P. 1
normalisasi cikapundung

normalisasi cikapundung

|Views: 946|Likes:
Published by astri anindya sari
Fenomena degradasi lingkungan pada daerah aliran sungai Cikapundung dan sekitarnya
merupakan suatu permasalahan kompleks yang melibatkan banyak pihak didalamnya. Daerah
aliran sungai Cikapundung pada area Lebak Siliwangi sampai Pajajaran merupakan wilayah
pusat kota yang dekat dengan universitas dan berbagai fungsi publik lain. Lokasi strategis
tersebut merupakan faktor penarik bagi masyarakat dan mahasiswa, sehingga kawasan tersebut
menjadi padat dan akhirnya menyebabkan daya dukung lingkungan yang menurun untuk
kebutuhan permukiman di atasnya. Pemerintah, universitas, swasta dan masyarakat merupakan
pihak-pihak yang terlibat dalam normalisasi sungai Cikapundung atas pengaruh langsung
maupun tidak langsung mereka terhadap pencemaran sungai Cikapundung. Oleh karena itu
dibutuhkan penanganan yang melibatkan multi-stakeholder dan kerjasama di antara mereka.
Tulisan ini membahas tentang strategi dan teknis bagaimana normalisasi sungai Cikapundung.
Perencanaan awal merupakan pengembalian kualitas lingkungan sungai Cikapundung dengan
pembuatan talud dan pembebasan lahan di sisi sungai akan tetapi perbaikan yang komprehensif
terkait dengan aspek-aspek lain seperti relokasi hunian yang ada di tepi sungai, perencanaan
yang berkesinambungan, pemberdayaan masyarakat dan bagaimana peran setiap pihak yang
terlibat dalam normalisasi sungai Cikapundung.
Fenomena degradasi lingkungan pada daerah aliran sungai Cikapundung dan sekitarnya
merupakan suatu permasalahan kompleks yang melibatkan banyak pihak didalamnya. Daerah
aliran sungai Cikapundung pada area Lebak Siliwangi sampai Pajajaran merupakan wilayah
pusat kota yang dekat dengan universitas dan berbagai fungsi publik lain. Lokasi strategis
tersebut merupakan faktor penarik bagi masyarakat dan mahasiswa, sehingga kawasan tersebut
menjadi padat dan akhirnya menyebabkan daya dukung lingkungan yang menurun untuk
kebutuhan permukiman di atasnya. Pemerintah, universitas, swasta dan masyarakat merupakan
pihak-pihak yang terlibat dalam normalisasi sungai Cikapundung atas pengaruh langsung
maupun tidak langsung mereka terhadap pencemaran sungai Cikapundung. Oleh karena itu
dibutuhkan penanganan yang melibatkan multi-stakeholder dan kerjasama di antara mereka.
Tulisan ini membahas tentang strategi dan teknis bagaimana normalisasi sungai Cikapundung.
Perencanaan awal merupakan pengembalian kualitas lingkungan sungai Cikapundung dengan
pembuatan talud dan pembebasan lahan di sisi sungai akan tetapi perbaikan yang komprehensif
terkait dengan aspek-aspek lain seperti relokasi hunian yang ada di tepi sungai, perencanaan
yang berkesinambungan, pemberdayaan masyarakat dan bagaimana peran setiap pihak yang
terlibat dalam normalisasi sungai Cikapundung.

More info:

Categories:Types, School Work
Published by: astri anindya sari on Aug 09, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/26/2013

pdf

text

original

2010

NORMALISASI SUNGAI CIKAPUNDUNG

Perencanaan Komprehensif Dengan Pendekatan Partisipatif yang Melibatkan Multi Stake Holder

oleh

Kelompok 4
- Mela Reika Indrasari (25209003) - Astri Anindya Sari (25209026) - Wanda Yovita (25209029)

AR 5241 PERENCANAAN DI NEGARA BERKEMBANG

AR 5241 perencanaan di negara berkembang

NORMALISASI SUNGAI CIKAPUNDUNG
Perencanaan Komprehensif Dengan Pendekatan Partisipatif yang Melibatkan Multi Stake Holder
ABSTRAK Fenomena degradasi lingkungan pada daerah aliran sungai Cikapundung dan sekitarnya merupakan suatu permasalahan kompleks yang melibatkan banyak pihak didalamnya. Daerah aliran sungai Cikapundung pada area Lebak Siliwangi sampai Pajajaran merupakan wilayah pusat kota yang dekat dengan universitas dan berbagai fungsi publik lain. Lokasi strategis tersebut merupakan faktor penarik bagi masyarakat dan mahasiswa, sehingga kawasan tersebut menjadi padat dan akhirnya menyebabkan daya dukung lingkungan yang menurun untuk kebutuhan permukiman di atasnya. Pemerintah, universitas, swasta dan masyarakat merupakan pihak-pihak yang terlibat dalam normalisasi sungai Cikapundung atas pengaruh langsung maupun tidak langsung mereka terhadap pencemaran sungai Cikapundung. Oleh karena itu dibutuhkan penanganan yang melibatkan multi-stakeholder dan kerjasama di antara mereka. Tulisan ini membahas tentang strategi dan teknis bagaimana normalisasi sungai Cikapundung. Perencanaan awal merupakan pengembalian kualitas lingkungan sungai Cikapundung dengan pembuatan talud dan pembebasan lahan di sisi sungai akan tetapi perbaikan yang komprehensif terkait dengan aspek-aspek lain seperti relokasi hunian yang ada di tepi sungai, perencanaan yang berkesinambungan, pemberdayaan masyarakat dan bagaimana peran setiap pihak yang terlibat dalam normalisasi sungai Cikapundung. Kata kunci: Cikapundung, partisipatif, degradasi lingkungan, multi stake holder PENDAHULUAN Sungai Cikapundung merupakan anak sungai Citarum yang membelah kota Bandung di bagian pusat kota. Fungsi yang ada di riparian sungai Cikapundung sangat beragam. Salah satu fungsi yang paling dominan adalah perumahan baik perumahan formal maupun informal. Kelurahan Taman Sari atau khususnya arah tepi sungai Cikapundung antara jalan Siliwangi hingga jalan Padjajaran merupakan bagian sisi sungai Cikapundung yang terpadat dari tutupan lahan maupun penduduknya. Lokasinya yang berada di pusat kota dan terkait dengan berbagai fungsi lain menyebabkan perkembangan permukiman di daerah ini semakin tak terkendali. Universitas-universitas dengan skala nasional seperti ITB, Unisba, Unpas, pusat perbelanjaan di jalan Cihampelas, pertokoan di jalan Merdeka merupakan faktor-faktor eksternal yang mempengaruhi lonjakan populasi di daerah sekitarnya khususnya daerah yang bersisian dengan sungai Cikapundung. Kepadatan yang semakin tinggi ini berimplikasi terhadap lingkungan di sekitar sungai yang mengalami degradasi. Limbah padat dan cair rumah tangga yang berasal dari permukiman di sekitar sungai Cikapundung memberi beban lingkungan pada sungai Cikapundung. Kebiasaan masyarakat yang membuang sampah di sungai Cikapundung maupun penyaluran air limbah kamar mandi baik black water maupun grey water tanpa pengolahan terlebih dahulu mencemari sungai Cikapundung. Tidak hanya oleh masyarakat yang memiliki rumah di sisi sungai Cikapundung akan tetapi masyarakat Bandung lain yang berkegiatan di sekitar sungai Cikapundung juga berkontribusi mencemari sungai Cikapundung dengan sampah.

2

AR 5241 perencanaan di negara berkembang

BATASAN DAN LINGKUP PEMBAHASAN Laporan ini membahas tentang strategi dalam normalisasi sungai Cikapundung yaitu pengembalian sungai Cikapundung menjadi kondisi lingkungan yang lebih baik dan berkelanjutan. Dalam membahas strategi terhadap masalah utama yaitu pembebasan lahan dalam rangka membangun talud yang membutuhkan pembebasan lahan dan normalisasi sungai agar tidak menjadi tempat pembuangan limbah rumah tangga maka permasalahan ini terkait dengan aspek lain seperti perbaikan sistem sanitasi perumahan, revitalisasi daerah tepi sungai dan penyediaan ruang terbuka untuk uang hijau agar kesehatan lingkungan tetap berkelanjutan. Walaupun tidak bisa dipungkiri, masalah sungai Cikapundung membutuhkan penyelesaian yang komprehensif dan tidak parsial yang di mulai dari daerah hulu hingga hilir sungai Cikapundung akan tetapi laporan ini membatasi pembahasan hanya pada ruas sungai dari jalan Siliwangi hingga jalan Padjajaran. Strategi perbaikan yang dilakukan pada lapran ini diharapkan mampu menjadi pemicu perbaikan lingkungan di sepanjang sungai Cikapunung lainnya. Tidak hanya konsep-konsep akan tetapi strategi normalisasi sungai Cikapundung membutuhkan implementasi yang nyata. Laporan ini membatasi pada bagaimana grand design, perencanaan dan solusi-solusi terhadap normalisasi Cikapundung dan tidak merancang secara mendetail terhadap bangunan. Asumsi-asumsi dilakukan seperti semua pihak terlibat dan setuju terhadap diagram alir yang direncanakan sehingga proyek perbaikan dan pembangunan dapat berjalan sesuai dengan tahapan perencanaan yang ditawarkan. FENOMENA LOKASI PROYEK Dualisme kebutuhan dan beban Permasalahan permukiman di riparian sungai Cikapundung merupakan masalah yang melibatkan banyak kepentingan, pihak, aspek sosial, budaya, ekonomi dan lain-lain. Kepadatan populasi dan lingkungan yang dialami permukiman ini merupakan dampak dari beban oleh fungsi di sekitarnya seperti fungsi pendidikan dan komersil. Selain penduduk asli yang telah beberapa dekade tinggal di daerah tersebut, permukiman ini menampung sejumlah migran dari berbagai daerah dengan profesi sebagai karyawan dan mahasiswa yang bekerja atau belajar di Bandung. Selain itu berkembangnya fungsi-fungsi informal yang mendukung keberlangsungan kegiatan oleh universitas, perkantoran atau pusat perbelanjaan yang dikembangkan oleh masyarakat, semakin memperumit permasalahan yang ada di permukiman tersebut. Permukiman ini menjadi pendukung bagi kegiatan universitas, perkantoran dan pusat perbelanjaan secara tidak langsung tetapi memberikan beban lingkungan kepada sungai Cikapundung dan kota Bandung. Pembangunan rumah secara illegal hingga tepi sungai, tidak adanya perencanaan terkait pengaturan pembangunan rumah dan pembuangan limbah, tidak adanya daerah resapan dan ruang terbuka sesuai dengan standar pengadaan perumahan membuat permukiman ini rawan terhadap banjir, masalah kesehatan dan lain-lain.

3

AR 5241 perencanaan di negara berkembang

Diagram 1. Fenomena permasahan daerah aliran sungai cikapundung yang melibatkan banyak pihak (multi stake holder)

Deskripsi Lokasi Wilayah studi merupakan daerah aliran sungai Cikapundung dari daerah Lebak Siliwangi hingga Pajajaran.

4

AR 5241 perencanaan di negara berkembang

Strength Aspek lokasi merupakan kekuatan paling signifikan yang mempengaruhi perkembangan lokasi ini. Lokasi yang strategis dan di pusat kota yang selalu berkembang mampu meningkatkan nilai lahan dari masa ke masa. Berbagai fungsi dapat ditampung di daerah sungai Cikapundung khususnya di daerah studi. Hal ini merupakan nilai positif sekaligus pemicu tumbuh pesatnya kegiatan ekonomi di kawasan permukiman. Weakness Populasi masyarakat yang tinggal di daerah ini sudah terlalu padat sehingga penataan kembali permukiman akan menjadi permasalahan yang sangat rumit. Kepadatan populasi ini juga mempengaruhi secara langsung degradasi lingkungan yang tidak mampu menampung beban permukiman yang ada di atasnya. Pencemaran sungai akibat sampah dan limbah rumah tangga merupakan pencemar utama di ruas sungai ini. Implikasi dari pencemaran ini adalah lingkungan yang tidak sehat dan rawan bencana seperti banjir dan longsor. Di daerah ini hampir tidak ada uang tersisa untuk keperluan ruang hijau dan ruang terbuka sebagai temapat amenitas masyarakat. Masyarakat bersosialisasi dengan tetangganya di jalan-jalan lingkungan atau di depan rumah. Opportunity Penduduk yang tinggal di daerah riparian sungai Cikapundung ini kebanyakan merupakan penduduk yang telah tinggal lama dan lebih dari satu dekade. Kekerabatan yang terjalin di antara penghuni telah terjalin erat dalam berbagai paguyuban seperti pengelompokan RT, pengajian, DKM, arisan dan lain-lain. Hal demikian merupakan nilai positif dari permukiman informal semacam ini untuk pengorganisasian pembangunan selanjutnya. Selain itu kemampuan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan hidupnya secara swadaya melalui mata pencaharian formal maupun informal, merupakan salah satu kesempatan untuk perbaikan wilayah ini. Untuk pekerjaan di sektor formal, masyarakat bekerja sebagai karyawan dengan tempat bekerja yang dekat dengan lokasi tempat tinggalnya seperti di jalan Cihampelas, jalan Taman Sari, jalan H.Djuanda dan lain-lain. Sedangkan untuk sector informal, masyarakat yang tinggal di daerah ini bekerja sebagai seperti pedagang pasar atau kuliner, membuka usaha penyewaan kamar atau fotokopi dan alat tulis yang terkait dengan kebutuhan mahasiswa dan masyarakat pada umumnya. Ruang-ruang kosong yang ada di bawah jalan layang Pasopati digunakan oleh anak-anak penduduk di sisi sungai Cikapundung. Daerah ini tidak dikelola dengan baik sehingga pemanfaatannya tidak efektif. Seharusnya ruang yang kosong yang berada di tengah lahan padat penduduk ini dapat menjadi potensi yang sangat baik untuk dikembangkan. Threat Area permukiman yang sangat padat ini tentu memiliki berbagai hambatan apabila akan dikembangkan untuk hal yang lebih baik. Masalah yang kerap muncul adalah tidak tersedianya lahan untuk keperluan fasilitas di sekitar permukiman yang terus berkembang. Pembangunan yang dilakukan selalu vertikal yang menambah beban lingkungan, biaya dan kepadatan. Area kosong di bawah jembatan pasopati juga dapat menjadi masalah seperti timbulnya squatter apabila tidak dikelola dengan baik.

5

AR 5241 perencanaan di negara berkembang

STRATEGI PROGRAM - KETERLIBATAN MULTI STAKE HOLDER Pembiayaan, pendampingan, pelaksanaan, pengelolaan dan evaluasi Berdasarkan analisis SWOT yang telah dilakukan pada lokasi di sepanjang sungai Cikapundung, maka diketahui bahwa masalah utama yang terjadi di daerah ini adalah menurunnya daya dukung lingkungan yang disebabkan oleh tingginya kepadatan penduduk dan kurangnya kepedulian penduduk terhadap lingkungan yang mengakibatkan penumpukan sampah, eksploitasi sungai sebagai sarana pembuangan limbah rumah tangga dan MCK, sekaligus dimanfaatkan airnya untuk kebutuhan sehari-hari, dan kurangnya penghijauan. Keseluruhan masalahn yang terjadi tidak dapat dipisahkan dari keterlibatan pemerintah, universitas, pihak swasta yang memanfaatkan lokasi untuk usahanya, dan tentu saja masyarakat. Dari pemetaan masalah dan potensi yang ada pada kondisi eksisting, maka ide-ide untuk normalisasi sungai Cikapundung difokuskan pada perencanaan yang sustainable dengan keterlibatan multi stake holder untuk memaksimalkan potensi dan merubah masalah menjadi potensi, dengan basis partisipasi masyarakat melalui organisasi berbasis komunitas. Program-program yang direncanakan meliputi perbaikan sistem persampahan dan sanitasi serta pengelolaannya secara terpadu, pembuatan dan perbaikan talud, penghijauan, pembangunan rusunawa dan rusunami, dan pemanfaatan sempadan sungai sebagai lokasi wisata kuliner yang dilaksanakan secara terpadu dengan melibatkan stake holder terkait. Seluruh stake holder yang bertanggung jawab (pemerintah, swasta, universitas, maupun masyarakat) dilibatkan dalam pelaksanaan program-program untuk normalisasi Cikapundung secara partisipatif sesuai kapasitasnya masing-masing. Hubungan antar stake holder dan perannya dalam pelaksanaan program dapat dilihat pada diagram berikut.

Diagram 2. Strategi program normalisasi sungai Cikapundung dengan keterlibatan multi stake holder

6

AR 5241 perencanaan di negara berkembang

-

Pemerintah, sebagai pengelola lingkungan dan pembuat kebijakan berperan sebagai penyandang dana dan pengawas program yang berjalan. Pemerintah bersama universitas juga melakukan evaluasi-evaluasi atas proses dan hasil program yang dilaksanakan. Swasta (developer mall Balubur dan Ciwalk), sebagai pihak yang turut memanfaatkan potensi lokasi, dan berperan dalam penurunan daya dukung lingkungan melalui pembiayaan program terutama program perbaikan sistem sanitasi. Universitas, berperan melakukan pendampingan dan sosialisasi pada masyarakat setempat. Mendampingi pembentukan organisasi berbasis komunitas, mendampingi dalam masyarakat pelaksanaan program dan output yang dihasilkan. Masyarakat setempat, melalui koordinasi dari organisasi berbasis komunitas yang dibentuk, berperan secara langsung sebagai pelaksana program, sekaligus pengelolaan output-output yang dihasilkan, dengan pendampingan dari universitas dan pengawasan dari pemerintah. Hasil dari pengelolaan output, seperti rusunawa, pengelolaan sampah dan limbah, serta wisata kuliner dimanfaatkan secara bagi hasil untuk mengembalikan biaya program dari pemerintah dan dimanfaatkan bersama oleh masyarakat untuk perbaikan ekonomi mereka.

-

-

-

Pendekatan partisipatif dengan melibatkan multi stake holder (pemerintah-swasta-universitasmasyarakat setempat) dipilih selain karena pertimbangan tanggung jawab atas lingkungan, juga karena perencanaan ini yang dipandang paling sesuai dan dapat menjamin keberhasilan dan sustainabilitas proyek. Selain itu perencanaan ini dipandang akan memberikan manfaat bagi setiap stake holder yang berperan, yaitu: Bagi pemerintah: menjamin keberhasilan dan sustainabilitas proyek dengan meminimalisir gejolak sosial, karena sejak awal masyarakat telah dirangkul untuk bersama-sama menentukan program-program apa yang sesuai, dan mengkompromikan ide-ide masyarakat dalam realisasi program. Selain itu, keterlibatan masyarakat sebagai tenaga pelaksana proyek dan output yang dihasilkan akan menghemat biaya proyek yang harus dikeluarkan pemerintah. Pemasukan dari pengelolaan output proyek dapat mengembalikan modal awal pemerintah yang telah dikeluarkan untuk pembiayaan proyek ini. Bagi swasta: merupakan salah satu bentuk tanggung jawab sosial pada lingkungan. Bagi universitas: program pendampingan yang dilakukan pada pelaksanaan programprogram normalisasi sungai Cikapundung ini merupakan laboratorium nyata yang dapat berfungsi sebagai tempat pembelajaran dan memberikan pengalaman bagi mahasiswa dan dosen yang terlibat. Bagi masyarakat: partisipasi dalam program-program normalisasi Cikapundung ini selain membuka lapangan pekerjaan, juga sebagai sarana pembelajaran yang akan mengembangkan kondisi sosial dan ekonomi di masa mendatang. Output yang dihasilkan juga akan dapat dinikmati secara langsung oleh masyarakat setempat, dan hasil pengelolaannya juga dapat dimanfaatkan bersama.

-

-

7

AR 5241 perencanaan di negara berkembang

ALUR PELAKSANAAN PROGRAM Program yang dirancang untuk normalisasi sungai Cikapundung difokuskan pada perencanaan yang sustainable dengan keterlibatan multi stake holder untuk memaksimalkan potensi dan merubah masalah menjadi potensi, dengan basis partisipasi masyarakat melalui organisasi berbasis komunitas. Ide-ide pokoknya adalah menyelesaikan permasalahan sampah dan limbah melalui perbaikan sistem persampahan dan sanitasi dengan pengelolaannya secara terpadu, penataan dan pembebasan lahan pada sempadan sungai, pembuatan dan perbaikan talud, penghijauan, pembangunan rusunami untuk relokasi warga, dan rusunawa yang merespon kebutuhan lingkungan akan rumah sewa, serta pemanfaatan open space pada sempadan sungai untuk lokasi wisata kuliner. Alur pelaksanaan program dapat dilihat pada diagram berikut:
GOAL PROGRAM AWALAN (BASIS)
PROGRAM YANG BERJALAN SECARA PARALEL

OUTPUT

Penentuan zona

pengelolaan

Diagram 3. Alur pelaksanaan program

Keseluruhan program dirancang dengan menggunakan pendekatan partisipatif dengan keterlibatan multi stake holder yaitu pemerintah yang berperan utama dalam pembiayaan dan pengawasan, universitas dengan peran utamanya sebagai pelaksana pendamping masyarakat, dan masyarakat sebagai subyek atau pelaku utama pelaksana program sekaligus pengelola output yang dihasilkan. Karena menggunakan pendekatan partisipatif dengan masyarakat setempat sebagai pelaku utama, maka pada awal pelaksanaan setiap program selalu didahului dengan adanya pendekatan kepada masyarakat dan pendampingan sebagai dasar pelaksanaan yang memastikan adanya partisipasi dari masyarakat dan bahwa pelaksanaan program akan membawa manfaat bagi masyarakat setempat. Lebih lanjut mengenai program pendekatan pada masyarakat akan dibahas dalam sub bab selanjutnya mengenai pemberdayaan masyarakat setempat. Untuk mensistematisasi dan mempermudah pelaksanaan program, dilakukan pembagian wilayah menjadi dua zona besar, dengan batas fisik jembatan layang pasupati. Zona A, meliputi wilayah dari lebak siliwangi hingga tamansari, melibatkan ITB sebagai universitas pendamping masyarakat. Zona B, meliputi tamansari hingga pajajaran, melibatkan Unisba dan 8

AR 5241 perencanaan di negara berkembang

Unpas sebagai universitas pendamping. ITB, Unisba, dan Unpas dilibatkan sebagai pendamping masyarakat dalam pelaksanaan program karena dipandang sebagai salah satu faktor penarik utama migrasi (terutama mahasiswa) pada wilayah studi. Artinya universitasuniversitas tersebut memiliki peranan dalam permasalahan lingkungan pada wilayah studi. Diantara program-program yang direncanakan, pengelolaan sampah merupakan program yang tidak terkait atau harus didahului oleh pembebasan lahan dan penataan sempadan. Karenanya program pengolahan sampah dapat dilaksanakan secara paralel dengan pembebasan lahan dan penataan sempadan (Diagram 1). Sementara sebelum diadakan pembebasan lahan untuk sempadan, masyarakat yang semula tinggal di daerah sempadan sungai harus terlebih dulu di relokasi pada rusunami yang dibangun pada tahapan awal (keterangan pentahapan lebih lanjut pada sub bab rusunami dan rusunawa). Dengan demikian program lanjutan dari pembebasan lahan dan penataan sempadan yang meliputi perbaikan talud, perbaikan sistem sanitasi, penghijauan, serta pembangunan rusun, akan dapat berjalan seiring dengan program perbaikan dan pengelolaan sampah. PARTISIPASI MASYARAKAT SETEMPAT Organisasi berbasis komunitas sebagai penggerak masyarakat Masyarakat setempat merupakan unsur utama yang akan selalu berhubungan dengan proyek normalisasi Cikapundung ini, baik sebagai subyek, obyek, maupun pengguna utama yang nantinya akan memanfaatkan dan menjaga keberlangsungan hasil-hasilnya sehingga tetap sustainable. Partisipasi dan dukungan dari masyarakat setempat merupakan jaminan keberhasilan proyek ini, karenanya langkah pertama yang dilakukan adalah pendekatan dan sosialisasi pada masyarakat dengan tujuan melibatkan partisipasi masyarakat dalam keseluruhan proses proyek. Langkah-langkahnya digambarkan dalam diagram berikut;

*

KONSEP

STRATEGI

TEKNIS

OUTPUT

Keterangan: *) partisipasi masyarakat melalui koordinasi dari organisasi berbasis komunitas, berupa: - pelaksana tiap item program, misalkan sebagai tenaga kerja pembangunan rusun, penyediaan bibit dan penanaman pohon utk penghijauan, dll – konsep SELF HELP, mengurangi biaya - sebagai pengelola dari output tiap program yang dihasilkan, misal biogas dan rusunawa – pengelolaan dengan kerjasama pemerintah dan organisasi masyarakat  akan memberikan pemasukan pada pemerintah  mengembalikan modal

Diagram 4. Partisipasi masyarakat setempat

9

AR 5241 perencanaan di negara berkembang

Partisipasi masyarakat setempat direalisasikan dengan program pendekatan kepada masyarakat, melalui dua langkah utama yaitu: 1. Sosialisasi program Sosialisasi dilakukan dengan memberikan pemaparan pada masyarakat tentang ide-ide yang akan dilakukan untuk normalisasi sungai Cikapundung. Dalam sosialisasi dilakukan pula diskusi dua arah, untuk mengetahui dan mengkompromikan ide-ide dari masyarakat dan perencana. Tujuan sosialisasi adalah untuk mengetahui pendapat masyarakat,dan menghindari serta mengantisipasi adanya protes atau gejolak sosial yang akan mempengaruhi keberhasilan proyek. 2. Pendataan Pendataan dilakukan untuk memetakan kondisi sosial ekonomi masyarakat setempat dan keadaan permukiman eksisting. Kondisi sosial ekonomi masyarakat diantaranya meliputi pendidikan, pekerjaan, jumlah keluarga, dan penghasilan. Kondisi permukiman eksisting mencakup jumlah toko, rumah sewa, dan usaha lain misal fotokopi, lebar jalan, lokasi drainase, saluran limbah, sanitasi, dan lainnya. Pemetaan ini dilakukan bersama-sama dengan masyarakat setempat untuk memberikan gambaran menyeluruh terhadap mempermudah penyusunan tahapan atau langkah-langkah perbaikan yang akan dilakukan. Dilakukan pendataan dan pemetaan mengenai, jumlSelain itu dari pemetaan akan diketahui potensi-potensi yang ada dalam masyarakat setempat yang akan mempermudah proses pendampingan dan pembentukan organisasi berbasis komunitas.

Hasil dari diskusi-diskusi yang dilakukan pada proses sosialisasi, berikut hasil pendataan akan dimanfaatkan dalam proses selanjutnya yakni pendampingan yang memiliki fungsi utama untuk membentuk organisasi masyarakat berbasis komunitas yang merupakan penggerak dan inti dari keseluruhan konsep pertama (pendekatan pada masyarakat) ini. Organisasi masyarakat berbasis komunitas dibentuk dengan pendampingan dari universitas sesuai zona yang telah ditentukan (ITB, Unisba, dan Unpas). Ditentukan dua zona utama dengan batas jembatan pasupati. Zona A dari lebak siliwangi hingga tamansari, dibawah pendampingan ITB, dan zona B dari taman sari hingga pajajaran dibawah pendampingan dari Unisba dan Unpas. Universitas yang bertanggung jawab dalam pendampingan merupakan universitas yang dianggap merupakan push factor masyarakat migran datang dan memadati zona yang bersangkutan sehingga mengganggu keseimbangan lingkungan. Dari dua organisasi masyarakat inti yang dibentuk perzona, kemudian dipecah kembali menjadi organisasi pada tingkat masyarakat yang lebih kecil, misalkan RW. Dua organisasi utama bertindak sebagai koordinator yang menghubungkan organisasi dibawahnya dengan stake holder lain yaitu pemerintah dan pendamping. Organisasi masyarakat memiliki peran penting dalam pelaksanaan program direncanakan secara partisipatif. Peranan organisasi masyarakat meliputi mengorganisir, mengatur, dan menggerakkan masyarakat sesuai potensinya masing-masing untuk berperan serta dalam pelaksanaan tiap program kegiatan, baik itu penghijauan, pembangunan rusun, pengolahan sampah, maupun menghimpun ide-ide dari warga untuk lokasi rumah susun yang dirasa sesuai, memusyawarahkan desain rusunami sesuai kebutuhan warga, serta mendampingi warga dalam pembebasan lahan untuk sempadan, dan relokasi. Pada output yang dihasilkan, misalkan 10

AR 5241 perencanaan di negara berkembang

reaktor biogas dan pengolahan sampah terpadu, organisasi masyarakat akan berperan dalam pengelolaan sehingga akan menghasilkan pemasukan yang dapat digunakan bagi kepentingan bersama masyarakat setempat. Pada output berupa rusunawa untuk mahasiswa dan karyawan, pengelolaannya akan dipegang oleh organisasi masyarakat dan pemerintah. Pemasukan awalnya dapat mengembalikan modal pemerintah, selanjutnya setelah modal dikembalikan, penghasilan dapat dimanfaatkan oleh masyarakat untuk pengembangan lingkungannya. Pengelolaan output yang dihasilkan oleh masyarakat akan didampingi oleh universitas terkait, hingga masyarakat dapat mengelolanya secara mandiri, dengan demikian akan tercapai sustainabilitas dari hasil-hasil program yang telah dilakukan. TEKNIS PEMBANGUNAN NORMALISASI SUNGAI CIKAPUNDUNG Perencanaan awal pada normalisasi Sungai Cikapundung adalah perbaikan lahan di tepi sungai untuk pembangunan talud. Akan tetapi pembangunan talud ini tentu harus komprehensif dengan hal lain seperti relokasi penghuni, perbaikan lingkungan secara keseluruhan, pemanfaatan ruang sisi sungai, dan lain -lain. Berikut ini merupakan teknis pembangunan normalisasi sungai Cikapundung yang meliputi aspek pembersihan dan pengolahan sampah, pembangunan talud, perbaikan MCK umum, IPAL dan biogas, penghijauan, pembangunan rusunami dan rusunawa dan perencanaan wisata kuliner tepi sungai. Hal yang menjadi latar belakang perlunya normalisasi khusunya di aspek lingkungan sungai Cikapundung adalah karena daerah ini sudah mengalami degradasi lingkungan yang sangat signifikan. Degradasi ini kerap membawa bencana seperti banjir, wabah penyakit saat hujan dan lain-lain. Banjir pada sungai Cikapundung terjadi karena perubahan karakteristik Daerah Aliran Sungai (DAS) di hulu dan maupun di hilir. Perubahan utama yang terjadi di hulu sungai adalah berkurangnya luas tutupan lahan (land covering) akibat perubahan fungsi lahan. Lahan yang semula hutan, ditebang untuk dijadikan permukiman, area wisata, industri, dan lain-lain. Perubahan lain adalah meningkatnya curah hujan. Perubahan ini sifatnya cenderung alami dan tidak bisa dikontrol oleh manusia. Di daerah hilir, perubahan yang meningkatkan potensi banjir adalah pendangkalan sungai dan atau penyempitan lebar sungai. Pendangkalan sungai terjadi karena sedimentasi, yang meskipun alami, diperkuat intensitasnya oleh hilangnya land covering di hulu. Adapun penyempitan lebar sungai, selain karena sedimentasi, kini semakin sering terjadi akibat penggunaan bantaran sungai untuk permukiman. Secara umum penyebab terjadinya banjir dipicu oleh beberapa faktor sebagai berikut : 1. hujan deras yang terus menerus dalam beberapa hari, sehingga debit air sungai meningkat 2. permukaan tanah tidak dapat menyerap air, karena jenuh atau karena diplester. 3. permukaan tanah yang lebih rendah dari daerah sekitarnya, di mana tidak terdapat saluransaluran pembuangan air yang berfungsi untuk memindahkan air ke lokasi lain menyeberangi daerah sekitarnya yang lebih tinggi 4. permukaan tanah yang lebih rendah dari permukaan laut yang sedang pasang Adapun Faktor penyebab terjadinya Banjir luapan Sungai Cikapundung seperti terlihat dalam skema berikut :

11

AR 5241 perencanaan di negara berkembang

Penyempitan /Pendangkalan Sungai

Budaya Masyarakat Membuang Sampah baik masyarakat sekitar maupun masyarakat di luar lingkungan

Faktor terjadinya luapan Sungai Cikapundung

Sedimentasi / pengendapan Sampah Tersumbatnya

An Organik Organik

saluran

Limbah

Manusia Limbah Pabrik

Normali -sasi dan Revitali -sasi Sungai Cikapun dung

Masyarakat setempat sebagai pelaku Diagram 5. Faktor penyebab banjir pada daerah aliran sungai Cikapundung

1. Perbaikan dan Pembuatan Talud Sungai Cikapundung Hal yang paling utama dalam pembuatan Talud pada kawasan ini adalah dengan melakukan pembebasan lahan selebar 3 - 5 meter sesuai dengan Peraturan Daerah Kota Bandung Nomor 02 Tahun 2004 (RTRW) Kota Bandung dan sesuai dengan Per Men PU No 63 Tahun 1993 tentang Kriteria jalur sempadan sungai yaitu : sekurang-kurangnya 5 meter di sebelah luar sepanjang kaki tanggul di luar kawasan perkotaan dan 3 meter di sebelah luar sepanjang kaki tanggul di dalam kawasan perkotaan. Dalam hal ini, Sungai Cikapundung yang mempunyai lebar 20 meter, jika diambil 3 meter, maka tidak diperbolehkan adanya bangunan rumah dalam radius 3 meter.

Gambar 1. Detail Talud

12

AR 5241 perencanaan di negara berkembang

Pada Kawasan Cikapundung khususnya Antara Jalanan Siliwangi dan Jalan Pajajaran, dalam penataan dan perbaikan talud berproses melalui sosialisasi masyarakat dengan pembentukan organisasi berbasis komunitas. Masyarakat yang lahannya dalam proses pembebasan lahan untuk sempadan sungai di relokasikan dalam rumah susun dengan berberapa tahapan. Selain itu dilakukan pengerukan agar aliran Sungai Cikapundung kembali normal. Konsep talud. Pembangunan talud dilakukan dengan mengecilkan sedikit lebar sungai akan tetapi menambah kedalamannya. Diperkirakan sungai Cikapundung kerap banjir di musim hujan terjadi pendangkalan pada sungai akibat lumpur maupun sampah. Apabila lebarnya diperkecil dan kedalaman sungai di tambah maka volume sungai tetap demikian dan mampu menampung aliran air. Pengerukan lumpur dan penyaringan sampah dilakukan secara berkelanjutan dengan pengelolaan masyarakat dan bantuan dari pemerintah. 2. Penghijauan dan penyimpanan air tanah Untuk pelestarian Kawasan Ruang Terbuka Hijau, diatas Talud tersebut dan di lingkungan perumahan eksisiting serta kawasan rusunami/rusunawa direncanakan penanaman pohon, penggunaan teknik biopori untuk penyimpanan air tanah, pengolahan sampah dan pencegahan banjir serta penarapan rain water garden, seperti terlihat pada skema berikut :

Diagram 6. Sistematisasi program penghijauan

Perencanan Ruang Terbuka Hijau di Daerah Sungai Cikapundung terutama dari Jalan Siliwangi hingga Jalan Pajaran ditujukan agar tidak terjadi penurunan kuantitas dan kualitas air bersih, polusi udara, dan mencegah suhu udara yang cenderung memanas akibat kurangnya pepohonan dan resapan air sebagai dampak tingginya pertumbuhan penduduk. Dalam perenncanaannya ruang terbuka hijau ini ditempatkan di diatas talud, selebar 1 meter, serta dilakukan pada daerah permukiman eksisting dan pada rusunami dan rusunawa. Teknis program yang diusulkan untuk dilaksanakan meliputi: a. Penanaman pohon di daerah Sungai Cikapundung, selain untuk mencegah banjir, juga diharapkan dapat menghidupkan ruang terbuka hijau. Pohon-pohon yang ditanam merupakan jenis pohon peneduh yang berakar kuat dan dimaksimalkan penanamannya pada open space, terutama pada sempadan (di area wisata kuliner) pada jarak-jarak tertentu. 13

AR 5241 perencanaan di negara berkembang

b. Penggunaan biopori , sebagai sistem resapan air atau teknik dalam penyimpanan air tanah, selain itu berguna dalam penyimpanan air tanah, pengelolaan sampah serta pencegahan banjir. Biopori merupakan salah satu cara efektif digunakan sebagai alternatif penyimpanan air tanah pada daerah dengan kepadatan tinggi seperti pada lokasi studi, dimana luasan lahan tak tertutup perkerasan sudah semakin sempit. Biopori akan meningkatkan kemampuan tanah dalam meresapkan air akan memperkecil peluang terjadinya aliran air di permukaan tanah, sekaligus sarana pengolahan sampah organik menjadi kompos. Pada lokasi studi, biopori direncanakan dibuat pada setiap sirkulasi pada permukiman eksisting, juga pada setiap hunian yang ada. Hal ini dimungkinkan karena pembuatannya tidak menuntut biaya dan luas lahan yang besar, serta dapat dilakukan dengan muda. Langkah membuat Biopori adalah membuat lubang vertikal ke dalam tanah. Lubang-lubang tersebut selanjutnya diisi dengan bahan organik seperti sampah-sampah organik rumah tangga, potongan rumput dan vegetasi lainnya. Bahan organik ini dijadikan sumber energi bagi organisme di dalam tanah, sehingga aktivitas dalam tanah meningkat. Semakin meningkat aktivitas organisme dalam tanah, maka akan semakin memperbanyak biopori yang terbentuk. c. Pembuatan rainwater garden atau pemanfaatan air hujan yang dimaksimalkan pada bagianbagian dari rumah susun yang dirancang, pada tiap hunian masyarakat secara mandiri, juga pada area sempadan sungai. Dengan demikian, air hujan dapat dimanfaatkan sehingga pengambilan air tanah dapat dikurangi. Rain water garden merupakan sebuah teknologi yang meliputi sistem pengumpulan, penyimpanan dan pemanfaatan hujan. Penampungan hujan dilakukan dengan membuat bakbak (tandon) penampungan. Pengoperasian sistem dilakukan dengan sistem pemipaan secara khusus. Teknologi pemanfaatan hujan ini disusun berdasarkan fungsi-fungsi seperti pengumpulan hujan, penyimpanan hujan, penentuan syarat hujan, pendistribusian, pengaliran hujan yang berlebih dan pengisian bak penampungan di musim kering. Dengan teknologi pemanfaatan hujan ini, masyarakat dapat secara mandiri memenuhi kebutuhan airnya. Tidak kalah penting adalah menjaga kelestarian sirkulasi air alami, serta menciptakan keharmonisan antara penataan lingkungan perkotaan dan curah hujan. Teknis pelaksanaan dan pembiayaan Pelaksanaan program penghijauan dilakukan oleh masyarakat setempat melalui koordinasi dari organisasi berbasis komunitas. Agar dapat dilakukan dan dikelola dengan baik, maka dalam pelaksanaannya masyarakat didampingi oleh universitas terkait. Program yang dipilih merupakan teknologi tepat guna yang tidak membutuhkan banyak biaya dalam pelaksanaannya. Dalam penyediaan dan pemilihan bibit tanaman, masyarakat dibantu oleh universitas.

14

AR 5241 perencanaan di negara berkembang

3. Perbaikan sistem persampahan dan pengelolaannya secara terpadu Sampah merupakan sesuatu yang sudah tidak mempunyai nilai. "Sampah adalah sesuatu yang tidak berguna lagi, dibuang oleh pemilikya atau pemakai semula" (Tandjung, Dr. M.Sc., 1982). Berdasarkan bentuknya sampah dibagi menjadi sampah padat dan cair. Sampah padat adalah segala bahan buangan selain kotoran manusia, urine dan sampah cair. Sampah padat ini berupa sampah rumah tangga seperti : sampah dapur, sampah kebun, plastik, metal, gelas dan lain-lain. Menurut bahannya sampah ini dikelompokkan menjadi sampah organik dan sampah anorganik. Sampah organik merupakan sampah yang berasal dari barang yang mengandung bahan-bahan organik, seperti sisa-sisa sayuran, hewan, kertas, potonganpotongan kayu dari peralatan rumah tangga, potongan-potongan ranting, rumput pada waktu pembersihan kebun dan sebagainya. Sampah cair adalah bahan cairan yang telah digunakan dan tidak diperlukan kembali dan dibuang ke tempat pembuangan sampah. Limbah hitam adalah sampah cair yang dihasilkan dari toilet. Sampah ini mengandung patogen yang berbahaya. Limbah rumah tangga adalah sampah cair yang dihasilkan dari dapur, kamar mandi dan tempat cucian. Sampah ini mungkin mengandung patogen. Konsep Pengelolaan Sampah. Dilakukan sosialisasi dan pendampingan pada masyarakat mengenai teknis pengolahan dan pengelolaan sampahnya masing-masing. Untuk pengelolaan sampah diharapkan adanya kesadaran dari masyarakat setelah berpartisipasi dalam sosialisasi mengenai Normalisasi dan Revitalisasi Kawasan Sungai Cikapundung khususnya yang berada antara jalan Siliwangi hingga jalan Pajajaran berupa : 1. Penyediaan Bak Sampah pada masing-masing satuan unit rumah 2. Dibuang ke tempat Pembuangan Sampah Sementara yang disediakan oleh Pemerintah Daerah atau partisipasi masyarakat 3. Dibuang ke tempat Pembuangansampah Akhir (TPA) atau dimusnahkan 4. Mendaur Ulang sampah anorganik 5. Pengomposan yaitu pemanfaatan ulang sampah organik melalui proses pembusukan. Pengolahan sampah ini berkelanjutan dengan kerjasama antar penduduk dalam komunitas. Sampah ini dapat menjadi potensi dan sumber penghasilan alternatif masyarakat. Hasil dari pengomposan atau daur ulang dapat dijual oleh masyarakat secara komunitas dan kegiatan ini merupakan kegiatan yang berkelanjutan. Lokasi untuk TPS direncanakan dekat dengan lingkungan masyarakat bermukim. Untuk TPA dan pengelolaan sampah yang telah tersedia pada kompleks Sabuga, dimaksimalkan penggunaannya. 4. Pembangunan Rusunami dan Rusunawa Keadaan permukiman di bantaran sungai Cikapundung pada daerah studi merupakan daerah yang padat penduduk.Lokasi studi merupakan bagian dari kelurahan Cipaganti dan kelurahan Taman Sari. Terkait dengan perbaikan sungai Cikapundung, maka dibutuhkan pembebasan lahan di sepanjang sisi sungai Cikapundung. Pembebasan lahan ini tentu mengakibatkan tersingkirnya permukiman-permukiman yang ada di sepanjang sisi sungai. Relokasi perumahan ini diperlukan karena daerah awal hunian mereka di tepi sungai merupakan daerah yang rawan banjir dan bahaya longsor. Tahap awal perbaikan lokasi ini adalah dengan pendekatan dan sosialisasi program perbaikan pada masyarakat. Dari pendekatan ini dapat dilakukan pendataan 15

AR 5241 perencanaan di negara berkembang

dan pemetaan potensi dan kondisi masyarakat. Dalam perencanaan ini sangat dibutuhkan partisipasi masyarakat sebagai subjek sekaligus objek revitalisasi Cikapundung. Untuk ini tentu dibutuhkan kontribusi pihak-pihak yang merupakan salah satu penyebab eksternal terjadinya pemadatan penduduk di daerah studi. Pihak universitas seperti ITB, Unisba dan Unpas dibutuhkan untuk mendampingi masyarakat dalam sosialisasi dan pendekatan karena bagaimanapun ada hubungan saling ketergantungan antara masyarakat dan universitas tersebut.

Diagram 7. Sistematisasi pelaksanaan program rusunami dan rusunawa

Alternatif yang ditawarkan adalah pembuatan rusun sebagai salah satu solusi perumahan dengan kepadatan tinggi. Pembangunan rumah susun ini dilakukan secara bertahap mulai dari daerah permukiman di sekitar jalan Siliwangi. Tahap pertama adalah pembebasan lahan untuk rusunami oleh pemerintah. Pada lokasi studi, lokasi pertama yang coba ditawarkan adalah pembebasan lahan di daerah kolam renang di jalan Cihampelas oleh pemerintah untuk keperluan membangun rumah susun sederhana milik bagi masyarakat yang rumahnya di relokasi. Setelah lahan ini dibebaskan, kemudian perencanaan pembangunan rusunami oleh dengan subsidi dari pemerintah dan pihak universitas yang dibantu dengan partisipasi masyarakat. Tahap selanjutnya adalah pembangunan rusunami dengan partisipasi masyarakat dalam aspek perencanaan, tenaga kerja, dan pengadaan material. Kemudian dilakukan relokasi masyarakat yang tinggal di sepanjang sisi permukiman ke rusunami paralel dengan penghijauan dan penataan saluran. Pembangunan ini dilakukan setahap demi setahap hingga seluruh permukiman di pinggir sungai dapat dibenahi sesuai dengan lahan yang dibebaskan. Selanjutnya dibutuhkan pembangunan rusunawa yang diperuntukan bagi kaum migran yang banyak memenuhi permukiman yang berprofesi sebagai karyawan atau mahasiswa.

16

AR 5241 perencanaan di negara berkembang

Pentahapan relokasi dan pembangunan rusun

Abstrak

Gambar 2. Proses pentahapan pembebasan lahan, relokasi, dan pembangunan rusun. Berawal dari lahan kosong pada bekas kolam renang Ciwalk, dan perkembangannya berjalan ke utaraselatan hingga seluruh sempadan sungai berhasil dibebaskan

Selanjutnya adalah pembangunan rusunawa yang dialokasikan bagi kelompok migran yang turut memperpadat permukiman di sepanjang sisi sungai Cikapundung. Jumlah mahasiswa yang belajar di universitas seperti ITB, Unpas dan Unisba sebagian adalah kaum pendatang dari kota-kota lain. Kelompok ini memiliki jumlah yang signifikan yang terus berkembang setiap tahun dengan daya dukung permukiman di sekitar kawasan universitas yang tidak seimbang. Secara tidak langsung peran universitas-universitas tersebut dibutuhkan dalam penanganan masalah ini. Demikian juga denan karyawan-karyawan dari luar kota yang tinggal di permukiman di sekitar lokasi studi umumnya bekerja di dekat tempat hunian sewa mereka. Kelompok pendatang ini dapat tinggal di tipe hunian rumah susun sederhana sewa yang dikelola oleh masyarakat di sekitar kawasan studi di bawah pemerintah.

17

AR 5241 perencanaan di negara berkembang

Gambar 3. Konsep bangunan pada rusun

Konsep bangunan. Bangunan menggunakan sistem modular pada struktur kolom, sehingga dibentuk ruang-ruang yang modular. Rumah susun yang dibangun ditahap awal adalah bagian kerangka dan kulit luar bangunan. Kemudian komunitas masyarakat mengatur pembagian ruang antara sesama pemilik dalam rumah susun sesuai besaran stardar minimum. Rumah susun direncanakan sebagai rumah susun yang dapat dikembangkan sendiri oleh pemiliknya. Denah interiornya berupa open lay-out dengan satu kamar mandi dan pembatas antar ruang yang diusahakan sendiri oleh pemiliknya. Material yang digunakan sebisa mungkin memanfaatkan material yang ada di lokasi eksisting, seperti pasir dan batu kali dari sungai yang didapat dari hasil pengerukan pada saat pembuatan talud, sehingga dapat menghemat biaya. Pembiayaan rusunami. Rusunami didanai oleh subsidi pemerintah berupa pembangunan rumah inti pada rumah susun. Pembangunan pada tahap awal hanya berupa sistem struktur dasar yang terdiri dari kolom, plat lantai, atap dinding luar bangunan dan kamar mandi. Selanjutnya masyarakat mengembangkan sendiri ruang-ruang di dalamnya. Dalam mengembangkan rumah susun ini penghuni bergabung dengan komunitas masyarakat dalam hal pendanaan. Rumah susun memiliki konsep dapat dikembangkan dengan material yang sanggup dibeli oleh masyarakat seperti papan triplek atau gipsum. Masyarakat mencicil harga rumah inti kepada pemerintah dengan kredit bunga yang rendah dan memiliki sertifikat milik atas ukuran luas rumah susun. Hal ini sebagai pengganti rumah mereka yang direlokasi dari daerah yang tidak layak bangun di tepi sungai. Pembiayaan rusunawa. Pemerintah bersama masyarakat menerapkan sistem bagi hasil terhadap pengelolaan rumah susun sederhana sewa yang ditujukan oleh mahasiswa dengan bantuan dari universitas. Pemerintah dan koperasi masyarakat bekerjasama dalam proses perencanaan, masa konstruksi hingga post occupancy hunian tersebut. Sementara itu universitas mendampingi pembangunan rumah susun ini dalam hal desain, sosialisasi dengan masyarakat dan pelatihan masyarakat dalam teknik konstruksi. 5. Perbaikan MCK umum, IPAL dan biogas. Limbah rumah tangga merupakan penyebab utama tercemarnya sungai Cikapundung. Untuk mengurangi pencemaran terhadap sungai ini tentu diperlukan teknologi yang tepat guna, murah 18

AR 5241 perencanaan di negara berkembang

dan efisien. Saat ini limbah cair dari kamar mandi penduduk yang tinggal di permukiman di tepi sungai langsung dialirkan ke sungai Cikapundung tanpa pengolahan lebih lanjut. Dengan pembebasan lahan sempadan sungai maka lahan tersebut dapat digunakan untuk keperluan pengolahan limbah.

Diagram 8. Sistematisasi pelaksanaan program perbaikan saluran sanitasi dan pengolahan limbah secara terpadu

Beberapa hunian di lokasi studi tidak memiliki kamar mandi pribadi sehingga mereka menggunakan kamar mandi umum. Hal ini dapat menjadi potensi untuk penghematan lahan dan pengelolaan hasil limbah yang lebih mudah dan kompak. Sedangkan untuk rumah yang tetap berdiri di lokasi studi maka dilakukan revitalisasi terhadap sistem sanitasi rumah tangga tersebut. Sedangkan untuk pembangunan rusunawa dan rusunami yang mengalami proses perencanaan yang lebih matang maka pengelolaannya lebih terpadu. Dari ketiga aspek pengelolaan limbah yang telah terpadu ini maka pengolahan selanjutnya dilakukan pada IPAL yang dibangun di sisi sungai Cikapundung yang lahannya telah dibebaskan. Konsep pengelolaan dan pengolahan limbah. Limbah rumah tangga yang tadinya dibuang langsung akan diolah terlebih dahulu melalui septik tank. Sebelumnya beberapa penemuan teknologi sederhana yang tepat guna ternyata dapat menjadikan limbah rumah tangga ini sebagai potensi yang dapat digunakan langsung oleh masyarakat. Pada normalisasi sungai Cikapundung ini, limbah tinja dan kamar mandi terlebih dahulu diolah dengan teknologi yang disebut anaerobic digester yang dapat menghasilkan biogas. Pengelolaan ini dilakukan secara komunitas agar lebih mudah dan efektif dan penggunaan biogasnya diatur oleh komunitas yang keuntungannya materinya dapat digunakan oleh masyarakat agar teknologi ini dapat berkelanjutan. Selanjutnya material sisa pengolahan biogas ini diolah lebih lanjut dengan sistem septic tank yang dapat meminimalisasi pencemaran sungai Cikapundung. Umumnya pengolahan limbah dapat dilakukan dengan berbagai tipe, yang secara sederhana dapat digambarkan dalam proses primer, sekunder dan tersier. Proses ini berbeda-beda tergantung dari tingkat pencemaran dan bagaimana pemanfaatan yang akan dilakukan pada produk keluaran masing-masing proses. Pada proses primer, limbah padat ditampung dari aliran rumah dan mengalami proses pemisahan antara air dan kotoran/lumpur. Kemudian bagian padat akan dikumpulkan dibuang baik untuk landfill atau dibakar di incinerator. Proses sederhana ini terjadi seperti halnya yang terjadi di sistem septic tank konvensional dan mampu 19

AR 5241 perencanaan di negara berkembang

memisahkan material organik, bakteri maupun lumpur dari kandungan air sehingga apabila tidak dilakukan pengolahan lanjutan, maka air dapat diklorinisasi untuk melumpuhkan bakteri yang tersisa dan dapat digunakan kembali. Sedangkan pada proses sekunder, untuk menghilangkan material organik dan kandungannya, digunakan bekteri yang akan mengkonsumsi kandungan limbah yang mengalir melalui tangki aerasi. Cara ini mampu memisahkan 90% kotoran padat dan material organik dari air buangan. Proses tersier merupakan pengolahan limbah tingkat lanjut dengan menggunakan bahan kimia untuk menghilangkan fosfor dan nitrogen dari air dan atau penyaring. Air yang telah disaring kemudian diberi klorin untuk membunuh bakteri yang tersisa. (http://home.howstuffworks.com). Pada proses sekunder, salah satu varian teknologi yang dapat digunakan pada hunian dengan skala komunitas agar pembiayaan dan pengelolaan lebih efektif adalah Anaerobik Baffle Reactor (ABR). Sistem inilah yang diterapkan dalam teknik dan strategi noemalisasi sungai Cikapundung. Output dari sistem ini adalah air yang layak dialirkan tetap melalui sungai Cikapundung dengan tingkat pencemaran yang sangat rendah. Air sisa ini tetap dialirkan ke Cikapundung karena apabila digunakan sistem pembuangan ke riol kota maka pembiayaan yang dibutuhkan akan lebih besar dan tidak efektif sedangkan apabila dialirkan ke sungai Cikapudung maka akan lebih hemat tempat dan efektif karena pengalirannya dapat hanya dengan menggunakan gaya gravitasi ke sungai.

Gambar 4. Konsep pengolahan limbah terpadu

Untuk perumahan eksisting, maka perbaikan sistem sanitasi dapat dilakukan di jalan-jalan atau gang lingkungan permukiman mereka. Berdasarkan survey dan pengamatan yang dilakukan, salah satu lahan yang masih dapat dilakukan untuk intervensi perbaikan sistem sanitasi adalah jalan-jalan tersebut yang merupakan milik umum. Pemipaan dapat dilakukan di bawah gang lingkungan tersebut sehingga dapat meminimalisasi pembongkaran rumah yang dapat berujung pada gejolak sosial.

Gambar 5. Konsep perletakan sistem IPAL

20

AR 5241 perencanaan di negara berkembang

Konsep pembiayaan. Hampir seluruh pihak yang tinggal atau berusaha di sisi sungai Cikapundung memiliki andil dalam pencemaran sungai Cikapundung. Peran pihak swasta seperti Ciwalk dan pasar Balubur dibutuhkan dalam pengadaan IPAL sebagai tanggung jawab atas lingkungan atas pembangunan fungsi komersil mereka. Selanjutnya masyarakatlah yang mengelola IPAL yang ada di sepanjang tepi sungai Cikapundung dengan memanfaatkan potensi seperti biogas untuk kebutuhan mereka. Unsur akademis seperti pelatihan dan bimbingan dalam pengadaan dan pengelolaan Ipal ini dibantu oleh pihak universitas yang ada disekitarnya. 6. Wisata Kuliner Wisata kuliner merupakan suatu program lanjutan yang dilaksanakan setelah keseluruhan program (pembebasan lahan sempadan, pembangunan rusunawa dan rusunami, pembersihan sungai, dan penghijauan) berhasil dilakukan. Kegiatan pemanfaatan ruang terbuka pada sempadan sungai untuk wisata kuliner ini direncanakan untuk mewadahi kegiatan ekonomi masyarakat setempat, yang memiliki mata pencaharian utama sebagai penjual makanan. Selain itu, adanya kegiatan ini juga memfasilitasi kebutuhan warga pendatang (mahasiswa dan karyawan) yang tinggal di daerah studi. Karenanya kegiatan wisata kuliner dialokasikan pada sempadan sungai yang berada dekat dengan rusunawa maupun rusunami. Teknis Pembiayaan. Payung-payung serta perlengkapan untuk para pedagang diusahakan secara mandiri oleh masyarakat dan organisasi yang dibentuknya. Biaya diperoleh dari sebagian hasil pengelolaan output-output yang dihasilkan sebelumnya seperti pengelolaan sampah. Masing-masing warga yang berjualan pada lokasi wisata kuliner, wajib membayar iuran kepada organisasi masyarakat, dan hasil dari iuran tersebut sebagian akan dikembalikan kepada pemerintah sebagai pajak distribusi, yang dapat salah satu pemasukan bagi pemerintah yang berfungsi mengembalikan modal yang telah dikeluarkan untuk keseluruhan program normalisasi sungai Cikapundung. Perencanaan Lokasi. Kegiatan wisata kuliner direncanakan pada sempadan sungai yang dekat dengan rumah susun, sehingga jarak tempuhnya cukup dekat baik bagi masyarakat pembeli maupun penjual. Selain itu program wisata kuliner dibuka setelah program lainnya seperti pembersihan sungai dan pengolahan sampah sukses dilakukan, sehingga sungai yang bersih dapat menjadi daya tarik wisata.

Gambar 6.Tampak atas lokasi wisata kuliner

21

AR 5241 perencanaan di negara berkembang

Gambar 7. Perspektif dan potongan lokasi wisata kuliner

KESIMPULAN Normalisasi sungai Cikapundung merupakan strategi perbaikan lingkungan yang terkait dengan aspek-aspek lain. Penanganan perbaikan lingkungan sungai Cikapundung terkait erat dengan perbaikan permukiman di sekitarnya. Selain menyangkut aspek fisik lingkungan, aspek sosial juga merupakan hal yang perlu diperhatikan dalam strategi dan teknis normalisasi sungai ini, oleh karena itu strategi ini membutuhkan partisipasi semua pihak yang terlibat. Keterlibatan masyarakat sebagai subjek sekaligus objek penanganan lingkungan ini perlu diperhatikan semenjak awal sehingga tidak terjadi gejolak sosial yang tiba-tiba atas perubahan yang dilakukan. Pemanfaatan sumber daya lokal seperti tenaga kerja dan material untuk pembangunan; dan pengelolaan yang melibatkan masyarakat demi kepentingan mereka sendiri dan kepentingan bersama merupakan strategi yang digunakan untuk pembangunan yang berkelanjutan. Pengadaan dana merupakan salah satu permasalahan perencanaan di negara berkembang. Dalam normalisasi sungai Cikapundung, hal ini diupayakan berasal dari pemerintah berupa pembiayaan untuk perbaikan daerah sempadan sungai. Sedangkan untuk bangunan seperti rusunami dan rusunawa, pemerintah memberikan pinjaman kepada masyarakat dan sistem bagi hasil untuk rusunawa. Universitas memberikan kontribusi berupa pendampingan dan pelatihan masyarakat saat perancangan, konstruksi hingga post-occupancy rusunami dan rusunawa. Diharapkan dengan terealisasinya normalisasi Sungai Cikapundung dapat mengembalikan fungsi kawasan tersebut menjadi salah satu Kawasan Perlindungan Sumber Air (Cikapundung) serta mengembalikan fungsi ekologis lingkungan dan dapat memfasilitasi perkembangan masyarakat di sekitarnya.

22

AR 5241 perencanaan di negara berkembang

DAFTAR PUSTAKA Harun, Ismet Belgawan, et al.2009, Laporan Akhir, Revitalisasi Permukiman kota : Pengembangan Pola-Pola Baru Penataan Permukiman Kota Berbasisi Penyediaan dan Penggunaan Air secra Berkelanjutan. LPPM ITB PERDA NO 02 TAHUN 2004 TENTANG RTRW KOTA BANDUNG PERMEN PU NO 63 TAHUN 1993 TENTANG SEMPADAN SUNGAI Unescap dan UN HABITAT Tahun 2008,. Perumahan Bagi Kau Miskin di Kota-Kota Asia, Organisasi berbasis Komunitas : Kaumm Miskin sebagai Agen Pembangunan, www.un-habitat.org www. dimsum.its.id http://anafio.multiply.com/reviews/item/3 http://eryemeb.wordpress.com/2007/06/13/membuat-sistem-pengelolaan-air-hujan/ http://home.howstuffwork.com http://www.biopori.com/

23

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->