P. 1
Pendekatan Konstruktivisme Dalam Praktek Komunikasi Pendidikan Dan Pembelajaran Pawit My

Pendekatan Konstruktivisme Dalam Praktek Komunikasi Pendidikan Dan Pembelajaran Pawit My

|Views: 2,303|Likes:
Published by pawitmy

More info:

Published by: pawitmy on Aug 02, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/09/2012

pdf

text

original

Makalah (Karya Ilmiah

):

Pendekatan Konstruktivisme dalam Praktek Komunikasi Pendidikan dan Pembelajaran

Oleh: H. Pawit M. Yusup

Jurusan/Program Studi Ilmu Informasi Dan Perpustakaan Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran 2010

DAFTAR ISI (STRUKTUR TULISAN)

I. II. III.

IV. V.

VI. VII.

PENGANTAR PERMASALAHAN SEPUTAR PRAKSIS KOMUNIKASI PENDIDIKAN DAN PEMBELAJARAN DI DALAM KELAS BERAGAM PENDEKATAN DALAM PELAKSANAAN KOMUNIKASI PEMBELAJARAN KELAS 1) Konsep umum pendidikan 2) Landasan filosofi Komunikasi Pendidikan dan Pembelajaran 3) Pendekatan teori disiplin mental 4) Pendekatan teori belajar aktualisasi diri dan apersepsi 5) Pendekatan teori belajar behavioristik 6) Pendekatan teori belajar sosial dari Bandura 7) Pendekatan teori belajar kognitif 8) Pendekatan teori pengembangan sosial dari Vygotsky 9) Pendekatan teori belajar struktural dari J. Sacndura PENDEKATAN KONSTRUKTIFISME DALAM PELAKSANAAN KOMUNIKASI PEMBELAJARAN KELAS MODEL-MODEL PENDEKATAN KONSTRUKTIFIS DALAM PELAKSANAAN KOMUNIKASI PEMBELAJARAN KELAS 1) Model pendekatan action research 2) Model pengembangan sosial dari L. Vygotsky 3) Model pengembangan struktural dari J. Scandura 4) Model pendekatan falsifikasi dari Popper 5) Model pendekatan berfikir struktur penjelasan dari Carl Gustav Hempel 6) Model perubahan paradigma ilmu dari Thomas S. Kuhn 7) Model experiential learning tools 8) Model pendekatan web-based science lessons 9) Model multimedia pembelajaran KESIMPULAN DAFTAR PUSTAKA

1

Pendekatan Konstruktivisme dalam Praktek Komunikasi Pendidikan dan Pembelajaran Oleh: H. Pawit M. Yusup

1

I.

Pengantar Secara jelas kita bisa melihat bahwa banyak sekali realita permasalahan komunikasi pendidikan yang tampak di sekitar kita, baik realita yang bersifat praktek keseharian, formal, nonformal, ataupun informal. Fakta seperti ini bisa dilihat di berbagai pemberitaan mengenai permasalahan komunikasi pendidikan di media massa, di kegiatan-kegiatan seminar, dan di kegiatan praktisi komunikasi pendidikan dan pembelajaran pada umumnya. Selain itu, realita dan permasalahan pendidikan pun bisa dilihat dari aspek sumber-sumber pelaku pendidikan sendiri, misalnya dari para pendidiknya, dari para pembelajarnya (siswa dan mahasiswa), dari orang tua siswa, ataupun dari masyarakat yang peduli terhadap pelaksanaan pendidikan. Pada bagian pengantar ini, penulis sajikan realita dan fakta seputar permasalahan pendidikan dan komunikasi pendidikan di Indonesia yang diambil dari beragam pemberitaan media cetak dan elektronik. Fakta seputar sistem pendidikan Berdasarkan hasil survei Political and Economic Risk Consultancy (PERC) yang berpusat di Hongkong pada tahun 2001 , disebutkan bahwa sistem pendidikan di Indonesia terburuk di kawasan Asia, yaitu dari 12 negara yang disurvei, Korea Selatan dinilai memiliki sistem pendidikan terbaik, disusul Singapura, Jepang dan Taiwan, India, Cina, serta Malaysia. Indonesia menduduki urutan ke -12, setingkat di bawah Vietnam (www.kompas.com), diakses tanggal 10 Juli 2009. Laporan United Nations Development Program (UNDP) tahun 2004 dan 2005, menyatakan bahwa Indeks pembangunan manusia di Indonesia ternyata tetap buruk. Tahun 2004 Indonesia menempati urutan ke-111 dari 175 negara. Tahun 2005 IPM Indonesia berada pada urutan ke 110 dari 177 negara. Posisi tersebut tidak jauh berbeda dari tahun sebelumnya. Berdasarkan IPM 2004, Indonesia menempati posisi di bawah negara-negara miskin seperti Kirgistan (110), Equatorial Guinea (109) dan Algeria (108). Bahkan jika dibandingkan dengan IPM negaranegara di ASEAN seperti Singapura (25), Brunei Darussalam (33) Malaysia ( 58), Thailand (76), sedangkan Filipina (83). Indonesia hanya satu tingkat di atas Vietnam (112) dan lebih baik dari Kamboj a (130), Myanmar (132) dan Laos (135) ( www.suara pembaruan.com/ 16 juli 2004 dan Pan Mohamad Faiz. 2006 ).

1

Lektor Kepala pada Jurusan/Program Studi Ilmu Informasi dan Perpustakaan Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran

2

Fakta seputar praktek komunikasi pendidikan dasar, menengah, dan tinggi Badan Narkotika Nasional (BNN) menyebutkan jumlah pengguna narkoba di lingkungan pelajar SD, SMP, dan SMA pada tahun 2006 mencapai 15.662 anak. Rinciannya, untuk tingkat SD sebanyak 1.793 anak, SMP sebanyak 3.543 anak, dan SMA sebanyak 10.326 anak. Dari data tersebut, yang paling mencengangkan adalah peningkatan jumlah pelajar SD pengguna narkoba. Pada tahun 2003, jumlahnya baru mencapai 949 anak, namun tiga tahun kemudian atau tahun 2006, jumlah itu meningkat tajam menjadi 1.793 anak (www.pikiran- rakyat.com), diakses tanggal 10 Juli 2007. Data yang cukup menghebohkan adalah kasus di kabupaten Takengon, Aceh. Sekitar 70 persen pengguna narkoba di Indonesia adalah anak sekolah, demikian disampaikan Bupati Aceh Tengah Ir. H. Nasaruddin, MM dihadapan 120 pendidik pada acara workshop penanggulangan bahaya narkoba bagi guru SMP/ MTsN, SMU/MA dalam kabupaten Aceh Tengah, Kamis (10/12) yang berlangsung di Gedung Pendari Takengon. Menurut bupati Nasaruddin, dari 70 persen tersebut, 22.000 kasus pengguna narkoba dengan status anak SMA, 6000 kasus anak SMP, dan 3000 kasus anak SD. Sangat memprihatinkan jika kondisi ini benar-benar terjadi, maka generasi masa depan yang bagaimana yang terjadi. (Sumber: www.bataviase.co.id (11 Dec 2009, diakses tanggal 31 Maret 2010). Selain itu. Berdasarkan data Badan Narkotika Nasional (BNN), kasus pemakaian narkoba oleh pelaku dengan tingkat pendidikan SD hingga tahun 2007 berjumlah 12.305. Data ini begitu mengkhawatirkan karena seiring dengan meningkatnya kasus narkoba (lihat data narkoba BNN 2007) khususnya di kalangan usia muda dan anak-anak, penyebaran HIV/AIDS semakin meningkat dan mengancam. Dan dari keseluruhan kasus HIV/AIDS, hampir 50% penularannya dikarenakan penggunaan jarum suntik (narkoba) (Ditjen PPM&PL Depkes, 2007). Penyebaran narkoba menjadi makin mudah karena anak SD juga sudah mulai mencoba-coba mengisap rokok. Tidak jarang para pengedar narkoba menyusup zat-zat adiktif (zat yang menimbulkan efek kecanduan) ke dalam lintingan tembakaunya (Joyce Djaelani Gordon-aktifis anti drugs & HIV/AIDS, 2007). (Sumber: Raihana Alkaff pada www.kesrepro.info hari Rabu tanggal , 4 Sepember 2008; diakses 31 maret 2010). Di sisi lain, kalangan pelajar juga rentan tertular penyebaran penyakit HIV/AIDS. Misalnya di kota Madiun-Jatim, dari data terakhir yang dilansir Yayasan Bambu Nusantara Cabang Madiun, organisasi yang konsen masalah HIV/AIDS, menyebutkan kasus Infeksi Seksual Menular (IMS) yang beresiko tertular HIV/AIDS menurut kategori pendidikan sampai akhir Oktober 2007 didominasi pelajar SMA/SMK sebanyak 51 %, pelajar SMP sebesar 26%, mahasiswa sebesar 12% dan SD/MI sebesar 11% (news.okezone. com). Dalam hal tawuran, di kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, dan Medan, tingkat tawuran antar pelajar sudah mencapai ambang yang cukup memprihatinkan. Data di Jakarta misalnya (Bimmas Polri Metro Jaya), tahun 1992 tercatat 157 kasus perkelahian pelajar. Tahun 1994 meningkat menjadi 183 kasus dengan menewaskan 10 pelajar, tahun 1995 terdapat 194 kasus dengan korban meninggal 13 pelajar dan 2 anggota masyarakat lain.
3

Tahun 1998 ada 230 kasus yang menewaskan 15 pelajar serta 2 anggota Polri, dan tahun berikutnya korban meningkat dengan 37 korban tewas. Terlihat dari tahun ke tahun jumlah perkelahian dan korban cenderung meningkat. Bahkan sering tercatat, dalam satu hari di Jakarta terdapat sampai tiga kasus perkelahian di tiga tempat sekaligus (www.smu-net. com). Data BAPPENAS (1996) yang dikumpulkan sejak tahun 1990 menunjukan angka pengangguran terbuka yang dihadapi oleh lulusan SMU sebesar 25,47%, Diploma/S0 sebesar 27,5% dan PT sebesar 36,6%, sedangkan pada periode yang sama pertumbuhan kesempatan kerja cukup tinggi untuk masing-masing tingkat pendidikan yaitu 13,4%, 14,21%, dan 15,07%. Menurut data Balitbang Depdiknas 1999, setiap tahunnya sekitar 3 juta anak putus sekolah dan tidak memiliki keterampilan hidup sehingga menimbulkan masalah ketenagakerjaan tersendiri. Adanya ketidakserasian antara hasil pendidikan dan kebutuhan dunia kerja ini disebabkan kurikulum yang materinya kurang fungsional terhadap keterampilan yang dibutuhkan ketika peserta didik memasuki dunia kerja. Pada tahun 2009 diperkirakan ada 116,5 juta orang yang akan mencari kerja (www.kompas.com). Saat ini di berbagai kota sudah mulai dikembangkan yang namanya elearning yaitu sistem pendidikan yang menggunakan media internet dan elektronik untuk mendukung sistem pembelajaran tersebut. Sudah banyak juga universitas ternama di indonesia yang mengembangkan e-learning, bahkan para ahli di dunia luar negeri memprediksi pada tahun 2020 seluruh dunia akan menggunakan elearning sebagai sistem kurikulum pendidikannya. (www.wordpress.com. Diakses 13 Juli 2009). Fakta seputar praktek komunikasi pendidikan dan pembelajaran dalam kelas Ada kasus, satu guru layani enam kelas. Ini terjadi pada kondisi pendidikan di wilayah terjauh Kabupaten Pangkep, Kecamatan Kepulauan Liukang Tangaya masih memiriskan di saat usia Pangkep kini memasuki 50 tahun. Jangankan fasilitas sekolah, jumlah tenaga pengajar saja tidak sebanding dengan jumlah siswa yang ada. Berita Lokal / www.fajar.co.id / (diakses tanggal 14 Juli 2009). Kasus amoral Cukup banyak pemberitaan di media massa cetak maupun elektronik tentang kelakuan guru yang amoral, antara lain yang terjadi di Medan yang diberitakan ANTARA 21 November 2009, yakni seorang guru Sekolah Dasar (SD) Desa Sipan, Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumut, Erwin Ronaldo Panjaitan (27) yang dituduh melakukan amoral terhadap beberapa murid wanita. Hal kriminal seperti ini juga terjadi di Mojokerto. Guru cabul lagi ngajar ditangkap. Ini terjadi di MOJOKERTO. Petugas Polres Mojokerto menangkap seorang guru MTS Mambaul Arrosyidi, berinisial YM (28), warga Prambon, Kabupaten Sidoarjo. YM diduga mencabuli murid perempuan asal Mojokerto. Tersangka ditangkap ketika sedang mengajar belum lama ini. Penangkapan guru Bahasa Inggris itu bermula dari laporan orang tua Bg (bukan nama sebenarnya) ke Polres Mojokerto. Menurut ayah Bg, YM pernah
4

membawa lari anaknya dan diajak menginap di sebuah penginapan di Pacet, Agustus 2008. Tersangka ditangkap di sekolahnya dan tidak melawan, kata AKP Kusworo Wibowo SH SIk, Kasat Reskrim Polres Mojokerto, didampingi Kanit Perlindungan Perempuan dan Anak Aiptu Sri Wahyuni SH. Menurut Kusworo Wibowo, YM yang sudah memiliki satu anak pada Agustus membujuk korban yang baru berusia 14 tahun dengan iming -iming bakal dinikahi. Mungkin karena janji pelaku tak terbukti, akhirnya korban ngomong ke orangtuanya, kata Kusworo. (dos). (Sumber: Kompas.com. diakses tanggal 31 Maret 2010). Guru amoral Sidang pencabulan tiga siswi sekolah untuk anak berkebutuhan khusus, SMP Budi Waluyo, Jakarta Selatan oleh oknum gurunya, Eddie Murjono digelar dengan agenda pemeriksaan tiga saksi korban Iv (13), Vn (13) dan Ln (16). Sidang yang digelar di Ruang Kresna PN Jakarta Selatan, Rabu mulai pukul 15.00 WIB itu diselenggarakan secara tertutup dipimpin oleh Majelis Hakim Ahmad Sobary, JPU Danang Lestari sementara terdakwa Eddie didampingi kuasa hukumnya. Saksi korban yang pertama didengar keterangannya adalah Iv yang didampingi petugas dari Pusat Pemberdayaan Terpadu Perlindungan Perempuan dan Anak atau P2 TP2A Pemda DKI Jakarta. Setelah diperiksa selama sekitar 30 menit, giliran Vn disusul Ln masih didampingi petugas yang sama. Sebagaimana diberitakan sebelumnya, Eddie Murjono menjadi pesakitan dalam kasus pelecehan seksual terhadap anak-anak didiknya. Tim Jaksa Penuntut Umum yang diketuai Danang Lestari menjerat Eddie dengan pasal dakwaan dari KUHPidana dan Undang-Undang Perlindungan Anak atas serangkaian perbuatan yang dilakukannya pada September 2006 lalu. Atas perbuatannya, Iv dan Vn yang masih duduk kelas I itu berhenti dari kegiatan belajar di SMP Budi Waluyo sementara Ln yang tertua di antara ketiganya meneruskan studi di kelas III sekolah tersebut. (Sumber: Kapanlagi.com 31 Maret 2010). Beberapa contoh realita dan fakta terkait dengan kasus-kasus permasalahan praksis pendidikan, termasuk komunikasi pendidikan dan pembelejaran sebagaimana disebutkan di atas, hanyalah sebagian kecil saja yang terungkap ke permukaan. Namun demikian, fakta seperti itu sangatlah pantas untuk dijadikan indikasi bahwa permasalahan dalam dunia pendidikan dan pembelajaran, sangat tercoreng karenanya.

II.

Permasalahan Seputar Praktek Komunikasi Pendidikan dan Pembelajaran Permasalahan komunikasi pendidikan dan pembelajaran yang ada di Indonesia seperti tampak dalam fakta-fakta pendidikan dan pembelajaran yang sebagian sudah disebutkan di atas, terutama pada pelaksanaannya di dalam kelas, penulis kelompokkan ke dalam kategori sebagai berikut:

5

o Masalah personal: Tidak merata dalam banyak hal. Tidak semua manusia Indonesia memiliki kesempatan, hak, fasilitas, kemampuan akses, dan penanganan yang sama dalam menerima pendidikan dan pembelajaran. Sebabnya bisa banyak dan beragam. Teori perbedaan individu, teori digital divide, dan teori information literacy, bisa digunakan untuk menunjukkan hal itu. o Masalah situasional: Manusia Indonesia pun berbeda kemampuan belajarnya jika dilihat dari aspek geografis, situasi, dan kondisi faktualnya. Manusia di bagian timur Indonedia tidak sama dalam ragam penerimaan pembelajarannya dengan manusia Indonesia di bagian barat dan lainnya. Kondisi dan situasi sekolah di mana pun berada bisa berbeda satu dengan lainnya. Sekolah di desa-desa berbeda dalam hampir segala hal dengan sekolah di kota-kota. o Masalah dan kesenjangan literasi: Kemampuan literasi manusia Indonesia juga tidak sama, dari yang betul-betul buta huruf latin hingga buta literasi informasi pengetahuan. Ada yang tahu banyak mengenai segala hal, misalnya politik, hukum, dan sosial lainnya, ada juga yang samasekali tidak mengetahuinya. Ini terkait dengan ketidaksamaan akses informasi. o Masalah dan kesenjangan kognisi: Kesenjangan kognisi sifatnya menyeluruh di wilayah Indonesia, termasuk di komunitas tertentu. Ini sifatnya kontekstual. o Masalah dan kesenjangan afeksi: Ilmu bukan hanya pengembangan kognisi seperti yang sekarang dianggap dominan. Masalah sikap, rasa, citra, dan apresiasi dalam pendidikan kita sering diabaikan. Pendidikan Agama sering terkesan cognitive implementation. o Masalah dan kesenjangan konasi: Ini terkait dengan keterampikan dan kemampuan motorik siswa yang sering tidak sebanding dengan tuntutan zaman. Lulusan sekolah tidak siap pakai atau siap kerja. o Masalah dan kesenjangan informasi : Terpaan informasi demikian pesat dan tak terbendung, mengakibatkan tidak bisa diserap oleh semua orang secara proporsional. Banyak informasi yang selayaknya diserap oleh siswa, tidak sampai akibat kalah bersaing dengan terpaan informasi dari beragam media hiburan. Informasi pendidikan menjadi tidak diminati siswa. Banyak orang serba tahu, akan tetapi di sisi lain banyak juga yang tidak tahu. o Masalah dan kesenjangan sosial ekonomi: Masalah ini yang amat kita rasakan dewasa ini. Orang yang kaya amat dimungkinkan mengembangkan potensi belajarnya akibat memiliki beragam fasilitas pendidikan, sementara mereka yang kurang beruntung secara ekonomi menjadi amat tertinggal dalam belajar. o Masalah dan kesenjangan teknologis: Di tingkat komunitas mana pun, akan selaku terjadi kesenjangan teknologis. Ini diakibatkan oleh perkembangan teknologi yang amat pesat sehingga tidak mungkin bisa diikuti oleh siapapun. o Masalah dan kesenjangan pola pemikiran: Pola-pola pemikiran yang dipengaruhi oleh lingkungan personal dan sosial masyarakat, termasuk lingkungan pendidikan, ekonomi, dan kepercayaan, akan mengakibatkan pola pemikirannya berbeda satu sama lain, terutama jika dihadapkan kepada permasalahan kehidupan dan pendidikan. Orang dengan latar belakang berbeda di dalam kelas,
6

misalnya, akan menerima secara berbeda pula informasi pendidikan dari gurunya. o Masalah dan kesenjangan komunikasi: Masalah komunikasi sering diabaikan dalam pelaksanaan pendidikan, termasuk komunikasi pendidikan dan pembelajaran di dalam kelas. Materi pembelajaran di dalam kelas sering tidak ditangkap secara utuh oleh sebagian siswanya akibat adanya kesenjangan komunikasi dalam pembelajaran. o Masalah dan kesenjangan penggunaan logika: Ini berkaitan dengan penggunaan metode pembelajaran yang keliru. Disebut juga dengan kegagalan memilih metode pembelajaran dan komunikasi pembelajaran. Membelajarkan anak SD tidak sama dengan membelajarkan anak SMP dan SMU, juga mahasiswa.

III. Beragam Pendekatan dalam Pelaksanaan Komunikasi Pendidikan Pembelajaran

dan

Konsep umum pendidikan Jauh sebelum zaman informasi dan teknologi informasi seperti sekarang ini, yakni pada era tahun 1960-an, Mortensen dan Schmuller (1964) mengemukakan bahwa konsep pendidikan terdiri atas tiga domain atau bidang y akni bidang pengelolaan pendidikan atau administrasi dan manjemen, bidang bimbingan dan bantuan kepada siswa, dan bidang instruksional atau bidang inti pendidikan. Dalam prakteknya, bidang instruksional ini menjadi bidang yang sangat dominan dalam pelaksanaan pendidikan. Artinya sebagian besar praktek komunikasi pendidikan dan pembelajaran bisa berjalan dengan mendudukkan fungsi-fungsi instruksiolnal, yang pelaksanaannya sebagian besar dilakukan di dalam kelas. Tulisan ini pun secara khusus mendudukkan bidang instruksio0nal atau pembelajaran ini sebagai wilayah inti pendidikan, sehingga sebagian besar permasalahan komunikasi pendidikan pun banyak dijumpai pada pelaksanaan pendidikan di dalam kelas. Gamber berikut menjelaskan proses pendidikan dimaksud.

7 

%   4 '    % "        !  % # $ ! " %             "" !  "4 "%   $      % $ 

%%  #  #  ! % %"!  %  % " "!

