P. 1
Artikel Ttg Zikir Dan Penyembuhan

Artikel Ttg Zikir Dan Penyembuhan

|Views: 532|Likes:
Published by s4f11sn

More info:

Published by: s4f11sn on Jul 26, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/01/2012

pdf

text

original

Redam Psikosomatis dengan Ibadah Sumber : http://wap.fajar.co.id/news.php?

newsid=14475 akses 6 Jun 2009: 16:41wib
BANYAK keluhan atau penyakit yang dialami oleh seseorang yang berawal dari kejadian stres yang tidak dapat dikendalikan. Stres berkepanjangan ini memberikan gangguan metabolisme dalam tubuh sehingga fungsi organ yang sangat dipengaruhi oleh pengaturan hormon dan sistem persarafan ini terganggu. Gejala seperti sakit kepala, mual, pusing, nyeri pada organ-organ tertentu (dikenal dengan psikosomatis) banyak diderita oleh mereka yang menderita stres. Penderita ini biasanya akan berputar dari dokter yang satu ke dokter yang lain, karena ternyata obat yang diberikan hanya berupa suatu terapi simtomatik semata. Apabila kerja obat selesai, maka keluhannya akan datang lagi. Bagi dokter yang cepat mengenal penyakit ini akan dengan mudah memberikan obat penenang kepada pasien tersebut. Namun, penderita seperti ini tidak pernah akan tuntas pengobatannya sepanjang mentalnya tidak diobati. Jumlah pasien psikosomatis sangat banyak jumlahnya saat ini di Indonesia. Mereka datang ke dokter dengan beragam alasan. Kadang-kadang sangat sukar diidentifikasi. Dr Veni Hadju, Ph D mengutarakan istilah yang sempat populer yang disebut dengan Post Power Syndrome. Penyakit ini diderita seseorang pada saat lengser dari suatu jabatan. "Karena sudah keenakan dan lupa diri, pada saat tidak memegang jabatan lagi, orang seperti ini langsung merasakan suatu kehilangan yang sangat berarti," ungkap Veni. Ini yang membuat stres yang berkepanjangan sehingga menimbulkan berbagai gangguan atau penyakit. Penanganan stres secara ilmiah telah banyak dikemukakan oleh para pakar. Berbagai terapi stres diperkenalkan seperti yoga yang berupa suatu latihan pernapasan yang diiringi dengan meditasi laris manis di negara-negara maju. Ada juga terapi tenaga dalam yang banyak diikuti oleh masyarakat yang dari hasil penelitian dapat meningkatkan kesehatan tubuh. Penanganan secara natural atau alamiah banyak juga laku di Amerika. Puasa termasuk salah satu jenis terapi yang dilakukan. "Ibadah puasa sudah terkenal digunakan sebagai obat untuk berbagai penyakit. Nah, mungkin ada penyakit dalam hati kita yang bisa kita sebut penyakit hati yang dapat kita obati melalui puasa." "Insya Allah, keseluruhan aktivitas ibadah seperti puasa, salat, zikir, salat sunah seperti tahajud, tobat, menyesali kesalahan-kesalahan yang pernah diperbuat, akan mendatangkan rasa aman dan tenang sehingga memberikan kesempatan kepada tubuh kita sehat secara sempurna," ungkap Veni.

http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2001/12/26/KSH/mbm.2001 1226.KSH86583.id.html akses tanggal 6 Juni 2009, 16.02wib

Angin Segar Jalur Spiritual
Meskipun banyak hal yang masih misterius, dunia kedokteran mulai memberi tempat kepada pengobatan spiritual. Departemen Kesehatan Amerika Serikat pun menggelar sebuah riset bertema doa yang berskala besar NINA mungkin tak pernah menyangka bahwa kondisi putrinya bisa membaik. Kelainan jantung bawaan yang diderita Sinta, putrinya semata wayang, telah melemahkan fungsi berbagai organ tubuhnya. Napasnya memburu, suhu badan tinggi, dan dia tak sanggup lagi mencerna makanan. Para dokter pun sudah angkat tangan menyerah. "Ibu sebaiknya menyenangkan hatinya. Waktu Sinta mungkin tak lama lagi," demikian Nina menirukan kalimat dokter yang disampaikan kepadanya tiga tahun silam. Namun, Nina tak menyerah pada keadaan. Atas anjuran seorang teman, dia segera berangkat menunaikan ibadah umrah ke Masjidil Haram di Mekah, Arab Saudi, dengan mengajak serta Sinta kecil—waktu itu berusia tiga tahun—yang tak sanggup berjalan. Dengan ditemani suami, ayah, ibu, dan adiknya, Nina berniat memohon kesembuhan Sinta di Tanah Suci. Kemudian, setiba di Mekah, Nina menyiapkan segala keperluan. Tengah malam seusai salat tahajud, Nina membawa putrinya ke Masjidil Haram. Gadis kecil yang ringkih itu ia mandikan dengan segayung air zam-zam dengan diiringi doa-doa. Ternyata, doa-doa yang khusyuk itu terjawab. Esok paginya Sinta bangun, minum susu, dan terpesona memandangi burung yang hinggap di jendela kamar hotel tempat keluarga Nina menginap. Demamnya reda, napasnya sudah normal, dan Sinta pun siap menjalani terapi pengobatan lebih lanjut. "Alhamdulillah, ini keajaiban Tuhan," kata Nina, 28 tahun, mengenang peristiwa itu. Menurut Profesor Dadang Hawari, psikiater yang berkecimpung dalam pengobatan pecandu narkoba, rangkaian doa seperti yang di-lakukan Nina itu memang memegang peran penting dalam pengobatan. Awal Desember lalu, Dadang juga menyampaikan keampuhan pengobatan spiritual dalam sebuah seminar di Rumah Sakit Internasional M.H. Thamrin, Jakarta.

Sebenarnya doa sebagai bentuk terapi spiritual bukan hal yang baru. Lafal doa, mantra, meditasi—dengan beragam variasi—telah diterapkan selama ribuan tahun di seluruh penjuru dunia. Hanya, selama ini dunia kedokteran cenderung skeptis dan menilai pengobatan spiritual tak punya basis ilmiah yang kuat. Namun, pandangan skeptis tersebut agaknya mulai berubah semenjak adanya berbagai riset yang menguatkan khasiat doa. Riset yang terbaru digelar Mark Snyder, ahli bedah jantung dari Duke University Medical Center, North Carolina, Amerika Serikat. Snyder merekrut 150 pasien bedah jantung yang terbagi dalam tiga kelompok. Pertama, grup yang menjalani terapi pijat guna memulihkan kondisi pascaoperasi. Grup kedua melakukan fisioterapi. Sedangkan kelompok ketiga tak menjalani terapi apa pun selain didoakan tiap hari sekali oleh tim dokter. Ternyata, seperti dilaporkan WLWT HealthTeam 5's, awal bulan lalu, kemajuan paling pesat justru terjadi pada grup pasien yang "hanya" mendapatkan guyuran doa. Sementara itu, di belahan dunia yang lain, Rogerio Lobo, ahli kandungan dari Universitas Columbia, New York, juga berupaya membuktikan khasiat doa. Sepanjang dua tahun, Lobo mengamati 199 perempuan yang sedang menjalani proses pembuahan bayi tabung (in vitro) di sebuah rumah sakit di Seoul, Korea. Lobo mengirimkan foto sebagian responden itu kepada sekelompok jemaah Kristiani di Kanada, Australia, dan Amerika Serikat. Grup jemaah ini rutin mendoakan responden dari jarak jauh tanpa sepengetahuan responden. Hasilnya, tingkat keberhasilan kehamilan responden yang didoakan dua kali lipat ketimbang rekan mereka yang tak didoakan. "Ini cukup mengejutkan. Saya sendiri tak tahu persis apa artinya," demikian dilaporkan Lobo dalam Journal of Reproductive Medicine, September lalu. Boleh jadi memang tak seorang pun sanggup memotret persis peranan doa dalam dunia kedokteran. Maklum, seperti pendapat Lobo, ada banyak sisi misterius yang menyertai pengobatan spiritual dan tak punya penjelasan rasional. Namun, setidaknya berbagai riset tersebut mencerminkan bertiupnya gairah baru. Seperti diungkapkan David Larson, Presiden Lembaga Nasional bagi Penelitian Perawatan Kesehatan (National Institute for Healthcare Research) di Maryland, AS, riset mengenai doa melonjak dua kali lipat dalam sepuluh tahun terakhir. Bahkan, National Institutes of Health (NIH), Departemen Kesehatan AS, kini tengah menggelar sebuah riset bertema doa yang berskala besar. Padahal, tadinya NIH menolak mentah-mentah proposal riset apa pun yang berurusan dengan doa. Artinya, "Angin telah berganti arah memihak pengobatan spiritual," kata Larson. Adalah Herbert Benson, ilmuwan dari Harvard Medical School, yang turut mengubah arah angin itu. Selama 30 tahun Benson mengamati efek meditasi pada pasien yang berobat di The Mind Body Medical Institute. Dia merekam citra jaringan saraf pasien selama melakukan meditasi dengan metode magnetic resonance imaging (MRI).

Berdasar rekaman MRI, Benson menyimpulkan bahwa meditasi mengaktifkan bagian otak yang mengatur kesadaran diri, waktu, dan lingkungan sekitar. Meditasi juga mengaktifkan bagian tengah otak, disebut sistem limbic, yang memegang komando keseimbangan emosi psikologis, saraf otonom, irama jantung, dan tekanan darah. Nah, dengan aktifnya sistem limbic, metabolisme tubuh secara total juga bergerak menuju keseimbangan dan mewujudkan kesembuhan. Benson mengakui, tak semua orang bisa menerima penjelasan pengobatan spiritual itu. Karena itu Benson menawarkan dua sudut pandang yang mungkin. "Jika Anda nonreligius, semua hal itu adalah semata-mata bagian dari proses sel-sel otak. Jika Anda orang yang religius, semua itu datang dari Tuhan," kata Benson. Dadang Hawari lebih condong mengombinasikan keduanya. Menurut Dadang, yang dalam paket pengobatannya bagi pasien korban narkotik juga memasukkan unsur spiritualitas, pengobatan spiritual bisa dijelaskan dengan pendekatan ilmu psiko-neuroimunologi. Komunikasi spiritual dengan Tuhan—ter-masuk zikir, meditasi, yoga, dan cara-cara berdoa dalam agama plus kepercayaan yang lain—bekerja mempengaruhi sistem saraf dan hormonal. Rangkaian kalimat teduh yang diucapkan berulang-ulang menurunkan produksi adrenalin alias hormon pemicu stres. Sebaliknya, produksi epinefrin atau hormon penangkal stres meningkat. Jantung pun bekerja lebih lancar, darah mengalir mulus ke seluruh tubuh, dan tekanan darah menuju normal. Walhasil, sistem kekebalan meningkat sehingga tubuh berpeluang melawan penyakit. Agar hasilnya optimal, doa sebaiknya juga dibarengi pengobatan medis. "Harus gabungan keduanya, medis dan spiritual," kata Dadang. Memang, ada saatnya doa pun bisa berperan sebagai petarung tunggal tanpa bantuan obat-obatan. Tapi biasanya ini hanya berlaku untuk penyakit yang bersumber dari kegelisahan psikis, atau yang disebut psikosomatis. Misalnya, gatal-gatal karena stres. Begitu suasana hati tenang lantaran doa, gatal-gatal pun melayang. Namun, penyakit yang bersumber dari faktor nonpsikis tetap membutuhkan bantuan obat-obatan medis. "Penyakit karena infeksi bakteri, misalnya, harus dibasmi dengan antibiotik sembari tetap diiringi doa," kata Dadang.

Manusia “Modern” Menderita Kekosongan Eksistensial
sumber : http://www.percikaniman.org/detail_artikel.php?cPub=Hits&cID=280 Akses tanggal 6 jun 2009 : 16;09 18-01-2008 / 17:12:47 Derap langkah kemajuan teknologi sebagai perpanjangan potensi manusia telah semakin menunjukkan taring keberhasilannya.

Derap langkah kemajuan teknologi sebagai perpanjangan potensi manusia telah semakin menunjukkan taring keberhasilannya. Produk potensi manusia itu telah pula, mau tidak mau, mempengaruhi perilaku keseharian kita sebagai makhluk sosio-kultural. Perubahanperubahan terhadap dimensi sosio-kultural memungkinkan kita untuk segera mengambil sikap tertentu, baik preventif maupun partisipatif. Sikap preventif yang diambil adalah tanggung jawab yang tidak ringan untuk dilakukan sementara kita memposisikan diri kita dalam wilayah konsumen teknologi. Hal ini akan mengakibatkan pengurasan energi fisik maupun psikis yang tidak kecil. Meskipun demikian, bila sikap partisipatif yang dipilih atas dasar keterlibatan yang sukar terelakkan sebab kita berkecimpung secara total dalam pemanfaatan teknologi tersebut, berarti kita siap menerima segala konsekuensi logis yang bakal menyerang kita dari arah yang tidak diduga-duga. Katakanlah kita mengambil sikap partisipatif secara tidak acuh (without thinking twice), maka kita akan tergusur oleh kebengisan teknologi. Misalnya, semalam suntuk kita browse internet untuk keperluan tuntutan kerja atau sekadar iseng, esok hari kita bangun kesiangan, lupa mendirikan shalat subuh. Dengan menyaksikan satu contoh demikian, jelas kita mengalami pergeseran sesuatu di dalam kehangatan komitmen beragama (religious commitment) kita. Kita terus-menerus berpacu dalam kancah kemajuan teknologi. Atas dalih pemanfaatan yang terkesan “mumpung sempat”, ibadah ritual dan sosial kita secara gradual tersisihkan. Betapa tidak, kita sibuk dengan setumpuk pekerjaan di kantor, kita sibuk dengan shoping ke tiap supermarket, dan kita sibuk mencari uang tanpa berhati-hati dari mana dan akan ke mana uang tersebut dibelanjakan. Ternyata kita telah disibukkan oleh sosok makhluk baru, yaitu teknologi atas nama “pola hidup modern” (modern lifestyle). Tentu kita tidak menutup mata untuk mengungkapkan bahwa teknologi haruslah disyukuri sebagai buah dari ilmu pengetahuan (science), tetapi kita tentu pula tidak lantas melupakan kewajiban kita --- sebaiknya kebutuhan kita --- untuk beribadah kepada Allah Swt. Saking sibuknya dengan segala pekerjaan, waktu yang tersisa untuk mendirikan shalat tinggal sedikit. Dari waktu yang hanya beberapa menit itu kita didera rasa letih yang sangat sehingga kita tidak shalat sama sekali. Bila kita terlalu sibuk mengejar dunia, menurut sementara psikolog, kita akan terjangkit gejala psikosomatis. Tanpa filter dan sikap bijaksana dalam mengimbangi kemajuan teknologi yang demikian pesat, kita lambat laun --- di samping menderita gejala psikosomatis --- akan menderita kekosongan eksistensial (existential vacuum). Kekosongan eksistensial adalah gejala psikis orang modern yang mengalami keterasingan diri: kepada dirinya sendiri, kepada lingkungannya, dan bahkan kepada Tuhan. keterasingan kepada Tuhan inilah yang paling berbahaya sebab manusia modern akan berbuat bebas tanpa batas, yang justru akan membuat dirinya terpuruk ke dalam lembah kesesatan. Orang-orang “modern” tipe inilah yang lebih rendah daripada binatang ternak sekalipun (QS. At-Tin [95]: 5). Kemajuan teknologi seharusnya terikat dengan tanggung jawab moral (moral responsibility) sehingga akibatnya tidak membabi-buta. Siapapun tidak akan menolak kemajuannya, tetapi bila hal tersebut membangun peradaban yang destruktif, sebagai Muslim, kita harus berani mengatakan “tidak”. Pertanyaannya, tanggung jawab moral itu

dari dan untuk siapa? Tentu dari dan untuk kita. Yang harus senantiasa kita ingat ialah bahwa setiap amal perbuatan sekecil apapun akan diminta pertanggungjawaban kelak di akhirat. Di sana, kita tidak dapat mengelak untuk berbohong di hadapan-Nya. Maka barangsiapa mengerjakan kebaikan sebesar zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa mengerjakan kejahatan sebesar zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya (QS. Al-Zilzal [99]: 7-8). Kemajuan teknologi (fikr) akan bersifat fatalistik sebelum dipadukan dengan zikir (dzikr), kata Muhamad Iqbal, serang penyair-filosof asal Pakistan. Bila kita hanya bergantung pada fikr saja, berarti kita telah memutuskan untuk menjadi orang “modern” yang menderita kekosongan eksistensial. *** (Narudin, anarudin@yahoo.com) [1] Istilah dari Ben Anderson, seorang antropolog terkemuka, existential vacuum. Lihat Jalaluddin Rakhmat, Catatan Kang Jalal, Bandung, Rosda, 1998, hlm. 57, 218. [2] Penyakit mental yang berdampak munculnya penyakit fisik. Menurut para psikolog, psikosomatis ini sangat berbahaya sebab penyakit ini menyerang mental dan fisik si penderita sekaligus. Lihat Herbert Benson dan Patricia Myers, “Medical Aspects of Belief”, dalam God for the 21st Century, London: Templeton Foundation Press, 2000, hlm. 111-114. [3] Baca Ahmad Syafii Maarif, Al-Quran, Realitas Sosial, dan Limbo Sejarah, Bandung: Pustaka, 1985, hlm. 139-155. [4] Baca pula Ahmad Syafii Maarif, Tuhan Menyapa Kita, Jakarta: Grafindo, 2006, hlm. 83. Lihat pula Dr. ‘Abdul Wahhab ‘Azzam, Iqbal: Siratuh wa Falsafatuh wa Syir’uh, Pakistan: Mathbuat, 1954, terj. Ahmad Rofi’ Usman, Filsafat dan Puisi Iqbal, Bandung: Pustaka, 1985, hlm. 71-72.

http://muslimahsholihah.multiply.com/notes/item/1 AKSES 6 JUN 2009 : 17;03 PENGERTIAN DZIKIR Dzikir adalah menyebut Allah dengan membaca tasbih (Subhanallaah), membaca tahlil (Laa ilaaha illallaah), membaca tahmid (Alhamdulillaah), membaca taqdis (Qudduusun), membaca takbir (Allaahu Akbar), membaca haugalah (Laa haula wala quwwata illaa billah), membaca hasabalah (Hasbiyallaah), membaca basmalah (Bismillaahirrahmaanirrahiim), membaca Al Qur'anul Karim dan membaca doa-doa yang mat'sur (yang diterima atau yang bersumber) dari Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Disamping itu digolongkan dzikir, mengerjakan segala jenis ketaatan kepada Allah SWT. Karena itu pertemuan yang diadakan untuk mengaji dan memperbincangkan masalah agama, dinamakan majlis dzikir. Hal ini pernah ditegaskan oleh 'Atha' : "Majlis-majlis yang dibentuk membahas soal halal dan haram, dianggap sebagai majlis dzikir (majlis menyebut nama Allah) karena majlis-majlis demikian itu dapat memindahkan kita dari kelalaian atau kelengahan kepada keinsyafan dan kesadaran." Dinamakan dzikir, mengerjakan segala tugas agama yang diwajibkan Allah dan menjauhi segala larangan yang sudah diperintahkan-Nya hamba untuk meninggalkannya. Karena itu membaca Al-Qur'an, mempelajari Al-Hadits, mempelajari ilmu-ilmu agama, melaksanakan shalat tathawwu' dinamakan juga dzikir. Yang dikehendaki dengan sebutan lidah (berdzikir dengan lidah) ialah, menyebut katakata yang menunjuk kepada tasbih (mensucikan Allah), kepada tahmid (memuji Allah), kepada tamjid (memuliakan/membesarkan Allah). Adapun yang dimaksud dengan ingatan hati ialah, memikirkan dalil-dalil tentang adanya Allah, dalil-dalil sifat-Nya, dalil-dalil perintah dan larangan-Nya, untuk diketahui hukum-hukum dan rahsia-rahsia ang tersembunyi dalam penciptaan alam ini. Yang dikehendaki dengan dzikir anggota, ialah mempergunakan segala anggota untuk melaksanakan ketaatan (dengan segala bentuk/manifestasinya). Itulah sebabnya maka shalat Juma'at di dalam Al-Qur'an dinamakan dzikrullah. Dzikir kepada Allah itu bukan hanya lafazh yang dilafazhkan dengan lidah saja, tetapi kesadaran yang terdapat di dalam hati dilafazhkan atau tidak dilafazkan dan merasa dengan Allah dan wujudNya. Kesadaran dan perasaan yang demikian menimbulkan kesan atau pengaruh yang membawa kepada ketaan pada batasnya yang paling dekat. Adalah Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam yang paling sempurna dzikirnya kepada Allah 'Azza wa Jalla. bahkan perkataannya semua merupakan dzikir kepada Allahd engan segala sangkut pautnya. Dan adalah perintahnya dan larangannya serta pensyariatnya bagi umat juga dzikir. Pujiannya kepada Allah dengan segala macam ragam nikmatNya, tamjid dan tasbihnya adalah zikir. Permohonan dan doanya, kesukaan dan ketidaksukaannya juga dzikir. Diamnya juga adalah dzikir di dalam hatinya. Dengan demikian, maka Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam senantiasa berdzikir kepada Allah, dalam segala waktu/ketika dan dalam segala kondisi. Dan adalah dzikir rasul itu berlaku

bersama tarikan nafasnya pada waktu berdiri, duduk dan di tempat pembaringan (waktu tidur). Dan pada waktu berjalan kaki, menunggangi kenderaan dan waktu dalam perjalanan, waktu berhenti, waktu berangkat pergi dan waktu menetap di tempat (muqim).

http://www.ademati.org/2009/04/apa-itu-psikosomatis.html AKSES 6 JUN 2009 17;30 APA ITU PSIKOSOMATIS ????
Gangguan fisik yang diyakini disebabkan atau dipengaruhi oleh faktor psikologis pada masa lalu disebut psikosomatis (psychosomatic) atau psikofisiologis. Istilah psikosomatis berasal dari bahasa Yunani psyche, yang artinya “jiwa” atau “intelek,” dan “soma” yang berarti “tubuh”. Gangguan fisik yang menyangkut unsur psikologis bentuknya mulai dari asma dan sakit kepala sampai sakit jantung. Tukak lambung (maag) juga merupakan penyakit disebabkan gangguan psikosomatis, tetapi telah dievaluasi kembali dalam penelitian yang mendapatkan bahwa suatu bakteri, H. Pylori, dan bukan stres atau diet, penyebab sebagian besar penyakit maag. Penelitipeneliti mencurigai bahwa maag terjadi karena bakteri merusak lapisan pelindung perut atau usus. Pengobatan dengan antibiotik dapat membantu menyembuhkan maag dengan cara menyerang bakteri secara langsung, belum diketahui mengapa sebagian orang yang memiliki bakteri didalam tubuhnya ada yang mengalami maag dan ada yang tidak. Keganasan jenis H pylori mungkin berperan dalam menentukan apakah orang yang terinfeksi H. Pylori tersebut kemudian terkena maag. Selain itu ada kemungkinan pula bahwa stres psikologis berperan juga. Demikian pula sakit kepala yang terjadi tidak bersamaan dengan gejala-gejala yang lain, maka sakit kepala ini dapat dikelompokkan sebagai gangguan fisik yang berhubungan dengan stres, yang dapat menyebabkan kontraksi kuat terhadap kulit kepala, muka, leher dan bahu sehingga muncul sakit kepala yang periodik dan kronis. Sakit kepala seperti itu secara beransur-ansur berkembang dan biasanya ditandai dengan rasa sakit yang terusmenerus di kedua sisi kepala, disertai dengan tekanan yang menghimpit. Sebuah survei di daerah Baltimore menunjukkan bahwa 38% responden mengeluh kadang-kadang mengalami sakit kepala karena tegang. Survei ini menunjukkan bahwa wanita akan mengalami tingkat sakit kepala16% lebih tinggi dari pada laki-laki. Kebanyakan sakit kepala yang lain, termasuk sakit kepala sebelah (migren) yang parah, diyakini melibatkan perubahan aliran darah ke kepala. Migren diderita oleh lebih dari 28 juta orang Amerika. Biasanya migren berlangsung selama beberapa jam atau beberapa hari. Sakit ini dapat muncul setiap hari atau sering kali setiap bulannya. Sakit ini ditandai dengan rasa yang menusuk disebelah sisi kepala atau di belakang mata. Sakit ini dapat menjadi begitu intensnya sehingga tidak tertahankan. Upaya mengatasi sakit migren yang parah malah dapat menimbulkan rendahnya kualitas hidup dan menimbulkan gangguan pada tidur, dan proses berpikir (Lipton dkk., 2000). Menurut Olesen (1994). Ada dua tipe utama migren yaitu tanpa aura (disebut migren biasa) dan migren dengan aura (disebut dengan migren klasik). Aura adalah sekelompok tanda peringatan sebelum terjadinya serangan migrein. Aura dicirikan dengan distorsi persepsi seperti kilatan cahaya, gangguan pandangan, atau pandangan gelap gulita. Kirakira 1 sampai 5 penderita migren mengalami aura ini. Ada dan tidaknya aura ini, kedua migren ini dapat dikatakan sama.

Shalat, Dzikir dan Imunitas Download file kuliah di sini Kuliah Islam Disiplin Ilmu Kedokteran Oleh : dr. Iwang Yusuf, M.si Dikirim oleh : Galleta S. Boer (FK UNISSULA) The belief that the mind plays an important role in physical illness goes back to the earliest days of medicine. From the time of the ancient Greeks to the beginning of the 20th century, it was generally accepted by both physician and patient that the mind can affect the course of illness, and it seemed natural to apply this concept in medical treatments of disease. • Kepercayaan bahwa pikiran memainkan peran penting dalam penyakit fisik akan kembali ke awal pengobatan. Dari zaman kuno Yunani ke awal abad ke-20, yang umumnya diterima baik oleh dokter dan pasien adalah pikiran dapat mempengaruhi terjadinya penyakit, dan merupakan hal yang alami untuk menerapkan konsep ini dalam perawatan medis penyakit. After the discovery of antibiotics, a new assumption arose that treatment of infectious or inflammatory disease requires only the elimination of the foreign organism or agent that triggers the illness. • Setelah penemuan antibiotik, timbul asumsi baru bahwa perawatan dari penyakit menular atau penyakit inflamasi(perdangan) hanya memerlukan pemusnahan dari organisme atau agen asing yang memicu penyakit. • Namun pada kenyataannya yang terjadi adalah resistensi meningkat dan penyakit degenerative yang meningkat akibat infeksius. New molecular and pharmacological tools have made it possible for us to identify the intricate network that exists between the immune system and the brain, a network that allows the two systems to signal each other continuously and rapidly. Chemicals produced by immune cells signal the brain, and the brain in turn sends chemical signals to restrain the immune system. • Molekular baru dan alat pharmacological telah memungkinkan bagi kami untuk mengidentifikasi jaringan rumit yang ada di antara sistem kekebalan dan otak, jaringan yang memungkinkan dua sistem sinyal untuk berhubungan satu sama lain secara berkelanjutan dan cepat. Bahan kimia yang diproduksi oleh sel imun mengsignal otak, dan otak akan mengirim sinyal kimia untuk membatasi sistem kekebalan. • Terdapat kesatuan antara Neurotransmiter di otak dengan sistem imun AL ‘ALAQ (SEGUMPAL DARAH)

ayat 1-5 1. Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan, 2. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. 3. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, 4. Yang mengajar (manusia) dengan perantara kalam. 5. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya 45. Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu', (Al Baqarah ayat 45 (QS 2;45)) 153. Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu[99], sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. (Al Baqarah ayat 153 (QS 2;153)) 103. Maka apabila kamu telah menyelesaikan shalat(mu), ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring. Kemudian apabila kamu telah merasa aman, maka dirikanlah shalat itu (sebagaimana biasa). Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman (An Nisaa’ ayat 103 (QS 4;103)) 45. Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Quran) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan. • Al Ankabuut 45 (QS 29;45) • Luqman ayat 17 (QS 17;17) 17. Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah). 48. Dan bersabarlah dalam menunggu ketetapan Tuhanmu, maka sesungguhnya kamu berada dalam penglihatan Kami, dan bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu ketika kamu bangun berdiri • Ath Thuur 48 (QS 52;48) Inti kandungan • Sabar, Shalat dan Khusyu’ • Sabar & Shalat • Shalat dan Dzikir • Membaca Al Qur’an & Shalat • Shalat & Sabar

• Sabar, dzikir dan Shalat Maka Imun meningkat Labels: imun-kulit

Posted February 14th, 2009 by Sulaeman • Tugas Kuliah Lainnya A. Konsep Manusia Manusia adalah makhluk utuh yang dapat berfikir abstrak dan berbuat dan juga manusia merupakan makhluk sosial, psiko, bio, politik dan mempunyai kebutuhan dasar bermacam-macam dengan tingkat perkembangannya selalu berusaha memenuhi kebutuhan dasar hidupnya. Dalam memenuhi kebutuhan dasar tersebut di dasarkan pada potensiyang ada padanya. Manusia secara terus-menerus menghadapi berbagai perubahan lingkungan dan selalu berusaha menyesuaikan diri agar tercapai keseimbangan. Selain itu manusia dapat belajar dan merubah tingkah laku serta lingkungannya untuk menuju yang lebih baik. Pandangan tentang manusia sangat di pengaruhi falsafah setiap bangsa sehingga dengan kaitannya konsep keperawatan pandangan tersebut akan mewarnai pola konsep perawatan yang dianut oleh suatu bangsa. Bangsa Indonesia mempunyai pandangan manusia adalah berdasarkan pembangunan bangsa dan pancasila sebagai modal pembangunan. Jadi manusia Indonesia seutuhnya adalah manusia yang didalam segala aspek dan hakekatnya. Dalam menjalankan kehidupannya manusia mempunyai kodrat yaitu : Hubungan antara manusia dengan manusia. Hubungan antara manusia dengan alam sekitarnya atau dengan lingkungannya. Hubungan antara manusia dengan Allah SWT Sang Pencipta. Dalam menjalankan kehidupannya manusia tidak lepas dari rasa lelah dan sakit. seseorang dikatakan sakit jika mengalami keadaan yang tidak menyenangkan yang menimpa seseorang tersebut sehingga menimbulkan gangguan aktifitas sehari-hari baik jasmani, rohani dan sosial. Di saat sakit seseorang memerlukan seorang figur manusiayang berkompetensi untuk merubah keadaan sakitnya menjadi keadaan sehat. Sebagai contohnya adalah perawat. Perawat adalah seseorang yang telah lulus dari suatu program pendidikan dasar perawatan, memenuhi syarat di beri wewenang oleh pemerintah untuk memberikan pelayanan yang bermutu dan bertanggung jawab. Perawat melakukan tindakan keperawatan kepada klien atau pasien dengan memberikan tindakan yang di fungsikan untuk mengubah keadaan lahiriah atau batiniah yang sakit menjadi lebih baik yang mana tindakan ini memiliki tujuan adalah untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat luas, untuk mencegah perkembangan penyakit, melakukan pengobatan / perawatan orang sakit dan untuk merehabilitasi seseorang yang sakit. Penyakit rohani maupun jasmani membawa akibat orang yang ditimpa penyakit tersebut tersebut mempunyai sifat yang diluar kebiasaannya, terutama tentang nafsu makan dan minumnya. Dalam hal ini, Nabi Muhammad SAW. Memberikan petunjuk agar tidak memaksakan mereka memakan sesuatu yang tidak disukai oleh mereka. Demikian juga sangat perlu memperhatikan makanan yang dapat membangkitkan selera mereka. Dari

‘Uqbah bin ‘Amir Al-Juhani, ia berkata :”Rasullulloh SAW. Bersabda :’ Jangan kamu paksa orang yang sakit diantara kamu untuk makan dan minum. Sesungguhnya Alllah ‘A zza wa Jalla yang memberi mereka makan dan minum.” H.R Turmudzi dan Ibnu Majah. Para ahi kedokteran menilai, alangkah indahnya untaian kalimat dalam sabda Rosulullloh SAW. Itu. Orang sakit jika tidak menyukai makan dan minum, itu berarti kekuatan tubuhnya sedang diarahkan untuk melawan penyakit yang dideritanya atau berkurang maupun hilangnya selera makan dan minum sama sekali. Dalam keadaan yang demikian ini, maka tidak boleh memberikan makanan kepadanya. Ketahuilah bahwa lapar itu terjadi karena tubuh membutuhkan makanan untuk mengganti energiyang telah keluar, dimana otak menyampaikan kepada perut maka perut pun meminta makanan karena merasa lapar. Jika tubuh sakit,maka ia sibuk menghadapi penyakit tersebut serta tidak siap untuk mencerna makanan dalam perut. Namun demikian, terkadang diperlukan pemaksaan terhadap si sakit agar ia mau makan, jika penyakitnya itu juga menyebabkan atau bersama dengan penyakit akal (kurang atau tidak waras). Kalimat “Sesungguhnya Alllah ‘A zza wa Jalla yang memberi mereka makan dan minum” dalam hadist diatas, mempunyai pengertian yang sangat dalam dan tinggi. Yang mengetahui secara pasti maksud kalimat tersebut hanyalah orang-orang yang mendapat ‘inayah tentang rahasia ruh dan hati. Menurut pendapat kami,uraian mengenai kalimat itu ialah: diri seseorang yang telah diliputi oleh ras cinta, rasa benci maupun rasa takut,tidak akan terpikirkan lagi soal makan dan minum. Oleh sebab itu, ia tidak akan merasa lapar maupun haus bahkan tidak merasakan kepanasan maupun kedinginan. Yang dirasakan hanyalah perasaan sakit yang sangat. Jika yang dating adalah perasaaan senang dan gembira,maka hal itu telah membuat dirinya kenyang dan tubuhnya bertambah kuat. Darah dalam tubuhnya berjalan dengan baik dan wajahnya menjadi cerah ceria. Jikayang muncul adalah perasaan sakit,duka cita ataupun takut maka sibuk memperkuat ketahanan tubuh,melawan dan memerangi perasaan-perasaan itu.apabila dirinya menang,mak bertambahlah kekuatan dirinya. Yang dimaksud dengan pertolongan Allah dalam hal memberi makan dan minum, tergantung kepada dekatnya seorang hamba (si sakit) kepada Tuhannya. Jika keteguhan iman, kecintaan kepada Allah dan keyakinan terhadap pertolongan Allahserta rasa rindu untuk memperoleh keridhaan-Nya telah menguasai dirinya, maka itu merupakan sesuatu kekuatan yang sangat besar melebihi sekedar makan dan minum. Hal ini tidak akan pernah didapati dalam kedokteran umum. Mengenai hal ini tergambar lebih jelas lagi, ketika Nabi Muhammad SAW. melarang para sahabat melakukan puasa sepanjang hari (siang dan malam), lalu beliau mengatakan : ” diriku tidak seperti keadaan diri kamu. Diriku senantiasa diberi makanan dan minuman oleh tuhanku.” Jelas yang dimaksud bukan makanan dan minuman yang dimakan dan diminum orang melalui mulut. Jika makanan dan minuman itu seperti makanan dan minuman yang masuk kedalam tubuh melalui mulut, sudah pasti Nabi Muhammad tidak berpuasa sepanjang hari namanya. Inilaah perbedaan puasa Rosululloh denganorang lain, walaupun tidak selamanya beliau beerpuasa siang malam ini. Lagipula jika makan dan minum yang dimaksud dari mulut, tentu beliau tidak akan mengatakan “diriku tidak seperti keadaan diri kamu”

Dengan uraian diatas ini jelas bahwa makanan rohani dan makanan hati itu memberikan kekuatan yang maksimal kepada diri seorang hamba Allah sehingga ia tidak merasa lapar jasmani. Allah menciptakan makhluknya untuk memberikan cobaan dan ujian, lalu menuntut konsekuensi kesenangan, yaitu bersyukur dan konsekuensi kesusahan, yaitu sabar. Hal ini tidak bisa terjadi kecuali jika Allah membalikkan berbagai keadaan manusia, sehingga peribadahan manusia kepada Allah menjadi jelas. Diantara faidah penyakit, jika seseorang bersabar,ia akn diberi pahala dengan dituliskan kebaikan dan diangkatnya derajat. Boleh jadi seseorang mempunyai kedudukanyang agung di sisi Allah,tetapi dia tidak mempunyai amal yang bisa menghantarkannya kepada kedudukan tersebut. Lalu Allah mengujinya dengan sesuatu yang tidak disukainya, sehingga diapun layak mendapatkan kedudukan itu dan sampai kepadanya. Surga tidak bisa diperoleh melainkan dengan sesuatuyang tidak disukai jiwa manusia. Dalam sebuah hadist riwayat Ibnu Majah dijelaskan :Wahai anak Adam, jika engkau sabar dan mencari kerihaan pada saat musibah yang pertama, maka Allah tidak meridhai pahalamu melainkan surga”. Dalam hadist lain riwayat Al-Bukhari juga menjelaskan :”tidaklah ada suatu balasan (yang lebih pantas) disis-Ku bagi hamba-Ku yang beriman,jika Aku telah mencabut nyawa kesayangannya dari penduduk dunia kemudian dia bersabar atas kehilnagn orang kesayangannya itu melainkan surga.” B. Keperawatan Spiritual Pada dasarnya manusia terdiri dari 2 komponen penting yang mendukung manusia untuk melakukan segala kegiatan, komponen itu adalah jasad dan roh. Tanpa roh seseorang tidak akan berarti, karena jasad manusia tanpa roh adalah tidak jauh beda dengan bangkai yang berbau tidak sedap. Sedangkan roh tanpa bagaikan angin yang teramat sulit untuk meyentuh apapun ataupun melakukan perbuatan yang dapat bermanfaat bagi kehidupan masyarakat. Raga atau jasad bisa mengetahui dengan pengelihatan mata, sedang jiwa bisa mengetahui dengan bashirah ( mata hati ). Masing-masing memiliki bentuk dan gambaran sendiri-sendiri, bisa baik dan bisa buruk. Jiwa yang bisa mengetahui dengan bashirah, lebih besar kedudukannya daripada jasad yang bisa mengetahui dengan pengelihatan mata. Karena itu Allah mengagungkan urusannya dengan berfirman dalam Al-Qur’an : “Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dari tanah. Maka apabila telah Kusempurnakan kejadiannya dan Kutiupkan kepadanya roh (ciptaan)-Ku” (Shad: 71-72) Perkembangan di bidang ilmu keperawatan demikian pesatnya, dan kini dikembangkan cabang ilmu “psiko-neuro-endokrinologi” yang menjelaskan hubungan antara faktor psikis, sistem pensarafan dan kelenjar endokrin (sistem hormonal) yang apabila keseimbangan ketiga sistem tersebut terganggu maka terjadilah penyakit. Sebagaimana diketahui bahwa keseimbangan sistem hormonal amat penting bagi imunitas (kekebalan) tubuh. Dalam kaitannya dengan hal tersebut di atas, maka terapi psikoreligius berupa doa dan zikir memegang peran dalam sistem psiko-neuro-endokrin tersebut yang pada gilirannya meningkatkan daya tahan tubuh (imunitas, kekebalan) terhadap penyakit sehingga mempercepat proses penyembuhan.Bila ditelaah secara mendalam berbagai permasalahan dan krisis yang melanda masyarakat, bangsa dan negara Indonesia tercinta dewasa ini, disebabkan karena akibat gangguan kesehatan jiwa masyarakat yang merupakan gangguan mental dan perilaku. Ilmuwan DB Lardson mengatakan, komitmen keagamaan sangat penting dalam

mencegah seseorang tidak jatuh sakit. Pernyataan ini didukung berbagai penelitian yang dilakukan para ahli yang hasilnya menyatakan adanya hubungan positif antara komitmen keagamaan dan derajat kesehatan. Kemajuan dalam bidang penelitian keperawatan mempunyai pengaruh yang sangat positif dalam menjelaskan fenomena ini. Dari hasil penelitian yang dilakukan oleh para ahli, penunjukkan ada hubungan yang nyata antara faktor kejiwaan (psikis), sistem saraf (neuron) dan sistem kelenjar endokrin. Akhir-akhir ini hubungan ketiga sistem ini berkembang pesat dan menjadi satu kajian khusus yaitu kajian psiko-neuro-endokrinologi. Dalam kajian Psiko-Neuro-Endokrinologi dijelaskan teraturnya kerja organ tubuh manusia ditentukan oleh adanya keseimbangan hormonal yang dihasilkan kelenjar endokrin. Jika karena suatu sebab, terjadi ketidakseimbangan hormonal, akan terjadi gangguan kerja faal tubuh dan menimbulkan kelainan fungsi. Jika gangguan faal ini berlangsung terus-menerus akan timbul kelainan anatomis atau kelainan organ tubuh. Dalam cabang ilmu psiko-neuro-endokrinologi dijelaskan, kondisi kejiwaan akan mempengaruhi status imunitas seseorang. Artinya orang yang setiap saat mengalami stres emosional daya tahan tubuhnya akan berkurang, sehingga mudah sekali terserang penyakit-penyakit infeksi. Sebaliknya orang yang selalu bahagia dan tenang hidupnya, akan meningkat status imunitasnya sehingga akan lebih kebal terhadap berbagai penyakit infeksi. Di samping itu, faktor kejiwaan juga bisa mengubah reaksi-reaksi biokimiawi sel pada tingkat molekular yang memungkinkan terjadinya perubahan perkembangan dan pertumbuhan sel. Perubahan perkembangan dan pertumbuhan sel ini bahkan bisa bersifat ganas, yang dapat menyebabkan penyakit kanker. Jadi, bukan tidak mungkin orang yang selalu mengalami stres emosional akan mempercepat tumbuhnya sel-sel ganas atau sel kanker. Seorang yang memiliki komitmen keagamaan yang kuat yang diaplikasikan dalam wujud rajin melaksanakan ibadah, berdoa dan berzikir akan mempunyai pengaruh yang sangat mendalam. Seorang yang senantiasa berdoa dan berzikir akan timbul dalam dirinya dua sikap yang positif. Yaitu Sikap percaya diri yang kuat Sikap optimistik atau harapan hidup yang besar. Dua sikap ini akan menimbulkan perubahan kejiwaan yang sangat positif dan merupakan salah satu bentuk terapi psikiatrik yang ampuh. Psikoreligius ini tidak kalah penting jika dibandingkan dengan terapi psikiatri dengan menggunakan obat-obatan atau terapi psikiatrik lainnya. Seorang yang banyak beribadah, berdoa dan berzikir akan timbul pada dirinya ketenangan, ketenteraman dan kesabaran. Konsep ini sungguh sejalan dengan ajaran Islam. Seseorang yang ingin merasakan ketenteraman hendaklah selalu berzikir. Sebagaimana firman Allah yang terdapat pada QS Ar-ra'd ayat 28: "Yaitu orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.'' Seorang yang rajin berdoa dan berzikir akan selalu percaya bahwa segala cobaan yang ditimpakan kepada manusia merupakan bentuk kasih sayang Allah kepada umat manusia. Kesadaran ini akan menimbulkan satu keyakinan bahwa penyakit yang menimpa manusia merupakan cobaan Allah dalam rangka menguji keimanan seseorang. Hamba Allah yang lulus dalam ujian ini, akan meningkatlah derajat keimanannya. Sebagaimana firman Allah dalam QS Al-Baqoroh ayat 155 sebagai berikut: "Dan

sungguh akan kami berikan cobaan kepadamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah kabar gembira kepada orangorang yang sabar.'' Firman Allah yang senada terdapat juga dalam Alquran surat Al-Hajj ayat 34-35 sebagai berikut: "Berikanlah kabar gembira kepada orang yang tunduk patuh (kepada Allah), yaitu mereka yang apabila disebut nama Allah gemetar hati mereka dan sabar atas ujian yang menimpa mereka.'' Hadis lain menerangkan bahwa cobaan itu merupakan sarana penghapus dosa, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori dan Muslim yang bunyinya: "Tidaklah seorang muslim ditimpa musibah, kesusahan, kesedihan, penyakit, gangguan menumpuk pada dirinya (karena banyaknya), kecuali Allah akan hapuskan dosadosanya.'' Seorang yang mempunyai komitmen keagamaan yang kuat tidak pernah berburuk sangka apalagi berputus asa atas semua penyakit yang ditimpakan kepadanya. Mereka yakin dengan firman Allah dalam Alquran surat Asy-Syu'araa ayat 80 sebagai berikut: "Dan apabila aku sakit Dia-lah yang menyembuhkan.'' Mereka juga yakin akan sabda Rasulullah bahwa setiap penyakit yang ditimpakan kepada manusia itu pasti ada obatnya, sebagaimana hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, "Setiap penyakit ada obatnya. Jika obat itu tepat mengenai sasarannya, maka dengan izin Allah penyakit itu akan sembuh.'' Dari hadis yang terakhir ini jelas seseorang tidak boleh hanya berdoa dan berzikir saja. Supaya terhindar dari penyakit harus melakukan upaya pencegahan, demikian juga ketika menderita sakit harus berupaya mencari obat. Sebagaimana hadis tersebut agar obat itu tepat mengenai sasarannya, harus diberikan oleh ahlinya (dokter). Untuk itu seseorang yang sedang sakit berkewajiban berikhtiar yakni berobat ke dokter. Dengan kesadaran yang penuh, seseorang yang memiliki komitmen keagamaan, tidak pernah merasa stres dalam menghadapi cobaan termasuk juga cobaan sakit. Kesadaran ini akan mampu mempengaruhi seluruh sistem yang ada dalam tubuh yang pada gilirannya orang tersebut akan terhindar dari penyakit, akan meningkat kemampuannya menghadapi penderitaan saat sakit dan mempercepat penyembuhan.

Imunitas
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari

Darah yang mengandung darah merah, darah putih, limfosit, monosit, neutrofil, dan keping darah. Imunitas atau kekebalan adalah sistem mekanisme pada organisme yang melindungi tubuh terhadap pengaruh biologis luar dengan mengidentifikasi dan membunuh patogen serta sel tumor. Sistem ini mendeteksi berbagai macam pengaruh biologis luar yang luas, organisme akan melindungi tubuh dari infeksi, bakteri, virus sampai cacing parasit, serta menghancurkan zat-zat asing lain dan memusnahkan mereka dari sel organisme yang sehat dan jaringan agar tetap dapat berfungsi seperti biasa. Deteksi sistem ini sulit karena adaptasi patogen dan memiliki cara baru agar dapat menginfeksi organisme. Untuk selamat dari tantangan ini, beberapa mekanisme telah berevolusi yang menetralisir patogen. Bahkan organisme uniselular seperti bakteri dimusnahkan oleh sistem enzim yang melindungi terhadap infeksi virus. Mekanisme imun lainnya yang berevolusi pada eukariota kuno dan tetap pada keturunan modern, seperti tanaman, ikan, reptil dan serangga. Mekanisme tersebut termasuk peptida antimikrobial yang disebut defensin, fagositosis, dan sistem komplemen.[1] Mekanisme yang lebih berpengalaman berkembang secara relatif baru-baru ini, dengan adanya evolusi vertebrata. Imunitas vertebrata seperti manusia berisi banyak jenis protein, sel, organ tubuh dan jaringan yang berinteraksi pada jaringan yang rumit dan dinamin. Sebagai bagian dari respon imun yang lebih kompleks ini, sistem vertebrata mengadaptasi untuk mengakui patogen khusus secara lebih efektif. Proses adaptasi membuat memori imunologis dan membuat perlindungan yang lebih efektif selama pertemuan di masa depan dengan patogen tersebut. Proses imunitas yang diterima adalah basis dari vaksinasi. Jika sistem kekebalan melemah, kemampuannya untuk melindungi tubuh juga berkurang, membuat patogen, termasuk virus yang menyebabkan penyakit. Penyakit defisiensi imun muncul ketika sistem imun kurang aktif daripada biasanya, menyebabkan munculnya infeksi. Defisiensi imun merupakan penyebab dari penyakit genetik, seperti severe combined immunodeficiency, atau diproduksi oleh farmaseutikal atau infeksi, seperti sindrom defisiensi imun dapatan (AIDS) yang disebabkan oleh retrovirus HIV. Penyakit autoimun menyebabkan sistem imun yang hiperaktif menyerang jaringan normal seperti jaringan tersebut merupakan benda asing. Penyakit autoimun yang umum termasuk rheumatoid arthritis, diabetes melitus tipe 1 dan lupus erythematosus. Peran penting imunologi tersebut pada kesehatan dan penyakit adalah bagian dari penelitian. •

sunting] Lapisan pelindung pada imunitas
Sistem kekebalan tubuh melindungi organisme dari infeksi dengan lapisan pelindung kekhususan yang meningkat. Pelindung fisikal mencegah patogen seperti bakteri dan virus memasuki tubuh. Jika patogen melewati pelindung tersebut, sistem imun bawaan menyediakan perlindungan dengan segera, tetapi respon tidak-spesifik. Sistem imun bawaan ditemukan pada semua jenis tumbuhan dan binatang.[2] Namun, jika patogen berhasil melewati respon bawaan, vertebrata memasuki perlindungan lapisan ketiga, yaitu sistem imun adaptif yang diaktivasi oleh respon bawaan. Disini, sistem imun

mengadaptasi respon tersebut selama infeksi untuk menambah penyadaran patogen tersebut. Respon ini lalu ditahan setelah patogen dihabiskan pada bentuk memori imunologikal dan menyebabkan sistem imun adaptif untuk memasang lebih cepat dan serangan yang lebih kuat setiap patogen tersebut ditemukan.[3] Komponen imunitas Sistem imun bawaan Sistem imun adaptif Respon tidak spesifik Respon spesifik patogen dan antigen Eksposur menyebabkan respon maksimal Perlambatan waktu antara eksposur dan segara respon maksimal Komponen imunitas selular dan respon Komponen imunitas selular dan respon imun imun humoral humoral Eksposur menyebabkan adanya memori Tidak ada memori imunologikal imunologikal Ditemukan hampir pada semua bentuk Hanya ditemukan pada Gnathostomata kehidupan Baik imunitas bawaan dan adaptif bergantung pada kemampuan sistem imun untuk memusnahkan baik molekul sendiri dan non-sendiri. Pada imunologi, molekul sendiri adalah komponen tubuh organisme yang dapat dimusnahkan dari bahan asing oleh sistem imun.[4] Sebaliknya, molekul non-sendiri adalah yang dianggap sebagai molekul asing. Satu kelas dari molekul non-sendiri disebut antigen (kependean dari generator antibodi) dan dianggap sebagai bahan yang menempel pada reseptor imun spesifik dan mendapatkan respon imun.[5]

[sunting] Perisai permukaan
Beberapa perisai melindungi organisme dari infeksi, termasuk perisai mekanikal, kimia dan biologi. Kulit ari tanaman dari banyak daun, eksoskeleton serangga, kulit telur dan membran bagian luar dari telur dan kulit adalah contoh perisai mekanikal yang merupakan pertahanan awal terhadap infeksi.[5] Namun, karena organisme tidak dapat sepenuhnya ditahan terhadap lingkungan mereka, sistem lainnya melindungi tubuh seperti paru-paru, usus, dan sistem genitourinari. Pada paru-paru, batuk dan bersin secara mekanis mengeluarkan patogen dan iritan lainnya dari sistem pernapasan. Pengeluaran air mata dan urin juga secara mekanis mengeluarkan patogen, sementara ingus dikeluarkan oleh saluran pernapasan dan sistem pencernaan untuk menangkap mikroorganisme.[6] Perisai kimia juga melindungi terhadap infeksi. Kulit dan sistem pernapasan mengeluarkan peptida antimikroba seperti β-defensin.[7] Enzim seperti lisozim dan fosfolipase A2 pada air liur, air mata dan air susu ibu juga antiseptik.[8][9] Sekresi Vagina merupakan perisai kimia selama menarche, ketika mereka menjadi agak bersifat asal, sementara semen memiliki pertahanan dan zinc untuk membunuh patogen.[10][11] Pada perut, asam lambung dan protase menyediakan pertahanan kimia yang kuat melawan patogen yang tertelan ketika dimakan. Dalam saluran pencernaan dan sistem genitourinari, flora komensal merupakan perisai biologi dengan bersaing dengan patogen untuk makanan dan tempat, dan pada beberapa

kasus, dengan mengubah kondisi lingkungan mereka, seperti pH atau besi yang ada.[12] Hal ini mengurangi kemungkinan bahwa patogen akan menyebabkan penyakit. Namun, sejak kebanyakan antibiotik mengincar bakteri dan tidak menyerang fungi, antibiotik oral dapat menyebabkan "pertumbuhan lebih" fungi dan dapat menyebabkan kondisi seperti kandiasis vagina.[13] Terdapat bukti baik bahwa perkenalan kembali flora probiotik, seperti budaya asli lactobacillus yang ada pada yogurt, menolong mengembalikan keseimbangan kesehatan populasi mikrobial pada infeksi usus anak-anak dan mendorong data pendahuluan pada penelitian Gastroenteritis bakterial, radang usus, infeksi saluran urin dan infeksi setelah operasi.[14][15][16]

[sunting] Imunitas bawaan
Artikel utama untuk bagian ini adalah: Sistem imun bawaan Mikroorganisme yang berhasil memasuki organisme akan bertemu dengan sel dan mekanisme sistem imun bawaan. Respon bawaan biasanya dijalankan ketika mikroba diidentifikasi oleh reseptor pengenalan susunan, yang mengenali komponen yang diawetkan antara grup mikroorganisme.[17] Pertahanan imun bawaan tidak spesifik, berarti bahwa respon sistem tersebut pada patogen berada pada cara yang umum.[5] Sistem ini tidak berbuat lama-penghabisan imunitas terhadap patogen. Sistem imun bawaan adalah sistem dominan pertahanan seseorang pada kebanyakan organisme.[2]

[sunting] Pelindung humoral dan kimia
[sunting] Peradangan Artikel utama untuk bagian ini adalah: Radang Peradangan adalah salah satu dari respon pertama sistem imun terhadap infeksi.[18] Gejala peradangan adalah kemerahan dan bengkak yang diakibatkan oleh peningkatan aliran darah ke jaringan. Peradangan diproduksi oleh eikosanoid dan sitokin, yang dikeluarkan oleh sel yang terinfeksi atau terluka. Eikosanoid termasuk prostaglandin yang memproduksi demam dan pembesaran pembuluh darah berkaitan dengan peradangan, dan leukotrin yang menarik sel darah putih (leukosit).[19][20] Sitokin umum termasuk interleukin yang bertanggung jawab untuk komunikasi antar sel darah putih; Chemokin yang mengangkat chemotaksis; dan interferon yang memiliki pengaruh anti virus, seperti menjatuhkan protein sintesis pada sel manusia.[21] Faktar pertumbuhan dan faktor sitotoksik juga dapat dirilis. Sitotokin tersebut dan kimia lainnya merekrut sel imun ke tempat infeksi dan menyembuhkan jaringan yang mengalami kerusakan yang diikuti dengan pemindahan patogen.[22] [sunting] Sistem komplemen Artikel utama untuk bagian ini adalah: Sistem komplemen Sistem komplemen adalah kaskade biokimia yang menyerang permukaan sel asing. Sistem komplemen memiliki lebih dari 20 protein yang berbeda dan dinamai karena kemampuannya untuk "melengkapi" pembunuhan patogen oleh antibodi. Komplemen adalah komponen humoral utama dari respon imun bawaan.[23][24] Banyak spesies

memiliki sistem komplemen, termasuk spesies bukan mamalia seperti tumbuhan, ikan, dan beberapa invertebrata.[25] Pada manusia, respon ini diaktivasi dengan melilit komplemen ke antibodi yang dipasang pada mikroba tersebut atau protein komplemen yang dililit pada karbohidrat di permukaan mikroba. Pengenalan sinyal menjalankan respon membunuh dengan cepat. [26] Kecepatan respon adalah hasil dari pengerasan yang muncul mengikuti aktivas proteolisis dari molekul kompleman, yang juga termasuk protease. Setelah protein komplemen melilit pada mikroba, mereka mengaktifkan aktivitas proteasenya, yang mengaktivasi protease komplemen lainnya. Hal ini menyebabkan produksi kaskade katalisis yang memperbesar sinyal oleh arus balik positif yang dikontrol.[27] Hasil kaskade adalah produksi peptid yang menarik sel imun, meningkatkan vascular permeability, dan opsonin permukaan patogen, menandai kehancurannya. This Pemasukan komplemen juga dapat membunuh sel secara langsung dengan menyerang membran plasma mereka.[23]

[sunting] Perisai selular sistem imun bawaan

Gambar darah manusia dari mikroskop elektron. Dapat terlihat sel darah merah, dan juga terlihat sel darah putih termasuk limfosit, monosit, neutrofil dan banyak platelet kecil lainnya. Leukosit (sel darah putih) bergerak sebagai organisme selular bebas dan merupakan "lengan" kedua sistem imun bawaan.[5] Leukosit bawaan termasuk fagosit (makrofag, neutrofil, dan sel dendritik), mastosit, eosinofil, basofil dan sel pembunuh alami. Sel tersebut mengidentifikasikan dan membunuh patogen dengan menyerang patogen yang lebih besar melalui kontak atau dengan menelan dan lalu membunuh mikroorganisme. [25] Sel bawaan juga merupakan mediator penting pada kativasi sistem imun adaptif.[3] Fagositosis adalah fitur imunitas bawaan penting yang dilakukan oleh sel yang disebut fagosit. Fagosit menelan, atau memakan patogen atau partikel. Fagosit biasanya berpatroli mencari patogen, tetapi dapat dipanggil ke lokasi spesifik oleh sitokin.[5] Ketika patogen ditelan oleh fagosit, patogen terperangkap di vesikel intraselular yang

disebut fagosom, yang sesudah itu menyatu dengan vesikel lainnya yang disebut lisosom untuk membentuk fagolisosom. Patogen dibunuh oleh aktivitas enzim pencernaan atau respiratory burst yang mengeluarkan radikal bebas ke fagolisosom.[28][29] Fagositosis berevolusi sebagai sebuah titik pertengahan penerima nutrisi, tetapi peran ini diperluas di fagosit untuk memasukan menelan patogen sebagai mekanisme pertahanan.[30] Fagositosis mungkin mewakili bentuk tertua pertahanan, karena fagosit telah diidentifikasikan ada pada vertebrata dan invertebrata.[31] Neutrofil dan makrofaga adalah fagosit yang berkeliling di tubuh untuk mengejar dan menyerang patogen.[32] Neutrofil dapat ditemukan di sistem kardiovaskular dan merupakan tipe fagosit yang paling berlebih, normalnya sebanyak 50% sampai 60% jumlah peredaran leukosit.[33] Selama fase akut radang, terutama sebagai akibat dari infeksi bakteri, neutrofil bermigrasi ke tempat radang pada proses yang disebut chemotaksis, dan biasanya sel pertama yang tiba pada saat infeksi. Makrofaga adalah sel serba guna yang terletak pada jaringan dan memproduksi susunan luas bahan kimia termasuk enzim, protein komplemen, dan faktor pengaturan seperti interleukin 1.[34] Makrofaga juga beraksi sebagai pemakan, membersihkan tubuh dari sel mati dan debris lainnya, dan sebagai sel penghadir antigen yang mengaktivasi sistem imun adaptif.[3] Sel dendritik adalah fagosit pada jaringan yang berhubungan dengan lingkungan luar; oleh karena itu, mereka terutama berada di kulit, hidung, paru-paru, perut, dan usus.[35] Mereka dinamai untuk kemiripan mereka dengan dendrit, memiliki proyeksi mirip dengan dendrit, tetapi sel dendritik tidak terhubung dengan sistem saraf. Sel dendritik merupakan hubungan antara sistem imun adaptif dan bawaan, dengan kehadiran antigen pada sel T, salah satu kunci tipe sel sistem imun adaptif.[35] Mastosit terletak di jaringan konektif dan membran mukosa dan mengatur respon peradangan.[36] Mereka berhubungan dengan alergi dan anafilaksis.[33] Basofil dan eosinofil berhubungan dengan neutrofil. Mereka mengsekresikan perantara bahan kimia yang ikut serta melindungi tubuh terhadap parasit dan memainkan peran pada reaksi alergi, seperti asma.[37] Sel pembunuh alami adalah leukosit yang menyerang dan menghancurkan sel tumor, atau sel yang telah terinfeksi oleh virus.[38]

[sunting] Imunitas adaptif
Artikel utama untuk bagian ini adalah: Sistem imun adaptif Imunitas adaptif berevolusi pada vertebrata awal dan membuat adanya respon imun yang lebih kuat dan juga memori imunologikal, yang tiap patogen diingat oleh tanda antigen. [39] Respon imun adaptif spesifik-antigen dan membutuhkan pengenalan antigen "bukan sendiri" spesifik selama proses disebut presentasi antigen. Spesifisitas antigen menyebabkan generasi respon yang disesuaikan pada patogen atau sel yang terinfeksi patogen. Kemampuan tersebut ditegakan di tubuh oleh "sel memori". Patogen akan menginfeksi tubuh lebih dari sekali, sehingga sel memori tersebut digunakan untuk segera memusnahkannya.

[sunting] Limfosit
Sel sistem imun adaptif adalah tipe spesial leukosit yang disebut limfosit. Sel B dan sel T adalah tipe utama limfosit dan berasal dari sel batang hematopoietik pada sumsum tulang. [25] Sel B ikut serta pada imunitas humoral, sedangkan sel T ikut serta pada respon imun selular.

Hubungan sel T dengan Major histocompatibility complex kelas I atau Major histocompatibility complex kelas II, dan antigen (merah) Baik sel B dan sel T membawa molekul reseptor yang mengenali target spesifil. Sel T mengenali target bukan diri sendiri, seperti patogen, hanya setelah antigen (fragmen kecil patogen) telah diproses dan disampaikan pada kombinasi dengan reseptor "sendiri" yang disebut molekul major histocompatibility complex (MHC). Terdapat dua subtipe utama sel T: sel T pembunuh dan sel T pembantu. Sel T pemnbunuh hanya mengenali antigen dirangkaikan pada molekul kelas I MHC, sementara sel T pembantu hanya mengenali antigen dirangkaikan pada molekul kelas II MHC. Dua mekanisme penyampaian antigen tersebut memunculkan peran berbeda dua tipe sel T. Yang ketiga, subtipe minor adalah sel T γδ yang mengenali antigen yang tidak melekat pada reseptor MHC.[40] Reseptor antigel sel B adalah molekul antibodi pada permukaan sel B dan mengenali semua patogen tanpa perlu adanya proses antigen. Tiap keturunan sel B memiliki antibodi yang berbeda, sehingga kumpulan resptor antigen sel B yang lengkap melambangkan semua antibodi yang dapat diproduksi oleh tubuh.[25] [sunting] Sel T pembunuh

Sel T pembunuh secara langsung menyerang sel lainnya yang membawa antigen asing atau abnormal di permukaan mereka.[41] Sel T pembunuh adalah sub-grup dari sel T yang membunuh sel yang terinfeksi dengan virus (dan patogen lainnya), atau merusak dan mematikan patogen.[42] Seperti sel B, tiap tipe sel T mengenali antigen yang berbeda. Sel T pembunuh diaktivasi ketika reseptor sel T mereka melekat pada antigen spesifik pada kompleks dengan reseptor kelas I MHC dari sel lainnya. Pengenalan MHC ini:kompleks antigen dibantu oleh co-reseptor pada sel T yang disebut CD8. Sel T lalu berkeliling pada tubuh untuk mencari sel yang reseptor I MHC mengangkat antigen. Ketika sel T yang aktif menghubungi sel lainnya, sitotoksin dikeluarkan yang membentuk pori pada membran plasma sel, membiarkan ion, air dan toksin masuk. Hal ini menyebabkan sel mengalami apoptosis.[43] Sel T pembunuh penting untuk mencegah replikasi virus. Aktivasi sel T dikontrol dan membutuhkan sinyal aktivasi antigen/MHC yang sangat kuat, atau penambahan aktivasi sinyak yang disediakan oleh sel T pembantu.[43] [sunting] Sel T pembantu Sel T pembantu mengatur baik respon imun bawaan dan adaptif dan membantu menentukan tipe respon imun mana yang tubuh akan buat pada patogen khusus.[44][45]

Sel tersebut tidak memiliki aktivitas sitotoksik dan tidak membunuh sel yang terinfeksi atau membersihkan patogen secara langsung, namun mereka mengontrol respon imun dengan mengarahkan sel lain untuk melakukan tugas tersebut. Sel T pembantu mengekspresikan reseptor sel T yang mengenali antigen melilit pada molekul MHC kelas II. MHC:antigen kompleks juga dikenali oleh reseptor sel pembantu CD4 yang merekrut molekul didalam sel T yang bertanggung jawab untuk aktivasi sel T. Sel T pembantu memiliki hubungan lebih lemah dengan MHC:antigen kompleks daripada pengamatan sel T pembunuh, berarti banyak reseptor (sekitar 200-300) pada sel T pembantu yang harus dililit pada MHC:antigen untuk mengaktifkan sel pembantu, sementara sel T pembunuh dapat diaktifkan dengan pertempuran molekul MHC:antigen. Kativasi sel T pembantu juga membutuhkan durasi pertempuran lebih lama dengan sel yang memiliki antigen.[46] Aktivasi sel T pembantu yang beristirahat menyebabkan dikeluarkanya sitokin yang memperluas aktivitas banyak tipe sel. Sinyak sitokin yang diproduksi oleh sel T pembantu memperbesar fungsi mikrobisidal makrofag dan aktivitas sel T pembunuh.[5] Aktivasi sel T pembantu menyebabkan molekul diekspresikan pada permukaan sel T, seperti CD154), yang menyediakan sinyal stimulasi ekstra yang dibutuhkan untuk mengaktifkan sel B yang memproduksi antibodi.[47] [sunting] Sel T γδ Sel T γδ memiliki reseptor sel T alternatif yang opposed berlawanan dengan sel T CD4+ dan CD8+ (αβ) dan berbagi karakteristik dengan sel T pembantu, sel T sitotoksik dan sel NK. Kondisi yang memproduksi respon dari sel T γδ tidak sepenuhnya dimengerti. Seperti sel T 'diluar kebiasaan' menghasilkan reseptor sel T konstan, seperti CD1d yang dibatasi sel T pembunuh alami, sel T γδ mengangkang perbatasan antara imunitas adaptif dan bawaan.[48] Sel T γδ adalah komponen dari imunitas adaptif karena mereka menyusun kembali gen reseptor sel T untuk memproduksi perbedaan reseptor dan dapat mengembangkan memori fenotipe. Berbagai subset adalah bagian dari sistem imun bawaan, karena reseptor sel T atau reseptor NK yang dilarang dapat digunakan sebagai reseptor pengenalan latar belakang, contohnya, jumlah besar respon sel T Vγ9/Vδ2 dalam waktu jam untuk molekul umum yang diproduksi oleh mikroba, dan melarang sel T Vδ1+ T pada epithelium akan merespon untuk menekal sel epithelial.[49]

Sebuah antibodi terbuat dari dua rantai berat dan dua rantai ringan. Variasi unik daerah membuat antibodi mengenali antigen yang cocok.[41]

[sunting] Antibodi dan limfosit B Sel B mengidentifikasi patogen ketika antibodi pada permukaan melekat pada antigen asing.[50] Antigen/antibodi kompleks ini diambil oleh sel B dan diprosesi oleh proteolisis ke peptid. Sel B lalu menampilkan peptid antigenik pada permukaan molekul MHC kelas II. Kombinasi MHC dan antigen menarik sel T pembantu yang cocok, yang melepas limfokin dan mengaktivkan sel B.[51] Sel B yang aktif lalu mulai membagi keturunannya (sel plasma) mengeluarkan jutaan kopi limfa yang mengenali antigen itu. Antibodi tersebut diedarkan pada plasma darah dan limfa, melilit pada patogen menunjukan antigen dan menandai mereka untuk dihancurkan oleh aktivasi komplemen atau untuk penghancuran oleh fagosit. Antibodi juga dapat menetralisir tantangan secara langsung dengan melilit toksin bakteri atau dengan mengganggu dengan reseptor yang digunakan virus dan bakteri untuk menginfeksi sel.[52] [sunting] Imunitas adaptif alternatif Walaupun molekul klasik sistem imun adaptif (seperti antibodi dan reseptor sel T) ada hanya pada vertebrata berahang, molekul berasal dari limfosit ditemukan pada vertebrata tak berahang primitif, seperti lamprey dan hagfish. Binatang tersebut memproses susunan besar molekul disebut reseptor limfosit variabel yang seperti reseptor antigen vertebrata berahang, diproduksi dari jumlah kecil (satu atau dua) gen. Molekul tersebut dipercaya melilit pada patogen dengan cara yang sama dengan antibodi dan dengan tingkat spesifisitas yang sama.[53]

[sunting] Memori imunologikal
Ketika sel B dan sel T diaktivasi dan mulai untuk bereplikasi, beberapa dari keturunan mereka akan menjadi memori sel yang hidup lama. Selama hidup binatang, memori sel tersebut akan mengingat tiap patogen spesifik yang ditemui dan dapat melakukan respon kuat jika patogen terdeteksi kembali. Hal ini adaptif karena muncul selama kehidupan individu sebagai adaptasi infeksi dengan patogen tersebut dan mempersiapkan imunitas untuk tantangan di masa depan. Memori imunologikal dapat berbentuk memori jangka pendek pasif atau memori jangka panjang aktif.

[sunting] Memori pasif
Imunitas pasif biasanya berjangka pendek, hilang antara beberapa hari sampai beberapa bulan. Bayi yang baru lahir tidak memiliki eksposur pada mikroba dan rentan terhadap infeksi. Beberapa lapisan perlindungan pasif disediakan oleh ibu. Selama kehamilan, tipe antibodi yang disebut IgG, dikirim dari ibu ke bayi secara langsung menyebrangi plasenta, sehingga bayi manusia memiliki antibodi tinggi bahkan saat lahir, dengan spesifisitas jangkauan antigen yang sama dengan ibunya.[54] Air susu ibu juga mengandung antibodi yang dikirim ke sistem pencernaan bayi dan melindungi bayi terhadap infeksi bakteri sampai bayi dapat mengsintesiskan antibodinya sendiri.[55] Imunitas pasif ini disebabkan oleh fetus yang tidak membuat memori sel atau antibodi apapun, tetapi hanya meminjam. Pada ilmu kedokteran, imunitas pasif protektif juga dapat dikirim dari satu individu ke individu lainnya melalui serum kaya-antibodi.[56]

Lama waktu respon imun dimulai dengan penemuan patogen dan menyebabkan formasi memori imunologikal aktif.

[sunting] Memori aktif dan imunisasi
Memori aktif jangka panjang didapat diikuti dengan infeksi oleh aktivasi sl B dan T. Imunitas aktif dapat juga muncul buatan, yaitu melalui vaksinasi. Prinsip di belakang vaksinasi (juga disebut imunisasi) adalah ntuk memperkenalkan antigen dari patogen untuk menstimulasikan sistem imun dan mengembangkan imunitas spesifik melawan patogen tanpa menyebabkan penyakit yang berhubungan dengan organisme tersebut.[5] Hal ini menyebabkan induksi respon imun dengan sengaja berhasil karena mengeksploitasi spesifisitas alami sistem imun. Dengan penyakit infeksi tetap menjadi salah satu penyebab kematian pada populasi manusia, vaksinasi muncul sebagai manipulasi sistem imun manusia yang paling efektif.[57][25] Kebanyakan vaksin virus berasal dari selubung virus, sementara banyak vaksin bakteri berasal dari komponen aselular dari mikroorganisme, termasuk komponen toksin yang tidak melukai.[5] Sejak banyak antigen berasal dari vaksin aselular tidak dengan kuat menyebabkan respon adaptif, kebanyakan vaksin bakter disediakan dengan penambahan ajuvan yang mengaktifkan sel yang memiliki antigen pada sistem imun bawaan dan memaksimalkan imunogensitas.[58]

[sunting] Gangguan pada imunitas
Sistem imun adalah struktur efektif yang menggabungkan spesifisitas dan adaptasi. Kegagalan pertahanan dapat muncul, dan jatuh pada tiga kategori: defisiensi imun, autoimunitas, dan hipersensitivitas.

[sunting] Defisiensi imun
Defisiensi imun muncul ketika satu atau lebih komponen sistem imun tidak aktif. Kemampuan sistem imun untuk merespon patogen berkurang pada baik golongan muda dan golongan tua, dengan respon imun mulai untuk berkurang pada usia sekitar 50 tahun karena immunosenescence.[59][60] Di negara-negara berkembang, obesitas, penggunaan alkohol dan narkoba adalah akibat paling umum dari fungsi imun yang buruk.[60] Namun, kekurangan nutrisi adalah akibat paling umum yang menyebabkan defisiensi imun di negara berkembang.[60] Diet kekurangan cukup protein berhubungan dengan gangguan imunitas selular, aktivitas komplemen, fungsi fagosit, konsentrasi antibodi IgA dan produksi sitokin. Defisiensi nutrisi seperti zinc, selenium, zat besi, tembaga, vitamin A, C, E, dan B6, dan asam folik (vitamin B9) juga mengurangi respon imun.[60] Defisiensi imun juga dapat didapat.[5] Chronic granulomatous disease, penyakit yang menyebabkan kemampuan fagosit untuk menghancurkan fagosit berkurang, adalah contoh dari defisiensi imun dapatan. AIDS dan beberapa tipe kanker menyebabkan defisiensi imun dapatan.[61][62]

[sunting] Autoimunitas
Respon imun terlalu aktif menyebabkan disfungsi imun yang disebut autoimunitas. Sistem imun gagal untuk memusnahkan dengan tepat antara diri sendiri dan bukan diri sendiri, dan menyerang bagian dari tubuh. Dibawah keadaan sekitar yang normal, banyak sel T dan antibodi bereaksi dengan peptid sendiri.[63] Satu fungsi sel (terletak di thymus dan sumsum tulang) adalah untuk memunculkan limfosit muda dengan antigen sendiri yang diproduksi pada tubuh dan untuk membunuh sel tersebut yang dianggap antigen sendiri, mencegah autoimunitas.[50]

[sunting] Hipersensitivitas
Hipersensitivitas adalah respon imun yang merusak jaringan tubuh sendiri. Mereka terbagi menjadi empat kelas (tipe I – IV) berdasarkan mekanisme yang ikut serta dan lama waktu reaksi hipersensitif. Tipe I hipersensitivitas sebagai reaksi segera atau anafilaksis sering berhubungan dengan alergi. Gejala dapat bervariasi dari ketidaknyamanan sampai kematian. Hipersensitivitas tipe I ditengahi oleh IgE yang dikeluarkan dari mastosit dan basofil.[64] Hipersensitivitas tipe II muncul ketika antibodi melilit pada antigen sel pasien, menandai mereka untuk penghancuran. Hal ini juga disebut hipersensitivitas sitotoksik, dan ditengahi oleh antibodi IgG dan IgM.[64] Kompleks imun (kesatuan antigen, protein komplemen dan antibodi IgG dan IgM) ada pada berbagai jaringan yang menjalankan reaksi hipersensitivitas tipe III.[64] Hipersensitivitas tipe IV (juga diketahui sebagai selular) biasanya membutuhkan waktu antara dua dan tiga hari untuk berkembang. Reaksi tipe IV ikut serta dalam berbagai autoimun dan penyakit infeksi, tetapi juga dalam ikut serta dalam contact dermatitis. Reaksi tersebut ditengahi oleh sel T, monosit dan makrofaga.[64]

[sunting] Pertahanan dan mekanisme lainnya
Sistem imun bangun dengan vertebrata pertama, sementara invertebrata tidak menghasilkan limfosit atau respon humoral yang berdasarkan antibodi.[1] Namun, banyak spesies yang memanfaatkan mekanisme yang muncul sebagai tanda aspek imunitas vertebrata tersebut. Imunitas muncul pada bentuk kehidupan yang paling sederhana, dengan bakteri menggunakan mekanisme pertahanan unik yang disebut sistem modifikasi restriksi untuk melindungi diri mereka dari patogen virus yang disebut bakteriofag.[65] Reseptor pengenalan susunan adalah protein yang digunakan oleh hampir semua organisme untuk mengidentifikasi molekul yang berhubungan dengan patrogen mikrobial. Peptid antimikrobial yang disebut defensin adalah komponen evolusioner sistem imun bawaan yang ditemukan pada semua jenis binatang dan tumbuan, dan menampilkan bentuk utama imunitas sistemik invertebrata.[1] Sistem komplemen dan sel fagositik juga dimanfaatkan oelh hampir semua bentuk kehidupan invertebrata. Ribonuklease dan jalan gangguan RNA digunakan pada semua eukariot, dan diketahui memainkan peran pada respon imun terhadap virus dan material genetika asing lainnya. [66] Tidak seperti binatang, tanaman memiliki sedikit sel fagositik, dan kebanyakan respon imun tumbuhan melibatkan sinyak sistemik bahan kimia yang dikirim melalui tanaman.

[67] Ketika bagian dari tumbuhan terinfeksi, tumbuhan memproduksi respon hipersensitif, untuk sel pada tempat infeksi mengalami apoptosis cepat untuk mencegah penyebaran penyakit terhadap bagian lain tumbuhan. Perlawanan sistemik dapatan adalah tipe respon pertahanan yang digunakan oleh tumbuhan yang mengubah seluruh tumbuhan melawan pada penyebab infeksi.[67] Mekanisme menghilangkan RNA sangat penting pada sistem respon karena mereka dapat menghalangi replikasi virus.[68]

[sunting] Imunologi tumor
Makrofaga telah mengidentifikasikan sel kanker. Ketika melampaui batas menyatukan dengan sel kanker, makrofaga (sel putih yang lebih kecil) akan menyuntkan toksin yang akan membunuh sel tumor. Imunoterapi untuk perawatan kanker merupakan salah satu hal yang diteliti oleh penelitian medis.[69] Peran penting imunitas lainnya adalah untuk menemukan dan menghancurkan tumor. Sel tumor menunjukan antigen yang tidak ditemukan pada sel normal. Untuk sistem imun, antigen tersebut muncul sebagai antigen asing dan kehadiran mereka menyebabkan sel imun menyerang sel tumor. Antigen yang ditunjukan oleh tumor memiliki beberapa sumber;[70] beberapa berasal dari virus onkogenik seperti papillomavirus, yang menyebabkan kanker leher rahim,[71] sementara lainnya adalah protein organisme sendiri yang muncul pada tingkat rendah pada sel normal tetapi mencapai tingkat tinggi pada sel tumor. Salah satu contoh adalah enzim yang disebut tirosinase yang ketika ditunjukan pada tingkat tinggi, merubah beberapa sel kulit (seperti melanosit) menjadi tumor yang disebut melanoma.[72][73] Kemungkinan sumber ketiga antigen tumor adalah protein yang secara normal penting untuk mengatur pertumbuhan dan proses bertahan hidup sel, yang umumnya bermutasi menjadi kanker membujuk molekul sehingga sel termodifikasi sehingga meningkatkan keganasan sel tumor. Sel yang termodifikasi sehingga meningkatkan keganasan sel tumor disebut onkogen.[70][74][75] Respon utama sistem imun terhadap tumor adalah untuk menghancurkan sel abnormal menggunakan sel T pembunuh, terkadang dengan bantuan sel T pembantu.[73][76] Antigen tumor ada pada molekul MHC kelas I pada cara yang mirip dengan antigen virus. Hal ini menyebabkan sel T pembunuh mengenali sel tumor sebagai sel abnormal. [77] Sel NK juga membunuh sel tumor dengan cara yang mirip, terutama jika sel tumor memiliki molekul MHC kelas I lebih sedikit pada permukaan mereka daripada keadaan normal; hal ini merupakan fenomena umum dengan tumor.[78] Terkadang antibodi dihasilkan melawan sel tumor yang menyebabkan kehancuran mereka oleh sistem komplemen.[74] Beberapa tumor menghindari sistem imun dan terus berkembang sampai menjadi kanker. [79] Sel tumor sering memiliki jumlah molekul MHC kelas I yang berkurang pada permukaan mereka, sehingga dapat menghindari deteksi oleh sel T pembunuh.[77] Beberapa sel tumor juga mengeluarkan produk yang mencegah respon imun; contohnya dengan mengsekresikan sitokin TGF-β, yang menekan aktivitas makrofaga dan limfosit. [80] Toleransi imunologikal dapat berkembang terhadap antigen tumor, sehingga sistem imun tidak lagi menyerang sel tumor.[79]

Makrofaga dapat meningkatkan perkembangan tumor [81] ketika sel tumor mengirim sitokin yang menarik makrofaga yang menyebabkan dihasilkannya sitokin dan faktor pertumbuhan yang memelihara perkembangan tumor. Kombinasi hipoksia pada tumor dan sitokin diproduksi oleh makrofaga menyebabkan sel tumor mengurangi produksi protein yang menghalangi metastasis dan selanjutnya membantu penyebaran sel kanker.

[sunting] Regulasi fisiologis
Hormon dapat mengatur sensitivitas sistem imun. Contohnya, hormon seks wanita diketahui menstimulasi baik respon imun adaptif [82] dan respon imun bawaan.[83] Beberapa penyakit autoimun seperti lupus erythematosus menyerang wanita secara istimewa, dan serangan mereka sering bertepatan dengan pubertas. Androgen seperti testosteron nampak menekan sistem imun.[84] Hormon lainnya muncul untuk mengatur sistem imun, dan yang paling penting adalah prolaktin, hormon pertumbuhan dan vitamin D.[85][86] Diduga bahwa kemunduran progresif pada tingkat hormon dengan umur bertanggung jawab untuk melemahnya respon imun pada individual yang menua.[87] Conversely, some hormones are regulated by the immune system, notably thyroid hormone activity.[88] Sistem imun bertambah dengan tidur dan beristirahat,[89] dan diganggu oleh kondisi stress.[90] Diet dapat mempengaruhi sistem imun, contohnya buah segar, sayur dan makanan yang kaya akan asam lemak dapat membantu perkembangan sistem imun yang sehat.[91] Demikian dengan perkembangan prenatal dapat menyebabkan gangguan panjang imunitas.[92] Pada pengobatan tradisional, beberapa obat-obatan tradisional dipercaya dapat menstimulasi imunitas, seperti ekinasea, akar manis, ginseng, astragalus, saga, bawang putih, sangitan, jamur shiitake dan lingzhi, dan hyssop, dan juga madu. Penelitian telah menunjukan bahwa obat-obatan tradisional dapat menstimulasi sistem imun,[93] walaupun cara aksi mereka kompleks dan sulit untuk dikarakterisasikan.

[sunting] Manipulasi pada kedokteran
Obat imunosupresif deksametason Respon imun dapat dimanipulasi untuk menekan respon yang disebabkan dari autoimunitas, alergi dan penolakan transplantasi, dan untuk menstimulasi respon protektif terhadap patogen yang sebagian besar menghindari sistem imun. Obat imunosupresif digunakan untuk mengontrol kekacauan autoimun atau radang ketika terlalu banyak kerusakan jaringan yang muncul, dan untuk mencegah penolakan transplantasi setelah transplantasi organ.[25][94] Obat anti radang sering digunakan untuk mengontrol pengaruh peradangan. Glukokortikoid adalah obat anti radang yang paling kuat, namun, obat tersebut memiliki banyak efek samping (seperti obesitas pusat, hiperglikemia, osteoporosis) dan penggunaan obat tersebut harus dikontrol dengan baik.[95] Oleh sebab itu, dosis obat anti radang yang lebih sedikit sering digunakan pada hubungan dengan sitotoksik atau obat imunosupresif seperti metotreksat atau azatioprin. Obat sitotoksik mencegah respon imun

dengan membunuh sel yang terbagi seperti sel T yang sudah diaktivasi. Namun, pembunuhan sel dilakukan sembarangan dan organ lain serta tipe sel terpengaruh, yang dapat menyebabkan efek samping berupa toksin.[94] Obat imunosupresif seperti siklosporin mencegah sel T dari merespon sinyal dengan menghalangi jalur transduksi sinyal.[96] Obat yang lebih besar (>500 Da) dapat menyebabkan netralisir respon imun, terutama jika obat digunakan berulang-ulang atau pada dosis yang lebih besar. Batasan efektifitas obat berdasarkan dari peptid dan protein yang lebih besar (yang lebih besar daripada 6000 Da). Pada beberapa kasus, obat tersebut tidak imunogenik, tetapi dapat dilakukan dengan campuran imunogenik, seperti pada kasus taksol. Metode komputerisasi telah dikembangkan untuk memprediksi imunogenisitas peptid dan protein yang berguna untuk menentukan antibodi pengobatan, menaksir kejahatan mutasi pada partikel virus, dan validasi perawatan obat berdasarkan peptid. Teknik awal menyandarkan pada observasi bahwa hidrofil asam amino dilambangkan pada daerah epitop daripada hidrofob asam amino;[97] namun, banyak perkembangan terkini bersandar pada teknik pembelajaran mesin menggunakan basis data epitop yang diketahui ada, biasanya pada protein yang sudah diteliti dengan baik sebagai kumpulan percobaan.[98] Basis data yang dapat diakses di depan umum telah didirikan untuk mengkatalogkan epitop dari patogen yang diketahui dapat dikenali oleh sel B.[99] Penelitian berdasarkan bioinformatika terhadal imunogenisitas merujuk pada sebutan imunoinformatika.[100]

[sunting] Manipulasi oleh patogen
Keberhasilan patogen bergantung pada kemampuannya untuk menghindar dari respon imun. Patogen telah mengembangkan beberapa metode yang menyebabkan mereka dapat menginfeksi sementara patogen menghindari kehancuran akibat sistem imun.[101] Bakteri sering menembus perisai fisik dengan mengeluarkan enzim yang mendalami isi perisai, contohnya dengan menggunakan sistem tipe II sekresi.[102] Sebagai kemungkinan, patogen dapat menggunakan sistem tipe III sekresi. Mereka dapat memasukan tuba palsu pada sel, yang menyediakan saluran langsung untuk protein agar dapat bergerak dari patogen ke pemilik tubuh; protein yang dikirim melalui tuba sering digunakan untuk mematikan pertahanan.[103] Strategi menghindari digunakan oleh beberapa patogen untuk mengelakan sistem imun bawaan adalah replikasi intraselular (juga disebut patogenesis intraselular). Disini, patogen mengeluarkan mayoritas lingkaran hidupnya kedalam sel yang dilindungi dari kontak langsung dengan sel imun, antibodi dan komplemen. Beberapa contoh patogen intraselular termasuk virus, racun makanan, bakteri Salmonella dan parasit eukariot yang menyebabkan malaria (Plasmodium falciparum) dan leismaniasis (Leishmania spp.). Bakteri lain, seperti Mycobacterium tuberculosis, hidup didalam kapsul protektif yang mencegah lisis oleh komplemen.[104] Banyak patogen mengeluarkan senyawa yang mengurangi respon imun atau mengarahkan respon imun ke arah yang salah.[101] Beberapa bakteri membentuk biofilm untuk melindungi diri mereka dari sel dan protein sistem imun. Biofilm ada pada banyak infeksi yang berhasil, seperti Pseudomonas aeruginosa kronik dan Burkholderia cenocepacia karakteristik infeksi sistik fibrosis.[105] Bakteri lain menghasilkan protein permukaan yang melilit pada antibodi, mengubah

mereka menjadi tidak efektif; contoh termasuk Streptococcus (protein G), Staphylococcus aureus (protein A), dan Peptostreptococcus magnus (protein L).[106] Mekanisme yang digunakan oleh virus untuk menghindari sistem imun adaptif lebih menyulitkan. Kemunculan paling sederhana dengan cepat merubah epitop yang tidak esensial (asam amino dan gula) pada permukaan penyerang, sementara membiarkan epitop esensial disembunyikan. HIV tetap memutasikan protein pada sampul virus yang esensial untuk masuk pada sel target. Perubahan tersebut pada antigen dapat menjelaskan kegagalan vaksin yang diarahkan pada protein tersebut.[107] Antigen tersembunyi dengan molekul pemilik tubuh adalah strategi umum lainnya untuk menghindari deteksi oleh sistem imun. Pada HIV, sampul yang menutupi virus dibentuk dari membran paling luar sel; virus tersembunyi membuat sistem imun kesulitan untuk mengidentifikasikan mereka sebagai benda asing.[108]

[sunting] Sejarah imunologi
Artikel utama untuk bagian ini adalah: Sejarah imunologi

Paul Ehrlich Imunologi adalah ilmu yang mempelajari struktur dan fungsi imunitas. Imunologi berasal dari ilmu kedokteran dan penelitian awal akibat dari imunitas sampai penyakit. Sebutan imunitas yang pertama kali diketahui adalah selama wabah Athena tahun 430 SM. Thucydides mencatat bahwa orang yang sembuh dari penyakit sebelumnya dapat mengobati penyakit tanpa terkena penyakit sekali lagi.[109] Observasi imunitas nantinya diteliti oleh Louis Pasteur pada perkembangan vaksinasi dan teori penyakit kuman.[110] Teori Pasteur merupakan perlawanan dari teori penyakit saat itu, seperti teori penyakit miasma. Robert Koch membuktikan teori ini pada tahun 1891, untuk itu ia diberikan hadiah nobel pada tahun 1905. Ia membuktikan bahwa mikroorganisme merupakan penyebab dari penyakit infeksi.[111] Virus dikonfirmasi sebagai patogen manusia pada tahun 1901 dengan penemuan virus demam kuning oleh Walter Reed.[112] Imunologi membuat perkembangan hebat pada akhir abad ke-19 melalui perkembangan cepat pada penelitian imunitas humoral dan imunitas selular.[113] Paul Ehrlich mengusulkan teori rantai-sisi yang menjelaskan spesifisitas reaksi antigen-antibodi. Kontribusinya pada pengertian imunitas humoral diakui dengan penghargaan hadiah nobel pada tahun 1908, yang bersamaan dengan penghargaan untuk pendiri imunologi selular, Elie Metchnikoff.[114]

[sunting] Lihat pula

UMAR ZEIN “Dan pada sebagian malam bertahajjudlah sebagai tambahan ibadah bagimu. Mudahmudahan Tuhanmu mengangkatmu ketempat yang terpuji “. (Al-Quran, Surah Al Isra’: 79). “Orang yang sabar, orang yang benar, orang yang taat, orang yang menginfakkan hartanya dan orang yang memohon ampunan pada waktu sebelum fajar”. (Al-Quran, Surah Ali ‘Imran: 17). Mengapa Allah menyuruh kita bangun di tengah malam untuk melaksanakan shalat Tahajjud? Apa rahasia di balik perintah Allah tersebut? Apakah betul orang-orang yang bertahajjud di tengah malam akan diangkat Allah ke tempat yang terpuji? Rasulullah SAW pernah bersabda: “Hendaklah kalian bangun malam. Sebab hal itu merupakan kebiasaan orang-orang shaleh sebelum kalian. Wahana pendekatan diri kepada Allah SWT, penghapus dosa dan pengusir penyakit dari dalam tubuh”. (HR atTirmidzi). Beberapa Data Ilmiah Tahajjud: 1. Dr. Abdul Hamid Diyab dan Dr. Ah Qurquz mengatakan, bahwa shalat malam dapat meningkatkan daya tahan (imunitas) tubuh terhadap berbagai penyakit yang menyerang jantung, otak dan organ-organ tubuh yang lain. Karena orang yang bangun tidur malam hari, berarti menghentikan kebiasaan tidur dan ketenangan terlalu lama yang merupakan salah satu faktor pencetus terjadinya penyumbatan pembuluh darah. Bangun dari kondisi tidur, kemudian berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri dengan berwudhu’, lalu mempersiapkan diri melakukan aktifitas shalat untuk menghadap Allah Sang Pencipta, akan menenangkan hati dari segala kegundahan dan kegelisahan hidup yang dialami. 2. Bangun malam dapat menjadikan tubuh bugar dan bersemangat, serta terhindar dari penyakit punggung pada usia tua. Dalam salah satu penelitian medis terbukti bahwa orang-orang tua yang terbiasa shalat malam pada bulan Ramadhan relatif lebih aman dari serangan penyakit pada tulang punggung dari pada orang-orang tua yang tidak shalat malam. 3. Shalat Tahajjud memiliki kandungan Aspek meditasi dan relaksasi yang cukup besar, dan memiliki pengaruh terhadap kejiwaan yang dapat digunakan sebagai strategi penanggulangan adaptif pereda stres. Sebagaimana juga dijelaskan Dr.M.Soleh bahwa stress punya pengaruh yang besar terhadap ketahanan tubuh seseorang. Dan stres, baik fisik maupun psikis menyebabkan terjadinya pengeluaran cairan tubuh (hormon) cukup banyak dan penguapan dari tubuh yang lebih cepat. 4. Dalam bidang bio-teknologi, shalat Tahajjud dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan respon ketahanan tubuh dan menghilangkan rasa nyeri pasien yang terkena penyakit

kanker. Dalam bidang ini pula shalat Tahajud dapat meningkatkan respons emosional positif yang efektif dalam menegakkan anastesis pra bedah. 5.Shalat Tahajjudyangdikerjakandengan penuh kesungguhan, khusuk, tepat, ikhlas dan kontinyu diyakini dapat menumbuhkan persepsi dan motivasi positif. Dan respons emosi positif (positive thinking) dapat menghindarkan reaksi stres. Mengapa harus tengah malam? Kata tahajjud terambil dari kata hujud yang berarti tidur. Kata Tahajjud dipahami alBiqai dalam arti tinggalkan tidur untuk melakukan shalat. Shalat ini juga dinamakan shalat lail/shalat malam, karena dilaksanakan di waktu malam yang sama dengan waktutidur. Apa rahasia bangun di tengah malam untuk shalat Tahajjud? Hal ini telah dijawab Allah pada surah Al-Muzzammil ayat 6-7, yang artinya kira-kira: “Sesungguhnya bangun diwaktu malam, dia lebih berat dan bacaan di waktu itu lebih berkesan. Sesungguhnya bagimu di siang hari kesibukan yang panjang”. Dari ayat tersebut ada dua hal yang begitu mengesankan kita. Pertama, sengaja untuk bangun malam. Kedua, bacaan di malam hari memiliki efek dan dampak yang lebih mengesankan. Sengaja bangun malam hanya bias dilakukan oleh orang yang memiliki niat kuat. Niat yang kuat pasti didorong oleh motivasi yang kuat, sehingga pekerjaan tersebut akan dilakukan dengan ikhlas dan bersungguh-sungguh. Apalagi shalat Tahajjud adalah shalat sunnah, Insya Allah orang yang melaksanakan shalat sunnah adalah orang yang memang punya niat yang ikhlas dan motivasi yang kuat. Lain halnya dengan shalat wajib, tidak jarang kita melaksanakan shalat wajib hanya sekedar “gugur kewajiban”. Shalat Tahajjud dilakukan harus setelah tidur, meskipun sejenak. Apa manfaatnya?. Rasulullah SAW sangat memperhatikan hak-hak yang harus didapat tubuh kita. Bahkan ditegaskan bahwa kita wajib memenuhi hak-hak yang harus diperoleh tubuh kita dan di antaranya adalah hak untuk tidur. Sabda Rasullah: “Puasa dan berbukalah, shalat dan tidurlah karena sesungguhnya tubuhmu punya hak yang harus kau penuhi dan sesungguhnya matamu punya hak yang harus kau penuhi dan istrimu (pasanganmu) punya hak yang harus kau penuhi”. (HR. AlBukhari). Tidur adalah keadaan istirahat alami pada berbagai makhluk hidup, termasuk manusia. Pada manusia, tidur adalah penting untuk kesehatan. Tanda-tanda kehidupan seperti kesadaran, denyut jantung dan frekuensi pernafasan mengalami perubahan, yaitu mengalami penurunan atau perlambatan. Dalam tidur normal biasanya fungsi saraf motorik dan saraf sensorik untuk kegiatan yang memerlukan koordinasi dengan sistem saraf pusat akan diblokade/ dihambat, sehingga pada saat tidur cenderung untuk tidak bergerak dan daya tanggap berkurang. Secara sederhana, manusia yang aktif mempertahankan hidupnya dengan bekerja setiap hari, baik siang maupun malam, akan memerlukan istirahat, di antaranya adalah tidur. Tidur adalah suatu proses yang sangat penting bagi manusia, karena dalam tidur terjadi proses pemulihan, proses ini bermanfaat mengembalikan kondisi seseorang pada keadaan semula, sehingga tubuh yang tadinya mengalami kelelahan akan menjadi segar kembali. Bangun tidur pasti pikiran kita lebih terang. Bayangkan dalam 1 hari, jantung kita berdetak 100.000 kali, darah kita mengalir melalui 17 juta mil arteri, urat darah

halus/kapiler dan juga pembuluh vena. Tanpa kita sadari rata-rata sehari kita berbicara 4.000 kata, bernafas sebanyak 20.000 kali, menggerakkan otot-otot besar sebanyak 750 kali dan mengoperasikan 14 miliar sel otak. Dan tidur adalah istirahat yang sangat baik menurut ilmu kesehatan, karena terjadi proses pemulihan sel tubuh, penambahan kekuatan dan otak kita kembali berfungsi dengan sangat baik. Sangatlah tepat jika Allah berkehendak agar shalat Tahajjud dikerjakan setelah tidur. Dengan pikiran yang segar akan membantu kita lebih khusyu’ memaknai ayat-ayat Allah yang kita baca. Bacaan di malam hari lebih mengesankan dibandingkan di siang hari, mengapa demikian?. Berkomunikasi di malam hari kira-kira pukul 02:00 – 04:00, secara umum akan lebih baik, karena kondisi sinyal yang dikirim akan lebih baik. Ini dapat kita buktikan ketika melakukan komunikasi lewat ponsel di waktu tengah malam atau berselancar mengarungi dunia maya lewat internet, kekuatan sinyal yang dipancarkan akan lebih kuat, jelas dan cepat. Komunikasi kita dengan Allah saat Tahajjud, kira-kira dapatlah dianalogikan demikian. Disaat manusia terlelap tidur diselimuti mimpi, kita mampu berkomunikasi dengan Sang Khalik dalam keadaan pikiran tenang dan fisik yang segar, tentulah “komunikasi” akan terjadi dengan “sinyal” yang kuat dan jernih. Dan komunikasi yang kita lakukan semuanya berbasis pada pancaran energi. Meditasi dan Tahajjud Meditasi berarti keheningan, diam dan kesendirian. Keheningan muncul apabila pikiran sadar kita telah berhenti sepenuhnya. John Kehoe, penulis buku terlaris “Mind Power” pernah melakukan tapa brata dengan menyingkirkan diri dari hiruk-pikuk dunia, kemudian menyepi di dalam hutan untuk melakukan meditasi. Hal ini dia lakukan untuk menembus batas kesadaran tertinggi atau lapisan terdalam pikiran bawah sadarnya melalui kesunyian dan pencarian diri. Tahajjud dan Hormon Stres Prof. Dr. Muhammad Sholeh, dari Surabaya, telah membuktikan satu dari sekian banyak ilmu yang terkandung di dalam Al-Quran secara ilmiah menurut Ilmu Kedokteran melalui penelitian disertasi dalam bidang Ilmu Kedokteran pada program pascasarjana Universitas Surabaya, dengan judul “Pengaruh Shalat Tahajjud Terhadap Peningkatan Perubahan Respon Ketahanan Tubuh Imunologik: Suatu Pendekatan Psikoneuroimunologi”. Beliau menyimpulkan, jika anda melakukan shalat Tahajjud secara rutin, benar gerakannya, ikhlas dan khusuk niscaya akan terbebas dari penyakit infeksi dan kanker. Penelitian ini melibatkan 41 responden siswa SMU Luqman Hakim Pondok Pesantren Hidayatullah, Surabaya. Dari 41 siswa, hanya 23 yang sanggup menjalankan shalat Tahajjud selama 1 bulan penuh. Setelah diuji lagi, tinggal 19 siswa yang bertahan shalat Tahajjud selama 2 bulan. Shalat Tahajjud dimulai pukul 02.00 – 03.00 sebanyak 11 rakaat, dengan dua rakaat sebanyak 4 kali dan ditutup shalat witir sebanyak 3 rakaat. Dan selanjutnya, hormone kortisol (hormon stress) dari 19 siswa tersebut diperiksa di 3 laboratorium di Surabaya (Pramitha, Prodia dan Klinika). Kadar kortisol siswa yang shalat Tahajjud dengan rutin berbeda bermakna dengan siswa yang tidak melaksanakan shalat Tahajjud. Mereka yang shalat Tahajjud memiliki kadar hormon kortisol yang rendah. Hal ini menandakan mereka memiliki ketahanan tubuh

yang kuat dan kemampuan individu yang tangguh sehingga mampu menanggulangi masalah-masalah sulit dengan lebih stabil. Hormon kortisol adalah salah satu hormon stres. Kadar hormon ini semakin meninggi ketika kita dalam keadaan stres. Dengan kadar hormon yang tinggi kita lebih mudah berbuat salah, sulit berkonsentrasi dan daya ingat kurang baik. Stres sebenarnya keadaan yang positif bagi kita jika dapat dikendalikan dan dalam keadaan yang masih wajar. Jika berlebihan, maka kadar hormon adrenalin dan hormon kortisol akan meningkat sehingga mengganggu sistem kekebalan tubuh yang akhirnya kita mudah terkena infeksi, juga terjadi gangguan fisiologis berbagai organ dan menimbulkan berbagai penyakit seperti gangguan lambung (maag), asma dan memperburuk penyakit degeneratif kronis (kanker, diabetes, rematik dan lain-lain). Hormon ini oleh pakar kesehatan dijadikan tolok ukur untuk tingkat/derajat stress seseorang. Makin stres seseorang, maka hormon kortisol semakin meninggi dalam darahnya. Hormon kortisol memiliki kadar tertinggi di waktu tengah malam hingga waktu pagi, terutama pagi-pagi sekali (normal di pagi hari berkisar 38-690 mmol/liter, sedangkan malamnya 69-345 mmol/liter). Dengan shalat Tahajjud yang dilakukan secara rutin, ikhlas dan khusuk akan mampu menciptakan karakter baru serta tangguh bagi pelaksananya, sehingga akan memiliki persepsi dan motivasi yang positif serta akan terhindar dari stres. Mungkinkah itu maksud firman Allah pada surah Al-Isra’: 79 di atas tentang diangkatnya para pelaksana shalat Tahajjud ke tempat yang terpuji?, Allahu’alam (Allah yang paling tahu). Penulis adalah kolumnis Waspada Maret 3, 2010 Kategori: Uncategorized . . Penulis: perempuanditamandzikir Belum Ada Tanggapan

Manajemen Doa untuk Harapan yang Menguatkan Hidup
Tazkiyatun Nufus 12/9/2009 | 21 Ramadhan 1430 H | Hits: 5.106 Oleh: Dr. Setiawan Budi Utomo

dakwatuna.com – Dalam realitas pengalaman hidup di zaman modern, seseorang akan menghadapi dua kecenderungan spiritual yang kontradiktif dan cenderung menjadi gejala anomali sosial. Di satu sisi, zaman modern yang ditandai dengan kemajuan sains dan teknologi ini sebagaimana disinyalir oleh John Naisbit dalam High Tech – Haigh Touch: Technology and Our Search for Meaning (1999) justru membuat orang mendewakan teknologi, rasionalitas dan potensi material sehingga sering mengabaikan kekuatan agama dan dinamika spiritual. Namun, di balik gejala zaman modern yang melupakan Allah itu

(QS. Al-Hasyr:19), justru terdapat satu fenomena yang mungkin luput dari pengamatan Naisbitt bahwa pada saat yang sama, sebagai keniscayaan sunnatullah, telah tumbuh subur kesadaran spiritualitas di kalangan masyarakat perkotaan, kaum eksekutif dan profesional, kaum teknokrat dan kantoran, bahkan masyarakat pekerja dan rumahan secara umum yang cenderung mendambakan kembali keteduhan rohaniah di tengah galau rutinitas yang bergetah dan kegaduhan materialisme yang memuakkan. Hal itu di antaranya ditandai dengan semakin maraknya kegiatan dzikir dan doa, serta gelar tabligh dan pengajian yang semakin intens, masif dan massal khususnya pada momentum bulan suci Ramadhan. Doa sebagai ekspresi dzikrullah dalam detak spiritualitas yang merupakan saripati ibadah sebagaimana sabda Rasul (HR. Bukhari dan Muslim) memberikan makna kesadaran diri cognizance (self awareness) yang senantiasa merasakan kehadiran Tuhan dan pengakuan kelemahan diri. Doa pada dasarnya bukan sekadar ritual melainkan sebuah oase di tengah gurun kebisingan dan sebuah taman di tengah rimba keresahan duniawi. Sebab doa sebagai manifestasi dzikrullah menjanjikan ketenangan dan keteduhan batin apa yang sangat dirindukan oleh manusia zaman modern seperti pesan perjalanan spiritual John Kehoe, penulis buku best seller Mind Power melalui pengalaman kontemplasi dan meditasi doa (QS. Ar-Ra’d:28). Doa yang benar akan membawa keteguhan istiqamah dalam prinsip hidup dan dengan doa seseorang akan memiliki sikap optimis, karena doa pada hakikatnya merupakan rintihan dan curhat hamba kepada al-Khaliq sebagai pemilik segala kekuatan dengan harapan curahan pertolongan. Karena doa merupakan bagian dzikrullah, maka ia otomatis tidak dapat dipisahkan dari keimanan kepada Allah yang senantiasa ada untuk dipuja dan dimohon yang telah memerintahkan hamba-Nya untuk tidak jemu memohon kepada-Nya dan Dia mencintai hamba-Nya yang rajin berdoa secara benar dan kontinyu sebagaimana kesimpulan Karl Jasper bahwa Tuhan adalah satu-satunya yang tak kenal lelah untuk mendengarkan doa manusia. (QS. Al-Mukmin:60, al-A’raf:55-56) Rudolf Otto dalam bukunya yang terkenal, Das Heilige, memberikan indikasi terhadap orang yang berdoa atau beragama, dalam dua terminologi yaitu pertama; tremendum yang mencerminkan perasaan orang yang mendatangi Tuhan dengan suasana takut dan kedua; facsinans yang mencerminkan perasaan ketertarikan dan harapan. Namun dalam terminologi Islam, konsideran doa tidak sekadar rasa takut (khouf) yang melahirkan jiwa tabah dan berani dan rasa harapan (roja’) yang melahirkan jiwa yang optimis dan menumbuhkan motivasi, melainkan juga terdapat gelora rasa cinta (mahabbah) yang menghidupkan dan menerangi jiwa yang akan semakin mesra dengan Allah Sang Maha Kekasih. (QS. Al-Anfaal:2) Gumam mulut dan ucapan lidah di dalam berdoa bukanlah hakikat dari doa itu sendiri, karena doa merupakan esensi jiwa yang harus disampaikan dengan sepenuh kalbu dan dari nurani terdalam dengan penuh kesadaran (QS. Al-A’raf:205). Bermunajat kepada Allah sudah semestinya memerlukan manajemen doa, karena betapa banyak orang yang berdoa panjang disertai suara keras dan lelehan air mata, namun tidak disertai fiqih doa sehingga doanya tidak efektif betapapun tulus pintanya. Kekuatan doa yang akan mengalirkan energi dahsyat dan banyak mukjizat dalam hidup memerlukan kekuatan dalam berdoa yang berupa keyakinan. Sebuah pengalaman nyata

yang saya alami secara pribadi membenarkan hal itu. Dalam sebuah kesempatan, saya pernah diamanahi untuk membimbing jamaah haji dan peristiwa ajaib itu bermula pada prosesi haji di Mina di mana beberapa jamaah saya tersesat dan terlepas dari rombongan sehingga membuat kami semua kerepotan mencari-cari mereka beberapa hari. Akhirnya, pada saat klimaks tidak ada harapan lagi menemukan mereka kecuali bergantung doa kepada Allah Yang Maha Kuasa dan diliputi rasa tanggung jawab, maka dengan penuh keyakinan yang sulit digambarkan saya berdoa kepada Allah di depan jumrah ‘Aqabah dengan berucap lirih “Ya Allah, jika Janji-Mu memang benar, tanah suci-Mu memang mulia, dan hari suci-Mu memang agung, pertemukanlah kami dengan mereka yang hilang sekarang juga.” Dan apa yang terjadi sekejap setelah itu sungguh sempat memerindingkan bulu kuduk saya dengan serta merta jamaah yang hilang berlalu di hadapan saya dan seketika spontan kami memanggil dan akhirnya bertemu dengan mereka. Kejadian itu sempat membuat hati kami haru dan bertambah yakin bahwa “Maha benar Engkau Ya Allah dengan segala janji-Mu; berdoalah kepada-Ku niscaya akan Kukabulkan”. Herbert Benson dan William Proctor dalam Beyond the Relaxation Response (1984) berkeyakinan bahwa doa yang penuh kekuatan iman akan dapat memberikan kesembuhan. Hal itu secara empirik terbukti dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Randolph Byrd, seorang kardiolog dan mantan profesor Universitas California terhadap 393 pasien di Rumah Sakit Umum San Fransisco yang dibagi secara acak dan dikelompokkan pada tempat yang berbeda. Setiap pasien didoakan oleh lima puluh tujuh orang. Hasilnya sungguh sangat menakjubkan. Pasien yang didoakan menunjukkan keadaan yang jauh lebih baik daripada mereka yang tidak didoakan. Mereka hanya membutuhkan 20% antibiotik daripada kelompok yang tidak didoakan yang kemungkinan terkena pulmonary edema ‘paru-paru basah’ 30% lebih kecil. Pembuktian ilmiah tentang kekuatan doa ini, diteruskan dengan penelitian terhadap tumbuhtumbuhan. Benih gandum yang dibagi dalam dua kelompok, yaitu benih yang didoakan dan yang tidak. Hasilnya ternyata benih yang didoakan tumbuh dengan cabangcabangnya yang kuat dan lebih banyak dibandingkan dengan benih yang tidak didoakan. Sebuah publikasi penelitian tentang kanker yang dilakukan oleh para peneliti dari National Institutes of Health, USA yang dipimpin oleh Dr. Richad Childs, menyatakan bahwa penyakit kanker yang berat seperti kanker darah, kanker ginjal dan kanker getah bening biasanya sangat resisten dan tidak mempan terhadap berbagai pengobatan seperti chemotherapy maupun radio therapy. Namun, sel-sel kanker ganas ini rupanya justru sangat rentan (susceptible) dan takluk terhadap sistem kekebalan tubuh melalui sistem imunitas penderita dan di antara cara peningkatan sistem kekebalan tubuh adalah sebagaimana temuan seorang dokter lulusan Universitas Airlangga Surabaya yaitu melalui ikhtiar spiritual doa dan shalat yang benar dan rutin seperti melazimkan wirid tahajjud. Menurut Norman Vincent Peale dalam The Power of Positive Thinking bahwa dewasa ini orang cenderung sering berdoa dibandingkan sebelumnya, karena mereka semakin merasakan bahwa doa dapat menambah efisiensi pribadi dan doa membantu mereka menyadap kekuatan dan memanfaatkan kekuatan yang tersedia. Doa sebagaimana kesimpulan pakar psikologi merupakan kekuatan terbesar yang tersedia bagi seseorang dalam memecahkan masalah pribadinya. Kekuatan doa adalah manifestasi dari energi

seperti halnya ada teknik ilmiah untuk pelepasan energi atom, maka ada prosedur ilmiah untuk pelepasan energi spiritual melalui mekanisme doa. Kekuatan doa tampaknya bahkan mampu menormalkan proses penuaan, meniadakan atau membatasi kelemahan dan kemunduran. Untuk mendapatkan hasil yang efektif dari doa, Peale menawarkan sepuluh kaidah dalam manajemen doa; 1. Meluangkan beberapa menit dalam setiap hari untuk hanya berfikir dan mengingat Tuhan; 2. Berdoa secara lisan dengan menggunakan kata-kata yang sederhana dan wajar sesuai suara hati; 3. Berdoalah sementara Anda memulai urusan kehidupan sehari-hari; 4. Jangan selalu meminta ketika Anda berdoa melainkan juga dengan pujian dan mengucapkan syukur; 5. Berdoalah dengan keyakinan bahwa doa yang sungguh-sungguh dapat menjangkau siapapun yang Anda kasihi; 6. Jangan pernah menggunakan pikiran negatif dalam berdoa; 7. Selalu ekspresikan kesediaan untuk menerima kehendak Tuhan; 8. Latihlah sikap menyerahkan segalanya ke dalam tangan Tuhan; 9. Berdoalah untuk orang-orang yang Anda tidak sukai atau memperlakukan Anda dengan buruk; 10. Buatlah daftar orang yang ingin Anda doakan. Semakin banyak Anda berdoa untuk orang lain, khususnya mereka yang tidak berhubungan dengan Anda, semakin banyak hasil doa akan kembali kepada Anda. Kaidah kesepuluh tersebut sebenarnya juga dianjurkan oleh Frank Laubach dalam bukunya Prayer, the Mightiest Power in the World melalui teknik mengalirkan energi doa yang positif, ibarat tembakan strum listrik kepada siapapun tanpa pandang bulu termasuk orang-orang di jalanan yang ditemuinya. Hal ini sebagaimana sabda Nabi saw. bahwa seseorang yang mendoakan orang lain maka malaikat akan berdoa serupa untuknya. Imam An-Nawawi dalam kitabnya al-Adzkar menyebutkan bahwa syarat diterimanya doa adalah energi yang dikonsumsi untuk berdoa adalah halal dan berusaha menjauhi perbuatan maksiat. Imam ar-Razi mengatakan dalam pesan doanya: “Bagaimana aku berdoa kepada-Mu sementara aku berbuat maksiat, dan bagaimana aku tidak berdoa kepada-Mu padahal Engkau Maha Pemurah.” Dalam kitab Ihya’ ‘Ulumuddin, Imam al-Ghazali menyampaikan sepuluh metode dalam manajemen doa yang efisien untuk mendapatkan hasilnya yang efektif; 1. Memilih waktu yang tepat dan memanfaatkan saat-saat mulia seperti Ramadhan, ‘Arafah, Jum’at, dan saat sepertiga akhir di waktu sahur yang merupakan saat mustajab; 2. Memanfaatkan kondisi yang mustajab (terkabul) seperti kondisi sujud, jihad, turun hujan, qamat; 3. menghadap kiblat, menengadahkan tangan, dan mengusap wajah saat selesai; 4. menyederhanakan suara dan menghindari suara keras; 5. menyederhanakan bahasa doa dan lebih afdhal bila takut salah ucap sebaiknya menggunakan doa al-Qur’an dan doa yang diajarkan atau dilakukan oleh Nabi; 6. penuh khidmat, khusyu’ dan emosi jiwa; 7. bersungguh-sungguh dalam memohon dan berharap yang disertai keyakinan dikabulkan doanya; 8. menekankan permohonannya dan dapat mengulanginya tiga kali tanpa disertai prasangka akan lama dikabulkannya; 9. memulai doanya dengan dzikir dan pujian kepada Allah serta shalawat kepada Rasulullah; 10. Itikad tulus dan niat kuat untuk bertaubat secara benar dan merehabilitasi akibat kezhalimannya serta berhijrah kepada Allah. Doa merupakan kekuatan dan energi yang tiada tara karena ia terhubung dengan Dzat Yang Maha Kuasa. Doa bagi seorang mukmin adalah senjata (silah) karena tidak ada perlindungan dan daya kecuali dari Allah. Sungguh tidak tahu diri seseorang yang hanya tergantung pada materi yang rapuh dan fana sehingga meremehkan kekuatan doa.

Alangkah celakanya orang yang merasa telah banyak berdoa dan bahkan pada waktu dan tempat yang mustajab, namun tak kunjung efektif, karena sesungguhnya ia membiarkan virus haram dalam konsumsinya menghambat aliran frekuensi doa untuk sampai kepada Allah. Adalah sangat beruntung orang yang hembus nafasnya selalu mengandung unsur doa yang benar sesuai kadar dan komposisi yang tepat serta bersih dari partikel haram yang mengganggunya keterkabulannya. Wallahu A’lam Wa Billahit Taufiq Wal Hidayah. []

2010-02-17 11:28 BERDASARKAN pendapat sejumlah ahli kesehatan, puasa dapat memberikan berbagai manfaat bagi yang melaksanakannya, di antaranya untuk ketenangan jiwa, mengatasi stres, meningkatkan daya tahan tubuh, serta memelihara kesehatan dan kecantikan. Puasa selain bermanfaat untuk ketenangan jiwa agar terhindar dari stres, juga dapat menyehatkan badan dan dapat membantu penyembuhan bermacam penyakit. Selain itu, puasa dapat membuat awet muda atau menunda proses ketuaan. Supaya kondisi fisik selalu sehat dan bugar, organ-organ tubuh harus mendapatkan kesempatan untuk istirahat. Hal tersebut dapat dilakukan dengan berpuasa. Puasa bagi umat Islam merupakan salah satu Rukun Islam dan merupakan salah satu ibadah wajib selama bulan Ramadan. Bagi umat Islam, berpuasa merupakan salah satu ibadah yang harus dilakukan. Ada puasa wajib yang harus dilakukan pada bulan Ramadan, tapi ada juga puasa-puasa sunah seperti puasa Daud, puasa Arafah, puasa Senin-Kamis, dan puasa sunah lainnya. Beberapa ahli dari negara-negara Barat dan Timur telah meneliti dan membuktikan tentang manfaat puasa. Tiga orang ahli dari Barat yang non-Muslim telah mengemukakan pendapat mereka tentang faedah puasa. Ketiga orang ahli tersebut adalah Allan Cott M.D., seorang ahli dari Amerika, Dr. Yuri Nikolayev Direktur bagian diet pada Rumah Sakit Jiwa Moskow, dan Alvenia M. Fulton, Direktur Lembaga Makanan Sehat "Fultonia" di Amerika. Allan Cott, M.D., telah menghimpun hasil pengamatan dan penelitian para ilmuwan berbagai negara, lalu menghimpunnya dalam sebuah buku Why Fast yang mengalami 17 kali cetak ulang dalam tempo sewindu. Di buku itu, Allan Cott, M.D. membeberkan berbagai hikmah puasa, antara lain: a. To feel better physically and mentally (merasa lebih baik secara fisik dan mental). b. To look and feel younger (melihat dan merasa lebih muda). c. To clean out the body (membersihkan badan) d. To lower blood pressure and cholesterol levels (menurunkan tekanan darah dan kadar lemak. e. To get more out of sex (lebih mampu mengendalikan seks).

f. To let the body health itself (membuat badan sehat dengan sendirinya). g. To relieve tension (mengendorkan ketegangan jiwa). h. To sharp the senses (menajamkan fungsi indrawi). i. To gain control of oneself (memperoleh kemampuan mengendalikan diri sendiri). j. To slow the aging process (memperlambat proses penuaan). Sementara itu, Dr. Yuri Nikolayev menilai kemampuan untuk berpuasa yang mengakibatkan orang yang bersangkutan menjadi awet muda, sebagai suatu penemuan (ilmu) terbesar abad ini. Beliau mengatakan: what do you think is the most important discovery in our time? The radioactive watches? Exocet bombs? In my opinion the bigest discovery of our time is the ability to make onself younger phisically, mentally and spiritually through rational fasting. (Menurut pendapat Anda, apakah penemuan terpenting pada abad ini? Jam radioaktif? Bom exoset? Menurut pendapat saya, penemuan terbesar dalam abad ini ialah kemampuan seseorang membuat dirinya tetap awet muda secara fisik, mental, dan spiritual, melalui puasa yang rasional). Alvenia M. Fulton, Direktur Lembaga Makanan Sehat "Fultonia" di Amerika Serikat menyatakan bahwa puasa adalah cara terbaik untuk memperindah dan mempercantik wanita secara alami. Puasa menghasilkan kelembutan pesona dan daya pikat. Puasa menormalkan fungsi-fungsi kewanitaan dan membentuk kembali keindahan tubuh (fasting is the ladies best beautifier, it brings grace charm and poice, it normalizes female functions and reshapes the body contour). ** PUASA memiliki banyak hikmah dan manfaat untuk kesehatan tubuh, ketenangan jiwa, dan kecantikan. Saat berpuasa, organ-organ tubuh dapat beristirahat dan miliaran sel dalam tubuh bisa menghimpun diri untuk bertahan hidup. Puasa berfungsi sebagai detoksifikasi untuk mengeluarkan kotoran, toksin/racun dari dalam tubuh, meremajakan sel-sel tubuh dan mengganti sel-sel tubuh yang sudah rusak dengan yang baru serta untuk memperbaiki fungsi hormon, menjadikan kulit sehat dan meningkatkan daya tahan tubuh karena manusia mempunyai kemampuan terapi alamiah. Puasa dapat membuat kulit menjadi segar, sehat, lembut, dan berseri. Karena, setiap saat tubuh mengalami metabolisme energi, yaitu peristiwa perubahan dari energi yang terkandung dalam zat gizi menjadi energi potensial dalam tubuh. Sisanya akan disimpan di dalam tubuh, sel ginjal, sel kulit, dan pelupuk mata serta dalam bentuk lemak dan glikogen. Manusia mempunyai cadangan energi yang disebut glikogen. Cadangan energi tersebut dapat bertahan selama 25 jam. Cadangan gizi inilah yang sewaktu-waktu akan dibakar menjadi energi, jika tubuh tidak mendapat suplai pangan dari luar. Ketika berpuasa, cadangan energi yang tersimpan dalam organ-organ tubuh dikeluarkan sehingga melegakan pernapasan organ-organ tubuh serta sel-sel penyimpanannya. Peristiwa ini disebut peremajaan sel. Dengan meremajakan sel-sel tubuh, akan bermanfaat untuk meningkatkan kekebalan dan kesehatan tubuh serta kulit kita. Oleh karena itu, orang yang sering berpuasa kulitnya

akan terlihat lebih segar, sehat, lembut, dan berseri karena proses peremajaan sel dalam tubuhnya berjalan dengan baik. Makanan dan minuman yang kita konsumsi setiap hari, selain mengandung zat-zat gizi yang berguna untuk tubuh kita, juga mengandung bahan toksik atau racun yang kemudian tertimbun dalam tubuh. Bahan toksik atau racun yang ada dalam tubuh kita, jika sudah terlalu banyak dapat menyebabkan masalah pada tubuh antara lain, tubuh menjadi mudah lelah, daya tahan tubuh menurun, sehingga mudah sakit. Dengan melakukan puasa, tubuh akan menggunakan energi cadangan. Penggunaan energi cadangan ini menyebabkan racun-racun terbuang dan sel-sel tubuh dibersihkan. Selain itu, di bagian pencernaan terjadi juga pengeluaran racun karena alat-alat pencernaan beristirahat sehingga dapat membersihkan diri, juga termasuk usus besar yang merupakan pusat kotoran. Berpuasa selain bermanfaat untuk detoksifikasi atau proses pengeluaran racun secara menyeluruh, juga bermanfaat untuk menambah tenaga. Hal tersebut disebabkan racunracun yang ada pada sel-sel dan jaringan tubuh telah dibersihkan, sehingga organ tubuh menjadi lebih bersih dan zat gizi yang masuk lebih mudah diserap. Berpuasa dapat membantu meningkatkan penyerapan gizi dari makanan yang dikonsumsi karena dalam saluran pencernaan, sebelum makanan diserap harus mengalami proses perubahan terlebih dahulu dari bentuk padat menjadi komponen-komponen yang sangat halus. Pada saat berpuasa, saluran pencernaan beristirahat selama beberapa jam. Dengan diistirahatkannya saluran pencernaan tersebut akan menjadi lebih baik dalam memproses dan menyerap makanan yang dikonsumsi, sehingga akan lebih bertenaga, sehat, dan kuat. Supaya selalu tercipta kondisi sehat, bugar dan cantik saat berpuasa, sebaiknya pada waktu berbuka maupun sahur selalu mengonsumsi makanan sehat yang memenuhi unsur pola makan empat sehat lima sempurna dan bergizi lengkap. Dengan cara itu, tentunya dapat menunjang ibadah puasa yang kita dilakukan. (Surtiningsih, kolomnis/pengamat kesehata

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->