PEDOMAN PENDALAMAN ALKITAB SEKOLAH SABAT DEWASA PENuNTuN guru PENEBuSAN DALAM KITAB rOMA

OLEH DON F. NEuFELD

JuLI, AguSTuS, SEPTEMBEr 2010

1

Daftar Isi
1. Paulus dan Kitab roma —26 Juni-2 Juli 2. Yahudi dan Yunani —3-9 Juli 3. Semua Orang Telah Berbuat Dosa —10-16 Juli 4. Dibenarkan Oleh Iman —17-23 Juli 5. Pembenaran dan Hukum —24-30 Juli 6. Menjelaskan Iman —31 Juli-6 Agustus 7. Kemenangan Atas Dosa —7-13 Agustus 8. Manusia roma 7 —14-20 Agustus 9. Kemerdekaan Dalam Kristus —21-27 Agustus 10. Penebusan bagi Orang Yahudi dan Bangsa Lain —28 Agustus-3 September 11. Pemilihan Berdasarkan Kasih Karunia —4-10 September 12. Kasih dan Hukum Taurat —11-17 September 13. Semua yang Lain adalah Komentar —18-24 September

Alamat Penyunting Kotak Pos 1188 Bandung 40011 Tlp: (022) 6030392, 8606284 Fax (022) 6027784 E-mail: iph.editor@gmail.com No. PSS/SSD3/2010 Penulis Pelajaran Don F. Neufeld Penerjemah Pdt. Dr. R. A. Sabuin Ketua Pengarah J. Lubis Ketua Bidang usaha A. Ricky Editor R. M. Hutasoit Editor Pelaksana S. P. Silalahi Anggota redaksi R. C. A. Raranta J. Pardede Pemasaran S. P. Rakmeni Telp. dan Fax.: (022) 86062842 Hp. 085214082639 E-mail: sirkulasi_iph@yahoo.com sprakmeni2005@yahoo.com Penerbit: Yayasan Indonesia Publishing House Jl. Raya Cimindi No. 72 Bandung 40184

Hubungi kami di Website: http://www.absg.adventist.org

Pedoman Pendalaman Alkitab Sekolah Sabat Dewasa ini disediakan oleh Departemen Pedoman Pendalaman Alkitab, Kantor Pusat Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh Sedunia. Penyediaan penuntun ini berada di bawah bimbingan umum Komite Evaluasi Naskah Sekolah Sabat sedunia, di mana para anggotanya melayani sebagai editor penasihat. Pedoman yang diterbitkan ini mencerminkan masukan dari komite tersebut dengan demikian tidak sepenuhnya atau harus mengikuti pendapat (para) penulis.

2

Daftar Versi Alkitab
Ayat-ayat Alkitab dalam Pedoman Pendalaman Alkitab Sekolah Sabat Dewasa Triwulan III tahun 2010 ini dikutip dari Alkitab Terjemahan Baru (Jakarta LAI, 2000), kecuali diberi tanda sebagai berikut: NASB. Dari New American Standard Bible, Copyright © oleh Lockman Foundation, 1960, 1962, 1963, 1968, 1971, 1972, 1973, 1975, 1977. Digunakan dengan izin. NIV. Ayat-ayat yang diambil dari NIV adalah berasal dari Kitab Suci, New International Version. Copyright © 1973, 1978, 1984, International Bible Society. Digunakan dengan izin oleh Zondervan Bible Publishers. NKJV. Ayat-ayat yang diambil dari NKJV adalah berasal dari New King James Version. Copyright © 1979, 1980, 1982 oleh Thomas Nelson inc. Digunakan dengan izin. Hak sepenuhnya. rSV. Ayat-ayat yang dikreditkan kepada RSV berasal dari Alkitab Revised Standard Version, copyright © 1946, 1952, 1971 oleh Bagian dari Pendidikan Kristen di National Council of the Churches of Christ di U.S.A. Digunakan dengan izin. Hak cipta dilindungi.

Penebusan Dalam Kitab roma
Tadinya dia seorang biarawan yang sangat tekun. “Saya adalah seorang biarawan yang sangat alim, dan mengikuti aturan-aturan ordo saya dengan sangat ketat lebih daripada yang dapat saya ungkapkan. Jika saja seorang biarawan bisa masuk surga karena perbuatan-perbuatan kebiaraannya, tentu saya layak mendapatkannya. Jika saya masih bertahan lebih lama lagi, bisa saja saya telah menjalani penyiksaan diri bahkan sampai kematian.” Namun demikian, apa pun perbuatan-perbuatan serta penyiksaan diri yang dilakukannya, biarawan itu tidak pernah merasakan perkenanan Allah, tidak pernah percaya bahwa dia cukup baik untuk diselamatkan. Keputusasaan pribadinya begitu hebat sampai serta merta mulai membinasakannya secara mental dan fisik, karena—percaya dalam kenyataan murka Allah—dia takut pada kemungkinan bahwa dia harus menghadapinya. Lagi pula, siapakah yang tidak akan menghadapinya? Kemudian suatu hari, melalui pendalaman Alkitabnya, sebuah ayat terbaca olehnya yang tidak mengubah hidupnya saja tetapi juga sejarah dunia ini. “Orang benar akan hidup oleh iman” (Roma 1:17). Matanya pun terbuka: perkenanan Allah atasnya bukanlah berdasar pada perbuatan-perbuatannya, bukan pada penyiksaan diri yang dilakukannya, bukan pada tindakan-tindakannya melainkan pada jasa Kristus. Setelah itu dia tidak pernah lagi rapuh terhadap penyesatan-penyesatan sebuah teologi yang menem3

patkan harapan keselamatan pada dasar lain selain daripada kebenaran Kristus yang diberikan kepada orang percaya hanya melalui iman. Biarawan itu tentu saja adalah Martin Luther, yang digunakan Allah untuk memulai pergerakan keagamaan terbesar dalam sejarah Kristen: Reformasi Protestan. Bagi Luther, semuanya berawal dari Kitab Roma, topik pelajaran triwulan ini. Tidak mengejutkan bahwa pergerakan Protestan melawan Roma dimulai dengan kitab Roma (cukup ironis), karena kitab ini telah memainkan sebuah peran kunci dalam sejarah pemikiran Kristen. Semua pergerakan besar dalam Kekristenan yang kembali pada Injil yang murni dan kepada tema “pembenaran oleh iman” selalu mendapat cikal bakalnya dari surat Paulus kepada orangorang Roma. Surat ini berisi sebuah suguhan teologis lengkap dari hal Injil dan pengharapan yang diberikannya bagi umat manusia yang telah jatuh. Sementara kita mempelajari Kitab Roma, kita akan mengikuti sebuah aturan penting, yaitu: kita akan berusaha menemukan apa yang dimaksudkan oleh perkataan Alkitab bagi orang-orang untuk siapa perkataan itu pertama kali ditujukan. Kita akan mempelajari ayat-ayat tersebut dalam konteksnya saat itu; kemudian, setelah itu, kita akan menemukan apa maknanya bagi kita sekarang ini. Ini bukan berarti ada perubahan makna dari ayat-ayat tersebut; sebaliknya, kebenaran yang diajarkan oleh Firman Allah perlu diaplikasikan pada keadaankeadaan masa kini dari orang-orang yang membacanya. Dengan demikian, pertama-tama kita harus mencari tahu apa makna perkataan Paulus kepada orang-orang Kristen di Roma; Apakah yang dia katakan pada mereka saat itu, dan mengapa? Paulus mempunyai alasan tertentu untuk menulis kepada jemaat itu. Ada beberapa isu tertentu yang ia mau jelaskan, tetapi kebenaran-kebenaran besar yang diajarkannya menjelaskan isu-isu tersebut tidak terbatas pada para pembaca pertama saat itu saja. Sebaliknya, perkataan-perkataan tersebut telah menggema melintasi berabad-abad, mengajarkan jutaan orang kabar ajaib Injil dan doktrin dasarnya, yaitu pembenaran oleh iman. Terang inilah, terang dari Kitab Roma, yang telah mengusir kegelapan yang mengungkung Luther dan jutaan orang lainnya, terang yang menyatakan kepada mereka bukan saja kebenaran besar tentang Kristus yang mengampuni orang-orang berdosa tetapi juga tentang kuasa Kristus untuk membersihkan mereka dari dosa. Terang dari kitab itulah yang pada triwulan ini akan kita paparkan bagi diri kita sementara kita pelajari tema besar keselamatan hanya oleh iman sebagaimana yang dinyatakan dalam kitab Roma. Pelajaran triwulan ini didasarkan atas sebuah karya masa lalu oleh Don Neufeld (1914-1980), yang pernah melayani sebagai wakil editor Adventist Review selama 13 tahun (1967-1980) dan sebagai salah satu editor seri SDA Bible Commentary.

4

Pelajaran 1

*26 Juni–2 Juli 2010

Paulus dan Kitab roma
Sabat Petang
BAcA uNTuK PELAJArAN PEKAN INI: Kisah 28:17-31; Roma 1:7; 15:14, 20-27; Efesus1; Filipi 1:12. AYAT HAFALAN: “Pertama-tama aku mengucap syukur kepada Allahku oleh Yesus Kristus atas kamu sekalian, sebab telah tersiar kabar tentang imanmu di seluruh dunia” (Roma 1:8).

S

eharusnya, dalam mempelajari Kitab Roma, setelah mempelajari latar belakang sejarahnya, kita mesti mulai dengan Roma 1:1 dan kemudian dilanjutkan dengan seluruh kitab itu ayat demi ayat. Namun karena waktu yang diberikan untuk mempelajari kitab ini hanya satu triwulan, kita harus selektif terhadap bagian-bagian yang kita dapat pelajari. Sebenarnya dibutuhkan waktu empat triwulan untuk mempelajari kitab ini, bukan hanya satu. Itulah sebabnya, hanya pasal-pasal utama, di mana pekabaran dasar itu terdapat, yang akan dibahas. Sangatlah penting bagi seorang pelajar Kitab Roma untuk mengerti latar belakang sejarah kitab ini. Tanpa latar belakang tersebut, akan sulit bagi si pelajar untuk mengetahui apa yang Paulus sedang katakan. Paulus menulis kepada sekelompok orang Kristen tertentu pada saat tertentu untuk alasan tertentu; mengetahui sebanyak mungkin alasan tersebut akan sangat menolong kita belajar. Dalam imajinasi kita, kita harus beranjak ke masa lalu, membawa diri kita ke Roma, menjadi anggota jemaat di sana, dan kemudian sebagaimana anggotaanggota jemaat di abad pertama, kita mendengarkan Paulus dan perkataan yang diberikan Roh Kudus kepadanya pada saat itu. Ajaibnya, sekalipun dituliskan pada zaman dulu dalam konteks yang sama sekali berbeda, kitab tersebut mengandung pekabaran-pekabaran yang relevan bagi umat Allah masa kini, di setiap negeri dan dalam hampir semua situasi. Oleh karena itu, kita perlu memperhatikan dengan penuh doa kata-kata yang tertulis di dalam kitab itu dan menerapkannya dalam kehidupan kita. *Pelajari pelajaran pekan ini sebagai persiapan untuk Sabat, 3 Juli.

5

Minggu
WAKTu DAN TEMPAT

27 Juni

Roma 16:1, 2 menunjukkan bahwa kemungkinan Paulus menulis Kitab Roma di Kota Kengkrea, dekat pelabuhan timur Korintus, di Yunani. Disebutkannya Febe, seorang penduduk di Korintus besar, mengukuhkan tempat itu sebagai kemungkinan latar belakang bagi surat kepada orang-orang Roma itu. Salah satu tujuan menetapkan kota asal dari surat-surat di Perjanjian Baru adalah untuk memastikan waktu penulisan. Karena Paulus banyak mengadakan perjalanan, mengetahui di mana dia berada pada suatu saat tertentu memberikan kita sebuah petunjuk tentang waktu penulisan. Paulus mendirikan jemaat di Korintus dalam perjalanan misinya yang kedua, tahun 49-52 M. (lihat Kisah 18:1-18). Pada perjalanannya yang ketiga, tahun 53-58 M., dia mengunjungi lagi Yunani (Kisah 20:2, 3), dan pada saat itu dia menerima sebuah persembahan bagi umat Tuhan di Yerusalem dekat pada akhir perjalanannya itu (Roma 15:25, 26). Dengan demikian, surat kepada jemaat di Roma kemungkinan besar ditulis pada bulan-bulan pertama tahun 58 M. Apakah jemaat-jemaat penting lainnya yang telah dikunjungi Paulus dalam perjalanan misinya yang ketiga? Kisah 18:23. Saat mengunjungi jemaat-jemaat di Galatia, Paulus menemukan bahwa selama ketidakhadirannya banyak guru palsu yang telah meyakinkan anggota jemaat untuk menyerahkan diri disunat dan memelihara aturan-aturan hukum Musa. Takut kalau para penentangnya tiba di Roma sebelum dia tiba, Paulus kemudian menulis sebuah surat (Kitab Roma) untuk mencegah tragedi serupa terjadi di Roma. Diduga surat kepada jemaat di Galatia juga ditulis dari Korintus selama Paulus tinggal tiga bulan dalam perjalanan misinya yang ketiga, kemungkinan tidak lama setelah ia tiba. “Dalam surat kirimannya kepada orang-orang Roma, Paulus mengemukakan prinsip-prinsip Injil yang agung itu. Ia menyatakan kedudukannya atas pertanyaanpertanyaan yang menghasut kaum Yahudi dan gereja kafir, serta menunjukkan bahwa pengharapan dan janji-janji yang dikhususkan kepada bangsa Yahudi kini diberikan juga kepada orang-orang kafir.”—Ellen G. White, Alfa dan Omega, jld. 7, hlm. 314. Seperti yang kita katakan, dalam mempelajari kitab apa saja dalam Alkitab, adalah penting untuk mengetahui mengapa kitab itu ditulis; yakni, situasi apa yang sedang dibahas di dalamnya. Itu sebabnya, untuk pengertian kita tentang Surat kepada Jemaat di Roma adalah penting untuk mengetahui masalah-masalah apa yang telah merisaukan jemaat-jemaat Yahudi maupun Yunani. Pelajaran pekan depan akan membahas masalah-masalah ini. Masalah-masalah seperti apakah yang sedang merisaukan jemaat Anda sekarang ini? Apakah ancaman-ancaman itu lebih banyak datang dari dalam atau dari luar? Peranan apakah yang Anda sedang lakukan dalam masalahmasalah tersebut? Berapa seringkah Anda berhenti menanyakan peranan, posisi, serta sikap Anda dalam pergumulan apa pun yang sedang Anda hadapi? Mengapa jenis ujian pribadi seperti ini begitu penting?

6

Senin
SENTuHAN PrIBADI

28 Juni

Surat atau pun kunjungan pribadi mempunyai perannya tersendiri. Itu sebabnya Paulus, sekalipun menulis kepada jemaat di Roma, menyatakan dalam surat itu bahwa ia bermaksud mengunjungi mereka secara pribadi. Dia mau mereka tahu bahwa dia sedang berusaha datang dan mengapa. Baca roma 15:20-27. Alasan-alasan apakah yang Paulus berikan bahwa dia tidak mengunjungi roma lebih awal? Apakah yang membuat dia memutuskan untuk datang seperti yang ia rencanakan? Berapa pentingkah misi bagi dia dalam penjelasannya? Apakah yang dapat kita pelajari tentang misi dan bersaksi dari perkataan Paulus di ayat ini? Pokok penting apakah yang Paulus berikan dalam ayat 27 tentang orang Yahudi maupun orang Yunani? ________________________________________________________________ ______________________________________________________________ Misionaris kawakan bagi bangsa-bangsa lain itu merasa terus-menerus didorong untuk membawakan Injil ke wilayah-wilayah yang belum pernah dimasuki sebelumnya, membiarkan orang lain bekerja di wilayah-wilayah di mana Injil telah diteguhkan. Pada masa Kekristenan masih muda dan para pekerja hanya sedikit, bagi Paulus adalah sebuah pemborosan sumberdaya jika seorang misionaris bekerja di wilayah-wilayah yang telah dimasuki. Ia berkata, “Dan dalam pemberitaan itu aku menganggap sebagai kehormatanku, bahwa aku tidak melakukannya di tempat-tempat, di mana nama Kristus telah dikenal orang, supaya aku jangan membangun di atas dasar, yang telah diletakkan orang lain,” sehingga “mereka, yang tidak pernah mendengarnya, akan mengertinya” (Roma 15:20, 21). Bukanlah tujuan Paulus untuk tinggal di Roma. Tujuannya adalah untuk menginjili Spanyol. Dia berharap untuk mendapatkan dukungan dari orangorang Kristen di Roma bagi rencananya itu. Prinsip penting apakah yang dapat kita ambil bagi kita tentang pekerjaan Injil dari kenyataan bahwa Paulus meminta bantuan dari jemaat yang telah berdiri agar bisa mengabar Injil di wilayah baru? ________________________________________________________________ ______________________________________________________________ Baca lagi ayat-ayat di roma 15:20-27. Perhatikan betapa inginnya Paulus melayani; yaitu, kerinduannya yang besar adalah untuk melayani dan mengabdi. Apakah yang memotivasi Anda dan tindakan-tindakan Anda? Berapa besarkah Anda miliki hati yang suka melayani? 7

Selasa
PAuLuS TIBA DI rOMA

29 Juni

“Setelah kami tiba di roma, Paulus diperbolehkan tinggal dalam rumah sendiri bersama-sama seorang prajurit yang mengawalnya” (Kisah 28:16). Apakah yang ayat ini katakan pada kita tentang bagaimana akhirnya Paulus tiba di roma? Pelajaran apakah yang bisa kita tarik dari hal ini tentang perkara-perkara yang tidak diharapkan dan tidak diinginkan yang sering datang menimpa kita? Hidup bisa saja diwarnai perubahan-perubahan yang aneh. Sering rencanarencana kita, bahkan yang sudah kita rancang dengan maksud-maksud yang terbaik, tidak terjadi seperti yang kita perkirakan dan rencanakan. Memang benar pada akhirnya Rasul Paulus tiba di Roma, tetapi mungkin tidak seperti yang dia harapkan. Pada saat Paulus tiba kembali di Yerusalem di akhir perjalanan misinya yang ketiga dengan membawa persembahan bagi orang-orang miskin yang dikumpulkannya dari jemaat-jemaat di Eropa dan Asia Kecil, peristiwa-peristiwa yang tak diharapkan telah menantinya. Dia ditangkap dan dirantai. Setelah menjadi narapidana selama dua tahun di Kaisarea, dia naik banding ke Kaisar. Sekitar tiga tahun setelah penangkapannya, dia tiba di Roma, dan (bisa kita duga) tidak dalam cara yang diinginkannya, seperti yang dia tuliskan beberapa tahun sebelumnya kepada jemaat di Roma tentang maksudnya mengunjungi mereka. Apakah yang ayat-ayat berikut ini katakan tentang waktu Paulus di roma? Lebih penting lagi, pelajaran apakah yang dapat kita pelajari dari ayat-ayat tersebut? Kisah 28:17-31. ________________________________________________________________ ______________________________________________________________ “Bukan oleh khotbah Paulus, tetapi oleh belenggunya, sehingga perhatian pengadilan itu tertarik kepada Kekristenan. Adalah sebagai suatu tawanan sehingga ia melepaskan dari begitu banyak jiwa ikatan-ikatan yang telah menahan mereka dalam perhambaan dosa. Ini belum seluruhnya. Ia menyatakan: ‘Dan kebanyakan saudara dalam Tuhan telah beroleh kepercayaan karena pemenjaraanku untuk bertambah berani berkata-kata tentang firman Allah dengan tidak takut.’ Filipi 1:14.”—Ellen G. White, Alfa dan Omega, jld. 7, hlm. 391. Berapa kalikah Anda mengalami perubahan-perubahan yang tak diharapkan dalam hidup Anda, yang pada akhirnya justru membawa kebaikan? (Lihat Filipi 1:12). Bagaimanakah pengalaman-pengalaman itu bisa dan seharusnya memberikan Anda iman untuk bersandar pada Allah dalam hal-hal di mana tak ada tanda-tanda kebaikan bakal muncul? 8

Rabu
DIPANggIL MENJADI “OrANg-OrANg KuDuS”

30 Juni

Inilah salam Paulus kepada jemaat di roma: “Kepada kamu sekalian yang tinggal di roma, yang dikasihi Allah, yang dipanggil dan dijadikan orangorang kudus: Kasih karunia menyertai kamu dan damai sejahtera dari Allah, Bapa kita, dan dari Tuhan Yesus Kristus” (Roma 1:7). Apakah prinsip-prinsip kebenaran, teologi, dan iman yang bisa kita petik dari perkataan ini? Dikasihi Allah. Benar bahwa Allah mengasihi dunia ini, namun dalam arti khusus Allah mengasihi mereka yang telah memilih Dia, mereka yang telah menyambut kasih-Nya. Hal ini terlihat dalam ruang lingkup manusia. Kita mengasihi secara khusus mereka yang mengasihi kita; dengan mereka ada pertukaran rasa kasih yang berbalas-balasan. Kasih meminta respons. Bila respons tidak ada, kasih itu terbatas dalam ungkapannya yang paling penuh. Dipanggil menjadi orang-orang kudus. Dalam beberapa terjemahan anak kalimat “menjadi” tertera dalam huruf miring, yang berarti bahwa si penerjemah telah menambahkan kata-kata tersebut. Tetapi sekalipun dihilangkan, maknanya masih tetap utuh. Bila dihilangkan, maka ungkapan itu akan bermakna “orang-orang kudus yang terpanggil”; yaitu “orang-orang kudus yang terpilih.” Orang-orang kudus adalah terjemahan dari kata Yunani hagioi, yang secara harfiah berarti “orang-orang kudus.” Kudus artinya “dikhususkan.” Orang kudus adalah seseorang yang telah “diasingkan khusus” oleh Allah. Boleh jadi orang tersebut masih harus melalui perjalanan panjang penyucian, tetapi fakta bahwa orang tersebut telah memilih Kristus sebagai Tuhan menentukan dia sebagai seorang kudus dalam makna Alkitabiah tentang istilah tersebut. Paulus berkata bahwa mereka “dipanggil dan dijadikan orang-orang kudus.” Apakah ini berarti ada orang yang tidak dipanggil? Bagaimanakah Efesus 1:4, Ibrani 2:9, dan 2 Petrus 3:9 menolong kita memahami apa yang dimaksudkan Paulus? Berita akbar tentang Injil adalah bahwa kematian Kristus bersifat universal; kematian itu adalah untuk semua umat manusia. Semua orang telah dipanggil untuk diselamatkan di dalam Dia, “dipanggil dan dijadikan orang-orang kudus” bahkan sebelum dasar dunia ini diletakkan. Maksud semula Allah adalah agar semua manusia mendapatkan keselamatan ini dalam Yesus. Api neraka terakhir itu dimaksudkan hanya bagi Iblis dan malaikat-malaikatnya (Matius 25:41).Tidak bersedianya beberapa orang untuk menerima apa yang ditawarkan tidak mengurangi sedikit pun keajaiban pemberian itu bagi seseorang yang dengan penuh rasa lapar memanfaatkan kelimpahan upah luar biasa yang terdapat di dalamnya.

Pikirkan: Bahkan sebelum dasar dunia ini diletakkan, Allah telah memanggil Anda untuk mendapatkan keselamatan di dalam Dia. Mengapa Anda tidak boleh membiarkan apa pun menghalangi Anda menyambut panggilan itu? 9

Kamis
rEPuTASI DuNIA

1 Juli

“Pertama-tama aku mengucap syukur kepada Allahku oleh Yesus Kristus atas kamu sekalian, sebab telah tersiar kabar tentang imanmu di seluruh dunia” (Roma 1:8). Tidak diketahui bagaimana jemaat di Roma didirikan. Tradisi bahwa jemaat itu didirikan oleh Petrus atau Paulus tidak mempunyai dasar sejarah. Mungkin kaum awam yang mendirikannya, yaitu orang-orang yang bertobat pada hari Pentakosta di Yerusalem (Kisah 2) yang mengunjungi dan pindah menetap di Roma. Atau mungkin saja para petobat periode selanjutnya yang pindah ke Roma memberikan kesaksian iman mereka di ibu kota dunia tersebut. Mengejutkan juga bahwa beberapa dasawarsa setelah Pentakosta, satu jemaat yang tampaknya belum pernah dikunjungi seorang rasul menjadi begitu terkenal. “Betapapun perlawanan yang ada, dua puluh tahun setelah penyaliban Kristus, di Roma ada sebuah jemaat yang hidup dan sungguh-sungguh. Jemaat ini kuat dan bersemangat, dan Tuhanlah yang mendirikannya.”—Komentar Ellen G. White, The SDA Bible Commentary, jld. 6, hlm. 1067. “Iman” di sini bisa saja mencakup pengertian yang lebih luas tentang kesetiaan; yaitu kesetiaan kepada cara hidup yang baru yang telah mereka temukan dalam Kristus. Baca roma 15:14. Bagaimanakah dalam ayat ini Paulus menggambarkan jemaat di roma? Ada tiga pokok yang Paulus pilih sebagai hal yang patut dicatat tentang pengalaman orang-orang Kristen di Roma: 1. “Penuh dengan kebaikan.” Apakah orang akan mengatakan hal yang sama perihal pengalaman hidup kita? Bilamana mereka bergaul dengan kita, kelimpahan kebaikan dalam diri kitakah yang menarik perhatian mereka? 2. “Dengan segala pengetahuan.” Alkitab berulang-ulang menekankan pentingnya pencerahan, informasi, dan pengetahuan. Orang-orang Kristen diharapkan belajar Alkitab dan mempunyai informasi yang memadai tentang ajaranajarannya. “Perkataan, ‘kamu akan Kuberikan hati yang baru,’ artinya ‘pikiran yang baru akan Kuberikan kepadamu.’ Sebuah perubahan hati selalu disertai dengan sebuah keyakinan yang jelas tentang kewajiban Kristen, sebuah pengertian akan kebenaran.”—Ellen G. White, My Life Today, hlm. 24. 3. “Sanggup untuk saling menasihati.” Tak seorang pun dapat bertumbuh secara rohani jika menjauhkan diri dari sesama umat percaya. Kita perlu bisa memberi dorongan pada orang lain, dan pada saat yang sama, dikuatkan oleh orang lain. Bagaimanakah jemaat Anda? reputasi seperti apakah yang dimilikinya? Atau, jangan-jangan tidak ada reputasi sama sekali? Apakah yang dicerminkan oleh jawaban Anda tentang jemaat Anda? Lebih penting lagi, jika perlu, bagaimanakah Anda dapat menolong memperbaiki situasi itu? 10

Jumat

2 Juli

PELAJArI SELANJuTNYA: Baca Ellen G. White, “The Mysteries of the Bible,” hlm. 706, dalam Testimonies for the Church, jld. 5; “Keselamatan bagi Orang Yahudi,” Alfa dan Omega, jld. 7, hlm. 313-321. Baca juga The SDA Bible Dictionary, hlm. 922; dan The SDA Bible Commentary, jld. 6, hlm. 467, 468. “Meskipun tampaknya terpisah dari pekerjaan yang giat, Paulus memberikan pengaruh yang lebih luas dan lebih tahan lama daripada kalau ia bebas mengadakan perjalanan di antara sidang-sidang sebagaimana pada tahun-tahun sebelumnya. Sebagaimana seorang tahanan Tuhan, ia mempunyai pegangan yang lebih teguh kepada kasih saudara-saudaranya; perkataannya, yang ditulis oleh seorang yang terikat untuk nama Kristus, mempunyai perhatian dan kehormatan yang besar daripada yang mereka punyai bila ia berada dengan mereka secara pribadi. ”—Ellen G. White, Alfa dan Omega, jld. 7, hlm. 382, 383. “Untuk melihat didirikannya iman Kristen yang teguh di pusat dunia yang besar dan terkenal itu adalah merupakan salah satu dari harapan-harapan dan rencanarencana yang dikasihi dan dihargai. Sidang telah didirikan di Roma, dan rasul itu rindu untuk bisa bekerja sama dengan umat percaya di sana dalam pekerjaan yang dilaksanakan di Italia dan di banyak negara lain. Untuk menyediakan jalan bagi pekerja-pekerja di antara saudara-saudara, banyak di antara mereka yang masih asing kepadanya, ia mengirimkan surat kepada mereka mengumumkan maksud dan pengharapannya untuk mengunjungi Roma dan menanamkan standar salib di Spanyol”—Ellen G. White, Alfa dan Omega, jld. 7, hlm. 314. “Allah yang kekal itu sudah menarik garis perbedaan di antara orang suci dan orang berdosa, di antara orang yang bertobat dan yang tidak bertobat. Kedua kelompok ini tidak bisa bercampur satu sama lain dengan tidak kelihatan, seperti warna satu pelangi, melainkan sama nyatanya seperti siang hari dan tengah malam.”—Ellen G. White, Messages to Young People, hlm. 390.
n ulangi pertanyaan di akhir pelajaran hari Kamis. Bagaimanakah caranya kelas Anda menolong meningkatkan reputasi jemaat Anda, jika memang perlu? o Dalam kelas, bagikan berbagai pengalaman tentang bagaimana suatu situasi yang awalnya tampak menakutkan tetapi justru mendatangkan kebaikan? Bagaimanakah Anda menggunakan pengalaman-pengalaman tersebut untuk menolong orang lain yang sedang bergumul dengan berbagai malapetaka yang tidak diharapkan? p renungkan lagi pendapat bahwa kita telah dipanggil untuk memperoleh keselamatan bahkan sebelum dasar dunia ini diletakkan (lihat juga Titus 1:1, 2; 2 Timotius 1:8, 9). Mengapa pernyataan ini sangat menguatkan? Apakah yang dikatakan hal ini tentang kasih Allah bagi semua manusia? Jika demikian, mengapa begitu tragis jika orang menolak dan meninggalkan apa yang telah diberikan kepada mereka dengan cuma-cuma?

PErTANYAAN-PErTANYAAN uNTuK DISKuSI:

11

PENuNTuN guru 1
Ringkasan Pelajaran Ayat Inti: Romans 1:8

Anggota Kelas akan:

¾ Mengetahui: Menggambarkan minat Paulus terhadap jemaat di Roma. ¾ Merasakan: Menghargai pengaruh setiap jemaat dalam penyebaran Injil. ¾ Melakukan: Bertekad untuk mengambil bagian bekerja bersama jemaat dalam misi sedunianya.

garis Besar Pelajaran:

I. Mengetahui: Dipanggil Menjadi Orang-orang Kudus A. Sekalipun Paulus mengadakan banyak perjalanan, meneguhkan pekerjaan Injil di wilayah-wilayah yang belum dimasuki sebelumnya, bagaimanakah suratnya kepada jemaat di Roma mencatat kepeduliannya bagi satu jemaat yang belum pernah ia kunjungi? B. Apakah yang ditunjukkan oleh kepedulian Paulus mengenai visinya bagi Injil?

II. Merasakan: Dikenal Karena Iman Mereka A. Karena Roma adalah pusat kekaisaran, jemaat di Roma memegang satu peran penting dalam mempengaruhi penyebaran Injil. Karena jemaat itu telah mapan dalam pengajaran Injil (Roma 15:14), apakah yang telah menggerakkan Paulus sehingga telah menulis surat tersebut? B. Pengaruh apakah yang kira-kira dimiliki jemaat Anda dalam pekerjaan Injil sedunia? Pekabaran apakah yang Anda anggap penting untuk menguatkan jemaat Anda dalam perannya itu? III. Melakukan: Bekerja dengan Leluasa Sekalipun Dirantai A. Ketika pada akhirnya Paulus datang ke Roma, dia dirantai. Bagaimanakah keadaannya itu menolong memusatkan perhatian bukan saja orang-orang Roma tetapi juga sesamanya orang Kristen akan keunggulan Injil? B. Bagaimanakah berbagai keadaan kehidupan Anda telah menyanggupkan Anda memberi sumbangsih pada pekerjaan gereja? rANgKuMAN: Sekalipun Paulus belum pernah mengunjungi Roma sebelumnya, dia mendapatkan bantuan jemaat itu dalam mendirikan satu dasar yang baik untuk memajukan Injil ke seluruh kekaisaran.

12

Langkah Belajar

LANGKAH 1—Motivasi
Konsep Utama UntUK pertUmbUhan rohani: Seperti Paulus, yang mengkhotbahkan Kristus dan kebenaran-Nya melalui surat, secara langsung bahkan sekalipun dirantai, misi kehidupan kita haruslah kesehatan serta kemajuan gereja sedunia. KhUsUs UntUK GUrU: Gunakan kegiatan pembuka ini untuk menolong kelas Anda mengerti visi global Paulus. Kegiatan Pembuka: Perjalanan misi Paulus yang ketiga dari Antiokhia, melalui apa yang kita ketahui sebagai Turki sekarang ini, menuju ke Yunani dan kembali ke Yerusalem, mencakup sekitar dua ribu tujuh ratus mil (4,350 km) melalui darat dan laut. Perjalanan itu memakan waktu lebih dari empat tahun, sekalipun tiga tahun di antaranya dihabiskan di Efesus. Galatia saat itu baru saja ditambahkan ke dalam Kekaisaran Roma, sekitar 100 tahun sebelum kitab Roma ditulis pada tahun 57 atau 58 M. Paulus berhenti di banyak tempat dalam perjalanannya yang penuh semangat itu untuk mengunjungi jemaat-jemaat yang telah didirikannya pada perjalanan-perjalanan sebelumnya. Dia juga menulis sejumlah surat kepada berbagai jemaat selama perjalanannya. Dari Efesus dia menulis surat pertama untuk Jemaat Korintus; dari Makedonia dia menulis surat kedua untuk Jemaat Korintus; dan, dari Korintus, dia menulis surat kepada jemaat di Galatia dan di Roma. Kemungkinan besar salah satu alasan dia menulis ke Roma adalah untuk meminta bantuan jemaat itu untuk satu perjalanan yang lebih berambisi lagi ke Spanyol. Dengan menggunakan peta Indonesia, perkirakan perjalanan Paulus dalam satu jarak yang dapat dipahami anggota kelas Anda. Contohnya, 2,700 mil itu kurang lebih sama dengan jarak dari Banda Aceh sampai Jayapura. Dari situs di bawah ini, cetak beberapa gambar kota kuno Efesus, Korintus, dan Roma, untuk membantu anggota kelas membayangkan kota-kota besar dan indah namun penuh penyembahan berhala di zaman Paulus: http://www.cathydeaton.com/Concise%20Bible%20Atlas%209-2006%20 No%2038.htm http://catholic-resources.org/AncientRome/ PIKIrKAN: Orang seperti apakah Paulus sehingga bisa menempuh berbagai perjalanan dan berusaha mengetahui perkembangan masalah yang terjadi pada semua jemaat Kristen yang tersebar luas di kekaisaran itu? Apakah hasrat yang membara dalam hidupnya? Bagaimanakah hasrat Paulus menolong kita memahami lebih baik seperti apakah seharusnya hasrat kita bagi gereja? 13

LANGKAH 2—Selidiki
KhUsUs UntUK GUrU: Untuk mengerti tantangan-tantangan yang dihadapi Paulus dan jemaat-jemaat Kristen yang masih muda yang digembalakannya di Roma, dan juga di wilayah-wilayah lainnya di Kekaisaran Roma, penting untuk menyelidiki bersama kelas Anda lingkungan budaya di mana Paulus berada dan bekerja. Komentar Alkitab I. Zaman dan Budaya (Baca Roma 16:1, 2 dan Kisah 18:23 bersama kelas Anda). Efesus, di mana Paulus tinggal selama tiga tahun pada perjalanan misinya yang ketiga sebelum melanjutkan perjalanan ke Makedonia dan Korintus, adalah sebuah kota besar dan indah karena marmer putihnya. Selama berabad-abad para jenderal dan pemerintah dari berbagai zaman telah membangun tugu-tugu dan kuil-kuil bagi dewa-dewi bahkan kaisar-kaisar. Akan tetapi Artemis, dewi kelahiran, adalah pusat penyembahan berhala yang paling terkenal. Sebuah kuil bagi Artemis, empat kali lipat Parthenon di Yunani, adalah salah satu dari tujuh keajaiban dunia saat itu, dan penjualan ilah-ilah bagi peziarah dari seantero dunia adalah sebuah sumber pendapatan yang besar. Tidak heran Paulus tinggal begitu lama di jalan lintas Asia ini, karena minatnya dalam menyebarkan Injil sampai ke ujung dunia. Keonaran yang ditimbulkan seorang pengrajin perak, yang merasa bahwa ajaran-ajaran Paulus mengancam perdagangan di kota itu, sehubungan dengan penyembahan berhala, telah mengakibatkan kepergian Paulus dari Efesus (Kisah 19). Penyembahan berhala merajalela di setiap kota yang dikunjungi Paulus. Selain itu ada tantangan-tantangan lain pula. Surat Paulus ke Jemaat Korintus, ditulis dari Efesus, menyebutkan tentang kebejatan moral yang meluas, bukan saja dalam masyarakat tetapi juga telah merayap masuk ke dalam jemaat. Korintus bahkan merupakan satu jalan lintas yang lebih besar lagi bagi banyak bangsa. Kota itu mempunyai dua pelabuhan dan makmur, penuh dengan arsitektur yang indah, termasuk sebuah kuil bagi Apollo, dan kebanyakan dihuni oleh para pendatang yang telah mandiri. Paulus tinggal di kota ini selama 18 bulan dan bekerja sebagai seorang pembuat tenda, dan dari sinilah dia menulis kepada jemaat di Roma. Bila Korintus dan Efesus itu sudah besar, terkenal, dan indah, Roma bahkan lebih luas dan lebih penting. Roma berpenduduk satu juta orang dan merupakan pusat perdagangan kekaisaran. Minat Paulus pada jemaat di Roma paling tidak disebabkan oleh letak serta pengaruh kota tersebut, khususnya karena Paulus telah berencana untuk mengadakan perjalanan melintasi Roma menuju ke Spanyol untuk menginjil bagian dunia tersebut. PIKIrKAN: Keuntungan-keuntungan apakah yang dimiliki jemaat-jemaat di kota seperti Efesus, Korintus, dan Roma sebagai pusat pekerjaan Injil sedunia? Tantangan-tantangan khusus apakah yang dihadapi jemaatjemaat yang dikelilingi oleh penyembahan berhala serta kebejatan moral kehidupan kota? 14

II. Sebuah reputasi yang Baik (Baca Roma 15:14 dengan kelas Anda). Sementara Paulus belum pernah mengunjungi Roma ataupun mendirikan gereja di situ, dia telah mendengar tentang reputasi jemaat tersebut. Tidak seperti surat-surat ke Korintus, Paulus tidak memberi teguran-teguran keras kepada anggota-anggota jemaat di Roma. Dia menyebutkan “kebaikan,” dan “kesanggupan,” orang-orang Kristen di Roma, bahwa mereka “penuh dengan segala pengetahuan” (Roma 15:14). Paulus berharap agar orang-orang Kristen di Roma akan menerima gagasannya untuk menginjili dunia. Untuk tujuan inilah dia menulis surat kepada jemaat di Roma, menggambarkan prinsip-prinsip utama Injil. Dengan meyakinkan dia menyatakan bahwa sebuah penerapan praktis dari Injil telah menghadapi tantangan-tantangan yang juga dihadapi oleh jemaat-jemaat Kristen yang dikelilingi oleh budaya-budaya kafir, penyembahan berhala dan kebejatan moral. Karena gereja saat itu masih bayi, ada juga tantangan-tantangan sehubungan dengan peralihan dari tradisi Yahudi kepada pola pikir Kekristenan. Tradisi Yahudi telah begitu lama berakar pada pola hidup manusia sehingga tujuan mula-mula mereka yang saleh telah disalahmengerti atau dilupakan oleh banyak orang. Akan tetapi kepercayaan atau praktik-praktik apa saja yang harus dipelihara atau harus ditiadakan, sehubungan dengan penggenapan lambang dalam kematian Kristus, selalu tidak jelas. Sebuah penjelasan yang tegas tentang dasar Injil sangat dibutuhkan bagi pengembangan gereja yang masih muda. PIKIrKAN: Sekalipun jemaat di Roma tidak didirikan oleh salah seorang rasul yang terkenal, jemaat itu sehat dan bertumbuh, dan Allah ada di dalamnya. Tantangan apakah yang dihadapi jemaat-jemaat tanpa tersedianya kepemimpinan yang terlatih? Bagaimanakah tantangan-tantangan ini diatasi? III. Melayani Sekalipun Dirantai (Baca Kisah 28:17-31 dengan kelas Anda). Akhirnya Paulus tiba di Roma tetapi tidak sebagai seorang merdeka. Sekalipun diborgol, Injil Kristus yang selalu ada dalam hatinya, dan selalu menjadi beban nasihat yang terus-menerus dalam surat-suratnya, telah dikumandangkan dengan berani kepada semua orang yang mau mendengar. Dari Romalah dia menulis surat-suratnya kepada jemaat di Efesus, Filipi, Kolose, dan kepada Filemon. PIKIrKAN: Bagaimanakah kesukaran-kesukaran mempengaruhi pengertian Paulus tentang misi?

LANGKAH 3—Terapkan

KhUsUs UntUK GUrU: Sebagaimana pada zaman Paulus, jemaat-jemaat besar sering terletak di kota-kota metropolitan sehingga mereka harus berbuat banyak untuk mendukung perkembangan jemaat-jemaat yang lebih muda dan lebih sedikit anggotanya di wilayah-wilayah yang lebih terpencil. Namun demikian, tantangan-tantangan selalu ada di setiap wilayah. Gunakanlah pertanyaan-pertanyaan di bawah ini untuk menolong kelas Anda memikirkan bukan saja tantangan-tantangan yang dihadapi oleh gereja secara global tetapi juga peran gereja di dunia secara keseluruhan. 15

pertanyaan-pertanyaan renUnGan: » Kota-kota dan wilayah-wilayah apakah dewasa ini yang paling berpengaruh bukan saja dalam perdagangan materi tetapi juga ekspor gagasan dan ide-ide yang mempengaruhi dunia? Bagaimanakah gereja dewasa ini memanfaatkan posisi dan pengaruh saluran-saluran budaya ini untuk menyebarkan Injil Kristus ke seluruh dunia? Tantangan-tantangan apakah terhadap pertumbuhan jemaat-jemaat yang sehat yang ada di kota-kota besar zaman ini? Tantangan-tantangan apakah yang dihadapi jemaat-jemaat yang lebih muda di tempat-tempat terpencil? ¼ Penjelasan-penjelasan yang lugas tentang prinsip-prinsip Injil sama pentingnya pada zaman ini sebagaimana bagi jemaat-jemaat di zaman Paulus. Tantangan-tantangan apakah yang dihadapi jemaat-jemaat yang dapat ditanggulangi dengan sebuah pernyataan “demikianlah firman Tuhan?” Apakah sumber-sumber pengetahuan dan dukungan yang telah diberikan Allah bagi kita di zaman ini?

LANGKAH 4—Ciptakan

KHuSuS uNTuK guru: Sarankan ide-ide berikut ini untuk membantu anggota kelas Anda mempraktikkan pelajaran pekan ini sepanjang mingguminggu atau bulan-bulan mendatang.

» Rencanakan perjalanan misi Anda sendiri di sekeliling Anda. Siapakah di antara para tetangga dan anggota masyarakat Anda yang telah Anda rencanakan untuk mengenal dan menguatkan imannya? Rencanakan serangkaian kunjungan sepanjang beberapa bulan ke depan untuk mengembangkan kontak menjadi hubungan yang nyata. ¼ Kembangkan sebuah pelayanan menulis di mana Anda menggunakan suratsurat dan kartu-kartu untuk membagikan iman Anda di masyarakat Anda, dalam pelayanan di penjara, ataupun di seluruh dunia. ½ Cari tahu rencana-rencana perjalanan misi yang sedang dibuat oleh sekolah-sekolah atau kelompok-kelompok jemaat di konferens Anda. ShareHim (http://global-evangelism.org/php/index.php) adalah salah satu sumber program penginjilan internasional di mana Anda bisa terlibat. Anggota-anggota tertentu di kelas Anda atau kelas itu secara keseluruhan dapat mengikuti sebuah proyek misi untuk didukung, atau rencanakan proyek Anda sendiri. ¾ Sementara Anda merenungkan hasrat untuk menyebarkan Injil yang telah membakar kehidupan Paulus, pekabaran khusus apakah yang Anda miliki mengajak Anda mengabdikan hidup Anda? Beri tantangan pada anggota kelas Anda untuk menyelidiki pasal-pasal kesayangan mereka tentang pernyataan misi Paulus dan gunakan ayat-ayat itu untuk merancang pernyataan misi mereka sendiri. ¿ Bagian-bagian manakah tepatnya dari tulisan-tulisan Paulus yang menggambarkan semangatnya yang mendalam untuk misinya? Pilihlah salah satu tulisan itu untuk dibacakan di akhir kelas Sekolah Sabat Anda. 16

Pelajaran 2

*3-9 Juli 2010

Yahudi dan Yunani
Sabat Petang
BAcA uNTuK PELAJArAN PEKAN INI: Imamat 23; Matius. 19:17; Kisah 15:1-29; Galatia 1:1-12; Ibrani 8:6; Wahyu 12:17. AYAT HAFALAN: “Sebab hukum Taurat diberikan oleh Musa, tetapi kasih karunia dan kebenaran datang oleh Yesus Kristus” (Yohanes 1:17).

rang-orang pertama yang bertobat kepada Kekristenan semuanya adalah orang Yahudi, dan Alkitab Perjanjian Baru tidak memberikan indikasi bahwa mereka diminta meninggalkan praktik sunat atau mengabaikan hari-hari raya Yahudi. Tetapi ketika bangsa-bangsa lain mulai menerima Kekristenan, muncullah pertanyaan-pertanyaan penting. Apakah mereka harus menyerahkan diri untuk disunat? Seberapa jauhkah mereka harus memelihara hukum-hukum Yahudi lainnya? Akhirnya, sebuah rapat diadakan di Yerusalem untuk menyelesaikan masalah tersebut (Lihat Kisah 15). Sekalipun telah dibuat keputusan oleh rapat agar tidak meresahkan mereka dari bangsa lain dengan berbagai aturan dan hukum, beberapa guru terus saja mengacaukan jemaat-jemaat dengan memaksakan agar orang-orang yang bertobat dari bangsa-bangsa lain dituntut untuk memelihara aturan-aturan serta berbagai hukum itu, termasuk sunat. Dalam beberapa cara, masalah-masalah seperti itu ada di zaman sekarang, hanya dalam bentuk yang berbeda. Berapa seringkah kita, sebagai umat Advent, dituduh sebagai pengikut agama Yahudi, atau legalis, karena kesetiaan kita kepada Sepuluh Firman (atau, dalam kenyataannya, kesetiaan kita kepada hukum Sabat)? Berapa seringkah kita mendengar bahwa kita sekarang berada di bawah Perjanjian Baru, oleh sebab itu hukum (perintah Sabat) telah dihapuskan? Di lain pihak, sering kita sebagai suatu gereja ditentang oleh mereka yang memaksakan kepada kita lebih banyak aturan serta ketetapan-ketetapan dari Alkitab Perjanjian Lama. Oleh karena itu, Kitab Roma sudah tentu mempunyai sebuah pekabaran penting bagi kita zaman ini, sebagaimana juga bagi jemaat di Roma zaman dahulu. *Pelajari pelajaran pekan ini untuk Sabat, Juli 10. 17

O

Minggu
JANJI YANg LEBIH TINggI

4 Juli

Baca Ibrani 8:6. Apakah pekabarannya di sini? Apakah yang dimaksudkan dengan “janji yang lebih tinggi” itu? Mungkin perbedaan terbesar antara agama Perjanjian Lama dengan agama Perjanjian Baru adalah kenyataan bahwa era Perjanjian Baru didahului oleh kedatangan Mesias, Yesus dari Nazaret. Dia diutus Allah untuk menjadi Juruselamat. Manusia tidak bisa mengabaikan Dia lalu berharap untuk diselamatkan. Hanya melalui pendamaian yang disediakan-Nya dosa-dosa mereka bisa diampuni. Hanya oleh diperhitungkannya kepada mereka hidup-Nya yang sempurna itulah mereka sanggup berdiri di hadapan Allah tanpa hukuman. Dengan kata lain, keselamatan adalah melalui kebenaran Yesus, bukan yang lain. Orang-orang kudus Perjanjian Lama melihat ke depan kepada berkat-berkat zaman Mesias dan janji keselamatan itu. Di masa Perjanjian Baru, banyak orang dihadapkan dengan pertanyaan, Apakah mereka mau menerima Yesus dari Nazaret yang telah diutus Allah sebagai Mesias, Juruselamat mereka? Jika mereka percaya kepada-Nya—yaitu, jika mereka menerima Dia sebagaimana adanya Dia dan menyerahkan diri mereka kepada-Nya—mereka akan diselamatkan melalui kebenaran yang diberikan-Nya kepada mereka dengan cuma-cuma. Sementara itu, tuntutan-tuntutan moral tetap tidak berubah dalam Perjanjian Baru, karena semua itu didasarkan atas tabiat Allah dan Kristus. Penurutan kepada hukum moral Allah adalah bagian dari Alkitab Perjanjian Baru sebagaimana juga Perjanjian Lama. Baca Matius 19:17; Wahyu 12:17, 14:12; dan Yakobus 2:10, 11. Apakah yang dikatakan ayat-ayat ini kepada kita tentang hukum moral dalam Perjanjian Baru? Pada saat bersamaan, dihentikanlah keseluruhan hukum ritual dan upacara yang khusus untuk orang Israel, yang terikat kepada sistem Perjanjian Lama, yang kesemuanya itu menunjuk pada Yesus dan kematian serta pelayanan-Nya sebagai Iman Besar, gantinya sebuah aturan baru diperkenalkan, yaitu yang berdasarkan atas “janji yang lebih tinggi.” Menolong baik orang Yahudi maupun bangsa lain untuk mengerti apa yang terlibat dalam peralihan dari Yudaisme kepada Kekristenan adalah salah satu tujuan utama Paulus dalam kitab Roma. Peralihan tentu saja membutuhkan waktu. Apakah janji-janji kesukaan Anda dalam Alkitab? Berapa seringkah Anda menuntutnya? Pilihan-pilihan apakah yang Anda sedang buat yang bisa menjadikan janji-janji tersebut digenapi dalam hidup Anda? 18

Senin
BErBAgAI HuKuM DAN ATurAN YAHuDI

5 Juli

Jika waktu mengizinkan, telusurilah kitab Imamat. (Lihat, contohnya, Imamat 12, 16, 23). Pokok-pokok apakah yang muncul di benak Anda sementara membaca semua aturan, ketetapan, dan tatacara itu? Mengapa banyak di antaranya yang mustahil diterapkan di masa Alkitab Perjanjian Baru? Kita bisa mengelompokkan hukum-hukum Alkitab Perjanjian Lama ke dalam beberapa kategori: (1) hukum moral, (2) hukum upacara, (3) hukum sipil, (4) berbagai ketetapan dan pertimbangan, dan (5) hukum-hukum kesehatan. Pengelompokan ini sedikit dipaksakan, karena kenyataannya, beberapa dari kategori ini berkaitan satu sama lain, dan ada cukup banyak tumpang tindih. Orang zaman dulu tidak melihat hukum-hukum itu terpisah dan berbeda. Hukum moral dirangkum oleh Sepuluh Perintah (Keluaran 20:1-17). Hukum ini merangkum ketetapan-ketetapan moral bagi umat manusia. Kesepuluh titah ini dijabarkan dan diterapkan dalam berbagai ketetapan dan pertimbangan di seluruh lima kitab pertama Alkitab. Penjabaran-penjabaran tersebut menunjukkan apa arti memelihara hukum Allah dalam berbagai keadaan. Yang juga berkaitan adalah hukum-hukum sipil. Hukum-hukum tersebut juga didasarkan atas hukum moral. Hukum-hukum tersebut mengatur hukuman seorang warga negara dengan pemerintah sipil dan dengan sesama warga negara. Di dalamnya juga disebutkan sanksi-sanksi bagi berbagai pelanggaran. Hukum upacara mengatur tatacara di bait suci, menguraikan berbagai macam persembahan dan tanggung jawab setiap warga negara. Hari-hari raya juga dirinci dan cara pemeliharaannya dijelaskan. Hukum-hukum kesehatan tumpang tindih dengan hukum-hukum yang lain. Berbagai hukum yang mengatur tentang kenajisan menjelaskan arti kenajisan dalam kerangka upacara, namun lebih dari itu mencakup juga prinsip-prinsip higienis dan kesehatan. Hukum tentang daging binatang yang haram dan halal juga didasarkan atas pertimbangan-pertimbangan jasmani. Bilamana mungkin seorang Yahudi berpikir bahwa keseluruhan hukum ini adalah sebuah paket, karena semuanya berasal dari Allah, orang itu harus membuat perbedaan-perbedaan tertentu dalam pikirannya. Sepuluh Perintah itu diucapkan Allah langsung kepada umat itu. Hukum ini harus diasingkan secara khusus dan penting. Hukum-hukum yang lain diberikan melalui Musa. Tatacara dalam bait suci bisa dipelihara hanya ketika sebuah bait suci masih berfungsi. Hukum-hukum sipil, paling tidak sebagian besar, tidak bisa lagi dipaksakan setelah orang-orang Yahudi kehilangan kemerdekaan mereka dan berada di bawah kendali sipil bangsa lain. Banyak dari ketetapan-ketetapan upacara tidak bisa lagi dipelihara setelah bait suci itu dihancurkan. Juga, setelah Mesias datang, banyak dari lambang-lambang itu telah mendapat penggenapannya sehingga tidak lagi mempunyai keabsahan. 19

Selasa

Juli 6

“APAKAH YANg HAruS AKu PErBuAT, SuPAYA AKu SELAMAT?”

Baca Kisah 15:1. Apakah isu yang menyebabkan pertikaian? Mengapa ada orang yang percaya bahwa hal ini bukan hanya untuk bangsa Yahudi? Lihat Kejadian 17:10. Sementara para rasul bersatu dengan para pelayan dan anggota-anggota jemaat di Antiokhia dalam usaha yang sungguh-sungguh untuk memenangkan banyak jiwa bagi Kristus, beberapa orang percaya dari kalangan Yahudi yang berasal dari Yudea “dari golongan Farisi” berhasil dalam mengetengahkan sebuah pertanyaan yang begitu menyebarluaskan pertentangan dalam jemaat dan membawa kegundahan bagi orang-orang percaya dari bangsa lain. Dengan begitu meyakinkan para guru ini menegaskan bahwa untuk diselamatkan seseorang harus disunat dan harus memelihara seluruh hukum upacara. Lagi pula, orangorang Yahudi selama ini selalu menyombongkan diri atas upacara-upacara mereka yang memang ditentukan Allah, dan banyak dari mereka yang telah bertobat kepada iman akan Kristus masih merasa bahwa oleh karena Allah yang dulu dengan jelas menjabarkan tata ibadah orang Ibrani, maka tidaklah mungkin Dia akan mengesahkan sebuah perubahan sekalipun dalam hal-hal yang rinci. Mereka ngotot bahwa hukum-hukum Yahudi adalah upacara-upacara yang harus diikutsertakan dalam ritus agama Kristen. Mereka lamban untuk melihat bahwa semua persembahan korban hanyalah melambangkan kematian Anak Allah, di mana lambang telah digenapi oleh yang dilambangkannya, dan setelah itu semua ritus dan upacara agama di zaman Musa tidak lagi mengikat. Baca Kisah 15:2-12. Bagaimanakah perselisihan itu diselesaikan? “Sementara dia mencari tuntunan langsung daripada Allah, dia selalu mengakui kekuasaan tetap berada dalam tubuh orang-orang percaya yang telah dipersatukan dalam persekutuan sidang. Dia merasakan kebutuhan nasihat, dan bila hal-hal yang penting timbul, dia dengan gembira menghadapkannya di muka sidang dan bersatu dengan saudara-saudara dalam memohon kebijaksanaan surga untuk mengambil keputusan-keputusan yang benar.”—Ellen G. White, Alfa dan Omega, jld. 7, hlm. 169, 170. Hal yang menarik bahwa Paulus, yang sering berbicara tentang panggilan kenabiannya dan bagaimana Yesus telah memanggil dia dan mengamanatkan misi yang harus dilaksanakannya, begitu rela bekerja dengan tubuh jemaat yang lebih besar. Artinya, apa pun panggilannya, dia sadar bahwa dirinya adalah bagian dari jemaat secara keseluruhan dan bahwa dia perlu bekerja sama sedapat mungkin. Apakah sikap Anda terhadap kepemimpinan gereja? Seberapa bekerja samakah Anda? Mengapa kerja sama begitu penting? Bagaimanakah pekerjaan berfungsi baik jika masing-masing melakukan hanya apa yang diinginkannya, terpisah dari tubuh yang lebih besar itu? 20

Rabu

7 Juli

“JANgAN MENANgguNgKAN BEBAN YANg LEBIH BESAr”
Baca Kisah 15:5-29. Keputusan apakah yang diambil oleh rapat tersebut, dan apakah alasan mereka? Keputusan itu ternyata berlawanan dengan tuntutan para penganut agama Yahudi. Orang-orang ini memaksakan para petobat dari bangsa lain untuk disunat serta memelihara seluruh hukum upacara, dan agar “hukum-hukum Yahudi dan upacara-upacaranya harus dimasukkan ke dalam tatacara agama Kristen.”— Ellen G. White, Alfa dan Omega, jld. 7, hlm. 160. Hal menarik untuk melihat dalam ayat 10 bagaimana Petrus menyebut hukumhukum lama ini sebagai sebuah “kuk” yang tidak sanggup mereka pikul. Akankah Tuhan, yang menetapkan hukum-hukum tersebut, menjadikannya sebuah kuk pada umat-Nya? Tentu saja tidak. Melainkan, sudah bertahun-tahun beberapa pemimpin, melalui tradisi-tradisi lisan mereka, telah mengubah banyak hukum, yang tadinya dimaksudkan untuk menjadi berkat, justru menjadi beban. Rapat tersebut berusaha untuk mengecualikan bangsa-bangsa lain dari berbagai beban itu. Perhatikan juga, bahwa tidak disebutkan dan tidak ada pertanyaan apakah bangsa lain tidak perlu menurut Sepuluh Firman. Lagi pula, bisakah kita bayangkan rapat tersebut yang meminta mereka tidak makan darah, tetapi memperkenankan mereka melalaikan perintah-perintah menentang perzinaan atau pembunuhan dan sejenisnya? Peraturan-peraturan apakah yang diwajibkan pada orang-orang percaya dari bangsa lain (Kis. 15:20, 29), dan mengapa harus hal tertentu itu? Walaupun orang-orang percaya dari kalangan Yahudi tidak memaksakan aturan-aturan serta tradisi mereka kepada bangsa-bangsa lain, rapat itu ingin memastikan bahwa bangsa-bangsa lain tidak melakukan hal-hal yang justru menyinggung orang-orang Yahudi yang telah dipersatukan dengan mereka di dalam Yesus. Itulah sebabnya para rasul dan penatua setuju untuk memerintahkan bangsa-bangsa lain dalam sebuah surat untuk menahan diri dari daging yang telah dipersembahkan kepada berhala, dari percabulan, dari binatang yang mati dicekik, dan dari darah. Ada yang berkata bahwa karena pemeliharaan hari Sabat tidak secara rinci disebutkan, maka hari itu bukan untuk bangsa-bangsa lain (tentu saja, perintah-perintah menentang dusta dan pembunuhan juga tidak disebutkan secara rinci, dengan demikian argumen itu omong kosong belaka). Dapatkah kita, dalam beberapa hal, sedang meletakkan beban-beban pada banyak orang yang sebenarnya tidak penting tetapi hanya merupakan tradisi dan bukannya perintah Ilahi? Jika ya, bagaimana? Bagikan pendapat Anda dengan kelas pada hari Sabat). 21

Kamis
AJArAN SESAT DI gALATIA

8 Juli

Walaupun petunjuk itu telah begitu jelas, masih saja ada orang yang berusaha bertindak semaunya dan terus mempertahankan bahwa mereka yang dari bangsa-bangsa lain harus memelihara berbagai tradisi dan hukum Yahudi. Bagi Paulus, ini suatu hal yang serius; artinya, itu bukanlah suatu hal sepele terhadap pokok-pokok penting iman. Sebaliknya hal itu telah menjadi sebuah penyangkalan akan Injil Kristus itu sendiri. Baca galatia 1:1-12. Berapa seriuskah Paulus melihat isu yang sedang dihadapinya di galatia? Apakah yang kita pelajari tentang pentingnya masalah tersebut? Sebagaimana dinyatakan sebelumnya, situasi di Galatialah yang paling banyak mencetuskan isi surat kepada jemaat di Roma. Dalam surat kepada jemaat di Roma, Paulus lebih lanjut mengembangkan tema surat Galatia. Para penganut agama Yahudi menegaskan bahwa hukum yang telah diberikan Allah kepada mereka melalui Musa adalah penting dan harus dipelihara oleh para petobat dari bangsa lain. Paulus sedang berusaha untuk menunjukkan tempat dan fungsi yang sebenarnya dari hukum itu. Adalah satu hal yang terlalu sederhana untuk bertanya apakah di Kitab Galatia dan Roma, Paulus sedang berbicara tentang hukum upacara atau hukum moral. Dari tinjauan sejarahnya, argumennya adalah apakah para petobat dari bangsa lain harus diwajibkan untuk disunat dan memelihara hukum Musa ataukah tidak perlu. Rapat di Yerusalem telah menjawab pertanyaan ini, tetapi masih ada yang menolak untuk mengikuti keputusan rapat. Ada yang membaca dalam surat-surat Paulus kepada jemaat Galatia dan Roma bukti bahwa hukum moral, Sepuluh Perintah (atau, sebenarnya, hanya perintah keempat), tidak lagi berlaku bagi orang Kristen. Namun, mereka kehilangan makna pokok surat-surat itu, kehilangan konteks sejarahnya dan isu-isu yang Paulus kemukakan. Paulus, sebagaimana yang akan kita lihat, menekankan bahwa keselamatan adalah hanya oleh iman dan bukan oleh memelihara hukum, sekalipun hukum moral—namun tidak berarti hukum moral tidak harus dipelihara. Penurutan kepada Sepuluh Perintah tidak pernah dipermasalahkan; mereka yang mempersalahkannya sedang memasukkan isu zaman sekarang ini kepada naskah Alkitab, padahal Paulus tidak membahas hal tersebut. Apakah jawaban Anda terhadap mereka yang menuntut bahwa Sabat tidak lagi berlaku bagi orang-orang Kristen? Bagaimanakah Anda menunjukkan kebenaran Sabat sedemikian rupa tanpa menawar-nawar keutuhan Injil?

22

Jumat

9 Juli

PELAJArI SELANJuTNYA: Baca Ellen G. White, “Yahudi dan Kafir,” hlm. 159-170; “Kemurtadan di Galatia,” hlm. 322-326, dalam Alfa dan Omega, jld. 7; “Hukum Diberikan kepada Israel,” hlm. 354-370; “Hukum dan Perjanjian,” hlm. 430-444, dalam Alfa dan Omega, jld. 1; “Umat Pilihan,” 23-27, dalam Alfa dan Omega, jld. 5. “Tetapi jikalau perjanjian Abraham itu berisi janji penebusan, mengapakah perjanjian yang lain itu diadakan di Sinai. Di dalam perbudakan mereka bangsa itu sebegitu jauh telah kehilangan pengetahuan akan Allah dan tentang prinsip-prinsip daripada perjanjian Abraham. . . . “Bangsa itu tidak menyadari kekejian hati mereka, dan bahwa tanpa Kristus adalah mustahil bagi mereka untuk menurut hukum Allah; dan dengan mudah mereka mengadakan perjanjian dengan Allah.”—Ellen G. White, Alfa dan Omega, jld. 1, hlm. 440, 441. “Melalui pengaruh dari guru-guru palsu yang bangkit dari antara orang-orang percaya di Yerusalem, perpecahan, aliran yang bertentangan, orang-orang yang bernafsu memperoleh tempat di antara orang-orang percaya di Galatia. Guru-guru palsu ini mencampuradukkan tradisi-tradisi Yahudi dengan kebenaran-kebenaran Injil. Tanpa menghiraukan keputusan sidang umum di Yerusalem, mereka mendesak orang-orang kafir yang bertobat untuk memelihara hukum keupacaraan.”—Ellen G. White, Alfa dan Omega, jld. 7, hlm. 322. PErTANYAAN-PErTANYAAN uNTuK DISKuSI: n Dalam kelas, bahas kembali jawaban Anda terhadap pertanyaan hari rabu. Dalam cara apakah jemaat Anda, ataupun Anda dalam rumah tangga, ataupun diri Anda sendiri meletakkan beban yang tidak sepantasnya pada orang lain (atau pada diri Anda sendiri)? Bagaimanakah kita mengetahui jika kita sedang melakukan hal tersebut? Atau mungkinkah kita sedang ada dalam bahaya telah melangkah terlalu jauh justru sebaliknya? Maksudnya, bagaimanakah kita mengetahui bahwa kita telah menjadi begitu longgar dalam gaya hidup dan standar-standar kita sampai kepada titik di mana hidup kita tidak mencerminkan panggilan luhur yang kita miliki dalam Kristus? o Sanggahan apakah yang biasanya digunakan orang untuk menyatakan bahwa Sepuluh Perintah tidak lagi berlaku bagi orang Kristen zaman ini? Bagaimanakah kita menjawab mereka? Mengapakah pernyataan-pernyataan seperti itu sungguh sangat salah, dan mengapakah sering kehidupan mereka yang mengeluarkan pernyataan itu tidak menunjukkan seakan-akan mereka percaya bahwa Sepuluh Firman itu tidak lagi mengikat? p Baca galatia 1:12. Perhatikan bagaimana Paulus begitu tak berkompromi, tegas dan sungguh-sungguh dalam hal pemahamannya tentang Injil? Apakah yang dikatakan hal itu tentang bagaimana seharusnya kita berdiri teguh tak tergoncang dalam ajaran tertentu, khususnya di zaman pluralisme dan relativisme? Bagaimanakah hal ini menunjukkan bahwa beberapa ajaran tertentu memang tidak bisa dikompromikan dalam cara apa pun?

23

PENuNTuN guru 2
Ringkasan Pelajaran Ayat Inti: Yohanes 1:17

Anggota Kelas akan:

¾ Mengetahui: Menjelaskan perbedaan besar antara legalisme dan kebenaran oleh iman dalam gereja mula-mula sebagaimana juga dalam gereja dewasa ini. ¾ Merasakan: Menghargai pembelaan berapi-api Paulus serta para pemimpin gereja lainnya akan kebenaran oleh iman. ¾ Melakukan: Menguji kehidupan akan adanya bukti terang dan kuasa kasih karunia, serta karunia penurutan.

garis Besar Pelajaran:

1. Mengetahui: Tergelincir kepada Perbuatan. A. Sebagian orang Kristen Yahudi menekankan aturan-aturan dan tradisi-tradisi Yahudi sebagai hal yang harus diikuti oleh para petobat dari bangsa lain, sementara yang lain menekankan keselamatan hanya oleh iman sebagai hal yang penting bagi orang Yahudi maupun bangsa lain. Apa sajakah akibatnya? B. Bagaimanakah Paulus dan para pemimpin gereja lainnya menghadapi perpecahan yang pertama kali terjadi dalam gereja? II. Merasakan: Janji-janji yang Lebih Baik A. Mengapakah Paulus dan para pemimpin lain dalam gereja begitu tegas untuk tidak membenani orang-orang Kristen dengan tradisitradisi agama yang berlebihan? B. Apakah yang diberikan oleh “janji-janji yang lebih baik” (Ibrani 8:6) bagi orang-orang percaya? Apa sajakah aturan-aturan yang dirasakan jemaat saat itu penting sebagai hal yang masih berlaku? III. Melakukan: Komitmen pada Kasih Karunia A. Apakah pendirian Anda mengenai tradisi-tradisi agama dan kebenaran oleh iman? B. Sepenting apakah penurutan pada hukum Allah dalam hidup Anda? C. Bagaimanakah Anda mengutamakan pentingnya kasih karunia dalam hidup Anda, dan juga dalam kesaksian Anda?

rANgKuMAN: Sebagaimana pada gereja Kristen mula-mula, masih ada sekarang kecenderungan untuk fokus pada apa yang kita lakukan lebih daripada bergantung sepenuhnya pada korban pendamaian Kristus serta janji-Nya untuk menanamkan kehidupan-Nya dalam diri kita. 24

Langkah Belajar

LANGKAH 1—Motivasi
Konsep Utama UntUK pertUmbUhan rohani: Perdebatan pada gereja mulamula tentang apakah—atau seberapa banyak—orang-orang Kristen harus menuruti hukum-hukum Perjanjian Lama mencerminkan usaha-usaha kita zaman ini untuk menentukan sebuah keseimbangan antara hukum dan kasih karunia dalam kehidupan rohani kita. KhUsUs UntUK GUrU: Dalam pelajaran pekan ini kita mendiskusikan isuisu yang dihadapi gereja mula-mula sehubungan dengan peran hukum dan kasih karunia bagi keselamatan seseorang. Seorang penulis kesohor Amerika, Ambrose Bierce, mendefinisikan seorang Kristen sebagai “seorang yang percaya bahwa Perjanjian Baru adalah sebuah buku yang diilhami Ilahi yang begitu cocok bagi kebutuhan-kebutuhan rohani sesamanya.” Satu hal yang bisa kita cermati dari definisi ini adalah bahwa Bierce belum pernah mengenal seorang Kristen yang benar. Tetapi, sebagaimana dalam banyak omong kosong, tetap ada sebutir kebenaran di dalamnya. Mungkin yang dimaksudkan Bierce adalah berbagai orang munafik yang percaya bahwa mengasihi sesama, memperhatikan yang terkecil di antara mereka, dan sebagainya, adalah sebuah beban yang harus dipikul oleh orang lain dan bukan oleh diri sendiri. Seperti yang disarankan Lukas 11:46, aliran paham ini mempunyai sebuah sejarah panjang. Akan tetapi ada satu aspek lain yang tersirat dalam ucapan jenaka Bierce yang perlu juga diperhatikan. Kebanyakan kita yakin bahwa Perjanjian Baru mengajarkan bahwa kita diselamatkan oleh kasih karunia dan tidak ada yang dapat kita lakukan untuk diselamatkan. Tetapi bila Anda mengatakan “kita” bukankah itu termasuk Anda? Apakah Anda benar-benar percaya bahwa Anda diselamatkan oleh iman, atau apakah Anda membebani diri Anda dengan hal-hal yang harus Anda perbuat agar berkenan? Apakah Injil itu memang untuk Anda, ataukah itu hanya sesuatu yang sangat cocok bagi sesama Anda? Pertimbangkan: Dalam Matius 11:30, Yesus berkata bahwa “Kuk yang Kupasang itu enak, dan beban-Ku pun ringan.” Mengapakah sering Anda merasa perlu membuatnya lebih berat bagi diri Anda dan bagi orang lain?

LANGKAH 2—Menyelidiki
Komentar Alkitab I. Hukum Sebagaimana Yesus Melihatnya, dan Hukum Sebagaimana Kita Melihatnya Dalam Yesus (Ulangi bersama kelas Anda Matius 5:17, 18, dan Matius 22:34-40). Di awal pelayanan-Nya, Yesus menyatakan dengan jelas bahwa tujuan-Nya bukanlah untuk meniadakan atau memusnahkan hukum yang tertulis dalam Per25

janjian Lama, melainkan untuk menggenapinya. Sesuai dengan tujuan ini, orang Kristen mula-mula memperhatikan hukum dengan sungguh-sungguh. Dua hal mendasar dalam teologi Kristen tentang hukum Allah adalah: Ajaran Yesus tentang hukum dan penggenapan Yesus akan hukum dalam hidup, kematian dan kebangkitan-Nya. Pertama, ajaran Yesus tentang hukum bermaksud untuk menampilkan unsur-unsur hakikinya. Dalam Matius 22:34-40, ketika seorang Farisi bertanya kepada-Nya manakah perintah yang paling besar, Yesus membawa pertanyaan itu pada unsur-unsur utama hukum itu: mengasihi Allah dan mengasihi sesama manusia. Dengan itu, Yesus memberi para pengikut-Nya–sekarang dan selanjutnya–suatu dasar untuk mempertimbangkan dan menilai segala perbuatan, pikiran dan sikap mereka, bahkan semua yang tampak secara luar sesuai dengan hukum tetapi mungkin mempunyai motif yang salah ataupun yang merusak bagi orang lain. Kedua, Yesus berusaha dalam hidup dan pelayanan-Nya untuk mengarahkan murid-murid-Nya jauh dari legalisme orang-orang Farisi yang keras kepala dan orang lain yang berusaha menurut hukum dengan kekuatan mereka sendiri. Pelajaran ini relevan bagi kita dewasa ini. Sementara penurutan pada hukum itu penting dan perlu, keselamatan datang hanya oleh memandang pada Yesus: teladan-Nya dan pekerjaan-Nya yang telah tuntas bagi kepentingan kita. Pertimbangkan: Apakah yang dapat dilihat seseorang tentang inti ajaran Yesus tentang hukum, dan bagaimanakah orang-orang Farisi Kristen dalam Kisah 15:5 merendahkannya, bahkan mungkin saja tampak masuk akal dan logis? II. Orang Yahudi, Bangsa Lain, dan yang Lainnya (Baca kembali Kisah 15 bersama kelas Anda). Sejak zaman dulu, sunat adalah satu tanda yang mendasari hubungan tersendiri antara orang Israel/Yahudi dengan Allah. Penyunatan semua laki-laki dalam rumahnya mengesahkan perjanjian Abraham dengan Tuhan. Orang yang disunat secara lahiriah juga diwajibkan untuk disunat dalam hal pikiran dan hati, sebagaimana yang diperintahkan dalam Ulangan 10:16, dan Yeremia 4:4. Orang yang disunat pikiran dan hatinya adalah seorang yang siap menyambut panggilan dan tuntutan Allah, seseorang yang telah sepenuhnya meninggalkan sesuatu untuk mengikut Allah. Sunat lahiriah biasanya menyakitkan bagi seorang pria dewasa, dan orang-orang dari bangsa lain yang menjalaninya serta menjadi petobat penuh kepada agama Yahudi sangatlah dihormati. Namun, pada saat yang sama, sunat yang sejati adalah sunat hati (Roma 2:29). Pertimbangkan: Semua hukum Allah, bahkan hukum yang tampaknya sukar dan menyakitkan, dimaksudkan untuk menjadi satu berkat bagi mereka yang menaatinya dengan semangat yang benar. Sebaliknya, bagaimanakah hukum-hukum yang sama ini menjadi sebuah beban yang tak terpikul bahkan bagi mereka yang dengan sungguh-sungguh berniat mengikut Allah? 26

III. Orang-orang Farisi Kristen” (Baca kembali bersama kelas Anda Kisah 15:5). Orang-orang Farisi Kristen. Untuk kebanyakan pembaca Perjanjian Baru, istilah ini paradoks, bahkan mungkin bertentangan, seperti “para pendamai pengembangan nuklir.” Namun begitulah orang-orang itu digambarkan dalam Kisah 15:5—mereka orang Kristen, dan mereka juga orang Farisi. Kebanyakan terjemahan menggambarkan mereka sebagai “dari golongan Farisi yang telah menjadi percaya.” Dengan demikian, mereka percaya bahwa Yesus adalah Kristus. Keberatan mereka agar para petobat baru harus disunat dan taat kepada hukum-hukum Musa dianggap serius oleh gereja tetapi akhirnya ditolak dan ditiadakan. Sebagaimana orang-orang Farisi, kita semua datang kepada Kristus dengan membawa berbagai persoalan hidup. Bisa saja berupa kebiasaan-kebiasaan buruk. Atau kepercayaan-kepercayaan yang salah atau tidak perlu tentang Allah, orang lain, diri kita, atau alam semesta secara keseluruhan. Allah menerima kita sebagaimana kita ada—demikian juga seharusnya gereja—tetapi Dia mau menolong kita bertumbuh melebihi hal-hal ini. Yang penting bagi kita adalah kerelaan untuk mendengar, merelakan hati dan telinga kita disunat. Pada titik tertentu, kita harus memutuskan bawaan-bawaan apa sajakah yang penting bagi kita. Pertimbangkan: Dalam hal apa sajakah Anda, sebagaimana “orang-orang Farisi Kristen,” bersandar pada kepercayaan-kepercayaan, tradisi-tradisi, atau kebiasaan-kebiasaan yang salah atau yang tidak lagi berguna untuk perjalanan Anda dengan Allah?

LANGKAH 3—Praktikkan
KhUsUs UntUK GUrU: Dorong anggota kelas Anda menggunakan pertanyaan-pertanyaan ini untuk memikirkan tentang harapan Kristen yang berhubungan dengan kehidupan mereka dan kepada dunia secara keseluruhan. pertanyaan-pertanyaan renUnGan: » Apakah yang membedakan Sepuluh Perintah—atau hukum moral—dari hukum-hukum upacara, sipil dan kesehatan? Dalam menanggapi orang yang menuduh orang-orang Advent sebagai legalis, mengapakah penting bahwa perintah Sabat adalah salah satu dari yang sepuluh itu? ¼ Apakah akar dari isu sunat dan pembebanan hukum-hukum Perjanjian Lama lainnya yang dengan jelas diperuntukkan hanya untuk orang-orang Israel sebelum zaman Kristus? Mengapakah Paulus begitu keras menentang mereka yang terus-menerus mengkhotbahkan sunat dan bentuk-bentuk legalisme lainnya? Mengapakah isu-isu itu tidak bisa dianggap semata sebagai perkara “setuju untuk tidak setuju?”

27

pertanyaan-pertanyaan penerapan: » Penyelesaian masalah tentang diwajibkan atau tidaknya sunat serta pemeliharaan hukum Yahudi bagi para petobat dari bangsa lain jelas dalam beberapa hal merupakan sebuah kompromi. Ada catatan di mana Paulus berkata bahwa memakan daging yang telah dipersembahkan pada berhala, dalam hal memakannya itu sendiri, adalah tidak penting. (1 Kor. 8:4). Mengapakah Paulus, yang begitu tidak berkompromi dalam hal-hal lain, mau menerima kompromi ini? Adakah di sini satu garisan bagi kita tentang kapankah diperbolehkan untuk berkompromi? ¼ Pencobaan untuk membiarkan beberapa bentuk legalisme adalah lazim. Apakah legalisme yang sangat menarik bagi kita? Apakah selalu mudah untuk membedakan antara legalisme—atau keinginan untuk mencapai keselamatan melalui usaha seseorang oleh menaati hukum dengan teliti—dan sebuah kerinduan yang murni untuk melakukan yang terbaik bagi Allah? ½ Apakah kita menghadapi situasi-situasi legalistik di gereja kita dewasa ini, mirip seperti yang dihadapi Paulus, di saat kita memperkenalkan para petobat kepada iman? Bagaimanakah kita bisa lebih baik menyesuaikan para petobat baru kepada lingkungan Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh dan pada saat yang sama menekankan harapan kita pada mereka dalam hal keuangan (persepuluhan)? Makanan? Praktik kesehatan (contohnya, tidak merokok, tidak minum minuman beralkohol)? Pemeliharaan Sabat? Selain itu, bagaimanakah kita menyesuaikan mereka pada tuntutan-tuntutan ini sementara, pada saat yang sama, melindungi mereka dari orang-orang yang akan memberikan pada mereka informasi yang salah tentang tuntutan-tuntutan tersebut yang lebih berdasar pada pendapat atau kesukaan pribadi daripada pada Alkitab?

LANGKAH 4—Terapkan
KhUsUs UntUK GUrU: Pekan ini kita telah menelusuri cara-cara melalui mana hukum Allah dihubungkan dengan iman Kristen sebagaimana yang terjadi di abad pertama dan bagaimana penerapannya dewasa ini pada pengalaman kita sebagai orang-orang Kristen dan orang-orang Advent. Perhatikan kitab-kitab Musa, seperti Imamat, Bilangan, Ulangan, dsb., di mana kita dapati kumpulan hukum-hukum Perjanjian Lama. Tuliskan pada kartu-kartu indeks hukum-hukum itu satu persatu dan di mana tertulis. Sediakan cukup kartu agar setiap anggota kelas mendapatkan satu. Mulailah dengan urutan apa saja yang Anda pilih, biarlah setiap anggota membaca dengan keras apa yang tertulis di kartunya. Tanyakan apakah hukum tersebut adalah hukum moral, upacara, sipil, ataukah kesehatan, dan bagaimana bisa mengetahuinya. Mungkin Anda juga mau menyelidiki kemungkinan aplikasi-aplikasi rohani dari hukum-hukum yang termasuk kategori hukum upacara atau sipil. Prinsipprinsip apakah yang ada di belakang hukum-hukum tersebut? 28

Pelajaran 3

*10-16 Juli 2010

Semua Orang Telah Berbuat Dosa
Sabat Petang
BAcA uNTuK PELAJArAN PEKAN INI: Roma 1:16, 17, 22-32; 2:1-10, 17-23; 3:1, 2, 10-18, 23. AYAT HAFALAN: “Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah” (Roma 3:23).

ecuali seorang mengakui bahwa dia tidak benar, orang itu tidak akan merasa perlu pembenaran (deklarasi Allah bahwa seorang berdosa benar di hadapan-Nya). Dengan demikian, bagi Paulus langkah pertama dalam pembenaran adalah seorang mengakui dirinya orang berdosa yang tak berdaya dan tak ada harapan. Dalam membangun argumen ini, Paulus pertama-tama mengemukakan kejatuhan luar biasa dari bangsa-bangsa lain. Mereka telah tenggelam begitu dalam karena mereka telah menyingkirkan Allah dari pikiran mereka. Kemudian Paulus menunjukkan bahwa orang-orang Yahudi juga sama parahnya, dengan kata lain tidak ada seorang pun dapat menyelamatkan dirinya oleh perbuatan baik mereka. Ellen G. White menjelaskan: “Janganlah seorang pun menerima pandangan yang terbatas dan sempit bahwa perbuatan manusia dapat menolong walau dalam kemungkinan yang paling kecil untuk membayar utang pelanggarannya. Ini adalah sebuah penyesatan yang fatal. Jika Anda mau memahaminya, Anda harus berhenti memaksakan gagasan-gagasan kesayangan Anda, dan dengan rendah hati mencari pendamaian. “Hal ini sangat sedikit dipahami sehingga beribu-ribu orang yang mengaku sebagai anak-anak Allah sebenarnya adalah anak-anak si jahat, karena mereka bergantung pada perbuatan mereka sendiri. Allah selalu meminta perbuatan baik, hukum juga menuntut hal itu, tetapi karena manusia menempatkan dirinya dalam dosa di mana segala perbuatan baiknya tidak bernilai, maka kebenaran Yesus sajalah yang dapat bertahan. Kristus sanggup menyelamatkan mereka yang paling berdosa karena dia selalu hidup untuk melakukan pengantaraan bagi kita.”—Komentar Ellen G. White, The SDA Bible Commentary, jld. 6, hlm. 1071. *Pelajari pelajaran pekan ini untuk Sabat, Juli 17. 29

K

Minggu
KEYAKINAN YANg KOKOH DALAM INJIL

11 Juli

“Sebab aku mempunyai keyakinan yang kokoh dalam Injil [Kristus, NKJV], karena Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang yang percaya, pertama-tama orang Yahudi, tetapi juga orang Yunani. Sebab di dalamnya nyata kebenaran Allah, yang bertolak dari iman dan memimpin kepada iman, seperti ada tertulis: ‘Orang benar akan hidup oleh iman’” (Roma 1:16, 17). Apakah makna ayat ini bagi Anda? Bagaimanakah Anda telah mengalami janji-janji serta pengharapan yang terdapat di dalamnya? Beberapa kata kunci dalam ayat di atas: 1. Injil. Kata ini adalah terjemahan dari kata Yunani yang secara harfiah berarti “kabar baik” atau “berita baik.” Jika berdiri sendiri, kata ini bisa berarti kabar baik apa saja; tetapi jika dilengkapi dengan “Kristus” sebagaimana dalam ayat di atas, artinya adalah “kabar baik tentang Mesias” (Kristus adalah peralihan huruf dari kata Yunani yang berarti “Mesias”). Kabar baiknya adalah bahwa Mesias telah datang dan manusia bisa diselamatkan oleh percaya kepada-Nya. Di dalam Yesus dan di dalam kebenaran-Nya yang sempurna—dan bukan dalam diri kita, ataupun dalam hukum Allah sekalipun—seorang bisa memperoleh keselamatan. 2. Kebenaran. Kata ini adalah menunjuk pada kualitas menjadi “benar” dengan Allah. Sebuah arti khusus dari kata ini telah dikembangkan dalam kitab Roma, yang akan kita pelajari selanjutnya. Perlu diperhatikan bahwa dalam Roma 1:17 kata ini dilengkapi dengan “Allah.” Itu adalah kebenaran yang berasal dari Allah, sebuah kebenaran yang hanya Allah sendiri yang sediakan. Sebagaimana akan kita pelajari, inilah satu-satunya kebenaran yang bisa membawa kita kepada hidup kekal. 3. Iman. Dalam bahasa Yunani kata-kata yang diterjemahkan “percaya” dan “iman” dalam ayat di atas adalah dalam bentuk kata kerja dan kata benda dari satu kata yang sama: pisteuo (percaya) dan pistis (kepercayaan atau iman). Arti iman sehubungan dengan keselamatan akan diungkapkan sementara kita melanjutkan pelajaran kita tentang Kitab Roma. Pernahkah Anda bergumul tentang kepastian? Apakah ada saat-saat di mana Anda mempertanyakan apakah Anda selamat atau tidak, atau apakah Anda bisa diselamatkan? Apakah yang menimbulkan ketakutan seperti ini? Apakah dasar ketakutan seperti ini? Mungkinkah ketakutan Anda berdasar pada sebuah kenyataan? Artinya, apakah Anda sedang menjalani sebuah gaya hidup yang menyangkal pengakuan iman Anda? Jika memang demikian, pilihan-pilihan apakah yang Anda harus buat agar memperoleh janji-janji serta kepastian bagi Anda di dalam Yesus? 30

Senin
KEADAAN MANuSIA

12 Juli

Baca roma 3:23. Mengapakah pekabaran ayat ini begitu mudah untuk kita sebagai orang Kristen? Pada saat yang sama, apakah yang menyebabkan sebagian orang mempertanyakan kebenaran ayat ini? Cukup mengherankan, sebagian orang nyata-nyata menentang ajaran tentang keberdosaan manusia, mereka berpendapat bahwa manusia pada dasarnya baik. Namun masalahnya berakar dari kurangnya pengertian tentang apa kebaikan sejati itu. Manusia dapat membandingkan diri mereka dengan orang lain dan merasa diri mereka lebih baik. Bahkan penjahat ulung Al Capone adalah seorang kudus jika dibandingkan dengan Adolph Hitler. Namun, bila kita datang membandingkan diri kita dengan Allah, dan dengan kekudusan dan kebenaran Allah, tidak seorang pun kita yang akan kembali membawa sesuatu selain daripada dipenuhi dengan perasaan diri enggan dan jijik. Ayat di atas juga berbicara tentang “kemuliaan Allah.” Istilah ini telah ditafsirkan bermacam-macam. Mungkin tafsiran paling sederhana adalah dengan memberi istilah tersebut makna yang dikandungnya dalam 1 Korintus 11:7, RSV, “Ia [manusia] adalah gambaran dan kemuliaan Allah.” Dalam Bahasa Yunani, kata “kemuliaan” bisa dianggap hampir serupa dengan kata “gambaran/citra.” Dosa telah mengaburkan gambaran Allah dalam manusia. Manusia berdosa sudah sangat jauh dari mencerminkan gambaran kemuliaan Allah. Baca roma 3:10-18. Apakah ada yang berubah hari ini? Manakah dari penjelasan ayat ini yang paling tepat menggambarkan diri Anda, atau sudah menjadi seperti apakah Anda sekiranya Kristus tidak ada dalam hidup Anda? Betapapun buruknya kita, situasi kita bukan tanpa harapan. Langkah pertama adalah kita harus mengakui keadaan kita yang penuh dosa dan juga ketidakberdayaan kita dalam dan oleh diri kita sendiri untuk berbuat sesuatu mengatasinya. Adalah pekerjaan Roh Kudus untuk membawa kesadaran seperti ini. Jika orang berdosa itu tidak menolak-Nya, Roh Kudus akan memimpin orang berdosa itu untuk merobek topeng pertahanan diri, kemunafikan, dan pembenaran diri dan akan menghempaskannya di atas Kristus, memohon kemurahan-Nya: “Ya Allah, kasihanilah aku, orang berdosa ini!” (Lukas 18:13). Kapankah saat terakhir Anda dengan jujur melihat ke dalam diri Anda, motif-motif Anda, perbuatan-perbuatan Anda, dan perasaan-perasaan Anda? Tentu sebuah pengalaman yang menyulitkan bukan? Apakah satusatunya harapan Anda?

31

Selasa

13 Juli

DArI ABAD PErTAMA HINggA KEDuAPuLuH SATu
Saat beranjak ke abad keduapuluh, orang hidup dengan gagasan bahwa manusia semakin baik, dan moralitas akan bertambah dan pengetahuan serta teknologi akan menolong mengantar pada sebuah tempat yang sempurna (utopia). Umat manusia saat itu diyakini sedang berada pada jalan menuju kesempurnaan; yakni, melalui jenis pendidikan dan latihan moral yang tepat, manusia secara luar biasa dalam memperbaiki diri dan masyarakat mereka. Semua ini disangka mulai terjadi saat itu, secara keseluruhan, ketika manusia memasuki dunia baru nan berani, abad keduapuluh. Sayangnya, hal itu tidak terjadi seperti demikian, bukan? Abad keduapuluh adalah salah satu abad yang paling keras dan brutal sepanjang sejarah, ironisnya itu terjadi pada saat ada perkembangan ilmu pengetahuan yang pesat, yang lebih memungkinkan manusia membunuh sesamanya dengan cara yang hanya dapat dimimpikan oleh orang-orang jahat di masa sebelumnya. Apakah masalahnya saat itu? Baca roma 1:22-32. Hal-hal apakah yang tertulis di sana yang terjadi pada abad pertama, namun sedang terjadi juga zaman ini di abad dua puluh satu? ________________________________________________________________ ________________________________________________________________ ________________________________________________________________ ________________________________________________________________ ______________________________________________________________ Pada saat umat manusia kehilangan pandangan akan Allah, gerbang banjir besar dosa dan kesalahan serta kemerosotan terbuka. Zaman ini, masing-masing kita, sedang menjalani akibat-akibat masalah tersebut. Kenyataannya, kecuali kita setiap saat berserah kepada Allah, kita akan menjadi bagian dari masalah itu juga. Fokus khususnya pada roma 1:22, 23. Bagaimanakah kita melihat prinsip ini sedang nyata zaman ini? Oleh menolak Allah, apakah yang telah disembah dan dipuja oleh manusia di abad kita ini? Dan, oleh melakukan hal ini, bagaimanakah mereka telah menjadi bodoh? Bagikan jawaban Anda di kelas pada hari Sabat. ________________________________________________________________ ________________________________________________________________ ________________________________________________________________ ________________________________________________________________ ______________________________________________________________ 32

Rabu
OrANg-OrANg YAHuDI DAN BANgSA LAIN

14 Juli

Dalam Roma 1, Paulus membahas secara khusus dosa-dosa bangsa lain, yakni orang-orang kafir, yang kehilangan pandangan akan Allah sejak lama dan akibatnya mereka jatuh dalam praktik-praktik yang sangat merosot. Tetapi Paulus tidak bermaksud membiarkan orang-orang sebangsanya luput dari mata kail. Walau dengan segala keuntungan yang diberikan kepada mereka (Roma 3:1, 2), mereka juga adalah orang-orang berdosa, yang dijatuhi hukuman oleh hukum Allah, dan memerlukan kasih karunia Kristus yang menyelamatkan. Dalam hal ini, sebagai orang-orang berdosa yang telah melanggar hukum Allah, dan membutuhkan kasih karunia Ilahi untuk keselamatan, orang-orang Yahudi dan bangsa-bangsa lain adalah sama. Baca roma 2:1-3, 17-24. Apakah yang ditentang Paulus di sini? Pekabaran apakah yang semua kita, Yahudi atau bangsa lain, ambil dari amaran tersebut? "Janganlah kamu berpikir bahwa kamu lebih baik dari orang lain, dan jangan angkat dirimu sebagai hakim mereka. Sedang kamu tidak dapat melihat motif, engkau tidak sanggup menghukumkan orang lain. Di dalam mengritik dia, kamu mengundang hukuman atasmu; karena nyatalah kamu turut campur dengan Setan, penuduh saudara-saudaramu itu."—Ellen G. White, Alfa dan Omega, jld. 5, hlm. 335 Sering sangat mudah untuk melihat dosa-dosa orang lain dan menyatakannya. Namun betapa seringkah kita bersalah dalam pelanggaran-pelanggaran yang sama, bahkan lebih parah? Masalahnya di sini adalah kita cenderung melihat diri kita dengan mata yang buta, atau membuat diri kita merasa lebih baik oleh melihat betapa buruknya orang lain dibandingkan dengan diri kita. Paulus tidak punya sifat seperti itu. Dia juga memperingatkan orang-orang sebangsanya untuk tidak tergesa-gesa menghakimi bangsa-bangsa lain, karena mereka juga, yakni orang-orang Yahudi—bahkan sebagai umat pilihan—adalah orangorang berdosa, malahan dalam beberapa hal mereka lebih bersalah daripada orang kafir yang mereka hakimi begitu cepat, karena sebagai orang-orang Yahudi mereka telah diberikan lebih banyak terang daripada orang-orang dari bangsa lain. Inti ajaran Paulus dalam semuanya ini adalah tidak seorang pun kita yang benar, tidak seorang pun yang memenuhi standar Ilahi, tidak seorang pun kita yang pada dasarnya baik atau berpembawaan suci. Yahudi atau bukan Yahudi, laki-laki atau perempuan, kaya atau miskin, takut akan Allah atau menolak Allah kita semua terhukum, dan jika bukan karena kasih karunia Allah, sebagaimana yang dinyatakan dalam Injil, tidak akan ada harapan bagi siapa pun kita. Seberapa munafikkah Anda? Artinya, berapa seringkah Anda walau hanya dalam benak Anda, menghukum orang lain atas perkara-perkara yang Anda sendiri pun bersalah? Bagaimanakah Anda, oleh memperhatikan apa yang Paulus telah tuliskan di sini, bisa berubah? 33

Kamis
PErTOBATAN

15 Juli

Seorang anak usia lima tahun mendorong adiknya perempuan hingga jatuh, dan orangtua memaksanya minta maaf. Dia tidak mau melakukannya, dan dari sisi mulutnya, tanpa kesungguh-sungguhan dan mata melihat ke bawah, dia berguman dingin, “Maaf.” Tentu saja itu bukan pertobatan sejati. Sambil mengingat cerita itu, bacalah ayat ini: “Maukah engkau menganggap sepi kekayaan kemurahan-Nya, kesabaran-Nya dan kelapangan hati-Nya? Tidakkah engkau tahu, bahwa maksud kemurahan Allah ialah menuntun engkau kepada pertobatan?” (Roma 2:4). Apakah pekabaran dari ayat ini untuk kita? Kita harus perhatikan bahwa kemurahan Allah menuntun, tidak memaksa orang-orang berdosa kepada pertobatan. Tentunya sebuah pertobatan yang dipaksakan akan menghancurkan tujuan keseluruhan pertobatan itu sendiri, bukan? Jika Allah memaksakan pertobatan, maka tidak ada seorang pun yang akan selamat, karena mengapa dia memaksa sebagian orang untuk bertobat sementara yang lain tidak? Apakah yang akan menimpa mereka yang menolak kasih Allah, menolak untuk bertobat, dan tetap dalam ketidaktaatan? Roma 2:5-10. ________________________________________________________________ ______________________________________________________________ Dalam ayat-ayat di atas, dan sering di seluruh Kitab Roma, Paulus menekankan peranan perbuatan baik. Pembenaran oleh iman tanpa penurutan kepada hukum tidak boleh ditafsirkan bahwa perbuatan baik tidak mempunyai tempat dalam kehidupan Kristen. Contohnya, dalam ayat 7, keselamatan digambarkan sebagai hal yang diperoleh mereka yang mencarinya “dengan tekun berbuat baik.” Sekalipun usaha manusia tidak dapat membawa keselamatan, itu merupakan bagian dari pengalaman keselamatan. Sukar untuk melihat bagaimana seseorang dapat membaca Alkitab lalu mendapatkan gagasan bahwa usaha dan perbuatan tidak bermanfaat sama sekali. Pertobatan sejati, yakni yang datang dengan sukarela dari hati, selalu diikuti dengan sebuah tekad untuk mengalahkan dan mengesampingkan segala hal yang darinya kita perlu bertobat. Berapa seringkah Anda berada dalam sikap pertobatan? Apakah itu sungguh-sungguh, atau Anda hanya cenderung untuk menghilangkan kesalahan-kesalahan, kekurangan-kekurangan, dan dosa-dosa Anda? Jika memang karena itu, bagaimanakah Anda bisa berubah? Mengapa Anda harus berubah? 34

Jumat

16 Juli

PELAJArI SELANJuTNYA: Baca Ellen G. White, "Kebun Anggur Tuhan," hlm. 217-236, dalam Membina Kehidupan Abadi; "Kasih Allah Kepada Manusia," hlm. 9-16; "Keperluan Orang Berdosa," hlm. 17-24, dalam Kebahagiaan Sejati; "Hubungan dengan Orang Lain," hlm. 449-462, dalam Membina Keluarga Sehat; "Agents of Satan," hlm. 146, 147, dalam Testimonies for the Church, vol. 5. “Banyak yang tertipu sehubungan dengan keadaan hati mereka. Mereka tidak menyadari bahwa hati alamiah adalah penipu di atas segala perkara, dan benar-benar jahat. Mereka membungkus diri mereka sendiri dengan kebenaran mereka sendiri, dan telah merasa puas dengan mencapai standar tabiat manusia mereka sendiri; tetapi betapa fatalnya mereka gagal bilamana mereka tidak mencapai standar Ilahi, dan dari diri mereka sendiri mereka tidak dapat memenuhi tuntutan-tuntutan Allah.”—Ellen G. White, Selected Messages, jilid 1, hlm. 320. “Sebuah gambaran menakutkan tentang kondisi dunia ini telah ditunjukkan kepada saya. Kejatuhan moral merajalela. Sifat asusila adalah dosa khusus di zaman ini. Tidak pernah perbuatan jahat menegakkan kepalanya dengan begitu berani seperti sekarang ini. Orang tampaknya dibuat mati rasa, dan mereka yang mencintai kebajikan dan kebaikan sejati hampir ditawarkan oleh keberanian, kekuatan, dan tersebarnya kejahatan. Kefasikan yang merajalela tidak semata-mata terbatas pada orang yang tak beriman dan pengejek saja. Seandainya saja demikian, tetapi kenyataannya tidak. Banyak orang yang mengakui agama Kristus, juga bersalah. Bahkan sebagian orang yang mengaku sedang menantikan kedatangan-Nya sudah tidak lebih bersedia daripada Setan untuk peristiwa itu. Mereka tidak membersihkan diri mereka dari segala kecemaran. Mereka sudah begitu lama melayani hawa nafsu mereka sehingga wajarlah jika pikiran mereka tidak suci dan imajinasi mereka rusak.”—Ellen G. White, Testimonies for the Church, jld. 2, hlm. 346. PErTANYAAN-PErTANYAAN uNTuK DISKuSI: n Di kelas, ulangi jawaban-jawaban Anda untuk pertanyaan hari Selasa. Bagaimanakah kita lihat bahwa prinsip ini sedang nyata dalam masyarakat zaman ini? o Lihat kutipan kedua dari Ellen g. White dalam pelajaran hari Jumat. Jika ternyata diri Anda termasuk di sana, apakah jawabannya? Mengapa begitu penting untuk tidak menyerah sekalipun dalam kecewa melainkan menuntut janji-janji Allah—pertama, pengampunan; kedua, pembersihan? Siapakah dia yang mau supaya Anda berkata selalu dan seterusnya, “Tidak ada guna. Saya sudah begitu rusak. Saya tidak akan pernah bisa diselamatkan, jadi sebaiknya saya menyerah saja?” Apakah Anda mendengarkan oknum itu ataukah Yesus, yang akan berkata kepada kita, “Aku pun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi?” Yohanes 8:11. p Mengapakah penting bagi kita sebagai orang Kristen untuk mengerti keberdosaan dan kebejatan manusia yang sangat mendasar? Apakah yang akan terjadi jika kita kehilangan pandangan terhadap hal yang menyedihkan namun merupakan sebuah kenyataan hakiki? Kepada kesalahan-kesalahan apakah kita bisa digiring oleh kesalahpahaman kita tentang keadaan kita yang sebenarnya?

35

PENuNTuN guru 3
Ringkasan Pelajaran Ayat Inti: Roma 3:23.

Anggota Kelas Akan:

¾ Mengetahui: Menggambarkan dalamnya kejatuhan baik orang-orang kafir maupun orang-orang yang mengaku Kristen tanpa Kristus. ¾ Merasakan: Kebutuhan luar biasa akan hubungan yang menyelamatkan dengan Kristus. ¾ Melakukan: Datang pada Kristus dalam pengakuan kehancuran total kita serta kuasa-Nya dan kerelaan-Nya untuk menyelamatkan.

garis Besar Pelajaran:

1. Mengetahui: Tidak Ada Harapan Tanpa Kristus A. Mengapa kita harus pertama-tama mengakui kehancuran kita serta kemustahilan memperoleh harapan dan pertolongan di luar kuasa Kristus yang menyelamatkan? B. Bagaimanakah mereka yang telah diberkati dengan suatu pengetahuan akan Allah tetapi tidak akrab dengan Dia bisa saja berada dalam kesukaran yang lebih dalam daripada mereka yang tidak mengenal Allah?

II. Merasakan: Memandang ke Atas A. Pada saat kita merasakan kengerian akan kejatuhan kita serta kebutuhan kita yang besar akan Allah, kita dapat memilih untuk hilang dalam perasaan tawar hati dan putus asa, atau kita dapat menjatuhkan diri kita pada kebaikan Allah. Apakah yang telah kita alami dalam hidup kita yang menunjukkan kebutuhan kita yang besar akan Allah serta kebutuhan kita sehari-hari akan Seorang Juruselamat? B. Apakah yang telah kita alami yang menunjukkan kasih Allah yang besar serta belas kasihan-Nya terhadap kita? III. Melakukan: Bersandar pada Kristus A. Bagaimanakah kita menyambut bukti yang begitu banyak tentang sifat dosa kita? B. Bagaimanakah kita mengungkapkan setiap hari, di dalam doa, bukan saja kenyataan kebutuhan kita tetapi juga penerimaan kita akan jasa-jasa Kristus bagi keselamatan kita? rANgKuMAN: Orang-orang Kristen dan orang-orang kafir sama-sama harus mengakui kebutuhan utama mereka serta bersandar sepenuhnya pada kuasa Kristus untuk menyelamatkan mereka dari sifat-sifat dosa mereka.

36

Langkah Belajar

LANGKAH 1—Motivasi
Konsep Utama baGi pertUmbUhan Gereja: Hanyalah melalui kasih karunia Allah kita menerima pemberian keselamatan itu. KhUsUs UntUK GUrU: Dalam pelajaran pekan ini, kita membahas dan menyelidiki fakta bahwa kebaikan manusia fana tidak bisa dibandingkan dengan kebenaran Allah. Pada abad delapan belas orang-orang pandai mulai melihat pada masyarakat Barat dan menyadari bahwa, sekalipun ada keinginan terhadap Kekristenan dan moralitas, orang tetap tidak baik. Kenyataannya, mereka sangat buruk, dan mungkin peradaban—tentu saja termasuk gereja—berada dalam kesalahan. Apakah mungkin, mereka bertanya, bahwa orang yang berada pada apa yang disebut “keadaan alami” pada dasarnya baik, dan bahwa gereja, negara, dan masyarakatlah yang membuat orang itu tampaknya buruk? Pada waktu para penjelajah kembali dari berbagai wilayah dengan laporan tentang berbagai kelompok masyarakat yang tampaknya hidup begitu serasi dengan alam, para pemikir ini menjadikan laporan-laporan tersebut sebagai satu pembuktian atas kecurigaan mereka. Dari perkawinan antara ketidakpuasan yang kuat atas status quo dengan pengertian yang sangat kurang serta penyamarataan semua keadaan masyarakat, maka lahirlah konsep kebiadaban yang mulia. Sejak saat itu, berbagai ideologi dan falsafah telah berusaha mengembalikan manusia kepada keadaannya yang alami, berbudi luhur, serta bahagia. Kebanyakan dari usaha-usaha itu berakhir dengan kekecewaan atau bencana. Moralitas pribadi atau sosial tampaknya sedang mengalami terjun bebas. Jika masyarakat membuat kita buruk dan alam juga membuat kita buruk, apakah harapan yang ada? Baca terus! Pertimbangkan: Mengapakah kenyataan sifat dosa kita begitu sulit untuk kita terima?

LANGKAH 2—Selidiki
Komentar Alkitab I. Keyakinan yang Kokoh Dalam Injil (Baca bersama kelas Anda, Roma 1:16, 17 dan 1 Korintus 1:23). Di zaman Paulus, sebagaimana sekarang, ada banyak suara yang berkhotbah tentang berbagai macam Injil. Beberapa di antaranya adalah “orang Kristen,” dan satu hal lainnya. Mungkin itu merupakan beberapa bentuk legalisme yang diwariskan dari orang-orang Farisi. Atau mungkin itu sebuah campuran ajaran Kristus ditambah dengan ilmu-ilmu alam yang unik serta petunjuk-pe37

tunjuk tentang kehidupan alam baka yang menyanggupkan seseorang bisa masuk surga sedikit lebih cepat. Semua ini disajikan sebagai “Injil” yang disebut mempunyai lebih banyak kuasa. Dengan semua pilihan ini, mengapakah calon-calon orang percaya mau menerima Injil Paulus, yang sederhana tentang Kristus yang disalibkan dan dibangkitkan? Sangat sederhana! Terlalu sederhana. Atau bisa saja tampaknya orang bisa melihat itu tanpa mata iman. Kenyataannya, Injil Paulus itulah Injil sebenarnya. Injil itu bukan berasal dari Paulus, melainkan dari Kristus. Dan Injil tersebut tidak membutuhkan tambahan dari berbagai bentuk legalisme yang tidak berguna serta ilmu-ilmu alam yang bersifat spekulasi. Injil tersebut tidak membutuhkan lebih banyak kuasa; Injil itu sendiri adalah kuasa Allah. Dan inilah hal yang sangat menggemparkan: Injil itu bukan saja tidak membutuhkan tambahan “sesuatu yang lain”; Injil itu tidak bisa ada bersama-sama dengan “sesuatu yang lain.” Namun sebenarnya, ada hal lainnya: iman, indera baru yang diberikan Allah agar kita sanggup melihat segala perbuatan-Nya yang ajaib. Bagi orang yang tak punya iman, Injil itu hal murahan dan tak masuk akal. Bagaimanakah mungkin kematian seseorang dalam sejarah di sebuah tempat yang terpencil dalam Kekaisaran Roma memberikan keselamatan bagi saya? Pemikiran semacam ini bertolak belakang dengan sistem-sistem agama dan falsafah—dulu dan sekarang—yang meyakinkan pendengarnya dengan logika yang kuat, rayuan, serta penjelasan-penjelasan rumit tentang makna hidup. Injil Paulus—dan Kristus—mungkin tampak lemah dan bodoh bagi orangorang pintar di zaman dulu, sebagaimana juga bagi banyak orang di masa modern sekarang ini; namun kuasanya yang sejati dapat dilihat dalam kehidupan mereka yang mengizinkan Allah memberikan mereka indera baru yang dikenal sebagai iman dan mengubah mereka melalui iman. Kita semua mau menjadi lebih baik dari kita sekarang ini, tetapi hanya Allah yang dapat melakukannya bagi kita, dan Injil adalah sarana-Nya. Pertimbangkan: Mengapakah semua yang kita perlukan cukuplah Injil Kristus yang telah disalibkan namun dibangkitkan? II. Menuntun pada Pertobatan (Baca bersama kelas Anda, Roma 2:4-12). Dalam ayat-ayat ini Paulus sedang berbicara kepada orang-orang yang percaya bahwa mereka dibenarkan oleh perbuatan-perbuatan mereka, dan menganggap rendah orang-orang yang dianggap kurang benar daripada mereka (yang sebenarnya hanya kurang pengetahuan saja), namun mereka gagal mencapai standar mereka sendiri. Kita dapat bayangkan mereka mencari banyak alasan—memberi diri mereka peluang yang tidak mereka berikan bagi orang lain—karena toh mereka adalah kesayangan Allah. Mereka pikir Allah akan melalaikan pelanggaran-pelanggaran mereka yang kecil, karena mereka telah menjadi teladan. Secara tepat Paulus menunjukkan bahwa pelanggaran-pelanggaran mereka bukanlah kecil, dan bahwa mereka sebenarnya melakukan semua yang mereka 38

tuduhkan pada orang lain. Dengan menganggap bahwa mereka dikecualikan dari hukuman, sebenarnya mereka sedang mempertentangkan teologi mereka sendiri, serta menghukum diri mereka sendiri, bukan orang lain. Kenyataannya, mereka lebih buruk daripada seorang yang tidak tahu apa-apa yang mempunyai suatu pertimbangan sempurna akan apa yang benar dan salah dan berusaha hidup dengan itu. Hal lain adalah sementara kita semua adalah orang berdosa dan gagal memelihara hukum, kegagalan kita tidak boleh kita anggap sepele. Semua orang berdosa, tetapi tidak ada keselamatan dalam angka-angka. Penurutan pada hukum diwajibkan, dan jika kita gagal, kita dihukum. Allah telah menebus kita melalui kasih karunia-Nya, tetapi harga yang mahal adalah kematian berdarah dari Anak-Nya, yang menderita, dan sendirian. Pertimbangkan: Mengapakah Paulus, dalam membahas upah dan hukuman dari ketaatan atau ketidaktaatan terhadap hukum, menekankan bahwa halhal tersebut akan datang “pertama-tama pada orang Yahudi dan juga orang Yunani?” (Roma 2:9).

LANGKAH 3—Praktikkan
KhUsUs UntUK GUrU: Dorong anggota kelas Anda menggunakan pertanyaan-pertanyaan ini untuk memikirkan tentang harapan orang Kristen sehubungan dengan kehidupan mereka sendiri dan dunia ini secara keseluruhan. pertanyaan-pertanyaan renUnGan: » Paulus menekankan satu hal oleh menyebutkan “Injil Kristus” di Roma 1:16, dan juga kemudian di 1 Korintus 9:16-18. Bagi kebanyakan kita, hanya ada satu Injil saja, yaitu Injil Yesus Kristus. Tetapi jelas, Paulus berpikir bahwa ada Injil lainnya, injil-injil tandingan (palsu). Dia membuat hal ini lebih jelas lagi dalam Galatia 1:6-9. Pada beberapa dekade belakangan ini kita telah melihat bahwa hal ini memang benar dalam bentuk penemuan “injil-injil” yang terutama menggunakan Kristus sebagai pendukung beberapa doktrin atau ide tertentu. Injil-injil palsu apakah yang ada dewasa ini? ¼ Telah dikhotbahkan dari mimbar bahwa “Anda tidak perlu menjadi baik untuk diselamatkan, tetapi Anda harus diselamatkan agar menjadi baik.” Setuju atau tidak setujukah Anda? Mengapa? Apakah mungkin untuk menjadi baik tanpa diselamatkan, dan jika demikian, apakah yang dimaksudkan dengan “baik” dalam konteks ini? pertanyaan-pertanyaan penerapan: » Mengapakah begitu sulit untuk meyakinkan orang pada dewasa ini perihal keadaan dosa manusia? Mengapakah penerimaan akan Kristus yang menyelamatkan itu penting? Bagaimanakah Anda dengan bijaksana menyajikan konsep ini kepada mereka yang tidak mengerti atau menerima hal ini? 39

¼ Apa sajakah bahaya dari satu pandangan yang terlalu tajam tentang dosadosa orang lain? Lihat Roma 2.

LANGKAH 4—Terapkan
KhUsUs UntUK GUrU: Pekan ini kita telah pelajari bahwa tak satu pun kita berkenan di mata Allah tanpa pengantaraan Kristus. Tetapi dalam rahmatNya yang tak terbatas Allah Bapa menerima pengorbanan Kristus yang sukarela, dan melalui persembahan ini kita diterima seakan-akan kita tidak pernah berbuat dosa. Tekankan bahwa sama seperti semua orang sama-sama berdosa karena perbuatan mereka, semua orang juga sama-sama benar jika mereka menerima pengorbanan Kristus demi kepentingan mereka. Untuk menekankan tingkatan kekudusan yang kita harus capai agar berkenan kepada Allah dengan usaha kita sendiri, lakukan yang berikut ini: Isilah satu timba dengan air. Beri tanda dengan huruf cetak yang besar “Air Hampir Murni.” Sediakan beberapa cangkir. Tentu saja mereka cenderung bertanya apa yang membuat air itu hampir murni dan bukan murni. Katakan bahwa air itu mengandung 1 persen pestisida, serta sampah kimia yang tak diketahui, tetapi 99 persen terdiri dari air yang paling murni dan sehat. Tanya lagi jika ada yang mau minum air itu. Kemungkinan mereka tidak mau. Tanamkan bahwa demikian juga kita hampir baik di hadapan Allah. Sekalipun kita 99 persen benar—kemungkinan tidak—kita juga 1 persen racun. Agar air itu bisa diminum, haruslah disaring atau dimurnikan untuk menyingkirkan yang kotor. Yesuslah penyaring dan pemurni kita.

40

Pelajaran 4

*17-23 Juli 2010

Dibenarkan Oleh Iman
Sabat Petang
BAcA uNTuK PELAJArAN PEKAN INI: Roma 3:19-28. AYAT HAFALAN: “Karena kami yakin, bahwa manusia dibenarkan karena iman, dan bukan karena ia melakukan hukum Taurat.” (Roma 3:28).

alam pelajaran ini kita tiba pada tema dasar kitab Roma: pembenaran oleh iman. Ini adalah sebuah gambaran berdasarkan hukum. Si pelanggar hukum datang menghadap seorang hakim dan dijatuhi hukuman mati karena pelanggaran-pelanggarannya. Tetapi seorang pengganti muncul dan menanggung kesalahan si pelanggar itu, dengan demikian membebaskan si pelanggar, yang—oleh menerima si pengganti itu—berdiri di hadapan hakim dengan bukan saja dinyatakan tidak bersalah tetapi juga dianggap tidak pernah melakukan kejahatan yang telah membawa dia ke pengadilan itu. Dan itu terjadi karena si pengganti—yang mempunyai sebuah catatan sempurna—memberikan kepada si pelanggar yang telah diampuni itu penurutannya yang sempurna kepada hukum. Dengan demikian, orang yang bersalah berdiri di hadapan hakim sebagai orang yang tidak pernah melanggar. Tidak ada yang mengatakan bahwa orang tersebut tidak bersalah. Sebaliknya, kesalahannya sudah diketahui. Kabar baiknya adalah apa pun kesalahannya dia telah diampuni. Dalam rencana keselamatan, masing-masing kita adalah seorang penjahat. Sang Pengganti, Yesus, mempunyai sebuah catatan hidup yang sempurna, dan Dia berdiri di pengadilan itu sebagai ganti kita, kebenaran-Nya diterima menggantikan kefasikan kita. Dengan demikian, kita dibenarkan di hadapan Allah, bukan karena perbuatan-perbuatan kita melainkan karena Yesus, yang kebenaran-Nya menjadi kebenaran kita bila kita menerimanya “oleh iman.” Demikianlah artinya istilah “pembenaran oleh iman.” Bagaimana pun masa lalu kita, bila kita menerima Yesus, kita berdiri di hadapan Allah dalam kebenaran-Nya, satu-satunya kebenaran yang dapat menyelamatkan kita. Bicarakan tentang kabar baik! Nyatanya, tidak ada kabar yang lebih baik daripada itu. *Pelajari pelajaran pekan ini untuk Sabat, Juli 24. 41

D

Minggu
PErBuATAN-PErBuATAN HuKuM TAurAT

18 Juli

Baca roma 3:19, 20. Apakah yang Paulus katakan tentang hukum Taurat, tentang apa dibuat dan tidak dibuat atau tidak bisa dibuatnya? Mengapakah hal ini sangat penting untuk dipahami semua orang Kristen? ________________________________________________________________ ________________________________________________________________ ______________________________________________________________ Paulus sedang menggunakan istilah hukum Taurat dalam arti yang luas sebagaimana orang Yahudi di zamannya memahaminya. Membaca istilah Torah (kata Ibrani untuk “hukum Taurat”), bahkan seorang Yahudi di zaman ini pun berpikir secara khusus tentang instruksi Allah dalam lima buku Musa dan juga secara umum seluruh Alkitab Perjanjian Lama. Hukum moral, ditambah dengan penjabarannya dalam berbagai aturan dan ketetapan, demikian juga ketentuanketentuan upacara, adalah bagian dari instruksi ini. Oleh sebab itu, kita boleh mengartikan hukum Taurat dalam hal ini sebagai sistem Yudaisme. Berada di bahwa hukum Taurat artinya berada di bawah wilayah kekuasaannya. Namun demikian, hukum Taurat menyatakan kekurangan-kekurangan dan kesalahan seseorang di hadapan Allah. Hukum itu tidak bisa menghapuskan kesalahan; yang bisa dibuatnya adalah menuntun si pendosa untuk mencari obat bagi dosanya. Bila kita terapkan Kitab Roma di zaman kita, di mana hukum Yahudi bukan lagi sebuah faktor, kita mengartikan hukum Taurat itu sebagai hukum moral. Hukum ini tidak bisa menyelamatkan kita sebagaimana sistem Yudaisme tidak bisa menyelamatkan orang Yahudi. Menyelamatkan orang berdosa bukanlah fungsi hukum. Fungsinya adalah untuk menyatakan tabiat Allah dan menunjukkan pada kita dalam hal apa kita gagal mencerminkan tabiat Allah itu. Apa pun hukum Taurat itu—moral, upacara, sipil, atau semuanya—pemeliharaan pada salah satu ataupun semuanya tidak akan membuat kita seorang yang benar di pemandangan Allah. Nyatanya, hukum Taurat tidak pernah dimaksudkan untuk berfungsi seperti itu. Sebaliknya, hukum Taurat berperan menunjukkan kekurangan-kekurangan kita dan memimpin kita kepada Kristus. Hukum Taurat tidak bisa menyelamatkan sama seperti gejala-gejala sebuah penyakit tidak bisa menyembuhkan penyakit itu. Gejala tidak menyembuhkan melainkan menunjukkan keperluan akan kesembuhan. Demikianlah peranan hukum Taurat. Sudah seberapa berhasilkah usaha Anda dalam memelihara hukum? Apakah yang seharusnya dikatakan oleh jawaban Anda tentang sia-sianya berusaha untuk diselamatkan oleh menuruti hukum Taurat?

42

Senin
IMAN DAN KEBENArAN

19 Juli

“Tetapi sekarang, tanpa hukum Taurat kebenaran Allah telah dinyatakan, seperti yang disaksikan dalam Kitab Taurat dan Kitab-kitab para nabi” (Rm. 3:21). Bagaimanakah pemahaman kita tentang makna ayat ini? Kebenaran yang baru ini bertentangan dengan kebenaran hukum Taurat, kebenaran yang lazim bagi orang Yahudi. Kebenaran yang baru ini disebut “kebenaran Allah”; yaitu sebuah kebenaran yang berasal dari Allah, sebuah kebenaran yang disediakan Allah, dan satu-satunya yang Dia terima sebagai kebenaran sejati. Tentu saja ini adalah kebenaran yang Yesus hidupkan dalam hidup-Nya sebagai seorang manusia, sebuah kebenaran yang Dia tawarkan kepada semua yang mau menerimanya oleh iman, yang mau memintanya bagi diri mereka, bukan karena mereka layak mendapatkannya melainkan karena mereka memerlukannya. “Kebenaran adalah penurutan kepada hukum Taurat. Hukum menuntut kebenaran, dan inilah kewajiban utang orang berdosa kepada hukum itu; tetapi ia tidak sanggup untuk melakukannya. Satu-satunya cara ia bisa mendapatkan kebenaran adalah melalui iman. Oleh iman dia bisa membawa kepada Allah jasa-jasa Kristus, dan Allah menempatkan penurutan oleh Anak-Nya kepada catatan orang berdosa tersebut. Kebenaran Kristus diterima sebagai ganti kejatuhan manusia, dan Allah menerima, mengampuni, serta membenarkan orang yang bertobat, jiwa yang percaya, dan memperlakukannya seakan-akan dia benar adanya, dan mengasihinya sebagaimana Dia mengasihi Anak-Nya.”—Ellen g. White, Selected Messages, jilid 1, hlm. 367. Bagaimanakah Anda bisa belajar menerima kebenaran ajaib ini bagi diri Anda? (Lihat juga Roma 3:22). ________________________________________________________________ ________________________________________________________________ ________________________________________________________________ ________________________________________________________________ ______________________________________________________________ Ayat ini berbicara tentang iman dalam Yesus Kristus. Pada perannya dalam kehidupan orang Kristen, iman lebih dari sekadar pengakuan dalam pikiran; itu lebih dari sekadar pengakuan fakta-fakta tertentu tentang kehidupan dan kematian Kristus. Sebaliknya, iman yang sejati dalam Yesus Kristus adalah menerima Dia menjadi Juruselamat, Pengganti, Kepastian, dan Tuhan. Itu artinya memilih jalan hidup-Nya. Itu berarti percaya pada-Nya dan oleh iman berusaha untuk hidup sesuai dengan perintah-perintah-Nya. 43

Selasa
KASIH KAruNIA DAN PEMBENArAN

20 Juli

Mengingat apa yang sudah kita pelajari sejauh ini tentang hukum Taurat dan apa yang tak dapat dilakukannya, baca roma 3:24. Apakah yang Paulus katakan di sini? Apakah artinya bahwa penebusan itu ada dalam Yesus? Apakah yang dimaksud dengan “dibenarkan” dalam ayat di atas? Kata Yunani dikaio, yang diterjemahkan “membenarkan,” bisa berarti “membuat benar,” “menyatakan benar” atau “menganggap benar.” Kata itu terbentuk dari akar yang sama dengan kata dikaiosun, “kebenaran,” dan juga kata dikaioma, “tuntutan yang benar.” Jadi, ada kaitan erat antara “pembenaran” dan “kebenaran,” sebuah kaitan yang sering tidak tampak dalam berbagai versi terjemahan. Kita dibenarkan pada saat kita “dinyatakan benar” oleh Allah. Sebelum pembenaran ini, seorang masih tidak benar, dan dengan demikian tidak berkenan kepada Allah; setelah pembenaran, orang tersebut dianggap benar, dan berkenanlah dia kepada Allah. Hal ini terjadi hanya melalui kasih karunia Allah. Kasih karunia berarti perkenanan. Bila seorang berdosa berbalik kepada Allah memohon keselamatan, adalah pekerjaan kasih karunia untuk menganggap atau menyatakan orang tersebut benar. Itu sebuah belas kasihan tanpa mengandalkan jasa, dan orang yang percaya dibenarkan tanpa jasanya sendiri, tanpa satu pun yang bisa dihadapkan pada Allah demi orang tersebut kecuali ketidakberdayaannya yang mutlak. Orang tersebut dibenarkan melalui penebusan yang ada dalam Kristus Yesus, penebusan yang Yesus berikan sebagai pengganti serta kepastian bagi orang berdosa itu. Pembenaran dijelaskan dalam Kitab Roma sebagai sebuah tindakan sesaat; artinya, hal itu terjadi pada satu titik waktu. Suatu saat orang berdosa itu berada di luar, tidak benar, dan tidak berkenan; saat berikutnya, setelah pembenaran, orang tersebut berada di dalam, berkenan, dan benar. Orang yang ada dalam Kristus melihat pada pembenaran sebagai sebuah tindakan masa lalu, yang terjadi pada saat dia menyerahkan diri sepenuhnya kepada Kristus. “Dibenarkan” (Roma 5:1), secara harfiah berarti “telah dibenarkan.” Tentu saja, jika orang berdosa yang telah dibenarkan itu jatuh dan kemudian kembali lagi pada Kristus, pembenaran terjadi lagi. Juga, jika pertobatan kembali dianggap sebagai sebuah pengalaman setiap hari, dalam pengertian ini pembenaran bisa dianggap sebuah pengalaman yang berulang-ulang. Sekalipun kabar baik keselamatan itu begitu indah, mengapa sampai ada orang yang tetap tidak mau menerimanya? Dalam hidup Anda, hal apa sajakah yang mencegah Anda menerima segala sesuatu yang Allah telah janjikan dan tawarkan bagi Anda? 44

Rabu
“KEBENArAN-NYA”

21 Juli

Dalam Roma 3:25, Paulus menjelaskan lebih jauh tentang kabar akbar keselamatan. Dia menggunakan sebuah istilah menarik, propisiasi (jalan pendamaian). Kata Yunani untuk itu, hilasterion, terdapat di Perjanjian Baru hanya di ayat ini dan di Ibrani 9:5, diterjemahkan sebagai tutup pendamaian. Sebagaimana digunakan Roma 3:25 untuk menjelaskan pemberian pembenaran dan penebusan melalui Kristus, propisiasi tampaknya menggambarkan penggenapan segala sesuatu yang dilambangkan oleh tutup pendamaian di bait suci Perjanjian Lama. Yang dimaksudkan di sini adalah oleh kematian pengorbanan-Nya, Yesus telah ditetapkan sebagai sarana keselamatan dan ditampilkan sebagai Dia yang menyediakan propisiasi tersebut. Singkatnya, hal ini berarti Allah telah melakukan apa yang diperlukan untuk menyelamatkan kita. Ayat di atas juga berbicara tentang “remisi dosa-dosa” [KJV]. Dosa-dosa kitalah yang membuat kita tidak berkenan kepada Allah. Tidak ada yang dapat kita lakukan untuk membatalkan dosa-dosa kita. Tetapi dalam rencana penebusan, Allah telah menyediakan sebuah jalan agar dosa-dosa tersebut bisa mendapat remisi melalui iman dalam darah Yesus. Remisi dalam Bahasa Yunani adalah paresis, yang secara harfiah berarti “melewatkan” atau “melalukan.” “Melewatkan” sama sekali tidak berarti melalaikan dosa-dosa. Allah dapat melewatkan dosa-dosa di masa lalu, karena melalui kematianNya, Yesus telah membayar hukuman bagi semua dosa manusia. Dengan demikian, siapa saja yang mempunyai “iman dalam darah-Nya” bisa mendapatkan pengampunan dosa-dosanya, karena Kristus telah mati bagi mereka (1 Kor. 15:3). Baca roma 3:26, 27. Apakah yang Paulus katakan di sini? Kabar baik yang Paulus rindu bagikan dengan semua yang mau mendengar adalah bahwa ada tersedia bagi manusia “kebenaran-Nya [kebenaran Allah],” dan bahwa itu diberikan pada kita bukan oleh usaha, bukan oleh jasa kita, melainkan oleh iman dalam Yesus dan apa yang sudah diperbuat-Nya bagi kita. Oleh karena salib Golgota, orang berdosa dapat dinyatakan benar oleh Allah dan dianggap adil dan benar di mata alam semesta. Setan tidak bisa lagi mengacungkan jari dakwaannya kepada Allah, karena Surga telah membuat sebuah pengorbanan tertinggi. Tadinya Setan telah menuduh Allah menuntut manusia lebih daripada yang Dia rela berikan. Namun Salib mematahkan dakwaan ini. Setan berharap Allah membinasakan dunia ini setelah menjadi berdosa; gantinya, Allah telah mengutus Yesus untuk menyelamatkannya. Apakah yang hal ini katakan tentang tabiat Allah? Bagaimanakah pengetahuan kita tentang tabiat-Nya mempengaruhi hidup kita? Apakah perubahan yang akan Anda buat dalam waktu 24 jam ini yang berkaitan langsung dengan hasil pengetahuan Anda tentang tabiat Allah? 45

Kamis
IMAN DAN PErBuATAN

22 Juli

“Karena kami yakin, bahwa manusia dibenarkan karena iman, dan bukan karena ia melakukan hukum Taurat” (Roma 3:28). Apakah ini berarti kita tidak diwajibkan untuk menurut hukum, sekalipun itu tidak menyelamatkan kita? Jelaskan jawaban Anda. Dalam konteks sejarahnya, Paulus sedang berbicara dalam Roma 3:28 tentang hukum dalam arti yang luas, yakni sistem Yudaisme. Sesadar apa pun seorang Yahudi berusaha hidup di bawah sistem ini, jika dia gagal menerima Yesus sebagai Mesias, orang itu tidak bisa dibenarkan. Ayat ini adalah kesimpulan Paulus dari pernyataannya bahwa hukum iman mengesampingkan sifat bermegah. Jika seorang dibenarkan oleh perbuatannya sendiri, tentu dia bisa bermegah atasnya. Tetapi jika ia dibenarkan oleh karena Yesus adalah sasaran imannya, maka sudah jelas pujian itu milik Allah, yang telah membenarkan orang berdosa. Ellen G. White memberikan jawaban menarik kepada pertanyaan: “Apakah pembenaran oleh iman?” Dia menuliskan: “Itu adalah pekerjaan Allah dalam menguburkan kemuliaan manusia dalam debu, dan melakukan untuk manusia apa yang oleh kuat daya upayanya tidak bisa ia lakukan bagi dirinya sendiri.”— Ellen G. White, Testimonies to Ministers and Gospel Workers, hlm. 456. Perbuatan-perbuatan hukum Taurat tidak bisa menebus dosa-dosa masa lalu. Pembenaran tidak bisa diusahakan. Itu hanya bisa diterima oleh iman dalam korban pendamaian Kristus. Dengan demikian, dalam hal ini, perbuatan-perbuatan hukum tidak bisa mengusahakan pembenaran. Dibenarkan tanpa usaha artinya dibenarkan tanpa apa pun dalam diri kita yang melayakkan pembenaran. Tetapi banyak orang Kristen telah salah kaprah dan salah menerapkan ayat ini. Mereka berkata bahwa semua yang seseorang harus lakukan hanyalah percaya, namun merendahkan perbuatan atau penurutan, bahkan penurutan terhadap hukum moral. Oleh berlaku seperti itu, mereka salah mengerti Paulus sama sekali. Dalam Kitab Roma, dan di kitab mana saja, Paulus menekankan pentingnya memelihara hukum moral. Demikian juga Yesus sendiri, sebagaimana halnya Yakobus dan Yohanes (Mat. 19:17; Rm. 2:13; Yak. 2:10, 11; Why. 14:12). Inti ajaran Paulus adalah, sekalipun penurutan pada hukum bukanlah sarana pembenaran, orang yang dibenarkan oleh iman tetap memelihara hukum Allah, dan itulah satu-satunya cara orang tersebut dapat memelihara hukum. Orang yang tidak lahir kembali yang belum dibenarkan tidak akan pernah bisa memenuhi kewajiban hukum tersebut. Mengapakah begitu mudah terperangkap dalam jerat pemikiran bahwa karena hukum tidak menyelamatkan kita, kita tidak perlu risau untuk memeliharanya? Pernahkah Anda memaafkan perbuatan dosa atas nama pembenaran oleh iman? Mengapa itu sebuah pendapat yang sangat berbahaya? Sementara itu, seperti apakah jadinya kita tanpa janji keselamatan itu, atau bahkan di saat kita tergoda untuk melecehkannya? 46

Jumat

23 Juli

PELAJArI SELANJuTNYA: Baca Ellen G. White, “The Righteousness of Christ in the Law,” hlm. 236–239; “Come and Seek and Find,” hlm. 331–335; “Perfect Obedience Through Christ,” hlm. 373, 374, dalam Selected Messages, jld. 1; "Yang Baru dan Yang Lama," hlm. 91-99, dalam Membina Kehidupan Abadi. “Tabiat Kristus menggantikan tempat tabiat Anda, maka Anda berkenan di hadapan Allah seakan-akan Anda tidak pernah berbuat dosa.” —Ellen G. White, Steps to Christ, hlm. 62. “Kasih karunia adalah sebuah pemberian bukan karena jasa. Para malaikat, yang tidak tahu menahu tentang dosa, tidak mengerti apa artinya pemberlakuan kasih karunia terhadap mereka; tetapi keberdosaan kita membutuhkan pemberlakuan kasih karunia dari Allah yang Mahamurah.—Ellen G. White, Selected Messages, jld. 1, hlm. 331, 332. “Iman adalah sebuah kondisi di mana Allah dipandang mampu menjanjikan pengampunan bagi orang berdosa; bukan karena ada jasa dalam iman di mana keselamatan diberikan, melainkan karena iman dapat berpegang pada jasa-jasa Kristus, penawar yang disediakan bagi dosa. Iman dapat menghadapkan penurutan Kristus yang sempurna sebagai ganti pelanggaran dan kekurangan orang berdosa. Pada saat seorang berdosa percaya bahwa Kristus adalah Juruselamatnya pribadi, maka, sesuai janji-janji-Nya yang tak pernah gagal, Allah mengampuni dosanya, dan membenarkan dia secara cuma-cuma. Jiwa yang bertobat menyadari bahwa pembenarannya terjadi karena Kristus, sebagai pengganti dan jaminannya, telah mati bagi dia, dan menjadi pendamaian dan kebenarannya.”—Ellen G. White, Selected Messages, jilid 1, hlm. 366, 367. “Sekalipun hukum tidak bisa membatalkan hukuman karena dosa bahkan sebaliknya menuntut orang berdosa atas segala utangnya, Kristus telah menjanjikan ampunan yang limpah kepada semua orang yang bertobat serta percaya pada rahmat-Nya. Kasih Allah diberikan secara limpah kepada jiwa yang bertobat dan percaya. Cap dosa pada orang tersebut dapat dihilangkan hanya melalui darah Korban pendamaian itu... yaitu Dia yang setara dengan Bapa. Pekerjaan Kristus— hidup, kehinaan, kematian, dan pengantaraan-Nya bagi manusia yang binasa— mengagungkan hukum dan membuatnya dihormati.”—Ellen G. White, Selected Messages, jilid, hlm. 371. PErTANYAAN-PErTANYAAN uNTuK DISKuSI: n Baca kembali ayat-ayat untuk pekan ini dan dengan kata-katamu sendiri, tuliskan sebuah alinea merangkum apa yang dikatakan ayat-ayat itu. Bagikan tulisan Anda itu satu sama lain di kelas. o Pikirkan tentang harga penyelamatan kita: kematian Anak Allah. Apakah yang dikatakan kenyataan itu tentang betapa buruknya dosa? Namun demikian, jika kita berhenti berbuat dosa dan tidak pernah melakukannya lagi, mengapa itu belum cukup untuk membuat kita benar di hadapan Allah? Bagaimanakah kenyataan ini membantu kita termotivasi melawan pencobaan untuk berbuat dosa? p Oleh cara-cara apakah seorang dapat tergoda untuk melecehkan kabar ajaib tentang keselamatan ini? Ke dalam jerat apakah seorang yang tertambat dalam pemikiran seperti ini sedang terperosok? (Lihat 2 Petrus 3:16, 1 Yohanes 3:7).

47

PENuNTuN guru 4
Ringkasan Pelajaran Ayat Inti: Roma 3:28.

Anggota Kelas akan:

¾ Mengetahui: Membedakan peran hukum dan peran iman dalam pembenaran. ¾ Merasakan: Mengakui tubir-tubir yang dalam ke mana Allah datang untuk memikul pada diri-Nya akibat-akibat dosa kita. ¾ Melakukan: Menerima kematian Kristus bagi kita, yang membuat kita benar di hadapan Allah.

garis Besar Pelajaran:

I. Mengetahui: Hukum dan Kasih A. Bagaimanakah hukum menciptakan bagi kita satu gambaran tentang kesempurnaan Allah? Mengapakah kesempurnaan itu hanya bisa didapatkan melalui iman pada Kristus? B. Jelaskan bagaimana kematian Kristus adalah sebuah pengakuan akan tuntutan-tuntutan yang besar dari hukum sebagai sesuatu yang menjadi utang kita tetapi tak bisa dibayar dan bagaimana Allah menawarkan untuk menerima kehidupan dan kematian Kristus untuk membayar utang itu. C. Bagaimanakah seharusnya kita menghubungkan hukum Allah dan kasih Allah sebagaimana digambarkan oleh Salib? II. Merasakan: Dasar-dasar Hukum dan Kasih A. Bagaimanakah Raja alam semesta sanggup menegakkan dasar-dasar alam semesta dan pada saat yang sama mengulurkan kasih, pengharapan, dan rahmat bagi mereka yang berbeda pendapat dalam hal prinsip-prinsip penting itu? B. Dalam hal apa sajakah hati harus terentang saat Anda mencoba menyerap tinggi dan dalamnya jangkauan Allah? III. Melakukan: Sambutan Kita Bagaimanakah seharusnya sambutan kita setiap hari saat kita memahami tuntutan-tuntutan yang benar dari hukum Allah serta ketergantungan kita pada Kristus sebagai kebenaran kita?

rANgKuMAN: Hukum Allah itu sempurna, dan manusia tidak pernah dapat menjangkau standar ini; tetapi bila kita menerima kebenaran Kristus, yang diberikan sebagai ganti ketidaksempurnaan kita, Allah memperhitungkan kita benar.

48

Langkah Belajar

LANGKAH 1—Motivasi
Konsep Utama baGi pertUmbUhan rohani: Allah akan menggunakan segala sarana dalam kuasa-Nya untuk membawa kita kembali ke dalam keluarga-Nya. KhUsUs UntUK GUrU: Dalam pelajaran pekan ini kita membahas dan mendalami iman sebagai satu-satunya sarana kita untuk rekonsiliasi dengan Allah. Kita semua adalah penjahat residivis. Kita bahkan tidak bisa mengingat kapan kita mulai melakukan kejahatan. Hal itu terjadi secara alami. Lagipula, kita bertumbuh bersama dengan para penjahat lainnya, beberapa di antaranya mengajar kita—secara sengaja ataupun tidak—bagaimana melakukan kejahatan yang lebih banyak dengan lebih baik. Kita mengetahui perbedaan antara benar dan salah, jadi kita tidak bisa mengatakan kita sakit jiwa. Semua kejahatan kita diketahui sang hakim, dan sudah jelas kita tidak ada status tak bersalah sampai kita terbukti bersalah, karena toh semua orang tahu bahwa kita bersalah. Penyesalan tak menolong kita. Kita menghadapi hukuman seumur hidup yang berturut-turut yang bisa dilampaui hanya oleh hukuman mati yang terus-menerus. Tidak ada harapan. Tidak ada pengacara yang cukup handal untuk membebaskan Anda, atau sekadar mengurangi hukuman Anda. Tetapi tunggu! Di sini tampil seorang yang Anda sudah pernah dengar. Bagaimanakah Anda menggambarkannya? Dia adalah sebuah kombinasi sifat-sifat yang terbaik dari Gandhi, Ibu Teresa, Mozart, dan Stephen Hawking, namun lebih baik lagi. Dia adalah calon terbaik menerima banyak hadiah Nobel; tetapi gantinya, dia memutuskan untuk datang ke pengadilan Anda. Singkat cerita, dia menerima hukuman yang sepatutnya menjadi bagian Anda dan memberi Anda hormat yang sepatutnya menjadi bagian-Nya. Di manakah Anda dapati ini di buku hukum mana pun? Tiba-tiba Anda sudah dalam perjalanan menuju Stockholm, dan dia dalam perjalanan menuju tempat hukuman. Apakah yang Anda rasakan dengan gambaran ini? Pertimbangkan: Sebagai manusia kita mempunyai satu kesulitan untuk mengampuni orang lain. Bagaimanakah seharusnya kita menyambut tindakan pengampunan Allah yang luar biasa?

LANGKAH 2—Selidiki
Komentar Alkitab I. Dosa: Ditutupi atau Dihapuskan? (Baca kembali dengan anggota kelas Anda, Kejadian 3, Amsal 28:13, Roma 3:25, Ibrani 9:5, Keluaran 25:18-21). 49

Sebaik dan sebenar apa pun kita, hidup kita penuh dosa. Kita tahu kebenaran, dan sambutan alami kita adalah untuk menutupi dosa kita. Reaksi ini mengulang kembali yang di Taman Eden, ketika Adam dan Hawa menyadari bahwa mereka telanjang dan membuat jubah dari dedaunan (Kej. 3:7). Dalam hal tertentu, sambutan ini sangat masuk akal. Dosa kita memisahkan kita dari Allah serta bagian-bagian terbaik dari diri kita. Hal ini perlu ditutupi, sehingga kita dapat berhubungan dengan Allah yang suci dan menemukan menjadi orang seperti apakah kita yang dikehendaki Allah. Tetapi dapatkah kita melakukan hal ini dengan diri kita sendiri? Amsal 28:13 berkata bahwa “Siapa menyembunyikan pelanggarannya tidak akan beruntung, tetapi siapa mengakuinya dan meninggalkannya akan disayangi.” Dengan kata lain, kita tidak dapat menutupi dosa-dosa kita sendiri dan berharap semua itu akan tetap tertutup. Apakah yang terjadi bila kita mencoba menutupi sendiri sifat alami kita yang berdosa? Pertama, motif-motif kita tidak suci; pada saat kita menyembunyikan dosa-dosa kita, sering kita dimotivasi oleh keinginan untuk tampak baik di mata orang lain. Allah tidak bisa dibodohi, dan di lubuk hati kita, kita mengetahui ini. Kedua, menutupi dosa kita tidak tak ada gunanya. Lambat atau cepat, diri dosa yang sebenarnya akan muncul di sekeliling topeng kita. Ingatlah jubah daun yang dibuat Adam dan Hawa. Apakah yang terjadi pada dedaunan begitu Anda memetiknya dari pohonnya? Mereka akan menjadi kering, dan di situlah Anda, masih telanjang dengan jubah tersebut. Allah mau menyembunyikan sedapat mungkin dosa Anda seperti yang Anda mau—bahkan lebih lagi. Dia bukan saja mau menyembunyikannya; Dia mau menghapuskannya. Hanya Dia saja yang dapat melakukannya dengan berhasil. Baca kembali Kejadian 3. Ketika Allah menemukan Adam dan Hawa dan menjelaskan apa yang telah terjadi, Dia membuat jubah dari kulit hewan untuk menutupi ketelanjangan mereka. Apakah perbedaan antara jubah mereka dan jubah Allah? Itulah perbedaan antara daun dan kulit. Dan itulah perbedaan antara kegagalan dan pengampunan. Dalam konteks ini penting untuk dicatat bahwa istilah pendamaian atau propisiasi dalam kebanyakan terjemahan Bahasa Inggris untuk Ibrani 9:5 dihubungkan dengan tutup pendamaian pada peti perjanjian. Tutup ini sebenarnya bukan “sebuah kursi” seperti yang kita bayangkan, melainkan sebuah lempengan yang menutupi peti perjanjian. Di atas lempengan ini ada dua kerub dengan sayap yang membentang. Pada tutup pendamaian itu dosa-dosa kita dihapuskan dan dimusnahkan dari pemandangan Allah. Kata-katanya dalam Bahasa Ibrani lebih dekat maknanya pada penutupan itu sendiri daripada pada tindakan hukum untuk pendamaian. Kita mau dosa-dosa kita tidak kelihatan. Hanya Allah, melalui pekerjaan Anak-Nya Yesus Kristus, yang dapat memusnahkannya. Pertimbangkan: Apakah Anda percaya Allah menutupi dan menghapuskan dosa-dosa Anda, atau apakah Anda masih berusaha untuk melakukannya sendiri? Bila masih, apakah yang membuat Anda berhenti memohon pengampunan dan belas kasihan Allah? 50

II. Dibenarkan oleh Iman (Baca dengan anggota kelas Anda Roma 3:28). Allah mau mengampuni, menutupi dan menghapuskan dosa-dosa kita, dan kita mau agar dosa-dosa kita diampuni, ditutupi serta dihapuskan. Bagaimanakah kita, yang tidak suci serta najis ini, dapat menghampiri Allah yang bertolak belakang dengan semua keadaan kita ini? Sekali lagi, mari kita lihat gagasan tentang iman. Dalam keadaan kita sekarang ini, kita tidak dapat secara tepat mengerti Allah jika kita terus berada dalam keadaan kita. Jadi Allah memberikan kepada kita secara cuma-cuma sarana komunikasi dengan Dia. Sarana ini disebut iman. Iman bukan sekadar kepercayaan. Dalam konteks Kristen, iman mencakup kepasrahan. Bersandar pada Allah sebagai satu pribadi. Percaya bahwa Allah itu nyata dan Dia sedang bekerja demi kepentingan kita. Iman bukan sekadar sebuah emosi. Kita tidak selalu merasakan kehadiran Allah, atau juga merasakan “setia” atau penuh iman. Setiap manusia selalu mempunyai saat-saat ragu, saat-saat di mana dia sedang berjalan dan tibatiba bertanya, “Apakah ini sungguh-sungguh? Atau apakah saya hanya sedang membodohi diri saya?” Iman juga bukan sesuatu yang dapat dipahami dengan logika. Ia melebihi logika, emosi, dan segala kategori manusia lainnya, karena iman berasal dari Allah. Pada saat Allah memberikan kita iman, kita dapat menyadari dan meninggalkan kelemahan-kelemahan kita sebagai manusia. Kita dapat bersandar pada Allah untuk menghapuskan dosa-dosa kita dan mengetahui bahwa Dia telah melakukannya dengan cara yang melebihi pengetahuan dan pengertian kita. Setelah itu, kita menerima kuasa untuk menjadi satu umat yang Allah inginkan dan melakukan perkara-perkara yang dilakukan oleh umat tersebut. Pertimbangkan: Bagaimanakah iman kita mengubah cara kita menjalani hidup kita dalam cara-cara yang nyata dan dapat diamati?

LANGKAH 3—Praktikkan
KhUsUs UntUK GUrU: Tekankan pada anggota kelas bahwa kita diselamatkan bukan atas dasar kebaikan kita melainkan oleh kasih karunia dan kebaikan Allah yang menyelamatkan. pertanyaan-pertanyaan renUnGan: » Apakah kesetaraan, jika ada, bagi substitusi Kristus bagi kita dalam hukum atau keadilan manusia? Apakah yang hal ini katakan pada kita tentang bagaimana hukum Allah itu sangat lebih tinggi daripada hukum manusia? Apakah makna hal ini sehubungan dengan tujuan hukum Allah dibandingkan dengan hukum manusia, yang lebih berpusat terutama pada disiplin dan hukuman? ¼ Dalam hal apa sajakah kebenaran hukum dan kebenaran Allah itu identik atau saling melengkapi? 51

½ Bagaimanakah manusia diselamatkan sebelum Yesus datang ke bumi untuk hidup dan mati? Jika mereka diselamatkan dengan cara yang sama, menurut Anda apakah mereka memahami konsep keselamatan seperti yang kita pahami? Mengapa? Demikian juga, hal apa sajakah tentang keselamatan yang mungkin kita tidak pahami sekarang tetapi akan lebih memahaminya kemudian? pertanyaan-pertanyaan penerapan: » Secara konsep, pada umumnya kita dapat menerima bahwa dosa adalah dosa dan tidak ada seorang berdosa pun yang lebih baik daripada yang lainnya. Namun di sisi lain, kebanyakan kita lebih suka hidup dekat dengan seorang munafik atau penggosip ketimbang dengan seorang pembunuh massal. Masyarakat juga menghina atau menghukum beberapa dosa lebih daripada dosa lainnya. Jadi, dalam pengertian seperti ini, apakah semua dosa sama? ¼ Pengorbanan Kristus meniadakan tuntutan hukum dosa-dosa kita, tetapi kita sering menghadapi keadaan-keadaan yang berakar dari tindakan-tindakan di masa lalu. Bagaimanakah kita bisa menjadikan perkenanan Allah pada kita nyata dalam hidup kita? ½ Hanya melalui pengorbanan dan substitusi Kristus bagi kita maka kita dapat memelihara hukum. Bagaimanakah itu dan mengapa? Apakah karena kita mempunyai lebih banyak motivasi? Apakah kita mempunyai akses kepada kuasa supra alami yang kita tidak miliki sebelumnya? Jelaskan.

LANGKAH 4—Terapkan
KhUsUs UntUK GUrU: Pekan ini kita telah mempelajari bahwa sekalipun kita tidak layak untuk keselamatan, Allah telah menyediakannya bagi kita. Mengapakah kita masih suka hidup seperti biasanya? Satu konsep utama dalam pelajaran ini adalah konsep korban pengganti (substitusi). Catatan ketaatan Kristus yang sempurna kepada hukum menggantikan catatan ketidaktaatan kita, penurutan yang serampangan, atau penurutan dengan motif yang salah. Sebaliknya, kita boleh menggantikan kebenaran kita yang semu itu dengan kebenaran yang datang hanya dari Allah. Untuk menggambarkannya, tekankan konsep substitusi. Di dalam dunia kita, ada berbagai jenis pengganti untuk segala hal, yang lain lebih bagus, yang lainnya kurang bagus dibanding dengan yang asli. Beberapa contoh jenis yang menguntungkan: madu ganti gula, kedelai ganti daging, dsb. Yang lain berbahaya: skandal susu di Asia, contohnya, di mana pabrik-pabrik menggantikan protein dalam produk hewan dengan melamine, yang menyebabkan penyakit dan kematian. Tanyakan contoh lainnya pada anggota kelas. Bersedialah untuk menarik pelajaran-pelajaran rohaninya. 52

Pelajaran 5

*24-30 Juli 2010

Pembenaran dan Hukum
Sabat Petang
BAcA uNTuK PELAJArAN PEKAN INI: Kejadian 15:6; 2 Samuel 11, 12; Roma 3:20-23, 31; 4:1-17; Galatia 3:19; 1 Yohanes 3:4. AYAT HAFALAN: “Jika demikian, adakah kami membatalkan hukum Taurat karena iman? Sama sekali tidak! Sebaliknya, kami meneguhkannya” (Roma 3:31).

alam banyak hal, Roma 4 menyediakan dasar ajaran Alkitabiah tentang keselamatan hanya oleh iman. Oleh menggunakan Abraham—teladan kesucian dan kebajikan—sebagai sebuah contoh seorang yang butuh diselamatkan oleh kasih karunia tanpa perbuatan hukum Taurat, Paulus tidak memberikan ruang bagi para pembacanya untuk salah mengerti. Bila perbuatanperbuatan orang terbaik serta penurutannya kepada hukum tidak cukup untuk membenarkan dia di hadapan Allah, harapan apakah lagi yang dimiliki orang lain? Jika bagi Abraham pun harus oleh kasih karunia, sama halnya bagi yang lain pun, baik orang Yahudi maupun bangsa-bangsa lain. Dalam Roma 4, Paulus menyatakan tiga tahap utama dalam rencana keselamatan: (1) janji berkat Ilahi (janji kasih karunia); (2) sambutan manusia pada janji itu (respons iman); dan terakhir, (3) pernyataan benar yang diperhitungkan bagi mereka yang percaya (pembenaran). Begitulah yang terjadi dengan Abraham, dan begitulah yang terjadi dengan kita. Penting untuk diingat bahwa bagi Paulus, keselamatan adalah oleh kasih karunia; itu adalah sesuatu yang diberikan kepada kita, betapapun kita tidak layak. Jika kita layak mendapatkannya, maka itu adalah piutang kita, dan jika itu adalah piutang kita, itu adalah sebuah pembayaran utang dan bukan sebuah pemberian. Untuk membuktikan pokok ajarannya tentang keselamatan hanya oleh iman, Paulus menyinggung kembali Kitab Kejadian, mengutip Kejadian 15:6—“Lalu percayalah Abram kepada TUHAN, maka TUHAN memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran.” Di sini pembenaran oleh iman disebutkan dalam halaman-halaman pertama Alkitab. *Pelajari pelajaran pekan ini untuk Sabat, Juli 31. 53

D

Minggu
HuKuM DITEguHKAN

25 Juli

Baca roma 3:31. Apakah maksud Paulus di sini? Mengapa hal ini penting bagi kita sebagai orang Advent? Dalam ayat ini, Paulus menyatakan dengan tegas bahwa iman tidak membatalkan hukum Allah. Bahkan mereka yang memelihara hukum, sekalipun seluruh kumpulan hukum di Perjanjian Lama, tidak pernah diselamatkan olehnya. Agama Perjanjian Lama, sebagaimana juga Perjanjian Baru, selalu bertumpu pada kasih karunia Allah yang diberikan kepada orang berdosa oleh iman. Baca roma 4:1-8. Bagaimanakah ditunjukkan oleh ayat ini bahwa sekalipun dalam Perjanjian Lama, keselamatan adalah oleh iman dan bukan oleh melakukan hukum Taurat? Berdasarkan cerita Perjanjian Lama ini, Abraham diperhitungkan benar karena dia “percaya pada Allah.” Jadi, Perjanjian Lama sendiri mengajarkan kebenaran oleh iman. Dengan demikian, kesan bahwa iman “membatalkan” (kata Yunani, katargeo, “menjadikan tak berguna,” “membatalkan keabsahan”) hukum adalah salah; keselamatan oleh iman benar-benar bagian dari Perjanjian Lama. Kasih karunia diajarkan di seluruh Perjanjian Lama. Contohnya, apakah keseluruhan tatacara bait suci itu jika bukan sebuah lambang bagaimana orang berdosa diselamatkan, bukan oleh usaha mereka sendiri melainkan oleh kematian seorang pengganti yang menggantikan tempat mereka? Juga, apa lagi yang dapat menerangkan bagaimana Daud diampuni setelah perselingkuhan kotornya dengan Batsyeba? Tentu saja bukan penurutan pada hukum yang telah menyelamatkan dia, karena dia telah melanggar begitu banyak prinsip hukum yang dengan sendirinya menghukum dia atas banyak perkara. Jika memang Daud bisa diselamatkan oleh hukum, maka sudah tentu dia tidak akan diselamatkan sama sekali. Paulus menampilkan pemulihan Daud kepada perkenanan Ilahi sebagai sebuah contoh pembenaran oleh iman. Pengampunan adalah sebuah tindakan kasih karunia Allah. Maka ini adalah sebuah contoh lagi dari Perjanjian Lama perihal kebenaran oleh iman. Sebenarnya, betapapun orang Israel menjadi legalistik, agama Yahudi selalu merupakan sebuah agama kasih karunia. Legalisme adalah sebuah penyimpangan, bukan dasar dari agama tersebut. renungkan beberapa saat dosa Daud dan pemulihannya (2 Samuel 11, 12; Mazmur 51). Harapan apakah yang bisa Anda peroleh bagi diri Anda dari kisah sedih itu? Apakah di dalamnya ada pelajaran bagaimana seharusnya di dalam jemaat kita memperlakukan mereka yang telah jatuh?

54

Senin
KASIH KAruNIA ATAu uTANg

26 Juli

Masalah yang Paulus sedang perbincangkan di sini lebih dari sekadar teologi. Hal ini terkait langsung dengan inti keselamatan dan hubungan kita dengan Allah. Jika seorang percaya bahwa dia harus mengusahakan perkenanan Allah, bahwa dia harus mencapai satu standar kesucian tertentu sebelum dibenarkan dan diampuni, maka dengan sendirinya ia akan melihat ke dalam dirinya dan perbuatan-perbuatannya. Agama bisa menjadi sangat berpusat pada diri, satusatunya yang dibutuhkan hanyalah diri sendiri. Sebaliknya, jika seorang mengerti kabar baik bahwa pembenaran adalah sebuah pemberian dari Allah, sama sekali tidak pantas dan tidak layak, betapakah lebih mudah dan lebih cenderung orang tersebut mengalihkan fokusnya pada kasih dan rahmat Allah gantinya pada diri sendiri? Dan pada akhirnya, siapakah yang lebih cenderung mencerminkan kasih dan tabiat Allah—orang yang berpusat pada diri ataukah orang yang berpusat pada Allah? Baca roma 4:6-8. Bagaimanakah dalam ayat ini Paulus mengembangkan tema pembenaran oleh iman? “Orang berdosa harus datang dalam iman kepada Kristus, mengandalkan jasa-jasa-Nya, meletakkan dosa-dosanya pada Sang Penanggung dosa, dan menerima pengampunan-Nya. Untuk alasan inilah Kristus telah datang ke dunia ini. Dengan demikian kebenaran Kristus ditanamkan pada orang yang bertobat, orang berdosa yang percaya. Dia pun menjadi anggota keluarga kerajaan.”— Ellen G. White, Selected Messages, jld. 1, hlm. 215. Kemudian Paulus melanjutkan dengan menerangkan bahwa keselamatan oleh iman bukan saja bagi orang Yahudi tetapi juga bagi bangsa-bangsa lain (Roma 4:9-12). Kenyataannya, kalau Anda mau cermati, Abraham bukanlah seorang Yahudi; dia berasal dari keturunan orang kafir (Yos. 24:2). Perbedaan antara bangsa lain dan Yahudi tidak ada pada zamannya. Pada saat Abraham dibenarkan (Kej. 15:6), dia bahkan belum disunat. Dengan demikian, Abraham adalah bapa baik bagi orang yang tak bersunat maupun juga yang bersunat, sekaligus menjadi satu contoh besar yang Paulus gunakan untuk menekankan ajarannya tentang keselamatan yang universal. Kematian Kristus adalah bagi setiap orang, apa pun ras atau bangsanya (Ibrani 2:9). Menyadari khasiat Salib yang universal, mengetahui apa yang Salib nyatakan tentang nilai setiap umat manusia, mengapa prasangka dalam hal ras, suku, dan bangsa merupakan hal yang mengerikan? Bagaimanakah kita bisa belajar mengakui adanya prasangka buruk dalam diri kita, dan melalui kasih karunia Allah membersihkan prasangka itu dari pikiran kita? 55

Selasa
JANJI DAN HuKuM TAurAT

27 Juli

“Sebab bukan karena hukum Taurat telah diberikan janji kepada Abraham dan keturunannya, bahwa ia akan memiliki dunia, tetapi karena kebenaran, berdasarkan iman” (Roma 4:13). Dalam ayat ini, “janji” dan “hukum Taurat” dibedakan. Paulus berusaha meletakkan dasar dari Perjanjian Lama bagi ajarannya tentang kebenaran oleh iman. Dia menemukan satu contoh pada Abraham, sosok yang diterima kalangan Yahudi sebagai nenek moyang mereka. Perkenanan atau pembenaran diterima Abraham terlepas dari hukum Taurat. Allah mengikat sebuah janji dengan Abraham bahwa dia akan “memiliki dunia.” Abraham percaya janji tersebut; dengan kata lain, dia menerima peran yang terkandung dalam janji itu. Hasilnya, Allah berkenan atas dirinya dan bekerja melalui dia untuk menyelamatkan dunia. Ini tetap merupakan sebuah contoh luar biasa bagaimana kasih karunia bekerja bahkan di Perjanjian Lama, sehingga tak diragukan lagi, Paulus menggunakan contoh itu. Baca roma 4:14-17. Bagaimanakah dalam ayat ini Paulus terus menunjukkan bahwa keselamatan oleh iman adalah pusat Alkitab Perjanjian Lama? Lihat juga Galatia 3:7-9. Sebagaimana telah kita bahas sebelumnya, penting untuk diingat kepada siapa Paulus menulis suratnya. Orang-orang percaya dari kalangan Yahudi ini sudah sangat menyatu dengan hukum Taurat Perjanjian Lama, dan banyak yang percaya bahwa keselamatan mereka bergantung pada seberapa baik mereka memelihara hukum Taurat, sekalipun bukan itu yang diajarkan Perjanjian Lama. Dalam usahanya memperbaiki konsep yang salah ini, Paulus berargumentasi bahwa Abraham, jauh sebelum hukum Taurat di Sinai, telah menerima janjijanji itu, bukan oleh perbuatan-perbuatan hukum Taurat (yang adalah sangat sukar, karena hukum Taurat—yakni keseluruhan sistem upacara itu—belum dijalankan) melainkan oleh iman. Jika yang Paulus maksudkan dalam ayat ini adalah hanya hukum moral, yang secara prinsip sudah ada bahkan sebelum Sinai, masalahnya tetap sama. Bahkan mungkin lebih lagi! Berusaha menerima janji-janji Allah melalui hukum Taurat, katanya, membatalkan iman, bahkan membuat iman tak berguna. Memang penyataan itu cukup tegas, tetapi maksud Paulus di sini adalah bahwa iman menyelamatkan, dan hukum Taurat menghukum. Paulus berusaha mengajarkan bahwa kekonyolan mencari keselamatan melalui sarana yang justru menuntun pada penghukuman, karena kita semua, baik Yahudi maupun bukan, telah melanggar hukum, dan dengan demikian kita semua membutuhkan hal yang sama seperti yang dibutuhkan Abraham: kebenaran Yesus yang menyelamatkan diperhitungkan kepada kita oleh iman. 56

Rabu
HuKuM DAN IMAN

28 Juli

Dalam pelajaran kemarin, Paulus menunjukkan bahwa perlakuan Allah terhadap Abraham membuktikan bahwa keselamatan terjadi melalui janji kasih karunia dan bukan melalui hukum Taurat. Jadi, jika orang Yahudi mau diselamatkan, mereka harus meninggalkan pengandalan perbuatan-perbuatan mereka untuk keselamatan dan menerima janji bagi Abraham, yang kini digenapi oleh datangnya Mesias. Demikian jugalah halnya bagi setiap orang, Yahudi atau bukan, yang menyangka bahwa perbuatan-perbuatan “baik” mereka adalah segalanya yang membuat mereka berkenan kepada Allah. “Asas yang mengatakan bahwa manusia dapat menyelamatkan dirinya oleh jasa-jasanya sendiri, menjadi dasar setiap agama kafir.... Di mana saja asas tersebut dipegang, manusia tidak mempunyai penghalang terhadap dosa.”—Ellen g. White, Alfa dan Omega, jld. 5, hlm. 32. Apakah maksud pernyataan ini? Mengapa gagasan bahwa kita dapat membenarkan diri sendiri melalui usaha kita justru membuat kita terbuka pada dosa? ________________________________________________________________ ______________________________________________________________ Bagaimanakah Paulus menjelaskan hubungan antara hukum dan iman dalam kitab galatia? Gal. 3:21-23. _______________________________________________________________ ______________________________________________________________ Jika memang ada sebuah hukum yang dapat memberi kehidupan, maka pastilah itu hukum Allah. Akan tetapi, Paulus berkata bahwa tidak ada hukum, bahkan hukum Allah sekalipun, yang dapat memberikan kehidupan, karena semua orang telah melanggar hukum itu, dan dengan demikian semua orang telah dinyatakan salah oleh hukum itu sendiri. Tetapi janji iman, yang lebih sempurna dinyatakan melalui Kristus, membebaskan semua orang yang percaya dari berada “di bawah hukum Taurat”; yaitu, dari keadaan terhukum dan terbebani oleh berusaha memperoleh keselamatan melalui hukum Taurat. Hukum itu menjadi sebuah beban bilamana ditampilkan tanpa iman, tanpa kasih karunia—karena tanpa iman, tanpa kasih karunia, tanpa kebenaran yang datang oleh iman, berada di bawah hukum Taurat berarti berada di bawah beban dan hukuman dosa. Seberapa utamakah kebenaran oleh iman bagi perjalanan kehidupan Anda bersama Allah? Artinya, apakah yang dapat Anda lakukan untuk memastikan ajaran tersebut tidak dikaburkan oleh aspek-aspek kebenaran lainnya sampai pada titik di mana Anda kehilangan pandangan akan ajaran penting ini? 57

Kamis
HuKuM DAN DOSA

29 Juli

Sering kita dengar bahwa dalam sistem Perjanjian Baru hukum telah dihapuskan, dan mereka mengutip ayat-ayat yang dipercayai membuktikan ajaran tersebut. Akan tetapi ajaran tersebut tidak tepat, baik menurut logika maupun teologi. Baca 1 Yohanes 2:3-6; 3:4 dan roma 3:20. Apakah yang ayat-ayat ini katakan tentang hubungan antara hukum dan dosa? Beberapa ratus tahun lalu, seorang penulis Irlandia bernama Jonathan Swift menulis: “Tetapi apakah setiap orang akan berkata bahwa jika kata-kata minum, licik, bohong, mencuri oleh keputusan Parlemen telah dikeluarkan tiba-tiba dari bahasa Inggris serta kamus-kamus bahasa Inggris, maka besok pagi kita semua harus bangun tidak mabuk, jujur dan adil, serta mengasihi kebenaran? Apakah ini sebuah konsekuensi yang adil?”—Jonathan Swift, A Modest Proposal and Other Satires, (New York: Prometheus Books, 1995), hlm. 205. Demikian juga halnya, jika hukum Allah telah dihapuskan, lalu mengapa dusta, membunuh, dan mencuri tetap merupakan dosa atau kesalahan? Jika hukum Allah telah diubah, maka definisi dosa harus diubah juga. Atau jika hukum Allah telah ditiadakan, maka dosa juga harus ditiadakan, dan siapakah yang percaya hal tersebut? (Lihat juga 1 Yohanes 1:7 -10; Yakobus 1:14, 15.) Dalam Perjanjian Baru, hukum dan Injil tampil bersama. Hukum menunjukkan apa itu dosa; dan Injil menunjuk pada penawar bagi dosa itu, yaitu kematian dan kebangkitan Yesus. Jika tidak ada hukum, maka tidak ada dosa, lalu dari apakah kita diselamatkan? Hanya dalam ruang lingkup hukum serta keabsahannya yang berkesinambunganlah Injil mempunyai fungsi. Sering kita dengar bahwa Salib telah membatalkan hukum. Ini justru ironis, karena Salib menunjukkan bahwa hukum tidak dapat dibatalkan ataupun diubah. Jika Allah tidak membatalkan atau bahkan mengubah hukum sebelum Kristus mati di atas salib, mengapa harus melakukannya justru setelah itu? Mengapa tidak meninggalkan hukum setelah manusia jatuh dalam dosa dengan demikian membebaskan manusia dari hukuman akibat pelanggaran terhadap hukum tersebut? Dengan jalan demikian, Yesus tidak harus mati. Kematian Yesus menunjukkan bahwa jika hukum bisa diubah atau dibatalkan, maka itu seharusnya sudah dilakukan sebelum Salib, bukan sesudahnya. Oleh sebab itu, tidak ada yang bisa menunjukkan keabsahan hukum yang berkesinambungan lebih daripada yang ditunjukkan oleh kematian Yesus, suatu kematian yang terjadi justru karena hukum tidak bisa diubah. Jika saja hukum bisa diubahkan agar menyelamatkan kita dari keadaan berdosa ini, bukankah hal itu telah bisa menjadi sebuah solusi lebih baik bagi masalah dosa lebih daripada Yesus harus mati? Jika saja tidak ada hukum Ilahi menentang perzinaan, apakah tindakan zina akan mengakibatkan lebih sedikit kepedihan dan luka hati daripada yang terjadi sekarang pada para korban perzinaan? Bagaimanakah jawaban Anda menolong memahami mengapa hukum Allah masih berlaku? Apakah pengalaman Anda sendiri dengan akibat-akibat dari pelanggaran hukum Allah?

58

Jumat

30 Juli

PELAJArI SELANJuTNYA: Baca Ellen G. White, “Christ the Center of the Message,” hlm. 388, dalam Selected Messages, jld. 1; “Panggilan kepada Abraham,” hlm. 136-144; “Hukum dan Perjanjian,” hlm. 430-444, dalam Alfa dan Omega, jld. 1; “Khotbah di Atas Bukit,” dalam Alfa dan Omega, jld. 5, hlm. 317-335; “Pertentangan,” hlm. 227-237; “Sudah Selesai,” hlm. 410-418, dalam Alfa dan Omega, jld. 6. “Di dalam zaman kasta, di mana hak manusia sering tidak diketahui, Paulus mengemukakan kebenaran yang besar dari persaudaraan manusia, menerangkan bahwa Allah ‘telah menjadikan semua bangsa dan umat manusia untuk mendiami seluruh muka bumi.’ Pada pemandangan Allah semua dijadikan sama”—Ellen G. White, Alfa dan Omega, jld. 7, hlm. 201. “Agar diselamatkan, dan supaya kewibawaan hukum tetap terpelihara, maka perlu bagi Anak Allah untuk menyerahkan diri-Nya sebagai korban karena dosa. Dia yang tidak mengenal dosa telah menjadi dosa bagi kita. Dia mati untuk kita di Golgota. Kematian-Nya menunjukkan kasih ajaib Allah bagi manusia, dan ketidakberubahan hukum.”—Ellen G. White, Selected Messages, jld. 1, hlm. 240. “Kebenaran adalah penurutan pada hukum. Hukum mewajibkan adanya kebenaran, dan dalam hal ini orang berdosa berutang pada hukum; tetapi ia tidak sanggup membayarnya. Satu-satunya jalan dia bisa memperoleh kebenaran adalah melalui iman. Oleh iman dia dapat membawa kepada Allah jasa-jasa Kristus, dan Tuhan menempatkan penurutan Anak-Nya pada orang berdosa tersebut.”—Ellen G. White, Selected Messages, jld. 1, hlm. 367. “Jika Setan berhasil menuntun manusia mengandalkan usaha-usahanya sendiri sebagai perbuatan-perbuatan jasa dan kebenaran, dia tahu bahwa dia dapat mengalahkan manusia itu oleh pencobaan-pencobaannya, dan menjadikan dia korban dan mangsa . . . . Bubuhi ambang-ambang pintu dengan darah Anak Domba Golgota, dan engkau selamat.”—Ellen G. White, Review and Herald, 3 Sept., 1889. PErTANYAAN-PErTANYAAN uNTuK DISKuSI: n Mengapa penting untuk memahami keselamatan hanya oleh iman tanpa perbuatan hukum Taurat? Terhadap kesalahan seperti apakah kita dilindungi oleh pengetahuan itu? Apakah bahaya-bahaya yang mengintai mereka yang kehilangan pandangan akan pentingnya ajaran Alkitabiah ini? o Alasan-alasan lain apakah yang dapat Anda berikan untuk mendukung kesinambungan keabsahan hukum Allah, sementara kita juga tahu bahwa hukum dan penurutan pada hukum itu bukanlah yang menyelamatkan kita? p renungkan lagi gagasan bahwa karena Salib semua manusia sederajat. Mengapakah sering orang Kristen, dengan Salib di hadapan mereka, tampaknya lupa pada kebenaran penting ini dan bersalah dalam hal prasangka buruk rasisme, sukuisme atau bahkan nasionalisme? q Sebagai orang-orang berdosa yang telah dibenarkan, kita telah dijadikan penerima kasih karunia dan rahmat Allah, terhadap Siapa kita telah berdosa. Bagaimanakah kenyataan ini mempengaruhi perlakuan kita terhadap orang lain? Bagaimanakah kita harus penuh kasih karunia dan bermurah hati terhadap mereka yang bersalah kepada kita, yang sebenarnya tidak layak mendapatkan pengampunan dan belas kasihan kita?

59

PENuNTuN guru 5
Ringkasan Pelajaran Ayat Inti: Roma 4:1, 2.

Anggota Kelas Akan:

¾ Mengetahui: Menjelaskan mengapa sebuah pemahaman tentang iman dalam persediaan Allah bagi kebenaran kita telah menjadi dasar sebuah hubungan yang benar dengan Dia, baik dalam Perjanjian Lama maupun Baru. ¾ Merasakan: Merasakan berkat-berkat pembenaran oleh iman. ¾ Melakukan: Meninggalkan usaha-usaha kita sendiri dan menaruh seluruh percaya kita pada apa yang Kristus telah lakukan.

garis Besar Pelajaran:

I. Mengetahui: Iman Abraham A. Mengapakah Abraham, bapa orang yang bersunat maupun tidak bersunat, diperhitungkan benar? Apakah manfaat mengetahui bahwa perhitungan ini telah terjadi lama sebelum ada perbedaan antara orang Yahudi dan bangsa lain, pemberian hukum Musa, ataupun kematian Kristus di atas salib? B. Mengapakah pembenaran oleh iman, bukannya pemeliharaan hukum, yang telah menjadi satu kepercayaan penting bagi semua orang di segala zaman?

II. Merasakan: Berkat-berkat Pembenaran A. Sekalipun Daud berdosa begitu keji, bagaimanakah Allah sanggup mengampuni dia? B. Apakah berkat-berkat yang datang dari dibenarkan oleh iman? (Roma 4:6-8). III. Melakukan: Meninggalkan Diri Demi Kristus A. Oleh karena hukum tidak memberi hidup atau kebenaran melainkan hanya membedakan antara kebenaran dan dosa, apakah yang Anda lakukan untuk menjadi benar dan memperoleh hidup kekal? B. Bagaimanakah sikap orang yang diselamatkan oleh pengorbanan Kristus terhadap hukum? rANgKuMAN: Semua orang di segala zaman telah menghadapi kebutuhan yang sama untuk meninggalkan segala unsur usaha bagi keselamatan oleh mengikuti aturan-aturan atau upacara-upacara. Keselamatan terjadi hanya oleh mengizinkan Allah membenarkan kita melalui darah yang dicurahkan bagi kita dalam Yesus Kristus.

60

Langkah Belajar

LANGKAH 1—Motivasi
Konsep Utama baGi pertUmbUhan rohani: Allah adalah sumber keadilan dalam hukum-Nya dan kasih karunia dalam kematian pendamaian Yesus Kristus yang menyelamatkan kita dari dosa. KhUsUs UntUK GUrU: Dalam pelajaran pekan ini, kita membahas dan mendalami hubungan antara hukum Allah dan kasih karunia-Nya. Bayangkan Anda sedang berada di satu sekolah yang menawarkan dua angka saja: lulus atau gagal. Masalah satu-satunya adalah bahwa untuk lulus, Anda perlu sebuah angka sempurna pada setiap kuis, setiap ujian, setiap tugas. Satu jawaban yang salah saja, hanya satu, akan menghancurkan kesempatan untuk lulus. Dengan kata lain, Anda dapat menjawab semua pertanyaan dengan benar, setiap saat, lalu kemudian pada pertanyaan terakhir di ujian terakhir Anda salah, dan Anda akan mendapatkan nilai gagal yang sama seperti yang diperoleh seseorang yang menjawab semua pertanyaan dengan salah. Dalam hal ini, seperti itulah keselamatan. Kita perlu sebuah nilai sempurna untuk keselamatan, kesucian yang mutlak sempurna, penurutan yang mutlak sempurna pada hukum Allah. Kurang sedikit saja dari hal itu akan mengakibatkan sebuah nilai gagal. Orang suci yang paling hebat yang mempunyai kesalahan yang paling kecil sekalipun berada dalam satu kelompok dengan seorang penjahat yang paling sadis dan bobrok. Tanpa kebenaran mutlak, kita binasa. Kini, andaikan di sekolah itu ada seorang mahasiswa yang bukan saja mempunyai nilai sempurna tetapi juga menawarkan untuk berbagi nilai itu dengan Anda. Artinya, nilainya yang sempurna itu menjadi milik Anda, dan itulah satu-satunya cara Anda lulus. Demikianlah halnya dengan Injil. Tak satu pun kita yang mempunyai nilai lulus. Semua kita telah salah menjawab lebih dari satu pertanyaan, karena kita semua telah melanggar hukum. Hanya Yesus yang mempunyai kebenaran sempurna, dan kabar baik Injil itu adalah bahwa Dia menawarkan kebenaran sempurna itu kepada semua yang mau memintanya dengan sungguh-sungguh oleh iman. Pertimbangkan: Hukum Allah berasal dari kebenaran dan kebaikan serta kasih karunia-Nya. Oleh sebab itu, mengapakah tidak masuk akal jika Dia harus meniadakannya, sebagaimana yang diyakini banyak orang Kristen?

61

LANGKAH 2—Selidiki
Komentar Alkitab I. Abraham (Baca kembali bersama kelas Anda, Kejadian 15:6 dan Roma 4). Sebagai manusia kita cenderung memuji orang lain, kadang dengan sungguh-sungguh! Hal ini sama benarnya dengan bagaimana kita orang Kristen menilai para tokoh Alkitab dan pahlawan-pahlawan iman lainnya. Kita lupa bahwa mereka adalah para pahlawan iman. Mereka menjadi seperti itu karena mereka mempunyai iman pada apa yang Allah dapat lakukan melalui dan bagi mereka, bukan karena mereka dilahirkan dengan gen kesucian yang istimewa yang tidak ada pada kita. Coba pikirkan Abraham. Abraham dihormati oleh tiga agama dunia yang mempunyai sedikit kesamaan pandangan. Di zaman dulu orang kafir pun menganggap Abraham sebagai satu tokoh yang pantas dihormati. Kaisar Roma kafir Alexander Severus (yang memerintah dari tahun 222-235 Masehi), menekankan hal ini dengan luar biasa dan semarak, membuat sebuah patung setengah badan Abraham—bersama dengan patung Musa, Yesus, Orpheus, dan Apollonius dari Tyana—di kapel pribadinya. Namun, di manakah letak kebesaran Abraham? “Lalu percayalah Abraham kepada Tuhan, dan Tuhan memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran,” sebagaimana dinyatakan dalam Roma 4:3, dikutip dari Kejadian 15:6. Abraham harus mempunyai kebenaran yang diperhitungkan kepadanya, karena dirinya sendiri tidak benar. Dia membuat banyak kesalahan. Kadang dia mendasari keputusan-keputusannya pada ketakutan dan ketidaksetiaan. Contohnya, baca Kejadian 12:10-20, di mana dia menyangkal Sarah sebagai istrinya dan membiarkannya diambil oleh Firaun sebagai seorang gundik, dan dia mengulangi kembali kesalahan itu sehubungan dengan Abimelekh di Kejadian 20. Lalu, ada juga keputusannya, dalam Kejadian 16, untuk menolong Allah dalam menggenapi janji Allah untuk memberinya seorang anak. Singkatnya, jika dicermati, masa lalu Abraham diwarnai dengan kegagalan-kegagalan sama seperti masa lalu kita juga, dan kegagalannya itu dicatat dalam Alkitab. Keturunan Abraham juga tidak ada yang suci, sekalipun orang Yahudi di zaman Paulus membanggakan diri sebagai keturunan Abraham. Abraham adalah keturunan Nuh, sama seperti semua orang lain yang mendiami bumi. Sekalipun orang-orang yang paling jahat sebelum Air Bah sudah mati, dengan tidak meninggalkan keturunan, keturunan Nuh segera membuktikan bahwa mereka juga mempunyai bibit menyangkal dan mengecewakan Allah. Mereka itulah nenek moyang Abraham. Baik kecondongan Abraham kepada kebaikan dan kesuciannya, ataupun warisannya, tidak ada yang secara khusus patut diperhatikan, namun Abraham istimewa, sama seperti setiap kita juga bisa menjadi istimewa: dia percaya bahwa Allah dapat mengubah dia, bekerja melalui dirinya, dan memberkati dunia ini melalui dia. Dia percaya kepada Allah dan Allah menerima dia sebagai orang benar, dan Allah menjadikan dia layak menerima kebenaran. 62

Pertimbangkan: Sama seperti Allah memaksudkan Abraham menjadi berkat bagi seluruh dunia terlepas dari kelemahan-kelemahan pribadinya, Allah juga mau memberkati seluruh dunia ini melalui kita semua. Bagaimanakah cerita Abraham mengilhami Anda untuk percaya kepada Allah sebagaimana Dia juga percaya dengan Anda? II. Karena Kasih Karunia, oleh Iman (Baca kembali dengan anggota kelas Anda, Roma 4:13-16 dan Efesus 2:8). Kasih karunia dan iman adalah kata-kata yang biasanya ditemukan berkaitan erat dalam Perjanjian Baru. Efesus 2:8 mengatakan bahwa “Karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman.” Iman adalah satu-satunya jalan kita bisa menjangkau Allah. Tetapi iman itu akan sia-sia jika Allah tidak terlebih dahulu menjangkau kita. Tindakan Allah dalam menjangkau kita adalah sebuah tindakan kasih karunia, atau sebuah rahmat yang tak pantas kita dapatkan. Dalam Perjanjian Lama kata yang biasanya diterjemahkan kasih karunia berkaitan dengan perkenanan seseorang terhadap orang lain, sering tanpa motif atau alasan yang tampak. Digunakan secara teologis dalam Perjanjian Lama, artinya masih tetap sama, hanya saja itu berasal dari Allah yang melihat kita dan mengasihi kita karena apa adanya Dia dan yang Dia lakukan. Di samping kasih karunia, ada hukum Allah. Allah memberikan kita perintah-perintah-Nya, dan yang harus kita lakukan adalah menaatinya. Lagipula hanya ada 10 perintah. Kita berusaha keras, namun kenyataannya adalah bahwa terpisah dari Allah kita tidak mempunyai kesanggupan untuk menaati 10 kebenaran sederhana itu. Dapatkah Allah begitu saja meniadakan semua atau beberapa dari tuntutantuntutan hukum itu? Tidak bisa tanpa kompromi atas keadilan dan kesucianNya. Tetapi Allah dapat dan bahkan mengulurkan lebih banyak kasih karunia kepada kita, yang kita tanggapi dan sambut oleh iman. Atas dasar kehidupan yang sempurna dan korban pendamaian Anak-Nya, Allah memperhitungkan kita menerima kebenaran Kristus. Pertimbangkan: Bagaimanakah kita menghidupkan iman pemberian Allah itu untuk menerima kasih karunia-Nya yang menyelamatkan?

LANGKAH 3—Praktikkan
KhUsUs UntUK GUrU: Ajak anggota kelas Anda untuk menggunakan pertanyaan-pertanyaan di bawah ini untuk berpikir tentang hubungan antara kasih karunia dan hukum Allah. pertanyaan-pertanyaan renUnGan: » Banyak orang di zaman Paulus yang bingung perihal hubungan antara hukum dan kasih karunia. Ada yang percaya bahwa penting untuk taat pada hukum agar layak menerima kasih karunia. Yang lain berpikir bahwa mungkin saja 63

untuk taat pada hukum tanpa ada kasih karunia, sehingga keselamatan itu dikumpulkan sedikit demi sedikit sama seperti piutang yang bisa ditagih. Apakah hubungan yang benar antara kasih karunia dan hukum? ¼ Salah satu alasan hukum tidak bisa diubah atau dihapus adalah karena prinsip-prinsip pentingnya yang melambangkan kemauan dan tabiat Allah, dan dengan demikian, hukum itu tetap berlaku. Bagaimanakah Anda menggambarkan prinsip-prinsip itu dalam dua atau tiga kalimat? ½ Mengapakah kepercayaan bahwa seseorang masuk ke surga atau mendapatkan keselamatan melalui perbuatan baiknya masih saja merajalela, bahkan di kalangan orang-orang Kristen? pertanyaan-pertanyaan penerapan: » Bahkan dengan pengetahuan bahwa kita diselamatkan karena kasih karunia, kita cenderung menjadi terobsesi oleh penampilan kita sendiri. Apakah bahaya-bahaya dari obsesi ini? Bagaimanakah kita bisa kembali fokus pada kasih karunia? ¼ Sekalipun Paulus dan para penulis lain Perjanjian Baru menekankan keselamatan dari Kristus yang universal, bagaimanakah kita masih—bahkan di dalam gereja Kristen—menaruh halangan-halangan yang sebenarnya tidak penting? ½ Abraham percaya pada janji-janji Allah, dan tanda dari percayanya itu adalah sunat. Apakah tanda-tanda luar/lahiriah oleh mana kita menyatakan iman kita dewasa ini?

LANGKAH 4—Terapkan
KhUsUs UntUK GUrU: Pekan ini kita telah pelajari bahwa hukum Allah masih berlaku karena (bukan sekalipun) keselamatan dari dosa yang kita terima di dalam Yesus Kristus. Hukum Allah tidak berubah-ubah. Kita dapat melihat hal ini khususnya dalam Sepuluh Perintah, yang merangkum aturan-aturan bagi tingkah laku manusia terhadap Allah dan terhadap sesama. Bahkan mereka yang percaya pada penghapusan hukum oleh Perjanjian Baru tidak mau hidup dalam satu masyarakat di mana orang mengabaikan atau menganggap hanya sebagai satu pilihan saja prinsip-prinsip yang ada dalam Sepuluh Perintah itu. Tuliskan satu atau lebih dari Sepuluh Perintah itu di papan tulis. Minta salah satu anggota kelas untuk membaca dengan nyaring. Tanyakan prinsip apa yang ada di belakang perintah itu dan bagaimana seseorang dapat menerapkannya.

64

Pelajaran 6

*31 Juli–6 Agustus 2010

Menjelaskan Iman
Sabat Petang
BAcA uNTuK PELAJArAN PEKAN INI: Roma 5. AYAT HAFALAN: “Sebab itu, kita yang dibenarkan karena iman, kita hidup dalam damai sejahtera dengan Allah oleh karena Tuhan kita, Yesus Kristus. Oleh Dia kita juga beroleh jalan masuk oleh iman kepada kasih karunia ini. Di dalam kasih karunia ini kita berdiri dan kita bermegah dalam pengharapan akan menerima kemuliaan Allah” (Roma 5:1, 2).

P

aulus telah menegakkan ajaran bahwa pembenaran, atau perkenanan Allah, diperoleh hanya melalui iman dalam Yesus Kristus, karena kebenaran-Nya saja cukup untuk membenarkan kita dengan Tuhan kita. Atas dasar kebenaran besar itu, kini Paulus menjelaskan lebih jauh tentang tema ini. Dengan menunjukkan bahwa keselamatan haruslah oleh iman dan bukan oleh usaha, sekalipun untuk seseorang yang “benar” seperti Abraham, Paulus seakan beranjak balik untuk melihat gambaran menyeluruh—pada sebab musabab dosa dan penderitaan serta maut dan bagaimana solusi didapatkan dalam Kristus dan apa yang telah dilakukan-Nya bagi umat manusia. Melalui kejatuhan satu manusia, Adam, semua manusia menghadapi hukuman, pengasingan, dan kematian; melalui kemenangan satu manusia, Yesus, seluruh dunia ditempatkan pada sebuah tempat baru di hadapan Allah, di mana melalui iman dalam Yesus, catatan dosa-dosa mereka, serta hukuman dosa-dosa tersebut dapat dihapuskan, dapat diampuni dan dimaafkan selama-lamanya. Paulus membandingkan Adam dan Yesus, menunjukkan bagaimana Kristus datang untuk memulihkan apa yang telah dibuat Adam dan dengan iman para korban dosa Adam dapat diselamatkan oleh Yesus, Sang Juruselamat. Dasar dari semuanya adalah salib Kristus serta kematian-Nya sebagai pengganti di atas salib itu—yang membuka jalan bagi semua manusia, Yahudi atau bangsa lain, untuk diselamatkan oleh Yesus, yang dengan darah-Nya membawa pembenaran bagi semua orang yang menerima Dia. Sesungguhnya inilah tema yang pantas dijelaskan lebih jauh, karena itulah dasar segala pengharapan kita. *Pelajari pelajaran pekan ini untuk Sabat, Agustus 7. 65

Minggu
SEBAB ITu, KITA YANg DIBENArKAN

1 Agustus

Baca roma 5:1-5. Pada deretan garis di bawah ini, rangkumkanlah pekabaran Paulus. Pelajaran apakah yang dapat Anda terapkan sekarang dari pekabaran tersebut? ________________________________________________________________ ______________________________________________________________ “Dibenarkan” secara harfiah berarti “telah dibenarkan.” Kata kerjanya dalam Bahasa Yunani menggambarkan sebuah tindakan yang telah tuntas. Kita telah dinyatakan benar, atau dianggap benar, bukan melalui perbuatan hukum apa pun melainkan melalui penerimaan kita akan Yesus Kristus. Kehidupan sempurna yang Kristus jalankan di atas bumi ini, penurutan-Nya yang sempurna terhadap hukum, telah diperhitungkan kepada kita. Pada saat yang sama, semua dosa kita telah diletakkan pada Yesus. Allah telah memperhitungkan bahwa Yesuslah yang telah melakukan dosa-dosa itu, bukan kita, dan dengan jalan itu kita bisa dibebaskan dari hukuman yang sepantasnya kita tanggung. Hukuman itu dijatuhkan pada Kristus bagi kita, demi kepentingan kita, sehingga kita tidak akan pernah menghadapinya sendiri. Berita apakah lagi yang lebih indah bagi orang berdosa daripada berita ini? Kata Yunani yang diterjemahkan “bermegah” di ayat 3 juga diterjemahkan “bermegah” (atau dalam versi lain, “bersukacita”) di ayat 2. Dengan demikian hubungan antara ayat 2 dan 3 terlihat jelas. Orang-orang yang dibenarkan bermegah/bersukacita dalam kesengsaraan karena mereka telah mengarahkan iman dan percaya mereka dalam Yesus Kristus. Mereka mempunyai keyakinan bahwa Allah mengatur segala sesuatu untuk kebaikan. Mereka akan menganggap suatu kehormatan untuk menderita karena Kristus. (Lihat 1 Petrus 4:13). Perhatikan juga urutan berikutnya dalam ayat 3 hingga 5. 1. Ketekunan. Kata Yunani hupomone berarti “ketekunan yang tetap.” Ini adalah jenis ketekunan yang terbangun oleh kesengsaraan dalam diri seseorang yang memelihara iman dan tidak kehilangan pandangan pada pengharapan yang dimilikinya dalam Kristus bahkan di tengah-tengah berbagai kesukaran dan penderitaan yang bisa membuat hidup terkadang sangat mengerikan. 2. Tahan Uji. Arti harfiah kata Yunani dokime adalah “mutu yang telah terbukti,” yaitu, “tabiat,” atau khususnya “tabiat yang telah teruji.” Orang yang dengan tekun bertahan dalam kesukaran dapat membangun sebuah tabiat yang teruji. 3. Pengharapan. Ketekunan dan tahan uji dengan sendirinya menimbulkan pengharapan, yaitu pengharapan yang didapatkan dalam Yesus dan janji keselamatan di dalam Dia. Selama kita bersandar pada Yesus dalam iman, pertobatan, dan penurutan, kita mempunyai pengharapan dalam segala sesuatu. Satu hal apakah dalam hidup Anda yang Anda harapkan lebih daripada segala sesuatu? Bagaimanakah pengharapan itu dapat digenapi dalam Yesus? Atau dapatkah itu digenapi? Jika tidak, apakah Anda yakin untuk menaruh pengharapan yang besar dalam hal tersebut? 66

Senin
ALLAH MENcArI MANuSIA

2 Agustus

Baca roma 5:6-8. Apakah yang ayat ini katakan tentang tabiat Allah, dan mengapa pekabarannya penuh dengan pengharapan bagi kita? Pada waktu Adam dan Hawa dengan memalukan dan tak ada alasan melanggar tuntutan Ilahi, Allah mengambil langkah-langkah awal untuk pendamaian. Sejak saat itu, Allah telah mengambil inisiatif dalam menyediakan sebuah jalan keselamatan dan dalam mengundang manusia untuk menerimanya. “Tetapi setelah genap waktunya, maka Allah mengutus Anak-Nya.” (Gal. 4:4). roma 5:9 berkata bahwa kita dapat diselamatkan dari murka Allah melalui Yesus. Bagaimanakah kita memahami makna ini? ________________________________________________________________ ______________________________________________________________ Sama seperti darah pada ambang pintu orang-orang Israel di Mesir di malam keberangkatan mereka telah melindungi setiap anak sulung dari murka yang menimpa anak-anak sulung Mesir, demikian juga darah Yesus Kristus menjamin bahwa orang yang telah dibenarkan dan tetap dalam status itu akan dilindungi pada saat murka Allah pada akhirnya membinasakan dosa di akhir zaman. Beberapa orang sulit memahami gagasan bahwa Allah yang mengasihi juga mempunyai murka. Tetapi justru karena kasih-Nyalah maka ada murka tersebut. Bagaimanakah Allah, yang mengasihi dunia ini, tidak mempunyai murka terhadap dosa? Jika memang Ia acuh tak acuh kepada kita, tentu Dia tidak akan peduli dengan apa yang terjadi di dunia ini. Lihatlah sekeliling di dunia ini dan lihat apa yang dosa telah lakukan terhadap ciptaan-Nya. Bagaimanakah mungkin Allah tidak murka terhadap dosa dan kejahatan? Apakah alasan lainnya bagi kita untuk bersukacita? (Roma 5:10, 11). ________________________________________________________________ ______________________________________________________________ Beberapa komentator telah melihat di ayat 10 sebuah catatan sehubungan dengan kehidupan yang dijalani Kristus di bumi ini, yang dijalankan-Nya dengan tabiat sempurna yang kini Dia tawarkan untuk diperhitungkan kepada kita. Meskipun tentu saja inilah yang telah dilakukan oleh kehidupan Yesus yang sempurna, tampaknya Paulus menekankan fakta bahwa sekalipun Kristus mati, Dia telah bangkit kembali dan hidup selama-lamanya (lihat Ibrani 7:25). Karena Dia hidup, maka kita diselamatkan. Jika Dia tetap dalam kubur, pengharapan kita akan binasa bersama Dia. Ayat 11 melanjutkan alasan-alasan bagi kita untuk bersukacita di dalam Tuhan, dan itu karena apa yang Yesus telah perbuat untuk kita. 67

Selasa
MAuT DITELAN

3 Agustus

Maut adalah suatu musuh, musuh paling utama. Pada waktu Allah menciptakan keluarga manusia, Dia merancang agar anggota-anggotanya akan hidup selama-lamanya. Kecuali sebagian kecil, kebanyakan umat manusia tidak mau mati; mereka yang mau mati, menginginkannya setelah menghadapi penderitaan dan sengsara yang paling hebat. Maut bertentangan dengan tabiat alami kita. Itulah sebabnya, sejak semula kita telah diciptakan untuk hidup selamalamanya. Maut bukanlah sesuatu yang harus kita ketahui. Baca roma 5:12. Apakah yang Paulus gambarkan di sini? Apakah yang dijelaskan ayat ini? Para komentator telah banyak berdebat tentang ayat Alkitab ini lebih daripada yang lainnya. Mungkin sebabnya adalah, sebagaimana dicatat dalam SDA Bible Commentary, jld. 6, hlm. 529, bahwa para komentator ini “berusaha untuk menggunakan ayat ini untuk tujuan-tujuan yang berbeda dari yang dimaksudkan Paulus.” Satu hal yang didebat mereka adalah: dalam hal apakah dosa Adam diteruskan kepada keturunannya? Apakah keturunan Adam mewarisi kesalahan dari dosa Adam, ataukah mereka bersalah di hadapan Allah karena dosa mereka sendiri? Sekalipun banyak orang berusaha memberi jawaban terhadap pertanyaan yang timbul dari ayat ini, itu bukanlah pokok yang sedang dibahas Paulus. Ada hal lain yang berbeda sama sekali dalam pikirannya. Dia sedang menekankan kembali apa yang sudah dinyatakannya, “Semua orang telah berbuat dosa” (Roma 3:23). Kita perlu mengetahui bahwa kita adalah orang-orang berdosa, karena hanya dengan jalan itu kita menyadari kebutuhan kita akan seorang Juruselamat. Di sini Paulus berusaha meyakinkan para pembacanya untuk menyadari betapa buruk dosa itu dan apa yang telah diakibatkannya terhadap dunia ini melalui Adam. Kemudian dia menunjukkan apa yang Allah tawarkan pada kita di dalam Yesus sebagai satu-satunya obat penawar terhadap tragedi yang ditimpakan pada dunia kita melalui dosa Adam. Namun, ayat ini hanya mengemukakan masalah, maut di dalam Adam—bukan solusi, hidup dalam Kristus. Salah satu hal terindah dalam Injil adalah bahwa maut telah ditelan oleh kehidupan. Yesus telah melalui pintu kubur dan menghancurkan rantai pengikatnya. Dia berkata, “[Akulah] Dia Yang Hidup. Aku telah mati, namun lihatlah, Aku hidup, sampai selama-lamanya dan Aku memegang segala kunci maut dan kerajaan maut” (Wahyu 1:18). Karena Yesus mempunyai kunci itu, musuh tidak bisa lagi menahan korbannya di dalam kubur. Apakah yang telah menjadi pengalaman Anda dengan kenyataan dan tragedi kematian? Mengapa, menghadapi musuh yang tak berpengasihan itu, haruskah kita menaruh pengharapan pada sesuatu yang lebih besar daripada diri kita ataukah yang lebih besar dari segala sesuatu yang ditawarkan dunia ini? 68

Rabu
HuKuM MENYADArKAN KEBuTuHAN

4 Agustus

“Sebab sebelum hukum Taurat ada, telah ada dosa di dunia. Tetapi dosa itu tidak diperhitungkan kalau tidak ada hukum Taurat. Sungguh pun demikian maut telah berkuasa dari zaman Adam sampai kepada zaman Musa juga atas mereka, yang tidak berbuat dosa dengan cara yang sama seperti yang telah dibuat oleh Adam, yang adalah gambaran Dia yang akan datang” (Roma 5:13, 14). Apakah yang sedang dibicarakan Paulus di sini? Anak kalimat “sebelum hukum Taurat ada” sejajar dengan pernyataan “dari zaman Adam sampai kepada zaman Musa.” Dia sedang membicarakan tentang kurun waktu di dunia dari penciptaan sampai Sinai, sebelum aturan-aturan dan hukum-hukum dalam sistem Israel diperkenalkan secara resmi, yang mencakup tentunya Sepuluh Firman. “Sebelum hukum Taurat ada” berarti sampai dirincinya tuntutan-tuntutan Allah dalam berbagai hukum yang diberikan kepada Israel di Sinai. Dosa telah ada sebelum Sinai. Bagaimana tidak? Apakah berdusta, membunuh, berzina, dan menyembah berhala bukan dosa sebelum Sinai? Tentu saja semua itu dosa. Ayat-ayat manakah yang menunjukkan kenyataan dosa bahkan sebelum Sinai? Memang benar bahwa sebelum Sinai umat manusia pada umumnya hanya mempunyai wahyu Allah secara terbatas, tetapi jelas pengetahuan mereka cukup untuk diminta pertanggungjawaban. Allah benar dan tidak akan menghukum seseorang dengan tidak adil. Manusia di dunia sebelum Sinai telah mati, sebagaimana yang Paulus tunjukkan di sini. Maut menjadi bagian semua manusia. Sekalipun mereka belum berbuat dosa menentang suatu perintah yang dinyatakan secara gamblang, mereka telah berbuat dosa. Mereka mempunyai penyataan [wahyu] Allah melalui alam, yang tidak mereka turuti dan membuat mereka bersalah. “Sebab apa yang tidak nampak dari pada-Nya, . . . dapat nampak kepada pikiran dari karya-Nya sejak dunia diciptakan, sehingga mereka tidak dapat berdalih” (Rm. 1:20). untuk tujuan apakah Allah menyatakan diri-Nya lebih lengkap di dalam “hukum?” roma 5:20, 21. Instruksi yang diberikan di Sinai mencakup hukum moral, sekalipun itu telah ada sejak sebelumnya. Namun, inilah pertama kali, menurut Alkitab hukum itu dituliskan dan dikumandangkan secara luas. Ketika orang Israel mulai membandingkan diri mereka dengan tuntutantuntutan Ilahi, mereka temukan bahwa mereka mempunyai banyak kekurangan. Dengan kata lain, “pelanggaran” semakin banyak. Tiba-tiba mereka menyadari banyaknya pelanggaran mereka. Tujuan penyataan [wahyu] seperti itu adalah untuk menolong mereka melihat kebutuhan mereka akan seorang Juruselamat dan mendorong mereka untuk menerima kasih karunia yang diberikan Allah secara cuma-cuma. Sebagaimana ditekankan di atas, iman menurut versi sebenarnya dari Perjanjian Lama bukanlah legalistik. 69

Kamis
ADAM KEDuA

5 Agustus

“Sebab itu, sama seperti oleh satu pelanggaran semua orang beroleh penghukuman, demikian pula oleh satu perbuatan kebenaran semua orang beroleh pembenaran untuk hidup. Jadi sama seperti oleh ketidaktaatan satu orang semua orang telah menjadi orang berdosa, demikian pula oleh ketaatan satu orang semua orang menjadi orang benar” (Roma 5:18, 19). Perbandingan apakah yang ditampilkan di sini? Apakah harapan yang ditawarkan kepada kita di dalam Kristus? Sebagai manusia, kita tidak menerima apa-apa dari Adam kecuali hukuman mati. Namun demikian, Kristus tampil dan melewati jalan di mana Adam telah jatuh, bertahan dalam setiap ujian demi kepentingan manusia. Dia telah menebus kegagalan dan kejatuhan Adam yang memalukan itu, dan dengan demikian, sebagai Pengganti kita, Dia telah menempatkan kita pada sebuah tempat yang menguntungkan bersama Allah. Demikianlah Yesus menjadi “Adam Kedua.” “Adam kedua adalah satu sosok moral yang bebas, bertanggung jawab atas tingkah lakunya sendiri. Dikelilingi oleh pengaruh-pengaruh gencar yang menyesatkan namun tak kelihatan, Dia ditempatkan pada suasana yang kurang menguntungkan daripada Adam pertama untuk mempunyai kehidupan tanpa dosa. Namun di tengah-tengah orang-orang berdosa Dia menepis setiap pencobaan untuk berbuat dosa, dan memelihara kemurnian-Nya.”—Ellen G. White Comments, The SDA Bible Commentary, jld. 6, hlm. 1074. Bagaimanakah tindakan Adam dan Kristus dibandingkan dalam roma 5:15-19? Perhatikan hal-hal yang berlawanan di sini: maut, hidup; ketidaktaatan, penurutan; hukuman, pembenaran; dosa, kebenaran. Yesus datang dan meralat semua yang telah dilakukan Adam! Cukup menarik, kata “kasih karunia” terdapat lima kali dalam ayat 15 sampai 17. Lima kali! Intinya sederhana: Paulus sedang menekankan bahwa pembenaran tidak diusahakan; itu diberikan sebagai sebuah karunia. Itu bukan merupakan jasa kita, sesuatu yang kita tidak pantas terima. Sama seperti semua pemberian, kita harus mengulurkan tangan untuk menerimanya, dan dalam hal ini, dengan karunia ini, kita menerimanya oleh iman. Apakah pemberian terbaik yang pernah diberikan pada Anda? Apakah yang membuatnya begitu baik dan istimewa? Bagaimanakah fakta bahwa itu merupakan sebuah pemberian, bukannya sesuatu yang diusahakan, membuat Anda lebih menghargainya? Namun, bagaimanakah pemberian itu bisa dibandingkan dengan apa yang kita miliki di dalam Yesus? 70

Jumat

6 Agustus

PELAJArI SELANJuTNYA: Baca Ellen G. White, “Pertolongan dalam Kehidupan Sehari-hari,” hlm. 473-448, dalam Membina Keluarga Sehat; “Christ the Center of the Message,” hlm. 383, 384, dalam Selected Messages, jld. 1; “Penggodaan dan Kejatuhan,” hlm. 46-61, dalam Alfa dan Omega, jld. 1; “Justification,” hlm. 712714, dalam The SDA Encyclopedia. “Banyak yang sesat sehubungan dengan keadaan hati mereka. Mereka tidak sadar bahwa hati alamiah itu paling menyesatkan di atas segala sesuatu, dan benar-benar jahat. Mereka membungkus diri mereka dengan kebenaran mereka sendiri, dan puas oleh mencapai standar tabiat manusia mereka sendiri.”—EGW, 1SM, hlm. 320. “Ada kebutuhan besar agar Kristus harus dikhotbahkan sebagai satu-satunya pengharapan dan keselamatan. Bilamana ajaran pembenaran oleh iman disampaikan. . . , kepada banyak orang itu bagaikan air yang diberikan bagi seorang musafir yang dahaga. Pemikiran bahwa kebenaran Kristus ditanamkan kepada kita, bukan karena jasa atau bagian apa pun dari kita, melainkan sebagai sebuah pemberian cuma-cuma dari Allah, merupakan sebuah pemikiran berharga.”—EGW, 1SM, hlm. 360. “Ujian adalah sebagian dari pendidikan yang diberikan dalam sekolah Kristus, untuk menyucikan anak-anak Allah dari kotoran keduniawian. Adalah sebab Allah memimpin anak-anak-Nya sehingga pengalaman-pengalaman yang berat datang kepada mereka. Ujian dan halangan adalah cara yang dipilih Allah untuk mendisiplin, dan cara yang ditentukan-Nya bagi kemajuan. Ia yang membaca hati manusia mengetahui kelemahan mereka lebih baik daripada mereka sendiri mengetahuinya. Ia melihat bahwa beberapa orang mempunyai kecakapan, yang jika dijalankan dengan betul, dapat dipergunakan untuk memajukan pekerjaan-Nya.”— Alfa dan Omega, jld. 7, hlm. 442. PErTANYAAN-PErTANYAAN uNTuK DISKuSI: n Bagaimanakah iman Anda telah menopang Anda melalui berbagai kesukaran yang menakutkan? Hal apakah yang telah Anda pelajari dari kesukaran-kesukaran itu tentang diri Anda dan tentang Allah? Juga, apakah yang sudah Anda pelajari yang bisa menolong orang-orang lain yang boleh jadi sedang melalui masa-masa sulit sendiri? o renungkanlah kenyataan tentang maut, apakah yang telah dibuatnya bukan saja bagi kehidupan tetapi juga bagi makna kehidupan itu sendiri. Banyak penulis dan filsuf menyesali puncak hidup yang tanpa makna karena hidup telah berakhir dengan kematian abadi. Bagaimanakah kita sebagai orangorang Kristen menanggapi mereka? Mengapakah pengharapan yang kita miliki dalam Yesus adalah satu-satunya jawaban bagi kesia-siaan tersebut? p Sama seperti kejatuhan Adam menurunkan sebuah sifat dosa dalam diri kita, kemenangan Yesus memberikan janji hidup kekal bagi semua kita yang menerimanya dengan iman, tanpa kecuali. Dengan jalan keluar indah yang disediakan bagi kita, apakah yang membuat banyak orang tidak mau menggapai dan memintanya bagi diri mereka sendiri? Bagaimanakah masing-masing kita menolong mereka yang sedang berusaha mengerti lebih baik apa yang Kristus tawarkan dan apa yang telah dilakukan-Nya bagi mereka?

71

PENuNTuN guru 6
Ringkasan Pelajaran Ayat Inti: Roma 5:1, 2.

Anggota Kelas Akan:

¾ Mengetahui: Memahami bahwa sekalipun semua anak Adam telah berdosa, kita semua bisa menjadi anak-anak Kristus dan bagian dari keluarga kerajaan pada saat kita menerima apa yang telah dilakukan-Nya untuk menyelamatkan dunia ini. ¾ Merasakan: Bersukacita dalam damai sejahtera yang kita miliki apa pun kesukaran kita, karena pengharapan dan kasih yang dicurahkan melalui Roh Kudus. ¾ Melakukan: Menerima pemberian cuma-cuma yang ditawarkan Kristus untuk menjalani kehidupan seseorang yang telah dibenarkan di hadapan Allah.

garis Besar Pelajaran:

I. Mengetahui: Dosa Melalui Adam, Kasih Karunia Melalui Kristus A. Seluruh umat manusia telah dijatuhi hukuman mati karena bapa kita Adam. Mengapakah tindakan kebenaran Kristus, demi kepentingan kita, memungkinkan kita menjadi bagian dari keluarga Allah? B. Jika kematian Kristus mendamaikan kita kepada Bapa, apakah yang terlebih lagi dilakukan hidup-Nya demi kepentingan kita? II. Merasakan: Bersukacita dalam Pengharapan dan Kasih A. Kristus hidup dan mati bagi kita, tetapi kita masih ada dalam dunia yang penuh dengan penderitaan dan kematian. Namun, mengapakah kita boleh bersukacita dalam penderitaan-penderitaan kita? B. Apakah yang dicurahkan Roh ke dalam hati kita yang menolong kita menghidupkan sebuah kenyataan yang berbeda sekarang, kenyataan hidup kekal? III. Melakukan: Pemberian yang Murni A. Apakah artinya bahwa pemberian kasih karunia itu lebih besar daripada paket dan ancaman maut? B. Oleh kegiatan sehari-hari apakah kita menyatakan bahwa kita bersukacita dalam kasih karunia Allah?

rANgKuMAN: Sekalipun semua orang menderita akibat dosa, kita dapat memilih sebuah rangkaian akibat yang berbeda, yaitu damai sejahtera, pengharapan, dan kasih, yang adalah hasil dari kebenaran Kristus. 72

Langkah Belajar

LANGKAH 1—Motivasi
Konsep Utama UntUK pertUmbUhan rohani: Karena Allah telah menerima kita ke dalam keluarga-Nya, kita mempunyai akses kepada aset-aset surga yang tak terkira, yang tersedia bagi setiap orang Kristen yang ingin menjadi seperti Yesus. Keinginan manusia akan satu penerimaan tampaknya tak pernah habis-habisnya. Milyaran telah dihabiskan untuk kosmetik, perawatan rambut, dan bedah kosmetik untuk membuat orang berterima bagi orang lain—belum lagi sifat berlebihan dalam berpakaian, rancang rumah, serta mobil. Anak-anak remaja merengek pada orangtua meminta pakaian-pakaian hasil rancangan terkenal (satu keharusan agar tidak dianggap rendah secara sosial) dan “kebutuhan-kebutuhan” lainnya karena begitu kuatnya ketakutan tidak berterima. Sedihnya, banyak yang tidak pernah mengalahkan ketakutan tersebut. Apakah mengherankan bahwa banyak orang mendapati mustahil untuk percaya bahwa ada satu Allah yang menerima kita sebagaimana kita ada, “tanpa satu syarat?” Jadi, sikap kita dibentuk bukan oleh satu keinginan untuk melakukan apa yang benar melainkan oleh satu ketakutan bahwa Allah akan mengabaikan kita jika kita gagal “masuk barisan.” Berapa banyak orang yang ketakutan yang telah menarik orang lain dari Allah oleh memberitahukan mereka bahwa Dia tidak dapat menerima mereka jika mereka makan ini atau mengenakan rok di atas lutut atau melakukan satu kecerobohan? Lebih penting, bagaimanakah kita meyakinkan orang yang telah begitu terluka, bahwa Allah bukanlah seperti itu dan Dia dengan rela menerima setiap orang yang menerima undangan salib Kristus—Salib yang menawarkan kita sebuah keanggotaan keluarga kekal? KeGiatan pembUKa: Bagikan lembaran kertas, minta anggota kelas membuat secara jujur sebuah daftar hal-hal yang mereka lakukan agar berterima pada orang lain. Ini bisa mencakup hal-hal yang mereka dapatkan dengan uang, tetapi bisa juga mencakup hal-hal yang mereka lakukan, contohnya, setuju dengan orang lain sekalipun mereka sebenarnya tidak setuju, dan sebagainya. Berikut, minta kelas Anda untuk membuat secara jujur satu daftar hal-hal yang telah mereka buat agar berkenan kepada Allah. Akhirnya, minta anggota-anggota kelas untuk membagikan salah satu hal yang “aman” dalam daftar mereka kepada seluruh kelas. Bahas: Bandingkan beban untuk mendapatkan penerimaan dengan kebebasan diterima tanpa syarat

73

LANGKAH 2—Selidiki
Komentar Alkitab. I. Sebab itu, Kita Dibenarkan (Baca kembali Roma 5:1-5 dengan kelas Anda). Pelajaran kita dengan jelas menyatakan bahwa “dibenarkan” lebih tepat diterjemahkan “setelah dibenarkan.” Sebuah tindakan yang tuntas. Paulus memilih menggunakan lambang-lambang hukum dalam kitab Roma untuk menjelaskan perkenanan kita terhadap Allah. Karena Paulus dan para penulis lain Perjanjian Baru menggunakan beragam lambang untuk menjelaskan konsep keselamatan, mungkin saja pada zaman kita ini dia akan menggunakan sebuah model keluarga. Jika demikian, boleh saja kita gambarkan ungkapan kepada jemaat di Roma, “secara hukum kamu telah dibebaskan” seperti “kamu telah diterima sebagai bagian dari keluarga Allah.” Karena ini adalah sebuah kenyataan yang telah tercapai, jelaslah bahwa tidak ada satu pun yang dapat kita lakukan untuk membuat itu terjadi. Itu telah terjadi. Karena secara hukum kita telah dibebaskan dan diterima ke dalam keluarga Allah, kita mempunyai akses kepada sarana-sarana yang ditawarkan Allah pada kita sehingga kita bisa menjadi lebih menyerupai Yesus. Mungkin saja kita tidak langsung gembira saat melihat sarana-sarana Allah tersebut. Yang pertama yang disebutkan di sini adalah penderitaan (masalahmasalah dan berbagai kesukaran). Kayu dan paku mungkin saja melawan keras tindakan gergaji dan palu! Tetapi melalui alat-alat itulah, di tangan Tukang Kayu Utama, sesuatu yang berguna dan indah dapat dibangun. Penderitaan mengajarkan kita untuk bergantung pada Yesus dan melindungi kita terhadap pencobaan kesombongan dan kepentingan diri. Yang lebih mengejutkan adalah ketegasan Paulus (lihat Roma 8:17) bahwa penderitaan menjadikan kita sahabat-sahabat Kristus. Mereka yang mau mendapatkan kemuliaan Kristus harus juga mau berbagi penderitaan-Nya (lihat juga 1 Petrus 4). Kesukaran-kesukaran, oleh memaksa kita untuk melatih otot iman kita, membangun ketahanan. Para pelari terbaik menggunakan banyak waktu untuk berlatih di bukit-bukit karena mereka tahu bahwa lahan yang lebih curam menjanjikan hasil-hasil yang paling menguntungkan, sekalipun bukan latihan yang paling mudah. Ketekunan menghasilkan tabiat yang kuat. Tidak mengejutkan, para pelari jauh yang berdedikasi mengatakan bahwa keberhasilan mereka dalam bidang akademik, pekerjaan dan bahkan hal-hal sosial adalah berkat disiplin yang mereka pupuk melalui lari secara sistematis. Demikian juga orang-orang Kristen yang tekun berkata bahwa keberhasilan rohani mereka adalah hasil disiplin yang dipupuk dalam menghadapi berbagai kesukaran dalam kebersamaan mereka dengan Yesus. Berikutnya, tabiat yang kuat mendukung “pengharapan yang pasti.” Pada saat permainan sedang berlangsung, pelatih yang bijaksana menaruh harapan kemenangan pada pundak para pemain yang berpengalaman dan bukan pada para pemula. Mereka itulah yang telah melalui pengalaman jatuh bangun dan sebagai hasilnya telah mengembangkan sebuah keyakinan kokoh. Sebuah kehidupan yang dipenuhi dengan tindakan Allah melawan bukit-bukit kecil memberikan keyakinan akan dukungan-Nya bilamana menghadapi gunung-gunung. 74

Pertimbangkan: Bagaimanakah penderitaan telah menyanggupkan Anda hidup lebih dekat dengan Yesus? Apakah penderitaan telah membuat Anda meragukan status Anda sebagai anggota keluarga Allah, atau adakah pengalaman itu justru memastikan bahwa Anda berada pada pihak Allah? Apakah kesaksian Anda bagi Kristus akan lebih hebat jika Anda telah mengalami kehidupan yang mudah, atau apakah akan lebih berkhasiat jika Anda telah berjalan bersama Kristus melalui banyak kesukaran?

LANGKAH 3—Terapkan
KhUsUs UntUK GUrU: Sementara Alkitab mengajarkan dengan jelas bahwa keselamatan dan kebersamaan dengan Allah adalah satu karunia, banyak orang Kristen, sebagaimana juga orang Israel zaman dahulu, berlaku seakan-akan itu sebuah hak. Kajilah situasi-situasi berikut ini dan tanyakan, “Bagaimanakah saya bisa menolong orang lain melihat bahwa Allah tidak berutang apa-apa pada kita, namun telah memberikan kita segalanya? KEgIATAN: Bahaslah apa yang Anda bisa katakan untuk menolong orang lain bersukacita dalam situasi-situasi berikut ini: n Karlita tidak dapat percaya bahwa Allah telah menerima dia. Dia mengidap kanker yang mematikan, berperan sebagai orangtua tunggal bagi tiga orang anak yang masih di bawah 10 tahun. Tantenya, seorang yang mengaku pendeta, telah mengatakan padanya bahwa jika memang dia benar-benar anak Allah, pastilah Allah menyembuhkan dia jika saja dia menghidupkan iman yang cukup. Dokter memberi dia waktu enam hingga dua belas bulan. o Buce baru saja dilepaskan dari penjara, di mana dia telah habiskan setengah dari hidupnya karena tuduhan pembunuhan. Dia menyesali dosa-dosanya tetapi oleh karena masa lalunya, dia tidak bisa percaya bahwa Allah sanggup menyelamatkan dia. p Marlina getir karena dia telah melakukan segala sesuatu sebisanya. Dia kehilangan pekerjaan karena menolak bekerja pada hari Sabat. Dia meninggalkan banyak makanan kesukaannya karena mau “menguduskan bait tubuhnya.” Dia mengusir teman-teman judi suaminya dari rumahnya agar teladan buruk mereka tidak akan merusak anakanaknya. Suaminya juga sudah keluar rumah dan anak-anaknya mau mengikuti suaminya. Pengacaranya berkata bahwa dengan tidak adanya pendapatan, pengadilan bisa saja membiarkan anak-anak itu. Dia ingin tahu mengapa Allah membiarkannya terjerembab. pertanyaan-pertanyaan renUnGan: » Apakah menuntut janji-janji Allah berarti Allah akan selalu menolong sesuai cara yang kita harapkan? ¼ Bagaimanakah kesukaran dan penderitaan membentuk kita sesuai citra Kristus? 75

½ Bagaimanakah kita mengembangkan keyakinan yang kuat dan berpengharapan pada Allah sehingga kesukaran-kesukaran tidak akan menggoda kita untuk meragukan perkenanan kita pada Allah? bersaKsi: Bertumbuh besar, salah satu motivasi Dan untuk hidup “benar” adalah satu keinginan untuk tidak melakukan apa pun yang membuat malu orangtuanya (paling tidak, tidak tertangkap melakukan hal-hal itu!). Sebagai seorang cucu dari pekerja tani yang migrasi, dia menghargai usaha-usaha yang dikembangkan orangtuanya untuk meningkatkan standar kehidupan serta menyediakan lingkungan yang aman dan nyaman bagi keluarga itu. Dalam beberapa hal dia terima, sekalipun tidak selamanya dengan senang hati, pertimbangan-pertimbangan serta kesukaan-kesukaan orangtuanya demi kehormatan mereka (kita tidak bicarakan di sini tentang masalah kata hati atau moral). Namun, haruslah dimengerti bahwa tidak ada tekanan-tekanan luar yang diterapkan orangtuanya untuk penurutan. Itu adalah satu keputusan sukarela didasarkan atas penerimaan dalam keluarga. Hubungan Dan dengan Allah terbentuk dengan keadaan yang sama. Sering tindakan-tindakan yang tidak benar dicegah karena dia merasa bahwa menyerah dalam pencobaan akan memberi Setan satu kesempatan untuk mempermalukan Allah sebagai tidak berkemurahan kepada mereka yang tidak layak. Dia dapati kasih Allah sebagai motivasi yang lebih kuat untuk hidup benar dibandingkan dengan ancaman-ancaman dibakar dalam neraka, pemecatan gereja, atau dipermalukan di muka umum. Pertimbangkan: Bagaimanakah kita menentukan apakah motif kita untuk tingkah laku yang benar adalah takut terhadap Allah atau karena kita telah diterima-Nya?

LANGKAH 4—Ciptakan
KhUsUs UntUK GUrU: Hasrat hati manusia untuk menyelamatkan dirinya telah menuntun hampir semua agama dunia untuk mendirikan sistemsistem kebenaran yang bergantung pada sifat manusia untuk satu penerimaan. Hanya Kekristenan yang berkata bahwa penerimaan bergantung pada tindakan Allah dan bukan tindakan kita. Karena Allah telah menerima kita dan mengasihi kita melampaui segala batas, Dia memberikan kita segala kesempatan untuk menjadi sama seperti Kristus dan tidak menahan penderitaan dari kita. Melalui penderitaan kita bergabung dengan Kristus dalam kepedihan-kepedihan hidup ini, namun juga sama pastinya dalam hidup mulia yang telah disediakan-Nya bagi kita. KeGiatan: Menggunakan cerita-cerita bagaimana Allah telah menuntun anggota-anggota kelas Anda melalui kesukaran dan perjuangan menuju keyakinan yang kokoh tentang kedudukan mereka sebagai anak-anak Allah, buatlah sebuah pamplet untuk digunakan kelas Anda sebagai alat bersaksi untuk dibagikan kepada para sahabat, tetangga, rekan sekerja, karyawan, dan sanak saudara (dan masih banyak lagi). 76

Pelajaran 7

*7-13 Agustus 2010

Kemenangan Atas Dosa
Sabat Petang
BAcA uNTuK PELAJArAN PEKAN INI: Roma 6; 1 Yohanes 1:8-2:1. AYAT HAFALAN: “Sebab kamu tidak akan dikuasai lagi oleh dosa, karena kamu tidak berada di bawah hukum Taurat, tetapi di bawah kasih karunia” (Roma 6:14).

S

etelah menjelaskan tentang pembenaran oleh iman, bukan oleh perbuatanperbuatan hukum, Paulus melanjutkan menjawab pertanyaan yang jelas muncul: Jika perbuatan tidak bisa menyelamatkan kita, mengapa kita harus terusik oleh semua itu? Mengapa tidak terus berbuat dosa saja? Pasal 6 adalah jawaban Paulus terhadap pertanyaan penting ini. Di sini Paulus membahas apa yang umumnya dimengerti sebagai “penyucian,” proses oleh mana kita mengalahkan dosa dan terus semakin mencerminkan tabiat Kristus. Namun, kata penyucian itu sendiri tidak terdapat dalam kitab Roma. (Kata “disucikan” terdapat satu kali, di Roma 15:16). Apakah ini berarti Paulus tidak mengatakan apa-apa tentang apa yang dipahami sebagai penyucian? Tidak sama sekali. Dia hanya tidak menyebutkan langsung istilah tersebut. Dalam Alkitab, “menyucikan” berarti “menyerahkan khusus,” biasanya kepada Allah. Jadi, disucikan sering digambarkan sebagai sebuah tindakan yang telah tuntas terjadi. Contohnya, “semua orang yang telah dikuduskan-Nya” (Kisah 20:32). Orang-orang yang telah disucikan dalam pengertian ini adalah mereka yang telah diserahkan khusus bagi Allah. Tetapi penggunaan kata “menguduskan” dari sudut pandang Alkitabiah ini tidak menyangkal pentingnya ajaran penyucian atau fakta bahwa penyucian adalah pekerjaan seumur hidup. Alkitab dengan tegas mendukung ajaran ini, tetapi biasanya menggunakan istilah-istilah lain untuk menjelaskannya. Pekan ini kita akan melihat sisi lain keselamatan oleh iman, satu hal yang mudah disalahmengerti, yaitu: janji-janji kemenangan atas dosa dalam diri seseorang yang telah diselamatkan oleh Yesus. *Pelajari pelajaran pekan ini untuk Sabat, 14 Agustus. 77

Minggu
KASIH KAruNIA BErLIMPAH-LIMPAH

8 Agustus

Dalam Roma 5:20, Paulus membuat sebuah pernyataan dahsyat: “dan di mana dosa bertambah banyak, di sana kasih karunia menjadi berlimpah-limpah.” Maksudnya adalah betapapun banyaknya dosa atau betapa mengerikan sekalipun akibat-akibat dosa, kasih karunia Allah cukup untuk mengatasinya. Betapa sebuah pengharapan bagi masing-masing kita, khususnya pada saat tergoda untuk merasa bahwa dosa-dosa kita sudah terlalu besar untuk diampuni! Dalam ayat berikutnya, Paulus menunjukkan bahwa sekalipun dosa telah menuntun pada maut, kasih karunia Allah melalui Yesus telah mengalahkan dosa dan dapat memberi kita hidup kekal. Baca roma 6:1. Logika apakah yang sedang dibahas Paulus di sini, dan bagaimanakah dalam ayat-ayat selanjutnya Paulus menanggapi jenis pemikiran seperti itu? Roma 6:2-11. Paulus mengikuti sebuah garis argumen menarik dalam pasal 6 tentang mengapa seorang yang telah dibenarkan tidak seharusnya berbuat dosa. Ia mengawali oleh mengatakan kita tidak seharusnya berbuat dosa karena kita telah mati terhadap dosa. Kemudian dia menjelaskan apa yang dimaksudkannya. Baptisan dengan diselamkan dalam air melambangkan penguburan. Apakah yang dikuburkan? “Manusia lama” dosa—yaitu, tubuh yang melakukan dosa, tubuh yang dikuasai atau diperintah oleh dosa. Sebagai akibatnya, “tubuh dosa” ini dibinasakan, sehingga kita tidak lagi melayani dosa. Dalam Roma 6 dosa diumpamakan sebagai seorang majikan yang memerintah atas hamba-hambanya. Begitu “tubuh dosa” yang melayani dosa dibinasakan, penguasaan dosa atas tubuh itu berhenti. Orang yang bangkit dari kuburan air itu tampil sebagai seorang manusia baru yang tidak lagi melayani dosa. Dia kini berjalan dalam hidup baru. Kristus, setelah mati, hanya mati satu kali untuk selamanya, tetapi Ia kini hidup selama-lamanya. Maut tidak lagi berkuasa atas-Nya. Jadi, orang Kristen yang dibaptiskan telah mati terhadap dosa sekali dan untuk selamanya dan tidak boleh lagi berada kembali dalam penguasaannya. Tentu saja, sebagaimana yang diketahui setiap orang Kristen yang telah dibaptiskan, dosa tidak dengan sendirinya sirna dari kehidupan kita begitu kita keluar dari air. Tidak diperintah oleh dosa tidak berarti kita tidak harus bergumul dengannya. Kita mempunyai peperangan setiap hari, setiap saat, untuk terus menganggap diri kita telah mati terhadap dosa dan hidup untuk Kristus. Sekalipun ada janji-janji kemenangan, kita harus memintanya—oleh iman. Kita harus selalu mengingat juga bahwa kasih karunia Allah berlimpah-limpah, bahkan pada waktu kita berbuat dosa. Jika tidak, pengharapan apakah yang ada pada kita, bahkan setelah kita dibaptiskan? Apakah yang telah menjadi pengalaman Anda dengan kuasa dosa dalam hidup Anda, bahkan setelah baptisan? Pilihan-pilihan apakah yang Anda sedang buat yang telah membiarkan dosa berkuasa atas Anda yang seharusnya tidak boleh terjadi, sekalipun dalam Alkitab ada banyak janji kemenangan atas dosa? 78

Senin
DOA DIIBArATKAN

9 Agustus

Nasihat apakah yang diberikan bagi kita dalam roma 6:12? Kata berkuasa menunjukkan bahwa “dosa” di sini diumpamakan sebagai seorang raja. Kata Yunani yang diterjemahkan “berkuasa” secara harfiah berarti “menjadi seorang raja” atau “berfungsi sebagai raja.” Dosa begitu suka berkuasa sebagai raja atas tubuh fana kita dan mendikte tingkah laku kita. Bila Paulus berkata “hendaklah dosa jangan berkuasa lagi,” dia mengisyaratkan bahwa orang yang telah dibenarkan dapat memilih untuk mencegah dosa mengukuhkan dirinya sebagai raja dalam hidupnya. Di sinilah tindakan kemauan diperlukan. “Apa yang perlu dipahami ialah tenaga kemauan yang sejati. Inilah kuasa yang memerintah di dalam tabiat manusia, kuasa mengambil keputusan, atau kuasa memilih. Segala sesuatu tergantung atas perbuatan kemauan yang benar. Kuasa untuk memilih Allah telah diberikan kepada manusia; inilah yang harus digunakan oleh manusia. Anda tidak dapat mengubah hatimu, dengan dirimu sendiri Anda tidak dapat menyerahkan kepada Allah segala keinginan hati itu; namun Anda dapat memilih untuk melayani Dia. Anda dapat menyerahkan kemauan pada-Nya, lalu Dia akan bekerja di dalam dirimu dan mengerjakannya sesuai dengan keridlaan-Nya. Dengan demikian semua tabiatmu akan diarahkan kepada pimpinan Roh Kristus; keinginan-keinginanmu akan dipusatkan pada-Nya, pikiran-pikiranmu akan sejalan dengan Dia.”—Ellen G. White, Kebahagiaan Sejati, hlm. 53, 54. Kata Yunani dalam Roma 6:12 yang diterjemahkan “keinginan” berarti “hasrat.” Keinginan bisa saja untuk hal yang baik atau juga yang buruk; bila dosa memerintah, itu akan membuat kita menginginkan yang buruk. Hasrat itu akan begitu kuat, bahkan tidak bisa ditolak sekalipun kita berusaha melawan dengan usaha sendiri. Dosa bisa menjadi sebuah pemerintah yang kejam, yang tidak pernah puas dan selalu meminta lebih. Hanya melalui iman, hanya melalui menuntut janji-janji kemenangan, kita bisa mencampakkan majikan yang tak kenal lelah ini. Kata tersebut dalam ayat ini sangat penting. Itu ada hubungannya dengan yang sudah dibahas sebelumnya, khususnya dengan yang disebutkan dalam ayat 10 dan 11. Orang yang sudah dibaptis kini hidup “bagi Allah.” Artinya, Allah adalah pusat kehidupannya yang baru. Orang itu kini melayani Allah, melakukan apa yang menyukakan Allah dan, dengan demikian, tidak dapat melayani dosa pada saat yang sama. Dia kini “hidup bagi Allah dalam Kristus Yesus.” Pelajari kembali kutipan dari Ellen g. White dalam pelajaran hari ini. Perhatikan betapa pentingnya konsep kebebasan kemauan itu. Sebagai insan moral, kita harus memiliki sebuah kebebasan kemauan, kuasa untuk memilih yang benar dan yang salah, baik dan jahat, Kristus atau dunia. Dalam 24 jam ke depan ini, cobalah secara sadar telusuri bagaimana Anda menggunakan kebebasan moral untuk memilih ini. Apakah yang dapat Anda pelajari tentang cara Anda menggunakan atau menyalahgunakan karunia suci ini? 79

Selasa
DI BAWAH HuKuM TAurAT?

10 Agustus

Baca roma 6:14. Bagaimanakah kita mengerti ayat ini? Apakah maksudnya bahwa Sepuluh Perintah itu tidak lagi mengikat kita? Jika tidak, mengapa? ________________________________________________________________ ______________________________________________________________ Roma 6:14 adalah salah satu pernyataan kunci dalam kitab Roma. Dan ini sering kita dengar, biasanya dikutip dalam konteks orang menuding kita orangorang Advent bahwa Sabat hari ketujuh telah dicabut. Namun jelas bukan ini maksud ayat tersebut. Seperti yang kita tanyakan sebelumnya, bagaimanakah bisa hukum moral dihapuskan dan dosa masih merupakan sebuah kenyataan, padahal justru hukum morallah yang menyatakan apa dosa itu? Jika Anda baca ayat-ayat sebelumnya dalam kitab Roma, sekalipun hanya pasal 6, sukar untuk mengerti bagaimana di tengah-tengah semua pembahasan tentang realitas dosa, Paulus tiba-tiba mengatakan, “Di samping itu, hukum moral, Sepuluh Perintah itu, yang menyatakan dosa, telah dihapuskan.” Tidak masuk akal. Paulus sedang berkata kepada orang-orang Roma bahwa orang yang hidup “di bawah hukum Taurat”—yaitu, di bawah aturan Yahudi sebagaimana praktik saat itu, dengan segala peraturan dan ketetapan buatan manusia—akan diperintah oleh dosa. Sebaliknya, seorang yang hidup di bahwa kasih karunia akan memperoleh kemenangan atas dosa, karena hukum itu tertulis dalam hatinya dan Roh Allah dibiarkan menuntun langkahnya. Menerima Kristus Yesus sebagai Mesias, dibenarkan oleh Dia, dibaptiskan dalam kematian-Nya, dibinasakannya “manusia lama,” bangkit untuk hidup baru—semua inilah yang akan menurunkan dosa dari takhta kehidupan kita. Ingatlah, inilah konteks keseluruhan di mana ayat ini muncul, konteks janji kemenangan atas dosa. Kita tidak boleh mengartikan “di bawah hukum Taurat” terlalu sempit. Orang yang seharusnya hidup “di bawah kasih karunia” tetapi tidak taat pada hukum Allah tidak akan menemukan kasih karunia melainkan hukuman. “Di bawah kasih karunia” artinya melalui kasih karunia Allah yang dinyatakan dalam Yesus, hukuman bagi orang berdosa yang tak bisa dielakkan akibat dosa telah ditiadakan. Demikianlah, begitu bebas dari hukuman maut yang dibawa oleh hukum Taurat, kita hidup dalam “hidup baru,” suatu hidup yang ditandai dan dinyatakan melalui fakta bahwa, setelah mati terhadap diri, kita bukan lagi hamba-hamba dosa. Bagaimanakah Anda telah mengalami kenyataan hidup baru dalam Kristus? Bukti nyata apakah yang dapat Anda tunjukkan yang menyatakan apa yang telah Kristus perbuat bagimu? Hal-hal apakah yang Anda tidak rela lepaskan, dan mengapa mereka harus dilepaskan? 80

Rabu
DuA TuAN YANg BErTENTANgAN

11 Agustus

Baca roma 6:16. Apakah yang Paulus ajarkan? Mengapa argumentasinya begitu tegas antara yang hitam dan putih? Artinya, harus pilih salah satu, tidak ada jalan tengah. Pelajaran apakah yang harus kita ambil dari perbedaan nyata ini? Paulus mengulangi kembali pokok pikiran bahwa hidup baru dalam iman tidak menjamin kebebasan untuk berbuat dosa. Hidup dalam iman membuat kemenangan atas dosa itu mungkin; kenyataannya, hanya melalui iman saja kita bisa memperoleh kemenangan yang dijanjikan pada kita. Setelah mengibaratkan dosa sebagai seorang raja yang memerintah rakyatnya, Paulus kini kembali kepada figur dosa sebagai seorang majikan yang menuntut penurutan dari hamba-hambanya. Paulus menunjukkan bahwa seorang bisa memilih tuannya. Orang itu dapat melayani dosa yang menuntun pada maut, atau melayani kebenaran yang menuntun pada hidup kekal. Paulus tidak meninggalkan kita suatu jalan tengah atau ruang untuk kompromi. Harus pilih salah satu, karena pada akhirnya kita menghadapi hidup kekal atau kematian kekal. Baca roma 6:17. Bagaimanakah Paulus mengembangkan apa yang dikatakannya di ayat 16? ________________________________________________________________ ________________________________________________________________ ______________________________________________________________ Perhatikan, cukup menarik, bagaimana penurutan dikaitkan dengan doktrin yang benar. Kata Yunani untuk “doktrin” di sini berarti “ajaran.” Orang-orang Kristen di Roma telah diajarkan prinsip-prinsip iman Kristen, yang kini mereka turuti. Dengan demikian, bagi Paulus, doktrin yang benar, ajaran yang benar, bila dituruti “dengan segenap hati,” menolong orang-orang Roma menjadi “hamba kebenaran” (ayat 18). Kadang kita mendengar bahwa doktrin tidak jadi masalah, selama kita menunjukkan kasih. Ini sebuah ungkapan sangat sederhana dari sesuatu yang tidak sederhana. Sebagaimana dinyatakan dalam pelajaran sebelumnya, Paulus sangat prihatin pada ajaran palsu yang telah dianut oleh orang Galatia. Jadi, kita perlu berhati-hati dengan pernyataan-pernyataan yang merendahkan pentingnya ajaran yang benar. Hamba-hamba dosa, hamba-hamba kebenaran: suatu kontras yang sangat jelas. Jika, setelah baptisan, kita berdosa, apakah ini berarti kita benar-benar diselamatkan? Baca 1 Yohanes 1:8-2:1. Bagaimanakah ayat-ayat ini menolong kita mengerti apa artinya menjadi seorang pengikut Kristus tetapi masih bisa jatuh? 81

Kamis

12 Agustus

BuAH YANg MEMBAWA KEPADA KEKuDuSAN
Sambil mengingat apa yang sudah kita pelajari sejauh ini dalam roma 6, bacalah ayat-ayat selanjutnya (19-23). rangkumkan pada baris di bawah ini inti dari yang dikatakan Paulus. Terlebih penting, tanyakan diri Anda bagaimana Anda bisa wujudkan dalam diri Anda kebenaran-kebenaran yang sedang dibahas Paulus. Tanyakan juga apakah pokok yang sedang dibahas di sini? ________________________________________________________________ ______________________________________________________________ Kata-kata Paulus di sini menunjukkan bahwa dia sepenuhnya mengerti sifat alami manusia yang sudah jatuh. Dia berbicara tentang “kelemahan dalam tubuhmu.” Kata Yunani untuk “kelemahan” berarti juga “kekurangan.” Dia tahu apa yang dapat dilakukan sifat alami manusia yang sudah jatuh jika dibiarkan sendiri. Makanya sekali lagi dia menyebutkan kuasa memilih—kuasa yang ada pada kita untuk memilih menyerahkan diri kita dan sifat daging yang lemah ini kepada majikan yang baru, Yesus, yang akan menyanggupkan kita untuk menerapkan sebuah hidup yang benar. Roma 6:23 sering dikutip untuk menunjukkan bahwa ganjaran atas dosa— yaitu, pelanggaran terhadap hukum—adalah maut. Yang pasti ganjaran dosa adalah maut. Tetapi selain melihat maut sebagai sebuah ganjaran dosa, kita harus melihat dosa sebagaimana yang dijabarkan Paulus dalam Roma 6—sebagai seorang tuan yang menguasai hamba-hambanya, mengeruk mereka dan membayar kembali dengan upah maut. Perhatikan juga, bahwa dalam pembahasannya tentang dua orang majikan itu, Paulus menarik perhatian kepada fakta bahwa pengabdian kepada satu majikan berarti kebebasan dari pengabdian terhadap majikan lainnya. Kembali kita melihat pilihan yang jelas: yang satu atau yang lainnya. Tidak ada jalan tengah. Pada saat yang sama, sebagaimana kita semua tahu, dibebaskan dari penguasaan dosa bukan berarti tanpa dosa, bukan berarti kita tidak bergumul dan bahkan sering jatuh. Sebaliknya, itu berarti kita tidak lagi dikuasai oleh dosa. Akan tetapi kenyataannya dosa tetap ada dalam kehidupan kita dan seharusnyalah kita menuntut janji-janji kemenangan atasnya. Dengan demikian, ayat ini menjadi sebuah ajakan penuh kuasa kepada setiap orang yang masih mengabdi pada dosa. Raja lalim ini tidak menawarkan apaapa kecuali maut sebagai upah melakukan hal-hal yang memalukan; jadi, orang yang berakal sehat seharusnya menginginkan kemerdekaan dari raja lalim ini. Di lain pihak, mereka yang mengabdi pada kebenaran melakukan hal-hal yang benar dan patut dipuji, bukan dengan pengertian bahwa dengan cara itulah mereka mendapatkan keselamatan, melainkan sebagai buah dari pengalaman baru mereka. Jika mereka melakukannya demi memperoleh keselamatan, mereka sedang kehilangan seluruh ajaran Injil, seluruh inti keselamatan, dan seluruh alasan mengapa mereka membutuhkan Yesus. 82

Jumat

13 Agustus

PELAJArI SELANJuTNYA: Baca Ellen G. White, “Kemenangan Ditentukan,” hlm. 96, 97, dalam Amanat kepada Orang Muda; “Tujuan Pelayanan yang Sebenarnya,” hlm. 91-116, dalam Khotbah di Atas Bukit; “Appeal to the Young,” hlm. 365, dalam Testimonies for the Church, jld. 3, hlm. 1074, 1075; dalam The SDA Bible Commentary, jld. 6. “Ia [Yesus] tidak menyetujui dosa. Sedikit pun Ia tidak memikirkan hendak menyerah kepada penggodaan. Demikian juga halnya dengan kita. Kemanusiaan Kristus dipersatukan dengan Keilahian; Ia dilayakkan untuk pergumulan itu oleh tinggalnya Roh Kudus di dalam hati-Nya. Dan Ia datang untuk membuat kita mengambil bagian dalam sifat-sifat Ilahi itu. Selama kita dipersatukan dengan Dia oleh iman, dosa tidak lagi menguasai kita. Allah mengulurkan tangan-Nya hendak mencapai tangan iman kita agar olehnya kita berpegang teguh pada Keilahian Kristus, supaya kita dapat mencapai kesempurnaan tabiat.”—Ellen G. White, Alfa dan Omega, jld. 5, hlm. 118 “Saat dibaptis, kita telah berjanji untuk memutuskan sebuah hubungan dengan Setan dan agen-agennya, dan menaruh hati dan pikiran kita pada pekerjaan perluasan kerajaan Allah.... Bapa, Anak, dan Roh Kudus berikrar untuk bekerja sama dengan sarana manusia yang telah disucikan.”—Komentar Ellen G. White, The SDA Bible Commentary, jld. 6, hlm. 1075. “Sebuah pengakuan Kekristenan belaka tanpa menghubungkan iman dan perbuatan tak ada faedahnya sama sekali. Tak seorang pun dapat mengabdi pada dua tuan. Anak-anak si jahat adalah hamba-hamba tuannya sendiri; kepada siapa mereka menyerahkan diri untuk taat sebagai hamba-hamba, mereka adalah hamba-hambanya, dan mereka tidak bisa menjadi hamba-hamba Allah sebelum mereka meninggalkan Iblis dan segala pekerjaannya. Tidak mungkin tanpa bahaya bila hamba-hamba Raja surga melibatkan diri dalam kepelesiran dan hiburan yang dinikmati hamba-hamba Setan, sekalipun mereka sering menekankan bahwa hiburan-hiburan seperti itu tidak berbahaya. Allah telah menyatakan kebenaran-kebenaran suci dan kudus untuk memisahkan umat-Nya dari mereka yang tidak saleh serta menyucikan mereka bagi diri-Nya. Orang-orang Advent harus menghidupkan iman mereka.”—Ellen G. White, Testimonies for the Church, jld. 1, hlm. 404. PErTANYAAN-PErTANYAAN uNTuK DISKuSI: n Sekalipun kita memiliki semua janji indah kemenangan atas dosa, kenyataannya adalah kita semua—bahkan orang-orang Kristen sejak lahir—menyadari betapa kita sudah jatuh, betapa berdosanya kita, betapa rusaknya hati kita. Apakah ada kontradiksi dalam hal ini? Jelaskan jawaban Anda. o Di kelas, beri kesaksian tentang apa yang Kristus telah lakukan dalam diri Anda, kepada perubahan yang telah Anda alami, kepada hidup baru yang Anda peroleh dalam Dia. p Betapapun pentingnya agar kita selalu mengingat bahwa keselamatan kita terletak hanya dalam apa yang Kristus telah lakukan bagi kita, bahaya-bahaya apakah yang muncul jika kita terlalu menekankan kebenaran indah tersebut dan mengesampingkan bagian lain dari keselamatan: yakni apa yang Yesus lakukan dalam diri kita, untuk mengubah kita kepada citra-Nya? Mengapakah kita perlu mengerti dan menekankan kedua aspek keselamatan ini?

83

PENuNTuN guru 7
Ringkasan Pelajaran Ayat Inti: Roma 6:11.

Anggota Kelas Akan:

¾ Mengetahui: Membandingkan dan membedakan berada di bawah hukum Taurat dan melayani tuan dosa, dengan hidup di bawah kasih karunia dan menurut Tuhan kebenaran. ¾ Merasakan: Memelihara sikap dan perasaan orang yang hidup untuk Allah dan mati terhadap dosa. ¾ Melakukan: Memilih menyerahkan kemauan kita pada Allah setiap hari.

garis Besar Pelajaran:

I. Mengetahui: Taat kepada Dosa atau Kasih Karunia A. Saat kita mengambil bagian dalam kematian Kristus melalui baptisan, kita mati terhadap dosa dan dibangkitkan kepada kehidupan sama seperti Kristus hidup, penurutan kepada Allah. Mengapakah kita hanya bisa menjalani kehidupan itu oleh kasih karunia Allah? B. Kita hanya bisa mempunyai satu tuan. Apakah mungkin menjalani kehidupan kasih karunia ini tetapi juga tunduk pada pemerintahan dosa? Mengapa, atau mengapa tidak? II. Merasakan: Hidup untuk Dosa atau Allah A. Apakah artinya hidup untuk dosa? Sebaliknya, apakah artinya hidup untuk Allah? B. Bagaimanakah melayani sifat alami dosa kita mencakup perasaan dan keinginan terhadap hal-hal yang bertentangan dengan cara hidup Allah? Apa sajakah hal-hal tersebut? C. Bilamana kita mati terhadap dosa dan hidup untuk Allah, perasaanperasaan dan keinginan-keinginan apakah yang kita miliki? III. Melakukan: Pilihlah Hari Ini A. Sementara kita tidak bisa mengubah hati kita, bagaimanakah kita bisa memilih untuk menyerahkan kemauan kita kepada Allah? B. Pilihan-pilihan apakah yang dapat kita buat pekan ini yang membawa kita sepenuh hati ke dalam satu kehidupan sepenuhnya pada pihak Allah, sama sekali tidak mengikuti Iblis?

rANgKuMAN: Jika kita dibaptiskan ke dalam kematian Kristus dan bangkit untuk hidup di dalam Dia, dipenuhi dengan kasih karunia dan kebenaran-Nya, Dia memberkati kita dengan kesucian dan hidup kekal.

84

Langkah Belajar

LANGKAH 1—Motivasi
Konsep Utama UntUK pertUmbUhan rohani: Kasih karunia Allah meluap sehingga menutupi setiap dosa dan memberikan kita satu kuasa yang tak dapat ditaklukkan pencobaan apa pun. Adakah satu waktu di mana kasih karunia Allah lebih dibutuhkan daripada di zaman ini? Tingkat kejahatan mencengangkan kita. Jika tingkat kejahatan ini dibatasi pada satu wilayah saja, mungkin kita bisa mempersalahkan kurangnya pendidikan, kemiskinan, atau beberapa keadaan yang dapat diperbaiki. Tetapi, kemerosotan yang mendunia tidak memberi ruang untuk alasan-alasan murahan. Jawaban terhadap kemerosotan masyarakat pastilah terdapat pada hal lain. Ketamakan, korupsi, dan skandal seks, pada tingkat-tingkat pemerintahan tertinggi dan masyarakat, menjadi berita utama hanya dalam semalam dan menunjukkan bahwa dosa tidak mengenal kasta atau posisi sosial. Penyalahgunaan obat-obatan merajalela di antara orang kaya maupun miskin. Masalahnya lebih dalam dan meresap daripada yang dapat dimengerti para politikus dan pakar kemasyarakatan. Dosa berkuasa. Hikmat manusia yang tak memadai tidak dapat membalikkan aliran menuju kekacauan dan menyelamatkan kita dari jurang moral. Kita butuh pertolongan! Syukur pada Allah karena ada pertolongan! Yesus telah mengalahkan dosa di salib, dan Roh Kudus menyalurkan berkat-berkat kemenangan tersebut kepada semua yang mau mengalahkan pencobaan dosa. Kita mempunyai Seorang Sekutu yang tidak dapat gagal! KeGiatan pembUKa: Bahas pernyataan Charles Spurgeon berikut ini: “Pertolongan-Nya [Allah] lebih dari sekadar pertolongan, karena Dia menanggung semua beban dan menyediakan segala kebutuhan. ‘Tuhan adalah penolongku, aku tidak akan takut pada yang dapat dilakukan manusia padaku.’ Karena Dia telah menjadi penolong kita, kita yakin padanya untuk masa sekarang dan masa depan. Doa kita adalah, ‘Tuhan jadilah penolongku’; pengalaman kita adalah, ‘Roh juga menolong kelemahankelemahan kita.’”—Charles Spurgeon, Faith’s Check Book (Springdale, Penn.: Whitaker House, 1992), hlm. 14. pertanyaan UntUK DisKUsi: Apakah yang dimaksudkan Spurgeon bahwa Allah menanggung semua beban dan menyediakan segala kebutuhan? Bagaimanakah pengertian ini menolong kita mengartikan kasih karunia?

85

LANGKAH 2—Selidiki

Komentar Alkitab I. Dosa Diumpamakan Manusia (Baca kembali Roma 6:12 bersama anggota kelas Anda). Bagaimanakah kita membedakan keinginan-keinginan yang suci dan yang jahat? Perbedaannya tidaklah sederhana. Kata Yunani, epithumia, sering diterjemahkan “hawa nafsu,” adalah kata untuk “keinginan” dan bisa bersifat netral (Mrk. 4:19), atau bermakna baik, seperti ketika Paulus berbicara tentang epithumia untuk menjadi sama seperti Kristus (Flp. 1:23). Namun, para penerjemah hampir semuanya menganggap epithumia di Roma 6:12 itu mempunyai makna negatif (KJV, NKJV, NASB—hawa nafsu; NIV—keinginan-keinginan jahat; NLT—Keinginan-keinginan penuh hawa nafsu; RSV, NRSV, dan MLB menerjemahkan nafsu; [sementara merupakan satu istilah netral, kata ini bisa mengartikan konotasi romantis keinginan seksual yang terlarang]; TEV, CEV, dan NEV menggunakan istilah netral keinginan). Tentunya, para penerjemah menggunakan konteks untuk menentukan corak makna yang mereka berikan untuk kata tersebut. Perbedaan antara keinginan yang suci dan yang jahat harus dikaitkan dengan kehendak Allah yang dinyatakan. Keinginan seksual adalah satu naluri pemberian Allah, suci kecuali digunakan di luar kehendak Allah; lapar adalah keinginan alami, suci kecuali sampai makan berlebihan; bahkan keinginan akan kekayaan tidaklah jahat kecuali menjadi ketamakan. Keinginan telah menyimpang dari maksud semula Allah kepada beberapa tingkah laku yang berlebihan dan merusak. Allah memberikan kita Alkitab supaya kita bisa melihat manakah kehendak-kehendak-Nya. Begitu Roh Kudus menuntun kita untuk mengetahui maksud-maksud Allah, ada kabar baik; kita tidak ditinggalkan sendiri dan tak berdaya! Pengorbanan Kristus membebaskan kita dari kuasa dosa dan memberi kita kuasa untuk hidup suci—jika kita memilihnya. Melalui teman karibnya Geraldine, komedian Flip Wilson mengukir sebuah ungkapan “Setan yang membuat saya melakukannya” sehingga terkenal di dunia; tetapi tak seorang pun yang dengan sah boleh memaafkan dosa atas dasar ungkapan tersebut, karena Iblis tidak pernah memaksa kita melakukan sesuatu. Dia berdiri tidak berdaya bilamana kita telah memilih untuk membiarkan Roh Kudus mengendalikan hidup kita. Di situlah terletak peperangan sebenarnya: Maukah kita menyerahkan kendali pada Allah, atau akankah kita berusaha menarik kendali-kendali kehidupan jauh dari Dia? Pertimbangkan: Bagaimanakah rencana Allah untuk menyucikan keinginan-keinginan dan motif-motif saya? Bagaimanakah kita kadang-kadang masuk pada jalan tujuan-tujuan Ilahi-Nya? II. Di Bawah Hukum Taurat? (Baca Roma 6:14 bersama anggota kelas Anda). Sebagian komentator menegaskan bahwa Paulus meniadakan Sepuluh Firman dalam ayat-ayat ini. Betapa ganjil bila Paulus harus mengatakan sesuatu yang bertentangan dengan pernyataan Kristus (Mat. 5:17-19) tentang hukum Taurat! Jika kita mengikuti nalar Paulus, kita tidak akan tiba pada kesimpulan 86

yang salah seperti itu. Argumen Paulus adalah hukum Taurat itu menyatakan mana yang benar dan salah, yaitu mengajarkan kita apa dosa itu. Orang yang melanggar hukum berada di bawah wewenang hukum. Orang yang tidak melanggar hukum (tidak berbuat dosa) tidak berada di bawah wewenang hukum. Seorang polisi akan menangkap saya (menuntut saya dengan hukum) bilamana saya melewati batas kecepatan. Jika saya tidak ngebut, dia tidak akan menaruh saya di bawah hukum. Sebaliknya, kenyataan bahwa saya tidak sedang ngebut bukan berarti tidak ada batas-batas kecepatan. Fakta bahwa oleh kasih karunia Allah saya tidak lagi berada di bawah kuasa dosa bukan berarti tidak ada Sepuluh Firman. Paulus tidak pernah berkata bahwa tidak ada hukum; dia hanya menegaskan bahwa kita tidak berada lagi di bawah hukum karena, oleh kuasa Ilahi, kita tidak berbuat dosa. Dosa menempatkan kita di bawah hukum; bila kita berhenti melanggar hukum itu, kita tidak lagi di bawahnya. Pertimbangkan: Bagaimanakah kita akan tahu apa dosa itu jika tidak ada hukum? Bagaimanakah rancangan Allah untuk menolong kita keluar dari bawah hukum (yaitu berhenti berbuat dosa)?

LANGKAH 3—Terapkan
KhUsUs UntUK GUrU: Bahkan di antara mereka yang sistem keyakinannya mengajarkan bahwa kasih karunia Allah yang melimpah cukup untuk mengampuni dan memberi kuasa, kadang-kadang ada satu kerenggangan emosional antara apa yang kita percaya dan apa yang kita rasakan. Bagaimanakah kita membuat keterkaitan itu sehingga keyakinan dan perasaan dipadukan? Mintalah dua orang yang sukarela membawa dialog di bawah ini dan membahasnya: KEgIATAN: sarah : Mengapa saya terus saja jatuh dengan beberapa laki-laki ini? Apakah saya ini seorang pecundang atau wanita seperti apa? nina : Sarah, jangan menghukum diri kamu seperti itu. sarah : Maksud saya, seharusnya ditulis di tubuh saya . . . apakah di belakang atau di dahi saya? “GADIS BODOH—MANFAATKAN!” nina : Sarah, hentikan! sarah : Itulah masalahnya, saya tidak bisa berhenti. Saya terus melakukan kesalahan-kesalahan bodoh berulang-ulang. Apakah yang salah dengan saya? Apakah saya akan terus belajar? nina : Kamu boleh mulai sekarang. sarah : Ah! Saya rasa ada sesuatu. Ini bisikan Allah, bukan? “Oh Sarah, Allah dapat mengampuni apa saja!” Tetapi saya sudah menghabiskan jatah pengampunan saya sejak lama. nina : Jangan berpikir seperti itu. Perempuan di sumur Yakub itu mempunyai setengah lusin laki-laki dan— sarah : (menyela) Jadi kamu bilang bahwa saya sedang bersaing dengan dia, hah? nina : Bukan itu maksud saya. 87

sarah: Maksud saya, mengapa Allah tidak menghentikan saya melakukan hal-hal bodoh itu? nina : Seperti yang barusan saya katakan, Yesus mengampuni perempuan itu dan Dia juga mau mengampuni kamu. Tetapi kamu harus mau menerima pengampunan itu. sarah: Ya, ya. Saya tahu kamu benar; tetapi mengapakah saya tidak bisa merasakannya? Mengapakah saya tidak merasa diampuni? pertanyaan penerapan: » Bagaimanakah saya dapat menolong orang lain (atau diri saya) mendapatkan keyakinan penuh akan janji pengampunan dan kekuatan dari Allah? ¼ Bagaimanakah saya menghadapi kegagalan yang berulang-ulang? ½ Bagaimanakah saya katakan TIDAK pada pencobaan? BErSAKSI: Jimmy yang kecil pergi bermain sepatu roda di gelanggang pemuda pada satu malam ketika loket gratis menyelenggarakan isi ulang minuman tak terbatas. Karena sudah dibayar, Jimmy terus saja mengisi ulang gelasnya sampai dia tidak tahan lagi, dan akhirnya dia mengalami satu kecelakaan. Banyak orang Kristen tampaknya menunjukkan sikap yang sama terhadap kasih karunia Allah yang tak terbatas itu. Karena penebusan terhadap dosa telah dilakukan, mereka beralasan untuk melatih pengendalian diri, merasa dapat kembali kapan saja untuk “isi ulang pengampunan.” Sayangnya, banyak orang Kristen telah menderita “kecelakaan-kecelakaan” yang tidak perlu karena falsafah ini. Tampaknya di zaman Paulus ada orang yang menganjurkan bahwa berbuat dosa lebih banyak akan membuat Allah kelihatan lebih berkemurahan! DisKUsiKan: Bagaimanakah kita mawas terhadap kesalahan membatasi kasih karunia Allah dan juga menyalahgunakannya?

LANGKAH 4—Ciptakan
KhUsUs UntUK GUrU: Inti Injil diucapkan dalam Roma 6. Karena pengorbanan Kristus, Allah menyelamatkan serta memberi kuasa bagi jiwa-jiwa yang berserah untuk mengalahkan pencobaan. Kegiatan penutup yang dianjurkan ini menuntut persiapan sebelumnya tetapi memberikan pengalaman visual yang tahan lama mengenai konsep-konsep yang dipelajari. KeGiatan: Ketika kelas hampir berakhir bawalah seorang yang diikat dengan beberapa lapis tali, mulut disumbat, tangan diikat, mata ditutup, dan dirantai. Minta kelas membebaskan narapidana itu. DisKUsiKan: Bagaimanakah pengalaman ini menggambarkan dengan jelas cara Kristus membebaskan kita dari dosa? Apakah yang kita pelajari tentang kuasa-Nya untuk menyelamatkan kita sepenuhnya?

88

Pelajaran 8

*14-20 Agustus 2010 Manusia roma 7

Sabat Petang
BAcA uNTuK PELAJArAN PEKAN INI: Roma 7. AYAT HAFALAN: “Tetapi sekarang kita telah dibebaskan dari hukum Taurat, sebab kita telah mati bagi dia, yang mengurung kita, sehingga kita sekarang melayani dalam keadaan baru menurut roh dan bukan dalam keadaan lama menurut huruf hukum Taurat” (Roma 7:6).

S

edikit saja pasal Alkitab yang telah menimbulkan pertentangan lebih daripada Roma 7. Tentang hal ini, SDA Bible Commentary berkata: “Arti dari ayat 14-25 telah menjadi salah satu persoalan yang paling diperbincangkan dalam seluruh kitab itu. Yang menjadi pertanyaan-pertanyaan utama adalah apakah gambaran pergumulan moral yang intensif tersebut adalah bersifat autobiografi, dan jika demikian, apakah ayat-ayat tersebut merujuk pada pengalaman Paulus sebelum atau sesudah dia bertobat. Kenyataan bahwa Paulus sedang berbicara tentang pergumulan pribadinya sendiri dengan dosa tampak jelas dari makna paling sederhana dari kata-katanya (lihat ayat 7-11; Ellen G. White, Steps to Christ, hlm. 19; Testimonies for the Church, jld. 3, hlm. 457). Adalah juga sangat benar bahwa dia sedang menggambarkan sebuah konflik yang rata-rata dialami oleh setiap jiwa yang dihadapkan dan disadarkan oleh tuntutan-tuntutan rohani hukum Allah yang suci.”—The SDA Bible Commentary, jld. 6, hlm. 553. Para pelajar Alkitab berbeda pendapat apakah Roma 7 adalah pengalaman Paulus sebelum atau sesudah pertobatannya. Apa pun pendapat seseorang, yang penting dalam hal ini adalah kebenaran Yesus menutupi kita dan di dalam kebenaran-Nya kita berdiri sempurna di hadapan Allah, yang berjanji untuk menyucikan kita, memberikan kita kemenangan, dan menyelaraskan kita dengan “gambaran Anak-Nya” (Roma 8:29). Inilah hal-hal penting yang perlu kita ketahui dan alami sementara kita berusaha menyebarkan “Injil Kekal” kepada “semua bangsa, dan suku, dan bahasa, dan kaum” (Wahyu 14:6). *Pelajari pelajaran pekan ini untuk Sabat, 21 Agustus. 89

Minggu
TErIKAT KEPADA HuKuM?

15 Agustus

Baca roma 7:1-6. Ilustrasi apakah yang Paulus gunakan di sini untuk menunjukkan pada pembacanya hubungan mereka dengan hukum, dan pelajaran apakah yang dia buat dengan ilustrasi itu? Ilustrasi Paulus dalam Roma 7:1-6 seakan rumit, tetapi sebuah analisa cermat terhadap ayat-ayat tersebut akan menolong kita mengikuti penalarannya. Dalam konteks keseluruhan suratnya, Paulus sedang membahas sistem ibadah yang didirikan di Sinai; yang sering dimaksudkannya dengan kata hukum. Orangorang Yahudi sukar menerima kenyataan bahwa sistem ini, yang diberikan kepada mereka oleh Allah, harus berakhir dengan datangnya Kristus. Inilah yang dibahas oleh Paulus—orang-orang Yahudi yang percaya masih belum siap meninggalkan apa yang selama ini telah menjadi bagian penting dalam hidup mereka. Intinya, ilustrasi Paulus adalah sebagai berikut: seorang perempuan telah menikah dengan seorang laki-laki. Hukum mengikat dia terhadap laki-laki itu selama laki-laki itu hidup. Selama kehidupannya, perempuan itu tidak boleh menjalin hubungan dengan laki-laki lain. Tetapi bila suaminya sudah mati, dia bebas dari hukum yang mengikat dia kepada suaminya itu (ay. 3). Bagaimanakah Paulus menerapkan ilustrasi hukum pernikahan ini kepada sistem Yudaisme? Roma 7:4, 5. Sebagaimana kematian suaminya membebaskan perempuan itu dari hukum suaminya, demikian juga kematian hidup lama dalam daging, melalui Yesus Kristus, membebaskan orang-orang Yahudi dari hukum yang selama ini harus mereka pelihara sampai Kristus menggenapi segala lambangnya. Kini orang-orang Yahudi bebas untuk “menikah lagi.” Mereka diundang untuk menikah dengan Kristus yang telah bangkit dan dengan jalan itu menghasilkan buah untuk Allah. Ilustrasi ini merupakan satu lagi perangkat yang Paulus gunakan untuk meyakinkan orang-orang Yahudi bahwa mereka bebas untuk meninggalkan sistem kuno itu. Sekali lagi, dengan segala sesuatu yang Paulus dan Alkitab katakan tentang penurutan kepada Sepuluh Perintah itu, tidaklah masuk akal untuk menegaskan di sini bahwa Paulus sedang mengajarkan orang-orang Yahudi yang telah percaya bahwa Sepuluh Perintah tidak lagi mengikat. Mereka yang menggunakan ayat-ayat ini untuk menekankan hal tersebut—bahwa hukum moral telah ditiadakan—sebenarnya bukan mau menekankan seluruh hukum itu; apa yang sesungguhnya mereka mau katakan adalah bahwa hanya Sabat hari ketujuh yang telah dihapuskan, bukan seluruh hukum tersebut. Memahami ayat-ayat tersebut sebagai ajaran bahwa perintah keempat telah dihapuskan atau diatasi atau digantikan dengan hari Minggu berarti memberi ayat-ayat tersebut suatu makna yang tidak pernah dimaksudkan. 90

Senin
APAKAH HuKuM TAurAT ITu DOSA?

16 Agustus

Jika Paulus sedang berbicara tentang seluruh sistem hukum di Sinai, bagaimanakah dengan Roma 7:7, di mana secara khusus dia sebutkan salah satu dari Sepuluh Perintah itu? Bukankah ini mematahkan gagasan yang disepakati kemarin bahwa Paulus bukan membicarakan tentang penghapusan Sepuluh Perintah itu? Jawabnya adalah Tidak. Kembali kita harus mengingat bahwa kata hukum itu bagi Paulus adalah seluruh sistem yang diperkenalkan di Sinai, yang mencakup hukum moral tetapi bukan terbatas pada hal itu saja. Dengan demikian, Paulus bisa saja mengutip dari Sepuluh Perintah itu, sebagaimana juga dari bagian lain seluruh sistem Yahudi, untuk menekankan maksudnya. Namun demikian, pada saat sistem itu telah berakhir pada kematian Kristus, hal itu tidak mencakup hukum moral, yang telah ada bahkan sebelum Sinai dan juga tetap ada sesudah Golgota. Baca roma 7:8-11. Apakah yang dikatakan Paulus di sini tentang hubungan antara hukum dan dosa? Allah menyatakan diri-Nya kepada orang Yahudi, dan mengatakan secara rinci apa yang benar dan apa yang salah dalam hal moral, sipil, tatacara, dan kesehatan. Dia juga menjelaskan hukuman akibat pelanggaran hukum tersebut. Pelanggaran terhadap kehendak Allah yang dinyatakan dalam ayat ini disebut dosa. Makanya, Paulus menerangkan, dia tidak akan mengetahui bahwa mengingini itu dosa tanpa lebih dulu mendapat informasi tentang fakta tersebut oleh “hukum.” Karena dosa adalah pelanggaran akan kehendak Allah yang dinyatakan, bila kehendak yang dinyatakan itu tidak diketahui, maka tidak ada kesadaran akan dosa. Bila kehendak yang dinyatakan itu diberitahukan kepada seseorang, orang itu akan mengetahui bahwa dia adalah seorang berdosa dan berada di bawa hukuman dan maut. Dalam pengertian ini, orang itu mati. Dalam alur argumentasi Paulus di ayat-ayat ini, Paulus berusaha membangun sebuah jembatan yang menuntun orang Yahudi—yang mengandalkan “hukum”—untuk melihat Kristus sebagai kegenapannya. Dia sedang menunjukkan bahwa hukum itu diperlukan tetapi fungsinya terbatas. Hukum dimaksudkan untuk menunjukkan perlunya keselamatan; tidak pernah dimaksudkan sebagai sarana mendapatkan keselamatan tersebut. “Rasul Paulus, dalam menyampaikan pengalamannya, menyajikan sebuah kebenaran penting tentang usaha yang dilakukan dalam pertobatan. Dia berkata, ‘Dahulu aku hidup tanpa hukum Taurat’—dia tidak merasa tidak ada penghukuman, ‘akan tetapi sesudah datang perintah itu,’ pada waktu hukum Allah ditanamkan pada hati nuraninya, ‘dosa mulai hidup, sebaliknya aku mati.’ Lalu dia melihat dirinya sebagai seorang berdosa, dipersalahkan oleh hukum Ilahi. Perlu dicatat, Pauluslah yang mati, bukan hukum itu.”—Ellen G. White Comments, The SDA Bible Commentary, jld. 6, hlm. 1076. Dalam hal apakah Anda telah “mati” di hadapan hukum itu? Bagaimanakah dalam konteks tersebut Anda dapat mengerti apa yang Yesus telah lakukan bagi Anda oleh memberikan Anda suatu hidup baru di dalam Dia? 91

Selasa
HuKuM YANg KuDuS

17 Agustus

Baca roma 7:12. Bagaimanakah kita mengerti ayat ini dalam konteks apa yang sudah dibahas Paulus? Oleh karena orang Yahudi memelihara hukum, Paulus meninggikannya dalam berbagai cara. Hukum itu baik dalam apa yang dilakukannya, tetapi hukum tidak bisa melakukan apa yang tidak pernah dicanangkan untuk dilakukannya, yaitu menyelamatkan kita dari dosa. Untuk itu kita perlu Yesus, karena hukum—entah itu seluruh hukum Yahudi atau khususnya hukum moral—tidak bisa memberikan keselamatan. Yang bisa hanya Yesus dan kebenaran-Nya, yang datang kepada kita oleh iman. Apakah yang Paulus persalahkan dari keadaan “maut” nya, dan apakah yang dia bela? Mengapa perbedaan itu penting? Roma 7:13. Dalam ayat ini, Paulus menampilkan “hukum” dalam makna yang sebaik mungkin. Dia memilih untuk mempersalahkan dosa, bukan hukum, untuk keadaan dosanya yang mengerikan; yaitu, yang membangkitkan dalam dirinya “rupa-rupa keinginan” (ay. 8). Hukum itu baik, karena itu adalah standar Allah untuk perilaku, tetapi sebagai seorang berdosa, Paulus berdiri terhukum di hadapannya. Mengapa dosa begitu berhasil menyatakan Paulus sebagai seorang yang sangat berdosa? Roma 7:14, 15. Karnal berarti bersifat daging. Jadi, Paulus membutuhkan Yesus Kristus. Hanya Yesus Kristus yang dapat menyingkirkan hukuman itu (Roma 8:1). Hanya Yesus Kristus yang dapat membebaskan dia dari perhambaan dosa. Paulus menggambarkan dirinya sebagai “terjual di bawah kuasa dosa. Dia adalah seorang hamba dosa. Dia tak punya kemerdekaan. Dia tidak dapat melakukan apa yang dia ingin lakukan. Dia coba melakukan apa yang dikatakan padanya oleh hukum yang baik itu, tetapi dosa tidak mengizinkannya. Oleh ilustrasi ini, Paulus berusaha menunjukkan pada orang Yahudi kebutuhannya akan Kristus. Dia telah menunjukkan bahwa kemenangan dimungkinkan hanya di bawah kasih karunia (Roma 6:14). Pemikiran yang sama ini ditekankan kembali dalam Roma 7. Hidup di bawah “hukum Taurat” berarti perhambaan terhadap dosa, tuan yang tak berbelas kasihan. Apakah yang telah menjadi pengalaman Anda sendiri dengan bagaimana dosa itu memperhamba? Pernahkah Anda coba bermain-main dengan dosa, menyangka bahwa Anda dapat mengendalikannya semau Anda, tapi justru mendapati diri Anda berada di bawah majikan yang kejam dan tak berbelas kasihan itu? Selamat datang pada kenyataan! Jika demikian, mengapa Anda harus menyerah kepada Yesus, dan mati terhadap diri setiap hari? 92

Rabu
MANuSIA rOMA 7

18 Agustus

“Jadi jika aku perbuat apa yang tidak aku kehendaki, aku menyetujui, bahwa hukum Taurat itu baik. Kalau demikian bukan aku lagi yang memperbuatnya, tetapi dosa yang ada di dalam aku” (Roma 7:16, 17). Pergumulan apakah yang ditampilkan dalam ayat-ayat ini? Menggunakan hukum sebagai sebuah cermin, Roh Kudus meyakinkan seseorang bahwa dia sedang tidak berkenan pada Allah oleh tidak memenuhi tuntutantuntutan hukum. Melalui usaha-usaha untuk memenuhi tuntutan-tuntutan tersebut, orang berdosa tersebut menunjukkan dia setuju bahwa hukum itu baik. Pokok-pokok penting apakah yang telah dibuat Paulus yang ditekankannya lagi? Roma 7:18-20. Untuk meyakinkan seseorang perihal kebutuhannya akan Kristus, Roh Kudus sering menuntun orang tersebut melalui sebuah tipe pengalaman “perjanjian lama.” Ellen G. White melukiskan pengalaman Israel sebagai berikut: “Bangsa itu tidak menyadari kekejian hati mereka, dan bahwa tanpa Kristus adalah mustahil bagi mereka untuk menurut hukum Allah; dan dengan mudah mereka mengadakan perjanjian dengan Allah. Merasa bahwa mereka sanggup untuk meneguhkan kebenaran mereka sendiri, mereka berkata, ‘Segala firman Tuhan akan kami lakukan dan akan kami dengarkan.’ Keluaran 24:7. . . tetapi baru saja beberapa pekan berlalu mereka telah melanggar janji mereka dengan Allah, dan bersujud untuk menyembah satu patung tuangan. Mereka tidak dapat mengharapkan pengasihan Allah melalui satu perjanjian yang telah mereka langgar; dan sekarang, menyadari akan kekejian hati mereka dan kebutuhan mereka akan keampunan, mereka dituntun untuk merasakan kebutuhan Juruselamat yang dinyatakan dalam perjanjian Abraham.”—Ellen G. White, Alfa dan Omega, jld.1, hlm. 441, 442. Sayangnya, dengan gagal memperbarui penyerahan mereka setiap hari kepada Kristus, banyak orang Kristen yang, kenyataannya, sedang melayani dosa, sekalipun mereka benci untuk mengakuinya. Mereka berdalih bahwa, sebenarnya mereka sedang melalui sebuah pengalaman normal penyucian, hanya saja mereka masih harus menempuh perjalanan panjang. Demikianlah, gantinya mengakui dosa kepada Kristus serta meminta Dia memberikan kemenangan atas dosa-dosa itu, mereka bersembunyi di belakang Roma 7, yang menurut mereka, mengatakan pada mereka bahwa tidak mungkin untuk berbuat benar. Kenyataannya, pasal ini berkata bahwa adalah tidak mungkin untuk melakukan kebenaran bila seseorang diperbudak dosa, tetapi kemenangan itu mungkin di dalam Kristus. Apakah Anda sedang memiliki kemenangan terhadap diri dan dosa sebagaimana dijanjikan Kristus pada kita? Jika tidak, mengapa? Pilihan-pilihan salah apakah yang Anda, dan hanya Anda, sedang buat? 93

Kamis
DILEPASKAN DArI MAuT

19 Agustus

Baca roma 7:21-23. Pernahkah Anda mengalami pergumulan yang sama dalam kehidupan Anda, bahkan sebagai seorang Kristen? Dalam ayat ini, Paulus menyamakan hukum dalam anggota-anggota (tubuhnya) dengan hukum dosa. “Dengan tubuh insaniku,” kata Paulus, dia melayani “hukum dosa” (Roma 7:25). Tetapi melayani dosa dan menuruti hukumnya berarti maut (lihat ayat 10, 11, 13). Jadi, tubuh insaninya—yang sementara berfungsi dalam penurutan kepada dosa—dengan tepat dapat disebut sebagai “tubuh maut ini.” Hukum akal budi adalah hukum Allah, penyataan Allah akan kehendak-Nya. Setelah diyakinkan Roh Kudus, Paulus memusatkan diri pada hukum ini. Akal budinya bertekad untuk memeliharanya, tetapi pada waktu ia coba, ia tidak bisa, karena tubuh insaninya ingin melakukan dosa. Siapakah yang tidak merasakan pergumulan yang sama? Dalam akal budimu Anda tahu apa yang harus Anda lakukan, tetapi sifat daging Anda menuntut hal lainnya. Bagaimanakah kita bisa dibebaskan dari situasi sulit di mana kita berada? Roma 7:24. 25.____________________________________________ ________________________________________________________________ ______________________________________________________________ Beberapa orang bertanya mengapa, setelah mencapai puncak gemilang dalam ucapan “Syukur kepada Allah! Oleh Yesus Kristus Tuhan kita,” Paulus harus sekali lagi menyebutkan pergumulan diri dari mana dia telah dilepaskan. Ada yang memahami ungkapan syukur itu sebagai sebuah seruan sisipan belaka. Mereka percaya bahwa seruan seperti itu mengikuti secara wajar pertanyaan, “Siapakah yang melepaskan?” Mereka beranggapan bahwa sebelum lanjut dengan diskusi panjang tentang kelepasan gemilang (Roma 8), Paulus merangkumkan apa yang telah dikatakannya dalam ayat-ayat sebelumnya dan mengakui sekali lagi adanya konflik melawan kuasa-kuasa dosa. Ada yang berpendapat bahwa yang Paulus maksudkan “aku sendiri” adalah “berusaha sendiri, tidak melibatkan Kristus.” Bagaimanapun ayat-ayat itu dimengerti, satu hal yang harus tetap jelas: jika ditinggal sendiri, tanpa Kristus, kita tak berdaya melawan dosa. Bersama Kristus kita mempunyai hidup baru di dalam Dia, hidup di mana—sekalipun diri masih terus muncul—janji-janji kemenangan menjadi milik kita jika kita memilih untuk memintanya. Sama seperti tak seorang pun dapat bernapas untuk Anda atau batuk serta bersin untuk Anda, demikian juga tak seorang pun dapat memilih bagi Anda untuk berserah kepada Kristus. Hanya Anda yang dapat membuat pilihan itu. Tidak ada cara lain untuk mendapatkan bagi diri Anda kemenangan-kemenangan yang telah dijanjikan kepada kita di dalam Yesus. 94

Jumat

20 Agustus

PELAJArI SELANJuTNYA: Baca Ellen G. White, “The Perfect Law,” hlm. 212–215; “A Divine Sin Bearer,” hlm. 308–310, dalam Selected Messages, jld.1; “Penyembuhan Jiwa,” hlm. 59-76; “Pentingnya Mencari Pengetahuan yang Benar,” hlm. 417-424, dalam Membina Keluarga Sehat; “Christ’s Victory as Complete as Adam’s Failure,” hlm. 323, dalam My Life Today. “Tidak ada keamanan ataupun ketenangan serta pembenaran dalam pelanggaran terhadap hukum. Manusia tidak bisa berharap untuk berdiri tanpa salah di hadapan Allah, dan berdamai dengan Dia melalui jasa-jasa Kristus, sementara dia terus hidup dalam dosa.”—Ellen G. White, Selected Messages, jld. 1, hlm. 213. “Paulus ingin saudara-saudaranya melihat bahwa kemuliaan besar Juruselamat yang mengampuni dosa telah memberikan makna kepada seluruh masyarakat Yahudi. Dia ingin mereka melihat juga bahwa pada waktu Kristus datang ke dunia ini, dan mati sebagai korban manusia, lambang-lambang telah digenapi. “Setelah Kristus mati di salib sebagai korban penghapus dosa, maka hukum upacara itu tidak berdaya lagi. Namun hukum upacara itu berkaitan dengan hukum moral, dan mulia adanya. Padanya ada cap Ilahi, dan menyatakan kesucian, keadilan, dan kebenaran Allah. Dan jika pelayanan dispensasi yang dihapuskan itu adalah mulia, betapa lebih mulialah kenyataan itu seharusnya, ketika Kristus dinyatakan, memberikan Roh-Nya yang memberi hidup, menyucikan, kepada semua orang yang percaya.”—Ellen G. White Comments, SDA Bible Commentary, jld. 6, hlm. 1095.

PErTANYAAN-PErTANYAAN uNTuK DISKuSI: n Siapakah menurut Anda manusia di roma 7? Paulus, sebelum atau setelah pertobatan? Atau apakah pasal ini berbicara tentang sesuatu yang sama sekali berbeda? Apakah alasan jawaban Anda? Diskusikan jawaban-jawaban yang diberikan di kelas. o Bagaimanakah Anda menerangkan kenyataan bahwa orang Kristen yang telah dibaptis dan lahir baru pun masih bergumul dengan dosa? Bukankah seharusnya secara otomatis kita mengalahkan segala sesuatu? Atau akankah kita terus berdosa? Atau apakah jawabannya ada di antara dua hal tersebut? p Potensi bahaya-bahaya apakah yang timbul dari pandangan bahwa bagaimanapun juga sebagai orang-orang Kristen kita akan terus berdosa, terus jatuh, serta terus melanggar hukum Allah? Di sisi lain, potensi bahaya apakah yang muncul dari pandangan bahwa sebagai orang-orang Kristen, bagaimanapun juga, kita harus mengalahkan setiap perbuatan salah dalam hidup kita, setiap pikiran yang salah, setiap kecenderungan yang salah—jika tidak kita tidak diselamatkan? q Akhirnya, apa pun pendapat orang tentang manusia di roma 7, janjijanji apakah yang bisa kita ambil dari roma 7 untuk diri kita, yang menolong kita mengerti apa artinya menjadi pengikut Yesus?
95

PENuNTuN guru 8
Ringkasan Pelajaran Ayat Inti: Roma 7:22, 23.

Anggota kelas akan:

¾ Mengetahui: Mengakui bahwa sifat dosa kita menghasilkan peperangan melawan hukum Allah dan bahwa kita harus mati terhadap sistem lama aturan-aturan yang mati yang fokus pada usaha kita dan bukan pada pekerjaan Kristus. ¾ Merasakan: Merasakan ketidakberdayaan kita dalam melakukan kebaikan tanpa campur tangan Kristus. ¾ Melakukan: Mati terhadap keinginan-keinginan lama yang dibangkitkan oleh dosa agar kita hidup dengan bebas menurut Roh.

garis Besar Pelajaran:

I. Mengetahui: Peperangan dengan Sifat Alami Dosa Kita A. Sifat alami dosa kita sedang bertempur dengan keinginan kita untuk hidup selaras dengan hukum Allah. Mengapa kita harus mati terhadap sifat alami diri kita yang berdosa supaya hidup menurut Roh? B. Sikap-sikap apakah, turunan atau kebiasaan, yang merupakan contoh “melakukan apa yang datang secara alami?” Dalam hal apakah sikap-sikap ini merupakan buah sifat alami dosa kita?

II. Merasakan: Tidak Berdaya Berbuat Baik A. Jika kita tidak dapat melakukan kebaikan yang kita mau lakukan, siapakah atau apakah yang sebenarnya mengendalikan kehidupan kita? Diskusikan. B. Apakah satu-satunya penawar bagi keadaan kita yang tak berdaya dan lepas kendali? III. Melakukan: Hidup Bebas A. Dalam hal apakah kita “mati” terhadap keinginan-keinginan dosa kita? B. Bagaimanakah kita “dikuburkan” bersama Kristus? C. Kebebasan-kebebasan apakah yang diberikan oleh hidup dalam Roh, dan apakah yang harus kita lakukan untuk menjalani jenis kehidupan ini? rANgKuMAN: Hanya kematian terhadap keadaan alami diri kita yang penuh dosa serta keinginan-keinginannya yang memungkinkan sebuah cara hidup baru di dalam Kristus.

96

Langkah Belajar

LANGKAH 1—Motivasi
Konsep Utama UntUK pertUmbUhan rohani: Melalui hukum saja kita tidak dapat menemukan keselamatan—hanya melalui Kristus sajalah kita dapat diselamatkan. KhUsUs UntUK GUrU: Kegiatan berikut ini dirancang untuk memperkenalkan konsep-konsep berikut: Hukum menunjukkan kepada kita kehendak Allah dan, olehnya, juga menyatakan dosa. Tanpa hukum, kita tidak akan mengetahui apa itu dosa. Hukum itu baik dan benar, tetapi hukum sendiri bukanlah sarana kita menuju keselamatan. Keselamatan diperoleh melalui kasih karunia Kristus. KeGiatan pembUKa: Permainan Peraturan. Anda perlu pena dan kartu catatan, jam dapur, dan “hadiah-hadiah” kecil (kismis, kue, permen, dan lain-lain) untuk diberikan pada mereka yang tidak “keluar” saat alarm jam berbunyi. Anda, sebagai guru, adalah wasit permainan ini. Minta setiap anggota kelas untuk menuliskan satu peraturan yang menurut mereka sangat sukar untuk dituruti dalam lima menit ke depan (seperti: tidak boleh berkedip, tidak boleh bicara, berdiri satu kaki terusmenerus, memegang Lagu Sion dengan mengulurkan satu tangan selama lima menit, dan lain-lain). Permainan ini sederhana. Turuti peraturan-peraturan itu dan hadiah diterima. Gagal menurut membuat Anda keluar dari permainan, dan Anda tidak pantas menerima hadiah itu. Ambil dua atau tiga peraturan dari usulan-usulan yang bisa dilaksanakan secara bersamaan. Bacakan peraturan itu pada kelas. Setel waktu lima menit. Mereka yang “berdosa” karena gagal mengikuti peraturan-peraturan itu dianggap “keluar.” Anda, sebagai wasit peraturan itu, mempunyai kesanggupan untuk “mengampuni” mereka yang “keluar” dan mengembalikan mereka pada permainan, tetapi mereka harus terus mengikuti peraturan-peraturan itu. Juga, ingatkan mereka tentang peraturan-peraturan tersebut. Dapat dipastikan dalam waktu singkat setiap orang di kelas itu akan “keluar” paling sedikit satu kali, bahkan yang lain beberapa kali. Terus amati waktu dan pastikan setiap orang telah “diampuni” dalam kurun waktu tersebut agar menerima hadiah bila waktu habis. Berikan setiap orang dalam kelas itu sebuah hadiah.

97

Pertanyaan untuk Diskusi: Dengan mengangkat tangan, tanyakan, berapa banyak yang “keluar” paling tidak satu kali. Upah dosa adalah maut. Sebagai budak hukum, mereka seharusnya pantas mati, bukan? Apakah mereka yang “keluar” lebih dari yang lainnya “mati” lebih banyak dari mereka yang gagal hanya satu atau dua kali? Apakah mereka yang gagal lebih sedikit mendapatkan hadiah lebih banyak? Bagaimanakah jawaban-jawaban ini menolong menggambarkan bahwa kita tidak dapat diselamatkan oleh usaha-usaha kita sendiri?

LANGKAH 2—Selidiki
KhUsUs UntUK GUrU: Dalam terang pengorbanan, kasih karunia dan pengampunan Kristus, nilai apakah yang dimiliki hukum? Apakah fungsi hukum sekarang ini? Komentar Alkitab I. Maksud Hukum (Baca kembali Roma 7:7 dan Roma 7:9-12 bersama anggota kelas Anda). Hukum Allah sama perlunya sekarang dengan saat di surga sebelum manusia diciptakan. Karena tanpa prinsip-prinsip hukum yang menuntun, bagaimanakah manusia dapat mengetahui sepenuhnya kehendak dan tabiat suci Allah? Namun demikian, memelihara hukum tidak dapat menyelamatkan kita. Keselamatan oleh perbuatan adalah agama yang mati dan sebuah beban bagi orang percaya. Dalam Kisah 15:10 Petrus menggemakan gagasan ini saat menyebutkan hukum sebagai “suatu kuk, yang tidak dapat dipikul, baik oleh nenek moyang kita maupun oleh kita sendiri.” Paulus menerangkan konsep ini lebih jauh oleh menyatakan bahwa “perintah yang seharusnya membawa kepada hidup, ternyata bagiku justru membawa kepada kematian” (Rm. 7:10), demikian ia mengungkapkan dosanya. Jadi jelas jika hukum tidak dapat menyelamatkan kita, apakah yang dapat dilakukannya? Pertama dan terutama, hukum berguna untuk mengatakan pada kita apa yang benar dan salah. Paulus menyatakan hal ini sangat jelas dalam Roma 7:7: “Sebaliknya, justru oleh hukum Taurat aku telah mengenal dosa. Karena aku juga tidak tahu apa itu keinginan, kalau hukum Taurat tidak mengatakan: ‘Jangan mengingini!’” Kedua, hukum membawa satu hukuman atas pelanggaran terhadapnya dan ini mengisyaratkan dibutuhkannya seorang Pembela, seorang Juruselamat, untuk membela kasus kita di pengadilan surga—Seorang Pengacara yang dapat menggugurkan penghukuman itu demi kita. Kebutuhan akan kemurahan karena hukuman atas pelanggaran hukum tidak dapat dilebih-lebihkan. Hukumanhukuman sipil karena hukum-hukum tertentu berbeda di setiap negara, tetapi puncak hukuman atas dosa adalah maut. Tetapi syukur karena kematian Yesus telah membayar hukuman maut itu. Dia mati ganti kematian yang pantas untuk kita supaya kita beroleh hidup kekal, dan kematian tersebut memenuhi tuntutan-tuntutan keadilan dari hukum98

Nya. Jelaslah, hukum itu sendiri tidak pernah dimaksudkan untuk menyucikan kita. Tidak juga dimaksudkan untuk menjadi sarana keselamatan. Oleh sebab itu, hukum terbatas dalam fungsinya. Hanya melalui kasih karunia Kristus kita dapat diselamatkan. Pertimbangkan: Mengapakah Allah memberikan hukum-Nya pada manusia? Apakah bahaya terlalu teliti secara harfiah dengan hukum itu sehingga Anda melupakan roh/motivasi hukum itu? y Apakah keterbatasan-keterbatasan hukum itu? Dengan kematian Yesus membayar tebusan dosa kita, apakah maksud hukum itu? DisKUsiKan: Mengapakah memelihara hukum tidak dapat menyelamatkan kita? Mengapakah pengorbanan Kristus adalah satu-satunya sarana sejati keselamatan?

LANGKAH 3—Terapkan
KhUsUs UntUK GUrU: Ingatkan kelas Anda permainan yang dimainkan di pembukaan. Ajak mereka memikirkannya dalam konteks usaha untuk menuruti hukum Allah, tetapi selalu memakan korban melakukan dosa setiap hari. Tak diragukan, semua anggota kelas akan setuju bahwa dari tuntutan permainan itu mereka ingin mengikuti peraturan-peraturan itu, bukan? Secara alami, mereka mau menerima hadiah. Sangat diragukan bahwa ada yang mau ikut bermain dengan tujuan keluar dari permainan. Kita semua tadinya hidup sebagai budak-budak dosa tetapi pengorbanan Kristus telah membebaskan kita. pertanyaan UntUK penemUan: » Bagaimanakah hukum menolong kita mengartikan apa itu kehendak Allah dan apa itu dosa? ¼ Tanpa hukum, atau jika hukum tidak diketahui, apakah ada dosa? Jelaskan jawaban Anda. ½ Sama seperti pada permainan tadi, jika kita tidak mengetahui hukum, bagaimana kita bisa mengetahui apa dosa itu? Apakah ada cara bagi Allah untuk bersikap adil tanpa memberikan kita hukum itu? Jelaskan. ¾ Hanya karena ada pengampunan, mengapakah itu bukan surat izin untuk melanggar hukum? ¿ Bahas apakah peraturan-peraturan itu yang menyanggupkan para pemain menerima hadiah ataukah pengampunan dan kasih karunia yang telah membebaskan mereka dari hukuman, ataukah hal lainnya. 99

À Tanyakan jika ada peraturan-peraturan yang dapat mereka turuti jika saja mereka mendapatkan pertolongan dari wasit. Dalam hal apakah konsep ini menolong kita mengerti bahwa hanyalah melalui pertolongan Kristus kita dapat mengalahkan dosa? Á Langkah-langkah apakah yang perlu kita tempuh sebagai orang Kristen untuk mencegah terperangkap dalam lingkaran legalisme dan dengan sungguh-sungguh memegang pemberian Kristus akan pengampunan dan kasih karunia?

LANGKAH 4—Ciptakan
KhUsUs UntUK GUrU: Roma 7 memberikan bagi setiap anggota kelas Anda satu titik awal untuk periksa diri. Dorong mereka untuk menguji bagaimana secara pribadi mereka menjelaskan tentang hukum dan bagaimana ajaran-ajaran Paulus tentang hukum mempengaruhi kehidupan rohani mereka. Akhirnya, ajak mereka berpikir tentang cara mereka menghargai rencana keselamatan Allah. KeGiatan: Hal-hal apakah yang Anda gumuli secara pribadi yang dapat digunakan sebagai satu ilustrasi tentang apa yang Paulus telah katakan mengenai hukum, mati terhadap dosa, dan kasih karunia? Pikirkan dua hal yang Anda mau usahakan bersama Kristus dalam hal ini. Upayakan tujuan-tujuan ini dalam kehidupan doa Anda setiap hari. Undanglah Allah dalam hidup Anda khususnya dalam hal-hal ini dan minta pertolongan dan tuntunan-Nya setiap hari untuk dapat mencapai tujuan-tujuan itu. Minta pertolongan Allah untuk membebaskan Anda dari rantai-rantai dosa. Minta Allah menolong Anda setiap hari untuk mati terhadap dosa dan hidup dalam kasih karunia melalui pengorbanan Kristus, sehingga dengan pertolongan-Nya Anda dapat bebas dari hukuman hukum itu sendiri.

100

Pelajaran 9

*21-27 Agustus 2010

Kemerdekaan Dalam Kristus
Sabat Petang
BAcA uNTuK PELAJArAN PEKAN INI: Roma 8:1-17. AYAT HAFALAN: “Demikianlah sekarang tidak ada penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus Yesus, yang hidup bukan menurut daging, melainkan menurut Roh.” (Roma 8:1, KJV).

R

oma 8 adalah jawaban Paulus untuk Roma 7. Dalam Roma 7 Paulus berbicara tentang frustrasi, kegagalan, dan penghukuman; dalam Roma 8, penghukuman tidak ada lagi, digantikan dengan kemerdekaan dan kemenangan melalui Yesus Kristus. Paulus berkata dalam Roma 8 bahwa jika Anda menolak untuk menerima Yesus Kristus, pengalaman celaka dalam Roma 7 akan menjadi bagianmu. Anda akan menjadi hamba dosa, tidak sanggup melakukan apa yang Anda pilih untuk lakukan. Dalam Roma 8 dia berkata bahwa Kristus menawarkan Anda kelepasan dari dosa dan kemerdekaan untuk melakukan kebaikan yang Anda ingin lakukan namun tubuh dagingmu tidak izinkan. Paulus melanjutkan, menjelaskan bahwa kemerdekaan ini dibeli dengan harga tak ternilai. Kristus putra Allah menjadi manusia, satu-satunya cara Dia bisa berhubungan dengan kita, dapat menjadi teladan sempurna kita, dan dapat menjadi Pengganti yang mati menggantikan kita. Dia datang “serupa dengan daging yang dikuasai dosa” (ay. 3). Hasilnya, tuntutan-tuntutan benar hukum itu dapat digenapi dalam diri kita (ay. 4). Dengan kata lain, Kristus membuat kemenangan atas dosa serta penggenapan tuntutan-tuntutan positif hukum itu hal yang mungkin. Karena keterbatasan halaman, kita akan membahas hanya 17 ayat pertama dari Roma 8. Bila waktu mengizinkan, baca sisa pasal itu, yang dipenuhi dengan jaminan-jaminan indah kasih Allah. Ayat-ayat ini secara luar biasa menunjukkan kita pada pengharapan yang kita harus miliki sebagai umat yang “lebih daripada orang-orang yang menang oleh Dia yang telah mengasihi kita” (ay. 37) dan yang karena kasih itu “tidak menyayangkan Anak-Nya sendiri, tetapi yang menyerahkan-Nya bagi kita semua” (ay. 32). *Pelajari pelajaran pekan ini untuk Sabat, 28 Agustus. 101

Minggu
KEMErDEKAAN DArI PENgHuKuMAN

22 Agustus

“Demikianlah sekarang tidak ada penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus Yesus, yang hidup bukan menurut daging melainkan menurut Roh.” (Rm. 8:1, KJV). Apakah artinya “tidak ada penghukuman?” Tidak ada penghukuman dari apa? Dan mengapakah ini merupakan kabar baik? “Dalam Kristus Yesus” adalah sebuah anak kalimat yang lazim dalam tulisantulisan Paulus. Seseorang ada “dalam” Kristus Yesus berarti dia telah menerima Kristus sebagai Juruselamatnya. Orang tersebut percaya pada-Nya secara mutlak dan telah mengambil keputusan untuk menjadikan pola hidup Kristus sebagai pola hidupnya. Hasilnya adalah sebuah kesatuan pribadi yang erat dengan Kristus. “Dalam Kristus Yesus” bertentangan dengan “dalam daging.” Keadaan ini juga bertentangan dengan pengalaman yang dirinci dalam pasal 7, di mana Paulus menggambarkan orang yang di bawah penghukuman sebelum penyerahan dirinya kepada Kristus itu sebagai karnal, artinya dia adalah seorang hamba dosa. Orang itu ada di bawah penghukuman maut (ay. 11, 13, 24). Dia melayani “hukum dosa” (ay. 23, 25). Orang ini ada dalam sebuah keadaan celaka yang sangat mengerikan (ay. 24). Tetapi kemudian orang tersebut berserah kepada Yesus, sebuah perubahan yang segera telah terjadi dalam pilihannya terhadap Allah. Sebelumnya terhukum sebagai seorang pelanggar hukum, tapi kini orang tersebut berdiri sempurna di hadapan Allah, berdiri seakan-akan dia tidak pernah berbuat dosa, karena kebenaran Yesus Kristus sepenuhnya membungkus dia. Tidak ada lagi penghukuman, bukan karena orang itu tidak bersalah, tanpa dosa, atau layak mendapatkan hidup kekal (bukan karena dia!), melainkan karena catatan kehidupan Yesus yang sempurna mengambil tempat orang tersebut; itulah sebabnya, tidak ada lagi penghukuman. Tetapi kabar baik itu tidak berakhir di situ. Apakah yang membebaskan seseorang dari perhambaan dosa? Roma 8:2. “Roh, yang memberi hidup” di sini berarti rencana Kristus untuk keselamatan manusia, bertentangan dengan “hukum dosa dan hukum maut,” yang dijabarkan dalam pasal 7 sebagai hukum yang memerintah atas dosa, yang akhirnya adalah maut. Sebaliknya, hukum Kristus membawa kehidupan dan kemerdekaan. “Setiap jiwa yang enggan menyerahkan dirinya kepada Allah adalah di bawah pengendalian kuasa yang lain. Ia bukanlah milik-Nya sendiri. Ia mungkin berbicara tentang kemerdekaan, tetapi ia berada dalam perhambaan yang paling hina. . . . Meskipun ia memuji dirinya bahwa ia sedang mengikuti bisikan kalbu dari pertimbangannya sendiri, namun ia menaati kehendak putra kegelapan. Kristus datang untuk memutuskan belenggu perhambaan dosa dari jiwa.” —Ellen G. White, Alfa dan Omega, jld. 6, hlm. 80. Apakah Anda seorang hamba ataukah orang merdeka dalam Kristus? Bagaimanakah Anda bisa mengetahuinya dengan pasti? 102

Senin
APA YANg HuKuM TAK DAPAT LAKuKAN

23 Agustus

Betapapun baiknya, “hukum” itu (hukum upacara, hukum moral, atau bahkan kedua-duanya) tidak dapat melakukan bagi kita apa yang paling kita butuhkan, yaitu menyediakan bagi kita jalan keselamatan, sebuah sarana untuk menyelamatkan kita dari penghukuman maut yang dibawa dosa. Untuk hal tersebut, kita membutuhkan Kristus. Baca roma 8:3, 4. Apakah yang telah Kristus lakukan, yang pada hakikatnya tidak dapat dilakukan oleh hukum itu? Allah menyediakan sebuah penawar dengan “jalan mengutus Anak-Nya sendiri dalam daging,” dan Dia “menghukum dosa di dalam daging.” Penjelmaan Kristus adalah sebuah langkah penting dalam rencana keselamatan. Adalah wajar untuk meninggikan Salib, tetapi dalam pelaksanaan rencana keselamatan, kehidupan Kristus “serupa dengan daging yang dikuasai dosa” adalah hal yang mutlak penting juga. Sebagai hasil dari apa yang Allah telah lakukan dalam mengutus Kristus, kini telah menjadi mungkin bagi kita untuk memenuhi tuntutan benar dari hukum itu; yaitu, untuk melakukan hal-hal yang benar yang diwajibkan oleh hukum. “Di bawah hukum Taurat” (Roma 6:14), hal ini mustahil; “dalam Kristus” hal ini mungkin. Namun, kita harus ingat bahwa melakukan apa yang diwajibkan hukum bukan berarti memelihara hukum dengan cukup baik untuk mendapatkan keselamatan. Itu bukan sebuah pilihan—tidak pernah. Secara sederhana hal ini berarti menghidupkan kehidupan yang disanggupkan Allah untuk kita jalani; ini berarti sebuah hidup penurutan, kehidupan yang di dalamnya kita telah “menyalibkan daging dengan segala hawa nafsu dan keinginannya” (Gal. 5:24), satu kehidupan yang di dalamnya kita memantulkan tabiat Kristus. “Hidup [berjalan]” dalam ayat 4 adalah sebuah ungkapan kiasan yang berarti “berperilaku.” Kata daging di sini menunjukkan seorang yang belum lahir kembali, entah sebelum ataupun sesudah penghukuman. Hidup di dalam daging berarti dikendalikan oleh keinginan-keinginan yang mementingkan diri sendiri. Sebaliknya, hidup [berjalan] di dalam Roh berarti memenuhi kewajiban-kewajiban benar dari hukum itu. Hanya melalui pertolongan Roh Kudus kita dapat memenuhi tuntutan-tuntutan itu. Terpisah dari Kristus, tidak ada kemerdekaan seperti itu. Orang yang diperhamba dosa mendapati mustahil untuk melakukan kebaikan yang dia pilih untuk lakukan (lihat Roma 7: 15, 18). Seberapa baikkah Anda dalam memelihara hukum? Mengesampingkan gagasan memperoleh keselamatan oleh hukum, apakah kehidupan Anda merupakan satu kehidupan di dalam mana tuntutan-tuntutan benar hukum itu dipenuhi? Jika tidak, mengapa? Alasan-alasan pincang apakah yang Anda sedang gunakan untuk memaafkan sikap Anda? 103

Selasa
DAgINg LAWAN rOH

24 Agustus

“Sebab mereka yang hidup menurut daging, memikirkan hal-hal yang dari daging; mereka yang hidup menurut roh, memikirkan hal-hal yang dari roh. Karena keinginan daging adalah maut, tetapi keinginan roh adalah hidup dan damai sejahtera (Roma 8: 5, 6). renungkan ayat ini. Pekabaran dasar apakah yang datang dari ayat ini? Apakah yang dikatakannya pada Anda tentang bagaimana seharusnya Anda hidup? “Menurut,” di sini, digunakan dalam pengertian “sesuai dengan” (Yunani kata). “Memikirkan” di sini berarti menetapkan pikiran. Sekelompok orang menetapkan pikiran mereka untuk memuaskan keinginan-keinginan daging; yang lain menetapkan pikiran mereka pada hal-hal yang dari Roh, mengikuti perintah-Nya. Oleh karena pikiran menentukan tindakan; kedua kelompok berbeda dalam hidup dan tindakan mereka. Apakah yang tak bisa dilakukan oleh pikiran daging? Roma 8:7, 8. ________________________________________________________________ ______________________________________________________________ Kenyataannya, menetapkan pikiran untuk memuaskan keinginan-keinginan daging berarti berada dalam permusuhan melawan Allah. Orang yang pikirannya seperti itu tidak peduli dengan melakukan kehendak Allah. Dia bahkan sedang berada dalam pemberontakan melawan Dia, secara terang-terangan mencemooh hukum Allah. Secara khusus Paulus mau menekankan bahwa, terpisah dari Kristus, adalah mustahil untuk memelihara hukum Allah. Berulang-ulang Paulus kembali kepada tema yang sama ini; betapa keras sekalipun usaha seseorang, jika terpisah dari Kristus maka dia tidak bisa menurut hukum. Tujuan khusus Paulus adalah untuk meyakinkan orang Yahudi bahwa mereka membutuhkan lebih daripada “hukum Taurat.” Oleh tingkah laku yang telah mereka tunjukkan, sekalipun telah menerima penyataan Ilahi, mereka bersalah dalam melakukan dosa-dosa yang sama yang dilakukan bangsa lain juga (Roma 2). Pelajaran dari semua ini adalah mereka membutuhkan Mesias. Tanpa Dia mereka akan menjadi hamba dosa, tidak sanggup melepaskan diri dari kekuasaannya. Inilah jawaban Paulus terhadap orang Yahudi yang tidak dapat memahami mengapa apa yang Allah telah berikan pada mereka dalam Perjanjian Lama sudah tidak lagi cukup untuk keselamatan. Paulus mengakui bahwa apa yang mereka telah lakukan selama ini semuanya baik, tetapi mereka juga perlu menerima Mesias yang kini telah datang. Lihat kembali ke 24 jam yang lalu. Apakah perbuatan-perbuatan Anda berasal dari roh atau dari daging? Apakah yang jawaban Anda katakan tentang siapa diri Anda? Jika dari daging, perubahan-perubahan apakah yang harus Anda buat, dan bagaimanakah Anda membuat perubahan-perubahan tersebut? 104

Rabu
rOH DI DALAM KITA

25 Agustus

Paulus melanjutkan temanya, membandingkan dua kemungkinan yang dihadapi orang dalam cara hidup mereka: apakah menurut Roh, yaitu, Roh Kudus Allah, yang dijanjikan kepada kita, ataukah menurut sifat dosa dan daging mereka. Yang satu menuntun kepada hidup kekal, yang lainnya kepada maut kekal. Tidak ada wilayah netral. Atau, sebagaimana Yesus katakan: “Siapa tidak bersama Aku, ia melawan Aku dan siapa tidak mengumpulkan bersama Aku, ia mencerai-beraikan” (Mat. 12:30). Sukar untuk disampaikan lebih jelas lagi, atau lebih hitam-putih dari pernyataan tersebut. Baca roma 8:9-14. Apakah yang dijanjikan kepada mereka yang menyerahkan diri sepenuhnya kepada Kristus? ________________________________________________________________ ________________________________________________________________ ______________________________________________________________ Hidup “dalam daging” dibandingkan dengan hidup “dalam Roh.” Hidup “dalam Roh” dikendalikan oleh Roh Allah, yakni Roh Kudus. Dalam pasal ini Dia disebut Roh Kristus, mungkin dalam arti Dia sebagai seorang wakil Kristus, dan melalui Dia Kristus tinggal dalam orang percaya (ay. 9, 10). Dalam ayat-ayat yang sama, Paulus kembali kepada suatu kiasan yang dia telah gunakan dalam Roma 6:1-11. Secara kiasan, dalam baptisan “tubuh dosa,” yakni tubuh yang melayani dosa, dibinasakan. “Manusia lama kita telah turut disalibkan [dengan dia]” (ay. 6). Tetapi, sebagaimana dalam baptisan, tidak hanya ada penguburan tetapi juga sebuah kebangkitan, sehingga orang yang dibaptis bangkit untuk berjalan dalam hidup baru. Ini berarti mematikan diri yang lama itu, sebuah pilihan yang kita sendiri harus lakukan setiap hari, setiap saat. Allah tidak membinasakan kebebasan manusia. Bahkan setelah manusia lama dosa itu dibinasakan, masihlah mungkin untuk berbuat dosa. Kepada jemaat di Kolose Paulus menuliskan, “Matikanlah dalam dirimu segala sesuatu yang duniawi” (Kol. 3:5). Demikianlah, setelah pertobatan masih akan ada pergumulan melawan dosa. Bedanya adalah orang yang di dalamnya Roh berdiam kini memiliki kuasa Ilahi untuk menang. Lebih jauh, karena orang itu telah secara mukjizat dimerdekakan dari perhambaan dosa, dia diwajibkan untuk tidak pernah melayani dosa lagi. renungkanlah kembali gagasan bahwa roh Allah, yang telah membangkitkan Yesus dari kematian, adalah roh yang sama yang tinggal dalam kita. Pikirkan tentang kuasa yang tersedia bagi kita! Apakah yang masih saja menghalangi kita untuk berserah pada kuasa itu sebagaimana seharusnya? 105

Kamis
ADOPSI LAWAN PErHAMBAAN

26 Agustus

Bagaimanakah Paulus menggambarkan hubungan yang baru di dalam Kristus? roma 8:15. Pengharapan apakah yang ditemukan dalam janji ini bagi kita? Bagaimanakah kita menjadikannya nyata dalam hidup kita? Hubungan yang baru ini digambarkan sebagai kemerdekaan dari ketakutan. Seorang hamba terikat dalam perhambaan. Dia hidup dalam keadaan yang takut terus-menerus akan tuannya. Dia bertahan untuk tidak mendapatkan apaapa selama tahun-tahun pelayanannya yang panjang. Tidak demikian dengan orang yang menerima Yesus Kristus. Pertama, dia melakukan pelayanan sukarela. Kedua, dia melayani tanpa takut, karena “kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan” (1 Yoh. 4:18). Ketiga, diangkat sebagai anak, dia menjadi ahli waris dari warisan yang bernilai tak terhingga. “Roh perhambaan ditandai dengan usaha untuk hidup sesuai dengan agama hukum, melalui perjuangan untuk memenuhi tuntutan-tuntutan hukum dengan kekuatan kita sendiri. Pengharapan ada pada kita hanya jika kita datang di bawah perjanjian Abraham, yang adalah perjanjian kasih karunia oleh iman dalam Yesus Kristus.”—Ellen G. White Comments, The SDA Bible Commentary, jld. 6, hlm. 1077. Apakah yang memberi kita jaminan bahwa Allah sesungguhnya telah menerima kita sebagai anak-anak-Nya? Roma 8:16. Kesaksian batiniah oleh Roh memastikan penerimaan kita. Sementara tidaklah aman untuk mengandalkan perasaan semata-mata, mereka yang dengan pemahaman mereka yang terbaik telah mengikuti terang Firman itu akan mendengar sebuah suara pembuktian dalam batinnya yang memastikan bahwa mereka telah diterima sebagai anak-anak Allah. Sesungguhnya, Roma 8:17 mengatakan pada kita bahwa kita adalah ahli-ahli waris; yakni, kita adalah bagian dari keluarga Allah dan, sebagai ahli-ahli waris, sebagai anak-anak, kita menerima warisan yang indah dari Bapa kita. Kita tidak mengusahakannya; itu diberikan kepada kita berdasarkan status baru kita dalam Allah, sebuah status yang diberikan kepada kita melalui kasih karunia-Nya, yang dimungkinkan bagi kita karena kematian Yesus demi kepentingan kita. Berapa dekatkah Anda kepada Tuhan? Apakah Anda benar-benar mengenal-Nya, atau hanya sekadar tahu tentang Dia? Perubahan-perubahan apakah yang harus Anda buat dalam hidup Anda untuk mempunyai sebuah hidup yang lebih dekat dengan Pencipta dan Penebus Anda? Apakah yang menahan Anda, dan mengapa?

106

Jumat

27 Agustus

PELAJArI SELANJuTNYA: Ellen G. White, “Para Pembaru Inggris yang Muncul Kemudian,” Alfa dan Omega, jld. 8, hlm. 256-276; “Yesus Dibaptiskan,” hlm.101. “Di Kapernaum,” hlm. 261-272, dalam Alfa dan Omega, jld. 5; “Janganlah Gelisah Hatimu,” Alfa dan Omega, jld. 6, hlm. 304; “Seumpama Ragi,” Membina Kehidupan Abadi, hlm. 66; “Letters to Physicians,” hlm. 126-129, dalam Testimonies for the Church, jld. 8. “Rencana keselamatan tidak menawarkan bagi orang percaya sebuah kehidupan yang bebas dari penderitaan dan kesukaran di atas dunia ini. Sebaliknya, rencana tersebut memanggil mereka untuk mengikuti Kristus pada jalan penyangkalan diri dan celaan. . . . Melalui kesukaran dan penganiayaanlah tabiat Kristus dihasilkan dan dinyatakan dalam umat-Nya. . . . Oleh ambil bagian dalam penderitaan Kristus kita dididik dan didisiplin serta dipersiapkan untuk turut ambil bagian dalam kemuliaan yang akan datang.”—The SDA Bible Commentary, jld. 6, hlm. 568, 569. “Rantai yang telah diulurkan dari takhta Allah cukup panjang untuk menjangkau jurang-jurang yang paling dalam sekalipun. Kristus sanggup untuk mengangkat orang yang paling berdosa dari dalam lubang kemerosotan, dan menempatkan mereka di tempat di mana mereka akan diakui sebagai anak-anak Allah, ahli-ahli waris bersama Kristus dari warisan yang baka.”—Ellen G. White, Testimonies for the Church, jld. 7, hlm. 229. “Dia yang paling dihormati di seluruh surga telah datang ke dunia ini untuk mengambil sifat manusia, menjadi manusia, memberi kesaksian kepada malaikatmalaikat yang sudah jatuh serta kepada penduduk dunia-dunia yang tidak jatuh dalam dosa bahwa melalui pertolongan Ilahi yang telah disediakan, setiap orang bisa berjalan di jalan penurutan terhadap perintah-perintah Allah. . . . “Tebusan kita telah dibayar oleh Juruselamat kita. Tidak ada yang perlu diperhamba oleh Setan. Kristus berdiri di hadapan kita sebagai penolong kita yang mahakuasa.”—Ellen G. White, Selected Messages, jilid 1, hlm. 309. PErTANYAAN-PErTANYAAN uNTuK DISKuSI: n Baca kembali kutipan-kutipan dari Ellen g. White di atas. Pengharapan apakah yang kita bisa ambil dari kutipan-kutipan tersebut bagi diri kita? Lebih penting, bagaimanakah kita bisa menjadikan janji-janji kemenangan ini nyata dalam hidup kita? Mengapakah, dengan begitu banyak yang ditawarkan kepada kita di dalam Kristus, kita masih sangat kurang daripada yang sebenarnya kita bisa capai? o Apakah cara-cara praktis sehari-hari oleh mana pikiran kita “memikirkan hal-hal yang dari roh” (Roma 8:5). Apakah artinya? Apakah yang diinginkan oleh roh? Apakah yang Anda tonton, baca, atau pikirkan yang menyulitkan Anda sukar mencapai hal itu dalam hidup Anda? p renungkan tentang gagasan bahwa kita harus berada di pihak yang satu atau pihak yang lain dalam pertentangan besar ini, dengan tidak ada netral. Apakah implikasi dari kenyataan yang sebenarnya itu? Bagaimanakah seharusnya kesadaran akan kebenaran penting ini mempengaruhi cara kita hidup dan membuat pilihan, bahkan dalam hal-hal yang “kecil” sekalipun?

107

PENuNTuN guru 9
Ringkasan Pelajaran Ayat Inti: Roma 8:1.

Anggota Kelas Akan:

¾ Mengetahui: Membuat garis besar sarana yang digunakan Kristus untuk membebaskan kita dari hukuman dosa dan menuntun kita menjadi anak-anak Allah melalui kehidupan dalam Roh-Nya. ¾ Merasakan: Menjelaskan perasaan yang menyebabkan kita berseru: Abba, Bapa (Roma 8:15), juga bagaimana dan melalui siapa kita bisa memanggil demikian. ¾ Melakukan: Mengambil bagian dalam penderitaan Kristus, dan juga dalam kemuliaan-Nya.

garis Besar Pelajaran:

I. Mengetahui: Bebas dari Penghukuman A. Pada saat Kristus menjadi korban penghapus dosa kita, tuntutantuntutan keadilan hukum itu telah dipenuhi. Kita bukan saja dibenarkan, tetapi ketika kita berserah pada Roh-Nya, pikiran dan tubuh kita dikendalikan oleh Dia. Apakah arti berada sepenuhnya di bawah pengendalian Kristus, pikiran dan tubuh dan roh? B. Apakah yang dilakukan Roh untuk menyanggupkan kita hidup sebagai anak-anak Allah? II. Merasakan: Abba, Bapa A. Roh Kudus bukan saja menjadikan pikiran dan tubuh kita lebih seperti Kristus ketimbang penuh dosa, Dia juga membentuk kembali hubungan kita menjadi hubungan antara anak-anak Allah, dengan suatu keakraban yang menyerukan pengakuan hubungan kita yang dekat dengan Dia. Pengharapan apakah yang diberikan oleh pengakuan ini saat kita datang pada Allah setelah kita jatuh? B. Menggunakan hubungan-hubungan akrab yang lazim bagi Anda, hubungan seperti apakah dengan Allah yang Anda harap untuk rasakan? III. Melakukan: Penderitaan dan Kemuliaan A. Mereka yang akrab satu sama lain berbagi dalam penderitaan maupun saat-saat bahagia. Dalam hal apakah kita juga berbagi dalam celaan dan penyangkalan diri Kristus? B. Bagaimanakah kita lebih daripada pemenang melalui Kristus di tengah-tengah penderitaan dan kesukaran kita?

rANgKuMAN: Pada saat kita mati bersama Kristus, kita dibangkitkan untuk hidup seperti Dia hidup, dengan demikian kita hidup sebagai anakanak Allah, dikendalikan oleh Roh. 108

Langkah Belajar

LANGKAH 1—Motivasi
Konsep Utama UntUK pertUmbUhan rohani: Tidak ada usaha manusia yang dapat memberikan damai dan kebebasan yang Kristus berikan bagi kita melalui pekerjaan Roh-Nya. Pada saat seorang narapidana menerima pengampunan, ada satu masa antara pernyataan pengampunan itu dan pembebasannya. Setelah pembebasan ada juga satu masa penyesuaian di mana narapidana tersebut memulai transisi dari penjahat yang dipenjarakan menjadi warga yang dipulihkan. Selama masa ini penjahat tersebut belajar kembali cara-cara dan kiat-kiat menjadi orang bebas. Dalam keadaan pembebasan bersyarat, pengadilan pada umumnya menunjuk satu pegawai untuk membantu mantan penjahat tersebut membuat pilihan-pilihan sebagai pelindung untuk tidak kembali berbuat jahat dan memastikan suatu penyesuaian yang mantap menuju kebebasan. Kita telah menggunakan banyak waktu mempelajari proses oleh mana Allah, Hakim Kekal kita, memberikan kita kemerdekaan. Kita telah melihat pernyataan Allah dan korban yang memungkinkan pengampunan tersebut. Kita telah pelajari berbagai pemahaman yang keliru tentang sistem pengadilan Ilahi. Kita bahkan telah membahas pergumulan yang dilalui oleh penjahat tersebut. Kini waktunya bukan sekadar untuk menyatakan narapidana itu bebas, tetapi juga secara nyata membebaskan narapidana itu. Kita fokuskan perhatian kita pada bagaimana orang yang dipenjarakan dalam kematian rohani melepaskan rantairantai belenggu dan menemukan hidup kekal. KeGiatan: Pilihan A: Jika Anda mengenal seseorang yang pernah dipenjarakan dan mau membagikan pengalamannya, wawancarai orang tersebut sebelumnya dan gunakan wawancara itu untuk membuka kelas Anda. Batasi diskusi pada pengalaman pemenjaraan orang tersebut (kehilangan kontak dengan keluarga, kegiatan rutin yang harus dilakukan setiap hari; makanan yang tidak pantas, kurangnya pelayanan kesehatan, dan lain-lain; terkungkung dalam sel sempit; dan seterusnya), jangan dulu bahas penyebab pemenjaraan tersebut untuk melindungi rahasia orang itu. Cakupkan juga para penjahat lainnya, atau para penjahat perang. Bandingkan situasi saat penahanan dengan kebebasan yang dialami sekarang. Pertimbangkan: Apakah yang terjadi pada seorang yang ditahan? Kebebasan-kebebasan apa sajakah yang dibatasi? Bagaimanakah pengalaman orang ini menolong kita mengerti bagaimana dosa telah menahan dan mengikat kita? Pilihan B: Minta anggota kelas membuat daftar pribadi tentang hal-hal yang membatasi kebebasan mereka (seperti keuangan, cacat tubuh, kesehatan yang terganggu, serta tuntutan-tuntutan waktu, dan lain-lain). 109

Pertimbangkan: Minta anggota kelas memaparkan bagaimana kehidupan mereka akan berbeda jika mereka bebas dari segala keterbatasan tersebut.

LANGKAH 2—Selidiki
KhUsUs UntUK GUrU: Imam besar Kayafas pernah menyatakan bahwa lebih baik satu orang mati untuk satu bangsa. Dia hanya memikirkan tentang politik, bukan keselamatan; tetapi ironisnya adalah kematian Kristus telah menyediakan keselamatan bagi Israel, dan para penulis Alkitab melihatnya dengan pengertian rohani yang Kayafas tidak pernah maksudkan. Demikian juga, kita dapat melihat kembali pada mantera Janis Joplin dalam lagunya “Me and Bobby McGee,” yang mengatakan, “kemerdekaan hanyalah kata lain untuk tak ada lagi yang tersisa untuk hilang,” dan melihat kebenaran yang kemungkinan tak pernah disadarinya. Dalam konteks aslinya, lirik lagu ini adalah satu ungkapan kekecewaan, tetapi bagi orang Kristen ini adalah satu pernyataan kenyataan. Sesungguhnya kemerdekaan berarti tidak ada lagi yang tersisa untuk hilang. Diri kita telah dikosongkan dan dengan demikian tidak akan mengalami kehilangan lagi. Ironisnya, pengakuan akan kekosongan inilah yang mengizinkan Roh Kudus untuk mengisi kita dan memberikan kita damai sejahtera serta kemerdekaan. Setelah kita hilang, akhirnya kita bebas dalam Kristus. Pertanyaan utama kita adalah, “Bagaimanakah saya bisa mengalami kemerdekaan yang diberikan Yesus?” Komentar Alkitab I. Kemerdekaan dari Penghukuman (Baca kembali bersama anggota kelas Anda, Roma 8:1-6). Sekilas info—tidak ada lagi penghukuman bagi mereka yang hidup dalam Yesus. Tetapi siapakah mereka? Di sini Paulus memperkenalkan satu metafora kunci yang telah dipaparkan dalam setengah bagian awal dari Roma 8. Mereka yang ada dalam Yesus adalah mereka yang berjalan menurut Roh, bukan menurut daging. Reformer Inggris William Tyndale, yang dikutip dalam buku John Stott tentang kitab Roma, menulis di tahun 1526: “Kini, hai pembaca. . . ingatlah bahwa Kristus tidak membuat pendamaian ini agar engkau boleh marah terhadap Allah lagi; tidak juga Dia mati untuk dosa-dosamu agar engkau masih boleh hidup di dalamnya; tidak juga Dia membersihkanmu agar engkau boleh kembali (seperti seekor babi) pada kubanganmu yang dulu; akan tetapi agar engkau menjadi ciptaan baru dan mengalami hidup baru menurut kehendak Allah dan bukan menurut daging.”—John Stott, Romans (Downers Grove, Ill.: InterVarsity Press, 1994), hlm. 182. Daging adalah satu metafora untuk satu kehidupan yang terpisah dari Kristus. Itu menggambarkan hidup yang sesungguhnya terpisah dari Allah—segala hasil keinginan, minat, hasrat, dan nafsu kita. “Daging” mencakup segala aspek hidup kita yang fokus dan berpusat pada diri (bukan hanya dimensi seksual, seperti yang dipahami oleh paham Victorian). Roh adalah lawan dari daging, menggambarkan diri yang kosong yang telah diisi dengan Allah. Orang yang dipenuhi Roh menginginkan satu hidup baru dari 110

sudut pandang standar kebenaran Allah yang dinyatakan dalam Alkitab. Sekalipun belum memiliki tabiat sempurna, orang ini didorong oleh satu keinginan untuk menyenangkan Allah dan bukan diri. Mukjizat di atas segala mukjizat, ini berarti apa yang dituntut oleh hukum dapat dengan tuntas tercapai dalam diri kita. Kita tidak lagi “harus” memukul pasangan kita, berbohong di depan umum, merendahkan anak-anak kita, tidak jujur dalam hal pajak, membunuh, mencuri, atau berbuat zina! (Atau gosip, fitnah, suka menguasai, memaksakan keinginan sendiri, dan sebagainya). Kita telah dibebaskan dari sikap tersebut di dalam Yesus. Kunci terhadap hidup yang diubahkan ini terletak pada pilihan-pilihan yang kita buat dalam pikiran kita. Kata Yunani phrono, “pikiran” (Roma 8:5) berarti lebih dari sekadar pikiran pasif, menekankan maksud dan fokus. Orang yang berpikiran rohani fokus pada kehendak Allah yang dinyatakan, sementara orang yang dikuasai daging menerima posisi “lama” yaitu “lakukan apa saja yang saya suka.” Orang yang pertama mempunyai tujuan Ilahi; orang kedua tidak memilikinya. Kita menjadi apa yang kita fokus. Oleh fokus pada Yesus, kita menjadi lebih seperti Dia. Pertimbangkan: Bagaimanakah orang Kristen bisa membedakan apakah mereka sedang hidup dalam daging atau dalam Roh? Apakah perbedaannya, jika ada, antara “manusia daging” yang berbuat dosa dan seorang percaya yang berbuat dosa? Apakah buktinya bahwa hukum ini dapat dipenuhi dalam diri kita? II. Adopsi Lawan Perbudakan (Baca kembali bersama anggota kelas Anda Roma 8:15-17). Di sini Paulus memperkenalkan satu pasang metafora yang baru—anak dan hamba. Meninggalkan lambang-lambang lain yang digunakan dalam kupasan sebelumnya, Paulus kini menggunakan lambang keluarga untuk merangkum pendapatnya. Kemungkinan pergantian ini menandakan juga peralihan dari kepala ke hati. Dahulu, baik anak-anak maupun hamba adalah anggota resmi keluarga. Namun, peran keduanya sangat berbeda. Anak-anak mewarisi kekayaan keluarga, sementara peran hamba adalah menaati perintah majikannya. “Manusia daging” berfungsi sebagai seorang budak, melakukan dengan ketakutan dan keharusan apa yang dinyatakan hukum. Sebaliknya, orang percaya menuruti Orangtua surgawi mereka dengan kasih, melihat jalan-jalan Allah sebagai kerinduan-Nya yang mulia dan bukannya pembatasan-pembatasan kejam. Di sini bahasa Paulus mencerminkan surat sebelumnya kepada jemaat di Galatia dalam pasal 4, di mana dia membandingkan hamba-hamba dan anakanak. Dia bersukacita (ay. 7) karena “kamu bukan lagi hamba, melainkan anak; . . . ahli-ahli waris.” Pertimbangkan: Apakah perjalanan rohani Anda adalah “perjalanan hamba” ataukah “perjalanan ahli waris?” Apakah Anda melihat bahwa jalan-jalan Allah itu pembatasan ataukah memerdekakan? Mengapa? 111

LANGKAH 3—Terapkan
KhUsUs UntUK GUrU: Perhatikan bahwa ayat 2 adalah satu-satunya ayat dalam Roma 8 di mana Paulus menggunakan orang pertama tunggal (memerdekakan aku). Kemerdekaan ini adalah sesuatu yang dialami Paulus secara pribadi, bukanlah gambaran teoritis yang dia gemborkan demi argumen belaka. Demikian juga seharusnya kita. Ada dua pilihan untuk penerapan. Jika Anda tadinya tidak menggunakan penuntun guru di triwulan dua, coba lihat bagian Terapkan dalam pelajaran 2 (Kuasa Memilih). Gambar “Boneka dan Angin” didasarkan atas Roma 8. (Catatan: Pelajaran ini sangat baik sebagai materi tambahan untuk pelajaran sekarang.) Pilihan lain digambarkan di bawah ini. Apa pun yang Anda gunakan, fokuslah pada hal-hal yang memerdekakan kita. KeGiatan: Peperangan bagi pikiran adalah juga peperangan bagi diri kita. Apa yang kita pikirkan menjadi apa kita nantinya. Buatlah daftar metode-metode praktis yang digunakan anggota kelas untuk fokus pada hal-hal rohani. Daftar ini bisa mencakup hal-hal seperti doa, mendengarkan musik Kristen, menyanyi, membaca/ menghafal Alkitab, mendaki di alam, perjalanan misi, membagikan iman, dan sebagainya. pertanyaan renUnGan: » Jika kita menjadi apa yang kita pikirkan, mungkinkah pornografi mendukung pernyataan bahwa porno itu tidak membahayakan? ¼ Bagaimanakah kita menggantikan kecenderungan untuk fokus pada hal-hal duniawi dengan satu fokus pada hal-hal rohani?

LANGKAH 4—Ciptakan
KhUsUs UntUK GUrU: Pekabaran bahwa Roh Allah memenuhi kita dengan damai sejahtera dan memerdekakan kita tidak bisa dirahasiakan. Seperti perempuan di pinggir perigi itu, kita didorong untuk membagikan kabar tersebut. Aktivitas berikut ini bertujuan ganda, menyediakan ilustrasi visual tentang kemerdekaan dan satu kesempatan untuk kesaksian praktis. KeGiatan: Belilah 100 buah balon yang dapat terurai (biodegradable). Dalam setiap balon, sisipkan satu kertas dengan pesan: Saya adalah jantung sebuah balon. Tadinya saya diikat dengan rasa takut, kegagalan, kecemasan, ketidaklayakan, dihina, dan digantung; tetapi suatu hari angin kencang memutuskan tali saya dan membebaskan saya untuk melayang. Jika Anda mau bebas, tulis surat kepada saya (tulis alamat Anda), dan saya akan kirimkan padamu pelajaran-pelajaran tentang kiat menjadi merdeka/bebas. Kembungkanlah balon-balon itu dengan helium, ikatkan dengan tali, dan lepaskan mereka secara bersamaan. Anjuran: Setelah acara kebaktian, adakan makan malam bersama dengan kelas Anda yang disusul dengan kegiatan ini. 112

Pelajaran 10

*28 Agust–3 Sept. 2010

Penebusan bagi Orang Yahudi dan Bangsa Lain
Sabat Petang
BAcA uNTuK PELAJArAN PEKAN INI: Roma 9. AYAT HAFALAN: “Jadi Ia menaruh belas kasihan kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan Ia menegarkan hati siapa yang dikehendakiNya” (Roma 9:18).

S

eperti ada tertulis, ‘Aku mengasihi Yakub, tetapi membenci Esau.’ . . . Sebab Ia berfirman kepada Musa: ‘Aku akan menaruh belas kasihan . . . dan Aku akan bermurah hati kepada siapa Aku mau bermurah hati’” (Roma 9:13, 15). Apakah yang dibicarakan Paulus di sini? Bagaimanakah dengan kuasa kemauan dan kebebasan memilih, yang tanpa itu hanya sedikit makna dari apa yang kita percayai? Bukankah kita bebas untuk memilih atau menolak Allah, atau apakah ayat-ayat ini mengajarkan bahwa ada orang-orang tertentu yang dipilih untuk diselamatkan dan yang lain untuk binasa, apa pun pilihan pribadi mereka? Seperti biasa, jawabannya didapatkan oleh melihat gambaran yang lebih besar dari apa yang Paulus sedang katakan. Paulus sedang menyusuri sebuah alur argument di mana dia mencoba menunjukkan hak Allah untuk memilih mereka yang mau digunakan-Nya sebagai orang-orang yang “terpilih.” Lagi pula, Allahlah yang memikul tanggung jawab utama dalam menginjili dunia. Jadi, mengapa Ia tidak dapat memilih sebagai agen-agen-Nya siapa saja yang Dia kehendaki? Selama Allah tidak memutuskan seorang pun dari kesempatan keselamatan, tindakan seperti yang dilakukan Allah itu tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip kebebasan kehendak. Bahkan lebih penting lagi, itu tidak bertentangan dengan kebenaran besar bahwa Kristus telah mati bagi semua manusia, dan kerinduan-Nya adalah agar setiap orang memperoleh keselamatan. Selama kita mengingat bahwa Roma 9 bukan membahas keselamatan pribadi dari mereka yang disebutkannya melainkan dengan panggilan mereka untuk mengemban tugas tertentu, tidak ada yang sukar dalam pasal ini. *Pelajari pelajaran pekan ini untuk Sabat, 4 September. 113

Minggu
BEBAN PAuLuS

29 Agustus

“Kamu akan menjadi bagi-Ku kerajaan imam dan bangsa yang kudus. Inilah semuanya firman yang harus kaukatakan kepada orang Israel.” (Kel. 19:6). Allah membutuhkan satu umat misionaris untuk menginjili dunia yang tenggelam dalam kekafiran, kegelapan, dan penyembahan berhala. Dia tadinya memilih orang Israel dan menyatakan diri-Nya kepada mereka. Dia telah berencana agar mereka menjadi sebuah bangsa teladan dan dengan demikian menarik orang lain kepada Allah yang benar. Adalah maksud Allah agar oleh penyataan tabiat-Nya melalui Israel, dunia akan ditarik kepada-Nya. Melalui ajaran tatacara korban, Kristus seharusnya ditinggikan di hadapan bangsa-bangsa, dan semua yang mau memandang pada-Nya akan hidup. Saat jumlah Israel bertambah, begitu berkat-berkat mereka makin melimpah, seharusnya mereka meluaskan batas-batas mereka hingga kerajaan mereka bisa merangkul dunia ini. Baca roma 9:1-12. Apakah pokok yang Paulus tekankan di sini tentang kesetiaan Allah di tengah kegagalan manusia? ________________________________________________________________ ________________________________________________________________ ______________________________________________________________ Paulus sedang membangun sebuah garis argumen di mana dia akan menunjukkan bahwa janji yang dibuat bagi orang Israel tidak gagal sepenuhnya. Ada satu umat sisa melalui siapa Allah masih bertekad untuk bekerja. Untuk menegakkan keabsahan gagasan tentang umat sisa, Paulus masuk kembali ke dalam sejarah Israel. Dia menunjukkan bahwa Allah selama ini selalu selektif: (1) Allah tidak memilih semua benih Abraham untuk menjadi perjanjian-Nya, hanya dari garis keturunan Ishak. (2) Dia tidak memilih semua keturunan Ishak, hanya yang dari Yakub saja. Adalah juga penting untuk melihat bahwa keturunan, ataupun nenek moyang, tidak menjamin keselamatan. Anda bisa saja dari keturunan yang benar, keluarga yang benar, bahkan dari gereja yang benar, tetapi tetap hilang, tetap berada di luar janji itu. Imanlah, yakni suatu iman yang bekerja oleh kasih, yang menyatakan mereka yang benar-benar “anak-anak perjanjian” (Roma 9:8). Perhatikan anak kalimat di roma 9:6: “Karena tidak semua orang yang berasal dari Israel adalah orang Israel.” Pekabaran penting apakah yang kita dapati di sini bagi diri kita, sebagai orang-orang Advent, yang dalam banyak hal memainkan peran yang serupa di zaman kita ini seperti yang dijalankan juga oleh Israel dulu di zaman mereka? 114

Senin
TErPILIH

30 Agustus

“Dikatakan kepada ribka: ‘Anak yang tua akan menjadi hamba anak yang muda.’ Seperti ada tertulis: ‘Aku mengasihi Yakub, tetapi membenci Esau’” (Roma 9:12, 13). Sebagaimana dinyatakan dalam pendahuluan pelajaran pekan ini, adalah mustahil untuk memahami Roma 9 dengan semestinya sebelum seseorang mengakui bahwa Paulus tidak sedang berbicara tentang keselamatan pribadi. Di sini dia sedang membahas tentang peran-peran khusus yang diembankan Allah pada orangorang tertentu untuk dijalankan. Allah mengingini Yakub menjadi leluhur satu umat yang akan menjadi agen-Nya yang khusus untuk pekabaran Injil di dunia ini. Tidak ada petunjuk dalam ayat ini bahwa Esau tidak bisa diselamatkan. Allah mau dia diselamatkan sebesar keinginannya agar semua orang diselamatkan. Baca roma 9:14, 15. Bagaimanakah kita memahami kalimat ini dalam konteks apa yang sudah kita baca? Sekali lagi, Paulus tidak sedang berbicara tentang keselamatan pribadi, karena dalam hal itu Allah mengulurkan kemurahan bagi semua orang, karena Dia “menghendaki supaya semua orang diselamatkan” (1 Tim. 2:4). “Karena kasih karunia Allah yang menyelamatkan semua manusia sudah nyata” (Titus 2:11). Tetapi Allah bisa memilih bangsa-bangsa untuk memainkan sebuah peranan, dan sekalipun mereka bisa menolak menjalankan peran tersebut, mereka tidak bisa mencegah pilihan Allah. Betapapun kerasnya kemauan Esau, dia tidak bisa menjadi leluhur dari Mesias ataupun nenek moyang umat pilihan. Pada akhirnya, bukanlah pilihan serampangan Allah, bukan juga sebuah dekret Ilahi, oleh mana keselamatan tertutup bagi Esau. Pemberian kasih karuniaNya melalui Kristus adalah cuma-cuma bagi semua orang. Kita semua telah dipilih untuk diselamatkan, bukan binasa (Efesus 1:4, 5; 2 Petrus 1:10). Pilihan kita sendirilah, bukan pilihan Allah, yang menghalangi kita dari janji hidup kekal dalam Kristus. Yesus telah mati bagi setiap manusia. Namun, Allah telah menyatakan dalam Firman-Nya syarat-syarat oleh mana setiap orang akan dipilih untuk hidup kekal: iman dalam Kristus, yang menuntun orang berdosa yang sudah dibenarkan menuju pada penurutan. Anda, hanya Anda, seakan tidak pernah ada orang lain, telah dipilih di dalam Kristus bahkan sebelum dasar dunia ini diletakkan, untuk memperoleh keselamatan. Ini adalah panggilan Anda, pilihan Anda, semua diberikan pada Anda, oleh Allah, melalui Yesus. Betapa kesempatan istimewa, betapa sebuah pengharapan! Mengapa, dengan semua yang ada, segala sesuatu menjadi suram dibandingkan dengan janji akbar ini? Mengapa akan menjadi tragedi paling dahsyat untuk membiarkan dosa, diri, dan perbuatan daging merampas dari Anda semua yang telah dijanjikan pada Anda dalam Yesus? 115

Selasa
rAHASIA-rAHASIA

31 Agustus

“Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN. Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu” (Yes. 55:8, 9). Baca roma 9:17-24. Dengan apa yang sudah kita baca sejauh ini, bagaimanakah kita memahami pokok ajaran Paulus di ayat ini? Dalam memperlakukan Mesir di zaman Keluaran sebagaimana yang telah diperbuat-Nya, Allah sedang bekerja bagi keselamatan umat manusia. Penyataan Allah akan diri-Nya dalam malapetaka di Mesir dan kelepasan umat-Nya telah dirancang untuk menyatakan kepada orang Mesir, demikian juga bangsabangsa lain, bahwa Allah Israel sesungguhnya Allah yang benar. Itu dirancang untuk menjadi sebuah undangan bagi rakyat berbagai bangsa untuk meninggalkan allah-allah mereka dan datang menyembah Dia. Firaun dengan jelas telah membuat keputusan melawan Allah, sehingga dalam mengeraskan hatinya Allah tidak sedang memutuskan dia dari kesempatan keselamatan. Pengerasan hatinya adalah terhadap imbauan untuk membiarkan Israel pergi, dan bukan terhadap panggilan Allah bagi Firaun untuk menerima keselamatan pribadi. Kristus telah mati bagi Firaun, sama seperti halnya bagi Musa, Harun, dan seluruh Bangsa Israel. Pokok penting dalam semua ini adalah bahwa sebagai manusia yang telah jatuh dalam dosa, kita mempunyai pandangan sempit terhadap dunia, dan terhadap Allah serta bagaimana Dia bekerja di dunia ini. Bagaimanakah bisa kita berharap untuk memahami semua rancangan Allah sementara dunia alami ini, ke segala arah kita memandang, menyimpan berbagai rahasia yang kita tidak dapat mengerti? Lagipula, baru seratus lima puluh tahun atau dua ratus tahun lalu para dokter mendapati bahwa adalah gagasan baik untuk mencuci tangan mereka sebelum melakukan pembedahan! Demikianlah selama ini kita tenggelam di dalam kepongahan. Dan siapa tahu, jika waktu mengizinkan, masih banyak hal lain lagi yang akan kita temukan di masa mendatang yang akan menyatakan betapa kita terlalu tenggelam di dalam kebodohan kita hari ini? Tentu saja, kita tidak selalu memahami jalan-jalan Allah, tetapi Yesus telah datang untuk menyatakan pada kita seperti apa Allah itu (Yoh. 14:9). Jika demikian, mengapakah di tengah rahasia-rahasia kehidupan serta peristiwa-peristiwa yang tak terduga, sangat penting bagi kita untuk merenungkan tabiat Kristus dan apa yang telah dinyatakan-Nya kepada kita tentang Allah dan kasih-Nya bagi kita? Bagaimanakah pengenalan akan tabiat Allah menolong kita tetap setia di tengah-tengah berbagai kesukaran yang tampaknya tidak benar dan tidak adil? 116

Rabu
AMI: “uMAT-Ku”

1 September

Dalam Roma 9:25, Paulus mengutip Hosea 2:22, dan di ayat 26 dia mengutip Hosea 1:10. Latar belakangnya adalah Allah memerintahkan Hosea untuk mengambil “seorang perempuan sundal” (Hos. 1:2) sebagai sebuah ilustrasi hubungan Allah dengan Israel, karena bangsa itu telah mengikuti allah-allah asing. Anak-anak yang lahir dari pernikahan ini diberikan nama-nama yang menandakan penolakan dan hukuman Allah atas Israel yang menyembah berhala. Anak ketiga dinamakan Lo-Ami (Hos. 1:9), yang arti harfiahnya “bukan umat-Ku.” Namun di tengah semua ini, Hosea menubuatkan harinya akan datang di mana, setelah menghukum umat-Nya, Allah akan memulihkan nasib mereka, menghancurkan allah-allah palsu mereka, dan mengikat sebuah perjanjian dengan mereka. (Lihat Hos. 2:11-19). Pada titik ini mereka yang tadinya Lo-Ami, “bukan umat-Ku,” akan menjadi Ami, “umat-Ku.” Di zaman Paulus, Ami adalah “bukan hanya dari antara orang Yahudi, tetapi juga dari antara bangsa-bangsa lain” (Roma 9:24). Betapa sebuah penyajian Injil yang jelas dan berkuasa, suatu Injil yang sejak awalnya dimaksudkan bagi seluruh dunia. Tidak heran sebagai orang-orang Advent kita ambil bagian dalam panggilan kita berdasarkan ayat ini: “Dan aku melihat seorang malaikat lain terbang di tengah-tengah langit dan padanya ada Injil yang kekal untuk diberitakannya kepada mereka yang diam di atas bumi dan kepada semua bangsa dan suku dan bahasa dan kaum” (Wahyu 14:6). Zaman ini, sebagaimana di zaman Paulus, dan sebagaimana di zaman Israel dulu kala, kabar baik keselamatan itu harus disebarluaskan ke seluruh dunia. Baca roma 9:25-29. (Perhatikan berapa banyak Paulus mengutip Perjanjian Lama untuk menekankan ajarannya tentang apa yang terjadi di zamannya). Apakah pekabaran dasar yang ditemukan dalam ayat-ayat ini? Pengharapan apakah yang ditawarkan kepada pembacanya? Fakta bahwa beberapa sanak saudara Paulus telah menolak panggilan Injil membuat dia “berdukacita dan selalu bersedih hati” (Roma 9:2). Tetapi sedikitnya ada satu umat sisa. Janji-janji Allah tidak gagal, sekalipun manusia gagal. Pengharapan yang bisa kita peroleh adalah, pada akhirnya, janji-janji Allah akan digenapi, dan jika kita menuntut janji-janji itu bagi diri kita, hal itu akan dipenuhi dalam diri kita juga. Berapa seringkah orang tidak memenuhi janji pada Anda? Berapa seringkah Anda gagal memenuhi janji pada diri sendiri dan juga pada orang lain? Mungkin lebih dari yang bisa Anda hitung, bukan? Pelajaran-pelajaran apakah yang dapat Anda pelajari dari kegagalan-kegagalan tersebut dan di mana seharusnya Anda menaruh kepercayaan Anda? 117

Kamis
SANDuNgAN

2 September

“Jika demikian, apakah yang hendak kita katakan? Ini: bahwa bangsabangsa lain yang tidak mengejar kebenaran, telah beroleh kebenaran, yaitu kebenaran karena iman. Tetapi: bahwa Israel, sungguhpun mengejar hukum yang akan mendatangkan kebenaran, tidaklah sampai kepada hukum itu. Mengapa tidak? Karena Israel mengejarnya bukan karena iman” (Roma 9:3032). Apakah pekabaran ayat ini, dan, lebih penting lagi, bagaimanakah kita mengerti pekabaran ini, yang dituliskan pada satu waktu dan tempat tertentu, serta menerapkan prinsip-prinsipnya pada kita di zaman ini? Bagaimanakah kita bisa mencegah diri melakukan kesalahan-kesalahan yang sama dalam konteks kita seperti yang dilakukan orang Israel di zaman mereka? Dengan kata-kata yang tidak bisa disalahmengerti, Paulus menerangkan kepada orang sebangsanya mengapa mereka kehilangan sesuatu yang Allah mau mereka miliki, dan lebih daripada itu, sesuatu yang sebenarnya sedang mereka kejar tetapi tidak tercapai. Menariknya, orang-orang bangsa lain yang telah diterima Allah tidak berjuang keras untuk perkenanan tersebut. Mereka selama ini telah mengejar kepentingan dan tujuan mereka sendiri pada saat pekabaran Injil itu datang kepada mereka. Memahami nilai Injil itu, mereka menerimanya. Allah menyatakan mereka benar karena mereka menerima Yesus Kristus sebagai Pengganti mereka. Ini adalah sebuah transaksi iman. Masalah Israel adalah mereka tersandung pada sebuah batu sandungan (lihat Rm. 9:33). Beberapa, tidak semua (lihat Kisah 2:41), telah menolak untuk menerima Yesus dari Nazaret sebagai Mesias yang diutus Allah. Ia tidak memenuhi harapan-harapan mereka dari Seorang Mesias; makanya, pada saat Dia datang, mereka menolak Dia. Sebelum pasal ini berakhir, Paulus mengutip lagi sebuah ayat Perjanjian Lama: “Seperti ada tertulis: ‘Sesungguhnya, Aku meletakkan di Sion sebuah batu sentuhan dan sebuah batu sandungan, dan siapa yang percaya kepada-Nya, tidak akan dipermalukan’” (Roma 9:33). Dalam ayat ini Paulus kembali menunjukkan betapa pentingnya iman yang sejati itu di dalam rencana keselamatan (lihat juga 1 Pet 2:6-8). Sebuah batu sandungan? Namun, barangsiapa percaya kepada-Nya tidak akan mendapat malu? Ya, bagi banyak orang, Yesus adalah sebuah batu sandungan, tetapi bagi mereka yang mengenal-Nya, dan mengasihi-Nya, Dia adalah suatu jenis lain batu karang, “Gunung Batu Keselamatanku” (Mzm. 89:27). Pernahkah Anda dapati Yesus sebagai suatu “batu sentuhan” atau suatu “batu sandungan”? Jika ya, dalam cara apa? Maksudnya, apakah yang Anda sedang lakukan yang menggiring Anda pada situasi tersebut? Bagaimanakah Anda keluar dari keadaan itu, dan apakah yang telah Anda pelajari sehingga diharapkan Anda tidak akan pernah lagi mendapati diri Anda dalam jenis hubungan yang bertentangan dengan Yesus? 118

Jumat

3 September

PELAJArI SELANJuTNYA: Baca Ellen G. White, “Para Pembaru Inggris yang Muncul Kemudian,” dalam Alfa dan Omega, jld. 8, hlm. 256-276; “Faith and Works,” hlm. 530, 531, dalam The SDA Encyclopedia; Komentar Ellen G. White, hlm. 1099, 1100, dalam The SDA Bible Commentary, jld. 1. “Ada suatu pemilihan individu-individu dan suatu umat, satu-satunya pemilihan yang terdapat dalam firman Allah, di mana manusia dipilih untuk diselamatkan. Banyak orang pada akhirnya melihat, menyangka mereka pasti terpilih untuk memperoleh sukacita surgawi; tetapi ini bukanlah pemilihan yang dinyatakan Alkitab. Manusia dipilih untuk mengerjakan keselamatannya sendiri dengan takut dan gentar. Ia terpilih untuk mengenakan perlengkapan senjata untuk melakukan peperangan iman yang baik. Ia terpilih untuk menggunakan sarana yang telah ditempatkan Allah pada jangkauannya untuk berperang melawan semua hawa nafsu yang tidak suci, sementara Setan sedang berusaha mempermainkan keselamatan jiwanya. Ia terpilih untuk berjaga dan berdoa, untuk menyelidiki Alkitab, dan untuk menghindar masuk dalam pencobaan. Ia terpilih untuk terus-menerus memiliki iman. Ia terpilih untuk menurut setiap firman yang keluar dari mulut Allah, supaya ia bukan hanya menjadi pendengar tetapi juga pelaku firman. Inilah pemilihan menurut Alkitab.”—Ellen G. White, Testimonies to Ministers and Gospel Workers, hlm. 453, 454. “Tidak ada pikiran fana yang dapat memahami sepenuhnya akan tabiat atau hasil karya Yang Mahakekal. Dengan mencari kita tidak dapat menemukan Allah. Bagi pikiran yang berbudaya paling kuat dan paling tinggi, juga bagi pikiran yang paling lemah dan paling dungu, Oknum kudus itu harus tetap terselubung dalam rahasia. Tetapi walaupun ‘awan dan kekelaman ada sekeliling Dia, keadilan dan hukum adalah tumpuan takhta-Nya’ (Mazmur 97:2). Sejauh ini kita dapat mengerti pemeliharaanNya bagi kita dengan melihat pengasihan-Nya yang tidak terhingga disatukan dengan kuasa yang kekal.”—Ellen G. White, Membina Pendidikan Sejati, hlm. 155. PErTANYAAN-PErTANYAAN uNTuK DISKuSI: n Beberapa orang Kristen mengajarkan bahwa, bahkan sebelum kita lahir, Allah telah memilih sebagian orang untuk diselamatkan dan sebagian orang untuk binasa. Jika umpamanya Anda adalah salah seorang yang telah ditetapkan oleh Allah, dengan kasih dan hikmat-Nya yang tidak terbatas, untuk binasa, maka apa pun pilihan yang Anda buat, Anda telah ditetapkan untuk binasa, yang menurut banyak orang artinya adalah dibakar dalam neraka selama-lamanya. Dengan kata lain, bukan melalui pilihan Anda sendiri, melainkan hanya melalui penentuan Allah, ada orang yang telah ditakdirkan untuk hidup tanpa ada satu hubungan keselamatan dengan Yesus pada kehidupan di dunia ini, dan akan menjalani satu kehidupan berikutnya dengan terbakar selama-lamanya dalam api neraka. Apakah yang salah dengan gambaran ini? Bagaimanakah pandangan ini bertentangan dengan pemahaman kita tentang pokok-pokok ajaran ini? o Bagaimanakah Anda melihat gereja MAHK dan panggilannya di dunia pada zaman ini sejajar dengan peranan Israel dulu kala di zamannya? Apakah persamaan dan perbedaannya? Dalam hal apakah kita lebih baik? Atau lebih buruk? Beri alasan untuk jawaban Anda.

119

PENuNTuN guru 10
Ringkasan Pelajaran Ayat Inti: Roma 9:21.

Anggota kelas akan:

¾ Mengetahui: Membahas keadilan Allah dalam memilih bagaimana dan melalui siapa Dia melaksanakan kehendak-Nya. ¾ Merasakan: Merasakan besar dan unggulnya keadilan Allah yang, melalui sarana yang diketahui maupun rahasia, bekerja untuk menawarkan keselamatan bagi setiap orang. ¾ Melakukan: Bertekad untuk menjadi bagian dari umat sisa yang percaya dan taat, yang dapat digunakan Allah untuk menunaikan maksud-maksud-Nya.

garis Besar Pelajaran:

I. Mengetahui: Bekerja Sesuai Pilihan Allah A. Sekalipun Allah memilih untuk melaksanakan rencana keselamatan-Nya melalui Israel, rencana itu tidak terlaksana sesuai dengan yang direncanakan Allah semula. Apakah akibat-akibat keputusan Israel untuk bergantung pada kebenaran mereka sendiri lebih daripada kebenaran Allah? B. Apakah rencana mula-mula Allah bagi Israel, dan mengapakah mereka gagal melaksanakannya? II. Merasakan: gambaran Luas Sementara boleh saja kita tidak mengerti gambaran luas cara Allah bekerja, apakah yang memberikan kita keyakinan bahwa setiap hal rinci rencana Allah itu adil dan berbelas kasihan? III. Melakukan: Bejana Buatan Allah A. Menjadi jenis bejana apa kita dibentuk Allah, itu terserah kita untuk mengizinkan-Nya, oleh iman, untuk menjadikan kita anak-anak yang benar serta menggunakan kita sekehendak-Nya dalam pekerjaan-Nya. Metode-metode apakah yang digunakan Allah, Ahli Tembikar itu, untuk membentuk kita menjadi bejana bagi pekerjaan-Nya? B. Kesalahan-kesalahan apakah yang dilakukan oleh anak-anak Israel, sebagai umat sisa Allah, yang perlu kita hindari? C. Bagaimanakah kita bisa mempunyai cerita yang berbeda daripada Israel sebagai umat sisa Allah?

rANgKuMAN: Bilamana kita mau menjadi anak-anak perjanjian, kita tidak mengandalkan jasa kita sendiri. Oleh iman, kita harus menerima persediaan Allah, bagi keselamatan kita serta bekerja sama dengan Dia dalam rencana-Nya. 120

Langkah Belajar

LANGKAH 1—Motivasi
Konsep Utama UntUK pertUmbUhan rohani: Allah telah menyediakan penebusan bagi semua orang, apa pun ras, kasta, suku, warna, atau jenis kelamin mereka. Jelas terlihat adanya ketegangan etnis di jemaat Roma—tidak mengejutkan bagi sebuah ibukota yang telah menjadi wajan campuran kekaisaran itu. Tak pelak lagi jemaat mencerminkan beragam penduduk kota itu. Namun demikian, pertentangan paling gigih adalah antara penduduk Yahudi dan kelompokkelompok lainnya (bangsa-bangsa lain atau orang-orang kafir). Seperti sering terjadi, ketegangan-ketegangan ini muncul antara berbagai suku dan kelompok bangsa yang berbeda. KeGiatan: Ke dalam beberapa wadah air ukuran seperempat, isilah air, tambahkan pewarna makanan dengan campuran: (1) merah dan biru, (2) kuning dan biru, (3) kuning dan merah. Tanyakan: “Apakah kita masih melihat merah, kuning, dan biru?” Tentu saja sekarang kita lihat ungu, hijau, dan oranye. Intinya adalah pada saat jemaat berbaur bersama dengan sempurna, kita tidak lagi melihat “kita” dan “mereka,” karena dalam Kristus kita semua akan menjadi sesuatu yang sama sekali berbeda—satu manusia baru. DisKUsiKan: Langkah-langkah apakah yang perlu ditempuh untuk mencapai tujuan persatuan?

LANGKAH 2—Selidiki
KhUsUs UntUK GUrU: Dalam menyampaikan masalah sifat tidak berbaur, Paulus pertama-tama menampilkan (Roma 1-3) bahwa tidak ada alasan untuk bermegah, karena setiap orang sama-sama telah hilang. Jika kita semua telah ditentukan untuk neraka, hanya ada sedikit motivasi untuk bertengkar menuntut hak-hak. Namun demikian, Paulus mau kita mengetahui bahwa Allah mempunyai satu rencana keselamatan yang tersedia bagi semua orang. Jadi, serangan keduanya untuk sifat tidak berbaur didasarkan atas kesempatan universal. Tidak ada ruang untuk bermegah, karena kita semua sama-sama telah ditebus oleh rahmat Allah yang sama yang menunjukkan tidak ada pandang bulu (Roma 4-8). Sama seperti karunia-karunia rohani, Allah memilih sebagian orang untuk berbagai peran pelayanan dalam rencana keselamatan-Nya. Namun demikian, penerimaan karunia itu tidak boleh menjadi alasan bermegah melainkan sebuah kesempatan untuk kerendahan hati yang diungkapkan melalui melayani orang lain. 121

Komentar Alkitab I. Terpilih (Baca kembali Roma 9:1-15 bersama anggota kelas Anda). Dalam masyarakat demokrasi, secara otomatis kita mengaitkan pemilihan dengan pungut suara. Dalam urusan Ilahi, hanya satu suara yang diperlukan— Suara Allah. Pilihan-pilihan-Nya tidak bergantung pada perubahan manusia. Bilamana umat manusia mencoba menggagalkan maksud-maksud Allah, maka Allah tidak pernah kalah; hanya ketidaktaatan manusia yang bisa mengalahkannya. Jadi, bila Allah memilih untuk menyelamatkan dunia kita, hasilnya tidak pernah diragukan. Mereka yang berusaha menggagalkan maksud inilah yang menjadi pecundang (yang kalah). Sebagian orang mempunyai kesulitan memahami pilihan agung Allah. Mereka melihatnya sebagai gangguan bagi kebebasan manusia. Namun Alkitab sangat jelas (lihat Roma 8:28-30), bahwa takdir menurut Alkitabiah adalah sesuai dengan pra pengetahuan Allah. “Allah bisa melihat sebelumnya pilihan yang akan dibuat setiap orang, tetapi pra pengetahuan-Nya tidak menentukan pilihan tersebut. . . . Takdir menurut Alkitab terdiri dari maksud efektif Allah bahwa semua yang memilih untuk percaya pada Kristus akan diselamatkan (Yoh. 1:12; Ef. 1:4-10). . . . Tetapi pengetahuan Allah tentang apa yang akan dilakukan setiap orang tidak mengganggu apa yang sebenarnya mereka pilih untuk lakukan sama seperti pengetahuan seorang sejarawan tentang apa yang manusia lakukan di masa lalu tidak mempengaruhi tindakan-tindakan mereka. Sama seperti sebuah kamera merekam suatu pemandangan tetapi tidak mengubahnya, pra pengetahuan melihat masa depan tanpa mengubahnya.”—Seventh-day Adventists Believe . . . (Hagerstown, Md.: Review and Herald® Publishing Association, 1988), hlm. 21, 22. Lebih jauh, bilamana Allah memilih untuk menjalankan maksud Ilahi-Nya, keputusan itu tidak takluk pada penilaian manusia. Allah memilih Musa, bukan Korah; Daud, bukan Yonatan; Yakub, bukan Esau. Pengaruh dari pilihanpilihan ini tentulah jelas bagi orang-orang Yahudi: Jika rencana penebusan ada sepenuhnya pada tangan Allah, siapakah mereka, manusia biasa, sehingga bisa mengecualikan bangsa-bangsa lain dari kerajaan Allah? Allah bebas memilih siapa yang diinginkan-Nya, dan Dia mau semua orang, termasuk bangsabangsa lain, untuk diselamatkan (1 Tim. 2:4). Alasan Petrus dalam Kisah 10 untuk melayani bangsa lain pada dasarnya sama: Jika melayani kelompok ini memang direstui Ilahi, bagaimanakah kita menentang kehendak Allah? Paulus memahami argumen tersebut dengan kutipan-kutipan dari Hosea dan Yesaya yang menunjukkan bahwa Allah telah menarik bangsa-bangsa lain ke dalam keluarga-Nya (Roma 9:25-29). Berbagai interpretasi tentang ayat-ayat ini telah menghasilkan beberapa pendekatan terhadap penginjilan. Ada yang mengusulkan bahwa Allah secara acak telah memilih beberapa orang untuk binasa dan yang lain untuk selamat. Jadi, mereka mempertanyakan mengapa usaha-usaha diperluas untuk menjangkau yang hilang. Jika itu telah ditakdirkan, apa gunanya? Namun, mereka yang mengerti bahwa Allah telah mengundang semua orang yang belum menerima Dia sebelumnya, telah memacu mereka menanggung berbagai kesukaran dan 122

bahkan kematian demi penyebaran Injil. Sebelum Salib, semua manusia—apa pun ras, kasta, status dan suku—adalah sama. Betapa pentingnya agar orangorang Kristen tidak melupakan hal ini. pertimbanGKan: Bagaimanakah oleh menerima pekabaran Paulus menciptakan keserasian antar ras dalam gereja? Jebakan-jebakan apakah yang mengintai usaha penginjilan gereja? Bagaimanakah pekabaran Paulus melindungi kita terhadap pencobaan untuk menganggap diri lebih unggul di antara umat percaya? Bagaimanakah keamanan rohani terusik bila kita gagal menggunakan karunia-karunia rohani Allah dalam penginjilan dan pelayanan?

LANGKAH 3—Terapkan
KhUsUs UntUK GUrU: Betapa pekabaran mulia yang telah ditugaskan kepada kita untuk kita sampaikan: mereka yang tadinya bukan umat Allah sekarang menjadi umat-Nya! Kita biasanya rayakan adopsi, kewarganegaraan yang didapatkan, dan berbagai jenis kepemilikan. Apakah yang kita lakukan dengan pengalaman terbesar keselamatan—meluaskan undangan bagi orang lain untuk bergabung dengan keluarga Allah? Langkah-langkah praktis apakah yang kita ambil untuk memastikan bahwa semua kelompok orang dalam masyarakat kita mendapatkan kesempatan untuk menikmati terang Ilahi dalam Roma 9? KeGiatan: Buat daftar semua kelompok orang dalam masyarakat Anda. Buat dalam bentuk kolom vertikal, menyisakan banyak spasi ke arah kanan daftar itu untuk catatan tambahan. Setelah membuat daftar tersebut, bahas setiap kelompok, catat dalam spasi yang kosong apa yang gereja sedang lakukan untuk menjangkau setiap kelompok. Tulis dengan rinci. Apakah ada kelompok-kelompok yang tidak diperhatikan atau terlalaikan? Ciptakan ide-ide untuk menjangkau mereka. Apakah yang kita tahu tentang kebutuhan, kebudayaan, bahasa, sejarah, dan pengalaman nasional mereka? Apakah yang kelas kita dapat lakukan untuk menjangkau paling tidak satu kelompok di luar suku atau budaya kita? pertanyaan penerapan: » Informasi apakah yang harus saya kumpulkan tentang kelompok-kelompok orang lainnya supaya saya bisa menjadi suatu alat efektif di tangan Allah untuk membagikan Injil? ¼ Karunia-karunia rohani, keterampilan, dan kesanggupan alami apakah yang telah Allah berikan untuk kelas saya dengan mana itu dapat diabdikan untuk menyelamatkan yang hilang? ½ Mengapakah ada kelompok-kelompok tertentu dalam masyarakat kita yang terlalaikan? ¾ Bagaimanakah gereja kita mengembangkan benih kesaksian Kristen? 123

LANGKAH 4—Ciptakan
KhUsUs UntUK GUrU: Buatlah satu sarana untuk menyampaikan pekabaran Injil kepada satu kelompok yang dibahas di atas. Karena ada unsur pengetahuan untuk pertobatan, usahakanlah mendapatkan bahan-bahan yang tersedia bagi usaha ini. Dalam tugas militer, pengatur penyerangan mempertimbangkan senjata-senjata apa yang dibutuhkan untuk mengatasi halangan-halangan antara pasukan penyerang dengan target. Penilaian ini bukanlah satu jenis untuk semua. Demikian juga, orang-orang Kristen harus dengan cermat memilih alat-alat terbaik yang cocok bagi penyerangan di wilayah Setan. KeGiatan: Bahas metode-metode yang akan digunakan kelas Anda untuk menyerang wilayah Setan. Buat tabel waktu. Contoh: rencana target: SMU setempat. Bulan pertama: buat stan di kampus pada hari raya tertentu untuk mengundang siswa-siswi bergabung dalam drama jemaat Anda, klub bersepeda, tim sepakbola, dan lain-lain. Bulan kedua: prakarsai majalah pertarakan untuk perpustakaan. Bulan ketiga: prakarsai penampilan musik gratis pada pertandingan basket (tentu saja musik Kristen yang berterima).

124

Pelajaran 11

*4-10 September 2010

Pemilihan Berdasarkan Kasih Karunia
Sabat Petang
BAcA uNTuK PELAJArAN PEKAN INI: Roma 10, 11. AYAT HAFALAN: “Maka aku bertanya: Adakah Allah mungkin telah menolak umat-Nya? Sekali-kali tidak! Karena aku sendiri pun orang Israel, dari keturunan Abraham, dari suku Benyamin” (Roma 11:1).

P

elajaran pekan ini mencakup Roma 10 dan 11, dengan satu fokus khusus pada pasal 11. Adalah penting untuk membaca kedua pasal secara keseluruhan agar dapat terus mengikuti alur pikiran Paulus. Kedua pasal ini telah dan tetap menjadi pokok dari banyak pembahasan. Namun, satu hal jelas terlihat dari kedua pasal ini, yaitu kasih Allah bagi manusia serta kerinduan-Nya yang besar untuk melihat semua manusia diselamatkan. Tidak ada penolakan bersama terhadap siapa pun bagi keselamatan. Roma 10 dengan jelas berkata “tidak ada perbedaan antara orang Yahudi dan orang Yunani” (Roma 10:12)—semua orang berdosa dan membutuhkan kasih karunia Allah yang diberikan kepada dunia melalui Yesus Kristus. Kasih karunia ini datang bagi semua orang—bukan berdasarkan kebangsaan, bukan karena kelahiran, dan bukan oleh perbuatan-perbuatan hukum melainkan melalui iman dalam Yesus, yang telah mati sebagai Pengganti bagi orang-orang berdosa di mana saja. Peran boleh saja berubah, tetapi rencana dasar keselamatan tidak pernah berubah. Paulus melanjutkan tema ini di pasal 11. Di sini juga, sebagaimana dinyatakan sebelumnya, adalah penting untuk mengerti bahwa ketika Paulus berbicara tentang pemilihan dan panggilan, intinya bukanlah pemilihan dan panggilan untuk keselamatan melainkan untuk peran dalam rencana Allah untuk menjangkau dunia. Tidak ada kelompok yang telah ditolak bagi keselamatan; hal ini tak pernah dibahas. Gantinya, setelah Salib, dan setelah diperkenalkannya Injil kepada bangsa-bangsa lain, khususnya melalui Paulus, maka pergerakan awal orang-orang percaya—baik orang Yahudi maupun bangsa lain—mengambil tanggung jawab menginjili dunia ini. *Pelajari pelajaran pekan ini untuk Sabat, 11 September. 125

Minggu
KEgENAPAN HuKuM TAurAT

5 September

Baca roma 10:1-4. Dengan mengingat apa yang telah dibahas sebelumnya, apakah pekabaran dalam ayat ini? Bagaimanakah kita pada zaman ini bisa berada dalam bahaya oleh berusaha mendirikan “kebenaran kita sendiri?” Legalisme bisa muncul dalam banyak bentuk, sebagian lebih halus dari yang lainnya. Mereka yang mengandalkan diri mereka sendiri, perbuatan baik mereka, pola makan mereka, cara mereka memelihara Sabat dengan ketat, semua hal buruk yang mereka tidak lakukan, atau hal-hal baik yang telah mereka capai—bahkan dengan maksud-maksud yang terbaik sekalipun—sedang jatuh dalam perangkap legalisme. Dalam kehidupan kita setiap saat, kita harus menempatkan kesucian Allah di hadapan kita yang begitu berbeda dengan keberdosaan kita; itulah jalan paling pasti untuk melindungi diri kita dari cara berpikir yang menuntun banyak orang untuk mengusahakan “kebenaran mereka sendiri,” yang sangat berlawanan dengan kebenaran Kristus. Roma 10:4 adalah satu ayat penting yang merangkum inti seluruh pekabaran Paulus kepada orang-orang Roma. Pertama, kita perlu mengetahui konteksnya. Banyak orang Yahudi yang “berusaha untuk mendirikan kebenaran mereka sendiri” (Roma 10:3) dan mencari “kebenaran karena hukum Taurat” (Roma 10:5). Tetapi dengan datangnya Mesias, jalan kebenaran yang sebenarnya ditampilkan. Kebenaran ditawarkan kepada semua orang yang mau memancangkan iman mereka di dalam Yesus. Mesiaslah yang ditunjukkan oleh sistem upacara dulu kala. Bahkan jika seseorang mencakupkan Sepuluh Perintah dalam definisi hukum, hal itu tidak berarti Sepuluh Perintah itu telah dihapuskan. Hukum moral menunjukkan dosa-dosa kita, kesalahan-kesalahan kita, kekurangan-kekurangan kita, dan dengan demikian menuntun kita kepada kebutuhan kita akan seorang Juruselamat, kebutuhan kita akan pengampunan, kebutuhan kita akan kebenaran, yang semuanya terdapat hanya pada Yesus. Dalam pengertian ini, Kristus adalah “kegenapan” hukum Taurat, yang artinya hukum Taurat menuntun kita kepada kebenaran dan kebenaran-Nya. Kata Yunani untuk “kegenapan” adalah telos, yang bisa juga diterjemahkan “tujuan” atau “maksud.” Kristus adalah tujuan final hukum Taurat itu, dengan kata lain hukum Taurat itu menuntun kita kepada Yesus. Melihat ayat ini sebagai satu ajaran bahwa Sepuluh Perintah—khususnya perintah keempat (ini sebenarnya maksud banyak orang)—kini telah ditiadakan adalah sama saja dengan membuat kesimpulan yang sangat bertentangan dengan apa yang Paulus dan Perjanjian Baru ajarkan. Pernahkah Anda dapati diri Anda sombong dengan kebaikan Anda, khususnya dibandingkan dengan orang lain? Boleh jadi Anda “lebih baik,” tetapi apakah begitu? Bandingkan diri Anda dengan Kristus, dan kemudian pikirkanlah seberapa “baik” diri Anda sebenarnya. 126

Senin

6 September

PEMILIHAN BErDASArKAN KASIH KAruNIA
Baca roma 11:1-7. Ajaran umum apakah yang dengan jelas dan mutlak disangkal oleh ayat-ayat ini? ________________________________________________________________ ______________________________________________________________ Pada bagian pertama dari jawabannya terhadap pertanyaan “Adakah Allah mungkin telah menolak umat-Nya?” Paulus menunjuk pada suatu umat sisa, yang dipilih berdasarkan kasih karunia, sebagai bukti bahwa Allah tidak menolak umat-Nya. Keselamatan terbuka bagi semua orang yang menerimanya, baik orang Yahudi maupun bangsa lain. Haruslah diingat bahwa orang-orang yang pertama kali bertobat kepada Kekristenan adalah orang-orang Yahudi—contohnya, kelompok orang yang ditobatkan pada hari Pentakosta. Dibutuhkan satu penglihatan dan mukjizat khusus untuk meyakinkan Petrus bahwa bangsa-bangsa lain mempunyai akses yang sama kepada kasih karunia Kristus (Kisah 10; bandingkan dengan Kisah 15:7-9) dan bahwa Injil ini harus disampaikan kepada mereka juga. Baca roma 11:7-10. Apakah Paulus sedang berkata bahwa Allah dengan sengaja telah membutakan sebagian orang Israel yang menolak Yesus, kepada keselamatan? Apakah yang salah dengan ajaran ini? ________________________________________________________________ ______________________________________________________________ Dalam ayat-ayat ini, Paulus mengutip dari Perjanjian Lama, yang diterima mempunyai wewenang oleh orang Yahudi. Ayat-ayat yang Paulus kutip menampilkan Allah yang memberikan kepada Israel satu roh yang membuat mereka tertidur, mencegah mereka melihat dan mendengar. Apakah Allah membutakan mata umat ini untuk mencegah mereka melihat terang yang akan menuntun mereka kepada keselamatan? Tidak pernah! Ayat-ayat ini harus dimengerti atas dasar penjelasan kita tentang Roma 9. Paulus tidak sedang berbicara tentang keselamatan secara individu, karena Allah tidak menolak satu kelompok pun secara serempak untuk mendapatkan keselamatan. Sebaliknya, yang dibahas di sini, yang memang adalah pusat pembahasan Paulus sejauh ini, adalah peranan yang dimainkan oleh umat tersebut dalam pekerjaan-Nya. Apakah yang begitu salah dengan gagasan bahwa Allah telah menolak sekaligus satu umat manusia dalam hal keselamatan? Mengapa hal itu bertentangan dengan seluruh ajaran Injil, yang pada intinya menunjukkan bahwa Kristus telah mati untuk menyelamatkan semua umat manusia? Bagaimanakah gagasan ini telah menuntun kepada hasil-hasil yang tragis, contohnya seperti yang dialami orang-orang Yahudi? 127

Selasa
cABANg YANg DIcANgKOKKAN

7 September

Baca roma 11:11-15. Harapan besar apakah yang Paulus suguhkan dalam ayat-ayat ini?
Dalam ayat-ayat ini, kita temukan dua pernyataan yang sejajar: (1) “kesempurnaan mereka [orang Israel]” (ay. 12), dan (2) “penerimaan mereka [orang Israel]” (ay. 15). Paulus melihat pengurangan dan penolakan tersebut hanyalah sementara dan akan diikuti dengan kesempurnaan dan penerimaan. Inilah jawaban kedua Paulus kepada pertanyaan yang ditimbulkan di awal pasal ini, “Adakah Allah mungkin telah menolak umat-Nya?” Apa yang tampaknya seperti penolakan, katanya, hanyalah satu situasi sementara.

Baca roma 11:16-24. Apakah yang dikatakan Paulus kepada kita dalam ayat ini? Paulus mengibaratkan umat sisa yang setia di Israel dengan sebatang pohon zaitun, yang beberapa cabangnya telah dipatahkan (mereka yang tidak percaya)— sebuah ilustrasi yang digunakannya untuk membuktikan bahwa “Allah tidak menolak umat-Nya” (ay. 2). Akar dan batangnya masih ada. Kepada pohon ini orang-orang percaya dari bangsa-bangsa lain telah dicangkokkan. Tetapi mereka mengisap sari makanan dan kehidupan mereka dari akar dan batang pohon itu, yang melambangkan orang Israel yang percaya. Apa yang terjadi pada mereka yang menolak Yesus dapat juga terjadi pada bangsa-bangsa lain yang telah percaya. Alkitab tidak mengajarkan doktrin “sekali selamat tetap selamat.” Sebagaimana keselamatan ditawarkan dengan cuma-cuma, maka itu juga dapat ditolak dengan cuma-cuma. Sekalipun kita harus berhati-hati untuk berpikir bahwa setiap kita jatuh kita berada di luar keselamatan, atau bahwa kecuali kita sempurna kita tidak diselamatkan, kita perlu mencegah ajaran yang sebaliknya juga—gagasan bahwa sekali kasih karunia Allah melingkupi kita, tidak ada yang dapat kita lakukan, tidak ada pilihan yang dapat kita buat, yang akan merebut dari kita jaminan keselamatan itu. Pada akhirnya, hanya mereka yang “tetap dalam kemurahan-Nya” (ay. 22) yang akan diselamatkan. Janganlah seorang percaya pun bermegah dalam kebaikannya atau merasa lebih tinggi dari sesamanya. Keselamatan kita bukanlah didapatkan dengan usaha; itu adalah sebuah pemberian. Di hadapan Salib, di hadapan standar kesucian Allah, kita semua setara: orang berdosa yang membutuhkan kasih karunia Ilahi, orang berdosa yang membutuhkan kesucian yang bisa menjadi milik kita hanya di dalam Yesus dan apa yang sudah dilakukan-Nya bagi kita oleh datang ke dunia ini dalam tubuh manusia, menderita segala celaka kita, mati karena dosa-dosa kita, memberikan kita satu contoh bagaimana seharusnya kita hidup, dan menjanjikan kita kuasa untuk menjalankan kehidupan seperti itu. Dalam semuanya itu, kita mutlak bergantung pada-Nya, karena tanpa Dia kita tidak akan memiliki pengharapan melebihi yang ditawarkan dunia ini. 128

Rabu
SuATu rAHASIA DIuNgKAPKAN

8 September

Baca roma 11:25-27. Peristiwa-peristiwa besar apakah yang diramalkan Paulus di sini? Orang-orang Kristen tengah mendiskusikan dan mendebatkan beberapa ayat ini selama berabad-abad. Beberapa hal memang jelas. Sebagai pendahuluan, hal paling jelas di sini Allah berusaha menjangkau orang-orang Yahudi. Apa yang dikatakan Paulus adalah jawaban terhadap pertanyaan yang muncul di awal pasal ini, “Adakah Allah mungkin telah menolak umat-Nya?” Jawabnya sudah tentu tidak, dan penjelasannya adalah (1) kebutaan itu (kata Yunani porosis, “ketegaran”) hanyalah “sebagian,” dan (2) itu hanya bersifat sementara, “sampai jumlah yang penuh dari bangsa-bangsa lain telah masuk.” Apakah artinya “jumlah yang penuh dari bangsa-bangsa lain?” Banyak yang melihat penggalan kalimat ini sebagai satu ungkapan kegenapan amanat Injil, di mana seluruh dunia mendengarkan Injil. “Jumlah yang penuh dari bangsabangsa lain” tercapai pada saat Injil diberitakan di mana-mana. Iman orang Israel, yang diwujudkan dalam Yesus, disebarluaskan. Injil telah dikhotbahkan kepada seluruh dunia. Kedatangan Yesus sudah dekat. Pada titik inilah banyak orang Yahudi mulai datang kepada Yesus. Hal sulit lainnya adalah arti dari “seluruh Israel akan diselamatkan” (ay. 26). Sebutan ini jangan ditafsirkan bahwa semua orang Yahudi pada akhirnya akan mendapatkan keselamatan oleh satu dekret Ilahi. Alkitab tidak pernah mengkhotbahkan keselamatan universal, baik bagi seluruh umat manusia ataupun bagi satu kelompok tertentu. Paulus berharap bisa menyelamatkan “beberapa orang dari mereka” (ay. 14). Ada yang menerima Mesias, ada juga yang menolak, dan ini terjadi pada semua kelompok manusia. Mengomentari Roma 11, Ellen White berbicara tentang satu waktu “Dalam penutupan pemberitaan Injil” bila “kebanyakan orang Yahudi... oleh iman akan menerima Kristus sebagai Penebus mereka.”— Alfa dan Omega, jld. 7, hlm. 320. “Ada pekerjaan besar yang harus dikerjakan di dunia kita. Tuhan telah menyatakan bahwa bangsa-bangsa lain harus dikumpulkan, dan bukan hanya mereka saja, melainkan juga orang-orang Yahudi. Ada banyak di antara orang Yahudi yang mau ditobatkan, yang melalui mereka kita akan melihat keselamatan dari Allah tampil sebagai satu pelita yang menyala. Ada orang Yahudi di manamana, dan kepada mereka terang kebenaran zaman ini harus dibawakan. Ada banyak di antara mereka yang mau datang kepada terang itu, dan yang akan mengumandangkan dengan kuasa luar biasa hukum Allah yang tak terubahkan itu.”—Ellen G. White, Evangelism, hlm. 578. Ambil waktu untuk memikirkan iman Kristen yang berakar dari unsur Yahudi. Bagaimanakah satu studi tertentu tentang agama Yahudi dapat menolong Anda mengerti lebih baik iman Kristen Anda? 129

Kamis
KESELAMATAN OrANg-OrANg BErDOSA

9 September

Kasih Paulus bagi bangsanya sendiri nampak jelas dalam ayat-ayat ini. Sangatlah sukar tentunya bagi Paulus melihat sebagian teman sebangsanya tampil melawan dia dan kebenaran Injil. Namun, di tengah semua itu, dia tetap percaya bahwa banyak akan menerima Yesus sebagai Mesias. Baca roma 11:28-36. Bagaimanakah Paulus menunjukkan kasih Allah, bukan hanya untuk orang Yahudi saja tetapi juga bagi seluruh manusia? Bagaimanakah dalam ayat ini dia mengungkapkan kuasa ajaib dan rahasia dari kasih karunia Allah? ________________________________________________________________ ______________________________________________________________ Di seluruh ayat di atas, sekalipun ada ditampilkan perbedaan antara orang Yahudi dan bangsa lain, ada satu hal yang jelas: kemurahan dan kasih serta anugerah Allah dicurahkan ke atas orang-orang berdosa. Bahkan sebelum dasar dunia ini, rencana Allah adalah untuk menyelamatkan manusia dan menggunakan orang lain, bahkan bangsa-bangsa lain, sebagai alat pada tangan-Nya untuk memenuhi kehendak Ilahi. Baca dengan teliti dan penuh doa ayat 31. Pokok penting apakah yang harus kita ambil dari ayat ini tentang kesaksian kita, bukan saja kepada orang Yahudi tetapi juga kepada semua manusia yang pernah kita temui? ________________________________________________________________ ______________________________________________________________ Tak diragukan, sepanjang berabad-abad, jika saja gereja Kristen telah memperlakukan orang Yahudi dengan lebih baik, tentu sudah lebih banyak dari mereka yang datang kepada Mesias mereka. Kemurtadan besar-besaran di abad-abad permulaan setelah Kristus, serta pengkafiran luar biasa pada Kekristenan—termasuk penolakan Sabat hari ketujuh demi hari Minggu—tentu tidak memudahkan seorang Yahudi yang seharusnya sudah bisa ditarik kepada Kristus. Dengan demikian sangatlah penting agar semua orang Kristen, dengan menyadari kemurahan yang telah diberikan kepada mereka di dalam Yesus, menunjukkan kemurahan itu kepada orang lain. Jika kita tidak lakukan hal itu kita tidak bisa disebut orang Kristen (lihat Matius 18:23-36). Adakah seseorang kepada siapa Anda perlu tunjukkan kemurahan, orang yang mungkin tidak layak untuk itu? Mengapa tidak menunjukkan pada orang ini kemurahan tersebut, sekalipun hal itu sukar? Bukankah itu yang telah Yesus buat bagi kita? 130

Jumat

10 September

PELAJArI SELANJuTNYA: Baca Ellen G. White, “Di Hadapan Sanhedrin,” hlm. 65-72; “Dari Penganiaya menjadi Murid,” hlm. 95-104; “Dikirim dari Roma,” hlm. 396-409, dalam buku Alfa dan Omega, jld. 7; “Reaching Catholics,” hlm. 573577, dalam Evangelism; “What to Preach and Not to Preach,” hlm. 155, 156, dalam Selected Messages, jilid 1. “Meskipun kegagalan Israel sebagai suatu bangsa, namun masih tinggal di antara mereka suatu umat yang sisa seperti itu yang akan diselamatkan. Pada waktu kedatangan Juruselamat itu ada pria dan wanita yang setia yang telah menerima dengan suka hati pekabaran Yohanes Pembaptis, dan dengan demikian telah dituntun untuk mempelajari kembali nubuatan mengenai Mesias. Bila gereja Kristen yang mula-mula didirikan, itu telah disusun dari antara orang-orang Yahudi yang setia yang mengetahui Yesus orang Nazaret sebagai seorang yang kedatangan-Nya telah lama dinantinantikan.”—Ellen G. White, Alfa dan Omega, jld. 7, hlm. 317. “Di antara orang-orang Yahudi ada beberapa, yang sama seperti Saulus dari Tarsus, perkasa dalam Alkitab, dan orang-orang ini akan memasyhurkan dengan kuasa yang ajaib bagaimana kekalnya hukum Allah itu . . . . Sementara hamba-hamba-Nya bekerja dengan setia bagi mereka yang telah lama dilupakan dan disiksa, keselamatan-Nya akan dinyatakan.”—Idem, hlm. 320, 321. “Dalam penutupan pemberitaan Injil itu, bila pekabaran khusus telah dilakukan bagi golongan-golongan yang terlewatkan sampai pada saat itu, Allah mengharapkan jurukabar-jurukabar-Nya untuk mengambil perhatian khusus kepada umat Yahudi yang mereka temukan di seluruh muka bumi. Sementara tulisan-tulisan Perjanjian Lama disatupadukan dengan Perjanjian Baru dalam suatu penjelasan maksud Allah yang abadi ini akan jadi seperti suatu fajar kejadian baru bagi kebanyakan orang Yahudi, suatu kebangkitan jiwa. Sementara mereka melihat Kristus tergambar dalam tulisan-tulisan Perjanjian Lama, dan merasa betapa jelasnya Perjanjian Baru menerangkan yang lama, segala kesanggupan mereka yang tertidur akan dibangkitkan, dan mereka akan mengenal Kristus sebagai Juruselamat dunia. Banyak yang oleh iman akan menerima Kristus sebagai Penebus mereka.”—Idem, hlm. 320. PErTANYAAN-PErTANYAAN uNTuK DISKuSI: n Di zaman akhir, di saat hukum Allah, khususnya Sabat, menjadi pertentangan tajam, bukankah masuk akal bahwa orang-orang Yahudi—banyak di antara mereka yang bersungguh-sungguh dalam hal Sepuluh Perintah itu sebagaimana orang Advent—akan mempunyai satu peranan dalam membantu meluruskan beberapa persoalan di hadapan dunia ini? Lagipula, bila tiba pada hal memelihara Sabat, orang-orang Advent, lain halnya dengan orang-orang Yahudi, adalah “anak-anak pendatang baru.” Diskusikan. o Mengapa dari antara semua gereja, Adventlah seharusnya yang paling berhasil menjangkau orang Yahudi? Apakah yang Anda atau jemaat lakukan dalam usaha menjangkau orang Yahudi di masyarakat Anda, jika ada? p Apakah yang dapat kita pelajari dari kesalahan-kesalahan banyak orang di Israel dahulu kala? Bagaimanakah kita dapat mencegah melakukan hal yang sama zaman ini?

131

PENuNTuN guru 11
Ringkasan Pelajaran Ayat Inti: Roma 11:5, 6.

Anggota Kelas Akan:

¾ Mengetahui: Menyadari bahwa jika Allah dapat mencangkokkan orang lain pada penggenapan rencana-Nya, Dia juga siap menggantikan semua carang yang tidak taat dengan pokok yang asli yang belajar untuk menurut; keselamatan bagi semua adalah rencana utama-Nya. ¾ Merasakan: Merasakan tujuan utama Allah yaitu menunjukkan rahmat dan menyelamatkan semua yang dapat diselamatkan-Nya. ¾ Melakukan: Mengulurkan rahmat dan belas kasihan kepada bangsa-bangsa lain dan juga orang Yahudi, seperti yang Allah lakukan.

garis Besar Pelajaran:

I. Mengetahui: Pokok atau cangkok A. Mengapakah kita, Yahudi atau bukan, harus mengakui bahwa status kita dengan Allah terletak pada penerimaan kita akan pekerjaan Allah dan meninggalkan jalan-jalan kita sendiri? B. Bagaimanakah sepatutnya kita, yang dicangkokkan sebagai anakanak perjanjian, menyambut janji yang memberikan kita status sebagai anak-anak Allah? C. Bagaimanakah sepatutnya kita memperlakukan mereka kepada siapa janji itu pertama kali diberikan? II. Merasakan: rahmat A. Mengapakah kita semua, Yahudi atau bukan, sama-sama tidak layak akan keselamatan dari Allah dan sama-sama diberkati oleh rahmat-Nya? Lebih jauh, apakah yang diajarkan kebenaran ini tentang bagaimana kita berlaku terhadap satu sama lain? III. Melakukan: Menjadi Bejana rahmat Allah A. Bagaimanakah pengalaman kita dengan rahmat Allah menolong kita mengulurkan rahmat bagi orang lain?

rANgKuMAN: Pada akhirnya, baik orang Yahudi maupun bangsa lain telah dipanggil untuk membagikan Injil kepada dunia.

132

Langkah Belajar

LANGKAH 1—Motivasi
KUnci Utama UntUK pertUmbUhan rohani: Kasih karunia Allah cukup untuk memulihkan kita pada saat kita gagal memenuhi maksud dan tujuan-Nya. KeGiatan: Baca perumpamaan ini dan bahas: Suatu malam, sementara sang Tukang Kayu sedang bepergian, kotak alat terbuka, dan alat-alat tersebut mulai membahas keberadaan dan tujuan mereka. Obeng mengeluh karena dia tidak terlalu digunakan dan jarang diperhatikan. Gergaji juga merasa kecewa dengan fungsinya, karena gergaji lainnya digunakan sebagai instrumen musik dan tidak harus bermain debu gergaji. Kunci Inggris bersungut karena berkilap melebihi banyak perhiasan dan merasa direndahkan saat digunakan untuk bekerja dengan banyak mur. Palu omong besar karena dipasangkan pada gagang kayu terbaik serta besi baja. Tetapi mengapa dia harus terus kontak dengan besi biasa yang ada pada paku? Alat-alat lain juga berbicara tentang keunggulan mereka atau bagaimana sang tukang kayu menyukai mereka. Namun, tidak ada yang mau digunakan sesuai fungsi yang sudah ditetapkan. Akhirnya banyak alat bersekongkol untuk melarikan diri. Pagi itu, si tukang kayu perhatikan banyak alat tukangnya yang hilang. Tentu saja, ini memperlambat pekerjaannya. Beberapa bulan berlalu. Sedikit demi sedikit si tukang kayu menemukan alat-alatnya. Palu sudah berkarat. Gergaji tumpul, dan obeng bengkok. Kunci Inggris tidak pernah ditemukan. Sementara itu, si tukang kayu sudah mengganti beberapa alat yang hilang tetapi tidak mau membuang yang sudah berkarat, bengkok, dan tumpul. Dengan susah payah diperbaikinya. Suatu malam, terdengar percakapan di antara alat-alat itu. Ada kesedihan karena kunci Inggris tidak pernah ditemukan lagi, tetapi ada lebih banyak sukacita karena si tukang kayu yang telah memperbaiki alat lainnya sehingga berguna lagi. pertimbanGKan: Apakah ciri-ciri agama legalistik? Bagaimanakah legalisme mengganggu penginjilan? Penghalang-penghalang apakah yang harus disingkirkan agar Allah dapat memulihkan maksud-Nya yang semula?

LANGKAH 2—Selidiki
KhUsUs UntUK GUrU: Orang-orang yang membangun kebenaran mereka sendiri, mengganggu dan bukannya melancarkan tujuan Allah untuk menyelamatkan. Bagaimanakah kita mencegah baik perangkap-perangkap legalisme maupun falsafah yang leluasa “melakukan apa saja?”

133

Komentar Alkitab I. Kegenapan Hukum Taurat (Baca kembali Roma 10:1-4 bersama anggota kelas). Ayat-ayat ini tidak mengatakan bahwa Allah menghapuskan Sepuluh Perintah atau Perjanjian Lama. Kata Yunani untuk “kegenapan” berarti akhir dalam artian “garis akhir” atau “tujuan” ke arah mana sesuatu bergerak, juga “hasil akhir.” Dengan kata lain ajaran Hukum Taurat (kitab-kitab Musa), termasuk Sepuluh Hukum, menuntun kita menuju garis akhir, yaitu Kristus. Jauh dari pengertian menuntun kepada kebebasan—“melakukan semau Anda karena Allah telah menghapuskan Sepuluh Perintah”—Paulus meneguhkan nilai hukum Taurat, khususnya, dan Perjanjian Lama, umumnya, dalam menunjuk pada Kristus. Pertimbangkan: Dapatkah ide bahwa Sepuluh Perintah telah dihapuskan diselaraskan dengan kesaksian Yesus dalam Matius 5:17-24? Beri alasan jawaban Anda. II. carang yang Dicangkokkan (Baca kembali Roma 11:11-24 bersama anggota kelas Anda) Mengetahui bahwa hati ini licik, Paulus mengamarkan orang-orang percaya dari bangsa lain. Dia tidak mau mereka terjerat oleh sikap angkuh saudara-saudara mereka Yahudi. Untuk mencegah kekhilafan ini, dia mengingatkan mereka bahwa mereka adalah carang-carang yang dicangkokkan; carang-carang Yahudi telah dipotong karena satu alasan—ketidaktaatan. Jelaslah, bangsa-bangsa lain dapat juga disingkirkan dengan alasan yang sama. Hal penentu bagi semua adalah percaya. Mereka yang terus percaya ada “di dalam” dan mereka yang berhenti percaya ada “di luar,” apa pun latar belakang suku mereka. Sekali lagi Paulus mengikis sikap angkuh karena kelayakan mereka yang telah memecah belah jemaat Roma. pertimbanGKan: Bagaimanakah kita menghadapi sikap merasa layak (“saya lakukan menurut cara saya—saya adalah anggota Advent generasi kelima”) yang masih merusak jemaat-jemaat? Bagaimanakah pertobatan sejati dan kegiatan penginjilan memangkas kecenderungan manusia terhadap sikap eksklusif?

LANGKAH 3—Terapkan
KhUsUs UntUK GUrU: Bahkan dengan maksud-maksud terbaik sekalipun, kita dapat kehilangan pandangan pada tujuan jemaat, melihat diri sendiri, dan bersandar pada kebaikan kita dan bukannya pada kebaikan Allah. Pada titik ini kita perlu kasih karunia Allah lebih daripada sebelumnya, dan Dia menjanjikannya! Sementara Allah berjanji untuk memulihkan kita bila kita berbalik dari penyimpangan kita, bagaimanakah kita dapat terus setia kepada misi sejak awal? 134

KeGiatan: Baca percakapan berikut ini antara Truk Pengangkut (TP) dan Kendaraan Hias (KH) dan bahas bagaimana “tetap berada di jalur yang benar.” KH TP KH TP KH TP KH TP KH : Hai, anak kecil, mau bergabung dengan parade akbar? : Apa? : Parade. : Oh . . . . Mengapa? : Ya, untuk pamer diri. Bagaimanakah menurutmu? Coba lihat, apa kamu sekarang ini? : Saya truk pengangkut . . . . Kamu tahu, saya mengantar barang-barang yang dibutuhkan orang. : Oh ya? Tetapi siapakah yang perhatikan? Saya bukannya mau mengritik tetapi roda-rodamu sudah hampir gundul, kacamu berdebu, tempat dudukmu pun berantakan. Pantaskah? : Benar, banyak orang tidak menghargai para pengantar barang; tetapi kadang-kadang kamu bertemu dengan keluarga-keluarga yang tidak bisa hidup tanpa paket kiriman tertentu, dan itu sangat berharga! : Kedengaran satu pekerjaan yang baik. Hai, lihat, saya tinggal di garasi yang ada pemanas dengan jendela-jendela kaca, dan ada pegawai yang khusus memelihara saya mengkilap dan siap tampil. Yang perlu saya lakukan hanyalah menarik kendaraan hias beberapa kali di hadapan orang banyak yang kagum. Saya bukan sombong, tetapi itu satu fakta—ada banyak sekali tepukan tangan. Mau ikut? : Saya tidak tahu. Tampaknya satu beban yang berat untuk menarik. : Oh tidak, kawan! Memang tampaknya begitu, tetapi itu tidak berat. Ada bingkai yang ditutupi kawat ringan yang membuatnya kelihatan besar. Ujung-ujung kawat yang muncul ditutupi dengan kembang sehingga tampaknya indah. Masalahnya adalah kembang-kembang tersebut layu setelah dua hari, dan kelihatannya busuk dan bau. : Lalu apakah yang kamu buat? : Kami sembunyikan itu di bengkel dan kemudian memperbaikinya. Waktu orang lihat sudah kelihatan cantik lagi. Mereka tidak pernah mengetahui perbedaannya. : Tampaknya membutuhkan banyak kerja untuk mempertahankan penampilan. : Ya, tetapi berapa banyak pita kelas juara yang kamu terima dari gadisgadis cantik dalam pekerjaan kamu? Coba periksa catatan saya! : Terima kasih, tetapi saya tidak mau. : (malu dan terdiam) Kamu tau, saya juga tadinya truk pengangkut. Kemudian saya bertemu dengan parade dan pameran ini . . . saya memang rindu tampil asli. Dulu bukan saya yang diutamakan melainkan paket kiriman . . . . Tetapi mungkin sudah tidak bisa kembali lagi. : Kamu tidak pernah tahu itu, teman. Saya pikir bos saya masih mencari truk-truk yang suka tampil asli seperti kamu. 135

TP KH

TP KH TP KH TP KH

TP

pertanyaan renUnGan: » Bagaimanakah kita mencegah sikap Farisi yang fokus pada pencapaian dan penampilan kita? ¼ Mengapakah keinginan untuk dipuji sering lebih kuat dari panggilan untuk melayani? ½ Bagaimanakah semangat menginjil dibakar kembali begitu kita telah meninggalkan misi Allah?

LANGKAH 4—Ciptakan
KhUsUs UntUK GUrU: Ada saat-saat untuk bertindak. Pada saat kita memikirkan misi jemaat, kita biasanya berpikir tentang tindakan. Namun, sekalipun dalam konteks penginjilan kita perlu merenungkan untuk bercermin pada diri kita sendiri. Tutup pelajaran ini dengan saat teduh di mana anggota kelas bertanya pada diri sendiri berapa banyak waktu telah diabdikan untuk menjaga penampilan dan bukannya menyampaikan pekabaran. KeGiatan: Karena ini adalah kegiatan individu, bisa diselesaikan di rumah. Minta anggota kelas untuk membuat daftar kegiatan mingguan dan rencana serta mimpi masa depan. Minta mereka mengkategorikan mana yang untuk penampilan diri dan mana yang untuk pekabaran Injil. Minta mereka untuk merenungkan apa yang akan mereka lakukan dengan informasi tersebut.

136

Pelajaran 12

*11-17 September 2010

Kasih dan Hukum Taurat
Sabat Petang
BAcA uNTuK PELAJArAN PEKAN INI: Roma 12, 13. AYAT HAFALAN: “Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaruan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna” (Roma 12:2).

S

elain Paulus berusaha untuk membujuk jemaat di Roma tentang pandangan-pandangan mereka yang salah tentang hukum, dia juga mengajak orang-orang Kristen menuju sebuah penurutan standar tinggi. Penurutan ini berasal dari sebuah perubahan batin di dalam hati dan pikiran kita, sebuah perubahan yang datang hanya melalui kuasa Allah yang bekerja dalam diri orang yang berserah kepada-Nya. Kitab Roma tidak memberi petunjuk bahwa penurutan ini terjadi secara otomatis. Tuntutan-tuntutannya perlu dijelaskan kepada orang Kristen; orang tersebut harus mau menuruti tuntutan-tuntutan tersebut; dan, akhirnya, orang Kristen tersebut harus meminta kuasa yang tanpanya penurutan itu mustahil. Maksudnya di sini adalah perbuatan merupakan bagian iman Kristen. Paulus tidak pernah bermaksud merendahkan perbuatan; dalam pasal 13 sampai 15 dia sangat menekankan hal tersebut. Hal ini bukan sebuah penyangkalan terhadap apa yang telah dibahas sebelumnya tentang pembenaran oleh iman. Sebaliknya, perbuatan adalah ungkapan sebenarnya dari makna hidup oleh iman. Seseorang bahkan bisa mendebat bahwa karena penyataan yang ditambahkan setelah Yesus datang, tuntutan-tuntutan Perjanjian Baru lebih sukar daripada apa yang dituntut dalam Perjanjian Lama, di mana orang-orang percaya telah diberikan sebuah teladan tingkah laku moral yang sebenarnya dalam Yesus Kristus. Hanya Yesuslah, dan tidak ada yang lain, teladan yang kita harus ikut. “Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga”—bukan pada Musa, bukan Daniel, bukan Daud, bukan Salomo, bukan Henokh, bukan Debora, bukan Elia—melainkan “dalam Kristus Yesus” (Filipi 2:5). Tidak ada lagi standar yang lebih tinggi dari ini. *Pelajari pelajaran pekan ini untuk Sabat, 18 September. 137

Minggu
KurBAN YANg HIDuP

12 September

Bagian doktrin dari kitab Roma berakhir di pasal 11. Pasal 12 hingga 16 menyajikan instruksi praktis dan catatan-catatan pribadi. Namun demikian, pasal-pasal penutup ini sangat penting, karena di situ ditunjukkan bagaimana kehidupan iman itu dihidupkan. Iman bukanlah pengganti penurutan, seakan iman meniadakan kewajiban kita untuk menurut Tuhan. Peraturan-peraturan moral masih berlaku; dijelaskan, dan bahkan diuraikan dalam Perjanjian Baru. Juga, tidak ada indikasi diberikan bahwa orang-orang Kristen akan dengan mudah mengatur hidupnya dengan peraturanperaturan moral tersebut. Sebaliknya, kita diberitahukan bahwa ada saat-saat penurutan itu sukar, karena pertempuran dengan diri dan dengan dosa itu selalu sukar (1 Ptr. 4:1). Orang Kristen diberi janji kuasa Ilahi dan kepastian bahwa kemenangan itu mungkin, tetapi kita masih ada di dalam dunia si musuh dan harus melakukan banyak peperangan melawan pencobaan. Kabar baiknya adalah jika kita jatuh, jika kita tersandung, kita tidak tercampak melainkan kita mempunyai seorang Imam Besar yang menjadi pengantara demi kita (Ibrani 7:25). Baca roma 12:1. Bagaimanakah ibarat [analogi] yang disajikan di ayat ini menyatakan bagaimana kita sebagai orang-orang Kristen harus hidup? Bagaimanakah roma 12:2 cocok dengan kita? Dalam Roma 12:1, Paulus sedang menyinggung kurban-kurban Perjanjian Lama. Sebagaimana pada zaman dulu binatang-binatang dipersembahkan bagi Allah, demikian juga sekarang orang-orang Kristen harus menyerahkan tubuh mereka kepada Allah, bukan untuk dibunuh melainkan sebagai kurban-kurban yang hidup yang diserahkan bagi pelayanan-Nya. Di zaman Israel kuno, semua persembahan yang dibawa sebagai kurban diperiksa dengan teliti. Jika ditemukan ada cacat pada binatang itu, maka akan ditolak; karena Allah telah memerintahkan bahwa persembahan itu harus tidak bercacat cela. Demikian juga, orang-orang Kristen diminta untuk mempersembahkan tubuh mereka “sebagai persembahan yang hidup, yang kudus, dan yang berkenan kepada Allah.” Untuk melakukan hal ini, segala kekuatan mereka harus dijaga dalam kondisi yang sebaik mungkin. Walau tak satu pun kita yang tidak bercela, yang penting di sini adalah kita harus berusaha untuk hidup tanpa cacat cela dan sesetia mungkin. Selalu saja mudah untuk mengemukakan berbagai alasan maaf untuk dosa-dosa dan kesalahan-kesalahan kita, bukan? Apakah alasan maaf Anda yang paling umum di saat jatuh ke dalam hal yang sama berulang-ulang? Bukankah sudah waktunya untuk mulai mengesampingkan alasan-alasan tersebut dan menuntut janji-janji Allah, karena bukankah kuasa Allah lebih besar daripada alasan-alasan tersebut? 138

Senin
MEMIKIrKAN OrANg LAIN

13 September

Kita telah membicarakan sebuah pokok penting pada triwulan ini tentang kekekalan hukum moral Allah, dan telah menekankan berulang-ulang bahwa pekabaran Paulus dalam kitab Roma bukanlah mengajarkan bahwa Sepuluh Perintah itu telah ditiadakan dan digugurkan karena iman. Namun, mudah untuk terperangkap dalam huruf-huruf hukum itu sehingga kita lupa pada motivasi inti di balik hukum tersebut, dan motivasi itu adalah— kasih akan Allah dan kasih pada sesama. Sementara siapa saja dapat mengaku punya kasih, menyatakan kasih itu dalam kehidupan setiap hari adalah hal yang sama sekali berbeda. Baca roma 12:3-21. Bagaimanakah kita menyatakan kasih pada orang lain? Sebagaimana dalam 1 Korintus 12 dan 13, setelah membahas tentang karunia Roh, Paulus meninggikan kasih. Kasih (Agape dalam Yunani) adalah jalan yang paling sempurna. “Allah adalah kasih” (1 Yoh. 4:8). Jadi, kasih menggambarkan tabiat Allah. Mengasihi berarti bertindak terhadap orang lain sebagaimana Allah telah bertindak terhadap mereka dan memperlakukan mereka sebagaimana Allah telah memperlakukan mereka. Di sini Paulus menunjukkan bagaimana kasih harus diungkapkan dalam cara praktis. Dari sini muncul satu prinsip penting, yaitu kerendahan hati pribadi, kerelaan seseorang untuk tidak “memikirkan hal-hal yang lebih tinggi daripada yang patut kamu pikirkan” (Roma 12:3), suatu kerelaan untuk “saling mengasihi sebagai saudara dan saling mendahului dalam memberi hormat” (ay. 10), dan suatu kerelaan untuk tidak “menganggap dirimu pandai” (ay. 16). Perkataan Kristus tentang diri-Nya, “Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati” (Mat. 11:29) merangkum semuanya. Dari semua orang, umat Kristen haruslah yang paling rendah hati. Lagipula, lihatlah betapa tak berdayanya kita, lihatlah betapa jatuhnya kita, lihatlah betapa kita, bukan saja bergantung pada suatu kebenaran di luar kita untuk keselamatan tetapi juga pada satu kuasa yang bekerja di dalam kita untuk mengubah kita dalam cara-cara yang kita tidak pernah bisa untuk mengubah diri kita. Apakah yang harus kita andalkan, apakah yang harus kita sombongkan, apakah dalam dan dari diri kita yang harus kita sombongkan? Tidak ada sama sekali. Beranjak dari titik awal kerendahan hati pribadi ini, bukan saja di hadapan Allah tetapi juga di hadapan orang lain, kita harus hidup seperti yang dinasihatkan Paulus kepada kita dalam ayat-ayat di atas. Baca roma 12:18. Seberapa baikkah kita menerapkan nasihat ini dalam hidup kita? Apakah Anda membutuhkan penyesuaian sikap agar dapat melakukan apa yang diperintahkan Firman itu pada kita? 139

Selasa
HuBuNgAN DENgAN PEMErINTAH

14 September

Baca roma 13:1-7. Prinsip-prinsip dasar apakah yang dapat kita ambil dari ayat ini tentang hubungan kita dengan kuasa pemerintahan sipil? Yang membuat perkataan Paulus menarik adalah bahwa dia menulis pada saat suatu kekaisaran kafir sedang memerintah dunia, pemerintahan yang boleh jadi sangat brutal, pemerintahan yang pada intinya bobrok, dan tidak mengetahui sama sekali tentang Allah yang benar, dan yang dalam beberapa tahun akan memulai suatu penganiayaan massal terhadap mereka yang mau menyembah Allah itu. Kenyataannya, Paulus dihukum mati oleh pemerintah ini! Namun, sekalipun dengan semua ini, Paulus menasihatkan agar orang-orang Kristen menjadi warga-warga negara yang baik, bahkan di bawah suatu pemerintahan seperti itu? Ya. Dan itu karena ajaran tentang pemerintah itu sendiri terdapat dalam seluruh Alkitab. Konsep dan prinsip tentang pemerintah itu ditetapkan Allah. Umat manusia perlu hidup dalam satu masyarakat dengan peraturan-peraturan dan ketetapan-ketetapan serta standar-standar. Anarkhi bukanlah konsep Alkitab. Namun, itu bukan berarti Allah merestui segala bentuk pemerintahan atau cara berbagai pemerintahan ini dijalankan. Justru sebaliknya. Seorang tidak perlu melihat terlalu jauh, entah dalam sejarah atau dalam dunia masa kini, untuk melihat adanya beberapa rezim yang brutal. Akan tetapi, sekalipun dalam keadaan-keadaan seperti ini, umat Kristen harus sedapat mungkin menurut hukum-hukum negeri. Orang-orang Kristen harus memberi dukungan setia kepada pemerintah selama tuntutan-tuntutannya tidak bertentangan dengan Allah. Seorang harus mempertimbangkan dengan cermat dan penuh doa, dan dengan nasihat orang lain, sebelum mengambil jalan yang membuat dia bertentangan dengan pemerintah. Kita tahu dari nubuatan bahwa suatu hari nanti seluruh pengikut setia Allah akan dihadapkan melawan kuasa-kuasa-kuasa politik yang mengendalikan dunia (Wahyu 13). Sebelum itu terjadi, kita harus melakukan apa saja yang bisa kita lakukan di hadapan Allah, sebagai warga negara di mana kita berada. “Kita harus mengakui pemerintahan manusia sebagai suatu peraturan yang ditentukan Ilahi, dan mengajarkan penurutan kepadanya sebagai suatu kewajiban yang suci, dalam lingkungannya yang sah. Tetapi bila tuntutannya berlawanan dengan tuntutan Allah, kita harus menurut Allah lebih daripada manusia. Perkataan Allah harus diakui melebihi segala undang-undang manusia. “Kita tidak dituntut untuk menentang kekuasaan. Perkataan kita, apakah dikatakan atau ditulis, harus dipertimbangkan dengan teliti, supaya jangan kita menempatkan diri sendiri pada catatan sebagai mengucapkan sesuatu yang akan membuat kita bertentangan dengan undang-undang atau peraturan. Janganlah kita mengatakan atau melakukan sesuatu yang akan menutup jalan kita.”—Ellen G. White, Alfa dan Omega, jld. 7, hlm. 58 140

Rabu
HuBuNgAN DENgAN OrANg LAIN

15 September

“Janganlah kamu berutang apa-apa kepada siapa pun juga, tetapi hendaklah kamu saling mengasihi. Sebab barangsiapa mengasihi sesamanya manusia, ia sudah memenuhi hukum Taurat” (Roma 13:8). Bagaimanakah kita memahami ayat ini? Apakah artinya bahwa jika kita mengasihi, maka kita tidak wajib lagi menurut hukum Allah? Sebagaimana Yesus dalam Khotbah di Atas Bukit, Paulus di sini menguraikan aturan-aturan hukum tersebut, menunjukkan bahwa kasih harus menjadi kuasa pendorong di belakang segala yang kita lakukan. Karena hukum adalah tulisan tabiat Allah, dan Allah adalah kasih, maka mengasihi berarti menggenapi hukum itu. Namun, Paulus tidak sedang menggantikan aturan-aturan rinci yang tepat dari hukum itu dengan standar kasih yang tidak jelas, sebagaimana dinyatakan oleh sebagian orang Kristen. Hukum moral masih mengikat, karena, sekali lagi, itulah yang menunjukkan dosa—dan siapakah yang bisa menyangkal realitas dosa? Namun demikian, hukum itu benar-benar dapat dipelihara hanya dalam konteks kasih. Ingatlah, sebagian orang yang menyalibkan Yesus juga kemudian kembali ke rumahnya untuk memelihara hukum! Perintah-perintah yang manakah yang Paulus singgung sebagai contoh untuk menggambarkan prinsip kasih dalam memelihara hukum? Mengapa perintah-perintah tersebut secara khusus? Roma 13:9, 10. Menariknya, faktor kasih bukanlah sebuah prinsip yang baru diperkenalkan. Oleh mengutip Imamat 19:18, “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri,” Paulus menunjukkan bahwa prinsipnya adalah sebuah bagian terpadu dari sistem Perjanjian Lama. Kembali Paulus merujuk kepada Perjanjian Lama untuk mendukung khotbah Injilnya. Ada yang berpendapat berdasarkan ayat ini bahwa Paulus sedang mengajarkan bahwa hanya beberapa perintah yang disebutkan di sini saja yang masih berlaku. Jika demikian, apakah itu berarti bahwa orang-orang Kristen boleh tidak menghormati orangtua mereka, menyembah berhala, dan mempunyai allah lain di hadapan Tuhan? Tentu saja tidak. Perhatikan, Paulus sedang membahas bagaimana bersikap satu sama lain. Dia sedang membahas tentang hubungan antar pribadi, itulah sebabnya dia menyebutkan khusus perintah-perintah yang berpusat pada hubungan ini. Argumennya tentu saja tidak bisa dijadikan alasan untuk meniadakan perintah lainnya dari hukum itu. (Lihat Kisah 15:20; 1 Tes. 1:9; 1 Yoh. 5:21). Lagipula, sebagaimana para penulis Perjanjian Baru tunjukkan, oleh menunjukkan kasih kepada orang lain, kita menunjukkan kasih kepada Allah (Mat. 25:40; 1 Yoh. 4:20, 21). Pikirkan tentang hubungan Anda dengan Allah dan bagaimana itu mencerminkan hubungan Anda dengan orang lain. Berapa besarkah faktor kasih dalam hubungan tersebut? Dapatkah Anda belajar mengasihi orang lain sebagaimana Allah mengasihi kita? Apakah yang menghalangi Anda melakukannya? 141

Kamis

16 September

LEBIH DEKAT DArIPADA WAKTu KITA MENJADI PErcAYA
“Hal ini harus kamu lakukan, karena kamu mengetahui keadaan waktu sekarang, yaitu bahwa saatnya telah tiba bagi kamu untuk bangun dari tidur. Sebab sekarang keselamatan sudah lebih dekat bagi kita dari pada waktu kita menjadi percaya” (Roma 13:11). Sebagaimana yang sudah dinyatakan sebelumnya, Paulus mempunyai satu fokus khusus dalam surat kepada jemaat di Roma, yaitu untuk menjelaskan kepada jemaat di Roma, khususnya kepada orang-orang Yahudi yang percaya, peranan iman dan perbuatan dalam konteks Perjanjian Baru. Pekabarannya adalah keselamatan dan bagaimana seorang berdosa dinyatakan benar dan kudus di hadapan Tuhan. Untuk menolong mereka yang penekanannya hanya pada hukum, Paulus menempatkan hukum pada peran dan konteksnya yang benar. Sekalipun sebenarnya agama Yahudi bahkan dalam zaman Perjanjian Lama adalah satu agama kasih karunia, legalisme telah muncul dan menimbulkan banyak kehancuran. Betapa berhati-hatinya kita sebagai gereja agar tidak melakukan kesalahan yang sama. Baca roma 13:11-14. Peristiwa apakah yang Paulus bicarakan di sini, dan bagaimanakah seharusnya kita bertindak untuk mengantisipasi peristiwa tersebut? Betapa mencengangkan bahwa Paulus di sini sedang berbicara kepada umat percaya, mengajak mereka untuk bangun dan bersatu karena Yesus akan datang kembali. Fakta bahwa ini dituliskan hampir dua ribu tahun lalu tidak menjadi masalah. Kita harus selalu hidup dalam antisipasi terhadap dekatnya kedatangan Kristus. Sejauh itu menyangkut diri kita, dan pengalaman pribadi kita masing-masing, Kedatangan Kedua sudah dekat sama dengan potensi kapan saja kematian kita. Apakah minggu depan atau 40 tahun, kita tutup mata dalam kematian, dan apakah kita tidur hanya empat hari atau 400 tahun—tidak ada bedanya bagi kita. Hal berikut yang kita ketahui adalah kedatangan Yesus yang kedua kali. Dengan kematian yang kapan saja bisa terjadi pada diri kita, waktu ini sesungguhnya singkat, dan keselamatan kita sudah lebih dekat daripada ketika kita menjadi percaya. Sekalipun Paulus tidak banyak membahas tentang Kedatangan Kedua dalam kitab Roma, dalam kitab Tesalonika dan Korintus dia membahasnya jauh lebih rinci. Lagipula, itu adalah satu tema penting dalam Alkitab, khususnya dalam Perjanjian Baru. Tanpa tema itu, serta pengharapan yang ditawarkannya, maka iman kita sesungguhnya tak berarti. Lagipula, apakah arti “pembenaran oleh iman” tanpa Kedatangan Kedua yang menjadikan kebenaran penting itu membuahkan hasil yang penuh? Jika Anda telah ketahui pasti bahwa Yesus akan datang bulan depan, apakah yang mau Anda ubah dalam hidup Anda, dan mengapa? Sekarang, jika Anda percaya bahwa Anda perlu mengubah hal-hal itu satu bulan sebelum Yesus datang, mengapa tidak mengubahnya sekarang? Apakah bedanya? 142

Jumat

17 September

PELAJArI SELANJuTNYA: Baca Ellen G. White, “An Explanation of Early Statements,” hlm. 66-69, dalam Selected Messages, jld. 1; “Practical Godliness,” hlm. 540, 541, dalam Testimonies for the Church, jld. 5; “Our Attitude Toward the Civil Authorities,” hlm. 394, 395, dalam Testimonies for the Church, jld. 6; “Bait Suci dan Upacara-upacara,” hlm. 406-423, dalam Alfa dan Omega, jld. 1; “Makna Rohani Hukum Allah,” hlm. 55-90, dalam Khotbah di Atas Bukit. “Dalam Alkitab kehendak Allah dinyatakan. Kebenaran-kebenaran Firman Allah adalah ucapan Yang Mahatinggi. Dia yang menjadikan kebenaran-kebenaran ini sebagai bagian dalam hidupnya akan menjadi satu ciptaan baru dalam segala aspek. Dia tidak diberikan suatu kuasa mental yang baru, tetapi kegelapan yang melalui kebodohan dan dosa telah mengaburkan pengertiannya akan disingkirkan. Perkataan, ‘Hati yang baru akan Kuberikan juga kepadamu,’ berarti, ‘Satu pikiran yang baru akan Kuberikan kepadamu.’ Suatu perubahan hati selalu disertai dengan satu keyakinan yang jelas akan kewajiban Kristen, sebuah pemahaman akan kebenaran. Dia yang menaruh perhatian yang tekun dan penuh doa pada Alkitab akan mendapatkan pemahaman yang jernih serta pertimbangan yang sehat, seakan-akan oleh berbalik kepada Allah dia telah mencapai satu tahap kecerdasan yang lebih tinggi.—Ellen G. White, My Life Today, hlm. 24. “Tuhan . . . datang segera, dan kita harus bersedia dan menantikan kedatanganNya. Oh, betapa mulianya nanti untuk melihat Dia dan disambut sebagai orangorang tebusan-Nya! Kita telah menanti lama, tetapi pengharapan kita tidak pudar. Jika kita dapat melihat Sang Raja dalam keindahan-Nya kita akan diberkati selama-lamanya. Saya merasa seakan harus berseru nyaring: “Sudah dekat ke rumah!” Kita sedang mendekati waktu di mana Kristus akan datang dalam kuasa dan kemuliaan yang besar untuk membawa orang-orang tebusan-Nya kepada rumah kekal mereka.”—Ellen G. White, Testimonies for the Church, jld. 8, hlm. 253.

PErTANYAAN-PErTANYAAN uNTuK DISKuSI: n Dalam kelas, ulangi pertanyaan di akhir pelajaran hari Kamis. Apa sajakah jawaban yang diberikan anggota kelas, dan apa alasan mereka? o Pertanyaan tentang bagaimana kita bisa menjadi warga negara yang baik dan orang Kristen yang baik sering sangat rumit. Jika seorang datang pada Anda meminta nasihat tentang prinsipnya dalam apa yang dia yakini sebagai kehendak Allah, sekalipun itu akan membuat dia bertentangan dengan pemerintah, apakah yang akan Anda katakan? Nasihat apakah yang akan Anda berikan? Prinsip-prinsip apakah yang harus Anda ikut? Mengapa ini yang harus ditindaklanjuti dengan pertimbangan yang paling sungguh-sungguh dan juga doa? (Lagipula, tidak semua orang yang dilemparkan ke lubang singa keluar dengan tak tergores). p Menurut Anda manakah yang lebih sulit dilakukan: memelihara dengan ketat pada setiap huruf hukum Allah ataukah mengasihi orang lain tanpa pamrih? Atau, apakah Anda berpendapat bahwa pertanyaan ini menyajikan satu perbedaan yang salah? Jika ya, mengapa?
143

PENuNTuN guru 12
Ringkasan Pelajaran Ayat Inti: Roma 13:10.

Anggota Kelas Akan:

¾ Mengetahui: Menggambarkan hasil-hasil iman dalam hidup, dicerminkan oleh cara kita memperlakukan orang lain. ¾ Merasakan: Memupuk rasa hormat dan kasih persaudaraan satu sama lain. ¾ Melakukan: Menggunakan karunia-karunia rohani kita dalam pelayanan tubuh Kristus.

garis Besar Pelajaran:

I. Mengetahui: Karunia rohani untuk Pelayanan A. Mengapakah hidup kita harus menjadi persembahan harian dari ibadah dan penurutan kita kepada Dia yang telah memberikan hidupNya bagi kita? B. Dalam cara apakah persembahan ibadah penurutan kepada Allah dinyatakan dalam sikap kita sehari-hari? C. Mengapakah penting bagi kita untuk memelihara tubuh umat percaya dalam Kristus? D. Dalam hal apakah cara kita bergaul satu sama lain merupakan satu pertumbuhan iman dalam apa yang Allah telah lakukan bagi kita?

II. Merasakan: Kasih Menggenapi Hukum A. Bagaimanakah perasaan kasih kepada orang lain berkaitan dengan tindakan kasih? B. Bagaimanakah memperlakukan orang lain dengan kasih menggenapi hukum Taurat? C. Dalam konteks ini, apakah kaitan kasih dan iman? III. Melakukan: Melayani Tubuh Kristus A. Dalam hal apakah masing-masing kita telah diberikan satu karunia untuk melayani dan membangun tubuh Kristus? B. Karunia-karunia apakah yang paling kita butuhkan di jemaat kita? C. Bagaimanakah kita menggunakan karunia-karunia kita dengan kasih, sementara menghargai kontribusi orang lain juga? rANgKuMAN: Cara kita menghargai, memelihara, dan melayani orang lain adalah suatu tindakan ibadah rohani. Sebagaimana halnya iman, kita menerima karunia rahmat Allah; kita ulurkan kasih dan rahmat Allah kepada orang lain dan dengan demikian memenuhi tuntutan-tuntutan hukum untuk mengasihi satu sama lain. 144

Langkah Belajar

LANGKAH 1—Motivasi
KUnci Utama UntUK pertUmbUhan rohani: Hasil satu hubungan yang baik dengan Allah adalah sebuah hubungan yang memberi kepuasan hati dengan ciptaan Allah. Dalam membahas penyebab utama perpecahan di jemaat Roma, Paulus telah menuliskan uraiannya yang paling lengkap tentang sifat penebusan. Tidak ada dasar untuk lebih unggul dalam jemaat, karena setiap orang, Yahudi atau bukan, menerima keselamatan dengan cara yang sama—percaya pada pekerjaan lengkap Kristus di Kalvari untuk pendamaian dosa-dosa. Tidak ada jalan lain ke surga, dan tidak ada jumlah harta dunia yang dapat membeli keselamatan. Pemahaman tentang penebusan ini mendasari bagian akhir buku Roma di mana Paulus menggambarkan hasil kerja praktis kasih karunia Allah dalam hidup kita. Dia membahas sifat hubungan kita dengan umat percaya lainnya, musuh-musuh kita, dan pemerintah dunia. Kasih, faktor penentu, adalah penyaring melalui mana semua pilihan tentang hubungan harus disaring. Kasih adalah standar oleh mana setiap pilihan dinilai. Hukum bisa menentukan tingkah laku di permukaan yang selalu tampak, tetapi hanya kasih yang menilai hati. KeGiatan pembUKa: Bawa dua mobil mainan ke kelas. Yang satu punya roda yang berfungsi tetapi tidak ada mesin. Yang satunya lagi adalah mobil yang bisa dikendalikan dari jauh. Sangat baik jika mobil-mobil itu punya ukuran yang sama. Pertama, bahas persamaan bentuk penampilan mereka. (Contohnya, keduanya ada roda, ada sasis, kaca depan, bamper, dan lainlain). Dari luar mereka kelihatan sama. Kedua, bahas perbedaan-perbedaan mereka. (Contohnya, yang satu ada mesin, yang lain tidak; yang satu ada sumber tenaga, yang lain tidak; yang satu dapat dikendalikan dari jauh, dan sebagainya). Kini minta anggota kelas Anda untuk membandingkan warga negara yang baik dengan orang Kristen yang dikendalikan Roh. Pertama, bahas persamaan penampilan dan perbuatan mereka. Kemudian bahas perbedaan-perbedaan mereka. Pertimbangkan: Sementara kita menghargai perbuatan-perbuatan baik orang-orang yang tidak bertobat, apakah yang dimiliki orang Kristen yang tidak dimiliki mereka? Bilamana jalan itu mudah (turun gunung), mobil yang tak bermesin dapat bergerak maju sama seperti mobil yang dikendalikan; tetapi hanya mobil yang mempunyai mesin yang bisa bergerak di jalan datar atau menanjak. Keuntungan apakah yang dimiliki oleh orang Kristen yang dikendalikan Roh melebihi warganegara yang baik bilamana jalan menjadi sukar?

145

LANGKAH 2—Selidiki
KhUsUs UntUK GUrU: Tidak seperti ajaran mitos yang ada di zaman dulu, ajaran Alkitab selalu memberi tujuan-tujuan praktis. Ajaran itu hadir untuk perubahan dan bukan untuk menghibur. Penebusan adalah sarana mendorong untuk perubahan hidup. Berbagai hubungan manusia bukan saja diperbaiki—tetapi ditemukan kembali. Paulus melanjutkan dengan meneguhkan standar-standar yang menentukan tujuan-tujuan ke mana setiap orang Kristen berjuang. Pencapaian-pencapaian yang mustahil tanpa kuasa dan kendali Roh yang dijanjikan Allah kini menjadi pencapaian yang diharapkan bagi setiap orang percaya yang sungguh-sungguh. Bagaimanakah dunia ini akan berbeda jika orang-orang Kristen di mana-mana menerima nasihat-nasihat ini? Seberapa menarikkah Kekristenan jadinya jika hidup kita mencerminkan nilai-nilai ini? Komentar Alkitab I. Korban yang Hidup (Baca kembali Roma 12:1,2 bersama anggota kelas Anda). Sebagian orang menyatakan adanya unsur dualisme dalam tulisan-tulisan Paulus, menganggap bahwa penekanannya akan hukuman bagi tubuh dan pengangkatan bagi Roh menunjukkan suatu hinaan terhadap aspek-aspek jasmani manusia. Tidak ada yang boleh melampaui kebenaran. Ayat-ayat ini menekankan pentingnya tubuh kita. Tentu saja ayat-ayat ini mencerminkan upacara-upacara korban di bait suci di mana seekor binatang yang tak bercacat cela disembelih dan dipersembahkan kepada Tuhan. Kini Paulus menasihatkan para pembacanya untuk mempersembahkan tubuh mereka sebagai “persembahan yang hidup.” Jelas bahwa penekanan khusus Paulus pada kata tubuh (daging), secara metafora menggambarkan keseluruhan keberadaan manusia tanpa Allah, tidak dimaksudkan untuk mengecilkan makna rohani dari tubuh. Tubuh, menjadi tempat kesanggupan-kesanggupan mental, sosial, fisik, emosional, dan rohani kita, diserahkan sepenuhnya kepada Allah—“dikorbankan.” Namun, korban yang hidup, bukan korban yang mati, yang diminta dari orang-orang Kristen. pertimbanGKan: Apakah makna-makna rohani dari menjadi “korban yang hidup?” Dalam hal apakah persembahan diri kita kepada Allah adalah pelayanan kita yang logis, rasional atau masuk di akal? Ciri-ciri apakah dari korban yang hidup dalam Alkitab—Kristus dan Ishak—yang dapat disamakan? II. Memikirkan Diri Sendiri (Baca kembali Roma 12:3-21 bersama anggota kelas Anda). Setelah sebelumnya menyampaikan dasar perpecahan jemaat, Paulus beralih kepada solusinya, yang mencakup kerendahan hati dalam pelayanan. Membandingkan dengan surat Korintus, kita temukan penekanan-penekanan yang mirip; persatuan dan pentingnya berbagai bagian tubuh serta pemberian Ilahi akan karunia-karunia rohani yang diberikan kepada orang-orang percaya untuk menyanggupkan mereka melayani dengan kasih (1Kor. 12:12-31). Pelayanan 146

yang lebih dari sekadar ramah tamah kepada orang-orang percaya mencakup kebaikan yang berkorban terhadap para penganiaya orang-orang Kristen. Tidak diragukan, Paulus mengingat penganiayaan yang dilakukannya terhadap orang-orang percaya dan kebaikan mereka terhadap dirinya. Kesanggupan-kesanggupan ini diberikan, bukan untuk kemuliaan diri melainkan untuk membangun dan memperluas kerajaan Allah. pertimbanGKan: Apakah pengaruh yang diberikan oleh sikap rendah hati dan pelayanan kasih terhadap jemaat yang terbagi-bagi? Dari manakah datangnya sikap seperti itu? Apakah pandangan Allah terhadap orang-orang percaya yang gagal menggunakan karunia-karunia rohani mereka? III. Hubungan dengan Pemerintah (Baca kembali Roma 13:1-7 bersama anggota kelas Anda). Tanggung jawab Kristen mencakup hubungan dengan pemerintah. Ingat “berikanlah kepada Kaisar” (Mat. 22:21). Ada cerita tentang seorang ahli hukum Texas yang berseru, “Pemerintah tidak ada urusan dengan kita!” Semoga pendetanya berkhotbah tentang ayat ini dan memperbaiki sikap pemberontakannya. Pemerintah-pemerintah diurapi Ilahi. Pemerintah-pemerintah yang tak berguna cenderung bersikap anarki. Bekerja sama dengan para penguasa pemerintahan (termasuk bayar pajak dengan jujur) tercakup dalam mandat etika Kristen. Jelaslah ini tidak termasuk kompromi dalam nilai-nilai rohani atau melanggar perintah-perintah Ilahi. pertimbanGKan: Bagaimanakah kita menentukan keadaan-keadaan di mana melayani nasihat Ilahi dan kepentingan nasional tidak selaras? Apakah sikap kita yang pantas dalam situasi seperti itu? IV. Lebih Dekat Daripada Ketika Kita Menjadi Percaya (Baca kembali Roma 13:11-14 bersama anggota kelas Anda). Menarik untuk diperhatikan bahwa kedekatan dengan pemberi hukum mendorong sikap tunduk! Setiap pengendara motor pembantu polisi akan mengurangi kecepatan bila bertemu polisi. Demikian juga kedekatan kita dengan “pemberi kasih” mendorong sikap mengalah “paling tidak pada saat masa pacaran!). Paulus menampilkan “kedekatan,” kedatangan Yesus yang tidak lama lagi, sebagai satu motivasi untuk hidup benar. Jadi, “janganlah ambil bagian dalam kegelapan pesta-pesta liar dan kemabukan, atau dalam seks bebas serta hidup amoral, atau pertikaian dan kecemburuan” (ay. 13, NLT). pertimbanGKan: Manakah yang memberikan motivasi lebih kuat untuk mempraktikkan hidup Kristen—kedatangan Kristus kedua kali atau kehadiran-Nya setiap hari dalam hidup kita?

147

LANGKAH 3—Terapkan

KhUsUs UntUK GUrU: Tugas manusia untuk memuliakan Allah dan hidup selaras dengan ciptaan Allah dirangkum dalam satu kata: kasih. Perilaku manusia, dipengaruhi oleh banyak faktor, gagal menyatakan dengan sempurna isi hatinya (lihat Matius 7:22, 23). “Penampilan-penampilan” yang bagus sekali sering dimotivasi oleh kepentingan diri, tujuan-tujuan egois. Perilaku dan penampilan haruslah diungguli oleh agama hati yang murni. Kecuali kesalehan kita melebihi kepura-puraan orang Farisi, kita tidak akan pernah masuk kerajaan surga. Apa pun yang ada di bawah standar kasih yang murni tidaklah memuaskan Allah maupun kita. Bandingkan kemurnian dan kepura-puraan dalam dialog di bawah ini.

KeGiatan: Baca percakapan antara mobil dengan alat kontrol (MK) dan mobil tanpa mesin (TM). TM: MK: TM: MK: TM: MK: Hai, berita baru, tuan, saya sama bagusnya dengan kamu kapan saja. Kamu pikir kamu satu-satunya yang akan tampil di museum mobil keren? Maaf . . . saya harus mohon maaf. Percayalah, apa pun saja yang saya katakan tidak bermaksud menyinggung kamu. Begitu? Saya kebetulan dengar percakapan kamu dengan Austin-Healy Kamis lalu . . . . Sesuatu tentang sebuah proses konversi dan pemasangan mesin serta antena gratis. Benar. Hai teman, saya kelihatan sama indahnya dengan kamu sekalipun tanpa bagasi tambahan . . . . Saya memang tidak membutuhkan “barang.” Yah, tentang saya sendiri, saya pernah mencapai titik bawah pada saat jatuh. Saya capek kelihatan bagus tetapi kosong di dalam. Bergerak sangat mudah bila jalan menurun, tetapi sudahlah kalau jalan menanjak— bahkan jalan rata sekalipun. Pada saat itu saya dengar tentang adanya tawaran mesin gratis, baterai isi ulang gratis, dan antena gratis. Saya coba cek dan sejak itu saya berubah. Tapi tidak membuat kamu lebih baik dari saya. Kita sama ukuran bahkan saya lebih mengkilap. Saya tidak mau debat tentang itu. Tetapi kita mobil diciptakan bukan hanya untuk kelihatan bagus. Kita dibuat untuk bergerak! Sebelum mesin dan kotak baterai saya dipasang, saya betul-betul kosong di dalam. Kini pabrik menuntun setiap gerakan saya melalui signal-signal antena. Belum pernah saya merasa sepuas ini sebelumnya.

TM: MK:

148

TM: MK: TM: MK: TM: MK:

(Terdiam) Apa kamu pikir ada harapan untuk merombak model Chevette seperti saya? Keadaan krisis sekarang ini membuat segalanya sulit. Ingat, gratis! Cuma-cuma! Gratis, tuan! Kedengarannya cukup murah. Sebenarnya mahal . . . . Tetapi harganya sudah dibayar. Tetapi yah, semua kekuatan dalam diri saya, diarahkan, didorong oleh si perancang itu sendiri. Tolong daftarkan saya. Kamu baik sekali. Ya, benar, DIA baik.

pertanyaan UntUK renUnGan: » Bagaimanakah orang Kristen diisi ulang? ¼ Bagaimanakah dia menerima arahan-arahan si Perancang? ½ Pengalaman apakah yang menggantikan agama yang kosong dan hanya penampilan saja?

LANGKAH 4—Ciptakan
KhUsUs UntUK GUrU: Bagaimanakah kasih menggenapi hukum Allah dalam pengalaman kita sehingga hidup kita memuaskan Allah dan juga kita? Bahas karunia-karunia rohani dalam konteks pertanyaan di atas untuk memperkenalkan kegiatan terakhir. Bagaimanakah Allah disenangkan pada saat kita menggunakan karunia-karunia itu bagi kemuliaan-Nya? Bagaimanakah penggunaan kesanggupan-kesanggupan kita membawa kepuasan pribadi? Kegiatan: Baca kembali Roma 12:6-8; daftarkan berbagai karunia yang disebutkan. Undang anggota kelas untuk mengambil gambar kegiatan-kegiatan selama minggu mendatang yang mereka rasa menggambarkan daftar karuniakarunia itu dan bawa foto-foto itu ke kelas pekan depan.

149

Pelajaran 13

*18-24 September 2010

Semua yang Lain adalah Komentar

Sabat Petang
BAcA uNTuK PELAJArAN PEKAN INI: Roma 14-16. AYAT HAFALAN: “Tetapi engkau, mengapakah engkau menghakimi saudaramu? Atau mengapakah engkau menghina saudaramu? Sebab kita semua harus menghadap takhta pengadilan Allah” (Roma 14:10).

S

eseorang mendekati seorang rabi tersohor tentang zaman kuno dan meminta dia menjelaskan arti keseluruhan dari Taurat sambil berdiri dengan satu kaki. “Jangan lakukan kepada orang lain,” kata rabi itu di atas satu kaki, “apa yang tampaknya bisa melukai Anda; itulah isi seluruh Taurat. Semua yang lain hanya komentar.” Entah seorang setuju atau tidak dengan pernyataan ini, si rabi ada benarnya. Beberapa aspek iman kita sangat hakiki dan yang lain hanya sekadar “komentar.” Pelajaran pekan ini melihat beberapa “komentar” tersebut. Maksudnya adalah segala sesuatu yang muncul tanpa dibahas mendalam sebelumnya dalam prinsip-prinsip dasar keselamatan. Apakah peran hukum—entah itu seluruh sistem Perjanjian Lama atau hanya Sepuluh Perintah—dalam hal keselamatan? Paulus perlu membuat batasan yang jelas sebagai dasar Allah menerima seseorang. Mungkin keseluruhannya dapat dirangkum dalam pertanyaan kepala penjara yang kafir itu, “Apakah yang harus aku perbuat supaya aku selamat?” (Kisah 16:30). Dengan penjelasan itu, Paulus kini membahas beberapa “komentar.” Sekalipun sangat kuat dalam beberapa ajaran, Paulus ambil sikap lebih bebas dalam hal-hal lainnya. Ini karena hal-hal tersebut tidaklah mendasar, berupa “komentar,” karena memang demikianlah. Namun pada saat yang sama, sekalipun halhal tersebut tidak terlalu mendasar, sikap orang-orang Kristen terhadap satu sama lain dalam membahas hal-hal ini sangatlah penting. *Pelajari pelajaran pekan ini untuk Sabat, 25 September.

150

Minggu
SAuDArA YANg LEMAH

19 September

Dalam Roma 14:1-3, masalahnya adalah tentang makan daging yang boleh jadi telah dipersembahkan kepada berhala-berhala. Rapat di Yerusalem (Kisah 15) telah mengatur bahwa orang-orang dari bangsa lain yang bertobat harus menahan diri dari menggunakan makanan seperti itu. Tetapi selalu ada pertanyaan apakah daging yang dijual di pasar-pasar umum berasal dari binatang-binatang yang telah dipersembahkan kepada berhala-berhala (lihat 1 Kor. 10:25). Sebagian orang Kristen tidak peduli sama sekali dengan hal itu; yang lain, sekalipun hanya dengan sedikit keraguan, memilih untuk makan sayur-sayuran saja. Hal ini tidak ada hubungan sama sekali dengan masalah vegetarisme serta hidup sehat. Paulus juga tidak menyinggung dalam ayat ini bahwa perbedaan antara daging yang halal dan haram telah dihapuskan. Ini bukanlah pokok yang sedang dibahas. Jika perkataan “ia boleh makan segala jenis makanan” (Roma 14:2) diartikan bahwa kini segala jenis binatang, halal ataupun tidak, dapat dimakan, maka kalimat ini telah disalahtafsir. Perbandingan dengan ayat-ayat lain di Perjanjian Baru bertentangan dengan penerapan tersebut. Sementara itu, “menerima” seorang yang lemah dalam iman berarti memberi dia keanggotaan penuh serta status sosial. Orang tersebut bukan untuk didebat melainkan diberikan hak atas pendapatnya. Jika demikian, prinsip apakah yang harus kita petik dari roma 14:1-3? Adalah penting juga untuk menyadari bahwa Paulus dalam ayat 3 tidak berbicara negatif tentang orang yang “lemah iman.” Dia juga tidak memberi nasihat bagi orang tersebut bagaimana menjadi kuat. Dari sudut pandang Allah, orang Kristen yang terlalu takut salah seperti itu (dinyatakan terlalu takut salah tentu saja bukan oleh Allah melainkan oleh rekan sesama Kristen) berkenan padaNya. Allah “telah menerima orang itu.” Bagaimanakah roma 14:4 menjelaskan apa yang baru saja kita pelajari? ________________________________________________________________ ______________________________________________________________ Sekalipun kita perlu ingat prinsip-prinsip yang dipelajari dalam pelajaran hari ini, adakah saat-saat serta tempat di mana kita perlu campur tangan dan menghakimi, jika bukan hati seseorang, paling tidak tindakantindakannya? Apakah kita harus mundur serta tidak berkata dan berbuat apa-apa dalam segala sesuatu? Yesaya 56:10 menggambarkan para penjaga sebagai “anjing-anjing bisu, tidak tahu menyalak.” Bagaimanakah kita bisa mengetahui kapan berbicara dan kapan berdiam diri? Bagaimanakah kita menemukan keseimbangan dalam hal ini? 151

Senin

20 September

DENgAN uKurAN YANg KAMu guNAKAN
Baca roma 14:10. Alasan apakah yang diberikan Paulus di sini bagi kita agar berhati-hati dalam menghakimi orang lain? Kita cenderung menghakimi orang lain dengan kasar, dan sering dalam hal yang sama yang kita juga lakukan. Namun demikian, betapa sering apa yang kita lakukan tampaknya tidak terlalu buruk bagi kita dibanding jika hal yang sama dilakukan oleh orang lain. Kita boleh saja menipu diri kita oleh kemunafikan kita, tetapi tidak dengan Allah, yang memperingatkan kita: “Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi. Karena dengan penghakiman yang kamu pakai untuk menghakimi, kamu akan dihakimi dan ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu. Mengapakah engkau melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu tidak engkau ketahui? Bagaimanakah engkau dapat berkata kepada saudaramu: Biarlah aku mengeluarkan selumbar itu dari matamu, padahal ada balok di dalam matamu” (Matius 7:1-4). Apakah makna pernyataan dari Perjanjian Lama yang diperkenalkan Paulus di sini? Roma 14:11. Kutipan dari Yesaya 45:23 mendukung pemikiran bahwa semua orang harus menghadap pengadilan. “Setiap lutut” dan “setiap lidah” membuat panggilan itu bersifat individu. Implikasinya adalah setiap orang harus mempertanggungjawabkan kehidupan dan perbuatan-perbuatannya (ay. 12). Tidak seorang pun dapat menjawab untuk orang lain. Dalam pengertian penting ini, kita bukanlah penjaga saudara kita. Dengan konteks tersebut, bagaimanakah Anda memahami apa yang Paulus katakan dalam roma 14:14? Pembahasannya masih tentang makanan yang dipersembahkan kepada berhala-berhala. Masalahnya jelas bukan perbedaan antara makanan halal dan haram. Paulus berkata bahwa tidak ada yang salah dalam memakan makanan itu sendiri sekalipun telah dipersembahkan kepada berhala. Lagipula, apakah suatu berhala? Bukan apa-apa (lihat 1 Kor. 8:4), jadi apakah urusannya jika ada orang kafir yang mempersembahkan makanan ke patung seekor kodok ataupun seekor banteng? Jangan membuat seorang melanggar hati nuraninya, bahkan jika hati nuraninya itu sangatlah peka. Kenyataan inilah yang tampaknya tidak dipahami saudara-saudara yang “kuat.” Mereka menganggap remeh perasaan peka dari saudara-saudara yang “lemah” dan menaruh batu-batu sandungan pada jalan mereka. Bisakah Anda, dalam semangat Anda bagi Tuhan, berada dalam bahaya yang diamarkan Paulus di sini? Mengapakah kita harus berhati-hati agar tidak berusaha menjadi hati nurani bagi orang lain, betapa baik pun maksud kita? 152

Selasa
TIDAK MEMBuAT TErSINgguNg

21 September

Baca roma 14:15-23 (lihat juga 1 Kor. 8:12, 13). rangkumkan di bawah ini inti pekabaran Paulus. Prinsip apakah yang dapat kita ambil dari ayatayat ini yang dapat diterapkan dalam segala segi kehidupan kita? Dalam ayat 17-20 Paulus menampilkan berbagai aspek Kekristenan ke dalam sudut pandang yang sebenarnya. Sekalipun makanan itu penting, orang-orang Kristen tidak boleh bertengkar tentang pilihan sebagian orang yang hanya mau makan sayur-sayuran gantinya daging yang boleh jadi sudah dipersembahkan pada berhala. Sebaliknya, mereka harus fokus pada kebenaran, damai sejahtera, dan sukacita di dalam Roh Kudus. Bagaimanakah kita dapat menerapkan gagasan ini pada masalah-masalah tentang makanan di gereja kita sekarang? Betapapun banyaknya pekabaran kesehatan, khususnya ajaran-ajaran tentang pola makan, bisa menjadi berkat bagi kita, tidak semua orang melihat pokok ini dengan pendapat yang sama, dan kita perlu menghormati perbedaan-perbedaan tersebut. Dalam ayat 22, di tengah pembicaraan tentang membiarkan orang mengikuti hati nuraninya, Paulus menambahkan satu amaran penting: “Berbahagialah dia, yang tidak menghukum dirinya sendiri dalam apa yang dianggapnya baik untuk dilakukan.” Peringatan apakah yang Paulus berikan di sini? Bagaimanakah hal ini menyeimbangi hal lainnya yang ia bahas dalam konteks ini? ________________________________________________________________ ______________________________________________________________ Pernahkah Anda mendengar seorang berkata, “Bukan urusan siapa pun apa yang saya makan atau apa yang saya pakai atau jenis hiburan yang saya suka?” Benarkah demikian? Tak satu pun kita hidup dalam kehampaan. Tindakan, perkataan, perbuatan, bahkan pola makan kita dapat mempengaruhi orang lain, entah untuk hal yang baik ataupun buruk. Tidak sukar untuk mengetahuinya. Jika seorang yang menghormati Anda melihat Anda sedang melakukan sesuatu yang “salah,” dia dapat dipengaruhi oleh teladan Anda untuk melakukan hal yang sama. Kita membodohi diri kita jika kita berpikir sebaliknya. Untuk beralasan bahwa Anda tidak memaksa orang tersebut tidaklah tepat. Sebagai orang-orang Kristen, kita mempunyai tanggung jawab satu sama lain, dan jika teladan kita dapat menyesatkan seseorang, kita layak dipersalahkan. Teladan apakah yang Anda tunjukkan? Apakah Anda merasa nyaman melihat bagaimana orang lain, khususnya orang muda atau orang yang baru bertobat, mengikuti teladan Anda dalam segala hal? Apakah yang dikatakan jawaban Anda tentang diri Anda? 153

Rabu
PEMELIHArAAN HArI-HArI

22 September

Dalam pembahasan tentang tidak menghakimi orang lain yang boleh jadi mempunyai penilaian berbeda dari kita, dan tidak menjadi batu sandungan kepada orang lain yang mungkin tersinggung oleh tindakan kita, Paulus menyinggung juga masalah hari-hari khusus yang dipelihara oleh sebagian orang dan orang lain tidak. Baca roma 14:4-10. Bagaimanakah kita memahami apa yang Paulus katakan di sini? Apakah ayat ini berkaitan dengan perintah keempat? Jika tidak, mengapa? Tentang hari apakah Paulus berbicara? Apakah ada pertentangan di gereja mula-mula mengenai memelihara atau tidak memelihara hari-hari tertentu? Tampaknya begitu. Ada petunjuk bagi kita tentang pertentangan itu dalam Galatia 4:9, 10, di mana Paulus menegur keras umat Kristen Galatia dalam memelihara “hari-hari tertentu, bulan-bulan, masa-masa yang tetap dan tahun-tahun.” Sebagaimana kita lihat dalam pelajaran 2, beberapa orang di jemaat itu telah membujuk orang-orang Kristen Galatia untuk disunat dan memelihara aturan-aturan hukum Musa. Paulus takut jika gagasan-gagasan ini bisa membahayakan jemaat Roma juga. Tetapi mungkin di Roma orang-orang Kristen Yahudilah yang meyakinkan diri mereka bahwa mereka tidak perlu lagi memelihara upacara-upacara Yahudi. Di sini Paulus berkata, Lakukanlah seperti yang kalian ingin dalam hal ini, yang penting janganlah menghakimi mereka yang melihat hal ini berbeda dari yang kamu lihat. Beberapa orang Kristen, tampaknya, agar berada dalam posisi aman, memutuskan untuk memelihara satu atau beberapa hari raya Yahudi. Nasihat Paulus adalah, Biarkan mereka lakukan itu, jika mereka yakin harus melakukannya. Untuk menempatkan Sabat mingguan dalam Roma 14:5, sebagaimana dikemukakan sebagian orang, tidaklah tepat. Dapatkah Paulus menganjurkan sikap bertentangan terhadap perintah keempat? Sebagaimana yang telah kita lihat sebelumnya, Paulus sangat menekankan penurutan pada hukum, jadi tentu saja dia tidak akan menempatkan perintah Sabat dalam kategori yang sama sebagaimana yang dilakukan mereka yang terlalu ketat dalam hal makanan yang sudah dipersembahkan kepada berhala. Namun demikian pada umumnya ayat-ayat ini digunakan sebagai contoh untuk menunjukkan bahwa Sabat hari ketujuh sudah tidak lagi berlaku, padahal bukan itu maknanya. Ayat-ayat ini digunakan sebagai satu contoh utama dari yang diamarkan Petrus tentang yang dilakukan oleh banyak orang dengan tulisan-tulisan Paulus: “Hal itu dibuatnya dalam semua suratnya, apabila ia berbicara tentang perkara-perkara ini. Dalam surat-suratnya itu ada hal-hal yang sukar dipahami, sehingga orang-orang yang tidak memahaminya dan yang tidak teguh imannya, memutarbalikkannya menjadi kebinasaan mereka sendiri.” (2 Ptr. 3:16). Apakah pengalaman Anda selama ini dengan Sabat? Apakah itu telah menjadi berkat seperti yang dimaksudkan? Perubahan apakah yang dapat Anda buat untuk mengalami lebih penuh apa yang Allah tawarkan dalam hari Sabat?

154

Kamis
DOA BErKAT YANg TEPAT

23 September

Baca roma 15:1-3. Kebenaran Kristen penting apakah yang terdapat dalam ayat-ayat ini? Dalam hal apakah ayat-ayat ini menyatakan dengan jelas makna menjadi seorang pengikut Yesus? Ayat-ayat lain manakah yang mengajarkan hal yang sama? Terlebih penting, bagaimanakah Anda secara pribadi menghidupkan prinsip ini? ________________________________________________________________ ______________________________________________________________ Sementara Paulus mulai menutup surat ini, ucapan-ucapan berkat apakah yang disampaikannya? Rm. 15:5, 6, 13, 33. Allah yang panjang sabar artinya Allah yang menolong anak-anak-Nya untuk terus-menerus tabah. Kata untuk “kesabaran” hymomone, berarti “tabah,” “ketekunan yang tetap.” Kata untuk “penghiburan” bisa juga diterjemahkan “peneguhan hati.” Allah sumber keteguhan hati adalah Allah yang memberi keteguhan hati. Allah pengharapan adalah Allah yang telah memberikan pengharapan bagi manusia. Demikian juga, Allah damai sejahtera adalah Allah yang memberikan damai sejahtera dan di dalam-Nya kita memperoleh damai sejahtera. Betapa suatu ucapan berkat dalam sebuah surat yang tema utamanya adalah pembenaran oleh iman—keteguhan hati, pengharapan, damai sejahtera! Dunia kita sekarang ini sangat membutuhkan hal-hal tersebut. Setelah sejumlah salam pribadi, bagaimanakah Paulus menutup suratnya? Roma 16:25-27. Paulus mengakhiri suratnya dengan suatu ungkapan pujian pada Allah. Yaitu Allah yang di dalam-Nya orang-orang Kristen di Roma, dan semua orang Kristen, dapat dengan aman menaruh percaya mereka untuk memastikan posisi mereka sebagai anak-anak tebusan Allah, dibenarkan oleh iman dan kini dituntun oleh Roh Allah. Paulus digetarkan untuk menjadi jurukabar berita mulia ini. Dia menyebut berita ini “Injilku.” Yang dimaksudkannya adalah Injil yang dikabarkannya. Tetapi apa yang dikhotbahkannya telah diteguhkan oleh khotbah Yesus dan pekabaran para nabi. Itu adalah rahasia, bukan karena Allah tidak mau manusia mengetahuinya, melainkan karena manusia menolak terang dari surga, mencegah Allah memberikan mereka terang selanjutnya. Selain itu, ada beberapa aspek dari rencana itu yang tidak dapat dimengerti oleh manusia hingga Mesias datang dalam rupa manusia. Dia memberikan satu pertunjukan bukan saja seperti apa Allah itu tetapi juga apa jadinya manusia oleh berpegang pada kuasa Ilahi. Jenis kehidupan yang baru ditandai dengan “ketaatan iman”; yaitu, penurutan yang bersumber dari iman dalam Tuhan, yang melalui kasih karunia membenarkan orang-orang berdosa oleh kebenaran yang diberikan kepada semua orang yang mau memintanya bagi diri mereka. 155

Jumat

24 September

PELAJArI SELANJuTNYA: Baca Ellen G. White, “Unity and Love in the Church,” hlm. 477, 478; “Love for the Erring,” hlm. 604-606, dalam Testimonies for the Church, jld. 5; “Menolong yang Tergoda,” hlm. 137, dalam Membina Keluarga Sehat, dan halaman 719 dalam The SDA Bible Commentary, jld. 6. “Kepada saya ditunjukkan bahaya mengancam umat Allah dalam melihat pada Saudara dan Saudari White dan menyangka bahwa mereka harus datang kepada kami dengan beban-beban mereka dan meminta nasihat kepada kami. Janganlah kiranya seperti itu. Umat Allah diundang oleh Juruselamat mereka yang penuh belas kasihan dan kasih untuk datang kepada-Nya, bila mereka letih lesu dan berbeban berat, dan Dia akan melegakan mereka. . . . Banyak yang datang kepada kami dengan pertanyaan: Apakah saya harus lakukan ini? Apakah saya harus terlibat dalam urusan ini? Atau, dalam hal pakaian, apakah saya harus menggunakan potongan ini atau itu? Saya jawab mereka: Kamu mengaku sebagai murid-murid Kristus. Pelajari Alkitabmu. Baca dengan cermat dan penuh doa tentang kehidupan Juruselamat terkasih kita pada waktu Dia tinggal di antara manusia di atas bumi ini. Tirulah hidup-Nya, dan kamu tidak akan didapati menyimpang dari jalan yang sempit itu. Kami sama sekali menolak untuk menjadi hati nurani bagi kamu. Jika kami mengatakan pada kamu apa yang harus kamu lakukan, kamu akan berharap pada kami untuk menuntun kamu, gantinya kamu sendiri langsung datang pada Yesus.” —Ellen G. White, Testimonies for the Church, jld. 2, hlm. 118, 119. “Tetapi jangan hendaknya kita memindahkan tanggung jawab kewajiban kita kepada orang lain, dan menunggu mereka mengatakan kepada kita apa yang harus kita lakukan. Kita tidak boleh bergantung mengharapkan nasihat manusia. Tuhan akan mengajarkan kewajiban kita kepada kita sama relanya seperti Ia mau mengajar orang lain . . . . Mereka yang memutuskan tidak berbuat apa-apa dalam hal apa pun yang tidak menyenangkan Allah, akan mengetahui, sesudah menyampaikan persoalan mereka di hadapan-Nya, jalan mana yang harus ditempuh.”—Ellen G. White, Alfa dan Omega, jld. 6, hlm. 310. “Masih ada orang di dalam sidang yang tetap cenderung kepada kebebasan pribadi. Mereka tampaknya belum sanggup untuk menyadari bahwa kebebasan roh akan cenderung untuk memimpin umat manusia kepada banyak kepercayaan diri sendiri dan untuk mempercayakan pertimbangannya sendiri daripada menghormati nasihat dan menghargai setinggi-tingginya pertimbangan saudara-saudaranya.”— Ellen G. White, Alfa dan Omega, jld. 7, hlm. 139

Dengan tema sepanjang pekan ini, bagaimanakah kita sebagai orangorang Kristen menemukan keseimbangan yang tepat dalam: n Setia pada apa yang kita percaya, namun tidak menghakimi orang lain yang melihat sesuatu berbeda dengan yang kita lihat? o Setia pada hati nurani kita sendiri dan tidak berusaha menjadi hati nurani bagi orang lain, sementara dalam waktu yang sama berusaha menolong orang lain yang kita yakini sedang berada dalam kesalahan? Kapankah kita berbicara dan kapankah kita harus berdiam diri? Kapankah kita patut dipersalahkan jika kita berdiam diri? p Merdeka dalam Tuhan namun tetap menyadari tanggung jawab kita menjadi teladan yang baik bagi mereka yang menghormati kita? 156

PErTANYAAN-PErTANYAAN uNTuK DISKuSI:

PENuNTuN guru 13
Ringkasan Pelajaran Ayat Inti: Roma 15:5.

Anggota Kelas Akan:

¾ Mengetahui: Menjelaskan pentingnya mengajak setiap orang mengikuti kehendak Allah sebaik yang diketahuinya, sementara pada saat yang sama peka terhadap pengaruh tindakan-tindakan kita terhadap orang lain di sekeliling kita. ¾ Merasakan: Menghargai kesatuan kita dengan Kristus sebagai satu prinsip yang memberitahu kita akan ketergantungan kita pada-Nya dan satu sama lain. ¾ Melakukan: Melakukan apa saja yang memberi damai dan membangun tubuh Kristus.

garis Besar Pelajaran:

I. Mengetahui: Bersatu dalam Keragaman A. Sementara masing-masing kita mungkin saja mempunyai satu pemahaman yang berbeda tentang apa yang Allah mau kita lakukan, mengapa kita harus menerima dan menguatkan satu sama lain dalam mengikuti kata hati kita masing-masing dan rela belajar dari satu sama lain? B. Apa sajakah perbedaan yang muncul bila anggota-anggota jemaat mengikuti kata hati mereka dalam menuruti Allah? C. Bagaimanakah perbedaan-perbedaan ini membawa pada perpecahan, dan bagaimanakah perbedaan yang sama membawa pada pertumbuhan? II. Merasakan: Menghargai Satu Sama Lain A. Sekalipun penting untuk mengikuti kata hati masing-masing, mengapakah kita juga harus sensitif terhadap hal-hal yang kita buat yang bisa mempengaruhi orang lain? B. Bagaimanakah kita bersikap dengan anggota-anggota jemaat yang mengungkapkan keprihatinan mereka terhadap gaya hidup atau tindakan-tindakan kita atau atas perbedaan-perbedaan dengan kita dalam hal-hal rohani? III. Melakukan: A. Bagaimanakah kita bisa mengembangkan satu roh kesatuan di kalangan umat percaya yang berbeda dalam banyak hal?

rANgKuMAN: Sekalipun kita mempunyai perbedaan-perbedaan dalam pemahaman kita akan tugas kita terhadap Allah, bilamana kita memupuk penerimaan dan rasa hormat serta belajar dari satu sama lain, sebagai hasilnya kita akan menjadi lebih dekat satu sama lain. 157

Langkah Belajar

LANGKAH 1—Motivasi
Konsep Utama UntUK pertUmbUhan rohani: Orang-orang percaya bisa saja sepakat dalam prinsip-prinsip Alkitab tetapi berseberangan dalam metodemetode menghidupkan prinsip-prinsip itu. Dalam kasus seperti itu, kasih karunia dan pengertian harus ditempatkan lebih tinggi daripada sifat menghakimi dan menghukum. Karena Roma adalah sebuah wajan pencampuran, tidak mengejutkan bila berbagai latar belakang umat percaya menuntun pada pemahaman yang berbeda tentang kehidupan Kristen. Sementara orang-orang Kristen Yahudi dan bangsa lain sama-sama berserah kepada Yesus sebagai Juruselamat mereka, budaya bawaan mereka mempengaruhi sedikit banyaknya ketegangan bilamana kedua kelompok itu berusaha untuk menghidupkan komitmen mereka. Majelis Yerusalem (Kisah 15) adalah satu usaha untuk menyelesaikan perselisihan antara kedua kelompok; tetapi fakta bahwa kitab Roma ditulis beberapa tahun kemudian membuktikan sulitnya mengatasi perbedaan-perbedaan tersebut. Jika jemaat mula-mula, yang paling dekat dengan masa Kristus hidup di dunia ini, mempunyai kesulitan-kesulitan ini, haruskah kita terkejut bilamana jemaat-jemaat sekarang ini berusaha untuk hidup selaras? Apakah jemaat Anda mempunyai berbagai kelompok suku? Bagaimanakah jemaat menggabungkan kekuatan-kekuatan tersebut? Apakah keragaman telah menghasilkan ketidakselarasan? Usia adalah satu faktor yang sering memecah jemaat. Para ahli sosial bahkan berbicara tentang budaya orang muda seakan-akan itu adalah satu unsur tersendiri, yang membungkus berbagai nilai, pola-pola sosial, dan bahasa. Apakah interaksi selaras antara berbagai kelompok usia terjadi dalam jemaat Anda? Apakah peperangan budaya meletus karena selera musik, pemeliharaan Sabat, dan metode penginjilan? Bilamana orang-orang Kristen tidak selaras, bagaimanakah perbedaan-perbedaan bisa diatasi—perpecahan jemaat, pertikaian sengit, perkataan yang menghakimi? Mungkin pengertian, pikiran terbuka, mendengar dengan belas kasihan, serta fleksibilitas adalah ciri khas jemaat Anda. Berbahagialah mereka yang telah mengalami keharmonisan dan bukannya percekcokan. Setelah meletakkan dasar teologi yang umum, Paulus kini menyinggung perbedaan-perbedaan budaya dalam praktik yang mengancam terjadinya keretakan jemaat. KeGiatan: Bawa sebuah wadah kaca transparan untuk diisi. Pertama, isi wadah itu dengan batu-batu yang besar. Tanya, Apakah wadah ini sudah penuh? Tentu orang akan menjawab, “penuh.” Kemudian ambillah kantong pasir yang Anda sembunyikan, tuangkan ke dalam wadah itu. Tanya apakah wadah itu sudah penuh. Harapkan jawaban yang tegas, sekalipun sebagian ragu karena telah terbukti salah jawab. Kemudian keluarkan botol air yang Anda sembunyikan dan isi lagi wadah itu. 158

DisKUsiKan: Bagaimanakah kegiatan ini dengan jelas menggambarkan pentingnya berpikiran terbuka dan kreatif dalam pendekatan kita terhadap pekerjaan Allah? Mengapa harus selalu ada tempat yang tersedia bagi ide-ide serta metode-metode baru selain konsep-konsep lama?

LANGKAH 2—Selidiki
KhUsUs UntUK GUrU: Para pakar intelektual sering mengajukan skemaskema besar yang justru ambruk dalam kegagalan-kegagalan yang lebih besar lagi setelah diuji oleh keadaan-keadaan dunia nyata. Dapatkah teologi Paulus bertahan menghadapi panas dunia nyata dari lingkaran api budaya? Medan perang ini adalah sebuah lahan tambang yang siap diledakkan! Bagaimanakah para pemimpin jemaat memfasilitasi penyembuhan dan perdamaian bila perselisihan meletus di tengah-tengah orang-orang percaya? Komentar Alkitab I. Saudara yang Lemah (Baca Roma 14:1-4 bersama anggota kelas Anda). Begitu banyak keputusan tentang beragam pilihan gaya hidup dibuat setiap hari. Orang-orang Kristen percaya bahwa tidak ada keputusan yang tidak penting, karena keberadaan mereka sepenuhnya berada dalam kepemilikan Kristus. Orang-orang Kristen juga hidup dalam masyarakat; jadi, paham isolasi tidak mungkin dipegang. Apakah yang terjadi bilamana standar-standar yang berbeda serta perselisihan tentang praktik Kekristenan terjadi di kalangan orang percaya? Sayangnya, satu pilihan yang tak berterima muncul terlalu sering—mengecilkan pilihan-pilihan yang saksama. Orang-orang sezaman Paulus bergumul dalam hal makanan yang telah dipersembahkan pada berhala dan pemeliharaan berbagai Sabat upacara. Orang-orang Advent dewasa ini berdebat hal-hal yang serupa—pola makan, pakaian yang berkenan, pemeliharaan Sabat yang benar, pernikahan antar suku, pilihan-pilihan musik. Mandat dan pedoman Ilahi kadang ditafsirkan berbeda-beda, tetapi sering debat terjadi tentang hal-hal yang tidak dengan jelas dibahas dalam Alkitab. Kasus-kasus ini bukannya tidak penting, dan orang-orang percaya memperhitungkan prinsip-prinsip dari Alkitab untuk menuntun pengambilan keputusan mereka tentang berbagai teknologi yang marak dan perbedaan-perbedaan budaya yang bermunculan. Tentu saja amaran harus diberikan untuk mencegah kesimpulan pada dua sisi yang salah. Sisi pertama adalah membayangkan bahwa Alkitab disampaikan secara langsung untuk situasi budaya mana pun. Kedua adalah percaya dengan naif bahwa Alkitab tidak ada kaitannya dengan situasi-situasi tersebut. Belajar prinsip-prinsip Alkitabiah dengan penuh doa, di bawah tuntunan Ilahi, telah melepaskan gereja dari perpecahan sepanjang sejarah Kristen. Namun, apakah orang-orang percaya yang teliti dengan hal-hal kecil harus dianggap rendah oleh sesama orang Kristen karena tidak sanggup menerima hal-hal tertentu dengan hati nurani mereka? “Tidak,” kata Paulus. Orang yang lemah pun tidak boleh menghakimi mereka yang dengan hati nuraninya mempunyai pandangan berbeda. 159

Orang-orang Kristen tidak boleh seenaknya berkompromi dalam hal-hal yang dengan jelas diatur dan dibahas dalam Alkitab. Mereka harus mengakui bahwa kebanyakan keputusan yang dibuat setiap hari tidak termasuk dalam kategori ini. Umat percaya harus dengan rendah hati dan doa menghampiri Allah memohon hikmat untuk mengetahui perbedaannya. Semua budaya telah dicemari dosa. Umat percaya tidak dipaksa untuk menerima materialisme Barat ataupun praktik-praktik jimat orang kepulauan karena semua itu dicap sebagai budaya. Mempertahankan praktik-praktik atas dasar budaya saja tidaklah memadai. Allah mengharapkan standar yang lebih tinggi. Namun, mempersalahkan praktik-praktik budaya atas dasar budaya saja juga sama-sama tidak dapat dipertahankan. pertimbanGKan: Bagaimanakah orang-orang Kristen yang bersikap hatihati menghadapi sesama umat percaya yang mempraktikkan iman mereka secara berbeda? Apakah yang biasanya terjadi bila umat percaya mempersalahkan/menghukum orang-orang Kristen yang berpikiran berbeda? Bagaimanakah umat percaya menentukan mana dasar Injil yang tidak bisa ditawar-tawar dan manakah yang berdasarkan pada pilihan? Bagaimanakah umat percaya bereaksi bilamana anggota-anggota yang angkuh menganggap remeh mereka? II. Dengan ukuran yang Kamu Pakai (Baca kembali Roma 14:10 bersama anggota kelas Anda). Roma 14:10 dapat digambarkan sebagai kartu truf Paulus. Bagi pembaca yang tidak teryakinkan prinsip ini adalah sangat mendasar: hakimi orang lain dengan sengit dan penghakiman Ilahi akan menimpa kamu dalam cara dan ukuran yang sama (lihat Matius 7:1-4). Sebaliknya, mereka yang dengan rendah hati mendekati perbedaan-perbedaan pendapat dalam hal-hal yang bisa diperdebatkan, yang menggunakan sikap penuh belas kasihan, dapat menerima belas kasihan pada hari pertanggungjawaban mereka. pertimbanGKan: Bagaimanakah Roma 14:10-12 berkaitan dengan Matius 6:14, 15? Dapatkah orang-orang Kristen teguh dan tidak berkompromi, tetapi juga tidak suka mengritik dan menghakimi? III. Tidak Menyinggung (Baca kembali Roma 14:15-23 bersama anggota kelas Anda). Pengaruh manusia adalah tanggung jawab kita. Kita bertanggung jawab atas pengaruh kita pada orang lain. Bagaimanakah bisa seorang Kristen dengan enteng melalaikan tanggung jawab ini sementara itu berpengaruh besar dalam nasib kekal seseorang yang lain? Manakah yang harus lebih penting—keselamatan kekal orang itu ataukah menjalankan kebebasan Kristen saya? Prinsip tanggung jawab pribadi tidak melarang kita menolong mereka yang lemah, memberitahu hati nurani mereka tentang kebebasan Kristen, tetapi ada amaran agar kita tidak dengan angkuh melalaikan perasaan mereka. Berdasarkan pembahasan ini, 160

pertimbangkan situasi berikut ini. Yonatan mendengar rumah makan Frederik membuat salad terbaik di kotanya. Sekalipun dia tidak pernah meneguk minuman keras, dia tahu bahwa rumah makan Frederik juga mempunyai reputasi di kota itu sebagai tempat mangkal para pemabuk. Itu sebabnya dia makan di rumah makan Dominik. Apakah makan di rumah makan Frederik “berdosa?” Tidak. Apakah makan di rumah makan Dominik mungkin lebih baik? pertimbanGKan: Apakah prinsip ini memberikan pada anggota-anggota yang lebih “konservatif” pengaruh yang tidak pantas? Jika kita punya “hati nurani yang lebih konservatif,” bagaimanakah kita dapat menghindar membuat orang lain merasa “gelisah?”

LANGKAH 3—Terapkan
KhUsUs UntUK GUrU: Pilih satu atau lebih dari situasi kehidupan berikut ini dan bahas bagaimana prinsip-prinsip dalam Roma 14 dan 15 diterapkan. Bagaimanakah umat percaya menjadikan dunia mereka lebih berprinsip dan toleran dalam waktu yang sama? KeGiatan: Baca kedua cerita berikut ini: A. Adoniah dibesarkan dalam rumah tangga yang konservatif yang ditandai dengan pakaian sederhana, pemeliharaan Sabat yang ketat, dan sekolah rumah. Setelah menyelesaikan sekolah menengah, dia berencana masuk sebuah “lembaga” mandiri karena orangtuanya merasa perguruan-perguruan tinggi Advent terlalu duniawi. Namun demikian, dia mendaftar juga karena dia mau menjadi arsitek dan tidak ada jurusan itu di lembaga mandiri tersebut. Paling tidak, pikirnya, universitas Advent kurang duniawi dibandingkan dengan universitas pemerintah. Begitu senangnya dia saat mendapati satu kelompok teman-teman konservatif di universitas Advent itu. Satu Sabat, sebelum ujian akhir, dia dan tujuh orang muda lainnya mengunjungi sebuah danau kecil di pegunungan yang dikelilingi oleh suatu ruas jalan. Setelah mendaki setengah jalan, salah seorang temannya mengusulkan agar mereka berenang menyeberangi danau itu untuk menyejukkan diri yang telah berkeringat. Adoniah terkejut karena teman-teman yang konservatif mau melakukan hal itu, karena dia pikir bahwa berenang pada hari Sabat adalah dosa. Bagaimanakah mengatasi situasi ini? B. Juanita menjadi anggota gereja tiga tahun lalu. Dia menjadi sangat aktif dalam memenangkan jiwa dan baru-baru ini membawa Petra tetangganya ke gereja selama tiga Sabat berturut-turut. Juanita mengatakan pada Petra bahwa pada Sabat keempat setiap bulan ada makan malam bersama, tetapi tidak pernah menyangka bahwa Petra akan membawa sesuatu. Petra merasa berterima di keluarga gereja baru ini dan dia mau menyumbangkan sesuatu untuk makan malam itu, dan dia pun menyediakan resep istimewa keluarganya. Ketika Helen, kepala dapur gereja, melihat ayam dan kue-kue bola, dia hampir saja marah. 161

(Ada satu peraturan tak tertulis bahwa makan di gereja harus murni vegetaris). Dia menarik Juanita keluar dari ruang makan itu ke dapur untuk memarahinya secara langsung. Bagaimanakah mengatasi situasi ini? pertanyaan renUnGan: Peran apakah yang sistem pendidikan kita mainkan dalam mengembangkan kepekaan, toleransi, dan belas kasihan?

LANGKAH 4—Ciptakan
KhUsUs UntUK GUrU: Semangat Paulus melihat satu jemaat yang bersatu dalam mengabarkan Injil kemerdekaan dalam Kristus harus ditiru oleh generasi kita. Dialog tentang hal-hal praktis sangat berguna; pertikaian tidak ada faedahnya. KeGiatan: Tuliskan satu lagu baru yang menekankan tema-tema persahabatan, toleransi, dan pengorbanan diri Kristen dalam konteks pelajaran ini; atau baca/nyanyikan Adventist Hymnal no. 353. Katakan apa rencana Anda untuk menghidupkan tema-tema kedua lagu itu dalam beberapa bulan ke depan.

162

Januari ❍ 1 Kej. 1, 2, 3 ❍ 2 Kej. 4, 5, 6, 7 ❍ 3 Kej. 8, 9, 10, 11 ❍ 4 Kej. 12, 13, 14, 15 ❍ 5 Kej. 16, 17, 18, 19 ❍ 6 Kej. 20, 21, 22 ❍ 7 Kej. 23, 24, 25 ❍ 8 Kej. 26, 27 ❍ 9 Kej. 28, 29, 30 ❍ 10 Kej. 31, 32, 33 ❍ 11 Kej. 34, 35, 36 ❍ 12 Kej. 37, 38, 39 ❍ 13 Kej. 40, 41, 42 ❍ 14 Kej. 43, 44, 45 ❍ 15 Kej. 46, 47 ❍ 16 Kej. 48, 49, 50 ❍ 17 Kel. 1, 2, 3, 4 ❍ 18 Kel. 5, 6, 7, 8 ❍ 19 Kel. 9, 10, 11 ❍ 20 Kel. 12, 13 ❍ 21 Kel. 14, 15 ❍ 22 Kel. 16, 17 ❍ 23 Kel. 18, 19, 20 ❍ 24 Kel. 21, 22, 23 ❍ 25 Kel. 24, 25, 26, 27 ❍ 26 Kel. 28, 29 ❍ 27 Kel. 30, 31 ❍ 28 Kel. 32, 33 ❍ 29 Kel. 34, 35, 36 ❍ 30 Kel. 37, 38 ❍ 31 Kel. 39, 40 Februari ❍ 1 Im. 1, 2, 3, 4 ❍ 2 Im. 5, 6, 7 ❍ 3 Im. 8, 9, 10 ❍ 4 Im. 11, 12 ❍ 5 Im. 13, 14 ❍ 6 Im. 15, 16 ❍ 7 Im. 17, 18, 19 ❍ 8 Im. 20, 21, 22 ❍ 9 Im. 23, 24, 25 ❍ 10 Im. 26, 27 ❍ 11 Bil. 1, 2, 3 ❍ 12 Bil. 4, 5, 6 ❍ 13 Bil. 7, 8 ❍ 14 Bil. 9, 10, 11 ❍ 15 Bil. 12, 13, 14 ❍ 16 Bil. 15, 16

❍ 17 Bil. 17, 18, 19 ❍ 18 Bil. 20, 21 ❍ 19 Bil. 22, 23, 24 ❍ 20 Bil. 25, 26, 27 ❍ 21 Bil. 28, 29, 30 ❍ 22 Bil. 31, 32 ❍ 23 Bil. 33, 34 ❍ 24 Bil. 35, 36 ❍ 25 Ul. 1, 2, 3 ❍ 26 Ul. 4, 5, 6 ❍ 27 Ul. 7, 8, 9 ❍ 28 Ul. 10, 11, 12 Maret ❍ 1 Ul. 13, 14, 15, 16 ❍ 2 Ul. 17, 18, 19 ❍ 3 Ul. 20, 21, 22 ❍ 4 Ul. 23, 24, 25 ❍ 5 Ul. 26, 27, 28 ❍ 6 Ul. 29, 30, 31 ❍ 7 Ul. 32, 33, 34 ❍ 8 Yos. 1, 2, 3, 4 ❍ 9 Yos. 5, 6, 7, 8 ❍ 10 Yos. 9, 10, 11, 12, 13 ❍ 11 Yos. 14, 15, 16, 17 ❍ 12 Yos. 18, 19, 20, 21 ❍ 13 Yos. 22, 23, 24 ❍ 14 Hak. 1, 2, 3 ❍ 15 Hak. 4, 5 ❍ 16 Hak. 6, 7, 8 ❍ 17 Hak. 9, 10 ❍ 18 Hak. 11, 12 ❍ 19 Hak. 13, 14, 15, 16 ❍ 20 Hak. 17, 18, 19 ❍ 21 Hak. 20, 21 ❍ 22 Rut ❍ 23 1 Sam. 1, 2, 3 ❍ 24 1 Sam. 4, 5, 6 ❍ 25 1 Sam. 7, 8, 9, 10 ❍ 26 1 Sam. 11, 12, 13 ❍ 27 1 Sam. 14, 15, 16 ❍ 28 1 Sam. 17, 18, 19 ❍ 29 1 Sam. 20, 21, 22, 23 ❍ 30 1 Sam. 24, 25, 26, 27 ❍ 31 1 Sam. 28, 29, 30, 31 April ❍ 1 2 Sam. 1, 2, 3, 4 ❍ 2 2 Sam. 5, 6, 7 ❍ 3 2 Sam. 8, 9, 10 ❍ 4 2 Sam. 11, 12

Alkitab telah menginspirasikan pengharapan kepada jutaan orang sepanjang zaman. Alkitab mengangkat roh kita, menguatkan hati kita, dan menyegarkan jiwa kita. Sementara saudara memulai suatu perjalanan rohani yang baru dengan pendalaman Alkitab harian, saudara sedang bersatu dengan umat percaya seluruh dunia. Roh Kudus akan menjamah saudara ketika saudara membaca Firman Allah setiap hari.

Mintalah Dia menyatakan kehendak-Nya bagi hidupmu sementara Anda membaca. Anda akan merasakan kehadiran-Nya dan mengalami kasih-Nya dengan cara yang baru dan menakjubkan.
General Conference of Seventh-day Adventists, 12501 Old Columbia Pike, Silver Spring, MD 20904, USA. 163

❍ 5 2 Sam. 13, 14 ❍ 6 2 Sam. 15, 16, 17 ❍ 7 2 Sam. 18, 19 ❍ 8 2 Sam. 20, 21 ❍ 9 2 Sam. 22, 23, 24 ❍ 10 1 Raj. 1, 2 ❍ 11 1 Raj. 3, 4 ❍ 12 1 Raj. 5, 6 ❍ 13 1 Raj. 7, 8 ❍ 14 1 Raj. 9, 10 ❍ 15 1 Raj. 11, 12 ❍ 16 1 Raj. 13, 14 ❍ 17 1 Raj. 15, 16 ❍ 18 1 Raj. 17, 18, 19 ❍ 19 1 Raj. 20, 21 ❍ 20 1 Raj. 22; 2 Raj. 1 ❍ 21 2 Raj. 2, 3 ❍ 22 2 Raj. 4, 5 ❍ 23 2 Raj. 6, 7, 8 ❍ 24 2 Raj. 9, 10, 11 ❍ 25 2 Raj. 12, 13, 14 ❍ 26 2 Raj. 15, 16, 17 ❍ 27 2 Raj. 18, 19 ❍ 28 2 Raj. 20, 21 ❍ 29 2 Raj. 22, 23 ❍ 30 2 Raj. 24, 25

❍ 23 Ezra 4, 5, 6 ❍ 24 Ezra 7, 8, 9, 10 ❍ 25 Neh. 1, 2, 3, 4 ❍ 26 Neh. 5, 6, 7, 8 ❍ 27 Neh. 9, 10, 11 ❍ 28 Neh. 12, 13 ❍ 29 Ester 1, 2, 3, 4 ❍ 30 Ester 5, 6, 7 ❍ 31 Ester 8, 9, 10

Juni ❍ 1 Ayub 1, 2 ❍ 2 Ayub 3, 4, 5 ❍ 3 Ayub 6, 7 ❍ 4 Ayub 8, 9, 10 ❍ 5 Ayub 11, 12, 13, 14 ❍ 6 Ayub 15, 16, 17 ❍ 7 Ayub 18, 19 ❍ 8 Ayub 20, 21 ❍ 9 Ayub 22, 23, 24 ❍ 10 Ayub 25, 26, 27, 28 ❍ 11 Ayub 29, 30, 31 ❍ 12 Ayub 32, 33, 34 ❍ 13 Ayub 35, 36, 37 ❍ 14 Ayub 38, 39, 40, 41, 42 ❍ 15 Mzm. 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9 ❍ 16 Mzm. 10, 11, 12, 13, 14, Mei 15, 16, 17 ❍ 1 1 Taw. 1, 2, 3 ❍ 17 Mzm. 18, 19, 20, 21, 22 ❍ 2 1 Taw. 4, 5, 6 ❍ 18 Mzm. 23, 24, 25, 26, 27, ❍ 3 1 Taw. 7, 8, 9 28 29, 30 ❍ 4 1 Taw. 10, 11, 12 ❍ 19 Mzm. 31, 32, 33, 34, 35 A g u s t u s ❍ 5 1 Taw. 13, 14, 15, 16 ❍ 20 Mzm. 36, 37, 38, 39 ❍ 1 Yes. 34, 35, 36, 37 ❍ 6 1 Taw. 17, 18, 19, 20 ❍ 21 Mzm. 40, 41, 42, 43, 44, 45 ❍ 2 Yes. 38, 39, 40 ❍ 7 1 Taw. 21, 22, 23, 24 ❍ 22 Mzm. 46, 47, 48, 49, 50 ❍ 3 Yes. 41, 42, 43, 44 ❍ 8 1 Taw. 25, 26, 27 ❍ 23 Mzm. 51, 52, 53, 54, 55 ❍ 4 Yes. 45, 46, 47, 48 ❍ 9 1 Taw. 28, 29 ❍ 24 Mzm. 56, 57, 58, 59, 60, 61 ❍ 5 Yes. 49, 50, 51 ❍ 10 2 Taw. 1, 2, 3, 4 ❍ 25 Mzm. 62, 63, 64, 65, 66, 67 ❍ 6 Yes. 52, 53, 54, 55 ❍ 11 2 Taw. 5, 6, 7 ❍ 26 Mzm. 68, 69, 70, 71 ❍ 7 Yes. 56, 57, 58 ❍ 12 2 Taw. 8, 9 ❍ 27 Mzm. 72, 73, 74, 75, 76, 77 ❍ 8 Yes. 59, 60, 61, 62 ❍ 13 2 Taw. 10, 11, 12, 13 ❍ 28 Mzm. 78, 79, 80 ❍ 9 Yes. 63, 64, 65, 66 ❍ 14 2 Taw. 14, 15, 16 ❍ 29 Mzm. 81, 82, 83, 84, 85 ❍ 10 Yer. 1, 2, 3 ❍ 15 2 Taw. 17, 18, 19, 20 ❍ 30 Mzm. 86, 87, 88, 89 ❍ 11 Yer. 4, 5, 6 ❍ 16 2 Taw. 21, 22, 23 ❍ 12 Yer. 7, 8, 9 ❍ 17 2 Taw. 24, 25 Juli ❍ 13 Yer. 10, 11, 12, 13 ❍ 18 2 Taw. 26, 27, 28 ❍ 1 Mzm. 90, 91, 92, 93, 94, ❍ 14 Yer. 14, 15, 16 ❍ 19 2 Taw. 29, 30, 31 95, 96, 97, 98, 99 ❍ 15 Yer. 17, 18, 19 ❍ 20 2 Taw. 32, 33 ❍ 2 Mzm. 100, 101, 102, 103, ❍ 16 Yer. 20, 21, 22, 23 ❍ 21 2 Taw. 34, 35, 36 104, 105 ❍ 17 Yer. 24, 25, 26 ❍ 22 Ezra 1, 2, 3 ❍ 3 Mzm. 106, 107, 108, 109, 110 ❍ 18 Yer. 27, 28, 29

❍ 4 Mzm. 111, 112, 113, 114, 115, 116, 117, 118 ❍ 5 Mzm. 119 ❍ 6 Mzm. 120-134 ❍ 7 Mzm. 135, 136, 137, 138, 139 ❍ 8 Mzm. 140, 141, 142, 143, 144 ❍ 9 Mzm. 145, 146, 147, 148, 149, 150 ❍ 10 Ams. 1, 2, 3 ❍ 11 Ams. 4, 5, 6, 7 ❍ 12 Ams. 8, 9, 10, 11 ❍ 13 Ams. 12,13, 14, 15 ❍ 14 Ams. 16, 17, 18, 19 ❍ 15 Ams. 20, 21, 22, 23, 24 ❍ 16 Ams. 25, 26, 27 ❍ 17 Ams. 28, 29, 30, 31 ❍ 18 Pkh. 1, 2, 3, 4 ❍ 19 Pkh. 5, 6, 7, 8 ❍ 20 Pkh. 9, 10, 11, 12 ❍ 21 Kid. 1, 2, 3, 4 ❍ 22 Kid. 5, 6, 7, 8 ❍ 23 Yes. 1, 2, 3, 4 ❍ 24 Yes. 5, 6, 7 ❍ 25 Yes. 8, 9, 10 ❍ 26 Yes. 11, 12, 13, 14 ❍ 27 Yes. 15, 16, 17, 18, 19 ❍ 28 Yes. 20, 21, 22, 23 ❍ 29 Yes. 24, 25, 26 ❍ 30 Yes. 27, 28, 29 ❍ 31 Yes. 30, 31, 32, 33

164

❍ 19 Yer. 30, 31, 32 ❍ 20 Yer. 33, 34, 35 ❍ 21 Yer. 36, 37, 38 ❍ 22 Yer. 39, 40, 41 ❍ 23 Yer. 42, 43, 44 ❍ 24 Yer. 45, 46, 47, 48 ❍ 25 Yer. 49, 50 ❍ 26 Yer. 51, 52 ❍ 27 Ratapan ❍ 28 Yeh. 1, 2, 3 ❍ 29 Yeh. 4, 5, 6, 7 ❍ 30 Yeh. 8, 9, 10 ❍ 31 Yeh. 11, 12, 13

❍ 4 Ulangi: Perjanjian Lama ❍ 14 Kis. 24, 25, 26 berisi 39 buku dibagi atas ❍ 15 Kis. 27, 28 5 bagian: Hukum, Sejarah, ❍ 16 Rm. 1, 2, 3, 4 Puisi, Nabi Besar, dan Nabi ❍ 17 Rm. 5, 6, 7 Kecil. Beri satu judul untuk ❍ 18 Rm. 8, 9, 10 tiap buku; Mis. Kejadian, ❍ 19 Rm. 11, 12, 13 “Permulaan,” Imamat, “Hukum,” ❍ 20 Rm. 14, 15, 16 Mazmur, “Pujian.” ❍ 21 1 Kor. 1, 2, 3, 4 ❍ 5 Mat. 1, 2, 3, 4 ❍ 22 1 Kor. 5, 6, 7 ❍ 6 Mat. 5, 6, 7 ❍ 23 1 Kor. 8, 9, 10 ❍ 7 Mat. 8, 9, 10 ❍ 24 1 Kor. 11, 12, 13 ❍ 8 Mat. 11, 12, 13 ❍ 25 1 Kor. 14, 15, 16 ❍ 9 Mat. 14, 15, 16 ❍ 26 2 Kor. 1, 2, 3, 4 ❍ 10 Mat. 17, 18, 19, 20 ❍ 27 2 Kor. 5, 6, 7 September ❍ 11 Mat. 21, 22, 23 ❍ 28 2 Kor. 8, 9, 10 ❍ 1 Yeh. 14, 15, 16, 17 ❍ 12 Mat. 24, 25, 26 ❍ 29 2 Kor. 11, 12, 13 ❍ 2 Yeh. 18, 19, 20 ❍ 13 Mat. 27, 28 ❍ 30 Gal. 1, 2, 3 ❍ 3 Yeh. 21, 22, 23 ❍ 14 Mrk. 1, 2, 3 ❍ 4 Yeh. 24, 25, 26 ❍ 15 Mrk. 4, 5, 6 Desember ❍ 5 Yeh. 27, 28, 29 ❍ 16 Mrk. 7, 8, 9 ❍ 1 Gal. 4, 5, 6 ❍ 6 Yeh. 30, 31, 32 ❍ 17 Mrk. 10, 11, 12 ❍ 2 Ef. 1, 2, 3 ❍ 7 Yeh. 33, 34, 35 ❍ 18 Mrk. 13, 14 ❍ 3 Ef. 4, 5, 6 ❍ 8 Yeh. 36, 37, 38 ❍ 19 Mrk. 15, 16 ❍ 4 Filipi ❍ 9 Yeh. 39, 40, 41 ❍ 20 Luk. 1, 2 ❍ 5 Kolose ❍ 10 Yeh. 42, 43, 44 ❍ 21 Luk. 3, 4, 5 ❍ 6 1 Tesalonika ❍ 11 Yeh. 45, 46, 47, 48 ❍ 22 Luk. 6, 7, 8 ❍ 7 2 Tesalonika ❍ 12 Dan. 1,2, 3 ❍ 23 Luk. 9, 10, 11 ❍ 8 1 Timotius ❍ 13 Dan. 4, 5, 6 ❍ 24 Luk. 12, 13, 14 ❍ 9 2 Timotius ❍ 14 Dan. 7, 8, 9 ❍ 25 Luk. 15, 16, 17 ❍ 10 Titus ❍ 15 Dan. 10, 11, 12 ❍ 26 Luk. 18, 19, 20 ❍ 11 Filemon ❍ 16 Hos. 1, 2, 3, 4 ❍ 27 Luk. 21, 22 ❍ 12 Ibr. 1, 2, 3 ❍ 17 Hos. 5, 6, 7, 8, 9 ❍ 28 Luk. 23, 24 ❍ 13 Ibr. 4, 5, 6 ❍ 18 Hos. 10, 11, 12, 13, 14 ❍ 29 Yoh. 1, 2, 3 ❍ 14 Ibr. 7, 8, 9 ❍ 19 Yoel ❍ 30 Yoh. 4, 5, 6 ❍ 15 Ibr. 10, 11 ❍ 20 Amos 1, 2, 3, 4 ❍ 31 Yoh. 7, 8, 9 ❍ 16 Ibr. 12, 13 ❍ 21 Amos 5, 6, 7, 8, 9 ❍ 17 Yakobus ❍ 22 Obaja, Yunus November ❍ 18 1 Petrus ❍ 23 Mikha 1, 2, 3, 4 ❍ 1 Yoh. 10, 11 ❍ 19 2 Petrus ❍ 24 Mikha 5, 6, 7 ❍ 2 Yoh. 12, 13 ❍ 20 1 Yoh. ❍ 25 Nahum ❍ 3 Yoh. 14, 15 ❍ 21 2 Yoh., 3 Yoh., Yudas ❍ 26 Habakuk ❍ 4 Yoh. 16, 17, 18 ❍ 22 Why. 1, 2, 3 ❍ 27 Zefanya ❍ 5 Yoh. 19, 20, 21 ❍ 23 Why. 4, 5, 6 ❍ 28 Hagai ❍ 6 Kis. 1, 2, 3 ❍ 24 Why. 7, 8, 9 ❍ 29 Zakh. 1, 2, 3, 4 ❍ 7 Kis. 4, 5, 6 ❍ 25 Why. 10, 11 ❍ 30 Zakh. 5, 6, 7, 8 ❍ 8 Kis. 7, 8, 9 ❍ 26 Why. 12, 13, 14 ❍ 9 Kis. 10, 11, 12 ❍ 27 Why. 15, 16, 17 Oktober ❍ 10 Kis. 13, 14, 15 ❍ 28 Why. 18, 19 ❍ 1 Zakh. 9, 10, 11 ❍ 11 Kis. 16, 17, 18 ❍ 29 Why. 20, 21, 22 ❍ 2 Zakh. 12, 13, 14 ❍ 12 Kis. 19, 20, 21 ❍ 30 Tinjau Perjanjian Baru ❍ 3 Maleakhi ❍ 13 Kis. 22, 23 ❍ 31 Tinjau Perjanjian Lama

165

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful