P. 1
Hak Imunitas Kepala Negara Di Hadapan Pengadilan Internasional Ditinjau Dari Segi Hukum Internasional_MUHAMMAD LARRY IZMI

Hak Imunitas Kepala Negara Di Hadapan Pengadilan Internasional Ditinjau Dari Segi Hukum Internasional_MUHAMMAD LARRY IZMI

|Views: 768|Likes:
Published by muhammad larry
Sekilas tentang hak imunitas kepala negara yang cenderung dikultuskan dan tidak dapat disentuh.
Sekilas tentang hak imunitas kepala negara yang cenderung dikultuskan dan tidak dapat disentuh.

More info:

Published by: muhammad larry on Jul 28, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as RTF, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/14/2012

pdf

text

original

1

DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL UNIVERSITAS GADJAH MADA FAKULTAS HUKUM

PENULISAN HUKUM HAK IMMUNITAS KEPALA NEGARA DI HADAPAN PENGADILAN INTERNASIONAL DITINJAU DARI SEGI HUKUM INTERNASIONAL (STUDI KASUS OMAR AL- BASHIR) Penulisan Hukum ini Disusun untuk Memenuhi Persyaratan dalam Rangka Memperoleh Gelar Sarjana Hukum Diajukan oleh : Nama NIM Bagian : MUHAMMAD LARRY IZMI : 05/185452/HK/16940 : HUKUM INTERNASIONAL YOGYAKARTA 2009 HALAMAN PERSETUJUAN

2

PENULISAN HUKUM HAK IMMUNITAS KEPALA NEGARA DI HADAPAN PENGADILAN INTERNASIONAL DITINJAU DARI SEGI HUKUM INTERNASIONAL (STUDI KASUS OMAR AL- BASHIR)

Penyusun

Muhammad Larry Izmi No. Mahasiswa: 05/185452/HK/16940

Menyetujui: Dosen Pembimbing

Linda Yanti Sulistiyawati, S.H., M.Sc NIP: 19751103200501 2 001

HALAMAN PENGESAHAN

3

Penulisan Hukum ini telah dipertahankan di hadapan Dewan Penguji Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada pada hari Kamis, tanggal 13 Agustus 2009. Dewan Penguji Ketua

Endang Purwaningsih, S.H., M.H NIP : 130530862 Anggota I Anggota II

Linda Yanti Sulistiyawati, S.H.,M.Sc NIP : 19751103200501 2 001

Harry Purwanto, S.H., M.Hum NIP : 131412032

Mengetahui, Ketua Bagian Hukum Internasional

Sigit Riyanto, S.H., LL.M NIP : 131789397 Mengesahkan : Dekan Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada

Prof. Dr. Marsudi Triatmodjo, S.H., LL.M NIP : 131598151

4

PERNYATAAN

Dengan ini saya menyatakan bahwa Penulisan Hukum ini tidak pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan di suatu Perguruan Tinggi lain, dan sepanjang pengetahuan saya di dalamnya tidak terdapat karya atau pendapat yang pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain, kecuali yang secara tertulis diacu dalam naskah ini dan disebutkan dalam daftar pustaka. Yogyakarta, 13 Agustus 2009

Muhammad Larry Izmi

5

KATA PENGANTAR

Penulisan Hukum dengan judul “Hak Immunitas Kepala Negara di Hadapan Pengadilan Internasional Ditinjau dari Segi Hukum Internasional (Studi Kasus Omar Al- Bashir)” ini memaparkan penerapan atau penggunaan hak imunitas kepala negara di hadapan pengadilan internasional dengan bahasan kasus terhadap Kepala Negara Sudan Omar Al-Bashir. Ada empat tahapan dalam sistematika pembahasan penulisan hukum ini, yaitu pendahuluan, tinjauan umum mengenai hak imunitas, tinjauan umum mengenai pengadilan internasional, dan kesimpulan. Penerapan hak imunitas memiliki makna adanya keistimewaan bagi orangorang yang menikmati hak tersebut dari aturan-aturan yang ada terutama di hadapan hukum. Berangkat dari pengertian ini, permasalahan yang kemudian mengemuka adalah mengenai adanya ataupun perlunya pengecualian terhadap hak imunitas, yang selanjutnya mendorong perincian lebih mendalam tentang pengertian hak imunitas serta pembenturan konsep imunitas dengan konsep pertanggunjawaban individu dalam hukum internasional. Penulis mengharapkan penulisan hukum ini dapat memberikan sumbangan yang berguna bagi ilmu pengetahuan pada umumnya dan hukum internasional pada khususnya, terlebih lagi dalam cakupan bahasan hak imunitas kepala negara. Penulis menyadari bahwa dalam penyusunannya, penulisan hukum ini telah diberi kesempatan, bantuan, dan bimbingan oleh berbagai pihak. Oleh

6

karena itu, dalam kesempatan ini Penulis ingin menghaturkan terima kasih kepada: 1. Bapak Prof. Dr. Marsudi Triatmodjo, S.H., LL.M., selaku Dekan Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada; 2. Bapak Sigit Riyanto, S.H., LL.M., selaku Ketua Bagian Hukum Internasional Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada; 3. Ibu Linda Yanti Sulistiyawati, S.H., M.Sc selaku dosen pembimbing skripsi penulis yang telah banyak memberikan arahan dan masukan dalam penyelesaian penulisan hukum ini; 4. Bapak Heribertus Jaka Triyana, S.H., LL.M., M.A yang telah memberikan masukan dan bantuan ide dalam penyelesaian penulisan hukum ini; 5. Ibu Dra. Hery Listyawati, S.H selaku Dosen Pembimbing Akademik penulis di Fakultas Hukum UGM; 6. Dosen Bagian Hukum Internasional, (alm) Prof. Dr. F. Sugeng Istanto, S.H., Prof. Dr. H. Mohd. Burhan Tsani, S.H., M.H., Prof. Dr. Agustinus Supriyanto, S.H., M.Si., Endang Purwaningsih, S.H., M.H., Harry Purwanto, S.H., M.Hum., dan Agustina Merdekawati, S.H., LL.M., yang telah memberikan bimbingan ilmu kepada penulis selama penulis aktif di bagian hukum internasional; 7. Dosen dan Pegawai Staf Administrasi Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada yang telah banyak membantu dalam penulisan hukum ini;

7

8. Kedua Orang Tua penulis, Syamsurrizal, S.H. dan Herlina Warganegara, S.E., M.M., serta Kedua Adik penulis, Sheilla Ayu Ramadhani dan Muhammad Maulana, yang selalu mendukung dan memberikan semangat, baik moril, materiil, dan spirituil yang sangat berarti bagi penulis; 9. Wini Rahayu, yang selalu memberikan semangat dan mendampingi penulis; 10. Aditya Bardawansyah, S.H., Ginandjar Koesoemardhani, S.H., Bara Haji, S.H. dan Prima Agung S, selaku sesama dan mantan awak penghuni Patehan Lor 23; 11. Teman-teman penulis di Fakultas Hukum UGM dan bagian hukum internasional, Setyawan Widhiatmoko, Leonardus Tirta, Santoso Ari Wibowo, Ilham Priambodho, Didit Prayitno, Gede Mahatma, Faisol Rahman, Andika, Ilman, Muhammad Fathi, Svetlana Anggita, Adi Purwanto, Rangga Aditya, Feri bakti, Yoannike Afilia, Sekar, Dyah Ayu Rafikasari M, Iriene Ayu P, Aura Akhman, Arif Rahman Hakim, dan Lakso Anindito; 12. Teman-teman Himpunan Mahasiswa Islam Komisariat Fakultas Hukum UGM Cabang Bulaksumur, Erwin Natosmal O, Girindra, Gesha, Dadang Abdurrahman Syoir, Mina A Noor, Seto W, Alfitria Maharani, Raysha Rahma, Muhammad Irham Fuady, Aditya Nugraha Iskandar, R.M Nasatya Danisworo, dan Dimas Primadana; 13. Teman-teman ALSA LC FH UGM, Jono, Ankici, Dodi, Andila, Hoho,

8

Penyu, Abung, Rike, Thatit, Fifi, Rio, Fian, Ateng, Vira, Dier, Fadjrin, Cebe, Fani, Fudi, Tiara, Aulia, Rechsa, Mamat, Opik, Dandi, Rangga, Alex, Riris, Icha, Andina, serta kamerad angkatan 2007 dan 2008; 14. Teman-teman MCC ALSA 2006, Kompetisi Peradilan Semu Piala A Kahar Muzakkir 2007, dan Dewan Perwakilan Mahasiswa Keluarga Mahasiswa UGM 2007-2008; serta 15. Semua pihak yang telah banyak membantu baik secara langsung maupun tidak langsung sampai terselesaikannya penulisan hukum ini. Penulisan hukum ini masih banyak kekurangan dikarenakan keterbatasan pengetahuan dan kemampuan penulis. Oleh karena itu, hal ini menjadi dorongan bagi penulis untuk menerima masukan serta saran demi penyempurnaan penulisan hukum ini. Yogyakarta, 13 Agustus 2009

Muhammad Larry Izmi

9

DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL ........................................................................... HALAMAN PERSETUJUAN ............................................................ HALAMAN PENGESAHAN ............................................................. HALAMAN PERNYATAAN ............................................................ KATA PENGANTAR ........................................................................ DAFTAR ISI ....................................................................................... BAB I. PENDAHULUAN .................................................................. A. Latar Belakang Masalah ..................................................... 1 B. Rumusan Masalah ........................................................... ... 11 i ii iii iv v ix 1

C. Tujuan Penelitian ................................................................ 11 D. Keaslian Penelitian .......................................................... ... 12

E. Manfaat Penelitian ............................................................... 13 F. Tinjauan Pustaka .................................................................. 14 G. Hipotesis .............................................................................. 21 H. Metode Penelitian ................................................................ 22 I. Sistematika Penulisan Hukum ............................................. 25

10

BAB II. TINJAUAN UMUM MENGENAI HAK IMUNITAS ............ A. Hak Imunitas........................................................................... 1. Jenis-jenis Hak Imunitas.................................................. a. Imunitas Negara......................................................... b. Imunitas Diplomatik................................................. 2. Imunitas Pejabat Negara dan Kepala Negara................... 3. Dampak Perolehan Hak Imunitas..................................... B. Pertanggungjawaban Individu................................................ 1. Tinjauan Umum Individu Sebagai Subyek Hukum Internasional....................................................................... 2. Aturan-aturan Normatif dan Parktek Pertanggungjawaban

26 26 26 26 31 38 52 61

61

Individu............................................................................... 71 BAB III. TINJAUAN UMUM MENGENAI PENGADILAN INTERNASIONAL.................................................................... A. Pengadilan Internasional....................................................... 83 1. Sejarah Pembentukan Mahkamah-mahkamah Kejahatan Internasional................................................................... 83 a. Masa Pra Perang Dunia II........................................ 84 83

11

b. Masa Nuremberg Trial dan Tokyo Trial.................. 85 c. Masa ICTY dan ICTR.............................................. 91 d. Masa ICC.................................................................. 95 2. Status dan Yurisdiksi ICC.............................................. 100 a. Status Hukum ICC.................................................... 100 1. Personalitas hukum............................................. 101 2. Kapasitas hukum................................................. 102 b. ICC dan Pengadilan Nasional................................... 103 c. ICC dan PBB............................................................ 106 d. Yurisdiksi ICC.......................................................... 107 1. Yurisdiksi Teritorial........................................... 108 2. Yurisdiksi Rationae Temporis............................ 109 3. Yurisdiksi Rationae Personae............................ 111 4. Yurisdiksi Rationae Materiae............................ 114 B. Pengaruh Hak Imunitas Kepala Negara Terhadap Pelaksanaan Yurisdiksi ICC...................................................................... 116 BAB IV. KESIMPULAN............................................................................ 130

LAMPIRAN. WARRANT OF ARREST FOR OMAR HASSAN AHMAD AL

12

BASHIR...................................................................................... DAFTAR PUSTAKA..................................................................................

131 139

13

Hak Immunitas Kepala Negara di Hadapan Pengadilan Internasional Ditinjau dari Segi Hukum Internasional (Studi Kasus Omar Al- Bashir)

A. Latar Belakang Masalah Dewasa ini perkembangan Hukum Internasional semakin

menerangkan peristiwa-peristiwa yang menyangkut hak immunitas seorang kepala negara dalam pertanggungjawaban pidana terhadap kejahatan yang telah dilakukannya. Hal ini menjadi semacam isu kontemporer yang cukup menarik baik itu dalam tatanan masyarakat internasional maupun hukum internasional. Seperti dalam kasus Augusto Pinochet, seorang mantan presiden dari Chile yang dalam masa jabatannya dituduh telah melakukan pelanggaran berat HAM di negaranya baik

terhadap lawan politik dan warga sipil Chile maupun juga terhadapa warga negara dari negara lain seperti Spanyol, Argentina, Luxemburg, Italia, Swiss, Belgia dan Perancis. Hak immunitas atau kekebalan memiliki makna bahwa seorang pejabat negara terutama kepala negara maupun pemerintahan dalam suatu pemerintahan sebuah negara dapat menikmati inviolibility dan immunity.1 Inviolibility diartikan sebagai kekebalan terhadap alat-alat kekuasaan negara dan kekebalan terhadap segala gangguan yang merugikan sedangkan immunity diartikan bahwa pejabat negara tersebut kebal
1 Harry Purwanto, 2005, hand-out hukum diplomatik, Yogyakarta, hlm 17

14

terhadap jurisdiksi negara, baik yang bersifat pidana, perdata, maupun administratif. Hal ini, khusus bagi kepala negara atau pemerintahan, dikarenakan seorang kepala negara ataupun pemerintahan itu sendiri merupakan simbol dari kedaulatan negaranya. Tetapi seperti halnya asas-asas yang berlaku, hak immunitas ini juga mengalami perkembangan mengenai eksistensi penyimpangannya. Kekebalan hukum yang dinikmati para pejabat negara ini merupakan bagian dari kebebasan untuk bertindak yang diberikan oleh pemerintah negara. Kekebalan ini diberikan oleh pemerintah negara dengan maksud agar ia dapat melaksanakan kewajiban-kewajibannya dengan bebas. Kebebasan ini diberikan agar sang pejabat tidak melulu bergantung pada good will pemerintah negara. Ketergantungan ini dapat berdampak buruk bagi kelancaran pelaksanaan tugas khususnya dalam suatu pengambilan keputusan.2 Namun kekebalan hukum ini tidak dapat berfungsi jika dalam pelanggaran hukum yang diperbuatnya hanya demi kepentingan pribadi atau golongan tertentu bukan demi kepentingan negara. Banyak kasus-kasus terkait yang berhubungan dengan Immunitas baik itu yang menyangkut sebagai kepala negara, kepala pemerintahan, menteri luar negeri maupun pejabat senior pemerintahan (selanjutnya disebut pejabat negara). Seperti dalam kasus Abdulaye Yerodia Ndombasi
2 Sumaryo Suryokusumo, 1995, Hukum Diplomatik Teori dan Kasus, Alumni-Bandung, hlm 56

15

selaku Menteri Luar Negeri Republik Demokrat Kongo yang dituduh melakukan kejahatan terhadap kemanusiaan dan pelanggaran berat HAM di Kongo oleh pengadilan Belgia. Kasus ini oleh Mahkamah Internasional (ICJ) dinyatakan tidak dapat diteruskan karena pengadilan Belgia tidak memiliki kewenangan mengadili. Kasus yang cukup menyita perhatian dunia adalah dalam kasus Slobodan Milosevic selaku mantan Kepala Negara Yugoslavia, dengan julukan “Penjagal dari Balkan”, yang kemudian tindakan-tindakan yang terjadi di Yugoslavia selama rezimnya menorehkan sejarah baru dalam dunia peradilan internasional kontemporer dengan pembentukan International Criminal Tribunal for The Former Yugoslavia (ICTY). ICTY menjadi tonggak baru dalam pemaknaan dan pengkritisan lebih dalam mengenai hak immunitas yang dapat dinikmati seorang kepala negara atau kepala pemerintahan. Perkembangan mengenai hak imunitas dan penyimpangannya semakin menarik minat pemerhati hukum internasional terutama dalam kasus terbaru yang menimpa Presiden Sudan Omar Al-Bashir. Sebagai presiden yang sedang berkuasa di Sudan, Omar Al-Bashir dituduh oleh jaksa ICC (International Criminal Court) Luis Moreno-Ocampo telah melakukan genosida, kejahatan terhadap kemanusiaan dan kejahatan perang di Sudan.3 Tuduhan ini kemudian berkembang menjadi pengeluaran surat penangkapan atas Omar Al-Bashir oleh ICC. Tuduhan atas Omar Al-Bashir ini bermula dari konflik dan krisis
3 Kompas, Sudan Memprotes ICC, Jum’at 6 Maret 2009

16

yang melanda kawasan Darfur di Sudan. Konflik berkepanjangan ini dimulai dari gabungan beberapa faktor seperti kekeringan, perubahan lingkungan yang drastis, pertumbuhan yang cepat, kesempatan politik dan politik secara regional. Selain karena faktor-faktor tersebut, kawasan yang terletak di sebelah barat Sudan ini berkembang menjadi kawasan yang termarjinalkan dikarenakan tidak adanya perhatian serta tirani terhadap warga non-arab dari pemerintah Sudan. Kondisi ini memaksa terbentuknya dua kelompok pemberontak sebagai bentuk protes atas ketidakadilan yang menimpa kawasan ini, yaitu SLA (Sudan Liberation Army) dan JEM (Justice and Equality Movement) pada awal tahun 2003. Kedua kelompok pemberontak ini memulai aksinya dengan berhasil menguasai kota Gulu pada awal Februari tahun 2003. Tindakan ini dilanjutkan oleh SLA/M yang menyerang El Fasher, ibukota Darfur Utara, merusak beberapa pesawat dan merampas amunisi pemerintah pada bulan April tahun 2003. Pemerintah Sudan yang tidak siap untuk mengadakan serangan balasan dikarenakan keterbatasan personel militer, menginisiasi suku-suku setempat untuk ikut memerangi pemberontak. Suku-suku ini, yang merupakan suku nonmaden Arab, menyambut kehendak pemerintah Sudan tersebut dengan menyediakan anggotaanggota sukunya untuk dijadikan milisi. Milisi yang kemudian dikenal dengan nama “Janjaweed” ini sebagian besar anggotanya direkrut dari Suku Arab Baggara. Sepak terjang dari Janjaweed untuk membantu pemerintah Sudan ini kemudian menimbulkan permasalahan baru terutama

