Seminar HAKI – 21/22 Agustus 2007 – Pertimbangan Perbaikan dan Perkuatan Struktur Bangunan Pasca Gempa – Hartono, Handi Prajitno

& Richard Pelupessy

PERTIMBANGAN PADA PERBAIKAN DAN PERKUATAN STRUKTUR BANGUNAN PASCA GEMPA
Ir. Hartono , Ir. Handi Prajitno & Ir Richard Pelupessy *

ABSTRAK Kerusakan pada Bangunan banyak tejadi akibat Gempa, baik kerusakan struktural maupun non-struktural. Pada paper ini akan disajikan beberapa metode serta material perbaikan dan perkuatan yang dapat digunakan untuk mengatasi kerusakan-kerusakan yang terjadi, dan kontrol kualitas selama dan sesudah pelaksanaan proses perbaikan dan perkuatan. Selain itu juga dibahas mengenai penggunaan Self Compacting Concrete (SCC) pada metode perkuatan dan Corrosion Inhibitor untuk meningkatkan keawetan dari struktur beton

1. PENDAHULUAN Seperti kita ketahui semua, pada umumnya setelah terjadinya gempa bumi dengan skala yang cukup besar, akan mengakibatkan kerusakan struktur maupun non-struktur pada bangunan yang terbuat dari konstruksi beton bertulang. Bentuk dan tingkat kerusakan yang terjadi mulai dari yang ringan sampai berat. Dengan adanya tuntutan bahwa bangunan yang mengalami kerusakan harus sudah dapat secepatnya difungsikan kembali, maka perlu adanya penanganan terhadap kerusakankerusakan yang terjadi, baik dengan melakukan perbaikan ataupun perkuatan. Seringkali dengan terbatasnya waktu, maka perbaikan atau perkuatan yang dilakukan tidak memperhatikan beberapa kaidah yang berkaitan dengan kapasitas struktur dan prosedur pelaksanan serta kontrol kualitas. Oleh sebab itu untuk mendapatkan hasil perbaikan dan perkuatan yang tepat guna dan mencapai sasaran yang telah ditetapkan, maka perlu dilakukan investigasi untuk mendapatkan data-data kerusakan baik melalui pengamatan visual ataupun dengan bantuan pengujian non-destructive maupun semi destructive dan mereview dokumen dari struktur yang ada. Dari hasil investigasi tersebut, kemudian dilakukan analisa dan evaluasi pada struktur tersebut untuk menetapkan apakah kerusakan yang terjadi hanya perlu perbaikan atau perlu perkuatan atau dalam kondisi yang terjelek struktur yang mengalami kerusakan harus dilakukan pembongkaran dan dibangun struktur baru.
* Business Unit Contractor PT Sika Indonesia 1

Seminar HAKI Inkindo – 8/9 Juni 2006 – Pertimbangan Perbaikan dan Perkuatan Struktur Bangunan Pasca Gempa – Hartono Dalam paper ini akan dibahas mengenai beberapa metode perbaikan dan perkuatan yang dapat digunakan dalam penanganan terhadap kerusakan yang terjadi. 2 .

Keretakan Keretakan dibedakan retak struktur dan non-struktur. tergantung pada besar dan dalamnya spalling yang terjadi. Pada saat pelaksanaan yang harus diperhatikan adalah penekanan pada saat mortar ditempelkan. dapat digunakan metode patching. sehingga dapat mengisi dan sekaligus melekatkan kembali bagian beton yang terpisah. Untuk retak non-struktur. B. disamping besar dan luasnya kerusakan yang terjadi. terutama untuk pekerjaan perbaikan overhead. 3 . polymer mortar dan epoxy mortar. Patching Untuk spalling yang tidak terlalu dalam (kurang dari selimut beton) dan area yang tidak luas. A. dengan melakukan penempelan mortar secara manual. tidak susut dan tidak jatuh setelah terpasang (lihat maksimum ketebalan yang dapat dipasang tiap lapis). Jenis kerusakan yang sering terjadi akibat gempa adalah kerusakan berupa keretakan dan spalling (terlepasnya bagian beton). Material yang digunakan harus memiliki sifat mudah dikerjakan. waktu pelaksanaan dan biaya perbaikan. Proses injeksi dapat dilakukan secara manual maupun dengan mesin yang bertekanan. sedang retak non-struktur terjadi dinding bata atau dinding non-beton lainnya. Retak struktur umumnya terjadi pada elemen struktur beton bertulang. tergantung pada lebar dan dalamnya keretakan. Spalling Metode perbaikan pada kerusakan spalling. sehingga benar-benar didapatkan hasil yang padat. Umumnya yang dipakai adalah monomer mortar. peralatan yang tersedia. kemudahan pelaksanaan. kemampuan tenaga pelaksana serta batasanbatasan dari pemilik seperti keterbatasan ruang kerja. lingkungan dimana struktur berada. digunakan metode injeksi dengan material epoxy yang mempunyai viskositas yang rendah.Seminar HAKI Inkindo – 8/9 Juni 2006 – Pertimbangan Perbaikan dan Perkuatan Struktur Bangunan Pasca Gempa – Hartono 2. Sedang pada retak struktur. METODE DAN MATERIAL PERBAIKAN Penentuan metode dan material perbaikan umumnya tergantung pada jenis kerusakan yang ada. Metode perbaikan ini adalah metode perbaikan manual. i. dapat digunakan metode injeksi dengan material pasta semen yang dicampur dengan expanding agent serta latex atau hanya melakukan sealing saja dengan material polymer mortar atau polyurethane sealant.

dan akan tercampur dengan air di ujung selang. yaitu metode perbaikan dengan melakukan pengecoran memakai bahan non-shrink mortar. iv. setelah itu dilakukan pemompaan bahan grout. campuran yang dimasukkan dalam mesin berupa campuran basah. Metode shotcrete ada dua sistim yaitu dry-mix dan wet-mix. Pada metode ini beton yang dihasilkan adalah dengan cara menempatkan sejumlah agregat (umumnya 40% dari volume kerusakan) kedalam bekisting. sehingga mutu beton yang ditembakkan lebih seragam. campuran yang dimasukkan dalam mesin berupa campuran kering. Sehingga mutu dari beton yang ditembakkan sangat tergantung pada keahlian tenaga yang memegang selang. Pada metode shotcrete. yang memiliki flow cukup tinggi dan tidak susut. apalagi bila sampai terjadi ‘blocking’.Seminar HAKI Inkindo – 8/9 Juni 2006 – Pertimbangan Perbaikan dan Perkuatan Struktur Bangunan Pasca Gempa – Hartono ii. yang mengatur jumlah air. Pada metode perbaikan ini yang perlu diperhatikan adalah bekisting yang terpasang harus benar-benar kedap. Pada metode ini tidak diperlukan bekisting lagi seperti halnya pengecoran pada umumnya. Pada sistim wet-mix. karena tidak pernah terjadi ‘blocking’. 4 . Shot-crete (Beton Tembak) Apabila spalling yang terjadi pada area yang sangat luas. Material grout yang umumnya digunakan adalah polymer grout. Metode ini dapat dilakukan secara manual (gravitasi) atau menggunakan pompa. dengan tujuan mempercepat pengerasan dan mengurangi terjadinya banyaknya bahan yang terpantul dan jatuh (rebound). Tapi sistim ini memerlukan perawatan mesin yang tinggi. kedalam bekisting. iii. Pada sistim dry-mix. maka sebaiknya digunakan metode Shot-crete. agar tidak ada kebocoran spesi yang mengakibatkan terjadinya keropos dan harus kuat agar mampu menahan tekanan dari bahan grouting. Grouting Sedang pada spalling yang melebihi selimut beton. umumnya digunakan additive untuk mempercepat pengeringan (accelerator). Tapi sistim ini sangat mudah dalam perawatan mesin shotcretenya. Umumnya digunakan bahan dasar semen atau epoxy. dapat digunakan metode grouting. Material yang digunakan harus memiliki sifat mengalir dan tidak susut. Grout Preplaced Aggregat (Beton Prepack) Metode perbaikan lainnya untuk memperbaiki kerusakan berupa spalling yang cukup dalam adalah dengan metode Grout Preplaced Aggregat.

dibahas di bagian 4 – Self Compacting Concrete. tetapi pada saat ini sudah mulai digunakan bahan dari FRP (Fibre Reinforced Polymer). Menambah plat baja. dengan adanya admixture beton generasi baru. kapasitas struktur ditingkatkan dengan melakukan prestress di luar struktur. Umumnya digunakan beton sebagai material untuk memperbesar dimensi struktur. sehingga tidak menyebabkan perlemahan pada struktur yang ada. Akibat dari penambahan dimensi tersebut. Material yang umumnya digunakan adalah baja prestress. harus diperhatikan beberapa hal yaitu kapasitas struktur. Tujuannya adalah memperkecil gaya-gaya dalam yang terjadi. 5 .Seminar HAKI Inkindo – 8/9 Juni 2006 – Pertimbangan Perbaikan dan Perkuatan Struktur Bangunan Pasca Gempa – Hartono 3. maka harus diperhatikan bahwa secara keseluruhan beban dari Bangunan tersebut bertambah. METODE DAN MATERIAL PERKUATAN Dalam pemilihan metode perkuatan. Tujuan dari penambahan ini adalah untuk menambah kekuatan pada bagian tarik dari struktur Bangunan. Memperbesar dimensi daripada konstruksi beton. umumnya untuk menjamin lekatan antara plat baja dengan struktur beton digunakan epoxy adhesive. Metode perkuatan yang umumnya dilakukan adalah : Memperpendek bentang dari struktur dengan konstruksi beton ataupun dengan konstruksi baja. kemudahan pelaksanaan. kemampuan tenaga pelaksana serta batasan-batasan dari pemilik seperti keterbatasan ruang kerja. Yang perlu diperhatikan adalah penempatan anchor head. Melakukan external prestressing. Didalam penambahan plat baja tersebut. dimungkinkan untuk menghasilkan beton yang dapat memadat sendiri (self compacting concrete). sehingga harus dilakukan analisa secara menyeluruh dari struktur atas sampai pondasi. Dengan metode ini. harus dijamin bahwa plat baja menjadi satu kesatuan dengan struktur yang ada. tetapi harus dianalisa ulang akibat dari perpendekan bentang ini yang menyebabkan perubahan dari gaya-gaya dalam tersebut. lingkungan dimana struktur berada. bukan didalam seperti pada struktur baru. waktu pelaksanaan dan biaya perkuatan. peralatan yang tersedia. Umumnya dilakukan dengan menambah balok atau kolom baik dari beton maupun dari baja.

Beton SCC yang baik harus tetap homogen. Self Compacting Concrete Self Compacting Concrete atau yang umum disingkat dengan istilah SCC adalah beton segar yang sangat plastis dan mudah mengalir karena berat sendirinya mengisi keseluruh cetakan yang dikarenakan beton tersebut memiliki sifat-sifat untuk memadatkan sendiri.Seminar HAKI Inkindo – 8/9 Juni 2006 – Pertimbangan Perbaikan dan Perkuatan Struktur Bangunan Pasca Gempa – Hartono Menggunakan FRP (Fibre Reinforced Polymer) Prinsip daripada penambahan FRP sama seperti penambahan plat baja. adalah kemampuan beton SCC untuk mengalir dan mengisi keseluruh bagian cetakan melalui berat sendirinya. Workability Berdasarkan spesifikasi SCC dari EFNARC. workabilitas atau kelecakan campuran beton segar dapat dikatakan sebagai beton SCC apabila memenuhi kriteria sebagai berikut yaitu:  Filling ability  Passing ability  Segregation resistance Filling ability. Bentuk FRP yang sering digunakan pada perkuatan struktur adalah Plate / Composite dan Fabric / Wrap Bentuk plate lebih efektif dan efisien untuk perkuatan lentur baik pada balok maupun plat serta pada dinding. adalah kemampuan beton SCC untuk mengalir melalui celah-celah antar besi tulangan atau bagian celah yang sempit dari cetakan tanpa terjadi adanya segregasi atau blocking. Pemadatan yang kurang sempurna pada saat proses pengecoran dapat mengakibatkan berkurangnya durabilitas beton. adalah kemampuan beton SCC untuk menjaga tetap dalam keadaan komposisi yang homogen selama waktu transportasi sampai pada saat pengecoran. tidak segregasi. aramid dan glass. Passing ability. 6 . dan tidak bleeding. dan waktu pelaksanaan pengecoran juga lebih cepat. yaitu menambah kekuatan di bagian tarik dari struktur. Pemakaian beton SCC sebagai material repair dapat meningkatkan kualitas beton repair oleh karena dapat menghindari sebagian dari potensi kesalahan manusia akibat manual compaction. tidak terjadi blocking. Dari beberapa metoda test yang telah dikembangkan akan dibahas hanya tiga macam metoda yang dianggap dapat mewakili ketiga kriteria workability tersebut di atas. Metoda Test Metoda test pengukuran workability telah dikembangkan untuk menentukan karakteristik beton SCC dan sampai saat ini belum ada satu jenis metoda test yang bisa mewakili ketiga syarat karakteristik beton SCC seperti tersebut di atas. 4. tanpa adanya bantuan alat penggetar. sedang bentuk wrap lebih efektif dan efisien untuk perkuatan geser pada balok serta untuk meningkatkan kapasitas beban axial dan geser pada kolom. Tipe FRP yang sering dipakai pada perkuatan struktur adalah dari bahan carbon. kohesif. Segregation resistance. Sebaliknya dengan beton SCC struktur beton repair menjadi lebih padat terutama pada daerah pembesian yang sangat rapat.

Semakin besar nilai blocking ratio.  Untuk konstruksi horisontal disarankan menggunakan slump-flow antara 60 cm sampai 65 cm.0 7 . dapat diketahui kemungkinan adanya blocking beton segar saat mengalir. Untuk test ini kriteria yang umum dipakai baik untuk tipe konstruksi vertikal maupun untuk konstruksi horisontal disarankan mencapai nilai blocking ratio antara 0. dan dengan memakai alat ini dapat diperoleh kondisi workabilitas beton berdasarkan kemampuan penyebaran beton segar yang dinyatakan dengan besaran diameter yaitu antara 60 cm – 75 cm. disarankan menggunakan slump-flow antara 65 cm sampai 70 cm. Kriteria yang umum dipakai untuk penentuan awal workabilitas beton SCC berdasarkan tipe konstruksi adalah sebagai berikut :  Untuk konstruksi vertikal. Slump-Flow test L-Shape-Box Dipakai untuk mengetahui kriteria ‘passing ability’ dari beton SCC. Kebutuhan nilai slump flow untuk pengecoran konstruksi bidang vertikal berbeda dengan bidang horisontal.Seminar HAKI Inkindo – 8/9 Juni 2006 – Pertimbangan Perbaikan dan Perkuatan Struktur Bangunan Pasca Gempa – Hartono Slump-Flow Slump-flow test dapat dipakai untuk menentukan ‘filling ability’ baik di laboratorium maupun di lapangan. Dengan menggunakan L-Shape Box. Selanjutnya dengan L-Shape-Box test akan didapat nilai blocking ratio yaitu nilai yang didapat dari perbandingan antara H2 / H1.8 sampai 1. semakin baik beton segar mengalir dengan viskositas tertentu. dan juga dapat dilihat viskositas beton segar yang bersangkutan.

