P. 1
Asuhan Keperawatan Dengan Tb Paru

Asuhan Keperawatan Dengan Tb Paru

|Views: 1,046|Likes:
Published by puspaidi putra

More info:

Published by: puspaidi putra on Jul 27, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/19/2013

pdf

text

original

ASUHAN KEPERAWATAN DENGAN TB PARU

Posted by sammy in KesehatanDec 12th, 2008 | 3 responses

X Welcome Googler! If you find this page useful, you might want to subscribe to the RSS feed for updates on this topic. You were searching for "asuhan keperAWATAN TUBERCULOSIS". See posts relating to your search » Powered by WP Greet Box WordPress Plugin < ![endif]--> < ! /* Style Definitions */ table.MsoNormalTable {mso-style-name:"Table Normal"; mso-tstyle-rowband-size:0; mso-tstyle-colband-size:0; mso-style-noshow:yes; mso-styleparent:""; mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; mso-para-margin:0cm; mso-paramargin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:10.0pt; fontfamily:"Times New Roman";} --> < ![endif]-->< ![endif]--> < ![endif]-->1. Pengertian Tuberkulosis adalah penyakit infeksi menular yang disebabkan oleh Mycobacterium tubeculosis. 2. Etiologi Tuberkulosis paru adalah penyakit menular yang disebabkan oleh basil mikrobakterium tuberkulosis tipe humanus, sejenis kuman yang berbentuk batang dengan ukuran panjang 1-4/mm dan tebal 0,3-0,6/mm. Sebagian besar kuman terdiri atas asam lemak (lipid). Lipid inilah yang membuat kuman lebih tahan terhadap asam dan lebih tahan terhadap gangguan kimia dan fisik. Kuman ini tahan hidup pada udara kering maupun dalam keadaan dingin (dapat tahan bertahun-tahun dalam lemari es). Hal ini terjadi karena kuman berada dalam sifat dormant. Dari sifat dormant ini kuman dapat bangkit kembali dan menjadikan tuberkulosis aktif kembali. Sifat lain kuman adalah aerob. Sifat ini menunjukkan bahwa kuman lebih menyenangi jaringan yang tinggi kandungan oksigennya. Dalam hal ini tekanan bagian apikal paru-paru lebih tinggi dari pada bagian lainnya, sehingga bagian apikal ini merupakan tempat predileksi penyakit tuberkulosis. Tuberkulosis paru merupakan penyakit infeksi penting saluran pernapasan. Basil mikrobakterium tersebut masuk kedalam jaringan paru melalui saluran napas (droplet infection) sampai alveoli, maka terjadilah infeksi primer (ghon) selanjutnya menyebar kekelenjar getah bening setempat dan terbentuklah primer kompleks (ranke). keduanya dinamakan tuberkulosis primer, yang dalam perjalanannya sebagian besar akan mengalami penyembuhan. Tuberkulosis paru primer, peradangan terjadi sebelum tubuh

mempunyai kekebalan spesifik terhadap basil mikobakterium. Tuberkulosis yang kebanyakan didapatkan pad usia 1-3 tahun. Sedangkan yang disebut tuberkulosis post primer (reinfection) adalah peradangan jaringan paru oleh karena terjadi penularan ulang yang mana di dalam tubuh terbentuk kekebalan spesifik terhadap basil tersebut. 3. Proses Penularan Tuberkulosis tergolong airborne disease yakni penularan melalui droplet nuclei yang dikeluarkan ke udara oleh individu terinfeksi dalam fase aktif. Setiapkali penderita ini batuk dapat mengeluarkan 3000 droplet nuclei. Penularan umumnya terjadi di dalam ruangan dimana droplet nuclei dapat tinggal di udara dalam waktu lebih lama. Di bawah sinar matahari langsung basil tuberkel mati dengan cepat tetapi dalam ruang yang gelap lembab dapat bertahan sampai beberapa jam. Dua faktor penentu keberhasilan pemaparan Tuberkulosis pada individu baru yakni konsentrasi droplet nuclei dalam udara dan panjang waktu individu bernapas dalam udara yang terkontaminasi tersebut di samping daya tahan tubuh yang bersangkutan. Di samping penularan melalui saluran pernapasan (paling sering), M. tuberculosis juga dapat masuk ke dalam tubuh melalui saluran pencernaan dan luka terbuka pada kulit (lebih jarang). 4. Insiden Penyakit tuberkulosis adalah penyakit yang sangat epidemik karena kuman mikrobakterium tuberkulosa telah menginfeksi sepertiga penduduk dunia. Program penaggulangan secara terpadu baru dilakkan pada tahun 1995 melalui strategi DOTS (directly observed treatment shortcourse chemoterapy), meskipun sejak tahun 1993 telah dicanangkan kedaruratan global penyakit tuberkulosis. Kegelisahan global ini didasarkan pada fakta bahwa pada sebagian besar negara di dunia, penyakit tuberkulosis tidak terkendali, hal ini disebabkan banyak penderita yang tidak berhasil disembuhkan, terutama penderita menular (BTA positif). Pada tahun 1995, diperkirakan setiap tahun terjadi sekitar sembilan juta penderita dengan kematian tiga juta orang (WHO, 1997). Di negara-negara berkembang kematian karena penyakit ini merupakan 25 % dari seluruh kematian, yang sebenarnya dapat dicegah. Diperkirakan 95 % penyakit tuberkulosis berada di negara berkembang, 75 % adalah kelompok usia produktif (15-50 tahun). Tuberkulosis juga telah menyebabkan kematian lebih banyak terhadap wanita dibandingkan dengan kasus kematian karena kehamilan, persalinan dan nifas. Di indonesia pada tahun yang sama, hasil survey kesehatan rumah tangga (SKRT) menunjukkan bahwa penyakit tuberkulosis merupakan penyebab kematian nomor tiga setelah penyakit jantung dan penyakit infeksi saluran pernapasan pada semua kelompok usia, dan nomor satu dari golongan penyakit infeksi. WHO memperkirakan setiap tahun menjadi 583.000 kasus baru tuberkulosis dengan kematian sekitar 140.000. secara kasar diperkirakan setiap 100.000 penduduk Indonesia terdapat 130 penderita baru tuberkulosis dengan BTA positif. 5. Anatomi dan Fisiologi Saluran penghantar udara hingga mencapai paru-paru adalah hidung, farinx, larinx trachea, bronkus, dan bronkiolus. Hidung ; Nares anterior adalah saluran-saluran di

dalam. rongga hidung. Saluran-saluran itu bermuara ke dalam bagian yang dikenal sebagai vestibulum. (rongga) hidung. Rongga hidung dilapisi sebagai selaput lendir yang sangat kaya akan pembuluh darah, dan bersambung dengan lapisan farinx dan dengan selaput lendir sinus yang mempunyai lubang masuk ke dalam. rongga hidung. Farinx (tekak) ; adalah pipa berotot yang berjalan dari dasar tengkorak sampai persambungannya dengan oesopagus pada ketinggian tulang rawan krikoid. Maka ‘letaknya di belakang larinx (larinx-faringeal). Laringx (tenggorok) terletak di depan bagian terendah farinx yang mernisahkan dari columna vertebrata, berjalan dari farinx. sampai ketinggian vertebrata servikals dan masuk ke dalarn trachea di bawahnya. Larynx terdiri atas kepingan tulang rawan yang diikat bersama oleh ligarnen dan membran. Trachea atau batang tenggorok kira-kira 9 cm panjangnya trachea berjalan dari larynx sarnpai kira-kira ketinggian vertebrata torakalis kelima dan di tempat ini bercabang mcnjadi dua bronckus (bronchi). Trachea tersusun atas 16 – 20 lingkaran tak- lengkap yang berupan cincin tulang rawan yang diikat bersama oleh jaringan fibrosa dan yang melengkapi lingkaran disebelah belakang trachea, selain itu juga membuat beberapa jaringan otot. Bronchus yang terbentuk dari belahan dua trachea pada ketinggian kira-kira vertebrata torakalis kelima, mempunyai struktur serupa dengan trachea dan dilapisi oleh.jenis sel yang sama. Bronkus-bronkus itu berjalan ke bawah dan kesamping ke arah tampuk paru. Bronckus kanan lebih pendek dan lebih lebar daripada yang kiri, sedikit lebih tinggi darl arteri pulmonalis dan mengeluarkan sebuah cabang utama lewat di bawah arteri, disebut bronckus lobus bawah. Bronkus kiri lebih panjang dan lebih langsing dari yang kanan, dan berjalan di bawah arteri pulmonalis sebelurn di belah menjadi beberapa cabang yang berjalan kelobus atas dan bawah. Cabang utama bronchus kanan dan kiri bercabang lagi menjadi bronchus lobaris dan kernudian menjadi lobus segmentalis. Percabangan ini berjalan terus menjadi bronchus yang ukurannya semakin kecil, sampai akhirnya menjadi bronkhiolus terminalis, yaitu saluran udara terkecil yang tidak mengandung alveoli (kantong udara). Bronkhiolus terminalis memiliki garis tengah kurang lebih I mm. Bronkhiolus tidak diperkuat oleh cincin tulang rawan. Tetapi dikelilingi oleh otot polos sehingga ukurannya dapat berubah. Seluruh saluran udara ke bawah sampai tingkat bronkbiolus terminalis disebut saluran penghantar udara karena fungsi utamanya adalah sebagai penghantar udara ke tempat pertukaran gas paru-paru. Alveolus yaitu tempat pertukaran gas assinus terdiri dari bronkhiolus dan respiratorius yang terkadang memiliki kantong udara kecil atau alveoli pada dindingnya. Ductus alveolaris seluruhnya dibatasi oleh alveoilis dan sakus alveolaris terminalis merupakan akhir paru-paru, asinus atau.kadang disebut lobolus primer memiliki tangan kira-kira 0,5 s/d 1,0 cm. Terdapat sekitar 20 kali percabangan mulai dari trachea sampai Sakus Alveolaris. Alveolus dipisahkan oleh dinding yang dinamakan pori-pori kohn. Paru-paru terdapat dalam rongga thoraks pada bagian kiri dan kanan. Dilapisi oleh pleura yaitu parietal pleura dan visceral pleura. Di dalam rongga pleura terdapat cairan surfaktan yang berfungsi untuk lubrikai. Paru kanan dibagi atas tiga lobus yaitu lobus superior, medius dan inferior sedangkan paru kiri dibagi dua lobus yaitu lobus superior dan inferior. Tiap lobus dibungkus oleh jaringan elastik yang mengandung pembuluh limfe, arteriola, venula, bronchial venula, ductus alveolar, sakkus alveolar dan alveoli.

Diperkirakan bahwa stiap paru-paru mengandung 150 juta alveoli, sehingga mempunyai permukaan yang cukup luas untuk tempat permukaan/pertukaran gas. Proses fisiologi pernafasan dimana 02 dipindahkan dari udara ke dalam jaringan-jaringan, dan C02 dikeluarkan keudara ekspirasi dapat dibagi menjadi tiga stadium. Stadium pertama adalah ventilasi yaitu masuknya campuran gas-gas ke dalam dan keluar paruparu. karena ada selisih tekanan yang terdapat antara atmosfer dan alveolus akibat kerja mekanik dari otot-otot. Stadium kedua, transportasi yang terdiri dan beberapa aspek yaitu : (1) Difusi gas antara alveolus dan kapiler paru-paru (respirasi eksternal) dan antara darah sistemik dan sel.-sel jaringan (2) Distribusi darah dalam sirkulasi pulmonal dan penyesuaiannya dengan distribusi udara dalam alveolus. (3) Reaksi kimia dan fisik dari 02 dan C02 dengan darah respimi atau respirasi interna menipak-an stadium akhir dari respirasi, yaitu sel dimana metabolik dioksida untuk- mendapatkan energi, dan C02 terbentuk sebagai sampah proses metabolisme sel dan dikeluarkan oleh paru-paru (4) Transportasi, yaitu. tahap kcdua dari proses pemapasan mencakup proses difusi gas-gas melintasi membran alveolus kapiler yang tipis (tebalnya kurang dari 0,5 urn). Kekuatan mendorong untuk pemindahan ini adalah selisih tekanan parsial antara darah dan fase gas. (5) Perfusi, yaitu pemindahan gas secara efektif antara. alveolus dan kapiler paruparu membutuhkan distribusi merata dari udara dalam paru-paru dan perfusi (aliran darah) dalam kapiler dengan perkataan lain ventilasi dan perfusi. dari unit pulmonary harus sesuai pada orang normal dengan posisi tegak dan keadaan istirahat maka ventilasi dan perfusi hampir seimbang kecuali pada apeks paru-paru. Secara garis besar bahwa Paru-paru memiliki fungsi sebagai berikut: (1) Terdapat permukaan gas-gas yaitu mengalirkan Oksigen dari udara atmosfer kedarah vena dan mengeluarkan gas carbondioksida dari alveoli keudara atmosfer. (2) menyaring bahan beracun dari sirkulasi (3) reservoir darah (4) fungsi utamanya adalah pertukaran gas-gas 5. Patofisiologi Port de’ entri kuman microbaterium tuberculosis adalah saluran pernafasan, saluran pencernaan, dan luka terbuka pada kulit, kebanyakan infeksi tuberculosis terjadi melalui udara (air borne), yaitu melalui inhalasi droppet yang mengandung kuman-kuman basil tuberkel yang berasal dari orang yang terinfeksi. Basil tuberkel yang mencapai permukaan alveolus biasanya diinhalasi terdiri dari satu sampai tiga gumpalan basil yang lebih besar cenderung tertahan di saluran hidung dan cabang besar bronkus dan tidak menyebabkan penyakit. Setelah berada dalam ruang alveolus biasanya di bagian bawah lobus atau paru-paru, atau di bagian atas lobus bawah. Basil tuberkel ini membangkitkan reaksi peradangan. Leukosit polimorfonuklear tampak pada tempat tersebut dan memfagosit bacteria namun tidak membunuh organisme tersebut. Sesudah hari-hari pertama maka leukosit diganti oleh makrofag. Alveoli yang terserang akan mengalami konsolidasi dan timbul gejala pneumonia akut. Pneumonia seluler ini dapat sembuh dengan sendirinya sehingga tidak ada sisa yang tertinggal, atau proses dapat juga berjalan terus, dan bakteri terus difagosit atau berkembang biak di dalam sel. Basil juga menyebar melalui getah bening menuju ke kelenjar bening regional.

Sesak napas Gejala ini ditemukan bila kerusakan parenkim paru sudah luas atau karena ada hal-hal yang menyertai seperti efusi pleura. Batuk darah Darah yang dikeluarkan dalam dahak bervariasi. penurunan berat badan serta malaise.Makrofag yang mengadakan infiltrasi mcajadi lebih panjang dan sebagian bersatu sehingga membentuk sel tuberkel epiteloit. 6. Reaksi ini biasanya membutuhkan waktu 10 sampai 20 hari. gejala respiratorik dan gejala sistemik: 1. Timbulnya gejala biasanya gradual dalam beberapa minggu-bulan. Manifestasi Klinik Tuberkulosis sering dijuluki “the great imitator” yaitu suatu penyakit yang mempunyai banyak kemiripan dengan penyakit lain yang juga memberikan gejala umum seperti lemah dan demam. akan tetapi penampilan akut dengan batuk. Demam Merupakan gejala yang sering dijumpai biasanya timbul pada sore dan malam hari mirip demam influenza. meliputi: a. Gejala sistemik. c. meliputi: a. anoreksia. d. Berat ringannya batuk darah tergantung dari besar kecilnya pembuluh darah yang pecah. pneumothorax. b. panas. Gejala respiratorik. sesak napas walaupun jarang dapat juga timbul menyerupai gejala pneumonia. Gambaran klinik TB paru dapat dibagi menjadi 2 golongan. . gumpalan darah atau darah segar dalam jumlah sangat banyak. anemia dan lain-lain. b. mungkin tampak berupa garis atau bercak-bercak darak. Gejala ini timbul apabila sistem persarafan di pleura terkena. Mula-mula bersifat non produktif kemudian berdahak bahkan bercampur darah bila sudah ada kerusakan jaringan. hilang timbul dan makin lama makin panjang serangannya sedang masa bebas serangan makin pendek. 2. Batuk darak terjadi karena pecahnya pembuluh darah. Nyeri dada Nyeri dada pada TB paru termasuk nyeri pleuritik yang ringan. Pada sejumlah penderita gejala yang timbul tidak jelas sehingga diabaikan bahkan kadang-kadang asimtomatik. yang dikelilingi oleh fosit. Batuk Gejala batuk timbul paling dini dan merupakan gangguan yang paling sering dikeluhkan. Gejala sistemik lain Gejala sistemik lain ialah keringat malam.

Bayangan yang berawan (patchy) atau berbercak (noduler) c. Karakteristik radiology yang menunjang diagnostik antara lain : a. Anemia jarang terjadi 6. Bayang yang menetap atau relatif menetap setelah beberapa minggu e. sebaiknya 3 kali pemeriksaan dahak. Epistaksis a. Darah berbuih bercampur udara c. Pengambilan dahak yang benar sangat penting untuk mendapatkan hasil yang sebaik-baiknya. Darah menetes dari hidung b. Darah bersifat alkalis e. Pemeriksaan sputum adalah diagnostik yang terpenting dalam prograrn pemberantasan TBC paru di Indonesia. Batuk darah a. Jenis pemeriksaan radiology lain hanya atas indikasi Top foto. Uji resistensi harus dilakukan apabila ada dugaan resistensi terhadap pengobatan. Benzidin test negatif 2. b. Anemia seriang terjadi f. Batuk pelan kadang keluar c. Pemeriksaan biasanya lebih sensitive daripada sediaan apus (mikroskopis). Anemia kadang-kadang terjadi f. Darah bercampur sisa makanan c. Bayangan bilier Pemeriksaan Bakteriologik (Sputum) . Bayangan lesi radiology yang terletak di lapangan atas paru. Kelainan yang bilateral. terutama bila terdapat di lapangan atas paru d. Darah berwarna hitam karena bercampur asam lambung d. Darah berwarna merah segar d. Muntah darah a. Darah bersifat alkalis e. oblik. Pada pemeriksaan pertama. . tomogram dan lain-lain. Darah dimuntahkan dengan rasa mual b.Gejala klinis Haemoptoe: Kita harus memastikan bahwa perdarahan dari nasofaring dengan cara membedakan ciriciri sebagai berikut : 1. Darah segar berwarna merah muda d. Darah dibatukkan dengan rasa panas di tenggorokan b. Benzidin test positif 3. Ditemukannya kuman micobakterium TBC dari dahak penderita memastikan diagnosis tuberculosis paru. Darah bersifat asam e. Test Diagnostik Foto thorax PA dengan atau tanpa literal merupakan pemeriksaan radiology standar.

Bekas TB Paru dengan kriteria: a. 9. Paduan obat yang digunakan terdiri dari obat utama dan obat tambahan.8. Sedang jenis obat tambahan adalah Kanamisin. Gambaran radiologik sesuai dengan TB paru. Gejala klinik dan gambaran radilogik sesuai dengan TB Paru aktif 2. Di samping itu perlu pemahaman tentang strategi penanggulangan TB yang dikenal sebagai Directly Observed Treatment Short Course (DOTS) yang direkomendasikan oleh WHO yang terdiri dari lima komponen yaitu: 1. Adanya komitmen politis berupa dukungan pengambil keputusan dalam penanggulangan TB. radiologik dan riwayat pengobatan sebelumnya. Dengan atau tanpa gejala klinik 2. Radiologik menunjukkan gambaran lesi TB inaktif. mencegsah kekambuhan atau resistensi terhadap OAT serta memutuskan mata rantai penularan. Bakteriologik (mikroskopik dan biakan) negatif b. Pirasinamid. BTA positif: mikroskopik positif 2 kali. TB Paru BTA Positif dengan kriteria: 1. Untuk keperluan pengobatan perlu dibuat batasan kasus terlebih dahulu berdasarkan lokasi tuberkulosa. BTA negatif. mikroskopik positif 1 kali disokong biakan positif satu kali atau disokong radiologik positif 1 kali. menunjukkan serial foto yang tidak berubah. bakteriologik. Makrolide dan Amoksisilin + Asam Klavulanat. derivat Rifampisin/INH. TB Paru BTA Negatif dengan kriteria: 1. Sesuai dengan program Gerdunas P2TB klasifikasi TB Paru dibagi sebagai berikut: a. 2. Streptomisin dan Etambutol. Klasifikasi ini penting karena merupakan salah satu faktor determinan untuk menetapkan strategi terapi. c. Jenis obat utama yang digunakan sesuai dengan rekomendasi WHO adalah Rifampisin. hapusan dahak dan riwayat pengobatan sebelumnya. Penanganan Medik Tujuan pengobatan pada penderita TB Paru selain untuk mengobati juga mencegah kematian. Ada riwayat pengobatan OAT yang adekuat (lebih mendukung). Diagnosis TB melalui pemeriksaan dahak secara mikroskopik langsung sedang pemeriksaan penunjang lainnya seperti pemeriksaan radiologis dan kultur dapat dilaksanakan di unit pelayanan yang memiliki sarana tersebut. Kuinolon. b. Klasifikasi Klasifikasi TB Paru dibuat berdasarkan gejala klinik. d. . Pengobatan tuberkulosis terbagi menjadi 2 fase yaitu fase intensif (2-3 bulan) dan fase lanjutan (4-7 bulan). Gejala klinik tidak ada atau ada gejala sisa akibat kelainan paru. INH. berat ringannya penyakit. hasil pemeriksaan bakteriologik. c. 3. biakan negatif tetapi radiologik positif.

c. Pencatatan dan pelaporan yang baku. sesak (nafas pendek). nyeri bisa timbul bila infiltrasi radang sampai ke pleura sehingga timbul pleuritis. Pernah berobat tetapi tidak teratur. d. lanjut. Kesinambungan ketersediaan paduan OAT jangka pendek yang cukup. terdengar bunyi ronkhi basah. Pola aktivitas dan istirahat Subjektif : Rasa lemah cepat lelah. perkusi pekak dan penurunan fremitus (cairan pleural). Obiektif : Berhati-hati pada area yang sakit. Objektif : Takikardia. 5. . penurunan berat badan. Objektif : Turgor kulit jelek. Pengobatan TB dengan paduan OAT jangka pendek dengan pengawasan langsung oleh Pengawas Menelan Obat (PMO) khususnya dalam 2 bulan pertama dimana penderita harus minum obat setiap hari. sesak (tahap. e. Daya tahan tubuh yang menurun. Riwayat Penyakit Sebelumnya: a. prilaku distraksi. f. deviasi trakeal (penyebaran bronkogenik). sakit dada. Pengkajian Data-data yang perlu dikaji pada asuhan keperawatan dengan Tuberkulosis paru (Doengoes. gelisah. d. mual. Pola nutrisi Subjektif : Anoreksia. Objektif : Mulai batuk kering sampai batuk dengan sputum hijau/purulent. sulit tidur. ketakutan. pengembangan pernapasan tidak simetris (effusi pleura. c. Integritas ego Subjektif : Faktor stress lama. Objektif : Menyangkal (selama tahap dini). 2000) ialah sebagai berikut : 1. kasar di daerah apeks paru. Pernah berobat tetapi tidak sembuh. e. ansietas. 4. irritable. mudah tersinggung. takipnea/dispnea saat kerja. Rasa nyaman/nyeri Subjektif : Nyeri dada meningkat karena batuk berulang. Respirasi Subjektif : Batuk produktif/non produktif sesak napas. masalah keuangan. Riwayat kontak dengan penderita Tuberkulosis Paru. mukoid kuning atau bercak darah. demam subfebris (40 -410C) hilang timbul. 2.). aktivitas berat timbul. Riwayat PerjalananPenyakit a. menggigil. takipneu (penyakit luas atau fibrosis parenkim paru dan pleural). kehilangan lemak sub kutan. sesak napas. infiltrasi radang sampai setengah paru). perasaan tak berdaya/tak ada harapan. PROSES KEPERAWATAN 1. b. kulit kering/bersisik. tidak enak diperut.3. B. demam. berkeringat pada malam hari. b. pembengkakan kelenjar limfe. Pernah sakit batuk yang lama dan tidak sembuh-sembuh. Riwayat vaksinasi yang tidak teratur.

upaya batuk buruk. 3. . d. jumlah penghasilan. 2. Poto torak: Infiltnasi lesi awal pada area paru atas . warna. Pada kalsifikasi tampak bayangan bercak-bercak padat dengan densitas tinggi. Diagnosa Keperawatan Diagnosa keperawatan yang lazim terjadi pada klien dengan Tuberkulosis paru adalah sebagai berikut: 1. minum alkohol. Riwayat lingkungan. d. dosis obat yang diminum. Resiko tinggi infeksi dan penyebaran infeksi berhubungan dengan: Daya tahan tubuh menurun. e. Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan: Berkurangnya keefektifan permukaan paru. tidak bersemangat dan putus harapan. Faktor Pendukung: a. 6. Kerusakan jaringan akibat infeksi yang menyebar. berupa cincin . untuk sembuh perlu waktu yang lama dan biaya yang banyak. kebersihan diri. Pada tahap dini tampak gambaran bercak-bercak seperti awan dengan batas tidak jelas . 3. b. b. Tes Tuberkulin: Mantoux test reaksi positif (area indurasi 10-15 mm terjadi 48-72 jam). Aspek psikososial. Bersihan jalan napas tidak efektif berhubungan dengan: Sekret kental atau sekret darah. masalah berhubungan dengan kondisi ekonomi. Sekret yang kental. Malnutrisi. Pada kavitas bayangan.3. Kerusakan membran alveolar kapiler. Terkontaminasi oleh lingkungan. Pemeriksaan Diagnostik: a. Kapan pasien mendapatkan pengobatan sehubungan dengan sakitnya. biasanya pada keluarga yang kurang marnpu. waktu dan tempat bekerja. Riwayat pekerjaan. Tingkat pengetahuan/pendidikan pasien dan keluarga tentang penyakit. Kurang pengetahuan tentang infeksi kuman. pengobatan dan perawatannya. fungsi silia menurun. Pola hidup. Spirometri: penurunan fuagsi paru dengan kapasitas vital menurun. Riwayat Sosial Ekonomi: a. Edema bronchial. Jenis. b. Kelemahan. masalah tentang masa depan/pekerjaan pasien. Darah: peningkatan leukosit dan Laju Endap Darah (LED). menarik diri. kebiasaan merokok. Riwayat Pengobatan Sebelumnya: a. c. 4. Berapa lama. c. pencegahan. sekret yang inenetap. Jenis pekerjaan. pasien menjalani pengobatan sehubungan dengan penyakitnya. Bronchografi: untuk melihat kerusakan bronkus atau kerusakan paru karena TB paru. Kultur sputum: Mikobakterium Tuberkulosis positif pada tahap akhir penyakit. Edema trakeal/faringeal. atelektasis. f. Merasa dikucilkan. pola istirahat dan tidur. b. Nutrisi. tidak dapat berkomunikisi dengan bebas. 5. Kapan pasien mendapatkan pengobatan terakhir. c.

Perubahan kebutuhan nutrisi. b. Rasional: Penurunan bunyi napas indikasi atelektasis. Rasional: Mencegah obstruksi/aspirasi. pengobatan. ronki indikasi akumulasi secret/ketidakmampuan membersihkan jalan napas sehingga otot aksesori digunakan dan kerja pernapasan meningkat. catat karakter. kecepatan. kedalaman dan penggunaan otot aksesori. Suction dilakukan bila pasien tidak mampu mengeluarkan sekret. kurang dari kebutuhan berhubungan dengan: Kelelahan. Penurunan kemampuan finansial. jumlah sputum. Kaji fungsi pernapasan: bunyi napas. suction bila perlu. Anoreksia. Intervensi: a. imma. Rasional: Pengeluaran sulit bila sekret tebal. pencegahan berhubungan dengan: Tidak ada yang menerangkan. Pertahankan intake cairan minimal 2500 ml/hari kecuali kontraindikasi. Informasi yang didapat tidak lengkap/tidak akurat. 5. Catat kemampuan untuk mengeluarkan secret atau batuk efektif. Berpartisipasi dalam program pengobatan sesuai kondisi. adanya hemoptisis. Bersihkan sekret dari mulut dan trakea. Bersihan jalan napas tidak efektif Tujuan: Mempertahankan jalan napas pasien. e. Mengidentifikasi potensial komplikasi dan melakukan tindakan tepat. Lembabkan udara/oksigen inspirasi. . c. adanya produksi sputum. Bantu/ajarkan batuk efektif dan latihan napas dalam. Kurang pengetahuan tentang kondisi. Mengeluarkan sekret tanpa bantuan. Rasional: Meningkatkan ekspansi paru. Batuk yang sering. Berikan pasien posisi semi atau Fowler. Dispnea. Rasional: Membantu mengencerkan secret sehingga mudah dikeluarkan f. Interpretasi yang salah. Menunjukkan prilaku untuk memperbaiki bersihan jalan napas. Rasional: Mencegah pengeringan membran mukosa. Rencana Keperawatan Adapun rencana keperawatan yang ditetapkan berdasarkan diagnosis keperawatan yang telah dirumuskan sebagai berikut: 1.4. Terbatasnya pengetahuan/kognitif 4. sputum berdarah akibat kerusakan paru atau luka bronchial yang memerlukan evaluasi/intervensi lanjut. ventilasi maksimal membuka area atelektasis dan peningkatan gerakan sekret agar mudah dikeluarkan d.

Berikan oksigen sesuai indikasi. bronkodilator. Menunjukkan perbaikan ventilasi dan oksigenasi jaringan adekuat dengan GDA dalam rentang normal. Rasional: Menurunnya saturasi oksigen (PaO2) atau meningkatnya PaC02 menunjukkan perlunya penanganan yang lebih. Rasional: Meningkatnya resistensi aliran udara untuk mencegah kolapsnya jalan napas. Kaji dispnea. Bebas dari gejala distress pernapasan. h. catat tanda-tanda sianosis dan perubahan warna kulit. pleural effusion dan meluasnya fibrosis dengan gejala-gejala respirasi distress. 2. Rasional: Diperlukan pada kasus jarang bronkogenik. f. e. terutama pada pasien dengan fibrosis atau kerusakan parenkim. aman. Rasional: Mengurangi konsumsi oksigen pada periode respirasi. Rasional: Membantu mengoreksi hipoksemia yang terjadi sekunder hipoventilasi dan penurunan permukaan alveolar paru. lingkaran ukuran lumen trakeabronkial. Demonstrasikan/anjurkan untuk mengeluarkan napas dengan bibir disiutkan. Anjurkan untuk bedrest. takipnea. nekrosis. Gangguan pertukaran gas Tujuan: Melaporkan tidak terjadi dispnea. Intervensi a. berguna jika terjadi hipoksemia pada kavitas yang luas. bunyi pernapasan abnormal. b. Intervensi a. membran mukosa. Evaluasi perubahan-tingkat kesadaran. 3. Rasional: Akumulasi secret dapat menggangp oksigenasi di organ vital dan jaringan. dengan edema laring atau perdarahan paru akut. c. Berikan obat: agen mukolitik. Monitor GDA.g. Peningkatan upaya respirasi. Review patologi penyakit fase aktif/tidak aktif. d. penyebaran infeksi melalui bronkus . kortikosteroid sesuai indikasi. keterbatasan ekspansi dada dan kelemahan. Bantu inkubasi darurat bila perlu. Menunjukkan/melakukan perubahan pola hidup untuk meningkatkan lingkungan yang. Rasional: Menurunkan kekentalan sekret. dan warna kuku. batasi dan bantu aktivitas sesuai kebutuhan. Resiko tinggi infeksi dan penyebaran infeksi Tujuan: Mengidentifikasi intervensi untuk mencegah/menurunkan resiko penyebaran infeksi. adekuat atau perubahan terapi. Rasional: Tuberkulosis paru dapat rnenyebabkan meluasnya jangkauan dalam paru-pani yang berasal dari bronkopneumonia yang meluas menjadi inflamasi.

Rasional: Periode menular dapat terjadi hanya 2-3 hari setelah permulaan kemoterapi jika sudah terjadi kavitas. Monitor sputum BTA Rasional: Untuk mengawasi keefektifan obat dan efeknya serta respon pasien terhadap terapi. operasi bypass intestinal. meludah. Rasional: Orang-orang yang beresiko perlu program terapi obat untuk mencegah penyebaran infeksi. c. f. Identifikasi orang-orang yang beresiko terkena infeksi seperti anggota keluarga. b. tertawa. bersin. Pemberian terapi INH. Pengobatan jangka pendek INH dan Rifampisin selama 9 bulan dan Etambutol untuk 2 bulan pertama. Rasional: Obat-obat sekunder diberikan jika obat-obat primer sudah resisten. Rasional: Mengurangi risilio penyebaran infeksi. Gunakan masker setiap melakukan tindakan. Monitor temperatur. ciuman atau menyanyi. Anjurkan pasien menutup mulut dan membuang dahak di tempat penampungan yang tertutup jika batuk. d. resiko. Pemberian terapi Pyrazinamid (PZA)/Aldinamide. etambutol. teman. malnutrisi. Rasional: Pengetahuan tentang faktor-faktor ini membantu pasien untuk mengubah gaya hidup dan menghindari/mengurangi keadaan yang lebih buruk. Tekankan untuk tidak menghentikan terapi yang dijalani.pada jaringan sekitarnya atau aliran darah atau sistem limfe dan resiko infeksi melalui batuk. h. seperti: alkoholisme. Identifikasi individu yang berisiko tinggi untuk terinfeksi ulang Tuberkulosis paru. Rifampisin. 4. penyebaran infeksi dapat berlanjut sampai 3 bulan. orang dalam satu perkumpulan. streptomisin. adanya diabetes melitus. Perubahan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan Tujuan: Menunjukkan berat badan meningkat mencapai tujuan dengan nilai laboratoriurn . kanker. Rasional: Membantu pasien agar mau mengerti dan menerima terapi yang diberikan untuk mencegah komplikasi. para-amino salisik (PAS). i. Rasional: Febris merupakan indikasi terjadinya infeksi. sikloserin. g. e.. Rasional: INH adalah obat pilihan bagi penyakit Tuberkulosis primer dikombinasikan dengan obat-obat lainnya. j. Rasional: Kebiasaan ini untuk mencegah terjadinya penularan infeksi. menggunakan obat penekan imun/ kortikosteroid.

Anjurkan bedrest. Rasional: Mengukur keefektifan nutrisi dan cairan. Tujuan: Menyatakan pemahaman proses penyakit/prognosis dan kebutuhan pengobatan. pengobatan. Catat adanya anoreksia. e. Rasional: Membantu menurunkan insiden mual dan muntah karena efek samping obat. Rasional: Nilai rendah menunjukkan malnutrisi dan perubahan program terapi. Rasional: Dapat menentukan jenis diet dan mengidentifikasi pemecahan masalah untuk meningkatkan intake nutrisi. Intervensi: a. timbang berat badan. Berikan antipiretik tepat. dan tetapkan jika ada hubungannya dengan medikasi. konsistensi Buang Air Besar (BAB). dan albumin). k. j. meningkatkan intake diet pasien. Kurang pengetahuan tentang kondisi. Rasional: Memaksimalkan intake nutrisi dan menurunkan iritasi gaster. Catat status nutrisi paasien: turgor kulit. h. Rasional: Memberikan bantuan dalarn perencaaan diet dengan nutrisi adekuat unruk kebutuhan metabolik dan diet. Rasional: Membantu menghemat energi khusus saat demam terjadi peningkatan metabolik. Rujuk ke ahli gizi untuk menentukan komposisi diet. integritas mukosa mulut. adanya bising usus. Monitor intake dan output secara periodik. f. i. d. Awasi frekuensi. Rasional: berguna dalam mendefinisikan derajat masalah dan intervensi yang tepat. kemampuan menelan. . riwayat mual/rnuntah atau diare. muntah. Rasional: Mengurangi rasa tidak enak dari sputum atau obat-obat yang digunakan yang dapat merangsang muntah. Rasional: Demam meningkatkan kebutuhan metabolik dan konsurnsi kalori. c. volume. protein serum. Melakukan perubahan pola hidup untuk meningkatkan dan mempertahankan berat badan yang tepat. Kaji pola diet pasien yang disukai/tidak disukai. mual. Lakukan perawatan mulut sebelum dan sesudah tindakan pernapasan.normal dan bebas tanda malnutrisi. Rasional: Membantu intervensi kebutuhan yang spesifik. g. Awasi pemeriksaan laboratorium. Anjurkan makan sedikit dan sering dengan makanan tinggi protein dan karbohidrat. 5. pencegahan. b. (BUN. Konsul dengan tim medis untuk jadwal pengobatan 1-2 jam sebelum/setelah makan.

lingkungan belajar. tindakan dan perlunya terapi dalam jangka waktu lama. nyeri dada. j. Rasional: Meningkatkan partisipasi pasien mematuhi aturan terapi dan mencegah putus obat. kehilangan pendengaran. jelaskan penatalaksanaan obat: dosis. . Intervensi a. konstipasi. Rasional: Kebiasaan minurn alkohol berkaitan dengan terjadinya hepatitis h. Tekankan pentingnya asupan diet Tinggi Kalori Tinggi Protein (TKTP) dan intake cairan yang adekuat. Rasional: Efek samping etambutol: menurunkan visus. Rasional: Indikasi perkembangan penyakit atau efek samping obat yang membutuhkan evaluasi secepatnya. Dorong pasien dan keluarga untuk mengungkapkan kecemasan. g. Berikan Informasi yang spesifik dalam bentuk tulisan misalnya: jadwal minum obat. peningkatan tekanan darah Rasional: Mencegah keraguan terhadap pengobatan sehingga mampu menjalani terapi. Rujuk perneriksaan mata saat mulai dan menjalani terapi etambutol. Anjurkan pasien untuk tidak minurn alkohol jika sedang terapi INH. c. tingkat partisipasi. kurang mampu melihat warna hijau. gangguan penglihatan. media. demam. Rasional: Mencukupi kebutuhan metabolik. e. Mengidentifikasi gejala yang mernerlukan evaluasi/intervensi. pertambangan. i. kesulitan bernafas. pengecatan. tingkat pengetahuan. Berikan gambaran tentang pekerjaan yang berisiko terhadap penyakitnya misalnya: bekerja di pengecoran logam. Menerima perawatan kesehatan adekuat. Jangan menyangkal. Penyangkalan dapat memperburuk mekanisme koping. intake cairan membantu mengencerkan dahak. jelaskan tentang efek samping obat: mulut kering. frekuensi. Identifikasi tanda-tanda yang dapat dilaporkan pada dokter misalnya: hemoptisis. Ulangi penyuluhan tentang interaksi obat Tuberkulosis dengan obat lain. Rasional: Kemampuan belajar berkaitan dengan keadaan emosi dan kesiapan fisik. orang dipercaya. Rasional: Informasi tertulis dapat membantu mengingatkan pasien. kelelahan. sakit kepala. Kaji kemampuan belajar pasien misalnya: tingkat kecemasan. mengurangi kelelahan. vertigo. f. perhatian. Keberhasilan tergantung pada kemarnpuan pasien. Rasional: Menurunkan kecemasan.Melakukan perubahan prilaku dan pola hidup unruk memperbaiki kesehatan umurn dan menurunkan resiko pengaktifan ulang luberkulosis paru. d. b.

2008 Proses keperawatan pada pasien dengan Tuberculosa dengan pendekatan 5 langkah proses keperawatan sebagai berikut : 1. Angka kejadian (prevalensi) TB paru-paru pada usia 5-12 tahun cukup rendah. 5. Evaluasi a. kemudian meningkat setelah masa remaja di mana TB paru-paru menyerupai kasus pada pasien dewasa (sering disertai lubang/kavitas pada paru-paru). Rasional: Merokok tidak menstimulasi kambuhnya Tuberkulosis. Instestinal (GD. Komplikasi Tuberkulosis: formasi abses. u1serasi Gastro. fibrosis. TB luar paru-paru dan TB yang berat terutama ditemukan pada usia < 3 tahun. Keefektifan bersihan jalan napas. bronkiektasis. TB pada anak dapat terjadi pada usia berapa pun. Perilaku/pola hidup berubah untuk mencegah penyebaran infeksi. hernoptisis. d. Asuhan Keperawatan Pada Pasien dengan TBC Paru Oleh: irman May 28. Biasanya timbul pada lingkungan rumah dengan kepadatan tinggi yang tidak memungkinkan cahaya matahari masuk ke dalam rumah. Tuberkulosis laring. . k. berat badan meningkat dan tidak terjadi malnutrisi. Review tentang cara penularan Tuberkulosis dan resiko kambuh lagi.1. Pengkajian a. Anak lebih sering mengalami TB luar paru-paru (extrapulmonary) dibanding TB paru-paru dengan perbandingan 3:1. Kebutuhan nutrisi adekuat.. tapi gangguan pernapasan/ bronchitis. Fungsi pernapasan adekuat untuk mernenuhi kebutuhan individu. pneumotorak. empisema. empierna. l. Anjurkan untuk berhenti merokok. dan penularan kuman. Bio Data Penyakit Tuberkulosa dapat menyerang dari mulai anak sampai dengan dewasa dengan komposisi antara laki-laki dan perempuan yang hampir sama menderita. Rasional: Pengetahuan yang cukup dapat mengurangi resiko penularan/ kambuh kembali. b. e. efusi pleura.Rasional: Debu silikon beresiko keracunan silikon yang mengganggu fungsi paru/bronkus. Pemahaman tentang proses penyakit/prognosis dan program pengobatan dan perubahan perilaku untuk memperbaiki kesehatan. fistula bronkopleural. c. namun usia paling umum adalah antara 1-4 tahun.

3) Sesak nafas : bila sudah lanjut dimana infiltrasi radang sampai setengah paru. febris (40-41 2) Batuk : terjadi karena adanya iritasi pada bronchus. Pemeriksaan Fisik • Pada tahap dini sulit diketahui. Riwayat Kesehatan Keluhan yang sering muncul antara lain : C) hilang timbul. 6) Pada atelektasis terdapat gejala berupa : cyanosis. 5) Malaise : ditemukan berupa anorexia. c. • Pada keadaan lanjut Atropi dan retraksi interkostal dan fibrosis • Bila mengenai pleura terjadi effusi pleura (perkusi memberikan suara pekak) d. Perubahan mengindikasikanTB yang lebih berat dapat mencakup area berlubang dan fibrous. • Ronchi basah. . Mantoux. • Hipersonor/timpani bila terdapat kavitas yang cukup dan pada auskultasi memberikan suara umforik.°1) Demam : subfebris. nafsu makan menurun. 2) Ziehl Neelsen (Acid-fast Staind applied to smear of body fluid) : positif untuk BTA 3) Skin Test (PPD. nyeri otot. nyeri timbul bila infiltrasi radang sampai ke pleura sehingga menimbulkan pleuritis. batuk ini terjadi untuk membuang/mengeluarkan produksi radang. berat badan menurun. 4) Chest X-Ray : dapat memperlihatkan infiltrasi kecil pada lesi awal di bagian paru-paru bagian atas. kolaps. 7) Perlu ditanyakan dengan siapa pasien tinggal. kasar dan nyaring. timbul 48 – 72 jam setelah injeksi antigen intradermal) mengindikasikan infeksi lama dan adanya antibodi tetapi tidak mengindikasikan penyakit sedang aktif. Pada foto thorax tampak pada sisi yang sakit bayangan hitam dan diafragma menonjol ke atas. deposit kalsium pada lesi primer yang membaik atau cairan pada effusi. keringat malam. sakit kepala. Tine. karena biasanya penyakit ini muncul bukan karena sebagai penyakit keturunan tetapi merupakan penyakit infeksi menular. dimulai dari batuk kering sampai dengan batuk purulen (menghasilkan sputum). sesak nafas. Bagian dada klien tidak bergerak pada saat bernafas dan jantung terdorong ke sisi yang sakit.b. Pemeriksaan Tambahan 1) Sputum Culture : Positif untuk mycobacterium tuberkulosa pada stadium aktif. Vollmer Patch) : reaksi positif (area indurasi 10 mm atau lebih. 4) Nyeri dada : ini jarang ditemukan.

Dead Space meningkat.html) 5) Histologi atau Culture jaringan (termasuk kumbah lambung. adanya sel-sel besar yang mengindikasikan nekrosis. TLC meningkat dan menurunnya saturasi oksigen yang merupakan gejala sekunder dari fibrosis/infiltrasi parenchim paru dan penyakit pleura. urine dan CSF. mungkin ditemukan pada TB paru kronik lanjut. ABGs : mungkin abnormal. LED meningkat. 7) Elektrolit : mungkin abnormal tergantung dari lokasi dan beratnya infeksi. 6) Needle Biopsi of Lung Tissue : positif untuk granuloma TB. e. tergantung lokasi. 11) Test Fungsi Paru : VC menurun. biopsi kulit) : positif untu mycobacterium tuberkulosa.fas. PENATALAKSANAAN 1) Penyuluhan 2) Pencegahan 3) Pemberian obat-obatan : a) OAT (Obat Anti Tuberkulosa) b) Bronchodilator c) Expectoran d) OBH e) Vitamin 4) Fisioterapi dan rehabilitasi 5) Konsultasi secara teratur ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN KANKER LAMBUNG Oleh : .Gambar 15 : Foto Rontgen Klien Tuberkulosa Paru (Sumber : www. berat dan sisa kerusakan paru. misalnya hiponatremia mengakibatkan retensi air. 10) Darah : lekositosis.org/irp/imint/docs/rst/Intro/Part2_26b. 9) Bronchografi : merupakan pemeriksaan khusus untuk melihat kerusakan bronchus atau kerusakan paru karena TB.

Suatu lipatan ganda dari peritoneum. c. tekanan organ lain dan postur tubuh. Antrum pylorus merupakan muara distal yang berlanjut ke duodenum. Pada batas dengan esophagus terdapat katup sfingter kardiak. tekanan organ lain.Ferdynandus Felix TL. . Lambung merupakan saluran yang dapat mengembang karena adanya gerakan peristaltik. Anatomi Fisiologi Lambung Lambung merupakan sebuah kantung muskuler yang letaknya antara esophagus dan usus halus.Md. Mekanis : menyimpan. Korpus ventrikuli Bagian ini merupakan bagian lambung yang berbentuk tabung dan mempunyai otot yang tebal membentuk sfincter pylorus. Fundus ventrikuli Bagian ini menonjol ke atas. Pada bagian ini terdapat orifisium pylorus yang tidak mempunyai sfincter khusus. e. dr.2002) Karsinoma Gaster ialah suatu neoplasma yang terdapat pada Gaster. (Patologi. Kurvantura minor Terletak di sebelah kanan lambung dan terbentang dari osteum kardiak sampai ke pylorus. (R. d. Penghancuran makanan dilakukan dengan dua cara: a. Mahasiswa Prodi S1 Keperawatan STIK Muhammadiyah Pontianak 1.2000) 2. hanya berbentuk cincin yang membuka dan menutup osteum dengan kontraksi dan relaksasi. Achmad Tjarta. Pendorongan makanan terjadi secara gerakan peristaltik setiap 20 detik. a. Antrum pylorus merupakan muara bagian distal dan berlanjut ke duodenum. Kurvantura minor dihubungkan ke hepar oleh omentum minor. menghancurkan makanan dengan gerakan peristaltik lambung dan getah lambung. A. b. Antrum pylorus Merupakan bagian lambung yang berbentuk tabung dan mempunyai otot yang tebal membentuk sfincter pylorus. Struktur lambung. b. sebelah kiri abdomen di bawah diafragma.. tidak terkoordinasi dengan jaringan sekitarnya dan tidak berguna bagi tubuh. Definisi Neopasma ialah kumpulan sel abnormal yang terbentuk oleh sel-sel yang tumbuh terusmenerus secara tak terbatas.Kep. mencampur dengan sekret lambung dan mengeluarkan kimus ke dalam usus. Fungsi lambung: Lambung menampung makanan yang masuk melalui esophagus. Kimiawi : bolus dalam lambung akan dicampur dengan asam lambung dan enzimenzim tergantung jenis makanan enzim yang dihasilkan antara lain pepsin asam garam. terletak di sebelah kiri osteum kardiakum dan biasanya berisi gas. Osteum dapat tertutup oleh lipatan membran mukosa dan serta otot pada dasar esophagus. Simadibrata. Oesteum kariakum Merupakan tempat esophagus bagian abdomen masuk ke lambung.

3. terdapat sedikit . dan merasakan makanan maka sekresi lambung akan terangsang. perdarahan dengan atau tanpa ulserasi. Renin. Sfingter pylorus mengendalikan pengosongan lambung walaupun pylorus tetap terbuka. 1. c. memecah putih telur menjadi asam amino (albumin dan pepton) agar dapat diabsorbsi di intestinum minor. 4. mencium. sebagai ragi pembekuan susu dan membentuk kasein dan kaseinogen dari protein. Fase intestinal Masuknya darah ke dalam intestinum menyebabkan sekresi getah lambung membentuk lebih banyak gastrin. 3.renin dan lapisan lambung. Disamping itu mengubah pepsinogen menjadi pepsin dalam suasana asam. Kontraksi antrum akan diikuti oleh kontraksi pylorus dan duodenum. karena pengaruh saraf sehingga menimbulkan rangsang kimiawi yang menyebabkan dinding lambung melepaskan hormon yang disebut sekresi getah lambung. Pepsin. Sekresi getah lambung Sekresi getah lambung mulai terjadi pada awal orang makan apabila melihat. 2. Asam garam (HCl) mengasamkan makanan sebagai antiseptik dan desinfektan yang masuk ke dalam makanan. Lapisan lambung memecah lemak menjadi asam lemak untuk merangsang sekresi getah lambung. (Elevated type) Tampaknya sedikit elevasi mukosa lambung. b. Fase serebral Antisipasi dari makan menyebabkan stimulus merambat dari otak ke nervus vagus sampai ke lambung yang merupakan kelenjar yang terstimulasi untuk mensekresi hormon gastrin yang disekresi oleh membran mukosa kanalis pylorus yang menghasilkan getah lambung. Berdasarkan hasil pemeriksaan radiologi. gastroskopi dan pemeriksaan histopatologis dapat dibagi atas : Tipe I (pritrured type) Tumor ganas yang menginvasi hanya terbatas pada mukosa dan sub mukosa yang berbentuk polipoid. Apabila suatu gelombang peristaltik kuat sampai di antrum maka tekanan isi antrum naik dan diikuti oleh kontraksi pylorus sehingga mendorong kembali sebagian besar isi antrum yang masih bersifat padat ke korpus lambung. Sekresi getah lambung mengalami 3 fase yaitu: a. hanya sejumlah kecil yang masuk ke duodenum pada setiap kali kontraksi. II. Hampir seperti tipe I. Fase gastric Pada fase ini gastrin lebih banyak diproduksi. Klasifikasi Early gastric cancer (tumor ganas lambung dini). Bentuknya ireguler permukaan tidak rata. Tipe II (superficial type) Dapat dibagi atas 3 sub tipe.a.

Bentuknya berupa polipoid karsinoma yang sering juga disebut sebagai fungating dan mukosa di sekitar tumor atropik dan iregular. Patofisiologi Seperti pada umumnya tumor ganas ditempat lain penyebab tumor gaster juga belum diketahui secara pasti. Ternyata pada orang jepang yang telah lama meninggalkan jepang. tidak terlihat bats tegas pada dinding dan infiltrasi difus pada seluruh mukosa. Australia. Sedangkan pada atrofi gaster disapatkan bagian atas gaster dan secara multisenter. Kabanyakan karsinoma gaster berkembang pada bagian bawah gaster. dan faktor infeksi H. Rusia dan Skandinavia. Bormann II Merupakan Non Infiltrating Carsinomatous Ulcer dengan tepi ulkus serta mukosa sekitarnya menonjol dan disertai nodular. II. 2. 4. keabuan dan merah kehitaman.∅ II c dan II a ∅ III atau III ∅Menyerupai Bormann II (tumor ganas lanjut) dan sering disertai kombinasi seperti II c Advanced gastric cancer (tumor ganas lanjut). dan anemia pernisiosa. Karsinoma gaster terlihat beberapa bentuk. Berupa infiltrating Carsinomatous type.c.elevasi dan lebih meluas dan melebar. Bormann III. (Depressed type) Didapatkan permukaan yang iregular dan pinggir tidak rata (iregular) hiperemik / perdarahan. ikan asin yang mungkin mempermudah timbuknya tumor ganas gaster. Pylori.b. Chili. frekuensi tumor ganas gaster lebih rendah. Mukosa sekitar ulkus tampak sangat hiperemik. Selain itu faktor lain yang mempengaruhi adalah faktor herediter. makanan panas dapat merupakan faktor timbulnya tumor ganas seperti juga makanan yang di asap. 4. Type III. tidak terlihat batas tegas pada dinding dan infiltrasi difus pada seluruh mukosa. Bormann I. polip di gaster. (Flat type) Tidak terlihat elevasi atau depresi pada mukosa dan hanya terlihat perubahan pada warna mukosa. Faktor yag mempermudah timbulnya tumor ganas gaster adalah perubahan mukosa yang abnormal antara lain seperti gastritis atropik. 1. II. (Excavated type) II c. Di samping itu juga pengaruh keadaan lingkungan mungkin memegang peran penting terutama pada penyakit gaster seperti dinegara Jepang. Menurut klasifikasi Bormann dapat dibagi atas : 1. Bormann IV Berupa bentuk diffuse Infiltrating type. Karsinoma gaster berasal dari pertumbuhan epitel pada membran mukosa gaster. Seperempatnya berasal dari propria yang berbentuk fungating yang tumbuh ke lumen . Dapat disimpulkan bahwa kebiasaaan hidup mempunyai peran penting. Irlandia. Dasar ulkus terlihat nekrotik dengan warna kecoklatan. 3.

4. Bentuk linisplastika. Prognosis yang baik berhubungan dengan bentuk polipoid dan kemudian berbentuk ulserasi dan yang paling jelek ada bentuk scirrhous. arteri hepatika dan celiac. Dapat juga mengenai tulang. c. Penyebarannya melalui dinding yang disemari penyebaran pada permukaan. g. f. Sering makan makanan yang terlalu pedas. Gastritis kronis. 7. h. Pemeriksaan Diagnosis 1. Sering Makan daging hewan dengan cara dipanggang atau dibakar atau diasapkan. Makanan tersebut seperti . Penyebaran karsinoma gaster sering kehati. Makan makanan yang memproduksi bahan karsinogenik dan ko-karsinogenik. Kurang makanan yang mengandung serat. j. 2. Didaerah epigastrium mungkin ditemukan suatu massa dan jika telah terjadi metastasis ke . Nausea. Tanda dan Gejala Tanda dan gejala karsinoma kolo-rektal tergantung dari lokasi dan besarnya tumor : a. Faktor infeksi (oleh kuman H. paru. Disfagia. 2. 6. e. k. Kelemahan. Mudah kenyang. 5. Darah yang nyata atau samar dalam tinja n. 5. otak dan bagian lain saluran cerna. Pemeriksaan fisis. Anoreksia. l. 6. Namun para penyelidik berpendapat bahwa komposisi makanan merupakan faktor penting dalam kejadian karsinoma Gaster. Sepertiganya karsinoma berbagai bentuk di atas. Massa yang tumbuh melalui dinding menginvasi lapisan otot. 7. Pemeriksaan fisis dapat membantu diagnosis berupa berat badan menurun dan anemia. i. Seperempatnya berbentuktumor yang berulserasi. 6. Penurunan Berat badan. Pylory). Asites ( perut membesar). pankreas dan hilus selitar limpa. 3.sebagai massa. Keram abdomen m. 4. Muntah d. Herediter. Etiologi Penyebab dari karsinoma Gaster sampai saat ini belum diketahui secara pasti. Regurgitasi. Hematemasis. 5. 1. Nyeri b. 3. Pasien mengeluh rasa tidak enak pada perut terutama sehabis makan.

hidrourea. Radiasi Pengobatan dengan radiasi memperlihatkan kurang berhasil. Bedah jika penyakit belum menunjukkan tanda penyebaran. Sitologi. Obstruksi.hati. 6. Walaupun telah terdapat daerah sebar. Tengkurap. 3. pembedahab sudah dapat dilakukan sebagai tindakan paliatif. Radiologi. Komplikasi 1. Di antara obat yang di gunakan adalah 5 FU. Pemeriksaan Papanicolaou dari cairan lambung dapat memastikan tumor ganas lambung dengan hasil 80 – 90 %. dari pengambilan kelenjar limfa secukupnya. mitonisin C. Jika tumor mengenai dinding lambung dapat terjadi perlengketan dan infiltrasi dengan organ sekitarnya dan menimbulkan keluhan nyeri perut 7. Pemeriksaan gastroskopi banyak sekali membantu diagnosis untuk melihat adanya tumor gaster. trimetrexote. Adhesi. Pemeriksaan radiologi yang penting adalah pemeriksaan kontras ganda dengan berbagai posisi seperti telentang. 4. dan kadang-kadang kelenjar limfe klavikula teraba. Tentu pemeriksaan ini perlu dilengkapi dengan pemeriksaan gastroskopi dan biopsi. reseksi cairan sekitar yang terkena. Penatalaksanaan 1. Reaksi kuratif akan berhsil bila tidak ada tanda metastasis di tempat lain. Pada pemeriksaan Okuda (1969) dengan biopsi ditemukan 94 % pasien dengan tumor ganas gaster sedangkan dengan sitologi lavse hanya didapatkan 50 %. Konsep Dasar Keperawatan A. untuk itu perlu dilakukan pemeriksaan tes Benzidin. oblik yang disertai dengan komprsi. Kemoterapi Pada tumor ganas dapat dilakukan pemberian obat secara tunggal atau kombinsi kemoterapi. 5. 3. epirubisin dan karmisetin dengan hasil 18 – 30 %. 2. Persepsi kesehatan-pemeliharaan kesehatan . teraba hati yang iregular. 2. pilihan terbaik adalah pembedahan. Hematemesis. Pemeriksaan darah pada tinja. Pada tumor ganas sering didapatkan perdarahan dalam tinja (occult blood). 2. Hematemesis yang masif dan melena dapat terjadi pada tumor ganas lambung sehingga dapat menimbulkan anemia. Perforasi Dapat terjadi perforasi akut dan perforasi kronik. 4. Pengkajian a. Dapat terjadi pada bagian bawah lambung dekat daerah pilorus yang disertai keluhan mintah-muntah. tidak ada sisa Ca pada irisan lambung. 3. Gastroskopi dan Biopsi. B.

manis. Reproduksi dan seksualitas ° Adanya gangguan seksualitas dan penyimpangan seksualitas ° Pengaruh/hubungan penyakit terhadap seksualitas j. ° Ketaatan terhadap diet. muntah. waktu dan orang ° Adanya gangguan proses pikir dan daya ingat ° Cara klien mengatasi rasa tidak nyaman(nyeri) ° Adanya kesulitan dalam mempelajari sesuatu g.° Apakah ada riwayat kanker pada keluarga ° Status kesehatan dan penyakit yang diderita. alkohol. obat-obatan. Tidur dan istirahat ° Adanya gejala susah tidur/insomnia ° Kebiasaan tidur per 24 jam f. asam. ventilasi. Peran dan hubungan dengan sesama ° Klien hidup sendiri/keluarga ° Klien merasa terisolasi ° Adanya gangguan klien dalam keluarga dan masyarakat i. Mekanisme koping dan toleransi terhadap stess ° Adanya perasaan cemas. kaji diet khusus ° Jenis makanan yang disukai (pedas. Nutrisi metabolik ° Jenis. Persepsi dan konsep diri ° Penilaian klien terhadap dirinya sendiri h. Persepsi kognitif ° Gangguan pengenalan (orientasi) terhadap tempat. panas. anorexia. ketidaknyamanan.takut. bentuk feses. alkohol dan mengkonsumsi obat-obatan tertentu. dingin) ° Adanya makanan tambahan ° Napsu makan berlebih/kurang ° Kebersihan makanan yang dikonsumsi c.tidak sabar ataupun marah . b. upaya yang dilakukan ° Lingkungan tempat tinggal klien ° Tingkat pengetahuan dan kepedulian pasien ° Hal-hal yang membuat status kesehatan pasien berubah : merokok. Aktivitas dan latihan ° Kebiasaan aktivitas sehari hari ° Kebiasaan olah raga ° Rasa sakit saat melakukan aktivitas e. frekuensi dan jumlah makanan dan minuman yang dikonsumsi sehari ° Adanya mual. Eliminasi ° Pola BAK dan BAB: frekuensi. karakteristik. polusi. ketidakmampuan memenuhi kebutuhan nutrisi ° Adanya kebiasaan merokok. dan bau ° Adanya nyeri waktu BAB d. masalah pengontrolan ° Adanya mencret bercampur darah ° Adanya Diare dan konstipasi ° Warna feses. lingkungan.

Nyeri berhubungan dengan interupsi tubuh sekunder terhadap prosedur invasif atau intervensi operasi. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan mual. Rencana Keperawatan a. Pre-Operasi Dp 1. Kecemasan berhubungan dengan rencana pembedahan 3. frekfensi R/ mengtahui tingkat nyeri sebagai evaluasi untuk intervensi selanjutnya 2. Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian analgetik R/ analgetik efektif untuk mengatasi nyeri Dp 2. Pre-Op 1. C. Diagnosa Keperawatan a. marah. b. muntah dan tidak nafsu makan 4. Post-Op 1. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan status puasa. cemas) R/ dengan mengetahui faktor penyebab nyeri menentukan tindakan untuk mengurangi nyeri 3. Jelaskan setiap tindakan yang akan dilakukan terhadap pasien R/ pasien kooperatif dalam segala tindakan dan mengurangi kecemasan pasien .° Mekanisme koping yang biasa digunakan ° Respon emosional klien terhadap status saat ini ° Orang yang membantu dalam pemecahan masalah k. 2. Kaji karakteristik nyeri. Ketidakefektifan pola nafas b. Intoleransi beraktivitas berhubungan dengan kelemahan fisik. Kaji faktor penyebab timbul nyeri (takut . 4. Nyeri berhubungan dengan proses pertumbuhan sel-sel kanker 2.apakah kegiatan ibadah terganggu A. 3.d adanya pengaruh anastesi. Kecemasan berhubungan dengan ketidakpastian tentang hasil pengobatan kanker. Ajarkan tehnik relaksasi tarik nafas dalam R/ tehnik relaksasi dapat mengatsi rasa nyeri 4. lokasi. Sistem kepercayaan ° Agama yang dianut. Kecemasan berhubungan dengan rencana pembedahan Tujuan : Kecemasan dapat diminimalkan setelah dilakukan tindakan keperawatan Hasil yang diharapkan : Kecemasan pasien berkurang Rencana Tindakan: 1. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan peningkatan kerentanan sekunder terhadap prosedur invasive. Nyeri berhubungan dengan proses pertumbuhan sel-sel kanker Tujuan : Nyeri berkurang sampai hilang setelah dilakukan tindakan keperawatan Hasil yang diharapkan : Nyeri berkurang sampai dengan hilang Rencana Tindakan: 1. 5.

Hidangkan makanan dalam porsi kecil tapi sering dan hangat. Rencana Tindakan : 1. R/ Terpenuhinya kebutuhan klien.d adanya pengaruh anastesi. Post-Operasi Dp 1. muntah dan tidak nafsu makan. 2. 4. R/ Menentukan aktivitas yang boleh dilakukan. Hasil yang diharapkan: Klien menunjukkan peningkatan toleransi dalam beraktivitas yang ditandai dengan: tidak mengeluh lemas. Beri kesempatan pada pasien untuk mengungkapkan perasaan akan ketakutannya R/ untuk mengurangi kecemasan 3. 5.2. R/ Jenis makanan yang disukai akan membantu meningkatkan nafsu makan klien. Tujuan : Intoleransi aktivitas teratasi setelah dilakukan tindakan keperawatan. klien beraktivitas secara bertahap. Akui rasatakut/ masalah pasien dan dorong mengekspresikan perasaan R/ dukungan memampukan pasien memulai membuka/ menerima kenyataan penyakit dan pengobatan Dp 3. R/ Istirahat akan memberikan energi yang cukup dan membantu dalam proses penyembuhan. 4. Ketidakefektifan pola nafas b. R/ Tarik nafas dalam membantu untuk merelaksasikan dan mengurangi mual. 3. Hasil yang diharapkan : . Tujuan : Kebutuhsn nutrisi dapat terpenuhi setelah dilakukan keperawatan Hasil yang diharapkan: . Bantu memenuhi kebutuhan klien. Evaluasi tingkat pemahaman pasien / orang terdekat tentang diagnosa medik R/ memberikan informasi yang perlu untuk memilih intervensi yang tepat 4. Kaji kebiasaan makan klien. Kaji kemampuan klien dalam beraktivitas. Timbang berat badan bila memungkinkan. Sediakan waktu istirahat yang cukup. Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian vitamin R/ Mencegah kekurangan karena penurunan absorsi vitamin larut dalam lemak Dp 4. Kaji keluhan klien saat beraktivitas. Ajarkan teknik relaksasi yaitu tarik napas dalam. Rencana tindakan : 1.Mual berkurang sampai dengan hilang.Nutrisi klien terpenuhi . R/ Mengidentifikasi kelainan beraktivitas. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan mual. 3. R/ Untuk mengetahui kehilangan berat badan. Tujuan : Pola nafas kembali efektif setelah dilakukan tindakan keperawatan. Intoleransi beraktivitas berhubungan dengan kelemahan fisik. R/ Makanan yang hangat menambah nafsu makan. 2.

krekels basah (bronkitis). ronchi. 6. Tujuan : Nyeri berkurang sampai hilang setelah dilakukan tindakan keperawatan. R/ Peninggian kepala tempat tidur mempermudah fungsi pernafasan dengan menggunakan gravitasi. 8. catat radio inspirasi/ekspirasi. 5. Kaji/pantau frekuensi pernafasan. distress pernafasan. Dorong/bantu latihan nafas abdomen atau bibir. 7. Bantu tindakan untuk memperbaiki keefektifan upaya batuk. mentriger episode akut.Bunyi nafas bersih. basah. frekfensi R/ mengtahui tingkat nyeri sebagai evaluasi untuk intervensi selanjutnya 2. bunyi nafas redup dengan ekspirasi mengi (emfisema) atau tidak adanya bunyi nafas (asma berat). lokasi. R/ Disfungsi pernafasan adalah variabel yang tergantung pada tahap proses kronis selain proses akut yang menimbulkan perawatan di rumah sakit. R/ Tachipnea biasanya ada pada beberapa derajat dan dapat ditemukan pada penerimaan atau selama stress/adanya proses infeksi akut. Kaji pasien untuk posisi yang nyaman misalnya peninggian kepala tempat tidur. Penggunaan cairan hangat dapat menurunkan spasme bronkus. sakit akut atau kelemahan.. Hasil yang diharapkan : Nyeri berkurang sampai dengan hilang Rencana Tindakan : 1. R/ Memberikan pasien-pasien beberapa cara untuk mengatasi dan mengontrol dyspnea dan menurunkan jebakan udara. Catat adanya derajat dyspnea misalnya keluhan “lapar udara”. Pernafasan dapat melambat dan frekuensi ekspirasi memanjang dibanding inspirasi. Nyeri berhubungan dengan interupsi tubuh sekunder terhadap prosedur invasif atau intervensi operasi. 4. Tingkatkan masukan cairan antara sebagai pengganti makanan. R/ Pencetus tipe reaksi alergi pernafasan yang dapat. Misalnya infeksi.Suara nafas vesikuler . Batuk paling efektif pada posisi duduk tinggi atau kepala di bawah setelah perkusi dada. Kaji karakteristik nyeri. ansietas. duduk pada sandaran tempat tidur. reaksi alergi. cemas) R/ dengan mengetahui faktor penyebab nyeri menentukan tindakan untuk mengurangi . Cairan selama makan dapat meningkatkan distensi gaster dan tekanan pada diafragma. bantal. Mempermudah pengeluaran. Observasi karakteristik batuk misalnya menetap. Kaji faktor penyebab timbul nyeri (takut . R/ Beberapa derajat spasme bronkus terjadi dengan obstruksi jalan nafas dan dapat/tidak dimanifestasikan adanya bunyi nafas adventisius misalnya: penyebaran. Dp 2. catat adanya bunyi nafas misalnya mengi. dll membantu menurunkan kelemahan otot dan dapat sebagai alat ekspansi dada. marah. Pertahankan polusi lingkungan minimum misalnya: debu. tidak ada suara tambahan Rencana tindakan : 1. krekels. Sokongan tangan/kaki dengan meja. Auskultasi bunyi nafas. penggunaan otot bantu. 2. 3. gelisah. R/ Batuk dapat menetap tetapi tidak efektif. batuk pendek. asap dan bulu bantal yang berhubungan dengan kondisi individu. khususnya bila pasien lansia. R/ Hidrasi membantu menurunkan kekentalan sekret.

R/ Tarik nafas dalam membantu untuk merelaksasikan dan mengurangi mual. 3. Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian vitamin R/ Mencegah kekurangan karena penurunan absorsi vitamin larut dalam lemak Dp 4. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan status puasa. Timbang berat badan bila memungkinkan. eritema. R/ Jenis makanan yang disukai akan membantu meningkatkan nafsu makan klien. pus. Tujuan : Infeksi tidak terjadi setelah dilakukan tindakan keperawatan.Tidak ada tanda-tanda infeksi. Hidangkan makanan dalam porsi kecil tapi sering dan hangat. 2. Ajarkan tehnik relaksasi tarik nafas dalam R/ tehnik relaksasi dapat mengatsi rasa nyeri 4. Kaji kebiasaan makan klien. Hasil yang diharapkan : . Tujuan : Nutrisi pasien terpenuhi setelah dilakukan keperawatan. Observasi tanda-tanda vital. membantu mengurangi ansietas. 3. R/ Pengetahuan tentang kemajuan situasi memberikan dukungan emosi. adanya demam. Hasil yang diharapkan : Kecemasan pasien berkurang Rencana Tindakan: 1. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan peningkatan kerentanan sekunder terhadap prosedur invasive. 5. 2. Observasi daerah luka operasi. Hasil yang diharapkan : . 4. 4. Rencana tindakan : 1.Mual berkurang sampai dengan hilang. Kecemasan berhubungan dengan ketidakpastian tentang hasil pengobatan kanker Tujuan : Kecemasan dapat diminimalkan setelah dilakukan tindakan keperawatan. menggigil. Rencana tindakan: 1. Ajarkan teknik relaksasi yaitu tarik napas dalam. R/ Sebagai indikator adanya infeksi/terjadinya sepsis. Berikan informasi yang tepat. Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian analgetik R/ analgetik efektif untuk mengatasi nyeri Dp 3. R/ Makanan yang hangat menambah nafsu makan. Dp 5. R/ Untuk mengetahui kehilangan berat badan. adanya rembesan. R/ Membantu menurunkan penyebaran dan pertumbuhan bakteri.Proses penyembuhan luka tepat waktu. berkeringat.nyeri 3.Nutrisi klien terpenuhi . R/ Deteksi dini terjadinya proses infeksi. Jelaskan setiap tindakan yang akan dilakukan terhadap pasien R/ pasien kooperatif dalam segala tindakan dan mengurangi kecemasan pasien . jujur pada pasien/orang terdekat. Kolaborasi dengan medik untuk terapi antibiotik. .

Kaji hubungan antara pasien dan anggota keluarga dekat. BAGAIMANA TERAPINYA? Untuk kanker lambung stadium awal yang hanya terbatas pada mukosa atau submukosa. kanker sudah menginfiltrasi lapisan otot dinding lambung. Gangguan konsep diri berhubungan dengan kehilangan Tujuan : Gangguan konsep diri teratasi setelah dilakukan tindakan keperawatan Kriteria Hasil : Klien dapat percaya diri dengan keadaan penyakitnya. Bagaimana terapi kanker lambung yang tidak dapat atau tidak sesuai dioperasi? Terutama adalah: (1) kanker lambung stadium sedang dan lanjut progresif. untuk kanker lambung stadium sedang dan lanjut terapi operasi belum tentu berguna. 3. Rencana tindakan : 1. Tapi untuk kanker lambung stadium sedang dan lanjut progresif. R/ Dukungan yang terus menerus akan memudahkan dalam proses adaptasi.5%. . Akui rasatakut/ masalah pasien dan dorong mengekspresikan perasaan R/ Dukungan memampukan pasien memulai membuka/ menerima kenyataan penyakit dan pengobatan Dp 5. Berikan waktu/dengarkan hal-hal yang menjadi keluhan. operasi hasilnya baik sekali. reaksi keluarga dan pasien terhadap penyakit dan penanganannya. KANKER LAMBUNG: TAK DAPAT DIOPERASI. Kaji respon. 4. Libatkan semua orang terdekat dalam pendidikan dan perencanaan perawatan di rumah.2. Dengan kata lain. Evaluasi tingkat pemahaman pasien / orang terdekat tentang diagnosa medik R/ Memberikan informasi yang perlu untuk memilih intervensi yang tepat 4. R/ Dapat memudahkan beban terhadap penanganan dan adaptasi di rumah. angka survival 5 tahun mencapai 80% lebih. Beri kesempatan pada pasien untuk mengungkapkan perasaan akan ketakutannya R/ Untuk mengurangi kecemasan 3. 2. angka survival 5 tahun dengan operasi hanya 11. R/ Untuk mempermudah dalam proses pendekatan. R/ Support keluarga membantu dalam proses penyembuhan.

Terapi fotodinamik: untuk sebagian pasien kanker lambung stadium dini yang karena usia lanjut. (2) walaupun lesinya kecil. Terapi endoskopik: sering kali dengan endoskopi disuntikkan obat kemoterapi. Dari Jepang dilaporkan 19 pasien diterapi dengan cara ini. sudah metastasis luas. Terhadap pasien kanker lambung yang tidak dapat atau tidak ingin dioperasi. BLM. (5) pasien yang tidak menghendaki dioperasi. dll. (4) kakeksia. Jepang melaporkan lagi 8 kasus kanker lambung dini dengan . 2. 11 kasus (85%) dalam 6 tahun tidak kambuh. komplikasi penyakit lain hingga tidak dapat atau tidak ingin dioperasi. MMC. Amerika Serikat melaporkan 13 kasus kanker lambung dini diterapi dengan cara ini. terdapat metastasis ke kelenjar limfe regional. laser membakar kanker. (3) kekambuhan pasca operasi kanker lambung. Obat kemoterapi yang disuntikkan dapat dipilih FU. atau dengan gelombang mikro. 60% pasien sembuh. selain kemoterapi konvensional. CCNU.berlekatan atau menginvasi organ sekitarnya. tapi terdapat metastasis jauh. dapat diambil tindakan berikut: 1. metode ini merupakan pilihan pertama.

struktur dinding sel aktinomises Rubra (N-CWS). Obat yang sering digunakan adalah interleukin-2. levamisol. keluhan membaik. polisakarid Polyporus. kemampuan membunuh sel kanker berkurang. maka kondisi imunitas pasien harus diperbaiki. setelah diterapi 52% pasien lesinya mengecil. OK-432. 39 kasus kanker lambung yang tidak dapat dioperasi atau kambuh. sediaan filtrat S. Sizofilan (APG). Terhadap kanker lambung progresif metode ini juga memiliki nilai tertentu. serta dengan minyak iodisasi mengoklusi arteri pemasok jaringan kanker. polisakarid Polystictin.terapi ini. juga dapat menggunakan sel pembunuh yang diaktivasi limfokin (LAK) dan limfosit infiltrasi tumor (TIL) untuk imunoterapi sekunder. 7 kasus kankernya bersih total. 4. 汐-interferon. vaksen tumor sel dendritik dinilai memiliki prospek yang baik. . 3. aureus. lentinan. faktor nekrosis tumor dll. Injeksi obat kemoterapi atau/dan embolisasi ke dalam arteri gastrika: kateterisasi arteri gastrika dan injeksi satu atau beberapa jenis obat antitumor. Imunoterapi kanker lambung: pasien kanker lambung memiliki cacat fungsi imunitas. dapat membuat lesi kanker nekrosis.

buguzhi (fruktus Psoraleae corylifoliae). zaoxiu (rizoma Paridis). 88 pasien tidak dapat dioperasi. shengmiren (semen Coicis). baiying (herba Solani lyrati). Herba China: pengalaman empiris membuktikan terapi herba China dapat memperpanjang survival pasien. gancao (radiks Glycyrrhizae uralensis). &qingrejiedu* (pembersih panas penawar racun). membentuk sediaan &fuzhengkangai* (penguat ketahanan tubuh antikanker). shijianchuan (herba Salviae chinensis).5. tufuling (sklerotium Poria cocos). &fuzhengguben* (penguat daya tahan tubuh). 161 di antaranya sudah dioperasi paliatif. xianhecao (herba Agrimoniae pilosae). Hasilnya ternyata pasien yang belum pernah dioperasi setelah mendapat terapi gabungan medis Barat-China memiliki . Herba yang digunakan mencakup dangshen (radiks Codonopsitis pilosulae). sheshicao (herba Hedyotis diffusae). shenghuangqi (radiks Astragali membranaceus). baizhu (rizoma Atractylodis macrocephalae). Pakar China memakai herba yang bersifat &jianpiyiqi* (penguat limpa dan energi). dll. Obat-obatan itu dikombinasikan dengan kemoterapi untuk terapi 249 pasien kanker lambung stadium lanjut.

efektivitas dapat ditingkatkan. setelah lesi di lambung mengecil barulah dioperasi. Terapi kombinasi: sesuai kondisi pasien. sedangkan pada kelompok kemoterapi saja survival 1.33%.33% dan 23. 3 tahun masing-masing 73.33% dan 3. 9 pasien hasilnya memuaskan.33%. di antaranya satu kasus dengan metastasis luas ke hati setelah mendapat terapi sebagian besar tumornya lenyap. 5 kasus efektif. 3 tahun adalah masing-masing 40.angka survival 1. Kami memakainya mengobati 7 kasus kanker lambung stadium lanjut. beberapa jenis terapi di atas digunakan secara kombinasi.6%.33%. Terapi antiangiogenesis: Avastin dapat menghambat neovaskularisasi tumor. dapat dikerjakan dulu kemoembolisasi arteri gastrika dan/ atau terapi fotodinamik. Sedangkan metastasis di hati dapat diterapi dengan krioablasi argon-helium. 23. maka terapi gabungan medis Barat-China lebih unggul dari kemoterapi semata. Pada pasien kanker lambung dengan metastasis ke hati. . 53. 7. Kami telah menggunakan terapi kombinasi ini atas 12 pasien. 2. 6. 2.

Patofisiologi Proses perjalanan penyakit asma dipengaruhi oleh 2 faktor yaitu alergi dan psikologis. 3) Terisinya bronkus oleh mukus yang kental. meningkatnya sekret abnormal mukus pada bronkiolus dan adanya kontraksi pada trakea serta meningkatnya produksi mukus jalan nafas. Dari ketiga pendapat tersebut dapat diketahui bahwa asma adalah suatu penyakit gangguan jalan nafas obstruktif intermiten yang bersifat reversibel. peningkatan respon trakea dan bronkus terhadap berbagai rangsangan yang menyebabkan penyempitan jalan nafas. sehingga terjadi penyempitan pada jalan . reversibel dimana trakea dan bronkhi berespon secara hiperaktif terhadap stimulasi tertentu. (Joyce M. (Polaski : 1996). Asma adalah gangguan pada jalan nafas bronkial yang dikateristikan dengan bronkospasme yang reversibel. Etiologi Asma adalah suatu obstruktif jalan nafas yang reversibel yang disebabkan oleh : 1) Kontraksi otot di sekitar bronkus sehingga terjadi penyempitan jalan nafas.Pengertian Asma adalah suatu gangguan yang komplek dari bronkial yang dikarakteristikan oleh periode bronkospasme (kontraksi spasme yang lama pada jalan nafas). ditandai dengan adanya periode bronkospasme. Black : 1996). kedua faktor tersebut dapat meningkatkan terjadinya kontraksi otot-otot polos. Asma adalah penyakit jalan nafas obstruktif intermiten. (Smelzer Suzanne : 2001). 2) Pembengkakan membran bronkus.

c) Penderita sudah sembuh dan bila obat tidak diteruskan mudah diserang kembali. faktor yang spesifik seperti flu. dyspnoe. dan wheezing. gelisah. 2) Tingkat II : a) Tanpa keluhan dan kelainan pemeriksaan fisik tapi fungsi paru menunjukkan adanya tanda-tanda obstruksi jalan nafas. Sebaliknya pada klien dengan asma intrinsik (idiopatik) sering ditemukan adanya faktor-faktor pencetus yang tidak jelas. Pada sebagian penderita disertai dengan rasa nyeri dada. gangguan difusi gas di tingkat alveoli. b) Pemeriksaan fisik dan fungsi paru menunjukkan adanya obstruksi jalan nafas. 4) Tingkat IV : . duduk dengan tangan menyanggah ke depan serta tampak otot-otot bantu pernafasan bekerja dengan keras. latihan fisik. 3) Tingkat III : a) Tanpa keluhan. dermatitis. demam tinggi dan klien dengan riwayat asma. selain itu terdapat pula adanya riwayat penyakit atopik seperti eksim. dalam. Tiga kategori asma alergi (asma ekstrinsik) ditemukan pada klien dewasa yaitu yang disebabkan alergi tertentu.nafas dan penumpukan udara di terminal oleh berbagai macam sebab maka akan menimbulkan gangguan seperti gangguan ventilasi (hipoventilasi). Ada beberapa tingkatan penderita asma yaitu : 1) Tingkat I : a) Secara klinis normal tanpa kelainan pemeriksaan fisik dan fungsi paru. Manifestasi Klinik Manifestasi klinik pada pasien asma adalah batuk. pada penderita yang sedang bebas serangan tidak ditemukan gejala klinis. distribusi ventilasi yang tidak merata dengan sirkulasi darah paru. b) Banyak dijumpai pada klien setelah sembuh serangan. b) Timbul bila ada faktor pencetus baik didapat alamiah maupun dengan test provokasi bronkial di laboratorium. dan emosi (stress) dapat memacu serangan asma. sedangkan waktu serangan tampak penderita bernafas cepat.

Penatalaksanaan Prinsip umum dalam pengobatan pada asma bronhiale : a. yaitu ekstrinsik atau alergi yang disebabkan oleh alergi seperti debu. b) Asma pada dasarnya merupakan penyakit obstruksi jalan nafas yang reversibel. sianosis. infeksi saluran pernafasan. Pada asma yang berat dapat timbul gejala seperti : Kontraksi otot-otot pernafasan. sesak nafas dan nafas berbunyi wheezing. selain alergi juga dapat terjadi asma campuran yaitu alergi dan non alergi. penderita tampak letih. emosi dan lingkungan dengan polusi dapat menyebabkan atau sebagai pencetus terjadinya serangan asma. sedangkan non alergi tidak berhubungan secara spesifik dengan alergen. Klien dengan asma alergi biasanya mempunyai riwayat keluarga dengan alergi dan riwayat alergi rhinitis. Penatalaksanaan asma dapat dibagi atas : a. Memberi penerangan kepada penderita atau keluarga dalam cara pengobatan maupun penjelasan penyakit. makanan. b) Pemeriksaan fisik dan fungsi paru didapat tanda-tanda obstruksi jalan nafas. Menghilangkan obstruksi jalan nafas b. Klasifikasi Asma Asma dibagi atas dua kategori.a) Klien mengeluh batuk. c. takikardi. Mengenal dan menghindari faktor yang dapat menimbulkan serangan asma. Jika serangan non alergi asma menjadi lebih berat dan sering dapat menjadi bronkhitis kronik dan emfisema. Faktor-faktor seperti udara dingin. binatang. asap (rokok) dan obat-obatan. 5) Tingkat V : a) Status asmatikus yaitu suatu keadaan darurat medis berupa serangan asma akut yang berat bersifat refrator sementara terhadap pengobatan yang lazim dipakai. latihan fisik. Pengobatan dengan obat-obatan Seperti : . gangguan kesadaran.

.Pemeriksaan Penunjang : Beberapa pemeriksaan penunjang seperti : a. Pemeriksaan kadar Ig E total dengan Ig E spesifik dalam serum. 3) Aminofilin bolus IV 5-6 mg/kg BB. 4) Tes kulit : Untuk menunjukkan adanya anti bodi Ig E yang spesifik dalam tubuh. 2) Tes provokasi dilakukan bila tidak dilakukan lewat tes spirometri. 3) Tes provokasi bronkial seperti : Tes provokasi histamin. Tes provokasi : 1) Untuk menunjang adanya hiperaktifitas bronkus. b.5 mg atau terbutalin 10 mg) inhalasi nabulezer dan pemberiannya dapat di ulang setiap 30 menit-1 jam. Tindakan yang spesifik tergantung dari penyakitnya. alergen. c. kegiatan jasmani. Pemberian agonis B2 mg atau terbutalin 0.25 mg dalam larutan dextrose 5% diberikan perlahan. 4) Kortikosteroid hidrokortison 100-200 mg itu jika tidak ada respon segera atau klien sedang menggunakan steroid oral atau dalam serangan sangat berat. Spirometri : Untuk menunjukkan adanya obstruksi jalan nafas. misalnya : 1) Oksigen 4-6 liter/menit. metakolin. 2) Agonis B2 (salbutamol 5 mg atau veneteror 2.1) Beta agonist (beta adrenergik agent) 2) Methylxanlines (enphy bronkodilator) 3) Anti kolinergik (bronkodilator) 4) Kortikosteroid 5) Mast cell inhibitor (lewat inhalasi) b. jika sudah menggunakan obat ini dalam 12 jam. c. hiperventilasi dengan udara dingin dan inhalasi dengan aqua destilata.

kering. 6) Pola aktivitas : kelemahan tubuh. keringat dingin. kedalaman pernafasan. gelisah 4) Pernapasan : perubahan frekuensi. gagal nafas. Analisa gas darah dilakukan pada asma berat. Identitas klien 1) Riwayat kesehatan masa lalu : riwayat keturunan. bronkhitis dan fraktur iga. alergi debu. Hangat. 5) Gastro intestinal : adanya mual. Pengkajian a. Pemeriksaan fisik Dada 1) Contour. Pemeriksaan radiologi umumnya rontgen foto dada normal. f. g. cepat lelah b. takut. e.d. 3) Status mental : lemas. tidak ada defresi sternum 2) Diameter antero posterior lebih besar dari diameter transversal 3) Keabnormalan struktur Thorax 4) Contour dada simetris 5) Kulit Thorax . atelektasis. Palpasi : . Confek. muntah. Komplikasi Komplikasi yang dapat terjadi pada klien dengan asma adalah pneumotoraks. Pemeriksaan eosinofil total dalam darah. distribusi warna merata 6) RR dan ritme selama satu menit. Pemeriksaan sputum. udara dingin 2) riwayat kesehatan sekarang : keluhan sesak napas. pucat atau tidak.

c. c) Tes provokasi bronkial Untuk menunjang adanya hiperaktivitas bronkus . alergen.1) Temperatur kulit 2) Premitus : fibrasi dada 3) Pengembangan dada 4) Krepitasi 5) Massa 6) Edema Auskultasi 1) Vesikuler 2) Broncho vesikuler 3) Hyper ventilasi 4) Rochi 5) Wheezing 6) Lokasi dan perubahan suara napas serta kapan saat terjadinya. metakolin. Test provokasi bronchial seperti : Test provokasi histamin. Pemeriksaan penunjang 1) Spirometri : Untuk menunjukkan adanya obstruksi jalan nafas. b) Tes provokasi dilakukan bila tidak dilakukan lewat tes spirometri. kegiatan jasmani. test provokasi dilakukan bila tidak dilakukan test spirometri. 2) Tes provokasi : a) Untuk menunjang adanya hiperaktifitas bronkus. hiperventilasi dengan udara dingin dan inhalasi dengan aqua destilata. . 3) Tes kulit : Untuk menunjukkan adanya anti bodi Ig E yang spesifik dalam tubuh.

Kaji / pantau frekuensi pernafasan catat rasio inspirasi dan ekspirasi. . batuk pendek. Bantu tindakan untuk keefektipan memperbaiki upaya batuk. batuk berkurang. Kaji pasien untuk posisi yang aman. c. 5) Pemeriksaan radiologi umumnya rontgen foto dada normal. 6) Analisa gas darah dilakukan pada asma berat. 8) Pemeriksaan sputum. d. catat adanya bunyi nafas. Auskultasi bunyi nafas. Rasional : Takipnea biasanya ada pada beberapa derajat dan dapat ditemukan pada penerimaan selama strest/adanya proses infeksi akut. Observasi karakteristik batuk.4) Pemeriksaan kadar Ig E total dengan Ig E spesifik dalam serum. misalnya : wheezing. 7) Pemeriksaan eosinofil total dalam darah. misalnya : peninggian kepala tidak duduk pada sandaran. b. Rasional : Beberapa derajat spasme bronkus terjadi dengan obstruksi jalan nafas. Diagnosa Keperawatan Diagnosa 1 : Tidak efektifnya bersihan jalan nafas berhubungan dengan akumulasi mukus. ronkhi. Kriteria hasil : Sesak berkurang. Tujuan : Jalan nafas kembali efektif. menetap. Pernafasan dapat melambat dan frekuensi ekspirasi memanjang dibanding inspirasi. Bunyi nafas redup dengan ekspirasi mengi (empysema). wheezing berkurang/hilang. vital dalam batas normal keadaan umum baik. tak ada fungsi nafas (asma berat). basah. klien dapat mengeluarkan sputum. Rasional : Peninggian kepala tidak mempermudah fungsi pernafasan dengan menggunakan gravitasi. Intervensi : a.

wheezing. Rasional : duduk tinggi memungkinkan ekspansi paru dan memudahkan pernafasan. Rasional : Kongesti alveolar mengakibatkan batuk sering/iritasi. Kolaborasi obat sesuai indikasi. Kaji frekuensi kedalaman pernafasan dan ekspansi dada. bunyi nafas normal atau bersih. Bronkodilator spiriva 1×1 (inhalasi). batuk berkurang. f. Expansi dada terbatas yang berhubungan dengan atelektasis dan atau nyeri dada 2. 3. Rasional : penggunaan cairan hangat dapat menurunkan spasme bronkus. Intervensi : 1. ekspansi paru mengembang. 4. TTV dalam batas normal. Rasional : ronki dan wheezing menyertai obstruksi jalan nafas / kegagalan pernafasan. Tinggikan kepala dan bantu mengubah posisi. Auskultasi bunyi nafas dan catat adanya bunyi nafas seperti krekels. Tujuan : Pola nafas kembali efektif. e. khususnya pada klien lansia. Catat upaya pernafasan termasuk penggunaan otot bantu pernafasan / pelebaran nasal. Observasi pola batuk dan karakter sekret. sakit akut/kelemahan. Kriteria hasil : Pola nafas efektif. mengi dan produksi mukosa. Rasional : kecepatan biasanya mencapai kedalaman pernafasan bervariasi tergantung derajat gagal nafas.Rasional : batuk dapat menetap tetapi tidak efektif. Diagnosa 2 : Tidak efektifnya pola nafas berhubungan dengan penurunan ekspansi paru. Rasional : Membebaskan spasme jalan nafas. Berikan air hangat. .

berat badan dalam batas normal. 6. Timbang berat badan dan tinggi badan. Rasional : menentukan dan membantu dalam intervensi selanjutnya.Berikan humidifikasi tambahan misalnya : nebulizer Rasional : memaksimalkan bernafas dan menurunkan kerja nafas. nafsu makan baik. mukosa bibir lembab.5. 4. 3. konjungtiva). klien menghabiskan porsi makan yang disediakan.Berikan oksigen tambahan . Tujuan : Kebutuhan nutrisi dapat terpenuhi. 2. Diagnosa 3 : Gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake yang tidak adekuat. tekstur kulit baik. Kolaborasi . Kriteria hasil : Keadaan umum baik. rambut. Rasional : Penurunan berat badan yang signifikan merupakan indikator kurangnya nutrisi. Kaji status nutrisi klien (tekstur kulit. Jelaskan pada klien tentang pentingnya nutrisi bagi tubuh. Rasional : peningkatan pengetahuan klien dapat menaikan partisipasi bagi klien dalam asuhan keperawatan. Anjurkan klien minum air hangat saat makan. Intervensi : 1. bising usus 6-12 kali/menit. memberikan kelembaban pada membran mukosa dan membantu pengenceran sekret. . Rasional : dapat meningkatkan/banyaknya sputum dimana gangguan ventilasi dan ditambah ketidak nyaman upaya bernafas. Dorong/bantu pasien dalam nafas dan latihan batuk.

Kriteria hasil : KU klien baik. klien dapat beraktivitas secara mandiri.Antiemetik rantis 2×1 Rasional : untuk menghilangkan mual / muntah. Rasional : menetapkan kebutuhan/kemampuan pasien dan memudahkan pilihan intervensi. .Rasional : air hangat dapat mengurangi mual.Vitamin B squrb 2×1. Catat laporan dyspnea peningkatan kelemahan/kelelahan dan perubahan tanda vital selama dan setelah aktivitas. Diagnosa 4 : Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan fisik. Kolaborasi . Rasional : defisiensi vitamin dapat terjadi bila protein dibatasi. Anjurkan klien makan sedikit-sedikit tapi sering Rasional : memenuhi kebutuhan nutrisi klien. Tujuan : Klien dapat melakukan aktivitas sehari-hari secara mandiri.Berikan obat sesuai indikasi. 2. Evaluasi respons pasien terhadap aktivitas. 5. . Jelaskan pentingnya istirahat dalam rencana pengobatan dan perlunya keseimbangan aktivitas dan istirahat. . . kekuatan otot terasa pada skala sedang Intervensi : 1.Konsul dengan tim gizi/tim mendukung nutrisi. 6. badan tidak lemas. Rasional : menentukan kalori individu dan kebutuhan nutrisi dalam pembatasan.

menghemat energi untuk penyembuhan.Rasional : Tirah baring dipertahankan selama fase akut untuk menurunkan kebutuhan metabolik. Bantu pasien memilih posisi nyaman untuk istirahat dan atau tidur.Klien mengerti tentang penyebab dan pencegahan dari asma .Klien mengerti komplikasi dari asma Intervensi : 1. Diagnosa 5 : Kurangnya pengetahuan tentang proses penyakitnya berhubungan dengan kurangnya informasi Tujuan : Pengetahuan klien tentang proses penyakit menjadi bertambah. Rasional : informasi dapat manaikkan koping dan membantu menurunkan ansietas dan masalah berlebihan. Berikan kemajuan peningkatan aktivitas selama fase penyembuhan. 5. 3. Rasional : menurunkan stress dan rangsangan berlebihan meningkatkan istirahat. Kriteria hasil : Mencari tentang proses penyakit : . dan harapan kesembuhan. Diskusikan aspek ketidak nyamanan dari penyakit. Berikan lingkungan tenang dan batasi pengunjung selama fase akut sesuai indikasi. . 2. Bantu aktivitas keperawatan diri yang diperlukan. Rasional : pasien mungkin nyaman dengan kepala tinggi atau menunduk kedepan meja atau bantal. Berikan informasi dalam bentuk tertulis dan verbal. 4.Klien mengerti tentang definisi asma . Rasional :meminimalkan kelelahan dan membantu keseimbangan suplai dan kebutuhan oksigen. lamanya penyembuhan.

5. c. Rasional : upaya evaluasi dan intervensi tepat waktu dapat mencegah meminimalkan komplikasi. 3. Identifikasi tanda atau gejala yang memerlukan pelaporan pemberi perawatan kesehatan. Buat langkah untuk meningkatkan kesehatan umum dan kesejahteraan. Jalan nafas kembali efektif. Tekankan pentingnya melanjutkan batuk efektif atau latihan pernafasan. diet baik. Rasional : selama awal 6-8 minggu setelah pulang. misalnya : istirahat dan aktivitas seimbang. Pola nafas kembali efektif.Rasional : kelemahan dan depresi dapat mempengaruhi kemampuan untuk mangasimilasi informasi atau mengikuti program medik. pasien beresiko besar untuk kambuh dari penyakitnya. membatasi terpajan pada patogen. . Pengetahuan klien tentang proses penyakit menjadi bertambah. d. Rasional : menaikan pertahanan alamiah atau imunitas. e. b. Klien dapat melakukan aktivitas sehari-hari secara mandiri. Kebutuhan nutrisi dapat terpenuhi. 4. Evaluasi a.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->