17

dalam pelanggaran HAM (Hak Asasi Manusia) berat. Aksi mereka menimbulkan pengungsian besar-besaran, pembasmian, pembunuhan, pemerkosaan, penyiksaan dan penjarahan terhadap harta benda di kawasan Darfur. Aksi ini disinyalinir telah memakan korban sekitar 300.000 orang serta memaksa satu juta orang mengungsi dari kawasan ini, yang sebagian besar ke wilayah Chad.4 Laporan dari penyelidik PBB pada tanggal 6 Juni 2005

menyatakan bahwa pemerintah Sudan turut andil bagian dalam merancang dan berpartisipasi aktif terjadinya krisis di Darfur ini. Bahkan laporan Dewan HAM PBB menggambarkan bahwa krisis Darfur dipenuhi dengan pelanggaran HAM yang sistematis dan meluas, hingga bisa dikatakan bahwa dalam krisis Darfur ini telah terjadi pelanggaran HAM berat.5 Konflik dan krisis yang telah berlarut-larut ini kemudian berusaha ditengahi oleh komunitas internasional dengan cara turut andil dalam penyelesaian krisis di Darfur, khususnya oleh PBB. Dewan Keamanan PBB dan Perdamaian Uni Afrika kemudian membentuk AMIS (African Union Mission in Sudan) sebagai bentuk andil atau campur tangan dalam krisis Darfur ini.6 Hal tersebut kemudian diikuti dengan penandatangan
4 Kompas, Kejahatan yang Memicu Eksodus, Jum’at 6 Maret 2009

5 Anonim," Report of the High-Level Mission on the situation of human rights in Darfur pursuant
to Human Rights Council decision S-4/101”, http://news.bbc.co.uk/1/shared/bsp/hi/pdfs/12_03_07_un_sudan.pdf, news.bbc.co.uk, diakses pada tanggal 22 April 2009 6 Anonim, “AMIS”, African Union Mission in The Sudan, dalam www.amis-sudan.org, diakses pada tanggal 22 April 2009

18

Humanitarian Ceasefire Agreement pada tanggal 8 April 2004 antara pemerintah Sudan dan dua kelompok pemberontak, yaitu SLA dan JEM. Perjanjian ini kemudian menjadi dasar bagi AMIS untuk beroperasi dengan agenda utamanya pengawasan pelaksanaan perjanjian tersebut dan pelaporan pelanggaran melalui Ceasefire Monitoring Commission. Akan tetapi perjanjian ini pun kemudian pecah setelah para pemberontak melakukan pelanggaran-pelanggaran, provokasi kepada pihak pemerintah hingga terbunuhnya tentara UA (Uni Afrika) dikarenakan perjanjian tersebut dirasa belum memuaskan terlebih lagi setelah melihat perjanjian yang dilakukan antara pemerintah Sudan dengan SPLA (The Sudan People’s Liberation Army), pemberontak di daerah selatan Sudan, yang mampu mengakomodir keinginan SPLA di daerah selatan hingga akhirnya Omar Al-Bashir menggandeng pimpinan SPLA sebagai pejabat senior pemerintahan Sudan. Upaya-upaya untuk menyelesaikan krisis Darfur ini kemudian semakin rumit ditambah sikap pemerintah Sudan sendiri yang menolak intervensi dari luar atas urusan dalam negerinya seperti penolakan kedatangan tentara perdamaian PBB dan UA di Darfur pada tahun 2007. Krisis kemanusiaan di Darfur inilah yang kemudian menyebabkan Jaksa ICC mengeluarkan sepuluh tuduhan kejahatan perang terhadap Presiden Sudan Omar Al-Bashir pada tanggal 14 Juli 2008. Kesepuluh tuduhan tersebut terdiri dari 3 (tiga) tuduhan untuk genosida, 5 (lima) tuduhan untuk kejahatan terhadap kemanusiaan dan 2 (dua) tuduhan untuk

19

kejahatan perang. Jaksa ICC menyatakan bahwa Omar Al-Bashir merupakan dalang dan pelaksana rencana penghancuran tiga kelompok suku di Darfur berdasar kesukuan mereka yang non arab.7 Sebelumnya, Jaksa ICC juga telah mengeluarkan surat

penangkapan terhadap mantan Menteri Dalam Negeri Sudan Ahmed Haroun, yang sekarang menjabat sebagai Menteri Humaniter Sudan, dan Pimpinan Milisi Janjaweed Ali Kushavb pada bulan April 2007 dengan tuduhan kejahatan perang dan kejahatan atas kemanusiaan.8 Akan tetapi pemerintah Sudan menolak untuk menyerahkan kedua warga negaranya tersebut ke Den Haag dengan alasan ICC tidak memilik yurisdiksi atas Sudan. Walaupun begitu, pada tanggal 4 Maret 2009 ICC kemudian merespons permintaan Jaksa ICC Luis Moreno-Ocampo berdasarkan tuduhan pada bulan Juli 2008 untuk menangkap Omar Al-Bashir serta menghadapkannya ke depan ICC di Den Haag. Surat penangkapan tersebut hanya berisi tujuh tuduhan berdasarkan Statuta Roma, yaitu9: Kejahatan Terhadap Kemanusiaan dengan lima tuduhan yaitu,

7 Peter Walker, "Darfur genocide charges for Sudanese president Omar al-Bashir", http://www.guardian.co.uk/world/2008/jul/14/sudan.warcrimes1?gusrc=rss&feed=worldnews, www.guardian.co.uk, diakses pada tanggal 22 April 2009 8 Anonim, “International Criminal Court Names First War Crimes Suspects in Darfur”, http://www.wwan.cn/apps/news/story.asp?NewsID=21692&Cr=darfur&Cr1=, www.wwan.cn, diakses pada tanggal 15 April 2009 9 Anonim, http://www.icc-cpi.int/iccdocs/doc/doc639078.pdf, www.icc-cpi.int, diakses pada tanggal 10 Maret 2009

20

Pembunuhan (Pasal 7 (1)(a)), Pemusnahan (Pasal 7 (1)(b), Pemaksaan Pengusiran (Pasal 7 (1)(d)), Penyiksaan (Pasal 7 (1)(f)) dan Pemerkosaan (Pasal 7 (1)(g)) Kejahatan Perang dengan dua tuduhan, yaitu dengan maksud melakukan penyerangan terhadap suatu kelompok tertentu atau melakukan penghasutan kebencian terhadap kelompok tertentu (Pasal 8 (2)(i)) dan penjarahan (Pasal 8 (2)(v)) Tuduhan sebelumnya yang tidak dimasukkan ke dalam surat penangkapan yaitu, tuduhan atas kejahatan genosida dinyatakan tidak mencukupi bukti. Namun hal tersebut dapat dipertimbangkan kembali untuk dicantumkan sebagai sebuah tuduhan apabila dinyatakan sudah mencukupi bukti akan terjadinya genosida oleh Omar Al-Bashir. ICC dalam pertimbangan surat penangkapan tersebut menerangkan bahwa tidak ada dan dikenal penggunaan alasan hak immunitas dalam hal pelanggaran berat HAM dan hanya mengenal pertanggunjawaban pidana individu (Pasal 25 (3) Statuta Roma). Omar Al-Bashir sebagai presiden Sudan dan panglima angkatan dan bersenjata Sudan dituduh telah kontra

mengkoordinasikan

desain

pelaksanaan

kampanye

pemberontakan di Darfur. Diketahui pula bahwa Omar Al-Bashir mengontrol semua kegiatan dan para pelaku serta menggunakan kekuasaannya untuk mengamankan tindakan kampanye kontra

pemberontakan di Darfur.

21

Surat penangkapan atas Omar Al-Bashir ini menuai kecaman dari organisasi-organisasi internasional semacam Liga Arab dan UA. Pemerintah Sudan sendiri memprotes surat penangkapan tersebut dan menyatakan tidak akan menyerahkan Omar Al-Bashir kepada ICC dengan alasan Sudan bukan merupakan anggota ICC. Tindakan protes dari pemerintah Sudan itu sendiri kemudian diikuti dengan tindakan pengusiran 13 nonpemerintah asing dari Sudan. Tindakan yang dianggap justru akan makin memperparah krisis baik di Darfur maupun di Sudan sendiri. ICC menyatakan bahwa alasan Sudan, yang menerangkan bahwa tindakan Omar Al-Bashir maupun Sudan bukan merupakan yurisdiksi ICC, bukanlah alasan yang tepat untuk menggambarkan sejauh mana yurisdiksi ICC dalam menindak pelanggaran HAM berat. Yurisdiksi ICC, dijelaskan dalam Pasal 12 dan 13 Statuta Roma, menyatakan bahwa yurisdiksi ICC dinyatakan berlaku terbatas untuk negara anggotanya, kejahatan yang dilakukan di wilayah negara anggotanya dan situasi yang diarahkan oleh Dewan Keamanan PBB. Dewan Keamanan PBB sendiri mengeluarkan Resolusi DK PBB 1593 sebagai dasar pengusutan pelanggaran berat HAM di Darfur. Alasan dari Dewan Keamanan PBB ini lah serta Pasal 25 dan 103 Piagam PBB yang kemudian menjadi dasar bagi ICC untuk memaksa Sudan menyerahkan Omar Al-Bashir. Pemeriksaan terhadap Omar Al-Bashir oleh ICC juga berlandaskan dari prinsip yurisdiksi universal. Prinsip ini mengkategorikan suatu kejahatan internasional atau delicta jure gentium dapat diterapkan

22

kewenangan mengadilinya oleh hukum pidana suatu negara atau masyarakat internasional, terlebih lagi perbuatan kejahatan tersebut melanggar kepentingan masyarakat internasional. Kasus Omar Al-Bashir ini nyatanya menjadi ujian bagi ICC dalam upayanya untuk menegakkan hukum internasional, khususnya hukum pidana internasional. Kasus Slobodan Milosevic dapat dijadikan gambaran keberhasilan penyeretan seseorang yang pernah menduduki jabatan yang setara dengan Omar Al-Bashir di Sudan, walaupun masih banyak pelaku pelanggaran berat HAM lainnya di dunia yang lolos karena satu dan lain hal. Setidaknya ICC diharapkan bisa membuktikan kekuasaannya sebagai organ penegak pelanggaran HAM berat. Mengingat bahwa kasus Omar Al-Bashir ini mengibaratkan ICC seperti jaring laba-laba yang hanya bisa menjaring lalat-lalat kecil seperti Sudan dalam kasus Omar Al-Bashir dan Yugoslavia dalam kasus Slobodan Milosevic tetapi tidak bisa menjerat negara-negara kuat seperti Amerika Serikat, Rusia dan Cina.10

Keberhasilan ICC ini kemudian akan menjadi terobosan penting dalam Penegakan hukum pidana internasional menyangkut pejabat negara yang sedang berkuasa, walau hanya dilihat dari koridor kacamata hukum. Keadaan ini kemudian menimbulkan pertanyaan sejauh manakah penerapan hak immunitas kepala negara dihadapan pengadilan

internasional ditinjau dari segi hukum internasional dan bagaimana keabsahan surat penangkapan ICC terhadap Omar Al-Bashir selaku kepala
10 Robert Skidelsky, “Perintah Penangkapan Al-Basyir yang Sarat Kemunafikan”, Koran Tempo, Rabu, 1 April 2009.

23

negara menurut hukum internasional

B. Rumusan Masalah Bagaimana penerapan hak immunitas kepala negara dalam pengadilan internasional ditinjau dari segi hukum internasional? Apakah Surat Penangkapan ICC terhadap Omar Al-Bashir selaku kepala negara sah menurut hukum internasional?

C. Tujuan Penelitian Tujuan yang akan dicapai penulis dalam penelitian ini akan mencakup 2 (dua) hal, yaitu: 1. Tujuan Objektif Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tentang penerapan hak imunitas kepala negara dihadapan pengadilan internasional ditinjau dari segi hukum internasional dan keabsahan surat penangkapan ICC terhadap Omar Al-Bashir selaku kepala negara menurut hukum internasional

2. Tujuan Subjektif

24

Untuk memperoleh data dan bahan-bahan yang akan digunakan dalam penyusunan penulisan hukum sebagai salah satu persyaratan untuk memperoleh gelar keserjanaan di Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada.

D. Keaslian Penelitian Berdasarkan penelusuran kepustakaan yang dilakukan oleh penulis di perpustakaan Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada, tidak ditemukan penelitian mengenai hak immunitas kepala negara dihadapan pengadilan internasional ditinjau dari segi hukum internasional dengan studi kasus terhadap surat penangkapan ICC atas diri Omar Al-Bashir selaku kepala negara Sudan. Dengan demikian penelitian ini merupakan yang pertama sehingga memiliki keaslian.

E. Manfaat Penelitian

Apabila tujuan di atas telah terpenuhi,maka hasil penulisan hukum ini akan memberikan manfaat dari segi: 1. Manfaat Teoritis Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberi kontribusi dan sumbangan yang berguna bagi ilmu pengetahuan pada umumnya dan

25

hukum internasional pada khususnya, terlebih lagi mengenai hak imunitas yang dapat dinikmati seorang kepala negara. 2. Manfaat Praktis Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberi masukan berharga kepada pihak-pihak terkait dalam rangka implementasi kebijakan mengenai hak imunitas baik dari segi nasional maupun internasional.

F. Tinjauan Pustaka

Hak imunitas yang dapat dinikmati bagi pejabat negara diperoleh dari hukum nasional maupun hukum internasional. Hak ini, pada hukum internasional, dapat dilihat pada kekebalan hukum dan keistimewaan yang diperoleh oleh para perwakilan negara yang sedang melaksanakan tugas dan kewajibannya di wilayah kedaulatan negara lain. Para perwakilan negara ini dalam hukum internasional maupun hukum nasional dikenal dengan nama pejabat diplomatik. Pemberian kekebalan hukum dan keistimewaan pada pejabat diplomatik ini merupakan bukti sejarah diplomasi dalam pergaulan masyarakat internasional yang telah

berkembang menjadi ketentuan hukum kebiasaan internasional. Kekebalan hukum dan keistimewaan yang dapat dinikmati oleh para pejabat diplomatik ini diperoleh berdasarkan ketentuan-ketentuan

26

yang terdapat dalam Konvensi Wina 1961 tentang Hubungan Diplomatik. Konvensi tersebut menjabarkan hak-hak para perwakilan negara ini dalam pasal 29, 30 ayat 1, dan 31 ayat 1.11 Pasal 29 konvensi menyebutkan bahwa: ”The person of a diplomatic agent shall be inviolable. He shall not be liable to any form of arrest or detention. The receiving State shall treat him with due respect and shall take all appropriate steps to prevent any attack on his person, freedom or dignity.” Sedangkan Pasal 30 ayat 1 menerangkan bahwa: “The private residence of a diplomatic agent shall enjoy the same inviolability and protection as the premises of the mission” Pasal 31 ayat 1 juga menyebutkan keistimewaan yang diperoleh oleh pejabat diplomatik ketika memegang jabatan sebagai perwakilan negara di salah satu negara sahabat. Pasal tersebut menyebutkan bahwa: “A diplomatic agent shall enjoy immunity from the criminal jurisdiction of the receiving State. He shall also enjoy immunity from its civil and administrative jurisdiction, except in the case of : (a) a real action relating to private immovable property situated in the territory of the receiving State, unless he holds it on behalf of the sending State for the purposes of the mission; (b) an action

11 Grant V McClanahan, 1989, Diplomatic Immunity Principles, Practices, Problems, Institute for The Study of Diplomacy, Georgetown University, Washington DC, hlm 187, 193

27

relating to succession in which the diplomatic agent is involved as executor, administrator, heir or legatee as a private person and not on behalf of the sending State; (c) an action relating to any professional or commercial activity exercised by the diplomatic agent in the receiving State outside his official functions” Pasal 29 Konvensi menerangkan bahwa seorang pejabat diplomatik merupakan seorang perwakilan negara yang berhak menikmati kekebalan hukum. Sebagai pejabat diplomatik, ia tidak dapat ditangkap ataupun ditahan dan merupakan kewajiban negara penerima untuk mengambil tindakan-tindakan pencegahan guna melindungi para perwakilan negara ini. Sedang menurut Pasal 30 ayat 1, kekebalan hukum tidak hanya dinikmati oleh pejabat diplomatik itu sendiri tetapi juga diberikan kepada gedung kantor dan rumah kediaman pejabat diplomatik itu sendiri. Pasal 31 ayat 1 menegaskan kembali mengenai kekebalan hukum pejabat diplomatik terhadap yurisdiksi pengadilan pidana, perdata dan

administrasi. Namun kekebalan ini tidak berarti pejabat diplomatik dapat berbuat seenaknya. Pemberian hak ini murni sebagai fasilitas yang diberikan negara penerima agar pejabat diplomatik tersebut tidak mengalami hambatan-hambatan dalam melaksanakan tugasnya di negara penerima. Oleh karena itu, kekebalan hukum ini tidak akan berfungsi jika ia memanfaatkan kekebalan hukum tersebut untuk mempermudah melakukan perbuatan-perbuatan yang hanya menguntungkan dirinya sendiri dan tidak atas nama negara pengirimnya. Seperti yang tertulis

28

dalam Pasal 31 Konvensi Wina 1961, seorang pejabat diplomatik tetap akan dikenai sanksi hukum jika ia melakukan tindakan-tindakan melawan hukum yang bukan atas dasar kepentingan negara pengirimnya. Imbalan hukum yang diberikan oleh sebuah negara kepada abdi negaranya ini bukanlah dimaksudkan sebagai pemberian sarana

perlindungan diri sendiri dan keluarga dari yurisdiksi pengadilan tetapi ditujukan untuk membantu para abdi negara ini dalam melancarkan pelaksanaan tugas dan kewajiban. Keistimewaan ini diberikan dengan alasan bahwa para abdi negara yang diberi tugas untuk memberikan pelayanan yang sebaik-baiknya pada masyarakat ini layak

mendapatkannya. Hal ini dikarenakan seringkali dalam merumuskan dan melaksanakan kebijakan yang dirasa bermanfaat bagi kepentingan masyarakat umum, mereka dihadapkan suatu aturan hukum yang sulit untuk dilanggar ketentuannya.12 Maka dari itu hak atas kekebalan dan keistimewaan tersebut, terutama hak imunitas, menjadi sesuatu yang tidak bisa dilepaskan begitu saja dari seorang pejabat negara, khususnya kepala negara atau kepala pemerintahan. Pondai Bamu mengatakan: “Customary law on the immunity of heads of state and government stipulates that a head of state has immunity, which includes personal inviolability, special protection for his or her dignity, immunity from criminal and civil jurisdiction, and from arrest
12 J.C.T Simorangkir, 1983, Hukum dan Konstitusi Indonesia, Gunung Agung, Jakarta, hal: 35

29

and/or prosecution in a foreign state on charges concerning all crimes, including international crimes”13 Tapi seringkali dalam suatu pengambilan kebijakan, seorang pejabat negara melakukan penafsiran tersendiri terhadap makna

kepentingan umum. Alih-alih menerapkan kebijakan yang populer demi kepentingan masyarakat umum, pejabat negara tersebut menerapkan kebijakan yang menguntungkan diri sendiri maupun segelintir golongan tertentu. Hal inilah yang kemudian menjadi alasan dasar pengkajian hak imunitas yang dapat dinikmati seorang pejabat negara di depan hukum. Perbenturan hak imunitas pejabat negara terhadap suatu sistem Penegakan hukum ini sering ditemukan dalam kasus-kasus pelanggaran berat HAM karena konsep pelanggaran berat HAM mengakui dan

menerapkan suatu pertanggungjawaban individu dalam Penegakannya. Hal ini berdasarkan hukum kebiasaan internasional yang menyatakan secara tegas bahwa seorang pelaku pelanggaran berat HAM tidak boleh dibebaskan dari kewajiban hukum untuk mempertanggungjawabkan kejahatan yang telah ia lakukan. Berkaitan dengan pelanggaran berat HAM tersebut, Pasal 6 London Agreement 8 Agustus 1945 menyatakan bahwa terdapat tiga jenis kejahatan yang harus diadili sebuah Mahkamah Kejahatan Internasional.14 Kejahatan-kejahatan tersebut adalah:

13 Pondai Bamu,“Head of State Immunity and the ICC: Can Bashir be Prosecuted?”, Oxford Transitional Justice Research Working Paper Series, Agustus 2008 14 GPH Haryomataram, Hukum Humaniter, Rajawali-Jakarta, 1984

30

1. Crimes against peace, which are planning, preparation, initiation, or waging of war aggression or a war in violation of international treaties, agreements, or assurance or

participation in a common plan or conspiracy for any forgoing; 2. War crimes, which are violations of the law or custom of war; and 3. Crimes against humanity, which are murder, exterminaton, enslavement, deportation, and other inhuman acts committed against any civilian population before or during the war or prosecution on political, racial, religious grounds in execution of or in connection with any crime within any jurisdiction of the Tribunal, whether or not in violation of the domestic law of the country where perpetrated. Perkembangan pemikiran akan pelanggaran berat HAM dimulai dari kesadaran kolektif bangsa-bangsa di dunia terhadap perlunya perlindungan HAM secara internasional, setelah kejadian-kejadian pada Perang Dunia ke II (PD II). Kejadian-kejadian tersebut menorehkan suatu sejarah baru dalam hukum pidana internasional dengan pembentukan dua pengadilan perang, yaitu Nuremberg Trial dan Tokyo Trial. Pengadilan ini mengadili pejabat-pejabat negara dari Jerman dan Jepang yang dirasa bertanggungjawab terhadap kejahatan-kejahatan dan kekejian pada PD II

31

walaupun dalam pembentukannya disinyalir sebagai suatu upaya yang bersumber dari Victory’s Justice pihak sekutu sebagai pemenang PD II. Pemikiran terhadap pelanggaran berat HAM melahirkan suatu

konsep internasionalisasi HAM. Hal ini mengembangkan pemikiran bahwa HAM merupakan sesuatu yang hal yang harus diperhatikan setiap negara di dunia dalam hal pemajuan penghormatan dan perlindungan HAM di masing-masing negara. Konferensi HAM dunia pada tahun 1993 mengatakan: “Human rights are a legitimate concern for all nations and that their protection is a joint responsibility, especially in regard to combating serious and grave violations occuring in any part of the world”15 Seiring dengan itu, pelanggaran berat HAM juga dilandasi dengan prinsip yurisdiksi universal. Prinsip ini menerangkan bahwa hukum pidana suatu negara berlaku atas perbuatan pidana yang melanggar kepentingan masyarakat internasional sehingga perbuatan tersebut dikualifikasikan sebagai kejahatan internasional atau delicta jure gentium. Karya tulis Linda Malone mengatakan: “Universal jurisdiction is based on the philosophy that when a person violates international law in such a grotesque and profound
15 _______, 1993, UN World Conference of Human Rights, seperti yang tertulis dalam Rafael Edy Bosko, 2008, Hand-Out Hukum dan Ham, Hak Asasi Manusia: Instrumen dan Kelembagaan Internasional, Yogyakarta, hlm 4

32

manner, all states have an obligation to prosecute.”16 Oleh karena itu, yurisdiksi universal yang merupakan perluasan asas dalam hukum pidana internasional menerangkan kewajiban adanya suatu pertanggungjawaban individu dalam pelanggaran HAM berat. Hal ini selaras dengan pendapat Bruce Broomhall yang menggambarkan karakter khas dari hukum pidana internasional, yaitu: 1. Pertanggungjawaban individu. 2. Pertanggungjawaban pidana tersebut tidak tergantung dari jabatan yang melekat pada seseorang. 3. Pertanggungjawaban individual tersebut tidak tergantung apakah undang-undang nasional mengecualikan dari

pertanggungjawaban tersebut. 4. Pertanggungjawaban dimaksud mengandung konsekuensi

penegakan hukum melalui mahkamah pidana internasional atau melalui pengadilan nasional yang dilaksanakan pada prinsip universal.
5. Terdapat hubungan erat secara historik, praktek dan doktrin

antara hal-hal yang dilarang dari undang-undang dan landasan hukum internasional pasca perang dunia kedua.17
16 Malone, Linda, “Does Saddam Hussein Have Head of Stae Immunity?”, http://law.case.edu/saddamtrial/entry.asp?entry_id=2, law.case.edu, diakses pada tanggal 20 April 2009 17 Bruce Broomhall, seperti yang tertulis dalam Eddy O.S Hiariej, 2008, Hand-Out Hukum dan

33

Pertanggungjawaban

pidana

terhadap

pelanggaran

HAM

mensyaratkan adanya suatu upaya hukum nasional dari negara yang bersangkutan terlebih dahulu. Hal ini merupakan penghormatan terhadap kedaulatan suatu negara untuk dapat mengadakan suatu proses hukum terhadap warga negaranya sebelum berada di bawah yurisdiksi hukum internasional (exhaution of local remedies). Namun apabila semua upaya hukum domestik telah selesai ditempuh dan tidak memuaskan atau ada indikasi kuat bahwa upaya hukum domestik tersebut tidak jujur, tidak efektif, dan ditunda-tunda tanpa ada alasan yang jelas maka hal ini dapat dibawa ke hukum internasional, dalam hal ini suatu pengadilan internasional yang bersifat ad hoc ataupun Mahkamah Pidana

Internasional (ICC). Penegakan hukum pidana internasional yang dilakukan oleh ICC mengisyaratkan adanya kewenangan untuk mengadili individu yang telah melakukan kejahatan perang. Penegakan hukum oleh ICC juga menempatkan semua orang sama di hadapan statuta ICC tanpa membedakan kapasitas jabatan seperti jabatan kepala negara atau pemerintahan, anggota pemerintahan atau parlemen, dan suatu dewan perwakilan atau pejabat pemerintah.

G. Hipotesis

Ham, Penegakan Hak Asasi Manusia dalam Perspektif Hukum Pidana, Yogyakarta, hlm 10

34

ICC sebagai instrumen penegak hukum pidana internasional memiliki kewenangan untuk melakukan proses hukum terhadap individu-individu. Hal ini berlaku tak terkecuali pejabat negara yang memiliki kekebalan hukum, terutama kepala negara. Pelanggaran berat HAM yang terjadi di wilayah darfur sejak tahun 2003 sudah memberikan dasar suatu proses hukum terhadap individu pelaku oleh ICC.

H. Metode Penelitian

1. Jenis Data A. Bahan Hukum Primer, yaitu ketentuan-ketentuan hukum

internasionla. Bahan-bahan ini dapat diperoleh, terutama dalam sumber-sumber hukum internasional, yaitu:    Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa Statuta Roma Konvensi Wina 1961 tentang Hubungan Diplomatik   Resolusi Dewan Keamanan PBB 1556 Resolusi Dewan Keamanan PBB 1564

35

 

Resolusi Dewan Keamanan PBB 1593 Putusan Pre-Trial Chamber 1 ICC No. ICC-02/05-01/09 pada tanggal 4 Maret 2009.

B. Bahan

Hukum

Sekunder,

yaitu

bahan-bahan

yang

erat

hubungannya dengan bahan hukum primer dan dapat membantu menganalisa serta memahami bahan hukum primer meliputi karya yang ada hubungannya dengan pokok bahasan yang akan diteliti baik dalam bentuk buku, skripsi, majalah, jurnal hukum, dan sebagainya. C. Bahan Hukum Tersier, yaitu bahan-bahan tertulis yang menunjang penulisan hukum seperti:     Kamus Hukum Kamus Besar Bahasa Indonesia Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan Kamus Bahasa Inggris-Indonesia

2. Lokasi Penelitian Penelitian ini akan dilakukan dengan teknik studi pustaka dengan

36

mengambil lokasi penelitian pada: a. Perpustakaan Yogyakarta b. Perpustakaan Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia Yogyakarta c. Unit Perpustakaan II Universitas Gadjah Mada Yogyakarta d. Perpustakaan Pusat Studi Hak Asasi Manusia Universitas Islam Indonesia Yogyakarta Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada

3. Teknis Pengumpulan Data Data-data yang dibutuhkan dikumpulkan melalui teknik studi kepustakaan/dokumen, yakni dengan cara mencari bahan-bahan hukum yang diperlukan melalui buku-buku literatur dan sumber dokumentasi lainnya, untuk kemudian diklarifikasi berdasarkan variabel permasalahan.

37

4. Analisis Data Data-data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan metode kualitatif, yaitu data yang diperoleh disusun secara sistematis untuk selanjutnya dianalisis berdasarkan kualitas data. Untuk memahami makna dari bahan-bahan yang diperoleh maka akan diinterpretasikan dengan jalan: a. Interpretasi gramatikal, yaitu mengetahui makna sesuatu dengan cara menfsirkan sesuai susunan kata/bunyi bahasanya. b. Interpretasi historis, yaitu untuk mengetahui sejarah lahirnya suatu peristiwa berdasarkan waktu dan tempat kejadiannya. c. Interpretasi dengan bahan intrinsik, yaitu penafsiran dengan berdasarkan pada bahan-bahan atau referensi lain yang mendukung

Pada akhirnya, penarikan kesimpulan dengan cara berpikir: a. Deduksi, yaitu menyimpulkan dari hal-hal yang bersifat abstrak ke hal-hal yang bersifat konkret. b. Induksi, yaitu menyimpulkan dari hal-hal yang bersifat konkret ke hal-hal yang bersifat abstrak.

38

I. Sistematika Penulisan Hukum Penulisan hukum ini dibahas dalam beberapa bab yang terdiri dari: Bab I berisi pendahuluan yang akan menguraikan latar belakang permasalahan, rumusan masalah, tujuan penelitian, keaslian penelitian, manfaat penelitian, tinjauan pustaka, hipotesis, cara penelitian dan sistematika penulisan hukum. Bab II berisi tinjauan umum mengenai hak imunitas, terdiri dari pembatasan istilah hak imunitas dan pertanggungjawaban individu sebagai subjek hukum internasional dalam pengadilan internasional Bab III berisi tinjauan umum mengenai pengadilan internasional, dalam hal ini ICC (International Criminal Court). Pembahasan ini terdiri dari Sejarah mahkama kejahatan internasional, pembatasan yurisdiksi ICC, dan pengaruh hak imunitas kepala negara terhadap pelaksanaan yurisdiksi ICC (pembahasan kasus Omar Al-Bashir) Bab IV berisi kesimpulan dan saran

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->