P. 1
alat peraga

alat peraga

|Views: 1,014|Likes:
Published by maspuy

More info:

Published by: maspuy on Aug 01, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/02/2013

pdf

text

original

POLA PEMBELAJARAN TAMAN PENITIPAN ANAK DI TAMAN BALITA KLUB MERBY

(Studi Kasus Taman Balita Klub Merby Jl. Pandanaran II/ 2D Semarang)

Skripsi Diajukan dalam Rangka Menyelesaikan Studi Strata I untuk Mencapai Gelar Sarjana Pendidikan

Disusun oleh: Nama NIM Jurusan : Nuri Handayani : 1201401018 : Pendidikan Luar Sekolah

FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG 2005

PERSETUJUAN PEMBIMBING

Skripsi ini telah disetujui oleh pembimbing untuk diajukan ke sidang panitia ujian skripsi pada: Hari Tanggal : Rabu : 19 Oktober 2005

Pembimbing I

Pembimbing II

Drs. Khomsun Nurhalim, M. Pd NIP. 130870431

Drs. Sawa Suryana NIP. 131413203

Mengetahui, Ketua Jurusan Pendidikan Luar Sekolah

Drs. Achmad Rifa’i RC, M. Pd NIP. 131413232

ii

PENGESAHAN KELULUSAN

Skripsi ini telah dipertahankan di hadapan sidang panitia ujian skripsi Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Semarang pada: Hari Tanggal : Jumat : 28 Oktober 2005

Panitia Ujian Ketua Sekretaris

Drs. H. Siswanto, M.M NIP. 130515769 Pembimbing I

Dra. Liliek Desmawati, M. Pd NIP. 131413202 Anggota Penguji

Drs. Khomsun Nurhalim, M. Pd NIP. 130870431 Pembimbing II

Drs. Zoedindarto. Bdh NIP. 130345749

Drs. Sawa Suryana NIP. 131413203

Drs. Khomsun Nurhalim, M. Pd NIP. 130870431

Drs. Sawa Suryana NIP. 131413203

iii

PERNYATAAN Saya menyatakan bahwa yang tertulis di dalam skripsi atau tugas akhir ini benarbenar hasil karya sendiri dengan sumbangan pemikiran dari Drs. Pd Dosen Pembimbing I dan Drs. baik sebagian atau seluruhnya. bukan jiplakan dari karya tulis orang lain. Semarang. M. Pendapat atau temuan orang lain yang terdapat dalam skripsi ini dikutip atau dirujuk berdasarkan kode etik ilmiah. Sawa Suryana Dosen Pembimbing II. Nopember 2005 Nuri Handayani NIM. 1201401018 iv . Khomsun Nurhalim.

Calon suamiku tercinta (Mas Anto). skripsi ini penulis persembahkan kepada : Ibunda dan Ayahanda tercinta yang telah memberikan doa. Sawa Suryana. cinta. Kakakku tersayang (Muhammad Mirzah). Teman-teman Hidayah Cost dan Venus Cost. kasih sayang. Almamater UNNES. Lakukan apa yang dapat kau lakukan karena nafas berhenti itu berarti mati. dan segalanya. Teman-teman seperjuanganku “Angakatan 2001” Jurusan Pendidikan Luar Sekolah. Jangan pernah menyesal pemberianmu tiada pernah kembali kecuali kamu tiada pernah mengikhlaskan. Taman Balita Klub Merby. Pd dan Drs. Drs. v . M. Persembahan: Dengan mengucap rasa syukur Alhamdulillah kepada Allah SWT. Khomsun Nurhalim.MOTTO DAN PERSEMBAHAN Motto: Janganlah pernah meminta apapun jika tiada pernah memberi.

Pandanaran II/ 2D Semarang). Adapun tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui pola pembelajaran taman penitipan anak di Taman Balita Klub Merby yang meliputi aspek-aspek: tujuan. Berkaitan dengan faktor penghambat. dan evaluasi. wawancara. Penelitian ini dilakukan di Taman Balita Klub Merby dengan mengambil informan sebanyak 7 (tujuh) orang yang terdiri dari Koordinator Pelaksana. Penulis menyarankan kepada pihak-pihak yang terkait dalam Taman Balita Klub Merby seperti koordinator pelaksana. pengasuh. yaitu dengan dilakukan pemeriksaan keabsahan data yang menggunakan teknik triangulasi akhirnya peneliti memperoleh gambaran bahwa pola pembelajaran taman penitipan anak di Taman Balita Klub Merby memiliki aspek-aspek tujuan. metode. pendidik. pekerjaan lapangan. Selain itu ingin mengetahui faktor pendukung dan faktor penghambat dari pola pembelajaran taman penitipan anak di Taman Balita Klub Merby. bahan pembelajaran. sumber belajar. Rasa keingintahuan anak balita cukup besar sehingga para pendidik dan orang tua harus memberikan bimbingan kepada mereka. Permasalahan yang dirumuskan dalam penelitian ini adalah: 1) Pola pembelajaran taman penitipan anak di Taman Balita Klub Merby yang meliputi aspek-aspek: tujuan. metode. dan Orang tua anak balita. Keabsahan data dilakukan dengan teknik triangulasi. kegiatan belajar mengajar. Sesuai dengan hasil observasi. wawancara. Skripsi Jurusan Pendidikan Luar Sekolah Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Semarang. Selain itu pihak-pihak yang terkait sebaiknya selalu mempertahankan faktor-faktor pendukung yang ada dengan cara meningkatkan kualitas sumber daya manusia. dan tahap analisis data. vi . Metode pengumpulan data yang digunakan yaitu metode observasi. alat/ media belajar. sumber belajar. Pengasuh. kegiatan belajar mengajar. 2) Faktor pendukung dan faktor penghambat dari pola pembelajaran taman penitipan anak di Taman Balita Klub Merby. metode. dan dokumentasi. dan evaluasi. Tahap-tahap penelitian yang dilakukan antara lain: penelitian pra lapangan. 2005. penulis menyarankan untuk diminimalkan yaitu dengan cara meningkatkan sarana dan prasarana seperti pengadaan APE dan alat peraga serta meningkatkan fasilitas-fasilitas yang ada di Taman Balita Klub Merby.ABSTRAK Nuri Handayani. bahan pembelajaran. Suatu pola pembelajaran tidak dapat dipaksakan kepada anak balita karena mereka memiliki karakteristik yang berbeda antara satu dengan yang lainnya. dan evaluasi. Pola Pembelajaran Taman Penitipan Anak di Taman Balita Klub Merby (Studi Kasus Taman Balita Klub Merby Jl. Pendidik. bahan pembelajaran. sumber belajar. dan dokumentasi yang telah dilakukan peneliti. alat/ media belajar. kegiatan belajar mengajar. dan orang tua anak balita untuk selalu menjalin kerja sama. alat/ media belajar.

3. pengarahan. M. Drs. Oleh karena itu pada kesempatan ini penulis menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada: 1. Siswanto. Seluruh Bapak dan Ibu Dosen Jurusan Pendidikan Luar Sekolah yang telah memberikan pengalaman dan ilmunya kepada penulis. M. dan saran dalam penyusunan skripsi ini. 6. Drs. Menyadari keterbatasan pengetahuan yang penulis miliki. Pd. Pd.KATA PENGANTAR Puji syukur Alhamdulillah atas rahmat dan hidayah yang dilimpahkan oleh-Nya. Achmad Rifa’i RC. Drs. H. dosen pembimbing I yang telah memberikan bimbingan. Pandanaran II/ 2D semarang)”. 4. dan saran dalam penyusunan skripsi ini. M. sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan skripsi yang berjudul “Pola Pembelajaran Taman Penitipan Anak di Taman Balita Klub Merby (Studi Kasus Taman Balita Klub Merby Jl. maka dalam penyusunan skripsi ini penulis mendapat bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak. Ketua Jurusan Pendidikan Luar Sekolah Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Semarang yang telah memberikan ijin untuk mengadakan penelitian. M. Sawa Suryana. Drs. Dekan Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Semarang yang telah memberikan ijin untuk mengadakan penelitian. Khomsun Nurhalim. 5. vii . 2. dosen pembimbing II yang telah memberikan bimbingan. Taman Balita Klub Merby yang telah memberikan ijin penelitian dan informasi yang berguna bagi penulis. pengarahan.

penulis menyampaikan terima kasih yang sedalam-dalamnya semoga segala kebaikan beliau mendapat imbalan yang setimpal dari Allah SWT. Kepada beliau-beliau tersebut di atas. Nopember 2005 Penulis viii . Semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan skripsi ini hingga selesai yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu.7. Semarang. Amiin … Dengan penyusunan skripsi ini penulis berharap semoga skripsi ini dapat berguna dan bermanfaat bagi para pembaca.

................................................................ DAFTAR TABEL ................................ Teori Belajar ............ Pengertian Pembelajaran .. C............................... 2...................................... Manfaat Penelitian.............................................................................................. ABSTRAK ................................................................................................................................................................................................................................. DAFTAR LAMPIRAN ..................................................... HALAMAN PERNYATAAN.................... B................. Definisi Operasional........................................................... Latar Belakang Masalah ..... E................................................................................DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL ...... HALAMAN PENGESAHAN KELULUSAN ................................................................. HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ... BAB I PENDAHULUAN A........... DAFTAR ISI................................................................................................................................................... D.......................................................................................... Rumusan Masalah ........................................................................................... Pola Pembelajaran 1................. i ii iii iv v vi viii ix xii xiii xiv 1 4 4 5 5 8 21 ix ... Tujuan Penelitian.................... BAB II KAJIAN PUSTAKA A....................................................................... DAFTAR GAMBAR.................................................................... MOTTO DAN PERSEMBAHAN........................................ KATA PENGANTAR........

.................. Tugas Perkembangan Anak Usia Dini... F............................ H........................................... Anak Usia Dini 1............... Pengertian TPA........................................ C.................. Taman Penitipan Anak (TPA) atau Day Care 1.... Strategi Pembelajaran TPA............................................................................................................ Tipe Belajar ................... Fokus Penelitian ....... B....... Metode Pengumpulan Data ...................................... E............... Keabsahan Data .................. G............................ Sistem Pengelolaan TPA ........................... Subyek Penelitan ............. Pengertian Anak Usia Dini ....... Analisis Data ..................................................................... Pendekatan Penelitian............................... 3.................. Jenis Pelayanan TPA ................................................. Model Pendidikan dan Pengasuhan ............... BAB III METODE PENELITIAN A......... 4.... Setting Penelitian ......3...... Karakteristik Perkembangan Anak Usia Dini.................. Rancangan Penelitian .................... B............... 2............................................................... 23 27 40 41 51 54 59 62 62 64 67 67 69 70 70 71 83 86 x .......... 3................... C................................................................... 5................................................................................................................................................................ 4.... 2....... D.............................. Komponen Pembelajaran...................................

.... Metode ............ Sumber Belajar .......................................................... LAMPIRAN.................. Gambaran Umum Taman Balita Klub Merby ........................ Identitas Informan...... 143 146 148 150 135 xi .................... Kesimpulan............................................................ Standar Pelayanan Minimal PAUD pada TPA di Taman Balita Klub Merby................. DAFTAR PUSTAKA ............................. Pembahasan 1.............................................................................. 6...... Hasil Penelitian 1... B................................ Hasil Wawancara dengan Informan...................... 4...... 3.......... Saran .................................................. Struktur Organisasi Taman Balita Klub Merby.................. Ketenagaan Taman Balita Klub Merby ...................................................... Bahan Pembelajaran .. 7........................ 5......BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A................................................................................................... 2............................. BAB V PENUTUP A............... 7.................................. B................................................................ Evaluasi.... 4........................ Tujuan ......................................................................................................... Alat/ Media Belajar. Sejarah Singkat Berdirinya Klub Merby ............ 6............ 3............. Kegiatan Belajar Mengajar ................ Latar Belakang Berdirinya Taman Balita Klub Merby ............................................................... 127 129 129 131 132 133 133 90 94 95 100 101 101 102 8.......................................................................................................... 5............ 2...........................

...... Pendidikan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) ............... Model Pendidikan dan Pengasuhan Taman Penitipan Anak.......4 Tabel 2........... Identitas Informan ......5 Tabel 2................................................ Layanan Bimbingan Sosial............................................................. Jadwal Imunisasi pada Anak ... 45 45 47 48 49 50 51 58 94 101 101 xii .......1a Tabel 2........................... Pelayanan Perawatan Kesehatan Anak.............2 Tabel 2..............................2a Tabel 2.6 Tabel 4..................................... Klasifikasi Kegiatan Klub Merby...........2 Tabel 4.......................................................................... Pendidikan Anak Usia Dini . Pemberian Makanan pada Bayi ..................................................1 Tabel 4....................... Ketenagaan Taman Balita Klub Merby...1 Tabel 2.................3 Tabel 2....3 Kebutuhan Pokok Anak...............................................DAFTAR TABEL Tabel 2...............

...........................................................3 Gambar 3.. Proses Metode Pengumpulan Data menurut Spradley ..DAFTAR GAMBAR Gambar 3.1 Macam-macam Teknik Observasi..... Tahap Observasi menurut Spradley.......................4 Gambar 4..............2 Gambar 3...................... 72 74 81 87 100 xiii ... Analisis Data Kualitatif menurut Spradley.1 Gambar 3.......................................... Struktur Organisasi Taman Balita Klub Merby.

........................................................................... Surat Keterangan Penelitian ..............................................................................DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1 Lampiran 2 Lampiran 3 Lampiran 4 Lampiran 5 Lampiran 6 Lampiran 7 Lampiran 8 Lampiran 9 Permohonan Ijin Penelitian .... Lembar Observasi Deskriptif ................................................................................................. Catatan Lapangan .......................................... Lembar Observasi Terfokus ................................................................... Pedoman Observasi Terfokus............................ 150 151 152 154 161 187 188 189 202 212 213 214 Lampiran 10 Denah Lokasi Taman Balita Klub Merby ... Lampiran 12 Hasil Dokumentasi .................................... Kisi-kisi Instrumen Penelitian ................................ Pedoman Observasi Deskriptif .................................... Lampiran 11 Denah Ruang Taman Balita Klub Merby..................................... Pedoman Wawancara .................................................................. xiv .............................................................

(Suara Merdeka. keselamatan dan keamanan anak-anak akan lebih terjamin. salah satunya adalah Taman Penitipan Anak (TPA) atau Day Care. Bab I Pasal 1 menjelaskan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut. Dia yakin. Latar Belakang Masalah Menurut Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. sebagian orang tua lebih memilih anak-anaknya diasuh di tempat pengasuhan. Ada pula yang menitipkan di tempat pengasuhan anak. berpandangan: “menitipkan anak ke tempat pengasuhan saat orang tua sibuk merupakan sarana pendidikan yang baik. Selain pekerjaan kantor tidak terganggu. Tidak bermaksud merendahkan peran para pembantu. anak-anak sering kali harus ditinggal bersama pembantu di rumah. orang-orang yang 1 xv . Di kota Semarang a da beberapa TPA. Program PAUD memiliki beberapa bentuk organisasi.BAB I PENDAHULUAN A. Semarang. Aktivis perempuan Semarang. Pandanaran II/ 2 D. Karena kesibukan orang tua. Agnes Widanti. salah satunya yaitu Taman Balita Klub Merby yang beralamat di Jl. Edisi Kamis 13 Maret 2003).

xvi . Melalui TPA.bekerja di tempat pengasuhan anak sudah memiliki keterampilan. Dengan catatan. Bermain merupakan kegiatan yang menyenangkan bagi mereka. lokasi penitipan tidak terlalu jauh dari lokasi orang tua bekerja”. Melalui kegiatan bermain. pendidikan dan pemahaman khusus. Palayanan yang diberikan oleh TPA berupa peningkatan gizi. perawatan dan pendidikan. Berbagai aspek kecerdasan (intelegensi) anak juga dapat dikembangkan melalui kegiatan bermain yang edukatif. Tujuan orang tua yang sibuk bekerja menitipkan anaknya adalah agar anaknya diasuh dan dididik. Ini berarti kegiatan tersebut memberikan pengaruh yang sangat besar bagi kecerdasan majemuk mereka. Proses pembelajaran anak akan berjalan efektif apabila anak dalam kondisi senang dan bahagia. behkan tanpa ia sadari. penitipan anak masih lebih baik dibandingkan dengan pendidikan di rumah yang belum tentu ajaran pendidikan dan pengawasannya. Kecenderungan orang tua untuk memasukkan anak dalam program TPA tampaknya sudah mengalami perubahan karena anak balita yang mengikuti program bukanlah disebabkan karena ibunya harus bekerja sepanjang hari. Sekarang ini. asuhan. anak dapat belajar apa saja. Anak dalam perkembangannya yang normal tidak akan lepas dari kegiatan tersebut. Dia berpendapat. anak melakukan proses pembelajaran dengan pengalaman hidupnya. memasukkan anak balita dalam program TPA lebih banyak dipengaruhi oleh alasan trend atau mode sehingga seringkali lupa untuk melihat pada kebutuhan sebenarnya dari sang anak. Pelayanan-pelayanan tersebut diberikan untuk membantu mengatasi kesulitan orang tua yang bekerja dalam membimbing putra-putrinya yang masih balita.

4.Taman Balita Klub Merby merupakan taman penitipan anak yang tidak hanya memberikan pelayanan pengasuhan anak di bawah lima tahun (balita) saja tetapi anak balita juga mendapatkan pelayanan pendidikan. 3. 5. pengasuh. dokter. Menanggapi kondisi yang demikian maka peneliti membuat judul untuk diteliti yaitu: “Pola Pembelajaran Taman Penitipan Anak di Taman Balita Klub Merby (Studi Kasus Taman Balita Klub Merby Jl. xvii . Disediakan Mother’s Room bagi para orang tua yang ingin berkonsultasi kepada pendidik. Hal tersebut merupakan salah satu kelebihan dari Taman Balita Klub Merby. Para balita di bawah pengawasan dokter dan psikolog. dan tenang. Taman Balita Klub Merby terletak di pusat kota yaitu Jl. Pandanaran II/ 2D Semarang)”. bersih. Memberikan pelayanan pendidikan dan pengasuhan bagi balita untuk menjadi balita yang mandiri melalui program bermain yang edukatif. Arena bermain yang luas. 2. dan psikolog mengenai perkembangan balita mereka. Pandanaran II/ 2D Semarang. nyaman. Kelebihan-kelebihan yang lain adalah: 1.

B. alat/ media belajar. sumber belajar. bahan pembelajaran. Apakah yang menjadi faktor pendukung dan faktor penghambat dari pola pembelajaran taman penitipan anak di Taman Balita Klub Merby? C. Untuk mendeskripsikan pola pembelajaran taman penitipan anak di Taman Balita Klub Merby yang meliputi aspek-aspek: tujuan. kegiatan belajar mengajar. xviii . 2. dan evaluasi? 2. sumber belajar. Tujuan Penelitian Penelitian yang akan dilakukan di Taman Balita Klub Merby ini bertujuan sebagai berikut: 1. metode. metode. kegiatan belajar mengajar. dan evaluasi. Bagaimanakah pola pembelajaran taman penitipan anak di Taman Balita Klub Merby yang meliputi aspek-aspek: tujuan. maka dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut: 1. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang sebagaimana dikemukakan di atas. Ingin mendeskripsikan faktor pendukung dan faktor penghambat dari pola pembelajaran taman penitipan anak di Taman Balita Klub Merby. bahan pembelajaran. alat/ media belajar.

para orang tua. Segi Praktis Hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan acuan untuk pengambilan kebijakan bagi pemerintah dan swasta sebagai penyelenggara. Manfaat Penelitian Manfaat penelitian yang akan dilakukan di Taman Balita Klub Merby ini antara lain: 1. pola adalah sistem.D. Segi Teoritis Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan keilmuan di bidang Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) khususnya pada bidang penitipan anak. Pola Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (1990:692). bentuk (struktur) yang tetap. 2. dan pengasuh TPA dalam melaksanakan pembelajaran di TPA. Maka pengertian xix . Definisi Operasional 1. pengertian pembelajaran sebagai berikut: Secara Umum Pembelajaran berasal dari kata belajar. cara kerja. yaitu bahwa belajar merupakan suatu kegiatan yang mengakibatkan terjadi perubahan tingkah laku. 2. Pembelajaran Menurut Max Darsono dkk (2000:24-25). E. Sesuai dengan pengertian belajar secara umum.

Taman Penitipan Anak (TPA) atau Day Care Dari hasil rapat koordinasi “Usaha Kesejahteraan Anak” Departemen Sosial Republik Indonesia. Menurut Teori Gestalt. pembelajaran adalah usaha guru membentuk tingkah laku yang diinginkan dengan menyediakan lingkungan (stimulus). 3. Secara Khusus Menurut Teori Behavioristik. sehingga siswa lebih mudah mengorganisirnya (mengaturnya) menjadi suatu pola gestalt (pola bermakna). dikemukakan pengertian Taman Penitipan Anak (TPA) dalam Soemiarti Patmonodewo (2003:77). sebagai berikut: “Lembaga sosial yang memberikan pelayanan kepada anak-anak balita yang dikhawatirkan akan mengalami hambatan dalam xx .pembelajaran adalah suatu kegiatan yang dilakukan oleh guru sedemikian rupa. sehingga tingkah laku siswa berubah ke arah yang lebih baik. pembelajaran adalah cara guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk berpikir agar dapat mengenal dan memahami apa yang sedang dipelajari. pembelajaran adalah usaha guru untuk memberikan materi pembelajaran sedemikian rupa. dan setiap latihan yang berhasil harus diberi hadiah dan atau reinforcement (penguatan). Menurut Teori Humanistik. Menurut Teori Kognitif. pembelajaran adalah memberikan kebebasan kepada siswa untuk memilih bahan pelajaran dan cara mempelajarinya sesuai dengan minat dan kemampuannya. Agar terjadi hubungan stimulus dan respon (tingkah laku yang diinginkan) perlu latihan.

emosional dan sosial”. dan pendidikan bagi anak balita selama anak balita tersebut ditinggal bekerja oleh orang tuanya (Hibana S. Telepon: (024) 8317067. pengembangan intelektual. Pandanaran II/ 2D Semarang. Pelayanan ini diberikan dalam bentuk peningkatan gizi. Taman Balita Klub Merby Taman Balita Klub Merby merupakan taman penitipan anak yang tidak hanya memberikan pelayanan pengasuhan anak di bawah lima tahun (balita) saja tetapi anak balita juga mendapatkan pelayanan pendidikan. Pelayanan-pelayanan tersebut diberikan untuk membantu mengatasi kesulitan orang tua yang bekerja dalam membimbing putra-putrinya yang masih balita. karena ditinggalkan orang tua atau ibunya bekerja. 2002:59). Taman Balita Klub Merby beralamat di Jl. 4. TPA adalah lembaga kesejahteraan sosial yang memberikan pelayanan pengganti berupa asuhan. Rahman. perawatan.pertumbuhannya. xxi .

Setiap 8 xxii . Pencetus teori ini adalah Ivan P.BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Teori ini menjelaskan perubahan secara internal yang terjadi di dalam diri anak. menuliskan: “Teori ini memandang bahwa belajar adalah perubahan perilaku. Teori Belajar a. Pavlov memberi daging secara periodik kepada anjing didahului dengan membunyikan bel.” Dalam percobaannya. Pola Pembelajaran 1. Percobaannya yaitu anjing mampu menghubungkan bunyi bel dengan daging. Behavioral Learning Theory (Teori Perilaku) Teori perilaku memandang bahwa belajar adalah perubahan perilaku yang dapat diamati dan dapat diukur (dalam Slamet Suyanto. Pavlov (1849-1936). Teori ini dapat digunakan untuk memprediksi dan mengontrol perubahan perilaku anak. Proses dimana anjing bisa menghubungkan antara bunyi bel dengan daging dengan respon air liur seperti itu disebut belajar. seperti bagaimana otak bekerja. ketika mendengar bunyi bel anjing membayangkan datangnya daging sehingga air liurnya keluar. seorang kebangsaan Rusia yang meneliti proses belajar dengan melakukan percobaan melalui anjing. 1) Classical Learning Theory Slamet Suyanto dalam bukunya “Konsep Dasar Pendidikan Usia Dini” (2003:89). 2003:88). Menurut teori ini belajar pada prinsipnya mengikuti suatu hukum yang sama untuk semua manusia.

Dalam menanamkan aturan. Bahkan ketika bel dibunyikan tanpa daging. xxiii . Jadi anjing dikatakan telah belajar (mengetahui) bahwa bel merupakan tanda akan datangnya daging. Banyak orang yang keliru memandang bahwa teori tersebut tidak banyak berguna karena hanya dapat dipakai untuk anjing. Setiap pula kali memperkenalkan dan aturan. Pandangan seperti itu tidak benar. aplikasi dari teori Classical Conditioning dalam pembelajaran yaitu berkaitan dengan perilaku. moral hendaknya dipasangkan dengan suatu ganjaran dan hukuman. Jika guru tidak konsisten maka anak menjadi bingung dan hubungan antara stimulus-respon yang diinginkan tidak terwujud. hendaknya sebaiknya diperkenalkan hadiah sangsinya. Menurut Slamet Suyanto (2003:90-91). guru memberi pujian. bel dibunyikan dan anjing mengeluarkan air liur. Konsistensi merupakan bagian yang amat penting dalam menanamkan perilaku. penanaman disiplin. atau sebaliknya setiap kali ada anak yang nakal. misalnya setiap kali ada anak yang menjawab pertanyaan.kali daging akan diberikan. anjing juga mengeluarkan air liur. Guru memasangkan stimulus dan respon secara konsisten. dan sikap. maka guru memberi teguran atau hukuman. disiplin.

” Menurut Thorndike binatang dan manusia tidak selalu memecahkan masalah dengan cara memikirkan caranya secara algoritmik. Kucing mencari jalan keluar dari kotak dengan cara mencoba-coba. Hasil kerja Thorndike dilanjutkan oleh Clark L. Hukum akibat menekankan bahwa konsekuensi memegang peranan penting akan muncul-tidaknya suatu respon. Menurut Hull. O (kondisi internal organisme). teori S-R (stimulus-respon) ditentukan oleh kondisi individu. dan R (respon). dimana S (stimulus). sehingga menjadi S-O-R.2) Operant Conditioning Theory Slamet Suyanto dalam bukunya “Konsep Dasar Pendidikan Usia Dini” (2003:91-92). maka respon tersebut cenderung diulang. menuliskan: “Edward L. xxiv . maka respon tersebut tidak dilakukan lagi. pada intinya individu melakukan proses berpikir terlebih dahulu untuk menentukan respon dari suatu stimulus. Menurut Hull dalam Slamet Suyanto (2003:92). Ia mengadakan percobaan belajarnya dengan seekor kucing yang ditaruh di dalam kotak pasel. Konsekuensi dapat berupa hadiah (reinforcement) atau hukuman (punishment). Sebaliknya jika suatu respon diikuti oleh hal yang tidak menyenangkan. yaitu apabila suatu respon dari suatu stimulus diikuti dengan kepuasan. tetapi banyak yang memecahkan masalah dengan cara mencoba-coba (trial and error). Hasil penelitiannya melahirkan Law of Effect atau hukum akibat. Thorndike (1874-1949) merupakan salah satu pencetus teori belajar ini. Hull (1884-1952) dan Burrhus Frederic Skinner (1904-1990).

Pada teori ini meskipun konsekuensi penting. Hukuman harus benar-benar sesuatu yang tidak disukai anak. B. Dalam teori Operant Conditioning. Jika suatu perilaku mendapat hadiah maka perilaku itu cenderung diulang atau meningkat.Sejalan dengan Hull. xxv . Implikasi teori ini ialah bahwa guru harus hati-hati dalam menentukan jenis hadiah dan hukuman. konsekuensi memegang peranan penting terhadap munculnya suatu perilaku. Guru harus mengetahui benar hobi atau kesenangan siswanya. namun organisme memegang peranan yang lebih penting terhadap munculnya suatu perilaku. Skinner. tetapi bagaimana individu memandang konsekuensi tersebut. dan sebaliknya hadiah merupakan hal yang sangat disukai anak. perilaku bukan semata ditentukan oleh stimulus tetapi tergantung bagaimana individu tersebut memandang bentuk hadiah atau hukuman tersebut. F. maka perilaku tersebut cenderung ditinggalkan atau menurun (dalam Slamet Suyanto. Jika perilaku itu mendapat hukuman. F. menerjemahkan konsekuensi yang dimaksud pada teori Thorndike ialah hadiah dan hukuman. Perilaku bukan semata-mata ditentukan oleh konsekuensinya. 2003:92). Skinner. Jangan sampai anak yang diberi hadiah menganggapnya sebagai hukuman atau sebaliknya. Menurut B.

apa yang menurut guru adalah hukuman bagi siswa dianggap sebagai hadiah. b. dan merespon. Selain itu juga dibahas bagaimana anak menggunakan informasi untuk memecahkan masalahdan membuat keputusan (dalam Slamet Suyanto. Teori ini memandang bahwa belajar adalah proses memperoleh informasi. pola ingatan. 2003:96). menyimpan informasi. persepsi. mengolah informasi. Cognitive Learning Theory (Teori Kognitif) Teori kognitif menggunakan perubahan perilaku anak untuk menerangkan perubahan yang terjadi di dalam diri anak. Teori ini lebih banyak membahas bagaimana otak memperoleh. Pada umumnya tidak semua rangsang pada saat yang sama dapat diterima oleh indera. xxvi . menyimpan dan mengingat informasi. Input ialah informasi atau rangsang dari lingkungan yang diterima anak melalui organ sensoris (indera). serta mengingat kembali informasi yang dikontrol oleh otak. long-term memory (memori jangka panjang). organisasi informasi. mengolah. 1) Teori Proses Informasi (Information Processing Theory) Robert Gagne merupakan salah satu tokoh pencetus teori ini. Ada beberapa istilah penting untuk memahami Teori Proses Informasi yaitu input. short-term memory atau working memory (memori jangka pendek). dan menggunakan informasi untuk berpikir.

kecuali rangsangan tersebut merupakan satu kesatuan. karena merupakan memori yang sedang diproses. ia akan dapat memikirkan banyak hal atau persoalan yang lebih kompleks dengan mempertimbangkan banyak hal pada saat yang sama. Implikasi STM dalam pembelajaran ialah guru harus mengembangkan kapasitas memori anak. Persepsi adalah hasil tanggapan otak terhadap stimulus dengan menggunakan seluruh memori yang dimilikinya yang terkait dengan stimulus tersebut. yang selanjutnya dialirkan ke otak melalui syaraf sensoris. Kapasitas STM setiap orang berbeda-beda. sehingga membentuk suatu persepsi. Caranya antara lain ialah dengan menambah kompleksitas dan tingkat kesukaran tugas sedikit di atas kemampuan anak. Indera mengubah rangsang yang diterimanya menjadi arus listrik (impuls). Semakin kompleks suatu input untuk dipikirkan. STM atau working memory bekerja mulai dari otak memperoleh informasi sampai otak menentukan selesai mengolah informasi itu. Bagi orang yang kapasitas STM-nya besar. STM disebut juga working memory. Otak akan menerima input dan secara otomatis akan mencari informasi yang sebelumnya sudah ada di oatak untuk mengolahnya dalam ShortTerm Memory (STM) atau memori jangka pendek. semakin banyak STM yang dibutuhkan. xxvii .

Informasi yang telah diproses otak dan dianggap penting akan disimpan sebagai Long-Term Memory (LTM). LTM diyakini disimpan di otak pada bagian korteks. Kemampuan mengingat ditentukan oleh beberapa faktor. sedangkan informasi yang tidak penting akan dibuang atau diabaikan. Apa yang menurut guru sudah jelas. Jadi LTM adalah memori yang dapat disimpan dan dapat bertahan dalam waktu yang lama. antara lain xxviii . Oleh karena itu untuk memudahkan proses mengingat. Penataan memori ini dapat dilakukan melalui berbagai metode. Mengingat adalah proses memanggil kembali informasi yang telah tersimpan sebagai LTM ke dalam STM.Implikasi teori persepsi bagi pembelajaran antara lain guru harus senantiasa mengontrol apakah siswa memiliki persepsi yang sama dengan apa yang dikatakan guru. Memori yang diorganisasi dengan baik akan mudah diingat. belum tentu jelas bagi anak. seperti organisasi memori. Mengingat bukanlah hal yang sederhana. otomatisasi. Lupa adalah peristiwa dimana memori yang disimpan dalam LTM sulit atau tidak bisa dipanggil ke STM untuk digunakan. dan STM. Anak memiliki LTM yang terbatas dan berbeda dengan memori gurunya. sehingga sering salah persepsi. LTM bisa juga terlupakan jika tidak pernah digunakan. Informasi yang disimpan dengan tidak teratur dan tidak tertata aakan sulit untuk diingat. maka memori harus ditata dengan baik.

sampai mampu berpikir secara abstrak dengan menggunakan logika tingkat tinggi.dengan menunjukkan bahwa sesuatu yang menarik atau menyita perhatian anak. Implikasi teori Piaget bagi pembelajaran adalah guru harus mampu mendesain kegiatan pembelajaran sesuai dengan tingkat perkembangan anak. (2) pra-operasional. dan (4) operasi formal atau proporsional. mengidentifikasi empat tahapan perkembangan kognitif pada individu. Bagi anak fase sensori-motorik. jangan dipaksa untuk menarik kesimpulan dari dua variabel yang tidak dapat diamati langsung. Ia belum dapat berpikir sebagaimana orang dewasa. xxix . (3) operasional konkret. Keempat tahapan tersebut menggambarkan perkembangan kognitif anak yang secara umum mengikuti pola dari perilaku yang bersifat refleks (tidak berpikir). 2) Teori Perkembangan Kognitif a) Teori Piaget Jean Piaget dalam Slamet Suyanto (2003:107). Anak fase konkret belajar paling baik dari bendabenda atau objek secara langsung. Memberikan pengalaman jauh lebih berharga daripada mencekoki anak dengan konsep yang harus dihafalkan. yaitu (1) sensori-motorik. Begitu pula anak fase pra-operasional. belajar melalui interaksi organ sensoris dan motoris dengan lingkungan sangat penting.

mungkin gagal atau mungkin pula berhasil. Ada dua cara pemecahan masalah yaitu secara Heuristik dan Algoritmik. mengembangkan teori perkembangan kognitif yang sedikit berbeda dengan Piaget tetapi secara prinsip teori tersebut didasarkan atas teori Piaget. xxx . Implikasinya adalah anak sebagai pemecah masalah (problem solver) yang senantiasa berusaha memecahkan persolan. Menurut Case. Melalui pemecahan masalah maka anak mengembangkan pengetahuan. belajar adalah meningkatnya kemampuan anak untuk memecahkan persoalan (problem solving). misalnya didasarkan pengalaman atau pengetahuan yang telah dimiliki sebelumnya. Ia berusaha mengembangkan cara yang lebih baik dan efisien untuk memecahkan masalah. yaitu (1) mengidentifikasi masalah. dan (3) menyusun prosedur pemecahan masalah (schema). Cara Heuristik didasarkan atas mencoba-coba (trial-error). Cara Algoritmik didasarkan atas pemikiran yang mendasar.b) Teori Neo-Piagetian Robi Case (1978 dan 1985) dalam Slamet Suyanto (2003:111). Strategi pemecahan masalah meliputi tiga tahapan umum. (2) menentukan tujuan pemecahan masalah. sehingga disebut teori Neo-Piagetian.

Pada tahap ini anak mulai mampu menghubungkan keterkaitan antara berbagai benda. atau objek dalam suatu urutan kejadian”. Menurut Ausubel. Proses selanjutnya adalah proses symbolic. orang. menuliskan: “Bruner (1966) dalam bukunya Toward Theory of Instruction menyatakan bahwa anak belajar dari konkret ke abstrak melalui tiga tahapan yaitu enactive. 4) Teori Belajar Bermakna Teori belajar dari David Ausubel dikenal dengan belajar bermakna (Meaningfull Learning). seseorang belajar dengan mengasosiasikan fenomena baru ke dalam skema yang telah ia punyai. iconic. Dalam proses itu seseorang dapat mengembangkan skema yang ada atau mengubahnya (dalam Slamet Suyanto. dan symbolic. Itulah sebabnya anak usia 2-3 tahun akan banyak bertanya “Apa itu?”. orang. Inti dari belajar bermakna ialah bahwa apa yang dipelajari anak memiliki fungsi bagi kehidupannya. sepanjang jalan mungkin ia akan banyak bertanya “Apa itu?”. Pertanyaan “Apa itu?” sangat penting untuk mengenal nama dari benda-benda. Ketika anak berusia 4-5 tahun pertanyaan “Apa itu?” akan berubah menjadi “Kenapa?” atau “Mengapa?”.3) Teori Jerome Bruner Slamet Suyanto dalam bukunya “Konsep Dasar Pendidikan Usia Dini” (2003:116). Dengan proses yang sama anak belajar tentang berbagai benda (konsep). Kelak. semakin dewasa ia akan mampu mengembangkan arti atau makna dari suatu kejadian. dan kejadian. Pada tahap enactive. dimana anak mengembangkan konsep. sehingga anak menghubungkan antara benda dengan simbol yaitu nama bendanya. xxxi . Ketika mengajak anak berpergian. 2003:117-118). anak berinteraksi dengan objek berupa benda-benda.

Kedua. dan fakta-fakta baru ke dalam sistem pengertian yang telah ia punyai. dalam proses belajar siswa mengkonstruksi apa yang ia pelajari sendiri. fenomena. 2003:118-119). dan cita-cita yang berbeda-beda sehingga apa yang mereka minati untuk mereka pelajari akan menggunakan cara belajar yang berbeda-beda. Jadi dalam proses belajar tersebut. minat.Menurut teori ini. siswa harus aktif. ada keterkaitan antara pengetahuan yang dimiliki siswa dengan pengetahuan baru yang dipelajari. Seorang anak mengasosiasikan pengalaman. Pertama. kegiatan pembelajaran memungkinkan siswa mengkonstruksi pemahaman sendiri (dalam Slamet Suyanto. Jadi ciri belajar bermakna yaitu a) guru harus mampu menghubungkan apa yang dipelajari siswa dengan pengetahuan yang telah dimiliki siswa. tetapi otak anak ibarat lilin yang harus dinyalakan agar mampu menerangi dirinya. siswa memiliki kebebasan memilih apa yang dipelajari. Ketiga. xxxii . dan c) otak anak bukan seperti wadah yang kosong dimana guru dapat menuangkan apa saja kedalamnya. Seorang anak juga mengasimilasi pengalaman baru ke dalam struktur pengetahuan yang sudah dipunyai siswa. b) siswa memiliki bakat. Ada tiga ciri dari belajar bermakna.

b) tingkat struktural. Anak merespon orang lain (melalui proses berpikir) secara berbeda karena perbedaan karakter orang tersebut. 2003:121-122). pertama melalui interaksi dengan orang lain. yang xxxiii . kedua dilanjutkan secara individual yaitu dengan cara mengintegrasikan apa yang ia pelajari dari orang lain ke dalam struktur mentalnya (dalam Slamet Suyanto. Ada tiga tingkatan konteks berdasarkan ruang lingkupnya yaitu: a) tingkat interaktif. dan berperilaku. Konteks sosial meliputi seluruh lingkungan dimana anak tinggal secara langsung maupun tidak langsung dipengaruhi oleh kultur masyarakatnya. baik keluarga. yaitu orang atau teman yang sedang berinteraksi dengan anak. bersikap. Anak belajar melalui dua tahapan. Konteks sosial mempengaruhi bagaimana seseorang berpikir. c) belajar mempengaruhi perkembangan mental.c. Menurutnya interaksi sosial memegang peranan terpenting dalam perkembangan kognitif anak. dan d) bahasa memegang peranan penting dalam perkembangan mental anak (dalam Slamet Suyanto. Teori belajar Vygotsky memiliki empat prinsip umum: a) anak mengkonstruksi pengetahuan. teman sebaya. b) belajar terjadi dalam konteks sosial. Social Learning Theory 1) Lev Vygotsky (1896-1934) Lev Vygotsky adalah seorang psikolog berkebangsaan Rusia yang teorinya disebut juga Social-Cognitive Learning Theory. 2003:119). maupun gurunya.

2) Albert Bandura Teori dari Albert Bandura dikenal dengan Social Learning Theory (teori belajar sosial). Jadi memodelkan suatu karakter xxxiv . Fokus dari teori ini adalah bagaimana anak-anak belajar perilaku sosial. perilaku. yaitu keseluruhan komponen masyarakat. baik orang tuanya. dan teknologi yang digunakan dalam masyarakat tersebut. orang. 2003:124). sistem numerik. bertengkar. aktor film di TV. seperti bahasa. dan menyerang (dalam Slamet Suyanto. 2003:126). Jadi perilaku. atau perilaku profesi (dalam Slamet Suyanto. seperti bekerjasama. serta kondisi seseorang dan lingkungannya membentuk satu kesatuan. Informasi dari lingkungan tentang suatu perilaku atau kegiatan ditransfer oleh anak menjadi bentuk-bentuk simbolik dengan memodelkannya. dan lingkungan saling terkait. Menurut teori ini. cara berpikir dan motivasi. Bandura mengidentifikasi adanya belajar dengan memodelkan perilaku orang lain yang dikenal dengan teori Learning by Modelling. atau bahkan perilaku negatif seperti berkelahi. sharing. Ia mengamati banyak anak belajar dengan cara memodelkan perilaku yang dilakukan orang lain.meliputi struktur sosial seperti keluarga dan sekolah. c) tingkat kultural atau sosial.

Pertama. Maka pengertian pembelajaran adalah suatu kegiatan yang dilakukan oleh guru sedemikian rupa. proses retensi dimana anak mulai mentransfer peran yang akan dimodelkan dalam struktur pengetahuannya menjadi schema tentang peran tersebut. yaitu bahwa belajar merupakan suatu kegiatan yang mengakibatkan terjadi perubahan tingkah laku. proses atensi adalah proses menaruh perhatian yang besar dan teliti terhadap suatu kejadian atau peran dari lingkungannya yang akan dimodelkan. Keempat. Pengertian Pembelajaran Menurut Max Darsono dkk (2000:24-25). sehingga tingkah laku siswa berubah ke arah yang lebih baik. Sesuai dengan pengertian belajar secara umum. Ada empat tahapan belajar dengan memodelkan peran. Guru dan orang tua harus dapat menjadi model yang baik bagi anak. Ketiga. proses motivasi ialah pengaruh faktor-faktor di luar anak yang memungkinkan anak menampilkan model tersebut. Anak akan sangat senang untuk memodelkan apa yang dilakukan orang tua dan gurunya.merupakan bukti bahwa anak telah belajar tentang karakter tersebut dan dicoba ditampilkannya dengan menjadi karakter yang sama. xxxv . Kedua. 2. Pembelajaran yang menarik atensi anak akan cenderung dimodelkan dan diingat terus. Implikasi teori ini dalam pembelajaran adalah bagaimana kita menciptakan model yang baik bagi anak. proses produksi dimana anak mengkonversi kode simbolik dalam memorinya tentang peran yang akan dimodelkan ke dalam kegiatan nyata. pembelajaran berasal dari kata belajar.

pembelajaran adalah usaha guru membentuk tingkah laku yang diinginkan dengan menyediakan lingkungan (stimulus). Kegiatan belajar dilakukan dengan merespons tanda-tanda atau simbol yang dimanipulasi dalam situasi pembelajaran. Gagne (1970) dalam Sudjana (2000:117-118). pembelajaran adalah usaha guru untuk memberikan materi pembelajaran sedemikian rupa. Jadi pembelajaran adalah usaha pendidik membentuk tingkah laku yang diinginkan dengan memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk berpikir agar peserta didik lebih mudah mengorganisasikan (mengaturnya) sesuai dengan minat dan kemampuannya. Menurut Teori Kognitif. sehingga siswa lebih mudah mengorganisirnya (mengaturnya) menjadi suatu pola gestalt (pola bermakna).Menurut Teori Behavioristik. Menurut Teori Gestalt. Agar terjadi hubungan stimulus dan respon (tingkah laku yang diinginkan) perlu latihan. Respons xxxvi . 3. Tipe kegiatan belajar ini didasarkan atas situasi bersyarat yang dikemukakan Ivan Pavlov. Tipe Belajar Gagne berpendapat bahwa belajar dapat dilihat dari segi proses dan dapat pula dilihat dari segi hasil. Menurut Teori Humanistik. Dari segi proses. pembelajaran adalah cara guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk berpikir agar dapat mengenal dan memahami apa yang sedang dipelajari. mengklasifikasikan kegiatan belajar menjadi delapan tipe yaitu: a. dan setiap latihan yang berhasil harus diberi hadiah dan atau reinforcement (penguatan). Kegiatan belajar mengenal tanda-tanda (Signal Learning). pembelajaran adalah memberikan kebebasan kepada siswa untuk memilih bahan pelajaran dan cara mempelajarinya sesuai dengan minat dan kemampuannya.

Kegiatan belajar dalam tipe ini dilakukan peserta didik dengan menyusun hubungan antara dua stimulus atau lebih dengan berbagai respons yang berkaitan dengan stimulus tersebut. namun berbagai respons dan stimulus itu saling berhubungan antara satu dengan yang lainnya. Kegiatan belajar dengan perbedaan berganda (Multiple Discrimination Learning). Kegiatan belajar melalui rangkaian (Chaining Learning). walaupun dalam merangkaikan gerakan-gerakan tadi penggunaan bahasa tetap dilakukan untuk menunjukkan hubungan antara stimulus dan respons tersebut. reflektif. Kegiatan belajar melalui stimulus dan respons (Stimulus Response Learning). dan/ atau emosional.yang dilakukan peserta didik bisa rasional. xxxvii . Tipe belajar ini berhubungan dengan kegiatan peserta didik dalam membuat berbagai perbedaan respons yang digunakan terhadap stimulus yang beragam. e. Kegiatan menghubungkan ini dapat diterapkan pula dalam merangkaikan kegiatan anggota badan. Tipe kegiatan belajar ini berkaitan dengan upaya peserta didik dalam menghubungkan respons (jawaban) lisan. c. d. b. Kegiatan belajar melalui asosiasi lisan (Verbal Association). Tipe kegiatan belajar ini berhubungan dengan perilaku peserta didik yang secara sadar melakukan respons yang tepat terhadap stimulus yang dimanipulasi dalam situasi pembelajaran.

yakni kesanggupan menempatkan objek yang mempunyai ciri yang sama menjadi satu kelompok (klasifikasi) tertentu. Belajar yang berkenaan dengan hasil. Kegiatan belajar konsep (Concept Learning). Kemampuan membedakan objek dipengaruhi oleh kematangan. dan pendidikannya. h. Kegiatan belajar pemecahan masalah (Problem-solving Learning). Konsep diperoleh melalui interaksi dengan lingkungan dan banyak terjadi dalam realitas kehidupan. Tipe kegiatan belajar ini digunakan peserta didik untuk menghubungkan beberapa prinsip yang digunakan dalam merespons stimulus. pertumbuhan. dan belajar kaidah. Belajar kaidah. g. Kegiatan belajar prinsip-prinsip (Principle Learning). Tipe kegiatan belajar ini berkaitan dengan berbagai respons dalam waktu yang bersamaan terhadap sejumlah stimulus yang berupa konsep-konsep yang berbeda antara satu dengan yang lainnya. Belajar konsep. Belajar deskriminasi.f. belajar konsep. Dalam tipe ini termasuk belajar deskriminasi. yakni kesanggupan membedakan beberapa objek berdasarkan ciri-ciri tertentu. Gagne dalam Nana Sudjana (2000:47-49) mengemukakan ada lima tipe yaitu: a. pada xxxviii . Belajar kemahiran intelektual (Cognitif). Tipe kegiatan belajar ini berkaitan dengan kegiatan peserta didik dalam menghadapi dan memecahkan masalah sehingga pada akhirnya peserta didik memiliki kecakapan dan keterampilan baru dalam pemecahan masalah.

minat. bercerita. Pemecahan masalah memerlukan kemahiran intelektual seperti belajar deskriminasi. dan kesanggupan memberi arti dari setiap kata/ kalimat. Dengan kata lain. seperti membaca. Hasil belajar sikap nampak dalam bentuk kemauan. Belajar sikap. kesanggupan menyatakan pendapat dalam bahasa lisan/ tulisan. belajar konsep. yaitu langkah-langkah berpikir dalam pemecahan masalah. b. tipe belajar ini menekankan pada aplikasi kognitif dalam pemecahan persoalan. Penekanannya pada kesanggupan memecahkan masalah melalui konsep dan kaidah yang telah dimilikinya. Pada umumnya belajar berlangsung melalui informasi verbal. Belajar kaidah melalui simbol bahasa baik lisan maupun tulisan. Belajar mengatur kegiatan intelektual. yaitu prinsip pemecahan masalah dan langkah berpikir dalam pemecahan masalah (problem solving). dan belajar kaidah sehingga akan membentuk satu kemampuan intelektual yang lebih tinggi.hakikatnya menghasilkan beberapa konsep. Dengan kata lain. d. perhatian. kemampuan memecahkan masalah merupakan aspek kognitif tingkat tinggi. Ada dua aspek penting dalam tipe belajar ini. Sikap merupakan kesiapan dan kesediaan seseorang untuk menerima atau menolak suatu objek berdasarkan penilaian terhadap objek itu. berkomunikasi. apakah berarti atau tidak bagi dirinya. dan perubahan xxxix . Belajar informasi verbal. c.

Komponen Pembelajaran xl .perasaan. belajar sikap. Belajar tipe ini banyak berhubungan dengan kesanggupan menggunakan gerakan anggota badan. sebab dalam belajar motorik bukan semata-mata hanya gerakan anggota badan. luwes. Gerakan yang sudah otomatis merupakan puncak belajar motorik. tetapi juga memerlukan pemahaman dan penguasaan akan prosedur gerakan yang harus dilakukan serta konsep mengenai cara melakukan gerakan. belajar informasi verbal. ada delapan tipe yaitu kegiatan belajar mengenal tanda-tanda. Kesimpulan dari pendapat Gagne tersebut di atas adalah belajar dapat dilihat dari segi proses dan dapat pula dilihat dari segi hasil. kegiatan belajar melalui stimulus dan respon. dan kegiatan belajar pemecahan masalah. dan lancar. kegiatan belajar konsep. sehingga memiliki rangkaian urutan gerakan yang teratur. Belajar keterampilan motorik. Aspek utama belajar motorik adalah tercapainya otomatisme melakukan gerakan. kegiatan belajar melalui asosiasi lisan. kegiatan belajar prinsipprinsip. Sikap dapat dipelajari dan dapat diubah melalui proses belajar. e. belajar mengatur kegiatan intelektual. dan belajar keterampilan motorik. cepat. Belajar motorik memerlukan kemahiran intelektual dan sikap. kegiatan belajar dengan perbedaan berganda. tepat. Dari segi proses. kegiatan belajar melalui rangkaian. yaitu belajar kemahiran intelektual. 4. Ada pula lima tipe belajar yang berkenaan dengan hasil.

sebagai suatu sistem tentu saja kegiatan belajar mengajar mengandung sejumlah komponen yang meliputi tujuan. Di dalam TPA. sumber belajar. Tujuan Menurut Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain (2002:48). dan evaluasi. ada empat tingkatan tujuan pendidikan yaitu: 1) Tujuan Umum Pendidikan Yaitu pembentukan manusia Pancasila. alat/ media belajar. bahan pembelajaran. Tujuan antara (tujuan intermidier) adalah tujuan yang berfungsi sebagai perantara untuk mencapai tujuan xli . Menurut Nana Sudjana (2000:57-58). Demikian pula dengan TPA yang merupakan suatu lembaga nonformal yang memberikan pelayanan pengasuhan dan pendidikan. kegiatan belajar mengajar.Menurut Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain (2002:48). juga terdapat kegiatan belajar mengajar yang disesuaikan dengan acuan pendidikan anak usia dini. tujuan adalah suatu cita-cita yang ingin dicapai dari pelaksanaan suatu kegiatan. 2) Tujuan Institusional (Tujuan Lembaga Pendidikan) Tujuan institusional adalah tujuan yang diharapkan dicapai oleh lembaga atau jenis tingkatan sekolah sebagai tujuan antara untuk sampai pada tujuan umum. metode. Tujuan dalam pendidikan dan pengajaran adalah sesuatu yang bernilai normatif. Komponen-komponen pembelajaran antara lain: a.

apalagi dengan warna yang mencolok akan mengundang anak untuk memegang dan menggerakkannya. Menurut Hibana S. Rahman (2002:77-79). 2) Berwarna dan atraktif Bahan yang berwarna. 4) Tujuan Instruksional (Tujuan PBM) Tujuan instruksional merupakan tujuan yang terbawah dari jenis tujuan-tujuan di atas. ada beberapa kriteria untuk menentukan bahan dan perlengkapan belajar anak usia dini. Tujuan ini menyangkut tujuan yang hendak kita capai dalam kegiatan pendidikan kita sehari-hari. bahan pembelajaran adalah substansi yang akan disampaikan dalam proses belajar mengajar. 3) Tujuan Kurikuler (Tujuan Bidang Studi/ Mata Pelajaran) Tujuan kurikuler adalah penjabaran tujuan institusional yang berisi program-program pendidikan dalam kurikulum lembaga pendidikan.umum. 3) Sederhana dan kongkrit xlii . Masing-masing lembaga mempunyai tujuan institusional yang dijabarkan dari dan menuju ke tujuan umum pendidikan. antara lain: 1) Relevan dengan kondisi anak Artinya bahan dan perlengkapan yang disediakan sesuai dengan karakteristik dan kebutuhan anak. b. Bahan Pembelajaran Menurut Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain (2002:50).

ingin ditiru dan diulang.Bahan dan perlengkapan belajar anak bukanlah yang rumit dan sulit. c. Dengan demikian tidak membahayakan bagi anak untuk bereksplorasi dengan alat tersebut. 7) Bermanfaat dan mengandung nilai pendidikan Bahan dan perlengkapan belajar dipilih yang dapat memberikan manfaat bagi pengembangan kemampuan anak dan juga mengandung nilai pendidikan yang positif. dan kongkrit di mata anak. jelas. Kegiatan Belajar Mengajar xliii . dan pewarna yang digunakan. melainkan sederhana. 6) Aman dan tidak membahayakan Bahan dan perlengkapan belajar anak harus aman dari segi bahan. 5) Berkait dengan aktivitas keseharian anak Anak tumbuh dan berkembang bersama lingkungan yang ada. 4) Eksploratif dan mengundang rasa ingin tahu Bahan dan perlengkapan yang tersedia dapat dieksplorasi oleh anak. Segala yang dia lihat. dia dengar dan dia rasakan. Oleh karena itu bahan dan perlengkapan belajar anak diupayakan untuk sesuai dan berkait dengan aktivitas keseharian anak. karena sifat dasar anak adalah ingin tahu dan selalu ingin mencoba. bentuk.

pengasuh TPA memilih alat permainan dan diharapkan anak-anak dapat memilih guna menemukan suatu konsep (pengertian tertentu). Pembelajaran dalam TPA disusun sedemikian rupa sehingga menyenangkan. bermain dengan bimbingan dan berakhir pada bermain dengan diarahkan (dalam Soemiarti Patmonodewo. Menurut Bergen (1988). kegiatan belajar mengajar adalah inti kegiatan dalam pendidikan. dan demokratis sehingga menarik anak untuk terlibat dalam setiap kegiatan pembelajaran. gembira. Bermain merupakan salah satu kegiatan pembelajaran yang menyenangkan bagi anak. Segala sesuatu yang telah diprogramkan akan dilaksanakan dalam proses belajar mengajar. Pada TPA. 2003:102-103). Kegiatan bermain dengan bimbingan. Apabila tujuannya melakukan klasifikasi benda dalam ukuran tertentu (besar/ kecil). maka xliv . bermain bebas dapat didefinisikan sebagai suatu kegiatan bermain di mana anak mendapat kesempatan melakukan berbagai pilihan alat dan mereka dapat memilih bagaimana menggunakan alat-alat tersebut. bermain dalam tatanan sekolah dapat digambarkan sebagai suatu rentang rangkaian kesatuan yang berujung pada bermain bebas.Menurut Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain (2002:51).

secara teknis ada beberapa metode yang tepat untuk diterapkan pada anak usia dini. bernyanyi. dan belajar. pengasuh TPA mengajarkan bagaimana cara menyelesaikan suatu tugas yang khusus. memberikan kesenangan maupun mengembangkan imajinasi pada anak (Anggani Sudono. Menyanyikan suatu lagu. Metode Menurut Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain (2002:53). melibatkan unsur bermain. Dalam bermain yang diarahkan. Menurut Hibana S. bersama bermain jari dan bermain dalam lingkaran adalah contoh dari bermain yang diarahkan. metode pembelajaran untuk anak usia dini hendaknya menantang. Pengertian lainnya. Menurut Slamet Suyanto (2003:162). d. Rahman (2002:76). antara lain: 1) Bermain Bermain adalah suatu kegiatan yang dilakukan dengan atau tanpa mempergunakan alat yang menghasilkan pengertian atau memberikan informasi. 2000:1). menyenangkan. bergerak.pengasuh TPA akan menyediakan sejumlah mainan yang dapat diklasifikasikan dalam kelompok yang berukuran besar atau yang kecil. metode adalah suatu cara yang dipergunakan untuk mencapai tujuan yang ditetapkan. bermain adalah tahap awal dari proses panjang belajar pada anak-anak yang dialami oleh semua manusia xlv .

video. seperti boneka. yaitu dapat berupa kaset. 5) Bercerita melalui alat pandang dengar (audio visual aids). 2) Bercerita Menurut Hibana S. seperti: 1) Bercerita tanpa alat peraga. cerita adalah penggambaran tentang sesuatu secara verbal. berkhayal. 2004:54). dan mengembangkan kognisinya. Penerapan kegiatan bercerita dapat dilakukan dengan berbagai bentuk. 3) Bercerita dengan cara membaca buku cerita (story reading). televisi. 2) Bercerita dengan menggunakan alat peraga. Bercerita merupakan suatu stimulan yang dapat membangkitkan anak terlibat secara mental. Rahman (2002:89-90). Melalui bermain yang menyenangkan anak menyelidiki dan memperoleh pengalaman yang kaya baik dengan dirinya sendiri. Melalui bercerita.(Kak Seto. lingkungan maupun orang lain disekitarnya. berfantasi. anak diajak berkomunikasi. 3) Bernyanyi Melalui nyayian dan musik. dan sebagainya. hanya mengandalkan kemampuan verbal orang yang memberikan cerita. dan benda lain. Dalam hal ini anak dapat mengorganisasikan berbagai pengalaman dan kemampuan kognitifnya untuk menyusun kembali ide-idenya. 4) Bercerita dengan menggunakan bahasa isyarat atau gerakan. gambargambar. kemampuan apresiasi anak akan berkembang dan melalui nyanyian anak dapat mengekspresikan xlvi .

seperti mandi. bernyanyi dapat dilakukan dengan berbagai bentuk seperti: 1) Bernyanyi pasif. baik dilakukan sendiri. gosok gigi. 2) bernyanyi aktif.segala pikiran dan isi hatinya. Menurut Hibana S. artinya anak melakukan secara langsung kegiatan bernyanyi. artinya anak hanya mendengarkan suara nyanyian atau musik dan menikmatinya tanpa terlibat secara langsung kegiatan bernyanyi. dan lain-lain. 4) Bercakap (dialog dan tanya jawab) Menurut Kak Seto (2004:66). 5) Bermain peran (sosio-drama) Bermain drama. Rahman (2002:93). misalnya dengan terlebih dahulu mengajak anak untuk bernyanyi dengan memperagakan gerakan-gerakan tubuh. Menyayi merupakan bagian dari ungkapan emosi. merupakan bentuk bermain aktif dimana anak melalui suatu perilaku dan bahasa yang jelas berhubungan dengan benda-benda atau situasi seolah-olah hal tersebut memiliki atribut yang lain daripada sebenarnya. Pertanyaan-pertanyaan diajukan untuk memancing dialog yang berasal dari kegiatan si anak sehari-hari. mengikuti atau bersama-sama. mengkondisikan agar anak dapat sering dan rajin bertanya sangat penting dilakukan karena bertanya disebabkan rasa ingin tahu dan ini merupakan bagian dari pikiran yang terus menyelidiki. Hal ini harus dengan perasaan gembira. Misalnya seorang anak yang xlvii . makan pagi.

alat adalah segala sesuatu yang dapat digunakan dalam rangka mencapai tujuan pengajaran. Alat permainan dari lingkungan Alat-alat permainan yang diperlukan dalam proses pengembangan diri dapat dipilih sesuai dengan kebutuhan individual. Mereka bereaksi terhadap benda-benda tersebut dengan cara yang ditiru dari pengamatan terhadap lingkungan sekelilingnya. Perlu adanya perbedaan yang jelas antara alat peraga dan alat permainan. baik lingkungannya di pedesaan maupun di perkotaan. e.bermain dengan benda-benda mainannya seolah-olah merupakan orang-orang atau hewan yang sesungguhnya. Alat peraga berfungsi untuk menerangkan atau memperagakan suatu mata pelajaran dalam proses “belajar-mengajar”. media belajar anak usia dini pada umumnya adalah alat permainan. Sedangkan pada alat permainan. pengasuh TPA dapat mengambilnya dari lingkungan alam sekitar anak. Menurut Slamet Suyanto (2003:161). xlviii . anak aktif mengadakan eksplorasi walaupun tidak menutup kemungkinan mereka akan meggunakannya untuk bermain. kelompok kecil maupun kelompok besar. Dilihat dari tempat asal pengadaan alat permainan. Alat/ Media Belajar Menurut Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain (2002:54).

pasar maupun tempat makan dan minum. ada bahanbahan yang dapat diperoleh dari lingkungan alam seperti: air. hasil yang dikumpulkan dari tempat-tempat seperti pantai. grosir. Dari toko makanan dan kue dikumpulkan: gelas-gelas plastik bekas. biskuit huruf. lingkungan alam penuh dengan alat permainan seperti biji-bijian. dan sebagainya. 2003:75-77). dan lain-lain. daerah pegunungan. pasar induk. pasir. dan lain-lain. tanah. hasil pepohonan. penggaris. cup es krim dan sendoknya. Di perkotaan. supermarket. dan lain-lain. toko-toko kelontong. kertas ampelas. bahan mainan yang terbuat dari tanah liat. yaitu alat permainan yang dirancang secara khusus untuk kepentingan pendidikan dan mempunyai beberapa ciri yaitu: xlix . Tedjasaputra. Misalnya dari toko besi didapatkan: karet gelang. cantolan-cantolan. Alat Permainan Edukatif (APE) Selain hal tersebut di atas. bermacam-macam daun. ada juga alat permainan edukatif. tanaman. Alat permainan dari tempat-tempat tersebut terdiri atas benda-benda yang sebenarnya dan bukan tiruan atau miniaturnya sehingga anak akan sangat menyukainya karena merasa seperti dalam kehidupan yang sebenarnya. piring kertas. toko besi. Selain barang-barang dari tempat-tempat tersebut di atas. dan sebagainya (Mayke S.Di pedesaan. banyak tempat penjualan bahan bangunan. batu-batuan.

c) Segi keamanan sangat diperhatikan baik dari bentuk maupun penggunaan cat. maksudnya dapat dimainkan dengan bermacam-macam tujuan. Menurut Slamet Suyanto (2003:160). e) Sifatnya konstruktif. 2003:81). Menurut Anggani Sudono (2000:11-14). manfaat. ada beberapa macam sumber belajar antara lain: Tempat sumber belajar alamiah l . f. Tedjasaputra. (dalam Mayke S. b) Ditujukan terutama untuk anak-anak usia prasekolah dan berfungsi mengembangkan berbagai aspek perkembangan kecerdasan serta motorik anak. dan keterampilan yang ia pelajari. sikap. d) Membuat anak terlibat secara aktif. Sumber Belajar Menurut Udin Saripuddin Winataputra dan Rustana Ardiwinata (1991:165) dalam Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain (2002:55).a) Dapat digunakan dalam berbagai cara. dan menjadi bermacam-macam bentuk. sumber-sumber bahan dan belajar adalah segala sesuatu yang dapat dipergunakan sebagai tempat di mana bahan pengajaran terdapat atau asal untuk belajar seseorang. sumber belajar merupakan tempat di mana anak dapat memperoleh informasi.

Berbagai ensiklopedi. Perpustakaan Perpustakaan memiliki fungsi sebagai “jantung sekolah”. atau tabloid. majalah. sawah. peternakan. buku. li . kantor polisi. atau lapangan udara. buku-buku dengan beragam tema dapat dikumpulkan dan ditata rapi di ruang perpustakaan. karena didalamnya berisi berbagai informasi yang dapat membantu setiap orang yang menggunakannya untuk mengembangkan diri. Nara sumber Para tokoh dan ahli diberbagai bidang merupakan salah satu sumber belajar yang dapat diandalkan karena biasanya mereka memberikan informasi berdasarkan penelitian dan pengalaman mereka. perkapalan. hutan. Media cetak Termasuk didalamnya bahan cetak. Dengan demikian diharapkan para siswa dapat melatih kemahiran mereka dalam berbahasa melalui wawancara dan berkomunikasi dengan para nara sumber. seperti kantor pos.Sumber belajar yang dapat berupa tempat yang sebenarnya di mana anak mendapatkan informasi langsung. pemadam kebakaran. Gambar-gambar yang ekspresif dapat memberi kesempatan anak menggunakan nalar dan mengungkapkan pikirannya dengan menggunakan kosa kata yang semakin hari semakin berkembang. Tempat-tempat tersebut mampu memberikan informasi secara langsung dan alamiah.

Menurut Slamet Suyanto (2003:224). N Sumartana (1983:1) dalam Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain (2002:58). checklist. dan sebagainya. Evaluasi Menurut Wayan Nurkancana dan P. penilaian diri dari masing-masing anak. adalah siswanya yang harus dikembangkan secara optimal sesuai dengan kapasitas masing-masing. pertumbuhan dan perkembangan anak. lii . Keterangan-keterangan mengenai masing-masing siswa akan dicatat secara periodik dan teratur serta sistematis. Karena itu bentuk penilaian di mana anak dibandingkan dengan anak yang lain menjadi kurang bermakna. penilaian pada anak usia dini hendaknya lebih didasarkan atas kemajuan belajar atau pengembangan individual. keterangan yang berupa hasil observasi. Keterangan tersebut meliputi kemampuan anak.Perkembangan media elektronik khususnya televisi akan menambah pengetahuan anak terutama dari segi visualisasi. g. P. Alat peraga Alat peraga berfungsi untuk menerangkan atau memperagakan suatu mata pelajaran dalam proses “belajar-mengajar”. apapun kondisinya. Pendidik harus mau menganggap bahwa semua anak. hasil pekerjaan anak. evaluasi pendidikan dapat diartikan sebagai suatu tindakan atau suatu proses untuk menentukan nilai segala sesuatu yang ada hubungannya dengan dunia pendidikan.

Penilaian berupa “laporan perkembangan anak” dalam bentuk uraian tentang perkembangan anak yang telah dicapai pada setiap pertemuan yang dilaporkan kepada orang tua dalam waktu tertentu. pengembangan intelektual. karena ditinggalkan orang tua atau ibunya bekerja. pembicaraan melalui telepon atau pembicaraan yang santai. Taman Penitipan Anak (TPA) atau Day Care 1. Pengertian TPA Dari hasil rapat koordinasi “Usaha Kesejahteraan Anak” Departemen Sosial Republik Indonesia. dengan memberikan rapor. Dasar penilaian mengacu pada hasil karya dan kegiatan anak selama proses pendidikan secara kontinu.Menurut Soemiarti Patmonodewo (2003:151). antara lain dengan cara melakukan konferensi. memberikan laporan tentang anak kepada orang tuanya adalah bagian dari tugas pendidik. Bentuk pemberian laporan kepada orang tua. Menurut Pedoman Penyelenggaraan Pendidikan pada Taman Penitipan Anak (2001:15). penilaian pendidikan di TPA dilaksanakan setiap empat bulan sekali (caturwulan) dan prosesnya didasarkan pada pencapaian perkembangan anak. liii . emosional dan sosial”. dikemukakan pengertian Taman Penitipan Anak (TPA) dalam Soemiarti Patmonodewo (2003:77). sebagai berikut: “Lembaga sosial yang memberikan pelayanan kepada anak-anak balita yang dikhawatirkan akan mengalami hambatan dalam pertumbuhannya. Pelayanan ini diberikan dalam bentuk peningkatan gizi.

Berdasarkan hal tersebut di atas. asuhan. day care hanya sebagai pelengkap terhadap asuhan orang tua dan bukan sebagai pengganti asuhan orang tua (dalam Soemiarti Patmonodewo. dan kebutuhan pokok anak seperti: makanan. asuhan. Jenis pelayanan yang harus diberikan baik pelayanan langsung maupun tidak langsung berlandaskan pada Undang-undang No. 2003:27). dan pendidikan bagi anak balita selama anak balita tersebut ditinggal bekerja oleh orang tuanya (Hibana S. pengembangan intelektual. tempat tinggal. day care adalah sarana pengasuhan anak dalam kelompok. Selain itu anak balita juga mendapatkan pelayanan pendidikan. 2. 2003:77). perawatan. pada pasal 1 ayat 1b dan pasal 2 ayat 2 (dalam Catur Sri Sapanta. perawatan. Dalam hal ini. liv . Rahman. 4 Tahun 1979 tentang Kesejahteraan Anak. dan sosial yang dilakukan selama beberapa jam dalam satu hari bilamana asuhan orang tua kurang dapat dilaksanakan secara lengkap. Jenis Pelayanan TPA Dari pengertian TPA di atas. jelas bahwa secara umum pelayanan TPA adalah memberikan pengasuhan kepada anak balita. bimbingan. Jadi TPA adalah salah satu bentuk organisasi program PAUD yang memberikan pelayanan kepada anak balita dalam bentuk peningkatan gizi. emosional. Menurut Perserikatan Bangsa-Bangsa (1990). serta pakaian.TPA adalah lembaga kesejahteraan sosial yang memberikan pelayanan pengganti berupa asuhan. jenis pelayanan di TPA meliputi: perawatan. 2002:59). Adapun isi dari kedua pasal tersebut adalah bahwa anak berhak atas kesejahteraan. dan bimbingan untuk mengembangkan kemampuan serta kehidupan sosialnya sesuai dengan kepribadian bangsa agar menjadi warga negara yang baik. biasanya dilakukan pada saat jam kerja. Day care merupakan upaya yang terorganisasi untuk mengasuh anak di luar rumah mereka selama beberapa jam dalam satu hari bilamana asuhan orang tua kurang dapat dilaksanakan secara lengkap.

Asuhan Asuhan diberikan dalam bentuk pemberian makan. c. Pakaian (Clothing) Pelayanan yang diberikan kepada anak usia dini dalam bentuk pemberian pakaian yang dapat digunakan sesuai dengan kebutuhan. pakaian. disiplin anak.a. Tempat Tinggal (Shelter) Pelayanan yang diberikan kepada anak usia dini dalam bentuk penyediaan lingkungan tempat tinggal sesuai dengan standart kesehatan rumah (layak huni). perbaikan hubungan social. Perawatan Pelayanan yang diberikan kepada anak usia dini dalam bentuk perawatan fisik. e. dan sarana serta prasarana untuk kepentingan anak. d. b. lv . Bimbingan Bimbingan dimaksudkan untuk mengembangkan kecerdasan (intelegensi) dan kepribadian anak melalui permainan. f. dan penciptaan kelompok. Makanan (Food) Pelayanan yang diberikan kepada anak usia dini dalam bentuk pemberian makanan secukupnya sesuai dengan martabat dan standart pemenuhan gizi seimbang.

memiliki sarana pendidikan minimal sesuai dengan daftar Sarana Pendidikan Minimal Taman Penitipan Anak. Persyaratan Guru/ Pendidik Berpendidikan SPG/ SPGTK. dan kemampuan berobat. lvi . dan memiliki keterampilan khusus tentang PAUD.g. Menurut Pedoman Penyelenggaraan Pendidikan pada Taman Penitipan Anak (2001:4). Kesehatan (Health) Pelayanan yang diberikan kepada anak usia dini dalam bentuk penyediaan fasilitas kesehatan. dan disiplin keluarga. Persyaratan Pengasuh/ Perawat 1) Berpendidikan minimal tamat Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP) atau sederajat. sosialisasi. Berpendidikan minimal tamat Sekolah Menengah Umum (SMU) atau sederajat. Sehat jasmani dan rohani. b. memiliki tenaga kependidikan (guru/ pendidik) dan tenaga pengasuh/ perawat dengan kualifikasi sebagai berikut: a. akses terhadap pelayanan kesehatan. standar pelayanan minimal harus mempergunakan Kurikulum Program Pendidikan pada Taman Penitipan Anak yang diterbitkan oleh Departemen Pendidikan Nasional. memiliki tempat pendidikan. h. Pendidikan (Education) Pelayanan yang diberikan kepada anak usia dini dalam bentuk pendidikan anak dalam keluarga.

sendok. gizi. Standar pelayanan untuk makanan pokok anak antara lain: 1) Pemberian makanan/ minuman membutuhkan sarana seperti: Piring. 2) Pemberian Paket Pertolongan Gizi membutuhkan sarana seperti: Vitamin A. gelas. dan lembar balik.2) Sehat jasmani dan rohani. Paket PMT. 3) Penyuluhan Gizi Seimbang membutuhkan sarana seperti: Poster. dan istirahat. Kebutuhan Pokok Anak Kebutuhan pokok anak yaitu makanan pokok. leaflet. Standar pelayanan untuk gizi antara lain: 1) Penyuluhan Gizi membutuhkan sarana yaitu Modul Simulasi Posyandu. lvii . dacin. 3) Berpendidikan atau memiliki keterampilan di bidang perawatan dan pengasuhan anak (Pramubalita). dan Blended Food. Sirup Fe. dan Kapsul Yodium. sebagai berikut: a. Standar pelayanan minimal Pendidikan Anak Usia Dini pada Taman Penitipan Anak. KMS. dan register. 3) PMT Penyuluhan membutuhkan sarana yaitu Buku Pedoman Pembuatan Makanan Lokal. 4) Bertempat tinggal di sekitar Taman Penitipan Anak. 2) ASI Eksklusif membutuhkan sarana yaitu Buku Pedoman Kader Posyandu. 4) PMT Pemulihan membutuhkan sarana seperti: Home Economi Sets.

Penyuluhan Gizi. 2. Jenis makanan untuk anak berusia 7-12 bulan adalah ASI. Penjelasan di atas dapat dilihat seperti tabel berikut ini: Umur/ Bulan Jenis Makan an 1 2 3 4 5 6 ASI Buah Bubur Tim 7 ASI Buah Tim 8 ASI Buah Tim 9 ASI Buah Tim 10 ASI Buah Tim 11 ASI Buah Tim 12 ASI Buah Tim A A A A ASI S S S S Buah I I I I Tabel 2. dacin. Poster. PMT Penyuluhan. Gizi a. lembar balik. bubur dan TIM. Jenis makanan untuk anak berusia 1-4 bulan adalah ASI. Modul Simulasi Posyandu. Vitamin A. Sirup Fe. gelas. Buku Pedoman Kader Posyandu. Pemberian Paket Pertolongan Gizi.Standar pelayanan untuk istirahat adalah tidur yang membutuhkan sarana yaitu perlengkapan tidur. Jenis makanan untuk anak berusia 5 bulan adalah ASI dan buah. Tabel 2. b. Buku Pedoman Pembuatan Makanan Lokal. register. ASI Eksklusif. sendok. Kapsul Yodium. Home Economi Sets. Penjelasan di atas dapat dilihat seperti tabel berikut ini: No. dan TIM. buah.1a: Pemberian Makanan pada Bayi (dalam Pedoman Penyelenggaraan Pendidikan pada Taman Penitipan Anak. 2001:17) Pemberian Makanan pada Bayi Pelayanan pemberian makanan pada bayi harus disesuaikan dengan usia bayi tersebut. d. Pemberian makanan/ minuman. Jenis makanan untuk anak berusia 6 bulan adalah ASI. Istirahat Tidur. 3. 2001:22) lviii . dan Sarana Piring. Penyuluhan Gizi Seimbang. Komponen Makanan Pokok Standar Pelayanan a. Perlengkapan tidur. c. buah. Paket PMT. b. Blended Food. KMS. 1. PMT Pemulihan.1: Kebutuhan Pokok Anak (dalam Pedoman Penyelenggaraan Pendidikan pada Taman Penitipan Anak. leaflet. dan c.

dan leaflet Tahapan Perkembangan Anak. memelihara kebersihan diri.b. Buku pegangan Kader Kesehatan. 3) Penanggulangan Kecelakaan Standar pelayanannya antara lain: Pencegahan serta penanggulangan kecelakaan dan cidera. Modul TN BBLR (Pegangan bagi Tenaga Kesehatan). lix . mengenali tanda bahaya pada bayi. dan memelihara kebersihan lingkungan anak. ASI Eksklusif. Sarana yang dibutuhkan adalah Buku Pedoman Penanggulangan Kecelakaan dan Cidera pada Usia Balita di rumah tangga. memberikan ASI dini dan Eksklusif. Sarana yang dibutuhkan adalah Buku KIA (Kesejahteraan Ibu dan Anak). mencegah infeksi. Pelayanan Perawatan Kesehatan Anak Pelayanan perawatan kesehatan anak dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut: 1) Promotif: Cara merawat bayi di rumah Standar pelayanannya antara lain: menjaga bayi tetap hangat. Sarana yang dibutuhkan adalah Buku Pedoman Pemantauan Perkembangan Anak di tingkat keluarga. Lembar balik poster. dan Materi penyuluhan tentang pencegahan dan penenganan hipotermi bayi. 2) Promotif: Deteksi dini pertumbuhan dan perkembangan anak Standar pelayanannya antara lain: mengenali secara dini penyimpangan perkembangan serta mengenali cara stimulasi dan intervensi. cara pemberian makanan pada bayi.

dan verban. dan Lembar balik poster dan leaflet Tahapan Perkembangan Anak. c. pemeriksaan tubuh. Buku pegangan Kader Kesehatan. Memelihara kebersihan diri. Sarana Buku KIA (Kesejahteraan Ibu dan Anak). Memelihara kebersihan lingkungan anak. cara pemberian makanan pada bayi. kotak obat. tensoplast. salep hitam (Iontiol). Obat-obatan P3P seperti: obat turun panas. imunisasi TT pada ibu hamil. providon iqdine. B Komplek. Memberikan ASI dini dan Eksklusif. dan Pemberian vitamin A. obat merah. Mengenali tanda bahaya pada bayi.Sarana yang dibutuhkan adalah obat-obat P3K. . gunting. e. Salep 2-4/ salep 88. Modul TN BBLR (Pegangan bagi Tenaga Kesehatan).4) Preventif Standar pelayanannya antara lain: Imunisasi lengkap pada bayi dan anak. Menjaga bayi tetap hangat. a. pemeriksaan gigi dan mulut. pemberian obat cacing. b. Penjelasan di atas dapat dilihat seperti tabel berikut ini: No. kapas. obat batuk putih. Komponen Promotif: Cara merawat bayi di rumah Standar Pelayanan a. Pencegahan serta penanggulangan lx . b. Mengenali cara stimulasi dan intervensi. gentian violet. ASI Eksklusif. Buku Pedoman Penanggulangan Kecelakaan 2. oralit. 5) Kuratif Standar pelayanannya antara lain: Pertolongan Pertama pada Kecelakaan (P3K) dan Pertolongan Pertama pada Penyakit (P3P). f. d. Buku Pedoman Pemantauan Perkembangan Anak di tingkat keluarga. dan Tetes mata. Mengenali secara dini penyimpangan perkembangan. 1. Mencegah infeksi. dan Materi penyuluhan tentang pencegahan dan penenganan hipotermi bayi. Promotif: Deteksi dini pertumbuhan dan perkembangan anak Penanggulang an Kecelakaan 3.

Jenis imunisasi anak usia lebih dari 5 tahun adalah HiB dan Varicella (Cacar). Providon Iqdine. B Komplek. meliputi: panas/ demam. kadas. 3 s. 4. Verban. bisul. 1 minggu sekali secara bergantian. c. infeksi kulit (koreng. f. Kotak Obat. Kapas.2: Pelayanan Perawatan Kesehatan Anak (dalam Pedoman Penyelenggaraan Pendidikan pada Taman Penitipan Anak. Jadwal: Lihat tabel 2. C a. Rubella). Oralit. Jenis imunisasi anak usia 15 bulan adalah MMR (Muasles. Obat merah. Pemeriksaan tubuh. Obat-obat P3K. dan mata merah. Jenis imunisasi anak usia 2 bulan adalah BCG. Salep 2-4/ salep 88. d. Jenis imunisasi anak usia 9 bulan adalah Campak. Imunisasi TT pada ibu hamil.kecelakaan dan cidera. e. Obat-obatan P3P seperti: Obat turun panas. Mumps. Jenis imunisasi anak usia 5 bulan adalah DPT III dan Polio. Penjelasan di atas dapat dilihat seperti tabel berikut ini: Usia 0 bulan Jenis Imunisasi Hepatitis B lxi . Gunting. sariawan. Imunisasi lengkap pada bayi dan anak.d 1 bulan sekali. 1 minggu s. b.d 6 bulan sekali. Pertolongan Pertama pada Kecelakaan meliputi: luka lecet dan luka bakar. Obat batuk putih. Preventif a. Obat cacing 6 bulan sekali dengan petunjuk dokter. Gentian Violet. b. Jenis imunisasi anak usia 3 bulan adalah DPT I dan Polio. Pemeriksaan gigi dan mulut. 2001:18-19) Jadwal Imunisasi pada Anak Jenis imunisasi anak usia 0 bulan adalah hepatitis B. Pertolongan Pertama pada Penyakit (P3P). Salep hitam (Iontiol). Pemberian vitamin A. kudis). batuk pilek. diare. Tetes mata 5. Jenis imunisasi anak usia 4 bulan adalah DPT II dan Polio.2a. Jenis imunisasi anak usia 5 tahun adalah DPT V dan Polio. dan Cidera pada Usia Balita di rumah tangga. Kuratif Tabel 2. Tensoplast. Pemberian obat cacing. Jenis imunisasi anak usia 12 bulan adalah DPT IV dan Polio.

2a: Jadwal Imunisasi pada Anak (dalam Pedoman Penyelenggaraan Pendidikan pada Taman Penitipan Anak. kubus. kendaraan mainan. Penjelasan di atas dapat dilihat seperti tabel berikut ini: Standar Pelayanan Pendidikan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) Sarana Buku Pedoman/ Modul tentang PHBS Tabel 2. keterampilan. dan jasmani. boneka. alat-alat lxii . Sarana yang dibutuhkan dalam pelayanan ini adalah buku cerita. dan kemampuan bermasyarakat. sikat gigi. Pendidikan Anak Usia Dini Standar pelayanan Pendidikan Anak Usia Dini antara lain: 1) Pembentukan perilaku: moral. agama. TV. Pendidikan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat Pelayanan Pendidikan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) membutuhkan sarana Buku Pedoman/ Modul tentang PHBS. daya pikir. 2001:23) c. perasaan/ emosi. balok bangunan. puzzle. tape. plastisin. alat geometri. 2) Pengembangan kemampuan dasar: berbahasa. alat musik. displin. 2001:20) d. daya cipta. Mumps. Rubella) DPT V + Polio HiB Varicella (Cacar) Tabel 2. alat masakan. binatang mainan. radio. gelas minum. alat olah raga.2 bulan 3 bulan 4 bulan 5 bulan 9 bulan 12 bulan 15 bulan 5 tahun - BCG DPT I + Polio DPT II + Polio DPT III + Polio Campak/ meases DPT IV + Polio MMR (Muasles.3: Pendidikan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) (dalam Pedoman Penyelenggaraan Pendidikan pada Taman Penitipan Anak. alat pertukangan.

bercerita. alat-alat menggambar. Penjelasan di atas dapat dilihat seperti tabel berikut ini: Komponen Pendidikan Anak Usia Dini Standar Pelayanan a. batu-batuan. TV. alat untuk menganyam. 3) Media interaksi (bermain. binatang mainan.menggambar. plastisin. dan kemampuan bermasyarakat. Pengembangan Kemampuan Dasar: Berbahasa. batu-batuan. balok bangunan. biji-bijian. dan jasmani. Sarana Buku cerita. agama. sikat gigi. gelas minum. radio. 2) Peranan orang tua dalam membina pertumbuhan dan perkembangan anak. lxiii . alat untuk menganyam. biji-bijian. Pelayanan ini akan membantu orang tua dalam memantau pertumbuhan dan perkembangan anak usia dini. kendaraan mainan. daya cipta. menyanyi. Layanan Bimbingan Sosial Pelayanan bimbingan sosial diberikan kepada orang tua. kubus. 6) Rujukan kelainan pertumbuhan dan perkembangan anak. alat geometri. Tabel 2. perasaan/ emosi. alat meronce. alat pertukangan. b. daya pikir.6 tahun). displin. 4) Cara merangsang pertumbuhan dan perkembangan anak. alat musik. alat olah raga. puzzle. 5) Pemantauan pertumbuhan dan perkembangan anak. Standar pelayanan yang diberikan dapat berupa penyuluhan tentang: 1) Pertumbuhan dan perkembangan anak umum (3 bulan . alat meronce.4: Pendidikan Anak Usia Dini (dalam Pedoman Penyelenggaraan Pendidikan pada Taman Penitipan Anak. tape. keterampilan. Pembentukan Perilaku: Moral. gambar seri. 2001:20) e. alat masakan. menari). boneka. gambar seri.

kartu tumbuh kembang anak. strategi adalah suatu seni yaitu seni membewa pasukan ke dalam medan tempur dalam posisi yang paling menguntungkan (dalam W. Rujukan kelainan pertumbuhan dan perkembangan anak.6 tahun). poster. lxiv . buku cara penggunaan APE. buku cara penggunaan APE. leaflet.5: Layanan Bimbingan Sosial (dalam Pedoman Penyelenggaraan Pendidikan pada Taman Penitipan Anak. e. d. menari). Penjelasan di atas dapat dilihat seperti tabel berikut ini: Komponen Pelayanan bimbingan sosial membantu pertumbuhan dan perkembangan Standar Pelayanan Penyuluhan: a. 2001:21) 3. Peranan orang tua dalam membina pertumbuhan dan perkembangan anak. tetapi sudah merupakan ilmu pengetahuan yang dapat dipelajari. Strategi Pembelajaran TPA a.Sarana yang dibutuhkan dalam pelayanan ini adalah model penyuluhan. kartu tumbuh kembang anak. Pengertian Strategi Pembelajaran Menurut Ensiklopedi Pendidikan. booklet. dan APE. poster. Gulo. Dalam perkembangan selanjutnya strategi tidak lagi hanya seni. Cara merangsang pertumbuhan dan perkembangan anak. Pertumbuhan dan perkembangan anak umum (3 bulan . bercerita. leaflet. buku pedoman. Tabel 2. booklet. 2002:2). dan APE. khususnya dalam kegiatan belajar-mengajar adalah suatu seni dan ilmu untuk membawakan pengajaran di kelas sedemikian rupa sehingga tujuan yang telah ditetapkan dapat dicapai secara efektif dan efisien. Dengan demikian istilah strategi yang diterapkan dalam dunia pendidikan. Sarana Model penyuluhan. b. f. buku pedoman. Pemantauan pertumbuhan dan perkembangan anak. menyanyi. c. Media interaksi (bermain.

R. David. 2) Cara-cara membawakan pengajaran itu merupakan pola dan urutan umum perbuatan guru-murid dalam perwujudan kegiatan belajarmengajar. 2002:2).T. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa: 1) Strategi belajar-mengajar adalah rencana dan cara-cara membawakan pengajaran agar segala prinsip dasar dapat terlaksana dan segala tujuan dapat dicapai secara efektif. Menurut J. 3) Pola dan urutan umum perbuatan guru dan murid itu merupakan suatu kerangka umum kegiatan belajar-mengajar yang tersusun dalam suatu rangkaian bertahap menuju tujuan yang telah ditetapkan. Raka Joni mengartikan strategi belajar adalah pola dan urutan umum perbuatan guru-murid dalam mewujudkan kegiatan belajar-mengajar (dalam W. sedangkan metode ialah cara untuk mencapai sesuatu. Metode pengajaran termasuk dalam perencanaan kegiatan atau strategi. metode. Kadang-kadang strategi belajar-mengajar sering dikacaukan dengan metode pengajaran. Gulo. dan perangkat kegiatan yang direncanakan untuk mencapai tujuan pengajaran tertentu (dalam W. 2002:3). Strategi dapat diartikan sebagai rencana kegiatan untuk mencapai sesuatu. lxv . strategi belajar-mengajar meliputi rencana. Gulo.

berupa kegiatan pengantar atau pemanasan proses pembelajaran yang berhubungan dengan tema. Strategi Pembelajaran TPA Strategi dapat diartikan sebagai rencana kegiatan untuk mencapai sesuatu. krativitas. yang diisi dengan kegiatan yang bersifat menenangkan anak disamping menyimpulkan kegiatan hari itu. Kegiatan Inti. 2. Strategi pembelajaran pada TPA dilakukan melalui tahapan-tahapan kegiatan. Strategi pembelajaran pada TPA dapat diartikan sebagai pola dan urutan umum perbuatan pendidik dan anak balita dalam mewujudkan kegiatan belajar-mengajar. Dalam Buletin PADU Vol. dan salam. apresiasi seni. b) Kegiatan bermain yang memberi kesempatan kepada anak untuk bereksplorasi dan bereksperimen.” lxvi . 2 No. Istirahat/ makan. dan kemandirian anak. berdoa.b. dituliskan: “Tahapan-tahapan kegiatan dalam mengelola proses pembelajaran adalah: 1. d) Kegiatan yang dapat dipilih anak untuk memunculkan inisiatif. e) Kegiatan yang dapat mengembangkan kebiasaan bekerja yang baik. 4. berdoa dan/ atau bernyayi. Kegiatan yang dapat dilakukan pada tahapan ini antara lain membacakan cerita. dimana anak dibebaskan untuk bermain. berupa kegiatan bermain yang dipilih sesuai dengan kemampuan yang hendak dicapai melalui: a) Kegiatan yang mengacu pada tema. c) Kegiatan yang meningkatkan konsep atau pengertian dan konsentrasi. dan f) Kegiatan yang dapat digunakan untuk membantu anak yang masih membutuhkan pertolongan dalam mencapai kemampuan yang hendak dicapai. Penutup. 3. 2 (Agustus 2003:34). serta bercakap-cakap dengan anak tentang tema yang akan diberikan pada hari itu. di dalam maupun di luar ruangan dengan tetap dalam pengawasan guru/ pamong belajar. dengan kegiatan antara lain memusatkan perhatian anak melalui salam. Termasuk dalam kegiatan ini adalah kegiatan bermain bebas. yang biasanya berkaitan dengan kegiatan makan bersama dengan melatihkan kebiasaan makan yang benar dan/ atau dimanfaatkan untuk kegiatan bermain bebas dalam pengawasan guru/ tutor. Pembukaan. dan ditutup dengan kegiatan menyanyi.

dan terpadu. Baik program pendidikan yang diterbitkan oleh Departemen Pendidikan Nasional maupun yang dibuat sendiri oleh lembaga harus dituangkan dalam sebuah rencana tahunan yang mengintergasikan keduanya. bertahap. Model Pendidikan TPA 1) Program Pendidikan Program pendidikan yang dipergunakan adalah Kurikulum Program Pendidikan pada Taman Penitipan Anak yang diterbitkan oleh Departemen Pendidikan Nasional. berulang.d 4 tahun. Bertahap adalah mengikuti tahapan perkembangan usia anak (developmentally apropriate practice) usia 3 bulan s. Model Pendidikan dan Pengasuhan TPA a. Terpadu adalah mengintegrasikan seluruh aspek pengembangan anak (pembentukan perilaku melalui pembiasaan dan pengembangan kemampuan dasar). lxvii .d 3 tahun dan untuk 3 tahun s. 2) Prinsip-prinsip Pendidikan Program pendidikan dibangun berdasarkan prinsip-prinsip pendidikan anak secara tepat. Selain itu lembaga Taman Penitipan Anak dapat melaksanakan program pendidikan yang dibuat sendiri oleh lembaga sesuai dengan kebutuhan setempat.4. Berulang artinya latihan/ stimulasi diberikan secara berulang-ulang (anak memerlukan pengulangan dalam belajar).

kemampuan. penggunaan metode yang tepat. 4) Pengelolaan Proses Pendidikan Kegiatan yang dilakukan dalam mengelola proses bermain sambil belajar adalah perumusan tujuan program pendidikan. Program pendidikan menekankan proses interaksi dengan orang dewasa. teman sebaya. dan mencoba benda-benda). mengarahkan proses pendidikan. Program pendidikan dikembangkan untuk memberikan kesempatan anak untuk berpartisipasi aktif melalui kegiatan permainan (menyentuh. lxviii . situasi. Program pendidikan memberikan pengalaman nyata bagi anak sehingga anak termotivasi dan memperoleh pengalaman belajar bermakna. Proses pendidikan dalam satu minggu minimal 3 (tiga) kali pertemuan atau dapat dikembangkan sesuai dengan kebutuhan. dan tingkat perkembangan yang berbeda-beda pada setiap anak secara individual. dan kondisi anak.Program pendidikan disesuaikan dengan usia. 3) Proses Pendidikan Proses pendidikan dalam satu hari minimal 2 (dua) jam @ 45 menit atau disesuaikan dengan kebutuhan. mengenal. dan kondisi anak. dan perumusan pencapaian kompetensi. dan benda-benda sekitarnya. bakat. minat. situasi.

7) Penilaian Pendidikan Penilaian pendidikan dilaksanakan setiap empat bulan sekali (caturwulan) dan prosesnya didasarkan pada pencapaian perkembangan anak. nyanyian. Sarana yang digunakan dapat memanfaatkan bahan yang tersedia di sekitarnya. Selain itu ada metode pelengkap antara lain: metode latihan. b. bercerita atau mendongeng. Model Pengasuhan TPA Model pengasuhan TPA ada dua yaitu pelayanan langsung dan tidak langsung.5) Metode Pendidikan Metode pokoknya adalah bermain yang merupakan metode Pendidikan Anak Usia Dini. Penilaian berupa “laporan perkembangan anak” dalam bentuk uraian tentang perkembangan anak yang telah dicapai pada setiap pertemuan yang dilaporkan kepada orang tua dalam waktu tertentu. dan bermain peran. piknik/ wisata. Model pelayanan langsung menurut Pedoman Kesejahteraan Sosial Anak Usia Dini (1998:12) adalah pelayanan yang diberikan langsung kepada anak usia dini atau keluarga untuk lxix . penugasan. Dasar penilaian mengacu pada hasil karya dan kegiatan anak selama proses pendidikan secara kontinu. 6) Penyiapan Sarana Pendidikan Sarana pendidikan disiapkan sesuai dengan tema. Pemilihan metode bermain dimaksudkan untuk menarik minat anak menuju ke arah belajar.

Pelayanan ini dilakukan dalam program-program pelayanan seperti Bina Keluarga Balita (BKB) dan konsultasi keluarga. Pelayanan tambahan diberikan kepada anak dalam upaya menunjang perkembangan anak. baik secara sementara ataupun peranan selamanya. Sebagai upaya untuk meningkatkan kemampuan orang tua atau keluarga dalam memberikan pelayanan kepada anak usia dini. ekonomi. 4) Pelayanan Perlindungan (Protective) Pelayanan perlindungan diberikan kepada anak usia dini yang dirawat oleh keluarganya sendiri atau keluarga pengganti dan lxx . 2003:25). Model pelayanan langsung ini dapat diselenggarakan sebagai: 1) Pelayanan Pengganti Keluarga (Subtitute) Pelayanan pengganti keluarga diberikan kepada anak usia dini yang dikarenakan orang tua atau keluarganya tidak lagi mampu memberikan pelayanan dan memenuhi kebutuhan anaknya. maupun bantuan sosial. 2) Pelayanan Tambahan (Suplement) Pelayanan tambahan diberikan kepada anak usia dini sebagai pelayanan tambahan atas pelayanan yang telah diberikan orang tua atau keluarganya.memenuhi kebutuhan dasar anak dan terwujudnya hak-hak asasi anak (dalam Catur Sri Sapanta. 3) Pelayanan Penguat Fungsi Keluarga (Supertive) Pelayanan ini diberikan kepada orang tua atau keluarga melalui lembaga bantuan informasi.

Model Pelayanan tidak Langsung Segala upaya yang diarahkan kepada penciptaandan perbaikan sistem pelayanan bagi anak usia dini. minat. dan benda-benda sekitarnya. Dari pengertian tersebut di atas. Lembaga TPA dapat melaksanakan program pendidikan yang dibuat sendiri sesuai dengan kebutuhan setempat. Model Pelayanan Langsung Pelayanan pengganti keluarga. Sesuai dengan Kurikulum Program Pendidikan pada TPA yang diterbitkan oleh Departemen Pendidikan Nasional. memperkuat fungsi keluarga. d. Prinsip-prinsip Pendidikan a. b. teman sebaya. lxxi . kemampuan. penataan manajemen. Penekanannya pada proses interaksi dengan orang dewasa. bertahap. Harus dituangkan dalam sebuah rencana tahunan yang mengintergasikan keduanya. tambahan. 2. dan sistem informasi pelayanan. b. Dibangun berdasarkan prinsip-prinsip pendidikan anak secara tepat. 2. Matrik Model Pendidikan dan Pengasuhan TPA Penjelasan di atas dapat dilihat seperti tabel berikut ini: Model Pendidikan TPA 1. Sedangkan pelayanan tidak langsung yaitu hal-hal yang mendukung pelayanan langsung seperti analisis kebijakan. dan perlindungan. tambahan. berulang. c. c. dan tingkat perkembangan anak. Sedangkan model pelayanan tidak langsung adalah segala upaya yang diarahkan kepada penciptaan dan perbaikan sistem pelayanan anak usia dini. penataan administrasi. Program Pendidikan a. dapat disimpulkan bahwa pelayanan langsung itu dapat dirasakan oleh anak dan pelayanan langsung tersebut sebagai pelayanan pengganti keluarga. dan terpadu. terlindungi dari tindakan serta situasi yang memberikan kebahagiaan anak. Disesuaikan dengan usia. Dikembangkan untuk memberikan kesempatan anak untuk berpartisipasi aktif melalui kegiatan Model Pengasuhan Anak 1. bakat. c.pengasuh agar anak terjamin. dan perlindungan. penguat fungsi keluarga.

4.permainan (menyentuh. Penyiapan Sarana Pendidikan a. Menggunakan metode yang tepat. 3. penugasan. Sistem terbuka yaitu dimana lembaga mengakui adanya interaksi diantara bagian-bagian dalam sistem tersebut dengan lingkungan mereka. Mengacu pada hasil karya dan kegiatan anak selama proses pendidikan secara kontinu. lxxii . Metode Pelengkap: metode latihan. Disesuaikan dengan tema. Mengarahkan proses pendidikan. Merumuskan tujuan program pendidikan. dan bermain peran. b. d. c. Sistem Pengelolaan TPA Pengelolaan lembaga TPA pada prinsipnya terdapat dua pengertian yang berbeda yaitu: a. b. Proses Pendidikan a. 5. 6. b. e. Merumuskan pencapaian kompetensi. 7. c. Minimal 2 jam @ 45 menit per hari. Tabel 2. Sistem tertutup merupakan bagian yang tidak dipengaruhi dan tidak berinteraksi dengan lingkungan mereka. Minimal 3 kali pertemuan per minggu. Disesuaikan dengan kebutuhan. d. piknik/ wisata. mengenal. Laporan perkembangan anak dalam bentuk uraian tentang perkembangan anak yang telah dicapai pada setiap pertemuan yang dilaporkan kepada orang tua dalam waktu tertentu. dan mencoba benda-benda). situasi. Pengelolaan Proses Pendidikan a. Metode Pokok: Bermain b. b. dan b. Berdasarkan pada pencapaian perkembangan anak.6: Model Pendidikan dan Pengasuhan pada Taman Penitipan Anak 5. Penilaian Pendidiakan a. Metode Pendidikan a. c. bercerita atau mendongeng. Memberikan pengalaman nyata bagi anak. Dapat memanfaatkan bahan yang tersedia di sekitarnya. nyanyian. Setiap empat bulan sekali (caturwulan). dan kondisi anak.

5) Informasi lain: ijin berkenaan dengan TPA. Masukan yang diperlukan: 1) Bahan berkenaan dengan alat dan perlengkapan yang diperlukan dalam penyelenggaraan TPA antara lain: alat tulis kantor. 3) Modal berkenaan dengan biaya-biaya yang diperlukan. penyelenggaraan koordinasi antara penyelenggaraan pembinaan lxxiii .Relevansi pengelolaan dalam penyelenggaraan lembaga TPA ialah mengikuti sistem terbuka. 2) Sumber daya manusia administrasi berkenaan dan dengan upaya sebagai penyelengara ketatausahaan. dan pengasuhan. teknik dan metode Al-Falah yang memadukan teknik dan metode belajar dan bernafaskan Islam. dan bahan-bahan lain yang diperlukan untuk penyelengaraan TPA. perawatan. 4) Teknologi berkenaan teknik-teknik yang diperiukan untuk pembelajaran pada TPA seperti teknik dan metode pembelajaran Montesori. teknik dan metode Hanaika. sehingga sangat memungkinkan lembaga dapat berkembang dan diterima masyarakat disamping memudahkan dalam memberikan pembinaan. alat tulis kantor. dengan sistem ini diharapkan adanya kejelasan antara input. dan peralatan pendidikan. perlengkapan. perlengkapan. Analisis penyelenggaraan TPA sebagai sistem organisasi terbuka dapat dijelaskan sebagai berikut: a. honorarium. transformasi dan output yang menjadi target dari lembaga. teknik dan metode High Scope. pendidikan.

sarana dan alat pendidikan yang digunakan. Trasformasi sebagai bentuk mengaktualisasikan kegiatan-kegiatan penyelenggaraan TPA melalui: 1) Kegiatan keorganisasian berkaitan dengan sistem administrasi dan ketatausahaan maupun penyelenggaraan program pembelajaran yang dapat mengoptimalkan potensi peserta didik. dalam bentuk perilaku dan interaksi dengan lxxiv . bagaimana menyelenggarakan TPA yang relevan dengan sasaran dan kebutuhan lingkungan setempat. c. gizi serta pendidikan. Keluaran berkaitan dengan produk yang dihasilkan oleh lembaga TPA baik dalam bentuk catatan hasil belajar maupun karya dari proses pembelajaran tersebut. penentuan sumber pembiayaan dan pengeluaran pembiayaan lembaga. bagaimana lembaga tersebut dikenal oleh masyarakat luas. dan penyelenggaraan pendidikan secara holistik antara kesehatan. b. hasil yang dicapai. menyusun organisasi yang sesuai dengan kebutuhan lembaga. hasil yang bersifat manusiawi sebagaimana diaplikasikan lingkungannya.kelembagaan. 3) Teknologi dan metode dalam penyelenggaraan TPA berkenaan dengan teknik dan metode pembelajaran yang akan diterapkan. menentukan figur kepemimpinan serta melakukan pengawasan terhadap sumber daya lembaga penyelenggaraan proses belajar. 2) Kegiatan manajemen berkaitan dengan perencanaan penyelenggaraan TPA.

Karakteristik Perkembangan Anak Usia Dini Menurut Hibana S. dan berjalan.go. Rahman.id) Anak Usia Dini 1. Taman Kanak-kanak atau Taman Pengasuhan Anak (Kak Seto.(online: www. Rahman (2002:32-36). merangkak. 3) Mempelajari komunikasi sosial. berdiri.plsp. Pengertian Anak Usia Dini Anak adalah seorang individu yang unik dan akan berkembang sesuai dengan kemampuannya sendiri (Elizabeth G. Hainstock. 2) Mempelajari keterampilan menggunakan panca indera. Usia 0-1 tahun. Usia dini dapat dikatakan sebagai usia emas (golden age) yaitu usia yang sangat berharga dibanding usia-usia selanjutnya (Hibana S. 2004:31). beberapa karakteristik khusus yang dilalui anak usia ini antara lain: 1) Anak sangat aktif mengeksplorasi benda-benda yang ada lxxv . Biasanya mereka tetap tinggal di rumah atau mengikuti kegiatan dalam berbagai bentuk lembaga pendidikan prasekolah seperti Kelompok Bermain. Bahkan dikatakan sebagai lompatan perkembangan. beberapa karakteristik anak usia bayi dapat dijelaskan antara lain: 1) Mempelajari keterampilan motorik mulai dari berguling. 2. Usia 2-3 tahun. secara rinci karakteristik perkembangan anak usia dini sebagai berikut: a. Usia prasekolah dimaksudkan sebagai usia dimana anak belum memasuki suatu lembaga pendidikan formal seperti Sekolah Dasar (SD). 2002:32). b. duduk. Anak Usia Dini (0-8 tahun) adalah individu yang sedang mengalami proses pertumbuhan dan perkembangan yang sangat pesat. 2002:4).

disekitarnya; 2) Anak mulai mengembangkan kemampuan berbahasa; 3) Anak mulai belajar mengembangkan emosi. c. Usia 4-6 tahun, memiliki karakteristik antara lain: 1) Berkaitan dengan perkembangan fisik, anak sangat aktif melakukan berbagai kegiatan; 2) Perkembangan bahasa semakin baik; 3) Perkembangan kognitif (daya pikir) sangat pesat, ditunjukkan dengan rasa ingin tahu anak yang luar biasa terhadap lingkungan sekitar; 4) Bentuk permainan anak masih bersifat individu, bukan permainan sosial. d. Usia 7-8 tahun, karakteristik anak usia ini antara lain: 1) Perkembangan kognitif anak masih berada pada masa yang cepat; 2) Perkembangan sosial, anak mulai melepaskan diri dari otoritas orang tuanya; 3) Anak mulai menyukai permainan sosial yang melibatkan banyak orang dengan saling berinteraksi; 4) Perkembangan emosi

sudah mulai terbentuk dan tampak sebagai bagian dari kepribadian anak.

3. Tugas Perkembangan Anak Usia Dini Tugas perkembangan adalah kegiatan atau tugas-tugas yang dapat dilakukan oleh anak. Bayi memiliki tugas perkembangan yang lebih sederhana daripada orang dewasa. Tugas perkembangan tersebut semakin berkembang sejalan dengan bertambahnya usia. Menurut Slamet Suyanto (2003:81-85), tugas-tugas perkembangan anak sebagai berikut: a. Usia 0-6 bulan lxxvi

Menunjukkan gerak refleks survival. Mengenali pengasuhnya. Menunjukkan komunikasi wajah, tersenyum, tertawa, bersuara. Tangan mencoba meraih benda di depannya. Memegang mainan dan menggoyangkannya. Memegang benda dengan dua tangan dan memasukannya ke mulut. b. Usia 7 bulan - 1 tahun 1) Mampu memegang dan meggerakkan objek. 2) Koordinasi mata dan tangan sudah baik. 3) Mampu membedakan orang tuanya/ keluarga dekat dengan orang asing. 4) Mampu duduk di lantai dengan baik. 5) Mulai merangkak untuk mengambil objek. 6) Mulai menunjukkan kemampuan mencari objek yang

disembunyikan. 7) Mengambil dan melempar objek dan menyukai suara objek ketika jatuh. 8) Menunjuk dan meminta sesuatu dengan bahasa tangan dan bunyi. 9) Mulai bisa berjalan dengan dibantu. 10) Mulai berdiri dan berjalan sendiri. c. Usia 1-2 tahun 1) Mulai lancer berjalan dan tidak mau berhenti berjalan. 2) Belajar mengenal benda-benda secara intensif.

lxxvii

3) Mulai mengembangkan memori jangka pendek dan jangka panjang. 4) Memegang pensil dengan semua jari dan mulai mencorat-coret. 5) Mulai tertarik dengan gambar pada buku. 6) Membalik-balik halaman buku (banyak halaman dalam sekali membalik). 7) Mengambil dan melempar benda-benda seperti bola. 8) Mulai menunjukkan kemampuan komunikasi. 9) Mulai mengenal nama panggilannya. 10) Bisa menunjukkan “papa” dan “mama”nya. 11) Mulai berinteraksi dengan anak lain yang lebih dewasa. 12) Bisa menarik dan membawa mainannya. 13) Dapat menaiki trap dan menunjukkan keseimbangan badan. 14) Menyukai benda-benda yang berbunyi. 15) Mulai senang berlari dan menendang bola.

d. Usia 2-5 tahun 1) Mulai menirukan apa yang dilakukan orang dewasa. 2) Motorik halus mulai berkembang pesat. 3) Mulai belajar memakai benda-benda seperti topi, sepatu besar, atau kaca mata menirukan orang dewasa. 4) Mulai bermain peran sendiri, misalnya meniru telepon. 5) Mulai belajar makan dan minum sendiri. 6) Menata benda-benda ditumpuk ke atas.

lxxviii

14) Menggambar pada kanvas. 15) Berkomunikasi dengan anak lain sebagai wujud perkembangan sosial. seperti memandikan boneka sebagai memandikan adik. 13) Menunjukkan perkembangan bahasa yang cepat. maka penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. 10) Menunjukkan koordinasi yang baik antar organ. 12) Bermain paralel. BAB III METODE PENELITIAN A. 2004:70) menyebutkan bahwa penelitian kualitatif dilakukan lxxix . 11) Menunjukkan kemampuan bermain peran. Pendekatan Penelitian Agar peneliti dapat mendeskripsikan secara jelas dan rinci serta mendapatkan data yang mendalam dari fokus penelitian.7) Mulai belajar melempar bola. 8) Mulai bicara satu kata. Menurut Nawawi dan Martina (dalam Sutrisno. 9) Menunjukkan koordinasi bilateral yang baik.

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif karena bersifat deskriptif dan data yang dikumpulkan berupa kata-kata. maka Yin (1984a. 1981b) dalam Robert K. Pandanaran II/ 2D Semarang. maka penelitian ini dirancang dengan menggunakan rancangan studi kasus. Rancangan Penelitian Untuk mengetahui secara rinci tentang “Pola Pembelajaran Taman Penitipan Anak di Taman Balita Klub Merby”. menerangkan.dengan menghimpun data dalam keadaan sewajarnya. Studi kasus adalah salah satu metode penelitian ilmu-ilmu sosial. bukan angka-angka. gambar. dan dapat dipertanggungjawabkan sehingga tidak kehilangan sifat ilmiahnya. Inti studi kasus yaitu kecenderungan utama diantara semua ragam studi lxxx . atau menginterpretasikan suatu kasus (case) dalam konteksnya secara natural tanpa adanya intervensi dari pihak luar. Yin (2003:18) memberikan definisi 67 yang lebih teknis. mempergunakan cara kerja yang sistematis. B. terutama ciri-ciri yang dapat membedakannya dari strategi yang lain. Kasus dalam penelitian ini dilaksanakan di Taman Balita Klub Merby dengan alamat Jl. studi kasus adalah suatu pendekatan untuk mempelajari. yaitu: “Studi kasus adalah suatu inkuiri empiris yang menyelidiki fenomena di dalam konteks kehidupan nyata bilamana batas-batas antara fenomena dan konteks tak tampak dengan tegas dan dimana multi sumber bukti dimanfaatkan”. Untuk menunjukkan ciri yang sesungguhnya dari strategi studi kasus. Menurut Agus Salim (2001:93). terarah.

kasus adalah bahwa studi kasus ini berusaha untuk menyoroti suatu keputusan atau seperangkat keputusan. ataupun status dari individu yang kemudian dari sifat-sifat khas tersebut akan dijadikan hal yang bersifat umum (dalam Sutrisno. dan Taman Balita Klub Merby di Jl. Pandanaran. Setting Penelitian Di Semarang ada beberapa TPA. antara lain: TPA Melati (milik UNDIP) di lingkungan kampus UNDIP Pleburan. 2004:71). Hal tersebut lxxxi . maka “Pola Pembelajaran Taman Penitipan Anak di Taman Balita Klub Merby” adalah sistem atau cara kerja dari suatu peristiwa atau kegiatan yang dilakukan oleh pendidik dan pengasuh Taman Balita Klub Merby sebagai TPA dalam kaitannya memberikan pendidikan dan pengasuhan. TPA Mardi Waluyo di Jl. Menurut Moch. sifat-sifat serta karakter yang khas dari kasus. C. Beranjak dari fokus penelitian ini. Nazir (1988). penelitian studi kasus adalah untuk memberikan gambaran secara mendetail tentang latar belakang. Pandanaran II/ 2D Semarang karena ada beberapa alasan dan kriteria yang perlu diperhatikan. Alasannya Taman Balita Klub Merby merupakan taman penitipan anak yang tidak hanya memberikan pelayanan pengasuhan anak di bawah lima tahun (balita) saja tetapi anak balita juga mendapatkan pelayanan pendidikan. Pandanaran II/ 2D. dilihat dari tujuannya. Penelitian ini dilakukan pada taman penitipan anak yang bernama Taman Balita Klub Merby dengan alamat Jl.

kreatif dan inovatif.merupakan salah satu kelebihan dari Taman Balita Klub Merby. Taman Balita Klub Merby terletak di pusat kota yaitu Jl. D. dokter. pengasuh. nyaman. menggunakan berbagai media dan sumber belajar. Subyek Penelitian Subyek dalam penelitian ini adalah: 1. dan tenang. Pengasuh Taman Balita Klub Merby. Memberikan pelayanan pendidikan dan pengasuhan bagi balita untuk menjadi balita yang mandiri melalui program bermain yang edukatif. dan stimulasi terpadu. 2. belajar melalui bermain. antara lain: berorientasi pada kebutuhan anak. yang berjumlah dua orang. Kriteria-kriterianya. lxxxii . pembelajaran yang berorientasi pada prinsip-prinsip perkembangan anak. mengembangkan keterampilan hidup. Kelebihankelebihan yang lain: 1. Pendidik Taman Balita Klub Merby. Disediakan Mother’s Room bagi para orang tua yang ingin berkonsultasi kepada pendidik. 3. yang berjumlah dua orang. Pandanaran II/ 2D Semarang. dan psikolog mengenai perkembangan balita mereka. 3. Para balita di bawah pengawasan dokter dan psikolog. 5. 4. 2. Koordinator Pelaksana Taman Balita Klub Merby. Arena bermain yang luas. yang berjumlah satu orang. menggunakan pembelajaran terpadu. bersih. lingkungan yang kondusif.

masalah dalam penelitian kualitatif dinamakan fokus. Dalam penelitian ini. Metode Pengumpulan Data Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan beberapa metode. Pola pembelajaran taman penitipan anak di Taman Balita Klub Merby yang meliputi aspek-aspek: tujuan. Metode Observasi atau Pengamatan lxxxiii . Perumusan fokus atau masalah dalam penelitian kualitatif bersifat tentatif. tentatif dan akan berkembang atau berganti setelah peneliti berada di lapangan. artinya penyempurnaan rumusan fokus atau masalah itu masih tetap dilakukan sewaktu peneliti sudah berada di latar penelitian. adalah: 1. bahan pembelajaran. E. alat/ media belajar. F. dan evaluasi. peneliti mengambil sampel dua orang tua anak balita. Moleong (2002:62-63). Orang Tua Anak Balita. sumber belajar. Faktor pendukung dan faktor penghambat dari pola pembelajaran taman penitipan anak di Taman Balita Klub Merby. Dengan kata lain fokus dalam penelitian kualitatif masih bersifat sementara.4. antara lain: 1. kegiatan belajar mengajar. metode. Fokus Penelitian Menurut Lexy S. fokus penelitian berisi pokok kajian yang menjadi pusat perhatian. 2.

and complete participation (dalam Sugiyono. dimana peneliti terlibat dalam kegiatan sehari-hari Taman lxxxiv . Dalam penelitian ini. 2005:65). observasi atau yang disebut pula pengamatan. active participation. Untuk memudahkan pemahaman tentang bermacam-macam observasi. peneliti akan menggunakan observasi partisipatif. Selanjutnya Spradley dalam Susan Stainback (1988) membagi observasi berpartisipasi menjadi empat yaitu: pasive participation. Sanapiah mengklasifikasikan Faisal (1990) dalam Sugiyono observasi (2005:64).Di dalam pengertian psikologik. moderate participation. maka dapat digambarkan seperti gambar berikut: Observasi partisipati Macammacam Observa Observasi yang pasif Observasi yang moderat Observasi terus Observasi yang pasif terang & Observasi tak Observasi yang lengkap Gambar 3. 1998:146). meliputi kegiatan pemuatan perhatian terhadap sesuatu objek dengan menggunakan seluruh alat indera (Suharsimi Arikunto. observasi yang secara terang-terangan dan tersamar (overt obsevation and covert observation). berpartisipasi observasi menjadi (participant observation). 2005:64). dan observasi yang tak berstruktur (unstructured observation).1: Macam-macam teknik observasi (dalam Sugiyono.

obyek penelitian dalam penelitian kualitatif yang diobservasi dinamakan situasi sosial. Activity: seperangkat kegiatan yang dilakukan orang. lxxxv .Balita Klub Merby. melainkan juga mengambil berbagai peran dalam situasi tertentu dan berpartisipasi dalam peristiwa-peristiwa yang akan diteliti. Dengan observasi partisipan ini. mendengarkan apa yang mereka ucapkan. maka data yang diperoleh akan lebih lengkap. Tiga elemen tersebut dapat diperluas sehingga apa yang dapat kita amati adalah: a. peneliti mengamati apa yang dikerjakan orang. actor (pelaku). Space: ruang dalam aspek fisiknya. observasi partisipan adalah suatu bentuk observasi khusus dimana peneliti tidak hanya menjadi pengamat pasif. Object: benda-benda yang terdapat di tempat itu. dan berpartisipasi dalam aktivitas mereka. d. Actor: semua orang yang terlibat dalam situasi sosial. Menurut Spradley dalam Sugiyono (2005:68-69). dan activities (aktivitas). Yin (2003:113-114). Menurut Robert K. Selain melakukan pengamatan. yang terdiri atas tiga komponen yaitu place (tempat). Observasi partisipan dimaksudkan untuk memperoleh data yang lengkap dan rinci melalui pengamatan yang seksama dengan melibatkan diri dan berpartisipasi dalam fokus yang sedang diteliti. tajam. peneliti ikut melakukan apa yang dikerjakan pendidik dan pengasuh serta ikut merasakan suka dukanya. dan sampai mengetahui pada tingkat makna dari setiap perilaku yang nampak. b. Dalam observasi ini. c.

Menurut Spradley dalam Sugiyono (2005:69). obyek penelitian yang akan diobservasi sebagai berikut: a. Object: Pengadaan bahan belajar. Pengasuh. g. alat/ media belajar. b. model pendidikan dan pengasuhan TPA. h. b. Actor: Koordinator Pelaksana. Time: urutan kegiatan. d.e. Observasi Terfokus. e. Event: Aktivitas para orang tua anak balita. f. dan sistem evaluasi. Activity: Pelaksanaan KBM. Dalam penelitian ini. g. Orang tua anak balita serta anak balita. h. Goal: Visi dan misi TBKM. penggunaan metode. Pengasuh. Time: Urutan kegiatan TPA/ jadwal TPA. Observasi Deskriptif. dan Orang tua Anak Balita. c. Act: Pelaksanaan strategi pembelajaran. tahapan observasi ada tiga yaitu: a. f. i. Space: Lingkungan fisik Taman Balita Klub Merby. Pendidik. Goal: tujuan yang ingin dicapai orang-orang. Feeling: Kondisi perasaan Koordinator Pelaksana. lxxxvi 1 2 3 . Event: rangkaian aktivitas yang dikerjakan orang-orang. tujuan dan alasan orang tua menitipkan anak balitanya di Taman Balita Klub Merby. dan sumber belajar. Act: perbuatan atau tindakan-tindakan tertentu. dan c. i. Feeling: emosi yang dirasakan dan diekspresikan oleh orang-orang. Pendidik.

Semua data direkam. oleh karena itu hasil dari observasi ini disimpulkan dalam keadaan yang belum tertata dan peneliti menghasilkan kesimpulan pertama. peneliti melakukan observasi pertisipan dengan tahapan sebagai berikut: a. dan dirasakan. Tahap Reduksi Menentukan Fokus: Memilih diantara yang telah dideskripsikan Tahap Seleksi Mengurai Fokus: Menjadi komponen yang lebih rinci Gambar 3. Bila lxxxvii . Tahapan observasi dapat digambarkan sebagai berikut: Tahap Deskripsi Memasuki situasi sosial: ada tempat. didengar. Pada tahap ini peneliti belum membawa masalah yang akan diteliti. aktivitas. melakukan deskripsi terhadap semua yang dilihat.Observasi Terseleksi.2: Tahap Observasi menurut Spradley (1980) dalam Sugiyono (2005:70) Dalam penelitian ini. aktor. maka peneliti melakukan penjelajahan umum dan menyeluruh. Observasi Deskriptif Observasi deskriptif dilakukan peneliti pada saat memasuki situasi sosial tertentu sebagai obyek penelitian.

peneliti telah menguraikan fokus yang ditemukan sehingga datanya lebih rinci. b. yaitu pola pembelajaran TPA di Taman Balita Klub Merby serta faktor pendukung dan penghambat dari pola pembelajaran tersebut. dan evaluasi. Observasi ini dinamakan observasi terfokus karena pada tahap ini peneliti melakukan analisis taksonomi sehingga dapat menemukan fokus. metode. Dengan melakukan analisis komponensial terhadap fokus. kegiatan belajar mengajar. yaitu pewawancara (interviewer) lxxxviii . sumber belajar. sehingga mampu mendeskripsikan terhadap semua yang ditemui. 2. kontras-kontras/ perbedaan dan kesamaan antar kategori dengan kategori lain. Pada tahap ini peneliti menemukan pemahaman yang mendalam. Metode Wawancara Wawancara adalah percakapan dengan maksud tertentu. Observasi Terfokus Pada tahap ini peneliti melakukan suatu observasi yang telah dipersempit untuk difokuskan pada aspek tertentu yaitu aspek-aspek: tujuan. bahan pembelajaran. c.dilihat dari segi analisis maka peneliti melakukan analisis domain. maka tahap ini penelititelah menemukan karakteristik. Percakapan itu dilakukan oleh dua pihak. alat/ media belajar. Observasi Terseleksi Pada tahap observasi ini.

A (2002:137-138) yaitu: a. pengasuh. Wawancara Tersruktur Wawancara terstruktur adalah wawancara yang pewawancaranya menetapkan sendiri masalah dan pertanyaan-pertanyaan yang akan diajukan. Dalam penelitian ini. dan orang tua anak balita. Adapun jenis wawancara yang akan digunakan oleh peneliti adalah pembagian wawancara yang dikemukakan oleh Guba dan Lincoln (1981:160-170) dalam Dr. lxxxix .yang mengajukan pertanyaan dan yang diwawancarai (interviewee) yang memberikan jawaban atas pertanyaan itu (Lexy J. karena sebelum wawancara berlangsung peneliti meminta ijin kepada Pimpinan Taman Balita Klub Merby untuk mengadakan wawancara. Semua subjek mempunyai kesempatan yang sama untuk menjawab pertanyaan yang diajukan. peneliti telah membuat dan menetapkan masalah dan pertanyaan-pertanyaan yang akan diajukan. Moleong. pendidik. peneliti sebagai pewawancara (interviewer) akan melakukan wawancara secara langsung dengan pihak yang diwawancarai (interviewee) yaitu koordinator pelaksana. M. b. Moleong. Lexy J. Dalam wawancara terbuka ini. para subjek penelitian mengetahui bahwa dirinya sedang diwawancarai. Sebelum mengadakan wawancara dengan subjek penelitian. 2002:135). Wawancara Terbuka Dalam wawancara terbuka para subjek tahu bahwa mereka sedang diwawancarai dan mengetahui pula apa maksud wawancara itu.

jenis-jenis program yang ada. xc . Setiap hari Senin sampai Jumat peneliti datang ke Taman Balita Klub Merby untuk melakukan penelitian dengan menggunakan metode wawancara terbuka dan terstruktur. kegiatan belajar mengajar. biaya pendidikan. tempat/ tanggal lahir. yaitu: a. umur. jumlah anak balita. dan gaji pegawai. Adapun pihak-pihak yang akan diwawancarai. 2) Pendapat koordinator pelaksana tentang visi. aspek evaluasi. alat/ media belajar. pendidikan terakhir. sumber belajar. Koordinator Pelaksana Taman Balita Klub Merby 1) Identitas koordinator pelaksana meliputi: nama. Metode wawancara ini dilakukan untuk memperoleh data mengenai aspek-aspek yang akan diteliti yaitu: tujuan. Selain itu peneliti menggunakan metode wawancara untuk memperoleh data tentang faktor pendukung dan faktor penghambat dalam pola pembelajaran TPA. jumlah personil yang meliputi pendidik dan pengasuh. kurikulum. jadwal TPA. metode.Pelaksanaan metode wawancara ini dilakukan selama penelitian berlangsung yaitu pada bulan Oktober 2005. dan evaluasi. dan alamat. bahan pembelajaran. misi.

2) Pendapat pendidik tentang jumlah pendidik. 4) Pendapat koordinator pelaksana tentang faktor pendukung dan penghambat pembelajaran TPA. pendidikan terakhir. dan cara mengatasi kendala tersebut. dan evaluasi. tempat/ tanggal lahir. 4) Pendapat pendidik tentang faktor pendukung dan penghambat pembelajaran TPA. penerapan kurikulum. Pengasuh Taman Balita Klub Merby 1) Identitas pengasuh meliputi: nama. 2) Pendapat pengasuh tentang jumlah pengasuh. b. dan evaluasi.3) Pendapat koordinator pelaksana tentang tujuan. kegiatan belajar mengajar. jumlah honor. dan alamat. jumlah honor. Pendidik Taman Balita Klub Merby 1) Identitas pendidik meliputi: nama. kendala yang dihadapi dalam proses pembelajaran. sumber belajar. jumlah anak balita. alat/ media belajar. kegiatan belajar mengajar. umur. bahan pembelajaran. umur. 3) Pendapat pendidik tentang tujuan. pendidikan terakhir. jumlah anak balita. tempat/ tanggal lahir. dan alamat. alat/ media belajar. xci . metode. c. kendala yang dihadapi dalam proses pengasuhan. metode. hasil pembelajaran. sumber belajar. dan cara mengatasi kendala tersebut. bahan pembelajaran. sistem pengasuhan.

b) berguna sebagai bukti untuk suatu kejadian. kaya. Metode ini dimaksudkan untuk melengkapi data dari observasi dan wawancara. 3. buku. Menurut Guba dan Lincoln (1981:232-235) dalam Lexy J. majalah. dan alamat. 3) Pendapat orang tua anak balita tentang faktor pendukung dan penghambat pembelajaran TPA. tempat/ tanggal lahir. dan mendorong. umur. Metode dokumentasi sebagai suatu metode pengumpulan data yang dilakukan dengan cara mengadakan pencatatan atau pengutipan data dari dokumen yang ada di setting penelitian. dan sistem pembayaran di TPA.3) Pendapat pengasuh tentang faktor pendukung dan penghambat pembelajaran TPA. surat kabar. Metode Dokumentasi Metode dokumentasi adalah metode yang mencari data mengenai hal-hal yang berupa catatan. Orang Tua Anak Balita 1) Identitas orang tua anak balita meliputi: nama. pendidikan terakhir. 2) Pendapat orang tua anak balita alasan orang tua menitipkan anaknya di TPA. Moleong (2002:161). d. pekerjaan. dan sebagainya yang berhubungan dengan fokus penelitian. c) xcii . ada beberapa alasan dari penggunaan dokumentasi. antara lain: a) dokumen dan record merupakan dokumen yang stabil. tujuan orang tua menitipkan anaknya di TPA. gambar/ foto.

xciii . gambar/ foto kegiatan. dan foto pelaksanaan kegiatan pembelajaran di Taman Balita Klub Merby Data-data tersebut dapat diperoleh dari hasil observasi dan wawancara. rekaman. Dalam penelitian kualitatif ini. wawancara mendalam (in dept interview) secara terbuka dan terstruktur. pendidik. kegiatan belajar mengajar. pengasuh. Data utama diperoleh dari para informan. surat izin penelitian di Taman Balita Klub Merby. tujuan. dan dokumentasi. dan bahan-bahan referensi lain yang dapat mendukung dalam penelitian ini.memiliki sifat yang alamiah. data pendidik. dan e) tidak sukar untuk ditemukan. alat/ media yang digunakan. data anak balita di Taman Balita Klub Merby. pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan metode observasi partisipan (participant observation). bahan pembelajaran. letak geografis. Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini dikelompokan menjadi dua. metode. hasil-hasil wawancara. d) murah dan mudah diperoleh. yaitu data utama dan data pendukung. yaitu orang-orang yang terlibat secara langsung dalam TPA seperti koordinator pelaksana. hasil-hasil observasi. dan orang tua anak balita. Sedangkan data pendukung bersumber dari dokumendokumen seperti arsip administrasi. data pengasuh. Metode dokumentasi ini digunakan untuk memperoleh data tertulis yang meliputi: sejarah Taman Balita Klub Merby. organisasi dan tata kerja. catatan.

3: Proses Metode Pengumpulan Data menurut Spradley Penjelasan skema di atas sebagai berikut: Pengamatan deskriptif dilakukan untuk melihat secara umum tentang kondisi Taman Balita Klub Merby. 2004:62). Proses selanjutnya dilakukan pengamatan secara xciv . Skema proses kegiatan observasi dan wawancara tersebut di atas dapat digambarkan sebagai berikut: DESKRIPTIF TERFOKUS SELEKTIF KONTRAS STRUKTURAL DESKRIPTIF Gambar 3. Setelah itu dilakukan pengamatan yang terfokus pada obyek yang akan diteliti mengenai pola pembelajaran TPA di Taman Balita Klub Merby serta faktor pendukung dan penghambat dari pembelajaran tersebut.Observasi dan wawancara dipedomani dan dikembangkan sebagaimana yang diajukan oleh Spradley dalam Sanapiah Faisal (1990:91108) yang diawali dengan observasi terfokus dan wawancara struktural serta diakhiri dengan observasi selektif dan wawancara kontras (dalam Wiwik Puji Rahayu.

kegiatan belajar mengajar. alat/ media belajar. Serta faktor pendukung dan faktor penghambat dari pembelajaran tersebut. struktur organisasi dan program Taman Balita Klub Merby. G. Pendidik. sumber belajar. wilayah kerja. bahan pembelajaran. penggunaan bahan pembelajaran.selektif untuk melihat bagaimana perumusan tujuan. Untuk mendukung atau melengkapi dari berbagai data yang diperoleh. Bersamaan dengan proses pengamatan tersebut juga dilakukan wawancara deskriptif kepada Koordinator Pelaksana Taman Balita Klub Merby untuk memperoleh gambaran secara umum tentang sejarah singkat. Kegiatan ini terus berulang kali hingga semua data-data yang dibutuhkan dalam penelitian ini dapat terpenuhi. Pengasuh. Keabsahan Data Untuk menetapkan keabsahan (trutworthiness) data diperlukan teknik pemeriksaan. Melulai metode dokumentasi ini dapat diperoleh berbagai kejadian-kejadian penting yang dapat memperjelas dari setiap kegiatan. dan evaluasi. pengadaan sumber belajar. kegiatan belajar mengajar. Pelaksanaan teknik pemeriksaan didasarkan atas sejumlah xcv . penggunaan metode. dan pelaksanaan evaluasi. metode. Selanjutnya dilakukan wawancara terstruktur secara mendalam kepada Kooedinator Pelaksana. penggunaan alat/ media belajar. ketenagaan. dan Orang tua Anak Balita untuk mengungkap fokus dari penelitian ini yaitu pola pembelajaran TPA di Taman Balita Klub Merby yang meliputi aspek-aspek: tujuan. kemudian peneliti menggunakan metode dokumentasi.

kriteria tertentu. Menurut Lexy J. Moleong (2002:173), ada empat kriteria yang digunakan yaitu derajat kepercayaan (credibility), dan keteralihan kepastian

(transferability), (confirmability).

ketergantungan

(dependability),

Kriteria keabsahan data diterapkan dalam rangka membuktikan temuan hasil penelitian dengan kenyataan yang ada di lapangan. Adapun teknik-teknik pemeriksaan yang digunakan untuk membuktikan derajat kepercayaan meliputi: 1) Perpanjangan Keikutsertaan; 2) Ketekunan Pengamatan; 3) Triangulasi; 4) Pengecekan Sejawat; 5) Kecukupan Referensial; 6) Kajian Kasus Negatif; 7) Pengecekan Anggota. Untuk membuktikan keabsahan data penelitian ini menggunakan teknik triangulasi. Menurut Lexy J. Moleong (2002:178), triangulasi adalah teknik pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain di luar data itu untuk keperluan pengecekan atau sebagai pembanding terhadap data itu. Denzim (1978) membedakan empat macam triangulasi sebagai teknik pemeriksaan yang memanfaatkan penggunaan sumber, metode, penyidik, dan teori. Triangulasi dengan sumber berarti membandingkan dan mengecek balik derajat kepergayaan suatu informasi yang diperoleh melalui waktu dan alat yang berbeda dalam metode kualitatif (Patton, 1987:331). Hal itu dapat digapai dengan jalan: 1) membandingkan data hasil pengamatan dengan data hasil wawancara; 2) membandingkan apa yang dikatakan orang di depan umum dengan apa yang dikatakannya secara pribadi; 3) membandingkan apa

xcvi

yang dikatakan orang-orang tentang situasi penelitian dengan apa yang dikatakannya sepanjang waktu; 4) membandingkan keadaan dan perspektif seseorang dengan berbagai pendapat dan pandangan orang seperti rakyat biasa, orang yang berpendidikan menengah atau tinggi, orang berada, orang pemerintahan; 5) membandingkan hasil wawancara dengan isi suatu dokumen yang berkaitan (dalam Lexy J. Moleong, 2002:178). Pada triangulasi metode, menurut Patton (1987:329), terdapat dua strategi, yaitu: 1) pengecekan derajat kepercayaan penemuan hasil penelitian beberapa teknik pengumpulan data; dan 2) pengecekan derajat kepercayaan beberapa sumber data dengan metode yang sama (dalam Lexy J. Moleong, 2002:178). Teknik triangulasi jenis ketiga (penyidik) ialah dengan jalan memanfaatkan peneliti atau pengamat lainnya untuk keperluan pengecekan kembali derajat kepercayaan data. Pemanfaatan pengamat lainnya membantu mengurangi kemencengan dalam pengumpulan data. Pada dasarnya

penggunaan suatu tim penelitian dapat direalisasikan dilihat dari segi teknik ini. Cara lain ialah membandingkan hasil pekerjaan seorang analisis dengan analisis lainnya (dalam Lexy J. Moleong, 2002:178). Triangulasi dengan teori, menurut Lincoln dan Guba (1981:307), berdasarkan anggapan bahwa fakta tertentu tidak dapat diperiksa derajat kepercayaannya dengan satu atau lebih teori (dalam Lexy J. Moleong, 2002:178).

xcvii

Teknik triangulasi dalam penelitian ini adalah triangulasi sebagai teknik pemeriksaan yang memanfaatkan penggunaan sumber, dengan pertimbangan bahwa untuk memperoleh informasi dari para informan perlu diadakan cros cek antara satu informan dengan informan lain sehingga akan diperoleh informasi yang benar-benar valid. Informasi yang diperoleh diusahakan dari nara sumber yang betul-betul mengetahui akan permasalahan dalam penelitian ini. Informasi yang diberikan oleh salah satu informan dalam menjawab pertanyaan peneliti, peneliti mengecek ulang dengan jalan menanyakan ulang pertanyaan yang disampaikan oleh informan pertama ke informan kedua. Apabila kedua jawaban yang diberikan itu sama, maka jawaban itu dianggap sah. Apabila kedua jawaban saling berlawanan atau berbeda, maka langkah alternatif sebagai solusi yang tepat adalah dengan mencari jawaban atas pertanyaan itu kepada informan ketiga yang berfungsi sebagai pembanding antara keduanya. Hal ini dilakukan untuk membahas setiap fokus penelitian yang ada sehingga keabsahan data tetap terjaga dan dapat dipertanggungjawabkan.

H. Analisis Data
Dalam hal analisis data kualitatif, Bogdan menyatakan bahwa analisis data adalah proses mencari dan menyusun secara sistematis data yang diperoleh dari hasil wawancara, catatan lapangan, dan bahan-bahan lain, sehingga dapat mudah dipahami, dan temuannya dapat diinformasikan kepada orang lain (dalam Sugiyono, 2005:88). Analisis data dilakukan dengan mengorganisasikan data, menjabarkannya ke dalam unit-unit, melakukan

xcviii

menyusun ke dalam pola. memilih mana yang penting dan yang akan dipelajari. menjabarkan ke dalam unitunit. Hal itu berkaitan dengan pengujian secara sistematis terhadap sesuatu untuk menentukan bagian. dan membuat kesimpulan yang dapat diceritakan kepada orang lain.sintesa. Berdasarkan hal tersebut di atas dapat dikemukakan bahwa analisis data adalah proses mencari dan menyusun secara sistematis data yang diperoleh dari hasil wawancara. Spradley (1980) dalam Sugiyono (2005:89) menyatakan bahwa analisis dalam penelitian apapun. dan tema kultural. Peneliti menetapkan Analisis Taksonomi (Taxonomic Analysis) Domain yang dipilih tersebut selanjutnya dijabarkan menjadi lebih rinci. Tahapan analisis data dapat digambarkan sebagai berikut: Analisis Domain (Domain Analysis) Memperoleh gambaran yang umum dan menyeluruh dari obyek penelitian/ situasi sosial. catatan lapangan. Menurut Spradley (1980) dalam Sugiyono (2005:101). taksonomi. memilih mana yang penting dan yang akan dipelajari. Ditemukan berbagai domain/ kategori. menyusun ke dalam pola. Dilakukan xcix dengan observasi terfokus. dan dokumentasi dengan cara mengorganisasikan data ke dalam kategori. dan membuat kesimpulan sehingga mudah dipahami oleh peneliti maupun orang lain. . terdapat tahapan analisis data yang dilakukan dalam penelitian kualitatif yaitu analisis domain. adalah cara berpikir. komponensial. melakukan sintesa. hubungan antar bagian. dan hubungannya dengan keseluruhan. untuk mengetahui struktur internalnya. Analisis adalah untuk mencari pola.

Analisis Tema Kultural (Discovering Cultural Theme) Mencari hubungan diantara domain. tahapan analisis data dengan mengacu pada pendapat Spradley (1980) sebagai berikut: 1.Analisis data kualitatif Analisis Komponensial (Componential Analysis) Mencari ciri spesifik pada setiap struktur internal dengan cara mengkontraskan antar elemen.4: Analisis Data Kualitatif menurut Spradley (1980) dalam Sugiyono (2005:102) Dalam penelitian ini. dan activity (PAA). selanjutnya melaksanakan observasi partisipan. dan selanjutnya Gambar 3. Hasilnya berupa gambaran umum tentang obyek yang diteliti yang sebelumnya belum diketahui. maka langkah selanjutnya adalah melakukan analisis domain. melakukan observasi deskriptif. Dalam analisis ini informasi yang diperoleh c . Analisis ini dilakukan untuk memperoleh gambaran yang umum dan menyeluruh tentang situasi sosial yang diteliti atau obyek penelitian. Dilakukan melalui observasi dan wawancara terseleksi dengan pertanyaan yang mengkontraskan (contras question). Analisis Domain Setelah peneliti memasuki obyek penelitian yang berupa situasi sosial yang terdiri atas place. actor. bagaimana hubungan dengan keseluruhan. mencatat hasil observasi dan wawancara.

maka selanjutnya domain yang dipilih oleh peneliti selanjutnya ditetapkan sebagai fokus penelitian. 2. setiap domain dicari elemen yang serupa atau serumpun. Dengan teknik pengumpulan data yang bersifat triangulasi ci . tetapi yang memiliki perbedaan atau yang kontras. wawancara mendalam. Melalui analisis ini. Analisis taksonomi adalah analisis terhadap keseluruhan data yang terkumpul berdasarkan domain yang telah ditetapkan. Oleh karena itu pada tahap ini diperlukan analisis lagi yang disebut dengan analisis taksonomi. Data ini dicari melalui observasi. dan dokumentasi sehingga data yang terkumpul menjadi banyak. namun sudah menemukan domain-domain atau kategori dari situasi sosial yang diteliti. Ini diperoleh melalui observasi dan wawancara serta dokumentasi yang terfokus. masih di permukaan. Dalam analisis ini. Pengumpulan data dilakukan secara terus menerus melalui pengamatan.belum mendalam. perlu diperdalam lagi melalui pengumpulan data di lapangan. Analisis Taksonomi Setelah peneliti melakukan analisis domain. wawancara. 3. yang diurai adalah domain yang telah ditetapkan menjadi fokus. sehingga ditemukan domain-domain atau kategori dari situasi sosial tertentu. yang dicari untuk diorganisasikan dalam domain bukanlah keserupaan dalam domain. dan dokumentasi yang terseleksi. Analisis Komponensial Pada analisis komponensial.

4. Analisis Tema Budaya Analisis tema sebenarnya merupakan upaya mencari “benang merah” yang mengintegrasikan lintas domain yang ada.tersebut. sejumlah dimensi yang spesifik dan berbeda pada setiap elemen akan dapat ditemukan. cii .

dan hasil wawancara dengan informan. Bakat “coret-coret” ini tentu harus disalurkan secara tepat dan terarah sehingga coretan menjadi bentuk lukisan yang tentu saja memiliki nilai seni dibaliknya. Awal Kelahiran: Pelatihan Perdana (1989). Klub Merby kini telah tumbuh menjadi “remaja” yang dewasa. struktur organisasi Taman Balita Klub Merby. 1. dan dokumentasi. Pada bagian ini akan dipaparkan tentang sejarah singkat berdirinya Klub Merby. Di usia yang menginjak 15 tahun ini. Tidak mudah bagi perintis untuk dapat mencari pelatih. Sejarah Singkat Berdirinya Klub Merby Perjalanan dari tahun 1989 bukanlah waktu yang singkat. Gagasan pertama mulai dibukanya Klub Merby (yang pada awal kelahiran dikenal dengan nama Pusat Pelatihan Merbabu) adalah dari pemikiran bagaimana dibentuk wadah penampungan bagi anak-anak yang dunianya penuh dengan daya imajinasi yang perlu diekspresikan melalui media coret-mencoret. Walaupun semula ciii . latar belakang berdirinya Taman Balita Klub Merby. Tantangan awal perintisan penyelenggaraan pelatihan ini adalah mencari pelatih.BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Hasil Penelitian Hasil penelitian ini pada dasarnya merupakan data yang diperoleh melalui metode observasi. karena dalam masa itu sama sekali belum ada “trend” untuk mengadakan pelatihan lukis pemula bagi anak-anak. identitas informan. wawancara. ketenagaan. gambaran umum Taman Balita Klub Merby.

Mawar. Perkembangan Awal. Ruang-ruang diberi nama dengan bunga agar anak-anak mudah mengingat dan mendekatkan anak-anak pada alam. Cempaka. Masalah pengesahan muncul bukan karena prosedurnya. Pelatihan perdana dijalankan bertempat di lantai II Toko Buku dan Alat Tulis Merbabu Semarang. Dengan murid 5 (lima) anak kecil yang rata-rata duduk di bangku Taman Kanak-kanak. Berlokasi di bagian belakang toko yang sama. dibangunlah gedung baru tersendiri yang khusus untuk pelatihan. dan Sakura menjadi saksi bisu anak-anak menghasilkan karya seni yang polos dan lucu. Anggrek. bangunan baru terdiri dari 6 ruangan dengan fasilitas yang memadai serta dilengkapi dengan AC dan sound system. akhirnya ditemukan seorang seniman Noehoni Harsono yang bersedia menjadi pelatih pertama. Kerinduan anak-anak untuk selalu berlatih dan berlatih.00 WIB sampai dengan pukul 19. Seruni.juga ragu. Setelah dirasakan suasana toko kurang sesuai dengan usaha pengembangan kreativitas anak untuk berseni. Kedatangan peserta baru yang semakin “antri” menyebabkan kelas dikembangkan menjadi tiga shift mulai dari pukul 15.30 WIB. melainkan belum civ . Ruang Melati. pelatihan ini mampu menjanjikan sesuatu yang berbeda dari yang sudah ada.5 jam sudah dipadati peserta sebanyak 15 anak sesuai kapasitas maksimal. Kampus I dan Pengesahan Pemerintah (1992). membawa pula anak-anak lain untuk bergabung. Diselenggarakan dengan sasaran belajar dan jadwal yang teratur. Kelas berdurasi 1.

adanya bentuk pelatihan semacam ini. Klub Merby juga membuka berbagai macam pelatihan baik itu bidangt seni maupun ilmu umum. Perkembangan Mutakhir: Penambahan Kampus dan Bidang Kepelatihan. Guna memenuhi permintaan masyarakat Yogyakarta dan sekitarnya. Klub Merby menyediakan saran taman penitipan anak: Taman Bermain Balita (6 bulan-3 tahun) dan Daily Homework Supervision (DHS) pendampingan belajar anak sepulang sekolah selama orang tua masih bekerja. Klub Merby membuka Kampus III yang bertempat di Jl. dibuka pelatihan musik: Biola dan cv . bahkan mungkin di Indonesia. Akhirnya keluarlah surat ijin penyelenggaraan dengan no. Selain merentangkan sayapnya ke bidang Child Day Care. Pelatihan semacam ini adalah yang pertama di Semarang. 493/103/H/92 tertanggal 14 Desember 1992. diresmikan Kampus II yang bertempat di Jl. Permasalahan dapat dijernihkan dengan menyodorkan kurikulum yang teratur yang memang telah dipersiapkan dengan baik. Ring Road Utara 199. Kampus baru ini terutama digunakan sebagai tempat Child Day Care yang merupakan sarana untuk membantu mengasuh anak-anak bagi para orang tua yang bekerja. Dalam hal ini. Tahun 2002. Yogyakarta (7 Juli 2003). Sekaligus dapat menyelenggarakan evaluasi semester di bawah pengawasan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (waktu itu) guna mengukur kemampuan dan perkembangan siswa. Bagi siswa juga yang berhak memperoleh Sertifikat dan Laporan Hasil Evaluasi. September 2002. Pandanaran II/ 2D Semarang.

dan clay. Intensif. Klub Merby dengan lantang mengucapkan “Welcome to Merby Centre”. Divisi Pelatihan RUMPUN 1. dan 3 divisi. Pemula (TK). Klub Merby beranggotakan tidak kurang dari 1250 siswa dan telah menghasilkan lebih dari 6000 alumni dengan segudang prestasi yang mengagumkan. Dasar A (SD 1-2). vocal. diusianya yang menginjak 15 tahun. Selain membuka pelatihan bagi kalangan dewasa atau umum yang mempunyai hobi di bidang tertentu. 7 rumpun. Pra Uni.Gitar. Klub Merby memindahkan sebagian besar kegiatannya ke kampus baru yang lebih dikenal dengan nama Merby Centre. Rumpun Seni Lukis. dibuka pula pelatihan untuk para lansia yang berminat di bidang lukis. seperti tabel di bawah ini: DIVISI 1. Hobby. Kampus Utama: Merby Centre (2004). professional. berkompeten dibidangnya. dan Perhatian Khusus. dan masih banyak pelatihan lainnya. Dengan menyelenggarakan lebih dari 70 jenis kegiatan kelas yang tergabung dalam 11 subrumpun. Bermodalkan semboyan New Campus-New Spirit-New Management. Lanjutan (SLTP/SLTA). Tidak hanya jumlah bidang kepelatihan saja yang bertambah. Acting. Saat ini. cvi . Klub Merby telah merentangkan sayapnya sampai ke semua jenis kesenian. Mandarin. English. Klasifikasi kegiatan Klub Merby. meliputi Pra Pemula (PG). Lansia. Setelah itu muncul juga pelatihan Clay. Dasar B (SD 3-5). dan berpengalaman. Dengan dipandu oleh lebih dari 35 pelatih yang bergelar S1/ S2. tetapi juga peserta pelatihan juga berkembang segmennya.

3-4 Class. dan 5-6 Class. M. Grace W. Business. Suatu ketika pembantu tersebut sedang lalai (kurang memperhatikan dan tidak teliti) terhadap anak asuhnya. Akhirnya didirikanlah Taman Balita Klub Merby. cvii . serta Psikologi. Latar Belakang Berdirinya Taman Balita Klub Merby Awal mula berdirinya Taman Balita Klub Merby yaitu pimpinan Klub Merby yang bernama drg. Sempoa. Divisi Child Day Care 3. Tari. 3. Mandarin. KEC. 2. M pernah mempunyai pengalaman yang nyata dalam kehidupannya. Gitar. Acting. Karena kesibukan orang tua. Rumpun Ilmu Umum.1: Klasifikasi Kegiatan Klub Merby (Buku Semarak Klub Merby. 2 Language (Inggris dan Mandarin). Biola. Kemudian anak balita tersebut dipukul-pukul pada bagian belakang pundaknya. 1 Design. Musik. Sehingga anak balita tersedak ketika sedang makan. dan Clay. Drum. Beliau menemukan ide yaitu bagaimana jika anak balita yang ditinggalkan orang tua bekerja dititipkan pada taman penitipan anak yang dirancang agar anak balita merasa seperti di rumah tetapi tetap mendapatkan pendidikan. Tabel 4. Divisi College (segera dibuka) 2. dan Smart Class (Persiapan TK). Hal tersebut yang membuat Ibu Grace tergugah hatinya. meliputi 1-2 Class. Daily Homework Supervision (DHS). Tuition. Teman beliau memiliki seorang anak balita. 2004:18-19) 2. Pembantu pada saat itu tidak tahu apa yang harus dilakukannya. anak balita diasuh oleh seorang pembantu. meliputi Tourism. Recorder. Keyboard.2. Susanto. Beliau memiliki teman yang bekerja sebagai dokter. meliputi Interior dan Art. Rumpun Seni Umum. Sports dan Art. meliputi Vokal. Little Class (2-3 tahun). Piano. dan Secretary. Taman Bermain Balita. Akhirnya anak balita itu meninggal dunia. meliputi Tiny Class (1-2 tahun). meliputi Aksara. 1. Happy Class (3-4 tahun).

Taman Balita Klub Merby termasuk dalam Divisi Child Day Care. Bangunan seluas 469 m 2 ini diresmikan pada tanggal 12 september 2002. Walaupun terletak di jantung kota Semarang, lokasi Kampus II berada di daerah “nyelampit” sehingga menimbulkan suasana tentram dan asri. Guna menunjang fungsinya sebagai taman balita, kampus ini dilengkapi pula dengan fasilitas Mother’s Room. Selain itu, terdapat beberapa kamar yang dilengkapi dengan tempat tidur mini untuk anakanak. Di bagian tengah, bangunan ini memiliki kebun dengan hamparan hijau yang luas sebagai sarana playground. 3. Gambaran Umum Taman Balita Klub Merby Taman Balita Klub Merby merupakan jenis taman penitipan anak dengan model penyelenggaraan TPA Umum di perumahan. Luas bangunan Taman Balita Klub Merby adalah 469 m 2 yang berlokasi di Kelurahan Mugasari Kecamatan Semarang Selatan, dengan alamat Jl. Pandanaran II/ 2D Semarang. Maskot Klub Merby adalah Katak (Frog) yang merupakan Happy Animal. DAsar pemilihan katak sebagai mascot adalah: a. Dekat dengan air sebagai sumber kehidupan; b. Mencintai lingkungan; c. Mudah menyesuaikan diri dengan alam (air dan darat); d. Senantiasa gembira, bernyanyi, dan menari. Visi Taman Balita Klub Merby adalah ikut mencerdaskan kehidupan bangsa. Misi Taman Balita Klub Merby adalah memberikan

cviii

pendidikan dan pengasuhan bagi balita untuk menjadi balita yang mandiri melalui program bermain yang edukatif. Motto Taman Balita Klub Merby adalah 8 C yang artinya sebagai berikut: a. Cerdas Sempurna perkembangan akal budinya, dan sempurna pertumbuhan tubuhnya (sehat). b. Ceria Gembira, berseri-seri, wajah cerah, bersih, dan murni. c. Cerdik Cepat mengerti situasi, pandai mencari pemecahan, dan panjang akal. d. Cekatan Cepat dan mahir, melakukan sesuatu, tangkas, dan selalu siap menghadapi masalah. e. Cermat Penuh minat, seksama, teliti, hemat, dan berhati-hati. f. Cendekia Tajam pikiran, cepat mengerti situasi, pandai mencari jalan keluar, dan terpelajar. g. Cantas Terampil dan tanggung jawab. h. Cerah Segar dan penuh harapan.

cix

Jumlah anak balita yang dititipkan di Taman Balita Klub Merby berjumlah 30 anak balita, yaitu: a. Little Class (2-3 tahun): 14 anak balita Dari 14 anak balita tersebut, ada 5 anak balita yang dititipkan sampai sore (full day). Sedangkan 9 anak balita lainnya hanya mengikuti kegiatan pembelajarannya saja dan tidak dititipkan sampai sore (half day). b. Happy Class (3-4 tahun): 16 anak balita Dari 16 anak balita tersebut, ada 5 anak balita yang dititipkan sampai sore. Sedangkan 11 anak balita lainnya hanya mengikuti kegiatan pembelajarannya saja dan tidak dititipkan sampai sore (half day). Taman Balita Klub Merby memiliki beberapa tata tertib yang harus dipatuhi oleh orang tua dan anak balita, antara lain: a. Tata Tertib untuk Anak Balita 1) Anak balita yang dititipkan harus sudah dapat berjalan. Jika belum dapat berjalan maka ada biaya pengasuhan tambahan. 2) Anak balita datang dalam keadaan telah mandi pagi dan sarapan pagi. Jika belum, anak balita harus dating sebelum pukul 08.00 WIB. 3) Untuk makan siang anak balita, membawa makanan sendiri. 4) Anak balita memakai seragam pada hari: a) Senin dan Kamis: Atasan putih, bawahan kotak-kotak b) Selasa dan Jumat: Kaos Merby c) Rabu: Bebas

cx

300. media belajar: drawing board. Gedung Sekolah 1) Lobby 2) Ruang Administrasi : 1 ruang : 1 ruang cxi . foto copy kartu keluarga. 3) Orang tua membayar biaya-biaya penitipan anak dengan perincian sebagai berikut: a) Biaya administrasi per bulan : Rp.15 WIB karena jam kerja pendidik dan pengasuh sampai dengan 17. foto copy akte kelahiran anak. Tata Tertib untuk Orang Tua Anak Balita 1) Penjemputan anak balita paling lambat pukul 17. dan lain-lain). Taman Balita Klub Merby memberikan fasilitas-fasilitas kepada anak balita yang dititipkan dan orang tua anak balita tersebut. 135. 200.000 d) Biaya pangkal (uang gedung): Rp. crayon.000 e) Biaya perlengkapan : Rp. 100. 2) Orang tua memenuhi persyaratan Taman Balita Klub Merby antara lain: menulis identitas diri anak.000 (untuk 3 kali pertemuan dalam satu minggu) c) Biaya pendaftaran : Rp. 150.000 (untuk 5 kali pertemuan dalam satu minggu) Rp.000 b) Biaya SPP per bulan : Rp. kaos Merby. dan foto copy KTP kedua orang tua. gunting. lem.00 WIB.000 (mendapatkan seragam. 500. tas. buku.b. antara lain: a.

magic fun. peraga buah-buahan. Mainan 1) Mainan Dalam Anyaman busa. Xmas. alat peraga masak-memasak. kubus huruf. kubus angka. alat peraga kapal geometri bongkar pasang. Kantil) 5) Ruang Makan (Ruang Kemuning) 6) Ruang Perpustakaan (Ruang Aster) 7) Ruang Kesehatan (Ruang Tulip) 8) Ruang Kamar mandi/ Toilet 9) Ruang Gudang 10) Ruang Dapur b. alat peraga pohon. tea set meidi ts. pola tani berdiri. binatang peraga. Xmas box. papan pasak. puzzle alat transportasi. tea set meidi ks. alat musik berdiri. pola keluarga berdiri. Kana. 2) Mainan Education Alat peraga bangun geometri.3) Ruang Kelas (Ruang Matahari dan Teratai) 4) Ruang Tidur : 2 ruang : 5 ruang (Ruang Soka. my big play. boneka tangan. alat peraga bangun geometri bongkar pasang. boneka salju. rumah ibadah. puzzle angka. alat peraga balok lingkar. : 1 ruang : 1 ruang : 1 ruang : 4 ruang : 1 ruang : 1 ruang cxii . boneka PON XVI. Vanda. Bakung. alat peraga (putar). peraga mobil bongkar pasang.

rekreasi bersama. tooter. ayunan single (swing single). permainan sepak bola (foot ball).3) Mainan Luar Ayunan pasangan (see saw). papan titian. kolam berpasir.1: Struktur Organisasi Taman Balita Klub Merby 5. nyaman. bersertifikat. bersih. Perpustakaan Buku cerita legenda. buku cerita perilaku. mangkuk putar (merry go round). c. arena bermain yang luas. Ketenagaan Taman Balita Klub Merby cxiii . Fasilitas Umum Terletak di pusat kota. buku cerita bahasa Inggris. d. Struktur Organisasi Taman Balita Klub Merby Adapun struktur organisasi Taman Balita Klub Merby yaitu seperti gambar di bawah ini: Koordinator Taman Balita Klub Merby Koordinator Pelaksana Taman Balita Klub Merby Pendidik Pengasuh Gambar 4. playground small. buku pengetahuan. pelatih profesional. 4. golf. di bawah pengawasan Dokter dan Psikolog. ruangan ber-AC. buku cerita agama. dan tenang.

3. 4.Berikut ini adalah ketenagaan dalam Taman Balita Klub Merby. Pendidik.2: Ketenagaan Taman Balita Klub Merby 6. A. S. 5. NAMA Dra. 1. Sri Rahayu Koordinator Pelaksana Taman Balita Klub Merby Pendidik Pendidik Pengasuh Pengasuh Swasta SMU Semarang ALAMAT 2. 3. A. Md Yulianti Astriningrum. Pd Santy Sulistyowati Is Rahayu MB. 2. TERAKHIR 1. 6. 5. Eridani Sukmawati.3: Identitas Informan 7. 6. Hasil Wawancara dengan Informan cxiv . Pd Santy Sulistyowati Is Rahayu JABATAN Koordinator Taman Balita Klub Merby Koordinator Pelaksana Taman Balita Klub Merby Pendidik Pendidik Pengasuh Pengasuh MASUK KERJA 2002 2004 2003 2004 2002 2005 Tabel 4. yaitu: NO. Pengasuh. Md Yulianti Astriningrum. 4. dan Orang tua anak balita. Frasnsiska Dyah Winarni Sri Rahayu Eridani Sukmawati. sebagai berikut: NO. Indah Novianti (Orang tua anak balita) Lili Umiati (Orang tua anak balita) D3 S1 SMU SMU Akademi Semarang Semarang Semarang Semarang Semarang Swasta SMEA Semarang Tabel 4. S. 7. NAMA PEKERJAAN PEND. Identitas Informan Identitas informan yang terdiri dari Koordinator Pelaksana.

Tujuan institusional ini dirumuskan oleh semua pihak yang terkait di Taman Balita Klub Merby. 4) Memantau dan mengoptimalkan kecerdasan anak.Hasil penelitian mengenai “Pola Pembelajaran Taman Penitipan Anak di Taman Balita Klub Merby (Studi Kasus Taman Balita Klub Merby Jl. Namanya adalah Eridani Sukmawati. Tujuan Menurut pendapat Miss Dani mengenai tujuan institusional (tujuan lembaga pendidikan) dalam hal ini tujuan Taman Balita Klub Merby yaitu membantu para ibu dalam: 1) Membiasakan sopan santun dan budi pekerti. Pandanaran II/ 2D Semarang)” dapat dipahami melalui wawancara dari 7 orang informan yang dapat dijelaskan sebagai berikut: Informan 1 Beliau adalah salah seorang pendidik di Taman Balita Klub Merby yaitu pendidik Happy Class (3-4 tahun). 5) Memahami potensi anak. Alamat Miss Dani adalah Tanggul Mas Tengah VI/ 88 Semarang. a. Md. 6) Menemani belajar sambil bermain. 2) Memantau tumbuh kembang dan kesehatan balita. cxv . A. 7) Membimbing balita agar mandiri. 3) Memotivasi anak belajar bicara. Anak-anak balitanya biasa memanggilnya Miss Dani.

tujuan instruksionalnya adalah anak balita dapat cxvi . 3) Anak mampu menggunakan bahasa untuk pemahaman bahasa pasif dan dapat berkomunikasi secara efektif yang bermanfaat untuk berfikir dan belajar. dan gerakan kasar. 5) Anak mampu mengenal lingkungan alam. berbagai bunyi. Serta mampu mengembangkan konsep diri. bertepuk tangan. birama. Misalnya tema sekolah. memberi alasan. kritis. kontrol diri. nada. mengenal dan percaya akan ciptaan Tuhan dan mencintai sesama.Menurut pendapatnya mengenai tujuan kurikuler (tujuan bidang studi/ mata pelajaran) adalah: 1) Anak mampu melakukan ibadah. 6) Anak memiliki kepekaan terhadap irama. Tujuan kurikuler ini dirumuskan oleh para pendidik di Taman Balita Klub Merby. serta menerima rangsangan sensorik (pancaindera). Menurut pendapatnya mengenai tujuan instruksional (tujuan proses belajar mengajar) adalah disesuaikan dengan tema. sikap positif terhadap belajar. gerakan halus. dan menghargai keragaman sosial dan budaya. peranan masyarakat. lingkungan social. serta menghargai hasil karya yang kretif. 2) Anak mampu mengelola keterampilan tubuh termasuk gerakangerakan yang mengontrol gerakan tubuh. 4) Anak mampu berpikir logis. memecahkan masalah dan menemukan hubungan sebab akibat. dan rasa memiliki.

c. Menurut pendapatnya mengenai proses belajar mengajar di Taman Balita Klub Merby yaitu menggunakan bahasa Indonesia dan cxvii . Kegiatan Belajar Mengajar Menurut Miss Dani mengenai kegiatan belajar mengajar yaitu kegiatan belajar mengajar dimulai pukul 09. dan dapat dikuasai oleh anak. b. Bahan Pembelajaran Menurut pendapat Miss Dani mengenai bahan pembelajaran yang digunakan yaitu dalam menentukan bahan pembelajaran hendaknya memenuhi kriteria: aman. menarik. Tujuan instruksional ini dirumuskan oleh para pendidik di Taman Balita Klub Merby.00 WIB selama 5 hari dalam satu minggu. Menurut pendapatnya mengenai dasar penentuan waktu pelaksanaannya adalah menyesuaikan dengan kondisi anak balita yang orang tuanya bekerja.mengenal/ menyebutkan manfaat lingkungan sekolah dan alat-alat sekolah. sesuai dengan tema. Menurut pendapatnya mengenai cara menentukan bahan pembelajaran di Taman Balita Klub Merby yaitu disesuaikan dengan Menu Pembelajaran dari Pendidikan Anak Usia Dini dan disesuaikan pula dengan tingkat kemampuan anak. Selain itu juga menyesuaikan kebiasaan anak Waktu pelaksanaan kegiatan belajar mengajar ditentukan oleh semua pihak yang terkait di Taman Balita Klub Merby.00-11.

dan Jumat adalah Day of Sports. Sesuai dengan jadwal Taman Balita Klub Merby. Metode bercerita digunakan sebagai metode pembelajaran karena mendengarkan cerita atau dongeng merupakan kegiatan yang cukup mengasyikan bagi anak-anak.bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar. Senin adalah Day of Knowledge. Metode berdialog/ bercakap digunakan untuk melatih anak-anak berkomunikasi juga melihat berapa besar respon anak tentang tema pembelajaran pada hari itu. d. cxviii . Metode bermain peran akan memberikan kesempatan seluasluasnya kepada anak untuk bermain peran dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam dongeng/ cerita guna mengembangkan imajinasinya. bercerita. berdialog/ bercakap. Metode bernyanyi digunakan sebagai metode pembelajaran karena dengan menyenyi akan membawa anak pada suasana emosional. bernyanyi. baik sedih atau gembira. Metode Menurut Miss Dani mengenai metode pembelajaran yang digunakan di Happy Class adalah metode bermain. Selasa adalah Day of Skill. Rabu adalah Day of Health. Kamis adalah Day of Arts. dan bermain peran. Metode bermain dapat dilakukan di dalam ruangan dan di luar ruangan.

papan pasak. dan lain-lain). media cetak dan elekrtonik. Selain itu pendidik juga memberitahu kepada orang tua anak balita tentang kegiatan-kegiatan yang dilakukan pada hari itu. dan nara sumber (bila ada). perpustakaan. Alat/ Media Belajar Menurut Miss Dani mengenai alat/ media belajar yang digunakan di Happy Class adalah jenis alat permainan dari lingkungan (seperti air. Secara harian dilakukan dengan cara pendidik menyampaikan perkembangan anak hari itu kepada orang tua anak balita. f.e. Selain itu pendidik menuliskan pesan di dalam buku tersebut untuk orang tua anak balita. Evaluasi Menurut Miss Dani mengenai evaluasi pembelajaran adalah evaluasi ini dilakukan secara harian dan setiap akhir bulan. Sedangkan evaluasi yang dilakukan setiap akhir bulan dilakukan dengan cara pendidik memberikan buku evaluasi kepada orang tua anak balita. Kemudian orang tua anak balita memberikan respon yaitu menuliskan catatan-catatan untuk pihak cxix . Sumber Belajar Menurut Miss Dani mengenai sumber belajar yang digunakan di Taman Balita Klub Merby adalah sumber belajar alamiah. Hal-hal yang dievaluasi meliputi pengetahuan. kubus. balok. g. pasir) dan jenis APE (seperti puzzle. keterampilan. gelang susun. dan perilaku anak balita. alat peraga.

Informan 2 Beliau adalah salah seorang pendidik di Taman Balita Klub Merby yaitu pendidik Little Class (2-3 tahun). Tujuan evaluasi ini adalah sebagai sarana untuk mendukung proses perkembangan anak. 3) Memotivasi anak belajar bicara. a. 7) Membimbing balita agar mandiri. S. Grace W. Susanto. M. 5) Memahami potensi anak. 2) Memantau tumbuh kembang dan kesehatan balita. Pd. Anak-anak balitanya biasa memanggilnya Miss Astri. 4) Memantau dan mengoptimalkan kecerdasan anak. Tujuan institusional ini dirumuskan oleh pimpinan Taman Balita Klub Merby yaitu drg.Taman Balita Klub Merby sehingga terjadi komunikasi antara pihak Taman Balita Klub Merby dengan orang tua anak balita. cxx . Namanya adalah Yulianti Astriningrum. Tujuan Menurut pendapat Miss Astri mengenai tujuan institusional (tujuan lembaga pendidikan) dalam hal ini tujuan Taman Balita Klub Merby yaitu membantu para ibu dalam: 1) Membiasakan sopan santun dan budi pekerti. Alamat Miss Astri adalah Jl. 6) Menemani belajar sambil bermain. Mugas Barat VII/ 20 Semarang. M.

kritis. Serta mampu mengembangkan konsep diri. dan rasa memiliki. tujuan instruksionalnya adalah anak balita dapat cxxi . Tujuan kurikuler ini dirumuskan oleh para pendidik dan koordinator pelaksana Taman Balita Klub Merby. dan gerakan kasar. sikap positif terhadap belajar.Menurut pendapatnya mengenai tujuan kurikuler (tujuan bidang studi/ mata pelajaran adalah: 1) Anak mampu melakukan ibadah. Misalnya tema sekolah. 2) Anak mampu mengelola keterampilan tubuh termasuk gerakangerakan yang mengontrol gerakan tubuh. peranan masyarakat. memberi alasan. nada. bertepuk tangan. berbagai bunyi. serta menghargai hasil karya yang kretif. gerakan halus. mengenal dan percaya akan ciptaan Tuhan dan mencintai sesama. memecahkan masalah dan menemukan hubungan sebab akibat. birama. lingkungan social. 3) Anak mampu menggunakan bahasa untuk pemahaman bahasa pasif dan dapat berkomunikasi secara efektif yang bermanfaat untuk berfikir dan belajar. Menurut pendapatnya mengenai tujuan instruksional (tujuan proses belajar mengajar) adalah disesuaikan dengan tema. serta menerima rangsangan sensorik (pancaindera). 6) Anak memiliki kepekaan terhadap irama. 5) Anak mampu mengenal lingkungan alam. kontrol diri. dan menghargai keragaman sosial dan budaya. 4) Anak mampu berpikir logis.

c.00 WIB. Menurut pendapatnya mengenai cara menentukan bahan pembelajaran di Taman Balita Klub Merby yaitu disesuaikan dengan tema dan kemampuan anak. b. Bahan Pembelajaran Menurut pendapat Miss Astri mengenai bahan pembelajaran yang digunakan yaitu dalam menentukan bahan pembelajaran sebaiknya memenuhi kriteria: sesuai dengan tema. Menurut pendapatnya mengenai dasar penentuan waktu pelaksanaannya adalah 5 kali pertemuan dalam satu minggu. Kegiatan Belajar Mengajar Menurut Miss Astri mengenai kegiatan belajar mengajar yaitu setiap hari Senin-Kamis pukul 09.00-10. pendidik. Waktu pelaksanaan kegiatan belajar mengajar ditentukan oleh semua pihak yang terkait di Taman Balita Klub Merby seperti koordinator pelaksana.mengenal/ menyebutkan manfaat lingkungan sekolah dan alat-alat sekolah. dan orang tua anak balita. Tujuan instruksional ini dirumuskan oleh para pendidik dan Koordinator Pelaksana Taman Balita Klub Merby.00-11. cxxii . Sedangkan Jumat pukul 08. Tujuannya agar dapat mengamati perkembangan anak. warna menarik. dan aman.00 WIB.

Jenis bermainnya ada bermain bebas. bercerita. Metode Menurut Miss Astri mengenai metode pembelajaran yang digunakan di Little Class adalah metode bermain. pendidik memberi pertanyaan kepada anak. atau alat peraga lain yang masih ada hubungannya dengan bahan yang sedang diceritakan. bernyanyi. atau sebaliknya menjawab pertanyaan/ komentar anak. bercerita. dan bernyanyi. Alat/ Media Belajar Menurut Miss Astri mengenai alat/ media belajar yang digunakan di Little Class adalah jenis alat permainan dari lingkungan cxxiii . Pada akhir cerita. gambar-gambar. dan berdialog/ bercakap. Metode bermain dapat dilakukan di dalam ruangan dan di luar ruangan. e. dengan bimbingan. Metode berdialog/ bercakap dapat dilakukan bersamaan dengan metode bermain.d. Metode bercerita digunakan sebagai metode pembelajaran karena dapat mempengaruhi jalan pikiran dan daya imajinasi anak. Metode bernyanyi digunakan sebagai metode pembelajaran karena cocok untuk tujuan mengembangkan penghayatan anak terhadap suatu peristiwa. dan dengan pengarahan. Untuk melengkapi metode ini maka digunakan alat peraga berupa boneka-boneka. Metode ini bermanfaat untuk menambah kosakata yang dimiliki anak agar dapat berkomunikasi dengan baik.

cxxiv . Dilihat dari hasil pekerjaan anak balita terhadap tugas-tugas yang diberikan yaitu hasil tidak diutamakan. Dari hasil evaluasi ini dapat dilihat kemampuan anak balita sebelum dan sesudah mengikuti pembelajaran yaitu terdapat perubahan terutama pada perilaku. yang diutamakan adalah proses pembelajarannya. lebih mandiri. dan alat peraga yang disesuaikan dengan tema. audio visual. dan lain-lain). sosialisasi. pendidik. Sumber Belajar Menurut Miss Astri mengenai sumber belajar yang digunakan di Taman Balita Klub Merby adalah buku. kubus. f. balok.alam. Dilihat dari perkembangan anak balita yaitu anak balita menjadi lebih percaya diri. dan jenis APE (seperti puzzle. g. dan perbendaharaan kata semakin bertambah. Evaluasi Menurut Miss Astri mengenai evaluasi pembelajaran adalah evaluasi ini dilakukan dengan melibatkan koordinator pelaksana. pengasuh dan orang tua anak balita. Tujuan evaluasi ini adalah memantau perkembangan anak balita. dan kemandirian (ke arah yang lebih baik). alat permainan modern. lingkungan sekitar. Dilihat dari pertumbuhan anak balita yaitu motorik kasar dan motorik halus anak balita menjadi lebih baik. bola. perpustakaan.

Alamat Ibu Yayuk adalah Jl. a. Sedangkan untuk yang half day. Syuhada Raya. Namanya adalah Sri Rahayu. Menurut pendapatnya.Informan 3 Beliau adalah seorang koordinator pelaksana di Taman Balita Klub Merby. sopan santun. Anak balita dengan sistem pengasuhan ini biasanya mereka dijemput oleh orang tuanya pada siang hari setelah pembelajaran selesai yaitu pukul 11. dan lain-lain). anak balita yang dititipkan hanya mendapatkan pelayanan pembelajaran saja.00 WIB. serta penggunaan fasilitas-fasilitas yang ada di Taman Balita Klub Merby. anak balita yang dititipkan selain mendapatkan pelayanan pembelajaran juga mendapatkan pelayanan asuhan. Untuk yang full day. Pelayanan yang diberikan kepada anak balita antara lain pendidikan (tentang budi pekerti. kemandirian. asuhan.00 WIB. Anak-anak balitanya biasa memanggilnya Ibu Yayuk. Anak balita dengan sistem pengasuhan ini biasanya mereka dijemput oleh orang tuanya pada sore hari yaitu pukul 17. Semarang. Sistem Pengasuhan di Taman Balita Klub Merby Menurut Ibu Yayuk mengenai sistem pengasuhan yaitu sistem pengasuhan di Taman Balita Klub Merby ada dua jenis yaitu secara full day dan half day. perawatan. pelayanan yang diberikan oleh Taman Balita Klub Merby tidak hanya untuk anak balita tetapi juga untuk orang tua anak balita. cxxv . pemeriksaan kesehatan tubuh dan gigi.

Saat ini anak balita yang mendapatkan system pengasuhan secara full day ada 10 anak balita. Para orang tua anak balita belum seluruhnya mentaati tata tertib Taman Balita Klub Merby. sopan santun. pengasuhan yang telah diterapkan di Taman Balita Klub Merby (seperti kedisiplinan. kemandirian. pegawai negeri. Biasanya cxxvi . Menurut pendapatnya. daya tampung di Taman Balita Klub Merby untuk sistem pengasuhan secara full day ada 16 anak balita. Hal tersebut dilakukan dengan tujuan agar ada kesinambungan antara pendidikan dan pengasuhan di Taman Balita Klub Merby dengan di rumah. Orang tua anak balita dapat berkonsultasi tentang pertumbuhan dan perkembangan anak balita. Kemudian pihak Taman Balita Klub Merby akan membantu memberikan solusi kepada orang tua anak balita. pegawai bank. pendidik. dan lain-lain) sebaiknya diterapkan pula di rumah. Selain itu orang tua anak balita dapat bertukar pikiran kepada koordinator pelaksana. Menurut pendapatnya.Sedangkan pelayanan yang diberikan kepada orang tua anak balita yaitu konsultasi kepada dokter dan psikolog yang ada di Taman Balita Klub Merby. wiraswasta. Menurut pendapatnya. Meraka ada yang bekerja sebagai dokter. dan pengasuh jika anak balita mereka sedang mengalami permasalahan. para orang tua anak balita berasal dari kota Semarang. dan pegawai swasta pada perusahaanperusahaan besar di Semarang.

Tidak jarang para pengasuh menunggu jemputan anak balita dating sampai pukul 17. b. Alamat Ibu Wati adalah Bongsari Rt 04/ I. Sistem Pengasuhan di Taman Balita Klub Merby Menurut pendapat Ibu Wati mengenai sistem pengasuhan yaitu asuhan dan perawatan dilakukan setelah proses pembelajaran selesai.yang sering terjadi adalah tentang penjemputan anak balita lewat dari yang telah ditantukan.30 WIB. Adapun kegiatan-kegiatan anak balita setelah proses pembelajaran. Sistem Evaluasi Menurut pendapatnya mengenai evaluasi pengasuhan yaitu evaluasi dilakukan setiap hari. Sehingga para pengasuh memberikan toleransi waktu sampai pukul 17. Anak-anak balitanya biasa memanggilnya Ibu Wati. Semarang.15 WIB. sedangkan perjalanan dari kantor ke Taman Balita Klub Merby antara 15-30 menit. Namanya adalah Santy Sulisyowati. Informan 4 Beliau adalah seorang pengasuh di Taman Balita Klub Merby.00 WIB. koordinator pelaksana dan pengasuh menyampaikan informasi kepada orang tua anak balita tentang perkembangan anak balita dan kegiatan-kegiatan yang dilakukan anak balita pada hari itu. maka koordinator pelaksana dan pengasuh tetap menyampaikan informasi tersebut. a. antara lain: cxxvii . Jika orang tua anak balita tidak aktif menanyakan terlebih dahulu. Sebagian besar dari mereka pulang dari kantor pukul 17.

mangkuk putar.30 WIB Setelah makan siang selesai.30 WIB Setelah anak balita balita mandi. Sebagian besar anak balita senang jika makan sambil bermain-main di halaman belakang karena di sana terdapat beberapa alat permainan seperti jungkat-jungkit. 3) Istirahat (tidur siang) pada pukul 13.00-13. Tetapi bagi anak balita yang belum dapat makan sendiri maka akan disuapi oleh pengasuh. ayunan. mereka ganti pakaian kemudian tidur siang.1) Makan siang pada pukul 11. dan lainlain. pengasuh bangun untuk melakukan pekerjaan lainnya.30-16. perosotan.00 WIB Pengasuh memberikan makanan dan minuman kepada anak balita.30 WIB cxxviii . 4) Mandi sore pada pukul 15. Mereka diajarkan oleh pengasuh untuk makan sendiri. Karena setelah makan siang kondisi anak balita (terutama pakaiannya) kotor. Makan siang dilakukan di ruang makan yaitu Ruang Kemuning. Anak balita diajarkan pula untuk makan sambil duduk. Jadi anak balita perlu dimandikan sehingga mereka tidur dalam keadaan bersih.30-15. pengasuh memandikan anak balita secara bergantian.30-13. Para pengasuh pun ikut menemani sampai anak balita tidur. 2) Mandi siang pada pukul 13. Setelah anak balita tertidur.

15 WIB. Ada beberapa anak balita yang minum susu dengan menggunakan botol dan ada pula yang disuapi oleh pengasuh. kesetiakawanan. c. Setelah itu anak balita dimandikan oleh pengasuh secara bergantian. Sedangkan penimbangan berat badan. Mereka menunggu orang tuanya sambil bermain di halaman belakang. Kendala-kendala Menurut pendapatnya mengenai kendala-kendala yang dihadapi dalam proses pengasuhan adalah kadang-kadang anak balita muncul rasa cxxix .30-17. pengasuh juga memberikan bimbingan. asuhan dan menanamkan rasa kasih sayang. menunggu orang tuanya menjemput. 5) Penjemputan balita pada pukul 16. gigi. Jenis Pengasuhan Menurut pendapatnya mengenai jenis pengasuhan yang diberikan oleh pengasuh kepada anak balita adalah selain diberikan pendidikan untuk bekal mereka masuk Taman Kanak-kanak (TK). Tetapi pengasuh memberikan toleransi waktu sampai pukul 17. kebersamaan. Batas penjemputan adalah pukul 17. b.00 WIB. dan telinga setiap seminggu sekali. kepedulian terhadap lingkungan dan sesama. Ada pula pelayanan pemeriksaan kesehatan seperti pemeriksaan kuku.00 WIB Anak balita yang sudah bersih dan rapi. mereka bangun kemudian minum susu. konsultasi kesehatan umum dan gigi antara orang tua anak balita dan dokter dilaksanakan setiap bulan sekali.Setelah anak balita tidur.

manja. Mataram 653 Semarang atau di Merby Centre. Informan 5 Beliau adalah seorang pengasuh di Taman Balita Klub Merby. a. Jenis Pengasuhan Menurut pendapatnya mengenai jenis pengasuhan yang diberikan oleh pengasuh kepada anak balita adalah pengasuh mengajarkan anak balita cxxx . mereka juga mendapatkan asuhan dan perawatan setelah proses pembelajaran selesai.egois. dan sifat-sifat kekanakkanakan lainnya yang membuat pengasuh harus memberikan perhatian lebih kepada anak balita tersebut tetapi tidak membuat iri hati kepada anak balita lainnya. b. Namanya adalah Is Rahayu. Biasanya mereka dijemput orang tuanya setelah proses pembelajaran selesai (siang hari). Biasanya mereka dijemput orang tuanya pada sore hari. sensitif. 2) Sistem Pengasuhan Full Day Anak balita selain mengikuti proses pembelajaran. Sistem Pengasuhan di Taman Balita Klub Merby Menurut pendapat Ibu Is mengenai sistem pengasuhan yaitu sistem pengsuhan di Taman Balita Klub Merby ada dua macam yaitu: 1) Sistem Pengasuhan Half Day Anak balita hanya mengikuti proses pembelajaran. kurang percaya diri. Alamat Ibu Is adalah Jl. Anak-anak balitanya biasa memanggilnya Ibu Is.

Sebagian besar anak balita senang jika makan sambil bermain-main di halaman belakang karena di sana terdapat beberapa alat permainan seperti jungkat-jungkit.30-15. Anak balita diajarkan pula untuk makan sambil duduk.30-13. ayunan. Makan siang dilakukan di ruang makan yaitu Ruang Kemuning. mangkuk putar. perosotan. bergaul dengan teman agar memiliki rasa kasih sayang terhadap sesama.30 WIB Setelah makan siang selesai. pengasuh memandikan anak balita secara bergantian.00-13. 3) Istirahat (tidur siang) pada pukul 13.30 WIB cxxxi . antara lain: 1) Makan siang pada pukul 11. dan lainlain.00 WIB Pengasuh memberikan makanan dan minuman kepada anak balita. Mereka diajarkan oleh pengasuh untuk makan sendiri. Karena setelah makan siang kondisi anak balita (terutama pakaiannya) kotor. Jadi anak balita perlu dimandikan sehingga mereka tidur dalam keadaan bersih. Menurut pendapatnya mengenai kegiatan-kegiatan anak balita selama dalam proses pengasuhan setelah proses pembelajaran selesai.untuk mandiri. Tetapi bagi anak balita yang belum dapat makan sendiri maka akan disuapi oleh pengasuh. Anak balita mendapatkan pelayanan tersebut selama mereka masih dititipkan di Taman Balita Klub Merby. 2) Mandi siang pada pukul 13.

30 WIB Setelah anak balita tidur. c. 4) Mandi sore pada pukul 15. Karena kain sprei berwarna putih maka harus langsung dicuci apabila terkena kotoran anak balita. pengasuh bangun untuk melakukan pekerjaan lainnya. 5) Penjemputan balita pada pukul 16. mereka bangun kemudian minum susu.00 WIB. Kendala-kendala Menurut pendapatnya mengenai kendala-kendala yang dihadapi dalam proses pengasuhan adalah bila anak balita sedang sakit maka mereka harus mendapatkan perawatan. Batas penjemputan adalah pukul 17. maka kotoran mereka akan meninggalkan noda pada kain sprei (bed cover).15 WIB. Tetapi pengasuh memberikan toleransi waktu sampai pukul 17.Setelah anak balita balita mandi. Para pengasuh pun ikut menemani sampai anak balita tidur. asuhan. Ada beberapa anak balita yang minum susu dengan menggunakan botol dan ada pula yang disuapi oleh pengasuh. menunggu orang tuanya menjemput. Selain itu bila anak balita buang air besar/ buang air kecil ketika sedang tidur. Setelah anak balita tertidur.00 WIB Anak balita yang sudah bersih dan rapi. dan perhatian yang lebih. mereka ganti pakaian kemudian tidur siang. cxxxii . Setelah itu anak balita dimandikan oleh pengasuh secara bergantian.30-16.30-17. Mereka menunggu orang tuanya sambil bermain di halaman belakang.

Informan 6 Beliau adalah orang tua dari Viera (3 tahun). Namanya adalah MB. Indah Novianti. Ibu Indah bekerja sebagai pegawai swasta di salah satu perusahaan besar di Semarang. Alamat Ibu Indah adalah Jl. Sambiroto Baru No. 54 Kedungmundu Semarang. a. Alasan Orang Tua Menitipkan Anak Balitanya di Taman Balita Klub Merby Menurut pendapatnya mengenai alasan Ibu Indah menitipkan Viera di Taman Balita Klub Merby adalah karena beliau bekerja dari pagi sampai sore. Beliau juga tidak tega bila meninggalkan Viera dengan pembantu saja di rumah selama beliau bekerja. Selain itu lokasi Taman Balita Klub Merby dekat dengan kantor beliau. Adapun tujuan beliau menitipkan Viera di Taman Balita Klub Merby yaitu agar Viera mendapatkan pendidikan sebagai persiapan masuk TK. Beliau merasakan manfaat selama Viera dititipkan di Taman Balita Klub Merby yaitu Viera dapat lebih mandiri dibandingkan teman-teman lainnya (di rumah). Viera sekarang juga lebih kreatif.

b. Persyaratan Menitipkan Anak Balita di Taman Balita Klub Merby Menurut pendapatnya mengenai persyaratan yang harus dipenuhi untuk menitipkan Viera di Taman Balita Klub Merby yaitu:

cxxxiii

1) Orang tua memenuhi persyaratan Taman Balita Klub Merby antara lain: menulis identitas diri anak, foto copy akte kelahiran anak, foto copy kartu keluarga, dan foto copy KTP kedua orang tua. 2) Orang tua membayar biaya-biaya penitipan anak dengan perincian sebagai berikut: a) Biaya administrasi per bulan : Rp. 300.000 b) Biaya SPP per bulan : Rp. 200.000

(untuk 5 kali pertemuan dalam satu minggu) Rp. 150.000 (untuk 3 kali pertemuan dalam satu minggu) Pembayaran SPP dilakukan setiap bulan antara tanggal 1-10. c) Biaya pendaftaran : Rp. 100.000

d) Biaya pangkal (uang gedung): Rp. 500.000 e) Biaya perlengkapan : Rp. 135.000

(mendapatkan seragam, kaos Merby, tas, media belajar: drawing board, buku, crayon, gunting, lem, dan lain-lain). Viera dititipkan di Taman Balita Klub Merby sejak usianya 2 tahun. Sebelum dititipkan di Taman Balita Klub Merby, Viera sudah pernah dititipkan di tempat penitipan anak lain pada usia 3 bulan. Jadi Viera sudah terbiasa dengan suasana penitipan anak. Tetapi Viera perlu beradaptasi lagi ketika Viera dipindahkan ke Taman Balita Klub Merby. Kondisi Viera setelah dititipkan di Taman Balita Klub Merby menjadi lebih mandiri, kreatif, mudah bersosialisasi dan beradaptasi dengan

cxxxiv

lingkungan. Dengan demikian perkembangan Viera saat ini menjadi lebih baik karena Taman Balita Klub Merby dilengkapi dengan sarana dan prasarana yang memadai. Jika Viera sedang mengalami permasalahan maka pihak Taman Balita Klub Merby ikut membantu mencari solusi untuk permasalahan yang dialami tersebut. Misalnya waktu awal Viera dititipkan di Taman Balita Klub Merby, dia cenderung egois dan sulit bergaul dengan teman-temannya. Tetapi saat ini dia sudah enjoy di Taman Balita Klub Merby karena pihak Taman Balita Klub Merby melakukan pendekatanpendekatan kepada Viera. c. Pelayanan-pelayanan yang Diberikan oleh Taman Balita Klub Merby Menurut pendapatnya mengenai pelayanan-pelayanan yang diberikan oleh Taman Balita Klub Merby yaitu Viera mendapatkan pelayanan pendidikan, perawatan, asuhan, pemeriksaan kesehatan, dan lain-lain. Selain itu beliau juga mendapatkan kesempatan untuk berkonsultasi kepada dokter dan psikolog tentang pertumbuhan dan perkembangan Viera. Menurut pendapatnya mengenai hasil evaluasi yaitu hal-hal yang dievaluasi meliputi keterampilan, kemandirian, dan sosialisasi. Hal-hal tersebut dilaporkan kepada beliau oleh pihak Taman Balita Klub Merby setiap hari dan setiap bulan dengan cara langsung dan menggunakan media perantara yaitu buku evaluasi bulanan anak balita.

cxxxv

Beliau merasakan manfaat selama Ade dititipkan di Taman Balita Klub Merby yaitu Ade cxxxvi . Semarang. Alasan Orang Tua Menitipkan Anak Balitanya di Taman Balita Klub Merby Menurut pendapatnya mengenai alasan Ibu Lili menitipkan Ade di Taman Balita Klub Merby adalah karena beliau bekerja dari pagi sampai sore. Adapun tujuan beliau menitipkan Ade di Taman Balita Klub Merby yaitu agar Ade lebih mandiri dan dapat bersosialisasi dengan baik.d. Ibu Lili bekerja sebagai pegawai swasta di salah satu perusahaan besar di Semarang. Beliau juga tidak tega bila meninggalkan Ade dengan pembantu saja di rumah selama beliau bekerja. Alamat Ibu Lili adalah Beringin Putih D2/ 14 Ngalian. Beliau menyarankan kepada Taman Balita Klub Merby untuk lebih meningkatkan pelayanan yang diberikan baik kepada anak balita maupun orang tuanya agar para orang tua anak balita lebih yakin untuk menitipkan anaknya selama orang tua bekerja. Keberadaan Taman Balita Klub Merby Menurut pendapatnya mengenai keberadaan Taman Balita Klub Merby yaitu sangat bermanfaat sekali terutama untuk beliau yang bekerja di luar rumah. Selain itu lokasi Taman Balita Klub Merby dekat dengan kantor beliau. Informan 7 Beliau adalah orang tua dari Adnan Harimurti K (3 tahun) atau Ade. Namanya adalah Lili Umiati. a.

000 (untuk 3 kali pertemuan dalam satu minggu) Pembayaran SPP dilakukan setiap bulan antara tanggal 1-10.000 b) Biaya SPP per bulan : Rp.000 e) Biaya perlengkapan : Rp.mengalami banyak perubahan seperti cara berbicaranya dan bersosialisasinya menjadi lebih baik. kaos Merby. 135.000 d) Biaya pangkal (uang gedung): Rp. 100.000 (untuk 5 kali pertemuan dalam satu minggu) Rp. dan foto copy KTP kedua orang tua. c) Biaya pendaftaran : Rp. crayon. dan lain-lain).000 (mendapatkan seragam. 200. 500. Persyaratan Menitipkan Anak Balita di Taman Balita Klub Merby Menurut pendapatnya mengenai persyaratan yang harus dipenuhi untuk menitipkan Ade di Taman Balita Klub Merby yaitu: 1) Orang tua memenuhi persyaratan Taman Balita Klub Merby antara lain: menulis identitas diri anak. Ade dititipkan di Taman Balita Klub Merby sejak usianya 17 bulan. 150. media belajar: drawing board. foto copy kartu keluarga. 300. gunting. foto copy akte kelahiran anak. tas. Ade belum cxxxvii . buku. Sebelum dititipkan di Taman Balita Klub Merby. b. lem. 2) Orang tua membayar biaya-biaya penitipan anak dengan perincian sebagai berikut: a) Biaya administrasi per bulan : Rp.

dan sosialisasi. Dengan demikian perkembangan Ade saat ini menjadi lebih baik karena Taman Balita Klub Merby dilengkapi dengan sarana dan prasarana yang memadai. Saat ini Ade mengalami banyak perubahan seperti dapat berjalan dengan baik. cxxxviii . perawatan. Selain itu beliau juga mendapatkan kesempatan untuk berkonsultasi kepada dokter dan psikolog tentang pertumbuhan dan perkembangan Ade. misalnya rewel di rumah maka pihak Taman Balita Klub Merby ikut membantu mencari solusi terhadap permasalahan Ade tersebut melalui sharing dengan pendidik dan pengasuh. c. dan lain-lain.dapat berjalan dengan baik dan sudah dapat berbicara tetapi belum lancer. Menurut pendapatnya mengenai hasil evaluasi yaitu hal-hal yang dievaluasi meliputi keterampilan. Pelayanan-pelayanan yang Diberikan oleh Taman Balita Klub Merby Menurut pendapatnya mengenai pelayanan-pelayanan yang diberikan oleh Taman Balita Klub Merby yaitu Ade mendapatkan pelayanan pendidikan. kemandirian. dan lebih sopan kepada orang lain. Jika Ade sedang mengalami permasalahan. pemeriksaan kesehatan. Hal-hal tersebut dilaporkan kepada beliau oleh pihak Taman Balita Klub Merby setiap hari dan setiap bulan dengan cara langsung dan menggunakan media perantara yaitu buku evaluasi bulanan anak balita. lebih pintar berbicara. asuhan.

c.d. sumber belajar. serta faktor pendukung dan faktor penghambat dari pola pembelajaran taman penitipan anak di Taman Balita Klub Merby. metode. Pembahasan Pada bagian ini akan dibahas hasil penelitian seperti telah dipaparkan dimuka yang meliputi: pola pembelajaran taman penitipan anak di Taman Balita Klub Merby yang meliputi aspek-aspek: tujuan. 1. Memantau dan mengoptimalkan kecerdasan anak. Membiasakan sopan santun dan budi pekerti. Memahami potensi anak. bahan pembelajaran. Beliau menyarankan kepada Taman Balita Klub Merby untuk lebih meningkatkan sarana dan prasarana termasuk fasilitas-fasilitas yang ada. Tujuan Tujuan institusional dalam hal ini tujuan Taman Balita Klub Merby adalah membantu para ibu dalam: a. Memotivasi anak belajar bicara. kegiatan belajar mengajar. b. Keberadaan Taman Balita Klub Merby Menurut pendapatnya mengenai keberadaan Taman Balita Klub Merby yaitu sangat bermanfaat sekali terutama untuk beliau yang bekerja di luar rumah. d. e. Memantau tumbuh kembang dan kesehatan balita. dan evaluasi. alat/ media belajar. cxxxix .

Anak mampu melakukan ibadah. c. antara lain: a. e. Anak mampu menggunakan bahasa untuk pemahaman bahasa pasif dan dapat berkomunikasi secara efektif yang bermanfaat untuk berfikir dan belajar. dan menghargai keragaman sosial dan budaya. dan rasa memiliki. cxl . kontrol diri. mengenal dan percaya akan ciptaan Tuhan dan mencintai sesama. g. Menemani belajar sambil bermain. serta menerima rangsangan sensorik (pancaindera). kritis. Tujuan institusional ini dirumuskan oleh semua pihak yang terkait di Taman Balita Klub Merby. dan gerakan kasar. sikap positif terhadap belajar. Anak mampu mengenal lingkungan alam.f. tujuan adalah suatu cita-cita yang ingin dicapai dari pelaksanaan suatu kegiatan. peranan masyarakat. Membimbing balita agar mandiri. Program Little Class dan Happy Class di Taman Balita Klub Merby memiliki tujuan kurikuler. b. gerakan halus. Anak mampu mengelola keterampilan tubuh termasuk gerakan-gerakan yang mengontrol gerakan tubuh. Anak mampu berpikir logis. memberi alasan. Menurut Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain (2002:48). Tujuan kurikuler adalah penjabaran tujuan ininstitusional yang berisi program-program pendidikan. memecahkan masalah dan menemukan hubungan sebab akibat. lingkungan social. Serta mampu mengembangkan konsep diri. Tujuan institusional adalah tujuan yang diharapkan dicapai oleh lembaga atau jenis tingkatan sekolah. d.

2. nada.f. Tujuan instruksional ini dirumuskan oleh para pendidik di Taman Balita Klub Merby. cxli . dalam menentukan bahan pembelajaran untuk anak balita ada beberapa kriteria yang harus dipenuhi. tujuan instruksionalnya adalah anak balita dapat mengenal/ menyebutkan manfaat lingkungan sekolah dan alat-alat sekolah. sederhana dan konkrit. aman dan tidak membahayakan. Kegiatan Belajar Mengajar Kegiatan belajar mengajar di Taman Balita Klub Merby adalah inti kegiatan dalam pendidikan. serta bermanfaat dan mengandung nilai pendidikan. 3. Segala sesuatu yang diprogramkan akan dilaksanakan dalam proses belajar mengajar. Tujuan kurikuler ini dirumuskan oleh para pendidik di Taman Balita Klub Merby. birama. Tujuan instruksional (tujuan proses belajar mengajar) pada Little Class dan Happy Class adalah disesuaikan dengan tema. berkaitan dengan aktivitas keseharian anak. bertepuk tangan. Rahman (2002:77). Menurut Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain (2002:50). berbagai bunyi. Bahan Pembelajaran Taman Balita Klub Merby memiliki bahan pembelajaran yang ingin disampaikan dalam proses belajar mengajar. serta menghargai hasil karya yang kretif. Misalnya tema sekolah. Anak memiliki kepekaan terhadap irama. bahan pembelajaran adalah substansi yang akan disampaikan dalam proses belajar mengajar. Taman Balita Klub Merby memiliki beberapa kriteria dalam menentukan bahan pembelajaran yaitu: relevan dengan kondisi anak. berwarna dan atraktif. Tujuan instruksional menyangkut tujuan yang hendak kita capai dalam kegiatan pendidikan kita sehari-hari. eksploratif dan mengandung rasa ingin tahu. Menurut Hibana S.

Selasa: Day of Skill Kegiatan belajar mengajar dilakukan dengan bermain edukatif yang menekankan tentang keterampilan.00 WIB: Pelatihan balita mandiri Pelaksanaan pembelajaran hanya ada satu kelas yaitu Smart Class untuk anak balita berusia 4-5 tahun sebagai persiapan anak balita memasuki TK. Happy Class. Little Class. c. untuk anak balita berusia 1-2 tahun. Balita datang dalam keadaan sudah mandi dan makan pagi. 09. untuk anak balita berusia 2-3 tahun. Proses pembelajaran tersebut menggunakan bahasa pengantar yaitu bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. 09. kegiatan belajar mengajar adalah inti kegiatan dalam pendidikan. b. Segala sesuatu yang telah diprogramkan akan dilaksanakan dalam proses belajar mengajar. a.00-11.00-10. Senin: Day of Knowledge Kegiatan belajar mengajar dilakukan dengan bermain edukatif yang menekankan tentang pengetahuan.Menurut Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain (2002:51). b. Kegiatan belajar mengajar dilakukan secara bermain edukatif dengan tema yang berbeda-beda setiap harinya. Tiny Class. Rabu: Day of Health cxlii .30 WIB: Balita datang Para orang tua mengantarkan anak balitanya ke Taman Balita Klub Merby.30-08. c. Kegiatan belajar mengajar Taman Balita Klub Merby dilakukan sesuai dengan jadwal yaitu: 07. untuk anak balita berusia 3-4 tahun.30 WIB: Pelatihan balita mandiri Pelaksanaan pembelajaran dibagi menjadi tiga kelas yaitu: a.

mengikuti atau bersama-sama dengan menggerak-gerakan tubuh mereka atau bertepuk tangan. menyenangkan. dan belajar. bergerak. melibatkan unsur bermain. melibatkan unsur bermain. baik dilakukan sendiri. bergerak. e. Metode bernyanyi dilakukan dengan bernyanyi aktif yaitu anak balita melakukan secara langsung kegiatan bernyanyi. bercakap/ berdialog. 4. bernyanyi. d. Jumat: Day of Sports Kegiatan belajar mengajar dilakukan dengan bermain edukatif yang menekankan tentang olah raga. Metode pembelajaran yang digunakan di Taman Balita Klub Merby antara lain: bermain. bercerita. Kegiatan bermain dilakukan di dalam dan di luar ruangan dengan bimbingan dan arahan. dan bermain peran. tetapi ada pula bermain bebas.Kegiatan belajar mengajar dilakukan dengan bermain edukatif yang menekankan tentang kesehatan. Metode Metode pembelajaran di Taman Balita Klub Merby bersifat menantang. menyenangkan. Kamis: Day of Arts Kegiatan belajar mengajar dilakukan dengan bermain edukatif yang menekankan tentang seni. bernyanyi. dan belajar. Hal tersebut sesuai dengan pendapat Slamet Suyanto (2003:162) yaitu metode pembelajaran untuk anak usia dini hendaknya menantang. dengan menggunakan alat peraga. bernyanyi. dan dengan menggunakan buku cerita (story reading). Metode bercerita dilakukan dengan berbagai bentuk seperti bercerita tanpa alat peraga. cxliii .

alat permainan modern. Metode ini bermanfaat untuk menambah kosakata yang dimiliki anak balita agar dapat berkomunikasi dengan baik. Menurut Slamet Suyanto (2003:161). Sedangkan APE misalnya puzzle. media cetak dan elektronik. bercerita. pasir). kubus. media belajar anak usia dini pada umumnya adalah alat permainan. sumber-sumber bahan dan belajar adalah segala sesuatu yang dapat dipergunakan sebagai tempat di mana bahan pengajaran terdapat atau asal untuk belajar seseorang. 5. lingkungan sekitar. Alat permainan dari lingkungan misalnya dari lingkungan alam (air. dan bernyanyi. dan lain-lain. gelang susun. Alat/ Media Belajar Alat permainan yang digunakan di Taman Balita Klub Merby yaitu alat permainan dari lingkungan dan Alat Permainan Edukatif (APE). Anak akan aktif mengadakan eksplorasi dengan menggunakan alat permainan. Menurut Udin Saripuddin Winataputra dan Rustana Ardiwinata (1991:165) dalam Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain (2002:55). Alat permainan ada dua jenis yaitu dari lingkungan dan Alat Permainan Edukatif (APE). 6. perpustakaan. Metode bermain peran akan memberikan kesempatan seluasluasnya kepada anak balita untuk bermain peran dalam kehidupan seharihari maupun dalam dongeng/ cerita guna mengembangkan imajinasinya. alat peraga. dan nara sumber (bila ada). balok. Sumber Belajar Sumber belajar yang digunakan di Taman Balita Klub Merby yaitu sumber belajar alamiah. papan pasak.Metode bercakap/ berdialog dilakukan bersamaan dengan metode bermain. bola. cxliv . walaupun tidak menutup kemungkinan mereka akan meggunakannya untuk bermain.

apapun kondisinya. Sedangkan evaluasi yang dilakukan setiap akhir bulan dilakukan dengan cara pendidik memberikan buku evaluasi kepada orang tua anak balita. adalah siswanya yang harus dikembangkan secara optimal sesuai dengan kapasitas masingmasing. Evaluasi pembelajaran ini dilakukan secara harian dan setiap akhir bulan. penilaian pada anak usia dini hendaknya lebih didasarkan atas kemajuan belajar atau pengembangan individual.7. Hal-hal yang dievaluasi meliputi pengetahuan. Kemudian orang tua anak balita memberikan respon yaitu menuliskan catatan-catatan untuk pihak Taman Balita Klub Merby sehingga terjadi komunikasi antara pihak Taman Balita Klub Merby dengan orang tua anak balita. Selain itu pendidik juga memberitahu kepada orang tua anak balita tentang kegiatankegiatan yang dilakukan pada hari itu. Pendidik harus mau menganggap bahwa semua anak. Selain itu pendidik menuliskan pesan di dalam buku tersebut untuk orang tua anak balita. Tujuan evaluasi ini adalah untuk memantau perkembangan anak balita. Menurut Slamet Suyanto (2003:224). Secara harian dilakukan dengan cara pendidik menyampaikan perkembangan anak hari itu kepada orang tua anak balita. Karena itu bentuk penilaian di mana anak dibandingkan dengan anak yang lain menjadi kurang bermakna. keterampilan. Evaluasi Evaluasi pembelajaran yang dilakukan di Taman Balita Klub Merby melibatkan koordinator pelaksana. cxlv . pendidik. dan perilaku anak balita. pengasuh dan orang tua anak balita.

Dilihat dari hasil pekerjaan anak balita terhadap tugas-tugas yang diberikan yaitu hasil tidak diutamakan. Standar Pelayanan Minimal Pendidikan Anak Usia Dini pada Taman Penitipan Anak di Taman Balita Klub Merby a. lebih mandiri. cxlvi . orang tua menyiapkan makanan/ minuman anak balita sendiri. gelas. Setiap hari Jumat Taman Balita Klub Merby memberikan makanan/ minuman tambahan kepada anak balita. Kebutuhan Pokok Anak Pelayanan untuk makanan pokok anak di Taman Balita Klub Merby yaitu pemberian makanan/ minuman yang membutuhkan sarana seperti: piring. Dilihat dari pertumbuhan anak balita yaitu motorik kasar dan motorik halus anak balita menjadi lebih baik. sosialisasi. dacin. Selain itu ada pula pelayanan untuk istirahat yaitu tidur yang membutuhkan sarana perlengkapan tidur. yang diutamakan adalah proses pembelajarannya. dan perbendaharaan kata semakin bertambah.Dari hasil evaluasi ini dapat dilihat kemampuan anak balita sebelum dan sesudah mengikuti pembelajaran yaitu terdapat perubahan terutama pada perilaku. Untuk sementara. sendok. KMS. dan kemandirian (ke arah yang lebih baik). 8. Dilihat dari perkembangan anak balita yaitu anak balita menjadi lebih percaya diri. dan register.

Sirup Fe. leaflet. 1. PMT Penyuluhan. dan memelihara kebersihan lingkungan anak balita. Home Economi Sets. Gizi d. Buku Pedoman Kader Posyandu. h. gelas. KMS. memelihara kebersihan diri. cxlvii . PMT Pemulihan. Poster. e. Perlengkapan tidur. Penyuluhan Gizi Seimbang. dacin. Paket PMT. dan f. Komponen Makanan Pokok Standar Pelayanan e. Istirahat Tidur.Menurut Pedoman Penyelenggaraan Pendidikan pada Taman Penitipan Anak (2001:17). dan f. b. g. lembar balik. Buku Pedoman Pembuatan Makanan Lokal. mencegah infeksi. Pemberian makanan/ minuman. Penyuluhan Gizi. Modul Simulasi Posyandu. ASI Eksklusif. Blended Food. 3. Kapsul Yodium. 2. sendok. Pelayanan Perawatan Kesehatan Anak Pelayanan perawatan kesehatan anak Taman Balita Klub Merby dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut: 6) Promotif: Cara merawat bayi di rumah Standar pelayanannya antara lain: menjaga anak balita tetap hangat. 7) Promotif: Deteksi dini pertumbuhan dan perkembangan anak Standar pelayanannya antara lain: mengenali secara dini penyimpangan perkembangan serta mengenali cara stimulasi dan intervensi. Pemberian Paket Pertolongan Gizi. Vitamin A. Sarana Piring. register. standar pelayanan kebutuhan pokok anak sebagai berikut: No. mengenali tanda bahaya pada anak balita.

Komponen Promotif: Cara merawat bayi di rumah Standar Pelayanan g. 9) Preventif Standar pelayanannya antara lain: imunisasi pada anak. Memelihara kebersihan diri. Modul TN BBLR (Pegangan bagi Tenaga Kesehatan). d. ASI Eksklusif. Mencegah infeksi. k. Buku Pedoman Pemantauan Perkembangan Anak di tingkat keluarga. Mengenali tanda bahaya pada bayi. pemeriksaan gigi dan mulut. dan Lembar balik poster dan leaflet Tahapan Perkembangan Anak. Buku pegangan Kader Kesehatan. Sarana Buku KIA (Kesejahteraan Ibu dan Anak). h. cara pemberian makanan pada bayi. Mengenali cara stimulasi dan intervensi.8) Penanggulangan Kecelakaan Standar pelayanannya antara lain: pencegahan serta penanggulangan kecelakaan dan cidera. dan pemeriksaan tubuh. dan Materi penyuluhan tentang pencegahan dan penenganan hipotermi bayi. Memberikan ASI dini dan Eksklusif. Menjaga bayi tetap hangat. 1. Mengenali secara dini penyimpangan perkembangan. l. standar pelayanan perawatan kesehatan anak sebagai berikut: No. j. 10) Kuratif Standar pelayanannya antara lain: Pertolongan Pertama pada Kecelakaan (P3K) dan Pertolongan Pertama pada Penyakit (P3P). Pencegahan serta penanggulangan cxlviii . i. Memelihara kebersihan lingkungan anak. c. Buku Pedoman Penanggulangan Kecelakaan 2. Promotif: Deteksi dini pertumbuhan dan perkembangan anak Penanggulang an Kecelakaan 3. Menurut Pedoman Penyelenggaraan Pendidikan pada Taman Penitipan Anak (2001:18-19).

Pendidikan Anak Usia Dini Pelayanan pendidikan anak usia dini di Taman Balita Klub Merby antara lain: cxlix . Tetes mata 5. Imunisasi TT pada ibu hamil. Obat cacing 6 bulan sekali dengan petunjuk dokter. l. B Komplek. Obat merah. Salep hitam (Iontiol). Menurut Pedoman Penyelenggaraan Pendidikan pada Taman Penitipan Anak (2001:20). d. Gunting. 4. Salep 2-4/ salep 88. dan Cidera pada Usia Balita di rumah tangga. Pemeriksaan gigi dan mulut. j. Jadwal: Lihat tabel 2. dan mata merah. Pemberian obat cacing. Obat batuk putih. Obat-obat P3K. Pemberian vitamin A. Gentian Violet. C c. Providon Iqdine. Oralit. sariawan. h. 3 s. meliputi: panas/ demam.d 6 bulan sekali. Verban. bisul. kadas. Pemeriksaan tubuh. Preventif g. Pendidikan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat Taman Balita Klub Merby memberikan pelayanan Pendidikan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) kepada orang tua anak balita. Pertolongan Pertama pada Kecelakaan meliputi: luka lecet dan luka bakar. 1 minggu s.kecelakaan dan cidera. Kuratif c. Obat-obatan P3P seperti: Obat turun panas. Imunisasi lengkap pada bayi dan anak. 1 minggu sekali secara bergantian. Pertolongan Pertama pada Penyakit (P3P). infeksi kulit (koreng. standar pelayanan Pendidikan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) yaitu: Standar Pelayanan Pendidikan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) Sarana Buku Pedoman/ Modul tentang PHBS d. kudis). k.d 1 bulan sekali.2a. diare. batuk pilek. Kotak Obat. Tensoplast. Kapas. i.

perasaan/ emosi. biji-bijian. displin. alat untuk menganyam. 4) Pengembangan kemampuan dasar: berbahasa. radio. gambar seri. displin. gelas minum. kubus. TV. dan kemampuan bermasyarakat. balok bangunan. daya cipta. alat pertukangan. agama. boneka. alat-alat menggambar. Pembentukan Perilaku: Moral. perasaan/ emosi. binatang mainan. daya pikir. alat meronce. daya cipta. puzzle. sikat gigi. dan jasmani. batu-batuan. alat geometri. tape. Pelayanan ini akan membantu orang tua cl . keterampilan. Layanan Bimbingan Sosial Pelayanan bimbingan sosial di Taman Balita Klub Merby diberikan kepada orang tua. standar pelayanan pendidikan anak usia dini sebagai berikut: Komponen Pendidikan Anak Usia Dini Standar Pelayanan c. dan kemampuan bermasyarakat. Sarana Buku cerita. alat musik. e. plastisin. alat masakan. daya pikir. agama. Pengembangan Kemampuan Dasar: Berbahasa. keterampilan.3) Pembentukan perilaku: moral. alat olah raga. dan jasmani. d. kendaraan mainan. Menurut Pedoman Penyelenggaraan Pendidikan pada Taman Penitipan Anak (2001:20).

i. 8) Peranan orang tua dalam membina pertumbuhan dan perkembangan anak. bahan pembelajaran. 12) Rujukan kelainan pertumbuhan dan perkembangan anak. bercerita. leaflet. Pelayanan yang diberikan dapat berupa penyuluhan tentang: 7) Pertumbuhan dan perkembangan anak umum (3 bulan . booklet. Cara merangsang pertumbuhan dan perkembangan anak. dan evaluasi di atas maka pola pembelajaran taman penitipan anak di Taman cli . Pemantauan pertumbuhan dan perkembangan anak. alat/ media belajar. buku cara penggunaan APE. standar layanan bimbingan sosial sebagai berikut: Komponen Pelayanan bimbingan sosial membantu pertumbuhan dan perkembangan Standar Pelayanan Penyuluhan: g. buku pedoman.6 tahun). h. menari). menyanyi. dan APE. l. 9) Media interaksi (bermain. metode. Media interaksi (bermain. j. menari). menyanyi. poster. k. Menurut Pedoman Penyelenggaraan Pendidikan pada Taman Penitipan Anak (2001:21). Berdasarkan pembahasan tentang tujuan. sumber belajar. Pertumbuhan dan perkembangan anak umum (3 bulan . kartu tumbuh kembang anak. bercerita.dalam memantau pertumbuhan dan perkembangan anak usia dini. 11) Pemantauan pertumbuhan dan perkembangan anak. 10) Cara merangsang pertumbuhan dan perkembangan anak. Sarana Model penyuluhan. kegiatan belajar mengajar.6 tahun). Peranan orang tua dalam membina pertumbuhan dan perkembangan anak. Rujukan kelainan pertumbuhan dan perkembangan anak.

aman dan tidak membahayakan. Dilihat dari sumber belajar. waktu pelaksanaan kegiatan belajar mengajar dilakukan dengan dua sistem yaitu 3 kali pertemuan dalam satu minggu dan 5 kali pertemuan dalam satu minggu. perpustakaan. sumber belajar yang digunakan adalah sumber belajar alamiah. antara lain: 1. Satu kali pertemuan adalah 120 menit setiap harinya. Dilihat dari tujuan. dan evaluasi yang telah disesuaikan dengan pedoman penyelenggaraan pendidikan pada taman penitipan anak. Dilihat dari metode. 5. bahan pembelajaran. bernyanyi. Tujuannya yaitu agar anak tidak cepat bosan. serta bermanfaat dan mengandung nilai pendidikan. bercerita.Balita Klub Merby sudah sesuai dengan pembelajaran anak usia dini. dan alat peraga. bahan pembelajaran ditentukan dengan beberapa kriteria yaitu relevan dengan kondisi anak. alat/ media belajar. sumber belajar. Dilihat dari bahan pembelajaran. bercakap/ berdialog. clii . metode pembelajaran digunakan secara bergantian yaitu metode bermain. Alasannya adalah Taman Balita Klub Merby memiliki komponen pembelajaran yang meliputi aspek-aspek: tujuan. media cetak dan elektronik. dan bermain peran. berkaitan dengan aktivitas keseharian anak. metode. berwarna dan atraktif. Berdasarkan data empirik di lapangan maka terdapat beberapa faktor pendukung. alat permainan yang digunakan ada dua jenis yaitu dari lingkungan dan APE. Dilihat dari alat/ media belajar. 6. 4. Dilihat dari kegiatan belajar mengajar. 2. eksploratif dan mengandung rasa ingin tahu. kegiatan belajar mengajar. 3. tujuan pembelajaran dirancang sesuai dengan tema dan kondisi anak balita. sederhana dan konkrit.

7. Jumlah anak balita terlalu banyak dan sebagian besar belum dapat berkomunikasi dengan baik sehingga kegiatan belajar menagajar kurang lancar. Dilihat dari evaluasi. anak balita cepat bosan terhadap pembelajaran sehingga metode pembelajaran harus bervariasi. antara lain: 1. 7. ada beberapa orang tua yang tidak kooperatif bila anak balitanya jarang masuk sehingga menghambat proses evaluasi. 5. malu-malu. 4. evaluasi dilakukan secara harian dan bulanan. jumlah APE tidak sebanding dengan jumlah anak balita. Selain itu komponen pembelajaran di Taman Balita Klub Merby juga memiliki kekurangan-kekurangan yang akan menjadi faktor penghambat. sumber belajar seperti alat peraga kurang lengkap. dalam kegiatan belajar mengajar terkadang anak balita tidak mandiri. 2. Dilihat dari alat/ media belajar. Dilihat dari tujuan. bahan pembelajaran kurang memadai. 3. Dilihat dari kegiatan belajar mengajar. Dilihat dari metode. Dilihat dari bahan pembelajaran. tujuan pembelajaran tidak seluruhnya tercapai sesuai dengan perencanaan. serta tidak dapat mengendalikan emosi secara wajar. 6. Dilihat dari sumber belajar. Berdasarkan data empirik di lapangan maka terdapat beberapa faktor penghambat. cliii . Dilihat dari evaluasi.

Bahan Pembelajaran Dalam menentukan bahan pembelajaran harus disesuaikan dengan Menu Pembelajaran dari Pendidikan Anak Usia Dini dan disesuaikan pula dengan tingkat kemampuan anak.BAB V PENUTUP A. kegiatan belajar mengajar. maka peneliti menyimpulkan hal-hal sebagai berikut: 1. dan evaluasi yang diterapkan di Taman Balita Klub Merby adalah: a. sumber belajar. Pola pembelajaran taman penitipan anak yang meliputi aspek-aspek tujuan. Dalam hal ini tujuan harus disesuaikan dengan pendidikan anak usia dini dan kondisi anak balita termasuk tugas-tugas perkembangan anak balita. Kesimpulan Berdasarkan analisis data seperti terurai di atas. alat/ media belajar. 143 c. b. Suatu pola pembelajaran tidak dapat dipaksakan kepada anak balita karena mereka memiliki karakteristik yang berbeda antara satu dengan yang lainnya. Rasa keingintahuan anak balita cukup besar sehingga para pendidik dan orang tua harus memberikan bimbingan kepada mereka. Kegiatan Belajar Mengajar cliv . Tujuan Tujuan pembelajaran ditentukan oleh Pimpinan dan Pendidik. bahan pembelajaran. metode.

Pendidik dapat menyampaikan hasil evaluasi secara langsung dan melalui buku hasil evaluasi bulanan. media cetak dan elektronik. f.Kegiatan belajar mengajar dilaksanakan sesuai jadwal yang telah dibuat dengan persetujuan Pimpinan. Alat/ Media Belajar Alat/ media belajar yang digunakan adalah alat permainan dari lingkungan dan APE. Faktor pendukung Taman Balita Klub Merby antara lain: a. c. b. Dilihat dari kegiatan belajar mengajar. dan bermain peran. berkaitan dengan aktivitas keseharian anak. waktu pelaksanaan kegiatan belajar mengajar dilakukan dengan dua sistem yaitu 3 kali pertemuan clv . berdialog/ bercakap. Sumber Belajar Sumber belajar yang digunakan adalah sumber belajar alamiah. perpustakaan. eksploratif dan mengandung rasa ingin tahu. berwarna dan atraktif. bahan pembelajaran ditentukan dengan beberapa kriteria yaitu relevan dengan kondisi anak. d. bercerita. Dilihat dari tujuan. g. tujuan pembelajaran dirancang sesuai dengan tema dan kondisi anak balita. Metode Metode yang digunakan adalah metode bermain. alat peraga. serta bermanfaat dan mengandung nilai pendidikan. e. Dilihat dari bahan pembelajaran. sederhana dan konkrit. 2. bernyanyi. aman dan tidak membahayakan. Evaluasi Evaluasi dilakukan secara harian dan bulanan. dan nara sumber (bila ada).

Dilihat dari alat/ media belajar. Jumlah anak balita terlalu banyak dan sebagian besar belum dapat berkomunikasi dengan baik sehingga kegiatan belajar menagajar kurang lancar. dan alat peraga. Dilihat dari metode. evaluasi dilakukan secara harian dan bulanan. d. Dilihat dari sumber belajar. b. tujuan pembelajaran tidak seluruhnya tercapai sesuai dengan perencanaan. Satu kali pertemuan adalah 120 menit setiap harinya. e. Dilihat dari metode. c.dalam satu minggu dan 5 kali pertemuan dalam satu minggu. clvi . alat permainan yang digunakan ada dua jenis yaitu dari lingkungan dan APE. metode pembelajaran digunakan secara bergantian yaitu metode bermain. bercerita. perpustakaan. malu-malu. bahan pembelajaran kurang memadai. 3. f. Tujuannya yaitu agar anak tidak cepat bosan. serta tidak dapat mengendalikan emosi secara wajar. bernyanyi. g. anak balita cepat bosan terhadap pembelajaran sehingga metode pembelajaran harus bervariasi. Faktor penghambat Taman Balita Klub Merby antara lain: a. Dilihat dari bahan pembelajaran. d. media cetak dan elektronik. dan bermain peran. Dilihat dari tujuan. sumber belajar yang digunakan adalah sumber belajar alamiah. dalam kegiatan belajar mengajar terkadang anak balita tidak mandiri. Dilihat dari evaluasi. bercakap/ berdialog. Dilihat dari kegiatan belajar mengajar.

2. g. Berkaitan dengan pola pembelajaran taman penitipan anak di Taman Balita Klub Merby yang meliputi aspek-aspek tujuan. Dilihat dari alat/ media belajar. alat/ media belajar. 3. Berkaitan dengan faktor-faktor penghambat yang terdapat di Taman Balita Klub Merby.e. dan evaluasi maka diharapkan semua pihak yang terkait di Taman Balita Klub Merby untuk selalu menjalin kerjasama dengan pihak luar seperti orang tua anak balita dan instansi-instansi yang berhubungan dengan pendidikan anak usia dini. Dilihat dari sumber belajar. metode. Berkaitan dengan faktor-faktor pendukung yang terdapat di Taman Balita Klub Merby. ada baiknya untuk diminimalkan yaitu dengan cara meningkatkan sarana dan prasarana seperti pengadaan alat permainan clvii . Saran Berdasarkan kesimpulan di atas. ada beberapa orang tua yang tidak kooperatif bila anak balitanya jarang masuk sehingga menghambat proses evaluasi. maka saran yang diajukan adalah: 1. f. bahan pembelajaran. sumber belajar. alangkah baiknya untuk selalu dipertahankan yaitu dengan cara meningkatkan kualitas sumber daya manusia di Taman Balita Klub Merby. Dilihat dari evaluasi. Dengan demikian pelaksanaan pola pembelajaran di Taman Balita Klub Merby akan berjalan dengan baik. sumber belajar seperti alat peraga kurang lengkap. B. kegiatan belajar mengajar. jumlah APE tidak sebanding dengan jumlah anak balita.

Htm. 2001.com/ harian/ 0303/ 13/ nas 8. suaramerdeka. DAFTAR PUSTAKA Agus Salim. Sumber Belajar dan Alat Permainan (untuk Pendidikan Anak Usia Dini). diakses 20 Maret 2003) Anggani Sudono. Tempat Bermain itu Bernama Penitipan Anak (1). Anak-anak Malah Rajin Membuat PR.terutama APE dan pengadaan alat peraga serta meningkatkan fasilitasfasilitas yang ada di Taman Balita Klub Merby. 2000. 02 Agustus 2003 halaman 34 clviii . Yogyakarta: Tiara Wacana Yogya Agus Toto W. (Online). (http: // www. Grasindo Buletin PADU Vol 2 No. 2003. Teori dan Paradigma Penelitian Sosial. Jakarta: PT.

2000. Remaja Rosdakarya Max Darsono dkk. 2000. Rineka Cipta Sugiyono. 2001. Jakarta: Departemen Pendididkan Nasional Djudju Sudjana. Raja Grafindo Persada Seto. Skripsi tidak diterbitkan. Konsep Dasar Pendidikan Anak Usia Dini. 2000. Bermain. Studi Kasus di Panti Sosial “Kasih Mesra” Demak. Bermain dan Kreativitas. Bandung: Falah Production Elizabeth G. Memahami Penelitian Kualitatif. 2005. IKIP Semarang Press Mayke S. Terjemahan oleh Hermes. Universitas Negeri Yogyakarta. Semarang: CV. 2002. Bandung: PT. Tidak diterbitkan Soemiarti Patmonodewo. Strategi Pembelajaran. Upaya Mengembangkan Kreativitas Anak Melalui program Bermain. 2004. Jakarta: PT. Jakarta: PT. Tedjasaputra. Dasar-dasar Proses Belajar Mengajar. Studi Kasus Desain dan Metode. Grasindo Nana Sudjana. Mainan. Rineka Cipta clix .Catur Sri Sapanta. Jakarta: PT. Yin. 2003. Belajar dan Pembelajaran. Pendidikan Anak Prasekolah. Yogyakarta: PGTKI Press Lexy J. Pedoman Penyelenggaraan Pendidikan pada Taman Penitipan Anak. Jakarta: PT. 2002. Hainstock. Pelayanan Sosial Taman Penitipan Anak. Moleong. 2002. 2002. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Montessori untuk Pra-sekolah. 2003. Jakarta: Delapratasa Publishing Hibana S. 2003. Jakarta: Papas Sinar Sinanti Slamet Suyanto. Semarang: FIS UNNES Departemen Pendididkan Nasional. 2003. Sinar Baru Algensindo Robert K. 1998. Bandung: PT. 2003. Konsep Dasar Pendidikan Anak Usia Dini. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Alfabeta Suharsimi Arikunto. dan Permainan. Rahman.

Skripsi tidak diterbitkan. 1990. 2003. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional W. 2004. Profil Pelaksanaan Pendidikan Anak Usia Dini. (PAUD). Jakarta: PT. Jakarta: PT. Rineka Cipta Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa.Sutrisno. Studi Kasus Kelompok Bermain di BP-PLSP JawaTengah. Strategi Belajar Mengajar. Gulo. 2002. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka Undang-undang RI Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Semarang: FIP UNNES Syaiful Djamarah dan Aswan Zain. Strategi Belajar Mengajar. 2002. Grasindo clx .

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->