P. 1
PENGENTASAN KEMISKINAN

PENGENTASAN KEMISKINAN

|Views: 936|Likes:

More info:

Published by: H Masoed Abidin bin Zainal Abidin Jabbar on Jun 24, 2008
Copyright:Traditional Copyright: All rights reserved

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/30/2011

pdf

text

original

Sections

PENGENTASAN KEMISKINAN DALAM MASYARAKAT RANAH MINANG

SEBUAH KACA BANDING TINJAUAN ISLAM

oleh

H. Mas'oed Abidin

2

PENGENTASAN KEMISKINAN

Sumatera Barat, dengan akar budaya Minangkabau, sangat intens (basitungkin) dalam mengantisipasi berkembangnya kemiskinan.
Ada sinyalemen Prof. Emil Salim (pernah menjabat Menteri KLH, Kabinet Pembangunan V), tentang lahan Ranah Minang. Sebagai dikatakannya, tanah di Minangkabau, tidak (kurang) bersahabat. "Dari keseluruhan wilayah Sumatera Barat, hanya sekitar 14 persen saja yang kondisi tanahnya subur dan cocok untuk areal pertanian.". Begitulah kira-kira, kesimpulan Prof. DR. Emil Salim, (sebagai diungkapkan Singgalang, Rabu, 7 Juli 1993, halaman pertama) dari Musyawarah Pola Dasar Pembangunan Sumbar. Perlulah pula dimaklumi, sebahagian dari luas lahan dimaksud, sudah didiami anak kemenakan warga transmigrasi. Sejak dari Pasaman, Sitiung, Lunang-Silaut, Solok Selatan. Sebahagiannya pula diolah oleh perusahaanperusahaan perkebunan, yang menyebar dari Pasaman hingga ke batas Mandailing (Tapsel). Dari Sijunjung hingga ke batas Jambi dan Riau. Begitu pula mendekat batas Bengkulu, di ujung Pesisir Selatan. Tanah yang tadinya berada dalam status tanah ulayat Nagari, atau dalam sako pusako tinggi, pelan-pelan berangsur tergeser. Mengiring gerak roda pengembangan wilayah. Secara keseluruhan tanah-tanah kosong tadinya, kini mulai ditanami. Pelan-pelan tetapi pasti, menjanjikan mutiara hijau di kepingan wilayah Sumatera Barat. Mulai dari tanaman sawit, karet, cokelat, lada/merica, kulit manis, hingga ketela pohon (ubi kayu). Masa doeloe seketika tanah-tanah itu belum diolah, hanya dijadikan anak kemenakan sebagai hutan tempat mencari kayu api. Paling tinggi tempat simpanan kayu
PENGENTASAN KEMISKINAN

3

pembuat rumah atau untuk mencari akar-rotan. Persawahan atau perladangan anak nagari semasa itu, merupakan hasil taruko ninik-mamak. Sawah bajanjang bapamatang dan ladang babiteh babentalak. Dari mamak turun ke kemenakan. Begitulah seterusnya. Letaknyapun di sekeliling Dusun Taratak. Bahkan ada yang berada di keliling rumah tempat diam. Perkembangan dusun menjadi desa, dan nagari masuk lurah, anak kemenakan ikut bertambah. Rumah kecil tak mampu lagi menampung jumlah cucu dan cicit. Bangunan barupun ditegakkan, tanah persawahan menjadi satu-satunya pilihan untuk batagak rumah baru. Manaruko hutan menjadi sawah, tidak lagi merupakan kebiasaan masa kini. Sebaliknya yang terjadi, mengurangi areal persawahan menjadi lokasi perumahan. Di sinilah ditemui kritisnya masalah peternakan jika dikaitkan dengan sumber pendapatan pertanian. Akan tetapi, masyarakat Minangkabau, tidak dapat dikatakan miskin dan belum pula bisa dikatakan berada. Yang jelas, mereka tetap bisa hidup dan bertahan hidup, di areal yang makin terbatas itu. Keadaan itu memungkinkan, karena adanya peran budaya Minang yang sedari awal intensif mengantisipasi gejala kemiskinan itu. Antara lain, bunyi pantun. Karatau madang di ulu, ba buwah ba bungo balun, marantau-lah buyuang dahulu, di rumah paguno balun. Adanya kebiasaan merantau menjadikan pemudapemuda Minangkabau (Sumatera Barat), mencari hidup di

4

PENGENTASAN KEMISKINAN

lahan orang lain. Modalnya keyakinan, kemauan dan tulang delapan karat. Sementara itu, sang dara (gadis/remaja putri) Minangkabau, tidak pula dibiarkan hidup cengeng. Mereka diajar bertani, merenda, menjahit, menyulam, dan berbagai kepandaian puteri lainnya. Yang sungguhpun, dirasakan bahwa kepandaian-kepandaian semacam itu, kini mulai terasa langka. Kalaulah kemiskinan yang ada, tidak dirasakan sebagai bahaya, itu hanya disebabkan karena pandainya batenggang. Sesuai bunyi pantun; Alah bakarih samporono, Bingkisan rajo majopaik, tuah basabab bakarano pandai batenggang di nan rumik. Selanjutnya, kepandaian digambarkan dalam pantun lainnya; Latiak-latiak tabang ka pinang, hinggok di pinang duo-duo, satitiak aie dalam piriang, di sinan ba main ikan rayo. Falsafah budaya ini, bukannya menelorkan masyarakat yang statis. Sama sekali tidak. Bahkan melahirkan sikap jiwa yang digjaya. Satu iklim jiwa (mentalclimate) yang subur. Bila pandai menggunakannya dengan tepat, akan banyak membantu dalam usaha pembangunan sumber daya manusia di ranah ini. Sifat egoistis, memang kurang diminati dalam budaya Minangkabau. Membiarkan kemelaratan orang lain, dengan menyenangkan diri sendiri, mungkin merupakan
PENGENTASAN KEMISKINAN

batenggang

itu

5

sikap yang tak pernah diwariskan. Yang ada, hanyalah tenggang manenggang dan raso jo pareso. Menurut bahasa halusnya alur dan patut. Mengatasi masalah kemiskinan ditengah kelembagaan masyarakat Minangkabau, terlihat dari usaha dan perhatian khusus terhadap kemakmuran lahiriyah (material). Ungkapan itu jelas tersimak dalam untaian pepatah yang menyibakkan arti kemakmuran itu. Rumah Gadang gajah maharam Lumbuang baririk di halaman Rangkiang tujuah sa jaja Sabuah si Bajau-bajau Panenggang anak dagang lalu Sabuah si Tinjau Lauik Panenggang anak korong kampuang Birawari lumbuang nan banyak Makanan anak kamanakan Manjilih di tapi aie Mardeso di paruik kanyang.

6

PENGENTASAN KEMISKINAN

Berencana Berhemat
Untuk mewujudkan terpeliharanya kondisi dimaksud, diingatkan sungguh pentingnya perencanaan dan penghematan. Perencanaan yang jauh jangkauannya ke depan, dengan pengkajian potensi yang tengah dimiliki. Penghematan dengan tujuan bisa memahami situasi, untuk mendukung berhasilnya sebuah program yang tengah dikembangkan. Perhatian yang dalam maknanya ini, terungkap di dalam kalimat-kalimat; Ingek sabalun kanai Kulimek sabalun abih Ingek-ingek nan ka pai Agak-agak nan ka tingga. Maka, melupakan dan mengabaikan nilai-nilai luhur budaya ini, akan berarti satu kerugian. Membangun kesejahteraan sebagai upaya mengantisipasi kemiskinan, bertitik tolak pada pembinaan unsur sumber daya manusia. Memulainya dengan cara sederhana. Dengan apa yang ada. Yaitu potensi alam yang terbatas, dan menggerakkan potensi yang terpendam di dalam sumber daya manusianya. Terutama di pedesaan-pedesaan. Mengembalikan kepada benih-benih kekuatan yang ada di dalam dirinya masing-masing. Melalui usaha-usaha yang terpadu serta berkesinambungan. Dengan mempertajam daya observasi, dan meningkatkan daya pikir masyarakat pedesaan dimaksud. Usaha itu berkelanjutan dengan mendinamisir daya gerak serta memperhalus daya rasa. Kemudian meningkat pengembangan daya cipta, dan menumbuh bangkitkan daya kemauan mereka.
PENGENTASAN KEMISKINAN

7

Supaya dapat dikembalikan kepercayaan kepada diri sendiri. Dan ditumbuhkan kemauan untuk melaksanakan sikap mandiri (self help). Sesuai bimbingan Allah: "Allah tidak akan memberikan perubahan terhadap apa-apa dengan satu kaum, sampai kaum itu berupaya melakukan perubahan (perbaikan) terhadap sikap jiwa (apa yang ada) dalam diri mereka sendiri.". (Ar Ra'd, 13:11). Kita rasanya tidak perlu segan menyatakan bahwa wangsa Minangkabau hampir seratus persen penganut Islam. Sungguhpun, barangkali satu dua sudah ada yang berpindah keyakinan mereka, karena perpustakaan musim atau pergantian nilai-nilai kebudayaan. Begitu eratnya jalinan adat dan agama ini, melahirkan pilinan adatnya bersendi syara', syara' bersendikan Kitabullah. Islam yang mengajarkan nilai-nilai terjalinlah berkulindan dengan kebiasaan luhur. Senteng babilai/Kurang batukuak Batuka ba anjak/Barubah basapo. Sebagai pengalaman amar ma'ruf, nahi munkar dalam ajaran agama yang dianut. Anggang jo kekek bari makan Tabang ka pantai ka duo nyo Panjang jo singkek pa ulehkan Makonyo sampai nan dicito. Adat hidup, tolong manolong. Adat mati, janguak manjanguak. Adat lai, bari mambari. Adat tidak, salang manyalang (basalang tenggang). Begitulah yang terjadi, sehingga dalam kehidupan seharian, terlihat nyata dalam perbuatan. Karajo baik ba imbauan, Karajo buruak ba hambauan. ukhuwah

8

PENGENTASAN KEMISKINAN

Kalau dalam perkembangan zaman, kebiasaankebiasaan lama ini mengalami proses pergeseran nilai-nilai budaya asing. Akan tetapi tetap diyakini, bahwa nilai-nilai budaya Minang itu, tidak hilang dan tidak pula habis. Ini jelas merupakan sebuah potensi yang bisa digerakkan. Dalam kaitannya dengan budaya merantau, terbentuklah pula ikatan-ikatan keluarga di perantauan. Sedari ikatan, dalam hubungan saparuik hingga se taratak, dusun nagari. Sampai kepada lingkungan wilayah yang luas, dari Sikiliang air Bangih, dari ombak nan badabua, sampai ka durian di takuak rajo. Artinya meliputi wilayah adat dan nilai budaya Minangkabau. Tujuannya, pada mulanya sekedar ba suo suo. Mempererat hubungan kekeluargaan. Meningkatkan, kepada memikirkan kampuang halaman. Dan berakhir, kepada usaha membangun kampung halaman. Belum terdata dengan akurat, berapa perbandingan jumlah orang Minang yang di rantau itu. Apakah jumlah mereka sama dengan jumlah yang tengah menetap di kampung. Atau barangkali beberapa kali lipat dari penghuni ranah sendiri. Telah lama terjadi, bahwa orang kampung ikut menikmati hasil orang rantau. Malah sering tersua, sirkulasi hidup kampung ditentukan dari rantau. Mulai dari pembinaan pribadi keluarga, membangun rumah, menebus sawah, hingga membangun sarana umum milik nagari. Perencanaan pembangunan nagari, sering tidak dapat dilaksanakan, tanpa diikut sertakan dunsanak yang tinggal di rantau. Begitulah kenyataan yang tersua. Namun di dalamnya diakui merupakan satu potensi yang bisa dikembangkan.
PENGENTASAN KEMISKINAN

9

KEKAYAAN orang rantau, mungkin tidak sebanding dengan modal yang tertanam di kampung (nagari). Karena rantau adalah lahan usaha. Umumnya bergerak dalam bidang usaha perniagaan. Sedikit yang menggarap usaha pertanian. Karena adanya ungkapan, kalau akan bertani juga, mungkin lebih baik mengolah lahan di kampung saja. Lapangan usaha sebagai ambtenaar kata orang saisuak, sangat diminati orang Minang. Mulai berpalingnya kepada managemen perusahaan-perusahaan swasta. Bahkan dalam usaha mandiri, belakangan ini paling banyak digeluti. Lapangan usaha itu, banyak menjanjikan pendapatan yang lumayan. Daripada menanti apa yang ditetapkan berbentuk gaji bulanan. Apalagi lapangan di kantor-kantor pemerintah makin hari makin sempit juga. Dan cepatnya gerak pembangunan bangsa, telah membuka lapangan kerja baru. Kejelian mengkaji kesempatan menyebabkan arus mobilitas horizontal menuju rantau, tak mudah di hempang. Kerasnya hidup di rantau, suatu tantangan yang berat. Diperlukan sikap jiwa yang matang. Di samping kemauan keras, dan tulang delapan karat, dibawa juga falsafah budaya untuk pedoman mengarungi lautan kehidupan rantau. Falsafah hidup itu, disimak dalam kehidupan keseharian tanah rantau. Panggiriak pisau si rauik, Patunggkek batang lintabung, Salodang ambiak ka nyiru. Setitiak jadikan lauik, Sakapa (sekepal) jadikan gunuang,

10

PENGENTASAN KEMISKINAN

Alam takambang jadi guru. Belajar kepada alam, mengambil pelajaran dari perjalanan hidup yang tengah diarungi. Tidak lain adalah seiring bidal pantun; Biduak dikayuah manantang ombak Laia di kambang manantang angin. Nangkodoh ingek kamudi padoman nan usah dilupokan. Pedoman dikiatkan; dalam menempuh kehidupan itu,

Hendak kayo, badikik-dikik Hendak tuah, batanua urai Hendak mulia, tapek i janji Hendak luruih, rantangkan tali Hendak buliah, kuat mancari tinggi) Hendak namo, tinggakan jaso Hendak pandai, rajin belajar Dek sakato mangkonyo ada partisipatif) Dek sakutu mangkonyo maju usaha) Dek ameh mangkonyo kameh depan)

(hemat) (penyantun) (amanah) (mematuhi peraturan) (etos kerja yang

(berbudi daya) (rajin dan berinovasi) (kerukunandan (memelihara (perencanaan mitra masa

Dek padi mangkonyo manjadi (pemeliharaan sumber ekonomi) Tidak mengherankan, bila tantangan berat di rantau mampu diatasi. Dan sesuatu yang paling menarik, bahwa perantau sanggup mengolah pekerjaan apa saja asal halal.
PENGENTASAN KEMISKINAN

11

Tidak memilih pekerjaan, dengan motivasi hidup yang tinggi. Kondisi ini membuka peluang kepada percepatan mobilitas vertical dalam bentuk peningkatan pendapatan.

Nan lorong tanami tabu, Nan tunggang tanami bambu. Nan gurun buek ka parak, Nan bancah jadikan sawah. Nan padek ka parumahan, Nan munggu pandam pakuburan. Nan gaung katabek kapangimpauan. ikan, Nan padang

Nan lambah kubagan kabau, Nan rawang ranangan itiak. Begitulah pemeliharaan dan pemanfaatan sumber daya alam, secara optimal, untuk kesejahteraan ummat manusia. Kekayaan nilai-nilai seperti itu, merupakan modal besar. Dan telah memberikan motivasi yang kuat, dalam upaya mengentaskan kemiskinan di ranah ini. Setidaktidaknya berperan aktif memintasi, agar kemiskinan itu tidak meruyak. Sungguhpun kenyataan bahwa pengentasannya tidak berubah drastis.

Benteng Tawazunitas
Perubahan tata kehidupan secara ekonomis, di tengah perkembangan iptek memang satu keharusan. Perubahan itu tidak bisa ditolak, dan dia akan bergerak terus. Karena diyakini, dunia itu berisi perubahanperubahan.

12

PENGENTASAN KEMISKINAN

Jika manusia menjadi statis di tengah dinamika perkembangan, maka yang akan ditemui adalah penderitaan. Yang perlu dipertimbangkan di tengah perubahanperubahan itu, obyektifitas-nya. Apakah manusia akan menjadi obyek dari perubahan itu? Ataukah, manusia akan berperan aktif memanfaatkan perubahan-perubahan itu, untuk peningkatan mutu kehidupannya. Baik dalam bidang material, ataupun emosional (kejiwaan). Jawaban ini, akan banyak tergantung dari kesiapan watak, dari manusia yang menghadapi perubahanperubahan dimaksud. Yang paling tepat barangkali, adalah manusia memanfaatkan perubahan-perubahan, untuk diri mereka. Dan kurang manusiawi, jika manusia diperbudak oleh perubahan-perubahan itu. Yang lebih maknawi, bahwa manusia akan berusaha memilih dan memilah perubahan (inovasi) yang datang. Terapannya adalah, tepat guna dan bernilai guna. Ukurannya, dalam manfaat nilai lebih, tanpa mengorbankan nilai-nilai positif yang hakiki, yang sebelumnya telah dipunyai. Dalam kata lain bisa diungkapkan, bahwa perubahan-perubahan (kemajuan) iptek yang mendunia (globalisasi), tidak perlu mengorbankan nilai-nilai adat maupun keyakinan (agama), dari pengendali iptek (manusia) itu. Peningkatan tingkat kehidupan (ekonomi), tidak perlu mengorbankan kegotong royongan, umpamanya. Sikap jiwa saling memuliakan, tidak perlu diganti dengan egoistis, (siapa lu, siapa gua). Sebagaimana pernah menjangkiti kehidupan masyarakat lainnya. Akhirnya bisa berkembang kepada hilangnya kepedulian sosial.
PENGENTASAN KEMISKINAN

13

Kita memerlukan benteng-benteng kejiwaan yang kuat. Di antaranya adalah pemeliharaan nilai keseimbangan atau disebut juga tawazunitas, menurut istilah agama. Nilai budaya Minang mengingatkan, "sekali aie gadang sekali tapian barubah". Yang berubah itu hanya tapian saja. Kebiasaan-kebiasaan ketepian, tapi berlaku sebagaimana biasa. Bukan berarti datangnya perubahan (aie gadang), lantas tepian pun ditinggalkan. Yang diajarkan adalah perubahan akan selalu ada. Bahkan, dalam menghadapi setiap invasi yang akan datang, selalu diingatkan. Jangan bertemu hendaknya, "Jalan dialih urang lalu. Tepian diasak urang mandi.". Untuk pendirian. ini diperlukan keteguhan sikap dan

Kita tidak dapat membayangkan, bentuk masyarakat macam apa jadinya, kalau nilai-nilai (norma-norma) sudah menipis. Perlu dipertanyakan. Apakah generasi kini, atau yang akan datang masih dipersiapkan memiliki nilai-nilai budaya mereka? Masihkah nilai-nilai (norma) hukum mereka pertahankan? Masihkah, norma-norma agama (nilai agama) mereka minati? Masihkah, nilai-nilai kebiasaan bermasyarakat menjadi kegandrungan untuk dipelihara? Bagaimana, hubungan riil yang terjadi? Kecemasan ini beralasan sekali. Karena berkembangnya kecenderungan kehidupan serba boleh (permissive society). Yang dipertahankan adalah hak. Dan melupakan pentingnya terlebih dahulu melaksanakan kewajiban. Nilai agama dan budaya, pada dasarnya berisikan "Declaration of Human Duties" itu. Berisikan piagam dasar kewajiban-kewajiban azasi manusia (masyarakat).

14

PENGENTASAN KEMISKINAN

SUNGGUHPUN ukuran kelayakan telah mengalami perubahan, beriring dengan kadar perkembangan. Akan tetapi, ukuran baik dan buruk, boleh dan tidak, acuan kepantasan (normatif, manusiawi, kemasyarakatan), harus tetap dipertahankan. Diantara ukuran yang kita miliki adalah alur dan patut. Jiko mangaji dari alif, jiko babilang dari aso. Jiko naik dari janjang, jiko turun dari tanggo.

Memulai dengan apa yang ada.
Kita wajib bersyukur kepada Allah Subhanahu wa Ta 'ala, atas mulai meningkatnya taraf kemakmuran masyarakat, dengan ukuran materi. Tetapi kenaikan pendapatan masyarakat ini, menjadi tidak sebanding, dengan kebutuhan yang meningkat deras. Akibatnya pendapatan yang tadinya sebatas pemenuhan kebutuhan primer (pangan, sandang, papan), terserap oleh kebutuhan lainnya (sekunder, prestise). Pemilihan mana yang pokok menjadi kabur. Tersebab ukuran keseragaman kehidupan, mulai menjalar di tengah kelompok masyarakat (desa). Sering bertemu, kesalahan arah dalam menentukan pilihan. Kebutuhan mana yang didahulukan. Sering pula dikaburkan oleh dorongan bisa mendapatkan lebih mudah. Melalui hutang (kredit) tanpa jaminan, yang menjalar hingga ke pelosok-pelosok dusun. Tanpa disadari, bahwa garis yang tadinya dibuat, mau tak mau terlintas. HIngga bayang-bayang tidak lagi sepanjang badan. Dan kemiskinan yang ditakuti itu, kian hari kian tinggi. Dan si miskin pun kian terperosok jauh ke dalam. Jumlahnya pun makin bertambah.
PENGENTASAN KEMISKINAN

15

Di antara lain, penyebabnya karena tidak adanya sumber penghasilan yang ketat. Kehidupan desa yang tadinya hanya mengandalkan hasil pertanian, besarnya tetap segitu gitu juga. Pengentasan hanya dimungkinkan, terbukanya sumber pendapatan yang bervariasi. dengan

Misalnya perkebunan atau peternakan. Bagi daerahdaerah tertentu, bisa dikembangkan pertukangan, kerajinan rumah tangga. Bahkan di pantai-pantai, dapat juga berbentuk nelayan, atau perikanan. Di beberapa daerah (wilayah), kesempatan membuka lahan usaha ini sudah mulai tampak Pasaman sebagai contoh, kini mulai bergerak ke arah perkebunan besar kelapa sawit. Ribuan hektar banyaknya. Perusahaanperusahaan besar nasional telah lama mulai menggarapnya. Diperbanyak jumlahnya oleh perusahaan agribisnis yang ada di daerah sendiri. Tanahnya tadi adalah tanah ulayat. Diserahkan sebagai konsesi melalui izin usaha. Bahkan ada yang langsung dialihkan dengan pemindahan hak melalui jual beli. Begitu juga di Sitiung (Sijunjung) daerah transmigrasi. Sekarang mulai dilirik Lunang-Silaut (Pesisir Selatan). Beberapa daerah lainnya, seperti Alahan Panjang, Bidar Alam, Sungai Kunyit (daerah Solok Selatan) yang berbatasan Jambi, telah pula berkembang ke arah perkebunan Sawit, Karet, Teh dan Cokelat. Daerah Limapuluh Kota misalnya, selain perkebunan teh Halaban, mulai pula ke Baruh Gunung, dan Suliki Gunung Emas. Kebun karet rakyat dan pengempaan gambir, mulai agak bernafas dengan leluasa. Di kaki Gunung Sago dan Gunung talang, mulai

16

PENGENTASAN KEMISKINAN

bergerak perkebunan rakyat lainnya. Ada yang berbentuk kulit manis, murbei, markisa. Dan juga tanaman palawija, sedari lobak, kentang, bawang merah dan putih. Sebenarnya semua ini, adalah penghasilan yang lumayan, bisa berguna dalam mengentaskan kemiskinan masyarakat pedesaan. Idealnya, masyarakat pedesaan itu harus berani memulai. Memulai dengan apa yang ada. Karena yang ada itu sudah cukup untuk memulai. Potensi besar yang dimiliki, yang ada itu, adalah telapak tangan dan potensi alam anugerah Allah. Dengan sedikit bimbingan pengetahuan, dan manajemen perusahaan, semua potensi yang potensial itu, niscaya kalau digerakkan akan merupakan potensi yang riil. Maka seharusnya dan semestinya-lah perusahaan perkebunan besar di sentra-sentra tadi, mulai membangunkan untuk rakyat pedesaan warga setempat, perkebunan-perkebunan mini. Secara selektif, dipilihkan masyarakat desa yang tidak berpunya. Hingga mereka menjadi orang berpunya, (dalam hal ini minimal sebidang perkebunan yang telah jadi). Ada sebuah gejala yang mulai terlihat mengenaskan. Yaitu, menurunnya tingkat penghidupan penduduk desa, di sekeliling daerah perkebunan atau daerah transmigrasi. Penduduk desa yang tadinya memiliki ulayat, sekarang bahkan ada yang tidak mempunyai sekeping tanahpun, untuk diolah mereka sebagai lahan usaha. Kalaupun ada, modal pengolahan (materil dan pengetahuan) sangat minim sekali. Kehidupan masa depan mereka, jadinya kabur dan mungkin saja hilang.
PENGENTASAN KEMISKINAN

17

PROSES kemiskinan bergerak tumbuh lebih cepat dari tumbuhnya komoditas perkebunan yang ditanam. Maka, mengutamakan “peserta” perkebunan, dengan mendahulukan penduduk desa sekelilingnya menjadi lebih mendesak. Hendaknya jangan timbul penduduk “desa siluman”, yang memetik hasil dari lingkungan desa, tetapi membiarkan penduduknya tetap merana. Program PIR yang sudah ada, hendaknya lebih selektif disasarkan kepada penduduk yang beul-betul miskin. Melalui program terpadu semacam ini, pengentasan kemiskinan niscaya bisa di-entaskan. Hal yang sama, bisa dikembangkan pula pada sentra lain-lain. Melalui periklanan, nelayan, pertukangan, home industri, atau usaha-usaha serupa. Sepanjang ranah pesisir, mulai dari Sikilang Air Bangis hingga mendekat Muko-Muko, bisa diperbaiki kehidupan nelayan. Warga nelayang yang miskin, secara berangsur-angsur bisa memiliki perahu-perahu pemukat, mesin tempel (motor boat), jaring-jaring pukat dan peralatan lainnya yang layak dimiliki oleh kehidupan para nelayan. Peralatan permodalan, berupa mesin jahit, pertukangan, untuk sentra “home industri”, disasarkan juga kepada kelompok miskin. Sungguhpun usaha ini telah dilakukan pemerintah. Tetapi keikut sertaan seluruh unsur masyarakat desa dan rantau perlu lebih dipadukan. Peranan informal leader amat menentukan. Yang penting adalah, membuat kiat bagaimana kesejahteraan itu bermuara di desa. Meningkatnya pendapat masyarakat desa,

18

PENGENTASAN KEMISKINAN

merupakan sumber pendapatan baru bagi masyarakt kota. Rumus ini tidak perlu diragukan lagi. Membentuk desa binaan merupakan langkah awal yang perlu diwujudkan. Usaha ini seiring sungguh dengan garisan Allah Subhanahu wa Taala. “Berikanlah kepada karib kerabat (masyarakt keliling, sanak keluarga di kampung halaman) haknya. Begitu pula terhadap orang-orang miskin dan orang-orang yang dalam perjalanan. Janganlah kamu menjadi orang “mubadzdzir” (pemboros, dan melakukan tindakan yang tidak bermanfaat, membuang-buang kesempatan). Karena orang-orang pemboros adalah teman dari Syaithan. Dan syaithan itu sangat inkar kepada Tuhannya.”. (QS. Al Isra’, 17:2627).

Gerakkan Potensi Ummat
Selalu saja menjadi pertanyaan yang agak sulit dijawab. Tentang darimana bisa diambilkan dana bagi pengentasan kemiskinan itu. Pertanyaan selanjutnya, siapa yang berkompeten melaksanakan usaha pengentasan kemiskinan tersebut? Bagaimana memulainya? Dan apakah kira-kira usaha itu akan berhasil segera? Barangkali, banyak lagi pertanyaan lainya yang mungkin tumbuh sesudah itu. Harus diakui secara sadar, bahwa “pengentasan kemiskinan” itu, bukanlah pekerjaan mudah. Tidak semudah mengucapkannya. Dan hasilnya, juga tidak bisa cepat, drastis dan sekali jalan. Secara berangsur-angsur, adalah pasti. Sesuai

PENGENTASAN KEMISKINAN

19

hukum alam, sebagai satu “sunnatullah” yang telah digariskan. Yaitu, “thabaqan ‘an thabaq”, atau “selangkah demi selangkah”. Jika tidak seluruhnya bisa berhasil, bukan berarti pula seluruhnya tidak dikerjakan. Kerjakan juga mana yang mungkin. Inilah dasar dari optimisme cita luhur itu. Pandangan ajaran Islam lebih tegas lagi. Setiap muslim, tidak dibebaskan membiarkan saudaranya (tetangganya) kelaparan di sampingnya. Sementara dia tidur kekenyangan. Begitu jelasnya ajaran Rasulullah, Shallallahu alaihi wa sallam. Karena itu, tugas ini menjadi beban setiap Muslim yang berada. Fii amwalihim naqqun ma luum. Di dalam hartanya, ada hak orang lain. Hak itu berupa infaq, shadaqah dan zakat. Zakat sebagai sumber dana ummat (Islam), pernah berperan membiayai perjuangan kemerdekaan. Lihatlah, bagaimana gencarnya pengumpulan zakat, untuk pembeli senjata, pemberli pesawat udara (Seulawah satu). Dimasa kita berjuang mencapai kemerdekaan dimasa penjajahan kolonial Belanda dahulu (1945). Jauh sebelumnya, bahkan hingga kini, zakat merupakan satu sumber pembangunan bidang pendidikan (agama). banyak Madrasah, pesantren, yang telah dibangun dengan “dana zakat” itu. Masjid dan Mushalla, barangkali adalah pembuatan toko, kebun, kapal atau pabrik dengan uang zakat. Dan hasilnya diperuntukkan bagi kepentingan si miskin. Untuk melakukan studi banding, beberapa negeri tetangga telah lebih dahulu melakukannya. Mesir, sudah lebih dari seribu tahun mengelola uang zakat, untuk penguasaan tana-tanah produktif (pertanian), dan sarana-sarana ekonomi (perdagangan, dan pabrik-

20

PENGENTASAN KEMISKINAN

pabrik). Hasilnya samapai hari ii, menyantuni lembaga pendidikan tertua Al Azhar. Tidaklah berlebihan bila disebutkan bahwa Institut Al Azhar Mesir ini, merupakan institut terkaya, yang mengelola harta waqaf dan zakat. Bagaimana soalnya dengan kontraktor? Masihkah zakat dikeluarkan sebagai halnya petani? Sebahagiannya, ada yang mempersoalkan bahwa mereka terikat beban hutang dengan bank. Bagaimana pula dengan bank-bank, yang sekarang telah menjadi perusahaan (PT)? Adakah mereka mengeluarkan zakat? Pertanyaan juga kepada para pegawai, yang jika dihitung, ada yang mendapatkan gaji, rendahnya Rp. 2,4 juta per tahung? Bahan ada yang lebih, hingga 50 sampai 100 juta? Atau yang yang menengah saja, sekitar Rp 12 juta setahun? Masihkah dipersoalkan, bahwa kami masih dihimpit hutang, karana pembelian mobil dan lain-lainnya, sampai dua atau tiga buah? Secara sederhana, bisa dimulai menghitungnya. Berapa besar DIP yang diberikan pemerintah pusat untuk daerah Sumbar tahun ini. Semuanya jelas dikerjakan oleh kontraktor (perusahaan). Kalaulah 2,5 persen dikeluarkan dalam bentuk zakat, barangkali kita memiliki sumber dana sekian milyar rupiah. Kalaulah 2,5 persen pula dari keuangan perusahaan besar seperti PT Semen Padang, PT Bank-bank, dan PT-PT lainnya, maka akan bertambah pula sekian ratus juta rupiah, pertahunnya. Menghitung, memang lebih mudah daripada memungut atau mengeluarkannya. Disinilah peluang kerja bagi BAZIS. Dan, seharusnya BAZIS itu, menjadi perencana, penghitung, pembagi, dan penggerak. Semacam badan perencanaan pembangunan dan pengentasan kemiskinan. Penyedia istimewa (sumber pendapatan) bagi
PENGENTASAN KEMISKINAN

21

orang-orang yang perlu diangkatkan. Begitulah dikembangkan. angan-angan yang gerangan perlu

GEBU MINANG, bisa juga berperan mulai dari rantau. Badan amal ini bisa bertindak sebagai penggerak pula, untuk mewujudkan Desa-desa Binaan. Mungkin dengan mengeluarkan obligasi dan mengajak pihak-pihak berpunya, untuk menanamkan modalnya bagi kesejahteraan anak kemenakan di kampung halaman. Mungkin sekali, mengajak kerjasama “Bank Muamalat Indonesia”, dalam bentuk syarikat usaha. Berbagai hasil kelaknya, dengan mengawali pada berbagai tugas dan kerjaan. Masyarakat Minang terangnya adalah masyarakat muslim, yang bagi mereka adat dan agama Islam berjalinberkelindan. Adatnya bersendi syara’ , dan syara’ bersendi Kitabullah (Al Quran). Masjid dan Mushalla, serta Lembaga-lembaga Agama Islam, yang selama ini telah berperan sebagai ujung tombak “pengumpul zakat”. Bisa lebih difungsikan, dengan memberikan mutu dan kualitas ummat Islam sendiri. Akhirnya, “mass-media”, bisa dimintakan partisipasinya pula. Terutama dalam pengumuman dan pelaporan setiap kegiatan pengumpulan dan pemanfaatan dana-dana ummat. Tentu secara berkala dan bertanggung jawab. “Apa yang bisa dilakukan di sini” adalah awal dari gagasan tulisan ini. Kalimat itu juga mengakhirinya. Terpulanglah kepada kita, darimana akan dimulai. Menggerakkan potensi ummat dengan mengharap ridha Allah, adalah tujuan utamanya. “Allahumma zidha ‘ilman”. Wahai Allah,

22

PENGENTASAN KEMISKINAN

tambahlah ilmu kami. Ilmu yang bermanfaat yang bisa dikembangkan, bisa diaplikasikan menjadi kenyataan. Karena Engkau tela berfirman,”Sesiapa yang telah Engkau berikan hikmah (yakni ilmu yang bermanfaat, bisa diterapkan untuk menciptakan kemaslahatan ummat banya, atas dasar ridha Engkau). Berarti mereka telah Engkau anugerahkan kebaikan yang besar.” (Al Quran)

PENGENTASAN KEMISKINAN

23

PEMENTASAN,

PENGENTASAN KEMISKINAN

24

PENGENTASAN KEMISKINAN

PENGENTASAN kemiskinan, dengan pengertian usaha bersama-sama mengurangi tingkat kemiskinan perlu ditampilkan. Perlu dipentaskan. Karena usaha mengatasi kemisikinan di tengah kehidupan ummat, sesungguhnya merupakan usaha yang mulia. Agama Islam, dengan mempedomani Al Quran dan Sunnah Rasulullah selalu memberikan perhatian yang besar serta berkesinambungan terhadap masalah sosial ini. Ajaran Al Quran amat memperhatikan usaha-usaha penanggulangan kemiskinan. Tidak diragukan lagi, ayat-ayat pertama dari Mashhaf Al Quran, memberikan ciri-ciri sifat dan sikap seorang Muttaqin (orang yang bertaqwa). Diantaranya, orang yang percaya kepada Yang Ghaib (Allah), mendirikan shalat serta membelanjakan sebahagian rezekinya (hartanya) untuk kemaslahatan ummat banyak. Artinya, memberikan perhatian penuh terhadap kehidupan orangorang miskin. Seperti tertera dalam Wahyu Allah, Surat Al Baqarah, 2 : 3 (Al Quran). Karena itu, seorang Muslim seyogyanya tidak perlu merasa sungkan dan segan, dalam berusaha mementaskan setiap usaha ke arah pengentasan kemiskinan. Al Quran yang menjadi pedoman setiap Muslim (jumlah kita diakui terbanyak di Dunia ini), seyogyanya mengambilkan pelajaran tentang cara-cara yang diajarkannya guna mengentaskan kemiskinan ummat. Karena sudah pasti, yang terbanyak di antara ummat yang berada di bawah garis kemiskinan itu, tentulah Muslim pula. Al Quran menceritakan, di kala seorang kafir (yang menolak ajaran Allah), dimasukkan ke dalam neraka, mereka ditanya, Apa sebabnya mereka tercampak ke dalam kehinaan (Neraka) ini. Jawabnya karena, pertama, Kami bukanlah termasuk golongan orang-orang yang shalat.
PENGENTASAN KEMISKINAN

25

Kedua, Kami tidak hendak memberi makan orang miskin. Ketiga, Kami asyik membicarkan kebathilan. Tanpa berusaha sedikitpun menghapus kebathilan itu. Habis hari karena berbincang. Tak ada waktu tersisa untuk mengubah kepincangan-kepincangan. Keempat, Kami mendustakan hari pembalasan (hari akhirat). Keyakinan mereka hanya terpaut kepada hal-hal duniawiyah semata. Yang ada hanya pemikiran masa kini, di sini. Tidak ada sama sekali berpikir dan berbuat untuk hari esok. Hari yang pasti didatangi setiap diri. Nanti, setelah mati. Keterangan tersebut jelas diterangkan Allah dalam Firman Nya, Al Quran Surah ke 74, Al Muddatsir ayat 40 47. Yang menjadi titik perbincangan adalah memberi makan orang miskin. Ruang lingkungan luas. Termasuk memberi makan, juga adalah menyiapkan sumber atau lahan usaha bagi si miskin. Hingga setiap saat mempunyai harapan dari hasil garapannya. Mereka tidak lagi disibukkan mengumpulkan sesuap nasi atau setekong beras untuk makan gari ini. Tapi, sudah mempunyai sumber usaha yang menghasilkan makan setiap hari. Untuk dirinya sendiri dan untuk keluarganya pula. Jadi, usaha melahirkan kemandirian. Secara konvensional, yang disebut miskin itu peminta-minta. Dia tidak punya kerja, kecuali hanya meminta-minta. Sungguhpun mereka punya hak untuk meminta-minta kepada orang yang berpunya (lihat Surat Adz Dzariyat, 51:19-20). Tapi sama-sama tidak bermartabat, membiarkan diri selalu menjadi peminta-minta. Atau juga tidak mulia tindakan si kaya yang memupuk terpeliharanya kebiasaan orang yang selalu meminta-minta.

26

PENGENTASAN KEMISKINAN

Dalam sebuah ajaran Rasululah Shallallahu ‘alaihi wassalam ditegaskan, “Mencari kayu api ke hutan, mengikatnya dan kemudian menjualnya, (berusaha dengan tangan sendiri, memeras keringat), kemudian hasilnya kamu terima, dan kamu makan berserta keluarga di rumah. Usaha demikian itu lebih bermartabat, daripada kamu berkeliling menengadahkan tangan meminta-minta, diberi ataupun tidak diberi oleh orang lain. Allah lebih senang kepada tangan yang di atas daripada tangan yang di bawah (peminta-minta).

Menelurkan Harga Diri.
Umar bin Khattab, memberikan arahan lebih keras. Tatkala dilihatnya seorang pemuda, duduk mendo’a menengadahkan tangan meminta rezeki. Tanpa berusaha meninggalkan pojok dinding Ka’bah. Sedari pagi hingga malam, hanya berseru dengan nada memelas. “Wahai Tuhan, berilah aku rezeki harta”. Begitulah yang didengar Umar bin Khattab, keluhan remaja yang memiliki tubuh sehat dan otot perkasa. Dengan nada keras, sembari mengancam dengan mata pedang, Umar mengingatkan, “Wahai pemuda. Janganlah sekali-kali kamu hanya pandai menengadahkan tangan, meminta-minta diturunkan rezeki harta. Kamu harus tahu, sejak langit berkembang, Allah tidak pernah menurunkan hujan emas dan perak. Gerakkan tanganmu! Allah akan beri kamu rezeki.”. Peringatan keras ini, memiliki ajaran dan pandangan yang sungguh dalam. Larangan meminta-minta. Tumbuhkan sikap berusaha. Melahirkan etos kerja yang tinggi. Sebagai
PENGENTASAN KEMISKINAN

27

pembuka jalan bagi pintu rezeki. Di sinilah terdapat salah satu kunci. Mengentaskan kemiskinan melalui “pemberian pelajaran”, menunbuhkan “harga diri”. Menumbuhkan “rasa malu” selalu menjadi beban orang lain. Jadi, harus ada program jelas untuk mengubah sikap kebiasaan. Orang miskin adalah orang yang serba kekurangan. Orang yang berkekurangan lantaran tidak mempunyai apaapa. Tidak memiliki mata pencaharian. Tidak mempunyai kepandaian dalam mencari nafkah. Mereka perlu dibantu dan diangkatkan derajatnya. Dicarikan baginya lahan dan lapangan pekerjaan. Dibuatkan untuk mereka sumber pengidupan. Dididik mereka untuk bisa berusaha untuk hidup. Ajarkan mereka arti dan makna “madiri” dalam bentuk perbuatan dan kenyataan. Lebih halus ta’rif atau definisi yang diberikan Rasul Shallallahu ‘alaihi wassalam, sebagaimana diriwatkan Bukhari Muslim dalam shahihnya. “Orang miskin itu bukanlah mereka yang berkeliling meminta-minta (sebagai pemulung), agar diberikan kepadanya sesuap nasi atau sebuah dua biji korma. Tapi orang miskin itu, adalah mereka yang hidupnya tidak layak berkecukupan. Kemudian mereka diberi sedekah, dan sesudah itu mereka tidak pergi lagi meminta-minta kepada orang lainnya.”. (HR. Bukhari dan Muslim, Shahih Insya Allah). Hadist lainnya menyebutkan; “Orang miskin itu, menjaga kehormatannya.”. hanyalah orang yang

Mereka perlu mendapatkan perhatian. Terhadap nasib mereka perlu ditumbuhkan kepedulian yang tinggi.

28

PENGENTASAN KEMISKINAN

Perangi Kemiskinan.
Fakir dan miskin, adalah bayangan kehidupan yang berbahaya. Bahayanya jelas digambarkan oleh Rasulullah. Beliau berkata, “Hampir-hampir kefaqiran yang membawa kekufuran”. Walaupun tidak selamanya orang kufur itu terdiri dari orang fakir. Atau sebaliknya tidak pula selamanya orang berpunya terjauh dari kekufuran. Namun, dapat disimak terminologi sosialnya, bahwa kekufuran itu terbuka itu terbuka pada salah satu pintunya kefakiran. Maka mengatasi kefakiran dan kemiskinan, bermakna menghambat peluang kearah kekufuran. Disini terletak satu peran utama setiap muslim yang mampu. Kewajiban asasi, dalam kaitannya dengan “hablum minan saasi” atau hubungan horizontal antara sesama manusia (Muslim). Dalam hubungan ini, Ali bin Abi thalib mengandaikan. “Andaikata, kefakiran atau kemiskinan mewujudkan dirinya dalam sosok tubuh seperti manusia, niscaya aku akan cabut pedangku. Aku tebas batang lehernya. Sehingga kemiskinan (kefakiran) itu tidak sempat hidup ditengah kehidupan manusia banyak.”. Demiakian Ali bin Abi Thalib, mengumumkan perang terhadap kemiskinan (kefakiran). Akan tetapi Umar bin Khattab, langsung mementaskan di arena kekhalifahan beliau. Bagaimana beliau sendiri berperan langsung dalam mengentaskan kemiskinan di zamannya. Diantaranya tersebut kisah, bahwa Umar bin Khattab selalu melakukan perjalanan incognito, ke pelosokpelosok desa, ke gubuk-gubuk reot. Melihat dan meneliti keadaan kehidupan masyarakat kalangan bawah.
PENGENTASAN KEMISKINAN

29

Di suatu malam, Umar bin Khattab mendengan suara tangisan anak-anak dari sebuah gubuk. Terdengar pula dendangan ibu menentramkan tangisan anak itu. Setelah mendekat, Umar bin Khattab meminta izin kepada sang Ibu agar diperbolehkan masuk. Dalam dialog pendek, dari sang ibu didapat penjelasan, bahwa dia berusaha menenangkan tangisan anaknya yang tengah kelaparan. Untuk menghubur dan menenangkan anak menjelang tidur, ibu itu sengaja merebus batu. Umar bertanya kepadanya, “Wahai ibu, kenapa ibu tidak datang saja kepada Amirul Mukminin (Umar bin Khattab), untuk meminta pangan? Sehingga tidak perlu berbohong terhadap anakmu?”. Sang Ibu menjawab, “Seharusnya Amirul Mukminin tahu tentang nasib rakyatnya.”. Umar segera bangkit dan pamit dengan wajah duka. Di dalam hatinya berkecamuk rasa iba dan tanggung jawab. Memang kewajibannya, membela rakyatnya yang miskin. Dia kumpulkan gandum yang ada dirumahnya. Dimasukkannya ke dalam karung. Dipikulnya sendiri dengan pundaknya. Dibawanya juga di malam hari itu, ke rumah ibu yang merebus baru untuk anaknya yang kelaparan. Dia masak sendiri gandum bawaannya hingga matang. Siap dihidangkan sebagai makanan yang layak. Dia berikan kepada anak yang tengah kelaparan itu. Diapun bergurau dengan anak itu sampai sang anak tertidur. Tidur bukan karena lapar. Tapi tidur dengan perut berisi. Demikian salah satu bentuk adegan, bagaimana Umar bin Khattab “mementaskan” usaha-usaha mengentaskan kemisikinan di zamannya. Yang dapat dipetik dari pementasan itu, usahausaha pengentasan kemisikinan, perlu dilakukan secara

30

PENGENTASAN KEMISKINAN

nyata. Tidak sebatas keinginan dan teori belaka. Umar bin Khattab menjadi orang yang pertama dalam banyak hal. Pertama mendirikan baitul-maal, (pembagian warisan). Juga pertama kali mengirimkan bahan makanan melalui Laut Merah dari Mesir ke Madinah. Menetapkan pengenaan zakat atas ternak kuda. Menyediakan gudang-gudang yang berisi gandum (bahan pangan) bagi orang-orang yang kehabisan bahan makanan (fakir miskin).

Zakat dan Prinsip
ZAKAT merupakan satu institusi yang dapat dipakai sebagai alternatif bagi pengentasan kemiskinan ummat. Minimal terbatas bagi kalangan Muslim. Di tengah kehidupan sesama muslim. Atas dasar, “Saling bertolonganlah kamu atas kebaikan dan ketaqwaan”. (QS. Al Maidah, 5:2). Dengan demikian Al Quran, meletakkan prinsip ta‘awunitas atau partisipatif (saling tolong bertolongan untuk kebaikan dan ketaqwaan). Tidak ada prinsip ta’awunitas itu untuk keburukan maupun kema’shiyatan. Harus dibedakan, antara zakat dengan infaq dan shadaqah, dalam kaitannya sebagai perintah Allah. Walaupun diakui semuanya merupakan sumber dana ummat. ZAKAT merupakan dana yang wajib dikeluarkan, wajib di-tagih, wajib di-pungut, dari pemegang dana. INFAK dan SHADAQAH lainnya (diluar zakat), harus digalakkan untuk dikeluarkan, sebagai alat untuk meningkatkan ukhuwwah (solidaritas) dan jihad ff
PENGENTASAN KEMISKINAN

31

sabiilillah (peningkatan amaliyah dalam meningkatkan dan mempertahankan aqidah dan kaedah di jalan Allah). Zakat, sebagaiman halnya shalat, merupakan satu arkaan min arkaanil-Islam. Sendi-sendi dari Islam. Zakat merupakan rukun (sendi) Islam yang ke-empat, setelah syahadatain, shalat, dan shaum (puasa). Dalam Kitab suci Al Quranul Karim, selalu diseiringkan perintah shalat dan zakat ini. Hingga dapat dikatakan, zakat inilah yang membedakan apakah seseorang itu mukmin atau kafir (munafik). Orang mukmin yang benar, selain mempercayai hari akhir, serta mengerjakan shalat, dan tidak mempersekutukan Allah, juga seorang pembayar zakat. Karena Al Quran selalu menghubungkan antara shalat dan zakat, maka para sahabat Rasulullah (salafusshalih), selalu berperdapat, antara keduanya tidak boleh ada pemisahan. Al Quranul Karim juga menyebutkan zakat dengan kata-kata shadaqah. Bermakna shadaqah yang wajib. Sebagai pembuktian atas pembenaran perintah Allah, yang melekat pada harta benda seorang mukminin. Membayarkan zakat kewajiban muslim, sama halnya dengan kewajiban shalat. Maka memungut zakat dari seorang yang berkewajiban zakat merupakan perintah Allah pula. (At Taubah, 9:103). “Ambillah (pungutlah) dari sebahagian harta mereka sadaqah (zakat). Dalam pelaksanaan pemungutan zakat, harus ada satu badan. Bagi negara-negara Islam, perintah pemungutan datangnya dari Kepala Negara (Amirul Mukminin). Tentu melalui satu penegasan perundangundangan, sesuai dengan Kitabullah. Untuk daerah kita, bisa dilakukan oleh Baitul Maal atau BAZIZ. Karena itu, dalam pandangan Al Quran (Islam),

32

PENGENTASAN KEMISKINAN

seorang belum dapat disetarakan dengan orang-orang yang bertaqwa, sebelum dia mengeluarkan sebahagian hartanya (berupa zakat). Tanpa zakat, seseorang terjauh dari rahmat Allah.

Kewajiban Azasi
Tatkala Rasulullah mengirimkan utusan ke Yaman, bernama Mua’adz bin Jabal, Nabi menginstruksikan beberapa patokan yang harus dijalankannya. Antara lain, sebagaimana diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dalam shahihnya. “Kau akan berada di tengah ummat Ahli Kitab. Ajaklah mereka mengakui, tidak ada Tuhan selain Allah dan Saya (Muhammad) adalah Rasul-Nya. “Bila mereka menerima (mengakui), beritahukanlah kepada mereka, bahwa mereka wajib melaksanakan shalat lima kali dalam sehari semalam. “Bila mereka telah menjalankannya, beritahukan pula, mereka diwajibkan mengeluarkan zakat, yang dipungut dari orang-orang kaya dan dikembalikan kepada orang-orang miskin. Dan bila mereka menjalankannya (shalat dan zakat ), maka kau harus melindungi harta kekayaan mereka itu. Selanjutnya rasulullah menegaskan lagi . “Dan takutlah kepada doa-doa orang yang teraniaya (diantaranya orang-orang miskin). Karena antara doa orang teraniaya dengan allah tidak ada batas (penghalang)“ (HR.Bukhari muslim, dari Anas Radhiallahu “anhu). “Aku diperintahkan memerangi kecuali bila meraka meng-ikrar0kan
PENGENTASAN KEMISKINAN

manusia, syahadat,

33

bahwa tidak ada tuhan selain Allah dan Muhammad Rasul Allah (kemudian) mendirikan Shalat dan membayarkan zakat”. (HR.Bukhari Muslim). Peringatan Rasullulah lainnya, berbunyi “Bila shadaqah (zakat) bercampur dengan kekayaan laian. Bila harta kekayaan tidak dikeluarkan zakatnya . Kekayaan itu akan binasa “ (HR Bazar dan Baihaqi , liaht Nailul Authar, jilid IV-126). Jelaslah zakat itu bagi seseorang Mukmin yang memiliki harta kekayaan, memiliki beberapa fungsi , 1. Perintah Allah (tanda pembenaran syahadat da shalat) 2. Pembesih harta kekayaan 3. Pengentasn Kemiskinan kepada orang miskin. ummat, karena ditujukan

4. Sumber dana ummat, penggunaanya diarahkan kepada obyek tertentu (hasnaf delapan) 5. Pembeda antara Mukmin & Munafik Kehidupan sehari-hari menberiakan bukti nyata “tidak ada orang yang melarat lantaran mengeluarkan zakat“. Bahkan sebaliknya yang sering bersua, orang kaya (Muslim), akhirnya tidak pernah mengenyan ketentraman , lantaran selalu menahan hak zakat.. Zakat wajib dikelola dengan management yang benar. Sumbernya menjadi jelas, sebagai mana ditetapkan Al-qur’an. Setiap muslim yang mempunyao harta, wajib berzakat. Kewajiban demikian ditentukan berdasarkan batas (hisab) dari segi jumlahnya . Batas juga dari waktu (haul), dalam setahun. Dan batas besarnya kewajiban yang wajib dikeluarkan . Sedari tingkat 2,5 (dua setengah) persen, 5 persen, 10 persen, bahkan ada yang sampai 20 persen dari besarnya kekayaan (hisab). Penerima zakat, juga dijelaskan dengan tegas. Antaranya Al Quran Surat At Taubah (IX) ayat 60. Ayat dari

34

PENGENTASAN KEMISKINAN

Firma Allah tersebut menjelaskan penerima zakat tersebut adalah “orang-orang”. Subjeknya kelompok perorangan. Terdiri dari (1) .orang fakir (2) . Orang Miskin (3). Orang (para) Amil (pengelola zakat ). (4). Orang (para) Muallaf yang dibujuik hatinya. (5). Mereka (orang) yang diperhamba (membebaskan perbudakan ). (6). Merka yang dililit hutang (mandi hutang). (7). Jihad dijalan Allah . (8). Dan orang yan gterlantar dalam perjalanan . “Demikian diwajibkan Allah Maha Tahu Maha Bijaksana (QS 9 : 60). Lima kelompok dari delapan asnaf ini adalah orangorang yang amat memerlukan perhatian khusus. Karena mereka tengah berada ditepi jurang kemelaratan. Mereka adalah fakir,miskin, budak yang diperhamba, orang yang dililit hutang dan yang terlantar dalam perjalanan. Dua kelompok tengah berhadapan dengan medan dakwah illallah . Ya’ni, Muallaf dan fisabilillah. Kelompok yang dengan kesadaran hati mereka menerima Islam, Problema yang dihadapi mereka bukan sedikit. Kadangkadang berbentuk pengucilan dari kelompok (agama) anutan lamanya. Mereka cenderung tengah berproses kemiskinan, jika tidak segera diantisipasi. kearah

Sebagaimana juga halnya “fisabilillah “. Merka tengah berjihad. Bisa sebagai pejuang di meda laga, karena mempertahankan aqidah Islamiah. Bisa juga mereka yang tengah berdakwah didaerah sulit. Ruang lingkup fisabilillah ini cukup luas. Bisa juga mereka yang tengah menuntut ilmu pengetahuan, kemudian berkewajiban kembali ke tengah ummatrnya, membina dan mencerdaskan kel;ingkungannya. Pada hakekatnya, mereka bukanlah berjuang untuk diri sendiri, tetapi untuk kepentingan orang banyak . Atas redha Allah semata. Maka mereka perlu mendapatkan
PENGENTASAN KEMISKINAN

35

perhatian yang mendalam. Kesemua kelompok itu, mendapatkan porsi dari sumber zakat menurut prioritas secara kondisional dan situasional. Pengelolaanya adalah “amil” zakat. Untuk itu, mereka berhak mendapatkan bahagian. Intisarinya agar amanah untuk pihak-pihak yang diprioritaskan, tidak menyimpang kepada yang lainnya . Terciptanya keadilan dan pemerataan sesuai dengan program yang hendak dikembangkan. Amil zakat tetap akan menerima bahagian dari zakat itu, walau merka terdir dari orang-orang berpunya juga. Terserah apakah bahagian imerka akan mereka nikmati berbentuk materi, atau akan mereka kembalikan lagi dalam bentuk shadaqah. Semuanya ini lebih banyak ditentukan oleh kualitas pribadi para amail. Bahkan ada kalanya orang-orang “berduit” yang diberi amanah sebagai “amil” zakat, bisa meniru aa yang dilakukan oleh Kaum Anshar (Madinah) terhadap kaum Muhajirin, dalm sejarah Hijrah Rasullullah Shallallahu a’alaihi Wa Salam.. Mulianya sikap merka seperti diceritakan Allah di dalam Al Hasyr (QS.LIX) ayat -9 , antara lain mereka tunjukkan kasih sayang kepada orang berpindah ke kampung mereka, (Dewasa ini sebagai program Transmigrasi .Pen). Dan tidak meraka menaruh keinginan dalam hati terhadap apa yang diberikan kepada merka (yang berpindah itu). Bahkan mereka utamakan kawannya lebih dari diri mereka sendiri meskipun mereka dalam kesusahan (pula).. Begitu kira-kira bentuk-bentuk dari kualitas ummat, yang terbina karena iman mereka terhadap Allah. Hidup dalam kehidupan redha Allah.

Harus dipungut 36 PENGENTASAN KEMISKINAN

Tidak pantas, zakat dihitung oleh pemilik harta kekayaan, menurut keinginan dan kepentingannya semata. Zakat harus dipungut. Karena itu institusi “amil” perlu membagi dirinya menjadi pemungut (collector) dan pembagi zakat (distributor). Demi memudahkan para pemungut (kolektor,amil) dalam menjalankan tugasnya maka kemajuan iptek sekarang ini, memungkinkan sekali untuk menyusun lebih dahulu kohir (formulir zakat) . Selengkapnya dapat berisikan cara-cara yang tepat dan mudah bagi pemilik harta kekayaan untuk menghidupkan semangat berzakat. Juga memudahkan menghitung berapa sesungguhnya besar zakat mereka yang semestinya dikeluarkan. Akan salah kiprah jadinya, kalau ditemuinya juga pembayar zakat hanya mengeluarkan berupa kain sarung tua, ampelop uang di akhir tahun . Sebagaimana biasanya di bulan-bulan Ramadhan . Kemudian membagikan secara merata kepada siapa saja yang menurutnya pantas . Karena mungkin sasarannya kurang tetap. Dampaknya bisa berakibat memperbanyak jumlah orang miskin. Pendistribusian zakat perlu dipandu oleh Amil Zakat. Hal ini akan mempermudah terlaksananya “pementasan “ dan “pemintasan” dari usaha-usaha ke arah “pengentasan kemiskinan” ummat.. Zakat sesungguhnya bukanlah milik pembayar zakat. Zakat adalah “harta milik Allah”, yang diamanahkan untuk dibayarkan kepda orang-orang tertentu “ yang ditentukan oleh Allah. Mungkin saja terjadi,pemilik zakat menyerahkan kepada badan (amil) tertentu . Tersebab karena keragu-raguan hati semata. Apakah zakatnya sampai kesasaran atau tidak. Maka dalam hal demikian itu menjadi tugas pokok
PENGENTASAN KEMISKINAN

37

dari amillah untuk mengumumkan pertanggung jawaban secara terbuka kepada ummat. Bisa sekali dengan memanfaatkan media massa yang ada dan menjangkau seluruh lapisan ummat.

Pantas,pintas dan pentas
Zakat sebagai penghapus kemiskinan telah dipentaskan sejak mas aRasullullah Shallalahu ‘alaihi Wassalam. Dalam sebuah hadist, sebagai mana diriwayatkan Bukhari Muslim, Rasullullah mengingatkan, “Meminta-minta tidak halal kecuali salah seorang dari tiga beban “. Pertama ,”orang yang menanggung beban berat (tidak mampu memikul sendiri ),maka baginya halal meminta “,Ketiga “orang yang dibalut kemiskinan maka baginya pun halal meminta sampai dia kembali tegak dan hidup secara wajar “.”Selain dari tersebut diatas haram baginya makan hasil meminta-minta.“. (HR.Bukhari Muslim, dari Qabishah al Hilali). Batasan dan larangan Rasulullah ini, membuka peluang boleh meminta sampai terangakat kemiskinan dan di dalamnya terkandung makna berilah kepada seorang miskin sessuatu yang menyebabkan sesudahnya di a bisa hidup wajar (terangkat kembali dari garis kemiskinan). Hidup layak, sebagai ukuran “kepantasan“, bervariasi sesuai kondisi kehidupan ummat dikala itu. Makanya kalangan miskin diangkat melalui pendidikan, pengajaran bagaimana membina hidup yang layak. Mengajarkan cara-cara mengolah kehidupan. Siap untuk membentuk hidup yang layak. Bisa melalui lapangan hidup pertanian, pertukangan, (nelayan) perikanan, perkebunan. Bahkan juga meniti usaha-usaha perniagaan. Untuk itu tentu perlu dikaji kesediaan “simiskin”

38

PENGENTASAN KEMISKINAN

untuk mengubah sikap jiwa. Dari menerima kemudian memakan .Menjadi penerima,pengolah, pemelihara dan baru memakan hasilnya, untuk dirinya dan keluarganya. Karena itu,tepat dan pantas jika kafir miskin diberi zakat hingga ia berkecukupan . Boleh dalam bentuk peralatan permodalan . Besarnya bantuan itu boleh disesuaikan dengan keperluan (untuk mengentaskan kemiskinan), agar dari usahanya diperoleh keuntungan. Meskipun jumlah permodalan itu besar (Imam Nawawi, Syarah Minhaj -VI/159). Bahkan Imam Syafei menegaskan, ”Bantuan zakat bisa dalam bentuk memberikan sebuah pekerjaan. Malah kemudian bisa pula ditambah untu usahausaha lainnya hingga dapat memenuhi kebutuhan simiskin” (Al Umm). Yang kemudian pendapat ini disepakati pula oleh Imam Ahmad,”orang miskin boleh mengambil zakat untuk seluruh kebutuhan hidup (berupa sumber usaha yang berketerusan)” (Al Inshaf,III/238). Selanjutnya Ma’alim as Sunnah (II/239) menjelaskan pendapat Khattabi, ”Batas pemberian zakat adalah kecukupan (bagi simiskin yang diangkatkan derajatnya). Dengan zakat diciptakan kehidupan seseorang menjadi lebihj baik. Batas itu disesuaikan dengan kondisi serta tingakat kehidupan umum yang berlaku.Tentu akan berbeda pada tiap orang, sesuai dengan keadaaan mereka (bangsa)”. Pendapat-pendapat itu merujuk kepada kebijaksanaan umum yang pernah dilakukan oleh Umar bin Khattab. ”Kalau memberikan bantuan hendaknya mencukupi.”. Umar mementaskan dalam masa pemerintahannya . Umar pernah memberikan bantuan (zakat) berupa tiga ekor unta kepada seorang laki-laki yang memerlukan bantuan. Kemudian Umar pernah mengatakan niatnya yang teguh dalam “mengentaskan kenmiskinan “ di tengah
PENGENTASAN KEMISKINAN

39

rakyatnya .Akan aku ulangi pembagian zakat (sedekah) walaupun diantara mereka baru akan cukup dengan menyerahkan seratus ekor unta”.(Al Anwaal,565-566). Ternyatalah ,institusi zakat dapat dipergunakan secara efektif. Dalam usaha meningkatkan taraf hidup sesama muslimin untuk menjadi keluarga yang mampu dan hidup penuh dengan kelayakan, dalam ukuran ekonomis. Entaskan kemiskinan. Ini pula yang menjadi paham dai Imam Al Ghazzali (Ihya,I/207, al Halabi), ”Hendaknya zakat dapat dipakai untuk pembeli tanah (diolah bagi keperluan orang miskin ) dan hasilnya cukup untuk seumur hidup”. Maka termasuk “pantas” mempergunakan zakat untuk usaha yang berkesinambungan mendatangkan hasil tetap.Pantas juga membuka perkebunan dan lahan-lahan pertanian . Sebagai jalan “pintas” untuk mengentaskan kemiskinan itu. Yang perlu dijaga tujuan utamnyahanya untuk kepentingan peningakatan taraf hidup orang melarat. Tidak untuk kepentingan yang lain dari itu. Disinilah peran BAZIZ. 

40

PENGENTASAN KEMISKINAN

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->