funnel Dipakai untuk mengukur viskositas beton SCC dan sekaligus mengetahui ‘segregation resistance’ . Kemampuan beton segar untuk segera mengalir melalui mulut di ujung bawah alat ukur V-funnel diukur dengan besaran waktu antara 6 detik sampai maksimal 12 detik.Seminar HAKI Inkindo – 8/9 Juni 2006 – Pertimbangan Perbaikan dan Perkuatan Struktur Bangunan Pasca Gempa – Hartono L-Shape-Box test V . V-funnel test Pouring dan Formwork Beberapa hal yang perlu diperhatikan sebelum pengecoran dengan beton SCC adalah sebagai berikut:  Durasi waktu pengecoran disesuaikan dengan waktu ikat awal beton untuk menghindari terjadinya cold joint. 8 .

serta diberi lapisan anti karat. tetapi bila material yang digunakan berbahan dasar epoxy. Dan karat tersebut harus dibersihkan. perlu dilakukan pengecekan terakhir apakah metode dan material yang sudah ditentukan sesuai dengan kondisi lapangan dan dapat dilaksanakan. Permukaan yang sudah dipersiapkan. dengan tujuan agar terjadi ikatan yang baik. apakah harus dalam keadaan kering atau harus dijenuhkan terlebih dahulu sebelum dilakukan pelapisan berikutnya. 9 . serta harus bersih dari debu dan kotoran lainnya. Hal ini sangat tergantung pada material yang digunakan. maka perlu dilakukan pemotongan beton hingga + 20 mm dibawah tulangan yang berkarat. sehingga material perbaikan atau perkuatan dengan beton lama menjadi satu kesatuan. Permukaan beton yang akan diperbaiki atau diperkuat perlu dipersiapkan. permukaan beton harus dijenuhkan terlebih dahulu. Elemen tipis 5 – 7 cm dapat diisi oleh beton SCC tanpa hambatan. Untuk material berbahan dasar semen atau polymer. tidak ada keropos ataupun bagian lemah lainnya (kecuali bila menggunakan metode injeksi untuk mengisi celah keropos).Seminar HAKI Inkindo – 8/9 Juni 2006 – Pertimbangan Perbaikan dan Perkuatan Struktur Bangunan Pasca Gempa – Hartono  Cara terbaik untuk pengecoran beton SCC adalah dari bawah cetakan/formwork untuk menghindari udara terjebak (dengan eksternal hose adalah sangat efektif).  Tidak memerlukan keahlian yang spesifik saat pelaksanaan pengecoran.   Beton SCC dapat mengalir sampai jarak 10 meter tanpa hambatan. 5. harus merupakan permukaan yang kuat dan padat. Pada saat pelaksanaan yang perlu mendapat perhatian adalah : Persiapan permukaan. maka permukaan beton harus dalam keadaan kering. Permukaan beton yang akan diperbaiki atau diperkuat. Apabila ada tulangan yang sudah berkarat. PELAKSANAAN PERBAIKAN DAN PERKUATAN Sebelum dilakukan pelaksanaan perbaikan atau perkuatan.

Tujuan dari kontrol kualitas pada pekerjaan ini adalah untuk melihat lekatan antara epoxy adhesive yang digunakan untuk melekatkan FRP. Dilakukan dengan melakukan coring φ 50 mm (ASTM C42) untuk melihat penetrasi bahan injeksi. Grouting. Beton Prepack dan Beton SCC. Tujuan dari kontrol kualitas setelah pekerjaan injeksi dilakukan adalah untuk melihat apakah bahan injeksi sudah mengisi celah keretakan yang ada. Tujuan dari kontrol kualitas pada pekerjaan ini adalah untuk melihat lekatan yang terjadi antara beton lama dengan material perbaikan. Shot-crete. Kekuatan tekan. Bila menggunakan beton yang dapat memadat sendiri. dengan melakukan pengambilan sample sesuai standard yang ada. untuk melihat apakah pelaksanaan perbaikan dan perkuatan sudah sesuai dengan standard yang ada. Dilakukan dengan Direct tensile bond test -ACI 503R Appendix A atau Pull-Off Test . Untuk menghasilkan mutu dari material perbaikan atau material bonding yang digunakan dalam perkuatan sesuai dengan yang direkomendasikan dari pabrik. maka saat pelaksanaan dari perbaikan dan perkuatan.ICRI Technical Guideline 03739. Apabila waktu telah melebihi pot life-nya. Corrosion Inhibitor 10 . 6. flow dari beton serta dipastikan tidak adanya bleeding dan segregasi. Adalah waktu yang dibutuhkan dari pengadukan hingga material tersebut terpasang. (ASTM C39 – beton. Injeksi.Seminar HAKI Inkindo – 8/9 Juni 2006 – Pertimbangan Perbaikan dan Perkuatan Struktur Bangunan Pasca Gempa – Hartono Perbandingan campuran. Seperti pada pelaksanaan kontruksi baru. Atau dapat juga dilakukan kontrol kualitas dengan non-destruktif test yaitu UPV (Ultra Pulse Velocity) – ASTM C597 atau Impact Echo. maka perbandingan campuran dari material harus diikuti dengan tepat. juga harus dilakukan hal yang sama. dan juga melihat kualitas lekatan dari bahan injeksi dalam mengikatkan celah keretakan. Dilakukan dengan Direct tensile bond test -ACI 503R Appendix A atau Pull-Off Test . ASTM C109 – mortar semen dan ASTM D495 – epoxy) Setelah pelaksanaan juga perlu dilakukan kontrol kualitas. maka material yang sudah tercampur jangan digunakan. apalagi bila menggunakan material berbahan dasar epoxy. dimana dilakukan kontrol kualitas pada mutu beton yang ada. perlu diperhatikan jumlah air. Pot life. Patching.ICRI Technical Guideline 03739. Perkuatan dengan FRP. kemudian hasil core tersebut ditest tekan (ASTM C39) atau splitting (ASTM C496) untuk mengetahui kualitas lekatan yang terjadi.

Efek dari infiltrasinya senyawa yang agresif Untuk melengkapi sekaligus meng optimalkan metode-metode perbaikan diatas. sehubungan dengan fakta bahwa kerusakan beton akibat korosi pada tulangan baja pasti terjadi di tengah-tengah periode waktu layan beton. 2. Tiga hal mutlak. sangat mudah senyawa dari luar ber infiltrasi kedalan beton.Seminar HAKI Inkindo – 8/9 Juni 2006 – Pertimbangan Perbaikan dan Perkuatan Struktur Bangunan Pasca Gempa – Hartono Telah kita ketahui bersama. Dengan adanya banyak pori. • Air sebagai electrolit. tentunya yang paling utama untuk diperhatikan adalah kualitas dari beton itu 11 . • Oksigen. Bangunan beton yang di bangun disekitar pantai. Baja pada beton secara alami terlindungi dari korosi oleh lapisan tipis akibat pasif alkalin dari bahan dasar semen. Sehingga kadang kala metode-metode perbaikan yang di siapkan menjadi tidak optimal. Masuknya senyawa2 dari luar dapat mengakibatkan berkurangnya waktu layan beton dari waktu layan yang di rencanakan atau diperkirakan akibat kerusakan karena korosi pada tulangan baja. Memiliki banyak sekali pori. dapat lebih cepat rusak akibat serangan garam chloride. Beton memiliki 2 kelemahan yang mendasar. Memiliki kekuatan tarik yang rendah. Yaitu : 1. Mengontrol korosi dapat dilakukan pada struktur baru dan struktur lama. pengontrolan terhadap korosi perlu di lakukan. Akibat serangan agresif karena pengaruh lingkungan di sekitarnya baja dapat mengalami korosi. Pada struktur baru. sehingga menjadikan korosi pada tulangan baja : • Lapisan tipis pelindung tulangan baja rusak akibat akibat chloride atau karbonasi. Gas CO2 pun dapat masuk secara agresif melalui pori2 beton dan bereaksi dengan Ca(OH)2 dan menghasilkan CaCO3 + H2O yang menyebabkan pH dari beton turun.

Dengan menggunakan corrosion inhibitor. Dan yang terpenting masing-masing tahapan harus dilakukan oleh pihak-pihak yang berkompeten dan berpengalaman di bidangnya. Daya penetrasi yang baik dari corrosion inhibitor tidak boleh kurang dari 80 mm. kontraktor spesialis dan supplier dari bahan-bahan perbaikan atau perkuatan.Seminar HAKI Inkindo – 8/9 Juni 2006 – Pertimbangan Perbaikan dan Perkuatan Struktur Bangunan Pasca Gempa – Hartono sendiri. Pada umumnya. Perbedaannya hanya pada metode pengaplikasiannya saja. maka tidak dapat diharapkan hasil yang maksimal. PENUTUP Untuk mendapatkan hasil perbaikan dan perkuatan yang tepat guna dan mencegah hasilhasil yang tidak diharapkan. mengaplikasikan protective coating pada sisi luar beton adalah cara yang tepat untuk mengontrol korosi. diharapkan waktu layan beton terhadap kerusakan akibat korosi pada tulangan baja meningkat hingga 35% . 7. dengan cara di kuaskan. konsultan pengawas. pengujian. Corrosion Inhibitor tersedia dalam bentuk cairan dengan bahan dasar “Amino Alkohol”. Lapisan film ini.70 % dari waktu layan beton normal. maka diperlukan koordinasi antara pihak-pihak yang melakukan investigasi. Karena tanpa adanya koordinasi yang baik. cara kerja Corrosion Inhibitor adalah membentuk suatu lapisan film pada permukaan tulangan baja. 8. hampir memiliki fungsi yang sama dengan protective coating. Corrosion Inhibitor adalah suatu bahan yang jika di aplikasikan pada sisi luar beton. Lapisan film ini memperkecil akses dari oksigen terhadap tulangan baja pada katoda dan memperkecil baja menjadi larut pada anoda. evaluasi dan pelaksanaan. Cara mengontrol korosi yang lain adalah dengan mengaplikasikan Corrosion Inhibitor. DAFTAR PUSTAKA : 12 . Pada struktur baru dan lama. Oleh sebab itu diperlukan keterlibatan semua pihak terkait mulai dari konsultan perencana.rate of corossion. dimana kemudian bahan tersebut meresap kedalam beton dengan cara difusi dan menghambat waktu awal korosi atau memperlambat Tingkat korosi .

Repair and Strengthening of Concrete Structures. 5. ACI 201. 4. 1991. 2003 12. Repair Application Procedure – ACI Committee 706. Farnham. Guide for Making a Condition Survey of Concrete in Service. Specification and Guidelines for Self-Compacting Concrete. 03733. Concrete Repair and Maintenance Illustrated. UK 13 . 2. 1993. 6. Association House. February 2002 EFNARC. USA. 2006 11. 03731. Peter H. Emmons. 03742. ACI 364. 1996 8. Inspection and Maintenance of Reinforced and Pre-stressed Concrete Structures. ICRI Technical Guidelines No. Surrey GU9 7EN. 1986. FIP.Seminar HAKI Inkindo – 8/9 Juni 2006 – Pertimbangan Perbaikan dan Perkuatan Struktur Bangunan Pasca Gempa – Hartono 1. 2004 10. 1994.1R. Nondestructive Test Methods for Evaluation of Concrete in Structures 7. ICRI Technical Guidelines No. ICRI Technical Guidelines No. 1992. ICRI Technical Guidelines No. 1996 9. London. Guide for Evaluation of Concrete Structures Prior to Rehabilitation. 99 West Street. London. 3.1R. ACI 228. 03739.2R. FIP.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful