Darmawan Soegandar, S.Pd., MAB.

MANAJEMEN KEUANGAN SEKOLAH PUBLIK

Bintang Merah 2010

1 PENGANTAR

Dari penelitian yang telah dilakukan penulis tentang pengelolaan keuangan di madrasah penulis menemukan bahwa: 1. Besarnya hubungan secara bersama-sama antara variabel akuntabilitas (X1) dan transparansi (X2) terhadap

pengelolaan keuangan madrasah (Y) tergolong tinggi yakni 0,768. Sedangkan kontribusi secara bersama-sama variabel X1 dan X2 terhadap Y sebesar 59% sedangkan sisanya 41% ditentukan variabel lain yang tidak diteliti pada penelitian penulis. Dari hasil analisis deskriptif indikator pada variabel pengelolaan keuangan (Y) ditemukan bahwa indikator yang paling kuat adalah organisasi dan koordinasi sebesar 83,36% sedangkan indikator terendah adalah indikator pengawasan sebesar 77,99%. 2. Akuntabilitas yang dimaksud adalah besar hubungan variabel akuntabilitas terhadap pengelolaan keuangan adalah 0,762 sedangkan kontribusi variabel X1 terhadap Y sebesar 58,1% sedangkan sisanya 41,9% ditentukan variabel lain. Sedangkan pengujian hipotesis menyatakan bahwa akuntabilitas berpengaruh secara signifikan

2 terhadap pengelolaan keuangan. Dari hasil analisis deskriptif indikator pada variabel akuntabilitas (X1) ditemukan indikator yang paling kuat adalah indikator laporan keuangan periodik dan tahunan sebesar 82,31% sedangkan indikator paling lemah adalah indikator kualitas penyusunan APBM sebesar 66,85%. 3. Transparansi yang dimaksud adalah besar hubungan variabel transparansi terhadap pengelolaan keuangan adalah 0,636 sedangkan kontribusi variabel X2 terhadap Y sebesar 40,4% sedangkan sisanya 59,6% ditentukan variabel lain. Sedangkan pengujian hipotesis menyatakan bahwa transparansi berpengaruh secara signifikan terhadap pengelolaan keuangan. Dari hasil analisis deskriptif indikator pada variabel transparansi (X2) ditemukan indikator yang paling kuat adalah indikator jaminan integritas sebesar 81% sedangkan indikator paling lemah adalah indikator ketersediaan informasi bagi publik sebesar 68,81%. Berdasarkan uraian tersebut penulis menyarankan sebagai berikut: 1. Untuk meningkatkan kualitas akuntabilitas yang nantinya akan berdampak pada peningkatan kualitas pengelolaan

3 keuangan madrasah, maka perlu adanya peningkatan kualitas penyusunan Anggaran Penerimaan dan Belanja Madrasah (APBM) yang salah satu caranya adalah melakukan standarisasi APBM, dan pelatihan – pelatihan yang cukup untuk mensosialisasikannya. Sehingga seluruh kepentingan stakholders bisa tertampung dalam APBM untuk meningkatkan dan memajukan madrasah di masa depan. 2. Untuk meningkatkan transparansi penting untuk di buat media penyampaian keadaan pengelolaan keuangan

madrasah kepada stakeholders internal dalam batas – batas tertentu. Sehingga akan timbul pengawasan internal yang baik dalam pengelolaan keuangan madrasah. Walau bagai manapun guru dan komite madrasah adalah pelaku utama warga madrasah dalam peningkatan kualitas madrasah yang di akui haknya dalam undang – undang untuk mengetahui dan terlibat dalam pengelolaan keuangan madrasah. Harapan saya ketika menyusun buku ini adalah sebagai salah satu upaya untuk melakukan perbaikan pada pengelolaan keuangan di sekolah/madrasah. Tentu saja masih ada 59% faktor lain dari pengelolaan yang belum termasuk dalam

4 penelitian saya. Oleh karenanya saya masukkan beberapa bagian dari variabel lain yang mempengaruhi pengelolaan keuangan di sekolah/madrasah. Dengan harapan khusus memberi referensi bagi pihak lain sebagai praktisi dalam pengelolaan keuangan sekolah/madrasah, para pengambil kebijakan dalam pengelolaan keuangan di pendidikan dasar dan menengah maupun para peneliti lain yang menaruh minat. Khusus untuk hal-hal yang bersifat teknis, penulis banyak mengcopy-faste dari juklak dan pedoman pengelolaan keuangan. Hal ini penulis lakukan untuk menghindari subjektifitas penulis, karena pengelolaan keuangan secara teknis memiliki aturan tersendiri yang harus bebas pendapat. Demikian harap maklum dan semoga dapat mengambil manfaat.

Bandung, Mei 2010 Salam Hormat, Darmawan Soegandar

5

Aku janjikan satu hal kepadamu Ra, cintaku: Aku bukan lah Karbon yang di panaskan ditempa kemudian jadi arang lalu mendebu. Aku pastikan kepadamu dan putri putri matahariku: Aku lah Karbon yang di bakar ditempa dan jadilah aku berlianmu!

6

DAFTAR ISI

PENGANTAR .................................................................. 1 DAFTAR ISI...................................................................... 6 BAB I PENDAHULUAN .................................................. 8 BAB II AKUNTABILITAS DAN TRANSPARANSI...... 32 1. Akuntabilitas ................................................................. 32 2. Transparansi .................................................................. 43 A. Hubungan antara Akuntabilitas dengan Pengelolaan Keuangan .................................................. 47 B. Hubungan antara Transparansi dengan Pengelolaan Keuangan .................................................. 52 C. Hubungan antara Akuntabilitas dan Transparansi dengan Pengelolaan Keuangan ..................................... 55 BAB III PENYUSUNAN APBS ....................................... 57 A. Proses Perencanaan Keuangan Sekolah ........................ 57 B. Sumber-Sumber Pendapatan Sekolah .......................... 67 C. Masalah-Masalah Terkait dengan Penyusunan RAPBS ......................................................................... 76 BAB IV PELAKSANAAN PEMBELANJAAN DAN PEMBUKUAN KEUANGAN SEKOLAH ............. 88

7 A. Pembelanjaan Keuangan Sekolah ................................. 88 B. Penyelenggaraan Pembukuan Keuangan Sekolah yang Transparan .............................................. 97 BAB V PENGAWASAN, PELAPORAN DAN PERTANGGUNGJAWABAN KEUANGAN SEKOLAH ........................................................................ 104 A. Konsep Pengawasan Keuangan Sekolah....................... 104 B. Langkah-langkah Pengawasan ...................................... 105 C. Sasaran dan Jenis Pengawasan ...................................... 106 D. Pelaporan dan Pertanggungjawaban Keuangan Sekolah .......................................................................... 117 BAB VI PENUTUP DAN KESIMPULAN UMUM ............................................................................... 120 A. Pengertian Manajemen Keuangan ............................... 120 B. Tujuan Manajemen Keuangan Sekolah......................... 121 C. Prinsip-Prinsip Manajemen Keuangan .......................... 122 Daftar Pustaka .................................................................... 127

8

BAB I PENDAHULUAN

Manajemen keuangan merupakan salah satu substansi manajamen sekolah yang akan turut menentukan berjalannya kegiatan pendidikan di sekolah. Sebagaimana yang terjadi di substansi manajemen pendidikan pada umumnya, kegiatan manajemen keuangan dilakukan melalui proses perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, pengkoordinasian, pengawasan atau pengendalian. Beberapa kegiatan manajemen keuangan yaitu

memperoleh dan menetapkan sumber-sumber pendanaan, pemanfaatan dana, pelaporan, pemeriksaan dan

pertanggungjawaban (Lipham, 1985; Keith, 1991) Menurut Depdiknas (2000) bahwa manajemen keuangan merupakan tindakan pengurusan/ketatausahaan keuangan yang meliputi pencatatan, dan perencanaan, pelaporan dapat pelaksanaan, demikian, sebagai

pertanggungjawaban manajemen

Dengan diartikan

keuangan

sekolah

rangkaian aktivitas mengatur keuangan sekolah mulai dari

9 perencanaan, pembukuan, pembelanjaan, pengawasan dan pertanggung-jawaban keuangan sekolah. a. Perencanaan dan Pengendalian Manajerial Perencanaan dan pengendalian manajerial merupakan suatu proses siklus yang berlanjut dan saling

berkesinambungan, sehingga salah satu tahap akan terkait dengan tahap yang lain dan terintegrasi dalam satu organisasi. Jones dan Pendlebury (Mardiasmo, 2002: 63) membagi proses perencanaan dan pengendalian manajerial pada organisasi sektor publik menjadi lima tahap, yaitu: a) Perencanaan tujuan dan sasaran dasar. Tahap ini merupakan proses perumusan tujuan dasar dari organisasi yang tergambarkan dengan visi dan misi organisasi. Perencanaan ini dilakukan diluar perencanaan operasional. Perencanaan ini dirumuskan dan disusun oleh manajemen tingkat atas dan merupakan proses perencanaan yang rumit dan pelik karena menyangkut keberlangsungan organisasi dan terkait dengan harapan dan tujuan dasar organisasi, b) perencanaan operasional. Tahap ini merupakan perencanaan yang dirumuskan dan disusun untuk tercapainya tujuan dan sasaran dasar organisasi, c)

penganggaran. Tahap ini adalah proses penyusunan anggaran untuk mendukung perencanaan operasional yang telah disusun

10 serta untuk melaksanakan tujuan-tujuan dan target-target organisasi dalam jangka pendek (kegiatan operasional), d) pengendalian dan pengukuran. Tahap ini merupakan proses pengendalian, pengawasan dan pengukuran atas anggaran yang telah disepakati untuk dilaksanakan. Tahap ini juga merupakan proses pelaksanaan tujuan-tujuan dan target-target jangka pendek organisasi (kegiatan operasional), e) pelaporan, analisis dan umpan balik. Tahap ini merupakan proses akhir dari siklus perencanaan dan pengendalian manajerial. Tahap ini terdiri atas proses pelaporan hasil kegiatan operasional yang telah dicapai selama periode berlangsung, analisa atas seluruh kegiatan yang telah dilaksanakan maupun kegiatan yang gagal dilaksanakan, serta umpan balik untuk pelaksanaan kegiatan periode berlangsung ataupun periode berikutnya. Siklus perencanaan dan pengendalian manajerial tersebut diilustrasikan dengan gambar proses perencanaan dan

pengendalian manajerial organisasi sektor publik berikut:

11

Sumber: Jones and Pendlebury dalam Mardiasmo (2002: 63) Gambar 1. Akutansi Sektor Publik

Sedangkan anggaran sendiri memiliki beberapa fungsi utama (Mardiasmo, 2003: 77-82) yaitu, sebagai alat

perencanaan, anggaran merupakan alat untuk mencapai visi dan misi organsasi. Anggaran digunakan untuk merumuskan tujuan serta sasaran kebijakan agar sesuai dengan visi dan misi yang telah ditetapkan. Kemudian untuk merencanakan

12 berbagai program dan kegiatan serta merencanakan alternatif sumber pembiayaan. Sebagai Alat Pengendalian, Anggaran digunakan untuk mengendalikan (membatasi kekuasaan) eksekutif, mengawasi kondisi keuangan dan pelaksanaan operasional program karena anggaran memberikan dan yang rencana detail atas pendapatan sehingga dan

(penerimaan) pembelanjaan

pengeluaran dilakukan

pemerintah dapat

diketahui

dipertanggungjawabkan kepada publik. Sebagai Alat Kebijakan Fiskal, Anggaran digunakan untuk menstabilkan ekonomi dan mendorong pertumbuhan ekonomi. Melalui anggaran dapat diketahui arah kebijakan fiskal pemerintah. Anggaran juga digunakan untuk mendorong, memfasilitasi dan mengkoordinasikan kegiatan ekonomi masyarakat ekonomi. Sebagai Alat Politik, Anggaran merupakan dokumen publik sebagai komitmen eksekutif dan kesepakatan legislatif atas penggunaan dana publik. Sebagai Alat Koordinasi dan Komunikasi, Penyusunan anggaran memerlukan koordinasi dan komunikasi dari seluruh unit kerja sehingga apabila terjadi inkonsistensi suatu unit kerja dapat dideteksi secara cepat. sehingga dapat mempercepat pertumbuhan

13 Sebagai Alat Penilaian Kinerja, Kinerja eksekutif akan dinilai berdasarkan pencapaian target anggaran dan efisiensi

pelaksanaan anggaran. Sebagai Alat Motivasi, Anggaran hendaknya bersifat menantang tetapi dapat dicapai

(challenging but attainable) atau menuntut tetapi dapat diwujudkan (demanding but achiveable) sebagai motivasi bagi seluruh pegawai agar dapat bekerja secara ekonomis, efektif dan efisien dalam mencapai target dan tujuan organisasi. Anggaran menjadi penting karena beberapa alasan, yaitu, Anggaran merupakan alat bagi pemerintah untuk mengarahkan pembangunan sosial ekonomi, menjamin kesinambungan dan meningkatkan diperlukan masyarakat kualitas hidup masyarakat. dan Anggaran keinginan

karena

adanya

kebutuhan

yang tak terbatas dan terus berkembang,

sedangkan sumber daya yang ada terbatas. Anggaran diperlukan untuk meyakinkan bahwa pemerintah telah bertanggung jawab terhadap rakyat. Dalam hal ini anggaran publik merupakan instrumen pelaksanaan akuntabilitas publik.

b. Pemahaman Pengelolaan dari Sisi Pendidikan Walaupun bukan satu-satunya sumber kinerja, keuangan madrasah tentu merupakan bagian yang tak terbantahkan

14 sebagai pokok penting dalam pengembangan madrasah. Keuangan dan pembiayaan merupakan salah satu sumber daya yang secara langsung menunjang efektifitas dan efisiensi pengelolaan pendidikan. Hal tersebut lebih terasa lagi dalam implementasi MBS, yang menuntut kemampuan madrasah untuk merencanakan, melaksanakan dan mengevaluasi serta mempertanggungjawabkan pengelolaan dana secara transparan kepada masyarakat dan pemerintah. Dalam penyelenggaraan pendidikan, keuangan dan

pembiayaan merupakan potensi yang sangat menentukan dan merupakan bagian yang tak terpisahkan dalam kajian manajemen pendidikan. Komponen keuangan dan pembiayaan pada suatu madrasah merupakan komponen produksi yang menentukan terlaksananya kegiatan belajar-mengajar di madrasah bersama dengan komponen-komponen yang lain. Dengan kata lain setiap kegiatan yang dilakukan madrasah memerlukan biaya, baik itu disadari maupun yang tidak disadari. Komponen keuangan dan pembiayaan ini perlu dikelola sebaik-baiknya, agar dana-dana yang ada dapat dimanfaatkan secara optimal untuk menunjang tercapainya tujuan pendidikan.

15 Tanpa visi yang jelas dari seorang administrator yang andal, (Mohammad Amien Rais, 2008: 249) pengembangan madrasah yang mengandalkan idealisme semata hanya akan membentur tembok realita yang tidak perlu. Dalam

penyusunan Renstra dan selanjutnya sampai dengan RAPBM tentu diperlukan seorang administrator pendidikan yang kompeten. Tujuan Manajemen Keuangan Pendidikan dalam perspektif administrasi publik adalah membantu pengelolaan sumber keuangan organisasi pendidikan serta menciptakan mekanisme pengendalian yang tepat, bagi pengambilan keputusan keuangan yang dalam pencapaian tujuan organisasi pendidikan yang transparan, akuntabel dan efektif. Pengendalian yang baik terhadap administrasi manajemen keuangan pendidikan akan memberikan pertanggungjawaban sosial yang baik kepada berbagai pihak yang berkepentingan (stakeholder). Dalam perspektif akuntansi, setiap kepala madrasah wajib menyampaikan laporan di bidang keuangan, terutama

mengenai penerimaan dana pengeluaran keuangan madrasah kepada Komite Madrasah dan pemerintah. Dengan demikian, standar akuntansi keuangan diberlakukan sebagai kriteria pelaporan yang disajikan bagi pihak pengelola madrasah. Hal

16 ini akan menjamin akuntabilitas publik, khususnya bagi pengguna jasa pendidikan.

Sumber: Imron Fauzi (2008:3) Gambar 2. Siklus Manajemen Keuangan Pendidikan Dilihat dari perspektif akuntansi, peran manajemen keuangan pendidikan adalah melakukan analisis setiap keputusan dari aspek keuangan pendidikan, melakukan analisis pendanaan untuk kepentingan investasi, melakukan analisis biaya terkait dengan penentuan cost jasa pendidikan, dan melakukan analisis arus kas operasi pendidikan. Terkait dengan pengelolaan keuangan madrasah, Sesuai dengan Keputusan Menteri Agama No. 17 Tahun 2006 tentang Pemuktahiran data inventaris kekayaan negara di lingkungan

17 Depag, setiap satuan kerja wajib menyampaikan laporan keuangan dengan menggunakan sistem akuntansi instansi (SAI) setiap bulannya. Untuk MI/MTs, sudah ada dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) yang dianggarkan pemerintah pusat. Jika dana tersebut belum mencukupi, madrasah bisa menghimpun dana melalui persetujuan wali murid dan komite madrasah. c. Pemahaman Pengelolaan dari Dasar Hukum Dalam perspektif politik, sebelum berlakunya UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Sistem pendidikan nasional kita mengacu pada UU No. 2 tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional, dimana pendanaan tidak diatur secara khusus. Namun, dalam UU No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, pendanaan pendidikan sudah diatur secara khusus dalam Bab XIII. Substansinya antara lain, 1) pendanaan pendidikan menjadi tanggung jawab bersama antara Pemerintah, Pemerintah Daerah, dan

Masyarakat, 2) sumber pendanaan pendidikan ditentukan berdasarkan prinsip keadilan, kecukupan, dan keberlanjutan, 3) pengelolaan dana pendidikan berdasarkan prinsip keadilan, efisiensi, transparansi, dan akuntabilitas public, 4)

pengalokasian dana pendidikan, dan 5) perkembangan

18 Perspektif Manajemen Keuangan Pendidikan

(Sekolah/Madrasah). Namun, secara teknis, petunjuk teknis tentang manajemen keuangan pendidikan, khususnya tentang pelaporan keuangan, belum diatur secara khusus. Peran masyarakat dalam mendukung serta mengontrol manajemen keuangan

pendidikan, belum jelas. Di samping itu, standar pembiayaan dalam PP No. 19 tahun 2005 mengatur hanya elemen biaya, tanpa petunjuk perhitungan cost pendidikan. Disinilah, pendekatan terpadu dalam pengelolaan keuangan pendidikan di Indonesia, baik dari regulator, pengawas, evaluator, dan operator, perlu dilakukan. d. Administrasi Pembiayaan Pendidikan Standar pembiayaan adalah standar yang mengatur komponen dan besarnya biaya operasi satuan pendidikan yang berlaku selama satu tahun.(PP No. 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, Pasal 1 ayat 10). Pembiayaan pendidikan terdiri atas; a) Biaya investasi, b) Biaya operasi, c) Biaya personal. Pelaksanaan ketiga hal di atas diperlukan adanya proses merencanakan, mengorganisasikan, mengarahkan,

mengkoordinasikan, mengawasi, dan melaporkan kegiatan

19 bidang keuangan agar tujuan sekolah dapat tercapai secara efektif dan efisien. i. Perencanaan. Ada beberapa hal yang perlu mendapat perhatian dalam menyusun rencana keuangan sekolah. Perencanaan harus realistis, artinya perencanaan harus mampu menilai bahwa alternatif yang dipilih sesuai dengan kemampuan

sarana/fasilitas, daya/ tenaga, dana, maupun waktu. Perlunya koordinasi dalam perencanaan, Perencanaan harus mampu memperhatikan cakupan dan sarana/ volume kegiatan sekolah yang kompleks. Perencanaan harus berdasarkan pengalaman, pengetahuan, dan intuisi. Karena pengalaman, pengetahuan, dan intuisi, mampu menganalisa berbagai kemungkinan yang terbaik dalam menyususn perencanaan. Perencanaan juga harus fleksible (luwes), karena perencanaan mampu

menyesuaikan dengan segala kemungkinan yang tidak diperhatikan sebelumnya tanpa harus membuat revisi.

Perencanaan yang didasarkan penelitian, perencanaan yang berkualitas perlu didukung suatu data yang lengkap dan akurat melalui suatu penelitian. Perencanaan sesuai dengan tujuan, Perencanaan yang baik akan menentukan mutu kegiatankegiatan yang diselenggarakan.

20 Anggaran belanja adalah suatu pernyataan yang terurai tentang sumber-sumber keuangan yang perlu untuk

melaksanakan berbagai program sekolah selama periode satu tahun fiskal. Proses pembuatan anggaran pendidikan

melibatkan penentuan pengeluaran maupun pendapatan yang bertalian dengan keseluruhan operasi sekolah. Ada beberapa jenis Kegiatan di madrasah. Kegiatan operasi, yaitu kegiatan-kegiatan dengan menggunakan alat atau tanpa alat yang berkaitan dengan proses belajar mengajar baik di dalam maupun di luar kelas. Kegiatan perawatan, yaitu kegiatan perawatan yang dilakukan untuk memelihara dan memperbaiki sarana dan prasarana yang ada di sekolah agar sarana prasarana tersebut dapat berfungsi dalam menunjang kelancaran proses belajar mengajar. Sumber dana untuk penyelenggaraan kegiatan pendidikan di sekolah bisa dari pemerintah berupa Anggaran Rutin (DIK), Anggaran Operasional, pembangunan dan perawatan (OPF), Bantuan Operasional Sekolah (BOS), Dana Penunjang Pendidikan (DPP). Dari orang tua siswa, adalah dana yang dikumpulkan melalui komite sekolah dari orang tua siswa. Atau bisa juga diperoleh dari masyarakat, misalnya

21 sumbangan perusahaan industri, lembaga sosial donatur, tokoh masyarakat, alumni, dsb. Dalam penyusunan Rencana Operasional (RENOP)

sebaiknya menempuh kebijakan berimbang, dan pelaksanaan operasional di sekolah membentuk team work yang terdiri dari para wakil kepala sekolah dibantu para wakil kepala sekolah dibantu beberapa guru senior. Atas dasar hasil kerja team tersebut baru dibahas dalam forum rapat dewan guru dan nara sumber lain yang dianggap perlu, sehingga akan bertanggung jawab terhadap keberhasilan rencana tersebut. Untuk memformat program kerja tersebut, langkahlangkah yang dilakukan adalah dengan menginventarisir kegiatan sekolah pada tahun ajaran mendatang, menyusun daftar kegiatan menurut skala prioritas, menentukan sasaran atau volume, menentukan unit cost dengan membandingkan unit cost atau penjajakan ke jalan dan menghimpun data pendukung. Data pendukung bisa berupa data sekolah ( murid, guru, pegawai, pesuruh, jam mengajar, praktik laboratorium) atau data fisik ( gedung, ruang kepsek, ruang guru, ruang laboratorium, WC, dan lain-lain). Pembuatan data pendukung ini bisa dilakukan dengan membuat kertas kerja dan laporan, menentukan sumber dana dan pembenahan anggaran,

22 Menuangkan dalam format baku untuk usulan RENOP, dan proses usulan atau pengiriman. ii. Organisasi dan Koordinasi Kepala sekolah dituntut untuk dapat mengorganisasikan dengan menetapkan orang-orang yang akan melaksanakan tugas pekerjaan, membagi tugas, dan menetapkan kedudukan, serta hubungan kerja satu dengan lainnya agar tidak terjadi benturan dan kesimpangsiuran satu dengan lainnya. Orangorang yang diperlukan untuk mengelola kegiatan dana di sekolah antara lain, bendahara, pemegang buku kas umum, pemegang buku pembantu mata anggaran, buku bank, buku pajak regristasi SPM, dan lain-lain. Kemudian ada pembuat laporan dan pembuat arsip pertanggungjawaban keuangan. Staf yang dipilih untuk untuk membantu pengelolaan keuangan sekolah dituntut untuk memahami tugasnya yang meliputi paham pembukuan, memahami peraturan yang berlaku dalam penyelenggaraan administrasi keuangan, Layak dan mempunyai dedikasi tinggi terhadap pimpinan dan tugas, Memahami bahwa bekerja di bidang keuangan adalah pelayanan. Karena kurang tanggapnya bagian keuangan akan dapat mempengaruhi kelancaran pencapaian tujuan.

23 iii. Pelaksanaan, pencatatan dan pelaporannya Pelaksanaan administrasi keuangan terdiri dari

pengurusan Keuangan, kelengkapan dan penataan keuangan . Hal-hal yang berkenaan dengan pengurusan keuangan adalah SK Bendaharawan Sekolah, Bendaharawan bukan Guru atau Kepala Tata Usaha, Penunjukkan Bendaharawan memenuhi persyaratan, Pemeriksaan keuangan oleh Kepala Sekolah, Pemisahan antara bendaharawan Rutin, OPF, SPP – DPP – Komite Sekolah, BOS, BIS, BOM, Sanggar PKG/LKG. Sedangkan kelengkapan Tata Usaha keuangan sekolah, meliputi; Daftar Gaji, Daftar lembur dan atau daftar honorarium, Buku Kas Tabelaris, Buku Kas dan Buku Kas Pembantu, Tempat penyimpanan uang, kertas berharga dan tanda bukti pengeluaran, Brand Kas. Sementara pencatatan keuangan meliputi; Pengerjaan pembukuan kas

umum/tabelaris sesuai dengan peraturan yang berlaku, Penerimaan SPMU otorisasi rutin, dibukukan pada buku register SPMU, sedangkan penerimaan OPF dalam buku tersendiri, Penerimaan dan penyetoran SPP dibukukan sesuai dengan peraturan yang berlaku (tanda bukti setoran), Penerimaan dan penggunaan DPP dibukukan sesuai dengan peraturan yang berlaku, Penerimaan dan penyetoran PPh dan

24 PPn dibukukan pada buku kas umum/tabelaris, Penerimaan dan penggunaan dana bantuan pemerintah setempat atau dari Komite Sekolah dibukukan dalam buku kas khusus, Telah dibuat berita acara penutupan kas pada saat penutupan buku kas setiap tiga bulan (inspeksi mendadak minimal tiga bulan sekali), Tanda bukti pengeluaran (surat pertanggungan jawab disampaikan ke KPKN, tidak melewati tanggal 10 bulan berikutnya), sumbernya Laporan kepada penggunaan atasan keuangan yang menurut

bersangkutan,

Peringatan/teguran tertulis kepada Bendaharawan apabila ada penggunaan uang yang tidak sesuai dengan tanda bukti yang ada dan penggunaan diluar rencana, perlu diperhatikan/diteliti ada tidaknya tunggakan untuk pembayaran listrik, telepon, air, atau gas pada sekolah yang bersangkutan. iv. Pengawasan Pengawasan adalah usaha untuk mencegah terjadinya penyimpangan dari aturan, prosedur atau ketentuan. Dengan pengawasan (controlling) diharapkan penyimpangan yang mungkin terjadi dapat ditekan sehingga kerugian dapat dihindari. Pengawasan dapat ditempuh melalui Pemeriksaan Kas.

25 Pemeriksaan adalah suatu proses sistematis untuk

memperoleh bukti

secara objektif tentang pernyataan-

pernyataan berbagai kejadian/kegiatan sekolah dengan tujuan untuk menetapkan tingkat kesesuaian antara pernyataanpernyatan tersebut dengan kriteria yang telah ditetapkan, dan penyampaian hasil-hasilnya kepada yang berkepentingan. Prosedur pemeriksaan kas yang biasa dilakukan oleh pemeriksa yang pada pelaksanaannya dilakukan dengan tibatiba. Bendaharawan wajib mengeluarkan uang yang

dikuasainya dalam lingkup tanggung jawab atasnya. Yang meliputi, adakah bukti-bukti pembayaran yang belum

dibukukan, adakah surat-surat berharga. Bendahawan harus membuat surat pernyataan dengan bentuk yang sudah dibakukan, Adakah bukti-bukti pengeluaran yang belum disahkan oleh kepala sekolah, Sisa kas harus sama dengan sisa dibuku kas umum. Sisa kas terdiri dari (uang kertas, uang logam) saldo bank, surat berharga. Setelah selesai pemeriksaan kas, maka perlu dibuat register penutupan kas. Selanjutnya BKU ditutup dan ditandatangani oleh bendaharawan dan kepala sekolah. Buat Berita Acara Pemeriksaan kas dengan format yang telah dibakukan dan Penyampaian Berita Acara pemeriksaan kas.

26 v. Evaluasi Kinerja Keuangan Menurut Soedarjono (dalam Akhmad Solikin, 2006 1-15) usaha-usaha untuk menerapkan pelaporan kinerja pemerintah dapat ditelusuri sebelum krisis ekonomi melanda Indonesia pada tahun 1997/1998. Memang secara faktual, peraturan yang berkaitan baru ditetapkan dalam bentuk Inpres 7/1999 tentang akuntabilitas kinerja instansi pemerintah. Dalam Inpres 7/1999 tersebut disebutkan bahwa Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah merupakan alat untuk melaksanakan akuntabilitas kinerja instansi pemerintah. Tujuan Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah adalah untuk mendorong terciptanya akuntabilitas kinerja instansi

pemerintah sebagai salah satu prasyarat untuk terciptanya pemerintah yang baik dan terpercaya. Sedangkan sasaran sistem tersebut adalah Menjadikan instansi pemerintah yang akuntabel sehingga dapat beroperasi secara efisien, efektif dan responsif terhadap aspirasi masyarakat dan lingkungannya; terwujudnya transparansi instansi pemerintah; terwujudnya partisipasi masyarakat dalam pelaksanaan pembangunan nasional; terpeliharanya kepercayaan masyarakat kepada pemerintah.

27 Dalam Keputusan ini, dipakai sistem berjenjang untuk mengkaitkan antara visi dengan kegiatan. Sebagai contoh, dalam Rencana Strategis (Renstra) dikenal adanya

Perencanaan Kinerja 1 (PK-1) untuk menjelaskan kegiatan, PK-2 untuk menguraikan sasaran, dan PK-3 untuk

menguraikan program. Dengan demikian, antara kegiatankegiatan yang dilaksanakan oleh suatu organisasi akan dapat ditelusuri kaitannya dengan program unit atau instansi yang lebih tinggi, bahkan sistem ini dapat menjamin keterkaitan antara kegiatan yang dilaksanakan dengan pencapaian visi dan misi pemerintah. Demikian pula dalam mengevaluasi kinerja, juga dipakai sistem berjenjang. Dengan demikian terdapat Evaluasi Kinerja 1 (EK-1) untuk mengevaluasi kinerja kegiatan, EK-2 untuk mengevaluasi kinerja sasaran, dan EK-3 untuk mengevaluasi kinerja program. Pada tahun 2003, terbit Keputusan Kepala LAN Nomor 239/1X/6/8/2003 tentang Perbaikan Pedoman Penyusunan Pelaporan Akuntabilitas Instansi Pemerintah. Dalam keputusan ini, tetap ada Rencana Strategis (Renstra) yang berisi visi, misi, tujuan, sasaran, dan bagaimana mencapai sasaran tersebut (dalam bentuk uraian kebijakan dan program). Renstra meliputi waktu 5 tahun. Kebijakan dan program tersebut

28 kemudian setiap tahun akan dipilih kebijakan dan program mana yang akan dilaksanakan, dalam bentuk kegiatan-kegiatan (Rencana Kinerja Tahunan/RKT). Masih sama dengan peraturan yang lama, indikator kinerja kegiatan masih memakai masukan (input), keluaran (output), hasil (outcome), manfaat (benefit) dan dampak (impact). vi. Prinsip Prinsip Pengelolaan Pembiayaan Pendidikan Pengaturan mengenai pendanaan pendidikan dalam Pasal 46, Pasal 47, Pasal 48, dan Pasal 49, Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional disusun berdasarkan semangat desentralisasi dan otonomi satuan pendidikan dalam perimbangan pendanaan pendidikan antara pusat dan daerah. Dengan demikian pendanaan pendidikan menjadi tanggung jawab bersama antara pemerintah,

pemerintah daerah, dan masyarakat. Yang menjadi pokok kemudian batasan-batasan pengelolaan dan sumber dana selalu menjadi hal yang multi tafsir atau “dimultitafsirkan”. Hal ini tentu sangat berbahaya, di lingkungan madrasah harus diakui audit pengelolaan keuangan seperti yang di amanatkan paket UU Keuangan Negara atau bahkan lebih jauh audit kinerja pada lembaga Madrasah Negeri masih jauh panggang dari pada api.

29 Banyak hal yang menjadi penyebabnya. Diantaranya audit yang di lakukan baik pihak internal maupun eksternal madrasah masih belum memiliki instrumen yang cukup untuk dilaksanakan. Audit invetigasi adalah gawang terakhir yang menjadi harapan masyarakat. Tetapi tentu hal ini dilakukan hanya jika mencapai nilai nominal yang cukup sesuai prinsip audit, atau bahkan biasanya karena adanya blow up masalah dari pemangku kepentingan eksternal. Jika keadaan ini terus berlanjut, tentu kerugian negara akan semakin besar. Terlebih kepentingan “kita” yang menaruh harapan pada kemajuan madrasah dimasa depan. Menurut PP No. 48 tahun 2008 tentang Pendanaan Pendidikan pasal 58, Prinsip dalam pengelolaan dana pendidikan oleh Pemerintah, pemerintah daerah,

penyelenggara dan satuan pendidikan yang didirikan oleh masyarakat terdiri atas: a. prinsip umum; dan b. prinsip khusus. Prinsip umum sebagaimana dimaksud dalam Pasal 58 huruf a adalah: a. prinsip keadilan; b. prinsip efisiensi; c. prinsip transparansi; dan d. prinsip akuntabilitas publik. Prinsip keadilan dilakukan dengan memberikan akses pelayanan pendidikan yang seluas-luasnya dan merata kepada peserta didik atau calon peserta didik, tanpa membedakan latar

30 belakang suku, ras, agama, jenis kelamin, dan kemampuan atau status sosial-ekonomi. Prinsip efisiensi dilakukan dengan mengoptimalkan akses, mutu, relevansi, dan daya saing pelayanan pendidikan. Prinsip transparansi dilakukan dengan memenuhi asas kepatutan dan tata kelola yang baik oleh Pemerintah, pemerintah daerah, penyelenggara pendidikan yang didirikan masyarakat, dan satuan pendidikan sehingga: (a.) dapat diaudit atas dasar standar audit yang berlaku, dan menghasilkan opini audit wajar tanpa perkecualian; dan (b.) dapat dipertanggungjawabkan secara transparan kepada

pemangku kepentingan pendidikan. Prinsip akuntabilitas publik dilakukan dengan memberikan pertanggungjawaban atas kegiatan yang dijalankan oleh penyelenggara atau satuan pendidikan kepada pemangku kepentingan pendidikan sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Selanjutnya Prinsip Transparansi dan akuntabilitas publik kemudian menjadi indikator utama dalam hampir setiap penilaian terhadap kualitas pengelolaan keuangan sebuah madrasah. Sementara peraturan pemerintah ini belum

menjelaskan secara lebih rinci kedua prinsip ini, sehingga perlu di berikan penjelasan lebih jauh tentang filosofi sampai instrumen pembangun kedua prinsip ini.

31 Definisi konseptual pengelolaan keuangan madrasah adalah seluruh upaya yang dilakukan pengelola madrasah agar komponen keuangan dan pembiayaan dikelola sebaik-baiknya, agar tujuan madrasah dapat tercapai secara efektif dan efisien, yang didalamnya meliputi biaya investasi, biaya operasi, dan biaya personal.

32 BAB II AKUNTABILITAS DAN TRANSPARANSI

1. Akuntabilitas Isu akuntabilitas akhir-akhir ini semakin gencar dibicarakan seiring dengan adanya tuntutan masyarakat akan pendidikan yang bermutu. Bahkan resonansinya semakin keras, sekeras tuntutan akan reformasi dalam segala bidang. Ini membuktikan bahwa kecenderungan masyarakat pada masa kini berbeda dengan masa lalu. Fasli Jalal dan Dedi Supriadi (2001:87) menyatakan: Bila di masa lalu masyarakat cenderung menerima apa pun yang diberikan oleh pendidikan, maka sekarang mereka tidak dengan mudah menerima apa yang diberikan oleh pendidikan. Masyarakat yang notabene membayar pendidikan merasa berhak untuk memperoleh pendidikan yang lebih baik bagi dirinya dan anak-anaknya. Bagi lembaga-lembaga pendidikan hal ini mulai disadari dan disikapi dengan melakukan redesain sistem yang mampu menjawab tuntutan masyarakat. Caranya adalah mengembangkan akuntabel. model manajemen pendidikan yang

33 Menurut Rita Headintong (2000:84), Akuntabiltas bukan hal baru. Ia mengemukakan:

“As far back as the 1830 when public was used to establish a national education system 'some were concerned that the spending of public money should be properly supervised and controlled, and others were dissatisfied with the practical aspects such as the poor quality of the teachers” Kalau begitu apa sebenarnya akuntabilitas itu? Menurut Slamet (2005:5), "Akuntabilitas adalah kewajiban untuk memberikan pertanggungjawaban atau untuk menjawab dan menerangkan kinerja dan tindakan penyelenggara organisasi kepada pihak yang memiliki hak atau kewajiban untuk meminta keterangan atau pertanggungjawaban.

Sementara Zamroni (2008:12) mendefinisikan akuntabilias "is the degree to which local governments have to explain or justify what they have done or failed to do." Lebih lanjut dikemukakan bahwa "Accountability can be seen as validation of participation, in that the test of whether attempts to increase participation prove successful is the extent to which people can use participation to hold a local government responsible for its action." Pendapat Zamroni mengenai akuntabilitas dikaitkan dengan partisipasi. Ini berarti akuntabilitas hanya

34 dapat terjadi jika ada partisipasi dari stakeholders sekolah. Semakin kecil partisipasi stakeholders dalam penyelenggaraan manajemen sekolah, maka akan semakin rendah pula akuntabilitas sekolah. Asian Development Bank menegaskan adanya

konsensus umum bahwa good governance dilandasi oleh 4 pilar yaitu (1) akuntabilitas, (2) transparansi, (3) dapat di prediksi, dan (4) partisipasi (ADB, 2008). Jelas bahwa jumlah komponen atau pun prinsip yang melandasi tata pemerintahan yang baik sangat bervariasi dari satu institusi ke institusi lain, dari satu pakar ke pakar lainnya. Namun paling tidak ada sejumlah prinsip yang dianggap sebagai prinsip-prinsip utama yang melandasi good governance, yaitu (1) Akuntabilitas, (2) Transparansi, dan (3) Partisipasi Masyarakat. Ketiga prinsip tersebut di atas tidaklah dapat berjalan sendiri-sendiri, ada hubungan yang sangat erat dan saling mempengaruhi, masing-masing adalah instrumen yang

diperlukan untuk mencapai prinsip yang lainnya, dan ketiganya adalah instrumen yang diperlukan untuk mencapai manajemen publik yang baik. Walaupun begitu, akuntabilitas menjadi kunci dari semua prinsip ini (ADB, 2008) Prinsip ini menuntut dua hal

35 yaitu (1) kemampuan menjawab (answerability), dan (2) konsekuensi (consequences). Komponen pertama (istilah yang bermula dari responsibilitas) adalah berhubungan dengan tuntutan bagi para aparat untuk menjawab secara periodik setiap pertanyaan-pertanyaan yang berhubungan dengan bagaimana mereka menggunakan wewenang mereka, kemana sumber daya telah dipergunakan, dan apa yang telah dicapai dengan menggunakan sumber daya tersebut. Miriam Budiardjo mendefinisikan akuntabilitas sebagai “pertanggungjawaban pihak yang diberi mandat untuk memerintah kepada mereka yang memberi mandat itu.” (Miriam Budiarjo, 1998: 107) Akuntabilitas bermakna pertanggungjawaban dengan menciptakan pengawasan melalui distribusi kekuasaan pada berbagai lembaga pemerintah sehingga mengurangi penumpukkan kekuasaan sekaligus menciptakan kondisi saling mengawasi (checks and balances sistem). Lembaga pemerintahan yang dimaksud adalah eksekutif (presiden, wakil presiden, dan kabinetnya), yudikatif (MA dan sistem peradilan) serta legislatif (MPR dan DPR). Peranan pers yang semakin penting dalam fungsi pengawasan ini menempatkannya sebagai pilar keempat.

36 Guy Peter menyebutkan adanya 3 tipe akuntabilitas yaitu : (1) akuntabilitas keuangan, (2) akuntabilitas

administratif, dan (3) akuntabilitas kebijakan publik (Guy Peter, 2000: 299-381). Akuntabilitas publik adalah prinsip yang menjamin bahwa setiap kegiatan penyelenggaraan pemerintahan dapat dipertanggungjawabkan secara terbuka oleh pelaku kepada pihak-pihak yang terkena dampak penerapan kebijakan. Pengambilan keputusan didalam organisasi-organisasi publik melibatkan banyak pihak. Oleh karena itu, wajar apabila rumusan kebijakan merupakan hasil kesepakatan antara warga pemilih (constituency) para pimpinan politik, teknokrat, birokrat atau administrator, serta para pelaksana dilapangan. Sedangkan dalam bidang politik, yang juga

berhubungan dengan masyarakat secara umum, akuntabilitas didefinisikan sebagai mekanisme penggantian pejabat atau penguasa, tidak ada usaha untuk membangun monoloyalitas secara sistematis, serta ada definisi dan penanganan yang jelas terhadap pelanggaran kekuasaan dibawah rule of law. Sedangkan public accountability didefinisikan sebagai adanya

37 pembatasan tugas yang jelas dan efisien (Meuthia Gani, 2000: 141) Akuntabilitas yang tinggi hanya dapat dicapai dengan pengelolaan sumber daya sekolah secara efektif dan efisien. Akuntabilitas tidak datang dengan sendiri setelah lembagalembaga pendidikan melaksanakan usaha-usahanya. Ada tiga hal yang memiliki kaitan, yaitu kompetensi, akreditasi dan akuntabilitas. Menurut Fasli Jalal dan Dedi Supriadi

(2001:88): Tiga aspek yang dapat memberi jaminan mutu suatu lembaga pendidikan, yaitu kompetensi, akreditasi, dan akuntabilitas. Lulusan pendidikan yang dianggap telah memenuhi semua persyaratan dan memiliki kompetensi yang dituntut berhak mendapat sertifikat. Lembaga pendidikan beserta perangkat-perangkatnya yang dinilai mampu menjamin produk yang bermutu disebut sebagai lembaga terakreditasi (accredited). Lembaga pendidikan yang terakreditasi dan dinilai mampu untuk menghasilkan lulusan bermutu, selalu berusaha menjaga dan menjamin mutuya sehingga dihargai oleh masyarakat adalah lembaga pendidikan yang akuntabel. Institusi pendidikan yang akuntabel adalah institusi pendidikan yang mampu menjaga mutu keluarannya sehingga dapat diterima oleh masyarakat. Jadi, dalam hal ini akuntabel

38 tidaknya suatu lembaga pendidikan bergantung kepada mutu outputnya. Di samping itu, akuntabilitas suatu lembaga juga bergantung kepada kemampuan suatu lembaga pendidikan mempertanggungjawabkan pengelolaan keuangan kepada publik. Fredrik Kande (2008:4) mengelompokkan akuntabiltas yang pertama sebagai akuntabilitas kinerja, sementara yang kedua sebagai akuntabilitas keuangan. Tujuan akuntabilitas adalah agar terciptanya

kepercayaan publik terhadap sekolah. Kepercayaan publik yang tinggi akan sekolah dapat mendorong partisipasi yang lebih tinggi pula terdapat pengelolaan manajemen sekolah. Sekolah akan dianggap sebagai agen bahkan sumber perubahan masyarakat. Slamet (2005:6) menyatakan: “Tujuan utama akuntabilitas adalah untuk mendorong terciptanya akuntabilitas kinerja sekolah sebagai salah satu syarat untuk terciptanya sekolah yang baik dan terpercaya”. Penyelenggara sekolah harus memahami bahwa mereka harus

mempertanggungjawabkan hasil kerja kepada publik. Selain itu, tujuan akuntabilitas adalah menilai kinerja sekolah dan kepuasaan publik terhadap pelayanan pendidikan yang diselenggarakan oleh sekolah, untuk mengikutsertakan publik dalam pengawasan pelayanan pendidikan dan untuk

39 mempertanggungjawabkan komitmen pelayanan pendidikan kepada publik. Codd, seorang pakar kebijakan pendidikan dalam Marks Olssen, dkk (2004:7), menyatakan bahwa dalam perspektif global, akuntabilitas dipengaruhi oleh

kecenderungan manusia yang mengutamakan kebebasan. Kebebasan yang muncul secara baru (neoliberalisme) ikut mempengaruhi ketahanan moral orang dalam melaksanakan akuntabilitas. Sekolah sebagai tempat penyelenggaran manajemen yang akuntabel merupakan suatu pranata sosial. Dikatakan sebagai pranata sosial karena di tempat tersebut teradapat orang-orang dari berbagai latar belakang sosial yang membentuk suatu kesatuan dengan nilai-nilai dan budaya tertentu. Nilai-nilai dan budaya tersebut potensial untuk mendukung penyelenggaraan manajemen sekolah yang

akuntabel, tetapi juga sebaliknya bisa menjadi penghambat. Dalam sebuah ilustrasi perusahaan, Stephen Robins (2001:14) menyatakan: “Workforce diversity has important implication for management practice. Manager will need to shift their philosophy from treating every one alike to recognizing differences and responding to those differences in ways that

40 will ensure employe retention and greater productivity while, at the same time not discriminating”. Artinya, keberagaman tenaga kerja mempunyai implikasi penting pada praktik manajemen. Para manejer harus mengubah filosofi mereka dari memperlakukan setiap orang dengan cara yang sama menjadi mengenali perbedaan dan menyikapi mereka yang berbeda dengan cara-cara yang menjamin kesetiaan karyawan dan peningkatan produktifitas sementara, pada saat yang sama, tidak melakukan diskriminasi. Apa yang dikemukakan Robins berangkat dari asumsi akan perbedaan nilai dan budaya dari setiap anggota organisasi. Ada nilai-nilai yang dapat mendukung nilai-nilai organisasi, tetapi ada juga yang sebaliknya. Dalam konteks ini, dibutuhkan peran pemimpin untuk dapat mengelolanya. Jadi, faktor yang mempengaruhi akuntabilitas terletak pada dua hal, yakni faktor sistem dan faktor orang. Sistem menyangkut aturan-aturan, tradisi organisasi. Sedangkan faktor orang menyangkut motivasi, persepsi dan nilai-nilai yang dianutnya mempengaruhi kemampuannya akuntabilitas. Kalau ditelisik lebih jauh faktor orang sendiri sebenarnya tidak berdiri sendiri, melainkan merupakan produk dari masyarakat dengan budaya tertentu.

41 Rumusan tujuan akuntabilitas di atas hendak

menegaskan bahwa, akuntabilitas bukanlah akhir dari sistem penyelenggaran manajemen sekolah, tetapi merupakan faktor pendorong munculnya kepercayaan dan partisipasi yang lebih tinggi lagi. Bahkan, boleh dikatakan bahwa akuntabilitas baru sebagai titik awal menuju keberlangsungan manajemen sekolah yang berkinerja tinggi. Menurut Slamet (2005:6) ada delapan hal yang harus dikerjakan oleh sekolah untuk peningkatan akuntabilitas: Pertama, sekolah harus menyusun aturan main tentang sistem akuntabilitas termasuk mekanisme pertanggungjawaban.

Kedua, sekolah perlu menyusun pedoman tingkah laku dan sistem pemantauan kinerja penyelenggara sekolah dan sistem pengawasan dengan sanksi yang jelas dan tegas. Ketiga, sekolah menyusun rencana pengembangan sekolah dan menyampaikan kepada publik/stakeholders di awal setiap tahun anggaran. Keempat, menyusun indikator yang jelas tentang pengukuran kinerja sekolah dan disampaikan kepada stakeholders. Kelima, melakukan pengukuran pencapaian kinerja pelayanan pendidikan dan menyampaikan hasilnya kepada publik/stakeholders diakhir tahun. Keenam,

memberikan tanggapan terhadap pertanyaan dan pengaduan

42 publik. Ketujuh, menyediakan informasi kegiatan sekolah kepada publik yang akan memperoleh pelayanan pendidikan. Kedelapan, memperbaharui rencana kinerja yang baru sebagai kesepakatan komitmen baru. Kedelapan upaya di atas, semuanya bertumpu pada kemampuan dan kemauan sekolah untuk mewujudkannya. Alih-alih sekolah mengetahui sumber dayanya, sehingga dapat digerakan untuk mewujudkan dan meningkatkan akuntabilitas. Sekolah dapat melibatkan stakeholders untuk menyusun dan memperbaharui sistem yang dianggap tidak dapat menjamin terwujudnya akuntabilitas di sekolah. Komite sekolah, orang tua siswa, kelompok profesi, dan pemerintah dapat dilibatkan untuk melaksanakannya. Dengan begitu stakeholders sejak awal tahu dan merasa memiliki akan sistem yang ada. Secara garis besar dapat disimpulkan bahwa

akuntabilitas berhubungan dengan kewajiban dari institusi pemerintahan maupun para aparat yang bekerja di dalamnya untuk membuat kebijakan maupun melakukan aksi yang sesuai dengan nilai yang berlaku maupun kebutuhan masyarakat. Akuntabilitas publik menuntut adanya pembatasan tugas yang jelas dan efisien dari para aparat birokrasi. Karena pemerintah bertanggungjawab baik dari segi penggunaan keuangan

43 maupun sumber daya publik dan juga akan hasil, akuntabilitas internal harus dilengkapi dengan akuntabilitas eksternal, melalui umpan balik dari para pemakai jasa pelayanan maupun dari masyarakat. Definisi konseptual akuntabilitas dalam penelitian ini adalah suatu ukuran yang menunjukkan seberapa besar tingkat kesesuaian penyelenggaraan pelayanan dengan ukuran nilainilai atau norma-norma eksternal yang dimiliki oleh para pemangku kepentingan yang berkepentingan dengan

pelayanan tersebut. 2. Transparansi Transparansi adalah prinsip yang menjamin akses atau kebebasan bagi setiap orang untuk memperoleh informasi tentang penyelenggaraan pemerintahan, yakni informasi tentang kebijakan, proses pembuatan dan pelaksanaannya, serta hasil-hasil yang dicapai (BAPENAS, 2002: 18) Transparansi yakni adanya kebijakan terbuka bagi

pengawasan. Sedangkan yang dimaksud dengan informasi adalah informasi mengenai setiap aspek kebijakan pemerintah yang dapat dijangkau oleh publik. Keterbukaan informasi diharapkan akan menghasilkan persaingan politik yang sehat, toleran, dan kebijakan dibuat berdasarkan pada preferensi

44 publik (Meuthia Gani, 2000: 151). Prinsip ini memiliki 2 aspek, yaitu (1) komunikasi publik oleh pemerintah, dan (2) hak masyarakat terhadap akses informasi. Keduanya akan sangat sulit dilakukan jika pemerintah tidak menangani dengan baik kinerjanya. Manajemen kinerja yang baik adalah titik awal dari transparansi. Komunikasi publik menuntut usaha positif dari pemerintah untuk membuka dan menyebarkan informasi maupun aktivitasnya yang relevan. Transparansi harus seimbang dengan kebutuhan akan kerahasiaan lembaga maupun informasi-informasi yang mempengaruhi hak privasi individu. Karena pemerintahan menghasilkan data dalam jumlah besar, maka dibutuhkan petugas informasi

professional, bukan untuk membuat dalih atas keputusan pemerintah, tetapi untuk menyebarluaskan keputusan-

keputusan yang penting kepada masyarakat serta menjelaskan alasan dari setiap kebijakan tersebut. Peran media juga sangat penting bagi transparansi pemerintah, baik sebagai sebuah kesempatan untuk

berkomunikasi pada publik maupun menjelaskan berbagai informasi yang relevan, juga sebagai “watchdog” atas berbagai aksi pemerintah dan perilaku menyimpang dari para aparat

45 birokrasi. Jelas, media tidak akan dapat melakukan tugas ini tanpa adanya kebebasan pers, bebas dari intervensi pemerintah maupun pengaruh kepentingan bisnis. Keterbukaan membawa konsekuensi adanya kontrol yang berlebihan dari masyarakat dan bahkan oleh media massa. Karena itu, kewajiban akan keterbukaan harus diimbangi dengan nilai pembatasan, yang mencakup kriteria yang jelas dari para aparat publik tentang jenis informasi apa saja yang mereka berikan dan pada siapa informasi tersebut diberikan. Menurut Nurudin Jauhari (2009:2) Selama ini terutama sebelum era desentralisasi dan reformasi, pengelolaan

pendidikan dibanyak sekolah sangat tertutup bagi pihak luar. Masyarakat, orang tua murid dan sebagian besar guru tidak banyak mengetahui seluk beluk pengelolaan pendidikan di sekolah, tidak mengetahui pendapatan dan belanja sekolah, tidak dilibatkan di dalam mengevaluasi kekuatan dan kelemahan kinerja sekolah dsb. Pengelolaan yang tidak transparan berdampak negatif bagi pengembangan sekolah karena masyarakat dan orang tua murid akan meragukan apakah kalau mereka diminta untuk ikut memikirkan kekurangan pendanaan pendidikan,

46 sumbangan yang mereka berikan akan benar-benar

dimanfaatkan bagi kepentingan pendidikan atau akan terjadi penyimpangan yang tidak diharapkan? dilain pihak, pimpinan sekolah yang menerapkan pengelolaan tertutup merasa bahwa pihak lain tidak perlu ikut campur dengan masalah pengelolaan sekolah karena sudah cukup ditangani oleh kepala sekolah dan satu dua orang staf kepercayaan kepala sekolah. Mereka khawatir keterbukaan akan sangat merepotkan dan tidak dapat memecahkan masalah yang dihadapi sekolah. Sebenarnya kekhawatiran seperti itu tidak perlu, karena pengalaman lapangan menunjukkan bahwa semakin tinggi transparansi pengelolaan suatu sekolah, semakin tinggi pula kepercayaan masyarakat dan rasa ikut memiliki sekolah, dan semakin banyak sumbangan pemikiran, dana dan fasilitas lain yang diperoleh sekolah dari masyarakat dan pihak terkait lainnya. Transparansi menciptakan kepercayaan timbal balik antara pemerintah/sekolah dan masyarakat, melalui

penyediaan informasi dan menjamin kemudahan dalam memperoleh informasi yang memadai. Transparansi pengelolaan antara lain mencakup: 1) Pengelolaan keuangan, keterbukaan dalam pendapatan dan belanja sekolah baik dari pemerintah, donor maupun sumber-

47 sumber lain, 2) Pengelolaan staf /personalia : kebutuhan ketenagaan, kualifikasi, kemampuan dan kelemahan,

kebutuhan pengembangan professional, dsb. 3) Pengelolaan kurikulum, termasuk keterbukaan dalam hal prestasi dan kinerja siswa, ketersediaan sarana dan prasarana penunjang pelaksanaan kurikulum, visi, misi, dan program peningkatan mutu pendidikan. Definisi konseptual transparansi dalam penelitian ini adalah prinsip yang menjamin akses atau kebebasan bagi setiap pemangku kepentingan madrasah untuk memperoleh informasi tentang pengelolaan keuangan madrasah, yakni informasi tentang kebijakan, proses pembuatan dan pelaksanaannya, serta hasil-hasil yang dicapai madrasah. A. Hubungan antara Akuntabilitas dengan Pengelolaan Keuangan Kaitan akuntabilitas dengan pengelolaan keuangan

(Frederik Kande, 2008:2) Pertama, akuntabilitas merupakan syarat mutlak bagi penerapan MBS (Manajemen Berbasis Sekolah); kedua, akuntabilitas semakin memiliki relevansi dalam dunia pendidikan ketika sekolah diberikan kewenangan untuk mengelola dirinya sendiri, berdasarkan karakteristik, dan kebolehannya; ketiga, nilai dan kultur, serta matinya perasaan

48 terdesak menjadi faktor penghadang di depan hambatan dalam mewujudkan akuntabilitas sekolah; keempat, upaya-upaya untuk mewujudkan dan meningkatkan akuntabilitas di sekolah sangat bergantung kepada kemauan dan kemampuan serta visi perubahan warga sekolah mewujudkan akuntabilitas; kelima, akuntabilitas memiliki efek pada pencitraan publik terhadap sekolah. Penerapan prinsip akuntabilitas dalam penyelenggaraan manejemen sekolah mendapat relevansi ketika pemerintah menerapkan otonomi pendidikan yang ditandai dengan pemberian kewenangan kepada sekolah untuk melaksanakan manajemen sesuai dengan kekhasan dan kebolehan sekolah. Dengan pelimpahan kewenangan tersebut, maka pengelolan manajemen sekolah semakin dekat dengan masyarakat yang adalah pemberi mandat pendidikan. Oleh karena manajemen sekolah semakin dekat dengan masyarakat, maka penerapan akuntabilitas dalam pengelolaan merupakan hal yang tidak dapat ditunda-tunda. Pelaksanaan prinsip akuntabilitas dalam rangka MBS tiada lain agar para pengelola sekolah atau pihak-pihak yang diberi kewenangan mengelola urusan pendidikan itu senantiasa terkontrol dan tidak memiliki peluang melakukan

49 penyimpangan untuk melakukan korupsi, kolusi, dan

nepotisme. Dengan prinsip ini mereka terus memacu produktifitas profesionalnya sehingga berperan besar dalam memenuhi berbagai aspek kepentingan masyarakat. Akuntabilitas menyangkut dua dimensi, yakni akuntabilitas vertikal dan akuntabilitas horisontal. Akuntabilitas vertikal menyangkut hubungan antara pengelola sekolah dengan masyarakat. Sekolah dan orang tua siswa. Antara sekolah dan instansi di atasnya (Dinas pendidikan). Sedangkan

akuntabilitas horisontal menyangkut hubungan antara sesama warga sekolah. Antar kepala sekolah dengan komite, dan antara kepala sekolah dengan guru. Akuntabilitas keuangan dapat diukur dari semakin kecilnya penyimpangan dalam pengelolaan keuangan sekolah. Baik sumber-sumber penerimaan, besar kecilnya penerimaan, maupun peruntukkannya dapat dipertanggungjawabkan oleh pengelola. Pengelola keuangan yang bertanggung jawab akan mendapat kepercayaan dari warga sekolah dan masyarakat. Sebaliknya pengelola yang melakukan praktek korupsi tidak akan dipercaya. Akuntabilitas tidak saja menyangkut sistem tetapi juga menyangkut moral individu. Jadi, moral individu yang baik dan didukung oleh sistem yang baik akan menjamin

50 pengelolaan keuangan yang bersih, dan jauh dari praktek korupsi. Untuk mengukur berhasil tidaknya akuntabilitas dalam manajemen berbasis sekolah, dapat dilihat pada beberapa hal, sebagaimana dinyatakan oleh Slamet (2005:7): Beberapa indikator keberhasilan akuntabilitas adalah: 1) Meningkatnya kepercayaan dan kepuasan publik terhadap sekolah. 2) Tumbuhnya kesadaran publik tentang hak untuk menilai terhadap penyelenggaraan pendidikan di sekolah, dan 3) Meningkatnya kesesuaian kegiatan-kegiatan sekolah dengan nilai dan norma yang berkembang di masyarakat. Ketiga indikator di atas dapat dipakai oleh sekolah untuk mengukur apakah akuntabilitas manajemen sekolah telah mencapai hasil sebagaiamana yang dikehendaki. Tidak saja publik merasa puas, tetapi sekolah akan mengalami peningkatan dalam banyak hal. Jadi berdasarkan uraian sebelumnya, dapat diambil kesimpulan berdasarkan tahapan sebuah program,

akuntabilitas dari setiap tahapan adalah : 1. Pada tahap proses pembuatan sebuah keputusan, beberapa indikator untuk menjamin akuntabilitas publik adalah :

51 a. Pembuatan sebuah keputusan harus dibuat secara tertulis dan tersedia bagi setiap warga yang membutuhkan b. Pembuatan keputusan sudah memenuhi standar etika dan nilai-nilai yang berlaku, artinya sesuai dengan prinsip-prinsip administrasi yang benar maupun nilai-nilai yang berlaku dipemangku kepentingan c. Adanya kejelasan dari sasaran kebijakan yang diambil, dan sudah sesuai dengan visi dan misi organisasi, serta standar yang berlaku d. Adanya mekanisme untuk menjamin bahwa standar telah terpenuhi, dengan konsekuensi mekanisme pertanggungjawaban jika standar tersebut tidak terpenuhi e. Konsistensi maupun kelayakan dari target

operasional yang telah ditetapkan maupun prioritas dalam mencapai target tersebut. 2. Pada tahap sosialisasi kebijakan, beberapa indikator untuk menjamin akuntabilitas publik adalah :

52 a. Penyebarluasan informasi mengenai suatu

keputusan, melalui media massa, media nirmassa, maupun media komunikasi personal b. Akurasi dan kelengkapan informasi yang

berhubungan dengan cara-cara mencapai sasaran suatu program c. Akses publik pada informasi atas suatu keputusan setelah keputusan dibuat dan mekanisme

pengaduan masyarakat d. Ketersediaan sistem informasi manajemen dan monitoring pemerintah. a. Hubungan antara Transparansi dengan Pengelolaan Keuangan Kaitan transparansi dengan pengelolaan (Ahmad hasil yang telah dicapai oleh

Sudrajat, 2010:9) “ Transparan berarti adanya keterbukaan. Transparan di bidang manajemen berarti adanya keterbukaan dalam mengelola suatu kegiatan. Di lembaga pendidikan, bidang manajemen keuangan yang transparan berarti adanya keterbukaan dalam manajemen keuangan lembaga pendidikan, yaitu keterbukaan sumber keuangan dan jumlahnya, rincian penggunaan, dan pertanggungjawabannya harus jelas sehingga

53 bisa memudahkan pihak-pihak yang berkepentingan untuk mengetahuinya”. Transparansi keuangan sangat diperlukan dalam rangka meningkatkan dukungan orangtua, masyarakat dan pemerintah dalam penyelenggaraan seluruh program pendidikan di sekolah. Disamping itu transparansi dapat menciptakan kepercayaan timbal balik antara pemerintah, masyarakat, orang tua siswa dan warga sekolah melalui penyediaan informasi dan menjamin kemudahan di dalam memperoleh informasi yang akurat dan memadai. Beberapa informasi keuangan yang bebas diketahui oleh semua warga sekolah dan orang tua siswa misalnya rencana anggaran pendapatan dan belanja sekolah (RAPBS) bisa ditempel di papan pengumuman di ruang guru atau di depan ruang tata usaha sehingga bagi siapa saja yang membutuhkan informasi itu dapat dengan mudah

mendapatkannya. Orang tua siswa bisa mengetahui berapa jumlah uang yang diterima sekolah dari orang tua siswa dan digunakan untuk apa saja uang itu. Perolehan informasi ini menambah kepercayaan orang tua siswa terhadap sekolah. Menurut International Relief and Development (IRD, 2010:1), di masa lalu, sebagian besar perbaikan kualitas sekolah ditekankan pada peningkatan fasilitas dan rekonstruksi

54 sekolah, yang memakan porsi anggaran yang besar dan hanya menyisakan sedikit anggaran untuk pelatihan guru, alat bantu pembelajaran, dan kegiatan ekstrakurikuler. Akan tetapi, setelah adanya pelatihan dan fasilitasi terus-menerus, IRD menyaksikan pergeseran yang dramatis dalam hal prioritas dan perbaikan di semua kota/kabupaten dampingan. Sekolahsekolah yang menerima pelatihan dari IRD secara terbuka memampang anggaran sekolah di ruang kantor sekolah. Perbincangan-perbincangan mengenai anggaran yang sebelumnya hanya dilakukan antara kepala sekolah dan ketua komite menjadi terbuka untuk umum. Kesadaran yang meningkat mengenai sumber daya finansial yang aktual dan kajian kebutuhan yang akurat berdampak pada penggunaan dana yang lebih efektif dan kontribusi masyarakat yang lebih besar. Sebagai contoh, sekolah mulai memasukkan bahanbahan pelajaran kelas dan lebih banyak kegiatan ke dalam anggaran sekolah. Warga masyarakat menyumbang lebih banyak dana untuk sumber daya sekolah, dan memiliki pengetahuan lebih banyak mengenai hak serta kewajiban pendidikan mereka, dengan mengambil tanggun jawab untuk mengawasi kualitas pendidikan dan menetapkan prioritas anggaran.

55 Jadi secara ringkas dapat disebutkan bahwa, prinsip transparasi paling tidak dapat diukur melalui sejumlah indikator seperti : a. mekanisme yang menjamin sistem keterbukaan dan standarisasi dari semua proses-proses pelayanan publik b. mekanisme yang memfasilitasi pertanyaan-pertanyaan publik tentang berbagai kebijakan dan pelayanan publik, maupun proses-proses di dalam sektor publik. c. mekanisme yang memfasilitasi pelaporan maupun penyebaran informasi maupun penyimpangan tindakan aparat publik didalam kegiatan melayani. Keterbukaan pemerintah atas berbagai aspek pelayanan publik, pada akhirnya akan membuat kepada pemerintah semua menjadi pemangku

bertanggung

gugat

kepentingan yang berkepentingan dengan proses maupun kegiatan dalam sektor publik. b. Hubungan antara Akuntabilitas dan Transparansi dengan Pengelolaan Keuangan Kaitan pengelolaan keuangan dengan akuntabilitas dan transparansi (Nurudin Jauhari, 2009:2) “Hakekat MBS adalah: pelimpahan wewenang dan tanggung jawab, pengambilan keputusan bersama, transparansi, akuntabilitas Transparansi,

56 akuntabilitas dan kredibilitas adalah isu kunci keberhasilan MBS dalam rangka peningkatan mutu pendidikan.

Transparansi sulit dilaksanakan tanpa akuntabilitas, sedangkan penerapan transparansi dan akuntabilitas akan menimbulkan kredibilitas sekolah di mata masyarakat.”.

57 BAB III PENYUSUNAN APBS

A. Proses Perencanaan Keuangan Sekolah Secara umum proses manajemen keuangan sekolah meliputi: perencanaan, pelaksanaan, pengawasan, pelaporan dan pertanggung-jawaban. Perencanaan merupakan langkah awal dalam proses manajemen keuangan. Perencanaan adalah suatu proses yang rasional dan sistematis dalam menetapkan langkah-langkah kegiatan yang akan dilaksanakan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Pengertian tersebut mengandung unsur-unsur bahwa di dalam perencanaan ada proses, ada kegiatan yang rasional dan sistematis serta adanya tujuan yang akan dicapai. Perencanaan sebagai proses, artinya suatu kejadian membutuhkan waktu, tidak dapat terjadi secara mendadak. Perencanaan sebagai kegiatan rasional, artinya melalui proses pemikiran yang didasarkan pada data yang riil dan analisis yang logis, yang dapat dipertanggungjawabkan, dan tidak didasarkan pada ramalan yang intuitif. Perencanaan sebagai kegiatan yang sistematis, berarti perencanaan meliputi tahap- tahap kegiatan. Kegiatan yang satu menjadi landasan

58 tahapan berikutnya. Tahapan kegiatan tersebut dapat dijadikan panduan sehingga penyimpangan dapat segera diketahui dan diatasi. Sedangkan tujuan perencanaan itu sendiri arahnya agar kegiatan yang dilaksanakan tidak menyimpang dari arah yang ditentukan. Yang perlu diperhatikan di dalam perencanaan keuangan sekolah antara lain menganalisis program kegiatan dan prioritasnya, menganalisis dana yang ada dan yang mungkin bisa diadakan dari berbagai sumber pendapatan dan dari berbagai kegiatan. Perencanaan keuangan sekolah disesuaikan dengan rencana pengembangan sekolah secara keseluruhan, baik pengembangan jangka pendek maupun jangka panjang. Pengembangan jangka pendek berupa pengembangan satu tahunan. Pengembangan jangka panjang berupa

pengembangan lima tahunan, sepuluh tahunan, bahkan dua puluh lima tahunan. Berdasarkan rencana pengembangan sekolah, baik jangka pendek maupun jangka panjang, maka dibuatlah perencanaan keuangan sekolah baik perencanaan jangka pendek maupun jangka panjang. Kalau dianalisis pembuatan perencanaan keuangan, Garner (2004) merumuskan sikuensi perencanaan keuangan

59 yang strategis sebagai berikut: 1) misi (mission), 2) tujuan jangka panjang(goals), 3) tujuan jangka pendek(objectives), 4) program, layanan, aktivitas(programs, services, activities), tujuan jangka panjang, tujuan jangka pendek berdasarkan kondisi riil unit sekolah(site-based unit goals & objectives), 5) target: baik outcomes maupun outputs, 6) anggaran(budget), dan 7) perencanaan keuangan yang strategis (strategic financial plan). Siklus rencana berikut: 1. Misi, tujuan jangka panjang dan tujuan jangka pendek perlu dirumuskan pimpinan sekolah 2. Tujuan jangka panjang, tujuan jangka pendek, dan target yang ingin dicapai berdasarkan kondisi riil sekolah perlu dipahami oleh seluruh warga sekolah. 3. Berdasarkan kondisi riil sekolah, maka dirumuskan perencanaan keuangan yang strategis. 4. Perencanaan keuangan strategis sudah dirumuskan, menjadi bahan masukan pada pengembangan misi dan tujuan sekolah pada periode berikutnya. tersebut menunjukkan bahwa pembuatan sebagai

strategis

memerlukan

langkah-langkah

60 Proses perumusan perencanaan keuangan yang

strategis, memerlukan kajian secara cermat tentang evaluasi diri lembaga pendidikan yang bersangkutan, visi, misi, tujuan jangka panjang dan tujuan jangka pendek lembaga pendidikan. Kemudian ditetapkan program kegiatan dan berbagai layanan yang dilaksanakan lembaga pendidikan yang sesuai dengan tujuan jangka panjang dan pendek serta target yang akan dicapai baik output maupun outcomes-nya, dan disusunlah anggaran sehingga jadilah perencanaan keuangan yang strategis sesuai dengan kondisi sekolah. Visi sekolah menjadi pedoman dalam pengembangan program sekolah. Visi adalah wawasan yang menjadi sumber arahan bagi sekolah, pandangan jauh kedepan kemana sekolah akan dibawa. Visi sekolah digunakan untuk memandu perumusan misi sekolah dan perumusan tujuan sekolah. Contoh rumusan visi sekolah, yaitu terwujudnya siswa yang berkualitas dan lulusan yang unggul sehingga mampu bersaing di tingkat daerah, nasional dan internasional. Bertolak dari rumusan visi sekolah selanjutnya dirumuskan misi sekolah. Misi merupakan kegiatan yang harus diemban untuk menjawab pencapaian visi yang ditetapkan. Contoh perumusan misi sekolah, yaitu terlaksananya kegiatan

61 belajar mengajar yang kondusif dalam lingkungan sekolah yang aman, tertib, disiplin, bersih yang didukung oleh sarana dan prasarana yang memadai; terciptanya hubungan yang harmonis antar personil di sekolah. Selanjutnya rumusan tujuan jangka panjang dan jangka pendek dan target pencapaiannya diselaraskan dengan visi dan misi sekolah. Disamping memperhatikan program pengembangan sekolah, perencanaan keuangan sekolah juga mengacu pada

penyelenggaraan pendidikan di sekolah secara keseluruhan. Kepmendiknas Nomor 056/U/2001 menyebutkan

penyelenggaraan pendidikan di sekolah meliputi (1) pelayanan yang bersifat teknis edukatif untuk proses belajar mengajar baik teori maupun praktek untuk seluruh mata pelajaran dan penilaian hasil belajar; (2) pelayanan yang bersifat penunjang untuk operasionalisasi ruang belajar dan kegiatan ekstra kurikuler; (3) pengadaan dan perawatan buku pelajaran, peralatan pendidikan, alat pelajaran, peralatan laboratorium, perpustakaan dan peralatan praktik keterampilan serta bahan praktik laboratorium dan keterampilan; (4) pengadaan dan perawatan sarana kegiatan penunjang seperti sarana

administrasi, gedung sekolah, ruang kelas, fasilitas sekolah dan lingkungan; (5) penyediaan daya dan jasa seperti listrik,

62 telepon, gas dan air; (6) perjalanan dinas kepala sekolah dan guru; (7) pelayanan kemasyarakatan, pemberdayaan Komite Sekolah, kegiatan sosial; (8) penyelenggaraan lomba yang diikuti siswa dan atau guru; (9) pelayanan habis pakai untuk keperluan sekolah seperti surat kabar; (10) penyediaan gaji guru dan non-guru, tunjangan, honorarium, lembur,

transportasi, insentif dan lainnya yang menunjang pendidikan. Berdasarkan komponen penyelenggaraan pendidikan tersebut, tiap kepala sekolah menentukan program prioritas yang perlu dilaksanakan dalam satu tahun anggaran, kemudian dijadikan program kegiatan yang perlu mendapatkan dana. Pada tahap perencanaan, analisis kebutuhan

pengembangan sekolah dalam kurun waktu tertentu menjadi fokus utama yang perlu diperhatikan. Kebutuhan dalam satu tahun anggaran, lima tahun, sepuluh tahun, bahkan dua puluh lima tahunan. Perencanaan dibuat oleh kepala sekolah, guru, staf sekolah dan pengurus komite sekolah. Mereka mengadakan pertemuan untuk menentukan kebutuhan dan menentukan kegiatan sekolah dalam waktu tertentu. Berdasarkan analisis ini diperoleh banyak kegiatan yang perlu dilakukan sekolah dalam satu tahun, lima tahun, sepuluh tahun, atau bahkan dua puluh lima tahun. Untuk itu

63 perlu diurutkan tingkat kebutuhan kegiatan dari yang paling penting sampai kegiatan pendukung yang mungkin bisa ditunda pelaksanaannya. Hal ini terkait dengan tersedianya waktu, keberadaan tenaga dan jumlah dana yang tersedia atau yang bisa diupayakan ketersediaannya. Analisis sumber-sumber dana dan jumlah nominal yang mungkin diperoleh, dilakukan untuk memenuhi kebutuhan sesuai dengan hasil analisis yang dilakukan. Perpaduan analisis kegiatan dan sumber dana serta menyangkut waktu pelaksaannya ini seringkali menghasilkan apa yang dinamakan Rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja Sekolah (RAPBS). Setiap sekolah wajib menyusun RAPBS sebagaimana diamanatkan di dalam pasal 53 Peraturan Pemerintah No 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, yaitu Rencana Kerja Tahunan hendaknya memuat rencana anggaran pendapatan dan belanja satuan pendidikan untuk masa kerja satu tahun; RAPBS merupakan rencana perolehan pembiayaan pendidikan dari berbagai sumber pendapatan serta susunan program kerja tahunan yang terdiri dari sejumlah kegiatan rutin serta beberapa kegiatan lainnya disertai rincian rencana pembiayaannya dalam satu tahun anggaran.

64 Dengan demikian RAPBS berisi tentang ragam sumber pendapatan dan jumlah nominalnya baik rutin maupun pembangunan, ragam pembelanjaan dan jumlah nominalnya dalam satu tahun anggaran. Penyusunan RAPBS perlu memperhatikan asas anggaran antara lain: 1. Asas kecermatan Anggaran harus diperkirakan secara cermat, baik dalam hal penjumlahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian

sehingga dapat efektif dan terhindar dari kekeliruan dalam penghitungan. 2. Asas Terinci Penyusunan anggaran dirinci secara baik sehingga dapat dilihat rencana kerja yang jelas serta dapat membantu unsur pengawasan. 3. Asas Keseluruhan Anggaran yang disusun mencakup semua aktivitas keuangan dari suatu organisasi secara menyeluruh dari awal tahun sampai akhir tahun anggaran. 4. Asas Keterbukaan Semua pihak yang telah ditentukan oleh peraturan atau pihak yang terkait dengan sumber pembiayaan sekolah dapat

65 memonitor aktivitas yang tertuang dalam penyusunan

anggaran maupun dalam pelaksanaannya. 5. Asas Periodik Pelaksanaan anggaran mempunyai batas waktu yang jelas. 6. Asas Pembebanan. Dasar pembukuan terhadap pengeluaran dan penerimaan anggaran perlu diperhatikan. Kapan suatu anggaran

pengeluaran dibebankan kepada anggaran ataupun suatu penerimaan menguntungkan anggaran perlu diperhitungkan secara baik. Dalam penyusunan RAPBS, kepala sekolah sebaiknya membentuk tim yang terdiri dari dewan guru dan pengurus komite sekolah. Setelah tim dan Kepala Sekolah

menyelesaikan tugas, merinci semua anggaran pendapatan dan belanja sekolah, Kepala Sekolah menyetujuinya. Pelibatan para guru dan pengurus komite sekolah ini akan diperoleh rencana yang mantap, dan secara moral semua guru, kepala sekolah dan pengurus komite sekolah merasa bertanggung jawab terhadap pelaksanaan rencana tersebut. Dalam menetapkan jumlah anggaran, dua hal yang perlu diperhatikan yaitu unit cost (satuan biaya) dan volume kegiatan.

66 Setiap program dan penganggarannya perlu

memperhatikan kedua hal tersebut. Misalnya untuk anggaran rutin, SBP (Sumbangan Biaya Pendidikan), BKM(Bantuan Khusus Murid), jenis kegiatan dan satuan biayanya sudah ditentukan. Kepala Sekolah bersama guru dan pihak lain yang terlibat langsung misalnya komite sekolah diharapkan

menyusun prioritas penggunaan dana per-mata anggaran secara cermat. Secara rinci langkah penyusunan RAPBS, yaitu: 1. Inventarisasi kegiatan untuk tahun yang akan datang, baik Kegiatan rutin maupun kegiatan pembangunan/ pengembangan berdasarkan evaluasi pelaksanaan kegiatan Kepala sekolah mempelajari visi, misi, program utama sekolah yang telah ada Kepala sekolah bersama guru dan Pengurus Komite Sekolah membahas draft dan menetapkan RAPBS Kepala sekolah mengundang guru dan Pengurus Komite Sekolah untuk menyusun draft RAPBS RAPBS sudah siap dilaksanakan pada tahun sebelumnya, analisis kebutuhan tahun berikutnya, dan masukan dari seluruh warga sekolah maupun Komite Sekolah. 2. Inventarisasi sumber pembiayaan baik dari rutin maupun pengembangan.

67 3. Penyusunan Rencana Kegiatan Sekolah(RKS) yang lengkap berdasarkan Langkah poin (1) dan (2). Kepala Sekolah membuat tabel RKS yang terdiri dari kolom-kolom nomor urut, uraian kegiatan, sasaran, kolom-kolom perincian dana dari berbagai sumber, dan kolom jumlah. Tabel tersebut diisi sesuai kolom yang ada. 4. Penyusunan RAPBS. Kepala Sekolah membuat tabel RAPBS yang terdiri dari kolom-kolom, yaitu kolom rencana penerimaan dan jumlahnya, kolom rencana pengeluaran dan jumlahnya. Tabel tersebut diisi kemudian ditandatangani oleh Kepala Sekolah dan Ketua Komite Sekolah dan diketahui oleh Kepala Dinas Pendidikan setempat. B. Sumber-Sumber Pendapatan Sekolah Kebutuhan dana untuk kegiatan operasinal secara rutin dan pengembangan program sekolah secara berkelanjutan sangat dirasakan setiap pengelola lembaga pendidikan. Semakin banyak kegiatan yang dilakukan sekolah semakin banyak dana yang dibutuhkan. Untuk itu kreativitas setiap pengelola sekolah dalam menggali dana dari berbagai sumber akan sangat membantu kelancaran pelaksanaan program sekolah baik rutin maupun pengembangan di lembaga yang bersangkutan. Pasal 46 Undang-undang No 20 Tahun 2003

68 menyatakan pendanaan pendidikan menjadi tanggung jawab bersama antara Pemerintah, pemerintah daerah, dan

masyarakat. Berdasarkan tuntutan kebutuhan di sekolah tersebut utamanya kebutuhan pengembangan pembelajaran yang sangat membutuhkan biaya yang relatif banyak, maka sumber pendapatan diupayakan dari berbagai pihak agar membantu penyelenggaraan pendidikan di sekolah, disamping sekolah perlu melakukan usaha mandiri yang bisa menghasilkan dana. Hal ini akan terwujud apabila menajemen sekolah

dilaksanakan dengan sebaik-baiknya di samping kreativitas sekolah juga menjadi andalan utama. Berbagai perkembangan yang ada di abad 21, (Garner,2004) mengungkapkan adanya pengaruh langsung maupun tidak langsung dalam meningkatkan perolehan keuangan sekolah, yaitu praktek pembukuan yang sesuai dengan akuntansi(accounting), sekolah yang memiliki piagam (charter schools), daya tarik sekolah(magnet school),

privatisasi sekolah(the privatization of school), vouchers, sistem yang terbuka dalam mengelola sekolah ( open systems), dan manajemen berdasarkan kondisi riil sekolah (site-based management).

69 Untuk itu sekolah perlu memenuhi poin-poin tersebut agar perolehan dana bisa lebih ditingkatkan. Hal ini terjadi karena masyarakat sangat mempercayai keunggulan sehingga mereka merasa respek terhadap lembaga pendidikan. Sumber-sumber pendapatan sekolah bisa berasal dari pemerintah, usaha mandiri sekolah , orang tua siswa, dunia usaha dan industri, sumber lain seperti hibah yang tidak bertentangan dengan peraturan perundangan yang berlaku, yayasan penyelenggara pendidikan bagi lembaga pendidikan swasta, serta masyarakat luas. Berikut ini disajikan rincian masing-masing sumber pendapatan sekolah. Sumber keuangan dari pemerintah bisa berasal dari pemerintah pusat, pemerintah kabupaten/ kota. Sumber keuangan pendidikan yang berasal dari pemerintah pusat dialokasikan melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), sedangkan yang berasal dari pemerintah kabupaten dan kota dialokasikan melalui Anggaran

Pendapatan dan Belanja Daerah(APBD). Selanjutnya melalui kebijakan pemerintah yang ada, di tahun 2007 di dalam pengelolaan keuangan dikenal sumber anggaran yang disebut Dana Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA). DIPA meliputi Administrasi Umum, yaitu alokasi dari

70 Pemerintah yang bersumber APBN penerimaan dari pajak , dan Penerimaan Negara Bukan Pajak(PNBP) yang bersumber dari dana masyarakat. Beberapa kegiatan yang merupakan usaha mandiri sekolah yang bisa menghasilkan pendapatan sekolah antara lain : (1) pengelolaan kantin sekolah, (2) pengelolaan koperasi sekolah, (3) pengelolaan wartel, (4)

pengelolaan jasa antar jemput siswa, (5) panen kebun sekolah, (6) kegiatan yang menarik sehingga ada sponsor yang memberi dana, (7) kegiatan seminar/ pelatihan/ lokakarya dengan dana dari peserta yang bisa disisihkan sisa

anggarannya untuk sekolah, (8) penyelenggaraan lomba kesenian dengan biaya dari peserta atau perusahaan yang sebagian dana bisa disisihkan untuk sekolah. Pengelolaan kantin sekolah memiliki manfaat

tersedianya makanan dan minuman yang sehat dan bergizi, harganya yang terjangkau oleh warga sekolah, juga memiliki nilai bisnis yang menguntungkan bagi sekolah. Hasil penjualan atau sewa tempat penjualan dikumpulkan sehingga menjadi sumber rutin yang diterima pihak sekolah. Pengelolaan kantin sekolah perlu memperhatikan halhal sebagai berikut:

71 1. Tempat kantin strategis di dalam sekolah, yang

memudahkan warga sekolah untuk mengunjunginya, serta dapat terpantau oleh pengelola sekolah. 2. Bangunan kantin didesain secara baik, indah, bersih, nyaman sehingga menyenangkan pengunjungnya. 3. Menu makanan dan minuman bervariasi sesuai selera pembeli dan berkualitas baik, namun harganya diusahakan yang semurah mungkin. 4. Keuangan kantin atau hasil pengelolaan kantin dikelola secara transparan. Selain pengelolaan kantin sekolah, usaha yang bisa dilakukan sekolah untuk menambah pendapatan sekolah yaitu pengelolaan koperasi sekolah. Adanya koperasi sekolah disamping memiliki manfaat tersedianya kebutuhan pokok

dengan harga yang terjangkau oleh warga sekolah, juga memiliki nilai bisnis yang menguntungkan bagi sekolah. Terkait dengan kebutuhan siswa, usaha koperasi bisa berupa toko yang menyediakan seragam sekolah, buku tulis dan cetak, alat tulis dan kebutuhan belajar lainnya. Terkait dengan kebutuhan guru, koperasi bisa menyediakan seragam guru, alat tulis dan kebutuhan rumah tangga misalnya penyediaan sembako dan kebutuhan lainnya.

72 Selain toko yang menyediakan kebutuhan guru, koperasi bisa mengelola usaha simpan pinjam dengan suku bunga yang lebih rendah daripada suku bunga di bank agar guru dan pegawai sekolah tertarik serta merasa diuntungkan oleh adanya koperasi di sekolah. Usaha kavling tanah dan perumahan juga bisa diusahakan oleh sekolah kalau memang sekolah mampu melakukannya. Tentu saja pengurus koperasi harus bekerja sma dengan perbankan agar diperoleh modal yang sesuai kebutuhan. Pengelolaan koperasi sekolah yang efektif perlu memperhatikan hal-hal sebagai berikut: 1. Tempat koperasi strategis di dalam sekolah, yang memudahkan warga sekolah untuk mengunjunginya, serta dapat terpantau oleh pengelola sekolah. 2. Bangunan koperasi didesain secara baik, indah, bersih, nyaman sehingga menyenangkan pengunjungnya. 3. Ragam barang yang dijual di koperasi bervariasi sesuai kebutuhan pembeli dan berkualitas baik, namun harganya diusahakan yang semurah mungkin. 4. Keuangan koperasi atau hasil pengelolaan koperasi dikelola secara transparan dan sesuai dengan standar pembukuan koperasi.

73 Hasil usaha koperasi dikumpulkan sehingga menjadi sumber rutin yang diterima pihak sekolah. Pengelolaan wartel yang tepat juga bisa merupakan pemasukan pendapatan rutin bagi sekolah. Dalam hal ini perlu ditunjuk petugas yang mampu mengelola kegiatan secara tertib, teliti dan memiliki tingkat kejujuran yang tinggi. Pengelolaan jasa antar jemput bagi siswa, barangkali bisa dilakukan bagi sekolah yang lokasinya jauh dari jalur transportasi umum, meskipun usia anak SMA/SMK mungkin kurang berminat menggunakannya. Tetapi tidak ada salahnya kalau pihak sekolah menjajagi kemungkinan banyak siswa yang berminat menggunakannya. Sekolah yang masih memiliki lahan luas bisa mengelola lahannya dengan menanam tumbuhan yang hasilnya bisa dijual dan bisa menjadi pemasukan pendapatan bagi sekolah. Tentunya sekolah perlu bekerja sama dengan penggarap tanah di sekitar sekolah, agar semua kegiatan berjalan lancar Sekolah bisa menyelenggarakan kegiatan yang menarik warga di dalam sekolah dan perusahaan di sekitar sekolah, sehingga ada sponsor yang memberi dana ke sekolah. Kegiatan ini bisa berupa gerak jalan sehat, pertandingan sepak bola

74 antar sekolah atau kegiatan yang sejenis. Apabila ada dana yang masuk, sekolah bisa menyisihkan sebagian untuk sekolah. Kegiatan seminar, pelatihan, lokakarya dengan dana dari peserta yang bisa disisihkan sisa anggarannya untuk sekolah. Penyelenggaraan kegiatan ini tentunya harus dipilih tema yang hangat, perkembangan terkini sehingga menantang peserta mengikutinya. Apabila ada dana yang masuk, sekolah bisa menyisihkan sebagian untuk sekolah. Penyelenggaraan gelar dan lomba kesenian antar sekolah dengan biaya dari peserta atau perusahaan yang berminat membantunya. Sebagian dana bisa disisihkan untuk sekolah. Selain yang sudah disebutkan di atas, masih ada sumber pembiayaan alternatif yang berasal dari proyek pemerintah baik yang bersifat block grant maupun yang bersifat matching grant(imbal swadaya). Di tahun anggaran 1997 sampai dengan 2003, sumber alternatif itu dikucurkan oleh Proyek Perluasan dan Peningkatan Mutu Pendidikan melalui mekanisme block grant maupun yang bersifat

75 matching grant. Terdapat 13 kegiatan Proyek di sekolah yang dapat didanai dengan sumber anggaran tersebut( Imron, 2004). Sumber dana yang berasal dari orang tua siswa dapat berupa sumbangan fasilitas belajar siswa, sumbangan

pembangunan gedung, iuran BP3, dan SPP. Selain itu bisa juga sekolah mengembangkan penggalian dana dalam bentuk: 1. Amal jariyah 2. Zakat mal 3. Uang tasyakkuran 4. Amal Jumat Sumber dana dari dunia usaha dan industri dilakukan melalui kerja sama dalam berbagai kegiatan, baik bantuan berupa uang maupun berupa bantuan fasilitas sekolah. Sumber dana dari masyarakat demikian juga bisa berupa uang maupun berupa bantuan fasilitas sekolah. Untuk memperoleh dana dari berbagai pihak utamanya dari dana hibah atau block grant, kepala sekolah perlu menyusun proposal yang menggambarkan kebutuhan

pengembangan program sekolah. Komponen proposal dapat disusun sebagai berikut: rumusan visi, misi, dan tujuan sekolah, identifikasi tantangan nyata yang dihadapi sekolah, sasaran, identifikasi fungsi-

76 fungsi sasaran, analisis SWOT, alternatif langkah-langkah pemecahan persoalan, rencana dan Program Peningkatan mutu, anggaran dan rincian penggunaannya. C. Masalah-Masalah Terkait dengan Penyusunan RAPBS Salah satu implikasi dari penerapan Manajemen Berbasis Sekolah sebagaimana diamanatkan dalam perundangundangan sistem pendidikan adalah diharuskannya pimpinan sekolah (terutama Kepala Sekolah) untuk mengemban tanggung jawab yang lebih besar dalam proses pengembangan RAPBS. Oleh karena itu disarankan agar pimpinan itu menyadari berbagai masalah yang harus mereka hadapi untuk melaksanakan tanggung jawab yang besar itu. Berikut ini diuraikan beberapa masalah yang sering muncul dalam proses penyusunan RAPBS. 1. Anggaran diusulkan didasarkan uang yang tersedia dan tidak didukung pengetahuan yang memadai Sekolah yang melibatkan guru atau pihak lain dalam penyusunan anggaran kadang-kadang mendapati usulan anggaran dari orang-orang yang tidak benar-benar

membutuhkan apa yang mereka minta atau tidak memiliki pengetahuan yang cukup mengenai barang-barang itu atau

77 bagaimana mereka akan menggunakannya. Banyak guru, misalnya, mengusulkan produk-produk baru komputer yang mereka ketahui hanya melalui cerita dari mulut ke mulut bahwa produk itu efektif membantu kegiatan belajar siswa. Untuk mencegah masalah ini disarankan agar kepala sekolah meminta semua pihak yang mengajukan anggaran untuk membuat alasan-alasan tertulis pada setiap butir usulan, bagaimana akan digunakan, dan sejauh mana calon pengguna itu telah memahami pengetahuan yang diperlukan untuk memanfaatkan barang yang diusulkan itu atau pengetahuan atau keterampilan apa yang ia perlukan agar dapat

memanfaatkannya dengan baik. Selain itu pengusul juga perlu diminta menunjukkan apakah usulannya tersebut benar-benar dibutuhkan atau bersifat esensial. 2. Kurang lengkapnya penjelasan tentang pentingnya usulan anggaran untuk meningkatkan belajar siswa Usulan anggaran dapat dimaksudkan untuk

penggantian atau penambahan barang yang dimiliki. Masalah yang sering muncul berkaitan dengan ini adalah bahwa ketidakjelasan keterkaitan antara item-item yang diusulkan itu dengan peningkatan kegiatan belajar siswa dan bagaimana peningkatan itu akan diukur. Untuk mencegah hal ini kepala

78 sekolah perlu meminta para pengusul untuk memberikan alasan-alasan yang kuat bagaimana barang-barang yang diusulkan akan membantu meningkatkan belajar siswa dan bagaimana peningkatan belajar itu akan diukur. 3. Penurunan anggaran pendidikan dari tahun ke tahun Kebijakan wakil rakyat, kondisi perekonomian,

pergantian pemimpin politik (bupati, wali kota, gubernur) di daerah atau program-program kemasyarakatan lain sering berdampak pada pengurangan anggaran pendidikan yang disediakan oleh pemerintah. Selain beberapa kondisi eksternal itu, penurunan anggaran juga sering terjadi karena faktor internal sekolah. Penurunan jumlah siswa merupakan kondisi internal yang paling dominan penurunan anggaran sekolah. Kemungkinan terjadinya pengurangan semacam ini sangat beragam antara daerah yang satu dengan daerah yang lain. Namun demikian tidak ada satu daerahpun yang dapat menjamin terbebas dari hal itu. Apabila terjadi, penurunan anggaran semacam itu bukan merupakan persoalan yang sederhana. Pengurangan itu dapat berakibat pada modifikasi atau eliminasi program, pengurangan staf, penundaan pemeliharaan dan perbaikan fasilitas, yang dapat berdampak pada timbulnya frustrasi,

79 kekecewaan dan penurunan moral kerja. Meskipun tidak semua dampak pengurangan anggaran itu dapat dihindarkan, namun akibatnya dapat diminimalkan apabila pendekatan panganggaran yang digunakan rasional dan adil. Salah satu pendekatan yang tampaknya dapat membantu mengatasi dampak tersebut adalah pendekatan yang disebut “zero-base budgeting” atau penganggaran tanpa pertumbuhan yang dikenal dengan ZBB (Gorton dan Schneider, 1991). ZBB berusaha untuk menghindarkan penganggaran yang tidak menentu, dalam mana anggaran yang ada tidak dipersoalkan dan perhatian difokuskan hanya pada anggaran yang baru atau anggaran tambahan yang akan diberikan. Selain itu, ZBB juga mempertimbangkan keseluruhan anggaran dan memerlukan perbandingan antar semua bidang anggaran. Mundt, Olsen, dan Steinberg (dalam Gorton dan Schneider, 1991:163) mendefinisikan ZBB sebagai “a process in which ‘decision packages’ are prepared to describe the funding of existing and new programs at alternative service levels, both lower and higher than current level, and funds are allocated to program based on rankings of these alternatives” Dengan kata lain, dalam penerapan ZBB, sekolah harus melakukan justifikasi yang ketat terhadap setiap butir anggaran

80 yang diusulkan setiap tahun. Justifikasi itu harus mencakup rasional, tujuan dan sasaran, kriteria evaluasi, dan sumber daya yang dibutuhkan bagi level-level alternatif layanan pada masing-masing meliputi: a. Identifikasi unit-unit pengambilan keputusan (dibatasi pada program-program yang membutuhkan sumber daya). b. Analisis paket-paket keputusan (dokumen yang program. Langkah-langkah umum ZBB

memaparkan tujuan, kegiatan, sumber daya dan anggaran masing-masing keputusan). c. Membuat peringkat paket keputusan. d. Pengalokasian anggaran. e. Penyiapan anggaran resmi. Selain langkah-langkah di atas, Hudson dan Steinberg (dalam Gorton dan Schneider, 1991) menyarankan bidangbidang sebagai berikut sebagai pertimbangan dalam penentuan prioritas. a. Budget Pad. Pada anggaran yang baik biasanya terdapat marjin pengaman. Jika kondisi pada memaksa ini dilakukan dapat

pengurangan

anggaran,

alokasi

yang

dipertimbangkan untuk dilakukan penghematan.

81 b. Pengurangan jumlah kelas. Apabila penurunan jumlah siswa terjadi pada kelas tertentu atau, di SMK, pada program keahlian tertentu hingga mencapai angka kurang dari batas minimal, pelajaran-pelajaran yang bersifat duplikasi dapat dikurangi tanpa mengurangi kualitas atau standar yang ditetapkan dalam KTSP. c. Fungsi-fungsi layanan non-pembelajaran. Karena terjadi pengurangan anggaran, perlu dilakukan pengkajian kembali terhadap kegiatan-kegiatan non-pembelajaran seperti

pemeliharan, transportasi, premi asuransi, prosedur pengadaan yang lebih efisien, tanpa mengurangi program pembelajaran. d. Rencana bidang prasarana. Jika anggaran tepaksa harus dikurangi, perlu dilakukan peninjauan kembali rencanarencana renovasi atau pembangunan gedung atau pengadaan prasarana lainnya. e. Layanan pendukung pembelajaran. Penurunan jumlah siswa dapat berdampak pada menurunnya kebutuhan bahan, staf layanan khusus seperti bimbingan konseling, media

pembelajaran, dan kegiatan administrasi. Oleh karena itu dipertimbangkan pengurangan pada kebutuhan-kebutuhan itu tanpa mengurangi standar kualitas.

82 f. Program pembelajaran. Pengurangan program ini dapat dilakukan hanya jika pengurangan anggaran tidak teratasi dengan semua usaha yang disebutkan di atas. 4. Kurangnya kemampuan dalam mengevaluasi usulan anggaran Kepala sekolah biasanya seorang generalis yang bekerja bersama sekelompok guru yang merupakan para spesialis mata pelajaran tertentu. Kepala sekolah ada kalanya juga memiliki spesialisasi di bidang-bidang tertentu. Akan tetapi kecil kemungkinannya seorang kepala sekolah mampu menguasai dengan baik semua bidang dalam program pendidikan. Konsekuensinya, selama penyusunan RAPBS, kepala sekolah sering menerima usulan anggaran pada bidangbidang yang ia hanya memiliki pengetahuan yang sangat terbatas. Untuk mengurangi dampak negatif dari keterbatasan tersebut, kepala sekolah dapat melakukan satu atau lebih dari alternatif-alternatif berikut. Pertama, kepala sekolah dapat meminta guru yang memiliki keahlian yang cukup untuk membantu melakukan justifikasi usulan yang kepala skeolah tidak memiliki cukup pengetahuan.

83 Dampak negatif dari alternatif ini adalah kepala sekolah dapat dipandang hanya sebagai tukang stempel atas usulan anggaran yang dibuat guru. Alternatif kedua adalah kepala sekolah berusaha meningkatkan pengetahuannya tentang hal-hal yang ia belum tahu. Meskipun cara ini fisibel dan harus diusahakan semaksimal mungkin oleh kepala sekolah sebagai bagian dari tanggung jawab yang diembannya, meskipun cara itu tetap tidak akan mampu menjawab semua masalah di atas. Alternatif ketiga adalah memanfaatkan jasa konsultansi dari orang-orang yang ada di lingkungan sekolah yang dapat membantu kepala sekolah, seperti pengawas mata pelajaran, atau ahli dari universitas untuk mengevaluasi usulan anggaran yang bersifat khusus di atas. Dengan asumsi bahwa konsultan semacam itu dapat diperoleh, kepala sekolah harus tetap hatihati dalam memilih konsultan agar obyektivitas penilaian usulan anggaran benar-benar terjamin. 5. Permintaan untuk membeli barang bermerk tertentu atau ancaman sentralisasi anggaran Banyak pihak yang mengusulkan anggaran menuntut merk-merk tertentu karena mereka yakin bahwa merk itu memiliki kualitas dan kesesuaian yang tinggi dengan

84 kebutuhan mereka. Terkait dengan usulan semacam ini muncul karena hal itu terlarang dalam proses pengadaan yang menggunakan anggaran pemerintah. Pengadaan melalui tender melarang penyebutan merk tertentu atas barang atau jasa yang akan diadakan dengan maksud agar diperoleh harga terrendah dalam rangka efisiensi penggunaan uang negara. Untuk mengatasi hal itu, pengusul anggaran harus berusaha keras agar barang yang diperoleh terjaga kualitas, keawetan, dan kebermanfaatanya dengan cara menyebutkan secara rinci spesifikasi barang atau jasa yang diusulkan. Selain itu keterlibatan para pengguna dalam penentuan usulan anggaran juga merupakan cara yang dapat membantu mengatasi permasalahan merk tersebut. Keterlibatan pengguna ini juga akan mendorong optimalisasi pemanfaatan ketika barang itu telah tersedia. Selain itu, kecenderungan menggunakan barang dengan merk tertentu juga dapat bermasalah ketika harus terjadi pergantian staf. Staf pengganti akan mengalami kesulitan jika sebelumnya ia tidak pernah mengoperasikan barang dengan merk tertentu itu. 6. Kurangnya pembinaan, komunikasi dan konsultasi dengan pihak-pihak terkait

85 Oleh karena proses penyusunan RAPBS sangat rumit, maka diperlukan pembinaan dan konsultasi yang intensif dari pihak terkait, misalnya Dinas Pendidikan Kota/Kabupaten. Konsultansi semacam itu penting untuk semua aspek manajemen sekolah, akan tetapi jauh lebih penting berkaitan dengan proses penganggaran. Namun sayangnya, persoalan kurangnya pembinaan dan konsultasi ini paling sering dijumpai di berbagai tempat. Kurangnya konsultasi dan komunikasi tersebut dapat terjadi pada dua periode: (a) tahap awal, dan (2) tahap setelah usulan anggaran dikirimkan ke pihak yang lebih atas (Dinas Pendidikan atau Yayasan). Persoalan yang sering terjadi pada tahap awal adalah kurangnya informasi yang diperoleh sekolah mengenai kebijakan anggaran yang berlaku di suatu wilayah dimana sekolah berada. Kebijakan dimaksud dapat mencakup jumlah dan alokasi anggaran, prosedur dan mekanisme perencanaan dan pengusulan anggaran, dan parameter-parameter

pengelolaan keuangan lainnya. Bahkan sering dialami sampai dengan saat tahun pelajaran telah berlangsung, pihak sekolah belum

mendapatkan gambaran yang pasti mengenai informasi-

86 informasi tersebut. Sekolah juga sering menerima informasi yang penuh ketidak-pastian mengenai kebijakan anggaran daerah atau pusat. Persoalan komunikasi sering juga terjadi saat usulan anggaran sekolah telah diserahkan kepada pengambil

keputusan di tingkat yang lebih tinggi. Modifikasi mata anggaran, pemangkasan alokasi anggaran, atau perubahanperubahan lain sering dilakukan oleh pengambil keputusan itu tanpa dikomunikasikan lebih dahulu dengan sekolah. Persolan rendahnya derajat komunikasi juga dapat terjadi karena kurangnya inisiatif sekolah untuk berkonsultasi dengan pihak di atasnya. Selain itu berbagai tekanan yang berasal dari pihak-pihak di luar Dinas Pendidikan, seperti Dewan Pendidikan, Kepala Daerah, DPRD, dan pihak-pihak lain juga sering membuat pihak Dinas Pendidikan terpaksa melakukan perubahan usulan anggaran sekolah tanpa memiliki cukup waktu untuk membahasnya dengan sekolah pengusul. Satu-satunya cara yang dapat ditempuh untuk

mengatasi persoalan komunikasi tersebut adalah pihak sekolah harus selalu proaktif untuk mendapatkan informasi yang cukup mengenai parameter-parameter penganggaran yang harus dijadikan pegangan dalam proses penyusunan RAPBS dan

87 juga terus memantau perkembangan proses penetapan

anggaran yang telah diserahkan kepada pengambil keputusan tersebut.

88 BAB IV PELAKSANAAN PEMBELANJAAN DAN PEMBUKUAN KEUANGAN SEKOLAH

A. Pembelanjaan Keuangan Sekolah Pelaksanaan kegiatan pembelanjaan keuangan mengacu

kepada perencanaan yang telah ditetapkan. Mekanisme yang ditempuh di dalam pelaksanaan kegiatan harus benar, efektif dan efisien. Pembukuan uang yang masuk dan keluar dilakukan secara cermat dan transparan. Untuk itu tenaga yang melakukan pembukuan dipersyaratkan menguasai teknis pembukuan yang benar sehingga hasilnya bisa tepat dan akurat. Penggunaan anggaran memperhatikan asas umum pengeluaran negara, yaitu manfaat penggunaan uang negara minimal harus sama apabila uang tersebut dipergunakan sendiri oleh masyarakat. Asas ini tercermin dalam prinsip-prinsip yang dianut dalam pelaksanaan Anggaran Pendapatan Belanja Negara, seperti prinsip efisien, pola hidup sederhana, dan sebagainya. Setiap melaksanakan kegiatan yang memberatkan anggaran belanja, ada ikatan-ikatan yang berupa:

89 pembatasan-pembatasan, larangan-larangan, keharusan-

keharusan dan prinsip-prinsip yang harus diperhatikan setiap petugas yang diberi wewenang dan kewajiban mengelola uang negara. Ketentuan yang berupa pembatasan dan larangan-larangan terdapat dalam peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan pengelolaan keuangan negara antara lain: UndangUndang Perbendaharaan Negara pasal 24, 28,30, yaitu pengeluaran yang melampaui kredit anggaran atau tidak tersedia anggarannya, tidak boleh terjadi. Kredit-kredit yang disediakan dalam anggaran tidak boleh ditambah baik langsung maupun tidak langsung karena adanya keuntungan bagi negara. Barang-barang milik negara berupa apapun tidak boleh diserahkan kepada mereka yang mempunyai tagihan terhadap negara. Ketentuan-ketentuan tersebut pada

hakikatnya mengacu pada hal yang sama yaitu membatasi penggunaan anggaran oleh pemerintah dalam jumlah seperti yang diterapkan tercantum dalam anggaran dan hanya untuk kegiatan seperti yang dimaksud dalam kedit anggaran masingmasing (Widjanarko, Sahertian, 1996/1997).

90 Di dalam bab IX pasal 62 Peraturan Pemerintah No 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan disebutkan standar pembiayaan meliputi: 1. Pembiayaan pendidikan terdiri atas biaya investasi, biaya operasi, dan biaya personal. 2. Biaya investasi satuan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi biaya penyediaan sarana dan prasarana, pengembangan sumberdaya manusia, dan modal kerja tetap. 3. Biaya personal sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi biaya pendidikan yang harus dikeluarkan oleh peserta didik untuk bisa mengikuti proses pembelajaran secara teratur dan berkelanjutan. 4. Biaya operasi satuan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi: a. Gaji pendidik dan tenaga kependidikan serta segala tunjangan yang melekat pada gaji, b. bahan atau peralatan pendidikan habis pakai, dan c. biaya operasi pendidikan tak langsung berupa daya, air, jasa telekomunikasi, pemeliharaan sarana dan prasarana, uang

lembur, transportasi, konsumsi, pajak, asuransi, dan lain sebagainya.

91 5. Standar biaya operasi satuan pendidikan ditetapkan dengan Peraturan Menteri berdasarkan usulan BSNP. Penjabaran program di tingkat sekolah mengacu pada standar minimal yang telah disebutkan di atas. Di tingkat nasional, alokasi anggaran pemerintah terdiri dari anggaran rutin dan pembangunan. Sebagian besar anggaran rutin di Departemen Pendidikan Nasional digunakan untuk membayar gaji guru dan pegawai. Hasil penelitian Dedi Supriyadi di tahun 1998/1999 sampai dengan 2000/2001 yang ditulis di tahun 2004 menyebutkan 74-78% dari total anggaran RAPBS SMA Negeri digunakan untuk membayar gaji guru dan pegawai , selebihnya untuk non-gaji terutama untuk membiayai kegiatan belajar mengajar . Di SMK Negeri 78-80% dari total anggaran RAPBS digunakan untuk membayar gaji guru dan pegawai , selebihnya untuk non-gaji terutama untuk membiayai kegiatan belajar mengajar. Dibandingkan dengan SMA Negeri, proporsi anggaran untuk SMK Negeri lebih tinggi yang disebabkan antara lain oleh lebih banyaknya jumlah guru dan pegawai di SMK Negeri bila dibandingkan dengan di SMA Negeri. Kesimpulan yang bisa diambil dari temuan tersebut, sebagian

92 besar anggaran yang ditetapkan di RAPBS, baik SMA Negeri maupun SMK Negeri terserap untuk gaji guru dan karyawan di sekolah. Sedangkan sebagian kecil lainnya untuk membiayai kegiatan pembelajaran dan kegiatan lainnya. Pelaksanaan pengeluaran anggaran di sekolah disesuaikan dengan sumbernya, yaitu dana rutin, OPF, BP3 dan sebaginya. Contoh rincian penggunaan anggaran tersebut diuraikan sebagai berikut: Anggaran rutin digunakan untuk: 1. gaji dan tunjangan 2. tunjangan beras 3. uang lembur 4. keperluan sehari-hari perkantoran 5. inventaris kantor 6. langganan daya dan jasa 7. pemeliharaan gedung kantor 8. lain-lain yang berupa pengadaan kertas dll 9. lain-lain yang berupa pemeliharaan/ perbaikan ruang kelas/gedung sekolah Anggaran OPF digunakan untuk:

93 1. kegiatan operasional pendidikan (misal pengadaan tinta , kertas, buku pegangan guru, bahan praktek, pelaksanaan kegiatan ekstra kurikuler, pembelian buku perpustakaan, pengadaan lemari buku, pengadaan alat praktek keterampilan). 2. Kegiatan perawatan (misal pemeliharaan mesin ketik, komputer, overhead projector, mesin stensil). Sedang untuk dana BP3 dan dana dari unit usaha sekolah dipergunakan untuk: 1. menunjang kegiatan rutin 2. pembangunan gedung 3. pembelian peralatan. Apabila dirinci anggaran tersebut digunakan untuk: 1. Kegiatan peningkatan mutu pendidikan, antara lain peningkatan kemampuan profesional, supervisi pendidikan, dan evaluasi. 2. Kegiatan ekstra-kurikuler, antara lain usaha kesehatan sekolah (UKS), pramuka, olahraga, kreativitas seni. 3. Bahan pengajaran praktek, keterampilan, antara lain penambahan sarana pengajaran, bahan praktek. 4. Kesejahteraan Kepala Sekolah, guru dan pegawai. 5. Pembelian peralatan kantor dan alat tulis kantor. 6. Pengembangan perpustakaan.

94 7. Pembangunan sarana fisik sekolah. 8. Biaya listrik, telepon, air dan surat menyurat. 9. Dana sosial seperti bantuan kesehatan, pakaian seragam. 10. Biaya pemeliharaan gedung, pagar dan pekarangan sekolah. Selanjutnya melalui Kebijakan Pemerintah yang ada, di tahun 2007 dalam pengelolaan keuangan dikenal sumber anggaran yang disebut Dana Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA). DIPA meliputi Administrasi Umum, penerimaan dari pajak, alokasi dari pemerintah yang bersumber dari APBN, dan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) yang bersumber dari dana masyarakat. Sumber dana DIPA digunakan untuk: 1. Belanja Pegawai, berupa: - Pengelolaan Belanja Gaji dan Honorarium 2. Belanja Barang, berupa: - Penyelenggaraan Operasional Perkantoran - Perawatan Gedung Kantor - Perawatan Sarana Prasarana Kantor - Pembinaan Administrasi dan Pengelolaan Keuangan - Penyusunan Program Kerja / Rencana Kerja - Pengembangan Sistem Apresiasi Keuangan - Penelitian dan Pengembangan Ilmu dan Teknologi

95 - Peningkatan tata Ketentuan dan SDM 3. Belanja Modal, berupa: - Pembangunan gedung Pendidikan - Pengelolaan Kendaraan - Penyediaan Sarana Prasarana - Peningkatan Kualitas dan Kapasitas Unit Dasar 4. Belanja Bantuan Sosial - Beasiswa - Peningkatan SDM Pengeluaran anggaran tersebut dilaksanakan dengan

memperhatikan jenis mata anggaran keluaran (MAK) sebagai berikut: 1. Belanja Pegawai MAK 511111 Belanja Gaji Pegawai MAK 512311 Belanja Honorarium Pegawai 2. Belanja Barang MAK 521111 Keperluan Sehari-Hari Perkantoran MAK 521114 Belanja Barang ATK MAK 522111 Langganan Daya dan Jasa MAK 523111 Pemeliharaan Gedung Kantor MAK 523121 Pemeliharaan Peralatan dan Mesin MAK 524111 Biaya Perjalanan Dinas

96 3. Belanja Modal MAK 532111 Belanja Modal Peralatan dan Mesin MAK 533111 Belanja Modal Gedung dan Bangunan 4. Belanja Sosial MAK 571111 Belanja bantuan sosial, berupa Penyediaan Beasiswa dan peningkatan Sumber Daya Manusia Dalam rangka peningkatan mutu pendidikan di sekolah, perlu pengelolaan sumber daya terpadu antara sumber daya manusia, sarana dan prasarana serta dana. Ketiganya saling terkait satu sama lain. Dalam hal ini kepala sekolah dituntut untuk mengatur keuangan sekolah dengan sebaik-baiknya sehingga tidak ada kegiatan yang semestinya mendapat prioritas pendanaan tapi tidak memperoleh anggaran. Selanjutnya Bendaharawan sekolah dalam mengelola

keuangan hendaknya memperhatikan beberapa hal berikut ini : 1. Hemat dan sesuai dengan kebutuhan 2. Terarah dan terkendali sesuai dengan rencana 3. Tidak diperkenankan untuk kebutuhan yang tidak

menunjang proses belajar mengajar, seperti ucapan selamat, hadiah, pesta. Berkaitan dengan hal tersebut, perlu diterapkan manajemen yang tertib meliputi tertib program, tertib anggaran, tertib

97 administrasi, tertib pelaksanaan, dan tertib pengendalian dan pengawasan. B. Penyelenggaraan Pembukuan Keuangan Sekolah yang Transparan Transaksi penerimaan dan pengeluaran uang yang dilakukan oleh bendaharawan sekolah senantiasa terjadi dari hari ke hari. Agar semuanya bisa lancar maka setiap pemasukan dan pengeluaran keuangan hendaknya dicatat dan dibukukukan secara tertib sesuai dengan pedoman dan peraturan yang berlaku. Untuk itu salah satu tugas dari bendaharawan sekolah adalah mengadakan pembukuan keuangan sekolah. Sesuai dengan peraturan yang berlaku, orang atau badan yang menerima, menyimpan, dan membawa uang atau surat-surat berharga milik negara diwajibkan membuat catatan secara tertib dan teratur. Peraturan yang perlu dipahami dalam pengelolaan keuangan antara lain: Undang-undang Dasar RI Tahun 1945 1. Undang-undang - Nomor 20 tahun 1997, tentang Penerima PNBP - Nomor 17 tahun 2003, tentang Keuangan Negara - Nomor 1 tahun 2004, tentang Perbendaharaan Negara 2. Peraturan Pemerintah

98 - Nomor 12 tahun 1997, tentang Jenis dan Penyetoran PNBP - Nomor 73 tahun 1999, tentang tatacara Penggunaan sebagian Dana PNBP yang bersumber dari kegiatan tertentu - Nomor 1 tahun 2004, tentang tatacara Penyetoran Rencana dan Pelaporan Realisasi PNBP - Nomor 21 tahun 2004, RKAKL - Nomor 80 tahun 2005, tentang Pemeriksaan PNBP 3. Keputusan Presiden - Nomor 17 tahun 2000, tentang APBN - Nomor 42 tahun 2002, tentang Pedoman Pelaksanaan APBN - Nomor 80 tahun 2003, tentang Pedoman Pelaksanaan Pengadaan Barang Jasa Pemerintah 4. Peraturan Presiden - Nomor 8 tahun 2006, tentang Perubahan atas Keputusan Presiden Nomor 80 tahun 2003 tentang Pedoman Pelaksanaan Pengadaan Barang / Jasa Pemerintah 5. Peraturan Menteri Keuangan - Nomor 55 / PMK. 2 / 2006, tentang Petunjuk dan Pengesahan RKAKL Berdasarkan pada peraturan yang ada maka kepala kantor, satuan kerja, pimpinan proyek, bendaharawan, dan orang atau badan yang menerima, menguasai uang negara wajib

99 menyelenggarakan pembukuan. Sekolah sebagai penerima uang dari berbagai sumber juga harus mengadakan

pembukuan. Pembukuan yang lengkap mencatat berbagai sumber dana beserta jumlahnya, dan distribusi penggunaannya secara rinci. Kalau ada beban pajak yang harus dikeluarkan juga harus disetor sesuai aturan yang berlaku. Pembukuan setiap transaksi yang berpengaruh terhadap penerimaan dan pengeluaran uang wajib dicatat oleh bendaharawan dalam Buku Kas. Buku Kas bisa berupa Buku Kas Umum(BKU) dan Buku Kas Pembantu(BKP). BKU merupakan buku harian yang digunakan untuk mencatat semua penerimaan dan pengeluaran uang atau yang disamakan dengan uang. BKP merupakan buku harian yang digunakan untuk membantu uang pencatatan menurut semua jenis penerimaan dan

pengeluaran Pencatatan di

sumber

pembiayaan.

BKU dan BKP dilakukan sepanjang waktu

setiap ada transaksi penerimaan dan pengeluaran uang. Pembukuan dilakukan di BKU, kemudian pada BKP. BKU dan BKP ditutup setiap akhir bulan atau sewaktu-waktu jika dianggap perlu, misalnya setelah ada pemeriksaan oleh petugas yang berwenang, pada waktu serah terima dari pejabat

100 lama ke pejabat baru baik kepala sekolah maupun

bendaharawan pemegang BKU dan BKP. Berdasarkan narasi di atas, maka pembukuan anggaran baik penerimaan maupun pengeluaran harus dilakukan secara tertib, teratur, dan benar. Pembukuan yang tertib, akan mudah diketahui perbandingan antara keberadaan sumber daya fisik dan sumber daya manusia. Setiap saat pembukuan harus dapat menggambarkan mutasi yang paling akhir. Dari pembukuan yang baik, tertib, teratur, lengkap, dan “up to date” akan dapat disajikan pelaporan yang baik, lengkap, dan bermanfaat. Pembuatan laporan dilakukan secara teratur dan periodik dan dipertanggungjawabkan sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Selanjutnya untuk menunjang terlaksananya pengelolaan keuangan yang baik, kepala sekolah hendaknya

memperhatikan halhal sebagai berikut: 1. Perlengkapan administrasi keuangan, yaitu sekolah

memiliki tempat khusus untuk menyimpan perlengkapan administrasi keuangan, memiliki alat hitung, dan memiliki buku-buku yang dibutuhkan. 2. RAPBS, yaitu sekolah memiliki RAPBS yang telah disyahkan oleh Kepala Sekolah, Ketua Komite Sekolah, serta

101 pejabat yang berwenang misalnya Kepala Dinas Pendidikan setempat, serta memiliki program penjabarannya sebagai acuan dalam setiap penggunaan dan pelaporan keuangan sekolah. 3. Pengadministrasian keuangan, yaitu sekolah memiliki catatan logistik (uang dan barang) sesuai dengan mata anggaran dan sumber dananya masing-masing, sekolah memiliki buku setoran ke Bank/KPKN/yayasan, memiliki daftar penerimaan gaji/honor guru dan tenaga kerja lainnya, dan yang terakhir sekolah memiliki laporan keuangan triwulan dan tahunan (dikembangkan dari Ditdiknas,1995/1996). Untuk melaksanakan tugas tersebut maka di tiap lembaga pendidikan memiliki pengelola keuangan yang disebut Bendaharawan. Bendaharawan adalah orang yang diberi tugas penerimaan, penyimpanan, dan pembayaran atau penyerahan uang atau kertas berharga. Bendaharawan berkewajiban mengirimkan kepada Badan Pemeriksa Keuangan(BPK) tentang perhitungan mengenai pengurusan yang dilakukan. Bendaharawan sekolah memiliki tugas menerima, mencatat dan mengeluarkan keuangan sesuai dengan anggaran yang disetujui kepala sekolah. Pengurusan kebendaharawanan yang dilakukan oleh bendaharawan dalam bentuk perbuatan menerima,

102 menyimpan, dan membayar atau menyerahkan uang atau kertas berharga dan barang-barang, baik milik negara maupun milik pihak ketiga yang pengurusannya dipercayakan kepada negara. Di tiap sekolah ada beberapa bendaharawan. Menurut objek pengurusan- nya ada dua macam bendaharawan, yaitu bendaharawan uang dan bendaharawan barang. Bendaharawan uang membukukan keuangan sesuai dengan sumber yang diterima sekolah, misalnya bendaharawan rutin, SPP-DPP, OPF, BP3, dan sebagainya. Disamping itu ada bendaharawan barang yang bertugas menerima pembelian barang dan bahan habis pakai, misalnya alat tulis kantor. Menurut sifat tugasnya ada dua macam bendaharawan uang, yaitu bendaharawan umum dan bendaharawan khusus. 1. Bendaharawan umum adalah bendaharawan yang diserahi tugas pengurusan kebendaharawanan seluruh penerimaan dan pengeluaran dalam pelaksanaan APBN. 2. Bendaharawan khusus adalah bendaharawan yang diserahi tugas pengurusan kebendaharawanan uang di setiap instansi yang mempunyai anggaran. Bendaharawan khusus terdiri dari bendaharawan khusus penerimaan dan bendaharawan khusus pengeluaran.

103 a. Bendaharawan khusus penerimaan. Bendaharawan ini diserahi tugas pengurusan

kebendaharawanan Uang khusus penerimaan negara saja dalam pelaksanaan APBN. Bendaharawan tersebut merupakan mata rantai penghubung antara pihak pembayar/ wajib bayar pendapatan negara tertentu dengan kas negara. b. Bendaharawan khusus pengeluaran. Bendaharawan ini diserahi tugas pengurusan

kebendaharawanan Uang khusus pengeluaran negara saja dalam pelaksanaan APBN.

104 BAB V PENGAWASAN, PELAPORAN DAN PERTANGGUNGJAWABAN KEUANGAN SEKOLAH

A. Konsep Pengawasan Keuangan Sekolah Pengawasan keuangan di sekolah dilakukan oleh kepala sekolah dan instansi vertikal di atasnya, serta aparat pemeriksa keuangan pemerintah. Terkait dengan pengawasan dari luar sekolah, kepala sekolah bertugas menggerakkan semua unsur yang terkait dengan materi pengawasan agar menyediakan data yang dibutuhkan oleh pengawas. Dalam hal ini kepala sekolah mengkoordinasikan semua kegiatan pengawasan sehingga kegiatan pengawasan berjalan lancar. Kegiatan pengawasan pelaksanaan anggaran dilakukan dengan maksud untuk mengetahui: (a) kesesuaian pelaksanaan anggaran dengan ketentuan yang telah ditetapkan dan dengan prosedur yang berlaku, (b) kesesuaian hasil yang dicapai baik di bidang teknis administratif maupun teknis operasional dengan peraturan yang ditetapkan, (c) kemanfaatan sarana yang ada (manusia, biaya, perlengkapan dan organisasi) secara efesien dan efektif, dan (d) sistem yang lain atau perubahan sistem guna mencapai hasil yang lebih sempurna.

105 Tujuan pengawasan keuangan ialah untuk menjaga dan mendorong agar: (a) pelaksanaan anggaran dapat berjalan sesuai dengan rencana yang telah digariskan, (b) pelaksanaan anggaran sesuai dengan peraturan instruksi serta asas-asas yang telah ditentukan, (c) kesulitan dan kelemahan bekerja dapat dicegah dan ditanggulangi atau setidak-tidaknya dapat dikurangi, dan (d) pelaksanaan tugas berjalan efesien, efektif dan tepat pada waktunya. B. Langkah-langkah Pengawasan Sebagaimana telah dikatakan bahwa pengawasan itu terdiri dari berbagai aktivitas yang bertujuan agar pelaksanaan menjadi sesuai dengan rencana. Dengan demikian pengawasan itu merupakan proses, yaitu kegiatan yang berlangsung secara berurutan. Menurut Pigawahi (1985), proses pengawasan mencakup kegiatan berikut: pemahaman tentang ketentuan pelaksanaan dan masalah yang dihadapi, menentukan obyek pengawasan, menentukan sistem, prosedur, metode dan teknik pengawasan, menentukan norma yang dapat dipedomani, menilai penyelenggaraan, menganalisis dan menentukan sebab penyimpangan, menentukan tindakan korektif dan menarik kesimpulan atau evaluasi.

106 Sedangkan Kadarman dan Udaya (1992), Manullang (1990) maupun Swastha (1985) menyebutkan langkah pengawasan itu meliputi: menetapkan standar, mengukur prestasi kerja dan membetulkan penyimpangan. Dilakukannya penetapan

standar, mengingat perencanaan merupakan tolok ukur untuk merancang pengawasan, maka hal itu berarti bahwa langkah pertama dalam pengawasan adalah menyusun rencana. Akan tetapi perencanaan memiliki tingkat yang berbeda dan pimpinan tidak mengawasi segalanya, maka ditentukan adanya standar khusus. Selanjutnya mengukur atau mengevaluasi prestasi kerja terhadap standar yang telah ditentukan dan membetulkan penyimpangan yang terjadi. Jika ada

penyimpangan dapat segera dan cepat dilakukan pembetulan.

C. Sasaran dan Jenis Pengawasan 1. Sasaran Pengawasan Sasaran pengawasan dapat dikelompokkan berdasarkan

dimensi berikut ini. a. Dimensi kuantitatif, yaitu untuk mengetahui sampai seberapa jauh maksud program atau kegiatan dalam ukuran kuantitatif telah tercapai.

107 b. Dimensi kualitatif, yaitu sampai seberapa jauh mutu dan kualitas pelaksanaan pekerjaan sesuai dengan ukuran dan rencana. c. Dimensi fungsional, yaitu ukuran untuk mengetahui seberapa jauh kegiatan pelaksanaan pekerjaan sesuai dengan tujuan atau fungsi yang telah direncanakan semula. d. Dimensi efisiensi, yaitu seberapa jauh kegiatan pelaksanaan pekerjaan dapat dikerjakan secara hemat dan cermat. 2. Jenis Pengawasan Pengawasan dapat dilakukan dalam beberapa jenis, yaitu: a. Berdasarkan subyeknya, meliputi: 1) Pengawasan intern, yaitu pengawasan terhadap semua unit dan bidang kegiatan yang ada di dalam organisasi. 2) Pengawasan ekstern, yaitu pengawasan yang dilakukan oleh aparatur pengawasan dari luar organisasi yang mempunyai wewenang mengawasi. b. Berdasarkan waktunya, meliputi: 1) Pengawasan terus menerus, yaitu pengawasan yang tidak tergantung pada waktu tertentu, lebih merupakan kegiatan pengawasan rutin.

108 2) Pengawasan berkala, yaitu pengawasan yang dilakukan setiap jangka waktu tertentu, berdasarkan rencana yang ditujukan terhadap masalah umum. 3) Pengawasan insidental, yaitu pengawasan yang

dilaksanakan secara mendadak di luar rencana kerja rutin atau berdasarkan keperluan. 3. Perangkat Aparat Pengawasan Negara a. Aparat pengawasan fungsional konstitusional Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) merupakan lembaga tinggi negara yang bertugas memeriksa pertanggungjawaban

keuangan negara. BPK memeriksa tanggung jawab pemerintah tentang keuangan yang terlepas dari pengaruh dan kedudukan pemerintah sebagai penguasa dalam pengurusan keuangan negara. b. Aparat pengawasan fungsional pemerintah 1) Badan Pengawas Keuangan dan Pembangunan (BPKP) 2) Inspektorat Jenderal Departemen/ Lembaga Pemerintahan Non-departemen (ITJEN). Instansi ini bertugas: a) melakukan pemeriksaan terhadap semua unsur/instansi di lingkungan departemen.

109 b) melakukan pengujian serta penilaian atas laporan berkala atau sewaktu-waktu dari setiap unsur/ instansi di lingkungan departemen. c) melakukan pengusutan mengenai kebenaran laporan atau tentang hambatan, penyimpangan, penyalahgunaan wewenang di bidang administrasi atau keuangan yang dilakukan oleh unsur/ instansi di lingkungan departemen. d) melakukan pemeriksaan dalam rangka opstib. 3) Aparat Pengawasan Lainnya a) Aparat Pengawasan Melekat Pengawasan melekat dilakukan oleh pimpinan/ atasan

langsung dari unit/ satuan organisasi kerja terhadap bawahan . b) Aparat Pengawasan Proyek Sektoral Tugas aparat ini antara lain: (1) melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan proyekproyek pembangunan yang meliputi proyek-proyek dalam rangka program sektoral (2) melakukan penelitian dan peninjauan pada proyek-proyek tersebut diatas dan menyampaikan laporan atas hasil tugasnya. Pengawasan perencanaan keuangan keuangan memiliki dan fungsi mengawasi penggunaan

pelaksanaan

keuangan. Walaupun perencanaan yang baik telah ada, yang

110 telah diatur dan digerakkan, belum tentu tujuan dapat tercapai, sehingga masih perlu ada pengawasan. Pada dasarnya pengawasan merupakan usaha sadar untuk mencegah

kemungkinan-kemungkinan penyimpangan pelaksanaan dari rencana yang telah ditetapkan. Apakah pelaksananya telah tepat dan telah menduduki tempat yang tepat, apakah cara bekerjanya telah betul dan aktivitasnya telah berjalan sesuai dengan pola organisasi. Kalau terdapat kesalahan dan penyimpangan, maka segera diperbaiki. Oleh sebab itu setiap manajer pada setiap tingkatan organisasi berkewajiban melakukan pengawasan. Untuk melakukan pengawasan yang tepat, kepala sekolah dituntut untuk memahami pekerjaan yang dilakukan oleh pelaksana pemerintah administrasi yang keuangan, mengatur memahami peraturan dan

penggunaan

pertanggungjawaban serta pengadministrasian uang negara, yang antara lain:(1) kelengkapan administrasi keuangan (DIK/DIP/DIPA, buku kas umum, buku register SPM, buku pembantu, (2) cara menghitung pajak, batas pembelian kena pajak, PPh, PPN. Pengawasan merupakan salah satu fungsi organisasi yang bermaksud untuk menjaga agar segala kegiatan pelaksanaan

111 senantiasa sesuai dengan perencanaan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Pengawasan kegiatan harus disesuaikan dengan: (a) ketentuan atau peraturan yang berlaku, (b) kebijakan pimpinan dan (c) kondisi setempat. Pemeriksaan merupakan bagian dari pengawasan, yaitu tindakan membandingkan antara keadaan yang sebenarnya dengan keadaan yang seharusnya.. Pemeriksaan kas adalah suatu tindakan membandingkan antara saldo kas baik berupa uang tunai, kertas berharga maupun giral yang berada dalam pengurusan pemegang kas dengan tata usahanya. Petugas pemeriksaan harus mempunyai persyaratan antara lain: 1. Integritas, yaitu kepribadian yang dilandasi unsur kejujuran, keberanian, kebijaksanaan, dan bertanggung jawab sehingga menimbulkan kepercayaan dan rasa hormat. 2. Objektivitas, yaitu kemampuan untuk menyampaikan apa adanya, tanpa dipengaruhi oleh pendapat pribadi. 3. Keahlian, yaitu suatu kemampuan khusus yang dimiliki seseorang yang diakui mampu dalam teori dan praktek untuk melaksanakan tugas. 4. Kemampuan teknis, yaitu kesanggupan dan kecakapan seseorang dalam melaksanakan tugas.

112 4. Pelaksanaan Pemeriksaan Kas Bendaharawan Pemeriksaan kas dilakukan untuk mengetahui pengurusan, pembukuan, pencatatan, penyimpanan uang kas, pengaturan dokumen keuangan apakah sesuai dengan peraturan dan ketentuan yang berlaku. Prosedur pemeriksaan kas: a. Pemeriksa memperlihatkan Surat Tugas dan Tanda Bukti Diri yang diperlihatkan kepada Bendaharawan yang

bersangkutan. b. Melaksanakan penghitungan semua isi brankas di hadapan Bendaharawan(kas tunai dan surat berharga yang diizinkan), serta bukti dokumen mengenai uang yang ada di bank yang dilengkapi dengan Bukti Saldo Rekening Koran c. Melakukan penutupan Buku Kas Umum untuk menetapkan Saldo Kas d. Membuat Berita Acara Pemeriksaan Kas yang merupakan hasil Kas opname dan penjelasan jika ditemukan perbedaan Kas yang ditandatangani oleh Pemeriksa dan Bendaharawan. e. Mengisi Daftar Pemeriksaan Kas pada halaman terakhir Buku Kas Umum. 5. Pemeriksaan Tatausaha Keuangan Bendaharawan a. Prosedur Pemeriksaan:

113 1) Memeriksa apakah seluruh transaksi telah dicatat ke dalam Buku Kas Umum maupunke dalam Buku Kas Pembantu secara tepat jumlah dan tepat waktu. 2) Meneliti apakah seluruh pencatatan telah didukung dengan bukti yang sah dan lengkap 3) Memeriksa apakah dokumen/ data yang berhubungan dengan keuangan telah disampaikan dan dicatat secara tertib. b. Langkah kerja pemeriksaan organisasi 1) Pemeriksa meminta Belanja fotokopi Rutin dan SK Pengangkatan langsung

bendaharawan

atasan

Bendaharawan Belanja Rutin. 2) Periksa apakah Bendaharawan merangkap jabatan yang dilarang dalam pasal 78 ICW 3) Dapatkan struktur organisasi keuangan dan perlengkapan, serta teliti apakah telah ada uraian tugas yang mencerminkan pembagian tugas, wewenang, dan tanggung jawab yang jelas. c. Langkah kerja pemeriksaan bukti/ data keuangan 1) Meneliti kesesuaian pembayaran atas pengadaan barang/ pekerjaan pemeliharaan dengan rencana dan kebutuhan masing-masing unit kerja dengan memperhatikan efisiensi dan efektivitas

114 2) Mengelompokkan cara pelaksanaan barang/ pekerjaan pemeliharaan untuk memeriksa kebenaran prosedur. 3) Meneliti apakah ada pengadaan yang dipecah-pecah untuk menghindari pelelangan. 4) Memeriksa apakah rekanan yang melaksanakan pengadaan barang, pekerjaan pemeliharaan telah memenuhi syarat untuk pekerjaan yang dilaksanakan. 5) Memeriksa apakah SPK/ kontrak telah memenuhi syarat 6) Memeriksa apakah dalam setiap pengadaan barang/ pekerjaan pemeliharaan telah menggunakan barang/jasa hasil produksi dalam negeri sepanjang telah dapat diproduksi dalam negeri. 7) Memeriksa apakah harga barang/ pekerjaan sudah merupakan harga yang paling rendah dan menguntungkan bagi negara. 8) Memeriksa apakah penerimaan barang, penyelesaian pekerjaan dibuatkan berita acara penerimaan penerimaan barang/penyelesaian pekerjaan 9) Memeriksa apakah bukti pembayaran/ kuitansi telah memenuhi syarat. d. Langkah Kerja Pemeriksaan Fisik:

115 1) Memeriksa apakah pekerjaan telah sesuai pelaksanaan pengadaan barang/ dengan SPK/ kontrak yang

bersangkutan, yaitu dari segi kuantitas, kualtas, jenis, spesifikasi, waktu penyerahan barang/ penyelesaian pekerjaan. 2) Jika dari temuan tersebut terjadi ketidaksesuaian, maka tentukan siapa yang bertanggung jawab atas kerugian negara tersebut. 3) Jika terjadi kelambatan penyerahan barang/ pekerjaan, periksalah apakah telah dipungut dendanya sesuai dengan SPK yang bersangkutan e. Langkah kerja Pemeriksaan Pungutan Pajak 1) Meneliti apakah Bendaharawan telah melakukan

kewajibannya memungut PPh pasal 21 atas honorarium yang dikeluarkan. 2) Meneliti apakah Bendaharawan telah melakukan

kewajibannya memungut PPh pasal 22 atas penyerahan barang/ jasa yang dilakukan. 3) Meneliti apakah Bendaharawan telah melakukan

kewajibannya memungut PPN dari pengusaha Kena Pajak 4) Meneliti apakah Bendaharawan telah menyetorkan hasil pungutan tersebut ke kas negara secara tepat waktu. f. Langkah kerja Pemeriksaan Pengawasan Atasan Langsung

116 1) Memeriksa apakah atasan Langsung Bendaharawan telah melakukan pemeriksaan kas terhadap Bendaharawan

sedikitnya tiga bulan sekali. 2) Meneliti apakah pejabat yang bertanggung jawab terhadap pengelolaan perlengkapan telah melakukan pemeriksaan penyimpanan barang inventaris yang dikelolanya, baik secara langsung melihat fisik barangnya maupun melalui

pembukuannya. Pemeriksaan kas sewaktu-waktu dan penutupan buku kas umum secara bulanan merupakan tanggung jawab kepala sekolah. Pemeriksaan kas ini didasarkan pada buku kas umum yang dipergunakan oleh bendaharawan untuk mencatat transaksi kas yang menjadi tanggung jawab kepala sekolah. Adapun beberapa poin yang perlu diperhatikan dalam pemeriksaan kas adalah: (1) periksa bukti-bukti pengeluaran. (2) sisa kas apakah sama dengan sisa di buku kas umum. Sisa kas terdiri dari uang tunai, saldo di bank, surat berharga lainnya. (3) setelah selesai pemeriksaan kas maka perlu dibuat Register Penutupan Kas. (4) Buku Kas Umum ditutup dan ditandatangani oleh Bendaharawan dan Kepala Sekolah.

117 D. Pelaporan dan Pertanggungjawaban Keuangan Sekolah Penerimaan dan pengeluaran keuangan sekolah harus

dilaporkan dan dipertanggungjawabkan secara rutin sesuai peraturan yang berlaku. Pelaporan dan pertanggungjawaban anggaran yang berasal dari orang tua siswa dan masyarakat dilakukan secara rinci dan transparan sesuai dengan sumber dananya. Pelaporan dan pertanggungjawaban anggaran yang berasal dari usaha mandiri sekolah dilakukan secara rinci dan transparan kepada dewan anggaran guru rutin dan dan staf sekolah.

Pertanggungjawaban

pembangunan

dilakukan dengan memperhatikan ketentuan sebagai berikut: 1. Selambat-lambatnya tanggal 10 setiap bulan Bendaharawan mengirimkan Surat Pertanggungjawaban(SPJ) kepada

Walikota/ Bupati melalui Bagian Keuangan Sekretariat Daerah. 2. Apabila tanggal 10 bulan berikutnya SPJ belum diterima oleh Bagian KeuanganSekretariat Daerah maka tanggal 11

dikirimkan Surat Peringatan I. 3. Apabila sampai dengan tanggal 20 bulan berikutnya SPJ juga belum dikirimkan pada Bagian Keuangan Sekretariat Daerah, maka dibuatkan Surat Peringatan II.

118 4. Kelengkapan Lampiran SPJ: a. Surat pengantar b. Sobekan BKU lembar 2 dan 3 c. Daftar Penerimaan dan Pengeluaran per pasal/ komponen d. Daftar Penerimaan dan Pengeluaran UUDP e. Laporan Keadaan Kas Rutin/ Pembangunan (LKKR/LKKP) Tabel I dan II f. Register penutupan Kas setiap 3 bulan sekali. g. Fotokopi SPMU Beban Tetap dan Beban Sementara h. Fotokopi Rekening Koran dari bank yang ditunjuk. i. Daftar Perincian Penerimaan dan Pengeluaran

Pajak(Bend.15) j. Bukti Setor PPN/PPh 21,22,23 (fotokopi SSP) k. Daftar Realisasi Penerimaan dan Pengeluaran Pajak l. Bukti Pengeluaran /kuitansi asli dan lembar II beserta dengan bukti pendukung lainnya, disusun per digit/komponen. 5. Bukti Pendukung/ Lampiran SPJ a. Biaya perjalanan dinas dilampiri - Kuitansi/ bukti pengeluaran uang - Surat Perintah Tugas(SPT) - Surat Perintah Perjalanan Dinas(SPPD) lembar I dan II b. Penunjukan langsung barang dan jasa

119 - Sampai dengan Rp 1.000.000,- dilampiri kuitansi dan faktur pajak - pembelian diatas Rp 1.000.000,- sampai dengan Rp 5.000.000,- dilampiri: Surat penawaran, Surat Pesanan, Kuitansi, faktur pajak, berita acara serah terima/ penyelesaian pekerjaan. - Diatas Rp 5.000.000,- sampai dengan Rp 15.000.000,dilampiri: Surat penawaran, Surat Penunjukan Pelaksanaan Pekerjaan, Surat Perintah Kerja(SPK), Berita acara

Pemeriksaan Barang, kuitansi, faktur/nota, berita acara serah terima/ penyelesaian pekerjaan. Pemimpin proyek/ Atasan Langsung Bendaharawan

diwajibkan menyusun/ melampirkan OE/ HPS sebagai acuan melakukan negosiasi baik harga maupun kualitas barang/ jasa yang dibutuhkan.

120 BAB VI PENUTUP DAN KESIMPULAN UMUM

A. Pengertian Manajemen Keuangan Setiap kegiatan perlu diatur agar kegiatan berjalan tertib, lancar, efektif dan efisien. Kegiatan di sekolah yang sangat kompleks membutuhkan pengaturan yang baik. Keuangan di sekolah merupakan bagian yang amat penting karena setiap kegiatan butuh uang. Keuangan juga perlu diatur sebaikbaiknya. Untuk itu perlu manajemen keuangan yang baik. Sebagaimana yang terjadi di substansi manajemen pendidikan pada umumnya, kegiatan manajemen keuangan dilakukan melalui proses perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, pengkoordinasian,pengawasan atau pengendalian. Beberapa kegiatan manajemen keuangan yaitu memperoleh dan

menetapkan sumber-sumber pendanaan, pemanfaatan dana (Lipham, 1985; Keith, 1991), pelaporan, pemeriksaan dan pertanggungjawaban. Di dalam manajemen keuangan sekolah terdapat rangkaian aktivitas terdiri dari perencanaan program sekolah, perkiraan anggaran, dan pendapatan yang diperlukan dalam pelaksanaan program, pengesahan dan penggunaan anggaran sekolah. Manajemen keuangan dapat diartikan

121 sebagai tindakan pengurusan/ ketatausahaan keuangan yang meliputi pencatatan dan , perencanaan, pelaporan pelaksanaan, Ditjen

pertanggungjawaban

(Depdiknas

Dikdasmen, 2000). Dengan demikian manajemen keuangan sekolah merupakan rangkaian aktivitas mengatur keuangan sekolah mulai dari perencanaan, pembukuan, pembelanjaan, pengawasan dan pertanggung-jawaban keuangan sekolah.

B. Tujuan Manajemen Keuangan Sekolah Melalui kegiatan manajemen keuangan maka kebutuhan pendanaan kegiatan sekolah dapat direncanakan, diupayakan pengadaannya, dibukukan secara transparan, dan digunakan untuk membiayai pelaksanaan program sekolah secara efektif dan efisien. Untuk itu tujuan manajemen keuangan adalah: 1. Meningkatkan efektivitas keuangan sekolah 2. Meningkatkan akuntabilitas dan transparansi keuangan sekolah. 3. Meminimalkan penyalahgunaan anggaran sekolah. Untuk mencapai tujuan tersebut, maka dibutuhkan kreativitas kepala sekolah dalam menggali sumber-sumber menguasai dana, dalam dan efisiensi penggunaan

menempatkan

bendaharawan

yang

122 pembukuan dan pertanggung- jawaban keuangan serta memanfaatkannya secara benar sesuai peraturan perundangan yang berlaku.

C. Prinsip-Prinsip Manajemen Keuangan Manajemen keuangan sekolah perlu memperhatikan sejumlah prinsip. Undang-undang No 20 Tahun 2003 pasal 48 menyatakan bahwa pengelolaan dana pendidikan berdasarkan pada prinsip keadilan, efisiensi, transparansi, dan akuntabilitas publik. Disamping itu prinsip efektivitas juga perlu mendapat penekanan. Berikut ini dibahas masing-masing prinsip tersebut, yaitu transparansi, akuntabilitas, efektivitas, dan efisiensi. 1. Transparansi Transparan berarti adanya keterbukaan. Transparan di bidang manajemen berarti adanya keterbukaan dalam mengelola suatu kegiatan. Di lembaga pendidikan, bidang manajemen

keuangan yang transparan berarti adanya keterbukaan dalam manajemen keuangan lembaga pendidikan, yaitu keterbukaan sumber keuangan dan jumlahnya, rincian penggunaan, dan pertanggungjawabannya memudahkan pihak-pihak harus yang jelas sehingga bisa untuk

berkepentingan

123 mengetahuinya. Transparansi keuangan sangat diperlukan dalam rangka meningkatkan dukungan orangtua, masyarakat dan pemerintah dalam penyelenggaraan seluruh program pendidikan di sekolah. Disamping itu transparansi dapat menciptakan kepercayaan timbal balik antara pemerintah, masyarakat, orang tua siswa dan warga sekolah melalui penyediaan informasi dan menjamin kemudahan di dalam memperoleh informasi yang akurat dan memadai. Beberapa informasi keuangan yang bebas diketahui oleh semua warga sekolah dan orang tua siswa misalnya rencana anggaran pendapatan dan belanja sekolah (RAPBS) bisa ditempel di papan pengumuman di ruang guru atau di depan ruang tata usaha sehingga bagi siapa saja yang membutuhkan informasi itu dapat dengan mudah mendapatkannya. Orang tua siswa bisa mengetahui berapa jumlah uang yang diterima sekolah dari orang tua siswa dan digunakan untuk apa saja uang itu. Perolehan informasi ini menambah kepercayaan orang tua siswa terhadap sekolah. 2. Akuntabilitas Akuntabilitas adalah kondisi seseorang yang dinilai oleh orang lain karena kualitas performansinya dalam menyelesaikan tugas untuk mencapai tujuan yang menjadi tanggung

124 jawabnya. Akuntabilitas di dalam manajemen keuangan berarti penggunaan uang sekolah dapat dipertanggungjawabkan sesuai dengan perencanaan yang telah ditetapkan. Berdasarkan perencanaan yang telah ditetapkan dan peraturan yang berlaku maka pihak sekolah membelanjakan uang secara bertanggung jawab. Pertanggungjawaban dapat dilakukan kepada orang tua, masyarakat dan pemerintah. Ada tiga pilar utama yang menjadi prasyarat terbangunnya akuntabilitas, yaitu (1) adanya transparansi para penyelenggara sekolah dengan menerima masukan dan mengikutsertakan berbagai komponen dalam mengelola sekolah , (2) adanya standar kinerja di setiap institusi yang dapat diukur dalam melaksanakan tugas, fungsi dan wewenangnya, (3) adanya partisipasi untuk saling menciptakan suasana kondusif dalam menciptakan pelayanan masyarakat dengan prosedur yang mudah, biaya yang murah dan pelayanan yang cepat 3. Efektivitas Efektif seringkali diartikan sebagai pencapaian tujuan yang telah ditetapkan. Garner(2004) mendefinisikan efektivitas lebih dalam lagi, karena sebenarnya efektivitas tidak berhenti sampai tujuan tercapai tetapi sampai pada kualitatif hasil yang

125 dikaitkan dengan pencapaian visi lembaga. Effectiveness ”characterized by qualitative outcomes”. Efektivitas lebih menekankan pada kualitatif outcomes. Manajemen keuangan dikatakan memenuhi prinsip efektivitas kalau kegiatan yang dilakukan dapat mengatur keuangan untuk membiayai aktivitas dalam rangka mencapai tujuan lembaga yang bersangkutan dan kualitatif outcomes-nya sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan. 4. Efisiensi Efisiensi berkaitan dengan kuantitas hasil suatu kegiatan. Efficiency ”characterized by quantitative outputs”

(Garner,2004). Efisiensi adalah perbandingan yang terbaik antara masukan (input) dan keluaran(out put) atau antara daya dan hasil. Daya yang dimaksud meliputi tenaga, pikiran, waktu, biaya. Perbandingan tersebut dapat dilihat dari dua hal: a. Dilihat dari segi penggunaan waktu, tenaga dan biaya: Kegiatan dapat dikatakan efisien kalau penggunaan waktu, tenaga dan biaya yang sekecil-kecilnya dapat mencapai hasil yang ditetapkan. b. Dilihat dari segi hasil

126 Kegiatan dapat dikatakan efisien kalau dengan penggunaan waktu, tenaga dan biaya tertentu memberikan hasil sebanyakbanyaknya baik kuantitas maupun kualitasnya.

127 Daftar Pustaka Archon, Fung & Erik Olin Wright, (2003), Deepening Democracy : Institutional Innovations in Empowered Participatory Governance, The Real Utopias Project IV, London : Verso. Asian Development Bank, (1999), Governance : Sound Development Management. Asian Development Bank, Public Administration in the 21-st Century (artikel di Internet) Bastian, Indra, (2006), Sistem Akuntansi Sekor Publik, Edisi 2, Salemba Empat, Jakarta. Bastian, Indra, (2006), Sistem Perencanaan dan Penganggaran Pemerintah Daerah di Indonesia, Salemba Empat, Jakarta. Bastian, Indra, (2007), Akuntansi Pendidikan, Penerbit Erlangga, Jakarta. Budiardjo Miriam, (2000), Menggapai Kedaulatan untuk Rakyat, Bandung : Mizan. Buku Pedoman Penguatan Pengamanan Program

Pembangunan Daerah, Badan Perencanaan Nasional & Departemen Dalam Negeri, 2002

128 Buletin Informasi Program Kemitraan untuk Pembaharuan Tata Pemerintahan di Indonesia, 2000. Campbell, Roald F., Edwin M.Bridges, dan Raphael O.Nystrand. 1983. Introduction to Educational

Administration. 5th edition. Boston: Allyn and Bacon, Inc Darmawan, 2010. Pengaruh Akuntabilitas dan Transparansi terhadap Pengelolaan Keuangan Madrasah, STIA LAN Jakarta. Departemen Pendidikan Nasional. (2002). Manajemen

Keuangan, Materi Pelatihan Terpadu untuk Kepala Sekolah. Jakarta: Dirjen Dikdasmen, Direktorat

Pendidikan Lanjutan Tingkat Pertama Development Assistant Committee, (1997), Evaluation of Programs Promoting Participatory Development & Good Governance. Direktorat Pendidikan Dasar. 1995/1996. Pengelolaan Sekolah di Sekolah Dasar. Jakarta: Direktorat Pendidikan Dasar. Ditdikdasmen Depdikbud Gorton, Richard A. & Schneider, Gail T. 1991. School-Based Leadership: Callenges and Opportunities. Dubuque, IA: Wm. C.Brown Publishers

129 Headington Rita. (2000). Monitoring, Assesment, Recording, reporting and Accountability, Meeting the Standards. London: David Fulton Publishers. Hill, Michael & Peter Hupe (1997), The Policy Process, London : Prentice Hall/Harvester Wheatsheaf. Hill, Michael & Peter Hupe, (2002), Implementing Public Policy : Governance in Theory and in Practice, London : Sage Publications. Imron, Ali. 2004. Manajemen Keuangan Berbasis Sekolah. Dalam Maisyaroh dkk, 2004. Perspektif Manajemen Pendidikan Berbasis Sekolah. Malang: Penerbit

Universitas Negeri Malang. Jalal Fasli & Supriadi Dedi. (2001). Reformasi Pendidikan dalam Konteks Otonomi Daerah, Yogyakarta: AdiCita Kadarman, A.M. dan Udaya, Jusuf. 1992. Pengantar Ilmu Manajemen: Buku Panduan Mahasiswa. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama. Keputusan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 056/U/2001 tentang Pedoman Pembiayaan Penyelenggaraan Pendidikan di Sekolah. Jakarta: CV Tamita Utama

130 Koontz, Harold dan O’Donnel, Cryill. 1984. Principles of Management: An Analysis of Managerial Functions. Third Edition. New York: McGraw-Hill Book

Company. LAN, 2003. Kinerja Lembaga Publik, LAN Jakarta Lutrin, Carl E. dan Allen K. Settle, (1985), American Public Administration : Concepts & Cases, USA : Prentice-Hall Inc. Manullang, M. 1990. Dasar-dasar Manajemen. Jakarta: Ghalia Indonesia. Mardiasmo, (2002) Otonomi dan Manajemen Keuangan Daerah, Penerbit Andi, Yogyakarta. Mardiasmo, Akuntansi Sektor Publik, Penerbit Andi,

Yogyakarta, 2002. Mardiasmo, artikel Pewujudan Transparansi dan Akuntabilitas Publik Melalui Akuntansi Sektor Publik: Suatu Sarana
Good Governance dalam

JURNAL

AKUNTANSI

PEMERINTAH, Vol. 2, No. 1, Mei 2006. Meuthia, (2000) HAM : Penyelenggaraan Negara Yang Baik dan Masyarakat Warga, Jakarta : KOMNAS HAM. Minogue, Martin, artikel The Management of Public Change : from ‘Old Public Administration’ to ‘New Public

131 Management’ dalam “Law & Governance” Issue I, British Council Briefing. Mohrman Susan Albert and Wohlstette Priccilla (1994). School-Based Management, Organizing for High

Performance, San Fransisco: Jossey-Bass Publisher. Olssen Mark, Codd, & Anne-Marie O'Neill. (2004). Education Policy: Globalization, Citizenship and Democracy. London, Thousand Oeaks. New Delhi: Sage

Publications. Pemerintah Kota Malang. 2002. Kutipan Buku Pedoman Kerja dan Penekanan Tugas. Malang: Dinas Pendidikan Kota Malang Peters, B.Guy, (2000) The Politics of Bureaucracy, London : Routledge. Shafritz, Jay M. & E.W. Russell. (1997), Introducing Public Administration, USA : Longman) Slamet PH. (2005). Handout Kapita Selekta Desentralisasi Pendidikan di Indonesia. Jakarta: Direktorat Pendidikan Lanjutan Pertama, Depdiknas RI. Supriadi, Dedi. (2004), Satuan Biaya Pendidikan Dasar dan Menengah. Bandung: PT Remaja Rosdakarya

132 Supriadi, Dedi. 2004. Satuan Biaya Pendidikan Dasar dan Menengah. Bandung: PT Remaja Rosdakarya Swastha, Basu. 1985. Azas-azas Manajemen Modern.

Yogyakarta:Liberty. Timan, Agus, Maisyaroh, Djum Djum Noor Benty. 2000. Pengantar Manajemen Pendidikan. Malang: AP FIP Universitas Negeri Malang. Tjokroamidjojo, Bintoro, (2001), Reformasi Administrasi Publik, Jakarta : MIA – UNKRIS. Widjanarko, M. dan Sahertian, P.A. 1996/1997. Manajemen Keuangan Sekolah. Bahan Pelatihan Manajemen Pendidikan bagi Kepala SMU se- Indonesia di Malang Zamroni. (2008). School Based Management. Yogyakarta: Pascarsarjana Universitas Negeri Yogyakarta.

133 Tentang Penyusun
Darmawan Soegandar, lahir di Tasikmalaya, Jawa Barat tahun 1976. Pendidikan dasar sampai sekolah menengah atas diselesaikan di kota kelahirannya. Sempat memperoleh pengetahuan yang beragam dari; Pendidikan Matematika IKIP Bandung (1994), Teknik Tekstil STT Tekstil (1998) dan Manajemen Telekomunikasi dan Informatika STMB Telkom Bandung (2000). Sempat juga belajar di Prodi Matematika UNINUS yang sekarang menjadi tempatnya belajar mengajar. Pengalaman Pascasarjana sendiri di dapat dari Prodi Matematika Sekolah Menengah di Sekolah Pascasarjana UPI Bandung. Dan menyelesaikan Magister Administrasi Bisnis dalam bidang Keuangan Negara di STIA-LAN Jakarta. Tiga Tahun kedepan adalah perjuangan menuju cita-cita kandidat Doktor Ilmu Pendidikan dalam bidang konsentrasi Kebijakan Pendidikan Dasar dan Menengah dan Doktor Ilmu Ekonomi dalam bidang Keuangan Negara; Lebih banyak menulis dalam bidang pendidikan TIK dan Matematika tetapi beberapa karya tulis dalam bidang ekonomi dan administrasi; Manajemen Kinerja, LAN-Jakarta 2009 Politik Keuangan Negara, LAN-Jakakrta 2009 Manajemen Keuangan Negara, LAN-Jakarta 2009 Trust Fund, LAN-Jakarta 2009 Manajemen Keuangan Sekolah Publik, LAN-Jakarta 2010

-

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful