P. 1
Penyebab Korupsi Di Indonesia

Penyebab Korupsi Di Indonesia

|Views: 1,790|Likes:
Published by lizardus

More info:

Published by: lizardus on Aug 11, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/25/2013

pdf

text

original

12

MODUS ACEH MINGGU V, DESEMBER 2007

Kolom

Penyebab Korupsi di Indonesia
Oleh : Goenawan Wanaradja, SH,MH*
Hakim Peradilan Umum R I

Salah satu penyebab yang paling utama dan sangat mendasar terjadinya Korupsi di kalangan para Birokrat, adalah menyangkut masalah keimanan, kejujuran, moral, dan etika sang Birokrat itu sendiri.

D

alam suatu kesempatan berdiskusi mengenai korupsi dengan Erry R. Hardjapamekas, ia menyebutkan tingginya kasus korupsi di negeri ini disebabkan oleh beberapa hal diantaranya: (1) Kurang keteladanan dan kepemimpinan elite bangsa, (2) Rendahnya gaji Pegawai Negeri Sipil, (3) Lemahnya komitmen dan konsistensi penegakan hukum dan peraturan perundangan, (4) Rendahnya integritas dan profesionalisme, (5) Mekanisme pengawasan internal di semua lembaga perbankan, keuangan, dan birokrasi belum mapan, (6) Kondisi lingkungan kerja, tugas jabatan, dan lingkungan masyarakat, dan (7) Lemahnya keimanan, kejujuran, rasa malu, moral dan etika. Dari perbincangan seputar korupsi di atas, menurut hemat saya, yang disebut terakhirlah yang paling mendasar karena terkait dengan karakter manusia, yakni keimanan, kejujuran, moral, dan etika dalam melaksanakan tugas sehari-hari. Karena setinggi apa pun gelar akademik seorang birokrat, jika ia tidak memiliki keimanan, kejujuran, moral dan etika, ia akan menjadi komponen perusak birokrasi. Semakin tinggi kekuasaannya, maka semakin destruktif pula perannya, sehingga birokrasi menjadi disfungsional. Lihatlah betapa lumpuhnya layanan publik di Kabupaten Garut baru-baru ini sebagai akibat tindak pidana korupsi yang dilakukan oleh sang bupati. Keberadaan birokrasi itu sendiri sebenarnya bertujuan mulia, yaitu sebagai prosedur (baku) demi tercapainya suatu tujuan secara efektif. Namun, tatkala diawaki oleh orang-orang yang tidak professional, birokrasi justru bercita buruk, yakni sebuah proses yang kaku, ketidakefisienan sogokmenyogok dan suap-menyuap semakin marak. Sehingga dengan carut-marutnya birokrasi di negeri ini, maka tumbuh-suburlah korupsi, kolusi dan nepotisme. Max Weber menyebutkan dua cara untuk mengontrol birokrasi agar berfungsi dengan baik, yaitu rasionalisasi dan formalisasi. Karena birokrasi itu organisasi yang terdiri atas sejumlah individu, sehingga kualitasnya pun tergantung pada kualitas individu. Apabila mutu pendidikan di

Indonesia dewasa ini secara nasional belum baik, dapat di mengerti jika kualitas layanan publik belum menggembirakan. Untuk menciptakan tata kelola yang baik atau good governance, mutu SDM di pemerintahan khusunya dan sektor swasta dan masyarakat pada umumnya perlu ditingkatkan. Upaya itu harus dilakukan secara sistematis dengan kurikulum yang dirancang dengan baik melalui pendidikan formal dan pendidikan informal. Ini semuanya mustahil terwujud tanpa dukungan staf pengajar yang memiliki kepakaran yang kokoh. Kurikulum dan proses pembelajaran pada lembaga pencetak birokrat seperti IPDN seyogianya menanamkan dua komponen besar, yaitu komponen profesionalisme birokrat dan komponen kepribadian. Yang disebut pertama merujuk pada prinsip-prinsip good governance sebagai berikut. Pertama, memiliki visi dan misi yang lebih efisien, efektif, inovatif, fleksibel, dan mempunyai semangat juang lebih tinggi yang digerakan oleh suatu peraturan. Artinya para calon birokrat selain harus memahami peraturan yang berlaku, juga meski kritis terhadapnya agar mampu melaksanakannya dengan cerdas dan kreatif. Seorang pemimpin itu harus berani melakukan suatu terobosan-terobosan dan mendobrak kultur lama demi pembaruan ke arah yang lebih maju dalam hal pelayanan publik. Kreativitas itu adalah merupakan mesin yang menggerakan reinventing government atau kinerja yang memudakan birokrasi agar tata kelola tidak ribet. Birokrasi yang ada saat ini, cenderung mandeg, karatan, membela status quo, dan alergi terhadap inovasi. Sehingga perlu adanya transformasi dalam sistem organisasi publik untuk meningkatkan efektivitas, efisiensi, kemampuan beradaptasi, dan kapasitas dalam berinovasi. Tranrformasi dilakukan dalam tiga hal, yaitu perubahan pemahaman ihwal birokrasi, revitalisasi lingkungan birokrasi, dan pembaruan etos kerja. Kedua, ditaatinya rule of law, yakni aturan main. Birokrasi yang sehat akan melaju mulus dengan berpedoman pada hukum. Asrama atau barak lazimnya memberlakukan aturan dan disiplin (seperti militer) dengan harapan agar siswa menjadi birokrat yang taat hukum. Namun perlu diingat bahwa, birokrat bukan prajurit penembak hukum. Mereka adalah abdi masyarakat yang mesti siap memerangi kebodohan, keterbekangan dan kemiskinan rakyat yang multikultural dan multireligius. Senjata untuk melumpuhkan semua ini bukan otot atau senjata, tetapi otak dan nurani. Tewasnya Wendi Budiman di Jatinang-

or – Sumedang oleh sejumlah Praja IPDN (Pikiran Rakyat Bandung 24-7-07) adalah bukti tidak berfungsinya otak dan nurani dan lemahnya pemahaman budaya lokal. Ketiga, tertanamnya responsiveness atau cepat tanggap. Birokrat yang profesional memiliki kepekaan yang tinggi terhadap kesulitan yang dihadapi masyarakat. Pendidikan birokrat bukan untuk menyiapkan sekelompok elite birokrat yang merasa hebat dan ingin dilayani, tetapi membentuk abdi masyarakat yang memahami rakyat. Karena pemerintah itu ada karena masyarakat. Rakyat memberi wewenang kepada birokrat, jadi bukan untuk melayani birokrat. Itulah demokrasi. Apalagi bila birokrat itu dipilih langsung oleh rakyat. Keempat, memiliki consensus orientation, yakni mengutamakan konsesus daripada kekuasaan. Kunci tercapainya konsesus adalah dialog dan manajemen konflik yang berkesinambungan. Kesalahan terbesar dalam komunikasi politik adalah bahwa partai birokrat menganggap bahwa gagasan mereka telah dipahami publik. Pemerintahan sehat senantiasa berorientasi pada masyarakat. Maka dari itu, disebut “Abdi Masyarakat”. Mestinya birokrat itu berpihak kepada masyarakat bukan birokrasi. Ketika birokrat mementingkan birokrasi dan bukannya mementingkan rakyat maka muncul-lah oligarki yang semakin jauh dari konsesus publik. Kelima, menjunjung equity dan partisipasi. Tata kelola yang sehat memungkinkan partisipasi publik dalam mekanisme birokrasi, sehingga pada dasarnya semua warga negara mendapatkan hak yang sama untuk memilih dan dipilih. Partisipasi kolektif menjadi penting karena seorang pemimpin tidak pernah serbatahu dan segala bisa. Kata kunci dalam hal ini teamwork. Tugas pemimpin adalah mengelola berbagai potensi pada orang lain demi pencapaian tujuan bersama. Dengan demikian, pemimpin yang baik tidak pernah merasa paling berjasa, sebab kesuksesannya itu adalah hasil dari suatu kerja sama yang solid. Keenam, melakukan efisiensi dan efektivitas. Hanya birokrat yang profesional yang mampu bekerja secara efisien dan efektif. Birokrasi akan sulit untuk mencapai keberhasilan bila tidak mengukur hasil kinerjanya. Keuntungan pemerintah yang selalu berorientasi kepada hasil kinerja, antara lain bahwa pemerintah akan dapat membedakan antara keberhasilan dan kegagalan. Kunci utama semua ini adalah penempatan seorang birokrat yang sesuai dengan kemampuannya. Ketujuh, mengupayakan akuntabilitas dan trasparansi. Birokra-

si yang sehat selalu siap mempertanggungjawabkan segala kegiatannya kepada publik. Akuntabilitas akan tercapai bila segala program kerja disusun berdasarkan perencanaan yang baik, disefakati bersama, dan semua pihak memahami aturan main, dengan demikian mudah mengukurnya. Bila kurang cerdas, birokrat tidak akan mampu membuat perencanaan, sehingga segala bentuk program kegiatan menjadi sporadis dan tanpa fokus. Harus diingat, bahwa birokrasi itu merupakan mesin yang “Menggurita”, yang bahan bakarnya justru uang rakyat. Oleh karena itu harus ada transparansi dalam pengelolaannya. Nabi Muhammad SAW mengingatkan kita semua, bila suatu jabatan diserahkan kepada orang yang bukan ahlinya (tidak profesional), maka tunggulah kehancurannya. Tujuh butir diatas adalah indikator birokrasi profesional atau tata kelola yang sehat. Namun, jangan dilupakan bahwa profesionalisme demikian itu hanya tumbuh pada manusia yang memilki kepribadian yang tangguh. Seorang profesional itu bangga terhadap pekerjaannya dan menunjukan komitmen pribadi untuk mencapai kualitas pekerjaan demi kepentingan publik, ia juga seorang yang dapat dipercaya, jujur dan loyal terhadap profesinya. Sikap-sikap demikian itu mesti ditanamkan sejak dini dalam proses pendidikan sebagai pembekalan untuk calon-calon birokrat. Birokrasi itu sendiri adalah konsep yang netral. Bisa profesional atau bobrok, tergantung pada masing-masing individu. Dalam membangun birokrasi profesional atau good governance itu mesti dimulai dengan adanya pendidikan karakter. Nabi Muhammad SAW diakui sebagai pemimpin terbesar dan tokoh yang paling berpengaruh didunia. Ada empat sifat yang melekat pada dirinya sehingga beliau menjadi pemimpin terbesar, yaitu: (1) Benar, tak pernah berdusta, (2) Amanah, tak pernah berkhianat, (3) Cerdas, tidak bodoh, dan (4) Pandai berkomunikasi dengan siapa pun juga. Namun kenyataan dalam praktik keseharian kita di negeri ini, justru ke-empat sifat ini telah diabaikan. Buktinya, banyak birokrat yang memiliki dan bahkan membeli izasah palsu, mengingkari janji-janji kampanye, tidak menguasai aturan main (hukum dan perundang-undangan), dan enggan berkomunikasi dengan kaum akar rumput selaku pemilihnya. Mereka memposisikan diri bukan sebagai abdi masyarakat dan pelayan masyarakat, tetapi ia abdi birokrasi, yakni untuk dirinya, atasannya, dan kelompoknya.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->