P. 1
PERCOBAAN V JARINGAN PEER TO PEER

PERCOBAAN V JARINGAN PEER TO PEER

4.94

|Views: 11,768|Likes:
Published by ub4id
Tutorial ini adalah laporan hasil percobaan lab tantang bagaimana cara melakukan koneksis jaringan peer to peer WIN XP dengan WIN XP dan WIN XP dengan WIN 98
Tutorial ini adalah laporan hasil percobaan lab tantang bagaimana cara melakukan koneksis jaringan peer to peer WIN XP dengan WIN XP dan WIN XP dengan WIN 98

More info:

Categories:Types, School Work
Published by: ub4id on Jun 21, 2008
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/05/2013

pdf

text

original

PERCOBAAN IV JARINGAN PEER TO PEER I.

TUJUAN Membangun jaringan peer to peer (2 komputer) Membangun jaringan peer to peer (> 2 komputer) II. ALAT DAN BAHAN
PC > 2 buah Kabel UTP (Straight dan Cross) Hub / Switch

III. DASAR TEORI
1. IP Address IP address terdiri dari bilangan biner 32 bit yang dipisahkan oleh tanda titik setiap 8 bitnya. Tiap 8 bit ini disebut sebagai oktet. Bentuk IP address dapat dituliskan sebagai berikut : xxxxxxxx.xxxxxxxx.xxxxxxxx.xxxxxxxx Jadi IP address ini mempunyai range dari 00000000.00000000.00000000.00000000 sampai 11111111.11111111.11111111.11111111. Notasi IP address dengan bilangan biner seperti ini susah untuk digunakan, sehingga sering ditulis dalam 4 bilangan desimal yang masing-masing dipisahkan oleh 4 buah titik yang lebih dikenal dengan “notasi desimal bertitik”. Setiap bilangan desimal merupakan nilai dari satu oktet IP address. Contoh hubungan suatu IP address dalam format biner dan desimal :

Desimal Biner

167

205
Format IP Address

206

100

10100111 11001101 11001110 01100100

2. Pembagian Kelas IP Address Jumlah IP address yang tersedia secara teoritis adalah 255x255x255x255 atau sekitar 4 milyar lebih yang harus dibagikan ke seluruh pengguna jaringan internet di

seluruh dunia. Pembagian kelas-kelas ini ditujukan untuk mempermudah alokasi IP Address, baik untuk host/jaringan tertentu atau untuk keperluan tertentu. IP Address dapat dipisahkan menjadi 2 bagian, yakni bagian network (net ID) dan bagian host (host ID). Net ID berperan dalam identifikasi suatu network dari network yang lain, sedangkan host ID berperan untuk identifikasi host dalam suatu network. Jadi, seluruh host yang tersambung dalam jaringan yang sama memiliki net ID yang sama. Sebagian dari bit-bit bagian awal dari IP Address merupakan network bit/network number, sedangkan sisanya untuk host. Garis pemisah antara bagian network dan host tidak tetap, bergantung kepada kelas network. IP address dibagi ke dalam lima kelas, yaitu kelas A, kelas B, kelas C, kelas D dan kelas E. Perbedaan tiap kelas adalah pada ukuran dan jumlahnya. Contohnya IP kelas A dipakai oleh sedikit jaringan namun jumlah host yang dapat ditampung oleh tiap jaringan sangat besar. Kelas D dan E tidak digunakan secara umum, kelas D digunakan bagi jaringan multicast dan kelas E untuk keprluan eksperimental. Perangkat lunak Internet Protocol menentukan pembagian jenis kelas ini dengan menguji beberapa bit pertama dari IP Address. Penentuan kelas ini dilakukan dengan cara berikut : Bit pertama IP address kelas A adalah 0, dengan panjang net ID 8 bit dan panjang host ID 24 bit. Jadi byte pertama IP address kelas A mempunyai range dari 0-127. Jadi pada kelas A terdapat 127 network dengan tiap network dapat menampung sekitar 16 juta host (255x255x255). IP address kelas A diberikan untuk jaringan dengan jumlah host yang sangat besar, IP kelas ini dapat dilukiskan pada gambar berikut ini:

0-127

0-255

0-255

0-255

0nnnnnnn hhhhhhhh hhhhhhhh hhhhhhhh
Bit-bit Network Bit-bit Host

IP address kelas A Dua bit IP address kelas B selalu diset 10 sehingga byte pertamanya selalu bernilai antara 128-191. Network ID adalah 16 bit pertama dan 16 bit sisanya adalah host ID sehingga kalau ada komputer mempunyai IP address 167.205.26.161, network ID = 167.205 dan host ID = 26.161. Pada. IP address kelas B ini mempunyai range IP dari

128.0.xxx.xxx sampai 191.155.xxx.xxx, yakni berjumlah 65.255 network dengan jumlah host tiap network 255 x 255 host atau sekitar 65 ribu host.

128-191

0-255

0-255

0-255

10nnnnnn nnnnnnnn hhhhhhhh hhhhhhhh
Bit-bit Network Bit-bit Host

IP address kelas B IP address kelas C mulanya digunakan untuk jaringan berukuran kecil seperti LAN. Tiga bit pertama IP address kelas C selalu diset 111. Network ID terdiri dari 24 bit dan host ID 8 bit sisanya sehingga dapat terbentuk sekitar 2 juta network dengan masingmasing network memiliki 256 host.

192-223 0-255 0-255 0-255 110nnnnn nnnnnnnn nnnnnnnn hhhhhhhh
Bit-bit Network Bit-bit Host

IP address kelas C IP address kelas D digunakan untuk keperluan multicasting. 4 bit pertama IP address kelas D selalu diset 1110 sehingga byte pertamanya berkisar antara 224-247, sedangkan bit-bit berikutnya diatur sesuai keperluan multicast group yang menggunakan IP address ini. Dalam multicasting tidak dikenal istilah network ID dan host ID. IP address kelas E tidak diperuntukkan untuk keperluan umum. 4 bit pertama IP address kelas ini diset 1111 sehingga byte pertamanya berkisar antara 248-255. Sebagai tambahan dikenal juga istilah Network Prefix, yang digunakan untuk IP address yang menunjuk bagian jaringan.Penulisan network prefix adalah dengan tanda slash “/” yang diikuti angka yang menunjukkan panjang network prefix ini dalam bit. Misal untuk menunjuk satu network kelas B 167.205.xxx.xxx digunakan penulisan 167.205/16. Angka 16 ini merupakan panjang bit untuk network prefix kelas B.

3. Aturan Dasar Pemilihan network ID dan host ID Berikut adalah aturan-aturan dasar dalam menentukan network ID dan host ID yang digunakan : Network ID tidak boleh sama dengan 127 Network ID 127 secara default digunakan sebagai alamat loopback yakni IP address yang digunakan oleh suatu komputer untuk menunjuk dirinya sendiri. Network ID dan host ID tidak boleh sama dengan 255 Network ID atau host ID 255 akan diartikan sebagai alamat broadcast. ID ini merupakan alamat yang mewakili seluruh jaringan. Network ID dan host ID tidak boleh sama dengan 0 IP address dengan host ID 0 diartikan sebagai alamat network. Alamat network digunakan untuk menunjuk suatu jaringn bukan suatu host. Host ID harus unik dalam suatu network. Dalam suatu network tidak boleh ada dua host yang memiliki host ID yang sama. 4. Jaringan peer to peer P2P merupakan singkatan dari Peer-to-Peer (bahasa Inggris) atau teknologi dari “ujung” ke “ujung” pertama kali di luncurkan dan dipopulerkan oleh aplikasi-aplikasi “berbagi-berkas” (file sharing) seperti Napster dan KaZaA. Pada konteks ini teknologi P2P memungkinkan para pengguna untuk berbagi, mencari dan mengunduh berkas. Sistem P2P yang sebenarnya adalah suatu sistem yang tidak hanya menghubungkan “ujung” satu dengan lainnya, namun ujung-ujung ini saling berhubungan secara dinamis dan berpartisipasi dalam mengarahkan lalulintas komunikasi informasi-, pemrosesan-, dan penugasan pembagian bandwidht yang intensif, dimana bila sistem ini tidak ada, tugas-tugas ini biasanya diemban oleh server pusat. Aplikasi P2P yang sebenarnya memerlukan satuan tim-tim kecil dengan ide cemerlang untuk mengembangkan perangkat lunak dan bisnis-bisnis yang mungkin dilakukan oleh perangkat tersebut – dan mungkin saja bisa membuat perusahaan besar yang sudah ada gulung tikar. P2P yang sebenarnya, bila diaplikasikan pada pasar yang sudah matang dan stabil adalah teknologi yang "mengganggu".

Ide mengenai konsep ini muncul kira-kira pada akhir dekade 1980-an, ketika jaringan komputer dan tentunya juga komputer telah mulai masuk ke dalam salah satu barang wajib dalam perusahaan, baik itu perusahaan kecil maupun besar. Tetapi, arsitektur ini berkembang dalam jaringan yang terlalu kecil untuk memiliki sebuah server yang terdedikasi, sehingga setiap komputer klien pun menyediakan layanan untuk berbagi data untuk melakukan kolaborasi antara pengguna. Jaringan peer-to-peer pun mulai banyak digemari ketika Microsoft merilis sistem operasi Windows for Workgroups, meski sebelumnya sistem operasi MS-DOS (atau IBM PC-DOS) dengan perangkat MS-NET (atau PC-NET) juga dapat digunakan untuk tujuan ini. Karakteristik kunci jaringan tersebut adalah dalam jaringan ini tidak terdapat sebuah server pusat yang mengatur klien-klien, karena memang setiap komputer bertindak sebagai server untuk komputer klien lainnya. Sistem keamanan yang ditawarkan oleh metode ini terbilang lebih rendah dibandingkan dengan metode klien/server dan manajemen terhadapnya pun menjadi relatif lebih rumit. Konsep ini pun kemudian berevolusi pada beberapa tahun terakhir, khususnya ketika jaringan Internet menjadi jaringan yang sangat besar. Hal ini mulai muncul kirakira pada akhir dekade 1990-an, di saat banyak pengguna Internet mengunduh banyak berkas musik mp3 dengan menggunakan metode peer-to-peer dengan menggunakan program Napster yang menuai kritik pedas dari industri musik, seperti halnya Metallica dan banyak lainnya. Napster, pada saat dituntut oleh para pekerja industri musik, dikatakan memiliki anggota lebih dari 20 juta pengguna di seluruh dunia. Selanjutnya beberapa aplikasi juga dibuat dengan menggunakan konsep ini: eDonkey, Kazaa, BitTorrent, dan masih banyak lainnya. Meski banyak aplikasi peer-topeer ini digunakan oleh pengguna rumahan, ternyata sistem ini juga diminati oleh banyak perusahaan juga. Topologi Peer-to-peer Network Peer artinya rekan sekerja. Peer-to-peer network adalah jaringan komputer yang terdiri dari beberapa komputer (biasanya tidak lebih dari 10 komputer dengan 1-2 printer). Dalam sistem jaringan ini yang diutamakan adalah penggunaan program, data dan printer secara bersama-sama. Pemakai komputer bernama Dona dapat memakai program yang dipasang di komputer Dino, dan mereka berdua dapat mencetak ke printer yang sama pada saat yang bersamaan.

Sistem jaringan ini juga dapat dipakai di rumah. Pemakai komputer yang memiliki komputer ‘kuno’, misalnya AT, dan ingin memberli komputer baru, katakanlah Pentium II, tidak perlu membuang komputer lamanya. Ia cukup memasang netword card di kedua komputernya kemudian dihubungkan dengan kabel yang khusus digunakan untuk sistem jaringan. Dibandingkan dengan ketiga cara diatas, sistem jaringan ini lebih sederhana sehingga lebih mudah dipejari dan dipakai. 5. Peralatan Jaringan Ada beberapa peralatan yang digunakan dalam instalasi networking, diantaranya adalah :
1. Kabel UTP

2. Soket RJ-45 3. Hub atau Switch

4. Tang Crimping

Switch

Digunakan untuk memotong

Susunan kabel

Digunakan untuk mengupas

Warna Putih Orange Orange Putih Hijau Biru Putih Biru Hijau Putih Coklat Coklat

Urutan 1 2 3 4 5 6 7 8

Warna Putih Orange Orange Putih Hijau Biru Putih Biru Hijau Putih Coklat Coklat

Susunan kabel straight Warna Putih Orange Orange Putih Hijau Biru Putih Biru Hijau Putih Coklat Coklat Urutan 1 2 3 4 5 6 7 8 Warna Putih Hijau Hijau Putih Orange Biru Putih Biru Orange Putih Coklat Coklat

Kabel straight digunakan untuk jaringan yang menggunakan hub / switch, sedangkan kabel cross digunakan untuk jaringan peer to peer atau koneksi langsung antar dua buah device jaringan, misal: komputer to komputer atau hub to hub.

Susunan kabel cross

IV. PROSEDUR PERCOBAAN
A. Langkah jaringan peer to peer, atau menggunakan HUB dengan OS yang sama: 1. Memastikan hardware jaringan NIC sudah terinstal. 2. Memasang kabel cross antara 2 komputer. 3. Mengecek kabel apakah sudah terpasang ataukah belum, apabila sudah terpasang akan tampil icon tray seperti pada gambar berikut :

terconnect

Tidak terconnect

4. Mengeset IP Address dengan cara : klik kanan pada tray icon lalu klik Status

5. Lalu akan muncul kotak dialog untuk yang menampilkan speed koneksi dari NIC, seperti pada gambar berikut.

6. Lalu klik button properties, kemudian akan muncul kotak dialog tempat mengatur konfigurasi NIC. Seperti pada gambar berikut.

7. Mengeset IP Address, dengan cara pada kotak dialog tersebut klik Internet Protocol(TCP/IP) kemudian klik button properties, atau double klik pada Internet Protocol(TCP/IP) tersebut. Lalu akan muncul kotak dialog tempat mengeset IP Address, seperti pada gambar berikut.

8. Isikan IP Address pada kolom IP Address dan Subnet mask pada kolom Subnet Mask, setelah mengisikan IP Address lalu klik OK, kemudian test koneksi jaringan tersebut dengan cara: a) Buka DOS, dengan cara klik START - ALL PROGRAM – ACCESSORIES – COMMAND PROMPT atau dengan cara klik START – RUN lalu ketikkan cmd. b) Kemudian setelah Command Prompt terbuka ketikkan perintah ping xxx.xxx.xxx.xxx. xxx.xxx.xxx.xxx di sini adalah IP Address komputer lain yang terhubung dengan komputer kita, misal : 192.168.1.1. 9. Mengulangi langkah ke 4 sampai dengan ke 8 untuk masing – masing IP Address untuk melengkapi tabel berikut : Komputer1 192.168.0.1 192.168.0.1 192.168.1.0 192.168.1.2 Komputer2 192.168.0.2 192.168.1.1 192.168.1.1 192.168.1.3 Test ping Hasil Keterangan

10. Mensharing sebuah file, folder, atau hard drive dengan cara : a) Klik kanan pada folder atau hard drive yang akan di sharing, kemudian pilih sharing and security... , seperti pada gambar berikut :

b) Kemudian akan muncul kotak dialog sebagai berikut :

Kemudian pada kolom share name isikan nama file untuk tampilan di komputer yang satunya, kemudian pada kolom comment untuk mengisi komentar dari folder yang di – share tadi. Untuk mengeset hak akses untuk user yang mengakses file yang akan di – share nanti klik tombol permission lalu isikan user siapa saja yang diijinkan. Lalu klik Apply lalu OK.

c) Pada file yang sudah di – share dan belum di – share terdapat perbedaan pada tampilan iconnya, yaitu terdapat tanda tangan di bawah icon folder yang sudah di – share. Seperti pada gambar berikut.

B. Langkah jaringan peer to peer, atau menggunakan HUB dengan OS Windows XP dan Windows 98: 1. Memasang kabel straight antara hub dan 5 buah client yang mempunyai sistem operasi Windows XP dan Windows 98. 2. Setting Jaringan Untuk Windows XP Untuk setting jaringan di Windows XP sama dengan langkah pada poin A pada langkah 4 sampi dengan langkah 8, dan langkah 10 untuk share file pada Windows XP. 3. Setting Jaringan Untuk Windows 98 a. Klik kanan pada icon Network Neighbourhood lalu pilih Properties.

b. Kemudian akan muncul kotak dialog tempat konfigurasi untuk NIC (Network Interface Card), yang di situ terdapat untuk konfigurasi Sharing file, pengaturan jenis protocol yang akan digunakan, vendor dan jenis dari NIC yang sedang digunakan sekarang, seperti terlihat pada gambar berikut c. Kemudian pilih TCP/IP(Internet Protocol) kemudian klik button Properties, akan muncul kotak dialog untuk mengisikan IP Address, Subnet mask, DNS, WINS, Net BIOS dan Gateway. Tetapi yang digunakan disini hanyalah IP Address dan Subnet Mask saja. Setelah

kotak dialog untuk mengisikan IP ddress muncul, pilih radio button Specify an IP Address untuk mengisikan IP address dan Subnet Mask secara manual, Isikan IP address sesuai dengan urutan PC, untuk Network ID yang sama dan Host ID yang berbeda, agar semua PC dapat berhubungan, dapat dilihat pada gambar berikut:

d. Setelah diisikan lalu klik OK, kemudian akan muncul kotak dialog bahwa komputer minta restart, ini karena pada setiap perubahan konfigurasi untuk Windows 98 membutuhkan restart untuk mendapatkan perubahan, lalu klik Yes, seperti pada gambar berikut :

Kemudian komputer akan restart. e. Setelah komputer log on kembali, lalu cek hasil konfigurasi dengan cara : 1. Menggunakan perintah winipcfg a. Jalankan Start – Run, ketikkan perintah winipcfg

b. Kemudian akan muncul kotak dialog hasil konfigurasi dari NIC yang telah dilakukan tadi, seperti pada gambar berikut :

2. Menggunakan perintah ipconfig a. Jalankan Start – Run, ketikkan perintah command b. Kemudian ketikkan perintah ipconfig, lalu akan muncul tampilan konfigurasi IP Address yang telah dikonfigurasi tadi.

4. Sharing File di Windows 98 a. Klik kanan pada file, forlder, ataupun drive yang akan dishare, lalu pilih Sharing...

b. Ketikkan untuk nama file yang akan disharing pada tab Shared As, untuk tampilan pada komputer host, Lalu klik OK.

Untuk pilihan kedua yaitu : I want to be able to allow others to print to my printer(s), ini digunakan untuk menshare / membagi printer kita, maksudnya agar komputer guest dapat menggunakan printer yang ada pada komputer host, tetapi printer host juga harus di sharing terlebih dahulu, dengan cara:

c. Klik kanan pada printer yang akan di sharing, lalu klik Sharing... d. Ketikkan nama untuk printer yang akan di share, lalu klik OK.

V. ANALISA DATA DAN HASIL PERCOBAAN
Komputer1 192.168.0.1 192.168.0.1 192.168.1.0 192.168.1.2 Komputer2 192.168.0.2 192.168.1.1 192.168.1.1 192.168.1.3 Test ping connect No connect No connect connect Hasil connect No connect No connect connect Keterangan Replay from.. Unreachable .. IP Address tidak dapat di set Replay from

Untuk percobaan nomor 1 apabila perintah ping diketikkan maka akan tampil pesan pada Command Prompt yaitu :

Ini dikarenakan Network ID dari kedua IP Address tersebut sama sedangkan untuk Host ID nya berbeda, apabila Host ID sama maka akan terjadi IP Conflict Untuk percobaan nomor 2 apabila dilakukan perintah ping maka akan tampil pesan pada Command Prompt yaitu :

Ini dikarenakan kedua IP tersebut menggunakan Network ID yang berbeda. Untuk percobaan nomor 3 IP Address 192.168.1.0 tidak dapat diset ini dikarenakan IP Address ini adalah IP Network, sehingga akan tampil messages box seperti pada gambar berikut :

Untuk percobaan nomor 4 sama hasilnya dengan percobaan nomor 1. Untuk hasil percobaan mensharing file, untuk mencobanya yaitu dengan langkah : Membuka windows explorer, kemudian masuk pada My Network Places, kemudian kalau sudah berhasil maka pada komputer satunya akan tampil file – file yang sudah kita sharing tadi.

VI. KESIMPULAN
1. Koneksi antar dua komputer dapat dilakukan dengan menggunakan kabel cross, dengan konfigurasi sebagai berikut :
Warna Putih Orange Orange Putih Hijau Biru Putih Biru Urutan 1 2 3 4 5 Warna Putih Hijau Hijau Putih Orange Biru Putih Biru

Hijau Putih Coklat Coklat

6 7 8

Orange Putih Coklat Coklat

Yaitu pin RX pada komputer 1 akan tersambung dengan pin TX pada komputer 2, begitu pula sebaliknya pin RX pada komputer 2 akan tersambung dengan pin TX pada komputer 2, sehingga komputer dapat berkomunikasi secara langsung. Kabel cross ini juga dapat digunakan untuk menyambung hardware jaringan yang lain, seperti Hub, Switch dll. 2. Kabel straight digunakan apabila koneksi delakukan antara komputer dengan mode client – server, ataupun mode biasa tetapi yang menggunakan hardware jaringan berupa hub atau switch, seperti pada gambar berikut.
Central node (consentrator) File Server Workstation

Workstation

Workstation

3. Keuntungan &kesulitan peer to peer Keuntungan :

Workstation

Desentralisasi jaringan P2P memiliki keuntungan yang lebih dibandingkan dengan jaringan klien-server tradisional. Jaringan P2P menyeimbangkan diri secara terus menerus tanpa menambah waktu pencarian alamat panggilan dan tanpa harus menggunakan suatu sumber-sumber terpusat. Mereka memanfaatkan mesin – mesin perangkat yang digunakan pengguna-akhir (end users) karena sumbersumber ini selalu berjalan ke arah proporsi tujuan jaringan. Setiap penambahan ujung baru pada jaringan menambah potensi lebih pemrosesan yang lebih kuat dan bandwith yang lebih besar untuk jaringan tersebut. Ditambah lagi, karena sumber-sumbernya terdesentralisasi, generasi kedua (2G) dari jaringan P2P telah berhasil secara virtual mengeliminasi seluruh biaya yang berhubungan dengan infrastruktur terpusat yang besar.

Kesulitan: Pada penerapan teknologi telephony P2P dimana Telephony berbasis internet – VoIP (Voice over IP : suara melalui protokol internet) telah ada selama bertahuntahun namun tidak pernah menyentuh pasar besar karena: • Kualitas yang buruk dari produk-produk yang jelas-jelas menguntungkan dari segi biaya (jauh lebih hemat) dibandingkan dari penggunaan telepon biasa. • Frekuensi keberhasilan panggilan telpon rendah karena terhalang oleh firewallfirewall dan penggunakan NAT (Network Address Translation) atau pencarian jaringan yang dituju, dimana hal ini menyebabkan 50% komputer-komputer rumah gagal terhubung dengan perangkat lunak VoIP tradisional). • Penggunaan dan pemasangan perangkat lunak ini penuh dijejali oleh berbagai hal dan membutuhkan konfigurasi yang tidak mudah dan sedikit kemampuan teknis. Pemusatan aktifitas dapat menyelesaikan beberapa kesulitan ini dengan mengarahkan panggilan melalui firewall-firewall dan NAT yang ada. Namun, bila ada pemusatan maka biaya untuk menjalankan jaringan menjadi naik mendekati jumlah biaya yang dikenakan jaringan telpon yang sudah ada. Sebagai tambahan, biaya ini bertambah secara proporsional sebanding dengan bertambahnya pengguna. Dampaknya perusahaan-perusahaan yang mengoperasikan jasa ini biasanya mengalokasikan sumberdaya yang sedikit pada servernya untuk satuan pengguna, dimana hal ini secara serius mengurangi kualitas panggilan.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->