P. 1
Efektivitas Modelling Dalam Pendekatan Contekstual Teaching

Efektivitas Modelling Dalam Pendekatan Contekstual Teaching

|Views: 843|Likes:
Published by irvan_adilla482
Semoga bermanfaat & dan dapat memahami isinya amin
Semoga bermanfaat & dan dapat memahami isinya amin

More info:

Published by: irvan_adilla482 on Jul 24, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as RTF, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/05/2013

pdf

text

original

PROPOSAL PENELITIAN

EFEKTIVITAS MODELLING DALAM PENDEKATAN CONTEKSTUAL TEACHING AND LEARNING TERHADAP PENGUASAAN KONSEP AKUNTANSI MATERI PEMBELAJARAN MENCATAT TRANSAKSI KEDALAM JURNAL KHUSUS DI KELAS XII MA NURUL IMAN DESA SETANGGOR TAHUN PELAJARAN 2010/2011

OLEH BQ. MULIANA
NPM. 06360207

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN EKONOMI JURUSAN PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

( STKIP ) HAMZANWADI SELONG
2010

DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL ....................................................................................... KATA PENGANTAR ..................................................................................... DAFTAR ISI ................................................................................................... BAB I PENDAHULUAN................................................................................. A. Latar Belakang.................................................................................1 B. Identifikasi Dan Perumusan masalah...............................................3 C. Pembatasan Masalah........................................................................4 D. Tujuan Dan Penggunaan Pembelajaran ..........................................4 E. Identifikasi Dan Klasifikasi Variabel ..............................................5 F. Defenisi Operasional Fariabel.........................................................5 BAB II LANDASAN TEORI...........................................................................6 A. Kajian Pustaka.................................................................................6 1. Pendekatan CTL (contextual teaching and learning)................6 2. Pemodelan.................................................................................13 3. Penguasaan Konsep..................................................................14 4. Akuntansi..................................................................................15 B.hasil penelitian yang relevan.............................................................16 C.Kerngka berpikir...............................................................................21 D.Hipotesis...........................................................................................22 BAB III METODOLOGI PENELITIAN.........................................................23 A. Jenis Penelitian................................................................................23 B.Rancangan penelitian........................................................................24 C. Populasi dan Sampel Penelitian......................................................26 D. Metode Pengumpulan Data.............................................................27 E. Jenis dan Sumber Data....................................................................30 F. Metode Analisis Data......................................................................30 DAFTAR PUSTAKA.......................................................................................

2

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Kualitas pendidikan suatu bangsa sangat ditentukan oleh faktor pendidikan. Peran pendidikan sangat penting untuk menciptakan kehidupan cerdas, damai, terbuka dan demokrasi. Oleh karena itu, pembahasan pendidikan harus selalu dilakukan untuk meningkatkan mutu pendidikan tersebut, terhadap banyak faktor yang turut diperhatikan, antaralain guru sebagai tenaga pengajar, peserta didik, metode serta pendekatan dan alat peraga yang digunakan. Seiring dengan kemajuan tehnologi informasi yang telah demikian pesat,guru tidak lagi hanya bertindak sebagai penyaji informasi, tetapi juga harus mampu bertindak sebagai fasilitator, motifator dan pembimbing yang lebih banyak memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mencari dan mengolah sendiri informasi (Hamzah, 2007, 17). Dengan demikian guru hendaknya berperan sebagai pembimbing, pengarah, pemberi kemudahan dengan menyediakan fasilitas belajar, pemberi bantuan bagi peserta didik yang mendapat kesulitan belajar, dan pencipta kondisi yang merangsang peserta didik untuk berfikir dan bekerja. Dalam rangka mempersiapkan lulusan pendidik memasuki era globalisasi yang penuh tantangan dan ketidak pastian, diperlukan pendidik yang dirancang berdasarkan kebutuhan nyata di lapangan. Untuk kepentingan tersebut sebagai acuan dan pedoman bagi pelaksana pendidik untuk mengembangkan berbagai ranah pendidikan, khususnya pada jalur pendidikan sekolah. Hal ini terkait dengan

3

gerakan peningkatan mutu pendidikan yang dirancang oleh mentri pendidikan nasional pada tanggal 2 mei 2002 (Mufyasa, 2004:37). Pendekatan Contekstual teaching and learning (CTL) merupakan ”konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimiliki dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagi anggota keluarga dan masyarakat” (DIKNAS, 2002:1). Dengan konsep itu, hasil pembelajaran diharapkan lebih bermakna bagi siswa, proses pembelajaran berlangsung alamiah dalam bentuk kegiatan siswa belajar dan mengalami, bukan transfer pengetahuan dari guru kesiswa.Melalui strategi Contekstual teaching and learing(CTL), siswa diharapkan belajar melalui mengalami, bukan menghafal. Dalam kelas kontekstual, tugas guru adalah membantu tujuannya, maksudnya guru lebih banyak berurusan dengan strategi dari pada dengan informasi, tugas guru mengelola kelas sebagai sebuah tim yang bekerja sama untuk menemukan sesuatu yang baru bagi anggota kelas (siswa). Sesuatu yang baru datang dari menemukan sendiri bukan dari apa kata guru. Begitulah peran guru di kelas yang dikelola dengan pendekatan kontekstual. Pelajaran akuntansi pada umumnya dianggap sebagi mata pelajaran yang membosankan. Hala tersebut tidak lepas dari faktor-faktor yang terkesan hanya mengajarkan dan menghitung sesuatu yang tidak ada/fiktif. Sehingga wajar jika sebagian besar orang khususnya para peserta didik menganggap dan berasumsi bahwa akuntansi adalah mata pelajaran yang membosankan, tidak menarik bahkan dianggap mata pelajaran yang mengajak siswa untuk menghitung uang yang tidak

4

pernah ada. Pada dasarnya semua orang tidak menghendaki kebosanan dalam hidupnya. Sesuatu yang membosankan adalah sesuatu yang tidak menyenangka, ibarat merasakan makanan yang sama secara terus menerus akan menimbulkan kebosanan. Maka makanan yang bervariasi (bermacam-macam) akan merangsang untuk dimakan. Demikian juga dalam proses pembelajaran, jika tidak menggunakan metode secara bervariasi maka akan membosankan peserta didik. Perhatian peserta didik akan berkurang, mengantuk dan akibatnya tujuan belajar tidak tercapai. Dalam hal ini guru memerlukan adanya variasi dalam proses pembelajaran. Dewasa ini, ada kecendrungan untuk kembali pada pemikiran bahwa anak akan lebih baik jika lingkungan diciptakan alamiah. Belajar akan lebih bermakna jika anak mengalami apa yang dipelajarinya, bukan mengetahuinya. Pembelajaran yang berorientasi target penguasaan materi terbukti berhasil dalam kompetisi mengingat jangka pendek, tetapi gagal dalam membekali peserta didik memecahkan persoalan dalam kehidupan jangka panjang dan itulah yang terjadi di sekolah-sekolah kita. Berkaitan dengan hal tersebut MA Nurul Imam Desa Stanggor lebih banyak menggunakan pendekatan konvensional dalam proses pembelajaran. Guru hanya menggunakan metode lama yaitu guru menjelaskan, peserta didik mendengarkan, guru mencatat, peserta didik juga mencatat, sehingga motivasi belajar peserta didik kurang. Dengan alasan tersebut penulis merasa tertarik untuk mengadakan penelitian tentang pengaruh pendekatan Contekstual teaching and

5

leaening(CTL) dengan pemodelan terhadap penguasaan konsep akuntansi pada materti pembelajaran mencatat transaksi kedalam jurnal khusus. B. Identifikasi Masalah Berdasarkan uraian di atas, maka dapatlah didefinisikan masalah penelitian sebagai berikut: 1. Pembelajaran akuntansi dianggap mata pelajaran yang membosankan. 2. Pembelajaran yang tidak menggunakan metode secara bervariasi akan membuat peserta didik cepat merasa bosan. 3. Pembelajaran yang berorientasi target penguasaan materi gagal membekali peserta didik memecahkan masalah dalam kehidupan jangka panjang. 4. Guru hanya menggunakan metode lama yaitu ceramah sehingga motivasi belajar peserta didik kurang. 5. Guru-guru di MA Nurul Imam belum banyak menerapkan pendekatan Contekstual teaching and learning(CTL) dalam proses pembelajaran. C. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah: 1. Seberapa besar penguasaan konsep akuntansi pada materi pembelajaran

mencatat transaksi kedalam jurnal khusus dengan pendekatan contekstual teaching and learning (CTL) dikelas XII MA Nurul iman desa setanggor?.

6

2. Apakah modeling dalam pendekatan contekstusl tesching and learning (CTL) berpengaruh terhadap penguasaan konsep

akuntansi pada materi pembelajaran menctat rnsaksi kedalam jurnal khusus dikelas XII MA Nurul Iman Desa Setanggor? D. Pembatasan Masalah 1. Batasan obyek penelitian Yang menjadi obyek penelitian dalam penelitian ini adalah mengkaji pengaruh pendekatan Contekstual teaching and learning(CTL) dengan modeling terhadap penguasaan konsep akuntansi. 2. Batasan subyek penelitian Dalam penelitian ini yang menjadi subyek penelitian adalah terbatas pada peserta didik MA Nurul Imam desa Stanggor kelas XII. E. Tujuan Penelitian Mengacu pada rumusan masalah maka tujuan penelitian ini adalah 1. Untnk mengetahui penguasaan konsep akuntansi pada materi pembelajaran mencatat transaksi kedalam jurnal khusus dikelas XII MA Nurul iman desa setanggor tahun pelajaran 2010/2011. 2. Untuk mengetahui pengaruh pendekatan Contekstual teaching and learning (CTL) dengan modeling terhadap penguasaan konsep akuntansi pada materi pembelajaran mencatat transaksi kedalam jurnal khusus di kelas XII MA Nurul Iman Desa Stanggor tahun pelajaran 2010/2011..

7

F. Manfaat penelitian Manfaat penelitian dalam melaksanakan suatu penelitian terdapat suatu fenomena atau masalah, maka dari hasil penelitian tersebut diharapkan mempunyai makna dan kegunaan baik secara teori maupun praktis, adapun kegunaan dari penelitian ini adalah: 1). Manfaat Teoritis a. Diharapkan dari penelitian ini ditemukan informasi baru yang dapat memperkaya khazanah dunia ilmu pengetahuan. b. Hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan refrensi bagi peneliti yang ingin meneliti lebih mendalam tentang masalah yang sama dengan penelitian ini. 2). Manfaat Praktis a. Bagi Guru Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukan bagi guru dalam meningkatkan kualitas pembelajaran akuntansi. b. Bagi Institusi Sekolah Hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan bahan masukan dan pertimbangan dalam rangka peningkatan kualitas pendidikan dan pembelajaran di sekolah. G.Definisi Operasional Variabel Agar tidak menimbulkan penafsiran yang berbeda maka peneliti akan memberikan pengertian istilah yang ada dalam penelitian ini adalah sebagai

8

berikut : 1. Pendekatan Contextual teaching and leaening(CTL)

denganpemodelan adalah suatu konsep pembelajaran yang mengaitkan antara materi pembelajaran dengan dunia nyata peserta didik dengan menekankan pada pemberian contoh dan demonstrasi 2. penguasaan konsep akuntansi yaitu kemampuan peserta didik dalam memahami tentang akuntansi, pada materi pembelajaran mencatat transaksi kedalam jurnal khusus.

9

BAB II LANDASAN TEORI A. Kajian Pustaka 1. Pendekatan CTL (contextual teaching and learning) 1). Pengertian Contekstual teaching and learning (CTL) merupakan suatu konsep belajar dimana guru menghadirkan situasi dunia nyata kedalam kelas dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimiliki dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat (Nurhadi,2004:4). Pendapat lain juga menyatakan bahwa pendekatan kontekstual adalah konsep belajar yang membantu guru mengaitkan materi yang diajarkan dengan situasi nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapan dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat (Diknas, 2002:1). Berdasarkan pengrtian di atas, dapat dipahami bahwa inti dari pembelajaran kontekstual adalah suatu kegiatan pembelajaran yang berupaya untuk membantu guru dalam mengaitkan materi pelajaran dengan kehidupan nyata dan memotivasi siswa untuk mengaitkan

pengetahuan yang dipelajarinya dengan kehidupan mereka secara nyata.

10

2). Penerapan Kontekstual Didalam Kelas Sebuah kelas dapat dikatakan menggunakan pendekatan

Contekstual teaching and learning (CTL) jika menerapkan tujuh komponen dalam pembelajaran diantaranya adalaha; 1. Kontruktivisme Kontruktivisme (Contructivism) merupakan landasan berfikir (filosofi) pendekatan contekstual teaching and learning (CTL), yaitu bahwa pengetahuan dibangun oleh manusia sedikit demi sedikit yang kemudian melalui konteks yang terbatas (sempit) dan tidak sekonyongkonyong. (Diknas, 2002:11). Dengan demikian kontruktivisme adalah ilmu pengetahuan yang dibuat oleh manusia dan berkembang sesuai dengan perkembangan zaman. 2. Bertanya (Questioning) Pengetahuan yang dimiliki seseorang selalu bermula dari bertanya. Questioning (bertanya) merupakan strategi utama

pembelajaran yang berbasis CTL (Diknas, 2002:14). Bertanya dalam pembelajaran dipandang sebagai kegiatan guru untuk mendorong, membimbing dan menilai kemampuan berfikir peserta didik kegiatan bertanya merupakan bagian penting dalam melaksanakan pembelajaran dalam menggali informasi,

mengkonfirmasikan apa yang sudah diketahui dan mengarahkan perhatian pada aspek yang belum diketahuinya.

11

3. Menemukan (Inquity) Menemukan merupakan bagian inti dari kegiatan pembelajaran berbasis CTL (Diknas, 2002:12). Pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh peserta didik diharapkan bukan hasil dari hasil mengingat atau menghafal. Tetapi hasil dari menemukan sendiri. Guru harus selalu merancang kegiatan yang mengarah pada kegiatan untuk menemukan sesuatu, apapun materi yang diberikan. 4. Masyarakat belajar (Learning Community) Dalam masyarakat belajar, hasil pembelajaran diperoleh dari kerja sama dengan orang lain. Hasil belajar diperoleh dari sharing antara teman, antara kolompok dan antara mereka yang tahu ke yang belum tahu. Dalam kelas CTL, kegiatan pembelajaran dilakukan dalam kelompok-kelompok belajar, ssiwa yang pandai mengajar siswa yang lemah dan yang tahu memberi tahu yang belum tahu. Masyarakat belajar bisa terjadi apabila ada proses komunikasi dua arah. Dalam amsayrakat belajar anggota kelompok yang terlibat dalam komunikasi pembelajaran dapat saling belajar. 5. Pemodelan (Modelling) Pemodelan pada dasarnya membahasakan gagasan yang

dipikirkan, mendemonstrasikan bagaimana guru menginginkan para

12

siswa untuk belajar, dan melakukan apa yang diinginkan, agar siswasiswanya melakukan (Nurhadi, 2004 : 49). Jadi, pemodelan ini memberikan keterampilan atau pengetahuan tertentu melalui

demonstrasi dan kegiatan yang dilakukan oleh siswa. Dalam pemodelan, pemodel dapat dirancang dengan melibatkan siswa model ini bisa berupa cara melakukan atau membuat sesuatu. 6. Refleksi (reflection) Refleksi adalah berfikir tentang apa yang baru dipelajari atau berfikir ke belakang tentang apa-apa yang sudah dilakukan di masa lalu (Nurhadi, 2004 : 50). Jadi, refleksi merupakan gambaran terhadap kegiatan atau pengetahuan yang telah diterima. 7. Penilaian yang sebenarnya (autentic assesment) Assesment adalah proses pengumpulan berbagai informasi data yang memberikan gambaran perkembangan belajar siswa (Nurhadi, 2004 : 51). Dengan demikian assesment dapat diartikan sebagai info rmasi tentang gambaran perkembangan belajar siswa yang perlu diketahui oleh guru agar bisa memastikan bahwa memang siswa menjalani proses pembelajaran dengan benar. 3). Prinsip pembelajaran kontekstual Pembelajaran kontekstual mengasumsikan bahwa secara

alamiah, pikiran mencari makna konteks sesuai dengan situasi dunia nyata lingkungan seseorang dan itu dapat terjadi melalui pencarian hubungan yang masuk akal dan bermanfaat. Perpaduan antara materi

13

pembelajaran dengan konteks keseharian siswa di dalam pembelajaran kontekstual akan menghasilkan dasar-dasar pengetahuan yang

mendalam dimana peserta didik kaya akan permasalahan dan cara untuk menyelesaikannya. Pembelajaran Contekstual teaching and learning (CTL) memungkinkan proses belajar yang tenang dan menyenangkan, karena pembelajaran dilakukan secara alamiah, sehingga peserta didik dapat memperaktikkan secara langsung apa-apa yang dipelajarinya. Pembelajaran kontekstual mendorong peserta didik memahami hakekat, dan manfaat belajar, sehingga mereka rajin dan termotivasi untuk senantiasa belajar, bahkan kecanduan belajar (Mulyasa, 2005:103). Kondisi ini dapat terwujud, ketika peserta didik menyadari tentang apa yang mereka perlukan untuk hidup, dan bagaimana cara menggapainya. Berkaitan dengan factor kebutuhan individu peserta didik, maka pembelajaran yang diterapkan dalam pembelajaran kontekstual adalah sebagai berikut. a) Merencanakan pembelajaran sesuai

dengan kewajaran perkembangan mental peserta didik (developmentally appriate). Hubungan antara isi kurikulum dan metodologi yang digunakan untuk mengajar harus didasarkan kepada kondisi social, emosional dan perkembangan intelektual siswa (Nurhadi, 2004:20)

14

jadi usia siswa dan karakteristik individual lainnya serta kondisi social dan lingkungan peserta didik haruslah menjadi perhatian di dalam merencanakan pembelajaran. Anak-anak dapat mempelajari dan merencanakan apabila ia telah matang untuk menerima bahan pelajaran. Manusia sebagai organisme yang berkembang, kesediaan yang mempelajari sesuatu tidak hanya ditentukan oleh kematangan jiwa batiniah, tetapi juga perkembangan karena lingkungan dan pengalaman. Perubahan nilai-nilai yang dianut akan mengubah tingkah laku manusia dan motivasinya. b) Membentuk belajar yang saling

bergantung (Independent learning grups) Peserta didik saling belajar dari sesamanya didalam kelompok-kelompok belajar kecil dan belajar bekerja sama dengan tim lebih besar (kelas). Kemampuan itu merupakan bentuk kerjasama yang diperlukan oleh orang dewasa di tempat kerja dan konteks lain. Jadi, peserta didik diharapkan berperan aktif. Pembelajaran kelompok digunakan apabila materi

pelajarannya lebih mengembangkan konsep pokok / sub pokok bahasan yang sekaligus mengembangkan aktivitas social, sikap, nilai, kerjasama, dan aktivitas dalam pemecahan masalah melalui kelompok belajar siswa. (Zaenab Aqib, 2003:57). Dalam pemecahan masalah melalui kelompok belajar ini maka peserta

15

didik akan berperan sebagai individu yang akan mengadakan relasi dan kerjasama dengan individu lain untuk mencapai tujuan bersama. Relasi dan kerjasama dalam kelompok itu yaitu setiap individu berperan aktif dan ikut bekerjasama. c) Menyediakan lingkungan yang

mendukung pembelajaran mandiri (self regulated learning) Lingkungan yang mendukung pembelajaran mandiri memiliki tiga karakteristik umum yaitu kesadaran berfikir, penggunaan strategi dan motivasi berkelanjutan (Nurhadi,

2004:20). Jadi, karakteristik yang mendukung pembelajaran mandiri umumnya yaitu bagaimana kemampuan berfikir peserta didik strategi yang diterapkan dan motivasi yang diberikan oleh guru. d) Mempertimbangkan keragaman peserta didik Di dalam kelas, guru harus mengajar peserta didik dengan berbagai keragamannya, misalnya latar belakang suku bangsa, status social ekonomi, bahasa utama yang dipakai dirumah dan berbagai kekurangan yang mereka miliki. Dengan dimikian diharapkan guru dapat membantu peserta didik untuk mencapai tujuan pembelajaran. e) Memperhatikan multi-intelegensi peserta

16

didik (multi intelligent) Faktor intelegensi adalah factor indogen yang sangat besar pengaruhnya terhadap kemajuan belajar anak. Bilamana

pembawaan intelegensi anak memang rendah, maka anak tersebut akan sukar mencapai hasil belajar yang baik (Zaenal Aqib, 2003:63). Jadi, faktor intelegensi adalah salah satu faktor yang harus diperhatikan dalam proses pembelajaran. f) Menggunakan (Questioning) Pengetahuan yang dimiliki seseorang, selalu bermula dari bertanya. Bertanya dalam pembelajaran dipandang sebagai kegiatan guru untuk mendorong, membimbing dan menilai kemampuan berfikir siswa. (Diknas, 2002:14). g) Menerapkan penilaian autentik (authentic assessment) Penilaian autentik mengevaluasi penerapan pengetahuan dan berfikir kompleks seorang peserta didik daripada hanya sekedar hapalan informasi aktual. Kondisi alamiah pembelajaran kontekstual memerlukan penilaian interdispiliner yang dapat mengukur pengetahuan dan keterampilan lebih dalam dengan cara yang bervariasi dibandingkan dengan penilaian. 2). Pemodelan/Modelling 1). Pengertian teknik-teknik bertanya

17

Modelling merupakan suatu proses pemberian contoh mengenai bagaimana kita mengharapkan orang yang menjadi dirinya sendiri, berfikir bertindak dan belajar (Herawati, 2001:4). Modelling (pemodelan) pada dasarnya membahasakan gagasan yang kita fikirkan, mendemonstrasikan bagaimana guru menginginkan para siswa untuk belajar, dan melakukan apa yang guru inginkan agar siswasiswanya melakukan (Nurhadi, 2004 : 49). Dari kedua pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa pemodelan (modeling) merupakan suatu kegiatna pemberian model atau contoh untuk membahasakan gagasan yang difikirkan, mendemonstrasikan bagaimana siswa belajar dan melakukan apa yang guru inginkan dengan menyederhanakan dari sejumlah aspek dunia nyata. b). Modelling sebagai komponen pembelajaran kontekstual (CTL) Salah satu komponen pembelajaran Contekstual teaching and learning (CTL) adalah pemodelan (modelling). Maksudnya, dalam sebuah pembelajaran keterampilan atau pengetahuan tertentu ada model yang bisa ditiru. Pemodelan dapat berbentuk demonstrasi, pemberian contoh tentang konsep atau aktivitas belajar (Nurhadi, 2004 : 49). Dengan demikian, melalui pemodelan seperti disebutkan di atas para peserta didik akan melakukan pengamatan dan peniruan yang nantinya akan membentuk pola sikap dan prilaku yang sesuai dengan orang yang ditiru. Bagi para peserta didik di sekolah, orang yang berpengaruh terutama guru dapat menjadi model. Dalam pendekatan Contekstual

18

teaching and learning (CTL) guru bukan satu-satunya model. Model dapat dirancang dengan melibatkan peserta didik. Seorang peserta didik bisa ditunjuk untuk memberikan contoh kepada temannya tentang cara melakukan sesuatu.

3). Penguasaan Konsep Penguasaan konsep berasal dari kata kuasa yang artinya kemampuan atau kesanggupan untuk berbuat sesuatu. Sedangkan konsep adalah rancangan atau buram surat dan sebagainya (Budiono, 2005 : 293). Dalam kegiatan pembelajaran rancangan dapat diartikan sebagai uraian materi pembelajaran. Dari uraian materi tersebut akan diperoleh suatu pemahaman atau pengertian tentang materi tersebut. Mengacu pada pengertian-pengertian di atas, dapat dipahami bahwa penguasaan konsep adalah kemampuan menguasai materi pembelajaran sehingga diperoleh suatu pemahaman atau pengertian dari materi tersebut oleh karena itu, untuk memecahkan masalah, seorang peserta didik harus menyelaraskan dengan pemahaman yang didasarkan pada konsep atau pengertian yang diperoleh. 4). Akuntansi 1). Pengertian Ditinjau dari sudut pemakainya, akuntansi dapat didefinisikan sebagai suatu disiplin yang menyediakan informasi yang diperlukan untuk

19

melaksanakan kegiatan secara efisien dan mengevaluasi kegiatan-kegiatan suatu organisasi (Haryono, 1999 : 4). Apabila ditinjau dari sudut kegiatannya, akuntansi dapat didefinisikan sebagai proses pencatatan, penggolongan, peringkasan, pelaporan, dan penganalisisan data keuangan suatu organisasi (Haryono, 1999 : 5). Dari kedua pengertian tersebut, akuntansi dapat diartikan sebagai suatu seni pencatatan, pengelompokan dan pengikhtisaran menurut cara yang berarti dan dinyatakan dalam nilai uang. 2). Bidang Akuntansi Untuk dapat memberi informasi akuntansi kepada pihak-pihak yang memerlukannya dan sebagai akibat perkembangan dan luasnya bidang yang ada dalam akuntansi, kemudian timbul bidang-bidang spesialisasi dalam akuntansi, yaitu antara lain sebagai berikut: 1. Akuntansi keuangan Merupakan aplikasi akuntansi secara keseluruhan untuk satu unit ekonomi (Baridwan, 1985 : 13). Fungsi pokoknya adalah memelihara catatan atas transaksi-transaksi usaha dan menyiapkan laporan-laporan berkala atas usaha tersebut teknik-teknik pembukuan serta prinsipprinsip akuntansi perlu dilaksanakan dalam tugas ini. 2. Akuntansi manajemen Menyiapkan data historis maupun taksiran (estimated) dalam membantu pekerjaan manajemen sehari-hari dan merencanakan operasi perusahaan (Baridwan, 1985 : 13).

20

3. Akuntansi biaya Adalah berhubungan dengan penentuan serta pengawasan biaya dalam suatu perusahaan (Baridwan, 1985 : 13). Bidang ini sangat penting, terutama untuk perusahaan yang bersifat manufacturing (pabrik).

4. Akuntansi pemeriksaan Yang meliputi pemeriksaan independen atas pekerjaan-pekerjaan akuntansi secara menyeluruh (Baridwan, 1985 : 13). Bidang ini merupakan salah satu tugas pokok dari kantor akuntan yang harus mencerminkan pendapat dari akuntan pemeriksa mengenai kelayakan dari laporan keuangan yang ada di lain pihak. 5. Akuntansi perpajakan Yang meliputi persiapan untuk pelaporan, pembayaran pajak ataupun pengembalian pajak, serta pemenuhan prosedur-prosedur dalam perpajakan (Baridwan, 1985 : 14). 6. Akuntansi pemerintah Merupakan bidang khusus dalam pencatatan dan melaporkan transaksitransaksi yang dilakukan pemerintah serta lembaga-lembaga

pemerintah (Baridwan, 1985 : 14).

7. Akuntansi anggaran Menyajikan rencana keuangan untuk suatu periode melalui perkiraan-

21

perkiraan dan menyiapkan perbandingan antara operasi yang sebenarnya dan rencana operasi yang akan datang (Baridwan, 1985 : 14). 8. Akuntansi kemasyarakatan Merupakan bidang baru dalam akuntansi yang bertujuan melakukan pengukuran atas kerugian dan keuntungan bagi masyarakat (Baridwan, 1985 : 15). 3). Jurnal khusus Transaksi dalam perusahaan dangang ada berbagai jenis (transaksi penerimaan kas, pembelian barang dangang, penjualan barang dagang, dan lain-lain). Transaksi tersebut pertama kali dicatat dalam satu jurnal yang disebut jurnal umum. Bagi perusahaan yang transaksinya relatif banyak, pencatatan transaksi yang hanaya mengunakan satu jurnal (jurnal umum) kurang efektif. Setiap transaksi yang di analisis dalam jurnal umum satu demi satu harus diposting ke buku besar. Dengan demikian, jika transaksi yang dicatat banyak pada setiap perkiraan buku besar yang sering terjadi perubahan memerlukan jumlah baris yang banyak pula. Hal ini disamping memakan ruang pencatatan yang lebih banyak, juga memerlukan tenaga dan waktu. Dilain hal, transaksi yang banyak tersebut sebetulnya banyak pula yang analisisnya selalu berulang. Untuk perusahaan dangang, misalnya transaksi yang selalu berulang adalah : a. pembelian barang dangang secara keredit

22

pembelian barang dagang secara keredit analisisnya selalu a. debit : pembelian b. kredit : utang usaha b. Pembayaran (pengeluaran uang tunai atau kas) Transaksi pembyaran menganalisisnya selalu seperti ini a. debit :….(tergantung pada yang dibayar, yaitu pembelian, utang usaha, beban gaji dan lainlain). b. Kredit : kas c. Penjualan barang dangang secara keredit Pejualan barang dangang secara kredit analisisnya seperti ini : a. debit : piutang usaha b. kredit : penjualan d. penerimaman uang (penerimaan kas) penerimaan uang analisisnya selalu seperti ini: a. debit : kas b. kredit : ……(dapat berupa penjualan, piutang usaha, pendapat bunga, dan lain-lain). Untuk mengatasi posting yang berulang-ulang dan monoton setiap jenis transaksi yang dianggap sering terjadi dibuthkan satu jurnal tersendiri dan postingnya dilakukan setelah ahir periode tertentu. Jurnal yang disediakan untuk mencatat jenis transaksi tertentu disebut jurnal khusus (special journal)

23

Banyak macam juranal khusus yang harus disediakan oleh setiap perusahaan tidak sama, tergantung pada banyaknya jenis transaksi yang sering terjadi. Untuk perusahaan dangang, paling sedikit terdiri atas empat macam jurnal, yaitu sebagai berikut :

1.

Jurnal pembeliaan (purchase journal)

Jurnal pembeliaan adalah jurnal yang pada dasarnaya khusus digunakan untuk mencatat transaksi pembelian barang dangang secara kredit. Namun jika dirasa perlu oleh perusahaan, jurnal itu dapat pula dikembangkan untuk mencatat semua pembeliaan barang dangang ataupun bukan barang dangang dengan menambahkan kolom yang diperlukan. Jiaka jurnal pembelian hanya untuk mencatat transaksi yang analisisnya adalah : a. debit : pembelian b. kredit : utang usaha 2. Jurnal pengeluaran kas

Jurnal pengeluaran kas digunakan untuk mencatat khusus transaksi pembayaran. Kolom jumlah yang harus disediakan bergantung pada banyaknya perkiraan yang sering berkaitan dengan transaksi yang timbul. Hal ini bergantung pula pada jenis transaksi yang sering terjadi. Ditinjau dari ferekwensinya, transaksi harus dibedakan menjadi 2 kelompok yaitu:

24

a. Transaksi yang sering terjadi Dalam transaksi ini perkiraan yang terkait harus dibuatkan kolom jumlah tersediri. Untuk perusahaan dagang, contoh transaksi pembayaran yang sering terjadi adalah : 1. Pembelian barang dangang secara tunai yang analisisnya adalah debit : pembelian kredit : kas 2. Pembayaran dilakukan utang usaha yang dua

dengan

kemungkinan yaitu : Tidak mendapat potongan analisisnya adalah

Debit : utang usaha Kredit : kas Mendapat potongan, analisisnya adalah

Debit : utang usaha Kredit : kas Kredit : potongan pembelian b. Transaksi yang jarang terjadi Dalam transaksi ini perkiraan yang didebit tidak perlu disediakan kolom tersendiri, tetapi cukup ditampung dalam kolom serba serbi sedangkan kolom yang dikereditkan adalah kas.

25

3.

Jurnal penjualan (sales journal)

Jurnal penjualan adalah jurnal yang disediakan untuk mencatat tansaksi penjualan secara kredit, sebab penjualan tunai dapat dimasukkan kejurnal penerimaan kas. Jurnal penjualan itu jarang digunakan untuk mencatat penjualan secara kredit selain barang dagang, sebab bagi sebuah perusahaan dagang menjual selain barang dagang baik secara tunai maupun secara kredit (misalnya menjual sebagian peralatan) jarang dilakukan. Karena jurnal penjualan biasanya hanya untuk mencatat transaksi penjualan barang dagang secara kredit, kolom jumlah cukup menjadi satu. Dengan menuliskan angka pada setiap kolom jumlah, harus diartikan bahwa angka itu analisisnya adalah piutang usaha di debit dan penjualan di kredit. 4. Jurnal penerimaan kas (cash receipt journal)

Jurnal penerimaan kas (jurnal kas masuk) ialah jurnal yang khusus disediakan untuk mencatat transaksi penerimaan uang. Jumlah kolom yang harus disediakan dengan perkiraan yang sering berkaitan dan bergantung pada jenis transaksi penerimaan uang yang terjadi. Disamping itu, juga harus disediakan kolom serbaserbi untuk menampung perkiraan yang tidak mempunyai kolom khusus. B. Hasil Penelitian yang relevan Zakiah (2009) Judul : Penerapan Pembelajaran Contekstual Teaching

26

and Learning (CTL) untuk meningkatkan prestasi belajar siswa pada pokok bahasan organisasi pergerakan nasional Budi Utomo di kelas XI SMA NW Narmada. Hasil penelitiannya adalah pembelajaran apabila dilaksanakan dengan menggunakan metode Contekstual Teaching and Learning dapat

meningkatkan prestasi belajar siswa. Karena siswa berpeluang untuk belajar bekerja sama, menyampaikan pendapatnya sebagai wujud rasa percaya diri, belajar aktif dan kreatif. Sukardi (2005). Pengaruh Pendekatan CTL dengan pemodelan terhadap penguasaan konsep pencernaan makanan pada manusia dikelas II MTSN Aikmel Lotim. Hasil penelitian ini mengatakan bahwa terdapat pengaruh yang kuat dari penggunaan pemodelan dalam pendekatan CTL terhadap penguasaan konsep system pencernaan pada manusia pada mata pelajaran Biologi. Selanjutnya, Padmiwati (2008) : Pelaksanaan Pembelajaran dengan CTL pola diskusi kelompok untuk meningkatkan daya serap siswa bidang study IPS Geografi kelas VIII SMPN 15 Mataram Tahun Pelajaran 20072008. Hasil Penelitiannya : melalui penerapan pelaksanaan CTL pola diskusi kelompok dapat meningkatakan daya serap siswa dan meningktakan hasil belajar geografi pada siswa kelas VIII-1 SMPN 15 Mataram tahun ajaran 2007/2008. Mengacu pada hasil-hasil penelitian diatas, peneliti berharap dengan menggunakan pendekatan CTL dalam proses pembelajaran akan mempunyai

27

pengaruh yang positif terhadap penguasaan materi pembelajaran. Sehingga dapat meningkatkan hasil dan prestasi belajar peserta didik dalam mata pelajaran akuntansi. C. Kerangka Berpikir Berdasarkan kajian teoritis dan hasil-hasil penelitian diatas dapat diajukan kerangka berfikir sebagai dasar perumusan hipotesis bahwa pendekatan Contekstual teaching and learning (CTL) diduga paling tepat untuk mengajarkan akuntansi melalui pendekatan ini proses pembelajaran lebih mengikutsertakan peserta didik dalam proses pembelajaran. Pendekatan ini merupakan strategi belajar yang tidak mengharuskan siswa menghapal fakta-fakta ataupun konsep-konsep melainkan mendorong peserta didik untuk mengkonstruksikan pengetahuannya sendiri. Jadi, strategi dengan pendekatan Contekstual teaching and learning (CTL) ini diharapkan peserta didik belajar melalui mengalami bukan menghafal. Proses pembelajaran menggunakan pendekatan sehingga semua panca indera peserta didik diaktifkan dan dimanfaatkan secara serentak dalam proses pembelajaran D. Hipotesis Dari arti katanya hipotesis berasal dari dua kata hypo artinya di bawah dan thesa yang artinya kebenaran. Jadi hipotesis yang kemudian caara menulisnya disesuaikan dengan ejaan Bahasa Indonesia menjadi hipotesa, dan berkembang menjadi hipotesis. Hipotesis adalah pernyataan (declarative statement) yang belum

sepenuhnya diakui kebenarannya atau juga dikatakan suatu dugaan (assumation)

28

yang masih perlu dibuktikan kebenarannya (Netra, 1974: 27). Ahli lain berpendapat bahwa yang dimaksud dengan hipotesis adalah dugaan yang mungkin benar mungkin juga salah atau palsu dan akan diterima jika fakta-fakta yang dikumpulkan (Hadi, 1993: 62) mengacu pada kedua pendapat di atas maka dapat disimpulkan bahwa hipotesis adalah suatu pernyataan yang penting kedudukannya yang bersifat sementara yang belum dibuktikan benearannya secara empiris.

Hipotesis sesungguhnya dapat dibagi dua yaitu : a. Hipotesis Nihil (Ho) adalah hipotesis yang

menyatakan tidak adanya kesamaan, atau tidak adanya perbedaan, atau tidak adanya pengaruh antara dua variable yang dipersoalkan (Suharsimi 2002:17) b. Hipotesis Alternatif (Ha) adalah hipotesis yang menyatakan kesamaan, perbedaan atau adanya pengaruh antara dua variabel yang dipersoalkan (Suharsimi 2002 : 17). Berdasarkan kerangka berfikir yang menggambarkan gejala yang menjadi pusat perhatian, maka hipotesis dalam penelitian ini adalah hipotesis alternative (Ha) yaitu ada pengaruh pendekatan CTL dengan pemodelan terhadap penguasaan konsep akuntansi pada materi pembelajaran mencatat transaksi kedalam jurnal khusus.

29

BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Pendekatan dan Metode Penelitian Pendekatan penelitian ada dua macam yaitu pendekatan kualitatif dan pendekatan kuantitatif. Sebuah penelitian biasanya memilih salah satu diantara pendekatan kualitatif dan kuantitatif. Adapun pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kuantitatif. Pendekatan kuantitatif sesuai dengan namanya, banyak dituntut untuk menggunakan angka, mulai dari pengumpulan data, penafsiran terhadap data tersebut, serta penampilan dari hasilnya (Suharsimi, 2002:10). Mengacu pada pendapat dapat dipahami bahwa dalam penelitian kuantitatif lebih banyak menggunakan angka mulai dari pengumpulan data, penafsiran data dan penampilan data yang diperoleh. Sedangkan metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode

30

eksperimen, mengingat data dalam penelitian ini belum ada secara wajar, maka perlu dilakukan suatu eksperimen atau perlakuan untuk memunculkan data tersebut. Metode penelitian eksperimen dikelompokkan menjadi dua yaitu penelitian eksperimen sungguhan (true experimental research) dan penelitian eksperimen semu (quasi experimental research). Dengan demikian, dalam penelitian ini peneliti menggunakan metode penelitian eksperimen sungguhan dengan mengadakan perlakuan pada kelompok eksperimen. Eksperimen sejati (true experimen) adalah jenis eksperimen yang dianggap sudah baik karena sudah memenuhi persyaratan (Suharsimi,2002:79) yang dimaksud persyaratan adalah adanya kelompok lain yang tidak dikenal eksperimen dan ikut mendapatkan pengamatan. B. Racangan Penelitian Rancangan penelitian merupakan suatu langkah yang penting dalam penelitian selanjutnya. Setiap penelitian harus dirancang, untuk itu diperlukan suatu desain penelitian. Desain penelitian adalah rencana tentang cara mengumpulkan dan menganalisis data agar dapat di laksanakan secara ekonomis serta serasi dengan tujuan pnelitian (Nasution, 2004:23). Desain penelitian sangat ditentukan oleh tujuan penelitian itu sendiri. Sehubungan dengan tujuan penelitian ini yaitu dengan mengetahui pengaruh pendekatan Contekstual teaching and learning (CTL) dengan pemodelan terhadap penguasaan konsep akuntansi pada materi pembelajaran mencatat transaksi kedalam jurnal khusus, maka desain yang akan digunakan dalam

31

penelitian ini adalah desain control group pre-test, post test. Adapun polanya yaitu : E O1 xO2 K O3 xO4 E : adalah kelompok eksperimen K : adalah kolompok control O : adalah hasil observasi (Suhasimi, 2002:80) Dalam hal ini dilihat perbedaan pencapaian antara kelompok eksperimen (O1-O2) dengan pencapaian kelompok control (O3-O4). Untuk mengaflikasikan desain control group pre-test, pst-test ini ketika melakukan penelitian peneliti akan mengadakan observasi terhadap kedua kelompok sebanyak dua kali yaitu sebelum eksperimen dan setelah eksperimen. Observasi yang dilakukan sebelum eksperimen (O1 dan O3) disebut Pre-test, dan observasi sesudah eksperimen (O2 dan O4) disebut Posttest. Dimana perbedaan antara O1 dan O2, O3 dan O4 diasumsikan merupakan efek dari treatment atau eksperimen yang dilakukan. Ketika melakukan penelitian, terlebih dahulu peneliti akan memberikan Pre-test terhadap kedua kelompok. Selanjutnya peneliti akan memberikan materi tentang mencatat transaksi kedalam jurnal khusus dengan perlakuan atau treatment yang berbeda terhadap kedua kelompok, dimana kelompok eksperimen diberi materi dengan perlakuan pendekatan Contekstual teachimg and learning (CTL) dengan modeling, sedangkan kelompok control tidak

32

diberikan perlakuan tersebut setelah mengadakan eksperimen peneliti akan memberikan tes lagi yaitu post-test untuk mengetahui pengaruh treatment yang sudah diberikan. Untuk lebih jelasnya rancangan penelitian ini dapat digambarkan sebagai berikut :

Pra Eksperimen O1 → Pembelajaran → O2 menggunakan pendekatan CTL dengan pemodelan O3 → tidak → O4 b=O1-O2 Post-test b’=O3-O4

Pre-test

Dengan demikian, ketika melakukan observasi setelah mengadakan eksperimen yaitu post-test kelompok eksperimen akan mengalami perubahan karena akibat perlakuan pembelajaran menggunakan pendekatan Contekstual teaching and learning (CTL) dengan pemodelan bila dibandingkan dengan keadaan sebelum dan sesudahnya. C. Tempat dan Waktu penelitian 1. Tempat Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di kelas XII MA Nurul Iman desa Setanggor tahun pelajaran 2010/2011.

33

2. Waktu Penelitian Penelitian ini berlangsung dari bulan Juni sampai bulan Agustus. D. Populasi dan Sampel 1. Populasi Populasi adalah keseluruhan subjek penelitian (Suharsimi, 2002 :108) pendapat lain mengatakan bahwa populasi adalah totalitas dari semua objek atau individu yang memiliki karakteristik tertentu, jelas dan lengkap yang akan di teliti (Iqbal, 2001:84), Berdasarkan pengertian diatas, maka dapat dipahami bahwa populasi adalah keseluruhan individu yang akan diteliti atau seluruh individu yang mendukung setiap gejala yang timbul. Adapun yang menjadi populasi dalam penelitian ini adalah peserta didik kelas XII MA Nurul Iman sebanyak 2 kelas. 2. Sampel Sampel adalah bagian dari populasi yang diambil melalui cara-cara tertentu yang juga memiliki karakteristik tertentu, jelas dan lengkap yang dianggap bias mewakili populasi (Iqbal, 2001:84) dalam pengambilan sampel, apabila subjeknya kurang dari 100 orang, lebih baik diambil semuanya, sehingga penelitiannya merupakan penelitian populasi.

Selanjutnya jika jumlah subjeknya besar atau lebih dari 100 orang dapat diambil diantara 10-15% atau 20-25% atau lebih, tergantung dari kemampuan peneliti dilihat dari segi waktu, tenaga dan dana yang dimiliki peneliti (Suharsimi, 2002:112).

34

Mengacu pada pendapat Suharsimi diatas, maka untuk menetapkan besarnya jumlah sampel peneliti mengambil 100% dari keseluruhan populasi yaitu semua siswa kelas XII MA Nurul Iman Desa Setanggor yang jumlahnya 58 orang, yang terdiri dari 2 kelas.

E. Metode Pengumpulan Data 1. Kuesioner/Angket /Tes Tes adalah serentetan pertanyaan atau latihan serta alat lain yang digunakan untuk mengukur keterampilan pengetahuan intelegensi,

kemampuan atau bakat yang dimiliki oleh individu atau kelompok (Suharsimi, 2002 : 127). Adapun tes yang digunakan harus memenuhi syarat sebagai berikut: a. Tes harus valid Dalam hasil tes yang digunakan untuk menguji tingkat normalitas dari populasi yang diteliti dan sebagai persyaratan untuk menguji hipotesis alternatif (Ha) yang menyatakan ada pengaruh pendekatan CTL dengan pemodelan terhadap penguasana konsep akuntansi perusahaan jasa.dengan pemodelan terhadap penguasana konsep akuntansi perusahaan jasa. Tes disebut valid apabila tes tersebut benar-benar mengungkapkan aspek yang diteliti secara tepat. Dengan kata lain harus memiliki tingkat

35

ketepatan tinggi dalam mengungkapkan aspek-aspek yang hendak diukur. Secara garis ada dua macam validitas, yaitu : 1) Validitas logis Istilah validitas logis mengandung kata logis, berasal dari kata logika yang berarti penalaran. Dengan makna demikian nmaka validitas logis untuk sebuah instrumen yang memenuhi persyaratan validitas berdasarkan hasil penalaran. Kondisi valid tersebut dipandang terpenuhi karena instrumen yang bersangkutan sudah dirancang secara baik mengenai teori dan ketentuan yang ada. 2) Validitas empiris Istilah validitas empiris menurut kata empiris yang artinya

pengalaman. Sebuah instrumen dikatakan memiliki validitas empiris sudah diuji dari pengalaman (Suharsimi, 2002 : 65). Adapun rumus yang digunakan untuk mencari validitas tes adalah

rxy =

{N.∑ x

N. ∑ xy − ( ∑ x )( ∑ y )
2

− (∑ x)

2

}{N.∑ y

2

− ( ∑ y)

2

}

(Iqbal, 2003 : 235) b. Tes harus reliabel Sebuah tes dikatakan reliabel apabila tes tersebut mampu memberikan hasil yang relatif tepat walaupun dilakukan secara berulang-ulang pada kelompok yang sama. Adapun rumus yang digunakan untuk mencari reliabel tes adalah:

36

2xr 1 1 2 2 1 1 1+ r 2 2 r11 =

(

)

Dengan keterangan: r11 : reliabilitas instrumen

r ½ ½ : rxy yang disebutkan sebagai indeks korelasi antara dua belah instrumen (Suharsimi, 2002 : 156).

