P. 1
Kebudayaan Jawa

Kebudayaan Jawa

3.0

|Views: 49,012|Likes:
Published by nauvalhafiluddin
jawa, budaya jawa, suku jawa, kebudayaan jawa
jawa, budaya jawa, suku jawa, kebudayaan jawa

More info:

Published by: nauvalhafiluddin on Jul 29, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/30/2015

pdf

text

original

Page | 160

Suwe ora jamu
Jamu godhong telo
Suwe ora ketemu
Ketemu pisan gawe gelo

UNGKAPAN-UNGKAPAN JAWA
Mangan Ora Mangan Asal Kumpul
Ungkapan mangan ora mangan asal kumpul bukan berarti
bahwa orang Jawa adalah manusia-manusia yang tahan lapar, atau
yang tidak mempunyai sepeser uangpun untuk membeli sejumput padi,
ataupun manusia malas yang maunya hanya kumpul terus. Dalam
ungkapan ini terdapat dua kata kunci, yakni mangan (makan) dan
kumpul. Makan adalah manifestasi dari nafsu biologis dan kepentingan
perseorangan, sedang kumpul menunjukkan adanya kehidupan
berkelompok atau bermasyarakat. Dengan demikian, ungkapan
mangan ora mangan asal kumpul pada dasarnya ingin mengatakan
bahwa orang Jawa merasa menjadi bagian integral dari masyarakatnya
dan bersedia mendahulukan kepentingan kelompok/umum dari pada
kepentingan individu.

Alon-Alon Waton Kelakon
Demikian pula terhadap ungkapan alon-alon waton kelakon.
Adalah kurang tepat jika diartikan sebagai sikap hidup ragu-ragu, malas
dan pesimis. Justru sebaliknya, hal itu menandakan manusia yang
berpandangan optimis yang mampu melihat jauh kedepan, disamping
merupakan anjuran untuk melakukan pekerjaan secara cermat agar
selesai dengan baik. Orang Jawa dengan kekuatan spiritual atau
kebatinannya yang didapatkan dari kegiatan-kegiatan asketis seperti
semadi/tapa, pasa atau nglakoni (melaksanakan suatu syarat untuk
suatu tujuan), selalu yakin akan kekuatan diri sendiri dan yakin pula
bahwa apa yang dicita-citakan pasti akan terwujud. Jadi, mengapa
harus tergesa-gesa kalau sesuatu yang dikejar itu pasti datang? Namun
dalam hal ini harus diakui bahwa hanya orang-orang tertentu yang

Page | 161

sudah mencapai taraf weruh sadurunge winarahlah yang bisa
menghayati ungkapan alon-alon waton kelakon.

Urip Mung Mampir Ngombe
Adapun ungkapan urip mung mampir ngombe menunjukkan
bahwa kehidupan manusia didunia begitu cepatnya, ibarat
sepeminuman segelas air. Disini terkandung makna bahwa setelah
selesai minum, masih ada kewajiban lain yang lebih penting. Oleh
karenanya, selama proses minum berlangsung, betul-betul harus dapat
dirasakan bahwa minum itu merupakan rahmat dari Yang Kuasa yang
harus dimanfaatkan sebaik-baiknya, sehingga dapat menjadi “bekal”
untuk menunaikan kewajiban lainnya, yaitu agar tidak “kehausan” di
tengah jalan.

Kanca Wingking Dan Suwarga Nunut Neraka Katut
Ungkapan lain yang bisa memberi kesan negatif adalah kanca
wingking dan suwarga nunut neraka katut
. Keduanya seolah-olah
mendiskriminasikan wanita atau istri terhadap laki-laki atau suami.
Interpretasi negatif akan mengatakan bahwa wanita hanya berfungsi
sebagai pemuas kebutuhan biologis (seksual) atau sebagai pembantu
rumah tangga. Tanpa pemahaman terhadap makna yang tersembunyi
didalamnya, tuntutan emansipasi, persamaan hak, derajat dan
kedudukan akan mengalir bagaikan air bah.
Dari pengertian tersebut sudah dapat dibayangkan bahwa ungkapan
suwarga nunut neraka katut dan kanca wingking adalah dimaksudkan
untuk menempatkan manusia pada peran, fungsi dan kedudukannya.
Islam — yang ajaran-ajarannya banyak diserap oleh masyarakat Jawa
kemudian digabungkan dengan pemikiran dalam ajaran Hindu Budha
(sinkretisme) — mengajarkan bahwa laki-laki adalah pemimpin bagi
wanita, dan suami adalah pemimpin bagi istrinya. Sepanjang tidak
bertentangan dengan agama, kesusilaan dan Undang-Undang, istri
wajib mentaati perintah atau aturan suami. Jadi, arti suwarga nunut
neraka katut bagi istri adalah mematuhi suami, disamping kewajiban

Page | 162

untuk memperingatkan bila suami kurang benar. Istri yang tidak mau
menegur kesalahan suami, berarti ikut menanggung dosa yang
diperbuat suaminya.
Begitu pula ungkapan kanca wingking. Sebagai “teman belakang”,
para istri memegang peranan yang amat penting dalam sebuah
keluarga. Jika mereka tidak kuat memegang peran sebagai kanca
wingking, maka keluarga itupun tidak dapat diharapkan kelangsungan
eksistensinya. Jadi tidaklah berlebihan jika dikatakan bahwa surga laki-
laki terletak ditelapak kaki wanita. Semboyan bahwa suatu revolusi
tidak akan berhasil tanpa andil kaum wanita-pun, tidaklah mengada-
ada.

Hanya saja persoalannya, mengapa wanita dikatakan sebagai kanca
wingking, bukan kanca ngajeng (teman depan)? Hal ini juga ada
alasannya sendiri. Barangkali tidak seorangpun yang menyangkal
bahwa masyarakat Jawa memiliki nilai-nilai dan norma-norma luhur
yang dijunjung tinggi. Perbuatan yang melanggar atau tidak sesuai
dengan nilai atau moral itu, dikatakan sebagai saru, ora lumrah, atau
ora ilok.

Kedudukan wanita Jawa terhadap lawan jenisnya sebagaimana
kedudukan wanita terhadap pria pada umumnya — secara kodrati
(bedakan dengan kedudukan sosial politik) — adalah lebih rendah.
Dengan demikian, adalah tidak patut apabila wanita yang memimpin
suatu keluarga. Adalah tidak lumrah apabila wanita mencarikan nafkah
bagi suaminya dan menempatkannya sebagai rewang (pembantu). Dan
adalah tidak ilok (tidak boleh dilakukan) apabila seorang istri berani
membantah suaminya.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->