P. 1
Martana

Martana

5.0

|Views: 1,314|Likes:
Published by juansts
Buku "Martana" adalah memoar tentang Almarhum Romo F.A. Martana--seorang imam projo yang luar biasa dalam kebersahajaan dan ketulusannya--yang ditulis oleh para murid, sahabat, dan sanak saudara beliau.
Versi digital ini bebas diunduh dan disebarluaskan. Versi cetaknya dapat diperoleh dengan mengirimkan pesanan kepada dwi_ko2003@yahoo.com atau xmerto@yahoo.co.id.
Buku "Martana" adalah memoar tentang Almarhum Romo F.A. Martana--seorang imam projo yang luar biasa dalam kebersahajaan dan ketulusannya--yang ditulis oleh para murid, sahabat, dan sanak saudara beliau.
Versi digital ini bebas diunduh dan disebarluaskan. Versi cetaknya dapat diperoleh dengan mengirimkan pesanan kepada dwi_ko2003@yahoo.com atau xmerto@yahoo.co.id.

More info:

Published by: juansts on Aug 07, 2010
Copyright:Traditional Copyright: All rights reserved

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF or read online from Scribd
See more
See less

06/19/2013

pdf

Sections

martana

xmerto
:: 1 ::

Martana © 2005 Cetakan kedua, Desember 2005 Diterbitkan pertama kali oleh Xmerto atas dukungan anggota milis merto8185@yahoogroups.com, mertoyudan@yahoogroups.com, merto21@yahoogroups.com, adik-adik Romo Martana, kerabat, relasi, dan dengan bantuan Penerbit Kanisius

dwikoratno@yahoo.com juankanisius@yahoo.co.id EDITOR Dwi Koratno Juan St. Sumampouw DESAIN seratuspersenmedia@yahoo.com.au

xmerto

Hak cipta dilindungi undang-undang Artikel dalam buku ini adalah milik penulis masing-masing. Buku ini boleh diperbanyak untuk kepentingan nonkomersial dengan izin tertulis atau lisan dari Xmerto.

:: 2 ::

Pengantar Editor

SIAPAKAH GERANGAN MARTANA? Sebagian orang Katolik mungkin mengingatnya sebagai pengarang lagu antarbacaan, Kurenungkan Sabda-Mu Tuhan, sebagian lagi juga mungkin mengingatnya karena tercantum dalam buku liturgi Puji Syukur. Tetapi, lebih dari itu, namanya tidak pernah muncul di majalah, koran, apalagi televisi. Ia tidak pernah bikin heboh. Ia bukan penulis ataupun sastrawan. Ia belum pernah membangun gereja megah. Ia bukan seorang pengkhotbah yang masyhur diundang dari kota ke kota. Ia bukan seorang selebritis (selebritas, kata sebagian kalangan). He’s no news. Romo Martana—lengkapnya Fransiscus Assisi Martana Constantinus Maria atau biasa disingkat F.A. Martana C.M.— adalah seorang imam projo Keuskupan Agung Semarang. Ia lahir pada tahun 1955 dan ditahbiskan sebagai imam tahun 1982, kemudian bertugas berturut-turut di Seminari Menengah Mertoyudan, paroki di Klaten, paroki di Boro, paroki di Ungaran, paroki di Papua, dan terakhir paroki di pedalaman Kalimantan. Sebuah curriculum vitae yang biasa-biasa saja. Namun mengenalinya secara pribadi adalah pengalaman yang jauh dari biasa-biasa saja. Mari kita bayangkan sosok seorang guru SMA. Dia setiap sore datang ke WC murid, lalu membersihkannya dengan :: 3 ::

peralatan ember air, gayung, dan sikat ijuk tanpa tangkai. O ya, kadang dia melakukannya sambil bersiul-siul pula. Dia membuka lebar-lebar pintu dan semua jendela kamarnya dan membiarkannya begitu sepanjang hari. Dia tidur beralaskan papan dan tikar pandan, padahal para guru, kalau mau, bisa tidur di atas kasur yang empuk. Dia berkata kepada para murid, “Kalau kalian bersalah, lalu menyesal, saya akan memaafkan kalian. Kalau esoknya kalian bersalah lagi, lalu menyesal, saya akan memaafkan kalian. Kalau esoknya lagi kalian bersalah lagi, lalu menyesal lagi, saya akan memaafkan kalian lagi.” Dan diperbuatnya persis seperti yang dikatakannya. Dia tidak heran kalau ada murid yang nilai matematika, fisika, biologinya cemerlang memutuskan untuk pindah ke jurusan sosial karena sang guru pun dulu demikian. Ketika dipindahtugaskan, ia memilih berjalan kaki ke tempat tugas baru, misalnya dari Klaten ke Boro, kemudian dari Boro ke Ungaran. Jika tiba saatnya berdoa, ia mengajak tamu di rumahnya untuk ikut berdoa. Sang guru pandai, maka ditawari kesempatan untuk belajar di perguruan tinggi luar negeri, tapi ia menolaknya dan sebagai gantinya memilih bertugas di pedalaman Kalimantan tanpa listrik, tanpa sinyal ponsel, tanpa internet. Sosok yang kita bayangkan itu ada pada diri Romo Martana. Ia tak berambisi mengubah orang lain, tapi hidupnya menggerakkan kami yang mengenalnya untuk berpikir mengenai hidup kami, menilai ulang keyakinan kami, mengevaluasi prioritas hidup kami, melihat makna, menggugah semangat, mengubah!

:: 4 ::

Buku ini semula dipersiapkan sebagai hadiah pesta emasnya, ulang tahun yang ke-50. Pada waktu gagasan ini dicetuskan, Maret 2005, Romo Martana masih dalam perawatan di Rumah Sakit Panti Rapih karena penyakit kanker yang dideritanya. Belum lagi tulisan terkumpul, datanglah kabar bahwa Romo Martana kritis, dan beberapa saat kemudian meninggal dunia. Kami semua berduka. Dunia telah kehilangan satu lagi orang terbaiknya. Lalu muncul keraguan, apakah hadiah ini masih perlu diwujudkan. Apa guna sebuah hadiah ulang tahun jika yang berulang tahun sudah tiada? Lalu, kami ingat Romo Martana. Dia sendiri pastilah tidak menginginkan hadiah apa pun untuk ulang tahunnya. Terlebih lagi, sebuah buku berisi puja-puji tentang dirinya niscaya tidak akan membuat hatinya senang. Akhirnya, kami sepakat, Romo Martana tidak memerlukan hadiah. Tetapi, kami tetap menuliskannya. Bagi kita yang pernah mengenal Romo Martana, biarlah buku ini menjadi cenderamata, kenangan bahwa kita pernah hidup dalam satu masa bersama Romo Martana, dan masa-masa itu adalah salah satu hadiah terbaik dalam hidup kita. Jika suatu saat kita kecewa, marah, atau lelah terhadap dunia, marilah kita sejenak mengingat Romo Martana yang telah membuktikan bahwa hidup bisa dijalani dengan ringan lepas bebas sehingga tak ada alasan untuk kecewa terhadapnya. Jika Anda belum pernah mengenal Romo Martana, perkenankanlah kami mengajak Anda untuk mengenal dia, seseorang dengan kepribadian yang memikat, seseorang dengan nilai-nilai hidup yang luar biasa namun dijalaninya :: 5 ::

dengan cara yang sungguh sederhana, seseorang yang meneguhkan kita untuk terus hidup dengan penuh pengharapan sematamata karena segala sesuatunya memang baik adanya, seseorang yang kehidupannya menitipkan pesan bahwa menjadi suci adalah sesuatu yang mungkin bagi siapa pun hic et nunc, di sini dan saat ini.— EDITOR

:: 6 ::

DAFTAR ISI
PENGANTAR EDITOR DAFTAR ISI PERJALANAN ROMO MARTANA SAMBUTAN USKUP AGUNG SEMARANG CERITA PARA MURID YANG NAMANYA SALAH PILIH ITU TIDAK ADA JATUH CINTA PADA KEHIDUPAN YANG BIASA ROMO MARTANA DAN BAPA SUCI YOHANES PAULUS II FRANSISKUS + GANDHI + TERESA JIWA YANG BERSAHAJA PEMBIMBING SEKALIGUS TEMAN 70 × 7 MENGHAFAL NAMA TIAP ORANG PERISTIWA DI DEPAN KAPEL BESAR NILAI SEBUTIR NASI KONSER MAESTROYUDAN JALAN MENUJU KESUCIAN 3 7 9 11 15 16 22 28 34 37 41 44 47 48 49 50 60

:: 7 ::

CERITA PARA MITRA PENDERITA YANG MEMELUK DERITANYA SANG MISIONARIS DOMESTIK SANG PEJALAN KAKI CERITA PARA SAHABAT SIAP BERDOA BERSAMA SIMEON SERBA-SERBI KISAH DI KENTUNGAN KIAT MENIKMATI HIDUP KENANG AKU DALAM HATIMU PINTAR SEMUANYA TEMAN YANG BAIK HATI CERITA PARA ADIK BERSYUKUR SELALU, GEMBIRA SENANTIASA MAS TANA DENGAN HOBI-HOBINYA SEORANG IMAM, SEORANG KAKAK PASTOR YANG MENYAYANGI KELUARGANYA RANGKAIAN BUNGA LAMPIRAN

63 64 69 76 77 78 83 85 88 91 92 95 96 101 108 113 117 131

:: 8 ::

Perjalanan Romo Martana

1955 1968 1971 1974 1975 1982

4 Mei, Fransiscus Assisi Martana Constantinus Maria lahir Masuk SMP Pangudi Luhur Baciro Masuk Seminari Menengah Mertoyudan Lulus dari Seminari Menengah Mertoyudan Masuk Seminari Tinggi St. Paulus, Kentungan 25 Januari, ditahbiskan sebagai imam projo Keuskupan Semarang. Semboyan yang dipilih “Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil” (Yoh 3:30) Kembali ke Seminari Mertoyudan, menjadi pamong Menjadi pastor paroki di Klaten, Boro, Ungaran, Papua Melayani umat di pedalaman Ketapang, Kalimantan 19 Desember, masuk RS Panti Rapih untuk menjalani terapi atas penyakit kanker lidah 5 April, meninggal dunia di Rumah Sakit Panti Rapih, seminggu setelah Paskah, sebulan sebelum hari ulang tahunnya yang ke-50

1982 ... 1996 2003 2005

:: 9 ::

Romo Martana sedang berbincang-bincang dengan Mgr. Suharyo di kamar Lukas, RS Panti Rapih.

:: 10 ::

Sambutan Uskup Agung Semarang

ADA DUA HAL YANG SANGAT MENGESANKAN dari perjumpaan saya dengan Romo Martana di rumah sakit selama masa sakitnya. Yang pertama adalah tampak jelas di dalam seluruh hidup Romo Martana bahwa dia mengerti, memahami, dan menghayati benarbenar apa arti penderitaan. Sakit yang begitu lama membawa almarhum Romo Martana menemukan makna penderitaan itu. Saya membayangkan satu dua hal. Romo Martana sangat mencintai umat pedalaman di Kalimantan. Bahkan, setelah sekian lama, Romo Martana memutuskan tidak mau kembali ke Keuskupan Agung Semarang karena ingin bersetia kawan dengan umat di pedalaman yang sangat ia cintai. Saya membayangkan ketika Romo Martana harus meninggalkan Kalimantan, terpaksa karena sakitnya, ia sudah mulai menderita sungguh-sungguh, belum lagi selama masa lebih dari satu setengah tahun mengalami sakit. Yang mengherankan dan mengagumkan ialah saya sekurangkurangnya tidak pernah mendengar, tidak pernah melihat, Romo Martana kehilangan kegembiraan. Tidak pernah saya dengar secuil keluhan pun mengenai keadaannya. Penderitaan yang begitu besar :: 11 ::

di mata kita yang melihatnya rasa-rasanya dihidupinya dan dihayatinya dengan penuh syukur. Dan dengan macam-macam tanda, ketika dia sudah tidak bisa bicara lagi, syukur itu ditunjukkan entah dengan anggukan, entah dengan acungan jempol. Ia belajar menderita dan menemukan makna penderitaan dalam iman. Kita bisa mengatakannya menderita bersama dengan Kristus. Romo Martana bukan hanya mengatakan, tetapi menjalaninya, menghidupinya dengan gembira dan pasrah—suatu kesaksian iman yang sangat mendalam. Hal kedua yang menjadi sangat jelas juga adalah Romo Martana mengajak kita semua, keluarga, kawan-kawan, dan siapa pun yang mencintai dia, untuk belajar menghargai kehidupan. Saya bisa membayangkan betapa staf Rumah Sakit Panti Rapih, para dokter, perawat, pembantu perawat, para suster berusaha sebaik mungkin untuk menemukan jalan dan tidak menyerah sampai akhir untuk melayani kehidupan itu. Kita pun bisa saling melihat betapa keluarga dan kawan-kawan sungguh berusaha dan hadir untuk mendoakan, melayani, menghibur, karena kita semua yakin bahwa hidup sung guh begitu berharga juga kalau kelihatannya sudah begitu rapuh. Kita kehilangan seorang imam yang masih belum terlalu banyak usianya. Tetapi, kepada kita ditinggalkan juga keutamaankeutamaan hidup yang sungguh-sungguh bermutu, yang sungguhsungguh bermakna. Kami, para imam yang melihat kesaksian hidup yang seperti itu, merasa terdorong untuk menjadikan hidup kami menjadi hidup yang rela berkorban dan menyatukan kerelaan :: 12 ::

berkorban itu dengan kerelaan Kristus yang memberikan hidupNya bagi kita semua. Terima kasih kepada keluarga yang dengan rela dan tulus menyerahkan putranya bagi Gereja dan umat. Romo Martana bertumbuh di dalam keluarga, menemukan panggilannya di dalam keluarga, ditemani oleh seluruh keluarga sampai ia menyelesaikan tugas perutusan hidupnya di dunia ini. Saya yakin, Romo Martana sungguh-sungguh bangga atas keluarga yang sungguh-sungguh penuh perhatian dan kasih. Terima kasih kepada seluruh umat yang pernah dilayani, entah di paroki di Jawa, di luar Jawa, entah di tempat pendidikan di seminari menengah. Saya selalu yakin bahwa hanya di dalam pelayananlah imamat bisa berkembang dengan baik. Terima kasih kepada teman-teman imam yang telah memberi perhatian istimewa dan menemani Romo Martana di dalam imamat, khususnya pada saat-saat akhir hidupnya. Terima kasih kepada seluruh staf Rumah Sakit Panti Rapih yang telah memberikan yang terbaik bagi Romo Martana. Semoga semua yang kita alami di dalam usaha menemani beliau mendorong kita semua untuk menerima anugerah kehidupan ini dengan penuh syukur dan menjadikannya berkat bagi makin banyak orang. — MGR. I. SUHARYO, khotbah pada misa requiem, 6 April 2005

:: 13 ::

:: 14 ::

Cerita Para Murid

:: 15 ::

Yang Namanya Salah Pilih Itu Tidak Ada

S ORE INI AKU DUDUK DI KANTORKU di STF Driyarkara. Tidak berbeda dari hari-hari lain, suasana di kampus terasa begitu sepi. Di mejaku berserakan buku-buku komentar Kitab Imamat. Harihari ini aku sedang sibuk mengutak-atik Kitab Imamat, karena itulah yang sedang menjadi pokok kuliah yang telah kuberikan tadi pagi, dan akan kuberikan sekali lagi minggu depan. Ini hidupku sekarang. Waktuku kuhabiskan dengan kertas, buku, komputer, alat tulis. Ya, di sini aku sekarang, sebagai seorang imam Yesuit, sebagai dosen Kitab Suci, dan sebagai teman pendamping bagi anggota-anggota muda Yesuit. Pilihanku untuk menjadi seorang Yesuit kala aku di seminari dulu justru mendapat penegasan dari Romo Martana. Maka ingatanku kembali melayang ke peristiwa yang kualami dua puluh tahun yang lalu. Pada usia semuda itu aku merasa bahwa “memilih” adalah sebuah hal yang paling sulit untuk bisa aku lakukan. Aku lebih senang bila ada orang yang membuatkan pilihan bagiku. Pasti aku akan melakukannya dengan sepenuh hati. Selama itu aku terus bergulat dengan pilihan antara Projo KAJ atau SJ. Almarhum Romo Setiawan Gani, SJ, menjadi pembimbing rohaniku selama :: 16 ::

aku kelas satu dan dua. Beliau sangat berjasa bagiku. Beliau kemudian dipindah sehingga aku harus mencari pembimbing rohani yang baru. Dengan tekad untuk membuat pilihan semurni mungkin, sengaja aku menghindar dari para yesuit di sana. Pilihanku jatuh kepada Romo Martana, Pr. Betapa senangnya aku ketika beliau bersedia menemani perjalananku selama setahun terakhir di seminari. Aku tak menunggu lama. Pertemuan pertama langsung aku pusatkan pada soal “memilih” antara Projo KAJ dan SJ. Kepada beliau kukatakan dengan terus terang bahwa aku sengaja tak memilih seorang romo yesuit karena aku tak mau memilih SJ karena dirayu oleh salah seorang dari mereka. Dua hal dikatakan oleh Romo Martana. Pertama: “Deshi, yang namanya salah pilih itu tidak ada!” Dengan mantap beliau melanjutkan: “Seandainya kamu ini sebenarnya dipanggil untuk menjadi projo, tetapi lalu memilih untuk menjadi yesuit, Tuhan pasti akan membantu kamu. Kalau kamu terbuka pada bantuan Tuhan, kamu pasti akan bisa menjadi yesuit yang baik, meskipun itu mungkin pilihan yang salah. Jadi, sebenarnya, yang namanya salah pilih itu tidak ada. Tuhan pasti membantu untuk membuat yang paling baik bagi kita.” Pembicaraan lalu dilanjutkan entah ke mana, sampai Romo Martana akhirnya mengatakan demikian: “Deshi, saya sebagai projo tentu senang kalau kamu akhirnya juga menjadi projo. Namun sejauh saya mengenal kamu, dan sejauh saya mengenal kehidupan projo, saya harus mengatakan bahwa kamu harus berpikir dua kali bila kamu ingin menjadi projo.” :: 17 ::

Romo Martana, keenam dari kiri, bersama rektor dan staf Seminari Menengah Mertoyudan.

:: 18 ::

Itu yang terus aku ingat sampai hari ini. Tuhan tidak akan tinggal diam. Kalaupun manusia melakukan pilihan yang salah, Tuhan akan segera bertindak. Pilihan yang mungkin semula salah akan bisa “dibenarkan”. Aku merasa mendapat siraman segar. Tak perlu takut untuk salah memilih karena, seperti kata Romo Martana, “yang namanya salah pilih itu tidak ada”. Ternyata sekarang aku menulis kenangan ini sebagai seorang imam SJ yang ditugaskan di KAJ. Aku melihatnya sebagai sebuah gambaran yang menggabungkan sisi ke-jakarta-an dan sisi ke-yesuit-an yang menjadi warna khas proses pemilihanku ketika itu. Romo Martana berjasa besar buatku karena telah memberi dasar penting bagiku untuk tidak takut memilih. Boleh percaya boleh tidak, aku sudah sering meminjam ungkapan beliau itu, “yang namanya salah pilih itu tidak ada”, ketika aku mendampingi orang-orang yang takut untuk memilih. Hasilnya, sungguh luar biasa. Sekarang aku kembali ke masa kini. Aku mendapat kepercayaan untuk mendampingi sembilan frater yesuit di rumahku. Prinsipku jelas: “membentuk mereka melalui contoh nyata yang kuhayati sendiri”. Maka begitulah kulakukan. Di saat-saat tertentu kenanganku kembali ke Mertoyudan. Di pojok tempat urinoir itu kulihat kembali Romo Martana dengan kaos putih dan celana pendek putih. Kudengar kembali siulannya yang menyanyikan lagu entah apa. Kupikir tidak berlebihan kalau sekarang aku melihat bahwa pojok tempat urinoir itu menjadi “sekolah” pertama bagiku untuk belajar menjadi seorang formator. Ya, mengubah kesadaran :: 19 ::

manusia tidak dengan kata-kata, melainkan dengan sebuah nilai yang dihayati dan diperlihatkan dengan jujur. Ada sebuah film yang selalu membuatku menangis setiap kali aku melihatnya. Judul film itu adalah Mr. Holland’s Opus. Film itu bercerita tentang seorang guru musik yang punya dedikasi tinggi. Salah satu ajarannya, kalau tidak salah, demikian: “Don’t read the notes! Play the music!” Ia harus menerima kenyataan pahit bahwa anak tunggalnya ternyata tidak bisa mendengar, sementara ia sebenarnya ingin sekali melanjutkan ilmu dan cintanya akan musik kepada anaknya itu. Singkat kata, film berakhir dengan sebuah kejutan. Ketika diadakan sebuah pesta perpisahan bagi sang guru musik itu, para bekas muridnya diam-diam menyiapkan sebuah konser musik. Terlihatlah di sana betapa berubahnya para bekas murid itu. Satu hal jelas. Bertahun-tahun sebelumnya, ketika masih menjadi murid, banyak dari mereka harus bersusah-payah untuk memainkan alat musik tertentu. Sekarang mereka memainkannya dengan keyakinan. Hasilnya, sebuah konser yang indah. Di film itu Mr. Holland menangis. Aku pun menangis lagi ketika menulis ini. Salah seorang bekas muridnya, yang sudah menjadi gubernur negara bagian di mana sekolah itu berada, memberi sambutan kurang lebih demikian: “Mr. Holland, if you look around, there is no one in this room whose life has not been changed by you!” Ini menjadi penutup tulisanku ini juga. Aku tak tahu apakah Romo Martana pernah punya mimpi besar untuk membuat sebuah Opus dengan orkes seminari yang peralatannya seharusnya sudah masuk museum. Yang aku tahu, Romo Martana telah :: 20 ::

membuat hidupku dan banyak temanku sebuah Opus. Thanks for making our lives such a wonderful Opus! — DESHI RAMADHANI, S.J., imam, seminaris Mertoyudan 1982–1986, deshisj@yahoo.com

:: 21 ::

Jatuh Cinta pada Kehidupan yang Biasa

ROMO TANA ITU JATUH CINTA pada kehidupan yang biasa. Yang khas dari Romo ialah bahwa ia menyulap kehidupan yang biasa itu menjadi kesempatan bereksperimen mentransformasi diri. Hal itu dilakukannya juga ketika ia menjadi imam di pedalaman. Dalam perjalanan pulang dari kota Ketapang ke tempat saya bekerja, yakni Paroki Balai Berkuak yang terletak jauh di pedalaman, saya mampir ke pastoran Paroki Tumbang Titi, tempat Romo Tana bekerja. Ketika tiba di pastoran Tumbang Titi, Romo tidak ada. Saya langsung masuk saja ke kamarnya, karena semua pintu dan jendela pastoran terbuka. Di mejanya saya dapati tekateki silang berbahasa Inggris yang sudah terisi dengan jawabanjawaban. Seperti ketika masih di Mertoyudan menjadi pamong kami (1982–1983), tempat tidurnya tak beralaskan kasur. Ada tikar, bantal, selimut dan empat buku: Injil, sebuah buku Zen, buku Gandhi dan sebuah buku filsafat Cina. Selama bertugas di Klaten, Boro, dan Ungaran, ketiga buku yang pertama selalu ada bersamanya. Saya tidak tahu sejak kapan ia baca buku filsafat Cina yang tampak tua dan lusuh itu. Lalu Romo datang. Ia menjelaskan bahwa buku filsafat Cina itu ditulis oleh seorang Cina yang beralih dari agama Protestan ke agama asli Cina. :: 22 ::

Romo berceritera bahwa keempat buku itu dibacanya tiap hari. Menurutnya, ia baca Injil pada pagi hari. Urutan selanjutnya saya lupa. Yang saya ingat, ia baca buku-buku tersebut pada siang sebelum makan, sore, dan malam hari. Bahwa ia baca Injil tiap hari mengingatkan saya akan syair lagu yang ia tulis. Dalam lagu Kurenungkan Sabdamu, Tuhan ditemukan kata-kata “kurenungkan sabdaMu” dan “kuresapkan di dalam kalbu”. Lebih daripada itu, yang menurutnya baru dari Yesus adalah ajaran bahwa benih perlu mati terlebih dahulu agar hidup tumbuh. Buku Zen yang ia baca tiap hari bukanlah yang menjelaskan bagaimana memperoleh pencerahan lewat usaha-usaha istimewa seperti misalnya meditasi dan diajukannya sebuah koan oleh seorang guru Zen kepada muridnya (D. T. Suzuki). Buku Zen yang ia baca memperlihatkan bagaimana pencerahan didapat dalam melaksanakan kerja sehari-hari. Keempat Injil dan buku filsafat Cina juga berbicara tentang hidup sehari-hari. Romo Tana memahami keempat buku secara hurufiah. Ia pernah punya banyak buku Zen yang bagus-bagus. Ketika ia membaca buku-buku Zen tersebut dan salah satu guru Zen dalam salah satu buku itu menganjurkan agar pembaca membakar bukubuku Zen setelah selesai dibaca, karena sang pembaca sekarang telah menjadi seorang guru Zen dan dengan demikian tak memerlukan lagi guru, maka secara hurufiah Romo mengikuti anjuran ini: Romo membakar buku-buku Zen yang berharga mahal itu. Ia pun secara lurus mengikuti ajaran Zen untuk tidak berpikir dualistis atau, lebih baik, mengatasi pikiran dualistis. Yang dimak:: 23 ::

Bersama dengan keponakan. Bermain biola dalam orkes Seminari Mertoyudan. Romo Martana tampak berambut gondrong, khas anak muda era 1970-an.

:: 24 :: :: 24 ::

sud pikiran dualistis adalah segala bentuk pikiran dan penilaian yang lahir sebagai hasil penarikan jarak kita dari kenyataan; bisa juga dipahami sebagai berpikir dengan pola dualistis baik-buruk, sebab-akibat, substansi-aksiden, dan sebagainya. Dalam surat balasannya atas surat yang saya tulis dari Roma, Romo menulis bahwa saya masih berpikir dualistis. Itu dikatakan Romo karena saya menilai buruk mentalitas orang Italia. Karena Romo Tana tidak lagi berpikir dualistis, ia mengatakan selalu bahwa segala sesuatu baik. Makanan yang dengan susah payah ia makan, ketika sakit menjemput ajal, ia katakan enak. Sebenarnya ajaran Jawa juga mengajarkan untuk berpikir dan bertindak beyond dualism seperti yang ditunjukkan Magnis Suseno dalam sebuah tulisan tentang rasa menurut orang Jawa. Gandhi diikutinya juga secara hurufiah. Romo suka pakai celana pendek yang dibuat dari karung gandum. Di pedalaman ia suka telanjang dada dan hanya pakai celana gandum itu, bahkan tanpa celana dalam. Teman separokinya, Romo Made Sukartia pernah berceritera kepada saya: “Wah, Di, ketok kuwine (=kelihatan itunya)!” Romo Tana sebenarnya pengagum Ibu Teresa. Ia membuat kliping ceritera bersambung tentang Ibu Teresa yang dimuat di Hidup. Di pedalaman ia ikuti saja secara lurus kebiasaan Ibu Teresa selalu membuka semua pintu dan jendela rumahnya. Ketika Romo bertugas di Tumbang Titi, semua pintu dan jendela pastoran terbuka lebar-lebar. Semua orang bisa masuk. Toh, Romo Tana hanya punya barang sedikit. Ketika saya meninggalkan Paroki :: 25 ::

Balai Berkuak dengan hanya membawa sebuah tas berisi pakaian, ia memuji saya: Barang yang saya bawa hanya sedikit. Ini bukan sesuatu yang istimewa sebenarnya. Romo-romo, teman-teman saya yang bekerja di pedalaman Ketapang, hanya punya barang pribadi yang sedikit. Untuk apa punya barang banyak di pedalaman kalau barang-barang itu tak berguna? Romo Tana ternyata tidak hanya penggemar Queen. Ia gemar sekali musik jazz. Kegemaran itu dilanjutkan di pedalaman. Setiap jam satu siang ia dengarkan siaran BBC yang memperdengarkan lagu-lagu jazz. Pada tahun pertama di pedalaman ia tidak bawa gitar. Akhirnya, ia tidak tahan juga. Pada tahun kedua ia ambil gitar pribadinya yang ia simpan di rumahnya di Gunung Ketur. Kalau ada sebuah acara dan kami, romo-romo, semua hadir, biasanya beberapa romo membentuk sebuah grup band. Romo Tana memainkan lead guitar. Kegemaran main catur juga diteruskan di pedalaman. Ia suka bermain melawan romo-romo yang lain dan siapa saja yang bisa main catur. Hanya untuk main catur, ia rela naik sepeda motor sejauh 60 kilometer melewati jalan yang buruk. Ia main berjamjam di rumah lawan mainnya, bahkan menginap di situ. Romo main catur dengan serius. Ia pernah menulis surat kepada saya yang ketika itu studi di Roma untuk mencarikan dia buku-buku catur. Saya dan Romo Didik dari Bandung, teman seangkatan di Mertoyudan, mengirim beberapa buku catur untuk Romo di pedalaman. Bahkan Romo Eko mengirim juga beberapa buku catur dari Washington. Dengan berbekal teori-teori catur yang canggih, ia melawan pecatur pedalaman. :: 26 ::

Romo Tana ternyata jagoan minum tuak. Minum tuak memainkan peranan penting dalam pergaulan dengan umat di pedalaman. Kalau kita jagoan minum tuak, umat pun senang dengan kita. Romo lulus menjadi imam pedalaman, bukan hanya karena ia jagoan minum tuak, tetapi juga karena ia menjadi terbiasa kencing tidak di WC, tetapi di pelataran. Sebagian besar rumah di pedalaman tak punya WC. Orang kencing di pelataran, di kebun, atau di hutan dekat rumah. Karena bertugas di pedalaman, kami lalu terbiasa kencing di pelataran. Nah, kebiasaan itu kami lakukan juga ketika kami berada di kota. Pernah saya mengantar Romo Tana ke bandara. Karena ia lapar, kami makan bakso dulu di warung pinggir jalan. Dan ia merasa ingin kencing. Ia kencing saja di rerumputan pinggir jalan. Padahal banyak kendaraan lewat. Romo Tana sungguh-sungguh menjadi imam pedalaman, terlebih karena ia hidup sesuai dengan kemampuan paroki menghidupi romo parokinya. Semua kolekte diserahkan kepada bendahara paroki. Romo Tana sebagai romo paroki menyusun proposal anggaran pastoran dan mengajukannya kepada bendahara paroki. Uang diambil sesuai kebutuhan. Kalau ia butuh sabun, misalnya, ia pergi kepada bendahara paroki meminta uang. Lalu ia akan beli sendiri sabun itu, seperti biasa dilakukan romoromo pedalaman yang lain. — LAURENSIUS SUTADI, PR., imam, seminaris Mertoyudan 1981–1985

:: 27 ::

Romo Martana dan Bapa Suci Yohanes Paulus II

JUDUL DI ATAS SEPERTINYA HANYA SENSASIONAL , tanpa dasar yang jelas berani menggunakan kata sambung “dan” di antara dua pribadi yang tidak saling mengenal. Kata sambung yang dipilih sepertinya mau menyejajarkan seorang Romo dengan seorang pemimpin tertinggi umat katolik. Yang tidak “mengenal” Romo Martana mungkin juga akan cukup mudah mempertanyakan kesejajaran tersebut. Bagaimana mungkin seorang romo yang sudah almarhum, yang dikenal hanya dalam kalangan terbatas dan mungkin juga cuma dikenal dengan baik dan dikenang oleh murid-muridnya, disejajarkan dengan almarhum Bapa Suci Yohanes Paulus II, seorang pemimpin tertinggi agama katolik yang “dikenal” dan dikenang oleh banyak orang, melampaui batas agama dan negara, yang sudah menuntun bukan hanya umat Katolik yang sudah dipercayakan Allah secara khusus kepada beliau tetapi juga dengan berani “menuntun” seluruh manusia di dunia untuk hidup yang semakin baik, penuh damai dan cinta? Murid-murid Romo Martana sangat mengagumi dan berusaha meniru atau melaksanakan yang diajarkan dan terutama :: 28 ::

yang dihidupinya dan yang dilihat para murid sebagai pendidik ulung—bukan hanya sekadar informator dan inspirator, tapi terutama sebagai transformator. Banyak murid meniru apa pun yang dilakukan Romo Martana. Ketika beliau memakai sandal ban, para murid pun ramai-ramai beli sandal ban. Beliau nyèkèr, para murid pun menanggalkan alas kaki yang “dicintai melebihi segala sesuatu”. Apa pun yang tadinya tidak mungkin dilakukan bisa terjadi hanya karena Romo Martana sudah melakukan lebih dulu. Model pendidikan yang ideal! Walau tetap harus diakui bahwa pencontohan itu masih sering terjadi dalam hal-hal yang fisik dan belum banyak dalam hal-hal batin. Bahkan seorang teman dengan berani mengatakan bahwa banyak murid yang mengkhianati Romo Martana karena tidak bisa tahan bertekun melakukan apa yang sudah diajarkan dan diteladankannya! Secara pribadi saya melihat dan menemukan kemiripan hidup dua pribadi yang sudah kembali kepada Allah Bapa, Romo Martana dengan Sri Paus Yohanes Paulus II, dan saya mau membagikannya lebih sebagai buah permenungan yang syukur kalau bisa memberi inspirasi untuk hidup yang semakin indah, penuh damai dan cinta. Kalaupun tidak memberikan inspirasi, paling tidak bisa menjadi bahan melihat kemungkinan pengecapan yang bisa muncul lewat menyaksikan, mendengarkan, dan juga mengalami. Saya hanya mau mengupas beberapa bagian yang menarik dan memberikan kesan yang mendalam, kesan yang tidak mungkin terhapus dalam memori betapa pun terbatasnya kemampuan memori yang diterima dari Yang Maha Kuasa. :: 29 ::

Sri Paus Yohanes Paulus II mencium kaki kedua belas rasul dalam upacara Kamis Putih dan Romo Martana selalu memilih membersihkan WC sebagai opera rutin bersama murid-muridnya. Dua sikap yang menampakkan kerendahan hati yang mendalam dan tidak dibuat-buat. Sri Paus Yohanes Paulus II, setelah membasuh kaki setiap rasul, membungkuk dan mencium kaki yang baru saja dibasuhnya dengan menggunakan bibirnya yang bersih, bukan hanya sekadar membungkuk dan berpura-pura mencium. Dalam hal ini, ada yang mau menirukannya tetapi ternyata hal itu diakui tidak mudah dilakukan, yang berani dilakukan baru sampai membungkuk dan mendekatkan muka ke kaki para rasul tetapi

Inilah tubuhku yang dikurbankan bagimu.

:: 30 ::

tidak berani menempelkan bibirnya ke kaki yang sudah bersih itu walau sebenarnya sudah selesai dibasuh dan dilap. Bibir yang sebelumnya digunakan untuk memuji Allah, mengeluarkan katakata yang indah, penuh kasih dan damai, digunakan untuk mencium bagian terendah secara anatomis dari tubuh manusia. Bukan cium pengkhianatan Yudas yang mencari bagian tertinggi dari anatomis tubuh Yesus, tetapi ciuman penuh kasih dan damai yang sengaja mencari bagian terrendah. Simbol yang indah: kasih selalu rela menerima bagian yang terkotor dari yang dikasihinya. Romo Martana membersihkan WC bukan hanya sekadar basa-basi. Ia berani menggunakan alat paling “mutakhir” untuk dapat menyentuh lubuk terdalam lubang WC. Alat itu berupa sikat tanpa pegangan sehingga, pada waktu digunakan untuk mengosèk, tangannya bisa bersentuhan dengan bekas kotoran murid-muridnya yang sudah dengan “sengaja” tidak langsung mau dibersihkan. Tangan yang digunakannya untuk memetik gitar, memainkan piano, melatih koor, mengajar, mempersembahkan misa, dan seterusnya itu jelas menjadi semakin kudus karena tidak meninggalkan untuk menjamah yang paling kotor dari diri sendiri, ibarat memperlakukan saudara-saudara Yesus yang paling hina. Ya, yang paling mutakhir dalam proses membersihkan itu adalah dirinya sendiri. Romo Martana sendirilah alat Allah yang mutakhir untuk menyentuh hati murid-muridnya. Pada saat murid-muridnya hanya setengah-setengah dalam melaksanakan kerja tangan seperti itu dan bahkan ada juga yang menghindari tugas opera tersebut (mungkin karena rasa jijik terlalu mendomi:: 31 ::

nasi atau mungkin juga karena sadar bahwa kotorannya sendiri merupakan barang terkotor di dunia ini yang tidak layak untuk disentuhnya kembali—padahal dosa yang tidak kalah kotornya berulang-ulang disentuh kembali tanpa sedikit pun rasa jijik, atau mungkin malah mencari peluang untuk bisa mendapat “giliran” menyentuh dosa itu lagi), Romo Martana tanpa sedikit pun rasa jijik membersihkannya dengan senang karena sadar bahwa pembersihan bagian yang terkotor itu akan menjadi sarana pembersihan jiwa. Sri Paus Yohanes Paulus II menghadapi rasa sakit tanpa mengeluh, bahkan tetap berusaha membahagiakan umat-Nya dan tetap menunjukkan semangat pelayanan yang dahsyat. Ketidakmampuan berjalan tidak menghalangi kegiatan harian yang superpadat. Ketidakmampuan mengeluarkan suara tidak menghalangi keinginan untuk menyapa bukan hanya umat yang setia menanti dan mendoakannya tetapi juga menyapa seluruh orang di dunia. Semua yang hadir di halaman Basilika Santo Petrus berusaha memberi semangat karena mereka mengasihi Sri Paus Yohanes Paulus II dengan sungguh-sungguh, bertepuk tangan sambil bernyanyi: “Yohanes Paulus, Yohanes Paulus.” Romo Martana menghadapi rasa sakit yang mahadahsyat tanpa mengeluh, bahkan masih tetap berusaha melayani. Selangselang yang menempel di badannya seolah-olah hanya menjadi ranting yang menempel pada dahan tanpa menimbulkan gangguan. Seperti ranting-ranting yang menjadi “penghidupan” pohon, selang-selang tersebut juga diterima Romo Martana bukan sebagai :: 32 ::

pengganggu, tetapi sebagai sarana pembantu menyambung hidup beberapa “detik” lagi—detik-detik kehidupan yang dengan penuh kesadaran dijalaninya. Betapa dahsyatnya, bahkan pada waktuwaktu tersebut kalau memang bisa melayani Tuhan dan sesama, mengapa tidak? Yang muncul dalam dirinya hanya bagaimana bisa tetap memuji Tuhan. Tidak sedikit pun ia memikirkan keadaan dirinya. Tanpa menghiraukan rasa sakit yang menyerang dan tanpa menghiraukan pertanyaan orang-orang yang melihatnya, dia berjalan dengan penuh semangat, langkah tegap seperti biasa, menuju kapel untuk mengiringi perayaan ekaristi, yakin bahwa pelayanannya akan semakin memeriahkan perayaan ekaristi dan semakin membesarkan kemuliaan Tuhan. Semangat yang dahsyat luar biasa tersebut membuat saya tersenyum malu. Saya tersenyum karena mengagumi semangat pelayanan sampai akhir hidup yang luar biasa dari Sri Paus Yohanes Paulus II dan Romo Martana. Saya malu karena saya yang masih muda dan segar bugar ini kadang loyo di tengah gelombang yang sebenarnya belum sebanding dengan “tsunami” yang harus dihadapi Sri Paus Yohanes Paulus II dan Romo Martana. Menyaksikan dari dekat kedua pribadi ini ternyata bisa menyalurkan beberapa persen semangat hidup pengabdian mereka, dengan tetap berharap dan berusaha bahwa persennya akan meningkat dari waktu ke waktu. — PAULUS WIRASMOHADI SOERJO, PR., imam, seminaris Mertoyudan 1981–1985 :: 33 ::

Fransiskus + Gandhi + Teresa

DUA ORANG “BAPAK” DI DUNIA INI meninggal dengan cara yang mengagumkan. Paus yang “Bapak” bagi semua orang meninggal dunia di penghujung Oktaf Paskah, menjelang Hari Raya Kerahiman Ilahi yang notabene ia tetapkan beberapa tahun sebelumnya sebagai penghormatan akan Sr. Faustina yang kudus. Sepertinya ia sudah “merencanakan” penetapan itu sehingga dapat meninggalkan dunia ini pada hari tersebut. Dengan demikian bahkan di saat kematiannya pun beliau masih dapat memberi kesaksian akan betapa rahim,ya Allah Bapa yang mahabaik, yang lewat Putra-Nya selalu rela merentangkan tangan-Nya untuk menyambut anak-anak-Nya. Seorang Bapak lain yang juga sahabat kita, Romo F.A. Martana, Pr., sepertinya tidak mau mendahului Bapaknya untuk menghadap Bapak Besar. Ia tidak mau ngendhas-endhasi Bapak Suci. Maka ia memilih meninggalkan dunia beberapa hari sesudah Bapak Suci meninggal. “Hebat, beliau disiapkan jalan oleh Bapak Suci Yohanes Paulus II,” kata rekan Mijo Suhendra. Sebuah ungkapan kerendahan hati dari orang yang tahu di mana harus menempatkan dirinya. :: 34 ::

Romo Martana bagi saya memang seorang yang inspirasional dalam hal kerendahan hati dan kebersahajaan. Ia menggabungkan tiga (sekurang-kurangnya yang terlihat di mata saya) semangat orang suci. Kebersahajaan seorang Fransiskus Assisi yang dipadukan dengan semangat kebersajaan Mahatma Gandhi dan Mother Teresa. Ketiga-tiganya menampakkan ciri yang sama: kesederhanaan–kebersahajaan yang memudahkan mereka untuk menempatkan diri bersama orang-orang yang sederhana. Mengesan bagi saya, sejak beliau ditempatkan sebagai pamong di Seminari Mertoyudan, bagaimana semangat ketiga orang itu tertampakkan dengan jelas dalam kesetiaan (harfiah) Romo Martana untuk mengosek WC, tugas yang kurang favorit untuk seminaris. Jarang sekali, atau malahan belum pernah, tampak beliau mengenakan pakaian yang bagus-bagus. Yang terbagus adalah jubah yang juga sering kali ia gunakan. Caranya mendidik seminaris juga menjadi inspirasi bagi saya ketika saya diminta untuk membantu mengajar di Seminari Stella Maris dan novisiat. Ia menempatkan diri sejajar, menjadi temanbapak-ibu bagi anak didiknya sehingga, seperti dikatakan oleh Kang Darisman, yang dididik tidak merasa takut dan lebih mudah menerima nasihat-nasihat beliau sebagai nasihat-nasihat yang berguna yang berasal dari seorang sahabat (meskipun posisi sebenarnya adalah seorang pamong). Semangat yang sama itulah yang saya timba dan terapkan ketika harus terlibat dengan anakanak remaja di Legio Maria di salah satu paroki.

:: 35 ::

Romo Martana, bapak rohani yang lebih Fransiskan dari saya yang mengaku diri Fransiskan ini, sugeng kondur lan pinanggih Romo ing Swargo lan Bopo Fransiskus, Muder Teresa, Gandhi. Salam. —SUKARTANTO, O.F.M., bruder, seminaris Mertoyudan 1982-1986, framinor@cbn.net.id

:: 36 ::

Jiwa yang Bersahaja

SORE DI MEDAN MADYA. Suasana cerah. Terdengar suara burung bernyanyi di rimbunnya Seminari Mertoyudan. Aku dan kawankawan telah selesai mandi dan siap dengan acara bacaan rohani. Entah ada dorongan apa, aku beranjak ke kamar Romo Martana, pamong dan pembimbingku. Beliau tampak sedang membaca, selepas berbenah diri. Sandal jepit eks ban yang menjadi trademark-nya tampak bangga bertengger di sudut ruangan, menyapa kehadiranku. Kali ini wajah Romo tampak serius, namun terbersit keceriaan hatinya. “Romo, saya mau konsultasi pribadi,” kataku. Sekitar satu jam lamanya kami mengobrol, tidak saja tentang diriku sendiri, tetapi juga tentang dirinya. Antara lain, ia memberi saran, bagaimana aku harus banyak-banyak refleksi. “Hidup yang tampak ramai terus menjadi kurang berisi. Sebaiknya setiap hari kamu mengadakan refleksi pribadi,” sarannya. Approchable, mudah didekati, itulah Romo Martana. Rasanya, selama di seminari dialah pamong yang paling mudah didekati. Tanpa beban kita bisa berbicara dengannya, bahkan minta per:: 37 ::

tolongan pribadi. Tidak ada perasaan takut dan ngeri mendekatinya. Beberapa kali dengan santai ia tampak mengundang beberapa seminaris ke kamarnya, lalu mengajak nyanyi, diiringi organ Yamaha. Di kesempatan lain, ia mengajarkan lagu baru di antara kerumunan anak bimbingannya. Seminaris seangkatan saya tak ayal akan kenal sekali dengan lagu Bridge over Troubled Water, First of May, dan lagu The Boxer yang legendaris itu. Saya ingat, diriku dan Sigit yang kemampuan gitarnya pas-pasan saja dengan penuh semangat berusaha mempelajari petikan lagu The Boxer tersebut. Sementara itu, Rusdin, yang kemampuan vokalnya tidak bisa dibilang hebat, menyanyikan lagu-lagu itu dengan penuh gembira. Romo Martana mudah didekati karena kesederhanannya. Orang tahu, ia orang jenius, mumpuni di segala bidang: saat belajar nilai akademisnya menonjol, sementara kemampuan musiknya luar biasa. Tapi itu sangat kontras dengan pembawaannya yang supersederhana. Dia tidur di papan kayu. Ia juga tidak pernah necis, menyisir rambut sekenanya, memakai pakaian sedapatnya (kaos atau baju lengan pendek), dan ujung kemejanya tidak pernah dimasukkan, dibiarkan tergerai. Suatu ketika, ia berbicara soal kesucian di depan para seminaris. Menurutnya, kesucian dekat dengan kesederhanaan. Ia lalu menyebut sejumlah santo-santa, termasuk Bunda Teresa yang dikaguminya. Kesederhanaan itulah yang membuatnya tidak pernah merasa berkuasa di depan anak didiknya. Saat-saat bimbingan medan dipakainya untuk menyampaikan pendapatnya soal :: 38 ::

ini dan itu. Kekecewaannya biasanya ia lontarkan dengan sindiransindiran halus sehingga tidak pernah menyakitkan hati. Pada saat kelas tiga dan diberi waktu untuk berefleksi guna memutuskan untuk memilih jurusan imamat, terbersit di benak saya sosok Romo Martana sebagai teladan romo projo yang ideal, bila kelak aku telah meraihnya. Saya tidak pernah menjadi romo, tapi nilai-nilai yang kudapat darinya bisa kuterapkan di bidang lainnya. Selepas seminari, saya tidak bisa sering bertemu Romo Martana, kecuali satu dua kali bertemu secara sekilas saja. Kalau tidak salah, pertemuan terakhir adalah saat adiknya, Benny, meninggal dunia. Setelah itu, saya mendengar Romo Martana berkarya dengan gigih di banyak tempat, termasuk di pedalaman Kalimantan Barat. Meski demikian, pribadinya melekat dihatiku. Dan ketika aku berbicara tentangnya, ada rasa bangga pernah mengenal dan dibimbingnya. Engkau sinar kesederhanaan yang menyinggahi setiap relung hati yang merindukan kesejatian hidup Kesucianmu memancar dari kebersahajaan dan jiwamu kokoh dalam penderitaan kepergianmu cermin bagi dunia untuk kuat dalam lara, berteguh dalam cinta Dalam keabadian :: 39 ::

berbahagialah kini kau bersama Bapa, yang kauabdi dan kaupuja dalam segala pengabdian — ANTON SUDARISMAN, seminaris Mertoyudan 1982–1986, hrec@telkom.net

:: 40 ::

Pembimbing Sekaligus Teman

S OSOK R OMO M ARTAN A TIDAK PERN AH TERLUPAKAN dalam ingatanku. Beliaulah yang turut meyakinkanku untuk terus pada pilihan sebagai Fransiskan. Dia berkata, “Sunar Suryo, kalau pilihanmu memang ke Fransiskan, jangan pernah ragu. Kalau Romo Rektor keberatan terhadap pilihanmu, kita bersama-sama menghadap.” Sebelumnya, sudah tiga kali aku menghadap rektor tapi rekomendasi tetap tidak diberikan. Waktu itu Rektor memang membujukku kepada pilihan lain. Maka aku berkeluh kesah kepada Romo Martana sebagai pembimbing rohaniku. Banyak hal tentang hidup aku pelajari darinya. Sekarang, sebagai Fransiskan, aku menemukan jawaban yang tersimpan dalam diri dan hidupnya. Rupanya dia sungguh pengagum dan penghayat Fransiskus Assisi. Mendengar berita beliau berpulang, di satu pihak aku merasa sedih, namun di pihak lain aku juga bersyukur karena Minggu, 3 April lalu, setelah mengikuti tahbisan diakon di Kentungan, aku sempat mengujungi beliau di Panti Rapih sebelum pulang ke Sindanglaya. Waktu masuk ruangannya, aku kaget, haru, dan :: 41 ::

Frater Martana pada masa tahun orientasi pastoral di Wonosari.

:: 42 ::

prihatin melihat kondisi beliau. “Aduh, Tuhan, kok begini kondisi Romo Martana. Namun aku yakin, Engkau punya kehendak yang terbaik baginya,” demikian kataku dalam hati. Aku tak mampu berkatakata. Bersama Romo Hari dan Romo Beny, yang sama-sama sedang besuk, kami berdoa dalam keheningan masing-masing. Romo Martana, selamat jalan bersama Bapa Suci kepada Bapa di surga. Terima kasih, Romo telah menyediakan diri sebagai teman dan pembimbingku. Ikut berduka untuk para romo dan umat Keuskupan Agung Semarang. — ROBERT S. SURYA PRANATA, O.F.M.,
imam, seminaris Mertoyudan 19821986, suryoofm@yahoo.com.au

Frater Martana mengucapkan ikrar pada upacara tahbisan diakon.

:: 43 ::

70 × 7

AKU SELALU INGAT HARI-HARI ketika kami mengorbankan beberapa siesta untuk berlatih folk song bersama Romo Martana, pamong kami. Tempatnya di lapangan sepak bola, dekat gawang utara. Itu saat-saat menjelang perlombaan folk song Malam Musik Seminari. Romo Martana begitu canggih meracik aransemen untuk lagu ... apa ya? Judulnya aku lupa, je! Romo juga memainkan gitar, memberi contoh pada Murtopo, Untoro, dan teman-teman. Aku yakin, pasti kelak menang. Dan betullah, kami yang masih kelas 1 itu ternyata mengalahkan kakak-kakak kelas dan tentu saja adik kelas MP. Lalu muncul kehebohan. Para kakak kelas merasa tidak puas, “Wo, lha diajari pamonge, pantas menang.” Aku sendiri mung klecam-klecem sambil dalam hati membenarkan keberatan mereka. Tapi, keputusan juri tidak bisa diganggu gugat. Syukur alhamdulillah. Aku juga masih hafal lagu Mas Tana yang nadanya diambil dari lagu Bimbo, Tante Sun. Aku lupa siapa yang mengarang syairnya. :: 44 ::

Mas Tana, o Mas Tana, Romo yang sregep tiap hari pergi mengosek WC, memakai kaos putih, celana putih juga O Mas Tana, Romo teladan. Itu lho, ketekunannya mengosek pispot berdiri sungguh luar biasa. Ada empat pispot di sana. Sementara kami, para seminaris, berganti tugas setiap harinya, Romo Martana setiap hari setia di tempat itu, mengosek WC. Padahal, kami sering buang hajat ringan seenaknya, pating klepret dan gak kami guyur bersih. Yang dilakukan Romo Martana betul-betul teladan kerendahan hati yang sejati. Hampir setiap makan siang, Romo Martana memilih ikut makan bersama para seminaris di Refter Besar. Menunya ya menu seminaris. Padahal, kami tahu, menu makanan di refter Domus patrum (tempat tinggal para romo) lebih enak dan menarik. Dalam sebuah pertemuan medan dia mengatakan, “Saya adalah bapakmu dan ibumu.” Itu kutangkap sebagai usahanya yang sungguh-sungguh mau mengundang semua seminaris untuk dekat padanya, tanpa perlu takut-takut. Anggap saja seperti bapak, bahkan ibu sendiri sekaligus. Lalu, pada akhir pertemuan, dia pun meninabobokan kami, seperti seorang ibu yang meninabobokan anaknya. Diambilnya gitar, lalu ia pun menyanyi: “Tidurlah intan, tidurlah permata hatiku. Hari telah malam ....” Aku melangkah ke dormit (ruang tidur) dengan penuh kelegaan, meresapkan katakata lembut, manis, nan mengharukan. Tak seorang pun pernah meninabobokan aku seperti itu. :: 45 ::

Suatu kali ia pernah menjelaskan makna sabda Yesus, “mengampuni tujuh puluh kali tujuh kali”. Dia mengatakan bahwa itu artinya kalau kamu berbuat salah, kamu boleh datang padaku untuk minta maaf, dan aku akan memaafkan. Setelah itu, kalau kamu berbuat salah, kamu boleh datang lagi minta maaf dan aku akan memaafkan, begitu seterusnya. Kata-katanya itu persis ditepatinya dalam hidup sehari-hari. Kami, para seminaris yang sering mencuri-curi nakal, selalu dimaafkan. Ia tidak pernah marah. Ia selalu mencoba pertama-tama mengerti, memaklumi, memaafkan. Apa yang diajarkannya, itu yang dilakukannya. Tidak ada tafsir Kitab Suci yang lebih jelas daripada itu. — Y.E. HERU MURCAHYANA, S.J., imam, seminaris Mertoyudan 1982-1986, spmratu2@indo.net.id

:: 46 ::

Menghafal Nama Tiap Orang

S EBAGAI IMAM MUDA ketika ditugaskan di Mertoyudan, Romo Martana mencoba mengerti jiwa para seminaris yang “nakal”. Dengan kelembutan, kesabaran, keramahan, dia mendampingi kita. Rasanya jarang, bahkan tidak pernah, dia marah. Dia menegur, tetapi dengan gayanya yang khas, lembut. Dia berusaha secepat mungkin mengenali kita dengan menghafal nama dan disebutnya nama kita masing-masing ketika membagi komuni. Tetapi kadang kita menyalahgunakan kebaikannya, berbondong-bondong “minta ijin” untuk istirahat di dormit (padahal sebenarnya bukan minta ijin tapi memberi tahu, lha cuman nulis di papan bahwa kita pura-pura pusing). Dan hasilnya, beliau ditegur Romo Rektor. Dengan kesederhanaan (selalu pake kaos putih dengan gambar tikus yang nyaris keinjek) dia membantu kita opera di WC. Secara tidak langsung itu memaksa kita untuk bekerja dengan sungguh padahal bau, to. Banyak kesan positif tentang dia, belum lagi bagaimana dia membenahi permusikan di seminari. Terima kasih, Romoku yang tercinta. Selamat jalan. — EDY PRASETYA, PR., imam, seminaris Mertoyudan 19811986, smashforacause@yahoo.com :: 47 ::

Peristiwa di Depan Kapel Besar

ROMO MARTANA ORANG YANG HEBAT: hebat dalam membina kita semua, hebat dalam kesederhanaannya, hebat dalam kemiskinannya. Bagiku Romo Martana adalah sosok pribadi yang bisa masuk, membaur, menyelami, memahami setiap orang yang dihadapinya. Ada satu peristiwa yang tak pernah kulupa. Mungkin karena fisiknya yang kecil, tidak meyakinkan bahwa dia seorang pamong, Romo Martana pernah disuruh oleh seorang anak KPA supaya masuk ke Kapel Besar untuk berdoa malam. Nada bicara anak itu—kalau nggak salah Jumari namanya—tentu saja yakin dan penuh wibawa, sebagaimana layaknya suara seorang “kakak kelas”. Romo Martana, dengan sabar dan senyumnya yang khas, masuk ke dalam kapel, mengikuti perintah sang “kakak kelas”. Hari ini aku memimpin koor di gereja. Salah satu lagunya berjudul Kristus Tlah Menang, karya Romo Martana. Aku berdoa agar beliau juga menang bersama Kristus, Alleluya. Selamat jalan, Romo Martana. Selamat jalan, Bapak dan Ibuku. — IGN. UNTORO, seminaris Mertoyudan 1982-1986, untheny@telkom.net

:: 48 ::

Nilai Sebutir Nasi

SEJUJURNYA SELAMA INI SAYA SANGAT TERSENTUH oleh kepribadian dan kehidupan Romo Martana, terutama contoh di meja makan untuk menghabiskan isi piring. Setiap kali saya melihat para seminaris atau orang lain yang tidak menghabiskan semua butir nasi yang ada di piringnya, saya akan selalu mengingatkan mereka. Romo Martana bilang, “Sebutir nasi ini pun hasil jerih payah petani. Kita harus menghargai jerih payah mereka.” Kalimat itu saya ingat betul karena diucapkan ketika saya semeja makan dengan beliau. Sepotong cerita itu baru sebagian kecil. Masih banyak lagi tindakan dan perkataannya yang menyentuh hati. Kehidupannya menjadi inspirasi besar bagiku untuk menjalani kehidupan sebagai imam diosesan Bogor. Ikut berduka cita untuk para romo dan umat Keuskupan Agung Semarang. Selamat jalan dan selamat berbahagia buat Romo Martana yang sedang menikmati pesta surgawi bersama Bapa Suci Yohanes Paulus II. Selamat Paskah buat rekan-rekan semua. — RD. F.X. SUYANA, PR., imam, seminaris Mertoyudan 1986, fxsuyana@keuskupanbogor.org :: 49 ::

Konser Maestroyudan

HARI SABTU PETANG, 21 FEBRUARI, aku, Jager, Kukul, Didiek, dan Dwiko bezoek Romo Tana di Panti Rapih. Waktu datang, beliau lagi tiduran njingkrung, menahan sakit, sehingga salaman saja cuman ngangkat tangannya. Untuk aku dan Dwiko ini sudah bezoek-an ketiga selama hampir tiga bulan Romo Tana di rumah sakit. Yang pertama Desember, meskipun waktu itu HB lagi tur un (langsung disedotkan darahnya Kris yang kebetulan cocok) Romo Tana masih bisa hahahihi. Yang kedua sehabis kemoterapi awal. Meskipun rambut mulai rontok, Romo Tana masih bisa ketawa mengepalkan tinju waktu aku bilangin rambut rontok gitu malah ngirit shampoo. Jadi, agak kaget juga menyaksikan kondisinya yang seperti itu. Jager mencoba menghangatkan suasana dengan cerita lucu yang dengan lanyah lunyu keluar dari lambe ndower-nya. Meskipun tampak kesakitan, Romo Tana mulai ketawa. Waktu aku bilangin kalau kita datang spesial membawa Jager untuk nyanyi (karena denger-denger Romo Tana kalau pagi suka main organ di kapel sambil bawa-bawa selang infus), Romo Tana langsung bangkit, mengambil keyboard di atas almari pakaian. :: 50 ::

Romo Tana duduk bersila di atas tempat tidur dan mulai main. Jager minta iringan Ave Maria Schubert dan mulailah dua maestro musik dan nyanyi ini memadukan jurus seni mereka yang indah. Selesai lagu pertama, Romo Tana langsung ngabani Jager untuk Ave Maria Bach yang juga dimainkan dengan sempurna. Di lagu kedua ini Romo Tana mulai “hidup” lagi, kepalanya goyang kiri kanan seperti Stevie Wonder. Lagu berikutnya Love of My Life-nya Queen, favorit kita waktu di Mertoyudan. Kita yang nggak nyanyi mulai mencet HP untuk broadcast pentas musik ini ke teman-teman lain. Lagu berikutnya Ich Bete an Die dan beberapa lagu lagi mengalir dengan lancar. Waktu berhenti sejenak, telepon kamar berdering, diangkat oleh Didiek. Ternyata dari ruang perawat. Wah, kita sudah nggak enak, jangan-jangan kena tegur karena malem-malem bikin kegaduhan. “Diek, bilang aja kita lagi ibadat, dipimpin dua pastor dari Roma” Ternyata kebalikannya. Suster bilang, ada pasien dari kamar sebelah minta lagu Ave Maria-nya Schubert diulang lagi. Ternyata selama kita nyanyi-nyanyi, pasien-pasien dan suster perawat pada ngumpul di depan kamar Romo Tana untuk mendengarkan konser “Maestroyudan” ini. Jadi, waktu kita berhenti, mereka pengin lagi. Konser pun diteruskan sampai jam 10 malam. Beberapa kali timbul “keributan” kecil karena Romo Tana menunjuk lagu di buku Puji Syukur (wong nggak bisa ngomong jelas, jadi ya mung tudang-tuding), sementara Jager bilang nggak tau, bisanya yang versi Madah Bakti. Akhirnya, Romo Tana ngalah mengiringi Jager :: 51 ::

nyanyi lagu dari Madah Bakti. Lagunya selang-seling pop, liturgi, klasik, dan lain-lain. Pokoke sak kecekele, sak senenge sing nyanyi lan sing ngiringi. Tampak sekali betapa Romo Tana menemukan kembali hidupnya dan melupakan segala rasa sakitnya ketika main musik. Jager lalu bilang, “Mo, nanti kalau sudah dhangan (sembuh), kita akan kumpulkan semua teman-teman, lalu misa bareng dengan anak istri.” Didiek langsung nyeletuk, “Wis, sesuk esuk kita misa aja, di kamar ini aja.” “Kalau bisa, di kapel aja. Ada organ gede.” “Oke. Besok kita shooting sekalian.” Romo Tana setuju misa di kapel, dia yang akan pinjam tempat pada suster. Akhirnya, disepakati misa hari Minggu jam delapan pagi di kapel Panti Rapih. “Lagunya saka Madah Bakti, wis,” begitu kata beliau. Ini sekali lagi menunjukkan kerendahan dan kebesaran hati seorang F.A. Martana, yang notabene adalah anggota tim penyusun lagu-lagu di Puji Syukur. Dia tahu bahwa kita muridmuridnya pengikut setia aliran Madah Bakti. Paginya aku ngaturi bapak dan ibu mertua ikutan misa di kapel Panti Rapih (kalau di Yogya tiap hari minggu tugasku memang antar jemput beliau-beliau ke gereja). Mampir gereja Mlati sebentar ambil peralatan misa in case yang di kapel kurang atau apa. Sampai di Panti Rapih, Didiek dan keluarga besarnya sudah rapi duduk berdoa pagi. Romo Tana, meskipun dengan selang sonde keluar dari hidungnya, tampak sehat. Dengan a-ak u-uk plus bahasa isyarat, dia bilang kalau sudah pesan tempat di dekat refter susteran (samping kapel) untuk acara nanti sehabis misa. :: 52 ::

Sebentar kemudian, Jager datang bersama Putu, wanita paling mulia di dunia (soale gelem dadi bojone Jager). Pagi itu Jager tampil istimewa. Carane pitik jago wis dibanyu kempling, nganggo klambi batik, sepatu cethok, ambune wangi. (Jarene Dwiko: mungkin merga arep di-shooting.) Sebentar kemudian Sutadi “Kukul” kelihatan batang kukulnya. Sementara Kukul dan Didiek ganti jubah di sakristi, Romo Tana dan Jager berdiskusi di dekat organ, merundingkan lagu dan musik yang akan dimainkan. Aku dadi kostere Romo Tana nyepak-nyepake tempat ludah, tisu, dan ubarampe P3K. Aku njur kelingan melakukan hal yang sama untuk almarhum bapakku yang juga kena kanker tahun lalu. Beberapa menit sebelum misa, Romo Tana naik ke kamar untuk disonde (dimasuki makanan cair melalui selang yang dimasukkan dari hidung sampai perutnya). Akhirnya, semua siap. Tukang jepret dan tukang sorot yang dibawa Didiek juga on position. Romo Tana sudah siap dengan organ dan Jager sudah berdiri khidmat di mimbar, siap mengamalkan mantra Bene Cantat Bis Orat. Bernyanyi dengan baik sama dengan berdoa dua kali. Misa dipimpin oleh “Don Kukul Lorenzo” [Sutadi, Pr.], calon kardinal pengganti Ratzinger bersama “Don Didiek Wirasmo” [Wirasmohadi Soeryo, Pr.], calon uskup Bandung yang pagi itu tampak gagah mengenakan stola batik Nataraja bikinan Jager. Aku lali misa hari itu diawali dengan lagu apa. Yang jelas, lagu dari Madah Bakti. Yang aku ingat adalah cerita Kukul di pembukaan tentang seorang guru yang duduk dikelilingi murid:: 53 ::

muridnya. Guru itu bertanya, “Siapa di antara kalian yang mengkhianati aku?” Satu orang muridnya mengangkat tangan, “Aku, ya Guru.” Lalu mereka makan-makan dan minum anggur sampai puas. Kali lain guru itu berkumpul lagi bersama murid-muridnya dan menanyakan pertanyaan yang sama. Kali itu ada beberapa muridnya yang mengangkat tangan. Guru itu tidak marah dan mempersilakan murid-muridnya makan-makan dan minum anggur sampai puas. Sampai pada suatu malam, guru dan muridmuridnya kembali berkumpul. Sebelum makan, dia bertanya lagi, “Siapa di antara kalian yang telah mengkhianati aku?” Kali ini semua muridnya mengangkat tangan, “Kami semua telah mengkhianatimu, ya Guru.” Tetapi guru itu tidak menunjukkan kemarahan sama sekali, bahkan semakin ramah mempersilakan murid- muridnya untuk menyantap hidangan makan malam dan minum-minum anggur sampai puas. Kukul menguraikan, situasi itulah yang mungkin terjadi sekarang ini pada Romo Tana dan murid-muridnya. Yang jelas, Romo Tana sebagai salah satu penyusun Puji Syukur telah “dikhianati” murid-muridnya yang tetep pathok bangkrong pakai Madah Bakti. Tetapi dia tidak marah sama sekali, bahkan dengan senang hati mengiringi murid-muridnya menyanyikan lagu-lagu dari Madah Bakti. Daftar pengkhianatan ini akan bertambah panjang tak berujung kalau kita mau mendaftar kelakuan kita yang tidak sejalan dengan apa yang telah diajarkan oleh Romo Tana. Seperti guru agung di cerita itu, Romo Tana sama sekali tidak marah atas “pengkhianatan” itu. Dia tetap menerima murid:: 54 ::

muridnya dengan kebesaran dan kegembiraan hati. Menurut Kukul, itu bisa terjadi karena memang tidak ada kosa kata lain di hati Romo Tana selain ketulusan dan kebaikan. Sama seperti Tuhan menciptakan dunia, di hati Romo Tana semuanya itu hanya baik adanya. Pembukaan ini membawaku menerawang jauh ke masa-masa hampir 20 tahun yang lalu ketika Romo Tana yang fresh from tahbisan dibenum jadi pamong kita, angkatan yang paling fenomenal, baik dari jumlah murid maupun kebengalannya. Tetapi kalau diingat-ingat, justru berkat kebaikan dan ketulusan Romo Tana anak yang superbengal pun jadi kuthuk nurut, jadi anak manis. Paling tidak, kalau mau ndhugal, anak-anak ini akan melakukannya sedemikian rupa sehingga di luar jangkauan Romo Tana. Rasanya nggak enak aja kalau sampai Romo Tana tahu. Selesai renungan pembukaan oleh Kukul, Jager rada clingakclinguk, nyedhaki aku. “Bar iki apa, to?” Wah, cilaka, lha urutan misa lali kok malah takon aku. Itu ibarat bertanya arah kepada orang buta. Romo Tana mung mesam-mesem nonton kelakuane murid-muride. Beliau langsung mencet organ. Jrenggg. Nah, kelingan: Tuhan, kasihanilah kami. Bagaimanapun juga, Jager memang punya kelas, langsung in dengan suara bening keluar kuat dari lambe ndower-nya. Selesai itu, Didiek langsung menyambung dengan Kemuliaan kepada Allah di Surga, yang kemudian diteruskan Jager dan umat. Ya, misa hari itu memang disetel penuh lagu dan musik. Doa pun kalau bisa dinyanyikan, paling tidak diiringi musik dan lagu. :: 55 ::

Susah bagiku untuk menggambarkan suasana musik dan lagu dalam misa itu. Yang jelas, dua maestro Romo Tana dan Jager pagi itu tampil prima. Seperti malam sebelumnya, begitu main organ, Romo Tana seakan lupa dengan penyakitnya. Kepalanya bergoyang ke kiri ke kanan mengikuti tarian jari-jarinya yang mengalirkan suara agung indah. Demikian juga Jager sama sekali tidak tampak tanda-tanda kelelahan meskipun malam sebelumnya aku drop di depan pintu rumahnya jam dua pagi. Setelah bacaan Injil oleh Didiek dengan suaranya yang adhem antep itu (liya dina, Romo Tana ngrasani suarane Didiek “cen gandem, cen cocok dadi calon uskup”), Kukul kembali lagi mengguncang sanubari dengan cerita khotbahnya. Kali ini diceritakan seorang uskup yang sangat disegani karena tulisan-tulisannya mengenai teologi penderitaan. Kemudian uskup itu sakit dan cuma bisa tergolek di ranjang atau duduk di kursi roda. Perangainya langsung berubah, jadi murung, mudah marah, dan sebagainya. Suatu hari para pastornya berkumpul dan mengatakan, “Monseigneur, kami telah membaca buku-buku Monseigneur dan menjadikannya pegangan hidup kami. Tetapi kami menjadi heran. Mengapa ketika sakit sikap Monseigneur sangat berbeda dengan yang Anda tulis di buku?” Uskup tersebut dengan marah menjawab, “Yang aku tulis itu ternyata omong kosong semua. Buku itu aku tulis ketika aku masih sehat, kuat, dan tidak menderita seperti ini.” Cerita mengenai uskup tadi sangat bertolak belakang dengan keadaan Romo Martana. Romo kita ini tidak menulis buku atau berkhotbah tentang teologi penderitaan. Tetapi dalam penderita:: 56 ::

annya dia menunjukkan contoh nyata bisa menghibur orang lain dengan musiknya. Pengalaman konser musik kamar pada malam sebelumnya dan konser musik kapel pagi ini menunjukkan bahwa justru kita semua yang terhibur dan bersukacita, menikmati keindahan musik yang dimainkan Romo Tana. Sebuah pengalaman yang sungguh mencerahkan dan menyegarkan jiwa. Kemudian Kukul bercerita tentang pengalamannya bersama Romo Tana ketika jadi pamong kita di seminari. Berbeda dengan pamong yang lain, setiap kali opera sore dan malam, Romo Tana selalu ikut bekerja dengan kita. Dan pekerjaan yang dipilihnya adalah mengosek WC. Itu pun tidak dikerjakan dengan sikat WC yang bertangkai panjang, tetapi dengan sikat biasa di tangan kanan dan gayung air di tangan kiri. Bayangkan seorang guru mengosek WC, tempat paling kotor di dunia, bekas kencing dan tai muridmuridnya! Lebih dari sekadar membasuh kaki muridnya! Kukul tidak mampu melanjutkan khotbahnya. Beberapa orang mbrambangi. Suasana menjadi hening. Aku menyibukkan diri dengan mengurus “pasien” yang kerepotan membuang ludah dan ingus. Sebentar-sebentar Romo Tana memang harus membuang ludah karena sakitnya yang di pangkal lidah membuatnya makin sakit kalau harus menelan ludah. Untuk itu disediakan cangkir dari stainless steel dan tiap kali aku tinggal membuang dan mencucinya di wastafel yang ada di sakristi. Misa dilanjutkan dengan persembahan, diiringi lagu dan musik dari dua maestroyudan. Jager kembali mengalunkan lagu Ich Bete an Die dengan iringan musik yang prima dari Romo Tana. :: 57 ::

Panis Angelicus, lagu wajib waktu komuni, dinyanyikan dengan prima. Pada ulangan kedua, kita semua ikutan nyanyi. (Aku juga ikutan, lho, tapi cuman nggrameh aja, takut mengkontaminasi.) Selesai komuni, Jager memberi pengantar sebentar sebelum menyanyikan Ave Maria-nya Schubert. Bukan yang pakai bahasa Latin yang sudah familiar di telinga kita itu, tapi pakai bahasa Jerman. Ya wis, ben sakkarepe sing nduwe lambe, lah. Yang penting oke. Selesai misa, kita kumpul di hall kecil depan refter susteran Panti Rapih. Suster-suster sudah menyediakan teh dan kopi. Putu segera membuka donat yang dibeli buru-buru dari Mirota Kampus. Acaranya cangkruk santai sambil nyanyi-nyanyi seperti waktu kita di Mertoyudan dulu (cuman zaman dulu itu nggak ada donat dan jenis kelaminnya laki semua). Pagi itu terdengar juga suara sopran (baca: wanita) dari Putu. Jazzy banget! Kapan-kapan kita ambil spot di Jam Jazz, dah ... tanggung heboh. Atau nanti kita kumpul lagi di Yogya, Romo Tana kita culik aja dibawa ke lounge hotel mana gitu. Then we spend the whole night with songs and music. Demikian akhir laporan pandangan mata Konser Maestroyudan. Hari Minggu berikutnya, Didiek ke rumahku di BSD, membawa beberapa keping VCD hasil shooting-an selama konser. Langsung kita tonton rame-rame di kamarnya Kezia. Hasilnya bagus, gambar jernih, suara bersih. Cuman kita merasa ada beberapa editan yang kurang OK. Terutama pas lagu Panis angelicus, sempat terpotong di tengah. Padahal di lagu ini dua maestro kita tampil prima. Jager memang sempat goyang dikit terbawa emosi :: 58 ::

(dia bilang waktu itu membayangkan kesakitan yang dialami Romo Tana). — PRASETYO “SINGKONG” YUDHONO, seminaris Mertoyudan 1981–1985, bakulsengsu@yahoo.com

:: 59 ::

Jalan Menuju Kesucian

ADA MACAM-MACAM JALAN MENUJU KESUCIAN. Paling tidak, ada dua sebab. Pertama, manusia itu unik. Yang satu berbeda dengan yang lain. Manusia bukan cetakan pabrik dengan standardisasi rupa dan kualitas yang sama. Kedua, kesucian kristen punya titik tolak Yesus Kristus, yang adalah Allah. Allah adalah sempurna-mutlak. Kesucian manusiawi bukanlah kesucian Allah. Seribu satu dimensi kesucian yang ada pada Yesus Kristus tidak mungkin dimiliki hanya oleh satu manusia. Yang terjadi pada diri santo-santa adalah bahwa satu, dua, atau tiga keutamaan dari Yesus Kristus menonjol dan dimiliki secara nyata dan konsisten oleh santo A atau santa B. Menjadi santo bukan berarti tidak memiliki kelemahan. Justru sebaliknya, menjadi santo adalah proses seseorang menjadi suci secara terusmenerus melalui keutamaan-keutamaan tertentu di tengah-tengah perjuangannya melawan kelemahan-kelemahan dirinya. Sayang, gagasan dinamika meraih kesucian antara kelemahan dan keutamaan, antara dosa dan kesucian, kadang, bahkan sering, tidak ditampakkan oleh para penulis kisah santo-santa. Akibatnya, :: 60 ::

kisah santo-santa sering menjadi seperti mitos, dongeng sebelum tidur, atau cuci otak sebelum masuk kepada penggemblengan menjadi “pasukan-pasukan Gereja”. Di bawah ini adalah tulisan saya di milis IRRIKA pada tanggal 14 Maret, ketika Romo Martana masih sakit keras, sebagai ungkapan terima kasih saya atas kesaksian hidupnya yang menonjolkan beberapa keutamaan Kristen. Sebagai mantan murid saya sangat mengaguminya, meski juga pernah marah-marahan. *** Para eks-seminaris Mertoyudan tahun 80-an pasti mengenal sosok Romo Martana, Pr., dari KAS. Banyak sekali seminaris yang menjadikannya idola. Mengapa ia dijadikan idola? Kiranya beberapa ciri personal di bawah ini dapat dijadikan gambaran. 1. 2. 3. Orangnya supel, ramah, dan siap melayani kebutuhan seminaris. Ia berjiwa muda. Ia rendah hati. Sekalipun dari keluarga berada, terdidik, dan tinggal “di dalam benteng Kraton Yogya”, namun gaya dan tuturnya mencerminkan “Kristus yang mengosongkan dirinya”. Ia seniman, terutama dalam bidang musik. Ia jenius. Menurut kesaksian teman-teman seangkatannya, nilai-nilainya selalu optimum. Ia seorang pendoa dan sangat mengagumi renungan-renungan dari khazanah spiritualitas Timur, terutama Zen. :: 61 ::

4. 5. 6.

7.

Ia selalu memuji hal-hal positif para seminaris. Jarang ia mengkritik, apalagi marah.

Point-point positif sengaja dibuat 7 sebagai simbol kesempurnaan. Beliau terakhir bekerja sebagai misionaris sejati di Keuskupan Ketapang. Seperti Bapak Paus, orang sebaik dan sesuci beliau tidak luput dari duka derita. Sudah lama Romo Martana mengidap penyakit kanker dan sekarang dalam keadaan kritis, sudah diminyak suci. Penderitaan Romo Martana berpartisipasi dalam penderitaan Kristus yang sedang kita renungkan dalam masa (pra)Paskah ini. Dengannya penebusan atas dosa-dosa manusia, dosa-dosa para imam dan jemaat, dibersihkan. Marilah kita berdoa untuk beliau. Dan semoga para mantan muridnya dapat menimba kesucian yang memancar dari imamat beliau. — YUSTINUS SULISTIADI, PR., imam, mantan seminaris Mertoyudan, wsangiran@yahoo.com

:: 62 ::

Cerita Para Mitra

:: 63 ::

Penderita yang Memeluk Deritanya

SEJAK 19 DESEMBER 2003 SAYA BERTUGAS merawat Romo Martana. Beliau adalah seorang pasien yang tidak pernah mengeluh akan deritanya, memiliki semangat hidup yang tinggi, disiplin, namun penuh pengertian, sumarah, dan penuh kasih. Saya bersyukur karena berkesempatan merawatnya. Beliau taat dan tekun menjalani perawatan dan tindakan medis meski semua itu amat tidak nyaman dan menyakitkan. Beliau menjalani semuanya dengan senang hati. Tindakan tersebut antara lain peng gantian selang sonde, kemoterapi, radioterapi, brakiterapi, trakeostomi, dan terakhir gastrostomi. Tindakan lain yang beliau jalani dalam sela waktu kemoterapi adalah operasi kaki ketika beliau mengalami kecelakaan lalu lintas. Beliau menjalani semua tindakan itu dengan hati gembira dan tanpa mengeluh. Seiring berjalannya penyakit dan saat rasa sakit menjadi bagian dari hidupnya, beliau mampu memeluk rasa itu tanpa mengeluh. Beliau hafal hari ulang tahun kami, para perawatnya, bahkan saat kondisi tubuhnya sudah lemah, tidak mampu lagi untuk :: 64 ::

berbicara, beliau masih menyempatkan diri menulis ucapan selamat untuk seorang perawat yang berulang tahun. Beliau selalu menyambut kami dengan sapa dan senyum serta sumedulur. Itulah sebagian kasihnya yang kami alami. Kami tahu, Romo Martana adalah seseorang yang mencintai musik dan hidup di dalamnya. Karena itulah beliau amat mendukung kami saat akan diadakan lomba koor dalam rangka memperingati ulang tahun RS Panti Rapih ke-74 pada bulan September 2004. Berkat ketekunan, usaha, dan semangat beliau sebagai pelatih, paduan suara kami yang bernama Paduan Suara Magnificat mendapat juara pertama. Romo Martana pernah mengatakan kepada saya bahwa saat beliau belum mulai dirawat di RSPR, beliau sudah merasa dalam suatu kondisi yang beliau rasakan “siap untuk berpulang”. Setelah menjalani serangkaian tindakan medis dan perawatan, beliau mulai merasakan suatu perbaikan kondisi. Itu memberinya semangat dan optimisme untuk sembuh. Kendati demikian, beliau tetap memasrahkan apa yang terjadi selanjutnya sepenuhnya pada kehendak dan kuasa-Nya. Beliau adalah seorang yang rendah hati. Beliau pernah mengatakan bahwa dengan mendoakan orang lain yang sedang menderita, beliau mendapatkan kekuatan dan beliau menyadari bahwa penderitaannya amat tidak sebanding dengan penderitaanNya di kayu salib. Meski sakit, beliau merasa bersyukur karena mendapatkan kasih dan perhatian, bisa mendengarkan dan menikmati musik, menonton TV saat acara sepak bola, dan mendapat :: 65 ::

Dalam sakitnya, ia tak pernah kehilangan kegembiraan dan penghiburan.

:: 66 ::

fasilitas yang nyaman, sementara Dia saat disalibkan hanya punya cawet yang menempel di tubuh dan dicemooh pula. Pada satu titik, kondisi Romo Martana yang sudah mulai membaik itu ternyata berubah. Sel-sel ganas di tubuhnya menjadi residif, progresif, dan resisten. Romo Martana terpaksa menggunakan trakeostomi untuk bernafas dan gastrostomi untuk memasukkan makanan. Untuk berkomunikasi secara verbal pun sudah kesulitan, dan kondisi umum semakin menurun. Meskipun segala upaya medis dan keperawatan yang memungkinkan sudah dilakukan, namun apalah daya, semua itu hanya upaya manusiawi, dan segala yang manusiawi itu tidak kuasa untuk menahan kehendak-Nya. Saya masih ingat pagi itu, saat Romo Martana akan berpulang ke rumah-Nya, beliau masih tersenyum, mengangguk, dan mengacungkan jempol saat menyambut kehadiran saya. Ketika saya bertanya, “Romo sudah berpasrah?” Beliau tersenyum dan menganggukkan kepala. Akhirnya, kondisi Romo Martana semakin menurun. Kami, tim medis, keluarga, dan beberapa teman beliau, mendampingi dan menuntunnya dalam doa hingga detik beliau berpulang dalam ketenangan. Di balik penderitaan ada kemuliaan. Tuhan memandang sudah cukup penderitaan yang telah lama Romo Martana peluk, dan akhirnya Tuhan memberikan kemuliaan, kedamaian, kebahagiaan abadi dalam rumah-Nya, pada tanggal 5 April 2005, pukul 14.50 WIB.

:: 67 ::

Secara fisik kami merasa kehilangan Romo Martana, namun kami juga merasakan kebahagiaan karena beliau sudah tidak menderita lagi. Yang beliau rasakan sekarang adalah kebahagiaan abadi dalam kemuliaan-Nya. Terima kasih, Romo Martana, atas kebersamaan dalam suasana kekeluargaan dan atas kasih yang telah boleh saling kita berikan. Dari sikap hidup Romo selama menjadi pasien kami, ternyata banyak nilai hidup yang bisa kami petik. Nilai hidup itu antara lain bersikap rendah hati, peduli pada penderitaan sesama, bersaudara, memiliki semangat hidup namun tetap berpasrah, tidak pernah mengeluh akan ketidaknyamanan hidup dan rasa sakit, tetap gembira meski sakit, dan memeluk penderitaan dengan hati dan menyatukannya dengan penderitaan-Nya. Kami menyadari bahwa kami adalah bagian dari hati, tangan, dan kaki-Nya dalam karya pelayanan kesehatan. Namun, kami juga menyadari sepenuhnya bahwa kami tak berdaya apa pun tanpa rahmat dan tuntunan-Nya. Kami mohon Romo mendoakan kami agar Tuhan berkenan memberikan daya dan rahmat-Nya sehingga kami dapat merawat dan melayani para pasien dengan senang hati dan cinta serta setia dalam tugas perutusan ini. Terima kasih, Romo Martana. Terima kasih Tuhan atas semuanya. Romo Martana, selamat hidup dalam kedamaian dan kebahagiaan abadi bersama-Nya. — CHATARINA ENDAH TRI YULIANI, perawat Rumah Sakit Panti Rapih, Yogyakarta :: 68 ::

Sang Misionaris Domestik

Kurenungkan sabda-Mu Tuhan Sabda penuh kebenaran Kuresapkan di dalam kalbu Agar selalu jadi milikku SEPENGGAL LIRIK LAGU DI ATAS KUKENAL ketika aku masih duduk di bangku SD. Aku senang sekali menyanyikannya. Di rumah sering kali kunyanyikan berduet dengan adikku, Janti. Waktu itu aku hanya tahu nama pengarangnya dari tulisan teks (versi sebelum Puji Syukur): FA Martana CM, Pr. Lagu itu terus bergaung dalam hidupku hingga sekarang ini. Entah kenapa, yang jelas aku menyukainya. Tahun 1995, aku mendapat tugas baru di Ketapang Kalimantan Barat. Aku datang dan mulai menekuni tugasku yang baru. April 1996, saya diminta membantu Keuskupan. Di situlah saya bergaul dan bekerja sama dengan para pastor. Kira-kira pertengahan tahun itu, ada berita bahwa akan ada romo baru dari Keuskupan Agung Semarang yang akan membantu di Keuskupan Ketapang, namanya Romo Martana. Pikirku, “Wuah, janganjangan yang mengarang lagu itu!” Aku belum mengenalnya. Saat datang dan hari-hari pertama di Wisma Keuskupan Ketapang pun :: 69 ::

ia terlihat acuh. Tetapi diam-diam aku mengaguminya. Amat sederhana, kesanku. Mula-mula Romo Martana bertugas di pedalaman, Paroki Tumbang Titi, lalu pindah ke Paroki Balai Berkuak. Salah satu pekerjaan saya adalah menjadi penghubung atau kurir untuk para romo. Demikian halnya dengan Romo Martana. Hampir setiap kali ada orang yang ke Ketapang, selalu ada surat untuk saya dengan serentetan pesan yang ditulis dengan amat jelas, beserta tanggal dan jam menulis surat. Lama-kelamaan, saya menjadi kenal dan dekat dengan relasi dan keluarga Romo Martana. Saya teringat pada almarhum Mbak Murni di Bogor, yang kalau bertelepon bisa ngobrol begitu akrab. Hingga sekarang saya tidak bisa membayangkan wajahnya karena kami belum sempat berjumpa. Romo Martana jarang turun ke Ketapang kalau tidak penting sekali. Kalaupun datang, sudah pasti tanggalnya, begitu pula jadwal kedatangan berikutnya. Ia selalu meninggalkan satu pesan: “Ojo lali brongkose nganggo balungan.” Maka, begitu tahu Romo Martana datang ke Ketapang, sayur brongkos sudah siap di Susteran Sang Timur. Supaya mudah mengambilnya, dibuatkan dua wadah, yang satu khusus brongkos balungan. Wuah, kalau sudah makan dengan sayur brongkos, ia bisa tampak begitu menikmati ngrikiti balungan, apalagi kalau sudah rebutan dengan Romo Pamungkas. Rasanya senang melihatnya dan ia biasanya akan langsung berkomentar sambil mengacungkan jempol: “Enak! Enak tenan! Matur nuwun! Matur nuwun!” kadang sambil manggutmanggut kepedasan gara-gara nyeplus lombok. Kalau sudah begitu, :: 70 ::

tidak terasa jam makan menjadi lama, cerita ngalor-ngidul, gergeran penuh gelak tawa. Romo Martana paling senang memakai celana pendek dan kadang tidak berbaju. Per nah saya menyindir nya dan ditanggapinya dengan enak dan santai, “Gak popo. Gak popo. Ngene iki kan merdeka!” Pernah suatu kali beliau hendak menghadap Bapak Uskup. Saya lihat dia hanya pakai celana pendek dan sandal jepit. Kembali saya nyeletuk, “Lho, Rom, sowan Monsinyur, kok mung ngagem celana pendek lan jepitan?” Dengan kata-kata yang sama beliau menjawab, “Lho, ora popo to? Malah asli.” Begitulah romo-romo ala pedalaman. Masih tentang celana pendek. Setelah beberapa kali pengalaman naik-turun dari hulu ke hilir atau dari pedalaman ke Ketapang dan sebaliknya, mulailah Romo Martana menerapkan gaya baru: hanya pakai celana pendek, sandal jepit, atribut atas tetap lengkap. Saya pun berkomentar, “Lho Rom, apa malah gak repot? Kalau belepotan debu dan sebagainya, kan bisa sakit di badan? Lebih nyaman dan aman pakai celana panjang.” Apa jawaban Romo Martana? “Lho, ngene malah ora repot! Ora ndobel. Cukup mung ngosoki awak. Ora usah ngumbah celana, opo maneh jeans. Praktis dan alami, to?” Uh, dasar Romo Martana! Saya kadang juga dibuat puyeng, tapi saya mencoba untuk membantunya, rasanya geli juga. Misalnya saja, “Fransine, tulung golekake bolpoint Pilot loro, warnane abang karo ijo, isine warna biru, pokoke modele koyo iki, yen ora ono ora usah!” Wah, mumet tenan! Cari pilot model lama, masih adakah? Setelah keliling-keliling, akhirnya :: 71 ::

dapat juga. Lain hari, ia minta dicarikan correction pen merk Pentel. Saya keliling lagi ke toko-toko. Untungnya, kota Ketapang hanya sebesar kota Kalasan. Sayangnya, kali ini misi saya gagal. Sampai ke ujung sungai pawan pun tak ada yang namanya Pentel itu. “Wuah, kok aneh yo? Pentel bae kudu tuku neng Jowo!” katanya. Ya jelas saja, wong mahal. Siapa yang mau beli di dalam hutan seperti ini? Romo Martana seorang pribadi yang kukenal begitu sederhana, rendah hati, siap sedia. Kesederhanaan dan perhatiannya yang besar sangat mengesankan. Ia begitu enak, enteng, gampang, siap sedia untuk tugas apa pun. Ia apa adanya. Tidak ada kata “tidak enak” dan “tidak baik”. Baginya semua baik dan enak. Peristiwa yang sangat mengharukan bagi saya adalah ketika beliau sakit dan harus diopname di RS Panti Rapih. Saya sudah jarang kontak dengan beliau dan saya hanya bisa berdoa baginya dari jauh. Tiba-tiba pada tanggal 25 Juni 2004, ada SMS masuk, ternyata dari Romo Martana, isinya: “Fransine, proficiat ya hari ini ulang tahun profesimu yang ke 15. Pestane opo?” Ya, Tuhan! Tanpa sadar saya meneteskan air mata. Saya pikir beliau tentu sudah lupa pada tanggal-tanggal bersejarah saya. Ternyata sama sekali tidak. Dan saat itu hanya Romo Martana yang memberi ucapan. Spontan saya balas, “TQ tgl 6 Juli ada misa syukuran di Kalasan, silakan rawuh, kalau bisa dan kuat.” “Oke, aku tak teko neng Kalasan”, sambungnya. Tetapi pada harinya, beliau SMS bahwa tidak bisa datang. Saya ingat, ketika masih bertugas di Ketapang, suatu hari dia seperti agak susah bicara. Saya tanya, “Panjenengan ki gerah to, Rom?” :: 72 ::

Jawab Romo Martana, “Iyo, sariawan, ning wis takobati, kok.” Tampaknya sariawan itu menjadi awal perjalanan panjang penderitaannya. Begitu mendengar Romo Martana sakit, di bawa ke Pontianak, Semarang, lalu ke Jakarta, perasaan hati saya campur aduk. Saya berdoa pada Tuhan untuk mohon kesembuhan bagi Romo Martana. Doa saya gencar, bagai menggedor pintu surga. Kontak dengan romo-romo dan teman-teman di Ketapang terus bergulir dan juga dengan Romo Martana sendiri melalui SMS. Ketika ada kesempatan, saya meluangkan waktu untuk menengoknya di Jakarta dan di Yogya, terakhir bulan November 2004 di Pringwulung. Dalam kunjungan-kunjungan singkat itu, masih selalu tampak kesederhanaan dan perhatiannya. Ia tidak memperlihatkan bahwa dirinya sakit. Ketika mendengar berita keadaannya semakin kritis, doaku tak henti dan rasanya amat berat untuk merelakan, “Tuhan, Engkau mahatahu apa yang terbaik bagi Romo Martana!” Dan pada hari Selasa, 05 April 2005, kurang lebih pukul 15.20 saya terima berita SMS bahwa Romo Martana sudah menghadap Bapa. Untuk memastikan, saya segera telepon ke rumah keluarga beliau di Gunung Ketur. Tidak diangkat. Kosong. Ke mana saya harus mencari kabar? Akhirnya, dengan gemetaran saya telepon ke HP beliau. Terdengar berita singkat, “Sudah. Jam tiga kurang lima menit.” Tuhan, inilah kehendak-Mu yang terbaik bagi Romo Martana. Selamat jalan, Rom. Terima kasih untuk kebersamaannya. Doaku bagimu. Doakan juga aku, yang masih berjuang untuk setia. :: 73 ::

Kesederhanaan dan kerendahan hatinya yang sangat aku kagumi otaknya cemerlang tangan dan kaki cekatan tiada pilih kasih semua direngkuh dalam keberadaan–apa adanya tiada sesuatu yang jelek di mata dan hatinya semua selalu dikatakan: apik! bagus! kurang lebih enam tahun aku bersamanya dalam perjalanan hidup panggilan sebagai misionaris domestik di Ketapang aku direngkuhnya bagai adik kandungnya sendiri dua tahun telah lewat penyakit telah menggerogotinya tapi semangat tetap hidup aku masih terus berelasi mengikuti perkembangannya hingga akhirnya aku harus siapkan diri tuk merelakan dia lepas dari penderitaannya dan kembali kepada Bapa Dalam tetes-tetes air mata, ku berucap: “Selamat jalan Romo, :: 74 ::

usai sudah penderitaanmu dan engkau berbahagia bersama Bapa di surga Terima kasih atas teladanmu. Doakan aku” Kulambaikan tanganku jauh, jauh, jauh ditelan kesunyian namun dalam lagu dan syairmu senandung kenangan itu terus bergaung memecah kesunyian, membawa hati kepada Sang Illahi —FRANSINE, PIJ, biarawati, pernah bertugas di Ketapang

Apa yang dikhotbahkannya, itu pula yang dilakukannya.

:: 75 ::

Sang Pejalan Kaki

SAAT BERKARYA DI PAROKI KRISTUS RAJA, Ungaran, Romo Martana rajin mengunjungi umat, khususnya yang miskin, sederhana, terpinggirkan. Dalam kunjungan ke stasi yang jauhnya sekitar 12 kilometer dari pastoran, ia tidak segan-segan berjalan kaki. Mobil yang disediakan untuknya dipersilakannya mendahului membawa perlengkapan dan para pengiring. “Silakan berangkat dulu dengan mobil itu. Saya gampang, bisa jalan kaki, kok.” — EMILIA SOEDIONO, umat Paroki Kristus Raja, Ungaran

:: 76 ::

Cerita Para Sahabat

Setelah menerima tahbisan akolit. Dari kiri: H. Natawardaya, F.A. Martana, Fl. Hartosubono, M. Supriyanto, F.X. Sumarnoto, F.A. Suntoro

:: 77 ::

Siap Berdoa bersama Simeon

PERAWAKANNYA KURUS DENGAN PENAMPILAN yang sederhana. Bicara dan gerakannya relatif cepat, apalagi kecepatan berpikirnya. Kalau main catur, belum lima detik setelah lawannya melangkah, dia sudah menjawab dengan langkah tanggapan sehingga lawan bisa grogi. Setelah menang, dia masih memuji hal-hal baik yang dilakukan lawan sambil menunjukkan dengan sopan hal-hal yang salah atau yang menurut dia bisa lebih baik. Dia ramah dan baik hati. Perhatiannya pada teman komunikasi sangat besar, seakan langsung berusaha menghayati topik yang dibicarakan. Tak pernah saya dengar dia menyalahkan orang lain, apalagi demi menonjolkan kelebihan buah pikirnya walau mungkin sebenarnya memang lebih baik. Bahkan, dia selalu berusaha mengerti dan, bila perlu, menutup mata terhadap kekurangan siapa pun, untuk sebaliknya menghitung yang baik-baik saja dari mereka. Kami, teman-temannya seangkatan di Mertoyudan, yakin pasti dibantunya untuk hal-hal yang kami butuhkan yang dia tahu atau mampu untuk itu. Dan pasti juga bantuan tersebut tulus serta gratis. :: 78 ::

Di angkatan kami, IQ dan prestasi studinya nomor satu. Ketika orang memandang bahwa jurusan IPA lebih superior dari IPS, dia justru pindah dari IPA ke IPS saat SMA-nya tinggal dua cawu lagi. Alasannya: humaniora lebih menarik minatnya, mungkin lebih cepat mengantarnya pada ilmu hidup dan kehidupan. Dia hobi dan pandai main musik, bahasa universal yang banyak dipakainya untuk mewartakan kasih Tuhan. Setelah tahbisan imamat, dia mengajar di Seminari Mertoyudan, melayani umat paroki Klaten, paroki Boro, dan terakhir “memilih” melayani umat di pedalaman Irian dan Kalimantan. Orientasi hidupnya sungguh jauh dari “hingar bingar kemajuan manusia modern” yang menawarkan kemegahan pada siapa saja yang mau apalagi pada orang dengan talenta seperti dia. Sekitar tahun 2002 dalam mail list dia menceritakan bagaimana ia semakin menemukan Tuhan lewat suku-suku di pedalaman Irian atau Kalimantan dan benua lain yang oleh “orang kota” dianggap terbelakang. Di lain pihak, dia tetap memuji perjuangan hidup dan pengamalan kasih teman-temannya di kota. Mungkin karena begitu puas melihat kerajaan-Nya hadir di tengah-tengah masyarakat “terbelakang” itu, dia menyatakan, “Sekarang saya siap berdoa bersama Simeon.” Sontak saja teman-temannya protes, dengan alasan tenaga dan talentanya masih muda-kuat dan sangat dibutuhkan untuk mewartakan kabar gembira pada banyak orang yang tertinggal untuk menikmati kasih Allah. Akhir tahun 2003, saya dengar dia sakit pada lidahnya yang akhirnya dinyatakan kanker. Ia menjalani perawatan dan :: 79 ::

pengobatan di Semarang, Jakarta, dan Yogya. Sekitar Paskah 2004, saya menjenguknya di RS Panti Rapih. Ia tampak payah, namun sama sekali tidak mengeluh, malah tetap sangat ramah menyambut saya dan istri, bagaikan tidak sakit walau bicaranya terganggu. Tanggal 3 Juli 2004 angkatan kami mengadakan reuni di Kotabaru. Romo Martana hadir dan, luar biasa sekali, tampak begitu sehat-gembira serta bersemangat, walaupun statusnya masih dalam perawatan RS Panti Rapih. Kami semua sangat senang sampai saya ngarasani dengan istri bahwa ini sungguh mukjizat, kanker Romo Martana dalam proses kesembuhan yang signifikan. Ternyata mukjizat itu tidak berlangsung lama. Sekitar awal Februari 2005 tersebar berita, dia kritis lagi. Kondisinya menurun terus hingga akhirnya tanggal 5 April 2005 siang, tiga hari setelah Bapa Suci Yohanes Paulus II wafat, dia betul-betul pergi menghadap Sang Pencipta, meninggalkan hiruk pikuk dunia yang sering menjauhkan manusia dari kasih Allah ini. Kami semua berduka, namun percaya bahwa di surga Tuhan menyediakan semua yang lebih baik baginya. Kesaksian, karya, dan hidupnya sung guh memberikan gambaran nyata akan Kerajaan Allah. Sederhana, ramah, murah hati, tak pernah mengeluh, tak pernah marah atau menyalahkan, bahkan selalu menghargai dan memuji, rendah hati, pekerja keras dan pandai, sempurna! Selamat jalan, Romo. Di surgalah tempat yang tepat untukmu. Doakan kami agar sampai pula ke puncak penghayatan hidup, di mana kami siap berdoa bersama Simeon. — MT. BAMBANG M., teman seangkatan di Mertoyudan :: 80 ::

From To Date

: Martana <martana@katolikmail.every1.net> : F.X. Sumarnoto <smr@kompas.co.id> : 2002

“Saya tinggal di paroki Balai Berkuak, 300 km dari kota Ketapang, + 8 jam ditempuh dengan sepeda motor. Jarak Balai Berkuak–Pontianak 345 km, + 8 jam ditempuh dg sepeda motor (Balai Berkuak– Pontianak sebagian besar jalan aspal; Balai Berkuak–Ketapang 60% jalan tanah yg pada musim penghujan becek dan di beberapa tempat berlumpur). Balai Berkuak adalah ibu kota kecamatan, kampung kecil (1/4 kota–3/4 desa), listrik menyala 12 jam, dari jam 6 sore sampai jam 6 pagi. Siang tidak ada listrik. Ada wartel 1 buah, yg hanya bisa mengirim, tidak bisa menerima (biayanya cukup mahal: 1 menit + Rp 8000–Rp 9000). Tidak ada warung internet. (Di Balai Berkuak belum ada 1 buah pun komputer. Maklum listrik hanya menyala 12 Jam).” “Keuskupan Ketapang punya 17 paroki pedalaman, kebanyakan masih agak terbelakang dan sederhana. Semua pastor paroki di pedalaman kendaraannya sepeda motor. Yg pakai mobil cuma 2 orang: Uskup dan romo Istejamaya. Memang untuk paroki-2 pedalaman, sepeda motor tebih tepat sebab kadangkadang harus masuk jalan setapak di hutan di mana mobil tak mungkin masuk. Pastor-2 pedalaman pergi ke Ketapang 2 atau 3 bulan sekali. Kalau pas di Ketapang, kami bisa buka internet (di Ketapang ada 1 buah warnet). Saya akan ke Ketapang mulai hari Senin, 6 Mei malam sampai Jumat, 10 Mei, pagi. Nanti saya akan buka website kita merto_71@yahoogroups.com Pada hari-hari itu engkau bisa menelepon saya di nomor 0534-32572, jam 8 malam sampai 6 pagi (siang untuk kantor)”. “Sebelum berkarya di Balai Berkuak, saya berkarya di paroki Tumbang Titi, mulai Agustus 1996– Pebruari 1999. Lalu mulai 17 Peb 1999 sampai saat ini, saya berkarya di Balai Berkuak.”

:: 81 ::

“Saya berlibur ke Jawa 2 tahun sekali. Terakhir saya ke Jawa bulan Maret 2001. Jadi “jatah” saya ke Jawa lagi tahun 2003. Maka, kali ini saya belum bisa ikut hadir. Salam kangen untuk teman-teman semua. Entah romo Istejamaya, syukur bisa hadir.” “Saya punya usul, bagaimana kalau reuni tahun 2003 diadakan antara Oktober akhir–Nopember awal, sebab pada akhir Okt–awal Nop 2003 saya akan ke Jawa untuk nyewu adik saya dan ayah saya. Saya harap pada waktu itu kita bisa bertemu”. “Eh, di antara teman-teman kita, apakah ada yang sudah punya cucu? Barangkali Widyatmoko atau Bambang Maryono atau yg lain. Kalau ada, sampaikan ucapan selamat saya kepada teman-teman yg sudah menjadi simbah alias eyang”.

Di Kaliurang bersama rekan-rekan seangkatan. Romo Martana berdiri di belakang.

:: 82 ::

Serba-serbi Kisah di Kentungan
Lomba Koor “Pastoral”

K ETIKA MASIH DI K ENTUNGAN , suatu ketika Romo Martana diminta untuk menjadi juri lomba koor untuk Paroki Banyutemumpang. Karena cukup mendadak mintanya, maka jurinya semua dari seminari tinggi. Sebagai yang paling senior Romo Martana mengajukan tata cara penilaian yang menurutnya “pastoral”. Dari beberapa segi yang dinilai, dibuat urutan prioritas dari nilai tertinggi sampai nilai terendah sebagai berikut: a. b. c. d. e. pesertanya dari tua sampai anak-anak — nilai dikalikan 10; nyanyinya kompak (tidak ting slenthir) — nilai dikalikan 8; dirigen sungguh mendirigeni koor — nilai dikalikan 6; nyanyinya tidak fals — nilai dikalikan 4; teknik menyanyi benar — nilai dikalikan 2.

Hasilnya, kalau tidak salah ingat, yang menang justru dari salah satu stasi. Dan koor yang anggotanya terdiri dari mudika yang sebagian besar kuliah di Yogya malah kalah. Lalu kami digerutui. Romo Martana waktu itu hanya tertawa dan berkata, “Pastoral. Pastoral.” :: 83 ::

Hadiah Urik: Sega Goreng

S ALAH SATU KESUKAAN R OMO M ARTANA adalah bermain bridge bersama kami, adik-adik kelas. Suatu ketika, kami main bridge cukup lama. Karena tidak mau kalah, kami lalu memainkan triktrik rahasia yang sudah kami sepakati sebelum main. Rupanya Romo Martana menangkap juga kecurangan kami. Setelah beberapa kali kalah dan sadar bahwa dicurangi, dengan sedikit menyindir beliau berkata, “Wong ngelih ki cen gampang urik yo? Nyego goreng, yuk?” Jadilah kami ditraktir sego goreng “Pak Zia Ul Haq” yang di timur lapangan Kentungan. Tapi selanjutnya, kalau diajak main bridge, dengan diplomatis beliau berkata, “Aku gek wegah diuriki,” alias lagi tongpes.
Seminaris Terburuk di Seluruh Indonesia

INI CERITA WAKTU ROMO MARTANA jadi pamong di seminari. Suatu ketika ada seminaris yang mbeling bukan main. Romo Martana rupanya sudah tidak bisa mentolerir tindakan sang seminaris. Maka, ia memanggil si seminaris itu ke kamarnya. Sampai di kamar beliau, setelah omong-omong dan dieyeli oleh si seminaris, murkalah Romo Martana. Dalam kemurkaannya itu, Romo Martana berteriak, “Kamu ini sungguh seminaris ....” Rupanya ia bingung mau memakai kata apa untuk memaki si seminaris. Akhirnya keluar juga: “Kamu ini sungguh seminaris terburuk di seluruh Indonesia!” — WILLEM “SEGER” PAU, PR., imam, kascomm@indo.net.id :: 84 ::

Kiat Menikmati Hidup

SEBAGAI PECINTA MUSIK dan lama segrup dengan beliau, seumur hidup saya tidak akan pernah bisa menciptakan lagu kalau tidak ketemu beliau. Satu-satunya lagu yang saya hasilkan merupakan dorongan kuat dari Romo Martana untuk “mencipta saja, coba dan coba, kamu bisa (kaya iklan apa kae), ora ketung sak lagu”. Dan hasilnya memang ada, tapi judulnya pun Pileg, akibat berusaha menyesuaikan diri dengan dorongan sang “Jenius”. Lagu Kurenungkan Sabda-Mu Tuhan yang cukup populer itu hanyalah salah satu dari ciptaan beliau yang sudah banyak disederhanakan. Bentuk aslinya mezzopolyphonic empat suara (TTBB) dengan iringan satu gitar, piano/organ, dan dua biola. Sayang, saya sendiri sudah tidak punya rekaman ataupun partiturnya. Mungkin Mas Wahyu atau Mas Lasdi masih menyimpannya. Seputar pertengahan tahun 1987, kami yang tergabung dalam kelompok Romulo (romo-romo mudo Solo) mengadakan week end dengan menginap di Tawangmangu. Kebetulan saat itu saya dan Romo Martana, yang sama-sama menjabat kapelan di Paroki Klaten, ikut berangkat. Sore hari, setelah jenuh main gaple dan :: 85 ::

makan kacang goreng, timbul gagasan untuk jalan ke Cemara Sewu. Jadilah kami berkemas-kemas menyiapkan pit montor, jaket, dan helm cakil masing-masing, lalu begegas menuju Cemara Sewu. Sebelum berangkat, kami mengingatkan Romo Martana untuk tidak lupa membawa helm dan jaketnya. Namun beliau menolak, “Ah, nggak dingin, malah seger.” (Toh, hanya mbonceng, begitu mungkin pikir beliau). Setelah berjalan sekitar 20 menit, kami sampai di kompleks Stasiun Relay TVRI Cemara Sewu. Tak lama berselang, saat kami sedang menikmati pemandangan dari ketinggian itu, muncullah dengan tiba-tiba ampak-ampak pedhut (kabut) yang dengan kencang menerpa tubuh kami. Masing-masing berusaha merapatkan jaket dan helmnya agar terlindung dari sengatan hawa dingin yang berusaha melumat kulit dan tulang kami. Sembari berjuang bagi kenyamanan masing-masing, saya melirik ke arah Romo Martana yang memang sedang merapatrapatkan bajunya melawan kedinginan. Spontan kami tawarkan, kalau-kalau beliau mau menggunakan jaket, helm, atau apa saja yang ada pada kami untuk mengurangi “penderitaan”-nya. Beliau menolak tegas-tegas, “Ndak usah. Ndak apa-apa. Gini aja.” Saya mencoba meyakinkannya, “Gimana nanti kalau kabutnya makin tebal atau kencang? Apa nggak makin kedinginan?” Dengan enteng sambil menggigil beliau menjawab, “Ya, nikmati saja.” Sikap realis dan konsekuen yang ditunjukkan dalam kasus tersebut amat mengesankan saya, sehingga sering saya angkat menjadi contoh dalam khotbah. Dalam keadaan di mana kita tidak :: 86 ::

bisa menghindarkan diri dari situasi akibat keputusan kita sendiri ataupun perkembangan di luar kemampuan kita, nikmatilah hidup ini tanpa menambah jumlah mereka yang menderita karenanya. Sikap dasar itu ternyata makin jelas ditunjukkan pada saat-saat akhir hidupnya, sebagaimana banyak disaksikan oleh rekan-rekan. Terima kasih, Romo, Anda telah menggunakan setiap momen dalam kehidupan Anda untuk mewartakan kegembiraan bagi orang lain. Romo Martana memang istimewa. — HARI SUSANTO, imam, hunter_josmit@yahoo.com

Saat menerima tahbisan imamat, tahun 1982.

:: 87 ::

Kenang Aku dalam Hatimu

SELASA SORE SAYA MEMBUKA EMAIL dan mendapat berita wafatnya sahabat dan saudara kita, Romo Martana, Pr. Untuk meyakinkan berita itu, saya counter-check ke Yogya. Dan setelah pasti demikian, entahlah, tiba-tiba di depan komputer kepalaku menunduk dan berdoa, “Semoga Romo beristirahat dalam damai.” Sore itu saya ngabari istriku karena kami berdua sempat membesuknya, namun saat itu beliau masih bisa bicara banyak dengan kami. Lalu, bulan Maret—setelah mendengar dari Mas Putut tentang bahwa kondisi beliau kritis—sendirian saya lari ke Yogya, menengok beliau. Romo Martana tidak mengeluarkan kata-kata, tapi gerak mulutnya menyebut namaku. Lama saya duduk di sampingnya serta memegang tangannya. Sebelum saya pamit pulang, dia angkat jempolnya (kebiasaan beliau) dan memberi berkat pada saya. Tidak akan saya lupakan berkat itu karena dia tampak susah payah namun ingin sekali menjawab doa dan pamitku. Selasa sore, 5 April, setelah mendengar kabar duka itu, saya hunting tiket dan dapat. Rabu pagi jam 5 saya ke airport, lalu ke Yogya. Mobil saya parkir karena toh sorenya balik Jakarta. :: 88 ::

Saya dan istri mengikuti upacara misa requiem di kapel Seminari Kentungan dari awal sampai akhir dan sekaligus bertemu dengan banyak teman. Lama saya dan istri berdiri di samping peti jenazah karena sejak jam 10.00 saya sudah duduk di kapel seminari. Romo tampak damai sekali. Foto Paus di samping peti jenazah dan di depannya foto Romo Martana—tampaknya foto waktu beliau baru ditahbiskan dengan tawanya yang renyah. Misa dipimpin oleh Bapak Uskup Suharyo dengan puluhan imam. Uskup tampak berat sekali pada awal upacara misa, bahkan pada kata pembukaan cukup lama berhenti. Saya pun terheranheran mengapa. Namun, saya bisa merasakan suasana saat itu. Misa diiringi beberapa lagu karangan beliau, sungguh terasa indah didengar. Pada saat persembahan, dinyanyikan Gusti Ulun. Umat bukan main banyaknya. Peti jenazah dibawa ke makam, dipanggul beberapa frater, dipimpin Romo Gito. Saya ikuti terus sampai tertutup tanah tempat istirahatnya. Saya juga sowan ke makam beberapa romo seperti Romo Mangunwijaya, Romo Puspo Sugondo, dan Romo Wignyo yang sumare di sana. Mereka adalah romo-romo yang mempunyai peran penting dalam hidup saya. Yang mengherankan saya, saya ingin memotretnya dengan kamera Canon Ixy saya yang kecil dan selama ini tidak pernah rewel. Heran sekali, seakan-akan Romo tidak mau saya foto. Tustel itu hang dan hang terus. Sorenya, sesampai di Jakarta, saya masih penasaran dengan kamera saya. Lha kok hidup lagi? Mungkin Romo Martana hendak berpesan pada saya: “Wiyono, kenang aku :: 89 ::

dalam hatimu seperti kita pernah bersama-sama dulu di Mertoyudan.” Yang aneh lagi, selama upacara misa itu udara agak panas, tapi setelah pemakaman selesai tiba-tiba angin bertiup kencang dan hujan gerimis jatuh. Saya berkata dalam hati, “Memang orang ini sungguh baik, seperti yang disinggung dalam khotbah Uskup dan Romo Sumantoro. Romo Martana selalu melihat orang lain secara positif. Dan setiap saat ketemu orang, yang tidak pernah hilang pada dirinya adalah memberi acungan jempol. Canda di antara teman-teman: “Wah, Martana ndherekake Paus, mungkin mau mengiringi Paus dengan orgen dan lagulagunya.” Romo Martana adalah teman kerjaku sewaktu sempat bersama-sama jadi pamong di Mertoyudan. Ia seorang imam yang sederhana dan mau dekat dengan yang dimomongnya. Tiap makan pun ia jarang makan di Domus Patrum, tetapi selalu ikut bersama siswa. Ia seorang yang pandai dan sangat sederhana. Sewaktu diminta untuk belajar di luar negeri, beliau maunya di tengah umat. Dalam usia yang masih muda dia sudah menjadi misionaris domestik, di Manokwari dan terakhir di Ketapang. Kini penderitaan panjangnya sudah berakhir dan kita semua mengikhlaskannya. Gusti ulun, ulun caos pisungsung, angimbangi tresno dalem tyas agung. — FRANS WIYONO, mantan pamong Seminari Mertoyudan, franswiyono@asuransibringin.co.id :: 90 ::

Pintar Semuanya

WAKTU DI SMP PANGUDI LUHUR BACIRO pada 1968-1970, Martana (yang kemudian menjadi Romo F.A. Martana, Pr.) adalah anak yang paling pintar di kelas. Kalau biasanya seseorang pintar dalam satu mata pelajaran tertentu, misalnya Aljabar, Fisika, atau Bahasa Inggris saja, eh, teman kami yang satu ini pintar dalam semua mata pelajaran, sampai mata pelajaran menyanyi! Bisa baca not balok lagi. Opo ora elok? Hanya itu? O, tidak! Catatannya begitu rapi. Bahasanya santun dan luwes. Oleh karenanya, ketika suatu saat mendengar bahwa ia menjadi romo, saya sudah tidak kaget lagi. Namun, saya menjadi terkaget-kaget ketika menerima SMS yang mengabarkan kepergiannya menuju rumah Bapa. Bersama teman-teman lingkungan saya pernah menyanyikan lagu gereja hasil aransemennya, walaupun baru mengetahuinya kemudian. Pengabdian dan karyanya selama ini akan selalu dikenang. — PAUL SUTARYONO, teman SMP

:: 91 ::

Teman yang Baik Hati

SAYA TEMAN SEKELAS MARTANA sewaktu di SMP Pangudi Luhur Baciro. Bagi saya, yang paling berkesan adalah kepandaiannya. Dia dikenal sebagai anak terpandai di kelas kami, bahkan mungkin yang terpandai sesekolahan. Yang juga saya ingat darinya adalah kerendahan hatinya. Meski pandai sekali, ia tidak sombong, masih mau membantu teman-temannya yang mengalami kesulitan dalam belajar seperti saya ini. Karena kepandaiannya juga banyak guru yang senang kepadanya. Menurut ukuran saya, Martana adalah anak seorang kaya, dengan rumahnya yang besar dan ada pendoponya segala. Keadaan seperti itu tidak membuat dirinya merasa lebih dari yang lain. Saya senang belajar di rumahnya, di kawasan Gunung Ketur, di samping karena suasana pendoponya yang nyaman, juga karena kami yang belajar di sana sering mendapat makanan kecil dari ibunya, dan tentu saja karena Martana bisa menjadi guru yang sangat membantu dalam menyelesaikan tugas-tugas pelajaran kami yang sulit-sulit. Saya juga ingat bahwa dia orangnya kecilkecil pendek, warna kulitnya hitam, dan paling menonjol adalah :: 92 ::

rambutnya yang tidak ada keritingnya sedikit pun. Semuanya lurus, njegrak tenan. Gigi depannya gingsul semua. Matanya berkilat dan pandangannya tajam, namun banyak tersenyum dan tertawa. Lama setelah lulus dari SMP, saya mendapat kabar bahwa dia menjadi pastor. Lalu saya dengar dia pindah ke Ketapang, Kalimantan Barat. Sewaktu saya dinas ke sana, saya cari di paroki Ketapang, tapi dia sedang ke pedalaman—saya lupa tepatnya tapi kalau tidak salah ingat, di Putussibau. Dan sejak itu waktu demi waktu lewat begitu saja. Terakhir baru saya dengar kalau temanku ini menderita kanker lidah dan sudah pada stadium lanjut. Pada waktu itu saya hanya bisa berdoa, semoga penderitaannya tidak terlalu berat baginya. Sampai akhir hayatnya, saya tidak pernah bertemu lagi dengan Martana. Kenangan menjadi teman sekelasnya sering kali muncul dalam kehidupan saya. Sampai sekarang pun saya selalu menganggap dia sebagai seseorang yang istimewa yang pernah saya jumpai dalam kehidupan saya ini. Bagi saya, jalan hidupnya sebagai sebagai seorang rohaniwan sangat pantas baginya, karena kepandaiannya dan kerendahan hatinya serta kasihnya merupakan modal yang utama bagi seorang guru yang mengajarkan kehidupan ini kepada orang lain. Selamat jalan, Martana, kadangku kang kinasih. Sampai bertemu lagi dalam kehidupan yang akan datang. — AGUS WIDIANTO, teman SMP, patub01@yahoo.com :: 93 ::

:: 94 ::

Cerita Para Adik

:: 95 ::

Bersyukur Selalu, Gembira Senantiasa

MAS TANA LIMA TAHUN LEBIH TUA DARIPADA SAYA. Dari TK sampai kelas satu SD, saya mengikuti pelajaran agama persiapan komuni pertama di SD Marsudirini Gondomanan, sore hari, mungkin seminggu sekali. Setiap kali pulang dari pelajaran agama dan dijemput Mas Tana, saya selalu diajaknya mampir ke Gereja Kidul Loji dulu untuk menundukkan kepala, membuat tanda salib, dan mengucapkan “Berkah Dalem Gusti”. Setelah itu, barulah kami pulang. Benih panggilan untuk melayani Dia sudah bekerja? Pada waktu saya di TK juga, G30S meletus. Tiga kakak saya tidak sekolah, libur. Saya tetap minta berangkat sekolah karena tidak ada pengumuman libur. Mas Tana segera mengeluarkan sepeda, memboncengkan saya ke sekolah. Jalan-jalan sangat sepi, rumah-rumah dan toko tertutup rapat, hanya kami berdua. Ternyata sekolah kosong. Saya lalu diantar ke biara dan suster menjelaskan bahwa sekolah libur panjang. Dengan tenang Mas Tana, yang sebenarnya pasti tahu bahwa hari itu libur, membawa saya pulang ke rumah. Diam-diam, saya terharu akan kasihnya. Tuhan yang bekerja menganugerahkan kebaikan dalam diri Mas Tana. :: 96 ::

Di rumah, setiap malam kami sekeluarga berdoa malam dan rosario bersama, satu putaran rosario untuk dua hari. Sejak kecil, seusai doa bersama, Mas Tana langsung berdoa rosario sendiri, utuh, sedangkan kami adik-adiknya bermain-main di dekatnya. Setelah Mas Tana masuk seminari tinggi, kami diajak menambah doa malam dengan bacaan hari itu. Setelah jadi pastor, doa malam kami divariasi dengan ibadat malam. Doa malam menjadi semakin indah. Imamatnya diteguhkan dalam keluarga. Pada waktu Mas Tana menjadi siswa Seminari Mertoyudan, kalau liburan di rumah, dia mengajari kami, dua kakak dan saya, bermain gitar. Saya murid termuda yang paling bodoh, hanya bisa akor A, D, E, F, dan G thok. Tapi dia tidak putus asa dengan kebodohan saya. Waktu kuliah di seminari tinggi, Mas Tana sering pulang. Setiap pulang, tak lupa dia mengajari saya bermain organ dengan organ gereja Bintaran. Begitu inginnya dia menjadikan adiknya yang bodoh jadi agak pintar, semangatnya tinggi dan mau berkorban. Jika menginap di rumah, maka suasana rumah menjadi seru. Dengan Bapak dan kakak yang lain dia berdiskusi tentang fisika dan filsafat. Dengan saya dia berdiskusi tentang ajaran Gereja Katolik, tentang Maria, Konsili Vatikan II, jaminan keselamatan, sakramen-sakramen, dan lain-lain. (Diskusi berarti saya bertanya, dia menjawab.) Betapa menyenangkan. Pada waktu TOP di Wonosari, kami menengoknya. Dengan gembira dan bersemangat, kami diajak mengunjungi beberapa umat Paroki Wonosari. Pastor parokinya, Romo Zahn Weh yang :: 97 ::

sangat baik, membiarkan Mas Tana bercengkerama dengan adikadiknya. Setelah ditahbiskan menjadi imam, kami mengunjunginya di tiap paroki tempat tugasnya di Jawa. Dia selalu gembira dan bersemangat sebab dia percaya, dalam kelemahannya Tuhan berkarya dan kuasa Tuhan menjadi sempurna. Pada waktu kami mengalami musibah—Beni yang meninggal 16 tahun yang lalu, Bapak dan Murni empat tahun yang lalu—dia tetap mengajak kami bersyukur. “Selalu bersyukur,” itu yang dikatakannya. Penyakit kanker mulai menggerogotinya. Namun kasih Tuhan terus mengiringi Mas Tana. Penghiburan-Nya tampak nyata dari perhatian, doa, dan penghiburan handai taulan yang mengalir tanpa henti. Kasih-Nya memberikan kekuatan baginya untuk menanggung penderitaan. Kami bergiliran menemaninya. Makan pagi, siang, dan sore dilakukan dengan gembira, tanpa mengeluh, meskipun menyita waktunya hampir dua jam setiap makan, dan sebenarnya, dengan kesakitan. Selama sakit, Mas Tana terus bersikap positif, tak pernah mengeluarkan kata-kata yang menunjukkan kekesalan, kemarahan, atau kesakitan. Sebaliknya, tiap hari ia menyatakan terima kasih untuk setiap bantuan, dengan senang hati menjadi pendengar setia dan berusaha menggembirakan hati orang lain. Seluruh waktu dia manfaatkan untuk hal-hal yang positif. Musik, koor, membaca, mengikuti perayaan ekaristi menjadi bagian dari aktivitasnya. Menemaninya tidak membuat kesal; sebaliknya, membuat hati terasa damai dan haru. Rasa haru :: 98 ::

muncul setiap kali mengalami usaha Mas Tana untuk menyenangkan hati, menenangkan, dan membesarkan hati saya, berbaur dengan kesedihan hati saya menyaksikan penderitaannya. Pedih dan luka hati saya menyaksikan kakak yang dulu begitu sehat, gembira, dan bersemangat menjadi sakit, kekuatannya lenyap, dan tubuhnya menjadi rapuh. Namun, semua dijalaninya dengan rasa syukur tanpa henti, dengan wajah berseri. Kekuatan itu hanya dapat diperoleh dari Tuhan. Pada waktu kondisinya menurun, saya membacakan buku rohani untuknya. Meskipun kelelahan menahan sakit, Mas Tana tetap dengan setia mendengarkan, dari hari ke hari, sampai buku tersebut selesai saya baca. Pada waktu kondisinya sudah semakin memburuk, dengan berbagai alat yang menempel di tubuhnya, saya bisa merasakan keinginannya untuk tidak menyedihkan hati orang lain. Acungan ibu jari, anggukan kepala, lambaian tangan tetap dia lakukan kala orang berpamitan atau mengajak bicara. Pagi hari maupun malam hari, setiap hari, dia selalu menurut apabila saya mengajaknya berdoa, dengan rosario, devosi kerahiman ilahi, novena Hati Kudus Yesus, atau dengan kata-kata saya sendiri yang mengungkapkan keinginan hati saya untuk kesembuhan Mas Tana. Mengalami kesaksian imannya, rasa kasih saya terhadap Mas Tana tumbuh semakin besar dan tidak ingin diting galkan olehnya—sesuatu yang tidak masuk akal dalam kondisi seperti itu. Pada waktu itulah, kesakitan memuncak dan Tuhan pun memanggilnya. Saya merasa sangat kehilangan. Sampai sekarang :: 99 ::

pun rasa syukur memiliki kakak sebaik dia tanpa henti saya ucapkan, berbaur dengan kepedihan hati saya ditinggalkan olehnya. Betapa sulit meneladan kakak tercinta. — TUTI, adik kandung

:: 100 ::

Mas Tana dengan Hobi-Hobinya

KETIKA PERTAMA KALI MENDENGAR MAS TANA terkena kanker lidah, pikiran yang langsung muncul adalah “Apa saya akan kehilangan dia?” Satu hal yang melatarbelakangi pikiran saya adalah sedikitnya penyandang kanker yang bisa sembuh dari sakit tersebut. Dalam hati saya berharap, semoga Mas Tana lain dari yang lain (sesuai dengan orangnya, yang menurut saya agak “unik”, lain dari yang lain), ia bisa kembali sehat. Karena itu, saya pun mendukung sekuat tenaga segala upaya pengobatan untuk kesembuhannya, antara lain dengan membaca dan mempelajari berbagai informasi tentang kanker. Minggu-minggu pertama ia sakit, beberapa relasi menanyakan sakitnya. Saat itu saya baru sadar bahwa orang ternyata mempunyai perhatian yang besar padanya. *** Tidak saya ketahui dengan pasti kapan saya menyadari bahwa saya punya kakak seorang calon pastor. Saya hanya ingat, Mas Tana datang dengan beberapa teman, bermain layang-layang, dan kembali pergi sambil membawa sambal buatan ibu dalam jumlah yang tidak sedikit. Saya ingat, ketika ia menjalani Tahun Orientasi Pastoral di Wonosari, Bapak menyempatkan pergi ke sana kalau Mas Tana mendapat tugas berkhotbah.
Kira-kira beginilah Romo Martana jika sedang menjadi juri koor.

:: 101 :: :: 101 ::

Saat libur panjang, ketika ia di rumah, ia memainkan beberapa alat musik, bernyanyi, selain juga membicarakan berbagai topik dengan Mas-Mas atau Mbak atau dengan para tamu yang datang. “O, jadi, kalau sekolah di seminari itu wajib mempelajari berbagai alat musik, teori musik, dan menyanyi,” begitu pikir saya. Mungkin bar u setahun menjelang tahbisan (tahun 1981) saya bar u menyadari bahwa Mas Tana memang pencinta musik yang mumpuni. Pada saat-saat tertentu, ia dilibatkan dalam kegiatan atau perayaan ekaristi di lingkungan maupun di gereja Bintaran, bisa dalam bentuk bermain organ, gitar, biola, membuat aransemen, ataupun menjurii lomba kor. Setelah saya mulai berkecimpung dalam paduan suara, saya mulai memakai jasanya, dan rasa-rasanya ia bisa memecahkan segala masalah musik dengan tepat dan cepat. Ada satu peristiwa yang semakin meyakinkan saya bahwa ia memang mumpuni. Suatu siang, ketika saya pulang dari kuliah, saya lihat ia sedang tidur di tempat tidur saya. Setelah saya selesai makan siang, saya membangunkan dia dan minta tolong dibuatkan aransemen Misa Lauda Sion dua suara untuk kor anak-anak yang saya latih di paroki. Dengan mata masih sedikit terpejam dan masih berbaring, ia menjawab “bisa”, lalu minta diambilkan Madah Bakti dan pensil. Saya pun mencuci piring dan beres-beres meja makan. Rasanya tidak sampai seteng ah jam ketika saya menemuinya lagi di tempat tidur. Aransemen lagu untuk seluruh misa sudah selesai! Selama menjadi pastor di lingkungan Keuskupan Agung Semarang, Mas Tana pun menjadi tempat untuk membuatkan :: 102 ::

akor, memberikan interpretasi lagu, membuatkan syair lagu dalam bahasa Indonesia (biasanya untuk menerjemahkan lagu-lagu berbahasa asing), membimbing bermain organ dan suling, mengajari memilih nyanyian untuk misa (dia mempunyai prinsip yang kuat bahwa nyanyian harus sebisa mungkin disesuaikan deng an bacaan), dan—yang paling sering—membuatkan aransemen. Ketika ia bertugas di Papua, hanya sekali saja saya berkonsultasi urusan musik melalui surat karena komunikasi relatif sulit. Ketika ia pindah tugas ke Kalimantan, komunikasinya jauh lebih sulit dibanding Papua, maka saya belum pernah sekali pun berkonsultasi tentang musik. Lagu Di Betlehem Tlah Lahir adalah aransemen terakhir yang dibuatnya untuk saya, Natal 2004. Kecintaannya pada musik masih terlihat ketika ia pertama kalinya dirawat di RS Panti Rapih (19 Desember 2003 sampai 23 Juli 2004). Keyboard, gitar, dan tape recorder untuk merekam pun dimintanya untuk dibawa ke kamar Lukas 311, tempatnya dirawat. Tidak jarang saya diminta bernyanyi dengan iringan organnya. Tidak sedikit kelompok yang datang menjenguk dimintanya bernyanyi dengan iringan organnya. Mas Tana juga tidak terlalu peduli dengan penampilannya. Hampir setiap pagi ia ikut misa. Dengan selang sonde yang keluar dari hidung atau dengan gambaran tinta hitam penanda tempat radiasi di wajah, ia tetap main organ dalam berbagai misa di kapel RS Panti Rapih dan mengiringi berbagai kor dari dalam maupun luar rumah sakit.

:: 103 ::

Dalam perayaan ulang tahun ke-75 RS Panti Rapih, ada lomba kor antarbagian. Mas Tana terlibat sangat intensif dalam latihanlatihan kelompok Magnificat, yang mencakup bangsal Lukas 3. Semula ia akan bermain organ untuk mengiringi mereka dalam lomba. Namun satu minggu sebelum tampil, ia mengatakan, lagu yang kedua akan lebih bagus dengan permainan biola. Maka, jadilah ia bermain biola, dan organ dimainkan orang lain. Hasilnya, kelompok Magnificat menyisihkan 12 peserta lainnya dan menjadi juara. (Komentar Ibu: “Mungkin itu karena dewan juri merasa segan pada Mas Tana.”) Mas Tana tidak pernah lagi mengikuti misa harian di kapel Panti Rapih sejak dirawat untuk kedua kalinya mulai Desember 2004. Atas jasa baik Romo J. Kristanto, Pr., dan Romo A. Hari Kustono, Pr., diadakan misa seminggu dua kali di kamarnya. Misa pertama pada 25 Januari 2005 bertepatan dengan ulang tahun imamatnya ke-23. Mas Tana pada awalnya masih memilih sendiri lagu yang akan dinyanyikan dan saya mempelajarinya sebelum

:: 104 ::

misa (karena saya yang bertugas memimpin nyanyian). Saat itu kepekaannya terhadap pelaksanaan nyanyian masih diperlihatkan dengan gerakan anggota badan, seperti tangan, cethetan jari, kerutan dahi, ataupun gelengan kepala. Misa terakhir, misa ke21, diadakan Senin sore, 21 jam sebelum ia dipanggil Tuhan. Saat itu mata Mas Tana sudah lebih banyak terpejam dan sedikit memberikan respons terhadap apa pun. Selain musik, hobi lain Mas Tana adalah catur dan bridge. Permainan bridge tidak dimainkan selama sakit, tetapi ia tetap bermain catur. Ada dua papan catur tersedia di kamarnya: yang berukuran besar untuk bermain bersama lawan sambil duduk dan yang berukuran kecil bisa dipangku sambil tiduran. Ada tiga orang penjenguk yang sering diajak bermain dan tidak jarang mereka datang khusus untuk bermain. Ketika Mas Tana mulai makan dengan sonde, pada saat-saat tertentu permainan harus dihentikan sementara karena Mas Tana harus minum atau makan. Setiap hari Minggu, sebelum masuk RS, saya selalu membelikan Mas Tana Media Indonesia yang ada rubrik caturnya. Mempelajari dan memahami bahasa dengan tepat sepertinya juga menjadi minatnya. Sering kali tulisan saya diberi kritik untuk perbaikan. Ketika ia bertugas di Papua, di salah satu pembicaraan kami melalui telepon, ia minta dikirimi kliping Suara Pembaruan yang memuat tulisan saya yang pertama dimuat di media. Ada empat artikel yang saya kirim. Selang beberapa waktu, ia mengirim balik dengan beberapa coretan di kosa kata atau kalimat yang dipandang kurang tepat dan menuliskan perbaikannya. Saya tidak :: 105 ::

menyangka sama sekali kalau ia melakukan hal ini. Ia tidak menyinggung sedikit pun segi substansinya karena memang latar belakang ilmu kami berbeda, namun dari segi bahasa ia memberi banyak masukan. Karena pengalaman inilah, ketika saya harus menulis dalam bahasa Inggris, ia saya jadikan tempat untuk bertanya, mengoreksi, dan membantu menyusun kalimat. Pertemuan terakhir Bapak dengan Mas Tana terjadi pada saat Mbak Murni meninggal dunia pada bulan Januari 2001. Mas Tana masih libur seminggu di rumah sebelum pulang ke Kalimantan, setelah acara misa peringatan tujuh hari Mbak Murni di Bogor. Ternyata kehadiran Mas Tana di rumah dimanfaatkan Bapak untuk meminta penjelasan tentang tata bahasa Prancis. Mereka berdiskusi dengan suara yang cukup keras di ruang makan dalam beberapa kali kesempatan. Mas Tana juga senang membaca sastra dan novel, baik yang berbahasa Indonesia maupun bahasa lain. Selama sakit, permintaan dibelikan novel tertentu (biasanya setelah membaca resensi di majalah Tempo atau koran) sering terjadi. Tidak sedikit teman yang mengetahui hobinya membawakan buku-buku bacaan atau novel saat menengoknya. Ia juga sangat mengetahui dengan tepat buku-buku yang dipunyai karena ia akan memberikan spesifikasi buku yang minta dikirimkan (saat di Papua atau Kalimantan), seperti warna sampul, panjang, lebar, dan ketebalan buku, bahkan kadang juga warna serta kualitas kertasnya. Kepergian Mas Tana membuat saya kehilangan salah satu narasumber ampuh. Selamat jalan, Mas. Di sana bisa kauteruskan :: 106 ::

hobi-hobimu. Kau bisa bermain musik, catur, dan kartu bridge dengan Dik Beni dan membahas novel-novel dengan Mbak Murni, serta meneruskan penjelasan bahasa Prancis untuk Bapak. — AGNES MAWARNI, adik kandung, tinggal di Yogyakarta

:: 107 ::

Seorang Imam, Seorang Kakak

SEWAKTU SAYA DUDUK DI BANGKU SD, Mas Tana sudah sekolah di Mertoyudan. Kalau liburan, dia pulang sambil membawa biola. Dia aktif mengajak adik-adiknya belajar alat musik. Karena masih kecil, kami dikenalkan dengan alat musik seruling. Ketika kami agak besar sedikit, kami dikenalkan dengan gitar. Saya ingat, lagu pertama yang diajarkan adalah Naik-Naik ke Puncak Gunung. Namun karena saya tidak berbakat, dan tidak tekun, ya tidak dilanjutkan. Selanjutnya, saya aktif sebagai pendengar saja kalau Mas Tana ke rumah dan bermain gitar bersama Mas Ut, kakak nomor dua. Pada waktu Mas Tana menjalani TOP di Paroki Wonosari, dia mendapat giliran khotbah sebulan sekali. Bapak sering menyempatkan diri pergi ke gereja Wonosari untuk mendengarkan khotbahnya, dan setibanya di rumah Bapak selalu bercerita sedikit tentang khotbah Mas Tana. Saya hanya ingat bahwa kalau Mas Tana khotbah, ia sering membawa alat peraga. Misalnya, ketika bacaan injil hari itu tentang tanaman gandum dan ilalang, Mas Tana membawa salah satu tanaman tersebut (mungkin yang ditunjukkan ilalang, ya). :: 108 ::

Mas Tana selalu mempersiapkan sesuatu dengan bersungguhsungguh, dan kami sekeluarga selalu dikenalkan dengan bentuk dan cara berdoa yang baru. Waktu saya masih tinggal di Yogya, pernah dalam suatu periode kami menggunakan buku Ibadat Harian untuk doa malam, yang pada waktu itu bagi kami terasa asing karena banyak diselingi dengan pendarasan mazmur. Pada saat Mas Tana tinggal di keuskupan Ketapang, dan saya berdomisili di Solo, saya kontak dengan dia melalui surat, email, atau telepon jika dia pas berada di kota Ketapang untuk acara retret, rekoleksi atau rapat, yang kira-kira diadakan 1,5 sampai 3 bulan sekali. Itu pun hanya beberapa hari saja. Jika dia sudah tiba

Bersama adik dan keponakan ketika bertugas di Boro.

:: 109 ::

di Ketapang, maka dia langsung menelpon salah satu adiknya, dan berikutnya kami adik-adik yang tinggal di beberapa kota akan bergantian meneleponnya. Minat Mas Tana sangat banyak mulai dari musik, film, catur, novel, dan entah apa lagi. Saya cukup sering mengirimi dia CD musik, VCD, dan novel pesanannya. Apabila dari suatu majalah ada resensi buku dan dia tertarik dengan isinya, biasanya buku tersebut akan dimasukkan dalam daftar buku pesanannya juga. Mas Tana pernah minta dikirimi buku-buku catur dengan pengarang asing karena menurut dia buku catur dengan pengarang lokal sudah tidak menantang. Setiap hari ulang tahun anggota keluarga (adik, ipar, dan keponakan) Mas Tana selalu menyempatkan memberi ucapan. Hal ini juga kami dengar dari beberapa umat asuhannya (Boro, Klaten, Ungaran) yang membesuknya pada saat sakit. Mereka bercerita, walaupun Romo berada di Kalimantan, beliau tetap rajin memberikan ucapan selamat ulang tahun untuk anak-anak mereka. Jadi, sewaktu dia sakit, kami merasa sangat sedih karena banyak hal-hal dari Mas Tana yang menggembirakan dan menggariahkan saya rasanya sulit terwujud kembali. Pendampingan saya pada waktu dia sakit hanya sedikit. Saya dan keluarga membesuk Mas Tana kalau pas hari libur, itu pun tidak bisa setiap Sabtu-Minggu karena kadang ada keperluan saya di hari Minggu juga. Saya melihat Mas Tana sangat bersemangat menjalani semua proses pengobatannya, dan sewaktu sakit pun tetap berusaha beraktivitas biasa. Pada minggu ketiga Agustus :: 110 ::

2004, Mas Tana sempat menginap di rumah saya selama tiga hari. Dia kami antar pergi ke toko buku Sion, dan dia membeli Alkitab ukuran kecil berbahasa Inggris. Saya tanya, “Kok nggak milih yang bahasa Indonesia saja?” karena menurut saya lebih mudah membaca dalam bahasa Indonesia. Jawabnya, dia harus tetap terus mengasah bahasa Inggrisnya supaya tidak lupa (padahal konon kabarnya dia sudah termasuk ahli dalam bahasa Inggris). Wah, saat itu saya merasa malu sendiri, karena saya yang tidak fasih bahasa Inggris tidak merasa harus mengasahnya, malahan cenderung memilih bacaan dalam bahasa Indonesia. Saat saya ikut membenahi barang-barangnya di Pringwulung setelah hari pemakamannya, saya melihat Alkitab tersebut. Dalam hati saya bertanya, siapa yang akan meneruskan membacanya. Pada minggu-minggu dan hari-hari terakhir sakitnya, saya malahan cenderung tidak rajin membesuk karena sudah tidak tega melihat Mas Tana. Jika saya ke Yogya, saya datang sebagai “penjenguk”, bukan “penjaga” seperti ibu, kakak, dan adik yang di Yogya. Saya selalu memantau, tapi kalau dicritani keadaan sesungguhnya, malahan saya jadi sedih terus-menerus. Hal yang menghibur saya adalah perhatian dan dukungan dari banyak pihak pada Mas Tana, yang tentu saja sangat menggembirakan dan menghiburnya. Sekarang Mas Tana sudah terbebas dari segala kesakitannya, dan mengutip ucapan Bapak Uskup Suharyo pada misa requiem, Romo Martana sudah menemukan misteri hidup. Dengan kepergian Mas Tana, ada hal-hal yang sudah tidak bisa kami rasakan :: 111 ::

lagi, seperti minta dibuatkan aransemen lagu, memilihkan lagu untuk tugas, dan tentu saja kami sudah tidak bisa menikmati alunan piano dan organnya. Selamat jalan, Mas Tana. — ACM WINARSIH, adik kandung, tinggal di Solo

:: 112 ::

Pastor yang Menyayangi Keluarganya

SEWAKTU SAYA DILAHIRKAN, di tahun yang sama Mas Tana mulai sekolah di Seminari Menengah Mertoyudan, Magelang. Selama Mas Tana sekolah dan kuliah, saya belum menyadari bahwa ternyata saya punya kakak sulung seorang calon pastor. Meskipun mungkin saja setiap liburan Mas Tana ada di rumah, saya tetap tidak menyadarinya. Pada saat Mas Tana menerima tahbisan diakon, baru saya sadari bahwa saya punya kakak sulung seorang calon pastor. Saat Mas Tana menerima sakramen imamat pada tahun 1982, saya masih SD dan sangat bangga dengan hal itu. Kemudian ada acara syukuran dan misa perdana di rumah. Mas Tana mengenakan kasula dengan hiasan bordir sesuai motto imamatnya, “Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil” (Yoh 3:30). Kasula yang dikenakan Mas Tana adalah hasil karya ibu kami. Kasula itu juga dia kenakan jika ada acara keluarga di rumah kami. Mulai saat itu, saya dapat merasakan kehadiran, perhatian, dan kasih sayang seorang kakak sulung yang menjadi pastor. Seingat saya, setiap pulang ke rumah dan bertemu dengan saya, :: 113 ::

yang selalu dilakukannya adalah mencium kening saya, tanya iniitu kepada saya. Kebiasaan itu masih dilakukannya sampai dia terkena penyakit kanker. Hal lain yang saya ingat pada waktu berada di rumah, saya tengok di kamarnya dan Mas Tana lebih banyak tidur. Sampai saya pernah matur kepada ibu, “Kok Mas Tana bobok terus to, Bu?” Mungkin di rumahlah Mas Tana benarbenar bisa istirahat, dan bisa memilih masakan kesukaannya: soto masakan Yu Sar atau Yu Jah yang membantu keluarga kami. Keluarga kami mempunyai kebiasaan berdoa malam bersama setiap hari, biasanya juga membaca Kitab Suci sesuai Kalender Liturgi. Kalau Mas Tana ada di rumah, berdoa bersama, setelah membaca Kita Suci dia kadang-kadang memberikan sedikit ulasan tentang bacaan hari itu. Mas Tana juga menganjurkan berdoa malam bersama dengan buku yang sudah dia bawakan atau dengan

:: 114 ::

Madah Bakti, yang didoakan secara bergantian. Kebiasaan berdoa malam bersama ini masih berlangsung sampai sekarang. Frekuensi pertemuan kami yang tidak begitu sering, apalagi sejak dia bertugas di luar Jawa, tidak membuat saya merasa sedih atau merasa ada sesuatu yang kurang. Komunikasi tetap dapat berlangsung lewat surat atau telepon. Ketika Mas Tana ketahuan sakit dan harus dirawat, dia pulang ke Jawa. Kembali saya dapat merasakan punya kakak sulung secara lebih dekat, baik fisik maupun emosi. Mas Tana sempat dirawat di Semarang, Jakarta, kemudian Yogyakarta. Kalau dulu dia yang selalu memperhatikan saya, kini giliran saya yang ikut memberi perhatian, merawat, dan membantu Mas Tana. Saya juga dapat giliran merawat Mas Tana di Jakarta. Ternyata Mas Tana tidak pernah membantah, selalu patuh pada adik bungsunya ini. Saat Mas Tana sakit, banyak orang yang memberi perhatian, kasih, dan doa untuk Mas Tana, baik saat di Jakarta apalagi waktu di Yogyakarta. Teman-teman semasa kecilnya, teman sekolah dan kuliah, sesama pastor, mantan murid-muridnya, umat dari paroki tempat dia pernah bertugas, kelompok musik dan grup nyanyi Panti Rapih, bahkan orang-orang yang sebelumnya tidak mengenal Mas Tana sama sekali, mereka semua bergantian datang menjenguk. Sampai saat-saat terakhirnya, mereka masih memberi perhatian, kasih, dan doa hingga dia kembali ke Rumah Bapa di Surga. Pada misa perdana setelah ditahbiskan, dia mengenakan kasula hasil karya Ibu. Begitu juga saat terakhir hidupnya, dia mengenakan kembali kasula itu. :: 115 ::

Saya bersyukur mempunyai kakak sulung seorang pastor, yang penuh perhatian dan kasih kepada keluarga dan adik-adiknya. Saya yakin, pengalaman hidup bersama Mas Tana memperkaya hidup saya. — ELIZABETH KRISTI, adik kandung, tinggal di Yogyakarta

:: 116 ::

Rangkaian Bunga

:: 117 ::

Pemuda Martana dengan para idola era Generasi Bunga: The Beatles, John Lennon, Deep Purple.

:: 118 ::

ROMO MARTANA, engkaulah sosok seorang manusia yang sederhana. Banyak hal yang bisa dijadikan semacam alat bukti, bahwa engkaulah memang demikian. Sejak tahun 1971 di Mertoyudan, engkau langsung menampakkan pamor istimewa sebagai seminaris yang tergolong paling pandai, minimal cum laude, tetapi sekaligus selalu dan setiap saat mau membantu teman-teman yang mengalami kesulitan dalam pelajaran. Meskipun di bidang eksakta prestasimu prima, namun di tahun 1973 engkau memutuskan untuk memilih kelas sosial-budaya (IPS) karena memang ingin mendalami masalah-masalah sosial, yang tampak dari keunggulannya di bidang bahasa: Latin, Prancis, Inggris, termasuk musik (di bawah bimbingan Romo Sutanto, S.J.). Selesai dari Mertoyudan, engkau melanjutkan pendidikan di Seminari Tinggi Kentungan sebagai calon romo projo Keuskupan Semarang. Aktivitas musik masih berlanjut, hanya saja tidak mau tampil sebagai mahasiswa yang brilliant. Seakan-akan engkau ingin menunjukkan sosok pastor yang sederhana. Dan terbukti, menurut kabar teman-teman, engkau tidak mau melanjutkan studi ke luar negeri, bahkan memilih berkarya di Papua dan kemudian di Kalimantan. Memang Tuhan telah menunjukkan karyanya yang agung dalam diri seorang Martana yang mempunyai beberapa bakat unggul. Tampak sikap hidup yang bersahaja, bersahabat dengan siapa pun, terutama dengan yang membutuhkan bantuannya, serta diramu dengan keindahan dalam bermusik, sampai pada akhirnya justru di saat-saat yang sangat kritis engkau masih dapat me:: 119 ::

Bersama dengan Romo Rudi Hardono, Pr., partner bernyanyi dan bermain catur.

:: 120 ::

mancarkan “semangat hidup” kepada teman-teman yang sempat mengunjungimu di Panti Rapih. Dan saya yakin, sekarang pun engkau masih bersemangat hidup meski jasadmu telah rapuh dan mati. Sungguh perjalanan hidupmu telah menjadi suatu kesaksian bahwa hidup yang sebenarnya adalah hidup yang rela mengorbankan dirinya meski harus menderita hingga kematian. Imitatio Christi. Allelluia. — RATMOKO, lenongan@yahoo.com

œ
romo yang baik you are my good teacher you are my good friend but, above all, you are my inspiration the inspiration of how to live the life selamat mengiringi misa requiem Sri Paus di sorga sana dengan jari-jarimu di atas tuts aku ingin jadi tukang parkir saja kalau sorga memerlukannya, sebab mungkin belum ada sampai jumpa lagi — RUDI HARDONO, PR., imam, seminaris Mertoyudan 1982-1986, rudihar2001@yahoo.com
SUGENG KONDUR ,

œ
:: 121 ::

Mo Tana mungkin ini yang terbaik buatmu tinggalkan kenangan manis, mendalam yang bekasnya hingga kini tak mau jua hilang. saat kelas dua dulu di Mertoyudan tatapan matamu begitu tajam meski tetap penuh cinta meski aku punya salah ada dua orang di Mertoyudan yang tetap meninggalkan kenangan yang tak pernah hilang, Romo Wernet yang selalu mengingatkan aku agar berani melawan kehendak negatif dia juga yang terlihat sedih waktu aku putuskan tak terus Kedua, Romo Tana, meski kurus, sederhana, dan tampak kurang makan, beliau punya sesuatu yang tak bisa dikalahkan orang lain kesederhanaan dan konsistensi antara kata-kata dan perbuatan itu yang begitu membekas, kenangan atas orang suci yang tetap rendah hati selamat jalan, Romo selamat jalan, pahlawanku! — INDIWAN SETO, seminaris Mertoyudan 1982-1984, indiwan_wibowo@hotmail.com

SELAMAT JALAN,

:: 122 ::

TURUT BERDUKA CITA sedalam-dalamnya atas meninggalnya Romo “SJ” yang benar-benar “sendalan jepit”. Kendati aku bukan seminaris yang menonjol di mata beliau, tapi aku tetap merasakan kehangatan dan keramahan luar biasa dari pribadi satu ini. Rupanya beliau sudah dibukakan pintu oleh Bapak Paus yang terlebih dahulu mendahului sang romo. Kini buku yang akan dipenuhi oleh tulisan teman-teman akan menjadi buku kenangan dan hadiah ultah baginya. Senang dulu pernah berjalan kaki dari Sendangsono sampai rumahnya di Yogya. Kini beliau mendahului kita berjalan menuju sisi-Nya. — V. IRIANTO, seminaris Mertoyudan 1982-1986, ivoejapan@yahoo.co.jp

œ
SELAMAT JALAN, Romo Martana. Sampai jumpa di tanah terjanji. Sekarang kami berdoa untuk Romo. Dan kalau Romo sudah bertemu dengan Tuhan, doakan kami semua. Salam dan doa dari kami semua, teman-teman Romo. — E. JOHN PAUL TARIGAN, imam, emjohnpaulta@yahoo.it

œ
:: 123 ::

SAYA JUGA IKUT BERDUKA CITA mendalam atas meninggalnya Romo Martana. Teladan kerendahan hatinya sampai saat ini masih membekas di hati setiap seminaris yang pernah dipamonginya. Saya termasuk salah satu di antara sekian banyak. Well, selamat jalan, Romo Martana. Selamat mendahului di kehidupan baru. — BUDI YOHANNES, mantan seminaris Mertoyudan, budiy@japfacomfeed.co.id

œ
S UGENG TINDAK , R OMO . Romo telah memberikan banyak hal kepada kami: keteladanan, kerendahan hati, kesederhanaan, dan ketulusan hati. Kepergian Romo yang berdekatan dengan hari raya Paskah dan kepergian Bapa Suci semoga membawa kebahagiaan kekal abadi di surga. Kepada keluarga dan keluarga besar Unio KAS, saya menyampaikan bela sungkawa yang sedalamdalamnya. — DIDIEK DWINARMIYADI, Paguyuban Gembala Utama, ddn@kompas.com

œ

:: 124 ::

SEDIH BAHWA KITA KEHILANGAN romo yang “bapak”. Gembira bahwa bapak kita sudah bertemu dengan Tuhan. Selamat jalan, Romo. — DWIYANTO SUTARSONO, seminaris Mertoyudan 1982-1986, dwiyanto.sutarsono@unilever.com TURUT BERDUKA CITA karena kepergian Romo Martana, pamongku tercinta sewaktu kelas 1 (MM2) yang sangat sederhana, opera bersama yang di-emong, rapat kebidelan MM2 dengan lesehan, dan meninabobokan kami dengan lagu-lagu yang indah. Turut berbahagia juga karena Romo Martana semakin dekat dengan Allah Bapa setelah melewati masa persiapan yang cukup panjang dan melelahkan. Romo Martana, selamat jalan. Saya yakin bahwa Romo pasti cepat bersatu dengan Allah Bapa, seperti dahulu Romo tunjukkan kepada kami cara dekat dengan Allah Bapa, yang akan selalu saya ingat dalam tempat khusus di hati. — SURYADI, seminaris Mertoyudan 1981-1985, suryadi@adisoemarta.net

œ

:: 125 ::

ROMO MARTANA, pasti Tuhan langsung menerima permohonan Romo untuk istirahat dalam kebahagiaan abadi bersama-Nya. Selamat jalan. Kebaikanmu kukenang selalu. — T. SUMARDJI MARTASUPARDJO, tms@kompas.co.id

œ
SELAMAT JALAN, Romo Martana. Dedikasimu selalu dikenang dan spiritmu masih tetap menjadi spirit kami. Requiescat in pace. — ROLAND TAUNAY, roland.taunay@bogasariflour.com
SAYA TERHARU

saya tidak tega lihat foto yang dikirim Putut kemarin saya ingat nabi Ayub dan hari ini Tuhan berkenan memanggil Romo Martana Tuhan terimalah dia di sisi-Mu berilah kekuatan untuk keluarganya banyak sekali teladan baik yang telah Romo Martana berikan kepada kami semua selamat jalan, Romo selamat bertemu dengan yang empunya hidup selamat istirahat dalam damai selamat bertemu dengan saudara-saudara Romo yang telah lebih dulu dipanggil Tuhan :: 126 ::

Romo, bila bertemu dengan Bapa ingatlah kami yang masih di dunia ini Amin — H.B. SAPTO NUGROHO, koster milis merto21@yahoogroups.com

œ
RABU, 6 APRIL 2005, jenazah Romo F.A. Martana Constantinus Maria, Pr., telah disemayamkan dengan tenang di makam romoromo projo KAS, kompleks Seminari Ting gi St. Paulus Kentungan, Yogyakarta. Prosesi pemakaman yang dilaksanakan jam 14.30 diawali dengan Misa Requiem yang dipimpin oleh selebran utama, Mgr. I. Suharyo, Uskup Agung Semarang, yang didampingi banyak sekali pastor seperti layaknya upacara tahbisan. Misa berlangsung khidmat selama kurang lebih dua jam. Dalam pengantar dan homilinya, Bapak Uskup berbagi kesaksian tentang sikap hidup dan keimanan Romo Martana yang justru sangat teruji dan patut terteladani saat menderita sakit selama lebih dari satu setengah tahun terakhir. Sungguh dapat dirasakan baik oleh anggota keluarganya, para sahabat, mantan siswa di seminari, kolega pastor, umat dari Balai Berkuak maupun Tumbang Titi yang berkunjung, termasuk Bapak Uskup sendiri, bahwa Mo Tana selalu menghayati penderitaan sebagai hal yang :: 127 ::

dia rasakan baik, ora popo, bisa menerima, aku seneng, mesem, dan acungan jempol seperti disaksikan oleh Putut saat bezoeknya. Mo Tana telah menjadikan penderitaan, kesakitan, kesusahan, dan kesulitan yang dialami tanpa putus selama satu setengah tahun terakhir sebagai bagian dari perjalanan hidup keimanan dan panggilan pelayanan imamatnya. Demikian aku menangkapnya. Bapak Uskup juga menceritakan bahwa sesungguhnya Mo Tana telah berniat untuk seterusnya tinggal di pedalaman Kalimantan bersama umat yang sangat dicintainya, tetapi situasi kesehatan membuatnya terpaksa harus kembali ke Semarang dan akhirnya terhenti di RSPR, Yogya (setelah mengupayakan dan berusaha mendapatkan pengobatan berbagai cara). Kesaksian serupa dilengkapi juga oleh wakil romo-romo Unio KAS yang mengucapkan syukur dan terima kasih bagi siapa saja terutama keluarga yang telah memberikan perhatian dan bantuan saat Mo Tana membutuhkan perawatan dan penguatan, baik saat di RSPR, di wisma pastor-pastor projo di Puren, dan lainnya. Termasuk di dalamnya adalah satu kelompok orkes keroncong yang bezoek dan main musik di RS karena memang Mo Tana sangat hobi musik. Bapak Pranoto yang mewakili keluarga, selain mengucapkan dua hal, yaitu sedih sekaligus syukur, juga mengekspresikan rasa terima kasih dan minta maaf bila ada kata-kata sikap dan tindakan “Mas Tana” yang kurang berkenan. Ia sedih karena ditinggalkan kakak sulung yang mereka cintai dan banggakan, namun juga ia :: 128 ::

bersyukur karena akhirnya Romo Tana telah dibebaskan dari semua derita yang telah dialaminya. “Selamat jalan, Mas Tana,” demikian dia mengakhiri. Misa requiem dan prosesi pemakaman itu dihadiri oleh ribuan umat yang meluber hingga pendopo seminari di gang-gang dan selasar halaman rumput. Lapangan bola dijubeli mobil yang parkir hingga halaman depan. Sugeng tindak, Mo Tana. — PATMADYANA “JIM WEST”, apatmady@jmn.net.id

:: 129 ::

:: 130 ::

Lampiran

:: 131 ::

Music Book Rm Tana

Ketika Mbak Agnes, adik Rm. Tana menunjukkan Music Booknya Rm. Tana, seketika saya langsung geleng-geleng kepala dan memperlihatkan kepada teman-teman di sekitar saya. Betapa tidak, aransemen lagu-lagu klasik dari G.F. Händel, Schubert, Mozart, J.S. Bach, dan lain-lain, terasa menjadi salah satu santapan rohani Rm Tana di Seminari Mertoyudan, di saat pelajaran sedang berlangsung atau guru tidak datang. Kekaguman ini terutama aransemennya dalam lautan not balok yang tidak bisa saya baca. Saya pernah ikut bergabung dengan Orkes Seminari yang dihidupkan oleh Rm Tana, pegang terompet. Beliau tahu saya bisa meniup terompet ketika saya sedang coba-coba terompet milik Seminari. Kalau dulu seleksi untuk menjadi personil orkestra melalui tes baca not balok, saya tidak, karena hanya dengan modal abab kuat (bisa niup karena ikut drumband tanpa perlu baca not balok), dan tidak ada yang lain. Ketika memainkan lagu, saya bilang ke Mo Tana, “Mo, kalau pas giliran terompet, tolong beri tanda khusus ya supaya masuknya tidak telat atau kecepeten,” meski di depan kami (Suminarno, Sentot, dan saya) ada teksnya. :: 132 ::

Ketika misa malam Natal di Kapel Besar dengan orkestra full team, untuk memainkan lagu Gloria, terompet memulai lebih dulu dengan nada tinggi. Saat itu personil orkestra kelihatan tegang (di sana ada Rm. Puja Sumarta Pr, pegang obo), janganjangan bidikan nadanya kurang tinggi, bisa bikin kacau. Karena bidikannya tepat, Rm. Tana mengacungkan jempol sambil mendirigeni yang lain untuk mulai. Saya tidak habis pikir, ketika usia masih bagitu muda, sudah secepat itu Rm. Tana membuat aransemen lagu-lagu klasik, apalagi di jam-jam yang cukup rawan (siesta, pelajaran, pelajaran kosong). Music Book dengan tertera tanda tangan khas Rm Tana ini berisi lima belas aransemen lagu She, er kommt, Praludium, Largo, Sarabande, Die Nacht, Ave Verum, Ave Maria, Largo, Jesu, joy of man’s desiring, Ave Maria, Andante Religioso, The Holy City, Bridal March, Agnus Dei, Mazmur 131. Dua Largo dan dua Ave Maria, diaransemen secara berbeda. Buku ini ditemukan oleh Mbak Agnes masih tersimpan dengan baik, meski tahun penulisannya dari mulai 1972 sampai 1991. Dalam buku Martana edisi kedua ini sengaja hanya ditampilkan beberapa aransemen dengan memperbesar bagian tertentu (inzet). Hal ini sekadar mau menunjukkan ‘kenakalan’, Rm. Tana ketika menjadi seminaris, sekaligus menunjukkan bukti bahwa sejak masa mudanya Rm. Tana menjalani hidup dengan “ringan lepas bebas” (lih. Pengantar Editor). Sungguh orang ini seorang maestroyudan. —DWIKO, seminaris 1981-1985 :: 133 ::

:: 134 ::

:: 135 ::

:: 136 ::

:: 137 ::

:: 138 ::

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->