P. 1
Globalisasi

Globalisasi

|Views: 1,551|Likes:
Published by HanadiaYurista

More info:

Published by: HanadiaYurista on Jul 24, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/16/2013

pdf

text

original

Globalisasi

Dari Wikipedia Indonesia, ensiklopedia bebas berbahasa Indonesia.

Globalisasi adalah sebuah istilah yang memiliki hubungan dengan peningkatan keterkaitan dan ketergantungan antarbangsa dan antarmanusia di seluruh dunia dunia melalui perdagangan, investasi, perjalanan, budaya populer, dan bentuk bentuk interaksi yang lain sehingga batas-batas suatu negara menjadi bias. Dalam banyak hal, globalisasi mempunyai banyak karakteristik yang sama dengan internasionalisasi, dan istilah ini sering dipertukarkan. Sebagian pihak sering menggunakan istilah globalisasi yang dikaitkan dengan berkurangnya peran negara atau batas batas negara.

Pengertian
Kata "globalisasi" diambil dari kata global, yang maknanya ialah universal. Globalisasi belum memiliki definisi yang mapan, kecuali sekadar definisi kerja (working definition), sehingga tergantung dari sisi mana orang melihatnya. Ada yang memandangnya sebagai suatu proses sosial, atau proses sejarah, atau proses alamiah yang akan membawa seluruh bangsa dan negara di dunia makin terikat satu sama lain, mewujudkan satu tatanan kehidupan baru atau kesatuan ko-eksistensi dengan menyingkirkan batas-batas geografis, ekonomi dan budaya masyarakat. Mitos yang hidup selama ini tentang globalisasi adalah bahwa proses globalisasi akan membuat dunia seragam. Proses globalisasi akan menghapus identitas dan jati diri. Kebudayaan lokal atau etnis akan ditelan oleh kekuatan budaya besar atau kekuatan budaya global. Anggapan atau jalan pikiran di atas tersebut tidak sepenuhnya benar. Kemajuan teknologi komunikasi memang telah membuat batas-batas dan jarak menjadi hilang dan tak berguna. John Naisbitt (1988), dalam bukunya yang berjudul Global Paradox ini memperlihatkan hal yang justru bersifat paradoks dari fenomena globalisasi. Naisbitt

(1988) mengemukakan pokok-pokok pikiran lain yang paradoks, yaitu semakin kita menjadi universal, tindakan kita semakin kesukuan, dan berpikir lokal, bertindak global. Hal ini dimaksudkan kita harus mengkonsentrasikan kepada hal-hal yang bersifat etnis, yang hanya dimiliki oleh kelompok atau masyarakat itu sendiri sebagai modal pengembangan ke dunia Internasional. Di sisi lain, ada yang melihat globalisasi sebagai sebuah proyek yang diusung oleh negara-negara adikuasa, sehingga bisa saja orang memiliki pandangan negatif atau curiga terhadapnya. Dari sudut pandang ini, globalisasi tidak lain adalah kapitalisme dalam bentuknya yang paling mutakhir. Negara-negara yang kuat dan kaya praktis akan mengendalikan ekonomi dunia dan negara-negara kecil makin tidak berdaya karena tidak mampu bersaing. Sebab, globalisasi cenderung berpengaruh besar terhadap perekonomian dunia, bahkan berpengaruh terhadap bidang-bidang lain seperti budaya dan agama. Ciri globalisasi Berikut ini beberapa ciri yang menandakan semakin berkembangnya fenomena globalisasi di dunia.

Hilir mudiknya kapal-kapal pengangkut barang antarnegara menunjukkan keterkaitan antarmanusia di seluruh dunia

Perubahan dalam konsep ruang dan waktu. Perkembangan barang-barang seperti telepon genggam, televisi satelit, dan internet menunjukkan bahwa komunikasi global terjadi demikian cepatnya, sementara melalui pergerakan massa semacam turisme memungkinkan kita merasakan banyak hal dari budaya yang berbeda. Pasar dan produksi ekonomi di negara-negara yang berbeda menjadi saling bergantung sebagai akibat dari pertumbuhan eprdagangan internasional, peningkatan pengaruh perusahaan multinasional, dan dominasi organisasi semacam World Trade Organization (WTO). Peningkatan interaksi kultural melalui perkembangan media massa (terutama televisi, film, musik, dan transmisi berita dan olah raga internasional). saat ini, kita dapat mengonsumsi dan mengalami gagasan dan pengalaman baru mengenai hal-hal yang melintasi beraneka ragam budaya, misalnya dalam bidang fashion, literatur, dan makanan.

Meningkatnya masalah bersama, misalnya pada bidang lingkungan hidup, krisis multinasional, inflasi regional dan lain-lain.

Kennedy dan Cohen menyimpulkan bahwa transformasi ini telah membawa kita pada globalisme, sebuah kesadaran dan pemahaman baru bahwa dunia adalah satu. Giddens menegaskan bahwa kebanyakan dari kita sadar bahwa sebenarnya diri kita turut ambil bagian dalam sebuah dunia yang harus berubah tanpa terkendali yang ditandai dengan selera dan rasa ketertarikan akan hal sama, perubahan dan ketidakpastian, serta kenyataan yang mungkin terjadi. Sejalan dengan itu, Peter Drucker menyebutkan globalisasi sebagai zaman transformasi sosial. Setiap beberapa ratus tahun dalam sejarah manusia, transformasi hebat terjadi. Dalam beberapa dekade saja, masyarakat telah berubah kembali baik dalam pandangan mengenai dunia, nilai-nilai dasar, struktur politik dan sosial, maupun seni. Lima puluh tahun kemudian muncullah sebuah dunia baru.

Teori globalisasi
Cochrane dan Pain menegaskan bahwa dalam kaitannya dengan globalisasi, terdapat tiga posisi teroritis yang dapat dilihat, yaitu:

Para globalis percaya bahwa globalisasi adalah sebuah kenyataan yang memiliki konsekuensi nyata terhadap bagaimana orang dan lembaga di seluruh dunia berjalan. Mereka percaya bahwa negara-negara dan kebudayaan lokal akan hilang diterpa kebudayaan dan ekonomi global yang homogen. meskipun demikian, para globalis tidak memiliki pendapat sama mengenai konsekuensi terhadap proses tersebut. Para globalis positif dan optimistis menanggapi dengan baik perkembangan semacam itu dan menyatakan bahwa globalisasi akan menghasilkan masyarakat dunia yang toleran dan bertanggung jawab. • Para globalis pesimis berpendapat bahwa globalisasi adalah sebuah fenomena negatif karena hal tersebut sebenarnya adalah bentuk penjajahan barat (terutama Amerika Serikat) yang memaksa sejumlah bentuk budaya dan konsumsi yang homogen dan terlihat sebagai sesuatu yang benar dipermukaan. Beberapa dari mereka kemudian membentuk kelompok untuk menentang globalisasi (antiglobalisasi).

Para tradisionalis tidak percaya bahwa globalisasi tengah terjadi. Mereka berpendapat bahwa fenomena ini adalah sebuah mitos sematau atau, jika memang ada, terlalu dibesar-besarkan. Mereka merujuk bahwa kapitalisme telah menjadi sebuah fenomena internasional selama ratusan tahun. Apa yang tengah kita alami saat ini hanyalah merupakan tahap lanjutan, atau evolusi, dari produksi dan perdagangan kapital. Para transformasionalis berada di antara para globalis dan tradisionalis. Mereka setuju bahwa pengaruh globalisasi telah sangat dilebih-lebihkan oleh para

globalis. Namun, mereka juga berpendapat bahwa sangat bodoh jika kita menyangkal keberadaan konsep ini. Posisi teoritis ini berpendapat bahwa globalisasi seharusnya dipahami sebagai "seperangkat hubungan yang saling berkaitan dengan murni melalui sebuah kekuatan, yang sebagian besar tidak terjadi secara langsung". Mereka menyatakan bahwa proses ini bisa dibalik, terutama ketika hal tersebut negatif atau, setidaknya, dapat dikendalikan.

Sejarah globalisasi
Banyak sejarawan yang menyebut globalisasi sebagai fenomena di abad ke-20 ini yang dihubungkan dengan bangkitnya ekonomi internasional. Padahal interaksi dan globalisasi dalam hubungan antarbangsa di dunia telah ada sejak berabad-abad yang lalu. Bila ditelusuri, benih-benih globalisasi telah tumbuh ketika manusia mulai mengenal perdagangan antarnegeri sekitar tahun 1000 dan 1500 M. Saat itu, para pedagang dari Cina dan India mulai menelusuri negeri lain baik melalui jalan darat (seperti misalnya jalur sutera) maupun jalan laut untuk berdagang.

Fenomena berkembangnya perusahaan McDonald di seluroh pelosok dunia menunjukkan telah terjadinya globalisasi Fase selanjutnya ditandai dengan dominasi perdagangan kaum muslim di Asia dan Afrika. Kaum muslim membentuk jaringan perdagangan yang antara lain meliputi Jepang, Cina, Vietnam, Indonesia, Malaka, India, Persia, pantai Afrika Timur, Laut Tengah, Venesia, dan Genoa. Di samping membentuk jaringan dagang, kaum pedagang muslim juga menyebarkan nilai-nilai agamanya, nama-nama, abjad, arsitek, nilai sosial dan budaya Arab ke warga dunia. Fase selanjutnya ditandai dengan eksplorasi dunia secara besar-besaran oleh bangsa Eropa. Spanyol, Portugis, Inggris, dan Belanda adalah pelopor-pelopor eksplorasi ini. Hal ini didukung pula dengan terjadinya revolusi industri yang meningkatkan keterkaitan antarbangsa dunia. berbagai teknologi mulai ditemukan dan menjadi dasar perkembangan teknologi saat ini, seperti komputer dan internet. Pada saat itu, berkembang pula kolonialisasi di dunia yang membawa pengaruh besar terhadap difusi kebudayaan di dunia. Semakin berkembangnya industri dan kebutuhan akan bahan baku serta pasar juga memunculkan berbagai perusahaan multinasional di dunia. Di Indinesia misalnya, sejak

politik pintu terbuka, perusahaan-perusahaan Eropa membuka berbagai cabangnya di Indonesia. Freeport dan Exxon dari Amerika Serikat, Unilever dari Belanda, British Petroleum dari Inggris adalah beberapa contohnya. Perusahaan multinasional seperti ini tetap menjadi ikon globalisasi hingga saat ini. Fase selanjutnya terus berjalan dan mendapat momentumnya ketika perang dingin berakhir dan komunisme di dunia runuh. Runtuhnya komunisme seakan memberi pembenaran bahwa kapitalisme adalah jalan terbaik dalam mewujudkan kesejahteraan dunia. Implikasinya, negara negara di dunia mulai menyediakan diri sebagai pasar yang bebas. Hal ini didukung pula dengan perkembangan teknologi komunikasi dan transportasi. Alhasil, sekat-sekat antarnegara pun mulai kabur.

Reaksi masyarakat
Gerakan pro-globalisasi Pendukung globalisasi (sering juga disebut dengan pro-globalisasi) menganggap bahwa globalisasi dapat meningkatkan kesejahteraan dan kemakmuran ekonomi masyarakat dunia. Mereka berpijak pada teori keunggulan komparatif yang dicetuskan oleh (...). Teori ini menyatakan bahwa suatu negara dengan negara lain saling bergantung dan dapat saling menguntungkan satu sama lainnya, dan salah satu bentuknya adalah ketergantungan dalam bidang ekonomi. Kedua negara dapat melakukan transaksi pertukaran sesuai dengan keunggulan komparatif yang dimilikinya. Misalnya, Jepang memiliki keunggulan komparatif pada produk kamera digital (mampu mencetak lebih efesien dan bermutu tinggi) sementara Indonesia memiliki keunggulan komparatif pada produk kainnya. Dengan teori ini, Jepang dianjurkan untuk menghentikan produksi kainnya dan mengalihkan faktor-faktor produksinya untuk memaksimalkan produksi kamera digital, lalu menutupi kekurangan penawaran kain dengan membelinya dari Indonesia, begitu juga sebaliknya. Salah satu penghambat utama terjadinya kerjasama diatas adalah adanya laranganlarangan dan kebijakan proteksi dari pemerintah suatu negara. Di satu sisi, kebijakan ini dapat melindungi produksi dalam negeri, namun di sisi lain, hal ini akan meningkatkan biaya produksi barang impor sehingga sulit menembus pasar negara yang dituju. Para pro-globalisme tidak setuju akan adanya proteksi dan larangan tersebut, mereka menginginkan dilakukannya kebijakan perdagangan bebas sehingga harga barang-barang dapat ditekan, akibatnya permintaan akan meningkat. Karena permintaan meningkat, kemakmuran akan meningkat dan begitu seterusnya. Beberapa kelompok pro-globalisme juga mengkritik Bank Dunia dan IMF, mereka berpendapat bahwa kedua badan tersebut hanya mengontrol dan mengalirkan dana kepada suatu negara, bukan kepada suatu koperasi atau perusahaan. Sebagai hasilnya, banyak pinjaman yang mereka berikan jatuh ke tangan para diktator yang kemudian menyelewengkan dan tidak menggunakan dana tersebut sebagaimana mestinya, meninggalkan rakyatnya dalam lilitan hutang negara, dan sebagai akibatnya, tingkat kemakmuran akan menurun. Karena tingkat kemakmuran menurun, akibatnya

masyarakat negara itu terpaksa mengurangi tingkat konsumsinya; termasuk konsumsi barang impor, sehingga laju globalisasi akan terhambat dan -- menurut mereka -mengurangi tingkat kesejahteraan penduduk dunia. Gerakan antiglobalisasi Artikel utama: antiglobalisasi

Gerakan antiglobalisasi Antiglobalisasi adalah suatu istilah yang umum digunakan untuk memaparkan sikap politis orang-orang dan kelompok yang menentang perjanjian dagang global dan lembaga-lembaga yang mengatur perdagangan antar negara seperti Organisasi Perdagangan Dunia (WTO). "Antiglobalisasi" dianggap oleh sebagian orang sebagai gerakan sosial, sementara yang lainnya menganggapnya sebagai istilah umum yang mencakup sejumlah gerakan sosial yang berbeda-beda. Apapun juga maksudnya, para peserta dipersatukan dalam perlawanan terhadap ekonomi dan sistem perdagangan global saat ini, yang menurut mereka mengikis lingkungan hidup, hak-hak buruh, kedaulatan nasional, dunia ketiga, dan banyak lagi penyebab-penyebab lainnya. Namun, orang-orang yang dicap "antiglobalisasi" sering menolak istilah itu, dan mereka lebih suka menyebut diri mereka sebagai Gerakan Keadilan Global, Gerakan dari Semua Gerakan atau sejumlah istilah lainnya.

Globalisasi Perekonomian
Globalisasi perekonomian merupakan suatu proses kegiatan ekonomi dan perdagangan, dimana negara-negara di seluruh dunia menjadi satu kekuatan pasar yang semakin terintegrasi dengan tanpa rintangan batas teritorial negara. Globalisasi perekonomian mengharuskan penghapusan seluruh batasan dan hambatan terhadap arus modal, barang dan jasa. Ketika globalisasi ekonomi terjadi, batas-batas suatu negara akan menjadi kabur dan keterkaitan antara ekonomi nasional dengan perekonomian internasional akan semakin erat. Globalisasi perekonomian di satu pihak akan membuka peluang pasar produk dari dalam negeri ke pasar internasional secara kompetitif, sebaliknya juga membuka peluang masuknya produk-produk global ke dalam pasar domestik.

Menurut Tanri Abeng, perwujudan nyata dari globalisasi ekonomi antara lain terjadi dalam bentuk-bentuk berikut:

Globalisasi produksi, di mana perusahaan berproduksi di berbagai negara, dengan sasaran agar biaya produksi menajdi lebih rendah. Hal ini dilakukan baik karena upah buruh yang rendah, tarif bea masuk yang murah, infrastruktur yang memadai ataupun karena iklim usaha dan politik yang kondusif. Dunia dalam hal ini menjadi lokasi manufaktur global.

Kehadiran tenaga kerja asing merupakan gejala terjadinya globalisasi tenaga kerja

Globalisasi pembiayaan. Perusahaan global mempunyai akses untuk memperoleh pinjaman atau melakukan investasi (baik dalam bentuk portofolio ataupun langsung) di semua negara di dunia. Sebagai contoh, PT Telkom dalam memperbanyak satuan sambungan telepon, atau PT Jasa Marga dalam memperluas jaringan jalan tol telah memanfaatkan sistem pembiayaan dengan pola BOT (build-operate-transfer) bersama mitrausaha dari manca negara. Globalisasi tenaga kerja. Perusahaan global akan mampu memanfaatkan tenaga kerja dari seluruh dunia sesuai kelasnya, seperti penggunaan staf profesional diambil dari tenaga kerja yang telah memiliki pengalaman internasional atau buruh kasar yang biasa diperoleh dari negara berkembang. Dengan globalisasi maka human movement akan semakin mudah dan bebas. Globalisasi jaringan informasi. Masyarakat suatu negara dengan mudah dan cepat mendapatkan informasi dari negara-negara di dunia karena kemajuan teknologi, antara lain melalui: TV,radio,media cetak dll. Dengan jaringan komunikasi yang semakin maju telah membantu meluasnya pasar ke berbagai belahan dunia untuk barang yang sama. Sebagai contoh : KFC, celana jeans levi's, atau hamburger melanda pasar dimana-mana. Akibatnya selera masyarakat dunia -baik yang berdomisili di kota ataupun di desa- menuju pada selera global. Globalisasi Perdagangan. Hal ini terwujud dalam bentuk penurunan dan penyeragaman tarif serta penghapusan berbagai hambatan nontarif. Dengan demikian kegiatan perdagangan dan persaingan menjadi semakin cepat, ketat, dan fair.

Thompson mencatat bahwa kaum globalis mengklaim saat ini telah terjadi sebuah intensifikasi secara cepat dalam investasi dan perdagangan internasional. Misalnya, secara nyata perekonomian nasional telah menjadi bagian dari perekonomian global yang ditengarai dengan adanya kekuatan pasar dunia.

Kebaikan globalisasi ekonomi

Produksi global dapat ditingkatkan

Pandangan ini sesuai dengan teori 'Keuntungan Komparatif' dari David Ricardo. Melalui spesialisasi dan perdagangan faktor-faktor produksi dunia dapat digunakan dengan lebih efesien, output dunia bertambah dan masyarakat akan memperoleh keuntungan dari spesialisasi dan perdagangan dalam bentuk pendapatan yang meningkat, yang selanjutnya dapat meningkatkan pembelanjaan dan tabungan.

Meningkatkan kemakmuran masyarakat dalam suatu negara

Perdagangan yang lebih bebas memungkinkan masyarakat dari berbagai negara mengimpor lebih banyak barang dari luar negeri. Hal ini menyebabkan konsumen mempunyai pilihan barang yang lebih banyak. Selain itu, konsumen juga dapat menikmati barang yang lebih baik dengan harga yang lebih rendah.

Meluaskan pasar untuk produk dalam negeri

Perdagangan luar negeri yang lebih bebas memungkinkan setiap negara memperoleh pasar yang jauh lebih luas dari pasar dalam negeri.

Dapat memperoleh lebih banyak modal dan teknologi yang lebih baik

Modal dapat diperoleh dari investasi asing dan terutama dinikmati oleh negara-negara berkembang karena masalah kekurangan modal dan tenaga ahli serta tenaga terdidik yang berpengalaman kebanyakan dihadapi oleh negara-negara berkembang.

Menyediakan dana tambahan untuk pembangunan ekonomi

Pembangunan sektor industri dan berbagai sektor lainnya bukan saja dikembangkan oleh perusahaan asing, tetapi terutamanya melalui investasi yang dilakukan oleh perusahaan swasta domestik. Perusahaan domestik ini seringkali memerlukan modal dari bank atau pasar saham. dana dari luar negeri terutama dari negara-negara maju yang memasuki pasar uang dan pasar modal di dalam negeri dapat membantu menyediakan modal yang dibutuhkan tersebut.

Keburukan globalisasi ekonomi

Menghambat pertumbuhan sektor industri

Salah satu efek dari globalisasi adalah perkembangan sistem perdagangan luar negeri yang lebih bebas. Perkembangan ini menyebabkan negara-negara berkembang tidak dapat lagi menggunakan tarif yang tingi untuk memberikan proteksi kepada industri yang baru berkembang (infant industry). Dengan demikian, perdagangan luar negeri yang lebih bebas menimbulkan hambatan kepada negara berkembang untuk memajukan sektor industri domestik yang lebih cepat. Selain itu, ketergantungan kepada industri-industri yang dimiliki perusahaan multinasional semakin meningkat.

Memperburuk neraca pembayaran

Globalisasi cenderung menaikkan barang-barang impor. Sebaliknya, apabila suatu negara tidak mampu bersaing, maka ekspor tidak berkembang. Keadaan ini dapat memperburuk kondisi neraca pembayaran. Efek buruk lain dari globaliassi terhadap neraca pembayaran adalah pembayaran neto pendapatan faktor produksi dari luar negeri cenderung mengalami defisit. Investasi asing yang bertambah banyak menyebabkan aliran pembayaran keuntungan (pendapatan) investasi ke luar negeri semakin meningkat. Tidak berkembangnya ekspor dapat berakibat buruk terhadap neraca pembayaran.

Sektor keuangan semakin tidak stabil

Salah satu efek penting dari globalisasi adalah pengaliran investasi (modal) portofolio yang semakin besar. Investasi ini terutama meliputi partisipasi dana luar negeri ke pasar saham. Ketika pasar saham sedang meningkat, dana ini akan mengalir masuk, neraca pembayaran bertambah bak dan nilai uang akan bertambah baik. Sebaliknya, ketika harga-harga saham di pasar saham menurun, dana dalam negeri akan mengalir ke luar negeri, neraca pembayaran cenderung menjadi bertambah buruk dan nilai mata uang domestik merosot. Ketidakstabilan di sektor keuangan ini dapat menimbulkan efek buruk kepada kestabilan kegiatan ekonomi secara keseluruhan.

memperburuk prospek pertumbuhan ekonomi jangka panjang

Apabila hal-hal yang dinyatakan di atas berlaku dalam suatu negara, maka dlam jangka pendek pertumbuhan ekonominya menjadi tidak stabil. Dalam jangka panjang pertumbuhan yang seperti ini akan mengurangi lajunya pertumbuhan ekonomi. Pendapatan nasional dan kesempatan kerja akan semakin lambat pertumbuhannya dan masalah pengangguran tidak dapat diatasi atau malah semakin memburuk. Pada akhirnya, apabila globalisasi menimbulkan efek buruk kepada prospek pertumbuhan ekonomi jangka panjang suatu negara, distribusi pendapatan menjadi semakin tidak adil dan masalah sosial-ekonomi masyarakat semakin bertambah buruk.

Globalisasi kebudayaan

sub-kebudayaan Punk, adalah contoh sebuah kebudayaan yang berkembang secara global Globalisasi mempengaruhi hampir semua aspek yang ada di masyarakat, termasuk diantaranya aspek budaya. Kebudayaan dapat diartikan sebagai nilai-nilai (values) yang dianut oleh masyarakat ataupun persepsi yang dimiliki oleh warga masyarakat terhadap berbagai hal. Baik nilai-nilai maupun persepsi berkaitan dengan aspek-aspek kejiwaan/psikologis, yaitu apa yang terdapat dalam alam pikiran. Aspek-aspek kejiwaan ini menjadi penting artinya apabila disadari, bahwa tingkah laku seseorang sangat dipengaruhi oleh apa yang ada dalam alam pikiran orang yang bersangkutan. Sebagai salah satu hasil pemikiran dan penemuan seseorang adalah kesenian, yang merupakan subsistem dari kebudayaan. Globalisasi sebagai sebuah gejala tersebarnya nilai-nilai dan budaya tertentu keseluruh dunia (sehingga menjadi budaya dunia atau world culture) telah terlihat semenjak lama. Cikal bakal dari persebaran budaya dunia ini dapat ditelusuri dari perjalanan para penjelajah Eropa Barat ke berbagai tempat di dunia ini ( Lucian W. Pye, 1966 ). Namun, perkembangan globalisasi kebudayaan secara intensif terjadi pada awal ke-20 dengan berkembangnya teknologi komunikasi. Kontak melalui media menggantikan kontak fisik sebagai sarana utama komunikasi antarbangsa. Perubahan tersebut menjadikan komunikasi antarbangsa lebih mudah dilakukan, hal ini menyebabkan semakin cepatnya perkembangan globalisasi kebudayaan. Ciri berkembangnya globalisasi kebudayaan
• • • • • •

Berkembangnya pertukaran kebudayaan internasional. Penyebaran prinsip multikebudayaan (multiculturalism), dan kemudahan akses suatu individu terhadap kebudayaan lain di luar kebudayaannya. Berkembangnya turisme dan pariwisata. Semakin banyaknya imigrasi dari suatu negara ke negara lain. Berkembangnya mode yang berskala global, seperti pakaian, film dan lain lain. Bertambah banyaknya event-event berskala global, seperti Piala Dunia FIFA.

Globalisasi
From Wikipedia
Globalisasi, walau dikatakan punca banyak gelora and perubahan, mempunyai maksud payung kesan kolektif perubahan itu sendiri. Globalisasi (secara khusus perubahan yang kita lihat dalam kilang, kedai, dan seluruh spektra ekonomi dan cara kehidupan kita) adalah disebabkan pergerakan empat bentuk modal dalam ekonomi global. Keempatempat modal ini adalah:
• • • •

Modal pekerja (Imigrasi, Migrasi, Emigrasi, Penghantaran pulang, dll.) Modal kewangan (Bantuan, Ekuiti, Hutang, Miutang, Pinjaman, dll.) Modal sumber (Tenaga, Besi, Mineral, Kayu, dll.) Modal kuasa (Ketenteraan, Perikatan, Pakatan, dll.)

Kebanyakan tekanan dan kekompleksan yang dihadapi adalah dalam hal ehwal macro negara, masyarakat, dan interaksi antara mereka, boleh didasarkan kepada empat pergerakan ini. Perhubungan yang dipermudah dengan kos telekomunikasi dan perjalanan yang lebih rendah memungkinkan lebih ramai bilangan manusia kini, berbanding masa lampau, berinteraksi dengan situasi yang tidak pernah dipertanding dalam sejarah. Perbezaan budaya dan politik di semua peringkat berlaku dan boleh diterangkan sebagai perbezaan pendapat antara dua atau lebih pihak tentang asas, layanan, masa, milikan atau harga satu atau lebih pergerakan modal.

Perdebatan dan makna
Dana Kewangan Antarabangsa menakrifkan globalisasi sebagai “ pergantungan ekonomi yang semakin berkembang antara negara melalui kenaikan jumlah dan kepelbagaian tukaran barangan dan perkhidmatan, pergerakan pelaburan antarabangsa bebas, dan peresapan teknologi yang lebih pesat dan meluas ”. Pada masa yang sama, Forum Antarabangsa mengenai Globalisasi mendefinasikan ia sebagai "gerakan dunia kepada satu sistem ekonomi sejagat yang didominasi perdagangan koperat dan institisi supranasional yang tidak dipertanggungjawab kepada proses demokrasi atau kerajaankerajaan negara". [1] Walaupun ahli teori yang kritikal seperti Immanuel Wallerstein menekankan yang globalisasi tidak boleh difahami secara berasingan daripada sejarah perkembangan sistem kapitalis dunia [2] definasi-definasi berlainan dan saling bertentangan ini menggariskan debat berterusan mengenai peranan dan perhubungan kerajaan, koperasi dan individu dalam memaksimakan kebajikan sosial dalam paradigma globalisasi. Kendatipun, ia jelas bahawa globalisasi mempunyai aspek ekonomi, politik, budaya dan teknologi yang terikat. Oleh kerana aspek-aspek ini adalah kunci kepada kualiti kehidupan seseorang individu, kebaikan dan keburukan yang menimpa disebabkan globalisasi mewujudkan pertikaian yang kuat. Aspek ekonomi yang ditekankan dalam globalisasi adalah perdagangan, pelaburan dan migrasi. Penglobalan perdagangan bermakna bahawa manusia kini mempunyai akses

kepada pelbagai jenis barangan dan perkhidmatan yang tidak pernah dilihat dalam sejarah. Dari kereta buatan Jerman ke kopi tumbuhan Colombia, dari pakaian China ke kapas Mesir, dari muzik Amerika ke program computer India, manusia boleh membeli dan memiliki pelbagai jenis barangan dan perkhidmatan. Globalisasi pelaburan berlangsung melalui pelaburan langsung asing, dimana syarikat-syarikat asing melabur secara terus aset mereka dalam satu negara, atau melalui pelaburan tidak terus dimana individu dan institusi membeli dan menjual aset kewangan negara lain. Migrasi bebas membenarkan individu mencari peluang perkerjaan dimana ada kekurang tenaga buruh. Pengkritik perdagangan bebas mendakwa bahawa ini menyebabkan kemusnahan industri asal suatu negara, alam sekitar dan/atau kehilangan perkerjaan. Pengkritik pelaburan asing pula berkata bahawa penerimaan skim kewangan ini meyebabkan negara-negara kehilangan kedaulatan ekonomi mereka dan dipaksa menggubal dasar ekonomi yang bertentangan dengan kepentingan dan kehendak rakyat mereka. Tambahan pula, syarikatsyarikat yang melabur dalam satu negara mungkin mendapat terlalu banyak kuasa ekonomi dan politik berbanding rakyatnya. Akhirnya, migrasi mungkin akan memungkinkan eksploitasi pekerja daripada negara lain dan penhijrahan beramai-ramai tenaga pakar yang diperlukan daripada suatu negara. Pengkritik globalisasi juga mengatakan bahawa sistem-sistem ekonomi berbeza antara negara yang menambah atau mengambil daripada globalisasi mungkin memaksimakan kebajikan sosial lebih daripada kecekapan dan kesaksamaan. Aspek politik globalisasi ternyata apabila kerajaan-kerajaan menggubal peraturanperaturan global dan institusi untuk meregulasi isu seperti perdagangan, hak asasi manusia, dan alam sekitar. Contoh organisasi antarabangsa yang ditubuhkan untuk menangani masalah ini adalah Pertubuhan Perdangangan Dunia (WTO), mata wang antara negara Eropah Euro, Persejutuan Perdagangan Bebas Benua Amerika Utara dll. Sama ada suatu kerajaan negara mahu secara sukarela membuka dirinya kepada perhubungan antara-sempadan adalah persoalan tengah aspek ini. Aktivis sosial dan organisasi bukan bermotifkan keuntungan seperti Amnesty International dan Greenpeace juga semakin global dalam skop mereka. Sesetengah daripada organisasi ini menjadikan aspek ekonomi dan politik globalisasi sebagai satu isu kerana mereka bimbang bahawa kepentingan ekonomi akan menggugat kebolehan satu negara bangsa untuk melindungi rakyat mereka daripada eksploitasi ekonomi atau menyokong kerajaan yang melanggar hak asasi manusia rakyat mereka. Perhubungan budaya juga berkembang melalui globalisasi sementara idea dan gaya fasyen berkembang melalui perdagangan, perjalanan dan media dengan kepantasan umpama kilat menyambar. Jenama global seperti Coca-Cola, Nike dan Sony dirujuk secara sama pengguna seluruh dunia. Satu individu di China boleh minum minuman bergas yang sama dengan seseorang lagi di Argentina--di penghujung bertentangan glob. Walau bagaimanapun, perhubungan ini juga boleh mengakibatkan kerenggangan: sebagai contoh fikiran Barat tentang kebebasan bersuara berlanggaran dengan ajaran agama Islam tentang apa yang melampaui batas. Kalau tidak pun, pengkritik mengakatan bahawa ini

sebenarnya adalah satu bentuk imperialisme budaya untuk menjaga kepentingan ekonomi. Satu lagi aspek globalisasi adalah revolusi perubahan teknologi, secara khususnya dalam bidang pengangkutan dan komunikasi, yang secara langsung membentuk perkampungan global. Pada tahun 1850 ia mengambil hampir setahun untuk berlayar mengelilingi dunia. Kini anda boleh menaiki kapal terbang mengelilingi dunia dalam masa satu hari, menghantar emel kemana sahaja dalam beberapa saat sahaja, atau menjadi satu daripada 1.5 penonton perlawanan akhir Piala Dunia. Kos pengangkutan kini menurun disebabkan kemajuan teknologi yang memungkinkan pembukaan pasaran asing kepada perdagangan. Tuna yang ditangkap di lautan Atlantik Utara umpamanya mungkin dihidangkan dalam satu restoran sushi di Jepun pada hari keesokannya. Secara mudah, globalisasi mengembangkan segalanya.

Sejarah
Rencana utama: Sejarah globalisasi Dengan perkataan ini mempunyai makna teknikal dan politik, secara tentunya kumpulan berlainan mempunyai penakrifan sendiri tentang sejarah "globalisasi". Dalam penggunaan am dalam bidang ekonomi dan politik ekonomi, ia adalah satu sejarah perkembangan perdagangan antara negara berdasarkan institusi-institusi stabil yang membenarkan firma dalam negara berlainan betukar barangan dan perkhidmatan dengan geseran minima. Istilah "liberalisasi" menjadi penerimaan model ekonomi Neoklasik yang berdasarkan pergerakan barangan dan perkhidmatan tampa sekatan antara bidang ekonomi berasingan. Ini menyebabkan pengkhususan negara-negara dalam eksport, dan tekannan untuk memansuhkan tarif perlindungan dan halangan lain kepada perdagangan. Waktu standard emas dan liberalisasi abad ke-19 selalunya dirujuk sebagai "Era Pertama Globalisasi". Berdasarkan Pax Britannica dan pertukaran antara barangan dan mata wang yang digantung. era ini berkembang pada masa yang sama dengan pengindustrian. Asas kepada teori ini terdapat dalam hasil kerja David Ricardo tentang kelebihan Bandingan dan Hukum Say mengenai ekuilibrium Am. Pada dasarnya, ia didebatkan bahawa negara akan berdagang secara berkesan, dan apa-apa gangguan sementara dalam permintaan dan penghasilan akan perbetulan dirinya. Institusi standard emas menjadi dalam langkah di negara-negara berindustri maju bermula pada pertengahan tahun 1850 dan 1880, walaupun masa bermulaan tepatnya sering dipertikai. "Era Pertama Globalisasi" dikatakan beransur-ansur luput dengan permulaan Perang Dunia Pertama dan runtuh dengan krisis standard emas pada hujung dekad 1920an dan permulaan dekad 1930an. Negara yang terlibat dalam era globalisasi pada waktu itu berkembang pesat, termasuk pusatnya Eropah, sesetengah periperinya dan pelbagai benihnya di benua Amerika dan Oceania. Ketidaksamaan antara negara-negara ini jatuh dengan pergerakan barangan, modal dan buruh secara bebas antara negara.

Globalisasi pada era selepas Perang Dunia Kedua dipandu oleh pusingan rundingan perdangangan, pada mulanya dibawah perjanjian GATT (Perjanjian Am Tarif dan Perdagangan) yang kemudiannya menghasilkan perjanjian-perjanjian untuk memansuhkan halangan kepada "perdagangan bebas". Pusingan Uruguay memhasilkan satu triti untuk mencipta Organisasi Perdangangan Antarabangsa atau WTO, untuk menjadi anggota tengah penyelesaikan pertikaian perdagangan. Perjanjian perdagangan bebas antara negara yang lain, termasuk beberapa bahagian Triti Maastricht Eropah dan Perjanjian Perdagangan Bebas Benua Amerika Utara juga ditandatangani dalam tujuan mencapai matlamat menghampuskan tarif, cukai dan lain-lain halangan kepada perdagangan bebas.

Sifat dan kewujudan globalisasi
Terdapat banyak perbincangan akademik tentang fenomena globalisasi sebagai sesuatu yang benar atau hanya khayalan. Walaupun penggunaan istilah ini meluas, ramai pengarang berhujah bahawa ciri-ciri yang diatribusi kepada globalisasi telah dilihat dalam detik lain bersejarah. Juga, ramai menotakan bahawa ciri-ciri berkenaan, seperti kenaikan perdagangan antarabangsa dan peranan lebih penting badan koperat antarabangsa tidak begitu mendalam sebagaimana disangka. Sesetengah pengarang lebih menyukai istilah keantarabangsaan daripada globalisasi. Dalam keantarabangsaan, peranan yang dimainkan negara-negara lebih besar, dimana globalisasi dalam bentuknya yang paling sempurna menghampuskan keperluan negara bangsa. Maka, mereka berhujah bahawa sempadan negara-negara, dalam maksud meluas, jauh daripada dimansuhkan, dan proses globalisasi tidak berlaku, dan berkemungkinan tidak akan berlaku (lihat Linda Weiss) terutama apabila mengira bahawa dalam sejarah dunia, keantarabangsaan tidak pernah menjadi globalisasi (Kesatuan Eropah dan NAFTA pun masih belum membuktikan kes mereka). Walau bagaimanapun, dunia semakin berkongsikan masalah dan cabaran yang tidak mengikut sempadan negara-bangsa, paling ketaranya adalah pencemaran alam sekitar semulajadi dan gerakan yang dahulunya anti-globalisasi telah menukar menjadi gerakan untuk gerakan untuk globalisasi dari bawah, yang mencar cara melalui eksperimentasi, bentuk organisasi sosial yang merentasi negara-bangsa dan demokrasi perwakilan. Dimana hujah asal yang globalisasi sedang berlangsung boleh dinafikan dengan argumentasi keantarabangsaan, seperti diatas, kemunculan suatu gerakan antarabangsa tidak boleh dipertikai dan kita boleh berbincang tentang satu proses benar kearah satu masyarakat global pelbagai masyarakat. Pengarang lainnya pula mengemukakan hujah bahawa kita kini berada dalam alam transisi ke satu fasa ketamadunan; bentuk dan ciriciri masyarakat global dipertikaikan dan akan ditentukan dengan pilihan-pilihan yang kita akan buat dalam dekad-dekad masa hadapan. Sebagai contoh, Kumpulan Senario Global[3] telah menggariskan wawasan alternatif masa depan dunia, dengan "kuasa pasaran" atau globalisasi ekonomi hanya merupakan satu pilihan, diperbandingkan dengan "reformasi dasar", "dunia kubu", "kegagalan", "eko-komunalisme", dan "paradigma pertahanan baru".

Sesetengah tetap dengan pendirian bahawa globalisasi adalah geografi khayalan; iaitu, satu alat politik neo-liberalis, yang cuba menggunakan sesetengah imej dan wancana politik dunia untuk menjustifikasi agenda politik mereka. Pengarang buku-buku seperti No Logo (Tiada Logo) mendakwa bahawa dengan mengemukakan satu gambaran dunia yang telah diglobalisasikan, institusi-institusi Bretton Woods boleh menuntut negaranegara membuka ekonomi mereka kepada liberalisasi dibawah Program Penyesuaian Struktur yang menggalakkan kerajaan-kerajaan membayai program-program penswastaan sebagai lebih utama daripada kebajikan sosial dan perkhidmatan awam. [4].

Ciri-ciri
Globaliasi telah dikenal pasti sebagai dalang disebalik beberapa anjakan, dengan kebanyakannya bermula dari era Perang Dunia Kedua. Ini merangkumi pergerakan komoditi, mata wang, maklumat dan orang secara lebih kerap di peringkat antarabangsa, serta perkembangan teknologi, organisasi, sistem perundangan, dan infrastruktur yang membenarkan pergerakan ini. Kendatipun, kewujudan sesetengah anjakan ini diperdebatkan.

Anjakan dari segi ekonomi o Penambahan perdagangan antarabangsa pada kadar lebih cepat berbanding pertumbuhan ekonomi dunia o Penambahan dalam aliran modal antarabangsa termasuk pelaburan langsung asing o Penubuhan organisasi-organisasi antarabangsa seperti WTO dan OPEC melalui perjanjian o Pembangunan sistem kewangan global o Peranan organisasi antarabangsa WTO, WIPO dan IMF yang megendalikan urusniaga-urusniaga antarabangsa yang bertambah penting o Peningkatan amalan-amalan ekonomi seperi penyumberan oleh perbadanan multinasional Anjakan dari segi budaya o Penukaran antara budaya pada peringkat antarabangsa yang lebih kerap, o Perebakan dan akses yang lebih baik kepada kepelbagaian budaya, misalnya melalui ekspot filem Hollywood dan Bollywood. Akan tetapi, budaya yang diimpot boleh diasimilisasikan kedalam budaya tempatan, dan seterusnya menyebabkan penghibridan. Bentuk yang paling prominen adalah Kebaratan, tetapi Kecinaan budaya juga berlaku. o Perjalanan dan perlancongan antarabangsa yang semakin bertambah o Imigrasi secara sah dan haram yang terus meningkat o Perebakan makanan-makanan tempatan seperti pizza, makanan Cina dan makanan India kepada negara lain (sering digubah mengikut cita rasa tempatan) o Minat sementara dan budaya pop yang sama di seluruh dunia seperti Doraemon, Pokemon, Sudoku, Origami, siri Idol, YouTube, MySpace dan pelbagai lagi yang lain.

• • •

Penggunaan istilah asing yang semakin bertambah. Contohnya perkataan "Amigo" dan "Adios" adalah istilah bahasa Sepanyol yang difahami kebanyakan orang Malaysia. Penduduk Malaysia juga fasih sedikit bahasa Jepun, Korea, dan Hindi tampa mengenali pun bahasanya. pembangunan satu infrastruktur telekomunikasi global dan aliran data antara sempadan yang lebih kerap menggunakan teknologi-teknologi seperti sebagai internet, komunikasi satelit-satelit dan telefon-telefon. Penambahan standard yang digunapakai di peringkat antarabanga seperti undangundang hak cipta dan paten Pembentukan nilai-nilai universal Tekanan untuk menubuhkan satu mahkamah jenayah antarabangsa oleh gerakangerakan keadilan antarabangsa (lihat Mahkamah Jenayah Antarabangsa dan Mahkamah Keadilan Antarabangsa). Ia juga dikatakan bahawa keganasan juga telah mengalami globalisasi kerana serangan pengganas masa kini tidak mengira kaitan tempatnya dengan tempat perjuangan mereka sendiri [5][6].
o

Halangan kepada perdagangan anatarabangsa beransur-ansur dihampuskan semenjak era Perang Dunia Kedia melalui perjanjian antarabangsa seperti Persetujuan Am mengenai Cukai dan Perdagangan (GATT). Beberapa inisiatif telah diambil sebagai hasil GATT dan kemudiannya WTO yang lahir hasil GATT, dan ini merangkumi:

Promosi perdagangan bebas, o Barangan:  Pengurangan atau penghampusan terus cukai dan pembentukan zon perdagangan bebas dengan sedikit ataupun tampa cukai  Pengurangan kos pengangkutan, terutama dengan penciptaan pengkontenaan untuk perjalanan laut. o Modal: pengurangan atau penghampusan kawalan modal o Pengurangan, penghampusan, atau pengharmonian subsidi untuk perniagaan-perniagaan tempatan Lindungan harta hak cipta o Pengharmonian undang-undang hak cipta semua negara dengan perlindungan lebih ketat o Pengiktirafan supranasional terhadap hak cipta, sebagai contoh, paten yang dikeluarkan oleh China akan diiktiraf di Amerika Syarikat

Pendapat pro-globalisasi (globalisme)
Rencana utama: Globalisme Para penyokong globalisasi demokratik boleh dilabelkan sebagai pro-globalis. Mereka menimbang bahawa fasa pertama globalisasi, yang berteraskan ekonomi pasaran bebas, seharusnya dilengkapkan dengan fasa pembinaan institusi-institusi politik global yang mewaliki kehendak rakyat dunia. Perbezaan dengan globalis lain adalah mereka tidak menakrifkan secara awal apa-apa ideologi untuk mendasarkan kehendak ini, yang

seharusnya dibiarkan kepada rakyat berkenaan untuk memilih melalui suatu proses demokratik. Para penyokong perdagangan bebas menotakan bahawa teori-teori ekonomi kelebihan bandingan mencadangkan bahawa perdagangan bebas mewujudkan penagihan sumbersumber yang lebih berkesan, dengan semua negara bersama meraih manafaat daripadanya. Secara am, ini juga mewujudkan harga yang lebih rendah, penangguran yang lebih kurang, dan hasilan siap yang lebih banyak. Ahli liberal dan penyokong lain laissez-faire berkata bahawa kenaikan paras kebebasan politik dan ekonomi dalam bentuk demokrasi dan kapitalisme dalam dunia maju keduaduanya merupakan matlamat dalam dirinya dan juga mewujudkan kekayaan material yang lebih tinggi. Mereka melihat globalisai sebagai perebakan bermanafaat kebebasan dan kapitalisme. Pengkritik golongan anti-globalisasi berkata bahawa mereka hanya menggunakan bukti anekdot untuk menyokong pandangan mereka dan statistik dunia sebaliknya menyokong kuat globalisasi:

peratus kemiskinan mereka yang tinggal di negara membangun (iaitu yang tinggal dengan hanya berbelanjakan AS$ 1 setiap hari, diubah untuk mengira inflasi dan kuasa membeli) telah dapat dikurangkan separuh jumlahnya dalam hanya masa dua puluh tahun[7], walaupun sesetengah kritik berpendapat bahawa faktor variasi yang lebih telus harus dikira bersama[8]. Jangka hayat rakyat negara membangun telah digandaduakan semenjak Perang Dunia Kedua dan mula merapatkan jurang antara negara maju dimana pembaikan tidak begitu menonjol. Mortaliti kanak-kanak telah turun di semua kawasan dunia. [9] Ketidaksamaan pendapatan beransur musnah.[10] Demokrasi telah merebak dengan jayanya dengan hampir tiada negara tampa hak mengundi sejagat pada tahun 1900 ke 62.5% semua negara seratus tahun kemudian pada tahun 2000.[11] Kadar populasi dunia yang tinggal di negara dimana per-kapita bekalan makanannya kurang daripada 2,200 kalori (9,200 kilojoule) setiap hari turun daripada 56% pada pertengahan dekad 1960an ke kurang daripada 10% menjelang dekad 1990an. Antara tahun 1950 dan 1999, literasi global naik dari 52% kepada 81% dengan wanita sebagai golongan yang meraih manafaat paling banyak. Literasi golongan wanita sebagai berbanding literasi golongan lelaki meningkat dari 59% pada tahun 1970 ke 80% pada tahun 2000. Peratus kanak-kanak dalam pemburuhan menuruh dari 24% pada tahun 1960 ke 10% pada tahun 2000.

Terdapat anjakan serupa untuk kuasa tenaga, kereta, radio dan telefon per kapita, dan juga kadar penduduk yang mempunyai akses kepada air bersih.[12]

Namun, sesetengah daripada pembaikan ini mungkin tidak berlaku disebabkan globalisasi, atau mungkin tampa globalisasi sebagaimana berlaku kini atau kesan negatifnya yang dibantah gerakan keadilan dunia. Sesetengah pro-kapitalis juga kritikal terhadap Bank Dunia dan IMF, dengan mengemukakan hujah bahawa mereka merupakan bureau kerasuahan yang dikawal dan dibayai negara dan bukan badan koperat. Banyak pinjaman telah diberikan kepada diktator yang tidak menjalankan apa-apa reformasi sebagaimana dikatakan, dan sebaliknya menambah kepada hutang negara mereka yang terpaksa dibayar oleh rakyatnya. Mereka secara keseluruhannya melihat terlalu sedikt kapitalisme berlaku, dan bukan terlalu banyak. Mereka juga menotakan bahawa sesetengah tentangan pada globalisasi datang daripada mereka yang bertentangan matlamat, seperti kesatuan sekerja dunia Barat. Walau bagaimana pun, secara lazimnya protes terhadap Bank Dunia dan IMF dikaitkan dengan mereka yang anti-kapitalis kerana mereka membuat andaian bahawa kedua-dua organisasi ini terlalu bermotifkan keuntungan. Yang lainnya, seperti Senator Douglas Roche Orde Kanada hanya melihat globalisasi sebagai sesuatu yang tidak dapat dielakkan dan menyokong pembentukan institusi seperti Perhimpunan Agung Pertubuhan Bangsa-bangsa Bersatu yang dipilih secara langsung untuk memantau bandan antarabangsa yang tidak dipilih secara langsung.

Pendapat anti-globalisasi
Rencana utama: Anti-globalisasi Pengkritik aspek ekonomi globaliasi berhujah bahawa globalisasi bukanlah, seperti penyokongnya dakwa, suatu proses yang mengalir secara semulajadi dan tidak dapat disekat oleh sebab sebab ekonomi semua orang. Pengkritik secara lazimnya menekankan bahawa globalisasi adalah suatu proses yang dimeditasi oleh kepentingan mustahak para elit, dan secara lazimnya pendekatan alternatif dasar-dasar dan institusi-institusi berlainan wujud, yang boleh mengendalikan tuntutan bermoral kelas pekerja dan miskin di seluruh dunia, disamping juga kebimbangan alam sekitar dalam cara yang lebih saksama.[13] Dalam istilah migrasi global yang berkontroversi pula, pertikaian berpusingkan keduadua penyebab, iaitu sama ada jika dan setakat apa ia adalah sukarela atau tidak sukarela, perlu atau tidak perlu; dan juga kesannya, sama ada ia bermanfaat atau tidak, dan sebagainya. Penyokong beranggapan bahawa migrasi hanyalah satu proses dimana pekerja kolar putih dan biru boleh pergi dari satu negara ke satu negara lain untuk menawarkan perkhidmatan mereka, manakala pengkritik lazimnya menekankan kesankesan negatif seperti pencabulan sekuriti ekonomi, politik dan alam sekitar, dan memetik satu kesan yang dinota, iaitu pertalian antara migrasi dan perkembangan kawasan sesak bandar. Mengikut "Cabaran Kawasan Sesak Bandar" (The Challenge of Slums), satu laporan habitat PBB pada tahun 2003, "ciri-ciri kitaran kapitalisme, dengan penambahan permintaan bagi buruh mahir berlawanan buruh tidak mahir, dan kesan-

kesan negatif bagi globalisasi – khususnya, dentuman dan letupan global yang menggalakan pertumbuhan ekonomi yang tidak sama serta pengagihan kekayaan baru yang tidak rata – menyumbang kepada pertumbuhan yang besar kawasan sesak".[14] Pelbagai aspek globalisasi dilihat sebagai berbahaya kepada aktivis kepentingan umum dan pundukung negara nasionalis kuat. Pergerakan ini tidak mempunyai nama. "Antiglobalisasi" adalah istilah yang paling disukai media dan boleh menyebabkan berlakunya kekeliruan, kerana lazimnya para aktivis menentang aspek atau bentuk khusus globalisasi, tapi bukan globalisasi per se. Para aktivis sendirinya, sebagai contoh, Noam Chomsky, telah berkata bahawa nama ini tidak membawa makna kerana tujuan pergerakan ini adalah untuk menglobalisasikan keadilan. Memang, Gerakan Keadilan Antarabangsa adalah satu nama yang sering diperkatakan. Ramai aktivis juga bersatu dibawah slogan "dunia lain adalah mungkin", yang memberi kepada peningkatan nama seperti altermondialisme (secara tafsiran dunia-lain-adalah-mungkin-isme) dalam bahasa Perancis. Terdapat pelbagai jenis variasi "anti-globalisasi". Pada amnya, pengkritik mendakwa bahawa hasil globalisasi tidak seperti yang dijanji apabila cubaan untuk meningkatkan perdagangan bebas bermula, dan bahawa ramai institusi terlibat dalam globalisasi tidak mengambil kira kepentingan negara miskin, kelas pekerja dan alam sekitar dalam agenda mereka. Argumentasi ekonomi oleh ahli teori perdagangan bebas mendakwa bahawa perdagangan bebas tidak berhad akan membawa manafaat kepada yang mempunyai lebih banyak keumpilan kewangan (iaitu yang kaya) dengan diperbelanjaan yang miskin. Ramai aktivis "anti-globalisasi" melihat globalisasi sebagai promosi agenda koperat yang mahu tetap menyekat kebebasan invididu dalam nama keuntungan. Mereka juga mendakwa bahawa autonomi dan kuasa entiti koperat yang semakin besar juga semakin membentuk polisi politik negara-negara bangsa. Sesetengah kumpulan "anti-globalisasi" mengemukakan argumentasi bahawa globalisasi ada secara sifatnya imperialistik dan adalah satu dalang disebalik perang Iraq dan memaksa wang simpanan supaya memasuki Amerika Syarikat dan bukannya negara membangun; dan ia dipercayai oleh sesetengah pemerhati bahawa Amerika Syarikatlah antara negara-negara sedikit (jika tidak satu-satunya) negara yang betul-betul meraih manfaat daripada globalisasi. Sesetengah lagi pula berhujah bahawa globalisasi mengenakan ekonomi berdasarkan kredit dan seterusnya menghasilkan peningkatan hutang kerajaan yang tidak stabil dan krisis hutang. Krisis kewangan di negara-negara Asia Tenggara yang bermula dalam ekonomi berhutang Negara Thai dan terus menular ke Malaysia, Indonesia dan Korea Selatan dan seterusnya dirasai diseluruh dunia, mendemonstrasikan risiko-risiko baru dan volatiliti dalam pasaran global yang kerap bertukar. Pakej-pakej 'pertolongan' IMF yang

mengenakan syarat-syarat politik (seperti pengenaan sekatan terhadap perbelanjaan kerajaan) dilihat sebagai pengkritik sebagai cubaan mencabuli kedaulatan negara dalam bentuk neo-penjajahan. Aktivis anti-globalisasi menunjuk kepada peleburan-peleburan ini sebagai bukti kos tinggi kemanusiaan oleh ekonomi global yang tidak bertimbang rasa. Penambahan undang-undang dan tekanan terhadap keamanan dengan pengurangan campur tangan kerajaan adalah bertujuan untuk melindungi kekayaan dan perniagaan. Bantahan utama terhadap globalisasi tampa had (kapitalisme laissez-faire neoliberal) dikawal oleh kerajaan-kerajaan dan apa yang didakwa sebagai quasi-kerajaan seperti Dana Kewangan Antarabangsa dan Bank Dunia, dan seterusnya tidak dipertanggungjawabkan kepada penduduk yang mereka perintah dan sebaliknya lebih mewakili kepentingan badan koperat. Ramai persidangan antara menteri perdagangan dan kewangan di negara-negara pusat globalisasi sekali-sekala dikejutkan dengan protesprotes ganas pembangkang "globalisme koperat". Sesetengah aktivis "anti-globalisasi" membantah kepada hakikat bahawa "globalisasi" kini mengglobalisasikan wang dan badan koperat, tetapi tidak orang dan kesatuan pekerja. Ini boleh dilihat dalam kawalan imigrasi yang ketat dalam hampir semua negara, dan kekurangan hak buruh dalam banyak negara dunia membangun. Satu lagi kumpulan yang lebih konservatif adalah para nasionalis pendukung kuat negara dan menentang globalisasi sebagai memusnahkan peranan negara dalam politik global dan menunjuk kepada pertubuhan bukan kerajaan sebagai mengambil semakin banyak kuasa negara-negara individu. Para penyokong waran ini adalah Pat Buchanan dan JeanMarie Le Pen. Gerakan ini amat meluas merangkumi kumpulan gereja, puak-puak pembebasan kebangsaan, parti politik sayap kiri, aktivis lindungan alam sekitar, kesatuan petani, kumpulan anti-perkauman, ahli anarki, mereka yang menyokong pertempatan semula dan lain-lain. Kebanyakannya adalah bersifat reformasi (mahukan kapitalisme yang lebih berkemanusiaan) manakala lainnya bersifat revolusi (mahukan satu sistem yang lebih berkemanusiaan daripada kapitalisme). Ramai telah mengeluh kekurangan kesatuan dan arah dalam gerakan ini, tetapi sesetengah seperti Noam Chomsky mendakwa bahawa kekurangan ini mungkin merupakan satu kekuatan. Bantahan-bantahan oleh gerakan keadilan global telah memaksa perjumpaan antarabangsa dari bandar-bandar besar kepada tempat terpencil dimana tunjuk perasaan besar-besaran tidak dapat diadakan secara praktikal.

Penggunaan lain
"Globalisasi" boleh bermaksud:

Globalisme, jika hanya aspek ekonominya yang diggariskan, boleh dikatakan bertentang dengan nasionalisme ekonomi dan keperlindungan. Ia berkait kapitalisme dan neoliberalisme. Ia berkongsi beberapa ciri-ciri dangan keantarabangsaan dan sering digunakan sebagai kata ganti dengannya, walaupun sesetengah lebih suka menggunakan globalisasi untuk menekankan hakisan negara bangsa atau sempadan kebangsaan. Membuat perhubungan antara dua tempat atas skala global. Pada hari ini, semakin banyak tempat-tempat di seluruh dunia dihubungkan antara satu sama lain dalam bentuk yang sebelumnya tidak dapat dibayangi. Dalam istilah geografi, proses ini dikenali sebagai perhubungan kompleks, dimana semakin ramai tempat-tempat dihubung dalam semakin banyak cara. Arjun Appadurai mengenalpasti lima jenis perhubungan global: o Skop manusia: pergerakan orang, termasuk pelancong, pendatang, pelarian, dan pejalan bisnes. o Skop idea: perebakan global idea-idea dan ideologi-ideologi politik. Sebagai contoh, Green Peace telah menjadi gerakan alam persekitaran global. o Skop kewangan: pergerakan mata wang yang sering dipandu pasaran wang yang diperhubung, pertukaran stok, dan pasaran komoditi. o Skop media: penyebaran global imej-imej bawaan media yang muncul pada skrin komputer kita serta akhbar-akhbar, televisyen dan radio. o Skop teknologi: perkembangan teknologi dan penyebarannya ke seluruh dunia. Sebagai contoh, Revolusi Hijau dalam membajakan memperkenalkan amalan pertanian barat ke dalam banyak negara membangun. Walaupun taksonomi Appadurai boleh dipertikai, ia boleh menjadi tunjuk sebab globalisasi sebagai sesuatu yang lebih daripada ekonomi pada skala global.

Dalam bentuk budaya, globalisasi telah digunakan sebagai label untuk mengenal pasti cubaan untuk menghakis budaya-budaya kebangsaan di Eropah dan Asia, dan memasukkan ia kedalam satu budaya global yang ahlinya lebih mudah dipengaruhi melalui media massa dan kerajaan boneka. Dalam konteks ini, imigrasi besar-besaran telah dibenarkan di kebanyakan negara-negara Eropah, sama ada sah atau haram di sisi undang-undang. Pembentukan satu perkampungan global— hubungan lebih dekat antara tempattempat berlainan dunia, dengan peluang-peluang penukaran peribadi semakin muncul, kefahaman dan persahabatan antara "rakyat dunia" dan pembentukan satu tamadun global. Globalisasi ekonomi — ada empat aspek pada globalisasi globalisasi iaitu empat pergerakan merentasi sempadan, secara nama pergerakan barangan/perkhidmatan, iaitu perdagangan bebas (ataupun sekurang-kurangnya perdagangan lebih bebas), pergerakan manusia (migrasi), pergerakan modal dan akhirnya pergerakan teknologi. Satu hasil globalisasi ekonomi adalah pergiatan perhubungan antara ahli suatu industri dalam bahagian-bahagian berlainan dunia (globalisasi suatu industri), dengan pada masa yang sama diikuti penghakisan kedaulatan

• •

kebangsaan pada sphera ekonomi. IMF menakrifkan globalisasi sebagai “perkembangan pergantungan antara negara di serata dunia melalui peningkatan jumlah dan kepelbagaian urusniaga dalam barangan dan perkhidmatan, pergerakan modal yang lebih bebas, dan penyebaran teknologi maklumat yang lebih meluas dan kerap” (IMF, World Economic Outlook, May, 1997). Bank Dunia menakrifkan globalisasi sebagai "Kebebasan dan keupayaan para individu dan firma-firma untuk melakukan urusniaga ekonomi secara sukarela dengan penduduk negara lain". Dalam bidang pengurusan, globalisasi adalah satu istilah pemasaran atau strategi koperat yang merujuk kepada kemunculan pasaran-pasaran antarabangsa untuk barangan pengguna yang bercirikan serupa pada keperluan dan kehendak pengguna dan memungkinkan, sebagai contoh, menjual kereta, sabun atau makanan dengan kempen iklan yang serupa kepada orang dalam budaya berlainan. Penggunaan ini dipertentangkan dengan keantarabangsaan yang menerangkan tentang aktiviti-aktiviti syarikat multinasional yang berdagang merentasi sempadan dalam instrumen kewangan, komoditi, atau produk yang diperkhaskan kepada pasaran tempatan. Globalisasi juga bermaksud aktiviti pengurusan antara sempadan atau proses-proses pembangunan untuk diadaptasikan kepada kemunculan suatu pasaran global atau untuk mencari dan merealisasikan manafaat dari ekonomi skala atau skop atau dari pemelajaran merentasi sempadan antara organisasi-organsasi yang lain negara asalnya. Dalam bidang perisian, globalisasi adalah satu istilah teknikal yang menggabungkan proses-proses pembangunan keantarabangsaan dan menjadikan perisian tempatan. Ramai, sebagai contoh para perserta dalam Forum Social Dunia, menggunakan istilah "globalisasi koperat" atau "penkoperatan global" untuk menggariskan impak badan koperat multinasional dan penggunaan cara undang-undang dan kewangan untuk mengenepikan undang-undang dan standard piawai tempatan untuk meleverajkan buruh dan perkhidmatan kawasan-kawasan pembangunan tidak sekata berlawanan sesama mereka. Penyebaran kapitalisme daripada negara maju ke negara membangun. "Konsep globalisasi merujuk kepada pemadatan dunia dan penyungguhan kesedaran dunia secara keseluruhan" - Benedikt Kiesenhofer

Sukatan globalisasi
Setakat mana satu negara-bangsa atau budaya telah diglobalisasikan dalam tempoh satu tahun sehingga baru-baru ini disukat dengan menggunakan proksi-proksi mudah seperti pergerakan perdagangan, migrasi, atau pelaburang asing secara langsung. Satu lagi pendekatan yang lebih sophisticated untuk menyukat globalisasi adalah indeks yang diperkenalkan badan pemikir Swiss KOF baru-baru ini. Indeks menyukat tiga dimensi utama globalisasi: ekonomi, sosial dan politik. Sebagai tambahan kepada tiga indeksindeks menyukat ketiga-tiga dimensi ini, satu indeks menyeluruh globalisasi dan subindeks merujuk kepada pergerakan ekonomi yang tulen, halangan ekonomi, data tentang perhubungan peribadi, data tentang pergerakan informasi, dan data mengenai jarak antara budaya dikira. Data baru terdapat setiap tahun bagi 122 negara. Mengikut indeks, negara

yang paling berglobalisasi adalah Amerika Syarikat diikuti oleh Sweden, Canada dan United Kingdom, manakala negara-negara paling kurang globalisasinya adalah Togo, Chad dan Republik Afrika Tengah.[

Apakah globalisasi?
Globalisasi merupakan satu proses untuk meletakkan dunia dibawah satu unit yang sama tanpa dibatasi oleh sempadan dan kedudukan geografi sesebuah negara Melalui proses ini , dunia akhirnya tidak lagi mempunyai sempadan dengan ruang udara dan langit sesebuah negara itu terbuka luas untuk dimasuki oleh pelbagai maklumat yang disalurkan menerusi pelbagai perantaraan media komunikasi seperti internet,media elektronik,dan teknologi siber. Perkembangan ini memungkinkan perhubungan diantara sesebuah negara dengan negara yang lain dan perhubungan sesama manusia dapat dilakukan dalam tempoh yang singkat. Menurut Kamus Dewan globalisasi didefinisikan sebagai fenomena yang menjadikan dunia mengecil dari segi perhubungan manusia disebabkan kepantasan perkembangan teknologi maklumat. Manakala cediakawan barat mentakrifkan globalisasi sebagai satu proses kehidupan yang serba luas dan infiniti merangkumi segala aspek kehidupan seperti politik, sosial, dan ekonomi yang boleh dirasai oleh seluruh umat manusia didunia ini. Ini bermakna segala-galanya menjadi milik bersama dalam konsep dunia tanpa sempadan. Dalam era globalisasi ini, dunia semakin dikecilkan ruangnya daripada yang asal. Jika dulu dunia ini seluas saujana mata memandang dan dipagari dengan sempadan-sempadan namun kini ia tidak berlaku lagi. Malah pada hari ini kita telah dapat merasakan apakah dia itu globalisasi. Ledakan teknologi maklumat yang pesat merupakan medium utama kepada agenda globalisasi ini. Dunia bukan sahaja tidak bersempadan geografi tetapi pengaruh globalissasi menjangkau sempadan ekonomi,teknologi ,bahasa, budaya, ideologi, politik dan dari segenap aspek kehidupan sesebuah masyarakat. Kerajaan Malaysia memberi keutamaan kepada globalisasi ekonomi. Disamping itu, ia memberi perhatian besar kepada globalisasi maklumat dan ilmu dan globalisasi saintifik serta teknologi Kesungguhan Kerajaan dalam menangani tiga jenis globalisasi ini jelas kelihatan pada berbagai-bagai bentuk wacana di peringkat nasional dan peringkat antarabangsa seperti dialog, seminar, persidangan dan forum dan juga pada penubuhan berbagai-bagai jenis institusi dan projek. Koridor Raya Multimedia (MSC) adalah simbol harapan serta kemegahan Malaysia dalam menyahut panggilan globalisasi. Globalisasi juga merujuk kepada perpindahan nilai, terutamanya cara berfikir & gaya bertindak dari satu daerah dunia kpd daerah dunia yg lain. Globalisasi yang diberi erti luas ini adalah suatu hakikat yang tidak dapat dipertikaikan. Hakikatnya globalisasi itu sudah wujud sebelum istilah globalisasi diperkenalkan lagi. Fenomena globalisasi boleh dikiaskan sebagai gelombang yang melanda dunia. Lodge (1993) mendefinisikan globalisasi sebagai: "... a process forced by global flows of people, information, trade and capital. It is accelerated by technology, which is driven by only a few hundred multinational corporations and may be harmful to the environment. There in lies the conundrum of

whether it is wise to leave globalization in the hands of these few corporations, or might it not make more sense to seek greater involvement from the global community.

Apakah impikasi serta kesan globalisasi terhadap
(A) Ekonomi Dalam globalisasi ekonomi, telah berlaku peningkatan dalam kebergantungan perniagaan terhadap ekonomi. Firma-firma dan perniagaan terus meningkat dan berlakunya peningkatan dalam pelaburan asing secara langsung di dalam aktiviti ekonomi sesebuah negara. Globalisasi ekonomi dapat di lihat melalui perluasan perusahaan melampaui sempadan negara . Perspektif ini dapat dilihat melalui tiga tahap. • • • Pertama ialah perusahaan antarabangsa yang mempunyai aktiviti diluar sempadan nasional dan meliputi eksport,import dan penghasilan bukan mentah. Kedua ialah perusahaan multi nasional, iaitu perusahaan yang menjalankan aktivitinya di berbagai negara. Ketiga ialah perusahaan global yang melihat ekonomi dunia sabagai satu. Perusahaan tersebut mendapatkan bahan mentah dan menjual barangan secara global.

Di samping perdagangan bebas, globalisasi ekonomi juga boleh dikaitkan dengan perkembangan syarikat-syarikat korporat di dunia. Syarikatsyarikat korporat juga menuju ke arah globalisasi. Telekom Malaysia Berhad juga mempunyai matlamat ke era globalisasi iaitu menjadi Syarikat bertaraf dunia "world class telecommunications"

Apakah impikasi serta kesan globalisasi terhadap
(B) Teknologi Kehidupan manusia di masa akan datang banyak bergantung kepada teknologi. Teknologi akan menjadi begitu canggih hinggakan komputer yang ada pada hari ini yang mempunyai sistem yang berubah dengan cepat dan laju. Era globalisasi yang sedang berlaku hari ini pasti akan memberikan peningkatan dan perubahan yang lebih ketara dalam bidang teknologi. Antara bidang teknologi yang cepat maju dan canggih adalah bidang teknologi maklumat dan komputer. Bill gates (1996), peneroka bidang komputer yang terkenal, dapat memasarkan aplikasi keluaran Window ke serata dunia . Perkembangan teknologi yang begitu pesat pada masa ini di seluruh dunia memerlukan tindakan segera pembangunan sumber manusia untuk memberi latihan, pengetahuan dan kemahiran tentang teknologi maklumat, robotik dan sebagainya.Kehidupan manusia semakin banyak bergantung kepada komputer dan teknologi di era globalisasi hari ini

Pembangunan sumber manusia menjelang tahun 2000 akan mencapai nisbah tenaga manusia saintifik dan teknologi yang lebih tinggi daripada sekarang iaitu kira-kira 1000 bagi setiap sejuta penduduk di Malaysia . Pengetahuan dan kemahiran pula akan berorientasikan gabungan disiplin teknikal, statistik dan berasaskan komputer. Gabungan disiplin ini akan melengkapkan tenaga manusia masa hadapan untuk mengendalikan teknologi baru dan yang akan muncul seperti teknologi pembuatan berautomasi, bahan-bahan terbaru, bio-teknologi, elektronik dan teknologi maklumat. Di samping itu, kegiatan institusi pendidikan dan latihan akan ditumpukan ke arah menghasilkan kemahiran dalam bidang teknologi maklumat dan literasi komputer. Langkah kerajaan Malaysia membina Lebuh Raya Multi Media , Universiti Multi Media dan Pusat Pentadbiran Kerajaan Berelektronik yang kita telah maklum sekarang adalah langkah yang bijak untuk persediaan tenaga manusia yang akan menggunakan teknologi maklumat dalam tugas-tugas harian dan juga dalam kehidupan seharian nanti di dalam era globalisasi.

Apakah impikasi serta kesan globalisasi terhadap
(C) Kebudayaan sebuah negara Kebudayaan merupakan cara hidup seharian manusia dalam sesebuah masyarakat atau organisasi. Pada zaman dahulu manusia dalam sesebuah masyarakat itu sanggup berperang kerana mempertahankan budaya hidup mereka yang dicemar atau dicerobohi oleh pihak lain. Bagaimana pun cara hidup manusia hari ini sudah banyak berubah dan menuju globalisasi.

Terdapat beberapa kategori kebudayaan di dunia ini yang telahpun berada dalam bentuk globalisasi. Budaya Makan Makanan cepat saji (fast food) sudah ada di Amerika. Makanan Amerika pula semakin popular di Mc Donald yang mempunyai 10,500 restoran di 50 buah negara di dunia Kentucky Fried Chicken mempunyai lebih daripada 7,750 restoran di 58 buah negara. Budaya Fesyen Antara jenis fesyen pakaian yang digemari di seluruh dunia adalah seperti : seluar Jean Levi, Pierre Cardin (pakaian perempuan), Yves Saint Laurent, pakaian sukan Esprit dan pakaian Laura Ashley. Budaya Kerja Syarikat pengeluaran di era globalasasi juga terdiri daripada berbilang kaum dari negara-negara di dunia. Umpamanya, syarikat Esprit - di mana ketua grafiknya dari Jepun, juru gambarnya dari Itali, arkiteknya dari Perancis dan Itali.

Budaya Muzik dan Hiburan Muzik Jazz dan disco telah menguasai dunia. Tempat hiburan seperti Disneyland juga diadakan di negara di luar Amerika , seperti di Jepun dengan panggilan Tokyo Disneyland (1987) dan di Marne-la-Valle di Paris dengan panggilan Euro Disneyland (1992). Budaya Bahasa Pada masa ini, bahasa Inggeris adalah alat yang penting untuk perhubungan secara global. Sekarang terdapat satu bilion manusia yang bercakap dalam bahasa Inggeris dan pada tahun 2000 jumlah tersebut meningkat kepada 1.5 bilion. Kesimpulan Cabaran globalisasi masa kini memerlukan pembentukan generasi muda yang berdaya tahan melalui ilmu dan kemahiran Berdasarkan beberapa aspek globalisasi yang telah dibicarakan dapatlah dikatakan bahawa dunia hari ini atau di abad ke-21 sedang menghadapi satu cabaran dan perubahan yang sangat hebat yang belum pernah berlaku di abad yang lalu. Cabaran globalisasi dan implikasi terhadap ekonomi, budaya dan teknologi adalah luas dan mempunyai kesan yang negatif dan positif. Penerimaan terhadap perubahan haruslah difikirkan dan diterima secara positif dan membina untuk kemajuan diri,keluarga,agama,bangsa dan negara.
Petikan daripada Kembara Globalisasi

Nama : Hanadia Pasca Yurista Kelas/ nomor absen : IX D/ 19

 Dampak globalisasi
1. Dampak negatif : -Budaya asli mulai memudar -Adanya akulturasi budaya yang belum tentu berdampak baik -Tersisihnya produk – produk dalam negeri -Terjadi pertikaian, karena belum ada kesadaran tentang demokrasi

 Solusi/ cara pencegahan

: -Meningkatkan kualitas produk dalam negeri -Menanamkan budaya cinta negeri

2. Dampak positif : - Politik

-Meningkatnya kesadaran terhadap demokrasi -Meningkatnya penghargaan terhadap HAM -Meningkatnya hubungan antar negara, baik dalam hubungan bilateral, regional, maupun multilateral. - Ekonomi -Adanya perdagangan bebas -Sosial budaya -Banyak muncul istilah – istilah yang mengglobal -Iptek -Munculnya berbagai alat komunikasi yang mengglobal -Munculnya berbagai alat transportasi yang cepat dan efisien.

 Cara mepertahankan

: Bangsa Indonesia harus dapat memilih dan menyesuaikan antara globalisasi terhadap kepribadian bangsa Indonesia sendiri. Bangsa Indonesia juga harus dapat menyambut globalisasi dengan positif serta turut serta dalam pelaksanaan globalisasi yang berdampak positif bagi bangsa Indonesia sendiri dan bangsa lain. Sehingga bangsa Indonesia tidak terlalu tertinggal dengan bangsa lain dalam perkembangan di segala bidang.

 Sikap terhadap globalisasi
Kita harus positif dalam menerima atau menyikapi globalisasi. Namun, dengan adanya globalisasi tersebut, bukan berarti kita harus mengubah keseluruhan budaya asli kita dengan budaya yang lebih mengglobal. Kita ‘fleksibel’ atau ‘open minded’ tetapi kita harus tetap memilah – milah globalisasi apa yang mungkin berdampak positif dan yang mungkin berdampak negatif. Mengikuti globalisasi tersebut seperti telah menjadi suatu keharusan. Karena siapa yang tidak mengikuti arus tersebut, otomatis dia pun yang akan tertinggal.

The Impact of Globalitation
1. Negative Impact -The real culture is beginning sallow -There are some aculturations that it’s not exact can be as well as the positive impact we want -The local products are eliminated (congquered by foreign products) -The deviation happen, because there isn’t realizm of the people about democracy **Solution: -Increase the local products quality -Start beginning ‘culture of love state’! 2.Positive impact -Politic: The realizm about democracy will be increased The realizm about Human Right will be increased too The relation between one country and others will be increased too -Economic : There is free trade that can make the access of the trade between one country and other country are easy. -Culture and social : There are many foreign vocabularies. And it means that between one culture and others can be one. -Knowledge and technology : -There are many communicator/ communication tool that it’s more modern and efficient -There are many transportation tool that it’s more quick and efficient too. **The way to keep the positive impact: We have to can choose between globalitation and the real culture in Indonesia. And then, we have to be positive to face the globalitation. 3.The act to face the globalitation We have to be positive to face it. And accept the globalitation doesn’t mean that we have to change all of our real culture. And then, we have to choose “what globalitation that we want to be a positive thing in our state”. And follow the globalitation is so significant. Because who doesn’t follow it, will be a”looser”..

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->