P. 1
PBI-71

PBI-71

3.0

|Views: 7,215|Likes:
Published by apratiwo

More info:

Published by: apratiwo on Aug 06, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/11/2013

pdf

text

original

.._----_....--.

'~-~- -c-

YAYASAN DANA NORMALlSASI INDONESIA

uoe 35 (IUO) : 613,'"

PERATURAN

BETON

BERTULANG

j

INDONESIA

1971

N.I. - 2

OJ I. rb jtkan oI.h :

OEPARTEMEN PEKERJAAN UMUM DAN TENAGA L1STRIIC DIREICTORAT JENDERAL CIPTAKARYA DIREKTORAT PENVELIDIKAN MASAlAH BANGUNAN

Diperbanyak oleh : Vevasan L4mbaga Penyelidikan Mesalah BaRgunan

Jalan Taman'lrl no: 84 Blndung.

J

17

Bagian I UMUM

Dab 1 Syarat-syarat Umum

1.1. RUANG CAKUP.

(I). Peraturan ini memuat syarat-syarat minimum untuk perencanaan dan pelaksanaan konstruksi-konstruksi beton bertulang yang dicor setempat maupun yang dibuat sebelumnya (beton pracetak) dan ndak berlaku untuk konstruksi beton pratekan dan beton ringan.

(2). Untuk konstruksi-konstruksi beton bertulang khusus seperti busur-busur, tangki-tangki, konstruksi-konstruksi selaput, cerobongcerobong, konstruksi-konstruksi tahan ledakan dan lain-lain, Peraturan ini juga berlaku selarna tidak ditcntukan lain di dalam rencana konstruksi-konstruksi tersebu t.

(3). Di dalam uraian dan syarat-syarat, surat-surat perjanjian, dan lain-lain, Peraturan Beton BertuJang Indonesia ini dapat disingkat dengan PBl 1971.

1.2. IJIN PELAKSANAAN, PERHITUNGAN DAN GAMBAR-GAMBAR.

(I). Pengawas Bangunan memberikan ijin pclaksanaan untuk setiap konstruksi beton bertulang setelah menerirna, merneriksa dan menyetujui perhitungan, gambar-garnbar rencana dan syarat-syarat pelaksanaannya. Perhitungan, garnbar-gambar dan syarat-syarat tersebut harus ditandatangani oleh perencana yang bersangkutan. Apabila perencanaan dilakukan oleh suatu Biro Perencana, maka kecuali perencananya, juga penanggung jawuh dari Biro Perencana tersebut harus membubuhkan tandatangannya pada perhitungan, gambar-gambar dan syarat-syarat pelaksanaan tersebut di alas.

(2). Perhitungan-perhitungan harus membuktikan kekuatan, kekakuan dan stabiliras yang disyaratkan menurut Peraturan ini. Data dan dasar-dasar perhitungan harus dicantumkan pada permulaan perhitungan, ApabiJa perhitungan dilakukan dengan bantuan komputcr elektronis, maka anggapan-anggapan dan identifikasi dari data input dan output harus ditunjukkan. Perhitungan dapat dilengkapi dengan hasil-hasil percobaan model.

(3). Gambar-gambar dan syarat-syarat pelaksanaan harus menunjukkan dengan jelas ukuran dan letak dari semua bagian-buglan konstruksi

18

dan tulangannya, siar-siar muai, kekuatan beton yang disyaratkan, kekuatan dan jenis baja tulangan yang disyaratkan dan beban hidup serta beban-beban lain yang ditinjau dalam perencanaan.

(4). Yang dimaksudkan dengan Pengawas Bangunan di dalam Peraturan ini ialah instansi a tau wakilnya yang di tunjuk, yang menurut undang-undang atau peraturan yang berlaku, berwenang dalam soal-soal keta ta-bangunan dan/atau yang telah mengesahkan atau menyetujui atau mensyaratkan penggunaan Peraruran ini,

1.3. PENGA WASAN.

(1). Pelaksanaan beton bertulang harus diawasi oleh seorang Pengawas Ahli atau wakilnya yang bertanggung jawab kepadanya, selama berbagai-bagai taraf dari pekerjaan. Pengawas Ahli mengawasi agar gambar-gambar reneana dan syarat-syarat pelaksanaan dipenuhi dan seiamapelaksanaan berJangsung mencatat hal-hal dan peristiwa-peristiwa penting seperti: mutu dan perbandingan campuran beton, pengadukan, pengeeoran dan perawatan beton, pemasangan tulangan, pemasangan dan pembongkaran cetakan dan acuan, urutan pelaksanaan dan pemasangan bagian-bagian beton pracetak, setiap beban pelaksanaan yang berarti yang membebani Iantai atau bagian-bagian lain dari konstruksi yang sudah selesai dan kemajuan umum dari pekerjaan.

(2). Dalam hal terjadinya suatu penyimpangan dalam pelaksanaan, Pengawas Ahli harus segera menyatakannya secara tertulis kepada peJaksana, disertai dengan pandangan-pandangannya mengenai penyimpanganpenyirnpangan itu. Tindakan-tindakan untuk mernperbaiki atau menghapuskan penyimpangan-penyimpangan tersebut, barn dapat dilaksanakan setelah disetujui oleh Pengawas Ahli.

(3). Laporan-Iaporan hasil pengawasan harus dipelihara baik dan disimpan oleh Pengawas Ahli dan apabila diminta harus dapat ditunjukkan kepada Pengawas Bangunan setiap saat selama pekerjaan berlangsung dan setiap saat selama 2 tahun sesudah pekerjaan selesai,

1.4. CARA PERHITUNGAN DAN/ATAU PELAKSANAAN YANG MENYIMP ANG.

(1). Penyimpangan dari Peraturan ini diijinkan, asal dibuktikan dengan perhitungan dan/atau percobaan bahwa konstruksi yang dihasilkan adalah cukup aman, Di dalam garnbar-gambar dan perhitunganperhitungan harus dicantumkan dengan jelas, bahwa telah diadakan

19

penyimpangan dari Peraturan ini dan bahwa segala tanggung jawab atas akibatnya dipikul oleh perencana dan pelaksana yang bersangkutan.

en. Para sponsor dari cara-cara perhitungan atau pelaksanaan konstruksi beton bertulang yang menyimpang atau tidak tercakup oleh Peraturan ini, tetapi yang oleh pemakaian dalam praktek atau oleh perhitungan atau percobaan berkali-kali terbukti baik, berhak untuk mengajukan cara-cara tersebut kepada suatu Panitia yang ditunjuk oleh Pengawas Bangunan yang dimaksud dalam pasal 1.2 ayat (4). Panitia ini harus terdiri dari ahli-ahli yang terpilih yang diberi wewenang merneriksa segala keterangan dari cara-cara tersebut, Bila dianggap perlu, Panitia rersebut dapat meminta agar diadakan pereobaan-percobaan ulangan, lanjutan atau tamb ah an.

Laporan Panitia yang berisi syarat-syarat penggunaan cara tersebut, setelah disahkan oleh Pengawas Bangunan, mempunyai kekuatan yang sarna dengan Peraturan ini.

Bah 2

Definisi

2.1. UMUM.

Istilah-istilah dan definisi-definisi yang diberikan berikut ini adalah untuk penggunaan umurn di dalam Peraturan ini, De finisi-definisi khusus diberikan di dalam bab-bab yang bersangkutan,

Agregat - Butiran-butiran mineral yang dicampurkan dengan semen portland dan air menghasilkan beton,

Baja tulangan - Jenis baja yang dipakai untuk tulangan beton yang harus memenuhi ketentuan-ketentuan dari pasal 3.7.

Bahan pembantu - Bahan di luar semen portland, agregat dan air yang ditambahkan pada adukan beton untuk memperbaiki sifat-sifat adukan itu, sehingga juga mernperbaiki mu tu betonnya.

Batang yang diprofilkan - Batang tulangan dengan bentuk penampang khusus untuk memperbesar lekatan dengan beton (pasal 3.7).

Batang polos - Batang tulangan dengan permukaan licin dan berbentuk prismatis (pasal 3.7).

Beban bolos - Beban kerja dikalikan dengan koefisien beban (lihat pasal 10.4 ayat 3).

20

Behan iangka paniang - Beban yang diakibatkan oleh beban mati dan bagian dari beban hidup yang bersifat tetap (lihat pasal 10.5 ayat 3).

Behan jangka pendek ~ Beban yang diakibatkan oleh bagian dari beban hidup yang bekerja kontinu kurang dari 24 jam (Iihat pasal 10.5 ayat 3).

Beban hidup - Beban berguna yang khas dan suatu bangunan sesuai dengan fungsi bangunan itu dan ditentukan lebih lanjut dalam Peraturan Muatan Indonesia (NI 18) (lihat pasal 10.3).

Behan kerja - Beban-beban yang bekerja pada konstruksi dalam keadaan kerja (tidak dikalikan dengan koefisien beban).

Behan mati - Berat sendiri dati konstruksi dan dati bagian-bagian bangunan lainnya yang harus dipikul oleh konstruksi.

Bentong - lihat pasal 13.1 ayat (3).

Berkas tulangan - Berkas terdiri dari 2, 3 atau 4 batang yang diprofilkan, yang diikat bersama dengan erat, sehingga seluruh berkas bekerja sebagai satu kesatuan [pasal 3.7).

Beton - Bahan yang diperoleh dengan rnencampurkan agregat halus, agregat kasar, semen portland dan air.

Beton bertulang - Beton yang mengandung batang tulangan dan direncanakan berdasarkan anggapan bahwa kedua bahan tersebut bekerja sama dalam memikul gaya-gaya,

Beton pratekan - Beton bertulang di dalam mana telah ditimbulkan tegangan-tegangan intern dengan nilai dan pembagian yang sedemikian rupa hingga tegangan-tegangan akibat beban-beban dapat dinetralkan sampai suatu taraf yang diinginkan.

Beton precetak - Bagian-bagian beton bertulang atau tak bertulang yang dicetak dalam kedudukan yang lain dari pada kedudukan akhirnya di dalam konstruksi.

Beton ringan - Beton, dimana agregatnya terdiri dari bahan-bahan yang

ringan,

Beton tak bertulang - Beton yang tidak mengandung batang tulangan. Deviasi standar - Iihat pasal 4.5.

Diameter ekivalen - lihat pasal 3.7.

Diameter pengenal- Diameter penggan ti batang polos yang tidak berpenampang bulat atau batang yang diprofilkan, yang nilainya sarna dengan diameter batang

21

yang herpenampung bulat dengan panjang dan isi yang sarna dengan batang yang ditinjau (pasal 3.7).

Dinding - Suatu bagian konstruksi vertikal terutama berfungsi membatasi atau memisahkan ruang.

Kekuatan tekan beton karakteristik - Kekuatan tekan, dimana dari sejumlah besar hasil-hasil pemeriksaan, kemungkinan adanya kekuatan tekan yang kurang dari itu terbatas sampai 5% saja (Iihat pasal 4.5).

Kekuatan bahan rencana - lihat pasal lOA ayat (3).

Kolom - Suatu bagian konstruksi terutama berfungsi memikul gaya normal tekan dan dengan tinggi paling sedikit tiga kali ukuran penampangnya yang terkecil.

Modulus elastisitas - lihat pasal 10.9.

Modulus sekan lihat pasal 10.9 ayat (2) dan pasal I J.l ayat (1).

Panjang penanaman - Panjang tulangan yang tertanam di dalam beton setelah suatu penampang kritis.

Panjang penyaluran - Panjang iulangan yang tertanarn di dalam beton yang dipcrlukan agar tulangan dapat mengerahkan kekuatannya di suatu penampang kritis.

I

'f

Panjang penyaluran ekivalen - Panjang tulangan yang tertanam di dalam beton dengan mana dapat dikerahkan tegangan ill dalam tulangan yang sarna seperti bila tulangan itu mempunyai kait ahir.

Penjangkaran ahir - Panjang tulangan atau kait atau kombinasi dati keduanya, setelah titik dimana tegangan di dalarn tulangan sudah DOl.

Pengawas Bangunan - lihat pasal 1.2. Pengawas Ahli - lihat pasal 1.3.

i I I

~

22

Bagian 2 BAHAN-BAHAN

Bab 3 Bahan-bahan

3.1. PEMERIKSAAN BAHAN-BAHAN.

(I). Bila dianggap perlu, Pengawas Bangunan dapat memerintahkan agar diadakan pemeriksaan pacta bahan-bahan atau pada campuran bahan-bahan yang dipakai dalam pelaksanaan konstruksi beton bertuiang, untuk menguji apakah syarat-syarat mutu dipenuhi.

(2). Pemeriksaan bahan-bahan dan beton harus dilakukan dengan cara-cara yang ditentukan dalam Peraturan ini. Hasil-hasil pemeriksaan demikian harus dipelihara baik dan disimpan oleh Pengawas Ahli dan apabila diminta harus dapat ditunjukkan kepada Pengawas Bangunan setiap saat selama pekeJjaan berlangsung dan setiap saat selama 2 tahun sesudah pekerjaan selesai,

3.2. SEMEN.

(I). Untuk konstruksi beton bertulang pada umumnya dapat dipakai jenis-jenis semen yang memenuhi ketentuan-ketentuan dan syarat-syarat yang ditentukan dalam NI-8.

(2). Apabila diperlukan persyaratan-persyaratan khusus mengenai sifat b~tonnya, maka dapat dipakai [enis-jenis semen lain dari pada yang dlten~ukan dalam NI-8 seperti: semen portland-tras, semen alumina, semen tahan sulfat, dan lain-lain.

Dalam hal ini, pelaksana diharuskan untuk meminta pertirnbangan. pertimbangan dari lembaga pemeriksaan bahan-bahan yang diakui,

(3). Untuk beton mutu Bo, selain jenis-jenis semen yang disebut di muka, dapat juga ~. ai semen tras kapur.

(4). Untuk. beto_n mu tu .175 dan mu tu lebih tinggi, jumlah semen yang dipakai dalam s campuran harus ditentukan dengan ukuran berat, Untuk beton mutu BI dan K125, jumlah semen yang dipakai dalam setiap campuran dapat ditentukan dengan ukuran isi (lihat pasal4.3 ayat 2). Pengukuran semen, tidak boleh mempunyai kesalahan lebih dari ± 2,5 %.

23

3.3. AGREGAT HALUS (PASIR).

(1 ).

Agrega t halus untuk beton dapat berupa pasir alam sebagai hasil desintegrasi alami dari batuan-batuan atau berupa pasir buatan yang dihasilkan oleh ala t-al at pemecah batu. Sesuai dengan syarat-syarat pengawasan mutu agregat untuk berbagai-bagai rnutu beton menurut pasal 4.2. ayat OJ, maka agregat halus harus rnemenuhi satu.beberapa atau semua ayat berikut ini,

Agregat halus harus terdiri dari butir-butir yang tajam dan keras, Butir-butir agregat halus harus bersifat kekal, artinya tidak pecah atau hancur oleh pengaruh-pengaruh cuaca, seperti terik matahari dan hujan,

(2).

r<:J).

Agrega t halus tidak boleh mengandung lumpur lebih dari 5% (ditentukan terhadap berat kering). Yang diartikan dengan Illmpur adalah bagian-bagianyang dapat melalui ayakan 0,063 mm. Apabila kadar lumpur melampaui 5%, maka agregat halus harus dicuci,

Agregat halus tidak boleh mengandung bahan-bahan organis terlalu banyak yang harus dibuktikan dengan percobaan warna dati Abrams-Harder (dengan larutan NaOH). Agregat halus yang tidak memenuhi percobaan warna ini dapat juga dipakai, asal kekuatan tekan adukan agregat tersebut pada urnur 7 dan 28 hari tidak kurang dari 95% dati kekuatan adukan agregat yang sarna tetapi dicuci dalam larutan 3% NaOH yang kemudian dicuci hingga bersih dengan air, pada urnur yang sama,

(5). Agregat halus hams terdiri dari butir-butir yang beraneka ragam besarnya dan apabiJa diayak dengan susunan ayakan yang ditentukan dalam pasal 3.5 ayat (1), hams memenuhi syarat-syarat berikut:

- sisa di atas ayakan 4 nun, hams minimum 2% berat;

- sisa di atas ayakan 1 rum, hams minimum 10% berat;

- sisa di atas ayakan 0,25 mm, hams berkisar antara 80'% dan

95% berat.

(4).

(6). Pasir laut tidak boleh dipakai sebagai agregat halus untuk semua mutu beton, kecuali dengan petunjuk-petunjuk dari lernbaga pemeriksaan bahan-bahan yang diakui.

3.4. AGREGAT KASAR (KERIKlL DAN BATU PECAH).

(I). Agregat kasar untuk beton dapat berupa kerikil sebagai hasil desintegrasi alami dari batuan-batuan atau berupa batu pecah yang diperoleh dari pemecahan batu. Pada umumnya yang dimaksudkan

24

dengan agregat kasar adalah agregat dengan besar butir lebih dari 5 mm. Sesuai dengan syarat-syarat pengawasan rnutu agregat untuk berbagai-bagai mutu beron rnenurut pasal 4.2. ayat (I), maka agregat kasar harus memenuhi satu, beberapa atau sernua ayat berikut ini,

(2). Agregat kasar harus terdiri dari butir-butir yang keras dan tidak berpori. Agregat kasar yang mengandung butir-butir pipih hanya dapat dipakai, apabila jumlah butir-butir pipih tersebut tidak melampaui 20% dati berat agregat seluruhnya, Butir-butir agregat kasar harus bersifat kekal, artinya tidak peeah atau haneur oleh pengaruh-pengaruh euaea, seperti terik matahari dan hujan,

(3, Agregat kasar tidak boleh mengandung lumpur lebih dari 1% (ditentukan terhadap berat kering), Yang diartikan dengan lumpur adalah bagian-bagian yang dapat melalui ayakan 0,063 mm. Apabila kadar lumpur melampaui 1%, maka agregat kasar hams dicuci.

(4). Agregat kasar tidak boleh mengandung zat-zat yang dapat merusak beton, seperti zat-zat yang reaktif alkali.

(5), Kekerasan dati butir-butir agregat kasar diperiksa dengan bejana penguji dad Rudeloff dengan beban penguji 20t, dengan mana harus dipenuhi syarat-syarat berikut:

- tidak terjadi pembubukan sampai fraksi 9,5 19 mm lebih dari 24% berat;

tidak terjadi pembubukan sampai fraksi 19 - 30 mm lebih dari 22%.

atau dengan mesin Pengaus Los Angelos, dengan mana tidak boleh terjadi kehilangan berat lebih dari 50%.

(6), Agregat kasar harus terdiri dari butir-butir yang beraneka ragam besamya dan apabiJa diayak dengan susunan ayakan yang ditentukan dalam pasal 3.5 ayat (I), harus memenuhi syarat-syarat berikut:

M A1Y, ~AA sisa di atas ayakan 31,5 mm, hams 0% berat;

"L_ - ma dl atas ayakan 4 mm, hams berkisar antara 90% dan 98% berat, !.V6r - selisih antara sisa-sisa kumulatif di alas dua ayakan yang berurutan,

adalah maksirnum 6CYfo dan minimum 10% berat,

(7).

Besar butir agregat maksirnum tidak boleh lebih dari pada seperlima jarak terkecil antara bidang-bidang sarnping dan cetakan, sepertiga dari tebal pelat atau tigaperernpat dan jarak bersih minimum di an tara batang-batan g atau berkas-berkas tulangan. Penyimpangan dari pembatasan ini diijinkan, apabila menurut penilaian Pengawas Ahli, cara-cara pengecoran beton adalah sedemikian rupa hingga menjamin tidak terjadinya sa rang-sa rang kerikil.

25

3,5. AGREGAT CAMPURAN (AGREGAT HALUS DAN KASAR),

(I). Susunan bu tir agregat campuran untuk beton dengan mu tu K 125 dan mutu lebih tinggi harus diperiksa dengan melakukan analisa ayakan, Untuk itu ditetapkan susunan ayakan dengan lubang-lubang persegi, dengan ukuran lubang dalam mm berturut-turut: 31,5 - 16 - 8 - 4 - 2 - I - 0,500 - 0,250 (ayakan [SO). Apabila tidak tersedia susunan ayakan ini, maka dengan ijin dad Pengawas AhU susunan ayakan lain juga dapat dipakai, asal mempunyai ukuran-ukuran lubang yang mendekati ukuran-ukuran di alas.

(2). Untuk beton dengan mutu K125, KI75 dan K225, ditentukan daerah-daerah susunan butir sebagai berikut:

- untuk agregat campuran dengan butir maksimum 31,5 rnm:

Gambar 3.5.1.

untuk agregat campuran dengan butir maksimum 16 mm:

Gambar 3.5,2.

untuk agregat campuran dengan butir maksimum 8 mm:

Gambar 3.5.3.

Angka-angka dalam lingkaran yang tercantum dalam Gambar 3.5. L sid 3,5.3. mempunyai arti sebagai berikut:

(I) '" daerah tidak baik, diperlukan terlalu banyak semen dan air.

daerah baik, tetapi diperlukan lebih banyak semen dan air dibandingkan dengan (3),

daerah baik sekali,

daerah baik untuk susunan butir diskontinu .. daerah tidak baik, terlalu sulit dike rj akan,

(2) '"
(3) ""
(4) ""
(5) =
Catatan: Untuk meneapai suatu kekuatan beton tertentu pada suatu nilai slump tertentu, pada umumnya diperoleh penghematan semen sebanyak 25 kg/m3 beton pada daerah (3) dibandingkan dengan daerah (2).

(3). Apabila tidak dipakai susunan-susunan butir menurut pengalaman keahlian pelaksana masing-masing yang disetujui oleh Pengawas Ahli, maka untuk pembuatan beton Kelas III juga harus dipakai susunan butir yang memenuhi daerah-daerah susunan butir yang ditentukan dalam ayat (2),

26

27

100

II
86 ////
/
72 VI 'Ii
1/ /60 1/ f
(1) 7 I v / ;
,
V (2) V,3) / ,
, t
4.0 I
V / b,2 I
(4) I
7 ---
/1 17 (5)
/ ./ V
8 ~
3 ~ IOU

80

80

60

60

40 = 40
= I '"
'" ~
... I
,. >.
>. ,.
,.
.:; 130 'S
Oi
Oi (5) ;;
0;
s I e 20
20 ...
... =
= 15 ,.
'" >.
>.
.... -:;;
e 8 i
.,
=:a
~ 2 *- 10
10
° 0,25 0.50 La 2.0 4,0 8,0 16.0 31,5mm a 0,25

0,50 1,0

16,Omm

2,0

4,0

8,0

Gombar 3.5.1.

Gombar 3.5.2.

Daerah-daerah susunan butir untuk agregat campuran dengan diameter maks, 31,5 mrn,

Daerah-daerah susunan butir untuk agregat campuran dengan diameter maks, 16,0 mm,

28

<:0 40
0:1
..I<:
""
:>.
0:1
":;
:a
0:;
E 20
OIl
c
0:1
e-,
E
'"
co
~ 10 3.6. AIR.

29

,

100

A
8; I/;!
/4/ { If
/ ;:1 V !
V 53 II I
52 I
(\) j, h) /4) I
,
I
L V 37 ;I 1I 1
7
lh3/ / ~O
21 21 (5)
11 ;;: /
5 /' (2). Apabila terdapat keragu-raguan mengenai air, dianjurkan untuk mengirimkan contoh air itu ke lembaga pemeriksaan bahan-bahan yang diakui untuk diselidiki sampai seberapa jauh air itu mengandung zat-zat yang dapat merusak beton dan/atau tulangan.

(3). Apabila pemeriksaan contoh air seperti disebut dalam ayat (2) itu tidak dapat dilakukan, maka dalam hal adanya keragu-raguan mengenai air harus diadakan pereobaan perbandingan antara kekuatan tekan mortel semen + pasir dengan memakai air itu dan dengan memakai air suling. Air tersebut dianggap dapat dipakai, apabila kekuatan tekan mortel dengan memakai air itu pada umur 7 dan 28 hari paling sedikit adalah 90% dari kekuatan tekan mor tel dengan memakai air suling pada umur yang sarna.

(4). Jumlah air yang dipakai untuk membuat adukan beton dapat ditentukan dengan ukuran isi atau ukuran berat dan harus dilakukan setepa t-tepa tnya.

80

60

3.7. BAJA DAN BATANG TULANGAN.

(I). Setiap jenis baja tulangan yang dihasilkan oleh pabrik-pabrik baja yang terkenal dapat dipakai, Pada umumnya setiap pabrik baja mempunyai standar mutu dan jenls baja, sesuai dengan yang berlaku di negara yang bersangkutan. Namun demikian, pada umumnya baja tuiangan yang terdapat di pasaran Indonesia dapat dibagi dalam mutu-mutu yang tereantum dalam Tabel 3.7.1.

Tabel 3.7.1.

Mutu baja tulangan,

o

4.0

Tegangan leleh karakteristik (Uall) atau
Mutu Sebutan tegangan karakteristik yang memberikan
regangan tetap 0,2% (uO 2) (kg/ern")
,
U - 22 baja lunak 2.200
U - 24 baja lunak 2.400
U - 32 baja sedang 3.200
U - 39 baja keras 3.900
U - 48 baja keras 4.800 2,0

8.0mm

0,25 0,50 1.0

Gambar 3.5.3.

Daerah-daerah susunan butir untuk agrcgat eampuran dengan diameter maks. 8,0 mm.

Air untuk pembuatan dan perawatan beton tidak bolch mengandung minyak, asam, alkali, garam-garam. bahan-bahan organis atau bahan-bahan lain yang rnerusak beton dan/alau baja tulangan, Dalam hal ini sebaiknya dipakai air bersih yang dapat dirninum,

(\).

30

yang dimaksudkan dengan tegangan leleh karakreristik dan tegangan karakteristik yang rnemberikan regangan tetap 0,2%, adalah tegangan yang bersangkutan, dimana dari sejumlah besar hasil-hasil pemeriksaan, kemungkinan adanya tegangan yang kurang dari tegangan tersebut, terbatas sampai 5% saja. Tegangan Ieleh minimum dan tegangan minimum yang memberikan regangantetap 0,2% yang dijamin oleh pabrik pembuatnya dengan sertipikat, dapat dianggap sebagai tegangan karakteristik bersangkutan, Baja tulangan dengan mutu yang tidak tercantum dalam datrar di alas dapat dipakai, asal rnutu tersebut dijamin oleh pabrik pembuatnya dengan serripikat.

(2). Baja tulangan dengan muru yang meragukan harus diperiksa di lembaga perneriksaan bahan-bahan yang diakui, Lernbaga tersebut selanjutnya akan memberikan perumbangan-pertimbangan dan petunjuk-petunjuk dalam penggunaan jenis baja tersebut,

(3). Batang rulangan menurut bentuknya dibagi dalam batang polos dan batang yang diprofilkan. Yang dimaksudkan dengan hatang polos adalah batang prismatis berpenampang bulat, persegi, lonjong, dan lain-lain, dengan permukaan Iicin, Yang dimaksudkan dengan batang yang diprofilkan adalah ba tang prismatis atau di pun tir yang permukaannya diberi rusuk-rusuk yang terpasang tegak lurus atau miring terhadap sumbu batang, dengan jarak antara rusuk-rusuk tidak lebih dari 0,7 kali diameter pengenalnya. Apabila tidak ada data yang rneyakinkan (rnisalnya keterangan dari paberiknya atau hasil-hasil perneriksaan laboratorium), maka batang yang diprofilkan dengan jarak rusuk yang tidak mernenuhi syarat di atas atau batang lain yang dipuntir dengan penampang persegi, lonjong atau berbentuk salib yang permukaannya bertakik, harus dianggap sebagai batang palos.

(4). Di dalam perhitungan-perhitungan, luas penampang batang palos yang tidak berpenampang bulat dan batang yang diprofilkan, hams diambil sebesar 1/41f dp, dimana dp disebut diameter pengenal, Yang dimaksudkan dengan diameter pen genal dp adalah diameter batang yang berpenampang bulat yang mempunyai panjang dan isi yang sama

dengan batang y itinjau, Apabila g adalah berat batang per m'

dalarn k e r pengenal dalam mm dapat dihitung dari

(5). Kawat pengikat hams terbuat dari baja lunak dengan diameter minimum I mm yang telah dipijarkan terlebih dahulu dan tidak bersepuh seng.

(6). Berkas tulangan hanya boleh terdiri dari 2, 3 atau 4 batang yang sejajar. Batang-batang tersebut hams saling bersentuhan, terdiri

A = t4.i. 41 .

h ~ 12,9 ~ ( 5? Gtw.t g~ ~'M~ J

1

)

31

dari batang-batang yang diprofilkan dengan diameter tidak kurang dari 19 rnm, Diameter batang-batang tulangan di dalam berkas tidak boleh berselisih yang satu terhadap yang lainnya lebih darl 3 mm pada setiap penampang, dan harus diikat erat dengan kawat pengikat dengan diameter minimum 2,5 mm dan dengan jarak pengikatan tidak lebih dari 24 kali diameter pengenal batang terkecil. Di dalam perhitunganperhitungan, suatu berkas tulangan harus dianggap sebagai satu batang tunggal dengan suatu diameter ekivalen de sebesar V4"'i:.Aj1f, dimana "'i:.A adalah jumlah luas penampang-penampang batang menurut ayat (4) di dalam berkas.

3.8. BAHAN PEMBANTU.

(1). Untuk memperbaiki mutu beton, sifat-sifat pengerjaan, waktu pengikatan dan pengerasan ataupun untuk maksud-rnaksud lain, dapat dipakai bahan-bahan pembantu. Jenis dan jumlah bahan pembantu yang dipakai hams disetujui terlebih dahulu oleh Pengawas AhH.

(2), Manfaai dari bahan-bahan pembantu harus dapat dibuktikan dengan hasil-hasil percobaan,

(3). Selama bahan-bahan pembantu ini dipakai, harus diadakan pengawasan yang cermat terhadap pemakaiannya,

3.9. PENYIMPANAN BAHAN-BAHAN.

(1). Dalam pengangku tan semen ke tempat penyimpanan (gudang) di tempat pelaksanaan hams dijaga agar semen tidak menjadi lembab, Semen harus disimpan di dalam gudang, sedemikian rupa hingga terjamin tidak akan rusak dan/atau tercampur dengan bahan-bahan lain.

(2). Semen dari berbagai-bagai jenis harus disimpan sedemikian rupa hingga tidak mungkin semen dari jenis yang satu tertukar dengan jenis yang lain.

(3). Pada pemakaian semen yang dibungkus, penimbunan semen yang didatangkan baru tidak boleh dilakukan di atas timbunan semen yang sudah ada dan pada umumnya pemakaian semen harus dilakukan menurut urutan pengirimannya.

(4). Apabila semen telah disirnpan lama dan/atau mutunya diragukan, maka sebelum boleh dipakai harus dibuktikan terlebih dahulu bahwa semen tersebut masih memenuhi syarat,

(5). Agregat hams ditimbun di tempat pekerjaan sedemikian rupa hingga pengororan oleh bahan-bahan lain dan pencampuran saw sarna lain

32

(6).

dapat dicegah. Penggunaan bak-bak bah an yang berlantai sangat dianjurkan, untuk mencegah terbawanya tanah bawah pada waktu pengambilan bahan. Di tempat-tempat dimana tanahnya gembur dan/ atau becek pada waktu hujan, penggunaan bak bahan .yang berlantai menjadi keharusan.

Pada pekerjaan-pekerjaan beton Kelas III, agregat harus selalu dibawah pengawasan seorang petugas laboratorium lapangan sejak dari pendatangan dan penimbunannya sampai dengan pemakaiannya.

Batang-batang tulangan hams disimpan dengan tidak menyentuh tanah, Batang-batang tulangan dari berbagai-bagai jenis baja harus diberi tanda-tanda yang jelas dan ditimbun terpisah jenis yang satu dari jenis lainnya, sehingga tidak mungkin saling tertukar.

Penimbunan batang-batang tulangan di udara terbuka untuk jangka waktu yang panjang hams dicegah.

(7).

(8).

33

&gian 3 PELAKSANAAN

Bab4 Pekerjaan beton

,

t I

l

4.1. UMUM.

(1). Kecuali pada mutu beton Bo dan B" pada mutu-mutu beton lainnya campuran beton yang dipilih hams sedemikian ru pa hingga menghasilkan kekuatan tekan karakteristik Obk yang disyaratkan untuk mutu beton yang bersangkutan, Yang dimaksudkan dengan kekuatan tekan karakteristik ialah kekuatan tekan, dirnana dari sejumlah besar hasil-hasil pemeriksaart benda uji, kemungkinan adanya kekuatan tekan yang kurang dari itu terbatas sampai 5% saja dan diuraikan lebih lanjut dalam pasal 4.5.

(2). Jika tidak disebut lain, yang diartikan dengan kekuatan tekan beton senantiasa ialah kekuatan tekan yang diperoleh dari pemeriksaan benda uji kubus yang bersisi IS (± 0,06) em pada umur 28 hari.

(3). Apabila kekuatan tekan beton tidak ditentukan dengan benda uji kubus yang bersisi IS em, tetapi dengan benda uji kubus yang bersisi 20 em atau dengan benda uji silinder dengan diameter IS em dan tinggi 30 em, maka perbandingan antara kekuatan tekan yang didapat dengan bends-bend a uji terahir ini dan dengan benda uji kubus yang bersisi IS em, harus diambil menurut Tabel 4.1.3.

Tabei 4.1.3.

Perbandingan kekuatan tekan beton pada berbagai-bagai benda uji.

benda uji perbandingan kekuatan tekan
kubus 15 X IS X 15 em 1,00
kubus 20 X 20 X 20 em 0,95
silinder 15 X 30 em 0,83 (4). Apabila tidak ditentukan dengan percobaan-percobaan, maka untuk keperluan perhitungan-perhitungan kekuatan dan/atau pemeriksaan

r

I

34

mutu beton, perbandingan kekuatan tekan beton pada berbagai-bagai umur terhadap beton yang berumur- 28 had, dapat diambil menurut Tabel 4.1.4.

Tabel 4.1.4.

Perbandlngan kekuatan tekan beton pada berbagai-bagai umur.

Umur beton (han) 3 7 14 21 28 90 365
Semen Portland biasa 0,40 0,65 0,88 0,95 1,00 1,20 1,35
Semen Portland
dengan kekuatan 0,55 0,75 0,90 0,95 1,00 1,15 1,20
awal yang tinggi (5). Setiap gambar rencana konstruksi beton bertulang yang diajukan untuk disetujui atau yang dipergunakan untuk setiap proyek, harus jelas menunjukkan mutu beton atas dasar mana setiap bagian konstruksi direncanakan, sesuai dengan pasal 1.2 ayat (3).

4.2. KELAS DAN MUTU BETON.

(1). Beton untuk konstruksi beton bertulang dibagi dalam mutu dan kelas seperti tercantum dalam Tabel 4.2.1 dan diuraikan lebih lanjut dalam ayat (2).

Tabel 4.2.1

Kelas dan rnutu beton

ke1as mutu Obk Ohm tujuan Pengawasan terhadap
(kg/cm2) dg.s=46 mutu agregat kekuatan tekan
(kg/cm2)
I Bo - - n on-s truk turil ringan tanpa
BI - - strukturil sedang tanpa
K125 125 200 strukturil ketat kontinu
11 K175 175 250 strukturil ketat kontinu
K225 225 300 strukturil ketat kontinu
III K>2~ >225 >300 strukturil ketat kontinu. J5

Di dalam TabeI4.2.1, yang diartikan dengan pengawasan ringan, sedang dan ketat terhadap rnutu agregat ditetapkan lebih lanjut sebagai berikut:

a. pengawasan ringan ialah pengawasan yang hanya menyangkut pasal 3.3. ayat (2) dan pasal 3.4 ayat (2).

b. pengawasan sedang ialah pengawasan yang menyangkut pasal 3.3 ayat (2), (3) dan (4) dan pasal 3.4 ayat (2), (3) dan (4).

c. pengawasan ketat ialah pengawasan yang menyangkut seluruh pasal 3.3, 3.4 dan 3.5.

Catatan :

Untuk sekedar mendapat gambaran tentang kekuatan tekan rata-rata dari berbagai-bagai mutu beton yang diperoleh dari sejumlah besar hasil pemeriksaan benda uji, maka dalam lajur ke-4 dad Tabel 4.2.1 di atas dicantumkan kekuatan rata-rata tersebut a'bm yang dihitung untuk deviasi standar s '" 46 kg/ern? (yang lazim diketemukan dalam praktek) menurut rumus dalam pasal 4.5 ayat (2).

(2). a. Beton Klas I adalah beton untuk pekerjaan-pekerjaan nonstrukturil. Untuk pelaksanaannya tidak diperlukan keahlian khusus. Pengawasan mutu hanya dibatasi pada pengawasan ringan terhadap mu tu bahan-bahan, sedangkan terhadap kekua tan tekan tidak: disyaratkan pemeriksaan, Mutu beton Kelas I dinyatakan dengan Bo.

b. Beton kelas II adalah beton untuk pekerjaan-pekerjaan strukturil secara umum. Pelaksanaannya rnemerlukan keahlian yang cukup dan hams dilakukan di bawah pimpinan tenaga-tenaga ahli. Beton Kelas II dibagi dalam mutu-mutu standar: B1, K 125, K 175 dan K 225. Pada mutu BI, pengawasan mutu hanya dibatasi pada pengawasan sedang terhadap mutu bahan-bahan sedangkan terhadap kekuatan tekan tidak disyaratkan perneriksaan. Pada mutu-mutu K 125. K 175 dan K 225. pengawasan mutu terdiri dari pengawasan yang ketal terhadap mutu bahan-bahan dengan keharusan untuk memeriksa kekuaran tekan beton secara kontinu menurut pasal4. 7.

e. Beton kelas 1Il adalah beton untuk pekerjaan-pekerjaan

strukturil dirnana dipakai mutu beton dengan kekuatan tekan karakteristik yang lebih tinggi dari 225 kg/cm2• Pelaksanaannya memerlukan keahlian khusus dan harus dilakukan di bawah pimpinan tenaga-tenaga ahli. Disyaratkan adanya laboratorium beton dengan peralatan yang Jengkap yang dilayani oleh tenaga-tenaga ahli yang dapat rnelakukan pengawasan mutu beton secara kontinu. Mutu

36

beton kelas III dinyatakan dengan huruf K dengan angka di belakangnya yang menyatakan kekuatan karakteristik beton yang bersangku tan.

(3). Apabila untuk beton Kelas II berdasarkan pertimbangan-pertimbangan tertentu diinginkan mutu lain daripada mutu standar yang disebut dalam ayat (1) dan (2), maka hal itu diijinkan, asal syarat-syarat yang ditentukan dalam ayat (2)b tetap dipenuhi, Dalam hal ini, mutu beton tersebut dinyatakan dengan huruf K dengan angka di be\akangnya yang menyatakan kekua tan karakteristik be ton yang bersangku tan.

4.3. CAMPURAN BETON.

(1). Untuk beton mutu Bo dapat dipakai setiap campuran yang lazim dipakai untuk pekerjaan-pekerjaan non-strukturil, dengan syarat bahwa perbandingan jumlah pasir dan kerikil (atau batu peeah) terhadap jumlah semen, tidak boleh melampaui 8 : I.

(2). Untuk beton mutu 81 dan K 125 harus dipakai eampuran nominal semen, pasir dan kerikil (atau batu pecah) dalam perbandingan isi 1 : 2 : 3 atau I : 1 \6 : 2 J-i.

(3). Untuk beton mutu K 175 dan mutu-mutu lainnya yang lebih tinggi, harus dipakai eampuran beton yang direncanakan. Yang diartikan dengan eampuran beton yang direneanakan adalah eampuran yang dapat dibuktikan dengan data otentik dari pengalaman-pengalaman pelaksanaan beton di waktu yang lalu atau dengan data dari percobaan-percobaan pendahuluan, bahwa kekuatan karakteristik yang disyaratkan dapat tercapai.

(4). Dalam melaksanakan beton dengan campuran yang direneanakan, jumlah semen minimum dan nilai faktor air semen maksimum yang dipakai harus disesuaikan dengan keadaan sekelilingnya. Dalam hal ini dianjurkan untuk memakai jurnlah-jumlah semen minimum dan nilai-nilai faktor air semen maksimum yang tereantum dalam Tabel 4.3.4, dimana faktor air semen tersebut berlaku untuk agregat yang berada dalam keadaan kering muka.

4.4. KEKENTALAN ADUKAN BETON.

(1). Kekentalan (konsistensi) adukan beton harus disesuaikan dengan eara transport, eara pemadatan, jenis konstruksi yang bersangkutan dan kerapatan dari tulangan. Kekentalan tersebut bergantung pada berbagai hal, a.L jumlah dan jenis semen, nitai faktor air semen, jenis dan susunan butir dari agregat serta penggunaan bahan-bahan pembantu.

Tabel 4.3.4

Jumlah semen minimum dan nilai faktor air semen maksimum.

37

jumlah semen minimum per m3 beton (kg)

nilai faktor air semen maksimum.

Beton di dalam ruang bangunan:

a. Keadaan keliling non-korosif

b. Keadaan keliling korosif disebabkan oleh kondensasi atau uap-uap korosif

Beton di luar ruang bangunan:

a. Tidak terlindung dari hujan dan terik matahari langsung

b. Terlindung dari hujan dan terik matahari langsung

Beton yang masuk ke dalam tanah:

a. Mengalami keadaan basah dan kering berganti-ganti

b. Mendapat pen ga ruh sui fat alkali dari tanah atau air tanah

Be ton yang kon tinu berhu bungan dengan air:

a. air tawar

b. air laut

275

0,60

325

0,52

(2). Kekentalan adukan beton dapat diperiksa dengan pengujian slump. Adukan beton untuk keperluan pengujian slump ini harus diambil langsung dari mesin pengaduk dengan menggunakan ember atau alat lain yang tidak menyerap air. Bila dianggap perlu, adukan beton diaduk lagi sebelum diadukan pengujian tersebut, Pengujian slump dilakukan sebagai berikut: Sebuah kerucut terpaneung dengan diameter a tas 10 em, diameter bawah 20 em dan tinggi 30 em (disebu t

325

0,60

275

0,60

325

0,55

375

0,52

275 375

0,57 0,52

38

39

kerucut Abrams] diletakkan di atas bidang alas yang rata yang tidak menyerap air. Kerucut ini diisi dengan adukan beton, sambil ditekan ke bawah pada penyokong-penyokongnya, Adukan beton diisikan dalam 3 lapis yang kira-kira sama tebalnya dan setiap lapis ditusuk-tusuk I 0 kali dengan tongkat baja dengan diameter 16 mm dan panjang 60 em dan dengan ujung yang dibulatkan. Setelah bidang atasnya disipat rata, maka dibiarkan 16 menit, Selama waktu ini adukan beton yang jatuh sekitar kerueut disingkirkan, Kernudian kerueut ditarik vertikal ke atas dengan hati-hati, Segera setelah itu penurunan puneak kerucut terhadap tingginya semula diukur. Hasil pengukuran ini disebut slump dan merupakan ukuran dari kekentalan adukan beton tersebut.

(3). Untuk mencegah penggunaan adukan beton yang terlalu kental atau terlalu encer, dianjurkan untuk menggunakan nilai-nilai slump yang terletak dalam batas-batas yang ditunjukkan dalam TabeI4.4.1.

4.S. MUTU PELAKSANAAN DAN KEKUATAN TEKAN BETON KARAKTERISTIK.

(1). Beton adalah suatu bahan konstruksi yang mempunyai sifat kekuatan tekan yang khas, yaitu apabila diperiksa dengan sejumlah besar benda-benda uji, nilainya akan menyebar sekitar suatu nilai rata-rata tertentu, Penyebaran dari hasil-hasil pemeriksaan ini akan keeiI atau besar bergantung pada tingkat kesempumaan dari pelaksanaannya, Dengan menganggap nilai-nilai dari hasil pemeriksaan tersebut menyebar normal (mengikuti lengkung dari Gauss), maka ulcuran dari besar-kecilnya penyebaran dari nilai-nilai hasil pemeriksaan tersebut, jadi ukuran dari mutu pelaksanaannya, adalah deviasi standar menurut rurnus:

Tabel 4.4.1.

Nilai-nilai slump untuk berbagai-bagai pekerjaan beton.

s =

slump (em)
U r a i a n maksimum minimum
Dinding, pelat fondasi dan fondasi telapak
bertulang 12,S S,O
Fondasi telapak tidak bertulang, kaison dan
konstruksi di bawah tanah . 9,0 2,5
Pelat, balok, kolom dan dinding IS,O 7,S
Pengerasan jalan 7,S S,O
Pembetonan masal 7,5 2,5 Untuk maksud-rnaksud dan alasan-alasan tertentu, maka dengan persetujuan Pengawas Ahli, dapat dipakai nilai-nilai slump yang menyimpang dari pada yang tercantum daiam Tabel 4.4.1, asal dipenuhi hal-hal sebagai berikut:

beton dapat dikerjakan dengan baik; tidak terjadi pemisahan dari adukan;

mutu beton yang disyaratkan tetap terpenuhi.

dimana: s = deviasi standar (kg/ern")
u' = kekuatan tekan beton yang didapat dari
b masing-masing benda uji (kg/cml)
a'bm = kekuatan tekan beton rata-rata (kg/ern")
menurut rumus
N
!: ub
ubm =_1_
rN
N = jumlah seluruh nilai hasil pemeriksaan,
jadi jumlah seluruh benda uji yang
diperiksa, yang harus diambil minimum
20 buah. Berbagai-bagai mutu pelaksanaan pada berbagai-bagai lsi pekerjaan dicantumkan dalnm Tabel 4.S.1.

40

Tabel 4.5.1.

Mutu pelaksanaan diukur dengan deviasi standar,

isi pekerjaan deviasi standar s (kg/em")
sebutan jumlah beton baik sekali baik dapat diterima
(m3)
keeil <1000 45 < s< 55 55<s<65 65 < s < 85
sedang 1000-3000 35 <s ~45 45 < s< 55 55 < s< 75
besar >3000 25<s<35 35 < s<45 45 < s< 65 (2). Dengan menganggap nilai-nilai dari hasil pemeriksaan benda uji menyebar normal (mengikuti lengkung dari Gauss), maka kekuatan tekan beton karakteristik oi,k, dengan 5% kemungkinan adanya kekuatan yang tidak memenuhi syarat seperti ditentukan dalam pasal 4.1 ayat (I), ditentukan oleh rumus :

0bk ::: 0bm- 1,64 s

.

dimana s adalah devlasi standar yang ditetapkan dalam ayat (I).

(3). Setiap pelaksana yang akan melaksanakan beton dengan mutu K 125 dan mutu-mutu yang lebih tinggi harus membuktikan terlebih dahulu kepada Pengawas AhU kemarnpuannya meneapai mutu beton yang disyaratkan, dengan kekuatan karakteristik seperti ditentukan dalam ayat (2). Hal ini dapat dilakukannya dengan menunjukkan data otentik dari pengalaman-pengalaman pelaksanaan beton di waktu yang lalu atau data dati pereobaan-pereobaan pendahuluan. Data yang diperoleh dari literatur atau publikasi-publikasi hanya dapat dipakai sebagai dasar pembuatan campuran beton, apabila disetujui oleh Pengawas Ahli. Berdasarkan data tersebut di atas, Pengawas Ahli menetapkan deviasi standar reneana Sr untuk perneriksaan mutu beton selama masa pe1aksanaan menurut pasal 4.7., setelah dirundingkan dengan pelaksana,

4.6. PERCOBAAN PENDAHULUAN.

(1). Apabila tidak tersedia eukup data yang dapat menunjukkan bahwa suatu eampuran beton tertentu yang diusulkan dapat menghasilkan mutu beton yang disyaratkan dan/atau bahwa deviasi standar reneana sr

... I

Ii ;

I

I ,

!

I

I I

i

I

,!

j

41

yang diusulkan benar-benar akan tereapai dalam pelaksanaan yang sesungguhnya, maka hams diadakan pereobaan-pereobaan pendahuluan. Pereobaan pendahuluan juga hams dilakukan setiap kali akan diadakannya perubahan-perubahan dalam jenis dati bahan-bahan atau dalam perbandingan-perbandingannya di dalam campuran. Sebagai persiapan dati pereobaan pendahuluan di atas dianjurkan untuk mengadakan dulu pereobaan-pereobaan dilaboratorium .

(2). Jika tidak ditentukan oleh Pengawas Ahli, maka jum1ah benda-benda uji yang dibuat dalarn pereobaan pendahuluan ini, diserahkan kepada kebijaksanaan dan pelaksana, asal randomisasi pembuatan benda-benda uji tersebut terjamin. Dalam hal ini, pengambilan beton untuk pernbuatan benda-benda uji tersebut harus disetujui oleh Pengawas Ahli, setelah dirundingkan terlebih dahulu dengannya oleh pelaksana. Hasil-hasil pemeriksaan benda uji dalarn percobaan pendahuluan ini hams dievaluasikan menumt dalil-dalil dari matematika statistik, sehingga peramalan dari kekuatan beton dan/ atau deviasi stan dar dapa t dilakukan dengan derajat konfidensi yang cukup, Walaupun dernikian, dianjurkan untuk membuat 20 benda uji, sehingga dalam hal itu deviasi stan dar dan kekuatan tekan beton karakteristik dapat dihitung menurut pasal 4.5 aya t (I) dan (2).

(3). Benda-benda uji untuk pereobaan pendahuluan dapat diambil dan beton yang dicor pada taraf permulaan dari pekerjaan, asal dipenuhi syarat-syarat berikut:

a. beton tersebut dicor pada bagian-bagian konstruksi yang bersifat non-strukturil, yang mana hams dltegaskan oleh perencana;

b. beton tersebut dicor pada bagian-bagian konstruksi yang bersifat strukturil, tetapi yang untuk keperluan percobaan pendahuluan ini sengaja telah direncanakan bennutu BI dan dinyatakan demikian dalarn gambar-gambar rencana,

Pembuatan benda-benda uji selama pengeeoran beton yang dimaksud dalam a dan/atau b di atas harus dengan interval jurnlah pengeeoran yang kira-kira sama, Dalam hal ini dianjurkan untuk memilih interval jum1ah tersebut sedemikian mpa hingga setelah selesai pengecoran beton yang dimaksud dalam a dan/atau b di atas, dapat terkumpulkan minimum 20 benda uji, sehingga deviasi standar dan kekuatan tekan beton karakteristik dapat dihitung menurut pasal 4.5 ayat (1) dan (2). Apabila interval jurnlah tersebut dipilih lain, sehingga jumlah benda uji yang terkumpul adalah kurang dari 20 buah, maka hasil-hasil perneriksaan benda uji hams dievaluasikan menurut dalil-dalil dari matematika statistik, sehingga perarnalan dari kekuatan beton dan/atau

42

deviasi stan dar dapat dilakukan dengan derajat konfidensi yang cukup,

(4). Agar dalam waktu yang singkat sudah ada garnbaran tentang mutu dari beton dan mutu dari pelaksanaan, maka dengan persetujuan Pengawas Ahli pemeriksaan benda-benda uji dapat dilakukan pada umur beton yang kurang dari 28 hari, dengan memperhatikan pasal 4_1 ayat (4).

(5). Pembuatan dan pemeriksaan benda-benda uji harus memenuhi ketentuan-ketentuan dari pasal 4.9.

4.7. PEMERIKSAAN MUTU BETON DAN MUTU PELAKSANAAN SELAMA MASA PELAKSANAAN_

(1). Selama masa pelaksanaan, mutu beton dan mutu pelaksanaan harus diperiksa secara kontinu dad hasil-hasil pemeriksaan benda uji. Apabila tidak ditentukan lain oleh Pengawas Ahli, maka pada pekerjaan beton dengan jumlah dari masing-masing rnutu beton lebih besar dari 60 m3, untuk masing-masing mutu beton hams dibuat 1 benda uji setiap 5 m3 beton dengan minimum 1 benda uji tiap hari, keeuali pada permulaan dari pelaksanaan, dimana frikwensi pembuatan benda llji harus lebih besar agar dalam waktu sesingkat-singkatnya dapat terkumpulkan 20 benda uji, Untuk mencapai hal ini, maka sampai terkumpulnya 20 benda uji, setiap 3 m3 beton harus dibuat 1 benda uji, Segera setelah terkumpulkan 20 benda uji pada umur 28 hari, maka dari basil pemeriksaan kekuatan tekan benda-benda uji tersebut hams terbukti bahwa pasal 4.5 terpenuhi. Hasil pemeriksaan 20 benda uji pertama ini harus dipakai sebagai dasar untuk mempertimbangkan apakah perlu diadakan perubahan dalam campuran beton, eara pelaksanaan atau dalam nilai deviasi stan dar rencana Sr. Dalam proses pemeriksaan mutu beton dan mutu pelaksanaan selanjutnya, pada pekerjaan beton dengan jumlah dari masing-masing mutu beton lebih dari 60 m", hams dipenuhi ketentuan-ketentuan dati ayat (2). Untuk pekerjaan beton dengan jumlah dari masingmasing mutu beton kurang dati 60 m3 berlaku ayat (3).

(2). Apabila obk adalah kekuatan tekan beton karakteristik yang disyaratkan dan Sr adalah deviasi stan dar reneana yang dimaksudkan dalam pasal 4.5 ayat (3), maka pada pekerjaan beton dengan jumlah dati masing-rnasing mutu beton lebih dari 60 m", berlaku ketentuanketentuan berikut untuk masing-rnasing mutu beton:

43

a. Mutu beton dan mutu pelaksanaan dianggap memenuhi syarat, apabila dipenuhi syarat-syarat berikut:

1. Tidak boleh lebih dari 1 nilai di antara 20 nilai basil pemeriksaan benda uji berturut-turut terjadi kurang dari a'bk.

2. Tidak boleh satupun nilai rata-rata dari 4 basil pemeriksaan benda uji berturut-turut terjadi kurang dari (obk + 0,82 sr).

3. Selisih antara nilai tertinggi dan terendah di antara 4 hasil perneriksaan benda uji berturut-turut tidak boleh lebih besar dati 4,3 sr.

4. Dalam segala hal, hasil pemeriksaan 20 benda uji berturut-turut,

harus memenuhi pasal 4.5.

Setiap basil pemeriksaan 20 benda uji berturut-turut seperti disebut dalam syarat 4 di atas harus dipakai sebagai dasar untuk mempertimbangkan apakah perlu diadakan perubahan dalam campuran beton, earn pelaksanaan atau dalam nilai deviasi standar reneana sr untuk pemeriksaan selanjutnya,

b. Apabila syarat 1 sid 3 dari sub ayat a di atas tidak terpenuhi sebagian atau seiuruhnya, maka segera setelah hal itu diketahui, pelaksana diwajibkan menyelidiki sebab-sebab dari penyimpangan tersebut dan melaporkan hasilnya kepada Pengawas Ahli, disertai dengan usul-usul mengenai tindakan-tindakan perbaikan selanjutnya, seperti perubahan carnpuran beton, perubahan eara pelaksanaan atau tindakan-tindakan pengamanan lainnya. Setelah disetujui oleh Pengawas Ahli, tindakan-tindakan terse but harus segera dilaksanakan pada pengecoran beton-berikutnya. Dalam hal ini, mutu beton yang dieor pada waktu terjadi penyimpangan-penyimpangan tersebut hanya dapat dianggap memenuhi syarat, apabila syarat 4 dati sub ayat a di atas kemudian terpenuhi.

e. Apabila syarat 4 dan sub ayat a di atas tidak terpenuhi, maka mutu beton tidak memenuhi syarat dan pengeeoran beton segera hams dihentikan. Dalam hal ini tindakan-tlndakan yang diambil selanjutnya ditentukan dalam pasal4.8.

,.,

(3). Pada pekerjaan beton dengan jumlah dari masing-masing mutu beton kurang dari 60 m", berlaku ketentuan-ketentuan berikut untuk masing-masing mutu beton:

a. Pembuatan benda uji dapat dilakukan sebagai berikut:

I. Interval jumlah pengecoran beton (m") yang kira-kira sama di antara pembuatan benda-benda uji ditetapkan sedemikian rupa

44

hingga setelah selesai pengecoran beton seluruhnya, untuk masing-masing mutu beton dapat terkumpulkan minimum 20 benda uji,

2. Apabila karena alasan-alasan tertentu pembuatan 20 benda uji dianggap tidak praktis atau tidak dapat dilakukan, maka jurnlah benda uji yang dibuat boleh kurang dari 20 buah, asal pembuatannya dilakukan dengan interval jumlah pengecoran yang kira-kira sama.

b. Apabila setelah selesai pengecoran beton seluruhnya untuk masing-masing mutu beton dapat terkumpulkan minimum 20 benda uji, maka mutu beton dianggap memenuhi syarat, apabila hasil pemeriksaan 20 benda uji itu menunjukkan bahwa pasal 4.5 ayat (2) terpenuhi.

c. Apabila setelah selesai pengecoran beton seluruhnya untuk masing-masing mutu beton terdapat jumlah benda uji kurang dari 20 buah, maka apabila tidak dinilai dengan eara evaluasi menurut dalil-dalil maternatika statistik yang lain, mutu beton tersebut dianggap memenuhi syarat, apabila nilai rata-rata dari setiap 4 hasil pemeriksaan benda uji berturut-turut adalah lebih besar dari (abk + 0,82 sr), dimana ohk adalah kekuatan tekan beton karakteristik yang disyaratkan dan Sr adalah deviasi standar rencana yang dimaksudkan dalam pasal 4.5 ayat (3).

d. Apabila dan hasil-hasil perneriksaan benda-benda uji kekuatan tekan beton karakteristik ternyata -tidak tercapai, maka mutu beton tidak memenuhi syarat dan tindakan-tindakan yang diarnbil selanjutnya ditentukan dalarn pasal 4.8.

(4). Agar dalarn waktu yang singkat sudah ada gambaran tentang mutu dan beton dan dari pelaksanaan, maka dianjurkan untuk di sarnping membuat benda-benda uji untuk diperiksa pada umur 28 hari, juga mernbuat benda-benda uji untuk diperiksa pada umur 3 atau 7 hari. Hasil-hasil pemeriksaan dengan benda-bend a uji ini, dengan memperhatikan pasal 4.1 ayat (4), dapat dijadikan dasar untuk mempertimbangkan apakah perlu diadakan perubahan dalarn campuran beton dan/atau cara pelaksanaan. Sebagai penilaian yang menentukan bagi mutu beton tetap hams diambil berdasarkan pemeriksaan benda-benda uji pada urnur 28 hari, -

(5). Untuk menilai apakah beton sudah cukup keras, sehingga cetakancetakan atau acuan-acuannya dapat dibongkar atau beban-beban dapat dikerjakan padanya, maka di samping untuk pemeriksaan

45

mutu, juga untuk penilaian ini Pengawas Ahli dapat memerintahkan pembuatan benda-benda uji,

(6). Pembuatan dan pemeriksaan benda-benda uji harus rnemenuhi ketentuan-ketentuan dan pasal 4.9.

4.8. TINDAKAN-'I1NDAKAN YANG DIAMBIL APABILA HASIL PEMERIKSAAN BENDA un MENUNJUKKAN MUTU BETON YANG T1DAK MEMENUHI SYARAT.

(1). Apabila dari hasil pemeriksaan benda-benda uji seperti diuraikan dalarn pasal 4.7 ternyata kekuatan tekan beton karakteristik yang disyaratkan tidak tercapai, maka apabila pengecoran beton belum selesai, pengecoran tersebut segera harus dihentikan dan dalam waktu singkat hams diadakan percobaan non-destruktif pada bagian konstruksi yang kekuatan betonnya rneragukan itu, untuk merneriksa kekuatan beton yang benar-benar teIjadi. Untuk itu dapat dilakukan pengujian mutu dengan palu beton atau dapat diperiksa benda-benda uji yang diambil (dibor) dari bagian konstruksi yang meragukan itu. Pada percobaan palu beton, sebelum dipakai alatnya harus dikalibrasikan terlebih dahulu dan disetujui oleh Pengawas Ahli. Pada pengambilan benda uji dari konstruksi, maka pengambilan tersebut harus sedemikian rupa hingga daya dukung dati bagian konstruksi yang meragukan itu tidak terlalu dipengaruhi. Tempat-tempat pengambilan dari benda-benda uji tersebut harus disetujui oleh Pengawas AhU. Apabila dari percobaan-percobaan ini diperoleh suatu nilai kekuatan tekan beton karakteristik yang minimal adalah ekivalen dengan 80% dari nilai kekuatan tekan betoll karakteristik yang disyaratkan untuk bagian konstruksi itu, maka bagian konstruksi tersebut dapat dianggap memenuhi syarat dan pengecoran beton yang dihentikan dapat dilanjutkan kembali. Apabila dari percobaanpercobaan ini diperoleh suatu nilai kekuatan tekan beton karakterlstik yang tidak memenuhi syarat di atas dan kemudian tidak diadakan percobaan beban seperti ditentukan dalam ayat (2), maka berlaku ayat (3)_

(2). Apabila dari hasil percobaan non-destruktif yang ditentukan dalam ayat (1) diperoleh suatu. nilai kekuatan tekan beton karakteristik yang tidak memenuhi syarat yang ditentukan dalam ayat (1), maka dianjurkan untuk mengadakan percobaan beban langsung Iebih lanjut, Percobaan ini harus dilakukan dengan penuh keahlian menurut ketentuan-ketentuan dari bab 21. Apabila dari percobaan ini diperoleh

" suatu nilai kekuatan tekan beton karakteristik yang minimal adalah

46

ekivalen dengan 70% dari nilai kekuatan tekan beton karakteristik yang disyaratkan untuk bagian konstruksi itu, maka bagian konstruksi ters .. but dapat dianggap memenuhi syarat dan pengecoran beton yang dihentikan dapat dilanjutkan kembali. Apabila dari percobaan in! diperoleh suatu nilai kekuatan tekan beton karakteristik yang tidak memenuhl syarat di atas, maka berlaku ayat (3).

(3). Apabila dari hasil pereobaan-percobaan non-destruktif diperoleh suatu nilai kekuatan tekan beton karakteristik yang tidak memenuhi syarat yang ditentukan dalam ayat (I) dan (2), maka bagian konstruksi yang bersangkutan hanya dapat dipertahankan dan pengecoran beton yang dihentikan dapat dilanjutkan kembali, apabila kekuatan tekan beton yang sesungguhnya menurut hasil percobaan non-destruktif benar-benar dapat dipenuhi dengan salah satu atau kedua tindakan berikut dengan memperhatikan pasal 10.1 ayat (6) :

a. mengadakan perubahan-perubahan pada rencana semula sehingga pengaruh beban pada bagian konstruksi tersebut dapat dikurangi;

b. mengadakan penguatan-penguatan pada konstrnksi sernula yang

dapat dipertanggung-jawabkan;

Apabila kedua tindak:an di atas tidak dapat dilaksanakan, maka dengan perintah dari Pengawas Ahli, pelaksana harus segera membongkar beton dari konstruksi terse but.

4.9. PEMBUATAN DAN PEMERIKSAAN BENDA UJI.

(I). Benda-benda uji kubus harus dibuat dengan cetakan-cetakan yang paling sedikit mempunyai 2 dinding yang berhadapan terdiri dari bidang-bidang yang rata betul dari pelat baja, kaca eermin atau pel at aluminium (kayu tidak boleh dipakai]. Cetakan disapu sebelumnya dengan vaselin, lernak atau minyak, agar mudah dapat dilepaskan dari betonnya, kemudian diletakkan di atas bidang alas yang rata yang tidak menyerap air.

(2). Adukan beton untuk benda-benda uji harus diambil langsung dari rnesin pengaduk dengan menggunakan ember atau alat lain yang tidak menyerap air. Bila dianggap perlu, adukan beton diaduk lagi sebelum diisikan ke dalam cetakan,

(3). Pada adukan beton yang eneer, adukan beton diisikan ke dalam eetakan dalarn 3 lapis yang kira-kira sama tebalnya, dimana masing-rnasing lapis ditusuk-tusuk 10 kali dengan tongkat baja dengan diameter 16 mm dan dengan ujung yang dibulatkan. Pada adukan beton yang

47

kental, cetakan hams diberi sambungan tambahan ke atas, kemudian adukan beton diisikan sekaligus, Selanjutnya, adukan di dalam cetakan harus dipadatkan dengan eara yang sesuai dengan cara pada pelaksanaan yang sesungguhnya, Apabila dalam hal ini dipergunakan jarum-jarurn penggetar, maka jarum penggetar terse but hams dirnasukkan sentris ke dalam setiap kubus tanpa menyentuh dasarnya. Penggetaran harus dilanjutkan sampai permukaan adukan beton nampak mengkilap oleh air semen. Kernudian jarurn penggetar harus ditarik dati adukan beton dengan keeepatan 5 em per detik.

(4). Kubus-kubus uji yang bam dieetak harus disimpan di tempat yang bebas dari getaran dan ditutupi dengan karung basah selama 24 jam, setelah mana kubus-kubus tersebut dilepaskan hati-hati dari cetakannya. Jangka waktu 24 jam ini hams diperpanjang apabila ternyata betonnya belum eukup mengeras. Sesudah itu, rnasing-masing kubus diberi tanda seperlunya dan disimpan di suatu tempat dengan suhu yang sama dengan suhu udara luar, dalam pasir bersih yang lembab sampai saat pemeriksaan, Pasir untuk keperluan ini harus disetujui oleh Pengawas Ahli.

(5). Sebelum kubus uji diperiksa kekuatannya, ukurannya harus ditentukan dengan ketelitian sampai mm. Apabila berat isi dari beton juga harus ditentukan, maka be rat beton hams ditentukan dengan ketelitian sampai ratusan gram.

(6). Pada penguj ian , tekanan dikerjakan pada bidang-bidang sisi dari kubus yang di dalam eetakannya telah menempei pada bidang-bidang , yang rata. Tekanan barns dinaikkan berangsur-angsur dengan kecepatan 6 ± 4 kg/crrr' tiap detik.

(7). Sebagai beban haneur dari kubus berlaku beban tertinggi yang ditunjukkan oleh pesawat penguji, Pesawat penguji tidak boleh mempunyai kesalahan yang melampaui ± 3% pada setiap pembebanan di atas 10% dati kapasitas maksirnum.

48

Bah 5

Cetakan, acuan, tulangan dan pipa-pipa yang akan tertanam dalam beton.

5.1. CET AKAN DAN ACUAN.

(1). Cetakan harus menghasilkan konstruksi ahir yang mempunyai bentuk, ukuran dan batas-batas yang sesuai dengan yang ditunjukkan oleh gambar-gambar reneana dan oleh uraian pekerjaan, Cetakan harus kokoh dan eukup rapat sehingga dapat dicegah keboeoran adukan, Cetakan harus diberi ikatan-ikatan secukupnya, sehingga dapat terjamin kedudukan dan bentuknya yang tetap. Cetakan dan acuan harus terbuat dari bahan-bahan yang baik yang tidak mudah meresap air dan direncanakan sedemikian rupa hingga mudah dapat dilepaskan dari beton tanpa menyebabkan kerusakan pada beton. Pada pelaksanaan beton Kelas III harus ada jaminan bahwa air beton benar-benar tidak terserap oleh cetakan, Untuk itu maka eetakan-

eetakan dapat dilapis dengan plastik atau bahan-bahan lain sejenis,

Pada eetakan kolom, dinding dan balok tinggi, harus diadakan perlengkapan-perlengkapan untuk menyingkirkan kotoran-kotoran, serbuk gergaji, potongan-potongan kawat pengikat, dan lain-lain.

Apabila aeuan harus memikul beban-beban yang besar dan/atau harus mengatasi bentang-bentang yang besar atau mernerlukan bentuk yang

khusus, maka dari acuan tersebut harus dibuat perhitungan-perhitungan dan gambar-gambar kerja khusus. Dalam perencanaan acuan ini harus ditinjau hal-hal berikut:

a. Kecepatan dan cara pengecoran beton.

b. Beban-beban pelaksanaan, termasuk beban-beban vertikal, horisontal dan kejutan-kejutan,

e. Syarat-syarat bentuk khusus yang diperlukan pada pelaksanaan konstruksi selaput, pelat-pelat lipatan, omamen-ornamen dan unsur-unsur sejenis.

Di samping kekuatan dan kekakuan dari acuan, juga stabilitas perlu diperhitungkan dengan baik.

Tiang-tiang aeuan dari kayu harus dipasang di atas papan kayu yang kokoh 'dan harus mudah dapat disetel dengan baji, Tiang-tiang

aeuan tersebut tidak boleh mempunyai lebih dari satu sambungan yang tidak disokong ke arah samping. Bambu tidak boleh digunakan sebagai tiang aeuan, kecuali apabila diijinkan oleh Pengawas Ahli .

(2).

(3).

(4)_

....

49

S.2. LANTAI KERJA.

(1). Apabila konstruksi beton bertulang langsung terletak di atas tanah, maka dibawahnya harus dibuat lantai kerja yang rata. Jika tidak ditentukan lain, maka tebal lantai kerja minimum harus diambil 5 em dengan eampuran nominal semen, pasir dan kerikil (atau bam pecah) dalam perbandingan isi I : 3 : 5. Dengan persetujuan Pengawas AWi tebal lantai kerja dapat diambil kurang dari 5 em apabila dibawahnya terdapat lapisan pasir dan/atau dapat dipakai eampuran yang lain dari pada yang disebut di atas apabila dapat dibuktikan bahwa campuran itu cukup baik,

i

j

5.3. PEMBENGKOKAN TULANGAN.

(1). Batang tulangan tidak boleh dibengkok atau diluruskan dengan cara-cara yang merusak tulangan itu.

(2). Batang tulangan yang diprofilkan, setelah dibengkok dan diluruskan kembali tidak boleh dibengkok lagi dalam jarak 60 em dari bengkokan sebelumnya,

Batang tulangan yang tertanam sebagian di dalam beton tidak boleh dibengkok atau diluruskan di lapangan, kecuali apabila ditentukan

di dalam gambar-gambar rencana atau disetujui oleh perencana,

Membengkok dan meluruskan batang tulangan harus dilakukan dalam keadaan dingin, keeuali apabila pemanasan diijinkan oleh pereneana.

Apabila pemanasan diijinkan, batang tulangan dari baja lunak (polos atau diprofilkan) dapat dipanaskan sampai kelihatan rnerah padam

. tetapi tidak boleh meneapai suhu lebih dari 8500 C.

Apabila batang tulangan dari baja lunak yang mengalami pengerjaan dingin dalam pelaksanaan ternyata mengalami pemanasan di atas 100°C yang bukan pada waktu di las, maka dalam perhitungan-perhitungan sebagai kekua tan baja harus diambil kekuatan baja terse bu t yang tidak mengalami pengerjaan dingin.

Batang tulangan dari baja keras tidak boleh dipanaskan, keeuali apabila diijinkan oleh pereneana.

Batang tulangan yang dibengkok dengan pemanasan tidak boleh didinginkan dengan jalan disiram dengan air.

Menyepuh batang tulangan dengan seng tidak boleh dilakukan dalam jarak 8 kali diameter (diameter pengenal) batang dari setiap bagian

dari bengkokan.

(3).

(4).

(5).

(6).

(7).

(8).

(9).

50

5.4. TOLERANSI PADA PEMOTONGAN DAN PEMBENGKOKAN TULANGAN.

(1).

Batang tulangan hams dipotong dan dibengkok sesuai dengan yang ditunjukkan dalam gambar-garnbar reneana dengan toleransi-toleransi yang disyaratkan oleh perencana. Apabila tidak ditetapkan oleh perencana, pada pemotongan dan pembengkokan tulangan ditetapkan toleransi-toleransi seperti tercantum dalarn ayat-ayat berikut (lihat Gambar 5.4.1).

(2).

Terhadap panjang total batang lurus yang dipotong menurut ukuran dan terhadap panjang total dan ukuran intern dari batang yang dibengkok ditetapkan toler ansi sebesar ± 25 mm, kecuali mengenai yang ditetapkan dalam ayat (3) dan (4). Terhadap panjang total batang yang diserahkan menurut sesuatu ukuran ditetapkan toleransi sebesar + 50 mm dan - 25 mm.

(3). Terhadap jarak turun total dari batang yang dibengkok ditetapkan toleransi sebesar ± 6 mm untuk jarak 60 em atau kurang dan sebesar ± 12 mm untuk jarak lebih dari 60 em.

(4). Terhadap ukuranluar dari sengkang, lilitan dan ikatan-ikatan ditetapkan toleransi sebesar ± 6 mm.

5.5. PEMASANGAN TULANGAN.

(1). Tulangan harus bebas dari kotoran, lemak, kulit giling dan karat lepas, serta bahan-bahan lain yang mengurangi daya lekat.

(2). Tulangan harus dipasang sedemikian rupa hingga sebelum dan selama pengecoran tidak berubah tempatnya.

(3). Perha tian khusus perlu dieurahkan terhadap ketepatan teb a1 penu tu p beton, Untuk itu tulangan harus dipasang dengan penahan jarak yang terbuat dari beton dengan mutu paling sedikit sarna dengan mutu beton yang akan di cor. Penahan-penahan jarak dapat berbentuk blok-blok persegi atau gelang-gelang yang harus dipasang sebanyak minimum 4 buah setlap m2 eetakan atau lantai kerja, Penahan-penahan jarak ini harus tersebar merata.

51

a) TolelO'>II; batang lum atall bating ... tara bengkok ... ·benglr.ok an,

I + 50 mm - 25 mm unluk bala", yo", d isetahkan menorut .. suatu uk""",.

I + 25 mm untuk bala", YOIIII dipolong menuru 1 uk uran

I ..

b) Toiesanoi baWl,_botaDl Y8ll@dibengkol<.

I ± 25 mm

a .. 60 em toIeransi ± 6 mm

• > 60 em toleransi ± 12 mm

1+ 25 mm

a .. 60 em 100.,an.o ± 6 mm 1~===a=>==60=c=m=t=d=~=~='i=±==12=m=m~

.. I

c) Tdcranoi "lIJk8ll@. !ilitan .piIaI dan ikatan-ikatln.

T

D

f

o

Ukuran luar t 6 mm

Ukuran luar ± 6 mm

1

k---- ~

nkll .. nn In .. ± 6 mm

Gombar 5.4.1.

Toleransi pada pemotongan dan pembengkokan tulangan.

52

53

(4). P~da. pelat-pelat dengan tulangan rangkap, tulangan atas harus d~tun~ang pada tulangan bawah oleh batang-batang penunjang atau ditunjang langsung pada eetakan bawah atau lantai kerja oleh blok-blok betdh yang tinggi, Perhatian khusus perlu dicurahkan terhadap ketepatan letak dari tulangan-tulangan pelat yang dibengkok yang hams melintasi tulangan balok yang berbatasan,

kimia antara aluminium dengan beton dan/atau dapat meneegah proses elcktrolisa antara aluminium dcngan baja. Kecuali apabila pengaruh pemipaan ditinjau oleh perencana dalam perhitungan kekuatan konstruksi, maka pada umumnya pipa-pipa tidak boleh mempunyai diameter Iuar yang lebih besar daripada sepertiga tebal pelat, dinding atau balok, di dalam mana pipa tersebut tertanam dan tidak boleh dipasang dengan jarak antara dari pusat ke pusat yang kurang dari 3 kali diameternya. Dalam perhitungan kekuatan konstruksi tersebut, pcngurangan penampang beton yang efektif oleh penarnpang-penampang pipa serta bagian-bagiannya, hanya perlu diperhitungkan apabila pengurangan itu adalah lebih dari 4%. Pipa-pipa serta bagian-bagiannya yang menernbus lantai, din ding atau balok hams mernpunyai ukuran dan letak yang sedemikian rupa hingga tidak banyak rnengurangi kekuatan konstruksi,

5.6. TOLERANSI PADA PEMASANGAN TULANGAN.

(1). B~tang tulangan hams dipasang pada tempatnya sesuai dengan yang dl~entukan dalam gambar-gambar rencana, Apabila tidak ditetapkan lam ole? pere~eana pada pemasangan tulangan ditetapkan toleransitoleransi sepern tereantum dalam ayat-ayat berikut.

(2). Terhadap kedudukan diarah ukuran konstruksi yang terkecil ditetapkan toleransi sebesar ± 6 mm untuk ukuran 60 em atau kurang dan sebesar ± 12 mm untuk ukuran lebih dad 60 em.

(3). Terhadap kedudukan bengkokan diarah memanjang ditetapkan toleransi sebesar ± 50 mm, kecuali pada bengkokan ahir,

(4). Terhadap kedudukan bengkokan ahir dari batang di tetapkan toleransi s~be.sar ± 25 mm, dengan syarat tambahan bahwa tebal penutup beton di ujung batang memenuhi yang disyaratkan,

(5). T.erhadap ked ud u~~ batang-batang tulangan pelat dan din ding ditetapkan toleransi di dalam bidang tulangan sebesar ± 50 mm,

(6). ! erhadap kedudukan dari sengkang-sengkang, lili tan-lili tan spiral dan ikatan-ikatan lainnya diretapkan toleransi sebesar ± 25 mm.

(7). Apabila pipa-pipa atau benda-benda lain direneanakan menembus beton atan ditanam di dalam beton, maka tulangan tidak boleh dipoton? dan ti~ak boleh digeser tempatnya lebih jauh dari pada toleransi-toleransi yang ditentukan dalam ayat (2) sid (6).

(1). Pipa-pipa lis trik dan pipa-pipa lain serta bagian-bagiannya dari bahan apapun. yang tidak merusak beton dengan pembatasan-pembatasan yang dl.tetapkan dalam pasal. ini dapat ditanam di dalam beton dengan persetuJuan. Penga.w~s ~1. Pipa-plpa dan bagian-bagiannya yang terb~at d~n aluminium tidak boleh ditanam dalam beton, kecuali apabila ditutup dengan lapis yang efeknf dapat mencegah reaksi

(2). Pipa-pipa yang akan berisi eairan, gas atau uap dapat ditanam dalam betcn strukturil asal dipenuhi syarat-syarat tambahan berikut:

a. Pipa dan bagian-bagiannya harus direneanakan terhadap pengaruhpengaruh dari jenis, tekanan dan suhu bahan yang akan berada didalarnnya.

b. Suhu dari cairan, gas atau uap tidak boleh melampaui 65°C.

c. Pipa dengan bagian-bagiannya diperhitungkan terhadap tekanan maksimum sebesar 15 kg/ern" lebih tinggi dari tekanan udara luar.

d. Semua pipa-pipa beserta bagian-bagiannya, kecuali yang disebut dalam e, harus diuji dalam keseluruhan terhadap keboeoran, sebelum pengeeoran beton dirnulai. Tekanan penguji harus diambil sebesar I Y.! kali tekanan yang akan bekerja di dalam pipa dengan minimum sebesar 10 kg/em? di atas tekanan udara luar, Pengujian tekanan hams berlangsung selarna 4 jam tanpa terjadi penurunan tekanan.

e. Pipa pembuangan air hujan dan pipa-pipa lain yang tidak akan mengal ami tekanan leb ih da ri 0,1 kgf em? di atas tekanan udara I uar tidak perlu diuji seperti ditentukan dalam d.

f. Pipa-pipa yang menyalurkan cairan, gas atau uap yang dapat meledak atau membahayakan kesehatan, harus diuji sekali lagi rnenurut yang ditentukan dalam d, setelah beton mengeras,

g. Cairan, gas atau uap, kecuali air dengan suhu kurang dari 30°C dan tekanan kurang dari 4 kg/ern", tidak boleh disalurkan ke dalam pipa-pipa sebelum beton meneapai kekuatan yang disyaratkan,

h. Pada pelat-pelat masif, pipa-pipa harus dipasang di antara tulangan atas dan tulangan bawah,

5.7. PEMASANGAN PIPA-PIPA YANG AKAN TERTANAM DI DALAM BETON.

54

i. Penutup beton dari pipa-pipa dan bagian-bagiannya harus memenuhi ketentuan-ketentuan dari bab 7.

j. Tulangan dengan luas sebesar 0,2% dari luas penampang beton senantiasa hams dipasang dalam arah tegak lurus pada arah pipa.

k Sambungan-sambungan pipa dan hubungan-hubungan dengan bagian-bagiannya harus dilas, dipatri atau dikerjakan dengan cara serupa yang memuaskan, Penggunaan sambungan ulir tidak diijinkan.

5.8. PEMBONGKARAN eET AKAN DAN ACUAN.

(l). Cetakan dan aeuan hanya boleh dibongkar apabila bagian konstruksi tersebut dengan sistim cetakan dan acuan yang masih ada telah meneapai kekuatan yang eukup untuk mernikul berat sendiri dan beban-beban pelaksanaan yang bekerja padanya. Kekuatan ini harus ditunjukkan dengan basil pemeriksaan benda uji yang disebut dalam pasal 4.7 ayat (5) dan dengan perhitungan-perhitungan. Pengawas Ahli barn memberikan persetujuan pembongkaran cetakan dan aeuan setelah ia memeriksa hasil-hasil pemeriksaan benda uji dan perhitungan-perhitungan tersebut. Apabila untuk menentukan saat pembongkaran cetakan dan aeuan tidak dlbuat benda-benda uji seperti yang ditentukan dalam pasal 4.7 ayat (5), maka bila tidak ditentukan lain, eetakan dan aeuan barn boleh dibongkar setelah beton berumur 3 minggu. Apabila dalam hal ini ada jaminan bahwa setelah eetakan dan acuan dibongkar, beban yang bekerja pada bagian konstruksi itu tidak akan melampaui 50% dati beban reneana total, maka pernbongkaran cetakan dan acuan itu dapat dilakukan setelah beton berumur 2 minggu. Jika tidak ditentukan lain, cetakan samping dati balok, kolom dan dinding boleh dibongkar setelah 3 hari.

(2). Pada bagian-bagian konstruksi dimana akibat pembongkaran eetakan dan aeuan akan bekerja beban-beban yang lebih tinggi daripada beban rencana dan/atau akan terjadi keadaan yang Iebih berbahaya dati pada keadaan yang diperhitungkan, maka eetakan dan acuan dati bagian-bagian konstruksi itu tidak boleh dlbongkar selama keadaan tersebut tetap beriangsung. Pembongkaran cetakan dan aeuan dari konstruksi-konstruksi yang langsung akan memikul praktis seluruh beban reneana, seperti pada atap-atap atau busur-busur, harus dilakukan dengan sangat hati-hati,

55

(3).

Cetakan-cetakan balok dapat dibongkar setelah dari semua kolom-kolom penunjangnya telah dibongkar cetakannya dan dari penglihatan ternyata baik pembetonannya.

Bagian-bagian konstruksi dimana terjadi sarang-sarang kerikil harus diperbaiki dengan penuh keahlian.

(4).

Bab 6

Pengadukan, pengangirutan, pengecoran, pemadatan dan perawatan beton.

6.1. PERSIAP AN.

(1).

Sebelum pembuatan beton dimulai, semua alat-alat pen.gaduk dan pengangkut beton sudah harus bersih, Sebelum beto.n dl.cor semu~ ruang-ruang yang akan diisi dengan beton hams dibersihkan dari kotoran-kotoran, kemudian cetakan-cetakan dan pasangan-pasangan dinding yang akan berhubungan dengan beton harus dibas~ dengan air sampai jenuh, sedangkan tulangan harus terpasang baik seperti ditentukan dalam pasal 5.5. Bidang-bidang beton lama yang akan berhubungan erat dengan beton baru, dan blla perlu juga bid~g-bidang ahir dari beton pada siar pelaksanaan, harus cukup dikasarkan dulu kemudian bidang-bidang tersebut harus dibersihkan dari segala kotoran dan benda-benda lepas, setelah itu harus dibasahi dengan air sampai jenuh. Sesaat sebelum beton yang baru akan die or, bidangbidang tadi harus disapu dengan spesi mortel dengan susunan yang sama seperti yang terdapat di dalam betonnya.

Air harus dibuang dari semua ruang-ruang yang akan diis~ den~an beton, kecuali apabila menurut persetujuan Pengawas Ahh hal itu tidak perlu dilakukan.

(2).

6.2. PENGADUKAN.

(1).

Pengadukan beton pada semua mutu beton, kecuali mutu Bo, harus dilakukan dengan mesin pengaduk. Mesin pengaduk untuk membuat beton Kelas III harus diperlengkapi dengan alat-alat yang dapat mengukur dengan tepat jumlah air peneampur ya.ng. di.masukkan ke dalam drum pengaduk. Jenis mesin pengaduk dan jems hm~an~n~ timbangan atau takaran-takaran semen dan agreg~t ha~us dtsetujui terlebih dahulu oleh Pengawas AhU sebelurn dapat dipakai,

S6

57

(2). Selama pengadukan berlangsung, kekentalan adukan beton harus diawasi terus menerus oleh tenaga-tenaga pengawas yang ahli dengan jalan memeriksa slump pada setiap campuran beton yang baru. Besarnya slump dijadikan petunjuk apakah jumlah air pencampur yang dirnasukkan ke dalam drum pengaduk adalah cukup tepat atau perlu dikoreksi dalam hubungannya dengan faktor air semen yang diinginkan.

(3). Waktu pengadukan bergantung pada kapasitas drum pengaduk, banyaknya adukan yang diaduk, jenis dan susunan butir dari agregat yang dipakai dan slump dari beronnya, akan tetapi pada umumnya harus diambil paling sedikit 1,5 menit se telah sernua bahan-bahan dimasukkan ke dalam drum pengaduk, Setelah selesai pengadukan, adukan beton harus memperlihatkan susunan dan wama yang me rata.

(4). Apabila karena sesuatu hal adukan beton tidak memenuhi syarat minimal, misalnya terlalu encer karen a kesalahan dalam pemberian jumlah air pencampur atau sudah mengeras sebagian atau yang tercampur dengan bahan-bahan asing, maka adukan ini tidak boleh dipakai dan harus disingkirkan dad tempat pelaksanaan.

6.4. PENGECORAN DAN PEMADATAN.

(1). Pengangkutan adukan beton dari tempat pengadukan ke ternpat pengecoran harus dilakukan dengan cara-cara dengan mana dapat dicegah pemisahan dan kehilangan bahan-bahan.

(2). Cara pengangkutan adukan beton harus lancar sehingga tidak terjadi perbedaan waktu pengikatan yang menyolok antara beton yang sudah dicor dan yang akan dicor, Memindahkan adukan beton dari tempat pengadukan ke tempat pengecoran dengan perantaraan talang-talang miring hanya dapat dilakukan setelah disetujui oleh Pengawas Ahli. Dalam hal ini, Pengawas AhIi mempertimbangkan persetujuan penggunaan talang miring ini, setelah mempelajari usul dari pelaksana mengenai konstruksi, kemiringan dan panjang talang itu.

(3). Adukan beton pada umumnya sudah harus dicor dalam waktu 1 jam setelah pengadukan dengan air dimulai. Jangka waktu ini hams diperhatikan, apabila diperlukan waktu pengangkutan yang panjang. Jangka waktu tersebut dapat diperpanjang sampai 2 jam, apabila adukan beton digerakkan kontinu secara mekanis. Apabiia diperlukan jangka waktu yang lebih panjang lagi, maka harus dipakai bahan-bahan penghambat pengikatan yang berupa bahan pembantu yang ditentukan dalam pasal3.8.

(1). Beton harus dicor sedekat-dekatnya ke tujuannya yang terahir untuk mencegah pemisahan bahan-bahan akibat pemindahan adukan di daI"am cetakan.

(2). Sejak pengeeoran dimulai, pekerjaan ini hams dilanjutkan tanpa berhenti sampai mencapai siar-siar pelaksanaan yang ditetapkan dalam pasal 6.5.

(3). Untuk meneegah timbulnya rongga-rongga kosong dan sarang-sarang kerikil, adukan beton harus dipadatkan selama pengeeoran. Pemadatan ini dapat dilakukan dengan menumbuk-numbuk adukan atau dengan memukul-rnukul cetakan, tetapi dianjurkan untuk senantiasa menggunakan alat-alat pemadat mekanis (alat penggetar). Pada pembuatan beton Kelas III penggunaan alat-a1at penggetar ini adalah diwajibkan. Dalam hal digunakan alat penggetar, maka slump dari betonnya harus disesuaikan dengan itu dan pada umumnya tidak boleh digunakan slump yang lebih dari 12,5 ern.

(4). Dalam hal pemadatan beton dilakukan dengan alat-alat penggetar, juga harus diperhatikan hal-hal sebagai berikut:

a. Pada umumnya [arum penggetar harus dimasukkan ke dalam adukan kira-kira vertikal, tetapi dalam keadaan-keadaan khusus boleh miring sampai 450•

b. Selama penggetaran, jarum tidak boleh digerakkan ke arah horisontal karena hal ini akan menyebabkan pemisahan bahan-bahan.

e. Harus dijaga agar jarum tidak mengenai cetakan atau bagian beton yang sudah mulai mengeras. Karena itu jarum tidak boleh dipasang lebih dekat dad 5 em dari eetakan atau dari beton yang sudah mengeras. Juga harus diusahakan agar tulangan tidak terkena oleh jarum, agar tulangan tidak terlepas dati betonnya dan getaran-getaran tidak merambat ke bagian-bagian lain dimana betonnya sudah rnengeras.

d. Lapisan yang digetarkan tidak boleh lebih tebal dati panjang jarum dan pada umumnya tidak boleh lebih tebal dad 30 a 50 em. Berhubung dengan itu, maka pengecoran bagian-bagian konstruksi yang sangat tebal harus dilakukan lapis derni lapis, sehingga tiap-tiap lapis dapat dipadatkan dengan balk.

e. Jarum penggetar ditarik dari adukan beton apabila adukan mulai nampak mengkilap sekitar jarum (air semen mulai memisahkan did dari agregat), yang pada umumnya tercapai setelah maksimum

6.3. PENGANGKUT AN.

58

30 detik. Penarikan jarurn ini tidak boleh dilakukan terlalu cepat, agar rongga bekas jarurn dapat diisi penuh lagi dengan adukan.

f. Jarak antara pernasukan jarum harus dipilih sedemikian rupa hingga daerah-daerah pengaruhnya saling menutupi,

6.5. SIAR PELAKSANAAN.

(1). Siar-siar pelaksanaan harus diternpatkan dan dibuat sedernikian rupa hingga tidak banyak mengurangi kekuatan dad konstruksi, Apabila tempat siar-siar pelaksanaan tidak ditunjukkan dalam gambar-gambar rencana, maka tempat siar-siar pelaksanaan itu harus disetujui oleh Pengawas Ahli. Penyimpangan ternpat-tempat siar pelaksanaan dari pada yang ditunjukkan dalam gambar rene ana, harus disetujui oleh Pengawas Ahli.

(2). Antara pengecoran balok atau pelat dan pengahiran pengecoran kolom harus ada waktu-antara yang cukup, untuk member! kesempatan kepada beton dari kolom untuk mengeras. Balok, pertebalan miring dari balok dan kepala-kepala kolom harus dianggap sebagai bagian dari sistim lantai dan harus dicor secara monolit dengan itu,

(3). Pada pelat dan balok, siar-siar pelaksanaan hams ditempatkan kira-kira di tengah-tengah bentangnya, dimana pengaruh gaya melintang sudah banyak berkurang, Apabila pada balok di tengah-tengah bentangnya terdapat pertemuan atau persilangan dengan balok lain, maka siar pelaksanaan ditempatkan sejauh 2 kali lebar balok dari pertemuan atau persilangan itu,

6.6. PERAWATAN.

(1). Untuk mencegah pengeringan bidang-bidang beton, selama paling sedikit dua minggu beton harus dibasahi terus menerus, a.l. dengan menutupinya dengan karung-karung basah. Pada pel at-pel at atap pembasahan terus menerus ini harus dilakukan dengan merendamnya (menggenanginya) dengan air. Pada hari-hari pertama sesudah selesai pengecoran, proses pengerasan tidak boleh diganggu. Sangat dilarang untuk mempergunakan lantai yang belum cukup mengeras sebagai tempat penimbunan bahan-bahan atau sebagai jalan untuk mengangkut bahan-bahan yang berat.

59

(2). Perawatan dengan uap bertekanan tinggi, uap bertekanan udara luar, pemanasan atau proses-proses lain untuk mempersingkat waktu pengerasan dapat dipakai. Cara-cara ini harus disetujui terlebih dahulu oleh Pengawas AhH.

60

Bagian 4 DETAIL-DETAIL KONSTRUKSI

Bab 7

Penutup beton dan ketahanan dalam kebakaran.

7.1. UMUM.

(1). Setiap batang tulangan, berkas tulangan dan pipa yang tertanam di dalam beton hams mempunyai penutup beton seperti ditentukan dalam pasal 7.2 dan 7.3.

(2). Apabila syarat-syarat terhadap ketahanan di dalam kebakaran mencntukan tebal penutup beton yang lebih besar, maka yang terahir if' yang hams diambil.

(3). Penutup beton hams dipertebal dengan minimum 1 cm, apabila oleh pengerjaan perrnukaan tertentu penutup beton itu akan dipertipis, Hal ini terjadi misalnya bila permukaan beton akan dipoles, disemprot dengan pasir atau amril atau dieuei dengan Iarutan He! eneer.

(4). Lapis penyelesaian, keeuali yang be rh ubungan dengan pasal 7.3 ayat (3) dan pasal ! 0.7 ayat (2), sarna sekali tidak boleh dianggap dan diperhitungkan sebagai penutup beton.

(5). Apabila karena alasan tertentu tebal penutup beton ternyata hams lebih dari 5 em, maka antara permukaan beton dan tulangan harus diadakan jaring tulangan. Untuk itu dapat dipakai batang-batang tulangan dengan diameter 6 mm yang dipasang dengan jarak p.k.p. 25 em.

(6). Batang-batang tulangan, jangkar-jangkar dan pelat-pelat baja yang akan berfungsi menjamin kontinuitas tulangan dengan bagian-bagian perluasan konstruksi dikemudian hari, tidak boleh dibiarkan ke luar dari permukaan-perrnukaan beton tanpa dilindungi terhadap pengaratan.

7.2. PENlJI'UP BETON BERHUBUNG DENGAN KEADAAN KELILING.

(1). Pada konstruksi-konstruksi beton bertulang yang dieor setempat, setiap batang tulangan (terrnasuk sengkang), berkas tulangan atau pipa yang tertanam di dalam beton hams mempunyai penutup beton dengan tebal minimum seperti di ten tukan dalam Tabel 7.2.1.

61

Tabel 7.2.1.

Tebal penutup beton minimum.

Tebal penutup beton minimum
bagian konstruksi (em)
di dalam di luar tidak terJihat
~-
pelat dan selaput 1,0 1,5 2,0
dinding dan keping 1,5 2,0 2,5
balok 2,0 2,5 3,0
kolom 2,5 3,0 3,5 Di dalam Tabel 7.2.1 di at as, yang diartikan dengan "di dalam" adalah hila bidang luar beton terlindung dari pengaruh-pengaruh euaca (hujan, terik matahari langsung, dan lain-lain) dan tidak berhubungan dengan air, yang diartikan dengan "di luar" adalah hila bldang luar beton mengalami pengaruh-pengaruh cuaca (hujan, terik matahari langsung dan lain-lain) dan berhubungan dengan air, sedangkan yang diartikan dengan "tidak terlihat" adalah bila bidang luar beton setelah beton selesai dicor tidak dapat diperiksa lagi.

(2). Pada konstruksi-konstruksi dan/atau bagian-bagian konstruksi beton pracetak, tebal penutup beton dapat diambil kurang daripada yang ditentukan dalam ayat (1) dengan minimum 1 em, asal ketepatan cetakan dan cara pengecoran dapat menjamin tebal penutup beton tersebut dan eara perawatan beton adalah sedemikian rupa hingga dapat dibatasi rengat-rengat akibat susut,

(3). Dalarn segal a hal, tebal penutup beton tidak boleh diambil kurang

dati pada yang ditentukan berikut ini

pada batang palos d

pada batang yang diprofilkan dp

pada berkas tulangan de

dirnana d adalah diameter batang palos, dp adalah diameter pengenal batang yang diprofilkan menurut pasal 3.7 ayat (4) dan de adalah diameter ekivalen berkas tulangan menurut pasal 3.7 ayat (6).

62

(4). Tebal penutup beton yang ditentukan dalam ayat (1) sId (3) harus ditambah dengan minimum 1 em, apabila permukaan beton tersebut terletak di dalam lingkungan yang korosif, seperti bila :

berhubungan dengan air laut;

- mendapat pengaruh sulfat alkali dari tanah atau air tanah;

- berhubungan dengan uap atau gas-gas korosif,

Dalam hal ini, maka sebelum perencanaan dimulai tebal penutup beton tersebut harus ditetapkan dulu oleh perencana berdasarkan studi mengenai sifat-sifat korosif dari lingkungan itu dengan juga berkonsultasi dengan pemberi tugas.

7.3. PENUTUP BETON DAN UKURAN KONSTRUKSI BERHUBUNG DENGAN KETAHANAN DALAM KEBAKARAN.

(1). Sesuai dengan fungsi, kegunaan dan peruntukan suatu bangunan, maka konstruksi beton bertulang yang bersangkutan harus tahan dalam kebakaran selamajangka waktu yang disyaratkan untuk kelas konstruksi itu, Pengawas Bangunan setempat menetapkan kelas konstruksi yang harus dipenuhi oleh suatu bangunan, Apabila tidak ditentukan lain oleh Pengawas Bangunan setempat, maka ketahanan dalam kebakaran dad berbagai-bagai kelas konstruksi harus diambil menurut Peraturan Bangunan Nasional (Bab 3, pasal 1.313 sId 1.315). Ketahanan terhadap kebakaran (dinyatakan dalam jam) menentukan tebal penutup beton danl atau ukuran bagian konstruksi yang ditinjau,

(2). Tebal penutup beton dan/atau bagian konstruksi hams ditentukan sedemikian rupa hingga waktu yang diperlukan untuk meneapai suhu 450°C di tulangan pokok paling sedikit adalah sarna dengan ketahanan dalam kebakaran yang disyaratkan untuk bagian konstruksi itu.

(3). Untuk mernperpanjang ketahanan dalam kebakaran, permukaan beton dapat diberi lapis pelindung, Di dalam Tabel 7.3.1 dieantumkan beberapa jenis lapis pelindung yang dengan tebal yang tereantum dapat memperpanjang ketahanan dalam kebakaran kira-kira 2 jam.

63

Tabel 7.3.1

Beberapa lapis pelindung yang dapat mernperpanjang ketahanan dalam kebakaran kira-kira 2 jam.

Jenis lapis pelindung tebal (em)
Beton vermikulit, dipasang pada cetakan sebelum
beton dicor 2,5
Plesteran gips vermikulit 2,2
Asbes dengan bahan perekat yang disernprotkan pada
permukaan beton 1,9 (4). Apabila ketahanan dalam kebakaran tidak dihitung berdasarkan karakteristik pembakaran dan keeepatan pemanasan tulangan pokok yang didapat dari hasil-hasil percobaan, maka ketentuan-ketentuan yang diberikan berikut ini dapat dijadikan petunjuk untuk memperkirakan ketahanan dalam kebakaran dari berbagai-bagai bagian konstruksi,

a. Lantai beton bertulang.

Tabel 7.3.2

Ketahanan dalam kebakaran lantai beton bertulang.

tebal total minimum lantai dalam em untuk
ketahanan dalam kebakaran selama :
j enis Ian tai 4jam 3jam 2jam ;4. jam
I~jam 1 jam
Lantai monolit, lantai
pracetak berbentuk
Udan T 15 15 12,5 12,5 10 9
Lantai blok berongga,
lantai pracetak berbentuk
kotak atau I 12,5 10 9 9 8 7 Di dalam Tabel 7.3.2 untuk sernua jenis lantai harus terdapat penutup beton pada tulangan pokok setebal minimum 2 em untuk ketahanan 4 jam dan minimum 2 em untuk ketahanan 4 jam dan minimum 1 em untuk ketahanan yang kurang dari 4 jam.

64

b. Balok beton bertulang.

Tabel 7.3.3

Ketahanan dalam kebakaran balok beton bertulang

tebal minimum penutup beton dalam em
untuk ketahanan dalam kebakaran selama:
lapis pelindung tambahan 4jam 3 jam 2jam l~jam 1 jam ~jam
Tidak ada 6 5 5 3,5 2,5 1
plesteran gips vermikulit
seteball,2 em 2 1 1 1 1 1 C. Dinding beton bertulang.

Tabel 7.3.4

Ketahanan dalam kebakaran dinding beton bertulang

tebal minimum dinding dalam em untuk
ketahanan dalam kebakaran selama:
lapis pelindung tambahan 4jam 3jam 2jam Phjam 1 jam ~jam
tidak ada 18 18 10 10 7,5 7,5
plesteran semen atau gips
setebal min. 1,2 pada
kedua bidang permukaan 18 18 10 7,5 7,5 6,5
plesteran gips vermikulit
setebal min. 1,2 em pada
kedua bidang permukaan 12,5 10 7,5 7,5 7,5 6,5 Di dalam Tabel 7.3.4 untuk semua dinding harus terdapat penutup beton pada tulangan pokok setebal minimum 2 em.

d. Kolom beton bertulang.

Kolom yang menjadi satu kesatuan dengan din ding pemisah atau dinding luar yang tidak mempunyai lubang-lubang dalam j arak kurang

65

dari 60 em dari kolom, dapat dianggap hanya akan mengalami pengaruh kebakaran dari satu pihak saja. Apabila kolom demikian tidakmenonjol ke luar dari bidang dinding, maka berlaku Tabel 7.3.5. Untuk kolom-kolom lain berlaku Tabel 7.3.6.

Tabel 7.3.5

Ketahanan dalam kebakaran kolom beton bertulang yang menjadi satu kesatuan dengan dinding pemisah,

ukuran minimum penampang kolom dalam em
untuk ketahanan dalam kebakaran selama:
lapis pelindung tambahan ~
4 jan' 3jam 2jam 1* jam 1 jam lhjam
tidak ada 18 15 10 10 7,5 7,5
plesteran gips vermikulit
seteball,2 em pada
bidang dinding 15 10 10 7,5 7,5 7,5 Tabel 7.3.6

Ketahanan dalam kebakaran kolom beton bertulang.

ukuran minimum penampang kolom dalam em
lapis pelindung tambahan untuk ketahanan dalam kebakaran selama:
3' '1
4jam Jan: ' 2jam Ilhjam 1 jam 1hjarn
Tidakada 45 40 30 25 20 15
plesteran gips vermikulit
seteball,2 em 30 28 23 20 15 13 _ ......... _.-.......1_1911-N_I,-J.'

66

Bab 8 Tulangan

8.1. UMUM.

(I). Ketentuan-ketentuan mengenai tulangan yang ditetapkan dalam bab ini berlaku umum untuk setiap bagian konstruksi yang bersifat strukturil,

(2). Untuk konstruksi-konstruksi tertentu, kecuali harus dipenuhi ketentuan-ketentuan mengenai tulangan yang ditetapkan dalarn bab ini, juga hams dipem:hi ketentuan-ketentuan mengenai tulangan yang ditetapkan dalam bab-bab lain dari Peraturan iai yang berlaku untuk konstruksi-konstruksi itu.

8.2. KAlT DAN BENGKOKAN.

(1)- Kait harus berupa kait penuh seperti ditunjukkan dalam Gambar 8.2.1, atau kait miring seperti ditunjukkan dalam Gambar 8.2.2, dengan memperhatikan ayat (2), dimana d adalah diameter batang palos dan dp adalah diameter pengenal batang yang diprofilkan menurut pasal 3.7 ayat (4).

(2). Kait-kait sengkang harus berupa kait miring, yang melingkari batangbatang sudut dan mempunyai bagian yang lurus paling sedikit 6 kali diameter batang dengan minimum 5 em, seperti ditunjukkan dalarn Gambar 8.2.3.

(3). Bengkokan harus mempunyai diameter intern sebesar paling sedikit 5 d atau 5 dp seperti ditunjukkan dalam Gambar 8.2.4, dimana d adalah diameter batang polos dan dp adalah diameter pengenal batang yang diprofilkan menurut pasal 3.7 ayat (4).

~> 4d-i

( r;. 2,5 d r

batang palos

(::::::::=:::::::=;==;;.. 5=dP:;:! d:±p I

batang yang diprofilkan

Gambar B.2.1 Kait penuh,

;;0. 5 d

i

;;o.l,25d

batang polos

67

d

batang yang diproftlkan

Gambar B. 2. 2.

Kait miring.

Gambar 8.2.3

Kait miring pada sengkang

Gambar 8.2.4 Pembengkokan tulangan,

68

8.3. SYARAT-SYARAT PENYALURAN TEGANGAN.

( 1).

Tegangan tarik atau tekan yang bekerja di dalam tulangan di setiap penampang harus dapat disalurkan kepada beton di sebelah kiri dan di sebelah kanan dari penampang itu melalui panjang penyaluran Ld yang harus dihitung menurut pasal 8.6 sid 8.10. Panjang penyaluran dapat berupa panjang penanaman atau penjangkaran ahir atau kornbinasi dari keduanya, Pada tulangan tarik untuk penyaluran tegangan ini dapat dipakai kait-kait seperti ditentukan dalam pasal 8.2.

Tulangan lentur yang diperlukan pada suatu penampang harus diperpanjang .melalui penampang tersebut, sejauh tinggi manfaat bagian konstruksi atau 12 kali diameter (diameter pengenal) ba tang tulangan, dimana nilai yang terbesar adalah yang menentukan. Kecuali ketentuan-ketentuan ini, untuk tulangan tarik momen negatif juga harus dipenuhi pasal 8.5 aya t (2). Ketentuan-ketentuan di a tas tidak berlaku untuk tumpuan-tumpuan bebas dan untuk ujung bebas dari kantilever-kantilever. Penentuan syarat-syarat di atas adalah untuk mengatasi akibat-akibat dari redistribusi tegangan-tegangan setelah terjadinya retak-retak miring di sekitar tumpuan yang ekivalen dengan pergeseran bidang momen nominal dan yang dijelaskan dalam Gambar 8.3.1.

(2).

(3).

Pada bagian-bagian konstruksi yang mengalarni lentur, penampangpenampang kritis untuk penyaluran tegangan adalah di titik-titik momen maksimum dan di titik-titik di lapangan dim ana tulangan yang berdampingan dihentikan atau dibengkokkan (di dalam Gambar 8.3.2 dan 8.3.3 ditandai dengan A dan B). Kecuali itu, juga ketentuanketentuan dari pasal 8.4 ayat (3) harus dipenuhi. Penyaluran tegangan pada samoungan lewatan tulangan harus memenuhi keten tuan- ketentuan dari pasal 8.12 sId 8.14.

(4).

Tulangan yang rnenerus harus mempunyai panjang penanaman paling sedikit sarna dengan panjang penyaluran l-(! setelah titik dimana tulangan yang berdampingan yang dibengkokkan atau dihentikan tidak diperlukan lagi untuk mernikul lentur. Ketentuan ini dijelaskan dalam Gambar 8.3.2 dan 8.3.3.

(5).

Tulangan tarik lentur yang dihentikan dapat dijangkar dengan mernbengkoknya melintasi badan ke permukaan yang berhadapan (yaitu ke daerah tekan) dan rneneruskannya di situ bersama-sama dengan tulangan yang ada pada permukaan tersebut atau menghentikannya di situ dengan kait menurut pasal 8.2.

69

(6).

Tulangan lentur hanya boleh dihentikan di daerah tarik, apabila dipenuhi salah satu ketentuan berikut :

a. Di tempat penghentian tulangan, pada pembebanan tetap di dalam beton bekerja tegangan geser akibat beban kerja yang tidak melampaui 2/3 Tb atau akibat beban atas yang tidak melampaui 2/3 Tbu, dimana Tb dan Tbu adalah berturut-turut tegangan geser yang diijinkan dan kekuatan geser reneana untuk beton menurut pasal 10.4.

b. Sepanjang batang tulangan yang dihentikan dipasang sengkangsengkang ekstra di samping sengkang-sengkang yang di perlukan untuk mernikul tegangan geser lentur dan/atau puntir dalam jarak 3/4 tinggi manfaat balok dari ujung batang. Luas penampang-penarnpang sengkang ekstra terse but harus sedemikian rupa hingga dipenuhi syarat-syarat:

[kg/em"]

[cm]

(7).

dimana As (em") adalal luas efektif penampang-penarnpang sengkang, b (em) adalah lebar badan balok, as (em) adalah jarak sengkang, a;u (kg! em 2) adalah kekuatan baja rencana menurut Tabel 10.4.3, sedangkan p adalah perbandingan antara luas penampang batang yang dihentikan dan luas penampang seluruh batang di penampang itu.

c. Pada batang dengan diameter kurang dari 36 mm jumlah tulangan yang menerus paling sedikit harus 2 kali jumlah tulangan yang diperlukan untuk memikullentur dl tempat penghentian. Di samping itu, pada pembebanan tetap di dalam beton bekerja tegangan akibat beban kerja yang tidak melampa,pi 3/4 Tb <itau akib.at beban batas yang tidak melampaui 3/4 Tbu, dimana Tb dan Tbu adalah berturut-turut tegangan geser yang diijinkan dan kekuatan geser rencana untuk beton menurut pasal 10.4.

Di dalam berkas tulangan, penghentian batang-batang tunggal harus dilakukan dengan jarak an tara minimum 40 kali diameter pengenal batang yang terbesar, Penghentian batang-batang tulangan di dalam berkas tulangan hanya boleh dilakukan sekaligus bersarnaan apabila:

di tempat penghentian itu semua batang di dalarn berkas sudah tidak diperlukan untuk menahan lentur;

70

71

tempat penghentian itu adalah sambungan tumpuan ujung menurut pasal 8.13 aya t (2).

It atau 12d (l2dpl 7 >Ld

I ' , I .. ,.

Ld

"I

-~."u 12dlildpi

" lil6 ~b Rils Icbih dati h ilti,u

"'r _, t2d Illdp)

' ......

Titik balik

I .,___ Ld -----t C

r=> I

.-

I

.-

.-

~/

_/

"

+

I

,.4... Midit", momen ~ni..~n:ill;

h.id.ant: mornt'n nom LR» I

Ld

A ..

B

Ld

I,

Ld

h '''u Ild' I2dpl

Sebcnarnya titik ;>.~ghentian batang, tetapi d; reruskan mengingat Ps, 8. 4 (I)

Untuk tekan

-I

Gambar 8.3.1.

Bidang-bidang momen dasar untuk beban terbagi rata. Garis penuh rnenunjukkan bidang mornen nominal; garis terputus-putus menunjukkan bidang momen rencana, yang memberikan syarat penerusan tulangan menurut pasal 8.3

ayat (4) dan pasal 8.5 ayat (2).

Gambar 8. 3. 3

Penampang kritis untuk penyaluran tegangan.

A '" titik-titik rnomen maksimum dengan memperhatikan p-sal 8.3 ayat (2).

B titik-titik dimana menurut bidang rnomen tulangan dapat dihent ikan/ dibengkokkan.

C titik-titik penghentian/pernbengkokan tulangan yang ditentukan oleh panjang penyaluran Ld (jarak AS < Ld).

h ateo 12d Illdp)

;;>ld

ld

8.4. TULANGAN MOMEN POSITIF .

,-------: 'n tile b.alit

i ~ "

••• L~

~~+ .-,

( I ). Sedikit-dikitnya sepertiga dari tulangan rnomen positif pada bagian-bagian konstruksi bebas atas 2 tumpuan dan sedikit-dikitnya seperernpat dad tulangan momen positif pada bagian-bagian konstruksi menerus, harus diteruskan pada bidang yang sarna sampai masuk ke dalam tumpuannya dan ke dalam balok-balok paling sedikit 15 em.

Apabila suatu bagian konstruksi merupakan bagian dari sistim pemikul beban-beban horisontal, maka tulangan momen positif yang harus diteruskan sarnpai ke tumpuannya menurut ayat 0), hams dijangkar dengan perantaraan panjang penyaluran Ld hingga mampu rnengerahkan tegangan tarik lelehnya pada bidang muka dari tumpuannya itu.

I

, ,

A I

A'

Ld .. Ld

Ld

Un,uk tekan

Sebenarnyil. Utile pen:Jhen.tian bUI n,.. 1f:1.api d;(eruskan mCll,ll",.t PI. 8.4 (l)

(2).

Gambar 8.3.2 Penampang-penampang kritis untuk penyaluran tegangan.

A := titik-titik momen maksimum dengan rnemperhatikan pasal 8.3 ayat (2).

B ntik-titik penghentian/pembengkokan tulangan yang ditentukan oleh bidang momen (jarak AB ;;;.- Ld).

( 3).

Pada turnpuan-tumpuan bebas dan pada titik-titik balik, diameter tulangan tarik momen positif harus dibatasi sedernikian rupa hingga panjang penyaluran Ld yang dihitung menurut pasal 8.6 pada pernbebanan tetap memenuhi:

72

73

Mu + La pada beban batas.
Ld';;;-
Qu
atau
Ld';;; Mo + La pada beban kerdja.
Q La Mu atau Mo (a)
Qu Q I ~
,. d' J
L I.d
I -I dimana: Mu adalah momen batas positif penampang pada tumpuan bebas atau pada titik balik berdasarkan seluruh tulangan yang mencapai

*

kekuatan baja reneana a au menurut Tabel 1004.3; Mo adalah momen

pikul positif penampang pada turnpuan bebas atau pada titik balik berdasarkan seluruh tulangan yang mencapai tegangan baja yang diijinkan fj a menurut Tabel 10.4.1; Qu dan Q adalah gaya melintang maksimum di penampang itu akibat berturut-turut beban batas dan beban kerja; pada tumpuan bebas La adalah panjang penanaman batang yang tersedia di belakang titik tumpuan ditambah dengan panjang penyaluran ekivalen dari kait-kait yang ada, sedangkan pada titik balik La adalah tinggi manfaat atau 12 kali diameter (diameter pengenal) batang tulangan, dirnana nilai yang terbesar adalah yang menentukan; pada tumpuan-tumpuan bebas suku ~/Qu atau MJQ dapat dikalikan dengan 1,3 apabila reaksi tumpuan berupa gaya yang menekan pada ujung-ujung tulangan (titik tangkap reaksi tumpuan adalah di sebelah bawah), sedangkan apabila reaksi tumpuan berupa gaya tarik (pada konstruksi-konstruksi yang digantung) suku-suku tersebut tidak boleh dikalikan dengan 1,3. Ketentuan dari ayat ini dijelaskan dalam Gambar 804.1. Apabila dipakai tulangan dengan berbagai-bagai diameter, rnaka diameter terbesar yang harus memenuhi syarat yang ditentukan dalam ayat ini.

La = h atau 12d (l2dP)~ Mu atau Mo

~~ ~_.~~~~Q~u·~1 Q

(b)

I"

Ld

Titik balik

Sebenarnya titik penghentian batang tetapi diteruskan mengingat Ps, 8.4 (1)

Gambar 8.4.1.

Penyaluran tegangan sekitar tumpuan bebas (a) dan sekitar titik balik (b); untuk tumpuan bebas ini suku Mu/Qu atau Mo/Q dapat dikalikan dengan 1,3.

8.5. TULANGAN MOMEN NEGATlF.

- (1). Tulangan tarik momen negatif pada balok-balok menerus, terjepit dan kantilever atau pada balok-balok portal, hams dijangkar pada atau melalui tumpuannya dengan perantaraan panjang penyaluran Ld.

(2). Sebagai tambahan dari ketentuan-ketentuan dalam pasal 8.3 ayat (2), pada tulangan momen negatif paling sedikit sepertiga dari tulangan tarik total yang diperlukan di atas tumpuan harus diteruskan melalui titik balik nominal sejauh tinggi manfaat bagian konstruksi atau 12 kali diameter (diameter pengenal) batang tulangan atau 1/16 dari bentang bersih, dimana nilai yang terbesar adalah yang menentukan (lihat Gambar 8.3.1).

74

8.6. PANJANG PENYALURAN TULANGAN TARIK.

(1). Panjang penyaluran Ld tulangan tank didapat dengan mengalikan panjang penyaluran dasar Ld yang ditentukan dalam ayat (2) dengan koeflsien-koefisien yang sesuai yang ditentukan dalam ayat-ayat (3) dan (4), tetapi dalam segala hal tidak boleh kurang dati 60 em untuk batang palos dan 30 em untuk batang yang diprofilkan.

(2). Panjang penyaluran dasar Ld dalam em ditetapkan sebagai berikut: untuk batang palos:

'" 0,14

~ 0,013

untuk batang yang diprofilkan :

AO-;u

~ 0,0065 dp a;u [ern] labk

L' d

'" 0,07

dimana A (em2) adalah luas penampang batang (untuk batang yang diprofilkan menurut pasal 3.7 ayat (4), d (ern) adalahdiameter batang palos, dp (em) adalah diameter pengenal batang yang diprofilkan menurut pasal 3.7 ayat (4), o " au (kg/ern") adalah kekuatan baja reneana rnenurut Tabel 10.4.3 dan O"'bk (kg/ern") adalah kekuatan tekan beton karakteristik menurut Tabel 4.2.1. Untuk berbagai-bagai diameter batang tulangan, mutu-mutu standar baja dan beton menurut Peraturan ini, di dalam Tabel 8.6.1 dan Tabel 8.6.2 dieantumkan panjang-panjang penyaluran dasar menurut kedua rumus di alas.

Catatan:

1. Panjang penyaluran dasar Ld untuk rnutu baja U 39 dan U 48 di dalam Tabel 8.6.1 dan Tabel 8.6.2 sudah dikalikan dengan koefisien (2-3700/a;u) menurut ayat (3).

2. Berhubung dengan panjang penyaluran minimum menurut ayat (I) dan koefislen 1.4 menurut ayat (3), maka sebagai Ld minimum di dalarn Tabel 8.6.1 dicanturnkan 43 em dan di dalam Tabel 8.6.2 dicanturnkan 22 em.

(3). Pan jang penyal u ran dasa r LCi hams d ikalikan dengan koefisien-koefisien yang sesuai sebagai beri ku I:

75

- untuk tulangan tengah. . . . . . . . 0 • 1,4

untuk mutu baja U 39 dan mutu lebih tinggi: 2 _ 3700 a*au

*

dimana a au (kg/ern") adalah kekuatan baja reneana menurut

Tabel 10.4.3.

Yang dimaksudkan dengan tulangan tengah adaiah tulangan horisontal yang dipasang sedernikian rupa hingga sejak beton dicor terdapat beton dibawahnya dengan teballebih dari 30 em.

(4). Panjang penyaluran dasar Ld menurut ayat (2), setelah dikalikan dengan koefisien-koeflsien yang sesuai menurut ayat (3), dapat dikalikan dengan koeflsien-koeflslen yang sesuai sebagai berikut:

- untuk batang-batang dengan jarak antara di arah melintang lebih dari 15 em p.k.p, dan dengan penutup beton terhadap

bidang samping pa\ing sedikit 7,5 em . . . . 0 • 0 • • 0,8

untuk tulangan lentur dengan luas penampang (=A d) A

yang lebih dari pada yang diperlukan (=Aperlu) . 0 a 0 a. perlu

Aada.

un tuk tulangan yang terkurung di dalam lili tan spiral dengan diameter batang spiral tidak kurang dari 6 mm dan dengan

jarak lilitan tidak lebihadari iO em. . . . . 0 0 •• 0,75

S.7. PANJANG PENYALURAN TULANGAN TEKAN.

( I).

Panjang penyaluran Ld tulangan tekan didapat dengan rnengalikan panjang penyaluran dasar Ld yang ditentukan dalarn ayat (2) dengan koefislen-koefisien yang sesuai yang ditentukan dalam ayat (3), t etapi dalam segala hal tidak boleh kurang dari 40 em untuk batang polos dan 20 em untuk batang yang dtprofilkan.

Pan jang penyaluran dasar LCi tulangan tekan dalam em dite tap kan sebagai berikut:

- untuk batang palos:

(2).

Lel '" 0,18

d a;u .._, 0 Old -* [em]

p, uau

IUbk

untuk batang yang diprofilkan :

L' d

;;. 0,005 dp ~u [em]

=: 0,09

76

Tabel 8.6.1.

Panjang penyaluran dasar Ld tulangau tarik batang polos.

Diameter Panjang penyaluran dasar Ld (em) untuk mutu baja
Mutu batang
beton d U 22 U 24 U 32 U 39 U 48
(mm) O:u=1.910 O"'au = 2. 080 O:u = 2.780 O:u = 3.390 a:u = 4.170
6 43 43 43 43 43
8 43 43 43 43 49
9 43 43 43 43 55
10 43 43 43 47 61
12 43 43 44 56 73
13 43 43 47 61 79
K 125 16 49 53 70 90 118
Ubk=125 19 68 74 99 127 116
20 76 82 llO 140 183
22 91 99 133 170 222
25 118 128 172 219 286
28 148 161 214 276 359
30 170 185 247 315 412
32 193 210 280 359 468
.
6 43 43 43 43 43
8 43 43 43 43 49
9 43 43 43 43 55
10 43 43 43 47 61
12 43 43 44 56 73
13 43 43 47 61 79
K 175 16 43 45 60 76 99
Obk=175 19 58 63 84 108 140
20 64 70 93 119 155
22 77 84 1I2 144 187
25 100 109 145 186 242
28 125 136 182 233 304
30 144 156 209 268 348
32 163 177 237 304 396
6 43 43 43 43 43
8 43 43 43 43 49
9 43 43 43 43 55
! 10 43 43 43 47 61
12 43 43 44 56 73
13 43 43 47 61 79
K 225 16 43 44 58 74 97
Ubk=225 19 51 56 74 95 124
20 56 61 82 105 136
22 68 74 99 127 165
25 88 \00 128 164 213
28 110 120 160 205 268
30 126 138 184 236 307
32 144 156 209 268 349 77

Tabel 8.6.2.

Panjang penyaluran dasar Ld tulangan tarik batang yang diprofilkan.

Panjang penyaluran dasar Ld {em) untuk mutu baja I
Diameter I
Mutu pengenal
be ton batang U12 U 24 U 32 U 39 U 48
'\,{mml o;u = 1.910 O:u = 2.080 a:u = 2.780 O:u = 3.390 o;u = 4.170
6 22 22 22 22 22
8 22 22 22 22 25
9 22 22 22 22 28
10 22 22 22 24 31
12 22 22 22 28 37
13 22 22 24 31 40
K 125 16 22 27 35 45 59
Dbk= 125 19 34 37 50 64 83
20 38 41 S5 70 92
22 46 50 67 85 III
25 59 64 86 110 143
28 74 . 81 108 138 180
30 85 92 124 158 206
32 97 102 140 179 234
6 22 22 22 22 22
8 22 22 22 22 25
9 22 22 22 22 28
10 22 22 22 24- 31
12 22 22 22 28 37
13 22 22 24 31 40
K 175 16 22 23 30 28 50
Oh=175 19 29 62 42 54 70
20 32 35 47 60 78
22 39 42 56 n 94
25 50 55 73 93 121
28 63 I 68 91 117 152
I I
30 72 78 105 I 134 174
32 82 89 119 152 198
I
6 22 22 22 22 22
8 22 22 22 22 25
9 22 22 22 22 28
10 22 22 22 24 31
12 22 22 22 28 37
13 22 22 24 31 40 I
K 225 16 22 22 29 37 49
Obk=175 19 26 28 37 48 62
20 28 31 42 53 69
22 34 32 50 64 83
25 44 48 64 I 82 107
28 55 60 80 I 103 134
30 63 69 92 lI8 154
32 72 78 i 105 I 134 175 ,
1 I
.. 78

dimana d (em) adalah diameter batang palos, dp (em) adalah diameter pengenal batang yang diprofilkan menurut pasal 3.7 ayat (4), O-*au (kg em") adalah kekuatan baja rencana menu rut Tabel 10.4.3 dan rib k (kg! ern") adalah kekuatan tekan beton karakteristik menurut TabeI4.2.1. Untuk berbagai- bagai diameter batang tulangan, mu tu-mutu standar baja dan beton menurut Peraturan ini, di dalam Tabel 8.7.1 dan Tabel 8.7.2 dieantumkan panjang-panjang penyaluran rnenurut kedua rumus di atas,

Catatan:

Berhubung dengan panjang penyaluran rrummum menu rut ayat (1) dan koefisien 1,4 menurut ayat (3), maka sebagai Ld minimum di dalam Tabel 8.7.1 dan Tabel 8.7.2, dicantumkan 28 em untuk batang polos dan 14 em untuk batang yang diproftlkan.

(3). Panjang penyaluran dasar Ld menurut ayat (2) harus/dapat dikalikan dengan koefisien-koeflsien yang sesuai sebagai berikut:

- untuk tulangan tengah harus dikalikan dengan koefisien , . . 1,4

- untuk tulangan yang terkurung dalam lilitan spiral dengan

diame ter ba tang spiral tidak kurang dati 6 mm dan dengan jarak lilitan tidak: lebih dari 10 em dapat dikalikan dengan

koefisien . . . . . . . . . . . . . . . . . . 0,75

Yang dimaksudkan dengan tulangan tengah adalah tulangan horisontal yang dipasang sedemikian rupa hingga sejak beton dicor terdapat beton dibawahnya dengan tebal lebih dari 30 em.

8.8. PANJANG PENYALURAN EKJV ALEN DAR[ KAIT.

(1). Kait-kait batang polos dan batang yang diprofilkan seperti ditentukan dalam pasal 8.2 dapat dianggap mampu mengerahkan tegangan tarik leleh di dalam tulangan sebesar :

79

Tabel 8.7.1.

Panjang penyaluran dasar Ld tulangan tekan batang polos.

Diameter Panjang penyaluran dasar Ld (em) untuk mutu baja
Mutu batang
beton d U 22 U 24 U 32 U 39 U 48
(mm) O:u '" 1.910 O:u'" 2.080 O:u '" 2 780 O:u'" 3.390 O:u",=4.170
6 28 28 28 33 41
8 28 28 36 44 54
9 28 31 41 50 61
10 31 34 45 55 68
12 37 41 54 66 81
13 40 44 59 71 88
16 50 54 72 88 108
K 125 19 59 64 86 104 128
Obk=125 20 62 67 90 110 135
22 68 74 99 120 148
25 77 84 112 137 168
28 87 94 126 153 188
30 93 101 135 164 202
32 99 108 144 175 215
6 28 28 28 28 35
8 28 28 31 37 46
9 28 28 35 42 52
10 28 29 38 47 57
12 32 34 46 56 69
13 34 37 50 61 74
16 42 46 61 74 91
19 50 54 72 88 108
K 175 20 52 57 76 93 114
Ohk"'175 22 58 63 84 102 125
2S 65 71 95 116 142
28 73 80 106 130 t59
30 78 85 114 139 171
32 84 91 122 148 182
6 28 28 28 28 31
8 28 28 28 33 41
-. 9 28 28 30 37 46
10 28 28 34 41 51
12 28 30 40 49 61
K 225 13 30 33 44 53 66
16 37 40 54 66 81
Oblt= 225 19 44 48 64 78 %
20 46 50 67 82 101
22 51 55 74 90 III
25 58 63 84 102 126
28 65 70 94 114 141
30 69 75 100 122 151
32 74 80 107 130 161 80

Tabel 8.7.2.

Panjang penyaluran dasar L'd tulangan tekan batang yang diprofilkan

Diameter Panjang penyaluran dasar Ld (em) untuk mutu baia
Mutu pengenal U 22 U 24 U 32 U 39 U 48
heron batang
dp(mm) o;u=1.910 o;u = 2.080 O:u = 2.780 U:u = 3.390 U:u =4.170
6 14 14 14 11 21
8 14 14 18 22 27
9 14 16 21 25 31
10 16 17 23 28 34
l2 19 21 27 33 41
13 20 22 30 36 44
16 25 27 36 44 54
K 125 19 30 32 43 52 64
ObI;:=125 20 31 34 45 55 68
22 34 37 50 60 79
25 39 42 56 69 84
28 44 47 63 77 94
30 47 51 68 82 101
32 50 54 72 88 108
6 14 14 14 14 18
8 14 14 16 19 23
9 14 14 18 21 26
10 14 15 19 24 29
12 16 17 23 28 35
13 17 19 25 31 37
16 21 23 31 37 46
K 175 19 25 27 36 44 54
ObJ,f'175 20 26 29 38 47 51
22 29 32 42 51 63
2S 33 36 48 58 11
28 37 40 53 65 80
30 39 43 51 70 86
32 42 46 61 74 91
6 14 14 14 14 16
8 14 14 14 17 21
9 14 14 15 19 23
10 14 14 17 21 26
12 14 15 20 25 31
13 15 17 22 27 33
16 19 20 27 33 41
K 225 19 22 24 32 39 48
Obk=225 20 28 15 34 42 51
22 26 28 37 45 56
25 29 32 42 51 63
28 33 35 47 57 71
30 35 38 50 61 76
32 31 40 54 65 81 81

dengan :

K = 0,035 *au " 100

dimana obk (kg/ern") adalah kekuatan beton karakteristik menurut Tabel 4.2.1 dan a~u (kg/ern") adalah kekuatan baja rencana menu rut Tabel 10.4.3. Nilai K dapat ditarnbah 3(f,'1" apabila kait terkurung di dalam Iilitan spiral.

(2). Panjang penyaluran ekivalen Le dari kait dapat dihitung dengan rumus-rumus yang ditentukan dalarn pasal 8.6 dengan rnengganti a~u dengan 0kait menurut ayat (I) (Gambar 8.8.1.)

(3). Kait tidak boleh dianggap efekrip menambah daya tahan tulangan tekan,

~ :


r-- Lc ----1 I"' le ~ Gombar 8. 8.1

Panjang penyaluran ekivalen L, dari kait,

8. 9. KOMBINASI PENY ALURAN TEGANGAN.

(1). Panjang penyaluran tulangan tarik Ld dapat terdiri dari kombinasi panjang penyaluran batang menurut pasal 8.6 dan panjang penyaluran ekivalen kait rnenurut pasal 8.8.

8.10. PANJANG PENY ALURAN TULANGAN Df DALAM BERKAS TULANGAN.

(I). Panjang penyaluran dari suatu batang di dalam berkas tulangan harus diarnbil sama dengan panjang penyaluran hatang tulangan tunggal, ditambah dengan 10% untuk berkas yang terdiri dari 2 batang tulangan, ditambah dengan 2W~ untuk berkas yang terdlri dari 3 batang iulangan, dan ditambah dengan 33% untuk berkas yang terdiri dari 4 ba tang tulangan.

Pf'natumn ~ BmtdlRl/l JI'IdoMBia 1971 - N./_-2 .. 6

82

8.11. SAMBUNGAN TULANGAN·UMUM.

Sambungan tulangan hams dilaksanakan menu rut gambar-gambar reneana dan/atau uraian atau seperti yang disetujui oleh Pengawas Ahh, Sambungan tulangan hanya dapat dilaksanakan sebagai sambungan lewatan menuru t pasal 8.12, 8.13 dan 8.14 atau sebagai sam bungan las menurut pasal 8.15.

(2). Sambungan lewatan tidak boleh dipakai pada batang tulangan dengan diameter (diameter pengenal) lebih dari 30 mm.

(1).

(3).

Batang-batang tulangan yang disambung dengan sambung~n lewatan, dimana b atang-b at an gnya tidak saling bersentuhan, tidak boleh mernpunyai jarak an tara p.k.p, lebih dan seperlima panjang lewat yang diperlukan atau IS em.

(4).

Pada sambungan lewatan, jarak bersih antara pasangan-pasangan batang yang disambung harus mernenuhi pasal 8. J 6.

Penyambungan batang tulangan sedapat mungkin harus berselang-seling. Juga penempatan sambungan di tempat-ternpat dengan tegangan maksimum sedapat mungkin harus dihindarkan,

(5).

8.12. SAMBUNGAN LEWATAN TULANGAN TARIK.

(1). Batang tulangan tarik yang disambung dengan sambungan lewatan, dengan memperhatikan ayat (2), harus mempunyai panjang lewat minimum seperti yang ditentukan dalam Tabel 8.12.1, keeuali untuk tulangan yang di ten tukan dalam aya t (3). Di dalam Tabel 8.12.1 tersebut Ld adalah panjang penyaJuran tulangan tarik menurut pasal 8.6, L, adalah panjang penyaluran ekivalen dari kait menurut pasal 8.8, kedua-duanya dihitung untuk diameter (diameter pengenal) batang tulangan terkecil yang disambung, sedangkan d adalah diameter batang polos dan dp adalah diameter pengenal batang yang diprofilkan rnenurut pasal 3.7 ayat (4).

83

Tabel 8.12.1

Panjang lewat minimum sambungan lewatan tulangan tarik.

panjang lewat minimum
Penggunaan tulangan batang dengan kait
tarik batang tanpa ujung diukur dati
kait ujung tepi luar ke tepi
luar kait.
a. Tulangan tarik seeara umum,
kecuali yang ditentukan dalam
b dan e 1,3 Ld 1,3 (Ld - Le)
b. Batang-batang yang dipasang
dengan jarak antara melintang
p.k.p lebih dari 12 d atau 12 dp 1,3 Ld 1,1 (Ld - Le)
c. Tulangan pelat, dinding dan
fondasi telapak yang memikul
lentur dalam 2 arab 1,8 Ld 1,8 (Ld - Le) (2). Panjang lewat yang ditentukan dalam ayat (I) hanya berlaku apabila di tempat sarnbungan dipenuhi ketentuan-ketentuan berikut:

a. tidak lebih dari 50% tulangan tarik disambung bersama-sama;

b. jarak bersih antara ahir kelompok sambungan lewatan itu dan perrnulaan kelompok sambungan berikutnya tidak kurang dari 40 d atau 40 dp diukur sepanjang sumbu bagian konstruksi, dimana d adalah diameter terbesar batang palos yang disambung dan dp adaJah diameter pengenal terbesar batang yang diprofilkan menurut pasal 3.7 ayat (4) yang disambung.

(3). Pada sambungan-sambungan lewatan dimana tidak terpenuhi satu atau kedua syarat yang ditentukan dalam ayat (2), panjang lewatnya hams diambil 1,5 kali daripada yang ditentukan dalam ayat (1).

(4). Pada bagian- bagian konstruksi yang bekerja sebagai b atang tarik, sambungan lewatan yang ditentukan menurut ayat (1) dan ayat (3) hams dikurung di dalam lilitan spiral atau di dalam sengkang-sengkang rapat dengan diameter batang spiral atau sengkang tidak kurang dati 6 mm dan dengan jarak lilitan atau jarak sengkang tidak lebih

84

dari 10 em. Dalam hal ini, reduksi panjang penyaluran karena adanya lilitan spiral menurut pasal 8.6 ayat (4) tidak boleh diperhitungkan. Apabila sepanjang sambungan terse but juga diperlukan lilitan spiral atau sengkang-sengkang untuk memikul geser, maka lilitan spiral atau sengkang-sengkang untuk mernperkuat sambungan lewatan itu dipasang di samping yang sudah ada itu.

8.13. SAMBUNGAN LEWATAN TULANGAN TEKAN.

(1). Batang tulangan tekan yang disambung dengan sambungan lewatan hams mempunyai panjang lewat minimum seperti yang ditentukan dalam Tabel 8.13.1, dengan minimum sebesar panjang penyaluran Ld menurut pasal 8.7. Di dalam T abel 8.13.1 tersebut d adalah diameter terbesar batang polos yang disambung dan dp adalah diameter pengenal terbesar batang yang diprofilkan menuru t pasal 3.7 ayat (4) yang disambung.

Tabel 8.13.1

Panjang lewat minimum sambungan lewatan tulangan tekan.

Panjang lewat minimum untuk
Kelas beton batang batang yang diprofilkan dengan mutu
polos U :;;;; 32 U > 32
Kelas II 50 d 28 dp 32 dp
Kelas III 40 d 20 dp 24 dp (2). Pada tulangan yang hanya diperlukan untuk memikul tekan, tegangan tekan dapat disalurkan melalui tumpuan ujung dari batang-batang yang dipotong rata yang dipegang oleh alat-alat pemegang yang dapat menjamin batang-batang tersebut tetap menumpu. Sambungansambungan tumpuan ujung seperti disebut di atas senantiasa harus diikat oleh ikatan-ikatan atau dikurung di dalam sengkang-sengkang rapat atau lilitan spiral.

(3). Pada sambungan lewatan tulangan tekan, dimana batang yang satu pada permulaan sambungan harus menyimpang sejajar dengan jalan membengkoknya setempat (misalnya pada stek kolorn), maka sudut pembengkokan tersebut tidak boleh lebih dari I : 6 dan surnbu-sumbu

85

batang eli masing-rnasing pihak dari bengkokan hams benar-benar sejajar, Sekitar bengkokan hams dipasang ikatan secukupnya yang dapat terdiri dari sengkang-sengkang atau lilitan-lilitan spiral dengan diameter batang sengkang atau spiral tidak kurang dari 6 mrn dan dengan jarak lilitan atau jarak sengkang tidak lebih dari 10 em. Ikatan-ikatan ini tidak perlu dipasang pada jarak lebih dari 40 kali diameter (diameter pengenal) batang tulangan . atau 15 em diukur dari titik pembengkokan. Pembengkokan batang-batang demikian hams dilakukan sebelum dipasang ke dalam cetakan-cetakannya,

8.14. SAMBUNGAN LEWATAN TULANGAN DI OALAM BERKAS TULANGAN.

(1). Di dalam berkas tulangan, sambungan lewatan hanya boleh diadakan pada satu batang di setiap penampang. Jarak bersih an tara ahir sambungan batang yang satu dan permulaan sambungan batang berikutnya tidak boleh kurang dari panjang lewat minimum menurut ayat (3).

Sambungan lewatan dari suatu batang di dalam berkas tulangan harus dilakukan dengan memakai batang penyambung khusus yang dipasang bersentuhan dengan batang yang disambung, Penempatan batang-batang penyambung hanya boleh dilakukan seperti ditunjukkan dalam Gambar 8.14.1. Membuat sambungan lewatan dari suatu batang di dalam berkas tulangan dengan cara yang disebut dalam pasal 8.13 ayat (3) tidak diijinkan,

I

(2).

penutup beton yang disyaratkan.

~)

I

I

menunjukkan letak yang diijinkan dati batang penyambung.

Gambar 8.14.1

Pemasangan berkas tulangan di dalam balok.

(3). Panjang lewat sambungan lewatan dengan perantaraan batang penyambung yang ditentukan dalam ayat (2) harus diambil paling sedikit sama dengan panjang penyaluran tulangan di dalam berkas tulangan menurut pasal 8.10.

86

8.15. SAMBUNGAN LAS.

(I). Sambungan las hanya boleh dilakukan apabila ditunjukkan dalam gambar-gambar rencana atau dalam uraian atau disetujui oleh perencana atau Pengawas Ahli.

(2). Pengelasan batang tulangan dibatasi oleh ketentuan-ketentuan sebagai berikut:

a Pengelasan, termasuk pengelasan tempel untuk mem~gang tulangan agar tetap pada kedudukannya, tidak boleh dilakukan pada baja tulangan dari jenis baja keras,

b. Tulangan dati baja keras harus dilindungi terhadap semburansernburan api dan tetesan-tetesan las.

c. Yang boleh dilas hanyalah baja tulangan dari jenis baja lunak dan baja sedang yang sudah mengalami pengerjaan din gin secukupnya.

d. Pengelasan tempel pada baja tulangan dari jenis baja lunak dan baja sedang, baik pada batang polos maupun pada batang yang diprofilkan seperti ditentukan dalam a, hanya dapat dilakukan apahila disefujui oleh perencana atau Pengawas Ahli.

e. Pengelasan tidak boleh diadakan dalam jarak 8 kali diameter (diameter pengenal) batang dari bengkokan, kecuali pengelasan tempel menurut d.

(3). ~ambungan las harns berbentuk las ujung. Sumbu-sumbu batang pada masmg-masing pihak darl sambungan harus terletak pada satu garis lurus, Oleh perencana dan peJaksana harus disepakati terlebih dahulu cara-cara pengeJasannya dan bila perlu juga pengurangan kekuatan baja akibat pengelasan. Kebaikan bahan dan alat-alat pengelasan serta kecakapan dari pengelas, harus ditunjukkan terlebih dahulu, dengan mengelas dua buah contoh sambungan untuk setiap diameter batang yang akan disambung. Contoh sambungan ini pada percobaan tarik harus mempunyai kekuatan paling sedikit sama dengan keku~tan yang disyaratkan, Di dalam pelaksanaan pengelasan selanjutnya, mutu pengelasan harus kontinu diawasi dengan memeriksa secara teratur kekuatan contoh-contoh sambungan (rnisalnya 1 contoh setiap 1 00 pengelasan).

(4). Pengelasan dapat dilakukan dengan cara-cara berikut:

a. pengelasan dengan tekanan memanjang (cara las turnpul t~anan), yattu dimana kedua ujung batang sambil ditekan dilumerkan dengan mengalirkan aliran listrik yang kuat;

b. pengelasan busur listrik dengan rnenggunakan elektroda-elektroda yaitu dimana oleh panas akibat loncatan listrik antara ujung-ujung

87

batang dan elektroda, ujung-ujung batang tersebut dan ujung elektroda akan meleleh dan kedua lelehan membentuk sarnbungan yang erato

C. Pengelasan api (pengelasan otogen), yaitu dimana kedua ujung batang dilumerkan dengan panas yang dihasilkan oleh semburan api. Pengelasan api hanya boleh dilakukan setelah dirundingkan dengan dan disetujui oleh perencana, karena dengan proses ini terjadi pengurangan kekuatan baja yang harus diperhitungkan,

8.16. JARAK ANTARA BATANG TULANGAN.

(1). Pada pelat, balok, dinding dan kolom bersengkang, jarak bersih antara batang-batang tulangan yang sejajar dalam suatu lapis tidak boleh kurang dari diameter (diameter pengenal) batang terbesar, sedangkan pada kolom berlilitan spiral jarak bersih tersebut tidak boleh kurang dari I ,5 kali diameter (diameter pengenal) ba tang terbesar, Selanjutnya, jarak bersih tersebut juga tidak boleh kurang dari 4/3 kali ukuran terbesar agregat kasar (Jihat pasal3.4 ayat (7) dan dalam segala hal tidak boleh kurang dari nilai-nilai berikut:

2,5 cm pada pelat;

3 em : pada balok dan kolom bersengkang;

5 em : pada din ding dan kolom berlilitan spiral.

Apabila tulangan yang sejajar dipasang dalam dua atau lebih lapis, maka batang-batang dalam lapis yang satu dan dalam lapis lainnya hams terletak dalam bidang-bidang sejajar yang sama dengan jarak bersih antara lapis-lapis tidak kurang dari 0,75 diameter (diameter pengenal) batang terbesar atau 0,5 kali ukuran terbesar butir agregat kasar atau 2,5 cm.

(2). Jarak maksimum antara batang-batang tulangan p.k.p ditetapkan sebagai berikut:

a. Pada pelat (lantai) di tempat- temp at momen tumpuan maksimum dan momen lapangan maksimurn, jarak p.k.p. antara batang-batang tulangan tidak boleh lebih dari 20 em atau 2 kali tebal pelat. ApabiJa tulangan pelat dikurangi karena momennya berkurang, maka jaraknya p.k.p, tidak boleh lebih dari 40 em, Jarak p.k.p, antara tulangan pembagi yang dipasang tegak Iurus pada tulangan pokok, tidak boleh lebih dari 25 em.

b. Pada balok-balok di tempat-tempat momen tumpuan maksimum dan momen lapangan maksimum, jarak p.k.p. an tara batang-batang tulangan tidak boleh Iebih dari 15 ern. Jarak p.k.p. antara

88

batang-batang tulangan samping pada balok yang lebih tinggi dari 90 ern, tidak: boleh lebih dari lebar badan balok itu atau 30 em.

c. Pada dinding jarak p.k.p. antara batang-batang tulangan vertikal tidak boleh lebih dart 3 kali tebal din ding atau 40 em dan jarak p.k.p. antara batang-batang tulangan horisontal tidak boleh lebih dari 1,5 kali teb al din ding atau 40 ern, J arak: p.k. p. antara tulangan pembagi yang dipasang tegak lurus pada tulangan pokok, tidak boleh lebih dari 25 em.

d. Pada kolom-kolorn bersengkang jarak antara batang-batang tulangan p.k.p. tidak boleh lebih dari 30 ern. Pada kolom-kolom berlilitan spiral, jarak antara batang-batang tulangan p.k.p. tidak boleh lebih dari 15 cm.

e. Pada Jantai dan dinding jarak p.k.p. antara batang-batang tulangan untuk memikul susut dan perubahan suhu, tidak boleh lebih dari 40 em.

(3). Jarak bersih antara berkas-berkas tulangan tidak boleh kurang dan pada diameter ekivalen berkas itu menurut pasal 3.7 ayat (6).

8.17. TULANGAN GESER.

(1). Di dalam setiap bagian konstruksi beton bertulang yang memikullentur senantiasa harus dipasang sejumlah tulangan geser minimum, kecuali pada:

a. pelat, dinding dan fondasi telapak;

b. lantai berusuk menurut pasal 9.4;

c. balok dengan tinggi tidak lebih dati 25 em, 2,5 kali tebaJ flens atau 0,5 kali lebar badan;

d. bagian-bagian konstruksi, dimana pada pembebanan tetap di dalam beton terjadi tegangan geser akibat beban kerja 1),";;; Tb atau akibat beban batas 'Tbu ..;;; 'Tbo> dimana Tb dan T~u adalah berturut-turut tegangan geser yang diijinkan dan kekuatan geser rencana untuk beton menurut pasal 10.4.

Apabila tulangan geser diperlukan, maka tulangan geser minimum, dengan juga mernperhatikan pasal 9.3 ayat (8), (9) dan (10), harus terdiri dad sengkang-sengkang dengan luas efektif penampangpen amp ang:

(2).

89

dimana b (em) adalah lebar badan baJok, as (ern) adalah jarak sengkang dan a:u (kg/crrr") adalah kekuatan baja rencana menurut Tabel ID.4.3.

(3). Untuk perhitungan tulangan geser lentur dan/atau tulangan geser puntir, tidak boleh dipakai kekuatan baja rencana lebih dari o:.u = 2.780 kg/cm2 (U 32).

(4). Tulangan geser len tur dapat terdiri dari :

a. sengkang-sengkang yang dipasang tegak lurus pada sumbu balok;

b. tulangan-tulangan miring dengan kemiringan minimum 30° terhadap

arab memanjang;

c. kombinasi sengkang-sengkang dan tulangan-tulangan miring.

Di dekat tumpuan, jarak sengkang dan/atau tulangan miring harus sedernlkian rupa hingga suatu garis miring 45° yang ditarik rnelalui tengah-tengah tinggi baJok di atas tumpuan senantiasa terpotong oleh paling sedikit sebuah sengkang atau sekumpulan tulangan miring.

(5). Tulangan geser lentur dan puntir harus terdiri dari sengkang-sengkang rapat atau lilitan spiral dengan jarak lilitan yang kecil, disertai dengan tulangan-tulangan memanjang dan bila perIu juga disertai dengan tulangan miring untuk memikul bagian dari tegangan geser yang diakibatkan oleh lentur.

Bab 9 Bagian-bagian konstruksi

9.1. PELAT.

,

...

(1). Kecuali apabila teba! nnrumum pelat tidak ditentukan lain oleh pembatasan tulangan menurut pasal 11.2 ayat (2) atau pasal 12.2 ayat (3), atau oleh syarat kekakuan menurut pasal 10.5 atau oleh syara t lebar retak menuru t pasal 10.7 a tau oleh syarat ketahanan dalam kebakaran menurut pasal 7.3, maka dalam segal a haJ tebaJ pelat tidak boleh diambil kurang dad 7 cm untllk pelat atap dan 12 cm untuk p.mt iaotaj

(2). Dengan mernperhatikan pasal 8.16 ayat (2). maka daJam segahaJ hal tulangan pelat, termasuk tulangan pembagi, tidak boleh diambil kurang dari pada yang diperlukan untuk memikul susut dan perubahan suhu, Luas tulangan ini harus diambil minimum 0,25% dari luas beton

yang ada. r-

90

(3). Pada pelat-pelat dimana tulangan pokoknya hanya berjalan dalam satu arab, maka tegak lurus pada tulangan pokok terse but harus dipasang tulangan pembagi. Apabila tulangan pembagi terdiri dari baja dari mutu yang sama dengan mutu baja tulangan pokok, maka luas tulangan pembagi tersebut harus diambil minimum 20% dari luas tulangan pokoknya. Apabila kedua tulangan itu berbeda mutunya, maka prosentase luas tulangan pembagi tersebut harus diambil 2 kaJi perbandingan kekuatan reneana baja tulangan pokok dan baja tulangan pembagi, masing-masing rnenurut Tabel 10.4.3. Jumlah prosentase minimum sebesar 20% di atas juga berlaku bagi tulangan pelat di arah momen yang terkecil pada pelat-pelat yang memikul lentur dalam dua arab.

(4). Pada pelat-pelat yang dieor setempat, diameter dari batang tulangan pokok dari jenis baja lunak dan baja sedang harus diambil minimum 8 mm dan dari tulangan pembagi minimum 6 mm. Pada penggunaan batang tulangan dari jenis baja keras, diameter dari batang tulangan pokok harus diambil minimum 5 mm dan dari tulangan pembagi minimum 4 mm.

(5). Pelat-pelat yang mernikul beban vertikal ke bawah, walaupun menurut perhitungan teoretis oleh pengaruh pembebanan bentang-bentang pelat yang berbatasan hanya memikul momen negatif, tetap harus juga diberi tulangan bawah. Jumlah tulangan bawah ini harus diambil minimum sarna dengan tulangan yang diperlukan oleh pelat tersebut untuk mernikul beban vertikal yang sarna, tetapi dengan tepi-tepinya terjepit penuh. Ketentuan im tidak berlaku untuk pelat kantilever. Apabila arah beban vertikal tersebut adalah ke atas, maka analog dengan hal di atas, pada pelat senantiasa hams dipasang tulangan atas.

(6). Pada pelat-pelat yang lebih tebal dari 25 em senantiasa harus dipasang tulangan atas dan tulangan bawah di setiap tempat, dengan memperhatikan ayat-ayat (2), (3) dan (4). Ketentuan ini tidak berlaku untuk fondasi telapak.

9.2. DINDING.

(1). Keeuali apabila tebal minimum dinding vertikal tidak ditentukan lain oleh pembatasan tulangan menurut pasal 11.2 ayat (2) atau pasal 12.2 aya t (3), a tau oleh syarat lebar retak menurut pasal 10.7 atau oleh syarat ketahanan dalam kebakaran menurut pasal 7.3, maka dalam segal a hal tebal dinding vertikal tidak boleh diambil kurang

91

dari 1130 dari hent,mg bersih dinding atau 12 em untuk din ding yang memikul lentur dan 10 em untuk dinding yang tidak memikul lentur, sedangkan dinding-dinding luar dari ruang-ruang di bawah tanah tidak boleh diambil kurang dari 6Q_cm.

(2). Pada dinding vertikal yang tidak memikul lentur dengan tebal kurang dari 12 em, sebagai tulangannya dianjurkan jaring tulangan yang dipasang di tengah-tengah dinding. Pada din ding reservoar air, din ding ruang-ruang di bawah tanah dan pada semua dinding yang lebih tebal dari 30 em, senantiasa harus dipasang jaring tulangan rangkap.

(3). Dengan memperhatikan pasal 8.16 ayat (2), maka dalam segahal hal tulangan vertikal dan tulangan horisonta! dinding, termasuk tulangan pernbagi, tidak boleh diambil kurang dari pada yang diperlukan untuk memikul susut dan perubahan suhu. Luas tulangan ini harus diambil minimum 0,25% dari luas beton yang ada.

(4). Pada dinding-dinding yang mernikul lentur atau tegangan normal hanya dalamasatu arah, maka tegak lurus pada tulangan pokok harus dipasang tulangan pembagi, ApabiJa tulangan pokok terdiri dad baja dari mutu yang sarna dengan mutu baja tulangan pokok, maka luas tulangan pembagi tersebut harus diambil minimum 20% dari luas tulangan pokoknya. Apabila kedua tulangan itu berbeda mutunya, maka prosentase luas tulangan pembagi tersebut harus diambil 2 kali perbandingan kekuatan rencana baja tulangan pokok dan baja tulangan pembagi, masing-rnasing menu rut Tabel 10.4.3. Jumlah prosentase minimum sebesar 20% di atas juga berlaku bagi tulangan dinding di arah momen yang terkecil pada din ding-din ding yang mernikul lentur dalam dua arab.

(5). Untuk semua jenis baja tulangan, diameter batang tulangan pokok harus diambil minimum 8 mm dan dari tulangan pembagi minimum 6 mm.

(6). Dalam hal dinding mengandung lu bang-lubang untuk jendela atau pintu, maka paling sediki t 2 batang tulangan dengan diameter (diameter pengenal) minimum 16 mm harus dipasang sekeliling lubang-lubang tersebut, Batang-batang tulangan tersebut harus diteruskan paling sedikit 60 em melalui sudut-sudut dari lubang.

9.3. BALOK.

(1). Lebar badan balok tidak boleh diambil kurang dari 5~ kali bentang bersih, Tinggi balok harus dipilih sedemikian rupa, hingga dengan

\

92

(2).

lebar badan yang dipilih, terpenuhi pembatasan tulangan menurut pasal 11.2 ayat (2) atau pasal 12.2 ayat (3), syarat kekakuan menurut pasaI10.5, syarat lebar retak menurut pasal 10.7 dan syarat ketahanan dalam kebakaran menurut pasal 7.3.

Tulsngan tarik di setiap penampang balok harus diambil minimum sebesar 12/o;u dati luas b X h, dimana b adalah lebar balok, h adalah tinggi manfaat balok o:u adalah kekuatan baja reneana menurut Tabel 1004.3, kecuali apabila tulangan yang dipasang mempunyai luas yang 30% lebih besar dati pada yang diperlukan menurut perhitungan. Pada balok T dengan flens dalam tekanan, sebagai b harus diambil lebar badan,

Untuk semua jenis baja tulangan, diameter (diameter pengenal) batang tulangan untuk balok tidak boleh diambil kurang dati 12 mm. Sedapat mungkin harus dihindarkan pemasangan tulangan balok dalam lebih dari 2 lapis, kecuali pada keadaan-keadaan khusus,

Tulangan tarik harus disebar merata di daerah tarik maksimum dati penarnpang, Apabila flens balok T berada dalam tarikan, seperti yang terjadi di sekitar tumpuan-tumpuan balok T yang menerus, maka sebagian dari tulangan tarik harus disebar pada lebar manfaat dati flens tersebut atau pada lebar paling sedikit I II 0 dati ben tang balok, dimana lebar yang terkecil adalah yang menentukan.

Pada balok-balok yang lebih tinggi dari 90 em, pada bidang-bidang sampingnya harus dipasang tulangan samping dengan luas minimum 10% dati luas tulangan tarik pokok. Diameter (diameter pengenal) batang tulangan tersebut tidak boleh diarnbil kurang dati 8 mm pada jenis baja llunak dan baja sedang dan 6 rom pada jenis baja keras,

Pada balok senantiasa harus dipasang sengkang, Jarak sengkang tidak boleh diambil lebih dan 30 em, sedangkan di bagian-bagian balok dimana sengkang-sengkang bekerja sebagai tulangan geser, jarak sengkang-sengkang tersebut tidak boleh diarnbil lebih dari 2/3 dati tinggi balok. Diameter batang sengkang tidak boleh diambil kurang dari 6 rom pada jenis baja lunak dan baja sedang dan 5 mm pada jenis baja keras,

Balok-balok yang metnikul beban vertikal ke bawah, walaupun menurut perhitungan teoretls oleh pengaruh pembebanan bentang-bentang balok yang berbatasan hanya memikul momen negatif, tetap harus juga diberi tulangan bawah. Jumlah tulangan bawah ini harus diambil minimum sarna dengan tulangan yang diperlukan oleh balok tersebut

(3).

(4).

(5).

(6).

(7).

93

untuk mernikul beban vertikal yang sama, tetapi dengan ujung-ujungnya terjepit penuh. Apabila arah beban vertikal tersebut adalah ke at as, maka analog dengan hal di atas, pada balok senantiasa harus dipasang tulangan atas.

9.4. PELAT BERUSUK.

(1). Pelat berusuk adalah suatu konstruksi yang terdiri dari rusuk-rusuk yang berjarak beraturan yang berhubungan seeara monolit dengan pelat atas yang mernikul dalam satu atau dua jurusan yang saling tegak lurus.

(2). Lebar rusuk tidak boleh kurang dari 10 em dengan jarak bersih tidak lebih dari 75 em dan dengan tinggi tidak lebih dari 3,5 kali lebarnya.

(3). Pelat berusuk yang tidak memenuhi ayat (I) dan (2) harus dihitung sebagai balok dan pelat biasa.

(4). Kotak-kotak di antara rusuk-rusuk dapat diisi dengan bahan pengisi yang sesuai (tanah liat bakar, beton kurus, dan lain-lain) yang dapat bersifat permanen atau dapat dilepas. Dalam hal dipakai bahan pengisi permanen, maka tebal pelat tidak boleh diambil kurang dati 4 em atau 1/12 dari jarak bersih antara rusuk-rusuk, Dalam hal dipakai bahan pengisi yang dapat dilepas, rnaka tebal pelat tidak boleh diambil kurang dari 1/12 dari jarak bersih antara rusuk-rusuk dengan minimum 5 em.

(5). Pelat atas harus diberi tulangan lentur akibat beban yang disyaratkan, tetapi dalam segala hal tidak boleh kurang dari tulangan menurut pasal 9.1 ayat (2).

(6). ApabiJa pel at atas mengandung pipa-pipa yang diijinkan menurut pasal 5.7, maka tebalnya tidak boleh kurang dati diameter luar terbesar pipa tersebut ditambah 3 em. Pipa-pipa tersebut harus dipasang sedemikian rupa hingga tidak banyak mempengaruhi kekuatan dati konstruksi.

9.5. ' BALOK TINGGI.

(1). Balok tinggi (deep beam) adalah balok dengan perbandingan antara tinggi dan ben tang lebih dari 2/5 untuk balok menerus dan lebih dari 4/5 untuk baIok atas dua tumpuan.

(2). Tulangan tarik pokok minimum harus diambil sama dengan tulangan tarik minimum balok biasa seperti ditentukan dalam pasal 9.3 ayat (2).

94

9.6. KOLOM DENGAN SENGKANG.

(I). Kecuali apabila ukuran melintang minimum kolorn tidak ditentukan lain oleh pernbatasan tulangan menurut ayat (3) atau oleh syarat ketahanan dalam kebakaran menurut pasal 7.3, maka dalam segal a hal kolorn strukturil dengan sengkang tidak boleh mempunyai ukuran

, melintang kurang dari 15 em. -"I SI«,J": 'W (...-.

-

Dalam se~luas tulangan memanjang kolom tidak boleh diambil

kurang da 1% Ltuas penampang beton, dengan minimum 1 batang tulangan di ing-rnasing sudu t penampang. Apabila ukuran penampang koiorn adalah lebih besar dari pada yang diperlukan untuk memikul beban, maka untuk menentukan luas tulangan minimum di atas, sebagai penampang beton dapat diambil penampang beton yang benar-benar diperlukan dengan minimum seluas setengah dari penampang beton yang ada. Diameter (diameter pengenal) batang tulangan mernanjang

tidak boleh diambil kurang dari 12 m~", c; t..

Dalam segahal ha~s tulap" memanjang kolom tidak boleh diambil lebih dari 6% :h"i'uas penarnpang beton yang ada. Apabila

tulangan memanja lorn disambung dengan sambungan lewatan pada stek maka luas tulangan memanjang maksimum sedapat mungkin dibatasi sampai 4% dari luas penampang beton yang ada.

(2).

(3).

(4). Tulangan kolom sedapat mungkin harus dipasang simetris terhadap masing-rnasing sumbu utama penampang. Padakolom-kolom yang memikul gaya normal dengan eksentrisitas terhadap titik berat penampang kurang dari 1/10 dari u kuran kolom di arah eksen trisitas itu, tulangan memanjangnya harus disebar merata sepanjang keliling teras kolom.

(5). Tulangan memanjang kolom senantiasa harus diikat oleh sengkangsengkang dengan jarak rnaksimum sebesar ukuran terkeeil penarnpang, 15 kali diameter (diameter pengenaJ) batang tulangan memanjang terkecil atau 30 em. Apabila oleh alasan-alasan praktis sengkang-sengkang tidak dapat dipasang (rnisalnya pada persilanganpersilangan), maka pengikatan tulangan memanjang harus dilakukan dengan cara-cara lain. Diameter batang sengkang tidak boleh diambil kurang dari Y<I diameter (diameter pengenaJ) batang tulangan memanjang yang terbesar dengan minimum 6 mm pada jenis baja lunak dan baja sedang dan 5 mm pada jenis baja keras,

(6). Apabila tulangan mernanjang kolom disarnbung dengan sambungan lewatan pada stek, maka ujung-ujung batang tidak boleh diberi

95

kait, keeuali apabila di tempat itu tersedia cukup ruang hingga kemungkinan terjadinya sarang-sarang kerikil dapat dianggap tidak ada.

9.7. KOLOM DENGAN DLITAN SPIRAL.

(I). Keeuali apabila ukuran minimum penampang kolom tidak ditentukan lain oleh pernbatasan ruiangan menurut ayat (3) atau oleh syarat ketahanan dalam kebakaran menurut pasal 7.3, r iaka dalam segala hal kolom strukturil dengan lilitan spiral tidak boleh mempunyai ukuran penampang kurang dari 1 7 em.

(2). Dalam segal a hal, luas tulangan memanjang kolorn tidak boleh diambil kurang dad J1i:. dari luas penampang teras beton, dengan minimum 6 buah ba tang tulangan. Diameter (diameter pengenal) tulangan memanjang tidak boleh diambil kurang dari 12 mm,

(3). Dalarn segahal hal, luas tulangan memanjang kolom tidak boleh diambil lebih dari 6% dari luas penampang teras beton. Apabila tulangan memanjang kolom disambung dengan sambungan lewatan pada stek, rnaka luas tulangan mernanjang maksirnum sedapat mungkin dibatasi sampai 4% dari luas penampang teras beton,

(4). Penampang teras beton yang dikurung oleh lilitan spiral senantiasa harus berbentuk bulat. Bentuk luar dari penarnpang, kecuali bulat dapat juga bujur sangkar, segi delapan, segi enam, dan lain-lain, Tulangan memanjang hams disebar merata sepanjang keliling teras beton.

(5). Jarak lilitan spiral tidak boleh diambil lebihd ari 1/5 dari diameter teras beton atau 7,5 em dan tidak boleh diambil kurang dari diameter batang spiral ditambah 2,5 eI:1. Diameter batang spiral tidak boleh diambil kurang dari 1/4 diameter (diameter pengenal) batang tulangan memanjang yang terbesar dengan minimum 6 mm pada jenis baja lunak dan baja sedang dan 5 mm pada jenis baja keras, Sambungan dari batang spiral harus berupa sambungan lewatan dengan jarak minimum sebesar seten§ah Iilitan, kemudian membengkok kedua ujung batang spiral 90 ke dalam sepanjang setengah diameter teras beton.

(6). Apabila tulangan memanjang kolom disambung dengan sambungan lewatan pada stek, maka ujung-ujung batang tidak boleh diberi kait, kecuali apabila di tempat itu tersedia cukup urang hingga kemungkinan terjadinyasarang·sarang kerikil dapat dianggap tidak ada.

96

9.8. KELOS, JANGKAR DAN ALAT·ALAT PENGIKAT.

(1). Membobok atau menyediakan lubang atau membiarkan kelos-kelos, jangkar-jangkar dan alat-alat pengikat lainnya pada beton strukturil sarna sekali tidak boleh dilakukan, kecuali apabila hal i tu diijinkan oleh perencana. Apabila untuk keperluan-keperluan non-strukturil penyediaan lubang, penanaman kelos-kelos atau alat-alat pengikat tersebut diperlukan, maka tempat- tempatnya hams direncanakan sebelum pengeeoran beton dan dilaksanakan pada pengecoran beton, Tempat-ternpat lubang hams ditentukan sedemikian rupa hingga tidak banyak mempengaruhi kekuatan konstruksi, keeuali apabila pengurangan kekuatan tersebut diperhitungkan.

9.9. SIAR PEMISAH.

(1). Penempatan siar-siar pemisah sebagai siar-siar muai pada

konstruksi-konstruksi beton bertulang sedapat mungkin hams dihindarkan. Sehubungan dengan itu, maka setiap konstruksi beton bertulang yang merupakan sam kesatuan monolit yang lebih panjang dari 50 m hams diperhitungkan terhadap perubahan suhu sesuai dengan pasal 10.9 ayat (5).

(2). Apabila karen a alasan-alasan tertentu diadakan siar pemisah, maka lebar sela antara kedua bagian konstruksi yang dipisahkan harus ditentukan sedemikian rupa hingga dapat dicegah kerusakan bentur pada waktu gempa, yang bergantung pada sifat-sifat dinamis dari konstruksi dan tanah fondasi, dengan minimum 7,5 em. Sehubungan dengan ttu, maka penernpatan dua buah portal yang berdampingan rapat tidak diijinkan.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->