kami sampaikan yanhg pertama kalau melihat dari beberapa pembicaraan tadi kelihatannya yang memang perlu dipertegas selain yang disampaikan Pak Iryawan memang sasaran ini memang harus dipertegas lagi. Untuk memerangi kemiskinan kemarin-kemarin itu tidak jelas sasarannya, ada yang benar-benar sampai ke orang miskin yang di tuju tetapi ada yang sasarannya itu tidak tepat. Nah ini kami ingin mempertegas sasaran di RPJM lima

tahun kedepan ini betul-betul bisa jelas dan tegas. Selain itu yang kedua kami juga ingin mempertegas intervensi program yang mana nantinya akan diampu oleh masing-masing SKPD khususnya di dalam memerangi kemiskinan karena selama ini terus terang saja Bappeda begitu kesulitan untuk menerjemahkan intervensi program apa sapa yang bias mengurangi kemiskinan dari semua SKPD, untuk itu kedepan ada forum Musrenbang RPJMD kami sangat mengharapkan masukan dari semua SKPD yang sebagian sudah hadir disini. Tanpa masukan dari SKPD sangat yakin RPJM kita nanti hanya akan sama dengan yang sudah-sudah. Inginnya RPJM untuk lima tahun kedepan betul-betul yang di garap programnya adalah yang strategis, terukur, bisa dipertanggungjawabkan, dan bisa dilaksanakan dan dalam tahapan-tahapan yang jelas. Ini tanpa masukan dari SKPD ini kelihatannya mustahil bias dilaksanakan atau bias terwujud didalam RPJM kita lima tahun kedepan. Selain itu masalah anggaran ini di RPJM tidak pernah disinggung secara jelas dan tegas, memang kita ada ketakutan di Bappeda terutama selaku penyusunan RPJM bahwa dengan program-program yang terukur itu nanti kalau dikaitkan dengan evaluasi yang akan dilakukan di DPR dengan ketidakjelasan itu kita ada ruang untuk berkelit gitu. Tetapi kita inginnya lima tahun kedepan itu tidak seperti itu lagi karena ternyata dengan beberapa hal yang tidak jelas justru evaluasi menjadi tidak mudah sehingga seperti yang disampaikan Pak Sri didepan evaluasi kita banyak yang tidak seperti yang kita harapkan. Seperti untuk masalah target-target yang ingin dicapai oleh bidang pertanian, ini juga tidak bisa jelas sehingga sekali lagi untuk 2010-2015 ini indikator-indikator yang nanti tertera dalam RPJM itu bias lebih tegas dan jelas, saya kita beberapa hal itu yang bisa saya sampaikan, terima kasih wassalamualaikum warrohmatullohi wabarokatu. Markus (Bappeda) Ini yang terakhir ini agak berat pak karena kebetulan di Bappeda juga membidangi nanti lahirnya RPJM daerah jadi ini yang paling berat karena semuanya punya mimpi, semuanya ingin di akomodasi dalam dokumen RPJM termasuk untuk memerangi kemiskinan, dan memenuhi kebutuhan dasar. Tetapi memang ada hal yang harus kita diskusikan bersama, ketika kita bersama menetapkan tadi yang dikemukakan oleh bapak ibu ingin mencapai sesuatu dengan beberapa intervensi program dan kegiatan. Nah yang menjadi pertanyaan kita sanggupkah SKPD menelorkan angka dasar sebagai titik dasar untuk pencapaian tahun-tahun selanjutnya? Contoh sederhana produktifitas padi ton perhektar, mampukah Dinas Pertanian menyajikan data dasar tahun 2009/2010, misalnya seperti itu. Mampukan Dinas Pendidikan menyajikan data-data tersebut? Nah ini nanti kita kumpulkan bersama kemudian dari indicator-indikator sasaran tersebut kita jadikan data dasar kemudian kita sepakati pada tahun pertama, kedua, ketiga sampai kelima itu angka berapa yang ingin kita capai? Dari angka yang sudah kita tetapkan bersama baru ini nanti diterjemahkan dalam setiap tahunnya dalam Rencana Program dan Kegiatan di intervensi dengan program dan kegiatan, inilah yang kita mau. Dan ini belum pernah terjadi di Kabupaten Gunung Kidul, belum pernah ada pendataan awal sebagai data dasar untuk pencapaiaan target-target sasaran dalam dokumen perencanaan. Mungkin di seluruh Indonesia data dasarnya belum secara komprehensif, ini yang diharapkan

nanti ada kebersamaan didalam merumuskan indikator sekaligus data dasar dari setiap kita menetapkan indicator sasaran. Kemudian yang kedua dari proses ini yang ingin kita harapkan dari Mbak Zaki cs ini ada notulen yang diberikan kepada kami, alangkah naifnya diskusi satu hari notulennya tidak lengkap, tidak dikirim di Bappeda Gunung Kidul hanya sekedar ritual doa bersama seharian. Moga-moga ini nanti tercatat kemudian dikirimkan kemudian nanti sukur ada garis-garis yang nanti semakin tegas mana yang kita pilih, mana yang kita pilah, mana yang kita singkirkan kalau memang tidak menjadi prioritas. Karena cita-cita itu tidak semua harus tercapai, inginnya Pak Markus itu istrinya lima tetapi cukup satu ternyata. Jadi cita-cita ini harus kita lekatkan pada prioritas pada penbangunan lima tahun kedua yaitu membangun UMKM yang berbasiskan pertanian dan pariwisata ini yang kita lhat lima tahun pertama ini. Ini di RPJP daerah, ini yang menjadi catatan kita, nah ini yang harus kita kawal lima tahun kedepan, ini yang menjadi agenda kita bersama supaya Gunung kidul memiliki daya saing. Kemudian poin ketiga pemerintah itu ada ketika pelayanan dasar itu berjalan dengan lancar, maka pendidikan, kesehatan dan beberapa pelayanan ini harus dijamin dengan SPM. SPMnya Bu Nur di kesehatan dan di pendidikan ini memang yang harus di jamin betul supaya pemrintah itu tetap ada, saying mengapa ini tidak berlangsung dengan baik mungkin Pak Warto lebih tahu karena dunia politik itu lebih tajam dan lebih licin. Ini kondisi yang kita harapkan ada di institusi dua sebagai pemenuhan kebutuhan dasar pemerintah dalam rangka membarikan pelayanan kepada masyarakat. Kemudian ini yang ke empat yang terakhir pak, kabupaten menjadi kabupaten yang maju itu hampir sama pak. Pak Harto dulu “Makan bubur dari tepi”, satu hal desa ini dari data yang kami miliki belum menjadi suatu desa yang mandiri, sukur pada tahun ini semoga menjadi Perda Pak Warto mohon nanti di kawal mungkinkah ada Perda mengenai Sistem Perencanaan Daerah dan Desa yang terintegrasi, ini sudah di fasilitasi Mbak Zaki dan sebagainya ini luar biasa, nanti tinggal proses kelanjutan. Kemudian bagaimana desa ini menjadi institusi yang mandiri dan otonom tetapi faktanya desa ini masih ada ADD yang noitabene semakin hari semakin berkurang karena rumusnya adalah total dana alokasi umum dikurangi belanja pegawai dikalikan 10%, belanja pegawai naik terus di atas 10%, DAU kita tidak diperhitungkan dengan kenaikan gaji pegawai. Ini yang salah itu sebetulnya bukan kabupaten pak, tetapi alokasi pendanaan dari DAU itu tidak pernah diikuti dengan kenaikan gaji pegawai, tidak pernah diperhitungkan dengan kenaikan DAU dari sisi alokasi dana desa. Rebutan beberapa bantuan pelantikan, bantuan pembangunan kantor desa, bantuan keuangan kepala desa, penghasilan tetap, bantuan pemilihan pengisian perangkat bisa dibayangkan dana APBD kita itu kelihatannya di belanja langsung kecil. Seperti Dinas Pendidikan kalau dilihat di belanja langsung itu mungkin kecil tetapi di belanja bantuan itu ngeri sekali. Di desa itu tidak kelihatan ada dana tetapi belanja bantuan dari kabupaten juga banyak. Jadi memang ada yang cara menyembunyikan pendanaan tidak melalui program dan kegiatan, melalui belanja langsung tetapi melalui belanja bantuan. Hibah, bantuan ini memang perencanaan banyak di pendekatan politis, tetapi juga kita coba pada tahun ini mulai kita arahkan bahwa antara perencanaan politis itu dengan perencanaan teknokratik dengan partisipatif ini kita dekatkan.

Kalau di contohkan tadisudah ada noktah, jadi kalau di Gunung Kidul saling percaya, jadi saling percaya antara dewan sebagai wakil rakyat, Bappeda sebagai teknokrat kemudian masyarakat sebagai partsipasi, semua mengerjakan perannya masing-masing. Jadi Pak Warto yang baru ini beserta tekan-temannya adalah seorang legislator yang baik, masyarakat kita juga masyarakat yang baik dan jujur bukan masyarakat yang peminta, karena terpaksa saja ingin sesuatu harus meminta karena ternyata setalah saya pelajari betul sudah bergeser sekarang ini. Tokoh ijon nasional itu bukan oetani pak, mungkin tokoh ijon nasional itu adalah seorang yang mempunyai pendapatan tetap sehingga pendapatan tetap itu bias di ijonkan di bank, saya tidak menyebut siapa itu mungkin ada diantara kita ada di dalamnya. Maka petani ini sebenarnya orang yang paling kaya di dunia karena tidak pernah mencoba sesuatu yang tidak dia lakukan untuk didapatkan, minimal dengan meminta tadi, meminta dari sesuatu yang baik. Tetapi bagaimana meminta ini dengan cara-cara yang memang menumbuhkembangkan menjadi manusia yang mandiri ini yang kita kembangkan sebagai cita-cita kita bersama, saya rasa itu yang kita harapkan sekali lagi kami mohon semua bahan dari forum ini kami diberi catatan dan mohon kesadaran SKPD untuk membantu data dasar, karena Bappeda itu bagaimanapun juga lembaga yang keurangan data, perencanaan sibuta dari goa hantu, terima kasih. Mas Adjie Ya ternyata satu hari tidak cukup untuk mendiskusikan, seperti pesan dari Pak Markus semua bahan, semua materi yang berhasil kita diskusikan sore hari ini akan kita kirim ke semua partisipan yang ada disini. Nandang Suherman Atau begini mas, usul saya dari notulensi ini bincang-bincang lepas kita yang mungkin nanti kita kelompokkan terutama untuk menajamkan dari apa yang sudah ada di draff sini. Dan saya baca sekilas kalau di connect kan dengan apa yang menjadi isu utama di workshop kita itu dari visi misi ini kelihatannya kalau menurut saya ini masih lemah dalam konteks bagaimana si RPJM ini keterpihakannya terutama untuk yang kemiskinan, karena memang kalau saya lihat juga strategi yang digunakan dia lebih mendorong pertumbuhannya. Sementara kita juga sudah punya pengalaman lebih ingin mendorong pertumbuhan tetapi malah menjadi problem sehingga mungkin kalau saya usul ada penegasan tentang semacam kebijakan yang care terutama kepada kelompok-kelompok yang selama ini kita pihaki, orang miskin. Ada problem dasar yang saya tangkap memang kita kan seringkali sulit untuk mengidentifikasi siapa itu si miskin yang mungkin di RPJM ini harus ditegaskan tentang indicator, tentang siapa dimana, ini harus siapa itu keluarga miskin, apakah penyebab dia menjadi keluarga miskin. Kemudian kebutuhan apa karena belum tentu misalnya ada dinas memberikan pelatihan menjahit, kan belum tentu dengan kebutuhan dia kan. Mbak Zaki Baik ibu bapak sekalian dari beberapa hal yang tadi sudah kita rumuskan sejak pagi maka beberapa input yang jadi penting ada dalam RPJM tadi sudah ada stressing dari Pak Nandang, tetapi setidaknya yang pertama setidaknya redefinisi

kemiskinan di dalam RPJM harus dilihat kembali, yang kedua ada jaminan redistribusi sumber daya untuk mengatasi gap sparsisal dan sektoral, yang ketiga target SPM yang nantinya harus dilihat kembali didalam RPJM. Lalu persoalan data yang terintegrasi ini yang menjadi satu PR, data di dalam RPJM nanti yang akan menjadi rujukan capaian tahunan, dan capaian lima tahunan sehingga yang melakukan evaluasi juga lebih mudah. Kemudian yang kelima relasi pusat dan daerah terkait program pusat kedaerah dan pendanaan DAU, DAK, TP, Dekon ini menjadi satu termasuk BLM menjadi satu yang perlu dipertegas di dalam RPJM. Lalu penyelesaian masalah gap antara perencanaan dan penganggaran. Yang ketujuh sinkronisasi antar regulasi, ada RT, RW, ada regulasi yag lain yang tidak bias dipisahkan. Yang kedelapan dokumen perencanan yang terintegrasi satu dengan yang lainya, ini warning ketika membuat Renstra tidak pernah melihat RPJM, begitu juga RPJM Des, kemudian melihat juga RPJM Propinsi dan pusat. Yang ke sembilan koordinasi kelembagaan untuk implementasi program, sesuai dengan target tahunan, jadi kalau target tahun pertama misalnya untuk ekonomi, apa sumbangsih dari Disperindagkop, apa sumbangsih dari dinas-dinas yang lain itu yang harus dipertegas sehingga tidak terjadi ego sektoral. Yang kesepuluh masukan prioritas perlu tajam, untuk penajaman target dan indicator. Kurang lebih itu dalam banyak penjelasan tadi yang akan menjadi masukan dalam RPJMD tentu bersama dengan teman-teman Bappeda nanti yang akan lebih punya kuasa untuk melakukan reformulasi dari RPJM itu, saya kira itu sekali lagi terimakasih atas pergumulan ilmu. Warto Punya usul sedikit, RPJM maupun program ini siapa saja yang buat tetapi kalau kalau bupatinya tidak mau diberi masukan maka RPJM tidak akan mach. Kalau memang dari ekskutif dan legislatif sulit memberi masukan kepada Bupati, maka kami minta kepada LSM untuk mengingatkan kepada bupati. Mbak zaki Semoga ini bukan hanya sekedar menciptakan perencanaan dokumen tetapi lebih dari itu ini menjadi pergumulan tradisi, ilmu, paradigma, mazhab serta kinerja kelembagaan yang nanti akan kita tunggu bersama-sama, kurang lebihnya kami sebagai penyelenggara mohon maaf apabila ada kata, hal yang tidak berkenan tetapi apabila berbeda pendapat itu adalah satu berkat dan rahmat, terima kasih wassalamualaikum warrohmatullohi wabarokatu.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->