P. 1
Tak Ada Tempat Untuk Sombong

Tak Ada Tempat Untuk Sombong

|Views: 267|Likes:
Published by rudysya
dalil tentang bahaya sombong
dalil tentang bahaya sombong

More info:

Published by: rudysya on Aug 12, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/10/2011

pdf

text

original

TAK ADA TEMPAT UNTUK SOMBONG Dalil: Haramnya Sombong Dalil adalah pedoman atau pegangan kita dalam

kehidupan sehari-hari maupun dalam beribadah. Dalil disebut juga hukum atau aturan. Sebagai umat Islam, tentunya Al Quran dan Sunnah menjadi dalil yang kuat untuk kita. Bila di antara golongan ada yang berselisih pendapat, kewajiban umat Islam untuk mengembalikannya lagi kepada dalil dalil ini, yaitu Quran dan Hadits. Dalil bukanlah perkataan ulama maupun ustadz, tetapi dalil adalah perintah langsung dari Allah swt. Dalam setiap permasalahan apapun suatu pendapat tanpa didukung dengan adanya dalil yang dapat memperkuat pendapatnya, maka pendapat tersebut tidak dapat dijadikan sebagai pegangan. Untuk itulah kita memerlukan Al Quran dan hadits sebagai dalil yang akan membenarkan. Sudah menjadi kewajiban umat muslim untuk mencari dan memahami masalah dalil atau hukum islam, karena jika meyakini atau melakukan sesuatu (ibadah) tanpa diketahui dalil (tuntunannya), maka kita akan jatuh pada perkara bid¶ah. Dalil yang akan diberikan kali ini adalah dalil tentang sifat takabur dan sombong. Dijelaskan dalam dalil, yaitu quran dan hadits, bahwa memiliki sifat takabur dan sombong adalah haram hukumnya.Banyak sekali dalil yang memerintahkan kita untuk tidak takabur dan sombong, baik dalam Al Quran maupun Hadits. Dalil dalil ini tentunya sah secara hukum dan wajib kita ikuti sebagai pedoman hidup kita. Dalil dalil tentang sabar ini antara lain: Dalil dari Al Quran ³Negeri akhirat itu Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak ingin menyombongkan diri dan berbuat kerusakan di (muka) bumi. Dan kesudahan (yang baik) itu adalah bagi orang-orang yang bertakwa.´ (QS. Al Qashash:83) ³Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri. ³ (QS. Luqman:18) Dalil yang diambil dari surat Al Qashash:83 menjelaskan bahwa sorga adalah tempatnya orangorang yang tidak sombong. Dan pada dalil yang terdapat dalam surat Luqman:18 Allah swt memerintahkan kita untuk tidak sombong kepada sesama. Dalil dari Hadits Ada banyak dalil tentang sabar yang berasal dari hadits atau sunnah Rasul. Semoga dalil ini dapat membuat kita selalu bisa bertawadhu dalam kehidupan di dunia agar tidak menjadi takabur dan sombong. Adapun dalil tentang haramnya takabur dan sombong yang berasal dari hadits atau sunnah Rasul adalah sebagai berikut: Dari Abdullah bin Mas¶ud ra dari Nabi Muhammad saw, beliau bersabda: ³Tidak akan masuk sorga orang yang di dalam hatinya ada sifat sombong walaupun hanya sebesar atom.´ Ada seorang laki-laki berkata: ³Sesungguhnya seseorang itu suka memakai pakaian yang bagus dan sandal/sepatu yang bagus pula.´ Nabi Muhammad saw kembali bersabda: ³Sesungguhnya Allah itu indah, suka pada keindahan. Sombong itu menolak kebenaran dan merendahkan sesame manusia.´ (HR. Muslim) Dari Salamah bin Al Akwa ra bahwasannya ada seorang laki-laki makan di hadapan Nabi Muhammad saw dengan memakai tangan kirinya, beliau lantas bersabda: ³Makanlah dengan memakai tangan kananmu.´ Laki-laki itu menjawab: ³Saya tidak bisa.´ Nabi Muhammad saw bersabda lagi: ³Kamu tidak bisa, itu adalah perbuatan sombong.´ (HR. Muslim)

Dari Haritsah bin Wahb ra berkata: ³Saya mendengar Nabi Muhammad saw bersabda, ³Maukah kamu sekalian aku beritahu tentang ahli neraka? Yaitu setiap orang yang kejam, rakus, dan sombong.´ (HR. Bukhari dan Muslim) Dari Abu Sa¶id Al Khudry ra dari nabi Muhammad saw, beliau bersabda: ³Sorga dan neraka itu berdebat; neraka berkata: ³Padaku orang-orang yang kejam dan sombong´ Sorga berkata: ³Padaku orang-orang yang lemah (tertindas) dan miskin´ Kemudian Allah member keputusan kepada keduanya: ³Sesungguhnya kamu sorga adalah tempat rahmatKu, Aku memberi rahmat dengan kamu kepada siapa saja yang Aku kehendaki. Dan sesungguhnya kamu neraka adalah tempat siksaanKu, Aku menyiksa dengan kamu kepada siapa saja yang Aku kehendaki; dan bagi masing-masing kamu berdua Aku akan memenuhimya.´ (HR. Muslim) Dari Abu Hurairah ra bahwasannya Nabi Muhammad saw bersabda: ³Sesungguhnya pada hari kiamat nanti Allah tidak akan melihat orang yang menurunkan kainnya di bawah mata kaki karena sombong.´ (HR Bukhari dan Muslim) Dari Abu Hurairah ra berkata, Nabi Muhammad saw bersabda: ³Ada tiga kelompok orang yang nanti pada hari kiamat Allh tidak akan berbicara dengan mereka, Allah tidak akan membersihkan (mengampuni dosa) mereka, dan Allah tidak akan memandang mereka, serta mereka akan disiksa dengan siksaan yang pedih, yaitu: orang tua yang berzina, raja (penguasa) yang suka bohong, dan orang miskin yang sombong.´ (HR. Muslim) Dari Abu Hurairah ra berkata, Nabi Muhammad saw bersabda, Allah Yang Maha Mulia lagi Maha Agung berfirman: ³Kemuliaan adalah pakaianKu dan kebesaran adalah selendangKu, maka barangsiapa yang menyaingi Aku dalam salah satunya maka Aku pasti akan menyiksanya.´ (HR. Muslim) Dari Abu Hurairah ra bahwasannya Nabi Muhammad saw bersabda: ³Suatu ketika ada seorang laki-laki berjalan dengan memakai perhiasan dan bersisir rambutnya, ia mengherani dirinya sendiri dengan penuh kesombongan di dalam perjalanannya itu, kemudian tiba-tiba Allah menyiksanya yaitu ia selalu timbul tenggelam di permukaan bumi sampai hari kiamat.´ (HR. Bukhari dan Muslim) Dari Salamah bin Al Akwa ra berkata, nabi Muhammad saw bersabda: ³Seseorang itu senantiasa membanggakan dan menyombongkan dirinya sehingga ia dicatat dalam golongan yang kejam lagi sombong, kemudian ia tertimpa apa yang biasa menimpa mereka.´ (HR. At Turmudzy)

Sifat sombong adalah sesuatu yang sangat tercela. Karena Al Qur¶an dan As Sunah mencelanya dan mengajak kita untuk meninggalkannya. Bahkan orang yang mempunyai sifat ini diancam tidak masuk ke dalam surga. Sebaliknya, di dalam Al Qur¶an Allah memuji hamba-hamba-Nya yang rendah hati dan tawadhu¶ kepada sesama. Allah ta¶ala berfirman,

³Hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih adalah orang-orang yang berjalan di atas muka bumi dengan rendah hati dan apabila orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan katakata yang baik.´ (QS. Al Furqaan: 63)

Rasulullah shallallahu µalaihi wa sallam bersabda,

³Sombong adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia.´ (HR. Muslim)

Celaan Terhadap Kesombongan dan Pelakunya

Allah ta¶ala berfirman,

³Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang menyombongkan diri.´ (QS. An Nahl: 23)

Allah ta¶ala juga berfirman,

³Itulah negeri akhirat yang Kami sediakan bagi orang-orang yang tidak berambisi untuk menyombongkan diri di atas muka bumi dan menebarkan kerusakan.´ (QS. Al Qashash: 83)

Adz Dzahabi rahimahullah berkata, ³Kesombongan yang paling buruk adalah orang yang menyombongkan diri kepada manusia dengan ilmunya, dia merasa hebat dengan kemuliaan yang dia miliki. Orang semacam ini tidaklah bermanfaat ilmunya untuk dirinya. Karena barang siapa yang menuntut ilmu demi akhirat maka ilmunya itu akan membuatnya rendah hati dan menumbuhkan kehusyu¶an hati serta ketenangan jiwa.

Dia akan terus mengawasi dirinya dan tidak bosan untuk terus memperhatikannya. Bahkan di setiap saat dia selalu berintrospeksi diri dan meluruskannya. Apabila dia lalai dari hal itu, dia pasti akan terlempar keluar dari jalan yang lurus dan binasa. Barang siapa yang menuntut ilmu untuk berbangga-banggaan dan meraih kedudukan, memandang remeh kaum muslimin yang lainnya serta membodoh-bodohi dan merendahkan mereka, sungguh ini tergolong kesombongan yang paling besar. Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan walaupun hanya sekecil dzarrah (anak semut), la haula wa la quwwata illa billah.´ (lihat Al Kaba¶ir ma¶a Syarh Ibnu µUtsaimin, hal. 75-76 cet. Darul Kutub µIlmiyah. Sayangnya di dalam kitab ini saya menemukan kesalahan cetak, seperti ketika menyebutkan ayat dalam surat An Nahl di atas, di sana tertulis An Nahl ayat 27 padahal yang benar ayat 23. Wallahul muwaffiq)

Ilmu Menumbuhkan Sifat Tawadhu¶ Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, ³Salah satu tanda kebahagiaan dan kesuksesan adalah tatkala seorang hamba semakin bertambah ilmunya maka semakin bertambah pula sikap tawadhu¶ dan kasih sayangnya. Dan semakin bertambah amalnya maka semakin meningkat pula rasa takut dan waspadanya.

Setiap kali bertambah usianya maka semakin berkuranglah ketamakan nafsunya. Setiap kali bertambah hartanya maka bertambahlah kedermawanan dan kemauannya untuk membantu sesama. Dan setiap kali bertambah tinggi kedudukan dan posisinya maka semakin dekat pula dia dengan manusia dan berusaha untuk menunaikan berbagai kebutuhan mereka serta bersikap rendah hati kepada mereka.´

Beliau melanjutkan, ³Dan tanda kebinasaan yaitu tatkala semakin bertambah ilmunya maka bertambahlah kesombongan dan kecongkakannya. Dan setiap kali bertambah amalnya maka bertambahlah keangkuhannya, dia semakin meremehkan manusia dan terlalu bersangka baik kepada dirinya sendiri. Semakin bertambah umurnya maka bertambahlah ketamakannya. Setiap kali bertambah banyak hartanya maka dia semakin pelit dan tidak mau membantu sesama.

Dan setiap kali meningkat kedudukan dan derajatnya maka bertambahlah kesombongan dan kecongkakan dirinya. Ini semua adalah ujian dan cobaan dari Allah untuk menguji hambahamba-Nya. Sehingga akan berbahagialah sebagian kelompok, dan sebagian kelompok yang lain

akan binasa. Begitu pula halnya dengan kemuliaan-kemuliaan yang ada seperti kekuasaan, pemerintahan, dan harta benda. Allah ta¶alameceritakan ucapan Sulaiman tatkala melihat singgasana Ratu Balqis sudah berada di sisinya,

³Ini adalah karunia dari Rabb-ku untuk menguji diriku. Apakah aku bisa bersyukur ataukah justru kufur.´ (QS. An Naml: 40).´

Kembali beliau memaparkan, ³Maka pada hakikatnya berbagai kenikmatan itu adalah cobaan dan ujian dari Allah yang dengan hal itu akan tampak bukti syukur orang yang pandai berterima kasih dengan bukti kekufuran dari orang yang suka mengingkari nikmat. Sebagaimana halnya berbagai bentuk musibah juga menjadi cobaan yang ditimpakan dari-Nya Yang Maha Suci. Itu artinya Allah menguji dengan berbagai bentuk kenikmatan, sebagaimana Allah juga menguji manusia dengan berbagai musibah yang menimpanya. Allah ta¶ala berfirman,

.

.

«

³Adapun manusia, apabila Rabbnya mengujinya dengan memuliakan kedudukannya dan mencurahkan nikmat (dunia) kepadanya maka dia pun mengatakan, µRabbku telah memuliakan diriku.¶ Dan apabila Rabbnya mengujinya dengan menyempitkan rezkinya ia pun berkata, µRabbku telah menghinakan aku.¶ Sekali-kali bukanlah demikian«´ (QS. Al Fajr : 15-17)

Artinya tidaklah setiap orang yang Aku lapangkan (rezekinya) dan Aku muliakan kedudukan (dunia)-nya serta Kucurahkan nikmat (duniawi) kepadanya adalah pasti orang yang Aku muliakan di sisi-Ku. Dan tidaklah setiap orang yang Aku sempitkan rezkinya dan Aku timpakan musibah kepadanya itu berarti Aku menghinakan dirinya.´ (Al Fawa¶id, hal. 149)

Ketawadhu¶an µUmar bin Al Khaththab radhiyallahu¶anhu Disebutkan di dalam Al Mudawwanah Al Kubra, ³Ibnul Qasim mengatakan, Aku pernah mendengar Malik membawakan sebuah kisah bahwa pada suatu ketika di masa kekhalifahan Abu Bakar ada seorang lelaki yang bermimpi bahwa ketika itu hari kiamat telah terjadi dan seluruh umat manusia dikumpulkan. Di dalam mimpi itu dia menyaksikan Umar mendapatkan ketinggian dan kemuliaan derajat yang lebih di antara manusia yang lain. Dia mengatakan:

Kemudian aku berkata di dalam mimpiku, µKarena faktor apakah Umar bin Al Khaththab bisa mengungguli orang-orang yang lain?´

Dia berkata: Lantas ada yang berujar kepadaku, µDengan sebab kedudukannya sebagai khalifah dan orang yang mati syahid, dan dia juga tidak pernah merasa takut kepada celaan siapapun selama dirinya tegak berada di atas jalan Allah.¶ Pada keesokan harinya, laki-laki itu datang dan ternyata di situ ada Abu Bakar dan Umar sedang duduk bersama. Maka dia pun mengisahkan isi mimpinya itu kepada mereka berdua.

Ketika dia selesai bercerita maka Umar pun menghardik orang itu seraya berkata kepadanya, ³Pergilah kamu, itu hanyalah mimpi orang tidur!´ Lelaki itupun bangkit meninggalkan tempat tersebut. Ketika Abu Bakar telah wafat dan Umar memegang urusan pemerintahan, maka beliau pun mengutus orang untuk memanggil si lelaki itu. Kemudian Umar berkata kepadanya, ³Ulangi kisah mimpi yang pernah kamu ceritakan dahulu.´ Lelaki itu menjawab, ³Bukankah anda telah menolak cerita saya dahulu?!´ Umar mengatakan, ³Tidakkah kamu merasa malu menyebutkan keutamaan diriku di tengah-tengah majelis Abu Bakar sementara pada saat itu dia sedang duduk di tempat itu?!´ Syaikh Abdul Aziz As Sadhan mengatakan,

³Umar radhiyallahu µanhu tidak merasa ridha keutamaan dirinya disebutkan sementara di saat itu Ash Shiddiq (Abu Bakar) -dan Abu Bakarradhiyallahu µanhu jelas lebih utama dari beliauhadir mendengarkan kisah itu. walaupun sebenarnya dia tidak perlu merasa berat ataupun bersalah mendengarkan hal itu, akan tetapi inilah salah satu bukti kerendahan hati beliau radhiyallahu µanhu.´ (lihat Ma¶alim fi Thariq Thalabil µIlmi, hal. 103-104)

Wa shallallahu µala nabiyyina Muhammadin wa µala aalihi wa shahbihi wa sallam. ³Aku akan memalingkan orang-orang yg menyombongkan dirinya di muka bumi tanpa alasan yg benar dari tanda-tanda kekuasaan-Ku.´ .Takabbur atau sombong adl lawan kata dari tawaddu¶ atau rendah hati dan merupakan salah satu jenis penyakit hati yg telah memakan banyak korban seperti Raja Fir¶aun dan bala tentaranya Namrud Abu Jahal dan Abu lahab kaum Yahudi dan masih banyak lagi. Menurut tata bahasa ³takabbur´ semakna dgn ta¶azhzum yakni menampak-nampakkan keagungan dan kebesarannya merasa agung dan besar. Penyusun kamus Lisanul Arab mengatakan ³takabbur dan istikbar ialah ta¶azhzum merasa besar dan menampaknampakkan kebesarannya .´ Perbedaan antara takabur ujub dan ghurur adl bahwa ujub itu mengagumi atau membanggakan diri dari segala seuatu yg timbul darinya baik berupa perkataan maupun perbuatan tapi tidak merendahkan dan meremehkan orang lain. Ghurur adl sikap ujub yg ditambah sikap meremehkan dan menganggap kecil apa yg timbul dari orang lain tapi tidak merendahkan orang lain. ³Tidaklah masuk surga orang yg didalam hatinya ada penyakit kibr

meskipun hanya seberat dzarroh.´ Kemudian ada seorang laki-laki berkata ³Sesungguhnya seseorang itu suka pakaiannya bagus dan sandalnya/sepatunya bagus.´ Beliau menjawab ³Sesungguhnya Allah itu indah dan menyukai keindahan. Kibr itu ialah menolak kebenaran dan merendahkan orang lain.´ . Sebab-Sebab Takabur Rusaknya penilaian dan tolak ukur kemuliaan manusia. Di antara faktor yg menyebabkan timbulnya takabur ialah terjadinya nilai dan cara pandang manusia yg rusak. Mereka memandang mulia dan hormat kepada orang-orang yg kaya harta meskipun dia itu ahli maksiat dan menjauhi manhaj dan aturan Allah. Orang yg hidup dalam kondisi seperti ini sudah barang tentu akan begitu mudah sombong merendahkan dan meremehkan orang lain kecuali orang yg dirahmati Allah. ³Apakah mereka mengira bahwa harta dan anakanak yg Kami berikan kepada mereka itu Kami bersegera memberikan kebaikan-kebaika kepada mereka ? Tidak sebenarnya mereka tidak sadar.´ . ³Dan mereka berkata ³Kami lbh banyak mempunyai harta dan anak-anak dan kami sekali-kali tidak akan diadzab. Katakanlah µSesungguhnya Tuhanku melapangkan rizki bagi siapa yg dikehandi-Nya dan menyempitkan akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. Dan sekali-kali bukanlah harta dan bukan pula anak-anak kamu yg mendekatkatkan kamu kepada Kami sedikitpun; tetapi orang-orang yg beriman dan mengerjakan amal-amal sholeh mereka itulah yg memperoleh balasan yg berlipat ganda disebabkan apa yg telah mereka kerjakan; dan mereka aman sentosa ditempat-tempat yg tinggi µ.´. Membandingkan ni¶mat yg diperolehnya dgn yg diperoleh orang lain dgn melupakan Pemberi ni¶mat. ³Dan berikanlah kepada mereka sebuah perumpamaan dua orang lakilaki Kami jadikan bagi seorang di antara keduanya dua buah kebun anggur dan Kami kelilingi kedua kebun itu dgn pohon-pohon korma dan di antara kedua kebun itu Kami buatkan ladang.´ . ³Dan dia mempunyai kekayaan besar maka ia berkata kepada kawannya ketika ia bercakap-cakap dgn dia µHartaku lbh banyak daripada hartamu dan pengikut-pengikutku lbh kuat¶.´ . Sikap tawadhu¶ orang lain yg berlebihan.Kadang-kadang ada sebagian orang yg bersikap tawadhu¶ secara berlebihan hingga tidak mau berhias dan mengenakan pakaian yg bagus tidak peduli terhadap orang lain bahkan tidak mau tampil ke depan utk memikul amanat dan tanggung jawab. Sikap yg demikian ini kadang-kadang menimbulkan kesan negatif pada sebagian orang yg melihatnya yg tidak mengetahui hakekat masalah sebenarnya. Lalu setan membisikkan ke dalam hatinya bahwa orang tersebut tidak menghias diri tidak mengenakan pakaian bagus dan tidak pernah tampil ke dalam mengurusi urusan umat adl semata-mata krn miskin dan tidak mempunyai kemampuan utk menjalankan tugas dan tanggung jawab. Anggapannya ini kemudian berkembang dgn memandang orang tersebut dgn pandangan rendah dan hina dan sebaliknya menganggap dirinya lbh besar dan lbh agung. Inilah dia penyakit takabur telah muncul. Alquran dan Sunnah telah mengantisipasi masalah ini. Karena itu disuruhnya manusia menampakkan ni¶mat yg diberikan Allah kepadanya. ³Dan terhadap ni¶mat Tuhanmu maka hendaklah kamu menyebut-nyebutnya .´ . Sabda Nabi saw ³Sesungguhnya Allah itu bagus dan menyukai keindahan.´ . Para salaf mengerti betul akan hal ini krn itu mereka sangat antusias menceritakan ni¶mat-ni¶mat yg diberikan Allah kepada mereka dan mencela orang yg melalaikan hal ini. Al-Hasan bin Ali Radhiyallahu µanhu berkata ³Bila engkau memperoleh kebaikan atau melakukan

kebaikan maka ceritakanlah kepada orang yg dapat dipercaya dari antara temantemanmu.´ . Mengira ni¶mat yg diperolehnya akan kekal dan tidak akan lenyap.³Dan dia memasuki kebunnya sedang dia zalim terhadap dirinya sendiri; ia berkata µAku kira kebun ini tidak akan binasa selama-lamanya. Dan aku tidak mengira hari kiamat itu akan datang dan sekiranya aku dikembalikan kepada Tuhanku pasti aku akan mendapat tempat kembali yg lbh baik daripada kebun-kebun itu¶.´ . Karena mengungguli yg lain dalam memperoleh keutamaan. Adakalanya yg memicu takabur bagi seseorang ialah krn lbh unggul dari pada yg lain dalam keutamaan atau lbh banyak melakukan keutamaan-keutamaan misalnya dalam bidang ilmu dakwah jihad pendidikan dll. Keunggulan semata-mata tidak ada artinya di hadapan Allah kalau tidak disertai dgn keikhlasan dan kejujuran. . Melupakan akibat buruk takabur.Di antara sebab timbulnya rasa takabbur adl melupakan akan akibat buruknya. Akibat Buruk dari Takabur Terhalang dari memperhatikan dan mengambil pelajaran terhadap sesuatu. Hal ini disebabkan orang yg takabur merasa lbh tinggi dari hamba-hamba Allah yg lain. Maka secara sadar atau tidak sadar ia telah melampaui batas hingga menempati kedudukan Ilahi. Orang seperti ini sudah barang tentu akan terkena sangsi dan sangsi atau hukuman yg pertama ialah terhalang dari memperhatikan dan mengambil pelajaran terhadap sesuatu. ´ Dan betapa banyak tanda-tanda di langit dan dibumi yg mereka lewati tetapi mereka berpaling dari padanya.´ . Kegoncangan jiwa. Orang yg takabur dan merasa lbh tinggi dari pada orang lain berkeinginan agar orang lain menundukkan kepala kepadanya. Tetapi harga diri manusia sudah barang tentu tidak mau berbuat demikian dan memang pada dasarnya mereka tidak disiapkan utk hal itu. Sebagai akibatnya timbulah kegoncangan dalam jiwanya. ³Barang siapa berpaling dari peringatan-Ku maka sesungguhnya baginya penghidupan yg sempit.´ . ³Dan barang siapa berpaling dari peringatan Tuhannya Tuhan akan memberinya siksaan yg berat.´ . Selalu dalam keadaan aib dan kekurangan. Hal ini disebabkan orang yg sombong mengira dirinya telah sempurna dalam segala hal maka ia tidak mau intropeksi diri sehingga ia tidak mau menerima nasihat pengarahan dan bimbingan dari orang lain. ´ yg benar barangsiapa berbuat dosa dan ia telah meliputi oleh dosanya mereka itulah penghuni neraka mereka kekal di dalamnya.´ . Terhalang utk masuk surga. Dan Rasullullah saw telah bersabda³Tidak masuk surga orang yg di dalam hatinya terdapat seberat zarrah dari takabbur..´ . Cara Mengobati Takabur Mengingat akibat-akibat dan bahaya yg ditimbulkan oleh takabur baik yg mengenai dirinya sendiri maupun mengenai amal Islami baik yg bersifat duniawi maupun ukhrowi. Menengok orang sakit meyaksikan orang yg akan meninggal dunia menolong kesusahan mengantarkan janazah dan ziarah kubur. Tidak berteman dgn orang-orang yg takabur dan sebaliknya bersahabat dgn orang-orang yg tawadhu¶ dan ahli ibadah. Suka duduk-duduk bersama orang lemah orang fakir dan miskin bahkan makan dan minum bersama mereka krn hal ini akan dapat membersihkan jiwa dan mengenbalikannya ke jalan yg lurus.

Suka memikirkan dirinya dan alam semesta bahkan merenungkan semua ni¶mat yg diperolehnya sejak yg paling kecil hingga yg paling besar. Siapakah sumber semua itu? Siapakah yg dapat menahan dan menghalanginya? Dengan jalan bagaimanakah seorang hamba berhak mendapatkannya? Bagaimanakah keadaan dirinya seandainya salah satu keni¶matan itu dicabut apalagi bila dicabut seluruhnya? Memeprhatikan riwayat-riwayat orang takabur bagaimana keadaan mereka dan bagaimana akhirnya sejak iblis Namrud Fir¶aun Haman Qorun Abu Jahal hingga para thaghut-yhaghut para dictator dan orang-orang yg gemar berbuat dosa pada tiap waktu dan tempat. Menghadiri majlis-majlis taklim yg diasuh oleh ulama-ulama yg bisa dipercaya dan sadar akan tugas kewajiban dan akan dirinya. Lebih-lebih majlis yg di dalamnya sering diisi dgn peringatan-peringatan dan penyucian jiwa. Meminta maaf kepada orang yg disombongi dan dihinanya. Menampakkan ni¶mat yg diberikan Allah kepada dirinya dan menceritakannya kepada orang lain. Selalu mengingat tolak ukur keutamaan dan kemajuan Islam.³Sesungguhnya orang yg paling mulia diantaramu pada pandangan Allah ialah orang yg paling bertakwa.´ . Rajin melakukan ketaatan krn dgn melakukan ketaatan semata-mata mencari ridha Allah ini akan dapat membersihkan jiwa dari kotoran-kotoran dan kehinaan-kehinaan bahkan akan meningkat ke derajat yg lbh tinggi. ³Barangsiapa yg melakukan amal saleh baik laki-laki maupun perempuan sedang ia beriman maka benar-benar Kami akan memberinya kehidupan yg baik..´. Melakukan introspeksi utk mengetahui penyakit-penyakit hatinya sampai dapat mengobatinya hingga kelak akan memperoleh kebahagiaan dan keberuntungan. Selalu meminta pertolongan kepada Allah SWT krn Dia akan menolong orang yg meminta pertolongan kepada-Nya dan akan mengabulkan doa orang-orang yg sungguh memohon kepada-Nya.³Dan Tuhanmu berfirman µBerdoalah kepada-Ku niscaya akan Ku-perkenankan bagimu sesungguhnya orang-orang yg menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka jahannam dalam keadaan hina dina¶.´. Oleh Imron RosadiDiadaptasi dari Terapi Mental Aktifis HarakahDR. Sayyid Muhammad Nuh Al-Islam - Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia sumber file al_islam.chm Kalimat sombong di dalam al-Qur¶an Kesemua 25 ayat al-Qur'an yang tertulis kata sombong di dalamnya adalah disenaraikan di bawah ini:

2:34. Dan apabila Kami berkata kepada para malaikat, "Sujudlah kamu kepada Adam", lalu mereka sujud kecuali Iblis. Ia enggan, dan ia sombong, dan ia menjadi antara orang-orang yang

tidak (Iblis sombong terhadap perintah Allah)

percaya

(kafir).

2:206. Dan apabila dikatakan kepadanya, "Takutilah Allah", kesombongan mengambilnya dalam dosanya. Maka cukuplah untuk dia Jahanam - betapa buruknya buaian! 4:36. Sembahlah Allah, dan janganlah menyekutukan sesuatu dengan-Nya. Berbuatbaiklah kepada ibu bapa, dan kepada sanak saudara yang dekat, dan anak-anak yatim, dan orang-orang miskin, dan jiran yang kerabat, dan jiran yang tidak dikenali, dan teman di sebelah kamu, dan musafir, dan apa yang tangan-tangan kanan kamu memiliki. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong, membanggakan diri, (Allah tidak suka orang sombong, membanggakan diri) 14:21. Mereka pergi kepada Allah, kesemuanya; kemudian berkata orang-orang yang lemah kepada orang-orang yang sombong, "Kami adalah pengikut-pengikut kamu; adakah kamu berguna sedikit pun kepada kami terhadap azab Allah?" Mereka berkata, "Jika Allah memberi petunjuk kepada kami, tentu kami memberi petunjuk kepada kamu. Sama sahaja bagi kita; sama ada kita tidak boleh menahan, atau kita bersabar - kita tidak ada tempat lari." (perihal pengikut orang di akhirat) 16:23. Tidak syaklah bahawa Allah mengetahui apa yang mereka merahsiakan, dan apa yang mereka menyiarkan; sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang sombong. 16:29. Maka masuklah pintu-pintu Jahanam, di dalamnya tinggal selama-lamanya." Buruknya tempat tinggal orang-orang yang sombong! (orang sombong kekal di dalam Jahanam) 19:14. Dan seorang yang taat kepada ibu bapanya, dan dia tidak sombong, ingkar. 19:32. Dan taat kepada ibuku, dan Dia tidak membuat aku sombong, sengsara. 21:19. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi, dan mereka yang di sisi-Nya tidak sombong untuk menyembah-Nya, dan tidak juga berasa letih. 23:66. Ayat-ayat-Ku telah dibacakan kepada kamu, tetapi di atas tumit-tumit kamu, kamu berundur, 23:67. Dengan sombong terhadapnya, bercakap-cakap percakapan kosong pada waktu malam." (sombong terhadap ayat-ayat Allah) 25:21. Berkata orang-orang yang tidak mengharapkan untuk bertemu dengan Kami, "Mengapakah malaikat-malaikat tidak diturunkan kepada kita, atau mengapakah kita tidak melihat Pemelihara kita?" Mereka sombong di dalam diri-diri mereka, dan menjadi penghina, dengan penghinaan yang besar. 27:14. Dan mereka menyangkalnya, walaupun jiwa mereka meyakininya, dengan kezaliman dan daripada kesombongan. Maka perhatikanlah bagaimana kesudahannya orang-orang yang

membuat (menyangkal ayat-ayat Allah)

kerosakan!

28:39. Dan dia berlaku sombong di bumi, dia dan tenteranya, dengan cara yang salah; dan mereka menyangka bahawa mereka tidak dikembalikan kepada Kami. 28:83. Tempat kediaman akhir itu, Kami membuatnya untuk orang-orang yang tidak menghendaki kesombongan diri di bumi, dan tidak juga kerosakan. Kesudahan adalah bagi orang-orang yang bertakwa. 29:39. Dan Karun, dan Firaun, dan Haman; Musa telah datang kepada mereka dengan buktibukti yang jelas, tetapi mereka berlaku sombong di bumi; namun begitu, mereka tidak mendahului Kami. 31:18. Janganlah memalingkan pipi kamu daripada manusia, dan janganlah berjalan di bumi dengan sangat gembira; Allah tidak menyukai setiap orang yangsombong dan membanggakan diri. 35:43. Dengan kesombongan di bumi, dan membuat tipu daya yang jahat; tetapi tipu daya yang jahat hanya meliputi ahli yang melakukannya. Maka tidakkah mereka menanti-nanti melainkan sunnah (resam) orang-orang dahulu kala? Kamu tidak akan mendapati sebarang pertukaran pada sunnah Allah, dan kamu tidak akan mendapati sebarang penyimpangan pada sunnah Allah. 38:2. Tidak, tetapi orang-orang yang tidak percaya adalah dalam kesombongan dan perpecahan. (orang tidak percaya kerana sombong) 39:60. Dan pada Hari Kiamat, kamu melihat orang-orang yang berdusta terhadap Allah, mukamuka mereka menjadi hitam; tidakkah di dalam Jahanam tempat tinggal orang-orang yang sombong? 40:35. Orang-orang yang membantah ayat-ayat Allah, tanpa sebarang kuasa yang datang kepada mereka, amatlah besar kebencian pada pandangan Allah, dan orang-orang yang percaya; demikianlah Allah menutup setiap hati yang sombong, bongkak. (membantah ayat-ayat Allah) 40:76. Masuklah pintu-pintu Jahanam, untuk tinggal di dalamnya selama-lamanya." Buruknya tempat tinggal orang-orang yang sombong! 57:23. Supaya kamu tidak berdukacita kerana apa yang terlepas daripada kamu, dan tidak juga bergembira dengan apa yang diberi kepada kamu; Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong, membanggakan diri, 63:5. Dan apabila dikatakan kepada mereka, ³Marilah, dan rasul Allah akan meminta ampun untuk kamu´, mereka memaling-malingkan kepala mereka, dan kamu melihat mereka memusingkan muka-muka mereka, dengan sombong.

71:7. Dan setiap kali aku menyeru mereka supaya Engkau mengampuni mereka, mereka meletakkan jari-jari mereka ke dalam telinga-telinga mereka, dan menutupkan mereka di dalam pakaian mereka, dan berterusan dengannya, dan menyombongkan diri, sesombongsombongnya. 75:33. Kemudian dia pergi kepada keluarganya dengan sombong. Janganlah Sombong! Satu sifat yang paling dibenci oleh Allah SWT adalah sombong. Sombong adalah menganggap dirinya besar dan memandang orang lain hina/rendah. Allah melarang kita untuk sombong: ´Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan sekali-kali kamu tidak akan sampai setinggi gunung.´ [Al Israa¶:37] Allah benci dengan orang-orang yang sombong: ´Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.´ [Luqman:18] Nabi berkata bahwa orang yang sombong meski hanya sedikit saja niscaya tidak akan masuk surga: Dari Ibn Mas¶ud, dari Rasulullah Saw, beliau bersabda: ³Tidak akan masuk sorga, seseorang yang di dalam hatinya ada sebijih atom dari sifat sombong´. Seorang sahabat bertanya kepada Nabi Saw: ³Sesungguhnya seseorang menyukai kalau pakainnya itu indah atau sandalnya juga baik´. Rasulullah Saw bersabda: ³Sesungguhnya Allah Swt adalah Maha Indah dan menyukai keindahan. Sifat sombong adalah mengabaikan kebenaran dan memandang rendah manusia yang lain´ [HR Muslim] Nabi juga berkata bahwa orang yang sombong niscaya akan disiksa oleh Allah di akhirat nanti: Dari al-Aghar dari Abu Hurarirah dan Abu Sa¶id, Rasulullah Saw bersabda: ³Allah Swt berfirman; Kemuliaan adalah pakaian-Ku, sedangkan sombong adalah selendang-Ku. Barang siapa yang melepaskan keduanya dari-Ku, maka Aku akan menyiksanya´. [HR Muslim] (Dikatakan kepada mereka): ³Masuklah kamu ke pintu-pintu neraka Jahannam, sedang kamu kekal di dalamnya. Maka itulah seburuk-buruk tempat bagi orang-orang yang sombong .´ [Al Mu¶min:76]

Abi Salamah meriwayatkan bahwa Abdullah bin Amr bertemu dengan Ibn Umar di Marwah. Keduanya kemudian turun dan berbicara satu sama lain. Selanjutnya Abdullah bin Amr berlalu dan Ibn Umar duduk sambil menangis tersedu-sedu. Ketika ditanya tentang apa yang membuatnya menangis, beliau menjawab: ³Laki-laki ini (yakni Abdullah bin Amr) telah mengaku bahwa dia mendengar Rasulullah Saw bersabda: ³Barang siapa yang di dalam hatinya ada sebijih atom dari sifat sombong, maka Allah Swt akan menimpakan api neraka ke arah wajahnya´ Baihaqi Dari hadits di atas cukuplah bagi kita untuk menyadari bahwa sifat sombong sangat berbahaya bagi kita. Imam Ghazali dalam kitabnya, ´Ihya¶ ¶Uluumuddiin´ menulis bagaimana mungkin manusia bisa bersifat sombong sementara dalam dirinya terdapat 1-2 kilogram kotoran yang bau? Terkadang orang sombong karena kekayaannya. Siapa orang terkaya di dunia? Qarun dulu sangat kaya. Perlu 7 orang yang sangat kuat hanya untuk mengangkat ´KUNCI-KUNCI´ gudang kekayaannya yang berisi emas permata. Orang terkaya di dunia saat ini (per 20 Agustus 2007), Carlos Slim (mengalahkan Bill Gates yang memiliki kekayaan US$ 56 milyar) memiliki kekayaan US$ 59 milyar atau rp 551 trilyun lebih (Fortune Magazine). Namun yang patut diingat, ketika orang yang disebut kaya itu lahir mereka tidak memiliki apaapa. Ketika mati juga tidak membawa apa-apa kecuali kain yang melekat di badan. Pada saat mati tidaklah berguna segala harta dan apa yang telah mereka kerjakan. ´Tidaklah berguna baginya harta bendanya dan apa yang ia usahakan.´ [Al Lahab:2] Sebagaimana Qarun, harta yang kita miliki tak lain milik Allah yang dititipkan kepada kita. Ketika kita mati kita akan berpisah dengan ´harta´ kita. ´Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi dan apa yang ada di dalamnya; dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.´ [Al Maa-idah:120] Sering orang sombong karena kekuasaan atau jabatan. Padahal kekuasaan dan jabatan juga tidak kekal. Ketika mati, maka kekuasaan pun hilang. Kita diganti dengan yang lain. ´Katakanlah: ³Wahai Tuhan Yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.´ [Ali ¶Imran:26] Fir¶aun raja Mesir yang sombong saat ini telah menjadi mayat yang tidak berdaya. Alexander the Great atau Iskandar Agung yang kerajaannya meliputi sebagian Afrika, Eropa, dan Asia saat ini

tinggal tulang-belulang belaka. Hitler yang dulu ditakuti juga telah tiada begitu pula dengan musuh-musuhnya. Hanya Allah Maha Perkasa yang tetap kekal dan hidup abadi selama-lamanya. Lalu apa yang membuat manusia pantas untuk merasa sombong? Ada juga orang yang sombong karena wajahnya yang cantik dan rupawan. Padahal ketika tua, maka mukanya akan jelek dan keriput. Ketika sudah dikubur, maka wajahnya hanya akan tinggal tulang tengkorak belaka. Pantaskah manusia untuk bersikap sombong? Ada lagi yang sombong karena kekuatannya atau badannya yang kekar. Kita saksikan Samson yang dulu sanggup mengalahkan singa dengan tangan kosong kini sudah terbujur dalam tanah. Muhammad Ali yang dulu sering membanggakan diri sebagai yang terbesar (I am the Greatest) kini lemah terkena penyakit parkinson. Begitu tua orang sekuat apa pun akan jadi lemah. Begitu mati dia sama sekali tidak berdaya. Allah mengingatkan bahwa manusia diciptakan dari air mani yang tidak berharga. Pantaskah manusia bersikap sombong? ´Dan apakah manusia tidak memperhatikan bahwa Kami menciptakannya dari setitik air mani, maka tiba-tiba ia menjadi penantang yang nyata!´ [Yaa Siin:77] Dari tulisan di atas jelas bahwa tidak ada alasan bagi manusia untuk bersikap sombong. Ancaman neraka bagi orang yang sombong meski hanya sekecil atom hendaknya membuat kita jadi orang yang rendah hati. Jauhilah Sikap Sombong Kategori Akhlaq dan Nasehat | 08-06-2010 | 13 Komentar

Salah satu tujuan diutusnya Rasulullah shalallahu µalaihi wa sallam adalah untuk memperbaiki akhlak manusia. Nabishallallahu µalaihi wa sallam bersabda, ³Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlaq yang baik.´ (HR. Ahmad 2/381. Syaikh Syu¶aib Al Arnauth menyatakan bahwa hadits ini shahih) Islam adalah agama yang mengajarkan akhlak yang luhur dan mulia. Oleh karena itu, banyak dalil al Quran dan as Sunnah yang memerintahkan kita untuk memiliki akhlak yang mulia dan menjauhi akhlak yang tercela. Demikian pula banyak dalil yang menunjukkan pujian bagi pemilik akhlak baik dan celaan bagi pemilik akhlak yang buruk. Salah satu akhlak buruk yang harus dihindari oleh setiap muslim adalah sikap sombong. Sikap sombong adalah memandang dirinya berada di atas kebenaran dan merasa lebih di atas orang lain. Orang yang sombong merasa dirinya sempurna dan memandang dirinya berada di atas orang lain. (Bahjatun Nadzirin, I/664, Syaikh Salim al Hilali, cet. Daar Ibnu Jauzi)

Islam Melarang dan Mencela Sikap Sombong Allah Ta¶ala berfirman, {18} ³Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.´ (QS. Luqman:18) Allah Ta¶ala berfirman, ³Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang menyombongkan diri.´ (QS. An Nahl: 23) Haritsah bin Wahb Al Khuzai¶i berkata bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu µalaihi wa sallam bersabda, ³Maukah kamu aku beritahu tentang penduduk neraka? Mereka semua adalah orang-orang keras lagi kasar, tamak lagi rakus, dan takabbur(sombong).³ (HR. Bukhari no. 4918 dan Muslim no. 2853). Dosa Pertama Iblis Sebagian salaf menjelaskan bahwa dosa pertama kali yang muncul kepada Allah adalah kesombongan. Allah Ta¶alaberfirman, {34} ³Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: ³Sujudlah kalian kepada Adam,´ maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur (sombong) dan ia termasuk golongan orang-orang yang kafir³ (QS. Al Baqarah:34) Qotadah berkata tentang ayat ini, ³Iblis hasad kepada Adam µalaihis salaam dengan kemuliaan yang Allah berikan kepada Adam. Iblis mengatakan, ³Saya diciptakan dari api sementara Adam diciptakan dari tanah´. Kesombongan inilah dosa yang pertama kali terjadi . Iblis sombong dengan tidak mau sujud kepada Adam´ (Tafsir Ibnu Katsir, 1/114, cet al Maktabah at Tauqifiyah) Hakekat Kesombongan Diriwayatkan dari Abdullah bin Mas¶ud radhiyallahu µanhu dari Nabi shalallahu µalaihi wa sallam, beliau bersabda,

³Tidak akan masuk surga seseorang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan sebesar biji sawi.´ Ada seseorang yang bertanya, ³Bagaimana dengan seorang yang suka memakai baju dan sandal yang bagus?´ Beliau menjawab,³Sesungguhnya Allah itu indah dan menyukai keindahan. Sombong adalah menolak kebenaran dan meremehkan orang lain.³ (HR. Muslim no. 91) An Nawawi rahimahullah berkata, ³Hadist ini berisi larangan dari sifat sombong yaitu menyombongkan diri kepada manusia, merendahkan mereka, serta menolak kebenaran´ (Syarah Shahih Muslim Imam Nawawi, II/163, cet. Daar Ibnu Haitsam) Kesombongan ada dua macam, yaitu sombong terhadap al haq dan sombong terhadap makhluk. Hal ini diterangkan oleh Nabi shallallahu µalaihi wa sallam pada hadist di atas dalam sabda beliau, ³sombong adalah menolak kebenaran dan suka meremehkan orang lain´. Menolak kebenaran adalah dengan menolak dan berpaling darinya serta tidak mau menerimanya.

Sedangkan meremehkan manusia yakni merendahkan dan meremehkan orang lain, memandang orang lain tidak ada apa-apanya dan melihat dirinya lebih dibandingkan orang lain. (Syarh Riyadus Shaalihin, II/301, Syaikh Muhammad bin Shalih al µUtsaimin, cet Daar Ibnu Haitsam) Sombong Terhadap al Haq (Kebenaran) Sombong terhadap al haq adalah sombong terhadap kebenaran, yakni dengan tidak menerimanya. Setiap orang yang menolak kebenaran maka dia telah sombong disebabkan penolakannya tersebut. Oleh karena itu wajib bagi setiap hamba untuk menerima kebenaran yang ada dalam Kitabullah dan ajaran para rasul µalaihimus salaam. Orang yang sombong terhadap ajaran rasul secara keseluruhan maka dia telah kafir dan akan kekal di neraka. Ketika datang kebenaran yang dibawa oleh rasul dan dikuatkan dengan ayat dan burhan, dia bersikap sombong dan hatinya menentang sehingga dia menolak kebenaran tersebut. Hal ini seperti yang Allah terangkan dalam firman-Nya, {56} ³Sesungguhnya orang-orang yang memperdebatkan tentang ayat-ayat Allah tanpa lasan yang sampai pada mereka tidak ada dalam dada mereka melainkan hanyalah (keinginan akan) kesombongan yang mereka sekali-klai tiada akan mencapainya, maka mintalah perlindungan kepada Allah. Sesungguhnya Dia Maha Mnedengar lagi Maha Melihat´ (QS. Ghafir:56) Adapun orang yang sombong dengan menolak sebagian al haq yang tidak sesuai dengan hawa nafsu dan akalnya ±tidak termasuk kekafiran- maka dia berhak mendapat hukuman (adzab) karena sifat sombongnya tersebut. Maka wajib bagi para penuntut ilmu untuk memiliki tekad yang kuat mendahulukan perkataan Rasul shalallahu µalaihi wa sallam di atas perkataan siapa pun. Karena pokok kebenaran adalah kembali kepadanya dan pondasi kebenaran dibangun di atasnya, yakni dengan petunjuk Nabi shalallahu µalaihi wa sallam. Kita berusaha untuk mengetahui maksudnya, dan mengikutinya secara lahir dan batin. (Lihat Bahjatu Qulubil Abrar, hal 194-195, Syaikh Nashir as Sa¶di, cet Daarul Kutub µIlmiyah) Sikap seorang muslim terhadap setiap kebenaran adalah menerimanya secara penuh sebagaimana firman AllahµAzza wa Jalla, {36} ³Dan tidaklah patut bagi mukmin laki-laki dan mukmin perempuan, apabila Allah dan RasulNya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka.´ (QS. Al-Ahzab: 36) {65} ³Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya´ (QS. An Nisaa¶: 65) Sombong Terhadap Makhluk Bentuk kesombongan yang kedua adalah sombong terhadap makhluk, yakni dengan meremehkan dan merendahkannya. Hal ini muncul karena seseorang bangga dengan dirinya sendiri dan menganggap dirinya lebih mulia dari orang lain. Kebanggaaan terhadap diri sendiri membawanya sombong terhadap orang lain, meremehkan dan menghina mereka, serta

merendahkan mereka baik dengan perbuatan maupun perkataan. Rasulullah shalallahu µalaihi wa sallam bersabda, ³Cukuplah seseorang dikatakan berbuat jahat jika ia menghina saudaranya sesama muslim´ (H.R. Muslim 2564). (Bahjatu Qulubill Abrar, hal 195) Di antara bentuk kesombongan terhadap manusia di antaranya adalah sombong dengan pangkat dan kedudukannya, sombong dengan harta, sombong dengan kekuatan dan kesehatan, sombong dengan ilmu dan kecerdasan, sombong dengan bentuk tubuh, dan kelebihan-kelebihan lainnya. Dia merasa lebih dibandingkan orang lain dengan kelebihan-kelebihan tersebut. Padahal kalau kita renungkan, siapa yang memberikan harta, kecerdasan, pangkat, kesehatan, bentuk tubuh yang indah? Semua murni hanyalah nikmat dari Allah Ta¶ala. Jika Allah berkehendak, sangat mudah bagi Allah untuk mencabut kelebihan-kelebihan tersebut. Pada hakekatnya manusia tidak memiliki apa-apa, lantas mengapa dia harus sombong terhadap orang lain? Wallahul musta¶an. Hukuman Pelaku Sombong di Dunia Dalam sebuah hadist yang shahih dikisahkan sebagai berikut , . » . » . .

³Ada seorang laki-laki makan di samping Rasulullah shallallahu µalaihi wa sallam dengan tangan kirinya. Lalu Rasulullah shallallahu µalaihi wa sallam bersabda, ³Makanlah dengan tangan kananmu!´ Orang tersebut malahmenjawab, ³Aku tidak bisa.´ Beliau bersabda, ³Apakah kamu tidak bisa?´ -dia menolaknya karena sombong-. Setelah itu tangannya tidak bisa sampai ke mulutnya´ (H.R. Muslim no. 3766). Orang tersebut mendapat hukum di dunia disebabkan perbuatannya menolak perintah Rasulullah shallallahu µalaihi wa sallam. Dia dihukum karena kesombongannya. Akhirnya dia tidak bisa mengangkat tangan kanannya disebabkan sikap sombongnya terhadap perintah Rasulullah shallallahu µalaihi wa sallam. Inilah di antara bentuk hukuman di dunia bagi orang yang sombong. Mengganti Sikap Sombong dengan Tawadhu¶ Kebalikan dari sikap sombong adalah sikap tawadhu¶ (rendah hati). Sikap inilah yang merupakan sikap terpuji, yang merupakan salah satu sifat µibaadur Rahman yang Allah terangkan dalam firman-Nya, ³Hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih adalah orang-orang yang berjalan di atas muka bumi dengan rendah hati (tawadhu¶) dan apabila orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata yang baik.´ (QS. Al Furqaan: 63) Diriwayatkan dari Iyadh bin Himar radhiyallahu µanhu bahwa Rasulullah shalallahu µalaihi wa sallam pernah bersabda, µSesungguhnya Allah mewahyukan kepadaku agar kalian bersikap rendah hati hingga tidak seorang pun yang bangga atas yang lain dan tidak ada yang berbuat aniaya terhadap yang lain´ (HR Muslim no. 2865). Rasulullah shallallahu µalaihi wa sallam bersabda, .

³Sedekah itu tidak akan mengurangi harta. Tidak ada orang yang memberi maaf kepada orang lain, melainkan Allah akan menambah kemuliaan untuknya. Dan tidak ada orang yang tawadhu¶ (merendahkan diri) karena Allah, melainkan Allah akan mengangkat derajatnya.´ (HR. Muslim no. 2588) Sikap tawadhu¶ inilah yang akan mengangkat derajat seorang hamba, sebagaimana Allah berfirman, ³Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang-orang yang berilmu beberapa derajat ³ (QS. Al Mujadilah: 11). Termasuk buah dari lmu yang paling agung adalah sikap tawadhu¶. Tawadhu¶ adalah ketundukan secara total terhadap kebenaran, dan tunduk terhadap perintah Allah dan rasul-Nya dengan melaksanakan perintah dan menjauhi larangan disertai sikap tawdahu¶ terhadap manusia dengan bersikap merenadahkan hati, memperhatikan mereka baik yang tua maupun muda, dan memuliakan mereka. Kebalikannya adalah sikap sombong yaitu menolak kebenaran dan rendahkan manusia. (Bahjatu Qulubil Abrar, hal 110) Tidak Termasuk Kesombongan Tatkala Rasulullah shalallahu µalaihi wa sallam menceritakan bahwa orang yang memiliki sikap sombong tidak akan masuk surga, ada sahabat yang bertanya tentang orang yang suka memakai pakaian dan sandal yang bagus. Dia khawatir hal itu termasuk kesombongan yang diancam dalam hadits. Maka Rasulullah shalallahu µalaihi wa sallammenerangkan bahwasanya hal itu tidak termasuk kesombongan selama orang tersebut tunduk kepada kebenaran dan bersikap tawadhu¶ kepada manusia. Bahkan hal itu termasuk bentuk keindahan yang dicintai oleh Allah, karena sesungguhnya Allah Maha Indah dalam dzat-Nya, nama-nama dan sifat-sifat-Nya, serta perbuatan-Nya. Allah mencintai keindahan lahir dan batin.( Bahjatu Qulubil Abrar , hal 195) Kesombongan yang Paling Buruk Al Imam Adz Dzahabi rahimahullah berkata, ³Kesombongan yang paling buruk adalah orang yang menyombongkan diri di hadapan manusia dengan ilmunya, merasa dirinya besar dengan kemuliaan yang dia miliki. Bagi orang tersebut tidak bermanfaat ilmunya untuk dirinya. Barangsiapa yang menuntut ilmu demi akhirat maka ilmunya itu akan menimbulkan hati yang khusyuk serta jiwa yang tenang. Dia akan terus mengawasi dirinya dan tidak bosan untuk terus memperhatikannya, bahkan setiap saat dia selalu introspeksi dan meluruskannya. Apabila dia lalai dari hal itu, dia akan menyimpang dari jalan yang lurus dan akan binasa. Barangsiapa yang menuntut ilmu untuk membanggakan diri dan meraih kedudukan, memandang remeh kaum muslimin yang lainnya serta membodoh-bodohi dan merendahkan mereka, maka hal ini merupakan kesombongan yang paling besar. Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan walaupun hanya sebesar dzarrah (biji sawi). Laa haula wa laa quwwata illaa billah.´ (Al Kabaa¶ir ma¶a Syarh li Ibni al µUtsaimin hal. 75-76, cet. Daarul Kutub µIlmiyah.) Pembaca yang dirahmati oleh Allah, semoga Allah Ta¶ala menjauhkan kita dari sikap sombong. Hanya kepada Allah lah kita memohon. Wa shalallahu µalaa nabiyyinaa Muhammad. Penulis: Abu µAthifah Adika Mianoki Muroja¶ah: M. A. Tuasikal Jauhilah Sikap Sombong Kategori Akhlaq dan Nasehat | 08-06-2010 | 13 Komentar

Salah satu tujuan diutusnya Rasulullah shalallahu µalaihi wa sallam adalah untuk memperbaiki akhlak manusia. Nabishallallahu µalaihi wa sallam bersabda, ³Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlaq yang baik.´ (HR. Ahmad 2/381. Syaikh Syu¶aib Al Arnauth menyatakan bahwa hadits ini shahih) Islam adalah agama yang mengajarkan akhlak yang luhur dan mulia. Oleh karena itu, banyak dalil al Quran dan as Sunnah yang memerintahkan kita untuk memiliki akhlak yang mulia dan menjauhi akhlak yang tercela. Demikian pula banyak dalil yang menunjukkan pujian bagi pemilik akhlak baik dan celaan bagi pemilik akhlak yang buruk. Salah satu akhlak buruk yang harus dihindari oleh setiap muslim adalah sikap sombong. Sikap sombong adalah memandang dirinya berada di atas kebenaran dan merasa lebih di atas orang lain. Orang yang sombong merasa dirinya sempurna dan memandang dirinya berada di atas orang lain. (Bahjatun Nadzirin, I/664, Syaikh Salim al Hilali, cet. Daar Ibnu Jauzi) Islam Melarang dan Mencela Sikap Sombong Allah Ta¶ala berfirman, {18} ³Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.´ (QS. Luqman:18) Allah Ta¶ala berfirman, ³Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang menyombongkan diri.´ (QS. An Nahl: 23) Haritsah bin Wahb Al Khuzai¶i berkata bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu µalaihi wa sallam bersabda, ³Maukah kamu aku beritahu tentang penduduk neraka? Mereka semua adalah orang-orang keras lagi kasar, tamak lagi rakus, dan takabbur(sombong).³ (HR. Bukhari no. 4918 dan Muslim no. 2853). Dosa Pertama Iblis Sebagian salaf menjelaskan bahwa dosa pertama kali yang muncul kepada Allah adalah kesombongan. Allah Ta¶alaberfirman, {34} ³Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: ³Sujudlah kalian kepada Adam,´ maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur (sombong) dan ia termasuk golongan orang-orang yang kafir³ (QS. Al Baqarah:34) Qotadah berkata tentang ayat ini, ³Iblis hasad kepada Adam µalaihis salaam dengan kemuliaan yang Allah berikan kepada Adam. Iblis mengatakan, ³Saya diciptakan dari api sementara Adam diciptakan dari tanah´. Kesombongan inilah dosa yang pertama kali terjadi . Iblis sombong dengan tidak mau sujud kepada Adam´ (Tafsir Ibnu Katsir, 1/114, cet al Maktabah at Tauqifiyah) Hakekat Kesombongan

Diriwayatkan dari Abdullah bin Mas¶ud radhiyallahu µanhu dari Nabi shalallahu µalaihi wa sallam, beliau bersabda,

³Tidak akan masuk surga seseorang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan sebesar biji sawi.´ Ada seseorang yang bertanya, ³Bagaimana dengan seorang yang suka memakai baju dan sandal yang bagus?´ Beliau menjawab,³Sesungguhnya Allah itu indah dan menyukai keindahan. Sombong adalah menolak kebenaran dan meremehkan orang lain.³ (HR. Muslim no. 91) An Nawawi rahimahullah berkata, ³Hadist ini berisi larangan dari sifat sombong yaitu menyombongkan diri kepada manusia, merendahkan mereka, serta menolak kebenaran´ (Syarah Shahih Muslim Imam Nawawi, II/163, cet. Daar Ibnu Haitsam) Kesombongan ada dua macam, yaitu sombong terhadap al haq dan sombong terhadap makhluk. Hal ini diterangkan oleh Nabi shallallahu µalaihi wa sallam pada hadist di atas dalam sabda beliau, ³sombong adalah menolak kebenaran dan suka meremehkan orang lain´. Menolak kebenaran adalah dengan menolak dan berpaling darinya serta tidak mau menerimanya. Sedangkan meremehkan manusia yakni merendahkan dan meremehkan orang lain, memandang orang lain tidak ada apa-apanya dan melihat dirinya lebih dibandingkan orang lain. (Syarh Riyadus Shaalihin, II/301, Syaikh Muhammad bin Shalih al µUtsaimin, cet Daar Ibnu Haitsam) Sombong Terhadap al Haq (Kebenaran) Sombong terhadap al haq adalah sombong terhadap kebenaran, yakni dengan tidak menerimanya. Setiap orang yang menolak kebenaran maka dia telah sombong disebabkan penolakannya tersebut. Oleh karena itu wajib bagi setiap hamba untuk menerima kebenaran yang ada dalam Kitabullah dan ajaran para rasul µalaihimus salaam. Orang yang sombong terhadap ajaran rasul secara keseluruhan maka dia telah kafir dan akan kekal di neraka. Ketika datang kebenaran yang dibawa oleh rasul dan dikuatkan dengan ayat dan burhan, dia bersikap sombong dan hatinya menentang sehingga dia menolak kebenaran tersebut. Hal ini seperti yang Allah terangkan dalam firman-Nya, {56} ³Sesungguhnya orang-orang yang memperdebatkan tentang ayat-ayat Allah tanpa lasan yang sampai pada mereka tidak ada dalam dada mereka melainkan hanyalah (keinginan akan) kesombongan yang mereka sekali-klai tiada akan mencapainya, maka mintalah perlindungan kepada Allah. Sesungguhnya Dia Maha Mnedengar lagi Maha Melihat´ (QS. Ghafir:56) Adapun orang yang sombong dengan menolak sebagian al haq yang tidak sesuai dengan hawa nafsu dan akalnya ±tidak termasuk kekafiran- maka dia berhak mendapat hukuman (adzab) karena sifat sombongnya tersebut. Maka wajib bagi para penuntut ilmu untuk memiliki tekad yang kuat mendahulukan perkataan Rasul shalallahu µalaihi wa sallam di atas perkataan siapa pun. Karena pokok kebenaran adalah kembali kepadanya dan pondasi kebenaran dibangun di atasnya, yakni dengan petunjuk Nabi shalallahu µalaihi wa sallam. Kita berusaha untuk mengetahui maksudnya, dan mengikutinya secara lahir dan batin. (Lihat Bahjatu Qulubil Abrar, hal 194-195, Syaikh Nashir as Sa¶di, cet Daarul Kutub µIlmiyah) Sikap seorang muslim terhadap setiap kebenaran adalah menerimanya secara penuh sebagaimana firman AllahµAzza wa Jalla,

{36} ³Dan tidaklah patut bagi mukmin laki-laki dan mukmin perempuan, apabila Allah dan RasulNya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka.´ (QS. Al-Ahzab: 36) {65} ³Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya´ (QS. An Nisaa¶: 65) Sombong Terhadap Makhluk Bentuk kesombongan yang kedua adalah sombong terhadap makhluk, yakni dengan meremehkan dan merendahkannya. Hal ini muncul karena seseorang bangga dengan dirinya sendiri dan menganggap dirinya lebih mulia dari orang lain. Kebanggaaan terhadap diri sendiri membawanya sombong terhadap orang lain, meremehkan dan menghina mereka, serta merendahkan mereka baik dengan perbuatan maupun perkataan. Rasulullah shalallahu µalaihi wa sallam bersabda, ³Cukuplah seseorang dikatakan berbuat jahat jika ia menghina saudaranya sesama muslim´ (H.R. Muslim 2564). (Bahjatu Qulubill Abrar, hal 195) Di antara bentuk kesombongan terhadap manusia di antaranya adalah sombong dengan pangkat dan kedudukannya, sombong dengan harta, sombong dengan kekuatan dan kesehatan, sombong dengan ilmu dan kecerdasan, sombong dengan bentuk tubuh, dan kelebihan-kelebihan lainnya. Dia merasa lebih dibandingkan orang lain dengan kelebihan-kelebihan tersebut. Padahal kalau kita renungkan, siapa yang memberikan harta, kecerdasan, pangkat, kesehatan, bentuk tubuh yang indah? Semua murni hanyalah nikmat dari Allah Ta¶ala. Jika Allah berkehendak, sangat mudah bagi Allah untuk mencabut kelebihan-kelebihan tersebut. Pada hakekatnya manusia tidak memiliki apa-apa, lantas mengapa dia harus sombong terhadap orang lain? Wallahul musta¶an. Hukuman Pelaku Sombong di Dunia Dalam sebuah hadist yang shahih dikisahkan sebagai berikut , . » . » . .

³Ada seorang laki-laki makan di samping Rasulullah shallallahu µalaihi wa sallam dengan tangan kirinya. Lalu Rasulullah shallallahu µalaihi wa sallam bersabda, ³Makanlah dengan tangan kananmu!´ Orang tersebut malahmenjawab, ³Aku tidak bisa.´ Beliau bersabda, ³Apakah kamu tidak bisa?´ -dia menolaknya karena sombong-. Setelah itu tangannya tidak bisa sampai ke mulutnya´ (H.R. Muslim no. 3766). Orang tersebut mendapat hukum di dunia disebabkan perbuatannya menolak perintah Rasulullah shallallahu µalaihi wa sallam. Dia dihukum karena kesombongannya. Akhirnya dia tidak bisa mengangkat tangan kanannya disebabkan sikap sombongnya terhadap perintah Rasulullah shallallahu µalaihi wa sallam. Inilah di antara bentuk hukuman di dunia bagi orang yang sombong. Mengganti Sikap Sombong dengan Tawadhu¶

Kebalikan dari sikap sombong adalah sikap tawadhu¶ (rendah hati). Sikap inilah yang merupakan sikap terpuji, yang merupakan salah satu sifat µibaadur Rahman yang Allah terangkan dalam firman-Nya, ³Hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih adalah orang-orang yang berjalan di atas muka bumi dengan rendah hati (tawadhu¶) dan apabila orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata yang baik.´ (QS. Al Furqaan: 63) Diriwayatkan dari Iyadh bin Himar radhiyallahu µanhu bahwa Rasulullah shalallahu µalaihi wa sallam pernah bersabda, µSesungguhnya Allah mewahyukan kepadaku agar kalian bersikap rendah hati hingga tidak seorang pun yang bangga atas yang lain dan tidak ada yang berbuat aniaya terhadap yang lain´ (HR Muslim no. 2865). Rasulullah shallallahu µalaihi wa sallam bersabda, . ³Sedekah itu tidak akan mengurangi harta. Tidak ada orang yang memberi maaf kepada orang lain, melainkan Allah akan menambah kemuliaan untuknya. Dan tidak ada orang yang tawadhu¶ (merendahkan diri) karena Allah, melainkan Allah akan mengangkat derajatnya.´ (HR. Muslim no. 2588) Sikap tawadhu¶ inilah yang akan mengangkat derajat seorang hamba, sebagaimana Allah berfirman, ³Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang-orang yang berilmu beberapa derajat ³ (QS. Al Mujadilah: 11). Termasuk buah dari lmu yang paling agung adalah sikap tawadhu¶. Tawadhu¶ adalah ketundukan secara total terhadap kebenaran, dan tunduk terhadap perintah Allah dan rasul-Nya dengan melaksanakan perintah dan menjauhi larangan disertai sikap tawdahu¶ terhadap manusia dengan bersikap merenadahkan hati, memperhatikan mereka baik yang tua maupun muda, dan memuliakan mereka. Kebalikannya adalah sikap sombong yaitu menolak kebenaran dan rendahkan manusia. (Bahjatu Qulubil Abrar, hal 110) Tidak Termasuk Kesombongan Tatkala Rasulullah shalallahu µalaihi wa sallam menceritakan bahwa orang yang memiliki sikap sombong tidak akan masuk surga, ada sahabat yang bertanya tentang orang yang suka memakai pakaian dan sandal yang bagus. Dia khawatir hal itu termasuk kesombongan yang diancam dalam hadits. Maka Rasulullah shalallahu µalaihi wa sallammenerangkan bahwasanya hal itu tidak termasuk kesombongan selama orang tersebut tunduk kepada kebenaran dan bersikap tawadhu¶ kepada manusia. Bahkan hal itu termasuk bentuk keindahan yang dicintai oleh Allah, karena sesungguhnya Allah Maha Indah dalam dzat-Nya, nama-nama dan sifat-sifat-Nya, serta perbuatan-Nya. Allah mencintai keindahan lahir dan batin.( Bahjatu Qulubil Abrar , hal 195) Kesombongan yang Paling Buruk Al Imam Adz Dzahabi rahimahullah berkata, ³Kesombongan yang paling buruk adalah orang yang menyombongkan diri di hadapan manusia dengan ilmunya, merasa dirinya besar dengan kemuliaan yang dia miliki. Bagi orang tersebut tidak bermanfaat ilmunya untuk dirinya. Barangsiapa yang menuntut ilmu demi akhirat maka ilmunya itu akan menimbulkan hati yang khusyuk serta jiwa yang tenang. Dia akan terus mengawasi dirinya dan tidak bosan untuk terus

memperhatikannya, bahkan setiap saat dia selalu introspeksi dan meluruskannya. Apabila dia lalai dari hal itu, dia akan menyimpang dari jalan yang lurus dan akan binasa. Barangsiapa yang menuntut ilmu untuk membanggakan diri dan meraih kedudukan, memandang remeh kaum muslimin yang lainnya serta membodoh-bodohi dan merendahkan mereka, maka hal ini merupakan kesombongan yang paling besar. Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan walaupun hanya sebesar dzarrah (biji sawi). Laa haula wa laa quwwata illaa billah.´ (Al Kabaa¶ir ma¶a Syarh li Ibni al µUtsaimin hal. 75-76, cet. Daarul Kutub µIlmiyah.) Pembaca yang dirahmati oleh Allah, semoga Allah Ta¶ala menjauhkan kita dari sikap sombong. Hanya kepada Allah lah kita memohon. Wa shalallahu µalaa nabiyyinaa Muhammad. Penulis: Abu µAthifah Adika Mianoki Muroja¶ah: M. A. Tuasikal

Jauhilah Sikap Sombong
Kategori Akhlaq dan Nasehat | 08-06-2010 | 13 Komentar

Salah satu tujuan diutusnya Rasulullah shalallahu µalaihi wa sallam adalah untuk memperbaiki akhlak manusia. Nabishallallahu µalaihi wa sallam bersabda,

³Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlaq yang baik.´ (HR. Ahmad 2/381. Syaikh Syu¶aib Al Arnauth menyatakan bahwa hadits ini shahih) Islam adalah agama yang mengajarkan akhlak yang luhur dan mulia. Oleh karena itu, banyak dalil al Quran dan as Sunnah yang memerintahkan kita untuk memiliki akhlak yang mulia dan menjauhi akhlak yang tercela. Demikian pula banyak dalil yang menunjukkan pujian bagi pemilik akhlak baik dan celaan bagi pemilik akhlak yang buruk. Salah satu akhlak buruk yang harus dihindari oleh setiap muslim adalah sikap sombong. Sikap sombong adalah memandang dirinya berada di atas kebenaran dan merasa lebih di atas orang lain. Orang yang sombong merasa dirinya sempurna dan memandang dirinya berada di atas orang lain. (Bahjatun Nadzirin, I/664, Syaikh Salim al Hilali, cet. Daar Ibnu Jauzi) Islam Melarang dan Mencela Sikap Sombong Allah Ta¶ala berfirman, {18} ³Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.´ (QS. Luqman:18) Allah Ta¶ala berfirman,

³Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang menyombongkan diri.´ (QS. An Nahl: 23) Haritsah bin Wahb Al Khuzai¶i berkata bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu µalaihi wa sallam bersabda,

³Maukah kamu aku beritahu tentang penduduk neraka? Mereka semua adalah orang-orang keras lagi kasar, tamak lagi rakus, dan takabbur(sombong).³ (HR. Bukhari no. 4918 dan Muslim no. 2853). Dosa Pertama Iblis Sebagian salaf menjelaskan bahwa dosa pertama kali yang muncul kepada Allah adalah kesombongan. Allah Ta¶alaberfirman, {34} ³Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: ³Sujudlah kalian kepada Adam,´ maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur (sombong) dan ia termasuk golongan orang-orang yang kafir³ (QS. Al Baqarah:34) Qotadah berkata tentang ayat ini, ³Iblis hasad kepada Adam µalaihis salaam dengan kemuliaan yang Allah berikan kepada Adam. Iblis mengatakan, ³Saya diciptakan dari api sementara Adam diciptakan dari tanah´. Kesombongan inilah dosa yang pertama kali terjadi . Iblis sombong dengan tidak mau sujud kepada Adam´ (Tafsir Ibnu Katsir, 1/114, cet al Maktabah at Tauqifiyah) Hakekat Kesombongan Diriwayatkan dari Abdullah bin Mas¶ud radhiyallahu µanhu dari Nabi shalallahu µalaihi wa sallam, beliau bersabda,

³Tidak akan masuk surga seseorang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan sebesar biji sawi.´ Ada seseorang yang bertanya, ³Bagaimana dengan seorang yang suka memakai baju dan sandal yang bagus?´ Beliau menjawab,³Sesungguhnya Allah itu indah dan menyukai keindahan. Sombong adalah menolak kebenaran dan meremehkan orang lain.³ (HR. Muslim no. 91) An Nawawi rahimahullah berkata, ³Hadist ini berisi larangan dari sifat sombong yaitu menyombongkan diri kepada manusia, merendahkan mereka, serta menolak kebenaran´ (Syarah Shahih Muslim Imam Nawawi, II/163, cet. Daar Ibnu Haitsam)

Kesombongan ada dua macam, yaitu sombong terhadap al haq dan sombong terhadap makhluk. Hal ini diterangkan oleh Nabi shallallahu µalaihi wa sallam pada hadist di atas dalam sabda beliau, ³sombong adalah menolak kebenaran dan suka meremehkan orang lain´. Menolak kebenaran adalah dengan menolak dan berpaling darinya serta tidak mau menerimanya. Sedangkan meremehkan manusia yakni merendahkan dan meremehkan orang lain, memandang orang lain tidak ada apa-apanya dan melihat dirinya lebih dibandingkan orang lain. (Syarh Riyadus Shaalihin, II/301, Syaikh Muhammad bin Shalih al µUtsaimin, cet Daar Ibnu Haitsam) Sombong Terhadap al Haq (Kebenaran) Sombong terhadap al haq adalah sombong terhadap kebenaran, yakni dengan tidak menerimanya. Setiap orang yang menolak kebenaran maka dia telah sombong disebabkan penolakannya tersebut. Oleh karena itu wajib bagi setiap hamba untuk menerima kebenaran yang ada dalam Kitabullah dan ajaran para rasul µalaihimus salaam. Orang yang sombong terhadap ajaran rasul secara keseluruhan maka dia telah kafir dan akan kekal di neraka. Ketika datang kebenaran yang dibawa oleh rasul dan dikuatkan dengan ayat dan burhan, dia bersikap sombong dan hatinya menentang sehingga dia menolak kebenaran tersebut. Hal ini seperti yang Allah terangkan dalam firman-Nya, {56} ³Sesungguhnya orang-orang yang memperdebatkan tentang ayat-ayat Allah tanpa lasan yang sampai pada mereka tidak ada dalam dada mereka melainkan hanyalah (keinginan akan) kesombongan yang mereka sekali-klai tiada akan mencapainya, maka mintalah perlindungan kepada Allah. Sesungguhnya Dia Maha Mnedengar lagi Maha Melihat´ (QS. Ghafir:56) Adapun orang yang sombong dengan menolak sebagian al haq yang tidak sesuai dengan hawa nafsu dan akalnya ±tidak termasuk kekafiran- maka dia berhak mendapat hukuman (adzab) karena sifat sombongnya tersebut. Maka wajib bagi para penuntut ilmu untuk memiliki tekad yang kuat mendahulukan perkataan Rasul shalallahu µalaihi wa sallam di atas perkataan siapa pun. Karena pokok kebenaran adalah kembali kepadanya dan pondasi kebenaran dibangun di atasnya, yakni dengan petunjuk Nabi shalallahu µalaihi wa sallam. Kita berusaha untuk mengetahui maksudnya, dan mengikutinya secara lahir dan batin. (Lihat Bahjatu Qulubil Abrar, hal 194-195, Syaikh Nashir as Sa¶di, cet Daarul Kutub µIlmiyah) Sikap seorang muslim terhadap setiap kebenaran adalah menerimanya secara penuh sebagaimana firman AllahµAzza wa Jalla, {36} ³Dan tidaklah patut bagi mukmin laki-laki dan mukmin perempuan, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka.´ (QS. Al-Ahzab: 36) {65} ³Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya´ (QS. An Nisaa¶: 65) Sombong Terhadap Makhluk Bentuk kesombongan yang kedua adalah sombong terhadap makhluk, yakni dengan meremehkan dan merendahkannya. Hal ini muncul karena seseorang bangga dengan dirinya sendiri dan menganggap dirinya lebih mulia dari orang lain. Kebanggaaan terhadap diri sendiri membawanya sombong terhadap orang lain, meremehkan dan menghina mereka, serta merendahkan mereka baik dengan perbuatan maupun perkataan. Rasulullah shalallahu µalaihi wa sallam bersabda,

³Cukuplah seseorang dikatakan berbuat jahat jika ia menghina saudaranya sesama muslim´ (H.R. Muslim 2564). (Bahjatu Qulubill Abrar, hal 195) Di antara bentuk kesombongan terhadap manusia di antaranya adalah sombong dengan pangkat dan kedudukannya, sombong dengan harta, sombong dengan kekuatan dan kesehatan, sombong dengan ilmu dan kecerdasan, sombong dengan bentuk tubuh, dan kelebihan-kelebihan lainnya. Dia merasa lebih dibandingkan orang lain dengan kelebihan-kelebihan tersebut. Padahal kalau kita renungkan, siapa yang memberikan harta, kecerdasan, pangkat, kesehatan, bentuk tubuh yang indah? Semua murni hanyalah nikmat dari Allah Ta¶ala. Jika Allah berkehendak, sangat mudah bagi Allah untuk mencabut kelebihan-kelebihan tersebut. Pada hakekatnya manusia tidak memiliki apa-apa, lantas mengapa dia harus sombong terhadap orang lain? Wallahul musta¶an. Hukuman Pelaku Sombong di Dunia Dalam sebuah hadist yang shahih dikisahkan sebagai berikut , . . .« » .« » -

³Ada seorang laki-laki makan di samping Rasulullah shallallahu µalaihi wa sallam dengan tangan kirinya. Lalu Rasulullah shallallahu µalaihi wa sallam bersabda, ³Makanlah dengan tangan kananmu!´ Orang tersebut malahmenjawab, ³Aku tidak bisa.´ Beliau bersabda, ³Apakah kamu tidak bisa?´ -dia menolaknya karena sombong-. Setelah itu tangannya tidak bisa sampai ke mulutnya´ (H.R. Muslim no. 3766). Orang tersebut mendapat hukum di dunia disebabkan perbuatannya menolak perintah Rasulullah shallallahu µalaihi wa sallam. Dia dihukum karena kesombongannya. Akhirnya dia tidak bisa mengangkat tangan kanannya disebabkan sikap sombongnya terhadap perintah Rasulullah shallallahu µalaihi wa sallam. Inilah di antara bentuk hukuman di dunia bagi orang yang sombong. Mengganti Sikap Sombong dengan Tawadhu¶ Kebalikan dari sikap sombong adalah sikap tawadhu¶ (rendah hati). Sikap inilah yang merupakan sikap terpuji, yang merupakan salah satu sifat µibaadur Rahman yang Allah terangkan dalam firman-Nya,

³Hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih adalah orang-orang yang berjalan di atas muka bumi dengan rendah hati (tawadhu¶) dan apabila orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata yang baik.´ (QS. Al Furqaan: 63) Diriwayatkan dari Iyadh bin Himar radhiyallahu µanhu bahwa Rasulullah shalallahu µalaihi wa sallam pernah bersabda,

µSesungguhnya Allah mewahyukan kepadaku agar kalian bersikap rendah hati hingga tidak seorang pun yang bangga atas yang lain dan tidak ada yang berbuat aniaya terhadap yang lain´ (HR Muslim no. 2865). Rasulullah shallallahu µalaihi wa sallam bersabda, . ³Sedekah itu tidak akan mengurangi harta. Tidak ada orang yang memberi maaf kepada orang lain, melainkan Allah akan menambah kemuliaan untuknya. Dan tidak ada orang yang tawadhu¶ (merendahkan diri) karena Allah, melainkan Allah akan mengangkat derajatnya.´ (HR. Muslim no. 2588) Sikap tawadhu¶ inilah yang akan mengangkat derajat seorang hamba, sebagaimana Allah berfirman,

³Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang-orang yang berilmu beberapa derajat ³ (QS. Al Mujadilah: 11). Termasuk buah dari lmu yang paling agung adalah sikap tawadhu¶. Tawadhu¶ adalah ketundukan secara total terhadap kebenaran, dan tunduk terhadap perintah Allah dan rasul-Nya dengan melaksanakan perintah dan menjauhi larangan disertai sikap tawdahu¶ terhadap manusia dengan bersikap merenadahkan hati, memperhatikan mereka baik yang tua maupun muda, dan memuliakan mereka. Kebalikannya adalah sikap sombong yaitu menolak kebenaran dan rendahkan manusia. (Bahjatu Qulubil Abrar, hal 110)

Tidak Termasuk Kesombongan Tatkala Rasulullah shalallahu µalaihi wa sallam menceritakan bahwa orang yang memiliki sikap sombong tidak akan masuk surga, ada sahabat yang bertanya tentang orang yang suka memakai pakaian dan sandal yang bagus. Dia khawatir hal itu termasuk kesombongan yang diancam dalam hadits. Maka Rasulullah shalallahu µalaihi wa sallammenerangkan bahwasanya hal itu tidak termasuk kesombongan selama orang tersebut tunduk kepada kebenaran dan bersikap tawadhu¶ kepada manusia. Bahkan hal itu termasuk bentuk keindahan yang dicintai oleh Allah, karena sesungguhnya Allah Maha Indah dalam dzat-Nya, nama-nama dan sifat-sifat-Nya, serta perbuatan-Nya. Allah mencintai keindahan lahir dan batin.( Bahjatu Qulubil Abrar , hal 195) Kesombongan yang Paling Buruk Al Imam Adz Dzahabi rahimahullah berkata, ³Kesombongan yang paling buruk adalah orang yang menyombongkan diri di hadapan manusia dengan ilmunya, merasa dirinya besar dengan kemuliaan yang dia miliki. Bagi orang tersebut tidak bermanfaat ilmunya untuk dirinya. Barangsiapa yang menuntut ilmu demi akhirat maka ilmunya itu akan menimbulkan hati yang khusyuk serta jiwa yang tenang. Dia akan terus mengawasi dirinya dan tidak bosan untuk terus memperhatikannya, bahkan setiap saat dia selalu introspeksi dan meluruskannya. Apabila dia lalai dari hal itu, dia akan menyimpang dari jalan yang lurus dan akan binasa. Barangsiapa yang menuntut ilmu untuk membanggakan diri dan meraih kedudukan, memandang remeh kaum muslimin yang lainnya serta membodoh-bodohi dan merendahkan mereka, maka hal ini merupakan kesombongan yang paling besar. Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan walaupun hanya sebesar dzarrah (biji sawi). Laa haula wa laa quwwata illaa billah.´ (Al Kabaa¶ir ma¶a Syarh li Ibni al µUtsaimin hal. 75-76, cet. Daarul Kutub µIlmiyah.) Pembaca yang dirahmati oleh Allah, semoga Allah Ta¶ala menjauhkan kita dari sikap sombong. Hanya kepada Allah lah kita memohon. Wa shalallahu µalaa nabiyyinaa Muhammad. Penulis: Abu µAthifah Adika Mianoki Muroja¶ah: M. A. Tuasikal

Bagaimana Saya Bisa Ikhlas di Setiap Amal? Ketahuilah setan akan senantiasa menggoda manusia untuk merusak amal shalihnya. Dengan demikian, seorang mukmin akan senantiasa berjihad dengan musuhnya, iblis sampai dia menemui Rabb-nya di atas keimanan kepada-Nya dan keikhlasan di setiap amal yang dikerjakannya. Di antara faktor yang dapat mendorong seorang untuk berlaku ikhlas adalah sebagai berikut,
y

Berdo¶a Hidayah berada di tangan Allah dan hati para hamba berada di antara dua jari Allah, Dia membolak-balikkannya sesuai kehendak-Nya. Oleh karena itu, mohonlah perlindungan kepadaNya, Zat yang ditangan-Nya-lah hidayah berada, tampakkanlah hajat dan kefakiranmu kepadaNya. mintalah selalu kepada-Nya agar Dia memberikan keikhlasan kepadamu. Do¶a yang sering dipanjatkan oleh Umar ibnul Khaththab radhiallahu µanhu adalah do¶a berikut, , , ³Ya Allah, jadikanlah seluruh amalku sebagai amal yang shalih, Ikhlas karena mengharap Wajah-Mu, dan janganlah jadikan di dalam amalku bagian untuk siapapun.´

y

Menyembunyikan Amal Amal yang tersembunyi -dengan syarat memang amal tersebut patut disembunyikan-, lebih layak diterima di sisi-Nya dan hal tersebut merupakan indikasi kuat bahwa amal tersebut dikerjakan dengan ikhlas. Seorang mukhlis yang jujur senang menyembunyikan berbagai kebaikannya sebagaimana dia suka apabila keburukannya tidak terkuak. Hal ini sebagaimana diutarakan oleh nabi shallallahu µalaihi wa sallam, . ³Ada tujuh golongan yang akan dinaungi Allah ta¶ala dalam naungan-Nya pada hari dimana tidak ada naungan selain naungan-Nya. mereka adalah seorang pemimpin yang adil; seorang pemuda yang tumbuh dalam ketaatan kepada Allah; seorang pria yang hatinya senantiasa terpaut dengan masjid; dua orang yang saling mencintai karena Allah, mereka berkumpul dan berpisah di atas kecintaan kepada-Nya; seorang pria yang diajak (berbuat tidak senonoh) oleh seorang wanita yang cantik, namun pria tersebut mengatakan, ³Sesungguhnya saya takut kepada Allah´; seorang pria yang bersedekah kemudian dia menyembunyikannya sehingga tangan kirinya tidak tahu aa yang telah disedekahkan oleh tangan kanannya; seorang pria yang mengingat Allah dalam keadaan sunyi dan air matanya berlinang.´ (Muttafaqun µalaihi). Bisyr ibnul Harits mengatakan, ³Janganlah engkau beramal untuk diingat. Sembunyikanlah kebaikan sebagaimana engkau menyembunyikan keburukan. Shalat nafilah yang dikerjakan pada malam hari lebih utama daripada shalat sunnah pada siang hari, demikian pula beristighfar di waktu sahur daripada waktu selainnya, dikarenakan pada saat itu merupakan waktu yang lebih mendukung untuk menyembunyikan dan mengikhlaskan amal.´

y

Melihat Amal Orang Shalih yang Berada di Atasmu Janganlah anda memperhatikan amalan orang yang sezaman denganmu, yaitu orang berada di bawahmu dalam hal berbuat kebaikan. Perhatikan dan jadikanlah para nabi dan orang shalih terdahulu sebagai panutan anda. Allah ta¶alaberfirman,

(

)

³Mereka Itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah, Maka ikutilah petunjuk mereka. Katakanlah: ³Aku tidak meminta upah kepadamu dalam menyampaikan (Al-Quran). AlQuran itu tidak lain hanyalah peringatan untuk seluruh umat.´ (Al An¶am: 90). Bacalah biografi para ulama, ahli ibadah, dan zuhhad (orang yang zuhud), karena hal itu lebih mampu untuk menambah keimanan di dalam hati.
y

Menganggap Remeh Amal Penyakit yang sering melanda hamba adalah ridha (puas) dengan dirinya. Setiap orang yang memandang dirinya sendiri dengan pandangan ridha, maka hal itu akan membinasakannya. Setiap orang yang ujub akan amal yang telah dikerjakannya, maka keikhlasan sangat sedikit menyertai amalannya, atau bahkan tidak ada sama sekali keikhlasan dalam amalnya, dan bisa jadi amal shalih yang telah dikerjakan tidak bernilai.

Sa¶id bin Jubair mengatakan, ³Seorang bisa masuk surga berkat dosanya dan seorang bisa masuk neraka berkat kebaikannya. Maka ada yang bertanya, ³Bagaimana hal itu bisa terjadi?´ Sa¶id menjawab, ³Pria tadi mengerjakan kemaksiatan namun dirinya senantiasa takut akan siksa Allah atas dosa yang telah dikerjakannya, sehingga tatkala bertemu Allah, Dia mengampuninya dikarenakan rasa takutnya kepada Allah. Pria yang lain mengerjakan suatu kebaikan, namun dia senantiasa ujub (bangga) dengan amalnya tersebut, sehingga tatkala bertemu Allah, dia pun dimasukkan ke dalam neraka Allah.´ y Khawatir Amal Tidak Diterima Anggaplah remeh setiap amal shalih yang telah anda perbuat. Apabila anda telah mengerjakannya, tanamkanlah rasa takut, khawatir jika amal tersebut tidak diterima. Diantara do¶a yang dipanjatkan para salaf adalah, ³Ya Allah kami memohon kepada-Mu amal yang shalih dan senantiasa terpelihara.´ Diantara bentuk keterpeliharaan amal shalih adalah amal tersebut tidak disertai dengan rasa ujub dan bangga dengan amal tersebut, namun justru amal shalih terpelihara dengan adanya rasa takut dalam diri seorang bahwa amal yang telah dikerjakannya tidak serta merta diterima oleh-Nya. Allah ta¶ala berfirman, ( )

³Dan janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat, menjadi cerai berai kembali, kamu menjadikan sumpah (perjanjian) mu sebagai alat penipu di antaramu, disebabkan adanya satu golongan yang lebih banyak jumlahnya dari golongan yang lain. Sesungguhnya Allah hanya menguji kamu dengan hal itu. dan Sesungguhnya di hari kiamat akan dijelaskan-Nya kepadamu apa yang dahulu kamu perselisihkan itu.´ (An Nahl: 92). Ibnu Katsir mengatakan, ["Mereka menunaikan sedekah, namun hati mereka takut dan khawatir, bahwa amalan mereka tidak diterima di sisi-Nya. mereka takut karena (sadar) mereka tidak menunaikan syarat-syaratnya secara sempurna. Imam Ahmad dan Tirmidzi telah meriwayatkan hadits dari Ummul Mukminin, 'Aisyah radhiallahu 'anhu. Dia bertanya kepada rasulullah, "Wahai rasulullah, mengenai ayat, ( )

"Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) Sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka." (Al Mukminun: 60). Apakah mereka yang tersebut dalam ayat itu adalah orang-orang yang melakukan tindak pencurian, perzinaan, dan meminum khamr, karena mereka takut kepada Allah (atas kemaksiatan yang telah dikerjakannya)? Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam pun menjawab, "Bukan, wahai putri ash Shiddiq. Akan tetapi, mereka adalah orang yang menunaikan shalat, puasa, dan sedekah, namun mereka khawatir apabila amalan tersebut tidak diterima oleh-Nya." Keikhlasan memerlukan mujadahah (perjuangan) yang dilakukan sebelum, ketika, dan setelah beramal.] y Tidak Terpengaruh Perkataan Manusia atas Amalan yang Telah Dikerjakan Seorang yang diberi taufik oleh Allah ta¶ala tidaklah terpengaruh oleh pujian manusia apabila mereka memujinya atas kebaikan yang telah dilakukannya. Apabila dia mengerjakan ketaatan, maka pujian yang dilontarkan oleh manusia hanya akan menambah ketawadhu¶an dan rasa takut kepada Allah. Dia yakin bahwa pujian manusia kepada dirinya merupakan fitnah baginya, sehingga dia pun berdo¶a kepada Allah ta¶ala agar menyelamatkan dirinya dari fitnah tersebut. Dia tahu bahwa hanya Allah semata, yang pujian-Nya bermanfaat dan celaan-Nya semata yang mampu memudharatkan hamba. Dia menempatkan manusia layaknya penghuni kubur yang tidak mampu memberikan manfaat kepada dirinya dan tidak mampu menolak bahaya dari dirinya. Ibnul Jauzi mengatakan, ["Meninggalkan perhatian makhluk dan tidak mencari-cari kedudukan di hati mereka dengan beramal shalih, mengikhlaskan niat, dan menyembunyikan amal merupakan faktor yang mampu meninggikan derajat orang yang mulia."] y Sadar bahwa Manusia Bukanlah Pemilik Surga dan Neraka Apabila hamba mengetahui manusia yang menjadi faktor pendorong untuk melakukan riya akan berdiri bersamanya di padang Mahsyar dalam keadaan takut dan telanjang,dia akan mengetahui bahwasanya memalingkan niat ketika beramal kepada mereka tidaklah akan mampu meringankan kesulitan yang dialaminya di padang Mahsyar. Bahkan mereka akan mengalami kesempitan yang sama dengan dirinya. Apabila anda telah mengetahui hal itu, niscaya anda akan mengetahui bahwamengikhlaskan amal adalah benar adanya, tidak sepatutnya amalan ditujukan kecuali kepada Zat yang memiliki surga dan neraka. Oleh karena itu, seorang mukmin wajib meyakini bahwa manusia tidaklah memiliki surge sehingga mereka mampu memasukkan anda ke dalamnya. Demikian pula, mereka tidaklah mampu untuk mengeluarkan anda dari neraka apabila anda meminta mereka untuk mengeluarkan anda. Bahkan apabila seluruh umat manusia, dari nabi Adam hingga yang terakhir, berkumpul dan berdiri di belakang anda, mereka tidaklah mampu untuk menggiring anda ke dalam surge meski selangkah. Dengan demikian, mengapa anda mesti riya di hadapan mereka, padahal mereka tidak mampu memberikan apapun kepada anda? Ibnu Rajab mengatakan,

³Barangsiapa yang berpuasa, shalat, dan berzikir kepada Allah demi tujuan duniawi, maka amalan itu tidak mendatangkan kebaikan baginya sama sekali. Seluruh amal tersebut tidak

bermanfaat bagi pelakunya dikarenakan mengandung dosa (riya), dan (tentunya amalan itu) tidak bermanfaat bagi orang lain.´ Kemudian, anda tidak akan mampu memperoleh keinginan anda dari manusia yang menjadi tujuan riya yang telah anda lakukan, yaitu agar mereka memuji anda. Bahkan mereka akan mencela anda, menyebarkan keburukan anda di tengah-tenah mereka, dan tumbuhlah kebencian di hati mereka kepada anda. Rasulullah shallallahu µalaihi wa sallambersabda, ³Barangsiapa yang berbuat riya, maka Allah akan menyingkap niat busuknya itu di hadapan manusia´ (HR. Muslim). Demikianlah akibat orang yang riya. Namun, apabila anda mengikhlaskan amal kepada-Nya, niscaya Allah dan makhluk akan mencintaimu. Allah ta¶ala berfirman, ( ) ³Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, kelak Allah yang Maha Pemurah akan menanamkan dalam (hati) mereka rasa kasih saying (kecintaan)´ (Maryam: 96). y Ingatlah Anda Sendirian di Dalam Kubur Jiwa akan merasa tenang dengan mengingat perjalanan yang akan dilaluinya di akhirat. Apabila hamba meyakini bahwa dirinya akan dimasukkan ke dalam liang lahat sendiri, tanpa seorang pun menemani, dan tidak ada yang bermanfaat bagi dirinya selain amal shalih, dan dia yakin bahwa seluruh manusia, tidak akan mampu menghilangkan sedikit pun, azab kubur yang diderita, maka dengan demikian hamba akan menyakini bahwa tidak ada yang mampu menyelematkannya melainkan mengkihlaskan amal kepada Sang Pencipta semata. Ibnul Qayyim mengatakan,

["Persiapan yang benar untuk bertemu dengan Allah merupakan salah satu faktor yang paling bermanfaat dan paling ampuh bgi hamba untuk merealisasikan keistiqamahan diri. Karena setiap orang yang mengadakan persiapan untuk bertemu dengan-Nya, hatinya akan terputus dari dunia dan segala isinya."] Diterjemahkan dari Khutuwaat ilas Sa¶adah karya Dr. Abdul Muhsin Al Qasim (Imam dan Khatib Masjid Nabawi serta Hakim di Pengadilan Umum).

Iman Bisa Bertambah dan Berkurang Permasalahan iman merupakan permasalahan terpenting seorang muslim, sebab iman menentukan nasib seorang didunia dan akherat. Bahkan kebaikan dunia dan akherat bersandar kepada iman yang benar. Dengan iman seseorang akan mendapatkan kehidupan yang baik di dunia dan akherat serta keselamatan dari segala keburukan dan adzab Allah. Dengan iman seseorang akan mendapatkan pahala besar yang menjadi sebab masuk ke dalam surga dan selamat dari neraka. Lebih dari itu semua, mendapatkan keridhoan Allah Yang Maha kuasa sehingga Dia tidak akan murka kepadanya dan dapat merasakan kelezatan melihat wajah Allah diakherat nanti. Dengan demikian permasalahan ini seharusnya mendapatkan perhatian lebih dari kita semua. Imam Ibnul Qayyim rahimahullah menuturkan, ³Hasil usaha jiwa dan qolbu (hati) yang terbaik dan penyebab seorang hamba mendapatkan ketinggian di dunia dan akherat adalah ilmu dan iman. Oleh karena itu Allah Ta¶ala menggabung keduanya dalam firmanNya, ³Dan berkata orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan dan keimanan (kepada orang-orang yang kafir): ³Sesungguhnya kamu telah berdiam (dalam kubur) menurut ketetapan Allah, sampai hari berbangkit.´ (QS ar-Ruum: 56) Dan firman Allah Ta¶aa, ³Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.´ (QS al-Mujaadilah: 11). Mereka inilah inti dan pilihan dari yang ada dan mereka adalah orang yang berhak mendapatkan martabat tinggi. Namun kebanyakan manusia keliru dalam (memahami) hakekat ilmu dan iman ini, sehingga setiap kelompok menganggap ilmu dan iman yang dimilikinyalah satu-satunya yang dapat mengantarkannya kepada kebahagiaan, padahal tidak demikian. Kebanyakan mereka tidak memiliki iman yang menyelamatkan dan ilmu yang mengangkat (kepada ketinggian derajat), bahkan mereka telah menutup untuk diri mereka sendiri jalan ilmu dan iman yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu µalaihi wa sallam dan menjadi dakwah beliau kepada umat. Sedangkan yang berada di atas iman dan ilmu (yang benar) adalah beliau shallallahu µalaihi wa sallam dan para sahabatnya setelah beliau serta orang-orang yang mengikuti mereka di atas manhaj dan petunjuk mereka«.´. Demikian bila kita melihat kepada pemahaman kaum muslimin saja tentang iman didapatkan banyak kekeliruan dan penyimpangan. Sebagai contoh banyak dikalangan kaum muslimin ketika berbuat dosa masih mengatakan, ³Yang penting kan hatinya´. Ini semua tentunya membutuhkan pelurusan dan pencerahan bagaimana sesungguhnya konsep iman yang benar tersebut. Makna Iman Dalam bahasa Arab, ada yang mengartikan kata iman dengan ³tashdîq´ (membenarkan); thuma¶nînah (ketentraman); dan iqrâr (pengakuan). Makna ketiga inilah yang paling tepat. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, ³Telah diketahui bahwa iman adalah iqrâr (pengakuan), tidak semata-mata tashdîq (membenarkan). Dan iqrâr(pengakuan) itu mencakup perkataan hati, yaitu tashdîq (membenarkan), dan perbuatan hati, yaitu inqiyâd (ketundukan hati)´. Dengan demikian, iman adalah iqrâr (pengakuan) hati yang mencakup: 1. Keyakinan hati, yaitu membenarkan terhadap berita.

1. Perkataan hati, yaitu ketundukan terhadap perintah. Yaitu: keyakinan yang disertai dengan kecintaan dan ketundukan terhadap semua yang dibawa oleh Nabi Muhammadshallallahu µalaihi wa sallam dari Allah Ta¶ala . Adapun secara syar¶i (agama), iman yang sempurna mencakup qaul (perkataan) dan amal (perbuatan). Syaikul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, ³Dan di antara prinsip Ahlus sunnah wal jamâ¶ah, ad-dîn (agama/amalan) dan al-imân adalah perkataan dan perbuatan, perkataan hati dan lisan, perbuatan hati, lisan dan anggota badan´. Dalil Bagian-Bagian Iman Dari perkataan Syaikhul Islam di atas, nampak bahwa iman menurut Ahlus sunnah wal jamâ¶ah mencakup lima perkara, yaitu [1] perkataan hati, [2] perkataan lisan, [3] perbuatan hati, [4] perbuatan lisan dan [5] perbuatan anggota badan. Banyak dalil yang menunjukkan masuknya lima perkara di atas dalam kategori iman, di antaranya adalah sebagai berikut: Pertama: Perkataan hati, yaitu pembenaran dan keyakinan hati. Allah Ta¶ala berfirman, ³Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah orang-orang yang hanya beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu, dan mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka di jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar.´ (QS al-Hujurât: 15) Kedua: Perkataan lisan, yaitu mengucapkan syahadat Lâ ilâha illallâh dan syahadat Muhammad Rasulullâh dengan lisan dan mengakui kandungan syahadatain tersebut. Di antara dalil hal ini adalah sabda Nabi shallallahu µalaihi wa sallam, ³Aku diperintah (oleh Allah) untuk memerangi manusia sampai mereka bersaksi bahwa tidak ada yang berhak diibadahi selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, dan sampai mereka menegakkan shalat, serta membayar zakat. Jika mereka telah melakukan itu, maka mereka telah mencegah darah dan harta mereka dariku kecuali dengan hak Islam, dan perhitungan mereka pada tanggungan Allah.´ Pada hadits lain disebutkan dengan lafazh, « ³Aku diperintah (oleh Allah) untuk memerangi manusia sampai mereka mengatakan ³Lâ ilâha illallâh´«. Ketiga: Perbuatan hati, yaitu gerakan dan kehendak hati, seperti ikhlas, tawakal, mencintai Allah Ta¶ala , mencintai apa yang dicintai oleh Allah Ta¶ala , rajⶠ(berharap rahmat/ampunan Allah Ta¶ala), takut kepada siksa Allah Ta¶ala , ketundukan hati kepada Allah Ta¶ala, dan lainlain yang mengikutinya. Allah Ta¶ala berfirman, ³Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah, hati mereka gemetar, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, bertambahlah iman mereka (karenanya) dan kepada Rabbnya mereka bertawakkal´ (QS alAnfâl: 2). Dan dalil-dalil lainnya yang menunjukkan amalan-amalan hati termasuk iman. Keempat: Perbuatan lisan/lidah, yaitu amalan yang tidak dilakukan kecuali dengan lidah. Seperti membaca al-Qur¶ân, dzikir kepada Allah Ta¶ala, doa, istighfâr, dan lainnya. Allah Ta¶ala berfirman,

³Dan bacakanlah apa yang diwahyukan kepadamu, yaitu kitab Rabb-mu (al-Qur¶ân). Tidak ada (seorang pun) yang dapat merubah kalimat-kalimat-Nya.´ (QS al-Kahfi: 27). Dan dalil-dalil lainnya yang menunjukkan amalan-amalan lisan termasuk iman. Kelima: Perbuatan anggota badan, yaitu amalan yang tidak dilakukan kecuali dengan anggota badan. Seperti: berdiri shalat, rukû¶, sujud, haji, puasa, jihad, membuang barang mengganggu dari jalan, dan lain-lain. Allah Ta¶ala berfirman, ³Hai orang-orang yang beriman, ruku¶lah, sujudlah, sembahlah Rabbmu dan berbuatlah kebajikan supaya kamu mendapat kemenangan.´ (QS al-Hajj: 77) Rukun-Rukun Iman Sesungguhnya iman memiliki bagian-bagian yang harus ada, yang disebut dengan rukun-rukun (tiang; tonggak) iman. Ahlus sunnah wal jamâ¶ah meyakini bahwa rukun iman ada enam. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata pada permulaan kitab beliau, µAqîdah alWâsithiyah¶, ³Ini adalah aqîdah Firqah an-Nâjiyah al-Manshûrah (golongan yang selamat, yang ditolong) sampai hari kiamat, Ahlus Sunnah wal Jama¶ah. Yaitu: beriman kepada Allah Ta¶ala, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, kebangkitan setelah kematian, dan beriman kepada qadar, yang baik dan yang buruk´. Dalil rukun iman yang enam ini adalah sabda Nabi Muhammad shallallahu µalaihi wa sallam kepada malaikat Jibrîlµalaihis salam, ketika menjelaskan tentang iman, Iman adalah engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasulrasul-Nya, hari akhir, dan engkau beriman kepada qadar, yang baik dan yang buruk.´ Rukun iman ini wajib diyakini oleh setiap Mukmin. Barangsiapa mengingkari salah satunya, maka dia kafir. Syaikh Muhammad Khalîl Harrâs berkata, ³Enam perkara ini adalah rukun-rukun iman. Iman seseorang tidak sempurna kecuali jika dia beriman kepada semuanya dengan bentuk yang benar sebagaimana ditunjukkan oleh al-Kitab dan Sunnah. Barangsiapa mengingkari sesuatu darinya, atau beriman kepadanya dengan bentuk yang tidak benar, maka dia telah kafir.´ Iman Bertambah dan Berkurang Sudah dimaklumi banyak terdapat nash-nash al-Qur`an dan as-Sunnah yang menjelaskan pertambahan iman dan pengurangannya. Menjelaskan pemilik iman yang bertingkat-tingkat sebagiannya lebih sempurna imannya dari yang lainnya. Ada di antara mereka yang disebut assaabiq bil khoiraat (terdepan dalam kebaikan)[9], alMuqtashid(pertengahan)[10] dan zholim linafsihi (menzholimi diri sendiri). Ada juga alMuhsin, al-Mukmin dan al-Muslim. Semua ini menunjukkan mereka tidak berada dalam satu martabat. Ini menandakan bahwa iman itu bisa bertambah dan berkurang. Bukti dari Al Qur¶an dan As Sunnah Bahwa Iman Bisa Bertambah dan Berkurang Pertama: Firman Allah Ta¶ala , ³(Yaitu) orang-orang (yang mentaati Allah dan Rasul) yang kepada mereka ada orang-orang yang mengatakan: ³Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka´, Maka Perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab: ³Cukuplah Allah menjadi penolong Kami dan Allah adalah Sebaik-baik Pelindung³.´ (QS Alimron: 173). Para ulama Ahlus Sunnah menjadikan ayat ini sebagai dasar adanya pertambahan dan pengurangan iman, sebagaimana pernah ditanyakan kepada imam Sufyaan bin

µUyainah rahimahullah, ³Apakah iman itu bertambah atau berkurang?´ Beliau rahimahullah menjawab, ³Tidakkah kalian mendengar firman Allah Ta¶ala, ³Maka perkataan itu menambah keimanan mereka´. (QS Alimron: 173) dan firman Allah Ta¶ala, ³Dan Kami tambah pula untuk mereka petunjuk´.(QS al-Kahfi: 13) dan beberapa ayat lainnya´. Ada yang bertanya, ³Bagaimana iman bisa dikatakan berkurang?´ Beliau rahimahullah menjawab, ³Jika sesuatu bisa bertambah, pasti ia juga bisa berkurang´.[11] Kedua: Firman Allah Ta¶ala, ³Dan Allah akan menambah petunjuk kepada mereka yang telah mendapat petunjuk. dan amalamal saleh yang kekal itu lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu dan lebih baik kesudahannya.´ (QS Maryam: 76). Syeikh Abdurrahman as-Sa¶di menjelaskan tafsir ayat ini dengan menyatakan, ³Terdapat dalil yang menunjukkan pertambahan iman dan pengurangannya, sebagaimana pendapat para as-Salaf ash-Shaalih. Hal ini dikuatkan juga dengan firman Allah Ta¶ala, ³Dan supaya orang yang beriman bertambah imannya.´ (QS al-Mudatstsir: 31) dan firman Allah Ta¶ala, ³Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka (karenanya).´ (QS al-Anfaal:8/2) Juga dikuatkan dengan kenyataan bahwa iman itu adalah perkataan qolbu (hati) dan lisan, amalan qolbu, lisan dan anggota tubuh. Juga kaum mukminin sangat bertingkat-tingkat dalam hal ini.[12] Ketiga: Sabda Rasulullah shallallahu µalaihi wa sallam, ³Tidaklah seorang pezina berzina dalam keadaan mukmin dan tidaklah minum minuman keras ketika minumnya dalam keadaan mukmin serta tidaklah mencuri ketika mencuri dalam keadaan mukmin´.[13] Ishaaq bin Ibraahim an-Naisaaburi berkata, ³Abu Abdillah (Imam Ahmad) pernah ditanya tentang iman dan berkurangnya iman. Beliau rahimahullah menjawab, ³Dalil mengenai berkurangnya iman terdapat pada sabda Rasulullah shallallahu µalaihi wa sallam, ³Tidaklah seorang pezina berzina dalam keadaan mukmin dan tidaklah mencuri dalam keadaan mukmin.´ [14] Keempat: Sabda Rasulullah shallallahu µalaihi wa sallam, ³Iman itu lebih dari tujuh puluh atau lebih dari enampuluh. Yang paling utama adalah perkataan: ³Laa Ilaaha Illa Allah´ dan yang terendah adalah membersihkan gangguan dari jalanan dan rasa malu adalah satu cabang dari iman.´[15] Hadits yang mulia ini menjelaskan bahwa iman memiliki cabang-cabang, ada yang tertinggi dan ada yang terendah . Cabang-cabang iman ini bertingkat-tingkat dan tidak berada dalam satu derajat dalam keutamaannya, bahkan sebagiannya lebih utama dari lainnya. Oleh karena itu

Imam At-Tirmidzi memuat bab dalam sunannya: ³Bab Kesempurnaan, bertambah dan berkurangnya iman´. Syeikh Abdurrahman as-Sa¶di rahimahullah ketika menjelaskan hadits di atas menyatakan, Ini jelas sekali menunjukkan iman itu bertambah dan berkurang sesuai dengan pertambahan aturan syariat dan cabang-cabang iman serta amalan hamba tersebut atau tidak mengamalkannya. Sudah dimaklumi bersama bahwa manusia sangat bertingkat-tingkat dalam hal ini. Siapa yang berpendapat bahwa iman itu tidak bertambah dan berkurang, sungguh ia telah menyelisihi realita yang nyata di samping menyelisihi nash-nash syariat sebagaimana telah diketahui. Pendapat Ulama Salaf Bahwa Iman Bisa Bertambah dan Berkurang Sedangkan pendapat dan atsar as-Salaf ash-Shaalih sangat banyak sekali dalam menetapkan keyakinan bahwa iman itu bertambah dan berkurang, diantaranya: Pertama: Dari kalangan sahabat Nabi shallallahu µalaihi wa sallam, di antaranya : Satu ketika Kholifah ar-Rsyid Umar bin al-Khathaab rahimahullah pernah berkata kepada para sahabatnya, ³Marilah kita menambah iman kita.´ Sahabat Abu ad-Darda` Uwaimir al-Anshaari rahimahullah berkata, ³Iman itu bertambah dan berkurang.´ Kedua: Dari kalangan Tabi¶in, di antaranya: Abu al-Hajjaaj Mujaahid bin Jabr al-Makki (wafat tahun 104 H) menyatakan, ³Iman itu adalah perkataan dan perbuatan, bertambah dan berkurang.´ Abu Syibl µAlqamah bin Qais an-Nakhaa¶i (wafat setelah tahun 60 H) berkata kepada para sahabatnya, ³Mari kita berangkat untuk menambah iman.´ Ketiga: Kalangan tabi¶ut Tabi¶in, di antaranya: Abdurrahman bin µAmru al-µAuzaa¶i (wafat tahun 157 H) menyatakan, ³Iman adalah perkataan dan perbuatan, bertambah dan berkurang. Siapa yang meyakini iman itu tidak bertambah dan tidak berkurang maka berhati-hatilah terhadapnya karena ia adalah seorang ahli bid¶ah.´ Beliau juga ditanya tentang iman, ³Apakah bisa bertambah?´ Beliau menjawab, ³Iya, hingga menjadi seperti gunung.´ Beliau ditanya lagi, ³Apakah bisa berkurang?´ Beliau rahimahullah menjawab, ³Iya, hingga tidak tersisa sedikitpun darinya´. Ketiga: Empat imam madzhab (Aimmah arba¶ah), di antaranya: Muhammad bin Idris asy-Syaafi¶i rahimahullah menyatakan, ³Iman itu adalah perkataan dan perbuatan bertambah dan berkurang.´

Ahmad bin Hambal rahimahullah menyatakan, ³Iman itu sebagiannya lebih unggul dari yang lainnya, bertambah dan berkurang. Bertambahnya iman adalah dengan beramal. Sedangkan berkurangnya iman dengan tidak beramal. Dan perkataan adalah yang mengakuinya.´ Demikianlah pernyataan dan pendapat para ulama ahlus sunnah seluruhnya, sebagaimana dijelaskan syeikh Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah dalam pernyataan beliau, ³Para Salaf telah berijma¶ (bersepakat) bahwa iman adalah ucapan dan perbuatan, bertambah dan berkurang´. Sebab Bertambah dan Berkurangnya Iman Setelah kita mengetahui iman itu bertambah dan berkurang, maka mengenal sebab-sebab bertambah dan berkurangnya iman memiliki manfaat dan menjadi sangat penting sekali. Sudah sepantasnya seorang muslim mengenal kemudian menerapkan dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari, agar bertambah sempurna dan kuat imannya. Juga untuk menjauhkan diri dari lawannya yang menjadi sebab berkurangnya iman sehingga dapat menjaga diri dan selamat didunia dan akherat. Syeikh Abdurrahman as-Sa¶di rahimahullah menerangkan bahwa seorang hamba yang mendapatkan taufiq dari AllahTa¶ala selalu berusaha melakukan dua perkara: 1. Merealisasikan iman dan cabang-cabangnya serta menerapkannya baik secara ilmu dan amal secara bersama-sama. 2. Berusaha menolak semua yang menentang dan menghapus iman atau menguranginya dari fitnah-fitnah yang nampak maupun yang tersembunyi, mengobati kekurangan dari awal dan mengobati yang seterusnya dengan taubat nasuha serta mengetahui satu perkara sebelum hilang. Mewujudkan iman dan mengokohkannya dilakukan dengan mengenal sebab-sebab bertambahnya iman dan melaksanakannya. Sedangkan berusaha menolak semua yang menghapus dan menentangnya dilakukan dengan mengenal sebab-sebab berkurangnya iman dan berhati-hati dari terjerumus di dalamnya. Sebab-sebab Bertambahnya Iman Pertama: Belajar ilmu yang bermanfaat yang bersumber dari al-Qur`aan dan as Sunnah. Hal ini menjadi sebab pertambahan iman yang terpenting dan bermanfaat karena ilmu menjadi sarana beribadah kepada Allah Ta¶ala dan mewujudkan tauhid dengan benar dan pas. Pertambahan iman yang didapatkan dari ilmu bisa terjadi dari beraneka ragam sisi, di antaranya: 1. Sisi keluarnya ahli ilmu dalam mencari ilmu 2. Duduknya mereka dalam halaqah ilmu 3. Mudzakarah (diskusi) di antara mereka dalam masalah ilmu 4. Penambahan pengetahuan terhadap Allah dan syari¶at-Nya 5. Penerapan ilmu yang telah mereka pelajari 6. Tambahan pahala dari orang yang belajar dari mereka Kedua: Merenungi ayat-ayat kauniyah. Merenungi dan meneliti keadaan dan keberadaan makhluk-makhluk Allah Ta¶alayang beraneka ragam dan menakjubkan merupakan faktor pendorong yang sangat kuat untuk beriman dan mengokohkan iman. Syeikh Abdurrahman as-Sa¶di rahimahullah menyatakan, ³Di antara sebab dan faktor pendorong keimanan adalahtafakur kepada alam semesta berupa penciptaan langit dan bumi serta makhluk-

makhuk penghuninya dan meneliti diri manusia itu sendiri beserta sifat-sifat yang dimiliki. Ini semua adalah faktor pendorong yang kuat untuk meningkatkan iman´. Ketiga: Berusaha sungguh-sungguh melaksanakan amalan shalih dengan ikhlas, memperbanyak dan mensinambungkannya. Hal ini karena semua amalan syariat yang dilaksanakan dengan ikhlas akan menambah iman. Karena iman bertambah dengan pertambahan amalan ketaatan dan banyaknya ibadah. Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah pernah menuturkan, ³Di antara sebab pertambahan iman adalah melakukan ketaatan. Sebab iman akan bertambah sesuai dengan bagusnya pelaksanaan, jenis dan banyaknya amalan. Semakin baik amalan, semakin besar penambahan iman dan bagusnya pelasanaan ada dengan sebab ikhlas dan mutaba¶ah (mencontohi Nabi shallallahu µalaihi wa sallam). Sedangkan jenis amalan, maka yang wajib lebih utama dari yang sunnah dan sebagian amal ketaatan lebih ditekankan dan utama dari yang lainnya. Semakin utama ketaatan tersebut maka semakin besar juga penambahan imannya. Adapun banyak (kwantitas) amalan, maka akan menambah keimanan, sebab amalan termasuk bagian iman. Sehingga pasti iman bertambah dengan bertambahnya amalan.´ Sebab-sebab Berkurangnya Iman Sebab-sebab berkurangnya iman ada yang berasal dari dalam diri manusia sendiri (faktor internal) dan ada yang berasal dari luar (faktor eksternal). Faktor internal berkurangnya iman Pertama: Kebodohan. Ini adalah sebab terbesar berkurangnya iman, sebagaimana ilmu adalah sebab terbesar bertambahnya iman. Kedua: Kelalaian, sikap berpaling dari kebenaran dan lupa. Tiga perkara ini adalah salah satu sebab penting berkurangnya iman. Ketiga: Perbuatan maksiat dan dosa. Jelas kemaksiatan dan dosa sangat merugikan dan memiliki pengaruh jelek terhadap iman. Sebagaimana pelaksanaan perintah Allah Ta¶ala menambah iman, demikian juga pelanggaran atas larangan Allah Ta¶ala mengurangi iman. Namun tentunya dosa dan kemaksiatan bertingkat-tingkat derajat, kerusakan dan kerugian yang ditimbulkannya, sebagaimana disampaikan oleh Ibnul Qayyim rahimahullah dalam ungkapan beliau, ³Sudah pasti kekufuran, kefasikan dan kemaksiatan bertingkat-tingkat sebagaimana iman dan amal shalih pun bertingkat-tingkat´. Keempat: Nafsu yang mengajak kepada keburukan (an-nafsu ammaratu bissu¶). Inilah nafsu yang ada pada manusia dan tercela. Nafsu ini mengajak kepada keburukan dan kebinasaan, sebagaimana Allah Ta¶ala jelaskan dalam menceritakan istri al-Aziz , ³Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena Sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyanyang.´ (Qs Yusuf: 53) Nafsu ini menyeret manusia kepada kemaksiatan dan kehancuran iman, sehingga wajib bagi kita berlindung kepada Allah Ta¶ala darinya dan berusaha bermuhasabah sebelum beramal dan setelahnya. Faktor eksternal berkurangnya iman Pertama: Syeitan musuh abadi manusia yang merupakan satu sebab penting eksternal yang mempengaruhi iman dan mengurangi kekokohannya. Kedua: Dunia dan fitnah (godaan)nya. Menyibukkan diri dengan dunia dan perhiasannya termasuk sebab yang dapat mengurangi iman. Sebab semakin semangat manusia memiliki dunia

dan semakin menginginkannya, maka semakin memberatkan dirinya berbuat ketaatan dan mencari kebahagian akherat, sebagaiman dituturkan Imam Ibnul Qayyim. Ketiga: Teman bergaul yang jelek. Teman yang jelek dan jahat menjadi sesuatu yang sangat berbahaya terhadap keimanan, akhlak dan agamanya. Karena itu Nabi shallallahu µalaihi wa sallam telah memperingatkan kita dari hal ini dalam sabda beliau, ³Seorang itu berada di atas agama kekasihnya (teman dekatnya), maka hendaknya salah seorang kalian melihat siapa yang menjadi kekasihnya.´ Demikianlah perkara yang harus diperhatikan dalam iman, mudah-mudahan hal ini dapat menggerakkan kita untuk lebih mengokohkan iman dan menyempurnakannya. Wabillahi taufiq. Penulis: Ustadz Kholid Syamhudi, Lc

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->