P. 1
Manajemen Publik Baru

Manajemen Publik Baru

|Views: 4,153|Likes:
Published by citizenblog
New Public Management (NPM) merupakan sistem manajemen administrasi publik yang paling aktual di seluruh dunia dan sedang direalisasikan di hampir seluruh negara industri. Sistem ini dikembangkan di wilayah anglo Amerika sejak paruh kedua tahun 80-an dan telah mencapai status sangat tinggi khususnya di Selandia Baru. Perusahaan-perusahaan umum diprivatisasi, pasar tenaga kerja umum dan swasta dideregulasi, dan dilakukan pemisahan yang jelas antara penetapan strategis wewenang negara oleh lembaga-lembaga politik (APA yang dilakukan negara) dan pelaksanaan operasional wewenang oleh administrasi (pemerintah) dan oleh badan penanggungjawab yang independen atau swasta (BAGAIMANA wewenang dilaksanakan). Administrasi dan badan penanggungjawab melaksanakan tugas yang diserahkan oleh negara atas dasar perumusan “order”” secara kuantitatif dan kualitatif, lalu disepakatilah anggaran biaya untuk pelaksanaan order tersebut (order kerja dan anggaran umum).
New Public Management (NPM) merupakan sistem manajemen administrasi publik yang paling aktual di seluruh dunia dan sedang direalisasikan di hampir seluruh negara industri. Sistem ini dikembangkan di wilayah anglo Amerika sejak paruh kedua tahun 80-an dan telah mencapai status sangat tinggi khususnya di Selandia Baru. Perusahaan-perusahaan umum diprivatisasi, pasar tenaga kerja umum dan swasta dideregulasi, dan dilakukan pemisahan yang jelas antara penetapan strategis wewenang negara oleh lembaga-lembaga politik (APA yang dilakukan negara) dan pelaksanaan operasional wewenang oleh administrasi (pemerintah) dan oleh badan penanggungjawab yang independen atau swasta (BAGAIMANA wewenang dilaksanakan). Administrasi dan badan penanggungjawab melaksanakan tugas yang diserahkan oleh negara atas dasar perumusan “order”” secara kuantitatif dan kualitatif, lalu disepakatilah anggaran biaya untuk pelaksanaan order tersebut (order kerja dan anggaran umum).

More info:

Published by: citizenblog on Aug 05, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/13/2013

pdf

text

original

Segarkan mata anda klik

New Public Managemen

disini

Perdebatan tentang kinerja administrasi publik di seluruh dunia selalu ditandai
dengan ketidakpuasan. Baik politisi maupun warga, bahkan juga pegawai administrasi sendiri, mengkritisi administrasi dengan kata kunci: ”terlalu lamban, terlalu mahal, terlalu jauh dari kebutuhan manusia, korup, buruk mutu serta pemborosan anggaran dan sumber daya manusia”. Pada saat yang sama tengah dilakukan pula diskusi yang dipromotori oleh Bank Dunia, OECD dan institusi-institusi besar lainnya tentang “Good Governance” atau pemerintahan yang baik. Istilah ini dalam sebagian besar penggunaannya sering dikaitkan dengan frasa yang diawali dengan negasi seperti “tidak ada korupsi, tidak ada penyalahgunaan uang rakyat, tidak ada KKN, dls”. Padahal, kita bisa mencoba merumuskan tujuan “Good Governance” dengan kalimat positif, seperti definisi berikut: Good Governance adalah suatu bentuk pemerintahan dan adminisitrasi publik yang mampu bekerja secara efisien, yakni mampu memenuhi kebutuhan rakyat. Definisi ini sama dengan apa yang diharapkan dapat dihasilkan oleh “New Public Management”. New Public Management (NPM) merupakan sistem manajemen administrasi publik yang paling aktual di seluruh dunia dan sedang direalisasikan di hampir seluruh negara industri. Sistem ini dikembangkan di wilayah anglo Amerika sejak paruh kedua tahun 80-an dan telah mencapai status sangat tinggi khususnya di Selandia Baru. Perusahaan-perusahaan umum diprivatisasi, pasar tenaga kerja umum dan swasta dideregulasi, dan dilakukan pemisahan yang jelas antara penetapan strategis wewenang negara oleh lembaga-lembaga politik (APA yang dilakukan negara) dan pelaksanaan operasional wewenang oleh administrasi (pemerintah) dan oleh badan penanggungjawab yang independen atau swasta (BAGAIMANA wewenang dilaksanakan). Administrasi dan badan penanggungjawab melaksanakan tugas yang diserahkan oleh negara atas dasar perumusan “order”” secara kuantitatif dan kualitatif, lalu disepakatilah anggaran biaya untuk pelaksanaan order tersebut (order kerja dan anggaran umum). Dibawah Kedai Kebebasan menyajikan sebuah Occasional Paper yang pernah diterbitkan oleh Friedrich Naumann Stiftung - Indonesia mengenai New public Management (NPM), silahkan mengklik-nya.

Segarkan mata anda

klik disini

Peran Media Dalam Mewujudkan Good Governance
(03 Apr 2008, 250 x , Komentar)

Oleh: Sudirman Karnay (Dosen Ilmu Komunikasi Unhas) Kebijakan redaksional sejumlah media cetak dan elektronik dalam memberitakan kasus-kasus korupsi di tanah air akhir-akhir ini, seperti kasus BLBI, dan kasus korupsi lainnya, kiranya patut diapresiasi secara positif oleh semua pihak. Sebab diakui atau tidak, hal itu mendoong terwujudnya good governanceSalah satu kesimpulan penting forum Millenium Development Goals (MDGs) yang digelar PBB (2005) bahwa, agar berhasil dalam memberantas kemiskinan, tercapainya pertumbuhan ekonomi rata-rata tujuh persen per tahun, memperoleh bantuan internasional, terbentuknya pemerintahan yang kompeten dan kredibel, serta berkinerjanya usaha swasta, tidak lain adalah good governance dan good corporate governance. Terlepas dari komitmen tersebut, isu hubungan media dan good governance belakangan ini, memang ramai diperbincangkan oleh berbagai kalangan di seantero jagat. UNESCO bahkan menempatkan isu tersebut sebagai tema Peringatan Hari Kebebasan Pers Sedunia 2005. Pada peringatan tersebut disampaikan komitmen dan dedikasi berbagai pihak untuk membela kebebasan berekspresi, serta mengkaji kembali pemahaman tentang good governance yang terkait dengan hak untuk memperoleh informasi. Sebelumnya lembaga PBB bagi pendidikan, dan ilmu pengetahuan dan kebudayaan ini, pernah mengeluarkan seruan agar media komunikasi massa memainkan peran sebagai pendorong pemberantasan korupsi. Lewat peran strategisnya sebagai “anjing penjaga” (watch dog) media massa dapat menjamin kehidupan berbangsa dapat berjalan lurus dan efektif, bersih dari praktik penyimpangan yang tidak terpuji.

Itu berarti bahwa sejak awal lembaga dunia seperti PBB telah mengakui bahwa prinsip kebebasan memperoleh informasi, telah dianggap strategis untuk bisa diakses oleh masyarakat luas, dan untuk itu pers menjadi salah satu sarana penting untuk memastikan masyarakat bisa mendapatkan informasi yang dibutuhkan. Dalam konteks kebebasan memperoleh informasi tersebut, maka setidaknya ada tiga konsep yang saling berkaitan satu sama lain, yakni ; kebebasan memperoleh informasi (public access to information), sistem negara yang demokratis (democratic state), pemerintahan yang baik (good governance), serta pemerintahan yang terbuka (open government). Artinya, konsep pemerintahan yang baik, mensyaratkan adanya pemerintahan yang terbuka sebagai salah satu fondasinya, dan juga adanya jaminan terhadap kebebasan memperoleh informasi. Pemerintahan yang terbuka di sini juga didefinisikan sebagai pemerintahan yang transparan, terbuka dan partisipatoris. Menurut Achmad Santosa (2001), pemerintahan yang terbuka mensyaratkan adanya jaminan atas lima hal, yakni hak untuk memantau perilaku pejabat publik dalam menjalankan peran publiknya (right to observe), hak untuk memperoleh informasi (right to information), hak untuk terlibat dan berpartisipasi dalam proses pembentukan kebijakan public (right to participate), kebebasan berekspresi, yang salah satunya diwujudkan dalam kebebasan pers, hak untuk mengajukan keberatan terhadap penolakan dari pelaksanaan hak-hak di atas. Apa sebenarnya yang dimaksud dengan Good Governance? Dalam arti sempit, istilah Good Governance (GG) sering diartikan sebagai kinerja suatu lembaga seperti pemerintah, organisasi perusahaan, dan organisasi masyarakat, yang memenuhi kriteria tertentu. Menurut Rochman Achwan, (2000) paradigma GG menekankan arti penting kesejajaran hubungan antara institusi negara, pasar, dan masyarakat. Dalam konteks yang lebih luas, GG diartikan sebagai bentuk penjabaran nilai-nilai demokrasi yang menuntut adanya budaya civil sebagai pilar keberlangsungan demokrasi. Meskipun terdapat banyak pengertian mengenai GG, namun pada hakikatnya, konsep GG merujuk pada kewajiban pemerintah untuk memenuhi tiga prinsip dasar, yakni : Pertama, transparansi dalam proses pembuatan keputusan, baik menyangkut peraturan yang eksplisit dan prosedur tertentu yang diambil, dan siapa yang menjadi penanggung jawab dari suatu kebijakan. Kedua, mekanisme institusional untuk mempertanggungjawabkan kebijakan yang telah mereka pilih. Ketiga, sanksi yang tepat bagi mereka yang melanggar, agar terjadi pertanggujawaban. Intinya, good governance adalah terbentuknya pemerintah dan pemerintahan yang bersih, tidak korup, yang kompeten dan kredibel. Yang pasti, ketiga unsur yang saat

ini ada dalam masyarakat yaitu pemerintah, dunia bisnis, dan masyarakat civil, yang menjadi pihak yang ikut bermain dalam GG. (Setianto, 2003). Untuk mewujudkan GG maka salah satu elemen sistem sosial pada tataran kehidupan kebangsaan dan kenegaraan yang diharapkan perannya adalah institusi media. Peran media yang bebas dan independen dalam mendorong GG sesungguhnya tak bisa dilepaskan dari peran ideal media itu sendiri, yaitu fungsi informasi, fungsi pendidikan, dan fungsi kontrol sosial. Keterlibatan media memang bisa membantu dalam membingkai (frame) isu-isu yang berhubungan dengan korupsi dan pelayanan publik yang berkaitan erat dengan kepentingan warga masyarakat. Peran tersebut sangat relevan dengan prinsip-prinsip dalam GG seperti transparansi, partisipasi, dan akuntabilitas. Transparansi, didasarkan pada adanya mekanisme untuk menjamin akses umum kepada pengambil keputusan. Partisipasi, didasarkan pada pandangan bahwa masyarakat bisa berperan secara aktif dalam proses pengambilan keputusan. Sedangkan akuntabilitas, menyatakan seberapa besar efektivitas pengaruh dari mereka yang diperintah terhadap orang yang memerintah. Pentingnya peran media yang independen, juga pernah dilontarkan oleh Amartya Sen, dalam bukunya “Development as Freedom”, bahwa mengapa di India tidak pernah ada bahaya kelaparan, sedangkan di Tiongkok bahaya kelaparan terjadi. Menurut ahli ekonomi pemenang Nobel 2001 ini, hal itu disebabkan di India ada kebebasan pers, ada keterbukaan informasi. Sedangkan di Tiongkok, tidak ada dan informasi di sana mengalami tekanan dari pemerintah. Dengan kata lain, kemiskinan bisa dihindari ketika negara tersebut memiliki pers yang bebas. Joseph E Stiglitz, guru besar di Columbia University, sekaligus pemenang hadiah Nobel Ekonomi tahun 2001, memiliki pandangan yang sangat menarik dalam soal akses informasi (atau para ekonom menyebutnya sebagai “transparansi”) yang ia lihat sebagai hal krusial dalam melihat krisis ekonomi di Asia sejak 1997. Stiglitz yang pernah menjadi anggota tim ekonomi Presiden Amerika di bawah kendali Clinton, dan juga pernah bekerja di World Bank, sangat concern dengan kondisi yang ia sebut sebagai asymetries of information, yaitu kondisi di mana terjadi kepemilikan informasi, yang bisa terjadi antara para pekerja dan majikannya, antara kreditor dan debitor, antara perusahaan asuransi dengan peserta asuransi. Stiglitz mengatakan bahwa kondisi asymetries of information ini terjadi dalam berbagai kegiatan ekonomi, dan secara teoritis, preposisi Stiglitz ini menyumbang fondasi yang lebih realistis terhadap perkembangan teori tentang buruh dan pasar uang. Pandangan Stiglitz tersebut, seluruhnya didasarkan pada buku yang ditulisnya pada tahun 2002 “Globalization and its Discontent”. Konteks yang melatari buku ini

terutama adalah analisis Stiglitz pada situasi krisis ekonomi Asia, di mana untuk melakukan economic recovery prinsip transparansi, keterbukaan dan mengetahui apa yang dikerjakan pemerintah, adalah bagian penting dari akuntalibitas pemerintahan dalam proses perbaikan ekonomi tadi. Dasar Pandangan Stiglitz pula adalah mengeritik banyak kebijakan IMF (International Monetary Fund) yang justru sebaliknya memelihara kultur kerahasiaan (culture of secrety) dalam pelaksanaan economic recovery di berbagai negara, padahal implikasi berbagai butir perjanjian dengan IMF itu tak saja mengikat lembaga pemerintah, tapi juga kepada banyak masyarakat luas. Kultur kerahasiaan sebagai ditunjuk oleh Stiglitz memberikan peluang kepada para pejabat pemerintah untuk menghindari kebijakan mereka dianalisa, dievaluasi ataupun dikritik oleh masyarakat. Buat para pejabat pemerintah memang memelihara kultur kerahasiaan seperti ini membuat hidup mereka menjadi lebih enak, mereka bisa bertindak sesukanya tanpa ada yang mengontrol, dan kerahasiaan pula memungkinkan para pejabat pemerintah untuk menyembunyikan kesalahan mereka. Persoalan lain yang ditunjukkan oleh Stiglitz adalah, kalaupun sebuah kebijakan tidak dilahirkan hanya untuk kepentingan sekelompok orang, ada pula pertanyaan kritis di situ: kepentingan siapa yang sesungguhnya dilayani dalam pembuatan kebijakan ini? Kultur kerahasiaan ini pula yang memunculkan banyaknya protes dari masyarakat untuk memberikan keterbukaan yang lebih besar dan juga transparansi dalam pembuatan kebijakan pemerintah. Salah satu unsur penting dari media yang makin bebas dan kaitannya dengan GG adalah tersedianya informasi yang terbuka bagi masyarakat untuk menunjukkan kinerja macam apa yang ditunjukkan oleh para pejabat dalam menjalankan pemerintahan. Dalam masyarakat modern, ketersediaan informasi sangat penting artinya untuk mengukur kualitas pembuatan keputusan oleh pemerintah dan masyarakat. Dengan demikian, hal tentang informasi yang terbuka, berguna untuk masyarakat, menjadi penting artinya bagi pengembangan masyarakat, dan terutama untuk memastikan bahwa program pembangunan yang dilaksanakan pemerintah berjalan sesuai dengan rencana, dan mencapai sasaran yang telah disusun sebelumnya. Dalam teori-teori liberal-pun dikemukakan bahwa fungsi dari media massa adalah membuka ruang demokratisasi yang dilakukan dengan cara membuka peluang terjadinya kebebasan berekspresi, dan memberi kesempatan kepada berbagai kelompok masyarakat untuk menyuarakan kepentingannya. Melalui peliputannya yang investigatif, media massa mempunyai peluang untuk mengungkapkan berbagai tindak penyelewengan, baik yang dilakukan pemerintah, maupun lembaga swasta.

Peliputan investigasi memiliki kekuatan “akuntabilitas publik” yang mampu membongkar kebusukan di masyarakat serta mendorong terwujudnya demokratisasi. Hanya jika para jurnalis bebas untuk memonitor, menginvestigasi dan mengkritisi kebijakan dan tindakan administrasi publik, maka GG bisa diwujudkan. (**)

http://www.sulsel.go.id/explore-more/produk-hukum/kebijakan-pengembangan20060829-255.html

Kebijakan Pengembangan
SELASA, 29 AGUSTUS 2006

Halaman 1 dari 4 Pendahuluan

Index Artikel Kebijakan Pengembangan Halaman 2 Halaman 3 Halaman 4

Pemerintahan layaknya mahluk hidup

Arie de Geus (1997) menemukan bahwa sebuah institusi dapat dilihat sebagai sesosok mahluk hidup (a living organism). Ia hidup karena mengalami perubahan – perubahan seperti dilahirkan, sakit, tua, dan akan mati seperti mahluk hidup lainnya. Kalau ia mengalami perawatan yang baik, maka ia bisa berumur panjang. Sebagai contoh adalah Sumitomo, sebuah perusahaan dagang dari Jepang, yang pada saat ini sudah berumur 400 tahun. Stora di Swedia, bisa berumur sampai 700 tahun. Tapi mereka semua berubah – ubah dari waktu ke waktu, beradaptasi dengan lingkungan barunya.

Bagaimana dengan suatu bangsa ? Memang harus diakui bahwa sangat jarang di dengar suatu bangsa mati di tengah jalan. Tetapi jangan salah, pemikiran bahwa bangsa tidak akan pernah mati telah membuat banyak yang terperangkap dalam manajemen pelayanan masyarakat yang buruk. Padahal sebuah negara dibangun berdasarkan dukungan masyarakat terhadap pemerintahnya

Perjalanan bangsa – bangsa dalam pemerintahan mengalami banyak perubahan. Perubahan itu dipicu oleh datang dan perginya teknologi yang melahirkan arus gelombang. Gelombang – gelombang itu menciptakan perubahan dalam pemerintahan, khususnya yang berkaitan dengan

pelayanan kepada masyarakat. Bentuk dan tata laksana pemerintahan yang dianggap tidak mengakomodir kebutuhan masyarakatpun lambat laut ditinggalkan. Apabila pada abad pertengahan mayoritas bangsa dikelola dengan bentuk pemerintahan monarki absolut, maka pada abad 21, ini pemerintahan berbentuk demokrasi telah menjadi acuan di mayoritas bangsa di dunia. Apabila dahulu pemerintahan dikelola dengan sistem menara gading, maka pada saat ini banyak masyarakat yang menuntut sistem pemerintahan yang berorientasi kepada kesejahteraan rakyat banyak.

PERUBAHAN DALAM MANAJEMEN PEMERINTAHAN

Perubahan pemerintahan bangsa - bangsa terjadi secara bertahap sesuai dengan perjalanan waktu, berdasarkan buah pemikiran para ahli dari tiap generasi. Dilihat dari sudut pandang pengelolaan pelayanan ke publik, maka perubahan manajemen pemerintahan dipengaruhi oleh 3 (tiga) tahapan mahzab pemikiran yaitu mahzab klasik, neo klasik dan manajemen publik baru (new public management).

Mahzab klasik lahir dari pemikiran kuat Frederick Taylor Scientific Management, yang menitikberatkan pada pencegahan korupsi dan terjadinya in-efisiensi pada pelayanan publik.

Mahzab Klasik kemudian tergantikan oleh mahzab neo-klasik. Pengadopsian prinsip manajemen tanpa pemahaman yang mendalam terhadap perilaku manusia dan organisasi akan melahirkan pelayanan publik yang tidak konsisten (Simon 1976). Salah satu peninggalan penting yang lahir dari mahzab neo-klasik adalah mulai ditanamnya kesadaran pada para pemerintah untuk melakukan basis analisa untuk pengukuran perfomansi, proses audit, rasionalisasi dari jurisdiksi dan organisasi, serta sistem penyusunan dan pengelolaan anggaran (Schick 1966; Greenhouse 1966; Gross 1969; Schick 1969). Seiring dengan waktu, mahzab neo-klasik secara berlahan mulai digantikan oleh sebuah teori baru yang bernama new public management. Mahzab baru ini lahir dari kritik terhadap mahzab klasik dan neo-klasik yang dianggap hanya memproduksi sistem manajemen publik yang kaku, tidak berorientasi pasar serta birokratis. Mahzab new public management ini mulai berkembang sejak tahun 80’an, tepat disaat dunia sedang dihadapi oleh resesi global yang menyebabkan menyusutnya tingkat perdagangan dan penerimaan pajak. Inti sari dari mahzabnew public management ini adalah suatu pemerintahan sebaiknya dikelola seperti layaknya sebuah perusahaan swasta. E-GOVERNMENT SEBAGAI TULANG PUNGGUNG PERUBAHAN Berkembangnya teknologi informasi telah menyentuh sendi – senti manajemen pemerintahan. Kombinasi antara buah pemikiran mahzab new public management dengan teknologi informasi

telah melahirkan konsep applikasi pemerintahan digital atau yang lebih populer disebut sebagai egovernment. Filosofi dasar dari e-government sendiri merupakan alat dari suatu perubahan system (organisasi, proses bisnis, sdm dan standard operating procedure) dalam pemerintahan. Fungsi utama dari egovernment adalah alat bantu dalam penciptaan perubahan dalam pelayanan dari pemerintah kepada masyarakat. Disamping kekuatan daya jangkaunya, e-government dianggap mempunyai beberapa manfaat tambahan (Gore,1993) seperti : 1. Memperbaiki kinerja efektifitas dan efisiensi 2. Meningkatkan transparansi, kontrol, dan akuntabilitas dalam rangka Good Corporate Governance 3. Mengurangi secara signikan total biaya administrasi yang dikeluarkan pemerintah kepada para stakeholder-nya 4. Memberikan opportunity kepada Pemda untuk mendapatkan revenue stream yang baru. 5. Memberdayakan masyarakat dengan menciptakan masyarakat baru yang lebih sejajar dan melek teknologi sehingga mampu mengantisipasi perubahan global.

Idealnya perubahan harus datang dari dalam dan mampu berubah sendiri tanpa mengalami suatu proses intervensi dari luar. Pemerintah Indonesia, pada tahun 1998 akhirnya mengalami perubahan drastis. Tetapi semua itu harus dilakukan melalui campur tangan asing, yaitu IMF, World Bank, dan Negara.

Indonesiapun masih menghadapi pilihan – pilihan yang dilematis di tengah zaman yang tengah berubah. Perubahan dari segi pemerintahan adalah perubahan dari era pemerintah militer yang dipimpin oleh Soeharto menjadi pemerintahan demokratis yang dipimpin oleh pemimpin politik secara bergantian. Dari kehidupan yang relatif terkendali, menjadi kehidupan yang relatif bebas, bahkan cenderung kurang terkendali, liar, lepas, dan kompetitif. Singkatnya, berubah menjadi sangat dinamis. Lingkungan baru itu begitu bergejolak, bahkan terbuka. Dan layaknya suatu bangsa yang tidak lepas dari pengaruh global, Indonesiapun dari segi pemerintahan mulai bersentuhan dengan teknologi informasi, khususnya apa yang disebut dengan e-government.

E-GOVERNMENT SEBAGAI APLIKASI PERUBAHAN

Di Indonesia, kelahiran E-Government dibidani oleh Instruksi Presiden No. 3/2003 tentang Kebijakan dan Strategi Nasional Pengembangan Pemerintahan Secara Elektronik. INPRES ini cukup merangsang lahirnya e-government di Indonesia. Sayangnya secara kualitatif dan kualitatif , peranan e-government di dalam roda pemerintahan hanya bagaikan riak – riak kecil di tengah gelombang besar laut.

Pemerintah baik pemerintah pusat maupun daerah masih terjebak dalam applikasi – applikasi dasar seperti pembuatan situs atau applikasi proses yang sifatnya terputus – putus, sehingga yang dalam kehidupan sehari – hari tidak memberikan manfaat yang mendalam terhadap masyarakat.

Pada tahun 2004 ini mungkin akan gelombang besar yang berkaitan dengan e-government. Dengan mengambil tema reformasi manajemen keuangan publik, Departemen Keuangan sudah mengambil langkah maju untuk mengadakan perubahan terhadap proses penganggaran dan pengelolaan keuangan negara. Dalam perubahan ini, Departemen Keuangan menggunakan applikasi e-government yang berbasis pada applikasi manajemen keuangan yang terintegrasi baik secara internal (Bea Cukai, Pajak, Anggaran dan Perbendaharaan) maupun secara eksternal (Kementerian Teknis dan Lembaga Bangsa). Perubahan ini menawarkan reformasi total terhadap pengelolaan pemerintahan melalui bangsa. Tetapi semaju – majunya teknologi informasi yang ditawarkan atau besaran dana yang dimiliki, hal tersebut tidaklah menjamin terjadinya kesuksesan perubahan yang diimpikan. Banyak faktor dan variabel terkait, yang dapat menentukan keberhasilan dan kegagalan dari suatu tujuan perubahan. Hal inilah yang menjadi dasar dari munculnya disiplin ilmu manajemen perubahan atau yang lebih sering dikenal sebagai change management.

BIROKRASI KITA PERLU DIREFORMASI SECARA RADIKAL
1. PENDAHULUAN

Teori Pemerintahan bukanlah sesuatu yang baru, konsep pemerintahan sudah muncul sejak adanya masyarakat itu sendiri. Secara sederhana Pemerintahan berarti: sebuah proses mulai dari pengambilan keputusan hingga implementasinya. Sepanjang pengertian pemerintahan sebagai proses pengambilan dan pelaksanaan keputusan maka banyak pengamat lebih memfokuskan kepada : siapa saja yang terlibat dalam pengambilan keputusan dan bagaimana bentuk lembaga formal yang akan menjalankannya. Belakangan ini istilah pemerintahan dan “pemerintahan yang baik” atau sering disebut good governance menjadi semakin sering digunakan dalam beberapa tulisan baik tulisan masalah sosial politik, pembangunan maupun masalah manajemen. Pemerintahan yang buruk dipandang sebagai suatu masalah dasar yang berada dalam tatanan masyarkat. Tulisan ini mencoba memaparkan dengan sederhana tentang keadaan birokrasi Indonesia sekarang ini, alasan perlunya reformasi total, dan apa saja upaya-upaya untuk mencari sebuah solusi agar good governance dan clean governance tercapai sesuai harapan masyarakat pada umumnya. 2. SEPERTI APA BIROKRASI SEKARANG INI

Secara umum masyarakat saat ini menganggap bahwa birokrasi kita sangat jelek, boros dan korup. Birokrasi pemerintah bagaikan kerajaan kecil tanpa kendali, spirit demokrasi belum merasuk dalam sistim birokrasi kita. Dibawah ini beberapa data yang dapat disajikan sebagai indikasi keadaan birokrasi saat ini:a. Data dari the political and economic risk consultancy (PERC), April 2006

• • • •

Tahun 1999 sebagai birokrasi terburuk kelima di Asia Tahun 2000 sebagai birokrasi terburuk kelima di Asia Tahun 2001 turun lagi menjadi birokrasi terburuk ketiga di Asia Tahun 2005 semakin merosot menjadi birokrasi terburuk kedua di Asia

b. Catatan empiris hasil survei kompas tentang tingkat kemiskinan (Kompas 31 Agustus 2006) Medan : a. Lebih baik (12,1%) b. Tetap (51,7%) c. Lebih buruk (32,8%) d. Tidak tahu (3,4%) Banjarmasin:a. Lebih baik (6,3%) b. Tetap (37,5%) c. Lebih buruk (56,2%) Jakarta:a. Lebih baik (6,5%) b. Tetap (37,9%) c. Lebih buruk (53,6%) d. Tidak tahu (2,5%) Padang: a. Lebih baik (18,8%) b. Tetap (27,3%) c. Lebih buruk (54,5%) Yogyakarta: a. Lebih baik (2,5%) b. Tetap (35%) c. Lebih buruk (60%) d. Tidak tahu (2,5%) Pontianak : a. Lebih baik (33,3%) b. Tetap (47,6%) c. Lebih buruk (19,1%)

Kemiskinan ini berhubungan langsung dengan jeleknya birokrasi. c. Jumlah Prosedur dan lama waktu perizinan usaha di sejumlah negara berkembang dan maju (Data Koran Tempo 13 Nopember 2004) Negara Indonesia Malaysia Thailand Jumlah Prosedur 129 8 Waktu (Hari) 15130 33

Vietnam China Filipina India Australia Perancis Jepang

11 12 11 11 2 10 6

56 41 50 89 7 42 21

d. Peringkat korupsi 8 negara di Asia (Sumber International Tranparancy report 2003 Peringkat 12 3 Thailand 4 Cina 5 Korea Selatan 6 Malaysia 7 Hongkong 8 Singapura e. Hasil jajak pendapat harian kompas pada 16-17 maret 2005 • sebanyak 62% responden menyatakan bahwa aparat pemerintah belum terbebas dari KKN dalam bekerjanya, dengan demikian masyarakat sebagai pihak yang seharusnya mendapat pelayanan birokrasi belum puas. • sebanyak 50% responden mengatakan kerja aparat pemerintah sangat lambat • hampir separoh responden menyatakan layanan aparat pemerintah cenderung berbelit-belit 3. MENGAPA PERLU REFORMASI SECARA RADIKAL 9,4 8,0 5,2 4,3 3,4 Negara Indonesia Filipina Skor 1,92,5 3,3

Dengan melihat data-data tersebut diatas, maka reformasi birokrasi saat ini tidak bisa ditawar-tawar lagi. Paling tidak ada 3 alasan mengapa reformasi birokrasi menjadi sebuah keharusan. Pertama sebagai keharusan politik. Spirit penyelenggaraan negara paska orde baru adalah pengabdian kepada kedaulatan rakyat berbeda dengan zaman orde baru dimana birokrat sebagai abdi negara yang diorientasikan kepada kepentingan politis semata. Maindset lama yang berpandangan bahwa birokrat harus dilayani dan dihormati publik kini harus dirombak menjadi melayani publik, karena mereka bekerja dengan dibayar dari dana pajak yang dipungut dari rakyat. Kedua sebagai sebuah keharusan ekonomi. Ruh reformasi adalah komitmen untuk memberantas korupsi, kolusi dan nepotisme. Komitmen ini telah dituangkan dalam berbagai jenjang peraturan perundangan-undangan. Semua sadar KKN telah membuat ekonomi negara rusak, bangkrut, inefisien dan high cost. Birokrasi selama ini masih dikenal sebagai penyumbang terbesar praktek KKN, dengan demikian birokrasi sebagai penyumbang terbesar kerugian negara, dan ini harus dihentikan. Ketiga tuntutan globalisasi. Interaksi global yang mekin terbuka dan intensif mensyaratkan performa birokrasi yang profesional, cekatan, efisien, dan efektif. Performa birokrasi dapat berdampak langsung bagi kegairahan investasi. Investor, baik domestik maupun asing, akan bersemangat mengembangkan usaha bila berhubungan dengan birokrasi yang profesional. Sebaliknya, investor akan malas-malasan bahkan bisa akan angkat kaki dari Indonesia bila berinteraksi dengan birokrasi yang berbelit-belit, lamban, korup serta banyak menuntut biaya tinggi. Saat ini, kita membutuhkan banyak investasi untuk mendinamisir pertumbuhan dan pemerataan ekonomi. Sehingga angka pengangguran bisa ditekan, kemiskinan bisa diatasi, dan kesejahteraan lahir batin masyarakat bisa diwujudkan. Maka sekali lagi, reformasi birokrasi tidak bisa ditawar lagi. 4. PENDEKATAN TEORI

Untuk melakukan sebuah perubahan yang sangat mendasar diperlukan beberapa pendekatan terhadap teori-teori yang mungkin relevan sebagai sarana mencari solusi terbaik. Dibawah ini diuraikan teori-teori pendukung perubahan yang ingin dicapai. a. Gareth R. Jones dan Jenifer M. George dalam Contemporary Management 1) Chapter 14, dalam chapter ini dapat disarikan sebagai berikut : • Memanage grup/team agar epektif dan efisien antara lain : • Bagaimana memotivasi anggota untuk mencapai tujuan Mengurangi kecemburuan sosial dalam grup Membantu grup memanage konflik

Kunci agar internal management team menjadi efektif :

-

Beri rasa tanggung jawab yang cukup agar mandiri

- Tugas yang diberikan kepada team agar dapat menumbuhkan beberapa macam jalan keluar terbaik - Seleksi anggota dengan hati-hati untuk melihat kemampuan dan semangat - Manager harus memberi pengarahan, latihan dan bukan hanya mengawasi - Siapkan pelatihan yang diperlukan • Team harus dievaluasi performancenya

Kepemimpinan group :

- Kepemimpinan epektif adalah rumus kunci dari tingginya performance grup, team dan organisasi - Formal grup dibentuk oleh organisasi dan memiliki seorang pemimpin yang ditunjuknya - Grup yang muncul dari sebuah independen dalam sebuah organisasi memiliki pemimpin informal yang diakui grup 2) Chapter 15, dalam chapter ini dapat disarikan sebagai berikut : Pentingnya komunikasi yang baik : Meningkatkan efisiensi terhadap teknologi baru dan kemampuan Meningkatkan kualitas dan produk dari service Meningkatkan tanggung jawab dan respon terhadap costumer Menambah inovasi lewat komunikasi

3) Chapter 16, dalam chapter ini dapat disarikan sebagai berikut : • Konflik dalam organisasi :

- Konflik yang timbul muncul karena tujuan, kepentingan atau nilai dari individu yang berbeda tidak bisa disatukan, dan kadang menghalangi kinerja masingmasing dalam rangka mencapai tujuan

- Konflik tak bisa dihindari karena luasnya tujuan untuk masing-masing anggota organisasi Konflik dapat menjadi hal yang positif bila dimanage dengan baik

4) Chapter 17, dalam chapter ini diuraikan tentang pentahapan perubahan organisasi dalam empat tahap sebagai berikut : • Tahapan perubahan organisasi :

Penilaian, perlunya perubahan • Pengenalan masalah • Identifikasi sumber masalah Memutuskan perubahan yang akan dibuat • Memutuskan apa masa depan terbaik untuk organisasi • Identifikasi masalah yang akan diambil Implementasi perubahan • Memutuskan apakah perubahan itu dari atas kebawah atau sebaliknya • Mengenalkan dan memanage perubahan Evaluasi perubahan • Membandingkan setelah dan sebelum perubahan • Menentukan mana yang tebaik

b. Teori Reedukatif dari Kurt Lewin Menurut teori ini, orang tidak akan berubah semata-mata karena diminta, kecuali jika kebutuhan untuk berubah dijelaskan dan terdaftar konsensus bahwa perubahan dalam diusulkan merupakan suatu pembalikan peristiwa secara mengagumkan. Beberapa prinsip kunci Reedukasi : • Melalui sebuah proses, ini berarti bahwa keyakinan dari prilaku orang yang menjadi target perubahan diketahui secara pasti oleh manager perubahan • • • • • Harus menyentuh budaya Harus ada keterlibatan mereka yang menjadi sasaran perubahan Harus didukung oleh faktor lingkungan Harus ada keterlibatan peran kelompok Pelatihan secara intensif

c. Teori Jeff Davidson

• Menurut teori ini, orang berubah ketika merasakan bahwa perubahan memang ditunjukkan untuk kepentingan terbaik mereka • Perubahan benar-benar siap digulirkan ketika individu mengadopsi sistem nilai dan keyakinan kelompok yang mendorong perubahan • Para target perubahan lebih mungkin untuk menerima perubahan seandainya mereka dapat berpartisipasi dalam perencanaan dan eksekusi perubahan itu • Reedukasi dapat terjadi apabila para target perubahan telah “mencair” dan mau menerima informasi, pandangan, dan metode baru. d. Ciri umum good governance menurut Willy R. TjandraMenurut Willy R. Tjandra good governance memiliki 8 ciri umum, yaitu : akuntabilitas, transfaransi, keadilan, penerapan hukum, efektifitas dan efisiensi, responsibilitas, pendekatan konsensus dan partisipasi publik. Hal ini dianggap banyak kalangan dapat menjamin mengurangi tingkat korupsi, keterwakilan, terakomodasi dan responsif atas kebutuhan masyarakat. e. Teori Klitgaard mengatakan bahwa secara umum pola yang menjadi penyebab merebaknya korupsi dapat diungkapkan dengan rumus sebagai berikut : C=M+D–A C : coruption M : monopoly of power D : discretion by officials A : accountability 5. KONSEP REFORMASI BIROKRASI

a. Konsep UmumDari beberapa pendekatan teori diatas kita dapat mengambil intisarinya untuk dijadikan sebagai acuan dan pedoman untuk membuat sebuah konsep yang memadai dalam rangka reformasi birokrasi. Setidaknya ada 5 (lima) prinsip yang ditawarkan agar proses perubahan ini berjalan sesuai rencana. • Negara harus mampu mendesign ulang struktur dan kultur organisasinya agar siap dan mampu menjadi katalisator bagi institusi lainnya untuk menjalin sebuah kemitraan yang kokoh, otonom dan dinamis.

• Kekuasaan yang dimiliki negara harus ditransformasikan dari yang semula dipahami sebagai kekuasaan menjadi kekuatan menyelenggarakan kepentingan, memenuhi kebutuhan, dan menyelesaikan masalah publik. • Dalam konsep apapun yang dibangun negara harus tetap bermain sebagai figur kunci namun tidak mendominasi serta memiliki kapasitas mengkoordinasi (bukan memobilisasi) institusi-institusi semi dan non pemerintah. • Negara, LSM, dan masyarakat lokal merupakan aktor-aktor, memiliki posisi dan peran yang saling menyeimbangkan • Negara harus mampu meningkatkan kualitas responsivitas, adaptasi dan akuntabilitas publik dalam penyelenggaraan kepentingan, pemenuhan kebutuhan, dan penyelesaian masalah publik. b. Sasaran yang ingin dicapai Sasaran yang ingin dicapai adalah birokrat KEE (Kecil Efektif Efisien), dengan kualitas sebagai berikut : • Transparan, akuntable, bersih dan bertanggung jawab serta dapat menjadi pelayan masyarakat, abdi masyarakat dan teladan masyarakat. • Memiliki organisasi yang kaya fungsi, ramping struktur, efisien dan efektif, dengan aparatur yang profesional, netral, sejahtera, tertib ketatalaksanaan, koordinasi baik dan bebas KKN c. Pelaksanaan KonsepDalam pelaksanaannya diperlukan segala upaya dan usaha untuk mengaplikasikan konsep umum tersebut diatas yang terdiri dari : merubah mindset, upaya pemberantasan korupsi, peningkatan kualitas moral dan restrukturisasi birokrasi. 1) Merubah Mindset Dari teori-teori tersebut diatas maka merubah pola fikir manusia merupakan hal yang paling utama. Bad Governance yang selama ini terjadi dalam birokrasi publik merupakan hasil sebuah proses interaksi yang komplek dari akumulasi masalah yang telah lama melekat dalam kehidupan birokrasi publik. MINDSET yang salah selama ini telah mengilhami perilaku birokrasi publik, MINDSET ini menyangkut misi dari keberadaan birokrasi publik itu sendiri, jati diri, fungsi dan aktivitas yang dilakukan birokrasi dalam kegiatannya sehari-hari. Perubahan MINDSET harus menjadi sebuah kewajiban bila kita ingin mewujudkan perilaku baru dari birokrasi publik dan melahirkan sosok pejabat publik yang berbeda dengan sekarang. Misi utama birokrasi kolonial (yang masih diterapkan sekarang) adalah untuk mempertahankan kelangsungan kekuasaan pemerintah kolonial. Banyak prosedur, norma, tradisi yang masih melekat dan dipakai sampai sekarang. MINDSET baru harus berupa mengembangkan budaya baru yang sesuai dengan visi dan misi birokrasi sebagai AGEN PELAYANAN PUBLIK. Nilai tradisi dan misi birokrasi publik

sebagai agen pelayanan harus ditumbuhkembangkan pada semua pejabat birokrasi. 2) Pemberantasan Korupsi • Untuk mengembangkan strategi pemberantasan korupsi secara tepat perlu terlebih dahulu memahami akar permasalahan dalam setiap kontek sosial. Menurut Klitgaard secara umum pola yang menjadi penyebab merebaknya korupsi dapat diungkapkan dengan rumus sebagai berikut : C=M+D–A C = corruption M = monopoly of power D = discretion by officials A = accountability Peluang untuk melakukan korupsi cenderung meningkat jika seseorang memiliki monopoli atas kekuasaan dan diskresi (keleluasaan bertindak). Tetapi peluang korupsi dapat ditekan jika mekanisme akuntabilitas dapat ditingkatkan. Dengan demikian pemegang monopoli atas barang dan jasa dan memiliki wewenang untuk memutuskan harus DIPERSEMPIT dan akuntabilitas harus tetap DILAKSANAKAN DENGAN KETAT. • Menyingkirkan orang-orang yang tidak jujur, evaluasi riwayat pekerjaan dan mengadakan tes integritas • Optimalisasi penerimaan SDM terutama kecakapan menyeleksi akuntan, auditor dan analis sistem • Manfaatkan jaminan atas kejujuran dari luar (LSM, Lembaga Pengawas, ICW dll) • Memperberat hukuman formal (berlakukan hukuman mati) untuk memberikan efek jera 3) Peningkatan kualitas moralAgar restrukturisasi dan pemberantasan korupsi efektif dan efisien maka penguatan harus dilakukan melalui peningkatan moral, religi dan etika pada para pelaku birokrasi (Prof. Dr. HM. Sidik Priadana, MS)Agenda pemberantasan korupsi selain dengan menempuh jalan penegakkan hukum juga perlu membereskan mentalitas yang buruk. Dalam kaitan mental mekanisme hukum memang berguna untuk meredam improvisasi mental buruk. Tapi sistim hukum hanya menyentuh permukaan, bila instrumen hukum gagal

mengendus maka perilaku korup akan tetap bergerak secara kucing-kucingan. Akan lebih komprehensif kalau solusi permukaan dengan jalur hukum dilengkapi dengan solusi mental untuk perbaikan dari dalam jiwa manusia sehingga semangat perbaikan itu betul-betul lahir dari kesadaran yang mendalam. Upaya ini dapat dilakukan melalui kursus, training dan pelatihan-pelatihan leadership. 4) Restrukturisasi Birokrasi Jelas bahwa kelemahan mendasar dalam perbaikan birokrasi pemerintahan adalah implementasinya. Perbaikan itu harus dipraktikkan, bukan sekedar diwacanakan, dianjurkan, diintruksikan, diundangkan dan sejenisnya. Harus ada konsep operatif dengan tahapan-tahapan yang tepat, akurat, dan mungkin untuk dilakukan. Sasaran dan target pada setiap tahapan harus ketat dan dibarengi dengan contoh (role model) dari pimpinan. Dan harus dikawal dengan penjaminan dan kendali mutu, lengkap dengan reward and punishment yang tegas, jelas dan adil. a) Buat segera blue print atau rencana induk (grand design) tentang perubahan struktur organisasi pelayanan dan lengkapi dengan payung hukum dan batas waktu tanpa kompromi atau toleransi b) Pensiunkan para pemimpin/manager yang tidak memiliki komitmen terhadap restrukturisasi c) Cegah inefisiensi, baik yang tergolong penyimpangan maupun yang tidak

d) Jabatan eselon I dan eselon II harus dipegang oleh leader manager yaitu birokrat atau pejabat yang memahami, menghayati dan mempraktekkan management leadership e) Wujudkan segera standar kinerja dan indikator keberhasilan yang konkrit, jelas, dapat dipraktekkan, dan dapat diukur dengan mekanisme pengendalian yang efektif, efisien dan tepat sasaran f) Peningkatan gaji pegawai secara selektif dan signifikan sesuai standar hidup

g) Rubah sistem pendidikan dari pendekatan kekuasaan menjadi pendekatan pelayanan h) Melakukan evaluasi terus menerus secara berkesinambungan yang sesuai dengan tujuan yang dikehendaki d. Tahapan perubahan (4 tahun)Reformasi birokrasi dicanangkan dalam 4 (empat) tahap selama empat tahun dimaksudkan agar pemerintah hasil pemilihan umum/presiden dapat mengaplikasikannya pada kurun waktu

jabatannya
2 Tahap 3 Tahap 4 Penilaian, perlunya perubahan • Pengenalan masalah

Tahap 1

Tahap

• Identifikasi sumber masalah Memutuskan perubahan yang akan dibuat • Memutuskan apa masa depan terbaik untuk organisasi • Identifikasi masalah yang akan diambil Implementasi perubahan • Memutuskan apakah perubahan itu dari atas kebawah atau sebaliknya • Mengenalkan dan memanage perubahan Evaluasi perubahan • Membandingkan setelah dan sebelum perubahan • Menentukan mana yang tebaik

6 bulan

36 bulan

6 bulan

e. AsumsiDalam mengaplikasikan konsep tersebut diatas, diasumsikan bahwa pemimpin perubahan harus memiliki otoritas penuh lintas departemen untuk membuat dan mengaplikasikan kebijakannya

http://www.goodgovernance-bappenas.go.id/informasi.htm

Paper Seminar / Diskusi Kompilasi Bahan Diskusi Rutin Good Governance
Kata Pengantar

Good Governance telah menjadi ideologi baru negara-negara dan lembaga-lembaga donor internasional dalam mendorong negara-negara anggotanya menghormati prinsip-prinsip ekonomi pasar dan demokrasi sebagai prasyarat dalam pergaulan internasional. Istilah good governance mulai mengemuka di Indonesia pada akhir tahun 1990-an, seiring dengan interaksi antara pemerintah Indonesia dengan negaranegara luar dan lembaga-lembaga donor yang menyoroti kondisi obyektif situasi perkembangan ekonomi dan politik dalam negeri Indonesia. Ditinjau dari sisi semantik kebahasaan governance berarti tata kepemerintahan dan good governance bermakna tata kepemerintahan yang baik. Menurut Lukman Hakim Saifuddin, anggota DPR RI dari Fraksi PPP, dalam Catatan tentang Persepsi Masyarakat Mengenai Good Governance di Indonesia, penyelenggaraan pemerintahan yang baik (good governance) dapat diartikan sebagai suatu mekanisme pengelolaan sumber daya dengan substansi dan implementasi yang diarahkan untuk mencapai pembangunan yang efisien dan efektif secara adil. Oleh karena itu, good governance akan tercipta manakala di antara unsur-unsur negara dan institusi kemasyarakatan (ormas, LSM, pers, lembaga profesi, lembaga usaha swasta, dan lain-lain) memiliki keseimbangan dalam proses checks and balances dan tidak boleh satupun di antara mereka yang memiliki kontrol absolut. Dalam menapaki sejarah hidupnya, Republik Indonesia mengalami dua kali malapetaka nasional. Sejak sebelum Perang Dunia Kedua, bahkan jauh sebelumnya, bangsa Indonesia dan para pemimpinnya mencita-citakan dan memimpikan kemerdekaan sepenuhnya. Tetapi dua kali juga impian itu kandas dan berakhir dengan pemusatan kekuasaan pada satu tangan (executive heavy), dengan kata lain tidak terwujudnya proses check and balance dengan segala dampaknya yang telah menyeret bangsa Indonesia pada keterpurukan ekonomi dan ancaman desintegrasi. Realitas historis ini menggiring kita pada wacana bagaimana meminimalisir peran negara (limitation of the state’s roles) yang menurut pandangan Satish Chandra Mishra (2000), adalah persoalan bagaimana melakukan penyesuaian struktural (structural adjusment) dalam bentuk antara lain deregulasi, restrukturisasi perbankan yang mengarah pada aspek economic governance dan ketika program penyesuaian struktural ini tidak berjalan dengan baik, tindakan yang perlu diambil adalah melakukan reformasi politik yang dalam pelaksanaannya menunjuk pada penerapan nilai-nilai non ekonomi yakni transparansi, akuntabilitas, partisipasi, dan desentralisasi dalam penyelenggaraan pemerintahan atau sering juga disebut governance reform as an instrument of economic recovery in Indonesia. Selaras dengan pandangan Satish Chandra Mishra, Dadang Solihin (2000) mengemukakan pendapat Rochman Achwan, seorang sosiolog dari UI yang menganalogikan good governance sebagai troika yang ditarik oleh tiga ekor kuda : negara, pasar, dan masyarakat. Dalam pandangan ini, negara memainkan peran yang sangat terbatas dalam pengelolaan ekonomi, dengan kata lain peran institusi negara semakin mengecil. Good governance ini akan tegak jika didukung oleh tiga pilar pasif yakni bersih, transparan, dan bertanggung–gugat dan beberapa pilar aktif/dinamis meliputi responsif, sigap, solid, fleksibel, terintegrasi, dan inovatif. Kedua jenis pilar tersebut, khususnya pilar aktif sangat berkaitan dengan kondisi bebas dari korupsi. Usaha-usaha anti korupsi adalah bersifat dinamis karena dalam jangka panjang akan memacu pertumbuhan ekonomi.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->