' ¨5 ¨¢© ©¨   &    %  "! $  #    "    ! % !  "   ¨5 ¨¢© %  £ ¢ 5¢ " ¨©¨5 ¨6 £ ¢ 5¢ %  # ! "           ' ! &      !  %  ! !   #

$# ¢©¢ ¥¨ ¢¥£¢ &    "    !"  "   ! % ! % #      & & &   &    % % %  "4 "  # !  # 

$"  " #! # %  "! $"      % 2 # # %  "!    !   $    % " "! "1 ' "   "%  

' "!   & &  %        "  

# ) ' "%#  % "%# ! %  "!  #     ( ' "!  % & "     #   !

nd d an dan b aja an Landa an o o o un a e s e s s e j se Be c e e y se e y es se s e e y e je s e e s e s y y e s e e e e s se s se e y se s j se -se y s e e c -c e e s y y e e s y e s y es s e e s se e e e y es e e e j e e y es e e se e e ua ona n d ua e y e e e v s p on o n d Se e e e s y Be e y e e e e ey e e se - se y se e je s B e 1982 s e vs e e e e j e e s y s e e y s e y
'D $  C '    #       2 B # $! 0 '@'9 $2 8 A ' !"!" %    '"     "!        3 ' % % %%  "! %    0  !    % %      ¦¢ ¢ ¨§ ¢   ¦¢ $    ! £¢         " !         © £¨ ¥¨§ ¥ ¤¢ ¡   ¡

s

se 

% " $  ! 

y y ah- p s B ona o n d se e y es

e

s

e s

e se e

s

se e 

"7   

  !  !   #  

s

y

y

y

y s

ee y

s

s

e

e s

y

e

8 
% $ & 

yang tampak saling menjatuhkan, meskipun apabila disadari secara bijak, tidak ada satu teori pun yang benar-benar ingin atau bertujuan merobohkan teori lainnya. Hakekat adanya teori sebenarnya saling melengkapi satu sama lain. Hal ini demikian karena tidak ada satu buah teori yang bisa berlaku umum di semua situasi dan kondisi dan semua bidang masalah. Yang ada hanyalah bahwa teori yang satu lebih cocok dan sesuai untuk diterapkan dalam bidang permasalahan tertentu, sedangkan teori lainnya kurang cocok, misalnya. Salah satu teori belajar yang belakangan muncul adalah yang berbasis pada psikologi kognitif, yang merupakan rival atau setidaknya tidak sama pandanganpandangannya dengan konsep psikologi behavioristik, konsep introspektif, atau teori nonempiris lainnya. (Lihat, Bigge, 1984; dan Littlejohn, 1988: 68-94). Landasan filosofi: Sebelum sampai kepada masalah pokoknya, orang perlu paham lebih dahulu akan konsep dasarnya, bahwa manusia secara psikologis bisa dianggap sebagai makhluk yang berciri sebagai berikut:  Manusia mempunyai instink dan kebutuhan . Pandangan ini mendasari banyak teori tentang konsep manusia itu sendiri sebagai makhluk yang berinteraksi dengan lingkungannya. Karena dasarnya instink dan kebutuhan, maka segala hal yang bergerak atau digerakkan oleh kedua dasar itulah yang akan menjadi kenyataannya. Orang melakukan sesuatu itu atas dasar instink, atau atas dasar kebutuhan untuk memenuhinya. Jelasnya hal ini merupakan pandangan aktualisasi diri. Juga pandangan-pandangan humanisme psikedelik dan apersepsi yang dikembangkan oleh Herbart dan para pengikutnya. Pandanganpandangan ini mengarah kepada perbuatan-perbuatan manusia yang bisa diterka melalui teori introspeksi. Dengan merenung dan mengamati pola kerja dan pola pikir yang ada pada diri sendiri, kemudian diref leksikan untuk kejelasan-kejelasan sebuah gagasan, termasuk untuk menjelaskan tentang manusia lainnya dalam perilaku kehidupannya.  Pandangan kedua adalah bahwa manusia dianggap sebagai organisme yang pasif-reaktif terhadap lingkungannya . Segala perilaku kehidupannya banyak dipengaruhi oleh lingkungan tempat tinggalnya. Orang berbuat itu sebenarnya ia sedang mereaksi suatu stimulus yang datang dari luar. Jadi perubahan perilaku yang terjadi pada manusia sebenarnya merupakan adanya hubungan yang lancar antara stimulus dan respons (S-R bond). Konsep ini diawali oleh Pavlov; dan teorinya dikenal dengan behaviorisme Pavlovian, yang tampak dalam cabang dan pengembangannya seperti koneksionisme, pembiasaan klasik, dan pembiasaan berinstrumen. Untuk ini pandangan filsafatnya adalah realisme saintifik atau empirikisme logis.  Pandangan yang ketiga adalah bahwa manusia itu mempunyai kemauan, berinteraksi dengan lingkungannya secara aktif. Ia tidak dianggap sebagai makhluk yang secara utuh dipengaruhi oleh lingkungannya, akan tetapi justru ia berusaha untuk membentuk lingkungannya sesuai dengan kemauannya dan
9

seleranya. Ia berusaha untuk memahami lingkungannya, dan oleh karena itu ia berpikir (homo sapiens). Pandangan ini dikenal dengan kognitif; dan teorinya disebut dengan psikologi kognitif. Pandangan filsafatnya adalah pragmatisme atau relativisme ruang kognitif. Pandangan yang ketiga ini yang kelak berkembang menjadi teori belajar konstruktivisme yang dikembangkan oleh psikologi kognitif, psikologi gestalt, dengan para pelopornya antara lain adalah EC Tollman, Piaget, Koffka, dan ML Bigge. (Bigge, 1982). Sebenarnya baik empirikisme logis maupun relativisme positif, keduanya bersifat empirikistis, karena mereka berpusat pada pengetahuan yang diperoleh dari atau melalui pengalaman. Namun untuk relativisme positif adalah berkenaan dengan empirikisme psikologis. Pengalaman manusia tumbuh dan berkembang keluar mengikuti kemauan-kemauannya. Disebut juga dengan empirikisme ruang kognitif karena ia berpandangan pragmatis yang diterapkan oleh psikologi bidang kognitif. Konsep terakhir ini yang kemudian berkembang menjadi teori belajar berkarakter konstruktivisme. Di sini tidak akan diuraikan semua jenis pendekatan pembelajaran yang ada, karena di samping jumlahnya sangat banyak, namun tidak perlu. Penyebutan beragam pendekatan dimaksud hanyalah untuk menunjukkan bahwa guru atau fasilitator pembelajaran bisa memilih jenis pendekatan yang mana yang sesuai dengan kondisi dan situasi kelas. Dalam makalah ini yang diutamakan adalah pendekatan pembelajaran yang berkarakter konstruktivistik, seperti yang akan diuraikan pada bagian selanjutnya (bagian IV). Pendekatan teori disiplin mental Gagasan utama disiplin mental adalah pada otak atau pikiran (mind), yang diangankan sebagai benda nonfisik, terbaring tidak aktif (dorman) hingga ia dilatih. Kecakapan pikiran atau otak seperti ingatan, kemauan, akal budi (reason), dan ketekunan (perseverence), merupakan "otot-ototnya" pikiran atau otak tadi. Seperti halnya otot-otot fisiologis yang bisa kuat jika dilatih secara bertahap dan terus menerus serta dengan porsi yang memadai, maka otot-otot pikiran atau otak pun demikian halnya. Ia dapat kuat dalam arti lebih meningkat kemampuannya jika dilatih secara bertahap dan memadai. Dengan melihat konsep seperti itu maka belajar adalah masalah pemerkuatan (strengthening), atau pendisiplinan kecakapan berpikir (otak), yang pada akhirnya menghasilkan perilaku kecerdasan. Menurut disiplin mental, orang dianggap sebagai paduan dari dua jenis zat dasar, atau dua jenis realita, yaitu pikiran rasional dan organisme biologis. Dengan begitu maka konsep animal rasional digunakan untuk mengenali manusia (human being); sedangkan yang didisiplinkan atau dilatih melalui pendidikan adalah pikiran atau otak (main substance). (Bigge, 1982). Pendekatan teori belajar aktualisasi diri dan apersepsi
10

Pandangan akan belajar dengan cara pengungkapan atau aktualisasi diri ini secara logis berasal dari suatu teori bahwa pada dasarnya manusia itu baik, dan pada saat yang sama (berperilaku) aktif dalam hubungannya dengan lingkungannya. Semua orang dianggap bebas, otonom, dan aktif dalam menggapai dunianya. Setiap tindakan dari mereka akan selalu baik, kecuali kalau ada pengaruh jelek dari luar. Secara subjektif setiap murid itu bebas, dan ia mempunyai kebebasan untuk memilih dan bertanggung jawab atas dunianya. Ia sendiri yang bertindak sebagai arsitek dan pembangun kehidupannya. Pandangan tentang teori ini asalnya datang dari Jean J. Rousseau (1746-1827), serta ahli filsafat dan pendidik dari Jerman, Friedrich Froebel (1782-1852) (dalam Bigge, 1982). Konsep apersepsi Apersepsi (apperception) adalah belajar yang berpusat pada ide (idea-centered learning). Suatu ide dipahamkan (apperceived) jika muncul dalam kesadaran serta dicerna atau dipadukan dengan ide-ide sadar lainnya. Dengan demikian, apersepsi adalah suatu proses penghubungan ide -ide baru dengan ide-ide lama. Konsep apersepsi berbeda dengan konsep disiplin mental dan pengungkapan alami. Ia merupakan asosiasianisme mental secara dinamis yang didasarkan pada premis (dasar pikiran atau alasan) fundamental bahwa tidak ada ide-ide bawaan (innate); segala sesuatu yang yang diketahui oleh manusia itu datang dari luar dirinya. Ini berarti bahwa pikiran (mind) seluruhnya kira-kira berisi gabungan kesan-kesan dasar yang diikat bersama oleh asosiasi, dan dibentuk ketika bidang studi atau pelajaran disajikan dari dan dengan atau tanpa asosiasi tertentu, atau penghubungan dengan isi pikiran terdahulu (sebelumnya). Pendekatan teori belajar behavioristik Teori ini memandang manusia sebagai produk lingkungan. Artinya, segala perilaku manusia sangat dipengaruhi oleh kejadian-kejadian di dalam lingkungan sekitarnya. Di mana lingkungan tempat manusia tinggal, di sanalah seluruh kepribadiannya akan terbentuk. Lingkungan yang baik akan membentuk manusia menjadi baik. Juga sebaliknya, lingkungan yang jelek akan menghasilkan manusiamanusia yang bermental jelek sesuai dengan kondisi lingkungan tadi. Pendekatan teori belajar sosial dari Ban dura Albert Bandura, dengan teorinya yang terkenal yakni teori belajar sosial. Kata Bandura (dalam Bigge, 1982), teori belajar sosial lebih menekankan pada pentingnya pengamatan dan pemodelan perilaku, sikap, dan reaksi emosional seseorang dengan orang lain dalam lingkungannya. Teori ini juga menjelaskan perilaku manusia yang secara terus-menerus berinteraksi dengan dengan lingkungannya, dengan cara mengamati lingkungannya, menirukan model yang sesuai dengan karakter dirinya, meniru idolanya, memilih lingkugan yang sejalan dengannya, dan mencari informasi baru yang mendukung pilihan kehidupannya.
11

Pendekatan teori belajar kognitif Dalam psikologi kognitif, manusia tidak lagi dipandang sebagai makhluk yang bereaksi secara pasif pada lingkungannya sebagaimana anggapan aliran behaviorisme, tetapi ia dianggap sebagai makhluk yang berusaha memahami lingkungannya, makhluk yang selalu berpikir (homo sapiens). Istilah kognitif itu sendiri (inggris cognitive) berasal dari kata latin cognoscere yang artinya mengetahui (to know) (Bigge, 1984:171). Teori belajar kognitif ini banyak mempermasalahkan bagaimana orang memperoleh suatu pemahaman akan dirinya serta lingkungannya itu. Psikologi kognitif merupakan rival atau setidaknya tidak sebagai yang tidak sama pandangan-pandangannya dengan konsep psikologi behavioristik, konsep introspektif, atau teori nonempiris lainnya. (Lihat, Bigge, 1984; dan Littlejohn, 1988: 68-94). Pendekatan teori pengembangan sosial dari Vygotsky Kerangka teoretis utama dari teori pengembangan sosial Vygotsky adalah bahwa faktor interaksi sosial memegang peranan yang fundamental dalam pengembangan kognisi anak. Fungsi-fungsi dari pengembangan budaya anak akan muncul dua kali, yakni pada level individual dan yang kedua ada pada level sosial. Semua fungsi tersebut pada akhirnya akan melahirkan hubungan timbal balik di antara individu. Aspek kedua dari teori ini adalah adanya ide tentang pengembangan kognisi yang dibatasi oleh ruang dan waktu yang disebutnya dengan zone of proximal development (zona mendekati perkembangan), yang lebih lanjut akan diteruskan menjadi perkembangan sepenuhnya pada tataran interaksi sosial seutuhnya. Teori ini mencoba menjelaskan kesadaran sebagai akhir dari produk sosialisasi seseorang (anak). Contohnya ketika seseorang akan melakukan komunikasi dengan teman-teman sekelasnya ketika sedang belajar bahasa, pertama ia akan melakukannya secara internal (dalam hati) sebelum memverbalkannya atau mengkomunikasikannya secara langsung ke teman-teman kelompoknya. Teori ini memang masih termasuk ke dalam rumpun teori belajar sosial dari Bandura, terutama pada praktek belajar situasional, namun teori ini lebih memfokuskan diri pada pengembangan kognitif, yang mirip dengan paham Piaget dalam pemahaman teori belajarnya. Pendekatan teori belajar struktural dari J. Scandura Teori ini menggambarkan bahwa apa yang dipelajari oleh seseorang merupakan aturan yang terdiri atas suatu domain, rentang, dan prosedur. Analisis struktural juga merupakan suatu metode dalam mengidentifikasi aturan yang dipelajari di dalam kelompok atau kelas sesuai dengan topik yang diusungnya, ke dalam komponen-komponen yang lebih kecil, terus dipecah lagi ke dalam
12

komponen yang lebih kecil lagi sampai akhirnya sampai kepada aspek yang paling kecil. Kira-kira berkembangnya secara deduktif dalam matematika. Beberapa teori belajar yang lain yang sebenarnya masih relevan tidak akan dikemukakan di sini, karena makalah ini dikhususkan pada pendekatan teori belajar konstruktivisme. Beberapa teori belajar dimaksud antara lain adalah: Pendekatan teori-teori belajar dalam kelompok, Pendekatan aplikasi komunikasi interpersonal, Pendekatan teori belajar dengan media dan multimedia, Pendekatan teori belajar dengan media baru: e-learning, dan Pendekatan teori belajar dalam konteks Computer Mediated Communication (CMC) . (Brown, Christine D. 2001).

IV. Pendekatan Konstruktivisme dalam Pelaksanaan Komunikasi Pembelajaran Di dunia pendidikan, p andangan konstruktivisme didasari oleh penelitian Piaget, Vygotsky, psikolgi Gestalt, Bartlett, dan Brunner, seperti juga filsafat pendidikan John Dewey yang mengemukakan beberapa akar intelektual. Dalam pandangan konstruktivisme, memang tidak ada teori pembelajaran tunggal. Sebagian besar teori dalam ilmu pengetahuan kognitif meliputi beberapa macam konstruktivisme, karena teori-teori ini menyimpulkan bahwa individu individu membangun struktur kognitif mereka sendiri, persis seperti ketika mereka mengintepretasikan pengalaman-pengalamannya pada situasi tertentu (Palincsar, 1998). (Sumber: Henry Susanto, 2007: www.wordpress.com, diaks es 7 Juli 2009). Ada banyak pendekatan konstruktivisme dalam ilmu, pendidikan, psikologi, antropologi, komputerisasi, informasi, dan lainnya. Untuk menggambarkan kedudukan dan sifat konstruktivisme hubungannya dengan paradigma positivistik dan pasca positivistik, tabel berikut bisa menjelaskannya. Paradigma ini bersifat aksiomatis (diadopsi dari Pickard, A. and Dixon, P. 2004; kolom Kritis adalah tambahan penulis):

Positivisme Ontologi Realis, realita tunggal (Realist, singular reality)

Pasca Positivisme Critical realist. Social reality is real but only knowable in a probabilistic sense. Pragmatis

Construktivisme Relativist. Multiple realities constructed by individual. Multiple/Holisti c

Kritis Historical; a reality that is apprehendable . Realita yang bisa dipahami

13

Epistemol ogy

Objectivist.Du alist (knower can be independent of the known). Bebas nilai Experimental. Manipulative. Verification/ falsification.

Modified objectivist (objectivity approximated by external verification.) Modified experimental. Manipulative. Verification/ falsification. Discovery.

Subjectivist. Interactive. Researcher and subject are interdependent.

Modified transactional or subjectivist epistemology

Methodol ogy

Hermeneutics. Empathetic interaction between researcher and subject. Interpretation and interaction. Context & time dependent working hypotheses leading to understanding. Hipotesis kerja digunakan untuk memahami konteks dan waktu.

Rely on dialogic methods; tries to challenging guiding assumptions.

Hasil penelitian (Outcome s of the research). Results.

Context & time independent generalisations leading to 'natural' immutable (unchangeable ) laws or predictions. (Prediksinya tak dapat diubah).

Context & time dependent generalisations leading to models for predictions. Probabilistically true laws. (bergantung konteks dan waktu. Generalisasi mengarah ke model)

'Good' Research . Peneliti perlu mendiskusik an makna dan konsep yang dikembang kan

Dalam dunia komunikasi, konstruktivisme dikemukakan oleh Jesse Delia tahun 1982 (Communication capston, 2001). Model konstruktivisme ini lengkapnya adalah adalah: Cognitive complexity - rhetorical design logic - sophisticated communication - beneficial outcomes. Teori ini bisa menjelaskan bahwa orang yang memiliki persepsi kognitif yang kompleks terhadap orang lain, akan memiliki kapasitas berkomunikasi secara canggih (rumit) dengan hasil yang positif. Orang seperti ini mampu menyusun pesan-pesan retorik yang logis yang dapat menciptakan pesan-pesan yang berfokus kepada orang, yang secara serempak dapat mencapai tujuan-tujuan komunikasi secara berganda. Sebagai suatu teori, konstruktivisme berkaitan dengan proses kognitif seseorang yang melakukan komunikasi pada situasi tertentu. Kemampuan orang dalam menyusun atau membingkai pesan-pesan komunikasi untuk situasi dan
14

kondisi tertentu relatif akan lebih berhasil dibandingkan dengan mereka yang melakukannya tanpa persiapan. Dan orang yang mempersiapkan pelaksanaan komunikasi dengan berbekal pengalaman kognitif yang kompleks juga akan lebih berhasil dalam berkomunikasi dibandingkan dengan yang melakukannya secara apa adanya. Contoh di lapangan misalnya, kita lebih mudah mengerti jika mendapatkan penjelasan dari orang yang kompleks pemikirannya (biasanya ilmuwan dan berpendidikan) dibandingkan dengan orang kebanyakan, misalnya. Penjelasan penjelasan dari para ilmuwan relatif lebih lengkap. Latar belakang, aspek, dan variabel-variabel yang menyertai suatu objek yang dijelaskannya pun relatif teratur dan sistematis. Hal ini tentu berbeda jika dijelaskan oleh orang yang tidak mengerti di bidangnya. Contoh dalam kasus di lapangan cukup banyak. Di perguruan tinggi, misalnya, ketika dosen pembimbing penulisan skripsi u ntuk mahasiswa S1 mencoba menjelaskan pola hubungan antar variabel dalam usulan penelitian yang diajukan mahasiswa. Sang dosen mencoba menjelaskannya secara holistik, sistemik, dan melibatkan banyak aspek sekaligus dalam bingkai kognitif konstruktivistik dalam mempola kerangka berpikirnya. Variabel satu dikaitkan dengan variabel lainnya, juga demikian dengan kedudukan variabel independen dan variabel dependennya seperti apa dan dalam bentuk bagaimana. Hubungan-hubungan antar variabel yang cukup kompleks tadi dicoba dibingkai dalam kerangka pemikiran yang kompleks, namun cukup logis. Bentuk komunikasi seperti ini biasanya dilangsungkan secara antar persona dan langsung (lisan), namun hasilnya akan nampak dalam bentuk tulisan skripsi mahasiswa. Jadi skripsi mahasiswa merupakan hasil komunikasi dialogis, komunikasi antar persona antara dosen dengan mahasiswa yang dibimbingnya. Logika berpikir mahasiswa dengan logika berpikir dosen pada permasalahan skripsi tadi, akan menghasilkan kesepahaman yang konstruktif logis, yang secara nyata dituangkan dalam bentuk karya skripsi mahasiswa S1 (sarjana), dan tesis untuk mahasiswa S2 (magister), dan disertasi untuk mahasiswa S3 (doktor). Ringkasnya, teori Konstruktivisme didefinisikan sebagai pembelajaran yang bersifat generatif, yaitu tindakan mencipta sesuatu makna dari apa yang dipelajari. Konstruktivisme sebenarnya bukan merupakan gagasan yang baru, apa yang dilalui dalam kehidupan kita selama ini merupakan himpunan dan pembinaan pengalaman demi pengalaman. Ini menyebabkan seseorang mempunyai pengetahuan dan menjadi lebih dinamis. Pendekatan konstruktivisme mempunyai beberapa konsep umum seperti: o Pembelajar aktif membina pengetahuan berdasarkan pengalaman yang sudah ada sebelumnya, apapun, terutama yang relevan. Akumulasi pengetahuan dan pengalaman seseorang dari kecil hingga saat ini, dikelola untuk tujuan pencapaian nilai tambah yang lebih baik pada masa yang akan datang. o Dalam konteks pembelajaran, pembelajar terdorong dan seharusnya membina, mengembangkan, dan meningkatkan sendiri pengetahuannya.
15

Belajar adalah upaya menggapai sesuatu yang baru, mencari pengalaman yang baru, mencari informasi yang baru, dan berkomunikasi dengan pihak lain dengan tema-tema yang terus diperbaharui. o Pentingnya pembinaan dan pengelolaan pengetahuan secara aktif oleh pembelajar sendiri melalui proses saling mempengaruhi antara pembelajaran terdahulu dengan pembelajaran terbaru. Urutan pengetahuan dan pengalaman sang pembelajar dikonstruksi atau dibangun secara sistemik dan sistematik sesuai dengan pendekatan metodik yang tepat. o Unsur terpenting dalam teori ini ialah seseorang membina pengetahuan dirinya secara aktif dengan cara membandingkan informasi baru dengan pemahamannya yang sudah ada. Selalu diupayakan adanya pertalian antara informasi baru dengan informasi lama yang sudah dimilikinya. Mempertahankan dan membina informasi lama yang sudah baik, dan mengembangkan informasi baru yang lebih baik. o Bahan pembelajaran yang disediakan komunikator pendidikan, diupayakan harus mempunyai perkaitan dengan pengalaman pembelajar (siswa dan mahasiswa) guna menarik minat mereka. Komunikator pendidikan selalu beruoaya mencari permasalahan baru yang menarik perhatian bersama. Topik-topik hangat biasanya menarik perhatian siswa dan mahasiswa untuk dikritisi secara konstruktif. (Sumber: Adopsi, sarian dan tambahan penulis dari virtual encyclopedia dengan alamat http://id.wikipedia.org/wiki/Konstruktivisme. Kategori: Filsafat).

V.

Model-Model Pendekatan Konstruktivistik dalam Pelaksanaan Komunikasi Pembelajaran

Model pendekatan action research: Metodologi action research menawarkan suatu pendekatan sistematis di dalam praktek komunikasi pendidikan dan pembelajaran kelas, terutama untuk memperkenalkan inovasi-inovasi baru pembelajaran. Pola penggunaan dua arah diskusi teoretis dan praktis yang melibatkan fasilitator pendidik dan pembelajar dalam situasi yang diarahkan untuk membangun dan menemukan inovasi baru, pemecahan masalah, dan pencarian nilai tambah kognisi, afeksi, dan konasi. Penggunaan atau implementasi teori-teori belajar yang relatif baku di dalam kelas secara langsung, dengan mengambil contoh-contoh kehidupan nyata sang pembelajar sehari-hari dan mengupayakan pemecahannya. Dengan demikian, sang pembelajar pun terlibat dalam diskusi dengan guru dan kelompok pembelajar lainnya secara aktif, merefleksikan apa yang sudah didiskusikan bersama untuk kemudian dikritisi pula secara bersama di dalam diskusi dimaksud. Dengan demikian, belajar tidak bisa dilakukan sendirian dalam pengertian yang sebenarnya.
16

Banyak bentuk pendekatan yang dilakukan secara action research, namun pada dasarnya merupakan suatu metode yang mencakupi: identifikasi masalah, rencana kegiatan, implementasi, evaluasi, dan refleksi. Gambar dari Riding, Phil, Fowell, Sue and Levy, Phil (1995) berikut menjelaskan kerangka pendekatan pembelajaran action researh dalam kelas:

Action researh juga memiliki sejumlah sifat pembeda berurutan, seperti pernah digambarkan oleh Zuber-Skerritt, (1982). Masih dalam sumber yang sama, sebagai berikut: o Pencaritahuan bersama secara kritis oleh o Praktikan reflektif yang o Akuntabel (bisa dpertanggungjawabkan) dalam merumuskan hasil-hasil penelitian publiknya o Mengevaluasi diri di dalam praktek-prakteknya, dan bisa meng-hire (menangani) o Partisipasinya pada kegiatan pemecahan masalah dan pengembangan profesi selanjutnya. (Riding, Phil, Fowell, Sue and Levy, Phil (1995). Model Pengembangan Sosial dari L. Vygotsky Kerangka teoretis utama dari teori pengembangan sosial Vygotsky adalah bahwa faktor interaksi sosial memegang peranan yang fundamental dalam pengembangan kognisi anak. Fungsi-fungsi dari pengembangan budaya anak akan muncul dua kali, yakni pada level individual dan yang kedua ada pada level sosial. Semua fungsi tersebut pada akhirnya akan melahirkan hubungan timbal balik di antara individu. Aspek kedua dari teori ini adalah adanya ide tentang pengembangan kognisi yang dibatasi oleh ruang dan waktu yang disebutnya dengan zone of proximal development (zona mendekati perkembangan), yang lebih lanjut akan diteruskan menjadi perkembangan sepenuhnya pada tataran interaksi sosial seutuhnya. (Communication Capstone, 2001). 17

Teori ini mencoba menjelaskan kesadaran sebagai akhir dari produk sosialisasi seseorang (anak). Contohnya ketika seseorang akan melakukan komunikasi dengan teman-teman sekelasnya ketika sedang belajar bahasa, pertama ia akan melakukannya secara internal (dalam hati) sebelum memverbalkannya atau mengkomunikasikannya secara langsung ke teman-teman kelompoknya. Teori ini memang masih termasuk ke dalam rumpun teori belajar sosial dari Bandura, terutama pada praktek belajar situasional, namun teori ini lebih memfokuskan diri pada pengembangan kognitif, yang mirip dengan paham Piaget dalam pemahaman teori belajarnya. Dalam tataran praksis instuksional, teori ini bisa dijadikan alternatif pengembangan instruksional, terutama oleh para guru dan praktisi kom unikasi dalam memilih situasi belajar yang sesuai dengan tahap-tahap pengembangan sosial anak. Misalnya, seorang anak tidak secara serta-merta diberi tugas akademiknya di sekolah berkaikan dengan pembelajarannya, melainkan dipersiapkan lebih dahulu melalui tahap-tahap pengenalan kelompok, pengenalan secara personal, dan akhirnya pengenalan secara sosial (lebih luas). Dengan demikian, anak akan menjadi terbiasa (nyaman) dengan suasana barunya. Model Pengembangan belajar struktural dari J. Scandura (Communication Capstone, 2001). Teori ini menggambarkan bahwa apa yang dipelajari oleh seseorang merupakan aturan yang terdiri atas suatu domain, rentang, dan prosedur. Biasanya di dalam suatu kelas, terdapat beberapa aturan alternatif yang dipersiapkan untuk penugasan kelasnya. Sebuah penugasan kelas dengan pendekatan problem solving (pemecahan masalah), misalnya, akan melahirkan aturan-aturan baru setiap ada unsur pemecahan masalah secara sektoral. Artinya setiap kita berhasil memecahkan masalah dalam sektor tertentu, akan melahirkan masalah untuk sektor turunannya atau sektor lain. Orang akan selalu berpikir kreatif dalam setiap upaya memecahkan masalah yang dihadapinya. Tururan-turunan masalah tadi pada giliranya akan berkembang merumit sejalan dengan kreatifitas pemikiran penggagasnya. Ketika orang berhasil membuat rumus perkalian antara 7 x 8 = 56, maka angka 56 sebenarnya tidak hanya hasil dari perkalian itu, namun bisa jadi dari model perhitungan yang lain, misalnya dari 8 x 7, atau 28 x 2 yang hasil nya juga 56. Analisis struktural juga merupakan suatu metode dalam mengidentifikasi aturan yang dipelajari di dalam kelompok atau kelas sesuai dengan topik yang diusungnya, ke dalam komponen-komponen yang lebih kecil, terus dipecah lagi ke dalam komponen yang lebih kecil lagi sampai akhirnya sampai kepada aspek yang paling kecil. Kira-kira berkembangnya secara deduktif dalam matematika. Dalam dunia klasifikasi pada ilmu informasi dan perpustakaan, metode analisis subjek atau sering disebut dengan pemetaan subjek, hal seperti ini banyak dilakukan pustakawan ketika mengidentifikasi subjek dari bidang ilmu pengetahuan tertentu. Sebuah contoh turunan subjek dari bidang yang terluas sampai dengan yang tersempit, bisa kita lihat dalam contoh berikut:
18

Subjek umum yang dibahas secara umum: Gedung Perpustakaan Subjek umum yang dibahas secara khusus: Rancangan Gedung Perpustakaan Subjek khusus yang dibahas secara umum: Gedung Perpustakaan Sekolah Subjek khusus yang dibahas secara khusus: Rancangan Gedung Perpustakaan Sekolah Gambaran susunan struktur urutan dari daftar subjek di atas menunjukkan uruan hirarkis, dari umum ke khusus, dari subjek umum gedung perpustakaan, kemudian menyempit menjadi rancangan gedung perpustakaan, kemudian dipersempit lagi menjadi gedung perpustakaan sekolah, dan akhirnya sebagai subjek yang paling sempit adalah rancangan gedung perpustakaan sekolah. Subjek yang disebutkan terakhir ini sebenarnya secara struktural masih bisa dibagi-bagi lagi ke dalam komponen subjek yang lebih sempit, misalnya menjadi: tata ruang, ventilasi, jenis lantai, ukuran ruang baca, dan lain-lain. Yang jelas, secara struktural, setiap pengidentifikasian aspek dari hasil pengembangan identifikasi, merupakan hasil berpikir kreatif atas dasar pemetaan subjek secara struktural. Satu lagi contoh bidang subjek ilmu terapan yang dilihat dari pembagiannya secara struktural dalam klasifikasi desimal: 600 Ilmu-ilmu terapan ... ................... 620 Teknologi permesinan (teknik mesin) 621.3 Elektromagnetik dan cabang-cabang sejenisnya 621.38 Elektronika dan teknologi komunikasi 621.384 Radio dan teknik radar 621.384 .6 Particle accelerators 621.384 .63 Circular accelerators 621.384 .633. Fixed-field accelerators 621.384 .633.3 Weak-focusing constant-frequency cyclotrons dst., sampai bagian terkecil sebagai hasil pengembangannya. Pola berpikir kreatif dari model pemetaan struktual ini akan menghasilkan kompleksitas pemikiran hingga relatif tak terbatas. Orang akan berhenti berpikir struktural manakala struktur subjek usungannya dirasakan sudah lengkap terbahas secara holistik integratif dengan melibatkan banyak aspek yang semakin merumit. Yang unik dari pola penjelasan secara struktural atas konsep sebuah subjek adalah adanya hubungan hirarsitas yang jelas. Masing-masing substruktur sebenarnya masih memiliki subjek-subjek yang setara dengan kelompoknya, yang secara struktual bisa dikembangkan lagi sesuai dengan karakteristik subjeknya. Intinya, model belajar struktural ini memberi keleluasaan bagi seseorang untuk berpikir meluas sesuai dengan pola pengembangan hirarkis, yang bercirikan hubungan subordinatif jika dilihat dari atas ke bawah, atau dari konsep besar dan luas ke arah konsep yang kecil dan sempit ruang lingkupnya. Dalam tataran organisasi, bisa juga dikatakan sebagai pola pikir organisatoris dan melembaga. Semua pemikiran diikat
19

(1) (2) (3) (4)

dalam ruang lingkup yang dibingkai dalam koridor struktur yang biasanya diwadahi oleh organisasi. Model pendekatan falsifikasi dari Popper : Prinsip-prinsip umum pendekatan falsifikasi dari Karl R. Popper pada praktekpraktek komunikasi pendidikan dan pembelajaran, bisa interpretif dan perseptif bagi setiap orang, namun ada hal-hal yang menarik untuk diimplementasikan secara lebih arif, misalnya sebagai berikut: a) Ilmu terbuka pada kritik: Ilmu merupakan pengetahuan yang memiliki sifat dan persyaratan tertentu, ilmiah tentu saja. Sedangkan dikatakan ilmiah jika memenuhi syarat antara lain ada objek materialnya, ada objek formalnya, ada pengelolanya, ada organisasi pengelolaannya, masuk akal/logis, bukan pendapat umum, empiris, tunduk kepada kaidah ilmu yang meliputi parsimony, orde, empiris, ada antecedent-nya. Bisa dibuktikan oleh orang lain dengan hasil yang relatif sama. Keberanarannya bersifat relatif. Karena relatif, maka ada peluang untuk dikritik. Ada kebenaran lain di dalam ilmu. Ilmu yang disampaikan pendidik kepada terdidik (pembelajar) juga terbuka untuk dikritisi. Dalam konteks ini, para pembelajar bahkan dianjurkan untuk selalu berpandangan, bersikap, dan bertindak kritis terhadap proses pembelajaran di dalam kelas maupun di luar kelas. b) Ilmu sebagai suatu sistem teori : Teori adalah penjelasan yang benar. Benar dalam arti memenuhi syarat prosedural penjelasan. Teori bisa juga diartikan sebagai suatu hasil kajian mendalam yang telah teruji secara berulang-ulang dan bisa berlaku dalam kurun waktu tertentu, baik sektoral, nasional, ataupun global. Pertanyaannya adalah, apakah suatu sistem itu akan kekal dalam ruang dan waktu? Pandangan seperti ini juga perlu disampaikan komunikator pendidikan dan pembelajaran kepada para pembelajar. c) Kemungkinan untuk salah: Salah satu sifat dari teori adalah selalu melahirkan pertanyaan-pertanyaan lanjutan. Dengan demikian maka kemungkinan untuk salah tetap terbuka. Ibarat seorang ahli membuat suatu produk, hasil akhirnya tentu tidak semua orang sependapat dengan itu. Menurut orang lain tertentu, ada sesuatu yang perlu diperbaiki karena salah, misalnya. Pembelajaran kelas adalah proses pengelolaan pandangan-pandangan kritis yang dilakukan oleh komunikator pendidikan dan pembelajaran, yang secara bersama-sama dengan para pembelajar, mengkritisi kemungkinan-kemungkinan kesalahan pada sistem ilmu dan teori. d) Komitmen pada kebenaran: Meskipun ilmu terbuka untuk dikritik kar ena adanya kemungkinan untuk salah, sang pengkritik pun sebenarnya tetap berprinsip pada komitmen mencari kebenaran, kebenaran ilmu tentu saja. Artinya, baik komunikator pendidikan maupun para pembelajar, harus tetap dalam pandangan-pandangan kritisnya adalah untuk tetap dalam rangka mencari kebenaran.
20

e) Prinsip falsifikasi: Ada kesalahan prinsip, ada kesalahan sektoral, ada kesalahan etis, ada kesalahan karena tren pengguna. Aspek-aspek yang mungkin terdapat kesalahan dalam sistem teori dan ilmu, bisa dicari melalui proses pembelajaran secara terstruktur dan terprogram. f) Implementasi dalam praktek komunikasi pendidikan: Protes, demonstrasi, unjukrasa, pemberian saran dan masukan dari siswa dan mahasiswa dan pihak lain terhadap lembaga pendidikan, baik di di dalam sistem pendidikan sekolah ataupun di luar sekolah, sebaiknya dianggap sebagai bahan introspeksi untuk perbaikan. g) Sistem pendidikan bisa saja keliru: Banyak sistem pendidikan di dunia ini yang polanya berbeda. Sekarang ada sekolah alam, home schooling, privat methods, dan lainnya di luar sistem persekolahan yang sudah ada . h) Guru tidak selamanya benar di kelas : Di zaman ini, guru atau dosen dan komunikator pendidikan dan pembelajaran lainnya, bukanlah satu-satunya sumber informasi pendidikan bagi siswa/mahasiswanya. Ada pergeseran pola pembelajaran kelas. i) Siswa dianjurkan kritis: Pemeo yang mengatakan belajar dari kesalahan, belajar dari pengalaman, pengalaman adalah guru terbaik , bisa berlaku untuk semua kegiatan komunikasi pendidikan dan pembelajaran. Model pendekatan berfikir struktur penjelasan ilmu dari Carl Gustav Hempel a) Ilmu sebagai suatu sistem penjelasan: Disebut sistem penjelasan, sebab dalam penjelasan dimaksud ada komponen-komponen pendukung penjelasan tersebut. Komponen pertanyaan, komponen hipotesis, komponen observasi dan pengumpulan data, komponen analisis data, komponen penyimpulan, dll. Semua komponen tersebut terkait satu sama lain secara fungsional, bergerak secara sinergis dan saling melengkapi. b) Struktur logis penjelasan ilmiah: Penjelasan ilmiah dituntut logis, menggunakan logical construct, menyusun pola hubungan antar konsep sehingga membentuk paradigma pengetahuan. Paradigma pengetahuan ini setelah melalu suatu proses ilmu atau teori , akan menjadi paradigma ilmu. c) Logika dan hukum alam: Manusia itu bagian dari alam. Ia tentu tunduk kepada hukum alam. Tunduk dalam konteks ini hampir pada setiap aspek dan tindakannya. d) Eksplanasi probabilistik: Teori peluang bisa menjelaskan model ini. Teori kemungkinan juga bisa dikembangkan dalam pola pembelajaran dan pendidikan. Contoh misalnya presisi, standar deviasi, randomisasi. e) Relevansi penjelasan: Tema-tema penjelasan dalam Komunikasi Pendidikan dan Pembelajaran harus yang relevan dengan kehidupan keseharian, dengan pengalaman sebelumnya, dengan informasi yang didapat dari lingkungan sekitar. Jangan gunakan contoh kasusn yang tidak relevan. f) Implementasi dalam praktek komunikasi pendidikan: Ilmu dijelaskan secara terstruktur, sistematis, sistemik, logis, konstruktivis, relevan.
21

g) Mirip dengan model belajar struktural dari J. Scandura : Lihat model pembelajaran struktural dari J. Scandura yang sudah diuraikan di atas. h) Mengutamakan prinsip-prinsip logika dalam belajar : Mirip dengan model pembelajaran bermakna dari Davis Ausubel dan pengembangan logika dari Piaget. Orang belajar bertumpu pada otak. Berfikir adalah pokok pembelajaran terpenting. Sementara itu, membaca merupakan salah satu metode berfikir, seperti membaca secara fungsional, membuka tabir-tabir atau hijab tentang alam dan seluk beluknya. (Sumber: (http://www.davidausubel.org; dan (http://www.learningandteaching.info/learning/piaget.htm). i) Pembelajaran secara relevan: Topik-topik pilihan atau tema yang dipelajari harus relevan dengan dunia siswa sang pembelajar, dunia yang dikenal siswa, namun sedikit dikembangkan oleh guru sebagai fasilitator dan komunikator pendidikan dan pembelajaran. Model perubahan paradigma ilmu dari Thomas Samuel Kuhn a. Ilmu pengetahuan normal : Pengetahuan lahir dari pengalaman. Pengalaman terkait dengan waktu dan hidup kita, jaga ataupun tidur. Ilmu berproses seperti biasa dalam menjalani waktu, berbulan-bulan, bertahun-tahun, sebelum ada perubahan objek forma dan material. b. Krisis dan penemuan ilmiah: Ketika ditemukan fakta ilmiah baru oleh ahli lain dan itu sering terjadi baik di dunia sosial maupun alamiah, maka terjadi krisis. Ilmu dipertanyakan oleh banyak orang. Misalnya adanya pergeseran fungsi guru dari mengajari menjadi membelajarkan. Siswa bisa jadi lebih banyak tahu dari gurunya, dsb. Orientasi belajar untuk kerja, yang notabene untuk cari duit untuk hidup, persaingan, seleksi alam, dll. Krisis ilmu terjadi. c. Anomali dan fakta baru : Terjadi anomali dalam paham ilmu. Orang sudah mulai mencari-cari paham yang berbeda dengan paham ilmu yang ada selama ini. Contoh, apa sistem pendidikan kita sudah betul? Apakah pola belajar kelas selama ini masih perlu dipertahankan? Sebagian orang mulai menggunakan percobaan-percobaan tentang pelaksanaan sistem pendidikan, misalnya sistem sekolah terbuka, sekolah alam, sekolah privat, sekolah rumah, dll. Intinya sebagian anggota masyarakat tidak percaya lagi dengan pendidikan. d. Krisis dan penemuan teori: Dengan demikian, krisis terjadi di mana-mana, di lingkungan sosial ataupun di kalangan ilmuawan. Krisis akan sering melahirkan hal-hal yang besar dan bermanfaat setelahnya. e. Reaksi terhadap krisis: Masyarakat sebagian menjadi apatis, tidak percaya lagi kepada ilmuwan, tidak percya kepada ulama. Mereka lebih perc aya kepada media, termasuk media massa. f. Revolusi perubahan paradigma ilmu : Jika sudah seperti itu maka sebenarnya sudah terjadi revolusi dalam paradigma ilmu, paham ilmu, termasuk orang-orang yang menggarap ilmu. Sekarang masyarakat tidak lagi mengandalkan ilmuwan atau ulama sebagai tempat curhat, mencari joduh pun sudah terbuka di media,
22

aib seseorang pun dibuka dalam media, dll. Dengan demikian, secara hakiki, paham akan ilmu pun sudah berubah, terjadi revolusi dalam paham ilmu. g. Implementasi dalam Komunikasi Pendidikan dan Pembelajaran : Siswa dan mahasiswa diajak berfikir kritis, berfikir global, holistik, detil, dan berfikir historiografis agar paham akan adanya perubahan dalam banyak hal. Siswa dan mahasiswa diajak berdiskusi tentang masalah perubahan dan pergeseran dalam peristiwa sosial dan pendidikan. Misalnya perubahan guru dulu dan sekarang, perubahan pola belajar dulu dan sekarang, perubahan pandangan or angtua tentang pendidikan dulu dan sekarang. h. Diskusi kelas dengan tema mengamati perubahan sosial dan dunia pendidikan : Situasi pembelajaran menjadi semakin menarik karena mengangkat topik-topik yang hangat dan banyak dibicarakan oleh masyarakat. i. Surfing on chaos: Pintar-pintar saja mencari celah, maksudnya peluang dalam suasana yang semrawut seperti sekarang ini. Bukan mencari kesempatan dalam kesempitan dalam makna konotatif, akan tetapi lebih tepat memaknainya dengan konsep taqwa dalam islam. Orang harus pandai-pandai mengendalikan dirinya secara arif dan bijaksana dan tetap istiqomah dalam jalurnya, dan tetap teguh memegang prinsip kebenaran ilahiyah dalam situasi apapun. Tokoh Indonesia (Jawa) seabad yang lalu pernah berucap era ero jaman edan, sing ora edan ora kaduman (artinya kira-kira jaman edan, yang tidak ikut edan gak kebagian. Namun demikian, sak becik-becike wong sing edan, luwih becik wong kang eling lan waspada (sebaik-baik orang adalah yang selalu ingat dan waspada mawas diri dan selalu berusaha untuk mengendalikan diri sesuai dengan aturan Allah SWT.

Model experiential learning tools (Nunes, José Miguel Baptista & Fowell, Susan P. (1996): Pelaksanaan komunikasi pembelajaran harus bisa memberikan konteks asli (alamiah) dan adanya aspek bantuan yang bisa menjadikan seseorang (pembelajar) menyadari dan memahami lingkungannya sesuai dengan kondisi-kondisi stimulannya. Gambar berikut menunjukkan bahwa model layer experiantial learning mengarah kepada penyediaan konteks asli (alamiah) dan sekaligus menyediakan feedback pada kegiatan yang muncul pada konteks itu. Meskipun tentu saja model ini tidak memberikan bantuan konseptual pada pelaksanaan komunikasi pembelajaran lapangan secara langsung. Pengalaman belajar dengan pendekatan ini terbentuk dari proses kerjanya, yang di dalamnya meliputi proses berpikir awal, proses berpikir tahap berikutnya, dan tahapan berpikir kemudian. Dalam pelaksanaannya, sang pembelajar bisa menggunakan kasus-kasus dan objek belajar yang sudah dikemas dalam media baru (new media) untuk ditransformasikan ke dalam pengalaman belajar sesungguhnya. Layer (lapisan) bawah (subject matter conceptual layer) menggambarkan model pembelajaran yang berbasis tekstual, teksbook dan media bahan belajar
23

tekstual lainnya. Sedangkan layer atas (experiential learning layer) menggambarkan pembelajaran melalui pengalaman bermedia, khususnya belajar melalui web, yang sering dikenal dengan nama e-learning. Ada beberapa langkah strategis yang bisa dilakukan seorang guru dalam pelaksanaan instruksional di lapangan, yakni strategi dalam menggunakan berbagai media dan peralatan yang secara khusus diancang untuk memperlancar pencapaian tujuan instruksional. Namun karena yang dimaksudkannya adalah khusus dalam strategi instruksional dalam konteks CMC (computer mediated communication), terutama penggunaan web sebagai media pembelajaran, maka yang paling umum bisa dilakukan adalah dengan menggunakan media CMC dimaksud yang antara lain adalah: e-mail, instant messaging, newsgroups, web -based chat, distance learning, dan game online.

Model pendekatan web-based science lessons Leong, Siew Chee & Al-Hawamdeh, Suliman (1999) melakukan penelitian dengan tema pembelajaran melalui web atau yang sering dikenal dengan elearning, atau mereka menyebutnya dengan IT-based teaching and learning yang digunakan untuk melengkapi keahlian peserta didik dalam belajar dan komunikasi yang semakin diperlukan di masa kini dan masa depan. Masa sekarang tidak mungkin lagi proses pembelajaran yang tidak melibatkan aspek teknologi informasi dan komunikasi. Teknologi bisa dihadirkan di dalam kelas hanya apabila ia digunakan secara terprogram, terencana, serta mempertimbangkan kemampuan guru dan siswa dalam menggunakan komputer dan asesorinya, dan harus mempertimbangkan relevansi dan tuntutan kurikulum yang sudah dibuatnya. Sudut pandang pelibatan teknologi pembelajaran bukanlah tujuannya melainkan harus menggunakan sudut pndang pembelajaran itu sendiri yang ditetapkannya. Guru dan para pendidik yang menetapkan teknologi pembelajaran yang mana yang relevan dengan materi
24

pembelajaran yang diaplikannya. Pendekatan konstruktivisme lebih pas digunakan untuk pembelajaran kelas yang melibatkan peran-peran teknologi, khususnya teknologi pembelajaran seperti e-learning, web-based learning, dan multimediabased learning. Model multimedia pembelajaran Hasil belajar seseorang tidak hanya diperoleh dengan melihat, mendengar, meraba, dan gabungan semuanya seperti yang dikemukakan oleh Dwyer (1978), jauh sebelum teknologi komputer berkembang. Sekarang, dengan kehadiran komputer untuk aplikasi pendidikan dan instruksional, terasa sangat dimudahkan pelaksanaannya. Para guru, dosen, dan praktisi komunikasi di lapangan bisa menampilkan pesan-pesan pendidikan dan instruksionalnya melalui beragam teknik presentasinya dengan bantuan komputer multimedia. Pengertian multimedia itu sendiri cukup beragam seperti yang tercantum dalam kamus Encarta tahun 2009, sebagai berikut: a) Film suara yang ada dalam komputer, yang meliputi program-program, software dan hardware yang bisa digunakan secara luas dalam berbagai media seperti film, video, music, teks, grafik, dan angka. b) Penggunaan berbagai bahan dalam seni, terutama seni plastik dan lukis. c) Penggunaan semua jenis media komunikasi, khususnya dalam marketing, seperti radio, televisi, dan pers, disebut media promosi atau media marketing. d) Penggunaan media dalam pembelajaran, misalnya media film, video, gambar, lukisan, dan musik, sebagai tambahan atau kelengkapan terhadap metode pembelajaran dan pembelajaran secara konvensional. Memang masih terdapat pro dan kontra terhadap penggunaan multimedia dalam dunia pendidikan dan instruksional, bahkan hingga saat ini pun masih berlanjut. Namun masalah pro dan kontra ini tidaklah penting untuk dibicarakan di sini. Dalam dunia pendidikan dan instruksional, alat peraga pendidikan atau yang sekarang kita sebut dengan media instruksional, sangatlah diperlukan kehadirannya. Sebab media dimaksud mampu menambah kejelasan pesan-pesan instruksional yang disampaikan guru, dosen, ataupun praktisi komunikasi lain di lapangan. Sebuah contoh, ketika seorang guru SD menjelaskan nama-nama binatang liar yang belum dikenal oleh murid-muridnya, tentu tidak cukup dengan menarasikannya. Guru tersebut perlu menunjuk beragam binatang liar dimaksud. Namun hal ini tidak mudah karena binatang-binatang yang dimaksudkan tadi tidak ada di sekitarnya. Yang terbaik bagi guru tadi adalah membawa murid-muridnya datang ke kebun binatang terdekat sambil berwisata, dan ini pun tidak mudah karena memerlukan biaya dan waku khusus. Dalam kondisi seperti ini, guru bisa menggunakan media lain yang sanggup menampilkan beragam jenis binatang tadi. Caranya antara lain adalah dengan menampilkannya dalam bentuk gambar, foto, lukisan, atau bahkan yang lebih menarik adalah film suara atau video. Media film suara yang digunakan dalam komputer disebut dengan multimedia, dan jika
25

penggunaannya dirancang secara khusus untuk tujuan pendidikan dan instruksional, maka disebut dengan multimedia instruksional. Satu contoh lagi. Kita yang lahir dan hidup d i dunia tropis seperti di Indonesia dan di negara-negara lain yang beriklim tropis, tidak akan pernah tahu secara langsung beragam jenis binatang seperti panda, pinguin, beruang kutub, dan berbagai jenis binatang lain yang hanya bisa hidup di daerah kutub. Dan, kalaupun ada beberapa jenis binatang tadi dipelihara di kebun-kebun binatang tertentu di kita, masih tetap hanya orang-orang terbatas saja yang bisa melihatnya. Artinya, tidak semua anak-anak Indonesia bisa melihatnya secara langsung binatangbinatang tadi. Dalam kondisi seperti ini, peran multimedia instruksional sangat diperlukan kehadirannya. Sebagai media yang canggih, multimedia instruksional bisa menampilkan gambar, dan penjelasan lain secara lebih lengkap tentang berbagai binatang liar tadi. Warna, bentuk, dan gerakan-gerakan lain yang yang dilakukan oleh binatang tadi tampak persis seperti aslinya. Dan sang guru SD tadi pun dipermudah dalam melaksanakan kegiatan instruksionalnya, serta tujuan-tujuan instruksional yang ditargetkannya pun bisa lebih mudah tercapai. Gambar atau foto-foto berikut, hanya memerlukan sedikit teks sebagai keterangannya, namun akan lebih bisa menjelaskan dibandingkan hanya dengan menarasikannya lewat bahasa verbal (bahasa kata-kata) belaka, apalagi jika gambar dan foto tadi bisa bergerak dan bersuara seperti aslinya. Untuk semua itu, multimedia instruksional mampu melakukannya dengan lebih baik.

Gambar: Panda, Penguin, Pantai

Dari ketiga contoh foto binatang Panda, Burung Penguin, dan pantai di atas, orang akan bisa tahu secara visual, dan ini tentu saja lebih bisa dipahami oleh para siswa dalam sistem instruksional, dibandingkan dengan jika sang guru hanya menjelaskannya secara verbal saja. Jika gambar binatang di atas direkam dalam format video atau gambar bergerak, maka akan lebih mampu mewakili bentuk aslinya. Dan multimedia instruksional bisa memanfaatkannya untuk tujuan mempermudah pencapaian tujuan-tujuan instruksional yang ditetapkan para instruktor dan praktisi komunikasi pendidikan pada umumnya.
26

cF PPFUIGaFQ P H RFTF VGFTIQIS PFHFU X FT F Y SI

PF S TF RWHH URTPR TIGR F X HF Ve

UF SIq c gp h

ie i gh g

e f

IS XF WHF QXF WHFQ VFIS HITGRH U IPU T PFQP S QP R Q PF G Q PF F P PFI F HFGFE

s

s

s j vs

y y s s

sec s s

cHFIS YTYbYTYb F aRX W F PF ` UFSIT VFXF R

Y SI

F XF

PFUI F IGF R I IS F IW

e e

s

sec y e s dan hand a

PFUF PRQQ P H F IW Q PR QPFG FXF

PFQPF aFG F PF F R

RFTF XF WHFQ PFGIWHFQP d

v e y vd o y

se a od

PFQP S PFUI FXQ TPIIS UF PF Q PFXFU W

Q PF

e

Be s e j e j e j

e v e s

s s

y s sec s s c 2006

FIS H PF Q P S PFTIFUX W QPF

XF WHFQ XF WHF Q PFUGIaHFT IHFU T RU IX

s e e e

y

sec

e

y e s s e e handphon c s

e

e

se

F IS H

IFQF W

PFUF P RQIS

Q PR QPF G

R R `U

y e se e c s

s s s

PFQ PITP a U

UR TP R

R R `U

FXF

UFSIT

Q PF

FGR a F SF QPF

FXF

e

F IS H PFUISF IS URTP R

RQF W TFQ PF

F IW T RW

X T FIS H PRHF P V PFXF F G WH a PF S FSr PFXF F G WH a cGF PYI URXT PI

e s S

cw

FTXF Pv TbY YX Iu t X WH R s c F G U IS PFXF F G WH a

s

16

s

e

17

SF WF aYU YXUIH y

SF WF UY Y€ aYU YXUIH y

SF WF UIT Pr aYU YXU Iu t XF WHFx

e

s

sc

ec

c sc

e

s

s

j

e

e e

sys e

H T

X FG Y P F S a Y

YX Iu P YXT

Gv QPIP PF

VaYU YXUIH PFF PRQ QP d t XF WHFx

Be B

s e

s e

c

s

es

a YU YXUIH IXF S PFXF

W G I F ` XF WHFQ `YT PY

RTF

`FGF

`FGF SF T RU IX

ee

s y

e e

s

18

e

e

27
cF PIG F F SP W PFQ P S PFUQ PISPF cPYXTU G

‚ ‚ f’ ‚ ™‚ f d j‚…‚e “ ƒ jˆ„  i “‚…‚ ‚  „ƒ f “‚ ™ “‚dˆ™ˆ™“ f ˆ ‚dˆ“ ’ƒ•d ˆ ˆ‰d‚…f “‚ ™ ’… ’e “‚… l h…‚ ‚ f ‰‚ “ˆƒ dˆ…‚ “ ƒ d ’‰ “’ …‚ ‚ f “‚ƒ‚‚e “ f “‚e“ ™ “‚‰ˆ‚d… f ˆ‚ “ ’fƒ ƒ ’… f “‚d‚ˆ™ “‚…‚ ‚  „ƒ f

•…f ƒ‚ ‚™ e“ˆ‰ “ f …•‰d‚– j‚ ‚ ™‚ i“‚

 … e “‚

‚ “‚ƒ‚‰’ ‚ “ˆ…ˆ™

i ’…‚ „ ˆ ‚ƒ… •–“ˆ “‚ j‚ „ƒ‚‰ ˆ…‚ “ ƒ ‚ ‚ f’… “‚ ’j‚‰ e“ f ‚ “ˆ„ƒ ƒ e “‚…•

h‚ ™‚ j‚ ™’ e “‚ ‚ “ “‚ƒ‚ j‚ƒ f “‚e“ ™ –ˆ‰d‚ ‚…‚

“‚e“ ™ ’…‚ „ ˆ ‚ƒ… •–“ˆ “‚de “ˆ™“‚ „ƒ ƒ ‚…‚ he“‚‰‚ ™“ ƒ ‚ ‚ƒ ˆ ‚fˆ ˆ‰ “‚ d ’‰ “’ e“‚…‚d

j‚‚ˆ ˆ“ˆ ˆ…• ‰ ƒ‚‚ ™ e“ˆ‰ “ f… ‰ … ’ “m ‚ ‚ƒ “‚ ™ ’‚ ‚ ‚ƒ ˆ…‚ ™ ˆ“ •…f ˆ’‚ ƒ ˆ…ˆ™“

“‚ƒ‚ ‚ e“ f “‚dˆ‚de“‚… ƒ fˆ “ˆ…l h’…‚„… ‰ “‚…‚ ‚  „ƒ f “‚e “ ™ ’’j‚ ™… ‰ “‚…‚ ‚ „ƒ f ‚…‚‰“‚ ˆj ’…‚ e“ fƒ ƒ e“ˆ‚ j • –ˆ‰d‚ ‚…‚ …‚ ‚  „ƒ f “‚ ’j‚‰ e “ f “‚‚ • e“ f “‚ ™ “‚‚ “ˆ„ƒ f ‚ “e“ˆ‰ “ l h…‚’ ˆ…‚ ™ e “‚‰‚ ™ e “‚

’’ƒˆ‰ ˆ’‚ ƒ

“‚d ’„ i‚ “‚ ‚f’ ˆ’‚  ƒ j •… fˆ™ ‚s ˆ ˆ…ˆ™ “ ‚˜ h“‚  … e“‚

“‚ ’ j‚‰ e“ l h‚ ““‚ ’j‚‰ e “ f ‚ ™‚ j‚ ™’ e “‚ q‚s ˆ r “‚ƒ‚‚e “ f e “‚

“‚d‰‚de“ˆ“ ƒ “‚ ™ i“‚de“‚ „ƒ e “ ƒ i‚ “ˆ„ƒ ƒ d ’‰ “’ e “•…•™… ‰ ‚e’ ‚ƒ‚‰ ’… ‰ i“ ’ f‚ f‚ i‚ “ƒ’ „ ‚ “ˆ„ƒ ƒ “‚’ j‚‰ e“ f –ˆ‰d‚ …‚ ‚ „ƒ f ’‰‚’

“‚d…‚ ‚ ™… „ –ˆ‰ˆ“e •d

h’‰ “ ‰… ‰ ˆ ‚ ’‰ˆ ‚ ™‚ f “‚ ‚ ‚ „ƒ f ˆ ‚d ˆ“’ƒ•d “‚d’d‚ ƒ e“‚ e“‚…• … •…f “‚e “ ™ “‚‰ˆ‚d… „ ƒ ˆ ˆ‰d ’…‰ “•d iˆ…• ‰

ˆ‚e‚ „

h‚ “•ˆ d’…‰ “ˆ ˆ ‚d ˆ“’ƒ•ddˆ‰d‚… f “‚ˆ ‚ j… „ d “‚d‰‚de“ˆ“ ƒ ’‰ “‚ „ƒ ƒ ‚ ˆ„ ˆ“ˆ ‚ˆ™ ƒ “‚‚ “’ ee “ f ˆ…‚™ ˆ ‚— hˆ“ˆ “‚ƒ‚g ˆ™ ‚ˆ™ ƒ “‚ ’ fƒ‚ƒ d “‚™ ˆ e“’– ‚ ““‚d„ ’ d‚ “ ƒ ‚ f‚‰ „ ‚‰ˆd ‚ ™‚ f d “‚dd ’ “’ “ ƒ ˆ™‚‰ …‚ „ƒ‚e …‚ „ƒ‚ ‚’e ‚‰ ˆ…d “‚ ™ ” ˜— –• …’‰ ’…‰ ”ˆ“…’‘ ƒ‚…‚ ‚‰ ˆ…‡ † …‚ „ƒ‚

s

ƒ‚‚ ™ ‚ “ ’ ’jd i“‚dˆ™ˆ™ “ f ‚ … “ˆd “‚d‰‚de“ˆ“ ƒ ƒ‚ ‚ ™ ’‰ “‚ „ƒ ƒ ‰‚e“‚

V

p onml‘˜ k‡ h˜

e e e 1 Se sese 2 S e j e e e e 3 e e e e seje s 4 s y e

ˆ‚ “’ fƒ ƒ “‚…‚ ‚  „ƒ f ƒ‚‚ ™ ƒ ˆ ˆ‰d ’…‰ “•d “‚‰‚d ™ “ f “‚‚ “ ’ee“ l

e

s

S

e

e

e e s vs e e e j e y e e se e e e s vs e e e ses y e s e e j s s e e e e j ss e e e e s y s se e y e y e ev e e e e se y e e ss e e e y y s sy y e e e e e sec e j se e ses s e e e e j e e e j e s e e s s se s s s e e e e sese e e e sec e c e s e y y s Be y e c s y y e ev e ses e e j

e

se s

†‰ ’dˆ… „ ˆ‰… f

ƒ’ƒ ’ –ˆ‰‚‰“ ƒ fƒˆ f

“ •d ‚ f‚… „ „

ss B e

h‚s ˆ

q

q

q q

5

e j e j s e e s s e se

e

-

s

e

e e e

y

ˆ™ e“‚

“‚…‚ ‚  „ƒ f “‚ j‚

e e

e

s

s

se e e

j

e j e s ss ss

s

c

e

s ej

e

e

e e j e e

e

V

s

e

e e

e

s

y

c

“‚ ™ e“ •…• ™“ ƒ ‚…‚

“‚e “ ™ q s ˆ r ‚

“ ˆ™’‚ ˆ ˆ™“•d “‚ ™ ˆ ‚’‰ˆ

e

‚ ““‚…‚ ‚ „ƒ f “‚d ’d‚ ƒ d ’‰ “’ ‚s ˆ

e

s

s

e

e e e e j

e

j e s s y

e

28
‚ ™‚ f d ‰‚e “‚ƒ “‚d ˆ… „ƒ ƒ ‚  • e “ ƒ

y s

s y

y

q

sendiri. Contohnya, sediakan saja semua fasilitas pembelajaran yang relevan, dan dorong mereka untuk mengoptimalkan penggunaannya. 6) Kemampuan orang dalam menyusun atau membingkai pesan-pesan komunikasi pembelajaran untuk situasi dan kondisi tertentu relatif akan lebih berhasil dibandingkan dengan mereka yang melakukannya tanpa persiapan. 7) Orang yang mempersiapkan pelaksanaan komunikasi pembelajaran dengan berbekal pengalaman kognitif yang kompleks juga akan lebih berhasil dalam berkomunikasi dibandingkan dengan yang melakukannya secara apa adanya. Contoh di lapangan misalnya, kita lebih mudah mengerti jika mendapatkan penjelasan dari orang yang kompleks pemikirannya (biasanya ilmuwan dan berpendidikan) dibandingkan dengan orang kebanyakan, misalnya. Penjelasan-penjelasan dari para ilmuwan relatif lebih lengkap. Latar belakang, aspek, dan variabel-variabel yang menyertai suatu objek yang dijelaskannya pun relatif teratur dan sistematis. Hal ini tentu berbeda jika dijelaskan oleh orang yang tidak mengerti di bidangnya.

VII. DAFTAR PUSTAKA Ausubel. (ny). Belajar bermakna. (available at: http://www.davidausubel.org). Diakses ntanggal 14 Agustus 2009). Bigge, Morris L., 1982. Learning Theories for Teachers, ed. Ke-4, Harper & Row, New York. Brown, Christine D. (2001) "The role of computer -mediated communication in the research process of music scholars: an exploratory investigation". In formation Research, 6(2) Available at: http://InformationR.net/ir/6 -2/paper99.html. Communication Capstone, 2001. Theory Workbook. Dwyer, Francis M., 1978. Strategies for improving Visual Learning, Pensylvania, Learning Service. Leong, Siew Chee & Al-Hawamdeh, Suliman (1999) "Gender and learning attitudes in using Web-based science lessons" Information Research, 5(1) Available at: http://informationr.net/ir/5-1/paper66.html. Littlejon, Stephen W. 1996. Theories of Human Communication, ed. ke -5. Belmont, California, Wardsworth Publishing Company. Mikhael Dua, 2007. Filsafat Ilmu Pengetahuan; telaah analitis, dinamis, dan dialektis. Maumere, Ledarero. Mortensen, Donald G., dan Allen M. Schmuller, 1964. Guidance in Today s Schools, John Wiley & Sons, New York. Nunes, José Miguel Baptista & Fowell, Susan P. (1996) "Hypermedia as an experiential learning tool: a theoretical model". Information Research, 2(1). Available at: http://InformationR.net/ir/2 -1/paper12.html

29

Jean. (ny). Learning and teaching. Available at: http://www.learningandteaching.info/learning/piaget.htm. diakses tanggal 14 Agustus 2009). Pickard, A. and Dixon, P. (2004) "The applicability of constructivist user studies: How can constructivist inquiry inform service providers and systems designers?" Information Research, 9(3) paper 175 (Available at http://InformationR.net/ir/9-3/paper175.html). Riding, Phil, Fowell, Sue and Levy, Phil (1995) "An action research approach to curriculum development". Information Research, 1 (1) Available at: http://InformationR.net/ir/1-1/paper2.html Shermis, Samuel.2001. How to discipline your mind. Purdue University. (available at: http://www.a2zpsychology.com).

Piaget,

30

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->