P. 1
Manajemen Keuangan Sekolah Publik

Manajemen Keuangan Sekolah Publik

|Views: 3,817|Likes:
Published by Darmawan Soegandar
Manajemen Keuangan Sekolah Publik yang meliputi kelima prinsip pengelolaan keuangan sekolah dengan penekanan pada akuntabilitas dan transparansi. Pada bagian yang bersifat teknis, sebagian besar merupakan penulisan ulang dari juklak dan pedoman pengelolaan keuangan sekolah yang berlaku
Manajemen Keuangan Sekolah Publik yang meliputi kelima prinsip pengelolaan keuangan sekolah dengan penekanan pada akuntabilitas dan transparansi. Pada bagian yang bersifat teknis, sebagian besar merupakan penulisan ulang dari juklak dan pedoman pengelolaan keuangan sekolah yang berlaku

More info:

Published by: Darmawan Soegandar on Aug 07, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/22/2013

pdf

text

original

Kebutuhan dana untuk kegiatan operasinal secara rutin

dan pengembangan program sekolah secara berkelanjutan

sangat dirasakan setiap pengelola lembaga pendidikan.

Semakin banyak kegiatan yang dilakukan sekolah semakin

banyak dana yang dibutuhkan. Untuk itu kreativitas setiap

pengelola sekolah dalam menggali dana dari berbagai sumber

akan sangat membantu kelancaran pelaksanaan program

sekolah baik rutin maupun pengembangan di lembaga yang

bersangkutan. Pasal 46 Undang-undang No 20 Tahun 2003

68

menyatakan pendanaan pendidikan menjadi tanggung jawab

bersama antara Pemerintah, pemerintah daerah, dan

masyarakat.

Berdasarkan tuntutan kebutuhan di sekolah tersebut

utamanya kebutuhan pengembangan pembelajaran yang sangat

membutuhkan biaya yang relatif banyak, maka sumber

pendapatan diupayakan dari berbagai pihak agar membantu

penyelenggaraan pendidikan di sekolah, disamping sekolah

perlu melakukan usaha mandiri yang bisa menghasilkan dana.

Hal ini akan terwujud apabila menajemen sekolah

dilaksanakan dengan sebaik-baiknya di samping kreativitas

sekolah juga menjadi andalan utama.

Berbagai perkembangan yang ada di abad 21,

(Garner,2004) mengungkapkan adanya pengaruh langsung

maupun tidak langsung dalam meningkatkan perolehan

keuangan sekolah, yaitu praktek pembukuan yang sesuai

dengan akuntansi(accounting), sekolah yang memiliki piagam

(charter schools), daya tarik sekolah(magnet school),

privatisasi sekolah(the privatization of school), vouchers,

sistem yang terbuka dalam mengelola sekolah ( open systems),

dan manajemen berdasarkan kondisi riil sekolah (site-based

management).

69

Untuk itu sekolah perlu memenuhi poin-poin tersebut

agar perolehan dana bisa lebih ditingkatkan. Hal ini terjadi

karena masyarakat sangat mempercayai keunggulan sehingga

mereka merasa respek terhadap lembaga pendidikan.

Sumber-sumber pendapatan sekolah bisa berasal dari

pemerintah, usaha mandiri sekolah , orang tua siswa, dunia

usaha dan industri, sumber lain seperti hibah yang tidak

bertentangan dengan peraturan perundangan yang berlaku,

yayasan penyelenggara pendidikan bagi lembaga pendidikan

swasta, serta masyarakat luas. Berikut ini disajikan rincian

masing-masing sumber pendapatan sekolah.

Sumber keuangan dari pemerintah bisa berasal dari

pemerintah pusat, pemerintah kabupaten/ kota. Sumber

keuangan pendidikan yang berasal dari pemerintah pusat

dialokasikan melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja

Negara (APBN), sedangkan yang berasal dari pemerintah

kabupaten dan kota dialokasikan melalui Anggaran

Pendapatan dan Belanja Daerah(APBD).

Selanjutnya melalui kebijakan pemerintah yang ada, di

tahun 2007 di dalam pengelolaan keuangan dikenal sumber

anggaran yang disebut Dana Isian Pelaksanaan Anggaran

(DIPA). DIPA meliputi Administrasi Umum, yaitu alokasi dari

70

Pemerintah yang bersumber APBN penerimaan dari pajak ,

dan Penerimaan Negara Bukan Pajak(PNBP) yang bersumber

dari dana masyarakat. Beberapa kegiatan yang merupakan

usaha mandiri sekolah yang bisa menghasilkan pendapatan

sekolah antara lain : (1) pengelolaan kantin sekolah, (2)

pengelolaan koperasi sekolah, (3) pengelolaan wartel, (4)

pengelolaan jasa antar jemput siswa, (5) panen kebun sekolah,

(6) kegiatan yang menarik sehingga ada sponsor yang

memberi dana, (7) kegiatan seminar/ pelatihan/ lokakarya

dengan dana dari peserta yang bisa disisihkan sisa

anggarannya untuk sekolah, (8) penyelenggaraan lomba

kesenian dengan biaya dari peserta atau perusahaan yang

sebagian dana bisa disisihkan untuk sekolah.

Pengelolaan kantin sekolah memiliki manfaat

tersedianya makanan dan minuman yang sehat dan bergizi,

harganya yang terjangkau oleh warga sekolah, juga memiliki

nilai bisnis yang menguntungkan bagi sekolah. Hasil penjualan

atau sewa tempat penjualan dikumpulkan sehingga menjadi

sumber rutin yang diterima pihak sekolah.

Pengelolaan kantin sekolah perlu memperhatikan hal-

hal sebagai berikut:

71

1. Tempat kantin strategis di dalam sekolah, yang

memudahkan warga sekolah untuk mengunjunginya, serta

dapat terpantau oleh pengelola sekolah.

2. Bangunan kantin didesain secara baik, indah, bersih,

nyaman sehingga menyenangkan pengunjungnya.

3. Menu makanan dan minuman bervariasi sesuai selera

pembeli dan berkualitas baik, namun harganya diusahakan

yang semurah mungkin.

4. Keuangan kantin atau hasil pengelolaan kantin dikelola

secara transparan.

Selain pengelolaan kantin sekolah, usaha yang bisa

dilakukan sekolah untuk menambah pendapatan sekolah yaitu

pengelolaan koperasi sekolah. Adanya koperasi sekolah

disamping memiliki manfaat tersedianya kebutuhan pokok

dengan harga yang terjangkau oleh warga sekolah, juga

memiliki nilai bisnis yang menguntungkan bagi sekolah.

Terkait dengan kebutuhan siswa, usaha koperasi bisa

berupa toko yang menyediakan seragam sekolah, buku tulis

dan cetak, alat tulis dan kebutuhan belajar lainnya. Terkait

dengan kebutuhan guru, koperasi bisa menyediakan seragam

guru, alat tulis dan kebutuhan rumah tangga misalnya

penyediaan sembako dan kebutuhan lainnya.

72

Selain toko yang menyediakan kebutuhan guru,

koperasi bisa mengelola usaha simpan pinjam dengan suku

bunga yang lebih rendah daripada suku bunga di bank agar

guru dan pegawai sekolah tertarik serta merasa diuntungkan

oleh adanya koperasi di sekolah. Usaha kavling tanah dan

perumahan juga bisa diusahakan oleh sekolah kalau memang

sekolah mampu melakukannya. Tentu saja pengurus koperasi

harus bekerja sma dengan perbankan agar diperoleh modal

yang sesuai kebutuhan.

Pengelolaan koperasi sekolah yang efektif perlu

memperhatikan hal-hal sebagai berikut:

1. Tempat koperasi strategis di dalam sekolah, yang

memudahkan warga sekolah untuk mengunjunginya, serta

dapat terpantau oleh pengelola sekolah.

2. Bangunan koperasi didesain secara baik, indah, bersih,

nyaman sehingga menyenangkan pengunjungnya.

3. Ragam barang yang dijual di koperasi bervariasi sesuai

kebutuhan pembeli dan berkualitas baik, namun harganya

diusahakan yang semurah mungkin.

4. Keuangan koperasi atau hasil pengelolaan koperasi dikelola

secara transparan dan sesuai dengan standar pembukuan

koperasi.

73

Hasil usaha koperasi dikumpulkan sehingga menjadi

sumber rutin yang diterima pihak sekolah. Pengelolaan wartel

yang tepat juga bisa merupakan pemasukan pendapatan rutin

bagi sekolah. Dalam hal ini perlu ditunjuk petugas yang

mampu mengelola kegiatan secara tertib, teliti dan memiliki

tingkat kejujuran yang tinggi.

Pengelolaan jasa antar jemput bagi siswa, barangkali

bisa dilakukan bagi sekolah yang lokasinya jauh dari jalur

transportasi umum, meskipun usia anak SMA/SMK mungkin

kurang berminat menggunakannya. Tetapi tidak ada salahnya

kalau pihak sekolah menjajagi kemungkinan banyak siswa

yang berminat menggunakannya.

Sekolah yang masih memiliki lahan luas bisa

mengelola lahannya dengan menanam tumbuhan yang

hasilnya bisa dijual dan bisa menjadi pemasukan pendapatan

bagi sekolah. Tentunya sekolah perlu bekerja sama dengan

penggarap tanah di sekitar sekolah, agar semua kegiatan

berjalan lancar

Sekolah bisa menyelenggarakan kegiatan yang menarik

warga di dalam sekolah dan perusahaan di sekitar sekolah,

sehingga ada sponsor yang memberi dana ke sekolah. Kegiatan

ini bisa berupa gerak jalan sehat, pertandingan sepak bola

74

antar sekolah atau kegiatan yang sejenis. Apabila ada dana

yang masuk, sekolah bisa menyisihkan sebagian untuk

sekolah.

Kegiatan seminar, pelatihan, lokakarya dengan dana

dari peserta yang bisa disisihkan sisa anggarannya untuk

sekolah.

Penyelenggaraan kegiatan ini tentunya harus dipilih

tema yang hangat, perkembangan terkini sehingga menantang

peserta mengikutinya. Apabila ada dana yang masuk, sekolah

bisa menyisihkan sebagian untuk sekolah.

Penyelenggaraan gelar dan lomba kesenian antar

sekolah dengan biaya dari peserta atau perusahaan yang

berminat membantunya. Sebagian dana bisa disisihkan untuk

sekolah.

Selain yang sudah disebutkan di atas, masih ada

sumber pembiayaan alternatif yang berasal dari proyek

pemerintah baik yang bersifat block grant maupun yang

bersifat matching grant(imbal swadaya). Di tahun anggaran

1997 sampai dengan 2003, sumber alternatif itu dikucurkan

oleh Proyek Perluasan dan Peningkatan Mutu Pendidikan

melalui mekanisme block grant maupun yang bersifat

75

matching grant. Terdapat 13 kegiatan Proyek di sekolah yang

dapat didanai dengan sumber anggaran tersebut( Imron, 2004).

Sumber dana yang berasal dari orang tua siswa dapat

berupa sumbangan fasilitas belajar siswa, sumbangan

pembangunan gedung, iuran BP3, dan SPP. Selain itu bisa

juga sekolah mengembangkan penggalian dana dalam bentuk:

1. Amal jariyah

2. Zakat mal

3. Uang tasyakkuran

4. Amal Jumat

Sumber dana dari dunia usaha dan industri dilakukan

melalui kerja sama dalam berbagai kegiatan, baik bantuan

berupa uang maupun berupa bantuan fasilitas sekolah. Sumber

dana dari masyarakat demikian juga bisa berupa uang maupun

berupa bantuan fasilitas sekolah.

Untuk memperoleh dana dari berbagai pihak utamanya

dari dana hibah atau block grant, kepala sekolah perlu

menyusun proposal yang menggambarkan kebutuhan

pengembangan program sekolah.

Komponen proposal dapat disusun sebagai berikut:

rumusan visi, misi, dan tujuan sekolah, identifikasi tantangan

nyata yang dihadapi sekolah, sasaran, identifikasi fungsi-

76

fungsi sasaran, analisis SWOT, alternatif langkah-langkah

pemecahan persoalan, rencana dan Program Peningkatan

mutu, anggaran dan rincian penggunaannya.

C. Masalah-Masalah Terkait dengan Penyusunan RAPBS

Salah satu implikasi dari penerapan Manajemen

Berbasis Sekolah sebagaimana diamanatkan dalam perundang-

undangan sistem pendidikan adalah diharuskannya pimpinan

sekolah (terutama Kepala Sekolah) untuk mengemban

tanggung jawab yang lebih besar dalam proses pengembangan

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->