P. 1
The Way of Shotokan Karate

The Way of Shotokan Karate

|Views: 1,412|Likes:
Published by Bondhan Adi Pratomo

More info:

Published by: Bondhan Adi Pratomo on Aug 06, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

08/12/2013

pdf

text

original

Hampir seluruh aliran karate saat ini memasukkan

tiga materi wajib yaitu kihon, kumite dan kata dalam

latihan. Walaupun sebagian dari aliran juga memasuk-

kan materi lain seperti teknik senjata seperti yang

dilakukan oleh Shito-ryu. Adalah Funakoshi yang

memberikan tiga materi ini sebagai komponen latihan

ketika di Jepang dojo-dojo karate mulai banyak ber-

munculan. Pada perkembangan selanjutnya, JKA yang

berdiri tahun 1949 kembali mempertegas hal ini

dengan menstandarisasikan kihon, kumite dan kata

sebagai materi wajib.

Kihon adalah berlatih teknik-teknik dasar : memukul,

menendang, bertahan dan menangkis. Teknik-teknik

ini adalah awal juga sekaligus akhir dari karate.

Seorang karate-ka bisa saja mempelajarinya dalam

hitungan bulan bahkan tahun. Dari sini teknik-teknik

dasar membutuhkan latihan yang teratur, dikerjakan

dengan penuh konsentrasi dan usaha yang sebaik-

baiknya.

Dalam kumite seseorang melakukan dengan seorang

rekan bertanding. Prinsip-prinsip kihon tetap berlaku

dalam kumite. Seorang karate-ka harus mengerjakan

teknik karate dengan sesuai, kekuatan dan kecepatan

yang benar dan juga kontrol yang baik. Teknik ini

dikenal dengan Sundome yang artinya menghentikan

teknik kira-kira tiga inci sebelum sasaran. Sundome

adalah kebalikan dari Full Contact yang mengizinkan

karate-ka melancarkan teknik sekeras-sekerasnya pada

sasaran. Beberapa aliran karate di dunia masih ada

yang menerapkan metode ini.

Kata, latihan bentuk resmi yang menggabungkan

teknik-teknik dasar dalam karate : pukulan, tendang-

an, bertahan dan menangkis kedalam satu rangkaian

pergerakan yang telah ditentukan.

Kata mengkombinasikan teknik menyerang dan berta-

han, pergerakan badan yang sesuai dan perubahan

arah. Kata mengajarkan seorang karate-ka menghadapi

begitu banyak penyerang dari sedikitnya empat arah.

Kata telah menjadi inti dari latihan karate sejak zaman

dulu. Shotokan mempunyai 26 kata yang terus dilatih

hingga kini walaupun ada yang populer dan ada pula

yang tidak. Inilah 26 kata Shotokan :

Nama

Arti & Uraian Makna

Heian

Ada yang mengartikan pikiran
yang damai, mencintai keda-
maian dan pikiran yang tenang.
Walaupun ada pula yang tidak
setuju dengan nama ini.
Menurut legenda seluruh kata
Heian berasal dari kata Kanku-dai
yang disederhanakan oleh Yasu-
tsune Itosu. Tujuannya untuk
mengajari pemula ketika karate
telah diterima secara terbuka di
Okinawa. Karena itulah banyak
teknik yang berbahaya telah
dihilangkan. Nama aslinya
Pinan dan kata ini banyak aliran
karate lain yang masih memper-
tahankan nama ini kecuali Sho-
tokan yang telah menggunakan
nama Heian.
Ada lima versi kata Heian yaitu

Heian Shodan, Nidan, Sandan,
Yondan dan Godan dengan ting-
kat kesulitan yang berbeda.

Tekki

Aslinya bernama Naihanchi dan
saat ini dalam Shotokan memiliki
tiga versi yaitu Tekki Shodan,
Nidan dan Sandan. Tekki Shodan
dan Nidan menurut legenda ber-
asal dari Itosu sementara Tekki
Sandan tidak begitu jelas. Tekki
berarti kuda-kuda yang kuat,
bertahan dalam posisi menung-
gang kuda (kiba dachi) dan ksat-
ria yang kuat. Tidak begitu jelas
mengapa dikerjakan dalam ku-
da-kuda kiba dachi.

Bassai

Aslinya bernama Passai yang
berarti menembus benteng, me-
nembus pertahanan lawan de-
ngan mencari titik lemahnya,
walaupun ada juga tidak setuju
dengan arti ini. Bassai adalah
kata yang sangat tua, dan dalam
Shotokan saat ini ada dua versi
yaitu Bassai-dai dan Bassai-sho.

Kanku

Aslinya bernama Kushanku
yang menurut legenda meng-
ambil nama dari seorang atase
militer Cina yang bertugas di
Okinawa. Kushanku berubah na-
ma menjadi Kanku-dai yang ber-
arti menatap langit, setelah na-
ma ini terinspirasi dari gerakan
pembukanya. Kanku adalah kata
yang paling banyak versinya

dan hampir seluruh aliran kara-
te memegang kata ini walau
dengan nama yang berbeda.
Shotokan memiliki dua versi
Kanku-dai dan Kanku-sho dimana
keduanya mempunyai tingkat
kesulitan yang cukup tinggi.

Enpi

Atau kadang diucapkan Empi
berarti burung layang-layang
terbang. Menurut legenda kata
ini versi aslinya adalah Wanshu
ahli bela diri Cina yang datang
ke Okinawa. Enpi adalah kata
Shotokan yang sangat populer
dan sangat sering ditemukan
dalam turnamen.

Jion

Salah satu Shitei kata (wajib) Sho-
tokan selain Kanku-dai. Jion ber-
arti kebaikan hati, pengampun-
an, kasih sayang. Ada pula yang
mengartikan Jion nama biksu
Budha, dan kenyataannya me-
mang ada biksu yang bernama
Jion. Nama kata ini tidak
berubah dan dipercaya sebagai
salah satu kata yang menunjuk-
kan karakter dari Shotokan.

Hangetsu

Kata yang sangat tua ini bararti
bulan separuh dan sekaligus
mengambil dari nama kuda-
kudanya yaitu Hangetsu dachi.
Nama aslinya adalah Seishan

yang berarti tiga belas. Kata ini
berasal dari Naha dan menam-
pilkan teknik-teknik pernafasan.

Gankaku

Kata yang juga sangat tua ini
berarti bangau di atas batu.
Nama ini tampaknya diambil
dari gerakan kuda-kudanya
yaitu tsuruashi dachi yang sering
mengangkat sebelah kaki. Nama
aslinya adalah Chinto yang
berarti pertempuran fajar. Kata
ini termasuk salah satu kata
yang sulit.

Jitte

Berarti seolah-olah bertarung
dengan kekuatan sepuluh
orang. Nama kata ini tidak
mengalami perubahan. Menurut
legenda kata ini boleh dikerja-
kan dengan sebuah tongkat
sebagai senjata.

Sochin

Berarti ketenangan hati, mem-
berikan kedamaian bagi orang
banyak, penekanan yang besar.
Salah satu kata Shotokan yang
sangat populer dan sangat se-
ring ditemukan dalam turna-
men. Nama Sochin juga diambil
dari kuda-kuda kata ini. Walau-
pun gerakannya tidak panjang,
Sochin juga termasuk kata Shoto-
kan dengan tingkat kesulitan
tinggi.

Nijushiho

Berarti 24 langkah. Nama asli-
nya adalah Niseishi dan milik
Shotokan saat ini hampir mirip
dengan milik Shito-ryu. Meng-
gambarkan kekuatan air yang
kadang kuat kadang lemah.

Unsu

Berarti tangan bagai menyibak
awan diangkasa. Nama aslinya
adalah Hakko dan kata ini juga
sangat tua. Versi Shotokan lebih
pendek daripada Shito-ryu yang
memegang versi asli kata ini.
Unsu adalah salah satu kata
Shotokan

dengan

tingkat

kesulitan yang sangat tinggi.

Meikyo

Berarti cermin yang jernih atau
cermin yang terang. Nama ini
diambil dari gerakan awalnya.
Nama aslinya adalah Rohai
yang diduga berasal dari salah
satu Rohai Itosu. Kata ini sangat
jarang muncul di turnamen.

Wankan

Artinya mahkota raja. Tidak
jelas mengapa diberikan nama
ini. Wankan adalah kata Shoto-
kan yang paling pendek.

Jiin

Berarti halaman kuil pengam-
punan, kebaikan hati. Sama
seperti Jion dan Jitte, kata ini
mempunyai gerakan awal yang
sama. Tampak pengaruh Bud-
hisme yang kuat dalam kata ini.

Sama seperti Meikyo dan Wan-
kan, kata ini juga sudah sangat
jarang yang melatihnya.

Chinte

Berarti tangan-tangan yang luar
biasa. Mengandung teknik-tek-
nik Cina yang membedakan
dengan seluruh kata Shotokan
yang lain.

Gojushiho

Berarti 54 langkah. Nama asli-
nya adalah Useishi yang dalam
bahasa Okinawa juga berarti 54.
Kata ini sangat panjang dan
bersama-sama Unsu dikelom-
pokkan sebagai kata dengan
kesulitan yang tinggi. Kata ini
juga mempunyai dua versi;
Gojushiho-sho dan Gojushiho-dai
dimana dua gerakan dan embu-
sen kata ini nyaris tidak ada
perbedaan.

BAB II

TENTANG GICHIN FUNAKOSHI

Jika ada laki-laki yang dipercaya menempatkan karate

sampai dapat diterima di Jepang, dan pada posisi yang

dapat dinikmati oleh orang-orang Jepang, dialah Gichin

Funakoshi. Dilahirkan di Yamakawa Prefektur Shuri

Okinawa tanggal 10 November 1868, Funakoshi masih

memiliki garis darah keturunan keluarga samurai salah satu

bangsawan di Okinawa. Funakoshi terlahir bukan sebagai

anak yang sehat karena seringnya sakit-sakitan. Namun dari

ketekunannya mampu menjadikannya Shotokan sebagai

salah satu aliran karate yang tidak hanya empat besar di

Jepang namun terbesar di dunia.

Akibat kondisi fisiknya yang kurang baik, orang tuanya

membawanya pada Azato dan Itosu untuk belajar karate.

Selain dari mereka Funakoshi juga menerima pelajaran dari

Arakaki Seisho (yang dipercaya menemukan kata unsu) dan

Sokon Matsumura yang merupakan tokoh sentral dari tidak

hanya 4 besar aliran karate di Jepang namun juga aliran

karate lain.

Funakoshi diberikan kepercayaan oleh para tokoh bela diri

di Okinawa membawa karate ke Jepang. Sekitar tahun 1916

demonstrasi pertama karate di luar Okinawa dilangsung-

kan. Butokuden yang saat itu adalah pusat seni bela diri dan

olahraga Jepang masa itu dipilih sebagai tempat untuk

melakukan demonstrasi. Namun sayang sekali demonstrasi

itu tidak berlangsung sukses, hal itu karena kebanyakan

orang Jepang tidak tertarik dengan bela diri tangan kosong.

Karena saat itu sudah ada Naginata (bela diri bersenjata

tongkat dengan pisau tajam diujungnya) dan kendo yang

merupakan penerus dari teknik samurai.

Walau demikian tawaran demonstrasi berikutnya datang

dari calon putra mahkota negeri Jepang yang berkunjung ke

Okinawa. Dan sekitar tahun 1922 awal musim panas

Funakoshi kembali melakukan demonstrasi di Tokyo atas

prakarsa Menteri Pendidikan Jepang. Demonstrasi ini ber-

jalan sukses, Jigaro Kano (salah satu pendiri Judo) sangat

terkesan dengan demonstrasi itu dan meminta Funakoshi

tinggal di Jepang. Sejak saat itu Funakoshi tinggal di Jepang.

Selama di Jepang Funakoshi tinggal di Suidobata, sebuah

asrama kecil di Tokyo. Siang hari Funakoshi bekerja sebagai

tukang kebun dan penjaga asrama. Untuk membayar

makanannya, Funakoshi membujuk koki di asrama itu dan

sebagai ganti diajarinya karate. Dan sejak saat itu banyak

bermunculan klub karate baik di sekolah maupun

universitas. Begitu antusiasnya orang-orang Jepang berlatih

karate, sampai-sampai sulit ditemukan tempat kosong

untuk berlatih. Tiap hari diisi dengan latihan karate di

hampir seluruh pelosok Jepang.

Di Jepang langkah modernisasi karate yang dilakukan

Gichin Funakoshi diantaranya tahun 1931 pengubahan

huruf kanji karate yang sebelumnya lebih bermakna Cina

kini dengan dialek Jepang berikut huruf kanjinya namun

dengan pengucapan yang sama. Untuk penegasan

pengubahan dialek dan penulisannya, dalam bukunya

Karate-do Kyohan yang terbit tahun 1936 Funakoshi

menggunakan perubahan ini. Selain itu juga pengubahan

dan penulisan nama-nama kata yang sebelumnya masih

menggunakan dialek Okinawa. Hal itu penting dilakukan

agar karate dapat diterima oleh budaya Jepang. Selama di

Jepang pula Funakoshi menulis buku-buku yang terkenal

sampai sekarang. Setelah Karate-do Kyohan adalah buku

Karate-do Nyumon yang diterbitkan tahun 1943.

Sekitar tahun 1936 (ada yang mengatakan tahun 1937, ada

pula yang 1939) dojo yang pertama berdiri di Meishojuku.

Murid-murid Funakoshi menganugerahkan nama Shotokan

pada papan nama perguruan sebagai penghormatan dan

penghargaan pada Funakoshi. Walau demikian, sebenarnya

Funakoshi tidak pernah memberikan nama apapun pada

alirannya. Namun sayangnya dojo ini hancur karena saat itu

Jepang dilanda serangan akibat Perang Dunia II. Setelah

perang tahun 1949 pengikut Funakoshi kembali bersatu, dan

mendirikan sebuah wadah yang bernama Asosiasi Karate

Jepang (Japan Karate Association) dengan Gichin Funakoshi

sebagai instruktur kepala.

Funakoshi sangat menekankan murid-muridnya agar

menguasai teknik-teknik dasar sebelum belajar tingkat

lanjut. Adalah keyakinan Funakoshi bahwa karate adalah

seni bela diri daripada olah raga. Bagi Funakoshi kata

adalah karate. Dalam bukunya Karate-do Kyohan Funakoshi

menyatakan, ’’Beberapa anak muda antusias pada karate percaya

bahwa karate hanya bisa dipelajari lewat instruktur di dojo.

Walaupun kebanyakan dari mereka adalah orang yang mahir

teknik, tetapi bukanlah karateka sejati. Sebuah nasihat bijak

berkata bahwa semua tempat dapat menjadi dojo, dan itu berarti

setiap orang yang ingin mengikuti jalan karate tidak boleh lupa

hal ini. Karate-do tidak hanya berlatih cara membela diri tapi juga

menguasai seni untuk menjadi bagian anggota masyarakat yang

baik dan jujur.’’

Hal ini juga yang mempertegas keyakinannya untuk

mencari kesempurnaan karakter dari berlatih karate

daripada sekedar memecahkan rekor atau prestasi. Gichin

Funakoshi meninggal pada tanggal 26 April 1957.

BAB III

KARATE-DO KYOHAN

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->