P. 1
Kebudayaan Jawa

Kebudayaan Jawa

3.0

|Views: 49,057|Likes:
Published by nauvalhafiluddin
jawa, budaya jawa, suku jawa, kebudayaan jawa
jawa, budaya jawa, suku jawa, kebudayaan jawa

More info:

Published by: nauvalhafiluddin on Jul 29, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/30/2015

pdf

text

original

Di Indonesia, orang Jawa bisa ditemukan dalam segala bidang.
Terutama bidang Administrasi Negara dan Militer banyak didominasi orang
Jawa. Meski banyak pengusaha Indonesia yang sukses berasal dari suku
Jawa, orang Jawa tidak menonjol dalam bidang Bisnis dan Industri, banyak

Page | 6

diantara suku Jawa bekerja sebagai buruh kasar dan tenaga kerja
indonesia seperti pembantu, dan buruh di hutan-hutan di luar negeri yang
mencapai hampir 6 juta orang. Dan tentunya kini semakin bertambah
banyak. Banyak variasi pekerjaan sesuai dengan keahlian dan
keterampilan yang dimiliki.
Selain sumber penghidupan yang berasal dari pekerjaan-pekerjaan
kepegawaian, pertukangan dan perdagangan, bertani adalah juga
merupakan salah satu mata pencaharian hidup dari sebagian besar
masyarakat orang Jawa di desa-desa. Di dalam melakukan pekerjaan
pertanian ini, diantara mereka ada yang menggarap tanah pertaniannya
untuk dibuat kebun kering ( tegalan ), terutama mereka yang hidup di
daerah pegunungan. Sedangkan yang lain, yaitu yang bertempat tinggal
di daerah-daerah yang lebih rendah mengolah tanah-tanah pertanian
tersebut untuk dijadikan sawah. Biasanya disamping tanaman padi,
beberapa jenis tanaman palawija juga ditumbuhkan baik sebagai tanaman
utama di tegalan maupun sebagai tanaman penyela di sawah pada waktu
musim kemarau dimana air sangat kurang untuk pengairan sawah-saah
itu. Tanaman penyela tersebut, diantaranya adalah ketela pohon, ketela
rambat, kedelai, kacang tanah, kacang tunggak, kacang brol, dan lain-lain.
Sawah itu ada yang dimiliki sendiri dan sawah ini disebut sawah
sanggan dan sawah yasan. Pemilik yang kelebihan dapat menjual sawah
seperti itu kepada orang lain. Dalam hal ini dia bisa menjual secara adol
tahunan, ialah hanya menyewakan sawahnya untuk satu tahun, atau
secara adol ceplik, ialah menjual lepas sawahnya. Banyak orang di desa
tidak memiliki tanah-tanah pertanian yang luas, bahakna banyak juga
yang tidak mempunyaianya sama sekali. Orang seperti itu terpaksa
bekerja menjadi buruh tani, menyewa tanah, bagi hasil atau menggadai
tanah.

Orang yang menyewa tanah, karena ia kaya dapat memberikan
sejumlah uangnya kepada orang pemilik sawah yang memerlukan,
misalnya untuk satu masa panen, yang disebut adol oyodan. Apabila
orang yang tidak mempunyai tanah ingin mendapat hasil dengan cara
bagi hasil, artinya memperoleh separo bagian hasil panennya, maka

Page | 7

sistem itu disebut maro. Kalau ia menerima sepertiga bagian saja, sistem
itu disebut mertelu. Sudah barang tentu cara-cara bagi hasil ini
tergantung kepada keadaantingkat kesuburan tanah pertanian tersebut.
Terutama untuk bagi hasil tanaman palawija kacang brol, si pemilik sawah
biasanya hanya akan menerima seperlima bagian dari seluruh hasil
panenan sawahnya.

Akhirnya jika orang hendak menggadai tanah, maka ada yang
disebut adol sende, artinya ia meminjamkan uang kepada orang lain,
dimana ia mendapat tanha pertanian sebagai barang gadaian untuk
diolah. Kemudian jika si peminjam uang dan pemilik sawah tersebut
berhasil mengembaikan uang pinjamannya pada suatu waktu, maka tanha
pertanian tadi diserahkan kembali kepadanya. Walaupun demikian ornag
yang menggadai tanah itu sudah dapat memungut hasil pertaniannya
setidak-tidaknya satu kali masa panen, sebagia bunganya. Hubungan
transksi semacam ini, umumnya dilakukan oleh kedua belah pihak dengna
disaksikan oleh salah seorang anggota Pamong Desa.
Selain sumber penghasilan dari lapangan pekerjaan pokok bertani
tersebut, adapula beberapa sumber pendapatan lain yang diperoleh dari
usaha-usaha kerja sambilan membuat makanna tempe, mencetak batu
merah, mbotok atau membuat minyak goreng kelapa, membatik,
menganyam tikar, dan menjadi tukang-tukang kayu, batu atau reparasi
sepeda dan lapangan-lapangan pekerjaan lain yang mungkin dikerjakan.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->