2. Metode Observasi Karya Weick (dikutip dari Seltiz, Wrightsman dan Cook 1976 : 256) mendefinisikan observasi sebagai pemilihan, pengubahan, pencatatan dan pengkodaan serangkaian prilaku dan suasana yang berkenaan dengan organisme institut, sesuai dengan tujuan empiris (Jalaludin, 2005 : 83). Dari pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa observasi adalah suatu langkah pengamatan yang dilakukan terhadap gejala atau proses (suasana) yang terjadi dalam situasi sebenarnya yang disesuaikan dengan tujuan. Adapun jenis observasi yang digunakan adalah observasi partisipasi. Dengan metode observasi ini peneliti mengamati tingkah laku peserta didik yang diberikan pendekatan Contekstual teaching and learning (CTL) dengan pemodelan dalam proses pembelajaran. Maka dengan menggunakan metode ini, peneliti akan memperoleh data mengenai : a. Keadaan fisik MA Nurul Iman Desa Setanggor b. Proses pembelajaran menggunakan pendekatan Contekstual teaching and

37

learning (CTL) dengan pemodelan. 3. Metode Dokumentasi Dokumentasi berarti mencari data mengenai hal-hal atau variabel yang berupa catatan, buku, surat kabar, majalah, prasasti, notulen rapat, agenda dan lain sebagainya (Suharsimi, 2002 : 206). Metode dokumentasi ini peneliti mengambil data-data baik yang berbentuk buku, dokumen, peraturanperaturan dan sebagainya sehingga data yang diperoleh mudah diolah. Dibandingkan dengan metode lain, metode ini agak tidak begitu sulit, dalam arti ada kekeliruan sumber datanya masih tetap, belum berubah. Dengan metode dokumentasi yang diamati bukan benda hidup tetapi benda mati. Dokumen dapat dibedakan menjadi dua yaitu dokumen primer dan dokumen sekunder. Dokumen primer yaitu jika dokumen ini ditulis oleh masing-masing orang yang langsung mengalmais suatu peristiwa. Sedangkan dokumen sekunder, yaitu peristiwa dilaporkan orang lain selanjutnya ditulis oleh orang lain. Dengan metode ini peneliti akan mendapatkan data-data dalam bentuk tertulis mengenai : a. Struktur organisasi MA Nurul Iman Desa Setanggor b. Keadaan guru, pegawai / karyawan dan peserta didik MA Nurul Iman. Dengan data-data yang diperoleh tersebut, peneliti akan memperoleh gambaran umum mengenai keadaan, struktur organisasi dan keadana guru, pegawai/karyawan dan peserta didik MA Nurul Iman Desa Setanggor. F. Jenis dan Sumber Data

38

Dalam penelitian ini ada 2 data yang digunakan yaitu : 1. Data primer yaitu data yang didapat langsung dari responden yang didasarkan pada alat pengumpuland data di atas 2. Data sekunder yaitu data yang diperoleh dari dinas, lemabga dan instansi yang terkait dengan masalah yang diteliti.

G. Metode Analisis Data Data yang diperoleh nantinya, baik lewat instrumen maupun non instrumen merupakan hasil informasi, yang mana harus diolah menjadi data jadi. Data adalah semua keterangan seseorang yang dijadikan responden maupun yang berasal dari dokumen-dokumen baik dalam bentuk statistik ataupun dalam bentuk lainnya guna keperluan penelitian dimaksud (Joko, 1991 : 87). Analisis data merupakan bagian yang sangat penting dalam suatu penelitian karena dengan analisis data inilah data dapat diberi arti dan makna yang berguna dalam memecahkan data penelitian. Sesuai dengan masalah yang diteliti yaitu pendekatan Contekstual teaching and learning (CTL) dengan pemodelan. Dengan demikian peneliti menggunakan teknik analisis data statistik yaitu dengan t tes. Dalam hal ini, tes digunakan untuk menguji signifikansi perbedaan mean. Adapun rumus yang digunakan adalah t= Mx - My  ∑ x + ∑ y 2  1 1     Nx + Ny    Nx + Ny - 2    
2

39

Keterangan M : Nilai rata-rata hasil kelompok N : Banyaknya subyek x y : deviasi setiap nilai x2 dan x1 : deviasi setiap nilai y2 dan y1

(Suharsimi, 2002 : 2281) Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan pengetesan satu skor dengan taraf kepercayaan 95% yang konsultasinya pada taraf signifikansi 5%.

40

DAFTAR PUSTAKA Al – Haryono Yusuf, 1999. Dasar-Dasar Akuntansi I. Yogyakarta : STIE Diknas, 2002. Pendekatan Kontekstual. Jakarta : Diknas E. Mulyasa, 2005. Menjadi Guru Profesional menciptakan pemebelajaran kreatif dan menyenangkan. Bandung : Remaja Rosdakarya Hamzah B. Uno, 2002. Inovasi Pendidikan. Bandung : Pustaka Setia Jalaludin Rakhmat, 2005. Metodologi Penelitian Komunikasi. Bandung : Remaja Rosdakarya. M. Ikbal hasan, 2003. Pokok-Pokok materi statistic 1 & 2. Jakarta : Bumi Aksara Nurhadi dkk, 2004. Pembelajaran Kontekstual dan Penerapannya dalam KBK. Malang : Universitas Negeri Malang Tim Peneliti STKIP, 2009. Pedoman Skripsi STKIP Hamzanwadi Selong. STKIP Hamzanwadi Selong. Suharsimi Arikunto, 2002. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta : Rineka Cipta. Zaki Baridwan, Drs. M.Sc. 1985. Akuntansi, Sistem Informsi Akantansi. Yogyakarta : BPFE

41

Zainal Aqib, 2003. Profesionalisme Guru dalam Pembelajaran. Surabaya : Insan Cendikia.

42

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->