P. 1
Draft Proposal Skripsi Perjanjian

Draft Proposal Skripsi Perjanjian

|Views: 1,411|Likes:
Published by franzzoka@yahoo.com
Mengenai Wanprestasi
Mengenai Wanprestasi

More info:

Published by: franzzoka@yahoo.com on Jul 31, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as TXT, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/15/2012

pdf

text

original

PROPOSAL SKRIPSI Nama : Franssoka Yunus Sumarwi NIM : 01006203 Program Kekhususan : I ( Bisnis dan Industri ) Judul Sementara

: Tinjauan Yuridis Terhadap Wanprestasi antara ....... ( Studi kasus : Putusan MA Nomor..... ) A. Latar Belakang Manusia dalam kehidupan sehari – hari tidak pernah terhindar dari sebuah tindaka n hubungan hukum perdata atau biasa yang lebih kita kenal dengan perjanjian anta ra pihak yang satu dengan pihak yang lain. Perjanjian ini contoh sehari – hari a dalah ketika kita ingin membeli barang di sebuah toko, maka ketika terjadi kesep akatan tentang harga dan jumlah serta jenis barang, maka disana terjadi sebuah p erjanjian. Para pihak yang terlibat dalam perjanjian ini mengikatkan diri antara satu pihak dengan yang lain, suatu perjanjian itu bersumber pada suatu perikata n, perjanjian tidak lebih luas dari suatu perikatan, dimana ada perjanjian disit u pasti ada suatu perikatan tetapi tidak sebaliknya, karena perikatan selain bis a ditimbulkan dari perjanjian, perikatan juga bisa ditimbulkan dari undang – und ang. Hal ini seperti yang tercantum dalam pasal 1233 Kitab Undang – undang Hukum Perdata ( KUHPerdata ), ‘ tiap – tiap perikatan dilahirkan baik karena perjanji an, maupun undang – undang.’ Perikatan dan perjanjian menunjuk pada dua hal yang berbeda. Perikatan adalah su atu perhubungan hukum antara dua orang atau dua pihak, berdasarkan mana pihak ya ng satu berhak menuntut sesuatu hal dari pihak yang lain, dan pihak yang lain be rkewajiban untuk memenuhi tuntutan itu. Sedangkan Perjanjian adalah suatu perist iwa di mana seorang berjanji kepada seoang lain atau di mana dua orang itu salin g berjanji untuk melaksanakan sesuatu hal, dari peristiwa ini, timbullah suatu h ubungan antara dua orang tersebut yang dinamakan perikatan. Perikatan adalah su atu istilah atau pernyataan yang bersifat abstrak, yang menunjuk pada hubungan h ukum dalam lapangan harta kekayaan antara dua atau lebih orang atau pihak, di ma na hubungan hukum tersebut melahirkan kewajiban kepada salah satu pihak yang ter libat dalam hubungan tersebut. Meskipun bukan yang paling dominan, namun pada um umnya, perikatan yang lahir dari perjanjian merupakan yang paling banyak terjadi dalam kehidupan manusia sehari – hari, dan yang juga banyak dipelajari oleh ahl i hukum, serta dikembangkan secara luas oleh para legislator, para praktisi huku m, serta juga cendikiawan hukum, menjadi aturan – aturan hukum positif yang ter tulis, yurisprudensi dan doktrin – doktrin hukum yang dapat kita temui dari wakt u ke waktu. Begitu pula dalam penelitian ini, yang akan dibahas oleh penulis ad alah perikatan yang timbul dari perjanjian dan bukan perikatan yang timbul dari undang - undang . Buku ke – III KUHPerdata tentang perjanjian, berbeda dengan sistem tertutup yang diterapkan oleh buku ke – II tentang benda, maksudnya adalah dalam hak keben daan tidak dapat diadakan hak kebendaan yang lain selain yang terdapat dalam und ang – undang, dalam buku ke – II tentang perjanjian, dalam buku ke – III tentang perjanjian yang mengandung sistem terbuka, para pihak diperkenankan untuk dapat melakukan perjanjian yang disepakati oleh para pihak dan perjanjian itu bersifa t mengikat dan memaksa bagi mereka dan menjadi undang – undang bagi semua pihak yang terkait didalamnya. Hukum perjanjian memberikan kebebasan yang seluas – lua snya kepada masyarakat untuk mengadakan perjanjian yang berisi apa saja, asalkan tidak melanggar ketertiban umum dan kesusilaan. Suatu perjanjian itu timbul ketika adanya kesepakatan antara kedua belah pihak, antara pihak yang berhak menuntut sesuatu atau biasa dikenal dengan kreditur, de ngan debitur atau pihak yang berkewajiban untuk memenuhi tuntutan. Keterangan di atas membuktikan bahwa suatu perjanjia itu bisa tertulis ataupun tidak tertulis , meskipun kebiasaan yang timbul dalam masyarakat adalah berbentuk tertulis. Asa s ini dinamakan asas konsensualisme yaitu pada dasarnya perjanjian dan perikatan yang timbul karenanya itu sudah dilahirkan sejak detik tercapainya kesepakatan.

Asas konsensualisme ini tercantum dalam pasal 1320 KUHperdata, yang berbunyi : Untuk sahnya suatu perjanjian diperlukan empat syarat : 1. Sepakat mereka yang mengikatkan dirinya; 2. Kecakapan untuk membuat suatu perikatan; 3. Suatu sebab tertentu; 4. Suatu sebab halal. Syarat sahnya suatu perjanjian bukanlah apabila suatu perjanjian tersebut tertul is atau tidak tertulis, melainkan apabila hanya ada kata ‘sepakat’. Syarat sepak at dan kecakapan adalah syarat subjektif, karena berkaitan dengan pihak atau ora ng yang melakukan perjanjian, apabila tidak dipenuhi maka akibat hukumnya adalah dapat dimintakan pembatalan. Suatu sebab tertentu dan suatu sebab yang halal me rupakan syarat objektif, dimana syarat tersebut merupakan syarat yang apabila ti dak terpenuhi maka perjanjian itu batal demi hukum. KUHPerdata pasal 1330 mengat ur orang – orang yang cakap menurut hukum untuk melakukan perbuatan hukum atau s uatu perjanjian. Undang – Undang dalam pasal 1330 KUHPerdata mengatur mengenai mereka yang tidak cakap melakukan perjanjian adalah : 1. Orang – orang yang belum dewasa; 2. Mereka yang ditaruh di bawah pengampuan; 3. Orang perempuan dalam hal – hal yang ditetapkan oleh undang – undang, da n semua orang kepada siapa Undang – undang telah melarang membuat perjanjian – p erjanjian tertentu.. Dalam perkembangannya hingga sekarang ini, ada perubahan mengenai mereka yang ka rena keadaan tidak cakap melakukan perjanjian. Khusus nya yaitu orang wanita yan g disebutkan pada nomor 3, orang perempuan dalam KUHPerdata bukan subjek yang ca kap menurut hukum, ketika ingin melakukan suatu perjanjian, maka harus didamping i oleh suami, atau apabila tidak memiliki suami maka harus didampingi oleh hakim , tetapi setelah keluarnya Surat Edaran Mahkamah Agung ( SEMA ) No. 3 Tahun 1963 tanggal 4 Agustus 1963, dan dikuatkan dengan Undang – Undang No. 1 Tahun 1974 t entang Perkawinan yang memperbolehkan seorang wanita untuk melakukan suatu perbu atan hukum tanpa harus didampingi suami / hakim. Menurut pasal 1338 ayat 3 Kitab Undang – Undang Hukum Perdata, semua perjanjian itu harus dilaksanakan dengan itikad baik ( dalam bahasa Belanda tegoeder trouw; dalam bahasa Inggris in good faith, dalam bahasa Perancis de bonne foi ). Norma yang dituliskan di atas ini merupakan salah satu sendi yang terpenting dari Huk um Perjanjian. Yang dimaksud dengan itikad baik adalah perjanjian tersebut tida k bertentangan dengan undang – undang, kesusilaan, dan kepatutan, serta adat keb iasaan. Adakalanya suatu perjanjian tersebut itu tidak dijalankan sebagai mana diperjanj ikan oleh para pihak, hal ini adalah tidak terpenuhinya salah satu kewajiban yan g harus diperjanjikan. Seperti hal yang disebutkan diatas adalah bahwa, suatu pe rjanjian itu karena para pihak berjanji untuk melakukan sesuatu, apabila salah s atu pihak tidak melakukan sesuatu maka akan terjadi suatu ‘ wanprestasi ‘. Wanpr estasi berasal dari bahasa perkataan Belanda yang berarti suatu keadaan yang men unjukkan debitur tidak berprestasi ( tidak melaksanakan kewajibannya ) dan dia d apat dipersalahkan. Dalam hal wanprestasi ini, ada 4 ( empat ) macam wanprestasi : 1. Tidak berprestasi sama sekali atau berprestasi tapi tidak mermanfaat lag i atau tidak dapat diperbaiki. 2. Terlambat memenuhi prestasi 3. Memenuhi prestasi secara tidak baik atau tidak sebagaimana mestinya. 4. Melakukan sesuatu namun menurut perjanjian tidak boleh dilakukan. Mengenai wanprestasi atau tidak terpenuhinya kewajiban dalam perjanjian karena 2 hal, yaitu : Kesalahan debitur [ bisa disengaja maupun karena lalai ] dan karen a keadaan memaksa. Bagi debitur yang melakukan wanprestasi karena kelalaian atau pun disengaja maka akan berakibat pada ganti rugi, sedangkan apabila wanprestasi maka akan berujung pada resiko. Ganti rugi sering diperinci dengan tiga hal : b iaya, rugi dan bunga. Biaya adalah segala pengeluaran atau perongkosan yang nyat a – nyata sudah dikeluarkan oleh satu pihak, kerugian adalah karena kurusakan ba rang – barang kepunyaan kreditur yang diakibatkan oleh kelalaian si debitur, sed

angkan yang dimaksud dengan bunga adalah kerugian yang berupa kehilangan keuntun gan yang sudah dibayangkan atau dihitung oleh kreditur. Suatu keadaan memaksa atau overmacht adalah suatu alasan untuk seorang debitur yang dapat digunakan oleh seorang debitur untuk melepaskan diri dari tanggu jawa b untuk membayar ganti rugi karena suatu keadaa yang tidak dapat ditentukan oleh debitur pada waktu pembuatan perjanjian, overmacht ini bisa karena bencana alam , huru – hara, peperangan, dan perubahan kebijakan pemerintah yang bersangkutan dengan perjanjian. Dengan kasus yang akan dibahas ini adalah mengenai wanprestasi yang terj adi antara ........................... yang diakibatkan karena.................. ........ Dengan itulah saya tertarik untuk mengkaji masalah tersebut, maka saya kemukakan judul penelitian sebagai berikut; “ Tinjauan Tinjauan Yuridis Terhadap Wanprestasi antara ....... ( Studi kasus : Putusan MA Nomor..... )”. B. Permasalahan Dalam Penelitian ini akan dikemukakan perumusan sebagai berikut : 1. Bagaimanakah perjanjian yang telah dilaksanakan oleh para pihak? 2. Bagaimanankah perlindungan hukum C. Tujuan Penelitian Berdasarkan uraian tersebut dimuka, dibawah ini dikemukakan tujuan penelitian ad alah sebagai berikut :

D. 1.

Metode Penelitian Objek Penelitian Penelitian tentang ............. Pendekatan maslah yang penulis gunakan dalam penulisan skripsi ini adala h pendekatan normatif – empiris artinya yaitu berdasarkan pada ketentuan – keten tuan hukum yang berlaku, dalam hal ini penelitian dilakukan terhadap Wanprestasi ...................... yang diakitkan dengan ......... 2. Sumber Data a. Bahan Hukum Primer Bahan Hukum Primer adalah Bahan – bahan hukum yang mengikat. Bahan hukum primer yang digunakan adalah : -.............. b. Bahan Hukum Sekunder Bahan hukum sekunder adalah bahan hukum yang memberi pen jelasan mengenai mengenai bahan hukum primer, dapat berupa literatur – literatur yang berkaitan dengan Wanprestasi. c. Bahan Hukum Tersier Bahan Hukum ini berupa tulisan yang diperoleh melalui me dia internet yang berkenaan dengan Wanprestasi. 3. Pengumpulan Data Pengumpulan data dilakukan melalui studi kepustakaan, st udi kepustakaan dilakukan dibeberapa tempat seperti perpustakaan nasional perpus takaan fakultas hukum Universitas Trisakti maupun mengakses data melalui interne t.

4.

Analisis Data Data hasil penelitian ini dianalisis secara kualitatif, artinya data kepustakaan yang didapat dianalisis secara mendalam, holistic, komp rehensif. Penggunaan metode analisis secara kualitatif didasarkan pada pertimban gan bahwa data yang dianalisis beragam, memiliki sifat dasar yang berbeda antara

satu sama lainnya, serta tidak mudah untuk dikuantititatifkan. Kemudian sifat d asar data yang dianalisis adalah menyeluruh dan merupakan satu kesatuan bulat. H al ini ditandai dengan keanekaragaman datanya serta memerlukan informasi yang me ndalam. 5. Cara Penarikan Kesimpulan Pengambilan keputusan dilakukan dengan menggunakan logik a deduktif, artinya adalah metode menarik kesimpulan yang bersifat.khusus dari p ernyataan – pernyataan yang sifatnya umum. Metode ini dilakukan dengan cara meng analisis pengertian atau konsep – konsep umum, antara lain mengenai konsep tenta ng perjanjian yang dilakukan oleh para pihak dan mengenai prosedur – prosedur pe laksanaan perjanjian............. E. Kerangka Konsepsional Dilihat dari aspek judul dan permasalahan yang telah dis ebutkan diatas dalam hal ini perlu dijelaskan terlebih dahulu mengenai hal terte ntu sebagai berikut : .................. F. Sistematika Penulisan BAB I : PENDAHULUAN Dalam Bab ini akan diuraikan mengenai latar bela kang, permasalahan, tujuan penelitian, metode penelitian yang digunakan, kerangk a konsepsional, dan sistematika penulisan. BAB II : KONSEPSI TENTANG WANPRESTASI Dalam Bab ini akan diuraikan hasil kajian pustak a berupa penelusuran literatur yang telah dilakukan, mengenai suatu perjanjian, serta wanprestasi, dan juga metode pendekatan hukum dalam undang – undang. BAB III : HASIL KAJIAN EMPIRIS Pada bab ini akan diuraikan secara singkat menge nai hasil kajian empiris sebagai onjek dalam penulisan skripsi. BAB IV : PENGOLAHAN DAN ANALISIS Bab ini merupakan pengelolaan dan analisis data terhadap pelaksanaan perjanjian, serta perlindungan hukum bagi para pihak yang t erkait dalam perjanjian. BAB V : PENUTUP Bab ini merupakan bagian akhir dari seluruh kegi atan penulisan, yang berisi kesimpulan dan saran. G. Daftar Pustaka Handri Raharjo, Hukum Perjanjian di Indonesia, Jakarta: PT Buku Kita, 2009. Kartini Muljadi dan Gunawan Widjaja, Perikatan Yang Lahir dari Perjanjian, Jakar ta: PT Raja Grafindo Persada, Jakarta. Subekti, Hukum Perjanjian, Jakarta: Intermasa, 2004.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->