P. 1
Pelumasan

Pelumasan

|Views: 981|Likes:
Published by Iwan Ruhiyana

More info:

Published by: Iwan Ruhiyana on Aug 11, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/04/2013

pdf

text

original

BAB I PENDAHULUAN 1.

1 Latar Bekang Pemilihan Judul Kondisi pembangkit sangat ditentukan oleh pemeliharaannya, dengan perawatan yang baik, pembangkit akan dalam kondisi prima. Perawatan yang tergolong sederhana tetapi sangat vital adalah perawatan minyak pelumas. Meski sederhana, jenis perawatan ini sering menyisakan persoalan pemilihan pelumas yang tepat dan hal-hal yang berkaiatan dengan penggantiannya. Pasalnya, pelumas di pasaran tidak hanya berbeda merek tetapi juga memiliki berbagai spesifikasi. Penggunaan minyak pelumas pada unit pembangkit ditujukan untuk mencegah gesekan antar komponen yang bergerak pada tubin-generator. Berbagai kendala akan dihadapi dalam proses pemeliharaan minyak pelumas. Salah satunya adalah kenaikan temperatur pada minyak pelumas. Hal ini menjadi perhatian serius bagi keberlangsungan kinerja pembangkit, karena akan mempengaruhi setiap detail dari komponen pembangkit yang terkait langsung dengan pelumasan, sehingga akan berpengaruh terhadap efisiensi kerja pembangkit. Dengan mempertimbangkan terhadap Kinerja Turbin”. kepentingan tersebut, kami mencoba keterkaitan fungsi mengangkat tema “Pengaruh Kenaikan Temperatur Minyak Pelumas Dengan memahami pelumasan dengan kinerja turbin dharapkan keausan logam akibat gesekan langsung yang disebabkan lemahnya sistem pelumasan, dapat ditanggulangi. Sehingga hasil kerja optimal dari unit pembangkit dapat diperoleh. 1.2 Sumber Data Pendukung Dalam menyusun makalah ini, kami menggunakan berbagai liteatur pendukung, diantara: - Artikel pada internet “Air Cooling System” yang diterbitkan oleh PT.Indonesia Power.

1

- Makalah yang disusun sebagai laporan Kerja Praktek pada PLTA Cirata berjudul “Analisis Kenaikan Temperatur pada Thrust Bearing”. - Hand book yang dikeluarkan oleh PT.PLN Unit Jasa Pelatihan dan Pendidikan Padang tentang “sistem Pelumasan pada Pembangkit”.

1.3 Ruang Lingkup Permasalahan Fungsi Pelumasan dalam Sistem Pembangkit Sistem pelumasan merupakan salah satu bagian penting pada suatu unit pembangkit. Pelumasan digunakan untuk mengurangi keausan peralatan. Keausan pada peralatan diakibatkan oleh adanya sebuah gaya yang menambah gerak gesek antara dua permukaan yang berhubungan atau dengan kata lain diistilahkan dengan gaya gesek. Meskipun permukaan sebuah benda terlihat sangat licin, namun jika diamati dengan mikroskop, akan terlihat tonjolan dan lengkungan. Hal inilah yang menyebabkan adanya suatu tahanan terhadap gerakan yang disebut dengan friction. Gesekan akan menyebabkan aus atau kerugian material pada bagian yang bergerak. Dalam hal ini pelumas berperan dalam mengurangi gesekan dan keausan dengan memisahkan antara kedua permukaan yang bersinggungan, serta merubah gesekan padat menjadi gesekan fluida (gesekan cair). Disamping berfungsi untuk mengurangi gesekan dan keausan, pelumasan juga memiliki peranan dalam: 1. Mengurangi panas. Gesekan pada bagian-bagian yang bergerak akan menghasilkan panas, dimana panas yang berlebihan dapat merusak bagaian-bagaian peralatan. Pelumas berperan sebagai heat transfer akibat gesekan tadi.

2

2. Mengurangi Korosi. Karat dapat ditimbulkan oleh asam, alkaline bahkan air, kemudian karat akan menimbulkan lubang pada permukaan. Dengan adanya lubang tersebut membuat permukaan yang licin menjadi kasar sehingga memperbesar gesekan. Pelumas akan mengatasinya dengan membuat suatu rintangan pengaman antara permukaan dan bahanbahan yang merusak tersebut. 3. Membentuk perapat. Pelumas juga digunakan sebagai perapat untuk mencegah kontaminasi dari luar peralatan. Dalam beberapa hal, pelumasan juga dapat menyerap kotoran yang menyebabkan kerusakan pada peralatan. 4. Mengurangi Kejutan Beban kejut banyak terjadi pada banyak peralatan mesin jika kedua permukaan beradu sangat cepat. Sebagai contog pada gigi-gigi pada roda gigi kecepatan tinggi yang berhubungan satu sama lain. Penggunaan pelumas akan memperkecil kejutan atau benturan pada beban, sehingga mengurangi keausan pada roda gigi tersebut dan bunyi yang ditimbulkan.

3

BAB II ANALISA MASALAH 2.1 Jenis Pelumasan Tiga kelompok utama pelumasan yang digunakan pada unit-unit pembangkit, yaitu: 1. Minyak 2. Grease 3. Pelumas Khusus Dalam bahasa ini kami hanya akan secara khusus membahas Minyak Pelumas. Minyak Pelumas Dua jenis minyak pelumas adalah minyak mineral dan minyak sintesis. Minyak pelumas mineral adalah jenis pelumas yang banyak digunakan pada unit pembangkit dan merupakan hasil sampingan dari penyulingan minyak mentah. Minyak pelumas mineral hasil penyulingan tersebut disaring untuk mengeluarkan senyawa dan benda-benda asing lainnya. Proses ini menghasilkan beberapa tingkat minyak pelumas mineral yang berbeda. Tingkat tersebut ditentukan oleh jumlah proses penyulingan dan jenis minyak mentah yang disuling. Karakteristik Minyak Pelumas Karakteristik dari minyak pelumas menggambarkan kemampuan pelumasannya. Sifat –sifat dari pelumas tersebut adalah: 1. Kekentakan (viscosity) Kekentalan merupakan sifat terpenting dari minyak pelumas, yang merupakan ukuran yang menunjukan tahanan minyal terhadap suatu aliran. Minyak pelumas dengan viskositas tinggi adalah kental, berat dan mengalir lambat. Ia mempunyai tahanan yang tinggi terhadap geraknya sendiri serta lebih banyak gesekan di dalam dari molekul-molekul

4

minyak yang saling meluncur satu diatas yang lain. Jika digunakan pada bagian-bagian mesin yang bergerak, minyak dengan kekekantalan tinggi kurang efisien karena tahanannya terhadap gerakan. Sedangkan keuntungannya adalah dihasilkan lapisan minyak yang tebal selama penggunaan. Minyak dengan kekentalan rendah mempunyai geekan didalam dan tahanan yang kecil terahdap aliran. Suatu minyak dengan kekentalan rendah mengalir lebih tipis. Minyak ini dipergunakan pada bagian peralatan yang mempunyai kecepatan tinggi dimana permukaannya perlu saling berdekatan seperti pada bantalan turbin. Viskositas dapat dinyatakan sebagai tahanan aliaran fluida yang merupakan gesekan antara molekul – molekul cairan satu dengan yang lain. Suatu jenis cairan yang mudah mengalir, dapat dikatakan memiliki viskositas yang rendah, dan sebaliknya bahan– bahan yang sulit mengalir dikatakan memiliki viskositas yang tinggi. Pada hukum aliran viskos, Newton menyatakan hubungan antara gaya – gaya mekanika dari suatu aliran viskos sebagai : Geseran dalam ( viskositas ) fluida adalah konstan sehubungan dengan gesekannya. Hubungan tersebut berlaku untuk fluida Newtonian, dimana perbandingan antara tegangan geser (s) dengan kecepatan geser (g) nya konstan. Parameter inilah yang disebut dengan viskositas. Aliran viskos dapat digambarkan dengan dua buah bidang sejajar yang dilapisi fluida tipis diantara kedua bidang tersebut.

5

Suatu bidang permukaan bawah yang tetap dibatasi oleh lapisan fluida setebal h, sejajar dengan suatu bidang permukaan atas yang bergerak seluas A. Jika bidang bagian atas itu ringan, yang berarti tidak memberikan beban pada lapisan fluida dibawahnya, maka tidah ada gaya tekan yang bekerja pada lapisan fluida. 2. Index kekentalan Kekentalan minyak pelumas akan berubah sesuai keadaan temperatur dan tekanannya. Kekentalan akan berkurang jika temperatur naik. Viskositas index adalah suatu ukuran yang menyatakan berat banyak kekentalan. Jumlah pertambahan kekentalan tersebut dibandingkan dengan kekentalan dari dua jenis minyak yang telah diketahui besarnya. Index kekntalan dinyatakan dari angka 0 sampai 100. Temperatur suatu peralatan sangat menentukan pemilihan jenis minyak pelumas. Jika temperatur kerja minyak terlalu tinggi, maka kekentalannya akan terlalu rendah untuk memberikan pelumasan yang diperlukan. 3. Titik lumer Titik lumer adalah suatu temperatur dimana minyak mulai mengalir. Minyak pelumas yang digunakan didalam suatu sistem pendinginan atau dalam suhu dingin harus mempunyai titik lumer yang rendah

6

4.

Titik nyala Titik nyala adalah suatu temperatur dimana pencampuran uap minyak dengan udara baru mulai terbakar tidak akan menyala.

5.

Titik bakar dan kandungan asam. Titik bakar adalah suatu temperatur dimana minyak akan menyala terus paling sedikit lima detik jika dibakar. Jenis minyak pelumas yang digunakan untuk melayani temperatur tinggi harus mempunyai titik tuang dan titik bakar yang tinggi.

6.

Kandungan Asam Penentuan kandungan asam yang terdapat pada minyak merupakan cara yang baik untuk mengetahui lama penggunaan minyak, dimana jumlahnya dinyakan dengan angka-angka netralisasi keasaman minyak akan bertambah terjadinya Pengukuran penguraian terhadap terhadap jumlah asam sifat-sifat dapat minyak. memberikan

informasi terhadap perlunya penggantian peralatan minyak.

7

2.2 Sistem Pelumasan 1. Sistem Terbuka Suatu sistem pelumasan terbuka memberi minyak pelumas baru kepada permukaan yang bergerak, dan pelumas yang telah digunakan dibuang. 1.1 Pelumasan dengan Tangan Pelumasan dengan tangan adalah sistem pelumasan terbuka yang paling sederhana dan tertua. Pelumasan dengan tangan mempunyai penggunaan yang terbatas pada unit pembangkit dan metode ini untuk kebanyakan penggunaan telah diganti karena adanya hal-hal yang tidak menguntungkan tersebut. Kekurangan dalam sistem pelumasan dengan tangan adalah, kita sulit mengontrol pemasukan kelebihan pelumas, asupan yang sehingga memungkinkan dapat adanya menimbulkan

kebocoran. Begitu pula ketika peralatan mengalami kekurangan pelumas, kita sulit mengetahuinya, sehingga dapat menimbulkan keausan. 1.2 Continous Lubrication Beberapa peralatan digunakan pada unit-unit pembangkit untuk mengurangi kebutuhan akan pelumasan dengan tangan. Peralatan tersebut akan mensuplai sejumlah pelumas secara kontinue pada bagian-bagian peralatan yang bergerak. 2. Sistem Tertutup Sistem pelumasan tertutup menggunakan pelumasan yang sama secara berulang-ulang. Dua jenis sistem pelumasan tertutup, yaitu: 2.1 Nonforced lubrication (Pelumasan tanpa tekanan)

8

2.2 Forced Lubrication (Pelumasan dengan tekanan) Sistem pelumasan paksa menggunakan minyak yang bertekanan untuk melumasi bagian-bagian peralatan yang bergerak. Dalam sistem ini digunakan pompa untuk menekan minyak tersebut 2.3 Kinerja Turbin Bearing digunakan untuk menopang atau menahan beban. Desain dari generator bearing adalah tipe kombinasi yang berarti guide bearing dan trush bearing terletak dalam rumah yang sama. Bearing yang digunakan untuk menyangga poros adalah trush bearing. Bearing di desain dan dikonstruksikan berdasarkan penemuan terakhir dari ilmu gesekan fluida modern. Ketika generator-rotor berputar, permukaan bering tidak saling kontak. Hal ini terkadi akibat adanya pelumasan yang dapat mengangkat beban. Hal yang mempengaruhi keinerja bearing yang secara langsung juga berpengaruh pada kinerja turbin adalah: Timbulnya panas, akibat gesekan pada benda-benda yang bergerak. Korosi, akibat dari kontaminasi zat-zat tertentu yang masuk ke turbin. Kejutan, beban kejut dapat terjadi pada banyak peralatan mesin jika dua permukaan beradu sangat cepat. Beban kejut jelas dapat menimbulkan keausan dan bunyi. 2.4 Pelumasan pada Komponen Pembangkit Pengaruh gaya gesek terhadap kenaikan temperatur minyak pelumas Komponen utama yang dianggap perlu mengalami pelumasan adalah bearing. Bearing dengan beban yang berat atau digunakan pada peralatan dengan start yang lambat dan kecepatan tinggi dapat menimbulkan kenaikan temperatur akibat gesekan.

9

Suatu gaya F dikenakan pada bidang bagian atas yang menyebabkan bergeraknya bidang atas dengan kecepatan konstan v, kemudian diberikan suatu lapisan fluida berupa minyak pelumas, dimana fluida dibawahnya akan membentuk suatu lapisan – lapisan yang saling bergeseran. Setiap lapisan tersebut akan memberikan tegangan geser (s) sebesar F/A yang seragam, dengan kecepatan lapisan fluida yang paling atas sebesar v dan kecepatan lapisan fluida paling bawah sama dengan nol. Maka kecepatan geser (g) pada lapisan fluida di suatu tempat pada jarak y dari bidang tetap. Dengan tidak adanya tekanan fluida menjadi

Pada fluida newtonian perbandingan antara besaran kecepatan geser dan tegangan geser adalah konstan,

dimana parameter (h) ini didefinisikan sebagai viskositas absolut (dinamis) dari suatu fluida. Dengan menggunakan satuan internasional ; N, m2, m, m/s untuk gaya, luas area panjang dan kecepatan, maka besaran viskositas dapat dinyatakan dengan :

10

Untuk mencegah peralatan dari kenaikan temperatur yang tinggi, diperlukan suatu aliran minyak yang terdistribusi dengan cepat, sehingga laju aliran minyak menuju cooler dapat mengadopsi nilai panas dari peralatan tersebut. 2.5 Pengaruh Kenaikan Temperatur Pelumas dengan Kinerja Peralatan Akibat kenaikan temperatur terhadap kinerja pelumas Kenaikan temperatur minyak pelumas sangat mempengaruhi performace dari sistem pelumasan. Kenaikan temperatur yang berada diluar temperatur kerjanya sangat merugikan. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya viskositas merupakan parameter penting dari

11

pelumasan. Viskositas pelumas ini sangat tergantung pada kerjanya. Besaran viskositas berbanding terbalik dengan perubahan temperatur. Kenaikan temperatur akan melemahkan ikatan antar molekul suatu jenis cairan sehingga akan menurunkan nilai viskositasnya. Sehingga karakteristik viskositas minyak pelumas yang sangat bergantung pada temperatur lingkungannya (indeks viskositas). Suatu minyak pelumas dianggap memiliki indeks viskositas yang baik, jika pada suhu rendah, komponen pelumasan tidak mengalami kesulitan untuk melakukan start (saat kondisi minyak pelumas kental), dan pada saat suhu tinggi saat mesin telah bekerja, bagian – bagian antar mesin tidak bergesekan secara langsung (saat kondisi minyak pelumas menjadi encer). Minyak pelumas seharusnya memiliki selisih viskositas yang kecil saat suhu rendah dan tinggi. Sejalan dengan waktu pemakaiannya, maka rentang selisih minyak pelumas pada suhu tinggi dan rendahnya akan semakin melebar, yang berarti minyak pelumas sudah tidak layak lagi untuk digunakan. Pengaruh rendahnya viskosity terhadap kinerja peralatan Dalam hal pelumasan, kenaikan temperatur yang berlebihan jelas menurunkan nilai viskositas pelumasnya, sehingga tidak dapat memberikan pelumasan yang diperlukan, akibatnya kenaikan temperatur pada komponen dan rusaknya geometri pada komponen (bearing). Semakin kecil harga viskositas pelumas maka tinggi film pelumas akan semakin berkurang. Hal ini dapat kita lihat bahwa semakin kecil harga viskositas, maka performance number akan semakin kecil pula. Kenaikan temperatur yang disebabkan rendahnya kinerja pendingin mengakibatkan suhu pada stator generator, minyak bantalan dan bantalan pada generator dan turbin naik. Kenaikan suhu komponenkomponen tersebut pada limit tertentu (overheat) mengakibatkan unit trip. Di bawah ini adalah tabel limit overheat komponen-komponen di atas yang mengakibatkan terjadinya pemberhentian darurat (emergency trip). unit

12

Lebih jelasnya, berkurangnya index viskositas akibat kenaikan temperatur akan menimbulkan kontak yang lebih dekat antar komponenkomponen yang saling menekan akibat tidak mampunya fluida menahan gaya gesek (gaya gesek dihadapi langsung oleh logam). Khususnya pada bearing dan poros, kondisi seperti itu akan mengakibatkan rugi gesek yang demikian besar, sehingga berakibat pada naiknya torsi pembebanan pada turbin. Hal inilah yang kemudian akan mengakibatkan unit pembangkit mengalami gangguan, hingga akhirnya menjadi trip jika tidak segera ditanggulangi.

13

Temperatur

H2 (o C) Temperatur trip

H1 (o C) Temperatur alarm 65 65 80 80 85 110

L1 (o C)

L2 (o C)

Turbin guide bearing oil Turbin guide bearing Generator guide bearing Generator thrust bearing Generator bearing oil Stator

70 70 85 85 90 117

10 10 10 10 20 -

5 5 5 5 10 -

2.6 Analisa Kenaikan Tempetarur Pelumas Pendekatan teori dan perhitungan mengapa hal tersebut terjadi. Kenaikan temperatur sangat mungkin terjadi, jika range temperatur kerja antara temperatur masuk (T1) dengan temperatur keluar (T2) melebihi harga yang direncanakan. Pada saat pelumasan tersebut didinginkan (seharusnya pelumasan mengalami perubahan temperatur dari T2 kembali ke T1) menjadi T1’ (yang harganya lebih tinggi dari T1). Hal ini biasa terjadi karena untuk transfer panas dari T2 ke T1 melebihi kemampuan dari cooler. Akibatnya temperatur pelumas masuk (T1) melebihi harga yang seharusnya (T1’). Demikian juga temperatur keluar, akan memiliki harga T2’ yang lebih tinggi dari T2. Demikian seterusnya peristiwa ini berlangsung, sehingga temperatur pelumas akan terus mengalami kenaikan.

14

BAB III PEMECAHAN MASALAH
3.1 Prosedur Sistem Pelumasan Setiap sistem pelumasan didalam unit pembangkit harus mempunyai suatu prosedur. Prosedur pelumasan adalah suatu dokumen tertulis yang menguraikan syarat-syarat pelumas dari suatu sistem. Prosedur sistem pelumasan tersebut biasanya akan menunjukan atau memberitahukan: Temperatur dan tekanan kerja Jenis pelumas yang digunakan Berapa kali sistem pelumas tersebut membutuhkan pemeliharaan kondisi atau penggantian. 3.2 Pendinginan Minyak Pelumas Pendingin minyak berfungsi untuk menyerap panas pada minyak sebagai akaibat adanya gesekan pada bearing atau bagian-bagian peralatan yang bergerak lainnya. Seperti halnya temperatur minyak yang meninggalkan bearing turbin adalah lebih kurang 160oF. Pendingin minyak akan menurunkan temperatur tersebut menjadi lebih kurang 120oF untuk digukan kembali. Oil cooler adalah alat yang digunakan sebagai heat transfer pada minyak pelumas. Oil cooler merupakan bejana dengan pipa-pipa. Air dingin dialirkan melalui bagian dalam pipa-pipa. Minyak dipompakan ke dalam bejana dan sekeliling pipa. Panas yang terdapat dalam minyak dipindahkan kepipa dan dan diserap oleh air. Pada jenis pendingin minyak yang lain, minyak dialirkan melalui pipa-pipa dengan air berada didalam tabung tesebut. 3.3 Tindakan Pencegahan Memelihara pelumasan peralatan dengan tepat adalah sangat penting. Perlu diingat bahwa pelumas dapat hilang daya pelumasannya

15

dengan menggunakannya, hal ini disebut dengan terurai. Hal tersebut mungkin disebabkan karena adanya pencemaran, seperti debu batu bara atau air yang masukkedalam minyak, atau kehilangan suatu bahan tambahan. Panas yang berlebihan atau pencemaran dapat menyebabkan hilangnya penyaringan minyak tersebut. 3.4 Pemeliharaan Kondisi Minyak Pemeliharaan kondisi minyak berfungsi mengeluarkan kotoran untuk membersihkan minyak dan memurnikannya. Kontaminasi pada minyak mengurangi sifat-sifat melumas dan dapat menyebabkan gesekan da keausanyang tinggi. Beberapa contoh zat yang menyebabkan kontaminasi minyak adalah air, pasir, partilel-partikel logam, karat, abu dan lain-lain. Pada unti pembangkit ada beberapa cara yang digunakan untuk memelihara kondisi minyak, diantaranya: Settling tanks (tanki penandan) Settling tanks dapat mengeluarkan air dan bahan-bahan padat dari dalam minyak dengan menggunakan pengaruh gravitasi bumi. Gaya gravitasi akan menengelamkan zat yang memiliki padatan lebih tinggi. Contonya, air lebih padat dari pada mineral, sehingga air akan mengendap ke dasar tangki pengendap, demikian juga lumpur dan bahan pencemar lainnya. Saringan Minyak (oil filter) Saringan minyak dapat menyaring bahan-bahan yang dapat mencemari minyak. Alat ini terdiri dari bahan-bahan penyaring, meliputi: metal screen, kawat kasa, selulosa tanah liat, bulu kempa (felt) dan kertas. Cara kerjanya dengan mengalirkan minyak kotor melalui suatu saluran, maka saringan akan menyaring atau menahan bahan-bahan pencemaran membiarkan minyak melaluinya.

16

BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Sistem pelumasan dengan menggunakan minyak pelumas merupakan sebuah cara efektif untuk mengatasi berbagai akibat dari pergerakann (perputaran) pada unit pembangkit yang berlangsung secara kontinue. Pergerakan tersebut jelas menimbulkan masalah-masalah pada kinerja turbin yang diwakili oleh peranan bearing, seperti: Timbulnya panas, akibat gesekan pada benda-benda yang bergerak. Korosi, akibat dari kontaminasi zat-zat tertentu yang masuk ke turbin. Kejutan, beban kejut dapat terjadi pada banyak peralatan mesin jika dua permukaan beradu sangat cepat. Beban kejut jelas dapat menimbulkan keausan dan bunyi. Permasalahan tersebut dapat diatasi dengan menerapkan sistem pelumasan tepat guna. Dengan memperhatikan kinerja minyak pelumas, yang salah satunya adalah temperatur. Temperatur minyak pelumas perlu dilihat secara lebih dekat (dengan teliti) untuk menjaminkerja secara memadai. Suatu penambahan temperatur dapat berarti gangguan pada sistem pendingin minyak, gesekan yang berlebihan pada bearing, sirkulasi minyak yang tidak baik. Pada batasan tertentu kenaikan temperatur dapat melebehi kapasitas (overheating). Kenaikan suhu komponen-komponen tersebut pada limit tertentu (overheat) mengakibatkan unit trip dan menmungkinkan terjadinya pemberhentian darurat unit (emergency trip). Saran Unit pembangkit harus mempunyai progran yang menjamin bahwa semua peralatan dilumasi secara tepat dan terus menerus. Hal-hal yang berkenaan dengan program pencegahan adalah:

17

-

Semua permukaan yang saling menekan dan bergesekan harus Pelumasan yang digunakan hendaknya sesuai dengan peralatan Pelumasan tambahan sebaiknya selalu ada didalam gudang Rencana pelumasan hendaknya dikembangkan untuk setiap

dilumasi yang bersangkutan

peralatan Rencana tersebut meliputi, tipe pelumas, tempat dan jumlah pelumas yang diperlukan, dan syarat-syarat untuk mengganti pelumas yang telah digunakan. Minyak peluma yang baru dibeli harus ditest untuk memastikan Minyak pelumas harus diperiksa dan jika perlu kocok sebelum Minyak harus disimpan secara hati-hati untuk mencegah pelumas telah tepat dengan grade atau tipenya. digunakan. pencemaran. Tanki minyak harus dibersihkan sebelum digunakan kembali. Secara periodik, contoh minyak harus diambil dari setiap bagian mesin untuk ditest. Hasil testyang tidak memuaskan hendaknya diteliti untuk kemudian diperbaiki.

18

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->