P. 1
Tujuan Pendidikan Islam

Tujuan Pendidikan Islam

|Views: 1,409|Likes:
Published by budiman nurhakim

More info:

Published by: budiman nurhakim on Aug 12, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/14/2013

pdf

text

original

Tujuan Pendidikan Islam Dilihat dari segi cakupan atau ruang lingkupnya, tujuan pendidikan dapat dibagi ke dalam

enam tahapan sebagai berikut.

1. Tujuan Pendidikan Islam secara Universal. Rumusan tujuan pendidikan yang bersifat universal dapat dirujuk pada hasil kongres sedunia tentang pendidikan Islam sebagai berikut. Education should aim at the ballanced growth of total personality of man through the training of man’s spirit, intelect the rational self, feeling and bodily sense. Education should therefore cater for the growth of man in all its aspects, spiritual, intelectial, imaginative, physical, scientific, linguistic, both individual and collectivelly, and motivate all these aspects toward goodness and attainment of perfection. The ultimate aim of education lies in the realization of complete submission to Allah on the level individual, the community and humanity at large.1 Artinya; bahwa pendidikan harus ditujukan untuk menciptakan keseimbangan pertumbuhan kepribadian manusia secara menyeluruh, dengan cara melatih jiwa, akal pikiran, perasaan dan fisik manusia. Dengan demikian pendidikan harus mengupayakan tumbuhnya seluruh potensi manusia, baik yang bersifat spiritual, intelektual, daya khayal, pisik, ilmu pengetahuan, maupun bahasa, baik secara perorangan maupun kelompok, dan mendorong tumbuhnya seluruh aspek tersebut agar mencapai kebaikan dan kesempurnaan. Tujuan akhir pendidikan terletak pada terlaksananya pengabdian yang penuh kepada Allah, baik

1

Lihat H.M. Arifin, Ilmu Pendidikan Islam Suatu Tinjauan Teoritis dan Praktis Berdasarkan Pendekatan Interdisipliner, (Jakarta:Bina Aksara, 1991) cet. I. hal. 40; Lihat pula Second World Conference on Muslim Education, International Seminar on Islamic Concepts and Curriculla, Recomendation, 15 to n20, March 1980 Islamabad.

pada tingkat perseorang, kelompok maupun kemanusiaan dalam arti yang seluasluasnya. Tujuan pendidikan Islam yang bersifat universal ini dirumuskan dari berbagai pendapat para pakar pendidikan, seperti Al-Attas, Athiyah al-Abrasy, Munir Mursi, Ahmad D. Marimba, Muhammad Fadhil al-Jamali Mukhtar Yahya, Muhammad Quthb, dan sebagainya. Al-Attas misalnya, mengendaki tujuan pendidikan Islam adalah manusia yang baik.2 Athiyah al-Abrasyi menghendaki tujuan akhir pendidikan Islam adalah manusia yang berakhlak mulia.3 Munir Mursi menghendaki tujuan akhir pendidikan adalah manusia sempurna.4 Ahmad D. Marimba, berpendapat bahwa tujuan pendidikan Islam adalah terbentuknya orang yang berkepribadian Muslim.5 Muhammad Fadhil al-Jamali merumuskan tujuan pendidikan Islam dengan empat macam, yaitu: (1)mengenalkan manusia akan perarannya di antara sesama titah makhluk dan tanggung jawabnya di dalam hidup ini; (2)mengenalkan manusia akan interaksi sosial dan tanggung jawabnya dalam tata hidup bermasyarakat; (3)mengenalkan manusia akan alam dan mengajak mereka untuk mengetahui hikmah diciptakannya serta memberi kemungkinan kepada mereka untuk mengambil manfaat darinya; (4)mengenalkan manusia akan pencipta alam (Allah) dan menyuruhnya beribadah kepada-Nya.6
2

Syed Muhammad al-Naquib Al-Attas, Aim and Objectives of Islamic Education, (Jeddah:King Abdul Aziz University, 1979), hal. 1. 3 Muhammad Athiyah al-Abrasyi, Dasar-dasar Pokok Pendidikan Islam, (terj.) Bustami A. Gani dan Djohar Bahry, (Jakarta:Bulan Bintang, 1974), hal. 15. 4 Muhammad Munir Mursi, al-Tarbiyah al-Islamiyah Usuluha wa Tatawwuruha fi Bilad al-Arabiyah, (Qahirah:Alam al-Kutub, 1977), hal. 18. 5 Ahmad D. Marimba, Pengantar Filsafat Pendidikan Islam, (Bandung:Al-Ma’arif, 1989), hal. 39. 6 Lihat Muhammad Fadhil al-Jamali, Filsafat Pendidikan dalam Al-Qur’an (terj.) Judial Falasani, (Surabaya:Bina Ilmu, 1986), hal. 3

Mukhtar Yahya berpendapat, bahwa tujuan pendidikan Islam adalah memberikan pemahaman ajaran-ajaran Islam pada peserta didik dan membentuk keluhuran budi pekerti sebagaimana missi Rasulullah SAW sebagai pengemban perintah7 menyempurnakan akhlak manusia, untuk memenuhi kebutuhan kerja.8 Muhammad Quthb, berpendapat, bahwa tujuan pendidikan adalah membina manusia secara pribadi dan kelompok sehingga mampu menjalankan fungsinya sebagai hamba Allah dan khalifah-Nya guna membangun duni ini sesuai dengan konsep yang ditetapkan Allah.9 Tujuan pendidikan Islam yang bersifat universal tersebut memiliki ciri-ciri sebagai berikut. Pertama, mengandung prinsip universal (syumuliyah) antara aspek akidah, ibadah, akhlak dan muamalah; keseimbangan dan kesederhanaan (tawazun dan iqtisyadiyah) antara aspek pribadi, komunitas, dan kebudayaan; kejelasan (tabayyun), terhadap aspek kejiwaan manusia (qalb, akal dan hawa nafsu) dan hukum terhadap setiap masalah; kesesuaian atau tidak bertentangan antara berbagai unsur dan cara pelaksanaannya; realisme dan dapat dilaksanakan, tidak berlebihlebihan, praktis, realistik, sesuai dengan fitrah dan kondisi sosioekonomi, sosiopolitik, dan sosiokultural yang ada; sesuai dengan perubahan yang diinginkan, baik pada aspek ruhaniyah dan nafsaniyah, serta perubahan kondisi psikologis, sosiologis, pengetahuan, konsep, pikiran, kemahiran, nilai-nilai, sikap peserta didik untuk mencapai dinamisasi kesempurnaan pendidikan; menjaga perbedaanperbedaan individu, serta prinsip dinamis dalam menerima perubahan dan perkembangan yang terjadi pada pelaku pendidikan serta lingkungan di mana pendidikan itu dilaksanakan.
7 8

Lihat Abdul Mujib dan Jusuf Mudzakir, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta:Prenada Media, 2006), cet. I, hal. 73-74. Lihat Mukhtar Yahya, Butir-butir Berharga dalam Sejarah Pendidikan Islam, (Jakarta:Bulan Bintang, 1977(, hal. 40-43. 9 Lihat Muhammad Quthb, Manhaj al-Tarbiyyah al-Islamiyah, (Kairo: Dar al-Syuruq, 1400 H.), cet. IV, hal. 13.

Kedua, mengandung keinginan untuk mewujudkan manusia yang sempurna (insan kamil) yang di dalamnya memiliki wawasan kaffah agar mampu menjalankan tugas-tugas kehambaan, kekhalifahan, dan pewaris Nabi. 2. Tujuan Pendidikan Islam secara Nasional Yang dimaksud dengan tujuan pendidikan Islam nasional ini adalah tujuan pendidikan Islam yang dirumuskan oleh setiap negara (Islam). Dalam kaitan ini, maka setiap negara merumuskan tujuan pendidikannya dengan mengacu kepada tujuan universal sebagaimana tersebut di atas. Tujuan pendidikan Islam secara nasional di Indonesia, nampaknya secara eksplisit belum dirumuskan, karena Indonesia bukanlah negara Islam. Untuk itu tujuan pendidikan Islam secara nasional dapat dirujuk kepada tujuan pendidikan yang terdapat dalam Undangundang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional sebagai berikut. Membentuk manusia yang beriman, bertakwa, berakhlak mulia, berkperibadian, memiliki ilmu pengetahuan dan teknologi, keterampilan, sehat jasmani, dan rohani, memiliki rasa seni, serta bertanggung jawab bagi masyarakat, bangsa dan negara.10 Rumusan tujuan pendidikan nasional tersebut, walaupun secara eksplisit tidak menyebutkan kata-kata Islam, namun substansinya memuat ajaran Islam. Dalam rumusan tujuan pendidikan nasional tersebut mengandung nilai-nilai ajaran Islam yang telah terobyektivasi, yakni ajaran Islam yang telah mentransformasi ke dalam nilai-nilai yang disepakati dalam kehidupan nasional. Rumusan tujuan pendidikan nasional tersebut memperlihatkan tentang kuatnya pengaruh ajaran Islam ke dalam pola pikir (mindset) bangsa Indonesia.
10

Lihat Departemen Agama RI, Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, (Jakarta:Departemen Pendidikan Nasional, 2003), hal. 24.

3. Tujuan Pendidikan Islam secara Institusional Yang dimaksud dengan tujuan pendidikan Islam secara institusional adalah tujuan pendidikan yang dirumuskan oleh masing-masing lembaga pendidikan Islam, mulai dari tingkat Taman Kanak-kanak atau Raudhatul Atfal, sampai dengan Perguruan Tinggi. Berikut ini dikemukakan beberapa contoh rumusan pendidikan Islam secara institusional sebagai berikut. 1) Tujuan Pendidikan Islam pada Perguruan Tinggi Sebagai contoh tujuan pendidikan Islam pada Perguruan Tinggi dapat dikemukakan Tujuan pendidikan Islam pada UIN Syarif Hidayatullah Jakarta adalah: (1) Melahirkan lulusan yang memiliki kemampuan akademik dan profesional serta dapat mempergunakan, mengembangkan dan menemukan ilmu pengetahuan dalam bidang pengetahuan agama, ilmu pengetahuan, teknologi dan seni. (2) Mengembangkan dan menyebarluaskan studi Islam serta integrasi nilai-nilai Islam ke dalam pengajaran ilmu pengetahuan, technologi dan seni.11 4. Tujuan Pendidikan Islam pada Tingkat Program Studi (Kurikulum) Tujuan pendidikan Islam pada tingkat program studi adalah tujuan pendidikan yang disesuaikan dengan program studi. Sebagai contoh, misalnya tujuan pendidikan pada program studi manajemen pendidikan Islam pada Fakultas Tarbiyah IAIN Antasari Banjarmasin, sebagai berikut: 1) Membentuk sarjana Manajemen Pendidikan Islam (MPI) berkualitas yang mampu berperan dalam pengembangan Ilmu Manajemen Pendidikan Islam (MPI).
11

Lihat Prospectus UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, tahun 2005, hal. 16.

2) Membentuk sarjana Muslim yang mampu menjadi tenaga ahli di bidang administrasi dan manajerial pendidikan Islam dan memiliki kemampuan dalam merencanakan dan memecahkan persoalan manajemen pendidikan Islam pada umumnya.12 5. Tujuan Pendidikan Islam pada Tingkat Mata Pelajaran Tujuan pendidikan Islam pada tingkat mata pelajaran adalah tujuan pendidikan yang didasarkan tercapainya pemahaman, penghayatan dan pengamalan ajaran Islam yang terdapat pada bidang studi atau mata pelajaran tertentu. Misalnya tujuan mata pelajaran tafsir adalah agar peserta didik dapat memahami, menghayati dan mengamalkan ayat-ayat al-Qur’an secara benar, mendalam, dan komprehensif. 6. Tujuan Pendidikan Islam pada Tingkat Pokok Bahasan Tujuan pendidikan Islam pada tingkat pokok bahasan adalah tujuan pendidikan yang didasarkan pada tercapainya kecakapan (kompetensi) utama, dan kompetensi dasar yang terdapat pada pokok bahasan tersebut. Misalnya pokok bahasan tentang tarjamah, maka kompetensi dasarnya adalah agar para siswa memiliki kemampuan menerjemahkan ayat-ayat al-Qur’an secara benar, sesuai kaidah-kaidah penerjemahan. 7. Tujuan Pendidikan Islam pada Tingkat Subpokok Bahasan Tujuan pendidikan Islam tingkat subpokok bahasan adalah tujuan pendidikan yang didasarkan pada tercapainya kecakapan (kompetensi) yang terlihat pada indikator-indikatornya secara terukur. Misalnya menerjemahkan
12

Lihat Profil Program Studi Manajemen Pendidikan Islam Fakultas Tarbiyah IAIN Antasari Banjarmasin, (Banjarmasin: IAIN Antasari, 2008), hal. 4

kosakata yang berkaitan dengan alat-alat tulis, kosakata yang berkaitan dengan tempat tinggal dan sebagainya. Dengan tercapainya kecakapan (kompetensi) pada tingkat subpokok bahasan, maka akan tercapailah kecakapan (kompetensi) pada tingkat pokok bahasan; dengan tercapainya kecakapan pada tingkat pokok bahasan akan tercapailah kecakapan pada tingkat mata pelajaran; dan dengan tercapainya kecakapan pada mata pelajaran akan tercapailah kecakapan tingkat program studi atau kurikulum; dengan tercapainya kecakapan tingkat program studi atau kurikulum, maka tercapailah kecakapan pada tingkat institusional; dengan tercapainya kecakapan pada tingkat institusional, maka tercapailah kecakapan pada tingkat nasional, dan dengan tercapainya kecakapan pada tingkat nasional, maka tercapailah kecakapan pada tingkat universal. Semakin tinggi tingkat kecakapan yang ingin dicapai, maka semakin banyak waktu, tenaga, sarana prasarana, dan biaya yang dibutuhkan. Untuk itu tujuan pendidikan pada setiap tingkatan harus saling berkaitan dan saling menunjang. Dengan demikian, tujuan pendidikan yang sesungguhnya harus dicapai adalah tujuan pada setiap kali kegiatan belajar mengajar yang dilakukan oleh para guru. Selain tujuan pendidikan dari segi ruang lingkup dan cakupannya sebagaimana tersebut di atas, terdapat pula tujuan pendidikan dilihat dari segi kepentingan masyarakat, individu peserta didik, dan gabungan antara keedua. Penjelasan atas ketiga model ini dapat dikemukakan sebagai berikut. Pertama, tujuan pendidikan dari segi kepentingan sosial, adalah tujuan pendidikan yang diharapkan oleh masyarakat. Termasuk pula di dalamnya tujuan pendidikan yang diharapkan oleh agama, masyarakat, negara, ideologi, organisasi dan sebagainya. Dalam konteks ini, maka pendidikan seringkali menjadi alat untuk mentransformasikan nilai-nilai yang dikehendaki oleh agama, masyarakat, negara, ideologi dan organisasi tersebut. Berdasarkan titik tolak ini, maka tujuan

pendidikan dapat dirumuskan misalnya tersosialisasikannya nilai-nilai agama, nilai budaya, paham ideologi, pada missi organisasi kepada masyarakat. Tujuan pendidikan yang bertitik tolak dari segi kepentingan agama, masyarakat, negara, ideologi dan organisasi, seringkali menjadikan peserta didik sebagai obyek atau sasaran. Peserta didik menjadi terkesan pasif. Dalam hubungan ini Muzayyin Arifin berpendapat: bahwa tujuan yang berhubungan dengan kehidupan masyarakat sebagai keseluruhan, dan dengan tingkah laku masyarakat umumnya serta dengan perubahan-perubahan yang diinginkan pada pertumbuhan pribadi, pengalaman dan kemajuan hidupnya.13 Timbulnya tujuan pendidikan dari sisi eksternal ini, didasarkan pada assumsi bahwa apa yang terdapat dalam agama, nilai-nilai budaya, paham ideologi dan organisasi adalah nilai-nilai yang sudah terseleksi secara ketat, dan telah terbukti keunggulan dan manfaatnya dalam kehidupan masyarakat dari waktu ke waktu. Oleh karenanya nilai-nilai tersebut perlu dilestarikan, dipelihara, dijaga dan disampaikan kepada setiap generasi, melalui pendidikan. Islam sebagai agama yang mengandung nilai universal, berlaku sepanjang zaman, dijamin pasti benar, sesuai dengan fitrah manusia, mengandung prinsip keseimbangan dan seterusnya dijamin dapat menyelematkan kehidupan manusia di dunia dan akhirat. Atas dasar ini, maka pendidikan Islam pada umumnya, memiliki tujuan yang didasarkan pada kepentingan agama, namun tujuannya untuk mensejahterakan dan membahagiakan manusia. Intinya adalah bahwa dengan berpegang teguh pada agama, kehidupan manusia dijamin pasti sejahtera dan bahagia di dunia dan akhirat. Atas dasar ini, maka tidaklah mengherankan, jika penyelenggaraan pendidikan Islam cenderung bersifat normatif, doktriner, kurang memberikan peluang dan kebebasan kepada peserta didik, serta berpusat pada kreatifitas dan aktivitas guru. Model pendekatan pendidikan seperti ini dapat dilihat pada pendidikan yang berlangsung di pesantren.
13

Lihat H.M.Arifin, Ilmu Pendidikan Islam, op. cit, hal. 42.

Secara teoritis, model pendidikan ini banyak didukung oleh aliran empirisme, yang menekankan, bahwa faktor dari luarlah yang menentukan pembentukan karakter peserta didik. Model pendidikan dari sisi eksternal ini berhasil dalam mewujudkan masyarakat yang tertib, aman, damai, dan harmonis, namun dari sisi lain kurang melahirkan gagasan dan inovasi baru, mengingat pada umumnya masyarakat bersifat status quo, atau cenderung melestarikan nilai-nilai yang sudah ada. Kedua, tujuan pendidikan Islam dari segi kepentingan individual adalah tujuan yang menyangkut individu, melalui proses belajar dalam rangka mempersiapkan dirinya dalam kehidupan dunia dan akhirat.14 Dengan tujuan ini, maka pendidikan bukanlah mentransformasikan atau mentransmisikan nilai-nilai yang berasal dari luar kepada diri peserta didik, melainkan lebih bersifat menggali, mengarahkan dan mengembangkan motivasi, minat, bakat dan potensi anak didik agar tumbuh, berkembang dan terbina secara optimal, sehingga potensi yang semula terpendam itu menjadi muncul kepermukaan dan menjadi aktual atau nyata dalam realitas. Pendidikan bukan dilihat seperti mengisi air ke dalam gelas, melainkan seperti menyalakan lampu, atau melahirkan energi. Dengan sudut pandang ini, maka pendidikan lebih dipusatkan pada aktivitas peserta didik (student centris). Untuk itu desain proses belajar mengajar harus memberikan peluang dan kebebasan yang lebih besar kepada peserta didik untuk beraktivitas, berkreasi, berekspresi, berinovasi, dan bereksperimen untuk menemukan berbagai kebenaran dan kebaikan. Dengan cara ini, setiap pengetahuan yang dimiliki anak adalah merupakan hasil usahanya sendiri, dan bukan diberikan oleh guru atau dari luar. Dengan demikian, maka sejak dari awal peserta didik sudah memiliki kompetensi dalam menemukan, yaitu menemukan proses-proses yang bersifat metodologis untuk menghasilkan temuan ilmu pengetahuan. Dengan cara itu, maka setiap peserta didik sudah menjadi peneliti (reseacher), penemu dan mujtahid.
14

Lihat H.M.Arifin, ibid, hal. 42.

Dengan kemampuannya ini, maka ia akan dapat mengembangkan ilmunya secara terus menerus, dan akan memiliki rasa percaya diri (self confident) yang tinggi, kreatif, inovatif dan seterusnya. Lulusan peserta didik yang seperti inilah yang sesungguhnya diharapkan pada era reformasi dan demokratisasi seperti sekarang ini. Timbulnya tujuan pendidikan yang berpusat pada peserta didik (internal) tersebut didasarkan pada iformasi dari kalangan para psikolog, bahwa sesungguhnya pada diri setiap peserta didik sudah ada potensinya masing-masing yang berbeda antara satu dan lainnya. Atas dasar informasi ini, maka pendidikan bukanlah memasukan sesuatu dari luar ke dalam diri anak, melainkan menumbuhkan dan mengembangkan potensi tersebut agar aktual dan berdaya guna. Jika seorang anak memiliki potensi dan bakat melukis misalnya, maka tugas pendidikan adalah menumbuhkan, mengasah dan membina bakat melukis tersebut agar menjadi sebuah kenyataan yang aktual dan terlihat dalam praktek serta bermanfaat bagi dirinya. Pendekatan pendidikan yang berpusat pada peserta didik ini didasarkan pada teori dari aliran nativisme sebagaimana digagas oleh Shopenhaur. Pendekatan ini pada gilirannya mengarahkan kepada timbulnya pendidikan yang bersifat demokratis, bahkan liberalistis. Ketiga, tujuan pendidikan dari segi perpaduan (konvergensi) antara bakat dari diri anak dengan nilai budaya yang berasal dari luar. Dengan pandangan ini, maka dari satu sisi pendidikan memberikan ruang gerak dan kebebasan bagi peserta didik untuk mengekspresikan bakat, minat dan potensinya yang bersifat khas individualistik, namun dari sisi lain pendidikan memberikan atau memasukkan nilai-nilai atau ajaran yang bersifat universal dan diakui oleh masyarakat ke dalam diri anak. Dengan cara demikian, dari satu sisi setiap orang memiliki kebeban untuk mewujudkan cita-citanya, namun dari sisi lain, ia juga harus patuh dan tunduk terhadap nilai-nilai yang berlaku di masyarakat. Perpaduan

antara sisi internal dan eksternal ini sejalan dengan prinsip pendidikan sistem among ang dikemukakan Ki Hajar Dewantoro, yaitu ing ngarso sung tulado (teacher centris), ing mandya mangun karso (teacher centris dan student centris), dan tut wuri handayani (student centris). Selanjutnya jika dilihat dari sudut ajaran Islam, sesungguhnya ketiga model pendekatan tersebut bersifat anthropo-centris atau memusat pada manusia, yakni bahwa ketiga pendekatan tersebut sepenuhnya mengandalkan usaha manusia semata-mata, dan belum melibatkan peran Tuhan. Islam sebagai agama yang seimbang, mengajarkan bahwa setiap usaha yang dilakukan manusia tidak hanya melibatkan peran manusia semata, melainkan juga melibatkan peran Tuhan. Nabi Muhammad SAW menggambarkan proses pendidikan seperti sebuah kegiatan bertani. Jika seorang petani ingin mendapatkan hasil pertanian yang baik, maka ia harus menyiapkan lahan yang subur dan gembur, udara dan cuaca yang tepat, air dan pupuk yang cukup, bibit yang unggul, cara menanamnya yang benar, pemeliharaan dan perawatan tanaman yang benar dan intensif, waktu dan masa tanam yang tepat dan cukup. Namun walaupun berbagai usaha tersebut sudah dilakukan, tapi belum dapat menjamin seratus persen bahwa hasil pertanian tersebut akan berhasil dengan baik. Keberhasilan pertanian tersebut masih bergantung kepada kehendak Tuhan. Di dalam al-Qur’an, Allah SWT menyatakan: ”Maka terangkanlah kepada-Ku tentang yang kamu tanam? Kamukah yang menumbuhkannya ataukah Kami yang menumbuhkannya? Tanah yang subur dan gembur serta bibit yang unggul dapat digambarkan seperti bakat dan potensi peserta didik yang bersifat internal. Sedangkan cara menanam yang benar, pemeliharaan dan perawatan yang tepat dan intensif, dan pemberian pupuk yang cukup dapat digambarkan seperti usaha dan program pendidikan yang dilakukan oleh sekolah dan guru. Sedangkan keberhasilan pertanian menggambarkan peranan Tuhan. Dengan demikian, maka pendidikan

Islam menganut paham teo-anthropo centris, yakni memusat pada perpaduan antara kehendak Tuhan dan usaha manusia. Itulah sebabnya, pada setiap kali memulai pengajaran harus dimulai dengan memohon petunjuk Tuhan, dan ketika selesai pengajaran harus diakhiri dengan mengucapkan alhamdulillahi rabbil alamin.
1. Tujuan Pendidikan Islam. Pandangan objective oriented (berorientasi pada tujuan) mengajarkan bahwa tugas guru yang sesungguhnya bukanlah hanya mengajarkan ilmu atau kecakapan tertentu pada anak didiknya saja, akan tetapi juga merealisir atau mencapai tujuan pendidikan. Istilah tujuan atau sasaran atau maksud dalam bahasa Arab dinyatakan dengan ghayat atau ahdaf atau maqasid. Dalam bahasa Inggris, istilah tujuan dinyatakan dengan goal, purpose, objective dan aim. Secara umum istilah-istilah itu mengandung pengertian yang sama yaitu perbuatan yang diarahkan kepada suatu tujuan tertentu, arah atau maksud yang hendak di capai melalui upaya atau aktifitas.21 Menurut Zakiah Daradjat,22 tujuan ialah suatu yang diharapkan tercapai setelah sesuatu usaha atau kegiatan selesai. Menurut H.M. Arifin,23 makna tujuan menunjuk kepada futuritas (masa depan) yang terletak pada suatu jarak tertentu yang tidak akan dapat di capai kecuali dengan usaha (ikhtiar) melalui proses tertentu pula.

21

Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta : Kalam Mulia, 2002), cet. 3, h. 65. Zakiah Daradjat, dkk, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta : Bumi Aksara, 1992), cet.2, h. 29.

22

H.M. Arifin, Ilmu Pendidikan Islam, Suatu Tinjauan Teoritis dan Praktis Berdasarkan Pendekatan Interdisipliner, (Jakarta : Bumi Aksara, 2000), cet. 5, h. 223.

23

Tujuan pendidikan mempunyai kedudukan yang amat penting. Ahmad D. Marimba,24 misalnya menyebutkan empat fungsi tujuan pendidikan. Pertama, tujuan yang berfungsi mengakhiri usaha. Kedua, tujuan yang berfungsi mengarahkan usaha. Ke tiga, tujuan yang dapat berfungsi sebagai titik pangkal untuk mencapai tujuan-tujuan lain, yaitu tujuan-tujuan baru maupun tujuan-tujuan lanjutan dari tujuan pertama. Ke empat, tujuan yang memberi nilai (sifat) pada usaha itu. Berbagai jenis lembaga pendidikan Islam dengan tingkat yang berbeda, dapat merumuskan tujuan pendidikan dan pengajarannya. Dalam merumuskan tujuan pendidikan itu orang tidak boleh menyimpang atau menentang prinsip pokok ajaran Islam yang terkandung dalam maksud-maksud syariat yang dalam istilah syariat Islam di sebut Maqashid as Syariah. Adapun Maqashid as Syariah itu antara lain adalah:25 Memelihara kebutuhan pokok hidup yang dharuri (fital) yaitu sesuatu yang masih ada dalam kehidupan yang normal ; dengan arti bahwa bila semua atau salah satunya saja tidak ada atau rusak, akan rusaklah kehidupan, seperti agama, jiwa raga dan keturunan. 1. Menyempurnakan dan melengkapi kebutuhan hidup, sehingga yang diperlukan mudah di dapat, kesulitan dapat diatasi dan dihilangkan. Untuk ini digunakan istilah haji (haji, hajat = dibutuhkan). Ke dalam kelompok haji ini dimasukkan segala sesuatu yang mempermudah pemeliharaan yang dharuri, memperlancar usaha mendapatkannya, mengurangi kesulitan dan kesukaran yang ditimbulkannya, melonggarkan kesempitan dan kepicikan. 2. Mewujudkan keindahan, keberesan dan kesempurnaan dalam suatu kebutuhan. Untuk ini digunakan istilah tahsini (tahsini = membuat lebih baik, lebih mudah). Dalam tahsini ini termasuk sopan-santun, tingkah laku yang menyenangkan, berpakaian yang bersih. Meskipun tidak rusak kehidupan dengan tidak adanya tahsini ini, namun ini dibutuhkan dalam kehidupan yang baik.

24

Abuddin Nata, Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta : Logos Wacana Ilmu, 2001), cet. 4, h. 45.

Direktorat Pembinaan Perguruan Tinggi Agama Islam, Metodologi Pengajaran Agama Islam, (Jakarta : Proyek Pembinaan Perguruan Tinggi Agama Islam, 1982), h. 62.

25

Tujuan pendidikan secara umum dijabarkan dari falsafah bangsa, yakni Pancasila. Pendidikan nasional berdasarkan Pancasila bertujuan meningkatkan kualitas manusia Indonesia, yakni manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berbudi pekerti luhur, berkepribadian, berdisiplin, bekerja keras, tangguh, bertanggung jawab, mandiri, cerdas dan trampil serta sehat jasmani dan rohani.26 Jadi tujuan umum pendidikan yaitu pada hakikatnya membentuk manusia Indonesia yang bisa mandiri dalam konteks kehidupan pribadinya, kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, serta berkehidupan sebagai makhluk yang berketuhanan Yang Maha Esa. Berbicara tentang tujuan pendidikan Islam, tidak dapat tidak mengajak kita bicara dengan tujuan hidup ; tujuan hidup manusia, sebab pendidikan hanyalah suatu alat yang digunakan oleh manusia untuk memelihara kelanjutan hidupnya (survival) baik sebagai individu maupun masyarakat.25 Menurut Hasan Langgulung,26 tujuan pendidikan Islam pada dasarnya adalah tujuan hidup manusia itu sendiri, sebagaimana tersirat dalam Q.S al-Dzariyat (51); 56

‫وما خلقت الجن والنس إل ليعبدون‬
"Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia kecuali agar mereka menyembah kepada-Ku". Sebab bagi Langgulung, tugas pendidikan adalah memelihara kehidupan manusia, oleh karenanya diskursus pendidikan Islam harus melibatkan perbincangan tentang sifat-sifat asal manusia (nature) dalam pandangan Islam.

26

Safruddin Nurdin, Guru Profesional dan Implementasi Kurikulum, (Jakarta : Ciputat Pers, 2002), h. 51Hasan Langgulung, Azas-Azas Pendidikan, (Jakarta : Pustaka al-Husna, 1988), cet. 2, h. 305. Maksum, Madrasah, Sejarah dan Perkembangannya, (Jakarta : Logos Wacana Ilmu, 1999), cet. 1, h. 45.

52.
25 26

Allah telah menciptakan seluruh manusia untuk beribadah kepada-Nya, kemudian mengutus seluruh Rasul kepada mereka untuk mengajak mereka beribadah kepada Allah.27 Maka tujuan pendidikan Islam adalah mempersiapkan manusia sebagai beribadah, ‘abid’ yang menghambakan diri kepada Allah. Tujuan pendidikan Islam harus meliputi hal-hal yang dapat menumbuhkan dan memperkuat iman, serta mendorong kepada kesenangan mengamalkan ajaran Islam. Proses pelaksanaan mencapai tujuan itu hendaknya sekaligus membina ketrampilan mengamalkan ajaran Islam itu. Untuk itu diperlukan usaha pembentukan material yang akan memperkaya murid dengan sejumlah pengetahuan, membuat mereka dapat menghayati dan mengembangkan ilmu itu, juga membuat ilmu yang mereka pelajari itu berguna bagi mereka. Tujuan itu hendaknya mengandung sifat pemberian dan penanaman ilmu agama (kognitif) dan ketrampilan mengamalkan ajaran agama (psikomotor). Tujuan pendidikan hendaknya meliputi pembinaan manusia sebagai makhluk individu yang hidup sesuai dengan kodrat yang dibawanya sejak lahir. Karena ia juga sebagai makhluk sosial, tujuan itu juga harus meliputi pembinaan manusia sebagai makhluk sosial yang dapat hidup baik di tengah-tengah manusia lainnya. Ia harus dapat berbuat dan menyesuaikan diri dengan lingkungan sosialnya. Tujuan itu juga harus mengandung unsur pembinaan tenaga profesional, sehingga kelak ia dapat hidup dan bekerja dan mencari alat untuk memenuhi kebutuhan hidupnya secara wajar. Ada beberapa hirarkis tujuan pendidikan antara lain:28 1. 2. Tujuan universal. Tujuan nasional.

27 28

Q.S al-Dzariyat, 56-58. Abuddin Nata, Seminar Perkuliahan Pendidikan Islam, (Ciputat, 2002, 11 Juni).

3. 4. 5. 6. 7.

Tujuan institusional. Tujuan kurikuler. Tujuan bidang studi. Tujuan pokok bahasan. Tujuan sub pokok bahasan. Tujuan universal pendidikan adalah merealisasikan ajaran al-Quran, tunduk pada Allah

dan menjauhi segala larangan-Nya. Misalnya seorang Insinyur haruslah berakhlak dengan akhlak al-Quran, jadi tidak harus orang yang berkecimpung dalam agama, seseorang harus mengembangkan potensinya, jika berbakat di bidang seni, maka jadilah seorang seniman yang bertaqwa. Tujuan nasional yaitu pengembangan di bidang pendidikan didasarkan atas falsafah negara Pancasila dan diarahkan untuk membentuk manusia Indonesia yang sehat jasmani dan rohaninya, memiliki pengetahuan dan ketrampilan, dapat mengembangkan kreatifitas dan tanggung jawab, dapat menyumbangkan demokrasi dan tenggang rasa, dapat mengembangkan kecerdasan yang tinggi dan disertai budi pekerti yang luhur, mencintai bangsanya, dan mencintai sesama manusia sesuai dengan ketentuan termaktub dalam UUD 1945.29 Tujuan institusional yaitu tujuan dari masing-masing institusi atau lembaga. Misalnya tujuan sekolah dasar, tujuan sekolah menengah pertama, masing-masing tujuan dicanangkan sesuai dengan harapan lulusannya.30 Tujuan kurikuler yaitu tujuan dari masing-masing bidang studi. Misalnya tujuan pelajaran matematika, tujuan pelajaran agama. Tujuan ini berbeda dari satu bidang studi ke bidang studi lainnya, dan juga dari tingkat institusi yang satu ke tingkat institusi lainnya, akan tetapi antara

29 30

Suharsimi Arikunto, Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan, (Jakarta : Bumi Aksara, 1995), cet.XI, h. 128. Ibid., h. 130.

tujuan kurikuler sesuatu institusi ada hubungannya dengan tujuan kurikuler institusi yang lainnya.31 Tujuan bidang studi artinya sesuatu yang akan di capai setelah mempelajari sejumlah materi pelajaran yang tergabung dalam satu bidang studi itu.32 Contohnya, materi pelajaran yang berisi ajaran tentang tingkah laku, adab, sopan-santun dirumuskan dalam bidang studi akhlak. Tujuan instruksional adalah tujuan yang menggambarkan pengetahuan, kemampuan, ketrampilan dan sikap yang harus dimiliki oleh siswa sebagai akibat dari hasil pengajaran yang dinyatakan dalam bentuk tingkah laku (behaviour) yang dapat diamati dan diukur.33 Ada dua macam tujuan instruksional yaitu: 1. 2. Tujuan Instruksional Umum (TIU). Tujuan Instruksional Khusus (TIK). Dalam merumuskan tujuan instruksional harus diusahakan agar nampak bahwa setelah tercapainya tujuan itu terjadi adanya perubahan pada diri anak yang meliputi kemampuan intelektual, sikap (attitude) atau minat maupun ketrampilan yang oleh Bloom dan kawankawannya, di kenal sebagai aspek kognitif, aspek afektif dan psikomotor.34 Dalam tujuan ini lebih banyak di tuntut dari anak didik suatu kemampuan dan ketrampilan. Misalnya pada masa permulaan yang penting ialah anak didik mampu terampil berbuat baik. Kemampuan dan ketrampilan yang di tuntut pada anak didik merupakan sebagian kemampuan dan ketrampilan manusia sempurna dalam ukuran anak.

31 32

Ibid. Direktorat Pembinaan Perguruan Tinggi Agama Islam, op. cit., h. 66. 33 Suharsimi Arikunto, op.cit.,h. 130-131. 34 Ibid.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->